Pemberontakan PRRI/Permesta (1956-1958) muncul sebagai respons atas kekecewaan perwira militer terhadap kebijakan pemerintah pusat yang dianggap sentralistis dan tidak memperhatikan daerah luar Pulau Jawa. Pemberontakan ini melibatkan dewan-dewan revolusi di Sumatera dan Sulawesi yang berusaha merebut kekuasaan, namun menyebabkan banyak dampak negatif seperti korban jiwa dan gangguan ekonomi, serta dampak positif seperti kesadaran berotonomi di daerah. Tokoh-tokoh utama yang terlibat termasuk Letnan Kolonel Ahmad Husein dan Mr. Sjafruddin Prawiranegara.