UNIVERSITAS INDONESIA

KONTROL KONSUMSI MEDIA PADA ANAK-ANAK DI INDONESIA
DALAM MENGHADAPI DAMPAK NEGATIF MEDIA LAYAR KACA...
ii
iii
iv
KONTROL KONSUMSI MEDIA PADA ANAK-ANAK DI INDONESIA
DALAM MENGHADAPI DAMPAK NEGATIF MEDIA
LAYAR KACA
Alvin Agustino Saputra...
Pendahuluan
Pertumbuhan media di Indonesia telah banyak mengalami perkembangan selama
lebih dari beberapa dekade terakhir....
kecerdasan, dan mengisi keingintahuan mereka yang besar melalui acara pendidikan dan
informasi di televisi, situs-situs pe...
dapat menarik perhatian anak-anak. Kedua, dampak negatif media layar kaca yang diperoleh
anak dengan menghabiskan sebagian...
tersebut. Sejauh pemahaman penulis, istilah media layar kaca ini digunakan pada sebagian
besar media elektronik karena sec...
pertumbuhan konsumsi media masyarakat di Indonesia untuk televisi sebesar 94 %, mobile
phone sebesar 60 %, internet sebesa...
harinya. Waktu yang biasanya digunakan oleh anak-anak adalah hari biasa setelah pulang
sekolah (Senin-Sabtu) dan akan teru...
Televisi masih menjadi media layar kaca utama bagi anak-anak di Indonesia. Hal ini
dapat disebabkan harga televisi yang pa...
sehingga seakan-akan membuat media-media tersebut “mengepung” anak. Kehadiran media
layar kaca tersebut bukanlah sesuatu h...
Bahaya Konsumsi Media Layar Kaca pada Anak-Anak
Kemajuan media yang diiringi dengan adanya perkembangan teknologi, informa...
antara lain kekerasan, pornografi, horor atau mistis, perilaku buruk, kesehatan fisik
terganggu, pendidikan buruk, hubunga...
mematikan bagi anak karena visualisasi yang ditampilkan dapat membuat anak terangsang
dan anak akan mengkonsumsinya kembal...
juga dapat menjadi terlalu cepat dewasa karena bertindak lebih dewasa daripada usia anak
sebenarnya tanpa adanya tingkat k...
tersentuh dan tidak diawasi, terutama oleh orang tuanya sendiri karena komunikasi yang
buruk akibat pemahaman yang rendah ...
konsumsi media layar kaca dan mengurangi dampak negatif dari terpaan media yang
diperolehnya dari media layar kaca.

1. Me...
materi tayangan tersebut karena setiap media layar kaca mempunyai pengaruh yang berbeda
pada anak. Hal yang menjadi fokus ...
- Mendongeng
Aktivitas lainnya yang dapat menjadi alternatif menjauhi media layar kaca pada anak
dengan pembacaan dongeng....
- Berkreasi dan Bermain
Orang tua dapat mengajak anaknya melakukan hal-hal yang mendorong kreativitas
anak untuk melakukan...
dan jarangnya orang tua menemani anak pada saat mengkonsumsi media layar kaca
(Suratnoaji, 2010). Dalam mendampingi anak p...
untuk menghalau kebosanan, dan adanya repetisi dalam konten untuk pembelajaran anak.
Meskipun, pada awalnya televisi sebag...
a-tablet-do-to-the childs-mind/
Gunn, Jeanne B. & Donahue, E. H. (2008). Introducing The Issue : Children and Electronic
M...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

KONTROL KONSUMSI MEDIA PADA ANAK-ANAK DI INDONESIA DALAM MENGHADAPI DAMPAK NEGATIF MEDIA LAYAR KACA

2,639

Published on

Makalah ini membahas keterkaitan hubungan antara media layar kaca dan anak serta pemecahan masalah mengenai bentuk pengawasan yang digunakan sebagai kontrol konsumsi media layar kaca pada anak. Perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi di era digital telah membuat akses anak-anak terhadap media layar kaca semakin besar sehingga tidak adanya pengawasan bagi konsumsi media layar kaca mereka. Tidak semua media layar kaca menyajikan hal yang pantas dan baik untuk dikonsumsi oleh anak. Media layar kaca sebenarnya mempunyai muatan-muatan yang dapat memberikan dampak negatif berbahaya bagi anak. Penulis memperoleh informasi bahwa diet media dan pendampingan orang tua dapat menjadi bentuk pengawasan untuk konsumsi media layar kaca yang berlebihan pada anak-anak di Indonesia mengingat adanya bahaya yang mengancam dari media layar kaca. Kita juga dapat menyadari betapa pentingnya peran orang tua untuk meluangkan sedikit waktunya untuk menemani anak mereka pada saat anak mengkonsumsi media layar kaca dan memberikan dukungan pada anak untuk menerapkan diet media.

0 Comments
6 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
2,639
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
0
Likes
6
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

KONTROL KONSUMSI MEDIA PADA ANAK-ANAK DI INDONESIA DALAM MENGHADAPI DAMPAK NEGATIF MEDIA LAYAR KACA

  1. 1. UNIVERSITAS INDONESIA KONTROL KONSUMSI MEDIA PADA ANAK-ANAK DI INDONESIA DALAM MENGHADAPI DAMPAK NEGATIF MEDIA LAYAR KACA MAKALAH NON-SEMINAR Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ilmu Sosial ALVIN AGUSTINO SAPUTRA 1006664804 PROGRAM SARJANA REGULER PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI PEMINATAN INDUSTRI KREATIF PENYIARAN DEPOK JANUARI 2014
  2. 2. ii
  3. 3. iii
  4. 4. iv
  5. 5. KONTROL KONSUMSI MEDIA PADA ANAK-ANAK DI INDONESIA DALAM MENGHADAPI DAMPAK NEGATIF MEDIA LAYAR KACA Alvin Agustino Saputra 1. Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Indonesia, Depok, 16436, Indonesia e-mail: alvin_choco11@yahoo.com Abstrak Makalah ini membahas keterkaitan hubungan antara media layar kaca dan anak serta pemecahan masalah mengenai bentuk pengawasan yang digunakan sebagai kontrol konsumsi media layar kaca pada anak. Perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi di era digital telah membuat akses anak-anak terhadap media layar kaca semakin besar sehingga tidak adanya pengawasan bagi konsumsi media layar kaca mereka. Tidak semua media layar kaca menyajikan hal yang pantas dan baik untuk dikonsumsi oleh anak. Media layar kaca sebenarnya mempunyai muatan-muatan yang dapat memberikan dampak negatif berbahaya bagi anak. Penulis memperoleh informasi bahwa diet media dan pendampingan orang tua dapat menjadi bentuk pengawasan untuk konsumsi media layar kaca yang berlebihan pada anak-anak di Indonesia mengingat adanya bahaya yang mengancam dari media layar kaca. Kita juga dapat menyadari betapa pentingnya peran orang tua untuk meluangkan sedikit waktunya untuk menemani anak mereka pada saat anak mengkonsumsi media layar kaca dan memberikan dukungan pada anak untuk menerapkan diet media. Kata Kunci: anak-anak; diet media; konsumsi media; media layar kaca; pendampingan orang tua CONTROL OF MEDIA CONSUMPTION FOR INDONESIAN CHILDREN AGAINST NEGATIVE IMPACT OF SCREEN MEDIA Abstract This paper discusses the relationship between screen media and children as well as solving the problem of monitoring form that used as control of screen media consumption on children. The development of technology, information, and communication in digital era has made larger access for children to screen media so there is no surveillance for their screen media consumption. Not all screen media presents appropriate and good things consumed by children. Actually, screen media has contents that can give dangerous negative effect for children. The writer gathered the information that media diet and parental mediation can be monitoring form for excessively screen media consumption on Indonesian children considering there is a danger which threaten the children from screen media. From this paper, we can also realize how important the role of parents to have quality time with children when their children consume screen media and give a support for them to do media diet. Keywords: children; media diet; media consumption; screen media; parental mediation v
  6. 6. Pendahuluan Pertumbuhan media di Indonesia telah banyak mengalami perkembangan selama lebih dari beberapa dekade terakhir. Indonesia merupakan salah satu negara yang tinggal dalam era digital yang mengharuskannya terlibat dalam perubahan proses pemahaman dan penguasaan media seiring dengan perkembangan teknologi, informasi, serta ilmu pengetahuan yang sangat cepat. Selama kurun waktu tersebut, pertumbuhan media di Indonesia menunjukkan bagaimana media sangat terintegrasi dengan kehidupan masyarakat Indonesia di mana media seakan-akan telah menjadi bagian dari hidup masyarakat Indonesia dan mereka tidak dapat dipisahkan dari media. Perkembangan teknologi, informasi, dan ilmu pengetahuan di era digital tidak hanya dapat mempengaruhi media itu sendiri, tetapi juga mempengaruhi konsumsi masyarakat terhadap media. Konsumsi media pada masyarakat di era digital lebih mengacu kepada konsumsi media layar kaca sebagai tren media bagi masyarakat. Media layar kaca beserta muatannya ternyata memberikan dampak yang sangat besar bagi masyarakat sebagai konsumennya, khususnya bagi anak-anak. Melalui makalah ini, penulis ingin mengetahui mengapa media layar kaca sangat menarik bagi anak dan memberikan solusi bagaimana mengontrol konsumsi media layar kaca pada anak dengan diet media dan pendampingan orang tua mengingat adanya bahaya dari media layar kaca tersebut. Pada awalnya, anak-anak menjadi subjek yang sering dianggap tidak terlalu penting dalam wacana publik karena hampir semua orang pernah mengalami masa anak-anak dan pernah berinteraksi dengan anak. Setiap orang tua merasa mengenal anak dan masa anakanak dengan baik dan benar karena alasan itu. Tetapi, dengan banyaknya perbedaan pandangan, pengalaman, dan kompleksitas yang terjadi mengenai anak dan masa anak-anak membuat isu mengenai anak menjadi mendapat perhatian dan menarik untuk dibahas. Apalagi, jika isu anak ini terkait dengan media dan pengaruhnya pada anak karena akan membuat masalah menjadi lebih kompleks. Setiap orang tua yang mulai menyadari beragam media yang tersedia dalam kehidupan anak mereka, juga mulai mencemaskan dampak yang dapat ditimbulkan akibat hubungan yang terjadi antara anak mereka dengan media tersebut. Tidak dapat disangkal lagi bahwa media dianggap telah menjadi bagian dari keseharian dalam hidup anak sehingga sulit untuk memisahkan anak-anak dari media. Media dapat diibaratkan dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Di satu sisi, media dapat bermuatan positif yang bersifat prososial, namun di sisi lainnya media dapat bermuatan negatif yang bersifat antisosial. Pada sisinya yang positif, media dapat memberikan kemudahan akses bagi anak-anak untuk memperoleh informasi, mengasah 1
  7. 7. kecerdasan, dan mengisi keingintahuan mereka yang besar melalui acara pendidikan dan informasi di televisi, situs-situs pendidikan di internet, film-film yang menghibur, atau videogame yang sehat bagi anak. Pada saat yang sama, akses yang lebih besar ini juga meningkatkan resiko anak-anak terancam bahaya dan terkena bahaya laten dari sisi negatif yang dimiliki oleh media itu sendiri. Media menjadi destruktif dengan menampilkan muatanmuatan dalam tayangan atau konten di media layar kaca tersebut yang tidak pantas dikonsumsi untuk anak-anak, seperti menampilkan sisi kekerasan, pornografi, horor, dan lain sebagainya. Disadari atau tidak, sisi negatif inilah yang lebih dominan memberikan pengaruh yang besar bagi anak-anak. Ditambah lagi, anak-anak merupakan sasaran yang paling mudah atau rentan terpengaruh dengan apa yang disajikan oleh media layar kaca tersebut. Media layar kaca akan mempengaruhi anak sehingga anak akan menerima informasi dari media tersebut mentah-mentah, menyerap apapun tawaran dari media tersebut karena mereka tidak dapat berpikir secara kritis dan tidak memiliki kemampuan untuk menentukan pilihan bagi dirinya sendiri. Permasalahan yang terjadi adalah peran orang tua seharusnya menjadi hal yang sangat penting dalam memberikan dan mengarahkan anak mereka dalam mengkonsumsi media, khususnya konsumsi media layar kaca yang nantinya dapat dijadikan tolak ukur perkembangan anak di masa yang akan datang. Selain itu, adanya akses yang besar bagi anak terhadap media yang membuat konsumsi media pada anak menjadi berlebihan sehingga hal ini seharusnya mengundang keprihatinan para orang tua mengingat adanya bahaya yang dapat ditimbulkan dari dampak negatif media tersebut. Rasa keingintahuan anak-anak yang besar terhadap media layar kaca membuat mereka dapat menghabiskan waktu berlama-lama di depan layar kaca tersebut dan mengabaikan banyak hal lainnya. Padahal, kondisi fisik, sosial, dan mental anak dapat memburuk hanya karena terlalu banyak mengkonsumsi media layar kaca. Pada kenyataannya, hal ini menjadi wacana yang menarik karena realitas dalam kehidupan masyarakat di Indonesia menunjukkan masih kurangnya kesadaran media yang dimiliki oleh masyarakat dan banyaknya penyalahgunaan penerapan media sehingga kurangnya pengawasan terhadap konsumsi terhadap media, terutama pada anak-anak. Makalah ini ingin mencoba untuk memahami lebih mendalam keterkaitan hubungan antara media layar kaca dan anak serta menawarkan solusi mengenai bentuk pengawasan yang digunakan sebagai kontrol konsumsi media pada anak. Perlu adanya dukungan secara aman melalui kontrol konsumsi media terhadap kebebasan mengakses atau mengkonsumsi media bagi anak-anak di Indonesia. Tiga hal penting akan dibahas dalam makalah ini terkait dengan konsumsi media layar kaca pada anak. Pertama, apa yang membuat media layar kaca 2
  8. 8. dapat menarik perhatian anak-anak. Kedua, dampak negatif media layar kaca yang diperoleh anak dengan menghabiskan sebagian besar waktunya berlama-lama di depan layar kaca terhadap perkembangan dan perilaku dalam kehidupan anak. Ketiga, alternatif atau solusi yang dapat dilakukan bagi para orang tua dan publik yang peduli terhadap dampak media bagi anak mereka melalui diet media dan pendampingan orang tua (parental mediation) sebagai kontrol konsumsi media layar kaca pada anak. Dengan begitu, konsumsi media layar kaca pada anak dapat dikontrol dan diharapkan anak dengan dukungan oleh orang tua mereka dapat menyeimbangkan konsumsi media layar kaca pada anak mengingat bahaya yang dapat ditimbulkan media layar kaca tersebut. Tinjauan Literatur Secara umum, media yang kita kenal dapat terbagi menjadi dua bagian, yaitu media cetak dan media elektronik. Media cetak ini mencakup surat kabar, buku, majalah, buletin, dan lain sebagainya. Media cetak dapat dikatakan tidak terlalu berkembang di era digital. Hal tersebut dikarenakan media cetak dianggap sebagian orang sebagai media konvensional yang secara tidak langsung memaksa konsumennya untuk menikmati teks dalam media tersebut satu per satu dari awal hingga akhir. Tingginya biaya cetak, sirkulasi yang semakin merosot, dan adanya perkembangan teknologi membuat eksistensi media cetak semakin menurun. Sedangkan, media elektronik yang mencakup televisi, komputer, laptop, internet, mobile phone, tablet, permainan elektronik, iPad, dan lain sebagainya dapat memberikan kemudahan dan fleksibilitas yang dimungkinkan karena adanya teknologi digital. Sebenarnya, kita juga tidak mengetahui sampai sejauh mana eksistensi media cetak akan berjalan, sementara media elektronik terus berkembang di era digital (Sembiring, 2013). Terkait dengan media elektronik, ada satu istilah yang dapat digunakan untuk televisi, komputer, laptop, mobile phone, tablet, dan perangkat elektronik lain dengan menyebutnya sebagai media layar kaca. Media layar kaca dapat berarti memposisikan kegiatan yang menggunakan sejumlah media elektronik sebagai satu kesatuan. Media elektronik ini dapat dikategorikan ke dalam satu bagian dengan karakteristik yang hampir sama. Karakteristik yang sama tersebut adalah aktivitas mengkonsumsi media layar kaca cenderung merupakan aktivitas yang pasif dan adanya pembatasan imajinasi anak oleh citra atau visualisasi yang ditampilkan di layar kaca (Orange & O’Flynn, 2007). Selain itu, adanya penggabungan atau konvergensi yang berlaku pada media layar kaca di mana media-media elektronik dapat berintegrasi dengan fungsi dan karakteristik yang dimiliki masing-masing media elektronik 3
  9. 9. tersebut. Sejauh pemahaman penulis, istilah media layar kaca ini digunakan pada sebagian besar media elektronik karena secara fisik media-media ini memang berbahan dasar utama yang terbuat dari kaca sebagai pembatas antara media berlayar kaca itu sendiri dengan orang banyak sebagai konsumennya. Lebih jauh lagi, layar kaca itu sendiri dapat menjadi batasan antara konsumen yang berada di dunia nyata dan media yang di dalamnya adalah dunia virtual. Sekarang, media layar kaca semakin banyak dikonsumsi masyarakat, terutama anakanak dan menjadi tren yang akan terus berlangsung di masa yang akan datang. Seperti yang ditampilkan dalam video A Day Made of Glass oleh Corning Incorporated di mana video ini menyajikan gambaran masa depan sebagai dunia yang isinya akan didominasi oleh adanya permukaan layar kaca tipis interaktif yang dapat ditemukan di mana pun di kehidupan kita dan dijadikan sebagai media komunikasi (Walbarkah, 2012). Layar kaca memang dapat dianggap sebagai hiburan yang menyenangkan dan nyaman untuk anak-anak. Tetapi, apa yang ditampilkan media layar kaca pada saat yang sama dapat menjadi sesuatu bersifat adiktif bagi anak-anak dan hal ini tentunya sangat berbahaya sehingga konsumsi media layar kaca pada anak perlu dikontrol secara aman. Konteks Penulisan Konsumsi Media Layar Kaca pada Anak-Anak di Indonesia Era digital telah mengubah cara masyarakat Indonesia berinteraksi dengan media dan segala jenis muatannya. Masyarakat Indonesia dapat dikatakan merupakan masyarakat konsumsi yang menjadikannya hanya berposisi sebagai obyek atau sasaran dari media di mana masyarakat tidak mempunyai karakter kemandirian dalam mengolah dampak yang ditimbulkan oleh media tersebut. Hal ini dapat disebabkan beberapa hal, antara lain kapasitas masyarakat dalam mengolah media tidak proporsional dengan daya konsumsi media mereka, adanya hasrat yang besar akan kebutuhan konsumsi media sehingga menimbulkan ketergantungan yang tinggi pada media, daya baca masyarakat yang masih kurang, dan rendahnya literasi media yang dimiliki masyarakat Indonesia (Wirodono, 2006). Mediamedia yang dikonsumsi sebagian besar masyarakat Indonesia bukanlah media konvensional seperti radio, koran, majalah, buku, atau film, tetapi mengalami pergeseran dan lebih didominasi oleh media-media layar kaca, seperti televisi, alat pemutar musik (MP3/CD/DVD), alat pemutar video (VCD/DVD), game player (konsol/handheld), komputer (PC/laptop), koneksi internet, dan mobile phone. Menurut data dari Nielsen pada tahun 2012, 4
  10. 10. pertumbuhan konsumsi media masyarakat di Indonesia untuk televisi sebesar 94 %, mobile phone sebesar 60 %, internet sebesar 29 %, radio sebesar 25 %, surat kabar sebesar 13 %, film sebesar 13%, tabloid sebesar 7 %, dan majalah sebesar 6 %. Dapat dilihat dari hasil data tersebut yang menunjukkan televisi masih menduduki tempat utama dari konsumsi masyarakat di antara media lainnya (Rasyid, 2013). Kita dapat mengatakan bahwa masyarakat Indonesia banyak mengkonsumsi mediamedia layar kaca tersebut. Dalam masyarakat, sasaran yang paling mudah diincar oleh media adalah anak-anak untuk mengkonsumsi media tanpa pikir panjang karena pola pikir anakanak yang masih belum matang untuk berpikir secara kritis terhadap apa yang disajikan oleh media yang dikonsumsinya. Hal ini juga didukung dengan adanya fakta bahwa 30% dari 250 juta penduduk Indonesia adalah anak-anak berusia di bawah 15 tahun dan berdasarkan sensus penduduk yang dilakukan tahun 2010 dikatakan bahwa jumlah anak berusia di bawah lima tahun mencapai 22.678.702 jiwa sehingga tidak mengejutkan lagi jika anak-anak dianggap sebagai pasar yang potensial bagi industri media dalam hal mengkonsumsi media. Jumlah anak-anak yang cukup banyak ini tentunya akan meningkatkan konsumsi media pada anak di Indonesia pula. Konsumsi media pada anak mempunyai kaitan dengan kepemilikan media dan dukungan lingkungan media yang memadai, terutama media-media yang ada di dalam rumah. Sebagian besar media yang dimiliki oleh anak-anak di Indonesia adalah media-media layar kaca. Ada beberapa media layar kaca yang biasa dimiliki oleh anak-anak di rumah, antara lain televisi, mobile phone, alat pemutar video (VCD/DVD), game player, dan komputer (PC/laptop) termasuk koneksi internet. Sebuah hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan media yang dimiliki oleh anak di rumah, antara lain mobile phone (90 %), televisi (98 %), game player (62%), alat pemutar video (VCD/DVD) (80 %), komputer (59 %), dan koneksi internet (28 %). Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat dilihat bahwa media layar kaca yang paling banyak dimiliki anak-anak di rumah adalah televisi (Hendriyani, 2013). Televisi menjadi media yang dominan dimiliki karena memang kemunculannya yang lebih dulu dibandingkan dengan media-media layar kaca lainnya dan kemudahannya dalam berintegrasi dengan media-media lainnya. Kebanyakan anak-anak ini juga mempunyai media-media layar kaca ini dan mengkombinasikannya karena adanya lingkungan media yang mendukung. Konsumsi media pada anak ingin menunjukkan estimasi berapa banyak waktu yang dihabiskan anak untuk mengkonsumsi media dalam hitungan menit atau jam dalam satu minggu. Anak-anak dapat dikatakan banyak menghabiskan waktu dengan media setiap 5
  11. 11. harinya. Waktu yang biasanya digunakan oleh anak-anak adalah hari biasa setelah pulang sekolah (Senin-Sabtu) dan akan terus meningkat intensitas atau frekuensinya di akhir pekan atau hari libur (Minggu). Fakta menyatakan bahwa rata-rata anak-anak Indonesia (berumur 5 - 15 tahun) menonton televisi 5,5 jam per hari di hari biasa dan 7,4 jam di hari libur, bermain dengan games elektronik 2,4 jam per hari di hari biasa dan 4,1 jam di hari libur, akses ke internet 1,9 jam per hari pada hari biasa dan 3,1 jam pada hari libur, serta 62,4 % menggunakan komputer (Hendriyani, 2013). Selain itu, media layar kaca lainnya, seperti penggunaan mobile phone oleh anak-anak dapat disesuaikan dengan kebutuhan anak tersebut (dipakai untuk kirim pesan, telpon, instant messaging, atau hal lainnya) sehingga waktunya dapat bersifat fleksibel dan konsumsi VCD/DVD melalui alat pemutar video lebih disesuaikan dengan durasi film yang ditonton oleh anak tersebut. Studi lebih lanjut menyatakan bahwa sebagian besar anak-anak mengkonsumsi media-media layar kaca ini untuk mendapatkan hiburan, mengerjakan tugas dari sekolah, memperoleh informasi, menyalurkan hobi mereka, berkirim pesan, membaca berita, mendengarkan musik, dan lain sebagainya. Televisi sebagai Media Layar Kaca Dominan Secara jelas, dari hasil penelitian yang telah dijelaskan di atas dapat dilihat bahwa media yang paling banyak dikonsumsi oleh anak-anak adalah televisi dan setelah itu baru diikuti media-media layar kaca lainnya. Hal ini didukung oleh studi yang dilakukan oleh Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA), pemerintah Indonesia, dan dukungan dari UNICEF menemukan bahwa rata-rata anak-anak Indonesia menonton televisi hingga 45 jam acara televisi per minggunya (Kearney, 2010). Studi lanjutan oleh YPMA menyatakan bahwa pada tahun 2002 – 2006 terjadi peningkatan jumlah jam menonton tayangan televisi pada anak Indonesia sebesar 28,57 % - 33,33 % (Sarjono, 2009). Hasil yang sangat baik, tetapi sekaligus juga dapat mengkhawatirkan bagi sejumlah pihak yang peduli terhadap konsumsi media pada anak di Indonesia. Angka 45 jam per minggu berarti sama dengan 2340 jam per tahun, padahal jam belajar anak sekolah dasar menurut United Nations Education, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) tidak melebihi dari 1000 jam per tahun. Jika melihat perbandingan jumlah jam menonton televisi dengan jumlah jam belajar di sekolah, maka akan timbul kekhawatiran jika proses pembentukan pola pikir, karakter, dan perilaku anak justru akan lebih banyak terbentuk melalui tayangan acara dari televisi. 6
  12. 12. Televisi masih menjadi media layar kaca utama bagi anak-anak di Indonesia. Hal ini dapat disebabkan harga televisi yang paling murah dibandingkan dengan media layar kaca lainnya, ketersediaan televisi yang cukup banyak sehingga adanya kemudahan dalam memperolehnya di rumah, dan fungsinya yang fleksibel karena dapat sambil melakukan aktivitas lainnya. Selain itu, sejak kemunculan dan kemudahan televisi tersedianya dalam rumah membuatnya menjadi sangat akrab dengan anggota keluarga, khususnya anak-anak. Banyaknya jumlah program tayangan televisi yang ditayangkan dan dikemas secara menarik untuk anak-anak sehingga mereka tidak bosan untuk berlama-lama menonton di depan layar kaca televisi tersebut. Mata anak-anak ini seakan-akan dihipnotis dan dimanjakan dengan sajian konten-konten tayangan program televisi karena memang televisi dapat dikatakan sebagai media yang mengkombinasikan teks, audio, dan video menjadi satu kesatuan sekaligus. Oleh karena itu, bukan hal yang aneh lagi jika banyaknya hasil penelitian atau studi kajian yang menyatakan bahwa televisi selalu menempati urutan pertama atau paling mendominasi dibandingkan media layar kaca lainnya dalam hal konsumsi media pada anak di Indonesia. Menurut penelitian-penelitian dan kajian lanjutan mengenai perkembangan media yang akan terjadi di masa mendatang, posisi televisi sebagai media layar kaca yang paling utama dikonsumsi anak dapat digantikan dengan media layar kaca lainnya, seperti mobile phone dan internet. Adanya fungsi yang terintegrasi dibandingkan dengan televisi, seperti bertelepon, mengirim pesan, mengambil gambar atau video melalui kamera, mengunduh dan mengunggah file, akses ke situs-situs, membaca, mendengarkan musik, bermain permainan, serta bahkan menonton secara streaming layaknya menonton televisi seperti biasa. Fungsifungsi yang lebih canggih inilah nantinya akan membuat kedua jenis media ini meningkat semakin pesat perkembangannya, sementara televisi akan konstan atau bahkan menurun perkembangannya. Pada akhirnya, hal ini juga akan memberikan perubahan terhadap lingkungan media, kepemilikan media di dalam rumah, dan pola konsumsi media pada anakanak di Indonesia. Pembahasan Ketertarikan Anak-Anak terhadap Media Layar Kaca Anak-anak sekarang pada era digital adalah anak-anak yang sejak lahir telah terbiasa dengan kehadiran media layar kaca, seperti televisi, mobile phone, tablet, iPad, alat pemutar video (VCD/DVD), game player, dan komputer (PC/laptop) termasuk koneksi internet 7
  13. 13. sehingga seakan-akan membuat media-media tersebut “mengepung” anak. Kehadiran media layar kaca tersebut bukanlah sesuatu hal yang asing lagi bagi anak-anak sehingga muncul koneksi yang kuat diantara keduanya. Hubungan yang terjadi antara media layar kaca dan anak terlihat sangat dekat dalam sebuah lingkungan media yang memadai. Dengan kata lain, anak-anak tidak dapat dipisahkan dari media layar kaca karena tinggal dan hidup dalam lingkungan media tersebut yang mengelilingi mereka. Media layar kaca dianggap mempunyai kekuatan dan daya tarik yang sangat besar bagi anak-anak sehingga membuat mereka lebih memilih mengkonsumsi media layar kaca dibanding dengan media lainnya. Salah satu hal yang dapat membuat media layar kaca menarik bagi anak adalah media layar kaca sebagai media audiovisual memanjakan indera anak yang mengkonsumsinya dengan suara beraneka ragam dan gambar bergerak yang indah serta menarik. Anak-anak dengan tingkat pemahamannya menjadi percaya dan menyadari adanya dunia yang seakanakan merepresentasikan kehidupan nyata di balik media layar kaca yang dikonsumsinya. Rasa keingintahuan anak yang besar akan sesuatu juga akan terpenuhi dengan mengkonsumsi media layar kaca karena banyaknya informasi yang tersedia dan mudah untuk diperoleh secara langsung. Hal ini tentunya juga membuat anak menjadi lebih tahan berlama-lama mengkonsumsi media layar kaca tersebut. Konsumsi media layar kaca yang terlalu lama akan membuat anak menghabiskan sebagian besar waktunya tanpa melakukan hal atau kegiatan lain dalam kehidupannya. Selain itu, hal yang menarik dari media layar kaca lainnya adalah media layar kaca dapat menjadi media menghibur yang hebat dan menghilangkan rasa kebosanan bagi anakanak karena kemungkinan untuk timbulnya rasa bosan telah menjadi hal yang menakutkan bagi sebagian besar anak (Orange & O’Flynn, 2007). Adanya keberagaman pilihan dan fleksibilitas yang ditampilkan dalam hal hiburan pada media layar kaca dibandingkan dengan apa yang diberikan media konvensional bagi anak. Apa yang ditampilkan dalam media layar kaca juga tidak membutuhkan anak untuk berpikir terlalu keras dibanding ketika anak mengkonsumsi media konvensional yang hanya berisi teks dan perlu pemahaman yang mendalam. Ditambah lagi, dengan adanya repetisi atau pengulangan dalam konten mengenai suatu hal yang ditampilkan dalam media layar kaca dapat meningkatkan pembelajaran dan pemahaman bagi anak-anak terhadap sesuatu (Kirkorian, Wartella, & Anderson, 2008). Semua hal ini ingin menjelaskan pemahaman secara komprehensif mengenai alasan kuatnya daya tarik media layar kaca terhadap anak-anak dan mencerminkan betapa pentingnya media layar kaca dalam kehidupan anak. 8
  14. 14. Bahaya Konsumsi Media Layar Kaca pada Anak-Anak Kemajuan media yang diiringi dengan adanya perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi hampir dapat dirasakan oleh semua orang di dunia dan pada akhirnya berdampak pada meningkatnya konsumsi media seseorang, khususnya konsumsi media layar kaca. Konsumsi media layar kaca (televisi, komputer, mobile phone, video games, VCD/DVD, internet, tablet, iPad, dan lain sebagainya) dapat dianggap mempengaruhi seluruh aspek kehidupan seseorang. Media layar kaca telah mempengaruhi seseorang dalam banyak hal di mana seringkali orang tersebut tidak menyadari apa sajakah yang dilakukan media tersebut kepadanya, terutama hal ini banyak terjadi pada anak-anak. Seperti yang dikutip dari majalah New York Times, ada terjadi kasus di mana dua orang anak berumur 4 dan 7 tahun yang kecanduan dengan iPad milik bibinya. Kedua anak ini akan terus merengek apabila iPad kesayangannya diambil dari genggaman tangannya. Kedua anak ini dapat dikatakan mempunyai tingkat adiksi yang tinggi terhadap iPad yang merupakan media layar kaca hasil produk era digital. Pada saat menjalani aktivitas sehari-harinya, seperti makan, belajar, bermain, atau bahkan saat tidur, kedua anak ini tidak dapat dipisahkan dari iPad tersebut. Orang tuanya tidak dapat melakukan banyak dan terpaksa menuruti keinginan kedua anak tersebut serta bersifat permisif pada anak untuk mengkonsumsi iPadnya tanpa adanya pengawasan yang ketat (Bilton, 2013). Pada hakikatnya, anak berumur 4 – 7 tahun belum saatnya mengenal media layar kaca tersebut karena mereka masih membutuhkan interaksi yang lebih luas dengan hal-hal lainnya sehingga anak tidak semata-mata diasuh, dikuasai, dan tergantung oleh media. Konsumsi media tanpa kontrol membuat kemudahan dalam akses bagi anak untuk mengkonsumsi media sehingga akan menghabiskan waktu yang lebih banyak atau bahkan ketergantungan yang berlebihan pada media, terutama pada media layar kaca. Orang tua yang membiarkan anaknya mengkonsumsi media tanpa kontrol yang ketat seringkali melupakan besarnya terpaan media yang berbahaya dari media layar kaca yang dapat berpotensi merusak anaknya. Menurut studi dari United Nations International Children’s Emergency Fund (UNICEF), anak-anak di Indonesia dapat dikatakan termasuk dalam kelompok yang paling banyak terekspos oleh media (Kearney, 2010). Hal inilah yang seharusnya menjadi perhatian utama bagi orang tua karena anak dapat terancam dengan berbagai hal negatif dari media layar kaca. Pada kenyataannya, hal-hal negatif dari media layar kaca inilah yang lebih mendominasi anak dibandingkan hal-hal positifnya. Ada berbagai bahaya media utama yang timbul dan perlu diketahui apabila anak mengkonsumsi media layar kaca secara berlebihan, 9
  15. 15. antara lain kekerasan, pornografi, horor atau mistis, perilaku buruk, kesehatan fisik terganggu, pendidikan buruk, hubungan sosial buruk, dan mengubah persepsi tentang dunia. 1. Kekerasan Salah satu hal negatif yang paling sering diperoleh anak dari media layar kaca adalah perilaku kekerasan yang ditampilkan di layar kaca. Kekerasan dapat diartikan sebagai gambaran nyata berupa ancaman yang bersifat kekuatan secara fisik memang terasakan dan mencakup cara-cara kekerasan yang tidak terlihat secara langsung, namun juga memberikan efek secara fisik, seperti kata-kata yang menyinggung atau berbau SARA (McQuail, 2010). Aksi-aksi bertema kekerasan, seperti membunuh, menembak, memukul, menampar, menendang, melukai, kata-kata kasar, dan lain sebagainya sangat banyak ditampilkan dalam media layar kaca. Perilaku kekerasan selalu ada di dalam tayangan media layar kaca karena dapat menciptakan sensasi kenikmatan di mana rasa muak dan rasa kagum muncul hampir pada saat yang bersamaan, menimbulkan ketidakpekaan terhadap korban kekerasan di dalam diri seseorang, meningkatkan perilaku agresif seseorang, dan kekerasan dianggap menjadi komoditas yang laku keras di pasaran serta menguntungkan bagi praktisi media (Kurniasari, 2009). Banyaknya tayangan dalam media layar kaca yang penuh dengan muatan kekerasan dapat dengan mudah ditiru dan dilakukan oleh anak sehingga membentuk perilaku kekerasan di kalangan anak-anak. Media layar kaca secara tidak langsung dapat dianggap mengajarkan kekerasan pada anak. 2. Pornografi Dampak negatif lainnya yang mungkin dapat diperoleh anak dari media layar kaca adalah hal-hal yang berbau pornografi. Banyak media layar kaca yang menampilkan tayangan-tayangan mengandung unsur seksualitas dan perilaku tidak senonoh untuk dilihat oleh anak-anak. Ditambah lagi, dengan adanya perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi membuat tayangan berbau pornografi dapat dengan cepat serta mudah untuk diakses anak di manapun dan kapanpun dia berada. Dengan kata lain, tayangan bermuatan pornografi menjadikan anak banyak memperoleh terpaan materi seksualitas yang dapat membahayakan kehidupan serta perkembangan anak tersebut. Ada beberapa dampak yang dirasakan oleh anak dengan mengkonsumsi tayangan berbau pornografi melalui media layar kaca, antara lain kecanduan pornografi, efek eskalasi, efek freedom of sex, dan efek globalisasi (Setiawan, 2007). Tayangan yang berbau pornografi dapat menjadi candu yang 10
  16. 16. mematikan bagi anak karena visualisasi yang ditampilkan dapat membuat anak terangsang dan anak akan mengkonsumsinya kembali secara berulang-ulang. Efek eskalasi akan membuat anak mencari lebih banyak lagi tayangan bermuatan pornografi yang bervariasi. Muatan pornografi dari media layar kaca yang dikonsumsi anak akan menanamkan kebebasan cara berpikir, bertindak, dan berekspresi tentang seksualitas. Media layar kaca juga membuat tayangan berbau pornografi menjadi hal yang biasa bagi anak bahkan sebagai komoditas hiburan sehingga memicu seks pranikah sebagai gaya hidup yang dapat diterima oleh anak. 3. Horor atau Mistis Salah satu dampak lain yang berisiko tinggi bagi anak dari konsumsi media layar kaca adalah tayangan bermuatan horor atau mistis. Muatan horor atau mistis ini dapat mengganggu perkembangan kejiwaan anak karena memang dibuat untuk menakut-nakuti melalui adanya setan, pembunuh yang kejam, dan hal seram lainnya sehingga akan membekas selama bertahun-tahun dalam hidup anak. Ada beberapa dampak yang dirasakan oleh anak dengan mengkonsumsi tayangan bermuatan horor atau mistis melalui media layar kaca, antara lain membunuh karakter anak, anak berpikir irasional, mempelajari konsep yang salah, dan lain sebagainya. Anak yang menonton tayangan bermuatan horor atau mistis akan membuatnya menjadi penakut dan mengalami trauma yang mendalam karena anak masih dalam masa perkembangan. Muatan horor atau mistis akan membuat anak tidak dapat berpikir rasional karena akan menganggap apa yang mereka lihat adalah benar sehingga tidak bisa membedakan mana yang nyata dan rekaan semata. Tayangan bermuatan horor atau mistis ini juga seringkali menanamkan konsep yang salah pada anak di mana anak tidak dapat berpikir secara kritis karena pengetahuan anak masih sangat terbatas. 4. Perilaku Buruk Media layar kaca dapat membuat anak berperilaku yang tidak baik di kehidupannya. Anak dapat meniru perilaku buruk yang ditampilkan di layar kaca dan tidak menghargai orang lain sehingga berperilaku antisosial. Terlalu lama mengkonsumsi media layar kaca membuat energi tertahan yang dimiliki anak meledak tiba-tiba baik secara fisik maupun verbal melalui umpatan sebagai ketidakmampuan untuk mengekspresikan diri dengan bahasa yang baik. Media layar kaca dapat membuat anak tidak mempunyai waktu untuk bermain dan lebih senang menyendiri sehingga mudah mengalami depresi dan rendah diri. Selain itu, anak 11
  17. 17. juga dapat menjadi terlalu cepat dewasa karena bertindak lebih dewasa daripada usia anak sebenarnya tanpa adanya tingkat kematangan yang cukup pada anak tersebut. 5. Kesehatan Fisik Terganggu Terlalu lama mengkonsumsi media layar kaca dapat membuat kondisi kesehatan anak menjadi tidak baik. Fisik anak akan menjadi terlalu gemuk karena terlalu banyak duduk atau berbaring dan koordinasi tubuh yang buruk sehingga menjadi kaku karena tidak bergerak aktif selama anak mengkonsumsi media tersebut. Adanya ketidakseimbangan energi (kelebihan energi atau hiperaktivitas dan kekurangan energi atau inersia) yang dapat terjadi pada diri anak karena menghabiskan waktu terlalu lama di depan layar kaca tanpa melakukan aktivitas fisik. Selain itu, pengaruh radiasi yang ditimbulkan dari media layar kaca tersebut dapat membahayakan anak apabila dikonsumsi terlalu lama. Radiasi yang dipancarkan media layar kaca, khususnya mobile phone berbahaya bagi anak karena dapat menimbulkan tumor bahkan kanker otak. 6. Pendidikan yang Memburuk Anak yang terlalu lama mengkonsumsi media layar kaca akan berakibat buruk terhadap pendidikannya. Hal ini tentunya akan merusak jadwal anak dan mempengaruhi cara anak untuk berkembang secara intelektual. Anak mempunyai rentang perhatian yang rendah sehingga mengalami kesulitan dalam fokus untuk tugas tertentu karena telah terbiasa dengan komunikasi layar kaca melalui stimulasi audio dan video yang menyerangnya secara konstan (Orange & O’Flynn, 2007). Kemampuan berbicara, menulis, dan membaca anak juga menjadi lambat karena tidak mempunyai waktu yang cukup untuk berinteraksi dengan orang lain secara nyata. Konsumsi media layar kaca ini tentunya juga berdampak pada tidak teraturnya pola tidur anak sehingga membuat anak sering terlihat lelah. Selain itu, anak juga akan menjadi malas berpikir karena banyaknya ide yang terkesan dipaksakan masuk ke kepala anak sehingga kreativitas menjadi dibatasi. 7. Hubungan Sosial yang Memburuk Media layar kaca juga mendatangkan masalah dalam hubungan sosial secara nyata dengan orang lainnya. Anak menjadi penyendiri dan jarang bergaul dengan orang lain di sekitarnya. Hubungan anak dengan orang lainnya yang tadinya dekat sekarang menjadi menjauh akibat konsumsi media layar kaca yang terlalu lama. Anak-anak menjadi tidak 12
  18. 18. tersentuh dan tidak diawasi, terutama oleh orang tuanya sendiri karena komunikasi yang buruk akibat pemahaman yang rendah mengenai literasi media layar kaca. 8. Persepsi tentang Dunia yang Salah Media layar kaca dapat dijadikan alat bagi anak untuk melihat kehidupan di dunia ini secara luas dan membentuk penilaiannya sendiri. Anak dapat mengembangkan persepsi mengenai kehidupan yang tidak sesuai dengan kenyataannya. Pengalaman yang diperoleh anak melalui konsumsi media layar kaca jauh lebih menyenangkan dibanding dalam dunia nyata sehingga kurangnya kepekaan emosional yang dimiliki oleh anak. Mental anak menjadi rendah karena merasa cemas dengan kondisi dunia nyata yang dianggapnya tidak aman dan tidak nyaman untuknya. Banyaknya nilai-nilai yang diserap oleh anak melalui media layar kaca sehingga tidak dapat membedakan hal baik dan buruk. Selain itu, gaya hidup anak menjadi konsumtif karena terobsesi dengan benda-benda materi yang ada di dalam media layar kaca. Terlalu lama di depan layar kaca dan mengkonsumsi media layar kaca tersebut akan berdampak buruk bagi anak bukan lagi hanya sekedar sebuah intuisi. Sekarang, ada bukti nyata bahwa kalau kurangnya kesadaran masyarakat, terutama bagi orang tua dan konsumsi media pada anak yang tidak dikontrol membuat anak akan dengan mudah terpapar oleh dampak buruk dari media layar kaca. Anak-anak mulai dimanjakan dengan media layar kaca tersebut dan pada akhirnya akan dapat merusak kehidupan mereka selamanya. Penerapan Diet Media pada Anak Salah satu solusi yang dapat digunakan untuk mengontrol konsumsi media layar kaca yang berlebihan dan mengurangi dampak negatif dari media layar kaca pada anak adalah dengan menerapkan diet media. Diet media ini harus dilaksanakan secara aman, nyaman, dan tidak terlalu ketat untuk anak. Pada dasarnya, diet media merupakan suatu tindakan untuk menyeimbangkan antara kebutuhan anak dalam mengkonsumsi media layar kaca setara dengan melakukan aktivitas-aktivitas lainnya. Ada tiga langkah dalam melakukan diet media ini pada anak, antara lain menghitung waktu yang digunakan anak untuk mengkonsumsi media layar kaca, memastikan waktu media layar kaca pada anak benar-benar berkualitas sehingga akan menimbulkan konsumsi media layar kaca yang sehat, dan menyeimbangkan peran yang dimainkan oleh media dalam kehidupan anak-anak (Suratnoaji, 2010). Ketiga langkah ini merupakan bagian dari diet media yang dapat dijadikan solusi untuk membatasi 13
  19. 19. konsumsi media layar kaca dan mengurangi dampak negatif dari terpaan media yang diperolehnya dari media layar kaca. 1. Menghitung dan Menetapkan Batasan Waktu Konsumsi Media Layar Kaca Banyak manfaat yang dapat diperoleh oleh anak dalam mengkonsumsi media layar kaca dengan waktu yang tersedia selama 24 jam, tetapi perlu diatur waktu dan durasi yang tepat untuk mengkonsumsi media layar kaca tersebut. Kebebasan anak dalam mengkonsumsi media yang tidak diawasi terkadang membuat anak menjadi lupa akan waktu. Seringkali, banyak waktu yang terbuang percuma karena terlalu lama dihabiskan di depan layar kaca. Langkah pertama dalam diet media ini berisi pembatasan waktu yang dipakai oleh anak untuk menghibur dirinya di depan layar kaca. Diet media merekomendasikan waktu mengkonsumsi media layar kaca bagi anak hanya selama dua jam saja sebagai batasan tertinggi untuk porsi harian sepanjang tahun (Orange & O’Flynn, 2007). Penelitian dari American Academy of Pediatrics juga mendukung hal ini dengan menyatakan bahwa waktu anak-anak dalam mengkonsumsi media layar kaca sebaiknya dibatasi maksimal dua jam saja dalam sehari. Sedangkan, anak-anak yang berusia di bawah 2 tahun seharusnya tidak diperbolehkan menonton televisi sama sekali. Waktu ini sangat direkomendasikan bagi pihak-pihak terkait yang mendukung perkembangan anak dengan mengontrol konsumsi media pada anak, terutama bagi orang tua. Batasan waktu selama dua jam ini dapat dijadikan panduan praktis bagi orang tua dan yang terpenting adalah orang tua mempunyai angka sebagai target serta menyadari waktu yang dihabiskan anak di depan layar kaca tersebut. 2. Memastikan Kualitas Sajian dan Konsumsi Media Layar Kaca untuk Anak Selain menetapkan batasan pada anak dalam mengkonsumsi media layar kaca, perlu adanya pengawasan dan filterisasi terhadap kualitas sajian yang ditampilkan media layar kaca kepada anak-anak. Langkah kedua dari diet media ini membicarakan cara meningkatkan kualitas konsumsi media layar kaca pada anak (Orange & O’Flynn, 2007). Ternyata, diet media yang efektif tidak hanya mengurangi konsumsi media layar kaca saja, tetapi juga meningkatkan kualitas materi yang dikonsumsi anak. Seperti yang kita ketahui bahwa tidak semua tayangan yang ditampilkan media layar kaca baik dan berkualitas karena masih banyak mengandung hal-hal yang tidak layak untuk dikonsumsi anak. Anak masih tidak dapat menyeleksi tayangan mana yang baik dan berkualitas dengan yang tidak layak dikonsumsi. Tidak hanya materi tayangan saja yang dilihat, tetapi juga respon anak terhadap 14
  20. 20. materi tayangan tersebut karena setiap media layar kaca mempunyai pengaruh yang berbeda pada anak. Hal yang menjadi fokus perhatian dalam langkah kedua diet media adalah menyeleksi tayangan program yang dikonsumsi anak baik atau tidak dan mengamati respon yang ditimbulkan oleh anak sehingga dapat membantu orang tua dalam membuat pilihan media layar kaca yang tepat bagi anak. Respon anak terhadap kualitas tayangan program yang dikonsumsinya membuat waktu mengkonsumsinya juga berkualitas. 3. Menyeimbangkan Media dalam Kehidupan Anak Dalam upaya mengurangi konsumsi media yang berlebihan pada anak, perlu menjauhkan anak-anak dari media layar kaca tersebut dengan aktivitas lainnya. Menjauhkan anak dari media layar kaca bukan berarti melarang anak untuk mengkonsumsi media layar kaca yang tentunya bukan keputusan yang bijak. Menjauhkan anak dari media layar kaca berarti harus memperkenalkan dan memberikan aktivitas lain yang bermanfaat bagi anak. Langkah ketiga dari diet media ini berhubungan dengan menemukan dan mendorong adanya aktivitas pengganti media untuk mengisi kekosongan pada saat media layar kaca dijauhkan dari anak (Orange & O’Flynn, 2007). Orang tua harus dapat menciptakan aktivitas yang mengalihkan perhatian anak dari interaksi yang berlebihan pada media layar kaca. Ada beberapa saran aktivitas pengganti kepada orang tua agar anak menjauh dari media layar kaca, antara lain: - Membaca Membiasakan anak membaca sesuatu akan membuat mereka suka buku dan cerita yang ada di dalamnya. Jika anak suka membaca, maka akan ada dunia baru yang terbuka lebar di depannya. Orang tua dapat membangun rasa cinta anak pada kegiatan membaca dengan pilihan buku yang berkualitas dan sesuai dengan keinginannya. Alokasikan dana dan waktu setiap bulan untuk mengajak anak berbelanja buku sehingga anak dapat menentukan sendiri bacaan yang diinginkan atau meminjamnya dari perpustakaan. Kita juga dapat membuat sarana bacaan di rumah untuk anak-anak dengan membuat perpustakaan keluarga. Perpustakaan keluarga dapat menjadi tempat berkumpulnya seluruh anggota keluarga di mana terjadi jalinan hubungan yang dekat dan interaksi antar sesama anggota keluarga, membuat si anak akan terbiasa membaca, dan melupakan kebiasaan mengkonsumsi media layar kaca. 15
  21. 21. - Mendongeng Aktivitas lainnya yang dapat menjadi alternatif menjauhi media layar kaca pada anak dengan pembacaan dongeng. Orang tua yang membacakan dongeng dapat menjadi sesuatu hal yang menyenangkan dan mudah dilakukan pada anak sebelum tidur. Cara yang menarik, interaktif, dan melibatkan partisipasi anak dalam membacakan dongeng akan membuat anak tertarik mendengarkannya. Mendongeng juga dapat membantunya mempunyai daya khayal atau imajinasi yang tinggi. Imajinasi menjadi kekuatan besar bagi anak-anak dalam proses belajar memahami segala hal yang ada di sekitarnya. Mendongeng dapat dijadikan alternatif bagi anak untuk mempelajari sesuatu dan belajar bermain peran sebagai tahap awal pengenalan terhadap dunia di sekitarnya. - Berolahraga Olahraga itu memang sangat penting bagi perkembangan kesehatan fisik anak. Mendorong anak dengan beraktivitas secara fisik melalui olah raga dapat membantu anak mengalihkan perhatiannya dari media layar kaca. Terlalu lama di depan layar kaca akan membuat anak bersikap pasif karena tidak terlalu banyak bergerak sehingga akan membahayakan kesehatan fisik anak. Anak harus melakukan aktivitas fisik minimal 60 menit setiap harinya sebanyak dua kali dalam seminggu agar pertumbuhan tulang kuat dan otot menjadi sehat (Orange & O’Flynn, 2007). Dengan berolahraga akan membuat anak bergerak dan bersikap aktif sehingga energi yang dimilikinya tersalurkan dengan baik dibandingkan berlama-lama dengan media layar kaca yang dapat membuat energi terbuang dengan percuma. - Membantu di Rumah Kegiatan lain yang dapat dilakukan oleh anak adalah membantu melakukan kegiatan yang ada di rumah. Mendorong anak untuk terlibat dalam kegiatan yang ada di rumah akan membuatnya mempunyai rasa memiliki terhadap keluarga, tanggung jawab, diperhatikan, dan dihargai. Salah satu hal yang dapat dilakukan anak untuk membantu di rumah adalah memasak. Anak akan merasa senang apabila dilibatkan dalam kegiatan di dapur di mana orang tua dapat melibatkan anak untuk merencanakan menu makanan yang akan dimasak lalu memasaknya bersama-sama. Hal lainnya adalah mengajak anak untuk berkebun, mencuci baju, membersihkan rumah, dan lain sebagainya. Anak membantu pekerjaan yang ada di rumah dapat menciptakan momen kebersamaan yang baik antara anak dan orang tua. 16
  22. 22. - Berkreasi dan Bermain Orang tua dapat mengajak anaknya melakukan hal-hal yang mendorong kreativitas anak untuk melakukannya, seperti mewarnai, menggambar, mengarang, bercerita, menyanyi, berdansa, berkompetisi, dan lain sebagainya. Hal-hal ini dapat membantu anak untuk menggali potensi kreatif yang dimilikinya. Selain itu, bermain juga menjadi hal yang menyenangkan untuk dilakukan bagi anak, seperti bermain permainan tradisional (congklak, bola bekel, rumah-rumahan, dan lainnya) yang tidak lagi dikenal anak-anak, bermain alat musik, bermain peran, dan lain sebagainya. Bermain dapat menjadi hal yang mendasar, penting, dan berharga bagi perkembangan tahap awal kehidupan seorang anak. Dengan memberikan ruang dan waktu untuk bermain bagi anak pada masanya akan membuatnya tidak kehilangan masa kecil yang berharga. Sebenarnya, masih banyak lagi aktivitas alternatif yang dapat menjauhkan anak dari media layar kaca. Anak diharapkan dapat menyeimbangkan media yang dikonsumsinya dengan aktivitas pengganti lainnya. Dengan begitu, ketergantungan anak pada media layar kaca dan antisipasi adanya bahaya yang ditimbulkan dari dampak negatif media layar kaca dapat diminimalisasikan. Keterlibatan Orang Tua dalam Mengontrol Konsumsi Media pada Anak Pada dasarnya, ada banyak pihak yang perlu memperhatikan pengaturan konsumsi media layar kaca pada anak dan salah satunya adalah orang tua. Orang tua dapat menjadi kontrol internal bagi anak dalam mengkonsumsi media layar kaca di rumah. Orang tua dapat membantu anak dalam menjalankan diet media secara teratur dan aman. Selain diet media yang dilakukan oleh anak, hal lain yang juga penting dalam mengontrol konsumsi media layar kaca pada anak adalah dengan adanya pendampingan orang tua pada saat anak mengkonsumsi media layar kaca tersebut. Pendampingan orang tua (parental mediation) dapat diartikan sebagai upaya kegiatan interaksi orang tua dengan anak mengenai media layar kaca. Pendampingan merupakan upaya yang dilakukan oleh orang tua untuk membantu anak memahami dan berpikir kritis atas muatan dalam media layar kaca. Kenyataannya, tingkat keterlibatan orang tua dalam mendampingi anak ketika mengkonsumsi media layar kaca di Indonesia dapat dikatakan masih sangat rendah. Ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat keterlibatan orang tua dalam mendampingi anak ketika mengkonsumsi media layar kaca, antara lain sedikitnya waktu yang orang tua miliki karena mereka terlalu sibuk bekerja seharian, kepemilikan media layar kaca yang jumlahnya banyak dan beragam, 17
  23. 23. dan jarangnya orang tua menemani anak pada saat mengkonsumsi media layar kaca (Suratnoaji, 2010). Dalam mendampingi anak pada saat mengkonsumsi media layar kaca, orang tua juga perlu mengajarkan pentingya literasi media bagi anak. Literasi media akan membuat anak menjadi melek dan sadar akan media yang dikonsumsinya. Literasi media penting bagi anak karena tingkat kematangan berpikir anak masih sangat rendah dan anak sangat rentan terpapar oleh apa yang ditampilkan media layar kaca. Dengan tingkat literasi media anak yang tinggi akan menyebabkan anak sadar ketika mengkonsumsi media, bersikap kritis terhadap muatan media, sedikit banyak mengetahui dampak media, mempunyai pengetahuan bagaimana media diproduksi, dan mengetahui bagaimana mengkonsumsi media dengan baik dan bijak. Hal lain yang dapat dilakukan oleh orang tua adalah bekerja sama dengan pemerintah dan organisasi atau lembaga nonpemerintah yang peduli dan memberikan perhatian yang lebih terhadap hubungan antara anak dengan media yang dikonsumsinya. Ada banyak hal yang dapat dilakukan, antara lain melakukan penekanan terhadap para pemilik media dan industri media untuk menciptakan konten yang lebih baik dan berkualitas lagi, menciptakan kebijakan dan sistem yang berguna untuk mengatur peringkat atau rating terhadap konten yang ditampilkan pada anak, menghapus hal-hal dalam media layar kaca yang dianggap tidak pantas atau tidak layak dikonsumsi oleh anak-anak, dan berusaha menemukan produk-produk yang lebih baik lagi untuk membantu dalam mengisi konten media layar kaca untuk anakanak (Gunn & Donahue, 2008). Di samping itu, orang tua dan pemerintah juga dapat mengedukasi diri mereka mengenai konsumsi media yang baik dan bijak berdasarkan tahaptahap perkembangan anak serta mengawasi konsumsi media layar kaca pada anak untuk memastikan anak memperoleh pengaruh yang positif dari media layar kaca dalam hal berpikir, bersikap, dan bertutur kata di kehidupan sehari-hari mereka. Penerapan diet media, partisipasi orang tua dengan mengajarkan literasi media pada anak, dan kerjasama dengan berbagai pihak terkait dapat menjadi jawaban yang efektif dan efisien dalam mengatasi masalah konsumsi media layar kaca yang berlebihan pada anak. Kesimpulan Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dunia media elektronik atau yang dikenal dengan istilah media layar kaca telah menjadi bagian dalam kehidupan anak sehari-hari pada era digital di Indonesia. Media layar kaca menjadi sesuatu yang menarik untuk dikonsumsi anak karena visualisasi dan suara yang menarik, dapat memberikan hiburan 18
  24. 24. untuk menghalau kebosanan, dan adanya repetisi dalam konten untuk pembelajaran anak. Meskipun, pada awalnya televisi sebagai media layar kaca utama yang dikonsumsi oleh anakanak di Indonesia dan sekarang telah mengalami perubahan serta berkompetisi dengan media layar kaca lainnya, seperti mobile phone, alat pemutar video (VCD/DVD), game player, iPad, dan komputer (PC/laptop) termasuk koneksi internet. Kemudahan dalam mengakses media dan kepemilikan media layar kaca yang beragam membuat anak-anak mengalami kecanduan dan dapat dengan bebas mengkonsumsi media layar kaca tanpa adanya perhatian dan pengawasan dari orang tua. Padahal, tampilan dalam media layar kaca dapat memberikan dampak negatif yang berbahaya bagi anak, seperti muatan kekerasan, muatan pornografi, muatan horor atau mistis, perilaku memburuk, kesehatan fisik terganggu, pendidikan memburuk, hubungan sosial memburuk, dan mengubah persepsi tentang dunia. Oleh karena itu, penerapan diet media dan pendampingan orang tua serta kerjasama orangtua dengan pihak terkait dapat dijadikan kontrol konsumsi media layar kaca yang efektif pada anak. Diet media memberikan solusi atas masalah hubungan anak dengan media layar kaca yang berlebihan melalui tiga langkah, yaitu menghitung dan menetapkan batasan waktu konsumsi media layar kaca, memastikan kualitas sajian dan konsumsi media layar kaca untuk anak, serta menyeimbangkan media dalam kehidupan anak. Sedangkan, pendampingan orang tua menjadi upaya orang tua untuk memperkenalkan dan membantu pemahaman muatan-muatan yang dikandung media layar kaca serta mengajarkan pendidikan literasi media pada anak. Anak-anak diharapkan dapat meminimalisasikan konsumsi media layar kaca yang berlebihan melalui diet media, pendampingan orang tua, dan kerjasama orang tua serta pemerintah dengan menetapkan keseimbangan media yang sehat bagi dirinya sehingga anak dapat mengontrol peran media dalam kehidupannya. Daftar Referensi Ameliola, S. & Nugraha, H. D. (2013, Mei). Perkembangan Media Informasi dan Teknologi terhadap Anak dalam Era Globalisasi. Penelitian ini dimuat dalam Prosiding The 5th International Conference on Indonesian Studies: “Ethnicity and Globalization”, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang. American Academy of Pediatrics. (2013). Children, Adolescents, and the Media. Elk Grove Village, Illinois: Author. Bilton, Nick. (2013). The Child, The Tablet, and The Developing Mind. Diakses pada 2 Desember 2013 dari http://bits.blogs.nytimes.com/2013/03/31/disruptions-what-does19
  25. 25. a-tablet-do-to-the childs-mind/ Gunn, Jeanne B. & Donahue, E. H. (2008). Introducing The Issue : Children and Electronic Media. The Future of Children Princeton-Brookings, 18 (1), 3-9. Hendriyani. (2013). Children and Media in Indonesia: Industries, Messages, and Audiences. Disertasi, Program Doktoral, Radboud University Nijmegen, Belanda. Kearney, Angela. (2010, July 24). Kebebasan mengakses media bagi anak-anak dan remaja perlu didukung tetapi secara aman. Harian Jawa Pos, 1-2. Kirkorian, H. L., Wartella, E. A., & Anderson, D. R. (2008). Media and Young Children’s Learning. The Future of Children Princeton-Brookings, 18 (1), 39-54. Kurniasari, Netty D. (2012). Kekerasan dalam Media (Tinjauan Teori Kultivasi) (Studi Kasus pada Peristiwa Kekerasan terhadap Anak). Jurnal Pamator, 5 (1), 14-16. McQuail, Denis. (2010). Mass Communication Theory (6th ed.). London: Sage Publication. Orange, T. & O’Flynn, L. (2007). The Media Diet for Kids. (Endah W. Soekarso, IKAPI). Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta. Rasyid, Riyanto. (2013). Urgensi Channel Khusus Publik Suara Karya. Diakses pada 28 November 2013 dari http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=331362 Sarjono. (2009). Pola Menonton Sinetron dan Perilaku Etis Remaja: Studi Kasus Bertemakan Remaja di Televisi. Skripsi, Program Sarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Satriani, Arba’lyah. (2013). Pentingnya Diet Media bagi Anak dan Remaja. Diakses pada 26 November 2013 dari http://tempo.co/read/news/2013/10/31/174526009/pentingnyadiet-media-bagi-anak-dan-remaja/ Sembiring, Malinda. (2013). Menilik Eksistensi Media Cetak di Era Digital. Diakses pada 9 Januari 2014 dari http://media.kompasiana.com/new-media/2013/04/19/menilik- eksistensi-media-cetak-di-era-digital-548063.html Setiawan, Sony A. (2007). 500+ Gelombang Video Porno Indonesia, Jangan Bugil di Depan Kamera. Yogyakarta: Andi. Suratnoaji, C. (2010). Model Pengembangan “Diet Media TV” Sebagai Penangkal Kecanduan Anak Terhadap Media TV dan Dampak Negatifnya. Jurnal Ilmu Komunikasi, 2(2), 10-11. Walbarkah, Welly. (2012). Siapkan Indonesia Dengan Masa Depan Teknologi Komunikasi. Diakses pada 9 Januari 2014 dari http://wellywall.wordpress.com/2012/11/20/ Wirodono, Sunardian. (2006). Matikan TV-mu: Teror Media Televisi di Indonesia. Yogyakarta: Resist Book. 20

×