Revolusi Nasional Indonesia
1.
Daftar iSi
 Revolusi Nasional Indonesia
 Latar Belakang
 Proklamasi Kemerdekaan
-Proklamasi Pembentukan Pemerintah
-Euforia Revolusi
 Tindakan Sekutu
-Pendudukan kembali
 Perjuangan Militer Dan Diplomasi
-Perjanjian Linggarjati
-Agresi Militer Belanda I
 Kekacauan Internal
-Revolusi Social
-Pemberontakan Komunis
-Pemberontakan Darul Islam
 Dampak
Revolusi Nasional Indonesia adalah sebuah konflik
bersenjata dan pertentangan diplomasi antara Republik
Indonesia yang baru lahir melawan Kerajaan Belanda yang
dibantu oleh pihak Sekutu, diwakili oleh Inggris. Rangkaian
peristiwa ini terjadi mulai dari proklamasi kemerdekaan
Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 hingga pengakuan
kemerdekaan Indonesia oleh Kerajaan Belanda pada 29
Desember 1949. Meskipun demikian, gerakan revolusi itu
sendiri telah dimulai pada tahun 1908, yang saat ini diperingati
sebagai tahun dimulainya kebangkitan nasional Indonesia.
Selama sekitar empat tahun, beberapa peristiwa
berdarah terjadi secara sporadis. Selain itu terdapat pula
pertikaian politik serta dua intervensi internasional. Dalam
peristiwa ini pasukan Belanda hanya mampu menguasai kota-
kota besar di pulauJawa dan Sumatera, namun gagal
mengambil alih kendali di desa dan daerah pinggiran. Karena
sengitnya perlawanan bersenjata serta perjuangan diplomatik,
Belanda berhasil dibuat tertekan untuk mengakui kemerdekaan
Indonesia. Revolusi ini berujung pada berakhirnya
pemerintahan kolonial Hindia Belanda dan mengakibatkan
perubahan struktur sosial di Indonesia, di mana kekuasaan
raja-raja mulai dikurangi atau dihilangkan. Peristiwa ini dikenal
Latar belakang
 Pergerakan nasionalis untuk mendukung kemerdekaan Indonesia dari Kerajaan Belanda,
seperti Budi Utomo, Partai Nasional Indonesia, Sarekat Islam dan Partai Komunis Indonesia
tumbuh dengan cepat di pertengahan abad ke-20. Budi Utomo,Sarekat Islam dan gerakan
nasional lainnya memprakarsai strategi kerja sama dengan mengirim wakil mereka ke
Volksraad(dewan rakyat) dengan harapan Indonesia akan diberikan hak memerintah diri
sendiri tanpa campur tangan Kerajaan Belanda. Sedangkan gerakan nasionalis lainnya memilih
cara nonkooperatif dengan menuntut kebebasan pemerintahan Indonesia sendiri dari Belanda.
Pemimpin gerakan nonkooperatif ini adalah Soekarno dan Mohammad Hatta, dua orang
mahasiswa nasionalis yang kelak menjadi presiden dan wakil presiden pertama. Pergerakan ini
dimudahkan dengan adanya kebijakan Politik Etis yang dijalankan oleh Belanda.
 Pendudukan Indonesia oleh Jepang selama tiga setengah tahun masa Perang Dunia Kedua
merupakan faktor penting untuk revolusi berikutnya. Belanda hanya memiliki sedikit
kemampuan untuk mempertahankan penjajahan di Hindia Belanda. Hanya dalam waktu tiga
bulan, Jepang berhasil menguasai Sumatera. Jepang kemudian berusaha untuk mengambil hati
kaum nasionalis dengan menjanjikan kemerdekaan untuk Indonesia dan mengizinkan
penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik. Ini menimbulkan lahirnya organisasi-organisasi
perjuangan di seluruh negeri.
 Ketika Jepang berada di ambang kekalahan perang, Belanda kembali untuk merebut kembali
bekas koloni mereka. Pada 7 September 1944, Perdana Menteri Jepang Kuniaki Koiso
menjanjikan kemerdekaan kepada Indonesia, walaupun tidak menetapkan tanggal resmi.
Proklamasi dan pembentukan pemerintahan
Proklamasi dan pembentukan pemerintahan
Pada akhir bulan Agustus 1945, pemerintahan republikan telah berdiri di
Jakarta. Kabinet Presidensial dibentuk, dengan Soekarno sendiri sebagai
ketuanya. Hingga pemilihan umum digelar, Komite Nasional Indonesia Pusat
dibentuk untuk membantu Presiden dan bertindak hampir sebagai badan
legislatif. Komite serupa juga dibentuk di tingkat provinsi dan kabupaten.
Mendengar berita pembentukan pemerintah pusat di Jakarta, beberapa raja
menyatakan menggabungkan diri dengan Indonesia. Sementara beberapa
lainnya belum menyatakan sikap atau menolak mentah-mentah, terutama
yang pernah didukung oleh pemerintah Belanda.
Pengibaran bendera Merah Putih setelah
pembacaan naskah proklamasi pada 17 Agustus
1945
Khawatir Belanda akan berusaha merebut kembali kekuasaan di
Indonesia, pemerintah yang baru dibentuk tersebut dengan cepat
menyelesaikan persoalan administrasi. Saat itu, pemerintahan masih sangat
terpusat di pulau Jawa, sementara kontak ke luar pulau masih sangat sedikit.
Pada 14 November 1945, Sutan Sjahrir menjadi perdana menteri pertama
mengetuai kabinet Sjahrir I.
Beberapa minggu setelah Jepang menyerah, Giyugun dan Heiho
dibubarkan oleh pemerintah Jepang. Struktur komando dan keanggotaan PETA
dan Heiho pun hilang. Karena itu, pasukan republikan yang mulai tumbuh di
bulan September, tetapi lebih banyak berupa kelompok-kelompok kecil milisi
pemuda yang tidak terlatih, yang biasanya dipimpin oleh seorang pemimpin
karismatik.] Ketiadaan struktur militer yang patuh pada pemerintah pusat
menjadi masalah utama revolusi kala itu. Dalam masa awal pembentukan
struktur militer, perwira Indonesia yang dilatih Jepang mendapat pangkat yang
lebih tinggi dibanding perwira yang dilatih oleh Belanda. Pada 12 November
1945, dalam sebuah konferensi antar panglima-panglima divisi militer di
Yogyakarta seorang mantan guru sekolah berumur 30 tahun bernama Sudirman
terpilih menjadi panglima Tentara Keamanan Rakyat, bergelar "Panglima
Besar".
Euforia revolusi
Sebelum berita tentang, proklamasi kemerdekaan Indonesia menyebar ke
pulau-pulau lain, banyak masyarakat Indonesia yang jauh dari ibu kotaJakarta tidak
percaya. Saat berita mulai menyebar, banyak dari orang Indonesia datang untuk
menyatakan diri mereka sebagai pro-republik, dan suasana revolusi menyapu seluruh
negeri. Kekuatan luar di dalam negeri telah menyingkir, seminggu sebelum tentara
Sekutu masuk ke Indonesia, dan Belanda telah mulai melemah kekuatannya
dikarenakan perang. Disisi lain, pasukan Jepang, sesuai dengan ketentuan diminta
untuk menyerah dan meletakkan senjata, da juga menjaga ketertiban umum.
Kevakuman Kekuasaan selama berminggu-minggu setelah Jepang menyerah
menciptakan suasana ketidakpastian di dalam politik Indonesia saat itu, tetapi hal ini
menjadi suatu kesempatan bagi rakyat. Banyak pemuda Indonesia bergabung dengan
kelompok perjuangan pro-republik dan laskar-laskar. Laskar-laskar yang paling
terorganisir antara lain kelompok PETA dan Heiho yang dibentuk oleh Jepang. Namun
pada saat itu laskar-laskar rakyat berdiri sendiri dan koordinasi perjuangan cukup
kacau. Pada minggu-minggu pertama, tentara Jepang menarik diri dari daerah
perkotaan untuk menghindari konfrontasi dengan rakyat.
Pada bulan September 1945, pemerintah republik yang dibantu laskar rakyat telah
mengambil alih kendali atas infrastruktur-infrastruktur utama, termasuk
stasiun kereta api dan trem di kota-kota besar di Jawa. Untuk menyebarkan pesan-
peasn revolusioner, para pemuda mendirikan stasiun radio dan koran, serta grafiti
yang penuh dengan sentimen nasionalis. Di sebagian besar pulau-pulau di
Indonesia, komite perjuangan dan laskar-laskar milisi dibentuk. Koran kaum
republik dan jurnal-jurnal perjuangan terbit di Jakarta, Yogyakarta dan Surakarta,
yang betujuan memupuk generasi penulis yang dikenal sebagai Angkatan 45.
Para pemimpin republik berjuang untuk menyatukan sentimen yang menyebar di
masyarakat, karena ada beberapa kelompok yang menginginkan revolusi fisik, dan
yang lain lebih memilih menggunakan cara pendekatan damai. Beberapa
pemimpin seperti Tan Malaka dan pemimpin kiri lainnya menyebarkan gagasan
bahwa revolusi harus dipimpin oleh para pemuda. Soekarno dan Hatta, sebaliknya,
lebih tertarik dalam perencanaan sebuah pemerintahan dan lembaga-lembaga
negara untuk mencapai kemerdekaan melalui diplomasi. Massa pro-revolusi
melakukan demonstrasi di di kota-kota besar, salah satunya dipimpin Tan Malaka
di Jakarta dan diikuti lebih dari 200,000 orang. Tetapi aksi ini yang akhirnya
berhasil dipadamkan oleh Soekarno-Hatta, karna mengkhawatirkan pecahnya aksi-
aksi kekerasan.
Pada bulan September 1945, pemerintah republik yang dibantu
laskar rakyat telah mengambil alih kendali atas infrastruktur-infrastruktur
utama, termasuk stasiun kereta api dan trem di kota-kota besar di
Jawa. Untuk menyebarkan pesan-peasn revolusioner, para pemuda
mendirikan stasiun radio dan koran, serta grafiti yang penuh dengan sentimen
nasionalis. Di sebagian besar pulau-pulau di Indonesia, komite perjuangan
dan laskar-laskar milisi dibentuk. Koran kaum republik dan jurnal-jurnal
perjuangan terbit di Jakarta, Yogyakarta dan Surakarta, yang betujuan
memupuk generasi penulis yang dikenal sebagai Angkatan 45.
Para pemimpin republik berjuang untuk menyatukan sentimen yang
menyebar di masyarakat, karena ada beberapa kelompok yang menginginkan
revolusi fisik, dan yang lain lebih memilih menggunakan cara pendekatan
damai. Beberapa pemimpin seperti Tan Malaka dan pemimpin kiri lainnya
menyebarkan gagasan bahwa revolusi harus dipimpin oleh para pemuda.
Soekarno dan Hatta, sebaliknya, lebih tertarik dalam perencanaan sebuah
pemerintahan dan lembaga-lembaga negara untuk mencapai kemerdekaan
melalui diplomasi. Massa pro-revolusi melakukan demonstrasi di di kota-kota
besar, salah satunya dipimpin Tan Malaka di Jakarta dan diikuti lebih dari
200,000 orang. Tetapi aksi ini yang akhirnya berhasil dipadamkan oleh
Soekarno-Hatta, karna mengkhawatirkan pecahnya aksi-aksi kekerasan.
Pada September 1945, banyak pemuda Indonesia yang
menyatakan diri "siap mati untuk kemerdekaan 100%" karna tidak dapat
menahan kesabaran mereka. Pada saat itu, penculikan kaum "nonpribumi"
- interniran Belanda, orang-orang Eurasia, Maluku dan Tionghoa - sangat
umum terjadi, karena mereka dianggap sebagai mata-mata. Kekerasan
menyebar dari seluruh negeri, sementara pemerintah pusat di Jakarta terus
menyerukan kepada para pemuda agar dapat tenang. Namun, pemuda yang
mendukung perjuangan bersenjata memandang pimpinan yang lebih tua
sebagai para "pengkhianat revolusi", yang pada akhirnya sering
menyebabkan meletusnya konflik internal di kalangan masyarakat sipil.
Tindakan Sekutu
Pihak Belanda menuduh Soekarno dan Hatta
berkolaborasi dengan Jepang dan mencela bahwa
kemerdekaan Indonesia merupakan hasil
dari fasisme Jepang. Pemerintahan Hindia Belanda telah
menerima sepuluh juta dolar dari Amerika Serikat untuk
mendanai usaha pengembalian Indonesia sebagai jajahan
mereka kembali.
Pendudukan kembali
Meskipun begitu, situasi Belanda pada saat itu lemah setelah
diamuk Perang Dunia Kedua di Eropa dan baru bisa mengatur kembali militernya
pada awal 1946. Jepang dan kekuatan sekutu lainnya enggan menjadi pelaksana
tugas pemerintahan di Indonesia. Sementara Amerika Serikat sedang fokus
bertempur di kepulauan Jepang, Indonesia diletakkan di bawah kendali seorang
laksamana dariAngkatan Laut Britania Raya, Laksamana Earl Louis
Mountbatten, Panglima Tertinggi Sekutu untuk Komando Asia Tenggara. Enklaf-
enklaf Sekutu muncul di Kalimantan, Morotai, dan beberapa bagian di Irian Jaya;
para pegawai sipil Belanda telah kembali ke daerah-daerah tersebut. Di area yang
dikuasa angkatan laut Jepang, kedatangan pasukan Sekutu segera saja
menghentikan aksi-aksi revolusioner, dimana tentara Australia (diikuti pasukan
Belanda dan pegawai-pegawai sipilnya), dengan cepat menguasai daerah-daerah
yang sebelumnya dikuasai Jepang, kecuali Bali dan Lombok. Karena tidak adanya
perlawanan berarti, dua divisi tentara Australia dengan mudah menguasai beberapa
daerah di bagian Timur Indonesia.
Seorang prajurit dari resimen bersenjata asal
India menyita sebuahtank milik kaum
nasionalis, yang tertinggal setelah pertempuran
di Surabaya.
Inggris ditugaskan untuk mengatur kembali jalannya pemerintahan sipil di Jawa. Belanda
mengambil kesempatan ini untuk menegakkan kembali pemerintahan kolonial
lewat NICA dan terus mengklaim kedaulatan atas Indonesia. Meskipun begitu,
tentara Persemakmuranbelum mendarat di Jawa sampai September 1945. Tugas mendesak
Lord Mountbatten adalah pemulangan 300,000 orang Jepang dan membebaskan para tawanan
perang. Ia tidak ingin (dan tidak berdaya) untuk memperjuangakan pengembalian Indonesia
pada Belanda.. Tentara Inggris pertama kali mendarat
di Medan, Padang, Palembang, Semarang dan Surabaya pada bulan Oktober. Dalam usaha
menghindari bentrokan dengan orang-orang Indonesia, komandan pasukan Inggris Letjen
Sir Philip Christison, mengirim para prajurit Belanda yang dibebaskan ke Indonesia Timur,
dimana pendudukan kembali Belanda berlangsung mulus. Tensi memuncak saat tentara
Inggris memasuki Jawa dan Sumatera; bentrokan pecah antara kaum republikan melawan
para "musuh negara", seperti tawanan Belanda, KNIL, orang Tionghoa, orang-orang Indo dan
warga sipil Jepang.
Perjanjian Linggarjati
Bulan Agustus pemerintah Belanda melakukan usaha lain untuk memecah
halangan dengan menunjuk tiga orang Komisi Jendral datang ke Jawa dan
membantu Van Mookdalam perundingan baru dengan wakil-wakil republik itu.
Konferensi antara dua belah pihak diadakan di bulan Oktober dan November di bawah
pimpinan yang netral seorang komisi khusus Inggris, Lord Killearn. Bertempat di
bukit Linggarjati dekat Cirebon. Setelah mengalami tekanan berat -terutama Inggris-
dari luar negeri, dicapailah suatu persetujuan tanggal 15 November 1946 yang pokok
pokoknya sebagai berikut :
Belanda mengakui secara de facto Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan yang
meliputi Sumatra, Jawa dan Madura. Belanda harus meninggalkan wilayah de
factopaling lambat 1 Januari 1949,
Republik Indonesia dan Belanda akan bekerja sama dalam membentuk Negara
Indonesia Serikat, dengan nama Republik Indonesia Serikat, yang salah satu bagiannya
adalah Republik Indonesia
Republik Indonesia Serikat dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia - Belanda
dengan Ratu Belanda sebagai ketuanya.
Untuk ini Kalimantan dan Timur Raya akan menjadi komponennya. Sebuah Majelis
Konstituante didirikan, yang terdiri dari wakil-wakil yang dipilih secara demokratis
dan bagian-bagian komponen lain. Indonesia Serikat pada gilirannya menjadi
bagian Uni Indonesia-Belanda bersama dengan Belanda, Suriname dan Curasao.
Hal ini akan memajukan kepentingan bersama dalam hubungan luar negeri,
pertahanan, keuangan dan masalah ekonomi serta kebudayaan. Indonesia Serikat
akan mengajukan diri sebagai anggota PBB. Akhirnya setiap perselisihan yang
timbul dari persetujuan ini akan diselesaikan lewat arbitrase.
Kedua delegasi pulang ke Jakarta, dan Soekarno-Hatta kembali ke pedalaman dua
hari kemudian, pada tanggal 15 November 1946, di rumah Sjahrir di Jakarta,
berlangsung pemarafan secara resmi Perundingan Linggarjati. Sebenarnya Soekarno
yang tampil sebagai kekuasaan yang memungkinkan tercapainya persetujuan,
namun, Sjahrir yang diidentifikasikan dengan rancangan, dan yang bertanggung
jawab bila ada yang tidak beres.
Agresi Militer Belanda I
Pada tengah malam 21 Juli 1947, Belanda
meluncurkan serangan militer yang disebut sebagai Agresi
Militer Belanda I (Operatie Product), dengan tujuan utama
menghancurkan kekuatan republikan. Aksi militer ini
melanggar perjanjian Linggarjati, dan dianggap pemerintah
belanda sebagai aksi polisionil untuk penertiban dan
penegakkan hukum. Pasukan Belanda berhasil memukul
pasukan Republikan dari Sumatera serta Jawa Barat dan
Jawa Timur. Republikan kemudian memindahkan pusatnya
ke Yogyakarta. Pasukan Belanda juga menguasai
perkebunan di Sumatera, installasi minyak dan batu bara,
serta pelabuhan-pelabuhan besar di Jawa.
Negara-negara lain bereaksi negatif terhadap aksi Belanda ini. Australia, India, Uni Soviet,
dan Amerika Serikat segera mendukung Indonesia. Di Australia, misalnya, kapal
berbendera Belanda diboikot mulai bulan September 1945. Dewan keamanan PBB mulai
bertindak aktif dengan membentuk Komisi Tiga Negara untuk mendorong negosiasi. PBB
kemudian mengeluarkan resolusi untuk gencatan senjata. Pada saat aksi militer ini terjadi,
tepatnya pada 9 Desember 1947, Pasukan Belanda membantai banyak warga sipil di Desa
Rawagede (saat ini wilayah Balongsari di Karawang, Jawa Barat.
A Dutch military column during Operation
Product
Revolusi social
"Revolusi sosial" yang terjadi setelah proklamasi berupa
penentangan terhadap pranata sosial Indonesia yang terlanjur terbentuk
di masa penjajahan Belanda, dan terkadang juga merupakan hasil
kebencian terhadap kebijakan pada masa penjajahan Jepang. Di seluruh
negara, masyarakat bangkit melawan kekuasaan aristokrat dan kepala
daerah dan mencoba untuk mendorong penguasaan lahan dan sumber
daya alam atas nama rakyat. Kebanyakan revolusi sosial ini berakhir
dalam waktu singkat, dan dalam kebanyakan kasus gagal terjadi.
Kultur kekerasan dalam konflik yang dalam memecah belah
negara ini saat dalam pengusaan Belanda seringkali terulang di paruh
akhir abad keduapuluh. Istilah revolusi sosial banyak digunakan untuk
aktivitas berdarah yang dilakukan kalangan kiri yang melibatkan baik
niat altruistik, untuk mengatur revolusi sosial sebenarnya, dengan
ekspresi balas dendam, kebencian, dan pemaksaan kekuasaan.
Kekerasan adalah salah satu dari sekian banyak hal yang dipelajari rakyat selama masa penjajahan
Jepang, dan tokoh-tokoh yang diidentifikasi sebagai tokoh feodal, antara lain para raja, bupati, atau
kadang sekedar orang-orang kaya, seringkali menjadi sasaran penyerangan, kadang disertai
pemenggalan, serta pemerkosaan juga sering menjadi senjata untuk melawan wanita-wanita feodal.
Di daerah pesisir Sumatera dan Kalimantan yang dikuasai kesultanan, misalnya, para sultan dan
mereka yang mendapat kekuasaan dari Belanda, langsung mendapat serangan begitu pemerintahan
Jepang angkat kaki. Penguasa sekuler Aceh, yang menjadi basis kekuasaan Belanda, turut
dieksekusi, meskipun kenyataannya kebanyakan daerah kekuasaan kesultanan di Indonesia telah
kembali jatuh ke tangan Belanda.
Kebanyakan orang Indonesia pada masa ini hidup dalam ketakutan dan kebimbangan,
hal ini terutama terjadi pada populasi yang mendukung kekuasaan Belanda atau mereka yang hidup
di bawah kontrol Belanda. Teriakan kemerdekaan yang begitu populer, "Merdeka ataoe mati!"
seringkali menjadi pembenaran untuk pembunuhan yang terjadi di daerah kekuasaan Republik.
Para pedagang seringkali mengalami situasi sulit ini. Di satu sisi, mereka ditekan oleh pihak
Republik untuk memboikot semua ekspor ke Belanda, sementara di sisi lain polisi Belanda juga
tidak mengenal ampun bagi para penyelundup yang justru menjadi tumpuan ekonomi pihak
Republik. Di beberapa wilayah, istilah "kedaulatan rakyat" yang diamanatkan dalam pembukaan
UUD 1945 dan sering digunakan para pemuda untuk menuntut kebijakan proaktif dari para
pemimpin, seringkali berakhir tidak hanya menjadi tuntutan atas komoditas gratis, tapi juga
perampokan dan pemerasan. Pedagang Tionghoa, khususnya, seringkali diminta untuk memberikan
harga murah dengan ancaman pembunuhan.
Pemberontakan Komunis
Pada 18 September 1948 Republik Soviet Indonesia
diproklamasikan di Madiun, oleh anggota PKI yang berniat
menjalankan sebuah pusat pembangkangan atas kepemimpinan Sukarno
Hatta, yang dianggap budak Jepang dan Amerika. Pertempuran antara
TNI dan PKI ini, tetap dimenangkan pihak TNI dalam beberapa
minggu, dan pemimpinnya, Muso, terbunuh. RM Suryo, Gubernur Jawa
Tiur pada masa itu, beberapa petugas kepolisian, dan pemimpin relijius
gugur di tangan pemberontak. Kemenangan ini menghilangkan
gangguan konsentrasi atas perjuangan revolusi nasional dan
memperkuat simpati Amerika yang awalnya hanya berupa perasaan
senasib dalam bentuk anti kolonialisme, menjadi dukungan diplomatik.
Di dunia internasional, pihak Republik Indonesia mengukuhkan sikap
anti komunis dan menjadi calon sekutu potensial di awal era perang
dingin antara Amerika Serikat dan blok Soviet.
Pemberontakan Darul Islam
Pemerintah berencana membubarkan Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) dan
anggotanya disalurkan ke masyarakat. Tenyata Kahar Muzakkar menuntut agar Kesatuan Gerilya
Sulawesi Selatan dan kesatuan gerilya lainnya dimasukkan dalam satu brigade yang disebut
Brigade Hasanuddin di bawah pimpinanya.
Tuntutan itu ditolak karena banyak di antara mereka yang tidak memenuhi syarat untuk
dinas militer. Pemerintah mengambil kebijaksanaan menyalurkan bekas gerilyawan itu ke Corps
Tjadangan Nasional (CTN). Pada saat dilantik sebagai Pejabat Wakil Panglima Tentara dan
Tetorium VII, Kahar Muzakkar beserta para pengikutnya melarikan diri ke hutan dengan
membawa persenjataan lengkap dan mengadakan pengacauan. Kahar Muzakkar mengubah nama
pasukannya menjadi Tentara Islam Indonesia dan menyatakan sebagai bagian dari DI/TII
Kartosuwiryo pada tanggal 7 Agustus 1953.
Awalnya TNI tidak merespon karena sedang berkonsentrasi melawan agresi Belanda.
Namun setelah seluruh teritori kembali disatukan pada 1950, maka pemerintah Republik
Indonesia mulai menganggap Darul Islam sebagai ancaman, terutama setelah beberapa provinsi
lainnya menyatakan bergabung dalam Darul Islam. Perlawanan ini berhasil dipadamkan mulai
tahun 1962, dan tanggal 3 Februari 1965, Kahar Muzakkar tertembak mati oleh pasukan TNI
dalam sebuah baku tembak.
Dampak
Wakil Presiden Indonesia, Hattadan Ratu
Belanda, Julianamenandatangani kedaulatan
Indonesia di Den Haag, Belanda
Walaupun tidak ada data akurat mengenai perhitungan dari berapa banyak
penduduk Indonesia yang meninggal dalam gerakan revolusiIndonesia. Perkiraan yang
meninggal dalam peperangan untuk kemerdekaan Indonesia berkisar dari 45.000 sampai
100.000 jiwa, dan rakyat sipil diperkirakan meninggal dalam kisaran 25.000 atau mungkin
mencapai angka 100.000 jiwa. Selain itu, tentara Inggris yang berjumlah 1200
diperkirakan dibunuh dan hilang di Jawa dan Sumatera antara tahun 1945-1946,
kebanyakan merupakan prajurit India. Sedangkan untuk Belanda lebih dari 5000
tentaranya kehilangan nyawa mereka di Indonesia.
Lebih banyak lagi tentara Jepang gugur, di Bandung sendiri tentara Jepang yang
meninggal dalam peperangan sebanyak 1057 jiwa, dalam faktanya hanya setengahnya
yang gugur dalam peperangan, sementara yang lainnya tewas diamuk oleh rakyat
Indonesia lainnya. Puluhan ribu orang Tionghoa dan masyarakat asing lainnya di
bunuh atau terpaksa kehilangan tempat tinggalnya di Indonesia, walaupun dalam
kenyataannya masyarakat Tionghoa yang tinggal di Indonesia mendukung gerakan
revolusi Indonesia untuk mendapatkan kemerdekaan. Selain itu, lebih dari tujuh juta
jiwa mengungsi di Sumatera dan Jawa.
Gerakan revolusi nasional Indonesia ini memberikan efek langsung pada
kondisi ekonomi, sosial dan budaya Indonesia itu sendiri, di antaranya kekurangan
bahan makanan, dan bahan bakar. Ada dua efek dalam ekonomi yang ditimbulkan oleh
gerakan nasional Indonesia yang berdampak langsung dengan ekonomi Kerajaan
Belanda dan Indonesia, keduanya kembali untuk membangun ekonomi mereka secara
berkelanjutan setelah Perang Dunia II dan gerakan revolusi Indonesia.Republik
Indonesia mengatur kembali setiap hal yang dibutuhkan oleh rakyat Indonesia yang
awalnya diblokade oleh Belanda.
Sekian
Semoga Bermanfaat

Revolusi nasional indonesia

  • 1.
  • 2.
  • 3.
    Daftar iSi  RevolusiNasional Indonesia  Latar Belakang  Proklamasi Kemerdekaan -Proklamasi Pembentukan Pemerintah -Euforia Revolusi  Tindakan Sekutu -Pendudukan kembali  Perjuangan Militer Dan Diplomasi -Perjanjian Linggarjati -Agresi Militer Belanda I  Kekacauan Internal -Revolusi Social -Pemberontakan Komunis -Pemberontakan Darul Islam  Dampak
  • 4.
    Revolusi Nasional Indonesiaadalah sebuah konflik bersenjata dan pertentangan diplomasi antara Republik Indonesia yang baru lahir melawan Kerajaan Belanda yang dibantu oleh pihak Sekutu, diwakili oleh Inggris. Rangkaian peristiwa ini terjadi mulai dari proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 hingga pengakuan kemerdekaan Indonesia oleh Kerajaan Belanda pada 29 Desember 1949. Meskipun demikian, gerakan revolusi itu sendiri telah dimulai pada tahun 1908, yang saat ini diperingati sebagai tahun dimulainya kebangkitan nasional Indonesia. Selama sekitar empat tahun, beberapa peristiwa berdarah terjadi secara sporadis. Selain itu terdapat pula pertikaian politik serta dua intervensi internasional. Dalam peristiwa ini pasukan Belanda hanya mampu menguasai kota- kota besar di pulauJawa dan Sumatera, namun gagal mengambil alih kendali di desa dan daerah pinggiran. Karena sengitnya perlawanan bersenjata serta perjuangan diplomatik, Belanda berhasil dibuat tertekan untuk mengakui kemerdekaan Indonesia. Revolusi ini berujung pada berakhirnya pemerintahan kolonial Hindia Belanda dan mengakibatkan perubahan struktur sosial di Indonesia, di mana kekuasaan raja-raja mulai dikurangi atau dihilangkan. Peristiwa ini dikenal
  • 5.
    Latar belakang  Pergerakannasionalis untuk mendukung kemerdekaan Indonesia dari Kerajaan Belanda, seperti Budi Utomo, Partai Nasional Indonesia, Sarekat Islam dan Partai Komunis Indonesia tumbuh dengan cepat di pertengahan abad ke-20. Budi Utomo,Sarekat Islam dan gerakan nasional lainnya memprakarsai strategi kerja sama dengan mengirim wakil mereka ke Volksraad(dewan rakyat) dengan harapan Indonesia akan diberikan hak memerintah diri sendiri tanpa campur tangan Kerajaan Belanda. Sedangkan gerakan nasionalis lainnya memilih cara nonkooperatif dengan menuntut kebebasan pemerintahan Indonesia sendiri dari Belanda. Pemimpin gerakan nonkooperatif ini adalah Soekarno dan Mohammad Hatta, dua orang mahasiswa nasionalis yang kelak menjadi presiden dan wakil presiden pertama. Pergerakan ini dimudahkan dengan adanya kebijakan Politik Etis yang dijalankan oleh Belanda.  Pendudukan Indonesia oleh Jepang selama tiga setengah tahun masa Perang Dunia Kedua merupakan faktor penting untuk revolusi berikutnya. Belanda hanya memiliki sedikit kemampuan untuk mempertahankan penjajahan di Hindia Belanda. Hanya dalam waktu tiga bulan, Jepang berhasil menguasai Sumatera. Jepang kemudian berusaha untuk mengambil hati kaum nasionalis dengan menjanjikan kemerdekaan untuk Indonesia dan mengizinkan penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik. Ini menimbulkan lahirnya organisasi-organisasi perjuangan di seluruh negeri.  Ketika Jepang berada di ambang kekalahan perang, Belanda kembali untuk merebut kembali bekas koloni mereka. Pada 7 September 1944, Perdana Menteri Jepang Kuniaki Koiso menjanjikan kemerdekaan kepada Indonesia, walaupun tidak menetapkan tanggal resmi.
  • 6.
    Proklamasi dan pembentukanpemerintahan Proklamasi dan pembentukan pemerintahan Pada akhir bulan Agustus 1945, pemerintahan republikan telah berdiri di Jakarta. Kabinet Presidensial dibentuk, dengan Soekarno sendiri sebagai ketuanya. Hingga pemilihan umum digelar, Komite Nasional Indonesia Pusat dibentuk untuk membantu Presiden dan bertindak hampir sebagai badan legislatif. Komite serupa juga dibentuk di tingkat provinsi dan kabupaten. Mendengar berita pembentukan pemerintah pusat di Jakarta, beberapa raja menyatakan menggabungkan diri dengan Indonesia. Sementara beberapa lainnya belum menyatakan sikap atau menolak mentah-mentah, terutama yang pernah didukung oleh pemerintah Belanda. Pengibaran bendera Merah Putih setelah pembacaan naskah proklamasi pada 17 Agustus 1945 Khawatir Belanda akan berusaha merebut kembali kekuasaan di Indonesia, pemerintah yang baru dibentuk tersebut dengan cepat menyelesaikan persoalan administrasi. Saat itu, pemerintahan masih sangat terpusat di pulau Jawa, sementara kontak ke luar pulau masih sangat sedikit. Pada 14 November 1945, Sutan Sjahrir menjadi perdana menteri pertama mengetuai kabinet Sjahrir I. Beberapa minggu setelah Jepang menyerah, Giyugun dan Heiho dibubarkan oleh pemerintah Jepang. Struktur komando dan keanggotaan PETA dan Heiho pun hilang. Karena itu, pasukan republikan yang mulai tumbuh di bulan September, tetapi lebih banyak berupa kelompok-kelompok kecil milisi pemuda yang tidak terlatih, yang biasanya dipimpin oleh seorang pemimpin karismatik.] Ketiadaan struktur militer yang patuh pada pemerintah pusat menjadi masalah utama revolusi kala itu. Dalam masa awal pembentukan struktur militer, perwira Indonesia yang dilatih Jepang mendapat pangkat yang lebih tinggi dibanding perwira yang dilatih oleh Belanda. Pada 12 November 1945, dalam sebuah konferensi antar panglima-panglima divisi militer di Yogyakarta seorang mantan guru sekolah berumur 30 tahun bernama Sudirman terpilih menjadi panglima Tentara Keamanan Rakyat, bergelar "Panglima Besar".
  • 7.
    Euforia revolusi Sebelum beritatentang, proklamasi kemerdekaan Indonesia menyebar ke pulau-pulau lain, banyak masyarakat Indonesia yang jauh dari ibu kotaJakarta tidak percaya. Saat berita mulai menyebar, banyak dari orang Indonesia datang untuk menyatakan diri mereka sebagai pro-republik, dan suasana revolusi menyapu seluruh negeri. Kekuatan luar di dalam negeri telah menyingkir, seminggu sebelum tentara Sekutu masuk ke Indonesia, dan Belanda telah mulai melemah kekuatannya dikarenakan perang. Disisi lain, pasukan Jepang, sesuai dengan ketentuan diminta untuk menyerah dan meletakkan senjata, da juga menjaga ketertiban umum. Kevakuman Kekuasaan selama berminggu-minggu setelah Jepang menyerah menciptakan suasana ketidakpastian di dalam politik Indonesia saat itu, tetapi hal ini menjadi suatu kesempatan bagi rakyat. Banyak pemuda Indonesia bergabung dengan kelompok perjuangan pro-republik dan laskar-laskar. Laskar-laskar yang paling terorganisir antara lain kelompok PETA dan Heiho yang dibentuk oleh Jepang. Namun pada saat itu laskar-laskar rakyat berdiri sendiri dan koordinasi perjuangan cukup kacau. Pada minggu-minggu pertama, tentara Jepang menarik diri dari daerah perkotaan untuk menghindari konfrontasi dengan rakyat. Pada bulan September 1945, pemerintah republik yang dibantu laskar rakyat telah mengambil alih kendali atas infrastruktur-infrastruktur utama, termasuk stasiun kereta api dan trem di kota-kota besar di Jawa. Untuk menyebarkan pesan- peasn revolusioner, para pemuda mendirikan stasiun radio dan koran, serta grafiti yang penuh dengan sentimen nasionalis. Di sebagian besar pulau-pulau di Indonesia, komite perjuangan dan laskar-laskar milisi dibentuk. Koran kaum republik dan jurnal-jurnal perjuangan terbit di Jakarta, Yogyakarta dan Surakarta, yang betujuan memupuk generasi penulis yang dikenal sebagai Angkatan 45. Para pemimpin republik berjuang untuk menyatukan sentimen yang menyebar di masyarakat, karena ada beberapa kelompok yang menginginkan revolusi fisik, dan yang lain lebih memilih menggunakan cara pendekatan damai. Beberapa pemimpin seperti Tan Malaka dan pemimpin kiri lainnya menyebarkan gagasan bahwa revolusi harus dipimpin oleh para pemuda. Soekarno dan Hatta, sebaliknya, lebih tertarik dalam perencanaan sebuah pemerintahan dan lembaga-lembaga negara untuk mencapai kemerdekaan melalui diplomasi. Massa pro-revolusi melakukan demonstrasi di di kota-kota besar, salah satunya dipimpin Tan Malaka di Jakarta dan diikuti lebih dari 200,000 orang. Tetapi aksi ini yang akhirnya berhasil dipadamkan oleh Soekarno-Hatta, karna mengkhawatirkan pecahnya aksi- aksi kekerasan.
  • 8.
    Pada bulan September1945, pemerintah republik yang dibantu laskar rakyat telah mengambil alih kendali atas infrastruktur-infrastruktur utama, termasuk stasiun kereta api dan trem di kota-kota besar di Jawa. Untuk menyebarkan pesan-peasn revolusioner, para pemuda mendirikan stasiun radio dan koran, serta grafiti yang penuh dengan sentimen nasionalis. Di sebagian besar pulau-pulau di Indonesia, komite perjuangan dan laskar-laskar milisi dibentuk. Koran kaum republik dan jurnal-jurnal perjuangan terbit di Jakarta, Yogyakarta dan Surakarta, yang betujuan memupuk generasi penulis yang dikenal sebagai Angkatan 45. Para pemimpin republik berjuang untuk menyatukan sentimen yang menyebar di masyarakat, karena ada beberapa kelompok yang menginginkan revolusi fisik, dan yang lain lebih memilih menggunakan cara pendekatan damai. Beberapa pemimpin seperti Tan Malaka dan pemimpin kiri lainnya menyebarkan gagasan bahwa revolusi harus dipimpin oleh para pemuda. Soekarno dan Hatta, sebaliknya, lebih tertarik dalam perencanaan sebuah pemerintahan dan lembaga-lembaga negara untuk mencapai kemerdekaan melalui diplomasi. Massa pro-revolusi melakukan demonstrasi di di kota-kota besar, salah satunya dipimpin Tan Malaka di Jakarta dan diikuti lebih dari 200,000 orang. Tetapi aksi ini yang akhirnya berhasil dipadamkan oleh Soekarno-Hatta, karna mengkhawatirkan pecahnya aksi-aksi kekerasan. Pada September 1945, banyak pemuda Indonesia yang menyatakan diri "siap mati untuk kemerdekaan 100%" karna tidak dapat menahan kesabaran mereka. Pada saat itu, penculikan kaum "nonpribumi" - interniran Belanda, orang-orang Eurasia, Maluku dan Tionghoa - sangat umum terjadi, karena mereka dianggap sebagai mata-mata. Kekerasan menyebar dari seluruh negeri, sementara pemerintah pusat di Jakarta terus menyerukan kepada para pemuda agar dapat tenang. Namun, pemuda yang mendukung perjuangan bersenjata memandang pimpinan yang lebih tua sebagai para "pengkhianat revolusi", yang pada akhirnya sering menyebabkan meletusnya konflik internal di kalangan masyarakat sipil.
  • 9.
    Tindakan Sekutu Pihak Belandamenuduh Soekarno dan Hatta berkolaborasi dengan Jepang dan mencela bahwa kemerdekaan Indonesia merupakan hasil dari fasisme Jepang. Pemerintahan Hindia Belanda telah menerima sepuluh juta dolar dari Amerika Serikat untuk mendanai usaha pengembalian Indonesia sebagai jajahan mereka kembali.
  • 10.
    Pendudukan kembali Meskipun begitu,situasi Belanda pada saat itu lemah setelah diamuk Perang Dunia Kedua di Eropa dan baru bisa mengatur kembali militernya pada awal 1946. Jepang dan kekuatan sekutu lainnya enggan menjadi pelaksana tugas pemerintahan di Indonesia. Sementara Amerika Serikat sedang fokus bertempur di kepulauan Jepang, Indonesia diletakkan di bawah kendali seorang laksamana dariAngkatan Laut Britania Raya, Laksamana Earl Louis Mountbatten, Panglima Tertinggi Sekutu untuk Komando Asia Tenggara. Enklaf- enklaf Sekutu muncul di Kalimantan, Morotai, dan beberapa bagian di Irian Jaya; para pegawai sipil Belanda telah kembali ke daerah-daerah tersebut. Di area yang dikuasa angkatan laut Jepang, kedatangan pasukan Sekutu segera saja menghentikan aksi-aksi revolusioner, dimana tentara Australia (diikuti pasukan Belanda dan pegawai-pegawai sipilnya), dengan cepat menguasai daerah-daerah yang sebelumnya dikuasai Jepang, kecuali Bali dan Lombok. Karena tidak adanya perlawanan berarti, dua divisi tentara Australia dengan mudah menguasai beberapa daerah di bagian Timur Indonesia.
  • 11.
    Seorang prajurit dariresimen bersenjata asal India menyita sebuahtank milik kaum nasionalis, yang tertinggal setelah pertempuran di Surabaya. Inggris ditugaskan untuk mengatur kembali jalannya pemerintahan sipil di Jawa. Belanda mengambil kesempatan ini untuk menegakkan kembali pemerintahan kolonial lewat NICA dan terus mengklaim kedaulatan atas Indonesia. Meskipun begitu, tentara Persemakmuranbelum mendarat di Jawa sampai September 1945. Tugas mendesak Lord Mountbatten adalah pemulangan 300,000 orang Jepang dan membebaskan para tawanan perang. Ia tidak ingin (dan tidak berdaya) untuk memperjuangakan pengembalian Indonesia pada Belanda.. Tentara Inggris pertama kali mendarat di Medan, Padang, Palembang, Semarang dan Surabaya pada bulan Oktober. Dalam usaha menghindari bentrokan dengan orang-orang Indonesia, komandan pasukan Inggris Letjen Sir Philip Christison, mengirim para prajurit Belanda yang dibebaskan ke Indonesia Timur, dimana pendudukan kembali Belanda berlangsung mulus. Tensi memuncak saat tentara Inggris memasuki Jawa dan Sumatera; bentrokan pecah antara kaum republikan melawan para "musuh negara", seperti tawanan Belanda, KNIL, orang Tionghoa, orang-orang Indo dan warga sipil Jepang.
  • 12.
    Perjanjian Linggarjati Bulan Agustuspemerintah Belanda melakukan usaha lain untuk memecah halangan dengan menunjuk tiga orang Komisi Jendral datang ke Jawa dan membantu Van Mookdalam perundingan baru dengan wakil-wakil republik itu. Konferensi antara dua belah pihak diadakan di bulan Oktober dan November di bawah pimpinan yang netral seorang komisi khusus Inggris, Lord Killearn. Bertempat di bukit Linggarjati dekat Cirebon. Setelah mengalami tekanan berat -terutama Inggris- dari luar negeri, dicapailah suatu persetujuan tanggal 15 November 1946 yang pokok pokoknya sebagai berikut : Belanda mengakui secara de facto Republik Indonesia dengan wilayah kekuasaan yang meliputi Sumatra, Jawa dan Madura. Belanda harus meninggalkan wilayah de factopaling lambat 1 Januari 1949, Republik Indonesia dan Belanda akan bekerja sama dalam membentuk Negara Indonesia Serikat, dengan nama Republik Indonesia Serikat, yang salah satu bagiannya adalah Republik Indonesia Republik Indonesia Serikat dan Belanda akan membentuk Uni Indonesia - Belanda dengan Ratu Belanda sebagai ketuanya. Untuk ini Kalimantan dan Timur Raya akan menjadi komponennya. Sebuah Majelis Konstituante didirikan, yang terdiri dari wakil-wakil yang dipilih secara demokratis dan bagian-bagian komponen lain. Indonesia Serikat pada gilirannya menjadi bagian Uni Indonesia-Belanda bersama dengan Belanda, Suriname dan Curasao. Hal ini akan memajukan kepentingan bersama dalam hubungan luar negeri, pertahanan, keuangan dan masalah ekonomi serta kebudayaan. Indonesia Serikat akan mengajukan diri sebagai anggota PBB. Akhirnya setiap perselisihan yang timbul dari persetujuan ini akan diselesaikan lewat arbitrase. Kedua delegasi pulang ke Jakarta, dan Soekarno-Hatta kembali ke pedalaman dua hari kemudian, pada tanggal 15 November 1946, di rumah Sjahrir di Jakarta, berlangsung pemarafan secara resmi Perundingan Linggarjati. Sebenarnya Soekarno yang tampil sebagai kekuasaan yang memungkinkan tercapainya persetujuan, namun, Sjahrir yang diidentifikasikan dengan rancangan, dan yang bertanggung jawab bila ada yang tidak beres.
  • 13.
    Agresi Militer BelandaI Pada tengah malam 21 Juli 1947, Belanda meluncurkan serangan militer yang disebut sebagai Agresi Militer Belanda I (Operatie Product), dengan tujuan utama menghancurkan kekuatan republikan. Aksi militer ini melanggar perjanjian Linggarjati, dan dianggap pemerintah belanda sebagai aksi polisionil untuk penertiban dan penegakkan hukum. Pasukan Belanda berhasil memukul pasukan Republikan dari Sumatera serta Jawa Barat dan Jawa Timur. Republikan kemudian memindahkan pusatnya ke Yogyakarta. Pasukan Belanda juga menguasai perkebunan di Sumatera, installasi minyak dan batu bara, serta pelabuhan-pelabuhan besar di Jawa.
  • 15.
    Negara-negara lain bereaksinegatif terhadap aksi Belanda ini. Australia, India, Uni Soviet, dan Amerika Serikat segera mendukung Indonesia. Di Australia, misalnya, kapal berbendera Belanda diboikot mulai bulan September 1945. Dewan keamanan PBB mulai bertindak aktif dengan membentuk Komisi Tiga Negara untuk mendorong negosiasi. PBB kemudian mengeluarkan resolusi untuk gencatan senjata. Pada saat aksi militer ini terjadi, tepatnya pada 9 Desember 1947, Pasukan Belanda membantai banyak warga sipil di Desa Rawagede (saat ini wilayah Balongsari di Karawang, Jawa Barat. A Dutch military column during Operation Product
  • 16.
    Revolusi social "Revolusi sosial"yang terjadi setelah proklamasi berupa penentangan terhadap pranata sosial Indonesia yang terlanjur terbentuk di masa penjajahan Belanda, dan terkadang juga merupakan hasil kebencian terhadap kebijakan pada masa penjajahan Jepang. Di seluruh negara, masyarakat bangkit melawan kekuasaan aristokrat dan kepala daerah dan mencoba untuk mendorong penguasaan lahan dan sumber daya alam atas nama rakyat. Kebanyakan revolusi sosial ini berakhir dalam waktu singkat, dan dalam kebanyakan kasus gagal terjadi. Kultur kekerasan dalam konflik yang dalam memecah belah negara ini saat dalam pengusaan Belanda seringkali terulang di paruh akhir abad keduapuluh. Istilah revolusi sosial banyak digunakan untuk aktivitas berdarah yang dilakukan kalangan kiri yang melibatkan baik niat altruistik, untuk mengatur revolusi sosial sebenarnya, dengan ekspresi balas dendam, kebencian, dan pemaksaan kekuasaan. Kekerasan adalah salah satu dari sekian banyak hal yang dipelajari rakyat selama masa penjajahan Jepang, dan tokoh-tokoh yang diidentifikasi sebagai tokoh feodal, antara lain para raja, bupati, atau kadang sekedar orang-orang kaya, seringkali menjadi sasaran penyerangan, kadang disertai pemenggalan, serta pemerkosaan juga sering menjadi senjata untuk melawan wanita-wanita feodal. Di daerah pesisir Sumatera dan Kalimantan yang dikuasai kesultanan, misalnya, para sultan dan mereka yang mendapat kekuasaan dari Belanda, langsung mendapat serangan begitu pemerintahan Jepang angkat kaki. Penguasa sekuler Aceh, yang menjadi basis kekuasaan Belanda, turut dieksekusi, meskipun kenyataannya kebanyakan daerah kekuasaan kesultanan di Indonesia telah kembali jatuh ke tangan Belanda. Kebanyakan orang Indonesia pada masa ini hidup dalam ketakutan dan kebimbangan, hal ini terutama terjadi pada populasi yang mendukung kekuasaan Belanda atau mereka yang hidup di bawah kontrol Belanda. Teriakan kemerdekaan yang begitu populer, "Merdeka ataoe mati!" seringkali menjadi pembenaran untuk pembunuhan yang terjadi di daerah kekuasaan Republik. Para pedagang seringkali mengalami situasi sulit ini. Di satu sisi, mereka ditekan oleh pihak Republik untuk memboikot semua ekspor ke Belanda, sementara di sisi lain polisi Belanda juga tidak mengenal ampun bagi para penyelundup yang justru menjadi tumpuan ekonomi pihak Republik. Di beberapa wilayah, istilah "kedaulatan rakyat" yang diamanatkan dalam pembukaan UUD 1945 dan sering digunakan para pemuda untuk menuntut kebijakan proaktif dari para pemimpin, seringkali berakhir tidak hanya menjadi tuntutan atas komoditas gratis, tapi juga perampokan dan pemerasan. Pedagang Tionghoa, khususnya, seringkali diminta untuk memberikan harga murah dengan ancaman pembunuhan.
  • 17.
    Pemberontakan Komunis Pada 18September 1948 Republik Soviet Indonesia diproklamasikan di Madiun, oleh anggota PKI yang berniat menjalankan sebuah pusat pembangkangan atas kepemimpinan Sukarno Hatta, yang dianggap budak Jepang dan Amerika. Pertempuran antara TNI dan PKI ini, tetap dimenangkan pihak TNI dalam beberapa minggu, dan pemimpinnya, Muso, terbunuh. RM Suryo, Gubernur Jawa Tiur pada masa itu, beberapa petugas kepolisian, dan pemimpin relijius gugur di tangan pemberontak. Kemenangan ini menghilangkan gangguan konsentrasi atas perjuangan revolusi nasional dan memperkuat simpati Amerika yang awalnya hanya berupa perasaan senasib dalam bentuk anti kolonialisme, menjadi dukungan diplomatik. Di dunia internasional, pihak Republik Indonesia mengukuhkan sikap anti komunis dan menjadi calon sekutu potensial di awal era perang dingin antara Amerika Serikat dan blok Soviet.
  • 18.
    Pemberontakan Darul Islam Pemerintahberencana membubarkan Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) dan anggotanya disalurkan ke masyarakat. Tenyata Kahar Muzakkar menuntut agar Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan dan kesatuan gerilya lainnya dimasukkan dalam satu brigade yang disebut Brigade Hasanuddin di bawah pimpinanya. Tuntutan itu ditolak karena banyak di antara mereka yang tidak memenuhi syarat untuk dinas militer. Pemerintah mengambil kebijaksanaan menyalurkan bekas gerilyawan itu ke Corps Tjadangan Nasional (CTN). Pada saat dilantik sebagai Pejabat Wakil Panglima Tentara dan Tetorium VII, Kahar Muzakkar beserta para pengikutnya melarikan diri ke hutan dengan membawa persenjataan lengkap dan mengadakan pengacauan. Kahar Muzakkar mengubah nama pasukannya menjadi Tentara Islam Indonesia dan menyatakan sebagai bagian dari DI/TII Kartosuwiryo pada tanggal 7 Agustus 1953. Awalnya TNI tidak merespon karena sedang berkonsentrasi melawan agresi Belanda. Namun setelah seluruh teritori kembali disatukan pada 1950, maka pemerintah Republik Indonesia mulai menganggap Darul Islam sebagai ancaman, terutama setelah beberapa provinsi lainnya menyatakan bergabung dalam Darul Islam. Perlawanan ini berhasil dipadamkan mulai tahun 1962, dan tanggal 3 Februari 1965, Kahar Muzakkar tertembak mati oleh pasukan TNI dalam sebuah baku tembak.
  • 19.
    Dampak Wakil Presiden Indonesia,Hattadan Ratu Belanda, Julianamenandatangani kedaulatan Indonesia di Den Haag, Belanda Walaupun tidak ada data akurat mengenai perhitungan dari berapa banyak penduduk Indonesia yang meninggal dalam gerakan revolusiIndonesia. Perkiraan yang meninggal dalam peperangan untuk kemerdekaan Indonesia berkisar dari 45.000 sampai 100.000 jiwa, dan rakyat sipil diperkirakan meninggal dalam kisaran 25.000 atau mungkin mencapai angka 100.000 jiwa. Selain itu, tentara Inggris yang berjumlah 1200 diperkirakan dibunuh dan hilang di Jawa dan Sumatera antara tahun 1945-1946, kebanyakan merupakan prajurit India. Sedangkan untuk Belanda lebih dari 5000 tentaranya kehilangan nyawa mereka di Indonesia. Lebih banyak lagi tentara Jepang gugur, di Bandung sendiri tentara Jepang yang meninggal dalam peperangan sebanyak 1057 jiwa, dalam faktanya hanya setengahnya yang gugur dalam peperangan, sementara yang lainnya tewas diamuk oleh rakyat Indonesia lainnya. Puluhan ribu orang Tionghoa dan masyarakat asing lainnya di bunuh atau terpaksa kehilangan tempat tinggalnya di Indonesia, walaupun dalam kenyataannya masyarakat Tionghoa yang tinggal di Indonesia mendukung gerakan revolusi Indonesia untuk mendapatkan kemerdekaan. Selain itu, lebih dari tujuh juta jiwa mengungsi di Sumatera dan Jawa. Gerakan revolusi nasional Indonesia ini memberikan efek langsung pada kondisi ekonomi, sosial dan budaya Indonesia itu sendiri, di antaranya kekurangan bahan makanan, dan bahan bakar. Ada dua efek dalam ekonomi yang ditimbulkan oleh gerakan nasional Indonesia yang berdampak langsung dengan ekonomi Kerajaan Belanda dan Indonesia, keduanya kembali untuk membangun ekonomi mereka secara berkelanjutan setelah Perang Dunia II dan gerakan revolusi Indonesia.Republik Indonesia mengatur kembali setiap hal yang dibutuhkan oleh rakyat Indonesia yang awalnya diblokade oleh Belanda.
  • 20.