LAMPUNG
Meracik Jamkesta
di Tanah Kopi
WHA ke-65
Hasilkan 21 Resolusi
dan 3 Keputusan
MEDIAKOM
Kementerian Kesehatan RI Info Sehat untuk Semua
ISSN1978-3523
EDISI36IJUNII2012
“BOK dan Banjar nganak”
di Lombok Tengah
www.sehatnegeriku.com
ETALASE
SUSUNAN REDAKSI PENANGGUNG JAWAB: drg. Murti Utami, MPH, I REDAKTUR:
Dra. Hikmandari A, M.Ed, Dyah Yuniar Setiawati, SKM, MPS I EDITOR/PENYUNTING Mulyadi,
SKM, M.Kes, Busroni S.IP, Prawito, SKM, MM, M.Rijadi, SKM, MSc.PH, Mety Setyowati, SKM, Aji
Muhawarman, ST, Resti Kiantini, SKM, M.Kes I DESAIN GRAFIS dan FOTOGRAFER: Drg. Anitasari
S.M, Dewi Indah Sari, SE, MM, Giri Inayah, S.Sos, Sumardiono, SE, Sri Wahyuni, S.Sos, MM, Wayang
MasJendra,S.Sn,Lu’ay,S.Sos,DodiSukmana,S.I.KomISEKRETARIAT:WaspodoPurwanto,Endang
Retnowaty, drg. Ria Purwanti, M.Kes, Dwi Handriyani, S.Sos, Dessyana Fa’as, SE, Sekar Indrawati,
S.Sos, Awallokita Mayangsari, SKM, Delta Fitriana, SE, Iriyadi, Zahrudin. IALAMAT REDAKSI: Pusat
Komunikasi Publik, Gedung Kementerian Kesehatan RI Blok A, Ruang 109, JL. HR. Rasuna Said
Blok X5 Kav. 4-9 Jakarta 12950 I TELEPON: 021-5201590; 021-52907416-9 I FAKS: 021-5223002;
021-52960661 I EMAIL: info@depkes.go.id, kontak@depkes.go.id I CALL CENTER: 021-500567
REDAKSI MENERIMA NASKAH DARI PEMBACA, DAPAT DIKIRIM KE ALAMAT EMAIL kontak@depkes.go.id
Kejar Target
MDG’s 2015
drg. Murti Utami, MPH
P
elayanan kesehatan di tingkat lapangan,
ternyata masih banyak kendala, seperti
ketersediaan fasilitas, SDM dan anggaran.
Sementera daerah mempunyai APBD yang
berbeda-beda dan terbatas pula. Tidak sedikit
yang hanya cukup untuk membiayai operasional
pegawai. Padahal, pelayanan kesehatan, khususnya
puskesmas, sebagai garda terdepan dalam pelayanan
kesehatan, yang menjadi fokus pemerintah daerah,
teruma dukungan dana, masih terabaikan.
Guna mendukung puskesmas memiliki kinerja yang
bagus, untuk mencapai target MDG’s 2015, maka harus
ada upaya ekstra, khususnya dalam penyediaan biaya
yang mendukung operasional puskesmas. Upaya ekstra
tersebut, tahun 2012 pemerintah (Kemenkes) telah
mengalokasikan dana bantuan operasional kesehatan
( BOK) masing-masing puskesmas sebesar Rp 75 juta
untuk wilayah Sumatera, Jawa dan Bali. Sementara,
wilayah Kalimantan dan Sulawesi Rp 100 juta. Maluku
Rp 200 juta, NTT dan Papua Rp 250 juta. BOK, diharapkan
mampu mendorong revitalisasi kinerja puskesmas secara
optimal.
Bagaimanakah implementasi BOK dan manfaat yang
dirasakan masyarakat, kami ketengahkan di rubrik media
utama.
Selain itu, redaksi juga mengetengahkan sebagian kesan-
kesan Bu Endang Rahayu Sedyaningsih selama mengabdi
dua setengah tahun menjadi Menkes dan selamat datang
Bu Nafsiah Mbo’i sebagai Menkes baru dalam rubrik
Stoppres. Tak ketinggalan kami suguhkan pula rubrik
ragam, untuk rakyat dan rubrik lainnya yang mengangkat
tema menarik untuk pembaca.
Pada kesempatan ini, mewakili seluruh awak redaksi,
yang banyak salah dan khilaf, dibulan yang Fitri ini, kami
mengucapkan mohon maaf lahir dan batin, Selamat Hari
Raya Idul Fitri 1433 H. Redaksi.
LAMPUNG
Meracik Jamkesta
di Tanah Kopi
WHA ke-65
Hasilkan 21 Resolusi
dan 3 Keputusan
MEDIAKOM
Kementerian Kesehatan RI Info Sehat untuk Semua
ISSN1978-3523
EDISI36IJUNII2012
“BOK dan Banjar nganak”
di Lombok Tengah
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 3
18
67SIapa Dia
Artika Sari Devi
Hypnosis
Buah Hati
Ragam
WHA ke-65
34
PERTANYAAN:
Saya dokter PTT di pedalaman di sebuah provinsi di
Indonesia bagianTimur. Saya ingin komplain mengenai gaji
kami yang selalu terlambat. Gaji bulan April 2012 sampai
hari ini akhir Mei 2012 belum diterima. Kami para dokter PTT
dituntut bekerja profesional di daerah namun minim fasilitas.
Hak kami kadang diabaikan. Mohon penjelasan.
Dokter PTT di Pedalam, Indonesia baginTimur
JAWAB:
Pembayaran gaji dokter PTT berdasarkan surat pengusulan
pembayaran gaji dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
setempat. Pengusulan pembayaran dari Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota untuk 3 bulan mendatang, paling lambat
diusulkan pada tanggal 2 awal bulan untuk 3 bulan
mendatang. Misalkan untuk gaji bulan Juli, Agustus dan
September 2012 harus sudah diusulkan oleh Dinas Kesehatan
setempat ke Kementerian Kesehatan paling lambat tanggal
2 Juli 2012.
Sehubungan dengan keterlambatan usulan pembayaran
gaji dari Dinas Kesehatan yang diterima di Kementerian
Kesehatan pada bulan Juni ini, maka pembayaran gaji bulan
Juni 2012 yang akan dibayarkan terlebih dahulu. Kemudian
gaji bulan April 2012 dan Mei 2012 akan dirapelkan.
Agar pembayaran gaji dapat tepat waktu, Anda dapat
menghubungi dan meminta informasi ke Dinas Kesehatan
setempat sehingga pengusulan pembayaran mengikuti
mekanisme seperti di atas. Apabila membutuhkan informasi
lebih lanjut Anda dapat menghubungi PusatTanggap dan
Respon Cepat (PTRC) Kementerian Kesehatan pada nomor:
(kode lokal) 500567.
PERTANYAAN:
Kami bidan PTT di sebuah Kabupaten di JawaTimur. Kami
mau menanyakan kenapa pada tahun 2011 klaim jampersal
hanya cair Rp 142.000/pasien di Kabupaten kami. Sementara
yang kami ketahui dari Kementerian Kesehatan sebesar Rp
350.000,-. Mohon penjelasan.
Bidan PTT, di sebuah Kabupaten JawaTimur
JAWAB:
Kementerian Kesehatan telah mengirimkan biaya Jampersal
tahun 2011 kepada Dinas Kesehatan setempat sesuai aturan
yang ada.Tarif Jampersal ditetapkan oleh Kementerian
Kesehatan. Namun dana Jampersal yang diterima di Dinas
Kesehatan akan mengikuti mekanisme keuangan daerah di
Pemerintah Daerah setempat sebagai Pendapatan Daerah
(APBD). Sehingga pembagian atau pencairan dana Jampersal
mengikuti mekanisme anggaran di Pemerintah Kabupaten
setempat. Untuk informasi lebih lanjut dapat ditanyakan
kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat.
SURAT
PEMBACA
Nusa Tenggara Barat
“Teras Belakang”
Indonesia
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM4
INFO SEHAT
Manfaat Puasa
untuk Kesehatan Tubuh
Dengan Tertawa
Kita Lebih Sehat
Kebiasaan Sehat
Agar Tak Diserang Migrain
Kurangi Berat Badan
Dengan Ngemil Kismis
STOP PRESS
Kemenkes Hadiri Peringatan
Hari Lupus Sedunia Tahun 2012
Dr.Nafsiah Mboi , Sp.A.MPH Menkes
2012-2014
Why me?
Budaya Caring Perawat Indonesia
Kemenkes Bersama Tim Gabungan
Siapkan Evakuasi Korban Sukhoi
Superjet-100
Sinkronisasi
Pembangunan Kesehatan
Provinsi SumBar 2012
Stop Bab Sembarangan
Kota Sawahlunto
Peran Aktif dan Semangat
Kemitraan Semua Pihak adalah
Kunci Menuju Indonesia Bebas TB
MEDIA UTAMA
“BOK dan Banjar nganak”
di Lombok Tengah
Dr.dr. Slamet Riyadi Yuwono,
DTM&H, MARS: Kebijakan Biaya
Operasional Kesehatan
dr. Moch. Ismail: BOK harus
“ Ekstra hati-hati”
Kisah Kader Posyandu: Hj. Marlina
Tanpa Taburia, Anak mogok makan
Terima Kasih BOK
Kemenkes siap turunkan
AKI dan AKB di NTB
Sinergikan Pembangunan
Kesehatan di NTB
6-8
6-17
18-31
32-43
44-45
46-49
50-63
64-66
68-69
70-71
RAGAM
Catatan Perjalanan
Seorang Peneliti Kesehatan
JAMU: Sukma Indonesia,
bukan sekedar herbal
Thalassaemia:
Tidak Bisa Sembuh,
Tapi Bisa Dicegah
KOLOM
Sehat
Tanggung Jawab Individu
UNTUK RAKYAT
BPJS Kesehatan
Bravo PP Asi Eksklusif
DAERAH
LAMPUNG:
Meracik Jamkesta
di Tanah KopI.
Lampung dalam Angka
Menebar Harum
Aroma Jamkesta
Melengkapi Wajah
Malaria Di Sumatra
Menanti Kelahiran
bersama Dukun dan Bidan
POTRET
BPJS Kesehatan
Wamenkes: Orang miskin sakit,
dilarang bayar
RESENSI
LENTERA
Mengeluhlah,
Lalu Bangkitlah...
Antara Bu Endang
dan Sukhoi
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 5
INFO SEHAT
Manfaat-Manfaat
PUASAUntuk Kesehatan Tubuh
P
uasa yang kita kenal adalah puasa pada bulan
Ramadhan. Di luar itu, sebenarnya banyak jenis puasa
lain, seperti puasa senin-kamis, puasa nabi daud, dan
lainnya. Bahkan, agama lain juga memiliki kegiatan
seputar puasa. Ternyata, jika melihat dari sisi sains,
puasa memiliki banyak manfaat untuk kesehatan tubuh kita.
Berikut beberapa manfaat puasa bagi tubuh kita saat berpuasa.
1. Menurunkan berat badan.
Anda bisa menurunkan berat badan dengan diet. Namun, lebih
baik lakukan dengan puasa. Sebab, dengan berpuasa jadwal
makan dan minum, akan teratur dengan baik. Puasa juga
mampu membuat kita makan dengan berlebihan, dan tidak
juga menyiksa tubuh anda. Tetapi Anda juga harus berhati-hati,
proses menurunkan berat badan saat berpuasa sulit terjadi jika
saat berbuka Anda lebih banyak mengonsumsi makanan tinggi
gula dan kalori dibandingkan sayuran dan buah.
2. Menghilangkan racun dalam tubuh.
Kondisi lambung kosong saat anda Berpuasa, membantu
detoksifikasi (pembuangan racun di dalam tubuh). Dan
kemudian proses detoksifikasi menjadi optimal pada saat
seseorang berbuka puasa pada sore hari. Berpuasa juga
membantu tubuh menyerap nutrisi di dalam tubuh jadi lebih
efektif. Nutrisi di dalam makanan terserap sempurna sehingga
meminimalisasi penumpukan makanan yang membusuk di
tubuh.
3. Menghilangkan/meredakan nyeri pada persendian.
Siapa sangka, puasa juga bisa menjadi obat untuk meredakan
penyakit yang satu ini. Bagi orang yang menderita arthritis
atau radang sendi. Sebuah penelitian menunjukkan adanya
hubungan antara membaiknya radang sendi dan peningkatan
kemampuan sel netrofil dalam membasmi bakteri. Netrofil, atau
sel penetral merupakan unsur yang mampu menetralkan racun
maupun bakteri penyebab radang sendi.
4. Mengurangi konsumsi cairan yang berlebihan
Mengurangi konsumsi air selama puasa, bisa membantu
mengatasi akumulasi cairan yang berlebihan pada tubuh. Proses
‘pengeringan’ini akan mengatasi pembengkakan pada perut,
kaki dan lutut yang sering dialami saat seseorang mengalami
menstruasi.
5. Mengatasi tekanan darah tinggi
Tak perlu berobat secara medis untuk mengatasi tekanan
darah tinggi. Saat berpuasa, otomatis kita akan lebih sedikit
mengonsumsi makanan terutama yang mengandung lemak,
gula, dan kolesterol tinggi. Hal ini yang kemudian berdampak
pada penurunan kolesterol dan gula darah. Jika disertai dengan
diet makanan sehat saat sahur dan buka puasa, manfaatnya
akan didapatkan dengan lebih optimal.
6. Puasa sebagai waktu istirahat
Dengan berpuasa maka Anda secara tidak langsung telah
memberikan waktu bagi tubuh dan sistem pencernaan untuk
beristirahat. Dengan begitu beberapa organ pencernaan dalam
tubuh seperti kerongkongan, usus, lambung bisa bekerja lebih
baik saat Anda mulai mengkonsumsi makanan lagi ketika
bebuka puasa. n
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM6
Dengan Tertawa
Kita Lebih Sehat
M
eskipun sederhana, tertawa menjadi hal yang mulai banyak dilupakan
manusia, terutama ketika semakin dewasa. Tuntutan sekolah, ujian,
bekerja, target, dan stres di jalan membuat manusia dewasa semakin
sedikit tertawa. Padahal, tawa tidak hanya membuat hati senang, tetapi
juga bisa membuat kita lebih sehat. Di balik tertawa yang sederhana,
tersimpan banyak sekali rahasia yang bermanfaat di dalamnya.
Berbagai manfaat tertawa, dikutip dari DrStanley.com, antara lain:
- Anak-anak tertawa jauh lebih banyak daripada orang dewasa. Waktu masih kecil, kita
bisa tertawa 400 kali dalam sehari. Tapi, sejak masuk dunia sekolah, kemudian bekerja,
dan melakukan hal-hal‘dewasa’lainnya, kita hanya tertawa paling banyak 15 kali sehari.
- Perempuan bisa tertawa 126 persen lebih banyak daripada laki-laki.
- Sama seperti penyakit atau kantuk, dalam dunia tertawa juga dikenal istilah contagious
laughter atau tawa yang bisa menular. Kalau kita sedang menonton acara komedi, kita
bisa ikutan tertawa ketika mendengar penonton di televisi tertawa. Hal ini disebabkan
tawa adalah suatu bahasa yang universal, ekspresi emosi yang sulit untuk dipalsukan
atau ditutup-tutupi.
- Tertawa sekitar 100 kali memiliki manfaat yang sama dengan 15 menit dengan
bersepeda. Tertawa dengan kuat bisa meningkatkan denyut jantung, memperdalam
tingkat pernapasan, dan mengencangkan otot-otot diperut, wajah, dan diafragma.
- Selain bisa membuat suasana hati menjadi lebih bahagia, tertawa bisa mengurangi
stres, membantu melawan infeksi, dan mengurangi rasa sakit.
- Dua hormon penyebab stres, kortisol dan epinefrin yang menekan sistem kekebalan
tubuh, benar-benar akan turun setelah kita meluangkan waktu untuk tertawa selama
beberapa waktu.
- Tertawa menyebabkan perubahan positif
dalam kimia otak dengan melepaskan endorfin,
dan membawa lebih banyak oksigen ke dalam
tubuh dengan penarikan yang lebih dalam.
- Para peneliti menemukan setelah
menonton video komedi slapstick selama
satu jam,“sel pembunuh alami”yang bertugas
mencari dan menghancurkan sel-sel ganas,
seperti sel tumor lebih aktif menyerang
dalam tabung uji. Efek satu jam tertawa dapat
membuat sel penghancur ini bekerja selama
12 jam.
- Tahun 1998, film“Patch Adams”
menceritakan kisah nyata kehidupan dokter
yang melakukan eksperimen bermain dan
mengundang badut, ternyata penting
dalam meningkatkan kualitas hidup pasien
untuk suasana rumah sakit yang suram.
- Tingginya tingkat antibodi
(immunoglobulin A saliva) yang melawan
infeksi organisme memasuki saluran
pernapasan, ternyata ditemukan di air
liur orang yang menonton video lucu atau
dalam suasana hati yang menyenangkan. n
Migrain adalah penyakit umum bagi
banyak orang. Migrain adalah masalah
kesehatan umum yang dihadapi oleh
banyak orang kita. Agar tak diserang
migrain, ada beberapa kebiasaan sehat
yang harus dilakukan.
Berikut beberapa kebiasaan hidup sehat
yang dapat dilakukan untuk mencegah
timbulkan serangan migrain :
1. Makan tepat waktu
Melewatkan jadwal makan karena
alasan apapun dapat mempengaruhi
kesehatan dalam banyak cara. Jika
menderita migrain dan diet pada
saat yang sama, jangan melakukan
kesalahan dengan melewatkan jadwal
makan. Jika telat makan, lemak tubuh
yang ekstra akan hilang.
Hal ini akan berakhir dengan
peningkatkan kadar gula darah dan
pada akhirnya dapat menyebabkan
migrain. Selain itu, keasaman lambung
mempengaruhi otak dan menyebabkan
sakit kepala. Untuk menghindarinya,
makanlah tepat waktu dan teratur.
Jangan melewatkan jadwal makan atau
makan terlalu sedikit.
2. Olahraga
Tubuh yang sehat menghasilkan pikiran
yang sehat. Untuk tetap fit dan aktif,
harus berolahraga secara teratur. Hal ini
juga membantu menghindari serangan
migrain.
3. Tidur yang cukup
Terlalu banyak tidur atau kurang
tidur dapat mempengaruhi tubuh
Anda. Tidurlah yang cukup untuk
menghindari sakit kepala migrain.
Idealnya, orang dewasa sebaiknya tidur
selama 6-7 jam dan tidak lebih dari 9
jam sehari. Pertahankan jadwal tidur
untuk hasil yang lebih baik.
4. Berhenti merokok
Merokok dapat meningkatkan
serangan migrain. Nikotin tidak hanya
menyebabkan radang di tenggorokan
dan paru-paru, tetapi juga membuat
kecanduan. n
Kebiasaan Sehat
Agar Tak Diserang
Migrain
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 7
INFO SEHAT
K
ismis diperkenalkan di Eropa oleh bangsa Mediterania pada abad ke-11 sebelum
masehi. Kismis adalah buah anggur yang dikeringkan. Bisa dimakan langsung atau
dicampurkan dalam kue dan masakan. Buah yang sering dipakai adalah anggur segar
yang hijau atau yang merah. Rasanya manis karena mengandung gula cukup tinggi.
Jika disimpan dalam waktu lama, gula dalam kismis akan membentuk kristal. Proses ini
yang menyebabkan tekstur kismis menjadi kasar dan agak kenyal.
Sebuah studi yang dilakukan oleh California Raisin Marketing Board, menghubungkan antara
berat badan dengan makan kismis. Ada 26 responden laki-laki dan perempuan yang berat
badannya normal. Rata-rata mereka berusia 8-11 tahun.
Penelitian dilakukan selama tiga bulan. Secara acak beberapa anak ditugaskan untuk makan
kismis dan sebagian anak diminta untuk makan camilan lainnya, seperti keripik kentang, kue
cokelat dan buah. Setiap anak juga diberikan menu sarapan yang sama. Nafsu makan responden
diukur secara subjektif, 15 menit sebelum dan setelah menikmati camilan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa, asupan makanan setelah konsumsi kismis lebih rendah.
Mereka juga merasa jenuh saat disuruh makan. Dibandingakan dengan responden yang makan
camilan selain kismis justru nafsu makannya lebih besar. Kismis memberikan jumlah kalori lebih
sedikit dibandingkan makanan lainnya. Selain itu kismis juga memberikan rasa kenyang lebih
lama, sehingga responden yang diberi camilan kismis masih merasa kenyang saat menikmati
menu makannya.
Keripik kentang dan kue cokelat, mengandung kalori sebesar 70-108 persen lebih tinggi
dibandingkan dengan kismis. Jika kismis dijadikan camilan, setiap harinya jumlah kalori dalam
tubuh bisa terpotong sekitar 10-19 persen. Cukup mengemil kismis, berat badan bisa turun
cepat. Tidak perlu lagi lakukan diet ketat karena cara alami ini bisa membentuk tubuh ideal yang
diinginkan. n (Ditulis dari berbagai sumber)
Kurangi Berat badan
dengan ngemil Kismis
Buah kering yang
satu ini sangat
menyehatkan.
Rasanya manis,
renyah dan
bertekstur agak
kenyal. Makanan
ini berasal dari
buah anggur segar
yang di keringkan
dan bisa dimakan
langsung. Makan
kismis ternyata bisa
bikin perut cepat
kenyang.
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM8
STOP PRESS
Bandung, 5 Mei 2012
L
ebih dari 5 juta orang di seluruh dunia telah terdiagnosis
penyakit Lupus. Sebagian besar penderitanya ialah
perempuan di usia produktif yang ditemukan lebih
dari seratus ribu setiap tahunnya. Di Indonesia jumlah
penderita penyakit Lupus secara tepat belum diketahui
tetapi diperkirakan mencapai jumlah 1,5 juta orang.
Demikian sambutan Menkes RI yang diwakili oleh Kepala Badan
Litbang Kesehatan Kemenkes RI, dr. Dr. Trihono, Msc. pada
peringatan hari Lupus Sedunia yang diselenggarakan oleh
Syamsi Dhuha Foundation di Aula Kampus Timur ITB, Bandung.
Hadir pada Acara tersebut, Pengurus Syamsi Dhuha Foundation,
Perwakilan Dekan ITB, Skretaris Ditjen Binfar & Alkes, Direktur
Penyakit Tidak Menular dan Kepala Pusat Promosi Kesehatan,
Pengurus Syamsi Dhuha Foundation, Para Pemerhati Lupus,
dokter dan tenaga medis lainnya.
“Lupus merupakan penyakit autoimun kronis yang dapat
menyerang hampir seluruh organ atau sistem tubuh dan dapat
mengancam jiwa. Diagnosis penyakit ini sering terlambat
diketahui karena gejala yang timbul menyerupai berbagai gejala
penyakit sehingga dijuluki penyakit yang mempunyai seribu
wajah,”terang Ka. Badan Litbangkes.
Lebih lanjut Kepala Badan Litbangkes menyatakan, penting bagi
para tenaga dokter untuk dapat melakukan pelatihan untuk
dapat mendiagnosis penyakit Lupus karena menampakan gejala
yang berbeda - beda sehingga tidak mudah didiagnosa oleh
para doker. Sementara bagi masyarakat perlu upaya peningkatan
untuk menumbuhkan kesadaran dan pencegahan agar dapat
mengenal lebih dini gejala penyakit lupus sehingga dapat
memperoleh pengobatan yang tepat.
Kegiatan“Care for Lupus Syamsi Dhuha Foundation Awards”sangat
relevan dengan tema peringatan Hari Lupus Sedunia tahun ini
yaitu ’Never Give Up”, karena upaya yang dilakukan oleh para
penerima penghargaan bertujuan untuk meningkatkan kualitas
Kemenkes Hadiri Peringatan
Hari Lupus Sedunia Tahun 2012
hidup Orang Hidup Dengan Lupus (Odapus). Care for Lupus
Syamsi Dhuha foundation awards 2012 terdiri dari tiga kategori
yaitu: Research Sponsorship, Writing Competetition, dan Lifetime
Achievement
Pada kesempatan tersebut, Kepala Badan Litbangkes mendapat
kehormatan untuk menyerahkan penghargaan kepada pemenang
Lomba Research Sponsorship di Bindang Obat atau suplemen
yang terkait dengan pemakaian bahan alam yang tersedia di
Indonesia sebagai terapi suplemen dalam pengobatan dan atau
pengendalian penyakit lupus.
Pemenang pertama ialah Niken Indriyanti dari Fakultas
Farmasi Universitas Mulawarman, Kaltim dengan judul
penelitian: Pengaruh cocor bebek terhadap konsentrasi plasma
metilprednisolon dan pengembangan formulanya untuk terapi
penanganan Lupus; pemenang kedua ialah Wigit Kristianto
dari Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga, Surabaya
dengan judul penelitian uji efektifitas Jakalin biji nangka dalam
mengurangi jumlah limfosi B dan Gambaran Glomerunefritis
ginjal pada mencit BALB/ c dengan Lupus Like Syndrome yang
diinduksi pada pristan; sementara pemenang ketiga ialah
Muhammad Afifudin dari Fakultas Kedokteran Universitas
Brawijaya, dengan judul penelitian potensi ketela rambat ssebagai
terap I nutrisi bagi pasien Lupus Eritematosisi Sistemik dengan
menignkatkan Foxp3 Sn menginhibisi IL-23R.
Berbagai penelitian terkait tanaman obat Indonesia yang
berpotensi sebagai suplemen terapi Lupus yang aman dan efektif,
harus terus dilakukan. Hal ini penting mengingat penderita
Lupus harus berobat seumur hidup, setidaknya upaya ini dapat
membantu mengendalikan penyakit Lupus, tegas dr. Trihono.
Pemberian penghargaan ini selain merupakan suatu terobosan
positif, juga diharapkan untuk mendorong berbagai pihak untuk
mengambil bagian dalam meningkatkan kualitas hidup para
Odapus serta meningkatkan kesadaran, kepedulian masyarakat
terhadap Lupus,”jelas Ka. Badan Litbangkes. n
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 9
STOP PRESS
d
r. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH adalah dokter spesialis
anak yang juga ahli Kesehatan Masyarakat yang telah
mengenyam pendidikan di Indonesia, Eropa dan
Amerika. Beliau memiliki pengalaman karir panjang
sebagai Pegawai Negeri di Departemen Kesehatan
(1964-1998), sebagai anggota DPR (1992-1997), dan Pegawai
Perserikatan Bangsa-Bangsa (1999-2002) tepatnya sewaktu
menjabat sebagai Direktur Department of Gender and Women’s
Dr.Nafsiah Mboi , Sp.A.MPH
Menkes 2012-2014
Health pada World Health Organization (WHO) Pusat di Geneva,
Swiss.
dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH lahir di Sengkang, Sulawesi Selatan,
14 Juli 1940 adalah lulusan Spesialisasi Dokter Anak Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, tahun 1971. Gelar Master of
Public Health diperoleh di Prince Leopold Institute of Tropical
Medicine, Antwerp, Belgium, tahun 1990. Beberapa penghargaan
yang pernah diperolehnya diantaranya Ramon Magsaysay
13 Juni 2012 pukul 11.15 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan
dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH sebagai Menteri Kesehatan 2012-2014 menggantikan
Almarhumah dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH.
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM10
Foundation Award for Government Service dari Ramon Magsaysay
Foundation, Manila, Philippines (1986), Satya Lencana Bhakti
Sosial dari Presiden Republik Indonesia (1989), Fellow of the
Australia-Indonesia Institute (1993), Penghargaan dari Asia HRD
Congress (2008) dan Penghargaan Soetomo Tjokronegoro yang
diberikan oleh PB-IDI (2009).
dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH menikah dengan Brigjen purn Dr.
Ben Mboi MPH, mantan Gubernur NTT dan dikaruniai 3 orang
putra-putri dan 5 orang cucu. Dr. Nafsiah memulai karirnya di
Departemen Kesehatan sejak tahun 1964. Beberapa jabatan yang
pernah diembannya selama menjadi karyawan Departemen
Kesehatan adalah sebagai Kepala Rumah Sakit Umum, Ende,
Flores (1964–1968), Kepala Seksi Perijinan pada Kantor Wilayah
Departemen Kesehatan Prop. NTT, Kupang (1979–1980), Kepala
Bidang Bimbingan dan Pengendalian Pelayanan Kesehatan
Masyarakat (BPPKM) pada Kantor Wilayah Departemen Kesehatan
Prop. NTT, Kupang (1980–1985).
Selain jabatan karir, Dr. Nafsiah pernah menjadi Anggota DPR/
MPR RI (1992–1997), Ketua Komite PBB untuk Hak-hak Anak
(1997–1999), Direktur Department of Gender and Women’s
Health, WHO, Geneva Switzerland (1999-2002) dan Sekretaris
Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (2006–sekarang).
Lebih dari 70 karya dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris
telah dipublikasikan, 20 diantaranya adalah makalah dan artikel.
dr. Nafsiah dikenal sebagai sukarelawan dan pekerja masyarakat
sejak masih berstatus sebagai pelajar. Selain itu, beliau juga
dikenal sebagai aktivis bidang keluarga berencana dan
selanjutnya mendedikasikan diri untuk upaya penanggulangan
HIV dan AIDS di Indonesia. Komitmennya untuk anti diskriminasi
dan kesetaraan dalam masyarakat mengarahkan dr. Nafsiah
menjadi aktivis untuk hak-hak azasi manusia, dan menjadi salah
satu pendiri Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia,
anggota Komnas HAM, dan Wakil Ketua Komnas Perempuan.
Beliau telah terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang menitik
beratkan pada pemberdayaan perempuan, kesetaraan gender,
dan hak-hak anak, semua area tersebut dimulai saat memimpin
PKK, BK3S, dan organisasi lain, selama 10 tahun bekerja di Nusa
Tenggara Timur (1978-1988) saat suaminya menjabat sebagai
Gubernur.
Menkes baru silaturahmi dengan karyawan Kemenkes
Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, datang ke
kantor Kementerian Kesehatan RI  setelah dilantik Presiden RI,
DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono di Istana (14/6). Menkes yang
didampingi Wakil Menkes Prof. Ali Ghufron Mukti, MSc, PhD,
tiba di ruang J.Leimena pukul 14.28 WIB, dan disambut staf dan
jajaran Pejabat Eselon I dan II Kementerian Kesehatan yang telah
menunggu kehadirannya.
Pertemuan dimulai pukul 14.45 WIB. Acara dibuka Wakil Menkes
RI, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, disertai ucapan selamat datang.
Pada kesempatan ini, para Pejabat yang hadir satu per satu
memperkenalkan diri dan menjelaskan secara singkat mengenai
tugas pokok dan fungsi dari unit yang dipimpinnya. Selain
itu disebutkan, beberapa program prioritas Kemenkes RI dan
beberapa“pekerjaan rumah”yang harus segera diselesaikan.
Mengawali sesi perkenalannya, Menkes mengajak para hadirin
untuk berdiri guna berdoa bersama bagi Almarhumah Ibu Endang
Rahayu Sedyaningsih yang saat ini sudah berada di pangkuan-Nya,
serta mohon untuk kelancaran pelaksanaan tugas-tugas ke depan.
“Kita berdoa untuk Ibu Endang yang kita cintai, sekaligus kita
berdoa semoga kita yang melanjutkan karya dan ide-ide beliau
dapat diberi kelancaran, sehingga dengan tim yang kuat seperti
sekarang, kita bisa langsung hit the road, running”, kata Menkes.
Pada pertemuan tersebut, Menkes memutarkan slideshow
perkenalan. Dijelaskan makna empat lilin yang merupakan
empat tahap penting dalam hidupnya. Lilin pertama, adalah
saat beliau menyelesaikan pendidikan di bidang kedokteran;
lilin kedua merupakan saat dimana beliau menikah dan memiliki
berkeluarga; lilin ketiga adalah pengalaman berharga menjadi
international civil servant; dan lilin keempat adalah saat dimana
ditugaskan kembali di kesehatan masyarakat.
“Saya tidak menganggap bahwa saya pensiun dari Komisi
Penanggulangan AIDS (KPA), saya hanya mendapat tugas yang
lebih besar”, ujar Menkes.
Sebelum dilantik, Menkes Nafsiah menandatangani kontrak kerja
dihadapan Presiden RI, DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono dan
Wakil Presiden, Boediono. Kontrak kerja tersebut merupakan
kontrak kerja yang sama dengan yang ditandatangani
Almarhumah Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih. Karena itu,
Menkes meminta kesediaan masing-masing para Pejabat Eselon I
Pimpinan Unit Utama Kemenkes untuk secepatnya memberikan
paparan singkat tentang capaian program prioritas yang pernah
digariskan Ibu Endang, tantangan-tantangan, dan strategi apa
yang akan dilakukan.
“Dua tahun itu waktu yang sangat singkat. Mengambil alih
pimpinan bagai seorang kapten kapal yang sedang berlayar
di lautan itu tidak mudah. Dengan waktu yang terbatas, kita
tetap harus mencapai tujuan. Bila kurang saling mengenal,
tidak kompak dan salah pengertian, kapal bisa karam”, ujar
Menkes. Pada kesempatan tersebut, Menkes berterima kasih
atas kesempatan dan kepercayaan yang diberikan dan meminta
jajarannya agar senantiasa kompak dalam menjalankan tugas.
Pada kesempatan tersebut, Menkes berharap, selain untuk
menyelesaikan tugas-tugas yang belum diselesaikan, dirinya
juga ingin menyiapkan agar Menteri Kesehatan untuk generasi
mendatang merupakan orang yang mengerti situasi kesehatan
masyarakat Indonesia, lebih spesifik memahami atmosfer institusi
Kementerian Kesehatan. n ( Yuni)
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 11
STOP PRESS
W
hy me ? Mengapa saya. Sebuah pertanyaan besar yang
ditanyakan kepada diri sendiri. Pertanyaan ini biasanya
dilakukan seseorang kepada diri sendiri ketika tidak
beruntung. Misalnya: sakit parah, kecelakaan, musibah besar yang
menyebabkan kehilangan harta dan anggota keluarga. Mereka
tidak siap dan tidak rela mendapatkan pertistiwa kesulitan hidup
itu. Ia meratap-ratap, mengapa harus dirinya yang menerima
kesulitan itu. Mengapa tidak orang lain saja. Ia protes berat. Protes
kepada keadaan atau kepada pemberi kesulitan.
Berbeda dengan Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih,“Saya
sendiri belum bisa disebut sebagai survivor kanker. Diagnose
kanker paru stadium 4 baru ditegakkan 5 bulan yang lalu. Dan
sampai kata sambutan ini saya tulis, saya masih berjuang untuk
mengatasinya. Tetapis saya tidak bertanya“Why me ?”.
Seperti disampaikan dalam sambutannya tertanggal 13 April
2011, yang ditulisnya sendiri untuk menyambut penerbitan buku
“Berdamai dengan Kanker“ di Jakarta. Satu bulan sebelum
Endang R Sedyaningsih berpulang kerahmatullah, 2 Mei 2012 pkl
11.41 di RSCM Jakarta, karena menderita kanker paru.
“Saya menganggap menderita kanker adalah salah satu anugerah
dari Allah SWT. Sudah banyak anugerah yang saya terima dalam
hidup ini : hidup di negara yang indah, tidak dalam peperangan,
diberi keluarga besar yang pandai-pandai, dengan sosial ekonomi
lumayan, dianugerahi suami yang sangat sabar dan baik hati,
dengan 2 putera dan 1 puteri yang alhamdulillah sehat, cerdas
dan berbakti kepada orang tua. Hidup saya penuh dengan
kebahagiaan.“ So .... Why not ?“ Mengapa tidak, Tuhan telah
menganugerahi saya kanker paru ?.
“Tuhan pasti mempunyai rencanaNya, yang saya belum ketahui,
tapi saya merasa SIAP menjalankannya. Insya Allah. Setidaknya
saya menjalani sendiri, penderitaan yang dialami pasien kanker,
sehingga dapat memperjuangkan program pengendalian kanker
dengan lebih baik lagi”, katat Endang dalam sambutan itu.
Endang juga mengajak para penderita kanker untuk berbaik
sangka kepada Allah.“Bagi rekan-rekanku sesame penderita
kanker dan para survivor, mari kita berbaik sangka kepada Allah.
Kita terima semua anugerahNya dengan bersyukur. Sungguh,
lamanya hidup tidak sepenting kualitas hidup itu sendiri. Mari kita
lakukan sebaik-baiknya, apa yang bisa kita lakukan hari ini dengan
sepenuh hati.
Sebaliknya, bila keberuntungan datang kepada orang lain. Ia
akan mengatakan“ mengapa bukan saya”yang mendapatkannya.
Mereka berburuk sangka kepada Allah. Dia merasa lebih pantas
untuk mendapatkannya, baik berupa jabatan, kekayaan dan
popularitas. Ia tidak rela keberuntungan itu jatuh pada orang lain.
Sehingga dengan segala cara berusaha untuk merebutnya. Walau
itu bertentangan dengan nilai-nilai moral dan etika.
Begitulah tabiat manusia yang cenderung mengikuti selera
hawa nafsu, bila tidak dikendalikan nilai etika, moral dan agama.
Merekapun tidak pernah merasa puas, apalagi bersyukur atas
nikmat yang telah diterimanya. Ia merasa terus kekurangan,
walau harta sudah melimpah dan kekuasaan masih dalam
genggamannya. Sebab, mata hati telah tertutup, akal sehat telah
dikangkangi hawa napsu. Bila sudah begini, ia tidak akan sanggup
mengatakan“why me ?, kemudian bertobat, kecuali mendapat
hidayah. Wallahu’alam. n
Why me? Oleh: Prawito
Budaya Caring
Perawat Indonesia
P
emerintah Indonesia
menandatangani Mutual Recognition
Arrangement (MRA) on Nursing
Services di Busan, Philipina pada tahun
2006. Hal ini mengindikasikan adanya
tuntutan kesejajaran mutu pelayanan
keperawatan di Indonesia dengan negara-
negara ASEAN lainnya. Tuntutan untuk
meningkatkan pelayanan keperawatan
yang berkualitas merupakan suatu hal
yang tidak bisa ditawar lagi.
Demikian disampaikan Direktur Jenderal
Bina Upaya Kesehatan, dr. Supriyantoro,
Sp.P, MARS saat membuka acara
Silaturahmi Akbar Perawat Indonesia
di Lapangan IKADA, Jakarta (13/5/12).
Mengawali kegiatan ini, Direktur Bina
Keperawatan dan Keteknisian Medik,
Suhartati, S.Kp, M.Kes menyampaikan
laporan kegiatan kegiatan. Menurut dr.
Supriyatoro, acara Silaturahmi Akbar
Perawat Indonesia bisa dijadikan sebagai
momen bagi para Perawat Indonesia untuk
sharing pengalaman dan menyatukan
potensi dalam rangka melakukan
pengembangan dan peningkatan kualitas
di bidang pelayanan keperawatan.
Pertemuan ini juga dapat memupuk rasa
kolegialitas sesama perawat sehingga
kerjasama meningkatkan perkembangan
dunia keperawatan termasuk mewujudkan
pelayanan keperawatan yang prima dapat
terwujud. ”Pelayanan keperawatan prima
harus diwujudkan untuk mendukung
tersedianya pelayanan kesehatan yang
berkualitas”, ujar dr. Supriyantoro.
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM12
P
roses evakuasi korban jatuhnya pesawat Sukhoi
Superjet-100 yang hilang di area Gunung Salak,
Kab. Bogor Prov. Jawa Barat akan dilakukan dalam
2 rencana, yaitu pertama lewat udara ke Bandar
Udara Halim Perdanakusuma langsung ke Rumah
Sakit (RS) Bhayangkara; kedua melalui jalan darat menuju RS
terdekat atau RS lain tergantung hasil triage.
Demikian disampaikan Direktur Jenderal Bina Upaya
Kesehatan Kemenkes RI, dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS usai
rapat koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor
dilakukan di Kantor Dinkes Kab. Bogor (10/4/12). Dirjen BUK
juga mengecek persiapan Posko Kesehatan Gabungan yang
ada di Bandar Udara Halim Perdanakusuma Jakarta dan
berkoordinasi dengan Kepala Dinkes Provinsi DKI Jakarta
untuk kesiapan evakuasi korban.
Berdasarkan informasi dari Dinkes Kab. Bogor, Dinkes Kota
Bogor, Dinkes Kab. Sukabumi, Dinkes Prov. DKI Jakarta, PPK
Regional DKI Jakarta serta petugas PPKK di lokasi sampai
pukul 12.30 WIB dilaporkan pada tanggal 9 Mei 2012 sejak
pukul 14.33 Pesawat Sukhoi Superjet-100 hilang kontak.
Setelah dilakukan pencarian, pada tanggal 10 Mei 2012
pukul 09.15 pesawat ditemukan terjatuh di Gunung Salak
Kab. Bogor Provinsi Jawa Barat. Jumlah penumpang pesawat
diperkirakan sebanyak 45 orang.
 
Upaya yang telah dilakukan adalah pencarian korban oleh
Tim SAR dan kesiapsiagaan di lokasi sekitar Dinkes Kab.
Sukabumi dan Dinkes Kota Bogor menyiagakan RS rujukan
yaitu RS Sekarwangi Cibadak Kab. Sukabumi dan RS PMI
Kota Bogor. Selain itu Dinkes Kab. Sukabumi dan Dinkes Kab.
Bogor menyiagakan sejumlah Puskesmas dan ambulans
untuk menerima korban. Nama Puskesmasnya antara lain
Puskesmas Tamansari, Tenjolaya, Pamijahan dan Ciampea di
Kab. Bogor serta Puskesmas Cijeruk, Cigombang, Ciburayut
dan Caringin di Kab. Sukabumi. Dinkes Kota Bogor dan PMI
Kota Bogor menyiagakan masing-masing 2 ambulans di RS
PMI Kota Bogor. PMI menyiapkan 25 ambulans di sekitar
lokasi kejadian dan PPKK Kemenkes mengirimkan Tim ke
lokasi kejadian.
 
Sementara itu, kesiapsiagaan di Bandara Halim Perdana
Kusuma berupa kesiapan petugas Kantor Kesehatan
Pelabuhan (KKP) Halim Perdana Kusuma untuk memberikan
pelayanan kesehatan.
Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan (PPKK) Kemenkes
juga memberikan bantuan 50 kantong jenazah serta
mengirimkan tim ke Bandara Halim Perdanakusuma. Selain
itu menyiagakan 19 ambulans, 16 mobil jenazah dan 2
Pusling. Polri telah mendirikan Posko DVI dan antemortem di
Bandara Halim Perdana Kusuma,
 
Hingga saat ini proses pencarian korban masih terus
dilakukan, sedang diupayakan tambahan 10 mobil jenazah
untuk mengevakuasi korban ke Rumah Sakit.
 
Direncanakan seluruh korban akan dievakuasi melalui
udara menuju Bandara Udara Halim Perdana Kusuma, untuk
selanjutnya dapat dievakuasi ke RS Dr. Sukanto Jakarta.
Pemantauan terus dilakukan oleh Dinkes Kab.Bogor, Dinkes
Kota Bogor, Dinkes Kab. Sukabumi, Dinkes Prov. DKI Jakarta,
PPK Regional DKI Jakarta dan PPKK Kemenkes. n
Dalam sambutannya, dr. Supriyantoro
menyebutkan, Deklarasi Perawat Indonesia
pada Jumat (11/5/12) lalu menyatakan
bahwa perilaku caring sebagai kunci
dalam meningkatkan mutu dan kualitas
pelayanan keperawatan yang prima.
“Keberhasilan suatu upaya dan program
pelayanan keperawatan sangat
tergantung dari motivasi, komitmen dan
potensi seluruh warga perawat Indonesia.
Jangan lupa mereevaluasi apakah yang
telah kita lakukan sesuai dengan apa yang
kita impikan, dan ditindaklanjuti agar
lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. ”,
tandas dr. Supriyantoro. Silaturahmi Akbar
diawali upacara pembukaan silaturahmi
akbar, dilanjutkan dengan senam bersama
dan hiburan, serta pelayanan keperawatan
di pos keperawatan. Sekitar 2796 orang
hadir dalam kegiatan ini.
Para peserta merupakan para Pejabat
struktural beserta staf di lingkungan
Kemenkes; perwakilan perawat di institusi
pendidikan, Rumah Sakit, Puskesmas,
Dinas Kesehatan, dan Badan Pelatihan
Kesehatan (Bapelkes) di wilayah provinsi
DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Turut
hadir dalam acara ini, Ketua Persatuan
Perawat Nasional Indonesia, Dewi
Irawaty, MA, PhD; para pimpinan RS;
dan perwakilan organisasi masyarakat
yang berhubungan dengan bidang
keperawatan.
Kegiatan ini merupakan salah satu
rangkaian Peringatan Hari Perawat
Sedunia (HPS)dengan tema “Closing the
Gap: From Evidence to Nursing Action to
Achieve Quality of Nursing Service” yang
jatuh pada 12 Mei 2012. Rangkaian
peringatan HPS telah didahului dengan
workshop keperawatan yang dilaksanakan
Jumat lalu, tanggal 11 Mei 2012 di Kantor
Kementerian Kesehatan. n (Pra)
Kemenkes Bersama Tim Gabungan
Siapkan Evakuasi Korban Sukhoi Superjet-100
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 13
STOP PRESS
K
ebijakan makro Pemerintah saat ini adalah
mengamankan pelaksanaan APBN melalui peningkatan
kualitas. Kemenkes harus melakukan pemotongan
anggaran tahun 2012 dengan memperhatikan
prioritas kegiatan. Menyikapi hal tersebut, penting
untuk melihat kembali kegiatan yang memiliki daya ungkit
terhadap peningkatan status kesehatan masyarakat termasuk
meningkatkan pembiayaan bidang kesehatan melalui anggaran
daerah.
Demikian disampaikan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit
dan Penyehatan Lingkungan (PP dan PL) Kemenkes RI, Prof.
dr. Tjandra Yoga Aditama  SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE pada
pembukaan Pertemuan Akselerasi dan Sinkronisasi Pembangunan
Kesehatan Provinsi Sumatera Barat di Kota Bukittinggi, Sumatera
Barat, 10 Mei 2012.
Kegiatan yang diselaraskan dengan kegiatan Pembinaan Terpadu
Program Prioritas Kementerian Kesehatan di Provinsi Sumatera
Barat ini diawali dengan pembacaan laporan kegiatan oleh Kepala
Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, dr. Rosnini Safitri, M.Kes,
dilanjutkan dengan sambutan Walikota Bukittingi, Ismet Amziz, SH.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut, para pejabat Kementerian
Kesehatan dari setiap unit terkait; Perwakilan DPRD Provinsi
Sumbar; Ketua BAPPEDA Provinsi Sumbar; Para Kepala Dinas
Kesehatan Kab/Kota dan Dirut RS di wilayah provinsi Sumbar;
Kepala UPT dan UPTD; Tim Pokja MDG’s Sumatera Barat; dan
perwakilan institusi lintas sektor.
“Supervisi Pusat ke Daerah tidak hanya terbatas pada
pelaksanaan program prioritas Kemenkes di Daerah, namun juga
memperhatikan kebutuhan dan permasalahan spesifik pada suatu
daerah”, ujar Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama.
Menurut Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, rapat koordinasi dan
teknis bidang kesehatan ini emilliki nilai strategis disamping
fungsi koordinasi, juga mengoptimalkan penggunaan sumber
daya yang terbatas, termasuk perencanaan penganggaran dari
semua sumber pembiayaan (APBD Provinsi, APBD Kab/Kota,
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), termasuk
Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN).
Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama menyatakan, Provinsi Sumatera
Barat merupakan contoh yang baik dimana perhatian daerah
dalam pelaksanaan program kesehatan selalu terdepan, termasuk
upaya percepatan pencapaian MDG’s.
SinkronisasiPembangunan Kesehatan
Provinsi SumBar 2012
“Baru-baru ini, provinsi menyelenggarakan pekan MDG’s, selain
itu prestasi beberapa Kab/Kota sehat di Provinsi Sumatera
Barat menandakan peran aktif dan komitmen para pemangku
kepentingan bidang kesehatan”, jelas Prof. Tjandra Yoga Aditama.
Pada kesempatan tersebut, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama
bersama Tim Supervisi terpadu Kemenkes Ri, melakukan diskusi
dengan para peserta dan membahas  berbagai permasalahan
yang dikemukakan oleh para peserta yang merupakan
perwakilan dari instansi kesehatan di Provinsi Sumatera Barat.
Kegiatan terbagi menjadi dua panel utama. Pada panel
pertama, Prof. Tjandra Yoga  melakukan presentasi bersama
dengan Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Barat dan Walikota
BukitTinggi membahas kebijakan nasional kesehatan. Pada panel
kedua, dilakukan pembahan lebih mengarah kepada anggaran
pembiayaan kesehatan.
Lebih lanjut Prof. dr.TjandraYoga Aditama menyatakan, sebagian
besar masalah dapat dijelaskan, namun sebagian lainnya menjadi
masukan dan rencana tindak lanjut, antara lain Permasalahan
Politeknik Kesehatan; Aspek Pelayanan Kesehatan (obat generic,
tarif Askes, kebutuhan tempat tidur menjelang BPJS); Permohonan
bantuan anggarn untuk kegiatan pengendalian penyakit dan
penyehatan lingkungan di Kabupaten; Pentingnya pendidikan
dan pelatihan sumber daya manusia; penanggulangan masalah
kesehatan (Angka Kematian Ibu/Bayi, Penanggulangan HIV/AIDS,
dan lain-lain); Peran MajelisTenaga Kesehatan Provinsi (MTKP)
dan MajelisTenaga Kesehatan Indonesia (MTKI) dalam kegiatan
pelayanan kesehatan oleh para bidan; kejelasan penempatan
dokter di wilayah yang bermasalah kesehatan; serta penyediaan
Puskesmas perkotaan dengan pelayanan persiapan jamaah haji. n
(Pra)
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM14
D
alam rangka Pembinaan
Terpadu Program Prioritas
Kementerian Kesehatan di
Provinsi Sumatera Barat,
Sekretaris Direktorat Jenderal
Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan (PP dan PL) dr. Yusharmen
D.Comm.H., M.Sc bersama rombongan
Supervisi Terpadu Kementerian Kesehatan
RI melakukan kunjungan lapangan ke Kota
Sawah Lunto pada 11 Mei 2012. Kegiatan
dipusatkan di dua Desa yaitu Tlago
Gunung dan Lumindai.
Sesdirjen PP dan PL, dr. Yusharmen,
D.Comm.H, M.Sc, bersama tim Supervisi
Terpadu Kemenkes RI menyaksikan secara
langsung Deklarasi SBS Jorong Desa
Talago Gunung Kecamatan Barangin, Kota
Sawahlunto. Sebelumnya, Sesdirjen PP dan
PL meresmikan Pos Pembinaan Terpadu
(Posbindu) Gantiang Juo dan menyaksikan
pembuatan septic-tank yang terbuat dari
ban bekas. Hadir dalam kegiatan tersebut,
Kepala Dinas Provinsi Sumatera Barat,
Walikota Sawahlunto, Ir. H. Amran Nur;
Kepala Dinas Kesehatan Kota Sawahlunto,
dr. Ambun; Kepala Nagari Tlago Gunung,
Alizar Dt. Malin Pangulu; dan para tokoh
masyarakat setempat.
dr. Yusharmen mengatakan, Program
Air Minum dan Sanitasi Berbasis
Masyarakat (PAMSIMAS) bertujuan
untuk meningkatkan jumlah penduduk
perdesaan dan pinggiran kota (peri urban)
yang mendapat akses terhadap layanan air
minum dan sanitasi yang sehat dan praktik
perilaku hidup bersih dan sehat.
Kegiatan deklarasi melalui program
PAMSIMAS merupakan momentum
penting dalam menumbuhkan kesadaran
masyarakat akan pentingnya berperilaku
hidup bersih dan sehat (PHBS) yang
dimulai dari diri sendiri, keluarga,
dan komunitas, sehingga terbentuk
Stop BAB Sembarangan
Kota Sawahlunto
masyarakat Indonesia yang mandiri untuk
hidup sehat.Saat ini, program PAMSIMAS
di Propinsi Sumatera Barat sudah
mencakup 15 Kabupaten/Kota dari 19
Kabupaten/Kota yang ada di wilayah kerja
Provinsi Sumatera Barat selama tahun
pelaksanaan 2008-2012.
Pada kesempatan tersebut, Sesdirjen PP
dan PL menyampaikan apresiasi yang
tinggi kepada masyarakat karena terkait
dengan masalah mendasar di bidang
kesehatan yang merupakan wujud nyata
dari upaya promotif dan preventif yang
menjadi prioritas Pemerintah.
Kemudian, Sesdirjen PP dan PL bersama
tim Supervisi Terpadu Kementerian
Kesehatan melanjutkan perjalanan menuju
Desa Lumindai yang letaknya jauh di atas
bukit. Berdasarkan keterangan Kepala
Dinas Kesehatan Sawahlunto, dr. Ambun
mengatakan di desa tersebut hanya
terdapat satu orang bidan untuk 9 dusun.
Pada kesempatan tersebut, Sesditjen PP
dan PL beserta tim Supervisi terpadu
Kemenkes berkesempatan untuk meninjau
secara langsung kondisi sanitasi dasar di
salah satu rumah masyarakat. Sesditjen PP
dan PL sempat melakukan penempelan
sticker di salah satu rumah penduduk
yang telah memiliki Pos Pembinaan
Terpadu Desa Lumindai yang memiliki
fasilitas cukup lengkap, walaupun
masih menggunakan genset untuk
mengoperasikan peralatan tersebut.
Selain kunjungan lapangan dilakukan pula
pencanangan gerakan 1.000 jamban yang
ditandai dengan penyerahan jamban;
penyerahan kelambu malaria pada ibu hamil
dan daerah endemis; penyerahan bantuan
miskoskop; serta penempelan striker
rumah stop BABS; pemberian pengetahuan
komprehensif mengenai HIV/AIDS; serta
menjadi narasumber pada Dialog Khusus
mengenai Kemitraan Bidan-Dukun dalam
lingkup Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).
“Perayaan deklarasi SBS merupakan
media yang sangat efektif untuk
mensosialisasikan perilaku hidup bersih
dan sehat (PHBS) kepada masyarakat.
Ajaklah Saudara, masyarakat maupun
tetangga desa di sekitar kita untuk ikut
menjadikan dan membiasakan diri ber-
PHBS dalam kehidupan sehari-hari”, ujar dr.
Yusharmen. n
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 15
STOP PRESS
D
emikian arahan Wakil Menteri Kesehatan RI
yang dibacakan Kepala Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), Dr. dr.
Trihono, MSc., pada Kongres ke-IX Perhimpunan
Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) yang
bertema“Meningkatkan Peran PPTI dengan Cara Advokasi,
Komunikasi dan Mobilisasi Sosial”. Acara ini oleh dibuka oleh
Deputi III Bidang Kesehatan, Kependudukan dan Keluarga
Berencana (KB) Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan
Rakyat, dr. Emil Agustiono, M.Kes.. Hadir dalam acara tersebut, Istri
Gubernur Provinsi Bali, Ibu Ayu Pastika; Sekretaris Daerah Provinsi
Bali, I Made Djendra; dan Ketua Umum Pengurus Pusat PPTI, Ny.
Ratih Siswono Yudo Husodo,SH.
Wamenkes menyatakan, TB merupakan salah satu indikator
keberhasilan MDGs yang harus dicapai oleh Indonesia, yaitu
menurunnya angka kesakitan dan kematian menjadi setengahnya
di tahun 2015. Di dalam perkembangan dan pelaksanaan program
pengendalian TB, Indonesia telah berhasil menurunkan insidens,
prevalens, dan angka kematian.
 
“Berdasarkan pada angka pencapaian di tahun 2010 dibandingkan
Peran Aktif dan Semangat
Kemitraan Semua Pihak adalah
Kunci Menuju Indonesia Bebas TB
Tuberkulosis (TB) adalah masalah kesehatan masyarakat yang serius
tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia. Indonesia tercatat sebagai
penyumbang kasus terbesar nomor empat di dunia setelah India, China,
dan Afrika Selatan. TB juga menjadi penyebab kematian tertinggi kedua
di Indonesia setelah stroke. Diperkirakan ada 430 ribu kasus TB baru, dan
169 orang diantaranya meninggal setiap harinya. Kondisi ini sangat kritis
bila tidak ditangani dengan strategi yang tepat.
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM16
dengan baseline data tahun 1990, target MDGs yang ditetapkan
hampir semuanya dapat dicapai”, ujar Wamenkes.
 
Dikatakan, angka Insidens TB adalah 189/100.000 penduduk
(2010), menurun  45% dari 343/100.000 penduduk (1990). Angka
prevalensi TB adalah 289/100.000 penduduk (2010) turun sebesar
35% dari 443/100.000 penduduk (1990). Sementara angka
mortalitas TB adalah 27/100.000 penduduk (2010) atau turun
sebesar 71% dari 92/100.000 (1990).
 
Pada kesempatan tersebut, Wamenkes menyatakan masih
banyak tantangan dalam penanggulangan TB saat ini, antara lain
meningkatnya koinfeksi TB HIV; kasus TB Multi Drug Resistance
(MDR); dan belum optimalnya manajemen dan kesinambungan
pembiayaan program pengendalian TB.
 
“Kondisi tersebut diperparah dengan meningkatnya jumlah
penderita penyakit-penyakit degeneratif seperti gangguan
imunitas, masalah diabetes, meningkatnya angka perokok serta
tingkat  kemiskinan yang masih tinggi di Indonesia. Itu semua
sangat berpengaruh terhadap peningkatan angka kesakitan
akibat TB di Indonesia”, tambah Wamenkes.
Ditambahkan, penelitian yang dilakukan Badan Litbangkes
pada serial Riskesnas baik 2007 maupun 2010, diperoleh
beberapa fakta tentang TB, diantaranya TB masih merupakan
penyebab utama kematian terutama diwilayah timur Indonesia.
Kedua, pengetahuan dan pemahaman tentang TB dan
penularannyamasih rendah. Ketiga, banyak penderita TB yang
tidak tuntas dalam pengobatan. Selain itu, diperlukan terobosan
baru guna menurunkan prevalensi TB.
 
Pada akhirnya, keterbatasan sumber daya yang dimiliki
sektor pemerintah dan besarnya tantangan yang ditimbulkan
akibat penyakit TB, menjadikan pengendalian TB belum
dapat berjalan optimal. Demi keberlanjutan program, maka
dibutuhkan kemitraan antara berbagai sektor dengan NTP
(National Tuberkulosis Program). Kemitraan yang tentunya harus
berdasarkan visi untuk mewujudkan Indonesia Bebas TB pada
tahun 2050.
 
“Kunci keberhasilan menuju Indonesia bebas TB adalah peran aktif
dan semangat kemitraan dari semua pihak yang terkait melalui
gerakan terpadu dan sinergis yang bersifat nasional”, tandasnya.
Sekilas menilik sejarah, program Pengendalian TB di Indonesia
dimulai sebelum kemerdekaan RI. Pada saat itu program TB
masih dilakukan oleh pihak swasta dan ditujukan hanya bagi
kelompok masyarakat tertentu, sehingga terwujud pencanangan
program pengendalian TB secara nasional pada tahun 1969 yang
ditegaskan kembali tahun 1992 di mana Indonesia melakukan
ujicoba strategi Directly Observed Treatment, Short-course (DOTS)
untuk pertama kalinya. Setelah dilakukan uji coba, pada tahun
1995 strategi DOTS resmi menjadi strategi penanggulangan TB di
Indonesia, sebagaimana  direkomendasikan WHO. Sejak saat itu
program penanggulangan TB DOTS diekspansi dan diakselerasi
pada seluruh unit pelayanan kesehatan dan berbagai institusi
terkait. Tahun 2010, dalam rangka mendukung strategi nasional
program pengendalian TB, maka program diarahkan kepada
universal access untuk cakupan dan kualitas pelayanan DOTS
yang lebih luas.
Kongres IX PPTI diikuti 151 peserta terdiri dari dari 27 peserta
dari PPTI Pusat, 16 PPTI wilayah, 66 peseta dari PPTI Cabang, 6
peninjau dari PPTI Wilayah dan 35 pendengar dari PPTI pusat,
wilayah dan cabang.
Tujuan Kongres IX PPTI, selain untuk memilih Ketua umum PPTI
masa bakti 2012-2017 dan menilai laporan pertanggungjawaban
Ketua Umum sebelumnya, juga mengkaji anggaran dasar dan
anggaran rumah tangga (AD/ART), rencana strategi dan program
PPTI mendatang. Selain itu, dalam Konres ini juga akan dipilih
Ketua Badan Pengawas Perkumpulan.
Pada kesempatan tersebut juga diserahkan 333 tanda
penghargaan dan tanda jasa bagi institusi maupun perorangan
yang telah membantu pengembangan PPTI baik di tingkat Pusat,
Wilayah, dan Cabang. Secara rinci, penghargaan tersebut terdiri
dari 106 lencana Satya Bakti Utama, 81 Lencana Satya Bakti,
141 piagam dan 5 buah plakat. Secara simbolis, lencana Satya
Bakti Utama diberikan kepada Ketua Kehormatan Pengurus PPTI
Wilayah Bali, Ny. Ayu Pastika; Bupati Bantul Provinsi DI Yogyakarta,
Hj. Sri Surya Widati; Bupati Bulungan, Provinsi Kalimantan Timur,
Drs. H. Budiman Arifin; Ketua Pengurus PPTI Wilayah Jambi, H.
Hasan Kasim, SH; Ketua Kehormatan Pengurus PPTI Cabang Kota
Cimahi, Hj. Atty Suharti Tochija; Pengurus PPTI Cabang Kabupaten
Kutai timur Provinsi Kalimantan Timur, Hj. Nor Baiti Isran; dan
Bapak Arifin Panigoro, sebagai donatur PPTI. n(Pra)
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 17
MEDIAUTAMA
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM18
Nusa Tenggara Barat
“Teras Belakang”
Indonesia
Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), sebagai bagian dari‘teras belakang’Indonesia,
diakui masih banyak indikator masih‘terbelakang’. Peringkat Indek Pembangunan
Manusia provinsi NTB dalam 6 tahun terakhir masih berada di posisi 32 dari 33
provinsi yang ada, dengan skor 65,2, sedikit lebih baik dari provinsi Papua dengan
nilai 64,94 (BPS, 2010). Rendahnya IPM ini salah satu disebabkan oleh masih
rendahnya derajat kesehatan masyarakat di daerah ini.
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 19
MEDIA UTAMA
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM20
U
sia harapan hidup di NTB tahun 2010 tercatat 62,11
tahun, dibandingkan angka nasional 69,43 tahun
(BPS, 2010). Rendahnya UHH ini direfleksikan oleh
masih tingginya kematian bayi dan kematian ibu.
Angka Kematian Bayi di NTB terakhir (SDKI 2007)
tercatat 72 per 1000 kelahiran hidup (angka nasional 34), angka
kematian ibu sebesar 320/100.000 kelahiran hidup (angka
nasional 228).
Hal ini disampaikan Asisten III Provinsi NTB, Drs.H.Lalu Wildan
pada pertemuan koordinasi percepatan pencapaian MDG’s
provinsi NTB, 8 Mei 2012 di Lombok.
Menurut Lalu, jika memperhatikan angka-angka yang ada,
khususnya dari BPS, nampaknya program kesehatan di NTB
belum bergerak sebagaimana mestinya. Namun jika kita
merujuk pada data sektoral yang ada di Dinas Kesehatan,
sebenarnya ada perbaikan yang signifikan. Beberapa indikator
akses menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Beberapa contoh antara lain, cakupan K1 tahun 2011
sebesar 99,27 %, K4 sebesar 94,07 %, persalinan oleh tenaga
kesehatan sebesar 87,81 %, cakupan kunjungan bayi sebesar
100 %, Cakupan kunjungan posyandu 70,73 %. Hal ini
mengindikasikan bahwa hampir seluruh sasaran program telah
tersentuh program pelayanan kesehatan.
Namun demikian, kami menyadari adanya tantangan di aspek
kualitas pelayanan. Soal ketenagaan, 90% dari seluruh desa
yang ada (1031 desa/kelurahan) telah ada bidan desanya,
namun baru 53,8% yang pernah mengikuti pelatihan teknis.
Keberadaan Tim PONED di 49 puskesmas juga masih diwarnai
mutasi petugas yang terlalu sering, sehingga puskesmas
PONED belum bisa berfungsi secara optimal.
Provinsi NTB, yang biasa dikenal sebagai‘Bumi Gora’atau
Bumi Gogo Rancah. Daerah ini pernah sangat terkenal dengan
keberhasilan pola tanam padi system gogo rancah. Sampai
saat ini masih menjadi salah satu provinsi yang swasembada
pangan. Provinsi NTB terdiri dari 2 pulau besar, yaitu pulau
Lombok dan pulau Sumbawa, dengan variasi demografi serta
topografi yang bertolak belakang.
“Pulau Lombok dengan luas 1/3 dari NTB berpenduduk 2/3 dari
total penduduk NTB yang berjumlah 4,5 juta orang. Sebaliknya,
Pulau Sumbawa dengan luas 2/3 berpenduduk hanya 1/3 dari
total penduduk NTB. Perbedaan ini berimplikasi pada pola
pengelolaan program kesehatan, besar alokasi sumber daya
serta tantangan program, cenderung fokus di pulau Lombok,”
ujar Lulu.
Menurut Lalu, upaya untuk memperbaiki IPM, derajat kesehatan
masyarakat secara umum telah menjadi prioritas utama
pemerintah provinsi NTB. Di antaranya, melalui program
unggulan Gerakan AKINO (Angka kematian ibu nol) telah
diupayakan percepatan dalam berbagai aspek program. Seperti
pemerataan tenaga kesehatan yang berkualitas, khususnya
di desa. Optimalisasi sarana prasarana kesehatan seperti;
alat kesehatan, obat, dan logistik lainnya. Perbaikan system
pelayanan, khususnya system rujukan. Pembiayaan kesehatan
serta upaya pemberdayaan masyarakat melalui program yang
terintegrasi dengan penanggulangan kemiskinan.
Menyadari, percepatan pencapaian pembangunan millennium
di NTB terkait koordinasi program yang kuat antara provinsi
dan kabupaten/kota, maka rumusan kongkrit koordinasi itu
dilakukan.“Di tempat ini pula, 9 Mei 2012 telah ditandatangani
MOU antara Pemerintah Kabupaten/Kota dengan pemerintah
Provinsi tentang koordinasi dalam peningkatan dan
perlindungan kesehatan ibu, bayi dan anak balita. MOU
tersebut sebagai tindak lanjut dari adanya Perda Nomor 7 tahun
2011 tentang peningkatan dan perlindungan kesehatan ibu,
bayi dan anak balita,”ujar Asisten III.
Menurut Lalu, dalam MOU dan perjanjian kerjasama itu
selanjutnya diatur peran masing-masing pihak dalam
percepatan peningkatan kesehatan ibu, bayi, dan anak balita. Di
antaranya penuntasan (total coverage) distribusi tenaga bidan
di desa, pelatihan teknis, pelibatan pemerintah desa dalam vital
statistic kelahiran dan kematian di tingkat desa, dan sharing
peningkatan sarana prasarana penunjang.
Asisten Administrasi Umum dan Kesejahteraan Rakyat NTB ini
berharap, semua pihak menyamakan persepsi dan langkah
nyata dalam memandang persoalan kesehatan di NTB. Mencari
solusi yang cerdas sehingga provinsi NTB tidak lagi menjadi
‘headline’ di pentas nasional sebagai provinsi yang terbelakang
di bidang kesehatan. n ( Pra)
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 21
“BOK dan Banjar nganak”
di Lombok Tengah
H
al ini disampaikan Abdullah, selaku Lurah Kelebuh
saat menerima kunjungan kerja rombongan
Kemenkes di Desa Kelebuh, Kecamatan Praya Tengah,
Kabupaten Lombong Tengah, Nusa Tenggara Barat,
8 Mei 2012 yang lalu. Menurut Abdullah, kegiatan
banjar nganak ini diselenggarakan kelompok masyarakat desa.
Mereka yang melahirkan di sarana kesehatan akan mendapat
uang arisan sebesar Rp 350.000.“Dengan adanya banjar nganak,
ibu hamil di desa Kelebuh 90% melahirkan di sarana kesehatan,
khusus di Pos Kesehatan Desa Kelebuh,”ujar Abdullah.
Banjar nganak, mempunyai kegiatan menghimpun, menerima
dana dari masyarakat dan pemerintah, kemudian menyalurkan
kepada masyarakat, khususnya ibu yang melahirkan di pelayanan
kesehatan, seperti puskemas atau pos kesehatan desa.
Menurut Abdullah, Kepala Desa Kelebuh, untuk mendorong
masyarakat, khususnya para ibu hamil bersedia melaksanakan
persalinan di pelayanan kesehatan, perlu mendapat insentif. Nah
untuk memperoleh sejumlah dana tersebut, maka dibentuklah
Banjar Nganak yang dikelola oleh masyarakat, dari masyarakat dan
untuk masyarakat.
Untuk mendorong masyarakat bersalin di sarana kesehatan,
tidak cukup dengan hanya member insentif, tapi juga perlu
motivasi dari tenaga kesehatan di Puskemas, seperti bidan dan
perawat.“Para tenaga bidan dan perawat ini harus turun menyapa
masyarakat di posnyandu-posyandu yang menjadi binaannya,
melakukan promosi kesehatan, menjelaskan persalinan yang
sehat,”ujar Abdullah.
“Hanya saja, jumlah tenaga kesehatan belum mencukupi untuk
melayani masyarakat di posnyandu dan sarana kesehatan seperti
puskemas dan poskesdes saat bersamaan. Sehingga, bila sedang
melakukan penyuluhan di posnyandu, maka terjadi kekosongan
pelayanan di puskesmas pembantu atau poskesdes, begitu juga
sebaliknya,”kata Kepala Desa Kelebuh.
Ketika berdialog dengan peserta pembina kesehatan terpadu
dari pusat, kepala desa, lebih memilih petugas kesehatan
mengutamakan preventif dan promotif di posnyandu dari pada
melaksanakan kuratif di puskesmas. Untuk menyelesaikan masalah
tersebut, kemudian disepakati agar setiap bidan dan tenaga
kesehatan menempel jadwal kegiatan penyuluhan disertai Nomor
Hp di Puskesmas. Sehingga, ketika ada masyarakat yang ingin
mendapat pelayanan petugas kesehatan dapat menghubungi
atau mendatangi ke tempat penyuluhan.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kesehatan Lombok
Tengah, dr. Eka Dewi, M.Kes menjelaskan masyarakat Lombok
Tengah yang memperoleh jaminan kesehatan (jamkesmas)
sebanyak 52 %, sedang sisanya menggunakan jaminan kesehatan
daerah ( jamkesda), surat keterangan tidak mampu (SKTM) dan
kearifan lokal seperti“banjar nganak”. Untuk meminimalisir
terjadinya peningkatan besaran dana untuk melayani pengobatan,
maka pihaknya lebih mengutamakan program promotif dan
preventif,”ujar dr. Eka.
Menurut Kadinkes, dengan adanya dana BOK, sangat membantu
kegiatan operasional puskesmas dan kegiatan kesehatan
masyarakat, seperti bulan gizi dan transportasi petugas untuk
kunjungan penyuluhan masyarakat.“Program yang dibiayai BOK
terlebih dahulu diputuskan dalam lokakarya puskesmas. Walau
demikian, puskesmas juga melakukan program nasional maupun
lokal kabupaten,”jelas dr. Eka.
Besaran dana transportasi petugas, biasanya menggunakan harga
perhitungan kabupaten (HPS). Kisaranya antara Rp 20.000-Rp
Setiap ibu hamil mengikuti arisan. Kemudian uang arisan tersebut
diterima saat melahirkan. Kegiatan arisan ibu hamil di Posnyandu
dikenal dengan“banjar nganak”atau arisan ibu hamil ala Lombok
Tengah. Ibu hamil yang mengikuti arisan ini dipastikan melahirkan
di sarana kesehatan. Mengapa ? Saat berkumpul arisan itulah
petugas kesehatan memberikan penyuluhan, pentingnya
melahirkan di sarana kesehatan dan dilakukan petugas kesehatan.
Sebab, dengan kedua hal tersebut, akan menghadirkan persalinan
“ ibu sehat dan bayi selamat”.
MEDIA UTAMA
Abdulah
dr. Eka Dewi, M.Kes
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM22
25.000,-. Tergantung jarak yang ditempuh. Apabila lebih terpencil
akan ditambah lagi besarannya.“Semakin jauh jarak, semakin
besar. Saat ini terdapat 19 desa terpencil,”ujar dr. Eka.
“Untuk pemakaian dana, memang banyak komponen.
Penggunaanya bergantung situasi. Untuk gizi buruk, sepakat
menggunakan dana APBD, tapi gizi kurang menggunakan dana
BOK. Bila ada dana PNPM, maka dana BOK tidak digunakan. Ada
kesepakatan mana yang didanai BOK, APBD Kabupaten dan
PNPM ataupun yang lainnya,”tambah Kadinkes.
Menurut dr. Eka, terkait optimalisasi dana BOK, pengalaman tahun
lalu, berbeda dengan tahun 2012. Tahun lalu, dana BOK turunnya
terlambat, kemudian masih banyak sekali hal yang simpag siur.
Tahun ini, lebih efektif dan efesien pemakaiannya, sebab dana
turun awal januari tahun 2012 dan aturan lebih fleksibel. walau
kalau dihitung tingkat kabupaten, bulan mei ini penyerapannya
baru 24 %. Untuk tingkat puskesmas variatif, penyerapan antara
20-26 %.
“Agar programnya lancar, harus mendisiplinkan penyerahan
uang dan penyerahan laporan. Uang berikutnya dicairkan,
setelah laporan kegiatan sebelumnya diserahkan. Karena alur ini
tidak berlangsung lancar, akhirnya hanya memberi uang muka,
kemudian sisanya diberikan setelah memasukan laporannya. Hal
ini dilakukan untuk menghindari dana sudah keluar, tapi laporan
tidak segera masuk”, ujar dokter yang pernah menjadi Direktur
RSUD Lombok Tengah ini.
Menurut Kadinkes, selain mendisiplinkan laporan yang harus
masuk setiap tanggal 10 bulan berjalan, juga harus membagi
habis tugas. Sebab, ada petugas puskesmas, satu orang
memegang sekian banyak program. Merangkap-rangkap,
sehingga sangat sibuk. Akibatnya, kegiatan tidak selesai seperti
rencana.
Ketika ditanya indikator output tentang BOK, Ia belum bisa
bicara banyak karena memang tahun lalu, saat BOK diluncurkan
situasinya tidak ideal. Mungkin, baru bisa bicara pada tahun 2013
setelah melihat perjalanannya.
Tapi paling tidak, para pelaksana, saat ini dapat mengerjakan
dengan“tenang”, karena tersedia sumber pendanaannya. Sebab,
tidak semua program dapat terpenuhi menggunakan dana APBD.
Maklum, Lombok Tengah, APBDnya 60% untuk belanja pegawai.“
Di sini masalahnya,”ujarnya heran.
Menurut Kadinkes, agar terjadi percepatan, harus menguatkan
monitoring, evaluasi dan bimbingan teknis. Sebab, tanpa ini,
percepatan tak akan terjadi. Untuk mengejar percepatan,
“Kami membagi kabupaten menjadi empat wilayah binaan.
Setiap Kepala Bidang, punya wilayah binaan. Setiap pembina
bertanggung jawab terhadap wilayah binaan dalam bidang
apapun, termasuk BOK,”ujar dr. Eka menjelaskan.
“Misal, ada bidang yang bertanggung jawab 6 puskesmas. Maka,
mulai kegiatan mini lokakarya puskesmas, Dia wajib hadir, karena
dia yang punya binaan. Mereka harus mengawal rencana kerja
yang sudah disusun. Bila puskesmas ada keraguan, pembina harus
membantu menyelesaikannya”, kata dr.Eka.
Secara umum, penyerapan dana BOK, 50 % untuk transport
petugas puskesmas baik ke posyandu atau tugas pokok
puskesmas lainnya. Sedangkan 10% untuk pemeliharaan.“Ketika
program sudah mulai jalan, jangan ganti kebijakan lagi. Boleh
berubah, kalau sudah jelas evaluasinya. Terutama kebijakan
penggantinya lebih mudah dan berkesinambungan dengan
program sebelumnya. Juga harus selaras dengan kearifan lokal,
seperti banjar nganak”ujar dr. Eka memberi saran. n ( Pra)
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 23
Apa yang melatarbelakangi munculnya program BOK ?
Latar belakang munculnya BOK ini karena ada masalah
pelayanan kesehatan di tingkat lapangan, selain fasilitas,
SDM, ternyata juga ada masalah dengan anggaran.
Sementera daerah mempunyai APBD yang berbeda-beda,
padahal kita menginginkan puskesmas sebagai garda
terdepan dalam pelayanan kesehatan dapat tampil secara
bagus dalam mencapai target MDG’s. Kalau tidak ada
upaya yang ekstra, khawatir target MDG’s tidak tercapai,
khususnya dalam penyediaan biaya.
Untuk itu dikeluarkan kebijakan penambahan biaya
yang langsung dapat digunakan oleh puskemas, dengan
nama tugas perbantuan (TP) dengan peraturan Menteri
Keuangan. Tugas perbantuan ini sangat spesifik, hanya
digunakan untuk pembangunan nonfisik. Besarannya
berdasarkan klasifikasi karena faktor geografis dan lain
sebagainya.
Ada empat regional besaran anggaran BOK yakni; pulau
Sumatera, Jawa-Bali mendapat Rp 75 juta/puskesmas/
tahun, Kalimantan, Sulawesi Rp 100 juta/puskesmas/tahun,
Maluku Rp 200 juta/puskemas/tahun dan Nusa Tenggara
Timur, Nusa Tenggara Barat dan Papua Rp 250 ribu/
puskesmas/pertahun.
Mengapa penyerapan BOK masih rendah?
Untuk pelaksanaan BOK, telah dikeluarkan petunjuk
teknis BOK. Tahun 2010, dalam petunjuk teknis tersebut
dijelaskan 5% dari anggaran dapat digunakan untuk
pembelian barang yang ringan-ringan seperti membeli
ember, perbaikan puskesmas yang ringan-ringan. Hanya
saja, pada saat itu tingkat penyerapannya rendah, sekitar
60%. Kemudian dilakukan evaluasi, mengapa penyerapan
rendah ? Setelah terjun ke 21 provinsi, tenyata ada masalah
teknis seperti pemahaman lokakarya mini di puskesmas
belum pas. Mereka kurang memahami mekanisme
pengajuan anggaran. Berikutnya terkait dengan
penggunaan anggaran. Mana yang boleh dan mana yang
tidak boleh. Ternyata, peraturan tahun 2010 terlalu rijit
dan kaku, sehingga menyulitkan pelaksana di tingkat
puskesmas.
Setelah mendapat masukan dari berbagai pihak, termasuk
dari daerah, kemudian disepakati 10% dari anggaran
dapat digunakan untuk perbaikan puskesmas, tetapi
nilainya kurang dari Rp 300 ribu, agar tidak menjadi aset
negara. Hal ini dilakukan untuk menghindari keharusan
menghibahkan barang yang sudah dibeli. Sebab kalau
harus menghibahkan akan menjadi kesulitan tersendiri di
kemudian hari.
Kebijakan bantuan operasional kesehatan (BOK), menjadi harapan besar
guna mencapai target MDG’s 2015. Mekanisme penyaluran BOK dengan
tugas perbautuan khusus, menungkinkan puskesmas mengguanakan tanpa
hambatan. Buku petunjuk teknis telah dibuat dan didistribusikan sebelum
tahun berjalan. Harapanya, penyerapan menjadi lebih baik dan akuntabel, juga
dapat mendongkrak capaian penurunan angka gizi buruk, angka kematian
bayi dan ibu. Lalu bagaimanakah kebijakan yang diambil Kementerian
kesehatan untuk mewujudkan harapan itu ? Berikut penjelasan Dirjen Bina Gizi
dan KIA Kemenkes, Dr.dr. Slamet Riyadi Yuwono, DTM&H, MARS.
Dr.dr. Slamet Riyadi Yuwono, DTM&H, MARS:
Kebijakan Bantuan
Operasional Kesehatan
MEDIA UTAMA
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM24
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 25
MEDIA UTAMA
Saat ini, antara biaya manajemen provinsi, kabupaten/kota
mendapat dana sendiri, sedangkan dana kegiatan BOK
tersendiri untuk puskesmas. Kegunaan dana BOK dapat
digunakan untuk gizi, kesehatan ibu/anak, penyakit menular,
kesehatan haji, termasuk untuk tranportasi kader.
Seberapa besar daya ungkit BOK mencapai target MDG’s ?
Dalam pelakasanaan BOK, dari proses diharapkan tingkat
penyerapan lebih tinggi dan dari segi dampak dapat
menurunkan angka gizi buruk, angka kematian ibu, angka
kematian bayi. Walau, penurunan itu, tidak semata-mata
karena BOK, paling tidak ada andil dalam penurunan tersebut.
Yang jelas evaluasi awal tahun 2012, serapannya lebih
baik dibanding tahun 2010. Hal yang membedakan, tahun
2011 juknis baru keluar pada Maret 2011 dan tahun 2012,
juknis sudah keluar Desember 2011. Sehingga per Januari
2012 juknis dan keuangannya sudah jelas semua. Dengan
demikian, diharapkan 2012 cakupan penyerapannya akan
lebih baik.
Terkait dengan implementasi juknis, keberhasilan BOK
bergantung pada terlaksananya lokakarya mini ditingkat
puskesmas. Apabila lokakarya mini berjalan dengan baik,
kemudian tersusun perencanaan yang baik, maka tidak akan
ada kebingunan dikemudian hari dalam implementasinya.
Program yang diusulkan hendaknya yang dapat langsung
menyentuh kesehatan masyarakat terkait dengan penurunan
gizi buruk, angka kematian bayi dan ibu. Bila tidak cermat,
dana ini akan digunakan untuk membangun puskesmas yang
tidak ada dampak langsung kepada masyarakat.
Sampai kapan program BOK ?
Program BOK akan tetap diperjuangkan, paling tidak sampai
tahun 2016 untuk mencapai target MDG’s tahun 2015. Setelah
itu, pasti akan ada perubahan setrategi lain, apalagi dengan
adanya Badang Pengelolaan Jaminan Sosial (BPJS).
Pada tahun 2013, kemungkinan besaran dana BOK akan
bertambah besar, khususnya Maluku, akan sama dengan
provinsi NTT karena kesamaan geografisnya. Juga tergantung
kemampuan anggarannya.
Dengan adanya BPJS, pasti akan ada perubahan. Perubahan
itu, prinsipnya harus lebih baik. Sistem baru harus dapat
mengkaver sistem lama yang sudah berjalan. Sebab orang
sakit tidak dapat tertunda pelayanannya, walau hanya
sedetik. Jadi harus dipastikan sistem yang baru dapat
berjalan, sebelum membubarkan sistem yang lama. Ibaratnya;
membuat jembatan baru, maka jembatan lama jangan
dirobohkan, sebelum jembatan baru, benar-benar berfungsi
secara baik.
Bagaimana pengaturan dana BOK di era otonomi daerah?
Di era otonomi ini, pusat tidak membuat juknis yang kaku,
tapi masih memberi ruang kepada daerah untuk menentukan
besaran sesuai kebutuhan. Misal, ada daerah yang rata-rata
puskesmasnya mendapat Rp 250 ribu/puskesmas. Mereka
dapat mengatur khusus puskesmas yang dekat, transportasi
mudah medapat Rp 200 ribu, sedangkan puskesmas dengan
daerah yang sulit dijangkau mendapat dana yang lebih besar.
Hanya saja, dengan adanya dana BOK yang berasal dari APBN,
kemudian daerah mengurangi dana kesehatan yang berasal
dari APBD. Misal, pemerintah daerah mengetahui bahwa
puskesmas mendapat anggaran APBN, kemudian daerah
mengalihkan anggaran APBD untuk kegiatan yang lain.
Padahal BOK itu hanya sekedar suplemen saja.
Memang untuk beberapa daerah yang rendah dana APBDnya,
mereka menggunakan APBN tidak sesuai dengan peruntukan.
Untuk itulah, perlu turun ke daerah-daerah melakukan
advokasi, agar pemerintah daerah menggunakan anggaran
tepat sasaran dan langsung menyasar pada masyarakat.
Secara berjenjang advokasi ini sudah dilaksanakan, diawali
dengan sosialisasi tingkat nasional untuk peserta provinsi dan
sosialisasi tingkat provinsi untuk peserta kabupaten / kota.
Saat ini, NTB banyak mendapat bantuan, seperti dari Nice,
PNPM dan berbagai bantuan lain dengan sasaran yang sama.
Untuk itu, harus ada pemetaan yang akurat terhadap sasaran,
sehingga bantuan tersebut menjadi lebih bermanfaat bagi
peningkatan kesehatan masyarakat.
Bagaimana kebijakan BOK dibuat ?
Manajemen modern seperti sekarang ini, harus mampu dan
mau tangannya kotor dan berlumpur. Harus mau terjun ke
bawah, mengetahui apa sih yang terjadi. Dari dari situlah
masukan dari bawah untuk membuat kebijakan. Tidak bisa
kebijakan dibuat hanya dengan meneropong dari ke jauhan.
Padahal, di NTB ada daerah yang harus ditempuh melalui
udara dan ditempuh dengan kapal berjam-jam. Bagaimana
kalau melakukan rujukan. Model alat transportasi, kondisi
masyarakat miskin, tidak punya kartu, tidak punya jaminan.
Mereka dapat berobat tapi harus ada surat yang ditanda-
tangani kepala dinas kabupaten/kota yang jauh jarak
tempuhnya.
Jadi, ini contoh membuat kebijakaan, harus aplikatif, sesuai
dengan masalah di daerah. Saya harus mendengarkan
masalah mereka dalam pertemuan seperti ini (pembinaan
terpadu di NTB), walau sampai malam. Artinya, dia harus
menyampaikan apapun tentang masalah yang dihadapi dan
cara menyelesaikannya. Dengan demikian kebijakan akan
membantu dalam pelaksanaan dilapangannya. n (Pra)
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM26
Mengapa ada BOK? Jika ditarik ke belakang, subtansinya karena
ada masalah kesehatan, terutama ketidakberdayaan anggaran.
Sehingga program yang bagus tidak dapat mengagkat derajat
kesehatan masyarakat. Gagasan awal BOK, pernah dibahas di
NTB bersama Dr. Triono Sundoro. Jadi NTB ini punya catatan
sejarah untuk melahirkan BOK, ujar Kadinkes Provinsi NTB, dr.
Moch. Ismail, 8 Mei 2012 di Mataram, NTB.
Munculnya gagasan bantuan langsung ke puskesmas, akan
menjawab hambatan operasional pelayanan kesehatan di
Puskesmas.“Setelah ada BOK, harus menjadi pendorong
kepala kesehatan kabupaten/kota sebagai kepala manajemen
operasional. Juga mendorong kepala Puskesmas sebagai
manajer operasional tingkat desa atau lapangan. Mereka
harus maksimal memanfatakan kemampuan dan biaya untuk
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,”ujar dr. Ismail.
Menurut dr. Ismail, setelah ada BOK, tidak ada alasan kesulitan
anggaran. Walau terkadang secara teknis pelaksanaan, masih
ada yang harus dipertegas boleh atau tidak.“Nah, di sinilah
tantanganya bagi teman teman sebagai manager lapangan,”
tegas Ismail.
Bicara tingkat taktik strategi, memang sudah diatur dalam
pedoman. Benar, dalam pelaksanaan ada beberapa hal yang
dr. Moch. Ismail:
BOK harus
“ Ekstra hati-hati”
kadang-kadang dalam bahasa hukum“multi tafsir”. Sehingga
beberapa orang masih tarik ulur. Mau dikerjakan atau tidak. Tapi,
ada potensi untuk melaksanakan. Sebab, bila tidak dikerjakan
menyebabkan banyak masalah lagi.“Di sini Kepala Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota mempunyai kewenangan untuk
meng-ajust oke, kegiatan dapat dilaksanakan, tapi harus ekstra
hati hati,”kata Ismail.
Sejak awal, tujuan utama BOK untuk peningkatan pelayanan
kesehatan di Puskesmas. Sebetulnya, di NTB sudah menunjukkan
trent positif. Tapi, bila membicarakan signifikannya atau
akselerinya, belum cukup signifikan. Memang masih penuh
perjuangan. Mengapa? Perlu dipahami awal kegiatan dengan
harus ekstra hati hati. “Alhamdulilah, dilihat dari angka
angka yang ada sudah tampak, teman-teman dari lapangan
mengatakan‘suatu anugerah’dengan adanya BOK. Petugas
kesehatan menjadi lebih sering berinteraksi dengan masyarakat,”
imbuh Ismail.
Kadinkes berharap, pertama; jajaran provinsi, kabupaten/kota
dan puskesmas menjalankan fungsi seperti yang sudah diatur
dalam pedoman, dengan menjalankan secara optimal. Kedua,
bila menemukan hambatan atau katakanlah kendala, kerjakan
sesuai jalur yang sudah ditetapkan. Ketiga, bertanggung jawab
secara akuntabiltas n ( Pra)
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 27
MEDIA UTAMA
S
uatu hari, saya bertugas
mendata keluarga sejahtera.
Waktu itu, kebetulan menjumpai
keluarga polisi. Saya berulang
kali memberi salam, ada empat
kali, tapi tak mendapat balasan, padahal
terdengar suara sendok dan piring
berbunyi, seperti sedang makan. Saat lain
waktu, keluarga tersebut saya datangi lagi
menyampaikan vitamin A untuk balitanya,
tapi mereka menolak dengan berkata,“Aku
tak perlu vitamin A itu, sudah diperiksa
sama dokter,”katanya. Saya diacuhkan,
tak dianggap. Akhirnya, saya tinggalkan
rumah itu. Saat lain lagi, saya titip pesan
sama cucunya, agar nenek bersedia
mendatangi pos bindu, tapi tak datang
juga. Entah mengapa?
Wanita asal Mataram ini, tetap bekerja
dengan ikhlas. Ia mendapat dukungan
suami tercinta yang selalu memberikan
semangat untuk melakukan kebaikan,
sebagai kader kesehatan.“Sekarang ini,
saya sedang melakukan sosialisasi dan
pembagian TABURIA ke masyarakat.
Karena terbatasnya sosialisasi yang
dilakukan, masyarakat tidak mengetahui
aturan pemberian TABURIA ke anak.
Seharusnya 1 bungkus untuk 2 hari,
dihabiskan dalam satu hari saja.“Sewaktu
taburia habis, pernah anak mogok tidak
mau makan, kalau tidak pakai taburia,”
Cerita Hj. Marlina.
Itulah salah satu kisah kegiatan Hajah
Marlina, begitu panggilan akrabnya.
Sudah 25 tahun mengabdi menjadi
kader kesehatan di Provinsi NTB. Banyak
pengalaman dan pelajaran yang ia
dapatkan. Suka dan duka tentu telah
dirasakan. Pekerjaan dijalani dengan
rasa syukur. Terima saja pemberian dari
yang Mahas Kuasa.“Yang terpenting
niatnya ikhlas mudah-mudahan Allah
membalasnya”ujar Hj. Marlina .
Menurut Hj. Marlina, para kader
yang bertugas tidak mengharapkan
penghargaan dari pemerintah atau dari
siapap un. Seiring dengan perjalanan
waktu, penghargaan masyaraka mulai
mengalir.“Mereka sudah baik dengan
kader, terbuka menerima program pos
Kisah Kader Posyandu: Hj. Marlina
Tanpa Taburia,
Anak mogok makan
nyandu, menurut kami itu sudah cukup”,
ujar Hj. Marlina.
Terkadang kader-kader kesehatan
mendapatkan hal yang tidak
menyenangkan dalam menjalani tugasnya.
Namun kader menanggapi dengan
senyuman dan tidak membalas dengan
perlakuan yang tidak menyenangkan.
Mereka berlaku seperti itu karena tidak
paham.“Jadi, itu hal yang wajar. Maka, jika
kami bertemu dengan mereka, tetap akan
memberi pengarahan dan penjelasan
tentang kesehatan,”ujarnya dengan penuh
kelembutan.
Akhirnya, usaha para kader-kader ini
membuahkan hasil. Masyarakat yang
tadinya tidak menghargai keberadaan
dan usaha-usaha yang dilakukan kader
kesehatan, kini mulai mendatangi kegiatan
posyandu dan posyandu lansia,”ujarnya
riang.
Hj. Marlina yang bersuamikan guru SD dan
pengurus masjid ini, tetap menyambangi
masyarakat mengajak ke Posyandu.
“Biasanya orang-orang elit yang tidak mau
ke posyandu. Alasannya, mereka hanya
mau mendatangi dokter.“
Para kader-kader ini tidak menerima
honor. Secara insidentil, mereka hanya
menerima uang transport untuk
pembagian TABURIA sebanyak Rp 50.000,-.
Itupun harus dibagi 5 orang. Jadi setiap
orang mendapatkan Rp 10.000,- n(Pra)
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM28
B
antuan Operasional Kesehatan
(BOK) menjadi salah satu
bantuan pemerintah untuk
operasional pelayanan
kesehatan di puskesmas. Dana
tersebut digunakan untuk promosi
kesehatan, survey PHBS rumah tangga,
pembinaan desa siaga, desa siaga aktif dan
transport penyuluhan ke sekolah-sekolah.
Seluruh kegiatan tersebut diambil dari
anggaran BOK, termasuk digunakan untuk
transport kader kesehatan dan menunjang
kegiatan kesehatan lainnya.
Menurut petugas puskesmas Bayan
KLU, Lombok Utara, Indra Marsinta,
SKM, pembinaan desa siaga dilakukan
2 kali dalam setahun. Jadi setiap enam
bulan melakukan sosialisasi di tingkat
kecamatan. Dalam Sosialisasi tersebut,
Kecamatan mengundang petugas yang
ada pada 9 desa. Dana BOK dipergunakan
untuk tranportasi para undangan
sosialisasi dari desa ke kecamatan.
Selain itu, dana BOK digunakan sebagai
penunjang sosialisasi Desa Siaga Aktif
seperti membuat tanda Desa Siaga aktif
dll. Contohnya di Desa Karang Bajo yang
dijadikan desa percontohan di kecamatan
bayan sebagai Desa Siaga Aktif.
Untuk kegiatan PHBS, survey kesehatan
memerlukan biaya penggandaan
kuesioner yang biayanya juga diambil dari
dana BOK. Sedangkan dalam kegiatan
penyuluhan, dana BOK digunakan sebagai
dana transportasi petugas puskesmas
yang memberikan penyuluhan di sekolah-
sekolah.
Setiap puskesmas diberikan jatah masing-
masing sesuai dengan luas wilayah
dan banyaknya populasi di daerahnya.
“Kebetulan puskesmas Bayan yang paling
banyak, karena wilayahnya yang paling
besar,”ujar Indra Marista.
Keterlambatan cairnya dana BOK,
tidak menyurutkan semangat petugas
puskesmas ini bekerja. Biasanya pada
awal-awal tahun pasti telat. Untuk
menutup biaya kegiatan puskesmas,
mereka menggunakan dana puskesmas
yang masih ada.“Sambil menunggu
dana BOK turun kami tetap menjalankan
Terima Kasih BOK
program-program kerja puskesmas
dengan menggunakan dana sisa
puskesmas,”ujarnya.
Menurut Indra, angka kematian di NTB
yang masih tinggi membuat puskesmas di
NTB ini harus memiliki program kerja yang
jitu untuk mengurangi angka kematian
tersebut. “Untuk kesehatan Ibu dan anak,
kami lebih mempromosikan kesehatan
untuk ibu-ibu hamil. Dengan memberikan
penyuluhan dari hamil sampai proses
melahirkan. Mulai dari mengingatkan
pola makanannya sampai melakukan
proses melahirkan di sarana kesehatan
dan ditolong oleh petugas kesehatan,”ujar
Marsita.
“Terus terang, saya kurang mengerti
presentasi ibu yang melahirkan di
Sarana Kesehatan, sebab masih ada
ibu yang melahirkan di dukun. Tapi,
terjadi perubahan besar dirasakan ketika
Gubernur NTB mencanangkan kebijakan
penurunan angka kematian ibu dan anak.
“Dulu masih banyak yang melahirkan di
dukun,”ujarnya miris.
Kerjasama telah dilakukan antara bidan
dan petugas kesehatan lainnya, dengan
bina wilayah untuk terus mensosialisasikan
agar melahirkan di sarana kesehatan.
Untuk mendukung program tersebut,
telah diberikan ambulance dusun.
Sebelum ada ambulance dusun biasanya
menggunakan ojek. Biaya naik ojeknya
akan dibayar oleh puskesmas dengan
menggunakan dana dari JAMKESMAS.
Bantuan ojek diberikan berdasarkan jarak
tempuh dari rumah pasien ke puskesmas.
“Kalau dari rumah ke POLINDES itu Rp 15
ribu rupiah. Bila dari rumah ke Puskesmas
itu Rp 25 ribu,”ujar Marsinta.
Menurut Indra, perbedaan tarif ojek ini
dikarenakan setiap desa atau dusun
memiliki polindes masing-masing
dengan jaraknya lebih dekat. Sedangkan
puskesmas hanya ada di kecamatan, jadi
jaraknya lebih jauh.“Sampai sebegitunya
kita, Pak,”ujarnya penuh haru. Bahkan
bidan pun terkadang mengeluarkan
biaya untuk diberikan ke ibu yang hamil
agar mau bersalin di sarana kesehatan.
Tidak dipungkiri memang masih ada
yang melahirkan di dukun, namun sudah
berkurang.
Dengan adanya jaminan persalinan
(JAMPERSAL ) jelas membuat masyarakat
senang karena tidak mengeluarkan
biaya untuk proses kehamilan. Biasanya
kendala biaya yang membuat masyarakat
melakukan proses kehamilan dan
melahirkan di rumah dan dibantu oleh
dukun.“Dengan adanya JAMPERSAL
masyarakat sudah tidak memikirkan biaya
persalinan,”ujar Marsinta. n (Pra).
Indra Marista, Skm
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 29
MEDIA UTAMA
T
ingginya angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian
bayi (AKB) di NTB, masih menyisakan pertanyaan dan
harus diselesaikan. Terus terang, data yang dikeluarkan
BPS dan data dari kabupaten/kota, berdasarkan
angkanya jauh sekali berbeda. Pernah, suatu hari kami
terpaksa mengkonfrontir tentang tingginya angka kematian
bayi dan ibu. Ternyata BPS, tidak menghitung di lapangan.
Mereka menggunakan asumsi-asumsi. Di antara asumsinya:
NTB angka pernikahan dininya sangat tinggi, asumsinya pasti
bayi banyak mati. Walau belum tentu mati. Tapi, mereka begitu
menghitungnya.
Demikian disampaikan Gubernur NTB, Tuan Guru Haji Zainul
Majdi, MA saat menyambut kehadiran Dirjen Gizi dan KIA
Kemenkes, dr. Slamet Riyadi Yuwono dan rombongan, 8 Mei 2012
di Kantor Gubernur NTB.
Menurut Tuan Guru, begitu pernikahan dini tinggi, maka keluar
skors sekian. Bila tenaga kesehatan korelasinya kurang, keluar
skors sekian, walaupun data riel yang dikumpulan dari seluruh
kabupaten/kota berdasarkan data kematian bayi yang riel jauh
rendah dibanding data BPS.“Bukan hendak mendebat, tapi itu
mungkin metode baku internasional. Tapi, pertanyaannya mana
sih data yang benar? Yang benar-benar meninggal atau yang
diasumsikan meninggal? Menurut saya, tentu yang benar benar
meninggal. Bukan bermaksud membela diri lho,”ujar Zainul.
Gubernur mengakui, merasa terganggu, NTB berstatus daerah
angka kematian bayi dan kematian ibunya.“Apa benar rata-rata
Kemenkes siap turunkan
AKI dan AKB di NTB
kematiannya lebih tinggi dari Papua, Maluku utara, atau beberapa
daerah yang banyak masalah kesehatan,”tanya Gubernur.
Menurut Zaenul, tingkat pendapatan NTB tinggi, urutan
ketujuh secara nasional. Bagaimana mengkorelasikan antara
pertumbuhan ekonomi dan tingkat ekonomi yang terus
membaik, tapi tingkat kesehatannya terus menurun?“Setahu
saya, justru korelasinya sangat positif, jika ekonomi naik biasanya
tingkat kesehatan juga naik. Nah, bagaimana menjelaskan
ekonominya makin bagus tapi angka angka statistik kesehatannya
terus menurun?”tanya gubernur lagi. Untuk itu, Zaenul
berharap, semoga Kementerian Kesehatan mampu memberi
pendekatan program yang lebih tepat memotret kesehatan NTB.
“Barangkali harus berpikir, biarlah BPS berbicara begitu, yang
penting di lapangan secara de facto data berbeda dan lebih baik
berdasarkan sweaping door to door, karena kita terus bekerja
menurunkan AKI dan AKB di NTB,“ ujar gubernur.
Untuk menyikapi masalah tersebut, dr. Slamet Riyadi Yuwono,
mengatakan Kemenkes siap terjun ke lapangan bersama
bupati/walikota untuk turunkan AKI dan AKB NTB. Hanya saja,
era otonomi, kadang ada hambatan warna kulit, parpol dan
sebagainya. Tapi, kami mencoba untuk netral.“Kami minta
diberikan jalan oleh pak gubernur untuk masuk menjalankan
dengan sebaik baiknya. Kemudian, profesi kesehatan secara
berkala membedah masalah kesehatan kabupaten dan kota. Tim
kesehatan secara berkala dan non formal tetap kontak dengan
Jakarta untuk menurunkan AKI dan AKB di NTB ,”ujar dr. Slamet. n
( Pra)
Gubernur NTB, Haji Zainul Majdi, MA
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM30
Untuk mensinergikan pembangunan kesehatan di NTB, memerlukan
keseriusan membedah masalah yang mendera masing-masing
daerah. Pemerintah pusat juga harus menangkap semua problem
daerah. Setiap masalah harus terhubung dengan unit pemerintah
pusat yang bertanggung jawab terhadap penyelesaiannya. Untuk
itulah memerlukan pembinaan terpadu yang melibatkan seluruh
unit utama terkait Kemenkes.
Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan
Ibu dan Anak, DR.dr.Slamet Riyadi Yuwono, DTM&H, MARS, saat
pertemuan pembinaan terpadu, 7-9 Mei, di Nusa Tenggara Barat.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat, dr. Moch
Ismail, mengatakan pembinaan terpadu ini, disertai kunjungan
lapangan ke 3 Kabupaten/Kota yaitu Lombok Barat, Lombok Tengah
dan Kota Mataram. Kemudian, dilanjutkan dengan pertemuan di
UPTT Dinas Kesehatan Lombok Tengah, RSUD Lombok Tengah,
Balai Gizi kesehatan di Desa Pruyu Lombok tengah, Puskesmas Tugo
Lombok Tengah dan POLTEKES Mataram.
Untuk menguatkan dukungan pembangunan kesehatan,
telah dilakukan penandatanganan MOU antara Gubernur NTB
dan walikota se NTB. MOU tersebut merupakan kesepakatan
implementasi peraturan daerah tentang peningkatan kesehatan ibu,
bayi, dan anak balita. Pertemuan dihadiri 183 orang dengan rincian
35-40 orang daerah dan 53 orang provinsi, terdiri dari gabungan
organisasi profesi, lintas sektor,dan lintas program. n(Pra)
Sinergikan
Pembangunan
Kesehatan di NTB
Dr. Slamet RiyadiYuwono (tengah) bersama kader teladan NTB.
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 31
RAGAM
Quote seorang saudara tua, Ernawati, saat
berkomentar tentang Kepulauan Aru,
“Keberagaman milik Indonesia tercinta ini
harus disyukuri, kecuali keberagaman akses
untuk memperoleh pelayanan kesehatan...”
  
Oksibil, Pegunungan Bintang - Papua,
12 Mei 2012
Pagi yang tergesa dan kami yang masih
malas beranjak, setelah menempuh
perjalanan 11 jam dari Surabaya sehari
sebelumnya. Pagi itu gerimis, sekitar jam
05.30 WIT, kami berangkat dari Jayapura
menuju bandara Sentani. Menurut
petugas Trigana Air Services kami sudah
harus melapor di bandara setidaknya jam
06.00 WIT.
 
Trigana Air Services, maskapai dengan
jadwal penerbangan paling tentatif
sedunia! Apa pasal? Kami sudah berdiri
Catatan Perjalanan Seorang
Peneliti Kesehatan di Negeri Atas
Awan Pegunungan Bintang, Papua
di counter check in maskapai tersebut
jam 06.15 WIT dan ternyata belum buka,
dan bahkan baru dibuka pukul 09.00 WIT,
dan bahkan berangkat baru jam 11.00
WIT dari jam 07.00 yang direncanakan
semula, tanpa pemberitahuan apapun. Tak
berlebihan rasanya bila saya menyebutnya
sebagai‘maskapai dengan jadwal
penerbangan paling tentatif sedunia!’.
 
Saya tidak punya pilihan maskapai lain
untuk menuju Kabupaten Pegunungan
Bintang, meski dua bulan sebelumnya
masih ada satu lagi operator penerbangan
reguler yang beroperasi, Pelita Air. Tapi
kondisi saat ini yang tersisa hanya Trigana
Air Service, sisanya adalah pesawat-
pesawat kecil, Cesna, yang dioperasikan
secara full flight, atau lebih gampangnya
disebut carter, dengan biaya 24-32 juta
one way, sekali berangkat,‘murah’ sekali
bagi ukuran saya yang PNS. Hahaha...
 
Pesawat akhirnya berangkat dengan
membawa 32 penumpang dari 50 seat
yang tersedia dari pesawat jenis ATR ini,
sisanya... kami harus berbagi seat dengan
tumpukan beras berkarung-karung dan
kebutuhan sembako lainnya. Sungguh
perjalanan yang menyenangkan.
Tidak ada jalur alternatif transport lain
menuju Oksibil dari daerah lainnya, semua
kebutuhan di kabupaten tersebut dikirim
melalui jalur penerbangan.
 
Penerbangan menuju Oksibil, ibu kota
Kabupaten Pegunungan Bintang, hanya
ditempuh dalam waktu 52 menit.Waktu
tempuh yang sangat singkat dibanding
penantian panjang yang hampir 5 jam.
Kedatangan saya di wilayah palingTimur
Republik ini (berbatasan langsung dengan
Berikut pengalaman muhibah di negeri atas awan
Pegunungan Bintang, Papua. Banyak kesan mendalam
yang ditinggalkan, semoga juga meninggalkan kesan
yang mendalam bagi pembacanya.
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM32
Papua Nuginie), dalam penugasan terkait riset
etnografi untuk kesehatan ibu dan anak.
Dalam kunjungan lapangan kali ini, saya
harus‘menjenguk’adik peneliti saya, Mas
Aan Kurniawan, seorang anthropolog,
yang sudah‘ditanam’di Pegunungan
Bintang sepuluh hari sebelumnya, dan
dia masih harus membaur di masyarakat
setempat setidaknya sampai dengan
dua bulan ke depan. Dalam tim yang
‘ditanam’, ada 4 orang anggota tim, dua
dari Universitas Cendrawasih, anthropolog
yang juga putra daerah, ditambah satu
orang rekan peneliti perempuan asli Serui
dari Balai Biomedis di Jayapura.
 
Kami menginap di mess pastoran Gereja
Katolik Paroki Roh Kudus. Sebenarnya ada
penginapan di Kota Oksibil, Penginapan
Gloria, satu-satunya penginapan yang
ada di kota ini, tetapi untuk penelitian
etnografi kali ini wajib bagi kami untuk
berbaur dengan masyarakat setempat.
Rencananya 3-4 hari ke depan tim
akan bergeser untuk mukim di rumah
penduduk di salah satu distrik.
  
Oksibil, ibukota Kabupaten Pegunungan
Bintang, yang bahkan tak lebih luas
dari Kecamatan Jambangan, sebuah
kecamatan di Kota Surabaya tempat saya
tinggal. Di kota kecil inilah semua kendali
pemerintahan di Kabupaten Pegunungan
Bintang dikendalikan. Kabupaten
berpenduduk 100.686 jiwa ini terdiri atas
34 Distrik atau setara kecamatan, dan
257 kampung atau setara desa. Jangan
dibayangkan seperti kecamatan di wilayah
lain di Republik ini. Distrik yang bisa
dicapai dengan jalur darat, dengan mobil
double gardan tentu saja! Hanya mencapai
4 distrik, yaitu distrik Okaom, Bulankop,
Serambakon dan Kalomdol. Sisanya 30
distrik hanya bisa dicapai dengan pesawat
kecil jenis Cesna. Sebenarnya jalur darat
tetap bisa saja ditempuh, dengan keluar
masuk hutan, naik gunung, turun jurang,
dengan waktu tempuh yang... entahlah...
 
Di wilayah yang berada di ketinggian
2.000-3.000 meter di atas permukaan laut
ini, jalur komunikasi fix (telkom) tentu
saja tidak tersedia, meski operator seluler
Telkomsel hadir dengan sinyal cukup kuat,
setidaknya di Oksibil. Sedang operator
seluler lainnya tidak punya cukup nyali
untuk bermain di wilayah berat ini. Sekali
lagi kondisi ini hanya berlaku di Oksibil
saja! Untuk distrik lain bisa dibilang hampir
tidak ada satupun alat komunikasi yang
bisa dipakai. Hanya ada radio komunikasi
SSB untuk setidaknya konfirmasi cuaca
untuk penerbangan yang melalui wilayah
distrik-distrik tersebut. Listrik sudah bisa
nyala setiap hari. Dengan menggunakan
tenaga diesel, tenaga listrik mulai dialirkan
pada jam 5 sore sampai dengan jam 12
malam. Betul-betul hanya difungsikan
sebagai tenaga penerangan pada malam
hari saja.
 
PENCAPAIAN IPKM
Kabupaten Pegunungan Bintang adalah
penghuni paling dasar dari Indeks
Pembangunan Kesehatan Masyarakat
(IPKM), atau ranking 440 dari 440
kabupaten/kota. Sebuah pencapaian
mengenaskan kabupaten pemekaran dari
Kabupaten Jayawijaya sembilan tahun
lalu. Dengan ranking IPKM yang demikian,
sudah tentu kabupaten ini termasuk
Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK),
sekaligus juga DTPK (Daerah Tertinggal,
Perbatasan dan Kepulauan).
 
Dalam bedah data IPKM, pencapaian
cakupan‘sanitasi’dan‘akses terhadap air
bersih’kabupaten ini‘0%’. Artinya sama
sekali tidak ada air bersih dan sanitasinya
sangat buruk sekali. Nyatanya kondisi di
lapangan memang demikian, masyarakat
untuk seluruh kegiatan yang berkaitan
dengan air hanya mengandalkan air tadah
hujan. Jadi keberadaan air bersih sangat
minim sekali. Bagaimana tidak? Air mineral
dalam botol 1,5 liter di Oksibil dibanderol
seharga Rp. 45.000,-, jauh lebih mahal
dari harga bensin premium seliter yang
mencapai Rp. 35.000,-.
 Dengan minimnya keberadaan air
bersih, sudah tentu sanitasipun menjadi
sangat minimal. Menurut beberapa
rekan peneliti, sebetulnya sudah mulai
ada PDAM yang khusus beroperasi di
Oksibil, tapi pelayanannya masih di
sekitar perumahan pejabat daerah saja.
Alhamdulillah... akhirnya saya pun jadi
punya alasan untuk tidak mandi, meski
tidak tahu berapa hari tahan untuk tidak
buang air besar. Imunisasi lengkap balita
di seluruh wilayah Kabupaten ini hanya
mencapai 1,67%, dan persalinan di tenaga
kesehatan pun hanya mencapai 10%.
Meski demikian balita kurus hanya sedikit
di kabupaten ini, hanya sebesar 8,77%,
meski juga yang stunting atau pendek
keberadaannya sangat banyak, sebesar
55,17%. Tidak! Tidak perlu mengurut dada
untuk pencapaian ini! Yang dibutuhkan
hanya aksi...
 
Seluruh data di atas didapatkan dari hasil
survey Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)
yang dilakukan pada tahun 2007, meski
juga pada saat ini, lima tahun kemudian,
kondisinya tetap saja sama. Kita akan lihat
lagi pada tahun 2013 nanti, pada saat
Riskesdas kembali dilakukan, apakah telah
ada perubahan atau tidak pada status
kesehatan di masyarakat.
 
SUMBER DAYA KESEHATAN
Kedatangan kami disambut ramah oleh
Kadinkes Kabupaten Pegunungan Bintang.
“Kita bersaudara..., semua petugas
kesehatan bersaudara, ” katanya.
Ngobrol santai dengan Kadinkes ini
berlangsung sore hari di rumah pribadinya
yang sederhana. Tak ada lagi kantor Dinas
Kesehatan baginya, setidaknya untuk saat
ini. Kantornya telah lebur dihancurkan
massa beberapa waktu lewat. Apa sebab?
Entahlah... saya sedang tak ingin ikut
berpolemik saat ini.
 
Menurut pengakuan Kepala Dinas
Kesehatan, Darius Salamuk, SIP., dari 34
distrik (setara kecamatan) di kabupaten
ini, hanya 29 Puskesmas yang tersedia.
Keberadaan tenaga dokter umum hanya
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 33
RAGAM
ada 10, dan pada bulan April 2012 kemarin
sempat ada tambahan dokter PTT yang
dibiayai pusat sebanyak 6 orang. Dari
keseluruhan tenaga dokter, hanya 6 orang
dengan status PNS. Dari 29 Puskesmas
yang ada, secara keseluruhan dikepalai
oleh perawat lulusan SPK.
Di wilayah kabupaten ini secara
keseluruhan ada 35 tenaga bidan, yang
setengahnya (18 bidan) terdistribusi di 29
puskesmas, dan sisanya ada di rumah sakit.
 
Dengan uraian kekuatan tenaga kesehaan
yang tersedia tersebut, tentu saja banyak
puskesmas yang tidak tersedia tenaga
dokter, dan bahkan meski juga hanya
untuk sekedar tenaga bidan. Menurut
Kadinkes ada beberapa puskesmas yang
hanya ada kepala puskesmasnya saja,
itupun hanya mantri lulusan SPK.
Ada satu Rumah Sakit di kabupaten ini,
yang baru beralih fungsi dari‘Puskesmas
Perawatan Plus Oksibil’sekitar bulan
Maret 2011. Rumah Sakit type apa? Belum!
Rumah sakit ini sama sekali belum pernah
dan belum layak dilakukan akreditasi.
Masih diperlukan perbaikan di sana-sini
untuk menjadikannya layak untuk sekedar
dilakukan akreditasi. Palang Merah
Indonesia dan atau sekedar bank darah
pun juga tidak tersedia di kabupaten ini.
 
INOVASI KEBIJAKAN LOKAL
Dengan keseluruhan yang serba minimal,
bukan berarti pemerintah setempat diam
saja. Dalam catatan ada beberapa upaya
kreatif untuk memenuhi kebutuhan akan
pelayanan kesehatan.
Tak kurang Bidan Christina Kasipmabin,
Kepala Seksi Kesehatan Ibu dan Anak,
menyebutkan pernah ada upaya
pendirian rumah singgah di Kota Oksibil.
Bidan lulusan P2B ini (lulusan SPK plus
pendidikan bidan 1 tahun) menyebutkan
bahwa pada tahun 2008-2009 sempat
didirikan rumah singgah dalam bentuk
honai (rumah khas adat tanah Papua)
untuk menampung ibu hamil dari luar
Oksibil yang diwilayahnya tidak tersedia
tenaga kesehatan. Tapi sayangnya saat
ini ibu hamil menjadi tidak tertarik
memanfaatkan fasilitas ini.
 
Pada tahun yang sama, sekitar tahun
2008-2010, bidan berputra dua ini
menyebutkan, bahwa dalam rangka
Gerakan Sayang Ibu (GSI) pernah
dilakukan upaya sweeping ibu hami resiko
tinggi di seluruh wilayah kabupaten
untuk dirujuk ke rumah sakit di Jayapura.
Tetapi, sejak tahun 2010 upaya ini tidak
lagi dibiayai oleh pemerintah kabupaten,
karena mahalnya biaya rujukan yang
menggunakan transportasi udara karena
tidak tersedianya alternatif jalur transport
lainnya.
 
Menurut Kadinkes, sejak tahun 2009,
pemerintah setempat mengajukan ke
Kementerian Kesehatan untuk pendirian
kelas khusus Sekolah Perawat Kesehatan
(SPK) dan Sekolah Kebidanan yang
akan bekerja sama dengan Biak. Kenapa
mengajukan hanya SPK yang setara SLTA?
Bukannya minimal harus setara D3? Pilihan
ini bukannya tanpa alasan. Minimnya
sumberdaya dengan pendidikan yang
memadai membuat pilihan ini yang jauh
lebih masuk akal. Akhirnya pada tahun ini,
2012, ijin didapatkan dari Kementerian
Kesehatan (PPSDM). Maka dimulailah
proses rekrutmen dan seleksi dari putra
daerah setempat. Dengan mengambil 2
sampai 3 orang lulusan terbaik SLTP di
setiap distrik. Kesemuanya akan dibiayai
dari APBD setempat. Nantinya mereka
akan disekolahkan dan diasramakan
di Kota Biak. Selain itu pemerintah
kabupaten juga akan membiayai penuh
siapa saja putra daerah yang mampu
menembus Fakultas Kedokteran
Universitas Cendrawasih (FK Uncen),
termasuk menyekolahkan spesialis
bagi tenaga dokter umum yang mau
ditempatkan di Kabupaten Pegunungan
Bintang. Pada saat ini ada 12 mahasiswa FK
Uncen yang dibiayai, dan hanya dua yang
baru mencapai sarjana kedokteran (dokter
muda).
 
Inovasi lain yang cukup‘gila’dilakukan
Dokter Bob. Menurut pengakuan dokter
asal Batak yang sekaligus Kepala Bidang
Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan ini
sempat membuat pelatihan dukun bayi
untuk Asuhan Persalinan Normal (APN),
yang tentu saja tidak mempergunakan
dana dari pemerintah. Alasannya
sederhana saja, “Saya belum pernah
mendengar lonceng Gereja berbunyi yang
memberitahukan ada kasus kematian bayi
saat persalinan....” Dengan persalinan
ke tenaga kesehatan yang hanya 10%,
siapa lagi yang berperan selain dukun???
Kebanyakan kematian bayi di Kabupaten
ini dalam kisaran waktu dua minggu
sampai satu bulan, bukan pada saat
persalinan. Mungkin disinilah peran
tenaga kesehatan lebih diperlukan.
 
Inovasi lain juga sempat datang dari
akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM)
yang akan menggandeng funding dari
luar untuk outsourcing tenaga kesehatan
dari luar Kabupaten Pegunungan Bintang
untuk ditempatkan di wilayah ini selama
satu tahun. Meski kabar ini terdengar
segar, tapi menurut Dokter Bob belum
jelas kapan akan ada realisasinya.
 
JAMKESMAS, JAMPERSAL, BOK &
JAMKESPA
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM34
Beberapa permasalahan pembiayaan
kesehatan yang bersumber dari pusat
(Jamkesmas, Jampersal, BOK), yang
menimpa kabupaten di posisi paling
timur Republik ini, hampir sama dengan
daerah lain di Indonesia, terutama wilayah
kepulauan, yang letak kantor KPPN-nya
berada jauh dari wilayah kabupaten
setempat. Kendala yang sering terdengar
adalah biaya‘perjalanan’pengurusannya
yang tidak tersedia.
 
Permasalahan lain terkait Jamkesmas
dan Jampersal menurut Kadinkes adalah
keharusannya memiliki rekening di Bank
Rakyat Indonesia (BRI) untuk proses
transfer dananya. Bukan masalah besar
seharusnya, bila‘ada’keberadaan bank
plat merah tersebut di kabupaten yang
seluruh wilayahnya gunung ini. Sekali lagi
diperlukan biaya ekstra untuk keseluruhan
biaya‘administrasi’nya di Jayapura.
Klaim Jampersal di daerah ini tidak
melulu dilakukan oleh Bidan. Oleh sebab
minimnya tenaga bidan, maka tenaga
kesehatan lain, kebanyakan lulusan SPK,
ikut melakukan pertolongan persalinan.
Hal ini telah menjadi kebijakan khusus di
daerah ini terkait Jampersal.
 
Menurut Bidan Christina Kasipmabin
beberapa waktu lalu sempat
diselenggarakan sosialisasi terkait BOK,
Jamkesmas, dan Jampersal. Sasaran
sosialisasi adalah seluruh bidan dan kepala
puskesmas di wilayah tersebut. Acara
diselenggarakan di Oksibil dengan biaya
perjalanan yang tidak ditanggung oleh
Dinas Kesehatan. Jadi biaya dari distrik ke
Oksibil dibiayai masing-masing petugas.
Entah bagaimana mereka mengupayakan
biaya perjalanan untuk pembelian tiket
pesawat tersebut?
 
Saat ini juga berlaku Jamkespa (Jaminan
Kesehatan Papua), pembiayaan
kesehatan yang juga berlaku di seluruh
wilayah Papua yang diolah melalui dana
otonomi khusus (otsus Papua). Jaminan
pembiayaan kesehatan dasar sampai
dengan paripurna ini hanya dikhususkan
bagi rakyat Papua asli, tak peduli miskin
atau kaya. Meski sempat juga terpikir,
meski semuanya gratis, untuk apa bila
pelayanannya tidak tersedia?
 
LOKAL WISDOM
Kabupaten Pegunungan Bintang memang
terlihat terisolasi dari dunia luar, untuk
itu dibutuhkan banyak kemauan dan
kemampuan yang ditumbuhkan dari
dalam, dari masyarakat Pegunungan
Bintang sendiri.
 
Dalam banyak hal dukun masih sangat
berperanan di kehidupan masyarakat.
Dukun, mau tidak mau harus dilibatkan
dalam pembangunan kesehatan. Satu
langkah strategis telah diambil, merekrut
tenaga dukun sebagai kader kesehatan,
dengan penghargaan yang luar biasa
dibanding kabupaten lain. Mereka diberi
insentif Rp. 300.000,- per bulan yang
diambilkan dari anggaran APBD. Di
beberapa kampung dan bahkan distrik,
yang tenaga kesehatan tidak tersedia,
maka dukun di’ikhlas’kan menjadi
penolong persalinan.
 
Di beberapa tempat pelayanan kesehatan,
penulis banyak menjumpai sepinya
kunjungan. Dalam beberapa hal tentang
sakit dan kesakitan, self efficacy dengan
memanfaatkan tanaman obat yang
didapatkan dari alam maupun obat
bebas pabrikan menjadi pilihan utama
masyarakat.‘Daun Gatal’misalnya,
dipergunakan masyarakat seperti
‘koyo’ yang ditempelkan pada bagian
tubuh yang dirasakan capek. Efek yang
ditimbulkan adalah gatal-gatal yang pada
akhirnya berujung pada hilangnya semua
rasa lelah. Rasa-rasanya teman peneliti di
Tawangmangu perlu juga mengkoleksi
tanaman ajib ini.
 
Kearifan lokal lain dipelopori oleh ibu
bupati selaku Ketua Penggerak PKK
Kabupaten yang memutuskan‘Daun
Yamen’sebagai salah satu suplemen wajib
yang diberikan pada ibu hamil dan anak-
anak sebagai bahan PMT (pemberian
makanan tambahan) di Posyandu. Sayuran
asli Pegunungan Bintang ini terbukti
banyak mengandung kalsium. Setidaknya
hal ini telah diteliti oleh pihak Universitas
Cendrawasih.
 
Terbersit rasa bangga saat menjelajah
sudut-sudut Pegunungan Bintang sampai
ke pelosok, tak satupun dari mereka yang
ditemui tak bisa berbahasa Indonesia,
meski yang tampak dari luar adalah kaki
telanjang dengan pakaian yang lusuh
menggendong potongan besar kayu dan
tas noken yang menggantung di kepala.
 
Rasanya sudah terlalu banyak yang
diceriterakan, meski terlalu banyak juga
yang belum diceriterakan. Semoga bisa
menambah rasa kecintaan pada Republik
ini. n
Agung Dwi Laksono
Penulis merupakan peneliti dari Badan
Litbangkes (Pusat-4 di Surabaya)
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 35
RAGAM
JAMU berasal dari kata jampi (doa-mantra)
dan usodo (sehat), secara sederhana,
dapat diartikan sebagai“ramuan dengan
ucapan untuk mendapatkan kesembuhan,
yang dimohonkan kepada Sang Maha
Penyembuh”. Dalam perkembangan,
bahan JAMU diambil dari tumbuhan
Indonesia antara lain akar, getah, daun,
biji, bunga, buah, kulit kayu, batang.1
Sudah diketahui, banyak warisan leluhur
Indonesia yang mempunyai nilai positif
dan tambah untuk kesejahteraan manusia.
Warisan ini perlu dan layak dilindungi,
yang pada masa sekarang merupakan
perlindungan kekayaan intelektual dan
keanekaragaman. Perlindungan tersebut
memerlukan pembuktian fisik, kimia,
biologi dan sosioantropologi. Bukti-bukti
sosioantropologi - di candi, manuskrip
(serat), literatur, cerita tutur - mengenai
batik, keris maupun JAMU, menunjukkan
ketiga warisan budaya tersebut adalah asli
milik khasanah budaya Indonesia2
.
Keberterimaan JAMU
Pada tanggal 27 Mei 2008, Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono mencanangkan
JAMU Brand Indonesia dalam Gelar
Kebangkitan JAMU Indonesia, di
Istana Negara Jakarta. Pencanangan
ini menyadarkan semua pihak untuk
mengembangkan industri dan usaha
JAMU, sehingga tahun 2008 dikenal
menjadi Tahun Kebangkitan JAMU
Indonesia.
Pencanangan ini menuai keberterimaan di
bidang kesehatan. Melalui proses dialog
dan diskusi yang khas Indonesia, muncul
pemahaman bersama bahwa: 1) JAMU
Brand Indonesia perlu jaminan keamanan,
mutu dan khasiat dari segi ilmiah dan etik,
2) dinamika global dan iptek untuk JAMU
memerlukan pembuktian ilmiah dalam
penelitian berbasis pelayanan kesehatan,
1		 Balai Besar Litbang Tanaman
Obat & Obat Tradisional Tawangmangu.
Kerangka Acuan Dialog Nasional
“Peningkatan Pemanfaatan Bahan Baku
Obat dalam rangka Kemandirian Obat”.
8-10 Desember 2011
2		 Menristek, 29 Juli 2008 dalam
kunjungan kerja Riset Unggulan Strategis
Nasional di Pusat Studi Regional Penelitian
Biologi Tropis (SEAMEO BITROP), Bogor
JAMU:Sukma Indonesia,
bukan sekedar herbal
dan 3) jaminan keamanan, mutu dan
khasiat dari JAMU yang telah terbukti
secara ilmiah dan etik dapat digunakan
dalam pelayanan kesehatan dan upaya
kesejahteraan masyarakat.
Pemahaman bersama ini menjadi dasar
penerbitan Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 003/Menkes/
Per/I/2010 tentang Saintifikasi JAMU
dalam Penelitian Berbasis Pelayanan
Kesehatan. Permenkes ini menjadi payung
Program Saintifikasi JAMU di klinik-klinik di
seluruh Indonesia. Klinik Saintifikasi JAMU
Hortus Medicus Tawangmangu sebagai
klinik level A, Klinik SJ di RS PMI Sragen,
Klinik SJ di Kab. Kendal, merupakan klinik
SJ level B.
Jampi dan Usodo
JAMU, kata yang pendek dan unik, mengandung
makna luhur sebagai upaya manusia Indonesia untuk
mengobati, memelihara dan meningkatkan kesehatan,
sejak jaman nenek moyang bangsa Indonesia.
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM36
Program SJ juga meliputi kegiatan wisata-
wisata iptek/ilmiah/kesehatan/JAMU di
berbagai institusi, antara lain Wisat Ilmiah
Tanaman Obat dan Obat Tradisional
Tawangmangu, Wisata Kesehatan JAMU di
Kab. Tegal, dan rencana beberapa wisata di
istana-istana milik negara, misal Bogor dan
Jogjakarta.
Satu upaya yang mampu meningkatkan
keberterimaan JAMU dalam kehidupan
sehari-hari adalah budaya konsumsi JAMU
dalam setiap agenda di kementerian/
lembaga negara/organisasi, misalnya acara
ramah-tamah menyambut tamu institusi,
acara internal institusi, dll.
Berpengharapan dalam JAMU
Pemahaman bersama (share meaning)
yang dimiliki memberikan landasan
dalam memelihara dan meningkatkan
keseriusan, komitmen dan konsentrasi
dalam membudayakan JAMU. Pemahaman
sudah memunculkan aplikasi kebutuhan
bersama, melalui aktivitas hulu, aktivitas
litbang, aktivitas hilir, dan pengembangan
aset manusia SJ.
Aktivitas hulu meliputi budidaya, mulai
dari eksplorasi, identifikasi, standarisasi,
penanaman, pemeliharaan, dan panen
tanaman obat; standarisasi simplisia;
logistik. Aktivitas litbang mulai dari
riset etnobotani, etnomedisin dan
etnofarmakologi, sampai dengan
penelitian berbasis pelayanan kesehatan
di klinik-klinik SJ untuk membuktikan
keamanan, mutu dan khasiat JAMU.
Aktivitas hilir mulai dari proses
paskapanen, teknologi formulasi JAMU,
dan teknologi sediaan JAMU.
Dokter, apoteker, dan perawat merupakan
aset manusia SJ yang utama. Dokter diberi
pelatihan dan magang mengenai metode
ilmiah, etik, dan diagnosis, pelayanan
JAMU. Apoteker diberi pelatihan dan
magang untuk menentukan ramuan
JAMU yang tepat berdasarkan hasil
diagnosis dokter. Perawat diberi pelatihan
dan magang untuk merawat pasien dan
subyek di Program SJ. Dalam waktu dekat,
Klinik SJ Hortus Medicus Tawangmangu
akan ditingkatkan menjadi Rumah Riset
JAMU, yang melayani rawat jalan, rawat
inap dan konsultasi dalam Program SJ.
Kontemplasi JAMU adalah Sukma
Indonesia
Di lingkungan hulu, JAMU masih
menghadapi tantangan ketersediaan
lahan untuk budidaya. Selain itu, juga
belum tingginya minat tanam petani
di samping motivasi yang tinggi untuk
tanaman pangan yang sedang menjadi
prioritas nasional.
Di lingkungan litbang, JAMU tetap
diupayakan untuk terbukti aman,
bermutu dan berkhasiat melalui Program
SJ. Keberadaan obat tradisional dan
pengobatan tradisional selain JAMU yang
melalui SJ, seyogyanya turut mendukung
pelestarian dan pengembangan
budaya JAMU yang aman, bermutu dan
berkhasiat.
Di lingkungan hilir, sudah teridentifikasi
tantangan besar menyangkut logistik dan
distribusi bahan baku JAMU. Mengambil
contoh BULOG, diperlukan sistem Bulog
JAMU di samping pengembangan sentra-
sentra SJ di seluruh wilayah Indonesia,
yang diharapkan bisa berperan dan
berbagi tanggung jawab dalam SJ, seperti
yang sudah dirintis dan dikembangkan di
Klinik SJ Hortus Medicus Tawangmangu.
Dalam pengembangan aset manusia,
tantangan terbesar adalah meningkatkan
mutu dan jumlah pelatihan, pelatih,
lulusan, modul SJ sebagai salah satu upaya
mengintegrasikan JAMU dalam sistem
kesehatan, untuk mendukung pencapaian
status kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya.
Tantangan umum adalah kerjasama
internal dan antar dalam pemerintah,
akademisi, dan swasta. Semua kerjasama
ini perlu dibungkus dengan kesadaran
bahwa kita bukan bekerja untuk rakyat,
namun kita bekerja bersama rakyat.
Adalah suatu keniscayaan, budaya
positif suatu bangsa yang dipelihara dan
dimanfaatkan untuk kesejahteraan anak
bangsa, dengan partisipasi anak negeri,
memberikan nilai baik dan lebih bagi
kehidupan berbangsa dan bernegara.
JAMU sudah memberikan informasi
empiris, turun temurun akan khasiat
dan nilai yang dikandung, membuktikan
manfaat dari tumbuhan/tanaman obat
Indonesia. Sepantasnyalah, anak negeri
Indonesia mengelola dengan segenap
kebudayaan, iptek, akal budi, daya
manusia yang dimiliki, sehingga JAMU
meresapi, berkecamuk dalam sanubari,
dan menjadi SUKMA Indonesia. n
Penulis: Nagiot Cansalony Tambunan
Kabid Program, Kerjasama dan Informasi,
Balai Besar Litbang Tanaman Obat &
Obat Tradisional Tawangmangu, Badan
Litbangkes, Kemenkes
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 37
RAGAM
M
ungkin tidak banyak
masyarakat yang
mengetahui bahwa
tanggal 8 Mei lalu
diperingati sebagai Hari
Thalassaemia Sedunia. Bahkan mungkin
tidak banyak masyarakat yang mengenal
thalassaemia, dan tidak menyadari
bahwa diri dan keluarganya mengidap
thalassaemia karena gejalanya hampir
sama dengan gejala kekurangan darah
atau Anemia  yakni lemah letih dan
lesu. Padahal dampak yang ditimbulkan
penyakit ini sangat serius. Jika tidak
tertangani dengan baik, ajal pun tiba lebih
cepat.
Thalassaemia merupakan kelainan genetik
Thalassaemia
berkembang
menjadi masalah
kesehatan serius
di Indonesia.
Penderitanya harus
rutin melakukan
transfusi
darah untuk
menyambung
hidupnya. Meski
belum ada
obatnya, penyakit
ini bisa dicegah
penyebarannya.
yang menyebabkan terganggunya
produksi haemoglobin, sebuah protein
yang ada di dalam sel darah merah.
Penderita Thalassaemia memiliki sel darah
merah yang mudah rusak atau umurnya
lebih pendek (23 hari) ketimbang sel darah
normal (120 hari), sehingga penderitanya
akan mengalami anaemia.
Sebuah molekul haemoglobin terbentuk
dari rantai-rantai protein yang dikenal
sebagai globin alpha dan globin beta.
Keduanya dibutuhkan untuk mengikat
oksigen dari paru-paru dengan baik dan
mengangkutnya ke jaringan-jaringan
tubuh yang membutuhkan. Akibat
kelainan genetik, salah satu dari rantai
protein ini bisa hilang. Hilangnya salah
satu rantai protein ini menentukan jenis
thalassaemia-nya. Misalnya ketika molekul
haemoglobin tidak memiliki globin alpha,
maka thalassaemianya termasuk jenis
alpha-thalassaemia.
Menurut data WHO tahun 1994, jumlah
carrier atau orang yang mempunyai
gen pembawa thalassaemia di seluruh
dunia sekitar 250 juta orang, dimana 300
ribu anak yang menderita thalassaemia
dilahirkan setiap tahun. Dari jumlah itu,
sekitar 60-70 ribu diantaranya merupakan
penderita jenis thalassaemia terparah,
beta-thalassaemia mayor. Penderitanya
memerlukan transfusi darah sepanjang
hidupnya. Sementara itu, kecenderungan
kasus thalassaemia pun terus meningkat.
Thalassaemia:
Tidak Bisa Sembuh,
Tapi Bisa Dicegah
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM38
Menurut WHO, jumlah carrier pada tahun
2001 mencapai 7 % dari jumlah penduduk
dunia.
Bagaimana dengan Indonesia? Ternyata
Indonesia termasuk dalam kelompok yang
berisiko tinggi Thalassaemia. Delapan
provinsi di Indonesia memiliki jumlah
penderita atau prevalensi Thalasemia
yang cukup tinggi dibandingkan daerah
lainnya. Propinsi tersebut diantaranya
yaitu Aceh,  DKI Jakarta, Sumatera
Selatan, Sumatera Utara, Kepulauan Riau
dan Gorontalo. Prevalensi thalassaemia
bawaan (carrier) di Indonesia sekitar
3-8%. Jika prosentase thalassaemia
5% saja, dengan angka kelahiran 23
per 1.000 dari populasi 240 juta maka
diperkirakan terdapat 3.000 bayi penderita
thalassaemia lahir setiap tahunnya.
Penyakit bawaan
Thalassaemia bukanlah penyakit menular,
tapi dapat diturunkan. Berdasarkan cara
penurunannya (hereditas), thalassaemia
dibedakan menjadi tiga jenis. Pertama
adalah thalassaemia trait, atau sering
disebut pula thalassaemia minor.
Keadaan ini terjadi pada seseorang yang
sehat, namun ia dapat menurunkan
gen thalassaemia pada anak-anaknya.
Thalassaemia trait sudah ada sejak lahir,
dan tetap ada sepanjang hidup penderita.
Meski kadang-kadang ada gejala anaemia,
penderitanya bisa hidup sehat dan tidak
memerlukan transfusi darah sepanjang
hidupnya.
Jenis kedua adalah thalassaemia mayor. Ini
terjadi bila kedua orangtua mempunyai
pembawa sifat thalassaemia. Penderitanya
memerlukan transfusi darah secara berkala
seumur hidupnya. Apabila penderita
thalassaemia mayor tidak dirawat, maka
hidup mereka biasanya hanya bertahan
antara 1-8 tahun.
Ketiga adalah thalassaemia intermedia
merupakan kondisi antara thalassaemia
mayor dan minor. Penderita thalassaemia
intermedia mungkin memerlukan transfusi
darah secara berkala. Penderita dapat
bertahan hidup sampai dewasa.
Hingga saat ini belum ada obat yang bisa
menyembuhkan penyakit thalassaemia
secara total. Hal yang bisa dilakukan
penderita thalassaemia, khususnya
thalassaemia mayor, adalah dengan
melakukan transfusi darah secara teratur
sepanjang hidupnya untuk menjaga
stamina dan kesehatannya. Biasanya
transfusi ini dilakukan sekali dalam empat
minggu.
Bisa dicegah
Beban yang harus ditanggung oleh
penderita thalassaemia mayor memang
sangat berat. Seumur hidup ia harus
menjalani transfusi darah dan pengobatan.
Rata-rata penderita thalassaemia
menghabiskan dana sekitar 7-10 juta per
bulan hanya untuk pengobatan. Jumlah
tanggungan sebesar itu tentu sangat
berat, terutama bagi keluarga tidak
mampu.
Untuk menjamin biaya pengobatan
pasien thalassaemia, pemerintah melalui
Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1109/
Menkes/Per/VI/ 2011, menjamin pasien
thalassaemia memperoleh jaminan
pelayanan kesehatan thalassaemia, atau
Jampelthas.
“Dengan adanya jaminan ini, masyarakat
tidak perlu khawatir jika memiliki penyakit
thalassemia”, kata Direktur Pengendalian
Penyakit TIdak Menular, Ekowati Rahajeng.
Mekanisme jaminan ini serupa dengan
Jamkesmas, namun lebih sederhana
sebab pasien hanya perlu memberikan
surat keterangan rekomendasi dari dokter
dan akan diberikan kartu jaminan oleh
Yayasan Thalassaemia Indonesia (YTI).
Pasien pemegang kartu Jampelthas
boleh mendapat transfusi darah gratis
setiap bulan dan mendapat pengobatan
thalassemia.
Namun demikian, upaya penanganan
thalassaemia sejatinya tidak boleh
berhenti pada upaya-upaya kuratif dan
pembiayaan saja. Langkah-langkah
pencegahan dan pengendalian risiko
thalassaemia yang lebih sistematis juga
perlu lebih diupayakan. Pengendalian
faktor risiko dapat di mulai dari seseorang
yang memiliki thalassaemia trait. Untuk
mencegah terjadinya keturunan yang
menderita thalassaemia, hindarilah
perkawinan sesama pembawa sifat
thalassaemia.
Tindakan preventif dan pengendalian
penyakit tersebut harus segera
disosialisasikan kepada masyarakat,
tentunya dengan tetap berpatokan pada
nilai-nilai etika, moral dan budaya bangsa.
(rief/gi) n
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 39
RAGAM
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM40
WHA ke-65
Hasilkan
21 Resolusi
dan 3 Keputusan
P
alais de Nations, Gedung PBB di Jenewa baru saja
menyelesaikan rapat besar. Menteri kesehatan beserta
delegasi dari 194 negara anggota WHO usai sudah
mengikuti sidang World Health Assembly (WHA)
ke-65 dengan membawa pulang 21 Resolusi dan 3
Keputusan.
United Nations Office at Geneva (UNOG) adalah yang terbesar
kedua setelah Kantor Pusat PBB di New York. UNOG ini berada
di Palais des Nations, sebuah kesaksian yang luar biasa
untuk arsitektur abad kedua puluh, terletak di sebuah taman
indah di Jenewa yang menghadap Danau Jenewa, dengan
pemandangan indah pegunungan Alpen dan, pada hari yang
cerah, Mont Blanc.
Selain kota pariwisata, Jenewa adalah kota politik internasional.
Turis dapat menikmati bagian demi bagian di gedung PBB ini,
tentu dengan bantuan pemandu. Bila tak ada akses khusus,
tak akan bisa masuk. Bahkan bila sedang beruntung, bisa
masuk sampai ke Assembly Hall, ruang sidang utama bila
diselenggarakan Sidang Umum PBB di sini.
Pada sidang WHA ke-65, Delegasi Republik Indonesia (Delri)
berhasil memperjuangkan sejumlah kepentingan Indonesia
dan negara berkembang lainnya di bidang kesehatan. Sidang
yang melibatkan delegasi dari 194 negara anggota World Health
Organization (WHO) ini berhasil mengesahkan 21 Resolusi dan 3
Keputusan sebagai hasil pembahasan sidang Komite A dan B.
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 41
RAGAM
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM42
Sidang plennary WHA ke-65 bertema
Universal Health Coverage. Pada
kesempatan tersebut, Delegasi RI yang
dipimpin Wakil Menkes RI selaku Plt.
Menteri Kesehatan RI, Prof. dr. Ali Ghufron
Mukti, MSc., PhD, menyampaikan
pernyataan, sikap dan posisi Indonesia
dalam kesehatan global.
“Beberapa capaian terpenting partisipasi
Delri antara lain dengan disahkannya
sejumlah resolusi yang sesuai dengan
kepentingan nasional”, ujar Prof. dr.
Ali Ghufron Mukti pada temu media
sekembali ke Tanah Air.
Salah satu yang disepakati,adalah
resolusi Poliomyelitis: Intensification of the
Global Eradication Initiative. Delegasi RI
menegaskan, vaksin polio dengan cara
oral hingga saat ini merupakan pilihan
yang paling affordable bagi seluruh
negara berkembang dan telah terbukti
efektifitasnya. Sidang mengadopsi resolusi
ini dan memasukkan usulan Delri untuk
menghapus rujukan Inactivated Poliovirus
Vaccines (IPV).
“Inisiatif penggunaan IPV dikhawatirkan
mempersulit upaya global untuk
mengeradikasi penyakit polio. Untuk
keperluan domestik, Pemerintah harus
mengalokasikan anggaran 50 kali lipat
dibandingkan anggaran untuk vaksin
polio yang kita lakukan saat ini”, jelas Prof.
dr. Ali Ghufron Mukti.
Kemudian, Resolusi Global Burden of
Mental Disorder untuk pengembangan
kebijakan dan strategi promosi kesehatan
jiwa berbasis pelayanan kesehatan dasar.
Resolusi lainnya adalah mengenai
Nutrition: Comprehensive Implementation
Plan (CIP) on Maternal, infant and Young
Child Nutrition mendorong negara-negara
anggota untuk melaksanakan penguatan
kapasitas tenaga kesehtaan dalam
penanganan kekurangan atau kelebihan
gizi pada kelompok rentan; menyusun
mekanisme untuk meningkatkan kontrol
terhadap pemasaran pengganti Air Susu
Ibu (ASI); serta menjamin tidak terjadi
konflik kepentingan.
Sementara itu, pada Resolusi Monitoring
the Health Related MDG’s, Delri
menyampaikan pernyataan atas nama
South East Asia Region (SEAR) menekankan
laporan kemajuan atas upaya negara
anggota dalam pencapaian indikator
MDG’s yang dinilai masih lambat.
“Ini penting mengingat masing-masing
negara memiliki kapasitas dan kendala
yang berbeda sehingga diperlukan
dukungan terus-menerus bahkan sampai
fase setelah tahun 2015 (post MDG’s)”,
tambah Prof. dr. Ali Ghufron Mukti.
Selain itu, sejumlah resolusi lainnya
juga berhasil diperjuangkan oleh
Indonesia, diantaranya Penguatan
komitmen terhadap International Helath
Regulations (IHR); Tindak lanjut Pandemic
Influenza Preparedness (PIP) Framework
yang menekankan pentingnya peran
advisory group, financial dan resources
dalam implementasinya; Consultative
Expert Working Group on Research
and Development (CEWG-RD) yang
memandatkan negara-negara untuk
melakukan konsultansi guna mengkaji
laporan; Pembentukan mekanisme
negara anggota untuk membahas isu-isu
Substandard/Spurious/Falsely-Labeled/
Falsified/Counterfeit medical products
dalam rangka memperkuat badan regulasi
produk obat-obatan di negara anggota.
Prof. dr. Ali Ghufron Mukti juga
menyatakan, pada kesempatan tersebut
juga disepakati beberapa resolusi terkait
isu administratif dan keuangan, seperti
laporan keuangan WHO periode Januari
2010-Desember 2011; status kontribusi
negara anggota; pengaturan khusus
pelunasan kontribusi; pemilihan Dirjen
WHO; serta resolusi mengenai laporan
audit eksternal WHO.
Sementara itu, Kepala Pusat Kerjasama
Luar Negeri Dra. Ninik Kun Naryatie
menyatakan bahwa peran Indonesia
di forum kesehatan global ini sangat
diakui dan dinantikan oleh seluruh dunia.
Indonesia bisa memberikan masukan
yang mengabaikan titipan-titipan.
Sehingga bila ada resolusi yang kira-kira
akan memberatkan negara berkembang,
kita bisa mengidentifikasi. Karena itu
kita mendapat apresiasi dari negara
berkembang lainnya. n(gi)
Wamenkes Prof. dr. Ali Ghufron Mukti , Msc, PhD(tengah) danTim Indonesia
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 43
KOLOM
M
enteri Kesehatan dr. Endang Rahayu Sedyaningsih
dalam suatu kesempatan ditanya wartawan,“Apa
yang Ibu harapkan kepada masyarakat tentang
kesehatan?”Menkes menjawab: masyarakat harus
bertanggung jawab atas kesehatannya sendiri.
Sebab, kesehatan tak dapat didelegasikan, dilimpahkan, atau
diwakilkan. Demikian pula dengan sakit. Semua ditanggung atau
dirasakan sendiri.“Apakah seseorang mau sehat atau sakit, silakan.
Itu pilihan,”ungkapnya.
Orang lain, institusi pelayanan kesehatan, pemerintah, profesi
kesehatan dan pihak lain terkait, tidak serta merta menjadi
penyebab sakit atau sehatnya seseorang. Tapi hanya sebagai
faktor penunjang untuk mewujudkan hidup sehat. Sedang faktor
utama menuju hidup sehat ada pada kemauan dan upaya dari
individu itu sendiri.
Mari kita lihat apa yang terjadi pada masyarakat. Bagaimana sikap
mereka terhadap sakit dan sehat. Setidaknya itu terlihat dari
angka penyebab kesakitan dan kematian. Angka ini menunjukkan
terjadi peningkatan jumlah penderita penyakit tidak menular;
sekalipun penyakit menular juga masih belum hilang dari tengah
masyarakat. Tapi, jumlah penderita penyakit tidak menular sudah
mengungguli jumlah penderita penyakit menular.
Sekedar mengingatkan, jenis penyakit tidak menular itu antara
lain: jantung, darah tinggi, kanker, diabet dan lainnya. Penyebab
penyakit ini umumnya karena pola hidup yang tidak sehat. Mulai
dari pola makan, pola kerja, pola istirahat, dan pola keseimbangan
hidup.
Terkait dengan berbagai pola hidup di atas, keberhasilan
seseorang mengendalikan pola makan, semua bergantung pada
individu. Pola makan yang dipilihnya, akan memberikan hasil:
apakah seseorang termasuk berhasil atau tidak dalam menjalani
hidup sehat.
Ada sebagian orang berhasil menjalani hidup sehat dengan
memenuhi seluruh persyaratan yang dibutuhkan untuk hidup
sehat. Tapi ada juga yang gagal menjalani hidup sehat, karena
tidak sanggup memenuhi persyaratan untuk menjalani hidup
sehat. Misal: tidak ketat dalam menjaga pola makan. Ia menyantap
makanan yang tidak sehat atau sembarangan. Tetap memilih
makanan yang menyebabkan sakit, baik dalam jangka pendek
maupun jangka panjang. Apalagi, makanan itu nikmat, sebagai
makanan kesukaan, dan gratis pula.
Menteri Kesehatan berharap, setiap individu berupaya menjaga
kesehatan agar tetap sehat. Dengan cara menjaga kesehatannya
tetap sehat, akan berdampak positif terhadap diri, keluarga, orang
lain, pelayanan kesehatan maupun pemerintah. Individu yang
bersangkutan akan produktif, keluarga senang dan tak terbebani,
orang lain tidak direpotkan, pelayanan kesehatan tidak penuh dan
pemerintah dapat menghemat dana jaminan kesehatan. Baik itu
jamkesmas (jaminan kesehatan masyarakat), jamkesda (jaminan
kesehatan daerah) maupun jampersal (jaminan persalinan).
Nah, bagaimana membangun kesadaran untuk bertanggung
jawab atas kesehatan dirinya? Pertama; sadari dampak buruk
sakit. Bagi orang yang punya uang berlebih, mungkin tidak
bermasalah dengan biaya pengobatan, tapi tetap bermasalah,
bila berakhir dengan kesembuhan tidak normal atau cacat.
Bayangkan kalau sembuhnya cacat, apakah siap hidup dengan
predikat cacat? Seperti buta, padahal sebelumnya, sehat, bugar
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM44
dan jelita. Tak semua orang siap. Kecuali terpaksa, karena sudah
menjadi takdir.
Bayangkan, kalau yang menderita sakit itu orang du’afa. Untuk
makan sehari-hari saja susah. Kerja sehari untuk sehari. Setelah
sakit, siapa yang harus mencari nafkah? Lebih repot lagi. Repotnya
luar-dalam, yakni biaya pengobatan dan kebutuhan harian
keluarga. Menyadari akan hal ini, betapa penting dan berharga
kesehatan itu.
Kedua; sadari dampak positif sehat. Sehat itu segalanya. Artinya
orang yang sehat dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Kalau
toh harus membutuhkan bantuan, hanya yang terkait dengan
faktor pendukung, bukan pada hal-hal yang pokok dan utama. Bila
manusia sudah sehat, belajar juga lebih mudah, mencari nafkah
lebih bersemangat dan mampu menjalankan seluruh aktifitas
dengan baik. Semua itu terjadi karena yang bersangkutan sehat.
Jadi, untuk menjadi sehat, memang harus menjadi kemauan
individu. Bila mau sehat, seseorang pasti akan menemukan
cara. Ia juga tak akan bergantung pada orang lain, untuk
menjadi sehat. Karena mereka sadar betul, bahwa sehat menjadi
kebutuhan individu. Sehingga tak begitu perlu, apakah orang
lain mendukung atau tidak. Untuk itu, bila ingin sehat harus
memulai dari apa yang dapat dikerjakan secara individu, karena
sesungguhnya, sehat itu menjadi tanggung jawab individu. n
SehatTanggung Jawab Individu
Oleh: Prawito
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 45
UNTUK RAKYAT
S
eminar National Input for Achieving Universal Health
Coverage in Indonesia di Yogyakarta di buka oleh Wakil
Kesehatan Prof Ali Ghufron Mukti (28/5/12) pertemuan
ini membahas tentang kesiapan pemerintah dalam
implementasi universal health coverage di Indonesia.
Kesehatan adalah hak asasi sekaligus investasi, dimana semua
warga negara berhak atas pelayanan kesehatan. Untuk itu
diperlukan penyelenggaran sistem yang mengatur pembiayaan
dan pelayanan kesehatan dalam upaya pemenuhan kebutuhan
dasar kesehatan yang layak. Sistem yang dimaksud adalah sistem
Jaminan Kesehatan. Jaminan kesehatan merupakan salah satu
program yang wajib dilaksanakan dalam Sistem Jaminan Sosial
Nasional (SJSN).
SJSN merupakan tatacara penyelenggaraan program jaminan
sosial berbasis asuransi oleh beberapa badan penyelenggara
berdasarkan prinsip: kegotongroyongan, nirlaba, keterbukaan,
kehati-hatian, akuntabilitas, portabilitas, kepesertaan bersifat
wajib, dana amanat dan hasil pengelolaan dana jaminan sosial
digunakan seluruhnya untuk pengembangan program dan
sebesar-besarnya untuk kepentingan peserta.
Sebagai salah satu amanat dari Undang-Undang Nomor 40 Tahun
2004, Undang-Undang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
(BPJS) telah disahkan pada tanggal 28 Oktober 2011 melalui
sidang paripurna DPR RI. Dalam UU tersebut ditetapkan 2 (dua)
BPJS yaitu BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Dengan
demikian hanya ada institusi yang akan menyelenggarakan
Jaminan Kesehatan di Indonesia yaitu BPJS Kesehatan yang
berstatuskan badan hukum publik.
BPJS Kesehatan
Dengan berlandaskan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004,
tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan Undang-
Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial (BPJS), maka makin memantapkan arah ke
depan bahwa pembiayaan kesehatan personal bagi masyarakat
Indonesia akan diselenggarakan dalam mekanisme jaminan
Kesehatan. Implementasi kedua Undang-Undang tersebut akan
segera dilakukan dengan menunggu penyelesaian peraturan
perundangan seperti Peraturan Pemerintah atau Peraturan
Presiden. Mulai 1 Januari 2014, pelaksanaan Jaminan Kesehatan
Nasional siap untuk diimplementasikan dan diselenggarakan
melalui BPJS.
Dalam menyongsong penyelenggaraan jaminan kesehatan
oleh BPJS, saat ini sedang dilakukan persiapan implementasinya
meliputi pembentukan Tim Lintas Kementerian dan Kelembagaan
dan Kelompok Kerja di dalam lingkungan internal Kementerian
Kesehatan, penyusunan rencana kegiatan dan koordinasi untuk
memperlancar proses peralihan (transformasi) jaminan kesehatan,
dari sisi program maupun kelembagaan.
Selain persiapan tranformasi kelembagaan dan program, juga
dipersiapkan pemenuhan kebutuhan dari sisi demand dan sisi
supply. Untuk sisi demand, dipersiapkan antara lain, besaran
iuran dan penyediaan dana tersebut baik dari pemerintah untuk
peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) maupun kontribusi dari
pekerja dan pemberi kerja pada peserta non PBI, informasi yang
lengkap dan tepat. Dari sisi supply, dipersiapkan perhitungan
kebutuhan dan pemenuhannya untuk: fasilitas kesehatan dan
infrastruktur, obat dan alat kesehatan, dan SDM Kesehan.
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM46
Pelaksanaan jaminan kesehatan haruslah mengacu kepada
kendali mutu dan kendali biaya dengan menerapkan prinsip
‘managed care’, agar terjadi pembiayaan yang efisien dengan
mutu yang tetap terjamin sesuai indikasi medis. Dan salah
satu kontrol pembiayaaan yang efektif efisien adalah dengan
menggunakan pola pembayaran prospektif yaitu kapitasi dan
INA-CBG’s.
Untuk menata pelayanan kesehatan yang diberikan dalam sistem
jaminan kesehatan perlu diberlakukan pelayanan terstruktur
dan berjenjang melalui mekanisme rujukan dengan tujuan yang
sama yaitu untuk pengendalian biaya dan keteraturan pelayanan
kesehatan.
Yang paling penting dari segalanya adalah penyusunan regulasi
atas penyelenggaraan jaminan kesehatan sehingga memberikan
kejelasan kepada semua pihak yang terkait dalam menjalankan
perannya masing-masing dalam implementasi Jaminan
Kesehatan.
Upaya terakhir yang harus dilakukan adalah bagaimana menjamin
penduduk yang saat ini belum memiliki jaminan kesehatan
diperkirakan sekitar 89 juta jiwa atau 37% dari total penduduk.
Kelompok masyarakat yang belum memiliki jaminan kesehatan
meliputi sebagian pekerja formal dan sebagian besar pekerja
informal.
Jamkesmas korban benccana merapi di perpanjang
Selain Seminar Nasional juga dilakukan penyerahan SK Menkes RI
tentang Perpanjangan Pelayanan Jaminan Kesehatan Masyarakat
Bagi korban Merapi di Kabupaten Magelang, Klaten, Sleman dan
Kulon Progo.
Sebagaimana diketahui, diluar dari sasaran kuota yang menerima
kartu pada tahun 2012 berjumlah 76,4 juta jiwa, masih ada lagi
sasaran Jamkesmas non kartu yang berhak memperoleh layanan
program Jamkesmas, seperti masyarakat miskin penghuni
lapas rutan, penghuni panti panti sosial dan masyarkat korban
bencana, gelandangan pengemis, anak terlantar, bayi baru lahir
dari pasangan keluarga Jamkesmas, penderita thalasemia mayor
dan peserta keluarga harapan (PKH). Mereka tersebut berhak
memanfaatkan pelayanan program Jamkesmas cukup dengan
menggunakan surat rekomendasi dari instansi terkait atau
dengan surat keputusan Menteri Kesehatan yang didasarkan atas
usulan Pemda setempat khusus untuk korban bencana paska
tanggap darurat.
Dengan adanya Surat Keputusan perpanjangan pelayanan
kesehatan melalui program Jamkesmas pada masyarakat korban
bencana Merapi, maka masyarakat di 4 kabupaten tersebut
memiliki kepastian atas haknya untuk memperoleh pelayanan
kesehatan dalam program Jamkesmas. Disamping hak yang
diperoleh dalam program jamkesmas, mereka juga harus
memahami kewajibanya untuk mengikuti prosedur sebagaimana
yang tertuang dalam pedoman pelaksanaan (manlak), petunjuk
teknis dan ketentuan lainnya. Dengan demikian diharapkan
pemanfaatan program Jamkesmas bagi seluruh masyarakat
korban bencana merapi dapat berjalan dengan optimal,
transparan, akuntabel, effisien dan effektif.
Dalam upaya melakukan perbaikan data kepesertaan Jamkesmas,
maka pada tahun 2012, data sasaran akan mengacu pada data
base terpadu dari Tim Nasional Program Penanggulangan
Kemiskinan (TNP2K) yang didasarkan pada hasil survei PPLS 2011.
Data tersebut sudah by name dan by address jadi pemerintah
daerah tidak perlu lagi menetapkan kembali melalui SK Bupati/
Walikota. Hasil pendataan yang dilakukan sudah melalui
suatu proses survei yang lebih baik dan diharapkan dapat
meminimalisir kesalahan dan ketidaktepatan sasaran yang
terjadi dilapangan. Namun begitu penetapan sasaran baru untuk
program Jamkesmas 2012 baru akan diberlakukan melalui Surat
Keputusan Menteri Kesehatan pada saat kartu peserta Jamkesmas
tersebut didistribusikan kepada peserta masing-masing. Dengan
adanya data tersebut diharapkan tidak ada lagi permasalahan
menyangkut kepesertaan Jamkesmas yang dianggap sudah
kadaluarsa (out of date).
Wakil Menteri Kesehatan, Prof. Ali Ghufron Mukti, saat menyerahkan
Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI tentang perpanjangan
pelayanan kesehatan masyarakat korban bencana Merapi pada ke
empat kabupaten, yaitu Magelang, Klaten, Kulonprogo dan Sleman
diYogyakarta, pada hari Senin 28 Mei 2012.
Seperti diketahui banyak permasalahan ketidaktepatan data
sasaran Jamkesmas di daerah-daerah pada tahun-tahun
sebelumnya, hal ini dikarenakan karena data sasaran Jamkesmas
masih mengacu pada hasil survei tahun 2005 dan 2008.
Disamping itu bahwa pemerintah pusat hanya menetapkan
kuotanya saja sedangkan daerah yang menetapkan orang-
orangnya yang didasarkan kriteria daerah masing-masing.
Hal inilah yang menyebabkan ketidaktepatan sasaran seperti
data sasaran yang sudah tidak sesuai lagi, peserta yang sudah
meninggal dunia, penduduk baru akibat kelahiran, perubahan
tingkat sosial ekonomi dan lain-lain.
Hal lain yang menjadi permasalah pendataan sasaran adalah
bahwa tidak adanya keseragaman kriteria miskin antar daerah
sehingga masing-masing daerah membuat kriteria yang berbeda
walaupun kuotanya ditetapkan oleh pusat yang menyebabkan
terjadi inklusion error dan ekslusion error sebagaimana yang
sering dikeluhkan selama ini.
Permasalahan tersebut menyebabkan data sasaran Jamkesmas
sudah dianggap tidak valid lagi dan segera harus dilakukan
pemutakhiran. Oleh sebab itu, maka data base terpadu yang
disusun oleh TNP2K berdasarkan hasil survei BPS melalui PPLS
2011 menjadi sangat penting untuk kepesertaan program
Jamkesmas tahun 2012 dan tahun selanjutnya.
Di harapkan dengan adanya data base terpadu yang menjadi
acuan semua program perlindungan sosial ini, maka sasaran
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 47
UNTUK RAKYAT
kepesertaan Jamkesmas menjadi lebih akurat, tepat dan lebih
valid karena melalui proses survei dengan metode yang lebih
baik yang meminimalisir inklusion dan ekslusion error. Dengan
demikian kekurangtepatan sasaran dapat dikurangi secara
signifikan.
Namun begitu basis data terpadu ini belum sempurna dan masih
ada kekurangan dan kelemahannya, oleh karena itu diharapkan
kerjasama yang baik antara TNP2K dan Kementerian Kesehatan
terutama dalam pelaksanaan Program Jamkesmas dapat terus
dilanjutkan dan perlu lebih ditingkatkan lagi, melalui kegiatan
monitoring dan evaluasi yang dilaksanakan secara terpadu
sehingga permasalahan di lapangan yang menyangkut pendataan
sasaran dapat dideteksi sedini mungkin untuk kemudian dicarikan
solusi pemecahannya, kata Prof. Ghufron.
Cakupan kepesertaan jaminan kesehatan pada tahun 2011 adalah
63,12% dari seluruh penduduk Indonesia yang berjumlah 237,6
juta jiwa, sisanya, hampir setengah dari penduduk Indonesia
sebesar 36,88% belum terlindungi oleh jaminan kesehatan.
Kondisi ini dapat berdampak kurang baik bagi pengendalian biaya
kesehatan, sebab biaya kesehatan cenderung terus meningkat.
Masih banyaknya masyarakat yang tidak terlindungi dalam sistem
jaminan kesehatan akan mendorong pembayaran langsung atau
direct payment masyarakat kepada pemberi layanan kesehatan.
Di satu sisi akan berakibat masyarakat akan mudah jatuh miskin
akibat harus membiayai pengobatannya. Di sisi lain, tanpa
adanya sistem pengendalian biaya maka fasilitas pemberi layanan
kesehatan dapat cenderung melakukan moral hazard dengan
memberikan pelayanan yang tidak rasional untuk mendapatkan
keuntungan besar. Oleh karena itu, Kemenkes sejak tahun 2008
sudah menyusun roadmap untuk pengembangkan cakupan
kepesertaan jaminan kesehatan bagi seluruh penduduk. Dengan
kepesertaan semesta bagi seluruh penduduk maka kita berharap
permasalahan kepesertaan yang selama ini muncul tidak akan
terjadi, karena semua penduduk sudah terlindungi dalam sistem
jaminan kesehatan.
Sebagaimana diketahui, di luar dari sasaran kuota yang menerima
kartu tahun 2012 yang berjumlah 76,4 juta jiwa, masih ada lagi
sasaran Jamkesmas non kartu yang berhak memperoleh layanan
program Jamkesmas, seperti masyarakat miskin penghuni
lapas rutan, penghuni panti panti sosial dan masyarkat korban
bencana, gelandangan pengemis, anak terlantar, bayi baru lahir
dari pasangan keluarga Jamkesmas, penderita thalasemia mayor
dan peserta keluarga harapan (PKH). Mereka tersebut berhak
memanfaatkan pelayanan program Jamkesmas cukup dengan
menggunakan surat rekomendasi dari instansi terkait atau
dengan surat keputusan Menteri Kesehatan yang didasarkan atas
usulan Pemda setempat khusus untuk korban bencana paska
tanggap darurat.
Di harapkan dengan adanya surat keputusan Menteri Kesehatan
ini, maka akan meringankan beban kehidupan masyarakat korban
bencana merapi pada saat mereka sakit, serta meningkatkan
akses pelayanan kesehatan yang seluas luasnya kepada
masyarakat terutama saat mereka membutuhkan pelayanan
kesehatan di fasilitas kesehatan yang telah tersedia. Pada saatnya
nanti sesuai UU SJSN dan UU BPJS, seluruh penduduk akan
terlindungi dalam sistim jaminan kesehatan dengan demikian
akses pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau kepada
seluruh masyarakat akan meningkat, pada akhirnya tujuan
pembangunan kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat Indonesia akan tercapai.
Kementerian Kesehatan melalui Wamen Prof. Ghufron
mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-
tingginya kepada jajaran pemerintah daerah propinsi DIY
Jogjakarta dan pemerintah Kabupaten Magelang, Klaten,
Kulonprogo dan Sleman yang selama ini telah memfasilitasi dan
memberi dukungan atas pelaksanaan program Jamkesmas bagi
masyarakat korban bencana Merapi. Khususnya dalam penyediaan
data kepesertaan serta membantu memfasilitasi masyarakat korban
bencana di empat wilayah tersebut dalam memanfaatkan program
Jamkesmas pada saat mereka membutuhkan.
Diharapkan dengan adanya Surat Keputusan perpanjangan
pelayanan kesehatan melalui program Jamkesmas pada
masyarakat korban bencana Merapi, maka masyarakat di 4
kabupaten tersebut memiliki kepastian atas haknya untuk
memperoleh pelayanan kesehatan dalam program Jamkesmas.
Tentu saja disamping hak yang diperoleh dalam program
Jamkesmas ini, mereka juga harus memahami kewajibanya untuk
mengikuti prosedur sebagaimana yang tertuang dalam pedoman
pelaksanaan (manlak), petunjuk teknis dan ketentuan lainnya.
Dengan demikian diharapkan pemanfaatan program Jamkesmas
bagi seluruh masyarakat korban bencana merapi dapat berjalan
dengan optimal, transparan, akuntabel, efisien dan efektif. n
(Yuni)
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM48
P
raktek menyusui secara eksklusif
di negara berkembang telah
berhasil menyelamatkan
sekitar 1,5 juta bayi per tahun.
Atas dasar tersebut, WHO
merekomendasikan untuk hanya memberi
ASI eksklusif sampai bayi berusia 4 – 6
bulan (Depkes, 2002). Namun, pada
2001 melalui konsultasi pakar dan
telaah penelitian yang sistematik, WHO
merekomendasi pemberian ASI eksklusif
sebagai standar emas makanan bayi
dari 4 – 6 bulan menjadi 6 bulan tanpa
tambahan apa pun, dilanjutkan dengan
penambahan makanan pendamping ASI
sampai bayi berusia 2 tahun atau lebih.
Sejumlah penelitian telah membuktikan
manfaat ASI. Di dalam ASI tersedia semua
nutrisi yang dibutuhkan oleh kebanyakan
bayi hingga berusia enam bulan. ASI lebih
mudah dicerna. Di dalam ASI tersedia zat
antibakteri dan antivirus yang melindungi
bayi dari penyakit serta membantu
pengembangan sistem kekebalan tubuh.
ASI eksklusif terbukti dapat meningkatkan
perlindungan terhadap infeksi juga
beberapa tahun setelah penghentian
menyusui. ASI membuat anak lebih
pandai, tidak tergantung pada latar
belakang ekonomi. Studi kohort selama
14 tahun menunjukkan semakin lama
bayi menyusui, semakin kurang gangguan
mental pada anak dan remaja.
Bayi yang kurang disusui dan digantikan
dengan susu formula kerap mengalami
sembelit atau diare, rentan terhadap
penyakit anak termasuk diabetes anak-
anak, alergi, asma, eksim, gangguan
pencernaan, gangguan kandung kemih
dan infeksi saluran pernapasan. Mereka
cenderung menjadi gemuk dan memiliki
tekanan darah tinggi di kemudian hari.
Risiko tidak memberikan ASI juga dapat
menurunkan kecerdasan kognitif.
Bukan saja untuk bayi, memberikan
ASI juga bermanfaat bagi ibu. Dengan
menyusui akan membantu mendapatkan
kembali bentuk tubuhnya dan jangka
panjang mengurangi risiko terkena
kanker ovarium, kanker payudara, kanker
endometrial, stress dan kegelisahan, serta
berbagai penyakit lainnya.
Hasil studi kohort selama 15 tahun di
Australia yang dipublikasi Strathearn dan
kawan-kawan tahun 2009 menunjukkan
tindakan kekerasan ibu pada anaknya
termasuk menelantarkan, kekerasan fisik,
dan kekerasan emosional berkurang
sesuai dengan meningkatnya lama
menyusui. Selain itu, menyusui juga
mengurangi 4,8 kali tindak kekerasan
ibu terhadap anaknya terutama tindakan
menelantarkan anak.
Pemberian ASI juga terbukti dapat
menghemat pengeluaran rumah
tangga dan negara. Pakar ASI Dr Utami
menghitung bila ibu-ibu di Indonesia mau
memberikan ASI eksklusif, maka setiap
tahunnya bisa menghemat Rp 18 triliun
lebih. Ini bisa dihitung bila harga 1 kaleng
susu formula adalah Rp 65.000 dan bayi
yang lahir di Indonesia 5 juta per tahun,
maka biaya 6 bulan susu formula untuk
bayi-bayi tersebut adalah Rp 18,012 triliun.
Bayangkan Indonesia akan
menyumbangkan Rp 18 triliun per tahun
kalau saja ibu-ibu mau memberikan ASI
eksklusif selama 6 bulan.
Di dunia capaian ASI eksklusif sangat
bervariasi dan tidak berbanding lurus
dengan kemajuan suatu negara. Jepang
adalah contoh negara maju dengan
angka ASI eksklusif yang rendah. Angka
menyusui di Jepang sangat rendah
dibanding negara maju lainnya yaitu
hanya 44,8% pada kelompok bayi berumur
1- 2 bulan, jauh di bawah Swedia yaitu
80,2% pada bayi berumur 2 bulan (Helda,
2009)
Kementerian Kesehatan menargetkan
cakupan ASI eksklusif 0 – 6 bulan pada
tahun 2014 sebesar 80%. Namun SDKI
2007 mencatat bayi yang diberi ASI
eksklusif baru mencapai 32,8%, lebih
rendah dibanding tahun 2002 – 2003
yaitu 39,5%. Padahal 95% ibu di Indonesia
pernah menyusui bayinya. Adapun
penyebabnya amat beragam, seperti
karena ibu atau bayi yang sakit, ibu
bekerja, ASI sedikit, dan lainnya.
Alhamdulillah Peraturan Pemerintah No.
33 tahun 2012 tentang Pemberian Air
Susu Ibu Eksklusif telah disahkan pada
Maret 2012. Disini diatur poin-poin seperti
tanggung jawab pemerintah tingkat
Pusat dan Daerah dalam pemberian ASI
eksklusif, penggunaan susu formula bayi
dan produk bayi, serta pemberian ASI
eksklusif pada ibu bekerja dan di sarana-
sarana umum.
Kita berharap, dengan keluarnya,
pemberian ASI ini dapat meningkat.
Dengan demikian hak bayi dan ibunya
lebih terjamin.
Bravo PP ASI Eksklusif. n(Giri)
Bravo PP
ASI EksklusifOleh: Giri Inayah
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 49
UNTUK RAKYATDAERAH
Meracik Jamkesta di Tanah Kopi
LAMPUNG
Oleh: Hikmandari dan Udiani; Fotografer: Anitasari
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM50
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 51
Provinsi Lampung ditetapkan sebagai provinsi mandiri pada 18 Maret 1964
dari semula Keresidenan Lampung. Pada 2011 Lampung mengelola anggaran
(APBD) sebesar 2,49 triliun untuk kemajuan wilayahnya. Berbatasan dengan
Selat Sunda dan Laut Jawa serta berada pada jalur bukit barisan, provinsi di
selatan Sumatra ini kaya akan sumber daya alam dan pemandangan laut yang
indah. Lada hanyalah satu di antara komoditi yang pernah menjadi andalan
provinsi ini, di samping kopi, kelapa sawit, coklat, nanas, dan ketela. Seluruh
sektor pertanian menyumbang sekitar 35% pendapatan daerah, sumbangan
terbesar di atas sektor industri pengolahan di peringkat kedua, dan sektor
perdagangan, hotel dan pariwisata di peringkat ketiga. n
Lampung
dalam Angka
Perkampungan nelayan di
pinggiran kota Bandar Lampung.
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM52
JUMLAH PENDUDUK (2011):
7, 691 juta jiwa
LUAS WILAYAH:
35,288.35 Km2 , terbagi menjadi
12 kabupaten dan 2 kota
APBD (2011) 2, 49 triliun
SARANA
DAN PRASARANA
KESEHATAN
Puskesmas: 269 unit
RS Umum Pemerintah : 13 unit
RS Jiwa : 1 unit
RS Swasta : 25 unit
Dokter : 962 orang
Dokter spesialis : 269 orang
Dokter gigi : 277 orang
Bidan : 3.663 orang
Perawat: 4.798 orang
Dalam sejarahnya Provinsi Lampung
dikenal penghasil utama lada hitam.
Sedemikian penting komoditas ini
hingga menjadi salah satu komponen
dalam lambang Provinsi Lampung.
Aneka panganan khas lampung
dengan bahan utama hasil laut yang
dipadankan dengan buah, seperti
seruit durian dan mangga ini.
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 53
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM54
roma kopi luwak Lampung memang
menguar hingga mancanegara.
Oprah Winfrey tak ketinggalan
mengangkat si bulat hitam ini
dalam acaranya. Di provinsi
Lampung, luas perkebunan
kopi mencapai 160.000 hektar
dengan produksi biji kopi per
tahun sekitar 130.000 ton.
Sebanyak 230.000 lebih
kepala keluarga terlibat dalam budidaya
kopi. Tidak mengherankan, kopi robusta
yang menopang sekitar 85 persen ekspor
kopi Indonesia sebagian besar berasal
dari provinsi di ujung selatan Sumatra
ini. Lampung, termasuk Lampung Barat
(Lambar), telah dikenal sebagai salah satu
pemasok kopi dunia.
Buat Hipni, hal ini tentu memberikan
masa depan cerah. Apa lagi fakta bahwa
harga kopi di tingkat petani pada 2012 ini
membaik,Rp16.500-Rp17.000perkilogram
kering petani, lebih tinggi daripada harga
tahun lalu, Rp 12.000. Makin gembira
hatinya karena kopi yang dihasilkan bukan
sembarang kopi. Hipni menjual kopi luwak
bubuknya kepada eksportir seharga 600-
700 ribu per kilogram. Meski masih jauh
lebih rendah daripada secangkir kopi
luwak seduh di Starbuck di New York,
angka tersebut cukup membuat Hipni
tersenyum puas.
Namun, kisah Hipni baru sepenggal cerita.
Penggalan-penggalan kisah lain tidak
Raut muka dan gerak tubuhnya memperlihatkan rasa optimistis. Nasib baik
dirasakannya akan segera tiba melawat. Dan, itu lumrah, beralasan. Hipni baru
saja tiba kembali di rumahnya di Liwa, Lampung Barat, setelah berpameran di
Malaysia selama seminggu. Sebelumnya, ia membuka stan pamer di Dubai.
Semuanya dengan bendera Kopi Luwak Rama, Lampung Barat, miliknya.
Menebar Harum
Aroma Jamkesta dr Reihana M. Kes.
seindah itu. Rendahnya produktivitas, naik
turun harga, biaya pemeliharaan yang
makin tinggi membuat sebagian petani
kopi masih berkutat dengan nasibnya.
Belum lagi urusan pengijon dan tengkulak.
Imron, seorang petani di Lampung Barat,
dengan 3 hektar lahan, merasa bersyukur
anak sulungnya bisa bersekolah hingga
SMA. Tapi, itu pun sudah ngos-ngosan. Tak
mampu lagi dia mengantar putrinya ke
jenjang lebih tinggi.
Tingginya kesenjangan kesejahteraan
di Lampung diakui oleh peneliti Bank
Indonesia perwakilan Lampung, Nunu
Hendrawanto. Itu sebabnya, meski
sebagian warga menikmati tingkat
kesejahteraan tinggi, sekitar 16 persen
lebih atau sekitar 1, 3 juta penduduk
masih berada di bawah garis kemiskinan.
Lampung menempati peringkat ketiga se-
Sumatra untuk tingkat kemiskinannya di
bawah Aceh dan Bengkulu.
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 55
Gambaran ini tentu berimbas pada kondisi
kesehatan warga. Angka kemiskinan dan
tingginyapekerjasektorinformalmembuat
jaminan kesehatan dirasa sangat perlu.
Saat ini sekitar 41 persen penduduk sudah
tercakup dalam Jamkesmas, dan 8 persen
lainnya terlindungi dengan asuransi lain.
Namun demikian, pemerintah
setempat dan dinas kesehatan agaknya
menganggap hal itu belum cukup. Pada
Februari 2012 lalu, Provinsi Lampung
yang menggandeng PT Askes (Persero)
meluncurkan program Jamkesta yang
memberi jaminan kesehatan untuk sekitar
51 persen penduduk yang belum tercakup
dalam asuransi kesehatan apapun. Dengan
demikian Lampung menjadi daerah kelima
yang memulai program Jamkesta setelah
Sumatra Selatan, Aceh, Bali, dan Sulawesi
Selatan.
Jamkesta merupakan implementasi Sistem
Jaminan Sosial Nasional yang telah diatur
dalam UU No. 40/2004. Dalam UU tersebut,
diatur lima program jaminan sosial.
Kesehatan adalah satu di antaranya (lihat
bagan“Sistem Jaminan Sosial Nasional”).
Di Provinsi Lampung, jaminan kesehatan
ini hanya berlaku untuk perawatan kelas
III dan berfungsi secara bertahap, yakni
hasil rujukan dari puskesmas ke rumah
sakit kabupaten, dan dari situ ke RSUD
Abdul Moeloek jika memang dibutuhkan.
Menurut dr. Reihana, M.Kes., Kadinkes Prov.
Lampung, caranya pun mudah,“Kalau mau
berobat jalan, pasien cukup membawa
KTP. Untuk rawat inap, pasien harus
membawa kartu keluarga, surat rujukan
dari puskesmas, dan surat pernyataan tidak
memiliki asuransi kesehatan apa pun.”
Kebijakan ini tentu patut diapresiasi,
terutama bila melihat beberapa pekerjaan
rumah Dinkes Prov Lampung yang masih
tertinggal. Di bidang pemberantasan
malaria, misalnya. Meski program eliminasi
telah berlangsung dan memberikan hasil
menggembirakan, empat kabupaten
termasuk Lampung Barat masih perlu
mendapat perhatian. Apalagi nanti pada
2013, dana Global Fund yang selama
ini menjadi tulang punggung, tak lagi
mengucur (baca: “Melengkapi Wajah
Malaria di Sumatra”).
Demikian juga dengan masalah kesehatan
ibu dan anak. Saat ini Lampung tercatat
sebagai satu di antara 20 daerah yang
bermasalah dalam hal kesehatan ibu dan
anak. AKI provinsi Lampung sejak 2009
terus meningkat dari 122 kasus pada 2009,
144 kasus pada 2010, dan 132 kasus sampai
November 2011. Kendati gambaran
suram ini, upaya-upaya kecil namun nyata
sesungguhnya bisa kita jumpai di wilayah
ini. Kemitraan antara dukun dan bidan desa
di Buay Nyerupa, Lampung Barat, misalnya
bisa menjadi contoh (baca: “Bersama
Menanti Kelahiran”).
Menurut IPKM 2007, Lampung menempati
urutan ke-12.Tapi kesehatan tidak berhenti
pada angka. Keberadaan Jamkesta jelas
diperlukan, dan upaya berbagai pihak
patut terus diperbaiki agar peringkat tetap
bertahan atau bahkan membaik. n
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM56
UU 24/2011 TENTANG BPJS
(BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL)
I. JUMLAH DAN RUANG LINGKUP
Membentuk 2 BPJS:
• BPJS Kesehatan: Program Jaminan Kesehatan;
• BPJS Ketenagakerjaan: Program Jaminan Pensiun,
Jaminan HariTua, Jaminan Kecelakaan Kerja, dan Jaminan
Kematian
II. BENTUK DAN KEUDUDKAN
• BPJS merupakan Badan Hukum Publik
• BPJS bertanggungjawab langsung kepada Presiden
III. FUNGSI DAN TUGAS
BPJS berfungsi menyelenggarakan program jaminan sosial.
Tugas BPJS :
• Memungut dan mengumpulkan iuran dari peserta dan
pemberi kerja;
• Menerima bantuan iuran dari pemerintah;
• Mengelola dana jaminan sosial yang berasal dari iuran
untuk kepentingan peserta;
• Mengumpulkan dan mengelola data peserta program
jaminan sosial;
• Membayarkan manfaat dan/atau membiayai pelayanan
kesehatan;
• Memberikan laporan mengenai penyelenggaraan
program Jaminan Sosial kepada Presiden; dan
• Memberikan informasi mengenai penyelenggaraan
program Jaminan Sosial.
IV. DEWAN PENGAWAS DAN DIREKSI
• Dewan Pengawas dan Direksi berasal dari unsur
profesional
• Dewan Pengawas adalah organ BPJS yang bertugas
melakukan pengawasan atas pelaksanaan pengurusan
BPJS oleh Direksi dan memberikan nasihat kepada Direksi
dalam penyelenggaraan Program Jaminan Sosial.
• Direksi adalah organ BPJS yang berwenang dan
bertanggung jawab penuh atas pengurusan BPJS untuk
kepentingan BPJS, sesuai dengan asas, tujuan, dan prinsip
BPJS serta mewakili BPJS, baik di dalam maupun di luar
pengadilan.
V. TRANSFORMASI
• Tidak boleh ada Pemutusan Hubungan Kerja dan tidak
boleh ada penghilangan hak-hak normatif dari karyawan.
• Tidak boleh merugikan peserta lama yang mengikuti
program jaminan sosial.
• Tidak boleh ada program terhadap peserta lama yang
stagnan atau terhenti. Pelayanan terhadap peserta lama
tidak boleh terhenti.
• Satu peserta hanya membayar satu kali untuk setiap
program.
• Pemerintah diamanatkan untuk menyelesaikan seluruh
peraturan pelaksanaan yang diperlukan terkait
persiapan pendirian dan operasional BPJS Kes dan
BPJS Ketenagakerjaan
• Ada kepastian dalam investasi yang saat ini
sedang berjalan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan.
• Proses pengalihan aset kepada aset BPJS
dan aset dana jaminan sosial dilakukan
dengan prinsip kehati-hatian.
BPJS oleh Direksi dan memberikan nasihat kepada Direksi
dalam penyelenggaraan Program Jaminan Sosial.
Direksi adalah organ BPJS yang berwenang dan
bertanggung jawab penuh atas pengurusan BPJS untuk
kepentingan BPJS, sesuai dengan asas, tujuan, dan prinsip
BPJS serta mewakili BPJS, baik di dalam maupun di luar
Tidak boleh ada Pemutusan Hubungan Kerja dan tidak
boleh ada penghilangan hak-hak normatif dari karyawan.
Tidak boleh merugikan peserta lama yang mengikuti
Tidak boleh ada program terhadap peserta lama yang
stagnan atau terhenti. Pelayanan terhadap peserta lama
Satu peserta hanya membayar satu kali untuk setiap
Pemerintah diamanatkan untuk menyelesaikan seluruh
peraturan pelaksanaan yang diperlukan terkait
persiapan pendirian dan operasional BPJS Kes dan
Ada kepastian dalam investasi yang saat ini
sedang berjalan sesuai dengan peraturan
Proses pengalihan aset kepada aset BPJS
dan aset dana jaminan sosial dilakukan
dengan prinsip kehati-hatian.
JUNI 2012
> Perpres Jamkes
> PP PBI (Penerima Bantuan Iuran)
2013
> Seleksi Pimp BPJS
(Dewas, Direksi)
> Regulasi pemberian
modal awal
> Penyesuaian regulasi
terkait jamkes
2013
> Semua pengelola
Jamkes
menyiapkan
penyerahan
peserta, aset,
SDM
>Penetapan
RT penerima
bantuan iuran
1 JANUARI 2014
> BPJS
penyelenggara
program jaminan
kesehatan mulai
beroperasi
> BPJS dapat
menerima
peserta baru dari
masyarakat yang
belum mempunyai
jaminan
I. AZAS, TUJUAN, PRINSIP SJSN
> Azas : kemanusiaan, manfaat, dan keadilan sosial.
> Tujuan : memberi jaminan terpenuhinya kebutuhan dasar hidup yang layak.
> Prinsip : Gotong-royong, Nirlaba, Keterbukaan, Kehati-hatian, Akuntabilitas,
Portabilitas, Kepesertaan bersifat wajib. Dana Amanat, Hasil pengelolaan Dana
Jaminan Sosial sepenuhnya untuk pengembangan program.
UU 40/2004 TENTANG SJSN
(SISTEM JAMINAN SOSIAL NASIONAL)
II. BPJS
> Pembentukan BPJS
dengan Undang-Undang
III. DJSN
> Pembentukan DJSN;
> Fungsi,Tugas,Wewenang DJSN;
> Keanggotaan DJSN dan Sekretariat DJSN.
V. PROGRAM JIMANAN SOSIIAL
> Jenis program jaminan sosial meliputi:
> Jaminan Kesehatan;
> Jaminan Kecelakaan Kerja;
> Jaminan Kematian;
> Jaminan Pensiun; dan
> Jaminan HariTua
VI. PENGELOLAAN DANA JAMINAN SOSIAL
> Dana Jaminan Sosial dikelola dan dikembangkan oleh BPJS;
> Subsidi silang antar dana jaminan tidak diperbolehkan;
> Cadangan teknis wajib dibentuk oleh BPJS;
> Pengawasan terhadap pengelolaan keuangan BPJS
dilakukan oleh instansi berwenang.
IV. KEPERSERTAAN DAN IURAN
> Dana Jaminan Sosial dikelola dan dikembangkan oleh BPJS;
> Subsidi silang antar dana jaminan tidak diperbolehkan;
> Cadangan teknis wajib dibentuk oleh BPJS;
> Pengawasan terhadap pengelolaan keuangan BPJS
dilakukan oleh instansi berwenang
Tah
apan
Pelaksanaan BPJS Kesehatan
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 57
Sementara geliat perlawanan di Sumatra bagian tengah masih terengah,
Lampung nampaknya hendak membentengi dari ujung selatan.
Melengkapi wajah malaria di Sumatera dengan optimisme.
MELENGKAPI
WAJAH MALARIA
DI SUMATRA
TREN DANA APBD DAN BANTUAN GLOBAL FUND
Provinsi Lampung, 2008 - 2012
Endah Setyaningrum, dosen Biologi di Universitas
Lampung, antusias sekali mengisahkan berbagai
penelitian malaria yang dilakukannya di bagian selatan
Lampung. Ia hafal jenis-jenis Anopheles yang terdapat
di sana. Risiko terkena malaria berikut perjalanan bolak-
balik berjam-jam dengan perahu yang mengangkut
penduduk dari satu titik ke titik lain tak membuatnya
risau. Bersama mahasiswa dan koleganya ia rajin
melancong ke kawasan tambak terlantar, salah satu
habitat nyamuk biang malaria.
Penelitian di Kabupaten Pesawaran, misalnya, menangkap
lima jenis Anopheles. Salah satu jenisnya, yaitu An. nigerimus,
mempunyai nilai MHD (man hour density) tertinggi yaitu 1,5.
Artinya, kemungkinan manusia digigit nigerimus adalah 1,5
kali dalam satu jam. Penelitian yang lain menunjukkan bahwa
kepadatan larva tertinggi ada di tambak yang paling minim
memiliki hewan akuatik dan predator. Faktor fisik dan kimia seperti
suhu air, oksigen terlarut dan kedalaman air juga berkorelasi erat
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM58
dengan kepadatan larva Anopheles. Perilaku
menggigit para punggawa Anopheles tak
lepas dari pengamatan para peneliti nyamuk
dari dalam dan luar Lampung. Di dalam atau
di luar rumah, jam berapa mereka paling aktif
menggigit, terekam dengan baik. Nyamuk
dan malaria telah menjadi obyek yang
tak habis digandrungi para ilmuwan. Dan
kemeriahan itu salah satunya digerakkan oleh
gaung program nasional“Gebrak Malaria”.
Dari ujung ke ujung, Sumatera menawarkan
eksotisme kisah memberantas malaria. Ada
yang terengah, tapi ada juga yang telah bisa sedikit
bernafas lega.
Tambang timah rakyat di Bangka Belitung tak hanya
melahirkan keindahan kisah Laskar Pelangi, namun
juga belenggu panas mengigil di kalangan masyarakat.
Hamparan hutan dan perkebunan menyimpan harta
tambahan perindukan nyamuk. Keindahan pesisir
yang kebanyakan masih perawan di banyak tempat
kemolekannya menyimpan mantra malaria.
Sabang yang terpisah di ujung utara, justru sebaliknya.
Negeri di ujung utara Nusantara ini telah bebas malaria.
Provinsi Aceh secara wilayah juga telah maju di depan,
dengan bertekad meredam hegemoni malaria lebih
cepat dari target pusat. Syarat-syarat terwujudnya
predikat Eliminasi terus diperjuangkan, termasuk telah
lolosnya Qanun Aceh nomor 4 tahun 2010 tentang
Eliminasi Malaria.
Lampung nampaknya juga hendak membentengi dari
ujung selatan. Melengkapi wajah malaria di Sumatera
dengan optimisme.
Sejak program malaria lebih intensif digelar dengan
dukungan Pusat dan kucuran dana Global Fund di
2008, perbaikan situasi malaria di Lampung terlihat
cukup mencolok. Kemeriahan “Gebrak Malaria” berhasil
menggebrak berbagai kalangan. Tak kurang Dirjen
Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
Kementerian Kesehatan, Tjandra Yoga, mengulas hal
ini dalam konferensi pers menyambut kunjungan duta
malaria dunia, Princess Astrid dari Belgia, April lalu.
Menurutnya, salah satu keberhasilan Lampung adalah
“sudah terbentuk semacam forum lintas
sektor dan lintas program untuk bersama-
sama menanggulangi malaria.”
Data Annual Malaria Incidence (AMI)
menunjukkan penurunan dari 6,4 per mil
(2008) menjadi 4.8 per mil pada 2011,
sedangkanangkaAnnualParasiteIncidence
(API) turun dari 1 per mil menjadi 0,62 per
mil pada tahun yang sama.
Laporan Dinas Kesehatan Provinsi
Lampungmengklaimdukunganpemerintahdaerahyang
meningkat dari tahun ke tahun, dalam bentuk komitmen
anggaran. Alokasi APBD untuk pemberantasan malaria
sebesar Rp. 525.186.900 pada 2008, meningkat tajam
dengan gelontoran sebesar Rp.1.840.926.000 pada
2011. Tren ini memenuhi harapan Global Fund yang
mengasumsikan saat bantuan hibah berakhir, program
malaria sudah dapat berjalan dengan dana APBD.
Namun betulkah demikian? Waktu akan membuktikan.
Waktu yang tak lama lagi, karena hanya satu tahun lagi
GF akan menyapih balitanya memerangi malaria sendiri.
Jangan sampai kerelaan merogoh kocek sendiri hanya
momen terkesima membalas ‘gula-gula’ yang dibawa
tamu yang baik hati. Nor Ayu, Kasi Pengendalian Penyakit
Dinkesprov Lampung yang sehari-hari bergumul
dengan malaria, memikirkan kelangsungan program ini
pasca GF. “APBD tetap mendukung, tapi arahnya lebih
banyak ke logistik. Untuk support program (pelatihan
petugas, surveilans, insentif, pengembangan program,
dsb) masih memerlukan perhatian pusat maupun
internasional.”
Tak seperti Aceh, Lampung hingga saat ini belum
meloloskan Perda Eliminasi Malaria, yang seharusnya
akan dapat memberi dukungan lebih pada kelanjutan
program. Informasi dari Pusat, exit strategy telah disusun
oleh tim Kementerian Kesehatan bersama Global Fund.
Namun jujur saja, keyakinan realisasinya di lapangan tak
sebesar pemikiran dan kesepakatan. Harus ada upaya
lebih keras dari sekedar business as usual. Jika tidak,
program ini bisa terjebak pada gaya hit and run banyak
proyek sebelumnya. Pengalaman dan kearifan lokal
adalah guru pendiam yang harus didengarkan. n
“sudah terbentuk semacam forum lintas
sektor dan lintas program untuk bersama-
sama menanggulangi malaria.”
Data Annual Malaria Incidence (AMI)
menunjukkan penurunan dari 6,4 per mil
(2008) menjadi 4.8 per mil pada 2011,
sedangkanangkaAnnualParasiteIncidence
(API) turun dari 1 per mil menjadi 0,62 per
mil pada tahun yang sama.
Laporan Dinas Kesehatan Provinsi
Endah Setyaningrum
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 59
“Bidan ini yang membantu kelahiran semua anak
saya, tiga-tiganya. Sejak Bidan masih gadis. Anak saya
nomor dua lahir barengan dengan anak pertama
Bidan,”Zakaria (38) bersemangat bercerita. Semua
nampak sehat dan ceria. Zakaria sang kepala keluarga,
Hidayati (36) sang isteri, anak pertama (10) dan anak
kedua (6), hari itu nampak santai saja berkumpul
menunggu kelahiran buah hati yang ketiga.
Menanti Kelahiran
bersama Dukun dan Bidan
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM60
Periksa Jelang Persalinan
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 61
Di ruang tamu rumah panggung berlantai kayu coklat
tua yang bersih dan lapang telah hadir sang bidan, Leni
Meilinda. Selain itu, seorang perempuan setengah baya
berkain sederhana hadir cukup menonjol. Dialah Nenek
Azmiati (64), dukun bayi yang sangat dikenal penduduk.
Akrab, bersahaja dan memancarkan kekuatan jiwa. Dialah
partner kerja yang handal dari para bidan di wilayah itu.
Nek Azmiati telah menjadi dukun bayi lebih dari tiga puluh
tahun. “Wilayah kerja”nya melewati batas Puskesmas. “Ke
mana-mana saya ini. Kemarin sore di Tapaksiring. Saya
dipanggil jam sembilan. Jam tiga sore bayinya lahir. Bidan
di sana namanya Dita. Begitu saya sampai, panggillah Dita,
kata saya.”
Keceriaan, kecekatan dan kesederhanaannya sungguh
menyentuh. Siapapun akan merasa aman dan nyaman
di dekatnya. Perasaan seperti itu tak akan mudah
digantikan dengan fasilitas atau sistem yang lebih modern.
Kekuatan jiwanya sepertinya sudah gifted, selain ditempa
pengalaman panjang tentunya.
Nenek Azmi seperti jembatan emas antara era lama dan
era baru persalinan. Jembatan yang datang justru dari
era lama. Menakar nilai baik tentu tak dapat dilakukan
dengan dikotomi ‘lama’ dan ‘baru’ begitu saja. Meskipun
slogan besarnya adalah ‘persalinan oleh tenaga kesehatan
di fasilitas kesehatan’, namun di lapangan prosesnya tak
boleh abai budaya dan kondisi setempat. Pada setiap
Puskesmas Buay Nyerupa
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM62
implementasi, tak ada cara yang one fits all. Apalagi di negeri
yang begitu beragam adat istiadatnya. Keinginan untuk me-
’revolusi ‘ praktek persalinan, seperti terjadi di beberapa tempat,
bisa menimbulkan konflik dan bom waktu. Padahal persalinan
adalah sakral. Tentunya pemahaman dan kearifan lokal lah yang
harus dimanfaatkan. Di banyak tempat dukun bayi tak punya
lagi generasi penerus. Nenek Azmi tak pernah tahu ada dukun
bayi setelah generasinya. “Tak tahulah, tinggal saya. Kebanyakan
sudah tua, sudah meninggal,”ujarnya.
Tenang Pikiran
Hubungan yang lebih memudahkan satu sama lain membuat
kolaborasi Leni dan Nenek Azmi menyenangkan. “Ringan
perasaan. Gak panik lagi. Kalau sendiri, panik tuh. Saya ini
kalau mau ada ibu melahirkan, bersama bidan, tenang pikiran.
Ibaratnya beban, sudah ringan,”meluncur saja cerita Azmiati.
Bidan Leni menimpali, “Dia tuh nggak pernah nolak kalau
dipanggil. Tengah malam juga berangkat dia.“ Dukun Azmi
menambahkan, “Bagaimanapun juga saya berangkat. Hujan
deras juga, pasti berangkat saya.”
Azmiati lebih jauh menjelaskan bahwa dia selalu melakukan
pemeriksaan sejak awal kehamilan bersama dengan bidan. Kalau
ada keluhan, panggil bidan. Begitupun pada waktu menjelang
persalinan. Biasanya penduduk akan memanggil Azmiati terlebih
dulu. “Sebelum saya periksa, harus panggil bidan dulu. Berapa
lamanya, tensi darahnya, dsb. Kalau belum waktunya melahirkan,
bidan pulang, saya yang nunggu.”
Jampersal
Waktu ditanya apakah tahu Jampersal, dia menjawab “Tahu.
Persalinan Gratis.” Biar pasiennya tidak sungkan-sungkan
memanggil bidan, hal itu yang pertama dia kasih tau. “Soalnya
banyak pasien yang takut-takut kalau mau panggil bidan, takut
biayanya, takut bayar.”“Itu kan gratis. Sekarang kan semua gratis.
Pakai KTP, KK, ke Posyandu. Saya juga ngasih tahu.”
Bidan Leni serius mengikuti cerita Nenek Azmi yang seperti
mewakili perannya. Sekali-sekali dia mengangguk-angguk.
Hidayati, sang ibu hamil, yang ternyata masih harus menunggu
beberapa jam lagi untuk melahirkan ikut bergabung. Jampersal
menampakkan wajahnya yang ramah di ruangan itu. Sungguh
membuat perbedaan. Tak apa ada kendala sedikit-sedikit, seperti
terbersit dalam kalimat Bidan Leni, “Ya, jumlah biayanya naik,
sejak Januari. Tapi klaimnya baru dibayar akhir Maret.” n
Bidan Leni dan Dukun Asmiati
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 63
POTRET
Wamenkes:
Orang miskin sakit,
dilarang bayar
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM64
Apa yang menjadi prioritas Kementerian Kesehatan saat ini ?
Kemenkes mempunyai 8 program prioritas. Tapi dari prioritas
itu ada yang lebih prioritas lagi, yakni terkait dengan tantangan
untuk mencapai target MDG’s. Diantara prioritas diantaranya,
penyakit menular, penyakit tidak menular. Dari yang diprioritas,
bagaimana menurunkan angka kematian ibu ? Itu tidak mudah
dan perlu waktu. Sebab itu, perlu terobosan-terobosan mencapai
prioritas itu.
Apa contoh terobosan itu ?
Sebagai contoh, kerjasama dengan Telkom. Ibu hamil sebagai
pengguna program jampersal, dapat berkonsultasi lewat sms
atau telpon. Contohnya saja telpon ke 119, kemudian Telkom
menghubungkan dengan rumah sakit. Bila dalam keadaan
emergensi, ambulans sudah siap, langsung datang ke alamat
rumah penelpon atau sms tadi.
Tapi, tidak hanya untuk ibu yang akan melakukan persalinan,
juga untuk keadaan lain seperti stroke dan kecelakaan. Hanya,
utamanya untuk Ibu hamil. Tentu tidak cukup disitu. Bagaimana
memilih program untuk zero persalinan di rumah. Mengapa di
Indonesia tantangan terbesar itu adalah angka kematian ibu ?
Karena 40% ibu hamil melakukan persalinan di rumah. Meskipun,
80-90% persalinan dilakukan tenaga kesehatan dan fasilitas
kesehatan. Tapi waktu bersalin yang keadaannya bermasalah
malah di rumah. Maka, wacanaya bagaimana program zero
persalinan di rumah.
Bisa dijelaskan mengapa masyarakat cenderung bersalin di
rumah?
Salah satunya, di rumah itu murah, ayem, tentram, karena dekat
keluarga. Paradigma ini harus diubah. Singapura, melarang
bersalin di rumah, di klinik saja tidak boleh, tapi harus di rumah
sakit. Hanya saja, Singapura kecil, jadi lebih mudah. Di Malaysia
juga melarang bersalin di rumah. Indonesia juga mengarahkan
ibu hamil bersalin harus di fasilitas pelayanan kesehatan.
Berhubung wilayah Indonesia berpulau-pulau, semacam
telemedicine ini penting. Untuk mempermudah mobiltas dari
pulau ke pulau. Hanya saja, justru angka kematian ibu itu terjadi
bukan di pulau-pulau, tapi di pulau Jawa, bukan di Papua. Paling
banyak di Jawa Barat.
Kalau dirunut, kira-kira apa penyebabnya ?
Biasanya kematian ibu karena faktor 3 T ( 3 keterlambatan ).
Terlambat dalam mengambil keputusan. Untuk memutuskan
melahirkan dimana ? keluarga baru itu susah, banyak
pertimbangan. Ada yang bermasalah dengan uangnya. Ada yang
harus bertanya ke mertua, apalagi hidup di mertua. Hal ini sering
terjadi di pedesaan.
Setelah diputuskan, ternyata ke dukun, kemudian ada komplikasi
dan terlambat merujuk. Setelah terlambat tidak ada transportasi,
akhirnya terlambat lagi ke RS. Setelah sampai di RS, ternyata
dokter spesialisnya tidak ada. Kalaupun dokternya ada, sudah
terlambat, meninggal. Persediaan darah tidak ada.
Sebetulnya tidak terlalu sulit, yang sulit itu untuk membuat
keputusannya. Membuat keputusan itu perlu memberdayakan
orang dan keuarga untuk berani dan tahu kira-kira persalinannya
atau kehamilannya ini berbahaya atau tidak. Sehingga mereka
dengan cepat mengambil keputusan. Kalau ada ciri-ciri
kehamilannya berbahaya, mereka bersalin tidak ke dukun dan di
rumah. Ke bidan saja tidak boleh harus ke Rumah Sakit.
Menghadapi 3 T tadi, apa solusi yang ditawarkan program ?
Memberdayakan Ibu dengan berbagai macam caranya mulai dari
every mother every child, itu harus diperhitungkan. Ada gerakan
sayang ibu, Bapak harus sayang ibu, keluarga harus memerhatikan
ibu. Ini kan terbalik, ibu disuruh macam-macam.
Nah ini kan susah, bagaimana merubahnya ?
Ya susah, jadi harus informal, dan harus ada edukasi bagaimana
ciri-ciri orang yang bersalin yang memiliki risiko. Contohnya kalau
kakinya bengkak, pendarahan, pucat, dia harus tahu. Ini 3 tanda
bahaya kehamilan, dan harus ambil keputusan cepat. Kalau tahu
seperti ini harus ke rumah sakit.
Bagaimana melatih kecepatan mengambil keputusan ?
Perlu edukasi masyarakat, pemberdayaan yang luar biasa
Untuk spesifik Jawa Barat, ada pengalaman bagaimana
memberdayakan ?
Jadi memberdayakan masyarakat melalui berbagai macam
gerakan persalinan. Iklan TV harus mendidik, mereka harus tahu
Jaminan kesehatan untuk masyarakat miskin telah menginspirasi pemerintah daerah
mengeluarkan jaminan kesehatan daerah dengan berbagai nama dan pruduk. Hanya
saja, masih ada masyarakat miskin yang belum terkaver jaminan kesehatan.
Nah bagaimana solusi dan program prioritas yang menjadi unggulan Kementrian?
Berikut wawancara dengan Wamenkes. Prof.dr. Ali Ghufron Mukti, Msc, Ph.D
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 65
prosedurnya dan memanfaatkannya. Tidak boleh orang bersalin
itu bayar.
Selain menurunkan angka kematian ibu, apalagi yang
menjadi program unggulan ?
Meningkatkan akses pelayanan kesehatan, jadi akses pelayanan
itu sangat penting. Membangun infrastruktur yang memiliki
kebijakan yang memihak pada orang tidak mampu. Sebetulnya,
orang-orang mampu, umumnya sudah memikirkan bagaimana
menjaga kesehatan dan kemana berobat. Maka, perhatian kepada
masyarakat yang tidak mampu. Jadi kalau dulu ada orang yang
mengolok-olok, ada buku“orang miskin dilarang sakit”, sekarang
program dibalik“Orang miskin kalau sakit, dilarang bayar”.
Artinya, sehat atau sakit orang miskin dilarang bayar ?.
Oh jangan, usahakan tidak sakit. Jika, terpaksa sakit, orang miskin
dilarang bayar. Ini untuk merubah mind set bahwa orang miskin
dilarang sakit. Kalau bisa orang miskin, bukan orang miskin saja,
orang kaya juga jangan jatuh sakit. Tapi kalau terpaksa jatuh sakit,
orang miskin dilarang bayar.
Mohon ma’af yang biasanya sakit umumnya orang tidak mampu.
Kalau orang mampu sakitnya beda, bukan angka kematian
ibu. Meski ada juga, namun proporsinya kecil. Kematian anak
umumnya pada kelompok ekonomi yang kurang dan pendidikan
yang rendah.
Kemudian terkait dengan BPJS, apakah medukung
pencapaian MDGs ?
Jelas, intinya BPJS itu hanya Badannya. Intinya bagaimana
badan ini, yang sekarang ada dua, BPJS Ketenagakerjaan dan
BPJS Kesehatan. Mereka melaksanakan tugas bagaimana
mengumpulkan dana, mengembangkan, mengelola, administrasi
dan membagikan kartu yang lebih efisien.
Lebih penting lagi, masyarakat mempunyai akses pelayanan
kesehatan. Sebab, kalau masyarakat dijamin tapi tidak bisa akses,
tak bisa datang dan tidak memanfaatkan, menjadi tidak bermakna
jaminan itu. Sebab, bagi orang miskin, waktu itu sangat berharga,
apalagi yang betul-betul miskin, karena tiap hari taruhannya
makan atau tidak makan. Jadi kalau hanya sakit pusing-pusing, dia
tetap kerja. Artinya meski dijamin, dia tidak menggunakannya.
Sebab, orang miskin membuang satu hari, tidak makan ?.
Betul, basic need itu sangat mempengaruhi. Mereka pasti
menghitung. Kalau aksesnya panjang, aksesnya jauh, dia harus
berjalan puluhan kilo, naik angkot, harus bayar, dan disana diobati
dan obatnya bayar lagi. Belum transportnya yang lebih besar di
daerah-daerah tertentu. Maka, mereka memilih tidak memakai
walaupun dijamin. Jadi istilahnya program BPJS itu harus betul-
betul harus bisa meningkatkan akses dan menghilangkan
financial barier. Tentu dalam BPJS ini nanti, bukan hanya
mengumpulkan uang, tapi juga sebagai awal dari reformasi sistem
pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Baik dari sisi mutu dan
pengawasannya. Sehingga aksesnya bisa meningkat, efisien dan
efektif.
Tapi yang lebih penting lagi sebetulnya, sistem jaminan ini sekali
lagi lalu sebagai sebuah reformasi sistem jaminan kesehatan,
kemudian berdampak pada peningkatan derajat kesehatan.
Derajat kesehatan masyarakatnya meningkat, umurnya lebih
panjang tidak, angka kematian, kesakitan dan angka kematian
ibu turun. Jadi, BPJS sebuah alat untuk pengembangan sistem
menuju masyarakat sehat.
Oleh karenanya jangan salah pengertian, nanti ada BPJS berarti
kalau sakit dijamin. Kalau begitu sakit saja nanti masuk RS dan
sembuh. Itu salah besar. Itu yang dikhawatirkan. Sebab, banyak
pemerintah daerah mengira alokasi dana untuk alokasi jaminan
saja. Sehingga orang menjadi careless tidak seksama menjaga
kesehatannya. Padahal“menjaga orang sehat tetap sehat”, lebih
penting.
Karena masyarakat mendapat jaminna kesehatan, maka banyak
yang berbondong-bondong ke Rumah Sakit, sementara
kapasitasnya terbatas. Apakah infrastrukturnya sudah siap ?
Iya, makanya dipersiapkan infrastruktur. Kemenkes menyiapkan
fasilitas pelayanan kesehatan dan infrastruktur, termasuk sistem
informasinya, semua harus dipersiapkan. Sudah memetakan,
paling tidak harus mepunyai 237 ribu tempat tidur secara
nasional. Sekarang, sudah mempunyai lebih dari 200 ribu tempat
tidur. Jadi kurang sekitar 37 ribu. Tapi di Jawa Barat kekuranganya
paling banyak, karena penduduknya paling besar.
Kalau fokus di Jawa Barat, kemudian ada perubahan
yang signifikan sebenarnya sudah banyak mendongkrak
perubahan ?
Iya tapi nanti sistemnya bagaimana ?. Memang tidak
mudah karena orang sering menyebut daerah bermasalah
kesehatanseperti Papua, NTT. Tapi real number jumlah orang
mati, Ibu mati, anak mati, itu di Jawa. Karena itu, menngitungnya
proporsi. Contoh di NTB itu kurang lebih sekitar 300-400 kematian
ibu per 1000. setiap 100.000 itu ada sekian, tetapi yang faktanya
masih banyak di Jawa.
Dari seluruh program, ada preventif, kuratif, rehabilitatif,
nah semua itu harus dalam suatu rangkaian. Kalau kemudian
diprioritaskan sekarang ini dengan budget yang ada, mana
yang lebih diutamakan?
Menuju kepada suatu target yang fokus dan jelas; pertama
pengurangan angka kematian ibu dan anak, gizi kurang. Kedua;
peningkatan akses, pembangunan infrastruktur, membangun
puskesmas. Ketiga, memberdayakan masyarakat untuk hidup
sehat. Seperti PHBS, agar masyarakat mandiri berperilaku hidup
sehat. Contohnya untuk bisa sehat harus istirahat yang cukup,
olah raga teratur,makan pada waktunya tidak berlebih dan tidak
kurang. n ( Pra, Desy)
POTRET
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM66
SIAPA DIA
S
elama ini masyarakat mengenal sosok, Soraya Haque (47), sebagai
mantan peragawati, model dan aktris sinetron. Namun, hanya sedikit yang
mengetahui jika Soraya juga terlibat aktif dalam berbagai kegiatan sosial,
terutama yang berhubungan dengan kesehatan, pendidikan dan anak-anak.
“Dalam hidup ini saya telah melalui beberapa fase, yah sebagai model, presenter,
penulis, ibu rumah tangga, pemain sinetron, dan banyak lainnya. Kini, saya ingin
mengabdikan diri bagi masyarakat. Saya ingin mentransfer pengetahuan yang saya
punya, agar setidaknya masyarakat bisa menjadi lebih baik,”kata Soraya.
Minimnya kesadaran masyarakat mengenai kesehatan dan pendidikan, membuat
ibu dari tiga orang anak ini merasa prihatin. Namun, ia bersyukur anak-anak dan
keluarganya berada dalam kehidupan sejahtera.
“Jika saya terjun langsung ke lapangan, semua atribut sebagai seorang artis saya
lepas. Saya hanya ingin menerjemahkan bahasa kesehatan dengan cara mudah,
misalnya jaga kesehatan dengan cuci tangan. Itu kan hal mudah, tapi tetap saja sulit
untuk dilakukan,”kata Aya yang berharap aksinya ini bisa memberikan dampak baik
bagi kehidupan bangsa. n
Soraya Haque
peduli Kesehatan
Artika Sari Devi
Hypnosis Buah Hati
Artika Sari Devi punya cara tersendiri mendidik anak. Artika
melakukan hypnosis untuk buah hatinya, Sarah Ebiela
Ibrahim.
Hypnosis merupakan ilmu yang diterapkan untuk memberikan
pengaruh yang baik untuk anak dengan cara memberi sugesti
positif pada anak.
“Saya belajar hypnosis ini dari buku. Ternyata setelah saya baca,
saya dan mungkin semua orang tua dimana saja mereka sudah
melakukan hypnosis pada anaknya. Ada saat-saatnya kapan
anak mendapat pengaruh-pengaruh yang positif dari orang
tuanya dan bagaimana cara kita memberikan hypnosis ini ke
anak,”terang Artika di sela peluncuran buku Hypnoparenting, di
Jakarta .
Artika menuturkan melalui metode hypnosis tersebut merasa
banyak hal positif yang ditemukan pada sang anak yang kini
berusia 2 tahun. Ia dan anaknya jadi terbiasa berkomunikasi.
“Apabila dia protes atau ada penolakan dari dia aku ajak bicara,
ngobrol dan ternyata itu lebih efektif daripada kita menyudahi
dengan sudahlah mengalah,”imbuhnya.
Penerapan hypnosis terhadap anak tersebut rupanya mendapat
dukungan penuh dari sang suami, Baim.“Kami sangat setuju
karena ilmu ini lebih memberikan contoh. Dengan Bahasa yang
universal, adalah bahasa kasih sayang. Jadi di sini mengajarkan
bagaimana komunikasi dengan kasih sayang. n
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 67
RESENSI
D
alam buku Petunjuk Pelaksanaan Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan
Program Bina Gizi dan KIA dijelaskan 2 (dua) alokasi dana bantuan yaitu:
1) Dana Dekonsentrasi, yang digunakan untuk menunjang pelaksanaan
pembangunan di bidang kesehatan dengan prioritas Program Bina Gizi dan
Kesehatan Ibu dan Anak; dan 2) Dana Tugas Pembantuan, untuk mendukung
sarana dan prasarana kesehatan dan pelaksanaan kegiatan Bantuan Operasional Kegiaan
(BOK) di Kabupaten/Kota.	
Program Bina Gizi dan KIA ini merupakan kelanjutan dari program upaya kesehatan
masyarakat dan program perbaikan gizi masyarakat, yang setiap tahun dialokasikan
melalui APBN dalam bentuk dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Dana tersebut
sebagai salah satu sumber pelaksanaan program di daerah disamping dana APBD, dana
perimbangan dan sumber lainnya, sehingga diharapkan akan memacu pencapaian
program sesuai dengan kewenangan setiap jenjang.
Pemerintah Pusat dalam upaya tersebut tidak sebatas menyediakan dana Dekonsentrasi
dan Tugas Pembantuan bagi pelaksanaan program di daerah tetapi masih banyak
dukungan pendanaan lain seperti APBN, Jamkesmas, Jampersal, dan lainnya.
Diharapkan dengan diterbitkannya Buku Petunjuk Pelaksanaan ini dapat memberikan
acuan bagi pelaksanaan kegiatan Program Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak yang
bersumber dari dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan tahun anggaran 2012 di
dalam mendukung pencapaian sasaran pembangunan. n
K
esiapan industri kosmetika di Indonesia patut didukung dan didorong untuk
menjawab tantangan perubahan ini. Keseluruhan kesiapan ini, tentunya
harus didukung dengan kesiapan sIstem, perangkat regulasi dan pedoman
pelaksanaannya.
Pedoman ini merupakan salah satu upaya merespon adanya perubahan dalam Izin
Produksi Kosmetik, yaitu dengan adanya Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indoesia
Nomor: 1175/Menkes/Per/VII/2010 tentang Izin Produksi Kosmetika.
Penyusunan buku ini dimaksudkan sebagai petunjuk pelaksana izin produksi kosmetik
bagi pelaku usaha, dan juga merupakan upaya untuk menjamin pelaksanaan pelayanan
prima kepada masyarakat sebagai wujud dari penerapan prinsip-prinsip clean and
government good governance secara universal.
Semoga pedoman ini dapat digunakan sebagai acuan bagi petugas kesehatan pusat dan
daerah, pelaku usaha yang melaksanakan Pelayanan Perizinzn Industri Farmasi. n
Judul	 : Petunjuk pelaksanaan dana 		
	 dekonsentrasi dan tugas pembantuan 	
	 program bina gizi dan KIA
Impresum	 : Jakarta; Kementerian Kesehatan RI; 	
	 Ditjen Bina Gizi dan KIA,- 2012
Kolasi	 : xxix, 217 hlm. ; 12 x 16 cm.
Subyek	 : 1. HEALTH POLICY
	 2. HEALTH PLANNING
	 3. BUDGETS
Judul	 : Pedoman Pelaksanaan Pelayanan
	 Pelayanan Izin Produksi Kosmetika
Impresum	 : Jakarta; Kementerian Kesehatan RI;
	 Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat
	 Kesehatan,2011
Kolasi	 : xii, 45 hal; 21 x 16 cm
Subyek	 : 1. COSMETICS
	 2. QUALITY CONTROL
	 3. HEALTH MANPOWER
Pedoman pelaksanaan
pelayanan izin produksi
kosmetika
Petunjuk pelaksanaan dana
dekonsentrasi dan tugas pembantuan
program bina gizi dan KIA
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM68
1. Apa yang dimaksud
dengan BOK
(Bantuan Operasional
Kesehatan)?
2. Apa yang dimaksud
dengan Pos
Pelayanan Terpadu
(Posyandu)?
3. Apa yang dimaksud
dengan upaya
promotif dan
preventif ?
jelaskan
perbedaannya ?
Jawaban diterima Redaksi paling lambat minggu
keempat bulan Agustus 2012. Nama pemenang
akan diumumkan di Mediakom edisi XXXVII Sept
2012. 10 Pemenang MediaKuis masing-masing
akan mendapat hadiah dari Mediakom. Hadiah
pemenang akan dikirim melalui pos.
Redaksi Mediakom mengucapkan permohonan
maaf, dikarenakan ada kendala teknis, maka
PEMENANG Media Kuis Edisi XXXV April 2012
akan di umumkan pada edisi XXXVII Sept 2012.
Jawaban dapat dikirim melalui:
Email : kontak@depkes.go.id
Fax : 021 - 52907421
Pos : Pusat Komunikasi Publik,
Gedung Kemenkes
Jl. HR. Rasuna Said Blok X5,
Kav. 4-9, Jakarta Selatan
Kuis ini tidak berlaku bagi Keluarga Besar Pusat
Komunikasi Publik Kemenkes RI.
Kirimkan jawaban kuis dengan mencantumkan
biodata lengkap (nama, alamat, kota/kabupaten,
provinsi, kode pos dan nomor telepon yang
mudah dihubungi).
PEMENANG MEDIA KUIS
EDISI XXXV April 2012
MEDIA KUIS
K
endaraan khusus Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PPTM)
mulai dirancang dan dikirim ke beberapa Provinsi sejak Tahun
2007, satu tahun setelah dibentuknya Direktorat Pengendalian
Penyakit Tidak Menular, Direktorat Jenderal Pengendalian
Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan,
Departemen Kesehatan.
Kendaraan khusus PPTM dapat digunakan untuk mendekatkan
pelayanan kepada masyarakat dalam mendapatkan edukasi, deteksi
dini PTM dan evakuasi medik. Untuk itu dibuatlah prosedur tetap
sebagai acuan yang dapat digunakan menjadi petunjuk teknis dalam
menggunakan kendaraan khusus PPTM dengan fungsi edukasi, deteksi
dini faktor risiko dan evakuasi medik.
Petunjuk teknis ini dapat digunakan sebagai acuan dan bisa
dikembangkan baik peralatan maupun teknik operasionalnya sesuai
dengan kondisi lokal masing-masing daerah. n
Judul : PetunjukTeknis Penggunaan Kendaraan
Khusus Pengendalian PenyakitTidak Menular
Impresum : Jakarta; Kementerian Kesehatan RI;
Ditjen Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan, 2011
Kolasi : iv, 79 hal; 23 x 15 cm
ISBN : 978-602-8937-62-7
Subyek : 1.TRANSPORTATION OF PATIENCE
Petunjuk teknis
penggunaan kendaraan
khusus pengendalian
penyakit tidak menular
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 69
LENTERA
A
da seorang teman yang selalu mengeluh. Ada saja
yang dikeluhkan: atasan yang tidak menghargai
hasil pekerjaannya, atasan yang tidak pernah cukup
memberi arahan, yang lebih menyukai rekan kerja
lain dibanding dirinya, yang terlalu sibuk untuk
memahami segala hal yang terjadi di lingkungannya, sering
menginstruksikan hal-hal yang tidak masuk akal. Bla, bla, bla... dan
seribu keluhan lainnya.
Seorang teman lain selalu mengeluhkan kehidupan pribadinya.
Kekasihnya yang kerap tidak mengerti dirinya, kurang memberi
perhatian, tidak menunjukkan perasaan cinta, selalu berbohong,
pelit, tidak mau bersikap manis saat sedang hang out bersama
teman-teman lain, belum mau melamar, tidak setia. Bla, bla, bla…
dan seribu keluhan lain.
Sahabat saya selalu dipusingkan dengan pekerjaannya yang
dianggap terlalu menyita waktu, suaminya yang dianggap tak
cukup baik memahaminya, anak-anaknya yang sulit diatur,
staf dan rekan kerja yang tidak bisa memenuhi harapannya,
lingkungan kerja yang tidak menyenangkan, gaji yang tidak
memadai. Bla, bla, bla... dan seribu keluhan lain.
Saya selalu senang mendengarkan permasalahan yang
diceritakan orang lain. Selain mengasah empati, menambah
pengetahuan, juga bisa membantu yang bersangkutan
mengurangi beban pikirannya, walaupun sedikit. Menurut saya
semua permasalahan itu mencerminkan beberapa aspek di
diri saya juga. Terkadang saya tersenyum dan bergumam,“Eh,
masalah kita kok sama ,ya,”atau,“Ealaaahh, gw jugaaaa!!”Atau,
“Yang bener, loh, nyindir gue yaaa?”Gitu deh..
Selama ini beberapa teman dengan setia mencurahkan segala
permasalahan hidupnya kepada saya. Dan, sebaliknya, saya
juga curhat habis-habisan pada mereka. Pada dasarnya, saya
memegang teguh azas sharing di dalam kehidupan ini. Saya
berpendapat, sebuah masalah yang di-share dengan orang yang
tepat, akan sangat meringankan beban berat di kepala, minimal
setengahnya... Walaupun, terus terang saja, tidak semua ada
solusinya.
Kalimat yang paling sering saya sampaikan ke para sahabat
adalah:
1.	Segala hal yang terjadi padamu adalah kehendak zat Maha
Tinggi, dan sudah merupakan rencana terindah yang
diberikanNya padamu.
2.	Jika kamu membuka lebar hatimu, membiarkan jiwamu bebas,
maka kau akan menemukan banyak hal yang dapat dipelajari
dari semua masalah yang menimpamu.
3.	Tak ada satu pun hal yang terjadi secara kebetulan. Segalanya
pasti ada tujuannya, hanya diri kita terkadang terlalu“sempit”
dalam memandang sesuatu.
4.	Jika tiba-tiba masalah datang beruntun dan tak terkendali,
maka pilahlah! Segala yang tak bisa kau intervensi, maka itu
bukan masalahmu Lepaskanlah, dan biarkan pemilik masalah
sesungguhnya yang menyelesaikannya.
5.	Waktu adalah musuhmu. Segala yang kau harapkan,
akan terjadi pada saat yang tepat, hanya waktu yang bisa
membuatnya nyata.
6.	Seribu kegagalan merupakan seribu cara yang salah dalam
mengupayakan sesuatu. Tapi jangan khawatir, semua kegagalan
itu akan membawamu ke berjuta kesuksesan, asal kau mau
belajar dari kesalahanmu.
7.	(Nomor berapa sekarang?) O, ya... Nomor 7: jangan
menyalahkan orang lain untuk segala kegagalanmu. Itu berarti
kau bukan orang yang bisa menerima kenyataan.
8.	Mengenai rejeki (terkait pekerjaan, uang, jodoh, anak, posisi,
kekuasaan, dll), percayalah... Jika itu bukan milikmu, maka
walaupun kau mengerahkan seluruh hidupmu, dan seluruh
makhluk di alam semesta ini untuk mendapatkannya, tidak
akan kau dapatkan yang kau inginkan. Sebaliknya jika itu
memang milikmu, segalanya akan berada di genggamanmu,
walaupun seluruh dunia menentangnya.‘Khusus yang ini, saya
ngutip pak uztad..hehehe’
Saya selalu mengingat 8 hal itu di saat kesialan menimpa... Dan
8 hal itu juga yang selalu menjadi kalimat ajaib yang saya share
ke para sahabat yang sedang dirundung masalah. Bagi sebagian
orang, itu hal klise yang hanya jadi ucapan penenang dan tak
mudah dilaksanakan. It’s easy to say, they said... Yes, indeed...
Buat saya, segala solusi, awalnya merupakan kata-kata bijak yang
terangkai, bisa hasil mengutip, bisa hasil pemikiran sendiri, atau
nasehat dari orang sok tahu seperti saya. But still, it help... For me
at least....
Jangan sampai terjebak menjadi manusia tertutup, belajarlah
menjadi buku terbuka yang dapat dibaca oleh orang lain, dan
kemudian menjadi pelajaran berharga untuk dipikirkan atau
diterapkan.
Semua ucapan kita belum tentu dianggap benar dan baik bagi
orang lain, tapi jika niat kita tulus, maka segala yang terbaik akan
muncul dan memberi manfaat bagi sebagian orang.
Bagi saya, suatu masalah adalah bahan baku utama dalam proses
pendewasaan diri dan pada saatnya nanti akan saya bagikan pada
orang lain dan generasi penerus saya.
Jadi, selamat menemukan masalah dalam hidupmu dan belajarlah
memecahkannya! n(DIS)
Mengeluhlah, Lalu Bangkitlah...
Oleh : Dewi Indah sari
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM70
D
ua pekan awal Mei 2012, media terharu biru dengan
berita wafatnya Menkes dr. Endang R Sedyaningsih.
Tepatnya, Rabu, 2 Mei pukul 11.40 di RSCM, Jakarta.
Sepekan berikutnya, masyarakat heboh dengan berita
jatuhnya pesawat Sukhoi 100 superjet di Gunung
Salak Bogor, Rabu 9 Mei 2012. Sama-sama hari Rabu.
Menjelang Bu Endang meninggal, orang dapat memprediksi,
walau tidak pasti, karena selama dua pekan telah dikabarkan
bahwa Menkes sedang dirawat di RSCM, dan kondisi
kesehatannya tidak stabil. Sehingga, menjelang hari-hari terakhir
pada pekan kedua itu, kondisi Bu endang semakin lemah.
Saudara, teman sejawat dan banyak pihak mengirim doa, agar
bu Endang diberikan yang terbaik. Sehingga, ketika diumumkan
Menkes meninggal orang-orang terdekat dan lainya segera
mengikhlaskannya.
Berbeda dengan wafatnya penumpang Sukhoi. Mereka mendapat
undangan khusus untuk menikmati penerbangan spesial,
sebagai ajang promosi. Tentu, tak semua orang berkesempatan.
Di samping terbatas tempat duduknya, juga harus ada korelasi
khusus dengan penjualan pesawat tersebut di kemudian hari.
Maka, terpilihlah orang-orang tertentu yang berkesempatan
pertama pada penerbangan promosi tersebut.
Ada beberapa cerita menarik menjelang penerbangan tersebut.
Diberitakan, ada penumpang, sebelum terbang melaksanakan
shalat dzuhur terlebih dahulu. Ada pula penumpang naik pesawat
hanya berfoto, karena firasat tertentu, kemudian turun kembali
tidak ikut dalam penerbangan tersebut. Kisah terakhir ini adalah
kisa Manoarfa, mantan Menteri Perumahan Rakyat RI.
Alhasil, mereka yang turun dan sedang shalat dzuhur tak ikut
serta dalam penerbangan. Beberapa jam berikutnya, dikabarkan
pesawat tak terlacak dari bandara Halim Perdana Kusuma. Ia
dikabarkan hilang. Kemudian diketahui jatuh di lereng gunung
salak yang berkemiringan 85 derajat. Semua penumpangnya
meninggal. Innalillahi wainnailaihi rojiun. Orang dekat dan
saudaranya kaget,“Secapat itukah? Hampir-hampir tak percaya,”
kata Manoarfa.
Kedua contoh di atas, sama meninggalnya, hanya berbeda
caranya. Insya Allah semua meninggal dalam kebaikan. Mereka
akan dibalas dengan amal perbuatan masing-masing. Sementara
yang masih hidup, hanya menunggu waktu antrian. Karena
semua yang hidup, sedang menunggu waktu datangnya
kematian. Hanya saja tidak tahu. Kapan? Tak ada yang mampu
menjawabnya.
Antara Bu Endang
dan SukhoiOleh : Prawito
Karena tak ada yang mampu menjawab kapan, dimana dan
dengan cara apa kematian itu tiba, maka kematian bersifat
misteri. Wallahu’alam, hanya Tuhan yang tahu, tapi kematian
itu pasti. Seperti banyak orang mengatakan, dunia ini penuh
ketidakpastian kecuali dua perkara: yakni perubahan dan
kematian.
Meninggal, selain pasti, juga dekat. Mengapa dekat? Setidaknya
ada dua alasan. Pertama; manusia hanya tahu waktu hidup yang
sudah dijalani dan tidak tahu berapa sisa umurnya. Manusia
hanya menjalani, kemudian tiba-tiba meninggal, tanpa ada
pemberitahuan. Sekalipun, jalan meninggalnya berbeda-beda.
Selama menjalani hidup, kita merasakan sangat sebentar.
Coba renungkan! Masa kecil, remaja, kini sudah dewasa, tua
dan beranak cucu. Masa lalu masih sangat terekam baik dalam
ingatan, sepertinya baru beberapa saat saja. Tapi, ketika secara
sadar dihitung, ternyata sudah belasan, puluhan dan bahkan telah
ratusan tahun berlalu. Sekali lagi, semua berlalu begitu cepat,
sehingga hidup terasa singkat.
Kedua: hidup selalu berputar, melingkar, dan bertukar. Pertukaran
dan perputaran membuat hidup terasa singkat dan cepat.
Perputaran dari kaya menjadi miskin atau sebaliknya. Berpindah
dari suasana sedih menjadi gembira atau sebaliknya. Setelah
menangis lalu tertawa, kemudian menangis lagi dan tertawa lagi.
Begitulah seterusnya.
Karena begitu cepat perputaran hidup, terkadang tak terasa
adanya perubahan, pertukaran dan pergantian. Seperti melihat
roda kendaraan yang berputar dengan kecepatan tinggi, nyaris
tak kelihatan putarannya. Tapi yang pasti, kendaraan akan begerak
dan berpindah menuju tujuan akhir. Bila tak mengetahui jarak dan
waktu tempuh sampai tujuan akhir, maka kita akan tetap bergerak
seperti biasa cepat atau lambat. Hanya saja, tiba-tiba kendaraan
harus berhenti, karena ternyata sudah sampai pada tujuan akhir.
Pengendara akan mengatakan,“Cepat sekali, saya pikir masih
jauh.”Pertanyaanya, apa yang harus dipersiapkan bila batas akhir
perjalan hidup itu dekat dan tak diketahui ?
Bila menyadari batas akhir hidup itu dekat dan tak diketahui, pasti
akan mempersiapkan secara baik perbekalan yang dibutuhkan
setelah mati, di saat masih hidup. Seberapa lengkap perbekalan
yang disiapkan bergantung seberapa sadar akan hal ini. Bukti-
bukti ilmiah telah memberi informasi secara gamblang, bahwa
kematian itu pasti dan sangat dekat. Masihkah belum segara
menyiapkan bekal hidup setelah mati dan tetap mengatakan
nanti..... ? n
EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 71
Menteri Kesehatan beserta Jajaran Kementerian Kesehatan mengucapkan
Selamat Idul Fitri
1433 H

Mediakom36

  • 1.
    LAMPUNG Meracik Jamkesta di TanahKopi WHA ke-65 Hasilkan 21 Resolusi dan 3 Keputusan MEDIAKOM Kementerian Kesehatan RI Info Sehat untuk Semua ISSN1978-3523 EDISI36IJUNII2012 “BOK dan Banjar nganak” di Lombok Tengah
  • 2.
  • 3.
    ETALASE SUSUNAN REDAKSI PENANGGUNGJAWAB: drg. Murti Utami, MPH, I REDAKTUR: Dra. Hikmandari A, M.Ed, Dyah Yuniar Setiawati, SKM, MPS I EDITOR/PENYUNTING Mulyadi, SKM, M.Kes, Busroni S.IP, Prawito, SKM, MM, M.Rijadi, SKM, MSc.PH, Mety Setyowati, SKM, Aji Muhawarman, ST, Resti Kiantini, SKM, M.Kes I DESAIN GRAFIS dan FOTOGRAFER: Drg. Anitasari S.M, Dewi Indah Sari, SE, MM, Giri Inayah, S.Sos, Sumardiono, SE, Sri Wahyuni, S.Sos, MM, Wayang MasJendra,S.Sn,Lu’ay,S.Sos,DodiSukmana,S.I.KomISEKRETARIAT:WaspodoPurwanto,Endang Retnowaty, drg. Ria Purwanti, M.Kes, Dwi Handriyani, S.Sos, Dessyana Fa’as, SE, Sekar Indrawati, S.Sos, Awallokita Mayangsari, SKM, Delta Fitriana, SE, Iriyadi, Zahrudin. IALAMAT REDAKSI: Pusat Komunikasi Publik, Gedung Kementerian Kesehatan RI Blok A, Ruang 109, JL. HR. Rasuna Said Blok X5 Kav. 4-9 Jakarta 12950 I TELEPON: 021-5201590; 021-52907416-9 I FAKS: 021-5223002; 021-52960661 I EMAIL: info@depkes.go.id, kontak@depkes.go.id I CALL CENTER: 021-500567 REDAKSI MENERIMA NASKAH DARI PEMBACA, DAPAT DIKIRIM KE ALAMAT EMAIL kontak@depkes.go.id Kejar Target MDG’s 2015 drg. Murti Utami, MPH P elayanan kesehatan di tingkat lapangan, ternyata masih banyak kendala, seperti ketersediaan fasilitas, SDM dan anggaran. Sementera daerah mempunyai APBD yang berbeda-beda dan terbatas pula. Tidak sedikit yang hanya cukup untuk membiayai operasional pegawai. Padahal, pelayanan kesehatan, khususnya puskesmas, sebagai garda terdepan dalam pelayanan kesehatan, yang menjadi fokus pemerintah daerah, teruma dukungan dana, masih terabaikan. Guna mendukung puskesmas memiliki kinerja yang bagus, untuk mencapai target MDG’s 2015, maka harus ada upaya ekstra, khususnya dalam penyediaan biaya yang mendukung operasional puskesmas. Upaya ekstra tersebut, tahun 2012 pemerintah (Kemenkes) telah mengalokasikan dana bantuan operasional kesehatan ( BOK) masing-masing puskesmas sebesar Rp 75 juta untuk wilayah Sumatera, Jawa dan Bali. Sementara, wilayah Kalimantan dan Sulawesi Rp 100 juta. Maluku Rp 200 juta, NTT dan Papua Rp 250 juta. BOK, diharapkan mampu mendorong revitalisasi kinerja puskesmas secara optimal. Bagaimanakah implementasi BOK dan manfaat yang dirasakan masyarakat, kami ketengahkan di rubrik media utama. Selain itu, redaksi juga mengetengahkan sebagian kesan- kesan Bu Endang Rahayu Sedyaningsih selama mengabdi dua setengah tahun menjadi Menkes dan selamat datang Bu Nafsiah Mbo’i sebagai Menkes baru dalam rubrik Stoppres. Tak ketinggalan kami suguhkan pula rubrik ragam, untuk rakyat dan rubrik lainnya yang mengangkat tema menarik untuk pembaca. Pada kesempatan ini, mewakili seluruh awak redaksi, yang banyak salah dan khilaf, dibulan yang Fitri ini, kami mengucapkan mohon maaf lahir dan batin, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H. Redaksi. LAMPUNG Meracik Jamkesta di Tanah Kopi WHA ke-65 Hasilkan 21 Resolusi dan 3 Keputusan MEDIAKOM Kementerian Kesehatan RI Info Sehat untuk Semua ISSN1978-3523 EDISI36IJUNII2012 “BOK dan Banjar nganak” di Lombok Tengah EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 3
  • 4.
    18 67SIapa Dia Artika SariDevi Hypnosis Buah Hati Ragam WHA ke-65 34 PERTANYAAN: Saya dokter PTT di pedalaman di sebuah provinsi di Indonesia bagianTimur. Saya ingin komplain mengenai gaji kami yang selalu terlambat. Gaji bulan April 2012 sampai hari ini akhir Mei 2012 belum diterima. Kami para dokter PTT dituntut bekerja profesional di daerah namun minim fasilitas. Hak kami kadang diabaikan. Mohon penjelasan. Dokter PTT di Pedalam, Indonesia baginTimur JAWAB: Pembayaran gaji dokter PTT berdasarkan surat pengusulan pembayaran gaji dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat. Pengusulan pembayaran dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota untuk 3 bulan mendatang, paling lambat diusulkan pada tanggal 2 awal bulan untuk 3 bulan mendatang. Misalkan untuk gaji bulan Juli, Agustus dan September 2012 harus sudah diusulkan oleh Dinas Kesehatan setempat ke Kementerian Kesehatan paling lambat tanggal 2 Juli 2012. Sehubungan dengan keterlambatan usulan pembayaran gaji dari Dinas Kesehatan yang diterima di Kementerian Kesehatan pada bulan Juni ini, maka pembayaran gaji bulan Juni 2012 yang akan dibayarkan terlebih dahulu. Kemudian gaji bulan April 2012 dan Mei 2012 akan dirapelkan. Agar pembayaran gaji dapat tepat waktu, Anda dapat menghubungi dan meminta informasi ke Dinas Kesehatan setempat sehingga pengusulan pembayaran mengikuti mekanisme seperti di atas. Apabila membutuhkan informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi PusatTanggap dan Respon Cepat (PTRC) Kementerian Kesehatan pada nomor: (kode lokal) 500567. PERTANYAAN: Kami bidan PTT di sebuah Kabupaten di JawaTimur. Kami mau menanyakan kenapa pada tahun 2011 klaim jampersal hanya cair Rp 142.000/pasien di Kabupaten kami. Sementara yang kami ketahui dari Kementerian Kesehatan sebesar Rp 350.000,-. Mohon penjelasan. Bidan PTT, di sebuah Kabupaten JawaTimur JAWAB: Kementerian Kesehatan telah mengirimkan biaya Jampersal tahun 2011 kepada Dinas Kesehatan setempat sesuai aturan yang ada.Tarif Jampersal ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan. Namun dana Jampersal yang diterima di Dinas Kesehatan akan mengikuti mekanisme keuangan daerah di Pemerintah Daerah setempat sebagai Pendapatan Daerah (APBD). Sehingga pembagian atau pencairan dana Jampersal mengikuti mekanisme anggaran di Pemerintah Kabupaten setempat. Untuk informasi lebih lanjut dapat ditanyakan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat. SURAT PEMBACA Nusa Tenggara Barat “Teras Belakang” Indonesia EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM4
  • 5.
    INFO SEHAT Manfaat Puasa untukKesehatan Tubuh Dengan Tertawa Kita Lebih Sehat Kebiasaan Sehat Agar Tak Diserang Migrain Kurangi Berat Badan Dengan Ngemil Kismis STOP PRESS Kemenkes Hadiri Peringatan Hari Lupus Sedunia Tahun 2012 Dr.Nafsiah Mboi , Sp.A.MPH Menkes 2012-2014 Why me? Budaya Caring Perawat Indonesia Kemenkes Bersama Tim Gabungan Siapkan Evakuasi Korban Sukhoi Superjet-100 Sinkronisasi Pembangunan Kesehatan Provinsi SumBar 2012 Stop Bab Sembarangan Kota Sawahlunto Peran Aktif dan Semangat Kemitraan Semua Pihak adalah Kunci Menuju Indonesia Bebas TB MEDIA UTAMA “BOK dan Banjar nganak” di Lombok Tengah Dr.dr. Slamet Riyadi Yuwono, DTM&H, MARS: Kebijakan Biaya Operasional Kesehatan dr. Moch. Ismail: BOK harus “ Ekstra hati-hati” Kisah Kader Posyandu: Hj. Marlina Tanpa Taburia, Anak mogok makan Terima Kasih BOK Kemenkes siap turunkan AKI dan AKB di NTB Sinergikan Pembangunan Kesehatan di NTB 6-8 6-17 18-31 32-43 44-45 46-49 50-63 64-66 68-69 70-71 RAGAM Catatan Perjalanan Seorang Peneliti Kesehatan JAMU: Sukma Indonesia, bukan sekedar herbal Thalassaemia: Tidak Bisa Sembuh, Tapi Bisa Dicegah KOLOM Sehat Tanggung Jawab Individu UNTUK RAKYAT BPJS Kesehatan Bravo PP Asi Eksklusif DAERAH LAMPUNG: Meracik Jamkesta di Tanah KopI. Lampung dalam Angka Menebar Harum Aroma Jamkesta Melengkapi Wajah Malaria Di Sumatra Menanti Kelahiran bersama Dukun dan Bidan POTRET BPJS Kesehatan Wamenkes: Orang miskin sakit, dilarang bayar RESENSI LENTERA Mengeluhlah, Lalu Bangkitlah... Antara Bu Endang dan Sukhoi EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 5
  • 6.
    INFO SEHAT Manfaat-Manfaat PUASAUntuk KesehatanTubuh P uasa yang kita kenal adalah puasa pada bulan Ramadhan. Di luar itu, sebenarnya banyak jenis puasa lain, seperti puasa senin-kamis, puasa nabi daud, dan lainnya. Bahkan, agama lain juga memiliki kegiatan seputar puasa. Ternyata, jika melihat dari sisi sains, puasa memiliki banyak manfaat untuk kesehatan tubuh kita. Berikut beberapa manfaat puasa bagi tubuh kita saat berpuasa. 1. Menurunkan berat badan. Anda bisa menurunkan berat badan dengan diet. Namun, lebih baik lakukan dengan puasa. Sebab, dengan berpuasa jadwal makan dan minum, akan teratur dengan baik. Puasa juga mampu membuat kita makan dengan berlebihan, dan tidak juga menyiksa tubuh anda. Tetapi Anda juga harus berhati-hati, proses menurunkan berat badan saat berpuasa sulit terjadi jika saat berbuka Anda lebih banyak mengonsumsi makanan tinggi gula dan kalori dibandingkan sayuran dan buah. 2. Menghilangkan racun dalam tubuh. Kondisi lambung kosong saat anda Berpuasa, membantu detoksifikasi (pembuangan racun di dalam tubuh). Dan kemudian proses detoksifikasi menjadi optimal pada saat seseorang berbuka puasa pada sore hari. Berpuasa juga membantu tubuh menyerap nutrisi di dalam tubuh jadi lebih efektif. Nutrisi di dalam makanan terserap sempurna sehingga meminimalisasi penumpukan makanan yang membusuk di tubuh. 3. Menghilangkan/meredakan nyeri pada persendian. Siapa sangka, puasa juga bisa menjadi obat untuk meredakan penyakit yang satu ini. Bagi orang yang menderita arthritis atau radang sendi. Sebuah penelitian menunjukkan adanya hubungan antara membaiknya radang sendi dan peningkatan kemampuan sel netrofil dalam membasmi bakteri. Netrofil, atau sel penetral merupakan unsur yang mampu menetralkan racun maupun bakteri penyebab radang sendi. 4. Mengurangi konsumsi cairan yang berlebihan Mengurangi konsumsi air selama puasa, bisa membantu mengatasi akumulasi cairan yang berlebihan pada tubuh. Proses ‘pengeringan’ini akan mengatasi pembengkakan pada perut, kaki dan lutut yang sering dialami saat seseorang mengalami menstruasi. 5. Mengatasi tekanan darah tinggi Tak perlu berobat secara medis untuk mengatasi tekanan darah tinggi. Saat berpuasa, otomatis kita akan lebih sedikit mengonsumsi makanan terutama yang mengandung lemak, gula, dan kolesterol tinggi. Hal ini yang kemudian berdampak pada penurunan kolesterol dan gula darah. Jika disertai dengan diet makanan sehat saat sahur dan buka puasa, manfaatnya akan didapatkan dengan lebih optimal. 6. Puasa sebagai waktu istirahat Dengan berpuasa maka Anda secara tidak langsung telah memberikan waktu bagi tubuh dan sistem pencernaan untuk beristirahat. Dengan begitu beberapa organ pencernaan dalam tubuh seperti kerongkongan, usus, lambung bisa bekerja lebih baik saat Anda mulai mengkonsumsi makanan lagi ketika bebuka puasa. n EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM6
  • 7.
    Dengan Tertawa Kita LebihSehat M eskipun sederhana, tertawa menjadi hal yang mulai banyak dilupakan manusia, terutama ketika semakin dewasa. Tuntutan sekolah, ujian, bekerja, target, dan stres di jalan membuat manusia dewasa semakin sedikit tertawa. Padahal, tawa tidak hanya membuat hati senang, tetapi juga bisa membuat kita lebih sehat. Di balik tertawa yang sederhana, tersimpan banyak sekali rahasia yang bermanfaat di dalamnya. Berbagai manfaat tertawa, dikutip dari DrStanley.com, antara lain: - Anak-anak tertawa jauh lebih banyak daripada orang dewasa. Waktu masih kecil, kita bisa tertawa 400 kali dalam sehari. Tapi, sejak masuk dunia sekolah, kemudian bekerja, dan melakukan hal-hal‘dewasa’lainnya, kita hanya tertawa paling banyak 15 kali sehari. - Perempuan bisa tertawa 126 persen lebih banyak daripada laki-laki. - Sama seperti penyakit atau kantuk, dalam dunia tertawa juga dikenal istilah contagious laughter atau tawa yang bisa menular. Kalau kita sedang menonton acara komedi, kita bisa ikutan tertawa ketika mendengar penonton di televisi tertawa. Hal ini disebabkan tawa adalah suatu bahasa yang universal, ekspresi emosi yang sulit untuk dipalsukan atau ditutup-tutupi. - Tertawa sekitar 100 kali memiliki manfaat yang sama dengan 15 menit dengan bersepeda. Tertawa dengan kuat bisa meningkatkan denyut jantung, memperdalam tingkat pernapasan, dan mengencangkan otot-otot diperut, wajah, dan diafragma. - Selain bisa membuat suasana hati menjadi lebih bahagia, tertawa bisa mengurangi stres, membantu melawan infeksi, dan mengurangi rasa sakit. - Dua hormon penyebab stres, kortisol dan epinefrin yang menekan sistem kekebalan tubuh, benar-benar akan turun setelah kita meluangkan waktu untuk tertawa selama beberapa waktu. - Tertawa menyebabkan perubahan positif dalam kimia otak dengan melepaskan endorfin, dan membawa lebih banyak oksigen ke dalam tubuh dengan penarikan yang lebih dalam. - Para peneliti menemukan setelah menonton video komedi slapstick selama satu jam,“sel pembunuh alami”yang bertugas mencari dan menghancurkan sel-sel ganas, seperti sel tumor lebih aktif menyerang dalam tabung uji. Efek satu jam tertawa dapat membuat sel penghancur ini bekerja selama 12 jam. - Tahun 1998, film“Patch Adams” menceritakan kisah nyata kehidupan dokter yang melakukan eksperimen bermain dan mengundang badut, ternyata penting dalam meningkatkan kualitas hidup pasien untuk suasana rumah sakit yang suram. - Tingginya tingkat antibodi (immunoglobulin A saliva) yang melawan infeksi organisme memasuki saluran pernapasan, ternyata ditemukan di air liur orang yang menonton video lucu atau dalam suasana hati yang menyenangkan. n Migrain adalah penyakit umum bagi banyak orang. Migrain adalah masalah kesehatan umum yang dihadapi oleh banyak orang kita. Agar tak diserang migrain, ada beberapa kebiasaan sehat yang harus dilakukan. Berikut beberapa kebiasaan hidup sehat yang dapat dilakukan untuk mencegah timbulkan serangan migrain : 1. Makan tepat waktu Melewatkan jadwal makan karena alasan apapun dapat mempengaruhi kesehatan dalam banyak cara. Jika menderita migrain dan diet pada saat yang sama, jangan melakukan kesalahan dengan melewatkan jadwal makan. Jika telat makan, lemak tubuh yang ekstra akan hilang. Hal ini akan berakhir dengan peningkatkan kadar gula darah dan pada akhirnya dapat menyebabkan migrain. Selain itu, keasaman lambung mempengaruhi otak dan menyebabkan sakit kepala. Untuk menghindarinya, makanlah tepat waktu dan teratur. Jangan melewatkan jadwal makan atau makan terlalu sedikit. 2. Olahraga Tubuh yang sehat menghasilkan pikiran yang sehat. Untuk tetap fit dan aktif, harus berolahraga secara teratur. Hal ini juga membantu menghindari serangan migrain. 3. Tidur yang cukup Terlalu banyak tidur atau kurang tidur dapat mempengaruhi tubuh Anda. Tidurlah yang cukup untuk menghindari sakit kepala migrain. Idealnya, orang dewasa sebaiknya tidur selama 6-7 jam dan tidak lebih dari 9 jam sehari. Pertahankan jadwal tidur untuk hasil yang lebih baik. 4. Berhenti merokok Merokok dapat meningkatkan serangan migrain. Nikotin tidak hanya menyebabkan radang di tenggorokan dan paru-paru, tetapi juga membuat kecanduan. n Kebiasaan Sehat Agar Tak Diserang Migrain EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 7
  • 8.
    INFO SEHAT K ismis diperkenalkandi Eropa oleh bangsa Mediterania pada abad ke-11 sebelum masehi. Kismis adalah buah anggur yang dikeringkan. Bisa dimakan langsung atau dicampurkan dalam kue dan masakan. Buah yang sering dipakai adalah anggur segar yang hijau atau yang merah. Rasanya manis karena mengandung gula cukup tinggi. Jika disimpan dalam waktu lama, gula dalam kismis akan membentuk kristal. Proses ini yang menyebabkan tekstur kismis menjadi kasar dan agak kenyal. Sebuah studi yang dilakukan oleh California Raisin Marketing Board, menghubungkan antara berat badan dengan makan kismis. Ada 26 responden laki-laki dan perempuan yang berat badannya normal. Rata-rata mereka berusia 8-11 tahun. Penelitian dilakukan selama tiga bulan. Secara acak beberapa anak ditugaskan untuk makan kismis dan sebagian anak diminta untuk makan camilan lainnya, seperti keripik kentang, kue cokelat dan buah. Setiap anak juga diberikan menu sarapan yang sama. Nafsu makan responden diukur secara subjektif, 15 menit sebelum dan setelah menikmati camilan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, asupan makanan setelah konsumsi kismis lebih rendah. Mereka juga merasa jenuh saat disuruh makan. Dibandingakan dengan responden yang makan camilan selain kismis justru nafsu makannya lebih besar. Kismis memberikan jumlah kalori lebih sedikit dibandingkan makanan lainnya. Selain itu kismis juga memberikan rasa kenyang lebih lama, sehingga responden yang diberi camilan kismis masih merasa kenyang saat menikmati menu makannya. Keripik kentang dan kue cokelat, mengandung kalori sebesar 70-108 persen lebih tinggi dibandingkan dengan kismis. Jika kismis dijadikan camilan, setiap harinya jumlah kalori dalam tubuh bisa terpotong sekitar 10-19 persen. Cukup mengemil kismis, berat badan bisa turun cepat. Tidak perlu lagi lakukan diet ketat karena cara alami ini bisa membentuk tubuh ideal yang diinginkan. n (Ditulis dari berbagai sumber) Kurangi Berat badan dengan ngemil Kismis Buah kering yang satu ini sangat menyehatkan. Rasanya manis, renyah dan bertekstur agak kenyal. Makanan ini berasal dari buah anggur segar yang di keringkan dan bisa dimakan langsung. Makan kismis ternyata bisa bikin perut cepat kenyang. EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM8
  • 9.
    STOP PRESS Bandung, 5Mei 2012 L ebih dari 5 juta orang di seluruh dunia telah terdiagnosis penyakit Lupus. Sebagian besar penderitanya ialah perempuan di usia produktif yang ditemukan lebih dari seratus ribu setiap tahunnya. Di Indonesia jumlah penderita penyakit Lupus secara tepat belum diketahui tetapi diperkirakan mencapai jumlah 1,5 juta orang. Demikian sambutan Menkes RI yang diwakili oleh Kepala Badan Litbang Kesehatan Kemenkes RI, dr. Dr. Trihono, Msc. pada peringatan hari Lupus Sedunia yang diselenggarakan oleh Syamsi Dhuha Foundation di Aula Kampus Timur ITB, Bandung. Hadir pada Acara tersebut, Pengurus Syamsi Dhuha Foundation, Perwakilan Dekan ITB, Skretaris Ditjen Binfar & Alkes, Direktur Penyakit Tidak Menular dan Kepala Pusat Promosi Kesehatan, Pengurus Syamsi Dhuha Foundation, Para Pemerhati Lupus, dokter dan tenaga medis lainnya. “Lupus merupakan penyakit autoimun kronis yang dapat menyerang hampir seluruh organ atau sistem tubuh dan dapat mengancam jiwa. Diagnosis penyakit ini sering terlambat diketahui karena gejala yang timbul menyerupai berbagai gejala penyakit sehingga dijuluki penyakit yang mempunyai seribu wajah,”terang Ka. Badan Litbangkes. Lebih lanjut Kepala Badan Litbangkes menyatakan, penting bagi para tenaga dokter untuk dapat melakukan pelatihan untuk dapat mendiagnosis penyakit Lupus karena menampakan gejala yang berbeda - beda sehingga tidak mudah didiagnosa oleh para doker. Sementara bagi masyarakat perlu upaya peningkatan untuk menumbuhkan kesadaran dan pencegahan agar dapat mengenal lebih dini gejala penyakit lupus sehingga dapat memperoleh pengobatan yang tepat. Kegiatan“Care for Lupus Syamsi Dhuha Foundation Awards”sangat relevan dengan tema peringatan Hari Lupus Sedunia tahun ini yaitu ’Never Give Up”, karena upaya yang dilakukan oleh para penerima penghargaan bertujuan untuk meningkatkan kualitas Kemenkes Hadiri Peringatan Hari Lupus Sedunia Tahun 2012 hidup Orang Hidup Dengan Lupus (Odapus). Care for Lupus Syamsi Dhuha foundation awards 2012 terdiri dari tiga kategori yaitu: Research Sponsorship, Writing Competetition, dan Lifetime Achievement Pada kesempatan tersebut, Kepala Badan Litbangkes mendapat kehormatan untuk menyerahkan penghargaan kepada pemenang Lomba Research Sponsorship di Bindang Obat atau suplemen yang terkait dengan pemakaian bahan alam yang tersedia di Indonesia sebagai terapi suplemen dalam pengobatan dan atau pengendalian penyakit lupus. Pemenang pertama ialah Niken Indriyanti dari Fakultas Farmasi Universitas Mulawarman, Kaltim dengan judul penelitian: Pengaruh cocor bebek terhadap konsentrasi plasma metilprednisolon dan pengembangan formulanya untuk terapi penanganan Lupus; pemenang kedua ialah Wigit Kristianto dari Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga, Surabaya dengan judul penelitian uji efektifitas Jakalin biji nangka dalam mengurangi jumlah limfosi B dan Gambaran Glomerunefritis ginjal pada mencit BALB/ c dengan Lupus Like Syndrome yang diinduksi pada pristan; sementara pemenang ketiga ialah Muhammad Afifudin dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, dengan judul penelitian potensi ketela rambat ssebagai terap I nutrisi bagi pasien Lupus Eritematosisi Sistemik dengan menignkatkan Foxp3 Sn menginhibisi IL-23R. Berbagai penelitian terkait tanaman obat Indonesia yang berpotensi sebagai suplemen terapi Lupus yang aman dan efektif, harus terus dilakukan. Hal ini penting mengingat penderita Lupus harus berobat seumur hidup, setidaknya upaya ini dapat membantu mengendalikan penyakit Lupus, tegas dr. Trihono. Pemberian penghargaan ini selain merupakan suatu terobosan positif, juga diharapkan untuk mendorong berbagai pihak untuk mengambil bagian dalam meningkatkan kualitas hidup para Odapus serta meningkatkan kesadaran, kepedulian masyarakat terhadap Lupus,”jelas Ka. Badan Litbangkes. n EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 9
  • 10.
    STOP PRESS d r. NafsiahMboi, Sp.A, MPH adalah dokter spesialis anak yang juga ahli Kesehatan Masyarakat yang telah mengenyam pendidikan di Indonesia, Eropa dan Amerika. Beliau memiliki pengalaman karir panjang sebagai Pegawai Negeri di Departemen Kesehatan (1964-1998), sebagai anggota DPR (1992-1997), dan Pegawai Perserikatan Bangsa-Bangsa (1999-2002) tepatnya sewaktu menjabat sebagai Direktur Department of Gender and Women’s Dr.Nafsiah Mboi , Sp.A.MPH Menkes 2012-2014 Health pada World Health Organization (WHO) Pusat di Geneva, Swiss. dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH lahir di Sengkang, Sulawesi Selatan, 14 Juli 1940 adalah lulusan Spesialisasi Dokter Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, tahun 1971. Gelar Master of Public Health diperoleh di Prince Leopold Institute of Tropical Medicine, Antwerp, Belgium, tahun 1990. Beberapa penghargaan yang pernah diperolehnya diantaranya Ramon Magsaysay 13 Juni 2012 pukul 11.15 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH sebagai Menteri Kesehatan 2012-2014 menggantikan Almarhumah dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH. EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM10
  • 11.
    Foundation Award forGovernment Service dari Ramon Magsaysay Foundation, Manila, Philippines (1986), Satya Lencana Bhakti Sosial dari Presiden Republik Indonesia (1989), Fellow of the Australia-Indonesia Institute (1993), Penghargaan dari Asia HRD Congress (2008) dan Penghargaan Soetomo Tjokronegoro yang diberikan oleh PB-IDI (2009). dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH menikah dengan Brigjen purn Dr. Ben Mboi MPH, mantan Gubernur NTT dan dikaruniai 3 orang putra-putri dan 5 orang cucu. Dr. Nafsiah memulai karirnya di Departemen Kesehatan sejak tahun 1964. Beberapa jabatan yang pernah diembannya selama menjadi karyawan Departemen Kesehatan adalah sebagai Kepala Rumah Sakit Umum, Ende, Flores (1964–1968), Kepala Seksi Perijinan pada Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Prop. NTT, Kupang (1979–1980), Kepala Bidang Bimbingan dan Pengendalian Pelayanan Kesehatan Masyarakat (BPPKM) pada Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Prop. NTT, Kupang (1980–1985). Selain jabatan karir, Dr. Nafsiah pernah menjadi Anggota DPR/ MPR RI (1992–1997), Ketua Komite PBB untuk Hak-hak Anak (1997–1999), Direktur Department of Gender and Women’s Health, WHO, Geneva Switzerland (1999-2002) dan Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (2006–sekarang). Lebih dari 70 karya dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris telah dipublikasikan, 20 diantaranya adalah makalah dan artikel. dr. Nafsiah dikenal sebagai sukarelawan dan pekerja masyarakat sejak masih berstatus sebagai pelajar. Selain itu, beliau juga dikenal sebagai aktivis bidang keluarga berencana dan selanjutnya mendedikasikan diri untuk upaya penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia. Komitmennya untuk anti diskriminasi dan kesetaraan dalam masyarakat mengarahkan dr. Nafsiah menjadi aktivis untuk hak-hak azasi manusia, dan menjadi salah satu pendiri Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia, anggota Komnas HAM, dan Wakil Ketua Komnas Perempuan. Beliau telah terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang menitik beratkan pada pemberdayaan perempuan, kesetaraan gender, dan hak-hak anak, semua area tersebut dimulai saat memimpin PKK, BK3S, dan organisasi lain, selama 10 tahun bekerja di Nusa Tenggara Timur (1978-1988) saat suaminya menjabat sebagai Gubernur. Menkes baru silaturahmi dengan karyawan Kemenkes Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, datang ke kantor Kementerian Kesehatan RI  setelah dilantik Presiden RI, DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono di Istana (14/6). Menkes yang didampingi Wakil Menkes Prof. Ali Ghufron Mukti, MSc, PhD, tiba di ruang J.Leimena pukul 14.28 WIB, dan disambut staf dan jajaran Pejabat Eselon I dan II Kementerian Kesehatan yang telah menunggu kehadirannya. Pertemuan dimulai pukul 14.45 WIB. Acara dibuka Wakil Menkes RI, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, disertai ucapan selamat datang. Pada kesempatan ini, para Pejabat yang hadir satu per satu memperkenalkan diri dan menjelaskan secara singkat mengenai tugas pokok dan fungsi dari unit yang dipimpinnya. Selain itu disebutkan, beberapa program prioritas Kemenkes RI dan beberapa“pekerjaan rumah”yang harus segera diselesaikan. Mengawali sesi perkenalannya, Menkes mengajak para hadirin untuk berdiri guna berdoa bersama bagi Almarhumah Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih yang saat ini sudah berada di pangkuan-Nya, serta mohon untuk kelancaran pelaksanaan tugas-tugas ke depan. “Kita berdoa untuk Ibu Endang yang kita cintai, sekaligus kita berdoa semoga kita yang melanjutkan karya dan ide-ide beliau dapat diberi kelancaran, sehingga dengan tim yang kuat seperti sekarang, kita bisa langsung hit the road, running”, kata Menkes. Pada pertemuan tersebut, Menkes memutarkan slideshow perkenalan. Dijelaskan makna empat lilin yang merupakan empat tahap penting dalam hidupnya. Lilin pertama, adalah saat beliau menyelesaikan pendidikan di bidang kedokteran; lilin kedua merupakan saat dimana beliau menikah dan memiliki berkeluarga; lilin ketiga adalah pengalaman berharga menjadi international civil servant; dan lilin keempat adalah saat dimana ditugaskan kembali di kesehatan masyarakat. “Saya tidak menganggap bahwa saya pensiun dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), saya hanya mendapat tugas yang lebih besar”, ujar Menkes. Sebelum dilantik, Menkes Nafsiah menandatangani kontrak kerja dihadapan Presiden RI, DR. H. Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden, Boediono. Kontrak kerja tersebut merupakan kontrak kerja yang sama dengan yang ditandatangani Almarhumah Ibu Endang Rahayu Sedyaningsih. Karena itu, Menkes meminta kesediaan masing-masing para Pejabat Eselon I Pimpinan Unit Utama Kemenkes untuk secepatnya memberikan paparan singkat tentang capaian program prioritas yang pernah digariskan Ibu Endang, tantangan-tantangan, dan strategi apa yang akan dilakukan. “Dua tahun itu waktu yang sangat singkat. Mengambil alih pimpinan bagai seorang kapten kapal yang sedang berlayar di lautan itu tidak mudah. Dengan waktu yang terbatas, kita tetap harus mencapai tujuan. Bila kurang saling mengenal, tidak kompak dan salah pengertian, kapal bisa karam”, ujar Menkes. Pada kesempatan tersebut, Menkes berterima kasih atas kesempatan dan kepercayaan yang diberikan dan meminta jajarannya agar senantiasa kompak dalam menjalankan tugas. Pada kesempatan tersebut, Menkes berharap, selain untuk menyelesaikan tugas-tugas yang belum diselesaikan, dirinya juga ingin menyiapkan agar Menteri Kesehatan untuk generasi mendatang merupakan orang yang mengerti situasi kesehatan masyarakat Indonesia, lebih spesifik memahami atmosfer institusi Kementerian Kesehatan. n ( Yuni) EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 11
  • 12.
    STOP PRESS W hy me? Mengapa saya. Sebuah pertanyaan besar yang ditanyakan kepada diri sendiri. Pertanyaan ini biasanya dilakukan seseorang kepada diri sendiri ketika tidak beruntung. Misalnya: sakit parah, kecelakaan, musibah besar yang menyebabkan kehilangan harta dan anggota keluarga. Mereka tidak siap dan tidak rela mendapatkan pertistiwa kesulitan hidup itu. Ia meratap-ratap, mengapa harus dirinya yang menerima kesulitan itu. Mengapa tidak orang lain saja. Ia protes berat. Protes kepada keadaan atau kepada pemberi kesulitan. Berbeda dengan Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih,“Saya sendiri belum bisa disebut sebagai survivor kanker. Diagnose kanker paru stadium 4 baru ditegakkan 5 bulan yang lalu. Dan sampai kata sambutan ini saya tulis, saya masih berjuang untuk mengatasinya. Tetapis saya tidak bertanya“Why me ?”. Seperti disampaikan dalam sambutannya tertanggal 13 April 2011, yang ditulisnya sendiri untuk menyambut penerbitan buku “Berdamai dengan Kanker“ di Jakarta. Satu bulan sebelum Endang R Sedyaningsih berpulang kerahmatullah, 2 Mei 2012 pkl 11.41 di RSCM Jakarta, karena menderita kanker paru. “Saya menganggap menderita kanker adalah salah satu anugerah dari Allah SWT. Sudah banyak anugerah yang saya terima dalam hidup ini : hidup di negara yang indah, tidak dalam peperangan, diberi keluarga besar yang pandai-pandai, dengan sosial ekonomi lumayan, dianugerahi suami yang sangat sabar dan baik hati, dengan 2 putera dan 1 puteri yang alhamdulillah sehat, cerdas dan berbakti kepada orang tua. Hidup saya penuh dengan kebahagiaan.“ So .... Why not ?“ Mengapa tidak, Tuhan telah menganugerahi saya kanker paru ?. “Tuhan pasti mempunyai rencanaNya, yang saya belum ketahui, tapi saya merasa SIAP menjalankannya. Insya Allah. Setidaknya saya menjalani sendiri, penderitaan yang dialami pasien kanker, sehingga dapat memperjuangkan program pengendalian kanker dengan lebih baik lagi”, katat Endang dalam sambutan itu. Endang juga mengajak para penderita kanker untuk berbaik sangka kepada Allah.“Bagi rekan-rekanku sesame penderita kanker dan para survivor, mari kita berbaik sangka kepada Allah. Kita terima semua anugerahNya dengan bersyukur. Sungguh, lamanya hidup tidak sepenting kualitas hidup itu sendiri. Mari kita lakukan sebaik-baiknya, apa yang bisa kita lakukan hari ini dengan sepenuh hati. Sebaliknya, bila keberuntungan datang kepada orang lain. Ia akan mengatakan“ mengapa bukan saya”yang mendapatkannya. Mereka berburuk sangka kepada Allah. Dia merasa lebih pantas untuk mendapatkannya, baik berupa jabatan, kekayaan dan popularitas. Ia tidak rela keberuntungan itu jatuh pada orang lain. Sehingga dengan segala cara berusaha untuk merebutnya. Walau itu bertentangan dengan nilai-nilai moral dan etika. Begitulah tabiat manusia yang cenderung mengikuti selera hawa nafsu, bila tidak dikendalikan nilai etika, moral dan agama. Merekapun tidak pernah merasa puas, apalagi bersyukur atas nikmat yang telah diterimanya. Ia merasa terus kekurangan, walau harta sudah melimpah dan kekuasaan masih dalam genggamannya. Sebab, mata hati telah tertutup, akal sehat telah dikangkangi hawa napsu. Bila sudah begini, ia tidak akan sanggup mengatakan“why me ?, kemudian bertobat, kecuali mendapat hidayah. Wallahu’alam. n Why me? Oleh: Prawito Budaya Caring Perawat Indonesia P emerintah Indonesia menandatangani Mutual Recognition Arrangement (MRA) on Nursing Services di Busan, Philipina pada tahun 2006. Hal ini mengindikasikan adanya tuntutan kesejajaran mutu pelayanan keperawatan di Indonesia dengan negara- negara ASEAN lainnya. Tuntutan untuk meningkatkan pelayanan keperawatan yang berkualitas merupakan suatu hal yang tidak bisa ditawar lagi. Demikian disampaikan Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan, dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS saat membuka acara Silaturahmi Akbar Perawat Indonesia di Lapangan IKADA, Jakarta (13/5/12). Mengawali kegiatan ini, Direktur Bina Keperawatan dan Keteknisian Medik, Suhartati, S.Kp, M.Kes menyampaikan laporan kegiatan kegiatan. Menurut dr. Supriyatoro, acara Silaturahmi Akbar Perawat Indonesia bisa dijadikan sebagai momen bagi para Perawat Indonesia untuk sharing pengalaman dan menyatukan potensi dalam rangka melakukan pengembangan dan peningkatan kualitas di bidang pelayanan keperawatan. Pertemuan ini juga dapat memupuk rasa kolegialitas sesama perawat sehingga kerjasama meningkatkan perkembangan dunia keperawatan termasuk mewujudkan pelayanan keperawatan yang prima dapat terwujud. ”Pelayanan keperawatan prima harus diwujudkan untuk mendukung tersedianya pelayanan kesehatan yang berkualitas”, ujar dr. Supriyantoro. EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM12
  • 13.
    P roses evakuasi korbanjatuhnya pesawat Sukhoi Superjet-100 yang hilang di area Gunung Salak, Kab. Bogor Prov. Jawa Barat akan dilakukan dalam 2 rencana, yaitu pertama lewat udara ke Bandar Udara Halim Perdanakusuma langsung ke Rumah Sakit (RS) Bhayangkara; kedua melalui jalan darat menuju RS terdekat atau RS lain tergantung hasil triage. Demikian disampaikan Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kemenkes RI, dr. Supriyantoro, Sp.P, MARS usai rapat koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor dilakukan di Kantor Dinkes Kab. Bogor (10/4/12). Dirjen BUK juga mengecek persiapan Posko Kesehatan Gabungan yang ada di Bandar Udara Halim Perdanakusuma Jakarta dan berkoordinasi dengan Kepala Dinkes Provinsi DKI Jakarta untuk kesiapan evakuasi korban. Berdasarkan informasi dari Dinkes Kab. Bogor, Dinkes Kota Bogor, Dinkes Kab. Sukabumi, Dinkes Prov. DKI Jakarta, PPK Regional DKI Jakarta serta petugas PPKK di lokasi sampai pukul 12.30 WIB dilaporkan pada tanggal 9 Mei 2012 sejak pukul 14.33 Pesawat Sukhoi Superjet-100 hilang kontak. Setelah dilakukan pencarian, pada tanggal 10 Mei 2012 pukul 09.15 pesawat ditemukan terjatuh di Gunung Salak Kab. Bogor Provinsi Jawa Barat. Jumlah penumpang pesawat diperkirakan sebanyak 45 orang.   Upaya yang telah dilakukan adalah pencarian korban oleh Tim SAR dan kesiapsiagaan di lokasi sekitar Dinkes Kab. Sukabumi dan Dinkes Kota Bogor menyiagakan RS rujukan yaitu RS Sekarwangi Cibadak Kab. Sukabumi dan RS PMI Kota Bogor. Selain itu Dinkes Kab. Sukabumi dan Dinkes Kab. Bogor menyiagakan sejumlah Puskesmas dan ambulans untuk menerima korban. Nama Puskesmasnya antara lain Puskesmas Tamansari, Tenjolaya, Pamijahan dan Ciampea di Kab. Bogor serta Puskesmas Cijeruk, Cigombang, Ciburayut dan Caringin di Kab. Sukabumi. Dinkes Kota Bogor dan PMI Kota Bogor menyiagakan masing-masing 2 ambulans di RS PMI Kota Bogor. PMI menyiapkan 25 ambulans di sekitar lokasi kejadian dan PPKK Kemenkes mengirimkan Tim ke lokasi kejadian.   Sementara itu, kesiapsiagaan di Bandara Halim Perdana Kusuma berupa kesiapan petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Halim Perdana Kusuma untuk memberikan pelayanan kesehatan. Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan (PPKK) Kemenkes juga memberikan bantuan 50 kantong jenazah serta mengirimkan tim ke Bandara Halim Perdanakusuma. Selain itu menyiagakan 19 ambulans, 16 mobil jenazah dan 2 Pusling. Polri telah mendirikan Posko DVI dan antemortem di Bandara Halim Perdana Kusuma,   Hingga saat ini proses pencarian korban masih terus dilakukan, sedang diupayakan tambahan 10 mobil jenazah untuk mengevakuasi korban ke Rumah Sakit.   Direncanakan seluruh korban akan dievakuasi melalui udara menuju Bandara Udara Halim Perdana Kusuma, untuk selanjutnya dapat dievakuasi ke RS Dr. Sukanto Jakarta. Pemantauan terus dilakukan oleh Dinkes Kab.Bogor, Dinkes Kota Bogor, Dinkes Kab. Sukabumi, Dinkes Prov. DKI Jakarta, PPK Regional DKI Jakarta dan PPKK Kemenkes. n Dalam sambutannya, dr. Supriyantoro menyebutkan, Deklarasi Perawat Indonesia pada Jumat (11/5/12) lalu menyatakan bahwa perilaku caring sebagai kunci dalam meningkatkan mutu dan kualitas pelayanan keperawatan yang prima. “Keberhasilan suatu upaya dan program pelayanan keperawatan sangat tergantung dari motivasi, komitmen dan potensi seluruh warga perawat Indonesia. Jangan lupa mereevaluasi apakah yang telah kita lakukan sesuai dengan apa yang kita impikan, dan ditindaklanjuti agar lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. ”, tandas dr. Supriyantoro. Silaturahmi Akbar diawali upacara pembukaan silaturahmi akbar, dilanjutkan dengan senam bersama dan hiburan, serta pelayanan keperawatan di pos keperawatan. Sekitar 2796 orang hadir dalam kegiatan ini. Para peserta merupakan para Pejabat struktural beserta staf di lingkungan Kemenkes; perwakilan perawat di institusi pendidikan, Rumah Sakit, Puskesmas, Dinas Kesehatan, dan Badan Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) di wilayah provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Turut hadir dalam acara ini, Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia, Dewi Irawaty, MA, PhD; para pimpinan RS; dan perwakilan organisasi masyarakat yang berhubungan dengan bidang keperawatan. Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian Peringatan Hari Perawat Sedunia (HPS)dengan tema “Closing the Gap: From Evidence to Nursing Action to Achieve Quality of Nursing Service” yang jatuh pada 12 Mei 2012. Rangkaian peringatan HPS telah didahului dengan workshop keperawatan yang dilaksanakan Jumat lalu, tanggal 11 Mei 2012 di Kantor Kementerian Kesehatan. n (Pra) Kemenkes Bersama Tim Gabungan Siapkan Evakuasi Korban Sukhoi Superjet-100 EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 13
  • 14.
    STOP PRESS K ebijakan makroPemerintah saat ini adalah mengamankan pelaksanaan APBN melalui peningkatan kualitas. Kemenkes harus melakukan pemotongan anggaran tahun 2012 dengan memperhatikan prioritas kegiatan. Menyikapi hal tersebut, penting untuk melihat kembali kegiatan yang memiliki daya ungkit terhadap peningkatan status kesehatan masyarakat termasuk meningkatkan pembiayaan bidang kesehatan melalui anggaran daerah. Demikian disampaikan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP dan PL) Kemenkes RI, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama  SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE pada pembukaan Pertemuan Akselerasi dan Sinkronisasi Pembangunan Kesehatan Provinsi Sumatera Barat di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, 10 Mei 2012. Kegiatan yang diselaraskan dengan kegiatan Pembinaan Terpadu Program Prioritas Kementerian Kesehatan di Provinsi Sumatera Barat ini diawali dengan pembacaan laporan kegiatan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat, dr. Rosnini Safitri, M.Kes, dilanjutkan dengan sambutan Walikota Bukittingi, Ismet Amziz, SH. Turut hadir dalam kegiatan tersebut, para pejabat Kementerian Kesehatan dari setiap unit terkait; Perwakilan DPRD Provinsi Sumbar; Ketua BAPPEDA Provinsi Sumbar; Para Kepala Dinas Kesehatan Kab/Kota dan Dirut RS di wilayah provinsi Sumbar; Kepala UPT dan UPTD; Tim Pokja MDG’s Sumatera Barat; dan perwakilan institusi lintas sektor. “Supervisi Pusat ke Daerah tidak hanya terbatas pada pelaksanaan program prioritas Kemenkes di Daerah, namun juga memperhatikan kebutuhan dan permasalahan spesifik pada suatu daerah”, ujar Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama. Menurut Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, rapat koordinasi dan teknis bidang kesehatan ini emilliki nilai strategis disamping fungsi koordinasi, juga mengoptimalkan penggunaan sumber daya yang terbatas, termasuk perencanaan penganggaran dari semua sumber pembiayaan (APBD Provinsi, APBD Kab/Kota, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), termasuk Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN). Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama menyatakan, Provinsi Sumatera Barat merupakan contoh yang baik dimana perhatian daerah dalam pelaksanaan program kesehatan selalu terdepan, termasuk upaya percepatan pencapaian MDG’s. SinkronisasiPembangunan Kesehatan Provinsi SumBar 2012 “Baru-baru ini, provinsi menyelenggarakan pekan MDG’s, selain itu prestasi beberapa Kab/Kota sehat di Provinsi Sumatera Barat menandakan peran aktif dan komitmen para pemangku kepentingan bidang kesehatan”, jelas Prof. Tjandra Yoga Aditama. Pada kesempatan tersebut, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama bersama Tim Supervisi terpadu Kemenkes Ri, melakukan diskusi dengan para peserta dan membahas  berbagai permasalahan yang dikemukakan oleh para peserta yang merupakan perwakilan dari instansi kesehatan di Provinsi Sumatera Barat. Kegiatan terbagi menjadi dua panel utama. Pada panel pertama, Prof. Tjandra Yoga  melakukan presentasi bersama dengan Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Barat dan Walikota BukitTinggi membahas kebijakan nasional kesehatan. Pada panel kedua, dilakukan pembahan lebih mengarah kepada anggaran pembiayaan kesehatan. Lebih lanjut Prof. dr.TjandraYoga Aditama menyatakan, sebagian besar masalah dapat dijelaskan, namun sebagian lainnya menjadi masukan dan rencana tindak lanjut, antara lain Permasalahan Politeknik Kesehatan; Aspek Pelayanan Kesehatan (obat generic, tarif Askes, kebutuhan tempat tidur menjelang BPJS); Permohonan bantuan anggarn untuk kegiatan pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan di Kabupaten; Pentingnya pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia; penanggulangan masalah kesehatan (Angka Kematian Ibu/Bayi, Penanggulangan HIV/AIDS, dan lain-lain); Peran MajelisTenaga Kesehatan Provinsi (MTKP) dan MajelisTenaga Kesehatan Indonesia (MTKI) dalam kegiatan pelayanan kesehatan oleh para bidan; kejelasan penempatan dokter di wilayah yang bermasalah kesehatan; serta penyediaan Puskesmas perkotaan dengan pelayanan persiapan jamaah haji. n (Pra) EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM14
  • 15.
    D alam rangka Pembinaan TerpaduProgram Prioritas Kementerian Kesehatan di Provinsi Sumatera Barat, Sekretaris Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP dan PL) dr. Yusharmen D.Comm.H., M.Sc bersama rombongan Supervisi Terpadu Kementerian Kesehatan RI melakukan kunjungan lapangan ke Kota Sawah Lunto pada 11 Mei 2012. Kegiatan dipusatkan di dua Desa yaitu Tlago Gunung dan Lumindai. Sesdirjen PP dan PL, dr. Yusharmen, D.Comm.H, M.Sc, bersama tim Supervisi Terpadu Kemenkes RI menyaksikan secara langsung Deklarasi SBS Jorong Desa Talago Gunung Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto. Sebelumnya, Sesdirjen PP dan PL meresmikan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) Gantiang Juo dan menyaksikan pembuatan septic-tank yang terbuat dari ban bekas. Hadir dalam kegiatan tersebut, Kepala Dinas Provinsi Sumatera Barat, Walikota Sawahlunto, Ir. H. Amran Nur; Kepala Dinas Kesehatan Kota Sawahlunto, dr. Ambun; Kepala Nagari Tlago Gunung, Alizar Dt. Malin Pangulu; dan para tokoh masyarakat setempat. dr. Yusharmen mengatakan, Program Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) bertujuan untuk meningkatkan jumlah penduduk perdesaan dan pinggiran kota (peri urban) yang mendapat akses terhadap layanan air minum dan sanitasi yang sehat dan praktik perilaku hidup bersih dan sehat. Kegiatan deklarasi melalui program PAMSIMAS merupakan momentum penting dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang dimulai dari diri sendiri, keluarga, dan komunitas, sehingga terbentuk Stop BAB Sembarangan Kota Sawahlunto masyarakat Indonesia yang mandiri untuk hidup sehat.Saat ini, program PAMSIMAS di Propinsi Sumatera Barat sudah mencakup 15 Kabupaten/Kota dari 19 Kabupaten/Kota yang ada di wilayah kerja Provinsi Sumatera Barat selama tahun pelaksanaan 2008-2012. Pada kesempatan tersebut, Sesdirjen PP dan PL menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada masyarakat karena terkait dengan masalah mendasar di bidang kesehatan yang merupakan wujud nyata dari upaya promotif dan preventif yang menjadi prioritas Pemerintah. Kemudian, Sesdirjen PP dan PL bersama tim Supervisi Terpadu Kementerian Kesehatan melanjutkan perjalanan menuju Desa Lumindai yang letaknya jauh di atas bukit. Berdasarkan keterangan Kepala Dinas Kesehatan Sawahlunto, dr. Ambun mengatakan di desa tersebut hanya terdapat satu orang bidan untuk 9 dusun. Pada kesempatan tersebut, Sesditjen PP dan PL beserta tim Supervisi terpadu Kemenkes berkesempatan untuk meninjau secara langsung kondisi sanitasi dasar di salah satu rumah masyarakat. Sesditjen PP dan PL sempat melakukan penempelan sticker di salah satu rumah penduduk yang telah memiliki Pos Pembinaan Terpadu Desa Lumindai yang memiliki fasilitas cukup lengkap, walaupun masih menggunakan genset untuk mengoperasikan peralatan tersebut. Selain kunjungan lapangan dilakukan pula pencanangan gerakan 1.000 jamban yang ditandai dengan penyerahan jamban; penyerahan kelambu malaria pada ibu hamil dan daerah endemis; penyerahan bantuan miskoskop; serta penempelan striker rumah stop BABS; pemberian pengetahuan komprehensif mengenai HIV/AIDS; serta menjadi narasumber pada Dialog Khusus mengenai Kemitraan Bidan-Dukun dalam lingkup Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). “Perayaan deklarasi SBS merupakan media yang sangat efektif untuk mensosialisasikan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) kepada masyarakat. Ajaklah Saudara, masyarakat maupun tetangga desa di sekitar kita untuk ikut menjadikan dan membiasakan diri ber- PHBS dalam kehidupan sehari-hari”, ujar dr. Yusharmen. n EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 15
  • 16.
    STOP PRESS D emikian arahanWakil Menteri Kesehatan RI yang dibacakan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), Dr. dr. Trihono, MSc., pada Kongres ke-IX Perhimpunan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) yang bertema“Meningkatkan Peran PPTI dengan Cara Advokasi, Komunikasi dan Mobilisasi Sosial”. Acara ini oleh dibuka oleh Deputi III Bidang Kesehatan, Kependudukan dan Keluarga Berencana (KB) Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, dr. Emil Agustiono, M.Kes.. Hadir dalam acara tersebut, Istri Gubernur Provinsi Bali, Ibu Ayu Pastika; Sekretaris Daerah Provinsi Bali, I Made Djendra; dan Ketua Umum Pengurus Pusat PPTI, Ny. Ratih Siswono Yudo Husodo,SH. Wamenkes menyatakan, TB merupakan salah satu indikator keberhasilan MDGs yang harus dicapai oleh Indonesia, yaitu menurunnya angka kesakitan dan kematian menjadi setengahnya di tahun 2015. Di dalam perkembangan dan pelaksanaan program pengendalian TB, Indonesia telah berhasil menurunkan insidens, prevalens, dan angka kematian.   “Berdasarkan pada angka pencapaian di tahun 2010 dibandingkan Peran Aktif dan Semangat Kemitraan Semua Pihak adalah Kunci Menuju Indonesia Bebas TB Tuberkulosis (TB) adalah masalah kesehatan masyarakat yang serius tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia. Indonesia tercatat sebagai penyumbang kasus terbesar nomor empat di dunia setelah India, China, dan Afrika Selatan. TB juga menjadi penyebab kematian tertinggi kedua di Indonesia setelah stroke. Diperkirakan ada 430 ribu kasus TB baru, dan 169 orang diantaranya meninggal setiap harinya. Kondisi ini sangat kritis bila tidak ditangani dengan strategi yang tepat. EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM16
  • 17.
    dengan baseline datatahun 1990, target MDGs yang ditetapkan hampir semuanya dapat dicapai”, ujar Wamenkes.   Dikatakan, angka Insidens TB adalah 189/100.000 penduduk (2010), menurun  45% dari 343/100.000 penduduk (1990). Angka prevalensi TB adalah 289/100.000 penduduk (2010) turun sebesar 35% dari 443/100.000 penduduk (1990). Sementara angka mortalitas TB adalah 27/100.000 penduduk (2010) atau turun sebesar 71% dari 92/100.000 (1990).   Pada kesempatan tersebut, Wamenkes menyatakan masih banyak tantangan dalam penanggulangan TB saat ini, antara lain meningkatnya koinfeksi TB HIV; kasus TB Multi Drug Resistance (MDR); dan belum optimalnya manajemen dan kesinambungan pembiayaan program pengendalian TB.   “Kondisi tersebut diperparah dengan meningkatnya jumlah penderita penyakit-penyakit degeneratif seperti gangguan imunitas, masalah diabetes, meningkatnya angka perokok serta tingkat  kemiskinan yang masih tinggi di Indonesia. Itu semua sangat berpengaruh terhadap peningkatan angka kesakitan akibat TB di Indonesia”, tambah Wamenkes. Ditambahkan, penelitian yang dilakukan Badan Litbangkes pada serial Riskesnas baik 2007 maupun 2010, diperoleh beberapa fakta tentang TB, diantaranya TB masih merupakan penyebab utama kematian terutama diwilayah timur Indonesia. Kedua, pengetahuan dan pemahaman tentang TB dan penularannyamasih rendah. Ketiga, banyak penderita TB yang tidak tuntas dalam pengobatan. Selain itu, diperlukan terobosan baru guna menurunkan prevalensi TB.   Pada akhirnya, keterbatasan sumber daya yang dimiliki sektor pemerintah dan besarnya tantangan yang ditimbulkan akibat penyakit TB, menjadikan pengendalian TB belum dapat berjalan optimal. Demi keberlanjutan program, maka dibutuhkan kemitraan antara berbagai sektor dengan NTP (National Tuberkulosis Program). Kemitraan yang tentunya harus berdasarkan visi untuk mewujudkan Indonesia Bebas TB pada tahun 2050.   “Kunci keberhasilan menuju Indonesia bebas TB adalah peran aktif dan semangat kemitraan dari semua pihak yang terkait melalui gerakan terpadu dan sinergis yang bersifat nasional”, tandasnya. Sekilas menilik sejarah, program Pengendalian TB di Indonesia dimulai sebelum kemerdekaan RI. Pada saat itu program TB masih dilakukan oleh pihak swasta dan ditujukan hanya bagi kelompok masyarakat tertentu, sehingga terwujud pencanangan program pengendalian TB secara nasional pada tahun 1969 yang ditegaskan kembali tahun 1992 di mana Indonesia melakukan ujicoba strategi Directly Observed Treatment, Short-course (DOTS) untuk pertama kalinya. Setelah dilakukan uji coba, pada tahun 1995 strategi DOTS resmi menjadi strategi penanggulangan TB di Indonesia, sebagaimana  direkomendasikan WHO. Sejak saat itu program penanggulangan TB DOTS diekspansi dan diakselerasi pada seluruh unit pelayanan kesehatan dan berbagai institusi terkait. Tahun 2010, dalam rangka mendukung strategi nasional program pengendalian TB, maka program diarahkan kepada universal access untuk cakupan dan kualitas pelayanan DOTS yang lebih luas. Kongres IX PPTI diikuti 151 peserta terdiri dari dari 27 peserta dari PPTI Pusat, 16 PPTI wilayah, 66 peseta dari PPTI Cabang, 6 peninjau dari PPTI Wilayah dan 35 pendengar dari PPTI pusat, wilayah dan cabang. Tujuan Kongres IX PPTI, selain untuk memilih Ketua umum PPTI masa bakti 2012-2017 dan menilai laporan pertanggungjawaban Ketua Umum sebelumnya, juga mengkaji anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART), rencana strategi dan program PPTI mendatang. Selain itu, dalam Konres ini juga akan dipilih Ketua Badan Pengawas Perkumpulan. Pada kesempatan tersebut juga diserahkan 333 tanda penghargaan dan tanda jasa bagi institusi maupun perorangan yang telah membantu pengembangan PPTI baik di tingkat Pusat, Wilayah, dan Cabang. Secara rinci, penghargaan tersebut terdiri dari 106 lencana Satya Bakti Utama, 81 Lencana Satya Bakti, 141 piagam dan 5 buah plakat. Secara simbolis, lencana Satya Bakti Utama diberikan kepada Ketua Kehormatan Pengurus PPTI Wilayah Bali, Ny. Ayu Pastika; Bupati Bantul Provinsi DI Yogyakarta, Hj. Sri Surya Widati; Bupati Bulungan, Provinsi Kalimantan Timur, Drs. H. Budiman Arifin; Ketua Pengurus PPTI Wilayah Jambi, H. Hasan Kasim, SH; Ketua Kehormatan Pengurus PPTI Cabang Kota Cimahi, Hj. Atty Suharti Tochija; Pengurus PPTI Cabang Kabupaten Kutai timur Provinsi Kalimantan Timur, Hj. Nor Baiti Isran; dan Bapak Arifin Panigoro, sebagai donatur PPTI. n(Pra) EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 17
  • 18.
    MEDIAUTAMA EDISI 36 IJUNI I 2012 MEDIAKOM18
  • 19.
    Nusa Tenggara Barat “TerasBelakang” Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), sebagai bagian dari‘teras belakang’Indonesia, diakui masih banyak indikator masih‘terbelakang’. Peringkat Indek Pembangunan Manusia provinsi NTB dalam 6 tahun terakhir masih berada di posisi 32 dari 33 provinsi yang ada, dengan skor 65,2, sedikit lebih baik dari provinsi Papua dengan nilai 64,94 (BPS, 2010). Rendahnya IPM ini salah satu disebabkan oleh masih rendahnya derajat kesehatan masyarakat di daerah ini. EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 19
  • 20.
    MEDIA UTAMA EDISI 36I JUNI I 2012 MEDIAKOM20
  • 21.
    U sia harapan hidupdi NTB tahun 2010 tercatat 62,11 tahun, dibandingkan angka nasional 69,43 tahun (BPS, 2010). Rendahnya UHH ini direfleksikan oleh masih tingginya kematian bayi dan kematian ibu. Angka Kematian Bayi di NTB terakhir (SDKI 2007) tercatat 72 per 1000 kelahiran hidup (angka nasional 34), angka kematian ibu sebesar 320/100.000 kelahiran hidup (angka nasional 228). Hal ini disampaikan Asisten III Provinsi NTB, Drs.H.Lalu Wildan pada pertemuan koordinasi percepatan pencapaian MDG’s provinsi NTB, 8 Mei 2012 di Lombok. Menurut Lalu, jika memperhatikan angka-angka yang ada, khususnya dari BPS, nampaknya program kesehatan di NTB belum bergerak sebagaimana mestinya. Namun jika kita merujuk pada data sektoral yang ada di Dinas Kesehatan, sebenarnya ada perbaikan yang signifikan. Beberapa indikator akses menunjukkan peningkatan yang signifikan. Beberapa contoh antara lain, cakupan K1 tahun 2011 sebesar 99,27 %, K4 sebesar 94,07 %, persalinan oleh tenaga kesehatan sebesar 87,81 %, cakupan kunjungan bayi sebesar 100 %, Cakupan kunjungan posyandu 70,73 %. Hal ini mengindikasikan bahwa hampir seluruh sasaran program telah tersentuh program pelayanan kesehatan. Namun demikian, kami menyadari adanya tantangan di aspek kualitas pelayanan. Soal ketenagaan, 90% dari seluruh desa yang ada (1031 desa/kelurahan) telah ada bidan desanya, namun baru 53,8% yang pernah mengikuti pelatihan teknis. Keberadaan Tim PONED di 49 puskesmas juga masih diwarnai mutasi petugas yang terlalu sering, sehingga puskesmas PONED belum bisa berfungsi secara optimal. Provinsi NTB, yang biasa dikenal sebagai‘Bumi Gora’atau Bumi Gogo Rancah. Daerah ini pernah sangat terkenal dengan keberhasilan pola tanam padi system gogo rancah. Sampai saat ini masih menjadi salah satu provinsi yang swasembada pangan. Provinsi NTB terdiri dari 2 pulau besar, yaitu pulau Lombok dan pulau Sumbawa, dengan variasi demografi serta topografi yang bertolak belakang. “Pulau Lombok dengan luas 1/3 dari NTB berpenduduk 2/3 dari total penduduk NTB yang berjumlah 4,5 juta orang. Sebaliknya, Pulau Sumbawa dengan luas 2/3 berpenduduk hanya 1/3 dari total penduduk NTB. Perbedaan ini berimplikasi pada pola pengelolaan program kesehatan, besar alokasi sumber daya serta tantangan program, cenderung fokus di pulau Lombok,” ujar Lulu. Menurut Lalu, upaya untuk memperbaiki IPM, derajat kesehatan masyarakat secara umum telah menjadi prioritas utama pemerintah provinsi NTB. Di antaranya, melalui program unggulan Gerakan AKINO (Angka kematian ibu nol) telah diupayakan percepatan dalam berbagai aspek program. Seperti pemerataan tenaga kesehatan yang berkualitas, khususnya di desa. Optimalisasi sarana prasarana kesehatan seperti; alat kesehatan, obat, dan logistik lainnya. Perbaikan system pelayanan, khususnya system rujukan. Pembiayaan kesehatan serta upaya pemberdayaan masyarakat melalui program yang terintegrasi dengan penanggulangan kemiskinan. Menyadari, percepatan pencapaian pembangunan millennium di NTB terkait koordinasi program yang kuat antara provinsi dan kabupaten/kota, maka rumusan kongkrit koordinasi itu dilakukan.“Di tempat ini pula, 9 Mei 2012 telah ditandatangani MOU antara Pemerintah Kabupaten/Kota dengan pemerintah Provinsi tentang koordinasi dalam peningkatan dan perlindungan kesehatan ibu, bayi dan anak balita. MOU tersebut sebagai tindak lanjut dari adanya Perda Nomor 7 tahun 2011 tentang peningkatan dan perlindungan kesehatan ibu, bayi dan anak balita,”ujar Asisten III. Menurut Lalu, dalam MOU dan perjanjian kerjasama itu selanjutnya diatur peran masing-masing pihak dalam percepatan peningkatan kesehatan ibu, bayi, dan anak balita. Di antaranya penuntasan (total coverage) distribusi tenaga bidan di desa, pelatihan teknis, pelibatan pemerintah desa dalam vital statistic kelahiran dan kematian di tingkat desa, dan sharing peningkatan sarana prasarana penunjang. Asisten Administrasi Umum dan Kesejahteraan Rakyat NTB ini berharap, semua pihak menyamakan persepsi dan langkah nyata dalam memandang persoalan kesehatan di NTB. Mencari solusi yang cerdas sehingga provinsi NTB tidak lagi menjadi ‘headline’ di pentas nasional sebagai provinsi yang terbelakang di bidang kesehatan. n ( Pra) EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 21
  • 22.
    “BOK dan Banjarnganak” di Lombok Tengah H al ini disampaikan Abdullah, selaku Lurah Kelebuh saat menerima kunjungan kerja rombongan Kemenkes di Desa Kelebuh, Kecamatan Praya Tengah, Kabupaten Lombong Tengah, Nusa Tenggara Barat, 8 Mei 2012 yang lalu. Menurut Abdullah, kegiatan banjar nganak ini diselenggarakan kelompok masyarakat desa. Mereka yang melahirkan di sarana kesehatan akan mendapat uang arisan sebesar Rp 350.000.“Dengan adanya banjar nganak, ibu hamil di desa Kelebuh 90% melahirkan di sarana kesehatan, khusus di Pos Kesehatan Desa Kelebuh,”ujar Abdullah. Banjar nganak, mempunyai kegiatan menghimpun, menerima dana dari masyarakat dan pemerintah, kemudian menyalurkan kepada masyarakat, khususnya ibu yang melahirkan di pelayanan kesehatan, seperti puskemas atau pos kesehatan desa. Menurut Abdullah, Kepala Desa Kelebuh, untuk mendorong masyarakat, khususnya para ibu hamil bersedia melaksanakan persalinan di pelayanan kesehatan, perlu mendapat insentif. Nah untuk memperoleh sejumlah dana tersebut, maka dibentuklah Banjar Nganak yang dikelola oleh masyarakat, dari masyarakat dan untuk masyarakat. Untuk mendorong masyarakat bersalin di sarana kesehatan, tidak cukup dengan hanya member insentif, tapi juga perlu motivasi dari tenaga kesehatan di Puskemas, seperti bidan dan perawat.“Para tenaga bidan dan perawat ini harus turun menyapa masyarakat di posnyandu-posyandu yang menjadi binaannya, melakukan promosi kesehatan, menjelaskan persalinan yang sehat,”ujar Abdullah. “Hanya saja, jumlah tenaga kesehatan belum mencukupi untuk melayani masyarakat di posnyandu dan sarana kesehatan seperti puskemas dan poskesdes saat bersamaan. Sehingga, bila sedang melakukan penyuluhan di posnyandu, maka terjadi kekosongan pelayanan di puskesmas pembantu atau poskesdes, begitu juga sebaliknya,”kata Kepala Desa Kelebuh. Ketika berdialog dengan peserta pembina kesehatan terpadu dari pusat, kepala desa, lebih memilih petugas kesehatan mengutamakan preventif dan promotif di posnyandu dari pada melaksanakan kuratif di puskesmas. Untuk menyelesaikan masalah tersebut, kemudian disepakati agar setiap bidan dan tenaga kesehatan menempel jadwal kegiatan penyuluhan disertai Nomor Hp di Puskesmas. Sehingga, ketika ada masyarakat yang ingin mendapat pelayanan petugas kesehatan dapat menghubungi atau mendatangi ke tempat penyuluhan. Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Kesehatan Lombok Tengah, dr. Eka Dewi, M.Kes menjelaskan masyarakat Lombok Tengah yang memperoleh jaminan kesehatan (jamkesmas) sebanyak 52 %, sedang sisanya menggunakan jaminan kesehatan daerah ( jamkesda), surat keterangan tidak mampu (SKTM) dan kearifan lokal seperti“banjar nganak”. Untuk meminimalisir terjadinya peningkatan besaran dana untuk melayani pengobatan, maka pihaknya lebih mengutamakan program promotif dan preventif,”ujar dr. Eka. Menurut Kadinkes, dengan adanya dana BOK, sangat membantu kegiatan operasional puskesmas dan kegiatan kesehatan masyarakat, seperti bulan gizi dan transportasi petugas untuk kunjungan penyuluhan masyarakat.“Program yang dibiayai BOK terlebih dahulu diputuskan dalam lokakarya puskesmas. Walau demikian, puskesmas juga melakukan program nasional maupun lokal kabupaten,”jelas dr. Eka. Besaran dana transportasi petugas, biasanya menggunakan harga perhitungan kabupaten (HPS). Kisaranya antara Rp 20.000-Rp Setiap ibu hamil mengikuti arisan. Kemudian uang arisan tersebut diterima saat melahirkan. Kegiatan arisan ibu hamil di Posnyandu dikenal dengan“banjar nganak”atau arisan ibu hamil ala Lombok Tengah. Ibu hamil yang mengikuti arisan ini dipastikan melahirkan di sarana kesehatan. Mengapa ? Saat berkumpul arisan itulah petugas kesehatan memberikan penyuluhan, pentingnya melahirkan di sarana kesehatan dan dilakukan petugas kesehatan. Sebab, dengan kedua hal tersebut, akan menghadirkan persalinan “ ibu sehat dan bayi selamat”. MEDIA UTAMA Abdulah dr. Eka Dewi, M.Kes EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM22
  • 23.
    25.000,-. Tergantung jarakyang ditempuh. Apabila lebih terpencil akan ditambah lagi besarannya.“Semakin jauh jarak, semakin besar. Saat ini terdapat 19 desa terpencil,”ujar dr. Eka. “Untuk pemakaian dana, memang banyak komponen. Penggunaanya bergantung situasi. Untuk gizi buruk, sepakat menggunakan dana APBD, tapi gizi kurang menggunakan dana BOK. Bila ada dana PNPM, maka dana BOK tidak digunakan. Ada kesepakatan mana yang didanai BOK, APBD Kabupaten dan PNPM ataupun yang lainnya,”tambah Kadinkes. Menurut dr. Eka, terkait optimalisasi dana BOK, pengalaman tahun lalu, berbeda dengan tahun 2012. Tahun lalu, dana BOK turunnya terlambat, kemudian masih banyak sekali hal yang simpag siur. Tahun ini, lebih efektif dan efesien pemakaiannya, sebab dana turun awal januari tahun 2012 dan aturan lebih fleksibel. walau kalau dihitung tingkat kabupaten, bulan mei ini penyerapannya baru 24 %. Untuk tingkat puskesmas variatif, penyerapan antara 20-26 %. “Agar programnya lancar, harus mendisiplinkan penyerahan uang dan penyerahan laporan. Uang berikutnya dicairkan, setelah laporan kegiatan sebelumnya diserahkan. Karena alur ini tidak berlangsung lancar, akhirnya hanya memberi uang muka, kemudian sisanya diberikan setelah memasukan laporannya. Hal ini dilakukan untuk menghindari dana sudah keluar, tapi laporan tidak segera masuk”, ujar dokter yang pernah menjadi Direktur RSUD Lombok Tengah ini. Menurut Kadinkes, selain mendisiplinkan laporan yang harus masuk setiap tanggal 10 bulan berjalan, juga harus membagi habis tugas. Sebab, ada petugas puskesmas, satu orang memegang sekian banyak program. Merangkap-rangkap, sehingga sangat sibuk. Akibatnya, kegiatan tidak selesai seperti rencana. Ketika ditanya indikator output tentang BOK, Ia belum bisa bicara banyak karena memang tahun lalu, saat BOK diluncurkan situasinya tidak ideal. Mungkin, baru bisa bicara pada tahun 2013 setelah melihat perjalanannya. Tapi paling tidak, para pelaksana, saat ini dapat mengerjakan dengan“tenang”, karena tersedia sumber pendanaannya. Sebab, tidak semua program dapat terpenuhi menggunakan dana APBD. Maklum, Lombok Tengah, APBDnya 60% untuk belanja pegawai.“ Di sini masalahnya,”ujarnya heran. Menurut Kadinkes, agar terjadi percepatan, harus menguatkan monitoring, evaluasi dan bimbingan teknis. Sebab, tanpa ini, percepatan tak akan terjadi. Untuk mengejar percepatan, “Kami membagi kabupaten menjadi empat wilayah binaan. Setiap Kepala Bidang, punya wilayah binaan. Setiap pembina bertanggung jawab terhadap wilayah binaan dalam bidang apapun, termasuk BOK,”ujar dr. Eka menjelaskan. “Misal, ada bidang yang bertanggung jawab 6 puskesmas. Maka, mulai kegiatan mini lokakarya puskesmas, Dia wajib hadir, karena dia yang punya binaan. Mereka harus mengawal rencana kerja yang sudah disusun. Bila puskesmas ada keraguan, pembina harus membantu menyelesaikannya”, kata dr.Eka. Secara umum, penyerapan dana BOK, 50 % untuk transport petugas puskesmas baik ke posyandu atau tugas pokok puskesmas lainnya. Sedangkan 10% untuk pemeliharaan.“Ketika program sudah mulai jalan, jangan ganti kebijakan lagi. Boleh berubah, kalau sudah jelas evaluasinya. Terutama kebijakan penggantinya lebih mudah dan berkesinambungan dengan program sebelumnya. Juga harus selaras dengan kearifan lokal, seperti banjar nganak”ujar dr. Eka memberi saran. n ( Pra) EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 23
  • 24.
    Apa yang melatarbelakangimunculnya program BOK ? Latar belakang munculnya BOK ini karena ada masalah pelayanan kesehatan di tingkat lapangan, selain fasilitas, SDM, ternyata juga ada masalah dengan anggaran. Sementera daerah mempunyai APBD yang berbeda-beda, padahal kita menginginkan puskesmas sebagai garda terdepan dalam pelayanan kesehatan dapat tampil secara bagus dalam mencapai target MDG’s. Kalau tidak ada upaya yang ekstra, khawatir target MDG’s tidak tercapai, khususnya dalam penyediaan biaya. Untuk itu dikeluarkan kebijakan penambahan biaya yang langsung dapat digunakan oleh puskemas, dengan nama tugas perbantuan (TP) dengan peraturan Menteri Keuangan. Tugas perbantuan ini sangat spesifik, hanya digunakan untuk pembangunan nonfisik. Besarannya berdasarkan klasifikasi karena faktor geografis dan lain sebagainya. Ada empat regional besaran anggaran BOK yakni; pulau Sumatera, Jawa-Bali mendapat Rp 75 juta/puskesmas/ tahun, Kalimantan, Sulawesi Rp 100 juta/puskesmas/tahun, Maluku Rp 200 juta/puskemas/tahun dan Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat dan Papua Rp 250 ribu/ puskesmas/pertahun. Mengapa penyerapan BOK masih rendah? Untuk pelaksanaan BOK, telah dikeluarkan petunjuk teknis BOK. Tahun 2010, dalam petunjuk teknis tersebut dijelaskan 5% dari anggaran dapat digunakan untuk pembelian barang yang ringan-ringan seperti membeli ember, perbaikan puskesmas yang ringan-ringan. Hanya saja, pada saat itu tingkat penyerapannya rendah, sekitar 60%. Kemudian dilakukan evaluasi, mengapa penyerapan rendah ? Setelah terjun ke 21 provinsi, tenyata ada masalah teknis seperti pemahaman lokakarya mini di puskesmas belum pas. Mereka kurang memahami mekanisme pengajuan anggaran. Berikutnya terkait dengan penggunaan anggaran. Mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Ternyata, peraturan tahun 2010 terlalu rijit dan kaku, sehingga menyulitkan pelaksana di tingkat puskesmas. Setelah mendapat masukan dari berbagai pihak, termasuk dari daerah, kemudian disepakati 10% dari anggaran dapat digunakan untuk perbaikan puskesmas, tetapi nilainya kurang dari Rp 300 ribu, agar tidak menjadi aset negara. Hal ini dilakukan untuk menghindari keharusan menghibahkan barang yang sudah dibeli. Sebab kalau harus menghibahkan akan menjadi kesulitan tersendiri di kemudian hari. Kebijakan bantuan operasional kesehatan (BOK), menjadi harapan besar guna mencapai target MDG’s 2015. Mekanisme penyaluran BOK dengan tugas perbautuan khusus, menungkinkan puskesmas mengguanakan tanpa hambatan. Buku petunjuk teknis telah dibuat dan didistribusikan sebelum tahun berjalan. Harapanya, penyerapan menjadi lebih baik dan akuntabel, juga dapat mendongkrak capaian penurunan angka gizi buruk, angka kematian bayi dan ibu. Lalu bagaimanakah kebijakan yang diambil Kementerian kesehatan untuk mewujudkan harapan itu ? Berikut penjelasan Dirjen Bina Gizi dan KIA Kemenkes, Dr.dr. Slamet Riyadi Yuwono, DTM&H, MARS. Dr.dr. Slamet Riyadi Yuwono, DTM&H, MARS: Kebijakan Bantuan Operasional Kesehatan MEDIA UTAMA EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM24
  • 25.
    EDISI 36 IJUNI I 2012 MEDIAKOM 25
  • 26.
    MEDIA UTAMA Saat ini,antara biaya manajemen provinsi, kabupaten/kota mendapat dana sendiri, sedangkan dana kegiatan BOK tersendiri untuk puskesmas. Kegunaan dana BOK dapat digunakan untuk gizi, kesehatan ibu/anak, penyakit menular, kesehatan haji, termasuk untuk tranportasi kader. Seberapa besar daya ungkit BOK mencapai target MDG’s ? Dalam pelakasanaan BOK, dari proses diharapkan tingkat penyerapan lebih tinggi dan dari segi dampak dapat menurunkan angka gizi buruk, angka kematian ibu, angka kematian bayi. Walau, penurunan itu, tidak semata-mata karena BOK, paling tidak ada andil dalam penurunan tersebut. Yang jelas evaluasi awal tahun 2012, serapannya lebih baik dibanding tahun 2010. Hal yang membedakan, tahun 2011 juknis baru keluar pada Maret 2011 dan tahun 2012, juknis sudah keluar Desember 2011. Sehingga per Januari 2012 juknis dan keuangannya sudah jelas semua. Dengan demikian, diharapkan 2012 cakupan penyerapannya akan lebih baik. Terkait dengan implementasi juknis, keberhasilan BOK bergantung pada terlaksananya lokakarya mini ditingkat puskesmas. Apabila lokakarya mini berjalan dengan baik, kemudian tersusun perencanaan yang baik, maka tidak akan ada kebingunan dikemudian hari dalam implementasinya. Program yang diusulkan hendaknya yang dapat langsung menyentuh kesehatan masyarakat terkait dengan penurunan gizi buruk, angka kematian bayi dan ibu. Bila tidak cermat, dana ini akan digunakan untuk membangun puskesmas yang tidak ada dampak langsung kepada masyarakat. Sampai kapan program BOK ? Program BOK akan tetap diperjuangkan, paling tidak sampai tahun 2016 untuk mencapai target MDG’s tahun 2015. Setelah itu, pasti akan ada perubahan setrategi lain, apalagi dengan adanya Badang Pengelolaan Jaminan Sosial (BPJS). Pada tahun 2013, kemungkinan besaran dana BOK akan bertambah besar, khususnya Maluku, akan sama dengan provinsi NTT karena kesamaan geografisnya. Juga tergantung kemampuan anggarannya. Dengan adanya BPJS, pasti akan ada perubahan. Perubahan itu, prinsipnya harus lebih baik. Sistem baru harus dapat mengkaver sistem lama yang sudah berjalan. Sebab orang sakit tidak dapat tertunda pelayanannya, walau hanya sedetik. Jadi harus dipastikan sistem yang baru dapat berjalan, sebelum membubarkan sistem yang lama. Ibaratnya; membuat jembatan baru, maka jembatan lama jangan dirobohkan, sebelum jembatan baru, benar-benar berfungsi secara baik. Bagaimana pengaturan dana BOK di era otonomi daerah? Di era otonomi ini, pusat tidak membuat juknis yang kaku, tapi masih memberi ruang kepada daerah untuk menentukan besaran sesuai kebutuhan. Misal, ada daerah yang rata-rata puskesmasnya mendapat Rp 250 ribu/puskesmas. Mereka dapat mengatur khusus puskesmas yang dekat, transportasi mudah medapat Rp 200 ribu, sedangkan puskesmas dengan daerah yang sulit dijangkau mendapat dana yang lebih besar. Hanya saja, dengan adanya dana BOK yang berasal dari APBN, kemudian daerah mengurangi dana kesehatan yang berasal dari APBD. Misal, pemerintah daerah mengetahui bahwa puskesmas mendapat anggaran APBN, kemudian daerah mengalihkan anggaran APBD untuk kegiatan yang lain. Padahal BOK itu hanya sekedar suplemen saja. Memang untuk beberapa daerah yang rendah dana APBDnya, mereka menggunakan APBN tidak sesuai dengan peruntukan. Untuk itulah, perlu turun ke daerah-daerah melakukan advokasi, agar pemerintah daerah menggunakan anggaran tepat sasaran dan langsung menyasar pada masyarakat. Secara berjenjang advokasi ini sudah dilaksanakan, diawali dengan sosialisasi tingkat nasional untuk peserta provinsi dan sosialisasi tingkat provinsi untuk peserta kabupaten / kota. Saat ini, NTB banyak mendapat bantuan, seperti dari Nice, PNPM dan berbagai bantuan lain dengan sasaran yang sama. Untuk itu, harus ada pemetaan yang akurat terhadap sasaran, sehingga bantuan tersebut menjadi lebih bermanfaat bagi peningkatan kesehatan masyarakat. Bagaimana kebijakan BOK dibuat ? Manajemen modern seperti sekarang ini, harus mampu dan mau tangannya kotor dan berlumpur. Harus mau terjun ke bawah, mengetahui apa sih yang terjadi. Dari dari situlah masukan dari bawah untuk membuat kebijakan. Tidak bisa kebijakan dibuat hanya dengan meneropong dari ke jauhan. Padahal, di NTB ada daerah yang harus ditempuh melalui udara dan ditempuh dengan kapal berjam-jam. Bagaimana kalau melakukan rujukan. Model alat transportasi, kondisi masyarakat miskin, tidak punya kartu, tidak punya jaminan. Mereka dapat berobat tapi harus ada surat yang ditanda- tangani kepala dinas kabupaten/kota yang jauh jarak tempuhnya. Jadi, ini contoh membuat kebijakaan, harus aplikatif, sesuai dengan masalah di daerah. Saya harus mendengarkan masalah mereka dalam pertemuan seperti ini (pembinaan terpadu di NTB), walau sampai malam. Artinya, dia harus menyampaikan apapun tentang masalah yang dihadapi dan cara menyelesaikannya. Dengan demikian kebijakan akan membantu dalam pelaksanaan dilapangannya. n (Pra) EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM26
  • 27.
    Mengapa ada BOK?Jika ditarik ke belakang, subtansinya karena ada masalah kesehatan, terutama ketidakberdayaan anggaran. Sehingga program yang bagus tidak dapat mengagkat derajat kesehatan masyarakat. Gagasan awal BOK, pernah dibahas di NTB bersama Dr. Triono Sundoro. Jadi NTB ini punya catatan sejarah untuk melahirkan BOK, ujar Kadinkes Provinsi NTB, dr. Moch. Ismail, 8 Mei 2012 di Mataram, NTB. Munculnya gagasan bantuan langsung ke puskesmas, akan menjawab hambatan operasional pelayanan kesehatan di Puskesmas.“Setelah ada BOK, harus menjadi pendorong kepala kesehatan kabupaten/kota sebagai kepala manajemen operasional. Juga mendorong kepala Puskesmas sebagai manajer operasional tingkat desa atau lapangan. Mereka harus maksimal memanfatakan kemampuan dan biaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,”ujar dr. Ismail. Menurut dr. Ismail, setelah ada BOK, tidak ada alasan kesulitan anggaran. Walau terkadang secara teknis pelaksanaan, masih ada yang harus dipertegas boleh atau tidak.“Nah, di sinilah tantanganya bagi teman teman sebagai manager lapangan,” tegas Ismail. Bicara tingkat taktik strategi, memang sudah diatur dalam pedoman. Benar, dalam pelaksanaan ada beberapa hal yang dr. Moch. Ismail: BOK harus “ Ekstra hati-hati” kadang-kadang dalam bahasa hukum“multi tafsir”. Sehingga beberapa orang masih tarik ulur. Mau dikerjakan atau tidak. Tapi, ada potensi untuk melaksanakan. Sebab, bila tidak dikerjakan menyebabkan banyak masalah lagi.“Di sini Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mempunyai kewenangan untuk meng-ajust oke, kegiatan dapat dilaksanakan, tapi harus ekstra hati hati,”kata Ismail. Sejak awal, tujuan utama BOK untuk peningkatan pelayanan kesehatan di Puskesmas. Sebetulnya, di NTB sudah menunjukkan trent positif. Tapi, bila membicarakan signifikannya atau akselerinya, belum cukup signifikan. Memang masih penuh perjuangan. Mengapa? Perlu dipahami awal kegiatan dengan harus ekstra hati hati. “Alhamdulilah, dilihat dari angka angka yang ada sudah tampak, teman-teman dari lapangan mengatakan‘suatu anugerah’dengan adanya BOK. Petugas kesehatan menjadi lebih sering berinteraksi dengan masyarakat,” imbuh Ismail. Kadinkes berharap, pertama; jajaran provinsi, kabupaten/kota dan puskesmas menjalankan fungsi seperti yang sudah diatur dalam pedoman, dengan menjalankan secara optimal. Kedua, bila menemukan hambatan atau katakanlah kendala, kerjakan sesuai jalur yang sudah ditetapkan. Ketiga, bertanggung jawab secara akuntabiltas n ( Pra) EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 27
  • 28.
    MEDIA UTAMA S uatu hari,saya bertugas mendata keluarga sejahtera. Waktu itu, kebetulan menjumpai keluarga polisi. Saya berulang kali memberi salam, ada empat kali, tapi tak mendapat balasan, padahal terdengar suara sendok dan piring berbunyi, seperti sedang makan. Saat lain waktu, keluarga tersebut saya datangi lagi menyampaikan vitamin A untuk balitanya, tapi mereka menolak dengan berkata,“Aku tak perlu vitamin A itu, sudah diperiksa sama dokter,”katanya. Saya diacuhkan, tak dianggap. Akhirnya, saya tinggalkan rumah itu. Saat lain lagi, saya titip pesan sama cucunya, agar nenek bersedia mendatangi pos bindu, tapi tak datang juga. Entah mengapa? Wanita asal Mataram ini, tetap bekerja dengan ikhlas. Ia mendapat dukungan suami tercinta yang selalu memberikan semangat untuk melakukan kebaikan, sebagai kader kesehatan.“Sekarang ini, saya sedang melakukan sosialisasi dan pembagian TABURIA ke masyarakat. Karena terbatasnya sosialisasi yang dilakukan, masyarakat tidak mengetahui aturan pemberian TABURIA ke anak. Seharusnya 1 bungkus untuk 2 hari, dihabiskan dalam satu hari saja.“Sewaktu taburia habis, pernah anak mogok tidak mau makan, kalau tidak pakai taburia,” Cerita Hj. Marlina. Itulah salah satu kisah kegiatan Hajah Marlina, begitu panggilan akrabnya. Sudah 25 tahun mengabdi menjadi kader kesehatan di Provinsi NTB. Banyak pengalaman dan pelajaran yang ia dapatkan. Suka dan duka tentu telah dirasakan. Pekerjaan dijalani dengan rasa syukur. Terima saja pemberian dari yang Mahas Kuasa.“Yang terpenting niatnya ikhlas mudah-mudahan Allah membalasnya”ujar Hj. Marlina . Menurut Hj. Marlina, para kader yang bertugas tidak mengharapkan penghargaan dari pemerintah atau dari siapap un. Seiring dengan perjalanan waktu, penghargaan masyaraka mulai mengalir.“Mereka sudah baik dengan kader, terbuka menerima program pos Kisah Kader Posyandu: Hj. Marlina Tanpa Taburia, Anak mogok makan nyandu, menurut kami itu sudah cukup”, ujar Hj. Marlina. Terkadang kader-kader kesehatan mendapatkan hal yang tidak menyenangkan dalam menjalani tugasnya. Namun kader menanggapi dengan senyuman dan tidak membalas dengan perlakuan yang tidak menyenangkan. Mereka berlaku seperti itu karena tidak paham.“Jadi, itu hal yang wajar. Maka, jika kami bertemu dengan mereka, tetap akan memberi pengarahan dan penjelasan tentang kesehatan,”ujarnya dengan penuh kelembutan. Akhirnya, usaha para kader-kader ini membuahkan hasil. Masyarakat yang tadinya tidak menghargai keberadaan dan usaha-usaha yang dilakukan kader kesehatan, kini mulai mendatangi kegiatan posyandu dan posyandu lansia,”ujarnya riang. Hj. Marlina yang bersuamikan guru SD dan pengurus masjid ini, tetap menyambangi masyarakat mengajak ke Posyandu. “Biasanya orang-orang elit yang tidak mau ke posyandu. Alasannya, mereka hanya mau mendatangi dokter.“ Para kader-kader ini tidak menerima honor. Secara insidentil, mereka hanya menerima uang transport untuk pembagian TABURIA sebanyak Rp 50.000,-. Itupun harus dibagi 5 orang. Jadi setiap orang mendapatkan Rp 10.000,- n(Pra) EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM28
  • 29.
    B antuan Operasional Kesehatan (BOK)menjadi salah satu bantuan pemerintah untuk operasional pelayanan kesehatan di puskesmas. Dana tersebut digunakan untuk promosi kesehatan, survey PHBS rumah tangga, pembinaan desa siaga, desa siaga aktif dan transport penyuluhan ke sekolah-sekolah. Seluruh kegiatan tersebut diambil dari anggaran BOK, termasuk digunakan untuk transport kader kesehatan dan menunjang kegiatan kesehatan lainnya. Menurut petugas puskesmas Bayan KLU, Lombok Utara, Indra Marsinta, SKM, pembinaan desa siaga dilakukan 2 kali dalam setahun. Jadi setiap enam bulan melakukan sosialisasi di tingkat kecamatan. Dalam Sosialisasi tersebut, Kecamatan mengundang petugas yang ada pada 9 desa. Dana BOK dipergunakan untuk tranportasi para undangan sosialisasi dari desa ke kecamatan. Selain itu, dana BOK digunakan sebagai penunjang sosialisasi Desa Siaga Aktif seperti membuat tanda Desa Siaga aktif dll. Contohnya di Desa Karang Bajo yang dijadikan desa percontohan di kecamatan bayan sebagai Desa Siaga Aktif. Untuk kegiatan PHBS, survey kesehatan memerlukan biaya penggandaan kuesioner yang biayanya juga diambil dari dana BOK. Sedangkan dalam kegiatan penyuluhan, dana BOK digunakan sebagai dana transportasi petugas puskesmas yang memberikan penyuluhan di sekolah- sekolah. Setiap puskesmas diberikan jatah masing- masing sesuai dengan luas wilayah dan banyaknya populasi di daerahnya. “Kebetulan puskesmas Bayan yang paling banyak, karena wilayahnya yang paling besar,”ujar Indra Marista. Keterlambatan cairnya dana BOK, tidak menyurutkan semangat petugas puskesmas ini bekerja. Biasanya pada awal-awal tahun pasti telat. Untuk menutup biaya kegiatan puskesmas, mereka menggunakan dana puskesmas yang masih ada.“Sambil menunggu dana BOK turun kami tetap menjalankan Terima Kasih BOK program-program kerja puskesmas dengan menggunakan dana sisa puskesmas,”ujarnya. Menurut Indra, angka kematian di NTB yang masih tinggi membuat puskesmas di NTB ini harus memiliki program kerja yang jitu untuk mengurangi angka kematian tersebut. “Untuk kesehatan Ibu dan anak, kami lebih mempromosikan kesehatan untuk ibu-ibu hamil. Dengan memberikan penyuluhan dari hamil sampai proses melahirkan. Mulai dari mengingatkan pola makanannya sampai melakukan proses melahirkan di sarana kesehatan dan ditolong oleh petugas kesehatan,”ujar Marsita. “Terus terang, saya kurang mengerti presentasi ibu yang melahirkan di Sarana Kesehatan, sebab masih ada ibu yang melahirkan di dukun. Tapi, terjadi perubahan besar dirasakan ketika Gubernur NTB mencanangkan kebijakan penurunan angka kematian ibu dan anak. “Dulu masih banyak yang melahirkan di dukun,”ujarnya miris. Kerjasama telah dilakukan antara bidan dan petugas kesehatan lainnya, dengan bina wilayah untuk terus mensosialisasikan agar melahirkan di sarana kesehatan. Untuk mendukung program tersebut, telah diberikan ambulance dusun. Sebelum ada ambulance dusun biasanya menggunakan ojek. Biaya naik ojeknya akan dibayar oleh puskesmas dengan menggunakan dana dari JAMKESMAS. Bantuan ojek diberikan berdasarkan jarak tempuh dari rumah pasien ke puskesmas. “Kalau dari rumah ke POLINDES itu Rp 15 ribu rupiah. Bila dari rumah ke Puskesmas itu Rp 25 ribu,”ujar Marsinta. Menurut Indra, perbedaan tarif ojek ini dikarenakan setiap desa atau dusun memiliki polindes masing-masing dengan jaraknya lebih dekat. Sedangkan puskesmas hanya ada di kecamatan, jadi jaraknya lebih jauh.“Sampai sebegitunya kita, Pak,”ujarnya penuh haru. Bahkan bidan pun terkadang mengeluarkan biaya untuk diberikan ke ibu yang hamil agar mau bersalin di sarana kesehatan. Tidak dipungkiri memang masih ada yang melahirkan di dukun, namun sudah berkurang. Dengan adanya jaminan persalinan (JAMPERSAL ) jelas membuat masyarakat senang karena tidak mengeluarkan biaya untuk proses kehamilan. Biasanya kendala biaya yang membuat masyarakat melakukan proses kehamilan dan melahirkan di rumah dan dibantu oleh dukun.“Dengan adanya JAMPERSAL masyarakat sudah tidak memikirkan biaya persalinan,”ujar Marsinta. n (Pra). Indra Marista, Skm EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 29
  • 30.
    MEDIA UTAMA T ingginya angkakematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) di NTB, masih menyisakan pertanyaan dan harus diselesaikan. Terus terang, data yang dikeluarkan BPS dan data dari kabupaten/kota, berdasarkan angkanya jauh sekali berbeda. Pernah, suatu hari kami terpaksa mengkonfrontir tentang tingginya angka kematian bayi dan ibu. Ternyata BPS, tidak menghitung di lapangan. Mereka menggunakan asumsi-asumsi. Di antara asumsinya: NTB angka pernikahan dininya sangat tinggi, asumsinya pasti bayi banyak mati. Walau belum tentu mati. Tapi, mereka begitu menghitungnya. Demikian disampaikan Gubernur NTB, Tuan Guru Haji Zainul Majdi, MA saat menyambut kehadiran Dirjen Gizi dan KIA Kemenkes, dr. Slamet Riyadi Yuwono dan rombongan, 8 Mei 2012 di Kantor Gubernur NTB. Menurut Tuan Guru, begitu pernikahan dini tinggi, maka keluar skors sekian. Bila tenaga kesehatan korelasinya kurang, keluar skors sekian, walaupun data riel yang dikumpulan dari seluruh kabupaten/kota berdasarkan data kematian bayi yang riel jauh rendah dibanding data BPS.“Bukan hendak mendebat, tapi itu mungkin metode baku internasional. Tapi, pertanyaannya mana sih data yang benar? Yang benar-benar meninggal atau yang diasumsikan meninggal? Menurut saya, tentu yang benar benar meninggal. Bukan bermaksud membela diri lho,”ujar Zainul. Gubernur mengakui, merasa terganggu, NTB berstatus daerah angka kematian bayi dan kematian ibunya.“Apa benar rata-rata Kemenkes siap turunkan AKI dan AKB di NTB kematiannya lebih tinggi dari Papua, Maluku utara, atau beberapa daerah yang banyak masalah kesehatan,”tanya Gubernur. Menurut Zaenul, tingkat pendapatan NTB tinggi, urutan ketujuh secara nasional. Bagaimana mengkorelasikan antara pertumbuhan ekonomi dan tingkat ekonomi yang terus membaik, tapi tingkat kesehatannya terus menurun?“Setahu saya, justru korelasinya sangat positif, jika ekonomi naik biasanya tingkat kesehatan juga naik. Nah, bagaimana menjelaskan ekonominya makin bagus tapi angka angka statistik kesehatannya terus menurun?”tanya gubernur lagi. Untuk itu, Zaenul berharap, semoga Kementerian Kesehatan mampu memberi pendekatan program yang lebih tepat memotret kesehatan NTB. “Barangkali harus berpikir, biarlah BPS berbicara begitu, yang penting di lapangan secara de facto data berbeda dan lebih baik berdasarkan sweaping door to door, karena kita terus bekerja menurunkan AKI dan AKB di NTB,“ ujar gubernur. Untuk menyikapi masalah tersebut, dr. Slamet Riyadi Yuwono, mengatakan Kemenkes siap terjun ke lapangan bersama bupati/walikota untuk turunkan AKI dan AKB NTB. Hanya saja, era otonomi, kadang ada hambatan warna kulit, parpol dan sebagainya. Tapi, kami mencoba untuk netral.“Kami minta diberikan jalan oleh pak gubernur untuk masuk menjalankan dengan sebaik baiknya. Kemudian, profesi kesehatan secara berkala membedah masalah kesehatan kabupaten dan kota. Tim kesehatan secara berkala dan non formal tetap kontak dengan Jakarta untuk menurunkan AKI dan AKB di NTB ,”ujar dr. Slamet. n ( Pra) Gubernur NTB, Haji Zainul Majdi, MA EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM30
  • 31.
    Untuk mensinergikan pembangunankesehatan di NTB, memerlukan keseriusan membedah masalah yang mendera masing-masing daerah. Pemerintah pusat juga harus menangkap semua problem daerah. Setiap masalah harus terhubung dengan unit pemerintah pusat yang bertanggung jawab terhadap penyelesaiannya. Untuk itulah memerlukan pembinaan terpadu yang melibatkan seluruh unit utama terkait Kemenkes. Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, DR.dr.Slamet Riyadi Yuwono, DTM&H, MARS, saat pertemuan pembinaan terpadu, 7-9 Mei, di Nusa Tenggara Barat. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat, dr. Moch Ismail, mengatakan pembinaan terpadu ini, disertai kunjungan lapangan ke 3 Kabupaten/Kota yaitu Lombok Barat, Lombok Tengah dan Kota Mataram. Kemudian, dilanjutkan dengan pertemuan di UPTT Dinas Kesehatan Lombok Tengah, RSUD Lombok Tengah, Balai Gizi kesehatan di Desa Pruyu Lombok tengah, Puskesmas Tugo Lombok Tengah dan POLTEKES Mataram. Untuk menguatkan dukungan pembangunan kesehatan, telah dilakukan penandatanganan MOU antara Gubernur NTB dan walikota se NTB. MOU tersebut merupakan kesepakatan implementasi peraturan daerah tentang peningkatan kesehatan ibu, bayi, dan anak balita. Pertemuan dihadiri 183 orang dengan rincian 35-40 orang daerah dan 53 orang provinsi, terdiri dari gabungan organisasi profesi, lintas sektor,dan lintas program. n(Pra) Sinergikan Pembangunan Kesehatan di NTB Dr. Slamet RiyadiYuwono (tengah) bersama kader teladan NTB. EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 31
  • 32.
    RAGAM Quote seorang saudaratua, Ernawati, saat berkomentar tentang Kepulauan Aru, “Keberagaman milik Indonesia tercinta ini harus disyukuri, kecuali keberagaman akses untuk memperoleh pelayanan kesehatan...”    Oksibil, Pegunungan Bintang - Papua, 12 Mei 2012 Pagi yang tergesa dan kami yang masih malas beranjak, setelah menempuh perjalanan 11 jam dari Surabaya sehari sebelumnya. Pagi itu gerimis, sekitar jam 05.30 WIT, kami berangkat dari Jayapura menuju bandara Sentani. Menurut petugas Trigana Air Services kami sudah harus melapor di bandara setidaknya jam 06.00 WIT.   Trigana Air Services, maskapai dengan jadwal penerbangan paling tentatif sedunia! Apa pasal? Kami sudah berdiri Catatan Perjalanan Seorang Peneliti Kesehatan di Negeri Atas Awan Pegunungan Bintang, Papua di counter check in maskapai tersebut jam 06.15 WIT dan ternyata belum buka, dan bahkan baru dibuka pukul 09.00 WIT, dan bahkan berangkat baru jam 11.00 WIT dari jam 07.00 yang direncanakan semula, tanpa pemberitahuan apapun. Tak berlebihan rasanya bila saya menyebutnya sebagai‘maskapai dengan jadwal penerbangan paling tentatif sedunia!’.   Saya tidak punya pilihan maskapai lain untuk menuju Kabupaten Pegunungan Bintang, meski dua bulan sebelumnya masih ada satu lagi operator penerbangan reguler yang beroperasi, Pelita Air. Tapi kondisi saat ini yang tersisa hanya Trigana Air Service, sisanya adalah pesawat- pesawat kecil, Cesna, yang dioperasikan secara full flight, atau lebih gampangnya disebut carter, dengan biaya 24-32 juta one way, sekali berangkat,‘murah’ sekali bagi ukuran saya yang PNS. Hahaha...   Pesawat akhirnya berangkat dengan membawa 32 penumpang dari 50 seat yang tersedia dari pesawat jenis ATR ini, sisanya... kami harus berbagi seat dengan tumpukan beras berkarung-karung dan kebutuhan sembako lainnya. Sungguh perjalanan yang menyenangkan. Tidak ada jalur alternatif transport lain menuju Oksibil dari daerah lainnya, semua kebutuhan di kabupaten tersebut dikirim melalui jalur penerbangan.   Penerbangan menuju Oksibil, ibu kota Kabupaten Pegunungan Bintang, hanya ditempuh dalam waktu 52 menit.Waktu tempuh yang sangat singkat dibanding penantian panjang yang hampir 5 jam. Kedatangan saya di wilayah palingTimur Republik ini (berbatasan langsung dengan Berikut pengalaman muhibah di negeri atas awan Pegunungan Bintang, Papua. Banyak kesan mendalam yang ditinggalkan, semoga juga meninggalkan kesan yang mendalam bagi pembacanya. EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM32
  • 33.
    Papua Nuginie), dalampenugasan terkait riset etnografi untuk kesehatan ibu dan anak. Dalam kunjungan lapangan kali ini, saya harus‘menjenguk’adik peneliti saya, Mas Aan Kurniawan, seorang anthropolog, yang sudah‘ditanam’di Pegunungan Bintang sepuluh hari sebelumnya, dan dia masih harus membaur di masyarakat setempat setidaknya sampai dengan dua bulan ke depan. Dalam tim yang ‘ditanam’, ada 4 orang anggota tim, dua dari Universitas Cendrawasih, anthropolog yang juga putra daerah, ditambah satu orang rekan peneliti perempuan asli Serui dari Balai Biomedis di Jayapura.   Kami menginap di mess pastoran Gereja Katolik Paroki Roh Kudus. Sebenarnya ada penginapan di Kota Oksibil, Penginapan Gloria, satu-satunya penginapan yang ada di kota ini, tetapi untuk penelitian etnografi kali ini wajib bagi kami untuk berbaur dengan masyarakat setempat. Rencananya 3-4 hari ke depan tim akan bergeser untuk mukim di rumah penduduk di salah satu distrik.    Oksibil, ibukota Kabupaten Pegunungan Bintang, yang bahkan tak lebih luas dari Kecamatan Jambangan, sebuah kecamatan di Kota Surabaya tempat saya tinggal. Di kota kecil inilah semua kendali pemerintahan di Kabupaten Pegunungan Bintang dikendalikan. Kabupaten berpenduduk 100.686 jiwa ini terdiri atas 34 Distrik atau setara kecamatan, dan 257 kampung atau setara desa. Jangan dibayangkan seperti kecamatan di wilayah lain di Republik ini. Distrik yang bisa dicapai dengan jalur darat, dengan mobil double gardan tentu saja! Hanya mencapai 4 distrik, yaitu distrik Okaom, Bulankop, Serambakon dan Kalomdol. Sisanya 30 distrik hanya bisa dicapai dengan pesawat kecil jenis Cesna. Sebenarnya jalur darat tetap bisa saja ditempuh, dengan keluar masuk hutan, naik gunung, turun jurang, dengan waktu tempuh yang... entahlah...   Di wilayah yang berada di ketinggian 2.000-3.000 meter di atas permukaan laut ini, jalur komunikasi fix (telkom) tentu saja tidak tersedia, meski operator seluler Telkomsel hadir dengan sinyal cukup kuat, setidaknya di Oksibil. Sedang operator seluler lainnya tidak punya cukup nyali untuk bermain di wilayah berat ini. Sekali lagi kondisi ini hanya berlaku di Oksibil saja! Untuk distrik lain bisa dibilang hampir tidak ada satupun alat komunikasi yang bisa dipakai. Hanya ada radio komunikasi SSB untuk setidaknya konfirmasi cuaca untuk penerbangan yang melalui wilayah distrik-distrik tersebut. Listrik sudah bisa nyala setiap hari. Dengan menggunakan tenaga diesel, tenaga listrik mulai dialirkan pada jam 5 sore sampai dengan jam 12 malam. Betul-betul hanya difungsikan sebagai tenaga penerangan pada malam hari saja.   PENCAPAIAN IPKM Kabupaten Pegunungan Bintang adalah penghuni paling dasar dari Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM), atau ranking 440 dari 440 kabupaten/kota. Sebuah pencapaian mengenaskan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Jayawijaya sembilan tahun lalu. Dengan ranking IPKM yang demikian, sudah tentu kabupaten ini termasuk Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK), sekaligus juga DTPK (Daerah Tertinggal, Perbatasan dan Kepulauan).   Dalam bedah data IPKM, pencapaian cakupan‘sanitasi’dan‘akses terhadap air bersih’kabupaten ini‘0%’. Artinya sama sekali tidak ada air bersih dan sanitasinya sangat buruk sekali. Nyatanya kondisi di lapangan memang demikian, masyarakat untuk seluruh kegiatan yang berkaitan dengan air hanya mengandalkan air tadah hujan. Jadi keberadaan air bersih sangat minim sekali. Bagaimana tidak? Air mineral dalam botol 1,5 liter di Oksibil dibanderol seharga Rp. 45.000,-, jauh lebih mahal dari harga bensin premium seliter yang mencapai Rp. 35.000,-.  Dengan minimnya keberadaan air bersih, sudah tentu sanitasipun menjadi sangat minimal. Menurut beberapa rekan peneliti, sebetulnya sudah mulai ada PDAM yang khusus beroperasi di Oksibil, tapi pelayanannya masih di sekitar perumahan pejabat daerah saja. Alhamdulillah... akhirnya saya pun jadi punya alasan untuk tidak mandi, meski tidak tahu berapa hari tahan untuk tidak buang air besar. Imunisasi lengkap balita di seluruh wilayah Kabupaten ini hanya mencapai 1,67%, dan persalinan di tenaga kesehatan pun hanya mencapai 10%. Meski demikian balita kurus hanya sedikit di kabupaten ini, hanya sebesar 8,77%, meski juga yang stunting atau pendek keberadaannya sangat banyak, sebesar 55,17%. Tidak! Tidak perlu mengurut dada untuk pencapaian ini! Yang dibutuhkan hanya aksi...   Seluruh data di atas didapatkan dari hasil survey Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dilakukan pada tahun 2007, meski juga pada saat ini, lima tahun kemudian, kondisinya tetap saja sama. Kita akan lihat lagi pada tahun 2013 nanti, pada saat Riskesdas kembali dilakukan, apakah telah ada perubahan atau tidak pada status kesehatan di masyarakat.   SUMBER DAYA KESEHATAN Kedatangan kami disambut ramah oleh Kadinkes Kabupaten Pegunungan Bintang. “Kita bersaudara..., semua petugas kesehatan bersaudara, ” katanya. Ngobrol santai dengan Kadinkes ini berlangsung sore hari di rumah pribadinya yang sederhana. Tak ada lagi kantor Dinas Kesehatan baginya, setidaknya untuk saat ini. Kantornya telah lebur dihancurkan massa beberapa waktu lewat. Apa sebab? Entahlah... saya sedang tak ingin ikut berpolemik saat ini.   Menurut pengakuan Kepala Dinas Kesehatan, Darius Salamuk, SIP., dari 34 distrik (setara kecamatan) di kabupaten ini, hanya 29 Puskesmas yang tersedia. Keberadaan tenaga dokter umum hanya EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 33
  • 34.
    RAGAM ada 10, danpada bulan April 2012 kemarin sempat ada tambahan dokter PTT yang dibiayai pusat sebanyak 6 orang. Dari keseluruhan tenaga dokter, hanya 6 orang dengan status PNS. Dari 29 Puskesmas yang ada, secara keseluruhan dikepalai oleh perawat lulusan SPK. Di wilayah kabupaten ini secara keseluruhan ada 35 tenaga bidan, yang setengahnya (18 bidan) terdistribusi di 29 puskesmas, dan sisanya ada di rumah sakit.   Dengan uraian kekuatan tenaga kesehaan yang tersedia tersebut, tentu saja banyak puskesmas yang tidak tersedia tenaga dokter, dan bahkan meski juga hanya untuk sekedar tenaga bidan. Menurut Kadinkes ada beberapa puskesmas yang hanya ada kepala puskesmasnya saja, itupun hanya mantri lulusan SPK. Ada satu Rumah Sakit di kabupaten ini, yang baru beralih fungsi dari‘Puskesmas Perawatan Plus Oksibil’sekitar bulan Maret 2011. Rumah Sakit type apa? Belum! Rumah sakit ini sama sekali belum pernah dan belum layak dilakukan akreditasi. Masih diperlukan perbaikan di sana-sini untuk menjadikannya layak untuk sekedar dilakukan akreditasi. Palang Merah Indonesia dan atau sekedar bank darah pun juga tidak tersedia di kabupaten ini.   INOVASI KEBIJAKAN LOKAL Dengan keseluruhan yang serba minimal, bukan berarti pemerintah setempat diam saja. Dalam catatan ada beberapa upaya kreatif untuk memenuhi kebutuhan akan pelayanan kesehatan. Tak kurang Bidan Christina Kasipmabin, Kepala Seksi Kesehatan Ibu dan Anak, menyebutkan pernah ada upaya pendirian rumah singgah di Kota Oksibil. Bidan lulusan P2B ini (lulusan SPK plus pendidikan bidan 1 tahun) menyebutkan bahwa pada tahun 2008-2009 sempat didirikan rumah singgah dalam bentuk honai (rumah khas adat tanah Papua) untuk menampung ibu hamil dari luar Oksibil yang diwilayahnya tidak tersedia tenaga kesehatan. Tapi sayangnya saat ini ibu hamil menjadi tidak tertarik memanfaatkan fasilitas ini.   Pada tahun yang sama, sekitar tahun 2008-2010, bidan berputra dua ini menyebutkan, bahwa dalam rangka Gerakan Sayang Ibu (GSI) pernah dilakukan upaya sweeping ibu hami resiko tinggi di seluruh wilayah kabupaten untuk dirujuk ke rumah sakit di Jayapura. Tetapi, sejak tahun 2010 upaya ini tidak lagi dibiayai oleh pemerintah kabupaten, karena mahalnya biaya rujukan yang menggunakan transportasi udara karena tidak tersedianya alternatif jalur transport lainnya.   Menurut Kadinkes, sejak tahun 2009, pemerintah setempat mengajukan ke Kementerian Kesehatan untuk pendirian kelas khusus Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) dan Sekolah Kebidanan yang akan bekerja sama dengan Biak. Kenapa mengajukan hanya SPK yang setara SLTA? Bukannya minimal harus setara D3? Pilihan ini bukannya tanpa alasan. Minimnya sumberdaya dengan pendidikan yang memadai membuat pilihan ini yang jauh lebih masuk akal. Akhirnya pada tahun ini, 2012, ijin didapatkan dari Kementerian Kesehatan (PPSDM). Maka dimulailah proses rekrutmen dan seleksi dari putra daerah setempat. Dengan mengambil 2 sampai 3 orang lulusan terbaik SLTP di setiap distrik. Kesemuanya akan dibiayai dari APBD setempat. Nantinya mereka akan disekolahkan dan diasramakan di Kota Biak. Selain itu pemerintah kabupaten juga akan membiayai penuh siapa saja putra daerah yang mampu menembus Fakultas Kedokteran Universitas Cendrawasih (FK Uncen), termasuk menyekolahkan spesialis bagi tenaga dokter umum yang mau ditempatkan di Kabupaten Pegunungan Bintang. Pada saat ini ada 12 mahasiswa FK Uncen yang dibiayai, dan hanya dua yang baru mencapai sarjana kedokteran (dokter muda).   Inovasi lain yang cukup‘gila’dilakukan Dokter Bob. Menurut pengakuan dokter asal Batak yang sekaligus Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan ini sempat membuat pelatihan dukun bayi untuk Asuhan Persalinan Normal (APN), yang tentu saja tidak mempergunakan dana dari pemerintah. Alasannya sederhana saja, “Saya belum pernah mendengar lonceng Gereja berbunyi yang memberitahukan ada kasus kematian bayi saat persalinan....” Dengan persalinan ke tenaga kesehatan yang hanya 10%, siapa lagi yang berperan selain dukun??? Kebanyakan kematian bayi di Kabupaten ini dalam kisaran waktu dua minggu sampai satu bulan, bukan pada saat persalinan. Mungkin disinilah peran tenaga kesehatan lebih diperlukan.   Inovasi lain juga sempat datang dari akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang akan menggandeng funding dari luar untuk outsourcing tenaga kesehatan dari luar Kabupaten Pegunungan Bintang untuk ditempatkan di wilayah ini selama satu tahun. Meski kabar ini terdengar segar, tapi menurut Dokter Bob belum jelas kapan akan ada realisasinya.   JAMKESMAS, JAMPERSAL, BOK & JAMKESPA EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM34
  • 35.
    Beberapa permasalahan pembiayaan kesehatanyang bersumber dari pusat (Jamkesmas, Jampersal, BOK), yang menimpa kabupaten di posisi paling timur Republik ini, hampir sama dengan daerah lain di Indonesia, terutama wilayah kepulauan, yang letak kantor KPPN-nya berada jauh dari wilayah kabupaten setempat. Kendala yang sering terdengar adalah biaya‘perjalanan’pengurusannya yang tidak tersedia.   Permasalahan lain terkait Jamkesmas dan Jampersal menurut Kadinkes adalah keharusannya memiliki rekening di Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk proses transfer dananya. Bukan masalah besar seharusnya, bila‘ada’keberadaan bank plat merah tersebut di kabupaten yang seluruh wilayahnya gunung ini. Sekali lagi diperlukan biaya ekstra untuk keseluruhan biaya‘administrasi’nya di Jayapura. Klaim Jampersal di daerah ini tidak melulu dilakukan oleh Bidan. Oleh sebab minimnya tenaga bidan, maka tenaga kesehatan lain, kebanyakan lulusan SPK, ikut melakukan pertolongan persalinan. Hal ini telah menjadi kebijakan khusus di daerah ini terkait Jampersal.   Menurut Bidan Christina Kasipmabin beberapa waktu lalu sempat diselenggarakan sosialisasi terkait BOK, Jamkesmas, dan Jampersal. Sasaran sosialisasi adalah seluruh bidan dan kepala puskesmas di wilayah tersebut. Acara diselenggarakan di Oksibil dengan biaya perjalanan yang tidak ditanggung oleh Dinas Kesehatan. Jadi biaya dari distrik ke Oksibil dibiayai masing-masing petugas. Entah bagaimana mereka mengupayakan biaya perjalanan untuk pembelian tiket pesawat tersebut?   Saat ini juga berlaku Jamkespa (Jaminan Kesehatan Papua), pembiayaan kesehatan yang juga berlaku di seluruh wilayah Papua yang diolah melalui dana otonomi khusus (otsus Papua). Jaminan pembiayaan kesehatan dasar sampai dengan paripurna ini hanya dikhususkan bagi rakyat Papua asli, tak peduli miskin atau kaya. Meski sempat juga terpikir, meski semuanya gratis, untuk apa bila pelayanannya tidak tersedia?   LOKAL WISDOM Kabupaten Pegunungan Bintang memang terlihat terisolasi dari dunia luar, untuk itu dibutuhkan banyak kemauan dan kemampuan yang ditumbuhkan dari dalam, dari masyarakat Pegunungan Bintang sendiri.   Dalam banyak hal dukun masih sangat berperanan di kehidupan masyarakat. Dukun, mau tidak mau harus dilibatkan dalam pembangunan kesehatan. Satu langkah strategis telah diambil, merekrut tenaga dukun sebagai kader kesehatan, dengan penghargaan yang luar biasa dibanding kabupaten lain. Mereka diberi insentif Rp. 300.000,- per bulan yang diambilkan dari anggaran APBD. Di beberapa kampung dan bahkan distrik, yang tenaga kesehatan tidak tersedia, maka dukun di’ikhlas’kan menjadi penolong persalinan.   Di beberapa tempat pelayanan kesehatan, penulis banyak menjumpai sepinya kunjungan. Dalam beberapa hal tentang sakit dan kesakitan, self efficacy dengan memanfaatkan tanaman obat yang didapatkan dari alam maupun obat bebas pabrikan menjadi pilihan utama masyarakat.‘Daun Gatal’misalnya, dipergunakan masyarakat seperti ‘koyo’ yang ditempelkan pada bagian tubuh yang dirasakan capek. Efek yang ditimbulkan adalah gatal-gatal yang pada akhirnya berujung pada hilangnya semua rasa lelah. Rasa-rasanya teman peneliti di Tawangmangu perlu juga mengkoleksi tanaman ajib ini.   Kearifan lokal lain dipelopori oleh ibu bupati selaku Ketua Penggerak PKK Kabupaten yang memutuskan‘Daun Yamen’sebagai salah satu suplemen wajib yang diberikan pada ibu hamil dan anak- anak sebagai bahan PMT (pemberian makanan tambahan) di Posyandu. Sayuran asli Pegunungan Bintang ini terbukti banyak mengandung kalsium. Setidaknya hal ini telah diteliti oleh pihak Universitas Cendrawasih.   Terbersit rasa bangga saat menjelajah sudut-sudut Pegunungan Bintang sampai ke pelosok, tak satupun dari mereka yang ditemui tak bisa berbahasa Indonesia, meski yang tampak dari luar adalah kaki telanjang dengan pakaian yang lusuh menggendong potongan besar kayu dan tas noken yang menggantung di kepala.   Rasanya sudah terlalu banyak yang diceriterakan, meski terlalu banyak juga yang belum diceriterakan. Semoga bisa menambah rasa kecintaan pada Republik ini. n Agung Dwi Laksono Penulis merupakan peneliti dari Badan Litbangkes (Pusat-4 di Surabaya) EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 35
  • 36.
    RAGAM JAMU berasal darikata jampi (doa-mantra) dan usodo (sehat), secara sederhana, dapat diartikan sebagai“ramuan dengan ucapan untuk mendapatkan kesembuhan, yang dimohonkan kepada Sang Maha Penyembuh”. Dalam perkembangan, bahan JAMU diambil dari tumbuhan Indonesia antara lain akar, getah, daun, biji, bunga, buah, kulit kayu, batang.1 Sudah diketahui, banyak warisan leluhur Indonesia yang mempunyai nilai positif dan tambah untuk kesejahteraan manusia. Warisan ini perlu dan layak dilindungi, yang pada masa sekarang merupakan perlindungan kekayaan intelektual dan keanekaragaman. Perlindungan tersebut memerlukan pembuktian fisik, kimia, biologi dan sosioantropologi. Bukti-bukti sosioantropologi - di candi, manuskrip (serat), literatur, cerita tutur - mengenai batik, keris maupun JAMU, menunjukkan ketiga warisan budaya tersebut adalah asli milik khasanah budaya Indonesia2 . Keberterimaan JAMU Pada tanggal 27 Mei 2008, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan JAMU Brand Indonesia dalam Gelar Kebangkitan JAMU Indonesia, di Istana Negara Jakarta. Pencanangan ini menyadarkan semua pihak untuk mengembangkan industri dan usaha JAMU, sehingga tahun 2008 dikenal menjadi Tahun Kebangkitan JAMU Indonesia. Pencanangan ini menuai keberterimaan di bidang kesehatan. Melalui proses dialog dan diskusi yang khas Indonesia, muncul pemahaman bersama bahwa: 1) JAMU Brand Indonesia perlu jaminan keamanan, mutu dan khasiat dari segi ilmiah dan etik, 2) dinamika global dan iptek untuk JAMU memerlukan pembuktian ilmiah dalam penelitian berbasis pelayanan kesehatan, 1 Balai Besar Litbang Tanaman Obat & Obat Tradisional Tawangmangu. Kerangka Acuan Dialog Nasional “Peningkatan Pemanfaatan Bahan Baku Obat dalam rangka Kemandirian Obat”. 8-10 Desember 2011 2 Menristek, 29 Juli 2008 dalam kunjungan kerja Riset Unggulan Strategis Nasional di Pusat Studi Regional Penelitian Biologi Tropis (SEAMEO BITROP), Bogor JAMU:Sukma Indonesia, bukan sekedar herbal dan 3) jaminan keamanan, mutu dan khasiat dari JAMU yang telah terbukti secara ilmiah dan etik dapat digunakan dalam pelayanan kesehatan dan upaya kesejahteraan masyarakat. Pemahaman bersama ini menjadi dasar penerbitan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 003/Menkes/ Per/I/2010 tentang Saintifikasi JAMU dalam Penelitian Berbasis Pelayanan Kesehatan. Permenkes ini menjadi payung Program Saintifikasi JAMU di klinik-klinik di seluruh Indonesia. Klinik Saintifikasi JAMU Hortus Medicus Tawangmangu sebagai klinik level A, Klinik SJ di RS PMI Sragen, Klinik SJ di Kab. Kendal, merupakan klinik SJ level B. Jampi dan Usodo JAMU, kata yang pendek dan unik, mengandung makna luhur sebagai upaya manusia Indonesia untuk mengobati, memelihara dan meningkatkan kesehatan, sejak jaman nenek moyang bangsa Indonesia. EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM36
  • 37.
    Program SJ jugameliputi kegiatan wisata- wisata iptek/ilmiah/kesehatan/JAMU di berbagai institusi, antara lain Wisat Ilmiah Tanaman Obat dan Obat Tradisional Tawangmangu, Wisata Kesehatan JAMU di Kab. Tegal, dan rencana beberapa wisata di istana-istana milik negara, misal Bogor dan Jogjakarta. Satu upaya yang mampu meningkatkan keberterimaan JAMU dalam kehidupan sehari-hari adalah budaya konsumsi JAMU dalam setiap agenda di kementerian/ lembaga negara/organisasi, misalnya acara ramah-tamah menyambut tamu institusi, acara internal institusi, dll. Berpengharapan dalam JAMU Pemahaman bersama (share meaning) yang dimiliki memberikan landasan dalam memelihara dan meningkatkan keseriusan, komitmen dan konsentrasi dalam membudayakan JAMU. Pemahaman sudah memunculkan aplikasi kebutuhan bersama, melalui aktivitas hulu, aktivitas litbang, aktivitas hilir, dan pengembangan aset manusia SJ. Aktivitas hulu meliputi budidaya, mulai dari eksplorasi, identifikasi, standarisasi, penanaman, pemeliharaan, dan panen tanaman obat; standarisasi simplisia; logistik. Aktivitas litbang mulai dari riset etnobotani, etnomedisin dan etnofarmakologi, sampai dengan penelitian berbasis pelayanan kesehatan di klinik-klinik SJ untuk membuktikan keamanan, mutu dan khasiat JAMU. Aktivitas hilir mulai dari proses paskapanen, teknologi formulasi JAMU, dan teknologi sediaan JAMU. Dokter, apoteker, dan perawat merupakan aset manusia SJ yang utama. Dokter diberi pelatihan dan magang mengenai metode ilmiah, etik, dan diagnosis, pelayanan JAMU. Apoteker diberi pelatihan dan magang untuk menentukan ramuan JAMU yang tepat berdasarkan hasil diagnosis dokter. Perawat diberi pelatihan dan magang untuk merawat pasien dan subyek di Program SJ. Dalam waktu dekat, Klinik SJ Hortus Medicus Tawangmangu akan ditingkatkan menjadi Rumah Riset JAMU, yang melayani rawat jalan, rawat inap dan konsultasi dalam Program SJ. Kontemplasi JAMU adalah Sukma Indonesia Di lingkungan hulu, JAMU masih menghadapi tantangan ketersediaan lahan untuk budidaya. Selain itu, juga belum tingginya minat tanam petani di samping motivasi yang tinggi untuk tanaman pangan yang sedang menjadi prioritas nasional. Di lingkungan litbang, JAMU tetap diupayakan untuk terbukti aman, bermutu dan berkhasiat melalui Program SJ. Keberadaan obat tradisional dan pengobatan tradisional selain JAMU yang melalui SJ, seyogyanya turut mendukung pelestarian dan pengembangan budaya JAMU yang aman, bermutu dan berkhasiat. Di lingkungan hilir, sudah teridentifikasi tantangan besar menyangkut logistik dan distribusi bahan baku JAMU. Mengambil contoh BULOG, diperlukan sistem Bulog JAMU di samping pengembangan sentra- sentra SJ di seluruh wilayah Indonesia, yang diharapkan bisa berperan dan berbagi tanggung jawab dalam SJ, seperti yang sudah dirintis dan dikembangkan di Klinik SJ Hortus Medicus Tawangmangu. Dalam pengembangan aset manusia, tantangan terbesar adalah meningkatkan mutu dan jumlah pelatihan, pelatih, lulusan, modul SJ sebagai salah satu upaya mengintegrasikan JAMU dalam sistem kesehatan, untuk mendukung pencapaian status kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. Tantangan umum adalah kerjasama internal dan antar dalam pemerintah, akademisi, dan swasta. Semua kerjasama ini perlu dibungkus dengan kesadaran bahwa kita bukan bekerja untuk rakyat, namun kita bekerja bersama rakyat. Adalah suatu keniscayaan, budaya positif suatu bangsa yang dipelihara dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan anak bangsa, dengan partisipasi anak negeri, memberikan nilai baik dan lebih bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. JAMU sudah memberikan informasi empiris, turun temurun akan khasiat dan nilai yang dikandung, membuktikan manfaat dari tumbuhan/tanaman obat Indonesia. Sepantasnyalah, anak negeri Indonesia mengelola dengan segenap kebudayaan, iptek, akal budi, daya manusia yang dimiliki, sehingga JAMU meresapi, berkecamuk dalam sanubari, dan menjadi SUKMA Indonesia. n Penulis: Nagiot Cansalony Tambunan Kabid Program, Kerjasama dan Informasi, Balai Besar Litbang Tanaman Obat & Obat Tradisional Tawangmangu, Badan Litbangkes, Kemenkes EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 37
  • 38.
    RAGAM M ungkin tidak banyak masyarakatyang mengetahui bahwa tanggal 8 Mei lalu diperingati sebagai Hari Thalassaemia Sedunia. Bahkan mungkin tidak banyak masyarakat yang mengenal thalassaemia, dan tidak menyadari bahwa diri dan keluarganya mengidap thalassaemia karena gejalanya hampir sama dengan gejala kekurangan darah atau Anemia  yakni lemah letih dan lesu. Padahal dampak yang ditimbulkan penyakit ini sangat serius. Jika tidak tertangani dengan baik, ajal pun tiba lebih cepat. Thalassaemia merupakan kelainan genetik Thalassaemia berkembang menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia. Penderitanya harus rutin melakukan transfusi darah untuk menyambung hidupnya. Meski belum ada obatnya, penyakit ini bisa dicegah penyebarannya. yang menyebabkan terganggunya produksi haemoglobin, sebuah protein yang ada di dalam sel darah merah. Penderita Thalassaemia memiliki sel darah merah yang mudah rusak atau umurnya lebih pendek (23 hari) ketimbang sel darah normal (120 hari), sehingga penderitanya akan mengalami anaemia. Sebuah molekul haemoglobin terbentuk dari rantai-rantai protein yang dikenal sebagai globin alpha dan globin beta. Keduanya dibutuhkan untuk mengikat oksigen dari paru-paru dengan baik dan mengangkutnya ke jaringan-jaringan tubuh yang membutuhkan. Akibat kelainan genetik, salah satu dari rantai protein ini bisa hilang. Hilangnya salah satu rantai protein ini menentukan jenis thalassaemia-nya. Misalnya ketika molekul haemoglobin tidak memiliki globin alpha, maka thalassaemianya termasuk jenis alpha-thalassaemia. Menurut data WHO tahun 1994, jumlah carrier atau orang yang mempunyai gen pembawa thalassaemia di seluruh dunia sekitar 250 juta orang, dimana 300 ribu anak yang menderita thalassaemia dilahirkan setiap tahun. Dari jumlah itu, sekitar 60-70 ribu diantaranya merupakan penderita jenis thalassaemia terparah, beta-thalassaemia mayor. Penderitanya memerlukan transfusi darah sepanjang hidupnya. Sementara itu, kecenderungan kasus thalassaemia pun terus meningkat. Thalassaemia: Tidak Bisa Sembuh, Tapi Bisa Dicegah EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM38
  • 39.
    Menurut WHO, jumlahcarrier pada tahun 2001 mencapai 7 % dari jumlah penduduk dunia. Bagaimana dengan Indonesia? Ternyata Indonesia termasuk dalam kelompok yang berisiko tinggi Thalassaemia. Delapan provinsi di Indonesia memiliki jumlah penderita atau prevalensi Thalasemia yang cukup tinggi dibandingkan daerah lainnya. Propinsi tersebut diantaranya yaitu Aceh,  DKI Jakarta, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Kepulauan Riau dan Gorontalo. Prevalensi thalassaemia bawaan (carrier) di Indonesia sekitar 3-8%. Jika prosentase thalassaemia 5% saja, dengan angka kelahiran 23 per 1.000 dari populasi 240 juta maka diperkirakan terdapat 3.000 bayi penderita thalassaemia lahir setiap tahunnya. Penyakit bawaan Thalassaemia bukanlah penyakit menular, tapi dapat diturunkan. Berdasarkan cara penurunannya (hereditas), thalassaemia dibedakan menjadi tiga jenis. Pertama adalah thalassaemia trait, atau sering disebut pula thalassaemia minor. Keadaan ini terjadi pada seseorang yang sehat, namun ia dapat menurunkan gen thalassaemia pada anak-anaknya. Thalassaemia trait sudah ada sejak lahir, dan tetap ada sepanjang hidup penderita. Meski kadang-kadang ada gejala anaemia, penderitanya bisa hidup sehat dan tidak memerlukan transfusi darah sepanjang hidupnya. Jenis kedua adalah thalassaemia mayor. Ini terjadi bila kedua orangtua mempunyai pembawa sifat thalassaemia. Penderitanya memerlukan transfusi darah secara berkala seumur hidupnya. Apabila penderita thalassaemia mayor tidak dirawat, maka hidup mereka biasanya hanya bertahan antara 1-8 tahun. Ketiga adalah thalassaemia intermedia merupakan kondisi antara thalassaemia mayor dan minor. Penderita thalassaemia intermedia mungkin memerlukan transfusi darah secara berkala. Penderita dapat bertahan hidup sampai dewasa. Hingga saat ini belum ada obat yang bisa menyembuhkan penyakit thalassaemia secara total. Hal yang bisa dilakukan penderita thalassaemia, khususnya thalassaemia mayor, adalah dengan melakukan transfusi darah secara teratur sepanjang hidupnya untuk menjaga stamina dan kesehatannya. Biasanya transfusi ini dilakukan sekali dalam empat minggu. Bisa dicegah Beban yang harus ditanggung oleh penderita thalassaemia mayor memang sangat berat. Seumur hidup ia harus menjalani transfusi darah dan pengobatan. Rata-rata penderita thalassaemia menghabiskan dana sekitar 7-10 juta per bulan hanya untuk pengobatan. Jumlah tanggungan sebesar itu tentu sangat berat, terutama bagi keluarga tidak mampu. Untuk menjamin biaya pengobatan pasien thalassaemia, pemerintah melalui Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 1109/ Menkes/Per/VI/ 2011, menjamin pasien thalassaemia memperoleh jaminan pelayanan kesehatan thalassaemia, atau Jampelthas. “Dengan adanya jaminan ini, masyarakat tidak perlu khawatir jika memiliki penyakit thalassemia”, kata Direktur Pengendalian Penyakit TIdak Menular, Ekowati Rahajeng. Mekanisme jaminan ini serupa dengan Jamkesmas, namun lebih sederhana sebab pasien hanya perlu memberikan surat keterangan rekomendasi dari dokter dan akan diberikan kartu jaminan oleh Yayasan Thalassaemia Indonesia (YTI). Pasien pemegang kartu Jampelthas boleh mendapat transfusi darah gratis setiap bulan dan mendapat pengobatan thalassemia. Namun demikian, upaya penanganan thalassaemia sejatinya tidak boleh berhenti pada upaya-upaya kuratif dan pembiayaan saja. Langkah-langkah pencegahan dan pengendalian risiko thalassaemia yang lebih sistematis juga perlu lebih diupayakan. Pengendalian faktor risiko dapat di mulai dari seseorang yang memiliki thalassaemia trait. Untuk mencegah terjadinya keturunan yang menderita thalassaemia, hindarilah perkawinan sesama pembawa sifat thalassaemia. Tindakan preventif dan pengendalian penyakit tersebut harus segera disosialisasikan kepada masyarakat, tentunya dengan tetap berpatokan pada nilai-nilai etika, moral dan budaya bangsa. (rief/gi) n EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 39
  • 40.
    RAGAM EDISI 36 IJUNI I 2012 MEDIAKOM40
  • 41.
    WHA ke-65 Hasilkan 21 Resolusi dan3 Keputusan P alais de Nations, Gedung PBB di Jenewa baru saja menyelesaikan rapat besar. Menteri kesehatan beserta delegasi dari 194 negara anggota WHO usai sudah mengikuti sidang World Health Assembly (WHA) ke-65 dengan membawa pulang 21 Resolusi dan 3 Keputusan. United Nations Office at Geneva (UNOG) adalah yang terbesar kedua setelah Kantor Pusat PBB di New York. UNOG ini berada di Palais des Nations, sebuah kesaksian yang luar biasa untuk arsitektur abad kedua puluh, terletak di sebuah taman indah di Jenewa yang menghadap Danau Jenewa, dengan pemandangan indah pegunungan Alpen dan, pada hari yang cerah, Mont Blanc. Selain kota pariwisata, Jenewa adalah kota politik internasional. Turis dapat menikmati bagian demi bagian di gedung PBB ini, tentu dengan bantuan pemandu. Bila tak ada akses khusus, tak akan bisa masuk. Bahkan bila sedang beruntung, bisa masuk sampai ke Assembly Hall, ruang sidang utama bila diselenggarakan Sidang Umum PBB di sini. Pada sidang WHA ke-65, Delegasi Republik Indonesia (Delri) berhasil memperjuangkan sejumlah kepentingan Indonesia dan negara berkembang lainnya di bidang kesehatan. Sidang yang melibatkan delegasi dari 194 negara anggota World Health Organization (WHO) ini berhasil mengesahkan 21 Resolusi dan 3 Keputusan sebagai hasil pembahasan sidang Komite A dan B. EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 41
  • 42.
    RAGAM EDISI 36 IJUNI I 2012 MEDIAKOM42
  • 43.
    Sidang plennary WHAke-65 bertema Universal Health Coverage. Pada kesempatan tersebut, Delegasi RI yang dipimpin Wakil Menkes RI selaku Plt. Menteri Kesehatan RI, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, MSc., PhD, menyampaikan pernyataan, sikap dan posisi Indonesia dalam kesehatan global. “Beberapa capaian terpenting partisipasi Delri antara lain dengan disahkannya sejumlah resolusi yang sesuai dengan kepentingan nasional”, ujar Prof. dr. Ali Ghufron Mukti pada temu media sekembali ke Tanah Air. Salah satu yang disepakati,adalah resolusi Poliomyelitis: Intensification of the Global Eradication Initiative. Delegasi RI menegaskan, vaksin polio dengan cara oral hingga saat ini merupakan pilihan yang paling affordable bagi seluruh negara berkembang dan telah terbukti efektifitasnya. Sidang mengadopsi resolusi ini dan memasukkan usulan Delri untuk menghapus rujukan Inactivated Poliovirus Vaccines (IPV). “Inisiatif penggunaan IPV dikhawatirkan mempersulit upaya global untuk mengeradikasi penyakit polio. Untuk keperluan domestik, Pemerintah harus mengalokasikan anggaran 50 kali lipat dibandingkan anggaran untuk vaksin polio yang kita lakukan saat ini”, jelas Prof. dr. Ali Ghufron Mukti. Kemudian, Resolusi Global Burden of Mental Disorder untuk pengembangan kebijakan dan strategi promosi kesehatan jiwa berbasis pelayanan kesehatan dasar. Resolusi lainnya adalah mengenai Nutrition: Comprehensive Implementation Plan (CIP) on Maternal, infant and Young Child Nutrition mendorong negara-negara anggota untuk melaksanakan penguatan kapasitas tenaga kesehtaan dalam penanganan kekurangan atau kelebihan gizi pada kelompok rentan; menyusun mekanisme untuk meningkatkan kontrol terhadap pemasaran pengganti Air Susu Ibu (ASI); serta menjamin tidak terjadi konflik kepentingan. Sementara itu, pada Resolusi Monitoring the Health Related MDG’s, Delri menyampaikan pernyataan atas nama South East Asia Region (SEAR) menekankan laporan kemajuan atas upaya negara anggota dalam pencapaian indikator MDG’s yang dinilai masih lambat. “Ini penting mengingat masing-masing negara memiliki kapasitas dan kendala yang berbeda sehingga diperlukan dukungan terus-menerus bahkan sampai fase setelah tahun 2015 (post MDG’s)”, tambah Prof. dr. Ali Ghufron Mukti. Selain itu, sejumlah resolusi lainnya juga berhasil diperjuangkan oleh Indonesia, diantaranya Penguatan komitmen terhadap International Helath Regulations (IHR); Tindak lanjut Pandemic Influenza Preparedness (PIP) Framework yang menekankan pentingnya peran advisory group, financial dan resources dalam implementasinya; Consultative Expert Working Group on Research and Development (CEWG-RD) yang memandatkan negara-negara untuk melakukan konsultansi guna mengkaji laporan; Pembentukan mekanisme negara anggota untuk membahas isu-isu Substandard/Spurious/Falsely-Labeled/ Falsified/Counterfeit medical products dalam rangka memperkuat badan regulasi produk obat-obatan di negara anggota. Prof. dr. Ali Ghufron Mukti juga menyatakan, pada kesempatan tersebut juga disepakati beberapa resolusi terkait isu administratif dan keuangan, seperti laporan keuangan WHO periode Januari 2010-Desember 2011; status kontribusi negara anggota; pengaturan khusus pelunasan kontribusi; pemilihan Dirjen WHO; serta resolusi mengenai laporan audit eksternal WHO. Sementara itu, Kepala Pusat Kerjasama Luar Negeri Dra. Ninik Kun Naryatie menyatakan bahwa peran Indonesia di forum kesehatan global ini sangat diakui dan dinantikan oleh seluruh dunia. Indonesia bisa memberikan masukan yang mengabaikan titipan-titipan. Sehingga bila ada resolusi yang kira-kira akan memberatkan negara berkembang, kita bisa mengidentifikasi. Karena itu kita mendapat apresiasi dari negara berkembang lainnya. n(gi) Wamenkes Prof. dr. Ali Ghufron Mukti , Msc, PhD(tengah) danTim Indonesia EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 43
  • 44.
    KOLOM M enteri Kesehatan dr.Endang Rahayu Sedyaningsih dalam suatu kesempatan ditanya wartawan,“Apa yang Ibu harapkan kepada masyarakat tentang kesehatan?”Menkes menjawab: masyarakat harus bertanggung jawab atas kesehatannya sendiri. Sebab, kesehatan tak dapat didelegasikan, dilimpahkan, atau diwakilkan. Demikian pula dengan sakit. Semua ditanggung atau dirasakan sendiri.“Apakah seseorang mau sehat atau sakit, silakan. Itu pilihan,”ungkapnya. Orang lain, institusi pelayanan kesehatan, pemerintah, profesi kesehatan dan pihak lain terkait, tidak serta merta menjadi penyebab sakit atau sehatnya seseorang. Tapi hanya sebagai faktor penunjang untuk mewujudkan hidup sehat. Sedang faktor utama menuju hidup sehat ada pada kemauan dan upaya dari individu itu sendiri. Mari kita lihat apa yang terjadi pada masyarakat. Bagaimana sikap mereka terhadap sakit dan sehat. Setidaknya itu terlihat dari angka penyebab kesakitan dan kematian. Angka ini menunjukkan terjadi peningkatan jumlah penderita penyakit tidak menular; sekalipun penyakit menular juga masih belum hilang dari tengah masyarakat. Tapi, jumlah penderita penyakit tidak menular sudah mengungguli jumlah penderita penyakit menular. Sekedar mengingatkan, jenis penyakit tidak menular itu antara lain: jantung, darah tinggi, kanker, diabet dan lainnya. Penyebab penyakit ini umumnya karena pola hidup yang tidak sehat. Mulai dari pola makan, pola kerja, pola istirahat, dan pola keseimbangan hidup. Terkait dengan berbagai pola hidup di atas, keberhasilan seseorang mengendalikan pola makan, semua bergantung pada individu. Pola makan yang dipilihnya, akan memberikan hasil: apakah seseorang termasuk berhasil atau tidak dalam menjalani hidup sehat. Ada sebagian orang berhasil menjalani hidup sehat dengan memenuhi seluruh persyaratan yang dibutuhkan untuk hidup sehat. Tapi ada juga yang gagal menjalani hidup sehat, karena tidak sanggup memenuhi persyaratan untuk menjalani hidup sehat. Misal: tidak ketat dalam menjaga pola makan. Ia menyantap makanan yang tidak sehat atau sembarangan. Tetap memilih makanan yang menyebabkan sakit, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Apalagi, makanan itu nikmat, sebagai makanan kesukaan, dan gratis pula. Menteri Kesehatan berharap, setiap individu berupaya menjaga kesehatan agar tetap sehat. Dengan cara menjaga kesehatannya tetap sehat, akan berdampak positif terhadap diri, keluarga, orang lain, pelayanan kesehatan maupun pemerintah. Individu yang bersangkutan akan produktif, keluarga senang dan tak terbebani, orang lain tidak direpotkan, pelayanan kesehatan tidak penuh dan pemerintah dapat menghemat dana jaminan kesehatan. Baik itu jamkesmas (jaminan kesehatan masyarakat), jamkesda (jaminan kesehatan daerah) maupun jampersal (jaminan persalinan). Nah, bagaimana membangun kesadaran untuk bertanggung jawab atas kesehatan dirinya? Pertama; sadari dampak buruk sakit. Bagi orang yang punya uang berlebih, mungkin tidak bermasalah dengan biaya pengobatan, tapi tetap bermasalah, bila berakhir dengan kesembuhan tidak normal atau cacat. Bayangkan kalau sembuhnya cacat, apakah siap hidup dengan predikat cacat? Seperti buta, padahal sebelumnya, sehat, bugar EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM44
  • 45.
    dan jelita. Taksemua orang siap. Kecuali terpaksa, karena sudah menjadi takdir. Bayangkan, kalau yang menderita sakit itu orang du’afa. Untuk makan sehari-hari saja susah. Kerja sehari untuk sehari. Setelah sakit, siapa yang harus mencari nafkah? Lebih repot lagi. Repotnya luar-dalam, yakni biaya pengobatan dan kebutuhan harian keluarga. Menyadari akan hal ini, betapa penting dan berharga kesehatan itu. Kedua; sadari dampak positif sehat. Sehat itu segalanya. Artinya orang yang sehat dapat memenuhi kebutuhannya sendiri. Kalau toh harus membutuhkan bantuan, hanya yang terkait dengan faktor pendukung, bukan pada hal-hal yang pokok dan utama. Bila manusia sudah sehat, belajar juga lebih mudah, mencari nafkah lebih bersemangat dan mampu menjalankan seluruh aktifitas dengan baik. Semua itu terjadi karena yang bersangkutan sehat. Jadi, untuk menjadi sehat, memang harus menjadi kemauan individu. Bila mau sehat, seseorang pasti akan menemukan cara. Ia juga tak akan bergantung pada orang lain, untuk menjadi sehat. Karena mereka sadar betul, bahwa sehat menjadi kebutuhan individu. Sehingga tak begitu perlu, apakah orang lain mendukung atau tidak. Untuk itu, bila ingin sehat harus memulai dari apa yang dapat dikerjakan secara individu, karena sesungguhnya, sehat itu menjadi tanggung jawab individu. n SehatTanggung Jawab Individu Oleh: Prawito EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 45
  • 46.
    UNTUK RAKYAT S eminar NationalInput for Achieving Universal Health Coverage in Indonesia di Yogyakarta di buka oleh Wakil Kesehatan Prof Ali Ghufron Mukti (28/5/12) pertemuan ini membahas tentang kesiapan pemerintah dalam implementasi universal health coverage di Indonesia. Kesehatan adalah hak asasi sekaligus investasi, dimana semua warga negara berhak atas pelayanan kesehatan. Untuk itu diperlukan penyelenggaran sistem yang mengatur pembiayaan dan pelayanan kesehatan dalam upaya pemenuhan kebutuhan dasar kesehatan yang layak. Sistem yang dimaksud adalah sistem Jaminan Kesehatan. Jaminan kesehatan merupakan salah satu program yang wajib dilaksanakan dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). SJSN merupakan tatacara penyelenggaraan program jaminan sosial berbasis asuransi oleh beberapa badan penyelenggara berdasarkan prinsip: kegotongroyongan, nirlaba, keterbukaan, kehati-hatian, akuntabilitas, portabilitas, kepesertaan bersifat wajib, dana amanat dan hasil pengelolaan dana jaminan sosial digunakan seluruhnya untuk pengembangan program dan sebesar-besarnya untuk kepentingan peserta. Sebagai salah satu amanat dari Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004, Undang-Undang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) telah disahkan pada tanggal 28 Oktober 2011 melalui sidang paripurna DPR RI. Dalam UU tersebut ditetapkan 2 (dua) BPJS yaitu BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Dengan demikian hanya ada institusi yang akan menyelenggarakan Jaminan Kesehatan di Indonesia yaitu BPJS Kesehatan yang berstatuskan badan hukum publik. BPJS Kesehatan Dengan berlandaskan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004, tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan Undang- Undang Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), maka makin memantapkan arah ke depan bahwa pembiayaan kesehatan personal bagi masyarakat Indonesia akan diselenggarakan dalam mekanisme jaminan Kesehatan. Implementasi kedua Undang-Undang tersebut akan segera dilakukan dengan menunggu penyelesaian peraturan perundangan seperti Peraturan Pemerintah atau Peraturan Presiden. Mulai 1 Januari 2014, pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional siap untuk diimplementasikan dan diselenggarakan melalui BPJS. Dalam menyongsong penyelenggaraan jaminan kesehatan oleh BPJS, saat ini sedang dilakukan persiapan implementasinya meliputi pembentukan Tim Lintas Kementerian dan Kelembagaan dan Kelompok Kerja di dalam lingkungan internal Kementerian Kesehatan, penyusunan rencana kegiatan dan koordinasi untuk memperlancar proses peralihan (transformasi) jaminan kesehatan, dari sisi program maupun kelembagaan. Selain persiapan tranformasi kelembagaan dan program, juga dipersiapkan pemenuhan kebutuhan dari sisi demand dan sisi supply. Untuk sisi demand, dipersiapkan antara lain, besaran iuran dan penyediaan dana tersebut baik dari pemerintah untuk peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) maupun kontribusi dari pekerja dan pemberi kerja pada peserta non PBI, informasi yang lengkap dan tepat. Dari sisi supply, dipersiapkan perhitungan kebutuhan dan pemenuhannya untuk: fasilitas kesehatan dan infrastruktur, obat dan alat kesehatan, dan SDM Kesehan. EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM46
  • 47.
    Pelaksanaan jaminan kesehatanharuslah mengacu kepada kendali mutu dan kendali biaya dengan menerapkan prinsip ‘managed care’, agar terjadi pembiayaan yang efisien dengan mutu yang tetap terjamin sesuai indikasi medis. Dan salah satu kontrol pembiayaaan yang efektif efisien adalah dengan menggunakan pola pembayaran prospektif yaitu kapitasi dan INA-CBG’s. Untuk menata pelayanan kesehatan yang diberikan dalam sistem jaminan kesehatan perlu diberlakukan pelayanan terstruktur dan berjenjang melalui mekanisme rujukan dengan tujuan yang sama yaitu untuk pengendalian biaya dan keteraturan pelayanan kesehatan. Yang paling penting dari segalanya adalah penyusunan regulasi atas penyelenggaraan jaminan kesehatan sehingga memberikan kejelasan kepada semua pihak yang terkait dalam menjalankan perannya masing-masing dalam implementasi Jaminan Kesehatan. Upaya terakhir yang harus dilakukan adalah bagaimana menjamin penduduk yang saat ini belum memiliki jaminan kesehatan diperkirakan sekitar 89 juta jiwa atau 37% dari total penduduk. Kelompok masyarakat yang belum memiliki jaminan kesehatan meliputi sebagian pekerja formal dan sebagian besar pekerja informal. Jamkesmas korban benccana merapi di perpanjang Selain Seminar Nasional juga dilakukan penyerahan SK Menkes RI tentang Perpanjangan Pelayanan Jaminan Kesehatan Masyarakat Bagi korban Merapi di Kabupaten Magelang, Klaten, Sleman dan Kulon Progo. Sebagaimana diketahui, diluar dari sasaran kuota yang menerima kartu pada tahun 2012 berjumlah 76,4 juta jiwa, masih ada lagi sasaran Jamkesmas non kartu yang berhak memperoleh layanan program Jamkesmas, seperti masyarakat miskin penghuni lapas rutan, penghuni panti panti sosial dan masyarkat korban bencana, gelandangan pengemis, anak terlantar, bayi baru lahir dari pasangan keluarga Jamkesmas, penderita thalasemia mayor dan peserta keluarga harapan (PKH). Mereka tersebut berhak memanfaatkan pelayanan program Jamkesmas cukup dengan menggunakan surat rekomendasi dari instansi terkait atau dengan surat keputusan Menteri Kesehatan yang didasarkan atas usulan Pemda setempat khusus untuk korban bencana paska tanggap darurat. Dengan adanya Surat Keputusan perpanjangan pelayanan kesehatan melalui program Jamkesmas pada masyarakat korban bencana Merapi, maka masyarakat di 4 kabupaten tersebut memiliki kepastian atas haknya untuk memperoleh pelayanan kesehatan dalam program Jamkesmas. Disamping hak yang diperoleh dalam program jamkesmas, mereka juga harus memahami kewajibanya untuk mengikuti prosedur sebagaimana yang tertuang dalam pedoman pelaksanaan (manlak), petunjuk teknis dan ketentuan lainnya. Dengan demikian diharapkan pemanfaatan program Jamkesmas bagi seluruh masyarakat korban bencana merapi dapat berjalan dengan optimal, transparan, akuntabel, effisien dan effektif. Dalam upaya melakukan perbaikan data kepesertaan Jamkesmas, maka pada tahun 2012, data sasaran akan mengacu pada data base terpadu dari Tim Nasional Program Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) yang didasarkan pada hasil survei PPLS 2011. Data tersebut sudah by name dan by address jadi pemerintah daerah tidak perlu lagi menetapkan kembali melalui SK Bupati/ Walikota. Hasil pendataan yang dilakukan sudah melalui suatu proses survei yang lebih baik dan diharapkan dapat meminimalisir kesalahan dan ketidaktepatan sasaran yang terjadi dilapangan. Namun begitu penetapan sasaran baru untuk program Jamkesmas 2012 baru akan diberlakukan melalui Surat Keputusan Menteri Kesehatan pada saat kartu peserta Jamkesmas tersebut didistribusikan kepada peserta masing-masing. Dengan adanya data tersebut diharapkan tidak ada lagi permasalahan menyangkut kepesertaan Jamkesmas yang dianggap sudah kadaluarsa (out of date). Wakil Menteri Kesehatan, Prof. Ali Ghufron Mukti, saat menyerahkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI tentang perpanjangan pelayanan kesehatan masyarakat korban bencana Merapi pada ke empat kabupaten, yaitu Magelang, Klaten, Kulonprogo dan Sleman diYogyakarta, pada hari Senin 28 Mei 2012. Seperti diketahui banyak permasalahan ketidaktepatan data sasaran Jamkesmas di daerah-daerah pada tahun-tahun sebelumnya, hal ini dikarenakan karena data sasaran Jamkesmas masih mengacu pada hasil survei tahun 2005 dan 2008. Disamping itu bahwa pemerintah pusat hanya menetapkan kuotanya saja sedangkan daerah yang menetapkan orang- orangnya yang didasarkan kriteria daerah masing-masing. Hal inilah yang menyebabkan ketidaktepatan sasaran seperti data sasaran yang sudah tidak sesuai lagi, peserta yang sudah meninggal dunia, penduduk baru akibat kelahiran, perubahan tingkat sosial ekonomi dan lain-lain. Hal lain yang menjadi permasalah pendataan sasaran adalah bahwa tidak adanya keseragaman kriteria miskin antar daerah sehingga masing-masing daerah membuat kriteria yang berbeda walaupun kuotanya ditetapkan oleh pusat yang menyebabkan terjadi inklusion error dan ekslusion error sebagaimana yang sering dikeluhkan selama ini. Permasalahan tersebut menyebabkan data sasaran Jamkesmas sudah dianggap tidak valid lagi dan segera harus dilakukan pemutakhiran. Oleh sebab itu, maka data base terpadu yang disusun oleh TNP2K berdasarkan hasil survei BPS melalui PPLS 2011 menjadi sangat penting untuk kepesertaan program Jamkesmas tahun 2012 dan tahun selanjutnya. Di harapkan dengan adanya data base terpadu yang menjadi acuan semua program perlindungan sosial ini, maka sasaran EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 47
  • 48.
    UNTUK RAKYAT kepesertaan Jamkesmasmenjadi lebih akurat, tepat dan lebih valid karena melalui proses survei dengan metode yang lebih baik yang meminimalisir inklusion dan ekslusion error. Dengan demikian kekurangtepatan sasaran dapat dikurangi secara signifikan. Namun begitu basis data terpadu ini belum sempurna dan masih ada kekurangan dan kelemahannya, oleh karena itu diharapkan kerjasama yang baik antara TNP2K dan Kementerian Kesehatan terutama dalam pelaksanaan Program Jamkesmas dapat terus dilanjutkan dan perlu lebih ditingkatkan lagi, melalui kegiatan monitoring dan evaluasi yang dilaksanakan secara terpadu sehingga permasalahan di lapangan yang menyangkut pendataan sasaran dapat dideteksi sedini mungkin untuk kemudian dicarikan solusi pemecahannya, kata Prof. Ghufron. Cakupan kepesertaan jaminan kesehatan pada tahun 2011 adalah 63,12% dari seluruh penduduk Indonesia yang berjumlah 237,6 juta jiwa, sisanya, hampir setengah dari penduduk Indonesia sebesar 36,88% belum terlindungi oleh jaminan kesehatan. Kondisi ini dapat berdampak kurang baik bagi pengendalian biaya kesehatan, sebab biaya kesehatan cenderung terus meningkat. Masih banyaknya masyarakat yang tidak terlindungi dalam sistem jaminan kesehatan akan mendorong pembayaran langsung atau direct payment masyarakat kepada pemberi layanan kesehatan. Di satu sisi akan berakibat masyarakat akan mudah jatuh miskin akibat harus membiayai pengobatannya. Di sisi lain, tanpa adanya sistem pengendalian biaya maka fasilitas pemberi layanan kesehatan dapat cenderung melakukan moral hazard dengan memberikan pelayanan yang tidak rasional untuk mendapatkan keuntungan besar. Oleh karena itu, Kemenkes sejak tahun 2008 sudah menyusun roadmap untuk pengembangkan cakupan kepesertaan jaminan kesehatan bagi seluruh penduduk. Dengan kepesertaan semesta bagi seluruh penduduk maka kita berharap permasalahan kepesertaan yang selama ini muncul tidak akan terjadi, karena semua penduduk sudah terlindungi dalam sistem jaminan kesehatan. Sebagaimana diketahui, di luar dari sasaran kuota yang menerima kartu tahun 2012 yang berjumlah 76,4 juta jiwa, masih ada lagi sasaran Jamkesmas non kartu yang berhak memperoleh layanan program Jamkesmas, seperti masyarakat miskin penghuni lapas rutan, penghuni panti panti sosial dan masyarkat korban bencana, gelandangan pengemis, anak terlantar, bayi baru lahir dari pasangan keluarga Jamkesmas, penderita thalasemia mayor dan peserta keluarga harapan (PKH). Mereka tersebut berhak memanfaatkan pelayanan program Jamkesmas cukup dengan menggunakan surat rekomendasi dari instansi terkait atau dengan surat keputusan Menteri Kesehatan yang didasarkan atas usulan Pemda setempat khusus untuk korban bencana paska tanggap darurat. Di harapkan dengan adanya surat keputusan Menteri Kesehatan ini, maka akan meringankan beban kehidupan masyarakat korban bencana merapi pada saat mereka sakit, serta meningkatkan akses pelayanan kesehatan yang seluas luasnya kepada masyarakat terutama saat mereka membutuhkan pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan yang telah tersedia. Pada saatnya nanti sesuai UU SJSN dan UU BPJS, seluruh penduduk akan terlindungi dalam sistim jaminan kesehatan dengan demikian akses pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau kepada seluruh masyarakat akan meningkat, pada akhirnya tujuan pembangunan kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia akan tercapai. Kementerian Kesehatan melalui Wamen Prof. Ghufron mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi- tingginya kepada jajaran pemerintah daerah propinsi DIY Jogjakarta dan pemerintah Kabupaten Magelang, Klaten, Kulonprogo dan Sleman yang selama ini telah memfasilitasi dan memberi dukungan atas pelaksanaan program Jamkesmas bagi masyarakat korban bencana Merapi. Khususnya dalam penyediaan data kepesertaan serta membantu memfasilitasi masyarakat korban bencana di empat wilayah tersebut dalam memanfaatkan program Jamkesmas pada saat mereka membutuhkan. Diharapkan dengan adanya Surat Keputusan perpanjangan pelayanan kesehatan melalui program Jamkesmas pada masyarakat korban bencana Merapi, maka masyarakat di 4 kabupaten tersebut memiliki kepastian atas haknya untuk memperoleh pelayanan kesehatan dalam program Jamkesmas. Tentu saja disamping hak yang diperoleh dalam program Jamkesmas ini, mereka juga harus memahami kewajibanya untuk mengikuti prosedur sebagaimana yang tertuang dalam pedoman pelaksanaan (manlak), petunjuk teknis dan ketentuan lainnya. Dengan demikian diharapkan pemanfaatan program Jamkesmas bagi seluruh masyarakat korban bencana merapi dapat berjalan dengan optimal, transparan, akuntabel, efisien dan efektif. n (Yuni) EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM48
  • 49.
    P raktek menyusui secaraeksklusif di negara berkembang telah berhasil menyelamatkan sekitar 1,5 juta bayi per tahun. Atas dasar tersebut, WHO merekomendasikan untuk hanya memberi ASI eksklusif sampai bayi berusia 4 – 6 bulan (Depkes, 2002). Namun, pada 2001 melalui konsultasi pakar dan telaah penelitian yang sistematik, WHO merekomendasi pemberian ASI eksklusif sebagai standar emas makanan bayi dari 4 – 6 bulan menjadi 6 bulan tanpa tambahan apa pun, dilanjutkan dengan penambahan makanan pendamping ASI sampai bayi berusia 2 tahun atau lebih. Sejumlah penelitian telah membuktikan manfaat ASI. Di dalam ASI tersedia semua nutrisi yang dibutuhkan oleh kebanyakan bayi hingga berusia enam bulan. ASI lebih mudah dicerna. Di dalam ASI tersedia zat antibakteri dan antivirus yang melindungi bayi dari penyakit serta membantu pengembangan sistem kekebalan tubuh. ASI eksklusif terbukti dapat meningkatkan perlindungan terhadap infeksi juga beberapa tahun setelah penghentian menyusui. ASI membuat anak lebih pandai, tidak tergantung pada latar belakang ekonomi. Studi kohort selama 14 tahun menunjukkan semakin lama bayi menyusui, semakin kurang gangguan mental pada anak dan remaja. Bayi yang kurang disusui dan digantikan dengan susu formula kerap mengalami sembelit atau diare, rentan terhadap penyakit anak termasuk diabetes anak- anak, alergi, asma, eksim, gangguan pencernaan, gangguan kandung kemih dan infeksi saluran pernapasan. Mereka cenderung menjadi gemuk dan memiliki tekanan darah tinggi di kemudian hari. Risiko tidak memberikan ASI juga dapat menurunkan kecerdasan kognitif. Bukan saja untuk bayi, memberikan ASI juga bermanfaat bagi ibu. Dengan menyusui akan membantu mendapatkan kembali bentuk tubuhnya dan jangka panjang mengurangi risiko terkena kanker ovarium, kanker payudara, kanker endometrial, stress dan kegelisahan, serta berbagai penyakit lainnya. Hasil studi kohort selama 15 tahun di Australia yang dipublikasi Strathearn dan kawan-kawan tahun 2009 menunjukkan tindakan kekerasan ibu pada anaknya termasuk menelantarkan, kekerasan fisik, dan kekerasan emosional berkurang sesuai dengan meningkatnya lama menyusui. Selain itu, menyusui juga mengurangi 4,8 kali tindak kekerasan ibu terhadap anaknya terutama tindakan menelantarkan anak. Pemberian ASI juga terbukti dapat menghemat pengeluaran rumah tangga dan negara. Pakar ASI Dr Utami menghitung bila ibu-ibu di Indonesia mau memberikan ASI eksklusif, maka setiap tahunnya bisa menghemat Rp 18 triliun lebih. Ini bisa dihitung bila harga 1 kaleng susu formula adalah Rp 65.000 dan bayi yang lahir di Indonesia 5 juta per tahun, maka biaya 6 bulan susu formula untuk bayi-bayi tersebut adalah Rp 18,012 triliun. Bayangkan Indonesia akan menyumbangkan Rp 18 triliun per tahun kalau saja ibu-ibu mau memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan. Di dunia capaian ASI eksklusif sangat bervariasi dan tidak berbanding lurus dengan kemajuan suatu negara. Jepang adalah contoh negara maju dengan angka ASI eksklusif yang rendah. Angka menyusui di Jepang sangat rendah dibanding negara maju lainnya yaitu hanya 44,8% pada kelompok bayi berumur 1- 2 bulan, jauh di bawah Swedia yaitu 80,2% pada bayi berumur 2 bulan (Helda, 2009) Kementerian Kesehatan menargetkan cakupan ASI eksklusif 0 – 6 bulan pada tahun 2014 sebesar 80%. Namun SDKI 2007 mencatat bayi yang diberi ASI eksklusif baru mencapai 32,8%, lebih rendah dibanding tahun 2002 – 2003 yaitu 39,5%. Padahal 95% ibu di Indonesia pernah menyusui bayinya. Adapun penyebabnya amat beragam, seperti karena ibu atau bayi yang sakit, ibu bekerja, ASI sedikit, dan lainnya. Alhamdulillah Peraturan Pemerintah No. 33 tahun 2012 tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif telah disahkan pada Maret 2012. Disini diatur poin-poin seperti tanggung jawab pemerintah tingkat Pusat dan Daerah dalam pemberian ASI eksklusif, penggunaan susu formula bayi dan produk bayi, serta pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja dan di sarana- sarana umum. Kita berharap, dengan keluarnya, pemberian ASI ini dapat meningkat. Dengan demikian hak bayi dan ibunya lebih terjamin. Bravo PP ASI Eksklusif. n(Giri) Bravo PP ASI EksklusifOleh: Giri Inayah EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 49
  • 50.
    UNTUK RAKYATDAERAH Meracik Jamkestadi Tanah Kopi LAMPUNG Oleh: Hikmandari dan Udiani; Fotografer: Anitasari EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM50
  • 51.
    EDISI 36 IJUNI I 2012 MEDIAKOM 51
  • 52.
    Provinsi Lampung ditetapkansebagai provinsi mandiri pada 18 Maret 1964 dari semula Keresidenan Lampung. Pada 2011 Lampung mengelola anggaran (APBD) sebesar 2,49 triliun untuk kemajuan wilayahnya. Berbatasan dengan Selat Sunda dan Laut Jawa serta berada pada jalur bukit barisan, provinsi di selatan Sumatra ini kaya akan sumber daya alam dan pemandangan laut yang indah. Lada hanyalah satu di antara komoditi yang pernah menjadi andalan provinsi ini, di samping kopi, kelapa sawit, coklat, nanas, dan ketela. Seluruh sektor pertanian menyumbang sekitar 35% pendapatan daerah, sumbangan terbesar di atas sektor industri pengolahan di peringkat kedua, dan sektor perdagangan, hotel dan pariwisata di peringkat ketiga. n Lampung dalam Angka Perkampungan nelayan di pinggiran kota Bandar Lampung. EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM52
  • 53.
    JUMLAH PENDUDUK (2011): 7,691 juta jiwa LUAS WILAYAH: 35,288.35 Km2 , terbagi menjadi 12 kabupaten dan 2 kota APBD (2011) 2, 49 triliun SARANA DAN PRASARANA KESEHATAN Puskesmas: 269 unit RS Umum Pemerintah : 13 unit RS Jiwa : 1 unit RS Swasta : 25 unit Dokter : 962 orang Dokter spesialis : 269 orang Dokter gigi : 277 orang Bidan : 3.663 orang Perawat: 4.798 orang Dalam sejarahnya Provinsi Lampung dikenal penghasil utama lada hitam. Sedemikian penting komoditas ini hingga menjadi salah satu komponen dalam lambang Provinsi Lampung. Aneka panganan khas lampung dengan bahan utama hasil laut yang dipadankan dengan buah, seperti seruit durian dan mangga ini. EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 53
  • 54.
    EDISI 36 IJUNI I 2012 MEDIAKOM54
  • 55.
    roma kopi luwakLampung memang menguar hingga mancanegara. Oprah Winfrey tak ketinggalan mengangkat si bulat hitam ini dalam acaranya. Di provinsi Lampung, luas perkebunan kopi mencapai 160.000 hektar dengan produksi biji kopi per tahun sekitar 130.000 ton. Sebanyak 230.000 lebih kepala keluarga terlibat dalam budidaya kopi. Tidak mengherankan, kopi robusta yang menopang sekitar 85 persen ekspor kopi Indonesia sebagian besar berasal dari provinsi di ujung selatan Sumatra ini. Lampung, termasuk Lampung Barat (Lambar), telah dikenal sebagai salah satu pemasok kopi dunia. Buat Hipni, hal ini tentu memberikan masa depan cerah. Apa lagi fakta bahwa harga kopi di tingkat petani pada 2012 ini membaik,Rp16.500-Rp17.000perkilogram kering petani, lebih tinggi daripada harga tahun lalu, Rp 12.000. Makin gembira hatinya karena kopi yang dihasilkan bukan sembarang kopi. Hipni menjual kopi luwak bubuknya kepada eksportir seharga 600- 700 ribu per kilogram. Meski masih jauh lebih rendah daripada secangkir kopi luwak seduh di Starbuck di New York, angka tersebut cukup membuat Hipni tersenyum puas. Namun, kisah Hipni baru sepenggal cerita. Penggalan-penggalan kisah lain tidak Raut muka dan gerak tubuhnya memperlihatkan rasa optimistis. Nasib baik dirasakannya akan segera tiba melawat. Dan, itu lumrah, beralasan. Hipni baru saja tiba kembali di rumahnya di Liwa, Lampung Barat, setelah berpameran di Malaysia selama seminggu. Sebelumnya, ia membuka stan pamer di Dubai. Semuanya dengan bendera Kopi Luwak Rama, Lampung Barat, miliknya. Menebar Harum Aroma Jamkesta dr Reihana M. Kes. seindah itu. Rendahnya produktivitas, naik turun harga, biaya pemeliharaan yang makin tinggi membuat sebagian petani kopi masih berkutat dengan nasibnya. Belum lagi urusan pengijon dan tengkulak. Imron, seorang petani di Lampung Barat, dengan 3 hektar lahan, merasa bersyukur anak sulungnya bisa bersekolah hingga SMA. Tapi, itu pun sudah ngos-ngosan. Tak mampu lagi dia mengantar putrinya ke jenjang lebih tinggi. Tingginya kesenjangan kesejahteraan di Lampung diakui oleh peneliti Bank Indonesia perwakilan Lampung, Nunu Hendrawanto. Itu sebabnya, meski sebagian warga menikmati tingkat kesejahteraan tinggi, sekitar 16 persen lebih atau sekitar 1, 3 juta penduduk masih berada di bawah garis kemiskinan. Lampung menempati peringkat ketiga se- Sumatra untuk tingkat kemiskinannya di bawah Aceh dan Bengkulu. EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 55
  • 56.
    Gambaran ini tentuberimbas pada kondisi kesehatan warga. Angka kemiskinan dan tingginyapekerjasektorinformalmembuat jaminan kesehatan dirasa sangat perlu. Saat ini sekitar 41 persen penduduk sudah tercakup dalam Jamkesmas, dan 8 persen lainnya terlindungi dengan asuransi lain. Namun demikian, pemerintah setempat dan dinas kesehatan agaknya menganggap hal itu belum cukup. Pada Februari 2012 lalu, Provinsi Lampung yang menggandeng PT Askes (Persero) meluncurkan program Jamkesta yang memberi jaminan kesehatan untuk sekitar 51 persen penduduk yang belum tercakup dalam asuransi kesehatan apapun. Dengan demikian Lampung menjadi daerah kelima yang memulai program Jamkesta setelah Sumatra Selatan, Aceh, Bali, dan Sulawesi Selatan. Jamkesta merupakan implementasi Sistem Jaminan Sosial Nasional yang telah diatur dalam UU No. 40/2004. Dalam UU tersebut, diatur lima program jaminan sosial. Kesehatan adalah satu di antaranya (lihat bagan“Sistem Jaminan Sosial Nasional”). Di Provinsi Lampung, jaminan kesehatan ini hanya berlaku untuk perawatan kelas III dan berfungsi secara bertahap, yakni hasil rujukan dari puskesmas ke rumah sakit kabupaten, dan dari situ ke RSUD Abdul Moeloek jika memang dibutuhkan. Menurut dr. Reihana, M.Kes., Kadinkes Prov. Lampung, caranya pun mudah,“Kalau mau berobat jalan, pasien cukup membawa KTP. Untuk rawat inap, pasien harus membawa kartu keluarga, surat rujukan dari puskesmas, dan surat pernyataan tidak memiliki asuransi kesehatan apa pun.” Kebijakan ini tentu patut diapresiasi, terutama bila melihat beberapa pekerjaan rumah Dinkes Prov Lampung yang masih tertinggal. Di bidang pemberantasan malaria, misalnya. Meski program eliminasi telah berlangsung dan memberikan hasil menggembirakan, empat kabupaten termasuk Lampung Barat masih perlu mendapat perhatian. Apalagi nanti pada 2013, dana Global Fund yang selama ini menjadi tulang punggung, tak lagi mengucur (baca: “Melengkapi Wajah Malaria di Sumatra”). Demikian juga dengan masalah kesehatan ibu dan anak. Saat ini Lampung tercatat sebagai satu di antara 20 daerah yang bermasalah dalam hal kesehatan ibu dan anak. AKI provinsi Lampung sejak 2009 terus meningkat dari 122 kasus pada 2009, 144 kasus pada 2010, dan 132 kasus sampai November 2011. Kendati gambaran suram ini, upaya-upaya kecil namun nyata sesungguhnya bisa kita jumpai di wilayah ini. Kemitraan antara dukun dan bidan desa di Buay Nyerupa, Lampung Barat, misalnya bisa menjadi contoh (baca: “Bersama Menanti Kelahiran”). Menurut IPKM 2007, Lampung menempati urutan ke-12.Tapi kesehatan tidak berhenti pada angka. Keberadaan Jamkesta jelas diperlukan, dan upaya berbagai pihak patut terus diperbaiki agar peringkat tetap bertahan atau bahkan membaik. n EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM56
  • 57.
    UU 24/2011 TENTANGBPJS (BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL) I. JUMLAH DAN RUANG LINGKUP Membentuk 2 BPJS: • BPJS Kesehatan: Program Jaminan Kesehatan; • BPJS Ketenagakerjaan: Program Jaminan Pensiun, Jaminan HariTua, Jaminan Kecelakaan Kerja, dan Jaminan Kematian II. BENTUK DAN KEUDUDKAN • BPJS merupakan Badan Hukum Publik • BPJS bertanggungjawab langsung kepada Presiden III. FUNGSI DAN TUGAS BPJS berfungsi menyelenggarakan program jaminan sosial. Tugas BPJS : • Memungut dan mengumpulkan iuran dari peserta dan pemberi kerja; • Menerima bantuan iuran dari pemerintah; • Mengelola dana jaminan sosial yang berasal dari iuran untuk kepentingan peserta; • Mengumpulkan dan mengelola data peserta program jaminan sosial; • Membayarkan manfaat dan/atau membiayai pelayanan kesehatan; • Memberikan laporan mengenai penyelenggaraan program Jaminan Sosial kepada Presiden; dan • Memberikan informasi mengenai penyelenggaraan program Jaminan Sosial. IV. DEWAN PENGAWAS DAN DIREKSI • Dewan Pengawas dan Direksi berasal dari unsur profesional • Dewan Pengawas adalah organ BPJS yang bertugas melakukan pengawasan atas pelaksanaan pengurusan BPJS oleh Direksi dan memberikan nasihat kepada Direksi dalam penyelenggaraan Program Jaminan Sosial. • Direksi adalah organ BPJS yang berwenang dan bertanggung jawab penuh atas pengurusan BPJS untuk kepentingan BPJS, sesuai dengan asas, tujuan, dan prinsip BPJS serta mewakili BPJS, baik di dalam maupun di luar pengadilan. V. TRANSFORMASI • Tidak boleh ada Pemutusan Hubungan Kerja dan tidak boleh ada penghilangan hak-hak normatif dari karyawan. • Tidak boleh merugikan peserta lama yang mengikuti program jaminan sosial. • Tidak boleh ada program terhadap peserta lama yang stagnan atau terhenti. Pelayanan terhadap peserta lama tidak boleh terhenti. • Satu peserta hanya membayar satu kali untuk setiap program. • Pemerintah diamanatkan untuk menyelesaikan seluruh peraturan pelaksanaan yang diperlukan terkait persiapan pendirian dan operasional BPJS Kes dan BPJS Ketenagakerjaan • Ada kepastian dalam investasi yang saat ini sedang berjalan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. • Proses pengalihan aset kepada aset BPJS dan aset dana jaminan sosial dilakukan dengan prinsip kehati-hatian. BPJS oleh Direksi dan memberikan nasihat kepada Direksi dalam penyelenggaraan Program Jaminan Sosial. Direksi adalah organ BPJS yang berwenang dan bertanggung jawab penuh atas pengurusan BPJS untuk kepentingan BPJS, sesuai dengan asas, tujuan, dan prinsip BPJS serta mewakili BPJS, baik di dalam maupun di luar Tidak boleh ada Pemutusan Hubungan Kerja dan tidak boleh ada penghilangan hak-hak normatif dari karyawan. Tidak boleh merugikan peserta lama yang mengikuti Tidak boleh ada program terhadap peserta lama yang stagnan atau terhenti. Pelayanan terhadap peserta lama Satu peserta hanya membayar satu kali untuk setiap Pemerintah diamanatkan untuk menyelesaikan seluruh peraturan pelaksanaan yang diperlukan terkait persiapan pendirian dan operasional BPJS Kes dan Ada kepastian dalam investasi yang saat ini sedang berjalan sesuai dengan peraturan Proses pengalihan aset kepada aset BPJS dan aset dana jaminan sosial dilakukan dengan prinsip kehati-hatian. JUNI 2012 > Perpres Jamkes > PP PBI (Penerima Bantuan Iuran) 2013 > Seleksi Pimp BPJS (Dewas, Direksi) > Regulasi pemberian modal awal > Penyesuaian regulasi terkait jamkes 2013 > Semua pengelola Jamkes menyiapkan penyerahan peserta, aset, SDM >Penetapan RT penerima bantuan iuran 1 JANUARI 2014 > BPJS penyelenggara program jaminan kesehatan mulai beroperasi > BPJS dapat menerima peserta baru dari masyarakat yang belum mempunyai jaminan I. AZAS, TUJUAN, PRINSIP SJSN > Azas : kemanusiaan, manfaat, dan keadilan sosial. > Tujuan : memberi jaminan terpenuhinya kebutuhan dasar hidup yang layak. > Prinsip : Gotong-royong, Nirlaba, Keterbukaan, Kehati-hatian, Akuntabilitas, Portabilitas, Kepesertaan bersifat wajib. Dana Amanat, Hasil pengelolaan Dana Jaminan Sosial sepenuhnya untuk pengembangan program. UU 40/2004 TENTANG SJSN (SISTEM JAMINAN SOSIAL NASIONAL) II. BPJS > Pembentukan BPJS dengan Undang-Undang III. DJSN > Pembentukan DJSN; > Fungsi,Tugas,Wewenang DJSN; > Keanggotaan DJSN dan Sekretariat DJSN. V. PROGRAM JIMANAN SOSIIAL > Jenis program jaminan sosial meliputi: > Jaminan Kesehatan; > Jaminan Kecelakaan Kerja; > Jaminan Kematian; > Jaminan Pensiun; dan > Jaminan HariTua VI. PENGELOLAAN DANA JAMINAN SOSIAL > Dana Jaminan Sosial dikelola dan dikembangkan oleh BPJS; > Subsidi silang antar dana jaminan tidak diperbolehkan; > Cadangan teknis wajib dibentuk oleh BPJS; > Pengawasan terhadap pengelolaan keuangan BPJS dilakukan oleh instansi berwenang. IV. KEPERSERTAAN DAN IURAN > Dana Jaminan Sosial dikelola dan dikembangkan oleh BPJS; > Subsidi silang antar dana jaminan tidak diperbolehkan; > Cadangan teknis wajib dibentuk oleh BPJS; > Pengawasan terhadap pengelolaan keuangan BPJS dilakukan oleh instansi berwenang Tah apan Pelaksanaan BPJS Kesehatan EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 57
  • 58.
    Sementara geliat perlawanandi Sumatra bagian tengah masih terengah, Lampung nampaknya hendak membentengi dari ujung selatan. Melengkapi wajah malaria di Sumatera dengan optimisme. MELENGKAPI WAJAH MALARIA DI SUMATRA TREN DANA APBD DAN BANTUAN GLOBAL FUND Provinsi Lampung, 2008 - 2012 Endah Setyaningrum, dosen Biologi di Universitas Lampung, antusias sekali mengisahkan berbagai penelitian malaria yang dilakukannya di bagian selatan Lampung. Ia hafal jenis-jenis Anopheles yang terdapat di sana. Risiko terkena malaria berikut perjalanan bolak- balik berjam-jam dengan perahu yang mengangkut penduduk dari satu titik ke titik lain tak membuatnya risau. Bersama mahasiswa dan koleganya ia rajin melancong ke kawasan tambak terlantar, salah satu habitat nyamuk biang malaria. Penelitian di Kabupaten Pesawaran, misalnya, menangkap lima jenis Anopheles. Salah satu jenisnya, yaitu An. nigerimus, mempunyai nilai MHD (man hour density) tertinggi yaitu 1,5. Artinya, kemungkinan manusia digigit nigerimus adalah 1,5 kali dalam satu jam. Penelitian yang lain menunjukkan bahwa kepadatan larva tertinggi ada di tambak yang paling minim memiliki hewan akuatik dan predator. Faktor fisik dan kimia seperti suhu air, oksigen terlarut dan kedalaman air juga berkorelasi erat EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM58
  • 59.
    dengan kepadatan larvaAnopheles. Perilaku menggigit para punggawa Anopheles tak lepas dari pengamatan para peneliti nyamuk dari dalam dan luar Lampung. Di dalam atau di luar rumah, jam berapa mereka paling aktif menggigit, terekam dengan baik. Nyamuk dan malaria telah menjadi obyek yang tak habis digandrungi para ilmuwan. Dan kemeriahan itu salah satunya digerakkan oleh gaung program nasional“Gebrak Malaria”. Dari ujung ke ujung, Sumatera menawarkan eksotisme kisah memberantas malaria. Ada yang terengah, tapi ada juga yang telah bisa sedikit bernafas lega. Tambang timah rakyat di Bangka Belitung tak hanya melahirkan keindahan kisah Laskar Pelangi, namun juga belenggu panas mengigil di kalangan masyarakat. Hamparan hutan dan perkebunan menyimpan harta tambahan perindukan nyamuk. Keindahan pesisir yang kebanyakan masih perawan di banyak tempat kemolekannya menyimpan mantra malaria. Sabang yang terpisah di ujung utara, justru sebaliknya. Negeri di ujung utara Nusantara ini telah bebas malaria. Provinsi Aceh secara wilayah juga telah maju di depan, dengan bertekad meredam hegemoni malaria lebih cepat dari target pusat. Syarat-syarat terwujudnya predikat Eliminasi terus diperjuangkan, termasuk telah lolosnya Qanun Aceh nomor 4 tahun 2010 tentang Eliminasi Malaria. Lampung nampaknya juga hendak membentengi dari ujung selatan. Melengkapi wajah malaria di Sumatera dengan optimisme. Sejak program malaria lebih intensif digelar dengan dukungan Pusat dan kucuran dana Global Fund di 2008, perbaikan situasi malaria di Lampung terlihat cukup mencolok. Kemeriahan “Gebrak Malaria” berhasil menggebrak berbagai kalangan. Tak kurang Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Tjandra Yoga, mengulas hal ini dalam konferensi pers menyambut kunjungan duta malaria dunia, Princess Astrid dari Belgia, April lalu. Menurutnya, salah satu keberhasilan Lampung adalah “sudah terbentuk semacam forum lintas sektor dan lintas program untuk bersama- sama menanggulangi malaria.” Data Annual Malaria Incidence (AMI) menunjukkan penurunan dari 6,4 per mil (2008) menjadi 4.8 per mil pada 2011, sedangkanangkaAnnualParasiteIncidence (API) turun dari 1 per mil menjadi 0,62 per mil pada tahun yang sama. Laporan Dinas Kesehatan Provinsi Lampungmengklaimdukunganpemerintahdaerahyang meningkat dari tahun ke tahun, dalam bentuk komitmen anggaran. Alokasi APBD untuk pemberantasan malaria sebesar Rp. 525.186.900 pada 2008, meningkat tajam dengan gelontoran sebesar Rp.1.840.926.000 pada 2011. Tren ini memenuhi harapan Global Fund yang mengasumsikan saat bantuan hibah berakhir, program malaria sudah dapat berjalan dengan dana APBD. Namun betulkah demikian? Waktu akan membuktikan. Waktu yang tak lama lagi, karena hanya satu tahun lagi GF akan menyapih balitanya memerangi malaria sendiri. Jangan sampai kerelaan merogoh kocek sendiri hanya momen terkesima membalas ‘gula-gula’ yang dibawa tamu yang baik hati. Nor Ayu, Kasi Pengendalian Penyakit Dinkesprov Lampung yang sehari-hari bergumul dengan malaria, memikirkan kelangsungan program ini pasca GF. “APBD tetap mendukung, tapi arahnya lebih banyak ke logistik. Untuk support program (pelatihan petugas, surveilans, insentif, pengembangan program, dsb) masih memerlukan perhatian pusat maupun internasional.” Tak seperti Aceh, Lampung hingga saat ini belum meloloskan Perda Eliminasi Malaria, yang seharusnya akan dapat memberi dukungan lebih pada kelanjutan program. Informasi dari Pusat, exit strategy telah disusun oleh tim Kementerian Kesehatan bersama Global Fund. Namun jujur saja, keyakinan realisasinya di lapangan tak sebesar pemikiran dan kesepakatan. Harus ada upaya lebih keras dari sekedar business as usual. Jika tidak, program ini bisa terjebak pada gaya hit and run banyak proyek sebelumnya. Pengalaman dan kearifan lokal adalah guru pendiam yang harus didengarkan. n “sudah terbentuk semacam forum lintas sektor dan lintas program untuk bersama- sama menanggulangi malaria.” Data Annual Malaria Incidence (AMI) menunjukkan penurunan dari 6,4 per mil (2008) menjadi 4.8 per mil pada 2011, sedangkanangkaAnnualParasiteIncidence (API) turun dari 1 per mil menjadi 0,62 per mil pada tahun yang sama. Laporan Dinas Kesehatan Provinsi Endah Setyaningrum EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 59
  • 60.
    “Bidan ini yangmembantu kelahiran semua anak saya, tiga-tiganya. Sejak Bidan masih gadis. Anak saya nomor dua lahir barengan dengan anak pertama Bidan,”Zakaria (38) bersemangat bercerita. Semua nampak sehat dan ceria. Zakaria sang kepala keluarga, Hidayati (36) sang isteri, anak pertama (10) dan anak kedua (6), hari itu nampak santai saja berkumpul menunggu kelahiran buah hati yang ketiga. Menanti Kelahiran bersama Dukun dan Bidan EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM60
  • 61.
    Periksa Jelang Persalinan EDISI36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 61
  • 62.
    Di ruang tamurumah panggung berlantai kayu coklat tua yang bersih dan lapang telah hadir sang bidan, Leni Meilinda. Selain itu, seorang perempuan setengah baya berkain sederhana hadir cukup menonjol. Dialah Nenek Azmiati (64), dukun bayi yang sangat dikenal penduduk. Akrab, bersahaja dan memancarkan kekuatan jiwa. Dialah partner kerja yang handal dari para bidan di wilayah itu. Nek Azmiati telah menjadi dukun bayi lebih dari tiga puluh tahun. “Wilayah kerja”nya melewati batas Puskesmas. “Ke mana-mana saya ini. Kemarin sore di Tapaksiring. Saya dipanggil jam sembilan. Jam tiga sore bayinya lahir. Bidan di sana namanya Dita. Begitu saya sampai, panggillah Dita, kata saya.” Keceriaan, kecekatan dan kesederhanaannya sungguh menyentuh. Siapapun akan merasa aman dan nyaman di dekatnya. Perasaan seperti itu tak akan mudah digantikan dengan fasilitas atau sistem yang lebih modern. Kekuatan jiwanya sepertinya sudah gifted, selain ditempa pengalaman panjang tentunya. Nenek Azmi seperti jembatan emas antara era lama dan era baru persalinan. Jembatan yang datang justru dari era lama. Menakar nilai baik tentu tak dapat dilakukan dengan dikotomi ‘lama’ dan ‘baru’ begitu saja. Meskipun slogan besarnya adalah ‘persalinan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan’, namun di lapangan prosesnya tak boleh abai budaya dan kondisi setempat. Pada setiap Puskesmas Buay Nyerupa EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM62
  • 63.
    implementasi, tak adacara yang one fits all. Apalagi di negeri yang begitu beragam adat istiadatnya. Keinginan untuk me- ’revolusi ‘ praktek persalinan, seperti terjadi di beberapa tempat, bisa menimbulkan konflik dan bom waktu. Padahal persalinan adalah sakral. Tentunya pemahaman dan kearifan lokal lah yang harus dimanfaatkan. Di banyak tempat dukun bayi tak punya lagi generasi penerus. Nenek Azmi tak pernah tahu ada dukun bayi setelah generasinya. “Tak tahulah, tinggal saya. Kebanyakan sudah tua, sudah meninggal,”ujarnya. Tenang Pikiran Hubungan yang lebih memudahkan satu sama lain membuat kolaborasi Leni dan Nenek Azmi menyenangkan. “Ringan perasaan. Gak panik lagi. Kalau sendiri, panik tuh. Saya ini kalau mau ada ibu melahirkan, bersama bidan, tenang pikiran. Ibaratnya beban, sudah ringan,”meluncur saja cerita Azmiati. Bidan Leni menimpali, “Dia tuh nggak pernah nolak kalau dipanggil. Tengah malam juga berangkat dia.“ Dukun Azmi menambahkan, “Bagaimanapun juga saya berangkat. Hujan deras juga, pasti berangkat saya.” Azmiati lebih jauh menjelaskan bahwa dia selalu melakukan pemeriksaan sejak awal kehamilan bersama dengan bidan. Kalau ada keluhan, panggil bidan. Begitupun pada waktu menjelang persalinan. Biasanya penduduk akan memanggil Azmiati terlebih dulu. “Sebelum saya periksa, harus panggil bidan dulu. Berapa lamanya, tensi darahnya, dsb. Kalau belum waktunya melahirkan, bidan pulang, saya yang nunggu.” Jampersal Waktu ditanya apakah tahu Jampersal, dia menjawab “Tahu. Persalinan Gratis.” Biar pasiennya tidak sungkan-sungkan memanggil bidan, hal itu yang pertama dia kasih tau. “Soalnya banyak pasien yang takut-takut kalau mau panggil bidan, takut biayanya, takut bayar.”“Itu kan gratis. Sekarang kan semua gratis. Pakai KTP, KK, ke Posyandu. Saya juga ngasih tahu.” Bidan Leni serius mengikuti cerita Nenek Azmi yang seperti mewakili perannya. Sekali-sekali dia mengangguk-angguk. Hidayati, sang ibu hamil, yang ternyata masih harus menunggu beberapa jam lagi untuk melahirkan ikut bergabung. Jampersal menampakkan wajahnya yang ramah di ruangan itu. Sungguh membuat perbedaan. Tak apa ada kendala sedikit-sedikit, seperti terbersit dalam kalimat Bidan Leni, “Ya, jumlah biayanya naik, sejak Januari. Tapi klaimnya baru dibayar akhir Maret.” n Bidan Leni dan Dukun Asmiati EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 63
  • 64.
    POTRET Wamenkes: Orang miskin sakit, dilarangbayar EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM64
  • 65.
    Apa yang menjadiprioritas Kementerian Kesehatan saat ini ? Kemenkes mempunyai 8 program prioritas. Tapi dari prioritas itu ada yang lebih prioritas lagi, yakni terkait dengan tantangan untuk mencapai target MDG’s. Diantara prioritas diantaranya, penyakit menular, penyakit tidak menular. Dari yang diprioritas, bagaimana menurunkan angka kematian ibu ? Itu tidak mudah dan perlu waktu. Sebab itu, perlu terobosan-terobosan mencapai prioritas itu. Apa contoh terobosan itu ? Sebagai contoh, kerjasama dengan Telkom. Ibu hamil sebagai pengguna program jampersal, dapat berkonsultasi lewat sms atau telpon. Contohnya saja telpon ke 119, kemudian Telkom menghubungkan dengan rumah sakit. Bila dalam keadaan emergensi, ambulans sudah siap, langsung datang ke alamat rumah penelpon atau sms tadi. Tapi, tidak hanya untuk ibu yang akan melakukan persalinan, juga untuk keadaan lain seperti stroke dan kecelakaan. Hanya, utamanya untuk Ibu hamil. Tentu tidak cukup disitu. Bagaimana memilih program untuk zero persalinan di rumah. Mengapa di Indonesia tantangan terbesar itu adalah angka kematian ibu ? Karena 40% ibu hamil melakukan persalinan di rumah. Meskipun, 80-90% persalinan dilakukan tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan. Tapi waktu bersalin yang keadaannya bermasalah malah di rumah. Maka, wacanaya bagaimana program zero persalinan di rumah. Bisa dijelaskan mengapa masyarakat cenderung bersalin di rumah? Salah satunya, di rumah itu murah, ayem, tentram, karena dekat keluarga. Paradigma ini harus diubah. Singapura, melarang bersalin di rumah, di klinik saja tidak boleh, tapi harus di rumah sakit. Hanya saja, Singapura kecil, jadi lebih mudah. Di Malaysia juga melarang bersalin di rumah. Indonesia juga mengarahkan ibu hamil bersalin harus di fasilitas pelayanan kesehatan. Berhubung wilayah Indonesia berpulau-pulau, semacam telemedicine ini penting. Untuk mempermudah mobiltas dari pulau ke pulau. Hanya saja, justru angka kematian ibu itu terjadi bukan di pulau-pulau, tapi di pulau Jawa, bukan di Papua. Paling banyak di Jawa Barat. Kalau dirunut, kira-kira apa penyebabnya ? Biasanya kematian ibu karena faktor 3 T ( 3 keterlambatan ). Terlambat dalam mengambil keputusan. Untuk memutuskan melahirkan dimana ? keluarga baru itu susah, banyak pertimbangan. Ada yang bermasalah dengan uangnya. Ada yang harus bertanya ke mertua, apalagi hidup di mertua. Hal ini sering terjadi di pedesaan. Setelah diputuskan, ternyata ke dukun, kemudian ada komplikasi dan terlambat merujuk. Setelah terlambat tidak ada transportasi, akhirnya terlambat lagi ke RS. Setelah sampai di RS, ternyata dokter spesialisnya tidak ada. Kalaupun dokternya ada, sudah terlambat, meninggal. Persediaan darah tidak ada. Sebetulnya tidak terlalu sulit, yang sulit itu untuk membuat keputusannya. Membuat keputusan itu perlu memberdayakan orang dan keuarga untuk berani dan tahu kira-kira persalinannya atau kehamilannya ini berbahaya atau tidak. Sehingga mereka dengan cepat mengambil keputusan. Kalau ada ciri-ciri kehamilannya berbahaya, mereka bersalin tidak ke dukun dan di rumah. Ke bidan saja tidak boleh harus ke Rumah Sakit. Menghadapi 3 T tadi, apa solusi yang ditawarkan program ? Memberdayakan Ibu dengan berbagai macam caranya mulai dari every mother every child, itu harus diperhitungkan. Ada gerakan sayang ibu, Bapak harus sayang ibu, keluarga harus memerhatikan ibu. Ini kan terbalik, ibu disuruh macam-macam. Nah ini kan susah, bagaimana merubahnya ? Ya susah, jadi harus informal, dan harus ada edukasi bagaimana ciri-ciri orang yang bersalin yang memiliki risiko. Contohnya kalau kakinya bengkak, pendarahan, pucat, dia harus tahu. Ini 3 tanda bahaya kehamilan, dan harus ambil keputusan cepat. Kalau tahu seperti ini harus ke rumah sakit. Bagaimana melatih kecepatan mengambil keputusan ? Perlu edukasi masyarakat, pemberdayaan yang luar biasa Untuk spesifik Jawa Barat, ada pengalaman bagaimana memberdayakan ? Jadi memberdayakan masyarakat melalui berbagai macam gerakan persalinan. Iklan TV harus mendidik, mereka harus tahu Jaminan kesehatan untuk masyarakat miskin telah menginspirasi pemerintah daerah mengeluarkan jaminan kesehatan daerah dengan berbagai nama dan pruduk. Hanya saja, masih ada masyarakat miskin yang belum terkaver jaminan kesehatan. Nah bagaimana solusi dan program prioritas yang menjadi unggulan Kementrian? Berikut wawancara dengan Wamenkes. Prof.dr. Ali Ghufron Mukti, Msc, Ph.D EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 65
  • 66.
    prosedurnya dan memanfaatkannya.Tidak boleh orang bersalin itu bayar. Selain menurunkan angka kematian ibu, apalagi yang menjadi program unggulan ? Meningkatkan akses pelayanan kesehatan, jadi akses pelayanan itu sangat penting. Membangun infrastruktur yang memiliki kebijakan yang memihak pada orang tidak mampu. Sebetulnya, orang-orang mampu, umumnya sudah memikirkan bagaimana menjaga kesehatan dan kemana berobat. Maka, perhatian kepada masyarakat yang tidak mampu. Jadi kalau dulu ada orang yang mengolok-olok, ada buku“orang miskin dilarang sakit”, sekarang program dibalik“Orang miskin kalau sakit, dilarang bayar”. Artinya, sehat atau sakit orang miskin dilarang bayar ?. Oh jangan, usahakan tidak sakit. Jika, terpaksa sakit, orang miskin dilarang bayar. Ini untuk merubah mind set bahwa orang miskin dilarang sakit. Kalau bisa orang miskin, bukan orang miskin saja, orang kaya juga jangan jatuh sakit. Tapi kalau terpaksa jatuh sakit, orang miskin dilarang bayar. Mohon ma’af yang biasanya sakit umumnya orang tidak mampu. Kalau orang mampu sakitnya beda, bukan angka kematian ibu. Meski ada juga, namun proporsinya kecil. Kematian anak umumnya pada kelompok ekonomi yang kurang dan pendidikan yang rendah. Kemudian terkait dengan BPJS, apakah medukung pencapaian MDGs ? Jelas, intinya BPJS itu hanya Badannya. Intinya bagaimana badan ini, yang sekarang ada dua, BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan. Mereka melaksanakan tugas bagaimana mengumpulkan dana, mengembangkan, mengelola, administrasi dan membagikan kartu yang lebih efisien. Lebih penting lagi, masyarakat mempunyai akses pelayanan kesehatan. Sebab, kalau masyarakat dijamin tapi tidak bisa akses, tak bisa datang dan tidak memanfaatkan, menjadi tidak bermakna jaminan itu. Sebab, bagi orang miskin, waktu itu sangat berharga, apalagi yang betul-betul miskin, karena tiap hari taruhannya makan atau tidak makan. Jadi kalau hanya sakit pusing-pusing, dia tetap kerja. Artinya meski dijamin, dia tidak menggunakannya. Sebab, orang miskin membuang satu hari, tidak makan ?. Betul, basic need itu sangat mempengaruhi. Mereka pasti menghitung. Kalau aksesnya panjang, aksesnya jauh, dia harus berjalan puluhan kilo, naik angkot, harus bayar, dan disana diobati dan obatnya bayar lagi. Belum transportnya yang lebih besar di daerah-daerah tertentu. Maka, mereka memilih tidak memakai walaupun dijamin. Jadi istilahnya program BPJS itu harus betul- betul harus bisa meningkatkan akses dan menghilangkan financial barier. Tentu dalam BPJS ini nanti, bukan hanya mengumpulkan uang, tapi juga sebagai awal dari reformasi sistem pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Baik dari sisi mutu dan pengawasannya. Sehingga aksesnya bisa meningkat, efisien dan efektif. Tapi yang lebih penting lagi sebetulnya, sistem jaminan ini sekali lagi lalu sebagai sebuah reformasi sistem jaminan kesehatan, kemudian berdampak pada peningkatan derajat kesehatan. Derajat kesehatan masyarakatnya meningkat, umurnya lebih panjang tidak, angka kematian, kesakitan dan angka kematian ibu turun. Jadi, BPJS sebuah alat untuk pengembangan sistem menuju masyarakat sehat. Oleh karenanya jangan salah pengertian, nanti ada BPJS berarti kalau sakit dijamin. Kalau begitu sakit saja nanti masuk RS dan sembuh. Itu salah besar. Itu yang dikhawatirkan. Sebab, banyak pemerintah daerah mengira alokasi dana untuk alokasi jaminan saja. Sehingga orang menjadi careless tidak seksama menjaga kesehatannya. Padahal“menjaga orang sehat tetap sehat”, lebih penting. Karena masyarakat mendapat jaminna kesehatan, maka banyak yang berbondong-bondong ke Rumah Sakit, sementara kapasitasnya terbatas. Apakah infrastrukturnya sudah siap ? Iya, makanya dipersiapkan infrastruktur. Kemenkes menyiapkan fasilitas pelayanan kesehatan dan infrastruktur, termasuk sistem informasinya, semua harus dipersiapkan. Sudah memetakan, paling tidak harus mepunyai 237 ribu tempat tidur secara nasional. Sekarang, sudah mempunyai lebih dari 200 ribu tempat tidur. Jadi kurang sekitar 37 ribu. Tapi di Jawa Barat kekuranganya paling banyak, karena penduduknya paling besar. Kalau fokus di Jawa Barat, kemudian ada perubahan yang signifikan sebenarnya sudah banyak mendongkrak perubahan ? Iya tapi nanti sistemnya bagaimana ?. Memang tidak mudah karena orang sering menyebut daerah bermasalah kesehatanseperti Papua, NTT. Tapi real number jumlah orang mati, Ibu mati, anak mati, itu di Jawa. Karena itu, menngitungnya proporsi. Contoh di NTB itu kurang lebih sekitar 300-400 kematian ibu per 1000. setiap 100.000 itu ada sekian, tetapi yang faktanya masih banyak di Jawa. Dari seluruh program, ada preventif, kuratif, rehabilitatif, nah semua itu harus dalam suatu rangkaian. Kalau kemudian diprioritaskan sekarang ini dengan budget yang ada, mana yang lebih diutamakan? Menuju kepada suatu target yang fokus dan jelas; pertama pengurangan angka kematian ibu dan anak, gizi kurang. Kedua; peningkatan akses, pembangunan infrastruktur, membangun puskesmas. Ketiga, memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat. Seperti PHBS, agar masyarakat mandiri berperilaku hidup sehat. Contohnya untuk bisa sehat harus istirahat yang cukup, olah raga teratur,makan pada waktunya tidak berlebih dan tidak kurang. n ( Pra, Desy) POTRET EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM66
  • 67.
    SIAPA DIA S elama inimasyarakat mengenal sosok, Soraya Haque (47), sebagai mantan peragawati, model dan aktris sinetron. Namun, hanya sedikit yang mengetahui jika Soraya juga terlibat aktif dalam berbagai kegiatan sosial, terutama yang berhubungan dengan kesehatan, pendidikan dan anak-anak. “Dalam hidup ini saya telah melalui beberapa fase, yah sebagai model, presenter, penulis, ibu rumah tangga, pemain sinetron, dan banyak lainnya. Kini, saya ingin mengabdikan diri bagi masyarakat. Saya ingin mentransfer pengetahuan yang saya punya, agar setidaknya masyarakat bisa menjadi lebih baik,”kata Soraya. Minimnya kesadaran masyarakat mengenai kesehatan dan pendidikan, membuat ibu dari tiga orang anak ini merasa prihatin. Namun, ia bersyukur anak-anak dan keluarganya berada dalam kehidupan sejahtera. “Jika saya terjun langsung ke lapangan, semua atribut sebagai seorang artis saya lepas. Saya hanya ingin menerjemahkan bahasa kesehatan dengan cara mudah, misalnya jaga kesehatan dengan cuci tangan. Itu kan hal mudah, tapi tetap saja sulit untuk dilakukan,”kata Aya yang berharap aksinya ini bisa memberikan dampak baik bagi kehidupan bangsa. n Soraya Haque peduli Kesehatan Artika Sari Devi Hypnosis Buah Hati Artika Sari Devi punya cara tersendiri mendidik anak. Artika melakukan hypnosis untuk buah hatinya, Sarah Ebiela Ibrahim. Hypnosis merupakan ilmu yang diterapkan untuk memberikan pengaruh yang baik untuk anak dengan cara memberi sugesti positif pada anak. “Saya belajar hypnosis ini dari buku. Ternyata setelah saya baca, saya dan mungkin semua orang tua dimana saja mereka sudah melakukan hypnosis pada anaknya. Ada saat-saatnya kapan anak mendapat pengaruh-pengaruh yang positif dari orang tuanya dan bagaimana cara kita memberikan hypnosis ini ke anak,”terang Artika di sela peluncuran buku Hypnoparenting, di Jakarta . Artika menuturkan melalui metode hypnosis tersebut merasa banyak hal positif yang ditemukan pada sang anak yang kini berusia 2 tahun. Ia dan anaknya jadi terbiasa berkomunikasi. “Apabila dia protes atau ada penolakan dari dia aku ajak bicara, ngobrol dan ternyata itu lebih efektif daripada kita menyudahi dengan sudahlah mengalah,”imbuhnya. Penerapan hypnosis terhadap anak tersebut rupanya mendapat dukungan penuh dari sang suami, Baim.“Kami sangat setuju karena ilmu ini lebih memberikan contoh. Dengan Bahasa yang universal, adalah bahasa kasih sayang. Jadi di sini mengajarkan bagaimana komunikasi dengan kasih sayang. n EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 67
  • 68.
    RESENSI D alam buku PetunjukPelaksanaan Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan Program Bina Gizi dan KIA dijelaskan 2 (dua) alokasi dana bantuan yaitu: 1) Dana Dekonsentrasi, yang digunakan untuk menunjang pelaksanaan pembangunan di bidang kesehatan dengan prioritas Program Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak; dan 2) Dana Tugas Pembantuan, untuk mendukung sarana dan prasarana kesehatan dan pelaksanaan kegiatan Bantuan Operasional Kegiaan (BOK) di Kabupaten/Kota. Program Bina Gizi dan KIA ini merupakan kelanjutan dari program upaya kesehatan masyarakat dan program perbaikan gizi masyarakat, yang setiap tahun dialokasikan melalui APBN dalam bentuk dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan. Dana tersebut sebagai salah satu sumber pelaksanaan program di daerah disamping dana APBD, dana perimbangan dan sumber lainnya, sehingga diharapkan akan memacu pencapaian program sesuai dengan kewenangan setiap jenjang. Pemerintah Pusat dalam upaya tersebut tidak sebatas menyediakan dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan bagi pelaksanaan program di daerah tetapi masih banyak dukungan pendanaan lain seperti APBN, Jamkesmas, Jampersal, dan lainnya. Diharapkan dengan diterbitkannya Buku Petunjuk Pelaksanaan ini dapat memberikan acuan bagi pelaksanaan kegiatan Program Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak yang bersumber dari dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan tahun anggaran 2012 di dalam mendukung pencapaian sasaran pembangunan. n K esiapan industri kosmetika di Indonesia patut didukung dan didorong untuk menjawab tantangan perubahan ini. Keseluruhan kesiapan ini, tentunya harus didukung dengan kesiapan sIstem, perangkat regulasi dan pedoman pelaksanaannya. Pedoman ini merupakan salah satu upaya merespon adanya perubahan dalam Izin Produksi Kosmetik, yaitu dengan adanya Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indoesia Nomor: 1175/Menkes/Per/VII/2010 tentang Izin Produksi Kosmetika. Penyusunan buku ini dimaksudkan sebagai petunjuk pelaksana izin produksi kosmetik bagi pelaku usaha, dan juga merupakan upaya untuk menjamin pelaksanaan pelayanan prima kepada masyarakat sebagai wujud dari penerapan prinsip-prinsip clean and government good governance secara universal. Semoga pedoman ini dapat digunakan sebagai acuan bagi petugas kesehatan pusat dan daerah, pelaku usaha yang melaksanakan Pelayanan Perizinzn Industri Farmasi. n Judul : Petunjuk pelaksanaan dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan program bina gizi dan KIA Impresum : Jakarta; Kementerian Kesehatan RI; Ditjen Bina Gizi dan KIA,- 2012 Kolasi : xxix, 217 hlm. ; 12 x 16 cm. Subyek : 1. HEALTH POLICY 2. HEALTH PLANNING 3. BUDGETS Judul : Pedoman Pelaksanaan Pelayanan Pelayanan Izin Produksi Kosmetika Impresum : Jakarta; Kementerian Kesehatan RI; Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan,2011 Kolasi : xii, 45 hal; 21 x 16 cm Subyek : 1. COSMETICS 2. QUALITY CONTROL 3. HEALTH MANPOWER Pedoman pelaksanaan pelayanan izin produksi kosmetika Petunjuk pelaksanaan dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan program bina gizi dan KIA EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM68
  • 69.
    1. Apa yangdimaksud dengan BOK (Bantuan Operasional Kesehatan)? 2. Apa yang dimaksud dengan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu)? 3. Apa yang dimaksud dengan upaya promotif dan preventif ? jelaskan perbedaannya ? Jawaban diterima Redaksi paling lambat minggu keempat bulan Agustus 2012. Nama pemenang akan diumumkan di Mediakom edisi XXXVII Sept 2012. 10 Pemenang MediaKuis masing-masing akan mendapat hadiah dari Mediakom. Hadiah pemenang akan dikirim melalui pos. Redaksi Mediakom mengucapkan permohonan maaf, dikarenakan ada kendala teknis, maka PEMENANG Media Kuis Edisi XXXV April 2012 akan di umumkan pada edisi XXXVII Sept 2012. Jawaban dapat dikirim melalui: Email : kontak@depkes.go.id Fax : 021 - 52907421 Pos : Pusat Komunikasi Publik, Gedung Kemenkes Jl. HR. Rasuna Said Blok X5, Kav. 4-9, Jakarta Selatan Kuis ini tidak berlaku bagi Keluarga Besar Pusat Komunikasi Publik Kemenkes RI. Kirimkan jawaban kuis dengan mencantumkan biodata lengkap (nama, alamat, kota/kabupaten, provinsi, kode pos dan nomor telepon yang mudah dihubungi). PEMENANG MEDIA KUIS EDISI XXXV April 2012 MEDIA KUIS K endaraan khusus Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PPTM) mulai dirancang dan dikirim ke beberapa Provinsi sejak Tahun 2007, satu tahun setelah dibentuknya Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Direktorat Jenderal Pengendalian Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Departemen Kesehatan. Kendaraan khusus PPTM dapat digunakan untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat dalam mendapatkan edukasi, deteksi dini PTM dan evakuasi medik. Untuk itu dibuatlah prosedur tetap sebagai acuan yang dapat digunakan menjadi petunjuk teknis dalam menggunakan kendaraan khusus PPTM dengan fungsi edukasi, deteksi dini faktor risiko dan evakuasi medik. Petunjuk teknis ini dapat digunakan sebagai acuan dan bisa dikembangkan baik peralatan maupun teknik operasionalnya sesuai dengan kondisi lokal masing-masing daerah. n Judul : PetunjukTeknis Penggunaan Kendaraan Khusus Pengendalian PenyakitTidak Menular Impresum : Jakarta; Kementerian Kesehatan RI; Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, 2011 Kolasi : iv, 79 hal; 23 x 15 cm ISBN : 978-602-8937-62-7 Subyek : 1.TRANSPORTATION OF PATIENCE Petunjuk teknis penggunaan kendaraan khusus pengendalian penyakit tidak menular EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 69
  • 70.
    LENTERA A da seorang temanyang selalu mengeluh. Ada saja yang dikeluhkan: atasan yang tidak menghargai hasil pekerjaannya, atasan yang tidak pernah cukup memberi arahan, yang lebih menyukai rekan kerja lain dibanding dirinya, yang terlalu sibuk untuk memahami segala hal yang terjadi di lingkungannya, sering menginstruksikan hal-hal yang tidak masuk akal. Bla, bla, bla... dan seribu keluhan lainnya. Seorang teman lain selalu mengeluhkan kehidupan pribadinya. Kekasihnya yang kerap tidak mengerti dirinya, kurang memberi perhatian, tidak menunjukkan perasaan cinta, selalu berbohong, pelit, tidak mau bersikap manis saat sedang hang out bersama teman-teman lain, belum mau melamar, tidak setia. Bla, bla, bla… dan seribu keluhan lain. Sahabat saya selalu dipusingkan dengan pekerjaannya yang dianggap terlalu menyita waktu, suaminya yang dianggap tak cukup baik memahaminya, anak-anaknya yang sulit diatur, staf dan rekan kerja yang tidak bisa memenuhi harapannya, lingkungan kerja yang tidak menyenangkan, gaji yang tidak memadai. Bla, bla, bla... dan seribu keluhan lain. Saya selalu senang mendengarkan permasalahan yang diceritakan orang lain. Selain mengasah empati, menambah pengetahuan, juga bisa membantu yang bersangkutan mengurangi beban pikirannya, walaupun sedikit. Menurut saya semua permasalahan itu mencerminkan beberapa aspek di diri saya juga. Terkadang saya tersenyum dan bergumam,“Eh, masalah kita kok sama ,ya,”atau,“Ealaaahh, gw jugaaaa!!”Atau, “Yang bener, loh, nyindir gue yaaa?”Gitu deh.. Selama ini beberapa teman dengan setia mencurahkan segala permasalahan hidupnya kepada saya. Dan, sebaliknya, saya juga curhat habis-habisan pada mereka. Pada dasarnya, saya memegang teguh azas sharing di dalam kehidupan ini. Saya berpendapat, sebuah masalah yang di-share dengan orang yang tepat, akan sangat meringankan beban berat di kepala, minimal setengahnya... Walaupun, terus terang saja, tidak semua ada solusinya. Kalimat yang paling sering saya sampaikan ke para sahabat adalah: 1. Segala hal yang terjadi padamu adalah kehendak zat Maha Tinggi, dan sudah merupakan rencana terindah yang diberikanNya padamu. 2. Jika kamu membuka lebar hatimu, membiarkan jiwamu bebas, maka kau akan menemukan banyak hal yang dapat dipelajari dari semua masalah yang menimpamu. 3. Tak ada satu pun hal yang terjadi secara kebetulan. Segalanya pasti ada tujuannya, hanya diri kita terkadang terlalu“sempit” dalam memandang sesuatu. 4. Jika tiba-tiba masalah datang beruntun dan tak terkendali, maka pilahlah! Segala yang tak bisa kau intervensi, maka itu bukan masalahmu Lepaskanlah, dan biarkan pemilik masalah sesungguhnya yang menyelesaikannya. 5. Waktu adalah musuhmu. Segala yang kau harapkan, akan terjadi pada saat yang tepat, hanya waktu yang bisa membuatnya nyata. 6. Seribu kegagalan merupakan seribu cara yang salah dalam mengupayakan sesuatu. Tapi jangan khawatir, semua kegagalan itu akan membawamu ke berjuta kesuksesan, asal kau mau belajar dari kesalahanmu. 7. (Nomor berapa sekarang?) O, ya... Nomor 7: jangan menyalahkan orang lain untuk segala kegagalanmu. Itu berarti kau bukan orang yang bisa menerima kenyataan. 8. Mengenai rejeki (terkait pekerjaan, uang, jodoh, anak, posisi, kekuasaan, dll), percayalah... Jika itu bukan milikmu, maka walaupun kau mengerahkan seluruh hidupmu, dan seluruh makhluk di alam semesta ini untuk mendapatkannya, tidak akan kau dapatkan yang kau inginkan. Sebaliknya jika itu memang milikmu, segalanya akan berada di genggamanmu, walaupun seluruh dunia menentangnya.‘Khusus yang ini, saya ngutip pak uztad..hehehe’ Saya selalu mengingat 8 hal itu di saat kesialan menimpa... Dan 8 hal itu juga yang selalu menjadi kalimat ajaib yang saya share ke para sahabat yang sedang dirundung masalah. Bagi sebagian orang, itu hal klise yang hanya jadi ucapan penenang dan tak mudah dilaksanakan. It’s easy to say, they said... Yes, indeed... Buat saya, segala solusi, awalnya merupakan kata-kata bijak yang terangkai, bisa hasil mengutip, bisa hasil pemikiran sendiri, atau nasehat dari orang sok tahu seperti saya. But still, it help... For me at least.... Jangan sampai terjebak menjadi manusia tertutup, belajarlah menjadi buku terbuka yang dapat dibaca oleh orang lain, dan kemudian menjadi pelajaran berharga untuk dipikirkan atau diterapkan. Semua ucapan kita belum tentu dianggap benar dan baik bagi orang lain, tapi jika niat kita tulus, maka segala yang terbaik akan muncul dan memberi manfaat bagi sebagian orang. Bagi saya, suatu masalah adalah bahan baku utama dalam proses pendewasaan diri dan pada saatnya nanti akan saya bagikan pada orang lain dan generasi penerus saya. Jadi, selamat menemukan masalah dalam hidupmu dan belajarlah memecahkannya! n(DIS) Mengeluhlah, Lalu Bangkitlah... Oleh : Dewi Indah sari EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM70
  • 71.
    D ua pekan awalMei 2012, media terharu biru dengan berita wafatnya Menkes dr. Endang R Sedyaningsih. Tepatnya, Rabu, 2 Mei pukul 11.40 di RSCM, Jakarta. Sepekan berikutnya, masyarakat heboh dengan berita jatuhnya pesawat Sukhoi 100 superjet di Gunung Salak Bogor, Rabu 9 Mei 2012. Sama-sama hari Rabu. Menjelang Bu Endang meninggal, orang dapat memprediksi, walau tidak pasti, karena selama dua pekan telah dikabarkan bahwa Menkes sedang dirawat di RSCM, dan kondisi kesehatannya tidak stabil. Sehingga, menjelang hari-hari terakhir pada pekan kedua itu, kondisi Bu endang semakin lemah. Saudara, teman sejawat dan banyak pihak mengirim doa, agar bu Endang diberikan yang terbaik. Sehingga, ketika diumumkan Menkes meninggal orang-orang terdekat dan lainya segera mengikhlaskannya. Berbeda dengan wafatnya penumpang Sukhoi. Mereka mendapat undangan khusus untuk menikmati penerbangan spesial, sebagai ajang promosi. Tentu, tak semua orang berkesempatan. Di samping terbatas tempat duduknya, juga harus ada korelasi khusus dengan penjualan pesawat tersebut di kemudian hari. Maka, terpilihlah orang-orang tertentu yang berkesempatan pertama pada penerbangan promosi tersebut. Ada beberapa cerita menarik menjelang penerbangan tersebut. Diberitakan, ada penumpang, sebelum terbang melaksanakan shalat dzuhur terlebih dahulu. Ada pula penumpang naik pesawat hanya berfoto, karena firasat tertentu, kemudian turun kembali tidak ikut dalam penerbangan tersebut. Kisah terakhir ini adalah kisa Manoarfa, mantan Menteri Perumahan Rakyat RI. Alhasil, mereka yang turun dan sedang shalat dzuhur tak ikut serta dalam penerbangan. Beberapa jam berikutnya, dikabarkan pesawat tak terlacak dari bandara Halim Perdana Kusuma. Ia dikabarkan hilang. Kemudian diketahui jatuh di lereng gunung salak yang berkemiringan 85 derajat. Semua penumpangnya meninggal. Innalillahi wainnailaihi rojiun. Orang dekat dan saudaranya kaget,“Secapat itukah? Hampir-hampir tak percaya,” kata Manoarfa. Kedua contoh di atas, sama meninggalnya, hanya berbeda caranya. Insya Allah semua meninggal dalam kebaikan. Mereka akan dibalas dengan amal perbuatan masing-masing. Sementara yang masih hidup, hanya menunggu waktu antrian. Karena semua yang hidup, sedang menunggu waktu datangnya kematian. Hanya saja tidak tahu. Kapan? Tak ada yang mampu menjawabnya. Antara Bu Endang dan SukhoiOleh : Prawito Karena tak ada yang mampu menjawab kapan, dimana dan dengan cara apa kematian itu tiba, maka kematian bersifat misteri. Wallahu’alam, hanya Tuhan yang tahu, tapi kematian itu pasti. Seperti banyak orang mengatakan, dunia ini penuh ketidakpastian kecuali dua perkara: yakni perubahan dan kematian. Meninggal, selain pasti, juga dekat. Mengapa dekat? Setidaknya ada dua alasan. Pertama; manusia hanya tahu waktu hidup yang sudah dijalani dan tidak tahu berapa sisa umurnya. Manusia hanya menjalani, kemudian tiba-tiba meninggal, tanpa ada pemberitahuan. Sekalipun, jalan meninggalnya berbeda-beda. Selama menjalani hidup, kita merasakan sangat sebentar. Coba renungkan! Masa kecil, remaja, kini sudah dewasa, tua dan beranak cucu. Masa lalu masih sangat terekam baik dalam ingatan, sepertinya baru beberapa saat saja. Tapi, ketika secara sadar dihitung, ternyata sudah belasan, puluhan dan bahkan telah ratusan tahun berlalu. Sekali lagi, semua berlalu begitu cepat, sehingga hidup terasa singkat. Kedua: hidup selalu berputar, melingkar, dan bertukar. Pertukaran dan perputaran membuat hidup terasa singkat dan cepat. Perputaran dari kaya menjadi miskin atau sebaliknya. Berpindah dari suasana sedih menjadi gembira atau sebaliknya. Setelah menangis lalu tertawa, kemudian menangis lagi dan tertawa lagi. Begitulah seterusnya. Karena begitu cepat perputaran hidup, terkadang tak terasa adanya perubahan, pertukaran dan pergantian. Seperti melihat roda kendaraan yang berputar dengan kecepatan tinggi, nyaris tak kelihatan putarannya. Tapi yang pasti, kendaraan akan begerak dan berpindah menuju tujuan akhir. Bila tak mengetahui jarak dan waktu tempuh sampai tujuan akhir, maka kita akan tetap bergerak seperti biasa cepat atau lambat. Hanya saja, tiba-tiba kendaraan harus berhenti, karena ternyata sudah sampai pada tujuan akhir. Pengendara akan mengatakan,“Cepat sekali, saya pikir masih jauh.”Pertanyaanya, apa yang harus dipersiapkan bila batas akhir perjalan hidup itu dekat dan tak diketahui ? Bila menyadari batas akhir hidup itu dekat dan tak diketahui, pasti akan mempersiapkan secara baik perbekalan yang dibutuhkan setelah mati, di saat masih hidup. Seberapa lengkap perbekalan yang disiapkan bergantung seberapa sadar akan hal ini. Bukti- bukti ilmiah telah memberi informasi secara gamblang, bahwa kematian itu pasti dan sangat dekat. Masihkah belum segara menyiapkan bekal hidup setelah mati dan tetap mengatakan nanti..... ? n EDISI 36 I JUNI I 2012 MEDIAKOM 71
  • 72.
    Menteri Kesehatan besertaJajaran Kementerian Kesehatan mengucapkan Selamat Idul Fitri 1433 H