SlideShare a Scribd company logo
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
1
SPESIFIKASI TEKNIS
P a s a l - 1
Uraian Pekerjaan
Pekerjaan meliputi :
1.1. Pekerjaan yang dilaksanaan meliputi :
Rencana Teknis Rinci Pembangunan TPA Sampah Kab. Morowali
Jenis Pekerjaan :
Pembangunan TPA Sampah Bahoruru
1.2. Pekerjaan tersebut pada pasal 1 ayat 1 diatas dilaksanakan sesuai dengan :
- Uraian dan syarat-syarat kerja (Bestek)
- Gambar situasi, Detail dan gambar susulan bila ada
- Rízala rapat penjelasan (Aanwijzing)
- Petunjuk-petunjuk dari direksi pelaksanaan dengan kondisi lapangan.
P a s a l - 2
Lokasi Pekerjaan
2.1. Lokasi pekerjaan Desa Bahoruru Kecamatan Bungku Tengah Kabupaten
Morowali Propinsi Sulawesi Tengah
2.2. Tempat pekerjaan akan ditunjukkan kemudian oleh Direksi
2.3. Lokasi pekerjaan akan dijelaskan pada Pemborongan pada saat Aanwijzing
berlangsung berdasarkan gambar-gambar perencanaan
P a s a l - 3
Umum
3.1 Gambar, Spesifikasi Teknis, dan HPS merupakan sesuatu kesatuan yang
saling mengikat dan melengkapi. Kontraktor bertanggung jawab penuh atas
mutu bahan (material) dan kualitas hasil pekerjaan.
3.2 Kontraktor wajib bertanggung jawab atas semua pekerjaan.
3.3 Sebelum memulai pekerjaan, pihak Kontraktor harus memberikan
pemberitahuan secara tertulis kepada pihak direksi.
3.3 Penanggung jawab pelaksanaan pekerjaan harus selalu berada di tempat
pekerjaan dan dapat mengambil keputusan dengan dikonsultasikan bersama
direksi, demi kelancaran pekerjaan.
3.4 Penyedia jasa wajib menyediakan penerangan malam untuk
pengamanan dan kegiatan malam hari.
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
2
P a s a l - 4
Gambar
4.1 Perbedaan Gambar
- Kontraktor wajib mengikuti/memenuhi semua persyaratan yang ditulis dalam
spesifikasi teknis ini, juga wajib memenuhi persyaratan umum yang
dikeluarkan oleh Pemberi Tugas.
- Apabila ada hal-hal yang disebutkan kembali pada bagian bab/gambar
lain, maka ini harus diartikan bukan untuk menghilangkan satu terhadap
yang lain tetapi malah untuk lebih menegaskan masalahnya. Kalau terjadi
hal yang saling bertentangan antar gambar atau terhadap spesifikasi teknis
maka Kontraktor wajib berkonsultasi dengan direksi dan Pejabat Pelaksana
Teknis Kegiatan (PPTK)
- Perbedaan-perbedaan tersebut tidak boleh dijadikan alasan bagi kontraktor
untuk mengadakan claim pada waktu pelaksanaan.
4.2 Perubahan Gambar
Sebelum melaksanakan pekerjaan, kontraktor wajib meneliti/memeriksa
Gambar Perencanaan dan Spesifikasi Teknis; dan jika Kontraktor
menemukan kesalahan dalam gambar-gambar Perencanaan dan/atau
spesifikasi teknisnya, maka Kontraktor wajib memberitahukan kepada Pemberi
Tugas secara tertulis untuk mendapatkan penjelasan sebelum masalah tersebut
dilaksanakan di lapangan.
P a s a l - 5
Perbedaan
5.1 Apabila dalam dokumen pengadaan tertulis/tercantum, sedangkan dalam
gambar belum tercantum maka dokumen pengadaan yang mengikat.
5.2. Apabila dalam gambar tertulis sedang dokumen pengadaan belum
tercantum/tertulis maka gambar yang mengikat.
5.3. Jika ada perbedaan antara gambar rencana dan gambar detailnya, maka
Penyedia Jasa wajib minta pertimbangan kepada Direksi.
5.4 Apabila dalam rencana dan dokumen pengadaan tidak tercantum, maka
Direksi dan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) yang menentukan.
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
3
P a s a l – 6
Mobilisasi dan Demobilisasi
6.1 Mobilisasi dan demobilisasi merupakan kegiatan yang bertujuan mendatangkan
segala kebutuhan yang akan dilaksanakan pada saat pelaksanaan pekerjaan
yang harus disediakan oleh pihak kontraktor.
6.2 Segala kebutuhan demi kelancaran sebuah pekerjaan merupakan kewajiban
yang disediakan oleh pihak kontraktor, dengan mendatangkan ke lokasi
pekerjaan baik tenaga kerja maupun peralatan yang dibutuhkan.
6.3 Semua peralatan yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan ini harus
disediakan oleh kontraktor, baik peralatan tukang maupun alat berat yang
diperlukan. Sebelum suatu tahapan pekerjaan dimulai, kontraktor harus
mempersiapkan seluruh peralatan yang dibutuhkan untuk pelaksanaan tahap
pekerjaan tersebut. Penyediaan peralatan ditempat pekerjaan, dan persiapan
peralatan pekerjaan harus terlebih dahulu mendapat penelitian dan
persetujuan dari direksi.
6.4 Tanpa persetujuan direksi, kontraktor tidak diperbolehkan untuk memindahkan
peralatan yang diperlukan dari lokasi pekerjaan.
6.5 Kerusakan yang timbul pada sebagian atau keseluruhan peralatan yang akan
mengganggu kelancaran pelaksanaan pekerjaan harus segera diperbaiki atau
diganti hingga direksi menganggap pekerjaan dapat dimulai.
P a s a l – 7
Pengukuran/Pematokan
7.1 Ukuran-ukuran pokok dan detail tertera pada gambar penyedia barang/jasa
harus mentaati ukuran tersebut dan ikut menelitinya apabila ada
perbedaan/penggambaran harus dibicarakan dengan Direksi.
7.2 Semua pekerjaan pengukuran/pematokan yang bertalian dengan pekerjaan ini
menjadi tanggung jawab penyedia barang/jasa dan dilaksanakan dengan alat
ukur yang baik.
7.3 Penyedia barang/jasa harus mengerjakan pematokan untuk menetukan
kedudukan dan peil bangunan sesuai dengan gambar rencana. Pekerjaan ini
harus seluruhnya telah disetujui oleh direksi sebelum memulai pekerjaan
selanjutnya.
7.4 Direksi dapat melakukan revisi pemasangan patok tersebut bila dipandang
perlu. Penyedia barang/jasa harus mengerjakan revisi tersebut sesuai petunjuk
direksi.
7.5 Sebelum memulai pekerjaan pemasangan pematokan tersebut, penyedia
barang/jasa harus memberitahukan kepada direksi dalam waktu tidak kurang
dari 24 jam sehingga direksi dapat menyiapkan peralatan yang perlu untuk
melakukan pengawasan.
7.6 Pekerjaan pematokan yang telah diukur oleh penyedia barang/jasa untuk
kemudian disetujui oleh direksi.
7.7 Hasil pengukuran yang disetujui oleh direksi dapat dilaksanakan dasar
pembayaran.
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
4
P a s a l - 8
Pekerjaan Persiapan dan Papan Nama Kegiatan
8.1 Penyedia barang/jasa harus membuat dan memasang Papan Nama Kegiatan
pada lokasi pekerjaan dengan ukuran 120 cm x 80 cm, sebagai Papan Nama
Pemberitahuan yang berisikan informasi pekerjaan yang akan dilaksanakan,
pembiayaan, jangka waktu pelaksanaan dan nama penyedia barang/jasa
pekerjaan.
8.2 Format Papan Nama Proyek
8.3 Bahan-bahan harus ditempatkan pada tempat yang tidak akan mengganggu
lalu lintas dan selambat-lambatnya dalam waktu satu kali 24 jam.
8.4 Setiap kecelakaan yang disebabkan oleh kelalaian penyedia barang/jasa
memberi pengamanan seperti tersebut diatas sepenuhnya tanggung jawab
penyedia barang/jasa.
8.5 Sebelum melaksanakan pekerjaan lokasi harus dibersihkan dari segala kotoran
dan setelah pekerjaan selesai harus dibersihkan dari segala sisa bahan dan lain-
lain.
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
5
P a s a l - 9
Penyediaan Pos Kerja, Kantor, dan Gudang
9.1 Penyedia barang/jasa herus menyiapkan kantor direksi sementara, yang
dilengkapi oleh fasilitas meja, kursi, papan tulis dan sebagainya seperti
disebutkan dalam syarat-syarat khusus dan petunjuk direksi.
9.2 Juga harus disediakan gudang untuk penyimpanan material yang cukup dan
memenuhi syarat agar material maupun peralatan lain tidak menjadi lembab
atau karena sebab-sebab lain. Bila diperlukan tempat kerja dan tempat tersebut
terletak diluar daerah yang disediakan direksi, maka penyedia barang/jasa
harus menyelesaiakan ganti rugi atau biaya-biaya lain sehubungan hal tersebut
dan tidk diperkenankan meminta biaya-biaya tambahan.
P a s a l - 10
Penyediaan Tenaga, Peralatan, dan Lampu Penerangan
10.1 Tenaga yang diperlukan bagi pelaksanaan pekerjaan harus disediakan sendiri
oleh penyedia barang/jasa dengan jumlah dan kapasitas yang sesuai dengan
pekerjaan yang dilaksanakan, yaitu seorang tenaga teknis dengan pendidikan
minimal sarjana muda sipil dengan pengalaman lebih dari 5 tahun dan memiliki
SKA/SKT serta seorang tenaga administrasi dengan pendidikan minimal SLTA
dengan pengalaman kerja lebih dari 5 tahun. dan harus disetujui oleh direksi.
10.2 Penyedia barang/jasa harus mengajukan daftar peralatan secara terperinci
yang akan digunakan untuk melaksanakan pekerjaan. Daftar tersebut harus
disetujui direksi. Kerusakan yang timbul pada sebagian atau keseluruhan alat-
alat tersebut yang akan mengganggu pelaksanaan pekerjaan harus segera
diperbaiki atau diganti sehingga direksi menganggap pekerjaan dapat
dimulai/dilanjutkan yaitu Memiliki :
5 Unit Excavator
1 Unit Vibrator Roller
1 Unit Motor Grader
1 Unit Water tank
5 Unit Dump Truck
5 Unit Concrete Mixer
10.3 Penyedia barang/jasa harus mnyediakan lampu-lampu penerangan apabila
pekerjaan tersebut dilaksanakan pada waktu malam hari.
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
6
P a s a l - 11
Penyediaan Rambu-Rambu Lalu Lintas
11.1 Dimana yang dipandang perla, penyedia barang/jasa harus menyediakan
rambu-rambu untuk keperluan lalu lintas melewati jalan dan rambu tersebut
harus cukup jelas untuk menjamin keselamatan lalu lintas.
Apabila melalui jalan-jalan yang sibuk, maka penyedia barang/jasa harus
melaksanakan secara bertahap dan apabila perlu dikerjakan pada malam hari.
Biaya yang dikeluarkan akibat keperluan-keperluan tersebut diatas harus
menjadi tanggungan Penyedia barang/Jasa.
P a s a l - 12
Penyediaan Air
Air yang diperlukan harus disediakan oleh penyedia barang/jasa termasuk
penyediaan peralatan dan perpipaan antara ukuran dan gambarnya, maka segera
diminta petunjuk direksi untuk menetapkan ukuran yang benar.
P a s a l - 13
Peyediaan Material
13.1 Penyedia barang/jasa harus menyediakan sendiri material seperti yang
disebutkan dalam daftar volume pekerjaan. Material-material yang disediakan
oleh direksi atau pemberi perintah akan ditentukan tersendiri dalam syarat-
syarat khusus atau dalam rapat penjelasan.
13.2 Penyedia barang/jasa harus memeriksa terlebih dahulu meterial-meterial
tersebut dan harus bertanggung jawab atas pengangkutan sampai di lokasi
pekerjaan. Penyadia barang/jasa harus mengganti kalau material itu rusak
yang diakibatkan oleh cara pengangkutan yang salah, hilang atau
berkurangnya material yang diangkut kelalaian penyedia barang/jasa.
P a s a l - 14
Perlindungan Terhadap Cuaca
Penyedia barang/jasa harus mengusahakan atas tanggungannya sendiri, langkah-
langkah peralatan yang perlu untuk melindungi pekerjaan dan bahan-bahan yang
digunakan agar tidak rusak atau berkurangnya mutu karena pengaruh cuaca.
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
7
P a s a l - 15
Rencana Kerja
Penyedia barang/jasa harus menyiapkan status rencana kerja dan harus
disampaikan kepada direksi, rencana kerja tersebut harus mencakup :
15.1 Tanggal mulai, serta selesai pekerjaan konstruksi dan atau pemasangan
kegiatan pekerjaan termasuk pengujiannya.
15.2 Jam kerja bagi tenaga yang disediakan oleh penyedia barang/jasa
15.3 Jumlah dari tenaga yang dipakai pada setiap tahap pekerjaan dengan
disertai latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja.
15.4 Macam serta jumlah mesin-mesin serta alat-alat yag akan dipakai pada
pelaksanaan pekerjaan.
15.5 Cara pelaksanaan pekerjaan.
P a s a l - 16
Pemberitahuan Untuk Memulai Pekerjaan
Penyedia barang/jasa diharuskan untuk memberikan secara tertulis akan memulai
pekerjaan kepada direksi selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari setelah Surat Printah
Mulai Kerja (SPMK) diterbitkan. Dalam keadaan apapun tidak diperkenankan untuk
memulai pekerjaan yang sifatnya permanen tanpa terlebih dahulu mendapat
persetujuan direksi, pemberitahuan lengkap dan jelas harus terlebih dahulu
disampaikan kepada direksi dan dalam jangka waktu yang cukup sebelum
dimulainya pekerjaan tersebut.
P a s a l - 17
SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN
1. PEKERJAAN TANAH
1.1 Umum
a). Pekerjaan tanah meliputi pekerjaan yang berhubungan
dengan pengupasan dan penimbunan atau pembuangan
tanah, batu-batu atau material lain dari atau ke tempat
proyek, atau pembongkaran dan pembersihan bekas-
bekas saluran air, selokan parit dan pembuangan bekas-
bekas tanah longsor dan yang berhubungan dengan
pekerjaan yang dilaksanakan sesuai dengan spesifikasi,
menurut gambar pelaksanaan atau petunjuk direksi.
b). Pada lokasi yang akan diurug, pemborong harus melakukan
stripping terlebih dahulu, sehingga mendapatkan permukaan
tanah asli yang bebas dari segala bentuk kotoran, humus, akar-
akar atau sisa-sisa material lain yang dapat membusuk.
c). Bila yang akan didirikan bangunan kontraktor harus
melakukan pengupasan, ketebalan pengupasan ini minimum
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
8
30 cm dari permukaan tanah asli untuk tanah
yang cukup baik tetap memperhatikan syarat-syarat
tersebut diatas. Tanah bekas stripping ini harus
dibuang/disingkirkan sesuai dengan petunjuk direksi.
d). Untuk semua pekerjaan urugan yang tidak memakai pasir urug,
harus menggunakan tanah yang baik dan bersih dari
tanaman, akar-akaran, brangkal-brangkal, puing- puing dan
segala macam kotoran lainnya.
e). Pekerjaan pengurugan terdiri dari pekerjaan mengurug tanah,
sesuai dengan syarat-syarat serta ketentuan-ketentuan pada
RKS ini dan gambar-gambar pelaksanaan yang disetujui direksi.
Gambar pelaksanaan menunjukkan antara lain gambar-
gambar profil melintang memanjang, kemiringan dan dimensi-
dimensi dengan jelas.
1.2 Sumber Penggunaan Material
a). Material untuk timbunan site/lokasi terdiri dari material-
material yang sesuai untuk keperluan itu dan disetujui oleh
direksi.
b). Apabila tanah untuk pengurugan harus diambil dari luar
site, maka tanah yang diambil harus dari satu sumber dan
harus dilakukan test laboratorium meliputi : compactor
(standar proctor) kandungan bahan-bahan organik, plastisitas
dan harus mendapat persetujuan direksi.
c). Material lebih atau material yang tidak dapat dipakai harus
dibuang sesuai dengan ketentuan yang telah dicantumkan
dalam RKS ini atau menurut petunjuk direksi. Material yang
ada dalam keadaan basah, dimana dalam keadaan kering
dapat dipakai harus dikeringkan lebih dahulu/sampai
mencapai kadar air optimum baru kemudian digunakan untuk
timbunan.
d). Material penimbunan dari tanah asli yang didatangkan dengan
memenuhi persyaratan material penimbunan jalan, standar
Bina Marga antara lain :
- Bukan termasuk tanah lempung (clay)
- Memenuhi persyaratan plastisitas
- Bersih dari bahan-bahan organik
- CBR rendaman laboratorium minimal 4%.
e). Kepadatan yang harus dicapai di lapangan
- CBR minimal 1-4 %
- Kepadatan lapangan 95% dari kepadatan standard
proctor laboratorium pada kadar air yang optimum.
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
9
f). Sebelum pekerjaan pengurugan dimulai, direksi dapat
memerintahkan untuk pemadatan permukaan yang telah
dibersihkan itu dengan kepadatan yang telah dicantumkan
dalam RKS ini.
1.3 Tanah Dasar dari Material yang Kurang Baik
Bila direksi menghendaki, pemborong harus menggali tanah yang
kurang baik mutunya sampai kedalaman yang dianggap cukup
oleh direksi sebelum pekerjaan konstruksi timbunan maupun
bangunan dimulai. Sebelum pekerjaan pengurugan dimulai,
direksi dapat memerintahkan untuk memadatkan permukaan
tanah yang telah dibersihkan itu dengan kepadatan yang
tercantum dalam RKS ini.
1.4 Penghamparan dan Pemadatan
a). Material untuk pengurugan didapat dari jenis yang telah
disetujui direksi akan dihamparkan berlapis-lapis dengan
ketebalan perlapis 20 cm lalu dipadatkan. Untuk pekerjaan
pemadatan ini, pemborong harus melaksanakan sedemikian
rupa, sehingga kepadatan yang direncanakan dapat
tercapai, dengan memperhatikan kadar air optimum dari
material timbunan tersebut.
b). Untuk melaksanakan hamparan, maka pemborong harus
melindungi dari curahan hujan, panas matahari yang
mengakibatkan perubahan kadar air optimum. Bila
hamparan ini kena hujan, maka pemborong harus mengupas
kembali hamparan tersebut.
c). Dalam pekerjaan penghamparan dan pemadatan ini
pemborong harus melaksanakannya dengan sistem
pentahapan atau pembagian lokasi per zone. Untuk itu
pemborong harus menyampaikan rencananya kepada
direksi untuk disetujui pelaksanaannya.
d). Pekerjaan Pemadatan "Fill"
- Pelaksanaan pemadatan dilakukan lapis demi lapis. Tiap
lapis tidak boleh lebih dari 30 cm tebal sebelum dipadatkan
atau 25 cm setelah dipadatkan.
- Pemadatan tanah dan pembentukan permukaan (shaping)
dilakukan dengan blade graders dan 3 wheel power roller
yang beratnya 8 ton sampai 10 ton, atau pneumatic
roller lainnya dengan mendapatkan persetujuan dari
perencanaan sebelum tanah harus dipadatkan dengan
sheep foot roller.
- Tanah yang dipadatkan harus mencapai 90% kepadatan
maksimum yang dapat dicapai pada keadaan kadar air
optimum yang ditentukan dengan modified AASTHO T-99.
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
10
- Selama pemadatan harus dikontrol terus kadar airnya,
sebelum pemadatan kadar air dari fill material harus
sama dengan kadar air optimum dari hasil test
compaction modified proctor dari contoh fill material.
- Apabila kadar air bahan timbunan/fill material lebih kecil dari
kadar air optimum, maka fill material harus diberi air sehingga
menyamai kadar optimum. Sebaliknya apabila kadar air
bahan timbunan/fill material lebih besar dari kadar air
optimum maka fill material harus dikeringkan terlebih dahulu
atau ditambah dengan bahan timbunan yang lebih kering.
- Apabila tanah yang dipadatkan telah mencapai nilai
100% compacted dari modified proctor (untuk lapisan sub
grade setebal 30 cm di bawah su base) tetapi tidak
mencapai nilai soaked CBR=4, maka tanah (sub grade)
tersebut harus diganti dengan fill material yang fill 100%
compacted mencapai nilai soaked CBR minimum = 5.
- Pemadatan harus dilakukan pada cuaca baik, bila hujan
dan terjadi penggenangan air maka pemadatan harus
dihentikan, diusahakan supaya air dapat mengalir
dengan membuat saluran-saluran drainase.
- Setiap lapisan dari daerah yang dipadatkan harus ditest
dengan field density test untuk mengetahui kepadatan
tanah yang dicapai serta moisture content. Dapat
dilakukan satu test untuk setiap 1500 m2 per lapis field
density test dengan cara sand cone.
- Apabila tanah yang telah dipadatkan tidak mencapai
1,6 ton/m3, maka tanah tersebut harus diganti dengan
tanah lain atau dicampur pasir, sehingga tanah tersebut
menjadi 1,6 ton/m3.
e). Pemadatan tanah pada daerah "Cut"
- Untuk daerah cut, maka tanah digaru/digali lagi
minimum sedalam 30 cm kemudian dipadatkan hingga
mencapai 100% compacted dari modified proctor. Syarat
pemadatan dengan daerah fill.
f). Khusus untuk pemadatan pada daerah jalan
- Kontraktor harus melakukan pemadatan daerah cut/fill
pada badan jalan sampai dengan peil permukaan sub
base.
- Harus selalu dihindarkan terjadinya genangan-genangan air
pada daerah badan jalan selama lapisan-lapisan konstruksi
jalan tersebut dikerjakan.
1.5 Percobaaan Pemadatan
a). Sebelum dimulai pekerjaan pemadatan yang
sesungguhnya, pemborong harus mengirimkan sampel tanah
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
11
urug yang akan dipakai, dan setelah disetujui direksi
kemudian diadakan test di laboratorium untuk mendapatkan
nilai kadar air optimum dan standar penggilasan dengan road
roller/walls yang akan digunakan.
b). Tujuan percobaan ini adalah untuk menentukan kadar air
optimum yang akan dipakai dan hubungan antara jumlah
penggilasan dengan kepadatan yang dapat dicapai
contoh material urugan tersebut.
c). Pemborong wajib melaksanakan field density test sesuai dengan
ASTM D 1556 (sand cone method) di lokasi pemadatan yang
dilaksanakan. Lokasi tempat test ini akan ditentukan oleh
direksi. Lapisan pemadatan berikutnya belum dapat
dilaksanakan sebelum field density test dilakukan. Semua biaya
laboratorium/test adalah tanggung jawab pemborong.
1.6 Kepadatan yang harus dicapai untuk konstruksi urugan
Kepadatan yang dicapai untuk konstruksi urugan adalah sebagai
berikut : Tiap lapisan tanah setinggi 20 cm harus dipadatkan
sampai 95% dari kepadatan (kering) maximum yang dipakai test ASTM
D 1556 (san cone method).
1.7 Kadar Air
a). Material urugan yang tidak mengandung air yang cukup
untuk dapat mencapai kepadatan yang dikehendaki, harus
ditambah air dengan alat penyemprot (sprinkler) dan dicampur
sampai kadar air lebih tinggi dari seharusnya, tidak boleh
dipadatkan sebelum cukup dikeringkan dan disetujui direksi
untuk dipakai. Cara-cara mengeringkan tanah basah tersebut
dapat dengan cara digelar/dihampar atau cara- cara lain
yang umum dipakai.
b). Test kadar air di lapangan dilakukan dengan alat pengetes
yang cepat dan disediakan oleh pemborong.
c). Pekerjaan pemadatan urugan tanah tadi harus dilaksanakan
pada kadar air optimum sesuai dengan sifat-sifat dan alat-alat
pemadat yang tersedia.
d). Pada pelaksanaan, pemborong harus mengambil langkah-
langkah yang diperlukan agar pada pekerjaan tersebut air
hujan dapat mengalir dengan lancar dan harus dipersiapkan
kemungkinan adanya pengerutan atau pengembangan.
1.8 Urugan Pasir
a). Urugan pasir harus disirami semua lantai atau plat dasar
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
12
dengan stemper hingga padat.
b). Urugan pasir dilakukan di bawah semua lantai atau plat dasar
dengan tebal urugan sesuai dengan gambar, termasuk
lantai rabat, sehingga diperoleh peil-peil yang dikehendaki.
c). Urugan pasir dilakukan juga pada bekas galian pondasi sebelah
dalam bangun dengan ketebalan sesuai dengan gambar
rencana, dan di bawah pondasi, pipa dan lain-lain sesuai
dengan gambar.
2. PASANGAN BATU KALI
2.1 Lingkup Pekerjaan :
Bagian pekerjaan ini meliputi pasangan anstamping batu kosong dan
pondasi batu kali untuk landasan sloof, pasangan batu kali sebagaimana
dinyatakan dalam gambar kerja.
2.2 Material :
a. Batu kali yang dipakai harus dari jenis yang keras, tidak keropos, serta
mempunyai gradasi baik dengan diameter maksimum 25 cm.
b. Adukan yang dipakai terdiri dari campuran 1 PC : 4 Pasir dan 1 PC : 2 Pasir
c. Baik batu kali, pasir maupun air adukan yang dipakai pada pekerjaan ini
harus bersih dari lumpur dan kotoran-kotoran lainnya.
d. Kontraktor tidak dibenarkan menggunakan jenis batu lain kecuali atas izin
Direksi.
2.3 Pelaksanaan :
a. Pekerjaan pasangan batu kali dilaksanakan sesuai dengan ukuran dan
bentuk yang ditunjukan dalam gambar kerja.
b. Antar satu batu kali dengan batu kali lainnya tidak boleh saling
bersentuhan, tetapi diantaranya diberi spesi 1Pc : 5 Psr sampai penuh
sebagai perekat sambil ditekan agar padat.
3. PASANGAN BATU BATA
3.1 Lingkup Pekerjaan :
Bagian pekerjaan ini meliputi penyediaan bahan, pemasangan untuk semua
pasangan bata seperti yang tertera pada gambar, pelaksanaan
pemasangan harus benar-benar mengikuti garis-garis ketinggian, siku dan
bentuk-bentuk yang terlihat pada gambar dan disebutkan dalam spesifikasi
ini.
3.2 Referensi :
Persyaratan-persyaratan standar mengenai pekerjaan ini tertera pada PUBI N-
3 1970 dan N-10 1973 dan SNI 1728-1989; SKBI 1.3.53.1989, tentang Tata Cara
Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung.
3.3 Material :
a. Batu bata yang digunakan harus baru, dengan pembakaran yang cukup
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
13
sehingga masak, keras, kering dan tidak mudah patah. Jika diketuk
menimbulkan suara nyaring. Ukuran yang dianjurkan adalah 5 cm x 11 cm
x 23 cm dengan toleransi 0,5 cm.
b. Adukan yang digunakan untuk pasangan dinding biasa adalah campuran
1 PC : 4 Pasir. Untuk dinding kedap air pada KM/WC, ruang cuci dan 20 cm
diatas lantai seluruh dinding menggunakan spesi transram campuran 1 PC :
2 Pasir.
3.4 Pengerjaan dan Penyimpanan.
Bahan-bahan yang akan digunakan pada pekerjaan ini disimpan dengan
cara-cara yang disetujui Direksi, untuk menghindari dari segala hal yang
dapat mengakibatkan kerusakan pada bahan-bahan tersebut.
3.5 Contoh-contoh.
Contoh bahan yang diusulkan untuk dipakai harus diserahkan kepada Direksi
dan persetujuan atas bahan-bahan tersebut sudah ada sebelum bahan
yang dimaksud dipergunakan. Pengambilan contoh atas bahan yang telah
ada dilapangan akan diadakan sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan
Direksi guna keperluan pengujian.
3.6 Pelaksanaan :
a. Pasangan dinding batu bata umumnya adalah 1/2 batu, kecuali Direksi
memberikan petunjuk lain.
b. Pemasangan batu bata harus lurus dan tegak, lajur penaikannya diukur
tepat dengan tiang lot, kecuali bilamana tidak diperlihatkan dalam
gambar maka setiap lajur bata harus putus sambungan dengan lajur
dibawahnya. Selain itu pola ikatan pasangan harus terjaga baik diseluruh
pekerjaan.
c. Pada jarak-jarak tertentu atau luasan maksimum 10 M2 pasangan batu
bata perlu diperkuat dengan kolom praktis (beton bertulang), dengan
dimensi, penulangan dan penempatan sesuai gambar.
d. Segera setelah pasangan batu bata selesai, siar-siarnya dikeruk sedalam 1
cm agar plesteran dapat melekat dengan baik.
e. Sebelum bata dipasang hendaknya direndam dalam air sampai jenuh,
dan pemasangannya harus rapi sesuai dengan syarat pekerjaan yang
baik. Batu bata potongan tidak boleh dipakai/dipasang, terkecuali pada
pertemuan-pertemuan dengan kosen/kolom.
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
14
4. PEKERJAAN BETON
4.1 Umum
Pekerjaan beton harus dilaksanakan sesuai dengan
persyaratan-persyaratan yang tercantum di dalam Peraturan
Beton Inonesia (PBI NI-2 1971). Pemborong harus melaksnakan
pekerjaannya dengan ketepatan dan ketelitian yang tinggi
menurut spesifikasi gambar kerja dan instruksi-instruksi dari direksi
pelaksnaan. Direksi pelaksanaan berhak untuk
memeriksa/mengawasi setiap pekerjaan yang dilakukan oleh
pemborong. Direksi pelaksanaan berhak untuk melakukan
pemeriksaan, dan setiap kegagalan direksi pelaksanaan tidak
membebaskan pemborong dari tanggungjawabnya. Semua
pekerjaan-pekerjaan yang jelek atau tidak memenuhi uraian dan
syarat-syarat peleksanaan (spesifikasi) harus dibongkar dan diganti
dari yang ditentukan (contoh) dan harus disetujui direksi
pelaksanaan sebelum dipakai. Direksi pelaksanaan akan
menyimpan contoh-contoh yang telah disetujui sebagai standar
untuk memeriksa selanjutnya. Semua material yang tidak disetujui
direksi harus segera dikeluarkan dari tempat pekerjaan atas biaya
pemborong.
4.2 Material
Semua material harus mempunyai kualitas yang terbaik dan
memenuhi syarat PBI 1971. Pemborong harus menyediakan contoh
dari material-material yang akan digunakan untuk menghasilkan
beton, untuk dimintakan persetujuan dari direksi, dan tidak
boleh memesan/mengirim dahulu sebelum persetujuan diberikan.
Direksi akan menyimpan contoh-contoh yang telah disetujui
sebagai standar, dengan maksud untuk memeriksa/mencocokkan
pengiriman-pengiriman selanjutnya. Pemborong tidak diizinkan
mengirimkan material-material dengan perbedaan yang besar dari
standar sampel tanpa persetujuan dari direksi. Semua material
yang ditolak oleh direksi harus segera dikeluarkan dari tempat
pekerjaan atas biaya pemborong.
4.3 Semen
a). Semen yang digunakan adalah jenis Portland Cement type I
yang memenuhi syarat- syarat yang ditentukan dalam N.I.8
1972 dan Standard Industri Indonesia (SII 0013-
81). Semen harus diperoleh dari satu pabrik yang telah
disetujui direksi dan dikirimkan ke tempat pekerjaan dengan
kantong tersegel dan utuh. Bila karena sesuatu hal
terpaksa menggunakan semen dari pabrik lain, harus
mendapat persetujuan terlebih dahulu dari direksi, merk
semen tersebut setarap dengan Tiga Roda.
b). Bila direksi menganggap perlu pemborong harus mengirimkan
surat pernyataan dari pabrik yang menyetakan tipe, kualitas
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
15
dari semen beserta manufacture's test certificate yang
menyatakan memenuhi semua syarat-syarat yang ditentukan
N.I.8. Semen yang menggumpal, sweeping atau kantong
yang robek/rusak ditolak untuk disegel.
c). Semen harus disimpan dalam gudang/silo dengan ventilasi
yang cukup dan tidak bocor, serta diletakkan di atas lantai
yang ditinggikan minimal 30 cm dari tanah. Kantong-kantong
semen tidak diperbolehkan ditumpuk/ditimbun melebihi 2
(dua) meter dan setiap pengiriman diberi tanda pengenal
sehingga dapat dipakai sesuai dengan tanggal pengiriman.
d). Pemborong harus mengirimkan laporan dari pengujian-pengujian
semen di laboratorium kepada direksi secara rutin. Laboratorium
yang ditunjuk untuk pengetesan tersebut, terlebih dahulu harus
disetujui direksi.
4.4 Agregat Halus (Pasir)
a). Agregat halus untuk pekerjaan beton yang akan dipakai pada
proyek ini harus sesuai dengan persyaratan pada PBI atau ASTM.
b). Klasifikasi dan gradasi agregat halus sebagai berikut :
Ukuran Ayakan
(US Standard Sieve)
Lolos (%)
No. 4 100 %
No. 8 92 – 100%
No. 16 65 – 85%
No. 30 35 – 55%
No. 50 15 – 30%
No. 100 0 – 12%
No. 200 %
c). Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5%
(ditentukan terhadap kering), dan yang diartikan dengan
lumpur adalah bagian-bagian yang dapat melalui ayakan 0,063
mm atau ayakan No. 200 bila test sesuai dengan ASTM C 117.
d). Agregat halus harus bersih dan bebas dari segala macam
kotoran baik dalam organis lumpur, tanah, karang, garam dan
sebagainya. pasir laut sama sekali tidak boleh dipergunakan.
e). Pemborong harus mengajukan contoh agregat halus yang
akan dipergunakan untuk mendapatkan persetujuan direksi.
Test-test yang harus dilakukan terhadap contoh di atas berupa :
- test gradasi sesuai dengan ASTM C 136
- test abrou-holder (larutan NaOH)
- test-test lainnya bila memang dianggap perlu olehdireksi
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
16
f). Bahan agregat halu harus disimpan di tempat bersih, keras
permukaannya dan dicegah supaya tidak terjadi pengotoran
dan pencampuran satu sama lain.
g). Persyaratan-pesyaratan agregat halus di atas dari ayat a
s/d f berlaku juga untuk beton ready mix.
4.5 Agregat Kasar (Kerikil atau Koral)
a). Agregat kasar untuk pekerjaan beton yang akan dipakai pada
proyek ini harus sesuai dengan persyaratan pada PBI 1971 atau
ASTM.
b). Klasifikasi dan gradasi agregat kasar sebagai berikut :
Agregat kasar type A1 : (besar)
Ukuran Ayakan
(US Standard Sieve)
Lolos (%)
1 Inch 100 %
¾ Inch 90 - 98%
½ Inch 30 - 45%
3/8 Inch 0 - 10%
No. 4 0 - 5%
Agregat kasar type A2 : (medium)
Ukuran Ayakan
(US Standard Sieve)
Lolos (%)
½ Inch 100 %
3/8 Inch 90 - 98%
No. 4 30 - 45%
No. 8 0 - 10%
%
c). Agregat tersebut tidak mengandung lumpur melebihi dari 1%
(ditentukan terhadap berat kering). yang diartikan dengan
lumpur adalah bagian-bagian yang dapat lolos melalui ayakan
0,063 mm atau ayakan no. 200 bila ditest sesuai dengan ASTM C
117. Apabila kadar lumpur melampaui 1% maka agregat kasar
harus dicuci.
d). Agregat kasar harus terdiri dari butiran-butiran yang keras
dan tidak berpasir. Agregat kasar yang mengandung butir-butir
pipih hanya dapat dipakai bila butir-butir pipih tersebut tidak
melampaui 20% dari berat agregat seluruhnya.
Yang dimaksud butir agregat pipih adalah perbandingan antara
lebar dengan tebalnya lebih besar dari pada 3 (tiga). Butir-butir
agregat kasar harus bersifat kekal, artinya tidak pecah atau
hancur oleh pengaruh-pengaruh cuaca, seperti terik matahari
dan hujan.
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
17
e). Pemborong harus mengajukan contoh agregat kasar yang
akan dipergunakan untuk dapat persejutuan direksi. Test-test
yang harus dilakukan terhadap contoh di atas berupa :
- test dengan mesin sesuai dengan ASTM C 131 Resistance to
abrasion of small size coarse
- test gradasi sesuai dengan ASTM A 136
- test gradasi untuk kadar lumpur sesuai dengan ASTM C 117
- test-test lainnya bila dianggap perlu dan semuanya
menjadi tanggungjawab pemborong
f). Agregat tersebut harus disimpan di tempat yang saling
terpisahkan di permukaan tanah yang bersih, padat serta
kering dan harus dicegah terhadap pengotoran dan
pencampuran
g). Persyaratan-persyaratan agregat kasar di atas dari ayat a
s/d g berlaku juga untuk beton ready mix.
4.6 Baja Tulangan
a). Bahan
Baja tulangan yang dipakai adalah minimal harus sesuai
dengan PBI-1971. Mutu, ukuran dan jenis tersebut di atas
adalah sebagai berikut :
Diameter Jenis
Batang
Mutu □ Au (0,2)
Lebih kecil atau sama
dengan (<) 12 mm
Polos U.24 2.400
kg/cm2
Lebih besar atau sama
dengan (>) 12 mm
Profil U.39 3.900
kg/cm2
Keterangan :
□ Au = tegangan lelah karakteristik
0,2 = tegangan karakteristik yang memberikan tegangan
tetap 0,2%
Baja tulangan yang dipakai adalah setaraf produksi Krakatau
Steel.
Kawat beton : Kawat pengikat baja tulangan harus terbuat
dari baja lunak dengan diameter minimal 1 mm yang telah
dipijarkan terlebih dahulu, dan tidak bersepuh seng.
b). Penggantian diameter
- Penggantian dengan diameter lain, hanya diperkenankan
atas persetujuan tertulis dari direksi.
- Bila penggantian disetujui maka luas penampang yang
diperlukan tidak boleh kurang dari yang tercantum dalam
gambar atau perhitungan.
- Biaya yang diakibatkan oleh penggantian tulangan
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
18
terhadap yang ada gambar sejauh bukan kesalahan
gambar adalah tanggungan pemborong.
c). Pelaksanaan
- Baja dan kawat seperti dimaksud di atas harus bebas dari
kotoran-kotoran, karat, cat, kulit giling serta bahan lain
yang akan mengurangi daya lekat terhadap beton.
- Membengkok akan meluruskan baja tulangan harus
dilakukan dalam keadaan dingin serta dipotong dan
dibengkokkan sesuai dengan gambar.
- Semua tulangan harus dipasang dengan posisi yang tepat
sehingga tidak berubah tempat atau bergeser sebelum
dan selama pengecoran. Selimut tulangan minimum 3
cm.
- Sambungan dan panjang lawatan baja tulangan harus
sesuai buku pedoman perencanaan untuk struktur beton
bertulang biasa dan struktur tembok bertulang untuk gedung
1983.
- Baja tulangan yang tidak memenuhi syarat harus segera
dikeluarkan dari lapangan dalam waktu 24 jam setelah ada
perintah tertulis dari direksi.
- Penyambungan tulangan dengan diameter lebih besar atau
sama dengan 20 mm baik untuk kolom maupun balok,
setiap panjang 6 m selang seling dilakukan sesuai dengan
buku pedoman perencanaan untuk struktur tembok
bertulang untuk gedung 1983.
d). Penyimpanan
Penyimpanan besi beton dimaksudkan untuk mencegah
terjadinya karat, dengan cara meletakkannya di atas papan
atau balok kayu sehingga tidak langsung di atas tanah, untuk
penyimpanan waktu lama maka besi beton harus disimpan di
bawah atap.
e). Test dan sertifikat
- Untuk mendapatkan jaminan atas kualitas atau mutu baja
tulangan sesuai dengan RKS ini, maka pada saat pemesanan
baja tulangan pemborong harus menyerahkan sertifikat resmi
dari laboratorium.
- Setiap jumlah pengiriman 20 ton baja tulangan harus
diadakan test periodic minimal 3 contoh untuk setiap
diameter batang baja tulangan. Pengambilan contoh
baja tulangan akan ditentukan oleh direksi.
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
19
- Semua pengetesan tersebut di atas, harus dilakukan di
laboratorium Lembar Uji Konstruksi BPPT (LUK BPPT) Serpong
atau Laboratorium lainnya yang direkomendasi oleh direksi
dan minimal sesuai dengan standar/peralatan lain yang
setaraf.
- Semua biaya pengetesan tersebut ditanggung oleh
pemborong.
4.7 Pekerjaan Pengisi Dilatasi (Bila Diperlukan)
Bahan untuk pengisisan dilatasi dipergunakan bahan setaraf
sikaflexla atau feabseal 2 part dengan spesifikasi teknis sebagai
berikut :
- Bahan untuk pengisian delatasi (joint delatation)
Warna : Abu-abu
Elastisitas: Permanen
Kekerasan: Shore A durometer 28 kurang lebih 5 Sifat perekatan
pada beton tetap baik dalam jarak suhu 20 sampai 60 derajat
celcius. Tahan terhadap asam, alkali, lemak dan bahan yang
berasal dari Hydrocarbon.
Memenuhi standar : DIN 18540 BS 4252 : 1967, BS 5 : 1980 JIS A 5757
- Setelah plat lantai beton maupun plat atap menjadi kering,
maka lobang delatasi segera dibersihkan dari segala macam
kotoran
- Pasang back up material (stirr up foam)
- Pasang masking tape pada sisi beton
- Priming dengan sika primer
- Selanjutnya bahan delatasi ini dimasukkan ke dalam lubang
tersebut dengan mengikuti petunjuk dari pabriknya
- Disarankan agar pemasangan dikerjakan oleh licenced
applicator.
4.8 Bahan Campuran Tambahan
a). Penggunaan bahan campuran beton hanya seizin direksi dan
harus sesuai dengan pasal 3.8 bab 2 PBI 1971 dan ASTM C 494
Chemical Admixtures for Concrete.
b). Bahan campuran beton yang dipakai hanya type A dan D dan
sesuai ASTM C 494.
4.9 Air
Air untuk pembuatan dan perawatan beton tidak boleh
mengandung minyak, asam, alkali, garam-garam, bahan-bahan
organis dan bahan-bahan lain yang merusak beton atau baja
tulangan. Dalam hal ini sebaiknya dipakai air bersih yang dapat
diminum.
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
20
4.10 Mutu Beton
Mutu beton yang dipergunakan adalah :
Kolom : f’c 26,4 Mpa dan f’c 19,3 Mpa
Pelat Lantai/Slab : f’c 26,4 Mpa dan f’c 19,3 Mpa
Pelat Dinding/Wall : f’c 26,4 Mpa dan f’c 19,3 Mpa
Untuk menjamin kestabilan mutu beton, dianjurkan memakai
beton ready mixed.
4.11Rencana Campuran Beton (Concrete Mix Design)
a). Lima minggu sebelum pekerjaan pengecoran beton
dimulai, pemborong harus membuat design procedure dan
prelimary test atas biaya sendiri untuk mendapatkan mutu
seperti yang disyaratkan. campuran harus menggunakan
perbandingan berat antara semen, pasir, kerikil, dan air.
b). Perencanaan campuran hendaknya mengikuti persyaratan PBI
ayat 4.6. dan dievaluasi kekuatan karakteristiknya menurut ayat
4.5.
c). Bilamana karena sesuatu hal sumber atau kualitas dari
semen dan/atau agregat diganti, maka harus dicari lagi
campuran yang baru sehingga tetap memenuhi syarat, sesuai
ayat-ayat di atas. Jumlah semen yang dipakai 340 kg per m3
beton, dan pada pondasi, pipa caps dan luifel atap jumlah
minimum tersebut adalah 375 kg/m3 beton.
d). Dalam hal dipakai beton beton ready mix, maka semua syarat-
syarat dalam standard spesification for ready mixed
concrete AASHTO designation H. 157-74 harus dipenuhi.
4.12 Pengujian Beton dan Peralatannya
a). Pemborong harus menyediakan alat-alat yang diperlukan
dan tempat untuk melakukan percobaan berikut :
- Slump test
- Test specimens
- Cetakan-cetakan baja untuk membuat kubus-kubus beton
- Test kadar lumpur
Pemborong juga menyediakan peralatan untuk
menentukan moisture content dari agregat halus,
timbangan dan alat lain. Alat yang perlu untuk melakukan
percobaan- percobaan berikut.
b). Pengujian slump dilakukan segera setelah beton keluar dari
mixer minimum 5 cm dan maksimum 10 cm untuk campuran
koral beton dan maksimum 12 cm untuk campuran dengan
crushed stones.
c). Atas biaya sendiri pemborong harus membuat, merawat dan
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
21
mengangkut semua test specimens ke laboratorium yang
ditentukan/disetujui oleh direksi pelaksanan untuk dilakukan
compresion test pada 7 hari, 14 hari, dan 28 hari.
d). Setiap kubus test harus bersih dan ditandai secara tetap
dengan nomor kode dan hari pembuatan, bersama-sama
dengan tanda dari bagian pekerjaan mana sample
diambil. Sistem dari pengukuran dan penandaan dari kubus
akan ditentukan oleh direksi pelaksanaan.
e). Pemborong harus memberikan material untuk pembuatan
sample, dari semua test yang diperlukan pada bagian ini
dalam spesifikasi. Kontraktor harus menyampaikan semua hasil
test tersebut kepada direksi secara rutin. Segala hal
biaya yang menyangkut pengetesan tersebut adalah biaya
kontraktor.
4.13 Beton Bertulang
4.13.1 Kekuatan dan Penggunaan Beton
a). Beton struktural
Meliputi beton konstruksi plat atas, dinding dan plat
dasar. Untuk mencapai mutu K.225, Pemborong wajib
membuat adukan sesuai dengan proporsi trial mix
yang disetujui.
b). Beton non struktural
- Beton dengan adukan 1 pc + 3 ps + 5 krl meliputi
beton lantai kerja, tebal 5 cm, tidak dicor ke dalam
cetakan.
- Beton dengan adukan 1 pc + 3 ps + 5 krl meliputi
rabat beton, sesuai dengan gambar kerja.
- Beton dengan adukan 1 pc + 3 ps + 5 krl meliputi
kolom atau beton bertulang yang mempunyai
ukuran maksimal 15 cm, kanstin, neut kaki kusen
kayu, pengisi lubang angker dan sudut-sudut beton
dan lain-lain.
- Beton mortal dengan adukan 1 pc + 2 ps + 5 krl
K adalah tegangan tekan hancur karakteristik
untuk kubus beton 15 x 15 x 15 cm pada usia 28
hari. Evaluasi penentuan karakteristik ini digunakan
ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam PBI
1971.
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
22
4.13.2 Campuran Tambahan
Selain bahan seperti sudah ditentukan pada ayat 3.6.7. RKS
ini, bahan campuran lainnya yang digunakan hanya jika
disetujui oleh direksi secara khusus dan tertulis.
4.13.3 Pengadukan
Semua pengadukan beton harus dilakukan dengan mesin
pengaduk yang berkapasitas tidak kurang dari 600 liter dan
dilengkapi dengan alat timbangan berat.
a. Bahan
- Untuk penyelesaian beton exposed harus dibuat dari
plywood dengan tebal 12 mm dan dapat dipakai
untuk 2 kali pengecoran beton. Plywood ini diberi
perkuatan kaso 5/7 untuk menjaga kestabilan dari
bekisting tersebut.
- Lain-lain jenis tersebut diatas harus dengan
persetujuan direksi.
- Untuk acuan beton yang tertutup finishing harus
dibuat dari kayu klas II tebal sesuai kebutuhan dan
dapat dipakai untuk 2 kali pengecoran beton,
acuan ini diberi penguat kaso 5/7 untuk menjaga
kestabilan dari bekisting tersebut.
- Untuk perkerasan bekisting (acuan) tersebut,
apabila diperlukan direksi dapat meminta
kontraktor menghitungnya dan kemudian disetujui
direksi.
b. Konstruksi
- Bekisting-bekisting tidak boleh bocor dan cukup kaku
mencegah pergeseran atau
perubahan/kelongsoran penyangga. Permukaan
bekisting halus halus dan rata, tidak boleh
melendut atau cekung. Sambungan-sambungan
bekisting harus diusahakan agar lurus dan rata dalam
arah horisontal dan vertikal.
- Tiang penyangga anti lendutan (cambres) harus
dibuat sebaik mungkin dan mampu menunjang
seperti yang dibutuhkan, tanpa adanya
kerusakan atau overstress ataupun pergeseran
tempat pada bagian konstruksi yang dibebani.
- Struktur dari tiang-tiang penyangga harus
ditempatkan pada posisi sedemikian rupa,
sehingga konstruksi ini benar-benar kuat dan kaku
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
23
untuk menunjang berat sendiri dan beban-beban
yang berada di atasnya selama pelaksanaan.
- Kecuali detail-detail yang berlainan pada gambar,
bekisting untuk semua balok dan pelat lantai
dilaksanakan dengan mengikuti anti lendut ke
atas sebagai berikut:
- Semua balok atau/dan pelat lantai 0,2% lebar
bentang pada tengah-tengah bentang. Semua
balok cantilever dan pelat lantai 0,4% dari bentang,
dihitung dari ujung bebas.
c. Baut
Baut-baut tie rod yang diperlukan untuk ikatan-
ikatan dalam beton harus diatur sedemikian rupa
sehingga bila bekisting dibongkar kembali, maka
semua besi tulangan akan berada 4 cm dari
permukaan beton. Kawat pengikat tidak diizinkan
pada beton exposed yang akan berhubungan langsung
dengan keadaan alam, dimana dapat menimbulkan
warna yang tidak merata. Semua bekisting harus
dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menggunakan
paku tanpa merusak beton.
d. Pembersihan
Semua bekisting harus dibersihkan sebelum
dipergunnakan. Pekerjaan harus dilakukan
sedemikian rupa sehingga tidak akan terjadi
kemungkinan adanya beton yang keropos dan lain-lain
kerusakan/cacat pada beton. Segera sebelum beton
dicor pada beberapa bagian dari bekisting, bagian
dalam dari bagian itu harus dibersihkan dari semua
material lain, termasuk air. Tiap-tiap bagian dari
bekisting, bagian-bagian yang struktural harus diperiksa
oleh direksi pelaksanaan segera sebelum beton dicor
di bagian itu. Khusus untuk acuan kolom dan dinding
beton atau balok-balok tinggi, pada tepi bawahnya
harus dibuat bukaan atau dua sisinya untuk
mengeluarkan kotoran yang mungkin terdapat pada
dasar kolom/dinding tersebut. Bukaan ini boleh ditutup
setelah diperiksa dan disetujui oleh direksi pelaksanaan.
e. Pelapisan (coating)
Sebelum pemasangan besi beton bertulang bekisting
yang dipergunakan untuk beton yang tidak diplester lagi
(exposed concrete) harus dilapisi dengan minyak yang
tidak meninggalkan bekas pada beton. Bekisting untuk
beton biasa (yang perlu diplester lagi permukaannya)
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
24
harus dibasahi air dengan seksama sebagai
pengganti minyak sebelum beton dicor.
f. Pembongkaran
Bangunan tidak boleh mengalami perubahan bentuk,
kerusakan atau pembebanan yang melebihi beban
dengan rencana pembongkaran bekisting pada
beton. Pertanggungjawaban atas keselamatan
pada waktu pembongkaran tiap bagian bekisting
atau penyangga berada dipihak pemborong.
g. Waktu minimum untuk pembongkaran bekisting.
Waktu minimum dari saat selesainya pengecoran beton
sampai dengan pembongkaran bekisting dari bagian-
bagian struktur ditentukan dari percobaan kubus
benda uji yang memberikan kuat desak minimum
sebagai berikut :
Bagian Struktur Waktu Minimum
Pembongkaran Bekisting
(Hari)
Sisi balok dan dinding 1
Penyanggah plat lantai 21
Penyanggah balok 21
4.14 Pembuatan Beton dan Peralatannya
a. Pemborong bertanggungjawab seluruhnya atas pembuatan
campuran beton yang baik/unform dan memenuhi syarat-
syarat yang ditentukan. Untuk memenuhi syarat- syarat ini,
pemborong atas biaya sendiri harus menyediakan dan
menggunakan, mesin pencampur beton (beton molen) yang
baik, volumetric system untuk mengukur air dengan tepat yang
disetujui direksi.
b. Pengaturan untuk pengangkutan, penimbangan dan
pencampuran material-material harus dengan persetujuan
direksi.
c. Mencampur beton dengan tidak menggunakan perbandingan
berat (timbangan), tidak diperbolehkan.
d. Mixer harus betul-betul kosong sebelum
menampung/menerima material untuk adukan selanjutnya,
harus dibersihkan dan dicuci bila mixer tidak dipakai lebih lama
dari 30 menit dan pada setiap akhir pekerjaan. Mixer juga
harus dibersihkan dan dikosongkan lebih dulu, bila beton yang
akan dibuat berbeda mutunya.
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
25
e. Pencampuran kembali dari beton yang sebagian sudah
terjatuh/mengeras tidak diizinkan. Demikian juga
penambahan air pada adukan beton yang sudah jadi (dari
hasil mixer) dengan tujuan memudahkan pengerjaan dan
sebagainya tidak diizinkan.
4.15 Penolakan Pekerjaan Beton
a. Direksi berhak menolak pekerjaan yang tidak memenuhi
syarat. Pemborong harus mengganti atau
memperbaiki/membongkar pekerjan beton yang tidak
memenuhi syarat, atas biaya sendiri, sesuai dengan instruksi
yang diberikan oleh direksi pelaksanaan.
b. Percobaan compressive strength dari pengujian kubus harus
memenuhi syarat sebagai berikut :
- Sr adalah deviasi standard rencana.
- Tidak boleh lebih dari 1 (satu) nilai diantara 20 nilai hasil
pemeriksaan benda uji berturut-turut, terjadi kurang dari '
bk.
- Tidak boleh satupun rata-rata dari 4 hasil pemeriksaan
benda uji berturut-turut, terjadi kurang dari ( ' bk + 0,82 Sr).
- Selisih antara nilai tertinggi dan terendah diantara 4
(empat) hasil pemeriksaan benda uji berturut-turut tidak
boleh lebih besar dari 4,3 Sr.
- Dalam segala hal, hasil pemeriksaan 20 benda uji berturut-
turut harus memenuhi ( ' bk = ' bm - 1,64 Sr).
c. Bila compressive strength test dari kelompok kubus test gagal
memenuhi syarat di atas, maka direksi pelaksanaan akan
menolak semua pekerjaan-pekerjaan beton dari kubus-kubus
tersebut diambil.
4.16 Pengangkutan dan Pengecoran Beton
a. Pengecoran beton tidak boleh dimulai sebelum direksi
memeriksa dan menyetujui cetakan, bekisting (formwork),
tulangan, angker-angker dan lain-lain, dimana beton akan
dituangkan/dicor. Tempat dimana beton akan dituangkan
harus bebas dari segala macam kotoran, puing-puing,
potongan-potongan, kayu, air dan sebagainya.
b. Air (genangan) harus dibuang dari tempat/ruangan yang akan
diisi/dicor beton. Air yang mengalir ke dalam galian harus
dikontrol/dibuang dengan cara yang disetujui direksi
pelaksanaan.
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
26
c. Isi dari mixer yang dikeluarkan pada suatu operasi continous
harus diangkut tanpa menimbulkan degradasi. Beton harus
diangkut dalam gerobak yang bersih dan kedap air. Metoda
yang digunakan harus disetujui direksi pelaksanaan, setelah
pemborong mengajukan proposal/usulan cara-cara
pengangkutan.
d. Alat-alat dan tempat yang digunakan untuk pengangkutan
beton harus diberikan dan dicuci bila pekerjaan terhenti lebih
lama dari 30 menit dan pada setiap akhir pekerjaan.
Semua campuran beton di tempat pekerjaan harus
diletakkan/dicor dan dipadatkan pada tempatnya dalam
waktu 40 menit setelah penuangan air ke dalam mixer.
e. Beton pada umumnya tidak boleh dijatuhkan
bebas/dituangkan dari ketinggian lebih besar dari 1,5 m.
pengecoran harus dilaksanakan dengan menghindari
timbulnya degradasi dan menjamin suatu pengecoran
yang tidak terputus. Beton harus diletakkan dalam lapisan
tidak lebih dari 60 cm tebalnya dan dipadatkan sesuai
ketentuan di bawah ini tanpa timbulnya
degradasi/pemisahan. pengecoran dari satu unit atau
bagian dari pekerjaan harus dilaksanakan dengan satu
operasi yang continous atau sampai construction joint
tercapai.
f. Beton, acuan atau penulangan tidak boleh diganggu selama
minimal 24 jam setelah pengecoran, kecuali dengan izin direksi
pelaksanaan. Semua pengecoran harus dilaksanakan di siang
hari dan pengecoran beton dari suatu bagian pekerjaan
jangan dimulai apabila tidak dapat diselesaikan pada siang
hari, kecuali atas izin Direksi Pelaksanaan boleh dikerjakan
pada malam hari. Izin ini tidak boleh diberikan, bila sistem
penerangan yang dipersiapkan Pemborong belum
disetujui Direksi Pelaksanaan.
g. Dalam hal dinding, kolom beton atau bagian-bagian yang
dianggap tinggi, tidak boleh dicor dari atas, tetapi harus dari
samping melalui satu bukaan pada ketinggian yang disetujui.
Saluran curah untuk pengecoran tidak boleh
dipergunakan, kecuali jaraknya dekat dan hanya dengan
persetujuan direksi pelaksanaan. Bila hal ini disetujui direksi
pelaksanaan, maka saluran itu harus dibuat dari logam (metal)
atau bahan dihaluskan, agar dapat mengalirkan adukan
beton dengan lancar, sedangkan kemiringan saluran/talang
tersebut tidak lebih curam dari perbandingan 1 (satu) tegak
dan 2 (dua) mendatar.
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
27
h. Siar pelaksanaan harus ditempatkan sedemikian sehingga
tidak banyak mengurangi kekuatan konstruksi. Bila siar-siar
pelaksanaan tidak ditunjukkan dalam gambar-
gambar rencana, maka tempat-tempatnya harus disetuji oleh
direksi.
i. Penyimpanan tempat siar daripada yang dinyatakan dalam
gambar harus disetujui direksi.
j. Penempatan air (penyambungan pengecoran) pada
dinding yang berfungsi
menampung air, harus dipasang water stop dari type yang
terlebih dahulu disetuji direksi.
4.17 Pemadatan Beton
a. Beton harus dipadatkan keseluruhan dengan mechanical
vibrator yang dikerjakan oleh orang-orang yang
berpengalaman dan telah mendapatkan trainning untuk
pekerjaan tersebut. Pekerjaan beton yang telah selesai harus
merupakan suatu massa yang bebas dari lubang-lubang
degradasi atau kropos-kropos (honey combing).
b. Vibrator yang dipakai harus dari type rotary out of balance
dengan frekuensi tidak kurang dari 6.000 cycles per menit. harus
diperhatikan agar pemadatan/ penggetaran semua bagian
beton tidak menyebabkan degradasi dari material-material
akibat over vibration. Vibration tidak boleh dipergunakan pada
tulang-tulang, terutama tulang- tulangan yang telah masuk
pada beton yang mulai mengeras.
c. Banyaknya vibrator yang dipergunakan harus disesuaikan
dengan volume dan kecepatan pengecoran.
Pemborongan juga harus menyediakan paling sedikit 1
vibrator tambahan/cadangan untuk mengganti yang rusak
pada waktu yang sedang dipakai.
4.18 Perlindungan Terhadap Cuaca Alam
a. Cuaca Panas
Bila perlu dipergunakan rangkaian instalasi penahanan angin,
naungan, fog spraying, memerciki dengan air, menggenangi
dengan air ataupun menutup dengan penutup basah yang
berwarna muda dapat dibuat bagian yang telah selesai
dicor, dan tindakan perlindungan yang sedemikian harus
segera diambil setelah pengecoran dan pekerjaan akhir selesai
dikerjakan.
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
28
b. Musim Hujan
- Tidak diperbolehkan mengecor selama turun hujan lebat,
dan beton yang baru dicor harus segera dilindungi dari
curahan hujan. Sambungan harus dilindungi seperti yang
dijelaskan dalam spesifikasi ini.
- Sebelum pengecoran berikutnya dikerjakan maka seluruh
beton yang terkena hujan/aliran air hujan harus
diperiksa, diperbaiki dan dibersihkan dulu dari beton-
beton yang tercampur/terkikis air hujan. Pengecoran
selanjutnya harus mendapat izin direksi pelaksanaan terlebih
dahulu.
4.19 Perawatan
a. Beton baru harus dilindungi dari hujan lebat, aliran dan dari
kerusakaan yang disebabkan oleh alat-alat. Semua beton
hendaknya selalu dalam keadaan basah, selama paling
sedikit 7 hari, dengan cara menyiramkan air pada pipa yang
berlubang atau cara lain yang menjadikan bidang permukaan
beton itu selalu dalam keadaan basah.
b. Bekisting kayu dibiarkan terpasang agar beton itu tetap
basah selama perawatan untuk mencegah retak pada
sambungan dan pengeringan beton yang terlalu cepat. Air
yang dipergunakan untuk perawatan harus bersih dan sama
sekali bebas dari unsur-unsur kimia yang dapat menyebabkan
kerusakan atau perubahan warna pada beton.
4.20 Cacat pada Beton
Meskipun hasil pengujian kubus-kubus memuaskan, pemberi tugas
mempunyai wewenang untuk menolak konstruksi beton yang cacat
seperti berikut.
a. Konstruksi beton yang sangat keropos.
b. Konstruksi beton tidak sesuai dengan bentuk yang
direncanakan atau posisinya tidak seperti yang ditunjukkan oleh
gambar.
c. Konstruksi beton yang tidak tegak lurus atau rata seperti yang
direncanakan.
d. Konstruksi beton yang berisikan kayu atau benda lainnya.
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
29
5. PEKERJAAN PLESTERAN
5.1 Lingkup Pekerjaan :
Bagian ini meliputi seluruh pekerjaan plesteran dan kebutuhan persyaratan
adukan sebagai berikut :
a. Untuk semua plesteran dinding biasa terdiri dari 1Pc : 4 Ps.
b. Plesteran kedap air (transram) menggunakan adukan 1 Pc: 2Ps
c. Untuk semua plesteran beton, kaki pondasi digunakan 1Pc: 4Ps.
5.2 Material :
a. Pasir untuk plesteran harus diayak cukup halus, dan pasir laut atau pasir
yang memiliki kandungan tanah tidak diperkenankan untuk digunakan.
b. Semen yang digunakan harus baru, tidak ada bagian yang membatu serta
dalam kemasan standard pabrik dan terlindung.
5.3 Pelaksanaan :
a. Sebelum pekerjaan plesteran dimulai, semua bidang yang akan diplester
harus disiram air sampai jenuh, dan siar-siarnya telah dikeruk sedalam lebih
kurang 1 cm.
b. Tebal plesteran dinding ditentukan dengan ketebalan minimal 1 cm,
dikerjakan dengan lurus dan rata, juka terdapat bidang-bidang dinding
yang berombak/retak harus dibongkar dan diperbaiki.
c. Semua bidang plesteran yang kelihatan harus diaci menggunakan acian
semen.
5.4 Memperbaiki dan membersihkan
Pemborong wajib memperbaiki plesteran dinding tersebut dengan bentuk
memanjang, memakai alat serta diplester kembali. Pekerjaan plester yang
telah selesai harus bebas dari retak, noda dan cacat lain. Pada waktu-waktu
tertentu selama pelaksanaan, dan bila pekerjaan telah selesai, semua plester
yang tampak harus dibersihkan dari kotoran-kotoran akibat pekerjaan.
6. PEKERJAAN KAYU
6.1 Lingkup Pekerjaan :
Bagian pekerjaan ini meliputi pengadaan dan pemasangan kayu-kayu untuk
konstruksi rangka kusen pintu/jendela, bingkai pintu,kayu untuk pek. Gazebo,
pek. Bantaya, kuda- kuda, gording, rangka atap dan pekerjaan kayu lainnya
yang tertera dalam gambar kerja.
6.2 Material :
a. Jenis :
Kayu yang dipakai pada pekerjaan ini terdiri atas 2 jenis kayu yaitu
- Kayu yang mempunyai kelas keawetan I dan kelas kuat I sesuai dengan
SKBI-3.6.53.1987 UDC : 674.048. Yaitu Kayu Ulin untuk konstruksi bagian
bawah dermaga.
- Kayu yang mempunyai kelas keawetan II dan kelas kuat II sesuai
dengan SKBI-3.6.53.1987 UDC : 674.048. untuk konstruksi bangunan dan
bagian atas dermaga.
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
30
b. Mutu :
Kayu yang dipakai harus lurus kering, memiliki serat yang teratur, tidak
terdapat mata kayu/cacat-cacat lainnya serta tidak terdapat bidang-
bidang yang lemah.
c. Ukuran :
Ukuran-ukuran kayu yang dipergunakan harus sesuai dengan yang
terdapat pada gambar detail.
d. Kadar Air :
Kayu-kayu yang dipergunakan hanya boleh mengandung kadar air
maksimum 25 % untuk ukuran tebal lebih dari 7 cm dan kadar air
maksimum 19 % untuk tebal kurang dari 7 cm.
e. Pengikat-pengikat :
Bahan pengikat digunakan dari kayu paku galvanis, baut atau plat besi.
Apabila menggunakan perekat, bahan perekat yang digunakan harus
terbuat dari lem tahan air setaraf dengan merk "Herferin".
6.3 Pelaksanaan :
a. Semua pekerjaan kosen, daun pintu dan jendela pada bagian-bagian
tertentu harus diserut rata dan halus, dan pada bagian-bagian pertemuan
harus dikerjakan dengan rapi dan tidak berongga.
b. Semua pekerjaan harus bertaraf kelas satu dengan hasil yang baik dan
rapi, untuk profil panjang harus menggunakan mesin potong.
c. Semua lubang-lubang bekas paku, baut dan sebagainya harus ditutup
dengan dempul hingga rapi kembali.
7. PEKERJAAN RANGKA ATAP BAJA RINGAN,LISPLANK DAN BUBUNGAN
7.1 Lingkup Pekerjaan :
Bagian pekerjaan ini meliputi pengadaan dan pemasangan rangka baja
ringan termasuk atap, bubungan dan lisplank.
7.2 Material :
Material yang digunakan sesuai dengan standar kekuatan yang tercantum
dalam Standar Nasional Indonesia.
Material Rangka atap baja ringan, lisplank dan bubungan atap harus
dilengkapi dengan spesifikasi teknis.
7.3 Pelaksanaan :
Semua pekerjaan harus bertaraf kelas satu dengan hasil yang baik dan rapi,
untuk profil panjang harus menggunakan mesin potong.
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
31
8. PEKERJAAN KERAMIK
8.1 Lingkup Pekerjaan :
Pekerjaan ini meliputi pengadaan bahan/material, tenaga kerja dan
pemasangan lantai dan dinding sesuai yang ditentukan dalam gambar.
8.2 Material :
a. Keramik dinding dan Lantai KM/WC menggunakan Tegel 20x20 cm, merk
roman atau setara dengan mutu KW 1.
b. Tegel Keramik yang digunakan adalah yang mempunyai kualitas satu
(KW-1).
8.3 Pelaksanaan :
a. Sebelum pekerjaan lantai dikerjakan, pasir timbunan harus benar-benar
padat sehingga tidak terjadi penurunan/keretakan pada lantai.
b. Pemasangan lantai/ubin harus rapi, dengan siar saling tegak lurus, serta
mengikuti peil-peil yang ditentukan dalam gambar.
c. Semua pemasangan Tegel Dinding harus menggunakan campuran 1 pc :
4 ps dengan perekat AM-30 Mortar Flax.
d. Pemasangan tegel pada lantai dan dinding harus dikerjakan dengan
rata dan datar serta dikerjakan oleh tukang yang benar-benar ahli. Untuk
pekerjaan pemasangan lantai KM/WC harus dibuat miring (1%) kearah
saluran pembuangan air (floor drain).
e. Pemasangan tegel lantai keramik dipasang diatas lantai kerja (beton
tidak bertulang) dengan mutu beton K 175l setebal 5 cm.
f. Pada sudut-sudut pertemuan antara dinding dengan lantai Keramik,
dipasang ubin plint (dinding bagian luar) dengan ukuran yang sesuai
dengan ukuran lantainya.
g. Pemasangan plint keramik sejajar dengan dinding tembok, antara plint
keramik dan plesteran dinding dibuat tali air.
h. Pekerjaan tali air atas plint keramik dilakukan dengan kualitas kelas satu,
rapi dan lurus.
9. KUNCI DAN PENGGANTUNG
9.1 Lingkup Pekerjaan :
Pekerjaan ini meliputi penyediaan bahan/material, tenaga kerja dan
pemasangan kunci serta alat-alat penggantung, seperti : engsel, kunci,
handle dan sebagainya.
9.2 Material :
a Semua daun pintu dipasang kunci tanam buatan dalam negeri 2 (dua)
slaag kualitas baik, setara Yale.
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
32
b Engsel yang digunakan pada pekerjaan ini adalah untuk daun pintu
engsel Nylon Ring 4", untuk jendela engsel nylon ring 3".
c Grendel tanam lengkap untuk Pintu 2 daun, grendel biasa untuk pintu
tunggal dan jendela. Semua Grendel buatan dalam negeri dengan
kualitas baik.
d Semua daun jendela dilengkapi satu pasang Haq Angin buatan dalam
negeri.
e Sebelum dipasang, kunci-kunci dan alat-alat penggantung harus
diperlihatkan contohnya kepada Direksi/Pengawas.
9.3 Pelaksanaan :
a Semua daun pintu menggunakan engsel Stainless Steel Ring 4" buatan
dalam negeri masing-masing 3 (tiga) buah.
b Untuk pintu-pintu 2 (dua) daun harus dilengkapi dengan grendel tanam
yang dipasang pada bagian atas dan bawah.
c Semua daun jendela bingkai menggunakan engsel nylon ring 3" buatan
dalam negeri masing-masing 2 (dua) buah, haq angin 2 (dua) buah dan
untuk pengunci dipasang grendel 1 (satu) buah.
d Kunci-kunci harus berfungsi dengan baik dan pada saat diserahkan anak
kunci harus diserahkan lengkap dengan cadangannya.
10. PEKERJAAN CAT DAN POLITUR
10.1 Lingkup Pekerjaan :
Pekerjaan ini meliputi penyediaan bahan/material, tenaga kerja dan
pengecatan kayu, tembok, plafond.
10.2 Material :
a. Jenis cat kayu yang digunakan adalah merk Avian atau setara.
b. Jenis Cat tembok yang digunakan adalah merk Avian atau setara.
c. Plamur yang digunakan adalah merk AVIAN atau setara.
d. Residu dengan kekentalan yang cukup untuk kap.
e. Politur/teakoil digunakan untuk permukaan teekwood dan pada
pekerjaan kayu yang diekspos seperti yang ditunjukan pada gambar.
10.3 Pelaksanaan :
a. Pekerjaan Cat Kayu :
1) Bidang yang akan dicat harus bersih dari segala macam kotoran,
sebelum pengecatan dilaksanakan Kontraktor harus
memperlihatkan bagian yang akan dicat kepada Direksi untuk
diperiksa.
2) Semua permukaan kayu yang akan dicat/dipolitur harus diamplas,
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
33
dan lobang-lobang bekas paku harus didempul dan diamplas
kembali sampai rata.
3) Pengecetan kayu dilaksanakan satu kali menie, satu kali cat dasar
dan satu kali plamur, kemudian digosok dengan amplas, dan
akhirnya dua kali cat akhir.
4) Warna Cat kayu yang digunakan untuk kosen, daun pintu, bingkai
jendela dan listplank akan ditentukan kemudian.
b Pekerjaan Cat Tembok/Plafond :
1) Permukaan dinding dan plafond sebelum dicat harus diplemur
kemudian diamplas dengan kertas pasir sampai rata dan halus.
2) Semua bidang tembok dan plafond dicat tembok minimal 2 (dua)
kali sampai kelihatan rata dan cukup tebal.
3) Cat tembok yang digunakan adalah warna putih untuk plafond,
broken white untuk bagian dalam dan cream bagian luar.
c Pekerjaan Politur/Teakoil :
Semua daun pintu teekwood dan dinding papan harus dipolitur.
Persiapan dilakukan dengan membersihkan dan mengamplas
bagian/permukaan yang akan dipolitur. Selanjutnya dapat dipolitur
dengan menggunakan Ultra Politur P-01.
d. Pekerjaan Water Proofing
Dinding dan dasar penampung yang berfungsi menampung
air harus dilapisi water proofing dari type yang tidak
mengandung zat-zat kimia yang membahayakan air
minimum. Dalam hal ini kontraktor harus mengajukan sistem
dan spesifikasi teknisnya untuk terlebih dahulu disetujui direksi.
11. PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK
11.1 Lingkup Pekerjaan :
Termasuk dalam pekerjaan ini adalah :
a Pengadaan Lampu SL, Kabel-Kabel, Stop Kontak, Saklar, Fitting, Pipa
Instalasi, Material Bantu, termasuk pemasangannya.
b Penyerahan Surat Jaminan oleh Instalatur/Kontraktor beserta
pembuatan gambar instalasi yang terpasang.
11.2 Bahan yang dipakai :
a. Kabel-kabel yang dipakai adalah dari jenisnya NYA yang memenuhi
standard PLN (SPLN) serta berinitial LMK (Minimal merk Eterna atau
setara).
b. Stop kontak, sacklar dan fitting serta peralatan listrik yang digunakan
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
34
harus buatan dalam negeri yang telah memenuhi standard PLN,
kemampuan minimal 10/16A.
c. Untuk trafo lampu SL yang digunakan merk Philips atau setara,
sedangkan balon pijar/TL harus merk Phillips TL atau setara harus
dilengkapi Capasitor.
11.3 Pemasangan :
a Pemasangan instalasi listrik harus berpedoman pada Peraturan Umum
Instalasi Listrik (PUIL) tahun 2000.
b Untuk menangani pekerjaan ini harus ditunjuk Instalatur yang telah
memiliki SPJT dan SBUJK Bidang E&M dari AKLI.
c Inslatasi yang terpasang harus disesuaikan dengan tegangan listrik yang
terpasang di area proyek.
d Untuk penerangan dan stop kontak biasa kabel yang digunakan adalah
jenis NYA diameter 2,5 mm atau 1,5 mm dengan pelindung PVC
diameter 5/8" dan dipasang inbouw.
e Untuk semua penyambung kabel harus menggunakan T Dos dan ditutup
dengan las dop, serta ditempatkan pada kedudukan yang aman.
f Pemasangan instalasi listrik umumnya dikerjakan sebelum plafon ditutup
dan pelesteran diding dikerjakan.
g Pada semua stop kontak dan SDP harus di beri arde dengan
menggunakan kawat BC, dan khusus pentanahan harus dikerjakan
sampai mendapatkan tahanan yang disyaratkan, serta diberi pelindung
pipa Paralon diameter 3/4".
12. PEKERJAAN JALAN OPERASI, GALIAN DAN SALURAN DRAINASE
12.1 Umum
Pekerjaan yang meliputi :
- Prosedur galian
- Bahan-bahan
- Penempatan dan pemadatan timbunan
- Jaminan kualitas
- Prosedur pengerjaan
- Subbase
- Base
- Pekerjaan perkerasan jalan
- Saluran drainase
- Box dan culvert
- Pipa-pipa drainase
akan disajikan dalam uraian berikut ini.
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
35
12.2 Prosedur Galian
a. Galian harus dilaksanakan sampai kelandaian, garis dan
ketinggian yang ditentukan dalam gambar atau
diperintahkan oleh direksi dan harus meliputi pembuangan
semua bahan-bahan yang ditemukan, termasuk tanah,
batuan, batu bata, batu beton, pasangan batu dan
bahan-bahan perkerasan jalan lama.
b. Pekerjaan galian harus dilaksanakan dengan gangguan
yang seminimal mungkin hadap bahan-bahan di bawah dan
diluar batas galian.
c. Apabila batuan, lapisan keras atau bahan-bahan keras
lainnya ditemukan pada jalur selokan atau pada ketinggian
tanah dasar untuk perkerasan dan bahu jalan, atau pada
dasar parit pipa atau galian pondasi struktur maka bahan-
bahan tersebut harus digali lebih dari 150 mm sampai suatu
permukaan yang rata halus dan mantap. Tidak boleh ada
tonjolan batuan ditinggalkan dari permukaan yang terbuka
dan semua pecahan batu yang berdiameter lebih besar dari
150 mm harus dibuang. Profil galian yang ditentukan harus
dicapai dengan bahan-bahan urugan kembali yang
dipadatkan dan disetujui oleh direksi.
d. Peledakan tidak boleh digunakan untuk pekerjaan galian.
e. Galian batuan dilaksanakan sampai kedalaman sesuai
perencanaan yang dinyatakan pada gambar kerja atau
yang ditetapkan oleh direksi. Permukaan harus datar,
dengan 50 mm maksimum gelombang permukaan. Batuan
lepas dengan ukuran lebih dari 150 mm harus disingkirkan.
f. Permukaan dasar batuan harus dibersihkan menggunakan
kompresor air bertekanan tinggi.
g. Jika diperlukan, kontraktor harus memasang landasan beton
tanpa tulang belulang sebelum pekerjaan beton struktur.
h. Parit atau pipa, gorong kecil dan saluran beton, pasangan
batu atau pasangan batu adukan encer harus berukuran
cukup untuk memungkinkan pemasangan yang layak dari
bahan-bahan, pemeriksaan pekerjaan dan pemadatan
urugan kembali di bawah dan disekeliling pekerjaan yang
ditempatkan.
i. Jika gorong-gorong atau parit lainnya digali pada
embankmen baru, embankmen harus dibangun sampai tinggi
permukaan yang disyaratkan dengan suatu jarak pada
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
36
masing-masing sisi lokasi parit tidak kurang dari 5 kali ukuran
lebar parit, dan setelahnya parit digali dengan sisi-sisi hampir
vertikal sebagaimana kondisi tanah mengijinkan.
j. Setiap pemompaan dari galian harus dikerjakan dengan
cara yang cermat untuk menghindari kemungkinan setiap
bagian bahan-bahan konstruksi yang baru ditempatkan
dapat terbawa keluar. Setiap pemompaan yang diperlukan
selama penempatan beton atau suatu perioda sekurang-
kurangnya 24 jam sesudahnya, harus dilaksanakan dari suatu
bak yang tepat, dan terletak diluar acuan beton, dan aliran
air yang dipompa masuk ke dalam sistim drainase yang telah
ditetapkan.
12.3 Bahan-Bahan
a. Sumber bahan-bahan
Bahan-bahan timbunan harus dipilih dari sumber yang disetujui
direksi.
b. Timbunan biasa
- Timbunan yang digolongkan sebagai timbunan biasa akan
terdiri dari tanah atau bahan-bahan batuan yang disetujui
oleh direksi.
- Bahan-bahan juga akan diseleksi sejauh mungkin, tidak
termasuk penggunaan tanah liat yang sangat plastis,
diklasifikasikan sebagai A-7-6 oleh AASHTO M 145 atau
sebagian CH pada Unified or Cassagrande Siol
Classification System. Dimana penggunaan tanah-tanah
yang plastis berkadar tinggi tidak dapat dihindari
secara layak, maka bahan-bahan tersebut hanya
kan digunakan dibagian dasar timbunan atau dalam
urugan kembali yang tidak memerlukan daya dukung
atau kekuatan geser yang tinggi. Tidak ada tanah plastis
berkadar tinggi yang akan digunakan sama sekali pada
lapisan bahan-bahan 400 mm di bawah setiap tanah
dasar perkerasan atau bahu jalan. Sebagai tambahan,
maka timbunan dalam daerah ini bilamana diuji sesuai
dengan AASHTO T-193 harus mempunyai suatu nilai CBR tidak
kurang dari 6 % setelah terendam empat hari bila
dipadatkan sampai 100% kepadatan kering maksimum
sebagaimana ditentukan sesuai AASHTO T-99.
- Bila digunakan situasi pemadatan dengan kondisi jenuh
atau banjir tidak dapat dihindari, maka timbunan
dengan bahan-bahan terpilih harus terdiri dari pasir atu
kerikil atau bahan-bahan butiran bersih lainnya
dengan suatu Indeks Plastisitas maksimum 6%.
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
37
- Bila digunakan pada pekerjaan stabilisasi timbunan atau
lereng atau dalamsituasi lainnya dimana kekuatan geser
adalah penting, tetapi berlaku kondisi pemadatan
normal, maka timbunan dengan bahan-bahan
terpilih dapat merupakan timbunan batuan atau kerikil
berlempung yang bergradasi baik atau tanah liat berpasir
atau tanah liat yang memiliki plastisitas rendah. jenis
bahan- bahan yang terpilih dan disetujui oleh direksi akan
bergantung pada kecuraman dari lereng yang akan
dibangun atau ditimbun atau pada tekanan tanah
yang harus dipikul.
12.4 Penempatan dan Pemadatan Timbunan
a. Penempatan Timbunan
- Timbunan harus ditempatkan pada permukaan yang
dipersiapkan dan disebarkan merata serta bila
dipadatkan akan memenuhi toleransi ketebalan
lapisan tertentu.
- Timbunan tanah harus dipindahkan segera dari daerah
galian ke permukaan yang dipersiapkan dalam keadaan
cuaca kering. Penumpukan tanah timbunan tidak akan
diizinkan selama musim hujan, dan pada waktu lainnya
hanya dengan izin tertulis dari direksi.
- Dalam penempatan timbunan di atas atau pada selimut
pasir atau bahan-bahan drainase porous lainnya,
maka harus diperhatikan untuk menghindari
pencampuran adukan dari kedua bahan-bahan tersebut.
Dalam hal pembentukan drainase vertikal, maka suatu
pemisah yang luas antara kedua bahan-bahan tersebut
harus dijamin dengan menggunakan acuan sementara
dari lembaran baja tipis yang secara bertahap akan
ditarik sewaktu penempatan timbunan dan bahan
drainase porous dilaksanakan.
- Penimbunan kembali di atas pipa atau di belakang
struktur harus sesuai dengan galian dan urugan kembali
untuk struktur.
- Dimana timbunan akan diperlebar, maka lereng
timbunan yang ada harus dipersiapkan dengan
mengeluarkan semua tumbuh-tumbuhan permukaan dan
harus dibuat terasering sebagaimana diperlukan
sehingga timbunan yang baru terikat pada timbunan
yang ada hingga memuaskan direksi. Timbunan yang
diperlebar kemudian harus dibangun dalam lapisan
horizontal sampai pada ketinggian tanah dasar. Tanah
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
38
dasar harus ditutup dengan sepraktis dan secepat mungkin
dengan lapis pondasi bawah sampai ketinggian
permukaan jalan yang ada untuk mencegah pengeringan
dan kemungkinan peretakan permukaan.
- Sebelum sebuah timbunan ditempatkan, seluruh rumput
dan tumbuh-tumbuhan harus dibuang dari permukaan atas
di mana timbunan tersebut ditempatkan dan permukaan
yang sudah dibersihkan dihancurkan dengan pembajakan
atau pengupasan selajutnya akan dipadatkan
kembali, sesuai dengan jenis pemadatan yang
ditentukan untuk timbunan jalan raya selanjutnya.
Jika permukaan asli di atas mana timbunan yang akan
ditempatkan adalah jalan lama, permukaan tersebut
harus dibajak, dikupas, atau dihancurkan tanpa
menghiraukan tinggi dari timbunan yang kan ditempatkan.
Dalam tiap-tiap kasus tidak ada pembayaran terpisah
yang akan dilakukan untuk pekerjaan ini sebagaimana
hal tersebut dipertimbangkan sebagai tambahan pada
item lain-lain di dalam bill of quantities.
b. Pemadatan
- Segera setelah penempatan dan penghamparan
timbunan maka setiap lapisan harus dipadatkan secara
menyeluruh dengan alat pemadat yang cocok dan layak
serta disetujui oleh direksi sampai suatu kepadatan yang
memenuhi persyaratan.
- Pemadatan tanah timbunan akan dilakukan hanya bila
kadar air bahan-bahan berada dalam batas antara 3%
kurang daripada kadar air optimum sampai 1% lebih
daripada kadar air optimum. Kadar air optimum tersebut
harus ditentukan sebagai kadar air dimana kepadatan
kering maksimum diperoleh bila tanah tersebut dipadat
sesuai dengan AASTHO T99.
- Semua timbunan batuan harus ditutup degan sebuah
lapisan atau lapisan dengan tebal 200 mm dari bahan-
bahan yang bergradasi baik yang berisi batu-batu tidak
lebih besar dari 50 mm dan mampu mengisi semua
sela-sela bagian atas timbunan batuan. Lapisan penutup
ini harus dibangun sesuai dengan persyaratan untuk
timbunan tanah.
- Setiap lapisan timbunan yang ditempatkan harus
dipadatkan sebagaimana ditentukan, diuji untuk
kepadatan diterima oleh direksi, sebelum lapisan berikut
ditempatkan.
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
39
- Timbunan harus dipadatkan dimulai dari tepi luar dan
dilanjutkan ke arah sumbu jalan dengan suatu cara yang
sedemikian sehingga setiap bagian menerima jumlah
pemadatan yang sama. Dimana mungkin lalu lintas alat
konstruksi harus dilewatkan di atas pekerjaan timbunan
dan jalur yang digunakan diubah secara terus menerus
untuk menyebar pengaruh pemadatan dari lalu-lintas.
- Timbunan pada lokasi yang tidak dapat dicapai/dimasuki
oleh alat pemadat yang biasa, harus ditempatkan dalam
lapisan horisontal dari bahan-bahan lepas tidak lebih dari
150 mm tebal dan seluruhnya dipadatkan dengan
menggunakan alat pemadat tangan mekanis
(mechanical temper) yang disetujui. Perhatian khusus
harus diberikan guna menjamin pemadatan yang
memuaskan dibawah dan ditepi pipa untuk menghindari
rongga-rongga dan guna menjamin bahwa pipa ditunjang
sepenuhnya.
c. Persyaratan Pemadatan untuk Timbunan Tanah
- Lapisan yang lebih dari 300 mm di bawah ketinggian
tanah dasar harus dipadatkan sampai 95% dari
standar maksimum kepadatan kering yang ditentukan
sesuai AASTHO T99. Untuk tanah yang mengandung lebih
dari 10% bahan-bahan yang tertahan pada ayakan 3/4
inch, kepadatan kering maksimum yang dipadatkan harus
disesuaikan untuk bahan-bahan yang berukuran lebih
besar sebagaimana diarahkan oleh direksi.
- Lapisan 300 mm atau kurang di bawah ketinggian tanah
harus dipadatkan sampai 100% dari kepadatan kering
maksimum yang ditentukan AASTHO T99.
- Pengujian kepadatan harus dibuat setiap lapisan
timbunan yang dipadatkan sesuai dengan AASTHO T191 dan
bila hasil setiap pengujian menunjukkan bahwa kepadatan
kurang daripada kepadatan yang disyaratkan maka
kontraktor harus membetulkan pekerjaan tersebut sesuai
dengan ketentuan diatas. Pengujian harus dibuat sampai
kedalaman lapisan sepenuhnya pada lokasi yang
diarahkan oleh direksi, tetapi satu dengan yang lainnya
tidak terpisah lebih 50 cm. Untuk urugan kembali
disekeliling struktur atau pada parit gorong-gorong,
sekurang- kurangnya satu pengujian untuk satu lapisan
urugan kembali yang ditempatkan harus dilaksanakan.
Pada timbunan, sekurang-kurangnya satu pengujian
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
40
harus dilaksanakan pada setiap 150 meter kubik timbunan
yang ditempatkan.
- Kriteria untuk timbunan batuan
Penampatan dan pemadatan timbunan batuan harus
dilaksanakan dengan menggunakan mesin gilas atau
mesin pemadat bergetar atau sebuah traktor beroda
rantai yang berbobot sekurang-kurangnya 20 ton
atau peralatan konstrukasi berat yang serupa.
Pemadatan harus dikerjakan dalam arah memanjang
sepanjang timbunan, dimulai dari tepi luar dan dilanjutkan
menuju ke arah sumbu, dan harus diteruskan sampai tak
ada gerakan yang nampak di bawah peralatan tersebut.
Setiap lapisan harus terdiri dari batuan bergradasi yang
cukup baik dan semua rongga permukaan harus terisi
dengan pecahan kecil sebelum lapisan berikutnya
ditempatkan.
Batuan tidak boleh digunakan pada 150 mm lapisan atas
timbunan dan tidak ada batu dengan suatu ukuran
melebihi 100 mm boleh dimasukkan ke dalam lapisan atas
ini.
- Percobaan pemadatan
Kontraktor harus bertanggungjawab untuk pemilihan
peralatan dan metoda untuk mencapai kepadatan yang
diisyaratkan, maka pemadatan berikutnya harus menyusul.
Suatu percobaan lapangan harus dilaksanakan dengan
jumlah lintasan alat pemadat dan kadar air harus
diubah-ubah sampai kepadatan yang ditentukan
tercapai sehingga memuaskan direksi. Hasil percobaan
lapangan ini kemudian harus digunakan untuk
menentukan jumlah lintasan yang diisyaratkan, jenis alat
pemadat dan kadar air untuk semua pemadatan yang
selanjutnya.
12.5 Prosedur Pengerjaan
a. Galian untuk struktur
- Parit untuk struktur dan telapak struktural digali menurut
garis, kelandaian dan ketinggian yang terlihat pada
gambar atau sebagaimana diarahkan oleh direksi.
Ketinggian dasar telapak yang terlihat pada gambar
adalah hanya perkiraan saja dan direksi boleh
menginstruksikan perubahan pada ukuran atau
ketinggian telapak sebagaimana dianggap perlu untuk
menjamin hasil yang memuaskan. Batu besar bulat, balok
kayu dan bahan-bahan lain yang di bawah dan di sekitar
pekerjaan yang ditempatkan.
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
41
- Parit harus berukuran cukup untuk memungkinkan
pemasangan bahan-bahan yang layak, pemeriksaan
pekerjaan dan pemadatan urugan kembali di bawah dan
di sekitar pekerjaan yang ditempatkan.
- Bila gorong-gorong atau parit lainnya akan digali ada
timbunan baru, maka timbunan tersebut harus dibangun
hingga setinggi permukaan yang diperlukan suatu jarak sisi
lokasi parit tidak kurang 5 kali ukuran lebar parit
tersebut, sesudah itu parit tersebut akan digali dengan
sisi-sisi yang vertikal sesuai dengan kondisi yang
memungkinkan.
- Setiap pemompaan galian harus dikerjakan dengan
cara tertentu untuk menghindari kemungkinan setiap
bagian bahan-bahan konstruksi yang baru ditempatkan
terbawa keluar. Setiap pemompaan yang diperlukan
selama penempatan beton, atau untuk suatu perioda
sekurang-kurangnya 24 jam setelah itu, harus dikerjakan dari
tempat penampungan air yang terletak di bagian luar
acuan beton.
b. Urugan kembali pada standar
- Daerah yang digali di sekitar struktur harus diurug kembali
dengan bahan-bahan yang disetujui dalam pelapisan
horisontal dengan kedalaman tidak lebih dari 150 mm
sampai setinggi permukaan tanah asal atau setinggi
permukaan tanah dasar, dan dipilih yang lebih rendah.
Setiap lapisan harus dibasahi atau dikeringkan sampai
kadar air optimum sebagimana diisyartkan dan
dipadatkan seluruhnya.urugan kembali yang membentuk
bagian timbunan harus dipadatkan sampai 100% dari
kepadatan kering maksimum yang ditentukan sesuatu
dengan AASTHO T99. Urugan kembali di luar daerah
jalan dan timbunan harus dipadatkan sampai suatu
kepadatan sekurang-kurangnya setinggi bahan-bahan
yang berdampingan dan tak terganggu.
c. Pengendalian lalu lintas
- Pengendalian lalu lintas harus sesuai dengan
persyaratan pengaturan dan pengendalian lalu lintas.
- Kontraktor harus bertanggungjawab untuk semua akibat
dari lalu lintas yang diizinkan melewati tanah dasar.
Semua lalu lintas selain mesin-mesin konstruksi yang langsung
terlibat dalam penempatan lapisan di atasnya harus
dicegah melewati tanah dasar setelah penyelesaian dan
penerimaan.
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
42
d. Bahan-bahan
Tanah dasar dibentuk pada timbunan biasa, timbunan dengan
bahan-bahan terpilih, agregat lapisan pondasi atau
drainase porous, atau pada tanah asli dengan
merapikan atau memotong dengan menggunakan galian
biasa atau galian batuan. Bahan-bahan yang akan
digunakan pada setiap contoh harus sebagaimana diarahkan
oleh direksi. Sifat bahan-bahan untuk digunakan dalam
pembentukan tanah dasar harus sesuai dengan sifat bahan-
bahan khusus yang sedang digunakan sebagaimana diberikan
di bagian lain dalam spesifikasi ini.
e. Pemadatan tanah dasar
Tanah dasar harus dipadatkan sesuai dengan ketentuan yang
relevan dari spesifikasi ini. Persyaratan pemadatan dan
persyaratan jamian kualitas untuk tanah dasar harus sesuai
dengan ketentuan spesifikasi ini
12.6 Sub-Base
a. Material
- Peserta pelelangan harus sebelumnya menentukan sendiri
akan tempat, jumlah dan keserasian bahan yang ada
untuk digunakan sebagai bahan subbase. harus juga
diperhitungkan biaya sehubungan dengan pengambilan,
pengukuran, penyaringan bila perlu yang kesemuanya itu
harus juga tercakup dalam suatu harga bahan subbase
yang diajukan pada harga penawaran.
Kontraktor selambat-lambatnya 30 hari sebelum
dimulainya pekerjaan subbase harus sudah mengajukan
kepada Direksi sesuai pernyataan yang menerangkan
tempat asal dan komposisi dari material yang
digunakan sebagai subbase, dimana sifat-sifat material
tersebut harus memenuhi persyaratan yang akan
disebutkan selanjutnya pada spesifikasi ini.
- Pemeriksaan, testing dan persetujuan
Sebagaimana keharusan, sebelum dimulai pekerjaan
penggalian bahan, kontraktor harus menyerahkan hasil
pemeriksaan laboratorium yang diakui direksi mengenai
sifat-sifat bahan tersebut. Pengambilan bahan untuk
keperluan pemeriksaan, biaya yang diperlukan untuk
pemeriksaan tersebut ditanggung oleh kontraktor.
Pengambilan contoh bahan untuk pemeriksaan dihadiri
direksi atau wakil yang ditunjuk olehnya dimana sebagian
dari bahan itu akan disimpan oleh direksi di tempat
pekerjaan sebagai barang contoh.
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
43
Kategori Spesifikasi
3/8” 40 – 70
No.4 30 – 60
No.10 20 – 50
No.40 10 – 30
No.200 5 – 15
Persentase berat yang lewat untuk masing-masing ayakan
dapat dikoreksi oleh direksi bila digunakan batu pecah
dengan bermacam-macam berat jenis
- Batas cair (AASTHO T89) 25 max
- Indeks Plastis (ASSTHO T91) 6 max
- Kadar lempung (AASTHO T176) 25 min
- Kehilangan berat dari partikel yang tertinggal pada
ayakan ASTM No. 12
- (AASTHO T96)
- CBR direndam yang ditest pada density yang
dikehendaki (100% dari kepadatan kering maksimum
menurut AASTHO T180) 60 max
Kelas C subbase terdiri dari pasir dan kerikil dengan gradasi
baik menurut persyaratan di bawah ini.
ASTM Standar Sieve Persentase Berat Yang Lewat
1 1/2” 100 max
No. 10 80 max
No.12 15 max
Kadar Lempung
(AASTHO T176 kehilangan
berat
25 max
akibat abrasi dari partikel
yang tertinggal pada ayakan
ASTM No. 12 (AASTHO T96)
40 max
Kepadatan Kering maksimum
(AASTHO T180)
Min 20 gr/cucm
b. Pelaksanaan
- Pekerjaan persiapan untuk subgrade
Subgrade akan dibuat, dipersiapkan dan dikerjakan seperti
yang disebut pada lab sebelumnya, sebelum subbase
ditempatkan.
- Pencampuran dan pembuatan
Kecuali ditentukan lain, bila kontraktor mengerjakan
pencampuran material subbase harus menuruti salah
satu cara di bawah ini, dengan bahan-bahan
pembantu bila perlu seperti diisyaratkan pada gambar
rencana.
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
44
- Cara dengan alat pencampur stasioner
Agregat dan air dicampur di dalam suatu mixer.
Jumlah air diatur selama pencampuran agar mencapai
kadar air yang sesuai untuk keperluan pamadatan yang
memenuhi syarat. Setelah proses pencampuran,
material diangkut ke tempat pekerjaan, dijaga agar
kadar air tetap dalam batas-batas yang diisyaratkan
dan dihampar di lapangan untuk segera dipadatkan.
- Cara dengan alat pencampuran yang berjalan
Setelah material untuk masing-masing ditempatkan dengan
mesin penyebar (spreader) atau alat lain, kemudian
dilakukan pencampuran dengan alat pencampur
berjalan. Selama itu air bila perlu ditambah agar dicapai
kadar air optimum.
- Cara dengan pencampuran setempat (mixed on place)
Setelah material untuk masing-masing lapisan
ditempatkan, pencampuran dilakukan dengan motor
grader atau alat lain pada kadar air yang dikehendaki.
Subbase material akan dipadatkan tiap lapisan dengan
tebal sedemikian agar kepadatan maksimum dapat
dicapai dengan alat-alat yang ada. Tebal lapisan itu
umumya tidak boleh dari 25 cm setelah jadi. Bila lebih
dari satu lapis, tiap lapisan yang terdahulu harus sudah
dipadatkan secukupnya sebelum penempatan lapisan
selanjutnya.
- Penebaran dan pemadatan
Segera setelah dilakukan penebaran dan perataan, tiap
garis segera dipadatkan pada seluruh lebar jalan dengan
mesin gilas, mesin gilas roda karet atau alat pemadat lain
yang disetujui direksi untuk dipakai. Penggilasan dilakukan
dari tepi menggeser ke tengah, berjalan paralel
dengan as jalan dan diusahakan berlangsung terus tanpa
berhenti sampai seluruh permukaan selesai digilas.
Bila terjadi pelendutan atau hal-hal yang tidak wajar
pada suatu tempat, harus segera dilakukan perbaikan
dengan cara membongkar tempat itu, mengganti atau
dilakukan menambah material lain dan menggilasnya
kembali sehingga rata dengan permukaan yang
dikehendaki.
Pada tepi-tepi curb, dinding-dinding dan pada tempat-
tempat yang tidak dapat dicapai oleh mesin gilas harus
dipadatkan dengan alat-alat tangan yang tepat
(temper, compactor). Lapisan yang dipadatkan
tersebut harus digilas dan dipangkas (bladed)
sedemikian agar permukaan jadi berbentuk sesuai
dengan gambar rencana. Material subbase harus
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
45
dipadatkan hingga mencapai paling tidak 100% dari
kepadatan kering maksimum yang dipadatkan pada
pemeriksaan AASTHO T180 Method D. Kepadatan
tersebut harus dicapai pada seluruh tebalnya.
Direksi melakukan pengukuran pada tempat-tempat
yang dipilihnya selama pelaksanaan pekerjaan untuk
memeriksa tebal lapisan subbase yang dihampar agar
dapat mencapai tebal jadi yang disyaratkan pada
kepadatan maksimum. Pembuatan lubang-lubang untuk
keperluan pengukuran itu dan pengisiannya kembali akan
dilakukan oleh kontraktor dan diawasi oleh direksi atau wakil
yang ditunjuk olehnya.
12.7 Base
a. Sumber Material
- Peserta lelang sebelum mengajukan harga penawaran
harus menentukan sendiri lokasi, kemungkinan bahan
tersebut untuk dipakai sebagai bahan base, cara
pengambilan atau pengangkutannya, biaya
pemecahan batu, penyeleksian dan pembiayaan lain
yang perlu sehubungan dengan pendatangan material itu.
Kontraktor harus juga memperhitungkan, bila memang
demikian keadaannya, cara menggali dan membuang
lapisan tanah atas tempat pengambilan bahan
tersebut. Harga satuan dari material base yang diajukan
harus telah mencakup semua pembiayaan itu.
Kontraktor harus mengajukan pernyataan selambat-
lambatnya 30 hari sebelum dilakukan pengambilan
material tersebut yang berisi tentang tempat asal bahan
komposisi dan macam agregat yang akan dipakai sebagai
bahan base. Sifat-sifat material tersebut harus sesuai
dengan persyaratan di bawah ini.
b. Persyaratan material
Agregat untuk base harus memenuhi persyaratan untuk bahan
base kelas B di bawah ini. Semua agregat untuk base course
harus terdiri dari bahan-bahan yang bersih, keras, awet,
bersudut tajam, tidak banyak bercampur dengan bentuk-
bentuk yang pipih atau memanjang, dan dalam batas
tertentu tidak banyak mengandung batu- batu yang lunak,
yang mudah hancur, kotoran atau bahan-bahan lain yang
mudah membusuk/tidak dikehendaki.
Kerikil pecah atau batu pecah untuk lapisan base kelas
B terdiri dari hasil pemecahan kerikil dan batu. Bila
ditentukan demikian oleh direksi, maka untuk bahan kerikil
sebelumnya harus diayak terlebih dahulu sehingga agregat
hasil dari pemecahan kerikil itu tidak kurang dari 50% beratnya
terdiri dari partikel yang mempunyai sekurang-kurangnya satu
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
46
bidang pecahan.
Agregat base course harus menuruti persyaratan dibawah ini.
Kategori Keterangan
Kekerasan (Toughness ASTM D3) Min 6%
Kehilangan berat dengan percobaan sodium
sulfate (AASTHO T104)
Max 10%
Kehilangan berat dengan percobaan magnesium
sulfate (AASTHO T140)
Max 12%
Kehilangan berat akibat abrasi sesudah 100
putaran (AASTHO T96)
Max 10%
Kehilangan berat akibat abrasi sesudah 500
putaran (AASTHO T96)
Max 40%
Partikel-partikel tipis, memanjang persentase berat
(partikel lebih besar dari 1” dengan ketebalan
kurang dari 1/5 panjang
Max 5%
Bagian-bagian baru yang lunak (ASTM C235) Max 55%
Gumpalan-gumpalan lengkung (AASTHO T12) Max 0,225%
ASTM Standar Sieve Persentase Berat Butir Yang
Lewat
2 ½” 100
2” 90 - 100
1 ½ “ 35 - 70
1” 0 - 15
½” 0 - 5
Kelas B terdiri dari campuran kerikil dan kerikil pecah atau
batu pecah dengan berat jenis yang seragam dengan pasir,
lanau atau lempung dengan persyaratan di bawah ini :
ASTM Standar Sieve Persentase Berat Butir Yang
Lewat
2 ½” 100
1” 60 - 100
3/4“ 55 - 85
No. 4 35 - 60
No. 10 25 - 60
No. 14 15 – 30
No. 200 8 - 15
Partikel yang mempunyai diamater kurang dari 0,02 mm harus
tidak lebih dari 35% dari berat total contoh bahan yang diuji.
Persentase berat butir yang lewat dapat dikoreksi oleh direksi
bila agregat terdiri dari bahan-bahan dengan berat jenis yang
berlain-lainan :
- Batas cair (AASTHO T89) : max 25%
- Indeks plastis (AASTHO T91) : 4-8%
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
47
- Kadar lempung (AASTHO T176) : min 50%
Persentase agregat yang mempunyai paling sedikit satu bidang
pecah harus paling tidak berjumlah 80% dari berat material
yang tertinggal pada ayakan No. 4.
Persentase agregat yang mempunyai paling sedikit satu bidang
pecah harus paling tidak berjumlah 80% dari berat material
yang tertinggal pada ayakan No. 4.
12.8 Saluran Drainase
a. Uraian
Pekerjaan ini terdiri dari pembuatan saluran dari pasangan
batu dengan bentuk dan beton pracetak, kemiringan dan
kedudukan seperti yang tercantum pada Gambar Rencana
dan Petunjuk Direksi. Saluran beton pracetak digunakan di sisi
luar rencana jalan baru, sedangkan saluran dengan pasangan
batu digunakan di sisi median.
b. Material
Batu yang digunakan hendaknya terdiri dari pecahan batu
keras dengan permukaan yang kasar. Aduk yang digunakan
apabila tidak disebutkan tersendiri pada gambar rencana
hendaknya terdiri dari campuran semen dan pasir dengan
perbandingan 1:3
c. Pelaksanaan
Lubang galian dibuat sesuai dengan bentuk kemiringan dan
kedudukan seperti yang diisyaratkan pada gambar rencana.
Apabila dinding-dinding dan dasar lubang galian tersebut
masih dalam keadaan gembur harus dilakukan pemadatan
seperlunya agar didapat suatu permukaan yang stabil dan
keras. Batu-batu yang telah dipecah berukuran terpanjang
0.75 tebal dinding dan tidak lebih dari 25 cm dipasangkan
setelah terlebih dahulu diberikan lapisan aduk yang cukup.
Batu-batu yang lebih kecil ditempatkan untuk mengisi rongga-
rongga agar pasangan tidak goyah dan tebal aduk
diantaranya tidak menjadi terlalu tebal. Permukaan luar
hendaknya diatur sedemikian sehingga didapat permukaan
yang datar dan rapih. Apabila tidak ditentukan adanya
pekerjaan plesteran maka setelah pemasangan cukup keras
dan kokoh, harus dilakukan pekerjaan siar dengan
campuran aduk semen dan pasir halus 1 : 2.
Pekerjaan siar itu hendaknya dilakukan dengan cermat agar
tidak terjadi bagian-bagian yang terbuka atau keropos.
Pembahasan sebelum dan sesudah pekerjaan siar dapat
dilakukan sesuai dengan keperluannya untuk mencapai
daya lekat dan mencegah keretakan bidang-bidang siar.
Pada umumnya tebal pasangan ini tidak boleh kurang dari 20
cm.
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
48
12.9 Box Culvert
a. Material
Box Culvert yang terbuat dari beton bertulang harus memenuhi persyaratan
AASTHO – M170. Adukan untuk sambungan harus memenuhi persyaratan
artikel 9.01 dari spesifikasi khusus.
b. Pelaksanaan
Pelaksanaan sesuai dengan yang tersebut untuk
pemasangan box-culvert secara umum dan pemasangan-
pemasangan lain sesuai dengan cara-cara dan petunjuk yang
sesuai dengan itu dari pihak pabrik yang mengeluarkannya.
12.10Pipa-Pipa Drainase
a. Material
Material yang digunakan harus terdiri dari pipa bulat non-metal
yang halus dan tidak bergelombang berdimensi 6", seperti
paralon yang mampu menahan beban rencana jalan, yang
dihasilkan oleh pabrik-pabrik yang telah diakui oleh direksi
serta jaminan yang perlu diberikan oleh pabriknya.
b. Pelaksanaan
Pelaksanaan sesuai dengan yang tersebut untuk
pemasangan pipa-pipa drainase secara umum dan
pemasangan-pemasangan lain sesuai dengan cara-cara
dan petunjuk yang sesuai dengan itu dari pihak pabrik yang
mengeluarkannya.
13. PEKERJAAN TANAH DAN SAMPAH
Spesifikasi teknis ini merupakan bagian dari Rencana Kerja dan Syarat-
syarat (RKS) yang tidak terpisahkan. Semua ketentuan dalam Spesifikasi
Teknis ini berlaku dalam kaitan, merujuk pada, menjelaskan, serta
tidak perlu mengulangi apa yang terdapat dalam bagian lain dari RKS.
Meskipun Spesifikasi Teknis ini terdiri atas beberapa bagian, semua
ketentuan berlaku saling melengkapi satu sama lain. Pembagian atas
bagian tidak membatasi berlakunya ketentuan dari bagian lainnya.
Dalam hal Spesifikasi Teknis ini bertentangan dengan Gambar RKS, maka
yang berlaku adalah Gambar RKS.
A. DIMENSI GEOMETRIK
a. Elevasi dan Bench Mark
Semua elevasi yang dimaksud adalah terhadap LWS, kecuali
dinyatakan lain. Semua elevasi harus dinyatakan dalam meter
dengan ketelitian sampai dua desimal. Kontraktor wajib
membuat sedikitnya 6 (enam) buah bench mark di sekitar
lokasi proyek yang ditunjuk Direksi Teknik/Konsultan. Bench mark
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
49
yang terpasang harus diikatkan terhadap referensi yang ada
yang disetujui Konsultan. Ikatannya harus merupakan ikatan
sempurna dari poligon tertutup. Bila diperlukan, Kontraktor harus
menambahkan sendiri bench mark tambahan untuk pelaksanaan
pekerjaan.
b. Dimensi
Semua dimensi dalam gambar dinyatakan dalam satuan metrik.
Tidak ada tambahan akibat konversi dari satuan lainnya ke sistem
metrik. Semua gambar dan komunikasi harus dinyatakan dalam
sistem metrik.
c. Toleransi
Toleransi pengukuran untuk pekerjaan tanah dan sampah ini
adalah :
Pekerjaan Galian
Vertikal : 0,25 m
Horisontal : 0,25 m
Pekerjaan Timbunan
Vertikal : 0,05 m
Horisontal : 0,05 m
Pekerjaan Urugan dan Pemadatan
Vertikal : 0,03 m
Horisontal : 0,03 m
B. DEFINISI
Pada seluruh dokumen ini dipakai kata-kata :
Direksi Teknik menerangkan : Pemberi Tugas
Konsultan menerangkan : Konsultan Pengawas
Kontraktor menerangkan : Kontraktor yang
memenangkan Tender
Insinyur Pengawas menerangkan : Insinyur yang ditunjuk oleh
Konsultan Supervisi sebagai Pengawas di lapangan
Ahli Geoteknis menerangkan : Ahli Geoteknis yang
kompeten dan berpengalaman.
Spesifikasi teknis ini merupakan bagian dari Rencana Kerja dan
Syarat-syarat (RKS) yang tidak terpisahkan. Semua ketentuan dalam
Spesifikasi Teknis ini berlaku dalam kaitan, merujuk pada,
menjelaskan, serta tidak perlu mengulangi apa yang terdapat
dalam bagian lain dari RKS.
Meskipun Spesifikasi Teknis ini terdiri atas beberapa bagian, semua
ketentuan berlaku saling melengkapi satu sama lain. Pembagian
atas bagian tidak membatasi berlakunya ketentuan dari bagian
lainnya.
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
50
13.1 PEKERJAAN GALIAN
13.1.1 Umum
13.1.1.1Uraian
a. Pekerjaan ini mencakup penggalian, penanganan,
pembuangan tanah, humus atau cadas atau material lain.
b. Pekerjaan ini diperlukan untuk pembentukan tempat kerja
sesuai dengan ketinggian dan penampang melintang yang
ditunjukkan dalam gambar atau yang diperintahkan oleh
Direksi Teknik.
c. Kecuali untuk kepentingan pembayaran, ketentuan dari
Seksi ini berlaku untuk seluruh pekerjaan galian yang
dilakukan sehubungan dengan Kontrak, dan seluruh galian
dapat merupakan salah satu dari :
Galian biasa
Galian padas
Galian/dredging sungai
d. Galian biasa mencakup seluruh galian yang tidak diklasifikasi
sebagai galian padas atau galian sungai.
e. Galian padas mencakup galian dari batu dengan volume 1
m3 atau lebih dan seluruh padas atau bahan lainnya yang
digali tanpa penggunaan alat bertekanan udara,
pemboran, atau peledakan. Galian ini tidak termasuk
bahan yang menurut pendapat Direksi Teknik dapat
dilepaskan dengan penggaruk yang ditarik oleh traktor
dengan berat minimum 15 ton dan tenaga kuda netto
sebesar 180 HP.
f. Galian/dreging sungai mencakup seluruh pekerjaan
dredging pada daerah sungai.
g. Data bor dan profil tanah yang disajikan dalam dokumen
tender adalah informasi umum. Variasi dan/atau
interpretasi diperbolehkan sepanjang tidak mempengaruhi
kontrak. Sebelum pekerjaan dimulai, kontraktor harus
menyerahkan gambar penampang memanjang yang
menunjukkan tanah dasar yang ada.
h. Kontraktor dianggap telah memenuhi pekerjaan bila
material substansi yang digali telah dibuang sampai pada
batas yang ditunjukkan dalam gambar atau ketentuan
lain.
i. Kontraktor harus melakukan penggalian dan membuang
substansi apapun yang ditemukan hingga kedalaman yang
SPESIFIKASI TEKNIS
SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN
PROPINSI SULAWESI TENGAH
51
ditentukan dalam gambar atau hingga kedalaman yang
perlu untuk pelaksanaan konstruksi yang layak dan
penyelesaian pekerjaan.
j. Kontraktor dianggap telah memasukkan dalam jadwal
kecepatan yang diizinkan untuk melingkupi seluruh faktor
yang mungkin timbul selama atau dalam hubungan dengan
penggalian dan pembuangan sisa-sisa.
13.1.1.2Survei
a. Pada waktu yang telah disepakati untuk memulai
pekerjaan galian, Kontraktor di bawah pengawasan
Konsultan, harus memeriksa dan melakukan survei
dengan peralatan yang disetujui pada lokasi pekerjaan.
b. Level yang disepakati harus dicatat dan
ditandatangani oleh Konsultan dan Kontraktor.
13.1.1.3Peralatan
a. Peralatan yang digunakan Kontraktor harus memenuhi
persyaratan minimal yang ditentukan.
b. Jika pemakaian peralatan lain tidak diizinkan oleh
Konsultan, Kontraktor harus menggunakan peralatan yang
telah diusulkan dalam tender atau telah disetujui untuk
digunakan ketika kontrak ditandatangani. Kontraktor
harus menyerahkan rencana kerja detail pelaksanaan
pekerjaan sehubungan dengan mobilisasi peralatan.
c. Peralatan yang dipakai pada saat pelaksanaan harus
diajukan pada rencana kerja dan disetujui oleh Direksi Teknik
sebelum dioperasikan.
13.1.1.4 Toleransi Dimensi
a. Galian harus dilakukan sesuai dengan ukuran, ketinggian,
dan kemiringan seperti yang ditunjukkan dalam gambar
dengan kelandaian akhir, arah dan formasi sesudah galian
tidak boleh bervariasi dari yang ditentukan lebih dari 25 cm
pada setiap titik.
b. Permukaan galian yang telah selesai dan terbuka
terhadap aliran air permukaan harus cukup rata dan
harus memiliki cukup kemiringan untuk menjamin drainase
yang bebas dari permukaan itu tanpa terjadi genangan
atau menggunakan pelindung plastik sebagaimana
tercantum di dalam Gambar RKS.
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali
Spesifikasi teknis tpa morowali

More Related Content

What's hot

Metoda pelaksanaan Trotoar Kota Pariaman
Metoda pelaksanaan Trotoar Kota PariamanMetoda pelaksanaan Trotoar Kota Pariaman
Metoda pelaksanaan Trotoar Kota Pariaman
IMRA MORALDY
 
Kak p engawasan jalan paket d
Kak p engawasan jalan paket dKak p engawasan jalan paket d
Kak p engawasan jalan paket d
Joni Pandero
 
Kak pengawasan dermaga rpm 15
Kak pengawasan dermaga rpm 15Kak pengawasan dermaga rpm 15
Kak pengawasan dermaga rpm 15
Ahmadnoorperady
 
Metode teknis dan flow chart of work
Metode teknis dan  flow chart of workMetode teknis dan  flow chart of work
Metode teknis dan flow chart of work
Zinet Yeha
 
Rks imigrasi 2011
Rks imigrasi 2011Rks imigrasi 2011
Rks imigrasi 2011
Martunis Hasan
 
Tugas smm rmk_kelompok_4_a
Tugas smm rmk_kelompok_4_aTugas smm rmk_kelompok_4_a
Tugas smm rmk_kelompok_4_aYurisdal Azwan
 
Rks lpmp sulsel 2017
Rks lpmp sulsel 2017Rks lpmp sulsel 2017
Rks lpmp sulsel 2017
fadlan darmansyah
 
107028040 rapat-persiapan-pelaksanaan-kontrak-pcm
107028040 rapat-persiapan-pelaksanaan-kontrak-pcm107028040 rapat-persiapan-pelaksanaan-kontrak-pcm
107028040 rapat-persiapan-pelaksanaan-kontrak-pcmBintek
 
Format rk3k-pu 2
Format rk3k-pu 2Format rk3k-pu 2
Format rk3k-pu 2
Ahmad Arif
 
modul pelaksanaan proyek
modul pelaksanaan proyekmodul pelaksanaan proyek
modul pelaksanaan proyek
MOSES HADUN
 
E. pendekatan, metodologi dan program kerja1
E. pendekatan, metodologi dan program kerja1E. pendekatan, metodologi dan program kerja1
E. pendekatan, metodologi dan program kerja1
yudiarimbawa
 
Presentasi kerja praktek
Presentasi kerja praktekPresentasi kerja praktek
Presentasi kerja praktek
Affbarry Ocey
 
Spesifikasi Teknis
Spesifikasi TeknisSpesifikasi Teknis
Spesifikasi Teknis
Junizar Muhammad
 
Permen 04 Sistem Manajemen Mutu terkait Penyedia Jasa Konstruksi
Permen 04  Sistem Manajemen Mutu terkait Penyedia Jasa KonstruksiPermen 04  Sistem Manajemen Mutu terkait Penyedia Jasa Konstruksi
Permen 04 Sistem Manajemen Mutu terkait Penyedia Jasa KonstruksiHerry Hermawan
 
11 bab 3 gambaran umum proyek
11 bab 3 gambaran umum proyek 11 bab 3 gambaran umum proyek
11 bab 3 gambaran umum proyek
vieta_ressang
 
Kak cv.
Kak cv.Kak cv.
Kak cv.joedhy
 
Sistem Manajemen Mutu Badan Usaha Pelaksana Jasa Konstruksil plth bdg
Sistem Manajemen Mutu Badan Usaha Pelaksana Jasa Konstruksil plth bdgSistem Manajemen Mutu Badan Usaha Pelaksana Jasa Konstruksil plth bdg
Sistem Manajemen Mutu Badan Usaha Pelaksana Jasa Konstruksil plth bdgHerry Hermawan
 

What's hot (19)

Metoda pelaksanaan Trotoar Kota Pariaman
Metoda pelaksanaan Trotoar Kota PariamanMetoda pelaksanaan Trotoar Kota Pariaman
Metoda pelaksanaan Trotoar Kota Pariaman
 
Kak p engawasan jalan paket d
Kak p engawasan jalan paket dKak p engawasan jalan paket d
Kak p engawasan jalan paket d
 
Kegiatan Pelaksanaan Proyek
 Kegiatan Pelaksanaan Proyek Kegiatan Pelaksanaan Proyek
Kegiatan Pelaksanaan Proyek
 
Kak pengawasan dermaga rpm 15
Kak pengawasan dermaga rpm 15Kak pengawasan dermaga rpm 15
Kak pengawasan dermaga rpm 15
 
Metode teknis dan flow chart of work
Metode teknis dan  flow chart of workMetode teknis dan  flow chart of work
Metode teknis dan flow chart of work
 
Rks imigrasi 2011
Rks imigrasi 2011Rks imigrasi 2011
Rks imigrasi 2011
 
Tugas smm rmk_kelompok_4_a
Tugas smm rmk_kelompok_4_aTugas smm rmk_kelompok_4_a
Tugas smm rmk_kelompok_4_a
 
Rks lpmp sulsel 2017
Rks lpmp sulsel 2017Rks lpmp sulsel 2017
Rks lpmp sulsel 2017
 
Metode Pelaksanaan
Metode PelaksanaanMetode Pelaksanaan
Metode Pelaksanaan
 
107028040 rapat-persiapan-pelaksanaan-kontrak-pcm
107028040 rapat-persiapan-pelaksanaan-kontrak-pcm107028040 rapat-persiapan-pelaksanaan-kontrak-pcm
107028040 rapat-persiapan-pelaksanaan-kontrak-pcm
 
Format rk3k-pu 2
Format rk3k-pu 2Format rk3k-pu 2
Format rk3k-pu 2
 
modul pelaksanaan proyek
modul pelaksanaan proyekmodul pelaksanaan proyek
modul pelaksanaan proyek
 
E. pendekatan, metodologi dan program kerja1
E. pendekatan, metodologi dan program kerja1E. pendekatan, metodologi dan program kerja1
E. pendekatan, metodologi dan program kerja1
 
Presentasi kerja praktek
Presentasi kerja praktekPresentasi kerja praktek
Presentasi kerja praktek
 
Spesifikasi Teknis
Spesifikasi TeknisSpesifikasi Teknis
Spesifikasi Teknis
 
Permen 04 Sistem Manajemen Mutu terkait Penyedia Jasa Konstruksi
Permen 04  Sistem Manajemen Mutu terkait Penyedia Jasa KonstruksiPermen 04  Sistem Manajemen Mutu terkait Penyedia Jasa Konstruksi
Permen 04 Sistem Manajemen Mutu terkait Penyedia Jasa Konstruksi
 
11 bab 3 gambaran umum proyek
11 bab 3 gambaran umum proyek 11 bab 3 gambaran umum proyek
11 bab 3 gambaran umum proyek
 
Kak cv.
Kak cv.Kak cv.
Kak cv.
 
Sistem Manajemen Mutu Badan Usaha Pelaksana Jasa Konstruksil plth bdg
Sistem Manajemen Mutu Badan Usaha Pelaksana Jasa Konstruksil plth bdgSistem Manajemen Mutu Badan Usaha Pelaksana Jasa Konstruksil plth bdg
Sistem Manajemen Mutu Badan Usaha Pelaksana Jasa Konstruksil plth bdg
 

Viewers also liked

Detail engineering tempat_pembuangan_akh
Detail engineering tempat_pembuangan_akhDetail engineering tempat_pembuangan_akh
Detail engineering tempat_pembuangan_akh
Setiyo Pambudi
 
Oceana 057 actiniaria
Oceana 057 actiniariaOceana 057 actiniaria
Oceana 057 actiniaria
Oceana Windyartanti
 
Definicion de estructura - Daniela Salgado 8-1
Definicion de estructura - Daniela Salgado 8-1Definicion de estructura - Daniela Salgado 8-1
Definicion de estructura - Daniela Salgado 8-1
danysalgado123
 
Iniciando a pesquisa científica
Iniciando a pesquisa científicaIniciando a pesquisa científica
Iniciando a pesquisa científica
Governo do Estado de São Paulo
 
Ansiedad y ataques de panico
Ansiedad y ataques de panicoAnsiedad y ataques de panico
Ansiedad y ataques de panico
belinda de la cruz
 
Connecting words for comparison and contrast
Connecting words for comparison and contrastConnecting words for comparison and contrast
Connecting words for comparison and contrast
Shayne Scholl
 
Slide didática
Slide didáticaSlide didática
Slide didática
phamella barbaroto
 
Contabilidad de costos c.p daniela achar-1
Contabilidad de costos  c.p daniela achar-1Contabilidad de costos  c.p daniela achar-1
Contabilidad de costos c.p daniela achar-1
María Daniela Achar de Balbuena
 
форум літніх шкіл
форум літніх шкілфорум літніх шкіл
форум літніх шкіл
semyurihor
 
Top 5 Legal Issues for Ilinois Farmers in 2017
Top 5 Legal Issues for Ilinois Farmers in 2017Top 5 Legal Issues for Ilinois Farmers in 2017
Top 5 Legal Issues for Ilinois Farmers in 2017
Cari Rincker
 
Add boq tpa morowali
Add boq tpa morowaliAdd boq tpa morowali
Add boq tpa morowali
Setiyo Pambudi
 
NSD Kabupaten Kapuas
NSD Kabupaten KapuasNSD Kabupaten Kapuas
NSD Kabupaten Kapuas
Bagus ardian
 
Penyediaan Rumah Layak Huni
Penyediaan Rumah Layak Huni Penyediaan Rumah Layak Huni
Penyediaan Rumah Layak Huni
Bagus ardian
 
Pedoman pengoperasian & pemeliharaan tpa sistem controlled landfill & sanitar...
Pedoman pengoperasian & pemeliharaan tpa sistem controlled landfill & sanitar...Pedoman pengoperasian & pemeliharaan tpa sistem controlled landfill & sanitar...
Pedoman pengoperasian & pemeliharaan tpa sistem controlled landfill & sanitar...
Oswar Mungkasa
 
Kebijakan Pelaksanaan NUSP-2
Kebijakan Pelaksanaan NUSP-2Kebijakan Pelaksanaan NUSP-2
Kebijakan Pelaksanaan NUSP-2
Bagus ardian
 
Pedoman perencanaan tpa ( metode sanitary landfill)
Pedoman perencanaan tpa ( metode sanitary landfill)Pedoman perencanaan tpa ( metode sanitary landfill)
Pedoman perencanaan tpa ( metode sanitary landfill)Oswar Mungkasa
 
CONTOH JOBDES LENGKAP UNTUK PERUSAHAAN
CONTOH JOBDES LENGKAP UNTUK PERUSAHAANCONTOH JOBDES LENGKAP UNTUK PERUSAHAAN
CONTOH JOBDES LENGKAP UNTUK PERUSAHAAN
Shobrie Hardhi, SE, CFA, CLA, CPHR, CPTr.
 
El diagnostico-participativo
El diagnostico-participativoEl diagnostico-participativo
El diagnostico-participativo
Yonaiquer Hidalgo
 
El cuerpo femenino y su sabiduría
El cuerpo femenino y su sabiduríaEl cuerpo femenino y su sabiduría
El cuerpo femenino y su sabiduría
Natalia Astete
 

Viewers also liked (20)

Detail engineering tempat_pembuangan_akh
Detail engineering tempat_pembuangan_akhDetail engineering tempat_pembuangan_akh
Detail engineering tempat_pembuangan_akh
 
Oceana 057 actiniaria
Oceana 057 actiniariaOceana 057 actiniaria
Oceana 057 actiniaria
 
Definicion de estructura - Daniela Salgado 8-1
Definicion de estructura - Daniela Salgado 8-1Definicion de estructura - Daniela Salgado 8-1
Definicion de estructura - Daniela Salgado 8-1
 
Iniciando a pesquisa científica
Iniciando a pesquisa científicaIniciando a pesquisa científica
Iniciando a pesquisa científica
 
Ansiedad y ataques de panico
Ansiedad y ataques de panicoAnsiedad y ataques de panico
Ansiedad y ataques de panico
 
Connecting words for comparison and contrast
Connecting words for comparison and contrastConnecting words for comparison and contrast
Connecting words for comparison and contrast
 
Slide didática
Slide didáticaSlide didática
Slide didática
 
Contabilidad de costos c.p daniela achar-1
Contabilidad de costos  c.p daniela achar-1Contabilidad de costos  c.p daniela achar-1
Contabilidad de costos c.p daniela achar-1
 
форум літніх шкіл
форум літніх шкілфорум літніх шкіл
форум літніх шкіл
 
Top 5 Legal Issues for Ilinois Farmers in 2017
Top 5 Legal Issues for Ilinois Farmers in 2017Top 5 Legal Issues for Ilinois Farmers in 2017
Top 5 Legal Issues for Ilinois Farmers in 2017
 
Add boq tpa morowali
Add boq tpa morowaliAdd boq tpa morowali
Add boq tpa morowali
 
NSD Kabupaten Kapuas
NSD Kabupaten KapuasNSD Kabupaten Kapuas
NSD Kabupaten Kapuas
 
Tempat pembuangan akhir sampah
Tempat pembuangan akhir sampahTempat pembuangan akhir sampah
Tempat pembuangan akhir sampah
 
Penyediaan Rumah Layak Huni
Penyediaan Rumah Layak Huni Penyediaan Rumah Layak Huni
Penyediaan Rumah Layak Huni
 
Pedoman pengoperasian & pemeliharaan tpa sistem controlled landfill & sanitar...
Pedoman pengoperasian & pemeliharaan tpa sistem controlled landfill & sanitar...Pedoman pengoperasian & pemeliharaan tpa sistem controlled landfill & sanitar...
Pedoman pengoperasian & pemeliharaan tpa sistem controlled landfill & sanitar...
 
Kebijakan Pelaksanaan NUSP-2
Kebijakan Pelaksanaan NUSP-2Kebijakan Pelaksanaan NUSP-2
Kebijakan Pelaksanaan NUSP-2
 
Pedoman perencanaan tpa ( metode sanitary landfill)
Pedoman perencanaan tpa ( metode sanitary landfill)Pedoman perencanaan tpa ( metode sanitary landfill)
Pedoman perencanaan tpa ( metode sanitary landfill)
 
CONTOH JOBDES LENGKAP UNTUK PERUSAHAAN
CONTOH JOBDES LENGKAP UNTUK PERUSAHAANCONTOH JOBDES LENGKAP UNTUK PERUSAHAAN
CONTOH JOBDES LENGKAP UNTUK PERUSAHAAN
 
El diagnostico-participativo
El diagnostico-participativoEl diagnostico-participativo
El diagnostico-participativo
 
El cuerpo femenino y su sabiduría
El cuerpo femenino y su sabiduríaEl cuerpo femenino y su sabiduría
El cuerpo femenino y su sabiduría
 

Similar to Spesifikasi teknis tpa morowali

Spesifikasi teknis
Spesifikasi teknisSpesifikasi teknis
Spesifikasi teknis
sactria studio
 
dokumen.tips_spek-teknis-jalan-aspal.pdf
dokumen.tips_spek-teknis-jalan-aspal.pdfdokumen.tips_spek-teknis-jalan-aspal.pdf
dokumen.tips_spek-teknis-jalan-aspal.pdf
ArifFardila
 
02 spek umum
02 spek umum02 spek umum
02 spek umum
Santi Nurhayati
 
METODE PELAKSANAAN PENATAAN TAMAN .pdf
METODE PELAKSANAAN PENATAAN TAMAN .pdfMETODE PELAKSANAAN PENATAAN TAMAN .pdf
METODE PELAKSANAAN PENATAAN TAMAN .pdf
mundestades
 
spektek-KUA KARAU KUALA.pdf
spektek-KUA KARAU KUALA.pdfspektek-KUA KARAU KUALA.pdf
spektek-KUA KARAU KUALA.pdf
BendotPak
 
Spesifikasi teknis kontruksi jembatan
Spesifikasi teknis kontruksi jembatanSpesifikasi teknis kontruksi jembatan
Spesifikasi teknis kontruksi jembatanade_dudi
 
Kak pagar kantor tahun anggaran 2014
Kak pagar kantor tahun anggaran 2014Kak pagar kantor tahun anggaran 2014
Kak pagar kantor tahun anggaran 2014KHRISTIAN MAUKO
 
Spesifikasi teknis rujab
Spesifikasi teknis rujabSpesifikasi teknis rujab
Spesifikasi teknis rujab
lismansinauru
 
RKS Lanjutan Ruang Terbuka Hijau RTH Eks Pasar BoneBone.pdf
RKS Lanjutan Ruang Terbuka Hijau RTH Eks Pasar BoneBone.pdfRKS Lanjutan Ruang Terbuka Hijau RTH Eks Pasar BoneBone.pdf
RKS Lanjutan Ruang Terbuka Hijau RTH Eks Pasar BoneBone.pdf
cendanapermai
 
Spek teknis tpa mamasa
Spek teknis tpa mamasaSpek teknis tpa mamasa
Spek teknis tpa mamasa
SonyDede
 
Metoda pelaksanaan Sheet Pile
Metoda pelaksanaan Sheet PileMetoda pelaksanaan Sheet Pile
Metoda pelaksanaan Sheet Pile
IMRA MORALDY
 
Spektek garukgak boq
Spektek garukgak  boqSpektek garukgak  boq
Spektek garukgak boq
mawardiansyahmawardi
 
RKS infrastruktur perbaikan jalan lingkungan
RKS infrastruktur perbaikan jalan lingkunganRKS infrastruktur perbaikan jalan lingkungan
RKS infrastruktur perbaikan jalan lingkungan
gmtspotify
 
Spesifikasi teknis
Spesifikasi teknisSpesifikasi teknis
Spesifikasi teknis
Cipt4
 
Power Point - pelaksana pekerjaan gedung.pptx
Power Point - pelaksana pekerjaan gedung.pptxPower Point - pelaksana pekerjaan gedung.pptx
Power Point - pelaksana pekerjaan gedung.pptx
ANGKATANCORONA1
 
Sartek agregat base c
Sartek agregat base cSartek agregat base c
Sartek agregat base cKashmir Brown
 
REVIEW TENDER JEMBATAN JURONG 26112023.pdf
REVIEW TENDER JEMBATAN JURONG 26112023.pdfREVIEW TENDER JEMBATAN JURONG 26112023.pdf
REVIEW TENDER JEMBATAN JURONG 26112023.pdf
yudihidayat7
 
Metode rk3
Metode rk3Metode rk3
Metode rk3
Nana Gaara
 

Similar to Spesifikasi teknis tpa morowali (20)

Spesifikasi teknis
Spesifikasi teknisSpesifikasi teknis
Spesifikasi teknis
 
dokumen.tips_spek-teknis-jalan-aspal.pdf
dokumen.tips_spek-teknis-jalan-aspal.pdfdokumen.tips_spek-teknis-jalan-aspal.pdf
dokumen.tips_spek-teknis-jalan-aspal.pdf
 
02 spek umum
02 spek umum02 spek umum
02 spek umum
 
METODE PELAKSANAAN PENATAAN TAMAN .pdf
METODE PELAKSANAAN PENATAAN TAMAN .pdfMETODE PELAKSANAAN PENATAAN TAMAN .pdf
METODE PELAKSANAAN PENATAAN TAMAN .pdf
 
spektek-KUA KARAU KUALA.pdf
spektek-KUA KARAU KUALA.pdfspektek-KUA KARAU KUALA.pdf
spektek-KUA KARAU KUALA.pdf
 
Spesifikasi teknis kontruksi jembatan
Spesifikasi teknis kontruksi jembatanSpesifikasi teknis kontruksi jembatan
Spesifikasi teknis kontruksi jembatan
 
Kak pagar kantor tahun anggaran 2014
Kak pagar kantor tahun anggaran 2014Kak pagar kantor tahun anggaran 2014
Kak pagar kantor tahun anggaran 2014
 
Spesifikasi teknis rujab
Spesifikasi teknis rujabSpesifikasi teknis rujab
Spesifikasi teknis rujab
 
RKS Lanjutan Ruang Terbuka Hijau RTH Eks Pasar BoneBone.pdf
RKS Lanjutan Ruang Terbuka Hijau RTH Eks Pasar BoneBone.pdfRKS Lanjutan Ruang Terbuka Hijau RTH Eks Pasar BoneBone.pdf
RKS Lanjutan Ruang Terbuka Hijau RTH Eks Pasar BoneBone.pdf
 
Spek teknis tpa mamasa
Spek teknis tpa mamasaSpek teknis tpa mamasa
Spek teknis tpa mamasa
 
Metoda pelaksanaan Sheet Pile
Metoda pelaksanaan Sheet PileMetoda pelaksanaan Sheet Pile
Metoda pelaksanaan Sheet Pile
 
Spek umum 2
Spek umum 2Spek umum 2
Spek umum 2
 
Spektek garukgak boq
Spektek garukgak  boqSpektek garukgak  boq
Spektek garukgak boq
 
RKS infrastruktur perbaikan jalan lingkungan
RKS infrastruktur perbaikan jalan lingkunganRKS infrastruktur perbaikan jalan lingkungan
RKS infrastruktur perbaikan jalan lingkungan
 
Spesifikasi teknis
Spesifikasi teknisSpesifikasi teknis
Spesifikasi teknis
 
Power Point - pelaksana pekerjaan gedung.pptx
Power Point - pelaksana pekerjaan gedung.pptxPower Point - pelaksana pekerjaan gedung.pptx
Power Point - pelaksana pekerjaan gedung.pptx
 
Sartek agregat base c
Sartek agregat base cSartek agregat base c
Sartek agregat base c
 
REVIEW TENDER JEMBATAN JURONG 26112023.pdf
REVIEW TENDER JEMBATAN JURONG 26112023.pdfREVIEW TENDER JEMBATAN JURONG 26112023.pdf
REVIEW TENDER JEMBATAN JURONG 26112023.pdf
 
Kak irigasi dempar
Kak irigasi demparKak irigasi dempar
Kak irigasi dempar
 
Metode rk3
Metode rk3Metode rk3
Metode rk3
 

Recently uploaded

Studi Kasus : Oksidasi Pirit dan Pengaruhnya Terhadap Ekosistem
Studi Kasus : Oksidasi Pirit dan Pengaruhnya Terhadap EkosistemStudi Kasus : Oksidasi Pirit dan Pengaruhnya Terhadap Ekosistem
Studi Kasus : Oksidasi Pirit dan Pengaruhnya Terhadap Ekosistem
d1051231041
 
Penetapan C-Organik Tanah (Walkley and Black Method).pptx
Penetapan C-Organik Tanah (Walkley and Black Method).pptxPenetapan C-Organik Tanah (Walkley and Black Method).pptx
Penetapan C-Organik Tanah (Walkley and Black Method).pptx
Erma753811
 
BAB III. Undang-Undang PP Lingkungan Hidup.ppt
BAB III.  Undang-Undang PP Lingkungan Hidup.pptBAB III.  Undang-Undang PP Lingkungan Hidup.ppt
BAB III. Undang-Undang PP Lingkungan Hidup.ppt
YUZANAPRATIWI
 
001-PPE Suma-Tata Laksana Perizinan Lingkungan.pptx
001-PPE Suma-Tata Laksana Perizinan Lingkungan.pptx001-PPE Suma-Tata Laksana Perizinan Lingkungan.pptx
001-PPE Suma-Tata Laksana Perizinan Lingkungan.pptx
LukmanulHakim572233
 
Analisis Konten Pendekatan Fear Appeal dalam Kampanye #TogetherPossible WWF.pdf
Analisis Konten Pendekatan Fear Appeal dalam Kampanye #TogetherPossible WWF.pdfAnalisis Konten Pendekatan Fear Appeal dalam Kampanye #TogetherPossible WWF.pdf
Analisis Konten Pendekatan Fear Appeal dalam Kampanye #TogetherPossible WWF.pdf
BrigittaBelva
 
induksi K3LH karyawan baru pt kpp site IC.pptx
induksi K3LH karyawan baru pt kpp site IC.pptxinduksi K3LH karyawan baru pt kpp site IC.pptx
induksi K3LH karyawan baru pt kpp site IC.pptx
AzisRois1
 
Plastik dan Sampah Pantauan Mei 2024.pdf
Plastik dan Sampah Pantauan Mei 2024.pdfPlastik dan Sampah Pantauan Mei 2024.pdf
Plastik dan Sampah Pantauan Mei 2024.pdf
Biotani & Bahari Indonesia
 
KERUSAKAN LAHAN GAMBUT ANALISIS EMISI KARBON DARI DEGRADASI LAHAN GAMBUT DI A...
KERUSAKAN LAHAN GAMBUT ANALISIS EMISI KARBON DARI DEGRADASI LAHAN GAMBUT DI A...KERUSAKAN LAHAN GAMBUT ANALISIS EMISI KARBON DARI DEGRADASI LAHAN GAMBUT DI A...
KERUSAKAN LAHAN GAMBUT ANALISIS EMISI KARBON DARI DEGRADASI LAHAN GAMBUT DI A...
d1051231072
 
PAPER KIMIA LINGKUNGAN MENINGKATNYA GAS RUMAH KACA IMPLIKASI DAN SOLUSI BAGI ...
PAPER KIMIA LINGKUNGAN MENINGKATNYA GAS RUMAH KACA IMPLIKASI DAN SOLUSI BAGI ...PAPER KIMIA LINGKUNGAN MENINGKATNYA GAS RUMAH KACA IMPLIKASI DAN SOLUSI BAGI ...
PAPER KIMIA LINGKUNGAN MENINGKATNYA GAS RUMAH KACA IMPLIKASI DAN SOLUSI BAGI ...
muhammadnoorhasby04
 
Sejarah Gunung Merapi dan Catatan Erupsi
Sejarah Gunung Merapi dan Catatan ErupsiSejarah Gunung Merapi dan Catatan Erupsi
Sejarah Gunung Merapi dan Catatan Erupsi
ssuserb357a32
 
KERUSAKAN LAHAN GAMBUT: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DAN STRATEGI...
KERUSAKAN LAHAN GAMBUT: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DAN STRATEGI...KERUSAKAN LAHAN GAMBUT: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DAN STRATEGI...
KERUSAKAN LAHAN GAMBUT: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DAN STRATEGI...
d1051231034
 
KERUSAKAN LAHAN GAMBUT ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DAN STRATEGI ...
KERUSAKAN LAHAN GAMBUT ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DAN STRATEGI ...KERUSAKAN LAHAN GAMBUT ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DAN STRATEGI ...
KERUSAKAN LAHAN GAMBUT ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DAN STRATEGI ...
d1051231039
 

Recently uploaded (12)

Studi Kasus : Oksidasi Pirit dan Pengaruhnya Terhadap Ekosistem
Studi Kasus : Oksidasi Pirit dan Pengaruhnya Terhadap EkosistemStudi Kasus : Oksidasi Pirit dan Pengaruhnya Terhadap Ekosistem
Studi Kasus : Oksidasi Pirit dan Pengaruhnya Terhadap Ekosistem
 
Penetapan C-Organik Tanah (Walkley and Black Method).pptx
Penetapan C-Organik Tanah (Walkley and Black Method).pptxPenetapan C-Organik Tanah (Walkley and Black Method).pptx
Penetapan C-Organik Tanah (Walkley and Black Method).pptx
 
BAB III. Undang-Undang PP Lingkungan Hidup.ppt
BAB III.  Undang-Undang PP Lingkungan Hidup.pptBAB III.  Undang-Undang PP Lingkungan Hidup.ppt
BAB III. Undang-Undang PP Lingkungan Hidup.ppt
 
001-PPE Suma-Tata Laksana Perizinan Lingkungan.pptx
001-PPE Suma-Tata Laksana Perizinan Lingkungan.pptx001-PPE Suma-Tata Laksana Perizinan Lingkungan.pptx
001-PPE Suma-Tata Laksana Perizinan Lingkungan.pptx
 
Analisis Konten Pendekatan Fear Appeal dalam Kampanye #TogetherPossible WWF.pdf
Analisis Konten Pendekatan Fear Appeal dalam Kampanye #TogetherPossible WWF.pdfAnalisis Konten Pendekatan Fear Appeal dalam Kampanye #TogetherPossible WWF.pdf
Analisis Konten Pendekatan Fear Appeal dalam Kampanye #TogetherPossible WWF.pdf
 
induksi K3LH karyawan baru pt kpp site IC.pptx
induksi K3LH karyawan baru pt kpp site IC.pptxinduksi K3LH karyawan baru pt kpp site IC.pptx
induksi K3LH karyawan baru pt kpp site IC.pptx
 
Plastik dan Sampah Pantauan Mei 2024.pdf
Plastik dan Sampah Pantauan Mei 2024.pdfPlastik dan Sampah Pantauan Mei 2024.pdf
Plastik dan Sampah Pantauan Mei 2024.pdf
 
KERUSAKAN LAHAN GAMBUT ANALISIS EMISI KARBON DARI DEGRADASI LAHAN GAMBUT DI A...
KERUSAKAN LAHAN GAMBUT ANALISIS EMISI KARBON DARI DEGRADASI LAHAN GAMBUT DI A...KERUSAKAN LAHAN GAMBUT ANALISIS EMISI KARBON DARI DEGRADASI LAHAN GAMBUT DI A...
KERUSAKAN LAHAN GAMBUT ANALISIS EMISI KARBON DARI DEGRADASI LAHAN GAMBUT DI A...
 
PAPER KIMIA LINGKUNGAN MENINGKATNYA GAS RUMAH KACA IMPLIKASI DAN SOLUSI BAGI ...
PAPER KIMIA LINGKUNGAN MENINGKATNYA GAS RUMAH KACA IMPLIKASI DAN SOLUSI BAGI ...PAPER KIMIA LINGKUNGAN MENINGKATNYA GAS RUMAH KACA IMPLIKASI DAN SOLUSI BAGI ...
PAPER KIMIA LINGKUNGAN MENINGKATNYA GAS RUMAH KACA IMPLIKASI DAN SOLUSI BAGI ...
 
Sejarah Gunung Merapi dan Catatan Erupsi
Sejarah Gunung Merapi dan Catatan ErupsiSejarah Gunung Merapi dan Catatan Erupsi
Sejarah Gunung Merapi dan Catatan Erupsi
 
KERUSAKAN LAHAN GAMBUT: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DAN STRATEGI...
KERUSAKAN LAHAN GAMBUT: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DAN STRATEGI...KERUSAKAN LAHAN GAMBUT: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DAN STRATEGI...
KERUSAKAN LAHAN GAMBUT: ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DAN STRATEGI...
 
KERUSAKAN LAHAN GAMBUT ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DAN STRATEGI ...
KERUSAKAN LAHAN GAMBUT ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DAN STRATEGI ...KERUSAKAN LAHAN GAMBUT ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DAN STRATEGI ...
KERUSAKAN LAHAN GAMBUT ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DAN STRATEGI ...
 

Spesifikasi teknis tpa morowali

  • 1. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 1 SPESIFIKASI TEKNIS P a s a l - 1 Uraian Pekerjaan Pekerjaan meliputi : 1.1. Pekerjaan yang dilaksanaan meliputi : Rencana Teknis Rinci Pembangunan TPA Sampah Kab. Morowali Jenis Pekerjaan : Pembangunan TPA Sampah Bahoruru 1.2. Pekerjaan tersebut pada pasal 1 ayat 1 diatas dilaksanakan sesuai dengan : - Uraian dan syarat-syarat kerja (Bestek) - Gambar situasi, Detail dan gambar susulan bila ada - Rízala rapat penjelasan (Aanwijzing) - Petunjuk-petunjuk dari direksi pelaksanaan dengan kondisi lapangan. P a s a l - 2 Lokasi Pekerjaan 2.1. Lokasi pekerjaan Desa Bahoruru Kecamatan Bungku Tengah Kabupaten Morowali Propinsi Sulawesi Tengah 2.2. Tempat pekerjaan akan ditunjukkan kemudian oleh Direksi 2.3. Lokasi pekerjaan akan dijelaskan pada Pemborongan pada saat Aanwijzing berlangsung berdasarkan gambar-gambar perencanaan P a s a l - 3 Umum 3.1 Gambar, Spesifikasi Teknis, dan HPS merupakan sesuatu kesatuan yang saling mengikat dan melengkapi. Kontraktor bertanggung jawab penuh atas mutu bahan (material) dan kualitas hasil pekerjaan. 3.2 Kontraktor wajib bertanggung jawab atas semua pekerjaan. 3.3 Sebelum memulai pekerjaan, pihak Kontraktor harus memberikan pemberitahuan secara tertulis kepada pihak direksi. 3.3 Penanggung jawab pelaksanaan pekerjaan harus selalu berada di tempat pekerjaan dan dapat mengambil keputusan dengan dikonsultasikan bersama direksi, demi kelancaran pekerjaan. 3.4 Penyedia jasa wajib menyediakan penerangan malam untuk pengamanan dan kegiatan malam hari.
  • 2. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 2 P a s a l - 4 Gambar 4.1 Perbedaan Gambar - Kontraktor wajib mengikuti/memenuhi semua persyaratan yang ditulis dalam spesifikasi teknis ini, juga wajib memenuhi persyaratan umum yang dikeluarkan oleh Pemberi Tugas. - Apabila ada hal-hal yang disebutkan kembali pada bagian bab/gambar lain, maka ini harus diartikan bukan untuk menghilangkan satu terhadap yang lain tetapi malah untuk lebih menegaskan masalahnya. Kalau terjadi hal yang saling bertentangan antar gambar atau terhadap spesifikasi teknis maka Kontraktor wajib berkonsultasi dengan direksi dan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) - Perbedaan-perbedaan tersebut tidak boleh dijadikan alasan bagi kontraktor untuk mengadakan claim pada waktu pelaksanaan. 4.2 Perubahan Gambar Sebelum melaksanakan pekerjaan, kontraktor wajib meneliti/memeriksa Gambar Perencanaan dan Spesifikasi Teknis; dan jika Kontraktor menemukan kesalahan dalam gambar-gambar Perencanaan dan/atau spesifikasi teknisnya, maka Kontraktor wajib memberitahukan kepada Pemberi Tugas secara tertulis untuk mendapatkan penjelasan sebelum masalah tersebut dilaksanakan di lapangan. P a s a l - 5 Perbedaan 5.1 Apabila dalam dokumen pengadaan tertulis/tercantum, sedangkan dalam gambar belum tercantum maka dokumen pengadaan yang mengikat. 5.2. Apabila dalam gambar tertulis sedang dokumen pengadaan belum tercantum/tertulis maka gambar yang mengikat. 5.3. Jika ada perbedaan antara gambar rencana dan gambar detailnya, maka Penyedia Jasa wajib minta pertimbangan kepada Direksi. 5.4 Apabila dalam rencana dan dokumen pengadaan tidak tercantum, maka Direksi dan Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) yang menentukan.
  • 3. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 3 P a s a l – 6 Mobilisasi dan Demobilisasi 6.1 Mobilisasi dan demobilisasi merupakan kegiatan yang bertujuan mendatangkan segala kebutuhan yang akan dilaksanakan pada saat pelaksanaan pekerjaan yang harus disediakan oleh pihak kontraktor. 6.2 Segala kebutuhan demi kelancaran sebuah pekerjaan merupakan kewajiban yang disediakan oleh pihak kontraktor, dengan mendatangkan ke lokasi pekerjaan baik tenaga kerja maupun peralatan yang dibutuhkan. 6.3 Semua peralatan yang diperlukan untuk pelaksanaan pekerjaan ini harus disediakan oleh kontraktor, baik peralatan tukang maupun alat berat yang diperlukan. Sebelum suatu tahapan pekerjaan dimulai, kontraktor harus mempersiapkan seluruh peralatan yang dibutuhkan untuk pelaksanaan tahap pekerjaan tersebut. Penyediaan peralatan ditempat pekerjaan, dan persiapan peralatan pekerjaan harus terlebih dahulu mendapat penelitian dan persetujuan dari direksi. 6.4 Tanpa persetujuan direksi, kontraktor tidak diperbolehkan untuk memindahkan peralatan yang diperlukan dari lokasi pekerjaan. 6.5 Kerusakan yang timbul pada sebagian atau keseluruhan peralatan yang akan mengganggu kelancaran pelaksanaan pekerjaan harus segera diperbaiki atau diganti hingga direksi menganggap pekerjaan dapat dimulai. P a s a l – 7 Pengukuran/Pematokan 7.1 Ukuran-ukuran pokok dan detail tertera pada gambar penyedia barang/jasa harus mentaati ukuran tersebut dan ikut menelitinya apabila ada perbedaan/penggambaran harus dibicarakan dengan Direksi. 7.2 Semua pekerjaan pengukuran/pematokan yang bertalian dengan pekerjaan ini menjadi tanggung jawab penyedia barang/jasa dan dilaksanakan dengan alat ukur yang baik. 7.3 Penyedia barang/jasa harus mengerjakan pematokan untuk menetukan kedudukan dan peil bangunan sesuai dengan gambar rencana. Pekerjaan ini harus seluruhnya telah disetujui oleh direksi sebelum memulai pekerjaan selanjutnya. 7.4 Direksi dapat melakukan revisi pemasangan patok tersebut bila dipandang perlu. Penyedia barang/jasa harus mengerjakan revisi tersebut sesuai petunjuk direksi. 7.5 Sebelum memulai pekerjaan pemasangan pematokan tersebut, penyedia barang/jasa harus memberitahukan kepada direksi dalam waktu tidak kurang dari 24 jam sehingga direksi dapat menyiapkan peralatan yang perlu untuk melakukan pengawasan. 7.6 Pekerjaan pematokan yang telah diukur oleh penyedia barang/jasa untuk kemudian disetujui oleh direksi. 7.7 Hasil pengukuran yang disetujui oleh direksi dapat dilaksanakan dasar pembayaran.
  • 4. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 4 P a s a l - 8 Pekerjaan Persiapan dan Papan Nama Kegiatan 8.1 Penyedia barang/jasa harus membuat dan memasang Papan Nama Kegiatan pada lokasi pekerjaan dengan ukuran 120 cm x 80 cm, sebagai Papan Nama Pemberitahuan yang berisikan informasi pekerjaan yang akan dilaksanakan, pembiayaan, jangka waktu pelaksanaan dan nama penyedia barang/jasa pekerjaan. 8.2 Format Papan Nama Proyek 8.3 Bahan-bahan harus ditempatkan pada tempat yang tidak akan mengganggu lalu lintas dan selambat-lambatnya dalam waktu satu kali 24 jam. 8.4 Setiap kecelakaan yang disebabkan oleh kelalaian penyedia barang/jasa memberi pengamanan seperti tersebut diatas sepenuhnya tanggung jawab penyedia barang/jasa. 8.5 Sebelum melaksanakan pekerjaan lokasi harus dibersihkan dari segala kotoran dan setelah pekerjaan selesai harus dibersihkan dari segala sisa bahan dan lain- lain.
  • 5. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 5 P a s a l - 9 Penyediaan Pos Kerja, Kantor, dan Gudang 9.1 Penyedia barang/jasa herus menyiapkan kantor direksi sementara, yang dilengkapi oleh fasilitas meja, kursi, papan tulis dan sebagainya seperti disebutkan dalam syarat-syarat khusus dan petunjuk direksi. 9.2 Juga harus disediakan gudang untuk penyimpanan material yang cukup dan memenuhi syarat agar material maupun peralatan lain tidak menjadi lembab atau karena sebab-sebab lain. Bila diperlukan tempat kerja dan tempat tersebut terletak diluar daerah yang disediakan direksi, maka penyedia barang/jasa harus menyelesaiakan ganti rugi atau biaya-biaya lain sehubungan hal tersebut dan tidk diperkenankan meminta biaya-biaya tambahan. P a s a l - 10 Penyediaan Tenaga, Peralatan, dan Lampu Penerangan 10.1 Tenaga yang diperlukan bagi pelaksanaan pekerjaan harus disediakan sendiri oleh penyedia barang/jasa dengan jumlah dan kapasitas yang sesuai dengan pekerjaan yang dilaksanakan, yaitu seorang tenaga teknis dengan pendidikan minimal sarjana muda sipil dengan pengalaman lebih dari 5 tahun dan memiliki SKA/SKT serta seorang tenaga administrasi dengan pendidikan minimal SLTA dengan pengalaman kerja lebih dari 5 tahun. dan harus disetujui oleh direksi. 10.2 Penyedia barang/jasa harus mengajukan daftar peralatan secara terperinci yang akan digunakan untuk melaksanakan pekerjaan. Daftar tersebut harus disetujui direksi. Kerusakan yang timbul pada sebagian atau keseluruhan alat- alat tersebut yang akan mengganggu pelaksanaan pekerjaan harus segera diperbaiki atau diganti sehingga direksi menganggap pekerjaan dapat dimulai/dilanjutkan yaitu Memiliki : 5 Unit Excavator 1 Unit Vibrator Roller 1 Unit Motor Grader 1 Unit Water tank 5 Unit Dump Truck 5 Unit Concrete Mixer 10.3 Penyedia barang/jasa harus mnyediakan lampu-lampu penerangan apabila pekerjaan tersebut dilaksanakan pada waktu malam hari.
  • 6. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 6 P a s a l - 11 Penyediaan Rambu-Rambu Lalu Lintas 11.1 Dimana yang dipandang perla, penyedia barang/jasa harus menyediakan rambu-rambu untuk keperluan lalu lintas melewati jalan dan rambu tersebut harus cukup jelas untuk menjamin keselamatan lalu lintas. Apabila melalui jalan-jalan yang sibuk, maka penyedia barang/jasa harus melaksanakan secara bertahap dan apabila perlu dikerjakan pada malam hari. Biaya yang dikeluarkan akibat keperluan-keperluan tersebut diatas harus menjadi tanggungan Penyedia barang/Jasa. P a s a l - 12 Penyediaan Air Air yang diperlukan harus disediakan oleh penyedia barang/jasa termasuk penyediaan peralatan dan perpipaan antara ukuran dan gambarnya, maka segera diminta petunjuk direksi untuk menetapkan ukuran yang benar. P a s a l - 13 Peyediaan Material 13.1 Penyedia barang/jasa harus menyediakan sendiri material seperti yang disebutkan dalam daftar volume pekerjaan. Material-material yang disediakan oleh direksi atau pemberi perintah akan ditentukan tersendiri dalam syarat- syarat khusus atau dalam rapat penjelasan. 13.2 Penyedia barang/jasa harus memeriksa terlebih dahulu meterial-meterial tersebut dan harus bertanggung jawab atas pengangkutan sampai di lokasi pekerjaan. Penyadia barang/jasa harus mengganti kalau material itu rusak yang diakibatkan oleh cara pengangkutan yang salah, hilang atau berkurangnya material yang diangkut kelalaian penyedia barang/jasa. P a s a l - 14 Perlindungan Terhadap Cuaca Penyedia barang/jasa harus mengusahakan atas tanggungannya sendiri, langkah- langkah peralatan yang perlu untuk melindungi pekerjaan dan bahan-bahan yang digunakan agar tidak rusak atau berkurangnya mutu karena pengaruh cuaca.
  • 7. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 7 P a s a l - 15 Rencana Kerja Penyedia barang/jasa harus menyiapkan status rencana kerja dan harus disampaikan kepada direksi, rencana kerja tersebut harus mencakup : 15.1 Tanggal mulai, serta selesai pekerjaan konstruksi dan atau pemasangan kegiatan pekerjaan termasuk pengujiannya. 15.2 Jam kerja bagi tenaga yang disediakan oleh penyedia barang/jasa 15.3 Jumlah dari tenaga yang dipakai pada setiap tahap pekerjaan dengan disertai latar belakang pendidikan dan pengalaman kerja. 15.4 Macam serta jumlah mesin-mesin serta alat-alat yag akan dipakai pada pelaksanaan pekerjaan. 15.5 Cara pelaksanaan pekerjaan. P a s a l - 16 Pemberitahuan Untuk Memulai Pekerjaan Penyedia barang/jasa diharuskan untuk memberikan secara tertulis akan memulai pekerjaan kepada direksi selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari setelah Surat Printah Mulai Kerja (SPMK) diterbitkan. Dalam keadaan apapun tidak diperkenankan untuk memulai pekerjaan yang sifatnya permanen tanpa terlebih dahulu mendapat persetujuan direksi, pemberitahuan lengkap dan jelas harus terlebih dahulu disampaikan kepada direksi dan dalam jangka waktu yang cukup sebelum dimulainya pekerjaan tersebut. P a s a l - 17 SPESIFIKASI TEKNIS PEKERJAAN 1. PEKERJAAN TANAH 1.1 Umum a). Pekerjaan tanah meliputi pekerjaan yang berhubungan dengan pengupasan dan penimbunan atau pembuangan tanah, batu-batu atau material lain dari atau ke tempat proyek, atau pembongkaran dan pembersihan bekas- bekas saluran air, selokan parit dan pembuangan bekas- bekas tanah longsor dan yang berhubungan dengan pekerjaan yang dilaksanakan sesuai dengan spesifikasi, menurut gambar pelaksanaan atau petunjuk direksi. b). Pada lokasi yang akan diurug, pemborong harus melakukan stripping terlebih dahulu, sehingga mendapatkan permukaan tanah asli yang bebas dari segala bentuk kotoran, humus, akar- akar atau sisa-sisa material lain yang dapat membusuk. c). Bila yang akan didirikan bangunan kontraktor harus melakukan pengupasan, ketebalan pengupasan ini minimum
  • 8. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 8 30 cm dari permukaan tanah asli untuk tanah yang cukup baik tetap memperhatikan syarat-syarat tersebut diatas. Tanah bekas stripping ini harus dibuang/disingkirkan sesuai dengan petunjuk direksi. d). Untuk semua pekerjaan urugan yang tidak memakai pasir urug, harus menggunakan tanah yang baik dan bersih dari tanaman, akar-akaran, brangkal-brangkal, puing- puing dan segala macam kotoran lainnya. e). Pekerjaan pengurugan terdiri dari pekerjaan mengurug tanah, sesuai dengan syarat-syarat serta ketentuan-ketentuan pada RKS ini dan gambar-gambar pelaksanaan yang disetujui direksi. Gambar pelaksanaan menunjukkan antara lain gambar- gambar profil melintang memanjang, kemiringan dan dimensi- dimensi dengan jelas. 1.2 Sumber Penggunaan Material a). Material untuk timbunan site/lokasi terdiri dari material- material yang sesuai untuk keperluan itu dan disetujui oleh direksi. b). Apabila tanah untuk pengurugan harus diambil dari luar site, maka tanah yang diambil harus dari satu sumber dan harus dilakukan test laboratorium meliputi : compactor (standar proctor) kandungan bahan-bahan organik, plastisitas dan harus mendapat persetujuan direksi. c). Material lebih atau material yang tidak dapat dipakai harus dibuang sesuai dengan ketentuan yang telah dicantumkan dalam RKS ini atau menurut petunjuk direksi. Material yang ada dalam keadaan basah, dimana dalam keadaan kering dapat dipakai harus dikeringkan lebih dahulu/sampai mencapai kadar air optimum baru kemudian digunakan untuk timbunan. d). Material penimbunan dari tanah asli yang didatangkan dengan memenuhi persyaratan material penimbunan jalan, standar Bina Marga antara lain : - Bukan termasuk tanah lempung (clay) - Memenuhi persyaratan plastisitas - Bersih dari bahan-bahan organik - CBR rendaman laboratorium minimal 4%. e). Kepadatan yang harus dicapai di lapangan - CBR minimal 1-4 % - Kepadatan lapangan 95% dari kepadatan standard proctor laboratorium pada kadar air yang optimum.
  • 9. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 9 f). Sebelum pekerjaan pengurugan dimulai, direksi dapat memerintahkan untuk pemadatan permukaan yang telah dibersihkan itu dengan kepadatan yang telah dicantumkan dalam RKS ini. 1.3 Tanah Dasar dari Material yang Kurang Baik Bila direksi menghendaki, pemborong harus menggali tanah yang kurang baik mutunya sampai kedalaman yang dianggap cukup oleh direksi sebelum pekerjaan konstruksi timbunan maupun bangunan dimulai. Sebelum pekerjaan pengurugan dimulai, direksi dapat memerintahkan untuk memadatkan permukaan tanah yang telah dibersihkan itu dengan kepadatan yang tercantum dalam RKS ini. 1.4 Penghamparan dan Pemadatan a). Material untuk pengurugan didapat dari jenis yang telah disetujui direksi akan dihamparkan berlapis-lapis dengan ketebalan perlapis 20 cm lalu dipadatkan. Untuk pekerjaan pemadatan ini, pemborong harus melaksanakan sedemikian rupa, sehingga kepadatan yang direncanakan dapat tercapai, dengan memperhatikan kadar air optimum dari material timbunan tersebut. b). Untuk melaksanakan hamparan, maka pemborong harus melindungi dari curahan hujan, panas matahari yang mengakibatkan perubahan kadar air optimum. Bila hamparan ini kena hujan, maka pemborong harus mengupas kembali hamparan tersebut. c). Dalam pekerjaan penghamparan dan pemadatan ini pemborong harus melaksanakannya dengan sistem pentahapan atau pembagian lokasi per zone. Untuk itu pemborong harus menyampaikan rencananya kepada direksi untuk disetujui pelaksanaannya. d). Pekerjaan Pemadatan "Fill" - Pelaksanaan pemadatan dilakukan lapis demi lapis. Tiap lapis tidak boleh lebih dari 30 cm tebal sebelum dipadatkan atau 25 cm setelah dipadatkan. - Pemadatan tanah dan pembentukan permukaan (shaping) dilakukan dengan blade graders dan 3 wheel power roller yang beratnya 8 ton sampai 10 ton, atau pneumatic roller lainnya dengan mendapatkan persetujuan dari perencanaan sebelum tanah harus dipadatkan dengan sheep foot roller. - Tanah yang dipadatkan harus mencapai 90% kepadatan maksimum yang dapat dicapai pada keadaan kadar air optimum yang ditentukan dengan modified AASTHO T-99.
  • 10. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 10 - Selama pemadatan harus dikontrol terus kadar airnya, sebelum pemadatan kadar air dari fill material harus sama dengan kadar air optimum dari hasil test compaction modified proctor dari contoh fill material. - Apabila kadar air bahan timbunan/fill material lebih kecil dari kadar air optimum, maka fill material harus diberi air sehingga menyamai kadar optimum. Sebaliknya apabila kadar air bahan timbunan/fill material lebih besar dari kadar air optimum maka fill material harus dikeringkan terlebih dahulu atau ditambah dengan bahan timbunan yang lebih kering. - Apabila tanah yang dipadatkan telah mencapai nilai 100% compacted dari modified proctor (untuk lapisan sub grade setebal 30 cm di bawah su base) tetapi tidak mencapai nilai soaked CBR=4, maka tanah (sub grade) tersebut harus diganti dengan fill material yang fill 100% compacted mencapai nilai soaked CBR minimum = 5. - Pemadatan harus dilakukan pada cuaca baik, bila hujan dan terjadi penggenangan air maka pemadatan harus dihentikan, diusahakan supaya air dapat mengalir dengan membuat saluran-saluran drainase. - Setiap lapisan dari daerah yang dipadatkan harus ditest dengan field density test untuk mengetahui kepadatan tanah yang dicapai serta moisture content. Dapat dilakukan satu test untuk setiap 1500 m2 per lapis field density test dengan cara sand cone. - Apabila tanah yang telah dipadatkan tidak mencapai 1,6 ton/m3, maka tanah tersebut harus diganti dengan tanah lain atau dicampur pasir, sehingga tanah tersebut menjadi 1,6 ton/m3. e). Pemadatan tanah pada daerah "Cut" - Untuk daerah cut, maka tanah digaru/digali lagi minimum sedalam 30 cm kemudian dipadatkan hingga mencapai 100% compacted dari modified proctor. Syarat pemadatan dengan daerah fill. f). Khusus untuk pemadatan pada daerah jalan - Kontraktor harus melakukan pemadatan daerah cut/fill pada badan jalan sampai dengan peil permukaan sub base. - Harus selalu dihindarkan terjadinya genangan-genangan air pada daerah badan jalan selama lapisan-lapisan konstruksi jalan tersebut dikerjakan. 1.5 Percobaaan Pemadatan a). Sebelum dimulai pekerjaan pemadatan yang sesungguhnya, pemborong harus mengirimkan sampel tanah
  • 11. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 11 urug yang akan dipakai, dan setelah disetujui direksi kemudian diadakan test di laboratorium untuk mendapatkan nilai kadar air optimum dan standar penggilasan dengan road roller/walls yang akan digunakan. b). Tujuan percobaan ini adalah untuk menentukan kadar air optimum yang akan dipakai dan hubungan antara jumlah penggilasan dengan kepadatan yang dapat dicapai contoh material urugan tersebut. c). Pemborong wajib melaksanakan field density test sesuai dengan ASTM D 1556 (sand cone method) di lokasi pemadatan yang dilaksanakan. Lokasi tempat test ini akan ditentukan oleh direksi. Lapisan pemadatan berikutnya belum dapat dilaksanakan sebelum field density test dilakukan. Semua biaya laboratorium/test adalah tanggung jawab pemborong. 1.6 Kepadatan yang harus dicapai untuk konstruksi urugan Kepadatan yang dicapai untuk konstruksi urugan adalah sebagai berikut : Tiap lapisan tanah setinggi 20 cm harus dipadatkan sampai 95% dari kepadatan (kering) maximum yang dipakai test ASTM D 1556 (san cone method). 1.7 Kadar Air a). Material urugan yang tidak mengandung air yang cukup untuk dapat mencapai kepadatan yang dikehendaki, harus ditambah air dengan alat penyemprot (sprinkler) dan dicampur sampai kadar air lebih tinggi dari seharusnya, tidak boleh dipadatkan sebelum cukup dikeringkan dan disetujui direksi untuk dipakai. Cara-cara mengeringkan tanah basah tersebut dapat dengan cara digelar/dihampar atau cara- cara lain yang umum dipakai. b). Test kadar air di lapangan dilakukan dengan alat pengetes yang cepat dan disediakan oleh pemborong. c). Pekerjaan pemadatan urugan tanah tadi harus dilaksanakan pada kadar air optimum sesuai dengan sifat-sifat dan alat-alat pemadat yang tersedia. d). Pada pelaksanaan, pemborong harus mengambil langkah- langkah yang diperlukan agar pada pekerjaan tersebut air hujan dapat mengalir dengan lancar dan harus dipersiapkan kemungkinan adanya pengerutan atau pengembangan. 1.8 Urugan Pasir a). Urugan pasir harus disirami semua lantai atau plat dasar
  • 12. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 12 dengan stemper hingga padat. b). Urugan pasir dilakukan di bawah semua lantai atau plat dasar dengan tebal urugan sesuai dengan gambar, termasuk lantai rabat, sehingga diperoleh peil-peil yang dikehendaki. c). Urugan pasir dilakukan juga pada bekas galian pondasi sebelah dalam bangun dengan ketebalan sesuai dengan gambar rencana, dan di bawah pondasi, pipa dan lain-lain sesuai dengan gambar. 2. PASANGAN BATU KALI 2.1 Lingkup Pekerjaan : Bagian pekerjaan ini meliputi pasangan anstamping batu kosong dan pondasi batu kali untuk landasan sloof, pasangan batu kali sebagaimana dinyatakan dalam gambar kerja. 2.2 Material : a. Batu kali yang dipakai harus dari jenis yang keras, tidak keropos, serta mempunyai gradasi baik dengan diameter maksimum 25 cm. b. Adukan yang dipakai terdiri dari campuran 1 PC : 4 Pasir dan 1 PC : 2 Pasir c. Baik batu kali, pasir maupun air adukan yang dipakai pada pekerjaan ini harus bersih dari lumpur dan kotoran-kotoran lainnya. d. Kontraktor tidak dibenarkan menggunakan jenis batu lain kecuali atas izin Direksi. 2.3 Pelaksanaan : a. Pekerjaan pasangan batu kali dilaksanakan sesuai dengan ukuran dan bentuk yang ditunjukan dalam gambar kerja. b. Antar satu batu kali dengan batu kali lainnya tidak boleh saling bersentuhan, tetapi diantaranya diberi spesi 1Pc : 5 Psr sampai penuh sebagai perekat sambil ditekan agar padat. 3. PASANGAN BATU BATA 3.1 Lingkup Pekerjaan : Bagian pekerjaan ini meliputi penyediaan bahan, pemasangan untuk semua pasangan bata seperti yang tertera pada gambar, pelaksanaan pemasangan harus benar-benar mengikuti garis-garis ketinggian, siku dan bentuk-bentuk yang terlihat pada gambar dan disebutkan dalam spesifikasi ini. 3.2 Referensi : Persyaratan-persyaratan standar mengenai pekerjaan ini tertera pada PUBI N- 3 1970 dan N-10 1973 dan SNI 1728-1989; SKBI 1.3.53.1989, tentang Tata Cara Pelaksanaan Mendirikan Bangunan Gedung. 3.3 Material : a. Batu bata yang digunakan harus baru, dengan pembakaran yang cukup
  • 13. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 13 sehingga masak, keras, kering dan tidak mudah patah. Jika diketuk menimbulkan suara nyaring. Ukuran yang dianjurkan adalah 5 cm x 11 cm x 23 cm dengan toleransi 0,5 cm. b. Adukan yang digunakan untuk pasangan dinding biasa adalah campuran 1 PC : 4 Pasir. Untuk dinding kedap air pada KM/WC, ruang cuci dan 20 cm diatas lantai seluruh dinding menggunakan spesi transram campuran 1 PC : 2 Pasir. 3.4 Pengerjaan dan Penyimpanan. Bahan-bahan yang akan digunakan pada pekerjaan ini disimpan dengan cara-cara yang disetujui Direksi, untuk menghindari dari segala hal yang dapat mengakibatkan kerusakan pada bahan-bahan tersebut. 3.5 Contoh-contoh. Contoh bahan yang diusulkan untuk dipakai harus diserahkan kepada Direksi dan persetujuan atas bahan-bahan tersebut sudah ada sebelum bahan yang dimaksud dipergunakan. Pengambilan contoh atas bahan yang telah ada dilapangan akan diadakan sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan Direksi guna keperluan pengujian. 3.6 Pelaksanaan : a. Pasangan dinding batu bata umumnya adalah 1/2 batu, kecuali Direksi memberikan petunjuk lain. b. Pemasangan batu bata harus lurus dan tegak, lajur penaikannya diukur tepat dengan tiang lot, kecuali bilamana tidak diperlihatkan dalam gambar maka setiap lajur bata harus putus sambungan dengan lajur dibawahnya. Selain itu pola ikatan pasangan harus terjaga baik diseluruh pekerjaan. c. Pada jarak-jarak tertentu atau luasan maksimum 10 M2 pasangan batu bata perlu diperkuat dengan kolom praktis (beton bertulang), dengan dimensi, penulangan dan penempatan sesuai gambar. d. Segera setelah pasangan batu bata selesai, siar-siarnya dikeruk sedalam 1 cm agar plesteran dapat melekat dengan baik. e. Sebelum bata dipasang hendaknya direndam dalam air sampai jenuh, dan pemasangannya harus rapi sesuai dengan syarat pekerjaan yang baik. Batu bata potongan tidak boleh dipakai/dipasang, terkecuali pada pertemuan-pertemuan dengan kosen/kolom.
  • 14. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 14 4. PEKERJAAN BETON 4.1 Umum Pekerjaan beton harus dilaksanakan sesuai dengan persyaratan-persyaratan yang tercantum di dalam Peraturan Beton Inonesia (PBI NI-2 1971). Pemborong harus melaksnakan pekerjaannya dengan ketepatan dan ketelitian yang tinggi menurut spesifikasi gambar kerja dan instruksi-instruksi dari direksi pelaksnaan. Direksi pelaksanaan berhak untuk memeriksa/mengawasi setiap pekerjaan yang dilakukan oleh pemborong. Direksi pelaksanaan berhak untuk melakukan pemeriksaan, dan setiap kegagalan direksi pelaksanaan tidak membebaskan pemborong dari tanggungjawabnya. Semua pekerjaan-pekerjaan yang jelek atau tidak memenuhi uraian dan syarat-syarat peleksanaan (spesifikasi) harus dibongkar dan diganti dari yang ditentukan (contoh) dan harus disetujui direksi pelaksanaan sebelum dipakai. Direksi pelaksanaan akan menyimpan contoh-contoh yang telah disetujui sebagai standar untuk memeriksa selanjutnya. Semua material yang tidak disetujui direksi harus segera dikeluarkan dari tempat pekerjaan atas biaya pemborong. 4.2 Material Semua material harus mempunyai kualitas yang terbaik dan memenuhi syarat PBI 1971. Pemborong harus menyediakan contoh dari material-material yang akan digunakan untuk menghasilkan beton, untuk dimintakan persetujuan dari direksi, dan tidak boleh memesan/mengirim dahulu sebelum persetujuan diberikan. Direksi akan menyimpan contoh-contoh yang telah disetujui sebagai standar, dengan maksud untuk memeriksa/mencocokkan pengiriman-pengiriman selanjutnya. Pemborong tidak diizinkan mengirimkan material-material dengan perbedaan yang besar dari standar sampel tanpa persetujuan dari direksi. Semua material yang ditolak oleh direksi harus segera dikeluarkan dari tempat pekerjaan atas biaya pemborong. 4.3 Semen a). Semen yang digunakan adalah jenis Portland Cement type I yang memenuhi syarat- syarat yang ditentukan dalam N.I.8 1972 dan Standard Industri Indonesia (SII 0013- 81). Semen harus diperoleh dari satu pabrik yang telah disetujui direksi dan dikirimkan ke tempat pekerjaan dengan kantong tersegel dan utuh. Bila karena sesuatu hal terpaksa menggunakan semen dari pabrik lain, harus mendapat persetujuan terlebih dahulu dari direksi, merk semen tersebut setarap dengan Tiga Roda. b). Bila direksi menganggap perlu pemborong harus mengirimkan surat pernyataan dari pabrik yang menyetakan tipe, kualitas
  • 15. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 15 dari semen beserta manufacture's test certificate yang menyatakan memenuhi semua syarat-syarat yang ditentukan N.I.8. Semen yang menggumpal, sweeping atau kantong yang robek/rusak ditolak untuk disegel. c). Semen harus disimpan dalam gudang/silo dengan ventilasi yang cukup dan tidak bocor, serta diletakkan di atas lantai yang ditinggikan minimal 30 cm dari tanah. Kantong-kantong semen tidak diperbolehkan ditumpuk/ditimbun melebihi 2 (dua) meter dan setiap pengiriman diberi tanda pengenal sehingga dapat dipakai sesuai dengan tanggal pengiriman. d). Pemborong harus mengirimkan laporan dari pengujian-pengujian semen di laboratorium kepada direksi secara rutin. Laboratorium yang ditunjuk untuk pengetesan tersebut, terlebih dahulu harus disetujui direksi. 4.4 Agregat Halus (Pasir) a). Agregat halus untuk pekerjaan beton yang akan dipakai pada proyek ini harus sesuai dengan persyaratan pada PBI atau ASTM. b). Klasifikasi dan gradasi agregat halus sebagai berikut : Ukuran Ayakan (US Standard Sieve) Lolos (%) No. 4 100 % No. 8 92 – 100% No. 16 65 – 85% No. 30 35 – 55% No. 50 15 – 30% No. 100 0 – 12% No. 200 % c). Agregat halus tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 5% (ditentukan terhadap kering), dan yang diartikan dengan lumpur adalah bagian-bagian yang dapat melalui ayakan 0,063 mm atau ayakan No. 200 bila test sesuai dengan ASTM C 117. d). Agregat halus harus bersih dan bebas dari segala macam kotoran baik dalam organis lumpur, tanah, karang, garam dan sebagainya. pasir laut sama sekali tidak boleh dipergunakan. e). Pemborong harus mengajukan contoh agregat halus yang akan dipergunakan untuk mendapatkan persetujuan direksi. Test-test yang harus dilakukan terhadap contoh di atas berupa : - test gradasi sesuai dengan ASTM C 136 - test abrou-holder (larutan NaOH) - test-test lainnya bila memang dianggap perlu olehdireksi
  • 16. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 16 f). Bahan agregat halu harus disimpan di tempat bersih, keras permukaannya dan dicegah supaya tidak terjadi pengotoran dan pencampuran satu sama lain. g). Persyaratan-pesyaratan agregat halus di atas dari ayat a s/d f berlaku juga untuk beton ready mix. 4.5 Agregat Kasar (Kerikil atau Koral) a). Agregat kasar untuk pekerjaan beton yang akan dipakai pada proyek ini harus sesuai dengan persyaratan pada PBI 1971 atau ASTM. b). Klasifikasi dan gradasi agregat kasar sebagai berikut : Agregat kasar type A1 : (besar) Ukuran Ayakan (US Standard Sieve) Lolos (%) 1 Inch 100 % ¾ Inch 90 - 98% ½ Inch 30 - 45% 3/8 Inch 0 - 10% No. 4 0 - 5% Agregat kasar type A2 : (medium) Ukuran Ayakan (US Standard Sieve) Lolos (%) ½ Inch 100 % 3/8 Inch 90 - 98% No. 4 30 - 45% No. 8 0 - 10% % c). Agregat tersebut tidak mengandung lumpur melebihi dari 1% (ditentukan terhadap berat kering). yang diartikan dengan lumpur adalah bagian-bagian yang dapat lolos melalui ayakan 0,063 mm atau ayakan no. 200 bila ditest sesuai dengan ASTM C 117. Apabila kadar lumpur melampaui 1% maka agregat kasar harus dicuci. d). Agregat kasar harus terdiri dari butiran-butiran yang keras dan tidak berpasir. Agregat kasar yang mengandung butir-butir pipih hanya dapat dipakai bila butir-butir pipih tersebut tidak melampaui 20% dari berat agregat seluruhnya. Yang dimaksud butir agregat pipih adalah perbandingan antara lebar dengan tebalnya lebih besar dari pada 3 (tiga). Butir-butir agregat kasar harus bersifat kekal, artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh-pengaruh cuaca, seperti terik matahari dan hujan.
  • 17. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 17 e). Pemborong harus mengajukan contoh agregat kasar yang akan dipergunakan untuk dapat persejutuan direksi. Test-test yang harus dilakukan terhadap contoh di atas berupa : - test dengan mesin sesuai dengan ASTM C 131 Resistance to abrasion of small size coarse - test gradasi sesuai dengan ASTM A 136 - test gradasi untuk kadar lumpur sesuai dengan ASTM C 117 - test-test lainnya bila dianggap perlu dan semuanya menjadi tanggungjawab pemborong f). Agregat tersebut harus disimpan di tempat yang saling terpisahkan di permukaan tanah yang bersih, padat serta kering dan harus dicegah terhadap pengotoran dan pencampuran g). Persyaratan-persyaratan agregat kasar di atas dari ayat a s/d g berlaku juga untuk beton ready mix. 4.6 Baja Tulangan a). Bahan Baja tulangan yang dipakai adalah minimal harus sesuai dengan PBI-1971. Mutu, ukuran dan jenis tersebut di atas adalah sebagai berikut : Diameter Jenis Batang Mutu □ Au (0,2) Lebih kecil atau sama dengan (<) 12 mm Polos U.24 2.400 kg/cm2 Lebih besar atau sama dengan (>) 12 mm Profil U.39 3.900 kg/cm2 Keterangan : □ Au = tegangan lelah karakteristik 0,2 = tegangan karakteristik yang memberikan tegangan tetap 0,2% Baja tulangan yang dipakai adalah setaraf produksi Krakatau Steel. Kawat beton : Kawat pengikat baja tulangan harus terbuat dari baja lunak dengan diameter minimal 1 mm yang telah dipijarkan terlebih dahulu, dan tidak bersepuh seng. b). Penggantian diameter - Penggantian dengan diameter lain, hanya diperkenankan atas persetujuan tertulis dari direksi. - Bila penggantian disetujui maka luas penampang yang diperlukan tidak boleh kurang dari yang tercantum dalam gambar atau perhitungan. - Biaya yang diakibatkan oleh penggantian tulangan
  • 18. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 18 terhadap yang ada gambar sejauh bukan kesalahan gambar adalah tanggungan pemborong. c). Pelaksanaan - Baja dan kawat seperti dimaksud di atas harus bebas dari kotoran-kotoran, karat, cat, kulit giling serta bahan lain yang akan mengurangi daya lekat terhadap beton. - Membengkok akan meluruskan baja tulangan harus dilakukan dalam keadaan dingin serta dipotong dan dibengkokkan sesuai dengan gambar. - Semua tulangan harus dipasang dengan posisi yang tepat sehingga tidak berubah tempat atau bergeser sebelum dan selama pengecoran. Selimut tulangan minimum 3 cm. - Sambungan dan panjang lawatan baja tulangan harus sesuai buku pedoman perencanaan untuk struktur beton bertulang biasa dan struktur tembok bertulang untuk gedung 1983. - Baja tulangan yang tidak memenuhi syarat harus segera dikeluarkan dari lapangan dalam waktu 24 jam setelah ada perintah tertulis dari direksi. - Penyambungan tulangan dengan diameter lebih besar atau sama dengan 20 mm baik untuk kolom maupun balok, setiap panjang 6 m selang seling dilakukan sesuai dengan buku pedoman perencanaan untuk struktur tembok bertulang untuk gedung 1983. d). Penyimpanan Penyimpanan besi beton dimaksudkan untuk mencegah terjadinya karat, dengan cara meletakkannya di atas papan atau balok kayu sehingga tidak langsung di atas tanah, untuk penyimpanan waktu lama maka besi beton harus disimpan di bawah atap. e). Test dan sertifikat - Untuk mendapatkan jaminan atas kualitas atau mutu baja tulangan sesuai dengan RKS ini, maka pada saat pemesanan baja tulangan pemborong harus menyerahkan sertifikat resmi dari laboratorium. - Setiap jumlah pengiriman 20 ton baja tulangan harus diadakan test periodic minimal 3 contoh untuk setiap diameter batang baja tulangan. Pengambilan contoh baja tulangan akan ditentukan oleh direksi.
  • 19. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 19 - Semua pengetesan tersebut di atas, harus dilakukan di laboratorium Lembar Uji Konstruksi BPPT (LUK BPPT) Serpong atau Laboratorium lainnya yang direkomendasi oleh direksi dan minimal sesuai dengan standar/peralatan lain yang setaraf. - Semua biaya pengetesan tersebut ditanggung oleh pemborong. 4.7 Pekerjaan Pengisi Dilatasi (Bila Diperlukan) Bahan untuk pengisisan dilatasi dipergunakan bahan setaraf sikaflexla atau feabseal 2 part dengan spesifikasi teknis sebagai berikut : - Bahan untuk pengisian delatasi (joint delatation) Warna : Abu-abu Elastisitas: Permanen Kekerasan: Shore A durometer 28 kurang lebih 5 Sifat perekatan pada beton tetap baik dalam jarak suhu 20 sampai 60 derajat celcius. Tahan terhadap asam, alkali, lemak dan bahan yang berasal dari Hydrocarbon. Memenuhi standar : DIN 18540 BS 4252 : 1967, BS 5 : 1980 JIS A 5757 - Setelah plat lantai beton maupun plat atap menjadi kering, maka lobang delatasi segera dibersihkan dari segala macam kotoran - Pasang back up material (stirr up foam) - Pasang masking tape pada sisi beton - Priming dengan sika primer - Selanjutnya bahan delatasi ini dimasukkan ke dalam lubang tersebut dengan mengikuti petunjuk dari pabriknya - Disarankan agar pemasangan dikerjakan oleh licenced applicator. 4.8 Bahan Campuran Tambahan a). Penggunaan bahan campuran beton hanya seizin direksi dan harus sesuai dengan pasal 3.8 bab 2 PBI 1971 dan ASTM C 494 Chemical Admixtures for Concrete. b). Bahan campuran beton yang dipakai hanya type A dan D dan sesuai ASTM C 494. 4.9 Air Air untuk pembuatan dan perawatan beton tidak boleh mengandung minyak, asam, alkali, garam-garam, bahan-bahan organis dan bahan-bahan lain yang merusak beton atau baja tulangan. Dalam hal ini sebaiknya dipakai air bersih yang dapat diminum.
  • 20. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 20 4.10 Mutu Beton Mutu beton yang dipergunakan adalah : Kolom : f’c 26,4 Mpa dan f’c 19,3 Mpa Pelat Lantai/Slab : f’c 26,4 Mpa dan f’c 19,3 Mpa Pelat Dinding/Wall : f’c 26,4 Mpa dan f’c 19,3 Mpa Untuk menjamin kestabilan mutu beton, dianjurkan memakai beton ready mixed. 4.11Rencana Campuran Beton (Concrete Mix Design) a). Lima minggu sebelum pekerjaan pengecoran beton dimulai, pemborong harus membuat design procedure dan prelimary test atas biaya sendiri untuk mendapatkan mutu seperti yang disyaratkan. campuran harus menggunakan perbandingan berat antara semen, pasir, kerikil, dan air. b). Perencanaan campuran hendaknya mengikuti persyaratan PBI ayat 4.6. dan dievaluasi kekuatan karakteristiknya menurut ayat 4.5. c). Bilamana karena sesuatu hal sumber atau kualitas dari semen dan/atau agregat diganti, maka harus dicari lagi campuran yang baru sehingga tetap memenuhi syarat, sesuai ayat-ayat di atas. Jumlah semen yang dipakai 340 kg per m3 beton, dan pada pondasi, pipa caps dan luifel atap jumlah minimum tersebut adalah 375 kg/m3 beton. d). Dalam hal dipakai beton beton ready mix, maka semua syarat- syarat dalam standard spesification for ready mixed concrete AASHTO designation H. 157-74 harus dipenuhi. 4.12 Pengujian Beton dan Peralatannya a). Pemborong harus menyediakan alat-alat yang diperlukan dan tempat untuk melakukan percobaan berikut : - Slump test - Test specimens - Cetakan-cetakan baja untuk membuat kubus-kubus beton - Test kadar lumpur Pemborong juga menyediakan peralatan untuk menentukan moisture content dari agregat halus, timbangan dan alat lain. Alat yang perlu untuk melakukan percobaan- percobaan berikut. b). Pengujian slump dilakukan segera setelah beton keluar dari mixer minimum 5 cm dan maksimum 10 cm untuk campuran koral beton dan maksimum 12 cm untuk campuran dengan crushed stones. c). Atas biaya sendiri pemborong harus membuat, merawat dan
  • 21. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 21 mengangkut semua test specimens ke laboratorium yang ditentukan/disetujui oleh direksi pelaksanan untuk dilakukan compresion test pada 7 hari, 14 hari, dan 28 hari. d). Setiap kubus test harus bersih dan ditandai secara tetap dengan nomor kode dan hari pembuatan, bersama-sama dengan tanda dari bagian pekerjaan mana sample diambil. Sistem dari pengukuran dan penandaan dari kubus akan ditentukan oleh direksi pelaksanaan. e). Pemborong harus memberikan material untuk pembuatan sample, dari semua test yang diperlukan pada bagian ini dalam spesifikasi. Kontraktor harus menyampaikan semua hasil test tersebut kepada direksi secara rutin. Segala hal biaya yang menyangkut pengetesan tersebut adalah biaya kontraktor. 4.13 Beton Bertulang 4.13.1 Kekuatan dan Penggunaan Beton a). Beton struktural Meliputi beton konstruksi plat atas, dinding dan plat dasar. Untuk mencapai mutu K.225, Pemborong wajib membuat adukan sesuai dengan proporsi trial mix yang disetujui. b). Beton non struktural - Beton dengan adukan 1 pc + 3 ps + 5 krl meliputi beton lantai kerja, tebal 5 cm, tidak dicor ke dalam cetakan. - Beton dengan adukan 1 pc + 3 ps + 5 krl meliputi rabat beton, sesuai dengan gambar kerja. - Beton dengan adukan 1 pc + 3 ps + 5 krl meliputi kolom atau beton bertulang yang mempunyai ukuran maksimal 15 cm, kanstin, neut kaki kusen kayu, pengisi lubang angker dan sudut-sudut beton dan lain-lain. - Beton mortal dengan adukan 1 pc + 2 ps + 5 krl K adalah tegangan tekan hancur karakteristik untuk kubus beton 15 x 15 x 15 cm pada usia 28 hari. Evaluasi penentuan karakteristik ini digunakan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam PBI 1971.
  • 22. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 22 4.13.2 Campuran Tambahan Selain bahan seperti sudah ditentukan pada ayat 3.6.7. RKS ini, bahan campuran lainnya yang digunakan hanya jika disetujui oleh direksi secara khusus dan tertulis. 4.13.3 Pengadukan Semua pengadukan beton harus dilakukan dengan mesin pengaduk yang berkapasitas tidak kurang dari 600 liter dan dilengkapi dengan alat timbangan berat. a. Bahan - Untuk penyelesaian beton exposed harus dibuat dari plywood dengan tebal 12 mm dan dapat dipakai untuk 2 kali pengecoran beton. Plywood ini diberi perkuatan kaso 5/7 untuk menjaga kestabilan dari bekisting tersebut. - Lain-lain jenis tersebut diatas harus dengan persetujuan direksi. - Untuk acuan beton yang tertutup finishing harus dibuat dari kayu klas II tebal sesuai kebutuhan dan dapat dipakai untuk 2 kali pengecoran beton, acuan ini diberi penguat kaso 5/7 untuk menjaga kestabilan dari bekisting tersebut. - Untuk perkerasan bekisting (acuan) tersebut, apabila diperlukan direksi dapat meminta kontraktor menghitungnya dan kemudian disetujui direksi. b. Konstruksi - Bekisting-bekisting tidak boleh bocor dan cukup kaku mencegah pergeseran atau perubahan/kelongsoran penyangga. Permukaan bekisting halus halus dan rata, tidak boleh melendut atau cekung. Sambungan-sambungan bekisting harus diusahakan agar lurus dan rata dalam arah horisontal dan vertikal. - Tiang penyangga anti lendutan (cambres) harus dibuat sebaik mungkin dan mampu menunjang seperti yang dibutuhkan, tanpa adanya kerusakan atau overstress ataupun pergeseran tempat pada bagian konstruksi yang dibebani. - Struktur dari tiang-tiang penyangga harus ditempatkan pada posisi sedemikian rupa, sehingga konstruksi ini benar-benar kuat dan kaku
  • 23. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 23 untuk menunjang berat sendiri dan beban-beban yang berada di atasnya selama pelaksanaan. - Kecuali detail-detail yang berlainan pada gambar, bekisting untuk semua balok dan pelat lantai dilaksanakan dengan mengikuti anti lendut ke atas sebagai berikut: - Semua balok atau/dan pelat lantai 0,2% lebar bentang pada tengah-tengah bentang. Semua balok cantilever dan pelat lantai 0,4% dari bentang, dihitung dari ujung bebas. c. Baut Baut-baut tie rod yang diperlukan untuk ikatan- ikatan dalam beton harus diatur sedemikian rupa sehingga bila bekisting dibongkar kembali, maka semua besi tulangan akan berada 4 cm dari permukaan beton. Kawat pengikat tidak diizinkan pada beton exposed yang akan berhubungan langsung dengan keadaan alam, dimana dapat menimbulkan warna yang tidak merata. Semua bekisting harus dibuat sedemikian rupa sehingga dapat menggunakan paku tanpa merusak beton. d. Pembersihan Semua bekisting harus dibersihkan sebelum dipergunnakan. Pekerjaan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak akan terjadi kemungkinan adanya beton yang keropos dan lain-lain kerusakan/cacat pada beton. Segera sebelum beton dicor pada beberapa bagian dari bekisting, bagian dalam dari bagian itu harus dibersihkan dari semua material lain, termasuk air. Tiap-tiap bagian dari bekisting, bagian-bagian yang struktural harus diperiksa oleh direksi pelaksanaan segera sebelum beton dicor di bagian itu. Khusus untuk acuan kolom dan dinding beton atau balok-balok tinggi, pada tepi bawahnya harus dibuat bukaan atau dua sisinya untuk mengeluarkan kotoran yang mungkin terdapat pada dasar kolom/dinding tersebut. Bukaan ini boleh ditutup setelah diperiksa dan disetujui oleh direksi pelaksanaan. e. Pelapisan (coating) Sebelum pemasangan besi beton bertulang bekisting yang dipergunakan untuk beton yang tidak diplester lagi (exposed concrete) harus dilapisi dengan minyak yang tidak meninggalkan bekas pada beton. Bekisting untuk beton biasa (yang perlu diplester lagi permukaannya)
  • 24. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 24 harus dibasahi air dengan seksama sebagai pengganti minyak sebelum beton dicor. f. Pembongkaran Bangunan tidak boleh mengalami perubahan bentuk, kerusakan atau pembebanan yang melebihi beban dengan rencana pembongkaran bekisting pada beton. Pertanggungjawaban atas keselamatan pada waktu pembongkaran tiap bagian bekisting atau penyangga berada dipihak pemborong. g. Waktu minimum untuk pembongkaran bekisting. Waktu minimum dari saat selesainya pengecoran beton sampai dengan pembongkaran bekisting dari bagian- bagian struktur ditentukan dari percobaan kubus benda uji yang memberikan kuat desak minimum sebagai berikut : Bagian Struktur Waktu Minimum Pembongkaran Bekisting (Hari) Sisi balok dan dinding 1 Penyanggah plat lantai 21 Penyanggah balok 21 4.14 Pembuatan Beton dan Peralatannya a. Pemborong bertanggungjawab seluruhnya atas pembuatan campuran beton yang baik/unform dan memenuhi syarat- syarat yang ditentukan. Untuk memenuhi syarat- syarat ini, pemborong atas biaya sendiri harus menyediakan dan menggunakan, mesin pencampur beton (beton molen) yang baik, volumetric system untuk mengukur air dengan tepat yang disetujui direksi. b. Pengaturan untuk pengangkutan, penimbangan dan pencampuran material-material harus dengan persetujuan direksi. c. Mencampur beton dengan tidak menggunakan perbandingan berat (timbangan), tidak diperbolehkan. d. Mixer harus betul-betul kosong sebelum menampung/menerima material untuk adukan selanjutnya, harus dibersihkan dan dicuci bila mixer tidak dipakai lebih lama dari 30 menit dan pada setiap akhir pekerjaan. Mixer juga harus dibersihkan dan dikosongkan lebih dulu, bila beton yang akan dibuat berbeda mutunya.
  • 25. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 25 e. Pencampuran kembali dari beton yang sebagian sudah terjatuh/mengeras tidak diizinkan. Demikian juga penambahan air pada adukan beton yang sudah jadi (dari hasil mixer) dengan tujuan memudahkan pengerjaan dan sebagainya tidak diizinkan. 4.15 Penolakan Pekerjaan Beton a. Direksi berhak menolak pekerjaan yang tidak memenuhi syarat. Pemborong harus mengganti atau memperbaiki/membongkar pekerjan beton yang tidak memenuhi syarat, atas biaya sendiri, sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh direksi pelaksanaan. b. Percobaan compressive strength dari pengujian kubus harus memenuhi syarat sebagai berikut : - Sr adalah deviasi standard rencana. - Tidak boleh lebih dari 1 (satu) nilai diantara 20 nilai hasil pemeriksaan benda uji berturut-turut, terjadi kurang dari ' bk. - Tidak boleh satupun rata-rata dari 4 hasil pemeriksaan benda uji berturut-turut, terjadi kurang dari ( ' bk + 0,82 Sr). - Selisih antara nilai tertinggi dan terendah diantara 4 (empat) hasil pemeriksaan benda uji berturut-turut tidak boleh lebih besar dari 4,3 Sr. - Dalam segala hal, hasil pemeriksaan 20 benda uji berturut- turut harus memenuhi ( ' bk = ' bm - 1,64 Sr). c. Bila compressive strength test dari kelompok kubus test gagal memenuhi syarat di atas, maka direksi pelaksanaan akan menolak semua pekerjaan-pekerjaan beton dari kubus-kubus tersebut diambil. 4.16 Pengangkutan dan Pengecoran Beton a. Pengecoran beton tidak boleh dimulai sebelum direksi memeriksa dan menyetujui cetakan, bekisting (formwork), tulangan, angker-angker dan lain-lain, dimana beton akan dituangkan/dicor. Tempat dimana beton akan dituangkan harus bebas dari segala macam kotoran, puing-puing, potongan-potongan, kayu, air dan sebagainya. b. Air (genangan) harus dibuang dari tempat/ruangan yang akan diisi/dicor beton. Air yang mengalir ke dalam galian harus dikontrol/dibuang dengan cara yang disetujui direksi pelaksanaan.
  • 26. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 26 c. Isi dari mixer yang dikeluarkan pada suatu operasi continous harus diangkut tanpa menimbulkan degradasi. Beton harus diangkut dalam gerobak yang bersih dan kedap air. Metoda yang digunakan harus disetujui direksi pelaksanaan, setelah pemborong mengajukan proposal/usulan cara-cara pengangkutan. d. Alat-alat dan tempat yang digunakan untuk pengangkutan beton harus diberikan dan dicuci bila pekerjaan terhenti lebih lama dari 30 menit dan pada setiap akhir pekerjaan. Semua campuran beton di tempat pekerjaan harus diletakkan/dicor dan dipadatkan pada tempatnya dalam waktu 40 menit setelah penuangan air ke dalam mixer. e. Beton pada umumnya tidak boleh dijatuhkan bebas/dituangkan dari ketinggian lebih besar dari 1,5 m. pengecoran harus dilaksanakan dengan menghindari timbulnya degradasi dan menjamin suatu pengecoran yang tidak terputus. Beton harus diletakkan dalam lapisan tidak lebih dari 60 cm tebalnya dan dipadatkan sesuai ketentuan di bawah ini tanpa timbulnya degradasi/pemisahan. pengecoran dari satu unit atau bagian dari pekerjaan harus dilaksanakan dengan satu operasi yang continous atau sampai construction joint tercapai. f. Beton, acuan atau penulangan tidak boleh diganggu selama minimal 24 jam setelah pengecoran, kecuali dengan izin direksi pelaksanaan. Semua pengecoran harus dilaksanakan di siang hari dan pengecoran beton dari suatu bagian pekerjaan jangan dimulai apabila tidak dapat diselesaikan pada siang hari, kecuali atas izin Direksi Pelaksanaan boleh dikerjakan pada malam hari. Izin ini tidak boleh diberikan, bila sistem penerangan yang dipersiapkan Pemborong belum disetujui Direksi Pelaksanaan. g. Dalam hal dinding, kolom beton atau bagian-bagian yang dianggap tinggi, tidak boleh dicor dari atas, tetapi harus dari samping melalui satu bukaan pada ketinggian yang disetujui. Saluran curah untuk pengecoran tidak boleh dipergunakan, kecuali jaraknya dekat dan hanya dengan persetujuan direksi pelaksanaan. Bila hal ini disetujui direksi pelaksanaan, maka saluran itu harus dibuat dari logam (metal) atau bahan dihaluskan, agar dapat mengalirkan adukan beton dengan lancar, sedangkan kemiringan saluran/talang tersebut tidak lebih curam dari perbandingan 1 (satu) tegak dan 2 (dua) mendatar.
  • 27. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 27 h. Siar pelaksanaan harus ditempatkan sedemikian sehingga tidak banyak mengurangi kekuatan konstruksi. Bila siar-siar pelaksanaan tidak ditunjukkan dalam gambar- gambar rencana, maka tempat-tempatnya harus disetuji oleh direksi. i. Penyimpanan tempat siar daripada yang dinyatakan dalam gambar harus disetujui direksi. j. Penempatan air (penyambungan pengecoran) pada dinding yang berfungsi menampung air, harus dipasang water stop dari type yang terlebih dahulu disetuji direksi. 4.17 Pemadatan Beton a. Beton harus dipadatkan keseluruhan dengan mechanical vibrator yang dikerjakan oleh orang-orang yang berpengalaman dan telah mendapatkan trainning untuk pekerjaan tersebut. Pekerjaan beton yang telah selesai harus merupakan suatu massa yang bebas dari lubang-lubang degradasi atau kropos-kropos (honey combing). b. Vibrator yang dipakai harus dari type rotary out of balance dengan frekuensi tidak kurang dari 6.000 cycles per menit. harus diperhatikan agar pemadatan/ penggetaran semua bagian beton tidak menyebabkan degradasi dari material-material akibat over vibration. Vibration tidak boleh dipergunakan pada tulang-tulang, terutama tulang- tulangan yang telah masuk pada beton yang mulai mengeras. c. Banyaknya vibrator yang dipergunakan harus disesuaikan dengan volume dan kecepatan pengecoran. Pemborongan juga harus menyediakan paling sedikit 1 vibrator tambahan/cadangan untuk mengganti yang rusak pada waktu yang sedang dipakai. 4.18 Perlindungan Terhadap Cuaca Alam a. Cuaca Panas Bila perlu dipergunakan rangkaian instalasi penahanan angin, naungan, fog spraying, memerciki dengan air, menggenangi dengan air ataupun menutup dengan penutup basah yang berwarna muda dapat dibuat bagian yang telah selesai dicor, dan tindakan perlindungan yang sedemikian harus segera diambil setelah pengecoran dan pekerjaan akhir selesai dikerjakan.
  • 28. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 28 b. Musim Hujan - Tidak diperbolehkan mengecor selama turun hujan lebat, dan beton yang baru dicor harus segera dilindungi dari curahan hujan. Sambungan harus dilindungi seperti yang dijelaskan dalam spesifikasi ini. - Sebelum pengecoran berikutnya dikerjakan maka seluruh beton yang terkena hujan/aliran air hujan harus diperiksa, diperbaiki dan dibersihkan dulu dari beton- beton yang tercampur/terkikis air hujan. Pengecoran selanjutnya harus mendapat izin direksi pelaksanaan terlebih dahulu. 4.19 Perawatan a. Beton baru harus dilindungi dari hujan lebat, aliran dan dari kerusakaan yang disebabkan oleh alat-alat. Semua beton hendaknya selalu dalam keadaan basah, selama paling sedikit 7 hari, dengan cara menyiramkan air pada pipa yang berlubang atau cara lain yang menjadikan bidang permukaan beton itu selalu dalam keadaan basah. b. Bekisting kayu dibiarkan terpasang agar beton itu tetap basah selama perawatan untuk mencegah retak pada sambungan dan pengeringan beton yang terlalu cepat. Air yang dipergunakan untuk perawatan harus bersih dan sama sekali bebas dari unsur-unsur kimia yang dapat menyebabkan kerusakan atau perubahan warna pada beton. 4.20 Cacat pada Beton Meskipun hasil pengujian kubus-kubus memuaskan, pemberi tugas mempunyai wewenang untuk menolak konstruksi beton yang cacat seperti berikut. a. Konstruksi beton yang sangat keropos. b. Konstruksi beton tidak sesuai dengan bentuk yang direncanakan atau posisinya tidak seperti yang ditunjukkan oleh gambar. c. Konstruksi beton yang tidak tegak lurus atau rata seperti yang direncanakan. d. Konstruksi beton yang berisikan kayu atau benda lainnya.
  • 29. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 29 5. PEKERJAAN PLESTERAN 5.1 Lingkup Pekerjaan : Bagian ini meliputi seluruh pekerjaan plesteran dan kebutuhan persyaratan adukan sebagai berikut : a. Untuk semua plesteran dinding biasa terdiri dari 1Pc : 4 Ps. b. Plesteran kedap air (transram) menggunakan adukan 1 Pc: 2Ps c. Untuk semua plesteran beton, kaki pondasi digunakan 1Pc: 4Ps. 5.2 Material : a. Pasir untuk plesteran harus diayak cukup halus, dan pasir laut atau pasir yang memiliki kandungan tanah tidak diperkenankan untuk digunakan. b. Semen yang digunakan harus baru, tidak ada bagian yang membatu serta dalam kemasan standard pabrik dan terlindung. 5.3 Pelaksanaan : a. Sebelum pekerjaan plesteran dimulai, semua bidang yang akan diplester harus disiram air sampai jenuh, dan siar-siarnya telah dikeruk sedalam lebih kurang 1 cm. b. Tebal plesteran dinding ditentukan dengan ketebalan minimal 1 cm, dikerjakan dengan lurus dan rata, juka terdapat bidang-bidang dinding yang berombak/retak harus dibongkar dan diperbaiki. c. Semua bidang plesteran yang kelihatan harus diaci menggunakan acian semen. 5.4 Memperbaiki dan membersihkan Pemborong wajib memperbaiki plesteran dinding tersebut dengan bentuk memanjang, memakai alat serta diplester kembali. Pekerjaan plester yang telah selesai harus bebas dari retak, noda dan cacat lain. Pada waktu-waktu tertentu selama pelaksanaan, dan bila pekerjaan telah selesai, semua plester yang tampak harus dibersihkan dari kotoran-kotoran akibat pekerjaan. 6. PEKERJAAN KAYU 6.1 Lingkup Pekerjaan : Bagian pekerjaan ini meliputi pengadaan dan pemasangan kayu-kayu untuk konstruksi rangka kusen pintu/jendela, bingkai pintu,kayu untuk pek. Gazebo, pek. Bantaya, kuda- kuda, gording, rangka atap dan pekerjaan kayu lainnya yang tertera dalam gambar kerja. 6.2 Material : a. Jenis : Kayu yang dipakai pada pekerjaan ini terdiri atas 2 jenis kayu yaitu - Kayu yang mempunyai kelas keawetan I dan kelas kuat I sesuai dengan SKBI-3.6.53.1987 UDC : 674.048. Yaitu Kayu Ulin untuk konstruksi bagian bawah dermaga. - Kayu yang mempunyai kelas keawetan II dan kelas kuat II sesuai dengan SKBI-3.6.53.1987 UDC : 674.048. untuk konstruksi bangunan dan bagian atas dermaga.
  • 30. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 30 b. Mutu : Kayu yang dipakai harus lurus kering, memiliki serat yang teratur, tidak terdapat mata kayu/cacat-cacat lainnya serta tidak terdapat bidang- bidang yang lemah. c. Ukuran : Ukuran-ukuran kayu yang dipergunakan harus sesuai dengan yang terdapat pada gambar detail. d. Kadar Air : Kayu-kayu yang dipergunakan hanya boleh mengandung kadar air maksimum 25 % untuk ukuran tebal lebih dari 7 cm dan kadar air maksimum 19 % untuk tebal kurang dari 7 cm. e. Pengikat-pengikat : Bahan pengikat digunakan dari kayu paku galvanis, baut atau plat besi. Apabila menggunakan perekat, bahan perekat yang digunakan harus terbuat dari lem tahan air setaraf dengan merk "Herferin". 6.3 Pelaksanaan : a. Semua pekerjaan kosen, daun pintu dan jendela pada bagian-bagian tertentu harus diserut rata dan halus, dan pada bagian-bagian pertemuan harus dikerjakan dengan rapi dan tidak berongga. b. Semua pekerjaan harus bertaraf kelas satu dengan hasil yang baik dan rapi, untuk profil panjang harus menggunakan mesin potong. c. Semua lubang-lubang bekas paku, baut dan sebagainya harus ditutup dengan dempul hingga rapi kembali. 7. PEKERJAAN RANGKA ATAP BAJA RINGAN,LISPLANK DAN BUBUNGAN 7.1 Lingkup Pekerjaan : Bagian pekerjaan ini meliputi pengadaan dan pemasangan rangka baja ringan termasuk atap, bubungan dan lisplank. 7.2 Material : Material yang digunakan sesuai dengan standar kekuatan yang tercantum dalam Standar Nasional Indonesia. Material Rangka atap baja ringan, lisplank dan bubungan atap harus dilengkapi dengan spesifikasi teknis. 7.3 Pelaksanaan : Semua pekerjaan harus bertaraf kelas satu dengan hasil yang baik dan rapi, untuk profil panjang harus menggunakan mesin potong.
  • 31. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 31 8. PEKERJAAN KERAMIK 8.1 Lingkup Pekerjaan : Pekerjaan ini meliputi pengadaan bahan/material, tenaga kerja dan pemasangan lantai dan dinding sesuai yang ditentukan dalam gambar. 8.2 Material : a. Keramik dinding dan Lantai KM/WC menggunakan Tegel 20x20 cm, merk roman atau setara dengan mutu KW 1. b. Tegel Keramik yang digunakan adalah yang mempunyai kualitas satu (KW-1). 8.3 Pelaksanaan : a. Sebelum pekerjaan lantai dikerjakan, pasir timbunan harus benar-benar padat sehingga tidak terjadi penurunan/keretakan pada lantai. b. Pemasangan lantai/ubin harus rapi, dengan siar saling tegak lurus, serta mengikuti peil-peil yang ditentukan dalam gambar. c. Semua pemasangan Tegel Dinding harus menggunakan campuran 1 pc : 4 ps dengan perekat AM-30 Mortar Flax. d. Pemasangan tegel pada lantai dan dinding harus dikerjakan dengan rata dan datar serta dikerjakan oleh tukang yang benar-benar ahli. Untuk pekerjaan pemasangan lantai KM/WC harus dibuat miring (1%) kearah saluran pembuangan air (floor drain). e. Pemasangan tegel lantai keramik dipasang diatas lantai kerja (beton tidak bertulang) dengan mutu beton K 175l setebal 5 cm. f. Pada sudut-sudut pertemuan antara dinding dengan lantai Keramik, dipasang ubin plint (dinding bagian luar) dengan ukuran yang sesuai dengan ukuran lantainya. g. Pemasangan plint keramik sejajar dengan dinding tembok, antara plint keramik dan plesteran dinding dibuat tali air. h. Pekerjaan tali air atas plint keramik dilakukan dengan kualitas kelas satu, rapi dan lurus. 9. KUNCI DAN PENGGANTUNG 9.1 Lingkup Pekerjaan : Pekerjaan ini meliputi penyediaan bahan/material, tenaga kerja dan pemasangan kunci serta alat-alat penggantung, seperti : engsel, kunci, handle dan sebagainya. 9.2 Material : a Semua daun pintu dipasang kunci tanam buatan dalam negeri 2 (dua) slaag kualitas baik, setara Yale.
  • 32. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 32 b Engsel yang digunakan pada pekerjaan ini adalah untuk daun pintu engsel Nylon Ring 4", untuk jendela engsel nylon ring 3". c Grendel tanam lengkap untuk Pintu 2 daun, grendel biasa untuk pintu tunggal dan jendela. Semua Grendel buatan dalam negeri dengan kualitas baik. d Semua daun jendela dilengkapi satu pasang Haq Angin buatan dalam negeri. e Sebelum dipasang, kunci-kunci dan alat-alat penggantung harus diperlihatkan contohnya kepada Direksi/Pengawas. 9.3 Pelaksanaan : a Semua daun pintu menggunakan engsel Stainless Steel Ring 4" buatan dalam negeri masing-masing 3 (tiga) buah. b Untuk pintu-pintu 2 (dua) daun harus dilengkapi dengan grendel tanam yang dipasang pada bagian atas dan bawah. c Semua daun jendela bingkai menggunakan engsel nylon ring 3" buatan dalam negeri masing-masing 2 (dua) buah, haq angin 2 (dua) buah dan untuk pengunci dipasang grendel 1 (satu) buah. d Kunci-kunci harus berfungsi dengan baik dan pada saat diserahkan anak kunci harus diserahkan lengkap dengan cadangannya. 10. PEKERJAAN CAT DAN POLITUR 10.1 Lingkup Pekerjaan : Pekerjaan ini meliputi penyediaan bahan/material, tenaga kerja dan pengecatan kayu, tembok, plafond. 10.2 Material : a. Jenis cat kayu yang digunakan adalah merk Avian atau setara. b. Jenis Cat tembok yang digunakan adalah merk Avian atau setara. c. Plamur yang digunakan adalah merk AVIAN atau setara. d. Residu dengan kekentalan yang cukup untuk kap. e. Politur/teakoil digunakan untuk permukaan teekwood dan pada pekerjaan kayu yang diekspos seperti yang ditunjukan pada gambar. 10.3 Pelaksanaan : a. Pekerjaan Cat Kayu : 1) Bidang yang akan dicat harus bersih dari segala macam kotoran, sebelum pengecatan dilaksanakan Kontraktor harus memperlihatkan bagian yang akan dicat kepada Direksi untuk diperiksa. 2) Semua permukaan kayu yang akan dicat/dipolitur harus diamplas,
  • 33. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 33 dan lobang-lobang bekas paku harus didempul dan diamplas kembali sampai rata. 3) Pengecetan kayu dilaksanakan satu kali menie, satu kali cat dasar dan satu kali plamur, kemudian digosok dengan amplas, dan akhirnya dua kali cat akhir. 4) Warna Cat kayu yang digunakan untuk kosen, daun pintu, bingkai jendela dan listplank akan ditentukan kemudian. b Pekerjaan Cat Tembok/Plafond : 1) Permukaan dinding dan plafond sebelum dicat harus diplemur kemudian diamplas dengan kertas pasir sampai rata dan halus. 2) Semua bidang tembok dan plafond dicat tembok minimal 2 (dua) kali sampai kelihatan rata dan cukup tebal. 3) Cat tembok yang digunakan adalah warna putih untuk plafond, broken white untuk bagian dalam dan cream bagian luar. c Pekerjaan Politur/Teakoil : Semua daun pintu teekwood dan dinding papan harus dipolitur. Persiapan dilakukan dengan membersihkan dan mengamplas bagian/permukaan yang akan dipolitur. Selanjutnya dapat dipolitur dengan menggunakan Ultra Politur P-01. d. Pekerjaan Water Proofing Dinding dan dasar penampung yang berfungsi menampung air harus dilapisi water proofing dari type yang tidak mengandung zat-zat kimia yang membahayakan air minimum. Dalam hal ini kontraktor harus mengajukan sistem dan spesifikasi teknisnya untuk terlebih dahulu disetujui direksi. 11. PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK 11.1 Lingkup Pekerjaan : Termasuk dalam pekerjaan ini adalah : a Pengadaan Lampu SL, Kabel-Kabel, Stop Kontak, Saklar, Fitting, Pipa Instalasi, Material Bantu, termasuk pemasangannya. b Penyerahan Surat Jaminan oleh Instalatur/Kontraktor beserta pembuatan gambar instalasi yang terpasang. 11.2 Bahan yang dipakai : a. Kabel-kabel yang dipakai adalah dari jenisnya NYA yang memenuhi standard PLN (SPLN) serta berinitial LMK (Minimal merk Eterna atau setara). b. Stop kontak, sacklar dan fitting serta peralatan listrik yang digunakan
  • 34. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 34 harus buatan dalam negeri yang telah memenuhi standard PLN, kemampuan minimal 10/16A. c. Untuk trafo lampu SL yang digunakan merk Philips atau setara, sedangkan balon pijar/TL harus merk Phillips TL atau setara harus dilengkapi Capasitor. 11.3 Pemasangan : a Pemasangan instalasi listrik harus berpedoman pada Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL) tahun 2000. b Untuk menangani pekerjaan ini harus ditunjuk Instalatur yang telah memiliki SPJT dan SBUJK Bidang E&M dari AKLI. c Inslatasi yang terpasang harus disesuaikan dengan tegangan listrik yang terpasang di area proyek. d Untuk penerangan dan stop kontak biasa kabel yang digunakan adalah jenis NYA diameter 2,5 mm atau 1,5 mm dengan pelindung PVC diameter 5/8" dan dipasang inbouw. e Untuk semua penyambung kabel harus menggunakan T Dos dan ditutup dengan las dop, serta ditempatkan pada kedudukan yang aman. f Pemasangan instalasi listrik umumnya dikerjakan sebelum plafon ditutup dan pelesteran diding dikerjakan. g Pada semua stop kontak dan SDP harus di beri arde dengan menggunakan kawat BC, dan khusus pentanahan harus dikerjakan sampai mendapatkan tahanan yang disyaratkan, serta diberi pelindung pipa Paralon diameter 3/4". 12. PEKERJAAN JALAN OPERASI, GALIAN DAN SALURAN DRAINASE 12.1 Umum Pekerjaan yang meliputi : - Prosedur galian - Bahan-bahan - Penempatan dan pemadatan timbunan - Jaminan kualitas - Prosedur pengerjaan - Subbase - Base - Pekerjaan perkerasan jalan - Saluran drainase - Box dan culvert - Pipa-pipa drainase akan disajikan dalam uraian berikut ini.
  • 35. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 35 12.2 Prosedur Galian a. Galian harus dilaksanakan sampai kelandaian, garis dan ketinggian yang ditentukan dalam gambar atau diperintahkan oleh direksi dan harus meliputi pembuangan semua bahan-bahan yang ditemukan, termasuk tanah, batuan, batu bata, batu beton, pasangan batu dan bahan-bahan perkerasan jalan lama. b. Pekerjaan galian harus dilaksanakan dengan gangguan yang seminimal mungkin hadap bahan-bahan di bawah dan diluar batas galian. c. Apabila batuan, lapisan keras atau bahan-bahan keras lainnya ditemukan pada jalur selokan atau pada ketinggian tanah dasar untuk perkerasan dan bahu jalan, atau pada dasar parit pipa atau galian pondasi struktur maka bahan- bahan tersebut harus digali lebih dari 150 mm sampai suatu permukaan yang rata halus dan mantap. Tidak boleh ada tonjolan batuan ditinggalkan dari permukaan yang terbuka dan semua pecahan batu yang berdiameter lebih besar dari 150 mm harus dibuang. Profil galian yang ditentukan harus dicapai dengan bahan-bahan urugan kembali yang dipadatkan dan disetujui oleh direksi. d. Peledakan tidak boleh digunakan untuk pekerjaan galian. e. Galian batuan dilaksanakan sampai kedalaman sesuai perencanaan yang dinyatakan pada gambar kerja atau yang ditetapkan oleh direksi. Permukaan harus datar, dengan 50 mm maksimum gelombang permukaan. Batuan lepas dengan ukuran lebih dari 150 mm harus disingkirkan. f. Permukaan dasar batuan harus dibersihkan menggunakan kompresor air bertekanan tinggi. g. Jika diperlukan, kontraktor harus memasang landasan beton tanpa tulang belulang sebelum pekerjaan beton struktur. h. Parit atau pipa, gorong kecil dan saluran beton, pasangan batu atau pasangan batu adukan encer harus berukuran cukup untuk memungkinkan pemasangan yang layak dari bahan-bahan, pemeriksaan pekerjaan dan pemadatan urugan kembali di bawah dan disekeliling pekerjaan yang ditempatkan. i. Jika gorong-gorong atau parit lainnya digali pada embankmen baru, embankmen harus dibangun sampai tinggi permukaan yang disyaratkan dengan suatu jarak pada
  • 36. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 36 masing-masing sisi lokasi parit tidak kurang dari 5 kali ukuran lebar parit, dan setelahnya parit digali dengan sisi-sisi hampir vertikal sebagaimana kondisi tanah mengijinkan. j. Setiap pemompaan dari galian harus dikerjakan dengan cara yang cermat untuk menghindari kemungkinan setiap bagian bahan-bahan konstruksi yang baru ditempatkan dapat terbawa keluar. Setiap pemompaan yang diperlukan selama penempatan beton atau suatu perioda sekurang- kurangnya 24 jam sesudahnya, harus dilaksanakan dari suatu bak yang tepat, dan terletak diluar acuan beton, dan aliran air yang dipompa masuk ke dalam sistim drainase yang telah ditetapkan. 12.3 Bahan-Bahan a. Sumber bahan-bahan Bahan-bahan timbunan harus dipilih dari sumber yang disetujui direksi. b. Timbunan biasa - Timbunan yang digolongkan sebagai timbunan biasa akan terdiri dari tanah atau bahan-bahan batuan yang disetujui oleh direksi. - Bahan-bahan juga akan diseleksi sejauh mungkin, tidak termasuk penggunaan tanah liat yang sangat plastis, diklasifikasikan sebagai A-7-6 oleh AASHTO M 145 atau sebagian CH pada Unified or Cassagrande Siol Classification System. Dimana penggunaan tanah-tanah yang plastis berkadar tinggi tidak dapat dihindari secara layak, maka bahan-bahan tersebut hanya kan digunakan dibagian dasar timbunan atau dalam urugan kembali yang tidak memerlukan daya dukung atau kekuatan geser yang tinggi. Tidak ada tanah plastis berkadar tinggi yang akan digunakan sama sekali pada lapisan bahan-bahan 400 mm di bawah setiap tanah dasar perkerasan atau bahu jalan. Sebagai tambahan, maka timbunan dalam daerah ini bilamana diuji sesuai dengan AASHTO T-193 harus mempunyai suatu nilai CBR tidak kurang dari 6 % setelah terendam empat hari bila dipadatkan sampai 100% kepadatan kering maksimum sebagaimana ditentukan sesuai AASHTO T-99. - Bila digunakan situasi pemadatan dengan kondisi jenuh atau banjir tidak dapat dihindari, maka timbunan dengan bahan-bahan terpilih harus terdiri dari pasir atu kerikil atau bahan-bahan butiran bersih lainnya dengan suatu Indeks Plastisitas maksimum 6%.
  • 37. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 37 - Bila digunakan pada pekerjaan stabilisasi timbunan atau lereng atau dalamsituasi lainnya dimana kekuatan geser adalah penting, tetapi berlaku kondisi pemadatan normal, maka timbunan dengan bahan-bahan terpilih dapat merupakan timbunan batuan atau kerikil berlempung yang bergradasi baik atau tanah liat berpasir atau tanah liat yang memiliki plastisitas rendah. jenis bahan- bahan yang terpilih dan disetujui oleh direksi akan bergantung pada kecuraman dari lereng yang akan dibangun atau ditimbun atau pada tekanan tanah yang harus dipikul. 12.4 Penempatan dan Pemadatan Timbunan a. Penempatan Timbunan - Timbunan harus ditempatkan pada permukaan yang dipersiapkan dan disebarkan merata serta bila dipadatkan akan memenuhi toleransi ketebalan lapisan tertentu. - Timbunan tanah harus dipindahkan segera dari daerah galian ke permukaan yang dipersiapkan dalam keadaan cuaca kering. Penumpukan tanah timbunan tidak akan diizinkan selama musim hujan, dan pada waktu lainnya hanya dengan izin tertulis dari direksi. - Dalam penempatan timbunan di atas atau pada selimut pasir atau bahan-bahan drainase porous lainnya, maka harus diperhatikan untuk menghindari pencampuran adukan dari kedua bahan-bahan tersebut. Dalam hal pembentukan drainase vertikal, maka suatu pemisah yang luas antara kedua bahan-bahan tersebut harus dijamin dengan menggunakan acuan sementara dari lembaran baja tipis yang secara bertahap akan ditarik sewaktu penempatan timbunan dan bahan drainase porous dilaksanakan. - Penimbunan kembali di atas pipa atau di belakang struktur harus sesuai dengan galian dan urugan kembali untuk struktur. - Dimana timbunan akan diperlebar, maka lereng timbunan yang ada harus dipersiapkan dengan mengeluarkan semua tumbuh-tumbuhan permukaan dan harus dibuat terasering sebagaimana diperlukan sehingga timbunan yang baru terikat pada timbunan yang ada hingga memuaskan direksi. Timbunan yang diperlebar kemudian harus dibangun dalam lapisan horizontal sampai pada ketinggian tanah dasar. Tanah
  • 38. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 38 dasar harus ditutup dengan sepraktis dan secepat mungkin dengan lapis pondasi bawah sampai ketinggian permukaan jalan yang ada untuk mencegah pengeringan dan kemungkinan peretakan permukaan. - Sebelum sebuah timbunan ditempatkan, seluruh rumput dan tumbuh-tumbuhan harus dibuang dari permukaan atas di mana timbunan tersebut ditempatkan dan permukaan yang sudah dibersihkan dihancurkan dengan pembajakan atau pengupasan selajutnya akan dipadatkan kembali, sesuai dengan jenis pemadatan yang ditentukan untuk timbunan jalan raya selanjutnya. Jika permukaan asli di atas mana timbunan yang akan ditempatkan adalah jalan lama, permukaan tersebut harus dibajak, dikupas, atau dihancurkan tanpa menghiraukan tinggi dari timbunan yang kan ditempatkan. Dalam tiap-tiap kasus tidak ada pembayaran terpisah yang akan dilakukan untuk pekerjaan ini sebagaimana hal tersebut dipertimbangkan sebagai tambahan pada item lain-lain di dalam bill of quantities. b. Pemadatan - Segera setelah penempatan dan penghamparan timbunan maka setiap lapisan harus dipadatkan secara menyeluruh dengan alat pemadat yang cocok dan layak serta disetujui oleh direksi sampai suatu kepadatan yang memenuhi persyaratan. - Pemadatan tanah timbunan akan dilakukan hanya bila kadar air bahan-bahan berada dalam batas antara 3% kurang daripada kadar air optimum sampai 1% lebih daripada kadar air optimum. Kadar air optimum tersebut harus ditentukan sebagai kadar air dimana kepadatan kering maksimum diperoleh bila tanah tersebut dipadat sesuai dengan AASTHO T99. - Semua timbunan batuan harus ditutup degan sebuah lapisan atau lapisan dengan tebal 200 mm dari bahan- bahan yang bergradasi baik yang berisi batu-batu tidak lebih besar dari 50 mm dan mampu mengisi semua sela-sela bagian atas timbunan batuan. Lapisan penutup ini harus dibangun sesuai dengan persyaratan untuk timbunan tanah. - Setiap lapisan timbunan yang ditempatkan harus dipadatkan sebagaimana ditentukan, diuji untuk kepadatan diterima oleh direksi, sebelum lapisan berikut ditempatkan.
  • 39. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 39 - Timbunan harus dipadatkan dimulai dari tepi luar dan dilanjutkan ke arah sumbu jalan dengan suatu cara yang sedemikian sehingga setiap bagian menerima jumlah pemadatan yang sama. Dimana mungkin lalu lintas alat konstruksi harus dilewatkan di atas pekerjaan timbunan dan jalur yang digunakan diubah secara terus menerus untuk menyebar pengaruh pemadatan dari lalu-lintas. - Timbunan pada lokasi yang tidak dapat dicapai/dimasuki oleh alat pemadat yang biasa, harus ditempatkan dalam lapisan horisontal dari bahan-bahan lepas tidak lebih dari 150 mm tebal dan seluruhnya dipadatkan dengan menggunakan alat pemadat tangan mekanis (mechanical temper) yang disetujui. Perhatian khusus harus diberikan guna menjamin pemadatan yang memuaskan dibawah dan ditepi pipa untuk menghindari rongga-rongga dan guna menjamin bahwa pipa ditunjang sepenuhnya. c. Persyaratan Pemadatan untuk Timbunan Tanah - Lapisan yang lebih dari 300 mm di bawah ketinggian tanah dasar harus dipadatkan sampai 95% dari standar maksimum kepadatan kering yang ditentukan sesuai AASTHO T99. Untuk tanah yang mengandung lebih dari 10% bahan-bahan yang tertahan pada ayakan 3/4 inch, kepadatan kering maksimum yang dipadatkan harus disesuaikan untuk bahan-bahan yang berukuran lebih besar sebagaimana diarahkan oleh direksi. - Lapisan 300 mm atau kurang di bawah ketinggian tanah harus dipadatkan sampai 100% dari kepadatan kering maksimum yang ditentukan AASTHO T99. - Pengujian kepadatan harus dibuat setiap lapisan timbunan yang dipadatkan sesuai dengan AASTHO T191 dan bila hasil setiap pengujian menunjukkan bahwa kepadatan kurang daripada kepadatan yang disyaratkan maka kontraktor harus membetulkan pekerjaan tersebut sesuai dengan ketentuan diatas. Pengujian harus dibuat sampai kedalaman lapisan sepenuhnya pada lokasi yang diarahkan oleh direksi, tetapi satu dengan yang lainnya tidak terpisah lebih 50 cm. Untuk urugan kembali disekeliling struktur atau pada parit gorong-gorong, sekurang- kurangnya satu pengujian untuk satu lapisan urugan kembali yang ditempatkan harus dilaksanakan. Pada timbunan, sekurang-kurangnya satu pengujian
  • 40. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 40 harus dilaksanakan pada setiap 150 meter kubik timbunan yang ditempatkan. - Kriteria untuk timbunan batuan Penampatan dan pemadatan timbunan batuan harus dilaksanakan dengan menggunakan mesin gilas atau mesin pemadat bergetar atau sebuah traktor beroda rantai yang berbobot sekurang-kurangnya 20 ton atau peralatan konstrukasi berat yang serupa. Pemadatan harus dikerjakan dalam arah memanjang sepanjang timbunan, dimulai dari tepi luar dan dilanjutkan menuju ke arah sumbu, dan harus diteruskan sampai tak ada gerakan yang nampak di bawah peralatan tersebut. Setiap lapisan harus terdiri dari batuan bergradasi yang cukup baik dan semua rongga permukaan harus terisi dengan pecahan kecil sebelum lapisan berikutnya ditempatkan. Batuan tidak boleh digunakan pada 150 mm lapisan atas timbunan dan tidak ada batu dengan suatu ukuran melebihi 100 mm boleh dimasukkan ke dalam lapisan atas ini. - Percobaan pemadatan Kontraktor harus bertanggungjawab untuk pemilihan peralatan dan metoda untuk mencapai kepadatan yang diisyaratkan, maka pemadatan berikutnya harus menyusul. Suatu percobaan lapangan harus dilaksanakan dengan jumlah lintasan alat pemadat dan kadar air harus diubah-ubah sampai kepadatan yang ditentukan tercapai sehingga memuaskan direksi. Hasil percobaan lapangan ini kemudian harus digunakan untuk menentukan jumlah lintasan yang diisyaratkan, jenis alat pemadat dan kadar air untuk semua pemadatan yang selanjutnya. 12.5 Prosedur Pengerjaan a. Galian untuk struktur - Parit untuk struktur dan telapak struktural digali menurut garis, kelandaian dan ketinggian yang terlihat pada gambar atau sebagaimana diarahkan oleh direksi. Ketinggian dasar telapak yang terlihat pada gambar adalah hanya perkiraan saja dan direksi boleh menginstruksikan perubahan pada ukuran atau ketinggian telapak sebagaimana dianggap perlu untuk menjamin hasil yang memuaskan. Batu besar bulat, balok kayu dan bahan-bahan lain yang di bawah dan di sekitar pekerjaan yang ditempatkan.
  • 41. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 41 - Parit harus berukuran cukup untuk memungkinkan pemasangan bahan-bahan yang layak, pemeriksaan pekerjaan dan pemadatan urugan kembali di bawah dan di sekitar pekerjaan yang ditempatkan. - Bila gorong-gorong atau parit lainnya akan digali ada timbunan baru, maka timbunan tersebut harus dibangun hingga setinggi permukaan yang diperlukan suatu jarak sisi lokasi parit tidak kurang 5 kali ukuran lebar parit tersebut, sesudah itu parit tersebut akan digali dengan sisi-sisi yang vertikal sesuai dengan kondisi yang memungkinkan. - Setiap pemompaan galian harus dikerjakan dengan cara tertentu untuk menghindari kemungkinan setiap bagian bahan-bahan konstruksi yang baru ditempatkan terbawa keluar. Setiap pemompaan yang diperlukan selama penempatan beton, atau untuk suatu perioda sekurang-kurangnya 24 jam setelah itu, harus dikerjakan dari tempat penampungan air yang terletak di bagian luar acuan beton. b. Urugan kembali pada standar - Daerah yang digali di sekitar struktur harus diurug kembali dengan bahan-bahan yang disetujui dalam pelapisan horisontal dengan kedalaman tidak lebih dari 150 mm sampai setinggi permukaan tanah asal atau setinggi permukaan tanah dasar, dan dipilih yang lebih rendah. Setiap lapisan harus dibasahi atau dikeringkan sampai kadar air optimum sebagimana diisyartkan dan dipadatkan seluruhnya.urugan kembali yang membentuk bagian timbunan harus dipadatkan sampai 100% dari kepadatan kering maksimum yang ditentukan sesuatu dengan AASTHO T99. Urugan kembali di luar daerah jalan dan timbunan harus dipadatkan sampai suatu kepadatan sekurang-kurangnya setinggi bahan-bahan yang berdampingan dan tak terganggu. c. Pengendalian lalu lintas - Pengendalian lalu lintas harus sesuai dengan persyaratan pengaturan dan pengendalian lalu lintas. - Kontraktor harus bertanggungjawab untuk semua akibat dari lalu lintas yang diizinkan melewati tanah dasar. Semua lalu lintas selain mesin-mesin konstruksi yang langsung terlibat dalam penempatan lapisan di atasnya harus dicegah melewati tanah dasar setelah penyelesaian dan penerimaan.
  • 42. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 42 d. Bahan-bahan Tanah dasar dibentuk pada timbunan biasa, timbunan dengan bahan-bahan terpilih, agregat lapisan pondasi atau drainase porous, atau pada tanah asli dengan merapikan atau memotong dengan menggunakan galian biasa atau galian batuan. Bahan-bahan yang akan digunakan pada setiap contoh harus sebagaimana diarahkan oleh direksi. Sifat bahan-bahan untuk digunakan dalam pembentukan tanah dasar harus sesuai dengan sifat bahan- bahan khusus yang sedang digunakan sebagaimana diberikan di bagian lain dalam spesifikasi ini. e. Pemadatan tanah dasar Tanah dasar harus dipadatkan sesuai dengan ketentuan yang relevan dari spesifikasi ini. Persyaratan pemadatan dan persyaratan jamian kualitas untuk tanah dasar harus sesuai dengan ketentuan spesifikasi ini 12.6 Sub-Base a. Material - Peserta pelelangan harus sebelumnya menentukan sendiri akan tempat, jumlah dan keserasian bahan yang ada untuk digunakan sebagai bahan subbase. harus juga diperhitungkan biaya sehubungan dengan pengambilan, pengukuran, penyaringan bila perlu yang kesemuanya itu harus juga tercakup dalam suatu harga bahan subbase yang diajukan pada harga penawaran. Kontraktor selambat-lambatnya 30 hari sebelum dimulainya pekerjaan subbase harus sudah mengajukan kepada Direksi sesuai pernyataan yang menerangkan tempat asal dan komposisi dari material yang digunakan sebagai subbase, dimana sifat-sifat material tersebut harus memenuhi persyaratan yang akan disebutkan selanjutnya pada spesifikasi ini. - Pemeriksaan, testing dan persetujuan Sebagaimana keharusan, sebelum dimulai pekerjaan penggalian bahan, kontraktor harus menyerahkan hasil pemeriksaan laboratorium yang diakui direksi mengenai sifat-sifat bahan tersebut. Pengambilan bahan untuk keperluan pemeriksaan, biaya yang diperlukan untuk pemeriksaan tersebut ditanggung oleh kontraktor. Pengambilan contoh bahan untuk pemeriksaan dihadiri direksi atau wakil yang ditunjuk olehnya dimana sebagian dari bahan itu akan disimpan oleh direksi di tempat pekerjaan sebagai barang contoh.
  • 43. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 43 Kategori Spesifikasi 3/8” 40 – 70 No.4 30 – 60 No.10 20 – 50 No.40 10 – 30 No.200 5 – 15 Persentase berat yang lewat untuk masing-masing ayakan dapat dikoreksi oleh direksi bila digunakan batu pecah dengan bermacam-macam berat jenis - Batas cair (AASTHO T89) 25 max - Indeks Plastis (ASSTHO T91) 6 max - Kadar lempung (AASTHO T176) 25 min - Kehilangan berat dari partikel yang tertinggal pada ayakan ASTM No. 12 - (AASTHO T96) - CBR direndam yang ditest pada density yang dikehendaki (100% dari kepadatan kering maksimum menurut AASTHO T180) 60 max Kelas C subbase terdiri dari pasir dan kerikil dengan gradasi baik menurut persyaratan di bawah ini. ASTM Standar Sieve Persentase Berat Yang Lewat 1 1/2” 100 max No. 10 80 max No.12 15 max Kadar Lempung (AASTHO T176 kehilangan berat 25 max akibat abrasi dari partikel yang tertinggal pada ayakan ASTM No. 12 (AASTHO T96) 40 max Kepadatan Kering maksimum (AASTHO T180) Min 20 gr/cucm b. Pelaksanaan - Pekerjaan persiapan untuk subgrade Subgrade akan dibuat, dipersiapkan dan dikerjakan seperti yang disebut pada lab sebelumnya, sebelum subbase ditempatkan. - Pencampuran dan pembuatan Kecuali ditentukan lain, bila kontraktor mengerjakan pencampuran material subbase harus menuruti salah satu cara di bawah ini, dengan bahan-bahan pembantu bila perlu seperti diisyaratkan pada gambar rencana.
  • 44. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 44 - Cara dengan alat pencampur stasioner Agregat dan air dicampur di dalam suatu mixer. Jumlah air diatur selama pencampuran agar mencapai kadar air yang sesuai untuk keperluan pamadatan yang memenuhi syarat. Setelah proses pencampuran, material diangkut ke tempat pekerjaan, dijaga agar kadar air tetap dalam batas-batas yang diisyaratkan dan dihampar di lapangan untuk segera dipadatkan. - Cara dengan alat pencampuran yang berjalan Setelah material untuk masing-masing ditempatkan dengan mesin penyebar (spreader) atau alat lain, kemudian dilakukan pencampuran dengan alat pencampur berjalan. Selama itu air bila perlu ditambah agar dicapai kadar air optimum. - Cara dengan pencampuran setempat (mixed on place) Setelah material untuk masing-masing lapisan ditempatkan, pencampuran dilakukan dengan motor grader atau alat lain pada kadar air yang dikehendaki. Subbase material akan dipadatkan tiap lapisan dengan tebal sedemikian agar kepadatan maksimum dapat dicapai dengan alat-alat yang ada. Tebal lapisan itu umumya tidak boleh dari 25 cm setelah jadi. Bila lebih dari satu lapis, tiap lapisan yang terdahulu harus sudah dipadatkan secukupnya sebelum penempatan lapisan selanjutnya. - Penebaran dan pemadatan Segera setelah dilakukan penebaran dan perataan, tiap garis segera dipadatkan pada seluruh lebar jalan dengan mesin gilas, mesin gilas roda karet atau alat pemadat lain yang disetujui direksi untuk dipakai. Penggilasan dilakukan dari tepi menggeser ke tengah, berjalan paralel dengan as jalan dan diusahakan berlangsung terus tanpa berhenti sampai seluruh permukaan selesai digilas. Bila terjadi pelendutan atau hal-hal yang tidak wajar pada suatu tempat, harus segera dilakukan perbaikan dengan cara membongkar tempat itu, mengganti atau dilakukan menambah material lain dan menggilasnya kembali sehingga rata dengan permukaan yang dikehendaki. Pada tepi-tepi curb, dinding-dinding dan pada tempat- tempat yang tidak dapat dicapai oleh mesin gilas harus dipadatkan dengan alat-alat tangan yang tepat (temper, compactor). Lapisan yang dipadatkan tersebut harus digilas dan dipangkas (bladed) sedemikian agar permukaan jadi berbentuk sesuai dengan gambar rencana. Material subbase harus
  • 45. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 45 dipadatkan hingga mencapai paling tidak 100% dari kepadatan kering maksimum yang dipadatkan pada pemeriksaan AASTHO T180 Method D. Kepadatan tersebut harus dicapai pada seluruh tebalnya. Direksi melakukan pengukuran pada tempat-tempat yang dipilihnya selama pelaksanaan pekerjaan untuk memeriksa tebal lapisan subbase yang dihampar agar dapat mencapai tebal jadi yang disyaratkan pada kepadatan maksimum. Pembuatan lubang-lubang untuk keperluan pengukuran itu dan pengisiannya kembali akan dilakukan oleh kontraktor dan diawasi oleh direksi atau wakil yang ditunjuk olehnya. 12.7 Base a. Sumber Material - Peserta lelang sebelum mengajukan harga penawaran harus menentukan sendiri lokasi, kemungkinan bahan tersebut untuk dipakai sebagai bahan base, cara pengambilan atau pengangkutannya, biaya pemecahan batu, penyeleksian dan pembiayaan lain yang perlu sehubungan dengan pendatangan material itu. Kontraktor harus juga memperhitungkan, bila memang demikian keadaannya, cara menggali dan membuang lapisan tanah atas tempat pengambilan bahan tersebut. Harga satuan dari material base yang diajukan harus telah mencakup semua pembiayaan itu. Kontraktor harus mengajukan pernyataan selambat- lambatnya 30 hari sebelum dilakukan pengambilan material tersebut yang berisi tentang tempat asal bahan komposisi dan macam agregat yang akan dipakai sebagai bahan base. Sifat-sifat material tersebut harus sesuai dengan persyaratan di bawah ini. b. Persyaratan material Agregat untuk base harus memenuhi persyaratan untuk bahan base kelas B di bawah ini. Semua agregat untuk base course harus terdiri dari bahan-bahan yang bersih, keras, awet, bersudut tajam, tidak banyak bercampur dengan bentuk- bentuk yang pipih atau memanjang, dan dalam batas tertentu tidak banyak mengandung batu- batu yang lunak, yang mudah hancur, kotoran atau bahan-bahan lain yang mudah membusuk/tidak dikehendaki. Kerikil pecah atau batu pecah untuk lapisan base kelas B terdiri dari hasil pemecahan kerikil dan batu. Bila ditentukan demikian oleh direksi, maka untuk bahan kerikil sebelumnya harus diayak terlebih dahulu sehingga agregat hasil dari pemecahan kerikil itu tidak kurang dari 50% beratnya terdiri dari partikel yang mempunyai sekurang-kurangnya satu
  • 46. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 46 bidang pecahan. Agregat base course harus menuruti persyaratan dibawah ini. Kategori Keterangan Kekerasan (Toughness ASTM D3) Min 6% Kehilangan berat dengan percobaan sodium sulfate (AASTHO T104) Max 10% Kehilangan berat dengan percobaan magnesium sulfate (AASTHO T140) Max 12% Kehilangan berat akibat abrasi sesudah 100 putaran (AASTHO T96) Max 10% Kehilangan berat akibat abrasi sesudah 500 putaran (AASTHO T96) Max 40% Partikel-partikel tipis, memanjang persentase berat (partikel lebih besar dari 1” dengan ketebalan kurang dari 1/5 panjang Max 5% Bagian-bagian baru yang lunak (ASTM C235) Max 55% Gumpalan-gumpalan lengkung (AASTHO T12) Max 0,225% ASTM Standar Sieve Persentase Berat Butir Yang Lewat 2 ½” 100 2” 90 - 100 1 ½ “ 35 - 70 1” 0 - 15 ½” 0 - 5 Kelas B terdiri dari campuran kerikil dan kerikil pecah atau batu pecah dengan berat jenis yang seragam dengan pasir, lanau atau lempung dengan persyaratan di bawah ini : ASTM Standar Sieve Persentase Berat Butir Yang Lewat 2 ½” 100 1” 60 - 100 3/4“ 55 - 85 No. 4 35 - 60 No. 10 25 - 60 No. 14 15 – 30 No. 200 8 - 15 Partikel yang mempunyai diamater kurang dari 0,02 mm harus tidak lebih dari 35% dari berat total contoh bahan yang diuji. Persentase berat butir yang lewat dapat dikoreksi oleh direksi bila agregat terdiri dari bahan-bahan dengan berat jenis yang berlain-lainan : - Batas cair (AASTHO T89) : max 25% - Indeks plastis (AASTHO T91) : 4-8%
  • 47. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 47 - Kadar lempung (AASTHO T176) : min 50% Persentase agregat yang mempunyai paling sedikit satu bidang pecah harus paling tidak berjumlah 80% dari berat material yang tertinggal pada ayakan No. 4. Persentase agregat yang mempunyai paling sedikit satu bidang pecah harus paling tidak berjumlah 80% dari berat material yang tertinggal pada ayakan No. 4. 12.8 Saluran Drainase a. Uraian Pekerjaan ini terdiri dari pembuatan saluran dari pasangan batu dengan bentuk dan beton pracetak, kemiringan dan kedudukan seperti yang tercantum pada Gambar Rencana dan Petunjuk Direksi. Saluran beton pracetak digunakan di sisi luar rencana jalan baru, sedangkan saluran dengan pasangan batu digunakan di sisi median. b. Material Batu yang digunakan hendaknya terdiri dari pecahan batu keras dengan permukaan yang kasar. Aduk yang digunakan apabila tidak disebutkan tersendiri pada gambar rencana hendaknya terdiri dari campuran semen dan pasir dengan perbandingan 1:3 c. Pelaksanaan Lubang galian dibuat sesuai dengan bentuk kemiringan dan kedudukan seperti yang diisyaratkan pada gambar rencana. Apabila dinding-dinding dan dasar lubang galian tersebut masih dalam keadaan gembur harus dilakukan pemadatan seperlunya agar didapat suatu permukaan yang stabil dan keras. Batu-batu yang telah dipecah berukuran terpanjang 0.75 tebal dinding dan tidak lebih dari 25 cm dipasangkan setelah terlebih dahulu diberikan lapisan aduk yang cukup. Batu-batu yang lebih kecil ditempatkan untuk mengisi rongga- rongga agar pasangan tidak goyah dan tebal aduk diantaranya tidak menjadi terlalu tebal. Permukaan luar hendaknya diatur sedemikian sehingga didapat permukaan yang datar dan rapih. Apabila tidak ditentukan adanya pekerjaan plesteran maka setelah pemasangan cukup keras dan kokoh, harus dilakukan pekerjaan siar dengan campuran aduk semen dan pasir halus 1 : 2. Pekerjaan siar itu hendaknya dilakukan dengan cermat agar tidak terjadi bagian-bagian yang terbuka atau keropos. Pembahasan sebelum dan sesudah pekerjaan siar dapat dilakukan sesuai dengan keperluannya untuk mencapai daya lekat dan mencegah keretakan bidang-bidang siar. Pada umumnya tebal pasangan ini tidak boleh kurang dari 20 cm.
  • 48. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 48 12.9 Box Culvert a. Material Box Culvert yang terbuat dari beton bertulang harus memenuhi persyaratan AASTHO – M170. Adukan untuk sambungan harus memenuhi persyaratan artikel 9.01 dari spesifikasi khusus. b. Pelaksanaan Pelaksanaan sesuai dengan yang tersebut untuk pemasangan box-culvert secara umum dan pemasangan- pemasangan lain sesuai dengan cara-cara dan petunjuk yang sesuai dengan itu dari pihak pabrik yang mengeluarkannya. 12.10Pipa-Pipa Drainase a. Material Material yang digunakan harus terdiri dari pipa bulat non-metal yang halus dan tidak bergelombang berdimensi 6", seperti paralon yang mampu menahan beban rencana jalan, yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik yang telah diakui oleh direksi serta jaminan yang perlu diberikan oleh pabriknya. b. Pelaksanaan Pelaksanaan sesuai dengan yang tersebut untuk pemasangan pipa-pipa drainase secara umum dan pemasangan-pemasangan lain sesuai dengan cara-cara dan petunjuk yang sesuai dengan itu dari pihak pabrik yang mengeluarkannya. 13. PEKERJAAN TANAH DAN SAMPAH Spesifikasi teknis ini merupakan bagian dari Rencana Kerja dan Syarat- syarat (RKS) yang tidak terpisahkan. Semua ketentuan dalam Spesifikasi Teknis ini berlaku dalam kaitan, merujuk pada, menjelaskan, serta tidak perlu mengulangi apa yang terdapat dalam bagian lain dari RKS. Meskipun Spesifikasi Teknis ini terdiri atas beberapa bagian, semua ketentuan berlaku saling melengkapi satu sama lain. Pembagian atas bagian tidak membatasi berlakunya ketentuan dari bagian lainnya. Dalam hal Spesifikasi Teknis ini bertentangan dengan Gambar RKS, maka yang berlaku adalah Gambar RKS. A. DIMENSI GEOMETRIK a. Elevasi dan Bench Mark Semua elevasi yang dimaksud adalah terhadap LWS, kecuali dinyatakan lain. Semua elevasi harus dinyatakan dalam meter dengan ketelitian sampai dua desimal. Kontraktor wajib membuat sedikitnya 6 (enam) buah bench mark di sekitar lokasi proyek yang ditunjuk Direksi Teknik/Konsultan. Bench mark
  • 49. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 49 yang terpasang harus diikatkan terhadap referensi yang ada yang disetujui Konsultan. Ikatannya harus merupakan ikatan sempurna dari poligon tertutup. Bila diperlukan, Kontraktor harus menambahkan sendiri bench mark tambahan untuk pelaksanaan pekerjaan. b. Dimensi Semua dimensi dalam gambar dinyatakan dalam satuan metrik. Tidak ada tambahan akibat konversi dari satuan lainnya ke sistem metrik. Semua gambar dan komunikasi harus dinyatakan dalam sistem metrik. c. Toleransi Toleransi pengukuran untuk pekerjaan tanah dan sampah ini adalah : Pekerjaan Galian Vertikal : 0,25 m Horisontal : 0,25 m Pekerjaan Timbunan Vertikal : 0,05 m Horisontal : 0,05 m Pekerjaan Urugan dan Pemadatan Vertikal : 0,03 m Horisontal : 0,03 m B. DEFINISI Pada seluruh dokumen ini dipakai kata-kata : Direksi Teknik menerangkan : Pemberi Tugas Konsultan menerangkan : Konsultan Pengawas Kontraktor menerangkan : Kontraktor yang memenangkan Tender Insinyur Pengawas menerangkan : Insinyur yang ditunjuk oleh Konsultan Supervisi sebagai Pengawas di lapangan Ahli Geoteknis menerangkan : Ahli Geoteknis yang kompeten dan berpengalaman. Spesifikasi teknis ini merupakan bagian dari Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS) yang tidak terpisahkan. Semua ketentuan dalam Spesifikasi Teknis ini berlaku dalam kaitan, merujuk pada, menjelaskan, serta tidak perlu mengulangi apa yang terdapat dalam bagian lain dari RKS. Meskipun Spesifikasi Teknis ini terdiri atas beberapa bagian, semua ketentuan berlaku saling melengkapi satu sama lain. Pembagian atas bagian tidak membatasi berlakunya ketentuan dari bagian lainnya.
  • 50. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 50 13.1 PEKERJAAN GALIAN 13.1.1 Umum 13.1.1.1Uraian a. Pekerjaan ini mencakup penggalian, penanganan, pembuangan tanah, humus atau cadas atau material lain. b. Pekerjaan ini diperlukan untuk pembentukan tempat kerja sesuai dengan ketinggian dan penampang melintang yang ditunjukkan dalam gambar atau yang diperintahkan oleh Direksi Teknik. c. Kecuali untuk kepentingan pembayaran, ketentuan dari Seksi ini berlaku untuk seluruh pekerjaan galian yang dilakukan sehubungan dengan Kontrak, dan seluruh galian dapat merupakan salah satu dari : Galian biasa Galian padas Galian/dredging sungai d. Galian biasa mencakup seluruh galian yang tidak diklasifikasi sebagai galian padas atau galian sungai. e. Galian padas mencakup galian dari batu dengan volume 1 m3 atau lebih dan seluruh padas atau bahan lainnya yang digali tanpa penggunaan alat bertekanan udara, pemboran, atau peledakan. Galian ini tidak termasuk bahan yang menurut pendapat Direksi Teknik dapat dilepaskan dengan penggaruk yang ditarik oleh traktor dengan berat minimum 15 ton dan tenaga kuda netto sebesar 180 HP. f. Galian/dreging sungai mencakup seluruh pekerjaan dredging pada daerah sungai. g. Data bor dan profil tanah yang disajikan dalam dokumen tender adalah informasi umum. Variasi dan/atau interpretasi diperbolehkan sepanjang tidak mempengaruhi kontrak. Sebelum pekerjaan dimulai, kontraktor harus menyerahkan gambar penampang memanjang yang menunjukkan tanah dasar yang ada. h. Kontraktor dianggap telah memenuhi pekerjaan bila material substansi yang digali telah dibuang sampai pada batas yang ditunjukkan dalam gambar atau ketentuan lain. i. Kontraktor harus melakukan penggalian dan membuang substansi apapun yang ditemukan hingga kedalaman yang
  • 51. SPESIFIKASI TEKNIS SATUAN KERJA PENYEHATAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN PROPINSI SULAWESI TENGAH 51 ditentukan dalam gambar atau hingga kedalaman yang perlu untuk pelaksanaan konstruksi yang layak dan penyelesaian pekerjaan. j. Kontraktor dianggap telah memasukkan dalam jadwal kecepatan yang diizinkan untuk melingkupi seluruh faktor yang mungkin timbul selama atau dalam hubungan dengan penggalian dan pembuangan sisa-sisa. 13.1.1.2Survei a. Pada waktu yang telah disepakati untuk memulai pekerjaan galian, Kontraktor di bawah pengawasan Konsultan, harus memeriksa dan melakukan survei dengan peralatan yang disetujui pada lokasi pekerjaan. b. Level yang disepakati harus dicatat dan ditandatangani oleh Konsultan dan Kontraktor. 13.1.1.3Peralatan a. Peralatan yang digunakan Kontraktor harus memenuhi persyaratan minimal yang ditentukan. b. Jika pemakaian peralatan lain tidak diizinkan oleh Konsultan, Kontraktor harus menggunakan peralatan yang telah diusulkan dalam tender atau telah disetujui untuk digunakan ketika kontrak ditandatangani. Kontraktor harus menyerahkan rencana kerja detail pelaksanaan pekerjaan sehubungan dengan mobilisasi peralatan. c. Peralatan yang dipakai pada saat pelaksanaan harus diajukan pada rencana kerja dan disetujui oleh Direksi Teknik sebelum dioperasikan. 13.1.1.4 Toleransi Dimensi a. Galian harus dilakukan sesuai dengan ukuran, ketinggian, dan kemiringan seperti yang ditunjukkan dalam gambar dengan kelandaian akhir, arah dan formasi sesudah galian tidak boleh bervariasi dari yang ditentukan lebih dari 25 cm pada setiap titik. b. Permukaan galian yang telah selesai dan terbuka terhadap aliran air permukaan harus cukup rata dan harus memiliki cukup kemiringan untuk menjamin drainase yang bebas dari permukaan itu tanpa terjadi genangan atau menggunakan pelindung plastik sebagaimana tercantum di dalam Gambar RKS.