PERLAWANAN TERHADAP
KOLONIAL BELANDA
Kelompok 4 :
1. Afifah Zulianuriawani
2. Hermanto
3. Raharani
4. Rifky Alaf Haikal
5. Yessika Yolanda
6. Yohanes Putra Togar Hasian Hutepea
Perang ini disebabkan oleh :
1. Tindakan Belanda yang sewenang-wenang
2. Monopolinya yang merugikan
Ini yang menyebabkan Pattimura berkewajiban
membebaskan rakyat Saparua Maluku. Residen Van
den Berg menolak membayar harga perahu menurut
kesepakatan. Hal ini berakibat menambah kemarahan
rakyat. Pattimura yang juga dikenal dengan nama
Thomas Matulessi menyerbu benteng Duurstede dan
berhasil menguasainya dan residen Van den Berg
terbunuh.
Perang di Maluku (1817)
Penggantinya ialah Letkol Groot yang berpolitik licik
serta berusaha memecah belah. Banyak pemimpin yang
ditangkapnya sehingga kekuatan semakin lemah. Maka
dalam pertempuran selanjutnya, Pattimura beserta
kawan-kawannya tertangkap dan pada tanggal 16
Desember 1817 Pattimura dijatuhi hukuman mati
dengan cara digantung di benteng New Victoria.
Perjuangannya dibantu Christina Martha Tiahahu.
Mula-mula merupakan perang antara kaum adat dengan
para ulama .
Perang ini disebabkan oleh:
1. Adanya perbedaan pendapat antara kaum
ulama dengan kaum adat.
2. Kaum ulama ingin memberantas kebiasaan buruk yang
dilakukan kaum adat, seperti berjudi, menyambung
ayam dan mabuk.
PERANG PADRI (1821-1832)
Karena terdesak kaum adat meminta bantuan
kepada Belanda, tetapi kaum paderi menyadari
maksud pihak Belanda untuk menguasai Sumatra
Barat. Lalu kaum adat dan paderi bersatu untuk
melawan Belanda. Belada meminta bantuan dari
Pulau Jawa yang diperkuat oleh Pasukan Sentot
Ali Basa Prawirodirjo, tetapi Sentot Ali Basa
Prawirodirjo akhirnya berpihak kepada kaum
Paderi sehingga Sentot Ali Basa Prawirodirjo
ditangkap dan dibuang ke Cianjur. Dengan siasat
Benteng Stelsel pada tahun 1837 Belanda
mengepung Imam Bonjol, sehingga Imam Bonjol
ditangkap dan dibuang ke Cianjur kemudian
dipindahkan ke Manado hingga wafat tahun 1864.
Penyebab terjadi Perang Diponegoro adalah :
1. Sebab umum
a. Penderitaan dan kesenggaraan rakyat akibat pajak.
b. Campur tangan Belanda dalam urusan istana.
c. Munculnya kecemasan dikalangan para ulama karena
berkembangnya Budaya Barat.
2. Sebab khusus
Belanda membuat jalan di Tegalrejo yang melewati
makam leluhur Diponegoro tanpa minta izin terlebih
dahulu.
Dalam perang ini Diponegoro menggunakan siasat
perang gerilya yang didukung oleh kaum bangsawan
dan ulama serta bupati, antara lain Kyai Mojo dan Sentot
Ali Basa Prawirodirjo
PERANG DIPONEGORO (1825-1830)
Belanda menggunakan siasat benteng stelsel dalam
upaya mengalahkan diponegoro. Pasukan Diponegoro
semakin lemah terlebih lagi pada tahun 1829 Kyai Mojo
dan Sentot Ali Basa memisahkan diri. Lemahnya
pasukan Diponegoro menyebabkan Diponegoro
menerima tawaran Belanda untuk berunding di
Magelang, dalam perundingan ini pihak Belanda diwakili
oleh Jenderal De Kock namum perundingan mengalami
kegagalan dan Diponegoro di tangkap dan dibawa ke
Batavia, selanjutnya dipindahkan ke Menado kemudian
dipindahkan lagi ke Makasar dan meninggal di Benteng
Rotterdam tanggal 8 Januari 1855.
Pengeran Diponegoro.
Perlawanan dipimpin oleh para Bangsawan
(Tengku) dan para tokoh ulama (Tengku) seperti
Teuku Umar, Teuku Cik Ditiro, Penglima Polem,
Cut Nyak Dien, Cut Mutia dan lain-lain.
Dalam rangka pax netherlandika.
Penyebab peperangan :
1) Karena Belanda melanggar Perjanjian Traktat
London tahun 1824 yang berisi bahwa Inggris
dan Belanda tidak boleh mengganggu ke
merdekaan Aceh.
Perang di Aceh (1873-1904)
2) Untuk menguasai Aceh, Belanda
menggunakan cara seperti Konsentiasi Stelsel
dan mendatangkan ahli Agama Islam yaitu
Snouch Hurgronye.
3) Akhirnya Aceh dapat dikuasai oleh Belanda,
kemudian Raja-Raja didaerah yang berhasil
dikuasai oleh Belanda diikat dengan Plakat
Pendek yang isinya :
1. Mengakui kedaulatan Belanda atas
daerahnya.
2. Tidak akan mengadakan hubungan dengan
negara lain.
3. Taat dan patuh pada Pemerintah Belanda
Penyebab peperangan :
1. Sikap tegas penolakan Sultan Badruddin atas
kedatangan Belanda yang ingin kembali
menguasai Palembang setelah Inggris
meninggalkan Indonesia.
Sultan Badruddin dahulu pernah menjadi Sultan
Palembang dan kemudian diturunkan secara
paksa oleh pemerintah Inggris ketika masih
berkuasa di Indonesia, yaitu digantikan
oleh Sultan Najamuddin.
Perang di Palembang (1804-1821)
2. Setelah merebut kembali kekuasaan kesultanan dari
Najamuddin, tahun 1819 Sultan Badruddin selalu
menghalangi setiap kapal Belanda yang memasuki
sungai Musi.
Insiden ini banyak menelan korban terutama dari
pihak Belanda. Pihak Belanda tidak tinggal diam dan
menyerbu Palembang hingga meletuslah perang
Palembang. Pada tahun 1821, Belanda dapat
menguasai ibu kota Palembang dan menangkap
Sultan Badruddin. Setelah Sultan Badruddin
tertangkap, selanjutnya ia diasingkan ke Ternate.
Perlawanan rakyat Palembang masih sering terjadi
pada tahun 1825, tetapi status Kerajaan Palembang
telah dibubarkan oleh Belanda.
Patih Jelantik adalah patih Kerajaan Buleleng
yang melawan Belanda. Penyebab peperanga :
1. Hukum tawan karang adalah hak Raja Bali
yang akan dihapus Belanda.
2. Raja harus melindungi perdagangan Belanda
di Bali.
3. Belanda diizinkan mengibarkan bendera di Bali.
Adanya aturan-aturan yang ditetapkan Belanda
tersebut membuat Raja Bali merasa diinjak-
injak kekuasaannya oleh Belanda. Maka,
dikobarkanlah perang anti-Belanda. Jalannya
perang sebagai berikut :
Perang di Bali (1846-1849)
1. Perang Buleleng (1846)
Ini terjadi karena Raja Buleleng merampas kapal
Belanda sehingga terjadi pertempuran dan Buleleng
jatuh ke tangan Belanda. Kemudian raja menyingkir ke
benteng Jagaraga bersama Patih Jelantik.
2. Perang Jagaraga 1848
Dalam pertempuran ini, Patih Jelantik bertahan di
benteng Jagaraga. Tetapi, akhirnya ada salah satu
bagian yang berhasil dikuasai Belanda, namun Patih
Jelantik tetap bertahan.
3. Perang Jagaraga II
Ini terjadi karena Raja Buleleng merampas kapal
Belanda sehingga terjadi pertempuran dan Buleleng
jatuh ke tangan Belanda. Kemudian raja menyingkir ke
benteng Jagaraga bersama Patih Jelantik.
Sebab Umum :
1. Belanda yang merajela di pengusahaan perkebunan
dan pertambangan di Kalimantan Selatan.
2. Belanda bermaksud untuk menguasai Kalimantan
Selatan.
3. Belanda terlalu ikut campur tangan dengan urusan
kerajaan.
Sebab Khusus :
1. Pangeran Hidayatullah yang seharusnya menjadi
Sultan Banjar ditangguhkan oleh Belanda
kesultanannya yang kemudian menganggap
Tamjidullah sebagai sultan yang sebenarnya tidak
berhak menjadi sultan. Setelah mencopot
Tamjidullah dari kursi sultan, Belanda membubarkan
Kesultanan Banjar.
Perang Banjar (1859-1905)
• Pangeran Hidayatullah yang ditangguhkan
kesultanannya oleh Belanda semakin geram melihat
sikap Belanda yang kemudian mengangkat Tamjidullah
sebagai sultan. Tamjidullah tidaklah disenangi oleh
masyarakat Banjar, akibatnya kekacaun terjadi. Para
tokoh-tokoh seperti Pangeran Antasari dan Aling serta
para punggawa Kesultanan Banjar yang tidak suka
dengan Belanda mendorong terjadinya perang untuk
mengusir Belanda dari tanah Banjar dan mengembalikan
Kesultanan Banjar ke Pangeran Hidayatullah.
• Pangeran Hidayatullah, Pangeran Antasari dan para
tokoh besar lainnya melakukan gerilya untuk
menghancurkan pos-pos Belanda. Mereka tidak pernah
menyerah ataupun mau menerima imbalan agar
menghentikan perang. Perang ini berkobar selama
beberapa dekade, hingga Pangeran Hidayatullah
tertangkap saat menyerbu pos Belanda di Barabai
bersama dengan Demang Lehman, ia lalu diasingkan ke
Cianjur bersama anggota keluarganya yang ikut
bergerilya
• Setelah Sultan Hidayatullah ditipu belanda
dengan terlebih dahulu menyandera Ratu Siti
(Ibunda Pangeran Hidayatullah) dan
kemudian diasingkan ke Cianjur, maka
perjuangan rakyat Banjar dilanjutkan pula
oleh Pangeran Antasari. Sebagai salah satu
pemimpin rakyat yang penuh dedikasi
maupun sebagai sepupu dari pewaris
kesultanan Banjar.
• Untuk mengokohkan kedudukannya sebagai
pemimpin perjuangan umat Islam tertinggi di
Banjar bagian utara (Muara Teweh dan
sekitarnya), maka pada tanggal 14 Maret 1862,
bertepatan dengan 13 Ramadhan 1278 Hijriah.
• Dengan seruan : "Hidup untuk Allah dan Mati untuk
Allah!“
• Setelah berjuang di tengah-tengah rakyat, Pangeran
Antasari kemudian wafat tanpa pernah menyerah,
tertangkap, apalagi tertipu oleh bujuk rayu Belanda pada
tanggal 11 Oktober 1862 di Tanah Kampung Bayan
Begok, Sampirang, dalam usia lebih kurang 75 tahun.
Menjelang wafatnya, beliau terkena sakit paru-paru dan
cacar yang dideritanya setelah terjadinya pertempuran di
bawah kaki Bukit Bagantung.
1. Asal – Asul
a. Di awal abad ke-20, penduduk Batak Toba hidup
berkelompok dengan marga-marga otonom.
b. Setiap daerah atau clan otonom tersebut mempunyai
raja. Sisingamangaraja adalah pemimpin (religius)
yang paling disegani saat itu.
c. Sisingamangaraja adalah keturunan seorang pejabat
yang ditunjuk oleh Raja Pagaruyung yang sangat
berkuasa
Perang Tapanuli (1870-1907)
2. Latar Belakang Terjadinya Perlawanan
Sisingamangaraja (perang tapanuli) :
a. Perang Tapanuli (1878-1907) terjadi karena
diberlakukannya politik liberal yang membebaskan para
pengusaha Eropa untuk dapat menyewa tanah
penduduk pribumi dengan harga murah.
b. Adanya Zending atau misi penyebaran agama kristen di
Tapanuli dan sekitarnya.
c. Belanda memperluas kekuasaannya dalam rangka Pax
Netherlandica.
d. Kemarahan sisingamangaraja atas penempatan
pasukan Belanda di Tarutung .
c. Jalannya peperangan
a. Pada tanggal 16 Februari 1878 dan penyerangan
ke pos Belanda di Bahal Batu mulai dilakukan.
b. Pada tanggal 14 Maret 1878 datang Residen Boyle
bersama tambahan pasukan yang dipimpin oleh
Kolonel Engels sebanyak 250 orang tentara dari
Sibolga.
c. Pada tanggal 1 Mei 1878, Bangkara pusat
pemerintahan Sisingamangaraja diserang pasukan
kolonial.
d. Pada tahun 1877 para misionaris di Silindung dan
Bahal Batu meminta bantuan kepada pemerintah
kolonial Belanda dari ancaman diusir oleh
Singamangaraja XII.
e. Pada 3 Mei 1878 seluruh Bangkara dapat
ditaklukkan namun Singamangaraja XII beserta
pengikutnya dapat menyelamatkan diri dan
terpaksa keluar mengungsi.
f. Akhir Desember 1878 beberapa kawasan
seperti Butar, Lobu Siregar, Naga Saribu, Huta
Ginjang, Gurgur juga dapat ditaklukkan oleh
pasukan kolonial Belanda.
g. Sisingamangaraja XII menjalin hubungan
dengan pasukan Aceh dan dengan tokoh-tokoh
pejuang Aceh beragama Islam untuk
meningkatkan kemampuan tempur
pasukannya.
h. Pada tanggal 8 Agustus 1889, pasukan
Sisingamangaraja XII kembali menyerang Belanda.
Seorang prajurit Belanda tewas, dan Belanda harus
mundur
i. Pada tahun 1888, pejuang-pejuang Batak melakukan
penyerangan ke Kota Tua. Mereka dibantu orang-orang
Aceh yang datang dari Trumon.
4. Akhir Perlawanan Sisingamangaraja XI
a. Pada Tahun 1907Pertahanan Raja Si Singamangaraja
XII diserang dari tiga jurusan. Tetapi Raja Si
Singamangaraja XII tidak bersedia menyerah.
b. Kaum wanita dan anak-anak tertangkap oleh Belanda
pada Tanggal 17 Juni 1907 Singamangaraja XII oleh
pasukan Marsose Belanda pimpinan Kapten Christoffel.
c. Raja Si Singamangaraja XII gugur bersama dua
putranya Patuan Nagari dan Patuan Anggi serta
putrinya Lopian.
d. Banyak gugurnya pengikut dan beberapa panglimanya
termasuk yang berasal dari Aceh, karena mereka juga
berprinsip pantang menyerah.
Pertanyaan
Perlawanan terhadap kolonial belanda

Perlawanan terhadap kolonial belanda

  • 1.
    PERLAWANAN TERHADAP KOLONIAL BELANDA Kelompok4 : 1. Afifah Zulianuriawani 2. Hermanto 3. Raharani 4. Rifky Alaf Haikal 5. Yessika Yolanda 6. Yohanes Putra Togar Hasian Hutepea
  • 2.
    Perang ini disebabkanoleh : 1. Tindakan Belanda yang sewenang-wenang 2. Monopolinya yang merugikan Ini yang menyebabkan Pattimura berkewajiban membebaskan rakyat Saparua Maluku. Residen Van den Berg menolak membayar harga perahu menurut kesepakatan. Hal ini berakibat menambah kemarahan rakyat. Pattimura yang juga dikenal dengan nama Thomas Matulessi menyerbu benteng Duurstede dan berhasil menguasainya dan residen Van den Berg terbunuh. Perang di Maluku (1817)
  • 3.
    Penggantinya ialah LetkolGroot yang berpolitik licik serta berusaha memecah belah. Banyak pemimpin yang ditangkapnya sehingga kekuatan semakin lemah. Maka dalam pertempuran selanjutnya, Pattimura beserta kawan-kawannya tertangkap dan pada tanggal 16 Desember 1817 Pattimura dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung di benteng New Victoria. Perjuangannya dibantu Christina Martha Tiahahu.
  • 4.
    Mula-mula merupakan perangantara kaum adat dengan para ulama . Perang ini disebabkan oleh: 1. Adanya perbedaan pendapat antara kaum ulama dengan kaum adat. 2. Kaum ulama ingin memberantas kebiasaan buruk yang dilakukan kaum adat, seperti berjudi, menyambung ayam dan mabuk. PERANG PADRI (1821-1832)
  • 5.
    Karena terdesak kaumadat meminta bantuan kepada Belanda, tetapi kaum paderi menyadari maksud pihak Belanda untuk menguasai Sumatra Barat. Lalu kaum adat dan paderi bersatu untuk melawan Belanda. Belada meminta bantuan dari Pulau Jawa yang diperkuat oleh Pasukan Sentot Ali Basa Prawirodirjo, tetapi Sentot Ali Basa Prawirodirjo akhirnya berpihak kepada kaum Paderi sehingga Sentot Ali Basa Prawirodirjo ditangkap dan dibuang ke Cianjur. Dengan siasat Benteng Stelsel pada tahun 1837 Belanda mengepung Imam Bonjol, sehingga Imam Bonjol ditangkap dan dibuang ke Cianjur kemudian dipindahkan ke Manado hingga wafat tahun 1864.
  • 6.
    Penyebab terjadi PerangDiponegoro adalah : 1. Sebab umum a. Penderitaan dan kesenggaraan rakyat akibat pajak. b. Campur tangan Belanda dalam urusan istana. c. Munculnya kecemasan dikalangan para ulama karena berkembangnya Budaya Barat. 2. Sebab khusus Belanda membuat jalan di Tegalrejo yang melewati makam leluhur Diponegoro tanpa minta izin terlebih dahulu. Dalam perang ini Diponegoro menggunakan siasat perang gerilya yang didukung oleh kaum bangsawan dan ulama serta bupati, antara lain Kyai Mojo dan Sentot Ali Basa Prawirodirjo PERANG DIPONEGORO (1825-1830)
  • 7.
    Belanda menggunakan siasatbenteng stelsel dalam upaya mengalahkan diponegoro. Pasukan Diponegoro semakin lemah terlebih lagi pada tahun 1829 Kyai Mojo dan Sentot Ali Basa memisahkan diri. Lemahnya pasukan Diponegoro menyebabkan Diponegoro menerima tawaran Belanda untuk berunding di Magelang, dalam perundingan ini pihak Belanda diwakili oleh Jenderal De Kock namum perundingan mengalami kegagalan dan Diponegoro di tangkap dan dibawa ke Batavia, selanjutnya dipindahkan ke Menado kemudian dipindahkan lagi ke Makasar dan meninggal di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855. Pengeran Diponegoro.
  • 8.
    Perlawanan dipimpin olehpara Bangsawan (Tengku) dan para tokoh ulama (Tengku) seperti Teuku Umar, Teuku Cik Ditiro, Penglima Polem, Cut Nyak Dien, Cut Mutia dan lain-lain. Dalam rangka pax netherlandika. Penyebab peperangan : 1) Karena Belanda melanggar Perjanjian Traktat London tahun 1824 yang berisi bahwa Inggris dan Belanda tidak boleh mengganggu ke merdekaan Aceh. Perang di Aceh (1873-1904)
  • 9.
    2) Untuk menguasaiAceh, Belanda menggunakan cara seperti Konsentiasi Stelsel dan mendatangkan ahli Agama Islam yaitu Snouch Hurgronye. 3) Akhirnya Aceh dapat dikuasai oleh Belanda, kemudian Raja-Raja didaerah yang berhasil dikuasai oleh Belanda diikat dengan Plakat Pendek yang isinya : 1. Mengakui kedaulatan Belanda atas daerahnya. 2. Tidak akan mengadakan hubungan dengan negara lain. 3. Taat dan patuh pada Pemerintah Belanda
  • 10.
    Penyebab peperangan : 1.Sikap tegas penolakan Sultan Badruddin atas kedatangan Belanda yang ingin kembali menguasai Palembang setelah Inggris meninggalkan Indonesia. Sultan Badruddin dahulu pernah menjadi Sultan Palembang dan kemudian diturunkan secara paksa oleh pemerintah Inggris ketika masih berkuasa di Indonesia, yaitu digantikan oleh Sultan Najamuddin. Perang di Palembang (1804-1821)
  • 11.
    2. Setelah merebutkembali kekuasaan kesultanan dari Najamuddin, tahun 1819 Sultan Badruddin selalu menghalangi setiap kapal Belanda yang memasuki sungai Musi. Insiden ini banyak menelan korban terutama dari pihak Belanda. Pihak Belanda tidak tinggal diam dan menyerbu Palembang hingga meletuslah perang Palembang. Pada tahun 1821, Belanda dapat menguasai ibu kota Palembang dan menangkap Sultan Badruddin. Setelah Sultan Badruddin tertangkap, selanjutnya ia diasingkan ke Ternate. Perlawanan rakyat Palembang masih sering terjadi pada tahun 1825, tetapi status Kerajaan Palembang telah dibubarkan oleh Belanda.
  • 12.
    Patih Jelantik adalahpatih Kerajaan Buleleng yang melawan Belanda. Penyebab peperanga : 1. Hukum tawan karang adalah hak Raja Bali yang akan dihapus Belanda. 2. Raja harus melindungi perdagangan Belanda di Bali. 3. Belanda diizinkan mengibarkan bendera di Bali. Adanya aturan-aturan yang ditetapkan Belanda tersebut membuat Raja Bali merasa diinjak- injak kekuasaannya oleh Belanda. Maka, dikobarkanlah perang anti-Belanda. Jalannya perang sebagai berikut : Perang di Bali (1846-1849)
  • 13.
    1. Perang Buleleng(1846) Ini terjadi karena Raja Buleleng merampas kapal Belanda sehingga terjadi pertempuran dan Buleleng jatuh ke tangan Belanda. Kemudian raja menyingkir ke benteng Jagaraga bersama Patih Jelantik. 2. Perang Jagaraga 1848 Dalam pertempuran ini, Patih Jelantik bertahan di benteng Jagaraga. Tetapi, akhirnya ada salah satu bagian yang berhasil dikuasai Belanda, namun Patih Jelantik tetap bertahan. 3. Perang Jagaraga II Ini terjadi karena Raja Buleleng merampas kapal Belanda sehingga terjadi pertempuran dan Buleleng jatuh ke tangan Belanda. Kemudian raja menyingkir ke benteng Jagaraga bersama Patih Jelantik.
  • 14.
    Sebab Umum : 1.Belanda yang merajela di pengusahaan perkebunan dan pertambangan di Kalimantan Selatan. 2. Belanda bermaksud untuk menguasai Kalimantan Selatan. 3. Belanda terlalu ikut campur tangan dengan urusan kerajaan. Sebab Khusus : 1. Pangeran Hidayatullah yang seharusnya menjadi Sultan Banjar ditangguhkan oleh Belanda kesultanannya yang kemudian menganggap Tamjidullah sebagai sultan yang sebenarnya tidak berhak menjadi sultan. Setelah mencopot Tamjidullah dari kursi sultan, Belanda membubarkan Kesultanan Banjar. Perang Banjar (1859-1905)
  • 15.
    • Pangeran Hidayatullahyang ditangguhkan kesultanannya oleh Belanda semakin geram melihat sikap Belanda yang kemudian mengangkat Tamjidullah sebagai sultan. Tamjidullah tidaklah disenangi oleh masyarakat Banjar, akibatnya kekacaun terjadi. Para tokoh-tokoh seperti Pangeran Antasari dan Aling serta para punggawa Kesultanan Banjar yang tidak suka dengan Belanda mendorong terjadinya perang untuk mengusir Belanda dari tanah Banjar dan mengembalikan Kesultanan Banjar ke Pangeran Hidayatullah.
  • 16.
    • Pangeran Hidayatullah,Pangeran Antasari dan para tokoh besar lainnya melakukan gerilya untuk menghancurkan pos-pos Belanda. Mereka tidak pernah menyerah ataupun mau menerima imbalan agar menghentikan perang. Perang ini berkobar selama beberapa dekade, hingga Pangeran Hidayatullah tertangkap saat menyerbu pos Belanda di Barabai bersama dengan Demang Lehman, ia lalu diasingkan ke Cianjur bersama anggota keluarganya yang ikut bergerilya
  • 17.
    • Setelah SultanHidayatullah ditipu belanda dengan terlebih dahulu menyandera Ratu Siti (Ibunda Pangeran Hidayatullah) dan kemudian diasingkan ke Cianjur, maka perjuangan rakyat Banjar dilanjutkan pula oleh Pangeran Antasari. Sebagai salah satu pemimpin rakyat yang penuh dedikasi maupun sebagai sepupu dari pewaris kesultanan Banjar. • Untuk mengokohkan kedudukannya sebagai pemimpin perjuangan umat Islam tertinggi di Banjar bagian utara (Muara Teweh dan sekitarnya), maka pada tanggal 14 Maret 1862, bertepatan dengan 13 Ramadhan 1278 Hijriah.
  • 18.
    • Dengan seruan: "Hidup untuk Allah dan Mati untuk Allah!“ • Setelah berjuang di tengah-tengah rakyat, Pangeran Antasari kemudian wafat tanpa pernah menyerah, tertangkap, apalagi tertipu oleh bujuk rayu Belanda pada tanggal 11 Oktober 1862 di Tanah Kampung Bayan Begok, Sampirang, dalam usia lebih kurang 75 tahun. Menjelang wafatnya, beliau terkena sakit paru-paru dan cacar yang dideritanya setelah terjadinya pertempuran di bawah kaki Bukit Bagantung.
  • 19.
    1. Asal –Asul a. Di awal abad ke-20, penduduk Batak Toba hidup berkelompok dengan marga-marga otonom. b. Setiap daerah atau clan otonom tersebut mempunyai raja. Sisingamangaraja adalah pemimpin (religius) yang paling disegani saat itu. c. Sisingamangaraja adalah keturunan seorang pejabat yang ditunjuk oleh Raja Pagaruyung yang sangat berkuasa Perang Tapanuli (1870-1907)
  • 20.
    2. Latar BelakangTerjadinya Perlawanan Sisingamangaraja (perang tapanuli) : a. Perang Tapanuli (1878-1907) terjadi karena diberlakukannya politik liberal yang membebaskan para pengusaha Eropa untuk dapat menyewa tanah penduduk pribumi dengan harga murah. b. Adanya Zending atau misi penyebaran agama kristen di Tapanuli dan sekitarnya. c. Belanda memperluas kekuasaannya dalam rangka Pax Netherlandica. d. Kemarahan sisingamangaraja atas penempatan pasukan Belanda di Tarutung .
  • 21.
    c. Jalannya peperangan a.Pada tanggal 16 Februari 1878 dan penyerangan ke pos Belanda di Bahal Batu mulai dilakukan. b. Pada tanggal 14 Maret 1878 datang Residen Boyle bersama tambahan pasukan yang dipimpin oleh Kolonel Engels sebanyak 250 orang tentara dari Sibolga. c. Pada tanggal 1 Mei 1878, Bangkara pusat pemerintahan Sisingamangaraja diserang pasukan kolonial. d. Pada tahun 1877 para misionaris di Silindung dan Bahal Batu meminta bantuan kepada pemerintah kolonial Belanda dari ancaman diusir oleh Singamangaraja XII.
  • 22.
    e. Pada 3Mei 1878 seluruh Bangkara dapat ditaklukkan namun Singamangaraja XII beserta pengikutnya dapat menyelamatkan diri dan terpaksa keluar mengungsi. f. Akhir Desember 1878 beberapa kawasan seperti Butar, Lobu Siregar, Naga Saribu, Huta Ginjang, Gurgur juga dapat ditaklukkan oleh pasukan kolonial Belanda. g. Sisingamangaraja XII menjalin hubungan dengan pasukan Aceh dan dengan tokoh-tokoh pejuang Aceh beragama Islam untuk meningkatkan kemampuan tempur pasukannya.
  • 23.
    h. Pada tanggal8 Agustus 1889, pasukan Sisingamangaraja XII kembali menyerang Belanda. Seorang prajurit Belanda tewas, dan Belanda harus mundur i. Pada tahun 1888, pejuang-pejuang Batak melakukan penyerangan ke Kota Tua. Mereka dibantu orang-orang Aceh yang datang dari Trumon.
  • 24.
    4. Akhir PerlawananSisingamangaraja XI a. Pada Tahun 1907Pertahanan Raja Si Singamangaraja XII diserang dari tiga jurusan. Tetapi Raja Si Singamangaraja XII tidak bersedia menyerah. b. Kaum wanita dan anak-anak tertangkap oleh Belanda pada Tanggal 17 Juni 1907 Singamangaraja XII oleh pasukan Marsose Belanda pimpinan Kapten Christoffel. c. Raja Si Singamangaraja XII gugur bersama dua putranya Patuan Nagari dan Patuan Anggi serta putrinya Lopian. d. Banyak gugurnya pengikut dan beberapa panglimanya termasuk yang berasal dari Aceh, karena mereka juga berprinsip pantang menyerah.
  • 25.