PROFIL: LEMBAGA PENGEMBANGAN SOSIAL EKONOMI DAN
LINGKUNGAN HIDUP (LPSELH) ACEH
INSTITUTE FOR SOCIAL ECONOMIC AND ENVIRONMENT
DEVELOPMENT (ISEED)

1. Informasi Umum
a. Nama Lembaga

: Lembaga Pengembangan Sosial Ekonomi Dan
Lingkungan Hidup (LPSELH) Aceh / Institute
For Social Economic And Environment
Development (ISEED) Aceh

b. ALamat Lembaga

: Jl. Angsa Lr.Perjuangan I No.17, Desa Lueng
Bata, Kec. Lueng Bata Banda Aceh NAD
Indonesia

PO.BOX

169 Banda Aceh 23000 NAD Indonesia
Telp/Fax

: 0651-635985

c. Email

: iseedaceh@yahoo.com atau
iseedaceh@gmail.com

d. Wilayah Kerja

: Regional

e. Kontak Person

: Zainuddin M.Zaini

f. No. yang bisa dihubungi : +6285260158863

2. Latar Belakang
Lembaga Pengembangan Sosial Ekonomi dan Lingkungan Hidup
(LPSELH) adalah merupakan sebuah NGO yang berkonsentrasi dalam
bidang peningkatan swadaya masyarakat melalui pemanfaatan sumberdaya
alam secara berkelanjutan, lembaga ini lahir di latar belakangi oleh
keprihatinan terhadap ketidakadilan ekonomi, ketidakadilan hukum dalam
menyikapi persoalan rakyat, ketidakadilan gender dan ketidakadilan dalam
pemanfaatan sumberdaya alam, yang semua ini telah berdampak terhadap,
pelanggaran hak asasi manusia, kerusakan lingkungan hidup, hilangnya
kearifan budaya lokal serta hilangnya sumber kehidupan/mata pencaharian
masyarakat.
Berawal dari sebuah kelompok diskusi yang mengkaji tentang isue-isue yang
berkaitan dengan lingkungan hidup, perempuan, hak asasi manusia, sosial
kemasyarakatan, serta kebijakan pemerintah. Maka dari diskusi tersebut
melangkah untuk menyusun rencana tindak lanjut melalui shearing pemikiran
serta modal (dana) kecil-kecilan untuk mendampingi masyarakat yang tingkat
kehidupan mereka pada saat itu memang sangat memprihatinkan. Dengan
kelompok sasaran pada saat itu adalah perempuan yang terkena dampak
konflik sosial dan kerusakan lingkungan terutama di wilayah pesisir Kec.
Simpang Ulim, Peureulak Kabupaten Dati II Aceh Timur. Kemudian kami
lanjudkan ke wilayah dan Kec.Seunuddon dan Tanah Jambo Aye Kabupaten
Dati II Aceh Utara. Karena dikawasan pesisir wilayah tersebut selain kondisi
keamanan yang sangat tidak kondusiv, juga terjadi perambahan hutan
mangrove

secara

besar-besaran

untuk

areal

tambak

yang

disertai

penggunaan pestisida yang melebihi ambang batas. Sehingga berakibat
rusaknya lingkungan hidup serta hilangnya mata pencarian masyarakat
terutama perempuan-perempuan yang menggantungkan kehidupannya
dengan mencari nafkah disekitar pesisir pantai, areal tambak, dan muara
sungai.
Beranjak dari keprihatinan tersebut telah mendorong kami dari kelompok
diskusi untuk meningkatkan status menjadi sebuah wadah yang berbentuk
NGO dalam upaya menyatukan tekad menuju kepada sebuah cita-cita yaitu
untuk terbebasnya dari semua penindasan dan ketidakadilan.Tepatnya pada
tanggal 10 September 1991 kami dari 7 (tujuh) orang bersahabat sepakat
untuk mendirikan sebuah NGO dengan nama Lembaga Pengembangan

Sosial Ekonomi dan Lingkungan Hidup yang singkatannya LPSELH
sedangkan dalam bahasa Inggris Institute for Social Economic and
Environment Development dengan singkatan ISEED. Yang kemudian
baru diaktenotariskan pada tanggal 16 September 1993 oleh Notaris
Syarifuddin Thaib, SH sebagai jawaban untuk menuju pada sebuah
perjuangan yang dicita-citakan.
3. Visi Lembaga :
Untuk mewujudkan masyarakat yang selaras alam, damai, sejahtera,
demokratis, berkesetaraan dan berkeadilan.
4. Misi Lembaga :
a. Menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang nilai-nilai ilahiyah untuk
terbangunnya sistim yang lebih damai, adil dan demokratis dalam upaya
melestarikan lingkungan hidup demi kehidupan dimasa yang akan datang.
b. Sebagai wadah dalam upaya untuk meningkatkan sumberdaya manusia
dan

meningkatkan

kesejahteraan

masyarakat

dengan

mengelola/memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan.
5. Isu Strategis Lembaga
a. Kependudukan,

sumber

daya

manusia,

ekonomi

kerakyatan

dan

kesetaraan gender.
b. Masalah kearifan local sitim hutan kerakyatan (SHK), ekologi lingkungan
dan sanitasi .
c. Masalah sumber daya alam (Reboisasi dan pengolahan, pengelolaan
alam dan ekosistemnya).

6. Pengalaman dan Kegiatan Organisasi
Sesuai dengan visi dan misinya, LPSELH selama ini sudah melaksanakan
beberapa kegiatan antara lain Pemberdayaan dan Penguatan Ekonomi
Rakyat Melalui Penganekaragaman Jenis Usaha di Kec. Tanah Jambo Aye
Kab. Daerah Tingkat II Aceh Utara yang kelompoksasarannya adalah
masyarakat yang terkena dampak pengrusakan lingkungan, bekerjasama
dengan Yayasan PKM-UNDP Jakarta dan Alhamdulillah kegiatan tersebut
sudah mulai menampakkan hasil yang menggembirakan. Kegiatan Advokasi
Pengelolaan Sumber Daya Alam Melalui Penguatan Organisasi Sipil di
Kemukiman Pulau Nasi Kec. Pulo Aceh Kab. Daerah Tingkat II Aceh Besar,
kegiatan ini didukung oleh CSSP dan WALHI Aceh. Pemberdayaan Ekonomi
Rakyat Melalui Penguatan Kelompok dan Bantuan Modal Usaha di Kec.
Tanah Jambo Aye Kab. Daerah Tk. II Aceh Utara, kerjasama dengan New
Zealand Embassy, kegiatan ini diprioritaskan kepada janda/perempuan
kepala keluarga (Women as Family Head). Pelatihan Civic Education untuk
Perempuan Usaha Kecil, Pelatihan Community Organizer (CO), Pelatihan
konservasi sumberdaya alam dan Pelatihan Manajemen Usaha Kecil untuk
masyarakat lokal,. Pelatihan Voter Education serta pinjaman modal Mikro
Kredit untuk Perempuan Usaha Kecil, di wilayah Aceh Timur, Aceh Utara,
dan Aceh Besar atas kerjasama dengan Asosiasi Pendamping Perempuan
Usaha Kecil (ASPPUK) Jakarta sampai dengan saat ini.
PSELH Aceh juga melaksanakan kegiatan pendampingan pasca musibah
gempa bumi dan gelombang tsunami yang di bagi dalam beberapa tahap
yaitu tahap emergency, recovery, renkontruksi dan rehalibitasi. Yang pada
tahap emergency kami sudah melakukan beberapa kegiatan terutama untuk
memenuhi kebutuhan dasar dengan mendistribusikan bahan sandang,
pangan, obat-obatan yang dibantu oleh tenaga medis serta sejumlah relawan
baik relawan lokal, luar daerah mapun luar negri,
Selain itu kami juga melakukan rehabilitas sanitasi berupa MCK untuk
pengungsi di wilayah kota Banda Aceh, seperti di wilayah Kec.Leupueng
Aceh Besar, Kec. Ulee Gle Kabupaten Pidie, Kec. Seuneuddon, dan
Kec.Baktiya Kabupaten Aceh Utara serta di wilayah Kec. Simpang Ulim
Kabupaten

Aceh

Timur.

Pasca

musibah

tsuanami

LPSELH

juga

melaksanakan program recovery ekonomi antara lain Pemberdayaan
Perempuan Melalui Penguatan Kelompok dan Bantuam Modal Usaha di
Wilayah Kec. Seunuddon dan Jambo Aye Aceh Utara yang bekerjasama
dengan HIVOS, Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Pasca Tsunami Melalui
Pengutan Kapasitas Kelompok dan Bantuan modal Usaha di Kecamatan
Seunuddon kegiatan ini bekerjasama dengan AFSC, Membangun Kembali
Aceh Melalui Pengembangan Bisnis Usaha Kecil di wilayah Kecamatan Kec.
Seunuddon serta daerah pesisir Kec. Baktiya Aceh Utara bekerjasama
dengan ASPPUK Nasional Jakarta, Pemberdayaaan Masyarakat Nelayan
Paska Tsunami di Desa Paya Kameng Kecamatan Mesjid Raya Aceh Besar
kerjasama dengan CWS. Dan Pemberdayaan Ekonomi Perempuan Melalui
Penguatan Kapasitas Kelompok dan Bantuan Modal Usaha di Kec.
Seunuddon dan Baktiaya Aceh Utara kerjasama dengan Kedutaan Perancis.
Pengemukan Ternak Sapi di Desa Paya Kameng Kecamatan Mesjid Raya
Aceh Besar kerjasama dengan HIVOS
Untuk tahap pemulihan, rehalibitasi dan rekontruksi pasca tsunami dan
konflik sosial kami sudah melaksanakan beberapa kegiatan dalam tiga
tahapan jangka pendek menengah dan jangka panjang dengan melibatkan
masyarakat dampingan/organisasi rakyat secara prtisipatif antar lain:
a. Rehalibitasi dan recontruksi pemukiman yang mencakup, perencanaan
tataruang, perumahan, sanitasi dan sarana kesehatan, penghijauan yang
dimulai dengan pembersihan gampoeng, pengadaan rumah layak huni,
pengadaan posko/pusat kesehatan masyarakat yang disertai dengan
sanitasi yang memadai, rehabilitasi tali air dan lainnya dngan melibatkan
masayarakat secara partisipativ baik dalam perencanaan,pendanaan dan
pelaksanaan .
b. Rehalibitasi dan recontruksi sarana ekonomi dengan kegiatan antara lain
pemulihan lahan pertanian dan ternak, rehabilitasi kedai/kios sederhana,
perahu dan perlengkapannya, serta pemulihan sentra-sentra ekonomi
rakyat yang ini semua juga harus didukung dengan kegiatan peningkatan
SDM melalui pelatihan serta pinjaman modal usaha
c. Rehalibitasi dan recontruksi dalam bidang pendidikan dan sosial budaya
dengan dengan berusaha untuk merehalibitasi mesjid, meunasah, balai
pengajian, sekolah, ini semua juga harus didukung dengan pengadaan
tenaga pengajar yang memadai dalam upaya pelaksanaan proses belajar
mengajar baik dalam bentu pendidikan formal maupun non formal, serta
mengaktifkan

kembali

institusi

adat,

ini

semua

berlandaskan kultur dan tradisi masyarakat setempat.

dilaksanakan
perahu dan perlengkapannya, serta pemulihan sentra-sentra ekonomi
rakyat yang ini semua juga harus didukung dengan kegiatan peningkatan
SDM melalui pelatihan serta pinjaman modal usaha
c. Rehalibitasi dan recontruksi dalam bidang pendidikan dan sosial budaya
dengan dengan berusaha untuk merehalibitasi mesjid, meunasah, balai
pengajian, sekolah, ini semua juga harus didukung dengan pengadaan
tenaga pengajar yang memadai dalam upaya pelaksanaan proses belajar
mengajar baik dalam bentu pendidikan formal maupun non formal, serta
mengaktifkan

kembali

institusi

adat,

ini

semua

berlandaskan kultur dan tradisi masyarakat setempat.

dilaksanakan

Profil lembaga lpselh

  • 1.
    PROFIL: LEMBAGA PENGEMBANGANSOSIAL EKONOMI DAN LINGKUNGAN HIDUP (LPSELH) ACEH INSTITUTE FOR SOCIAL ECONOMIC AND ENVIRONMENT DEVELOPMENT (ISEED) 1. Informasi Umum a. Nama Lembaga : Lembaga Pengembangan Sosial Ekonomi Dan Lingkungan Hidup (LPSELH) Aceh / Institute For Social Economic And Environment Development (ISEED) Aceh b. ALamat Lembaga : Jl. Angsa Lr.Perjuangan I No.17, Desa Lueng Bata, Kec. Lueng Bata Banda Aceh NAD Indonesia PO.BOX 169 Banda Aceh 23000 NAD Indonesia Telp/Fax : 0651-635985 c. Email : iseedaceh@yahoo.com atau iseedaceh@gmail.com d. Wilayah Kerja : Regional e. Kontak Person : Zainuddin M.Zaini f. No. yang bisa dihubungi : +6285260158863 2. Latar Belakang Lembaga Pengembangan Sosial Ekonomi dan Lingkungan Hidup (LPSELH) adalah merupakan sebuah NGO yang berkonsentrasi dalam bidang peningkatan swadaya masyarakat melalui pemanfaatan sumberdaya alam secara berkelanjutan, lembaga ini lahir di latar belakangi oleh keprihatinan terhadap ketidakadilan ekonomi, ketidakadilan hukum dalam menyikapi persoalan rakyat, ketidakadilan gender dan ketidakadilan dalam pemanfaatan sumberdaya alam, yang semua ini telah berdampak terhadap,
  • 2.
    pelanggaran hak asasimanusia, kerusakan lingkungan hidup, hilangnya kearifan budaya lokal serta hilangnya sumber kehidupan/mata pencaharian masyarakat. Berawal dari sebuah kelompok diskusi yang mengkaji tentang isue-isue yang berkaitan dengan lingkungan hidup, perempuan, hak asasi manusia, sosial kemasyarakatan, serta kebijakan pemerintah. Maka dari diskusi tersebut melangkah untuk menyusun rencana tindak lanjut melalui shearing pemikiran serta modal (dana) kecil-kecilan untuk mendampingi masyarakat yang tingkat kehidupan mereka pada saat itu memang sangat memprihatinkan. Dengan kelompok sasaran pada saat itu adalah perempuan yang terkena dampak konflik sosial dan kerusakan lingkungan terutama di wilayah pesisir Kec. Simpang Ulim, Peureulak Kabupaten Dati II Aceh Timur. Kemudian kami lanjudkan ke wilayah dan Kec.Seunuddon dan Tanah Jambo Aye Kabupaten Dati II Aceh Utara. Karena dikawasan pesisir wilayah tersebut selain kondisi keamanan yang sangat tidak kondusiv, juga terjadi perambahan hutan mangrove secara besar-besaran untuk areal tambak yang disertai penggunaan pestisida yang melebihi ambang batas. Sehingga berakibat rusaknya lingkungan hidup serta hilangnya mata pencarian masyarakat terutama perempuan-perempuan yang menggantungkan kehidupannya dengan mencari nafkah disekitar pesisir pantai, areal tambak, dan muara sungai. Beranjak dari keprihatinan tersebut telah mendorong kami dari kelompok diskusi untuk meningkatkan status menjadi sebuah wadah yang berbentuk NGO dalam upaya menyatukan tekad menuju kepada sebuah cita-cita yaitu untuk terbebasnya dari semua penindasan dan ketidakadilan.Tepatnya pada tanggal 10 September 1991 kami dari 7 (tujuh) orang bersahabat sepakat untuk mendirikan sebuah NGO dengan nama Lembaga Pengembangan Sosial Ekonomi dan Lingkungan Hidup yang singkatannya LPSELH sedangkan dalam bahasa Inggris Institute for Social Economic and
  • 3.
    Environment Development dengansingkatan ISEED. Yang kemudian baru diaktenotariskan pada tanggal 16 September 1993 oleh Notaris Syarifuddin Thaib, SH sebagai jawaban untuk menuju pada sebuah perjuangan yang dicita-citakan. 3. Visi Lembaga : Untuk mewujudkan masyarakat yang selaras alam, damai, sejahtera, demokratis, berkesetaraan dan berkeadilan. 4. Misi Lembaga : a. Menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang nilai-nilai ilahiyah untuk terbangunnya sistim yang lebih damai, adil dan demokratis dalam upaya melestarikan lingkungan hidup demi kehidupan dimasa yang akan datang. b. Sebagai wadah dalam upaya untuk meningkatkan sumberdaya manusia dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan mengelola/memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan. 5. Isu Strategis Lembaga a. Kependudukan, sumber daya manusia, ekonomi kerakyatan dan kesetaraan gender. b. Masalah kearifan local sitim hutan kerakyatan (SHK), ekologi lingkungan dan sanitasi . c. Masalah sumber daya alam (Reboisasi dan pengolahan, pengelolaan alam dan ekosistemnya). 6. Pengalaman dan Kegiatan Organisasi Sesuai dengan visi dan misinya, LPSELH selama ini sudah melaksanakan beberapa kegiatan antara lain Pemberdayaan dan Penguatan Ekonomi
  • 4.
    Rakyat Melalui PenganekaragamanJenis Usaha di Kec. Tanah Jambo Aye Kab. Daerah Tingkat II Aceh Utara yang kelompoksasarannya adalah masyarakat yang terkena dampak pengrusakan lingkungan, bekerjasama dengan Yayasan PKM-UNDP Jakarta dan Alhamdulillah kegiatan tersebut sudah mulai menampakkan hasil yang menggembirakan. Kegiatan Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam Melalui Penguatan Organisasi Sipil di Kemukiman Pulau Nasi Kec. Pulo Aceh Kab. Daerah Tingkat II Aceh Besar, kegiatan ini didukung oleh CSSP dan WALHI Aceh. Pemberdayaan Ekonomi Rakyat Melalui Penguatan Kelompok dan Bantuan Modal Usaha di Kec. Tanah Jambo Aye Kab. Daerah Tk. II Aceh Utara, kerjasama dengan New Zealand Embassy, kegiatan ini diprioritaskan kepada janda/perempuan kepala keluarga (Women as Family Head). Pelatihan Civic Education untuk Perempuan Usaha Kecil, Pelatihan Community Organizer (CO), Pelatihan konservasi sumberdaya alam dan Pelatihan Manajemen Usaha Kecil untuk masyarakat lokal,. Pelatihan Voter Education serta pinjaman modal Mikro Kredit untuk Perempuan Usaha Kecil, di wilayah Aceh Timur, Aceh Utara, dan Aceh Besar atas kerjasama dengan Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASPPUK) Jakarta sampai dengan saat ini. PSELH Aceh juga melaksanakan kegiatan pendampingan pasca musibah gempa bumi dan gelombang tsunami yang di bagi dalam beberapa tahap yaitu tahap emergency, recovery, renkontruksi dan rehalibitasi. Yang pada tahap emergency kami sudah melakukan beberapa kegiatan terutama untuk memenuhi kebutuhan dasar dengan mendistribusikan bahan sandang, pangan, obat-obatan yang dibantu oleh tenaga medis serta sejumlah relawan baik relawan lokal, luar daerah mapun luar negri, Selain itu kami juga melakukan rehabilitas sanitasi berupa MCK untuk pengungsi di wilayah kota Banda Aceh, seperti di wilayah Kec.Leupueng Aceh Besar, Kec. Ulee Gle Kabupaten Pidie, Kec. Seuneuddon, dan Kec.Baktiya Kabupaten Aceh Utara serta di wilayah Kec. Simpang Ulim
  • 5.
    Kabupaten Aceh Timur. Pasca musibah tsuanami LPSELH juga melaksanakan program recoveryekonomi antara lain Pemberdayaan Perempuan Melalui Penguatan Kelompok dan Bantuam Modal Usaha di Wilayah Kec. Seunuddon dan Jambo Aye Aceh Utara yang bekerjasama dengan HIVOS, Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Pasca Tsunami Melalui Pengutan Kapasitas Kelompok dan Bantuan modal Usaha di Kecamatan Seunuddon kegiatan ini bekerjasama dengan AFSC, Membangun Kembali Aceh Melalui Pengembangan Bisnis Usaha Kecil di wilayah Kecamatan Kec. Seunuddon serta daerah pesisir Kec. Baktiya Aceh Utara bekerjasama dengan ASPPUK Nasional Jakarta, Pemberdayaaan Masyarakat Nelayan Paska Tsunami di Desa Paya Kameng Kecamatan Mesjid Raya Aceh Besar kerjasama dengan CWS. Dan Pemberdayaan Ekonomi Perempuan Melalui Penguatan Kapasitas Kelompok dan Bantuan Modal Usaha di Kec. Seunuddon dan Baktiaya Aceh Utara kerjasama dengan Kedutaan Perancis. Pengemukan Ternak Sapi di Desa Paya Kameng Kecamatan Mesjid Raya Aceh Besar kerjasama dengan HIVOS Untuk tahap pemulihan, rehalibitasi dan rekontruksi pasca tsunami dan konflik sosial kami sudah melaksanakan beberapa kegiatan dalam tiga tahapan jangka pendek menengah dan jangka panjang dengan melibatkan masyarakat dampingan/organisasi rakyat secara prtisipatif antar lain: a. Rehalibitasi dan recontruksi pemukiman yang mencakup, perencanaan tataruang, perumahan, sanitasi dan sarana kesehatan, penghijauan yang dimulai dengan pembersihan gampoeng, pengadaan rumah layak huni, pengadaan posko/pusat kesehatan masyarakat yang disertai dengan sanitasi yang memadai, rehabilitasi tali air dan lainnya dngan melibatkan masayarakat secara partisipativ baik dalam perencanaan,pendanaan dan pelaksanaan . b. Rehalibitasi dan recontruksi sarana ekonomi dengan kegiatan antara lain pemulihan lahan pertanian dan ternak, rehabilitasi kedai/kios sederhana,
  • 6.
    perahu dan perlengkapannya,serta pemulihan sentra-sentra ekonomi rakyat yang ini semua juga harus didukung dengan kegiatan peningkatan SDM melalui pelatihan serta pinjaman modal usaha c. Rehalibitasi dan recontruksi dalam bidang pendidikan dan sosial budaya dengan dengan berusaha untuk merehalibitasi mesjid, meunasah, balai pengajian, sekolah, ini semua juga harus didukung dengan pengadaan tenaga pengajar yang memadai dalam upaya pelaksanaan proses belajar mengajar baik dalam bentu pendidikan formal maupun non formal, serta mengaktifkan kembali institusi adat, ini semua berlandaskan kultur dan tradisi masyarakat setempat. dilaksanakan
  • 7.
    perahu dan perlengkapannya,serta pemulihan sentra-sentra ekonomi rakyat yang ini semua juga harus didukung dengan kegiatan peningkatan SDM melalui pelatihan serta pinjaman modal usaha c. Rehalibitasi dan recontruksi dalam bidang pendidikan dan sosial budaya dengan dengan berusaha untuk merehalibitasi mesjid, meunasah, balai pengajian, sekolah, ini semua juga harus didukung dengan pengadaan tenaga pengajar yang memadai dalam upaya pelaksanaan proses belajar mengajar baik dalam bentu pendidikan formal maupun non formal, serta mengaktifkan kembali institusi adat, ini semua berlandaskan kultur dan tradisi masyarakat setempat. dilaksanakan