Latar Belakang
Pembelajaran diabad 21 menuntut siswa tidak hanya bisa
membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga mampu berpikir
kritis, kreatif, serta memiliki karakter yang baik. Kurikulum
Merdeka hadir untuk menjawab tantangan ini dengan
mendorong pembelajaran yang bermakna, relevan dengan
kehidupan, dan membentuk Profil Pelajar Pancasila. Namun, di
sekolah dasar masih banyak pembelajaran yang cenderung
hanya menekankan hafalan tanpa pemahaman mendalam. Oleh
karena itu, pendekatan deep learning sangat penting diterapkan
agar anak-anak tidak sekadar mengingat informasi, tetapi
mampu memahami, menghubungkan, dan menerapkannya
dalam kehidupan sehari-hari, sehingga pendidikan benar-benar
memberi bekal jangka panjang bagi murid.
3.
Pembelajaran mendalam ataudeep learning dalam konteks pendidikan
bukan sekadar istilah teknologi, melainkan pendekatan belajar yang
menekankan pada pemahaman konsep secara utuh, kemampuan
menganalisis, dan keterampilan berpikir kritis. Berbeda dengan pembelajaran
dangkal (surface learning) yang hanya menuntut siswa menghafal fakta, deep
learning mendorong anak untuk mengaitkan pengetahuan baru dengan
pengalaman mereka, sehingga pengetahuan tersebut tertanam lebih kuat.
Misalnya, saat belajar tentang lingkungan, siswa tidak hanya menghafal jenis-
jenis sampah, tetapi juga memahami dampaknya, mencari solusi pengelolaan
sederhana, dan bahkan melakukan aksi nyata di sekolah. Dengan cara ini,
proses belajar di sekolah dasar menjadi lebih bermakna dan membekali anak
untuk menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.
Apa itu Deep Learning dalam Pendidikan?
4.
Prinsip Deep Learningdi
Sekolah Dasar
Prinsip utama pembelajaran mendalam di sekolah dasar
adalah menjadikan siswa sebagai pusat proses belajar
(student-centered learning), bukan sekadar penerima
informasi. Pembelajaran harus kontekstual, artinya materi
yang dipelajari anak terhubung dengan kehidupan nyata
mereka sehingga terasa bermakna. Selain itu, deep learning
mendorong adanya kolaborasi melalui kerja kelompok atau
proyek sederhana yang melatih anak belajar bersama,
berbagi ide, dan memecahkan masalah. Proses ini juga
selaras dengan upaya mengintegrasikan nilai-nilai dalam
Profil Pelajar Pancasila, seperti gotong royong, bernalar kritis,
dan kreatif. Dengan demikian, guru tidak hanya mengajar
untuk capaian akademik, tetapi juga membentuk karakter
dan keterampilan abad 21 yang dibutuhkan anak di masa
depan.
5.
Strategi Penerapan
Deep Learning
Untukmenerapkan pembelajaran mendalam di sekolah
dasar, guru dapat menggunakan berbagai strategi yang
mendorong keterlibatan aktif siswa. Salah satunya
adalah Project-Based Learning (PjBL) yang mengajak
murid membuat karya nyata, misalnya membuat poster
hemat energi atau menanam sayuran sederhana. Selain
itu, Problem-Based Learning (PBL) dapat digunakan
untuk melatih siswa memecahkan masalah sehari-hari,
seperti bagaimana menjaga kebersihan kelas atau
mengurangi sampah plastik. Guru juga bisa
memanfaatkan literasi digital sesuai usia anak, misalnya
menggunakan video edukasi atau aplikasi belajar
interaktif. Penilaian pun sebaiknya bersifat autentik,
bukan hanya ulangan tertulis, melainkan melalui
portofolio, hasil karya, atau presentasi siswa. Dengan
strategi ini, siswa akan lebih mudah memahami
pelajaran secara mendalam sekaligus melatih
keterampilan hidup.
Prinsip Pembelajaran
Mendalam
Prinsip pembelajaran mendalam berfokus pada
bagaimana siswa dapat belajar dengan memahami
makna, bukan hanya mengingat. Dalam praktiknya,
guru perlu mengaitkan materi pelajaran dengan
pengalaman nyata siswa, sehingga konsep yang
diajarkan terasa relevan. Prinsip lain adalah keterlibatan
aktif, di mana siswa didorong untuk bertanya,
berdiskusi, dan menemukan jawaban sendiri. Proses
refleksi juga menjadi bagian penting, agar anak dapat
mengevaluasi apa yang sudah dipelajari dan bagaimana
menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan prinsip ini, pembelajaran di SD akan lebih
menyentuh aspek pengetahuan, keterampilan, dan
sikap sekaligus.
6.
Penerapan deep learningdi kelas SD dapat dilakukan
melalui proyek sederhana yang dekat dengan kehidupan
siswa. Misalnya, guru mengajak murid membuat taman
mini di sekolah, di mana anak-anak belajar tentang
pertumbuhan tanaman (IPA), membuat laporan
pengamatan (Bahasa Indonesia), dan menghitung
kebutuhan bibit atau pupuk (Matematika). Contoh lain
adalah proyek kampanye hemat energi, di mana siswa
belajar pentingnya menjaga lingkungan sambil membuat
poster, presentasi, atau video sederhana. Guru juga dapat
memanfaatkan media digital seperti aplikasi
menggambar atau permainan edukasi untuk mendukung
pemahaman konsep. Dengan kegiatan nyata yang
menyenangkan, anak tidak hanya menghafal teori, tetapi
juga mengembangkan rasa ingin tahu, tanggung jawab,
dan keterampilan berpikir kritis sejak dini.
Contoh Penerapan di Kelas
SD
7.
Dalam pembelajaran mendalam,guru berperan sebagai
fasilitator yang menciptakan pengalaman belajar
bermakna, bukan hanya penyampai materi. Guru perlu
merancang kegiatan yang mendorong siswa aktif
bertanya, berdiskusi, bereksperimen, dan menemukan
jawaban sendiri. Selain itu, guru juga penting
memberikan umpan balik yang membangun agar siswa
tahu kelebihan dan hal yang masih perlu diperbaiki.
Lingkungan belajar yang kondusif harus diciptakan, di
mana anak merasa aman untuk mencoba, berpendapat,
dan berkolaborasi. Guru juga harus menanamkan nilai-
nilai karakter, seperti gotong royong, disiplin, dan rasa
tanggung jawab, sehingga pembelajaran tidak hanya
menghasilkan pengetahuan, tetapi juga membentuk
kepribadian siswa sesuai Profil Pelajar Pancasila.
Peran Guru dalam
Deep Learning
Kerangka
Pembelajaran
Mendalam
Kerangka pembelajaran mendalam terdiri dari beberapa
tahapan yang saling berkaitan. Pertama, guru memulai
dengan merangsang rasa ingin tahu siswa melalui
pertanyaan pemantik atau masalah nyata. Kedua, siswa
diajak mengeksplorasi berbagai informasi, baik melalui
membaca, observasi, maupun diskusi. Ketiga, mereka
mengolah informasi tersebut menjadi pengetahuan
baru, misalnya dengan membuat catatan, karya, atau
laporan sederhana. Keempat, siswa mengomunikasikan
hasil belajar melalui presentasi atau diskusi kelas.
Terakhir, dilakukan refleksi untuk memperkuat
pemahaman. Kerangka ini membantu guru merancang
pembelajaran yang terstruktur tetapi tetap fleksibel dan
bermakna.
8.
Peran Kepala
Sekolah dalam
Pengimbasan
Kepalasekolah memiliki peran penting dalam
mengimbaskan praktik deep learning kepada guru-guru agar
dapat diterapkan secara merata di sekolah. Sebagai
pemimpin pembelajaran, kepala sekolah perlu memberikan
teladan dengan menunjukkan contoh strategi pembelajaran
mendalam, misalnya melalui demonstrasi atau kelas model.
Selain itu, kepala sekolah dapat memfasilitasi pelatihan,
diskusi kelompok, atau workshop yang memungkinkan guru
saling belajar dan berbagi praktik baik. Dukungan berupa
penyediaan sarana pembelajaran, seperti media edukasi dan
teknologi sederhana, juga menjadi faktor penentu
keberhasilan. Tidak kalah penting, kepala sekolah
membentuk komunitas belajar guru agar setiap pendidik bisa
berkolaborasi, saling memberi umpan balik, dan
mengembangkan inovasi pembelajaran yang relevan dengan
kebutuhan siswa.
Pengalaman
Belajar
Pengalaman belajar merupakan inti dari pembelajaran
mendalam karena siswa lebih mudah memahami sesuatu
jika mereka mengalaminya langsung. Di sekolah dasar, guru
bisa menghadirkan pengalaman belajar melalui kegiatan
nyata seperti percobaan sains sederhana, kunjungan
lingkungan sekitar, atau proyek kolaboratif. Misalnya, saat
belajar tentang ekosistem, siswa bisa melakukan
pengamatan di halaman sekolah atau menanam tanaman.
Dengan cara ini, anak-anak tidak hanya membaca teori dari
buku, tetapi juga melihat, merasakan, dan melakukan,
sehingga konsep yang dipelajari lebih melekat. Pengalaman
belajar yang bermakna akan menumbuhkan rasa ingin tahu
sekaligus membentuk keterampilan hidup anak.
9.
Dalam menerapkan deeplearning di sekolah dasar, guru
dan sekolah tentu menghadapi sejumlah tantangan. Salah
satunya adalah keterbatasan sarana, seperti perangkat
teknologi atau media pembelajaran yang belum merata di
semua kelas. Tantangan lainnya adalah mindset guru yang
masih terbiasa dengan metode hafalan dan ceramah,
sehingga perlu waktu untuk beradaptasi dengan
pendekatan baru. Selain itu, waktu pembelajaran yang
terbatas seringkali membuat guru lebih fokus
menyelesaikan target materi daripada membangun
pemahaman mendalam siswa. Untuk mengatasi hal ini,
sekolah dapat memanfaatkan media sederhana yang ada,
misalnya bahan di lingkungan sekitar sebagai alat belajar,
serta memberikan pelatihan berkelanjutan bagi guru.
Kolaborasi dengan orang tua juga menjadi solusi penting
agar anak mendapatkan dukungan belajar mendalam baik
di sekolah maupun di rumah.
Tantangan
dan Solusi
Pola Pikir Tetap (Fixed
Mindset)
Pola pikir tetap adalah cara berpikir yang menganggap
bahwa kemampuan seseorang bersifat bawaan dan tidak
bisa berubah. Di sekolah dasar, pola pikir ini bisa muncul
ketika siswa merasa dirinya “tidak pintar” dalam
matematika atau “tidak berbakat” menggambar, lalu
berhenti berusaha. Guru perlu memahami bahwa pola pikir
tetap dapat menghambat perkembangan anak, karena
membuat mereka takut mencoba dan mudah menyerah
saat menghadapi kesulitan. Dengan mengenali pola pikir
ini, guru bisa membantu siswa mengubah cara
pandangnya melalui dorongan, motivasi, dan pembelajaran
yang menekankan proses, bukan hanya hasil.
10.
Dampak Positif
Deep Learning
Penerapandeep learning di sekolah dasar membawa banyak
dampak positif bagi perkembangan siswa. Dengan pembelajaran
yang menekankan pemahaman mendalam, anak-anak tidak
hanya menghafal tetapi juga benar-benar memahami konsep dan
mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini
melatih kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan pemecahan
masalah sejak dini. Selain itu, deep learning membantu
membentuk karakter sesuai Profil Pelajar Pancasila, seperti
gotong royong, mandiri, dan bernalar kritis. Proses belajar juga
menjadi lebih menyenangkan karena siswa merasa terlibat aktif
dan melihat manfaat nyata dari apa yang dipelajarinya. Dampak
jangka panjangnya adalah lahirnya generasi yang lebih siap
menghadapi tantangan abad 21 dengan bekal ilmu, keterampilan,
dan nilai-nilai yang kuat.
Pola Pikir
Bertumbuh (Growth
Mindset)
Sebaliknya, pola pikir bertumbuh adalah keyakinan bahwa
kemampuan dapat berkembang melalui usaha, latihan, dan
pengalaman. Dalam konteks pembelajaran di SD, pola pikir ini
sangat penting karena mendorong anak untuk tidak takut salah
dan berani mencoba hal baru. Guru bisa menanamkan growth
mindset dengan memberikan pujian pada usaha, bukan hanya
hasil, serta memberi kesempatan kepada siswa untuk
memperbaiki kesalahannya. Misalnya, ketika anak salah
mengerjakan soal, guru bisa mengatakan, “Kamu sudah
berusaha, coba kita lihat lagi cara lain untuk menyelesaikannya.”
Dengan pola pikir bertumbuh, anak akan lebih gigih, percaya
diri, dan termotivasi untuk terus belajar.
11.
Rencana Tindak Lanjut
diSekolah
Agar penerapan deep learning benar-benar berjalan di
sekolah dasar, perlu disusun rencana tindak lanjut yang jelas
dan terarah. Langkah pertama adalah mengadakan workshop
atau pelatihan bagi guru untuk memahami konsep, strategi,
dan contoh praktik pembelajaran mendalam. Selanjutnya,
sekolah dapat menyelenggarakan simulasi pembelajaran
berbasis proyek sehingga guru dapat langsung
mempraktikkan metode tersebut di kelas. Kepala sekolah
bersama tim kurikulum juga perlu membuat sistem
monitoring dan evaluasi untuk menilai sejauh mana
pendekatan ini diterapkan serta dampaknya bagi siswa. Tidak
kalah penting, membangun kolaborasi antar guru dan antar
kelas agar muncul berbagai inovasi pembelajaran yang dapat
saling ditularkan. Dengan tindak lanjut ini, deep learning
dapat menjadi budaya belajar di sekolah, bukan hanya
wacana.
Pembelajaran Inovatif
Pembelajaran inovatif adalah pembelajaran yang dirancang
kreatif dan menyesuaikan dengan kebutuhan serta
perkembangan siswa. Di era digital, guru SD dapat
menghadirkan inovasi dengan menggabungkan metode
tradisional dan teknologi sederhana, seperti menggunakan
video edukasi, kuis interaktif, atau aplikasi menggambar.
Inovasi juga bisa berupa pendekatan baru, misalnya
menggabungkan beberapa mata pelajaran dalam satu proyek
atau mengajak siswa belajar di luar kelas. Tujuannya adalah
membuat proses belajar lebih menarik, relevan, dan
menyenangkan, sehingga siswa lebih termotivasi. Dengan
pembelajaran inovatif, sekolah dasar bisa menjadi tempat
yang menumbuhkan kreativitas sekaligus mempersiapkan
anak menghadapi perubahan zaman.
12.
Dari seluruh pembahasandapat disimpulkan bahwa deep learning atau pembelajaran mendalam
sangat penting diterapkan di sekolah dasar untuk membentuk pemahaman yang utuh, keterampilan
berpikir kritis, kreativitas, serta karakter siswa sesuai Profil Pelajar Pancasila. Prinsip-prinsip
pembelajaran mendalam menekankan keterlibatan aktif, pengalaman nyata, kolaborasi, dan refleksi,
yang dapat diterapkan melalui kerangka pembelajaran berbasis proyek, masalah, maupun penilaian
autentik. Guru berperan sebagai fasilitator, sementara kepala sekolah menjadi motor penggerak dan
pengimbas agar seluruh pendidik dapat menerapkan pendekatan ini secara konsisten. Tantangan
seperti keterbatasan sarana atau pola pikir tetap pada guru maupun siswa dapat diatasi dengan
inovasi, pelatihan berkelanjutan, serta penanaman pola pikir bertumbuh. Dengan demikian, melalui
kolaborasi semua pihak, deep learning akan menjadi budaya belajar di sekolah dasar yang mampu
menyiapkan generasi masa depan yang berilmu, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan abad
21.
Penutup (Kesimpulan)