BAB I
                              PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
      Waralaba (Franchise) adalah hak-hak untuk menjual suatu produk atau jasa
maupun layanan. Sedangkan menurut pemerintah Indonesia, waralaba adalah
perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak memanfaatkan atau
menggunakan hak dari kekayaan intelektual (HAKI). Franchising/waralaba pada
dasarnya adalah suatu konsep pemasaran yang melaju sangat cepat namun tidak
mudah untuk mencapai suatu keberhasilan dari bisnis franchising itu sendiri.
System bisnis waralaba memiliki banyak kelebihan misalnya pada pendanaan,
sumber daya manusia (SDM), manajemen dan tingkat kesulitan dalam
pemasarannya., kecuali jika pemilik usaha tersebut mau berbagi dengan pihak
lain. Bisnis waralaba cukup dikenal dengan jalur distribusinya yang efektif untuk
mendekatkan produknya kepada para konsumen melalui tangan-tangan para
pebisni.
      Hal menarik dari Bisnis Franchise yang semakin maju adalah banyaknya
usaha yang di tawarkan kepada para konsumen dengan berbagai jenis prduk
barang dan jasa. Misalnya makanan modern/fastfood yang pemasarannya
dilakukandi pusat-pusat pertokoan atau di pingir-pinggir jalan perkotaan yang
sangat mudah di jangkau oleh masyarakat. Contoh bisnis waralaba pastinya sangat
mudah ditemukan dan seringkali kita jumpai seperti Mc. Donal, Pizza Hut, Pizza
Hut dan lain lain.
      Sejarah Franchise
      Franchise Indonesia dimulai dengan hadirnya brand franchise Asing speperi
KFC, Mc. Donald, Dunkin Donuts dan brand lainnya. Dan kemudian terjadilah
proses perbandingan (benchmarking). Lalu timbulah franchise lokal dan tumbuh
sampai saat ini dan mengalami kejayaan.
      Pertumbuhan franchise di Indonesia yang ternyata mempunyai sejarah yang
cukup panjang dan berliku. Berawal dari sebuah pemikiran bahwa franchise
sukses dapat memacu perekonomian di Negara maju seperti Amerika dan di
Negara maju lainnya. Franchise juga dapat memberikan lapangan pekerjaan



                                                                               1
untuk para tenaga kerja. Maka dimulailah sebuah usaha untuk mendata usaha
franchise yang ada di Indonesia usaha franchise yang ada di Indonesiayang
menggandeng International Labour Organization (ILO).
     Untuk proses di lapangannya sendiri berupa pelaksanaan pengumpulan dan
pengelolaan data-data dilaksanakan oleh LPPM (Lembaga Pengembangan dan
Pendidikan        Managemen             dengan         melakukan“BaselineStudy.”
Sementara dari ILO sendiri mendatangkan seorang pakar franchise dari Amerika
Mr. Martin Mendelsohn, untuk mempelajari, menganalisa situasi dan kondisi
untuk merekomendasikan jalan/cara yang akan ditempuh. “Saya pertama kali
datang ke Indonesia sekitar tahun 1999 atas permintaan dari ILO untuk
memberikan    saran   kepada    pemerintah       tentang   bagaimana   mendorong
pertumbuhan franchising dan membantu membentuk sebuah asosiasi franchise,”
ujar orang yang sudah dua kali berkunjung ke Indonesia ini. Semenjak
kedatangannya ke Indonesia, telah melibatkan banyak usaha local dalam
pertemuan-pertemuan koordinasi maupun dalam diskusi bilateral untuk selalu
melibatkan pihak swasta di Indonesia.




                                                                               2
BAB II
                                       ISI


2.1 Definisi Franchise
       Franchise Indonesia merupakan wadah bagi para pengusaha franchise.
franchise berarti kerja sama dalam bidang usaha dengan bagi hasil sesuai dengan
kesepakatan, hak kelola dan hak pemasaran. Adapun para pelaku dalam bisnis ini
disebut pewaralaba (franchisor) orang yang memberi waralaba, orang yg memiliki
waralaba, dan terwaralaba (Franchisee) sudah menerima waralaba atau diberi
waralaba.
       Franchising adalah sebuah cara dalam mendistribusikan produk barang
atau jasa yang di lakukan sedikitnya 2 pihak yang terlibat. Pihak yang pertama
adalah orang yang meminjamkan system bisnis atau nama barang dagangnya,
sedangkan pihak yang kedua yaitu orang yang membayar initial fee dan royalti fee
yaitu sebagai kompensasi dari penggunaan nama dan system bisnis yang dimiliki
franchisor.
       Menurut British Franchise Association, Franchise sebagai garansi lisensi
kontraktual oleh suatu orang (franchisor) ke pihak lain (franchisee) dengan:

   1. Mengijinkan atau meminta franchisee menjajakan usaha dalam periode
       tertentu pada bisnis yang menggunakan merek yang dimilki oleh
       franchisor.
   2. Mengharuskan franchisor untuk melatih control secara kontinu selama
       periode perjanjian.
   3. Mengharuskan franchisor untuk menyediakan asistensi terhadap franchisee
       pada subjek bisnis yang dijalankan di dalam hubungan terhadap staf,
       merchandising, manajemen atau yang lainnya
   4. Meminta kepada franchise untuk membayarkan sejumlah fee franchisee
       atau royalty untuk produk atau service yang disediakan oleh franchisor
       kepada franchisee.

Menurut PP No.16/1997 franchise diartikan sebagai perikatan dimana salah satu
pihak diberikan hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas


                                                                               3
kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain
dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan pihak lain
tersebut, dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang dan atau jasa.
Definisi inilah yang berlaku baku secara yuridis formal di Indonesia.
Latar Belakang Pada Franchising
Pemilik usaha disebut franchisor atau seller, sedangkan pembeli disebut
franchisee. Isi perjanjian adalah franchisor akan memberikan bantuan dalam
memproduksi, operasional, manajemen dan kadangkala sampai masalah keuangan
kepada franchisee. Akan tetapi berapa bantuan berbeda tergantung pada kebijakan
dari pemilik franchise. Contohnya beberapa franchisor membrikan bantuan
kepada franchisee mulai dari awal usaha untuk memilih lokasi, mendesain took,
peralatan, cara memproduksi, standarisasi bahan, recruiting dan training pegawai,
hingga negosiasi dengan pemberi modal.namun ada juga franchisor yang
menanggung semuanya mulai dari menyusun strategi pemasaran hingga
memberikan modal kepada franchisee. Sebaliknya seorang franchisee akan terikat
dengan peraturan yang berhubungan dengan mutu produk/jasa yang akan
dijualnya dan franchisee memiliki kewajiban untuk membayar royalty seara rutin.




Beberapa keuntungan bagi Franchisor (perusahaan induk) :
   1) Produk atau jasa terdistribusi secara luas tanpa memerlukan biaya promosi
       dan biaya investasi cabang baru.
   2) Produk atau jasa dikonsumsi dengan mutu yang sama.
   3) Keuntungan dari royalti atau penjual lisensi.
   4) Bisnisnya bisa berkembang dengan cepat di banyak lokasi secara
       bersamaan, meningkatnya keuntungan dengan memanfaatkan investasi
       dari franchisee.
Bagi Franchisee (pemilik hak-jual) :
   1) Popularitas produk atau jasa sudah dikenal konsumen, menghemat biaya
       promosi.
   2) Mendapatkan fasilitas-fasilitas manajemen tertentu sesuai dengan training
       yang dilakukan oleh franchiser.



                                                                               4
3) Mendapatkan image sama dengan perusahaan induk.
Kerugian bagi franchisee (pemilik hak-jual) :
   1) Biaya startup cost yang tinggi, karena selain kebutuhan investasi awal,
       franchisee harus membayar pembelian franchise yang biasanya cukup
       mahal.
   2) Franchisee tidak bebas mengembangkan usahanya karena berbagai
       peraturan yang diberikan oleh franchisor.
   3) Franchisee biasanya terikat pada pembelian bahan untuk produksi untuk
       standarisasi produk /jasa yang dijual.
   4) Franchisee harus jeli dan tidak terjebak pada isi perjanjian dengan
       franchisor, karena bagaimanapun biasanya perjanjian akan berpihak
       kepada prinsipal / franchisor dengan perbandingan 60:40.
Penghasilan yang dicapai terus mengalir ke franchisor dari royalty dan penjualan
yang lebih penting adalah sumber pendapatan biaya awal untuk menjual waralaba.
Dengan demikian kerjasama antara franchisor dan franchisee mencapai sukses
dengan membantu satu sama lain.

2.2 Membeli Franchise

     Franchise dapat dibagi dalam dua kelompok besar yaitu Franchise Asing
dan Franchise Lokal. Franchise asing adalah franchisornya berasal dari luar negeri
cenderung lebih disukai karena sistemnya lebih jelas, merek sudah diterima
diberbagai dunia, dan dirasakan lebih bergengsi.

     Pengusaha yang baik adalah pengusaha yang siap untuk sukses, dan apakah
dia fokus dengan bisnis yang dijalakannya mulaidari membeli franchise atau
membeli bisnis yang ada. Masalah-masalah dalam membeli franchise dapat dilihat
sebagai masalah umum atau masalah-masalah khusus untuk itu franchisor :
     1) Evaluate
          Dalam memilih satu atau beberapa industri yang akan dibeli franchise-
          nya, franchisee harus hati-hati dalam mengevaluasi minat dan
          kemampuan agar dapat menemukan industri yang tepat sehingga bisnis
          pun dapat berjalan lancar.




                                                                                5
2) Determine
         Ketika akan menentukan industri mana yang akan dimasuki, setiap
         calon franchisee harus meneliti industri tersebut, potensi kompetitor
         dalam industri tersebut, dsb sebelum franchisee baru memasuki industri
         tersebut.
     3) Excellence
         Hati-hati memeriksa kekuatan kompetitif waralaba di berbagai industri.
         Misalnya, apakah mereka memiliki keunggulan kompetitif yang
         berkelanjutan di pasar?
     4) Identification
         Mengidentifikasi sebuah franchisor yang sesuai dengan potensi yang
         terbaik dalam hal dukungan, sejarah, rencana ekspansi, dll
     5) Discuss
         Franchisees menghubungi franchisor untuk mendiskusikan pengalaman
         serta membandingkanfranchisorlainkesempatan.

2.3 Biaya franchise meliputi

       Ongkos awal, dimulai dari Rp. 10 juta hingga Rp. 1 miliar. Biaya ini
       meliputi pengeluaran yang dikeluarkan oleh pemilik waralaba untuk
       membuat tempat usaha sesuai dengan spesifikasi franchisor dan ongkos
       penggunaan HAKI.
       Ongkos royalti, dibayarkan pemegang waralaba setiap bulan dari laba
       operasional. Besarnya ongkos royalti berkisar dari 5-15 persen dari
       penghasilan kotor. Ongkos royalti yang layak adalah 10 persen. Lebih dari
       10 persen biasanya adalah biaya yang dikeluarkan untuk pemasaran yang
       perlu dipertanggungjawabkan.

   Franchise saat ini memang sedang popular dan menjanjikan kenuntungan,
   tetapi ada pula franchisee yang terpaksa menutup usahanya. Artinya jika ingin
   menjadi franchisee kita harus pertimbangkan matang-matang untuk memilih
   franchisor , terutama isi perjanjian yang terikat




                                                                              6
Franchise Fee (Biaya Pembelian Hak Waralaba) :

Franchise Fee adalah biaya pembelian hak waralaba yang dikeluarkan oleh
pembeli waralaba (franchisee) setelah dinyatakan memenuhi persyaratan
sebagai franchisee sesuai kriteria franchisor. Umumnya franchise fee
dibayarkan hanya satu kali saja. Franchisee fee ini akan dikembalikan oleh
franchisor kepada franchisee dalam bentuk fasilitas pelatihan awal, dan
dukungan set up awal dari outlet pertama yang akan dibuka oleh franchisee.
Hak Cipta (Copyright) : Hak cipta adalah hak eklusif sesesorang untuk
menggunakan dan memberikan lisensi kepada orang lain untuk menggunakan
kepemilikan intelektual tersebut misalnya sistem kerja, buku, lagu, logo,
merek, materi publikasi dan sebagainya.
Initial Investment : Initial investment adalah modal awal yang harus
disetorkan dan dimiliki oleh franchisee pada saat memulai usaha waralabanya.
Initial investment terdiri atas franchise fee, investasi untuk fixed asset dan
modal kerja untuk menutup operasi selama bulan-bulan awal usaha
waralabanya.
Perjanjian Waralaba (Franchise Agreement) : Perjanjian waralaba merupakan
kumpulan persyaratan, ketentuan dan komitment yang dibuat dan dikehendaki
oleh franchisor bagi para franchisee-nya. Didalam perjanjian waralaba
tercantum ketentuan berkaitan dengan hak dan kewajiban franchisee dan
franchisor, misalnya hak teritorial yang dimiliki franchisee, persyaratan lokasi,
ketentuan pelatihan, biaya-biaya yang harus dibayarkan oleh franchisee
kepada franchisor, ketentuan berkaitan dengan lama perjanjian waralaba dan
perpanjangannya dan ketetentuan lain yang mengatur hubungan antara
franchisee dengan franchisor.
Outlet Milik Franchisor (Company Owned Outlet, Pilot Store) : Franchisor
yang terpercaya adalah franchisor yang telah terbukti sukses dan
mengoperasikan outlet milik mereka sendiri yang dinamakan Company
Owned Outlet atau Pilot Store. Jangan pernah membeli hak waralaba dari
franchisor yang tidak memiliki outlet yang sejenis dengan outlet yang
dipasarkan hak waralabnya.



                                                                               7
Advertising Fee (Biaya Periklanan) : Advertising Fee (Biaya Periklanan)
   nerupakan biaya yang dibayarkan oleh penerima waralaba (franchisee) kepada
   pemberi waralaba (franchisor) untuk membiayai pos pengeluaran/belanja iklan
   dari franchisor yang disebarluaskan secara nasional/international. Besarnya
   advertising fee maksimum 3% dari penjualan. Tidak semua franchisor
   mengenakan advertising fee kepada franchiseenya. Alasan dari adanya
   advertising fee adalah kenyataan bahwa tujuan dari jaringan waralaba adalah
   membentuk satu skala ekonomi yang demikian besar sehingga biaya-biaya per
   outletnya menjadi sedemikian effisiennya untuk bersaing dengan usaha
   sejenis. Mengingat advertising fee merupakan pos pengeluaran yang dirasakan
   manfaatnya oleh semua jaringan, maka setiap anggota jaringan (franchisee)
   diminta untuk memberikan kontribusi dalam bentuk advertising fee.


2.4 Dasar Hukum Franchise :



   1) Perjanjian sebagai dasar hukum KUH Perdata pasal 1338 (1), 1233 s/d
      1456 KUH Perdata; para pihak bebas melakukan apapun sepanjang tidak
      bertentangan dengan hukum yang berlaku, kebiasan, kesopanan atau hal-
      hal lain yang berhubungan dengan ketertiban umum, juga tentang syarat-
      syarat sahnya perjanjian dsb.
   2) Hukum keagenan sebagai dasar hukum; KUH Dagang (Makelar &
      Komisioner), ketentuan-ketentuan yang bersifat administrative seperti
      berbagai ketentuan dari Departemen Perindustrian, Perdagangan dsb.
      Seringkali ditentukan dengan tegas dalam kontrak franchise bahwa di
      antara pihak franchisor dengan franchisee tidak ada suatu hubungan
      keagenan.
   3) Undang-undang Merek, Paten dan Hak Cipta sebagai dasar hukum;
      berhubung ikut terlibatnya merek dagang dan logo milik pihak franchisor
      dalam suatu bisnis franchise, apalagi dimungkinkan adanya suatu
      penemuan baru oleh pihak franchisor, penemuan dimana dapat dipatenkan.
      UU No.19 (1992) Merek, UU No 6 (1982) Paten, UU No.7 (1987) Hak
      Cipta.


                                                                            8
4) UU Penanaman Modal Asing sebagai dasar hukum; Apabila pihak
   franchisor akan membuka outlet di suatu Negara yang bukan negaranya
   pihak franchisor tersebut maka sebaiknya dikonsultasi dahulu kepada ahli
   hukum penanaman modal asing tentang berbagai kemungkinana dan
   alternative yang mungkin diambil dan yang paling menguntungkannya.
   Franchise justru dipilih untuk mengelak dari larangan-larangan tertentu
   bagi suatu perusahaan asing ketika hendak beroperasi lewat direct
   investment.
5) Peraturan lain-lain sebagai dasar hukum:
       Ketentuan hukum administratif, seperti mengenai perizinan usaha,
       pendirian perseroan terbatas, dll peraturan administrasi yang umumnya
       dikeluarkanoleh Departemen Perdagangan. Kepmen Perdagangan No.
       376/Kp/XI/1983 tentang kegiatan perdagangan.
       Ketentuan Ketenagakerjaan.
       Hukum Perusahaan (UU PT No 1 (1995)).
       Hukum pajak adalah pajak ganda, pajak penghasilan, pajak
       pertambahan nilai, pajak withholding atas royalty dan pajak
       penghasilan atas tenaga kerja asing.
       Hukum persaingan,
       Hukum industri bidang tertentu misalnya aturan tentang standar mutu,
       kebersihan dan aturan lain lain yang bertujuan melindungi konsumen,
       atau bahkan UU pangan sendiri.
       Hukum tentang kepemilikan hak guna bangunan, hak milik, dll.
       Hukum tentang pertukaran mata uang RI menganut rezim devisa
       bebas, maka tidak ada larangan maupun batasan terhadap keluar
       masuknya valuta asing dari/ke Indonesia.
       Hukum tentang rencana tata ruang; apakah wilayah tersebut
       memungkinkan dibukannya sebuah franchise, kualitas bahan untuk
       gedung tersebut memenuhi syarat, dll.
       Hukum tentang pengawasan ekspor/ impor misalnya dalam hal
       pengambilan keputusan apakah barang barang tertentu mesti dibawa




                                                                          9
dari Negara pihak franchisor atau cukup diambil saja dari Negara
        pihak franchisee.
        Hukum tentang bea cukai apakah lebih menguntungkan barang-barang
        tertentu dipasok dari luar negeri atau cukup menghandalkan produk
        lokal semata.
Langkah Untuk Memperoleh Hak
     Perjanjian waralaba tersbur adalah salah satu aspek perlindungan hukum
     dari pihak lain yang merugikan. Jika salah satu pihak melakukan
     pelanggran maka pihak lainnya dapat menuntut pihak tersebut dengan
     hukum yang berlaku. Pejanjia Waralaba (franchise Agreement) berisi
     kumpulan persyaratam, ketentuan dan komitmen yang telah ditentukan
     oleh franchisor kepad para franchisee-nya. Hal-hal yang diatur oleh hukum
     dan perundang-undangan merupakan das sollen yang harus ditaati oleh
     para pihak dalam perjanjian waralaba. Jika para pelaku usaha mematuhi
     peraturan yang berlaku maka tidak akan terjadi masalah. Dalam perjanjian
     waralaba tercantum ketentuan berkaitan dengan hak dn kewajiaban antara
     franchisor dengan franchisee, misalnya hak territorial yang dimiliki
     franchisee, persyartan lokasi, ketentuan pelatihan, biaya-biaya yang harus
     dibayarkan oleh franchisee kepada franchisor, ketentuan dengan lama dan
     perpanjangannya perjanjian waralaba dan ketentuan lain yang mengatur
     hubungan antara franchisee dengan franchisor.
     Sebagaimana perjanjian pada umumnya ada kemungkinan terjadi
     wanprestasi dalam pelaksanaan waralaba. Wanprestasi dapat terjadi bila
     salah satu pihak melanggar atau tidak melaksanakan kewajiban yang sudah
     tertera dalam perjanjian. Jika karena adanya wanprestasi tersebut maka
     pihak yang dirugikan bias meminta ganti rugi kepada pihak yang
     merugikan.




                                                                            10
BAB III
                                  PENUTUP




3.1 Kesimpulan
            Bisnis secara franchising salah satu usaha yang diminati para
   pengusaha di Indonesia Karena pasar yang sudah tersedia dan beberapa
   keuntungan yang diperoleh dari bentuk franchise seperti operasional dan
   manajerialnya. Jika franchise makanan pastinya memiliki ciri khusus dari
   produknya sehingga dapat bertahan dari ancaman pasar. Budaya modern pun
   menjadi factor kesuksesan bisnis franchise makanan. Karena kelas social
   tidak menjadi penghambat bisnis francise mkanan karena bisnis francishe
   sudah membagi segmen pasarnya, antara menengah atas dan menengah
   bawah.
            Namun ada yang jadi penghambat misalnya manajerial yang rendah,
   lalai ataupun kurang komitmen. Meskipun franchisor memberikan bantuan
   pengelolaan atau bias disebut konsultan, sedangkan franchisee adalah
   pelaksana yang di tuntut untuk kerja keras.


3.2 Saran
   Demikian makalah ini saya buat, sebagai hasil tugas yang telah saya kerjakan.
   Mohon maaf bila masih banyak kekurangan dalam pengerjaan tugas ini.




                                                                             11
KATA PENGANTAR


     Pertama-tama saya ucapkan Puji syukur atas kehadirat Allah SWT. Yang
telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan
tugas makalah pengantar bisnis dengan tema “Bisnis Secara Franchising”.
     Dalam menyelesaikan tugas ini saya cukup mendapatkan kesulitan, tetapi
berkat bimbingan, pengarahan serta bantuan dari berbagai pihak, akhirnya tugas
ini dapat terselesaikan dengan baik dan selesai pada waktu yang telah di
tentukan. Tidak lupa saya ucapkan terimakasih kepada DOSEN. selaku pengajar
dan pembimbing saya dalam mata kuliah Pengantar Bisnis.
     Saya sebagai penulis makalah ini menyadari masih banyak kekurangan
dalam penulisan makalah ini. oleh karena itu saya menerima kritik dan saran guna
menyempurnakan tulisan selanjutnya.
     Harapan saya sebagai penulis, kiranya tulisan ini dapat berguna dan
bermanfaat bagi saya, dan semua yang membaca.



                                                          Pariaman, 11 Februari



                                                                 Penulis




                                                                             12
DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR ..........................................................................                   i

DAFTAR ISI .........................................................................................        ii


BAB I PENDAHULUAN


          1.1 latar belakang


BAB II ISI


          2.1 Definisi Franchise .................................................................          2

          2.2 Membeli Franchise ................................................................            5


          2.3 Biaya franchise meliputi .......................................................              6


          2.4 Dasar Hukum Franchise .......................................................                 8


BAB III PENUTUP

          3.1 Kesimpulan ...........................................................................        11

          3.2 Saran .....................................................................................   11

DAFTAR PUSTAKA




                                                                                                                 13

Makalah pangsit ucy

  • 1.
    BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Waralaba (Franchise) adalah hak-hak untuk menjual suatu produk atau jasa maupun layanan. Sedangkan menurut pemerintah Indonesia, waralaba adalah perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak memanfaatkan atau menggunakan hak dari kekayaan intelektual (HAKI). Franchising/waralaba pada dasarnya adalah suatu konsep pemasaran yang melaju sangat cepat namun tidak mudah untuk mencapai suatu keberhasilan dari bisnis franchising itu sendiri. System bisnis waralaba memiliki banyak kelebihan misalnya pada pendanaan, sumber daya manusia (SDM), manajemen dan tingkat kesulitan dalam pemasarannya., kecuali jika pemilik usaha tersebut mau berbagi dengan pihak lain. Bisnis waralaba cukup dikenal dengan jalur distribusinya yang efektif untuk mendekatkan produknya kepada para konsumen melalui tangan-tangan para pebisni. Hal menarik dari Bisnis Franchise yang semakin maju adalah banyaknya usaha yang di tawarkan kepada para konsumen dengan berbagai jenis prduk barang dan jasa. Misalnya makanan modern/fastfood yang pemasarannya dilakukandi pusat-pusat pertokoan atau di pingir-pinggir jalan perkotaan yang sangat mudah di jangkau oleh masyarakat. Contoh bisnis waralaba pastinya sangat mudah ditemukan dan seringkali kita jumpai seperti Mc. Donal, Pizza Hut, Pizza Hut dan lain lain. Sejarah Franchise Franchise Indonesia dimulai dengan hadirnya brand franchise Asing speperi KFC, Mc. Donald, Dunkin Donuts dan brand lainnya. Dan kemudian terjadilah proses perbandingan (benchmarking). Lalu timbulah franchise lokal dan tumbuh sampai saat ini dan mengalami kejayaan. Pertumbuhan franchise di Indonesia yang ternyata mempunyai sejarah yang cukup panjang dan berliku. Berawal dari sebuah pemikiran bahwa franchise sukses dapat memacu perekonomian di Negara maju seperti Amerika dan di Negara maju lainnya. Franchise juga dapat memberikan lapangan pekerjaan 1
  • 2.
    untuk para tenagakerja. Maka dimulailah sebuah usaha untuk mendata usaha franchise yang ada di Indonesia usaha franchise yang ada di Indonesiayang menggandeng International Labour Organization (ILO). Untuk proses di lapangannya sendiri berupa pelaksanaan pengumpulan dan pengelolaan data-data dilaksanakan oleh LPPM (Lembaga Pengembangan dan Pendidikan Managemen dengan melakukan“BaselineStudy.” Sementara dari ILO sendiri mendatangkan seorang pakar franchise dari Amerika Mr. Martin Mendelsohn, untuk mempelajari, menganalisa situasi dan kondisi untuk merekomendasikan jalan/cara yang akan ditempuh. “Saya pertama kali datang ke Indonesia sekitar tahun 1999 atas permintaan dari ILO untuk memberikan saran kepada pemerintah tentang bagaimana mendorong pertumbuhan franchising dan membantu membentuk sebuah asosiasi franchise,” ujar orang yang sudah dua kali berkunjung ke Indonesia ini. Semenjak kedatangannya ke Indonesia, telah melibatkan banyak usaha local dalam pertemuan-pertemuan koordinasi maupun dalam diskusi bilateral untuk selalu melibatkan pihak swasta di Indonesia. 2
  • 3.
    BAB II ISI 2.1 Definisi Franchise Franchise Indonesia merupakan wadah bagi para pengusaha franchise. franchise berarti kerja sama dalam bidang usaha dengan bagi hasil sesuai dengan kesepakatan, hak kelola dan hak pemasaran. Adapun para pelaku dalam bisnis ini disebut pewaralaba (franchisor) orang yang memberi waralaba, orang yg memiliki waralaba, dan terwaralaba (Franchisee) sudah menerima waralaba atau diberi waralaba. Franchising adalah sebuah cara dalam mendistribusikan produk barang atau jasa yang di lakukan sedikitnya 2 pihak yang terlibat. Pihak yang pertama adalah orang yang meminjamkan system bisnis atau nama barang dagangnya, sedangkan pihak yang kedua yaitu orang yang membayar initial fee dan royalti fee yaitu sebagai kompensasi dari penggunaan nama dan system bisnis yang dimiliki franchisor. Menurut British Franchise Association, Franchise sebagai garansi lisensi kontraktual oleh suatu orang (franchisor) ke pihak lain (franchisee) dengan: 1. Mengijinkan atau meminta franchisee menjajakan usaha dalam periode tertentu pada bisnis yang menggunakan merek yang dimilki oleh franchisor. 2. Mengharuskan franchisor untuk melatih control secara kontinu selama periode perjanjian. 3. Mengharuskan franchisor untuk menyediakan asistensi terhadap franchisee pada subjek bisnis yang dijalankan di dalam hubungan terhadap staf, merchandising, manajemen atau yang lainnya 4. Meminta kepada franchise untuk membayarkan sejumlah fee franchisee atau royalty untuk produk atau service yang disediakan oleh franchisor kepada franchisee. Menurut PP No.16/1997 franchise diartikan sebagai perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas 3
  • 4.
    kekayaan intelektual ataupenemuan atau ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan pihak lain tersebut, dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang dan atau jasa. Definisi inilah yang berlaku baku secara yuridis formal di Indonesia. Latar Belakang Pada Franchising Pemilik usaha disebut franchisor atau seller, sedangkan pembeli disebut franchisee. Isi perjanjian adalah franchisor akan memberikan bantuan dalam memproduksi, operasional, manajemen dan kadangkala sampai masalah keuangan kepada franchisee. Akan tetapi berapa bantuan berbeda tergantung pada kebijakan dari pemilik franchise. Contohnya beberapa franchisor membrikan bantuan kepada franchisee mulai dari awal usaha untuk memilih lokasi, mendesain took, peralatan, cara memproduksi, standarisasi bahan, recruiting dan training pegawai, hingga negosiasi dengan pemberi modal.namun ada juga franchisor yang menanggung semuanya mulai dari menyusun strategi pemasaran hingga memberikan modal kepada franchisee. Sebaliknya seorang franchisee akan terikat dengan peraturan yang berhubungan dengan mutu produk/jasa yang akan dijualnya dan franchisee memiliki kewajiban untuk membayar royalty seara rutin. Beberapa keuntungan bagi Franchisor (perusahaan induk) : 1) Produk atau jasa terdistribusi secara luas tanpa memerlukan biaya promosi dan biaya investasi cabang baru. 2) Produk atau jasa dikonsumsi dengan mutu yang sama. 3) Keuntungan dari royalti atau penjual lisensi. 4) Bisnisnya bisa berkembang dengan cepat di banyak lokasi secara bersamaan, meningkatnya keuntungan dengan memanfaatkan investasi dari franchisee. Bagi Franchisee (pemilik hak-jual) : 1) Popularitas produk atau jasa sudah dikenal konsumen, menghemat biaya promosi. 2) Mendapatkan fasilitas-fasilitas manajemen tertentu sesuai dengan training yang dilakukan oleh franchiser. 4
  • 5.
    3) Mendapatkan imagesama dengan perusahaan induk. Kerugian bagi franchisee (pemilik hak-jual) : 1) Biaya startup cost yang tinggi, karena selain kebutuhan investasi awal, franchisee harus membayar pembelian franchise yang biasanya cukup mahal. 2) Franchisee tidak bebas mengembangkan usahanya karena berbagai peraturan yang diberikan oleh franchisor. 3) Franchisee biasanya terikat pada pembelian bahan untuk produksi untuk standarisasi produk /jasa yang dijual. 4) Franchisee harus jeli dan tidak terjebak pada isi perjanjian dengan franchisor, karena bagaimanapun biasanya perjanjian akan berpihak kepada prinsipal / franchisor dengan perbandingan 60:40. Penghasilan yang dicapai terus mengalir ke franchisor dari royalty dan penjualan yang lebih penting adalah sumber pendapatan biaya awal untuk menjual waralaba. Dengan demikian kerjasama antara franchisor dan franchisee mencapai sukses dengan membantu satu sama lain. 2.2 Membeli Franchise Franchise dapat dibagi dalam dua kelompok besar yaitu Franchise Asing dan Franchise Lokal. Franchise asing adalah franchisornya berasal dari luar negeri cenderung lebih disukai karena sistemnya lebih jelas, merek sudah diterima diberbagai dunia, dan dirasakan lebih bergengsi. Pengusaha yang baik adalah pengusaha yang siap untuk sukses, dan apakah dia fokus dengan bisnis yang dijalakannya mulaidari membeli franchise atau membeli bisnis yang ada. Masalah-masalah dalam membeli franchise dapat dilihat sebagai masalah umum atau masalah-masalah khusus untuk itu franchisor : 1) Evaluate Dalam memilih satu atau beberapa industri yang akan dibeli franchise- nya, franchisee harus hati-hati dalam mengevaluasi minat dan kemampuan agar dapat menemukan industri yang tepat sehingga bisnis pun dapat berjalan lancar. 5
  • 6.
    2) Determine Ketika akan menentukan industri mana yang akan dimasuki, setiap calon franchisee harus meneliti industri tersebut, potensi kompetitor dalam industri tersebut, dsb sebelum franchisee baru memasuki industri tersebut. 3) Excellence Hati-hati memeriksa kekuatan kompetitif waralaba di berbagai industri. Misalnya, apakah mereka memiliki keunggulan kompetitif yang berkelanjutan di pasar? 4) Identification Mengidentifikasi sebuah franchisor yang sesuai dengan potensi yang terbaik dalam hal dukungan, sejarah, rencana ekspansi, dll 5) Discuss Franchisees menghubungi franchisor untuk mendiskusikan pengalaman serta membandingkanfranchisorlainkesempatan. 2.3 Biaya franchise meliputi Ongkos awal, dimulai dari Rp. 10 juta hingga Rp. 1 miliar. Biaya ini meliputi pengeluaran yang dikeluarkan oleh pemilik waralaba untuk membuat tempat usaha sesuai dengan spesifikasi franchisor dan ongkos penggunaan HAKI. Ongkos royalti, dibayarkan pemegang waralaba setiap bulan dari laba operasional. Besarnya ongkos royalti berkisar dari 5-15 persen dari penghasilan kotor. Ongkos royalti yang layak adalah 10 persen. Lebih dari 10 persen biasanya adalah biaya yang dikeluarkan untuk pemasaran yang perlu dipertanggungjawabkan. Franchise saat ini memang sedang popular dan menjanjikan kenuntungan, tetapi ada pula franchisee yang terpaksa menutup usahanya. Artinya jika ingin menjadi franchisee kita harus pertimbangkan matang-matang untuk memilih franchisor , terutama isi perjanjian yang terikat 6
  • 7.
    Franchise Fee (BiayaPembelian Hak Waralaba) : Franchise Fee adalah biaya pembelian hak waralaba yang dikeluarkan oleh pembeli waralaba (franchisee) setelah dinyatakan memenuhi persyaratan sebagai franchisee sesuai kriteria franchisor. Umumnya franchise fee dibayarkan hanya satu kali saja. Franchisee fee ini akan dikembalikan oleh franchisor kepada franchisee dalam bentuk fasilitas pelatihan awal, dan dukungan set up awal dari outlet pertama yang akan dibuka oleh franchisee. Hak Cipta (Copyright) : Hak cipta adalah hak eklusif sesesorang untuk menggunakan dan memberikan lisensi kepada orang lain untuk menggunakan kepemilikan intelektual tersebut misalnya sistem kerja, buku, lagu, logo, merek, materi publikasi dan sebagainya. Initial Investment : Initial investment adalah modal awal yang harus disetorkan dan dimiliki oleh franchisee pada saat memulai usaha waralabanya. Initial investment terdiri atas franchise fee, investasi untuk fixed asset dan modal kerja untuk menutup operasi selama bulan-bulan awal usaha waralabanya. Perjanjian Waralaba (Franchise Agreement) : Perjanjian waralaba merupakan kumpulan persyaratan, ketentuan dan komitment yang dibuat dan dikehendaki oleh franchisor bagi para franchisee-nya. Didalam perjanjian waralaba tercantum ketentuan berkaitan dengan hak dan kewajiban franchisee dan franchisor, misalnya hak teritorial yang dimiliki franchisee, persyaratan lokasi, ketentuan pelatihan, biaya-biaya yang harus dibayarkan oleh franchisee kepada franchisor, ketentuan berkaitan dengan lama perjanjian waralaba dan perpanjangannya dan ketetentuan lain yang mengatur hubungan antara franchisee dengan franchisor. Outlet Milik Franchisor (Company Owned Outlet, Pilot Store) : Franchisor yang terpercaya adalah franchisor yang telah terbukti sukses dan mengoperasikan outlet milik mereka sendiri yang dinamakan Company Owned Outlet atau Pilot Store. Jangan pernah membeli hak waralaba dari franchisor yang tidak memiliki outlet yang sejenis dengan outlet yang dipasarkan hak waralabnya. 7
  • 8.
    Advertising Fee (BiayaPeriklanan) : Advertising Fee (Biaya Periklanan) nerupakan biaya yang dibayarkan oleh penerima waralaba (franchisee) kepada pemberi waralaba (franchisor) untuk membiayai pos pengeluaran/belanja iklan dari franchisor yang disebarluaskan secara nasional/international. Besarnya advertising fee maksimum 3% dari penjualan. Tidak semua franchisor mengenakan advertising fee kepada franchiseenya. Alasan dari adanya advertising fee adalah kenyataan bahwa tujuan dari jaringan waralaba adalah membentuk satu skala ekonomi yang demikian besar sehingga biaya-biaya per outletnya menjadi sedemikian effisiennya untuk bersaing dengan usaha sejenis. Mengingat advertising fee merupakan pos pengeluaran yang dirasakan manfaatnya oleh semua jaringan, maka setiap anggota jaringan (franchisee) diminta untuk memberikan kontribusi dalam bentuk advertising fee. 2.4 Dasar Hukum Franchise : 1) Perjanjian sebagai dasar hukum KUH Perdata pasal 1338 (1), 1233 s/d 1456 KUH Perdata; para pihak bebas melakukan apapun sepanjang tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku, kebiasan, kesopanan atau hal- hal lain yang berhubungan dengan ketertiban umum, juga tentang syarat- syarat sahnya perjanjian dsb. 2) Hukum keagenan sebagai dasar hukum; KUH Dagang (Makelar & Komisioner), ketentuan-ketentuan yang bersifat administrative seperti berbagai ketentuan dari Departemen Perindustrian, Perdagangan dsb. Seringkali ditentukan dengan tegas dalam kontrak franchise bahwa di antara pihak franchisor dengan franchisee tidak ada suatu hubungan keagenan. 3) Undang-undang Merek, Paten dan Hak Cipta sebagai dasar hukum; berhubung ikut terlibatnya merek dagang dan logo milik pihak franchisor dalam suatu bisnis franchise, apalagi dimungkinkan adanya suatu penemuan baru oleh pihak franchisor, penemuan dimana dapat dipatenkan. UU No.19 (1992) Merek, UU No 6 (1982) Paten, UU No.7 (1987) Hak Cipta. 8
  • 9.
    4) UU PenanamanModal Asing sebagai dasar hukum; Apabila pihak franchisor akan membuka outlet di suatu Negara yang bukan negaranya pihak franchisor tersebut maka sebaiknya dikonsultasi dahulu kepada ahli hukum penanaman modal asing tentang berbagai kemungkinana dan alternative yang mungkin diambil dan yang paling menguntungkannya. Franchise justru dipilih untuk mengelak dari larangan-larangan tertentu bagi suatu perusahaan asing ketika hendak beroperasi lewat direct investment. 5) Peraturan lain-lain sebagai dasar hukum: Ketentuan hukum administratif, seperti mengenai perizinan usaha, pendirian perseroan terbatas, dll peraturan administrasi yang umumnya dikeluarkanoleh Departemen Perdagangan. Kepmen Perdagangan No. 376/Kp/XI/1983 tentang kegiatan perdagangan. Ketentuan Ketenagakerjaan. Hukum Perusahaan (UU PT No 1 (1995)). Hukum pajak adalah pajak ganda, pajak penghasilan, pajak pertambahan nilai, pajak withholding atas royalty dan pajak penghasilan atas tenaga kerja asing. Hukum persaingan, Hukum industri bidang tertentu misalnya aturan tentang standar mutu, kebersihan dan aturan lain lain yang bertujuan melindungi konsumen, atau bahkan UU pangan sendiri. Hukum tentang kepemilikan hak guna bangunan, hak milik, dll. Hukum tentang pertukaran mata uang RI menganut rezim devisa bebas, maka tidak ada larangan maupun batasan terhadap keluar masuknya valuta asing dari/ke Indonesia. Hukum tentang rencana tata ruang; apakah wilayah tersebut memungkinkan dibukannya sebuah franchise, kualitas bahan untuk gedung tersebut memenuhi syarat, dll. Hukum tentang pengawasan ekspor/ impor misalnya dalam hal pengambilan keputusan apakah barang barang tertentu mesti dibawa 9
  • 10.
    dari Negara pihakfranchisor atau cukup diambil saja dari Negara pihak franchisee. Hukum tentang bea cukai apakah lebih menguntungkan barang-barang tertentu dipasok dari luar negeri atau cukup menghandalkan produk lokal semata. Langkah Untuk Memperoleh Hak Perjanjian waralaba tersbur adalah salah satu aspek perlindungan hukum dari pihak lain yang merugikan. Jika salah satu pihak melakukan pelanggran maka pihak lainnya dapat menuntut pihak tersebut dengan hukum yang berlaku. Pejanjia Waralaba (franchise Agreement) berisi kumpulan persyaratam, ketentuan dan komitmen yang telah ditentukan oleh franchisor kepad para franchisee-nya. Hal-hal yang diatur oleh hukum dan perundang-undangan merupakan das sollen yang harus ditaati oleh para pihak dalam perjanjian waralaba. Jika para pelaku usaha mematuhi peraturan yang berlaku maka tidak akan terjadi masalah. Dalam perjanjian waralaba tercantum ketentuan berkaitan dengan hak dn kewajiaban antara franchisor dengan franchisee, misalnya hak territorial yang dimiliki franchisee, persyartan lokasi, ketentuan pelatihan, biaya-biaya yang harus dibayarkan oleh franchisee kepada franchisor, ketentuan dengan lama dan perpanjangannya perjanjian waralaba dan ketentuan lain yang mengatur hubungan antara franchisee dengan franchisor. Sebagaimana perjanjian pada umumnya ada kemungkinan terjadi wanprestasi dalam pelaksanaan waralaba. Wanprestasi dapat terjadi bila salah satu pihak melanggar atau tidak melaksanakan kewajiban yang sudah tertera dalam perjanjian. Jika karena adanya wanprestasi tersebut maka pihak yang dirugikan bias meminta ganti rugi kepada pihak yang merugikan. 10
  • 11.
    BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Bisnis secara franchising salah satu usaha yang diminati para pengusaha di Indonesia Karena pasar yang sudah tersedia dan beberapa keuntungan yang diperoleh dari bentuk franchise seperti operasional dan manajerialnya. Jika franchise makanan pastinya memiliki ciri khusus dari produknya sehingga dapat bertahan dari ancaman pasar. Budaya modern pun menjadi factor kesuksesan bisnis franchise makanan. Karena kelas social tidak menjadi penghambat bisnis francise mkanan karena bisnis francishe sudah membagi segmen pasarnya, antara menengah atas dan menengah bawah. Namun ada yang jadi penghambat misalnya manajerial yang rendah, lalai ataupun kurang komitmen. Meskipun franchisor memberikan bantuan pengelolaan atau bias disebut konsultan, sedangkan franchisee adalah pelaksana yang di tuntut untuk kerja keras. 3.2 Saran Demikian makalah ini saya buat, sebagai hasil tugas yang telah saya kerjakan. Mohon maaf bila masih banyak kekurangan dalam pengerjaan tugas ini. 11
  • 12.
    KATA PENGANTAR Pertama-tama saya ucapkan Puji syukur atas kehadirat Allah SWT. Yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah pengantar bisnis dengan tema “Bisnis Secara Franchising”. Dalam menyelesaikan tugas ini saya cukup mendapatkan kesulitan, tetapi berkat bimbingan, pengarahan serta bantuan dari berbagai pihak, akhirnya tugas ini dapat terselesaikan dengan baik dan selesai pada waktu yang telah di tentukan. Tidak lupa saya ucapkan terimakasih kepada DOSEN. selaku pengajar dan pembimbing saya dalam mata kuliah Pengantar Bisnis. Saya sebagai penulis makalah ini menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini. oleh karena itu saya menerima kritik dan saran guna menyempurnakan tulisan selanjutnya. Harapan saya sebagai penulis, kiranya tulisan ini dapat berguna dan bermanfaat bagi saya, dan semua yang membaca. Pariaman, 11 Februari Penulis 12
  • 13.
    DAFTAR ISI KATA PENGANTAR.......................................................................... i DAFTAR ISI ......................................................................................... ii BAB I PENDAHULUAN 1.1 latar belakang BAB II ISI 2.1 Definisi Franchise ................................................................. 2 2.2 Membeli Franchise ................................................................ 5 2.3 Biaya franchise meliputi ....................................................... 6 2.4 Dasar Hukum Franchise ....................................................... 8 BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan ........................................................................... 11 3.2 Saran ..................................................................................... 11 DAFTAR PUSTAKA 13