Munakah
atPernikahan Dalam
Islam
Annis
ah
Brilly Cintya
Fakh-
rana
Fenty Houra
Melia-
sari
Rifda
Siti Susi
Widan
-dini
Yoand
a
x
i
i
m
i
a
c
Tidak menjadi imam yang baik
Gagal menjadikan istri nomor
satu dalam hidupnya
Suka membandingkan istri
dengan wanita lain
Kurang bisa mengontrol emosi
dan kebiasaan buruk
Tidak pernah meminta maaf
ketika berbuat salah
Gagal tunduk pada suami
Tidak menghargai suami
sebagai kepala rumah tangga
Gagal menunjukkan rasa
syukur pada suami
Suka membantah ucapan
suami
Tidak berbakti dan enggan
mengikuti pendapat suami
Perceraian
Yakni pemutusan ikatan perkawinan
antara suami dan istri, yang disebabkan
perselisihan yang sudah tidak dapat
didamaikan lagi, meski sudah
didatangkan hakim dari kedua pihak.
Perceraian
“Setiap wanita (istri) yang meminta cerai
pada suaminya tanpa alasan, haramlah
baginya wangi-wangi surga.”
(HR. Ashabus Sunan)
Talak
melepaskan ikatan perkawinan dengan
mengucapkan secara suka rela ucapan
talak dari pihak suami kepada istrinya
Talak Raj’i
Talak yang dijatuhkan suami pada istri untuk
pertama kali, dan suami boleh rujuk pada istri yang
ditalaknya selama masih dalam masa iddah
Talak Ba’i
Talak yang suami tidak boleh rujuk pada istri yang
ditalaknya, melainkan harus dengan akad nikah
baru
Yaitu durhakanya istri terhadap
kewajiban pada suaminya. Istri tidak
mau melayani suami tanpa alasan.
Suami berhak pisah ranjang (agar istri
sadar) atau memukul istri dengan
pukulan yang tidak membahayakan.
Syiqaq
Terjadinya perpecahan antra suami-istri
yang jika berkepanjangan dapat
mengarah pada perpecahan keluarga
Fasakh
Pembatalan perkawinan dikarenakan:
Faktor Berbentuk Sebab
• Antara suami istri masih ada hubungan mahram
• Keluar dari agama Islam
Faktor Berbentuk Latar Belakang
• Gila dan KDRT
• Gangguan fungsi seksual
Khuluk
Talak yang diucapkan oleh suami dengan
pembayaran dari pihak istri pada suami.
Biasanya merupakan permintaan dari
istri, dengan sebab:
• Suami istri dikhawatirkan tak bisa menjalani hukum
Allah (menciptakan rumah tangga yang baik)
• Istri dikhawatirkan tidak akan mematuhi suaminya
Zihar
Yaitu seorang suami menyamakan
isterinya dengan ibunya sehingga haram
ucapan suami pada isteri: “Punggungmu
seperti punggung ibuku.”
Kifarat zihar meliputi:
• Memerdekakan hamba sahaya
• Puasa 2 bulan berturut-turut
• Memberi makan pada 60 orang miskin slama 2 bulan
Li’an
Sumpah suami yang menuduh istrinya
berzina (karena suami tidak bisa
mengajukan 4 saksi yang melihat istrinya
berzina). Jika Li’an diajukan, berlaku
hukum rajam pada istrinya.
Ila’
Sumpah suami bahwa ia tidak akan
meniduri istrinya selama 4 bulan/lebih.
Jika sebelum 4 bulan suami kembali pada istrinya, ia
wajib membayar kafarat.
Jika sesudah 4 bulan ia tak kembali, hakim memberi
pilihan yaitu kembali pada istri (dengan membayar
kafarat) atau mentalak istrinya.
nikah lintas
agama
Perempuan
Muslim dengan
Pria Non-muslim
Pria Muslim
dengan
Perempuan Non-
muslim
Nikah Lintas Agama
Perempuan Muslim dengan Pria Non-muslim
Hukumnya HARAM.
“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik,
sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak
yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik,
walaupun dia menarik hatimu.” (QS al-
Baqarah/2:221)
Nikah Lintas Agama
Pria Muslim dengan Perempuan Non-muslim
Hukumnya BOLEH.
“…makanan orang-orang yang diberi Al Kitab itu
halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi
mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita
yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita
yang beriman dan yang diberi al-Kitab sebelum
kamu...” (QS al-Maidah/5:5)
Dengan perempuan Ahli Kitab Agama Samawi
Nikah Lintas Agama
Pria Muslim dengan Perempuan Non-muslim
Hukumnya TIDAK BOLEH.
“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik,
sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak
yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik,
walaupun dia menarik hatimu.” (QS al-
Baqarah/2:221)
Dengan perempuan non Ahli-Kitab
Kesimpulan
Suami Islam, istri ahli kitab = boleh
Suami ahli kitab, istri Islam = haram
Suami Islam, istri kafir bukan ahli kitab = haram
Suami kafir bukan ahli kitab, istri Islam = haram
pernikahan dengan cara tukar-menukar calon istri di
antara para wali untuk dinikahkan dengan calon
suami yang telah disepakati atau untuk dirinya
masing-masing dengan suatu perjanjian tanpa mahar.
Hukumnya HARAM.
Sesungguhnya Rasulullah saw. melarang nikah
syighar, yaitu seorang lelaki menikahkan anak
wanitanya dengan syarat lelaki tersebut menikahkan
anak wanitanya pula dan tidak ada mahar diantara
keduanya.” (Muttafaq alaihi)
Yaitu menikahnya laki-laki dengan wanita yang
sudah ditalak tiga oleh suami sebelumnya. Lalu laki-
laki tersebut mentalaknya. Hal ini bertujuan agar
wanita tersebut dapat dinikahi kembali oleh suami
sebelumnya (yang telah mentalaknya tiga kali)
setelah masa ‘iddah wanita itu selesai.
Hukumnya HARAM.
Rasulullah SAW, melaknat muhallil dan muhalla
lahu. ( HR. An-Nasa’I dan At- Tirmidzi)
Al Muhallal lah ⇾ suami pertama yang dihalalkan
kembali menikahi bekas istrinya
Al Muhallil ⇾ suami kedua yang menyebabkan
pernikahan suami pertama dengan bekas istri menjadi
halal
Laki-laki menikahi wanita dengan memberi sejumlah
harta dalam waktu tertentu, pernikahan ini akan
berakhir sesuai batas waktu yang telah ditentukan
tanpa talak serta tanpa kewajiban memberi nafkah
atau tempat tinggal dan tanpa adanya saling mewarisi
antara keduanya sebelum meninggal dan berakhirnya
masa nikah mut’ah itu.
Hukumnya HARAM.
"Ketahuilah, bahwa (nikah mut'ah) adalah haram
mulai hari ini sampai hari Kiamat, siapa yang telah
memberi sesuatu kepada perempuan yang
dinikahinya secara mut'ah, janganlah mengambilnya
kembali.” (HR. Imam Muslim).
ُ‫اب‬َ‫ت‬ِ‫ك‬ْ‫ال‬ َ‫غ‬ُ‫ل‬ْ‫ب‬َ‫ي‬ ٰ‫ى‬َّ‫ت‬َ‫ح‬ ِ‫اح‬َ‫ك‬ِ‫الن‬ َ‫ة‬َ‫د‬ْ‫ق‬ُ‫ع‬ ‫وا‬ُ‫م‬ ِ‫ز‬ْ‫ع‬َ‫ت‬ َ‫َل‬ َ‫و‬َُُ‫ل‬ََََ
“Dan janganlah kamu menetapkan akad nikah,
sebelum habis masa ‘iddahnya.” [Al-Baqarah : 235]
“Dan jangan kaum nikahi perempuan musyrik, sebelum
mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan
beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meski
ia menarik hatimu. Dan jangan kamu nikahkan orang
(laki-laki) musyrik (dengan perempuan beriman)
sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-
laki beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik
meskipun ia menarik hatimu..” [Al-Baqarah : 221]
Diharamkan kamu (menikahi) ibumu, anak
perempuanmu, saudara perempuanmu, saudara
perempuan ayahmu, saudara perempuan ibumu, anak
perempuan dari saudara laki-lakimu, anak perempuan
dari saudara perempuanmu, ibu yang menyusuimu,
saudara perempuan yang satu susuan denganmu, ibu
isterimu (mertua),
anak perempuan dari isterimu (anak tiri) yang dalam
pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tapi
jika kamu belum mencampurinya (dan sudah kamu ceraikan)
maka tidak berdosa atasmu (jika menikahinya), (dan
diharamkan bagimu) isteri anak kandungmu (menantu), dan
(diharamkan) mengumpulkan (dalam pernikahan) dua
perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada
masa lampau.” [An-Nisaa' : 23]
“Kemudian jika ia menceraikannya, maka perempuan itu
tidak halal lagi baginya sebelum ia menikah dengan
suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu
menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya
(suami pertama dan bekas isteri) untuk menikah kembali
jika keduanya berpendapat mampu menjalankan hukum
Allah. Itulah ketentuan Allah yang diterangkan-Nya
kepada orang yang berpengetahuan.” [Al-Baqarah : 230]
“Tidak boleh dikumpulkan antara wanita dengan
bibinya (dari pihak ayah), tidak juga antara wanita
dengan bibinya (dari pihak ibu).” (HR Bukhari &
Muslim)
“Orang yang sedang ihram tidak boleh menikah atau
melamar.” (HR Muslim & Tirmidzi)
“Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan
perempuan yang berzina, atau perempuan yang
musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini
melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki
musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas
oran-orang yang mukmin”. [An-Nuur : 3]
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil
terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana
kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-
wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau
empat…” [An-Nisaa' : 3])
“Tetaplah engkau bersama keempat isterimu dan
ceraikanlah selebihnya.” (HR. at-Tirmidzi)
Hikmah
Menikah
Memenuhi kebutuhan seksual dengan cara yang diridai
Allah (cara yang islami), dan menghindari cara yang
dimurkai Allah seperti perzinaan atau homoseks
Pernikahan merupakan cara yang benar, baik, dan
diridai Allah untuk memperoleh anak serta
mengembangkan keturunan yang sah
Suami-istri dapat memupuk rasa tanggung jawab
dalam memelihara, mengasuh dan mendidik anak-
anaknya
Menjalin hubungan silaturahmi antara keluarga suami
dan keluarga istri, sehingga sesama mereka saling
menolong dalam kebaikan
Pernikahan merupakan jalan terbaik untuk
memuliakan anak, memperbanyak keturunan,
melestarikan hidup manusia, serta memlihara nasab.
Pernikahan akan mempererat tali kekeluargaan yang
dilandasi rasa saling menyayangi sebagai modal
kehidupan masyarakat yang aman dan sejahtera.
Sekian.

Pendidikan Agama Islam: Munakahat

  • 1.
  • 2.
  • 4.
    Tidak menjadi imamyang baik Gagal menjadikan istri nomor satu dalam hidupnya Suka membandingkan istri dengan wanita lain Kurang bisa mengontrol emosi dan kebiasaan buruk Tidak pernah meminta maaf ketika berbuat salah Gagal tunduk pada suami Tidak menghargai suami sebagai kepala rumah tangga Gagal menunjukkan rasa syukur pada suami Suka membantah ucapan suami Tidak berbakti dan enggan mengikuti pendapat suami
  • 5.
    Perceraian Yakni pemutusan ikatanperkawinan antara suami dan istri, yang disebabkan perselisihan yang sudah tidak dapat didamaikan lagi, meski sudah didatangkan hakim dari kedua pihak.
  • 6.
    Perceraian “Setiap wanita (istri)yang meminta cerai pada suaminya tanpa alasan, haramlah baginya wangi-wangi surga.” (HR. Ashabus Sunan)
  • 7.
    Talak melepaskan ikatan perkawinandengan mengucapkan secara suka rela ucapan talak dari pihak suami kepada istrinya Talak Raj’i Talak yang dijatuhkan suami pada istri untuk pertama kali, dan suami boleh rujuk pada istri yang ditalaknya selama masih dalam masa iddah Talak Ba’i Talak yang suami tidak boleh rujuk pada istri yang ditalaknya, melainkan harus dengan akad nikah baru
  • 8.
    Yaitu durhakanya istriterhadap kewajiban pada suaminya. Istri tidak mau melayani suami tanpa alasan. Suami berhak pisah ranjang (agar istri sadar) atau memukul istri dengan pukulan yang tidak membahayakan.
  • 9.
    Syiqaq Terjadinya perpecahan antrasuami-istri yang jika berkepanjangan dapat mengarah pada perpecahan keluarga
  • 10.
    Fasakh Pembatalan perkawinan dikarenakan: FaktorBerbentuk Sebab • Antara suami istri masih ada hubungan mahram • Keluar dari agama Islam Faktor Berbentuk Latar Belakang • Gila dan KDRT • Gangguan fungsi seksual
  • 11.
    Khuluk Talak yang diucapkanoleh suami dengan pembayaran dari pihak istri pada suami. Biasanya merupakan permintaan dari istri, dengan sebab: • Suami istri dikhawatirkan tak bisa menjalani hukum Allah (menciptakan rumah tangga yang baik) • Istri dikhawatirkan tidak akan mematuhi suaminya
  • 12.
    Zihar Yaitu seorang suamimenyamakan isterinya dengan ibunya sehingga haram ucapan suami pada isteri: “Punggungmu seperti punggung ibuku.” Kifarat zihar meliputi: • Memerdekakan hamba sahaya • Puasa 2 bulan berturut-turut • Memberi makan pada 60 orang miskin slama 2 bulan
  • 13.
    Li’an Sumpah suami yangmenuduh istrinya berzina (karena suami tidak bisa mengajukan 4 saksi yang melihat istrinya berzina). Jika Li’an diajukan, berlaku hukum rajam pada istrinya.
  • 14.
    Ila’ Sumpah suami bahwaia tidak akan meniduri istrinya selama 4 bulan/lebih. Jika sebelum 4 bulan suami kembali pada istrinya, ia wajib membayar kafarat. Jika sesudah 4 bulan ia tak kembali, hakim memberi pilihan yaitu kembali pada istri (dengan membayar kafarat) atau mentalak istrinya.
  • 16.
    nikah lintas agama Perempuan Muslim dengan PriaNon-muslim Pria Muslim dengan Perempuan Non- muslim
  • 17.
    Nikah Lintas Agama PerempuanMuslim dengan Pria Non-muslim Hukumnya HARAM. “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu.” (QS al- Baqarah/2:221)
  • 18.
    Nikah Lintas Agama PriaMuslim dengan Perempuan Non-muslim Hukumnya BOLEH. “…makanan orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan yang diberi al-Kitab sebelum kamu...” (QS al-Maidah/5:5) Dengan perempuan Ahli Kitab Agama Samawi
  • 19.
    Nikah Lintas Agama PriaMuslim dengan Perempuan Non-muslim Hukumnya TIDAK BOLEH. “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu.” (QS al- Baqarah/2:221) Dengan perempuan non Ahli-Kitab
  • 20.
    Kesimpulan Suami Islam, istriahli kitab = boleh Suami ahli kitab, istri Islam = haram Suami Islam, istri kafir bukan ahli kitab = haram Suami kafir bukan ahli kitab, istri Islam = haram
  • 22.
    pernikahan dengan caratukar-menukar calon istri di antara para wali untuk dinikahkan dengan calon suami yang telah disepakati atau untuk dirinya masing-masing dengan suatu perjanjian tanpa mahar. Hukumnya HARAM.
  • 23.
    Sesungguhnya Rasulullah saw.melarang nikah syighar, yaitu seorang lelaki menikahkan anak wanitanya dengan syarat lelaki tersebut menikahkan anak wanitanya pula dan tidak ada mahar diantara keduanya.” (Muttafaq alaihi)
  • 24.
    Yaitu menikahnya laki-lakidengan wanita yang sudah ditalak tiga oleh suami sebelumnya. Lalu laki- laki tersebut mentalaknya. Hal ini bertujuan agar wanita tersebut dapat dinikahi kembali oleh suami sebelumnya (yang telah mentalaknya tiga kali) setelah masa ‘iddah wanita itu selesai. Hukumnya HARAM.
  • 25.
    Rasulullah SAW, melaknatmuhallil dan muhalla lahu. ( HR. An-Nasa’I dan At- Tirmidzi) Al Muhallal lah ⇾ suami pertama yang dihalalkan kembali menikahi bekas istrinya Al Muhallil ⇾ suami kedua yang menyebabkan pernikahan suami pertama dengan bekas istri menjadi halal
  • 26.
    Laki-laki menikahi wanitadengan memberi sejumlah harta dalam waktu tertentu, pernikahan ini akan berakhir sesuai batas waktu yang telah ditentukan tanpa talak serta tanpa kewajiban memberi nafkah atau tempat tinggal dan tanpa adanya saling mewarisi antara keduanya sebelum meninggal dan berakhirnya masa nikah mut’ah itu. Hukumnya HARAM. "Ketahuilah, bahwa (nikah mut'ah) adalah haram mulai hari ini sampai hari Kiamat, siapa yang telah memberi sesuatu kepada perempuan yang dinikahinya secara mut'ah, janganlah mengambilnya kembali.” (HR. Imam Muslim).
  • 27.
    ُ‫اب‬َ‫ت‬ِ‫ك‬ْ‫ال‬ َ‫غ‬ُ‫ل‬ْ‫ب‬َ‫ي‬ ٰ‫ى‬َّ‫ت‬َ‫ح‬ِ‫اح‬َ‫ك‬ِ‫الن‬ َ‫ة‬َ‫د‬ْ‫ق‬ُ‫ع‬ ‫وا‬ُ‫م‬ ِ‫ز‬ْ‫ع‬َ‫ت‬ َ‫َل‬ َ‫و‬َُُ‫ل‬ََََ “Dan janganlah kamu menetapkan akad nikah, sebelum habis masa ‘iddahnya.” [Al-Baqarah : 235]
  • 28.
    “Dan jangan kaumnikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meski ia menarik hatimu. Dan jangan kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki- laki beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun ia menarik hatimu..” [Al-Baqarah : 221]
  • 29.
    Diharamkan kamu (menikahi)ibumu, anak perempuanmu, saudara perempuanmu, saudara perempuan ayahmu, saudara perempuan ibumu, anak perempuan dari saudara laki-lakimu, anak perempuan dari saudara perempuanmu, ibu yang menyusuimu, saudara perempuan yang satu susuan denganmu, ibu isterimu (mertua), anak perempuan dari isterimu (anak tiri) yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tapi jika kamu belum mencampurinya (dan sudah kamu ceraikan) maka tidak berdosa atasmu (jika menikahinya), (dan diharamkan bagimu) isteri anak kandungmu (menantu), dan (diharamkan) mengumpulkan (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau.” [An-Nisaa' : 23]
  • 30.
    “Kemudian jika iamenceraikannya, maka perempuan itu tidak halal lagi baginya sebelum ia menikah dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (suami pertama dan bekas isteri) untuk menikah kembali jika keduanya berpendapat mampu menjalankan hukum Allah. Itulah ketentuan Allah yang diterangkan-Nya kepada orang yang berpengetahuan.” [Al-Baqarah : 230]
  • 31.
    “Tidak boleh dikumpulkanantara wanita dengan bibinya (dari pihak ayah), tidak juga antara wanita dengan bibinya (dari pihak ibu).” (HR Bukhari & Muslim)
  • 32.
    “Orang yang sedangihram tidak boleh menikah atau melamar.” (HR Muslim & Tirmidzi)
  • 33.
    “Laki-laki yang berzinatidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin”. [An-Nuur : 3]
  • 34.
    “Dan jika kamutakut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita- wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat…” [An-Nisaa' : 3]) “Tetaplah engkau bersama keempat isterimu dan ceraikanlah selebihnya.” (HR. at-Tirmidzi)
  • 35.
  • 36.
    Memenuhi kebutuhan seksualdengan cara yang diridai Allah (cara yang islami), dan menghindari cara yang dimurkai Allah seperti perzinaan atau homoseks Pernikahan merupakan cara yang benar, baik, dan diridai Allah untuk memperoleh anak serta mengembangkan keturunan yang sah Suami-istri dapat memupuk rasa tanggung jawab dalam memelihara, mengasuh dan mendidik anak- anaknya
  • 37.
    Menjalin hubungan silaturahmiantara keluarga suami dan keluarga istri, sehingga sesama mereka saling menolong dalam kebaikan Pernikahan merupakan jalan terbaik untuk memuliakan anak, memperbanyak keturunan, melestarikan hidup manusia, serta memlihara nasab. Pernikahan akan mempererat tali kekeluargaan yang dilandasi rasa saling menyayangi sebagai modal kehidupan masyarakat yang aman dan sejahtera.
  • 38.