Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

E-Literasi di Indonesia

1,976 views

Published on

Paper e-literasi di Indonesia berdasarkan hasil survey di Jakarta,Pontianak, dan kawasan sekitarnya.

Published in: Education
  • Login to see the comments

E-Literasi di Indonesia

  1. 1. 1 LAPORAN PENELITIAN Tingkat E-Literasi di Indonesia Disusun oleh: Brenda 2013170146 Della Chatrela 2013170266 Jesika Shendy 2013170441 Kristantinova 2013170059 Sekar Dewanti W 2013170413 Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi London School of Public Relations Tahun Akademik 2014/2015
  2. 2. 2 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan Pada masa sekarang ini, kata-kata berawalan “e-” sudah marak dijumpai, seperti e-book, e-paper, e-commerce, e-learning, dan lain sebagainya. Salah satu perkembangan yang masih dan akan selalu berproses adalah konvergensi teknologi. Pada era modern ini, semua hal, mulai dari menelepon, mengirim pesan, berfoto, mendengarkan musik, mengakses internet, hingga mencari petunjuk jalan, dapat dilakukan hanya dalam satu genggaman tangan. Perkembangan teknologi ini juga memiliki dampak yang besar terhadap media massa. Media sebagai sarana komunikasi masyarakat juga harus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Media massa konvensional seperti surat kabar, radio dan televisi mulai melebarkan sayapnya ke dunia digital untuk mempertahankan eksistensi dan memperluas cakupannya. Disadari atau tidak, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mempengaruhi kehidupan manusia dalam berbagai aspek. Tidak dapat dipungkiri, perkembangan yang memampukan manusia untuk mengumpulkan, memproses dan mempertukarkan informasi secara cepat tersebut telah mempermudah manusia dalam beraktivitas sehari-hari. Salah satu yang ikut berkembang seiring dengan perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi adalah manusia itu sendiri. Kini, manusia dapat berperan sebagai konsumen dan juga produsen (prosumer). Manusia dapat memproduksi informasi dan menyebarkannya dengan mudah melalui internet. Hal ini menyebabkan arus informasi yang tersedia menjadi lebih cepat dan sulit disaring. Oleh karena itu, pada kondisi seperti saat ini, manusia harus memiliki kemampuan untuk memahami, menyaring dan memilah informasi yang ada. Indonesia sebagai negara kepulauan dan berpenduduk terbanyak keempat di dunia harus menghadapi tantangan perkembangan zaman. Tidak mudah untuk menyebarkan jaringan internet di seluruh daerah di Indonesia dan yang jauh lebih sulit adalah melakukan sosialisasi kepada masyarakat Indonesia tentang penggunaan
  3. 3. 3 internet dan teknologi lainnya secara tepat. Memang, menurut lembaga riset pasar emarketer, populasi netter Indonesia mencapai 83,7 juta orang pada 2014 dan menduduki posisi keenam di dunia dalam hal jumlah pengguna internet. Akan tetapi, pengguna internet di Indonesia masih didominasi di kota-kota besar seperti Jakarta. Kurang memadainya fasilitas teknologi seperti internet dan sosialisasi mengenai perkembangan teknologi memang menjadi alasan minimnya pengetahuan dan kemampuan masyarakat daerah dalam penggunaan teknologi secara tepat. Namun, hal ini juga tidak berarti masyarakat perkotaan telah memiliki kemampuan untuk memahami isi informasi dan pesan media dalam perangkat teknologi dengan baik. Kasus seperti aksi sosial “Koin Prita” yang terjadi beberapa tahun lalu memang dapat menjadi bukti pemahaman dan sikap terbuka masyarakat Indonesia terhadap penyalahgunaan UU ITE yang terkesan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk mengekang kebebasan berekspresi seseorang. Namun disamping itu, banyak juga kasus penculikan yang terjadi lewat media sosial seperti Facebook yang menimpa remaja hingga anak-anak. Hal ini dapat terjadi karena kurangnya pemahaman dalam menggunakan dan menyaring orang-orang yang dapat berinteraksi di jejaring sosial. Selain kasus penculikan, perkembangan informasi juga menimbulkan budaya “copy-paste” dan illegal download di Indonesia. Orang menjadi malas untuk mengolah informasi yang ia dapat, bahkan tidak mengapresiasi pemilik informasi dengan tidak mencantumkan sumber informasi dan juga memilih mengunduh data secara ilegal karena gratis. Kasus-kasus seperti ini tidak hanya terjadi di daerah namun juga marak terjadi di perkotaan. Oleh sebab itu, melihat perkembangan zaman yang terjadi saat ini dan situasi yang ada di Indonesia, penulis hendak melakukan penelitian tentang e-literasi di Indonesia.
  4. 4. 4 1.2. Rumusan Permasalahan 1) Apakah yang dimaksud dengan e-literasi? Apakah ada kaitannya dengan literasi media, literasi informasi ataupun TIK/ICT literasi? 2) Bagaimana kondisi e-literasi di Indonesia? 3) Bagaimana strategi meningkatkan e-literasi di Indonesia? 1.3. Tujuan Penulisan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : 1) Maksud dari e-literasi secara jelas dan kaitannya dengan literasi media, literasi informasi dan juga TIK/ICT literasi, 2) Kondisi e-literasi di Indonesia saat ini, 3) Strategi yang tepat untuk meningkatkan e-literasi di Indonesia.
  5. 5. 5 BAB 2 ANALISIS LITERATUR 2.1. Acuan Teori Dalam penelitian ini, menitikberatkan pada teori yang menjelaskan efek teknologi komunikasi yang berbentuk media. Informasi dari media memberikan pengaruh terhadap perilaku dan cara berpikir manusia di kehidupan sosial yang dipandang dari berbagai perspektif. Teori yang dijadikan sebagai acuan antara lain : 1) Teori Dampak Media dan Interaksi Manusia dengan Komputer Menjelaskan proses, dialog, dan kegiatan dimana pengguna mengkonsumsi media dengan cara berinteraksi dan memanfaatkan komputer. Informasi yang telah melekat pada manusia diperoleh dari teknologi komunikasi yang berbasis teknologi komputer. Ketika interaksi itu terjadi, maka terjadi pula dampak- dampak yang ditimbulkan oleh media dari berbagai perspektif yang ada. Interaksi manusia dengan komputer mengubah perilaku dan sikap manusia dalam proses komunikasi. 2) Teori Kritis Dikemukakan oleh Max Horkheimer pada tahun 1930-an. Fokus dari teori ini bukan pada efek perubahan perilaku yang diterima individu dari media, melainkan melihat perubahan suatu budaya yang dianut dari media. Selain itu, teori ini mencoba mendeskripsikan secara lanjut hubungan antara budaya dengan media itu sendiri. Teori ini bertujuan untuk mengeksplorisasi pengalaman yang manusia alami, dan cara manusia mendefinisikan dirinya sendiri, budaya, dan dunia. Teori Kritis percaya dampak yang dihasilkan media bukanlah efek yang terjadi secara monoton, namun sebagai sebuah proses timbal balik.
  6. 6. 6 2.2. Studi Kasus 1) Press release – Profil terkini internet industri indonesia Survey mengenai pengguna internet untuk kalangan industri (sektor bisnis) oleh APJII dan BPS di 33 provinsi di Indonesia. Pengumpulan data dari sampel terpilih dilakukan melalui wawancara tatap muka antara pencacah (surveyor) dengan responden (objek penelitian). Jangka waktu penelitian dimulai dari bulan Juli 2013 s/d bulan Desember 2013. 2) 30 Juta Anak Indonesia Pengguna Internet Hasil riset yang didanai UNICEF dan dilaksanakan Kementerian Komunikasi dan Informatika pada tahun 2014. Melakukan survei terhadap 30 juta anak Indonesia sebagai pengguna internet. 3) Kemenkominfo : 95 Persen Akses Internet Orang Indonesia untuk Jejaring Sosial Angka pengguna Internet Indonesia yang memanfaatkan teknologi untuk jejaring sosial pada tahun 2013. 4) APJII : Penetrasi Internet Masih Didominasi Kota Besar Data yang dipaparkan APJII tahun 2014 mengenai penggunaan internet yang tersentral di kota-kota besar dan problema-problema yang dihadapi dalam kemudahan pengaksesan internet di daerah pinggiran. 5) Hasil laporan dari Asosiasi Industri Rekaman Indonesia Angka jumlah pengunduh musik ilegal dan nilai musik yang diunduh tanpa pembayaran di Indonesia setiap harinya. 6) Riset Sharing Vision mengenai Cyber Crime di Indonesia Riset yang dilakukan terhadap 151 responden media sosial yang menunjukkan kasus-kasus yang dapat memicu Cyber Crime marak terjadi di Indonesia. 7) Riset Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat tentang kasus kebebasan berpendapat di Indonesia Catatan ELSAM berkaitan dengan kasus penggunaan pasal penghinaan atau pencemaran nama baik, dan kasus yang menggunakan pasal penyebaran kebencian dalam UU ITE di Indonesia sampai awal tahun 2014.
  7. 7. 7 2.3. Metedologi Penelitian Jenis penelitian berupa pemaparan kondisi dan tingkat e-literasi di Indonesia guna mengukur kemelekan masyarakat Indonesia di era sekarang dimana teknologi sudah berkembang pesat, serta informasi dan media sudah sangat beragam. Pengumpulan data primer melalui penyebaran kuisioner yang melibatkan 95 responden yang berada sebagian di Jakarta dan daerah sekitarnya dan sebagian di Pontianak, Kalimantan Barat. Fokus penelitian ditargetkan kepada mahasiswa dan lulusan SMA/sederajat yang telah bekerja. Kuisioner dibuat dalam bentuk Google Docs, yang kemudian disebar selama 5 hari mulai tanggal 23 Januari 2015. Adapun keterbatasan penelitian ini adalah pengumpulan data primer hanya berfokus di 2 daerah saja.
  8. 8. 8 BAB 3 PEMBAHASAN PERMASALAHAN I. E-Literasi dan keterkaitannya dengan literasi lain E-literasi diartikan sebagai kemampuan dalam menggunakan perangkat teknologi informasi (Indrajit, 2005: 37). Informasi yang diakses kemudian dikritisi, dievaluasi, serta diolah kembali, sehingga menciptakan sebuah informasi baru. E- literasi berkaitan erat dengan ragam literasi lainnya. Pengertian dasar “literasi” sendiri adalah kemampuan untuk membaca dan menulis (Sulzby, 1986). Namun seiring perkembangan zaman, media, informasi, dan teknologi baru pun semakin banyak bermunculan. Maka dari itu, muncullah berbagai macam literasi. Alan Martin (Secker, 2004: 78) mendefinisikan “e-literacy “ sebagai literasi komputer yang diintegrasikan dengan literasi informasi, literasi moral, literasi media, dan keterampilan belajar dan mengajar. Istilah ini digambarkan sebagai kemampuan individu atau institusi yang sangat penting supaya berhasil dalam mengikuti suatu era yang telah memakai alat-alat dan fasilitas elektronik yang semakin canggih. Beberapa hal lain yang berkaitan dengan e-literasi adalah literasi media, literasi informasi dan literasi ICT. McCannon mengartikan literasi media sebagai kemampuan secara efektif dan secara efesien memahami dan menggunakan komunikasi massa. Artinya, literasi media adalah kemampuan seseorang untuk mengakses, menganalisa, dan mengevaluasi seluruh media dalam bentuk apapun. Sedangkan “information literacy” pertama kali dikemukakan oleh Paul Zurkowski yang mengatakan orang yang literat informasi adalah orang-orang yang terlatih dalam aplikasi sumberdaya dalam pekerjaannya (Behrens,1994). Singkat kata, literasi informasi adalah ketika seseorang mengetahui kapan dan kenapa dia membutuhkan suatu informasi, dimana ia mendapatakan, mengevaluasi, dan menggunakan informasi tersebut untuk dikomunikasikan dengan cara yang beretika. Adapula pengertian literasi TIK adalah kemampuan menggunakan teknologi informasi untuk mencapai tujuan. TIK bukan hanya menyangkut keterampilan menggunakan suatu perangkat untuk mendapatkan informasi. Literasi TIK
  9. 9. 9 93% 7% KEBEBASAN DALAM BERINTERNET OLEH ORANG TUA YA Dibatasi / Diawasi membantu seseorang untuk menguasai, mengendalikan, dan memanfaatkan informasi yang kualitasnya tidak terjamin dan kuantitasnya yang tidak terbatas. Seperti yang telah diungkapkan oleh Alan Martin, e-literasi saling terintegrasi dengan literasi informasi, media, dan TIK. E-literasi adalah kemampuan dalam menggunakan perangkat teknologi informasi. Teknologi disini menyangkut penggunaan perangkat untuk mendapatkan informasi melalui media. Individu memegang peran penting dalam menyaring media dan informasi yang didapatnya. Informasi yang didapat kemudian diolah, dievaluasi, dan dikomunikasikan secara efektif dan langsung maupun melalui perangkat (teknologi) yang disebarkan kembali menggunakan media. Dalam konteks ini, semua literasi pasti saling berkaitan. II. Kondisi e-literasi di Indonesia Hasil riset Kemenkominfo menunjukkan sebanyak 30 juta anak dan remaja Indonesia menjadikan media digital sebagai pilihan utama saluran komunikasi mereka. Padahal terlepas dari itu, internet dapat memberikan manfaat yang besar bagi banyak aspek kehidupan seperti membantu pendidikan, meningkatkan pengetahuan, memperluas kesempatan serta kebudayaan dalam meraih kualitas hidup yang lebih baik. Ini tentunya sangat menuntut individu untuk punya suatu “kemelekan” terhadap media, teknologi, ataupun informasi.
  10. 10. 10 Menurut hasil survey yang penulis lakukan, seluruh dari 95 responden terbukti menggunakan teknologi untuk mengakses internet lebih dari 2 jam setiap harinya. Namun, hanya 7% diantara mereka yang pengaksesannya dibawah pengawasan orang tua, sedangkan sisanya mendapat kebebasan sebebas-bebasnya dalam mengakses internet. Data yang penulis dapatkan mengenai fasilitas internet yang paling sering digunakan menunjukkan kemiripan dengan data survey yang diperoleh Kemenkominfo pada tahun 2013. Hasil survey mengatakan bahwa 95% dari orang Indonesia menggunakan internet untuk jejaring sosial. Sisanya download & streaming musik, film dan video ada pada posisi kedua. 83 70 45 19 40 55 3 Media sosial Download & streaming musik / film / vidio Membaca berita Mecari info seputardunia hiburan Bermain game online Mencari informasi untuk menggerjakan tugas Lain-lain 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 Fasilitas yang sering dimanfaatkan dari internet Fasilitas yang sering dimanfaatkan dari internet 89 29 69 28 24 8 9 0 20 40 60 80 100 Handphone Tablet Laptop Komputer TV Radio Media Cetak Perangkat yang sering digunakan untuk mengakses fasilitas / informasi yang di butuhkan Perangkat yang sering digunakan untuk mengakses fasilitas / informasi yang di butuhkan
  11. 11. 11 Perangkat yang paling sering digunakan untuk mengakses fasilitas dan informasi adalah handphone dan laptop. Sedangkan radio dan media cetak sangat jarang. Ini menunjukkan masyarakat Indonesia lebih memanfaatkan media digital dibanding media tradisional. Terlihat jelas bahwa konvergensi media di Indonesia sudah sangat tampak perkembangannya. Masyarakat kini kian menggunakan 1 perangkat yang telah terintegrasi dengan semua fasilitas yang terdapat pada teknologi lain. Kondisi literasi di Indonesia terbilang masih sangat minim. Hal ini dibuktikan dengan survei yang menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia rata-rata masih sering mendownload file dalam bentuk apapun secara gratis. Padahal sebagian dari mereka sudah tahu bahwa mendownload itu semua adalah tindakan yang illegal serta melanggar UU Hak Cipta. Ya, 58 Kadang- kadang, 30 Tidak, 5 0 10 20 30 40 50 60 70 Y A KA D A N G- KADA NG T I D A K APAKAH ANDA TERMASUK INDIVIDU YANG SERING MENDOW NLOAD FILE- FILE SECARA G RATIS? Apakah anda termasuk individu yang sering mendownload file-file secara gratis? Ya 68% Tidak 32% TAHUKAH ANDA, MENDOWNLOAD MUSIK/FILM SECARA GRATIS ADALAH TINDAKAN ILLEGAL DAN MELANGGAR UU HAK CIPTA?
  12. 12. 12 Data didukung dari hasil riset The Indonesian Record Industry Association yang mengatakan bahwa 6 juta orang Indonesia mendownload music secara illegal perhari. Musik yang didownload secara illegal tersebut diestimasikan mendatangkan kerugian bagi industri musik sekitar $1.65 juta atau setara Rp 16 Milyar perhari. Di tahun 2012, pelanggan membeli 11 juta CD dalam setahun. Angka ini merosot dari rata-rata 90 juta CD yang terjual di tahun-tahun sebelumnya. Dalam upaya mendapatkan informasi untuk keperluan pendidikan/pekerjaan, sebagian besar responden sudah mencerminkan tingkat keterampilan melek media dan informasi secara sederhana dan tidak terlalu mengkhawatirkan. Yakni 65% dari mereka mendalami informasi yang diterimanya dahulu, kemudian mengolahnya kembali dengan hasil pikiran sendiri. Ini artinya mereka mampu mengenali dan mengerti informasi secara komprehensif untuk mewujudkan cara berpikir kritis, menganalisa, serta mengevaluasi informasi tersebut. Namun yang cukup memprihantinkan, 7 dari 95 responden tidak menunjukkan adanya apresiasi terhadap penulis informasi. Angka ini menunjukkan masih ada sebagian kecil orang Indonesia yang mengabaikan kepemilikan sebuah karya tulis. Menurut data yang muncul dalam acara Indonesia Cyber Crime Summit di Institut Teknologi Bandung pada Oktober 2014 lalu, Indonesia adalah negara nomor 62 26 7 0 10 20 30 40 50 60 70 Mendalami informasi dan mengolahnya kembali dengan hasil pikiran sendiri Menjiplak seluruh informasi, namun dicantumkan sumbernya Menjiplak seluruh informasi tanpa mencantumkan sumber DALAM UPAYA MEN DAPATKAN IN FORMAS I UN TUK KEP ERLUAN P EN DIDIKAN /P EKERJAAN, AN DA MAS UK KATEGORI MAN A? Dalam upaya mendapatkan informasi untuk keperluan pendidikan/pekerjaan, anda masuk kategori mana?
  13. 13. 13 satu di dunia yang menjadi korban kejahatan di dunia maya. Dikatakan disana, Indonesia bisa mendapat 42.000 serangan di dunia maya per hari. Dari hasil riset Telematika Sharing Vision terhadap 151 responden tahun 2013, kasus bertemu akun palsu sebanyak 22%, kata kunci diketahui orang lain 13,6%, dan pencurian akun sebanyak 9,9%. Beberapa kasus di antaranya berujung pada kekerasan yang dilakukan anak dibawah umur, kejahatan seksual, dan kasus penculikan. Hal ini tergolong tingkat e-literasi Indonesia yang cukup memprihatinkan dalam pemanfaatan dan penggunaan jejaring sosial. Banyak faktor yang menyebabkan peluang kejahatan cyber di media sosial. Salah satunya adalah media sosial dijadikan ajang bagi individu untuk menunjukkan eksistensi dan kenarsisan. Hal ini termasuk mengekspos data diri ke media sosial tanpa menyaring pertemanan di media sosial itu sendiri. Dari hasil riset yang penulis lakukan, mendapati 14% dari responden masih saja tidak kristis dalam menyaring pertemanan di media sosial. Bahkan 41% dari mereka menggunakan akun umum dimana semua orang dapat melihat seluruh postingan yang mereka rilis di akun media sosial mereka. Ironisnya, dari hasil survei memperlihatkan 38% dari responden dalam meng- update di media sosial, tidak memikirkan segala resiko yang mungkin terjadi. Seperti halnya check-in di akun media sosial saat berada di suatu tempat. Keberadaan mungkin saja akan dilacak oleh orang-orang yang bermaksud jahat. Tidak heran, 86% 14% Dalam menggunakanmediasosial, apakah anda menyaring orang-orang yang dapat berinteraksi dengananda? Ya Tidak Private account (hanya orang tertentu yang dpt melihat postingan anda) Account umum (semua orang dapat melihat postingan anda) 0 10 20 30 40 50 60 Jika anda adalah salah seorang pengguna media social, akun mana yang anda gunakan? 9. Jika anda adalah salah seorang pengguna media social, akun mana yang anda gunakan?
  14. 14. 14 Indonesia adalah negara nomor 1 di dunia yang menjadi korban kejahatan di dunia maya menurut hasil riset Telematika Sharing Vision. Untuk mengukur suatu masyarakat yang melek media terdapat 3 variabel. Pertama, technical skill (kemampuan untuk mengakses dan mengoperasikan media). Kedua, critical understanding (kemampuan untuk menganalisis dan mengevaluasi konten media secara komprehensif). Ketiga, communicative abilities (kemampuan bersosialisasi dan berpartisipasi melalui media serta memproduksi konten media). Dari hasil riset yang penulis dapatkan, terdapat 13,1% pengguna yang jarang sekali memproduksi konten media. Bahkan, 4,4% dari mereka adalah pengguna pasif. Angka ini menunjukkan tingkat kemelekan media di Indonesia yang masih jauh dari tingkat kematangan e-literasi yang tinggi. Hal ini membuka kemungkinan masyarakat Indonesia enggan untuk mengemukakan pendapat karena kebebasan pers yang masih terbelenggu di tanah air. 0 20 40 60 80 Ya Tidak Sebelum update di media social, apakah anda memikirkan segala resiko yang mungkin terjadi? 11. Sebelum update di media social, apakah anda memikirkan segala resiko yang mungkin terjadi?
  15. 15. 15 Menurut catatan Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, kuatnya nuansa pembatasan individu dalam memproduksi konten media ataupun internet selalu dibarengi dengan ancaman pemidanaan seperti perluasan bentuk penghinaan dalam teknologi informasi, penyebaran kebencian golongan masyarakat, dan kesusilaan. ELSAM mencatat sampai dengan awal tahun 2014, sedikitnya terdapat 32 kasus yang berkaitan dengan penggunaan pasal penghinaan/pencemaran nama baik, serta 5 kasus yang menggunakan pasal penyebaran kebencian dalam UU ITE. Dalam kasus ini, sejumlah pengguna media sosial, terutama facebook dan twitter, karena status yang dipostingnya atau celotehannya, terpaksa harus membekam di balik jeruji besi. Padahal, cermin dari masyarakat yang berliterasi adalah masyarakat yang bisa membawa aspirasinya, mengkomunikasikannya dengan infrastruktur yang ada untuk didistribusikan melalui media dibantu dengan perangkat teknologi. Tentunya, memperhatikan etika dan hukum yang berlaku. Cermin dari minimnya keaktifan masyarakat Indonesia untuk memproduksi konten informasi dan media adalah masyarakat yang tingkat e-literasinya masih dalam kategori rendah menuju sedang. 6, 6% 72, 76% 13, 14% 4, 4% Seberapaaktifkahandasebagai penggunamediasosial? Update setiap saat (ibarat med.sos sebagai buku harian) Update sesekali (saat ada momen yang tepat) Jarang sekali update Tidak pernah update (pengguna pasif)
  16. 16. 16 III. Strategi dalam meningkatkan e-literasi di Indonesia a. Pemerintah Melihat kondisi e-literasi di Indonesia yang masih dalam tahap perkembangan, berbagai strategi harus diupayakan dalam meningkatkan e- literasi di seluruh jajaran masyarakat. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah pemerataan akses internet di tanah air. Sumber terbesar informasi tidak lain dan tak bukan adalah internet. Internet dapat membawa kita ke media- media yang telah mengalami konvergensi digital, dimana di dalam media, berbagai macam bentuk informasi tersedia. Berbarengan dengan itu, teknologi yang berkembang pesat hadir sebagai platform penyedia akses tersebut. Menurut data yang dipaparkan oleh Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia, di tahun 2012 lalu pengguna internet mencapai 63 juta, sedangkan 2013 menjadi 71,19 juta. Namun sangat disayangkan, penyebaran itu masih berpusat di sentral kota besar. Pengguna internet paling tinggi ada di pulau Jawa, Bali, dan Jakarta. Sedangkan Banten hanya 21%, Kalimantan Barat di bawah 20%, Papua Barat terendah 15%. PR besar bagi pemerintah adalah mewujudkan akses internet bagi separuh penduduk Indonesia itu. Akses broadband harus mulai disediakan sampai ke desa-desa, diikuti dengan percepatan pembangunan backbone network ke Indonesia bagian timur. Pembatasan penayangan konten media oleh pemerintah juga mengambil peran cukup besar. Misalnya oleh KPI, membatasi jam tayang film yang sekiranya belum pantas dikonsumsi oleh anak-anak dibawah umur, atau menerapkan pensensoran ketat terhadap konten yang menayangkan kekerasan, adegan tidak pantas, dan lain-lain. Memperbanyak program-program inspirasional, pendidikan, kontrol sosial juga merupakan salah satu upaya yang tepat. Dalam hal illegal downloading, pemerintah sudah sepatutnya mempertegas UU yang mengaturnya dan serius menindak pelanggaran-
  17. 17. 17 pelanggaran yang terjadi. Namun sebelumnya, perlu dilakukan sosialisasi dan pendekatan terlebih dahulu kepada masyarakat terutama remaja yang sudah terbiasa mendownload lagu ataupun video secara gratis. Di lain sisi, terkait kebebasan berpendapat dan berekspresi yang tidak lepas dari perbincangan para politikus, akademisis, dan aktivis social networking, alangkah baiknya pemerintah mengambil langkah yang tepat untuk berdiskusi secara terbuka dan bersosialisasi terhadap pro dan kontra UU yang mengatur tentang kebebasan berpendapat ini. b. Orang Tua, Guru, dan Lembaga Pendidikan Daya tarik teknologi dan media yang sangat kuat, mempengaruhi para pengguna untuk ikut menikmati fasilitas-fasilitas yang tersedia. Dari sini, konsumen, termasuk didalamnya anak-anak harus diawasi dan diajarkan dalam memilah konsumsi media, informasi, dan teknologi. Anak-anak di usia dini tengah tumbuh pesat secara biologis maupun psikis. Mereka cenderung suka meniru tanpa mengkritisinya terlebih dahulu. Orang tua berperan dalam mengawasi konsumsi media dan teknologi anak-anak. Misalnya, membatasi jam nonton anak-anak, pengawasan dalam menggunakan media sosial dan internet. Program “Parental Control” juga merupakan pilihan yang tepat saat orang tua tidak dapat mendampingi anak- anak karena alasan tertentu. Program ini membantu orang tua dalam mengontrol kegiatan berinternet anak-anak seperti mencegahnya masuk ke situs-situs yang tidak seharusnya. Yang terpenting, berikanlah perhatian dan pengertian lebih kepada mereka tanpa mengesampingkan ketegasan. Lembaga pendidikan disini mendidik dan menyediakan guru yang kompeten dan memiliki kemampuan literasi. Pemegang kunci disini adalah guru, sebagai pendidik. Berbagai macam cara dapat dilakukan untuk mengajarkan literasi pada anak. Salah satunya dengan menyelipkan materi tentang literasi yang dikemas dalam bentuk yang menarik. Misalnya penayangan film kartun dalam pembelajaran, kemudian berdialog perlahan- lahan mengenai manfaatnya. Memberikan tayangan edukasi yang mudah
  18. 18. 18 dicerna saat pembelajaran, dan lain sebagainya. Dapat pula lembaga pendidikan mengajarkan murid-muridnya untuk belajar menulis surat pembaca online dan memanfaatkan dialog interaktif di media. c. Diri sendiri Literasi kembali lagi pada diri sendiri. Manusia sepatutnya menanamkan pola pikir bahwa ia haus akan informasi. Namun dalam upaya mendapatkan informasi ini, harus didasarkan pada sikap kritis dalam memilah dan mengolahnya. Teknologi yang dimiliki dimanfaatkan sebaik dan sepintar mungkin dalam mengakses informasi dari media-media yang ada. Yang menjadi konsentasi penting, invidu sebagai pengguna jejaring sosial yang pintar sepatutnya berhati-hati dalam mengekspos data diri, keberadaan, dan foto-foto. Hal ini guna meminimalkan tingkat kejahatan di dunia maya yang kian marak terjadi di Indonesia. Tumbuhkan rasa menghargai sebuah karya cipta. Informasi, musik, film, dan sebagainya adalah hasil kreativitas orang lain yang butuh usaha lebih untuk mendapatkannya. Mendapatkannya secara ilegal bukanlah cermin orang yang berpendidikan dan beretika. Perlu diingat, mengakses dan men-download file apapun, terlebih lagi ilegal dan sumber yang tidak terjamin kredibilitasnya, akan menjerumuskan perangkat anda dalam ancaman virus. Yang terakhir, sumbangkanlah keterampilan, pengetahuan, pendapat dan pengalaman kepada masyarakat yang lain dengan bertanggung jawab. Produksilah informasi dan konten media yang dapat mendidik dan menginspirasi orang lain. Tidak lupa harus didasari dengan etika dan menjunjung tinggi hukum yang berlaku di Indonesia. Masyarakat yang berliterasi adalah cermin bangsa yang berpendidikan.
  19. 19. 19 BAB 4 KESIMPULAN Seperti yang telah di jelaskan diatas, perkembangan teknologi yang membawa media dan teknologi ke dunia konvergensi telah seutuhnya berpengaruh pada perubahan aspek kehidupan manusia. Hal ini memaksa manusia untuk dapat berperan sebagai produsen sekaligus konsumen (prosumer) seiring dengan perkembangan teknologi. Maka dari itu, manusia dituntut memiliki kemampuan untuk memahami, menyaring dan memilah informasi yang di salurkan oleh media melalui teknologi. Indonesia sebagai negara dengan penduduk keempat terbanyak di dunia harus berupaya dalam menghadapi tantangan besar dalam menciptakan masyarakat yang berpendidikan. Tantangan tersebut bukan hanya pemerataan akses Internet di tanah air, namun juga pengadaan sosialisasi kepada seluruh jajaran masyarakat tentang penggunaan internet dengan infrastruktur yang ada secara tepat. Pengaksesan internet yang tersentral di kota-kota besar di Indonesia, tidak menjadi jaminan bagi orang-orang yang hidup di daerah perkotaan untuk punya “kemelekan” terhadap teknologi, media, dan informasi yang ada. Kemampuan untuk mengakses, mendapatkan, memilah, mengkritisi, mengevaluasi dan kemudian dikomunikasikan lagi secara tepat adalah apa yang disebut sebagai e-literasi. Literasi satu dengan yang lainnya saling berintegrasi. Sederhana saja, kita menggunakan sebuah perangkat teknologi untuk mendapatkan informasi. Informasi ini disediakan oleh bermacam-macam media yang kemudian kita pilah dan saring. Setelah itu dikritisi dan dibuat menjadi sebuah informasi baru yang komprehensif. Informasi baru ini yang sekali lagi dikomunikasikan melalui media dengan bantuan perangkat teknologi. Kondisi e-literasi di Indonesia dari hasil survei penulis, didukung dengan data-data sekunder yang penulis dapatkan dari sumber-sumber yang kredibel, secara garis besar menunjukkan tingkat literasi di Indonesia masih berada di tahap menengah.
  20. 20. 20 Hal ini tercerminkan mulai dari penyebaran akses internet yang tidak merata, sehingga tidak memungkinkan bagi masyarakat di daerah pinggiran seperti Banten, Kalimantan Barat, Papua Barat dengan tingkat penyebaran terendah di Indonesia (APJII:2012) untuk menggunakan internet apalagi mengkritisi informasi yang beredar di internet itu sendiri. Terlepas dari kemudahan pengaksesan internet, tingkat kesadaran akan literasi masyarakat di Indonesia dalam hal mengapresiasi kepemilikan suatu karya juga memperlihatkan data yang cukup memprihatinkan. Lebih dari setengah responden tahu bahwa men-download file, lagu, video dan bentuk apapun adalah tindakan ilegal yang melanggar UU Hak Cipta. Sejalan dengan itu, masih ada saja masyarakat Indonesia yang menerapkan budaya “copy-paste” karya tulis tanpa meminta ijin ataupun mencantumkan sumbernya. Hal yang mungkin mendapatkan perhatian paling besar adalah tingkat cybercrime yang tinggi di Indonesia. Rendahnya kesadaran pengguna sosial media dalam mengekspos data diri, keberadaan dan foto-foto bahkan video. Kecerobohan ini membuka peluang bagi oknum-oknum dalam melancarkan rencana jahatnya. E-literasi bukan hanya mencakup kemampuan dalam mendapat, memilih, menganalisa dan mengevaluasi data. E-literasi suatu individu dikatakan berada pada tingkat yang tinggi jikalau ia mampu membuat sebuah konten informasi/media dari hasil analisa daya pikirnya, kemudian mengkomunikasikan informasi tersebut menggunakan media dan teknologi yang tepat. E-literasi di Indonesia belum sampai pada tahap tersebut. Sebagian masyarakat Indonesia masih pada tahap menengah dimana mereka sudah mampu dalam menentukan, menganalisa dan mengevaluasi data, namun masih sedikit diantara mereka yang mempublikasikan hasil karya kekreatifan dan pikirannya ke media. Untuk meminimalisir semua kemungkinan yang terjadi diatas, tentulah tingkat e-literasi di Indonesia harus mendapatkan perhatian khusus. Bukan hanya dari
  21. 21. 21 pemerintah, namun media, orang tua, lembaga pendidikan, bahkan kita sendiri harus ikut berperan aktif dalam menciptakan masyarakat yang punya tingkat literasi tinggi. Tantangan paling mendasar bagi pemerintah cukup sederhana, namun kompleks dalam pelaksanaannya. Yakni dalam hal pemerataan akses internet. Hal ini perlu diupayakan sebisa mungkin agar seluruh jajaran masyarakat di Indonesia dapat mengakses internet di era yang sudah modern. Tidak lupa dibarengi dengan sosialisasi untuk menciptakan pengguna yang punya kemampuan literasi. Pengawasan ketat oleh pemerintah terhadap konten media dan internet juga sangat diperlukan. Perbanyak sosialisasi dan menayangkan lebih banyak konten yang edukatif dan inspiratif. Alangkah baiknya bila pemerintah mempertegas UU yang mengatur tentang ilegal downloading dan menindak para pelaku agar ada efek jera. Selain pemerintah, orang tua mengambil peran penting dalam mendidik anak. Terlebih pada saat masa pertumbuhan, dimana anak cenderung rentan menirukan sesuatu yang ia konsumsi. Pengawasan dan kontrol kedisiplinan sepertinya merupakan salah satu cara yang tepat. Peran lembaga pendidikan dan guru tidak kalah penting dalam menciptakan anak didik yang mempunyai kemampuan literasi. Menyisipkan sedikit materi tentang literasi, menampilkan tayangan edukatif yang dikemas dalam bentuk yang menarik, kemudian mengajak anak murid untuk berdialog adalah cara yang efektif. Serta mengajarkan murid untuk menulis surat pembaca online dan memanfaatkan dialog interaktif di media untuk menyampaikan isi pikiran adalah cara yang terbilang tepat dalam mendidik murid memanfaatkan teknologi dan media dengan benar. Peran yang paling krusial adalah peran diri sendiri. Tanamkan pola pikir manusia yang haus akan informasi. Berikan dorongan kepada diri sendiri untuk sadar dan belajar kritis dalam memanfaatkan teknologi canggih, media dan informasi yang beragam. Kemudian komunikasikanlah hasil pikiran yang dapat memberi manfaat, pengetahuan, dan inspirasi kepada masyarakat lainnya dengan memperhatikan etika yang berlaku. Masyarakat yang berliterasi adalah cermin bangsa yang berpendidikan.
  22. 22. 22 Daftar Pustaka APJII. 15 Januari 2014. Press Release – Profil Terkini Internet Industri Indonesia. http://www.apjii.or.id/v2/read/content/info-terkini/213/press-release-profil- terkini-internet-industri-ind.html. Diakses pada 3 Februari 2015. Arif, Moch. Choirul. 2013. Tingkat Literasi Media Berbasis Kompetensi Individual Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi IAIN Sunan Ampel Surabaya. http://eprints.uinsby.ac.id/200/1/executive%20summary%20Moch.%20Choir ul%20Arif,%20M.Fil.pdf. Diakses pada 3 Februari 2015. Azis, Lely. 11 Oktober 2012. Literasi Komunikasi 2.0. http://www.scribd.com/doc/109689398/LITERASI-KOMUNIKASI-2-0#scribd. Diakses pada 5 Februari 2015. Djafar, Wahyudi. September 2014. Masalah Terkini dalam Kebebasan Berinternet di Indonesia. http://referensi.elsam.or.id/wp-content/uploads/2014/09/Masalah-terkini- dalam-kebebasan-berinternet-di-indonesia.pdf. Diakses pada 5 Februari 2015. Dinas Komunikasi dan Informasi Kabupaten Bogor. Pelayanan. Mobile Community Access Point. http://diskominfo.bogorkab.go.id/index.php/multisite/layanan_detail/60. Diakses pada 5 Februari 2015. HarianTI. (11 November 2013). Kemenkominfo: 95 Persen Akses Internet Orang Indonesia untuk Jejaring Sosial. http://harianti.com/kemenkominfo-95-persen-akses-internet-orang-indonesia- untuk-jejaring-sosial/. Diakses pada 3 Februari 2015. Havoscope. (28 April 2013). Number of Illegal Music Downloads in Indonesia. http://www.havocscope.com/number-of-illegal-music-downloads-in- indonesia/. Diakses pada 4 Februari 2015. Iriantara, Yosal. Media, Gender dan Melek-Media. https://www.academia.edu/4250130/MEDIA_GENDER_MELEK-MEDIA. Diakses pada 5 Februari 2015. Kemkominfo. 2013. Rencana Strategis Kementrian Komunikasi dan Informatika 2010-2014.
  23. 23. 23 https://ppidkemkominfo.files.wordpress.com/2011/03/renstra-2010-2014.pdf. Diakses pada 5 Februari 2015. Kompas. (24 November 2014). Pengguna Internet Indonesia Nomor Enam Dunia. http://tekno.kompas.com/read/2014/11/24/07430087/Pengguna.Internet.Indo nesia.Nomor.Enam.Dunia. Diakses pada 4 Februari 2015. Open Society Foundations. 13 Januari 2014. Mapping Digital Media: Indonesia. http://www.opensocietyfoundations.org/sites/default/files/mapping-digital- media-indonesia-20140326.pdf. Diakses pada 3 Februari 2015. Paramita, Rahadian P.. 3 Oktober 2012. Gerakan Sosial dan Literasi Dijital. http://melekmedia.org/kajian/media-2-0/gerakan-sosial-dan-literasi-dijital/. Diakses pada 4 Februari 2015. Republika. (18 Februari 2014). Riset: 30 Juta Anak Indonesia Pengguna Internet. http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/14/02/18/n174jc-riset-30- juta-anak-indonesia-pengguna-internet. Diakses pada 3 Februari 2015. Republika. (31 Oktober 2014). Kecepatan dan Pemerataan Internet Jadi PR Besar. http://www.republika.co.id/berita/koran/trentek/14/10/31/neau8a8- kecepatan-dan-pemerataan-internet-jadi-pr-besar. Diakses pada 5 Februari 2015. Vivanews. (20 Agustus 2014). APJII: Penetrasi Internet Masih Didominasi Kota Besar. http://sosmedtoday.com/2014/08/apjii-penetrasi-internet-masih-didominasi- kota-besar/. Diakses pada 3 Februari 2015. Wahyuni, S.F. Lussy Dwiutami dan Evita. 29 April 2008. Survei Tingkat Literasi Mahasiswa terhadap Media dan Informasi. http://www.literasimedia.org/survei-tingkat-literasi-mahasiswa-terhadap- media-dan-informasi/. Diakses pada 3 Februari 2015. Wikipedia. 4 Januari 2015. 9 Teori Dampak Media. http://id.wikipedia.org/wiki/9_Teori_Dampak_Media. Diakses pada 3 Februari 2015. Winarto. 11 April 2012. Meneropong Media Sosial di Indonesia. http://winarto.in/2012/04/meneropong-media-sosial-di-indonesia/. Diakses pada 5 Februari 2015.
  24. 24. 24 Wulan, R. Teja. (17 Oktober 2014). Mengkhawatirkan, Tingkat Cyber Crime di Indonesia. http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/10/mengkhawatirkan-tingkat- cyber-crime-di-indonesia. Diakses pada 4 Februari 2015. Yushar, Nur Inayah. Strategi Meningkatkan e-Literacy Masyarakat. https://www.academia.edu/10372259/Strategi_Meningkatkan_e- Literacy_asyarakat. Diakses pada 5 Februari 2015.

×