Pertanian Organik dan Berkelanjutan Ir. Hartawati, MP
1
KOMPOS DAN PENGOMPOSAN
Disusun oleh
Wiwit Sanjaya (1) dan Nurhaida (2)
201410200311010(1) dan 201410200311047(3)
Jurusan Agronomi, Fakultas Pertanian Peternakan
Universitas Muhammadiyah Malang
September 2017
I. PENDAHULUAN
Telah lama sampah menjadi permasalahan serius di Indonesia. Peningkatan jumlah
penduduk Indonesia berbanding lurus dengan sampah yang dihasilkan tiap harinya. Sampah
berdasarkan kandungan zat kimia dibagi menjadi dua kelompok, yaitu sampah organik dan
sampah anorganik. Sampah organik pada umumnya mengalami pembusukan, seperti daun, sisa
makanan, dan lain-lain. Sedangkan sampah anorganik pada umumnya tidak mengalami
pembusukan, seperti plastik, logam, dan lainnya.
Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pertambahan jumlah
penduduk berbanding lurus dengan jumlah sampah yang dihasilkan. Hitungan secara kasar,
dengan jumlah penduduk Indonesia saat ini lebih dari 250 juta orang, jika setiap orang
menghasilkan sampah 0,7 kg/hari, maka timbunan sampah secara nasional mencapai 175 ribu
ton/hari atau setara dengan 64 juta ton/tahun. Adapun persentase sampah organik
seperti sisa makanan, sayuran, buah-buahan, kertas, kayu mencapai 65,05 persen. Sedangkan
sampah non-organik seperti plastik, styrofoam, dan besi, sekitar 34,95 persen
(BPPT, 2015).
Sering tidak disadari bahwa sampah organik sangat banyak jumlahnya dan memiliki
nilai yang lebih bermanfaat seperti dijadikan kompos dan pupuk dari pada dibakar yang hanya
menghasilkan polutan bagi udara. Dengan mengolah menjadi kompos akan membuat tanah
menjadi subur karena kandungan unsur hara bertambah (Suryati, 2008). Proses pembuatan
kompos disebut pengomposan.
Berdasarkan uraian di atas alasan penulis membuat paper mengenai kompos dan
pengomposan agar menjadi salah satu referensi ilmu pengetahuan dan pedoman masyarakat
khususnya petani agar memanfaatkan sampah-sampah organik menjadi kompos yang dapat
dimanfaatkan untuk tanaman budidaya.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kompos
Kompos merupakan jenis pupuk yang terjadi karena proses penghancuran oleh alam
atas bahan-bahan organik, terutama daun, tumbuh-tumbuhan seperti jerami, kacang-kacangan,
sampah dan lain-lain (Sarief, 1989 dalam Agustina 2007).
Bahan organik yang dapat digunakan sebagai kompos dapat berasal dari limbah hasil
pertanian dan non pertanian (limbah kota dan limbah industri) (Kurnia dkk., 2001 dalam
Harizena 2012). Limbah hasil dari pertanian antara lain berupa sisa tanaman (jerami dan
brangkasan), sisa hasil pertanian (sekam, dedak padi, kulit kacang tanah, ampas tebu, dan
belotong). Limbah kota atau sampah organik kota biasanya dikumpulkan dari pasar atau
sampah rumah tangga dari daerah pemukiman serta taman-taman kota (Setyorini dkk., 2003
dalam Harizena 2012).
Pertanian Organik dan Berkelanjutan Ir. Hartawati, MP
2
Kompos dapat diperkaya dengan kotoran sapi yang merupakan sumber unsur hara
makro dan mikro yang lengkap. Kadar rata-rata komposisi pupuk kandang sapi adalah C-
organik 8,58%; N-total 0,73%; P-total 0,93%; K-total 0,73%; bahan organik 14,48%; dan rasio
C/N sebesar 12,0 (Sutanto,2002 ).
2.2 Kualitas Kompos
Pengomposan timbul dari kegiatan mikroorganisme, sehingga diharapkan bahwa proses
pengomposan akan lebih baik dengan penambahan inokulan dari kultur mikroorganisme.
Mikroorganisme berkembangbiak dengan sangat cepat, dan dalam beberapa hari jumlahnya
dapat mencapai titik maksimum yang dimungkinkan oleh kondisi lingkungan dalam tumpukan
kompos. Kompos yang baik adalah kompos yang sudah mengalami pelapukan yang cukup
dengan dicirikan warna sudah berbeda dengan warna bahan pembentuknya, berbau seperti
tanah, kadar air rendah, dan mempunyai suhu ruang. Standar Nasional Indonesia (SNI)
memiliki syarat mutu produk kompos untuk melindungi konsumen dan mencegah pencemaran
lingkungan. Standar ini dapat dipergunakan sebagai acuan bagi produsen kompos dalam
memproduksi kompos. Adapun standar kualitas kompos dari sampah organik domestik yang
merujuk pada SNI 19-7030-2004 (Tabel 2).
Tabel.1 SNI Produk Kompos
Pertanian Organik dan Berkelanjutan Ir. Hartawati, MP
3
Keterangan : * Nilainya lebih besar dari minimum atau lebih kecil dari maksimum
Menurut Schoonover dan Crim (2015), kadar air menjadi faktor kunci dan kritis
karena proses dekomposisi bahan organik bergantung pada kandungan air. Tchobanoglous et
al. (1993) menyatakan bahwa kadar air bahan baku kompos yang baik berada dalam kisaran
50-60%. Sementara sumber lain menyebutkan kadar air optimal ialah 45–55% (Hoitink, 2010;
Chen et al., 2011). Kadar air optimum untuk dekomposisi kompos adalah 40–50% (Heyworth,
2001; Waldow dan Gottschall, 2001).
Pada kadar air tersebut, suhu dapat mencapai 55°C, sehingga pengomposan cepat terjadi
dan dapat membunuh bakteri patogen. Kadar air yang terlalu rendah akan mengurangi efiiensi
pengomposan (Luo et al., 2008). Bahan baku kompos yang terlalu kering tersebut dapat
menyebabkan proses penguraian berhenti. Oleh karena itu, diperlukan pembalikan secara
berkala, menambah bahan kompos segar dan menutup timbunan untuk mengurangi penguapan
(Simanungkalit et al., 2006; Rosiana et al., 2013).
Ketika mulai terjadi penguraian kompos ke arah warna tanah, dilakukan penambahan
air hingga kadar air sekitar 40% atau secara fiik cukup basah ketika digenggam. Suhu tumpukan
sampah daun sebelum dikomposkan adalah 28 °C. Suhu yang baik untuk mempercepat
pengomposan adalah 50–55 °C (Baltrenas dan Jankaite, 2008; Atalia et al., 2015). Pada pH
optimum untuk aktivitas bakteri dalam pengomposan adalah 6–7.5 (de Bertoldi, 1996;
Pertanian Organik dan Berkelanjutan Ir. Hartawati, MP
4
Cooperband, 2002). pH terukur pada sampel kompos menunjukkan angka ideal untuk proses
pengomposan, yaitu bernilai 7.
2.3 Pengomposan
Pengomposan atau dekomposisi merupakan peruraian dan pemantapan bahan-bahan
organik secara biologi dalam temperatur yang tinggi dengan hasil akhir bahan yang bagus untuk
digunakan ke tanah tanpa merugikan lingkungan (Prihandarini, 2004 dalam Agustina 2007).
Pengomposan merupakan salah satu contoh proses pengolahan buangan (sampah) secara
aerobic dan anaerobic, dimana kedua proses tersebut akan berjalan saling menunjang dan
menghasilkan pupuk organik yang disebut kompos. Proses pengomposan atau membuat
kompos adalah proses biologis karena selama proses tersebut berlangsung, sejumlah jasad
hidup yang disebut mikroba, seperti bakteri dan jamur, berperan aktif (Unus, 2002 dalam
Sulistyorini, 2005).
Sistem pengomposan bertujuan untuk mempertahankan kondisi aerob selama proses.
Pengomposan pada kondisi aerob meningkatkan laju dekomposisi, sehingga terjadi
peningkatan temperatur. Apabila aerasi tidak terhambat, maka tidak dihasilkan bau tidak sedap
(Holmes, 1983 dalam Anon, 2011).
Berjuta-juta ton senyawa organic dihasilkan oleh tanaman dari proses fotosintesa dalam
bentuk daun, batang, biji, buah-buahan, umbi-umbian dan sebagainya, dan kemudian
didegradasi oleh mikroba. Hasil degradasi kemudian tersimpan di dalam tanah dalam bentuk
humus. Proses degradasi berjalan lambat secara aerobic dan anaerobic dengan memerlukan
persyaratan lingkungan tertentu, dan secara keseluruhan proses disebut “dekomposisi”. Proses
dikomposisi senyawa organic oleh mikroba merupakan proses berantai.
Senyawa organic yang bersifat heterogen, bercampur dengan kumpulan jasad hidup
yang berasal dari udara, tanah, air atau sumber lainnya, dan di dalamnya akan terjadi proses
mikrobiologis (Lilis Sulistyorini, 2005).
Beberapa persyaratan yang diperlukan agar proses tersebut berjalan lancar, menyangkut
masalah bandingan sumber nitrogen dan karbon (C/N-rasio) di dalam bahan, kadar air bahan,
bentuk dan jenis bahan, temperature, pH dan jenis mikroba yang berperan di dalamnya. Seperti
pula di dalam proses pengolahan air buangan yang mengandung senyawa organik, maka di
dalam sampahpun kehadiran dan aktivitas mikroba di dalamnya akan
menggunakan senyawa tersebut untuk keperluan aktivitasnya. Hasil lainnya akan
berbentuk buangan, yang secara keseluruhan dinamakan kompos, dengan komposisi lengkap.
Karena proses dekomposisi senyawa organik berjalan pada temperature di atas 37°C serta
perubahan pH yang berbeda, maka kandungan mikroba di dalamnya akan tersusun oleh
sejumlah bacteria, aktinomiset, jamur, mikroalge serta jasad-jasad lain seperti protozoa,
nematode, cacing, virus dan sebagainya (Wayan Gunam, dkk, 2008).
Pada umumnya baik sebagai pengurai ataupun sebagai penghuni kompos jadi, bakteria,
aktinomiset dan jamur yang terdapat di dalamnya, banyak yang bersifat termofilik, yang
kadang-kadang masih dapat hidup pada temperature 65-85°C. Bila sampah disebarkan di atas
permukaan tanah, maka selain proses dekomposisi akan berjalan sangat lambat, juga kelompok
mikroba yang aktif di dalamnya hanya psikhofilik dan mesofilik saja. Tetapi berbeda kalau
sampah tersebut ditumpukkan atau dimasukkan ke dalam lubang, maka kelompok mikroba
yang aktif di dalamnya termasuk kelompok mesofilik dan termofilik, sehingga dengan cepat
akan terjadi perubahan pH dan temperature. Indikator yang jelas tampak bahwa proses
dekomposisi senyawa organik berjalan lancar, ditandai oleh adanya perubahan nilai
Pertanian Organik dan Berkelanjutan Ir. Hartawati, MP
5
pH dan temperature, yaitu bahwa proses dekomposisi (atau secara umum dikenal dengan nama
proses pengomposan), akan berjalan dalam empat fasa, yaitu fasa mesofilik, fasa termofilik,
fasa pendinginan dan fasa masak.
Kompos mengalami tiga tahap proses pengomposan yaitu pada tahap pertama yaitu
tahap penghangatan (tahap mesofilik), mikroorganisme hadir dalam bahan kompos secara cepat
dan temperatur meningkat. Mikroorganisme mesofilik hidup pada temperatur 10-45°C dan
bertugas memperkecil ukuran partikel bahan organik sehingga luas permukaan bahan
bertambah dan mempercepat proses pengomposan.
Pada tahap kedua yaitu tahap termofilik, mikroorganisme termofilik hadir dalam
tumpukan bahan kompos. Mikroorganisme termofilik hidup pada tempratur 45-60°C dan
bertugas mengkonsumsi karbohidrat dan protein sehingga bahan kompos dapat terdegradasi
dengan cepat. Mikroorganisme ini berupa Actinomycetes dan jamur termofilik. Sebagian dari
Actinomycetes mampu merombak selulosa dan hemiselulosa. Kemudian proses dekomposisi
mulai melambat dan temperatur puncak dicapai. Setelah temperatur puncak terlewati,
tumpukan mencapai kestabilan, dimana bahan lebih mudah terdekomposisikan.
Tahap ketiga yaitu tahap pendinginan dan pematangan. Pada tahap ini, jumlah
mikroorganisme termofilik berkurang karena bahan makanan bagi mikroorganisme ini juga
berkurang, hal ini mengakibatkan organisme mesofilik mulai beraktivitas kembali. Organisme
mesofilik tersebut akan merombak selulosa dan hemiselulosa yang tersisa dari proses
sebelumnya menjadi gula yang lebih sederhana, tetapi kemampuanya tidak sebaik organism
termofilik. Bahan yang telah didekomposisi menurun jumlahnya dan panas yang dilepaskan
relatif kecil (Djuarnani dkk.,2005).
2.4 Syarat Pengomposan
Peranan mikroba di dalam pengolahan bahan baku menjadi kompos berjalan secara
baik, persyaratan-persyaratan berikut harus dipenuhi:
1. Kadar air bahan baku: daun-daun yang masih segar atau tidak kering, kadar airnya
memenuhi syarat sebagai bahan baku. Dengan begitu, daun yang sudah kering, yang kadar
airnya juga akan berkurang, tidak memenuhi syarat. Hal tersebut harus diperhatikan karena
banyak pengaruhnya terhadap kegiatan mikroba dalam mengolah bahan baku menjadi
kompos. Seandainya sudah kering, bahan baku tersebut harus diberi air secukupnya agar
menjadi lembab.
2. Bandingan sumber C (Karbon) dengan N (zat lemas) bahan : bandingan ini umumnya disebut
rasio/bandingan C/N, dengan bandingan tersebut proses pengomposan berjalan baik dengan
menghasilkan kompos bernilai baik pula, paling tinggi 30, yang artinya kandungan sumber
C berbanding dengan kandungan sumber = 30 : 1. Sebagai contoh, kalau menggunakan
jerami sebagai bahan baku kompos, nilai rasio C/N-nya berkisar 15 – 25, jadi terlalu rendah.
Karena itu, bahan baku tersebut harus dicampur dengan benar agar nilai rasio C/N-nya
berkisar 30. Misalnya, lima bagian sampah yang terdiri atas daun-daunan dari pekarangan
dicampur dengan dua bagian kotoran kandang, akan mencapai nilai rasio C/N mendekati 30,
atau lima bagian sampah tersebut dicampur dengan lumpur selokan (lebih kotor akan lebih
baik) sebanyak tiga bagian, juga akan mencapai rasio C/N sekitar 30. Sementara itu, untuk
jerami, lima bagian jerami harus ditambah dengan tiga bagian kotoran kandang, atau kalau
tidak ada dengan empat bagian lumpur selokan sehingga nilai rasio C/N-nya akan mendekati
30. Pengomposan bahan organik secara aerobik merupakan suatu proses humifikasi bahan
organik tidak-stabil (rasio C/N >25) menjadi bahan organik stabil yang dicirikan oleh
Pertanian Organik dan Berkelanjutan Ir. Hartawati, MP
6
pelepasan panas dan gas dari substrat yang dikomposkan (Diaz et al., 1993 dalam
Sulistyorini, 2005).
Lamanya waktu pengomposan bervariasi dari dua sampai tujuh minggu, bergantung
pada teknik pengomposan dan jenis mikroba dekomposer yang digunakan (FAO, 2003 dalam
Sulistyorini, 2005).
Tingkat kematangan (derajat humifikasi) dan kestabilan kompos (terkait dengan
aktivitas mikroba) menentukan mutu kompos yang ditunjukkan oleh berbagai perubahan sifat
fisik, kimia, dan biologi substrat kompos. Pada kompos yang belum matang, proses
dekomposisi bahan organik masih terus berlangsung yang dapat menciptakan suasana
anaerobik di lingkungan perakaran (penggunaan oksigen oleh mikroba) dan kahat N
(imobilisasi N oleh mikroba), sehingga menghambat pertumbuhan tanaman. Pengomposan
yang tidak sempurna juga kerap menghasilkan senyawa fitotoksin seperti fenolat yang dalam
banyak kasus menghambat pertumbuhan bibit tanaman (Zucconi et al. 1981 dalam Sulistyorini,
2005) atau menjadi tempat transien bagi mikroba patogen. penentu bagi petani menggunakan
mikroba dekomposer.
Menurut Outerbridge (1991) dalam Anon (2001), tidak adanya udara (kondisi
anaerobik) akan menimbulkan perkembangbiakan berbagai macam mikroorganisme yang
menyebabkan pengawetan keasaman dan pembusukan tumpukan yang menimbulkan bau
busuk. Aerasi diperoleh melalui gerakan alami dari udara ke dalam tumpukan kompos, dengan
membolak-balik. Kelembaban merupakan faktor utama dalam pengomposan aerob.
Kelembaban dibawah 20 % menyebabkan pengomposan terhenti. Jika kelembaban diatas 55
%, air akan mulai mengisi ruang antara bahan, menyebabkan pengurangan jumlah oksigen dan
terbentuk kondisi anaerob, sehingga temperatur menurun dan menimbulkan bau tidak sedap
(Holmes, 1981 dalam Anon., 2011). pH digunakan untuk mengevaluasi hasil metabolisme
mikroorganisme di lingkungan. pH kompos bervariasi dengan waktu selama proses
pengomposan dan digunakan sebagai indikator dekomposisi dalam massa kompos. pH awal
bahan pengomposan sekitar 5,0 sampai 7,0. Setelah tiga hari pengomposan, pH menurun
menjadi 5,0 atau kurang karena hasil penguraiannya adalah asam organik sederhana dan
kemudian meningkat sekitar 8,5 sebagai akibat sisa dari proses aerob (protein diuraikan dan
amonia dilepaskan).
Disamping persyaratan di atas, masih diperlukan pula persyaratan lain yang pada
pokoknya bertujuan untuk mempercepat proses serta menghasilkan kompos dengan nilai yang
baik, antara lain, homogenitas (pengerjaan yang dilakukan agar bahan yang dikomposkan selalu
dalam keadaan homogen), aerasi (suplai oksigen yang baik agar proses dekomposisi untuk
bahan-bahan yang memerlukan), dan penambahan starter (preparat mikroba) kompos dapat
pula dilakukan, misalnya untuk jerami. Agar proses pengomposan bisa berjalan secara
optimum, maka kondisi saat proses harus diperhatikan. Kondisi optimum proses pengomposan
bisa dilihat pada Tabel 1 (Unus 2002 dalam Sulistyorini 2005).
Tabel 2. Kondisi Optimum Proses Pengomposan
Pertanian Organik dan Berkelanjutan Ir. Hartawati, MP
7
Secara teknis, transformasi bahan organik tidak-stabil menjadi bahan organik stabil
(kompos matang) ditandai oleh pembentukan panas dan produksi CO2. Selama proses
pengomposan, komposisi populasi mikroba berubah dari tahap mesofilik (suhu 20-40oC) ke
tahap termofilik (suhu bisa mencapai 80oC), dan terakhir tahap stabilisasi atau pendinginan.
Mikroba mesofilik memulai dekomposisi substrat mudah hancur seperti protein, gula, dan pati
yang selanjutnya digantikan oleh mikroba termofilik yang secara cepat merombak substrat
organik.Pada tahap akhir stabilisasi, jumlah populasi mikroba meningkat. Panas yang timbul
selama fase termofilik mampu membunuh mikroba patogen (>55oC) dan benih gulma (>62oC)
(FAO 2003 dalam Husen dan Irawan 2008 ), sehingga kompos matang sering dipakai sebagai
media pembibitan tanam. Penggunaan kompos matang mampu menstimulasi perkembangan
mikroba dan menghindari bibit dari serangan patogen tular tanah (Husen dan Irawan, 2008).
Menurut Unus 2002, dalam Sulistyorini, 2005 banyak faktor yang mempengaruhi
proses pembuatan kompos, baik biotik maupun abiotik. Faktor -faktor tersebut antara lain:
a. Pemisahan bahan: bahan-bahan yang sekiranya lambat atau sukar untuk didegradasi/diurai,
harus dipisahkan/diduakan, baik yang berbentuk logam, batu, maupun plastik. Bahkan,
bahan-bahan tertentu yang bersifat toksik serta dapat menghambat pertumbuhan mikroba,
harus benar-benar dibebaskan dari dalam timbunan bahan, misalnya residu pestisida.
b. Bentuk bahan : semakin kecil dan homogen bentuk bahan, semakin cepat dan baik pula
proses pengomposan. Karena dengan bentuk bahan yang lebih kecil dan homagen, lebih luas
permukaan bahan yang dapat dijadikan substrat bagi aktivitas mikroba. Selain itu, bentuk
bahan berpengaruh pula terhadap kelancaran difusi oksigen yang diperlukan serta
pengeluaran CO2 yang dihasilkan.
c. Nutrien : untuk aktivitas mikroba di dalam tumpukan sampah memerlukan sumber nutrien
Karbohidrat, misalnya antara 20% – 40% yang digunakan akan diasimilasikan menjadi
komponen sel dan CO2, kalau bandingan sumber nitrogen dan sumber Karbohidrat yang
terdapat di dalamnya (C/N-rasio) = 10 : 1. Untuk proses pengomposan nilai optimum adalah
25 : 1, sedangkan maksimum 10 : 1
d. Kadar air bahan tergantung kepada bentuk dan jenis bahan, misalnya, kadar air optimum di
dalam pengomposan bernilai antara 50 – 70, terutama selama proses fasa pertama. Kadang-
kadang dalam keadaan tertentu, kadar air bahan bisa bernilai sampai 85%, misalnya pada
jerami.
2.5 Pengaruh Mikroba dalam Pengomposan
Mikroorganisme merupakan faktor terpenting dalam proses pengomposan, karena
mikroorganisme merombak bahan organik menjadi kompos. Selama proses pengomposan
bahan organik diubah menjadi karbondioksida dan air, disertai dengan pembebasan energi oleh
Pertanian Organik dan Berkelanjutan Ir. Hartawati, MP
8
mikroba. Sebagian energi tersebut dipergunakan oleh mikroorganisme untuk pertumbuhan
selnya dan sebagian lain menyebabkan peningkatan suhu (Atmaja, 2006).
Mikroba mengambil energi untuk kegiatannya, dari kalori yang dihasilkan dalam reaksi
biokimia perubahan bahan limbah hayati terutama bahan zat karbohidrat, terus menerus
sehingga kandungan zat karbon sampah organik turun makin rendah, karena ujung reaksi
pernapasannya mengeluarkan gas CO2 dan H2O yang menguap ( Subali dan Ellianawati, 2010).
Proses pengomposan secara sederhana dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap aktif
dan tahap pematangan. Selama tahap-tahap awal proses, oksigen dan senyawa-senyawa yang
mudah terdegradasi akan segera dimanfaatkan oleh mikroba mesofilik. Suhu tumpukan kompos
akan meningkat dengan cepat. Demikian pula akan diikuti dengan peningkatan pH kompos.
Suhu akan meningkat hingga di atas 500- 700C. Suhu akan tetap tinggi selama waktu tertentu.
Mikroba yang aktif pada kondisi ini adalah mikroba Termofilik, yaitu mikroba yang aktif pada
suhu tinggi.Pada saat ini terjadi dekmposisi/penguraian bahanorganik yang sangat aktif.
Mikrobamikroba di dalam kompos dengan menggunakan oksigen akan menguraikan bahan
organik menjadi CO2, uap air dan panas. Setelah sebagian besar bahan telah terurai, maka suhu
akan berangsur-angsur mengalami penurunan (Subali dan Eliniawati, 2010).
Mikroorganisme mesofilik berfungsi untuk memperkecil ukuran partikel bahan organik
sehingga luas permukaan bahan bertambah dan mempercepat proses pengomposan.
Mikroorganisme termofilik berfungsi untuk mengkonsumsi karbohidrat dan protein sehingga
bahan kompos dapat terdegradasi dengan cepat (Djuarnani dkk.,2005).
Proses pengomposan pada tahap awal, beberapa spesies flora aktif dan berkembang
dalam waktu yang relatif singkat, dan kemudian hilang untuk memberikan kesempatan untuk
jenis lain berkembang. Minggu kedua dan ketiga, kelompok fisiologi yang berperan aktif dalam
proses pengomposan dapat diidentifikasi: bakteri 106-107, bakteri amonifikasi 104, proteolitik
104, pektinolitik 103, dan bakteri penambat nitrogen 103. Kelompok mikroorganisme
meningkat mulai hari ketujuh dan setelah hari ke empat belas terjadi penurunan jumlah
kelompok, kemudian terjadi kenaikan populasi kembali pada minggu keempat.
Mikroorganisme yang berperan adalah mikroorganisme selulopatik, lignolitik, dan jamur
(Sutanto, 2002).
Bakteri dan jamur akan memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi yang
menyebabkan terjadinya proses mineralisasi. Selama proses mineralisasi dalam suasana aerob,
nitogen akan mengalami proses oksidasi sehingga terbentuk nitrat (NO3-). Oleh karena itu,
semakin banyak bahan organik yang dapat dirombak maka proses perkembangbiakan
mikroorganisme meningkat sehingga kandungan N-total yang terbentuk juga mengalami
peningkatan (Adianto,1993 dalam Harizena,2012).
Mikroorganisme yang berperan dalam pelarut fosfat pada proses pengomposan secara
garis besar ialah bakteri, jamur, dan Actinomycetes, yang memiliki kemampuan melarutkan
senyawa berbeda. Perubahan senyawa P anorganik tak larut menjadi senyawa P yang larut oleh
mikroorganisme, umumnya disebabkan karena mikroorganisme menghasilkan beberapa asam
organik antara lain asam asetat, malat, glukonat, oksalat, butirat, dan malonat yang dapat
langsung melarutkan fosfat (Thomas dkk.,1985 dalam Atmaja, 2006). Beberapa contoh bakteri
yang dapat melarutkan P, yaitu Bacillus sp., B. pulvifaciens, B. circulans,pseudomonas sp., dan
Xanthomonas sp. (Atmaja,2006).
Respirasi mikroorganisme merupakan petunjuk aktivitas mikroorganisme dalam
pengomposan, yaitu dengan mengukur CO2 yang dihasilkan. Penetapan respirasi merupakan
Pertanian Organik dan Berkelanjutan Ir. Hartawati, MP
9
salah satu metode yang paling sederhana untuk mengukur aktivitas mikroorganisme.
Karbondioksida sebagai produk akhir respirasi dilepaskan secara kimiawi melalui aktivitas
mikroorganisme yang memproduksi asam-asam organik maupun anorganik (Anas,1989 dalam
Pratiwi, 2013).
2.6 Effektif Mikroorganisme-4 (EM4)
Effective Microorganisme (EM4) merupakan bahan yang mengandung beberapa
mikroorganisme yang bermanfaat dalam proses pengomposan. Mikroorganisme yang terdapat
dalam EM4 terdiri dari Lumbricus (bakteri asam laktat) serta sedikit bakteri fotosintetik,
Actinomycetes, Streptomyces sp.,dan ragi. Effective Microorganisme (EM4) dapat
meningkatkan fermentasi limbah dan sampah organik, meningkatkan ketersediaan unsur hara
untuk tanaman, serta menekan aktivitas serangga, hama, dan mikroorganisme patogen. Peranan
Effective Microorganisme (EM4) dalam pembuatan kompos adalah untuk menghilangkan bau
dan mempercepat proses pengolahan limbah (Djuarnani dkk., 2005).
1. Bakteri Fotosintetik (Rhodopseudomonas spp.), bakteri ini adalah mikroorganisme
mandiri dan swasembada. Bakteri ini membentuk senyawa-senyawa bermanfaat dari sekresi
akar tumbuhan, bahan organik dan gas-gas berbahaya dengan sinar matahari dan panas bumi
sebagai sumber energi. Zat-zat bermanfaat yang terbentuk anatara lain, asam amino asam
nukleik, zat bioaktif dan gula yang semuanya berfungsi mempercepat pertumbuhan. Hasil
metabolisme ini dapat langsung diserap tanaman dan berfungsi sebagai substrat bagi
mikroorganisme lain sehingga jumlahnya terusbertambah.
2. Bakteri asam laktat (Lactobacillus spp.), bakteri asam laktat (Lactobacillus spp.)
dapat mengakibatkan kemandulan (sterilizer) oleh karena itu bakteri ini dapat menekan
pertumbuhan mikroorganisme yang merugikan, meningkatkan percepatan perombakan bahan
organik, menghancurkan bahan organik seperti lignin dan selulosa serta memfermentasikannya
tanpa menimbulkan senyawa beracun yang ditimbulkan dari pembusukan bahan organik.
Bakteri ini dapat menekan pertumbuhan fusarium, yaitu mikroorganime merugikan yang
menimbukan penyakit pada lahan/ tanaman yang terus menerus ditanami.
3. Ragi/Yeast (Saccharomyces spp.), melalui proses fermentasi, ragi menghasilkan
senyawa-senyawa bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman dari asam amino dan gula yang
dikeluarkan oleh bakteri fotosintetik atau bahan organik dan akar-akar tanaman. Ragi juga
menghasilkan zat-zat bioaktif seperti hormon dan enzim untuk meningkatkan jumlah sel aktif
dan perkembangan akar. Sekresi Ragi adalah substrat yang baik bakteri asam laktat dan
Actinomycetes
4. Actinomycetes menghasilkan zat-zat anti mikroba dari asam amino yang dihasilkan
bakteri fotosintetik. Zat-zat anti mikroba ini menekan pertumbuhan jamur dan bakteri.
Actinomycetes hidup berdampingan dengan bakteri fotosintetik bersama-sama meningkatkan
mutu lingkungan tanah dengan cara meningkatkan aktivitas anti mikroba tanah.
5. Jamur Fermentasi Jamur fermentasi (Aspergillus dan Penicilium) menguraikan bahan
secara cepat untuk menghasilkan alkohol, ester dan zat-zat anti mikroba. Pertumbuhan jamur
ini membantu menghilangkan bau dan mencegah serbuan serangga dan ulat-ulat merugikan
dengan cara menghilangkan penyediaan makanannya. Tiap species mikroorganisme
mempunyai fungsi masing-masing tetapi yang terpenting adalah bakteri fotosintetik yang
menjadi pelaksana kegiatan EM4 terpenting. Bakteri ini disamping mendukung kegiatan
mikroorganisme lainnya dan juga memanfaatkan zat-zat yang dihasilkan mikroorganisme lain
(Djuarnani dkk., 2005).
Pertanian Organik dan Berkelanjutan Ir. Hartawati, MP
10
2.7 Reduksi Volume Selama Proses Pengkomposan
Proses penguraian materi organik oleh mikroba telah mengakibatkan terjadinya
reduksi volume karena sebagian besar dari unsur karbon pada materi organik diubah
menjadi CO2. Proses penurunan volume disebabkan juga oleh proses pembalikan dan
penguraian material limbah organik sehingga menyebabkan ukuran partikel semakin kecil
dan semakin padat. Untuk itu reduksi volume yang merupakan akibat proses biokimia
dari mikrobiologi pengomposan dapat juga dipakai sebagai salah satu parameter
menentukan kematangan suatu proses pengomposan.
Berdasarkan penalitian Sahwan (2010), kompos dikatakan matang apabila reduksi
volumenya melampaui 60%. Data reduksi volume selama proses pengkomposan disajikan
dalam Gambar 2.
Gambar 1. Reduksi Volume Selama Proses Pengomposan
Berdasarkan data pada gambar 1, terlihat bahwa dalam 2 minggu pertama
terjadi reduksi volume yang tinggi (46%) dan hal tersebut menggambarkan aktivitas mikroba
yang sangat tinggi, sehingga dapat dikatakan bahwa proses pengomposannya
berjalan normal dan biasa disebut sebagai pengomposan aktif. Angka reduksi volume
sebesar tersebut, sama dengan angka-angka reduksi volume pengomposan sampah
kota umumnya yaitu sebesar 50% pada 2 minggu pertama. Besarnya reduksi volume
yang nyata, terlihat sampai akhir minggu ke 5 (besarnya reduksi volume sampai 80%). Setelah
itu, reduksi volume tidak lagi terlihat secara nyata. Keadaan tersebut menggambarkan bahwa
aktivitas mikroba yang tinggi terjadi sampai akhir minggu ke 5, atau ketersediaan makanan
yang cukup bagi mikroba adalah sampai disaat tersebut. Waktu setelah akhir minggu ke 5 dapat
dianggap sebagai proses stabilisasi atau tahap kematangan kompos. Kalau dihubungkan
dengan parameter kematangan berdasarkan reduksi volume, juga sudah terpenuhi yaitu
diatas 60%.
Pada akhir minggu ke 6 atau ke 7 besarnya reduksi volume sebesar 82
%, lebih tinggi dibandingkan dengan reduksi volume pengomposan sampah kota yang
sebesar 70-75%. Hal ini disebabkan karena pada setiap proses pembalikan, dilakukan
pemilahan sampah plastik secara cepat, sehingga reduksi volume tak semata-mata
karena proses biologis, tetapi juga karena pengurangan materi secara fisik.
Pertanian Organik dan Berkelanjutan Ir. Hartawati, MP
11
III. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas, terdapat beberapa kesimpulan yaitu :
1. Kompos merupakan jenis pupuk yang terjadi karena proses penghancuran oleh alam atas
bahan-bahan organik, terutama daun, tumbuh-tumbuhan seperti jerami, kacang-kacangan,
sampah dan lain-lain.
2. Kompos yang baik adalah kompos yang sudah mengalami pelapukan yang cukup dengan
dicirikan warna sudah berbeda dengan warna bahan pembentuknya, berbau seperti tanah,
kadar air rendah, dan mempunyai suhu ruang.
3. Pengomposan atau dekomposisi merupakan peruraian dan pemantapan bahan-bahan
organik secara biologi dalam temperatur yang tinggi dengan hasil akhir bahan yang bagus
untuk digunakan ke tanah tanpa merugikan lingkungan
4. Persyaratan yang harus diperhatika dalam pengomposan yaitu kadar air dan bahan baku
serta bandingan sumber C (Karbon) dengan N (zat lemas) bahan.
5. Pengaruh mikroba terhadap pengomposan sangat penting selama proses pengomposan
bahan organik diubah menjadi karbondioksida dan air, disertai dengan pembebasan energi
oleh mikroba. Sebagian energi tersebut dipergunakan oleh mikroorganisme untuk
pertumbuhan selnya dan sebagian lain menyebabkan peningkatan suhu.
6. Effective Microorganisme( EM4) merupakan bahan yang mengandung beberapa
mikroorganisme yang bermanfaat dalam proses pengomposan, dapat meningkatkan
fermentasi limbah dan sampah organik, meningkatkan ketersediaan unsur hara untuk
tanaman, serta menekan aktivitas serangga, hama, dan mikroorganisme patogen.
7. Proses penguraian materi organik oleh mikroba telah mengakibatkan terjadinya
reduksi volume karena sebagian besar dari unsur karbon pada materi organik diubah
menjadi CO2.
Pertanian Organik dan Berkelanjutan Ir. Hartawati, MP
12
DAFTAR PUSTAKA
Agustina, C. 2007. Pengaruh Pemberian Kompos terhadap Beberapa Sifat Fisik Entisol serta
Pertumbuhan Tanaman Jagung (Zea mays L) [Skripsi]. Malang: Jurusan Tanah Fakultas
Pertanian Universitas Brawijaya.
Berita Data BPPT. 2015.
De Bertoldi, M. 1996. The Science of Composting. Springer, Netherlands
Djuarnani, N., Kristia, B. S., dan Setiawan. 2005. Cara Tepat Membuat Kompos. Agromedia
Pustaka, Jakarta.
Husen, E. dan Irawan. 2010. Efektivitas dan Efisiensi Mikroba Dekomposer Komersial dan
Lokal dalam Pembuatan Kompos Jerami. http://balittanah.litbang.pertanian.go.id [30
September 2017].
Harizena, I. N. D. 2012. Pengaruh Jenis dan Dosis MOL terhadap Kualitas Kompos Sampah
Rumah Tangga. Skripsi. Konsentrasi Ilmu Tanah dan Lingkungan Jurusan
Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana.Denpasar.
Heyworth, A. 2001. The value of compost. Proceedings Applying Compost Benefis
and Needs, Brussels, pp. 209-2012
Lilis Sulistyorini. 2005. Pengelolaan Sampah dengan Cara Menjadikannya Kompos. Jurnal
Kesehatan Lingkungan, Vol. 2, No. 1, pp. 77-84.
Rosiana, F, Turmuktini, T, Yuwariah, Y, Arifi, M, Simarmata, T. 2013. Aplikasi Kombinasi
Kompos Jerami, Kompos Azolla, dan Pupuk Hayati untuk Meningkatkan Jumlah
Populasi Bakteri Penambat Nitrogen dan Produktivitas Tanaman Padi Berbasis Ipat-Bo.
Agrovigor. 6(1):16-22
Setyorini D., J. S. Adiningsih, S. Rochayati. 2003. Uji Tanah sebagai Dasar Penyusun
Rekomendasi Pemupukan. Diambil dari Jurnal Balai Penelitian tanah, Jakarta.
Simanungkalit, R, D, M, Suriadikarta, D, A, Saraswati, R, Setyorini, D, Hartatik, W. 2006.
Pupuk Organik dan Pupuk Hayati. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan
Sumberdaya Lahan Pertanian, Bogor.
SNI 19-7030-2004 tentang Spesifikasi kompos dari sampah organik domestik.
Subali, B. dan Ellianawati. 2010. Pengaruh Waktu Pengomposan Terhadap Rasio Unsur C/N
dan Jumlah Kadar Air dalam Kompos. Prosiding Pertemuan Ilmiah XXIV HFI Jateng
dan DIY. 49-53.
Sulistyawati, E, Mashita, N, Choesin, D. 2007. Pengaruh Agen Dekomposer terhadap Kualitas
Hasil Pengomposan Sampah Organik Rumah Tangga. Jurnal Penelitian Sains &
Teknologi. 39(1)
Sulistyorini, L. 2005. Pengelolaan Sampah Dengan Cara Menjadikannya Kompos. Jurnal
Kesehatan Lingkungan. Vol. II, NO. 1, Juli 2005 : 77 – 84.
Suryati, Teti. 2008. Cara bijak mengolah sampah menjadi kompos dan pupuk cair. Agromedi.
Sutanto. 2002. Penerapan Pertanian Organik. Kanisius, Yogyakarta
Wayan Gunam, I.B., I.P. Wrasiati, I M.D. Mahaputra wijaya, I W. Arnata dan I W.G. Sedana
Yoga. 2008, “Pemanfaatan Sampah Organik Menjadi Pupuk Kompos”

Paper kompos dan pengomposan

  • 1.
    Pertanian Organik danBerkelanjutan Ir. Hartawati, MP 1 KOMPOS DAN PENGOMPOSAN Disusun oleh Wiwit Sanjaya (1) dan Nurhaida (2) 201410200311010(1) dan 201410200311047(3) Jurusan Agronomi, Fakultas Pertanian Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang September 2017 I. PENDAHULUAN Telah lama sampah menjadi permasalahan serius di Indonesia. Peningkatan jumlah penduduk Indonesia berbanding lurus dengan sampah yang dihasilkan tiap harinya. Sampah berdasarkan kandungan zat kimia dibagi menjadi dua kelompok, yaitu sampah organik dan sampah anorganik. Sampah organik pada umumnya mengalami pembusukan, seperti daun, sisa makanan, dan lain-lain. Sedangkan sampah anorganik pada umumnya tidak mengalami pembusukan, seperti plastik, logam, dan lainnya. Menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pertambahan jumlah penduduk berbanding lurus dengan jumlah sampah yang dihasilkan. Hitungan secara kasar, dengan jumlah penduduk Indonesia saat ini lebih dari 250 juta orang, jika setiap orang menghasilkan sampah 0,7 kg/hari, maka timbunan sampah secara nasional mencapai 175 ribu ton/hari atau setara dengan 64 juta ton/tahun. Adapun persentase sampah organik seperti sisa makanan, sayuran, buah-buahan, kertas, kayu mencapai 65,05 persen. Sedangkan sampah non-organik seperti plastik, styrofoam, dan besi, sekitar 34,95 persen (BPPT, 2015). Sering tidak disadari bahwa sampah organik sangat banyak jumlahnya dan memiliki nilai yang lebih bermanfaat seperti dijadikan kompos dan pupuk dari pada dibakar yang hanya menghasilkan polutan bagi udara. Dengan mengolah menjadi kompos akan membuat tanah menjadi subur karena kandungan unsur hara bertambah (Suryati, 2008). Proses pembuatan kompos disebut pengomposan. Berdasarkan uraian di atas alasan penulis membuat paper mengenai kompos dan pengomposan agar menjadi salah satu referensi ilmu pengetahuan dan pedoman masyarakat khususnya petani agar memanfaatkan sampah-sampah organik menjadi kompos yang dapat dimanfaatkan untuk tanaman budidaya. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kompos Kompos merupakan jenis pupuk yang terjadi karena proses penghancuran oleh alam atas bahan-bahan organik, terutama daun, tumbuh-tumbuhan seperti jerami, kacang-kacangan, sampah dan lain-lain (Sarief, 1989 dalam Agustina 2007). Bahan organik yang dapat digunakan sebagai kompos dapat berasal dari limbah hasil pertanian dan non pertanian (limbah kota dan limbah industri) (Kurnia dkk., 2001 dalam Harizena 2012). Limbah hasil dari pertanian antara lain berupa sisa tanaman (jerami dan brangkasan), sisa hasil pertanian (sekam, dedak padi, kulit kacang tanah, ampas tebu, dan belotong). Limbah kota atau sampah organik kota biasanya dikumpulkan dari pasar atau sampah rumah tangga dari daerah pemukiman serta taman-taman kota (Setyorini dkk., 2003 dalam Harizena 2012).
  • 2.
    Pertanian Organik danBerkelanjutan Ir. Hartawati, MP 2 Kompos dapat diperkaya dengan kotoran sapi yang merupakan sumber unsur hara makro dan mikro yang lengkap. Kadar rata-rata komposisi pupuk kandang sapi adalah C- organik 8,58%; N-total 0,73%; P-total 0,93%; K-total 0,73%; bahan organik 14,48%; dan rasio C/N sebesar 12,0 (Sutanto,2002 ). 2.2 Kualitas Kompos Pengomposan timbul dari kegiatan mikroorganisme, sehingga diharapkan bahwa proses pengomposan akan lebih baik dengan penambahan inokulan dari kultur mikroorganisme. Mikroorganisme berkembangbiak dengan sangat cepat, dan dalam beberapa hari jumlahnya dapat mencapai titik maksimum yang dimungkinkan oleh kondisi lingkungan dalam tumpukan kompos. Kompos yang baik adalah kompos yang sudah mengalami pelapukan yang cukup dengan dicirikan warna sudah berbeda dengan warna bahan pembentuknya, berbau seperti tanah, kadar air rendah, dan mempunyai suhu ruang. Standar Nasional Indonesia (SNI) memiliki syarat mutu produk kompos untuk melindungi konsumen dan mencegah pencemaran lingkungan. Standar ini dapat dipergunakan sebagai acuan bagi produsen kompos dalam memproduksi kompos. Adapun standar kualitas kompos dari sampah organik domestik yang merujuk pada SNI 19-7030-2004 (Tabel 2). Tabel.1 SNI Produk Kompos
  • 3.
    Pertanian Organik danBerkelanjutan Ir. Hartawati, MP 3 Keterangan : * Nilainya lebih besar dari minimum atau lebih kecil dari maksimum Menurut Schoonover dan Crim (2015), kadar air menjadi faktor kunci dan kritis karena proses dekomposisi bahan organik bergantung pada kandungan air. Tchobanoglous et al. (1993) menyatakan bahwa kadar air bahan baku kompos yang baik berada dalam kisaran 50-60%. Sementara sumber lain menyebutkan kadar air optimal ialah 45–55% (Hoitink, 2010; Chen et al., 2011). Kadar air optimum untuk dekomposisi kompos adalah 40–50% (Heyworth, 2001; Waldow dan Gottschall, 2001). Pada kadar air tersebut, suhu dapat mencapai 55°C, sehingga pengomposan cepat terjadi dan dapat membunuh bakteri patogen. Kadar air yang terlalu rendah akan mengurangi efiiensi pengomposan (Luo et al., 2008). Bahan baku kompos yang terlalu kering tersebut dapat menyebabkan proses penguraian berhenti. Oleh karena itu, diperlukan pembalikan secara berkala, menambah bahan kompos segar dan menutup timbunan untuk mengurangi penguapan (Simanungkalit et al., 2006; Rosiana et al., 2013). Ketika mulai terjadi penguraian kompos ke arah warna tanah, dilakukan penambahan air hingga kadar air sekitar 40% atau secara fiik cukup basah ketika digenggam. Suhu tumpukan sampah daun sebelum dikomposkan adalah 28 °C. Suhu yang baik untuk mempercepat pengomposan adalah 50–55 °C (Baltrenas dan Jankaite, 2008; Atalia et al., 2015). Pada pH optimum untuk aktivitas bakteri dalam pengomposan adalah 6–7.5 (de Bertoldi, 1996;
  • 4.
    Pertanian Organik danBerkelanjutan Ir. Hartawati, MP 4 Cooperband, 2002). pH terukur pada sampel kompos menunjukkan angka ideal untuk proses pengomposan, yaitu bernilai 7. 2.3 Pengomposan Pengomposan atau dekomposisi merupakan peruraian dan pemantapan bahan-bahan organik secara biologi dalam temperatur yang tinggi dengan hasil akhir bahan yang bagus untuk digunakan ke tanah tanpa merugikan lingkungan (Prihandarini, 2004 dalam Agustina 2007). Pengomposan merupakan salah satu contoh proses pengolahan buangan (sampah) secara aerobic dan anaerobic, dimana kedua proses tersebut akan berjalan saling menunjang dan menghasilkan pupuk organik yang disebut kompos. Proses pengomposan atau membuat kompos adalah proses biologis karena selama proses tersebut berlangsung, sejumlah jasad hidup yang disebut mikroba, seperti bakteri dan jamur, berperan aktif (Unus, 2002 dalam Sulistyorini, 2005). Sistem pengomposan bertujuan untuk mempertahankan kondisi aerob selama proses. Pengomposan pada kondisi aerob meningkatkan laju dekomposisi, sehingga terjadi peningkatan temperatur. Apabila aerasi tidak terhambat, maka tidak dihasilkan bau tidak sedap (Holmes, 1983 dalam Anon, 2011). Berjuta-juta ton senyawa organic dihasilkan oleh tanaman dari proses fotosintesa dalam bentuk daun, batang, biji, buah-buahan, umbi-umbian dan sebagainya, dan kemudian didegradasi oleh mikroba. Hasil degradasi kemudian tersimpan di dalam tanah dalam bentuk humus. Proses degradasi berjalan lambat secara aerobic dan anaerobic dengan memerlukan persyaratan lingkungan tertentu, dan secara keseluruhan proses disebut “dekomposisi”. Proses dikomposisi senyawa organic oleh mikroba merupakan proses berantai. Senyawa organic yang bersifat heterogen, bercampur dengan kumpulan jasad hidup yang berasal dari udara, tanah, air atau sumber lainnya, dan di dalamnya akan terjadi proses mikrobiologis (Lilis Sulistyorini, 2005). Beberapa persyaratan yang diperlukan agar proses tersebut berjalan lancar, menyangkut masalah bandingan sumber nitrogen dan karbon (C/N-rasio) di dalam bahan, kadar air bahan, bentuk dan jenis bahan, temperature, pH dan jenis mikroba yang berperan di dalamnya. Seperti pula di dalam proses pengolahan air buangan yang mengandung senyawa organik, maka di dalam sampahpun kehadiran dan aktivitas mikroba di dalamnya akan menggunakan senyawa tersebut untuk keperluan aktivitasnya. Hasil lainnya akan berbentuk buangan, yang secara keseluruhan dinamakan kompos, dengan komposisi lengkap. Karena proses dekomposisi senyawa organik berjalan pada temperature di atas 37°C serta perubahan pH yang berbeda, maka kandungan mikroba di dalamnya akan tersusun oleh sejumlah bacteria, aktinomiset, jamur, mikroalge serta jasad-jasad lain seperti protozoa, nematode, cacing, virus dan sebagainya (Wayan Gunam, dkk, 2008). Pada umumnya baik sebagai pengurai ataupun sebagai penghuni kompos jadi, bakteria, aktinomiset dan jamur yang terdapat di dalamnya, banyak yang bersifat termofilik, yang kadang-kadang masih dapat hidup pada temperature 65-85°C. Bila sampah disebarkan di atas permukaan tanah, maka selain proses dekomposisi akan berjalan sangat lambat, juga kelompok mikroba yang aktif di dalamnya hanya psikhofilik dan mesofilik saja. Tetapi berbeda kalau sampah tersebut ditumpukkan atau dimasukkan ke dalam lubang, maka kelompok mikroba yang aktif di dalamnya termasuk kelompok mesofilik dan termofilik, sehingga dengan cepat akan terjadi perubahan pH dan temperature. Indikator yang jelas tampak bahwa proses dekomposisi senyawa organik berjalan lancar, ditandai oleh adanya perubahan nilai
  • 5.
    Pertanian Organik danBerkelanjutan Ir. Hartawati, MP 5 pH dan temperature, yaitu bahwa proses dekomposisi (atau secara umum dikenal dengan nama proses pengomposan), akan berjalan dalam empat fasa, yaitu fasa mesofilik, fasa termofilik, fasa pendinginan dan fasa masak. Kompos mengalami tiga tahap proses pengomposan yaitu pada tahap pertama yaitu tahap penghangatan (tahap mesofilik), mikroorganisme hadir dalam bahan kompos secara cepat dan temperatur meningkat. Mikroorganisme mesofilik hidup pada temperatur 10-45°C dan bertugas memperkecil ukuran partikel bahan organik sehingga luas permukaan bahan bertambah dan mempercepat proses pengomposan. Pada tahap kedua yaitu tahap termofilik, mikroorganisme termofilik hadir dalam tumpukan bahan kompos. Mikroorganisme termofilik hidup pada tempratur 45-60°C dan bertugas mengkonsumsi karbohidrat dan protein sehingga bahan kompos dapat terdegradasi dengan cepat. Mikroorganisme ini berupa Actinomycetes dan jamur termofilik. Sebagian dari Actinomycetes mampu merombak selulosa dan hemiselulosa. Kemudian proses dekomposisi mulai melambat dan temperatur puncak dicapai. Setelah temperatur puncak terlewati, tumpukan mencapai kestabilan, dimana bahan lebih mudah terdekomposisikan. Tahap ketiga yaitu tahap pendinginan dan pematangan. Pada tahap ini, jumlah mikroorganisme termofilik berkurang karena bahan makanan bagi mikroorganisme ini juga berkurang, hal ini mengakibatkan organisme mesofilik mulai beraktivitas kembali. Organisme mesofilik tersebut akan merombak selulosa dan hemiselulosa yang tersisa dari proses sebelumnya menjadi gula yang lebih sederhana, tetapi kemampuanya tidak sebaik organism termofilik. Bahan yang telah didekomposisi menurun jumlahnya dan panas yang dilepaskan relatif kecil (Djuarnani dkk.,2005). 2.4 Syarat Pengomposan Peranan mikroba di dalam pengolahan bahan baku menjadi kompos berjalan secara baik, persyaratan-persyaratan berikut harus dipenuhi: 1. Kadar air bahan baku: daun-daun yang masih segar atau tidak kering, kadar airnya memenuhi syarat sebagai bahan baku. Dengan begitu, daun yang sudah kering, yang kadar airnya juga akan berkurang, tidak memenuhi syarat. Hal tersebut harus diperhatikan karena banyak pengaruhnya terhadap kegiatan mikroba dalam mengolah bahan baku menjadi kompos. Seandainya sudah kering, bahan baku tersebut harus diberi air secukupnya agar menjadi lembab. 2. Bandingan sumber C (Karbon) dengan N (zat lemas) bahan : bandingan ini umumnya disebut rasio/bandingan C/N, dengan bandingan tersebut proses pengomposan berjalan baik dengan menghasilkan kompos bernilai baik pula, paling tinggi 30, yang artinya kandungan sumber C berbanding dengan kandungan sumber = 30 : 1. Sebagai contoh, kalau menggunakan jerami sebagai bahan baku kompos, nilai rasio C/N-nya berkisar 15 – 25, jadi terlalu rendah. Karena itu, bahan baku tersebut harus dicampur dengan benar agar nilai rasio C/N-nya berkisar 30. Misalnya, lima bagian sampah yang terdiri atas daun-daunan dari pekarangan dicampur dengan dua bagian kotoran kandang, akan mencapai nilai rasio C/N mendekati 30, atau lima bagian sampah tersebut dicampur dengan lumpur selokan (lebih kotor akan lebih baik) sebanyak tiga bagian, juga akan mencapai rasio C/N sekitar 30. Sementara itu, untuk jerami, lima bagian jerami harus ditambah dengan tiga bagian kotoran kandang, atau kalau tidak ada dengan empat bagian lumpur selokan sehingga nilai rasio C/N-nya akan mendekati 30. Pengomposan bahan organik secara aerobik merupakan suatu proses humifikasi bahan organik tidak-stabil (rasio C/N >25) menjadi bahan organik stabil yang dicirikan oleh
  • 6.
    Pertanian Organik danBerkelanjutan Ir. Hartawati, MP 6 pelepasan panas dan gas dari substrat yang dikomposkan (Diaz et al., 1993 dalam Sulistyorini, 2005). Lamanya waktu pengomposan bervariasi dari dua sampai tujuh minggu, bergantung pada teknik pengomposan dan jenis mikroba dekomposer yang digunakan (FAO, 2003 dalam Sulistyorini, 2005). Tingkat kematangan (derajat humifikasi) dan kestabilan kompos (terkait dengan aktivitas mikroba) menentukan mutu kompos yang ditunjukkan oleh berbagai perubahan sifat fisik, kimia, dan biologi substrat kompos. Pada kompos yang belum matang, proses dekomposisi bahan organik masih terus berlangsung yang dapat menciptakan suasana anaerobik di lingkungan perakaran (penggunaan oksigen oleh mikroba) dan kahat N (imobilisasi N oleh mikroba), sehingga menghambat pertumbuhan tanaman. Pengomposan yang tidak sempurna juga kerap menghasilkan senyawa fitotoksin seperti fenolat yang dalam banyak kasus menghambat pertumbuhan bibit tanaman (Zucconi et al. 1981 dalam Sulistyorini, 2005) atau menjadi tempat transien bagi mikroba patogen. penentu bagi petani menggunakan mikroba dekomposer. Menurut Outerbridge (1991) dalam Anon (2001), tidak adanya udara (kondisi anaerobik) akan menimbulkan perkembangbiakan berbagai macam mikroorganisme yang menyebabkan pengawetan keasaman dan pembusukan tumpukan yang menimbulkan bau busuk. Aerasi diperoleh melalui gerakan alami dari udara ke dalam tumpukan kompos, dengan membolak-balik. Kelembaban merupakan faktor utama dalam pengomposan aerob. Kelembaban dibawah 20 % menyebabkan pengomposan terhenti. Jika kelembaban diatas 55 %, air akan mulai mengisi ruang antara bahan, menyebabkan pengurangan jumlah oksigen dan terbentuk kondisi anaerob, sehingga temperatur menurun dan menimbulkan bau tidak sedap (Holmes, 1981 dalam Anon., 2011). pH digunakan untuk mengevaluasi hasil metabolisme mikroorganisme di lingkungan. pH kompos bervariasi dengan waktu selama proses pengomposan dan digunakan sebagai indikator dekomposisi dalam massa kompos. pH awal bahan pengomposan sekitar 5,0 sampai 7,0. Setelah tiga hari pengomposan, pH menurun menjadi 5,0 atau kurang karena hasil penguraiannya adalah asam organik sederhana dan kemudian meningkat sekitar 8,5 sebagai akibat sisa dari proses aerob (protein diuraikan dan amonia dilepaskan). Disamping persyaratan di atas, masih diperlukan pula persyaratan lain yang pada pokoknya bertujuan untuk mempercepat proses serta menghasilkan kompos dengan nilai yang baik, antara lain, homogenitas (pengerjaan yang dilakukan agar bahan yang dikomposkan selalu dalam keadaan homogen), aerasi (suplai oksigen yang baik agar proses dekomposisi untuk bahan-bahan yang memerlukan), dan penambahan starter (preparat mikroba) kompos dapat pula dilakukan, misalnya untuk jerami. Agar proses pengomposan bisa berjalan secara optimum, maka kondisi saat proses harus diperhatikan. Kondisi optimum proses pengomposan bisa dilihat pada Tabel 1 (Unus 2002 dalam Sulistyorini 2005). Tabel 2. Kondisi Optimum Proses Pengomposan
  • 7.
    Pertanian Organik danBerkelanjutan Ir. Hartawati, MP 7 Secara teknis, transformasi bahan organik tidak-stabil menjadi bahan organik stabil (kompos matang) ditandai oleh pembentukan panas dan produksi CO2. Selama proses pengomposan, komposisi populasi mikroba berubah dari tahap mesofilik (suhu 20-40oC) ke tahap termofilik (suhu bisa mencapai 80oC), dan terakhir tahap stabilisasi atau pendinginan. Mikroba mesofilik memulai dekomposisi substrat mudah hancur seperti protein, gula, dan pati yang selanjutnya digantikan oleh mikroba termofilik yang secara cepat merombak substrat organik.Pada tahap akhir stabilisasi, jumlah populasi mikroba meningkat. Panas yang timbul selama fase termofilik mampu membunuh mikroba patogen (>55oC) dan benih gulma (>62oC) (FAO 2003 dalam Husen dan Irawan 2008 ), sehingga kompos matang sering dipakai sebagai media pembibitan tanam. Penggunaan kompos matang mampu menstimulasi perkembangan mikroba dan menghindari bibit dari serangan patogen tular tanah (Husen dan Irawan, 2008). Menurut Unus 2002, dalam Sulistyorini, 2005 banyak faktor yang mempengaruhi proses pembuatan kompos, baik biotik maupun abiotik. Faktor -faktor tersebut antara lain: a. Pemisahan bahan: bahan-bahan yang sekiranya lambat atau sukar untuk didegradasi/diurai, harus dipisahkan/diduakan, baik yang berbentuk logam, batu, maupun plastik. Bahkan, bahan-bahan tertentu yang bersifat toksik serta dapat menghambat pertumbuhan mikroba, harus benar-benar dibebaskan dari dalam timbunan bahan, misalnya residu pestisida. b. Bentuk bahan : semakin kecil dan homogen bentuk bahan, semakin cepat dan baik pula proses pengomposan. Karena dengan bentuk bahan yang lebih kecil dan homagen, lebih luas permukaan bahan yang dapat dijadikan substrat bagi aktivitas mikroba. Selain itu, bentuk bahan berpengaruh pula terhadap kelancaran difusi oksigen yang diperlukan serta pengeluaran CO2 yang dihasilkan. c. Nutrien : untuk aktivitas mikroba di dalam tumpukan sampah memerlukan sumber nutrien Karbohidrat, misalnya antara 20% – 40% yang digunakan akan diasimilasikan menjadi komponen sel dan CO2, kalau bandingan sumber nitrogen dan sumber Karbohidrat yang terdapat di dalamnya (C/N-rasio) = 10 : 1. Untuk proses pengomposan nilai optimum adalah 25 : 1, sedangkan maksimum 10 : 1 d. Kadar air bahan tergantung kepada bentuk dan jenis bahan, misalnya, kadar air optimum di dalam pengomposan bernilai antara 50 – 70, terutama selama proses fasa pertama. Kadang- kadang dalam keadaan tertentu, kadar air bahan bisa bernilai sampai 85%, misalnya pada jerami. 2.5 Pengaruh Mikroba dalam Pengomposan Mikroorganisme merupakan faktor terpenting dalam proses pengomposan, karena mikroorganisme merombak bahan organik menjadi kompos. Selama proses pengomposan bahan organik diubah menjadi karbondioksida dan air, disertai dengan pembebasan energi oleh
  • 8.
    Pertanian Organik danBerkelanjutan Ir. Hartawati, MP 8 mikroba. Sebagian energi tersebut dipergunakan oleh mikroorganisme untuk pertumbuhan selnya dan sebagian lain menyebabkan peningkatan suhu (Atmaja, 2006). Mikroba mengambil energi untuk kegiatannya, dari kalori yang dihasilkan dalam reaksi biokimia perubahan bahan limbah hayati terutama bahan zat karbohidrat, terus menerus sehingga kandungan zat karbon sampah organik turun makin rendah, karena ujung reaksi pernapasannya mengeluarkan gas CO2 dan H2O yang menguap ( Subali dan Ellianawati, 2010). Proses pengomposan secara sederhana dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap aktif dan tahap pematangan. Selama tahap-tahap awal proses, oksigen dan senyawa-senyawa yang mudah terdegradasi akan segera dimanfaatkan oleh mikroba mesofilik. Suhu tumpukan kompos akan meningkat dengan cepat. Demikian pula akan diikuti dengan peningkatan pH kompos. Suhu akan meningkat hingga di atas 500- 700C. Suhu akan tetap tinggi selama waktu tertentu. Mikroba yang aktif pada kondisi ini adalah mikroba Termofilik, yaitu mikroba yang aktif pada suhu tinggi.Pada saat ini terjadi dekmposisi/penguraian bahanorganik yang sangat aktif. Mikrobamikroba di dalam kompos dengan menggunakan oksigen akan menguraikan bahan organik menjadi CO2, uap air dan panas. Setelah sebagian besar bahan telah terurai, maka suhu akan berangsur-angsur mengalami penurunan (Subali dan Eliniawati, 2010). Mikroorganisme mesofilik berfungsi untuk memperkecil ukuran partikel bahan organik sehingga luas permukaan bahan bertambah dan mempercepat proses pengomposan. Mikroorganisme termofilik berfungsi untuk mengkonsumsi karbohidrat dan protein sehingga bahan kompos dapat terdegradasi dengan cepat (Djuarnani dkk.,2005). Proses pengomposan pada tahap awal, beberapa spesies flora aktif dan berkembang dalam waktu yang relatif singkat, dan kemudian hilang untuk memberikan kesempatan untuk jenis lain berkembang. Minggu kedua dan ketiga, kelompok fisiologi yang berperan aktif dalam proses pengomposan dapat diidentifikasi: bakteri 106-107, bakteri amonifikasi 104, proteolitik 104, pektinolitik 103, dan bakteri penambat nitrogen 103. Kelompok mikroorganisme meningkat mulai hari ketujuh dan setelah hari ke empat belas terjadi penurunan jumlah kelompok, kemudian terjadi kenaikan populasi kembali pada minggu keempat. Mikroorganisme yang berperan adalah mikroorganisme selulopatik, lignolitik, dan jamur (Sutanto, 2002). Bakteri dan jamur akan memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi yang menyebabkan terjadinya proses mineralisasi. Selama proses mineralisasi dalam suasana aerob, nitogen akan mengalami proses oksidasi sehingga terbentuk nitrat (NO3-). Oleh karena itu, semakin banyak bahan organik yang dapat dirombak maka proses perkembangbiakan mikroorganisme meningkat sehingga kandungan N-total yang terbentuk juga mengalami peningkatan (Adianto,1993 dalam Harizena,2012). Mikroorganisme yang berperan dalam pelarut fosfat pada proses pengomposan secara garis besar ialah bakteri, jamur, dan Actinomycetes, yang memiliki kemampuan melarutkan senyawa berbeda. Perubahan senyawa P anorganik tak larut menjadi senyawa P yang larut oleh mikroorganisme, umumnya disebabkan karena mikroorganisme menghasilkan beberapa asam organik antara lain asam asetat, malat, glukonat, oksalat, butirat, dan malonat yang dapat langsung melarutkan fosfat (Thomas dkk.,1985 dalam Atmaja, 2006). Beberapa contoh bakteri yang dapat melarutkan P, yaitu Bacillus sp., B. pulvifaciens, B. circulans,pseudomonas sp., dan Xanthomonas sp. (Atmaja,2006). Respirasi mikroorganisme merupakan petunjuk aktivitas mikroorganisme dalam pengomposan, yaitu dengan mengukur CO2 yang dihasilkan. Penetapan respirasi merupakan
  • 9.
    Pertanian Organik danBerkelanjutan Ir. Hartawati, MP 9 salah satu metode yang paling sederhana untuk mengukur aktivitas mikroorganisme. Karbondioksida sebagai produk akhir respirasi dilepaskan secara kimiawi melalui aktivitas mikroorganisme yang memproduksi asam-asam organik maupun anorganik (Anas,1989 dalam Pratiwi, 2013). 2.6 Effektif Mikroorganisme-4 (EM4) Effective Microorganisme (EM4) merupakan bahan yang mengandung beberapa mikroorganisme yang bermanfaat dalam proses pengomposan. Mikroorganisme yang terdapat dalam EM4 terdiri dari Lumbricus (bakteri asam laktat) serta sedikit bakteri fotosintetik, Actinomycetes, Streptomyces sp.,dan ragi. Effective Microorganisme (EM4) dapat meningkatkan fermentasi limbah dan sampah organik, meningkatkan ketersediaan unsur hara untuk tanaman, serta menekan aktivitas serangga, hama, dan mikroorganisme patogen. Peranan Effective Microorganisme (EM4) dalam pembuatan kompos adalah untuk menghilangkan bau dan mempercepat proses pengolahan limbah (Djuarnani dkk., 2005). 1. Bakteri Fotosintetik (Rhodopseudomonas spp.), bakteri ini adalah mikroorganisme mandiri dan swasembada. Bakteri ini membentuk senyawa-senyawa bermanfaat dari sekresi akar tumbuhan, bahan organik dan gas-gas berbahaya dengan sinar matahari dan panas bumi sebagai sumber energi. Zat-zat bermanfaat yang terbentuk anatara lain, asam amino asam nukleik, zat bioaktif dan gula yang semuanya berfungsi mempercepat pertumbuhan. Hasil metabolisme ini dapat langsung diserap tanaman dan berfungsi sebagai substrat bagi mikroorganisme lain sehingga jumlahnya terusbertambah. 2. Bakteri asam laktat (Lactobacillus spp.), bakteri asam laktat (Lactobacillus spp.) dapat mengakibatkan kemandulan (sterilizer) oleh karena itu bakteri ini dapat menekan pertumbuhan mikroorganisme yang merugikan, meningkatkan percepatan perombakan bahan organik, menghancurkan bahan organik seperti lignin dan selulosa serta memfermentasikannya tanpa menimbulkan senyawa beracun yang ditimbulkan dari pembusukan bahan organik. Bakteri ini dapat menekan pertumbuhan fusarium, yaitu mikroorganime merugikan yang menimbukan penyakit pada lahan/ tanaman yang terus menerus ditanami. 3. Ragi/Yeast (Saccharomyces spp.), melalui proses fermentasi, ragi menghasilkan senyawa-senyawa bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman dari asam amino dan gula yang dikeluarkan oleh bakteri fotosintetik atau bahan organik dan akar-akar tanaman. Ragi juga menghasilkan zat-zat bioaktif seperti hormon dan enzim untuk meningkatkan jumlah sel aktif dan perkembangan akar. Sekresi Ragi adalah substrat yang baik bakteri asam laktat dan Actinomycetes 4. Actinomycetes menghasilkan zat-zat anti mikroba dari asam amino yang dihasilkan bakteri fotosintetik. Zat-zat anti mikroba ini menekan pertumbuhan jamur dan bakteri. Actinomycetes hidup berdampingan dengan bakteri fotosintetik bersama-sama meningkatkan mutu lingkungan tanah dengan cara meningkatkan aktivitas anti mikroba tanah. 5. Jamur Fermentasi Jamur fermentasi (Aspergillus dan Penicilium) menguraikan bahan secara cepat untuk menghasilkan alkohol, ester dan zat-zat anti mikroba. Pertumbuhan jamur ini membantu menghilangkan bau dan mencegah serbuan serangga dan ulat-ulat merugikan dengan cara menghilangkan penyediaan makanannya. Tiap species mikroorganisme mempunyai fungsi masing-masing tetapi yang terpenting adalah bakteri fotosintetik yang menjadi pelaksana kegiatan EM4 terpenting. Bakteri ini disamping mendukung kegiatan mikroorganisme lainnya dan juga memanfaatkan zat-zat yang dihasilkan mikroorganisme lain (Djuarnani dkk., 2005).
  • 10.
    Pertanian Organik danBerkelanjutan Ir. Hartawati, MP 10 2.7 Reduksi Volume Selama Proses Pengkomposan Proses penguraian materi organik oleh mikroba telah mengakibatkan terjadinya reduksi volume karena sebagian besar dari unsur karbon pada materi organik diubah menjadi CO2. Proses penurunan volume disebabkan juga oleh proses pembalikan dan penguraian material limbah organik sehingga menyebabkan ukuran partikel semakin kecil dan semakin padat. Untuk itu reduksi volume yang merupakan akibat proses biokimia dari mikrobiologi pengomposan dapat juga dipakai sebagai salah satu parameter menentukan kematangan suatu proses pengomposan. Berdasarkan penalitian Sahwan (2010), kompos dikatakan matang apabila reduksi volumenya melampaui 60%. Data reduksi volume selama proses pengkomposan disajikan dalam Gambar 2. Gambar 1. Reduksi Volume Selama Proses Pengomposan Berdasarkan data pada gambar 1, terlihat bahwa dalam 2 minggu pertama terjadi reduksi volume yang tinggi (46%) dan hal tersebut menggambarkan aktivitas mikroba yang sangat tinggi, sehingga dapat dikatakan bahwa proses pengomposannya berjalan normal dan biasa disebut sebagai pengomposan aktif. Angka reduksi volume sebesar tersebut, sama dengan angka-angka reduksi volume pengomposan sampah kota umumnya yaitu sebesar 50% pada 2 minggu pertama. Besarnya reduksi volume yang nyata, terlihat sampai akhir minggu ke 5 (besarnya reduksi volume sampai 80%). Setelah itu, reduksi volume tidak lagi terlihat secara nyata. Keadaan tersebut menggambarkan bahwa aktivitas mikroba yang tinggi terjadi sampai akhir minggu ke 5, atau ketersediaan makanan yang cukup bagi mikroba adalah sampai disaat tersebut. Waktu setelah akhir minggu ke 5 dapat dianggap sebagai proses stabilisasi atau tahap kematangan kompos. Kalau dihubungkan dengan parameter kematangan berdasarkan reduksi volume, juga sudah terpenuhi yaitu diatas 60%. Pada akhir minggu ke 6 atau ke 7 besarnya reduksi volume sebesar 82 %, lebih tinggi dibandingkan dengan reduksi volume pengomposan sampah kota yang sebesar 70-75%. Hal ini disebabkan karena pada setiap proses pembalikan, dilakukan pemilahan sampah plastik secara cepat, sehingga reduksi volume tak semata-mata karena proses biologis, tetapi juga karena pengurangan materi secara fisik.
  • 11.
    Pertanian Organik danBerkelanjutan Ir. Hartawati, MP 11 III. KESIMPULAN Berdasarkan uraian di atas, terdapat beberapa kesimpulan yaitu : 1. Kompos merupakan jenis pupuk yang terjadi karena proses penghancuran oleh alam atas bahan-bahan organik, terutama daun, tumbuh-tumbuhan seperti jerami, kacang-kacangan, sampah dan lain-lain. 2. Kompos yang baik adalah kompos yang sudah mengalami pelapukan yang cukup dengan dicirikan warna sudah berbeda dengan warna bahan pembentuknya, berbau seperti tanah, kadar air rendah, dan mempunyai suhu ruang. 3. Pengomposan atau dekomposisi merupakan peruraian dan pemantapan bahan-bahan organik secara biologi dalam temperatur yang tinggi dengan hasil akhir bahan yang bagus untuk digunakan ke tanah tanpa merugikan lingkungan 4. Persyaratan yang harus diperhatika dalam pengomposan yaitu kadar air dan bahan baku serta bandingan sumber C (Karbon) dengan N (zat lemas) bahan. 5. Pengaruh mikroba terhadap pengomposan sangat penting selama proses pengomposan bahan organik diubah menjadi karbondioksida dan air, disertai dengan pembebasan energi oleh mikroba. Sebagian energi tersebut dipergunakan oleh mikroorganisme untuk pertumbuhan selnya dan sebagian lain menyebabkan peningkatan suhu. 6. Effective Microorganisme( EM4) merupakan bahan yang mengandung beberapa mikroorganisme yang bermanfaat dalam proses pengomposan, dapat meningkatkan fermentasi limbah dan sampah organik, meningkatkan ketersediaan unsur hara untuk tanaman, serta menekan aktivitas serangga, hama, dan mikroorganisme patogen. 7. Proses penguraian materi organik oleh mikroba telah mengakibatkan terjadinya reduksi volume karena sebagian besar dari unsur karbon pada materi organik diubah menjadi CO2.
  • 12.
    Pertanian Organik danBerkelanjutan Ir. Hartawati, MP 12 DAFTAR PUSTAKA Agustina, C. 2007. Pengaruh Pemberian Kompos terhadap Beberapa Sifat Fisik Entisol serta Pertumbuhan Tanaman Jagung (Zea mays L) [Skripsi]. Malang: Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Berita Data BPPT. 2015. De Bertoldi, M. 1996. The Science of Composting. Springer, Netherlands Djuarnani, N., Kristia, B. S., dan Setiawan. 2005. Cara Tepat Membuat Kompos. Agromedia Pustaka, Jakarta. Husen, E. dan Irawan. 2010. Efektivitas dan Efisiensi Mikroba Dekomposer Komersial dan Lokal dalam Pembuatan Kompos Jerami. http://balittanah.litbang.pertanian.go.id [30 September 2017]. Harizena, I. N. D. 2012. Pengaruh Jenis dan Dosis MOL terhadap Kualitas Kompos Sampah Rumah Tangga. Skripsi. Konsentrasi Ilmu Tanah dan Lingkungan Jurusan Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana.Denpasar. Heyworth, A. 2001. The value of compost. Proceedings Applying Compost Benefis and Needs, Brussels, pp. 209-2012 Lilis Sulistyorini. 2005. Pengelolaan Sampah dengan Cara Menjadikannya Kompos. Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol. 2, No. 1, pp. 77-84. Rosiana, F, Turmuktini, T, Yuwariah, Y, Arifi, M, Simarmata, T. 2013. Aplikasi Kombinasi Kompos Jerami, Kompos Azolla, dan Pupuk Hayati untuk Meningkatkan Jumlah Populasi Bakteri Penambat Nitrogen dan Produktivitas Tanaman Padi Berbasis Ipat-Bo. Agrovigor. 6(1):16-22 Setyorini D., J. S. Adiningsih, S. Rochayati. 2003. Uji Tanah sebagai Dasar Penyusun Rekomendasi Pemupukan. Diambil dari Jurnal Balai Penelitian tanah, Jakarta. Simanungkalit, R, D, M, Suriadikarta, D, A, Saraswati, R, Setyorini, D, Hartatik, W. 2006. Pupuk Organik dan Pupuk Hayati. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Bogor. SNI 19-7030-2004 tentang Spesifikasi kompos dari sampah organik domestik. Subali, B. dan Ellianawati. 2010. Pengaruh Waktu Pengomposan Terhadap Rasio Unsur C/N dan Jumlah Kadar Air dalam Kompos. Prosiding Pertemuan Ilmiah XXIV HFI Jateng dan DIY. 49-53. Sulistyawati, E, Mashita, N, Choesin, D. 2007. Pengaruh Agen Dekomposer terhadap Kualitas Hasil Pengomposan Sampah Organik Rumah Tangga. Jurnal Penelitian Sains & Teknologi. 39(1) Sulistyorini, L. 2005. Pengelolaan Sampah Dengan Cara Menjadikannya Kompos. Jurnal Kesehatan Lingkungan. Vol. II, NO. 1, Juli 2005 : 77 – 84. Suryati, Teti. 2008. Cara bijak mengolah sampah menjadi kompos dan pupuk cair. Agromedi. Sutanto. 2002. Penerapan Pertanian Organik. Kanisius, Yogyakarta Wayan Gunam, I.B., I.P. Wrasiati, I M.D. Mahaputra wijaya, I W. Arnata dan I W.G. Sedana Yoga. 2008, “Pemanfaatan Sampah Organik Menjadi Pupuk Kompos”