STANDAR PELAYANAN MINIMAL RUMAH SAKIT


1. Standard Pelayanan Rumah Sakit
   Adalah penyelenggaraan pelayanan manajemen              r umah sakit, pelayanan
   medik, pelayanan penunjang dan pelayanan keperawatan baik rawat inap
   maupun rawat jalan yang minimalharusdiselenggarakan oleh rumahsakit.


2. Indikator
   Merupakan variabel ukuran atautolok ukur yang dapat menunjukkan indikasi-
   indikasi t erjadinya perubahan tertentu. Untukm engukur kinerja rumah sakit
   ada beberapa indikator, yaitu:
   a. I nput, yang dapat mengukurpadabahan alat sistem prosedur atau
      o rang yangm em berikanpe layanan misalnya jumlah dokter, kelengkapan
      alat, prosedur t etap dan lain-lain.
   b. Proses, yang dapat mengukur perubahan pada saat pelayanan yang
      misalnya kecepatan pelayanan, pelayanan dengan ramah dan lain-lain.
   c. Output, yang dapat menjadi tolok ukur pada hasil yang dicapai, misalnya
      jumlah yang dilayani, jumlah pasien yang dioperasi, kebersihan ruangan.
   d. Outcome, yangmenjadi tolokukur danmerupakan dampak dari hasil
      pelayanansebagaimisalnya keluhan pasien yang merasa tidak puas
      terhadap pelayanan dan lain-lain.
   e. Benefit, adalah tolok ukur dari keuntungan yang diperoleh pihak rumah
      sakit maupun penerima pelayanan atau pasien yang misal biaya
      pelayanan yang lebih murah, peningkatan pendapatan rumah sakit.
   f. Impact, adalah tolok ukur dampak pada lingkungan atau masyarakat luas
      misalnya angka kematian ibu yang menurun, meningkatnya derajat
      kesehatan masyarakat,meningkatnya kesejahteraan karyawan.


3. Standar adalah spesifikasi       t eknisatau sesuatu yang dibakukan sebagai
   patokan     dalam   melakukan     kegiatan.   Standar    ini   dapat   ditentukan
berdasarkan kesepakatan propinsi, kabupaten/kota sesuai dengan evidence
   base.


4. Bahwa rumah Sakit sesuai dengan tuntutan daripada kewenangan wajib yang
   harusdilaksanakan oleh rumahsakit propinsi/kabupaten/kota, maka harus
   memberikan pelayanan untuk keluarga miskin dengan biaya ditanggung oleh
   Pemerintah Kabupaten/Kota.


5. Secara khusus selain pelayanan yang harus diberikan kepada masyarakat
   wilayah setempat maka rumah sakit juga harus meningkatkan manajemen di
   dalam rumah sakit yaitu meliputi :
   a. M anajemen SumberdayaManusia.
   b. Manajemen Keuangan.
   c. Manajemen Sistem Informasi Rumah Sakit, kedalam dan keluar rumah
      sakit.
   d. Sarana prasarana.
   e. Mutu Pelayanan.


PERATURAN INTERNAL RUMAH SAKIT (Hospital by Laws)

Dalam rang k a melindungi penyelenggaraan rumah sakit, tenaga kesehatan dan
melindungi pasien maka rumah sakit perlu mempunyai peraturan internal rumah
sakit yang biasa disebut   h ospital by laws. Peraturan tersebut meliputi aturan-
aturan berkaitan dengan pelayanan kesehatan, ketenagaan, administrasi dan
manajemen. Bentuk peraturan internal rumah sakit (HBL) yang merupakan
materi muatan pengaturan dapat meliputi antara lain: Tata tertib rawat inap
pasien, identitas pasien, hak dan kewajiban pasien, dokter dan rumah sakit,
informedconsent, rekam medik,visum et repertum, wajib          s impan rahasia
kedokteran, komite medik,panitia etik kedokteran, panitia etika rumah sakit, hak
aksesdokter    t erhadap fasilitasrumah sakit, persyaratan       kerja, jaminan
keselamatan dan kesehatan, kontrak kerja dengan tenaga kesehatan dan
rekanan.

Bentuk dariHispital by laws dapat merupakan Peraturan Rumah Sakit, Standar
Operating      Procedure      (SOP),      S urat   Keputusan,   Surat    Penugasan,
Pengumuman, Pemberitahuan dan Perjanjian (MOU). Peraturan internalrumah
akit (HBL) antara rumah sakit satu dengan yang lainnya tidak harus sama materi
muatannya,       hal      tersebut     tergantungpada   sejarahnya,     pendiriannya,
kepemilikannya, situasi dan kondisi yang ada pada rumah sakit tersebut. Namun
demikian peraturan internal rumah sakit tidak bol eh bertentangan dengan
peraturan diatasnya seperti Keputusan Menteri, Keputusan Presiden, Peraturan
Pemerintah dan Undang-undang. Dalam bidang kesehatan pengaturan tersebut
harus selaras dengan Undang-undang nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan
dan peraturan pelaksanaannya.

PENGHITUNGAN EFISIENSI
Indikator penilaian efisiensi pelayanan adalah:
-   Bed occupancy rate.
-   Bed turn over.
-   Length of stay.
-   Turn over interval.


Bed occupancy rate (BOR) atau Pemakaian Tempat Tidur dipergunakan untuk
melihat berapa banyak tempat tidur di rumah sakit yang digunakan pasien dalam
suatu m asa.
BOR = Jumlah hari perawatan              x 100%
       Jumlah TT x hari perawatan
Prosentase ini menunjukkan sampai berapa jauh pemakaian tempat tidur yang
tersedia di rumah sakit dalam jangka waktu tertentu. Bila nilai ini mendekati 100
berarti ideal, tetapi bila BOR Rumah Sakit 60-80% sudah biasa dikatakan ideal.
BOR antara rumah sakit yang berbeda tidak bisa dibandingkan oleh karena
adanya perbedaan fasilitasrumah sakit, tindakan medik, perbedaan teknologi
intervensi.Semua per bedaan tadi disebut sebagai “case mix”.


Turn over internal (TOI), waktu rata-rata suatu tempat tidur kosong atau waktu
antarasatu tempat tidur ditinggalkan oleh pasien sampai ditempati lagi oleh
pasien lain.
TOI = (Jumlah TT x 365) - hari perawatan            x 100%
       Jumlah semua pasien k eluar hidup + mati
TOI diusahakan lebih kecil dari pada 5hari


Bed turn over     ( BTO), berapa kali satu tempat tidur ditempati pasien dalam
satu tahun. Usahakan BTO lebih besar dari 40.
Length of stay yang baik 5-13 hari atau m aksimum 12 hari, 6-10 hari.


Infant mortality rate (angka kematian bayi).Standar 2 0%
IMR = Jumlah kematian bayi yang lahir di RS               x 100%
      Jumlah bayi yang lahir di RS dalam waktu tertentu


Maternal Mortality Rate (MMR) atau angka kematian ibu melahirkan. Standard
0,25% atau antara 0,1 - 0,2%
MMR = Jumlah pasien obstetri yang meninggal               x 100%
       Jumlah pasien obstetri dalam jangka waktutertentu


Foetal Death Rate (FDR)atau ang k a bayi l ahir mati. Standar2% .


FDR = Jumlah kematian bayi dengan umur kandungan 20 minggu x 100%
       Jumlah semua k elahiran dalam jangka waktu tertentu
Post Operative Death Rate (FODR) atau angka kematian pasca bedah.
Standar1% .
FODR = Jumlah kematian setelah operasi dalam satu periode           x 100%
         Jumlah pasien yang dioperasi dalam periodey ang sama


Angka kematian sectio caesaria.Standar 5%.
Dalam usaha memperkecil pengaruh “case mix” untuk menilai tingkat efisiensi
digunakan indikator yang lebih tajam, indikator yang dimaksud adalah:
-   Av LOS pasien prabedah
    Pasien yang akan dioperasi biasanya harus menjalani pemeriksaan radiologi
    dan laboratorium serta perlu observasi    t erhadap keadaan tertentu. Jadi
    sebelum operasi pasien   t elah menggunakan jasa     r umah sakit yang tidak
    sedikit. Lebih banyak pemeriksaan atau lebih lama observasi tentunya lebih
    banyak menggunakan sumber daya rumahsakit.         Agar efisiensi maka pem
    borosan harus ditekan. Bertambah singkat Av LOS prabedah, bertambah
    hemat atau bertambah efisien pelayanan yang diberikan.


-   Av LOS penyakit tertentua tautr acer conditions.
    Telah disusun k elompok-kelompok diagnosis penyakit yang tidak berbeda
    banyak cara penganannya mediknya, tidak berbeda banyak Av LOS-nya, dan
    hampir sama menyerap sumber dayanya. Kelompokpenyakit ini disebut
    Diagnosis Related Group (DRG). Dalam DRG ini ada 83 kelompok diagnesis
    yang masih terbagi lagi menjadi 383 subkelompok.


INDIKATOR PENILAIAN
Untuk menilai pemanfaatan tenaga dipergunakan indikator:
-   Rasio kunjungan dengan jumlah tenaga perawat jalan.
-   Rasio jumlah hariperawatan dengan jumlah tenagaperawat inap.
-   Rasio jumlahpaisien intensif dengan jumlah tenagaperawat yang melayani.
-   Rasio persalinan dengan tenagabidan yang melayani.
Indikator untuk penilaian cakupan pelayanan adalah:
-   Rata-rata kunjungan per hari
-   Rata-rata kunjungan baru per hari
-   Rasio kunjungan baru dengan total kunjungan
-   J um lah rata-rata pasien ugd per hari
-   Rata-rata pasien intensif per hari
-   Rata-rata pasien intensif perhari
-   Rata-rata pemeriksaan radiologi per hari
-   Prosentase r/ yang dilayani terhadap r/ rumahsakit
-   Prosentase item obat dalam formularium
-   J umlah pe layanan ambulans
-   Rasio b anyaknya cucian dengan pasien rawat inap
-   Prosentase penyediaan makanan khusus
-   Rasio p asien rawat jalan terhadap jumlah penduduk dalam catchment area
-   Admission use rate
-   Hospitalization rate


Mutu pelayanan ditinjau dari GDR & NDR
1. Angka Kematian Kasar/GDR (%) = <45%
2. Angka Kematian Netto/NDR (%) = <25%
BOR = Bed Occupancy Rate atau Tingkat Hunian RS (dalam bentuk prosentase)

Hari Perawatan (HP) = Banyaknya pasien yang dirawat dalam 1 hari periode

Jumlah Hari Perawatan
BOR = ——————————————- X 100 %
Jmlh Tempat Tidur X Periode

Jadi data HP ini diambil dari jumlah pasien yang dirawat setiap hari dan diakumulasikan
dalam periode tertentu, misalnya : Mingguan, Bulanan, Triwulan atau Tahunan.

Contoh : Pasien yang dirawat tgl 1 sep = 97 pasien; 2 sep = 98 pasien; 3 sep = 100
pasien; tgl 4 sep = 89 pasien. Maka Jumlah Hari Perawatan dari tgl 1 – 4 Sep adalah 384.
Selama 4 hari (periode)

Jumlah Tempat Tidur = Banyaknya tempat tidur yang ada/yang beroperasional di RS

Misalnya jumlah TT kita ada 200 TT.

Maka BORnya adalah :

Jumlah HP = 384
BOR = ————————————————– X 100 %
(Jumlah TT = 200) X (Periode = 4 hr)

384
BOR = ———————– X 100 %
200 X 4

384
BOR = —————– X 100 %
800

BOR = 48 %

____________________________________________________________________

Jumlah Lama Dirawat
ALOS = ——————————————–
Jumlah Pasien Keluar (Hidup + Meninggal)

ALOS = Average Length of Stay = Rata-rata lama dirawat dalam satu periode

Lama Dirawat = Lamanya 1 orang pasien dirawat setelah pasien tersebut keluar hidup
(pulang atas izin dokter, pulang paksa, melarikan diri dan dirujuk) atau meninggal.
Contoh : Pada tanggal 4 Sep ini ada 5 orang pasien pulang.

Pasien A pulang dengan lama dirawat 4 hari

Pasien B pulang paksa dengan lama dirawat 2 hari

Pasien C meninggal dengan lama dirawat 10 hari

Pasien D pulang dengan lama dirawat 3 hari

Pasien E pulang dengan lama dirawat 6 hari

Jadi Jumlah Lama Dirawat pada tanggal 4 sep tersebut adalah 25 hari dan pasien yang
pulang (baik hidup ataupun meninggal) ada 5 orang. Maka pada tanggal 4 Sep tersebut
ALOSnya adalah :

Jumlah Lama Dirawat = 25 hari
ALOS = ————————–
Jumlah Pasien Keluar hidup & meninggal = 5 orang

25
ALOS = —————–
5

ALOS = 5 hari

Untuk mendapatkan lama dirawat pada setiap pasien dihitung dari kapan pasien pulang
dan pasien tersebut masuk. Misalnya. Pasien A masuk tanggal 31 Agustus dan pulang
tanggal 4 Sep, maka lama dirawat Pasien A adalah 4 hari.

____________________________________________________________________

Jumlah Pasien Keluar Hidup & Meninggal

BTO = —————————————————

Jumlah Tempat Tidur

BTO = Bed Turn Over yaitu frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu periode atau
berapa kali tempat tidur yang dipakai dalam satu satuan waktu (periode)

Contoh : Pasien keluar hidup & meninggal ada 5 orang pada tanggal 4 Sep

Jumlah Tempat tidur ada 200 TT

Maka BTOnya adalah :
Jumlah Pasien Keluar Hidup & Meninggal = 5

BTO = ——————————————————

Jumlah Tempat Tidur = 200 TT

5
BTO = ——————–
200

BTO = 0.025 kali

______________________________________________________________________

(Jumlah Tempat Tidur X periode) – Hari Perawatan
TOI = —————————————————————-
Jumlah pasien keluar Hidup & Meninggal

TOI = Turn Over Interval yaitu rata-rata hari dimana tempat tidur tidak ditempati dari
telah diisi ke saat terisi berikutnya

Contoh : Jumlah TT = 200 TT

Jumlah periode = 1 hari

Jumlah hari Perawatan = 90

Jumlah pasien keluar hidup & meninggal = 5 orang

Maka TOInya adalah :

(jumlah TT = 200 X jumlah periode =1) – Hari perawatan = 90

TOI = —————————————————————————-

Jumlah pasien keluar hidup & meninggal = 5

(200 X 1) – 90

TOI = —————–

5

110

TOI = ————-
5

TOI = 22 hari

Jumlah pasien meninggal > 48 jam dirawat

NDR = —————————————————- X 1000 ‰

JUmlah pasien keluar hidup & meninggal

NDR = Net Death Rate adalah angka kematian 48 jam setelah dirawat untuk tiap-tiap
1000 penderita keluar RS.

Jumlah pasien meninggal > 48 jam dirawat

GDR = —————————————————- X 1000 ‰

JUmlah pasien keluar hidup & meninggal

GDR = Gross Death Rate adalah angka kematian umum untuk tiap-tiap 1000 penderita
keluar RS.

Standar pelayanan minimal_rumah_sakit

  • 1.
    STANDAR PELAYANAN MINIMALRUMAH SAKIT 1. Standard Pelayanan Rumah Sakit Adalah penyelenggaraan pelayanan manajemen r umah sakit, pelayanan medik, pelayanan penunjang dan pelayanan keperawatan baik rawat inap maupun rawat jalan yang minimalharusdiselenggarakan oleh rumahsakit. 2. Indikator Merupakan variabel ukuran atautolok ukur yang dapat menunjukkan indikasi- indikasi t erjadinya perubahan tertentu. Untukm engukur kinerja rumah sakit ada beberapa indikator, yaitu: a. I nput, yang dapat mengukurpadabahan alat sistem prosedur atau o rang yangm em berikanpe layanan misalnya jumlah dokter, kelengkapan alat, prosedur t etap dan lain-lain. b. Proses, yang dapat mengukur perubahan pada saat pelayanan yang misalnya kecepatan pelayanan, pelayanan dengan ramah dan lain-lain. c. Output, yang dapat menjadi tolok ukur pada hasil yang dicapai, misalnya jumlah yang dilayani, jumlah pasien yang dioperasi, kebersihan ruangan. d. Outcome, yangmenjadi tolokukur danmerupakan dampak dari hasil pelayanansebagaimisalnya keluhan pasien yang merasa tidak puas terhadap pelayanan dan lain-lain. e. Benefit, adalah tolok ukur dari keuntungan yang diperoleh pihak rumah sakit maupun penerima pelayanan atau pasien yang misal biaya pelayanan yang lebih murah, peningkatan pendapatan rumah sakit. f. Impact, adalah tolok ukur dampak pada lingkungan atau masyarakat luas misalnya angka kematian ibu yang menurun, meningkatnya derajat kesehatan masyarakat,meningkatnya kesejahteraan karyawan. 3. Standar adalah spesifikasi t eknisatau sesuatu yang dibakukan sebagai patokan dalam melakukan kegiatan. Standar ini dapat ditentukan
  • 2.
    berdasarkan kesepakatan propinsi,kabupaten/kota sesuai dengan evidence base. 4. Bahwa rumah Sakit sesuai dengan tuntutan daripada kewenangan wajib yang harusdilaksanakan oleh rumahsakit propinsi/kabupaten/kota, maka harus memberikan pelayanan untuk keluarga miskin dengan biaya ditanggung oleh Pemerintah Kabupaten/Kota. 5. Secara khusus selain pelayanan yang harus diberikan kepada masyarakat wilayah setempat maka rumah sakit juga harus meningkatkan manajemen di dalam rumah sakit yaitu meliputi : a. M anajemen SumberdayaManusia. b. Manajemen Keuangan. c. Manajemen Sistem Informasi Rumah Sakit, kedalam dan keluar rumah sakit. d. Sarana prasarana. e. Mutu Pelayanan. PERATURAN INTERNAL RUMAH SAKIT (Hospital by Laws) Dalam rang k a melindungi penyelenggaraan rumah sakit, tenaga kesehatan dan melindungi pasien maka rumah sakit perlu mempunyai peraturan internal rumah sakit yang biasa disebut h ospital by laws. Peraturan tersebut meliputi aturan- aturan berkaitan dengan pelayanan kesehatan, ketenagaan, administrasi dan manajemen. Bentuk peraturan internal rumah sakit (HBL) yang merupakan materi muatan pengaturan dapat meliputi antara lain: Tata tertib rawat inap pasien, identitas pasien, hak dan kewajiban pasien, dokter dan rumah sakit, informedconsent, rekam medik,visum et repertum, wajib s impan rahasia kedokteran, komite medik,panitia etik kedokteran, panitia etika rumah sakit, hak aksesdokter t erhadap fasilitasrumah sakit, persyaratan kerja, jaminan
  • 3.
    keselamatan dan kesehatan,kontrak kerja dengan tenaga kesehatan dan rekanan. Bentuk dariHispital by laws dapat merupakan Peraturan Rumah Sakit, Standar Operating Procedure (SOP), S urat Keputusan, Surat Penugasan, Pengumuman, Pemberitahuan dan Perjanjian (MOU). Peraturan internalrumah akit (HBL) antara rumah sakit satu dengan yang lainnya tidak harus sama materi muatannya, hal tersebut tergantungpada sejarahnya, pendiriannya, kepemilikannya, situasi dan kondisi yang ada pada rumah sakit tersebut. Namun demikian peraturan internal rumah sakit tidak bol eh bertentangan dengan peraturan diatasnya seperti Keputusan Menteri, Keputusan Presiden, Peraturan Pemerintah dan Undang-undang. Dalam bidang kesehatan pengaturan tersebut harus selaras dengan Undang-undang nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan dan peraturan pelaksanaannya. PENGHITUNGAN EFISIENSI Indikator penilaian efisiensi pelayanan adalah: - Bed occupancy rate. - Bed turn over. - Length of stay. - Turn over interval. Bed occupancy rate (BOR) atau Pemakaian Tempat Tidur dipergunakan untuk melihat berapa banyak tempat tidur di rumah sakit yang digunakan pasien dalam suatu m asa. BOR = Jumlah hari perawatan x 100% Jumlah TT x hari perawatan Prosentase ini menunjukkan sampai berapa jauh pemakaian tempat tidur yang tersedia di rumah sakit dalam jangka waktu tertentu. Bila nilai ini mendekati 100 berarti ideal, tetapi bila BOR Rumah Sakit 60-80% sudah biasa dikatakan ideal.
  • 4.
    BOR antara rumahsakit yang berbeda tidak bisa dibandingkan oleh karena adanya perbedaan fasilitasrumah sakit, tindakan medik, perbedaan teknologi intervensi.Semua per bedaan tadi disebut sebagai “case mix”. Turn over internal (TOI), waktu rata-rata suatu tempat tidur kosong atau waktu antarasatu tempat tidur ditinggalkan oleh pasien sampai ditempati lagi oleh pasien lain. TOI = (Jumlah TT x 365) - hari perawatan x 100% Jumlah semua pasien k eluar hidup + mati TOI diusahakan lebih kecil dari pada 5hari Bed turn over ( BTO), berapa kali satu tempat tidur ditempati pasien dalam satu tahun. Usahakan BTO lebih besar dari 40. Length of stay yang baik 5-13 hari atau m aksimum 12 hari, 6-10 hari. Infant mortality rate (angka kematian bayi).Standar 2 0% IMR = Jumlah kematian bayi yang lahir di RS x 100% Jumlah bayi yang lahir di RS dalam waktu tertentu Maternal Mortality Rate (MMR) atau angka kematian ibu melahirkan. Standard 0,25% atau antara 0,1 - 0,2% MMR = Jumlah pasien obstetri yang meninggal x 100% Jumlah pasien obstetri dalam jangka waktutertentu Foetal Death Rate (FDR)atau ang k a bayi l ahir mati. Standar2% . FDR = Jumlah kematian bayi dengan umur kandungan 20 minggu x 100% Jumlah semua k elahiran dalam jangka waktu tertentu
  • 5.
    Post Operative DeathRate (FODR) atau angka kematian pasca bedah. Standar1% . FODR = Jumlah kematian setelah operasi dalam satu periode x 100% Jumlah pasien yang dioperasi dalam periodey ang sama Angka kematian sectio caesaria.Standar 5%. Dalam usaha memperkecil pengaruh “case mix” untuk menilai tingkat efisiensi digunakan indikator yang lebih tajam, indikator yang dimaksud adalah: - Av LOS pasien prabedah Pasien yang akan dioperasi biasanya harus menjalani pemeriksaan radiologi dan laboratorium serta perlu observasi t erhadap keadaan tertentu. Jadi sebelum operasi pasien t elah menggunakan jasa r umah sakit yang tidak sedikit. Lebih banyak pemeriksaan atau lebih lama observasi tentunya lebih banyak menggunakan sumber daya rumahsakit. Agar efisiensi maka pem borosan harus ditekan. Bertambah singkat Av LOS prabedah, bertambah hemat atau bertambah efisien pelayanan yang diberikan. - Av LOS penyakit tertentua tautr acer conditions. Telah disusun k elompok-kelompok diagnosis penyakit yang tidak berbeda banyak cara penganannya mediknya, tidak berbeda banyak Av LOS-nya, dan hampir sama menyerap sumber dayanya. Kelompokpenyakit ini disebut Diagnosis Related Group (DRG). Dalam DRG ini ada 83 kelompok diagnesis yang masih terbagi lagi menjadi 383 subkelompok. INDIKATOR PENILAIAN Untuk menilai pemanfaatan tenaga dipergunakan indikator: - Rasio kunjungan dengan jumlah tenaga perawat jalan. - Rasio jumlah hariperawatan dengan jumlah tenagaperawat inap. - Rasio jumlahpaisien intensif dengan jumlah tenagaperawat yang melayani. - Rasio persalinan dengan tenagabidan yang melayani.
  • 6.
    Indikator untuk penilaiancakupan pelayanan adalah: - Rata-rata kunjungan per hari - Rata-rata kunjungan baru per hari - Rasio kunjungan baru dengan total kunjungan - J um lah rata-rata pasien ugd per hari - Rata-rata pasien intensif per hari - Rata-rata pasien intensif perhari - Rata-rata pemeriksaan radiologi per hari - Prosentase r/ yang dilayani terhadap r/ rumahsakit - Prosentase item obat dalam formularium - J umlah pe layanan ambulans - Rasio b anyaknya cucian dengan pasien rawat inap - Prosentase penyediaan makanan khusus - Rasio p asien rawat jalan terhadap jumlah penduduk dalam catchment area - Admission use rate - Hospitalization rate Mutu pelayanan ditinjau dari GDR & NDR 1. Angka Kematian Kasar/GDR (%) = <45% 2. Angka Kematian Netto/NDR (%) = <25%
  • 7.
    BOR = BedOccupancy Rate atau Tingkat Hunian RS (dalam bentuk prosentase) Hari Perawatan (HP) = Banyaknya pasien yang dirawat dalam 1 hari periode Jumlah Hari Perawatan BOR = ——————————————- X 100 % Jmlh Tempat Tidur X Periode Jadi data HP ini diambil dari jumlah pasien yang dirawat setiap hari dan diakumulasikan dalam periode tertentu, misalnya : Mingguan, Bulanan, Triwulan atau Tahunan. Contoh : Pasien yang dirawat tgl 1 sep = 97 pasien; 2 sep = 98 pasien; 3 sep = 100 pasien; tgl 4 sep = 89 pasien. Maka Jumlah Hari Perawatan dari tgl 1 – 4 Sep adalah 384. Selama 4 hari (periode) Jumlah Tempat Tidur = Banyaknya tempat tidur yang ada/yang beroperasional di RS Misalnya jumlah TT kita ada 200 TT. Maka BORnya adalah : Jumlah HP = 384 BOR = ————————————————– X 100 % (Jumlah TT = 200) X (Periode = 4 hr) 384 BOR = ———————– X 100 % 200 X 4 384 BOR = —————– X 100 % 800 BOR = 48 % ____________________________________________________________________ Jumlah Lama Dirawat ALOS = ——————————————– Jumlah Pasien Keluar (Hidup + Meninggal) ALOS = Average Length of Stay = Rata-rata lama dirawat dalam satu periode Lama Dirawat = Lamanya 1 orang pasien dirawat setelah pasien tersebut keluar hidup (pulang atas izin dokter, pulang paksa, melarikan diri dan dirujuk) atau meninggal.
  • 8.
    Contoh : Padatanggal 4 Sep ini ada 5 orang pasien pulang. Pasien A pulang dengan lama dirawat 4 hari Pasien B pulang paksa dengan lama dirawat 2 hari Pasien C meninggal dengan lama dirawat 10 hari Pasien D pulang dengan lama dirawat 3 hari Pasien E pulang dengan lama dirawat 6 hari Jadi Jumlah Lama Dirawat pada tanggal 4 sep tersebut adalah 25 hari dan pasien yang pulang (baik hidup ataupun meninggal) ada 5 orang. Maka pada tanggal 4 Sep tersebut ALOSnya adalah : Jumlah Lama Dirawat = 25 hari ALOS = ————————– Jumlah Pasien Keluar hidup & meninggal = 5 orang 25 ALOS = —————– 5 ALOS = 5 hari Untuk mendapatkan lama dirawat pada setiap pasien dihitung dari kapan pasien pulang dan pasien tersebut masuk. Misalnya. Pasien A masuk tanggal 31 Agustus dan pulang tanggal 4 Sep, maka lama dirawat Pasien A adalah 4 hari. ____________________________________________________________________ Jumlah Pasien Keluar Hidup & Meninggal BTO = ————————————————— Jumlah Tempat Tidur BTO = Bed Turn Over yaitu frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu periode atau berapa kali tempat tidur yang dipakai dalam satu satuan waktu (periode) Contoh : Pasien keluar hidup & meninggal ada 5 orang pada tanggal 4 Sep Jumlah Tempat tidur ada 200 TT Maka BTOnya adalah :
  • 9.
    Jumlah Pasien KeluarHidup & Meninggal = 5 BTO = —————————————————— Jumlah Tempat Tidur = 200 TT 5 BTO = ——————– 200 BTO = 0.025 kali ______________________________________________________________________ (Jumlah Tempat Tidur X periode) – Hari Perawatan TOI = —————————————————————- Jumlah pasien keluar Hidup & Meninggal TOI = Turn Over Interval yaitu rata-rata hari dimana tempat tidur tidak ditempati dari telah diisi ke saat terisi berikutnya Contoh : Jumlah TT = 200 TT Jumlah periode = 1 hari Jumlah hari Perawatan = 90 Jumlah pasien keluar hidup & meninggal = 5 orang Maka TOInya adalah : (jumlah TT = 200 X jumlah periode =1) – Hari perawatan = 90 TOI = —————————————————————————- Jumlah pasien keluar hidup & meninggal = 5 (200 X 1) – 90 TOI = —————– 5 110 TOI = ————-
  • 10.
    5 TOI = 22hari Jumlah pasien meninggal > 48 jam dirawat NDR = —————————————————- X 1000 ‰ JUmlah pasien keluar hidup & meninggal NDR = Net Death Rate adalah angka kematian 48 jam setelah dirawat untuk tiap-tiap 1000 penderita keluar RS. Jumlah pasien meninggal > 48 jam dirawat GDR = —————————————————- X 1000 ‰ JUmlah pasien keluar hidup & meninggal GDR = Gross Death Rate adalah angka kematian umum untuk tiap-tiap 1000 penderita keluar RS.