Mata Kuliah:
TEOLOGI KONTEKSTUAL
Program S2 (MAGISTER TEOLOGI)
STTR Pematangsiantar 2022
Dosen:
Pdt.Dr.Marlan Pardede,S.Pd.,M.Th
Profil Dosen
• Nama: Pdt.Dr.Marlan Pardede,S.Pd.,M.Th
• Lair: Tobasiborna, 27 Nopemper 1965
• Pendidikan: Sarjana Pendidikan dari FKIP UHN; Magister
Teologi dari STTR; Doktor Teologi dar STTR
• Pekerjaan:
Pendeta HKIP (1995 s/d Sekarang); Bishop HKIP Periode
2016 – 2021; Majelis Pusat HKIP Periode 2021 – 2026
Dosen Ikatan Kerja di UHKBPN 2011-2020; dosen honor di
UHKBPNP 2018-Sekarang; Dosen Tetap di STTR 2017
Sampai Sekarang.
• Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN): 0127116501
• Isteri: Lince Siahaan
• Anak 5: Lk 1; Pr 4; Menantu 2; Cucu 4
PENGERTIAN TEOLOGI KONTEKSTUAL
• Teologi kontekstual adalah cabang ilmu teologi
Kristen yang menelaah bagaimana ajaran Kristen
dapat menjadi relevan di konteks-konteks yang
berbeda. (Wikipedia Bahasa Indonesia)
• Menurut Stephan Bevans, Kontekstualisasi
teologi adalah upaya untuk memahami iman
Kristen dipandang dari suatu konteks tertentu.
Hal ini merupakan pengakuan teologi akan
sumber teologi selain kitab suci dan tradisi, yaitu
pengalaman manusia sekarang ini.
• Menurut Kobong, Kalau kita mendengar Injil
Yesus Kristus yang diberitakan kepada kita, lalu
kita berusaha mengertinya dengan cara kita
merasa, berpikir dan bertindak yang dibentuk
dan ditentukan oleh adat istiadat dan
kebudayaan kita, lalu hasil pengamatan itu
kemudian kita tuangkan dalam bentuk yang
dapat kita pahami dan hayati, maka kita sudah
terlibat dalam kontekstualisasi.
Teologi kontekstual merupakan upaya
mempertemukan secara dialiektik, kreatif dan
esensial antara ‘teks dengan konteks’ yaitu antara
pernyataan Injil yang universal dengan kenyataan
hidup yang kontekstual.
• Menurut Yakob Tomatala, Kata
kontekstualisasi (contextualitation) berasal
dari kata ‘konteks’ (contex) yang berasal dari
bahasa Latin ‘contextere’ yang berarti
menenun atau menghubungkan bersama atau
menjadikan satu. Dengan kata lain
menghubungkan secara keseluruhan menjadi
satu.
• Menurut Budiman R.L, Teologi kontekstual
merupakan cara menyampaikan dan
meneladani Injil supaya kita dapat
memenangkan sebanyak mungkin orang. Kita
menyesuaikan diri dengan tradisi setempat
supaya Injil menjadi relavan, namun kita harus
hidup di bawah hukum Kristus supaya Injil
yang disampaikan itu murni.
• Menurut Eka Darmaputra, Teologi kontekstual
adalah bahwa teologi hanya dapat disebut
teologi apabila benar-benar kontekstual.
Karena pada hakekatnya teologi tidak lain dan
tidak bukan adalah upaya mempertemukan
secara dialektis, kreatif dan esnsial antara teks
dan konteks, antara kerygma yang universal
dengan kenyataan hidup yang kontekstual
Kesimpulan :
• Teologi kontekstual merupakan suatu ilmu teologi
yang dapat menjawab kebutuhan rohani sesuai
dengan situasi, kondisi, budaya dan keadaan
manusia.
• Teologi kontekstual merupakan aplikasi iman
orang percaya secara praktis, bukan teoritis.
• Teologi kontekstual adalah cabang ilmu teologi
Kristen yang menelaah bagaimana ajaran Kristen
dapat menjadi relevan di konteks-konteks yang
berbeda.
MODEL-MODEL PENDEKATAN
KONTEKSTUAL
• Model Akomodasi: Sikap menghargai dan
terbuka terhadap kebudayaan asli. Sikap ini
dinyatakan dalam bentuk kelakuan,
perbuatan, dan perkataan; baik dalam ranah
ilmiah maupun praktis. Objek akomodasi ini
adalah kehidupan budaya yang menyeluruh
dari suatu bangsa baik dari segi fisik, sosial,
dan ideal. Di model ini terjadi pengambilan
nilai budaya positif dipadukan dengan nilai
Kristiani.
• Model Adaptasi: Tidak mengassimilasikan
unsur budaya dalam nilai-nilai Kristiani. Model
ini menggunakan pemahaman yang ada dalam
suatu budaya untuk menjelaskan pemahaman
kekristenan. Tujuannya untuk mengekspresi-
kan dan menerjemahkan Alkitab dalam istilah
setempat, agar dapat dipahami oleh suatu
masyarakat dengan konteks yang berbeda.
• Model Prosesio: Sikap yang menanggapi
budaya secara negatif. Proses prosesio terjadi
melalui seleksi, penolakan, reinterpretasi, dan
rededikasi. Kelompok ini menganggap bahwa
kebudayaan adalah sesuatu yang telah dirusak
oleh dosa, tidak ada kebaikan dalam
kebudayaan, hanya kekristenan dan Alkitablah
yang kudus dan tidak berdosa.
• Model Transformasi: Model ini berakar dari
pemahaman Richard Niebuhr mengenai Allah
dan kebudayaan. Allah dipahami berada di
atas kebudayaan. Melalui kebudayaan Allah
berinteraksi dengan manusia. Bila seseorang
dibaharui oleh Allah, maka kebudayaan
tersebut juga ikut dibaharui.
• Model Dialektis: Menekankan interaksi yang
dinamis antara teks dan konteks. Ada
pemahaman yang kuat bahwa kebudayaan
juga membaya perubahan. Tidak hanya
kekristenan yang membawa perubahan bagi
konteks, tetapi konteks juga memberi
perubahan bagi kekristenan. Kebudayaan
memberi warna baru bagi teologi dalam
usahanya menghadirkan kekristenan di tengah
konteks yang ada.
• Model Terjemahan: Kata ‘terjemahan’ yang
dimaksudkan bukanlah kata demi kata, tetapi
adalah menemukan makna atau jiwa dari teks
itu sendiri agar dapat menampilkan relevansi
dari isi kemudian mengaktualisasikannya. Jadi
model ini merupakan terjemahan makna
dokrin-doktrin tersebut ke dalam kebudayaan
yang lain.
• Model Praksis: Wawasan utama model ini
adalah tindakan Kristen, yaitu memiliki
starting poin pada aksi-refleksi-aksi dst.
Berteologi bukanlah semata-mata mengutip
teks dari kitab suci, ajaran gereja, pendapat
para teolog, tetapi mengedepankan implikasi
bertindak yang benar.
• Model Antropologis: Berpusat pada nilai dan
kebaikan pribadi manusia (anthropos).
Pengalaman manusia (dalam kebudayaan,
perubahan sosial, lingkungan geografis dan
historis) sebagai kriteria penilaian yang paling
mendasar terhadap konteks.
TOKOH TEOLOGI KONTEKSTUAL DARI
LUAR NEGERI
• Matteo Ricci, lahir di Macerata Italia 6
Oktober 1552, meninggal 11 Mei 1610.
Ia seorang pastor dari Ordo Yesuit di Italia. Ia
diutus menjadi missionaris di Cina selama
Dinasti Ming. Ia memperkenalkan budaya
Barat ke Cina. Ia juga salah satu missionaris
yang menggunakan model akomodasi.
• Gustavo Gutierrez Merino, O.P. Lahir di Lima
Peru 8 Juni 1928. ia adalah seorang imam
Katolik. Ia juga seorang teolog, lebih dikenal
sebagai teolog pembebasan. Bahkan dialah
pendiri teologi pembebasan. Ia melihat bahwa
gereja tidak memihak kepada yang miskin.
Gereja hanya mementingkan diri sendiri.
Penghargaan: Princess of Austrias Award for
Communication and Humanities.
• Choan-Seng Song, lahir 19 Oktober 1929 Kota
Tainan Republik Tiongkok. Ia seorang teolog
kontekstual di Asia. Ia memahami bahwa ilmu
teologi yang selama ini diajarkan dan
dikembangkan oleh gereja-gereja di Asia tidak
menyentuh budaya lokal. Dia berpendapat
bahwa teologi Kristen harus dapat dimengerti
orang-orang Asia sesuai dengan konteks Asia
• Kosuke Koyama: Seorang teolog Kristen asal
Jepang. Ia salah seorang teolog yang
memperhatikan teologi lokal. Pemikiran
Koyama dipengaruhi oleh pengalaman
missionarisnya di berbagai tempat antara lain:
Thailand, Jepang. Salah satu teologi
kontekstual yang ia kembangkan adalah
teologi kerbau. Ia Lahir 10 Desember 1929 di
Tokyo Jepang, meninggal 25 Maret 2009 di
Massachusetts, Amerika.
• Aloysius Pieris: Lahir 9 April 1934, Ia seorang
teolog dari Sri Lanka. Ia ikut mengembangkan
teologi kontekstual di negara tersebut. Salah
satu bentuk teologinya adalah teologi
kemiskinan dan kaitannya dengan pluralisme.
• Hope S. Antone, seorang teolog dari Filippina.
Ia mengembangkan teologi kontekstual
dengan pendekatan pendidikan Kristiani. Ia
memahami bahwa Filippina memiliki
teologinya sendiri dari budaya yang ada di
negara tersebut. Hal ini dicetuskan karena
adanya dominasi teologi Barat yang dianggap
mengabaikan konteks masyarakat Filippina.
TOKOH TEOLOGI KONTEKSTUAL
DI INDONESIA
• Andreas Anangguru Yewangoe, Lahi 31 Maret
1945 di Kabupaten Sumba Barat NTT. Ia seorang
teolog Kristen yang mengembangkan teologi
kontekstual di Indonesia. Pendeta yang sering
disebut A.A. Yewangoe ini mengembangkan
teologi penderitaan dalam konteks Asia,
khususnya Indonesia. Ia juga memadukan
ideologi Pancasila dengan nilai-nilai Kristiani.
Salah satu bukunya berjudul: ”Theologia Crucis di
Asia: Pandangan Kristen Asia tentang Penderitaan
dan Iman, Agama dan Masyarakat dalam Negara
Pancasila.”
• Eka Darmaputra, Lahir 16 Nopember 1942 dan
meninggal 29 Juni 2005. Ia seorang pendeta dan
teolog Indonesia yang banyak menulis sehingga
karya-karya dan pikirannya sering kali muncul
dalam berbagai surat kabar nasional Indonesia. Ia
juga sering diundang menjadi pembicara di
berbagai seminar dan lokakarya, baik di dalam
maupun di luar negeri. Ia juga mengembangkan
teologi dalam studi Pancasila. Ia adalah tokoh
muda yang memajukan pemikiran teologi di
Indonesia. Sempat menjabat ketua Gerakan
Mahasiswa Kristen di Indonesia (GMKI).
• Emmanuel Gerrit Singgih, seorang teolog
Perjanjian Lama di Indonesia. Ia juga
mengembangkan teologi kontekstual di
Indonesia. Ia seorang dosen di Fakultas Teologi
Universitas Kristen Duta wacana (UKDW).
Beberapa bukunya berjudul “Berteologi dalam
Konteks”, “Dua Konteks”, “Iman dan Politik
dalam Era Reformasi”.
PELAYANAN GEREJA YANG
KONTEKSTUAL
• Pelayanan gereja yang kontekstual di era
digital sekarang ini ialah bagaimana agar
pelayanan semakin baik dan menyentuh
kehidupan warga secara langsung. Mulai dari
anak-anak, remaja, pemuda, dewasa, hingga
lansia dan jompo tidak luput dari perhatian
gereja. Salah satu bentuk pelayanan gereja
dalam era ini ialah pelayanan berbasis online.
PELAYANAN GEREJA MASA KINI
DENGAN TEOLOGI KONTEKSTUAL
• Memaksimalkan pelayanan ‘pengajaran lahir
baru’
• Memaksimalkan pelayanan ‘pemuridan’
• Memaksimalkan pelayanan ‘penggembalaan’
UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS IMAN
ANGGOTA JEMAAT
sehingga mereka mau mengikut Yesus tak peduli
berapa pun harganya.

TEOLOGI KONTEKTUAL S2.pptx

  • 1.
    Mata Kuliah: TEOLOGI KONTEKSTUAL ProgramS2 (MAGISTER TEOLOGI) STTR Pematangsiantar 2022 Dosen: Pdt.Dr.Marlan Pardede,S.Pd.,M.Th
  • 2.
    Profil Dosen • Nama:Pdt.Dr.Marlan Pardede,S.Pd.,M.Th • Lair: Tobasiborna, 27 Nopemper 1965 • Pendidikan: Sarjana Pendidikan dari FKIP UHN; Magister Teologi dari STTR; Doktor Teologi dar STTR • Pekerjaan: Pendeta HKIP (1995 s/d Sekarang); Bishop HKIP Periode 2016 – 2021; Majelis Pusat HKIP Periode 2021 – 2026 Dosen Ikatan Kerja di UHKBPN 2011-2020; dosen honor di UHKBPNP 2018-Sekarang; Dosen Tetap di STTR 2017 Sampai Sekarang. • Nomor Induk Dosen Nasional (NIDN): 0127116501 • Isteri: Lince Siahaan • Anak 5: Lk 1; Pr 4; Menantu 2; Cucu 4
  • 3.
    PENGERTIAN TEOLOGI KONTEKSTUAL •Teologi kontekstual adalah cabang ilmu teologi Kristen yang menelaah bagaimana ajaran Kristen dapat menjadi relevan di konteks-konteks yang berbeda. (Wikipedia Bahasa Indonesia) • Menurut Stephan Bevans, Kontekstualisasi teologi adalah upaya untuk memahami iman Kristen dipandang dari suatu konteks tertentu. Hal ini merupakan pengakuan teologi akan sumber teologi selain kitab suci dan tradisi, yaitu pengalaman manusia sekarang ini.
  • 4.
    • Menurut Kobong,Kalau kita mendengar Injil Yesus Kristus yang diberitakan kepada kita, lalu kita berusaha mengertinya dengan cara kita merasa, berpikir dan bertindak yang dibentuk dan ditentukan oleh adat istiadat dan kebudayaan kita, lalu hasil pengamatan itu kemudian kita tuangkan dalam bentuk yang dapat kita pahami dan hayati, maka kita sudah terlibat dalam kontekstualisasi. Teologi kontekstual merupakan upaya mempertemukan secara dialiektik, kreatif dan esensial antara ‘teks dengan konteks’ yaitu antara pernyataan Injil yang universal dengan kenyataan hidup yang kontekstual.
  • 5.
    • Menurut YakobTomatala, Kata kontekstualisasi (contextualitation) berasal dari kata ‘konteks’ (contex) yang berasal dari bahasa Latin ‘contextere’ yang berarti menenun atau menghubungkan bersama atau menjadikan satu. Dengan kata lain menghubungkan secara keseluruhan menjadi satu.
  • 6.
    • Menurut BudimanR.L, Teologi kontekstual merupakan cara menyampaikan dan meneladani Injil supaya kita dapat memenangkan sebanyak mungkin orang. Kita menyesuaikan diri dengan tradisi setempat supaya Injil menjadi relavan, namun kita harus hidup di bawah hukum Kristus supaya Injil yang disampaikan itu murni.
  • 7.
    • Menurut EkaDarmaputra, Teologi kontekstual adalah bahwa teologi hanya dapat disebut teologi apabila benar-benar kontekstual. Karena pada hakekatnya teologi tidak lain dan tidak bukan adalah upaya mempertemukan secara dialektis, kreatif dan esnsial antara teks dan konteks, antara kerygma yang universal dengan kenyataan hidup yang kontekstual
  • 8.
    Kesimpulan : • Teologikontekstual merupakan suatu ilmu teologi yang dapat menjawab kebutuhan rohani sesuai dengan situasi, kondisi, budaya dan keadaan manusia. • Teologi kontekstual merupakan aplikasi iman orang percaya secara praktis, bukan teoritis. • Teologi kontekstual adalah cabang ilmu teologi Kristen yang menelaah bagaimana ajaran Kristen dapat menjadi relevan di konteks-konteks yang berbeda.
  • 9.
    MODEL-MODEL PENDEKATAN KONTEKSTUAL • ModelAkomodasi: Sikap menghargai dan terbuka terhadap kebudayaan asli. Sikap ini dinyatakan dalam bentuk kelakuan, perbuatan, dan perkataan; baik dalam ranah ilmiah maupun praktis. Objek akomodasi ini adalah kehidupan budaya yang menyeluruh dari suatu bangsa baik dari segi fisik, sosial, dan ideal. Di model ini terjadi pengambilan nilai budaya positif dipadukan dengan nilai Kristiani.
  • 10.
    • Model Adaptasi:Tidak mengassimilasikan unsur budaya dalam nilai-nilai Kristiani. Model ini menggunakan pemahaman yang ada dalam suatu budaya untuk menjelaskan pemahaman kekristenan. Tujuannya untuk mengekspresi- kan dan menerjemahkan Alkitab dalam istilah setempat, agar dapat dipahami oleh suatu masyarakat dengan konteks yang berbeda.
  • 11.
    • Model Prosesio:Sikap yang menanggapi budaya secara negatif. Proses prosesio terjadi melalui seleksi, penolakan, reinterpretasi, dan rededikasi. Kelompok ini menganggap bahwa kebudayaan adalah sesuatu yang telah dirusak oleh dosa, tidak ada kebaikan dalam kebudayaan, hanya kekristenan dan Alkitablah yang kudus dan tidak berdosa.
  • 12.
    • Model Transformasi:Model ini berakar dari pemahaman Richard Niebuhr mengenai Allah dan kebudayaan. Allah dipahami berada di atas kebudayaan. Melalui kebudayaan Allah berinteraksi dengan manusia. Bila seseorang dibaharui oleh Allah, maka kebudayaan tersebut juga ikut dibaharui.
  • 13.
    • Model Dialektis:Menekankan interaksi yang dinamis antara teks dan konteks. Ada pemahaman yang kuat bahwa kebudayaan juga membaya perubahan. Tidak hanya kekristenan yang membawa perubahan bagi konteks, tetapi konteks juga memberi perubahan bagi kekristenan. Kebudayaan memberi warna baru bagi teologi dalam usahanya menghadirkan kekristenan di tengah konteks yang ada.
  • 14.
    • Model Terjemahan:Kata ‘terjemahan’ yang dimaksudkan bukanlah kata demi kata, tetapi adalah menemukan makna atau jiwa dari teks itu sendiri agar dapat menampilkan relevansi dari isi kemudian mengaktualisasikannya. Jadi model ini merupakan terjemahan makna dokrin-doktrin tersebut ke dalam kebudayaan yang lain.
  • 15.
    • Model Praksis:Wawasan utama model ini adalah tindakan Kristen, yaitu memiliki starting poin pada aksi-refleksi-aksi dst. Berteologi bukanlah semata-mata mengutip teks dari kitab suci, ajaran gereja, pendapat para teolog, tetapi mengedepankan implikasi bertindak yang benar.
  • 16.
    • Model Antropologis:Berpusat pada nilai dan kebaikan pribadi manusia (anthropos). Pengalaman manusia (dalam kebudayaan, perubahan sosial, lingkungan geografis dan historis) sebagai kriteria penilaian yang paling mendasar terhadap konteks.
  • 17.
    TOKOH TEOLOGI KONTEKSTUALDARI LUAR NEGERI • Matteo Ricci, lahir di Macerata Italia 6 Oktober 1552, meninggal 11 Mei 1610. Ia seorang pastor dari Ordo Yesuit di Italia. Ia diutus menjadi missionaris di Cina selama Dinasti Ming. Ia memperkenalkan budaya Barat ke Cina. Ia juga salah satu missionaris yang menggunakan model akomodasi.
  • 18.
    • Gustavo GutierrezMerino, O.P. Lahir di Lima Peru 8 Juni 1928. ia adalah seorang imam Katolik. Ia juga seorang teolog, lebih dikenal sebagai teolog pembebasan. Bahkan dialah pendiri teologi pembebasan. Ia melihat bahwa gereja tidak memihak kepada yang miskin. Gereja hanya mementingkan diri sendiri. Penghargaan: Princess of Austrias Award for Communication and Humanities.
  • 19.
    • Choan-Seng Song,lahir 19 Oktober 1929 Kota Tainan Republik Tiongkok. Ia seorang teolog kontekstual di Asia. Ia memahami bahwa ilmu teologi yang selama ini diajarkan dan dikembangkan oleh gereja-gereja di Asia tidak menyentuh budaya lokal. Dia berpendapat bahwa teologi Kristen harus dapat dimengerti orang-orang Asia sesuai dengan konteks Asia
  • 20.
    • Kosuke Koyama:Seorang teolog Kristen asal Jepang. Ia salah seorang teolog yang memperhatikan teologi lokal. Pemikiran Koyama dipengaruhi oleh pengalaman missionarisnya di berbagai tempat antara lain: Thailand, Jepang. Salah satu teologi kontekstual yang ia kembangkan adalah teologi kerbau. Ia Lahir 10 Desember 1929 di Tokyo Jepang, meninggal 25 Maret 2009 di Massachusetts, Amerika.
  • 21.
    • Aloysius Pieris:Lahir 9 April 1934, Ia seorang teolog dari Sri Lanka. Ia ikut mengembangkan teologi kontekstual di negara tersebut. Salah satu bentuk teologinya adalah teologi kemiskinan dan kaitannya dengan pluralisme.
  • 22.
    • Hope S.Antone, seorang teolog dari Filippina. Ia mengembangkan teologi kontekstual dengan pendekatan pendidikan Kristiani. Ia memahami bahwa Filippina memiliki teologinya sendiri dari budaya yang ada di negara tersebut. Hal ini dicetuskan karena adanya dominasi teologi Barat yang dianggap mengabaikan konteks masyarakat Filippina.
  • 23.
    TOKOH TEOLOGI KONTEKSTUAL DIINDONESIA • Andreas Anangguru Yewangoe, Lahi 31 Maret 1945 di Kabupaten Sumba Barat NTT. Ia seorang teolog Kristen yang mengembangkan teologi kontekstual di Indonesia. Pendeta yang sering disebut A.A. Yewangoe ini mengembangkan teologi penderitaan dalam konteks Asia, khususnya Indonesia. Ia juga memadukan ideologi Pancasila dengan nilai-nilai Kristiani. Salah satu bukunya berjudul: ”Theologia Crucis di Asia: Pandangan Kristen Asia tentang Penderitaan dan Iman, Agama dan Masyarakat dalam Negara Pancasila.”
  • 24.
    • Eka Darmaputra,Lahir 16 Nopember 1942 dan meninggal 29 Juni 2005. Ia seorang pendeta dan teolog Indonesia yang banyak menulis sehingga karya-karya dan pikirannya sering kali muncul dalam berbagai surat kabar nasional Indonesia. Ia juga sering diundang menjadi pembicara di berbagai seminar dan lokakarya, baik di dalam maupun di luar negeri. Ia juga mengembangkan teologi dalam studi Pancasila. Ia adalah tokoh muda yang memajukan pemikiran teologi di Indonesia. Sempat menjabat ketua Gerakan Mahasiswa Kristen di Indonesia (GMKI).
  • 25.
    • Emmanuel GerritSinggih, seorang teolog Perjanjian Lama di Indonesia. Ia juga mengembangkan teologi kontekstual di Indonesia. Ia seorang dosen di Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta wacana (UKDW). Beberapa bukunya berjudul “Berteologi dalam Konteks”, “Dua Konteks”, “Iman dan Politik dalam Era Reformasi”.
  • 26.
    PELAYANAN GEREJA YANG KONTEKSTUAL •Pelayanan gereja yang kontekstual di era digital sekarang ini ialah bagaimana agar pelayanan semakin baik dan menyentuh kehidupan warga secara langsung. Mulai dari anak-anak, remaja, pemuda, dewasa, hingga lansia dan jompo tidak luput dari perhatian gereja. Salah satu bentuk pelayanan gereja dalam era ini ialah pelayanan berbasis online.
  • 27.
    PELAYANAN GEREJA MASAKINI DENGAN TEOLOGI KONTEKSTUAL • Memaksimalkan pelayanan ‘pengajaran lahir baru’ • Memaksimalkan pelayanan ‘pemuridan’ • Memaksimalkan pelayanan ‘penggembalaan’ UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS IMAN ANGGOTA JEMAAT sehingga mereka mau mengikut Yesus tak peduli berapa pun harganya.