Ima Yudha Perwira
 Pertumbuhan adalah pertambahan ukuran
panjang atau berat dalam suatu waktu akibat
dari terjadinya pembelahan sel secara mitosis
yang disebabkan oleh kelebihan jumlah input
energi dan asam amino yang berasal dari
makanan.
 Di dalam suatu jaringan tubuh ikan terdapat
suatu pengelompokan sel, yaitu: sel yang dapat
diperbaharui (kelompok sel yang mempunyai
kemampuan untuk membelah secara mitosis
sangat cepat), bagian yang dapat berkembang,
dan bagian yang statis.
Faktor yang mempengaruhi Pertumbuhan
Ikan
 Banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ikan.
Faktor ini dapat digolongkan menjadi dua bagian besar,
yaitu faktor dalam dan faktor luar. Faktor-faktor ini ada
yang dapat dikontrol ada yang tidak.
 Faktor dalam umumnya adalah faktor yang sulit dikontrol,
diantaranya ialah keturunan, jenis kelamin, umur, parasit
dan penyakit. Dalam suatu kultur, faktor keturunan
mungkin dapat dapat dikontrol dengan mengadakan
seleksi untuk mencari ikan yang baik pertumbuhannya.
 Faktror luar utama yang mempengaruhi pertumbuhan
ialah makanan dan suhu perairan. Di daerah tropik,
makanan merupakan faktor yang lebih penting dari suhu
perairan.
 Genetik mempengaruhi laju pertumbuhan ikan,
dimana setiap species atau varietas (strain)
mempunyai laju pertumbuhan yang berbeda.
 Ketersediaan pakan pakan yang berkualitas
dalam jumlah yang cukup pada waktu yang tepat
merupakan salah satu faktor yang sangat penting
bagi pertumbuhan ikan.
 Kebutuhan energi pada ikan diperoleh dari
protein, lemak dan karbohidrat yang terdapat
dalam makanan yang dimakannya. Sehubungan
dengan hal ini, protein merupakan sumber energi
utama pada ikan, terutama ikan karnivora.
Pertumbuhan Allometrik dan Isometrik
 Pertumbuhan allometrik yaitu jika suatu organ
tumbuh dengan kecepatan pertumbuhan diikuti
perubahan bentuk organisme.
 Pertumbuhan isometrik yaitu jika suatu organ
tumbuh dengan pertumbuhan sisa organ tubuh
lainnya. Pada situasi yang demikian perubahan
ukuran tubuh tidak disertai dengan perubahan
bentuk tubuh atau bentuk luar organisme
tersebut.
 Menurut Effendie (1979) Pertumbuhan dapat
dinyatakan dengan suatu ekspresi matematika.
Pengukuran waktu yang baik sehubungan
dengan pertumbuhan pada ikan ialah umur dari
ikan tersebut. Bila umur diketahui dengan tepat
maka analisa pertumbuhan dapat dilakukan
dengan baik.
 Beberapa ekspresi pertumbuhan antara lain
kecepatan pertumbuhan mutlak, kecepatan
pertumbuhan nisbi dan kecepatan pertumbuhan
eksponensial (“instantaneous growth rate“).
 Kecepatan pertumbuhan mutlak/absolut ialah
perubahan ukuran baik berat atau panjang yang
sebenarnya diantara dua umur atau dalam
waktu satu tahun. Umumnya kecepatan
pertumbuhan mutlak menurun apabila umur ikan
makin bertambah.
 Kecepatan mutlak/absolute ini dapat dibuat
persamaan dengan melihat panjang atau berat
(Y) dengan waktu (T) : (Y2 – Y1) / (T2 – T1)
 Kecepatan pertumbuhan nisbi/relatif dirumuskan
sebagai persentase pertumbuhan pada tiap interval
waktu, atau dengan kata lain ialah perbedaan
ukuran pada waktu akhir interval dengan ukuran
pada waktu awal interval dibagi dengan ukuran
pada waktu akhir interval. Umumnya pertambahan
dalam berat jauh lebih banyak digunakan karena
mempunyai nilai praktis dari pada panjang.
 Perumusan kecepatan pertumbuhan nisbi tadi
adalah sebagai berikut : h = (wt-wo)/wo
 Dimana h adalah kecepatan pertumbuhan nisbi, wt
adalah berat akhir interval, dan wo adalah berat
awal interval.
Hubungan Panjang dan Berat
 Hubungan panjang dan berat adalah aspek biologi
perikanan yang perlu di pelajari.
 Panjang tubuh sangat berhubungan dengan panjang
dan berat seperi hukum kubik yaitu bahwa berat sebagai
pangkat tiga dari panjangnya.
 Namun, hubungan yang terdapat pada ikan sebenarnya
tidak demikian karena bentuk dan panjang ikan berbeda-
beda.
 Hubungan bobot – panjang beserta distribusi panjang
ikan sangat perlu diketahui umtuk mengkonversikan
secara statistic hasil tangkapan dalam bobot ke jumlah
ikan, untuk menduga besarnya populasi, dan untuk
menduga laju kematiannya (Bayliff 1966).
 Data hubungan bobot – panjang juga diperlukan dalam
manajemen perikanan yaitu untuk menentukan selektifitas alat
agar ikan-ikan non target tidak ikut tertangkap. Berdasarkan
hubungan bobot-panjang ikan, dapat diketahui koefisien
kondisi ikan yang menunjukkan kegemukan atau kemontokan
relatif ikan tersebut.
 Hubungan panjang dan berat (Length-weight
relationship/LWR) merupakan hal yang penting dalam
penelitian ilmiah perikanan, karena hal ini memberikan
informasi parameter-parameter populasi.
 Pertama, sebuah perubahan berat dan panjang
memperlihatkan umur dan kelas kelompok tahun ikan; hal ini
sangat penting dalam perikanan.
 Kedua, data panjang berat tersebut dapat digunakan untuk
menaksirkan daya dukung stock perikanan tangkap. Selain itu,
data panjang dan berat dapat juga menggambarkan petunjuk
penting tentang perubahan iklim dan lingkungan.
 Menurut King (1997) dalam Said (2007) hubungan
panjang berat W = aLb
 Dimana W adalah berat ikan, L adalah panjang ikan, a
dan b adalah konstanta.
 Dikatakan juga bahwa dalam pengukuran tersebut
nantinya akan diperoleh nilai b, yang ikut menentukan
seimbang tidaknya antara berat dan panjang ikan.
Dimana nilai b yang mungkin muncul adalah b<3, b=3,
b>3.
 Untuk mencari nilai a dapat digunakan rumus:
(Log w) (Log2L) – (Log L) (Log L x Log W)
N (Log2L) – (Log L)2
 Sedangkan untuk mencari nilai b digunakan rumus:
N (Log L x Log W) – (LogW) (Log L)
N (Log2L) – (Log L)2
 Nilai a dan b dimasukkan dalam persamaan:
Y = a* + b X
 Sehingga persamaan regresi hubungan bobot –
panjang ikan jantan adalah:
Log W = a* + b log L
 Untuk memperoleh persamaan hubungan bobot dan
panjang maka nilai a* di antilog (invers log).
 Sehingga W = a L b
 Harga b ialah harga pangkat yang harus cocok dari
panjang ikan agar sesuai dengan berat ikan. Menurut
Carlander (1969) dalam Effendie (1997) harga
eksponen ini telah diketahui dari 398 populasi ikan
berkisar 1,2 – 4,0, namun kebanyakan dari harga b tadi
berkisar dari 2,4 – 3,5.
 Bilamana harga b sama dengan 3 (b = 3) menunjukkan
bahwa pertumbuhan ikan tidak berubah bentuknya yaitu
pertambahan panjang ikan seimbang dengan
pertambahan beratnya. Pertumbuhan demikian seperti
telah dikemukakan ialah pertumbuhan isometrik.
 Apabila b lebih besar atau lebih kecil dari 3 dinamakan
pertumbuhan allometrik. Harga b yang kurang dari 3 (b ,
3) menunjukkan keadaan ikan yang kurus yaitu
pertambahan panjangnya lebihcepat dari pertambahan
beratnya, sedangkan harga b lebih besar dari 3 (b > 3)
menunjukkan ikan itu montok, pertambahan berat lebih
cepat dari pertambahan panjangnya.

PERTUMBUHAN IKAN 2.ppt

  • 1.
  • 2.
     Pertumbuhan adalahpertambahan ukuran panjang atau berat dalam suatu waktu akibat dari terjadinya pembelahan sel secara mitosis yang disebabkan oleh kelebihan jumlah input energi dan asam amino yang berasal dari makanan.  Di dalam suatu jaringan tubuh ikan terdapat suatu pengelompokan sel, yaitu: sel yang dapat diperbaharui (kelompok sel yang mempunyai kemampuan untuk membelah secara mitosis sangat cepat), bagian yang dapat berkembang, dan bagian yang statis.
  • 3.
    Faktor yang mempengaruhiPertumbuhan Ikan  Banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ikan. Faktor ini dapat digolongkan menjadi dua bagian besar, yaitu faktor dalam dan faktor luar. Faktor-faktor ini ada yang dapat dikontrol ada yang tidak.  Faktor dalam umumnya adalah faktor yang sulit dikontrol, diantaranya ialah keturunan, jenis kelamin, umur, parasit dan penyakit. Dalam suatu kultur, faktor keturunan mungkin dapat dapat dikontrol dengan mengadakan seleksi untuk mencari ikan yang baik pertumbuhannya.  Faktror luar utama yang mempengaruhi pertumbuhan ialah makanan dan suhu perairan. Di daerah tropik, makanan merupakan faktor yang lebih penting dari suhu perairan.
  • 4.
     Genetik mempengaruhilaju pertumbuhan ikan, dimana setiap species atau varietas (strain) mempunyai laju pertumbuhan yang berbeda.  Ketersediaan pakan pakan yang berkualitas dalam jumlah yang cukup pada waktu yang tepat merupakan salah satu faktor yang sangat penting bagi pertumbuhan ikan.  Kebutuhan energi pada ikan diperoleh dari protein, lemak dan karbohidrat yang terdapat dalam makanan yang dimakannya. Sehubungan dengan hal ini, protein merupakan sumber energi utama pada ikan, terutama ikan karnivora.
  • 5.
    Pertumbuhan Allometrik danIsometrik  Pertumbuhan allometrik yaitu jika suatu organ tumbuh dengan kecepatan pertumbuhan diikuti perubahan bentuk organisme.  Pertumbuhan isometrik yaitu jika suatu organ tumbuh dengan pertumbuhan sisa organ tubuh lainnya. Pada situasi yang demikian perubahan ukuran tubuh tidak disertai dengan perubahan bentuk tubuh atau bentuk luar organisme tersebut.
  • 6.
     Menurut Effendie(1979) Pertumbuhan dapat dinyatakan dengan suatu ekspresi matematika. Pengukuran waktu yang baik sehubungan dengan pertumbuhan pada ikan ialah umur dari ikan tersebut. Bila umur diketahui dengan tepat maka analisa pertumbuhan dapat dilakukan dengan baik.  Beberapa ekspresi pertumbuhan antara lain kecepatan pertumbuhan mutlak, kecepatan pertumbuhan nisbi dan kecepatan pertumbuhan eksponensial (“instantaneous growth rate“).
  • 7.
     Kecepatan pertumbuhanmutlak/absolut ialah perubahan ukuran baik berat atau panjang yang sebenarnya diantara dua umur atau dalam waktu satu tahun. Umumnya kecepatan pertumbuhan mutlak menurun apabila umur ikan makin bertambah.  Kecepatan mutlak/absolute ini dapat dibuat persamaan dengan melihat panjang atau berat (Y) dengan waktu (T) : (Y2 – Y1) / (T2 – T1)
  • 8.
     Kecepatan pertumbuhannisbi/relatif dirumuskan sebagai persentase pertumbuhan pada tiap interval waktu, atau dengan kata lain ialah perbedaan ukuran pada waktu akhir interval dengan ukuran pada waktu awal interval dibagi dengan ukuran pada waktu akhir interval. Umumnya pertambahan dalam berat jauh lebih banyak digunakan karena mempunyai nilai praktis dari pada panjang.  Perumusan kecepatan pertumbuhan nisbi tadi adalah sebagai berikut : h = (wt-wo)/wo  Dimana h adalah kecepatan pertumbuhan nisbi, wt adalah berat akhir interval, dan wo adalah berat awal interval.
  • 9.
    Hubungan Panjang danBerat  Hubungan panjang dan berat adalah aspek biologi perikanan yang perlu di pelajari.  Panjang tubuh sangat berhubungan dengan panjang dan berat seperi hukum kubik yaitu bahwa berat sebagai pangkat tiga dari panjangnya.  Namun, hubungan yang terdapat pada ikan sebenarnya tidak demikian karena bentuk dan panjang ikan berbeda- beda.  Hubungan bobot – panjang beserta distribusi panjang ikan sangat perlu diketahui umtuk mengkonversikan secara statistic hasil tangkapan dalam bobot ke jumlah ikan, untuk menduga besarnya populasi, dan untuk menduga laju kematiannya (Bayliff 1966).
  • 10.
     Data hubunganbobot – panjang juga diperlukan dalam manajemen perikanan yaitu untuk menentukan selektifitas alat agar ikan-ikan non target tidak ikut tertangkap. Berdasarkan hubungan bobot-panjang ikan, dapat diketahui koefisien kondisi ikan yang menunjukkan kegemukan atau kemontokan relatif ikan tersebut.  Hubungan panjang dan berat (Length-weight relationship/LWR) merupakan hal yang penting dalam penelitian ilmiah perikanan, karena hal ini memberikan informasi parameter-parameter populasi.  Pertama, sebuah perubahan berat dan panjang memperlihatkan umur dan kelas kelompok tahun ikan; hal ini sangat penting dalam perikanan.  Kedua, data panjang berat tersebut dapat digunakan untuk menaksirkan daya dukung stock perikanan tangkap. Selain itu, data panjang dan berat dapat juga menggambarkan petunjuk penting tentang perubahan iklim dan lingkungan.
  • 11.
     Menurut King(1997) dalam Said (2007) hubungan panjang berat W = aLb  Dimana W adalah berat ikan, L adalah panjang ikan, a dan b adalah konstanta.  Dikatakan juga bahwa dalam pengukuran tersebut nantinya akan diperoleh nilai b, yang ikut menentukan seimbang tidaknya antara berat dan panjang ikan. Dimana nilai b yang mungkin muncul adalah b<3, b=3, b>3.  Untuk mencari nilai a dapat digunakan rumus: (Log w) (Log2L) – (Log L) (Log L x Log W) N (Log2L) – (Log L)2  Sedangkan untuk mencari nilai b digunakan rumus: N (Log L x Log W) – (LogW) (Log L) N (Log2L) – (Log L)2
  • 12.
     Nilai adan b dimasukkan dalam persamaan: Y = a* + b X  Sehingga persamaan regresi hubungan bobot – panjang ikan jantan adalah: Log W = a* + b log L  Untuk memperoleh persamaan hubungan bobot dan panjang maka nilai a* di antilog (invers log).  Sehingga W = a L b  Harga b ialah harga pangkat yang harus cocok dari panjang ikan agar sesuai dengan berat ikan. Menurut Carlander (1969) dalam Effendie (1997) harga eksponen ini telah diketahui dari 398 populasi ikan berkisar 1,2 – 4,0, namun kebanyakan dari harga b tadi berkisar dari 2,4 – 3,5.
  • 14.
     Bilamana hargab sama dengan 3 (b = 3) menunjukkan bahwa pertumbuhan ikan tidak berubah bentuknya yaitu pertambahan panjang ikan seimbang dengan pertambahan beratnya. Pertumbuhan demikian seperti telah dikemukakan ialah pertumbuhan isometrik.  Apabila b lebih besar atau lebih kecil dari 3 dinamakan pertumbuhan allometrik. Harga b yang kurang dari 3 (b , 3) menunjukkan keadaan ikan yang kurus yaitu pertambahan panjangnya lebihcepat dari pertambahan beratnya, sedangkan harga b lebih besar dari 3 (b > 3) menunjukkan ikan itu montok, pertambahan berat lebih cepat dari pertambahan panjangnya.