Pengembangan Industri Kreatif Togar M. Simatupang Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung 24 Desember 2010 Paparan pada Acara Kunjungan Lapangan Disperindag Provinsi Jawa Tengah ke Cimahi Creative Association dalam rangka Rencana Pengembangan  Industri Kreatif di Jawa Tengah
Kilasan Bio  Sekilas Ekonomi Kreatif Peta Nasional Peta Jabar Cetak Biru Industri Kreatif Jabar Saran Pengembangan Industri Kreatif Saran Pengembangan Jejaring
Bio – Togar M. Simatupang Pendidikan:  B.Eng. in Industrial Engineering, Bandung Institute of Technology (1991) M.Tech. in Technology and Quality Management, Massey University (1996) Ph.D. in Decision Science, Massey University, New Zealand (2004) Pengalaman kerja: Speaker, researcher, advisor Professor at the School of Business and Management in ITB Member of the Academic Senate at Bandung Institute of Technology (2006-2009) Head of Master and Doctoral Study Program in Management at ITB (2009-now) Proyek: Creative Bandung and Creative Jakarta Product Development in Digital Creative Industries Supply Chain Collaboration Mata kuliah yang diajarkan: ekonomi kreatif, manajemen rantai pasokan, dan manajemen operasi dan teknologi Minat: philosophy, design, literature, creativity, science fiction
Sekilas Ekonomi Kreatif
Ekonomi Kreatif Gagasan Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Ekonomi Industri Ekonomi Kreatif Bahan Baku Sumberdaya Alam, Tenaga Kerja, dan Modal Gagasan-gagasan Pemampu Produksi Massal Kastomisasi Massal Berbasis Teknologi Informasi dan Produk Desain Organisasi Perusahaan Besar, Skala Ekonomi Pewirausaha, UKM, Agen bebas, Jejaring Kerjasama Faktor Sukses Tenaga kerja, kuantitas, biaya rendah, stabilitas, pengendalian Talenta, Kecepatan, Inovasi, Fleksibilitas
SEKILAS EKONOMI KREATIF Distribusi dan Pasar Media Panggung Pertunjukan Pagelaran Festival   Penjual Antara Ritel   Perpustakaan dan Museum Produksi Hiburan Film & Video Production Music production  Performing Arts Computer Games Radio and TV Perpustakaan Spoken Word Books • Newspapers Periodicals Seni Visual Artisans and Crafts Foundries Seni Kulinari Food Processing Restaurants • Caterers Desain Graphic Design Advertising • Printing Warisan Construction Trades Millwork  Ornamental mfg. Kreasi Pengarang Pelukis Koki Pematung Fotografer Koreografer Artisan Desainer Interior Arsitek Taman Desainer Grafis Arsitek Komposer Pengarang Lagu Musikus Kota Nasional Internasional Sistem Pendukung Jasa •  Pendidikan •  Pemerintah  •  Jejaring KREATIF EKONOMI   DEFINISI
Chronology of Indonesia Creative Economy The 2007 Indonesian Creative Industry Study : creative industries contributed an average 6.3% to Indonesia's GDP between 2002 and 2006. Road Map  Indonesia Design Power  2006 - 2010 was launched on 13 July 2006 by The Indonesian Ministry of Trade, Ministry of Industry and Ministry of Cooperation & SME which is aimed to redesign and improve creative products. Rebirth of  Indonesian Film Industry  since 2000. There are approximately 40 to 50 films released each year compared to around 100 films 15 years ago. Development of Creative Economy Indonesia 2025  to further develop the emerging creative industries.  Presidential Instruction  Number 6  on  Creative Economy Development  dated 5 August 2009  "Let us develop a creativity-based economy by putting together ideas, art, and technology. We can do it, we must be able to compete with other nations in developing this creative economy“, Yudhoyono said in a speech to open  the Indonesian Cultural Products Exhibition  on 11 July 2007. Indonesia's  Music Industry  grew significantly since 2000 Two Indonesias films, Berbagi Suami (Love for Share) directed by Nia Dinata, and Serambi (Aceh and Tsunami aftermath, the movie) directed by Garin Nugroho, are on the go to be in one of the worlds outstanding film festival,  the Cannes Film Festival , held in France, on 17 th -28 th  May 2006. Indonesia Creative Week 2009 , 25 - 28 June 2009 The Season of Indonesian Cultural Heritage & Craft , 4-8 June 2008 Yudhoyono announced on 20 January 2010 that he would establish a  National Innovation Committee . The first  Trade Expo Indonesia  in 1986 as Resource Indonesia Exhibition After National Mapping Project 2006 British Council  International Young Creative Entrepreneur  (IYCE)
Sektor Industri Kreatif Indonesia Periklanan Arsitektur Pasar Seni dan Antik Kerajinan Desain Desain Fesyen Film, Video, dan Fotografi Permainan Interaktif Musik Seni Pertunjukan Penerbitan dan Percetakan Jasa Komputer dan Piranti Lunak Televisi dan Radio Riset dan Pengembangan
Persentase Kontribusi Nilai Tambah Industri Kreatif Indonesia Industri Kreatif  adalah “kegiatan yang berasal dari kreativitas individu, keahlian, dan bakat yang memiliki potensi untuk penciptaan lapangan kerja dan kesejahteraan melalui pengembangan dan pemanfaatan kekayaan intelektual”. (UK Creative Industries Task Force, 1998). Film & Animasi (0,3% Arsitektur (3,2%)  Pasar Antik dan Seni (0,6%) Kerajinan (28%) Desain (7%) Fesyen (44%) Periklanan (7%)  Permainan Interaktif (0,3%) Musik (3%) Seni Pertunjukan (0,1%) Piranti Lunak & Jasa Komputer (1%) Televisi & Radio (2%) Penerbitan & Percetakan (3,5%) Penelitian & Pengembangan (1%) Sumber: the Ministry of Trade Republic of Indonesia (2009)
Temuan Studi Kontribusi Ekonomi Kreatif Indonesia ( Mari Elka Pangestu) Industri kreatif Indonesia menyumbangkan sekitar 5,67% dari PDB Indonesia pada tahun 2006  Nilai tambah bruto sekitar 104,787 miliar rupiah  Jumlah tenaga kerja 4.902.387 orang Tingkat partisipasi pekerja sebesar 5,14% Produktivitas tenaga kerja sebesar 21.775 ribu rupiah per pekerja Nilai ekspor sekitar 81.428 miliar rupiah Pertumbuhan ekspor sebesar 4,67% Persentase ekspor terhadap ekspor nasional sebesar 9,13%. Jumlah perusahaan sekitar 2.188.815 Pertumbuhan jumlah perusahaan sebesar 12,38% Pesentase jumlah perusahaan terhadap total perusahaan adalah 5,17%
Model of Development Preparation Stage 2008-2015 Acceleration Stage 2016-20 25 Three main actors involved in creative industries : Academics  who drive the advancement of science & ideas as creative resources and educate creative human resources . Business  are enterprises which transform creative into products and services with economic values. Government   are agencies as facilitators , regulator s ,  consumers, i nvestor,  and urban p lanner   that  make creative industries grow and sustain. Plus: Creative Communities, Philanthropies, and Mass Media Society Spinning of creativity, innovation, and commercialization Society Industry Technology Resources People Institution Financial Intermediary Academia Business Government “ The Triple Helix”
PROGRESS INDICATORS Source: the Ministry of Trade Republic of Indonesia (2009)
Ekonomi Kreatif Jawa Barat
Jumlah Tenaga Kerja pada Industri Kreatif di Jawa Barat dari tahun 2001-2005 Jenis Sektor Industri Kreatif 2001 2002 2003 2004 2005 Desain Fesyen 268.642 260.887 235.267 226.875 231.495 Kerajinan 121.093 126.705 124.498 117.369 112.480 Penerbitan, Percetakan, Media Rekaman 5.127 8.059 5.331 6.340 5.536 Radio dan Televisi 38.648 37.352 47.698 50.030 43.125 Jumlah 433.510 433.003 412.794 400.614 392.636 Total Tenaga Kerja 12.087.759 12.119.368 12.987.770 14.598.140 15.441.798 % Terhadap Total Tenaga Kerja 3,59% 3,57% 3,18% 2,74% 2,54%
Prioritas Pengembangan Industri Kreatif Jabar Desain   Produk, Fesyen, Arsitektur, Periklanan Kerajinan   Penyerapan tenaga kerja Media Cetak   Pendidikan Musik   Kawula Muda dan musik tradisional Seni Pertunjukan    Warisan Budaya Parahyangan Riset dan Pengembangan    Bandung Kota Pendidikan Sains, Teknologi, dan Seni
Penentu Daya Saing Industri Kreatif Kejelasan & Jaminan  Regulasi & Hukum Riset & Informasi Kreasi Produksi Distribusi Pemasaran Penciptaan Nilai Penyampaian Nilai Komunikasi Nilai Rantai Nilai Industri Kreatif Komunitas Kreatif IKLIM INDUSTRI KREATIF Industri Pendukung dan Terkait RANTAI PENAWARAN RANTAI PERMINTAAN
Iklim  bertumbuh: Kebijakan  Industri  Kreatif Tujuan: Produktivitas  dan  Daya Saing Industri Kreatif Sisi permintaan: Komersialisasi, Promosi,  Distribusi, Edukasi Kompetensi: Pengembangan SDM dan  Komunitas Kreatif Sisi penawaran: Kreasi,  Produksi, dan Merek Instrumen Pengembangan Ekonomi Kreatif di Jawa Barat Berbagi  Kepentingan: Riset,  Informasi, dan Forum
Format Pengembangan Industri Kreatif PELAKU  UTAMA KEBUTUHAN UPAYA FAKTOR  PENENTU FAKTOR  PENDUKUNG MASYARAKAT PERUSAHAAN PEMERINTAH AKSES KE  INDUSTRI KREATIF DAN PENINGKATAN KESEJAHTERAAN KELESTARIAN  BUDAYA DAN  PENINGKATAN  DAYA SAING KEBERLANJUTAN USAHA DAN PASOKAN KARYA KREATIF IMPLEMENTASI CETAK BIRU   PEMBANGUNAN INDUSTRI KREATIF KEARIFAN LOKAL,  PEKERJA KREATIF, KOMUNITAS  KREATIF, PEWIRAUSAHA  KREATIF, WARISAN BUDAYA, PARA DERMAWAN KEPASTIAN PASAR RISET DAN  PENGEMBANGAN, PROGRAM PEMBANGUNAN MASYARAKAT KEBIJAKAN PUBLIK: 1. Komunitas Kreatif 2. Intelektual 3. Ekonomi 4. Pendidikan Kreatif  5. Tata Kota Kreatif 6. Jejaring Kota Kreatif
Rencana Strategis Pengembangan Industri Kreatif Jawa Barat 2008-2010 Rencana Jangka Pendek 2011 2012 2013 Rencana Jangka Menengah > 2015 Jangka Panjang Peletakan Dasar Industri  kreatif Identifikasi Potensi Industri  Kreatif Jawa Barat Penyusunan kebijakan Industri Kreatif  (blueprint)   Tujuan Peningkatan Permintaan Produk Kreatif Peningkatan Investasi Dalam dan Luar Negeri Pemantapan Pendidikan dan Pelatihan  Pekerja untuk Industri Kreatif Pemantapan lebih lanjut Peningkatan kemitraan strategis Pencitraan Ikon  Nasional Industri Kreatif Pembentukan Komisi Kreatif Cetak Biru Industri Kreatif Statistik Industri Kreatif  Kebijakan Perijinan Paket Kebijakan Keuangan Paket Kebijakan Investasi  Sosialisasi Industri Kreatif Pembinaan Komunitas Kreatif Hasil yang  diharapkan Pasar Kreatif: ekspor dan substitusi impor Ekspo Industri Kreatif Duta Jabar Cinta Produk Jabar Konsorsium Pendidikan dan Pelatihan Keunggulan Daya  Saing Jabar Jabar Ikon Nasional Penghargaan  Kepeloporan Industri Kreatif
Ekonomi Kreatif dan Pengangguran Pendekatan Penanganan Pengangguran: Individu dalam masyarakat    Pekerja kreatif yang dapat bekerja bagi orang lain atau bagi diri sendiri Sektor pendidikan    Pekerja kreatif dan pewirausaha kreatif Sektor swasta (bisnis)    Pekerja kreatif dan pewirausaha kreatif Sektor komunitas    Pekerja kreatif dan pewirausaha Penggerak    (1) Permintaan domestik: Cinta Produk Buatan Jabar dan (2) Permintaan eskpor ke kota lain atau negara lain (perlu riset)
Hirarki Pendekatan Tingkat  NASIONAL : Identitas Nasional Promosi Komitmen Nasional Tingkat  PROVINSI : Identitas Provinsi Tingkat  KOTA : Identitas Kota & Prasarana Kebijakan Modal Kreatif Komunitas Kreatif Pekerja Kreatif Pewirausaha Kreatif Pendidikan Kreatif Operasional Strategis Taktikal
Konsep Pengembangan Ekonomi Kreatif (1) KOTA PROVINSI JABAR NASIONAL INTERNASIONAL ANTAR KOTA INTRA KOTA PRODUK KREATIF KAPASITAS SUMBERDAYA
Konsep Pengembangan Ekonomi Kreatif (2) INDIVIDU KOMUNITAS PEWIRAUSAHA BISNIS PEKERJA KREATIF PASAR Berinovasi Bertumbuh Berlatih Berkembang Terampil Berkembang
Spiral Ekonomi Kreatif Kewirausahaan Kreatif Usaha/Produk Kreatif Baru Industri  Kreatif Ekonomi  Kreatif Kesejahteraan Kualitas Hidup Penyerapan Tenaga Kerja Pembangunan Manusia Pengembangan Kota 1. Periklanan 2. Arsitektur  3. Pasar Seni dan Antik 4. Kerajinan 5. Desain 6. Desain Fesyen 7. Film 8. Musik  9. Seni Pertunjukan  10. Penerbitan  11. Riset dan Pengembangan 12. Jasa Komputer dan Piranti Lunak 13. TV dan Radio 14. Permainan Interaktif Komunitas Kreatif Kepemimpinan Kreatif
Tujuan Pembangunan Masyarakat Meningkatkan kapasitas kreatif untuk berpartisipasi dalam ekonomi kreatif Mendukung pertumbuhan industri kreatif di kota-kota Jabar Mendorong partisipasi komunitas dalam ekonomi kreatif Mendukung perusahaan bisnis dalam pengembangan komunitas kreatif
Tantangan Jabar Bagaimana mengembangkan ruang kreatif dan mempererat jalinan kerjasama komunitas di Jabar dalam meningkatkan daya saing daerah? Strategi melalui BUDAYA KREATIF Plus (K+)  = Jabar yang kreatif dan produktif
Model Perubahan: Jabar Kreatif Plus Jabar yang kreatif dan produktif Lembaga, Nilai-nilai, Peristiwa, Kota Kreatif Seni, Ide-ide Kesejahteraan Terampil , Berdaya saing
Mengapa peningkatan kapasitas kreatif? Pembangunan = k  · s k = kapasitas   ekonomi, sosial, teknologi, dan politik– tingkat berfungsinya struktur sosial, ekonomi, politik, organisasi, dan kepemimpinan r = sumberdaya sumberdaya alam, lokasi, tenaga kerja, investasi modal, iklim kewirausahaan, transportasi, komunikasi, komposisi industri, teknologi, ukuran dan keterkaitan dengan pasar domestik dan ekspor
Saran Komitmen Jabar (1) Budaya Jabar : menghargai kreativitas dan seni bukan hanya meningkatkan kualitas hidup Provinsi Jabar, tetapi juga menguatkan jalinan kerjasama komunitas dalam menghasilkan gagasan-gagasan dan inovasi. Pemimpin : memahami pentingnya kreativitas dalam komunitas dan ekonomi, membuat seni dan budaya sebagai prioritas pengembangan. Sistem Pendidikan : menyiapkan anak-anak dan kawula muda mengembangkan kreativitas dan produktivitas.
Saran Komitmen Jabar (2) Komunitas : memperluas peluang dan ruang untuk interaksi kreatif dan ekspresi. Bisnis : mendorong dan mengembangkan kreativitas para karyawannya dan masyarakat sekitar. Penduduk : mengakui bahwa kreativitas dapat membangun komunitas dan menyediakan jaminan pekerjaan dalam ekonomi kreatif.
STRATEGI PENGEMBANGAN KEPEMIMPINAN:   kepemimpinan sipil, bisnis, dan komunitas dalam pengembangan seni, budaya, dan kreativitas PARTISIPASI:   keterlibatan kelompok-kelompok komunitas dan pendidikan formal dan informal INVESTASI:   dukungan keuangan untuk seni, kreativitas, dan desain komunitas KOTA:   ruang kreatif dan produk kreatif yang unik di masing-masing kota di Jabar
Program 1: Kepemimpinan Kreatif Katalitas yang mendorong para pemimpin dalam mempromosikan seni, budaya, kreativitas, dan teknologi di Jabar
Program 2. Partisipasi Kreatif Pemberdayaan komunitas kreatif Jejaring kerjasama antar unsur-unsur komunitas kreatif Pemberdayaan Kawula Muda Kreatif Sektor Pendidikan terlibat dalam pelatihan kreatif: talenta    keahlian    produk kreatif    pekerjaan baru Sektor Bisnis terlibat dalam pelatihan kreatif bagi karyawan dan masyarakat
Program 3: Investasi Kreatif Pembiayaan  – Inkubator, modal ventura, donatur, sponsor, malaikat bisnis, syariah, dana bergulir, skema swasta-pemerintah, dll. Insentif  – Pajak, keringanan, perijinan, dll.
Program 4: Kota Kreatif Ruang Kreatif  – lingkungan yang mendorong berkembangnya dan kehadiran  orang kreatif, munculnya gagasan-gagasan baru dan keinginan berdomisili di kota-kota utama Jabar Bandung Kreatif  – kota Bandung sebagai simpul kota kreatif di Jabar, sebagai percontohan bagi kota-kota lainnya di Jabar
Prioritas dan Pentahapan 2 0 0 8 2 0 1 0 2 0 1 5 Perbaikan Iklim Ekonomi Kreatif Pemantapan Citra Industri Kreatif Indonesia Peningkatan Bisnis Kreatif dan  Lapangan Kerja Peningkatan Sumberdaya dan  Investasi
Indikator Keberhasilan Kualitas Kehidupan Pemasaran Industri Penghela Insentif dan Sumberdaya Kapasitas Kepemimpinan Komunitas Produktif Akses Permodalan Sumberdaya Manusia Prasarana Fisik * Perdagangan * Turisme * Teknologi * Talenta Kesejahteraan Sosial Lingkungan Pajak  dan Peraturan Daya Saing Kreatif Kinerja Ekonomi Klaster Industri Fondasi Program
Apa yang diharapkan akan terjadi? Iklim usaha yang  kondusif Peningkatan  Kerjasama Pasar yang  bergairah Peningkatan  lapangan kerja Kedatangan pekerja kreatif  (brain gain)   Munculnya usaha  baru dari  industri dan  universitas Citra Kreatif  nasional dan internasional  meningkat Peningkatan investasi publik, swasta, dan internasional  langsung Perluasan pasar dan produk Peningkatan  kemitraan baru Pendapatan dan kemakmuran meningkat
Penutup
Saran Pengembangan Ekonomi Prinsip-prinsip (solusi kreatif yang visioner, partisipasi, komunikasi, koordinasi, komitmen, dan kontinuitas) Pendekatan strategis (kebijakan, peta jalan, program, dan anggaran) dan partisipatif (pelaku dan komunitas) Metode pendekatan pemegang kepentingan: identifikasi para pemegang kepentingan memetakan posisi pemain berdasarkan tingkat kepentingan dan keterdekatan prioritaskan para pemegang kepentingan yang utama melakukan perencanaan partisipatif melakukan pemantauan berkala Agenda perubahan: ADKAR (Awareness, Desire, Knowledge, Activity, dan Reinforcement) Evaluasi berkala
Terima Kasih

Pengembangan industri kreatif

  • 1.
    Pengembangan Industri KreatifTogar M. Simatupang Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung 24 Desember 2010 Paparan pada Acara Kunjungan Lapangan Disperindag Provinsi Jawa Tengah ke Cimahi Creative Association dalam rangka Rencana Pengembangan Industri Kreatif di Jawa Tengah
  • 2.
    Kilasan Bio Sekilas Ekonomi Kreatif Peta Nasional Peta Jabar Cetak Biru Industri Kreatif Jabar Saran Pengembangan Industri Kreatif Saran Pengembangan Jejaring
  • 3.
    Bio – TogarM. Simatupang Pendidikan: B.Eng. in Industrial Engineering, Bandung Institute of Technology (1991) M.Tech. in Technology and Quality Management, Massey University (1996) Ph.D. in Decision Science, Massey University, New Zealand (2004) Pengalaman kerja: Speaker, researcher, advisor Professor at the School of Business and Management in ITB Member of the Academic Senate at Bandung Institute of Technology (2006-2009) Head of Master and Doctoral Study Program in Management at ITB (2009-now) Proyek: Creative Bandung and Creative Jakarta Product Development in Digital Creative Industries Supply Chain Collaboration Mata kuliah yang diajarkan: ekonomi kreatif, manajemen rantai pasokan, dan manajemen operasi dan teknologi Minat: philosophy, design, literature, creativity, science fiction
  • 4.
  • 5.
    Ekonomi Kreatif GagasanMendorong Pertumbuhan Ekonomi Ekonomi Industri Ekonomi Kreatif Bahan Baku Sumberdaya Alam, Tenaga Kerja, dan Modal Gagasan-gagasan Pemampu Produksi Massal Kastomisasi Massal Berbasis Teknologi Informasi dan Produk Desain Organisasi Perusahaan Besar, Skala Ekonomi Pewirausaha, UKM, Agen bebas, Jejaring Kerjasama Faktor Sukses Tenaga kerja, kuantitas, biaya rendah, stabilitas, pengendalian Talenta, Kecepatan, Inovasi, Fleksibilitas
  • 6.
    SEKILAS EKONOMI KREATIFDistribusi dan Pasar Media Panggung Pertunjukan Pagelaran Festival Penjual Antara Ritel Perpustakaan dan Museum Produksi Hiburan Film & Video Production Music production Performing Arts Computer Games Radio and TV Perpustakaan Spoken Word Books • Newspapers Periodicals Seni Visual Artisans and Crafts Foundries Seni Kulinari Food Processing Restaurants • Caterers Desain Graphic Design Advertising • Printing Warisan Construction Trades Millwork Ornamental mfg. Kreasi Pengarang Pelukis Koki Pematung Fotografer Koreografer Artisan Desainer Interior Arsitek Taman Desainer Grafis Arsitek Komposer Pengarang Lagu Musikus Kota Nasional Internasional Sistem Pendukung Jasa • Pendidikan • Pemerintah • Jejaring KREATIF EKONOMI DEFINISI
  • 7.
    Chronology of IndonesiaCreative Economy The 2007 Indonesian Creative Industry Study : creative industries contributed an average 6.3% to Indonesia's GDP between 2002 and 2006. Road Map Indonesia Design Power 2006 - 2010 was launched on 13 July 2006 by The Indonesian Ministry of Trade, Ministry of Industry and Ministry of Cooperation & SME which is aimed to redesign and improve creative products. Rebirth of Indonesian Film Industry since 2000. There are approximately 40 to 50 films released each year compared to around 100 films 15 years ago. Development of Creative Economy Indonesia 2025 to further develop the emerging creative industries. Presidential Instruction Number 6 on Creative Economy Development dated 5 August 2009 "Let us develop a creativity-based economy by putting together ideas, art, and technology. We can do it, we must be able to compete with other nations in developing this creative economy“, Yudhoyono said in a speech to open the Indonesian Cultural Products Exhibition on 11 July 2007. Indonesia's Music Industry grew significantly since 2000 Two Indonesias films, Berbagi Suami (Love for Share) directed by Nia Dinata, and Serambi (Aceh and Tsunami aftermath, the movie) directed by Garin Nugroho, are on the go to be in one of the worlds outstanding film festival, the Cannes Film Festival , held in France, on 17 th -28 th May 2006. Indonesia Creative Week 2009 , 25 - 28 June 2009 The Season of Indonesian Cultural Heritage & Craft , 4-8 June 2008 Yudhoyono announced on 20 January 2010 that he would establish a National Innovation Committee . The first Trade Expo Indonesia in 1986 as Resource Indonesia Exhibition After National Mapping Project 2006 British Council International Young Creative Entrepreneur (IYCE)
  • 8.
    Sektor Industri KreatifIndonesia Periklanan Arsitektur Pasar Seni dan Antik Kerajinan Desain Desain Fesyen Film, Video, dan Fotografi Permainan Interaktif Musik Seni Pertunjukan Penerbitan dan Percetakan Jasa Komputer dan Piranti Lunak Televisi dan Radio Riset dan Pengembangan
  • 9.
    Persentase Kontribusi NilaiTambah Industri Kreatif Indonesia Industri Kreatif adalah “kegiatan yang berasal dari kreativitas individu, keahlian, dan bakat yang memiliki potensi untuk penciptaan lapangan kerja dan kesejahteraan melalui pengembangan dan pemanfaatan kekayaan intelektual”. (UK Creative Industries Task Force, 1998). Film & Animasi (0,3% Arsitektur (3,2%) Pasar Antik dan Seni (0,6%) Kerajinan (28%) Desain (7%) Fesyen (44%) Periklanan (7%) Permainan Interaktif (0,3%) Musik (3%) Seni Pertunjukan (0,1%) Piranti Lunak & Jasa Komputer (1%) Televisi & Radio (2%) Penerbitan & Percetakan (3,5%) Penelitian & Pengembangan (1%) Sumber: the Ministry of Trade Republic of Indonesia (2009)
  • 10.
    Temuan Studi KontribusiEkonomi Kreatif Indonesia ( Mari Elka Pangestu) Industri kreatif Indonesia menyumbangkan sekitar 5,67% dari PDB Indonesia pada tahun 2006 Nilai tambah bruto sekitar 104,787 miliar rupiah Jumlah tenaga kerja 4.902.387 orang Tingkat partisipasi pekerja sebesar 5,14% Produktivitas tenaga kerja sebesar 21.775 ribu rupiah per pekerja Nilai ekspor sekitar 81.428 miliar rupiah Pertumbuhan ekspor sebesar 4,67% Persentase ekspor terhadap ekspor nasional sebesar 9,13%. Jumlah perusahaan sekitar 2.188.815 Pertumbuhan jumlah perusahaan sebesar 12,38% Pesentase jumlah perusahaan terhadap total perusahaan adalah 5,17%
  • 11.
    Model of DevelopmentPreparation Stage 2008-2015 Acceleration Stage 2016-20 25 Three main actors involved in creative industries : Academics who drive the advancement of science & ideas as creative resources and educate creative human resources . Business are enterprises which transform creative into products and services with economic values. Government are agencies as facilitators , regulator s , consumers, i nvestor, and urban p lanner that make creative industries grow and sustain. Plus: Creative Communities, Philanthropies, and Mass Media Society Spinning of creativity, innovation, and commercialization Society Industry Technology Resources People Institution Financial Intermediary Academia Business Government “ The Triple Helix”
  • 12.
    PROGRESS INDICATORS Source:the Ministry of Trade Republic of Indonesia (2009)
  • 13.
  • 14.
    Jumlah Tenaga Kerjapada Industri Kreatif di Jawa Barat dari tahun 2001-2005 Jenis Sektor Industri Kreatif 2001 2002 2003 2004 2005 Desain Fesyen 268.642 260.887 235.267 226.875 231.495 Kerajinan 121.093 126.705 124.498 117.369 112.480 Penerbitan, Percetakan, Media Rekaman 5.127 8.059 5.331 6.340 5.536 Radio dan Televisi 38.648 37.352 47.698 50.030 43.125 Jumlah 433.510 433.003 412.794 400.614 392.636 Total Tenaga Kerja 12.087.759 12.119.368 12.987.770 14.598.140 15.441.798 % Terhadap Total Tenaga Kerja 3,59% 3,57% 3,18% 2,74% 2,54%
  • 15.
    Prioritas Pengembangan IndustriKreatif Jabar Desain  Produk, Fesyen, Arsitektur, Periklanan Kerajinan  Penyerapan tenaga kerja Media Cetak  Pendidikan Musik  Kawula Muda dan musik tradisional Seni Pertunjukan  Warisan Budaya Parahyangan Riset dan Pengembangan  Bandung Kota Pendidikan Sains, Teknologi, dan Seni
  • 16.
    Penentu Daya SaingIndustri Kreatif Kejelasan & Jaminan Regulasi & Hukum Riset & Informasi Kreasi Produksi Distribusi Pemasaran Penciptaan Nilai Penyampaian Nilai Komunikasi Nilai Rantai Nilai Industri Kreatif Komunitas Kreatif IKLIM INDUSTRI KREATIF Industri Pendukung dan Terkait RANTAI PENAWARAN RANTAI PERMINTAAN
  • 17.
    Iklim bertumbuh:Kebijakan Industri Kreatif Tujuan: Produktivitas dan Daya Saing Industri Kreatif Sisi permintaan: Komersialisasi, Promosi, Distribusi, Edukasi Kompetensi: Pengembangan SDM dan Komunitas Kreatif Sisi penawaran: Kreasi, Produksi, dan Merek Instrumen Pengembangan Ekonomi Kreatif di Jawa Barat Berbagi Kepentingan: Riset, Informasi, dan Forum
  • 18.
    Format Pengembangan IndustriKreatif PELAKU UTAMA KEBUTUHAN UPAYA FAKTOR PENENTU FAKTOR PENDUKUNG MASYARAKAT PERUSAHAAN PEMERINTAH AKSES KE INDUSTRI KREATIF DAN PENINGKATAN KESEJAHTERAAN KELESTARIAN BUDAYA DAN PENINGKATAN DAYA SAING KEBERLANJUTAN USAHA DAN PASOKAN KARYA KREATIF IMPLEMENTASI CETAK BIRU PEMBANGUNAN INDUSTRI KREATIF KEARIFAN LOKAL, PEKERJA KREATIF, KOMUNITAS KREATIF, PEWIRAUSAHA KREATIF, WARISAN BUDAYA, PARA DERMAWAN KEPASTIAN PASAR RISET DAN PENGEMBANGAN, PROGRAM PEMBANGUNAN MASYARAKAT KEBIJAKAN PUBLIK: 1. Komunitas Kreatif 2. Intelektual 3. Ekonomi 4. Pendidikan Kreatif 5. Tata Kota Kreatif 6. Jejaring Kota Kreatif
  • 19.
    Rencana Strategis PengembanganIndustri Kreatif Jawa Barat 2008-2010 Rencana Jangka Pendek 2011 2012 2013 Rencana Jangka Menengah > 2015 Jangka Panjang Peletakan Dasar Industri kreatif Identifikasi Potensi Industri Kreatif Jawa Barat Penyusunan kebijakan Industri Kreatif (blueprint) Tujuan Peningkatan Permintaan Produk Kreatif Peningkatan Investasi Dalam dan Luar Negeri Pemantapan Pendidikan dan Pelatihan Pekerja untuk Industri Kreatif Pemantapan lebih lanjut Peningkatan kemitraan strategis Pencitraan Ikon Nasional Industri Kreatif Pembentukan Komisi Kreatif Cetak Biru Industri Kreatif Statistik Industri Kreatif Kebijakan Perijinan Paket Kebijakan Keuangan Paket Kebijakan Investasi Sosialisasi Industri Kreatif Pembinaan Komunitas Kreatif Hasil yang diharapkan Pasar Kreatif: ekspor dan substitusi impor Ekspo Industri Kreatif Duta Jabar Cinta Produk Jabar Konsorsium Pendidikan dan Pelatihan Keunggulan Daya Saing Jabar Jabar Ikon Nasional Penghargaan Kepeloporan Industri Kreatif
  • 20.
    Ekonomi Kreatif danPengangguran Pendekatan Penanganan Pengangguran: Individu dalam masyarakat  Pekerja kreatif yang dapat bekerja bagi orang lain atau bagi diri sendiri Sektor pendidikan  Pekerja kreatif dan pewirausaha kreatif Sektor swasta (bisnis)  Pekerja kreatif dan pewirausaha kreatif Sektor komunitas  Pekerja kreatif dan pewirausaha Penggerak  (1) Permintaan domestik: Cinta Produk Buatan Jabar dan (2) Permintaan eskpor ke kota lain atau negara lain (perlu riset)
  • 21.
    Hirarki Pendekatan Tingkat NASIONAL : Identitas Nasional Promosi Komitmen Nasional Tingkat PROVINSI : Identitas Provinsi Tingkat KOTA : Identitas Kota & Prasarana Kebijakan Modal Kreatif Komunitas Kreatif Pekerja Kreatif Pewirausaha Kreatif Pendidikan Kreatif Operasional Strategis Taktikal
  • 22.
    Konsep Pengembangan EkonomiKreatif (1) KOTA PROVINSI JABAR NASIONAL INTERNASIONAL ANTAR KOTA INTRA KOTA PRODUK KREATIF KAPASITAS SUMBERDAYA
  • 23.
    Konsep Pengembangan EkonomiKreatif (2) INDIVIDU KOMUNITAS PEWIRAUSAHA BISNIS PEKERJA KREATIF PASAR Berinovasi Bertumbuh Berlatih Berkembang Terampil Berkembang
  • 24.
    Spiral Ekonomi KreatifKewirausahaan Kreatif Usaha/Produk Kreatif Baru Industri Kreatif Ekonomi Kreatif Kesejahteraan Kualitas Hidup Penyerapan Tenaga Kerja Pembangunan Manusia Pengembangan Kota 1. Periklanan 2. Arsitektur 3. Pasar Seni dan Antik 4. Kerajinan 5. Desain 6. Desain Fesyen 7. Film 8. Musik 9. Seni Pertunjukan 10. Penerbitan 11. Riset dan Pengembangan 12. Jasa Komputer dan Piranti Lunak 13. TV dan Radio 14. Permainan Interaktif Komunitas Kreatif Kepemimpinan Kreatif
  • 25.
    Tujuan Pembangunan MasyarakatMeningkatkan kapasitas kreatif untuk berpartisipasi dalam ekonomi kreatif Mendukung pertumbuhan industri kreatif di kota-kota Jabar Mendorong partisipasi komunitas dalam ekonomi kreatif Mendukung perusahaan bisnis dalam pengembangan komunitas kreatif
  • 26.
    Tantangan Jabar Bagaimanamengembangkan ruang kreatif dan mempererat jalinan kerjasama komunitas di Jabar dalam meningkatkan daya saing daerah? Strategi melalui BUDAYA KREATIF Plus (K+) = Jabar yang kreatif dan produktif
  • 27.
    Model Perubahan: JabarKreatif Plus Jabar yang kreatif dan produktif Lembaga, Nilai-nilai, Peristiwa, Kota Kreatif Seni, Ide-ide Kesejahteraan Terampil , Berdaya saing
  • 28.
    Mengapa peningkatan kapasitaskreatif? Pembangunan = k · s k = kapasitas ekonomi, sosial, teknologi, dan politik– tingkat berfungsinya struktur sosial, ekonomi, politik, organisasi, dan kepemimpinan r = sumberdaya sumberdaya alam, lokasi, tenaga kerja, investasi modal, iklim kewirausahaan, transportasi, komunikasi, komposisi industri, teknologi, ukuran dan keterkaitan dengan pasar domestik dan ekspor
  • 29.
    Saran Komitmen Jabar(1) Budaya Jabar : menghargai kreativitas dan seni bukan hanya meningkatkan kualitas hidup Provinsi Jabar, tetapi juga menguatkan jalinan kerjasama komunitas dalam menghasilkan gagasan-gagasan dan inovasi. Pemimpin : memahami pentingnya kreativitas dalam komunitas dan ekonomi, membuat seni dan budaya sebagai prioritas pengembangan. Sistem Pendidikan : menyiapkan anak-anak dan kawula muda mengembangkan kreativitas dan produktivitas.
  • 30.
    Saran Komitmen Jabar(2) Komunitas : memperluas peluang dan ruang untuk interaksi kreatif dan ekspresi. Bisnis : mendorong dan mengembangkan kreativitas para karyawannya dan masyarakat sekitar. Penduduk : mengakui bahwa kreativitas dapat membangun komunitas dan menyediakan jaminan pekerjaan dalam ekonomi kreatif.
  • 31.
    STRATEGI PENGEMBANGAN KEPEMIMPINAN: kepemimpinan sipil, bisnis, dan komunitas dalam pengembangan seni, budaya, dan kreativitas PARTISIPASI: keterlibatan kelompok-kelompok komunitas dan pendidikan formal dan informal INVESTASI: dukungan keuangan untuk seni, kreativitas, dan desain komunitas KOTA: ruang kreatif dan produk kreatif yang unik di masing-masing kota di Jabar
  • 32.
    Program 1: KepemimpinanKreatif Katalitas yang mendorong para pemimpin dalam mempromosikan seni, budaya, kreativitas, dan teknologi di Jabar
  • 33.
    Program 2. PartisipasiKreatif Pemberdayaan komunitas kreatif Jejaring kerjasama antar unsur-unsur komunitas kreatif Pemberdayaan Kawula Muda Kreatif Sektor Pendidikan terlibat dalam pelatihan kreatif: talenta  keahlian  produk kreatif  pekerjaan baru Sektor Bisnis terlibat dalam pelatihan kreatif bagi karyawan dan masyarakat
  • 34.
    Program 3: InvestasiKreatif Pembiayaan – Inkubator, modal ventura, donatur, sponsor, malaikat bisnis, syariah, dana bergulir, skema swasta-pemerintah, dll. Insentif – Pajak, keringanan, perijinan, dll.
  • 35.
    Program 4: KotaKreatif Ruang Kreatif – lingkungan yang mendorong berkembangnya dan kehadiran orang kreatif, munculnya gagasan-gagasan baru dan keinginan berdomisili di kota-kota utama Jabar Bandung Kreatif – kota Bandung sebagai simpul kota kreatif di Jabar, sebagai percontohan bagi kota-kota lainnya di Jabar
  • 36.
    Prioritas dan Pentahapan2 0 0 8 2 0 1 0 2 0 1 5 Perbaikan Iklim Ekonomi Kreatif Pemantapan Citra Industri Kreatif Indonesia Peningkatan Bisnis Kreatif dan Lapangan Kerja Peningkatan Sumberdaya dan Investasi
  • 37.
    Indikator Keberhasilan KualitasKehidupan Pemasaran Industri Penghela Insentif dan Sumberdaya Kapasitas Kepemimpinan Komunitas Produktif Akses Permodalan Sumberdaya Manusia Prasarana Fisik * Perdagangan * Turisme * Teknologi * Talenta Kesejahteraan Sosial Lingkungan Pajak dan Peraturan Daya Saing Kreatif Kinerja Ekonomi Klaster Industri Fondasi Program
  • 38.
    Apa yang diharapkanakan terjadi? Iklim usaha yang kondusif Peningkatan Kerjasama Pasar yang bergairah Peningkatan lapangan kerja Kedatangan pekerja kreatif (brain gain) Munculnya usaha baru dari industri dan universitas Citra Kreatif nasional dan internasional meningkat Peningkatan investasi publik, swasta, dan internasional langsung Perluasan pasar dan produk Peningkatan kemitraan baru Pendapatan dan kemakmuran meningkat
  • 39.
  • 40.
    Saran Pengembangan EkonomiPrinsip-prinsip (solusi kreatif yang visioner, partisipasi, komunikasi, koordinasi, komitmen, dan kontinuitas) Pendekatan strategis (kebijakan, peta jalan, program, dan anggaran) dan partisipatif (pelaku dan komunitas) Metode pendekatan pemegang kepentingan: identifikasi para pemegang kepentingan memetakan posisi pemain berdasarkan tingkat kepentingan dan keterdekatan prioritaskan para pemegang kepentingan yang utama melakukan perencanaan partisipatif melakukan pemantauan berkala Agenda perubahan: ADKAR (Awareness, Desire, Knowledge, Activity, dan Reinforcement) Evaluasi berkala
  • 41.