Pembelajaran Mendalam
(Deep Learning)
Latar Belakang
Pembelajaran di abad 21 menuntut siswa tidak hanya bisa
membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga mampu berpikir
kritis, kreatif, serta memiliki karakter yang baik. Kurikulum
Merdeka hadir untuk menjawab tantangan ini dengan
mendorong pembelajaran yang bermakna, relevan dengan
kehidupan, dan membentuk Profil Pelajar Pancasila. Namun, di
sekolah dasar masih banyak pembelajaran yang cenderung
hanya menekankan hafalan tanpa pemahaman mendalam. Oleh
karena itu, pendekatan deep learning sangat penting diterapkan
agar anak-anak tidak sekadar mengingat informasi, tetapi
mampu memahami, menghubungkan, dan menerapkannya
dalam kehidupan sehari-hari, sehingga pendidikan benar-benar
memberi bekal jangka panjang bagi murid.
Pembelajaran mendalam atau deep learning dalam konteks pendidikan
bukan sekadar istilah teknologi, melainkan pendekatan belajar yang
menekankan pada pemahaman konsep secara utuh, kemampuan
menganalisis, dan keterampilan berpikir kritis. Berbeda dengan pembelajaran
dangkal (surface learning) yang hanya menuntut siswa menghafal fakta, deep
learning mendorong anak untuk mengaitkan pengetahuan baru dengan
pengalaman mereka, sehingga pengetahuan tersebut tertanam lebih kuat.
Misalnya, saat belajar tentang lingkungan, siswa tidak hanya menghafal jenis-
jenis sampah, tetapi juga memahami dampaknya, mencari solusi pengelolaan
sederhana, dan bahkan melakukan aksi nyata di sekolah. Dengan cara ini,
proses belajar di sekolah dasar menjadi lebih bermakna dan membekali anak
untuk menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.
Apa itu Deep Learning dalam Pendidikan?
Prinsip Deep Learning di
Sekolah Dasar
Prinsip utama pembelajaran mendalam di sekolah dasar
adalah menjadikan siswa sebagai pusat proses belajar
(student-centered learning), bukan sekadar penerima
informasi. Pembelajaran harus kontekstual, artinya materi
yang dipelajari anak terhubung dengan kehidupan nyata
mereka sehingga terasa bermakna. Selain itu, deep learning
mendorong adanya kolaborasi melalui kerja kelompok atau
proyek sederhana yang melatih anak belajar bersama,
berbagi ide, dan memecahkan masalah. Proses ini juga
selaras dengan upaya mengintegrasikan nilai-nilai dalam
Profil Pelajar Pancasila, seperti gotong royong, bernalar kritis,
dan kreatif. Dengan demikian, guru tidak hanya mengajar
untuk capaian akademik, tetapi juga membentuk karakter
dan keterampilan abad 21 yang dibutuhkan anak di masa
depan.
Strategi Penerapan
Deep Learning
Untuk menerapkan pembelajaran mendalam di sekolah
dasar, guru dapat menggunakan berbagai strategi yang
mendorong keterlibatan aktif siswa. Salah satunya
adalah Project-Based Learning (PjBL) yang mengajak
murid membuat karya nyata, misalnya membuat poster
hemat energi atau menanam sayuran sederhana. Selain
itu, Problem-Based Learning (PBL) dapat digunakan
untuk melatih siswa memecahkan masalah sehari-hari,
seperti bagaimana menjaga kebersihan kelas atau
mengurangi sampah plastik. Guru juga bisa
memanfaatkan literasi digital sesuai usia anak, misalnya
menggunakan video edukasi atau aplikasi belajar
interaktif. Penilaian pun sebaiknya bersifat autentik,
bukan hanya ulangan tertulis, melainkan melalui
portofolio, hasil karya, atau presentasi siswa. Dengan
strategi ini, siswa akan lebih mudah memahami
pelajaran secara mendalam sekaligus melatih
keterampilan hidup.
Prinsip Pembelajaran
Mendalam
Prinsip pembelajaran mendalam berfokus pada
bagaimana siswa dapat belajar dengan memahami
makna, bukan hanya mengingat. Dalam praktiknya,
guru perlu mengaitkan materi pelajaran dengan
pengalaman nyata siswa, sehingga konsep yang
diajarkan terasa relevan. Prinsip lain adalah keterlibatan
aktif, di mana siswa didorong untuk bertanya,
berdiskusi, dan menemukan jawaban sendiri. Proses
refleksi juga menjadi bagian penting, agar anak dapat
mengevaluasi apa yang sudah dipelajari dan bagaimana
menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan prinsip ini, pembelajaran di SD akan lebih
menyentuh aspek pengetahuan, keterampilan, dan
sikap sekaligus.
Penerapan deep learning di kelas SD dapat dilakukan
melalui proyek sederhana yang dekat dengan kehidupan
siswa. Misalnya, guru mengajak murid membuat taman
mini di sekolah, di mana anak-anak belajar tentang
pertumbuhan tanaman (IPA), membuat laporan
pengamatan (Bahasa Indonesia), dan menghitung
kebutuhan bibit atau pupuk (Matematika). Contoh lain
adalah proyek kampanye hemat energi, di mana siswa
belajar pentingnya menjaga lingkungan sambil membuat
poster, presentasi, atau video sederhana. Guru juga dapat
memanfaatkan media digital seperti aplikasi
menggambar atau permainan edukasi untuk mendukung
pemahaman konsep. Dengan kegiatan nyata yang
menyenangkan, anak tidak hanya menghafal teori, tetapi
juga mengembangkan rasa ingin tahu, tanggung jawab,
dan keterampilan berpikir kritis sejak dini.
Contoh Penerapan di Kelas
SD
Dalam pembelajaran mendalam, guru berperan sebagai
fasilitator yang menciptakan pengalaman belajar
bermakna, bukan hanya penyampai materi. Guru perlu
merancang kegiatan yang mendorong siswa aktif
bertanya, berdiskusi, bereksperimen, dan menemukan
jawaban sendiri. Selain itu, guru juga penting
memberikan umpan balik yang membangun agar siswa
tahu kelebihan dan hal yang masih perlu diperbaiki.
Lingkungan belajar yang kondusif harus diciptakan, di
mana anak merasa aman untuk mencoba, berpendapat,
dan berkolaborasi. Guru juga harus menanamkan nilai-
nilai karakter, seperti gotong royong, disiplin, dan rasa
tanggung jawab, sehingga pembelajaran tidak hanya
menghasilkan pengetahuan, tetapi juga membentuk
kepribadian siswa sesuai Profil Pelajar Pancasila.
Peran Guru dalam
Deep Learning
Kerangka
Pembelajaran
Mendalam
Kerangka pembelajaran mendalam terdiri dari beberapa
tahapan yang saling berkaitan. Pertama, guru memulai
dengan merangsang rasa ingin tahu siswa melalui
pertanyaan pemantik atau masalah nyata. Kedua, siswa
diajak mengeksplorasi berbagai informasi, baik melalui
membaca, observasi, maupun diskusi. Ketiga, mereka
mengolah informasi tersebut menjadi pengetahuan
baru, misalnya dengan membuat catatan, karya, atau
laporan sederhana. Keempat, siswa mengomunikasikan
hasil belajar melalui presentasi atau diskusi kelas.
Terakhir, dilakukan refleksi untuk memperkuat
pemahaman. Kerangka ini membantu guru merancang
pembelajaran yang terstruktur tetapi tetap fleksibel dan
bermakna.
Peran Kepala
Sekolah dalam
Pengimbasan
Kepala sekolah memiliki peran penting dalam
mengimbaskan praktik deep learning kepada guru-guru agar
dapat diterapkan secara merata di sekolah. Sebagai
pemimpin pembelajaran, kepala sekolah perlu memberikan
teladan dengan menunjukkan contoh strategi pembelajaran
mendalam, misalnya melalui demonstrasi atau kelas model.
Selain itu, kepala sekolah dapat memfasilitasi pelatihan,
diskusi kelompok, atau workshop yang memungkinkan guru
saling belajar dan berbagi praktik baik. Dukungan berupa
penyediaan sarana pembelajaran, seperti media edukasi dan
teknologi sederhana, juga menjadi faktor penentu
keberhasilan. Tidak kalah penting, kepala sekolah
membentuk komunitas belajar guru agar setiap pendidik bisa
berkolaborasi, saling memberi umpan balik, dan
mengembangkan inovasi pembelajaran yang relevan dengan
kebutuhan siswa.
Pengalaman
Belajar
Pengalaman belajar merupakan inti dari pembelajaran
mendalam karena siswa lebih mudah memahami sesuatu
jika mereka mengalaminya langsung. Di sekolah dasar, guru
bisa menghadirkan pengalaman belajar melalui kegiatan
nyata seperti percobaan sains sederhana, kunjungan
lingkungan sekitar, atau proyek kolaboratif. Misalnya, saat
belajar tentang ekosistem, siswa bisa melakukan
pengamatan di halaman sekolah atau menanam tanaman.
Dengan cara ini, anak-anak tidak hanya membaca teori dari
buku, tetapi juga melihat, merasakan, dan melakukan,
sehingga konsep yang dipelajari lebih melekat. Pengalaman
belajar yang bermakna akan menumbuhkan rasa ingin tahu
sekaligus membentuk keterampilan hidup anak.
Dalam menerapkan deep learning di sekolah dasar, guru
dan sekolah tentu menghadapi sejumlah tantangan. Salah
satunya adalah keterbatasan sarana, seperti perangkat
teknologi atau media pembelajaran yang belum merata di
semua kelas. Tantangan lainnya adalah mindset guru yang
masih terbiasa dengan metode hafalan dan ceramah,
sehingga perlu waktu untuk beradaptasi dengan
pendekatan baru. Selain itu, waktu pembelajaran yang
terbatas seringkali membuat guru lebih fokus
menyelesaikan target materi daripada membangun
pemahaman mendalam siswa. Untuk mengatasi hal ini,
sekolah dapat memanfaatkan media sederhana yang ada,
misalnya bahan di lingkungan sekitar sebagai alat belajar,
serta memberikan pelatihan berkelanjutan bagi guru.
Kolaborasi dengan orang tua juga menjadi solusi penting
agar anak mendapatkan dukungan belajar mendalam baik
di sekolah maupun di rumah.
Tantangan
dan Solusi
Pola Pikir Tetap (Fixed
Mindset)
Pola pikir tetap adalah cara berpikir yang menganggap
bahwa kemampuan seseorang bersifat bawaan dan tidak
bisa berubah. Di sekolah dasar, pola pikir ini bisa muncul
ketika siswa merasa dirinya “tidak pintar” dalam
matematika atau “tidak berbakat” menggambar, lalu
berhenti berusaha. Guru perlu memahami bahwa pola pikir
tetap dapat menghambat perkembangan anak, karena
membuat mereka takut mencoba dan mudah menyerah
saat menghadapi kesulitan. Dengan mengenali pola pikir
ini, guru bisa membantu siswa mengubah cara
pandangnya melalui dorongan, motivasi, dan pembelajaran
yang menekankan proses, bukan hanya hasil.
Dampak Positif
Deep Learning
Penerapan deep learning di sekolah dasar membawa banyak
dampak positif bagi perkembangan siswa. Dengan pembelajaran
yang menekankan pemahaman mendalam, anak-anak tidak
hanya menghafal tetapi juga benar-benar memahami konsep dan
mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini
melatih kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan pemecahan
masalah sejak dini. Selain itu, deep learning membantu
membentuk karakter sesuai Profil Pelajar Pancasila, seperti
gotong royong, mandiri, dan bernalar kritis. Proses belajar juga
menjadi lebih menyenangkan karena siswa merasa terlibat aktif
dan melihat manfaat nyata dari apa yang dipelajarinya. Dampak
jangka panjangnya adalah lahirnya generasi yang lebih siap
menghadapi tantangan abad 21 dengan bekal ilmu, keterampilan,
dan nilai-nilai yang kuat.
Pola Pikir
Bertumbuh (Growth
Mindset)
Sebaliknya, pola pikir bertumbuh adalah keyakinan bahwa
kemampuan dapat berkembang melalui usaha, latihan, dan
pengalaman. Dalam konteks pembelajaran di SD, pola pikir ini
sangat penting karena mendorong anak untuk tidak takut salah
dan berani mencoba hal baru. Guru bisa menanamkan growth
mindset dengan memberikan pujian pada usaha, bukan hanya
hasil, serta memberi kesempatan kepada siswa untuk
memperbaiki kesalahannya. Misalnya, ketika anak salah
mengerjakan soal, guru bisa mengatakan, “Kamu sudah
berusaha, coba kita lihat lagi cara lain untuk menyelesaikannya.”
Dengan pola pikir bertumbuh, anak akan lebih gigih, percaya
diri, dan termotivasi untuk terus belajar.
Rencana Tindak Lanjut
di Sekolah
Agar penerapan deep learning benar-benar berjalan di
sekolah dasar, perlu disusun rencana tindak lanjut yang jelas
dan terarah. Langkah pertama adalah mengadakan workshop
atau pelatihan bagi guru untuk memahami konsep, strategi,
dan contoh praktik pembelajaran mendalam. Selanjutnya,
sekolah dapat menyelenggarakan simulasi pembelajaran
berbasis proyek sehingga guru dapat langsung
mempraktikkan metode tersebut di kelas. Kepala sekolah
bersama tim kurikulum juga perlu membuat sistem
monitoring dan evaluasi untuk menilai sejauh mana
pendekatan ini diterapkan serta dampaknya bagi siswa. Tidak
kalah penting, membangun kolaborasi antar guru dan antar
kelas agar muncul berbagai inovasi pembelajaran yang dapat
saling ditularkan. Dengan tindak lanjut ini, deep learning
dapat menjadi budaya belajar di sekolah, bukan hanya
wacana.
Pembelajaran Inovatif
Pembelajaran inovatif adalah pembelajaran yang dirancang
kreatif dan menyesuaikan dengan kebutuhan serta
perkembangan siswa. Di era digital, guru SD dapat
menghadirkan inovasi dengan menggabungkan metode
tradisional dan teknologi sederhana, seperti menggunakan
video edukasi, kuis interaktif, atau aplikasi menggambar.
Inovasi juga bisa berupa pendekatan baru, misalnya
menggabungkan beberapa mata pelajaran dalam satu proyek
atau mengajak siswa belajar di luar kelas. Tujuannya adalah
membuat proses belajar lebih menarik, relevan, dan
menyenangkan, sehingga siswa lebih termotivasi. Dengan
pembelajaran inovatif, sekolah dasar bisa menjadi tempat
yang menumbuhkan kreativitas sekaligus mempersiapkan
anak menghadapi perubahan zaman.
Dari seluruh pembahasan dapat disimpulkan bahwa deep learning atau pembelajaran mendalam
sangat penting diterapkan di sekolah dasar untuk membentuk pemahaman yang utuh, keterampilan
berpikir kritis, kreativitas, serta karakter siswa sesuai Profil Pelajar Pancasila. Prinsip-prinsip
pembelajaran mendalam menekankan keterlibatan aktif, pengalaman nyata, kolaborasi, dan refleksi,
yang dapat diterapkan melalui kerangka pembelajaran berbasis proyek, masalah, maupun penilaian
autentik. Guru berperan sebagai fasilitator, sementara kepala sekolah menjadi motor penggerak dan
pengimbas agar seluruh pendidik dapat menerapkan pendekatan ini secara konsisten. Tantangan
seperti keterbatasan sarana atau pola pikir tetap pada guru maupun siswa dapat diatasi dengan
inovasi, pelatihan berkelanjutan, serta penanaman pola pikir bertumbuh. Dengan demikian, melalui
kolaborasi semua pihak, deep learning akan menjadi budaya belajar di sekolah dasar yang mampu
menyiapkan generasi masa depan yang berilmu, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan abad
21.
Penutup (Kesimpulan)

Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) & Pengimbasan dari Kepala Sekolah ke Guru (1).pptx

  • 1.
  • 2.
    Latar Belakang Pembelajaran diabad 21 menuntut siswa tidak hanya bisa membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga mampu berpikir kritis, kreatif, serta memiliki karakter yang baik. Kurikulum Merdeka hadir untuk menjawab tantangan ini dengan mendorong pembelajaran yang bermakna, relevan dengan kehidupan, dan membentuk Profil Pelajar Pancasila. Namun, di sekolah dasar masih banyak pembelajaran yang cenderung hanya menekankan hafalan tanpa pemahaman mendalam. Oleh karena itu, pendekatan deep learning sangat penting diterapkan agar anak-anak tidak sekadar mengingat informasi, tetapi mampu memahami, menghubungkan, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga pendidikan benar-benar memberi bekal jangka panjang bagi murid.
  • 3.
    Pembelajaran mendalam ataudeep learning dalam konteks pendidikan bukan sekadar istilah teknologi, melainkan pendekatan belajar yang menekankan pada pemahaman konsep secara utuh, kemampuan menganalisis, dan keterampilan berpikir kritis. Berbeda dengan pembelajaran dangkal (surface learning) yang hanya menuntut siswa menghafal fakta, deep learning mendorong anak untuk mengaitkan pengetahuan baru dengan pengalaman mereka, sehingga pengetahuan tersebut tertanam lebih kuat. Misalnya, saat belajar tentang lingkungan, siswa tidak hanya menghafal jenis- jenis sampah, tetapi juga memahami dampaknya, mencari solusi pengelolaan sederhana, dan bahkan melakukan aksi nyata di sekolah. Dengan cara ini, proses belajar di sekolah dasar menjadi lebih bermakna dan membekali anak untuk menghadapi tantangan kehidupan di masa depan. Apa itu Deep Learning dalam Pendidikan?
  • 4.
    Prinsip Deep Learningdi Sekolah Dasar Prinsip utama pembelajaran mendalam di sekolah dasar adalah menjadikan siswa sebagai pusat proses belajar (student-centered learning), bukan sekadar penerima informasi. Pembelajaran harus kontekstual, artinya materi yang dipelajari anak terhubung dengan kehidupan nyata mereka sehingga terasa bermakna. Selain itu, deep learning mendorong adanya kolaborasi melalui kerja kelompok atau proyek sederhana yang melatih anak belajar bersama, berbagi ide, dan memecahkan masalah. Proses ini juga selaras dengan upaya mengintegrasikan nilai-nilai dalam Profil Pelajar Pancasila, seperti gotong royong, bernalar kritis, dan kreatif. Dengan demikian, guru tidak hanya mengajar untuk capaian akademik, tetapi juga membentuk karakter dan keterampilan abad 21 yang dibutuhkan anak di masa depan.
  • 5.
    Strategi Penerapan Deep Learning Untukmenerapkan pembelajaran mendalam di sekolah dasar, guru dapat menggunakan berbagai strategi yang mendorong keterlibatan aktif siswa. Salah satunya adalah Project-Based Learning (PjBL) yang mengajak murid membuat karya nyata, misalnya membuat poster hemat energi atau menanam sayuran sederhana. Selain itu, Problem-Based Learning (PBL) dapat digunakan untuk melatih siswa memecahkan masalah sehari-hari, seperti bagaimana menjaga kebersihan kelas atau mengurangi sampah plastik. Guru juga bisa memanfaatkan literasi digital sesuai usia anak, misalnya menggunakan video edukasi atau aplikasi belajar interaktif. Penilaian pun sebaiknya bersifat autentik, bukan hanya ulangan tertulis, melainkan melalui portofolio, hasil karya, atau presentasi siswa. Dengan strategi ini, siswa akan lebih mudah memahami pelajaran secara mendalam sekaligus melatih keterampilan hidup. Prinsip Pembelajaran Mendalam Prinsip pembelajaran mendalam berfokus pada bagaimana siswa dapat belajar dengan memahami makna, bukan hanya mengingat. Dalam praktiknya, guru perlu mengaitkan materi pelajaran dengan pengalaman nyata siswa, sehingga konsep yang diajarkan terasa relevan. Prinsip lain adalah keterlibatan aktif, di mana siswa didorong untuk bertanya, berdiskusi, dan menemukan jawaban sendiri. Proses refleksi juga menjadi bagian penting, agar anak dapat mengevaluasi apa yang sudah dipelajari dan bagaimana menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan prinsip ini, pembelajaran di SD akan lebih menyentuh aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap sekaligus.
  • 6.
    Penerapan deep learningdi kelas SD dapat dilakukan melalui proyek sederhana yang dekat dengan kehidupan siswa. Misalnya, guru mengajak murid membuat taman mini di sekolah, di mana anak-anak belajar tentang pertumbuhan tanaman (IPA), membuat laporan pengamatan (Bahasa Indonesia), dan menghitung kebutuhan bibit atau pupuk (Matematika). Contoh lain adalah proyek kampanye hemat energi, di mana siswa belajar pentingnya menjaga lingkungan sambil membuat poster, presentasi, atau video sederhana. Guru juga dapat memanfaatkan media digital seperti aplikasi menggambar atau permainan edukasi untuk mendukung pemahaman konsep. Dengan kegiatan nyata yang menyenangkan, anak tidak hanya menghafal teori, tetapi juga mengembangkan rasa ingin tahu, tanggung jawab, dan keterampilan berpikir kritis sejak dini. Contoh Penerapan di Kelas SD
  • 7.
    Dalam pembelajaran mendalam,guru berperan sebagai fasilitator yang menciptakan pengalaman belajar bermakna, bukan hanya penyampai materi. Guru perlu merancang kegiatan yang mendorong siswa aktif bertanya, berdiskusi, bereksperimen, dan menemukan jawaban sendiri. Selain itu, guru juga penting memberikan umpan balik yang membangun agar siswa tahu kelebihan dan hal yang masih perlu diperbaiki. Lingkungan belajar yang kondusif harus diciptakan, di mana anak merasa aman untuk mencoba, berpendapat, dan berkolaborasi. Guru juga harus menanamkan nilai- nilai karakter, seperti gotong royong, disiplin, dan rasa tanggung jawab, sehingga pembelajaran tidak hanya menghasilkan pengetahuan, tetapi juga membentuk kepribadian siswa sesuai Profil Pelajar Pancasila. Peran Guru dalam Deep Learning Kerangka Pembelajaran Mendalam Kerangka pembelajaran mendalam terdiri dari beberapa tahapan yang saling berkaitan. Pertama, guru memulai dengan merangsang rasa ingin tahu siswa melalui pertanyaan pemantik atau masalah nyata. Kedua, siswa diajak mengeksplorasi berbagai informasi, baik melalui membaca, observasi, maupun diskusi. Ketiga, mereka mengolah informasi tersebut menjadi pengetahuan baru, misalnya dengan membuat catatan, karya, atau laporan sederhana. Keempat, siswa mengomunikasikan hasil belajar melalui presentasi atau diskusi kelas. Terakhir, dilakukan refleksi untuk memperkuat pemahaman. Kerangka ini membantu guru merancang pembelajaran yang terstruktur tetapi tetap fleksibel dan bermakna.
  • 8.
    Peran Kepala Sekolah dalam Pengimbasan Kepalasekolah memiliki peran penting dalam mengimbaskan praktik deep learning kepada guru-guru agar dapat diterapkan secara merata di sekolah. Sebagai pemimpin pembelajaran, kepala sekolah perlu memberikan teladan dengan menunjukkan contoh strategi pembelajaran mendalam, misalnya melalui demonstrasi atau kelas model. Selain itu, kepala sekolah dapat memfasilitasi pelatihan, diskusi kelompok, atau workshop yang memungkinkan guru saling belajar dan berbagi praktik baik. Dukungan berupa penyediaan sarana pembelajaran, seperti media edukasi dan teknologi sederhana, juga menjadi faktor penentu keberhasilan. Tidak kalah penting, kepala sekolah membentuk komunitas belajar guru agar setiap pendidik bisa berkolaborasi, saling memberi umpan balik, dan mengembangkan inovasi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan siswa. Pengalaman Belajar Pengalaman belajar merupakan inti dari pembelajaran mendalam karena siswa lebih mudah memahami sesuatu jika mereka mengalaminya langsung. Di sekolah dasar, guru bisa menghadirkan pengalaman belajar melalui kegiatan nyata seperti percobaan sains sederhana, kunjungan lingkungan sekitar, atau proyek kolaboratif. Misalnya, saat belajar tentang ekosistem, siswa bisa melakukan pengamatan di halaman sekolah atau menanam tanaman. Dengan cara ini, anak-anak tidak hanya membaca teori dari buku, tetapi juga melihat, merasakan, dan melakukan, sehingga konsep yang dipelajari lebih melekat. Pengalaman belajar yang bermakna akan menumbuhkan rasa ingin tahu sekaligus membentuk keterampilan hidup anak.
  • 9.
    Dalam menerapkan deeplearning di sekolah dasar, guru dan sekolah tentu menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah keterbatasan sarana, seperti perangkat teknologi atau media pembelajaran yang belum merata di semua kelas. Tantangan lainnya adalah mindset guru yang masih terbiasa dengan metode hafalan dan ceramah, sehingga perlu waktu untuk beradaptasi dengan pendekatan baru. Selain itu, waktu pembelajaran yang terbatas seringkali membuat guru lebih fokus menyelesaikan target materi daripada membangun pemahaman mendalam siswa. Untuk mengatasi hal ini, sekolah dapat memanfaatkan media sederhana yang ada, misalnya bahan di lingkungan sekitar sebagai alat belajar, serta memberikan pelatihan berkelanjutan bagi guru. Kolaborasi dengan orang tua juga menjadi solusi penting agar anak mendapatkan dukungan belajar mendalam baik di sekolah maupun di rumah. Tantangan dan Solusi Pola Pikir Tetap (Fixed Mindset) Pola pikir tetap adalah cara berpikir yang menganggap bahwa kemampuan seseorang bersifat bawaan dan tidak bisa berubah. Di sekolah dasar, pola pikir ini bisa muncul ketika siswa merasa dirinya “tidak pintar” dalam matematika atau “tidak berbakat” menggambar, lalu berhenti berusaha. Guru perlu memahami bahwa pola pikir tetap dapat menghambat perkembangan anak, karena membuat mereka takut mencoba dan mudah menyerah saat menghadapi kesulitan. Dengan mengenali pola pikir ini, guru bisa membantu siswa mengubah cara pandangnya melalui dorongan, motivasi, dan pembelajaran yang menekankan proses, bukan hanya hasil.
  • 10.
    Dampak Positif Deep Learning Penerapandeep learning di sekolah dasar membawa banyak dampak positif bagi perkembangan siswa. Dengan pembelajaran yang menekankan pemahaman mendalam, anak-anak tidak hanya menghafal tetapi juga benar-benar memahami konsep dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini melatih kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan pemecahan masalah sejak dini. Selain itu, deep learning membantu membentuk karakter sesuai Profil Pelajar Pancasila, seperti gotong royong, mandiri, dan bernalar kritis. Proses belajar juga menjadi lebih menyenangkan karena siswa merasa terlibat aktif dan melihat manfaat nyata dari apa yang dipelajarinya. Dampak jangka panjangnya adalah lahirnya generasi yang lebih siap menghadapi tantangan abad 21 dengan bekal ilmu, keterampilan, dan nilai-nilai yang kuat. Pola Pikir Bertumbuh (Growth Mindset) Sebaliknya, pola pikir bertumbuh adalah keyakinan bahwa kemampuan dapat berkembang melalui usaha, latihan, dan pengalaman. Dalam konteks pembelajaran di SD, pola pikir ini sangat penting karena mendorong anak untuk tidak takut salah dan berani mencoba hal baru. Guru bisa menanamkan growth mindset dengan memberikan pujian pada usaha, bukan hanya hasil, serta memberi kesempatan kepada siswa untuk memperbaiki kesalahannya. Misalnya, ketika anak salah mengerjakan soal, guru bisa mengatakan, “Kamu sudah berusaha, coba kita lihat lagi cara lain untuk menyelesaikannya.” Dengan pola pikir bertumbuh, anak akan lebih gigih, percaya diri, dan termotivasi untuk terus belajar.
  • 11.
    Rencana Tindak Lanjut diSekolah Agar penerapan deep learning benar-benar berjalan di sekolah dasar, perlu disusun rencana tindak lanjut yang jelas dan terarah. Langkah pertama adalah mengadakan workshop atau pelatihan bagi guru untuk memahami konsep, strategi, dan contoh praktik pembelajaran mendalam. Selanjutnya, sekolah dapat menyelenggarakan simulasi pembelajaran berbasis proyek sehingga guru dapat langsung mempraktikkan metode tersebut di kelas. Kepala sekolah bersama tim kurikulum juga perlu membuat sistem monitoring dan evaluasi untuk menilai sejauh mana pendekatan ini diterapkan serta dampaknya bagi siswa. Tidak kalah penting, membangun kolaborasi antar guru dan antar kelas agar muncul berbagai inovasi pembelajaran yang dapat saling ditularkan. Dengan tindak lanjut ini, deep learning dapat menjadi budaya belajar di sekolah, bukan hanya wacana. Pembelajaran Inovatif Pembelajaran inovatif adalah pembelajaran yang dirancang kreatif dan menyesuaikan dengan kebutuhan serta perkembangan siswa. Di era digital, guru SD dapat menghadirkan inovasi dengan menggabungkan metode tradisional dan teknologi sederhana, seperti menggunakan video edukasi, kuis interaktif, atau aplikasi menggambar. Inovasi juga bisa berupa pendekatan baru, misalnya menggabungkan beberapa mata pelajaran dalam satu proyek atau mengajak siswa belajar di luar kelas. Tujuannya adalah membuat proses belajar lebih menarik, relevan, dan menyenangkan, sehingga siswa lebih termotivasi. Dengan pembelajaran inovatif, sekolah dasar bisa menjadi tempat yang menumbuhkan kreativitas sekaligus mempersiapkan anak menghadapi perubahan zaman.
  • 12.
    Dari seluruh pembahasandapat disimpulkan bahwa deep learning atau pembelajaran mendalam sangat penting diterapkan di sekolah dasar untuk membentuk pemahaman yang utuh, keterampilan berpikir kritis, kreativitas, serta karakter siswa sesuai Profil Pelajar Pancasila. Prinsip-prinsip pembelajaran mendalam menekankan keterlibatan aktif, pengalaman nyata, kolaborasi, dan refleksi, yang dapat diterapkan melalui kerangka pembelajaran berbasis proyek, masalah, maupun penilaian autentik. Guru berperan sebagai fasilitator, sementara kepala sekolah menjadi motor penggerak dan pengimbas agar seluruh pendidik dapat menerapkan pendekatan ini secara konsisten. Tantangan seperti keterbatasan sarana atau pola pikir tetap pada guru maupun siswa dapat diatasi dengan inovasi, pelatihan berkelanjutan, serta penanaman pola pikir bertumbuh. Dengan demikian, melalui kolaborasi semua pihak, deep learning akan menjadi budaya belajar di sekolah dasar yang mampu menyiapkan generasi masa depan yang berilmu, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan abad 21. Penutup (Kesimpulan)