Uploaded on

 

  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Be the first to comment
    Be the first to like this
No Downloads

Views

Total Views
426
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0

Actions

Shares
Downloads
3
Comments
0
Likes
0

Embeds 0

No embeds

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
    No notes for slide

Transcript

  • 1. PENGARUH LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK DENGAN METODE PSIKODRAMA TERHADAP KEPERCAYAAN DIRI SISWA KELAS XII SMK NEGERI 1 KENDAL TAHUN PELAJARAN 2013/2014 SKRIPSI OLEH DIAH ARDIANI KUSUMAWATI NPM 09110108 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN IKIP PGRI SEMARANG 2013 i
  • 2. PENGARUH LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK DENGAN METODE PSIKODRAMA TERHADAP KEPERCAYAAN DIRI SISWA KELAS XII SMK NEGERI 1 KENDAL TAHUN PELAJARAN 2013/2014 SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP PGRI Semarang untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan OLEH DIAH ARDIANI KUSUMAWATI NPM 09110108 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN IKIP PGRI SEMARANG 2013 ii
  • 3. SKRIPSI PENGARUH LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK DENGAN METODE PSIKODRAMA TERHADAP KEPERCAYAAN DIRI SISWA KELAS XII SMK NEGERI 1 KENDAL TAHUN PELAJARAN 2013/2014 Yang disusun dan diajukan oleh DIAH ARDIANI KUSUMAWATI NPM 09110108 Telah disetujui oleh pembimbing untuk dilanjutkan Di hadapan Dewan Penguji Pembimbing I Pembimbing II Desi Maulia, S. Psi, M. Psi, Psi NPP. 098201234 Dr. Yovitha Yuliejantiningsih, M.Pd. NPP. 085901221 Mengetahui, Kaprodi Siti Fitriana, S.Pd., M. Pd. Kons NPP. 088201204 iii
  • 4. SKRIPSI PENGARUH LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK DENGAN METODE PSIKODRAMA TERHADAP KEPERCAYAAN DIRI SISWA KELAS XII SMK NEGERI 1 KENDAL TAHUN PELAJARAN 2013/2014 Yang disusun dan diajukan oleh DIAH ARDIANI KUSUMAWATI NPM 09110108 Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji pada tanggal 24 Oktober 2013 dan dinyatakan telah memenuhi syarat Dewan Penguji Ketua, Sekretaris, Dr. M.Th. S. R. Retnaningdyastuti, M.Pd NIP. 195306031981032001 Siti Fitriana, S.Pd. M.Pd., Kons NPP. 088201204 Penguji I Desi Maulia, S. Psi, M. Psi, Psi NPP. 098201234 (…………………………….) Penguji II Dr. Yovitha Yuliejantiningsih, M.Pd NPP. 085901221 (…………………………….) Penguji III Ismah, S.Ag.,M.Pd NPP . 117301364 (…………………………….) iv
  • 5. MOTTO DAN PERSEMBAHAN MOTTO : 1. Jika tidak bisa menjadi yang terbaik jadilah yang berbeda. (Chr. Argo Widiharto) 2. Tak ada yang bisa menjamin kebahagiaan di masa depan bisa diperoleh, jika tidak melibatkan Tuhan dalam segala urusan. (Diah Ardiani Kusumawati) PERSEMBAHAN : Kupersembahkan skripsi ini untuk: 1. Bapak Agusanto dan Bunda Ida Nuryanti tercinta, 2. Adikku Dian Ardiana Kusumadewi dan Muhamad Asharianto tersayang, 3. Keluarga Besar Laboratorium PPB IKIP PGRI Semarang 4. Seseorang yang akan datang dan pergi dalam perjalanan hidup saya. 5. Semua yang telah membantu menyelesaikan skripsi ini 6. Pembaca skripsi ini. v
  • 6. KATA PENGANTAR Alhamdulillah, Puji Syukur penulis panjatkan atas segala Rahmat, Hidayah dan Inayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas skripsi berjudul “pengaruh layanan bimbingan kelompok dengan metode psikodrama terhadap kepercayaan diri siswa kelas XII SMK Negeri 1 Kendal tahun pelajaran 2013/2014” secara tepat waktu. Penyusunan skripsi ini tidak lepas dari hambatan dan rintangan serta kesulitan-kesulitan. Namun berkat bimbingan, bantuan, nasihat, dan dorongan serta saran-saran dari berbagai pihak, khususnya Pembimbing, segala hambatan dan rintangan serta kesulitan tersebut dapat teratasi dengan baik. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini dengan hati tulus penulis sampaikan terima kasih kepada: 1. Dr. Muhdi, S.H., M.Hum., Rektor IKIP PGRI Semarang yang telah memberikan kesempatan untuk menyelesaikan studi. 2. Dr. M. T. H. S. R. Retnaningdyastuti, M.Pd., Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan yang telah memberikan izin penulis untuk melakukan penelitian. 3. Siti Fitriana, M.Pd., Kons Ketua Program Studi Psikologi Pendidikan dan Bimbingan yang telah menyetujui skripsi penulis. 4. Desi Maulia, M.Psi, Psi., Pembimbing I yang telah mengarahkan penulis dengan penuh ketekunan dan kecermatan dan Dr. Yovitha Yuliejantiningsih, M.Pd. Pembimbing II yang telah membimbing penulis dengan dedikasi yang tinggi. vi
  • 7. 5. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Psikologi Pendidikan dan Bimbingan yang telah memberi bekal ilmu kepada penulis selama belajar di IKIP PGRI Semarang. 6. Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Kendal yang telah mengizinkan penulis melakukan penelitian di instansi yang dipimpinnya. 7. Terimakasih om H. Zaenal Ichrom yang telah membantu di awal kuliah hingga perjalanan kuliah. 8. Teman-teman seperjuangan PPB/C/2009 dan teman-teman asisten Lab. BK (Nofian Nurindahsari, Nailinal Magfiroh, Anggun Selfia, Tinton Estu, Bambang ) atas dorongan dan bantuan baik material maupun moral sehingga skripsi ini dapat terselesaikan serta pihak-pihak lain yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi orang lain, khususnya di dunia pendidikan. Semarang, 24 Oktober 2013 Penulis vii
  • 8. ABSTRAK Diah Ardiani Kusumawati. NPM 09110108. “pengaruh Layanan Bimbingan Kelompok Dengan Metode Psikodrama Terhadap Kepercayaan Diri Siswa Kelas XII SMK Negeri 1 Kendal Tahun Pelajaran 2013/2014”. Skripsi. Semarang: Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Fakultas Ilmu Pendidikan. IKIP PGRI Semarang.2013. Pembimbing I Desi Maulia, M.Psi, Psi., dan Pembimbing II Dr. Yovitha Yuliejantiningsih, M.Pd. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh percaya diri yang merupakan salah satu aspek kepribadian yang sangat penting bagi kehidupan manusia dan pribadi terbentuk bukan dari apa yang diperbuat namun dari keyakinan diri. Apabila seseorang tetap mengimplementasikan rasa kurang percaya diri akan menemukan hambatan-hambatan di dalam dirinya maupun dilingkungan. Penelitian ini berangkat pada kehidupan nyata tidak setiap orang bisa memiliki kepercayaan diri yang tinggi dengan mudah, oleh karena itu perlu adanya peningkatan rasa percaya diri. Oleh karena itu untuk dapat mengembangkan kepercayaan diri siswa, namun dalam kenyataan, pelaksanaan bimbingan kelompok dengan metode psikodrama di SMK Negeri 1 Kendal belum pernah dilaksanakan karena kendala-kendala yang menghambat dimungkinkan karena waktu mengajar yang diberikan cukup singkat sehingga layanan ini belum dilaksanakan bimbingan kelompok dengan menggunakan metode psikodrama, yang diharapkan dapat mengembangkan kepercayaan diri siswa. Pokok permasalahan penelitian ini adalah: apakah psikodrama berpengaruh terhadap kepercayaan dri siswa. Hubungan antara kedua variabel tersebut diasumsikan menjadi cermin keberhasilan dalam mengembangkan kepercayaan diri peserta didik. Berdasarkan kajian teori yang relevan, diajukan hipotesis bahwa pengaruh layanan bimbingan kelompok dengan metode psikodrama terhadap kepercayaan diri siswa kelas XII SMK Negeri 1 Kendal tahun pelajaran 2013/2014. Metode yang dipakai dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan rancangan preexperimental dengan menggunakan one group prestest-posttest design. Penelitian dilaksanakan di SMK Negeri 1 Kendal tahun pelajaran 2013/2014. Instrumen penelitian berupa skala psikologis kepercayaan diri yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan analisis statistik dengan rumus uji-t dengan taraf signifikansi 0,05. Berdasarkan hasil analisis deskriptif yang telah dilakukan dari data pretest dan posttest menunjukan thitung 10,58 > ttabel 2,021. Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa bahwa ada pengaruh layanan bimbingan kelompok dengan metode psikodrama terhadap kepercayaan diri siswa kelas XII SMK Negeri 1 Kendal tahun pelajaran 2013/2014. Temuan penelitian ini dapat menjadi masukan guna peningkatan mutu layanan bimbingan dan konseling khususnya layanan bimbingan kelompok di sekolah. Kata Kunci: Bimbingan Kelompok, Psikodrama, Kepercayaan Diri Siswa viii
  • 9. DAFTAR ISI Halaman SAMPUL LUAR ..................................................................................... i SAMPUL DALAM ................................................................................ ii PERSETUJUAN .................................................................................... iii PENGESAHAN ..................................................................................... iv MOTTO DAN PERSEMBAHAN ......................................................... v KATA PENGANTAR ........................................................................... vi ABSTRAK ............................................................................................. viii DAFTAR ISI .......................................................................................... ix DAFTAR TABEL .................................................................................. xi DAFTAR GAMBAR ............................................................................. xii DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................... xiii PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN .............................................. xiv BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ............................................................. B. Identifikasi Masalah ................................................................... C. Pembatasan Masalah .................................................................. D. Perumusan Masalah ................................................................... E. Tujuan Penelitian ........................................................................ F. Manfaat Penelitian ...................................................................... BAB II KAJIAN TEORI A. Kepercayaan Diri ........................................................................ 1. Pengertian Kepercayaan Diri .............................................. 2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepercayaan Diri ....... 3. Karakteristik Individu yang Memiliki Kepercayaan Diri .. 4. Karakteristik Kepercayaan Diri Rendah ............................. 5. Mengembangkan Percaya Diri ........................................... B. Layanan Bimbingan Kelompok .................................................. 1. Pengertian Bimbingan Kelompok ..................................... 2. Tujuan Bimbingan Kelompok ............................................ 3. Prosedur Pelaksanaan Bimbingan Kelompok .................... C. Layanan Bimbingan Kelompok dengan Metode Psikodrama ..... ix 1 6 6 6 7 7 8 8 9 12 15 19 22 22 23 25 28
  • 10. 1. Pengertian Bimbingan Kelompok dengan Metode Psikodrama28 2. Tujuan Bimbingan Kelompok dengan Metode Psikodram 30 3. Materi Bimbingan Kelompok dengan Metode Psikodrama 32 4. Komponen pokok Psikodrama............................................ 33 5. Prosedur Bimbingan Kelompok Metode Psikodrama ........ 35 C. Kerangka Berpikir ...................................................................... 38 D. Hipotesis Penelitian .................................................................... 40 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian .................................................... B. Variabel Penelitian ..................................................................... C. Definisi Operasional Variabel .................................................... D. Metode dan Rancangan Penelitian ............................................. E. Popuasi, Sampel dan Sampling .................................................. F. Teknik Pengumpulan Data ......................................................... G. Instrumen Penelitian .................................................................. H. Teknik Analisis Data .................................................................. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 41 42 42 44 46 47 48 55 A. Deskripsi Data ............................................................................ B. Uji Hipotesis ............................................................................... C. Pembahasan ................................................................................ D. Kelemahan Penelitian ................................................................ BAB V SIMPULAN DAN SARAN 56 64 66 73 A. Simpulan .................................................................................... B. Saran ........................................................................................... DAFTAR PUSPTAKA .......................................................................... 74 74 76 LAMPIRAN ........................................................................................... 78 x
  • 11. DAFTAR TABEL Tabel Halaman 3.1 Jadwal Kegiatan Penelitian .............................................................. 41 3.3 Materi Layanan ................................................................................ 45 3.4 Sebaran Populasi Penelitian ............................................................. 46 3.5 Kisi-kisi Skala Kepercayaan Diri Try Out ........................................ 49 3.6 Kisi-kisi Skala Kepercayaan Diri Pre Test – Post Test..................... 50 3.7 Skor Skala Kepercayaan Diri ............................................................ 50 3.8 Rekapitulasi Hasil Perhitungan Uji Validitas .................................. 52 4.1 Kategori Distribusi Bergolong ......................................................... 57 4.2 Rekapitulasi Hasil Pretest ................................................................ 57 4.3 Distribusi Frekuensi Pretest Kepercayaan Diri ................................. 58 4.4 Rekapitulasi Jadwal Penelitian ......................................................... 61 4.5 Distribusi Frekuensi Posttest Kepercayaan Diri ............................... 62 4.6 Hasil Perhitungan t-test .................................................................... 64 xi
  • 12. DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 2.1 Bagan Kerangka Berfikir ................................................................. 40 4.1 Grafik Batang Pre Test Kepercayaan Diri ........................................ 59 4.2 Grafik Batang Post Test Kepercayaan Diri ....................................... 63 4.5 Grafik Rata-rata Hasil Pre Test dan Post Test .................................. 64 xii
  • 13. DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1. Hasil DCM (Program Tahunan) ......................................................... 79 2.Dafta Nama Siswa Try Out ................................................................. 79 3.Daftar Nama Sampel ........................................................................... 85 4. Skala Penelitian Kepercayaan Diri (Try Out) ..................................... 86 5. Absensi Try Out .................................................................................. 88 6. Tabulasi Perhitungan Validitas Skala Kepercayaan Diri .................... 89 7. Perhitungan Validitas Item Variabel Kepercayaan Diri...................... 91 8. Pedoman Bimbingan Kelompok ......................................................... 93 9. Skala Penelitian Kepercayaan Diri (Pretest & Posttest) ..................... 96 10. Absensi Sampel. ............................................................................... 97 11. Hasil Analisis Pretest ........................................................................ 112 12 Satuan Layanan. ................................................................................. 113 13 Laporan Kegiatan Layanan. ............................................................... 154 14.Resume Kegiatan .............................................................................. 184 15. Penilaian Segara ................................................................................ 214 16. Hasil Analisis Posttest ..................................................................... 230 17. Surat Permohonan Izin Penelitian .................................................... 231 18. Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian ........................... 232 19. Rekapitulasi Proses Bimbingan ........................................................ 233 20. Dokumentasi .................................................................................... 235 xiii
  • 14. PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama : Diah Ardiani Kusumawati NPM : 09110108 Progdi : Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Fakultas : Fakultas Ilmu Pendidikan Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi yang saya buat ini benar-benar merupakan hasil karya sendiri, bukan merupakan pengambilalihan tulisan atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai hasil tulisan atau pikiran saya sendiri. Apabila pada kemudian hari terbukti atau dibuktikan skripsi ini hasil jiplakan, maka saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut. Semarang, 24 Oktober 2013 Yang membuat pernyataan Diah Ardiani Kusumawati NPM. 09110108 xiv
  • 15. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang memiliki peran penting dalam mengemban tanggung jawab untuk mendidik dan mencapai jenjang kedewasaan secara utuh kepada peserta didik. Dalam kegiatan pendidikan, guru pembimbing memegang peranan penting dalam mengembangkan kecakapan dan kepribadian siswa. Percaya diri merupakan salah satu aspek kepribadian yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Percaya diri yakin atas kemampuan mereka sendiri serta memiliki pengharapan yang realistis. Pada saat harapan mereka tidak terwujud, mereka tetap berpikiran positif dan dapat menerimanya. Manusia sudah diciptakan dengan kesempurnaan dan kelengkapan dengan segala hal yang melebihi dibandingkan dengan makhluk lain ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Memaksimalkan potensi maka manusia sudah dapat menjadi sosok yang penuh dengan kepercayaan diri. Kepercayaan diri yang rendah membuat seseorang mudah dihadapkan oleh perasaan ragu, cemas, dan rendah diri yang menghambat seseorang untuk melakukan sesuatu. Menurut Fatimah(2008 :149), kepercayaan diri adalah sikap positif seseorang individu yang memampukan dirinya untuk mengembangkan penilaian positif, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan atau situasi yang dihadapinya. Rasa percaya diri dapat memberikan hal positif bagi kejiwaan seseorang sehingga berpengaruh langsung kepada individu dalam menjalankan 1
  • 16. kehidupan dan kepercayaan diri tidak bisa disamaratakan dengan aktivitas ke aktivitas lainnya. Menurut Angelis (2002: 9), hakikat kepercayaan diri sejatinya tidak berkaitan dengan kehidupan lahiriah. Pribadi terbentuk bukan dari apa yang diperbuat namun dari keyakinan diri, bahwa yang dihasilkan memang berada dalam batas kemampuan dan keinginan atau keyakinan dari diri sendiri. Pada kehidupan nyata tidak setiap orang bisa memiliki kepercayaan diri yang tinggi dengan mudah, oleh karena itu perlu adanya peningkatan rasa percaya diri. Percaya diri rendah akan menghambat seseorang untuk mencapai harapan dan kurang berani dalam melakukan sesuatu kegiatan atau usaha. Pada situs ini yang diunduh dalam Healthdetik.com Jakarta, Rabu (27/3/2013), anak yang minder atau memiliki rasa percaya diri yang rendah, akan banyak menemui hambatan dalam belajar di sekolah, dirinya juga akan kesulitan bergaul dengan teman-temannya sehingga perlu membangun rasa percaya diri anak sejak dini. Oleh sebab itu kepercayaan diri harus dipahami secara utuh, untuk menghindari pemahaman yang tidak utuh sehingga berakibat tidak sesuai dengan norma dan etika hidup dalam bermasyarakat maupun dilingkungan sekolah. Apabila peserta didik tetap mengimplementasikan sikap kurang percaya diri tersebut, akan menemukan hambatan-hambatan di dalam sekolah seperti dalam belajar dan bergaul dengan sesama atau lawan jenis. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan bahwa siswa yang memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi maka mereka juga dapat melakukan penyesuaian sosial dengan baik (dalam Susanti,2008.30). Sebaliknya siswa yang memiliki kepercayaan diri yang rendah mereka juga akan mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri, oleh karena itu 2
  • 17. kepercayaan diri merupakan sikap yang harus dimiliki bagi setiap peserta didik sehingga sesuatu yang diharapkan dapat tercapai dari kemampuan dan keyakinan yang dimiliki. Menurut Fatimah (2008 :149-150), percaya diri merupakan faktor yang dapat membedakan antara individu yang sukses dan gagal, oleh karena itu individu memiliki karakteristik yang diantaranya adalah percaya akan kompetensi atau kemampuan diri, tidak terdorong untuk menunjukan sikap konformis demi diterima oleh orang lain atau kelompok, berani menerima dan menghadapi penolakan orang lain dan berani menjadi diri sendiri, punya pengendalian diri yang baik dan emosinya stabil, memiliki internal locus of control, memandang keberhasilan atau kegagalan, bergantung pada usaha diri sendiri dan tidak mudah menyerah pada nasib atau keadaan serta tidak bergantung dan mengharapkan bantuan orang lain, mempunyai cara pandang yang positif terhadap diri sendiri, orang lain, dan situasi di luar dirinya, memiliki harapan yang realistik terhadap diri sendiri sehingga ketika harapan itu terwujud , individu tetap melihat sisi positif dirinya dan situasi yang terjadi. Mendapati fakta yang ada berdasarkan analisis DCM yang disebarkan di SMK N 1 Kendal pada hari jumat, 28 September tahun 2012 masalah pribadi mendapatkan prosentase terbesar yaitu prosentasenya sebesar 21,25% di kelas XI BB2 dengan jumlah siswa 36 dan di kelas XI TP4 sebesar 37,27% dengan jumlah siswa 35. Dalam topik permasalahan yang berisikan aitem sebagai berikut : Sering merasa malu bergaul dengan lawan jenis, merasa diri saya tidak sebaik orang lain, ingin sekali dikagumi, merasa pesismis atau putus asa, selalu takut berbuat salah, 3
  • 18. sering tidak dapat mengambil keputusan, ingin tampil lebih cantik, merasa tidak memiliki harapan dan sering merasa iri hati atas prestasi orang lain. Hal ini menunjukan bahwa siswa sekolah menengah masih mengalami rendah rasa percaya diri terhadap diri sendiri. Dengan demikian , jika pribadi yang kurang memiliki kepercayaan diri maka rasa rendah diri akan menguasai seseorang dalam kehidupannya, dan ia akan tumbuh menjadi pribadi yang pesimis. Seperti yang dikemukakan oleh Sustina, (dalam Rohayati, 2011. 369), tanpa adanya rasa percaya diri yang tertanam dengan kuat di dalam jiwa anak pesimisme dan rasa rendah diri akan dapat menguasainya dengan mudah. Berdasarkan uraian diatas tentang kepercayaan diri, maka pemahaman terhadap percaya diri siswa sangat penting agar siswa dapat berkembang secara optimal. Peran yang harus terlibat didalam mengatasi rasa percaya diri siswa adalah peran kedua orang tua, pihak sekolah, dan terutama peran guru bimbingan dan konseling. Peran orang tua sangat penting dengan melalui proses yang berlangsung sejak usia dini. Sedangkan sekolah berperan memfasilitasi individu mengembangkan potensinya dan kepribadiannya melalui guru bimbingan dan konseling. Usaha yang perlu dilakukan guru bimbingan dan konseling terhadap kepercayaan diri siswa adalah mengoptimalisasikan layanan bimbingan dan konseling kepada peserta didi memalui pemberian layanan bimbingan kelompok dengan metode psikodrama. Menurut Romlah ( 2008: 17), bimbingan kelompok merupakan salahh satu teknik bimbingan yang berusaha membantu individu agar dapat mencapai 4
  • 19. perkembangannya secara optimal sesuai dengan kemampuan, bakat minat serta nilai-nilai yang dianutnya dan dilaksanakan dalam situasi kelompok. Beberapa teknik yang biasanya digunakan dalam layanan bimbingan kelompok diantaranya adalah permainan peran dalam. Menurut Corey (dalam Romlah, 2006: 107) psikodrama merupakan permainan peran yang dimaksudkan agar individu yang bersangkutan dapat memperoleh pengertian yang lebih baik tentang dirinya, dapat menemukan konsep dirinya, menyatakan kebutuhan- kebutuhan dan menyatakan reaksinya terhadap tekanan- tekanan terhadap dirinya. Peserta didik diharapkan secara optimal dapat mengalami perubahan dan mengalami peningkatan secara perkembangan diri baik secara individu maupun sebagai peserta didik dalam keyakinan terhadap kemampuan dirinya sehingga mampu mengembangkan sikap positif terhadap kemampuan dirinya dan terhadap lingkungan serta situasi yang dihadapi setetlah mengikuti kegiatan bimbingan kelompok dengan metode psikodrama. Hasil penelitian Antika.(2009), menunjukan drama efektif dalam meningkatkan kepercayaan diri pada anak prasekolah karena melibatkan aktivitas tubuh secara aktif yang dapat mempengaruhi perkembangan fisik, kreativitas, pengetahuan, tingkah laku, dan kepercayaan diri serta mengembangkan tingkah laku anak sehingga mempengaruhi nilai moral anak. Psikodrama adalah jalan dari beberapa kelompok lain yang melakukan pendekatan termasuk pendekatan gestalt. Yanblonksy dalam Loekmono (2006: 133) menyebutkan bukti untuk pengakuannya bahwa konsep dan tekhnik Moreno telah mempengaruhi pengembangan pada terapi gestalt. Yang memfokuskan pada di sini dan kini dan 5
  • 20. menekankan semua individu memiliki tanggung jawab penuh atas perbuatan, diri dan masa depan mereka. Namun dalam kenyataan, pelaksanaan bimbingan kelompok dengan metode psikodrama di SMK Negeri 1 Kendal belum pernah dilaksanakan karena kendala-kendala yang menghambat dimungkinkan karena waktu mengajar yang diberikan cukup singkat sehingga layanan ini belum dilaksanakan. Berdasarkan latar belakang yang ada tersebut maka peneliti menganalisis tentang “Pengaruh Bimbingan Kelompok dengan Metode Psikodrama Terhadap Kepercayaan Diri Siswa Kelas XII di SMK Negeri 1 Kendal Kabupaten Kendal Tahun Pelajaran 2013/2014”. B. Indetifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, masalah yang dapat diindentifikasi yang menggambarkan masalah yang berkaitan dengan kepercayaan diri siswa : 1. Masih dijumpai siswa yang merasa merasa dirinya tidak sebaik orang lain, ingin sekali dikagumi, merasa pesismis atau putus asa, selalu takut berbuat salah, ingin tampil lebih cantik, merasa tidak memiliki harapan dan sebagainya. 2. Belum dilaksanakannya layanan bimbingan kelompok dengan metode psikodrama terhadap kepercayaan diri siswa. C. Pembatasan Masalah Dari identifikasi masalah dapat dilakukan pembatasan masalah yaitu Pengaruh Bimbingan Kelompok dengan 6 Metode Psikodrama Terhadap
  • 21. Kepercayaan Diri Siswa Kelas XII di SMK Negeri 1 Kendal Kabupaten Kendal Tahun Pelajaran 2013/2014. D. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dikemukakan rumusan masalah sebagai berikut “ Apakah ada Pengaruh Bimbingan Kelompok dengan Metode Psikodrama Terhadap Kepercayaan Diri Siswa Kelas XII di SMK Negeri 1 Kendal Kabupaten Kendal Tahun Pelajaran 2013/2014?”. E. Tujuan Penelitian Tujuan peneliti yaitu mengetahui Pengaruh Bimbingan Kelompok dengan Metode Psikodrama Terhadap Kepercayaan Diri Siswa Kelas XII di SMK Negeri 1 Kendal Kabupaten Kendal Tahun Pelajaran 2013/2014?”. F. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis Manfaat teorits yang diperoleh dengan penelitian ini adalah mengembangkan dan menambah wawasan keilmuan psikologi pendidkan dan bimbingan. 2. Manfaat Praktis Dapat sebagai teknik untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa. Bagi guru pembimbing sebagai informasi untuk menerapkan dan mengembangkan metode psikodrama dalam layanan bimbingan kelompok terhadap kepercayaan diri siswa sebagai salah satu alternaitif cara meningkatkan layanan bimbingan dan konseling. 7
  • 22. BAB II KAJIAN TEORI A. Kajian Teori 1. KEPERCAYAAN DIRI a. Pengertian Kepercayaan Diri Menurut Angelis (2002 :09), hakikat kepercayaan diri sejatinya tidak ada kaitannya dengan kehidupan lahiriah. Kepercayaan diri terbentuk bukan dari apa yang diperbuat, namun dari keyakinan diri, bahwa yang dihasilkan dari diri memang berada dalam batas-batas kemampuan dan keinginan pribadi. Kepercayaan diri berawal dari tekad pada diri sendiri, untuk melakukan segala yang kita inginkan dan butuhkan dalam hidup. Kepercayaan diri adalah sesuatu yang harus mampu menyalurkan segala yang kita ketahui dan segala yang kita kerjakan ( Barbara, 2002: 05). Kepercayaan diri yaitu lahir dari kesadaran bahwa jika memutuskan untuk melakukan sesuatu. Kepercayaan diri akan datang dari kesadaran seorang individu bahwa individu tersebut memiliki tekad untuk melakukan apapun, sampai tujuan yang ia ingin tercapai. Fatimah (2008 :149) menjelaskan kepercayaan diri adalah sikap positif seseorang individu yang memampukan dirinya untuk mengembangkan penilaian positif, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan atau situasi yang dihadapinya. Hal ini bukan berarti bahwa individu tersebut mampu dan kompeten melakukan segala sesuatu seorang diri. Rasa percaya diri yang tinggi sebenarnya hanya merujuk pada adanya beberapa aspek dari kehidupan individu yang 8
  • 23. memiliki kompetensi, keyakinan bahwa individu mampu serta didukung oleh pengalaman, potensi aktual, dan harapan yang realistik terhadap diri sendiri. Sedangkan dalam Kumpulan Materi Bimbingan dan Konseling (2011: 322) , kepercayaaan diri merupakan keyakinan diri seseorang mampu melakukan sesuatu seperti yang diharapkan. Keyakinan tersebut muncul karena individu mampu mengukur dengan benar kemampuan yang dimiliki dan memiliki harapan yang realistik terhadap dirinya. Berdasarkan beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kepercayaan diri adalah keyakinan seseorang terhadap kemampuan dirinya sehingga individu mampu mengembangkan sikap positif terhadap kemampuan dirinya maupun terhadap lingkungan serta situasi yang dihadapi dan didukung oleh pengalaman, potensi aktual serta harapan yang realistik terhadap diri sendiri. b. Faktor-Faktor Yang Mengaruhi Kepercayaan Diri Fatimah (2008: 150-152), menjelaskan bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi sikap percaya diri diantaranya sebagai berikut: 1) Pola Asuh Para ahli berkeyakinan bahwa kepercayaan diri tidak bisa diperoleh dengan cara instan, melainkan melalui proses yang berlangsung sejak usia dini, dalam kehidupan bersama orang tua. Meskipun banyak faktor yang mempengaruhi kepercayaan diri seseorang, faktor pola asuh interaksi di usia dini merupakan faktor yang mendasar bagi pembentukan rasa percaya diri. sikap orang tua akan diterima oleh anak sesuai dengan persepsinya pada saat itu. Orang tua 9
  • 24. menunjukan perhatian, penerimaan, cinta dan kasih sayang serta kelekatan emosional yang tulus dengan anak akan membangkitkan rasa percaya diri pada anak tersebut. Anak akan merasa bahwa dirinya berharga dan bernilai dimata orangtuannya. 2) Pola Pikir Negatif Dalam hidup bermasyarakat, setiap individu mengalami berbagai masalah, kejadian, bertemu orang-orang baru, dan sebagainya. Reaksi individu tersebut terhadap seseorang atau sebuah peristiwa sangat dipengaruhi oleh cara berfikirnya. Individu dengan rasa percaya diri yang lemah, cenderung mempresepsikan segala sesuatunya dari sisi negatif. Dia tidak menyadari bahwa dalam dirinya, segala pola fikir yang negatif tersebut berasal. Menurut Freson (dalam Kumara, 1998), ada beberapa hal yang dapat menyebabkan sikap kurang percaya diri yaitu : 1) Faktor Internal Merupakan faktor yang ada dalam individu itu sendiri, antara lain perasaan dan sikap batin yang sehat akan dipengaruhi oleh rasa harga diri dan minat. Rasa harga diri dan minat akan mempengaruhi sikap batin yang sehat karena dengan rasa harga diri minat yang tinggi maka kepercayaan diri seseorang akan meningkat. 2) Faktor Eksternal Faktor yang ada diluar individu itu, sebagai contoh pola asuh, sikap orang lain dan lingkungan individu itu. Jika remaja dibesarkan dalam lingkungan 10
  • 25. keluarga yang protektif maka ia tumbuh dan berembang menjadi anak yang memiliki kurang percaya diri. Proses pembentukan percaya diri terjadi melalui proses yang panjang yang dimulai dari pendidikan dalam keluarga dan hal tersebut merupakan faktor yang mempengaruhi keprcayaan diri. Menurut Hakim (dalam Yuniarti,2002), awal dari proses tersebut terjadi sebagai berikut : 1) Terbentuknya berbagai kelemahan dalam berbagai aspek kepribadian seseorang yang dimulai dari kehidupan keluarga dan meliputi dalam berbagai aspek, seperti aspek mental, sosial dan ekonomi. 2) Pemahaman negatif seseorang terhadap dirinya sendiri yang cenderung selalu memikirkan kekurangan tanpa pernah meyakini bahwa ia juga memiliki kelebihan yang mungkin tidak dimiliki oleh orang lain. 3) Kehidupan sosial yang dijalani dengan sikap yang negatif, sperti merasa rendah diri, suka menyendiri, lari dari tanggung jawab, mengisolasi diri dari kelompok dan reaksi negatif lainnya, yang justru semakin memperkuat rasa percaya diri pada seseorang. Dapat disimpulkan dari beberapa pendapat diatas bahwa kepercayaan diri dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari interen atau dalam diri individu seperti halnya pola fikir individu yang cenderung selalu memikirkan kekurangannya dan faktor ekstern berasal dari luar diri, pola asuh orang tua yang kurang memberi motivasi dan perlakuan yang membuat inidvidu merasa rendah diri sehingga berpengaruh bagi interaksi individu di lingkungan dan menjalani kehidupan sosialnya . 11
  • 26. c. Karakteristik Individu yang Memiliki Kepercayaan Diri Menurut Fatimah (2008 :149-150), beberapa ciri atau karakteristik individu yang mempunyai rasa percaya diri yang proposional diantaranya adalah sebagai berikut : 1) Percaya akan kompetensi atau kemampuan diri, sehingga tidak membutuhkan pujian, pengakuan, penerimaan, ataupun hormat orang lain. Inividu terlahir dengan segala keistimewaan berupa potensi dan bakat sehingga individu mampu mengembangkan potensi dan bakat yang dimiliki dengan percaya akan kompetensi dan kemampuan yang dimiliki. 2) Tidak terdorong untuk menunjukan sikap konformis demi diterima oleh orang lain atau kelompok. Individu tidak perlu menunjukan sikap konformis dimana individu selalu menyesuaikan intruksi dari kelompok yang terkadang tidak sesuai dengan dirinya, sehingga individu bisa diakui dalam kelompok tersebut. 3) Berani menerima dan menghadapi penolakan orang lain dan berani menjadi diri sendiri. Individu yang mampu menerima dengan lapang dada penolakan dari orang lain dan menjadi diri sendiri merupakan individu yang percaya akan kemampuan yang dimiliki. 4) Punya pengendalian diri yang baik dan emosinya stabil, pengendalian diri merupakan hal terpenting dalam sebuah kesuksesan karena pengendalian diri dan emosi yang stabil membawa diri bersikap bijaksana dalam menghadapi situasi. 12
  • 27. 5) Memiliki internal locus of control, memandang keberhasilan atau kegagalan, bergantung pada usaha diri sendiri dan tidak mudah menyerah pada nasib atau keadaan serta tidak bergantung dan mengharapkan bantuan orang lain. 6) Mempunyai cara pandang yang positif terhadap diri sendiri, orang lain, dan situasi di luar dirinya, akan menghasilkan diri kita menjadi pribadi yang dalam bertindak tidak sesuka hati sehingga setiap cara pandang dan tindakan inividu terkontrol. 7) Memiliki harapan yang realistik terhadap diri sendiri sehingga ketika harapan itu tidak terwujud , ia tetap melihat sisi positif dirinya dan situasi yang terjadi. Harapan yang realistik membawa diri kita dalam bercita-cita dan bertindak menyesuaikan kemampuan yang dimiliki dan selalu yakin akan kemampuan diri. Menurut Ghifari (2004 : 16-17), mengemukakan beberapa ciri atau karakteristik individu yang mempunyai rasa percaya diri yang proposional diantaranya adalah sebagai berikut : 1) Percaya akan kompetensi atau kemampuan diri, sehingga tidak membutuhkan pujian, pengakuan, penerimaan, atau pun rasa hormat orang lain. Inividu terlahir dengan segala keistimewaan berupa potensi dan bakat sehingga individu mampu mengembangkan potensi dan bakat yang dimiliki dengan percaya akan kompetensi dan kemampuan yang dimiliki. 2) Tidak terdorong untuk menunjukan sikap konformis demi diterima oeh orang lain atau kelompok. Individu tidak perlu menunjukan sikap konformis 13
  • 28. dimana individu selalu menyesuaikan intruksi dari kelompok yang terkadang tidak sesuai dengan dirinya, sehingga individu bisa diakui dalam kelompok tersebut. 3) Berani menerima dan menghadapi penolakan orang lain dan berani menjadi diri sendiri. Individu yang mampu menerima dengan lapang dada penolakan dari orang lain dan menjadi diri sendiri merupakan individu yang percaya akan kemampuan yang dimiliki. 4) Memiliki pengendalian diri yang baik dan emosinya stabil, pengendalian diri merupakan hal terpenting dalam sebuah kesuksesan karena pengendalian diri dan emosi yang stabil membawa diri bersikap bijaksana dalam menghadapi situasi. 5) Mempunyai cara pandang yang positif terhadap diri sendiri, orang lain, dan situasi di luar dirinya, akan menghasilkan diri kita menjadi pribadi yang dalam bertindak tidak sesuka hati sehingga setiap cara pandang dan tindakan inividu terkontrol. 6) Memiliki harapan yang realistik terhadap diri sendiri, sehingga ketika harapan itu tidak terwujud ia mampu melihat sisi positif dirinya dan situasi yang terjadi. Harapan yang realistik membawa diri kita dalam bercita-cita dan bertindak menyesuaikan kemampuan yang dimiliki dan selalu yakin akan kemampuan diri. Menurut Hakim (dalam Pratiwi, 2002), orang yang memiliki rasa percaya diri tinggi memiliki ciri-ciri diantaranya adalah mempunyai sikap yang tenang dalam mengerjakan tugas-tugas sekolah, memunyai potensi yang memadai, 14
  • 29. mampu menetralisir ketegangan yang muncul dari berbagai situasi, mampu menyesuaikan diri dan berkomunikasi, memiliki kondisi mental dan fisik yang menunjang dan mampu bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, serta selalu bereaksi positif dalam menghadapi masalah. Bedasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa orang yang mempunyai rasa percaya diri memiliki keyakinan akan potensi dan kemampuan yang dimiliki, memiliki harapan yang realistik terhadap diri sendiri sehingga ketika harapan itu tidak terwujud, menjadi diri sendiri, berani mengambil risiko berdasarkan pemahaman diri yang objektif, bisa memprediksi risiko setiap tantangan yang dihadapi sehingga memandang keberhasilan dan kegagalan dari usaha diri sendiri serta tidak bergantung pada orang lain (internal locus of control), berfikir positif dalam memerangi asumsi, prasangka atau persepsi negatif yang muncul. d. Karakteristik Individu yang memiliki Kepercayaan Diri Rendah Menurut Al-Ghifari (2004: 17), adapun ciri-ciri atau karakteristik individu yang kurang percaya diri, diantaranya sebagai berikut : 1) Berusaha menunjukan sikap konformis, semata-mata demi mendapatkan pengakuan dan penerimaan kelompok. Sikap individu yang selalu menyesuaikan diri kepada kelompok sehingga mengabaikan keaslian yang ada didirinya demi diterima didalam kelompok. 15
  • 30. 2) Menyimpan rasa takut atau kekhawatiran terhadap penolakan. Perasaan yang selalu dirasakan adalah rasa takut dan kekhawatiran atas penolakan yang dialami dirinya. 3) Sulit menerima realita terlebih menerima kekurangan diri dan memandang rendah kemampuan diri sendiri, namun di lain pihak memasang harapan yang realistik terhadap diri sendiri. Mengabaikan diri banwasannya individu memiliki kemampuan dan potensi sehingga lebih cenderung melihat dirinya dari sisi negatif. 4) Pesimis, mudah menilai segala sesuatu dari sisi negatif. Jika sesorang gagal dalam melaksanakan sesuatu langsung muncul rasa pesimis dan tidak mau mencoba lagi sehingga menilai dirinya darisisi negatif. 5) Takut gagal, sehingga menghindari segala resiko dan tidak berani memasang target untuk berhasil. Kurangnya keberanian untuk menggambil resiko untuk memasang target sesuai yang dikehendaki karena takut akan kegagalan. 6) Cenderung menolak pujian yang ditunjukan secara tulus karena undervalue diri sendiri. Seseorang yang merasa atau menilai dirinya selalu dibawah sehingga individu merasa tidak pantas untuk menerima pujian. 7) Selalu menempatkan atau memposisikan diri sebagai yang terakhir, karena menilai dirinya tidak mampu. Merasa undervalue sehingga seseorang menempatkan dirinya diposisi terakhir . 8) Memiliki eksternal locus of control yaitu mudah menyerah pada nasib, sangat tergantung pada keadaan dan pengakuan atau penerimaan serta 16
  • 31. bantuan orang lain. Individu yang mudah menyerah selalu menggantungkan keberhasilan, penerimaan dan pengakuan dari orang lain pada nasib karena individu tidak percaya akan kemampuan yang dimilik dan lebih bergantung kepada orang lain. Menurut Fatimah ( 2008: 150), adapun karakteristik individu yang kurang memiliki kepercayaan diri adalah sebagai berikut : 1) Berusaha menunjukan sikap konformis, semata-mata demi mendapatkan pengakuan dan penerimaan kelompok. Sikap individu yang selalu menyesuaikan diri kepada kelompok sehingga mengabaikan keaslian yang ada didirinya demi diterima didalam kelompok. 2) Menyimpan rasa takut atau kekhawatiran terhadap penolakan. Perasaan yang selalu dirasakan adalah rasa takut dan kekhawatiran atas penolakan yang dialami dirinya. 3) Sulit menerima realita terlebih menerima kekurangan diri dan memandang rendah kemampuan diri sendiri, namun di lain pihak memasang harapan yang realistik terhadap diri sendiri. Mengabaikan diri banwasannya individu memiliki kemampuan dan potensi sehingga lebih cenderung melihat dirinya dari sisi negatif. 4) Pesimis, mudah menilai segala sesuatu dari sisi negatif. Jika sesorang gagal dalam melaksanakan sesuatu langsung muncul rasa pesimis dan tidak mau mencoba lagi sehingga menilai dirinya darisisi negatif. 5) Takut gagal, sehingga menghindari segala resiko dan tidak berani memasang target untuk berhasil. Kurangnya keberanian untuk menggambil 17
  • 32. resiko untuk memasang target sesuai yang dikehendaki karena takut akan kegagalan. 6) Cenderung menolak pujian yang ditunjukan secara tulus karena undervalue diri sendiri. Seseorang yang merasa atau menilai dirinya selalu di bawah sehingga individu merasa tidak pantas untuk menerima pujian. 7) Selalu menempatkan atau memposisikan diri sebagai yang terakhir, karena menilai dirinya tidak mampu. Merasa undervalue sehingga seseorang menempatkan dirinya diposisi terakhir . 8) Memiliki eksternal locus of control yaitu mudah menyerah pada nasib, sangat tergantung pada keadaan dan pengakuan atau penerimaan serta bantuan orang lain. Individu yang mudah menyerah selalu menggantungkan keberhasilan, penerimaan dan pengakuan dari orang lain pada nasib karena individu tidak percaya akan kemampuan yang dimilik dan lebih bergantung kepada orang lain.. Menurut Hakim (dalami Yuniarti, 2002), sikap rasa kurang percaya diri sesorang ditunjukkan antara lain, selalu dihinggapi rasa keraguan, mudah cemas, tidak yakin, cenderung menghindar, tidak memiliki inisiatif, mudah patah semangat, tidak berani trampil didepan banyak orang dan gejala kejiwaan lainnya yang nantinya menghambat seseorag untuk melakukan sesuatu. Sedangkan AlGhifari (2004: 15), menjelaskan disisi lain seseorang yang memiliki percaya diri yang rendah memiliki perilaku antara lain: tidak mau mencoba suatu hal yang baru, merasa tidak dicintai dan tidak diinginkan, memiliki kecenderungan 18
  • 33. melempar kesalahan terhadap orang lain, mempnyai emosi yang kaku dan disembunyikan, mudah frustasi dan tertekan, dan mudah terpengaruh orang lain. Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa individu yang kurang memiliki kepercayaan diri adalah individu memiliki kecenderungan yang negatif dalam penerimaan dirinya dan terhadap lingkungan sekitar, sehingga indivdiu menunjukan sikap pesimis, menimpan rasa takut terhadap penolakan, sulit menerima realita terutama kekurangan didalam dirinya, takut mengambil resiko, selalu menempatkan dirinya diposissi yang rendah dan cenderung bergantung pada orang lain sehingga menghambat individu melakukan sesuatu . e. Mengembangkan Percaya Diri Fatimah (2008: 153-155) terdapat beberapa cara mengembangkan rasa percaya diri sebagai berikut : 1) Evaluasi Diri Secara Objektif Belajar menilai diri secara objektif dan jujur. Susunlah daftar kelebihan pribadi, seperti prestasi yang pernah diraih, sifat-sifat positif, potensi diri, baik yang sudah diaktualisasikan maupun yang belum, keahlian yang dimiliki, serta kesempatan atau sarana yang mendukung kemajuan diri. pelajari kendala yang selama ini menghalangi perkembangan diri, seperti : pola berfikir yang keliru, niat dan motivasi yang lemah, kurangnya disiplin diri, kurangnya ketekunan dan kesabaran, dan bergantung pada bantuan orang lain. Hasil analisis dan pememtaan terhadap SWOT (strengths, weaknesses, obstancles and Theats) diri, kemudian 19
  • 34. digunakan untu membuat dan menerapkan strategi pengembangan diri yang realistik. 2) Memberi Penghargaan yang Jujur Terhadap Diri Menyadari dan menghargai sekecil apapun sebuah keberhasilan dan potensi yang dimiliki. Karena hal tersebut didapatkan dari proses belajar, berevolusi dan transformasi diri sejak dulu hingga sekarang. Ketidakmampuan menghargai diri sendiri mendorong munculnya keinginan yang tidak realistik dan berlebihan ; sepertihalnya ingin cepat kaya, ingin cantik, ingin dihormati dan ingin selalu dipuji. Hal tersebut merupakan penolakan terhadap diri dan ketidakmampuan menghargai diri sendiri sehingga menutupi keaslian diri. 3) Positive Thigking Memerangi setiap asumsi, prasanka atau persepsi negatif yang muncul dalam diri.Jangan membiarkan pikiran negatif berlarut-larut karena tanpa sadar pikiran itu akan terus berakar, bercabang dan berdaun. Jangan biarkan pikiran negatif menguasi pikiran dan perasaan anda. Jika pikiran tersenut muncul mencoba menuliskan untuk kemudian di review kembali secara logis. 4) Gunakan Self-affirmation Untuk memerangi pikiran negatif gunakan self-affirmation yaitu berupa kata-kata yang membangkitkan rasa percaya diri, berupa kata-kata sebagai berikut : “Saya pasti bisa”, “saya adalah penentu dari hidup saya sendiri”,”saya bangga pada diri sendiri”, dan “saya bisa belajar dari kesalahan, kesalahan menjadi pelajaran yang sangat berharga karena membantu saya memahami tantangan”. 5) Berani mengambil resiko 20
  • 35. Berdasarkan pemahaman diri yang objektif, memprediksikan setiap resiko dalam tantangan yang dihadapi dengan demikian tidak perlu menghindari setiap resiko, melainkan lebih menggunakan strategi-strategi untuk menghindari, mencegah taupun mengatasi resikonya. Namun demikian perlu diingat bahwa over confidence atau rasa percaya diri yang berlebihan bukanlah menggambarkan kondisi kejiwaan yang sehat karena hal tersebut merupakan rasa percaya diri yang bersifat semu. Menurut Habibie (2009: 22-27), menyatakan berbagai cara menumbuhkan rasa percaya diri sebagai berikut yaitu yakin pada kemampuan diri karena setiap orang terlahir dengan keistimewaan yang berbeda berupa potensi atau bakat yang dimiliki, bertanggung jawab adalah salah satu ciri orang sukses karena orang yang bertanggung jawab mampu melaksanakan pekerjaan dengan baik, menggali potensi diri karena setiap individu memiliki potensi diri akan tetapi terkadang manusia tidak menyadarinya dan orang yang sukses mampu menggali potensinya, berfikir positif dapat membangun percaya diri dengan cepat karena orang sukses selalu berfikiran positif, berani mengambil resiko merupakan karakteristik dari orang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi, tidak putus asa merupakan sikap yang mencerminkan seseorang yang memiliki kepercayaan diri. Angelis (2005: 34), menjelaskan bahwa langkah pertama untuk menumbuhkan rasa percaya diri adalah tidak lagi berpura-pura yakin secara berlebihan, anda harus jujur pada cara anda mengesampingkan kegelisahan diri, impian yang sederhana yang bias terwujud dengan sedikit rasa percaya diri, dan angan-angan yang tingi maka membutuhkan rasa percaya diri yang tinggi. 21
  • 36. Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa upaya meningkatkan kepercayaan diri di awali dengan mengevaluasi diri terlebih dahulu secara objektif, lalu secara jujur memberikan penghargaan terhadap diri sendiri berfikir positi, mampu mengambil resiko dengan berani dan berani memerangi pikiran negative terhadap diri sendiri maupun lingkungan sekitar sehingga selalu menanamkan keyakinan dan kata-kata pembangkit kepercayaan diri. 2. Layanan Bimbingan kelompok a) Pengertian bimbingan kelompok Kegiatan bimbingan kelompok belajar siswa yang diberikan melalui tujuh layanan termasuk didalamnya layanan bimbingan kelompok dimana merupakan layanan yang diberikan dalam suasana kelompok, dibawah ini akan diuraikan beberapa pengertian mengenai bimbingan kelompok. Menurut Prayitno (2004: 309) bimbingan kelompok di sekolah merupakan kegiatan informasi kepada sekelompok siswa untuk membantu mereka menyusun rencana dan keputusan yang tepat. Bila dicermati pengertian diatas pada kegiatan pemberian informasi dalam suasana kelompok dengan mengandalkan dinamika kelompok sebagai wahana untuk mencapai tujuan kegiatan bimbingan dan konseling yang muncul pada individu-individu melalui kelompok, selain itu. Romlah,tatiek (2001:3) mengatakan bimbingan kelompok adalah proses pemberian bantuan yang diberikan pada individu dalam situasi kelompok untuk mencegah timbulnya masalah pada siswa dan mengembangkan potensi siswa. 22
  • 37. Sukardi (2008:64) bimbingan kelompok merupakan layanan bimbingan yang memungkinkan sejumlah peserta didik bersama-sama memperoleh berbagai bahan dari konselor yang berguna untuk menunjang kehidupannya sehari-hari baik sebagai pelajar, keluarga dan masyarakat serta pertimbangan untuk pengambilan keputusan. Dari beberapa inti pendapat di atas bimbingan kelompok dapat disimpulkan, Bimbingan Kelompok adalah suatu proses dalam menyelesaikan masalah atau bantuan kepada sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika kelompok untuk pencapaian tujuan tertentu. 3. Tujuan Kegiatan Bimbingan Kelompok Tujuan yang hendak dicapai dalam bimbingan kelompok secara umum adalah supaya orang yang dilayani menjadi mampu mengatur kehidupan sendiri, memiliki pandangannya sendiri dan tidak membebek pendapat orang lain, mengambil sikap sendiri, dan berani menanggung sendiri efek serta konsekuensi dari tindak-tindakannya. Prayitno (2004: 310) tujuan bimbingan kelompok adalah pemberian informasi pada anggota kelompok. Lebih jauhnya, informasi itu akan digunakan untuk menyusun rencana dan membuat keputusan, atau untuk keperluan lain yang relevan dengan informasi yang diberikan. Dari uraian tujuan diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan bimbingan kelompok harus nyata untuk masing-masing model kelompok yaitu melaksanakan tugas yang di bebankan kepada kelompok dan pengembangan pribadi masingmasing kelompok. 23
  • 38. Sedangkan menurut Romlah (2001: 13), bahwa tujuan bimbingan kelompok adalah untuk membantu individu lain menemukan dirinya sendiri, mengarahkan diri dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan. Romlah tidak menspesifikasikan tujuan bimbingan kelompok dalam beberapa model kelompok tapi secara umum yaitu masing-masing individu (anggota ) harus saling membantu dalam menemukan dirinya, mengarahkan diri dan menyesuaikan diri dengan lingkungan. Sukardi (2008:64) tujuan dari bimbingan kelompok adalah kegiatan yang menunjang kehidupannya sehari-hari baik individu sebagai pelajar, anggota keluarga dan masyarakat serta untuk pertimbangan dalam mengambil keputusan. Dari tujuan yang diuraikan diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan bimbingan kelompok adalah melaksanakan beban yang dibebankan dalam kelompok dan juga pengembangan diri masing-masing individu (anggota) dalam memahami diri, mengarahkan diri dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sehingga nantinya dapat menyusun rencana dan membuat keputusan yang tepat. b) Prosedur Pelaksanaan Bimbingan Kelompok Ada bermacam-macam pembagian prosedur atau tahapan perkembangan kegiatan bimbingan, seperti yang akan dijelaskan oleh beberapa pendapat di bawah ini. Menurut Romlah (2001:68-83), bahwa kegiatan bimbingan kelompok dibagi dalam lima tahap perkembangan yaitu: tahap orientasi, tahap pembinaan 24
  • 39. norma dan tujuan kelompok, tahap mengatasi pertentangan-pertentangan dalam kelompok, tahap produktifitas, serta tahap mengakhiri kelompok. Sedang menurut Prayitno (2004:40) mengatakan bahwa pada umumnya ada empat tahap-tahap perkembangan dalam kegiatan bimbingan kelompok,yaitu tahap pembentukan, tahap peralihan, tahap pelaksanaan kegiatan, dan tahap pengakhiran. Pada dasarnya kedua pendapat mempunyai nilai atau maksud yang sama namun hanya berbeda dalam pemakaian istilahnya, dibawah ini diuraikan ciri-ciri masing-masing tahap perkembangan menurut (Prayitno: 40-60), karena dianggap dapat mewakili dari beberapa ahli dan juga sudah lazim digunakan dibeberapa sekolah pada umumnya. 1) Tahap Pembentukan Secara garis besar gambaran kegiatan dalam tahap pembentukan adalah pengenalan dan pelibatan diri dalam upaya mempererat kesatuan dalam kelompok, dimana secara umum ciri-ciri tahap ini adalah : (a) Dalam tahap ini pada umumnya anggota kelompok saling memperkenalkan diri dan juga mengungkapan tujuan atau harapanharapan, yang ingin dicapai oleh masing-masing, sebagian maupun seluruh anggota kelompok. (b) Dalam tahap ini peranan pemimpin kelompok hendaknya memunculkan dirinya sehingga tertangkap oleh para anggota sebagai orang yang benarbenar bisa dan bersedia membantu anggota kelompok mencapai tujuan mereka. 25
  • 40. (c) Ada beberapa tehnik yang dapat digunakan pemimpin kelompok dalam tahap ini, tehnik-tehnik berguna bagi pengembangan sikap anggota kelompok yang semula tumbuh secara berlahan, tehnik-tehnik ini antara lain : tehnik pertanyaan jawaban, tehnik perasaan dan tanggapan, tehnik permainan kelompok 2) Tahap Peralihan Tahap peralihan merupakan jembatan antara tahap pembentukan dan tahap pelaksanaan kegiatan, ada kalanya jembatan yang ditempuh dengan amat mudah dan lancar, ada kalanya jembatan yang di tempuh dengan susah payah, dalam keadaan seperti ini pemimpin kelompok dengan gaya kepemimpinanya yang khas, membawa para anggotanya meneliti jembatan itu dengan selamat, bila perlu beberapa hal pokok yang telah diuraikan pada tahap pembentukan seperti tujuan kegiatan kelompok, asas kerahasiaan, kesukarelaan, keterbukaan dan sebagainya, diulangi, ditegaskan, dan dimantapkan kembali. 3) Tahap Pelaksanaan Kegiatan Tahap ini merupakan inti dari kegiatan bimbingan kelompok karena pembahasan permasalahan terdapat dalam tahap ini, secara umum ciri-ciri umumnya nampak dalam tahap ini adalah: (a) Tahap pelaksanaan kegiatan ini merupakan kelanjutan dari dua tahap sebelumnya apa bila kedua tahap sebelumnya berjalan dengan baik maka pada tahap ini akan berlangsung baik atau lancar. (b) Dalam tahap ini hubungan antara anggota kelompok tumbuh dengan baik, saling tukar pengalaman dan penyajian pembukaan diri berlangsung 26
  • 41. dengan bebas sehingga dalam tahap ini dinamakan kegiatan kelompok sudah muncul. (c) Dalam proses kegiatan dimulai dengan pengemukaan permasalahan, kemudian pemilihan topik permasalahan, dan pembahasan permasalahan. 4) Tahap Pengakhiran Adalah tahap dimana kegiatan bimbingan kelompok sudah memasuki pada akhir kegiatan yaitu penyimpulan hasil pembahasan permasalahan, dimana secara umum mempunyai ciri-ciri kegiatan sebagai berikut : (a) Memasuki tahap pengakhiran kegiatan kelompok dipusatkan pada pembahasan tentang apakah para anggota kelompok akan mampu menerangkan hal-hal yang telah mereka pelajari (dalam suasana kelompok), pada kehidupan mereka sehari-hari. Peranan pemimpin kelompok disini adalah memberikan penguatan (reinforcement) terhadap hasil-hasil yang telah dicapai oleh kelompok itu. 3. Layanana Bimbingan Kelompok dengan Metode Psikodrama a. Pengertian Layanan Bimbingan kelompok dengan Metode Psikodrama Kegiatan bimbingan kelompok belajar siswa yang diberikan melalui tujuh layanan termasuk didalamnya layanan bimbingan kelompok dimana merupakan layanan yang diberikan dalam suasana kelompok, dibawah ini akan diuraikan beberapa pengertian mengenai bimbingan kelompok. Menurut Prayitno (2004: 309) bimbingan kelompok di sekolah merupakan kegiatan informasi kepada 27
  • 42. sekelompok siswa untuk membantu mereka menyusun rencana dan keputusan yang tepat. Bila dicermati pengertian diatas pada kegiatan pemberian informasi dalam suasana kelompok dengan mengandalkan dinamika kelompok sebagai wahana untuk mencapai tujuan kegiatan bimbingan dan konseling yang muncul pada individu-individu melalui kelompok, selain itu. Romlah (2001:3) mengatakan bimbingan kelompok adalah proses pemberian bantuan yang diberikan pada individu dalam situasi kelompok untuk mencegah timbulnya masalah pada siswa dan mengembangkan potensi siswa. Sukardi (2008:64) bimbingan kelompok merupakan layanan bimbingan yang memungkinkan sejumlah peserta didik bersama-sama memperoleh berbagai bahan dari konselor yang berguna untuk menunjang kehidupannya sehari-hari baik sebagai pelajar, keluarga dan masyarakat serta pertimbangan untuk pengambilan keputusan Menurut Corey (dalam Romlah, 2006: 107) psikodrama merupakan permainan peran yang dimaksudkan agar individu yang bersangkutan dapat memperoleh pengertian yang lebih baik tentang dirinya, dapat menemukan konsep dirinya, menyatakan kebutuhan- kebutuhan dan menyatakan reaksinya terhadap tekanan- tekanan terhadap dirinya. Psikodrama menurut Prawitasari, Johana E (2011:165) adalah salah satu teknik dalam psikoterapi atau teknik konseling. Sedangkan Loekomono (2006:131) psikodrama pendekatan terapi kelompok didalam klien memainkan peran dan situasi kehidupan yang lalu, sekarang atau 28
  • 43. mendatang dalam sebuah percobaan untuk meraih pemahaman yang lebih dalam dan mencapai perasaan baru. Psikodrama memberikan kesempatan orang- orang untuk melihat kehidupan pribadi dengan cara pandang berbeda setelah kehidupan pribadi itu di dramakan dan dimainkan oleh orang- orang tak dikenal yang berbeda dalam kelompok bersamanya. Di Jepang, Ihara Saikaku dalam Prawitasari (2011:166), memberikan gambaran penggunaan suatu psikodrama di abad ke-17. Sesuatu nampaknya terlintas di pikiran putri keraton. Wajahnya terlihat berang dan tidak ada satu orang pun yang mampu membuatnya tertawa. Kehadiranya membuat semua diam. Seorang emban yang telah lama mengabdi mendekati putri keraton “ Apakah tuan putri akan berkenan,”katanya,”untuk mengadakan pertemuan tentang kecemburuan lagi sore nanti, sampai lilin- lilin padam dengan sendirinya?” Mendengar ini, putri tadi langsung menemukan kegembiraanya. Lonceng keraton berbunyi dan 36 wanita termasuk semua pembantu di dapur dan pelayan duduk tanpa upacara. “tiap orang boleh berbicara tanpa tanpa ragu- ragu dan mengaku tentang kesulitan- kesulitanya dengan terbuka. Tuangkan kebencianmu, caci makilah laki-laki dengan kegetiran cemburumu, ceritakan cinta yang mengecewakan.” Perempuan itu mulai membicarakan apa yang ada di pikiran mereka, beberapa saat seorang dari para perempuan itu berbicara seakan- akan ia adalah putri keraton, katanya “kamu datang sebagai selir dan disukai tuanku dan kamu berbagi tempat tidur dengannya setiap malam dan kamu menyisihkan istri yang sesungguhnya.” Berkata demikian, ia bertindak dengan penuh kebencian. 29
  • 44. Kata- katanya menyentuh kekawatiran inti putri dan ia berkata, “ itulah, mengapa saya membuat acara seperti ini. Meskipun aku selalu memasrahkan diri padanya, ia memperlakukan aku seakan- akan aku tidak ada.” Cerita Saikaku merupakan contoh psikodrama yang dimainkan untuk memperoleh pemahaman diri dan pengungkapan rasa tanpa rasa kawatir dan takut karena semua berupa drama, bukan dialog sesungguhnya. Berdasarkan pengertian diatas bahwa bimbingan kelompok dengan metode psikodrama adalah suatu proses dalam menyelesaikan masalah atau bantuan kepada sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika untuk pencapaian tujuan tertentu dan didalam bimbingan kelompok berupaya memecahakan masalah psikis yang dialami oleh individu melalui penghayatan peran tentang situasi yang dihadapinya guna mengurangi akibat dari pada ketegangan konflik, sehingga psikodrama akan diperankan oleh siswa di dalam kelas. b. Tujuan Kegiatan Bimbingan Kelompok dengan Metode Psikodrama Tujuan yang hendak dicapai dalam bimbingan kelompok secara umum adalah supaya orang yang dilayani menjadi mampu mengatur kehidupan sendiri, memiliki pandangannya sendiri dan tidak membebek pendapat orang lain, mengambil sikap sendiri, dan berani menanggung sendiri efek serta konsekuensi dari tindak-tindakannya. Prayitno (2004: 310), tujuan bimbingan kelompok adalah pemberian informasi pada anggota kelompok. Lebih jauhnya, informasi itu akan digunakan untuk menyusun rencana dan membuat keputusan, atau untuk keperluan lain yang relevan dengan informasi yang diberikan. Bahwa tujuan bimbingan kelompok 30
  • 45. harus nyata untuk masing-masing model kelompok yaitu melaksanakan tugas yang di bebankan kepada kelompok dan pengembangan pribadi masing-masing kelompok. Sedangkan menurut Romlah (2001: 13), bahwa tujuan bimbingan kelompok adalah untuk membantu individu lain menemukan dirinya sendiri, mengarahkan diri dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan. Romlah tidak menspesifikasikan tujuan bimbingan kelompok dalam beberapa model kelompok tapi secara umum yaitu masing-masing individu (anggota) harus saling membantu dalam menemukan dirinya, mengarahkan diri dan menyesuaikan diri dengan lingkungan. Sukardi (2008:64) tujuan dari bimbingan kelompok adalah kegiatan yang menunjang kehidupannya sehari-hari baik individu sebagai pelajar, anggota keluarga dan masyarakat serta untuk pertimbangan dalam mengambil keputusan. Menurut Romlah (2006: 107), psikodrama dilaksanakan bertujuan untuk terapi dan penyembuhan. Psikodrama merupakan permainan peran yang dimaksudkan agar inidividu yang bersangkutan dapat memperoleh pengertian yang lebih baik tentang dirinya, dapat menemukan konsep dirinya, menyatakan kebutuhan-kebutuhannya, dan menyatakan reaksinya terhadap tekanan-tekanan terhadap dirinya. Selain untuk tujuan terapi, psikodrama juga dapat dipakai sebagai metode mengajar yang sangat bermanfaat bagi para mahasiswa dan orangorang yang bekerja dibidang kesehatan mental, yang disebut Moreno sebagai psikodrama didaktis Corey (dalam Romlah, 2006: 107). Sedangkan Loekmono 31
  • 46. (2006:132) bertujuan memfasilitasi ungkapan-ungkapan perasaan dengan cara yang spontan dan dramatis melalui penggunaan permainan peran. Dari tujuan yang diuraikan diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan bimbingan kelompok dengan metode psikodrama adalah membantu individu menemukan dirinya sendiri, mengarahkan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui permainan peran yang dimaksudkan agar inidividu yang bersangkutan dapat memperoleh pengertian yang lebih baik tentang dirinya, dapat menemukan konsep dirinya, menyatakan kebutuhan-kebutuhannya, dan menyatakan reaksinya terhadap tekanan-tekanan terhadap dirinya. b. Materi dalam Bimbingan Kelompok dengan Metode Psikodrama Prayitno (2004:54) berpendapat bahwa materi atau topik permasalahan yang akan dibahas tergantung kepada model untuk kelompoknya, apabila kelompok tugas berarti materinya berasal atau dipaparkan oleh pemimpin kelompok sedang kelompok bebas materi berasal dari anggota kelompok. Dengan ketentuan bahwa materi atau topik permasalahan yang di bahas harus memenuhi kreteria sebagai berikut: 1) Permasalahan terdorong menunjukan sikap konformis (menjadi pribadi yang menarik) itu relevan dengan hal-hal yang umumnya dialami oleh sebagian besar anggota kelompoknya. 2) Permasalahan pesimis mudah menilai segala sesuatu dari sisi negsatif (berfikir positif) itu cukup hangat. 32
  • 47. 3) Permasalahan menyimpan rasa takut atau kekhawatiran terhadap penolakan (mengendalikan emosi) itu dapat menimbulakan dampak yang cukup besar (urgen). 4) Permasalahan takut gagal sehingga menghindari resiko dan tidak berani memasang target (harapan yang realistik) itu sesuai dengan kapasitas anggota kelompok. 5) Permasalahan memiliki kepercayaan diri yang rendah (cara meningkatkan rasa percaya diri) itu dikemukakan dengan jelas serta dalam bahasa yang baik dan benar. 6) Permasalahan (materi) itu berguna bagi perkembangan pribadi anggota kelompok. d. Komponen pokok psikodrama Loekmono (2006: 142-151) dan Romlah (2006:108-111), Metode psikodrama terdiri dari beberapa komponen, yaitu : 1) Panggung permainan Panggung permainan mewakili ruang hidup peran utama psikodrama. Apabila tidak ada panggung, sebagian ruangan dapat dijadikan panggung asal diberikan batas yang jelas, dan para pemegang peran keluar masuk tempat itu. 2) Pimpinan psikodrama Pemimpin psikodrama adalah terapis atau konselor. Pemimpin membantu pemilihan pemegang peran utama, dan kemudian menentukan teknik psikodrama yang tepat untuk mengeksplorasi masalah individu. Sebagai 33
  • 48. fasilitator pemimpin membantu pemain utama dalam mengembangkan adegan, membantu agar dapat memperoleh pemahaman baru mengenai permasalahanya 3) Pemegang peran utama (pritagonist) Individu yang dipilih oleh kelompok dan pimpinan kelompok untuk memerankan kejadian penting dalam hidupnya adalah pemegang peran utama. Dalam memainkan peran ini ia didorong supaya melakukan peran dengan spontan, tidak terlalu banyak menggunakan kata-kata tetapi lebih banyak mengungkapkanya dalam bentuk gerakan dan perbuatan. 4) Pemeran pembantu (the auxiliary egos) Pemeran pembantu atau pembantu terapis adalah siapa saja kelompok yang membantu pemimpin kelaompok dan pemeran utama dalam produksi psikodrama 5) Penonton Hal ini adalah para anggota- anggota kelompok yang tidak menjadi pemeran utama atau pemeran pembantu. Setelah permainan selesai diadakan diskusi, dan penonton diminta reaksinya mengenai apa yang dilihatnya dan memberikan pandanganaya terhadap psikodrama yang telah dijalankan. e. Prosedur Pelaksanaan Bimbingan Kelompok dengan Metode Psikodrama Ada bermacam-macam pembagian prosedur atau tahapan perkembangan kegiatan bimbingan, seperti yang akan dijelaskan oleh beberapa pendapat di 34
  • 49. bawah ini. Romlah, (2006:68-83) bahwa kegiatan bimbingan kelompok dibagi dalam lima tahap perkembangan yaitu: tahap orientasi, tahap pembinaan norma dan tujuan kelompok, tahap mengatasi pertentangan-pertentangan dalam kelompok, tahap produktifitas, serta tahap mengakhiri kelompok. Prayitno (2004:40-60) mengatakan, bahwa pada umumnya ada empat tahap-tahap perkembangan dalam kegiatan bimbingan kelompok,yaitu tahap pembentukan, tahap peralihan, tahap pelaksanaan kegiatan, dan tahap pengakhiran. Dibawah ini diuraikan prosedur dari tahap-tahap pelaksanaan bimbingan kelompok dengan metode psikodrama. 1) Tahap Pembentukan Secara garis besar gambaran kegiatan dalam tahap pembentukan adalah pengenalan dan pelibatan diri dalam upaya mempererat kesatuan dalam kelompok, dimana secara umum ciri-ciri tahap ini adalah : (a) Dalam tahap ini pada umumnya anggota kelompok saling memperkenalkan seluruh anggota kelompok. (b) Dalam tahap ini peranan pemimpin kelompok hendaknya memunculkan dirinya sehingga tertangkap oleh para anggota sebagai orang yang benarbenar bisa dan bersedia membantu anggota kelompok mencapai tujuan mereka. (c) Ada beberapa tehnik yang dapat digunakan pemimpin kelompok dalam tahap ini, tehnik-tehnik berguna bagi pengembangan sikap anggota kelompok yang semula tumbuh secara berlahan, tehnik-tehnik ini antara 35
  • 50. lain : tehnik pertanyaan jawaban, tehnik perasaan dan tanggapan, tehnik permainan kelompok 2) Tahap persiapan Dalam pelaksanaan psikodrama ini dilakukan untuk memotivasi anggota kelompok agar mereka siap berpartisipasi dalam permainan. Corey dalam Romlah, (2006:111) mengemukakan beberapa cara yang dapat dipakai untuk menyiapakan kelompok sebagai berikut: (a) Pemimpin kelompok memberikan uraiaan singkat mengenai hakikat dan tujuan psikodrama, dan anggota kelompok diminta untuk mengajukan pertanyaan dalam hal- hal yang belum jelas (b) Pemimpin kelompok mewawancarai tiga anggota kelompok secara singkat dalam situasi kelompok. (c) Anggota kelompok membentuk kelompok- kelompok kecil dan diberi waktu beberapa menit untuk membicarakan konflik- konflik yang pernah mereka alami yang ingin mereka kemukakan dalam permainan psikodrama. 3) Tahap Peralihan Tahap peralihan merupakan jembatan antara tahap pembentukan, tahap persiapan dalam melakukan teknik psikodrama dan tahap pelaksanaan kegiatan, ada kalanya jembatan yang ditempuh dengan amat mudah dan lancar, ada kalanya jembatan yang di tempuh dengan susah payah, dalam keadaan seperti ini pemimpin kelompok dengan gaya kepemimpinanya yang khas, membawa para anggotanya meneliti jembatan itu dengan selamat, bila perlu beberapa hal pokok yang telah diuraikan pada tahap pembentukan seperti tujuan kegiatan kelompok, 36
  • 51. asas kerahasiaan, kesukarelaan, keterbukaan dan sebagainya, diulangi, ditegaskan, dan dimantapkan kembali. 4) Tahap Pelaksanaan Kegiatan Tahap ini merupakan inti dari kegiatan bimbingan kelompok karena pembahasan permasalahan terdapat dalam tahap ini, secara umum ciri-ciri umumnya nampak dalam tahap ini adalah: (a) Tahap pelaksanaan kegiatan ini merupakan kelanjutan dari tahap sebelumnya apa bila tahap sebelumnya berjalan dengan baik maka pada tahap ini akan berlangsung baik atau lancar. (b) Dalam tahap ini hubungan antara anggota kelompok tumbuh dengan baik, saling tukar pengalaman dan penyajian pembukaan diri berlangsung dengan bebas sehingga dalam tahap ini dinamakan kegiatan kelompok sudah muncul. (c) Dalam proses kegiatan dimulai dengan pengemukaan permasalahan, kemudian pemilihan topik permasalahan, dan pembahasan permasalahan. Dalam tahap pelaksanaan pada psikodrama terdiri dari kegiatan dimana pemain utama dan pemaian pembantu memperagakan peraminan. Adegan- adegan dibuat berdasarkan masalah- masalah yang diungkapkan pemeran utama. Psikodrama biasanya berkembang dari hal- hal yang bersifat permukaan ke arah hal- hal yang lebih mendalam dan merupakan sumber masalah klien. 5) Tahap Diskusi Dalam tahap diskusi, para anggota kelompok diminta untuk memberikan tanggapan dan sumbangan pikiran terhadap permaianan yang dilakukan oleh 37
  • 52. pemeran utama. Tahap diskusi ini penting karena merupakan rangkaiaan proses perubahan perilaku pemeran utama ke arah keseimbangan pribadi 6) Tahap Pengakhiran Adalah tahap dimana kegiatan bimbingan kelompok sudah memasuki pada akhir kegiatan yaitu penyimpulan hasil pembahasan permasalahan, dimana secara umum mempunyai ciri-ciri kegiatan sebagai berikut : (a) Memasuki tahap pengakhiran kegiatan kelompok dipusatkan pada pembahasan tentang apakah para anggota kelompok akan mampu menerangkan hal-hal yang telah mereka pelajari (dalam suasana kelompok), pada kehidupan mereka sehari-hari. (b) Peranan pemimpin kelompok disini adalah memberikan penguatan (reinforcement) terhadap hasil-hasil yang telah dicapai oleh kelompok itu. 3. Kerangka Berpikir dan Hipotesis a. Kerangka Berfikir Percaya diri merupakan salah satu aspek kepribadian yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Percaya diri yakin atas kemampuan mereka sendiri serta memiliki pengharapan yang realistis. Pada kehidupan nyata tidak setiap orang bisa memiliki kepercayaan diri yang tinggi dengan mudah, oleh karena itu perlu adanya peningkatan rasa percaya diri. Kepercayaan diri yang rendah dapat membuat seseorang dihadapkan oleh perasaan ragu, cemas, dan rendah diri yang menghambat seseorang melakukan sesuatu. Sedangkan rasa percaya diri dapat memberikan hal positif bagi kejiwaan seseorang sehingga berpengaruh langsung 38
  • 53. kepada individu dalam menjalankan kehidupan karena individu memiliki keyakinan terhadap kemampuan dirinya dan kepercayaan diri tidak bisa disamaratakan dengan aktifitas ke aktifitas lain. Memiliki kepercayaan diri dapat membawa seseorang dalam keyakinan terhadap diri sendiri sehingga mampu mengembangkan penilaian yang positif terhadap diri dan lingkungan. Teknik yang digunakan merupakan alat untuk mencapai tujuan bimbingan, ada beberapa teknik atau metode yang digunakan dalam bimbingan kelompok antara lain permainan peran yaitu psikodrama. Metode psikodrama merupakan teknik yang menarik dan memberikan pengalaman psikologis bagi peserta didik dimana peserta didik memerankan situasi-situasi dramatis yang dialami pada waktu lalu dan diatisipasikan akan dialami pada waktu yang akan datang dengan tujuan memperoleh pengertian yang mendalam mengenai dirinya dan melepaskan tekanan-tekanan yang dialami atau katarsis terutama terhadap kepercayaan diri. Kerangka berfikir dapat digambarkan peneliti sebagai berikut : 39
  • 54. Bagan 1.1 Kerangka Berfikir Kepercayaan diri yang rendah seseorang dihadapkan oleh perasaan ragu, cemas dan rendah diri sehingga menghambat seseorang melakukan sesuatu Peserta didik yang memiliki kepercayaan diri rendah b. Bimbingan Kelompok dengan metode psikodrama Peserta didik yang memiliki kepercayaan diri tinggi Hipotesis Berdasarkan kajian teori diatas, maka dapat ditentukan hipotesis penelitian yaitu “ Pengaruh Layanan Bimbingan Kelompok dengan Metode Psikodrama terhadap Kepercayaan Diri Siswa Kelas XI SMK 1 Negeri kendal Tahun Pelajaran 2012/2013”. 40
  • 55. BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan waktu penelitian 1. Penelitian dengan judul “pengaruh bimbingan kelompok dengan metode psikodrama terhadap kepercayaan diri siswa kelas XII di SMK Negeri 1 Kendal Kabupaten Kendal Tahun Pelajaran 2013/2014”. Penelitian eksperimen yang dilaksanakan pada bulan Agustus-September 2013, pada waktu tersebut akan memudahkan peneliti karena proses belajar mengajar mulai aktif dan mulai tahun ajaran 2013/2014. 2. Waktu penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada Semester I pada bulan Agustus – September tahun 2013. Adapun jadwal kegiatan penelitian sebagai berikut: Tabel 3.1 Jadwal Kegiatan Penelitian Tahun 2013 No Uraian Kegiatan 1 Penyusunan Proposal Pelaksanaan Penelitian April Mei Juni Juli Agustus September    2 Penyusunan Instrumen 3 Pengurusan izin 4 Uji Coba Instrumen 5 Pelaksanaan Penelitian 6 Pengolahan Data 7 Penyusunan Laporan    41   
  • 56. B. Variabel Penelitian Dalam penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu variabel bebas (X) dan Variabel terikat (Y). Dengan memahami kedua variabel penelitian, maka akan memudahkan peneliti dalam rangka mengumpulkan data. Variabel tersebut antara lain: 1. Variabel bebas (X) dalam penelitian ini adalah layanan bimbingan kelompok dengan metode psikodrama. 2. Variabel terikat (Y) dalam penelitian ini adalah kepercayaan diri. C. Definisi Operasional Variabel 1. Kepercayaan diri Kepercayaan diri adalah keyakinan seseorang terhadap kemampuan dirinya sehingga individu mampu mengembangkan sikap positif terhadap kemampuan dirinya maupun terhadap lingkungan serta situasi yang dihadapi dan didukung oleh pengalaman, potensi aktual serta harapan yang realistik terhadap diri sendiri. Kepercayaan diri dapat diukur melalui aspek-aspek kepercayaan diri yang proposional antara lain : (1) Percaya akan kompetensi atau kemampuan diri, sehingga tidak membutuhkan pujian, pengakuan, penerimaan, ataupun hormat orang lain. (2) Individu tidak perlu menunjukan sikap konformis dimana individu selalu menyesuaikan intruksi dari kelompok yang terkadang tidak sesuai dengan dirinya. (3) Berani menerima dan menghadapi penolakan orang lain dan berani menjadi diri sendiri. (4) Punya pengendalian diri yang baik dan emosinya stabil. (5) Memiliki internal locus of control, memandang keberhasilan atau kegagalan, 42
  • 57. bergantung pada usaha diri sendiri dan tidak mudah menyerah pada nasib atau keadaan serta tidak bergantung dan mengharapkan bantuan orang lain. (6) Mempunyai cara pandang yang positif terhadap diri sendiri, orang lain, dan situasi di luar dirinya. (7) Memiliki harapan yang realistik terhadap diri sendiri sehingga ketika harapan itu terwujud , ia tetap melihat sisi positif dirinya dan situasi yang terjadi. 2. Bimbingan Kelompok dengan Metode Psikodrama Bimbingan kelompok dengan metode psikodrama adalah suatu proses dalam menyelesaikan masalah atau bantuan kepada sekelompok orang dengan memanfaatkan dinamika untuk pencapaian tujuan tertentu dan didalam bimbingan kelompok berupaya memecahakan masalah psikis yang dialami oleh individu melalui penghayatan peran tentang situasi yang dihadapinya guna mengurangi akibat dari pada ketegangan konflik, sehingga psikodrama akan diperankan oleh siswa di dalam kelas. Dalam pelaksanaan bimbingan kelompok dengan metode psikodrama dilakukan dalam enam kali pertemuan dan setiap kelompok terdiri 1213 orang yang dibagi menjadi tiga kelompok. Dimaksudkan agar individu yang bersangkutan dapat memperoleh pengertian yang lebih baik tentang dirinya, dapat menemukan konsep dirinya, menyatakan kebutuhan- kebutuhan dan menyatakan reaksinya terhadap tekanan- tekanan terhadap dirinya dalam keyakinan terhadap kemampuan dirinya sehingga mampu mengembangkan sikap positif terhadap kemampuan dirinya dan terhadap lingkungan serta situasi yang dihadapi setetlah mengikuti kegiatan bimbingan kelompok dengan metode psikodrama. 43
  • 58. D. Metode dan Rancangan Penelitian 1. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan yaitu penelitian kuantitatif dengan pendekatan pre-eksperimental design One group pretest-posttest design (Soegeng, 2006: 163). Sedangkan alat pengumpulan data yang digunakan adalah skala kepercayaan diri siswa. Sebelum diberikan perlakuan terlebih dahulu dilakukan pengambilan data awal menggunakan skala kepercayaan diri yang disebut pre-test. Selanjutnya setelah diberi perlakuan selama lima kali pertemuan, dilakukan kembali pengambilan data akhir yang disebut post-test. Pengambilan data awal dan akhir dilakukan guna mengetahui apakah psikodrama berpengaruh dalam kepercayaan diri siswa. 2. Rancangan Penelitian Peneliti menggunakan desain penelitian pre eksperimental design dengan jenis One Group Pre-Test dan Post-test design (Soegeng, 2006:163). Dalam desain ini subyek dikenakan perlakuan dengan dua kali pengukuran. Pengukuran pertama dilakukan sebelum psikodrama dan pengukuran kedua dilakukan setelah psikodrama diberikan kepada subyek penelitian. Desain tersebut dapat digambarkan sebagai berikut : Gambar 3.2 Penelitian Pre-eksperimen Design One Group Pre-test and Post-test Pre-test T1 Perlakuan X Post-test T2 44
  • 59. Keterangan: T1 : pengukuran pertama kepercayaan diri siswa sebelum diberi perlakuan yang diukur dengan psikodrama. : pelaksanaan psikodrama terhadap siswa. : pengukuran kedua kepercayaan diri pada siswa setelah diberi perlakuan berupa psikodrama dengan instrumen yang sama denagn pengukuran yang pertama. X T2 Dengan demikian pengukuran dilakukan sebanyak dua kali yaitu sebelum dan sesudah eksperimen dengan menggunakan instrumen yang sama yakni skala psikologi kepercayaan diri. Berikut ini tabel materi layanan yang akan diberikan kepada siswa selama tahap penelitian: Tabel 3.3 Materi Layanan No Indikator 1. Tidak terdorong menunjuk an sikap konformis 2. Memiliki pengendali an diri dan emosi yang stabil 3. 4. Topik Layanan Menjadi pribadi yang menarik Waktu Tujuan 45 menit Setelah mendapatkan layanan ini, siswa dapat mengetahui dan memahami tentang bagaimana menjadi pribadi yang menarik sesuai dengan dirinya sendiri Mengenda likan emosi 45 menit Siswa dapat mengetahui dan memahami tentang jenis-jenis emosi dan cara mengarahkan emosi Memiliki cara pandang yang positif Berfikir positif 45 menit Siswa diharapkan memahami cara berfikir positif dan dapat memecahkan masalah yang muncul dari cara berfikir positif Memiliki harapan yang realistik Harapan yang realistik 45 menit Siswa dapat mengetahui dan memahami tentang bagaimana menetapkan tujuan yang rasional dan realistik agar dapat terwujud sesuai dengan kemampuan yang 45
  • 60. dimiliki. 5. Cara Meningkat kan Kepercaya an Diri Cara Meningkat kan Kepercaya an Diri 45 menit Siswa dapat memahami pentingnya memiliki rasa percaya diri yang proposional dan dapat meningkatkan rasa percaya diri dengan baik E. Populasi, sampel dan sampling 1. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah kelas XII di SMK Negeri 1 Kendal Kabupaten Kendal Tahun Pelajaran 2013/2014 yang berjumlah 397 siswa (Arikunto, 2010: 173). Tabel 3.4 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Sebaran Populasi Penelitian Kelas XII TPPPP XII Multi Media XII Akuntansi I XII Akuntansi II XII Akuntansi III XII Busana Butik I XII Busana Butik II XII Administrasi Perkantoran I XII Administrasi Perkantoran II XII Perbangkan Syariah XII Pemasaran Ekonomi Jumlah Total Siswa 31 36 36 37 36 39 39 37 36 36 34 397 2. Sampel Menentukan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan cara undian. Peneliti mengacak kelas dengan cara undian gulungan kertas yang diberi nomor pada salah satu kertas. Kelas yang mendapat gulungan kertas yang bernomor 46
  • 61. yang akan dijadikan sebagai sampel (Arikunto, 2010: 174). Hasil dari undian tersebut adalah kelas XII VII yang berjumlah 37 siswa. 3. Sampling Menurut Sugiyono (2010: 121) teknik sampling adalah merupakan teknik pengambilan sampel. Dalam pengambilan sampel, peneliti menggunakan teknik cluster random sampling. Cluster random sampling dilakukan dengan cara undian. Peneliti mengacak kelas dengan cara undian gulungan kertas yang diberi nomor pada salah satu kertas. Kelas yang mendapat gulungan kertas yang bernomor yang akan dijadikan sebagai sampel (Arikunto, 2010: 185). F. Teknik Pengumpulan Data Agar dalam penelitian ini dapat mengungkap data, digunakan teknik pengumpulan data berupa skala psikologi. Metode ini digunakan untuk mengungkap variabel terikat. Sebagai alat ukur, skala psikologi memiliki karakteristik khusus yang membedakannya dari berbagai bentuk alat pengumpulan data yang lain seperti angket, daftar isian, inventori dan lainlainnya. Istilah skala lebih banyak dipakai untuk menamakan alat ukur aspek afektif, selanjutnya skala psikologi selalu mengacu kepada alat ukur aspek atau atribut afektif. Karakteristik skala psikologi. (a) Stimulusnya berupa pertanyaan atau pernyataan yang tidak langsung mengungkap atribut yang hendak di ukur melainkan mengungkap indikator perilaku dari atribut yang bersangkutan. (b) Dikarekan atribut psikologi diungkap secara tidak langsung lewat indikator- 47
  • 62. indikator perilaku sedangkan indikator perilaku diterjemahkan dalam bentuk item-item, maka skala psikologi selalu berisi banyak item. (c) Respon subjek tidak diklasifikasikan sebagai jawaban ”benar” atau ”salah”. Semua jawaban dapat diterima sepanjang diberikan secara jujur dan sungguh-sungguh. G. Instrumen Penelitian Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan skala psikologis. Penggunaan skala psikologis dalam penelitian ini, dimasukkan untuk memperoleh informasi tentang pengaruh layanan bimbingan kelompok dengan metode psikodrama terhadap kepercayaan diri siswa kelas XII di SMK Negeri 1 Kendal Kabupaten Kendal Tahun Pelajaran 2013/2014. Skala yang diberikan berupa pernyataan – pernyataan yang disertai alternative jawaban, sehingga responden tinggal memilih jawaban yang sesuai dengan keinginan dan keadaan dirinya. Menurut Azwar (2006: 3) skala psikologis selalu mengacu pada alat ukur aspek atau atribut afektif. Pola pernyataan skala psikologis yang diberikan merupakan stimulus yang tertuju pada indikator yang memancing jawaban tentang refleksi diri dari keadaan diri subjek yang biasanya tidak disadari oleh yang bersangkutan. Skala psikologis yang digunakan untuk mengungkap kepercayaan diri pada siswa adalah skala kepercayaan diri yang dikembangkan peneliti sendiri berdasarkan indikator kepercayaan diri. 48
  • 63. Tabel 3.5 Kisi-Kisi Try Out Instrumen Penelitian Skala Kepercayaan Diri Indikator Positif Negatif Jumlah item A. Percaya akan kompetensi atau kemampuan diri 1, 15,29 8, 22, 36 6 B. Tidak 9, 23, 27 2, 16, 30 6 3, 17, 31 10, 24, 38 6 11, 25, 39 4, 18, 32 6 5, 19, 33 12, 26, 40 6 13, 27, 41 6, 20, 34 6 7, 21, 35 14, 28, 42 6 C. D. E. F. G. terdorong sikap menunjukan konformis Berani menerima dan menghadapi penolakan dari orang lain Memiliki pengendalian diri Memiliki internal locus of control Mempunyai cara pandang yang positif Memiliki harapan yang realistik Jumlah 42 Skala psikologis kepercayaan diri dijabarkan menjadi 42 item pernyataan yang mengacu pada indikator yang ada. Skor penilaian skala psikologis kepercayaan diri memiliki empat alternative jawaban yaitu : (a) Sangat setsuai, (b) Sesuai, (c) Tidak sesuai, (d) Sangat tidak sesuai. Untuk keperluan analisis kuantitatif, maka jawaban yang telah ditentukan untuk pernyataan maupun pertanyaan positif dapat diberi skor: (a) Sangat sesuai diberi skor 4, (b) Sesuai diberi skor 3, (c) Tidak sesuai diberi skor 2, (d) Sangat tidak sesuai diberi skor 1. Sedangkan jawaban yang ditentukan untuk pernyataan maupun pertanyaan negatif dapat diberi skor: (a) Sangat sesuai diberi skor 1, (b) Sesuai diberi skor 2, (c) Tidak sesuai diberi skor 3, (d) Sangat tidak sesuai diberi skor 4. 49
  • 64. Tabel 3.6 Kisi-Kisi Instrumen Penelitian Skala Kepercayaan Diri Pre Test-Post Test Indikator Positif Negatif Jumlah item A. Percaya akan kompetensi atau kemampuan diri 1, 15,29 8, 22, 36 6 B. Tidak terdorong menunjukan 23, 27 2, 16 4 3, 17 10, 24, 38 5 11, 25 32 3 5, 19 12, 26, 40 5 13 20, 34 3 7, 21, 35 28, 42 5 sikap konformis C. Berani menerima dan menghadapi penolakan dari orang lain D. Memiliki pengendalian diri E. Memiliki internal locus of control F. Mempunyai cara pandang yang positif G. Memiliki harapan yang realistik Jumlah 31 Selanjutnya distribusi pemberian skor skala kepercayaan diri siswa dan kisi-kisi skala kepercayaan diri dapat dilihat pada tabel 3.7: Pernyataan Positif Negatif Tabel 3.7 Skor skala psikologis Kepercayaan Diri Penilaian skor SS S TS 4 3 2 1 2 3 STS 1 4 Instrumen yang baik harus mempunyai dua persyaratan yang penting yaitu valid dan reliabel. Menentukan validitas dan reliabilitas instrumen dilakukan dengan cara uji validitas dan reliabilitas. a. Uji Validitas Instrumen 50
  • 65. Validitas adalah suatu ukuran yang menunujkkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi. Sebaliknya, instrumen yang kurang valid memiliki validitas rendah (Arikunto, 2010: 211). Untuk menguji validitas butir soal dilakukan dengan menggunakan rumus korelasi product moment angka kasar: rxy  N  XY  ( X )( Y ) {N  X 2  ( X )2}{N  Y 2  ( Y )2} Keterangan : Rxy : koefisien korelasi antara x dan y N : jumlah subyek ∑X : jumlah skor masing-masing item ∑Y : jumlah skor total ∑X2 : jumlah kuadrat skor item ∑Y2 : jumlah kuadrat skor total ∑XY : jumlah perkalian skor item (X) dan skor total (Y) (Arikunto,2010:213) Penelitian ini menggunakan taraf signifikansi sebesesar 5%. Analisis butir dilakukan untuk mengetahui valid atau tidaknya butir soal dalam instrumen yaitu dengan cara skor yang ada dalam butir soal dikorelasikan dengan skor total, kemudian dibandingkan pada traf signifikansi 5 %. Apabila r hitung> rtabel, maka alat ukur tersebut adalah valid. Selanjutnya hasil rekapitulasi validitas dapat dilihat pada tabel sebagai berikut: 51
  • 66. Tabel 3. Rekapitulasi Hasil Perhitungan Uji Validitas Skala Psikologis Kepercayaan Diri Siswa No Butir 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 r xy 0.574 0.426 0.377 0.086 0.736 0.267 0.343 0.372 0.216 0.587 0.528 0.354 0.723 0.250 0.498 0.613 0.382 0.021 0.378 0.358 0.758 0.379 0.495 0.620 0.708 0.353 0.304 0.685 0.516 0.302 0.291 0.629 0.150 0.346 0.356 0.534 0.421 0.380 0.011 0.620 -0.051 0.361 Keterangan Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Tidak Valid Tidak Valid Valid Tidak Valid Valid Valid Valid Valid Valid Tidak Valid Valid Tidak Valid Valid 52
  • 67. Dari tabel product moment untuk N = 35 pada taraf signifikansi 0,05 diperoleh rtabel sebesar 0,334. Dikarenakan rhitung > rtabel (0,381 > 0,334), dengan demikian butir skala nomor 1 adalah dinyatakan valid. Butir pernyataan yang dinyatakan tidak valid adalah butir instrumen 4,6, 9, 14, 18, 27, 30, 31, 33, 39, 41. Adapun butir pernyataan yang dinyatakan valid adalah:1,2,3,5,7,8,10,12,13,15,16,17,19,20,21,22,23,24,25,26,28,29,32,33,34,35,3 6,37,3840,42. Untuk butir pernyataan skala psikologis yang dinyatakan valid selanjutnya akan di uji reliabilitasnya, dan yang dinyatakan tidak valid akan dihilangkan karena indikatornya sudah terwakilkan pada butir pernyataan yang valid. b. Uji Reliabilitas Instrumen Reliabilitas adalah sesuatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik (Arikunto,2010:221). Untuk menguji reliabilititas tes akan digunakan rumus Alpha yaitu: r11 k σb2 σt2 Keterangan : : reliabilitas instrumen : banyaknya butir pertanyaan / banyaknya soal : jumlah varians skor tiap-tiap butir : varians total (Arikunto, 2010: 231) 53
  • 68. Jika nilai r11> r tabel, maka variabel tersebut reliabel. 1. Menghitung Varian butir 2 ( ΣX σb 2 ( ΣX )2 ) N - = 536 = N Dan seterusnya sampai 42 butir Maka jumlah semua varian butir= Σσb2 2. = = 0.194 27.363 + 0.154 + ) ( 138 36 36 ........ .. .. .. .. + 2 = 0.194 0.4969 Menghitung varians total σt 2 = Variansitotal ( ΣY2 σt 2 7205 5 4 ( ΣY )2 ) - N = N 3. Menghitung reliabilitas alpha : (1 k r11 = k-1 = Σ σb2 σt 2 ) 27.363 150.052 0.182 ) ( 1 = = 42 41 1.024 = = 1.024 0.838 (1 0. 8 1 8 ) 54 - ) ( 36 5074 36 2 = 150.052
  • 69. Dari tabel product moment untuk N = 35 pada taraf signifikansi 0,05 diperoleh rtabel sebesar 0,334. Dikarenakan nilai r11 (0,878) > rtabel (0,334), maka skala kepercayaan diri siswa dinyatakan reliabel. Teknik Analisis Data Teknik analisa data merupakan suatu cara yang digunakan untuk mengolah data hasil penelitian guna memperoleh kesimpulan. Untuk menganalisa data digunakan metode statistik yaitu cara-cara ilmiah yang dipersiapkan untuk mengumpulkan menyusun, menyajikan, dan menganalisa data penyelidikan yang berwujud angka-angka (Arikunto, 2010: 281). Menurut Arikunto (2010: 349) untuk menganalisa hasil eksperimen yang menggunakan pre-test dan post-test one group design yaitu menggunakan uji-t dengan rumus sebagai berikut: Keterangan: Md : Mean dari perbedaan pre-test dengan post-test(posttest-pretest) Xd : Deviasi masing-masing subjek (d-Md) ∑x2d : jumlah kuadrat deviasi N : subjek pada sampel d.f : ditemtukan dengan N- Apabila hasil Ho= t hitung < t tabel pada taraf signifikan 5% maka (Ho) gagal ditolak dan Ha diterima, sehingga hipotesis yang berbunyi “layanan bimbingan kelompok dengan metode psikodrama tidak berpengaruh dalam meningkatkan kepercayaan diri siswa kelas XII SMK Negeri 1 Kendal Tahun Pelajaran 55
  • 70. 2013/2014” ditolak. Jika t hitung ≥ maka (Ho) ditolak dan (Ha) diterima sehingga hipotesis berbunyi “layanan bimbingan kelompok dengan metode psikodrama berpengaruh dalam meningkatkan kepercayaan diri siswa kelas XII SMK Negeri 1 Kendal Tahun Pelajaran 2013/2014”. 56
  • 71. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Dalam bab ini dipaparkan tentang hasil penelitian yang telah dilaksanakan, analisis data beserta pembahasanya. Hasil penelitian ini diperoleh dari penelitian yang dilaksanakan di SMK Negeri 1 Kendal tahun pelajaran 2013/2014. A. Deskripsi Data Deskripsi data merupakan upaya peneliti untuk memperoleh pemahaman lebih lanjut tentang variabel penelitian. Oleh karena itu untuk mencapai tujuan penelitian memerlukan dukungan data yang akurat. Untuk memperoleh data penelitian, langkah selanjutnya adalah dengan memberikan pretest. Untuk dapat menentukan kriteria kepercayaan diri siswa maka skor diklasifikasikan. Kelas interval disusun berdasarkan skor total tertinggi apabila semua dijawab dengan pilihan jawaban sangat sesuai, maka mempunyai skor total tertinggi 124 (4x31) dan skor total terendah apabila semua dijawab dengan pilihan jawaban sangat tidak sesuai, maka mempunyai skor total terendah 31 (1x31). Skor total terendah dan skor total tertinggi skala kepercayaan diri siswa tersebut digunakan untuk menentukan kelas interval dengan rumus sebagai berikut: Skor tertinggi – skor terendah Kelas interval = 4 (empat) kategori = 124  31 = 23,25 = 23 4 57
  • 72. Berdasarkan kelas interval skor tersebut dengan panjang kelas interval 23 dapat disusun menjadi empat kategori distribusi bergolong yaitu: kelas interval 31-53 termasuk kategori sangat rendah, kelas interval 54-77 termasuk kategori rendah, kelas interval 78-101 termasuk kategori tinggi dan kelas interval 102-124 termasuk kategori sangat tinggi. Berikut adalah distribusi bergolong yang dapat dilihat pada tabel: Tabel 4.1 Kategori Distribusi Bergolong Kelas Interval 102-124 78-101 54-77 31-53 Kategori Sangat Tinggi Tinggi Rendah Sangat Rendah Berikut adalah rekapitulasi hasil pretest yang telah diberikan pada siswa: Tabel 4.2 Rekapitulasi Hasil Pretest Perhitungan Uji t Pretest-Postest Subjek 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Pretest 73 75 72 78 74 74 76 73 71 81 83 81 72 Kriteria Rendah Rendah Rendah Tinggi Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Tinggi Tinggi Tinggi Rendah 58 Postest 80 84 75 82 76 79 81 76 76 89 91 84 81 Kriteria Tinggi Tinggi Rendah Tinggi Rendah Tinggi Tinggi Rendah Rendah Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi
  • 73. 14 15 16 17 18 74 80 73 69 83 19 50 20 106 21 22 23 24 25 84 86 66 77 91 26 104 27 28 79 86 29 52 30 69 31 53 32 33 34 35 72 69 73 68 36 37 Total Skor Tertinggi Skor Terendah Rata-rata Rendah Tinggi Rendah Rendah Tinggi Sangat Rendah Sangat Tinggi Tinggi Tinggi Rendah Tinggi Tinggi Sangat Tinggi Tinggi Tinggi Sangat Rendah Rendah Sangat Rendah Rendah Rendah Rendah 80 85 74 72 85 Tinggi Tinggi Rendah Rendah Tinggi 67 Rendah 70 Sangat Tinggi Tinggi Tinggi Rendah Tinggi Tinggi Sangat Tinggi Tinggi Tinggi Sangat Rendah Rendah 63 Rendah 81 76 84 Tinggi Rendah Tinggi Rendah 78 Tinggi 87 Tinggi 95 Tinggi 68 Rendah 78 Tinggi 107 89 90 70 82 93 105 86 91 53 2802 3008 106 107 52 53 75,72 81,29 59
  • 74. Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Pretest Kepercayaan Diri Kelas interval Frekuensi 102-124 78-101 54-77 31-53 Jumlah Prosentas e 5,40 % 35,15 % 51,35 % 8,10 % 100 % 2 13 19 3 37 Kategori Sangat Tinggi Tinggi Rendah Sangat Rendah Dari tabel di atas dapat dilihat hasil pretes skala tentang Kepercayaan Diri. Data menunjukan bahwa skor pada kelas interval 31 - 53 ada tiga siswa yang termasuk pada kategori sangat rendah atau 8,1 %, urutan kedua pada kelas interval 54 - 77 sebanyak 19 siswa atau 51,3 % berada pada kategori rendah, urutan pada kelas interval 78 – 101 sebanyak 13 siswa atau 35,1 % berada pada kategori tinggi, dan urutan pada kelas interval 102 – 124 sebanyak tiga siswa atau 5,4 % pada kategori sangat tinggi. Apabila dilihat dari rata-rata hasil analisis pre tes skala kepercayaan diri sebebsar 75,72, maka dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan kepercayaan diri yang ada pada siswa kelas XII SMK Negeri 1 Kendal Tahun Pelajaran 2013/2014 berada pada kategori rendah. Untuk selengkapnya dapat dilihat dalam grafik batang berikut ini. 60
  • 75. Grafik 4.1: Grafik Batang Pre Test Kepercayaan Diri Berdasarkan data yang sudah diperoleh dalam pre-test peneliti berkeinginan untuk mengupayakan apakah metode psikodrama dapat mempengaruhi kepercayaan diri siswa yang rendah dapat berubah menjadi lebih baik. Dalam hal ini peneliti melakukan beberapa langkah yang harus dilakukan dengan memberikan layanan bimbingan kelompok dengan menggunakan metode psikodrama terhadap kepercayaan diri siswa yang sebelumnya tidak diterapkan dalam pemberian bimbingan. Melalui pemberian layanan bimbingan kelompok dengan metode psikodrama ini diharapkan kepercayaan diri dengan klasifikasi rendah dapat berubah menjadi kepercayaan diri dengan klasifikasi tinggi atau sangat tinggi. 61
  • 76. Pelaksanaan bimbingan kelompok dilaksanakan pada bulan Agustus – September 2013/ 2014. Berikut ini jadwal pelaksanaan bimbingan kelompok: Tabel 4.4 No Rekapitulasi Jadwal Penelitian Hari/Tanggal Kegiatan 1 Try Out Kamis, 25 Juli 2013 Menyebarkan skala psikologis kepercayaan diri kelas XII PS 2 Pre Test Kamis, 15 Agustus 2013 3 Pertemuan I 4 Pertemuan I 5 Pertemuan I 6 Pertemuan II 7 Pertemuan II 8 Pertemuan II 9 Pertemuan III Pertemuan III Pertemuan III Kamis, 22 Agustus 2013 (Kelompok I) Jum’at, 23 Agustus 2013 (Kelompok II) Sabtu, 24 Agustus 2013 (Kelompok III) Senin, 26 Agustus 2013 (Kelompok I) Selasa, 27 Agustus 2013 (Kelompok II) Rabu, 28 Agustus 2013 (Kelompok III) Kamis, 29 September 2013(Kelompok I) Jum’at, 30 September 2013 (Kelompok II) Sabtu, 31 September 2013 (Kelompok III) Kamis, 5 September 2013 (Kelompok I) Jum’at, 6 September 2013 Menyebarkan skala psikologis kepercayaan diri kelas XII AP 1 Topik: Menjadi Pribadi yang Menarik 10 11 12 Pertemuan IV 13 Pertemuan IV 62 Keterangan Topik: Menjadi Pribadi yang Menarik Topik: Menjadi Pribadi yang Menarik Topik: Mengendalikan dan mengarahkan emosi Topik: Mengendalikan dan Mengarahkan Emosi Topik: Mengendalikan dan Mengarahkan Emosi Topik: Berfikir Positif Topik: Berfikir Positif Topik: Berfikir Positif Topik: Harapan yang Realistik Topik: Harapan yang Realistik
  • 77. 14 Pertemuan IV 15 Pertemuan V 16 Pertemuan V 17 Pertemuan V 18 Post Test (Kelompok II) Sabtu, 7 September 2013 (Kelompok III) Kamis, 12 September 2013(Kelompok I) Jum’at, 13 September 2013 (Kelompok II) Sabtu, 14 September 2013 (Kelompok III) Senin, 16 September 2013 Topik: Harapan yang Realistik Topik: Cara Meningkatkan Kepercayaan Diri Topik: Cara Meningkatkan Kepercayaan Diri Topik: Cara Meningkatkan Kepercayaan Diri Mengisi skala psikologis Kepercayaan Diri Dari analisis deskriptif hasil posttest diperoleh skor terendah 53, skor tertinggi 107, dan rata-rata perolehan skor 81,29. Maka dapat disimpulkan bahwa perolehan hasil posttest menunjukan tingkat kepercayaan diri siswa termasuk dalam kategori tinggi. Selanjutnya dapat dilihat pada tabel 4.5. Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Posttest Kepercayaan Diri Kelas Frekue Prosenta Kategori interv nsi se al 102-124 2 5,4 % Sangat Tinggi 78-101 23 62,1 % Tinggi 54-77 11 29,7 % Rendah 31-53 1 2,7 % Sangat Rendah Jumlah 37 100 % Dari tabel di atas dapat diketahui hasil post test skala kepercayaan diri. Data menunjukan bahwa skor pada kelas interval 102-124 sebanyak dua siswa atau 5,4 % termasuk pada kategori sangat tinggi, skor terbanyak pada urutan kedua pada kelas interval 78-101 sebanyak 23 siswa atau 62,1 % berada pada kategori tinggi, pada kelas interval 54-76 dengan kategori rendah sebanyak 11 63
  • 78. siswa atau 29,7 % selanjutnya ada satu siswa pada kelas interval antara 31-53 pada kategori sangat rendah atau 2,7 %. Berdasarkan data tersebut dapat dilihat bahwa setelah mendapatkan perlakuan layanan bimbingan kelompok melalui psikodrama skor rata-rata kepercayaan diri menjadi lebih baik. Apabila dilihat dari rata-rata hasil analisis data post tes skala kepercayaan diri sebesar 81,29, maka dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan kepercayaan diri yang ada pada siswa kelas XII AP 1 SMK Negeri 1 Kendal tahun pelajaran 2013/2014 berada pada kategori tinggi. Untuk selengkapnya dapat dilihatdalam grafik batang berikut ini: Grafik 4.2. Grafik Batang Post Test Kepercayaan Diri Bila dilihat dari hasil pretest rata-rata perolehan skor kepercayaan diri sebesar 75,72 , sedangkan hasil posttest rata-rata perolehan skor kepercayaan diri sebesar 81,29. Dapat disimpulkan bahwa perolehan hasil posttest lebih tinggi dibandingkan hasil pretest dengan selisih skor 6. Selanjutnya dapat dilihat pada grafik 4.3. 64
  • 79. Grafik 4.3. Grafik rata-rata hasil pretest dan posttest 82 81 80 79 78 77 81.29 76 75 74 75.72 73 72 Pre test Post test B. Uji Hipotesis Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji-t, berikut ini disajikan tabel perhitungan analisis data penelitian uji-t one group postest pretest. Tabel 4.6 Hasil Perhitungan t-test 7 Xd -1 Xd2 1 84 9 3 9 72 75 3 3 9 4 78 82 4 2 4 5 74 76 2 4 4 6 74 79 5 1 1 Subjek Pretest Postest d 1 73 80 2 75 3 65
  • 80. 5 Xd 1 Xd2 1 76 3 3 9 71 76 5 1 1 10 81 89 8 -2 4 11 83 91 8 -2 4 12 81 84 2 4 16 13 72 81 9 -3 9 14 74 80 6 0 0 15 80 85 5 1 1 16 73 74 1 5 25 17 69 72 3 3 9 18 83 85 2 4 16 19 50 67 17 -11 121 20 106 107 1 5 25 21 84 89 5 1 1 22 86 90 4 2 4 23 66 70 4 2 4 24 77 82 5 1 1 25 91 93 2 4 16 26 104 105 1 5 25 27 79 86 7 -1 1 28 86 91 5 2 4 29 52 53 1 5 25 30 69 70 1 5 25 31 53 63 10 -4 8 Subjek Pretest Postest d 7 76 81 8 73 9 66
  • 81. 32 72 81 9 -3 9 33 69 76 7 -1 1 34 73 84 11 -5 25 35 68 78 10 -4 16 36 87 95 8 -2 4 37 68 78 10 -4 16 Jumlah 2802 3008 205 24 454 Ratarata 75,72 81,29 6 Perhitungan analisis data penelitian uji t one group post test pre test: Md   d 205   5,54  6 N 37  x 2 d  454 N : 37 t t   Md X 2 d N ( N  1) 6 454 37(37  1) 6 454 1332 6 0,34 6 0,58  10,58  67
  • 82. Dari perhitungan di atas diperoleh hasil thitung sebesar = 10,58 selanjutnya dikonsultasikan dengan ttabel pada taraf signifikansi 0,05 dengan db N-1 = 37-1 = 36 yaitu sebesar 2,021 maka thitung > ttabel. Dengan demikian koefisien thitung sebesar 10,58 adalah signifikan pada taraf signifikan 0,05. Atas dasar perhitungan tersebut maka hipotesis alternatif Ha yang berbunyi “layanan bimbingan kelompok dengan metode psikodrama berpengaruh dalam meningkatkan kepercayaan diri siswa kelas XII AP 1 SMK Negeri 1 Kendal Tahun Pelajaran 2013/2014” diterima. Sedangkan Ho yang berbunyi “layanan bimbingan kelompok dengan metode psikodrama tidak berpengaruh dalam meningkatkan kepercayaan diri siswa kelas XII AP 1 SMK Negeri 1 Kendal Tahun Pelajaran 2013/2014” ditolak. C. Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa layanan bimbingan kelompok dengan metode psikodrama berpengaruh dalam meningkatkan kepercayaan diri siswa kelas XII AP 1 SMK Negeri 1 Kendal Tahun Pelajaran 2013/2014, dibuktikan dengan koefisien thitung sebesar 10,58 signifikan pada taraf signifikan 0,05. Dari data statistik tersebut maka ada pengaruh antara penyelenggaraan bimbingan kelompok melalui psikodrama terhadap kepercayaan diri siswa kelas XII AP 1 SMK Negeri 1 Kendal Tahun Pelajaran 2013/2014. Hasil analisis data yang dilakukan dari hasil skor rata-rata pretest skala kepercayaan diri sebesar 75,72. Dari hasil rata-rata skor pretest dapat disimpulkan bahwa kepercayaan diri siswa sebelum diberikan perlakuan berupa layanan bimbingan kelompok melalui psikodrama dikatakan dalam kategori rendah. 68
  • 83. Demikian pula analisis data yang telah dilakukan dari data posttest diperoleh hasil skor rata-rata posttest skala kepercayaan diri sebesar 81,29. Hal ini menunjukan bahwa kepercayaan diri siswa setelah diberikan perlakuan berupa layanan bimbingan kelompok melalui psikodrama dikatakan dalam kategori tinggi, ada peningkatan hasil dari 75,72 menjadi 81,29. Dengan demikian menunjukan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara kepercayaan diri siswa sebelum dan sesudah mendapatkan bimbingan kelompok melalui metode psikodrama. Menurut Fatimah(2008 :149), kepercayaan diri adalah sikap positif seseorang individu yang memampukan dirinya untuk mengembangkan penilaian positif, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan atau situasi yang dihadapinya. Rasa percaya diri dapat memberikan hal positif bagi kejiwaan seseorang sehingga berpengaruh langsung kepada individu dalam menjalankan kehidupan dan kepercayaan diri tidak bisa disamaratakan dengan aktivitas ke aktivitas lainnya. Untuk meningkatkan kepercayaan diri siswa SMK Negeri 1 Kendal Tahun Pelajaran 2013/2014. Dapat menggunakan layanan bimbingan kelompok dengan menggunakan metode psikodrama. Bimbingan kelompok ini perlu diberikan karena untuk pengembangan dan pencegahan permasalahan- permasalahan yang timbul dalam diri individu dan hubungan dengan orang lain. Permasalahan yang timbul dapat terjadi karena ketidakmampuan seseorang untuk menjadi pribadi yang menarik. Hal tersebut seringkali menimbulkan kepercayaan diri yang rendah. Bimbingan kelompok dengan metode psikodrama membantu 69
  • 84. agar siswa menjadi pribadi yang menarik, membuat seseorang berani bertanggung jawab, mengembangkan dinamika pribadi, bersikap fleksibel terhadap pengetahuan dan mampu mengelola gaya berbicara yang positif. Dalam psikodrama ini individu akan memerankan suatu peran tertentu dari suatu situasi masalah sosial. Sehingga individu akan memperoleh pengertian yang lebih baik tentang dirinya, dapat menemukan konsep dirinya, menyatakan kebutuhankebutuhannya, dan menyatakan reaksinya terhadap tekanan-tekanan terhadap dirinya dengan bermain peran. Pelaksanaan layanan bimbingan kelompok dilakukan dengan dibagi menjadi tiga kelompok yaitu kelompok satu berjumlah 12 siswa, kelompok dua berjumlah 12 siswa dan kelompok tiga berjumlah 13 siswa. Dengan metode psikodrama, pemimpin kelompok memberikan uraian singkat mengenai hakikat psikodrama dan menentukan tujuan permainan, lalu pemimpin kelompok mewawancarai tiga anggota kelompok secara singkat dilanjutkan pemimpin kelompok mempersilahkan salah satu individu didalam kelompok sebagai pemain untuk memerankan satu kejadian dan bisa diperankan dalam beberapa adegan berdasarkan masalah-masalah yang diungkapkan pemeran utama yaitu kepercayaan diri, dengan tema psikodrama: menjadi pribadi yang menarik, mengendalikan dan emosi, berfikir positif, harapan yang realistic dan meningkatkan kepercayaan diri. Materi pertama yang diberikan saat pemberian perlakuan yaitu menjadi pribadi yang menarik. Ada beberapa cara dalam memabntu seseorang untuk menjadi pribadi yang menarik yaitu menggunakan gaya bicara yang positif, berani 70
  • 85. bertanggung jawab, mengembangkan dinamika pribadi, mengasah ketrampilan dalam berbahasa secara verbal dan non-verbal dan bersikap fleksibel terhadap perubahan. Tujuan siswa diberikan materi tersebut memiliki pemahaman yang diperoleh dalam menjadi pribadi yang menarik sehingga tidak perlu melakukan hal agar bisa diterima oleh orang lain. Pemberian materi ini dilakukan dengan bermain psikodrama untuk menyatakan kebutuhan-kebutuhannya dan menyatakan reaksi terhadap tekanan-tekanan terhadap diri siswa sehingga dengan bermain psikodrama siswa melepaskan tekanan-tekanan yang dialami. Respon dari siswa sendiri dalam memainkan psikodrama sangat antusias meskipun sebelumnya belum pernah bermain psikodrama. Materi yang kedua yaitu menegndalikan dan mengarahkan emosi. Tujuan s diharapkan dapat mengetahui dan memahami tentang jenis-jenis emosi dan cara menegndalikan dan mengarahkan emosi. Menurut Goleman (2002: 7778) emosi merupakan kemampuan individu dalam menangani perasaan agar dapat terungkap dengan tepat atau selaras, sehingga tercapai keseimbangan dalam diri individu. Menjaga agar emosi yang merisaukan tetap terkendali merupakan kunci menuju kesejahteraan emosi. Emosi berlebihan, yang meningkat dengan intensitas terlampau lama akan mengoyak kestabilan. Kemampuan ini mencakup kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan akibat-akibat yang ditimbulkannya serta kemampuan untuk bangkit dari perasaan-perasaan yang menekan. Respon dari siswa sendiri dalam kegiatan psikodrama sangat antusias karena siswa ikut berperan langsung sehingga siswa lebih paham. 71
  • 86. Materi yang ketiga yaitu materi berfikri positif, tujuannya siswa memahami cara berfikir positif dan dapat memecahkan masalah yang muncul dari berfikir positif. Berfikir positif artinya mencari hal – hal baik dalam berbagai kehidupan sehingga perlu adanya pengembangan dalam berfikir positif. Respon sangat antusias dalam melaksanakan psikodrama, karena materi yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan mereka untuk membangkitkan semangat dan dorongan dalam menghadapi ujian tengah semesteran. Materi yang ke empat yaitu materi harapan yang realistik. Tujuannya agar siswa mampu menetapkan tujuan yang rasional dan realistic agar dapat terwujud sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Dengan materi ini siswa dapat mengaplikasikan pemahaman yang diperolehnya dalam melihat sisi positif dalam dirinya dan situasi yang terjadi jika harapan tidak terwujud. Respon dari siswa dalam memainkan drama ini sangat antusias karena siswa menjadi lebih tahu bagaimana menetapkan tujuan yang rasional dan realistic agar dapat terwujud serta melihat sisi positif dalam dirinya jika terjadi harapan yang tidak terwujud. Materi selanjutnya yang merupakan materi yang terakhir yaitu cara meningkatkan kepercayaan diri. Tujuannya siswa memahami rasa percaya diri dan meningkatkan rasa percaya diri yang dimiliki. Fatimah (2008 :149) menjelaskan kepercayaan diri adalah sikap positif seseorang individu yang memampukan dirinya untuk mengembangkan penilaian positif, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungan atau situasi yang dihadapinya. Hal ini bukan berarti bahwa individu tersebut mampu dan kompeten melakukan segala sesuatu seorang diri. Rasa percaya diri yang tinggi sebenarnya hanya merujuk pada adanya 72
  • 87. beberapa aspek dari kehidupan individu yang memiliki kompetensi, keyakinan bahwa individu mampu serta didukung oleh pengalaman, potensi aktual, dan harapan yang realistik terhadap diri sendiri. Respon dari siswa dalam mengikuti layanan ini sangat baik siswa mendapatkan pemahaman baru untuk meningkatkan kepercayaan diri yang dapat di terapkan ke dalam kehidupannya. Keberhasilan bimbingan kelompok dengan metode psikodrama mempunyai pengaruh dalam meningkatkan kepercayaan diri siswa. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa psikodrama siswa memerankan situasi-situasi dramatis yang dialaminya pada waktu lalu, sekarang dan yang diantisipasikan akan dialami pada waktu yang akan datang, dengan tujuan untuk memperoleh pengertian yang lebih mendalam mengenai dirinya dan melepaskan tekanantekanan yang dialami atau katarsis. Sehingga dalam pelaksanaan psikodrama memiliki beberapa komponen yaitu panggung permainan, yang mewakili ruang hidup peran utama psikodrama. Lalu pemimpin psikodrama yaitu terapis atau konselor yang memiliki peran sebagai produser, katalisator/fasilitator dan pengamat atau penganalisis serta kreatif. Kemudian pemeran utama merupakan salah satu anggota kelompok yang dikelompok atau pemimpin kelompok untuk memerankan kembali kejadian/peristiwa dalam situasi dramatis. Pemeran pembantu juga bisa diikutkan sebagai pembantu terapis. Dan yang terakhir penonton merupakan anggota-anggota kelompok yang tidak menjadi pemeran utama atau pembantu untuk memberikan dukungan yang sangat bernilai dan memberikan reaksinya secara spontan dalam diskusi untuk memberikan pandangan dan sumbangan pikiran. 73
  • 88. Pengaruh metode psikodrama dalam bimbingan kelompok sebagai alternatif peningkatan kepercayaan diri siswa kelas XII AP 1 SMK Negeri Kendal tahun pelajaran 2013/2014 merupakan hal yang tepat, karena metode psikodrama dalam layanan bimbingan kelompok merupakan suatu metode pembelajaran aktif dalam proses belajar melalui bermain peran terhadap menyatakan reaksinya terhadap tekanan-tekanan terhadap dirinya yang bertujuan terapi. Pemberian psikodrama pada jangka waktu tertentu dapat secara efektif berpengaruh positif terhadap kepercayaan diri siswa. Dengan demikian hipotesis penelitian yang mengatakan bahwa psikodrama berpengaruh terhadap kepercayaan diri siswa kelas XII AP 1 SMK Negeri 1 Kendal tahun pelajaran 2013/2014 dapat diterima. D. Kelebihan Penelitian Metode psikodrama belum pernah dilaksanakan sehingga siswa begitu antusias dalam mengikuti pelaksanaan kegiatan dalam layanan bimbingan kelompok dengan metode psikodrama. Kelebihan dalam penelitian ini menunjukan bahwa kepercayaan diri siswa meningkat setelah mendapatkan layanan ini. E. Kelemahan Penelitian Dalam melaksanakan penelitian ini terdapat beberapa kelemahan diantaranya yaitu waktunya terbatas saat pemberian layanan bimbingan kelompok dengan metode psikodrama dikarenakan jam yang disediakan dari sekolahan dibatasi hingga akhir September karena sekolahan sudah mefokuskan siswa kelas XII untuk persiapan ujian akhir nasional. Selain itu, siswa yang begitu antusias selalu sehingga pelaksanaan melebihi jam pelajaran dan suasana menjadi ramai 74
  • 89. dan peneliti membutuhkan energi, kreatifitas maupun strategi yang ekstra agar dapat mengontrol siswa dalam melaksanakan psikodrama. 75
  • 90. BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan hasil perhitungan analisis rumus t-test diperoleh thitung sebesar 10,58 sementara ttabel dengan db N-1 = 37-1 = 36 dengan taraf signifikansi 0,05 sebesar 2,021. Karena thitung > ttabel, thitung 10,58 > ttabel 2,021. Hal ini berarti bimbingan kelompok dengan metode psikodrama yang diberikan kepada siswa berpengaruh terhadap kepercayaan diri siswa. Sehingga hipotesis nihil (Ho) yang berbunyi “layanan bimbingan kelompok dengan metode psikodrama tidak berpengaruh dalam meningkatkan kepercayaan diri siswa SMK Negeri 1 Kendal Tahun Pelajaran 2013/2014” ditolak, dan hipotesis kerja (Ha) yang berbunyi “layanan bimbingan kelompok dengan metode psikodrama berpengaruh dalam meningkatkan kepercayaan diri siswa kelas XII AP 1 SMK Negeri 1 Kendal Tahun Pelajaran 2013/2014” diterima pada taraf signifikan 0,05. B. Saran Berdasarkan simpulan di atas, maka peneliti memberikan saran sebagai berikut: 1. Guru bimbingan dan konseling, lebih banyak melakukan kegiatan layanan bimbingan dan konseling secara aktif dan interaktif kepada siswa. Metode psikodrama dapat dijadikan sebagai metode alternatif dalam kegiatan layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Melalui metode psikodrama siswa akan 76
  • 91. mendapatkan pengalaman yang baru sehingga tidak merasa jenuh terhadap suasana belajar di sekolah. Siswa justru menganggap metode psikodrama ini sebagai suatu permainan yang menarik dan secara langsung juga belajar tentang pengertian yang lebih baik tentang diri siswa. 2. Bagi Kepala Sekolah Kepala sekolah hendaknya mendukung pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling di SMK Negeri 1 Kendal dengan memberikan jam lebih masuk kelas bagi guru BK agar pelaksanaan layanan bimbingan konseling dapat berjalan secara maksimal. C. Keterbatasan Penelitian Dalam melaksanakan penelitian ini terdapat beberapa kelemahan diantaranya yaitu waktunya terbatas saat pemberian layanan bimbingan kelompok dengan metode psikodrama dikarenakan jam yang disediakan dari sekolahan dibatasi hingga akhir September karena sekolahan sudah mefokuskan siswa kelas XII untuk persiapan ujian akhir nasional. Selain itu, siswa yang begitu antusias selalu sehingga pelaksanaan melebihi jam pelajaran dan suasana menjadi ramai dan peneliti membutuhkan energi, kreatifitas maupun strategi yang ekstra agar dapat mengontrol siswa dalam melaksanakan psikodrama. 77
  • 92. DAFTAR PUSTAKA Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta Angelis Barbara de. 2002. Percaya Diri Sumber Sukses dan Kemandirian. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama Antika, R. 2010. Efektifitas Drama dalam Meningkatkan Kepercayaan Diri pada Anak PraSekolah. Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma. di unduh pada hari rabu 20 Maret 2013. Azwar, Saifuddin. 2006. Penyusunan Skala Psikologis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Fatimah, Enung. 2008. Psikologi Perkembangan (Perkembangan Peserta Didik). Bandung : CV.Pustaka Setia Ghifari, Al Abu. 2004. Percaya Diri Sepanjang Hari. Bandung : Mujahid. Habibie, M. 2009. Cerdas dan Cergas Merancang Sukses Diri. Bandung : tiga serangkai http://health.detik.com/read/2013/03/27/093205/2204781/1301/7-cara-inibisa-membangun-rasa-percaya-diri-anak Loekmono, J.T. Lobby. 2006. Proses dan Model Konseling Kelompok . Salatiga : Widya Sari Prayitno. 2004. Bimbingan Kelompok. Padang : Jurusan BK FIP Uneversitas Negeri Padang. Prawitasari, E. J. 2011. Psikologi Klinis ( Pengantar Terapan Mikro dan Makro). Jakarta : Erlangga Rohayati, Icu. 2011.Program Bimbingan Teman Sebaya Untuk Meningkatkan Percaya Diri Siswa. di unduh pada hari rabu 20 Maret 2013. Romlah, Tatiek. 2006. Teori dan Praktek Bimbingan Kelompok. Malang : Universitas Negeri Malang. Soegeng, 2006. Dasar – Dasar Penelitian Bidang Sosiologi, Psikologi dan Pendidikan. Semarang: IKIP PGRI Semarang Press. 78
  • 93. Sukardi, Ketut. 2008. Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan Dan Konseling Sekolah. Jakarta : Rineka CIpta Susanti, R Florentina. 2008. Hubungan Antara Kepercayaan Diri Dengan Peyesuaian Sosial Siswa SMP Santa Maria Fatima :Vol 6. Jurnal PsikoEdukasi. di unduh pada hari rabu 20 Maret 2013. Yuniarti, Y & Pratiwi, I T. 2002. Penggunaan Konseling Rasional Emotif untuk Meningkatkan Rasa Percaya Diri Siswa. Alumni Jurusan PPB FIP UNESA. di unduh pada hari rabu 20 Maret 2013. 79
  • 94. 80
  • 95. DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman 1. Hasil DCM (Program Tahunan) ......................................................... 79 2.Dafta Nama Siswa Try Out ................................................................. 79 3.Daftar Nama Sampel ........................................................................... 85 4. Skala Penelitian Kepercayaan Diri (Try Out) ..................................... 86 5. Absensi Try Out .................................................................................. 88 6. Tabulasi Perhitungan Validitas Skala Kepercayaan Diri .................... 89 7. Perhitungan Validitas Item Variabel Kepercayaan Diri...................... 91 8. Pedoman Bimbingan Kelompok ......................................................... 93 9. Skala Penelitian Kepercayaan Diri (Pretest & Posttest) ..................... 96 10. Absensi Sampel. ............................................................................... 97 11. Hasil Analisis Pretest ........................................................................ 112 12 Satuan Layanan. ................................................................................. 113 13 Laporan Kegiatan Layanan. ............................................................... 154 14.Resume Kegiatan .............................................................................. 184 15. Penilaian Segara ................................................................................ 214 16. Hasil Analisis Posttest ..................................................................... 230 17. Surat Permohonan Izin Penelitian .................................................... 231 18. Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian ........................... 232 19. Rekapitulasi Proses Bimbingan ........................................................ 233 20. Dokumentasi .................................................................................... 235 81
  • 96. DAFTAR NAMA SISWA TRY OUT NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 NIS 10209 10210 10211 10212 10213 10214 10215 10216 10217 10218 10219 10220 10221 10222 10223 10224 10225 10226 10227 10228 10229 10230 10231 10232 10233 10234 10235 10236 10237 10238 10239 10240 10241 10242 10243 10244 NAMA ALIM ASTRIANI ANIS FARIDA ANIS KURNIAWATI CHOIRIA RUSMA DEWI AKHIDAH DEWI MASLAKHAH DEWI RATNA SYAFITRI DIAN FITRIANI DYAH AYULESTARI EKO PRASETYOWATI RAHAYU ELLY LUTDVIA EVA ANDRIANI FITRIANA RISKYANI IKA AFRILLIANA IKA NOVIA WIDYAWATI IKA YUNI LESTARI INDRI HANDAYANI ITA EMILIA SARI KARTIKA SARI LAILI AMALIA LATIFATUN NADHIFAH LUTFI HANIFAH MAFTHUHATUSY SYARIFAH MARWA SOFA MASROFAH MEISROTUL KHASANAH NUR LATIFAH RATRI SOFIANA RENGGANIS WATYAYAGNINGTYAS K. A. P SITI FATIMAH SITI LESTARI SRI MULYANI TRI AFITA ROHWATININGSIH TRI IIS SETYOWATI VIDIYATUL AFDIANA WAHYU LESTARI 82 L/P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P
  • 97. DAFTAR NAMA SISWA SAMPEL NO NIS NAMA 1 10245 AINIYAH 2 10246 ALIT DAKI NITIWATI 3 10247 AVI SOFIANA 4 10248 DESTY ZURAIDA ANGGRAINI 5 10249 DIAN YUNIATI 6 10250 DIAS PRAFITA DEVI 7 10251 DIFA ANGGRAINI SUWANDI 8 10252 DINNIA ASFARANI 9 10253 DWI PUJI HARTI 10 10254 EVA FEBRIANA 11 10255 FATMA TSALIS NUGRAHENI 12 10256 IKROMAH 13 10257 IMA HIDAYATHUL FITRI 14 10258 INDRIYATI 15 10259 INDY MUNIBBATUL LAILI 16 10260 IRMA MEIDA SUSILOWATI P 17 10261 KHARIROTUL KHASANAH 18 10262 KIKY DIAH AYU SEPTYANI 19 10263 MALRANI AYU OKTAVIA 20 10264 MEGA AUDINA 21 10265 MEIGAWATI RUSWANDRA 22 10266 MELLY ETY INDIAGATI 23 10267 MIFTAKHUS SOLEKHAH 24 10268 NUR LAILI ISTIKHOMAH 25 10269 OLIVIA PUTRI MAHARDIKA 26 10270 PRADHITA YOLA ARDIANASARI 27 10271 PRATIWI SEPTIYANTI 28 10272 RIZKY AYU NINGRUM 29 10273 ROFIKA KHOIROTUN NISA 30 10274 SAFA'ATUL AZIZAH 31 10275 SAWITRI DIAN KUSUMARETNO 32 10276 SEFIRA AULIA KHASHANA 33 10277 SITI MUKSODAH 34 10278 SITI PRISTIYANTI 35 10279 SITI RETNOWATI 36 10280 TITIK SUGIARTI 37 10281 VITA PUTRI RADINDA SARI 83 L/P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P P
  • 98. Jadwal Kegiatan Penelitian No Hari/Tanggal Kegiatan Keterangan 1 Try Out Kamis, 25 Juli 2013 Menyebarkan skala psikologis kepercayaan diri kelas XII PS 2 Pre Test Kamis, 15 Agustus 2013 3 Pertemuan I 4 Pertemuan I 5 Pertemuan I 6 Pertemuan II 7 Pertemuan II 8 Pertemuan II 9 15 Pertemuan III Pertemuan III Pertemuan III Pertemuan IV Pertemuan IV Pertemuan IV Pertemuan V 16 Pertemuan V 17 Pertemuan V 18 Post Test Kamis, 22 Agustus 2013 (Kelompok I) Jum’at, 23 Agustus 2013 (Kelompok II) Sabtu, 24 Agustus 2013 (Kelompok III) Senin, 26 Agustus 2013 (Kelompok I) Selasa, 27 Agustus 2013 (Kelompok II) Rabu, 28 Agustus 2013 (Kelompok III) Kamis, 29 September 2013(Kelompok I) Jum’at, 30 September 2013 (Kelompok II) Sabtu, 31 September 2013 (Kelompok III) Kamis, 5 September 2013 (Kelompok I) Jum’at, 6 September 2013 (Kelompok II) Sabtu, 7 September 2013 (Kelompok III) Kamis, 12 September 2013(Kelompok I) Jum’at, 13 September 2013 (Kelompok II) Sabtu, 14 September 2013 (Kelompok III) Senin, 16 September 2013 Menyebarkan skala psikologis kepercayaan diri kelas XII AP 1 Topik: Menjadi Pribadi yang Menarik Topik: Menjadi Pribadi yang Menarik Topik: Menjadi Pribadi yang Menarik Topik: Mengendalikan dan mengarahkan emosi Topik: Mengendalikan dan Mengarahkan Emosi Topik: Mengendalikan dan Mengarahkan Emosi Topik: Berfikir Positif 10 11 12 13 14 84 Topik: Berfikir Positif Topik: Berfikir Positif Topik: Harapan yang Realistik Topik: Harapan yang Realistik Topik: Harapan yang Realistik Topik: Cara Meningkatkan Kepercayaan Diri Topik: Cara Meningkatkan Kepercayaan Diri Topik: Cara Meningkatkan Kepercayaan Diri Mengisi skala psikologis Kepercayaan Diri
  • 99. PEDOMAN PELAKSANAAN BIMBINGAN KELOMPOK No Tahap Pelaksanaan 1. Tahap Pembentukan Uraian Kegiatan - - - - 2. Tahap Peralihan - - 3. Tahap Kegiatan - - 4. Tahap Pengakhiran - 85 Menerima kehadiran anggota kelompok secara terbuka dan mengucapkan terimakasih Memimpin berdoa Menjelaskan pengertian dan tujuan bimbingan kelompok serta metode psikodrama Menjelaskan cara pelaksanaan bimbingan kelompok diantaranya : format kegiatan, peran anggota kelompok, suasana interaksi Menjelaskan asas-asas bimbingan kelompok ( kesukarelaan, keterbukaan, kegiatan, kenormatifan, kekinian, kerahasiaan) Menyampakian kesepakatan waktu Perkenalan dan dinamika kelompok Mengkondisikan anggota kelompok agar siap melanjutkan ketahap berikutnya Menanyakan kesepakatan anggota kelompok untuk kegiatan lebih lanjut dan mengenai sasaran Menjelaskan topic mengenai cara meningkatkan kepercayaan diri Menjelaskan pentingnya topic tersebut untuk dibahas dalam kegiatan bermain peran Pembahasan topic secara tuntas dengan anggota kelompok Memberikan kesempatan kepada anggota kelompok untuk melaksanakan psikodrama mengenai topic permasalahan yang dibahas Menjelaskan kegiatan bimbingan akan berakhir Mengevaluasi kegiatan yang telah dilakukan Membahas dan menanyakan tindak lanjut kegiatan BKp memimpindoa Mengucapkan salam
  • 100. SATUAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING Tugas Perkembangan 6 Mencapai Kematangan Pengembangan Pribadi A. Topik Permasalahan : Menjadi pribadi yang menarik B. Bidang Bimbingan : Pribadi-sosial C. Jenis Layanan : Bimbingan Kelompok D. Fungsi Layanan : Pemahaman dan Pengembangan E. Kompetensi yang Ingin Dicapai: 1. Tujuan Layanan : Setelah mendapatkan layanan ini, peserta didik diharapkan dapat mengetahui dan memahami tentang bagaimana menjadi pribadi yang menarik. 2. Hasil yang Ingin Dicapai : Setelah mendapatkan layanan ini diharapkan Siswa dapat mengaplikasikan pemahaman yang diperolehnya dalam menjadi pribadi yang menarik sehingga tidak perlu melakukan hal agar bisa diterima oleh orang lain. F. Sasaran Layanan : Siswa SMK kelas IIX G. Uraian Kegiatan : Nilai Yang Kegiatan No Tahapan Guru Pembimbing 1. Pembentukan (10 Menit) 1. Menerima kehadiran Peserta Didik 1. Merespon dengan Anggota kelompok membalas ucapan secara terbuka dan kembali kasih mengucapkan terima kasih 86 Ditanamkan 1. Santun, peduli
  • 101. 2. Memimpin berdoa 2. Berdo’a 2. Religius 3. Menjelaskan 3. Memperhatikan 3. Berpikir pengertian dan tujuan dan bimbingan kelompok logis mendengarkan serta metode psikodrama 4. Menjelaskan cara 4. Memperhatikan pelaksanaan dan bimbingan kelompok 4. Berpikir logis mendengarkan diantaranya : Format kegiatan, Peran anggota kelompok, Suasana interaksi 5. Menjelaskan asasasas bimbingan 5. Memperhatikan 5. Berikir logis kelompok (kesukarelaan, keterbukaan, kegiatan, kenormatifan, kekinian, kerahasiaan) 6. Menyampaikan kesepakan waktu 7. Perkenalan 6. Menyepakati waktu 7. Memperkenalkan dilanjutkan Permainan untuk menghangatkan suasana agar saling terbuka, saling percaya, saling menerima sehingga 87 6. Disiplin 7. Saling diri secara menghargai bergantian dan , keaktifan, melaksanakan kerjasama permainan
  • 102. tercipta dinamika kelompok 2. Peralihan (5 menit) 1. Mengkondisikan 1. Memberikan anggota kelompok respon jawaban agar siap melanjutkan atas kesiapan ketahap berikutnya 1. Jujur anggota kelompok 2. Menanyakan 2. Menjawab kesepakatan anggota 2. Menghargai pertanyaan kelompok untuk kegiatan lebih lanjut dan mengenai sasaran 3. Kegiatan Topik Tugas (20 menit) 1. Menjelaskan topik 1. Memperhatikan mengenai menjadi a. Berpikir logis pribadi yang menarik 2. Menjelaskan 2. Mendengarkan pentingnya topik dan tersebut dibahas b. Menghargai memperhatikan dalam kegiatan bermain peran 3. Pembahasan topik secara tuntas dengan 3. Memperhatikan, dan menanggapi c. Berpikir logis anggota kelompok 4. Memberikan 4. Berpartisipasi d. Berfikir kesempatan kepada aktif dalam logis dan anggota kelompok permainan peran katarsis untuk melaksanakan sehingga psikodrama mengenai menyatakan topik permasalahan kebutuhan dan 88
  • 103. yang dibahas reaksi terhadap tekanan-tekanan terhadap dirinya 5. Memberikan selingan 4. Pengakhiran (10 menit) 5. Melaksanakan e. Kreatif 1. Menjelaskan bahwa 1. Memperhatikan 1. Menghargai kegiatan bimbingan dan Mendengarkan kelompok akan segera di akhiri 2. Mendengarkan, 2. Menyimpulkan hasil Menyimpulkan dari topik yang telah dibahas 2. Peduli, santun 3. Menjawab 3. Mengevaluasi pertanyaan 3. Berpikir kegiatan yang telah logis, dilakukan: Kreatif Pemahaman yang sudah diperoleh oleh Anggota kelompok, Perasaan yang dialami selama kegiatan berlangsung, Kesan yang diperoleh selama kegiatan 4. Membahas dan menanyakan tindak lanjut kegiatan Bkp 5. Mengucapkan terima kasih 6. Memimpin doa 7. Mengucapkan salam 4. Menjawab pertanyaan 5. Menjawab 6. Berdoa 7. Menjawab salam 8. Saling berjabat 8. Perpisahan 89 4. Berpikir logis 5. Santun 6. Religius 7. Religius, Sopan 8. Menghargai
  • 104. tangan dan kerjasama H. Materi layanan : Terlampir I. : Hurtagalung, Inge. 2007. Pengembangan Sumber Materi kepribadian (tinjau praktis menuju pribadi positif). Jakarta : PT. Indeks. J. Pelaksanaan Layanan : 1. Waktu : 1 x 45 menit 2. Biaya : Mandiri 3. Tempat : Ruang Kelas 4. Hari / Tanggal : - 5. Semester/ Tahun : 2013 - 2014 K. Metode : Psikodrama L. Alat dan Perlengkapan : Kertas dan alat tulis M. Penyelenggara layanan : Diah Ardiani Kusumawati N. Pihak yang disertakan dalam layanan dan perananya masing-masing : 1. Guru pembimbing di sekolah dalam mengawasi jalannya bimbingan kelompok. 2. Praktikan sebagai pelaksana bimbingan. O. Rencana Penilaian 1. Penilaian Proses : : Anggota kelompok aktif dan antusias dalam mengikuti bimbingan kelompok. 2. Penilaian Hasil a. Laiseg : : Mengevaulasi penguasaan materi dengan menanyankan materi yang disampaikan dengan membagikan lembar laiseg. b. Laijapen : Menilai kemampuan siswa dalam menjadi pribadi yang menarik. c. Laijapang : Setelah Mendapatkan layanan diharapkan individu akan mendapatkan pemahaman mengenai bagaimana menjadi pribadi yang menarik dalam kaitannya dengan berhubungan dengan orang lain. P. Analisis : dari hasil evaluasi / penilaian dapat disimpulkan bahwa : 90
  • 105. 1. Dari penilaian / evaluasi diketahui tingkat pencapaian materi dan pencapaian tujuan layanan 2. Analisis kegiatan untuk diketahui hambatan dan dukungan dalam pencapaian tujuan layanan. Q. Tindak Lanjut : Melakukan tindak lanjut bagi peserta didik yang memerlukan bimbingan lanjutan secara individual. R. Keterkaitan Layanan ini Dengan Layanan / Kegiatan Pendukung : Konseling Individual. S. Catatan Khusus :Semarang, 16 Agustus 2013 Mengetahui, Guru Pembimbing Praktikan Dra. Widyastuti Ratih Pramanawati Diah Ardiani Kusumawati NIP. 19670112 199003 2 003 NPM. 09110108 91
  • 106. Materi layanan MENJADI PRIBADI YANG MENARIK 1. Gunakan gaya bicara yang positif Gaya bicara yang negatif atau merendahkan diri sendiri, dengan cepat akan menempatkan anda sebagai pribadi yang kurang percaya diri. contoh gaya bicara negatif dengan menggunakan label-label bermakna negatif, misalnya : bodoh, tidak punya otak, salah melulu. Untuk menjadi pribadi yang percaya diri, gaya bicara negatif harus digantikan dengan gaya bicara positif. Gaya bicara positif meliputi gaya bicara dengan menggunakan kata-kata dan kalimat positif. Hal pertama yang dapat dilakukan adalah berusaha belajar berbicara secara positif tentang diri sendiri. 2. Berani bertanggung jawab Ada orang yang percaya bahwa mengendalikan nasib mereka adalah diri mereka sendiri. keberanian meyakini hal tertentu saja memunculkan suatu tanggung jawab yang besar bahwa hal-hal buruk dan baik menimpa diri mereka tidak lain berasal dari diri mereka sendiri. bukan hal yang berasal dari luar diri mereka, keberanian bertanggung jawab menjadikan individu lebih percaya diri untuk mengembil hal-hal yang menjadi tanggung jawab pribadinya. Kemampuan bertanggung jawab juga akan memunculkan sikap percaya diri dan pencitraan diri yang positif. Orang-orang yang tidak berani bertanggung jawab cenderung menganggap bahwa faktor-faktor diluar dirinya yang menentukan jalan hidupnya. 3. Kembangkan dinamika pribadi Untuk mengembangkan dinamika pribadi ada beberapa keterampilan diri yang perlu diasah anatara lain : keterampilan mengungkapkan perasaan dengan tegas, kemampuan menunjukan ekspresi wajah yang ramah, kemampuan berbicara optimis, kemampuan menunjukan sorot mata dan tingkah laku yang berwibawa melalui penampilan diri yang anggun, rapid an bersih. 92
  • 107. 4. Asah kterampilan gunakan bahasa verbal dan non-verbal Bahasa verbal yang efektif misalnya : hindari kata-kata dan suara jed yang tidak perlu misalnya : ee…, buat kesimpulan yang didukung data dan bukan berdasarkan perasaan dan keyakinan saja, perlu basa-basi walaupun jangan terlalu banyak, tunjukan perhatian dengan menanyakan mengenai keadaan orang yang kita ajak bicara misalnya wajahnya tampak pucat dan lain-lain. 5. Kembangkan pengetahuan yang memadai Dasar untuk tampil percaya diri adalah adannya pengetahuan yang menunjang dalam mencari alternatif atau solusi untuk berbagai persoalan atau permasalahan. Intuisi memang penting tetapi membuat keputusan berdasarkan fakta membantu dalam menumbuhkan percaya diri dan memunculkan citra diri yang positif. Sebanyak mungkin mendapatkan informasi tentang hal-hal yang sedang terjadi dalam dunia baik melalui TV, surat kabar, majalah maupun internet. 6. Bersikap fleksibel terhadap berbagai perubahan Tunjukan sikap terbuka terhadap perubahan yang ada dalam perusahaan. Jangan berkesan negative dan mengungkapkan kata-kata seperti “percuma saja diubah-ubah juga akan kembali sama sepert dulu lagi”. Tanggapi perubahan yang ada dengan optimis, dengan demikian kita akan terlihat sebagai orang yang memiliki citra diri positif dan kuat. Sumber : Hurtagalung, Inge. 2007. Pengembangan kepribadian (tinjau praktis menuju pribadi positif). Jakarta : PT. Indeks. 93
  • 108. SATUAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING Tugas Perkembangan 6 Mencapai Kematangan Pengembangan Pribadi A. Topik Permasalahan : Mengendalikan dan Mengarahkan emosi B. Bidang Bimbingan : Pribadi C. Jenis Layanan : Bimbingan Kelompok D. Fungsi Layanan : Pemahaman dan Pengembangan E. Kompetensi yang Ingin Dicapai: 3. Tujuan Layanan : Setelah mendapatkan layanan ini, peserta didik diharapkan dapat mengetahui dan memahami tentang jenis-jenis emosi dan cara mengarahkan emosi. 4. Hasil yang Ingin Dicapai : Setelah mendapatkan layanan ini diharapkan Siswa dapat mengaplikasikan pemahaman yang diperolehnya dalam mengendalikan dan mengarahkan emosi. F. Sasaran Layanan : Siswa SMK kelas XII G. Uraian Kegiatan : Nilai Yang Kegiatan No Tahapan Guru Pembimbing 1. Pembentukan (10 Menit) 1. Menerima kehadiran Peserta Didik 1. Merespon Anggota kelompok dengan secara terbuka dan membalas mengucapkan terima ucapan kembali kasih kasih 94 Ditanamkan 1. Santun, peduli
  • 109. 2. Memimpin berdoa 2. Berdo’a 2. Religius 3. Menjelaskan 3. Memperhatikan 3. Berpikir pengertian dan tujuan dan bimbingan kelompok logis mendengarkan serta metode psikodrama 4. Menjelaskan cara 4. Memperhatikan pelaksanaan dan bimbingan kelompok 4. Berpikir logis mendengarkan diantaranya : Format kegiatan, Peran anggota kelompok, Suasana interaksi 5. Menjelaskan asasasas bimbingan 5. Memperhatikan 5. Berikir logis kelompok (kesukarelaan, keterbukaan, kegiatan, kenormatifan, kekinian, kerahasiaan) 6. Menyampaikan kesepakan waktu 7. Perkenalan 6. Disiplin 6. Menyepakati waktu 7. Memperkenalkan dilanjutkan Permainan untuk menghangatkan suasana agar saling terbuka, saling percaya, saling menerima sehingga 95 7. Saling diri secara menghargai, bergantian dan keaktifan, melaksanakan kerjasama permainan
  • 110. tercipta dinamika kelompok 2. Peralihan (5 menit) 1. Mengkondisikan 1. Memberikan anggota kelompok respon jawaban agar siap atas kesiapan melanjutkan ketahap anggota berikutnya 1. Jujur kelompok 2. Menjawab 2. Menanyakan 2. Menghargai pertanyaan kesepakatan anggota kelompok untuk kegiatan lebih lanjut dan mengenai sasaran 3. Kegiatan Topik Tugas (20 menit) 1. Menjelaskan topik 1. Memperhatikan mengenai 1. Berpikir logis mengendalikan dan mengarahkan emosi. 2. Menjelaskan 2. Mendengarkan pentingnya topik dan tersebut dibahas 2. Menghargai memperhatikan dalam kegiatan bermain peran 3. Pembahasan topik secara tuntas dengan 3. Memperhatikan, dan menanggapi 3. Berpikir logis anggota kelompok 4. Memberikan 4. Berpartisipasi 4. Berfikir kesempatan kepada aktif dalam logis dan anggota kelompok permainan peran katarsis 96
  • 111. untuk melaksanakan sehingga psikodrama mengenai menyatakan topik permasalahan kebutuhan dan yang dibahas reaksi terhadap tekanan-tekanan terhadap dirinya. 5. Memberikan selingan 4. Pengakhiran (10 menit) 5. Melaksanakan 5. Kreatif 1. Menjelaskan bahwa 1. Memperhatikan 1. Menghargai kegiatan bimbingan dan Mendengarkan kelompok akan segera di akhiri 2. Menyimpulkan hasil 2. Mendengarkan, Menyimpulkan dari topik yang telah dibahas 2. Peduli, santun 3. Menjawab 3. Mengevaluasi pertanyaan kegiatan yang telah 3. Berpikir logis, Kreatif dilakukan: Pemahaman yang sudah diperoleh oleh Anggota kelompok, Perasaan yang dialami selama kegiatan berlangsung, Kesan yang diperoleh selama kegiatan 4. Membahas dan menanyakan tindak lanjut kegiatan Bkp 5. Mengucapkan terima kasih 6. Memimpin doa 97 4. Menjawab pertanyaan 5. Menjawab 6. Berdoa 4. Berpikir logis 5. Santun 6. Religius 7. Religius,
  • 112. 7. Mengucapkan salam 7. Menjawab salam Sopan 8. Menghargai 8. Perpisahan 8. Saling berjabat tangan H. Materi layanan 1. dan kerjasama : Terlampir Sumber Materi : Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga Mulyatiningsih, Rudi. 2004. Bimbingan Pribadi-Sosial, Belajar, dan Karir. Jakarta: Grasindo Yusuf, Syamsu. 2009. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Bandung: Rizqi Press I. Pelaksanaan Layanan : 1. Waktu 2. Biaya : Mandiri 3. Tempat : Ruang Kelas / Lapangan Basket 4. Hari / Tanggal : - 5. Semester/ Tahun J. : 1 x 45 menit : 2013 - 2014 Metode : Psikodrama K. Alat dan Perlengkapan : Kertas dan alat tulis L. Penyelenggara layanan : Diah Ardiani Kusumawati M. Pihak yang disertakan dalam layanan dan perananya masing-masing : 1. Guru pembimbing di sekolah dalam mengawasi jalannya bimbingan kelompok. 2. Praktikan sebagai pelaksana bimbingan. N. Rencana Penilaian 1. Penilaian Proses : : Anggota kelompok aktif dan antusias dalam mengikuti bimbingan kelompok. 2. Penilaian Hasil a. Laiseg : : Mengevaulasi penguasaan materi dengan menanyankan materi yang disampaikan dengan membagikan lembar laiseg. 98
  • 113. b. Laijapen : Menilai kemampuan siswa dalam menganalisis jenis-jenis emosi dan cara mengarahkannya. c. Laijapang : Setelah Mendapatkan layanan diharapkan individu akan mendapatkan pemahaman mengenai dampak emosi yang tidak terarah sehingga mampu untuk menganalisis dan mengendalikan emosi yang muncul. O. Analisis : dari hasil evaluasi / penilaian dapat disimpulkan bahwa : 1. Dari penilaian / evaluasi diketahui tingkat pencapaian materi dan pencapaian tujuan layanan 2. Analisis kegiatan untuk diketahui hambatan dan dukungan dalam pencapaian tujuan layanan. P. Tindak Lanjut : Melakukan tindak lanjut bagi peserta didik yang memerlukan bimbingan lanjutan secara individual. Q. Keterkaitan Layanan ini Dengan Layanan / Kegiatan Pendukung : Konseling Individual. R. Catatan Khusus : Kendal, 16 Agustus 2013 Mengetahui, Guru Pembimbing Praktikan Dra. Widyastuti Ratih Pramanawati Diah Ardiani Kusumawati NIP. 19670112 199003 2 003 NPM. 09110108 99
  • 114. Materi layanan MENGENDALIKAN DAN MENGARAHKAN EMOSI A. Pengertian Emosi Emosi pada umumnya berlangsung salam waktu yang relative singkat, sehingga emosi berbeda dengan mood. Mood atau suasana hati pada umumnya berlangsung dalam waktu yang relative lebih lama daripada emosi, tetapi intensitasnya kurang apabila dibadingkan dengan emosi. Emosi adalah luapan perasaan yang berkembang sebagai reaksi psikologisfisiologis dan surut dalam waktu singkat. Emosi bersifat subyektif. Emosi adalah potensi yang mencangkup seluruh jenis perasaan yang ada pada diri seseorang seperti sedih, gembira, benci, cinta, sayang, dsb. Emosi memiliki peran penting dalam dinamika jiwa (emosi dapat memperkuat/ melemahkan semangat dan berpengaruh terhadap konsentrasi belajar). Kematangan emosional dapat diartikan sebagai suasana atau respon emosional yang terhindar dari sifat-sifat implusif (bertingkah laku berdasarkan dorongan sesaat tanpa pertimbangan yang matang), atau kekanak-kanakan. Ciri-ciri kematangan emosi : 1. Mampu mengontrol emosinya (self-control), dalam arti mampu mengendaliakan diri dari perasaan, keinginan atau perbuatan tertentu apabila diperturutkan akan berdampak kurang baik. 2. Bersikap Osekolahimis dalam menantap masa depan. Mempunyai jiwa semanagt dalam belajar atau melaksanakan tugas, melakukan kegiatan yang positif, tidak mengeluh dan mempunyai tekad yang kokoh untuk mencapai citacita. 3. Menaruh respek terhadap diri sendiri dan orang lain. 4. Mencintai atau menghormati orang atau aturan. 5. Dapat merespon frustasi (kekecewaan) secara wajar atau dengan cara yang positif. 6. Dapat menghindrkan diri dari perasaan atau sifat permusuhan, dendan, tidak percaya diri, dan mudah putus asa. 100
  • 115. Seseorang yang mengalami emosi pada umumnya tidak lagi memperhatikan keadaan sekitarnya. Sesuatu aktifitas tidak dilakukan oleh seseorang dalam keadaan normal, tetapi adanya kemungkinan dikerjakan oleh yang bersangkutan apabila sedang mengalami emosi. Dapat dikatakan emosi merupakan keadaan yang ditimbulkan oleh situasi tertentu dan emosi cenderung terjadi dalam kaitannya dengan perilaku yang mengarah atau menyingkiri terhadap sesuatu, dan perilaku tersebut umumnya disertai adanya ekspresi kejasmaniaan, sehingga orang lain dapat mengetahiu bahwa seseorang sedang mengalami emosi. B. Karakteristik dan Klasifikasi Emosi Emosi dibagi menjadi dua kelompok yaitu : 1. Emosi Positif (Terkendali) Apabila dapat menunjang keberhasilan karir pendidikan atau karir pekerjaan dan tidak merugikan orang lain. Ukurannya batas kewajaran : kesedihan, kecintaan, keharuaan, kegembiraan, dsb. Contohnya : seorang pemimpin memarahi bawahannya kerena pekerjaannya terbengkalai, karena dimarahi pempinannya, bawahannya tersebut bekerja dengan aktif adan lebih disiplin sehingga prestasi kerjanya meningkat. Contoh lain : orangtua memarahi anaknya supaya belajar dengan giat dan kretif, karena nilai rapotnya banyak yang dibawah rata-rata, karena dimarahi, anak tersebut termotivasi untuk belajar dan mencapai prestasi, ia menyadari bahwa belajar merupan hal yang menyenangkan. 2. Emosi Negatif ( Tak Terkendali) Emosi yang sifatnya merusak karir pendidikan dan karir pekerjaan serta merugikan diri sendiri dan orang lain. Kriterianya diluar batas kewajaran seperti : menangis meraung-ranung, tertawa terbahak-bahak, dsb. Contoh : darah eni serasa mendidih ,ia naik pitam dan geram mendengar perkataan susi bahwa ia merebut pacarnya, eni menampar dan menjambak rambut susi ketika itu juga. eni tidak dapat menahan rasa amarahnya. akibatnya ia dipanggil wali kelas dan tim ketertiban /kedisiplinan serta mendapat point 101
  • 116. pelanggaran yang tinggi, sehingga harus membuat surat pernyataan di atas segel dan diketahui orang tua. C. Macam-macam Emosi Berdasarkan pengaruh rangsang yang diterima indra, emosi dibagi menjadi : 1. Emosi Marah Orang yang memiliki sifat yang keras dan menunjukkan ekspresi dengan membanting barang, memukul orang yang dikenai marah, bahkan membunuh yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Hal yang dilakukan untuk mengurangi emosi marah adalah: a. Jika akan marah maka segera berpikir tentang akibat buruk (negative) yang akan terjadi. b. Berusaha menghilangkan sebab-sebab yang menimbulakn kemarahan. 2. Emosi Sedih, Susah, Duka atau Pilu Karena sedih, seseorang bisa menangis. Menangis adalah satah satu ekspresi perasaan sedih. Ekspresi dari emosi sedih tidak hanya menangis. Orang yang sedih dapat mengurung diri di kamar dan tidak mau bergaul dengan orang lain. 3. Emosi Iri Orang sering membandingkan keadaannya dengan keadan orang lain. Jika dirinya lebih rendah atau kurang dari orang yang dibandingkannya maka timbul rasa iri. Emosi iri harus dapat dikendalikan dan diekspresikan secara positif. Ekspresi rasa iri yang positif akan menimbulkan gairah usaha dan meningkatkan kerja secara positif untuk menyamai orang yang sibandingkan itu. 4. Emosi Takut Ekspresi dari rasa takut berupa lari menjauh dari objek penyebab takut. Rasa takut mennyebabkan seseorang menghindari objek penyebab takut. Orang takut pada suatu objek karena menganggap out dapat menyebabkan musibah. 5. Emosi Cinta Ekspresi cinta adalah kisah remaja yang menjalin asmara. Rasa cinta dua remaja yang berlainan jenis menyebabkan adanya rasa selalu ingin bertemu. 102
  • 117. D. Cara Mengendalikan Emosi Emosi sebagai ungkapan perasaan dapat dikendalika, pengendaliannya antara lain dengan berpikir positif. Mengingat tidak ada untungnya dan bahkan banyak kerugiannya. Cara untuk meredakan kemarahan antara lain: 1. Ingatlah allah maha pangasih, mohonlah kasih dan kesabaran kepadanya. 2. Ingatlah emosi tak terkendali dapat merugikan diri sendiri dan orang lain menimbulkan permusuhan dan balas dendam. 3. Cucilah muka/berwudlu, pakailah wewangian aroma melati supaya badan, hati dan perasaan terasa rileks. 4. Rubahlah posisi duduk anda, dan tersenyumlah sebagai pengganti kemarahan. Kemudian katakanlah dengan tenang penyebab kemarahan anda kepada orang yang anda maksud. 5. Jika itu tidak mengubah suasana, tinggalkan lokasi tempat anda sedang beremosi sejenak, untuk menenangkan pikiran dan hati. E. Cara Mengarahkan Emosi Agar emosi kita lebih dewasa dan matang,maka emosi kita harus tertata dengan baik. Ada beberapa cara agar emosi kita lebih pisitif yaitu: 1. Selalu mawas diri/introspeksi diri, mengatur keseimbangan jasmani dan rohani, antara hak dan kewajiban, berdisiplin diri di setiap kesempatan dan waktu. 2. Selalu berpikir positif. 3. Selalu memberi maaf dan pengampunan 4. Selalu menyelesaikan masalah dan konflik dengan kepala dingin, bermusyawarah dan mufakat. F. Mengendalikan Dan Mengarahkan Emosi Emosi yang tak terkendali hanya akan merugikan diri sendiri. Selain menyebabkan energi Anda terkuras habis, Anda akan dicap tidak kuat mental dan tidak dewasa. Makanya, jika Anda digelayuti berbagai masalah, cobalah jangan hanyut dalam emosi, kendalikan diri. Lebih baik Anda coba tenangkan diri dengan menarik nafas dalam-dalam. Orang-orang yang terlatih mengendalikan emosi umumnya tidak pernah panik dalam menghadapi situasi apapun. Mengendalikan Emosi penjelasannya sebagai berikut : 103
  • 118. 1. Perasaan-perasaan yang kita alami umumnya bersumber dari pikiran. Ketika kita berpikiran negatif, perasaan kita cenderung menjadi negatif. Sebaliknya ketika kita berpikiran positif, perasaan kita cenderung positif. Jadi mengendalikan pikiran adalah langkah pertama untuk mengendalikan perasaan. 2. Biasakanlah memberi kesempatan kepada pikiran untuk mengambil keputusan. Semakin kita mahir menyerahkan keputusan kepada pikiran, maka semakin sehat emosi kita. Itu adalah kondisi ideal dimana akal yang mengendalikan perasaan, bukan perasaan yang mengendalikan akal. 3. Emosi negatif adalah sinyal bahwa ada yang tidak beres dalam diri kita. Ketika suasana hati kita menjadi tidak nyaman, cobalah menenangkannya dengan berdoa, menemui sahabat untuk berbagi perasaan, beristirahat, mendengarkan musik, atau apa saja yang kita sukai. 9. Hidupkanlah perasaan-perasaan yang menyenangkan sesering mungkin, termasuk untuk hal-hal yang kita inginkan terjadi. Misalnya perasaan gembira, ketika kelak kita bertemu kekasih kita, ketika kelak kita mendapatkan pekerjaan atau bisnis yang kita impikan. Itu adalah salah satu cara mengarahkan emosi untuk membantu mewujudkan impian kita menjadi kenyataan. 10. Belajarlah mengucap syukur dalam segala keadaan. Hati yang penuh dengan ucapan syukur akan membuat hidup lebih ringan, pikiran lebih jernih dan perasaan lebih nyaman sehingga mengendalikan perasaan bukan lagi beban yang berat. “Emosi adalah kekuatan besar yang bisa menggerakkan hidup kita kearah kebahagiaan dan keberhasilan. Tapi tanpa pengendalian, emosi juga bisa merusak kualitas kehidupan kita. Daftar Pustaka : Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga Mulyatiningsih, Rudi. 2004. Bimbingan Pribadi-Sosial, Belajar, dan Karir. Jakarta: Grasindo Yusuf, Syamsu. 2009. Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Bandung: Rizqi Press 104
  • 119. SATUAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING Tugas Perkembangan 6 Mencapai Kematangan Pengembangan Pribadi A. Topik Permasalahan : Berfikir positif B. Bidang Bimbingan : Pribadi C. Jenis Layanan : Bimbingan Kelompok D. Fungsi Layanan : Pemahaman dan Pengembangan E. Kompetensi yang Ingin Dicapai: 1. Tujuan Layanan : Setelah mendapatkan layanan ini, peserta didik memahami car berfikir positif dan dapat memecahkan masalah yang muncul dari cara berfikir positif. 2. Hasil yang Ingin Dicapai : Agar siswa mampu mengembangkan dan menerapkan cara berfikir positif dalam kehidupan sehari-hari. F. Sasaran Layanan : Siswa SMK kelas XII G. Uraian Kegiatan : Nilai Yang Kegiatan No Tahapan Guru Pembimbing 1. Pembentukan (10 Menit) 1. Menerima kehadiran Peserta Didik 1. Merespon Anggota kelompok dengan secara terbuka dan ucapan kembali kasih a. Santun, membalas mengucapkan terima Ditanamkan peduli kasih 2. Memimpin berdoa b. Religius 3. Menjelaskan c. Berpikir pengertian dan tujuan 2. Berdo’a bimbingan kelompok 3. Memperhatikan 105 logis
  • 120. serta metode dan psikodrama mendengarkan 4. Menjelaskan cara d. Berpikir pelaksanaan logis bimbingan kelompok 4. Memperhatikan diantaranya : Format dan kegiatan, Peran mendengarkan anggota kelompok, Suasana interaksi 5. Menjelaskan asas- e. Berikir logis asas bimbingan kelompok (kesukarelaan, 5. Memperhatikan keterbukaan, kegiatan, kenormatifan, kekinian, kerahasiaan) f. Disiplin 6. Menyampaikan kesepakan waktu 7. Perkenalan g. Saling 6. Menyepakati dilanjutkan Permainan untuk menghangatkan suasana agar saling terbuka, saling percaya, saling menerima sehingga waktu 7. Memperkenalkan menghargai, keaktifan, kerjasama diri secara bergantian dan melaksanakan permainan tercipta dinamika kelompok 2. Peralihan (5 menit) 1. Mengkondisikan anggota kelompok 106 1. Memberikan respon jawaban 1. Jujur
  • 121. agar siap atas kesiapan melanjutkan ketahap anggota berikutnya kelompok 2. Menjawab 2. Menanyakan 2. Menghargai pertanyaan kesepakatan anggota kelompok untuk kegiatan lebih lanjut dan mengenai sasaran 3. Kegiatan (20 menit) Topik Tugas 1. Menjelaskan topik 1. Memperhatikan mengenai berfikir 1. Berpikir logis positif. 2. Menjelaskan 2. Mendengarkan pentingnya topik dan tersebut dibahas 2. Menghargai memperhatikan dalam kegiatan bermain peran 3. Pembahasan topik secara tuntas dengan 3. Memperhatikan, dan menanggapi 3. Berpikir logis anggota kelompok 4. Memberikan 4. Berpartisipasi 4. Berfikir kesempatan kepada aktif dalam logis dan anggota kelompok permainan peran katarsis untuk melaksanakan sehingga psikodrama mengenai menyatakan topik permasalahan kebutuhan dan yang dibahas reaksi terhadap tekanan-tekanan terhadap dirinya. 5. Memberikan selingan 107 5. Melaksanakan 5. Kreatif
  • 122. 4. Pengakhiran (10 menit) 1. Menjelaskan bahwa 1. Memperhatikan kegiatan bimbingan 1. Menghargai dan Mendengarkan kelompok akan segera di akhiri 2. Menyimpulkan hasil 2. Mendengarkan, Menyimpulkan dari topik yang telah dibahas 2. Peduli, santun 3. Menjawab 3. Mengevaluasi pertanyaan kegiatan yang telah 3. Berpikir logis, Kreatif dilakukan: Pemahaman yang sudah diperoleh oleh Anggota kelompok, Perasaan yang dialami selama kegiatan berlangsung, Kesan yang diperoleh selama kegiatan 4. Membahas dan menanyakan tindak lanjut kegiatan Bkp 5. Mengucapkan terima kasih 6. Memimpin doa 7. Mengucapkan salam 4. Menjawab pertanyaan 5. Menjawab 6. Berdoa 7. Menjawab salam 8. Saling berjabat 8. Perpisahan tangan 108 4. Berpikir logis 5. Santun 6. Religius 7. Religius, Sopan 8. Menghargai dan kerjasama
  • 123. H. Materi layanan : Terlampir Sumber Materi : Srijanti dkk. 2006. Etika Membangun Sikap Profesionalisme Sarjana. Yogyakarta: Graha Ilmu. I. Pelaksanaan Layanan : 1. Waktu 2. Biaya : Mandiri 3. Tempat : Ruang Kelas 4. Hari / Tanggal : - 5. Semester/ Tahun J. : 1 x 45 menit : 2013 - 2014 Metode : Psikodrama K. Alat dan Perlengkapan : Kertas dan alat tulis L. Penyelenggara layanan : Diah Ardiani Kusumawati M. Pihak yang disertakan dalam layanan dan perananya masing-masing : 1. Guru pembimbing di sekolah dalam mengawasi jalannya bimbingan kelompok. 2. Praktikan sebagai pelaksana bimbingan. N. Rencana Penilaian 1. Penilaian Proses : : Anggota kelompok aktif dan antusias dalam mengikuti bimbingan kelompok. 2. Penilaian Hasil a. Laiseg : : Mengevaulasi penguasaan materi dengan menanyankan materi yang disampaikan dengan membagikan lembar laiseg. b. Laijapen : Menilai kemampuan siswa dalam mengembangkan sikap berfikir positif. a. Laijapang : Setelah Mendapatkan layanan diharapkan individu akan mendapatkan pemahaman mengenai berfikir positif sehingga mampu mengembangkan dan menerapkan cara berfikir positif dalam kehidupan sehari-hari. O. Analisis : dari hasil evaluasi / penilaian dapat disimpulkan bahwa : 109
  • 124. 1. Dari penilaian / evaluasi diketahui tingkat pencapaian materi dan pencapaian tujuan layanan 2. Analisis kegiatan untuk diketahui hambatan dan dukungan dalam pencapaian tujuan layanan. P. Tindak Lanjut : Melakukan tindak lanjut bagi peserta didik yang memerlukan bimbingan lanjutan secara individual. Q. Keterkaitan Layanan ini Dengan Layanan / Kegiatan Pendukung : Konseling Individual. R. Catatan Khusus Kendal, 29 Agustus 2013 Mengetahui, Guru Pembimbing Praktikan Dra. Widyastuti Ratih Pranamawati Diah Ardiani Kusumawati NIP. 19670112 199003 2 003 NPM. 09110108 110
  • 125. SATUAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING Tugas Perkembangan 6 Mencapai Kematangan Pengembangan Pribadi A. Topik Permasalahan : Harapan yang realistik B. Bidang Bimbingan : Pribadi C. Jenis Layanan : Bimbingan Kelompok D. Fungsi Layanan : Pemahaman dan Pengembangan E. Kompetensi yang Ingin Dicapai: 1. Tujuan Layanan : Setelah mendapatkan layanan ini, peserta didik diharapkan dapat mengetahui dan memahami tentang bagaimana menetapkan tujuan yang rasional dan realistik agar dapat terwujud sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. 2. Hasil yang Ingin Dicapai : Setelah mendapatkan layanan ini diharapkan Siswa dapat mengaplikasikan pemahaman yang diperolehnya dalam melihat sisi positif dalam dirinya dan situasi yang terjadi jika harapannya tidak terwujud. F. Sasaran Layanan : Siswa SMK kelas XII G. Uraian Kegiatan : Nilai Yang Kegiatan No Tahapan Guru Pembimbing 1. Pembentukan (10 Menit) Peserta Didik Ditanamkan 1. Menerima 1. Merespon 1. Santun, kehadiran dengan peduli Anggota membalas kelompok secara ucapan kembali 111
  • 126. terbuka dan kasih mengucapkan terima kasih berdoa 3. Menjelaskan pengertian dan 2. Berdo’a 2. Religius 3. Memperhatikan 2. Memimpin 3. Berpikir dan logis mendengarkan tujuan bimbingan kelompok dengan metode psikodrama 4. Menjelaskan 4. Memperhatikan cara pelaksanaan dan bimbingan 4. Berpikir logis mendengarkan kelompok diantaranya : Format kegiatan, Peran anggota kelompok, Suasana interaksi 5. Menjelaskan asas-asas bimbingan kelompok (kesukarelaan, keterbukaan, kegiatan, kenormatifan, kekinian, kerahasiaan) 112 5. Memperhatikan 5. Berikir logis
  • 127. 6. Menyampaikan kesepakan waktu 7. Perkenalan 6. Menyepakati 6. Disiplin waktu 7. Memperkenalka 7. Saling dilanjutkan n diri secara menghargai Permainan untuk bergantian dan , keaktifan, menghangatkan melaksanakan kerjasama suasana agar permainan saling terbuka, saling percaya, saling menerima sehingga tercipta dinamika kelompok 2. Peralihan (5 menit) 1. Mengkondisikan 1. Memberikan respon anggota kelompok jawaban atas agar siap kesiapan anggota melanjutkan ketahap 1. Jujur kelompok berikutnya 2. Menghargai 2. Menanyakan 2. Menjawab kesepakatan anggota pertanyaan kelompok untuk kegiatan lebih lanjut dan mengenai sasaran 3. Kegiatan Topik Tugas (20 menit) 1. Menjelaskan topik mengenai harapan yang realistik. 113 1. Memperhatikan 1. Berpikir logis
  • 128. 2. Menjelaskan 2. Mendengarkan dan pentingnya topik 2. Menghargai memperhatikan tersebut dibahas dalam kelompok 3. Pembahasan topik 3. Memperhatikan, dan 3. Berpikir logis menanggapi secara tuntas dengan anggota kelompok 4. Berfikir logis dalam permainan 4. Memberikan 4. Berpartisipasi aktif dan katarsis kesempatan kepada peran sehingga anggota kelompok menyatakan untuk melaksanakan kebutuhan dan reaksi psikodrama terhadap tekanan- mengenai topik tekanan terhadap permasalahan yang dirinya. dibahas. 5. Melaksanakan 5. Kreatif 1. Memperhatikan 1. Menghargai 5. Memberikan selingan 4. Pengakhiran (10 menit) 1. Menjelaskan bahwa kegiatan bimbingan dan Mendengarkan kelompok akan segera di akhiri 2. Menyimpulkan hasil 2. Mendengarkan, 2. Peduli, santun Menyimpulkan dari topik yang telah dibahas 3. Menjawab 3. Mengevaluasi pertanyaan kegiatan yang telah dilakukan: Pemahaman yang 114 3. Berpikir logis, Kreatif
  • 129. sudah diperoleh oleh Anggota kelompok, Perasaan yang dialami selama kegiatan berlangsung, Kesan yang diperoleh selama kegiatan 4. Menjawab 4. Membahas dan 4. Berpikir logis pertanyaan menanyakan tindak lanjut kegiatan Bkp 5. Santun 5. Menjawab 5. Mengucapkan terima kasih 6. Berdoa 6. Memimpin doa 6. Religius 7. Menjawab salam 7. Religius, Sopan 7. Mengucapkan salam 8. Saling berjabat 8. Perpisahan tangan 8. Menghargai dan kerjasama H. Materi layanan : Terlampir I. : Sumber Materi Enung Fatimah. 2011. Psikologi Perkembangan Perkembangan peserta didik). Bandung : Pustaka Setia J. Pelaksanaan Layanan : 1. Waktu : 1 x 45 menit 2. Biaya : Mandiri 3. Tempat : Ruang Kelas 4. Hari / Tanggal : 5. Semester/ Tahun : 2013 - 2014 K. Metode : Psikodrama L. Alat dan Perlengkapan : Kertas dan alat tulis M. Penyelenggara layanan : Diah Ardiani Kusumawati 115
  • 130. N. Pihak yang disertakan dalam layanan dan perananya masing-masing : 1. Guru pembimbing di sekolah dalam mengawasi jalannya bimbingan kelompok. 2. Praktikan sebagai pelaksana bimbingan. O. Rencana Penilaian 1. Penilaian Proses : : Anggota kelompok aktif dan antusias dalam mengikuti bimbingan kelompok. 2. Penilaian Hasil a. Laiseg : : Mengevaulasi penguasaan materi dengan menanyankan materi yang disampaikan dengan membagikan lembar laiseg. b. Laijapen : Menilai kemampuan siswa dalam menetapkan tujuan yang realistik. c. Laijapang : Setelah Mendapatkan layanan diharapkan individu akan mendapatkan pemahaman tentang menetukan harapan yang realistik sesuai dengan kemampuan masing-masing. P. Analisis : dari hasil evaluasi / penilaian dapat disimpulkan bahwa : 1. Dari penilaian / evaluasi diketahui tingkat pencapaian materi dan pencapaian tujuan layanan 2. Analisis kegiatan untuk diketahui hambatan dan dukungan dalam pencapaian tujuan layanan. Q. Tindak Lanjut : Melakukan tindak lanjut bagi peserta didik yang memerlukan bimbingan lanjutan secara individual. R. Keterkaitan Layanan ini Dengan Layanan / Kegiatan Pendukung : Konseling Individual. S. Catatan Khusus : 116
  • 131. Kendal,16 Agustus 2013 Mengetahui, Guru Pembimbing Praktikan Dra. Widyastuti Ratih Pramanawati Diah Ardiani Kusumawati NIP. 19670112 199003 2 003 NPM. 09110108 117
  • 132. Materi layanan HARAPAN YANG REALISTIK Anda perlu mengevaluasi tujuan-tujuan tersebut sudah realistik atau tidak.. Dengan menerapkan tujuan yang realistik, maka akan memudahkan anda dalam mencapai tujuan tersebut. Dengan demikian anda akan menjadi lebih percaya diri dalam mengambil langkah, tindakan atau keputusan dalam mencapai masa depan. Sambil mencegah terjadinya resiko yang tidak diinginkan. . Jika anda dapat melakukan beberapa hal seperti yang dibahas pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, niscaya anda akan terbebas dari krisis kepercayaan diri. namun demikian satu hal yang perlu diingat baik-baik adalah jangan sampai anda mengalami over confidence atau percaya diri yang berlebihan bukanlah menggambarkan kondisi kejiwaan yang sehat karena hal tersebut merupakan rasa percaya diri yang bersifat semu. Rasa percaya diri yang berlebihan pada umumnya tidak bersumber dari potensi diri yang ada, namun lebih didasari oleh tekanan-tekanan yang mungkin datang dari orangtua dan masyarakat (sosial), hingga tanpa sadar melandasi motivasi individu untuk menjadi orang sukses. contohnya : seorang anak yang sejak lahir ditanamkan oleh orangtua, bahwa dirinya dalah special, istimewa, pandai, dan pasti akan menjadi orang sukses dsb. Namun dalam perjalanan waktu, anak tersebut tidak perbah punya catatan kesuksesan yang nyata dan original atau atas dasar usahanya sendiri. akibatya, anak tersebut tumbuh menjadi seorang menimpulator dan otoriter dan memperalat, menguasai dan mengandalikan orang lain untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Rasa percaya diri pada individu seperti itu tidaklah didasarkan oleh real kompetensi, tetapi lebih pada faktor-faktor pendukung eksternal, seperti : kekayaan, jabatan, koneksi, relasi, back up power keluarga, nama besar orang tua, maka individu mampu melihat sisi positif dirinya dan situasi yang terjadi walau harapannya tidak terwujud. Sumber : Abu Al-Ghifari.2004. Percaya diri sepanjang hari. Mujahid : Bandung. 118
  • 133. SATUAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING Tugas Perkembangan 6 Mencapai Kematangan Pengembangan Pribadi A. Topik Permasalahan : Cara Meningkatkan Kepercayaan Diri B. Bidang Bimbingan : Pribadi C. Jenis Layanan : Bimbingan Kelompok D. Fungsi Layanan : Pemahaman dan Pengembangan E. Kompetensi yang Ingin Dicapai: 1. Tujuan Layanan : Setelah mendapatkan layanan ini, peserta didik memahami rasa percaya diri dan meningkatkan rasa percaya diri yang dimiliki. 2. Hasil yang Ingin Dicapai : Agar siswa memiliki pemahaman serta dapat meningkatkan rasa percaya diri dengan baik. F. Sasaran Layanan : Siswa SMK kelas XII G. Uraian Kegiatan : Nilai Yang Kegiatan No Tahapan Guru Pembimbing 1. Pembentukan (10 Menit) 1. Menerima kehadiran Peserta Didik 1. Merespon Anggota kelompok dengan secara terbuka dan ucapan kembali kasih 1. Santun, membalas mengucapkan terima Ditanamkan peduli kasih 2. Memimpin berdoa 2. Berdo’a 2. Religius 3. Menjelaskan 3. Memperhatikan 3. Berpikir logis pengertian dan tujuan 119 dan
  • 134. bimbingan kelompok mendengarkan serta metode psikodrama 4. Berpikir logis 4. Menjelaskan cara 4. Memperhatikan pelaksanaan dan bimbingan kelompok mendengarkan diantaranya : Format kegiatan, Peran anggota kelompok, 5. Berikir logis Suasana interaksi 5. Menjelaskan asasasas bimbingan 5. Memperhatikan kelompok (kesukarelaan, keterbukaan, kegiatan, 6. Disiplin kenormatifan, kekinian, kerahasiaan) 6. Menyampaikan kesepakan waktu 7. Perkenalan 7. Saling 6. Menyepakati waktu 7. Memperkenalkan dilanjutkan Permainan untuk menghangatkan suasana agar saling terbuka, saling menghargai, keaktifan, kerjasama diri secara bergantian dan melaksanakan permainan percaya, saling menerima sehingga tercipta dinamika kelompok 2. Peralihan 1. Mengkondisikan 120 1. Memberikan 1. Jujur
  • 135. (5 menit) anggota kelompok respon jawaban agar siap atas kesiapan melanjutkan ketahap anggota berikutnya kelompok 2. Menanyakan 2. Menjawab kesepakatan anggota 2. Menghargai pertanyaan kelompok untuk kegiatan lebih lanjut dan mengenai sasaran 3. Kegiatan Topik Tugas (20 menit) 1. Menjelaskan topik 1. Memperhatikan 1. Berpikir logis mengenai cara meningkatkan kepercayaan diri. 2. Menghargai 2. Menjelaskan 2. Mendengarkan pentingnya topik dan tersebut dibahas memperhatikan dalam kegiatan bermain peran 3. Pembahasan topik secara tuntas dengan 3. Berpikir logis 3. Memperhatikan, dan menanggapi anggota kelompok 4. Memberikan 4. Berfikir logis dan katarsis 4. Berpartisipasi kesempatan kepada aktif dalam anggota kelompok permainan peran untuk melaksanakan sehingga psikodrama mengenai menyatakan topik permasalahan kebutuhan dan yang dibahas reaksi terhadap tekanan-tekanan 121 5. Kreatif
  • 136. terhadap dirinya. 5. Memberikan selingan 4. Pengakhiran (10 menit) 5. Melaksanakan 1. Menjelaskan bahwa 1. Memperhatikan kegiatan bimbingan dan Mendengarkan 1. Menghargai kelompok akan segera di akhiri 2. Menyimpulkan hasil 2. Mendengarkan, Menyimpulkan 2. Peduli, santun dari topik yang telah dibahas 3. Mengevaluasi 3. Menjawab kegiatan yang telah pertanyaan 3. Berpikir logis, Kreatif dilakukan: Pemahaman yang sudah diperoleh oleh Anggota kelompok, Perasaan yang dialami selama kegiatan berlangsung, Kesan yang diperoleh selama kegiatan 4. Membahas dan menanyakan tindak lanjut kegiatan Bkp 5. Mengucapkan terima kasih 6. Memimpin doa 7. Mengucapkan salam 8. Perpisahan 4. Menjawab pertanyaan 5. Menjawab 6. Berdoa 7. Menjawab salam 8. Saling berjabat tangan 122 4. Berpikir logis 5. Santun 6. Religius 7. Religius, Sopan 8. Menghargai dan kerjasama
  • 137. H. Materi layanan : Terlampir Sumber Materi : Angelis Barbara de. 2002. Percaya Diri Sumber Sukses dan Kemandirian. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. Fatimah, Enung. 2008. Psikologi Perkembangan (Perkembangan Peserta Didik). Bandung : CV.Pustaka Setia Lina dan Klara. 2010. Panduan Menjadi Remaja Percaya Diri. Jakarta:Nobel Edumedia. I. Pelaksanaan Layanan : 1. Waktu 2. Biaya : Mandiri 3. Tempat : Ruang Kelas 4. Hari / Tanggal : 5. Semester/ Tahun J. : 1 x 45 menit : 2013 - 2014 Metode : Psikodrama K. Alat dan Perlengkapan : Kertas dan alat tulis L. Penyelenggara layanan : Diah Ardiani Kusumawati M. Pihak yang disertakan dalam layanan dan perananya masing-masing : 1. Guru pembimbing di sekolah dalam mengawasi jalannya bimbingan kelompok. 2. Praktikan sebagai pelaksana bimbingan. N. Rencana Penilaian 1. Penilaian Proses : : Anggota kelompok aktif dan antusias dalam mengikuti bimbingan kelompok. 2. Penilaian Hasil a. Laiseg : : Mengevaulasi penguasaan materi dengan menanyankan materi yang disampaikan dengan membagikan lembar laiseg. b. Laijapen : Menilai kemampuan siswa dalam meningkatkan rasa percaya diri siswa yang dimiliki. 123
  • 138. c. Laijapang : Setelah Mendapatkan layanan diharapkan individu akan mendapatkan pemahaman serta dapat meningkatkan kepercayaan diri siswa. O. Analisis : dari hasil evaluasi / penilaian dapat disimpulkan bahwa : 1. Dari penilaian / evaluasi diketahui tingkat pencapaian materi dan pencapaian tujuan layanan 2. Analisis kegiatan untuk diketahui hambatan dan dukungan dalam pencapaian tujuan layanan. P. Tindak Lanjut : Melakukan tindak lanjut bagi peserta didik yang memerlukan bimbingan lanjutan secara individual. Q. Keterkaitan Layanan ini Dengan Layanan / Kegiatan Pendukung : Konseling Individual. R. Catatan Khusus Kendal, 16 Agustus 2013 Mengetahui, Guru Pembimbing Praktikan Dra. Widyastuti Ratih Pranamawati Diah Ardiani Kusumawati NIP. 19670112 199003 2 003 NPM. 09110108 124
  • 139. MATERI MENUMBUHKAN RASA KEPERCAYAAN DIRI Menurut Habibie (2009: 22-27), menyatakan berbagai cara menumbuhkan rasa percaya diri sebagai berikut yaitu yakin pada kemampuan diri karena setiap orang terlahir dengan keistimewaan yang berbeda berupa potensi atau bakat yang dimiliki, bertanggung jawab adalah salah satu ciri orang sukses karena orang yang bertanggung jawab mampu melaksanakan pekerjaan dengan baik, menggali potensi diri karena setiap individu memiliki potensi diri akan tetapi terkadang manusia tidak menyadarinya dan orang yang sukses mampu menggali potensinya, berfikir positif dapat membangun percaya diri dengan cepat karena orang sukses selalu berfikiran positif, berani mengambil resiko merupakan karakteristik dari orang yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi, tidak putus asa merupakan sikap yang mencerminkan seseorang yang memiliki kepercayaan diri Habibie, M. 2009. Cerdas dan Cergas Merancang Sukses Diri. Bandung : tiga serangkai 125
  • 140. DOKUMENTASI PELAKSANAAN TRYOUT PELAKSANAAN PRE-TEST 126
  • 141. PELAKSANAAN TREATMENT 127
  • 142. PELAKSANAAN POST-TEST 128