LAPORAN PENDAHULUAN
SECTIO SECARIA
1. KONSEP PENYAKIT
A. DEFINISI
Seksio sesaria adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat
sayatan pada dinding uterus melalui dinding perut/vagina.
Seksio sesaria adalah suatu histerotomia untuk melahirkan janin dari
dalam rahim. (Rustam Mochtar, 1998)
Seksio sesaria adalah suatu tindakan untuk melahirkan dengan berat
diatas 500 gram melalui sayatan pada dinding uterus yang masih
utuh.(Abdul Bari Syaefuddin, 2001)
B. KLASIFIKASI OPERASI SECTIO SECARIA
1. Abdomen (Sectio sesaria abdomenalis)
Seksio sesaria trans peritonealis (SCTP)
a. Seksio sesaria klasik atau korporal dengan insisi
memanjang pada korpus uteri
b. Seksio sesaria ismika atau profunda atau low cervikal
dengan insisi pada segmen bawah rahim.
c. Seksio sesaria ekstra peritonealis, yaitu tanpa membuka
peritoneum parietalis, dengan demikian tidak membuka
kavum abdominal.
2. Vagina (Seksio Sesaria Vaginalis)
Menurut arah sayatan pada rahim, seksio sesarea dapat dilakukan
sebagai berikut:
a. Sayatan memanjang (longitudinal) menurut kroning.
b. Sayatan melintang (transversal) menurut kers.
c. Sayatan hudur (T. Incision)
3. Sectio Sesaria Klasik (Korporal)
Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri
kira-kira sepanjang 10 cm.
ď‚· Kelebihan:
a. Mengeluarkan janin lebih cepat
b. Tidak mengakibatkan komplikasi kandung kemih tertarik.
c. Sayatannya bisa diperpanjang proksimal atau distal.
ď‚· Kekurangan:
a. Infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena
tidak ada reperitonealisasi yang baik.
b. Untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi ruptura
uteri spontan.
4. Untuk persalinan ismika (profunda)
Dilakukan membuat sayatan melintang, konkaf pada segmen bawah
rahim (lalu servival tranversal) kira-kira 10 cm.
ď‚· Kelebihan:
a. Penjahitan lebih mudah
b. Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik.
c. Tumpang tindih dari perintoneal flap baik sekali untuk
menahan penyebaran isi uterus rongga peritoneal.
d. Perdarahan kurang
e. Dibanding dengan cara klasik kemungkinan repturn uteri
spontan kurang/lebih kecil.
ď‚· Kekurangan:
a. Luka dapat melebar kekiri, kanan, dan bawah, sehingga
dapat menyebabkan uterina terputus sehingga
mengakibatkan perdarahan yang banyak.
b. Keluhan pada kandung kemih post operatif tinggi.
C. ETIOLOGI
Manuaba (2008) indikasi ibu dilakukan sectio caesarea adalah ruptur
uteri iminen, perdarahan antepartum, ketuban pecah dini. Sedangkan
indikasi dari janin adalah fetal distres dan janin besar melebihi 4.000
gram. Dari beberapa faktor sectio caesarea diatas dapat diuraikan
beberapa penyebab sectio caesarea sebagai berikut:
1. CPD ( Chepalo Pelvik Disproportion )
Chepalo Pelvik Disproportion (CPD) adalah ukuran lingkar
panggul ibu tidak sesuai dengan ukuran lingkar kepala janin yang
dapat menyebabkan ibu tidak dapat melahirkan secara alami. Tulang-
tulang panggul merupakan susunan beberapa tulang yang membentuk
rongga panggul yang merupakan jalan yang harus dilalui oleh janin
ketika akan lahir secara alami. Bentuk panggul yang menunjukkan
kelainan atau panggul patologis juga dapat menyebabkan kesulitan
dalam proses persalinan alami sehingga harus dilakukan tindakan
operasi. Keadaan patologis tersebut menyebabkan bentuk rongga
panggul menjadi asimetris dan ukuran-ukuran bidang panggul
menjadi abnormal.
2. PEB (Pre-Eklamsi Berat)
Pre-eklamsi dan eklamsi merupakan kesatuan penyakit yang
langsung disebabkan oleh kehamilan, sebab terjadinya masih belum
jelas. Setelah perdarahan dan infeksi, pre-eklamsi dan eklamsi
merupakan penyebab kematian maternal dan perinatal paling penting
dalam ilmu kebidanan. Karena itu diagnosa dini amatlah penting,
yaitu mampu mengenali dan mengobati agar tidak berlanjut menjadi
eklamsi.
3. KPD (Ketuban Pecah Dini)
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat
tanda persalinan dan ditunggu satu jam belum terjadi inpartu.
Sebagian besar ketuban pecah dini adalah hamil aterm di atas 37
minggu, sedangkan di bawah 36 minggu.
4. Bayi Kembar
Tidak selamanya bayi kembar dilahirkan secara caesar. Hal ini
karena kelahiran kembar memiliki resiko terjadi komplikasi yang
lebih tinggi daripada kelahiran satu bayi. Selain itu, bayi kembar pun
dapat mengalami sungsang atau salah letak lintang sehingga sulit
untuk dilahirkan secara normal.
5. Faktor Hambatan Jalan Lahir
Adanya gangguan pada jalan lahir, misalnya jalan lahir yang
tidak memungkinkan adanya pembukaan, adanya tumor dan kelainan
bawaan pada jalan lahir, tali pusat pendek dan ibu sulit bernafas.
6. Kelainan Letak Janin
a) Kelainan pada letak kepala
ď‚· Letak kepala tengadah : Bagian terbawah adalah puncak
kepala, pada pemeriksaan dalam teraba UUB yang paling
rendah. Etiologinya kelainan panggul, kepala bentuknya
bundar, anaknya kecil atau mati, kerusakan dasar panggul.
ď‚· Presentasi muka : Letak kepala tengadah (defleksi), sehingga
bagian kepala yang terletak paling rendah ialah muka. Hal ini
jarang terjadi, kira-kira 0,27-0,5 %.
ď‚· Presentasi dahi : Posisi kepala antara fleksi dan defleksi, dahi
berada pada posisi terendah dan tetap paling depan. Pada
penempatan dagu, biasanya dengan sendirinya akan berubah
menjadi letak muka atau letak belakang kepala.
b) Letak Sungsang
Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak
memanjang dengan kepala difundus uteri dan bokong berada di
bagian bawah kavum uteri. Dikenal beberapa jenis letak sungsang,
yakni presentasi bokong, presentasi bokong kaki, sempurna,
presentasi bokong kaki tidak sempurna dan presentasi kaki
D. PATOFISIOLOGI
Sectio Cesaria merupakan salah satu cara melahirkan janin dengan
jalan pembedahan. Faktor yang berpengaruh antra lain: faktor ibu, janin
dan plasenta. Dari faktor ibu dipengaruhi oleh penyakit pada ibu,
pembedahan rahim, sumbatan pada jalan lahir maupun panggul sempit.
Faktor janin dipengaruhi oleh mal presentasi janin, prolaps tali pusat dan
gangguan pada janin. Faktor plasenta dipengaruhi abrusio plasenta. Oleh
karena itu tindakan section secaria dapat dilakukan.
Sectio Secaria dilakukan dengan pembedahan yang menyebabkan
kontinuitas jaringan terputus sehingga luka yang terjadi bisa menjadi
tempat masuk kuman yang bisa menyebabkan resiko infeksi, luka juga
dapat menyebabkan nyeri akut akibat penekanan terhadap ujung-ujung
syaraf. Selain itu luka juga bisa menyebabkan perdarahan sehingga
kekuatan fisik menurun atau lemah yang menjadikan perawatan untuk
diri sendiri kurang. Luka juga bisa menyebabkan perdarahan yang
membuat cairan dalam tubuh kurang. Perdarahan pada ibu post partum
juga bisa terjadi dikarenakan tidak adanya kontraksi uterus (atonia uteri).
Pada pasien yang dilakukan sectio cesaria menyebabkan beberapa
perubahan peran dalam adaptasi fisiologi dan psikologi ibu. Dan jika ibu
kurang peka terhadap perubahan peran dalam dirinya maka akan
menyebabkan defisit pengetahuan.
Section cesaria dilakukan dengan memberikan anesthesi, dari
anesthesi tersebut dapat menimbulkan efek terhadap otot abdomen
sehingga motilitas usus menurun, yang bisa menyebabkan konstipasi.
Efek anesthesi lainnya berpengaruh terhadap penekan saraf spinger uri,
sehingga eliminasi urine terjadi perubahan.
E. PATHWAY
SEKSIO CESARIA
Trauma pembedahan /
insisi
Kelahiran anak Efek anesthesia spinal
Terputusnya
kontinuitas jaringan
efek pembedahan
Perubahan peran
Luka Kurang
pengetahuan
Penurunan
motilitas usus
Menekan saraf
spingter uri
Konstipasi Perubahan
eliminasi
urine
Tempat masuk
kuman
Menekan ujung
syaraf
Nyeri akut
Perdarahan
Penurunan kekuatan / kelemahan fisik
Kurang perawatan diri
Resiko infeksi
Cairan kurang dari
kebutuhan tubuh
Kekurangan
volume cairan
Tidak ada
kontraksi
uterus
PK Perdarahan
Vaskuler
Bedrest
Ibu
- Plasenta previa
sentralis dan
lateralis
- Panggul sempit
- Pre eklampsi dan
hipertensi
Janin
- Malpresentasi
janin
- Prolaps tali pusat
- Gangguan pada
janin
F. MANIFESTASI KLINIS
Persalinan dengan Sectio Caesaria , memerlukan perawatan
yang lebih koprehensif yaitu: perawatan post operatif dan
perawatan post partum.Manifestasi klinis sectio caesarea
menurut Doenges (2010),antara lain :
1. Nyeri akibat ada luka pembedahan
2. Adanya luka insisi pada bagian abdomen
3. Fundus uterus kontraksi kuat dan terletak di umbilicus
4. Aliran lokhea sedang dan bebas bekuan yang berlebihan
(lokhea tidak banyak)
5. Kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira
600-800ml
6. Emosi labil / perubahan emosional dengan mengekspresikan
ketidakmampuan menghadapi situasi baru
7. Biasanya terpasang kateter urinarius
8. Auskultasi bising usus tidak terdengar atau samar
9. Pengaruh anestesi dapat menimbulkan mual dan
muntah
10. Status pulmonary bunyi paru jelas dan vesikuler
11. Pada kelahiran secara SC tidak direncanakan maka bisanya
kurang paham prosedur
12. Bonding dan Attachment pada anak yang baru dilahirkan.
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Hemoglobin atau hematokrit (HB/Ht) untuk mengkaji perubahan
dari kadar pra operasi dan mengevaluasi efek kehilangan darah
pada pembedahan.
2. Leukosit (WBC) mengidentifikasi adanya infeksi
3. Tes golongan darah, lama perdarahan, waktu pembekuan darah
4. Urinalisis / kultur urine
5. Pemeriksaan elektrolit . ( Doengoes M. 2010 )
H. PENATALAKSANAAN
Menuurut (Manuaba, 2008)
1. Pemberian cairan
Karena 24 jam pertama penderita puasa pasca operasi, maka
pemberian cairan perintavena harus cukup banyak dan mengandung
elektrolit agar tidak terjadi hipotermi, dehidrasi, atau komplikasi
pada organ tubuh lainnya. Cairan yang biasa diberikan biasanya DS
10%, garam fisiologi dan RL secara bergantian dan jumlah tetesan
tergantung kebutuhan. Bila kadar Hb rendah diberikan transfusi
darah sesuai kebutuhan.
2. Diet
Pemberian cairan perinfus biasanya dihentikan setelah penderita
flatus lalu dimulailah pemberian minuman dan makanan peroral.
Pemberian minuman dengan jumlah yang sedikit sudah boleh
dilakukan pada 6 - 10 jam pasca operasi, berupa air putih dan air teh.
3. Mobilisasi
Mobilisasi dilakukan secara bertahap meliputi, Miring kanan dan kiri
dapat dimulai sejak 6 - 10 jam setelah operasi, Latihan pernafasan
dapat dilakukan penderita sambil tidur telentang sedini mungkin
setelah sadar. Hari kedua post operasi, penderita dapat didudukkan
selama 5 menit dan diminta untuk bernafas dalam lalu
menghembuskannya. Kemudian posisi tidur telentang dapat diubah
menjadi posisi setengah duduk (semifowler). Selanjutnya selama
berturut-turut, hari demi hari, pasien dianjurkan belajar duduk selama
sehari, belajar berjalan, dan kemudian berjalan sendiri pada hari ke-3
sampai hari ke5 pasca operasi.
4. Kateterisasi
Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan tidak enak
pada penderita, menghalangi involusi uterus dan menyebabkan
perdarahan. Kateter biasanya terpasang 24 - 48 jam / lebih lama lagi
tergantung jenis operasi dan keadaan penderita.
5. Pemberian obat-obatan
ď‚· Antibiotik
ď‚· Analgetik dan obat untuk memperlancar kerja saluran pencernaan
ď‚· Obat-obatan lain
6. Perawatan luka
Kondisi balutan luka dilihat pada 1 hari post operasi, bila basah dan
berdarah harus dibuka dan diganti
7. Perawatan rutin
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan adalah suhu,
tekanan darah, nadi,dan pernafasan.
I. KOMPLIKASI
1. Infeksi Puerperalis
Komplikasi ini bersifat ringan, seperti kenaikan suhu selama
beberapa hari dalam masa nifas atau dapat juga bersifat berat,
misalnya peritonitis, sepsis dan lain-lain. Infeksi post operasi terjadi
apabila sebelum pembedahan sudah ada gejala - gejala infeksi
intrapartum atau ada faktor - faktor yang merupakan predisposisi
terhadap kelainan itu (partus lama khususnya setelah ketuban pecah,
tindakan vaginal sebelumnya). Bahaya infeksi dapat diperkecil
dengan pemberian antibiotika, tetapi tidak dapat dihilangkan sama
sekali, terutama SC klasik dalam hal ini lebih berbahaya daripada SC
transperitonealis profunda.
2. Perdarahan
Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika
cabang arteria uterina ikut terbuka atau karena atonia uteri
3. Komplikasi - komplikasi lain seperti :
ď‚· Luka kandung kemih
 Embolisme paru – paru
4. Suatu komplikasi yang baru kemudian tampak ialah kurang kuatnya
perut pada dinding uterus, sehingga pada kehamilan berikutnya bisa
terjadi ruptura uteri. Kemungkinan hal ini lebih banyak ditemukan
sesudah sectio caesarea klasik.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
a. Pengkajian
Pada pengkajian klien dengan sectio caesaria, data yang dapat ditemukan
meliputi distress janin, kegagalan untuk melanjutkan persalinan, malposisi janin,
prolaps tali pust, abrupsio plasenta dan plasenta previa.
1. Identitas atau biodata klien
Meliputi, nama, umur, agama, jenis kelamin, alamat, suku bangsa, status
perkawinan, pekerjaan, pendidikan, tanggal masuk rumah sakit nomor register
, dan diagnosa keperawatan.
2. Keluhan utama
3. Riwayat kesehatan
ď‚· Riwayat kesehatan dahulu: Penyakit kronis atau menular dan menurun
sepoerti jantung, hipertensi, DM, TBC, hepatitis, penyakit kelamin atau
abortus.
ď‚· Riwayat kesehatan sekarang: Riwayat pada saat sebelun inpartu di dapatka
cairan ketuban yang keluar pervaginan secara sepontan kemudian tidak di
ikuti tanda-tanda persalinan.
ď‚· Riwayat kesehatan keluarga : Adakah penyakit keturunan dalam keluarga
seperti jantung, DM, HT, TBC, penyakit kelamin, abortus, yang mungkin
penyakit tersebut diturunkan kepada klien.
b. Pola-Pola Fungsi Kesehatan
1. Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat
Karena kurangnya pengetahuan klien tentang ketuban pecah dini, dan cara
pencegahan, penanganan, dan perawatan serta kurangnya mrnjaga kebersihan
tubuhnya akan menimbulkan masalah dalam perawatan dirinnya
2. Pola Nutrisi dan Metabolisme
Pada klien nifas biasanaya terjadi peningkatan nafsu makan karena dari
keinginan untuk menyusui bayinya.
3. Pola aktifitas
Pada pasien pos partum klien dapat melakukan aktivitas seperti biasanya,
terbatas pada aktifitas ringan, tidak membutuhkan tenaga banyak, cepat lelah,
pada klien nifas didapatkan keterbatasan aktivitas karena mengalami
kelemahan dan nyeri.
4. Pola eleminasi
Pada pasien pos partum sering terjadi adanya perasaan sering /susah kencing
selama masa nifas yang ditimbulkan karena terjadinya odema dari trigono,
yang menimbulkan inveksi dari uretra sehingga sering terjadi konstipasi
karena penderita takut untuk melakukan BAB.
5. Istirahat dan tidur
Pada klien nifas terjadi perubagan pada pola istirahat dan tidur karena adanya
kehadiran sang bayi dan nyeri epis setelah persalinan
6. Pola hubungan dan peran
Peran klien dalam keluarga meliputi hubungan klien dengan keluarga dan
orang lain.
7. Pola penanggulangan stress
Biasanya klien sering melamun dan merasa cemas
8. Pola sensori dan kognitif
Pola sensori klien merasakan nyeri pada prineum akibat luka janhitan dan
nyeri perut akibat involusi uteri, pada pola kognitif klien nifas primipara
terjadi kurangnya pengetahuan merawat bayinya
9. Pola persepsi dan konsep diri
Biasanya terjadi kecemasan terhadap keadaan kehamilanya, lebih-lebih
menjelang persalinan dampak psikologis klien terjadi perubahan konsep diri
antara lain dan body image dan ideal diri
10. Pola reproduksi dan sosial
Terjadi disfungsi seksual yaitu perubahan dalam hubungan seksual atau fungsi
dari seksual yang tidak adekuat karena adanya proses persalinan dan nifas.
c. Pemeriksaan fisik
1. Kepala
Bagaimana bentuk kepala, kebersihan kepala, kadang-kadang terdapat adanya
cloasma gravidarum, dan apakah ada benjolan
2. Leher
Kadang-kadang ditemukan adanya penbesaran kelenjar tioroid, karena adanya
proses menerang yang salah
3. Mata
Terkadang adanya pembengkakan paka kelopak mata, konjungtiva, dan
kadang-kadang keadaan selaput mata pucat (anemia) karena proses persalinan
yang mengalami perdarahan, sklera kunuing
4. Telinga
Biasanya bentuk telingga simetris atau tidak, bagaimana kebersihanya, adakah
cairan yang keluar dari telinga.
5. Hidung
Adanya polip atau tidak dan apabila pada post partum kadang-kadang
ditemukan pernapasan cuping hidung
6. Dada
Terdapat adanya pembesaran payu dara, adanya hiper pigmentasi areola
mamae dan papila mamae
7. Abdomen
Tampak insisi post op SC, namun pada klien nifas abdomen kendor kadang-
kadang striae masih terasa nyeri. Fundus uteri 3 jari dibawa pusat.
8. Genitalia
Pengeluaran darah campur lendir, pengeluaran air ketuban, bila terdapat
pengeluaran mekonium yaitu feses yang dibentuk anak dalam kandungan
menandakan adanya kelainan letak anak.
9. Anus
Kadang-kadang pada klien nifas ada luka pada anus karena rupture
10. Ekstermitas
Pemeriksaan odema untuk mrlihat kelainan-kelainan karena membesarnya
uterus, karenan preeklamsia atau karena penyakit jantung atau ginjal.
11. Tanda-tanda vital
Apabila terjadi perdarahan pada pos partum tekanan darah turun, nadi cepat,
pernafasan meningkat, suhu tubuh turun
d. Diagnosa Keperawatan
a) Pre Operasi SC
1. Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal sumber
informasi penyakit
2. Ansietas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang prosedur
pembedahan, penyembuhan dan perawatan post operasi
b) Intra Operasi SC
1. Perubahan Perfusi Jaringan b.d perdarahan
2. Devisit Volume Cairan b.d perdarahan
c) Post SC
1. Nyeri akut berhubungan dengan injury fisik
jalan lahir.
2. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan
trauma jaringan / luka kering bekas operasi
3. Menyusui tidak efektif berhubungan dengan
kurangnya pengetahuan ibu tentang cara
menyusui yang bernar.
4. Konstipasi berhubungan dengan penurunan
tonus otot, nyeri luka operasi
5. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan
kondisi diri menurun
e. Intervensi Keperawatan
a. Preo Operasi Sc
Diagnosa Kep. NOC NIC
Kurang
pengetahuan
berhubungan
dengan tidak
mengenal sumber
informasi
penyakit
ď‚· Kowlwdge : disease
process
ď‚· Kowledge : health
Behavior
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama …. pasien
menunjukkan pengetahuan
ď‚· Kaji tingkat
pengetahuan pasien dan
keluarga
ď‚· Jelaskan patofisiologi
dari penyakit dan
bagaimana hal ini
berhubungan dengan
tentang proses penyakit dengan
kriteria hasil:
- Pasien dan keluarga
menyatakan pemahaman
tentang penyakit, kondisi,
prognosis dan program
pengobatan
- Pasien dan keluarga
mampu melaksanakan
prosedur yang dijelaskan
secara benar
- Pasien dan keluarga
mampu menjelaskan
kembali apa yang
dijelaskan
perawat/timkesehatan
lainnya
anatomi dan fisiologi,
dengan cara yang tepat.
ď‚· Gambarkan tanda dan
gejala yang biasa muncul
pada penyakit, dengan
cara yang tepat
ď‚· Gambarkan proses
penyakit, dengan cara
yang tepat
ď‚· Identifikasi
kemungkinan penyebab,
dengan cara yang tepat
ď‚· Sediakan informasi
pada pasien tentang
kondisi, dengan cara yang
tepat
ď‚· Sediakan bagi
keluarga informasi
tentang kemajuan pasien
dengan cara yang tepat
ď‚· Diskusikan pilihan
terapi atau penanganan
ď‚· Dukung pasien untuk
mengeksplorasi atau
mendapatkan second
opinion dengan cara yang
tepat atau diindikasikan
ď‚· Eksplorasi
kemungkinan sumber atau
dukungan, dengan cara
yang tepat
Diagnosa Kep. NOC NIC
Ansietas
berhubungan
dengan
kurangnya
informasi
tentang prosedur
pembedahan,
penyembuhan
ď‚· Kontrol kecemasan
ď‚· Koping
Setelah dilakukan asuhan selama
……………klien kecemasan
teratasi dgn kriteria hasil:
- Klien mampu
mengidentifikasi dan
mengungkapkan gejala
Anxiety Reduction
(penurunan kecemasan)
ď‚· Gunakan pendekatan
yang menenangkan
ď‚· Nyatakan dengan
jelas harapan terhadap
pelaku pasien
ď‚· Jelaskan semua
dan perawatan
post operasi
cemas
- Mengidentifikasi,
mengungkapkan dan
menunjukkan tehnik untuk
mengontol cemas
- Vital sign dalam batas
normal
- Postur tubuh, ekspresi
wajah, bahasa tubuh dan
tingkat aktivitas
menunjukkan berkurangnya
kecemasan
prosedur dan apa yang
dirasakan selama
prosedur
ď‚· Temani pasien untuk
memberikan keamanan
dan mengurangi takut
ď‚· Berikan informasi
faktual mengenai
diagnosis, tindakan
prognosis
ď‚· Libatkan keluarga
untuk mendampingi klien
ď‚· Instruksikan pada
pasien untuk
menggunakan tehnik
relaksasi
ď‚· Dengarkan dengan
penuh perhatian
ď‚· Identifikasi tingkat
kecemasan
ď‚· Bantu pasien
mengenal situasi yang
menimbulkan kecemasan
ď‚· Dorong pasien untuk
mengungkapkan
perasaan, ketakutan,
persepsi
ď‚· Kelola pemberian
obat anti cemas:........
b. Intra Operasi Sc
Diagnosa Kep. NOC NIC
Perubahan
Perfusi Jaringan
b.d perdarahan
ď‚· Circulation status
Kriteria Hasil :
Mendemonstrasikan status
sirkulasi yang ditandai dengan
:
o Tekanan systole dan diastole
dalam rentang yang
diharapkan
Peripheral Sensation
Management
(Manajemen sensasi perifer)
- Periksa kulit dan
membran mukosa
untuk kemerahan,
kehangatan ekstrim,
edema atau kering
- Pantau warna dan suhu
o Tidak ada ortostatik
hipertensi
o Tidak ada tanda tanda
peningkatan tekanan
intrakranial (tidak lebih dari
15 mmHg)
Mendemonstrasikan,
kemampuan kognitif yang
ditandai dengan :
o Berkomunikasi dengan jelas
dan sesuai dengan
kemampuan
o Menunjukkan perhatian,
konsentrasi dan orientasi
o Memproses informasi
o Membuat keputusan dengan
benar
kulit
- Monitor adanya daerah
tertentu yang hanya
peka terhadap panas/
dingin/tajam/tumpul
- Monitor adanya
paretese
- lnstruksikan keluarga
untuk mengobservasi
kulit jika ada isi atau
laserasi
- Gunakan sarung
tangan untuk proteksi
- Batasi gerakan pada
kepala, leher dan
punggung
- Monitor adanya
tromboplebitis
·
Diagnosa Kep. NOC NIC
Devisit Volume
Cairan b.d
perdarahan
ď‚· Fluid balance
ď‚· Hydration
ď‚· Nutritional Status : Food and
Fluid Intake
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama….. defisit
volume cairan teratasi dengan
kriteria hasil:
- Mempertahankan urine
output sesuai dengan usia
dan BB, BJ urine normal,
- Tekanan darah, nadi, suhu
tubuh dalam batas normal
- Tidak ada tanda tanda
dehidrasi, Elastisitas turgor
kulit baik, membran
mukosa lembab, tidak ada
rasa haus yang berlebihan
- Orientasi terhadap waktu
dan tempat baik
- Jumlah dan irama
pernapasan dalam batas
· Pertahankan catatan intake
dan output yang akurat
· Monitor status hidrasi (
kelembaban membran
mukosa, nadi adekuat, tekanan
darah ortostatik ), jika
diperlukan
· Monitor hasil lab yang sesuai
dengan retensi cairan (BUN ,
Hmt , osmolalitas urin,
albumin, total protein )
· Monitor vital sign setiap
15menit – 1 jam
· Kolaborasi pemberian cairan
IV
· Monitor status nutrisi
· Berikan cairan oral
· Berikan penggantian
nasogatrik sesuai output (50 –
100cc/jam)
· Dorong keluarga untuk
normal
- Elektrolit, Hb, Hmt dalam
batas normal
- pH urin dalam batas normal
- Intake oral dan intravena
adekuat
membantu pasien makan
· Kolaborasi dokter jika tanda
cairan berlebih muncul
meburuk
· Atur kemungkinan tranfusi
· Persiapan untuk tranfusi
· Pasang kateter jika perlu
· Monitor intake dan urin
output setiap 8 jam
c. Post Operasi Sc
Diagnosa Kep. NOC NIC
Nyeri akut
berhubungan
dengan injury
fisik jalan lahir.
- Pain Level
- pain control,
- comfort level
Setelah dilakukan tinfakan
keperawatan selama ….
Pasien tidak mengalami
nyeri, dengan kriteria hasil:
ď‚· Mampu mengontrol
nyeri (tahu penyebab
nyeri, mampu
menggunakan tehnik
nonfarmakologi untuk
mengurangi nyeri,
mencari bantuan)
ď‚· Melaporkan bahwa nyeri
berkurang dengan
menggunakan
manajemen nyeri
ď‚· Mampu mengenali nyeri
(skala, intensitas,
frekuensi dan tanda
nyeri)
ď‚· Menyatakan rasa
nyaman setelah nyeri
berkurang
ď‚· Tanda vital dalam
rentang normal
ď‚· - Tidak mengalami
gangguan tidur
ď‚· Lakukan pengkajian nyeri
secara komprehensif termasuk
lokasi, karakteristik, durasi,
frekuensi, kualitas dan faktor
presipitasi
ď‚· Observasi reaksi nonverbal
dari ketidaknyamanan
ď‚· Bantu pasien dan keluarga
untuk mencari dan
menemukan dukungan
ď‚· Kontrol lingkungan yang
dapat mempengaruhi nyeri
seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan kebisingan
ď‚· Kurangi faktor presipitasi
nyeri
ď‚· Kaji tipe dan sumber nyeri
untuk menentukan intervensi
ď‚· Ajarkan tentang teknik non
farmakologi: napas dala,
relaksasi, distraksi, kompres
hangat/ dingin
ď‚· Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri
ď‚· Tingkatkan istirahat
ď‚· Berikan informasi tentang
nyeri seperti penyebab nyeri,
berapa lama nyeri akan
berkurang dan antisipasi
ketidaknyamanan dari
prosedur
ď‚· Monitor vital sign sebelum
dan sesudah pemberian
analgesik pertama kal
Diagnosa Kep. NOC NIC
Risiko tinggi
infeksi
berhubungan
dengan trauma
jaringan / luka
kering bekas
operasi
NOC :
§ Immune Status
§ Knowledge : Infection
control
§ Risk control
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan
selama…… pasien tidak
mengalami infeksi dengan
kriteria hasil:
§ Klien bebas dari tanda dan
gejala infeksi
§ Menunjukkan kemampuan
untuk mencegah timbulnya
infeksi
§ Jumlah leukosit dalam batas
normal
§ Menunjukkan perilaku hidup
sehat
§ Status imun, gastrointestinal,
genitourinaria dalam batas
normal
NIC :
- Pertahankan teknik aseptif
- Batasi pengunjung bila
perlu
- Cuci tangan setiap sebelum
dan sesudah tindakan
keperawatan
- Gunakan baju, sarung
tangan sebagai alat pelindung
- Ganti letak IV perifer dan
dressing sesuai dengan
petunjuk umum
- Gunakan kateter intermiten
untuk menurunkan infeksi
kandung kencing
- Tingkatkan intake nutrisi
- Berikan terapi
antibiotik:................................
.
- Monitor tanda dan gejala
infeksi sistemik dan lokal
- Pertahankan teknik isolasi
k/p
- Inspeksi kulit dan membran
mukosa terhadap kemerahan,
panas, drainase
- Monitor adanya luka
- Dorong masukan cairan
- Dorong istirahat
- Ajarkan pasien dan
keluarga tanda dan gejala
infeksi
- Kaji suhu badan pada
pasien neutropenia setiap 4
jam
DAFTAR PUSTAKA
Doengoes, M.E. (2010). Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC.
Johnson, Marion, PhD, RN; Mass, Meridean, PhD, RN, FAAN; Moorhead Sue, PhD,
RN. Nursing Outcomes Classification (NOC). Second edition, Mosby: St.
Louis Baltimore Boston. Carisbad Chicago Minneapolis New York
Philadelphia Portland London Milan Sydney Tokyo Toronto.
M. D Ben-Zion, Kapita Selekta, Kendaruratan Observasi dan Ginekologi.
Mochtar, Ruslam, Sinopsis Ebstetri, Edisi II, Jilid 2, ed delfei irva, Jakarta: EGC,
1998.
Mansjoer Arief. (2010). Kapita Selekta Kedokteran, edisi 4. Jakarta : Media
Aesculapius.
Manuaba. (2008). Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga. Berencana
(Edisi 2). Jakarta : EGC.
Lp sc

Lp sc

  • 1.
    LAPORAN PENDAHULUAN SECTIO SECARIA 1.KONSEP PENYAKIT A. DEFINISI Seksio sesaria adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding perut/vagina. Seksio sesaria adalah suatu histerotomia untuk melahirkan janin dari dalam rahim. (Rustam Mochtar, 1998) Seksio sesaria adalah suatu tindakan untuk melahirkan dengan berat diatas 500 gram melalui sayatan pada dinding uterus yang masih utuh.(Abdul Bari Syaefuddin, 2001) B. KLASIFIKASI OPERASI SECTIO SECARIA 1. Abdomen (Sectio sesaria abdomenalis) Seksio sesaria trans peritonealis (SCTP) a. Seksio sesaria klasik atau korporal dengan insisi memanjang pada korpus uteri b. Seksio sesaria ismika atau profunda atau low cervikal dengan insisi pada segmen bawah rahim. c. Seksio sesaria ekstra peritonealis, yaitu tanpa membuka peritoneum parietalis, dengan demikian tidak membuka kavum abdominal. 2. Vagina (Seksio Sesaria Vaginalis) Menurut arah sayatan pada rahim, seksio sesarea dapat dilakukan sebagai berikut: a. Sayatan memanjang (longitudinal) menurut kroning. b. Sayatan melintang (transversal) menurut kers. c. Sayatan hudur (T. Incision) 3. Sectio Sesaria Klasik (Korporal) Dilakukan dengan membuat sayatan memanjang pada korpus uteri kira-kira sepanjang 10 cm. ď‚· Kelebihan: a. Mengeluarkan janin lebih cepat
  • 2.
    b. Tidak mengakibatkankomplikasi kandung kemih tertarik. c. Sayatannya bisa diperpanjang proksimal atau distal. ď‚· Kekurangan: a. Infeksi mudah menyebar secara intra abdominal karena tidak ada reperitonealisasi yang baik. b. Untuk persalinan berikutnya lebih sering terjadi ruptura uteri spontan. 4. Untuk persalinan ismika (profunda) Dilakukan membuat sayatan melintang, konkaf pada segmen bawah rahim (lalu servival tranversal) kira-kira 10 cm. ď‚· Kelebihan: a. Penjahitan lebih mudah b. Penutupan luka dengan reperitonealisasi yang baik. c. Tumpang tindih dari perintoneal flap baik sekali untuk menahan penyebaran isi uterus rongga peritoneal. d. Perdarahan kurang e. Dibanding dengan cara klasik kemungkinan repturn uteri spontan kurang/lebih kecil. ď‚· Kekurangan: a. Luka dapat melebar kekiri, kanan, dan bawah, sehingga dapat menyebabkan uterina terputus sehingga mengakibatkan perdarahan yang banyak. b. Keluhan pada kandung kemih post operatif tinggi. C. ETIOLOGI Manuaba (2008) indikasi ibu dilakukan sectio caesarea adalah ruptur uteri iminen, perdarahan antepartum, ketuban pecah dini. Sedangkan indikasi dari janin adalah fetal distres dan janin besar melebihi 4.000 gram. Dari beberapa faktor sectio caesarea diatas dapat diuraikan beberapa penyebab sectio caesarea sebagai berikut:
  • 3.
    1. CPD (Chepalo Pelvik Disproportion ) Chepalo Pelvik Disproportion (CPD) adalah ukuran lingkar panggul ibu tidak sesuai dengan ukuran lingkar kepala janin yang dapat menyebabkan ibu tidak dapat melahirkan secara alami. Tulang- tulang panggul merupakan susunan beberapa tulang yang membentuk rongga panggul yang merupakan jalan yang harus dilalui oleh janin ketika akan lahir secara alami. Bentuk panggul yang menunjukkan kelainan atau panggul patologis juga dapat menyebabkan kesulitan dalam proses persalinan alami sehingga harus dilakukan tindakan operasi. Keadaan patologis tersebut menyebabkan bentuk rongga panggul menjadi asimetris dan ukuran-ukuran bidang panggul menjadi abnormal. 2. PEB (Pre-Eklamsi Berat) Pre-eklamsi dan eklamsi merupakan kesatuan penyakit yang langsung disebabkan oleh kehamilan, sebab terjadinya masih belum jelas. Setelah perdarahan dan infeksi, pre-eklamsi dan eklamsi merupakan penyebab kematian maternal dan perinatal paling penting dalam ilmu kebidanan. Karena itu diagnosa dini amatlah penting, yaitu mampu mengenali dan mengobati agar tidak berlanjut menjadi eklamsi. 3. KPD (Ketuban Pecah Dini) Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan dan ditunggu satu jam belum terjadi inpartu. Sebagian besar ketuban pecah dini adalah hamil aterm di atas 37 minggu, sedangkan di bawah 36 minggu. 4. Bayi Kembar Tidak selamanya bayi kembar dilahirkan secara caesar. Hal ini karena kelahiran kembar memiliki resiko terjadi komplikasi yang lebih tinggi daripada kelahiran satu bayi. Selain itu, bayi kembar pun dapat mengalami sungsang atau salah letak lintang sehingga sulit untuk dilahirkan secara normal. 5. Faktor Hambatan Jalan Lahir
  • 4.
    Adanya gangguan padajalan lahir, misalnya jalan lahir yang tidak memungkinkan adanya pembukaan, adanya tumor dan kelainan bawaan pada jalan lahir, tali pusat pendek dan ibu sulit bernafas. 6. Kelainan Letak Janin a) Kelainan pada letak kepala ď‚· Letak kepala tengadah : Bagian terbawah adalah puncak kepala, pada pemeriksaan dalam teraba UUB yang paling rendah. Etiologinya kelainan panggul, kepala bentuknya bundar, anaknya kecil atau mati, kerusakan dasar panggul. ď‚· Presentasi muka : Letak kepala tengadah (defleksi), sehingga bagian kepala yang terletak paling rendah ialah muka. Hal ini jarang terjadi, kira-kira 0,27-0,5 %. ď‚· Presentasi dahi : Posisi kepala antara fleksi dan defleksi, dahi berada pada posisi terendah dan tetap paling depan. Pada penempatan dagu, biasanya dengan sendirinya akan berubah menjadi letak muka atau letak belakang kepala. b) Letak Sungsang Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang dengan kepala difundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri. Dikenal beberapa jenis letak sungsang, yakni presentasi bokong, presentasi bokong kaki, sempurna, presentasi bokong kaki tidak sempurna dan presentasi kaki D. PATOFISIOLOGI Sectio Cesaria merupakan salah satu cara melahirkan janin dengan jalan pembedahan. Faktor yang berpengaruh antra lain: faktor ibu, janin dan plasenta. Dari faktor ibu dipengaruhi oleh penyakit pada ibu, pembedahan rahim, sumbatan pada jalan lahir maupun panggul sempit. Faktor janin dipengaruhi oleh mal presentasi janin, prolaps tali pusat dan gangguan pada janin. Faktor plasenta dipengaruhi abrusio plasenta. Oleh karena itu tindakan section secaria dapat dilakukan.
  • 5.
    Sectio Secaria dilakukandengan pembedahan yang menyebabkan kontinuitas jaringan terputus sehingga luka yang terjadi bisa menjadi tempat masuk kuman yang bisa menyebabkan resiko infeksi, luka juga dapat menyebabkan nyeri akut akibat penekanan terhadap ujung-ujung syaraf. Selain itu luka juga bisa menyebabkan perdarahan sehingga kekuatan fisik menurun atau lemah yang menjadikan perawatan untuk diri sendiri kurang. Luka juga bisa menyebabkan perdarahan yang membuat cairan dalam tubuh kurang. Perdarahan pada ibu post partum juga bisa terjadi dikarenakan tidak adanya kontraksi uterus (atonia uteri). Pada pasien yang dilakukan sectio cesaria menyebabkan beberapa perubahan peran dalam adaptasi fisiologi dan psikologi ibu. Dan jika ibu kurang peka terhadap perubahan peran dalam dirinya maka akan menyebabkan defisit pengetahuan. Section cesaria dilakukan dengan memberikan anesthesi, dari anesthesi tersebut dapat menimbulkan efek terhadap otot abdomen sehingga motilitas usus menurun, yang bisa menyebabkan konstipasi. Efek anesthesi lainnya berpengaruh terhadap penekan saraf spinger uri, sehingga eliminasi urine terjadi perubahan.
  • 6.
    E. PATHWAY SEKSIO CESARIA Traumapembedahan / insisi Kelahiran anak Efek anesthesia spinal Terputusnya kontinuitas jaringan efek pembedahan Perubahan peran Luka Kurang pengetahuan Penurunan motilitas usus Menekan saraf spingter uri Konstipasi Perubahan eliminasi urine Tempat masuk kuman Menekan ujung syaraf Nyeri akut Perdarahan Penurunan kekuatan / kelemahan fisik Kurang perawatan diri Resiko infeksi Cairan kurang dari kebutuhan tubuh Kekurangan volume cairan Tidak ada kontraksi uterus PK Perdarahan Vaskuler Bedrest Ibu - Plasenta previa sentralis dan lateralis - Panggul sempit - Pre eklampsi dan hipertensi Janin - Malpresentasi janin - Prolaps tali pusat - Gangguan pada janin
  • 7.
    F. MANIFESTASI KLINIS Persalinandengan Sectio Caesaria , memerlukan perawatan yang lebih koprehensif yaitu: perawatan post operatif dan perawatan post partum.Manifestasi klinis sectio caesarea menurut Doenges (2010),antara lain : 1. Nyeri akibat ada luka pembedahan 2. Adanya luka insisi pada bagian abdomen 3. Fundus uterus kontraksi kuat dan terletak di umbilicus 4. Aliran lokhea sedang dan bebas bekuan yang berlebihan (lokhea tidak banyak) 5. Kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira 600-800ml 6. Emosi labil / perubahan emosional dengan mengekspresikan ketidakmampuan menghadapi situasi baru 7. Biasanya terpasang kateter urinarius 8. Auskultasi bising usus tidak terdengar atau samar 9. Pengaruh anestesi dapat menimbulkan mual dan muntah 10. Status pulmonary bunyi paru jelas dan vesikuler 11. Pada kelahiran secara SC tidak direncanakan maka bisanya kurang paham prosedur 12. Bonding dan Attachment pada anak yang baru dilahirkan. G. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Hemoglobin atau hematokrit (HB/Ht) untuk mengkaji perubahan dari kadar pra operasi dan mengevaluasi efek kehilangan darah pada pembedahan. 2. Leukosit (WBC) mengidentifikasi adanya infeksi 3. Tes golongan darah, lama perdarahan, waktu pembekuan darah 4. Urinalisis / kultur urine
  • 8.
    5. Pemeriksaan elektrolit. ( Doengoes M. 2010 ) H. PENATALAKSANAAN Menuurut (Manuaba, 2008) 1. Pemberian cairan Karena 24 jam pertama penderita puasa pasca operasi, maka pemberian cairan perintavena harus cukup banyak dan mengandung elektrolit agar tidak terjadi hipotermi, dehidrasi, atau komplikasi pada organ tubuh lainnya. Cairan yang biasa diberikan biasanya DS 10%, garam fisiologi dan RL secara bergantian dan jumlah tetesan tergantung kebutuhan. Bila kadar Hb rendah diberikan transfusi darah sesuai kebutuhan. 2. Diet Pemberian cairan perinfus biasanya dihentikan setelah penderita flatus lalu dimulailah pemberian minuman dan makanan peroral. Pemberian minuman dengan jumlah yang sedikit sudah boleh dilakukan pada 6 - 10 jam pasca operasi, berupa air putih dan air teh. 3. Mobilisasi Mobilisasi dilakukan secara bertahap meliputi, Miring kanan dan kiri dapat dimulai sejak 6 - 10 jam setelah operasi, Latihan pernafasan dapat dilakukan penderita sambil tidur telentang sedini mungkin setelah sadar. Hari kedua post operasi, penderita dapat didudukkan selama 5 menit dan diminta untuk bernafas dalam lalu menghembuskannya. Kemudian posisi tidur telentang dapat diubah menjadi posisi setengah duduk (semifowler). Selanjutnya selama berturut-turut, hari demi hari, pasien dianjurkan belajar duduk selama sehari, belajar berjalan, dan kemudian berjalan sendiri pada hari ke-3 sampai hari ke5 pasca operasi. 4. Kateterisasi Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan tidak enak pada penderita, menghalangi involusi uterus dan menyebabkan
  • 9.
    perdarahan. Kateter biasanyaterpasang 24 - 48 jam / lebih lama lagi tergantung jenis operasi dan keadaan penderita. 5. Pemberian obat-obatan  Antibiotik  Analgetik dan obat untuk memperlancar kerja saluran pencernaan  Obat-obatan lain 6. Perawatan luka Kondisi balutan luka dilihat pada 1 hari post operasi, bila basah dan berdarah harus dibuka dan diganti 7. Perawatan rutin Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan adalah suhu, tekanan darah, nadi,dan pernafasan. I. KOMPLIKASI 1. Infeksi Puerperalis Komplikasi ini bersifat ringan, seperti kenaikan suhu selama beberapa hari dalam masa nifas atau dapat juga bersifat berat, misalnya peritonitis, sepsis dan lain-lain. Infeksi post operasi terjadi apabila sebelum pembedahan sudah ada gejala - gejala infeksi intrapartum atau ada faktor - faktor yang merupakan predisposisi terhadap kelainan itu (partus lama khususnya setelah ketuban pecah, tindakan vaginal sebelumnya). Bahaya infeksi dapat diperkecil dengan pemberian antibiotika, tetapi tidak dapat dihilangkan sama sekali, terutama SC klasik dalam hal ini lebih berbahaya daripada SC transperitonealis profunda. 2. Perdarahan Perdarahan banyak bisa timbul pada waktu pembedahan jika cabang arteria uterina ikut terbuka atau karena atonia uteri 3. Komplikasi - komplikasi lain seperti :  Luka kandung kemih  Embolisme paru – paru
  • 10.
    4. Suatu komplikasiyang baru kemudian tampak ialah kurang kuatnya perut pada dinding uterus, sehingga pada kehamilan berikutnya bisa terjadi ruptura uteri. Kemungkinan hal ini lebih banyak ditemukan sesudah sectio caesarea klasik.
  • 11.
    KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN a.Pengkajian Pada pengkajian klien dengan sectio caesaria, data yang dapat ditemukan meliputi distress janin, kegagalan untuk melanjutkan persalinan, malposisi janin, prolaps tali pust, abrupsio plasenta dan plasenta previa. 1. Identitas atau biodata klien Meliputi, nama, umur, agama, jenis kelamin, alamat, suku bangsa, status perkawinan, pekerjaan, pendidikan, tanggal masuk rumah sakit nomor register , dan diagnosa keperawatan. 2. Keluhan utama 3. Riwayat kesehatan ď‚· Riwayat kesehatan dahulu: Penyakit kronis atau menular dan menurun sepoerti jantung, hipertensi, DM, TBC, hepatitis, penyakit kelamin atau abortus. ď‚· Riwayat kesehatan sekarang: Riwayat pada saat sebelun inpartu di dapatka cairan ketuban yang keluar pervaginan secara sepontan kemudian tidak di ikuti tanda-tanda persalinan. ď‚· Riwayat kesehatan keluarga : Adakah penyakit keturunan dalam keluarga seperti jantung, DM, HT, TBC, penyakit kelamin, abortus, yang mungkin penyakit tersebut diturunkan kepada klien. b. Pola-Pola Fungsi Kesehatan 1. Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat Karena kurangnya pengetahuan klien tentang ketuban pecah dini, dan cara pencegahan, penanganan, dan perawatan serta kurangnya mrnjaga kebersihan tubuhnya akan menimbulkan masalah dalam perawatan dirinnya 2. Pola Nutrisi dan Metabolisme Pada klien nifas biasanaya terjadi peningkatan nafsu makan karena dari keinginan untuk menyusui bayinya. 3. Pola aktifitas Pada pasien pos partum klien dapat melakukan aktivitas seperti biasanya, terbatas pada aktifitas ringan, tidak membutuhkan tenaga banyak, cepat lelah,
  • 12.
    pada klien nifasdidapatkan keterbatasan aktivitas karena mengalami kelemahan dan nyeri. 4. Pola eleminasi Pada pasien pos partum sering terjadi adanya perasaan sering /susah kencing selama masa nifas yang ditimbulkan karena terjadinya odema dari trigono, yang menimbulkan inveksi dari uretra sehingga sering terjadi konstipasi karena penderita takut untuk melakukan BAB. 5. Istirahat dan tidur Pada klien nifas terjadi perubagan pada pola istirahat dan tidur karena adanya kehadiran sang bayi dan nyeri epis setelah persalinan 6. Pola hubungan dan peran Peran klien dalam keluarga meliputi hubungan klien dengan keluarga dan orang lain. 7. Pola penanggulangan stress Biasanya klien sering melamun dan merasa cemas 8. Pola sensori dan kognitif Pola sensori klien merasakan nyeri pada prineum akibat luka janhitan dan nyeri perut akibat involusi uteri, pada pola kognitif klien nifas primipara terjadi kurangnya pengetahuan merawat bayinya 9. Pola persepsi dan konsep diri Biasanya terjadi kecemasan terhadap keadaan kehamilanya, lebih-lebih menjelang persalinan dampak psikologis klien terjadi perubahan konsep diri antara lain dan body image dan ideal diri 10. Pola reproduksi dan sosial Terjadi disfungsi seksual yaitu perubahan dalam hubungan seksual atau fungsi dari seksual yang tidak adekuat karena adanya proses persalinan dan nifas. c. Pemeriksaan fisik 1. Kepala Bagaimana bentuk kepala, kebersihan kepala, kadang-kadang terdapat adanya cloasma gravidarum, dan apakah ada benjolan 2. Leher
  • 13.
    Kadang-kadang ditemukan adanyapenbesaran kelenjar tioroid, karena adanya proses menerang yang salah 3. Mata Terkadang adanya pembengkakan paka kelopak mata, konjungtiva, dan kadang-kadang keadaan selaput mata pucat (anemia) karena proses persalinan yang mengalami perdarahan, sklera kunuing 4. Telinga Biasanya bentuk telingga simetris atau tidak, bagaimana kebersihanya, adakah cairan yang keluar dari telinga. 5. Hidung Adanya polip atau tidak dan apabila pada post partum kadang-kadang ditemukan pernapasan cuping hidung 6. Dada Terdapat adanya pembesaran payu dara, adanya hiper pigmentasi areola mamae dan papila mamae 7. Abdomen Tampak insisi post op SC, namun pada klien nifas abdomen kendor kadang- kadang striae masih terasa nyeri. Fundus uteri 3 jari dibawa pusat. 8. Genitalia Pengeluaran darah campur lendir, pengeluaran air ketuban, bila terdapat pengeluaran mekonium yaitu feses yang dibentuk anak dalam kandungan menandakan adanya kelainan letak anak. 9. Anus Kadang-kadang pada klien nifas ada luka pada anus karena rupture 10. Ekstermitas Pemeriksaan odema untuk mrlihat kelainan-kelainan karena membesarnya uterus, karenan preeklamsia atau karena penyakit jantung atau ginjal. 11. Tanda-tanda vital Apabila terjadi perdarahan pada pos partum tekanan darah turun, nadi cepat, pernafasan meningkat, suhu tubuh turun
  • 14.
    d. Diagnosa Keperawatan a)Pre Operasi SC 1. Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi penyakit 2. Ansietas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang prosedur pembedahan, penyembuhan dan perawatan post operasi b) Intra Operasi SC 1. Perubahan Perfusi Jaringan b.d perdarahan 2. Devisit Volume Cairan b.d perdarahan c) Post SC 1. Nyeri akut berhubungan dengan injury fisik jalan lahir. 2. Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan / luka kering bekas operasi 3. Menyusui tidak efektif berhubungan dengan kurangnya pengetahuan ibu tentang cara menyusui yang bernar. 4. Konstipasi berhubungan dengan penurunan tonus otot, nyeri luka operasi 5. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kondisi diri menurun e. Intervensi Keperawatan a. Preo Operasi Sc Diagnosa Kep. NOC NIC Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi penyakit  Kowlwdge : disease process  Kowledge : health Behavior Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …. pasien menunjukkan pengetahuan  Kaji tingkat pengetahuan pasien dan keluarga  Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan
  • 15.
    tentang proses penyakitdengan kriteria hasil: - Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan - Pasien dan keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar - Pasien dan keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/timkesehatan lainnya anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat.  Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan cara yang tepat  Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang tepat  Identifikasi kemungkinan penyebab, dengan cara yang tepat  Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara yang tepat  Sediakan bagi keluarga informasi tentang kemajuan pasien dengan cara yang tepat  Diskusikan pilihan terapi atau penanganan  Dukung pasien untuk mengeksplorasi atau mendapatkan second opinion dengan cara yang tepat atau diindikasikan  Eksplorasi kemungkinan sumber atau dukungan, dengan cara yang tepat Diagnosa Kep. NOC NIC Ansietas berhubungan dengan kurangnya informasi tentang prosedur pembedahan, penyembuhan  Kontrol kecemasan  Koping Setelah dilakukan asuhan selama ……………klien kecemasan teratasi dgn kriteria hasil: - Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala Anxiety Reduction (penurunan kecemasan)  Gunakan pendekatan yang menenangkan  Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien  Jelaskan semua
  • 16.
    dan perawatan post operasi cemas -Mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukkan tehnik untuk mengontol cemas - Vital sign dalam batas normal - Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktivitas menunjukkan berkurangnya kecemasan prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur ď‚· Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut ď‚· Berikan informasi faktual mengenai diagnosis, tindakan prognosis ď‚· Libatkan keluarga untuk mendampingi klien ď‚· Instruksikan pada pasien untuk menggunakan tehnik relaksasi ď‚· Dengarkan dengan penuh perhatian ď‚· Identifikasi tingkat kecemasan ď‚· Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan ď‚· Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi ď‚· Kelola pemberian obat anti cemas:........ b. Intra Operasi Sc Diagnosa Kep. NOC NIC Perubahan Perfusi Jaringan b.d perdarahan ď‚· Circulation status Kriteria Hasil : Mendemonstrasikan status sirkulasi yang ditandai dengan : o Tekanan systole dan diastole dalam rentang yang diharapkan Peripheral Sensation Management (Manajemen sensasi perifer) - Periksa kulit dan membran mukosa untuk kemerahan, kehangatan ekstrim, edema atau kering - Pantau warna dan suhu
  • 17.
    o Tidak adaortostatik hipertensi o Tidak ada tanda tanda peningkatan tekanan intrakranial (tidak lebih dari 15 mmHg) Mendemonstrasikan, kemampuan kognitif yang ditandai dengan : o Berkomunikasi dengan jelas dan sesuai dengan kemampuan o Menunjukkan perhatian, konsentrasi dan orientasi o Memproses informasi o Membuat keputusan dengan benar kulit - Monitor adanya daerah tertentu yang hanya peka terhadap panas/ dingin/tajam/tumpul - Monitor adanya paretese - lnstruksikan keluarga untuk mengobservasi kulit jika ada isi atau laserasi - Gunakan sarung tangan untuk proteksi - Batasi gerakan pada kepala, leher dan punggung - Monitor adanya tromboplebitis · Diagnosa Kep. NOC NIC Devisit Volume Cairan b.d perdarahan  Fluid balance  Hydration  Nutritional Status : Food and Fluid Intake Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama….. defisit volume cairan teratasi dengan kriteria hasil: - Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, BJ urine normal, - Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal - Tidak ada tanda tanda dehidrasi, Elastisitas turgor kulit baik, membran mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan - Orientasi terhadap waktu dan tempat baik - Jumlah dan irama pernapasan dalam batas · Pertahankan catatan intake dan output yang akurat · Monitor status hidrasi ( kelembaban membran mukosa, nadi adekuat, tekanan darah ortostatik ), jika diperlukan · Monitor hasil lab yang sesuai dengan retensi cairan (BUN , Hmt , osmolalitas urin, albumin, total protein ) · Monitor vital sign setiap 15menit – 1 jam · Kolaborasi pemberian cairan IV · Monitor status nutrisi · Berikan cairan oral · Berikan penggantian nasogatrik sesuai output (50 – 100cc/jam) · Dorong keluarga untuk
  • 18.
    normal - Elektrolit, Hb,Hmt dalam batas normal - pH urin dalam batas normal - Intake oral dan intravena adekuat membantu pasien makan · Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul meburuk · Atur kemungkinan tranfusi · Persiapan untuk tranfusi · Pasang kateter jika perlu · Monitor intake dan urin output setiap 8 jam c. Post Operasi Sc Diagnosa Kep. NOC NIC Nyeri akut berhubungan dengan injury fisik jalan lahir. - Pain Level - pain control, - comfort level Setelah dilakukan tinfakan keperawatan selama …. Pasien tidak mengalami nyeri, dengan kriteria hasil:  Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)  Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri  Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)  Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang  Tanda vital dalam rentang normal  - Tidak mengalami gangguan tidur  Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi  Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan  Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan  Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan  Kurangi faktor presipitasi nyeri  Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi  Ajarkan tentang teknik non farmakologi: napas dala, relaksasi, distraksi, kompres hangat/ dingin  Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri  Tingkatkan istirahat  Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan berkurang dan antisipasi
  • 19.
    ketidaknyamanan dari prosedur  Monitorvital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kal Diagnosa Kep. NOC NIC Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan / luka kering bekas operasi NOC : § Immune Status § Knowledge : Infection control § Risk control Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama…… pasien tidak mengalami infeksi dengan kriteria hasil: § Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi § Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi § Jumlah leukosit dalam batas normal § Menunjukkan perilaku hidup sehat § Status imun, gastrointestinal, genitourinaria dalam batas normal NIC : - Pertahankan teknik aseptif - Batasi pengunjung bila perlu - Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan keperawatan - Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung - Ganti letak IV perifer dan dressing sesuai dengan petunjuk umum - Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi kandung kencing - Tingkatkan intake nutrisi - Berikan terapi antibiotik:................................ . - Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal - Pertahankan teknik isolasi k/p - Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas, drainase - Monitor adanya luka - Dorong masukan cairan - Dorong istirahat - Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi - Kaji suhu badan pada pasien neutropenia setiap 4 jam
  • 20.
    DAFTAR PUSTAKA Doengoes, M.E.(2010). Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC. Johnson, Marion, PhD, RN; Mass, Meridean, PhD, RN, FAAN; Moorhead Sue, PhD, RN. Nursing Outcomes Classification (NOC). Second edition, Mosby: St. Louis Baltimore Boston. Carisbad Chicago Minneapolis New York Philadelphia Portland London Milan Sydney Tokyo Toronto. M. D Ben-Zion, Kapita Selekta, Kendaruratan Observasi dan Ginekologi. Mochtar, Ruslam, Sinopsis Ebstetri, Edisi II, Jilid 2, ed delfei irva, Jakarta: EGC, 1998. Mansjoer Arief. (2010). Kapita Selekta Kedokteran, edisi 4. Jakarta : Media Aesculapius. Manuaba. (2008). Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga. Berencana (Edisi 2). Jakarta : EGC.