Penerapan PP 51/2009
dan PMK 889/2011
1
2/18/2012 2
AMANAH PASAL 108
UU No. 36/ 2009
TENTANG KESEHATAN
PP No. 51 / 2009
Tentang Pekerjaan Kefarmasian
PMK No. 889 / 2011
3 Mei 2011
Tentang Tenaga Kefarmasian
(1) Praktik kefarmasiaan yang meliputi
pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan,
pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian obat, pelayanan obat atas resep
dokter, pelayanan informasi obat serta pengembangan obat, bahan obat dan obat
tradisional harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan
kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Ketentuan mengenai pelaksanaan praktik kefarmasian sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.
2/18/2012 3
PP No. 51 / 2009
Tentang Pekerjaan Kefarmasian
Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
1. Pekerjaan Kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu Sediaan
Farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian atau
penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan
informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional.
2. Sediaan Farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetika.
3. Tenaga Kefarmasian adalah tenaga yang melakukan Pekerjaan Kefarmasian, yang
terdiri atas Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian.
4. Pelayanan Kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab
kepada pasien yang berkaitan dengan Sediaan Farmasi dengan maksud mencapai
hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien.
2/18/2012 4
22. Surat Izin Praktik Apoteker selanjutnya disingkat SIPA adalah surat izin yang
diberikan kepada Apoteker untuk dapat melaksanakan Pekerjaan Kefarmasian
pada Apotek atau Instalasi Farmasi Rumah Sakit
25. Rahasia Kefarmasian adalah Pekerjaan Kefarmasian yang menyangkut proses
produksi, proses penyaluran dan proses pelayanan dari Sediaan Farmasi yang
tidak boleh diketahui oleh umum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.
11. Fasilitas Pelayanan Kefarmasian adalah sarana yang digunakan untuk
menyelenggarakan pelayanan kefarmasian, yaitu apotek, instalasi farmasi rumah
sakit, puskesmas, klinik, toko obat, atau praktek bersama.
13. Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek
kefarmasian oleh Apoteker.
2/18/2012 5
BAB II
PENYELENGGARAAN PEKERJAAN KEFARMASIAN
Bagian Kesatu
Pasal 5
Pelaksanaan Pekerjaan Kefarmasian meliputi:
a. Pekerjaan Kefarmasian dalam Pengadaan Sediaan Farmasi;
b. Pekerjaan Kefarmasian dalam Produksi Sediaan Farmasi;
c. Pekerjaan Kefarmasian dalam Distribusi atau Penyaluran Sediaan Farmasi; dan
d. Pekerjaan Kefarmasian dalam Pelayanan Sediaan Farmasi.
Pekerjaan Kefarmasian Dalam
Pengadaan Sediaan Farmasi
2/18/2012 6
Pasal 6
1) Pengadaan Sediaan Farmasi dilakukan pada fasilitas produksi, fasilitas
distribusi atau penyaluran dan fasilitas pelayanan sediaan farmasi.
2) Pengadaan Sediaan Farmasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus dilakukan oleh Tenaga kefarmasian.
3) Pengadaan Sediaan Farmasi harus dapat menjamin keamanan, mutu,
manfaat dan khasiat Sediaan Farmasi.
4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengadaan Sediaan Farmasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) diatur
dalam Peraturan Menteri.
Pelaksanaan Pekerjaan Kefarmasian Pada
Fasilitas Pelayanan Kefarmasian
2/18/2012 7
Pasal 19
Fasilitas Pelayanan Kefarmasian berupa :
a. Apotek;
b. Instalasi farmasi rumah sakit;
c. Puskesmas;
d. Klinik;
e. Toko Obat; atau
f. Praktek bersama.
2/18/2012 8
Pasal 20
Dalam menjalankan Pekerjaan kefarmasian pada Fasilitas Pelayanan Kefarmasian,
Apoteker dapat dibantu oleh Apoteker pendamping dan/ atau Tenaga Teknis
Kefarmasian.
Pasal 21
1. Dalam menjalankan praktek kefarmasian pada Fasilitas Pelayanan Kefarmasian,
Apoteker harus menerapkan standar pelayanan kefarmasian.
2. Penyerahan dan pelayanan obat berdasarkan resep dokter dilaksanakan oleh
Apoteker.
3. Dalam hal di daerah terpencil tidak terdapat Apoteker, Menteri dapat menempatkan
Tenaga Teknis Kefarmasian yang telah memiliki STRTTK pada sarana pelayanan
kesehatan dasar yang diberi wewenang untuk meracik dan menyerahkan obat
kepada pasien.
4. Ketentuan lebih lanjut mengenai standar pelayanan kefarmasian sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) menurut jenis Fasilitas Pelayanan Kefarmasian ditetapkan
oleh Menteri
2/18/2012 9
Pasal 23
1. Dalam melakukan Pekerjaan Kefarmasian, Apoteker
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 harus menetapkan
Standar Prosedur Operasional.
2. Standar Prosedur Operasional harus dibuat secara tertulis dan
diperbaharui secara terus menerus sesuai perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi di bidang farmasi dan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
2/18/2012 10
Pasal 24
Dalam melakukan Pekerjaan Kefarmasian pada
Fasilitas Pelayanan Kefarmasian, Apoteker dapat :
a. mengangkat seorang Apoteker pendamping yang memiliki
SIPA;
b. mengganti obat merek dagang dengan obat generik yang
sama komponen aktifnya atau obat merek dagang lain atas
persetujuan dokter dan/atau pasien; dan
c. menyerahkan obat keras, narkotika dan psikotropika kepda
masyarakat atas resep dari dokter sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
2/18/2012 11
Pasal 27
Pekerjaan Kefarmasian yang berkaitan dengan pelayanan farmasi pada
Fasilitas Pelayanan Kefarmasian wajib dicatat oleh Tenaga
Kefarmasian sesuai dengan tugas dan fungsinya.
Pasal 29
Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan Pekerjaan Kefarmasian
pada Fasilitas Pelayanan Kefarmasian sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 27 diatur dengan Peraturan Menteri
Rahasia Kedokteran Dan Rahasia Kefarmasian
2/18/2012 12
Pasal 30
1. Setiap Tenaga Kefarmasian dalam menjalankan Pekerjaan
Kefarmasian wajib menyimpan Rahasia Kedokteran dan Rahasia
Kefarmasian.
2. Rahasia Kedokteran dan Rahasia Kefarmasian hanya dapat
dibuka untuk kepentingan pasien, memenuhi permintaan hakim
dalam rangka penegakan hukum, permintaan pasien sendiri dan
/atau berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
3. Ketentuan lebih lanjut mengenai Rahasia Kedokteran dan Rahasia
Kefarmasian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan
Peraturan Menteri.
Apoteker Indonesia (pasal 39)
2/18/2012 13
1. Setiap Tenaga Kefarmasian yang melakukan
Pekerjaan Kefarmasian di Indonesia wajib memiliki surat tanda registrasi.
2. Surat tanda registrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
diperuntukkan bagi:
a. Apoteker berupa STRA; dan
b. Tenaga Teknis Kefarmasian berupa STRTTK.
2/18/2012 14
Pasal 40
(1) Untuk memperoleh STRA, Apoteker harus memenuhi persyaratan:
a. memiliki ijazah Apoteker;
b. memiliki sertifikat kompetensi profesi;
c. mempunyai surat pernyataan telah mengucapkan sumpah/janji
Apoteker;
d. mempunyai surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter
yang memiliki surat izin praktik; dan
e. membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan
ketentuan etika profesi.
(2) STRA dikeluarkan oleh Menteri.
(PMK 889 pasal 3 : Menteri mendelegasikan pemberian:
a. STRA kepada KFN; dan
b. STRTTK kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi.)
Pasal 41
STRA berlaku selama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang untuk jangka
waktu 5 (lima) tahun apabila memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 40 ayat (1).
Pasal 52
1. Setiap tenaga kefarmasian yang melaksanakan pekerjaan kefarmasian di
Indonesia wajib memiliki surat izin sesuai tempat Tenaga Kefarmasian
bekerja
2. Surat izin sebagaimana yang dimasksud pada ayat (1) dapat berupa:
a. SIPA bagi apoteker yang melakukan pekerjaan kefarmasian di
Apotek, puskesmas atau instalasi farmasi rumah sakit
b. SIPA bagi apoteker yang melakukan pekerjaan kefarmasian sebagai
apoteker pendamping
c. SIK bagi apoteker yang melakukan pekerjaan kefarmasian di fasilitas
kefarmasian diluar apotek dan RS → ( tahun 2016 penamaan izin disamakan
menjadi SIPA)
2/18/2012 By Etty.PC-IAI JktBrt 15
2/18/2012 16
Pasal 55
1. Untuk mendapat surat izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52,
Tenaga Kefarmasian harus memiliki:
a. STRA, STRA Khusus, atau STRTTK yang masih berlaku;
b. tempat atau ada tempat untuk melakukan Pekerjaan Kefarmasian
atau fasilitas kefarmasian atau Fasilitas Kesehatan yang memiliki
izin; dan
c. rekomendasi dari Organisasi Profesi setempat.
2. Surat Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) batal demi hukum
apabila Pekerjaan Kefarmasian dilakukan pada tempat yang tidak
sesuai dengan yang tercantum dalam surat izin.
STRA APOTEKER BARU LULUS
• Apoteker yang baru lulus pendidikan dapat memperoleh STRA
dengan mengisi aplikasi secara langsung (online)
• Pencabutan STRA
- Permohonan yang bersangkutan
- Tidak lagi memenuhi persyaratan fisik dan mental
- Melakukan pelanggaran disiplin tenaga kefarmasian
- Melakukan pelanggaran hukum dibidang kefarmasian
2/18/2012 By Etty.PC-IAI JktBrt 17
PMK 889/ MENKES/PER/V/2011
3 Mei 2011
TENTANG
REGISTRASI, IZIN PRAKTIK, DAN IZIN KERJA TENAGA KEFARMASIAN
2/18/2012 18
Sertifikat Kompetensi Profesi
Pasal 9
1. Sertifikat kompetensi profesi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1)
huruf b dikeluarkan oleh organisasi profesi setelah lulus uji kompetensi.
2. Sertifikat kompetensi profesi berlaku selama 5 (lima) tahun dan dapat
dilakukan uji kompetensi kembali setelah habis masa berlakunya.
2/18/2012 19
Pasal 10
1. Bagi Apoteker yang baru lulus pendidikan profesi dianggap telah lulus
uji kompetensi dan dapat memperoleh sertifikat kompetensi profesi
secara langsung → sudah tidak berlaku ( sekarang harus ikut ujian
kompetensi bagi yang baru lulus meliputi ujian UKAI : CBT dan OSCE)
Pasal 11
1. Uji kompetensi (reserkom) dilakukan oleh organisasi profesi melalui
pembobotan Satuan Kredit Profesi (SKP).
2. Pedoman penyelenggaraan uji kompetensi ditetapkan oleh KFN.
Tata Cara Memperoleh STRA
2/18/2012 20
Pasal 12
1. Untuk memperoleh STRA, Apoteker mengajukan permohonan kepada
KFN dengan menggunakan contoh sebagaimana tercantum dalam
Formulir 1 terlampir (online)
2. Surat permohonan STRA harus melampirkan:
a. fotokopi ijazah Apoteker;
b. fotokopi surat sumpah/janji Apoteker;
c. fotokopi sertifikat kompetensi profesi yang masih berlaku;
d. surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter yang memiliki
surat izin praktik profesi; dan
e. pas foto terbaru berwarna ukuran 4 x 6 cm sebanyak 2 (dua)
lembar dan ukuran 2 x 3 cm sebanyak 2 (dua) lembar.
Registrasi Ulang
(Perpanjangan STRA)
2/18/2012 21
Pasal 15
1. Registrasi ulang dilakukan sesuai ketentuan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 12 atau Pasal 14 dengan melampirkan surat tanda
registrasi yang lama.
2. Registrasi ulang harus dilakukan minimal 6 (enam) bulan sebelum
STRA atau STRTTK habis masa berlakunya.
IZIN PRAKTIK DAN IZIN KERJA
2/18/2012 22
Pasal 17
1. Setiap tenaga kefarmasian yang akan menjalankan pekerjaan kefarmasian
wajib memiliki surat izin sesuai tempat tenaga kefarmasian bekerja.
2. Surat izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa:
a. SIPA bagi Apoteker penanggung jawab di fasilitas pelayanan
kefarmasian;
b. SIPA bagi Apoteker pendamping di fasilitas pelayanan kefarmasian;
c. SIKA bagi Apoteker yang melakukan pekerjaan kefarmasian di fasilitas
produksi atau fasilitas distribusi/penyaluran; atau (2016 penamaan
disamakan menjadi SIPA)
d. SIKTTK bagi Tenaga Teknis Kefarmasian yang melakukan pekerjaan
kefarmasian pada fasilitas kefarmasian.
2/18/2012 23
Pasal 18
1. Apoteker penanggung jawab di fasilitas pelayanan kefarmasian atau
SIKA hanya diberikan untuk 1 (satu) tempat fasilitas kefarmasian.
2. Apoteker penanggung jawab di fasilitas pelayanan kefarmasian berupa
puskesmas dapat menjadi Apoteker pendamping di luar jam kerja.
3. SIPA bagi Apoteker pendamping dapat diberikan untuk paling banyak 3
(tiga) tempat fasilitas pelayanan kefarmasian.
4. SIKTTK dapat diberikan untuk paling banyak 3 (tiga) tempat fasilitas
kefarmasian.
Pasal 19
SIPA, SIKA, atau SIKTTK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17
dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota tempat
pekerjaan kefarmasian dilakukan.
2/18/2012 24
Pasal 35
1. Dalam rangka mengganti surat penugasan dan/atau SIK dengan
STRA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (3), dilakukan
dengan cara mendaftar melalui website KFN.
2. --
3. Setelah mendapatkan STRA untuk pertama kalinya, Apoteker wajib
mengurus SIPA dan SIKA di dinas kesehatan kabupaten/kota
tempat pekerjaan kefarmasian dilakukan.
Pasal 37
Masa berlaku STRA, STRTTK, SIPA, SIKA, dan SIKTTK sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 35 dan Pasal 36 diberikan berdasarkan tanggal
kelahiran Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian yang bersangkutan.
Tata Cara Memperoleh SIPA
• Mengajukan permohonan kepada kepala Dinas Kesehatan
Kab/Kota melalui PTSP setempat dg melampirkan :
– -FC STRA yg dilegalisir KFN
– Surat pernyataan mempunyai tempat praktik profesi
– Rekomendasi dari IAI
– Pas foto
Untuk permohonan SIPA sebagai APP harus dinyatakan
secara tegas permintan SIPA untuk tempat pekerjaan
kefarmasian pertama,kedua atau ketiga.
2/18/2012 By Etty.PC-IAI JktBrt 25
Pencabutan SIPA/SIKTTK
• Atas permintaan yang bersangkutan
• Ybs tidak bekerja pada tempat yang tercantum dalam surat
izin
• Ybs tidak lagi memenuhi persyaratan fisik dan mental
• Melakukan pelanggaran disiplin tenaga kefarmasian
• Melakukan pelanggaran hukum dibidang kefarmasian
2/18/2012 By Etty.PC-IAI JktBrt 26
2/18/2012 27

PP 512009 EDIT.ppt

  • 1.
  • 2.
    2/18/2012 2 AMANAH PASAL108 UU No. 36/ 2009 TENTANG KESEHATAN PP No. 51 / 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian PMK No. 889 / 2011 3 Mei 2011 Tentang Tenaga Kefarmasian (1) Praktik kefarmasiaan yang meliputi pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) Ketentuan mengenai pelaksanaan praktik kefarmasian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.
  • 3.
    2/18/2012 3 PP No.51 / 2009 Tentang Pekerjaan Kefarmasian Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: 1. Pekerjaan Kefarmasian adalah pembuatan termasuk pengendalian mutu Sediaan Farmasi, pengamanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian atau penyaluran obat, pengelolaan obat, pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat, bahan obat dan obat tradisional. 2. Sediaan Farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional dan kosmetika. 3. Tenaga Kefarmasian adalah tenaga yang melakukan Pekerjaan Kefarmasian, yang terdiri atas Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian. 4. Pelayanan Kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan Sediaan Farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien.
  • 4.
    2/18/2012 4 22. SuratIzin Praktik Apoteker selanjutnya disingkat SIPA adalah surat izin yang diberikan kepada Apoteker untuk dapat melaksanakan Pekerjaan Kefarmasian pada Apotek atau Instalasi Farmasi Rumah Sakit 25. Rahasia Kefarmasian adalah Pekerjaan Kefarmasian yang menyangkut proses produksi, proses penyaluran dan proses pelayanan dari Sediaan Farmasi yang tidak boleh diketahui oleh umum sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan. 11. Fasilitas Pelayanan Kefarmasian adalah sarana yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan kefarmasian, yaitu apotek, instalasi farmasi rumah sakit, puskesmas, klinik, toko obat, atau praktek bersama. 13. Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukan praktek kefarmasian oleh Apoteker.
  • 5.
    2/18/2012 5 BAB II PENYELENGGARAANPEKERJAAN KEFARMASIAN Bagian Kesatu Pasal 5 Pelaksanaan Pekerjaan Kefarmasian meliputi: a. Pekerjaan Kefarmasian dalam Pengadaan Sediaan Farmasi; b. Pekerjaan Kefarmasian dalam Produksi Sediaan Farmasi; c. Pekerjaan Kefarmasian dalam Distribusi atau Penyaluran Sediaan Farmasi; dan d. Pekerjaan Kefarmasian dalam Pelayanan Sediaan Farmasi.
  • 6.
    Pekerjaan Kefarmasian Dalam PengadaanSediaan Farmasi 2/18/2012 6 Pasal 6 1) Pengadaan Sediaan Farmasi dilakukan pada fasilitas produksi, fasilitas distribusi atau penyaluran dan fasilitas pelayanan sediaan farmasi. 2) Pengadaan Sediaan Farmasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dilakukan oleh Tenaga kefarmasian. 3) Pengadaan Sediaan Farmasi harus dapat menjamin keamanan, mutu, manfaat dan khasiat Sediaan Farmasi. 4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pengadaan Sediaan Farmasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) diatur dalam Peraturan Menteri.
  • 7.
    Pelaksanaan Pekerjaan KefarmasianPada Fasilitas Pelayanan Kefarmasian 2/18/2012 7 Pasal 19 Fasilitas Pelayanan Kefarmasian berupa : a. Apotek; b. Instalasi farmasi rumah sakit; c. Puskesmas; d. Klinik; e. Toko Obat; atau f. Praktek bersama.
  • 8.
    2/18/2012 8 Pasal 20 Dalammenjalankan Pekerjaan kefarmasian pada Fasilitas Pelayanan Kefarmasian, Apoteker dapat dibantu oleh Apoteker pendamping dan/ atau Tenaga Teknis Kefarmasian. Pasal 21 1. Dalam menjalankan praktek kefarmasian pada Fasilitas Pelayanan Kefarmasian, Apoteker harus menerapkan standar pelayanan kefarmasian. 2. Penyerahan dan pelayanan obat berdasarkan resep dokter dilaksanakan oleh Apoteker. 3. Dalam hal di daerah terpencil tidak terdapat Apoteker, Menteri dapat menempatkan Tenaga Teknis Kefarmasian yang telah memiliki STRTTK pada sarana pelayanan kesehatan dasar yang diberi wewenang untuk meracik dan menyerahkan obat kepada pasien. 4. Ketentuan lebih lanjut mengenai standar pelayanan kefarmasian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menurut jenis Fasilitas Pelayanan Kefarmasian ditetapkan oleh Menteri
  • 9.
    2/18/2012 9 Pasal 23 1.Dalam melakukan Pekerjaan Kefarmasian, Apoteker sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 harus menetapkan Standar Prosedur Operasional. 2. Standar Prosedur Operasional harus dibuat secara tertulis dan diperbaharui secara terus menerus sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang farmasi dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
  • 10.
    2/18/2012 10 Pasal 24 Dalammelakukan Pekerjaan Kefarmasian pada Fasilitas Pelayanan Kefarmasian, Apoteker dapat : a. mengangkat seorang Apoteker pendamping yang memiliki SIPA; b. mengganti obat merek dagang dengan obat generik yang sama komponen aktifnya atau obat merek dagang lain atas persetujuan dokter dan/atau pasien; dan c. menyerahkan obat keras, narkotika dan psikotropika kepda masyarakat atas resep dari dokter sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
  • 11.
    2/18/2012 11 Pasal 27 PekerjaanKefarmasian yang berkaitan dengan pelayanan farmasi pada Fasilitas Pelayanan Kefarmasian wajib dicatat oleh Tenaga Kefarmasian sesuai dengan tugas dan fungsinya. Pasal 29 Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan Pekerjaan Kefarmasian pada Fasilitas Pelayanan Kefarmasian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 diatur dengan Peraturan Menteri
  • 12.
    Rahasia Kedokteran DanRahasia Kefarmasian 2/18/2012 12 Pasal 30 1. Setiap Tenaga Kefarmasian dalam menjalankan Pekerjaan Kefarmasian wajib menyimpan Rahasia Kedokteran dan Rahasia Kefarmasian. 2. Rahasia Kedokteran dan Rahasia Kefarmasian hanya dapat dibuka untuk kepentingan pasien, memenuhi permintaan hakim dalam rangka penegakan hukum, permintaan pasien sendiri dan /atau berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan. 3. Ketentuan lebih lanjut mengenai Rahasia Kedokteran dan Rahasia Kefarmasian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.
  • 13.
    Apoteker Indonesia (pasal39) 2/18/2012 13 1. Setiap Tenaga Kefarmasian yang melakukan Pekerjaan Kefarmasian di Indonesia wajib memiliki surat tanda registrasi. 2. Surat tanda registrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diperuntukkan bagi: a. Apoteker berupa STRA; dan b. Tenaga Teknis Kefarmasian berupa STRTTK.
  • 14.
    2/18/2012 14 Pasal 40 (1)Untuk memperoleh STRA, Apoteker harus memenuhi persyaratan: a. memiliki ijazah Apoteker; b. memiliki sertifikat kompetensi profesi; c. mempunyai surat pernyataan telah mengucapkan sumpah/janji Apoteker; d. mempunyai surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter yang memiliki surat izin praktik; dan e. membuat pernyataan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi. (2) STRA dikeluarkan oleh Menteri. (PMK 889 pasal 3 : Menteri mendelegasikan pemberian: a. STRA kepada KFN; dan b. STRTTK kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi.) Pasal 41 STRA berlaku selama 5 (lima) tahun dan dapat diperpanjang untuk jangka waktu 5 (lima) tahun apabila memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 40 ayat (1).
  • 15.
    Pasal 52 1. Setiaptenaga kefarmasian yang melaksanakan pekerjaan kefarmasian di Indonesia wajib memiliki surat izin sesuai tempat Tenaga Kefarmasian bekerja 2. Surat izin sebagaimana yang dimasksud pada ayat (1) dapat berupa: a. SIPA bagi apoteker yang melakukan pekerjaan kefarmasian di Apotek, puskesmas atau instalasi farmasi rumah sakit b. SIPA bagi apoteker yang melakukan pekerjaan kefarmasian sebagai apoteker pendamping c. SIK bagi apoteker yang melakukan pekerjaan kefarmasian di fasilitas kefarmasian diluar apotek dan RS → ( tahun 2016 penamaan izin disamakan menjadi SIPA) 2/18/2012 By Etty.PC-IAI JktBrt 15
  • 16.
    2/18/2012 16 Pasal 55 1.Untuk mendapat surat izin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 52, Tenaga Kefarmasian harus memiliki: a. STRA, STRA Khusus, atau STRTTK yang masih berlaku; b. tempat atau ada tempat untuk melakukan Pekerjaan Kefarmasian atau fasilitas kefarmasian atau Fasilitas Kesehatan yang memiliki izin; dan c. rekomendasi dari Organisasi Profesi setempat. 2. Surat Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) batal demi hukum apabila Pekerjaan Kefarmasian dilakukan pada tempat yang tidak sesuai dengan yang tercantum dalam surat izin.
  • 17.
    STRA APOTEKER BARULULUS • Apoteker yang baru lulus pendidikan dapat memperoleh STRA dengan mengisi aplikasi secara langsung (online) • Pencabutan STRA - Permohonan yang bersangkutan - Tidak lagi memenuhi persyaratan fisik dan mental - Melakukan pelanggaran disiplin tenaga kefarmasian - Melakukan pelanggaran hukum dibidang kefarmasian 2/18/2012 By Etty.PC-IAI JktBrt 17
  • 18.
    PMK 889/ MENKES/PER/V/2011 3Mei 2011 TENTANG REGISTRASI, IZIN PRAKTIK, DAN IZIN KERJA TENAGA KEFARMASIAN 2/18/2012 18 Sertifikat Kompetensi Profesi Pasal 9 1. Sertifikat kompetensi profesi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf b dikeluarkan oleh organisasi profesi setelah lulus uji kompetensi. 2. Sertifikat kompetensi profesi berlaku selama 5 (lima) tahun dan dapat dilakukan uji kompetensi kembali setelah habis masa berlakunya.
  • 19.
    2/18/2012 19 Pasal 10 1.Bagi Apoteker yang baru lulus pendidikan profesi dianggap telah lulus uji kompetensi dan dapat memperoleh sertifikat kompetensi profesi secara langsung → sudah tidak berlaku ( sekarang harus ikut ujian kompetensi bagi yang baru lulus meliputi ujian UKAI : CBT dan OSCE) Pasal 11 1. Uji kompetensi (reserkom) dilakukan oleh organisasi profesi melalui pembobotan Satuan Kredit Profesi (SKP). 2. Pedoman penyelenggaraan uji kompetensi ditetapkan oleh KFN.
  • 20.
    Tata Cara MemperolehSTRA 2/18/2012 20 Pasal 12 1. Untuk memperoleh STRA, Apoteker mengajukan permohonan kepada KFN dengan menggunakan contoh sebagaimana tercantum dalam Formulir 1 terlampir (online) 2. Surat permohonan STRA harus melampirkan: a. fotokopi ijazah Apoteker; b. fotokopi surat sumpah/janji Apoteker; c. fotokopi sertifikat kompetensi profesi yang masih berlaku; d. surat keterangan sehat fisik dan mental dari dokter yang memiliki surat izin praktik profesi; dan e. pas foto terbaru berwarna ukuran 4 x 6 cm sebanyak 2 (dua) lembar dan ukuran 2 x 3 cm sebanyak 2 (dua) lembar.
  • 21.
    Registrasi Ulang (Perpanjangan STRA) 2/18/201221 Pasal 15 1. Registrasi ulang dilakukan sesuai ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 atau Pasal 14 dengan melampirkan surat tanda registrasi yang lama. 2. Registrasi ulang harus dilakukan minimal 6 (enam) bulan sebelum STRA atau STRTTK habis masa berlakunya.
  • 22.
    IZIN PRAKTIK DANIZIN KERJA 2/18/2012 22 Pasal 17 1. Setiap tenaga kefarmasian yang akan menjalankan pekerjaan kefarmasian wajib memiliki surat izin sesuai tempat tenaga kefarmasian bekerja. 2. Surat izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa: a. SIPA bagi Apoteker penanggung jawab di fasilitas pelayanan kefarmasian; b. SIPA bagi Apoteker pendamping di fasilitas pelayanan kefarmasian; c. SIKA bagi Apoteker yang melakukan pekerjaan kefarmasian di fasilitas produksi atau fasilitas distribusi/penyaluran; atau (2016 penamaan disamakan menjadi SIPA) d. SIKTTK bagi Tenaga Teknis Kefarmasian yang melakukan pekerjaan kefarmasian pada fasilitas kefarmasian.
  • 23.
    2/18/2012 23 Pasal 18 1.Apoteker penanggung jawab di fasilitas pelayanan kefarmasian atau SIKA hanya diberikan untuk 1 (satu) tempat fasilitas kefarmasian. 2. Apoteker penanggung jawab di fasilitas pelayanan kefarmasian berupa puskesmas dapat menjadi Apoteker pendamping di luar jam kerja. 3. SIPA bagi Apoteker pendamping dapat diberikan untuk paling banyak 3 (tiga) tempat fasilitas pelayanan kefarmasian. 4. SIKTTK dapat diberikan untuk paling banyak 3 (tiga) tempat fasilitas kefarmasian. Pasal 19 SIPA, SIKA, atau SIKTTK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 dikeluarkan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota tempat pekerjaan kefarmasian dilakukan.
  • 24.
    2/18/2012 24 Pasal 35 1.Dalam rangka mengganti surat penugasan dan/atau SIK dengan STRA sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (3), dilakukan dengan cara mendaftar melalui website KFN. 2. -- 3. Setelah mendapatkan STRA untuk pertama kalinya, Apoteker wajib mengurus SIPA dan SIKA di dinas kesehatan kabupaten/kota tempat pekerjaan kefarmasian dilakukan. Pasal 37 Masa berlaku STRA, STRTTK, SIPA, SIKA, dan SIKTTK sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 dan Pasal 36 diberikan berdasarkan tanggal kelahiran Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian yang bersangkutan.
  • 25.
    Tata Cara MemperolehSIPA • Mengajukan permohonan kepada kepala Dinas Kesehatan Kab/Kota melalui PTSP setempat dg melampirkan : – -FC STRA yg dilegalisir KFN – Surat pernyataan mempunyai tempat praktik profesi – Rekomendasi dari IAI – Pas foto Untuk permohonan SIPA sebagai APP harus dinyatakan secara tegas permintan SIPA untuk tempat pekerjaan kefarmasian pertama,kedua atau ketiga. 2/18/2012 By Etty.PC-IAI JktBrt 25
  • 26.
    Pencabutan SIPA/SIKTTK • Ataspermintaan yang bersangkutan • Ybs tidak bekerja pada tempat yang tercantum dalam surat izin • Ybs tidak lagi memenuhi persyaratan fisik dan mental • Melakukan pelanggaran disiplin tenaga kefarmasian • Melakukan pelanggaran hukum dibidang kefarmasian 2/18/2012 By Etty.PC-IAI JktBrt 26
  • 27.