WTO Convention on Sanitary and
Phytosanitary (SPS) Agreement
dalam Ekspor Udang Indonesia ke
Uni Eropa
Oleh:
Shanty Nathalia Margaretha
(H14080012)
Di Bawah Bimbingan:
Prof. Dr. Ir. Rina Oktaviani, M.S.
DEPARTEMEN ILMU EKONOMI
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012
OUTLINE
PENDAHULUAN
KERANGKA TEORETIS
METODE PENELITIAN
WTO CONVENTION ON SPS AGREEMENT DALAM
PERDAGANGAN UDANG INDONESIA-UNI EROPA
SPS DAN FAKTOR LAIN YANG MEMENGARUHI
EKSPOR UDAN INDONESIA KE UNI EROPA
PENUTUP
Uni Eropa
• Pasar potensial
• Ekspor hasil perikanan yang meningkat 8% per tahun (EC, 2010)
• Kebijakan perdagangan yang kompleks
• Penerapan hambatan non tarif SPS  sulit untuk dikuantifikasi
Udang sebagai
komoditas utama
ekspor perikanan
• Nilai ekspor udang Tahun 2006-2010
• Negara tujuan utama ekspor udang
Latar Belakang
Potensi perikanan
Indonesia
•Produksi 6.4 juta ton ikan per tahun (BRKP, 2007)
• Tren nilai ekspor perikanan Tahun 2001-2010
klik
Rumusan Masalah
1
Apakah penggunaan hambatan non tarif SPS dalam penolakan
ekspor udang Indonesia oleh Uni Eropa didasarkan pada alasan-
alasan dan ukuran-ukuran yang rasional dalam kerangka WTO
Convention?
2
Bagaimana dampak penggunaan hambatan non tarif
SPS terhadap aliran ekspor udang Indonesia ke Uni
Eropa?
3
Langkah-langkah apa yang dapat ditempuh oleh
Indonesia dalam kerangka WTO Convention untuk
mengatasi masalah terhambatnya ekspor udang ke Uni
Eropa sebagai akibat penggunaan hambatan non tarif
SPS?
Menganalisis hambatan
non tarif SPS yang
diterapkan oleh Uni
Eropa terhadap ekspor
udang Indonesia dan
kesesuaian penerapan
hambatan tersebut
dengan WTO Convention
on SPS Agreement.
Menganalisis dampak
yang diterima Indonesia
sebagai akibat
pemberlakuan
hambatan perdagangan
non tarif SPS oleh Uni
Eropa terhadap
komoditas ekspor
udang Indonesia dan
bagaimana pengaruhya
terhadap aliran ekspor
komoditas udang
Indonesia selama
periode 2001-2010.
Tujuan Penelitian
Ruang Lingkup Penelitian
4
Periode analisis: Tahun 2001-20101
2
3
5
Komoditas: HS 030613, HS 030623, HS 160520
Variabel Bebas: GDP riil Indonesia, GDP riil negara
tujuan ekspor, populasi negara tujuan ekspor, jarak
ekonomi riil, variabel SPS
Negara tujuan ekspor: 8 anggota EU-27, AS, dan Jepang
Model yang digunakan: PLS
Komoditas Udang dalam Perdagangan Internasional (Murty, 1991)
−Spesies udang laut dingin: berasal dari dan hidup di lautan daerah
dingin.
−Spesies udang laut tropika: berasal dari dan hidup pada perairan pantai
tropika. Ukuran spesies kelompok ini relatif lebih besar.
−Spesies udang air tawar: umumnya hidup pada danau atau sungai di
daerah tropika dan ukurannya dapat besar sekali. Biasa dikenal dengan
nama giant river prawn.
KERANGKA TEORETIS
• Udang tropis yang dimiliki Indonesia: udang jerbung (Penaeus
merguiensis), udang kelong (Penaeus indicus), udang raja (Penaeus
latiscucatus), udang bago (Penaeus semisculatus), dan udang windu (Penaeus
monodon)
• Udang yang diperdagangkan di pasar Uni Eropa: pink shrimp (Pandalus
borealis), pacific white (Penaeus vannamei), udang windu (Penaeus
monodon), chinese white (Penaeus chinensis) dan gulf (Penaeus aztecus)
(Perutusan Republik Indonesia untuk Masyarakat Eropa, 2001
Spesies Udang Tropis Indonesia
Sumber: FAO, 2012
udang bago (Penaeus semisculatus) udang windu (Penaeus monodon)
udang kelong
(Penaeus indicus)
udang raja
(Penaeus latiscucatus)udang jerbung (Penaeus merguiensis)
Teori Hambatan Perdagangan Non Tarif
• Hambatan perdagangan non tarif (Non Tariff Barriers/NTBs) adalah
hambatan di luar tarif (custom duties) yang mendistorsi perdagangan
(Hillman, 1991 dalam Beghin dan Bureau, 2001)
• Hambatan perdagangan non tarif termasuk standar identitas asal
komoditas, kualitas, SPS, dan pengemasan (Thornsbury, 1999) .
• Hambatan non tarif adalah serangkaian regulasi termasuk instrumen
kebijakan yang dapat menimbulkan efek proteksi terhadap komoditas
domestik (Roberts dan Thornsbury, 1998) .
WTO Convention on SPS Agreement
• Bentuk khusus dari hambatan perdagangan non tarif Technical Barriers to Trade
(TBTs)
• Tujuan penerapan SPS (van den Bossche, 2008):
− Melindungi kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan dari risiko yang
mungkin ditimbulkan oleh makanan;
− Melindungi kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan dari risiko yang
mungkin ditimbulkan oleh hama atau penyakit; atau
− Mencegah dan/atau membatasi risiko kerusakan lainnya yang mungkin
ditimbulkan oleh hama.
• Prinsip penggunaan SPS: Article 2 dan 3 SPS Agreement  tindakan
untuk melindungi kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan serta
didukung dengan bukti-bukti ilmiah
• Risk Analysis: risk assessment dan risk management
Kerangka Pemikiran
Saran dan rekomendasi
Langkah yang dapat ditempuh oleh Indonesia dalam kerangka WTO Convention
Dampak penerapan hambatan non tarif SPS terhadap udang Indonesia
Penggunaan hambatan non tarif SPS oleh Uni Eropa terhadap ekspor udang Indonesia
Gravity ModelAnalisis Deskriptif
WTO Convention on SPS Agreement
METODE PENELITIAN
 Spesifikasi Model
•Analisis kuantitatif dan kualitatif
•Sumber data:UN Comtrade, World
Bank, Eurostat, BPS, Kementerian Perdagangan Republik
Indonesia, Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik
Indonesia, studi kepustakaan literatur terkait.
•Periode data analisis: 2001-2010
ln EXijt =β0+β1 ln GDPit+β2 ln GDPjt+β3 ln POPjt+β4 ln DISTijt+β5 SPS + µij
Keterangan:
i = negara tujuan ekspor udang Indonesia, yang terdiri atas
Belgia, Inggris, Jerman, Prancis, Italia, Belanda, Spanyol, dan Denmark, Amerika
Serikat dan Jepang; t = tahun
EXij = nilai ekspor udang Indonesia ke negara j pada tahun t
GDPit = GDP riil Indonesia pada tahun t
GDPjt = GDP riil negara j pada tahun t
POPjt = populasi penduduk negara j pada tahun t
DISTijt = jarak ekonomi riil antara negara i (Indonesia) dengan negara j
SPSt = hambatan non tarif SPS, dimana SPS = 0 untuk negara non Uni Eropa dan
SPS = 1 untuk negara Uni Eropa.
WTO CONVENTION ON SPS AGREEMENT DALAM
PERDAGANGAN UDANG INDONESIA-UNI EROPA
Perdagangan batu
bara dan baja
Pasca
PD II
EEC
1957
European Single
Market
1986
Uni Eropa
1992
Sejarah Singkat Uni Eropa
Negara Anggota EU-27
Tahun Bergabung Negara Anggota Tahun Bergabung Negara Anggota
1952 Belgia 1995 Swedia
1952 Prancis 2004 Siprus
1952 Jerman 2004 Republik Ceko
1952 Italia 2004 Estonia
1952 Luxemburg 2004 Hongaria
1952 Belanda 2004 Latvia
1973 Irlandia 2004 Lithuania
1973 Denmark 2004 Malta
1973 Inggris 2004 Polandia
1981 Yunani 2004 Slovakia
1986 Spanyol 2004 Slovenia
1986 Portugal 2007 Bulgaria
1995 Austria 2007 Rumania
1995 Finlandia
Sumber: European Union, 2012
Uni Eropa dlm Perdagangan Internasional
• Jumlah populasi hingga 500 juta jiwa, dengan pendapatan per
kapita 32,300 USD pada Tahun 2010 (World Bank, 2011)
• Nilai ekspor € 1,349.2 juta Tahun 2010  16% dari total nilai
ekspor dunia
• Nilai impor € 1,509.1 juta Tahun 2010  17.3 % dari total nilai
impor dunia
Posisi Uni Eropa dalam Perdagangan Internasional Tahun 2010
0
400
800
1,200
1,600
EU-27 USA China Japan Kanada Swiss Norwegia
(1000juta€)
Ekspor Impor
Sumber: Eurostat, 2012
Komoditas Ekspor dan Impor EU-27 Tahun 2010
42.4
23.0
17.5
5.7
5.6
2.8
29.5
25.4
24.0
9.1
5.4
4.7
0.0 20.0 40.0 60.0 80.0
Mesin & alat transportasi
Barang-barang manufaktur
Bahan kimia & sejenisnya
Makanan, minuman &
tembakau
Bahan mineral, pelumas &
produk sejenis
Bahan mentah
(%)
ekspor impor
Sumber: Eurostat, 2011
Nilai Ekspor dan Impor Indonesia dengan EU-27
Tahun Nilai Ekspor (juta €) Nilai Impor (juta €)
2001 8,678
{4.5}
4,521
{10.9}
2002 8,378
{4.6}
4,094
{10.3}
2003 7,046
{4.2}
3,143
{9.7}
2004 7,265
{4.8}
4,280
{10.3}
2005 8,262
4.8}
4,684
{10.8}
2006 9,510
{5.0}
4,785
{12.2}
2007 9,764
{5.4}
5,608
{12.8}
2008 10,526
{6.0}
7,183
{13.6}
2009 9,744
{5.3}
6,224
{11.7}
2010 12,941
{6.4}
7,440
{13.9}
Sumber: Eurostat, 2011
Ekspor dan Impor EU-27 ke dan dari Indonesia Tahun 2011
5,596
1,844 1,682 1,744 1,712
3,576
781
308
1,115
3,621
143
1,381
-4,815
-1,536
-566
1,878
-1,569
-2,195
-6,000
-4,000
-2,000
0
2,000
4,000
6,000
8,000
Agri. Prod. (Food
(incl. Fish) & Raw
Materials)
Fuels and mining
products
Chemicals Machinery and
transport equipment
Textiles & Clothing Other Products
(millions€)
Imports Exports Balance
Sumber: Eurostat, 2011
Volume Ekspor dan Impor Udang Dunia Tahun 2000-2011
0
50000000
1E+09
1.5E+09
2E+09
2.5E+09
3E+09
3.5E+09
4E+09
4.5E+09
5E+09
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011
Volume(kg)
Tahun
Ekspor Impor
Sumber: UN Comtrade, 2012 (diolah)
Nilai Ekspor dan Impor Udang Dunia Tahun 2000-2011
Sumber: UN Comtrade, 2012 (diolah)
0
5E+09
1E+10
1.5E+10
2E+10
2.5E+10
3E+10
3.5E+10
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011
Nilai(USD)
Tahun
Ekspor Impor
Break Down Nilai Ekspor Produk Udang di Pasar Internasional
Tahun 2011
HS 030613 HS 030623 HS 160520
31%
Udang Olahan
65%
Udang Beku
4%
Udang Tidak
Beku
Sumber: UN Comtrade, 2012 (diolah)
Importir dan Eksportir Utama Udang Beku Tahun 2009-
2011
47%
26%
12%
9%
6%
Importir
USA
Jepang
Spanyol
Prancis
Italia
30%
21%17%
17%
15%
Eksportir
Thailand
Vietnam
Ekuador
Indonesia
China
Sumber: UN Comtrade, 2012
Importir dan Eksportir Utama Udang Tidak Beku Tahun
2009-2011
Sumber: UN Comtrade, 2012
25%
22%
22%
17%
14%
Importir
Belanda
Belgia
Singapura
Prancis
32%
26%
15%
14%
13%
Eksportir
Belanda
China
Malaysia
Thailand
Jerman
Importir dan Eksportir Utama Udang Olahan Tahun
2009-2011
Sumber: UN Comtrade, 2012
44%
25%
13%
10%
8%
Importir
USA
Jepang
Inggris
Jerman
Denmark
47%
29%
9%
8%
7%
Eksportir
Thailand
China
Vietnam
Indonesia
Denmark
Ringkasan
Importir utama udang di dunia:
• AS
• Jepang
• beberapa negara Eropa (Prancis, Spanyol, Inggris, Belgia, Italia)
Eksportir utama udang di dunia:
• Thailand
• Ekuador
• Vietnam
• China,
• Indonesia
Perkembangan Nilai dan Volume Ekspor Udang Indonesia ke
Dunia Tahun 2000-2011
0
20000000
40000000
60000000
80000000
1E+09
1.2E+09
1.4E+09
1.6E+09
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011
NILAI (USD) VOLUME (KG)
Sumber: UN Comtrade, 2012
42
28
14
16
14%
Lainnya
42%
USA
28%
Jepang
Pangsa Pasar Tujuan Ekspor Utama Udang Indonesia Tahun 2010
Sumber: UN Comtrade, 2012 (diolah)
16%
Uni Eropa
Importir Utama Udang bagi EU-27 Tahun 2011
17%
13%
11%
10%
10%
9%
7%
6%
6%
5%
3%3%
LAINNYA
ECUADOR
GREENLAND
ARGENTINA
THAILAND
INDIA
VIETNAM
CHINA
BANGLADESH
CANADA
INDONESIA
Sumber: UN Comtrade, 2012 (diolah)
Kontribusi Ekspor Udang Indonesia terhadap Total Impor Udang
Uni Eropa Tahun 2004-2011
Tahun Nilai (USD) Volume (kg)
2004 183,111,780
{6.25}
31,014,903
{6.13}
2005 182,173,113
{5.80}
26,563,819
{4,90}
2006 187,416,370
{5.12}
26,233,591
{4.36}
2007 190,920,203
{5.02}
26,117,165
{4.23}
2008 219,696,702
{5.36}
28,392,658
{4.76}
2009 192,100,117
{5.15}
24,963,612
{4.13}
2010 176,788,901
{4.28}
21,643,012
{3.52}
2011 164,499,530
{3.55}
17,323,323
{2.84}
Sumber: UN Comtrade, 2012 (diolah)
World Trade Organization (WTO)
• Berdiri pada 1 Januari 1995 menggantikan GATT
• Organisasi resmi yang mengatur perdagangan internasional
• Annex I: Annex IA (GATT 1994), Annex IB (GATS), Annex IC (TRIPS)
•Annex II: Dispute Settlement Understanding
• Annex III: TRPM
• Annex IV: Plurilateral Trade Agreements
Fungsi (Hoekman dan Kostrecki, 2009):
• memfasilitasi kesepakatan perdagangan multilateral
• menyediakan sebuah forum untuk melakukan
negosiasi, menyelesaikan sengketa perdagangan yang terjadi
• memantau kebijakan perdagangan yang diterapkan oleh negara-
negara anggotanya, serta bekerja sama dengan IMF dan World Bank
untuk mencapai koherensi kebijakan ekonomi global
Dispute Settlement System
• Menyelesaikan sengketa yang terjadi dalam kesepakatan
perdagangan multilateral negara anggota, yang tercakup dalam
perdagangan barang, jasa, dan hak kekayaan intelektual;
• Menyelesaikan sengketa yang terjadi antarnegara anggota
dalam hal hak dan kewajiban negara anggota WTO di bawah
DSU.
• Perangkat penerapan hukum WTO melalui DSB
• Memiliki keistemewaan dalam jurisdiksi yang
ekslusif, mencakup aspek regulasi ekonomi yang mengatur
anggotanya dan memengaruhi perdagangan dunia
(Jackson, 2008)
• Keputusan yang dihasilkan bersifat mengikat secara hukum
dan koersif
Distribusi Klaim Legal ke DSB Tahun 1996-2008
Provision/Agreement Jumlah Klaim
Antidumping 615
Agreement on Textiles and Clothing 13
Agreement on Agriculture 46
DSU 3.7 (Determination of a dispute) 16
GATS 30
Tarrif bindings (GATT:II) 23
National Treatment (GATT:III) 88
Antidumping (GATT:VI) 69
Transparansi (GATT:X) 46
Restriksi kuantitatif (GATT:XI) 19
Nondiscriminatory use of quantitative restrictions (GATT:XX) 10
Emergency protection (GATT:XIX) 69
Pengecualian (GATT:XX 25
Subsidi dan counterrvailing 269
Safeguard 580
SPS 285
TBT 14
TRIPS 61
Conformity of laws (WTO:XIV, 4) 30
Sumber: Hoekman dan Kostrecki, 2009
Regulation (EC) No.178/2002
• Prinsip Utama dan Persyaratan Hukum Pangan, Pembentukan
Otoritas Keamanan Pangan Uni Eropa, dan Penetapan Prosedur
yang Terkait dengan Keamanan Pangan
• Rapid Alert System for Food and Feed (RASFF), otoritas resmi yang
mengontrol keamanan pangan, ketentuan produk pangan yang
diimpor, analisis risiko, dan precautionary principle
• Hasil inspeksi Uni Eropa: fasilitas laboratorium tidak memadai,
ditemukan residu (chloramphenicol, nitrofurans, dan tetracyclines)
• Oleh karena itu, perlu dilakukan tindakan terhadap kontainer ekspor
perikanan dari Indonesia yang ditujukan untuk konsumsi manusia
Commission Decision No.220/2010
• 20% dari setiap muatan ekspor perikanan yang berasal dari Indonesia digunakan sebagasi
sampel untuk melalui pengujian residu-residu farmakologi aktif yang berbahaya di Pos
Inspeksi Perbatasan (Border Inspection Post) teritori negara anggota EU-27, dengan metode
sampling yang sudah ditetapkan.
• Sampel pada poin (a) harus diuji untuk melihat apakah ada substansi-substansi
berbahaya, sebagaimana diatur dalam Article 2(a) Regulation (EC) No.470/2009.
• Muatan ekspor akan berada dalam pengawasan otoritas resmi terkait hingga proses sampling
selesai dilakukan. Muatan eskpor tersebut dapat dilepas ke pasar apabila hasil sampling
sesuai dengan kriteria yang diatur dalam Regulation (EC) No.470/2009.
• Negara anggota EU-27 diwajibkan melapor kepada European Commission apabila kehadiran
substansi-substansi berbahaya yang dimaksud dalam sampel melebihi batas minimum yang
diperbolehkan oleh Article 14(2)(a), (b), atau (c) Regulation (EC) No.470/2009.
• Hasil sampling tersebut harus dikirimkan kepada European Commission via
RASFF, sebagaimana diatur dalam Regulation No.178/2002.
• Sampling untuk setiap ekspor produk perikanan dari Indonesia yang diperuntukkan bagi
konsumsi manusia harus dilakukan setiap tiga bulan sekali oleh negara anggota EU-27.
• Biaya untuk melakukan sampling dikeluarkan oleh eksportir produk perikanan dari Indonesia.
Regulasi Tentang Keamanan Pangan di Uni Eropa
No. Regulasi Keterangan
1 Regulation (EC) No.3760/1992 Kebijakan perikanan umum (common fisheries
policy)
2 Regulation (EC) No.852/2004 Higiene bahan pangan
3 Regulation (EC) No.853/2004 Peraturan higiene yang spesifik untuk makanan
yang berasal dari hewan
4 Regulation (EC) No.854/2004 Organisasi yang mengontrol produk yang
diperuntukkaan bagi konsumsi manusia dan
berasal dari hewan
5 Commission Regulation (EC) No
2073/2005
Kriteria mikrobiologis untuk bahan pangan
6 Commission Regulation (EC) No
333/2007
Metode sampling dan analisis untuk mengontrol
tingkat kandungan timbal, kadmium, merkuri,
timah anorganik, 3-MCPD dan benzo(a)pyrene
dalam bahan pangan
7 Regulation (EC) No 178/2002 Prinsip utama dan persyaratan hukum pangan,
pembentukan otoritas keamanan pangan Uni
Eropa, dan penetapan prosedur yang terkait
dengan keamanan pangan
Sumber: FAO Globefish, 2012
Kebijakan Pemerintah Indonesia Terkait Peningkatan Mutu Udang
• Permen KP No.PER.01/MEN.2007 tentang Pengendalian Sistem
Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan
• Permen KP.No.PER.02/MEN/2007 tentang Monitoring Residu Obat,
Bahan Kimia, Bahan Biologi, dan Kontaminan pada Pembudidayaan Ikan
• Keputusan Menteri KP No.Kep.01/ME/2007 tentang Persyaratan Jaminan
Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan pada Proses Produksi,
Pengolahan, dan Distribusi
• Keputusan Menteri KP No.02/MEN/2007 tentang Cara Budidaya Ikan
yang Baik
• Keputusan Dirjen Perikanan Budidaya
No.06/DPB/HK.150.154/S4/VII/2007 tentang Pedoman Pelaksanaan
Monitoring Residu Obat, Bahan Kimia, Bahan Biologi, dan Kontaminan
pada Pembudidayaan Ikan
• Keputusan Dirjen Perikanan Budidaya Perikanan No.44/DJ-PB/2008
tentang Petunjuk Pelaksaan Sertifikasi Cara Budidaya Ikan yang Baik
(CBIB). CBIB merupakan salah satu persyaratan kelayakan dasar pada
sistem jaminan mutu proses pembudidayaan ikan.
Kebijakan Antisipatif Pemerintah Indonesia dlm Menghadapi
Hambatan Perdagangan Uni Eropa bagi Komoditas Perikanan
Hambatan Perdagangan Kebijakan Antisipatif Pemerintah
Residu chloramphenicol Penerapan HACCP
Embargo udang Kebijakan pemilihan produk
Isu lingkungan dan pelabelan Pelabelan organik
Penetrasi pasar Perjanjian pengakuan mutu
Embargo kerang-kerangan Program sanitasi
Tarif bea masuk Fasilitas GSP
Sanksi sementara Program pengendalian residu hormon
antibiotik
Sumber: Aisyah, et.al dalam Juarno, 2012
SPS DAN FAKTOR LAIN YANG MEMENGARUHI
EKSPOR UDANG INDONESIA KE UNI EROPA
Variabel Koefisien Std. Error t-Statistik Prob.
LN_GDPINDT -0.033698 0.058348 -0.577530 0.5650
LN_GDPJT 2.827455* 0.146215 19.33763 0.0000
LN_POPJT -2.701478* 0.155241 -17.40187 0.0000
LN_JE -0.280252* 0.057053 -4.912148 0.0000
SPS -1.242078* 0.104047 -11.93771 0.0000
C -8.930306* 1.693963 -5.271841 0.0000
Weighted Statistics
R-squared 0.999458 Mean dependent var 182.6627
Adjusted R-squared 0.999429 S.D. dependent var 298.4107
S.E. of regression 1.030320 Sum squared resid 99.78660
F-statistic 34648.49 Durbin-Watson stat 1.982355
Prob(F-statistic) 0.000000
Unweighted Statistics
R-squared 0.709722 Mean dependent var 16.79283
Sum squared resid 92.87004 Durbin-Watson stat 0.194279
*) signifikan pada α = 5%
Uji Normalitas
Model Jarque-Bera Probabilitas
Nilai Ekspor Udang Indonesia 4.074598 0.130380
0
2
4
6
8
10
12
14
16
-2 -1 0 1 2
Series: Standardized Residuals
Sample 2001 2010
Observations 100
Mean 0.068768
Median 0.173669
Maximum 2.134345
Minimum -2.261876
Std. Dev. 1.001583
Skewness -0.370002
Kurtosis 2.344030
Jarque-Bera 4.074598
Probability 0.130380
KESIMPULAN
Peningkatan daya beli negara tujuan ekspor yang diwakili oleh GDP riil
negara tersebut akan mendorong naiknya nilai ekspor udang Indonesia
pada periode 2001-2010
1
Meningkatnya jarak ekonomi, populasi penduduk negara tujuan
ekspor, dan penerapan hambatan perdagangan non tarif SPS akan
menyebabkan penurunan nilai ekspor udang Indonesia ke negara
tujuan pada periode 2001-2010
2
Penerapan hambatan perdagangan non tarif SPS oleh Uni Eropa
terhadap ekspor udang dari Indonesia memiliki dampak yang negatif
terhadap nilai ekspor udang Indonesia ke Uni Eropa pada periode
2001-2010. Kebijakan perdagangan tersebut bersifat restriktif
terhadap aliran perdagangan bilateral komoditas yang bersangkutan.
Hal ini tidak sesuai dengan semangat perdagangan bebas yang
diusung oleh WTO
3
Membuat nota kesepahaman
dengan negara mitra dagang yang
mengatur tentang manajemen risiko
impor udang yang dilakukan oleh
negara tersebut
Mengajukan keberatan kepada DSB
WTO dengan menyertakan bukti-
bukti yang mendukung
Melakukan preshipment
inspection di pelabuhan-
pelabuhan yang menjadi tempat
pemberangkatan ekspor
SARAN
DAFTAR PUSTAKA
Alaeibakhsh S dan Ardakani Z. 2012. Quantifying the Trade Effects of SPS and TBT Agreements on
Export Pistachios from Iran. World Applied Sciences Journal 16 (5): 637-641.
Anwar N. 2009. Analisis Respon Produksi, Permintaan Domestik, dan Penawaran Ekspor Udang
Indonesia. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor.
Badan Riset Kelautan dan Perikanan. 2007. Potret dan Strategi Pengembangan Perikanan Tuna, Udang
dan Rumput Laut Indonesia. Jakarta: Badan Riset Kelautan dan Perikanan.
Baltagi BH. 2005. Econometric Analysis of Panel Data Third Edition. West Sussex, England: The John
Wiley and Sons, Ltd.
Beghin JC dan Bureau JC. 2001. Quantification of Sanitary, Phytosanitary, and Technical Barriers to
Trade for Trade Policy Analysis. Working Paper 01-WP 291 Center for Agricultural and Rural
Development Iowa State University, Ames.
Bermann GA dan Mavroidis PC. 2007. WTO Law and Developing Countries. Cambridge: Cambridge
University Press.
--------------------------------------------. 2006. Trade and Human Health and Safety. Cambridge: Cambridge
University Press.
Conrad CR. 2011.Processes and Production Methods (PPMs) in WTO Law: Interfacing Trade and
Social Goals. Cambridge: Cambridge University Press.
Epps T. 2008. International Trade And Health Protection: A Critical Assessment of the WTO’s SPS
Agreement. New York: Edward Elgar Publishing.
European Union. 2012. The History of European Union. http://europa.eu/about-eu/eu-
history/index_en.htm. [13 Maret 2012]
Eurostat. 2011. External and Intra-EU Trade: A Statistical Yearbook. Luxembourg: European Union.
Firdaus M. 2011. Aplikasi Ekonometrika untuk Data Panel dan Time Series. Bogor: IPB Press.
Food Association Organization. 2012. Cultured Aquatic Species Information Programme.
www.fao.org/fishery/culturedspecies/search/en. [3 April 2012].
Gebrehiwet Y, Ngqangweni S, dan Kirsten JF. 2007. Quantifying The Trade Effect of Sanitary and
Phytosanitary Regulations of OECD Countries on South African Food Exports. Agrekon 46 (1).
Globefish. 2012. European Union: Main Food Safety Regulations. http://www.globefish.org/european-
union.html. [13 Maret 2012].
Gudjarati DN. 2004. Basic Econometrics Fourth Edition. New York: McGraw Company Inc.
Hamdani A. 2006. Analisis Perdagangan Udang Indonesia di Pasar Eropa. [Skripsi]. Bogor: Fakultas
Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Hady H. 2001. Ekonomi Internasional: Teori dan Kebijakan Buku Kesatu. Jakarta: Ghalia.
Hoekman BM, Mattoo A, dan English P. (ed.). 2002. Development, Trade, and WTO. Wasington D.C.:
The World Bank.
Hoekman BM dan Kostecki MM. 2009. The Political Economy of the World Trading System: The WTO
and Beyond. Oxford: Oxford University Press.
Jackson JH. 2006. Sovereignty, the WTO, and Changing Fundamentals of International Law.
Cambridge: Cambridge University Press.
Jahncke ML, Garret ES, Reilly A, Martin RE, dan Cole E. 2002. Public, Animal, and Aquaculture Health
Issue. John Wiley and Sons Inc., New York.
Juanda B. 2009. Ekonometrika Pemodelan dan Pendugaan. Bogor: IPB Press.
Juarno O. 2012. Daya Saing dan Strategi Peningkatan Ekspor Udang Indonesia di Pasar Internasional.
[Disertasi]. Bogor: Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor.
Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. 2011. Statistik Ekspor Hasil Perikanan.
Jakarta: Pusat Data, Statistik, dan Informasi KKP RI.
Koo WW dan Kennedy PL. 2005. International Trade and Agriculture. Oxford: Blackwell Publishing.
Lord M, Oktaviani R, dan Ruehe E. 2010. Indonesia’s Trade Access to The European Union:
Opportunities amd Challanges. Brussels: European Communities.
-----------------------------------------------. 2010. Indonesia’s Trade Access to The European Union:
Opportunities amd Challanges Annexes. Brussels: European Communities.
Macrory, Patrick F. J. 2005. The World Trade Organization: Legal, Economic and Political Analysis.
New York: Springer.
Martha FL. 2011. Analisis Potensi Ekspor Crude Palm Oil (CPO) Indonesia ke Empat Negara Mitra
Dagang Utama dengan Pendekatan Gravity Model. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Ekonomi dan
Manajemen Institut Pertanian Bogor.
Moenius J. 2006. The Good, the Bad and the Ambigous: Standards and Trade in Agricultural Products.
Redlands: University of Redlands.
Murty B dan Kismono H. 1991. Perdagangan Udang Internasional. Jakarta: Penebar Swadaya.
Oktaviani R dan Novianti T. 2009. Teori Perdagangan Internasional dan Aplikasinya di Indonesia.
Bogor: Departemen Ilmu Ekonomi Institut Pertanian Bogor..
Panizzon M. 2006. Good Faith in the Jurisprudence of the WTO: The Protection of Legitimate
Expectations, Good Faith Interpretation and Fair Dispute Settlement. New York: Hart Publishing.
Painte RE. 2008. Analisis Pengaruh Hambatan Tarif dan Non Tarif di Pasar Uni Eropa terhadap Ekspor
Komoditas Udang di Indonesia. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut
Pertanian Bogor.
Pitaningrum D. 2005. Analisis Penawaran dan Permintaan Udang di Pasar Internasional. [Skripsi].
Bogor: Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Poncet S. 2006. Economic Integration of Yunnan with The Greater Mekong Subregion. Asian
Economic Journal 20 (3): 303-317.
Randall A. 2011. Risk and Precaution. Cambridge: Cambridge University Press.
Setiawati I. 2007. Analisis Dampak Penerapan Rules of Origin terhadap Perdagangan Intra ASEAN.
[Skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Smith F. 2009. Agriculture and the WTO: Towards a New Theory of International Agricultural Trade
Regulation. New York: Edward Elgar.
Thornsbury S. 1998. Technical Regulations as Barriers to Agricultural Trade. [Disertasi]. Blacksburg:
Faculty of Virginia Polytechnic Institute and State University.
United Nation Commodity Trade Statistics Database. Berbagai Terbitan. www.un.comtrade.org.
[Maret-April 2012].
van den Bossche P. 2005. The Law and Policy of the World Trade Organization: Text, Cases and
Materials. Cambridge: Cambridge University Press.
Wilson JS dan Otsuki T. 2001. Global Trade and Food Safety: Winners and Losers in a Fragmented
System. World Bank Policy Research Working Paper #2689. Washington, D.C.: The World Bank.
Wolfrum R, Stoll PT, Seibert-Fohr A. (ed.). 2007. WTO-Technical Barriers and SPS Measures. Leiden:
Brill.
World Bank. Berbagai Terbitan. www.worldbank.org. [Maret 2012].
Zander J. 2010. The Application of the Precautionary Principle in Practice: Comparative Dimensions.
Cambridge: Cambridge University Press.
Terima Kasih
Nilai Ekspor Perikananan Menurut Komoditi Utama Tahun 2006-2010 (1000 USD)
1115.963
1029.935
1165.293
1007.481
1056.399
250.567
304.348
347.189 352.3
383.23
449.812
568.42
734.392 723.523
898.039
134.825
179.189
214.319
156.993
208.424
152.305 177.028
238.49 225.904
317.738
2006 2007 2008 2009 2010
Tahun
Nilai(1000USD)
udang tuna, cakalang, tongkol ikan lainnya kepiting lainnya
Sumber: KKP, 2011
Nilai dan Volume Ekspor Perikanan Tahun 2001-2010
Tahun Nilai (1000 USD) Volume (ton)
2001 1,631,999 487,116
2002 1,570,353 565,739
2003 1,664,543 857,785
2004 1,664,010 907,970
2005 1,913,305 857,922
2006 2,103,472 926,477
2007 2,258,920 854,329
2008 2,699,683 911,676
2009 2,466,201 881,413
2010 2,863,830 1,103,575
Sumber: KKP, 2011
Volume Produksi Udang Budidaya Indonesia Tahun 2007-2011
Tahun Volume (kg)
2007 358,925,000
2008 409,590,000
2009 338,060,000
2010 380,972,000
2011* 414,014,000
0
10000000
20000000
30000000
40000000
2006 2007 2008 2009 2010
Volume (kg)
Volume Ekspor Udang Indonesia ke Uni Eropa Tahun 2006-2010
Volume Ekspor Udang ke Tiga Negara Tujuan Utama Tahun 2006-2010
30795.608
27414.688 26974.634
23729.246
19480.668
50238.522
36554.581 36343.765 37086.089 37851.012
60601.23
55518.921
72599.547
63729.563
58237.028
2006 2007 2008 2009 2010
Tahun
VolumeEkspor(kg)
EU-27 Jepang USA
Sumber: UN Comtrade, 2012 (diolah)
Dispute Settlement Body WTO dan Mekanisme Penyelesaian Sengketa
• Sengketa perdagangan yang terjadi antaranggota WTO diselesaikan melalui
Dispute Settlement Body (DSB)
• Reformasi dan legalisasi organisasi perdagangan internasional dari GATT
(General Agreement on Tariffs and Trade) ke WTO Convention yang menjamin
bahwa sengketa diselesaikan dengan atau tanpa persetujuan dari negara yang
diadukan (defendant) dan keputusan panel DSB bersifat koersif dan memiliki
kekuatan hukum yang mengikat (WTO, 2011).
Tahap Penyelesaian Sengketa Melalui DSB WTO
Tahap I
Tahap II
Tahap III
Tahap IV
Tahap V Tahap IV
•Legalisasi keputusan Panel oleh
DSB atau banding (appeal)
• Pengajuan banding dapat
dilakukan dlm periode 60-90 hari
setelah laporan resmi Panel
Tahap II
• Pembentukan Panel
• Periode waktu hingga 45 hari
Tahap III
• Panel melakukan pemeriksaan yang
terdiri dari (1) pemeriksaan fakta dan
argumen, (2) mengadakan pertemuan
dengan pihak ketiga, (3) interim review, (4)
membuat kesimpulan dan rekomendasi
keputusan, (5) memberikan laporan
pemeriksaan kepada DSB dan pihak yang
bersengketa
• Periode waktu hingga 6 bulan
Tahap I
• Konsultasi bilateral
• Periode waktu hingga 60 hari
Tahap V • Implementasi hasil keputusan Panel
Peringkat Mitra Dagang Nilai Perdagangan (juta €)
1 USA 444,799.0
{13.8}
2 China 428,351.9
{13.3}
3 Rusia 306,776.6
{9.5}
4 Swiss 212,876.9
6.6}
5 Norwegia 139,978.8
{4.4}
6 Turki 120,263.6
{3.7}
7 Jepang 116,419 .2
{3.6}
8 India 79,739.8
{2.5}
9 Brasil 73,504.6
{2.3}
10 Korea Selatan 68,517.8
{2.1}
Total Perdagangan Ekstra EU-27 3,216,756
{100}
Sumber: Eurostat, 2011
10 Mitra Dagang Utama EU-27 Tahun 2011

Ppt

  • 1.
    WTO Convention onSanitary and Phytosanitary (SPS) Agreement dalam Ekspor Udang Indonesia ke Uni Eropa Oleh: Shanty Nathalia Margaretha (H14080012) Di Bawah Bimbingan: Prof. Dr. Ir. Rina Oktaviani, M.S. DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2012
  • 2.
    OUTLINE PENDAHULUAN KERANGKA TEORETIS METODE PENELITIAN WTOCONVENTION ON SPS AGREEMENT DALAM PERDAGANGAN UDANG INDONESIA-UNI EROPA SPS DAN FAKTOR LAIN YANG MEMENGARUHI EKSPOR UDAN INDONESIA KE UNI EROPA PENUTUP
  • 3.
    Uni Eropa • Pasarpotensial • Ekspor hasil perikanan yang meningkat 8% per tahun (EC, 2010) • Kebijakan perdagangan yang kompleks • Penerapan hambatan non tarif SPS  sulit untuk dikuantifikasi Udang sebagai komoditas utama ekspor perikanan • Nilai ekspor udang Tahun 2006-2010 • Negara tujuan utama ekspor udang Latar Belakang Potensi perikanan Indonesia •Produksi 6.4 juta ton ikan per tahun (BRKP, 2007) • Tren nilai ekspor perikanan Tahun 2001-2010 klik
  • 4.
    Rumusan Masalah 1 Apakah penggunaanhambatan non tarif SPS dalam penolakan ekspor udang Indonesia oleh Uni Eropa didasarkan pada alasan- alasan dan ukuran-ukuran yang rasional dalam kerangka WTO Convention? 2 Bagaimana dampak penggunaan hambatan non tarif SPS terhadap aliran ekspor udang Indonesia ke Uni Eropa? 3 Langkah-langkah apa yang dapat ditempuh oleh Indonesia dalam kerangka WTO Convention untuk mengatasi masalah terhambatnya ekspor udang ke Uni Eropa sebagai akibat penggunaan hambatan non tarif SPS?
  • 5.
    Menganalisis hambatan non tarifSPS yang diterapkan oleh Uni Eropa terhadap ekspor udang Indonesia dan kesesuaian penerapan hambatan tersebut dengan WTO Convention on SPS Agreement. Menganalisis dampak yang diterima Indonesia sebagai akibat pemberlakuan hambatan perdagangan non tarif SPS oleh Uni Eropa terhadap komoditas ekspor udang Indonesia dan bagaimana pengaruhya terhadap aliran ekspor komoditas udang Indonesia selama periode 2001-2010. Tujuan Penelitian
  • 6.
    Ruang Lingkup Penelitian 4 Periodeanalisis: Tahun 2001-20101 2 3 5 Komoditas: HS 030613, HS 030623, HS 160520 Variabel Bebas: GDP riil Indonesia, GDP riil negara tujuan ekspor, populasi negara tujuan ekspor, jarak ekonomi riil, variabel SPS Negara tujuan ekspor: 8 anggota EU-27, AS, dan Jepang Model yang digunakan: PLS
  • 7.
    Komoditas Udang dalamPerdagangan Internasional (Murty, 1991) −Spesies udang laut dingin: berasal dari dan hidup di lautan daerah dingin. −Spesies udang laut tropika: berasal dari dan hidup pada perairan pantai tropika. Ukuran spesies kelompok ini relatif lebih besar. −Spesies udang air tawar: umumnya hidup pada danau atau sungai di daerah tropika dan ukurannya dapat besar sekali. Biasa dikenal dengan nama giant river prawn. KERANGKA TEORETIS • Udang tropis yang dimiliki Indonesia: udang jerbung (Penaeus merguiensis), udang kelong (Penaeus indicus), udang raja (Penaeus latiscucatus), udang bago (Penaeus semisculatus), dan udang windu (Penaeus monodon) • Udang yang diperdagangkan di pasar Uni Eropa: pink shrimp (Pandalus borealis), pacific white (Penaeus vannamei), udang windu (Penaeus monodon), chinese white (Penaeus chinensis) dan gulf (Penaeus aztecus) (Perutusan Republik Indonesia untuk Masyarakat Eropa, 2001
  • 8.
    Spesies Udang TropisIndonesia Sumber: FAO, 2012 udang bago (Penaeus semisculatus) udang windu (Penaeus monodon) udang kelong (Penaeus indicus) udang raja (Penaeus latiscucatus)udang jerbung (Penaeus merguiensis)
  • 9.
    Teori Hambatan PerdaganganNon Tarif • Hambatan perdagangan non tarif (Non Tariff Barriers/NTBs) adalah hambatan di luar tarif (custom duties) yang mendistorsi perdagangan (Hillman, 1991 dalam Beghin dan Bureau, 2001) • Hambatan perdagangan non tarif termasuk standar identitas asal komoditas, kualitas, SPS, dan pengemasan (Thornsbury, 1999) . • Hambatan non tarif adalah serangkaian regulasi termasuk instrumen kebijakan yang dapat menimbulkan efek proteksi terhadap komoditas domestik (Roberts dan Thornsbury, 1998) .
  • 10.
    WTO Convention onSPS Agreement • Bentuk khusus dari hambatan perdagangan non tarif Technical Barriers to Trade (TBTs) • Tujuan penerapan SPS (van den Bossche, 2008): − Melindungi kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan dari risiko yang mungkin ditimbulkan oleh makanan; − Melindungi kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan dari risiko yang mungkin ditimbulkan oleh hama atau penyakit; atau − Mencegah dan/atau membatasi risiko kerusakan lainnya yang mungkin ditimbulkan oleh hama. • Prinsip penggunaan SPS: Article 2 dan 3 SPS Agreement  tindakan untuk melindungi kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan serta didukung dengan bukti-bukti ilmiah • Risk Analysis: risk assessment dan risk management
  • 11.
    Kerangka Pemikiran Saran danrekomendasi Langkah yang dapat ditempuh oleh Indonesia dalam kerangka WTO Convention Dampak penerapan hambatan non tarif SPS terhadap udang Indonesia Penggunaan hambatan non tarif SPS oleh Uni Eropa terhadap ekspor udang Indonesia Gravity ModelAnalisis Deskriptif WTO Convention on SPS Agreement
  • 12.
    METODE PENELITIAN  SpesifikasiModel •Analisis kuantitatif dan kualitatif •Sumber data:UN Comtrade, World Bank, Eurostat, BPS, Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, studi kepustakaan literatur terkait. •Periode data analisis: 2001-2010 ln EXijt =β0+β1 ln GDPit+β2 ln GDPjt+β3 ln POPjt+β4 ln DISTijt+β5 SPS + µij Keterangan: i = negara tujuan ekspor udang Indonesia, yang terdiri atas Belgia, Inggris, Jerman, Prancis, Italia, Belanda, Spanyol, dan Denmark, Amerika Serikat dan Jepang; t = tahun EXij = nilai ekspor udang Indonesia ke negara j pada tahun t GDPit = GDP riil Indonesia pada tahun t GDPjt = GDP riil negara j pada tahun t POPjt = populasi penduduk negara j pada tahun t DISTijt = jarak ekonomi riil antara negara i (Indonesia) dengan negara j SPSt = hambatan non tarif SPS, dimana SPS = 0 untuk negara non Uni Eropa dan SPS = 1 untuk negara Uni Eropa.
  • 13.
    WTO CONVENTION ONSPS AGREEMENT DALAM PERDAGANGAN UDANG INDONESIA-UNI EROPA Perdagangan batu bara dan baja Pasca PD II EEC 1957 European Single Market 1986 Uni Eropa 1992 Sejarah Singkat Uni Eropa
  • 14.
    Negara Anggota EU-27 TahunBergabung Negara Anggota Tahun Bergabung Negara Anggota 1952 Belgia 1995 Swedia 1952 Prancis 2004 Siprus 1952 Jerman 2004 Republik Ceko 1952 Italia 2004 Estonia 1952 Luxemburg 2004 Hongaria 1952 Belanda 2004 Latvia 1973 Irlandia 2004 Lithuania 1973 Denmark 2004 Malta 1973 Inggris 2004 Polandia 1981 Yunani 2004 Slovakia 1986 Spanyol 2004 Slovenia 1986 Portugal 2007 Bulgaria 1995 Austria 2007 Rumania 1995 Finlandia Sumber: European Union, 2012
  • 15.
    Uni Eropa dlmPerdagangan Internasional • Jumlah populasi hingga 500 juta jiwa, dengan pendapatan per kapita 32,300 USD pada Tahun 2010 (World Bank, 2011) • Nilai ekspor € 1,349.2 juta Tahun 2010  16% dari total nilai ekspor dunia • Nilai impor € 1,509.1 juta Tahun 2010  17.3 % dari total nilai impor dunia
  • 16.
    Posisi Uni Eropadalam Perdagangan Internasional Tahun 2010 0 400 800 1,200 1,600 EU-27 USA China Japan Kanada Swiss Norwegia (1000juta€) Ekspor Impor Sumber: Eurostat, 2012
  • 17.
    Komoditas Ekspor danImpor EU-27 Tahun 2010 42.4 23.0 17.5 5.7 5.6 2.8 29.5 25.4 24.0 9.1 5.4 4.7 0.0 20.0 40.0 60.0 80.0 Mesin & alat transportasi Barang-barang manufaktur Bahan kimia & sejenisnya Makanan, minuman & tembakau Bahan mineral, pelumas & produk sejenis Bahan mentah (%) ekspor impor Sumber: Eurostat, 2011
  • 18.
    Nilai Ekspor danImpor Indonesia dengan EU-27 Tahun Nilai Ekspor (juta €) Nilai Impor (juta €) 2001 8,678 {4.5} 4,521 {10.9} 2002 8,378 {4.6} 4,094 {10.3} 2003 7,046 {4.2} 3,143 {9.7} 2004 7,265 {4.8} 4,280 {10.3} 2005 8,262 4.8} 4,684 {10.8} 2006 9,510 {5.0} 4,785 {12.2} 2007 9,764 {5.4} 5,608 {12.8} 2008 10,526 {6.0} 7,183 {13.6} 2009 9,744 {5.3} 6,224 {11.7} 2010 12,941 {6.4} 7,440 {13.9} Sumber: Eurostat, 2011
  • 19.
    Ekspor dan ImporEU-27 ke dan dari Indonesia Tahun 2011 5,596 1,844 1,682 1,744 1,712 3,576 781 308 1,115 3,621 143 1,381 -4,815 -1,536 -566 1,878 -1,569 -2,195 -6,000 -4,000 -2,000 0 2,000 4,000 6,000 8,000 Agri. Prod. (Food (incl. Fish) & Raw Materials) Fuels and mining products Chemicals Machinery and transport equipment Textiles & Clothing Other Products (millions€) Imports Exports Balance Sumber: Eurostat, 2011
  • 20.
    Volume Ekspor danImpor Udang Dunia Tahun 2000-2011 0 50000000 1E+09 1.5E+09 2E+09 2.5E+09 3E+09 3.5E+09 4E+09 4.5E+09 5E+09 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Volume(kg) Tahun Ekspor Impor Sumber: UN Comtrade, 2012 (diolah)
  • 21.
    Nilai Ekspor danImpor Udang Dunia Tahun 2000-2011 Sumber: UN Comtrade, 2012 (diolah) 0 5E+09 1E+10 1.5E+10 2E+10 2.5E+10 3E+10 3.5E+10 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Nilai(USD) Tahun Ekspor Impor
  • 22.
    Break Down NilaiEkspor Produk Udang di Pasar Internasional Tahun 2011 HS 030613 HS 030623 HS 160520 31% Udang Olahan 65% Udang Beku 4% Udang Tidak Beku Sumber: UN Comtrade, 2012 (diolah)
  • 23.
    Importir dan EksportirUtama Udang Beku Tahun 2009- 2011 47% 26% 12% 9% 6% Importir USA Jepang Spanyol Prancis Italia 30% 21%17% 17% 15% Eksportir Thailand Vietnam Ekuador Indonesia China Sumber: UN Comtrade, 2012
  • 24.
    Importir dan EksportirUtama Udang Tidak Beku Tahun 2009-2011 Sumber: UN Comtrade, 2012 25% 22% 22% 17% 14% Importir Belanda Belgia Singapura Prancis 32% 26% 15% 14% 13% Eksportir Belanda China Malaysia Thailand Jerman
  • 25.
    Importir dan EksportirUtama Udang Olahan Tahun 2009-2011 Sumber: UN Comtrade, 2012 44% 25% 13% 10% 8% Importir USA Jepang Inggris Jerman Denmark 47% 29% 9% 8% 7% Eksportir Thailand China Vietnam Indonesia Denmark
  • 26.
    Ringkasan Importir utama udangdi dunia: • AS • Jepang • beberapa negara Eropa (Prancis, Spanyol, Inggris, Belgia, Italia) Eksportir utama udang di dunia: • Thailand • Ekuador • Vietnam • China, • Indonesia
  • 27.
    Perkembangan Nilai danVolume Ekspor Udang Indonesia ke Dunia Tahun 2000-2011 0 20000000 40000000 60000000 80000000 1E+09 1.2E+09 1.4E+09 1.6E+09 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 NILAI (USD) VOLUME (KG) Sumber: UN Comtrade, 2012
  • 28.
    42 28 14 16 14% Lainnya 42% USA 28% Jepang Pangsa Pasar TujuanEkspor Utama Udang Indonesia Tahun 2010 Sumber: UN Comtrade, 2012 (diolah) 16% Uni Eropa
  • 29.
    Importir Utama Udangbagi EU-27 Tahun 2011 17% 13% 11% 10% 10% 9% 7% 6% 6% 5% 3%3% LAINNYA ECUADOR GREENLAND ARGENTINA THAILAND INDIA VIETNAM CHINA BANGLADESH CANADA INDONESIA Sumber: UN Comtrade, 2012 (diolah)
  • 30.
    Kontribusi Ekspor UdangIndonesia terhadap Total Impor Udang Uni Eropa Tahun 2004-2011 Tahun Nilai (USD) Volume (kg) 2004 183,111,780 {6.25} 31,014,903 {6.13} 2005 182,173,113 {5.80} 26,563,819 {4,90} 2006 187,416,370 {5.12} 26,233,591 {4.36} 2007 190,920,203 {5.02} 26,117,165 {4.23} 2008 219,696,702 {5.36} 28,392,658 {4.76} 2009 192,100,117 {5.15} 24,963,612 {4.13} 2010 176,788,901 {4.28} 21,643,012 {3.52} 2011 164,499,530 {3.55} 17,323,323 {2.84} Sumber: UN Comtrade, 2012 (diolah)
  • 31.
    World Trade Organization(WTO) • Berdiri pada 1 Januari 1995 menggantikan GATT • Organisasi resmi yang mengatur perdagangan internasional • Annex I: Annex IA (GATT 1994), Annex IB (GATS), Annex IC (TRIPS) •Annex II: Dispute Settlement Understanding • Annex III: TRPM • Annex IV: Plurilateral Trade Agreements Fungsi (Hoekman dan Kostrecki, 2009): • memfasilitasi kesepakatan perdagangan multilateral • menyediakan sebuah forum untuk melakukan negosiasi, menyelesaikan sengketa perdagangan yang terjadi • memantau kebijakan perdagangan yang diterapkan oleh negara- negara anggotanya, serta bekerja sama dengan IMF dan World Bank untuk mencapai koherensi kebijakan ekonomi global
  • 32.
    Dispute Settlement System •Menyelesaikan sengketa yang terjadi dalam kesepakatan perdagangan multilateral negara anggota, yang tercakup dalam perdagangan barang, jasa, dan hak kekayaan intelektual; • Menyelesaikan sengketa yang terjadi antarnegara anggota dalam hal hak dan kewajiban negara anggota WTO di bawah DSU. • Perangkat penerapan hukum WTO melalui DSB • Memiliki keistemewaan dalam jurisdiksi yang ekslusif, mencakup aspek regulasi ekonomi yang mengatur anggotanya dan memengaruhi perdagangan dunia (Jackson, 2008) • Keputusan yang dihasilkan bersifat mengikat secara hukum dan koersif
  • 33.
    Distribusi Klaim Legalke DSB Tahun 1996-2008 Provision/Agreement Jumlah Klaim Antidumping 615 Agreement on Textiles and Clothing 13 Agreement on Agriculture 46 DSU 3.7 (Determination of a dispute) 16 GATS 30 Tarrif bindings (GATT:II) 23 National Treatment (GATT:III) 88 Antidumping (GATT:VI) 69 Transparansi (GATT:X) 46 Restriksi kuantitatif (GATT:XI) 19 Nondiscriminatory use of quantitative restrictions (GATT:XX) 10 Emergency protection (GATT:XIX) 69 Pengecualian (GATT:XX 25 Subsidi dan counterrvailing 269 Safeguard 580 SPS 285 TBT 14 TRIPS 61 Conformity of laws (WTO:XIV, 4) 30 Sumber: Hoekman dan Kostrecki, 2009
  • 34.
    Regulation (EC) No.178/2002 •Prinsip Utama dan Persyaratan Hukum Pangan, Pembentukan Otoritas Keamanan Pangan Uni Eropa, dan Penetapan Prosedur yang Terkait dengan Keamanan Pangan • Rapid Alert System for Food and Feed (RASFF), otoritas resmi yang mengontrol keamanan pangan, ketentuan produk pangan yang diimpor, analisis risiko, dan precautionary principle • Hasil inspeksi Uni Eropa: fasilitas laboratorium tidak memadai, ditemukan residu (chloramphenicol, nitrofurans, dan tetracyclines) • Oleh karena itu, perlu dilakukan tindakan terhadap kontainer ekspor perikanan dari Indonesia yang ditujukan untuk konsumsi manusia Commission Decision No.220/2010
  • 35.
    • 20% darisetiap muatan ekspor perikanan yang berasal dari Indonesia digunakan sebagasi sampel untuk melalui pengujian residu-residu farmakologi aktif yang berbahaya di Pos Inspeksi Perbatasan (Border Inspection Post) teritori negara anggota EU-27, dengan metode sampling yang sudah ditetapkan. • Sampel pada poin (a) harus diuji untuk melihat apakah ada substansi-substansi berbahaya, sebagaimana diatur dalam Article 2(a) Regulation (EC) No.470/2009. • Muatan ekspor akan berada dalam pengawasan otoritas resmi terkait hingga proses sampling selesai dilakukan. Muatan eskpor tersebut dapat dilepas ke pasar apabila hasil sampling sesuai dengan kriteria yang diatur dalam Regulation (EC) No.470/2009. • Negara anggota EU-27 diwajibkan melapor kepada European Commission apabila kehadiran substansi-substansi berbahaya yang dimaksud dalam sampel melebihi batas minimum yang diperbolehkan oleh Article 14(2)(a), (b), atau (c) Regulation (EC) No.470/2009. • Hasil sampling tersebut harus dikirimkan kepada European Commission via RASFF, sebagaimana diatur dalam Regulation No.178/2002. • Sampling untuk setiap ekspor produk perikanan dari Indonesia yang diperuntukkan bagi konsumsi manusia harus dilakukan setiap tiga bulan sekali oleh negara anggota EU-27. • Biaya untuk melakukan sampling dikeluarkan oleh eksportir produk perikanan dari Indonesia.
  • 36.
    Regulasi Tentang KeamananPangan di Uni Eropa No. Regulasi Keterangan 1 Regulation (EC) No.3760/1992 Kebijakan perikanan umum (common fisheries policy) 2 Regulation (EC) No.852/2004 Higiene bahan pangan 3 Regulation (EC) No.853/2004 Peraturan higiene yang spesifik untuk makanan yang berasal dari hewan 4 Regulation (EC) No.854/2004 Organisasi yang mengontrol produk yang diperuntukkaan bagi konsumsi manusia dan berasal dari hewan 5 Commission Regulation (EC) No 2073/2005 Kriteria mikrobiologis untuk bahan pangan 6 Commission Regulation (EC) No 333/2007 Metode sampling dan analisis untuk mengontrol tingkat kandungan timbal, kadmium, merkuri, timah anorganik, 3-MCPD dan benzo(a)pyrene dalam bahan pangan 7 Regulation (EC) No 178/2002 Prinsip utama dan persyaratan hukum pangan, pembentukan otoritas keamanan pangan Uni Eropa, dan penetapan prosedur yang terkait dengan keamanan pangan Sumber: FAO Globefish, 2012
  • 37.
    Kebijakan Pemerintah IndonesiaTerkait Peningkatan Mutu Udang • Permen KP No.PER.01/MEN.2007 tentang Pengendalian Sistem Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan • Permen KP.No.PER.02/MEN/2007 tentang Monitoring Residu Obat, Bahan Kimia, Bahan Biologi, dan Kontaminan pada Pembudidayaan Ikan • Keputusan Menteri KP No.Kep.01/ME/2007 tentang Persyaratan Jaminan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan pada Proses Produksi, Pengolahan, dan Distribusi • Keputusan Menteri KP No.02/MEN/2007 tentang Cara Budidaya Ikan yang Baik • Keputusan Dirjen Perikanan Budidaya No.06/DPB/HK.150.154/S4/VII/2007 tentang Pedoman Pelaksanaan Monitoring Residu Obat, Bahan Kimia, Bahan Biologi, dan Kontaminan pada Pembudidayaan Ikan • Keputusan Dirjen Perikanan Budidaya Perikanan No.44/DJ-PB/2008 tentang Petunjuk Pelaksaan Sertifikasi Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB). CBIB merupakan salah satu persyaratan kelayakan dasar pada sistem jaminan mutu proses pembudidayaan ikan.
  • 38.
    Kebijakan Antisipatif PemerintahIndonesia dlm Menghadapi Hambatan Perdagangan Uni Eropa bagi Komoditas Perikanan Hambatan Perdagangan Kebijakan Antisipatif Pemerintah Residu chloramphenicol Penerapan HACCP Embargo udang Kebijakan pemilihan produk Isu lingkungan dan pelabelan Pelabelan organik Penetrasi pasar Perjanjian pengakuan mutu Embargo kerang-kerangan Program sanitasi Tarif bea masuk Fasilitas GSP Sanksi sementara Program pengendalian residu hormon antibiotik Sumber: Aisyah, et.al dalam Juarno, 2012
  • 39.
    SPS DAN FAKTORLAIN YANG MEMENGARUHI EKSPOR UDANG INDONESIA KE UNI EROPA Variabel Koefisien Std. Error t-Statistik Prob. LN_GDPINDT -0.033698 0.058348 -0.577530 0.5650 LN_GDPJT 2.827455* 0.146215 19.33763 0.0000 LN_POPJT -2.701478* 0.155241 -17.40187 0.0000 LN_JE -0.280252* 0.057053 -4.912148 0.0000 SPS -1.242078* 0.104047 -11.93771 0.0000 C -8.930306* 1.693963 -5.271841 0.0000 Weighted Statistics R-squared 0.999458 Mean dependent var 182.6627 Adjusted R-squared 0.999429 S.D. dependent var 298.4107 S.E. of regression 1.030320 Sum squared resid 99.78660 F-statistic 34648.49 Durbin-Watson stat 1.982355 Prob(F-statistic) 0.000000 Unweighted Statistics R-squared 0.709722 Mean dependent var 16.79283 Sum squared resid 92.87004 Durbin-Watson stat 0.194279 *) signifikan pada α = 5%
  • 40.
    Uji Normalitas Model Jarque-BeraProbabilitas Nilai Ekspor Udang Indonesia 4.074598 0.130380 0 2 4 6 8 10 12 14 16 -2 -1 0 1 2 Series: Standardized Residuals Sample 2001 2010 Observations 100 Mean 0.068768 Median 0.173669 Maximum 2.134345 Minimum -2.261876 Std. Dev. 1.001583 Skewness -0.370002 Kurtosis 2.344030 Jarque-Bera 4.074598 Probability 0.130380
  • 41.
    KESIMPULAN Peningkatan daya belinegara tujuan ekspor yang diwakili oleh GDP riil negara tersebut akan mendorong naiknya nilai ekspor udang Indonesia pada periode 2001-2010 1 Meningkatnya jarak ekonomi, populasi penduduk negara tujuan ekspor, dan penerapan hambatan perdagangan non tarif SPS akan menyebabkan penurunan nilai ekspor udang Indonesia ke negara tujuan pada periode 2001-2010 2 Penerapan hambatan perdagangan non tarif SPS oleh Uni Eropa terhadap ekspor udang dari Indonesia memiliki dampak yang negatif terhadap nilai ekspor udang Indonesia ke Uni Eropa pada periode 2001-2010. Kebijakan perdagangan tersebut bersifat restriktif terhadap aliran perdagangan bilateral komoditas yang bersangkutan. Hal ini tidak sesuai dengan semangat perdagangan bebas yang diusung oleh WTO 3
  • 42.
    Membuat nota kesepahaman dengannegara mitra dagang yang mengatur tentang manajemen risiko impor udang yang dilakukan oleh negara tersebut Mengajukan keberatan kepada DSB WTO dengan menyertakan bukti- bukti yang mendukung Melakukan preshipment inspection di pelabuhan- pelabuhan yang menjadi tempat pemberangkatan ekspor SARAN
  • 43.
    DAFTAR PUSTAKA Alaeibakhsh Sdan Ardakani Z. 2012. Quantifying the Trade Effects of SPS and TBT Agreements on Export Pistachios from Iran. World Applied Sciences Journal 16 (5): 637-641. Anwar N. 2009. Analisis Respon Produksi, Permintaan Domestik, dan Penawaran Ekspor Udang Indonesia. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor. Badan Riset Kelautan dan Perikanan. 2007. Potret dan Strategi Pengembangan Perikanan Tuna, Udang dan Rumput Laut Indonesia. Jakarta: Badan Riset Kelautan dan Perikanan. Baltagi BH. 2005. Econometric Analysis of Panel Data Third Edition. West Sussex, England: The John Wiley and Sons, Ltd. Beghin JC dan Bureau JC. 2001. Quantification of Sanitary, Phytosanitary, and Technical Barriers to Trade for Trade Policy Analysis. Working Paper 01-WP 291 Center for Agricultural and Rural Development Iowa State University, Ames. Bermann GA dan Mavroidis PC. 2007. WTO Law and Developing Countries. Cambridge: Cambridge University Press. --------------------------------------------. 2006. Trade and Human Health and Safety. Cambridge: Cambridge University Press. Conrad CR. 2011.Processes and Production Methods (PPMs) in WTO Law: Interfacing Trade and Social Goals. Cambridge: Cambridge University Press. Epps T. 2008. International Trade And Health Protection: A Critical Assessment of the WTO’s SPS Agreement. New York: Edward Elgar Publishing. European Union. 2012. The History of European Union. http://europa.eu/about-eu/eu- history/index_en.htm. [13 Maret 2012]
  • 44.
    Eurostat. 2011. Externaland Intra-EU Trade: A Statistical Yearbook. Luxembourg: European Union. Firdaus M. 2011. Aplikasi Ekonometrika untuk Data Panel dan Time Series. Bogor: IPB Press. Food Association Organization. 2012. Cultured Aquatic Species Information Programme. www.fao.org/fishery/culturedspecies/search/en. [3 April 2012]. Gebrehiwet Y, Ngqangweni S, dan Kirsten JF. 2007. Quantifying The Trade Effect of Sanitary and Phytosanitary Regulations of OECD Countries on South African Food Exports. Agrekon 46 (1). Globefish. 2012. European Union: Main Food Safety Regulations. http://www.globefish.org/european- union.html. [13 Maret 2012]. Gudjarati DN. 2004. Basic Econometrics Fourth Edition. New York: McGraw Company Inc. Hamdani A. 2006. Analisis Perdagangan Udang Indonesia di Pasar Eropa. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Hady H. 2001. Ekonomi Internasional: Teori dan Kebijakan Buku Kesatu. Jakarta: Ghalia. Hoekman BM, Mattoo A, dan English P. (ed.). 2002. Development, Trade, and WTO. Wasington D.C.: The World Bank. Hoekman BM dan Kostecki MM. 2009. The Political Economy of the World Trading System: The WTO and Beyond. Oxford: Oxford University Press. Jackson JH. 2006. Sovereignty, the WTO, and Changing Fundamentals of International Law. Cambridge: Cambridge University Press. Jahncke ML, Garret ES, Reilly A, Martin RE, dan Cole E. 2002. Public, Animal, and Aquaculture Health Issue. John Wiley and Sons Inc., New York. Juanda B. 2009. Ekonometrika Pemodelan dan Pendugaan. Bogor: IPB Press.
  • 45.
    Juarno O. 2012.Daya Saing dan Strategi Peningkatan Ekspor Udang Indonesia di Pasar Internasional. [Disertasi]. Bogor: Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor. Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. 2011. Statistik Ekspor Hasil Perikanan. Jakarta: Pusat Data, Statistik, dan Informasi KKP RI. Koo WW dan Kennedy PL. 2005. International Trade and Agriculture. Oxford: Blackwell Publishing. Lord M, Oktaviani R, dan Ruehe E. 2010. Indonesia’s Trade Access to The European Union: Opportunities amd Challanges. Brussels: European Communities. -----------------------------------------------. 2010. Indonesia’s Trade Access to The European Union: Opportunities amd Challanges Annexes. Brussels: European Communities. Macrory, Patrick F. J. 2005. The World Trade Organization: Legal, Economic and Political Analysis. New York: Springer. Martha FL. 2011. Analisis Potensi Ekspor Crude Palm Oil (CPO) Indonesia ke Empat Negara Mitra Dagang Utama dengan Pendekatan Gravity Model. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor. Moenius J. 2006. The Good, the Bad and the Ambigous: Standards and Trade in Agricultural Products. Redlands: University of Redlands. Murty B dan Kismono H. 1991. Perdagangan Udang Internasional. Jakarta: Penebar Swadaya. Oktaviani R dan Novianti T. 2009. Teori Perdagangan Internasional dan Aplikasinya di Indonesia. Bogor: Departemen Ilmu Ekonomi Institut Pertanian Bogor.. Panizzon M. 2006. Good Faith in the Jurisprudence of the WTO: The Protection of Legitimate Expectations, Good Faith Interpretation and Fair Dispute Settlement. New York: Hart Publishing. Painte RE. 2008. Analisis Pengaruh Hambatan Tarif dan Non Tarif di Pasar Uni Eropa terhadap Ekspor Komoditas Udang di Indonesia. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor.
  • 46.
    Pitaningrum D. 2005.Analisis Penawaran dan Permintaan Udang di Pasar Internasional. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Poncet S. 2006. Economic Integration of Yunnan with The Greater Mekong Subregion. Asian Economic Journal 20 (3): 303-317. Randall A. 2011. Risk and Precaution. Cambridge: Cambridge University Press. Setiawati I. 2007. Analisis Dampak Penerapan Rules of Origin terhadap Perdagangan Intra ASEAN. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Smith F. 2009. Agriculture and the WTO: Towards a New Theory of International Agricultural Trade Regulation. New York: Edward Elgar. Thornsbury S. 1998. Technical Regulations as Barriers to Agricultural Trade. [Disertasi]. Blacksburg: Faculty of Virginia Polytechnic Institute and State University. United Nation Commodity Trade Statistics Database. Berbagai Terbitan. www.un.comtrade.org. [Maret-April 2012]. van den Bossche P. 2005. The Law and Policy of the World Trade Organization: Text, Cases and Materials. Cambridge: Cambridge University Press. Wilson JS dan Otsuki T. 2001. Global Trade and Food Safety: Winners and Losers in a Fragmented System. World Bank Policy Research Working Paper #2689. Washington, D.C.: The World Bank. Wolfrum R, Stoll PT, Seibert-Fohr A. (ed.). 2007. WTO-Technical Barriers and SPS Measures. Leiden: Brill. World Bank. Berbagai Terbitan. www.worldbank.org. [Maret 2012]. Zander J. 2010. The Application of the Precautionary Principle in Practice: Comparative Dimensions. Cambridge: Cambridge University Press.
  • 47.
  • 48.
    Nilai Ekspor PerikanananMenurut Komoditi Utama Tahun 2006-2010 (1000 USD) 1115.963 1029.935 1165.293 1007.481 1056.399 250.567 304.348 347.189 352.3 383.23 449.812 568.42 734.392 723.523 898.039 134.825 179.189 214.319 156.993 208.424 152.305 177.028 238.49 225.904 317.738 2006 2007 2008 2009 2010 Tahun Nilai(1000USD) udang tuna, cakalang, tongkol ikan lainnya kepiting lainnya Sumber: KKP, 2011
  • 49.
    Nilai dan VolumeEkspor Perikanan Tahun 2001-2010 Tahun Nilai (1000 USD) Volume (ton) 2001 1,631,999 487,116 2002 1,570,353 565,739 2003 1,664,543 857,785 2004 1,664,010 907,970 2005 1,913,305 857,922 2006 2,103,472 926,477 2007 2,258,920 854,329 2008 2,699,683 911,676 2009 2,466,201 881,413 2010 2,863,830 1,103,575 Sumber: KKP, 2011
  • 50.
    Volume Produksi UdangBudidaya Indonesia Tahun 2007-2011 Tahun Volume (kg) 2007 358,925,000 2008 409,590,000 2009 338,060,000 2010 380,972,000 2011* 414,014,000 0 10000000 20000000 30000000 40000000 2006 2007 2008 2009 2010 Volume (kg) Volume Ekspor Udang Indonesia ke Uni Eropa Tahun 2006-2010
  • 51.
    Volume Ekspor Udangke Tiga Negara Tujuan Utama Tahun 2006-2010 30795.608 27414.688 26974.634 23729.246 19480.668 50238.522 36554.581 36343.765 37086.089 37851.012 60601.23 55518.921 72599.547 63729.563 58237.028 2006 2007 2008 2009 2010 Tahun VolumeEkspor(kg) EU-27 Jepang USA Sumber: UN Comtrade, 2012 (diolah)
  • 52.
    Dispute Settlement BodyWTO dan Mekanisme Penyelesaian Sengketa • Sengketa perdagangan yang terjadi antaranggota WTO diselesaikan melalui Dispute Settlement Body (DSB) • Reformasi dan legalisasi organisasi perdagangan internasional dari GATT (General Agreement on Tariffs and Trade) ke WTO Convention yang menjamin bahwa sengketa diselesaikan dengan atau tanpa persetujuan dari negara yang diadukan (defendant) dan keputusan panel DSB bersifat koersif dan memiliki kekuatan hukum yang mengikat (WTO, 2011).
  • 53.
    Tahap Penyelesaian SengketaMelalui DSB WTO Tahap I Tahap II Tahap III Tahap IV Tahap V Tahap IV •Legalisasi keputusan Panel oleh DSB atau banding (appeal) • Pengajuan banding dapat dilakukan dlm periode 60-90 hari setelah laporan resmi Panel Tahap II • Pembentukan Panel • Periode waktu hingga 45 hari Tahap III • Panel melakukan pemeriksaan yang terdiri dari (1) pemeriksaan fakta dan argumen, (2) mengadakan pertemuan dengan pihak ketiga, (3) interim review, (4) membuat kesimpulan dan rekomendasi keputusan, (5) memberikan laporan pemeriksaan kepada DSB dan pihak yang bersengketa • Periode waktu hingga 6 bulan Tahap I • Konsultasi bilateral • Periode waktu hingga 60 hari Tahap V • Implementasi hasil keputusan Panel
  • 54.
    Peringkat Mitra DagangNilai Perdagangan (juta €) 1 USA 444,799.0 {13.8} 2 China 428,351.9 {13.3} 3 Rusia 306,776.6 {9.5} 4 Swiss 212,876.9 6.6} 5 Norwegia 139,978.8 {4.4} 6 Turki 120,263.6 {3.7} 7 Jepang 116,419 .2 {3.6} 8 India 79,739.8 {2.5} 9 Brasil 73,504.6 {2.3} 10 Korea Selatan 68,517.8 {2.1} Total Perdagangan Ekstra EU-27 3,216,756 {100} Sumber: Eurostat, 2011 10 Mitra Dagang Utama EU-27 Tahun 2011