Bencana Alam
Gunung Meletus
ERUPSI GUNUNG MERAPI
LogoType
http://www.free-powerpoint-templates-design.com
Disusun oleh:
Ayu Wastiti (140301171200
Rizqa Amalia (14030117130061) / 10
Usi Rahmawati (140301171200
Cindy Yuanita (14030117140093) / 12
Indira Amaliasari (14030117140097) / 13
RUMUSAN MASALAH
Apa yang dimaksud bencana dan manajemen bencana?
Apa yang dimaksud dengan gunung meletus?
Bagaimana proses terjadinya gunung meletus?
Bagaimana proses manajemen bencana gunung merapi?
Bagaimana dampak positif dan dampak negatif dari bencana gunung
merapi?
Bagaimana peran pemerintah dan masyarakat dalam
menanggulangi bencana gunung merapi?
Apa hambatan yang didapatkan oleh masyarakat maupun
pemerintah dalam menanggulangi bencana gunung merapi?
Manajemen Bencana
Manajemen bencana adalah suatu proses dinamis,
berlanjut dan terpadu untuk meningkatkan kualitas langkah-langkah
yang berhubungan dengan observasi dan analisis bencana serta
pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, peringatan dini, penanganan
darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi bencana.(UU 24/2007).
Manajemen bencana dibagi menjadi 3 periode :
 Pra Bencana: Pencegahan lebih difokuskan, kesiapsiagaan
berlevel medium
 Bencana: Pada saat kejadian/krisis tanggap darurat menjadi
kegiataan terpenting
 Pasca Bencana: Pemulihan dan reconstruksi menjadi proses
terpenting setelah bencana
Bencana
Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang
mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang
disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau non-alam maupun faktor manusia
sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia,
kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis
(UU 24/2007).
Pengertian Gunung Meletus
Gunung adalah permukaan yang menonjol di atas permukaan bumi. Pada bagian tonjolan gunung
tersebut terdapat saluran lurus berbentuk garis vertikal semacam pipa alami.
Pipa ini menjadi penghubung antara perut bumi dengan kerak bumi atau permukaan bumi. Perut bumi
berisi banyak jenis cairan panas, seperti batuan cair dan juga magma. Suatu waktu magma dan material-
material yang berada di dalam perut bumi akan mengalami permasalahan.
Faktor Penyebab Terjadinya Gunung Meletus
• Peningkatan frekuensi timbulnya gempa vulkanik
• Pergerakan lempeng tektonik yang terjadi pada lapisan bumi
• Adanya deformasi pada badan gunung
• Adanya lempengan bumi yang saling berdesakan satu sama lain
• Adanya tekanan yang tinggi
Proses Terjadinya Gunung Meletus
Gunung berapi pada dasarnya terbentuk dari magma, yaitu batuan cair terdapat di dalam bumi yang terdalam.
Magma tersebut terbentuk oleh panasnya suhu di dalam perut bumi. Di dalam kedalaman tertentu, suhu panas
yang sangat tinggi tersebut bisa melelhkan bebatuan yang ada di dalam bumi. Magma yang memiliki kandungan
gas yang berada di dalam kabin magma berada dalam kondisi dibawah tekanan bebatuan yang berat. Tekanan
tersebut menyebabkan magma meletus atau melelehkan conduit (saluran) di bagian bebatuan yang rapuh dan
retak. Magma akan keluar bergerak keluar melalui saluran ini menuju keluar permukaan bumi. Disaat magma
mendekati permukaan, kandungan gas yang dikandungnya akan terlepas. Gas dan magma secara bersamaan
meledak dan membentuk lubang yang disebut dengan lubang utama (central vent).
Sebagian besar magma dan material vulkanik lainnya akan menyembur keluar lewat lubang utama. Setelah
semburan berakhir, kawah (crater) yang berbentuk seperti mangkuk akan terbentuk pada bagian puncak gunung
berapi. Sementara lubang utama yang terbentuk di dasar kawah tersebut.
ERUPSI MERAPI 2010
Selasa tanggal 26 Oktober 2010
Penampang Gunung Berapi
Kronologis Peristiwa Erupsi Gunung Merapi 2010
Letusan terbesar Merapi yang baru-baru ini terjadi adalah letusan Merapi pada Oktober
2010. Pada saat itu, Merapi mengeluarkan awan panas yang menyapu daerah di
sekitar lereng Merapi dan lahar dingin di Kali Gendol.
Kronologi:[2]
20 September, Status Gunung Merapi dinaikkan dari Normal menjadi Waspada oleh BPPT
K Yogyakarta.
21 Oktober, Status berubah menjadi Siaga pada pukul 18.00 WIB.
25 Oktober, BPPTK Yogyakarta meningkatkan status Gunung Merapi menjadi Awas pada
pukul 06.00 WIB.
26 Oktober, Gunung Merapi memasuki tahap erupsi. Menurut laporan BPPTKA, letusan
terjadi sekitar pukul 17.02 WIB. Sedikitnya terjadi hingga tiga kali letusan. Letusan diiringi
keluarnya awan panas setinggi 1,5 meter yang mengarah ke Kaliadem, Kepuharjo.
Letusan ini menyemburkan material vulkanik setinggi kurang lebih 1,5 km.[3]
27 Oktober, Gunung Merapi pun meletus. Dari sekian lama penelitian gunung teraktif di
dunia ini pun meletus.
28 Oktober, Gunung Merapi memuntahkan Lava pijar yang muncul hampir bersamaan
dengan keluarnya awan panas pada pukul 19.54 WIB.
Manajemen Bencana Gunung Merapi
BPBD Kabupaten Sleman melakukan upaya penguran
gan resiko dan dampak dari erupsi Merapi dengan
melakukan pembuatan talud banjir, pembuatan kanton
g lahar atau dam, pemasangan Early Warning System
(EWS) atau dikenal dengan sistem peringatan dini dan
pemasangan rambu-rambu jalur evakuasi.
MITIGASI
01
Pemantauan di Gunung Merapi yang dilakukan oleh
BPPTKG (Balai Penyelidikan dan Pengembangan
Teknologi Kegunungapian dan Geologi) berkoordinasi
dengan BPBD Kabupaten Sleman untuk kemudian
diinformasikan kepada masyarakat, pelatihan atau
simulasi erupsi, pembentukan Desa Tanggap
Bencana (Destana), pembentukan Sekolah Siaga
Bencana (SSB)
PRA-BENCANA
02
Penyelamatan
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman telah
menyusun Skenario Rencana Penanggulangan Erupsi Gunung Api Merapi dalam
upaya evakuasi. Selain itu, di Desa Tangguh Bencana juga memiliki dokumen
Draft Rencana Kontijensi Gunung Api Merapi dan Rencana Kontijensi
Penanganan Ternak untuk Penanggulangan Bencana Erupsi Merapi sebagai
panduan apabila Merapi mengalami erupsi.
Pertolongan
BPBD Kabupaten Sleman mulai lakukan distribusi logistik di barak pengungsian
dengan terlebih dahulu melakukan pendataan jumlah pengungsi, menghitung
kebutuhan pengungsi, mendirikan posko darurat,dan penanganan korban
bencana yang diatur dalam SOP Barak dan Logistik
. PASCA-BENCANA
Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kabupaten Sleman menyusun
rencana aksi (Renaksi) rehabilitasi dan rekonstruksi. Kegiatan yang dilakukan
oleh bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi adalah pembuatan shelter bagi
korban erupsi Gunung Merapi, pembangunan hunian tetap, penggantian ternak,
bantuan modal usaha dan bantuan sapi perah. Luas dari hunian tetap adalah 10
0 m², dengan anggaran tiap huntap adalah Rp. 30.000.000,-. Didalam huntap
sendiri terdapat berbagai fasilitas, seperti adanya tempat ibadah, balai warga,
kandang komunal, dan lapangan.
BENCANA : TANGGAP DARURAT03
04
DAMPAK NEGATIF
 Dampak dari abu gunung merapi yaitu berbagai jenis gas seperti Sulfur Dioksida (SO2), gas Hidrogen Sulfida (H2S),
Nitrogen Dioksida (NO2), serta debu dalam bentuk partikel debu (Total Suspended Particulate atau Particulate Matter).
 Kecelakaan lalu lintas akibat jalan berdebu licin, jatuh karena panik, serta makanan yang terkontaminasi, dan lain-lain.
 Banyak dari penduduk, terutama sekitar Gunung Merapi yang kehilangan pekerjaan rutin kesehariannya.
 Timbulnya penyakit pada korban seperti ISPA ( infeksi saluran nafas atas )
 64 desa di Sleman dan puluhan desa di Magelang serta Klaten porak poranda. Bahkan, desa tersebut dinyatakan
tertutup karena berada di zona yang tidak aman. Sebagian desa sudah tertutup debu vulkanik dengan ketebalan
hingga satu meter.
 Hujan debu dari Merapi juga meluas dan membatasi jarak pandang. Lalu lintas, baik darat maupun udara, mulai
terganggu. Bahkan, penerbangan dari dan ke Yogyakarta ditutup sementara waktu.
 Dan terjadi pula kebakaran hutan karena terkena laharnya.
 Banyak dalam sektor pertanian terganggu akibat bencana ini yang menyebabkan pendapatan bisnis para petani
menurun drastis.
 Di sektor perikanan terjadi kerugian sekitar 1.272 ton.
 Di sektor pariwisata, kunjungan wisatawan berkurang sehingga menyebabkan tingkat hunian hotel yang tadinya 70
persen turun menjadi 30 persen.
DAMPAK NEGATIF DAN DAMPAK POSITIF
BENCANA GUNUNG MERAPI MELETUS
DAMPAK POSITIF
Hasil muntahan vulkanik bagi lahan pertanian
dapat menyuburkan tanah dan material
vulkaniknya sebagai bahan bangunan
Sisa-sisa aktivitas Gunung Merapi dapat
menghasikan bahan-bahan tambang yang
berguna dan bernilai tinggi. Seperti
belerang, batu pualam dan lain-lain.
Terjadinya disribusi keadilan ekonomi,
dengan banyaknya sumbangan dari para
dermawan.
Membangkitkan industry semen dan industry yang
berkaitan dengan insfrastuktur bisa
bangkit, termasuk bisa menyerap banyak tenaga ahli
untuk memulihkan infrastruktur dan
sector lainnya di kawasan terkena musibah.
Aktifitas gunung api dapat menghasilkan
geothermal atau panas bumi yang sangat
berguna dalam kehidupan sehari-hari
.
Peran Pemerintah dan Masyarakat Dalam Menanggulangi Bencana Gunung Merapi
Tindakan yang dapat dilakukan oleh pemerintah /
pihak berwenang setelah terjadi letusan adalah se
bagai berikut:
 Penetapan status tanggap darurat
 Evakuasi korban bencana
 Pengelolaan posko pengungsian
 Menginventarisasi data, yang mencakup
sebaran dan volume hasil letusan.
 Mengidentifikasi daerah yang terkena dan
Terancam bahaya.
 Membangun kembali bangunan, sarana, dan
fasilitas lainnya yang terkena bencana.
Tindakan yang dapat dilakukan oleh individu / masyarakat setela
h terjadi letusan adalah sebagai berikut:
 Mengikuti informasi perkembangan status gunung api.
 Apabila sudah dianggap aman dan dapat kembali,
periksalah rumah dan barang lain yang ada.
 Menghubungi dan mengecek saudara dan kerabat yang
lain.
 Bersama dengan warga dan pemerintah bergotong royong
membersihkan, membangun dan memperbaiki
 Sarana - sarana yang masih dapat dimanfaatkan
 Jauhi daerah yang terkena hujan abu.
 Membantu tim medis menolong para korban.
Hambatan Yang Diperoleh Masyarakat Maupun Pemerintah Dalam
Menanggulangi Bencana Gunung Merapi
Sosialisasi dan pelatihan juga menjadi kendala dalam upaya meminimalisir korban
saat terjadi becana. Alokasi dana dan waktu yang kurang cukup mengakibatkan
masyarakat kurang tebekali ilmu dan pengetahuan tentang analisis lingkungan
di sekitarnya yang rawan bencana. Sosialisasi yang sangat minim membuat masyarakat
mudah panic dan terkadang kurang peduli dengan ancaman bahaya gunung merapi
sehingga banyak masyarakat tetap bertahan dengan berbagai macam alasan seperti tidak
ingin ternak dan kebunnya tidak terurus. Pengetahuan tentang desa siaga
belum terlalu baik karena masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui desa
siaga. Dukungan pelaksanaan desa siaga belum terlalu baik. Pembiayaan sudah
mencukupi namun belum terkoordinasi dengan baik.
Thank you!

Manajemen bencana erupsi merapi

  • 1.
    Bencana Alam Gunung Meletus ERUPSIGUNUNG MERAPI LogoType http://www.free-powerpoint-templates-design.com
  • 2.
    Disusun oleh: Ayu Wastiti(140301171200 Rizqa Amalia (14030117130061) / 10 Usi Rahmawati (140301171200 Cindy Yuanita (14030117140093) / 12 Indira Amaliasari (14030117140097) / 13
  • 3.
    RUMUSAN MASALAH Apa yangdimaksud bencana dan manajemen bencana? Apa yang dimaksud dengan gunung meletus? Bagaimana proses terjadinya gunung meletus? Bagaimana proses manajemen bencana gunung merapi? Bagaimana dampak positif dan dampak negatif dari bencana gunung merapi? Bagaimana peran pemerintah dan masyarakat dalam menanggulangi bencana gunung merapi? Apa hambatan yang didapatkan oleh masyarakat maupun pemerintah dalam menanggulangi bencana gunung merapi?
  • 4.
    Manajemen Bencana Manajemen bencanaadalah suatu proses dinamis, berlanjut dan terpadu untuk meningkatkan kualitas langkah-langkah yang berhubungan dengan observasi dan analisis bencana serta pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, peringatan dini, penanganan darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi bencana.(UU 24/2007). Manajemen bencana dibagi menjadi 3 periode :  Pra Bencana: Pencegahan lebih difokuskan, kesiapsiagaan berlevel medium  Bencana: Pada saat kejadian/krisis tanggap darurat menjadi kegiataan terpenting  Pasca Bencana: Pemulihan dan reconstruksi menjadi proses terpenting setelah bencana Bencana Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau non-alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis (UU 24/2007).
  • 5.
    Pengertian Gunung Meletus Gunungadalah permukaan yang menonjol di atas permukaan bumi. Pada bagian tonjolan gunung tersebut terdapat saluran lurus berbentuk garis vertikal semacam pipa alami. Pipa ini menjadi penghubung antara perut bumi dengan kerak bumi atau permukaan bumi. Perut bumi berisi banyak jenis cairan panas, seperti batuan cair dan juga magma. Suatu waktu magma dan material- material yang berada di dalam perut bumi akan mengalami permasalahan. Faktor Penyebab Terjadinya Gunung Meletus • Peningkatan frekuensi timbulnya gempa vulkanik • Pergerakan lempeng tektonik yang terjadi pada lapisan bumi • Adanya deformasi pada badan gunung • Adanya lempengan bumi yang saling berdesakan satu sama lain • Adanya tekanan yang tinggi
  • 6.
    Proses Terjadinya GunungMeletus Gunung berapi pada dasarnya terbentuk dari magma, yaitu batuan cair terdapat di dalam bumi yang terdalam. Magma tersebut terbentuk oleh panasnya suhu di dalam perut bumi. Di dalam kedalaman tertentu, suhu panas yang sangat tinggi tersebut bisa melelhkan bebatuan yang ada di dalam bumi. Magma yang memiliki kandungan gas yang berada di dalam kabin magma berada dalam kondisi dibawah tekanan bebatuan yang berat. Tekanan tersebut menyebabkan magma meletus atau melelehkan conduit (saluran) di bagian bebatuan yang rapuh dan retak. Magma akan keluar bergerak keluar melalui saluran ini menuju keluar permukaan bumi. Disaat magma mendekati permukaan, kandungan gas yang dikandungnya akan terlepas. Gas dan magma secara bersamaan meledak dan membentuk lubang yang disebut dengan lubang utama (central vent). Sebagian besar magma dan material vulkanik lainnya akan menyembur keluar lewat lubang utama. Setelah semburan berakhir, kawah (crater) yang berbentuk seperti mangkuk akan terbentuk pada bagian puncak gunung berapi. Sementara lubang utama yang terbentuk di dasar kawah tersebut.
  • 7.
    ERUPSI MERAPI 2010 Selasatanggal 26 Oktober 2010
  • 8.
  • 9.
    Kronologis Peristiwa ErupsiGunung Merapi 2010 Letusan terbesar Merapi yang baru-baru ini terjadi adalah letusan Merapi pada Oktober 2010. Pada saat itu, Merapi mengeluarkan awan panas yang menyapu daerah di sekitar lereng Merapi dan lahar dingin di Kali Gendol. Kronologi:[2] 20 September, Status Gunung Merapi dinaikkan dari Normal menjadi Waspada oleh BPPT K Yogyakarta. 21 Oktober, Status berubah menjadi Siaga pada pukul 18.00 WIB. 25 Oktober, BPPTK Yogyakarta meningkatkan status Gunung Merapi menjadi Awas pada pukul 06.00 WIB. 26 Oktober, Gunung Merapi memasuki tahap erupsi. Menurut laporan BPPTKA, letusan terjadi sekitar pukul 17.02 WIB. Sedikitnya terjadi hingga tiga kali letusan. Letusan diiringi keluarnya awan panas setinggi 1,5 meter yang mengarah ke Kaliadem, Kepuharjo. Letusan ini menyemburkan material vulkanik setinggi kurang lebih 1,5 km.[3] 27 Oktober, Gunung Merapi pun meletus. Dari sekian lama penelitian gunung teraktif di dunia ini pun meletus. 28 Oktober, Gunung Merapi memuntahkan Lava pijar yang muncul hampir bersamaan dengan keluarnya awan panas pada pukul 19.54 WIB.
  • 10.
    Manajemen Bencana GunungMerapi BPBD Kabupaten Sleman melakukan upaya penguran gan resiko dan dampak dari erupsi Merapi dengan melakukan pembuatan talud banjir, pembuatan kanton g lahar atau dam, pemasangan Early Warning System (EWS) atau dikenal dengan sistem peringatan dini dan pemasangan rambu-rambu jalur evakuasi. MITIGASI 01 Pemantauan di Gunung Merapi yang dilakukan oleh BPPTKG (Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian dan Geologi) berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Sleman untuk kemudian diinformasikan kepada masyarakat, pelatihan atau simulasi erupsi, pembentukan Desa Tanggap Bencana (Destana), pembentukan Sekolah Siaga Bencana (SSB) PRA-BENCANA 02
  • 11.
    Penyelamatan Badan Penanggulangan BencanaDaerah (BPBD) Kabupaten Sleman telah menyusun Skenario Rencana Penanggulangan Erupsi Gunung Api Merapi dalam upaya evakuasi. Selain itu, di Desa Tangguh Bencana juga memiliki dokumen Draft Rencana Kontijensi Gunung Api Merapi dan Rencana Kontijensi Penanganan Ternak untuk Penanggulangan Bencana Erupsi Merapi sebagai panduan apabila Merapi mengalami erupsi. Pertolongan BPBD Kabupaten Sleman mulai lakukan distribusi logistik di barak pengungsian dengan terlebih dahulu melakukan pendataan jumlah pengungsi, menghitung kebutuhan pengungsi, mendirikan posko darurat,dan penanganan korban bencana yang diatur dalam SOP Barak dan Logistik . PASCA-BENCANA Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kabupaten Sleman menyusun rencana aksi (Renaksi) rehabilitasi dan rekonstruksi. Kegiatan yang dilakukan oleh bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi adalah pembuatan shelter bagi korban erupsi Gunung Merapi, pembangunan hunian tetap, penggantian ternak, bantuan modal usaha dan bantuan sapi perah. Luas dari hunian tetap adalah 10 0 m², dengan anggaran tiap huntap adalah Rp. 30.000.000,-. Didalam huntap sendiri terdapat berbagai fasilitas, seperti adanya tempat ibadah, balai warga, kandang komunal, dan lapangan. BENCANA : TANGGAP DARURAT03 04
  • 12.
    DAMPAK NEGATIF  Dampakdari abu gunung merapi yaitu berbagai jenis gas seperti Sulfur Dioksida (SO2), gas Hidrogen Sulfida (H2S), Nitrogen Dioksida (NO2), serta debu dalam bentuk partikel debu (Total Suspended Particulate atau Particulate Matter).  Kecelakaan lalu lintas akibat jalan berdebu licin, jatuh karena panik, serta makanan yang terkontaminasi, dan lain-lain.  Banyak dari penduduk, terutama sekitar Gunung Merapi yang kehilangan pekerjaan rutin kesehariannya.  Timbulnya penyakit pada korban seperti ISPA ( infeksi saluran nafas atas )  64 desa di Sleman dan puluhan desa di Magelang serta Klaten porak poranda. Bahkan, desa tersebut dinyatakan tertutup karena berada di zona yang tidak aman. Sebagian desa sudah tertutup debu vulkanik dengan ketebalan hingga satu meter.  Hujan debu dari Merapi juga meluas dan membatasi jarak pandang. Lalu lintas, baik darat maupun udara, mulai terganggu. Bahkan, penerbangan dari dan ke Yogyakarta ditutup sementara waktu.  Dan terjadi pula kebakaran hutan karena terkena laharnya.  Banyak dalam sektor pertanian terganggu akibat bencana ini yang menyebabkan pendapatan bisnis para petani menurun drastis.  Di sektor perikanan terjadi kerugian sekitar 1.272 ton.  Di sektor pariwisata, kunjungan wisatawan berkurang sehingga menyebabkan tingkat hunian hotel yang tadinya 70 persen turun menjadi 30 persen. DAMPAK NEGATIF DAN DAMPAK POSITIF BENCANA GUNUNG MERAPI MELETUS
  • 13.
    DAMPAK POSITIF Hasil muntahanvulkanik bagi lahan pertanian dapat menyuburkan tanah dan material vulkaniknya sebagai bahan bangunan Sisa-sisa aktivitas Gunung Merapi dapat menghasikan bahan-bahan tambang yang berguna dan bernilai tinggi. Seperti belerang, batu pualam dan lain-lain. Terjadinya disribusi keadilan ekonomi, dengan banyaknya sumbangan dari para dermawan. Membangkitkan industry semen dan industry yang berkaitan dengan insfrastuktur bisa bangkit, termasuk bisa menyerap banyak tenaga ahli untuk memulihkan infrastruktur dan sector lainnya di kawasan terkena musibah. Aktifitas gunung api dapat menghasilkan geothermal atau panas bumi yang sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari .
  • 14.
    Peran Pemerintah danMasyarakat Dalam Menanggulangi Bencana Gunung Merapi Tindakan yang dapat dilakukan oleh pemerintah / pihak berwenang setelah terjadi letusan adalah se bagai berikut:  Penetapan status tanggap darurat  Evakuasi korban bencana  Pengelolaan posko pengungsian  Menginventarisasi data, yang mencakup sebaran dan volume hasil letusan.  Mengidentifikasi daerah yang terkena dan Terancam bahaya.  Membangun kembali bangunan, sarana, dan fasilitas lainnya yang terkena bencana. Tindakan yang dapat dilakukan oleh individu / masyarakat setela h terjadi letusan adalah sebagai berikut:  Mengikuti informasi perkembangan status gunung api.  Apabila sudah dianggap aman dan dapat kembali, periksalah rumah dan barang lain yang ada.  Menghubungi dan mengecek saudara dan kerabat yang lain.  Bersama dengan warga dan pemerintah bergotong royong membersihkan, membangun dan memperbaiki  Sarana - sarana yang masih dapat dimanfaatkan  Jauhi daerah yang terkena hujan abu.  Membantu tim medis menolong para korban.
  • 15.
    Hambatan Yang DiperolehMasyarakat Maupun Pemerintah Dalam Menanggulangi Bencana Gunung Merapi Sosialisasi dan pelatihan juga menjadi kendala dalam upaya meminimalisir korban saat terjadi becana. Alokasi dana dan waktu yang kurang cukup mengakibatkan masyarakat kurang tebekali ilmu dan pengetahuan tentang analisis lingkungan di sekitarnya yang rawan bencana. Sosialisasi yang sangat minim membuat masyarakat mudah panic dan terkadang kurang peduli dengan ancaman bahaya gunung merapi sehingga banyak masyarakat tetap bertahan dengan berbagai macam alasan seperti tidak ingin ternak dan kebunnya tidak terurus. Pengetahuan tentang desa siaga belum terlalu baik karena masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui desa siaga. Dukungan pelaksanaan desa siaga belum terlalu baik. Pembiayaan sudah mencukupi namun belum terkoordinasi dengan baik.
  • 16.