1
MAKALAH AUDIT
” Fraud Auditing ”
Di susun oleh :
DEWI MASITA C 301 11 112
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
Memenuhi Tugas Pada Mata Kuliah Semester V
Auditing 2 Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
Tahun 2013
2
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang
senantiasa memberikan rahmat dan karunianya, sehingga penulis dengan segenap
kemampuan dan kesanggupan dapat menyelesaikan makalah ini. Berbagai
hambatan dan tantangan yang ditemui dalam penyelesaian makalah ini, namun
dengan kesabaran, semangat, dan kerja keras penulis akhirnya kendala-kendala
tersebut dapat diatasi oleh penulis.
Makalah yang berjudul ” Fraud Auditing ” ini disusun untuk
memenuhi tugas Mata Kuliah auditing 2. Disamping itu, penulis juga
mengharapkan agar makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dalam
meningkatkan pengetahuan kita.
Sebagai manusia biasa yang tak pernah luput dari kesalahan, penulis
menyadari bahwa dalam penulisan paper ini masih banyak terdapat kekurangan
yang harus diperbaiki. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran
yang sifatnya membangun dari berbagai pihak demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, penulis mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada
semua pihak yang turut membantu dalam penyelesaian makalah ini, dengan
harapan semoga dapat memberikan manfaat kepada kita semua. Amin.....
Palu, 17 november 2013
Dewi masita
3
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR………………………………………………………...... 1
DAFTAR ISI………………………………………………………………….... 2
BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKAN……………………………………………...... 3
1.2 TUJUAN…………………………………………………………… 4
BAB II PEMBAHASAN
2.1 KONSEP DASAR…………………………………………………. 5
2.2 GEJALA DAN FAKTOR PENDORONG KECURANGAN…… 5
2.3 KATEGORI DAN PENDETEKSIAN KECURANGAN……….. 7
2.4 BIDANG YANG BERESIKO TINGGI TERKENA FRAUD…... 10
BAB III PENUTUP
3.1 KESIMPULAN…………………………………………………… 12
4
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Didalam suatu perusahan pasti terdapat bagian bagian perusahaan, bagian
bagian ini dibeddakan dengan devisi.Semakin banyaknya devisi didalam
perusahaan,maka semakin besar prosentasi terdapat kecurangan,baik didalam
devisi itu sendiri atau dengan devisi lain bahkan antar perusahaan. Fraud auditing
atau audit kecurangan adalah upaya untuk mendeteksi dan mencegah kecurangan
dalam transaksi-transaksi komersial. Untuk dapat melakukan audit kecurangan
terhadap pembukuan dan transaksi komersial memerlukan gabungan dua
keterampilan, yaitu sebagai auditor yang terlatih dan kriminal investigator. Fraud
mencakup semua kejutan, trik, kelicikan dan penyamaran, serta setiap cara yang
tidak adil di mana ada pihak lainnya yang tertipu.
Fraud dalam laporan keuangan biasanya berbentuk salah saji atau kelalaian
yang disengaja baik dalam jumlah maupun pengungkapan pos-pos dalam
pelaporan keuangan untuk menyesatkan pemakai informasi laporan keuangan
tersebut. Fraud dapat terungkap, bila ada kerja sama antara beberapa pihak yang
terkait dengan entitas, seperti dewan direksi, pihak manajemen, akuntan publik
dan internal auditor. Kecurangan yang terjadi dalam laporan keuangan pada
umumnya disebabkan oleh lingkungan internal dan lingkungan eksternal.
Pengaruh lingkungan internal umumnya terkait antara lain dengan lemahnya
pengendalian internal, lemahnya perilaku etika manajemen atau factor likuiditas
serta profitabilitas entitas yang bersangkutan.Sedangkan pengaruh lingkungan
eksternal umumnya terkait antara lain dengan kondisi entitas secara umum,
lingkungan bisnis secara umum, maupun pertimbangan hokum dan perundang-
undangan.
5
1.2 TUJUAN
Adapun tujuan dari pembuatan Makalah ini adalah agar kita sebagai
mahasiswa dapat mengetahui kecurangan – kecurangan yang terjadi didalam
perusahaan, Serta dampak apa yang terjadi ketika kecurangan itu terus
menerus dilakukan oleh pihak - pihak yang tidak bertanggung jawab.
6
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 KONSEP DASAR
G.jack bologna, Robert J.Lindquist dan joseph T.Wellsmenmendefinisikan
kecurangan “Fraud is criminal deception intended to financially benefit the
deceiver ( 1993 ) ” yaitu kecurangan adalah penipuan kriminal yang bermaksud
untuk memberi manfaat keuangan kepada si penipu. Kriminal disini berarti setiap
tindakan kesalahan serius yang dilakukan dengan maksud jahat. Kecurangan
berarti bahwa suatu item tidak dimasukkan sehingga menyebabkan informasi
tidak benar, apabila suatu kesalahan adalah disengaja maka kesalahan tersebut
merupakan kecurangan.
Dari sudut pandang akuntansi dan audit, kecurangan adalah penggambaran
yang salah dari fakta material dalam buku besar atau laporan keuangan.
Pernyataan yang salah dapat ditujukan pada pihak dalam organisasi seperti
pemegang saham atau kreditor, atau pada organisasi itu sendiri dengan cara
menutupi atau menyamarkan penggelapan uang, ketidakcakapan, penerapan dana
yang salah atau pencurian atau penggunaan aktiva organisasi yang tidak tepat oleh
petugas, pegawai atau agen.
2.2 GEJALA DAN FAKTOR PENDORONG KECURANGAN
2.2.1 Gejala kecurangan
Pelaku kecurangan di atas dapat diklasifikasikan kedalam dua kelompok,
yaitu: manajemen dan karyawan. Kecurangan yang dilakukan oleh manajemen
umumnya lebih sulit ditemukan dibandingkan dengan yang dilakukan oleh
karyawan. Oleh karena itu, perlu diketahui gejala yang menunjukkan adanya
kecurangan tersebut.
a. Gejala kecurangan manajemen:
 Ketidakcocokan diantara manajemen puncak
 Moral dan motivasi karyawan rendah
7
 Departemen akuntansi kekurangan staf
 Tingkat komplain yang tinggi terhadap organisasi/perusahaan dari pihak
 Konsumen, pemasok, atau badan otoritas
 Kekurangan kas secara tidak teratur dan tidak terantisipasi
 Penjualan/laba menurun sementara itu utang dan piutang dagang
meningkat
 Perusahaan mengambil kredit sampai batas maksimal untuk jangka waktu
yang lama
 Terdapat kelebihan persediaan yang signifikan
 Terdapat peningkatan jumlah ayat jurnal penyesuaian pada akhir tahun
buku
b. Gejala kecurangan karyawan:
 Pembuatan ayat jurnal penyesuaian tanpa otorisasi manajemen dan tanpa
perincian/penjelasan pendukung
 Pengeluaran tanpa dokumen pendukung
 Pencatatan yang salah/tidak akurat pada buku jurnal/besar
 Penghancuran, penghilangan, pengrusakan dokumen pendukung
pembayaran
 Kekurangan barang yang diterima
 Kemahalan harga barang yang dibeli
 Faktur ganda dan penggantian mutu barang
2.2.2 Faktor Pendorong Kecurangan
Terdapat empat faktor pendorong seseorang untuk melakukan kecurangan,
yang disebut juga dengan teori GONE, yaitu:
a. Greed (keserakahan): Merupakan faktor yang berhubungan dengan individu
pelaku kecurangan (disebut juga faktor individual).
b. Opportunity (kesempatan): Merupakan faktor yang berhubungan dengan
organisasi sebagai korban perbuatan kecurangan (disebut juga faktor
generik/umum). Kesempatan untuk melakukan kecurangan tergantung pada
8
kedudukan pelaku terhadap objek kecurangan. Kesempatan untuk melakukan
kecurangan selalu ada pada setiap kedudukan. Namun, ada yang mempunyai
kesempatan besar dan ada yang kecil. Secara umum manajemen suatu
organisasi/perusahaan mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk
melakukan kecurangan daripada karyawan.
c. Need (kebutuhan): Merupakan faktor yang berhubungan dengan individu
pelaku kecurangan (disebut juga faktor individual).
d. Exposure (pengungkapan): Merupakan faktor yang berhubungan dengan
organisasi sebagai korban perbuatan kecurangan (disebut juga faktor
generik/umum). Pengungkapan suatu kecurangan belum menjamin tidak
terulangnya kecurangan tersebut baik oleh pelaku yang sama maupun oleh
pelaku yang lain. Oleh karena itu, setiap pelaku kecurangan seharusnya
dikenakan sanksi apabila perbuatannya terungkap.
2.3 KATEGORI DAN PENDETEKSIAN KECURANGAN
Langkah-langkah yang dapat dilakukan auditor dalam mendeteksi
fraud adalah sebagai berikut:
a. Bagaimana auditor dapat berkomunikasi dengan efektif sehingga pihak
klien lebih termotivasi untuk menyumbangkan informasi tentang fraud.
Dengan perkataan lain, diskusi ini merupakan langkah awal bagaimana auditor
mendapatkan informasi mengenai fraud.
b. Auditor menerapkan unsur unpredictability (tidak dapat ditebak) dalam
prosedur auditnya, misalnya mengacak sifat, jadwal dan sampel pengujiannya.
c. Auditor perlu mengasah sensivitasnya akan hal-hal yang sifatnya tidak
lazim yang boleh jadi merupakan indikasi akan terjadinya fraud. Misalnya
memeriksa manual journal entry, auditor melihat adanya angka yang secara
ganjil jumlahnya bulat; sewaktu dicek lebih lanjut ternyata benar bahwa
angka tersebut merupakan angka yang dimarkup dengan cara dibulatkan ke
atas.
9
d. Dalam menjalankan jasa profesionalnya, auditor perlu menerapkan praktik -
praktik manajemen risiko secara lebih baik. Sebagai contoh, auditor akan
melakukan penilaian, berdasarkan kriteria tertentu,atas hal-hal sebagai berikut:
 apakah auditor dapat menerima suatu entitas sebagai kliennya,
 apakah audito dapat melanjutkan hubungan professional dengan kliennya
dari satu periode ke periode berikutnya,
 apakah auditor dapat menerima suatu penugasan tertentu dari kliennya.
Dengan perkataan lain, bila auditor meragukan integritas dari manajemen
suatu entitas, atau berdasarkan pengalaman entitas tersebut rentan
terhadap fraud, maka auditor dapat memutuskan untuk secara professional
tidak menerima entitas tersebut sebagai kliennya.
Association of Certified Fraud Examinations (ACFE- 2000), salah satu
asosiasi di USA yang mendarmabaktikan kegiatannya dalam pencegahan dan
pemberantasan kecurangan, mengkategorikan kecurangan dalam tiga kelompok
sebagai berikut:
a. Kecurangan Laporan Keuangan (Financial Statement Fraud)
Kecurangan Laporan Keuangan dapat didefinisikan sebagai kecurangan
yang dilakukan oleh manajemen dalam bentuk salah saji material Laporan
Keuangan yang merugikan investor dan kreditor. Kecurangan ini dapat bersifat
financial atau kecurangan nonfinancial. Kecurangan dalam penyajian laporan
keuangan umumnya dapat dideteksi melalui analisis laporan keuangan sebagai
berikut :
 analisis vertikal, yaitu teknik yang digunakan untuk menganalisis hubungan
antara item-item dalam laporan laba rugi, neraca, atau Laporan arus kas
dengan menggambarkannya dalam persentase. Sebagai contoh, adanya
kenaikan persentase hutang niaga dengan total hutang dari rata-rata 28%
menjadi 52% dilain pihak adanya penurunan persentase biaya penjualan
dengan total penjualan dari 20% menjadi 17% mungkin dapat menjadi satu
dasar adanya pemeriksaan kecurangan.
10
 analisis horizontal, yaitu teknik untuk menganalisis persentasepersentase
perubahan item laporan keuangan selama beberapa periode laporan. Sebagai
contoh adanya kenaikan penjualan sebesar 80% sedangkan harga pokok
mengalami kenaikan 140%. Dengan asumsi tidak ada perubahan lainnya
dalam unsur-unsur penjualan dan pembelian, maka hal ini dapat menimbulkan
sangkaan adanya pembelian fiktif, penggelapan, atau transaksi illegal lainnya.
 analisis rasio, yaitu alat untuk mengukur hubungan antara nilai-nilai item
dalam laporan keuangan. Sebagai contoh adalah current ratio, adanya
penggelapan uang atau pencurian kas dapat menyebabkan turunnya
perhitungan rasio tersebut.
b. Penyalahgunaan aset (Asset Misappropriation)
Penyalahagunaan aset dapat digolongkan ke dalam ‘Kecurangan Kas’ dan
‘Kecurangan atas Persediaan dan Aset Lainnya’, serta pengeluaran-pengeluaran
biaya secara curang (fraudulent disbursement). Teknik untuk mendeteksi
kecurangan-kecurangan kategori ini sangat banyak variasinya. Namun,
pemahaman yang tepat atas pengendalian intern yang baik dalam pos-pos tersebut
akan sangat membantu dalam melaksanakan pendeteksian kecurangan. Dengan
demikian, terdapat banyak sekali teknik yang dapat dipergunakan untuk
mendeteksi setiap kasus penyalahgunaan aset. Masing-masing jenis kecurangan
dapat dideteksi melalui beberapa teknik yang berbeda. Misalnya, untuk
mendeteksi kecurangan dalam pembelian ada beberapa metode deteksi yang dapat
digunakan. Metode-metode tersebut akan sangat efektif bila digunakan secara
kombinasi gabungan, setiap metode deteksi akan menunjukkan gejala
penyimpangan yang dapat diinvestigasi lebih lanjut untuk menentukan ada
tidaknya kecurangan. Selain itu, metode-metode tersebut akan menunjukkan
kelemahan-kelemahan dalam pengendalian intern dan mengingatkan / memberi
peringatan pada auditor akan adanya potensi terjadinya kecurangan di masa
mendatang.
11
c. Korupsi (Corruption)
Korupsi dalam konteks pembahasan ini adalah korupsi menurut ACFE,
bukannya pengertian korupsi menurut UU Pemberantasan TPK di Indonesia.
Menurut ACFE, korupsi terbagi ke dalam pertentangan kepentingan (conflict of
interest), suap (bribery), pemberian illegal, dan pemerasan. Sebagian besar
kecurangan ini dapat dideteksi melalui keluhan dari rekan kerja yang jujur,
laporan dari rekan, atau pemasok yang tidakpuas dan menyampaikan komplain ke
perusahaan. Atas sangkaan terjadinya kecurangan ini kemudian dilakukan analisis
terhadap tersangka atau transaksinya.
2.4 6 BIDANG YANG BERESIKO TINGGI TERKENA FRAUD
Ada 6 bidang yang beresiko tinggi untuk terkena fraud / kecurangan , yaitu :
1. Purchasing and payroll Fraud dalam purchasing biasanya dilakukan dengan
cara :
a. Kickback atau suap diberikan kepada pihak yang mengurus pembelian
sebagai imbalan atas diberikannya kontrak kepada supplier.
b. Invoice palsu yang dibuat sendiri oleh pihak yang mengurus pembelian,
kemudian ditagihkan ke perusahaan dan dibayar.
c. Manipulasi data supplier misalnya nomor rekening pembayaran ke
supplier diubah ke rekening orang lain.
2. Sales and inventory Fraud dalam jenis ini misalnya:
a. Pencurian inventory baik yang sedang disimpan atau dalam pengiriman
b. Transaksi penjualan dengan sengaja tidak dicatat atau dikurangi
pencatatannya dan uang yang diterima atas penjualan tersebut masuk ke
kantong pribadi
c. Mengurangi atau menghapuskan jumlah utang konsumen atas barang yang
sudah dijual secara kredit
d. Mencatat transaksi penjualan palsu untuk mendapatkan komisi atau bonus
terkait dengan penjualan
e. Memberikan diskon berlebihan kepada konsumen
12
3. Cash and check.
Kas merupakan aset yang paling sensitif terhadap fraud karena kas
kelihatan secara fisik dan relatif lebih mudah dipindah tangankan dibandingkan
aset perusahaan yang lain. Fraud atas cek biasanya terjadi ketika terdapat
kelemahan dalam proses rekonsiliasi bank.
4. Physical security.
Kelemahan dalam physical security dapat menimbulkan asset misa
propriation.
5. Hak kekayaan intelektual (HAKI) dan kerahasiaan informasi.
Ini terkait dengan fraud dalam pembajakan dan pencurian informasi
penting milik perusahaan.
6. Information Technology.
IT fraud meliputi hacking, mail-bombing, spamming, domain name
hijacking, server takeovers, denial of service, internet money laundering,
electronic eavesdropping, electronic vandalism and terrorrism.
13
BAB 3
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Pendeteksian kecurangan bukan merupakan tugas yang mudah
dilaksanakan oleh auditor. Terjadinya kecurangan atau fraudsebenarnya berbeda
dengan kekeliruan. Fraud merupakan problem yang serius, maka akuntan public
harus mengambil langkah-langkah komprehensif dalam pencegahan dan
pendeteksian kecurangan tersebut. Pemahaman tentang fraud sangat penting,
agarlebih dini biasa dilakukan pencegahan. Langkah awal dalam mendeteksi fraud
adalah berasal dari informasi atau petunjuk dari berbagai pihak seperti karyawan,
rekanan dan konsumen. Selain itu, mendeteksi fraud atau kecurangan tentunya
dengan adanya pengendalian internal yang diimplementasikan dalam organisasi
(entitas), namun semua pihak bertanggung jawab dalam mendeteksi adanya
fraud dalam entitas tersebut, apakah dia seorang dewan komisaris, internal
auditor, eksternal auditor, pihak manajemen dan karyawan sekalipun.
Tanggung jawab profesi akuntan umumnya dan akuntan publik
khususnya sebagai the last regiments standingdi dalam menciptakan iklim bisnis
yang kondusif di Indonesia yang menganut pilar-pilar good corporate governance
seperti kejujuran, transparansi dan tanggung jawab serta adanya akuntabilitas
akan semakin berat. Selain itu, dalam profesi akuntan publik, sikap mental
yang jujur, independen dan skeptik secara professional lebih ditekankan di
dalam kode etik profesi akuntan public. Akuntan public bertanggung jawab untuk
merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan yang
memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari salah saji yang material,
baik yang disebabkan oleh kekeliruan maupun kecurangan.

Makalah fraud auditing

  • 1.
    1 MAKALAH AUDIT ” FraudAuditing ” Di susun oleh : DEWI MASITA C 301 11 112 Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memenuhi Tugas Pada Mata Kuliah Semester V Auditing 2 Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi UNIVERSITAS TADULAKO PALU Tahun 2013
  • 2.
    2 KATA PENGANTAR Puji syukurkami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa memberikan rahmat dan karunianya, sehingga penulis dengan segenap kemampuan dan kesanggupan dapat menyelesaikan makalah ini. Berbagai hambatan dan tantangan yang ditemui dalam penyelesaian makalah ini, namun dengan kesabaran, semangat, dan kerja keras penulis akhirnya kendala-kendala tersebut dapat diatasi oleh penulis. Makalah yang berjudul ” Fraud Auditing ” ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah auditing 2. Disamping itu, penulis juga mengharapkan agar makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dalam meningkatkan pengetahuan kita. Sebagai manusia biasa yang tak pernah luput dari kesalahan, penulis menyadari bahwa dalam penulisan paper ini masih banyak terdapat kekurangan yang harus diperbaiki. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari berbagai pihak demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, penulis mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada semua pihak yang turut membantu dalam penyelesaian makalah ini, dengan harapan semoga dapat memberikan manfaat kepada kita semua. Amin..... Palu, 17 november 2013 Dewi masita
  • 3.
    3 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR………………………………………………………......1 DAFTAR ISI………………………………………………………………….... 2 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKAN……………………………………………...... 3 1.2 TUJUAN…………………………………………………………… 4 BAB II PEMBAHASAN 2.1 KONSEP DASAR…………………………………………………. 5 2.2 GEJALA DAN FAKTOR PENDORONG KECURANGAN…… 5 2.3 KATEGORI DAN PENDETEKSIAN KECURANGAN……….. 7 2.4 BIDANG YANG BERESIKO TINGGI TERKENA FRAUD…... 10 BAB III PENUTUP 3.1 KESIMPULAN…………………………………………………… 12
  • 4.
    4 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATARBELAKANG Didalam suatu perusahan pasti terdapat bagian bagian perusahaan, bagian bagian ini dibeddakan dengan devisi.Semakin banyaknya devisi didalam perusahaan,maka semakin besar prosentasi terdapat kecurangan,baik didalam devisi itu sendiri atau dengan devisi lain bahkan antar perusahaan. Fraud auditing atau audit kecurangan adalah upaya untuk mendeteksi dan mencegah kecurangan dalam transaksi-transaksi komersial. Untuk dapat melakukan audit kecurangan terhadap pembukuan dan transaksi komersial memerlukan gabungan dua keterampilan, yaitu sebagai auditor yang terlatih dan kriminal investigator. Fraud mencakup semua kejutan, trik, kelicikan dan penyamaran, serta setiap cara yang tidak adil di mana ada pihak lainnya yang tertipu. Fraud dalam laporan keuangan biasanya berbentuk salah saji atau kelalaian yang disengaja baik dalam jumlah maupun pengungkapan pos-pos dalam pelaporan keuangan untuk menyesatkan pemakai informasi laporan keuangan tersebut. Fraud dapat terungkap, bila ada kerja sama antara beberapa pihak yang terkait dengan entitas, seperti dewan direksi, pihak manajemen, akuntan publik dan internal auditor. Kecurangan yang terjadi dalam laporan keuangan pada umumnya disebabkan oleh lingkungan internal dan lingkungan eksternal. Pengaruh lingkungan internal umumnya terkait antara lain dengan lemahnya pengendalian internal, lemahnya perilaku etika manajemen atau factor likuiditas serta profitabilitas entitas yang bersangkutan.Sedangkan pengaruh lingkungan eksternal umumnya terkait antara lain dengan kondisi entitas secara umum, lingkungan bisnis secara umum, maupun pertimbangan hokum dan perundang- undangan.
  • 5.
    5 1.2 TUJUAN Adapun tujuandari pembuatan Makalah ini adalah agar kita sebagai mahasiswa dapat mengetahui kecurangan – kecurangan yang terjadi didalam perusahaan, Serta dampak apa yang terjadi ketika kecurangan itu terus menerus dilakukan oleh pihak - pihak yang tidak bertanggung jawab.
  • 6.
    6 BAB 2 PEMBAHASAN 2.1 KONSEPDASAR G.jack bologna, Robert J.Lindquist dan joseph T.Wellsmenmendefinisikan kecurangan “Fraud is criminal deception intended to financially benefit the deceiver ( 1993 ) ” yaitu kecurangan adalah penipuan kriminal yang bermaksud untuk memberi manfaat keuangan kepada si penipu. Kriminal disini berarti setiap tindakan kesalahan serius yang dilakukan dengan maksud jahat. Kecurangan berarti bahwa suatu item tidak dimasukkan sehingga menyebabkan informasi tidak benar, apabila suatu kesalahan adalah disengaja maka kesalahan tersebut merupakan kecurangan. Dari sudut pandang akuntansi dan audit, kecurangan adalah penggambaran yang salah dari fakta material dalam buku besar atau laporan keuangan. Pernyataan yang salah dapat ditujukan pada pihak dalam organisasi seperti pemegang saham atau kreditor, atau pada organisasi itu sendiri dengan cara menutupi atau menyamarkan penggelapan uang, ketidakcakapan, penerapan dana yang salah atau pencurian atau penggunaan aktiva organisasi yang tidak tepat oleh petugas, pegawai atau agen. 2.2 GEJALA DAN FAKTOR PENDORONG KECURANGAN 2.2.1 Gejala kecurangan Pelaku kecurangan di atas dapat diklasifikasikan kedalam dua kelompok, yaitu: manajemen dan karyawan. Kecurangan yang dilakukan oleh manajemen umumnya lebih sulit ditemukan dibandingkan dengan yang dilakukan oleh karyawan. Oleh karena itu, perlu diketahui gejala yang menunjukkan adanya kecurangan tersebut. a. Gejala kecurangan manajemen:  Ketidakcocokan diantara manajemen puncak  Moral dan motivasi karyawan rendah
  • 7.
    7  Departemen akuntansikekurangan staf  Tingkat komplain yang tinggi terhadap organisasi/perusahaan dari pihak  Konsumen, pemasok, atau badan otoritas  Kekurangan kas secara tidak teratur dan tidak terantisipasi  Penjualan/laba menurun sementara itu utang dan piutang dagang meningkat  Perusahaan mengambil kredit sampai batas maksimal untuk jangka waktu yang lama  Terdapat kelebihan persediaan yang signifikan  Terdapat peningkatan jumlah ayat jurnal penyesuaian pada akhir tahun buku b. Gejala kecurangan karyawan:  Pembuatan ayat jurnal penyesuaian tanpa otorisasi manajemen dan tanpa perincian/penjelasan pendukung  Pengeluaran tanpa dokumen pendukung  Pencatatan yang salah/tidak akurat pada buku jurnal/besar  Penghancuran, penghilangan, pengrusakan dokumen pendukung pembayaran  Kekurangan barang yang diterima  Kemahalan harga barang yang dibeli  Faktur ganda dan penggantian mutu barang 2.2.2 Faktor Pendorong Kecurangan Terdapat empat faktor pendorong seseorang untuk melakukan kecurangan, yang disebut juga dengan teori GONE, yaitu: a. Greed (keserakahan): Merupakan faktor yang berhubungan dengan individu pelaku kecurangan (disebut juga faktor individual). b. Opportunity (kesempatan): Merupakan faktor yang berhubungan dengan organisasi sebagai korban perbuatan kecurangan (disebut juga faktor generik/umum). Kesempatan untuk melakukan kecurangan tergantung pada
  • 8.
    8 kedudukan pelaku terhadapobjek kecurangan. Kesempatan untuk melakukan kecurangan selalu ada pada setiap kedudukan. Namun, ada yang mempunyai kesempatan besar dan ada yang kecil. Secara umum manajemen suatu organisasi/perusahaan mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk melakukan kecurangan daripada karyawan. c. Need (kebutuhan): Merupakan faktor yang berhubungan dengan individu pelaku kecurangan (disebut juga faktor individual). d. Exposure (pengungkapan): Merupakan faktor yang berhubungan dengan organisasi sebagai korban perbuatan kecurangan (disebut juga faktor generik/umum). Pengungkapan suatu kecurangan belum menjamin tidak terulangnya kecurangan tersebut baik oleh pelaku yang sama maupun oleh pelaku yang lain. Oleh karena itu, setiap pelaku kecurangan seharusnya dikenakan sanksi apabila perbuatannya terungkap. 2.3 KATEGORI DAN PENDETEKSIAN KECURANGAN Langkah-langkah yang dapat dilakukan auditor dalam mendeteksi fraud adalah sebagai berikut: a. Bagaimana auditor dapat berkomunikasi dengan efektif sehingga pihak klien lebih termotivasi untuk menyumbangkan informasi tentang fraud. Dengan perkataan lain, diskusi ini merupakan langkah awal bagaimana auditor mendapatkan informasi mengenai fraud. b. Auditor menerapkan unsur unpredictability (tidak dapat ditebak) dalam prosedur auditnya, misalnya mengacak sifat, jadwal dan sampel pengujiannya. c. Auditor perlu mengasah sensivitasnya akan hal-hal yang sifatnya tidak lazim yang boleh jadi merupakan indikasi akan terjadinya fraud. Misalnya memeriksa manual journal entry, auditor melihat adanya angka yang secara ganjil jumlahnya bulat; sewaktu dicek lebih lanjut ternyata benar bahwa angka tersebut merupakan angka yang dimarkup dengan cara dibulatkan ke atas.
  • 9.
    9 d. Dalam menjalankanjasa profesionalnya, auditor perlu menerapkan praktik - praktik manajemen risiko secara lebih baik. Sebagai contoh, auditor akan melakukan penilaian, berdasarkan kriteria tertentu,atas hal-hal sebagai berikut:  apakah auditor dapat menerima suatu entitas sebagai kliennya,  apakah audito dapat melanjutkan hubungan professional dengan kliennya dari satu periode ke periode berikutnya,  apakah auditor dapat menerima suatu penugasan tertentu dari kliennya. Dengan perkataan lain, bila auditor meragukan integritas dari manajemen suatu entitas, atau berdasarkan pengalaman entitas tersebut rentan terhadap fraud, maka auditor dapat memutuskan untuk secara professional tidak menerima entitas tersebut sebagai kliennya. Association of Certified Fraud Examinations (ACFE- 2000), salah satu asosiasi di USA yang mendarmabaktikan kegiatannya dalam pencegahan dan pemberantasan kecurangan, mengkategorikan kecurangan dalam tiga kelompok sebagai berikut: a. Kecurangan Laporan Keuangan (Financial Statement Fraud) Kecurangan Laporan Keuangan dapat didefinisikan sebagai kecurangan yang dilakukan oleh manajemen dalam bentuk salah saji material Laporan Keuangan yang merugikan investor dan kreditor. Kecurangan ini dapat bersifat financial atau kecurangan nonfinancial. Kecurangan dalam penyajian laporan keuangan umumnya dapat dideteksi melalui analisis laporan keuangan sebagai berikut :  analisis vertikal, yaitu teknik yang digunakan untuk menganalisis hubungan antara item-item dalam laporan laba rugi, neraca, atau Laporan arus kas dengan menggambarkannya dalam persentase. Sebagai contoh, adanya kenaikan persentase hutang niaga dengan total hutang dari rata-rata 28% menjadi 52% dilain pihak adanya penurunan persentase biaya penjualan dengan total penjualan dari 20% menjadi 17% mungkin dapat menjadi satu dasar adanya pemeriksaan kecurangan.
  • 10.
    10  analisis horizontal,yaitu teknik untuk menganalisis persentasepersentase perubahan item laporan keuangan selama beberapa periode laporan. Sebagai contoh adanya kenaikan penjualan sebesar 80% sedangkan harga pokok mengalami kenaikan 140%. Dengan asumsi tidak ada perubahan lainnya dalam unsur-unsur penjualan dan pembelian, maka hal ini dapat menimbulkan sangkaan adanya pembelian fiktif, penggelapan, atau transaksi illegal lainnya.  analisis rasio, yaitu alat untuk mengukur hubungan antara nilai-nilai item dalam laporan keuangan. Sebagai contoh adalah current ratio, adanya penggelapan uang atau pencurian kas dapat menyebabkan turunnya perhitungan rasio tersebut. b. Penyalahgunaan aset (Asset Misappropriation) Penyalahagunaan aset dapat digolongkan ke dalam ‘Kecurangan Kas’ dan ‘Kecurangan atas Persediaan dan Aset Lainnya’, serta pengeluaran-pengeluaran biaya secara curang (fraudulent disbursement). Teknik untuk mendeteksi kecurangan-kecurangan kategori ini sangat banyak variasinya. Namun, pemahaman yang tepat atas pengendalian intern yang baik dalam pos-pos tersebut akan sangat membantu dalam melaksanakan pendeteksian kecurangan. Dengan demikian, terdapat banyak sekali teknik yang dapat dipergunakan untuk mendeteksi setiap kasus penyalahgunaan aset. Masing-masing jenis kecurangan dapat dideteksi melalui beberapa teknik yang berbeda. Misalnya, untuk mendeteksi kecurangan dalam pembelian ada beberapa metode deteksi yang dapat digunakan. Metode-metode tersebut akan sangat efektif bila digunakan secara kombinasi gabungan, setiap metode deteksi akan menunjukkan gejala penyimpangan yang dapat diinvestigasi lebih lanjut untuk menentukan ada tidaknya kecurangan. Selain itu, metode-metode tersebut akan menunjukkan kelemahan-kelemahan dalam pengendalian intern dan mengingatkan / memberi peringatan pada auditor akan adanya potensi terjadinya kecurangan di masa mendatang.
  • 11.
    11 c. Korupsi (Corruption) Korupsidalam konteks pembahasan ini adalah korupsi menurut ACFE, bukannya pengertian korupsi menurut UU Pemberantasan TPK di Indonesia. Menurut ACFE, korupsi terbagi ke dalam pertentangan kepentingan (conflict of interest), suap (bribery), pemberian illegal, dan pemerasan. Sebagian besar kecurangan ini dapat dideteksi melalui keluhan dari rekan kerja yang jujur, laporan dari rekan, atau pemasok yang tidakpuas dan menyampaikan komplain ke perusahaan. Atas sangkaan terjadinya kecurangan ini kemudian dilakukan analisis terhadap tersangka atau transaksinya. 2.4 6 BIDANG YANG BERESIKO TINGGI TERKENA FRAUD Ada 6 bidang yang beresiko tinggi untuk terkena fraud / kecurangan , yaitu : 1. Purchasing and payroll Fraud dalam purchasing biasanya dilakukan dengan cara : a. Kickback atau suap diberikan kepada pihak yang mengurus pembelian sebagai imbalan atas diberikannya kontrak kepada supplier. b. Invoice palsu yang dibuat sendiri oleh pihak yang mengurus pembelian, kemudian ditagihkan ke perusahaan dan dibayar. c. Manipulasi data supplier misalnya nomor rekening pembayaran ke supplier diubah ke rekening orang lain. 2. Sales and inventory Fraud dalam jenis ini misalnya: a. Pencurian inventory baik yang sedang disimpan atau dalam pengiriman b. Transaksi penjualan dengan sengaja tidak dicatat atau dikurangi pencatatannya dan uang yang diterima atas penjualan tersebut masuk ke kantong pribadi c. Mengurangi atau menghapuskan jumlah utang konsumen atas barang yang sudah dijual secara kredit d. Mencatat transaksi penjualan palsu untuk mendapatkan komisi atau bonus terkait dengan penjualan e. Memberikan diskon berlebihan kepada konsumen
  • 12.
    12 3. Cash andcheck. Kas merupakan aset yang paling sensitif terhadap fraud karena kas kelihatan secara fisik dan relatif lebih mudah dipindah tangankan dibandingkan aset perusahaan yang lain. Fraud atas cek biasanya terjadi ketika terdapat kelemahan dalam proses rekonsiliasi bank. 4. Physical security. Kelemahan dalam physical security dapat menimbulkan asset misa propriation. 5. Hak kekayaan intelektual (HAKI) dan kerahasiaan informasi. Ini terkait dengan fraud dalam pembajakan dan pencurian informasi penting milik perusahaan. 6. Information Technology. IT fraud meliputi hacking, mail-bombing, spamming, domain name hijacking, server takeovers, denial of service, internet money laundering, electronic eavesdropping, electronic vandalism and terrorrism.
  • 13.
    13 BAB 3 PENUTUP 3.1 KESIMPULAN Pendeteksiankecurangan bukan merupakan tugas yang mudah dilaksanakan oleh auditor. Terjadinya kecurangan atau fraudsebenarnya berbeda dengan kekeliruan. Fraud merupakan problem yang serius, maka akuntan public harus mengambil langkah-langkah komprehensif dalam pencegahan dan pendeteksian kecurangan tersebut. Pemahaman tentang fraud sangat penting, agarlebih dini biasa dilakukan pencegahan. Langkah awal dalam mendeteksi fraud adalah berasal dari informasi atau petunjuk dari berbagai pihak seperti karyawan, rekanan dan konsumen. Selain itu, mendeteksi fraud atau kecurangan tentunya dengan adanya pengendalian internal yang diimplementasikan dalam organisasi (entitas), namun semua pihak bertanggung jawab dalam mendeteksi adanya fraud dalam entitas tersebut, apakah dia seorang dewan komisaris, internal auditor, eksternal auditor, pihak manajemen dan karyawan sekalipun. Tanggung jawab profesi akuntan umumnya dan akuntan publik khususnya sebagai the last regiments standingdi dalam menciptakan iklim bisnis yang kondusif di Indonesia yang menganut pilar-pilar good corporate governance seperti kejujuran, transparansi dan tanggung jawab serta adanya akuntabilitas akan semakin berat. Selain itu, dalam profesi akuntan publik, sikap mental yang jujur, independen dan skeptik secara professional lebih ditekankan di dalam kode etik profesi akuntan public. Akuntan public bertanggung jawab untuk merencanakan dan melaksanakan audit untuk memperoleh keyakinan yang memadai tentang apakah laporan keuangan bebas dari salah saji yang material, baik yang disebabkan oleh kekeliruan maupun kecurangan.