Selama   Teman
   Afektivitas dan                            t
                                                    -teman
     kebebasan                             malam
       manusia



Mata kuliah: filsafat manusia
Fakultas : psikologi
Dosen: Dr. Syahrial Sarbaini, MA., Ph.D.
Kelom
                  pok 1
                        4
Muhamad
  risky            suherlambang



 Alana
                     Asiyah
Kekayaan dan Kompleksitas
       Afektivitas Manusia
• Manusia mempunyai kemampuan
  mengenal dan afektivitas. Kita
  dianugrahi afektivitas, maka kita tidak
  merasa puas dengan memandang alam
  semesta saja, hal-hal menarik
  perhatian kita, menggerakkan hati kita.
Seluruh kegiatan afektivitas
   bersandar pada dua hal, yaitu :
1. Mencintai: Cinta sebagai akibat
   afektivitas yang baik disebut
   afektivitas positif.
2. Benci: sebagai akibat dari sesuatu
   yang jelek yang disebut afektifitas
   negatif.
Apa yang bukan perbuatan afektif
• Sejauh kita mengenal seseorang kita
  dapat mencintainya, dan hanya dengan
  mencintainya sungguh-sungguh kita dapat
  mengertinya. Namun, mencintai bukanlah
  mengerti dan mengerti bukanlah
  mencintai.
Afektiitas dan kehidupan afektif
• harus meliputi semua sikap jiwa dari mana
  subjek didorong yang mendekatan dari
  mana baginya merupakan sesuatu yang
  baik, atau dengan melarikan diri dari atau
  melawan apa yang baginya adalah
  sesuatu yang buruk.
Afektif disamakan denga
    kesanggupan merasa artinya
• keseluruhan kecenderungan yang
  berbeda dari aspirasi-aspirasi yang betul-
  betul rohaniah dan malah mereka atau
  kesanggupan merasa.
Apa yang merupakan perbuatan
           afektif
• Hidup afektif atau afektivitas adalah
  keseluruhan dari perbuatan afektif yang
  dialami oleh subjek dan juga dinamisme-
  dinamisme perbuatan-perbuatannya
perbuatan afektif sungguh berbeda dari
 perbuatan mengenal. Penyebabnya
                adalah:
•   perbuatan afektif itu lebih pasif dari
    perbuatan mengenal. Perbuatan afektif
    subjek lebih dipengaruhi/dikuasai oleh
    objek. Akibatnya dalam perbuatan subjek
    lebih dikenal oleh pihak objek.
•    perbuatan afektif juga lebih bersifat
    realistis, karena subjek lebih diuntungkan
    dengan apa yang khusus dan nyata dalam
    objek itu,
Kondisi-kondisi afektifitas
            manusia
• Supaya ada afektifitas harus ada suatu
  daya tarik-menarik atau suatu ikatan
  kesamaan atau gabungan tertentu antara
  si subjek dan objek perbuatan afektifnya.
• Secara Psikologi juga menyangsikan
  bahwa permusuhan dari seseorang
  menjadi makin sukar bagi kita, bila yang
  bermusuhan itu makin berikatan dengan
  kita.
Plato dan Aristoteles mendefinisikan
 kebaikan atau yang baik itu sebagai
• apa-apa yang dapat dijadikan objek dari
  keinginan atau dari kecenderungan,
  sebagai apa-apa yang dapat cocok,
  karena alasan ini atau itu, dengan sesuatu
  atau dengan seseorang.
Kehendak manusia seperti
• hidup, cinta, kebenaran, keindahan,
  keadilan, kebebasan, kreativitas dan lain-
  lain. Di tinjau dari sudut subjek, maka nilai
  itu membangkitkan dalam dirinya rasa
  hormat dan kekaguman, menimbulkan
  persetujuan dan keterlibatannya dan
  sebagai gantinnya menjanjikan
  kepadanya penyempurnaan bagi dirinya
  sendiri
Dipandang dari dalam diri sendiri
        nilai itu adalah
• sesuatu yang betul-betul berharga, yang
  pantas diperoleh dengan perjuangan
  keras dan makin orang dengan sepenuh
  hati memperjuangkan itu makin itu atau
  menyamakan diri sebagai lebih kaya, nilai
  bersandar pada Yang Mutlak atau
  menyamakan diri dengan-Nya yang
  melebihi semua objek dimana nilai
  direalisir untuk sebagi saja.
Untuk terjadinya perbuatan afektif
• tidak cukup bahwa subjek itu mengenal
  apa yang menarik baginya atau
  menyenangkan, tetapi ia juga secara
  fundamental dan langsung siap sedia
  untuk mengalaminya sebagai suatu yang
  diinginkan atau ditolak.
Kesenangan harus dicurigai?
• Dari semua afektif, mungkin
  kesenanganlah yang merupakan cara
  yang paling sesuai dengan kodrat kita.
  Sekurang-kurangnya, kesenanganlah
  yang kita cari secara paling spontan.
Lawan dari kesenangan adalah
          penderitaan
• adalah cara afektif yang timbul dalam diri
  kita oleh karena salah satu
  kecenderungan-kecenderungan kita
  dilawan, dirintangi, digagalkan, entah
  karena objek kecenderungan itu luput
  atau ditarik kembali dari kita, entah kita
  tidak sampai mencapainya,
  mempergunakannya, atau berkomunikasi
  dengannya.
Kecurigaandari para moralis
      terhadap kesenangan
• sekurang-kurangnya kekerasan mereka
  terhadap orang-orang yang dalam segala
  hal mencoba melulu mencari kesenangan
  mereka, tidak tanpa dasar.
Cinta akan diri, sesama dan
             Tuhan
• Makin saya mencintai diri saya sendiri,
  makin saya tidak mencintai yang lain
  karena cinta akan diri sendiri sama
  dengan egoisme.
Ajaran agama mengatakan
• cintailah sesamamu seperti kamu sendiri.
  Ini berarti hormat kepada keutuhan dan
  kekhususaan diri sendiri, cinta dan
  pengertian akan dirinya sendiri, tidak
  terpisah dari hormat, cinta dan pengertian
  akan orang lain.
Cinta yang paling dalam berasal
       kebebasan yang luhur
• paling dalam yang membuat kita menjadi
  pokok pangkal dari pembentukan sebagai
  manusia autentik. Melalui itu kita bisa
  menangkap hubungan-hubungan erat
  yang mempersatukan cinta dan
  kebebasan, yang mengikat cita kepada
  kehematan dan kesederhanaan.
Objek dan watak kodrati kehendak
• Yang dikehendai oleh manusia secara
  mutlak adalah kebaikan atau ada sebagai
  kebaikan. Sepanjang hidup ini, Tuhan
  tidak dikenal secara lengkap. Itu sebabnya
  mengapa manusia bisa tidak cenderung
  kepada-Nya pada taraf kesadaran
  jernihnya.
Keaslian kehendak
• Keaslian itu adalah keaslian pengetahuan
  intelektual, walau tidak dapat berada
  tanpa pengetahuan inderawi, namun sifat
  lebih tinggi dan tidak bisa direduksikan
  kepadanya
dua argumen klasik mengeni
        kehendak, yaitu:
• argumen persetujuan umum, sebagian
  besar manusia percaya bahwa mereka
  dilengkapi dengan kehendak bebas,
  kehendak manusia adalah bebas.
• argumen psikologis, sebagian besar
  manusia secara spontan mengakui
  kebebasan, sebagai hasil pengalaman
Daftar pustaka
• Dr. Syahrial Syarbaini. MA
Presentation1.ppt.filsafat.afektivitas

Presentation1.ppt.filsafat.afektivitas

  • 1.
    Selama Teman Afektivitas dan t -teman kebebasan malam manusia Mata kuliah: filsafat manusia Fakultas : psikologi Dosen: Dr. Syahrial Sarbaini, MA., Ph.D.
  • 2.
    Kelom pok 1 4 Muhamad risky suherlambang Alana Asiyah
  • 3.
    Kekayaan dan Kompleksitas Afektivitas Manusia • Manusia mempunyai kemampuan mengenal dan afektivitas. Kita dianugrahi afektivitas, maka kita tidak merasa puas dengan memandang alam semesta saja, hal-hal menarik perhatian kita, menggerakkan hati kita.
  • 4.
    Seluruh kegiatan afektivitas bersandar pada dua hal, yaitu : 1. Mencintai: Cinta sebagai akibat afektivitas yang baik disebut afektivitas positif. 2. Benci: sebagai akibat dari sesuatu yang jelek yang disebut afektifitas negatif.
  • 5.
    Apa yang bukanperbuatan afektif • Sejauh kita mengenal seseorang kita dapat mencintainya, dan hanya dengan mencintainya sungguh-sungguh kita dapat mengertinya. Namun, mencintai bukanlah mengerti dan mengerti bukanlah mencintai.
  • 6.
    Afektiitas dan kehidupanafektif • harus meliputi semua sikap jiwa dari mana subjek didorong yang mendekatan dari mana baginya merupakan sesuatu yang baik, atau dengan melarikan diri dari atau melawan apa yang baginya adalah sesuatu yang buruk.
  • 7.
    Afektif disamakan denga kesanggupan merasa artinya • keseluruhan kecenderungan yang berbeda dari aspirasi-aspirasi yang betul- betul rohaniah dan malah mereka atau kesanggupan merasa.
  • 8.
    Apa yang merupakanperbuatan afektif • Hidup afektif atau afektivitas adalah keseluruhan dari perbuatan afektif yang dialami oleh subjek dan juga dinamisme- dinamisme perbuatan-perbuatannya
  • 9.
    perbuatan afektif sungguhberbeda dari perbuatan mengenal. Penyebabnya adalah: • perbuatan afektif itu lebih pasif dari perbuatan mengenal. Perbuatan afektif subjek lebih dipengaruhi/dikuasai oleh objek. Akibatnya dalam perbuatan subjek lebih dikenal oleh pihak objek. • perbuatan afektif juga lebih bersifat realistis, karena subjek lebih diuntungkan dengan apa yang khusus dan nyata dalam objek itu,
  • 10.
    Kondisi-kondisi afektifitas manusia • Supaya ada afektifitas harus ada suatu daya tarik-menarik atau suatu ikatan kesamaan atau gabungan tertentu antara si subjek dan objek perbuatan afektifnya. • Secara Psikologi juga menyangsikan bahwa permusuhan dari seseorang menjadi makin sukar bagi kita, bila yang bermusuhan itu makin berikatan dengan kita.
  • 11.
    Plato dan Aristotelesmendefinisikan kebaikan atau yang baik itu sebagai • apa-apa yang dapat dijadikan objek dari keinginan atau dari kecenderungan, sebagai apa-apa yang dapat cocok, karena alasan ini atau itu, dengan sesuatu atau dengan seseorang.
  • 12.
    Kehendak manusia seperti •hidup, cinta, kebenaran, keindahan, keadilan, kebebasan, kreativitas dan lain- lain. Di tinjau dari sudut subjek, maka nilai itu membangkitkan dalam dirinya rasa hormat dan kekaguman, menimbulkan persetujuan dan keterlibatannya dan sebagai gantinnya menjanjikan kepadanya penyempurnaan bagi dirinya sendiri
  • 13.
    Dipandang dari dalamdiri sendiri nilai itu adalah • sesuatu yang betul-betul berharga, yang pantas diperoleh dengan perjuangan keras dan makin orang dengan sepenuh hati memperjuangkan itu makin itu atau menyamakan diri sebagai lebih kaya, nilai bersandar pada Yang Mutlak atau menyamakan diri dengan-Nya yang melebihi semua objek dimana nilai direalisir untuk sebagi saja.
  • 14.
    Untuk terjadinya perbuatanafektif • tidak cukup bahwa subjek itu mengenal apa yang menarik baginya atau menyenangkan, tetapi ia juga secara fundamental dan langsung siap sedia untuk mengalaminya sebagai suatu yang diinginkan atau ditolak.
  • 15.
    Kesenangan harus dicurigai? •Dari semua afektif, mungkin kesenanganlah yang merupakan cara yang paling sesuai dengan kodrat kita. Sekurang-kurangnya, kesenanganlah yang kita cari secara paling spontan.
  • 16.
    Lawan dari kesenanganadalah penderitaan • adalah cara afektif yang timbul dalam diri kita oleh karena salah satu kecenderungan-kecenderungan kita dilawan, dirintangi, digagalkan, entah karena objek kecenderungan itu luput atau ditarik kembali dari kita, entah kita tidak sampai mencapainya, mempergunakannya, atau berkomunikasi dengannya.
  • 17.
    Kecurigaandari para moralis terhadap kesenangan • sekurang-kurangnya kekerasan mereka terhadap orang-orang yang dalam segala hal mencoba melulu mencari kesenangan mereka, tidak tanpa dasar.
  • 18.
    Cinta akan diri,sesama dan Tuhan • Makin saya mencintai diri saya sendiri, makin saya tidak mencintai yang lain karena cinta akan diri sendiri sama dengan egoisme.
  • 19.
    Ajaran agama mengatakan •cintailah sesamamu seperti kamu sendiri. Ini berarti hormat kepada keutuhan dan kekhususaan diri sendiri, cinta dan pengertian akan dirinya sendiri, tidak terpisah dari hormat, cinta dan pengertian akan orang lain.
  • 20.
    Cinta yang palingdalam berasal kebebasan yang luhur • paling dalam yang membuat kita menjadi pokok pangkal dari pembentukan sebagai manusia autentik. Melalui itu kita bisa menangkap hubungan-hubungan erat yang mempersatukan cinta dan kebebasan, yang mengikat cita kepada kehematan dan kesederhanaan.
  • 21.
    Objek dan watakkodrati kehendak • Yang dikehendai oleh manusia secara mutlak adalah kebaikan atau ada sebagai kebaikan. Sepanjang hidup ini, Tuhan tidak dikenal secara lengkap. Itu sebabnya mengapa manusia bisa tidak cenderung kepada-Nya pada taraf kesadaran jernihnya.
  • 22.
    Keaslian kehendak • Keaslianitu adalah keaslian pengetahuan intelektual, walau tidak dapat berada tanpa pengetahuan inderawi, namun sifat lebih tinggi dan tidak bisa direduksikan kepadanya
  • 23.
    dua argumen klasikmengeni kehendak, yaitu: • argumen persetujuan umum, sebagian besar manusia percaya bahwa mereka dilengkapi dengan kehendak bebas, kehendak manusia adalah bebas. • argumen psikologis, sebagian besar manusia secara spontan mengakui kebebasan, sebagai hasil pengalaman
  • 24.
    Daftar pustaka • Dr.Syahrial Syarbaini. MA