1
ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS TERHADAP NY. M
UMUR 30 TAHUN P4A0 6 JAM POST PARTUM
DI BPS DESYANDRIANI, S.Tr.Keb
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2016
KARYA TULIS ILMIAH
Diajukan untuk memenuhi persyaratan
Ujian Akhir Program Pendidikan Diploma III Kebidanan
Disusun oleh:
KOMARIAH
NIM:201308033
AKADEMI KEBIDANAN ADILA
BANDAR LAMPUNG
2016
i
Diterima dan disahkan oleh TIM Penguji Ujian Akhir Program Pendidikan
Diploma III Kebidanan Adila pada:
Penguji I
(Meryana Ce
NIK:2011041003
LEMBAR PENGESAHAN
Diterima dan disahkan oleh TIM Penguji Ujian Akhir Program Pendidikan
Diploma III Kebidanan Adila pada:
Hari :
Tanggal :
Penguji I Penguji II
(Meryana Cevestin, SKM.,M.M) (Nopa Utari
NIK:2011041003 NIK: 11210043
Mengetahui:
Direktur
dr. Wazni Adila, MPH
NIK 2011041008
ii
2
Diterima dan disahkan oleh TIM Penguji Ujian Akhir Program Pendidikan
(Nopa Utari, S.ST)
NIK: 11210043
3
ASUHAN KEBIDANAN IBU NIFAS TERHADAP NY. M
UMUR 30 TAHUN P4A0 6 JAM POST PARTUM
DI BPS DESY ANDRIANI, S. Tr.Keb.
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2016
Komariah, Ninik Masturiyah
INTISARI
Masa nifas yaitu dimulai setelah plasenta keluar dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali
seperti keadaan semula (sebelum hamil). Program dan kebijakan tehnis paling sedikit 4 kali
kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai status ibu dan BBL, dan untuk mencegah
mendeteksi, dan menangani masalah-masalah yang terjadi dalam masa nifas. Bila dilihat
berdasarkan kasus kematian yang ada di Provinsi Lampung tahun 2012 kasus kematian ibu
(kematian ibu pada saat hamil, saat melahirkan dan nifas) seluruhnya sebanyak 179 kasus,
Penyebab kasus kematian ibu diprovinsi lampung tahun 2012 disebabkan oleh perdarahan
(40,23%), eklamsi(59,33%), infeksi(4,2%) dan lain-lain(75,42%). Tujuan dari karya tulis ilmiah
ini adalah untuk dapat memberikan asuhan kebidanan pada ibu nifas normal 6 jam post partum
terhadap Ny. M umur 30 tahun. Kesimpulan hasil studi kasus ini ibu dalam keadaan sehat, rasa
mulas masih dirasakan dan tidak ada penyulit yang berhubungan dengan masa nifas. Saran utama
diharapkan asuhan yang telah diberikan dapat menambah pengetahuan bagi ibu dan masyarakat
tentang perawatan selam masa nifas.
Kata Kunci : Masa nifas, 6 jam post partum
Kepustakaan : 27 referensi (2007-2015)
Jumlah Halaman : 152 halaman,4 daftar tabel,2 daftar lampiran
iii
4
CURIKULUM VITAE
Nama : KOMARIAH
Nim : 201308033
Tempat/Tanggal lahir : Srimulyo, 19 Januari 1995
Agama : Islam
Alamat : Jl. Lintas Sumatera, Kec. Madang Suku II, Kab.
OKU Timur, Sumatera Selatan
Institusi : Akademi Kebidanan Adila
Angkatan : VIII (delapan)
RIWAYAT PENDIDIKAN
1. SDN Wonorejo lulusan tahun 2007
2. SMPN 1 Pandan Agung lulusan tahun 2010
3. SNMAN 1 Madang Suku II lulus tahun 2013
4. Saat ini penulis sedang menyelesaikan pendidikan D III kebidanan di
Akademi Kebidanan Adila Bandar Lampung Tahun 2013 sampai dengan
sekarang.
iv
5
MOTTO
Sebelum melangkah awali dengan basmalah
Kesuksesan hanya dapat diraih dengan segala upaya dan usaha
yang disertai do’a,
karena sesungguhnya nasib manusia tidak akan berubah dengan sendirinya
tanpa berusaha
By: Komariah
v
6
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah dalam bentuk studi kasus
kebidanan yang berjudul ‘‘Asuhan Kebidana padaIbu Nifas Pada Ny. M umur 30
Tahun P4A0 6 Jam Post Partum di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar
Lampung Tahun 2016’’. Karya Tulis Ilmiah ini dapat terselesaikan berkat bantuan
berbagai pihak, maka penulis mengucapkan terima kasih kepada
1. dr. Wazni Adila,MPH selaku Direktur Akbid Adila Bandar Lampung.
2. Ninik Masturiyah, S.ST., M.Kes Selaku Pembimbing Karya Tulis Ilmiah.
3. Penguji I Nopa Utari S.ST dan penguji II Meryana Cevestin SKM.,MM
4. BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung sebagai tempat
mengambil penelitian.
5. Seluruh dosen dan staf Akademi Kebidanan Adila Bandar Lampung
Penulis menyadari penyusunan karya tulis ilmiah ini masih jauh dari
kesemprnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang
bersifat membangun gunaperbaikan pada masa yang akan datang. semoga karya
tulis ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca umum.
Bandar Lampung, Agustus 2016
Penulis
vi
7
DAFTAR ISI
Halaman judul .....................................................................................
Lembar pengesahan ............................................................................. ii
Intisari ................................................................................................. iii
Motto................................................................................................... v
Kata pengantar..................................................................................... vi
Daftar isi.............................................................................................. vii
Daftar tabel.......................................................................................... viii
Daftar lampiran.................................................................................... ix
Bab I Pendahuluan
A. Latar Belakang..................................................................... 1
B. Rumusan Masalah................................................................ 3
C. Tujuan Penulisan ................................................................. 4
D. Ruang Lingkup .................................................................... 5
E. Manfaat Penelitian............................................................... 6
F. Metodologi dan Teknik Memperoleh Data........................... 7
Bab II Tinjauan Pustaka
A. Tinjauan Teori Medis........................................................... 10
B. Tinjauan Teori Asuhan Kebidanan....................................... 58
C. Landasan Hukum Kewenangan Bidan.................................. 78
BAB III Tinjauan Kasus
A. Pengkajian ........................................................................... 85
B. Matriks ............................................................................... 94
Bab IV Pembahasan
A. Pengkajian Data................................................................... 105
B. Interpretasi Data Dasar......................................................... 133
C. Identifikasi Diagnosis dan Masalah Potensial....................... 137
D. Tndakan Segera atau Kolaborasi.......................................... 138
E. Perencanaan ........................................................................ 138
F. Pelaksanaan ......................................................................... 141
G. Evaluasi............................................................................... 145
Bab V Penutup
A. Simpulan.............................................................................. 148
B. Saran ................................................................................... 149
Daftar Pustaka
Lampiran
vii
8
DAFTAR TABEL
TABEL 2.1 Kebijakan Program Nasional Masa Nifas
TABEL 2.2 Involusi Uterus
TABEL 3.3 Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu
TABEL 3.2 Matriks
viii
9
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Lembar Konsul
Lampiran 2 : Dokumentasi
Lampiran 3 : Curiculum Vitae
ix
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyebab kematian disebabkan oleh perdarahan, eklamsia, infeksi,
persalinan macet, dan komplikasi keguguran (Kepmenkes RI, 2014). Data
dari World Health Organization (WHO) tahun 2010 menunjukkkan bahwa
perdarahan merupakan 26 % dari penyebab kematian ibu di dunia dan
merupakan penyebab terbesar setelah infeksi (15%), unsafe abortion (13%),
dan pre-eklamsi atau eklamsi (12%), selain sebab-sebab yang lain.
(Astuti et. all, 2015; h. 74)
Perdarahan pascapersalinan merupakan penyebab utama dari 150.000
kematian ibu setiap tahun didunia dan hampir 4 dari 5 kematian karena
perdarahan pascapersalinan terjadi dalam waktu 4 jam setelah persalinan.
Penyebab perdarahan paling sering adalah atonia uteri serta retensio plasenta,
penyebab lain kadang-kadang adalah laserasi serviks atau vagina, ruptur uteri
dan inversio uteri. (Prawirohardjo, 2012; h. 357)
Secara global 80 % kematian ibu tergolong pada kematian ibu langsung.
Pola penyebab langsung di mana-mana sama, yaitu perdarahan (25%
biasanya perdarahan pasca persalinan), sepsis (15%), hipertensi dalam
kehamilan (12%), partus macet (80%), komplikasi aborsi tidak aman (13%),
dan sebab-sebab lain (8%). (Prawiroharjdo, 2012; h. 54)
2
Berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun
2012, AKI (yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, nifas) sebesar 359
per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini masih cukup tinggi jika dibandingkan
dengan Negara-negar tetangga di Kawasan ASEAN.
(Profil Kesehatan Indonesia, 2014)
Angka Kematian Ibu (AKI) berdasarkan laporan dari Kabupaten kota
tahun 2012 sebesar 115,8 per 100.000 Kelahiran Hidup. Bila dilihat
berdasarkan kasus kematian yang ada di Provinsi Lampung tahun 2012
berdasarkan laporan dari kabupaten terlihat bahwa kasus kematian ibu
(kematian ibu pada saat hamil, saat melahirkan dan nifas) seluruhnya
sebanyak 179 kasus. Penyebab kasus kematian ibu di Provinsi Lampung
tahun 2012 disebabkan oleh perdarahan (75,42%), eklampsi (59,33%), infeksi
(4,2%) dan lain-lain (40,23%). Adapun kasus kamatian ibu tertinggi ada di
Kota Bandar Lampung Kasus kematian ibu tertinggi ada di Kota Bandar
Lampung. (Profil Kesehatan Provinsi Lampung, 2012).
Masa nifas (puerpurium) adalah masa yang dimulai setelah plasenta keluar
dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan semula
(sebelum hamil). Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu.
(Sulistyawati, 2009; h. 1)
Masa nifas atau puerpurium dimulai sejak 1 jam setelah lahirnya plasenta
sampai dengan 6 minggu (42 hari) setelah itu. Pelayanan pasca persalinan
harus terselenggara pada masa itu untuk memenuhi kebutuhan ibu dan bayi,
yang meliputi upaya pencegahan, deteksi dini dan pengobatan komplikasi dan
3
penyakit yang mungkin terjadi, serta penyediaan pelayanan pemberian ASI,
cara menjarangkan kehamilan, imunisasi, dan nutrisi bagi ibu.
(Prawirohardjo, 2012; h. 356).
Program dan kebijakan tehnis paling sedikit 4 kali kunjungan masa nifas
dilakukan untuk menilai status ibu dan BBL, dan untuk mencegah,
mendeteksi, dan menangani masalah-masalah yang terjadi dalam masa nifas.
(Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 4).
Asuhan masa nifas diperlukan dalam periode ini karena merupakan masa
kritis baik ibu maupun bayinya. Diperkirakan bahwa 60% kematian ibu
termasuk kehamilan terjadi setelah persalinan dan 50 % kematian masa nifas
terjadi dalam 24 jam. Oleh karena itu, peran dan tanggung jawab bidan untuk
memberikan asuhan kebidanan ibu nifas dengan pemantauan mencegah
beberapa kematian ini. (Dewi & Sunarsih, 2011; h 3).
Berdasarkan pra survey di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Pada tanggal 07
Mei 2016 terdapat ibu nifas 6 jam post partum yaitu Ny. M dimana Ny. M
membutuhkan penjelasan tentang pencegahan perdarahan. Berdasarkan latar
belakang tersebut peneliti tertarik untuk meneliti tentang ‘‘Asuhan Kebidanan
Ibu Nifas Terhadap Ny. M Umur 30 Tahun P4A0 6 Jam Post Partum Di BPS
Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016’’
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah yang muncul adalah
‘‘Bagaimana Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Terhadap Ny. M Umur 30 Tahun
4
P4A0 6 Jam Post Partum di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung
Tahun 2016?’’
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Mampu memberikan Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Terhadap Ny. M
Umur 30 Tahun P4A0 6 Jam Post Partum Di BPS Desy Andriani,
S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016.
2. Tujuan Khusus
a. Diharapkan penulis dapat melakukan pengkajian Asuhan Kebidanan
Ibu Nifas Terhadap Ny. M Umur 30 Tahun P4A0 6 Jam Post Partum
Di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016
b. Diharapkan penulis dapat menentukan interpretasi data khususnya
Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Terhadap Ny. M Umur 30 Tahun P4A0 6
Jam Postpartum Di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung
Tahun 2016.
c. Diharapkan penulis dapat mengidentifikasi diagnosa dan masalah
potensial pada Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Terhadap Ny. M Umur
30 Tahun P4A0 6 Jam Post Partum Di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb
Bandar Lampung Tahun 2016.
d. Diharapkan penulis dapat melakukan antisipasi tindakan
segera/kolaborasi pada Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Terhadap Ny. M
5
Umur 30 Tahun P4A0 6 Jam Post Partum Di BPS Desy Andriani,
S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016.
e. Diharapkan penulis dapat menyusun rencana asuhan yang menyeluruh
pada Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Terhadap Ny. M Umur 30 Tahun
P4A0 6 Jam Post Partum Di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar
Lampung Tahun 2016
f. Diharapkan penulis dapat melaksanakan rencana yang telah dibuat
khususnya pelaksanaan Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Terhadap Ny. M
Umur 30 Tahun P4A0 6 Jam Post Partum Di BPS Desy Andriani,
S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016.
g. Diharapkan penulis dapat mengevaluasi dari pelaksanaan Asuhan
Kebidanan Ibu Nifas Terhadap Ny. M Umur 30 Tahun P4A0 6 Jam
Post Partum Di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung
Tahun 2016.
D. Ruang Lingkup
1. Objek penelitian
Objek penelitian dalam Karya Tulis Ilmiah ini adalah satu orang ibu nifas
yaitu Ny. M umur 30 tahun P4A0 6 jam post partum.
2. Tempat penelitian
Dalam penelitian ini penulis mengambil di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb
Bandar Lampung Tahun 2016.
6
3. Waktu
Pelaksanaan asuhan kebidanan pada masa nifas dalam karya tulis ilmiah
ini dilaksanakan pada tanggal 07 Mei 2016.
E. Manfaat Penulisan
1. Bagi Institusi Pendidikan
Dapat digunankan sebagai dokumentasi dan sebagai penelitian selanjutnya
dan dapat lebih meningkatkan asuhan masa nifas, dan diharapkan dapat
bermanfaat sebagai informasi bagi staf akademik untuk lebih
mengembangkan proses belajar mengajar di akademik khususnya yang
berkaitan dengan asuhan masa nifas sehingga dapat menumbuhkan dan
menciptakan bidan yang terampil dan professional.
2. Bagi Lahan Praktik
Studi kasus ini dapat dijadikan salah satu informasi dan masukan serta
gambaran bagi lahan untuk dapat mengembangkan dan meningkatkan
pelayanan asuhan kebidanan yang lebih baik dikemudian hari pada para
pasien yang berkaitan dengan asuhan pada ibu nifas.
3. Bagi masyarakat (klien)
Hasil penelitian ini dapat memberikan asuhan yang sesuai dengan
kebutuhkan klien, dan memberikan pengetahuan sehingga klien
mengetahui dan mampu memenuhi apa yang dibutuhkan, serta dapat
mendeteksi secara dini dan mampu mengenali adanya komplikasi yang
terjadi pada masa nifas.
7
4. Bagi penulis
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai pengalaman serta dapat
menambah wawasan dan pengetahuan penulis dalam mengaplikasikan
asuhan kebidanan khususnya tentang perawatan 6 jam post partum pada
masa nifas.
F. Metodologi dan Teknik Memperoleh Data
1. Metodologi penelitian
Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis menggunakan metode
penulisan studi kasus. Dimana metode penulisan yang digunakan yaitu
metode penelitian studi kasus. Creswell (1998) menyatakan bahwa studi
kasus (case studi) adalah suatu model yang menekankan pada eksplorasi
dari suatu ‘‘sistem yang berbatas’’ (bounded sistem) pada satu kasus atau
beberapa kasus secara mendetail, disertai dengan penggalian data secara
mendalam yang melibatkan beragam sumber informasi yang kaya akan
konteks. (Herdiansyah, 2012; h. 76)
2. Teknik Memperoleh Data
a. Data Primer
Data primer merupakan materi atau kumpulan fakta yang dikumpulkan
sendiri oleh peneliti pada saat penelitian berlangsung
(Chandra, 2008; h. 20)
8
1) Wawancara
Suatu metode yang dipergunakan untuk mengumpulkan data, dimana
penelitian mendapatkan keterangan atau informasi secara lisan dari
seseorang sasaran penelitian (responden), atau bercakap-cakap
berhadapan muka dengan orang tersebut (face to face).
(Notoatmodjo, 2010; h. 139)
Anamnesa dapat dilakukan melalui 2 cara yaitu:
a) Auto Anamnesa
Auto anamnesa merupakan anamnesa yang dilakukan kepada
pasien secara langsung. Jadi, data yang diperoleh adalah data
primer karena langsung dari sumbernya.
b) Allo Anamnesa
Allo anamnesa merupakn anamnesa yang dilakukan kepada
keluarga pasien untuk memperoleh data tentang pasien. Ini
dilakukan pada keadaan darurat ketika pasien tidak
memungkinkan lagi untuk memberikan data yang akurat
(Sulistyawati, 2009; h. 111).
2) Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mendapat data objektif. Data
objektif adalah data yang diperoleh dengan melakukan serangkaian
pemeriksaan pada klien. (Maritalia, 2014; h. 116)
9
b. Data sekunder
Data sekunder merupalkan data yang diperoleh peneliti dari pihak lain
(Chandra, 2010; h. 20)
1) Studi Kepustakaan
Menurut sekaran (2006) dalam buku hidayat (2014) studi
kepustakaan merupakan kegiatan penelitian yang dilakukan oleh
peneliti dalam rangka mencari landasan teoritis dari permasalahan
penelitian. Selain itu, studi kepustakaan juga merupakan
dokumentasi dari tinjauan menyeluruh terhadap karya publikasai dan
nonpublikasai, sehingga peneliti harus bisa memastikan bahwa tidak
ada variable penting di masa lalu yang ditemukan berulang kali
mempunyai pengaruh atas masalah yang terlewatkan. Studi
kepustakaan yang baik akan menyediakan dasar untuk menyusun
keranngka teoritis yang komprehensif yakni hipotesis dapat dibuat
untuk diuji.
2) Dokumentasi
Dokumentasi merupakan metode pengumpulan data dengan cara
pengambilan data yang berasal dari dokumen asli. Dokumentasi asli
tersebut dapat berupa gambar, tabel atau daftar periksa, dan film
documenter. (Hidayat, 2014; h. 90)
10
BAB II
TEORI PENUNJANG
A. TINJAUAN TEORI MEDIS
1. Masa Nifas
a. Definisi Masa Nifas
Masa nifas (puerpurium) adalah masa yang dimulai setelah plasenta
keluar dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan
semula (sebelum hamil).Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6
minggu. (Sulistyawati, 2009; h. 1)
Masa nifas adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi,
plasenta, serta selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali
organ kandungan seperti sebelum hamil dengan waktu kurang lebih 6
minggu. (Saleha, 2009; h. 4)
Masa nifas atau puerpurium dimulai sejak 1 jam setelah lahirnya
plasenta sampai dengan 6 minngu (42 hari) setelah itu.
(Prawirohardjo, 2012; h. 356)
b. Tujuan Asuhan Masa Nifas
1) Mendeteksi adanya perdarahan masa nifas.
2) Menjaga kesehatan ibu dan bayinya.
3) Melaksanakan skrining secara komprehensif.
11
4) Memberikan pendidikan kesehatan diri.
5) Memberikan pendidikan mengenai laktasi dan perawatan payudara.
6) Konseling mengenai KB. (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 2-3)
c. Peran dan tanggung jawab bidan dalam masa nifas
Peran bidan antara lain sebagai berikut.
1) Memberikan dukungan secara berkesinambungan selama masa nifas
sesuai dengan kebutuhan ibu untuk mengurangi ketegangan fisik dan
psikologis selama masa nifas.
2) Sebagai promotor hubungan antara ibu dan bayi, serta keluarga.
3) Mendorong ibu untuk menyusui bayinya dengan meningkatkan rasa
nyaman.
4) Membuat kebijakan, perencanaan program kesehatan yang berkaitan
ibu dan anak, serta mampu melakukan kegiatan administrasi.
5) Mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan.
6) Memberikan konseling untuk ibu dan keluarganya mengenai cara
mencegah perdarahan, mengenali tanda-tanda bahaya, menjaga gizi
yang baik, serta mempraktikkan kebersihan yang aman.
7) Melakukan manajemen asuhan dengan cara mengumpulkan data,
menetapkan diagnosis dan rencana tindakan juga melaksanakannya
untuk mempercepat proses pemulihan, serta mencegah komplikasi
dengan memenuhi kebutuhan ibu dan bayi selama periode nifas.
8) Memberikan asuhan secara professional.
12
(Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 3-4)
d. Tahapan Masa Nifas
Tahapan masa nifas dibagi menjadi 3 tahap, yaitu:
1) Puerperium dini
Puerpurium dini merupakan masa kepulihan, yang dalam hal ini ibu
telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. Dalam agama Islam,
dianggap bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.
2) Puerperium intermedial
Puerperium intermedial merupakan masa kepulihan menyeluruh alat-
alat genitalia, yang lamanya sekitar 6-8 minggu.
3) Remote puerperium
Remote puerperium merupakan masa yang diperlukan untuk pulih
dan sehat sempurna, terutama bila selama hamil atau waktu
persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna
dapat berlangsung selama bermingu-minggu, bulanan, bahkan
tahunan. (Sulistyawati, 2009;h. 5)
13
e. Kebijakan Program Nasional Masa Nifas
Tabel 2.1Kebijakan Program Nasional Masa Nifas
Kunjungan Waktu Tujuan
1 6-8 jam
setelah
persalinan
a) Mencegah perdarahan`masa nifas karena atonia
uteri
b) Mendeteksi dan merawat penyebab lain
perdarahan, rujuk bila perdarahan berlanjut.
c) Memberikan konseling pada ibu atau salah satu
anggota keluarga mengenai bagaiman cara
mencegah perdarahan masa nifas karena atonia
uteri
d) Pemberian ASI awal.
e) Melakukan hubungan antara ibu dengan bayi yang
yang baru lahir.
f) Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah
hypothermi.
g) Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia
harus tinggal dengan ibu dan bayi yang baru lahir
untuk 2 jam pertama setelah kelahiran, atau sampai
ibu dan bayinya dalam keadaan stebil.
2 6 hari a) Memastikan involusi uterus berjalan normal:
uterus berkontraksi, fundus di bawah umbilicus,
tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau.
b) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi,atau
perdarahan abnormal.
c) Memastikan ibu mendapat cukup makanan, cairan,
dan istirahat.
d) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tak
memperlihatkan tanda-tanda penyulit.
e) Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan
pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat,
dan merawat bayi sehari-hari.
3 2 minngu Sama seperti 6 hari setelah persalinan
4 6 minngu a) Menanyakan pada ibu tentang kesulitan-kesulitan
yang ia atau bayinya alami.
b) Memberikan konseling KB secara dini.
(Sulistyawati, 2009; h. 6-7)
f. Respon orang tua terhadap bayi baru Lahir
1) Bonding Attachment
Kelahiran adalah sebuah momen yang dapat membentuk suatu ikatan
antara ibu dan bayinya. Pada saat bayi dilahirkan adalah saat yang
sangat menakjubkan bagi seorang ibu ketika ia dapat melihat,
14
memegang, dan memberikan ASI pada bayinya untuk pertama kali.
Pada masa tenang setelah melahirkan, disaat ibu merasa rileks,
memberikan peluang ide untuk memulai pembentukan ikatan batin.
(Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 45).
Bounding attachment/keterikatan awal/ikatan batin adalah suatu
proses dimana sebagai hasil dari suatu interaksi terus menerus antara
bayi dan orang tua yang bersifat saling mencintai, memberikan
keduanya pemenuhan emosional dan saling membutuhkan. Proses
ikatan batin antara ibu dengan bayinya ini diawali dengan kasih
sayang terhadap bayi yang dikandung, dan dapat dimulai sejak
kehamilan. Ikatan batin antara bayi dan orang tuanya berkaitan erat
dengan pertumbuhan psikologi sehat dan tumbuh kembang bayi.
(Rukiyah et.all, 2011;h. 38).
Tahap-tahap bonding attachment adalah sebagai berikut.
1) Perkenalan (acquaintance), dengan melakukan kontak mata,
menyentuh, berbicara, dan mengeksplorasi segera setelah
mengenal bayinya.
2) Keterikatan (bounding)
3) Attachment, perasaan kasih sayang yang mengikat individu
dengan individu lain
15
Elemen-elemen bounding attachment meliputi hal-hal sebagai
berikut
1) Sentuhan
Sentuhan atau indra peraba dipakai secara ekstensif oleh orang tua
dan pengasuh lain sebagai suatu sarana untuk mengenali bayi baru
lahir dengan cara mengksplorasi tubuh bayi dengan ujung jarinya.
2) Kontak mata
Ketika bayi baru lahir mampu secara fungsional mempertahankan
kontak mata, orang tua dan bayi akan menggunakan lebih banyak
waktu untuk saling memandang. Beberapa ibu mengatakan,
dengan melakukan kontak mata mereka merasa lebih dekat
dengan bayinya.
3) Suara
Saling mendengarkan dan merespons suara antara orang tua dan
bayinya juga penting. Orang tua menunggu tangisan pertama
bayinya dengan tegang. Bayi akan menjadi tenang dan berpaling
ke arah orang tua mereka saat orang tua mereka berbicara dengan
suara bernada tinggi
4) Aroma
Perilaku lain yang terjalani antara orang tua dan bayi ialah
respons terhadap aroma/bau masing-masing. Ibu mengetahui
setiap anak memiliki aroma yang unik. Bayi belajar dengan cepat
untuk membedakan aroma susu ibunya.
16
5) Entrainment
Bayi baru lahir bergerak-gerak sesuai dengan struktur
pembicaraan orang dewasa. Mereka menggoyang tangan,
mengangkat kepala, menendang-nendangkan kaki, seperti sedang
berdansa mengikuti nada suara orang tuanya. Entrainment terjadi
saat anak mulai berbicara.
6) Bioritme
Anak yang belum lahir atau baru lahir dapat dikatakan senada
dengan ritme alamiah ibunya. Untuk itu, salah satu tugas bayi
baru lahir ialah membentuk ritme personal (bioritme). Orang tua
dapat membantu proses ini dengan memberi kasih sayang yang
konsisten dan dengan memanfaatkan waktu saat bayi
mengembangkan perilaku yang responsif. Hal ini dapat
meningkatkan interaksi sosial dan kesempatan bayi untuk belajar.
7) Kontak dini
Saat ini, banyak bukti-bukti alamiah yang menunjukan bahwa
kontak dini setelah lahir merupakan hal yang penting dalam
hubungan antara orang tua-anak. Menurut Klaus, Kennel (1982),
beberapa keuntungan fisiologis yang dapat diperoleh dari kontak
dini, yaitu sebagai berikut.
a) Kadar oksitosin dan prolaktin meningkat
b) Refleks menghisap dilakukan secara dini
c) Pembentuk kekebalan aktif dimulai
17
d) Mempercepat proses ikatan antara orang tua dan anak.
g. perubahan fisiologi masa nifas
1) Perubahan sistem reproduksi
a) Uterus
Pada uterus terjadi proses involusi. Proses involusi adalah proses
kembalinya uterus kedalam keadaan sebelum hamil setelah
melahirkan. Proses ini dimulai segera setelah plasenta keluar
akibat kontraksi otot-otot polos uterus. Pada tahap ketiga
persalinan, uterus berada digaris tengah, kira-kira 2 cm di bawah
umbilikus dengan bagian fundus bersandar pada promotorium
sakralis. Pada saat ini, besar uterus kira-kira sama besar uterus
sewaktu usia kehamilan 16 minggu (kira-kira sebesar jeruk asam)
dan beratnya kira-kira 100 gr.
Dalam waktu 12 jam, tinggi fundus uteri mencapai kurang
lebih 1 cm di atas umbilikus. Dalam beberapa hari kemudian,
perubahan involusi berlangsung dengan cepat. Fundus turun kira-
kira 1-2 cm setiap 24 jam. Pada hari pascapartum keenam fundus
normal akan berada di pertengahan antara umbilikus dan simfisis
pubis. Uterus tidak bisa dipalpasi pada abdomen pada hari ke-9
pascapartum.
18
Subinvolusi adalah kegagalan uterus untuk kembali pada keadaan
tidak hamil. Penyebab subinvolusi yang paling sering adalah
tertahannya fragmen plasenta dan infeksi.
Proses involusi uterus adalah sebagai berikut:
(1) Iskemia miometrium
Disebabkan oleh kontraksi dan retraksi yang terus-menerus
dari uterus setelah pengeluaran plasenta membuat uterus
relatif anemia dan menyebabkan serat otot atrofi.
(2) Autolisis
Autolisis merupakan penghancuran diri sendiri yang terjadi
didalam otot uterus. Enzim preteolitik akan memendekkan
jaringan otot yang telah sempat mengendur hingga
panjangnya 10 kali dari semula dan lebar lima kali dari
semula selama kehamilan atau dapat juga dikatakan sebagai
perusakan secara langsung jaringan hipertrofi yang
berlebihan. Hal ini disebabkan karena penurunan hormon
estrogen dan progesteron.
(3) Efek oksitosin
Oksitosin menyebabkan terjadinya kontraksi dan retraksi otot
uterin sehingga akan menekanpembuluh darah yang
mengakibatkan berkurangnya suplai darah ke uterus. Proses
ini membantu untuk mengurangi situs atau tempat implantasi
plasenta serta mengurangi perdarahan. Penurunan ukuran
19
uterus yang cepat itu dicerminkan oleh perubahan lokasi
uterus ketika turun keluar dari abdomen dan kembali menjadi
organ pelvis.
Tabel 2.2 Involusi Uterus
Involusi Tinggi
Fundus Uteri
Berat
Uterus
(gr)
Diameter
bekas
melekat
plasenta(cm)
Keadaan
Serviks
Bayi lahir Setinggi pusat 1000
Uri lahir 2 jari dibawah
pusat
750 12,5 lembek
Satu
minggu
Pertengahan
pusat-simfisis
500 7,5 Beberapa
hari
setelah
postpartum
dapat
dilalui 2
jari akhir
minggu
pertama
dapat
dimasuki 1
jari
Dua
minggu
Tak teraba
diatas simfisis
350 3-4
Enam
minggu
Bertambah
kecil
50-60 1-2
Delapan
minggu
Sebesar
normal
30
(Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 55-57)
b) Lokhea
Lokhea adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas.Lokhea
mengandung darah dan sisa jaringan desidua yang nekrotik dari
dalam uterus. Lokhea mempunyai reaksi basa/alkalis yangdapat
membuat organisme berkembang lebih cepat daripada kondisi
asam yang ada pada vagina normal. Lokhea berbau amis atau
anyir dengan volume yang berbeda-beda pada setiap wanita.
Lokhea yang berbau tidak sedap menandakan adanya infeksi.
Lokhea mempunyai perubahan warna dan volume karena adanya
proses involusi.
20
Jenis-jenis lokhea berdasarkan warna dan waktu keluarnya:
(1) Lokhea rubra/merah
Lokhea ini keluar pada hari pertama sampai hari ke-4 masa
post partum. Cairan yang keluar berwarna merah karena terisi
darah segar, jaringan sisa-sisa plasenta, dinding rahim, lemak
bayi, lanugo (rambut bayi), dan mekonium.
(2) Lokhea sanguinolenta
Lokhea ini berwarna merah kecoklatan dan berlendir, serta
berlangsung dari hari ke-4 sampai hari ke-7 post partum.
(3) Lokhea serosa
Lokhea ini berwarna kuning kecoklatan karena mengandung
serum, leukosit, dan robekan atau laserasi plasenta.Keluar
pada hari ke-7 sampai hari ke-14.
(4) Lokhea alba/putih
Lokhea ini mengandung leukosit, sel desidua, sel epitel,
selaput lendir serviks, dan serabut jaringan yang mati.
Lokhea alba ini dapat berlangsung selama 2-6 minggu post
partum.
Bila terjadi infeksi, akan keluar cairan nanah berbau busuk
yang disebut dengan ‘‘lokhea purulenta’’. Pengeluaran
lokhea yang tidak lancar disebut dengan ‘‘lokhea statis’’.
21
2) Perubahan pada serviks
Perubahan yang terjadi pada serviks ialah bentuk serviks agak
menganga seperti corong, segera setelah bayi lahir.Bentuk ini
disebabkan oleh corpus uteri yang dapat mengadakan kontraksi,
sedangkan serviks tidak berkontraksi sehingga seolah-olah pada
perbatasan antara korpus dan serviks berbentuk semacam cincin.
Muara serviks yang berdilatasi sampai 10 cm sewaktu persalinan
akan menutup secara perlahan dan bertahap. Setelah bayi lahir,
tangan dapat masuk ke dalam rongga rahim. Setelah 2 jam, hanya
dapat dimasuki 2-3 jari. Pada minggu ke-6 post partum, serviks
sudah menutup kembali.(Sulistyawati, 2009; 76-77).
3) Perubahan pada vulva dan vagina
Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang
sangat besar selama proses melahirkan bayi, dan dalam beberapa
hari pertama sesudah proses tersebut, kedua organ ini tetap berada
dalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu vulva dan vagina kembali
kepada keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina secara
berangsur-angsur akan muncul kembali sementara labia menjadi
lebih menonjol. (Walyani dan Purwoastuti, 2015; h. 66)
4) Perubahan payudara (mamae)
Pada semua wanita yang telah melahirkan proses laktasi terjadi
secara alami. Proses menyusui mempunyai dua mekanisme
fisiologis, yaitu sebagai berikut.
22
a) Produksi susu.
b) sekresi susu atau let down.
Selama Sembilan bulan kehamilan, jaringan payudara tumbuh dan
menyiapkan fungsinya untuk menyediakan makanan bagi bayi baru
lahir. Setelah melahirkan, ketika hormon yang dihasilkan plasenta
tidak ada lagi untuk menghambat kelenjar pituitariakan
mengeluarkan prolaktin (hormon laktogenik). Sampai hari ketiga
setelah melahirkan, efek prolaktin pada payudara mulai bisa
dirasakan.Pembuluh darah payudara menjadi bengkak terisi darah,
sehingga timbul rasa hangat, bengkak, dan rasa sakit.Sel-sel acini
yang menghasilkan ASI juga mulai berfungsi.Ketika bayi menghisap
puting, refleks saraf merangsang lobus posterior pituitari untuk
menyekresi hormon oksitosin. Oksitosin merangsang reflek let down
(mengalirkan), sehingga menyebabkan ejeksi ASI melalui sinus
laktiferus payudara ke duktus yang terdapat pada putting. Ketika ASI
dialirkan karena isapan bayi atau dengan dipompa sel-sel acini
terangsang untuk menghasilkan ASI lebih banyak.Refleks ini dapat
berlanjut sampai waktu yang cukup lama.
(Saleha, 2009; h. 57-58)
5) Perubahan sistem gastrointestinal
Kerapkali diperlukan waktu 3-4 hari sebelum faal usus kembali
normal. Meskipun kadar progesteron menurun setelah melahirkan,
namun asupan makanan juga mengalami penurunan selama satu atau
23
dua hari, gerak tubuh berkurang dan usus bagian bawah sering
kosong jika sebelum melahirkan diberikan enema. Rasa sakit
didaerah perineum dapat menghalangi keinginan ke belakang.
(Walyani dan Purwoastuti, 2015; h. 68)
6) Perubahan sitem perkemihan
Setelah proses persalinan berlangsung, biasanya ibu akan sulit untuk
buang air kecil dalam 24 jam pertama. Kemungkinan penyebab dari
keadaan ini adalah terdapat spasme sfinkter dan edema leher
kandung kemih sesudah bagian ini mengalami kompresi (tekanan)
antara kepala janin dan tulang pubis selama persalinan berlangsung.
Urine dalam jumlah besar akan dihasilkan dalam 12-36 jam post
partum. Kadar hormon esterogen yang bersifat menahan air akan
mengalami penurunan yang mencolok. Keadaan tersebut disebut
‘‘diuresis’’. Ureter yang berdilatasi akan kembali normal dalam 6
minggu.
Dinding kandung kemih memperlihatkan odemadan hyperemia,
kadang-kadang odema trigonum yang menimbulkan alostaksi dari
uretra sehingga menjadi retensi urine. Kandung kemih dalam masa
masa nifas menjadi kurang sensitif dan kapasitas bertambah
sehingga setiap kali kencing masih tertinggal urine residual (normal
kurang lebih 15 cc). Dalam hal ini, sisa urine dan trauma pada
kandung kemih sewaktu persalinan dapat menyebabkan infeksi.
(Sulistyawati, 2009; h. 78-79)
24
7) Perubahan Sistem Muskuloskeletal
Otot-otot uterus berkontraksi segera setelah partus. Pembuluh-
pembuluh darah yang berada diantara anyaman otot-otot uterus akan
terjepit. Proses ini akan menghentikan perdarahan setelah plasenta
dilahirkan.
Ligamen-ligemen, diagfragma pelvis, serta fasia yang meregang
pada waktu persalinan, secara berangsur-angsur menjadi ciut dan
pulih kembali sehingga tak jarang uterus jatuh ke belakang dan
menjadi retrofleksi karena ligamentum rotundum menjadi
kendor.Tidak jarang pula wanita mengeluh ‘‘kandungannya turun’’
setelah melahirkan karena ligamen, fasia, jaringan penunjang alat
genetalia menjadi kendor.Stabilisasi secara sempurna terjadi pada 6-
8 minggu setelah persalinan. (Sulistyawati, 2009; h. 79)
8) Perubahan Sistem Endokrin
Selama proses kehamilan dan persalinan terdapat perubahan
padasistem endokrin, terutama pada hormon-hormon yang berperan
dalam proses tersebut.
a) Oksitosin
Oksitosin disekresikan dari kelenjar otak bagian belakang.Selama
tahap ketiga persalinan, hormon oksitosin berperan dalam
pelepasan plasenta dan mempertahankan kontraksi, sehingga
mencegah perdarahan. Hal tersebut membantu uterus kembali ke
bentuk normal.
25
b) Prolaktin
Menurunnya kadar esterogen menimbulkan terangsangnya
kelenjar pituitari bagian belakang untuk mengeluarkan prolaktin,
hormon ini berperan dalam pembesaran payudara untuk
merangsang produksi susu. Pada wanita yang menyusui bayinya,
kadar prolaktin tetap tinggi dan pada permulaan ada rangsangan
folikel dalam ovarium yang ditekan. Pada wanita yang tidak
menyusui bayinya tingkat sirkulasi prolaktin menurun dalam 14-
21 hari setelah persalinan, sehingga merangsang kelenjar bawah
depan otak yang mengontrol ovarium ke arah permulaan pola
produksi estrogen dan progesteron yang normal, pertumbuhan
folikel, ovulasi, dan mentruasi.
c) Estrogen dan Progesteron
Selama hamil volume darah normal meningkat walaupun
mekenismenya secara penuh belum dimengerti. Diperkirakan
bahwa tingkat estrogen yang tinggi memperbesar hormon
antidiuretik yang meningkat volume darah. Di samping itu,
progesteron mempengaruhi otot halus yang mengurangi
perangsang dan peningkatan pembuluh darah. Hal ini sangat
mempengaruhi saluran kemih, ginjal, usus, dinding vena, dasar
panggul, perineum dan vulva, serta vagina. (Saleha,2009; h. 60)
26
9) Perubahan Tanda-Tanda Vital
a) Tekanan darah
Tekanan darah adalah tekanan yang dialami darah pada pembuluh
arteri ketika darah dipompa oleh jantung ke seluruh anggota
tubuh manusia. Tekanan darah normal manusia adalah sistolik
antara 90-120 mmHg dan diastolik 60-80 mmHg. Pasca
melahirkan pada kasus normal, tekanan darah bisaanya tidak
berubah. Perubahan tekanan darah menjadi lebih rendah pasca
melahirkan dapat diakibatkan oleh perdarahan. Sedangkan
tekanan darah tinggi pada post partum merupakan tanda
terjadinya pre eklamsia post partum. Namun demikian, hal
tersebut sangat jarang terjadi. (Rukiyah et.all, 2011; h. 69)
b) Pernapasan
Pernapasan normal yaitu 20-30 x/menit. Pada umumnya respirasi
lambat atau bahkan normal. Mengapa demikian, tidak lain karena
ibu dalam keadaan pemulihan atau dalam kondisi istirahat. Bila
ada respirasi cepat postpartum (>30 x/mnt) mungkin karena
adanya ikatan dari tanda-tanda syok.
(Walyani dan Purwoastuti , 2015; h. 87)
c) Nadi
Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 kali permenit.
Denyut nadi sehabis melahirkan biasanya akan lebih cepat. Setiap
27
denyut nadi yang melebihi 100 kali per menit adalah abnormal
dan hal ini menunjukkan adanya kemungkinan infeksi.
d) Suhu badan
Dalam 1 hari (24 jam) post partum, suhu badan akan naik sedikit
(37,50
-380
C) sebagai akibat kerja keras sewaktu melahirkan,
kehilangan cairan, dan kelelahan. Apabila keadaan normal, suhu
badan menjadi biasa. Biasanya, pada hari ke-3 suhu badan naik
lagi karena adanya pembentukan ASI. Payudara menjadi bengkak
dan barwarna merah karena banyaknya ASI. Bila suhu tidak
turun, kemungkinan adanya infeksi pada endometrium, (mastitis,
tractus genetalis, atau sistem lain). (Sulistyawati, 2009; h. 80-81)
10) Perubahan Sistem Kardiovaskuler
Pada persalinan pervaginam kehilangan darah sekitar 300-400 cc.
bila kelahiran melalui section caesaria kehilangan darah dapat dua
kali lipat. Perubahan terdiri dari volume darah dan
hemokonsentrasi. Apabila pada persalinan pervaginam
hemokonsentrasi akan naik dan pada section caesaria
haemokonsentrasi cenderung stabil dan kembali normal setelah 4-6
minggu.
Setelah melahirkan shunt akan hilang dengan tiba-tiba. Volume
darah ibu relatif akan bertambah. Keadaan ini akan menimbulkan
beban pada jantung dan dapat menimbulkan dekompensasi kodis
pada penderita vitium cordial. Untuk kadaan ini dapat diatasi
28
dengan mekanisme kompensasi dengan timbulnya
haemokonsentrasi sehingga volume darah kembali seperti
sediakala. Umumnya hal ini terjadi pada hari ketiga sampai lima
hari post partum. (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 85)
11) Perubahan Sistem Hematologi
Selama minggu-minggu terakhir kehamilan, kadarfibrinogen dan
plasma,serta faktor-faktor pembekuan darah makin meningkat.
Pada hari pertama post partum, kadarfibrinogen dan plasma akan
sedikit menurun, tetapi darah akan mengental sehingga
meningkatkan faktor pembekuan darah. Leukositosis yang
meningkat dengan jumlah sel darah putih dapat mencapai 15.000
selama proses persalinan akan tetapi tinggi dalam beberapa hari
post partum. Jumlah sel darah tersebut masih dapat naik lagi
sampai 25.000-30.000 tanpa adanya kondisi patologis jika wanita
tersebut mengalami persalinan yang lama.
(Sulistyawati, 2009; h. 82)
h. Proses Adaptasi Psikologi Masa Nifas
Setelah melahirkan, ibu mengalami perubahan fisik dan fisiologis yang
juga mengakibatkan adanya beberapa perubahan dari psikisnya. Setelah
melahirkan, ibu akan mengalami fase-fase sebagai berikut:
29
1) Fase Taking In
Fase taking in yaitu periode ketergantungan yang berlangsung pada
hari pertama sampai hari kedua setelah melahirkan. Pada saat itu,
fokus perhatian ibu terutama pada dirinya sendiri. Pengalaman
selama proses persalinan berulang kali diceritakannya. Hal ini
membuat ibu cenderung menjadi pasif terhadap lingkungannya.
Kemampuan mendengarkan (listening skills) dan menyediakan
waktu yang cukup merupakan dukungan yang tidak ternilai bagi ibu.
2) Fase Taking Hold
Fase taking hold adalah fase/periode yang berlangsung antara 3-10
hari setelah melahirkan. Pada fase ini, ibu merasa khawatir akan
ketidakmampuannya dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat
bayi.
3) Fase Letting Go
Fase letting go merupakan fase menerima tanggung jawab akan
peran barunya yang berlangsung sepuluh hari setelah melehirkan.
Ibu sudah dapat menyesuaikan diri, merawat diri dan bayinya, serta
kepercayaan dirinya sudah meningkat. Pendidikan kesehatan yang
kita berikan pada fase sebelumnya akan sangat berguna bagi ibu. Ibu
lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan diri dan bayinya.
(Dewi dan Sunarsih, 2011; 65-66)
30
i. Kebutuhan dasar Ibu pada Masa Nifas
1) Mobilisasi
Di masa lampau, perawatan puerpurium sangat konservatif, selama
masa tersebut, ibu diharuskan tidur telentang selama 40 hari.
Dampak perawatan tersebut adalah terjadi adhesi antara labium
minus dan labium mayus kanan dan kiri dan tindakan tersebut telah
berlangsung hampir enam tahun. Penulis yang kebetulan
menangani kajian tersebut berpendapat bahwa kini, perawatan
puerpurium lebih aktif menganjurkan ibu untuk “mobilisasi dini”
(early mobilization).
Keuntungan perawatan mobilisasi dini adalah :
a) Melancarkan pengeluaran lokea, mengurangi infeksi
puerpurium.
b) Mempercepat involusi alat kandungan
c) Melancarkan fungsi alat gastrointestinal dan alat perkemihan
d) Meningkatkan kelancaran peredaran darah sehingga
mempercepat fungsi ASI dan pengeluaran sisa metabolisme.
(Roito et.all, 2013;h. 83-85).
2) Nutrisi
Pada masa nifas masalah diet perlu mendapat perhatian yang serius,
karena dengan nutrisi yang baik dapat mempercepat penyembuhan
ibu dan sangat mempengaruhi susunan air susu. Diet yang
31
diberikan harus bermutu, bergizi tinggi, cukup kalori, tinggi
protein, dan banyak mengandung cairan.
Ibu yang menyusui harus memenuhi kebutuhan akan gizi sebagai
berikut.
a) Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari
b) Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein,
mineral, dan vitamin yang cukup.
c) Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari.
d) Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi, setidaknya
selama 40 hari pascapersalinan.
e) Minum kapsul vitamin A 200.000 unit agar dapat memberikan
vitamin A kepada bayinya melalui ASI. (Saleha, 2009; h. 71-72)
3) Eliminasi
a) Buang Air Kecil
Miksi disebut normal bila dapat BAK spontan tiap 3-4 jam.Ibu
diusahakan mampu buang air kecil sendiri, bila tidak, maka
lakukan tindakan berikut ini.
(1) Dirangsang dengan mengalirkan air keran di dekat klien.
(2) Mengompres air hangat di atas simpisis
(3) Saat site bath (berendam air hangat) klien disuruh BAK.
Bila tidak berhasil dengan cara di atas, maka dilakukan
kateterisasi. Hal ini dapat membuat klien merasa tidak nyaman
32
dan risiko infeksi saluran kemih tinggi. Oleh sebab itu,
kateterisasi tidah dilakukan sebelum lewat enam jam postpartum
b) Buang air besar
Buang air besar (BAB).Defekasi (buang air besar) harus dalam 3
hari postpartum. Bila ada obstipasi dan timbul koprostase hingga
skibala (feses yang mengeras) tertimbun di rektum, mungkin akan
terjadi fibris. Bila terjadi hal demikian dapat dilakukan klisma
atau diberi laksan per os (mulalui mulut).
Pengeluaran cairan lebih banyak pada waktu persalinan sehingga
dapat mempengaruhi terjadinya konstipasi. Bisaanya bila
penderita tidak BAB sampai 2 hari sesudah persalinan, akan
ditolong dengan pemberian spuit gliserine/diberikan obat-obatan.
Biasanya 2-3 hari postpartum masih susah BAB, maka
sebaiknya diberikan laksan atau paraffin (1-2 hari post partum),
atau pada hari ke-3 diberi laksan supositoria dan minum air
hangat. Berikut adalah cara agar dapat BAB dengan teratur.
(1) Diet teratur
(2) Pemberian cairan yang banyak
(3) Ambulasi yang baik
(4) Bila takut buang air besar secara episiotomi,maka diberikut
laksan supposotria. (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 73-74)
33
4) Kebersihan Diri/Perineum
Pada ibu nifas sebaiknya anjurkan kebersihan seluruh tubuh.
Mengajarkan pada ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin
dengan sabun dan air. Pastikan bahwa ia mengerti untuk
membersihkan daerah disekitar vulva terlebih dahulu, dari depan
kebelakang anus. Nasehan ibu untuk membersihkan diri setiap kali
selesai buang air kecil dan besar. Sarankan ibu untuk mengganti
pembalut atau kain pembalut setidaknya dua kali sehari. Kain dapat
digunakan ulang jika telah dicuci dengan baik, dan dikeringkan
dibawah sinar matahari atau disetrika. Sarankan ibu untuk mencuci
tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan
daerah kelaminnya. Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau
laserasi, sarankan kepada ibu untuk menghindari menyentuh daerah
luka. (Rukiyah et.all, 2011; h. 77-78).
5) Istirahat
Umumnya wanita sangat lelah setelah melahirkan, akan terasa lebih
bila partus berlangsung agak lama. Seseorang ibu baru akan cemas
apakah ia mampu merawat anaknya atau tidak setelah melahirkan.
Hal ini mengakibatkan susah tidur, alasan lainnya adalah terjadi
gangguan pola tidur karena beban kerja bertambah, ibu harus bangun
malam untuk meneteki atau mengganti popok yang sebelumnya
tidak pernah dilakukan. Berikut adalah hal-hal yang dapat dianjurkan
pada ibu
34
(1) Beristirahat yang cukup untuk mencegah kelelahan yang
berlebihan.
(2) Sarankan ia untuk kembali ke kegiatan- kegiatan yang tidak
berat.
Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam beberapa hal,
diantaranya adalah sebagai berikut.
(1) Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi
(2) Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak
perdarahan.
(3) Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi
dan dirinya sendiri. (Dewi dan Sunarsih,2011;h. 76)
Bidan harus menyampaikan kepada pasien dan keluarga bahwa
untuk kembali melakukan kegiatan-kegiatan rumah tangga harus
dilakukan secara perlahan-lahan dan bertahap. Selain itu pasien juga
perlu diingatkan untuk selalu tidur siang atau beristirahat selagi
bayinya tidur. Kebutuhan istirahat bagi ibu menyusui minimal 8 jam
sehari, yang dapat dipenuhi melalui istirahat malam dan siang.
(Sulistyawati, 2009; h. 103)
6) Aktifitas seksual
Aktifitas seksual yang dapat dilakukan ibu oleh ibu nifas harus
memenuhi syarat berikut ini.
35
a) Secara fisik aman untuk memulai melakukan hubungan suami
istri begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu-
satu dua jarinya kedalam vagina tanpa rasa nyeri, maka ibu aman
untuk memulai melakukan hubungan suami istri kapan saja ibu
siap.
b) Banyak budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan
suamiistri sampai masa waktu tertentu, misalnya setelah 40 hari
atau 6 minggu setelah persalinan, keputusan ini tergantung pada
pasangan yang bersangkutan.
j. Deteksi Dini Komplikasi Pada Ibu Masa Nifas
1) Perdarahan pervaginam post partum
Definisi perdarahan pervaginam 500 ml atau lebih, sesudah anak
lahir atau setelah kala III. Perdarahan ini bisa terjadi segera begitu
ibu melahirkan. Terutama di dua jam pertama. Kalau terjadi
perdarahan, maka tinggi rahim akan bertambah naik, tekanan darah
menurun, dan denyut nadi ia menjadi cepat.
a) Klasifikasi klinis
Perdarahan pasca persalinan Primer yakni perdarahan yang
terjadi dalam 24 jam pertam, penyebab: atonia uteri, retensio
plasenta, sisa plasenta, dan robekan jalan lahir
36
Perdarahan pasca persalinan sekunder, yakni perdarahan yang
terjadi setelah 24 jam pertama, penyebab: robekan jalan lahir
dan sisa plasenta atau membrane.
b) Etiologi dan Faktor Prediposisi
Penyebab perdarahan pasca salin ada beberapa sebab antar lain:
(1) Atonia uteri (> 75 %), atau uteri tidak berkontraksi dalam
15 detik setelah dilakukan pemijatan fundus uteri (plasenta
telah lahir)
(2) Robekan (laserasi, luka) jalan lahir atau robekan yang
terjadi pada jalan lahir bisa disebabkan oleh robekan
spontan atau memang sengaja dilakukan episiotomi,
robekan jalan lahir dapat terjadi di tempat : robekan serviks,
perlukaan Vagina, robekan perineum.
(3) Retensio plasenta dan sisa plasenta (plasenta tertahan
didalam rahim baik sebagian atau seluruhnya).
(4) Inversion Uterus (uterus keluar dari rahim)
(5) Gangguan pembekuan darah.
c) Penanganan umum
(1) Hentikan perdarahan
(2) Cegah/atasi syok
(3) Ganti darah yang hilang : diberi infus cairan (larutan garam
fisiologi, plasma ekspander, Dextran-L, dan
sebagainya),tranfusi darah, kalau perlu oksigen.
37
(Rukiyah et.all, 2011; h. 116-117)
d) Pencegahan
Pencegahan perdarahan postpartum dapat dilakukan dengan
mengenali resiko perdarahan postpartum (uterus distensi, partus
lama, partus dengan pacuan), memberikan oksitosin injeksi
setelah bayi lahir, memastikan kontraksi uterus setelah bayi
lahir, memastikan plasenta lahir lengkap, menangani robekan
jalan lahir. (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 127)
2) Infeksi masa nifas
Beberapa bakteri dapat menyebabkan infeksi setelah persalinan.
Infeksi masa nifas masih merupakan penyebab tertinggi angka
kematian ibu (AKI). Infeksi luka jalan lahir pasca-persalinan,
biasanya dari endometrium bekas insersi plasenta. Demam dalam
nifas sebagian besar disebabkan oleh infeksi nifas, maka demam
dalam nifas merupakan gejala penting dari penyakit ini. Demam
dalam masa nifas sering juga disebut morbiditas nifas dan
merupakan indeks kejadian infeksi nifas. Demam dalam nifas
selain oleh infeksi dapat juga disebabkan oleh pielitis, infeksi jalan
pernapasan, malaria, dan tifus.
Mikroorganisme penyebab infeksi puerpuralis dapat berasal dari
luar (eksogen) atau dari jalan lahir penderita sendiri (endogen).
Mikroorganisme endogen lebih sering menyebabkan infeksi.
38
Mikroorganisme yang tersering menjadi penyebab ialah golongan
streptococcus, basil coli dan stafilacoccus. Akan tetapi, kadang-
kadang mikroorganisme lain memegang peranan, seperti:
clostridium welchii, gonococcus, salmonella typhii atau clostridium
tetani.
a) Cara terjadinya infeksi
(1) Tangan pemeriksa atau penolong yang tertutup sarung
tangan pada pemeriksaan dalam atau operasi membawa
bakteri yang sudah ada dalam vagina ke dalam uterus.
Kemungkinan lain ialah bahwa sarung tangan atau alat-alat
yang dimasukkan ke dalam jalan lahir tidak sepenuhya
bebas dari kuman.
(2) Droplet infection. Sarung tangan atau alat-alat terkena
kontaminasi bakteri yang berasal dari hidung atau
tenggorokan dokter atau pembantu-pembantunya. Oleh
karena itu, hidung dan mulut petugas yang bekerja di kamar
bersalin harus ditutup dengan masker dan penderita infeksi
saluran pernapasan dilarang memasuki kamar bersalin.
(3) Dalam rumah sakit selalu banyak kuman-kuman pathogen
yang berasal dari penderita-penderita dengan berbagai jenis
infeksi. Kuman-kuman ini bisa dibawa oleh udara kemana-
mana, antara lain ke handuk, kain-kain alat-alat yang suci
39
hama, dan yang digunakan untuk merawat wanita dalam
persalinan atau pada waktu nifas.
(4) Koitus pada akhit kehamilan tidak merupakan sebab infeksi
penting, kecuali apabila mengakibatkan pecahnyaketuban.
(5) Infeksi intra partum sudah dapat menimbulkan gejala-gejala
pada wanita berlangsung persalinan.
b) Faktor predisposisi (penyebab)
Situasi berikut merupakan predisposisi infeksi masa nifas pada
wanita.
(1)Persalinan lama, khususnya dengan pecah ketuban.
(2)Pecah ketuban yang lama sebelum persalinan.
(3)Bermacam-macam pemeriksaan vagina selama persalinan,
khusunya pecah ketuban.
(4)Teknik aseptic tidak sempurna.
(5)Tidak memperhatikan teknik mencuci tangan.
(6)Manipulasi intrauteri (misalnya: eksplorasi uteri, pengeluaran
plasenta manual)
(7)Trauma jaringan yang luas atau luka terbuka, seperti laserasi
yang tidak diperbaiki.
(8)Hematoma
(9)Hemoragi, khusunya jika kehilangan darah lebih dari 1000
ml.
(10) Pelahiran operatif, terutama pelahiran melalui SC.
40
(11) Retensi sisa plasenta atau membrane janin.
(12) Perawatan perineum tidak memadai.
(13) Infeksi vagina/serviks atau PMS yang ditangani (misalnya:
vaginosis bakteri, klamidia, gonorhoea)
c) Tanda dan gejala
Tanda dan gejala infeksi pada umumnya adalah peningkatan
suhu tubuh, malaise umum, nyeri, dan lokhea berbau tidak
sedap. Peningkatan kecepatan nadi dapat terjadi, terutama pada
infeksi berat. Interpretasi kultur laboratorium dan sensitifitas,
pemeriksaan lebih lanjut, dan penanganan memerlukan diskusi
serta kolaborasi dengan dokter konsultasi anda.
(1)Jenis-jenis infeksi
(a)Endometritis
Jenis infeksi yang paling sering ialah endometritis.
Kuman-kuman yang memasuki endometrium, biasanya
melalui luka bekasinsersio plasenta, dan dalam waktu
singkat mengikutsertakan seluruh endometrium. Pada
infeksi dengan kuman yang tidak terlalu pathogen, radang
terbatas pada endometrium.
Gambaran klinis tergantung jenis dan virulensi kuman,
daya tahan penderita, serta derajat trauma pada jalan lahir.
Biasanya demam mulai 48 jam postpartum dan bersifat
naik turun (remittens). His lebih nyeri dari biasa dan lebih
41
lama dirasakan. Lokia bertambah banyak, berwarna merah
dan cokelat, serta berbau. Lokia yang berbau tidak selalu
menyertai endometritis sebagai gejala. Sering terdapat
subinvolusi. Leukosit naik antara 15.000-30.000/mm3
.
Sakit kepala, kurang tidur, dan kekurangan nafsu makan
dapat mengganggu penderita. Tanda dan gejala
endometritis adalah sebagai berikut.
(1) Peningkatan demam secara persisten hingga 400
C,
bergantung pada keparahan infeksi.
(2) Takikardi
(3) Menggigil dengan infeksi berat.
(4) Nyeri tekan uteri menyabar secara lateral.
(5) Nyeri panggul dengan pemeriksaan bimanual.
(6) Subinvolusio.
(7) Lokia sedikit tidak berbau, atau berbau tidak sedap,
lokia seropurelenta.
(8) Variable awitan bergantung pada organisme, dengan
streptococcus grup b muncul lebih awal.
(9) Hitung sel darah putih mungkin meningkat diluar
leukositosis puerperium fisiologis.
Penyebab endometritis, jika tidak ditangani, dapat
menyebabkan salpingitis, tromboflebitis septic, peritonitis,
dan fasilitas nekrotikans. Setiap dugaan adanya infeksi
42
memburuk, gejala yang tidak dapat dijelaskan, atau nyeri
akut memerlukan konsultasi dokter dan rujukan.
Jika infeksi tidak meluas, maka suhu turun secara
berangsur-angsur dan turun pada hari ke-7-10. Pasien
sedapatnya diisolasi, tetapi bayi boleh terus menyusu pada
ibunya. Untuk kelancaran pengaliran lokia, pasien boleh
diletakkan dengan letak fowler dan diberi juga
uterustonika. Selain itu, pasien juga disuruh minum
banyak.
(b)Parametritis
Parametritis adalah infeksi jaringan pelvis yang dapat
terjadi melalui beberapa cara: penyebaran melalui limfe
dari luka serviks yang terinfeksi atau dari endometritis,
penyebaran langsung dari luka pada serviks yang meluas
sampai ke dasar ligamentum, serta penyebaran sekunder
dari tromboflebitis. Proses ini dapat tinggal terbatas pada
dasar ligamentum latum atau menyebar ekstraperitoneal ke
semua jurusan.
Pada pemeriksaan dalam dapat diraba tahanan padat dan
nyeri disebelah uterus dan tahanan ini yang berhubungan
erat dengan tulang panggul dapat meluas ke berbagai
jurusan. Pada bagian tengah jaringan yang meradang
tersebut dapat tumbuh abses. Dalam hal ini, suhu yang
43
mula-mula tinggi secara menetap menjadi naik turun
disertai dengan menggigil. Penderita tampak sakit, nadi
cepat, dan perut nyeri. Pada 2
/3 kasus tidak terjadi
pembentukan abses dan suhu menurun dalam beberapa
minggu. Tumor disebelah uterus menecil sedikit demi
sedikit dan akhirnya terdapat parametrium yang kaku. Jika
terjadi abses, cairan abses selalu mencari jalan ke rongga
perut sehingga menyebabkan peritonitis, ke rectum, atau
ke kandung kemih.
(c)Peritonitis
Peritonitis dapat berasal dari penyebaran melalui
pembuluh limfe uterus, parametritis yang meluas ke
peritoneum, salpingo-ooforisit meluas ke peritoneum atau
langsung sewaktu tindakan per abdominal. Peritonitis
yang terlokalisasi hanya dalam rongga pelvis disebut
pelvioperitonitis, bila meluas ke seluruh rongga
peritoneum disebutperitonitis umum, dan keadaan ini
sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kematian
33% dari seluruh kematian akibat infeksi.
Gambaran klinis dari peritonitis adalah sebagai berikut.
(1) Pelvioperitonitis: demam, nyeri perut bagian bawah,
nyeri pada pemeriksaan dalam, kavum douglasi
menonjol karena adanya abses (kadang-kadang). Bila
44
hal ini dijumpai, maka nanah harus dikeluarkan
dengan kalpotomi posterior, agar nanah tidak keluar
menembus rectum.
(2) Peritonitis umum adalah berbahaya bila disebabkan
oleh kuman yang pathogen. Perut kembung,
meteorismus, dan dapat terjadi paralitik ileus. Suhu
badan tinggi, nadi cepat dan kecil, perut nyeri tekan,
pucat, muka cekung, kulit dingin, mata cekung yang
disebut muka hipokrates. Penegakan diagnosis
dibantu dengan pemeriksaan labiratorium.
(d)Infeksi Trauma Vulva, Perineum, Vagina, dan Serviks
Tanda dan gejala infeksi episiotomy, laserasi, atau trauma
lain meliputi sebagai berikut.
(1)Nyeri local.
(2)Disuria.
(3)Suhu derajat rendah-jarang di atas 38,30
C .
(4)Edema
(5)Sisi jahitan merah dan inflamasi.
(6)Mengeluarkan pus atau eksudat berwarna abu-abu
kehijauan.
(7)Pemisahan atau terlepasnya lapisan operasi.
45
(e)Infeksi Saluran Kemih
Kejadian infeksi saluran kemih pada masa nifas relative
tinggi dan hal ini dihubungkan dengan hipotoni kandung
kemih akibat trauma kandung kemih saat persalinan,
pemeriksaan dalam yang sering, kontaminasi kuman dari
perineum, atau kateterisasi yang sering.
Sistitis biasanya memberikan gejal berupa nyeri berkemih
(disuria), sering berkemih, dan tidak dapat ditahan.
Demam biasanya jarang terjadi. Adanya retensi urine
pascapersalinan umumnya merupakan tanda adanya
infeksi.
Pielonefritis memberikan gejala yang lebih berat, demam,
menggigil, serta perasaan mual dan muntah. Selain disuria,
dapat juga terjadi piuria dan hematuria.
(Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 109-114) .
k. Proses Laktasi dan Menyusui
1) Fisiologi payudara
Dalam pembentukan air susu ada dua refleks yang membantu dalam
pembentukan dan pengeluaran air susu yaitu reflek prolaktin dan
reflek let down.
a) Reflek Prolaktin : Setelah persalinan kadar estrogen dan
progesteron menurun, ditambah lagi dengan adanya isapan bayi
46
yang merangsang putting susu dan kalang payudara, akan
merangsang ujung-ujung saraf sensoris yang berfungsi sebagai
reseptor mekanik. Rangsangan ini akan dilanjutkan ke
hipotalamus yang akan menekan pengeluaran faktor-faktor
penghambat sekresi prolaktin dan sebaliknya. Faktor-faktor yang
memacu sekresi prolaktin akan merangsang adenohipofise
sehingga keluar prolaktin. Hormon ini merangsang sel-sel alveoli
yang berfungsi untuk membuat air susu.
b) Refleks Let Down : Dengan dibentuknya hormon prolaktin
rangsangan yang berasal dari isapan bayi akan dilanjutkan ke
neurohipofise yang kemudian dikeluarkan oksitosin. Melalui
aliran darah, hormon ini akan menuju uterus yang dapat
menimbulkan kontraksi pada uterus sehingga terjadi involusi dari
organ tersebut. Oksitosin yang sampai pada alveoli akan
mempengaruhi sel miopitelium. Kontraksi sel akan memeras air
susu yang telah terbuat keluar dari alveoli dan masuk ke sistem
duktulus yang untuk selanjutnya akan mengalir melalui duktus
laktiferus masuk ke mulut bayi
c) Bila ada stress dari ibu yang menyusui maka akan terjadi suatu
blockade dari refleks let down. Ini disebabkan karena adanya
pelepasan dari adrenalin yang menyebabkan vasokontriksi dari
pembuluh darah alveoli, sehingga oksitosin sedikit harapannya
untuk dapat mencapai target organ mioepitelium. Sehingga
47
payudara akan membesar dan timbul abses yang berakibat pada
proses menyusui karena akan timbul rasa sakit. Karena refleks let
down yang tidak sempurna maka bayi yang haus akan tidak puas.
Ketidak puasan ini akan merupakan tambahan stress bagi ibunya.
(Rukiyah et.all, 2011;h. 13-14).
2) Mekanisme menyusui
a) Reflek mencari (rooting reflex)
payudara ibu yang menempel pada pipi atau daerah sekeliling
mulut merupakan rangsangan yang menimbulkan reflek mencari
pada bayi. Keadaan ini menyebabkan kepala bayi berputar
menuju putting susu yang menempel tadi diikuti dengan
membuka mulut dan kemudian putting susu ditarik masuk ke
dalam mulut.
b) Reflek mengisap (sucking reflex)
Putting susu yang sudah masuk ke dalam mulut dengan bantuan
lidah ditarik lebih jauh dan rahang menekan kalang payudara di
belakang putting susu yang pada saat itu dudah terletak pada
langit-langit keras. Tekanan bibir dan gerakan rahang yang terjadi
secara berirama membuat gusi akan menjepit kalang payudara
dan ismus laktiferus sehingga air susu akan mengalir ke putting
susu, selanjutnya bagian belakang lidah menekan putting susu
pada langit-langit yang mengakibatkan air susu keluar dari putting
susu
48
c) Reflek menelan (swallowing Reflek)
Pada saat air susu keluar dari putting susu, akan disusul dengan
gerakan menghisap yang ditimbulkan oleh otot-otot pipi sehingga
pengeluaran air susu akan bertambah dan diteruskan dengan
mekanisme menelan masuk ke lambung.
l. Dukungan Bidan Dalam Pemberian ASI
Bidan mempunyai peranan yang sangat istimewa dalam menunjang
pemberian ASI. Peran bidan dalam menunjang pemberian ASI. Peran
bidan dapat membantu ibu untuk memberikan ASI dengan baik dan
mencegah masalah-masalah umum terjadi. Bidan dapat memberikan
dukungan dalam pemberian ASI, dengan cara sebagai berikut.
a) Membiarkan bayi bersama ibunya segera sesudah lahir selama
beberapa jam pertama.
Bayi mulai menyusu sendiri segera setelah lahir. Hal ini disebut
dengan inisiasi menyusu dini (early inititation) atau permulaan
menyusu dini. Hal ini merupakan peristiwa penting, dimana bayi
dapat melakukan kontak dini langsung dengan ibunya dengan tujuan
dapat memberikan kehangatan. Selain itu, dapat membengkitkan
hubungan/ikatan antara ibu dan bayi. Pemberian ASI sedini mungkin
adalah lebih baik, jika memungkinkan paling sedikit 30 menit
setelah lahir.
49
b) Mengajarkan cara merawat payudara yang sehat pada ibu untuk
mencegah masalah umum yang timbul.
Tujuan dari perawatan payudara adalah untuk melancarkan sirkulasi
darah dan mencegah tersumbatnya saluran susu sehingga
pengeluaran ASI lancar. Perawatan payudara dilakukan sedini
mungkin, bahkan tidak menutup kemungkinan perawatan payudara
sebelum hamil sudah mulai dilakukan
c) Membantu ibu pada waktu pertama kali memberi ASI.
Membantu ibu segera mungkin untuk menyusui bayinya setelah lahir
sangatlah penting. Semakin sering bayi menghisap putting susu ibu,
maka pengeluaran ASI juga semakin lancar. Hal ini karena isapan
bayi akan memberikan ranngsangan pada hipofisis untuk
mengeluarkan hormon oksitosin yang bekerja merangsang otot polos
untuk memeras ASI.
d) Menempatkan bayi didekat ibu pada kamar yang sama (rawat
gabung).
Rawat gabung adalah merupakan salah satu cara perawatan dimana
ibu dan bayi yang baru dilahirkan tidak dipisahkan, melainkan
ditempatkan bersama dalam ruangan selama 24 jam penuh. Manfaat
rawat gabung dalam proses laktasi dapat dilihat dari aspek fisik,
fisiologis, psikologis, edukatif, ekonomi, maupun medis.
50
(1) Aspek fisik
Kedekatan ibu dengan bayinya dapat mempermudah bayi
menyusu setiap saat tanpa terjadwal. Dengan demikian, semakin
sering bayi menyusu, maka ASI segera keluar.
(2) Aspek Fisiologis
Bila ibu selalu dekat dengan bayinya makan bayi lebih sering
disusui. Hal ini mengakibatkan bayi mendapat nutrisi alami dan
kecukupan ASI. Refleks oksitosin yang ditimbulkan dari proses
menyusui akan membantu proses involusi uteri dan produksi
ASI akan dipacu oleh refleks prolaktin.
(3) Aspek psikologis
Rawat gabung dapat menjalin hubungan batin antara ibu dan
bayi atau proses lekat (early infant mother bounding). Hal ini
disebabkan oleh adanya sentuhan badan ibu dan bayi.
Kehangatan tubuh ibu memberikan stimulasi mental yang
diperlukan sehingga mempengaruhi kelanjutan perkembangan
psikologis bayi.
(4) Aspek edukatif
Rawat gabung memberikan pengalaman bagi ibu dalam hal cara
merawat bayi dan merawat dirinya sendiri pasca-melahirkan.
(5) Aspek ekonomi
Rawat gabung tidak hanya memberikan manfaat pada ibu
maupun keluarga, tetapi juga untuk rumah sakit maupun
51
pemerintah. Hal ini merupakan suatu penghematan dalam
pembelian susu buatan dan peralatan lain yang dibutuhkan.
(6) Aspek medis
Pelaksanaan rawat gabung dapat mencegah terjadinya infeksi
nosokomial.Selain itu ibu dapat melihat perubahan fisik atau
perilaku bayinya yang menyimpang dengan cepat sehingga
dapat segera menanyakan kepada petugas kesehatan sekiranya
ada hal-hal yang dianggap tidak wajar.
e) Memberikan ASI pada bayi sesering mungkin
Pemberian ASI sebaiknya sesering mungkin tidak perlu dijadwal.
Bayi disusui sesuai dengan keinginannya (on demand). Bayi dapat
menentukan sendiri kebutuhannya. Bayi yang sehat dapat
mengosongkan payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung
akan kosong dalam 2 jam. Menyusui yang dijadwalkan berakibat
kurang baik karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan
produksi berikutnya.
f) Memberikan kolostrum dan ASI saja
ASI dan kolostrum merupakan makanan yang terbaik untuk bayi
kandungan dan komposisi ASI sangat sesui dengan kebutuhan bayi
pada keadaan masing-masing. ASI dari ibu yang melahirkan
premature sesuai dengan kebutuhan dan juga sebaliknya. ASI dari
ibu yang melahirkan cukup bulan maka sesuai dengan kebutuhan
bayi yang cukup bulan juga.
52
g) Menghindari susu botol “dot empeng”
Pemberian susu dengan botol dan kempengan dapat membuat bayi
bingung putting dan menolak menyusu atau isapan bayi yang kurang
baik. Hal ini disebabkan mekanisme menghisap dari putting susu ibu
dengan botol jauh berbeda. (Dewi dan Sunarsih, 2011;h. 13-17).
m. Manfaat pemberian ASI
Pemberian Air Susu Ibu (ASI) pada bayi baru lahir segera sampai
berumur sedikitnya dua tahun akan memberikan banyak manfaat, baik
untuk bayi, ibu, maupun masyarakat pada umumnya, dibawah ini akan
dijelaskan beberapa manfaat pemberian ASI.
1) Manfaat bagi bayi
Kandungan gizi paling sempurna untuk pertumbuhan bayi dan
perkembangan kecerdasanya, pertumbuhan sel otak secara optimal
mudah dicerna, penyerapan lebih sempurna, mengandung zat anti
diare, protein ASI adalah spesifik spesies sehingga jarang
menyebabkan alergi untuk manusia, membantu pertumbuhan gigi,
mengandung zat antibodi, mencegah infeksi, merangsang
pertumbuhan sistem kekebalan tubuh, dan mempererat ikatan batin
ibu dan bayi
2) Bagi Ibu
Manfaat untuk ibu yakni mudah, murah, praktis tidak merepotkan
dan selalu tersedia kapan saja, mempercepat involusi
53
uterus/memulihkan dari proses persalinan dan dapat mengurangi
perdarahan karena otot-otot dirahim mengerut, mencegah
kehamilan, meningkatkan rasa kasih sayang, mengurangi penyakit
kanker. (Rukiyah et.all, 2011;h. 17-18).
3) Bagi semua orang
a) ASI selalu bersih dan bebas hama yang dapat menyebabkan
infeksi
2) Pemberian ASI tidak memerlukan persiapan khusus
3) ASI selalu tersedia dan gratis
4) Bila ibu memberikan ASI pada bayinya sewaktu-waktu ketika
bayinya meminta (on demand) maka kecil kemungkinannya bagi
ibu untuk hamil dalam 6 bulan pertama sesudah melahirkan.
5) Ibu menyusui yang siklus menstruasinya belum pulih kembali
akan memperoleh perlindungan sepenuhnya dari kemungkinan
hamil. (Sulistyawati, 2009;h. 18)
3) Asuhan 6 jam post partum
a. Memberitahu ibu atau keluarga cara mencegah perdarahan masa nifas
dengan cara melakukan observasi melekat pada kontraksi uterus selama
4 jam pertama post partum dengan melakukan palpasi uterus.
(Sulistyawati, 2009;h. 134).
b. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan berlanjut rujuk bila
ada perdarahan berlanjut/perdarahan sekunder
54
1) Pengertian perdarahan sekunder
Perdarahan masa nifas (PPH kasep atau Perdarahan Persalinan
Sekunder atau perdarahan pasca persalinan lambat, atau Late PPH).
Perdarahan pasca persalinan sekunder terjadi setelah 24 jam pertama.
Perdarahan pasca persalinan sekunder sering diakibatkan oleh
infeksi, penyusutan rahim yang tidak baik, atau sisa plasenta yang
tertinggal
(Sari dan Rimandini, 2014 ; h 226).
c. Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga
mengenai bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia
uteri dengan cara masase uterus secara perlahan, tangan diletakkan di
atas fundus uteri dan massase dengan gerakan berputar sambil menekan
fundus selama 15 detik, raba kembali uterus setiap 1-2 menit, jika
lembek, ulangi massase. (Astuti et.all, 2015;h. 42)
d. Menganjurkan ibu untuk memberikan ASI awal pada bayinya sebaiknya
sesering mungkin tidak perlu dijadwal, bayi disusui sesuai dengan
keinginannya (on demand). Bayi dapat menentukan sendiri
kebutuhannya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara
sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung akan kosong dalam 2 jam.
Menyusui yang dijadwalkan akan berakibat kurang baik karena isapan
bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi berikutnya.
(Dewi dan Sunarsih, 2011;h. 16)
55
e. Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir atau bonding
attachment didalam satu ruangan dengan melakukan sentuhan
awal/kontak kulit antara ibu dan bayi pada menit-menit pertama sampai
beberapa jam setelah kelahiran bayi. Pada proses ini, terjadi
penggabungan berdasarkan cinta dan penerimaan yang tulus dari orang
tua terhadap anaknya dan memberikan dukungan asuhan dalam
perawatannya. (Sulistyawati, 2009;h. 59)
f. Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi yaitu :
1) Keringkan bayi segera setelah bayi lahir untuk mencegah terjadinya
evaporasi dengan menggunakan handuk atau kain.
2) Selimuti tubuh bayi dengan kain bersih dan hangat segera setelah
mengeringkan tubuh bayi dan memotong tali pusat. Sebelumnya
ganti handuk atau kain yang telah digunakan untuk mengeringkan
tubuh bayi.
3) Selimuti bagian kepala karena kepala merupakan permukaan tubuh
yang relatif luas dan bayi akan dengan cepat kehilangan panas jika
tidak ditutupi. Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya.
Sebaiknya pemberian ASI harus dalam waktu 1 jam pertama
kelahiran.
4) Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya. Sebaiknya
pemberian ASI harus dalam waktu 1 jam pertama kelahiran.
5) Tempatkan bayi dilingkungan yang hangat, yang paling ideal adalah
bersama dengan ibunya agar menjaga kehangatan tubuh bayi,
56
mendorong ibu agar segera menyusui bayinya, dan mencegah
paparan infeksi pada bayi.
6) Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir.
Sebelum melakukan penimbangan, terlebih dahulu selimuti tubuh
bayi dengan kain yang kering dan bersih. Berat badan bayi dapat
dinilai dari selisih berat bayi dikurangi dengan kain selimut bayi
yang digunakan. Bayi sebaiknya dimandikan sedikitnya 6 jam
setelah lahir. (Rukiyah dan Yulianti , 2012; h. 11).
7) Memberitahu ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi dan
cukup cairan karena makanan yang dibutuhkan oleh ibu nifas sesuai
dengan kebutuhan yang diperlukan dalam tubuh supaya tubuh
dalam keadaan sehat. Tujuan pemberian makanan pada ibu nifas
adalah untuk memulihkan tenaga ibu, memproduksi ASI yang
bernilai gizi tinggi, mempercepat penyembuhan luka, dan
mempertahankan kesehatan.
Hidangan bergizi yang dibutuhkan ibu menyusui terdiri atas zat
tenaga (Hidrat arang, lemak, protein nabati seperti kacang-kacangan,
tahu, tempe, kedelai dan hewani seperti telur, daging, ikan dan
sebagainya), zat pembangun (protein, vitamin, mineral, air), dan zat
pengatur atau pelindung (vitamin, air, dan mineral).
(Roito et.all, 2013;h. 83).
Catatan: Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus
tinggal dengan ibu dan bayi yang baru lahir selama 2 jam pertama
57
setelah kelahiran atau sampai ibu dan bayinya dalam keadaan stabil.
(Dewi dan Sunarsih, 2011;h. 4-5).
B. TINJAUAN TEORI ASUHAN KEBIDANAN
1. Manajemen Asuhan Kebidanan
Manajemen asuhan kebidanan atau sering disebut manajemen kebidanan
adalah suatu metode berfikir dan bertindak secara sistematis dan logis
dalam memberi asuhan kebidanan, agar menguntungkan kedua belah pihak
baik klien maupun pemberi asuhan.
Manajemen kebidanan merupakan proses pemecahan masalah yang
digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan
berdasarkan teori ilmiah, temuan-temuan, ketrampilan, dalam rangkaian
rangkaian/tahapan yang logis untuk pengambilan suatu keputusan yang
berfokus pada klien.
Manajemen kebidanan diadaptasi dari sebuah konsep yang dikembangkan
oleh Halen Varney dalam buku verney’s midwiferi, edisi ketiga tahun
1997; menggambarkan proses manajemen asuhan kebidanan yang terdiri
dari tujuh langkah yang berurutan secara sistematis dan siklik.
(Soepardan, 2007; h. 96)
58
2. Langkah Dalam Manajemen Kebidanan Menurut Halen Varney
a. Pengkajian
Padalangkah pertama ini, semua informasi yang akurat dan lengkap dari
semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien telah dikumpulkan.
Untuk memperoleh data, dilakukan melalui anamnesa. Anamnesa
adalah pengkajian dalam rangka mendapat data tentang pasien melalui
pengajuan pertanyaan-pertanyaan.
Anamnesadapat dilakukan melalui dua cara, yaitu sebagai berikut:
1) Auto anamnesa
Merupakan anamnesa yang dilakukan kepada pasien secara
langsung. Jadi, data yang diperoleh adalah data primer karena
langsung dari sumbernya.
2) Allo anamnesa
Merupakan anamnesa yang dilakukan pada keluarga pasien untuk
memperoleh data tentang pasien. Ini dilakukan pada keadaan darurat
ketika pasien tidak memungkinkan lagi untuk memberikan data yang
akurat. (Sulistyawati, 2009; h. 111)
a) Data subjektif
(1) Biodata
Informasi yang dicatat mencakup identitas, keluhan yang
diperoleh dari hasil wawancara langsung kepada pasien/klien
(anamnesa) atau dari keluarga dan tenaga kesehatan (allo
anamnesa). (Wildan dan Hidayat, 2013; h. 34).
59
Biodata yang mencakup identitas pasien
(a) Nama
Nama jelas dan lengkap, bila perlu nama panggilan
sehari-hari agar tidak keliru dalam memberikan
penanganan.
(b) Umur
Dicatat dalam tahun untuk mengetahui adanya resiko
seperti kurang dari 20 tahun, alat-alat reproduksi belum
matang, mental dan psikisnya belum siap. Sedangkan
umur lebih dari 35 tahun rentan sekali untuk terjadi
perdarahan dan komplikasi dalam masa nifas.
(c) Agama
Untuk mengetahui keyakinan pasien tersebut untuk
membimbing atau menyarankan pasien dalam berdoa.
(d) Suku/bangsa
Berpengaruh pada adat istiadat atau kebiasaan sehari-
hari.
(e) Pendidikan
Berpengaruh dalam tindakan kebidanan dan untuk
mengetahui sejauh mana tingkat intelektualnya, sehingga
bidan dapat memberikan konseling sesuai dengan
pendidikannya.
60
(f) Pekerjaan
Gunanya untuk mengetahui dan mengukur tingkat social
ekonominya, karena ini juga mempengaruhi dalam gizi
pasien tersebut.
(g) Alamat
Ditanyakan untuk mempermudah kunjungan rumah bila
diperlukan.
(2) Keluhan utama
Untuk mengetahui masalah yang dihadapi yang berkaitan
dengan masa nifas, misalnya pasien merasa mulas, sakit pada
jalan lahir karena adanya jahitan pada perineum.
(3) Riwayat kesehatan
(a) Riwayat kesehatan yang lalu
Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan
adanya riwayat atau penyakit akut, kronis seperti
Jantung, DM, Hipertensi, Asma yang dapat
mempengaruhi pada masa nifas ini.
(b) Riwayat kesehatan sekarang
Data-data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan
adanya penyakit yang ada hubungannya pada masa nifas
dan bayinya.
61
(c) Riwayat kesehatan keluarga
Data ini dipengaruhi untuk mengetahui kemungkinan
adanya pengaruh penyakit keluarga terhadap gangguan
kesehatan pasien dan bayinya, yaitu apabila ada penyakit
keluarga yang menyertai.
(4) Status perkawinan
Yang perlu dikaji adalah berapa kali menikah, status menikah
syah atau tidak, karena bila melahirkan tanpa status yang
jelas akan berkaitan dengan psikologisnya sehingga akan
mempengaruhi proses nifas.
(5) Riwayat obstetrik
(a)Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu
Berapakali ibu hamil, apakah pernah abortus, jumlah anak,
cara persalinan yang lalu, penolong persalinan, keadaan
nifas yang lalu.
Mendorong kesehatan reproduksi yang optimal
Kehamilan sebaiknya dengan interval lebih dari 2 tahun
Jangan hamil sebelum usia 20 tahun atau setelah 35 tahun
Jumlah kehamilan, kelahiran 2 sampai 3 orang mempunyai
optimalisasi kesehatan.
Hindari melakukan abortus illegal.
(Manuaba et. all,2010; h. 19)
62
(b)Riwayat persalinan sekarang
Tanggal persalinan, jenis persalinan, jenis kelamin anak,
keadaan bayi meliputi PB, BB, penolong persalinan. Hal
ini perlu dikaji untuk mengetahui apakah proses persalinan
mengalami kelainan atau tidak yang bisa berpengaruh
pada masa nifas saat ini.
(6) Riwayat KB
Untuk mengetahui apakah pasien pernah ikut KB dengan
kontrasepsi jenis apa, berapa lama, adakah keluhan selama
menggunakan kontrasepsi serta rencana KB setelah masa
nifas ini dan beralih ke kontrasepsi apa.
(7) Kehidupan Sosial Budaya
Untuk mengetahui pasien dan keluarga yang menganut adat
istiadat yang menguntungkan atau merugikan pasien
khususnya pada masa nifas misalnya pada kebiasaan pantang
makan.
(8) Data psikososial
Untuk mengetahui respon ibu dan keluarga terhadap bayinya.
Wanita banyak mengalami perubahan emosi/psikologis
selama masa nifas sementara ia menyesuaikan diri menjadi
seorang ibu.
63
(9) Data pengetahuan
Untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan ibu tentang
perawatan setelah melahirkan sehingga akan menguntungkan
selama masa nifas.
(10)Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari
(a)Nutrisi dan cairan
Menggambarkan tentang pola makan dan minum,
frekuensi, banyaknya, jenis makanan, makanan pantangan.
(b)Eliminasi
Menggambarkan pola fungsi sekresi yaitu kebiasaan
buang air besar meliputi frekuensi, jumlah, konsistensi dan
bau serta kebiasaan buang air kecil meliputi frekuensi bau
serta kebiasaan buang air kecil meliputi frekuensi, warna,
jumlah.
(c)Istirahat
Menggambarkan pola istirahat dan tidur pasien, berapa
jam pasien tidur kebiasaan sebelum tidur misalnya
membaca, mendengar musik, kebiasaan mengkonsumsi
obat tidur, kebiasaan tidur siang, penggunaan waktu luang,
istirahat sangat penting bagi ibu masa nifas karena dengan
istirahat yang cukup dapat mempercepat penyembuhan.
64
(d)Personal hygiene
Dikaji untuk mengetahui apakah ibu selalu menjaga
kebersihan tubuh terutama pada daerah genetalia, karena
pada masa nifas mengeluarkan lokhea.
(e)Aktivitas
Menggambarkan pola aktivitas pasien sehari-hari. Pada
pola ini perlu dikaji pengaruh aktivitas terhadap
kesehatannya. Mobilisasi sedini mungkin dapat
mempercepat proses pengambilan alat-alat reproduksi.
Apakah ibu melakukan ambulasi, seberapa sering, apakah
kesulitan, dengan bantuan atau sendiri, apakah ibu pusing
ketika melakukan ambulasi.
(Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 131-137)
b) Data objektif
Pencatatan dilakukan dari hasil pemeriksaan fisik, pemeriksaan
khusus kebidanan, data penunjang: hasil laboratorium seperti
VDRL,HIV, pemeriksaan radiodiagnostik, ataupun USG yang
dilakukan sesuai dengan beratnya masalah. Data yang telah
terkumpul diolah, disesuaikan dengan kebutuhan pasien
kemudian dilakukan pengolahan data, yaitu menggabungkan dan
menghubungkan data satu dengan yang lainnya sehingga
menunjukkan fakta. Tujuan dari pengolahan data adalah untuk
65
menunjukkan fakta berdasarkan kumpulan data. Data yang telah
diolah dianalisis dan hasilnya didokumentasikan.
(Wildan dan Hidayat, 2013; h. 34)
Untuk melengkapi data dalam menegakkan diagnosa, bidan harus
melakukan pengkajian data objektif melalui pemeriksaan
inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi yang bidan lakukan
secara berurutan.
Lankah-langkah pemeriksaan sebagai berikut:
a) Keadaan umum
Untuk mengetahui data ini, bidan perlu dengan mengamati
keadaan pasien secara keseluruhan. Hasil pengamatan akan
bidan laporkan dengan criteria sebagai berikut:
(1) Baik
Pasien dimasukkan dalam criteria ini jika pasien
memperlihatkan respon yang baik terhadap lingkungan
dan orang lain, serta secara fisik pasien tidak mengalami
ketergantungan dalam berjalan.
(2) Lemah
Pasien dimasukkan dalam criteria ini jika ia kurang atau
tidak memberikan respon yang baik terhadap lingkungan
dan orang lain, serta pasien sudah tidak mampu lagi
untuk berjalan sendiri.
66
b) Kesadaran
Untuk mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien,
bidan dapat melakukan pengkajian derajat kesadaran pasien
dari composmentis (kesadaran maksimal) sampai dengan
coma (pasien tidak dalam keadaan sadar).
(Sulistyawati, 2009; h. 121-122)
c) Vital sign
Ditujukan untuk mengetahui keadaan ibu berkaitan dengan
kondisi yang dialaminya.
(1)Tekanan darah
Tekanan darah adalah tekanan yang dialami darah pada
pembuluh arteri ketika darah dipompa oleh jantung ke
seluruh anggota tubuh manusia. Tekanan darah normal
manusia adalah sistolik 90-120 mmHg dan diastolic 60-80
mmHg. Pasca melahirkan pada kasus normal, tekanan
darah bisaannya tidak berubah. Perubahan tekanan darah
menjadi lebih rendah pasca melahirkan dapat diakibatkan
oleh perdarahan. Sedangkan tekanan darah tinggi pada
post partum merupakan tanda terjadinya pre eklamsia post
partum. Namun demikian, hal tersebut sangat jarang
terjadi. (Rukiyah et.all, 2011; h. 69)
67
(2)Pernapasan
Pernapasan normal yaitu 20-30 x/menit.Pada umumnya
respirasi lambat atau bahkan normal. Mengapa demikian,
tidak lain karena ibu dalam keadaan pemulihan atau
dalam kondisi istirahat. Bila ada respirasi cepat
postpartum (>30 x/mnt) mungkin karena adanya ikatan
dari tanda-tanda syok.
(Walyani dan Purwoastuti , 2015; h. 87)
(3)Nadi
Denyut nadi normal pada orang dewasa adalah 60-80
kali permenit. Denyut nadi sehabis melahirkan biasanya
akan lebih cepat. Setiap denyut nadi yang melebihi 100
kali per menit adalah abnormal dan hal ini menunjukkan
adanya kemungkinan infeksi.
(4)Suhu
Dalam 1 hari (24 jam) post partum, suhu badan akan
naik sedikit (37,50
-380
C) sebagai akibat kerja keras
sewaktu melahirkan, kehilangan cairan, dan kelelahan.
Apabila keadaan normal, suhu badan menjadi
biasa.Biasanya, pada hari ke-3 suhu badan naik karena
adanya pembentukan ASI. Payudara menjadi bengkak
dan berwarna merah karena banyaknya ASI. Bila suhu
tidak turun, kemungkinan adanya infeksi pada
68
endometrium (mastitis, tractus genetalis, atau sistem
lain). (Sulistyawati, 2009; h. 80-81)
d) Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mendapat data objektif.
Data objektif adalah data yang diperoleh dengan melakukan
serangkaian pemeriksaan pada klien. (Martalia, 2014; h. 116)
(1)Muka
Pada daerah muka/wajah dilihat kesimetrisan muka,
apakah kulitnya normal, pucat, sianosis, atau ikhterus.
Bagian muka keadaan normalnya adalah simetris antara
kanan dan kiri. Ketidaksimetrisan muka menunjukkan
adanya gangguan pada saraf ketujuh (nervus fasialis).
(2)Mata
Tujuan pengkajian mata adalah untuk mengetahui bentuk
dan fungsi mata.
(3)Hidung
Hidung dikaji untuk mengetahui keadaan bentuk dan
fungsi hidung. Dimulai dari bagian luar hidung. Bagian
dalam, lalu sinus-sinus bila memungkinkan, selama
pemeriksaan klien dalam posisi duduk
(Tambunan dan Kasim, 2012; h. 66-67,79)
69
(4)Mulut dan faring
Pemeriksaan mulut dan faring harus dilakukan dengan
pencahayaan yang baik sehingga dapat melihat semua
bagian dalam mulut. Pengkajian mulut dan faring
sebaiknya dilakukan dengan posisi klien duduk,
pengkajian diawali dengan mengkaji keadaan bibir, gigi,
gusi, lidah, selaput lender, pipi bagian dalam,
palatum/langit-langit mulut, tonsil, kemudian faring.
Namun bila secara inspeksi belum didapatkan data yang
akurat, maka dilakukan pengkajian secara palpasi. Tujuan
dilakukan palpasi adalah untuk mengetahui bentuk dan
kelainan pada mulut yang dapat diketahui dengan palpasi.
Palpasi mulut meliputi pipi, palatum dan lidah.
(Tambunan dan Kasim, 2012; h. 81)
(5)Telinga
Telinga mempunyai fungsi sebagai alat pendengaran dan
menjaga keseimbangan. Pengkajian telinga secara umum
bertujuan untuk mengetahui keadaan telinga luar, saluran
telinga, gendang telinga/membran timpani, dan
pendengaran. Teknik pengkajian yang digunakan
umumnya adalah inspeksi dan palpasi. Pemeriksaan
pendengaran dilakukan untuk mengetahui fungsi telinga.
70
(6)Leher
Tujuan pengkajian leher adalah untuk mengetahui bentuk
leher, serta organ-organ penting yang berkaitan.
Pengkajian dimulai dengan inspeksi kemudian palpasi.
Inspeksi dilakukan untuk melihat apakah ada kelainan
kulit termasuk keadaan pucat, ikhterus, sianosis, dan ada
pembengkakan. Pemeriksaan palpasi ditujukkan untuk
melihat apakah ada massa yang teraba pada kelenjar limfe,
kelenjar tiroid, dan trakea.
(Tambunan dan Kasim, 2012; h. 73,83)
(7)Payudara
Pada payudara, terjadi proses loktasi. Dalam hal
melakukan pengkajian fisik dengan perabaan apakah
terdapat benjolan, pembesaran kelenjar, atau abses, serta
bagaimana keadaan putting. (Bahiyatun, 2013; h. 103)
(8)Abdomen
(a)Uterus
Pada pemeriksaan uterus sama halnya dengan
pemeriksaan payudara dilakukan terlebih dahulu
periksa pandang warna perut, pembesaran pada perut,
kemudian lakukan pemeriksaan raba (palpasi) yakni:
periksa ada tidaknya rasa nyeri saat diraba, periksa
kontraksi uterus, kemudian raba tinggi fundus.
71
(Rukiyah et.all, 2011; h. 99)
(b)Nyeri Setelah Kelahiran/Uterus
Setelah anda melahirkan, uterus anda akan memerlukan
agar ia terus berkontraksi untuk mencegah perdarahan.
Kontraksi adalah sama dengan kontraksi sewaktu
persalinan hanya saja sekarang tujuannya berbeda.
Sebagaimana anda ketahui, ketika uterus berkontraksi,
anda akan merasa sakit mules. Inilah yang disebut nyeri
setelah melahirkan. Hal ini akan berlangsung 2 hingga
3 hari setelah melahirkan.
Selain daripada merasa nyeri akibat adanya kontraksi,
anda juga akan melihat bahwa puncak uterus anda akan
menjadi lebih keras seperti sebuah bola didalam perut
anda. Pada saat uterus anda menjadi keras, hal tersebut
berarti bahwa ia berkontraksi dengan baik untuk
menghentikan perdarahan dan bahwa ia sedang dalam
proses pengecilan dan menjadi sembuh.
(Rukiyah et.all, 2011; h. 141-142)
(c)Kandung kemih
Kondisi kandung kemih sangat berpengaruh terhadap
keadaan kontraksi uterus, sehingga pemeriksaan
kandung kemih jangan diabaikan karena jika kontraksi
terhambat oleh kandung keih yang penuh bisa berakibat
72
keluar darah yang cukup banyak (perdarahan),
pemeriksaan kandung kemih dilakukan bersamaan saat
memeriksa pembasaran uterus, jika kandung kemih
penuh anjurkan ibu untuk buang air kecil, jika ibu tidak
bisa buang air kecil secara spontan dapat dikeluarkan
dengan kateter sekali pakai.
(Rukiyah et.all, 2011; h. 100)
(9) Genetalia
(a) Lokhea
Warnanya masih merah, jumlahnya semakin
berkurang dan tidak berbau. Warnanya akan berubah
dan kembali normal seiring berjalannya waktu. Bila
tidak terjadi perubahan dan lokhea tambah banyak,
maka ibu dianjurkan untuk beristirahat atau segera
menghubungi bidan.
(b) Keadaan perineum
Daerah perineum diperiksa kebersihannya, adanya
pembengkakan, serta rasa nyeri.
(c) Anus
Tujuan pengkajian anus adalah untuk mendapatkan
data mengenai kondisi anus dan rectum.
73
(10)Ekstremitas
Dilakukan pemeriksaan terhadap adanya vena varises,
kemerahan pada betis, serta edema.
(Astuti et.all, 2015; h. 46)
b. Interpretasi data dasar
Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosis atau masalah
berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah
dikumpulkan. Data dasar tersebut kemudian diinterpretasikan sehingga
dapat dirumuskan masalah dan diagnosa yang spesifik. Baik rumusan
diagnosis maupun rumusan masalah keduanyaa harus ditangani,
meskipun masalah tidak bisa dikatakan sebagai diagnosis tetapi harus
mendapatkan penanganan.
Masalah sering berkaitan dengan hal-hal yang sedang dialami wanita
yang diidentifikasi ileh bidan sesuai dengan hasil pengkajian. Masalah
juga sering menyertai diagnosis. (Soepardan, 2007; h. 99)
1) Diagnosa kebidanan
Diagnosa dapat ditegakkan yang berkaitan dengan para, abortus,
anak hidup, umur ibu, dan keadaan nifas. Data dasar meliputi:
a) Data subjektif
Pernyataan ibu tentang jumlah persalinan, apakah pernah abortus
atau tidak, keterangan ibu tentang umur, keterangan ibu tentang
kelihannya.
74
b) Data objektif
Palpasi tentang tinggi fundus uteri dan kontraksi, hasil
pemeriksaan tentang pengeluaran pervaginam, hasil pemeriksaan
tanda-tanda vital. (Ambarwati dan Wulandari. 2010; h. 141-142).
2) Masalah
Masalah dirumuskan bila bidan menemukan kesenjangan yang
terjadi pada respon ibu terhadap masa nifas. Masalah ini terjadi
belum termasuk dalam rumusan diagnosis yang ada, tetapi masalah
tersebut membutuhkan penanganan bidan, maka masalah
dirumuskan setelah diagnosa. Permasalahan yang muncul merupakan
pernyataan dari pasien, ditunjang dengan data dasar baik subjektif
maupun objektif. (Walyani dan Purwoastuti , 2015; h. 187)
3) Kebutuhan
Dalam bagian ini bidan menentukan kebutuhan pasien berdasarkan
keadaan dan masalahnya. Masalah sering berhubungan dengan
bagaimana wanita itu mengalami kenyataan terhadap diagnosisnya.
(Sulistyawati dan Nugraheni, 2010; h. 229).
c. Identifikasi diagnosis dan masalah potensial
Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial yang mungkin akan
terjadi. Pada langkah ini diidentifikasikan masalah atau diagnosa
potensial berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa , hal ini
membutuhkan antisipasi, pencegahan, bila memungkinkan menunggu
75
mengamati dan bersiap-siap apabila hal tersebut benar-benar terjadi.
Melakukan asuhan yang aman penting sekali dalam hal ini.
d. Tindakan segera atau kolaborasi
Pada pelaksanaannya, bidan kadang dihadapkan pada beberapa situasi
yang darurat, yang menuntut bidan harus segera melakukan tindakan
penyelamatan terhadap pasien. Kadang pula bidan dihadapkan pada
situasi pasien yang memerlukan tindakan segera padahal sedang
menunggu intruksi dokter, bahkan mungkin juga situasi pasien yang
memerlukan konsultasi dengan tim kesehatan lain.
(Sulistyawati, 2009; h. 132)
e. Perencanaan
Langkah-langkah ini ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya yang
merupakan lanjutan dari masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi
atau diantisipasi. Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya
meliputi apa yang sudah dilihat dari kondisi pasien atau dari setiap
masalah yang berkaitan dengan kerangka pedoman antisipasi bagi
wanita tersebut yaitu apa yang akan terjadi berikutnya, penyuluhan,
konseling dari rujukan untuk masalah-masalah sosial, ekonomi atau
masalah psikososial. (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 142-143)
Perencanaan asuhan yang diberikan pada Ny. M adalah:
6-8 jam post partum
76
1) Cegah pedarahan masa nifas karena atonia uteri
2) Deteksi dan rawat penyebab lain pedarahan, rujuk jika perdarahan
berlanjut.
3) Berikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga
mengenai bagaimana cara mencegah perdarahan masa nifas karena
atonia uteri
4) Pemberian ASI awal
5) Lakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir.
6) Jaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi
7) Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus tinggal dengan
ibu dan bayi yang baru lahir selama 2 jam pertama setelah kelahiran
atau sampai ibu dan bayinya dalam keadaan stabil.
(Sulistyawati, 2009; h.6).
f. Pelaksanaan
Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan dari semua rencana
sebelumnya, baik terhadap masalah pasien ataupun diagnosis yang
ditegakkan. Pelaksanaan ini dapat dilakukan oleh bidan secara mandiri
maupun berkolaborasi dengan tim kesehatan lainnya.
(Wildan dan Hidayat, 2013; h.39).
Pelaksanaan asuhan yang dilakukan pada Ny. D adalah:
6-8 jam post partum
1) Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
77
2) Mendeteksi dan merawat penyebab lait perdarahan, rujuk jika
perdarahan berlanjut.
3) Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga
mengenai bagaimana cara mencegah perdarahan masa nifas karena
atonia uteri.
4) Pemberian ASI awal
5) Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir
6) Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi.
7) Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus tinggal dengan
ibu dan bayi yang baru lahir selama 2 jam pertama setelah kelahiran
atau sampai ibu dan bayinya dalam keadan stabil.
g. Evaluasi
Langkah ini merupakan langkah terakhir guna mengetahui apa yang
telah dilakukan bidan. Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang
diberikan, ulangi kembali proses manajemen dengan benar terhadap
setiap aspek asuhan yang sudah dilaksanakan tapi belum efektif atau
merencanakan kembali yang belum terlaksana.
(Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 147)
Evaluasi asuhan yang diberikan pada Ny. M adalah :
6-8 jam post partum
1) Perdarahan masa nifas sudah dicegah.
2) Deteksi penyebab lain perdarahan sudah dilakukan
78
3) Konseling tentang cara mencegah perdarahan sudah dilakukan
4) Ibu bersedia memberikan ASI awal
5) Hubungan antara ibu dan bayi sudah dilakukan
6) Pencegahan hipotermi sudah dilakukan
7) Petugas sudah tinggal dengan ibu dan bayi selama 2 jam pertama.
C. LANDASAN HUKUM KEWENANGAN BIDAN
1. Kompetensi bidan
Berdasarkan Permenkes No. 1464/Menkes/PER/2010 tentang Izin dan
Penyelenggaraan Praktik Bidan serta memperhatikan kompetisi inti bidan
Indonesia yang mengacu kepada kompetisi inti yang telah disusun oleh
ICM, Juni 2011, maka kompetensi bidan di Indonesia dapat diuraikan
sebagai berikut.
1) Bidan mempunyai persaratan pengetahuan dan keterampilan dari ilmu-
ilmu social, kesehatan masyarakat, dan etik yang membentuk desa dari
asuhan yang bermutu tinggi sesuai dengan budaya, untuk wanita, bayi
baru lahir, dan keluarganya.
2) Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, pendidikan kesehatan
yang tanggap terhadap budaya, dan pelayanan menyeluruh di
masyarakat dalam rangka untuk meningkatkan kehidupan keluarga
yang sehat, perencanaan kehamilan, dan kesiapan menjadi orang tua.
79
3) Bidan memberikan asuhan antenatal bermutu tinggi untuk
mengoptimalkan kesehatan selama kehamilan yang meliputi deteksi
dini, pengobatan, atau rujukan dari komplikasi tertentu.
4) Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, tanggap terhadap
kebudayaan setempat selama persalinan, memimpin suatu persalinan
yang bersih dan aman, serta menangani situasi kegawatdaruratan
tertentu untuk mengoptimalkan kesehatan wanita dan bayi yang baru
lahir.
5) Bidan memberikan asuhan pada ibu nifas dan menyusui yang bermutu
tinggi terhadap budaya setempat.
6) Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, komprehensif pada
bayi baru lahir sampai dengan satu bulan.
7) Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, komprehensif pada
bayi dan balita sehat (satu bulan sampai lima tahun).
8) Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi dan komprehensif pada
keluarga, kelompok, dan masyarakat sesuai dengan budaya setempat.
9) Melaksanakan asuhan kebidanan pada wanita/ibu dengan gangguan
sistem reproduksi.
2. Undang-undang wewenang bidan
Dalam menjalankan praktiknya bidan berwenang dalam memberikan
pelayanan yang meliputi pelayanan kebidanan, pelayanan keluarga
80
berencana, dan pelayanan kesehatan masyarakat sesuai dengan peraturan
menteri kesehatan RI Nomor 1464/MENKES/PER/X/2010.
a. Pelayanan kebidanan
Berapa pelayanan kebidanan yang diberikan adalah sebagai berikut.
1) Pelayanan kebidanan pada ibu
Pelayanan kebidanan yang diberikan kepada ibu umumnya pada
masa pranikah, prahamil, persalinan, nifas, menyusui, serta masa
interval. Jenis pelayanan yang diberikan antara lain sebagai berikut.
a) Penyuluhan dan konseling
b) Pemeriksaan fisik
c) Pelayanan antenatal pada kehamilan normal.
d) Pertolongan kehamilan abnormal yang mencakup ibu hamil
dengan abortus iminens, hiperemesis gravidarum tingkat 1,
preeklamsi ringan, dan anemia ringan.
e) Pertolongan persalinan normal.
f) Pertolongan persalinan abnormal yang mencakupletak sungsang,
partus macet, kepala didasar panggul, ketuban pecah dini (KPD)
tanpa infeksi, perdarahan postpartum, laserasi jalan lahir, distosia
karena inersia uteri primer, serta posterm dan preterm.
g) Pelayanan ibu nifas normal
h) Pelayanan ibu nifas abnormal yang mencakup retensio plasenta,
renjatan, dan infeksi ringan.
81
i) Pelayanan dan pengobatan pada kelainan ginekologi yang
meliputi keputihan, perdarahan tidak teratur, dan penundaan haid.
Pada saat memberikan pelayanan diatas, bidan berwenang dalam hal
berikut.
(a) Memberikan imunisasi
(b) Memberikan suntik pada penyulit kehamilan, persalinan, dan
nifas.
(c) Mengeluarkan plasenta secara manual
(d) Bimbingan senam hamil
(e) Pengeluaran sisa jaringan konsepsi.
(f) Episiotomi
(g) Penjahitan luka episiotomi dan luka jalan lahir sampai tingkat
dua.
(h) Anatomi pada pembukaan serviks lebih dari 4 cm
(i) Pemberian infus.
(j) Pemberian suntik IM uterotonika, antibiotika, dan sadatif.
b. Pelayanan kepada anak
Pelayanan yang diberikan kepada anak terutama pada masa bayi baru
lahir, bayi, anak balita, dan prasekolah. Pelayanan yang diberikan
antara lain sebagai berikut.
1) Pemeriksaan bayi baru lahir.
2) Perawatan tali pusat
3) Perawatan bayi
82
4) Resusitasi pada bayi baru lahir.
5) Pemantauan tumbuh kembang anak.
6) Pemberian imunisasi
7) Pemberian penyuluhan.
Dalam keadaan tidak terdapat dokter yang berwenang pada wilayah
tersebut, bidan dapat memberikan pelayanan pengobatan pada penyakit
ringan bagi ibu dan anak sesuai dengan kemampuannya.
c. Pelayanan keluarga berencana
Pada saat memberikan pelayanan keluarga berencana, bidan memiliki
wewenang sebagi berikut.
1) Memberikan penyuluhan/konseling pemakaian kontrasepsi
2) Memberikan pelayanan alat kontrasepsi oral dan kondom
Bidan yang melaksanakan program pemerintah berwenang untuk
memberikan alat kontrasepsi suntikan, alat kontrasepsi dalam rahim
(AKDR) dan alat kontrasepsi bawah kulit (AKBH).
d. Pelayanan kesehatan masyarakat
Bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan masyarakat berwenang
untuk hal berikut.
1) Pembinaan peran serta masyarakat di bidang kesehatan ibu dan anak.
2) Memantau tumbuh kembang anak.
3) Melaksanakan pelayanan kebidanan komunitas.
4) Melaksanakan deteksi dini, melaksanakan pertolongan pertama,
merujuk dan memberikan penyuluhan infeksi menular seksual
83
(IMS), penyalahgunaan narkotika psikotropika dan zat adiktif
lainnya (napza), serta penyakit lainnya.
(Aticeh et. all, 2014; h.70-73)
3. Standar pelayanan kebidanan yang berkaitan dengan kasus yang
diambil
1) Standar 13 : Perawatan Bayi Baru Lahir
Bidan memeriksa dan menilai bayi baru lahir untuk memastikan
pernapasan spontan mencegah hipoksia sekunder, menemukan kelainan,
dan melakukan tindakan atau merujuk sesuai dengan kebutuhan. Bidan
juga harus mencegah atau menangani hipotermia.
2) Standar 14: Penanganan pada Dua Jam Pertama Setelah Persalinan
Bidan melakukan pemantauan ibu dan bayi terhadap terjadinya
komplikasi dalam dua jam setelah persalinan, serta melakukan tindakan
yang diperlukan yang diperlukan. Disamping itu, bidan memberikan
penjelasan tentang hal-hal yang mempercepat pulihnya kesehatan ibu,
dan membantu ibu untuk memulai pemberian ASI.
3) Standar 15 : Pelayanan bagi Ibu dan Bayi pada Masa Nifas
Bidan memberikan pelayanan selama masa nifas melalui kunjungn
rumah pada hari ketiga, minggu kedua dan minggu keenam setelah
persalinan, untuk membantu proses pemulihan ibu dan bayi melalui
penanganan tali pusat yang benar, penemuan dini penanganan atau
rujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada masa nifas, serta
84
memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum, kebersihan
perorangan, makanan bergizi, perawatan bayi barulahir, pemberian ASI,
imunisasi dan KB. (Karwati et. all, 2011; h. 80)
85
BAB III
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEBIDAN IBU NIFAS PADA NY. M UMUR
30 TAHUN P4A0 6 JAM POST PARTUM
DI BPS DESY ANDRIANI, S.Tr.Keb
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2016
Anamnesa Oleh : Komariah
Tanggal : 07 Mei 2016
Pukul : 07.15 WIB
A. Pengkajian
Data Subjektif
1. Identitas
a. Biodata
Istri Suami
Nama : Ny. M : Tn. S
Umur : 30 tahun : 41 tahun
Agama : Islam : Islam
Suku/Bangsa : Lampung : Lampung
Pendidikan : SD : SD
Pekerjaan : Ibu rumah tangga : Buruh
Alamat : Jl. Jend. Gatot Subroto, Gg. Irsad, No.56, Pecoh
Raya, Teluk Betung Selatan
85
86
b. Keluhan utama : Ibu mengatakan perutnya masih mulas
c. Riwayat kesehatan
Riwayat kesehatan sekarang
Hipertensi : Tidak ada
DM : Tidak ada
Jantung : Tidak ada
Asma : Tidak ada
Ginjal : Tidak ada
Hepatitis : Tidak ada
TBC : Tidak ada
Riwayat kesehatan dahulu
Hipertensi : Tidak ada
DM : Tidak ada
Jantung : Tidak ada
Asma : Tidak ada
TBC : Tidak ada
Riwayat kesehatan keluarga
Hipertensi : Tidak ada
DM : Tidak ada
Jantung : Tidak ada
Asma : Tidak ada
TBC : Tidak ada
87
d. Riwayat perkawinan
Status pernikahan : Syah
Usia nikah pertama : 19 tahun
Lamanya pernikahan: 11 tahun
e. Riwayat Obstetri
1) Riwayat Haid
Menarche : 14 tahun
Siklus : 28 hari
Lama : 7 hari
Banyaknya : 3 x/hari ganti pembalut
Sifat : Encer dengan sedikit menggumpal
Disminorhea : Tidak ada
HPHT : 14 Agustus 2015
2) Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu.
N
o
Tanggal
persalina
n
Tempat
persalin
an
Umur
kehamil
an
Jenis
persalin
an
Penolo
ng
penyulit Keadaan Ket
Nifas Anak
1 16-08-
2006
Tidak
ada
39mg 2
hr
Spontan Dukun Tidak
ada
Baik Baik
2 24-01-
2009
Tidak
ada
39mg Spontan Bidan Tidak
ada
Baik Baik
3 31-01-
2012
Tidak
ada
39 mg 1
hr
Spontan Bidan Tidak
ada
Baik Baik
3) Riwayat persalinan sekarang
Jenis persalinan : Spontan dengan retensio plasenta
Jumlah perarahan : 300 cc
88
Tanggal : 07 mei 2016
Jam : 01.15 WIB
Jenis kelamin : Perempun
Panjang Badan : 48 cm
Berat Badan : 3000 gram
Keadaan Bayi : Baik
4) Riwayat KB : Suntik 3 bulan
f. Pola Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari
Pola nutrisi : Ibu mengatakan sudah minum segelas teh
hangat dan makan dengan satu porsi
dengan menu satu centong nasi,
semangkuk sayur bayam, sepotong tempe,
tahu dan ayam goreng.
Pola eliminasi : Ibu sudah BAK pada 4 jam post partum
yaitu pukul 05.00, dengan lancar dengan
warna agak jernih
dan ibu belum BAB
Pola aktivitas : Ibu sudah berjalan kekamar mandi pada
pukul 05.00 WIB untuk BAK tanpa
bantuan.
Pola istirahat : Ibu beristirahat dengan berbaring ditempat
tidurnya
Pola personal hygiene : Ibu mengatakan sudah mandi dan sudah
89
mengganti pembalut dua kali selama 6 jam
post partum
Pola seksual : Ibu belum melakukan hubungan seksual
g. Psikososial
Tanggapan ibu terhadap dirinya : Baik
Tingkat pengetahuan ibu terhadap kondisinya : Cukup tahu
Tanggapan keluarga terhadap kelahiran bayi : Senang
Pengambilan keputusan : Suami
Lingkungan yang berpengaruh : Tidak ada
DATA OBJEKTIF
1. Pemeriksaan umum
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Keadaan Emosional : Stabil
Tanda Vital
TD : 110/80 mmHg
Pernapasan : 20x/menit
Nadi : 80x/menit
Suhu : 37, 50
C
2. Pemeriksaan fisik
Kepala
a. Wajah
90
Pucat : Tidak ada
Edema : Tidak ada
b. Mata
Simetris : Simetris
Kelopak mata : Ada
Konjungtiva : Merah muda
Sklera : Putih
c. Hidung
Simetris : Simetris
Polip : Tidak ada
Kebersihan : Bersih
d. Mulut
Bibir : Lembab
Lidah : Bersih
Gusi : Tidak ada perdarahan
Gigi : Tidak ada caries
e. Telinga
Simetris : Simetris
Gangguan pendengaran : Tidak ada
f. Leher
Tumor : Tidak ada
Pembesaran kelenjar tiroid : Tidak ada
Pembesaran vena jugularis : Tidak ada
91
g. Ketiak, pembesaran kelenjaran limfe : Tidak ada
h. Dada
Retraksi : Tidak ada:
Bunyi mengi dan ronchi : Tidak ada
i. Payudara
Simetris : Simetris
Pembesaran : Ada
Putting susu : Menonjol
Areola mamae : Hiperpigmentasi
Benjolan : Tidak ada
Pengeluaran : Colostrum
j. Punggung dan pinggang
Simetris : Simetris
Nyeri ketuk : Tidak ada
k. Abdomen
Benjolan : Tidak ada
Konsistensi : Keras
Kandung kemih : Kosong
Uterus
TFU : 2 jari dibawah pusat
Kontraksi : Baik
l. Anogenital
Labia mayora/minora : Tidak ada pembengkakan
92
Kelenjar bartholini : Tidak ada pembesaran
Pengeluaran vagina
Jenis lokhea : Lokhea rubra
Warna : Merah
Bau : Anyir
Perineum :Tidak ada laserasi
Anus : Tidak ada haemoroid
m.Ekstremitas bawah
Oedema : Tidak ada
Kemerahan : Tidak ada
Varices : Tidak ada
3. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
a. Darah
HB : Tidak dilakukan
Golongan Darah : Tidak dilakukan
b. Urine
Protein : Tidak dilakukan
Glukosa : Tidak dilakukan
4. Data Penunjang
Riwayat persalinan sekarang
Ibu
93
Tempat melahirkan : BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb
Penolong : Bidan
Jenis persalinan : Spontan
Lama persalinan
Catatan waktu
Kala I : 7 jam 5 menit
Kala II : 20 menit
Kala III : 40 menit
Kala III : 2 jam
10 jam 5 menit
Ketuban pecah pukul : 23.50 WIB
Plasenta
Lahir secara : Manual
Ukuran : 19 cm
Berat : ± 500 gram
Panjang tali pusat : ± 50 cm
Perineum : Tidak ada laserasi
Bayi
Lahir tanggal/pukul : 07 Mei 2016/00.35 WIB
Nilai apgar : 9/10/10
Jenis kelamin : Perempuan
Cacat bawaan : Tidak ada
Masa gestasi : 38 minggu 1 hari
94
TABEL 3.2
MATRIK
Tangga
l
Jam
Pengkajian Interpretasai Data Dx
potensial
Tindakan
segera
Intervensi Implementasi Evaluasi
07 Mei
2016/
Pukul:
07.15
WIB
Ds:
1. Ibu mengatakan
masih lemas.
2. Ibu mengatakan
perutnya mulas.
3. Ibu mengatakan
melahirkan
anak
keempatnya
pada tanggal 07
Mei 2016
pulul:00.35
WIB
Do:
Hasil
pemeriksaan:
a. Keadaan
Dx. Ny. M umur 30
tahun P4A0 6 jam
pertama
postpartum.
Ds:
1. Ibu mengatakan
ini adalah
kelahiran yang
keempat dan
belum pernah
keguguran.
2. Ibu melahirkan
tanggal 07-05-
2016 Pukul:
00.35 WIB,
3. Ibu mengatakan
perutnya terasa
Tidak
ada
Tidak
ada
1. Beritahu
kondisi ibu saat
ini.
2. Jelaskan
tentang keluhan
yang dialami
1. Memberitahu kondisi ibu saat ini
yaitu:
a. Hasil Pemeriksaan
TD: 110/80 mmHg
N: 80 x/menit,
RR : 20 x/menit
S: 37,50
C
b. Puting susu menonjol, dan sudah
ada pengeluaran yaitu Kolostrum,
c. TFU 2 jari dibawah pusat,
konsistensi keras, dan kontraksi
uterus baik.
d. Pengeluaran lokhea rubra, dan
tidak terdapat luka jahitan.
2. Memberikan penjelasan kepada ibu
bahwa rasa mulas yang dialami ibu
saat ini adalah normal, karena adanya
1. Ibu sudah mengerti
tentang kondisinya saat
ini.
2. Ibu sudah mengerti
tentang keluhan yang
dialami saat ini.
94
95
umum: baik,
b. Kesadaran:
Composmenti
s, TD:110/80
mmHg,
N:80 x/menit,
P: 20 x/menit,
T : 37,5 0
C.
c. Puting susu
menonjol
sudah ada
pengeluaran
yaitu
kolostrum
d. TFU 2 jari
dibawah
pusat,
konsistensi
keras,
kontraksi
uterus baik
e. Pengeluaran
lokhea rubra
mulas.
Do:
1. Keadaan Umum:
baik, kesadaran
Composmentis,T
D:110/80
mmHg,
N: 80x/menit,
RR: 20 x/menit,
T: 37,50
C.
2. Puting susu
menonjol,
pengeluaran
sudah ada yaitu
kolostrum
3. TFU 2 jari
dibawah pusat,
konsistensi
keras, Kontraksi
uterus baik.
4. Pengeluaran
lokhea rubra,
tidak terdapat
ibu.
3. deteksi dan
merawat
penyebab lain
perdarahan
4. Ajarkan pada
ibu dan salah
satu keluarga
untuk
kontraksi dan retraksi dari otot-otot
uteri yang merupakan proses dari
involusi uteri atau pengembalian
uterus kebentuk semula. Dan ibu
masih merasa lemas karena proses
persalinan ibu berlangsung agak lama
karena persalinan dengan manual
plasenta.
3. Mendeteksi dan merawat penyebab
lain perdarahan dengan melakukan
pemeriksaan untuk melihat adanya
perdarahan dengan cara melakukan
pemeriksaan kontraksi dan tinggi
fundus uteri serta melihat perdarahan
keluar dari vagina berwarna merah
segar. Lakukan rujukan jika
petugas/bidan menemukan adanya
perdarahan berlanjut atau pengeluaran
yang abnormal.
4. Mengajarkan ibu dan salah satu
keluarga untuk mencegah perdarahan
karena atonia uteri dengan cara
memasase perut ibu, secara perlahan,
3. Pemeriksaan kontraksi
sudah dilakukan
kontraksi uterus baik,
TFU 2 jari dibawah
pusat serta tidak ada
perdarahan abnormal.
4. Ibu dan keluarga
bersedia melakukan
masase uterus dan
kontraksi uterus baik.
96
dan tidak
terdapat
laserasi
laserasi.
Masalah: tidak
ada
Kebutuhan:
Asuhan Masa
Nifas 6 Jam
Postpartum
mencegah
perdarahan
karena atonia
uteri.
5. Anjurkan ibu
untuk
memberikan
ASI awal.
6. Lakukan
hubungan ibu
dan bayi.
tangan diletakkan diatas fundus uteri
dengan gerakan berputar sambil
menekan fundus selama 15 detik, raba
kembali uterus setiap 1-2 menit, jika
lembek ulangi masase.
5. Menganjurkan ibu untuk memberikan
ASI awal pada bayinya sebaiknya
sesering mungkin tidak perlu dijadwal,
bayi disusui sesuai dengan
keinginannya (on demand). Bayi dapat
menentukan sendiri kebutuhannya.
Bayi yang sehat dapat mengosongkan
satu payudara sekitar 5-7 menit dan
ASI dalam lambung akan kosong
dalam 2 jam. Menyusui yang
dijadwalkan akan berakibat kurang
baik karena isapan bayi sangat
berpengaruh pada rangsangan
produksi ASI berikutnya.
6. Melakukan hubungan antara ibu dan
bayi baru lahir atau bounding
attachment didalam ruangan dengan
5. Ibu bersedia menyusui
bayinya sesering
mungkin
6. Bonding attachment
sudah dilakukan antara
ibu dan bayi dalam
97
7. Jaga bayi tetap
hangat dengan
cara melakukan
pencegahan
hipotermi pada
bayi.
melakukan sentuhan awal/kontak kulit
antara ibu dan bayi pada menit-menit
pertama sampai beberapa jam setelah
kelahiran bayi. Pada proses ini terjadi,
penggabungan berdasarkan cinta dan
penerimaan yang tulus dari orang tua
terhadap anaknya dan memberikan
dukungan asuhan dalam perawatanya.
7. menjaga bayi tetap sehat dengan cara
mencegah hipotermi yaitu dengan
mempertahankan lingkungan bayi
tetap hangat untuk menjaga supaya
tidak terjadi penurunan suhu bayi, jaga
kebersihan kulit bayi, hindari kulit
lembab dengan mengganti baju bayi
minimal 2 kali sehari atau sewaktu-
waktu ketika basah oleh keringat atau
terkena muntahan, memilih baju yang
tidak kaku dan menyerap keringat
untuk bayi. Menjaga kehangatan
bayi. empat kemungkinan yang dapat
menyebabkan bayi baru lahir
kehilangan panas tubuhnya seperti
satu ruangan yang
sama.
7. Bayi sudah dilakukan
pencegahan hipotermi
dan bayi dalam
keadaan baik dan
hangat.
98
8. Anjurkan ibu
untuk tetap
memenuhi
kebutuhan
nutrisi.
menimbang bayi tanpa alas timbangan,
membiarkan bayi baru lahir diruangan
yang terpasang kipas angin, AC,
membiarkan bayi baru lahir dekat
dengan tembok.
8. Menganjurkan ibu untuk tetap
memenuhi kebutuhan nutrisinya
seperti mengkonsumsi makanan yang
bergizi dan cukup cairan karena
makanan yang dibutuhkan oleh ibu
nifas sesuai dengan kebutuhan yang
diperlukan dalam tubuh supaya tubuh
dalam keadaan sehat. Tujuan
pemberian makanan pada ibu nifas
adalah untuk memulihkan tenaga ibu,
memproduksi ASI yang bernilai gizi
tinggi, mempercepat penyembuhan
luka, dan mempertahankan kesehatan.
Hidangan bergizi yang dibutuhkan ibu
menyusui terdiri atas zat tenaga
(Hidrat arang, lemak, protein nabati
seperti kacang-kacangan, tahu, tempe,
kedelai dan hewani seperti telur,
8. Ibu mengerti untuk
memenuhi kebutuhan
nutrisinya.
99
9. Beritahu ibu
untuk
memenuhi
kebutuhan
istirahatnya.
10. Ajarkan pada
ibu tentang
personal
hygiene yang
baik.
daging, ikan dan sebagainya), zat
pembangun (protein, vitamin, mineral,
air), dan zat pengatur atau pelindung
(vitamin, air, dan mineral).
9. Memberitahu ibu untuk memenuhi
kebutuhan istirahat yaitu bagi ibu
menyusui minimal 8 jam sehari, yang
dapat dipenuhi melalui istirahat malam
dan siang.
10. Mengajarkan pada ibu tentang personal
hygiene yang baik yaitu: anjurkan ibu
untuk menjaga kebersihan seluruh tubuh,
ajarkan pada ibu bagaimana
membersihkan daerah kelamin dengan
sabun dan air anjurkan ibu untuk
membersihkan daerah sekitar vulva
terlebih dahulu, dari depan kebelakang
anus, sarankan ibu untuk mengganti
pembalut atau kain pembalut setidaknya
dua kali sehari, sarankan ibu mencuci
tangan dengan sabun dan air sebelum dan
sesudah membersihkan daerah kelamin.
9. Ibu mengerti dan
bersedia untuk
memenuhi kebutuhan
istirahatnya.
10. Ibu mengerti tentang
personal hygiene
yang baik
100
Tanggal Pengkajian Interpretasi data Diagnosa
masalah
potensial
Antisipasi
tindakan
segera
Intervensi Implementasi Evaluasi
07 Mei
2016/
Pkl:
09.15
WIB
Ds:
1. Ibu
mengatakan
melahirkan
anak
keempatnya
pada tanggal
07 Mei 2016
pukul:00.35
WIB.
2. Ibu
mengatakan
perutnya
masih terasa
mulas.
Do:
Hasil
pemeriksaan:
Dx: Ny. M Umur
30 Tahun P4A0 8
Jam Post Partum.
Ds:
1. Ibu mengatakan
ini adalah
kelahiran yang
keempat dan
belum pernah
keguguran.
2. Ibu mengatakan
melahirkan
Tanggal 07 Mei
2016 Pukul:
00.35 WIB.
3. Ibu mengatakan
perutnya masih
terasa mulas.
Tidak ada Tidak ada 1. Beritahu
kondisi ibu
saat ini.
2. Evaluasi
tentang
keluhan
1.Memberitahu kondisi ibu saat
ini yaitu:
a. Keadaan umum: baik,
TD: 110/80 mmHg,
Nadi: 80 x/menit,
RR: 20 x/menit,
Suhu: 37,50
C,
b. Puting susu menonjol,
pengeluaran sudah ada
yaitu kolostrum,
c. TFU 2 jari dibawah pusat
konsistensi keras,
kontraksi uterus baik.
d. Pengeluaran lokhea rubra,
dan tidak terdapat laserasi
2. Mengevaluasi apakah rasa
mulas masih dirasakan oleh
ibu.
1. Ibu mengerti kondisinya saat ini.
2. Ibu mengerti rasa mulas yang
dialaminya adalah hal yang
normal, hal ini dikarenakan
101
a. Keadaan
umum: baik,
Kesadaran:
Composmen
tis,
TD:110/80
x/menit
RR: 20
x/menit,
Suhu:
37,50
C.
b. Puting susu
menonjol,
sudah ada
pengeluaran
yaitu
kolostrum.
c. TFU 2 jari
dibawah
pusat,
konsistensi
keras
kontraksi
baik.
Ds:
1. Keadaan
umum: baik,
Kesadaran:
Composmentis,
TD: 110/80
mmHg,
N: 80 x/menit,
RR:20x/menit
T: 37,50
C
2. Puting susu
menonjol, dan
pengeluaran
sudah ada yaitu
kolostrum.
3. TFU 2 jari
dibawah pusat,
konsistensi
keras,
Kontraksi
uterus baik
4. Pengeluaran
lokhea rubra,
dan tidak
yang dialami
ibu
3. Evaluasi dan
deteksi serta
merawat
penyebab
perdarahan
dan rujuk
bila
perdarahan
berlanjut.
4. Evaluasi
tentang
pencegahan
perdarahan
yang
diajarkan
pada ibu dan
keluarga.
3. Mengevaluasi dan
mendeteksi serta merawat
penyebab lain perdarahan,
dan merujuk bila perdarahan
berlanjut
4. Mengevaluasi pencegahan
perdarahan yang telah
diajarkan dengan
melakukan masase pada
uterus ibu.
adanya kontraksi dan retraksi dari
otot-otot uteri yang merupakan
proses dari involusi uteri. Dan
rasa lemas ibu dikarenakan proses
persalinan yang cukup lama.
3. Perdarahan sudah diperiksa dan
hasilnya tidak ada perdarahan
yang abnormal
4. Ibu dan keluarga telah memasase
perut ibu dan kontraksi baik, tidak
terjadi perdarahan.
102
d. Pengeluaran
lokhea
rubra, dan
tidak
terdapat
laserasi.
terdapat
laserasi.
Masalah: tidak ada
Kebutuhan:
Asuhan Nifas 6
Jam Postpartum.
5. Evaluasi
pada ibu
tentang
pemberian
ASI awal.
6. Pastikan dan
evaluasi
mengenai
hubungan
antara ibu
dan bayi.
5. Mengevaluasi ibu tentang
pemberian ASI awal.
6. Memastikan dan
mengevaluasi mengenai
hubungan antara ibu dan
bayi atau bounding
attachment didalam satu
ruangan dengan melakukan
sentuhan awal/ kontak kulit
antara ibu dan bayi pada
menit-menit pertama
sampai beberapa jam
setelah kelahiran bayi. Pada
proses ini, terjadi
penggabungan berdasarkan
cinta dan penerimaan yang
tulus dari orang tua
5. Ibu telah menyusui bayinya 2 kali
selama 6 jam dan bayi telah
mendapatkan cairan yang pertama
kali keluar yaitu kolostrum yang
mengandung antibodi sehingga
mampu melindungi bayi dari
infeksi sampai 6 bulan.
6. Ibu dan bayi sudah berada dalam
satu ruangan.
103
7. Evaluasi
pencegahan
hipotermi
pada bayi.
8. Evaluasi ibu
untuk tetap
memenuhi
kebutuhan
nutrisinya.
9. Evaluasi
apakah ibu
mengerti
tentang
terhadap anaknya dan
memberikan dukungan
asuhan dalam
perawatannya.
7. Mengevaluasi pencegahan
hipotermi pada bayi.
8. Mengevaluasi ibu untuk
tetap memenuhi kebutuhan
nutrisi.
9. Mengevaluasi apakah ibu
mengerti kebutuhan
istirahat.
7. Bayi dalam keadaan baik dan
telah dibedong dengan
menggunakan pakaian yang
kering.
8. Ibu sudah mengerti tentang
kebutuhan nutrisi dan ibu sudah
makan-makanan yang telah
dianjurkan seperti Makan 1 kali, 1
porsi dengan menu bervariasi
seperti 1 centong nasi, 1 potong
daging, 1 mangkuk kecil sayur
bayam, dan 1 buah apel. Minum
air putih 5-6 gelas/hari
9. Ibu mengerti kebutuhan
istirahatnya dan sudah tidur saat
bayinya tidur. Pada 8 jam post
partum.
104
kebutuhan
istirahat ibu
menyusui
10. Evaluasi
apakah ibu
mengerti
tentang
personal
hygiene
yang baik.
10. Mengevaluasi apakah ibu
mengerti tentang personal
hygiene yang baik.
10.Ibu telah mengerti mampu
menerapkan cara personal hygiene
yang baik yaitu ibu membersihkan
daerah kelamin dengan sabun, dan
air dan ibu juga membersihkan
vulva terlebih dahulu, dari depan
kebelakang lalu keanus dan ibu
telah mencuci tangan dengan
sabun dan air sebelum dan
sesudah membersihkan daerah
kelamin.
105
BAB IV
PEMBAHASAN
Setelah penulis melakukan ‘‘Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Pada Ny. M Umur 30
Tahun P4A06 Jam Post Partum di BPM Desy Andriani,S.Tr.Keb Bandar Lampung
Tahun 2016’’ di dapatkan hasil sebagai berikut:
A. Pengkajian
Pada pengkajian yang dilakukan, untuk mengumpulkan data dasar tentang
keadaan pasien. Pada kasus ini penulis melakukan pengkajian pada Ny. M
usia 30 tahun P4A0 dengan nifas normal dan didalamnya terdapat hasil
sebagai berikut:
1. Data subjektif
a. Nama
1) Tinjauan teori
Nama jelas dan lengkap, bila perlu nama panggilan sehari-hari agar
tidak keliru dalam memberikan penanganan.
2) Tinjauan kasus
Setelah dilakukan pengkajian, ibu bernama Ny. M
3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus diatas tidak ditemukan
kesenjangan, karena identitas pasien sudah jelas.
105
106
b. Umur
1) Tinjauan teori
Dicatat dalam tahun untuk mengetahui adanya resiko seperti kurang
dari 20 tahun, alat-alat reproduksi belum matang, mental dan
psikisnya belum siap. Sedangkan umur lebih dari 35 tahun rentan
sekali untuk terjadi perdarahan dan komplikasi dalam masa nifas.
2) Tinjauan kasus
Setelah dilakukan pengkajian, Ny. M saat ini berusia 30 tahun.
3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjaun kasus diatas tidak ditemukan
kesenjangan, karena umur Ny. M saat ini 30 tahun sudah dianggap
siap atau matang baik organ reproduksi maupun psikis ibu.
c. Agama
1) Tinjaun teori
Untuk mengetahui keyakinan pasien tersebut untuk membimbing
atau menyarankan pasien dalam berdoa
2) Tinjauan kasus
Setelah dikaji agama Ny. M yaitu islam
3) Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus diatas tidak ditemukan
kesenjangan, karena penulis melihat Ny. M menyebut asma Alllah
dan berdoa pada proses melahirkan.
107
d. Suku/bangsa
1) Tinjauan teori
Berpengaruh pada adat istirahat atau kebiasaan sehari-hari.
2) Tinjauan kasus
Suku ibu Lampung dan ibu berkebangsaan Indonesia.
3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus diatas tidak menganut
kepercayaan yang berhubungan dengan adat istiadat dalam suatu
suku di dalam keluarga tersebut.
e. Pendidikan
1) Tinjauan teori
Berpengaruh dalam tindakan kebidanan dan untuk mengetahui
sejauh mana tingkat intelektualnya, sehingga bidan dapat
memberikan konseling sesuai dengan pendidikannya.
Untuk variabel pendidikan, hasil pengukuran:SD,SMP,SMA, dst,
atau: rendah (tidak sekolah dan SD), menengah (SMP dan SMA),
dan tinggi (di atas SMA). (Notoatmodjo, 2010; h. 112)
2) Tinjauan kasus
Dalam kasus ini pendidikan terakhir Ny. M adalah SD yang
dikatagorikan dalam pendidikan rendah.
3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan karena Ny. M memiliki pendidikan terakhir SD yaitu
108
pendidikan rendah. Dimana ketika petugas kesehatan memberi
penyuhan atau konseling, Ny. M cukup sulit untuk mengerti dan
memahami apa yang diberikan oleh petugas kesehatan.
f. Pekerjaan
1) Tinjauan teori
Gunakan untuk mengetahui dan mengukur tingkat sosial
ekonominya, karena ini juga mempengaruhi dalam gizi pasien
tersebut.
2) Tinjauan kasus
Ny. M bekerja sebagai ibu rumah tangga
3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus diatas tidak ditemukan
kesenjangan, karena meskipun Ny. M hanya sebagai ibu rumah
tangga dan suami sebagai buruh tetapi nutrisi dan kebutuhan sehari-
hari terpenuhi.
g. Alamat
1) Tinjauan teori
Ditanyakan untuk mempermudah kunjungan rumah bila diperlukan.
2) Tinjauan kasus
Ny. M beralamatkan di Jl. Jend. Gatot Subroto, Gg Irsad, No.56,
Pecoh Raya, Teluk Betung Selatan.
109
3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak ditemukan
kesenjangan karena Setelah dilakukan pengkajian Ny. M
beralamatkan Jl. Gatot Subroto, Gg. Irsad, No. 56, Pecoh Raya,
Teluk Betung Selatan. Menurut Ambarwati alamat dikaji untuk
mempermudah kunjungan rumah bila diperlukan.
h. Keluhan utama
1) Tinjauan teori
Untuk mengetahui masalah yang dihadapi yang berkaitan dengan
masa nifas, misalnya pasien merasa mulas, sakit pada jalan lahir
karena adanya jahitan pada perineum.
2) Tinjauan kasus
Ny. M mengeluh terasa mulas pada perutnya.
3) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus diatas tidak ditemukan
kesenjangan, KarenaNy. M mengalami suatu hal yang fisiologi yaitu
mulas pada perutnya disebabkan adanya kontraksi pada uterus untuk
mencegah perdarahan.
110
i. Riwayat kesehatan
1) Riwayat kesehatan yang lalu
a) Tinjauan teori
Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya
riwayat atau penyakit akut, kronis seperti : jantung, DM,
Hipertensi, Asma yang dapat mempenaruhi pada masa nifas ini.
b) Tinjauan kasus
Ibu mengatakan sebelumnya tidak pernah menderita penyakit
seperti menular maupun penyakit keturunan.
c) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus diatas tidak
ditemukan kesenjangan karena Ny. M sebelumnya tidak memiliki
riwayat penyakit apapun yang dapat mempengaruhi pada masa
nifas ini.
2) Riwayat kesehatan sekarang
a) Tinjaua teori
Data-data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya
penyakit yang ada hubungannya pada masa nifas dan bayinya.
b) Tinjauan kasus
Ibu mengatakan saat ini tidak sedang menderita penyakit apapun
baik penyakit keturunan atau penyakit menular.
111
c) Pembahasan
Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus
karena Ny. M saat ini tidak sedang menderita penyakit.
3) Riwayat kesehatan keluarga
a) Tinjauan teori
Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya
pengaruh penyakit keluarga terhadap gangguan kesehatan pasien
dan bayinya, yaitu apabila ada penyakit keluarga yang menyertai
b) Tinjauan kasus
Ibu mengatakan keluarganya tidak ada yang sedang/pernah
menderita penyakit seperti penyakit menular maupun penyakit
keturunan.
c) Pembahasan
Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara tinjauan teori
dan kasus karena didalam keluarga Ny. M tidak ada yang
sedang/pernah menderita penyakit sehingga tidak ada pengaruh
terhadap kesehatan Ny. M dan bayinya.
j. Riwayat perkawinan
1) Tinjaun teori
Yang perlu dikaji adalah berapa kali menikah, status menikah syah
atau tidak, karena bila melahirkan tanpa status yang jelas akan
berkaitan dengan psikologisnya sehingga akan mempengaruhi proses
nifas
112
2) Tinjaun kasus
Setelah dilakukan pengkajian Ny. M baru pertama kali menikah dan
status pernikahannya syah.
3) Pembahasan
Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara tinjauan teori dan
tinjauan kasus karena status pernikahan Ny. M syah.
k. Riwayat obstetrik
1) Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu
a) Tinjauan teori
Berapa kali ibu hamil, apakah pernah abortus, jumlah anak, cara
persalinan yang lalu, penolong persalinan, keadaan nifas yang
lalu.
b) Tinjauan kasus
Setelah dilakukan pengkajian Ny. M sudah pernah melahirkan
3kali tidak pernah abortus, penolong persalinan bidan, dan
keadaan nifas yang lalu baik.
c) Pembahasan
Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara tinjauan teori
dan tinjauan kasus karena riwayat kehamilan, kelahiran dan nifas
yang lalu tidak mengalami kelainan atau komplikasi.
2) Riwayat persalinan sekarang
a) Tinjauan teori
Mendorong kesehatan reproduksi yang optimal
113
(1) Kehamilan sebaiknya dengan interval lebih dari 2 tahun
(2) Jangan hamil sebelum usia 20 tahun atau setelah 35 tahun
(3) Jumlah kehamilan, kelahiran 2 sampai 3 orang mempunyai
optimalisasi kesehatan.
(4) Hindari melakukan abortus illegal. (Manuaba et.all,2010; h.
19)
Tanggal persalinan, jenis persalinan, jenis kelamin anak, keadaan
bayi meliputi panjang badan, berat badan, penolong persalinan.
Hal ini perlu dikaji untuk mengetahui apakah proses persalinan
mengalami kelainan atau tidak yang bisa berpengaruh pada masa
nifas saat ini.
b) Tinjauan kasus
Riwayat persalinan sekarang,Ny. M melahirkan anak yang ke 4
pada tanggal 07 Mei 2016. Jenis persalinan spontan dengan
penyulit kala III yaitu retensio plasenta, jenis kelamin anak
perempuan dengan berat badan 3000 gram, panjang badan 48 cm,
dan ditolong oleh bidan.
c) Pembahasan
Dalam hal ini ditemukan kesenjangan antara tinjauan teori dan
tinjauan kasus karena jumlah kehamilan dan kelahiran pada Ny.
M sudah 4 kali dimana menurut buku manuaba menjelaskan
bahwa optimalisasi kehamilan dan kelahiran yaitu 2 sampai 3
114
orang selain itu ibu mengalami penyulit persalinan yaitu retensio
plasenta.
l. Riwayat KB
1) Tinjauan teori
Untuk mengetahui apakah pasien pernah ikut KB dengan kontrasepsi
jenis apa, berapa lama, adakah keluhan selama menggunakan
kontrasepsi serta rencana KB setelah masa nifas ini dan beralih ke
kontrasepsi apa.
2) Tinjauan kasus
Ny. M mengatakan sebelum kehamilan ini menggunakan KB suntik
3 bulan dan tidak pernah memiliki keluhan apapun.
3) Pembahasan
Dalam hal ini antara tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak
ditemukan kesenjangan karena sebelum hamil Ny. M menggunakan
KB suntik 3 bulan dan tidak pernah memiliki keluhan apapun.
m. Kehidupan sosial budaya
1) Tinjauan teori
Untuk mengetahui pasien dan keluarga yang menganut adat istiadat
yang akan menguntungkan atau merugikan pasien khususnya pada
masa nifas misalnya pada kebiasaan pantangan makan.
2) Tinjauan kasus
Setelah dilakukan pengkajian keluarga Ny. M tidak menganut adat
istiadat yang akan menguntungkan atau merugikan Ny. M.
115
3) Pembahasan
Tidak terjadi kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus
karena keluarga Ny. M tidak menganut adat istiadat yang akan
berpengaruh pada masa nifas.
n. Data psikososial
1) Tinjauan teori
Untuk mengetahui respon ibu dan keluarga terhadap bayinya. Wanita
mengalami banyak perubahan emosi/psikologis selama masa nifas
sementara ia menyesuaikan diri menjadi seorang ibu. Cukup sering
ibu menunjukkan depresi ringan beberapa hari setelah kelahiran.
Depresi tersebut sering disebut sebagai post partum blues. Post
partum blues sebagian besar merupakan perwujudan fenomena
psikologis yang dialami oleh wanita yang terpisah dari keluarga dan
bayinya. Hal ini sering terjadi sering diakibatkan oleh sejumlah
faktor.
2) Tinjauan kasus
Setelah dilakukan pengkajian ibu mengatakan sangat senang dengan
kelahiran bayinya, dan ibu mulai merawat bayinya dengan senang
hati. Status emosional ibu stabil, dan respon keluarga terhadap
bayinya baik.
3) Pembahasan
Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara tinjaun teori dan
tinjauan kasus karena status emosional ibu stabil, dapat menerima
116
bayinya serta merawatnya dengan penuh kasih sayang, dan respon
keluarga juga baik terhadap bayinya.
o. Data pengetahuan
1) Tinjauan teori
Untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan ibu tentang perawatan
setelah melahirkan sehingga akan menguntungkan selama masa
nifas.
2) Tinjauan kasus
Setelah dilakukan pengkajian dan diberikan penjelasan ibu mengerti
tentang perawatan setelah melahirkan.
3) Pembahasan
Dalam hal ini tidak terjadi kesenjangan antara teori dan kasus karena
Ny. M telah melakukan perawatan masa nifas sesuai dengan teori
yang telah diajarkan.
p. Pola kebutuhan sehari-hari
1) Nutrisi
a) Tinjauan teori
Mengambarkan tentang pola makan dan minum. Frekuensi
banyaknya, jenis makanan, makanan pantangan.
b) Tinjauan kasus
Ibu mengatakan sudah minum segelas teh hangat dan makan
dengan satu porsi dengan menu: satu centong nasi, semangkuk
117
sayur bayam, sepotong tempe dan tahu, sepotong ayam, 1 kapsul
Vit.A dan 1 tablet Fe yang diberikan.
c) Pembahasan
Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus
karena Ny. M telah makan dengan porsi yang cukup dan teratur
serta mengkonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat,
protein, vitamin, dan mineral, vit. A, dan pil zat besi yang
berguna untuk proses produksi ASI.
2) Pola eliminasi
a) Tinjauan teori
Menggambarkan pola fungsi sekresi yaitu kebiasaan buang air
besar meliputi frekuensi, jumlah, konsistensi dan bau serta
kebiasaan buang air kecil meliputi frekuensi, warna, jumlah.
Miksi disebut normal bila dapat BAK spontan tiap 3-4 jam.Ibu
diusahakan mampu buang air kecil sendiri, bila tidak, maka
dilakukan tindakan berikut ini.
(1) Dirangsang dengan mengalirkan air keran di dekat klien.
(2) Mengompres air hangat di atas simpisis.
(3) Saat site bath (berendam air hangat) klien disuruh BAK.
Bila tidak berhasil dengan cara diatas, maka dilakukan
kateterisasi. Hal ini dapat membuat klien merasa tidak nyaman
dan risiko infeks isaluran kemih tinggi. Oleh sebab itu,
kateterisasi tidak dilakukan sebelum lewat enam jam postpartum.
118
BAB (buang air besar) defekasi (buang air besar) harus dalam 3
hari postpartum. Bila ada obstipasi dan timbul komprostase
hingga skibala (feses yang mengeras) tertimbun di rectum,
mungkin akan terjadi fibris. Bila terjadi hal demikian dapat
dilakukan klisma atau diberi laksan per os (melalui mulut).
Pengeluaran cairan lebih banyak pada waktu persalinan sehingga
dapat mempengaruhi terjadinya konstipasi.
b) Tinjauan kasus
Ibu mengatakan selama pengkajian ibu sudah BAK satu kali yaitu
4 jam setelah persalinan yaitu pukul 05.00 WIB, lancar dengan
warna agak jernih dan ibu belum BAB.
c) Pembahasan
Dari pembahasan diatas tidak ditemukan kesenjangan antara
tinjauan teori dan tinjan kasus, karena ibu mengatakan sudah
BAK pada 4 jam post partum dan ibu dalam keadaan fisiologi
dimana ibu dalam keadaan 3-4 jam post partum berdasarkan teori
normal ibu nifas mengalami defekasi pada hari ke 3 setelah
persalinan.
3) Pola istirahat
a) Tinjauan teori
Menggambarkan pola istirahat dan tidur pasien, berapa jam pasien
tidur, kebiasaan sebelum tidur misalnya membaca mendengarkan
musik, kebiasaan mengkonsumsi obat tidur, kebiasaan tidur siang,
119
penggunaan waktu luang. Istirahat sangat penting bagi ibu masa
nifas karena dengan istirahat yang cukup dapat mempercepat
penyembuhan.
b) Tinjauan kasus
Saat dilakukan pengkajian Ny. M ibu beristirahat dengan
berbaring ditempat tidurnya, dan Ny. M mengatakan belum tidur
sehabis melahirkan.
c) Pembahasan
Dari pembahasan tersebut tidak ada kesenjangan antara tinjauan
teori dan tinjauan kasus karena berdasarkan pengkajian ibu
beristirahat dengan berbaring ditempat tidurnya.
4) Personal hygiene
a) Tinjaun teori
Dikaji untuk mengetahui apakah ibu selalu menjaga kebersihan
tubuh terutama pada daerah genetalia, karena pada masa nifas
masih mengeluarkan lochea.
b) Tinjauan kasus
Ibu mengatakan selama pengkajian belum mandi, namun sudah
mengganti pembalut satu kali. Tidak terdapat tanda-tanda
perdarahan dan infeksi.
c) Pembahasan
Dari pembahasan diatas tidak ditemukan kesenjangan antara
tinjauan teori dan tinjauan kasus, tidak terdapat tanda-tanda
120
perdarahan dan infeksi pada ibu karena ibu telah menjaga
kebersihan pada daerah genetalia dengan mengganti pembalut.
5) Aktifitas
a) Tinjauan teori
Menggambarkan pola aktivitas pasien sehari-hari. Pada pola ini
perlu dikaji pengaruh aktifitas terhadap kesehatannya. Mobilisasi
sedini mungkin dapat mempercepat proses pengembalian alat-alat
reproduksi. Apakah ibu melakukan ambulasi, seberapa sering,
apakah kesulitan, dengan bantuan atau sendiri, apakah ibu pusing
ketika melakukan ambulasi. (Wulandari dan Ambarwati, 2010; h.
131- 137)
b) Tinjauan kasus
Setelah dilakukan pengkajian Ny. M sudah mampu berjalan
kekamar mandi pada 4 jam post partum untuk BAK tanpa
bantuan.
c) Pembahasan
Dalam hal ini tidak terjadi kesenjangan antara tinjauan teori dan
tinjaun kasus, karena ibu sudah melakukan ambulasi dengan baik.
2. Data objektif
Untuk melengkapi data dalam menegakkan diagnosa, bidan harus
melakukan pengkajian data objektif melalui pemeriksaan inspeksi, palpasi,
auskultasi, dan perkusi yang bidan lakukan secara berurutan.
121
Langkah-langkah pemeriksaan sebagai berikut:
a. Keadaan umum
1) Tinjauan teori
Untuk mengetahui data ini kita cukup dengan mengamati keadaan
pasien secara keseluruhan. Hasil pengamatan kita laporkan dengan
criteria sebagai berikut:
a) Baik
Jika pasien memperlihatkan respon yang baik terhadap
lingkungan dan orang lain, serta secara fisik pasien tidak
mengalami ketergantungan dalam berjalan.
b) Lemah
Pasien dimasukkan dalam kritera ini jika ia kurang atau tidak
member respon yang baik terhadap lingkungan dan orang lain,
dan pasien sudah tidak mampu lagi untuk berjalan sendiri.
2) Tunjauan kasus
Keadaan umum: baik
3) Pembahasan
Dari kasus diatas tidak ada kesenjangan antara tinjauan teori dan
tinjauan kasus karena keadaan umum Ny. M baik, respon Ny. M
terhadap lingkungan dan orang lain secara fisik dalam keadaan baik.
122
b. Kesadaran
1) Tinjauan teori
Untuk mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien, kita dapat
melakukan pengkajian tingkat kesadaran mulai dari keadaan
composmentis (kesadaran maksiml) sampai dengan coma (pasien
tidak dalam keadaan sadar). (Sulistyawati, 2009; h. 121-122)
2) Tinjauan kasus
Kesadaran : composmentis
3) Pembahasan
Dari pembahasan diatas tidak ada kesenjangan antara tinjauan teori
dan tinjauan kasus, karena saat dilakukan pengkajian Ny. M dalam
keadaan sadar maksimal.
c. Tanda-tanda vital
1) Tekanan darah
a) Tinjauan teori
Tekanan darah adalah tekanan yang dialami darah pada pembuluh
arteri ketika darah dipompa oleh jantung ke seluruh anggota
tubuh manusia. Tekanan darah normal manusia adalah sistolik 90-
120 mmHg dan sitolik 60-80 mmHg. Pasca melahirkan pada
kasus normal, tekanan darah bisaanya tidak berubah. Perubahan
tekanan darah menjadi lebih rendah pasca melahirkan dapat
diakibatkan oleh perdarahan. Sedangkan tekanan darah tinggi
123
pada post partum merupakan tanda terjadinya pre eklamsia post
partum. Namun demikian, hal tersebut sangat jarang terjadi.
(Rukiyah et. all, 2011; h. 69)
b) Tinjauan kasus
Tekanan darah: 110/80 mmHg
c) Pembahasan
Berdasarkan data diatas, tidak ditemukan kesenjangan antara teori
dan kasus karena tekanan darah pada Ny. M dalam batas normal.
2) Pernapasan
a) Tinjauan teori
Pernapasan normal yaitu 20-30 x/menit. Pada umumnya respirasi
lambat atau normal. Mengapa demikian tidak lain karena ibu
dalam keadaan pemulihan atau dalam kondisi istirahat. Bila ada
respirasi cepat postpartum (>30 x/menit) mungkin karena adanya
ikatan dari tanda-tanda syok. (Walyani dan Purwoastuti,2015; h.
87)
b) Tinjauan kasus
Pernapasan : 20 x/menit
c) Pembahasan
Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara tinjauan teori
dan tinjauan kasus karena pernapasan ibu dalam batas normal.
124
3) Nadi
a) Tinjauan teori
Denyut nadi normal pada orang dewasa adalan 60-80 kali
permenit. Denyut nadi sehabis melahirkan biasanya akan lebih
cepat. Setiap denyut nadi yang melebihi 100 kali permenit adalah
abnormal dan hal ini menunjukkan adanya kemungkinan infeksi.
(Sulistyawati, 2009; h. 81)
b) Tinjauan kasus
Nadi :80 x/menit
c) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak ditemukan
kesenjangan karena nadi Ny. M dalam batas normal.
4) Suhu badan
a) Tinjauan teori
Dalam 1 hari (24 jam) post partum, suhu badan akan naik sedikit
(37,50
C-380
C) sebagai akibat kerja keras sewaktu melahirkan,
kehilangan cairan, dan kelelahan. Apabila keadaan normal, suhu
badan menjadi biasa. Biasanya, pada hari ke-3 suhu badan naik
lagi karena adanya pembentukan ASI. Payudara menjadi bengkak
dan berwarna merah karena banyaknya ASI. Bila suhu tidak
turun, kemungkinan adanya infeksi pada endometrium (mastitis,
tractus genetalis, atau sistem lain).
125
b) Tinjauan kasus
SuhuNy. M : 37,50
C
c) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan karna perubahan yang terjadi merupakan hal yang
fisiologi yang terjadi pada masa nifas.
d. Pemeriksaan fisik
1) Muka
a) Tinjauan teori
Pada daerah muka/wajah dilihat kesimetrisan muka, apakah
kulitnya normal, pucat, sianosis, atau ikhterus. Bagian muka
keadaan normalnya adalah simetris antara kanan dan kiri.
Ketidaksimetrisan muka menunjukkan adanya gangguan pada
saraf ketujuh (nervus fasialis).
b) Tinjauan kasus
Hasil pemeriksaan muka Ny. M simetris, tidak pucat, dan tidak
ada oedema atau kelainan apapun.
c) Pembahasan
Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara tinjauan teori
dan tinjauan kasus karena dari hasil pemeriksan tidak ditemukan
kelainan yang dapat membahayakan keadaan ibu.
126
2) Mata
a) Tinjauan teori
Tujuan pengkajian mata adalah untuk mengetahui bentuk dan
fungsi mata.
b) Tinjauan kasus
Hasil pemeriksaan mata pada Ny. M yaitu simetris antara kanan
dan kiri, kelopak matanya ada, konjungtivanya merah muda dan
sclera putih.
c) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan karena tidak ada kelainan pada mata Ny. M.
3) Hidung
a) Tinjauan teori
Hidung dikaji untuk mengetahui keadaan bentuk dan fungsi
hidung. Dimulai dari bagian luar hidung. Bagian dalam, lalu sinis-
sinus bila memungkinkan, selama pemeriksaan klien dalam posisi
duduk.
b) Tinjauan kasus
Hasil pemeriksaan hidung pada Ny. M keadaan dan bentuknya
normal.
c) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan dimana hidung Ny. M dalam keadaan normal.
127
4) Mulut
a) Tinjauan teori
Pemeriksaan mulut dan faring harus dilakukan dengan
pencahayaan yang baik sehingga dapat melihat semua bagian
dalam mulut. Pengkajian mulut dan faring sebaiknya dilakukan
dengan posisi klien duduk. Pengkajian diawali dengan mengkaji
keadaan bibir, gigi, gusi, lidah, selaput lender, pipi bagian dalam,
palatum/ langit-langit mulut, tonsil, kemudian faring. Namun bila
secara inspeksi belum didapatkan data yang akurat, maka
dilakukan pengkajian secara palpasi. Tujuan dilakukan palpasi
adalah untuk mengetahui bentuk dan kelainan pada mulut yang
dapat diketahui dengan palpasi. Palpasi mulut meliputi pipi,
palatum,dan lidah.
b) Tinjauan kasus
Dari hasil pemeriksaan mulut Ny. M yaitu keadaan bibir lembab,
lidahnya bersih, tidak ada perdarahan pada gusi dan tidak ada
caries pada gigi.
c) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terjadi
kesenjangan dimana keadaan mulut pada Ny. M dalam batas
normal.
128
5) Telinga
a) Tinjauan teori
Telinga mempunyai fungsi sebagai alat pendengaran dan menjaga
keseimbangan. Pengkajian telinga secara umum bertujuan untuk
mengetahui keadaan telinga luar, saluran telinga, gendang
telinga/membran timpani, dan pendengaran. Teknik pengkajian
yang digunakan umumnya adalah inspeksi dan
palpasi.Pemeriksaan pendengaran dilakukan untuk mengetahui
fungsi telinga.
b) Tinjauan kasus
Dari hasil pemeriksaan telinga pada Ny. M dalam keadaan normal
dan tidak ada gangguan pendengaran.
c) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan dimana keadaan telinga Ny. M dalam keadaan
normal.
6) Leher
a) Tinjauan teori
Tujuan pengkajian leher adalah untuk mengetahui bentuk leher,
serta organ-organ penting yang berkaitan. Pengkajian dimulai
dengan inspeksi kemudian palpasi. Inspeksi dilakukan untuk
melihat apakah ada kelainan kulit termasuk keadaan pucat.
Ikhterus, sianosis, dan ada pembengkakan. Pemeriksaan palpasi
129
ditunjukkan untuk melihat apakah ada massa yang teraba pada
kelenjar limfe, kelenjar tiroid, dan trakea. (Tambunan dan Kasim,
2012; h. 66, 67, 79, 81, 83)
b) Tinjaun kasus
Dari hasil pemeriksaan leher Ny. M tidak terdapat pembesaran
kelenjar limfe dan tiroid
c) Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan dimana leher Ny. M tidak terdapat pembesaran
kelenjar limfe dan tiroid.
d) Payudara
a. Tinjauan teori
Pada payudara, terjadi proses laktasi. Dalam hal melakukan
pengkajian fisik dengan perabaan apakah terdapat benjolan,
pembesaran kelenjar, atau abses, serta bagaimana keadaan
putting. (Bahiyatun, 2013; h. 103)
b. Tinjauan kasus
Dari hasil pemeriksaan payudara Ny. M tidak terdapat benjolan
dan keadaan putting Ny. M menonjol, pengeluaran asi yaitu
colostrum.
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan dimana keadaan payudara Ny. M tidak terdapat
130
benjolan dan keadaan putting Ny. M menonjol dan ASI yang
keluar berupa kolostrum.
e) Abdomen
a. Tinjauan teori
1) Uterus
Pada pemeriksaan uterus sama halnya dengan pemeriksaan
payudara dilakukan terlebih dahulu periksa pandang warna
perut, pembesaran pada perut, kemudian lakukan pemeriksaan
raba (palpasi) yakni: periksa ada tidaknya rasa nyeri saat
diraba, periksa kontraksi uterus kemudian raba tinggi fundus.
(Rukiyah et. all, 2011; h. 99)
2) Nyeri setelah kelahiran/Uterus
Setelah anda melahirkan, uterus anda akan memerlukan agar
terus berkontraksi untuk mencegah perdarahan. Kontraksi
adalah sama dengan kontraksi sewaktu persalinan hanya saja
sekarang tujuannya berbeda. Sebagaimana anda ketahui, ketika
uterus berkontraksi, anda akan merasa sakit mules. Inilah yang
disebut nyeri setelah melahirkan. Hal ini akan berlangsung 2
hingga 3 hari setelah melahirkan.
Selain daripada merasa nyeri akibat adanya kontraksi, anda
juga akan melihat bahwa puncak uterus anda akan menjadi
lebih keras seperti sebuah bola didalam perut anda. Pada saat
uterus anda menjadi keras, hal tersebut berarti bahwa ia
131
berkontraksi dengan baik untuk menghentikan perdarahan dan
bahwa ia sedang dalam proses pengecilan dan menjadi
sembuh.
(Rukiyah et. all, 2011; h. 141,142,)
3) Kandung kemih
Kondisi kandung kemih sangat berpengaruh terhadap keadaan
kontraksi uterus, sehingga pemeriksaan kandung kemih jangan
diabaikan karena jika kontraksi terhambat oleh kandung kemih
yang penuh bisa berakibat keluar darah yang cukup banyak
(perdarahan), pemeriksaan kandung kemih dilakukan
bersamaan saat memeriksa pembesaran uterus, jika kandung
kemih penuh anjurkan ibu untuk buang air kecil, jika ibu tidak
bisa buang air kecil secaraspontan dapat dikeluarkan dengan
kateter sekali pakai (Rukiyah et. all, 2011; h. 100)
b. Tinjauan kasus
Setelah dilakukan pemeriksaan didapatkan kontraksi uterus baik,
tinggi fundus uteri 2 jari dibawah pusat dan kandung kemih
kosong.
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan karena TFU Ny. M teraba 2 jari dibawah pusat
kontraksi uterus baik dan kandung kemih kosong pada 6 jam
setelah persalinan.
132
f) Anogenital
a. Tinjauan teori
1) Lokhea
Warnanya masih merah, jumlahnya semakin berkurang dan
tidak berbau. Warnanya akan berubah dan kembali normal
seiring berjalannya waktu. Bila tidak terjadi perubahan dan
lokhea tambah banyak, maka ibu dianjurkan untuk beristirahat
atau segera menghubungi bidan.
2) Keadaan perineum
Daerah perineum diperiksa kebersihannya, adanya
pembengkakan, serta rasa nyeri.
3) Anus
Tujuan pengkajian anus adalah untuk mendapat data mengenai
kondisi anus dan rectum.
b. Tinjauan kasus
Dari hasil pemeriksaan Ny. M lokhea yang keluar yaitu lokhea
rubra yang berwarna merah, pada daerah perineum tidak ada luka
bekas jahitan, dan anus tidak terdapat haemoroid.
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjaun teori dan tinjauan kasus tidak terjadi
kesenjangan karena lokhea yang keluar sesuai dengan teori dan
keadaan perineum dan anus tidak terdapat kelainan.
133
g) Ekstremitas bawah
a. Tinjauan teori
Dilakukan pemeriksaan terhadap adanya vena varises, kemerahan
pada betis, serta oedema. (Astuti et. all, 2015; h. 46)
b. Tinjauan kasus
Dari hasil pemeriksaan ekstremitas bawah pada Ny. M tidak
terdapat kelainan.
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan dimana keadaan ekstremitas bawah Ny. M tidak
terdapat kelainan.
B. INTERPRETASI DATA
Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosis atau masalah
berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan.
Data dasar tersebut kemudian diinterpretasikan sehingga data dirumuskan
masalah dan diagnosa yang spesifik. Baik rumusan diagnosis masalah
maupun rumusan masalah keduanya harus ditangani, meskipun masalah tidak
bisa dikatakan sebagai diagnosis tetapi harus mendapatkan penanganan.
(Soepardan, 2007;
Diagnosa dapat ditegakkan yang berkaitan dengan para, abortus, anak hidup,
umur ibu, dan keadaan nifas.(Wulandari dan Ambarwati, 2010; h. 141).
134
1. Diagnosa kebidanan
a. Tinjauan teori
Diagnosa dapat ditegakkan yng berkaitan dengan para, bortus, anak
hidup, umur ibu, dan keadaan nifas. Data dasar meliputi:
1) Data subjektif
Pernyataan ibu tentang jumlah persalinan, apakah pernah abortus
atau tidak, keterangan ibu tentang umur, keterangan ibu tentang
keluhannya.
2) Data objektif
Palpasi tentang tinggi fundus uteri dan kontraksi, hasil pemeriksaan
tentang pengeluaran pervaginam, hasil pemeriksaan tanda-tanda
vital.
b. Tinjauan kasus
2 jam post partum
Diagnosa : Ny. M umur 30 tahun P4A0 6 jam post partum
DS :Ibu mengatakan ini adalah kelahiran yang keempat dan belum
pernah keguguran.
Ibu mengatakan melahirkan tanggal 07-05-2016 pukul: 00.35
WIB
Ibu mengatakan perutnya terasa mulas.
DO :Keadaan Umum: baik, kesadaran: Composmentis,TD: 110/80
mmHg, N: 80 x/menit, RR: 20 x/menit, T: 37,5 0
C, puting susu
menonjol, pengeluaran sudah ada yaitu kolostrum, TFU 2 jari
135
dibawah pusat, konsistensi keras, kontraksi uterus baik,
pengeluaran lokhea rubra, tidak terdapat laserasi.
6 jam postpartum
Diagnosa: Ny. M umur 30 tahun P4A0 8 jam post partum.
DS : Ibu mengatakan melahirkan anak yang keempat dan belum
pernah
keguguran.
Ibu mengatakan melahirkan tanggal 07-05-2016, pukul: 00.35
wib,
Ibu mengatakan perutnya masih terasa mulas.
DO : Keadaan Umum: baik, Kesadaran: Composmentis, TD:110/80
MmHg, N: 80 x/menit, T: 37,50
C, pernapasan: 20 x/menit, puting
susu menonjol, pengeluaran sudah ada yaitu kolostrum, TFU 2
jari
dibawah pusat, konsistensi keras dan kontraksi baik, pengeluaran
lokhea rubra, dan tidak terdapat laserasi.
3) Pembahasan
Tidak ada kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus karena
diagnosa sesuai dengan hasil yang didapatkan dan dalam batas normal.
2. Masalah
a. Tinjauan teori
Masalah dirumuskan bila bidan menemukan kesenjangan yang terjadi
pada respon ibu terhadap masa nifas. Masalah ini terjadi belum
136
termasuk dalam rumusan diagnosis yang ada, tetapi masalah tersebut
membutuhkan penanganan bidan, maka masalah dirumuskan setelah
diagnosa.Permasalahan yang muncul merupakan pernyataan dari
pasien, ditunjang dengan data dasar baik subjektif maupun objektif.
(Walyani dan Purwoastuti, 2015; h. 187).
b. Tinjauan kasus
Selama 6 jam post partum Ny. M mengeluh perutnya masih sedikit
mulas.
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus karena terjadi kontraksi
uterus yang meningkat setelah bayi lahir sehingga ibu merasa mulas
pada perutnya.
3. Kebutuhan
a. Tinjauan teori
Dalam bagian ini menentukan kebutuhan pasien berdasarkan keadaan
dan masalah. Masalah sering berhubungan dengan bagaimana wanita
itu mengalami kenyataan terhadap diagnosisnya
(Sulistyawati dan Nugraheny, 2010; h. 229)
b. Tinjauan kasus
Dalam kasus ini kebutuhan Ny. M adalah asuhan masa nifas 6 jam post
partum.
137
c. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat
kesenjangan karena sesuai dengan kebutuhan pasien.
C. IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL
1. Tinjauan teori
Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial yang mungkin akan
terjadi. pada langkah ini diidentifikasi masalah atau diagnosa potensial
berdasarkan rangkaian masalah dan diognosa, hal ini membutuhkan
antisipasi, pencegahan, bila memungkinkan menunggu mengamati dan
bersiap-siap apabila hal tersebut benar- benar terjadi, melakukan asuhan
yang aman penting sekali dalam hal ini.
2. Tinjauan kasus
Berdasarkan masalah atau diagnosa, tidak ada data yang menunjang
perlunya antisipasi masalah potensial.
3. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak ditemukan kesenjangan
karena keluhan pasien merupakan hal yang normal dan tidak memerlukan
diagnosa potensial.
138
D. TINDAKAN SEGERA
1. Tinjauan teori
Padapelaksanaannya, bidan kadang dihadapkan pada beberapa situasi yang
darurat, yang menuntut bidan harus segera melakukan tindakan
penyelamatan terhadap pasien. Kadang pula bidan dihadapkan pada situasi
pasien yang memerlukan tindakan segera padahal sedang menunggu
instruksi dokter, bahkan mungkin juga situasi pasien yang memerlukan
konsultasi dengan tim kesehatan lain. (Sulistyawati, 2009; h. 132)
2. Tinjauan kasus
Dalam kasus ini tidak ada data yang menunjang perlunya tindakan segera
dan kolaborasi.
3. Pembahasan
Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan
karena keluhan yang dialami Ny. M merupakan hal yang normal dan tidak
memerlukan tindakan segera.
E. PERENCANAAN
1. Tinjauan teori
Langkah-langkah ini ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya yang
merupakan lanjutan dari masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi
atau di antisipasi. Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi
apa yang sudah dilihat dari kondisi pasien atau dari setiap masalah yang
berkaitan dengan kerangka pedoman antisipasi bagi wanita tersebut yaitu
139
apa yang akan terjadi berikutnya. Penyuluhan, konseling dari rujukan
untuk masalah-masalah sosial, ekonomi atau masalah psikososial.
(Wulandari dan Ambarwati, 2010; h. 141-143)
Asuhan yang diberikan pada 6-8 jam postpartum adalah:
a. Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
b. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, rujuk jika
perdarahan berlanjut.
c. Berikan konseling pada ibu atau salah satu aggota keluarga mengenai
bagaimana cara mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
d. Pemberian ASI awal.
e. Lakukan hubungaan antara ibu dan bayi baru lahir.
f. Jaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi.
g. Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus tinggal denga ibu
dan bayiyang baru lahir selama 2 jam pertama setelah kelahiran atau
sampai ibu dan bayinya dalam keadaan stabil. (Sulistyawati, 2009; h. 6)
2. Tinjauan kasus
6 jam postpartum
a. Beritahu kondisi ibu saat ini.
b. Jelaskan tentang keluhan yang dialami ibu.
c. Deteksi dan merawat penyebab lain perdarahan.
d. Ajarkan pada ibu atau salah satu keluarga untuk mencegah perdarahan
karena atonia uteri.
e. Anjurkan ibu untuk memberikan ASI awal.
140
f. Lakukan hubungan ibu dan bayi
g. Jaga bayi tetap hangat dengan cara melakukan pencegahan hipotermi
pada bayi
h. Anjurkan ibu untuk tetap memenuhi kebutuhan nutrisi
i. Beritahu ibu untuk memenuhi kebutuhan istirahatnya.
j. Ajarkan pada ibu tentang personal hygiene yang baik.
8 jam postpartum
a. Beritahu kondisi ibu saat ini
b. Evaluasi tentang keluhan yang dialami ibu.
c. Evaluasi dan deteksi serta merawat penyebab perdarahan dan rujuk bila
perdarahan berlanjut.
d. Evaluasi tentang pencegahan perdarahan yang diajarkan pada ibu dan
keluarga.
e. Evaluasi pada ibu tentang pemberian ASI awal.
f. Pastikan dan evaluasi mengenai hubungan antara ibu dan bayi.
g. Evaluasi pencegahan hipotermi pada bayi.
h. Evaluasi ibu untuk tetap memenuhi kebutuhan nutrisinya.
i. Evaluasi apakah ibu mengerti tentang kebutuhan istirahat ibu.
j. Evaluasi apakah ibu mengerti tentang personal hygiene yang baik.
3. Pembahasan
Dalam hal ini tidak ada kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan
kasus karena asuhan yang telah di berikan sesuai dengan tinjauan teori
pada 6 jam postpartum.
141
F. PELAKSANAAN
1. Tinjauan teori
Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan dari semua rencana sebelumnya,
baik terhadap masalah pasien ataupun diagnosis yang ditegakkan.
Pelaksanaan ini dapat dilakukan oleh bidan secara mandiri maupun
berkolaborasi dengan tim kesehatan lainnya. (Wildan dan Hidayat, 2013;
h. 39)
2. Tinjaun kasus
6 jam postpartum
a. Memberitahu kondisi ibu saat ini yaitu: TD:110/80 mmHg, N: 80
x/menit, T: 37,50
C, Pernapasan : 20 x/menit, puting susu menonjol, dan
sudah ada pengeluaran yaitu kolostrum,TFU: 2 jari dibawah pusat,
konsistensi keras, dan kontraksi uterus baik, pengeluaran lokhea rubra,
dan tidak terdapat laserasi.
b. Memberikan penjelasan kepada ibu bahwa rasa mulas yang dialami ibu
saat ini adalah normal, karena adanya kontraksi dan retraksi dari otot-
otot uteri yang merupakan proses dari involusi uteri atau pengembalian
uterus kebentuk semula. Dan ibu masih merasa lemas karena proses
persalinan ibu berlangsung agak lama karena persalinan dengan manual
plasenta.
c. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan dengan melakukan
pemeriksaan untuk melihat adanya perdarahan dengan cara melakukan
pemeriksaan kontraksi dan tinggi fundus uteri serta melihat perdarahan
142
keluar dari vagina berwarna merah segar. Lakukan rujukan jika
petugas/bidan menemukan adanya perdarahan berlanjut atau
pengeluaran yang abnormal
d. Mengajarkan ibu dan salah satu keluarga untuk mencegah perdarahan
karena atonia uteri dengan cara memasase perut ibu, secara perlahan,
tangan diletakkan diatas fundus uteri dengan gerakan berputar sambil
menekan fundus selama 15 detik, raba kembali uterus setiap 1-2 menit,
jika lembek ulangi masase.
e. Menganjurkan ibu untuk memberikan ASI awal pada bayinya sebaiknya
sesering mungkin tidak perlu dijadwal, bayi disusui sesuai dengan
keinginannya (on demand). Bayi dapat menentukan sendiri
kebutuhannya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara
sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung akan kosong dalam 2 jam.
Menyusui yang dijadwalkan akan berakibat kurang baik karena isapan
bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi ASI berikutnya.
f. Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir atau bounding
attachment didalam ruangan dengan melakukan sentuhan awal/kontak
kulit antara ibu dan bayi pada menit-menit pertama sampai beberapa
jam setelah kelahiran bayi. Pada proses ini terjadi, penggabungan
berdasarkan cinta dan penerimaan yang tulus dari orang tua terhadap
anaknya dan memberikan dukungan asuhan dalam perawatanya.
g. menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi yaitu dengan
mempertahankan lingkungan bayi tetap hangat untuk menjaga supaya
143
tidak terjadi penurunan suhu bayi, jaga kebersihan kulit bayi, hindari
kulit lembab dengan mengganti baju bayi minimal 2 kali sehari atau
sewaktu-waktu ketika basah oleh keringat atau terkena muntahan,
memilih baju yang tidak kaku dan menyerap keringat untuk bayi.
Menjaga kehangatan bayi. empat kemungkinan yang dapat
menyebabkan bayi baru lahir kehilangan panas tubuhnya seperti
menimbang bayi tanpa alas timbangan, membiarkan bayi baru lahir
diruangan yang terpasang kipas angin, AC, membiarkan bayi baru lahir
dekat dengan tembok.
h. Menganjurkan ibu untuk tetap memenuhi kebutuhan nutrisinya seperti
mengkonsumsi makanan yang bergizi dan cukup cairan karena
makanan yang dibutuhkan oleh ibu nifas sesuai dengan kebutuhan yang
diperlukan dalam tubuh supaya tubuh dalam keadaan sehat. Tujuan
pemberian makanan pada ibu nifas adalah untuk memulihkan tenaga
ibu, memproduksi ASI yang bernilai gizi tinggi, mempercepat
penyembuhan luka, dan mempertahankan kesehatan.
Hidangan bergizi yang dibutuhkan ibu menyusui terdiri atas zat tenaga
(Hidrat arang, lemak, protein nabati seperti kacang-kacangan, tahu,
tempe, kedelai dan hewani seperti telur, daging, ikan dan sebagainya),
zat pembangun (protein, vitamin, mineral, air), dan zat pengatur atau
pelindung (vitamin, air, dan mineral).
144
i. Memberitahu ibu untuk memenuhi kebutuhan istirahat yaitu bagi ibu
menyusui minimal 8 jam sehari, yang dapat dipenuhi melalui istirahat
malam dan siang.
j. Mengajarkan pada ibu tentang personal hygiene yang baik yaitu:
anjurkan ibu untuk menjaga kebersihan seluruh tubuh, ajarkan pada ibu
bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air
anjurkan ibu untuk membersihkan daerah sekitar vulva terlebih dahulu,
dari depan kebelakang anus, sarankan ibu untuk mengganti pembalut
atau kain pembalut setidaknya dua kali sehari, sarankan ibu mencuci
tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan
daerah kelamin.
8 jam postpartum
a. Memberitahu kondisi ibu saat ini yaitu: TD:110/80 mmHg, N: 80
x/menit, T: 37,60
C, Pernapasan: 20 x/menit, puting susu menonjol,
pengeluaran sudah ada yaitu kolostrum, TFU: 2 jari dibawah pusat,
konsistensi keras, kontraksi uterus baik, pengeluaran lokhea rubra dan
tidak terdapat laserasi.
b. Mengevaluasi apakah rasa mulas masih dirasakan oleh ibu.
c. Mengevaluasi dan mendeteksi serta merawat penyebab lain perdarahan,
dan merujuk bila perdarahan berlanjut
d. Mengevaluasi pencegahan perdarahan yang telah diajarkan dengan
melakukan masase pada uterus ibu
e. Mengevaluasi ibu tentang pemberian ASI awal.
145
f. Memastikan dan mengevaluasi mengenai hubungan antara ibu dan bayi
atau bounding attachment didalam satu ruangan dengan melakukan
sentuhan awal/ kontak kulit antara ibu dan bayi pada menit-menit
pertama sampai beberapa jam setelah kelahiran bayi. Pada proses ini,
terjadi penggabungan berdasarkan cinta dan penerimaan yang tulus dari
orang tua terhadap anaknya dan memberikan dukungan asuhan dalam
perawatannya.
g. Mengevaluasi pencegahan hipotermi pada bayi.
h. Mengevaluasi ibu untuk tetap memenuhi kebutuhan nutrisi.
i. Mengevaluasi apakah ibu mengerti kebutuhan istirahatnya.
j. Mengevaluasi apakah ibu mengerti tentang personal hygiene yang baik.
3. Pembahasan
Menurut penulis tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus karena
penulis telah memberikan asuhan 6 jam postpartum yang sesuai dengan
kebutuhan ibu.
G. EVALUASI
1. Tinjauan teori
langkah ini merupakan langkah terakhir guna mengetahui apa yang telah
dilakukan bidan. Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang diberikan,
ulangi kembali proses manajemen dengan benar terhadap setiap aspek
146
asuhan yang sudah dilaksanakan tapi belum efektif atau merencanakan
kembali yang belum terlaksana. (Wulandari dan Ambarwati, 2010; h. 147)
2. Tnjauan kasus
Setelah dilakukan asuhan pada Ny. M 6 jam postpartum dapat di evaluasi
dengan hasil sebagai berikut:
a. Ibu sudah mengerti tentang kondisinya saat ini.
b. Ibu sudah mengerti tentang keluhan yang dialami saat ini.
c. Pemeriksaan kontraksi sudah dilakukan kontraksi uterus baik, TFU 2
jari dibawah pusat serta tidak ada perdarahan abnormal.
d. Ibu dan keluarga bersedia melakukan masase uterus dan kontraksi
uterus baik.
e. Ibu bersedia menyusui bayinya sesering mungkin
f. Bonding attachment sudah dilakukan antara ibu dan bayi dalam satu
ruangan yang sama.
g. Bayi sudah dilakukan pencegahan hipotermi dan bayi dalam keadaan
baik dan hangat.
h. Ibu mengerti untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya.
i. Ibu mengerti dan bersedia untuk memenuhi kebutuhan istirahatnya.
j. Ibu mengerti tentang personal hygiene yang baik
Hasil evaluasi 8 jam postpartum
a. Ibu sudah mengerti tentang kondisinya saat ini.
b. Ibu mengerti rasa mulas yang dialaminya adalah hal yang normal, hal
ini dikarenakan adanya kontraksi dan retraksi dari otot-otot uteri yang
147
merupakan proses dari involusi uteri. Dan rasa lemas ibu dikarenakan
proses persalinan yang cukup lama.
c. Perdarahan sudah diperiksa dan hasilnya tidak ada perdarahan yang
abnormal
d. Ibu dan keluarga telah memasase perut ibu dan kontraksi baik, tidak
terjadi perdarahan.
e. Ibu telah menyusui bayinya 2 kali selama 6 jam dan bayi telah
mendapatkan cairan yang pertama kali keluar yaitu kolostrum yang
mengandung antibodi sehingga mampu melindungi bayi dari infeksi
sampai 6 bulan.
f. Ibu dan bayi sudah berada dalam satu ruangan.
g. Bayi dalam keadaan baik dan telah dibedong dengan menggunakan
pakaian yang kering.
h. Ibu sudah mengerti tentang kebutuhan nutrisi dan ibu sudah makan-
makanan yang telah dianjurkan seperti Makan 1 kali, 1 porsi dengan
menu bervariasi seperti 1 centong nasi, 1 potong daging, 1 mangkuk
kecil sayur bayam, dan 1 buah apel. Minum air putih 5-6 gelas/hari
i. Ibu mengerti kebutuhan istirahatnya dan sudah tidur saat bayinya tidur.
Pada 8 jam post partum.
j. Ibu telah mengerti mampu menerapkan cara personal hygiene yang baik
yaitu ibu membersihkan daerah kelamin dengan sabun, dan air dan ibu
juga membersihkan vulva terlebih dahulu, dari depan kebelakang lalu
148
keanus dan ibu telah mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan
sesudah membersihkan daerah kelamin.
3. Pembahasan
Dalam pembahasan ini tidak ada kesenjangan antara tinjauan teori dan
tinjauan kasus karena hasil evaluasi berjalan dengan baik sesuai dengan
asuhan pada ibu nifas 6 jam postpartum.
149
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Setelah melakukan Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas Yaitu Ny. M Umur 30
Tahun P4A0 Pada Tanggal 07 Mei 2016 Di BPS Desy Andriani,S.Tr.Keb
Bandar Lampung Tahun 2016, asuhan yang dilakukan secara menyeluruh
dengan melakukan kunjungan, memberikan konseling dan memantau kondisi
ibu sesuai dengan kebutuhan ibu dengan melaksanakan asuhan. Maka penulis
mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut.
1. Penulis telah mampu melakukan pengkajian pada Ny. M umur 30 tahun
P4A0 6 jam post partum di BPS Desy Andriani,S.Tr.Keb Bandar Lampung
Tahun 2016. Pengkajian data dilakukan menggunakan manajemen varney
dengan data subjektif yaitu ibu mengatakan melahirkan anak yang keempat,
tidak pernah mengalami keguguran, ibu mengatakan perutnya mulas dan
data objektif yaitu keadaan umum : baik, Kesadaran: compos mentis,
Tekanan darah 110/80 mmHg, Nadi: 80x/menit, Pernapasan: 20 x/menit,
Suhu: 37,50
C TFU 2 jari dibawah pusat dan pengeluaran lokhea rubra.
2. Penulis telah mampu melakukan interpretasi data dengan menentukan
diagnosa kebidanan ibu nifas yaitu Ny. M umur 30 tahun P4A0 6 jam post
partum, masalah: tidak ada, kebutuhan: asuhan nifas 6 jam post partum.
149
150
3. Pada kasus ini penulis tidak menemukan diagnosa potensial pada Ny. M
karena tidak ditemukan kegawatdaruratan pada ibu.
4. Pada kasus ini penulis tidak melakukan tindakan segera terhadap asuhan
kebidanan ibu nifas pada Ny. M umur 30 tahun P4A0 6 jam post partum
karena tidak ditemukan kegawatdaruratan pada ibu.
5. Dalam kasus ini penulis telah memberikan rencana asuhan kebidanan
dengan diagnosa pada Ny. M umur 30 tahun P4A0 6 jam post partum,
masalah yaitu tidak ada dan kebutuhan yaitu asuhan nifas 6 jam post
partum.
6. Dalam kasus ini penulis telah melaksanakan asuhan kebidanan sesuai
dengan yang telah direncanakan yaitu dengan melakukan asuhan pada Ny.
M umur 30 tahun P4A0 6 jam post partum.
7. Dalam kasus ini penulis sudah melakukan evaluasi asuhan pada Ny. M
dengan hasil kondisi ibu baik, ibu tidak mengalami perdarahan atau
kegawatdaruratan lainnya.
B. Saran
1. Bagi akademik
Dengan telah disusunnya Studi Kasus ini diharapkan dapat menjadi
masukan bagi akademik untuk lebih meningkatkan keefektifan dalam proses
belajar mengajar sehingga dapat meningkatkan pengetahuan, kemampuan
dan ketrampilan mahasiswa dalam menerapkan atau mengaplikasikan studi
yang telah didapatkan di akademk, serta untuk melengkapi sumber-sumber
151
buku kepustakaan sebagai bahan informasi dan referensi yang penting
dalam mendukung dalam pembuatan karya tulis ilmiah bagi mahasiswa
semester akhir.
2. Bagi lahan praktik
Hasil pemelitian dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi lahan praktek
terutama bagi bidan serta tenaga kesehatan yang berada di masyarakat untuk
untuk lebih meningkatkan pelayanan kesehatan dikemudian hari dengan
cara melakukan tindakan promotif seperti penyuluhan dan memberikan
pendidikan kesehatan kepada klien guna mencegah terjadinya komplikasi
pada masa nifas.
3. Bagi Masyarakat (pasien)
Dapat di jadikan masukan dan pengetahuan bagi masyarakat khususnya Ny.
M agar lebih mengerti tentang perawatan ibu selama masa nifas yang
fungsinya untuk mencegah dan mendeteksi secara dini agar tidak terjadi hal-
hal yang tidak diinginkan yang berhubungan dengan masa nifas.
152
DAFTAR PUSTAKA
Ambarwati Eny Retna dan Wulandari Diah. 2010. Asuhan Kebidanan.
Yogyakarta; Nuha Medika.
Astuti Sri, et all. 2015. Asuhan Kebidanan Nifas dan Menyusui. Bandung.
Erlangga.
Aticeh, et all. 2014. Konsep Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika.
Bahiyatun, 2013. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta. EGC
Chandra Budiman. 2008. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: EGC.
Dewi Vivian Nanny Lia dan Sunarsih Tri. 2011. Asuhan Kebidanan pada Ibu
Nifas. Jakarta: Salemba Medika.
Herdiansyah Haris. 2012. Metodologi Penelitian Kualitataif. Jakarta; Salemba
Humanika.
Hidayat A aziz Alimul. 2014. Metode Penelitian Kebidanan dan Teknik Analisis
Data. Jakarta; Salemba Sedika.
Karwati, et all. 2011. Asuhan Kebidanan V (Kebidanan Komunitas). Jakarta: CV
Trans Info Media
Kementrian Kesehatan RI. 2014. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Kementrian
Kesehatan Indonesia.
Manuaba et all. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan KB. Jakarta.
EGC.
Maritalia Dewi. 2014. Asuhan Kebidanan Nifas dan Menyusui. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Notoatmodjo Soekidjo.2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka
Cipta.
Prawirohardjo Sarwono. 2012. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT Bina Pustaka.
Profik Kesehatan Provinsi Lampung. 2012.
Roito, Juraida et all. 2013. Asuhan Kebidanan Ibu Nifas dan Deteksi Dini
Komplikasi. Jakarta: EGC
153
Rukiyah Aiyeyeh, et all. 2011. Asuhan Kebidanan III (Nifas). Jakarta; Trans Info
Media.
Rukiyah, Ai Yeyeh dan Yulianti, Lia. 2012. Asuhan Neonatus pada Bayi dan
Balita. Jakarta : Trans Info Media
Saleha Sitti. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta. Salemba
Medika.
Sari, Eka Puspita dan Rimandini. 2014. Asuhan Kebidanan Masa Nifas (Postnatal
Care).Jakarta: Trans Info Media.
Soepardan Suryani. 2007. Konsep Kebidanan. Jakarta; EGC.
Sulistyawati Ari. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas. Jakarta:
Andi.
Sulistyawati Ari dan Nugraheny. 2012. Asuhan Kebidanan pada Ibu Bersalin.
Jakarta: Salemba Medika.
Tambunan Eviana S dan Kasim Deswani. 2012. Panduan Pemeriksaan Fisik Bagi
Mahasiswa Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Walyani Elisabeth Siwi dan Purwoastuti Th. Endang . 2015. Asuhan Kebidanan
Masa Nifas & Menyusui. Yogyakarta: Pustaka Baru Pres.
Wildan Moh dan Hidayat A.Aziz Alimul. 2013. Dokumentasi Kebidanan. Jakarta:
Salemba Medika
154
DOKUMENTASI
(Pemeriksaan Tekanan Darah)
(Pemeriksaan Mata)
155
(Pemeriksaan Abdomen)
(Pencegahan Hipotermi)

Kti komariah

  • 1.
    1 ASUHAN KEBIDANAN IBUNIFAS TERHADAP NY. M UMUR 30 TAHUN P4A0 6 JAM POST PARTUM DI BPS DESYANDRIANI, S.Tr.Keb BANDAR LAMPUNG TAHUN 2016 KARYA TULIS ILMIAH Diajukan untuk memenuhi persyaratan Ujian Akhir Program Pendidikan Diploma III Kebidanan Disusun oleh: KOMARIAH NIM:201308033 AKADEMI KEBIDANAN ADILA BANDAR LAMPUNG 2016 i
  • 2.
    Diterima dan disahkanoleh TIM Penguji Ujian Akhir Program Pendidikan Diploma III Kebidanan Adila pada: Penguji I (Meryana Ce NIK:2011041003 LEMBAR PENGESAHAN Diterima dan disahkan oleh TIM Penguji Ujian Akhir Program Pendidikan Diploma III Kebidanan Adila pada: Hari : Tanggal : Penguji I Penguji II (Meryana Cevestin, SKM.,M.M) (Nopa Utari NIK:2011041003 NIK: 11210043 Mengetahui: Direktur dr. Wazni Adila, MPH NIK 2011041008 ii 2 Diterima dan disahkan oleh TIM Penguji Ujian Akhir Program Pendidikan (Nopa Utari, S.ST) NIK: 11210043
  • 3.
    3 ASUHAN KEBIDANAN IBUNIFAS TERHADAP NY. M UMUR 30 TAHUN P4A0 6 JAM POST PARTUM DI BPS DESY ANDRIANI, S. Tr.Keb. BANDAR LAMPUNG TAHUN 2016 Komariah, Ninik Masturiyah INTISARI Masa nifas yaitu dimulai setelah plasenta keluar dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan semula (sebelum hamil). Program dan kebijakan tehnis paling sedikit 4 kali kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai status ibu dan BBL, dan untuk mencegah mendeteksi, dan menangani masalah-masalah yang terjadi dalam masa nifas. Bila dilihat berdasarkan kasus kematian yang ada di Provinsi Lampung tahun 2012 kasus kematian ibu (kematian ibu pada saat hamil, saat melahirkan dan nifas) seluruhnya sebanyak 179 kasus, Penyebab kasus kematian ibu diprovinsi lampung tahun 2012 disebabkan oleh perdarahan (40,23%), eklamsi(59,33%), infeksi(4,2%) dan lain-lain(75,42%). Tujuan dari karya tulis ilmiah ini adalah untuk dapat memberikan asuhan kebidanan pada ibu nifas normal 6 jam post partum terhadap Ny. M umur 30 tahun. Kesimpulan hasil studi kasus ini ibu dalam keadaan sehat, rasa mulas masih dirasakan dan tidak ada penyulit yang berhubungan dengan masa nifas. Saran utama diharapkan asuhan yang telah diberikan dapat menambah pengetahuan bagi ibu dan masyarakat tentang perawatan selam masa nifas. Kata Kunci : Masa nifas, 6 jam post partum Kepustakaan : 27 referensi (2007-2015) Jumlah Halaman : 152 halaman,4 daftar tabel,2 daftar lampiran iii
  • 4.
    4 CURIKULUM VITAE Nama :KOMARIAH Nim : 201308033 Tempat/Tanggal lahir : Srimulyo, 19 Januari 1995 Agama : Islam Alamat : Jl. Lintas Sumatera, Kec. Madang Suku II, Kab. OKU Timur, Sumatera Selatan Institusi : Akademi Kebidanan Adila Angkatan : VIII (delapan) RIWAYAT PENDIDIKAN 1. SDN Wonorejo lulusan tahun 2007 2. SMPN 1 Pandan Agung lulusan tahun 2010 3. SNMAN 1 Madang Suku II lulus tahun 2013 4. Saat ini penulis sedang menyelesaikan pendidikan D III kebidanan di Akademi Kebidanan Adila Bandar Lampung Tahun 2013 sampai dengan sekarang. iv
  • 5.
    5 MOTTO Sebelum melangkah awalidengan basmalah Kesuksesan hanya dapat diraih dengan segala upaya dan usaha yang disertai do’a, karena sesungguhnya nasib manusia tidak akan berubah dengan sendirinya tanpa berusaha By: Komariah v
  • 6.
    6 KATA PENGANTAR Puji syukurkehadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah dalam bentuk studi kasus kebidanan yang berjudul ‘‘Asuhan Kebidana padaIbu Nifas Pada Ny. M umur 30 Tahun P4A0 6 Jam Post Partum di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016’’. Karya Tulis Ilmiah ini dapat terselesaikan berkat bantuan berbagai pihak, maka penulis mengucapkan terima kasih kepada 1. dr. Wazni Adila,MPH selaku Direktur Akbid Adila Bandar Lampung. 2. Ninik Masturiyah, S.ST., M.Kes Selaku Pembimbing Karya Tulis Ilmiah. 3. Penguji I Nopa Utari S.ST dan penguji II Meryana Cevestin SKM.,MM 4. BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung sebagai tempat mengambil penelitian. 5. Seluruh dosen dan staf Akademi Kebidanan Adila Bandar Lampung Penulis menyadari penyusunan karya tulis ilmiah ini masih jauh dari kesemprnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun gunaperbaikan pada masa yang akan datang. semoga karya tulis ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca umum. Bandar Lampung, Agustus 2016 Penulis vi
  • 7.
    7 DAFTAR ISI Halaman judul..................................................................................... Lembar pengesahan ............................................................................. ii Intisari ................................................................................................. iii Motto................................................................................................... v Kata pengantar..................................................................................... vi Daftar isi.............................................................................................. vii Daftar tabel.......................................................................................... viii Daftar lampiran.................................................................................... ix Bab I Pendahuluan A. Latar Belakang..................................................................... 1 B. Rumusan Masalah................................................................ 3 C. Tujuan Penulisan ................................................................. 4 D. Ruang Lingkup .................................................................... 5 E. Manfaat Penelitian............................................................... 6 F. Metodologi dan Teknik Memperoleh Data........................... 7 Bab II Tinjauan Pustaka A. Tinjauan Teori Medis........................................................... 10 B. Tinjauan Teori Asuhan Kebidanan....................................... 58 C. Landasan Hukum Kewenangan Bidan.................................. 78 BAB III Tinjauan Kasus A. Pengkajian ........................................................................... 85 B. Matriks ............................................................................... 94 Bab IV Pembahasan A. Pengkajian Data................................................................... 105 B. Interpretasi Data Dasar......................................................... 133 C. Identifikasi Diagnosis dan Masalah Potensial....................... 137 D. Tndakan Segera atau Kolaborasi.......................................... 138 E. Perencanaan ........................................................................ 138 F. Pelaksanaan ......................................................................... 141 G. Evaluasi............................................................................... 145 Bab V Penutup A. Simpulan.............................................................................. 148 B. Saran ................................................................................... 149 Daftar Pustaka Lampiran vii
  • 8.
    8 DAFTAR TABEL TABEL 2.1Kebijakan Program Nasional Masa Nifas TABEL 2.2 Involusi Uterus TABEL 3.3 Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu TABEL 3.2 Matriks viii
  • 9.
    9 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1: Lembar Konsul Lampiran 2 : Dokumentasi Lampiran 3 : Curiculum Vitae ix
  • 10.
    1 BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang Penyebab kematian disebabkan oleh perdarahan, eklamsia, infeksi, persalinan macet, dan komplikasi keguguran (Kepmenkes RI, 2014). Data dari World Health Organization (WHO) tahun 2010 menunjukkkan bahwa perdarahan merupakan 26 % dari penyebab kematian ibu di dunia dan merupakan penyebab terbesar setelah infeksi (15%), unsafe abortion (13%), dan pre-eklamsi atau eklamsi (12%), selain sebab-sebab yang lain. (Astuti et. all, 2015; h. 74) Perdarahan pascapersalinan merupakan penyebab utama dari 150.000 kematian ibu setiap tahun didunia dan hampir 4 dari 5 kematian karena perdarahan pascapersalinan terjadi dalam waktu 4 jam setelah persalinan. Penyebab perdarahan paling sering adalah atonia uteri serta retensio plasenta, penyebab lain kadang-kadang adalah laserasi serviks atau vagina, ruptur uteri dan inversio uteri. (Prawirohardjo, 2012; h. 357) Secara global 80 % kematian ibu tergolong pada kematian ibu langsung. Pola penyebab langsung di mana-mana sama, yaitu perdarahan (25% biasanya perdarahan pasca persalinan), sepsis (15%), hipertensi dalam kehamilan (12%), partus macet (80%), komplikasi aborsi tidak aman (13%), dan sebab-sebab lain (8%). (Prawiroharjdo, 2012; h. 54)
  • 11.
    2 Berdasarkan Survey Demografidan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012, AKI (yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, nifas) sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini masih cukup tinggi jika dibandingkan dengan Negara-negar tetangga di Kawasan ASEAN. (Profil Kesehatan Indonesia, 2014) Angka Kematian Ibu (AKI) berdasarkan laporan dari Kabupaten kota tahun 2012 sebesar 115,8 per 100.000 Kelahiran Hidup. Bila dilihat berdasarkan kasus kematian yang ada di Provinsi Lampung tahun 2012 berdasarkan laporan dari kabupaten terlihat bahwa kasus kematian ibu (kematian ibu pada saat hamil, saat melahirkan dan nifas) seluruhnya sebanyak 179 kasus. Penyebab kasus kematian ibu di Provinsi Lampung tahun 2012 disebabkan oleh perdarahan (75,42%), eklampsi (59,33%), infeksi (4,2%) dan lain-lain (40,23%). Adapun kasus kamatian ibu tertinggi ada di Kota Bandar Lampung Kasus kematian ibu tertinggi ada di Kota Bandar Lampung. (Profil Kesehatan Provinsi Lampung, 2012). Masa nifas (puerpurium) adalah masa yang dimulai setelah plasenta keluar dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan semula (sebelum hamil). Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu. (Sulistyawati, 2009; h. 1) Masa nifas atau puerpurium dimulai sejak 1 jam setelah lahirnya plasenta sampai dengan 6 minggu (42 hari) setelah itu. Pelayanan pasca persalinan harus terselenggara pada masa itu untuk memenuhi kebutuhan ibu dan bayi, yang meliputi upaya pencegahan, deteksi dini dan pengobatan komplikasi dan
  • 12.
    3 penyakit yang mungkinterjadi, serta penyediaan pelayanan pemberian ASI, cara menjarangkan kehamilan, imunisasi, dan nutrisi bagi ibu. (Prawirohardjo, 2012; h. 356). Program dan kebijakan tehnis paling sedikit 4 kali kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai status ibu dan BBL, dan untuk mencegah, mendeteksi, dan menangani masalah-masalah yang terjadi dalam masa nifas. (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 4). Asuhan masa nifas diperlukan dalam periode ini karena merupakan masa kritis baik ibu maupun bayinya. Diperkirakan bahwa 60% kematian ibu termasuk kehamilan terjadi setelah persalinan dan 50 % kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam. Oleh karena itu, peran dan tanggung jawab bidan untuk memberikan asuhan kebidanan ibu nifas dengan pemantauan mencegah beberapa kematian ini. (Dewi & Sunarsih, 2011; h 3). Berdasarkan pra survey di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Pada tanggal 07 Mei 2016 terdapat ibu nifas 6 jam post partum yaitu Ny. M dimana Ny. M membutuhkan penjelasan tentang pencegahan perdarahan. Berdasarkan latar belakang tersebut peneliti tertarik untuk meneliti tentang ‘‘Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Terhadap Ny. M Umur 30 Tahun P4A0 6 Jam Post Partum Di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016’’ B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah yang muncul adalah ‘‘Bagaimana Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Terhadap Ny. M Umur 30 Tahun
  • 13.
    4 P4A0 6 JamPost Partum di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016?’’ C. Tujuan Penulisan 1. Tujuan umum Mampu memberikan Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Terhadap Ny. M Umur 30 Tahun P4A0 6 Jam Post Partum Di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016. 2. Tujuan Khusus a. Diharapkan penulis dapat melakukan pengkajian Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Terhadap Ny. M Umur 30 Tahun P4A0 6 Jam Post Partum Di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016 b. Diharapkan penulis dapat menentukan interpretasi data khususnya Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Terhadap Ny. M Umur 30 Tahun P4A0 6 Jam Postpartum Di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016. c. Diharapkan penulis dapat mengidentifikasi diagnosa dan masalah potensial pada Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Terhadap Ny. M Umur 30 Tahun P4A0 6 Jam Post Partum Di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016. d. Diharapkan penulis dapat melakukan antisipasi tindakan segera/kolaborasi pada Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Terhadap Ny. M
  • 14.
    5 Umur 30 TahunP4A0 6 Jam Post Partum Di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016. e. Diharapkan penulis dapat menyusun rencana asuhan yang menyeluruh pada Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Terhadap Ny. M Umur 30 Tahun P4A0 6 Jam Post Partum Di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016 f. Diharapkan penulis dapat melaksanakan rencana yang telah dibuat khususnya pelaksanaan Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Terhadap Ny. M Umur 30 Tahun P4A0 6 Jam Post Partum Di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016. g. Diharapkan penulis dapat mengevaluasi dari pelaksanaan Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Terhadap Ny. M Umur 30 Tahun P4A0 6 Jam Post Partum Di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016. D. Ruang Lingkup 1. Objek penelitian Objek penelitian dalam Karya Tulis Ilmiah ini adalah satu orang ibu nifas yaitu Ny. M umur 30 tahun P4A0 6 jam post partum. 2. Tempat penelitian Dalam penelitian ini penulis mengambil di BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016.
  • 15.
    6 3. Waktu Pelaksanaan asuhankebidanan pada masa nifas dalam karya tulis ilmiah ini dilaksanakan pada tanggal 07 Mei 2016. E. Manfaat Penulisan 1. Bagi Institusi Pendidikan Dapat digunankan sebagai dokumentasi dan sebagai penelitian selanjutnya dan dapat lebih meningkatkan asuhan masa nifas, dan diharapkan dapat bermanfaat sebagai informasi bagi staf akademik untuk lebih mengembangkan proses belajar mengajar di akademik khususnya yang berkaitan dengan asuhan masa nifas sehingga dapat menumbuhkan dan menciptakan bidan yang terampil dan professional. 2. Bagi Lahan Praktik Studi kasus ini dapat dijadikan salah satu informasi dan masukan serta gambaran bagi lahan untuk dapat mengembangkan dan meningkatkan pelayanan asuhan kebidanan yang lebih baik dikemudian hari pada para pasien yang berkaitan dengan asuhan pada ibu nifas. 3. Bagi masyarakat (klien) Hasil penelitian ini dapat memberikan asuhan yang sesuai dengan kebutuhkan klien, dan memberikan pengetahuan sehingga klien mengetahui dan mampu memenuhi apa yang dibutuhkan, serta dapat mendeteksi secara dini dan mampu mengenali adanya komplikasi yang terjadi pada masa nifas.
  • 16.
    7 4. Bagi penulis Hasilpenelitian ini dapat dijadikan sebagai pengalaman serta dapat menambah wawasan dan pengetahuan penulis dalam mengaplikasikan asuhan kebidanan khususnya tentang perawatan 6 jam post partum pada masa nifas. F. Metodologi dan Teknik Memperoleh Data 1. Metodologi penelitian Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis menggunakan metode penulisan studi kasus. Dimana metode penulisan yang digunakan yaitu metode penelitian studi kasus. Creswell (1998) menyatakan bahwa studi kasus (case studi) adalah suatu model yang menekankan pada eksplorasi dari suatu ‘‘sistem yang berbatas’’ (bounded sistem) pada satu kasus atau beberapa kasus secara mendetail, disertai dengan penggalian data secara mendalam yang melibatkan beragam sumber informasi yang kaya akan konteks. (Herdiansyah, 2012; h. 76) 2. Teknik Memperoleh Data a. Data Primer Data primer merupakan materi atau kumpulan fakta yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti pada saat penelitian berlangsung (Chandra, 2008; h. 20)
  • 17.
    8 1) Wawancara Suatu metodeyang dipergunakan untuk mengumpulkan data, dimana penelitian mendapatkan keterangan atau informasi secara lisan dari seseorang sasaran penelitian (responden), atau bercakap-cakap berhadapan muka dengan orang tersebut (face to face). (Notoatmodjo, 2010; h. 139) Anamnesa dapat dilakukan melalui 2 cara yaitu: a) Auto Anamnesa Auto anamnesa merupakan anamnesa yang dilakukan kepada pasien secara langsung. Jadi, data yang diperoleh adalah data primer karena langsung dari sumbernya. b) Allo Anamnesa Allo anamnesa merupakn anamnesa yang dilakukan kepada keluarga pasien untuk memperoleh data tentang pasien. Ini dilakukan pada keadaan darurat ketika pasien tidak memungkinkan lagi untuk memberikan data yang akurat (Sulistyawati, 2009; h. 111). 2) Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mendapat data objektif. Data objektif adalah data yang diperoleh dengan melakukan serangkaian pemeriksaan pada klien. (Maritalia, 2014; h. 116)
  • 18.
    9 b. Data sekunder Datasekunder merupalkan data yang diperoleh peneliti dari pihak lain (Chandra, 2010; h. 20) 1) Studi Kepustakaan Menurut sekaran (2006) dalam buku hidayat (2014) studi kepustakaan merupakan kegiatan penelitian yang dilakukan oleh peneliti dalam rangka mencari landasan teoritis dari permasalahan penelitian. Selain itu, studi kepustakaan juga merupakan dokumentasi dari tinjauan menyeluruh terhadap karya publikasai dan nonpublikasai, sehingga peneliti harus bisa memastikan bahwa tidak ada variable penting di masa lalu yang ditemukan berulang kali mempunyai pengaruh atas masalah yang terlewatkan. Studi kepustakaan yang baik akan menyediakan dasar untuk menyusun keranngka teoritis yang komprehensif yakni hipotesis dapat dibuat untuk diuji. 2) Dokumentasi Dokumentasi merupakan metode pengumpulan data dengan cara pengambilan data yang berasal dari dokumen asli. Dokumentasi asli tersebut dapat berupa gambar, tabel atau daftar periksa, dan film documenter. (Hidayat, 2014; h. 90)
  • 19.
    10 BAB II TEORI PENUNJANG A.TINJAUAN TEORI MEDIS 1. Masa Nifas a. Definisi Masa Nifas Masa nifas (puerpurium) adalah masa yang dimulai setelah plasenta keluar dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan semula (sebelum hamil).Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu. (Sulistyawati, 2009; h. 1) Masa nifas adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi, plasenta, serta selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali organ kandungan seperti sebelum hamil dengan waktu kurang lebih 6 minggu. (Saleha, 2009; h. 4) Masa nifas atau puerpurium dimulai sejak 1 jam setelah lahirnya plasenta sampai dengan 6 minngu (42 hari) setelah itu. (Prawirohardjo, 2012; h. 356) b. Tujuan Asuhan Masa Nifas 1) Mendeteksi adanya perdarahan masa nifas. 2) Menjaga kesehatan ibu dan bayinya. 3) Melaksanakan skrining secara komprehensif.
  • 20.
    11 4) Memberikan pendidikankesehatan diri. 5) Memberikan pendidikan mengenai laktasi dan perawatan payudara. 6) Konseling mengenai KB. (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 2-3) c. Peran dan tanggung jawab bidan dalam masa nifas Peran bidan antara lain sebagai berikut. 1) Memberikan dukungan secara berkesinambungan selama masa nifas sesuai dengan kebutuhan ibu untuk mengurangi ketegangan fisik dan psikologis selama masa nifas. 2) Sebagai promotor hubungan antara ibu dan bayi, serta keluarga. 3) Mendorong ibu untuk menyusui bayinya dengan meningkatkan rasa nyaman. 4) Membuat kebijakan, perencanaan program kesehatan yang berkaitan ibu dan anak, serta mampu melakukan kegiatan administrasi. 5) Mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan. 6) Memberikan konseling untuk ibu dan keluarganya mengenai cara mencegah perdarahan, mengenali tanda-tanda bahaya, menjaga gizi yang baik, serta mempraktikkan kebersihan yang aman. 7) Melakukan manajemen asuhan dengan cara mengumpulkan data, menetapkan diagnosis dan rencana tindakan juga melaksanakannya untuk mempercepat proses pemulihan, serta mencegah komplikasi dengan memenuhi kebutuhan ibu dan bayi selama periode nifas. 8) Memberikan asuhan secara professional.
  • 21.
    12 (Dewi dan Sunarsih,2011; h. 3-4) d. Tahapan Masa Nifas Tahapan masa nifas dibagi menjadi 3 tahap, yaitu: 1) Puerperium dini Puerpurium dini merupakan masa kepulihan, yang dalam hal ini ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. Dalam agama Islam, dianggap bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari. 2) Puerperium intermedial Puerperium intermedial merupakan masa kepulihan menyeluruh alat- alat genitalia, yang lamanya sekitar 6-8 minggu. 3) Remote puerperium Remote puerperium merupakan masa yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna, terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna dapat berlangsung selama bermingu-minggu, bulanan, bahkan tahunan. (Sulistyawati, 2009;h. 5)
  • 22.
    13 e. Kebijakan ProgramNasional Masa Nifas Tabel 2.1Kebijakan Program Nasional Masa Nifas Kunjungan Waktu Tujuan 1 6-8 jam setelah persalinan a) Mencegah perdarahan`masa nifas karena atonia uteri b) Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, rujuk bila perdarahan berlanjut. c) Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga mengenai bagaiman cara mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri d) Pemberian ASI awal. e) Melakukan hubungan antara ibu dengan bayi yang yang baru lahir. f) Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hypothermi. g) Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus tinggal dengan ibu dan bayi yang baru lahir untuk 2 jam pertama setelah kelahiran, atau sampai ibu dan bayinya dalam keadaan stebil. 2 6 hari a) Memastikan involusi uterus berjalan normal: uterus berkontraksi, fundus di bawah umbilicus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau. b) Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi,atau perdarahan abnormal. c) Memastikan ibu mendapat cukup makanan, cairan, dan istirahat. d) Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tak memperlihatkan tanda-tanda penyulit. e) Memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat, dan merawat bayi sehari-hari. 3 2 minngu Sama seperti 6 hari setelah persalinan 4 6 minngu a) Menanyakan pada ibu tentang kesulitan-kesulitan yang ia atau bayinya alami. b) Memberikan konseling KB secara dini. (Sulistyawati, 2009; h. 6-7) f. Respon orang tua terhadap bayi baru Lahir 1) Bonding Attachment Kelahiran adalah sebuah momen yang dapat membentuk suatu ikatan antara ibu dan bayinya. Pada saat bayi dilahirkan adalah saat yang sangat menakjubkan bagi seorang ibu ketika ia dapat melihat,
  • 23.
    14 memegang, dan memberikanASI pada bayinya untuk pertama kali. Pada masa tenang setelah melahirkan, disaat ibu merasa rileks, memberikan peluang ide untuk memulai pembentukan ikatan batin. (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 45). Bounding attachment/keterikatan awal/ikatan batin adalah suatu proses dimana sebagai hasil dari suatu interaksi terus menerus antara bayi dan orang tua yang bersifat saling mencintai, memberikan keduanya pemenuhan emosional dan saling membutuhkan. Proses ikatan batin antara ibu dengan bayinya ini diawali dengan kasih sayang terhadap bayi yang dikandung, dan dapat dimulai sejak kehamilan. Ikatan batin antara bayi dan orang tuanya berkaitan erat dengan pertumbuhan psikologi sehat dan tumbuh kembang bayi. (Rukiyah et.all, 2011;h. 38). Tahap-tahap bonding attachment adalah sebagai berikut. 1) Perkenalan (acquaintance), dengan melakukan kontak mata, menyentuh, berbicara, dan mengeksplorasi segera setelah mengenal bayinya. 2) Keterikatan (bounding) 3) Attachment, perasaan kasih sayang yang mengikat individu dengan individu lain
  • 24.
    15 Elemen-elemen bounding attachmentmeliputi hal-hal sebagai berikut 1) Sentuhan Sentuhan atau indra peraba dipakai secara ekstensif oleh orang tua dan pengasuh lain sebagai suatu sarana untuk mengenali bayi baru lahir dengan cara mengksplorasi tubuh bayi dengan ujung jarinya. 2) Kontak mata Ketika bayi baru lahir mampu secara fungsional mempertahankan kontak mata, orang tua dan bayi akan menggunakan lebih banyak waktu untuk saling memandang. Beberapa ibu mengatakan, dengan melakukan kontak mata mereka merasa lebih dekat dengan bayinya. 3) Suara Saling mendengarkan dan merespons suara antara orang tua dan bayinya juga penting. Orang tua menunggu tangisan pertama bayinya dengan tegang. Bayi akan menjadi tenang dan berpaling ke arah orang tua mereka saat orang tua mereka berbicara dengan suara bernada tinggi 4) Aroma Perilaku lain yang terjalani antara orang tua dan bayi ialah respons terhadap aroma/bau masing-masing. Ibu mengetahui setiap anak memiliki aroma yang unik. Bayi belajar dengan cepat untuk membedakan aroma susu ibunya.
  • 25.
    16 5) Entrainment Bayi barulahir bergerak-gerak sesuai dengan struktur pembicaraan orang dewasa. Mereka menggoyang tangan, mengangkat kepala, menendang-nendangkan kaki, seperti sedang berdansa mengikuti nada suara orang tuanya. Entrainment terjadi saat anak mulai berbicara. 6) Bioritme Anak yang belum lahir atau baru lahir dapat dikatakan senada dengan ritme alamiah ibunya. Untuk itu, salah satu tugas bayi baru lahir ialah membentuk ritme personal (bioritme). Orang tua dapat membantu proses ini dengan memberi kasih sayang yang konsisten dan dengan memanfaatkan waktu saat bayi mengembangkan perilaku yang responsif. Hal ini dapat meningkatkan interaksi sosial dan kesempatan bayi untuk belajar. 7) Kontak dini Saat ini, banyak bukti-bukti alamiah yang menunjukan bahwa kontak dini setelah lahir merupakan hal yang penting dalam hubungan antara orang tua-anak. Menurut Klaus, Kennel (1982), beberapa keuntungan fisiologis yang dapat diperoleh dari kontak dini, yaitu sebagai berikut. a) Kadar oksitosin dan prolaktin meningkat b) Refleks menghisap dilakukan secara dini c) Pembentuk kekebalan aktif dimulai
  • 26.
    17 d) Mempercepat prosesikatan antara orang tua dan anak. g. perubahan fisiologi masa nifas 1) Perubahan sistem reproduksi a) Uterus Pada uterus terjadi proses involusi. Proses involusi adalah proses kembalinya uterus kedalam keadaan sebelum hamil setelah melahirkan. Proses ini dimulai segera setelah plasenta keluar akibat kontraksi otot-otot polos uterus. Pada tahap ketiga persalinan, uterus berada digaris tengah, kira-kira 2 cm di bawah umbilikus dengan bagian fundus bersandar pada promotorium sakralis. Pada saat ini, besar uterus kira-kira sama besar uterus sewaktu usia kehamilan 16 minggu (kira-kira sebesar jeruk asam) dan beratnya kira-kira 100 gr. Dalam waktu 12 jam, tinggi fundus uteri mencapai kurang lebih 1 cm di atas umbilikus. Dalam beberapa hari kemudian, perubahan involusi berlangsung dengan cepat. Fundus turun kira- kira 1-2 cm setiap 24 jam. Pada hari pascapartum keenam fundus normal akan berada di pertengahan antara umbilikus dan simfisis pubis. Uterus tidak bisa dipalpasi pada abdomen pada hari ke-9 pascapartum.
  • 27.
    18 Subinvolusi adalah kegagalanuterus untuk kembali pada keadaan tidak hamil. Penyebab subinvolusi yang paling sering adalah tertahannya fragmen plasenta dan infeksi. Proses involusi uterus adalah sebagai berikut: (1) Iskemia miometrium Disebabkan oleh kontraksi dan retraksi yang terus-menerus dari uterus setelah pengeluaran plasenta membuat uterus relatif anemia dan menyebabkan serat otot atrofi. (2) Autolisis Autolisis merupakan penghancuran diri sendiri yang terjadi didalam otot uterus. Enzim preteolitik akan memendekkan jaringan otot yang telah sempat mengendur hingga panjangnya 10 kali dari semula dan lebar lima kali dari semula selama kehamilan atau dapat juga dikatakan sebagai perusakan secara langsung jaringan hipertrofi yang berlebihan. Hal ini disebabkan karena penurunan hormon estrogen dan progesteron. (3) Efek oksitosin Oksitosin menyebabkan terjadinya kontraksi dan retraksi otot uterin sehingga akan menekanpembuluh darah yang mengakibatkan berkurangnya suplai darah ke uterus. Proses ini membantu untuk mengurangi situs atau tempat implantasi plasenta serta mengurangi perdarahan. Penurunan ukuran
  • 28.
    19 uterus yang cepatitu dicerminkan oleh perubahan lokasi uterus ketika turun keluar dari abdomen dan kembali menjadi organ pelvis. Tabel 2.2 Involusi Uterus Involusi Tinggi Fundus Uteri Berat Uterus (gr) Diameter bekas melekat plasenta(cm) Keadaan Serviks Bayi lahir Setinggi pusat 1000 Uri lahir 2 jari dibawah pusat 750 12,5 lembek Satu minggu Pertengahan pusat-simfisis 500 7,5 Beberapa hari setelah postpartum dapat dilalui 2 jari akhir minggu pertama dapat dimasuki 1 jari Dua minggu Tak teraba diatas simfisis 350 3-4 Enam minggu Bertambah kecil 50-60 1-2 Delapan minggu Sebesar normal 30 (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 55-57) b) Lokhea Lokhea adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas.Lokhea mengandung darah dan sisa jaringan desidua yang nekrotik dari dalam uterus. Lokhea mempunyai reaksi basa/alkalis yangdapat membuat organisme berkembang lebih cepat daripada kondisi asam yang ada pada vagina normal. Lokhea berbau amis atau anyir dengan volume yang berbeda-beda pada setiap wanita. Lokhea yang berbau tidak sedap menandakan adanya infeksi. Lokhea mempunyai perubahan warna dan volume karena adanya proses involusi.
  • 29.
    20 Jenis-jenis lokhea berdasarkanwarna dan waktu keluarnya: (1) Lokhea rubra/merah Lokhea ini keluar pada hari pertama sampai hari ke-4 masa post partum. Cairan yang keluar berwarna merah karena terisi darah segar, jaringan sisa-sisa plasenta, dinding rahim, lemak bayi, lanugo (rambut bayi), dan mekonium. (2) Lokhea sanguinolenta Lokhea ini berwarna merah kecoklatan dan berlendir, serta berlangsung dari hari ke-4 sampai hari ke-7 post partum. (3) Lokhea serosa Lokhea ini berwarna kuning kecoklatan karena mengandung serum, leukosit, dan robekan atau laserasi plasenta.Keluar pada hari ke-7 sampai hari ke-14. (4) Lokhea alba/putih Lokhea ini mengandung leukosit, sel desidua, sel epitel, selaput lendir serviks, dan serabut jaringan yang mati. Lokhea alba ini dapat berlangsung selama 2-6 minggu post partum. Bila terjadi infeksi, akan keluar cairan nanah berbau busuk yang disebut dengan ‘‘lokhea purulenta’’. Pengeluaran lokhea yang tidak lancar disebut dengan ‘‘lokhea statis’’.
  • 30.
    21 2) Perubahan padaserviks Perubahan yang terjadi pada serviks ialah bentuk serviks agak menganga seperti corong, segera setelah bayi lahir.Bentuk ini disebabkan oleh corpus uteri yang dapat mengadakan kontraksi, sedangkan serviks tidak berkontraksi sehingga seolah-olah pada perbatasan antara korpus dan serviks berbentuk semacam cincin. Muara serviks yang berdilatasi sampai 10 cm sewaktu persalinan akan menutup secara perlahan dan bertahap. Setelah bayi lahir, tangan dapat masuk ke dalam rongga rahim. Setelah 2 jam, hanya dapat dimasuki 2-3 jari. Pada minggu ke-6 post partum, serviks sudah menutup kembali.(Sulistyawati, 2009; 76-77). 3) Perubahan pada vulva dan vagina Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang sangat besar selama proses melahirkan bayi, dan dalam beberapa hari pertama sesudah proses tersebut, kedua organ ini tetap berada dalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu vulva dan vagina kembali kepada keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina secara berangsur-angsur akan muncul kembali sementara labia menjadi lebih menonjol. (Walyani dan Purwoastuti, 2015; h. 66) 4) Perubahan payudara (mamae) Pada semua wanita yang telah melahirkan proses laktasi terjadi secara alami. Proses menyusui mempunyai dua mekanisme fisiologis, yaitu sebagai berikut.
  • 31.
    22 a) Produksi susu. b)sekresi susu atau let down. Selama Sembilan bulan kehamilan, jaringan payudara tumbuh dan menyiapkan fungsinya untuk menyediakan makanan bagi bayi baru lahir. Setelah melahirkan, ketika hormon yang dihasilkan plasenta tidak ada lagi untuk menghambat kelenjar pituitariakan mengeluarkan prolaktin (hormon laktogenik). Sampai hari ketiga setelah melahirkan, efek prolaktin pada payudara mulai bisa dirasakan.Pembuluh darah payudara menjadi bengkak terisi darah, sehingga timbul rasa hangat, bengkak, dan rasa sakit.Sel-sel acini yang menghasilkan ASI juga mulai berfungsi.Ketika bayi menghisap puting, refleks saraf merangsang lobus posterior pituitari untuk menyekresi hormon oksitosin. Oksitosin merangsang reflek let down (mengalirkan), sehingga menyebabkan ejeksi ASI melalui sinus laktiferus payudara ke duktus yang terdapat pada putting. Ketika ASI dialirkan karena isapan bayi atau dengan dipompa sel-sel acini terangsang untuk menghasilkan ASI lebih banyak.Refleks ini dapat berlanjut sampai waktu yang cukup lama. (Saleha, 2009; h. 57-58) 5) Perubahan sistem gastrointestinal Kerapkali diperlukan waktu 3-4 hari sebelum faal usus kembali normal. Meskipun kadar progesteron menurun setelah melahirkan, namun asupan makanan juga mengalami penurunan selama satu atau
  • 32.
    23 dua hari, geraktubuh berkurang dan usus bagian bawah sering kosong jika sebelum melahirkan diberikan enema. Rasa sakit didaerah perineum dapat menghalangi keinginan ke belakang. (Walyani dan Purwoastuti, 2015; h. 68) 6) Perubahan sitem perkemihan Setelah proses persalinan berlangsung, biasanya ibu akan sulit untuk buang air kecil dalam 24 jam pertama. Kemungkinan penyebab dari keadaan ini adalah terdapat spasme sfinkter dan edema leher kandung kemih sesudah bagian ini mengalami kompresi (tekanan) antara kepala janin dan tulang pubis selama persalinan berlangsung. Urine dalam jumlah besar akan dihasilkan dalam 12-36 jam post partum. Kadar hormon esterogen yang bersifat menahan air akan mengalami penurunan yang mencolok. Keadaan tersebut disebut ‘‘diuresis’’. Ureter yang berdilatasi akan kembali normal dalam 6 minggu. Dinding kandung kemih memperlihatkan odemadan hyperemia, kadang-kadang odema trigonum yang menimbulkan alostaksi dari uretra sehingga menjadi retensi urine. Kandung kemih dalam masa masa nifas menjadi kurang sensitif dan kapasitas bertambah sehingga setiap kali kencing masih tertinggal urine residual (normal kurang lebih 15 cc). Dalam hal ini, sisa urine dan trauma pada kandung kemih sewaktu persalinan dapat menyebabkan infeksi. (Sulistyawati, 2009; h. 78-79)
  • 33.
    24 7) Perubahan SistemMuskuloskeletal Otot-otot uterus berkontraksi segera setelah partus. Pembuluh- pembuluh darah yang berada diantara anyaman otot-otot uterus akan terjepit. Proses ini akan menghentikan perdarahan setelah plasenta dilahirkan. Ligamen-ligemen, diagfragma pelvis, serta fasia yang meregang pada waktu persalinan, secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali sehingga tak jarang uterus jatuh ke belakang dan menjadi retrofleksi karena ligamentum rotundum menjadi kendor.Tidak jarang pula wanita mengeluh ‘‘kandungannya turun’’ setelah melahirkan karena ligamen, fasia, jaringan penunjang alat genetalia menjadi kendor.Stabilisasi secara sempurna terjadi pada 6- 8 minggu setelah persalinan. (Sulistyawati, 2009; h. 79) 8) Perubahan Sistem Endokrin Selama proses kehamilan dan persalinan terdapat perubahan padasistem endokrin, terutama pada hormon-hormon yang berperan dalam proses tersebut. a) Oksitosin Oksitosin disekresikan dari kelenjar otak bagian belakang.Selama tahap ketiga persalinan, hormon oksitosin berperan dalam pelepasan plasenta dan mempertahankan kontraksi, sehingga mencegah perdarahan. Hal tersebut membantu uterus kembali ke bentuk normal.
  • 34.
    25 b) Prolaktin Menurunnya kadaresterogen menimbulkan terangsangnya kelenjar pituitari bagian belakang untuk mengeluarkan prolaktin, hormon ini berperan dalam pembesaran payudara untuk merangsang produksi susu. Pada wanita yang menyusui bayinya, kadar prolaktin tetap tinggi dan pada permulaan ada rangsangan folikel dalam ovarium yang ditekan. Pada wanita yang tidak menyusui bayinya tingkat sirkulasi prolaktin menurun dalam 14- 21 hari setelah persalinan, sehingga merangsang kelenjar bawah depan otak yang mengontrol ovarium ke arah permulaan pola produksi estrogen dan progesteron yang normal, pertumbuhan folikel, ovulasi, dan mentruasi. c) Estrogen dan Progesteron Selama hamil volume darah normal meningkat walaupun mekenismenya secara penuh belum dimengerti. Diperkirakan bahwa tingkat estrogen yang tinggi memperbesar hormon antidiuretik yang meningkat volume darah. Di samping itu, progesteron mempengaruhi otot halus yang mengurangi perangsang dan peningkatan pembuluh darah. Hal ini sangat mempengaruhi saluran kemih, ginjal, usus, dinding vena, dasar panggul, perineum dan vulva, serta vagina. (Saleha,2009; h. 60)
  • 35.
    26 9) Perubahan Tanda-TandaVital a) Tekanan darah Tekanan darah adalah tekanan yang dialami darah pada pembuluh arteri ketika darah dipompa oleh jantung ke seluruh anggota tubuh manusia. Tekanan darah normal manusia adalah sistolik antara 90-120 mmHg dan diastolik 60-80 mmHg. Pasca melahirkan pada kasus normal, tekanan darah bisaanya tidak berubah. Perubahan tekanan darah menjadi lebih rendah pasca melahirkan dapat diakibatkan oleh perdarahan. Sedangkan tekanan darah tinggi pada post partum merupakan tanda terjadinya pre eklamsia post partum. Namun demikian, hal tersebut sangat jarang terjadi. (Rukiyah et.all, 2011; h. 69) b) Pernapasan Pernapasan normal yaitu 20-30 x/menit. Pada umumnya respirasi lambat atau bahkan normal. Mengapa demikian, tidak lain karena ibu dalam keadaan pemulihan atau dalam kondisi istirahat. Bila ada respirasi cepat postpartum (>30 x/mnt) mungkin karena adanya ikatan dari tanda-tanda syok. (Walyani dan Purwoastuti , 2015; h. 87) c) Nadi Denyut nadi normal pada orang dewasa 60-80 kali permenit. Denyut nadi sehabis melahirkan biasanya akan lebih cepat. Setiap
  • 36.
    27 denyut nadi yangmelebihi 100 kali per menit adalah abnormal dan hal ini menunjukkan adanya kemungkinan infeksi. d) Suhu badan Dalam 1 hari (24 jam) post partum, suhu badan akan naik sedikit (37,50 -380 C) sebagai akibat kerja keras sewaktu melahirkan, kehilangan cairan, dan kelelahan. Apabila keadaan normal, suhu badan menjadi biasa. Biasanya, pada hari ke-3 suhu badan naik lagi karena adanya pembentukan ASI. Payudara menjadi bengkak dan barwarna merah karena banyaknya ASI. Bila suhu tidak turun, kemungkinan adanya infeksi pada endometrium, (mastitis, tractus genetalis, atau sistem lain). (Sulistyawati, 2009; h. 80-81) 10) Perubahan Sistem Kardiovaskuler Pada persalinan pervaginam kehilangan darah sekitar 300-400 cc. bila kelahiran melalui section caesaria kehilangan darah dapat dua kali lipat. Perubahan terdiri dari volume darah dan hemokonsentrasi. Apabila pada persalinan pervaginam hemokonsentrasi akan naik dan pada section caesaria haemokonsentrasi cenderung stabil dan kembali normal setelah 4-6 minggu. Setelah melahirkan shunt akan hilang dengan tiba-tiba. Volume darah ibu relatif akan bertambah. Keadaan ini akan menimbulkan beban pada jantung dan dapat menimbulkan dekompensasi kodis pada penderita vitium cordial. Untuk kadaan ini dapat diatasi
  • 37.
    28 dengan mekanisme kompensasidengan timbulnya haemokonsentrasi sehingga volume darah kembali seperti sediakala. Umumnya hal ini terjadi pada hari ketiga sampai lima hari post partum. (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 85) 11) Perubahan Sistem Hematologi Selama minggu-minggu terakhir kehamilan, kadarfibrinogen dan plasma,serta faktor-faktor pembekuan darah makin meningkat. Pada hari pertama post partum, kadarfibrinogen dan plasma akan sedikit menurun, tetapi darah akan mengental sehingga meningkatkan faktor pembekuan darah. Leukositosis yang meningkat dengan jumlah sel darah putih dapat mencapai 15.000 selama proses persalinan akan tetapi tinggi dalam beberapa hari post partum. Jumlah sel darah tersebut masih dapat naik lagi sampai 25.000-30.000 tanpa adanya kondisi patologis jika wanita tersebut mengalami persalinan yang lama. (Sulistyawati, 2009; h. 82) h. Proses Adaptasi Psikologi Masa Nifas Setelah melahirkan, ibu mengalami perubahan fisik dan fisiologis yang juga mengakibatkan adanya beberapa perubahan dari psikisnya. Setelah melahirkan, ibu akan mengalami fase-fase sebagai berikut:
  • 38.
    29 1) Fase TakingIn Fase taking in yaitu periode ketergantungan yang berlangsung pada hari pertama sampai hari kedua setelah melahirkan. Pada saat itu, fokus perhatian ibu terutama pada dirinya sendiri. Pengalaman selama proses persalinan berulang kali diceritakannya. Hal ini membuat ibu cenderung menjadi pasif terhadap lingkungannya. Kemampuan mendengarkan (listening skills) dan menyediakan waktu yang cukup merupakan dukungan yang tidak ternilai bagi ibu. 2) Fase Taking Hold Fase taking hold adalah fase/periode yang berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan. Pada fase ini, ibu merasa khawatir akan ketidakmampuannya dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi. 3) Fase Letting Go Fase letting go merupakan fase menerima tanggung jawab akan peran barunya yang berlangsung sepuluh hari setelah melehirkan. Ibu sudah dapat menyesuaikan diri, merawat diri dan bayinya, serta kepercayaan dirinya sudah meningkat. Pendidikan kesehatan yang kita berikan pada fase sebelumnya akan sangat berguna bagi ibu. Ibu lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan diri dan bayinya. (Dewi dan Sunarsih, 2011; 65-66)
  • 39.
    30 i. Kebutuhan dasarIbu pada Masa Nifas 1) Mobilisasi Di masa lampau, perawatan puerpurium sangat konservatif, selama masa tersebut, ibu diharuskan tidur telentang selama 40 hari. Dampak perawatan tersebut adalah terjadi adhesi antara labium minus dan labium mayus kanan dan kiri dan tindakan tersebut telah berlangsung hampir enam tahun. Penulis yang kebetulan menangani kajian tersebut berpendapat bahwa kini, perawatan puerpurium lebih aktif menganjurkan ibu untuk “mobilisasi dini” (early mobilization). Keuntungan perawatan mobilisasi dini adalah : a) Melancarkan pengeluaran lokea, mengurangi infeksi puerpurium. b) Mempercepat involusi alat kandungan c) Melancarkan fungsi alat gastrointestinal dan alat perkemihan d) Meningkatkan kelancaran peredaran darah sehingga mempercepat fungsi ASI dan pengeluaran sisa metabolisme. (Roito et.all, 2013;h. 83-85). 2) Nutrisi Pada masa nifas masalah diet perlu mendapat perhatian yang serius, karena dengan nutrisi yang baik dapat mempercepat penyembuhan ibu dan sangat mempengaruhi susunan air susu. Diet yang
  • 40.
    31 diberikan harus bermutu,bergizi tinggi, cukup kalori, tinggi protein, dan banyak mengandung cairan. Ibu yang menyusui harus memenuhi kebutuhan akan gizi sebagai berikut. a) Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari b) Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral, dan vitamin yang cukup. c) Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari. d) Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi, setidaknya selama 40 hari pascapersalinan. e) Minum kapsul vitamin A 200.000 unit agar dapat memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI. (Saleha, 2009; h. 71-72) 3) Eliminasi a) Buang Air Kecil Miksi disebut normal bila dapat BAK spontan tiap 3-4 jam.Ibu diusahakan mampu buang air kecil sendiri, bila tidak, maka lakukan tindakan berikut ini. (1) Dirangsang dengan mengalirkan air keran di dekat klien. (2) Mengompres air hangat di atas simpisis (3) Saat site bath (berendam air hangat) klien disuruh BAK. Bila tidak berhasil dengan cara di atas, maka dilakukan kateterisasi. Hal ini dapat membuat klien merasa tidak nyaman
  • 41.
    32 dan risiko infeksisaluran kemih tinggi. Oleh sebab itu, kateterisasi tidah dilakukan sebelum lewat enam jam postpartum b) Buang air besar Buang air besar (BAB).Defekasi (buang air besar) harus dalam 3 hari postpartum. Bila ada obstipasi dan timbul koprostase hingga skibala (feses yang mengeras) tertimbun di rektum, mungkin akan terjadi fibris. Bila terjadi hal demikian dapat dilakukan klisma atau diberi laksan per os (mulalui mulut). Pengeluaran cairan lebih banyak pada waktu persalinan sehingga dapat mempengaruhi terjadinya konstipasi. Bisaanya bila penderita tidak BAB sampai 2 hari sesudah persalinan, akan ditolong dengan pemberian spuit gliserine/diberikan obat-obatan. Biasanya 2-3 hari postpartum masih susah BAB, maka sebaiknya diberikan laksan atau paraffin (1-2 hari post partum), atau pada hari ke-3 diberi laksan supositoria dan minum air hangat. Berikut adalah cara agar dapat BAB dengan teratur. (1) Diet teratur (2) Pemberian cairan yang banyak (3) Ambulasi yang baik (4) Bila takut buang air besar secara episiotomi,maka diberikut laksan supposotria. (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 73-74)
  • 42.
    33 4) Kebersihan Diri/Perineum Padaibu nifas sebaiknya anjurkan kebersihan seluruh tubuh. Mengajarkan pada ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air. Pastikan bahwa ia mengerti untuk membersihkan daerah disekitar vulva terlebih dahulu, dari depan kebelakang anus. Nasehan ibu untuk membersihkan diri setiap kali selesai buang air kecil dan besar. Sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut setidaknya dua kali sehari. Kain dapat digunakan ulang jika telah dicuci dengan baik, dan dikeringkan dibawah sinar matahari atau disetrika. Sarankan ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelaminnya. Jika ibu mempunyai luka episiotomi atau laserasi, sarankan kepada ibu untuk menghindari menyentuh daerah luka. (Rukiyah et.all, 2011; h. 77-78). 5) Istirahat Umumnya wanita sangat lelah setelah melahirkan, akan terasa lebih bila partus berlangsung agak lama. Seseorang ibu baru akan cemas apakah ia mampu merawat anaknya atau tidak setelah melahirkan. Hal ini mengakibatkan susah tidur, alasan lainnya adalah terjadi gangguan pola tidur karena beban kerja bertambah, ibu harus bangun malam untuk meneteki atau mengganti popok yang sebelumnya tidak pernah dilakukan. Berikut adalah hal-hal yang dapat dianjurkan pada ibu
  • 43.
    34 (1) Beristirahat yangcukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan. (2) Sarankan ia untuk kembali ke kegiatan- kegiatan yang tidak berat. Kurang istirahat akan mempengaruhi ibu dalam beberapa hal, diantaranya adalah sebagai berikut. (1) Mengurangi jumlah ASI yang diproduksi (2) Memperlambat proses involusi uterus dan memperbanyak perdarahan. (3) Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri. (Dewi dan Sunarsih,2011;h. 76) Bidan harus menyampaikan kepada pasien dan keluarga bahwa untuk kembali melakukan kegiatan-kegiatan rumah tangga harus dilakukan secara perlahan-lahan dan bertahap. Selain itu pasien juga perlu diingatkan untuk selalu tidur siang atau beristirahat selagi bayinya tidur. Kebutuhan istirahat bagi ibu menyusui minimal 8 jam sehari, yang dapat dipenuhi melalui istirahat malam dan siang. (Sulistyawati, 2009; h. 103) 6) Aktifitas seksual Aktifitas seksual yang dapat dilakukan ibu oleh ibu nifas harus memenuhi syarat berikut ini.
  • 44.
    35 a) Secara fisikaman untuk memulai melakukan hubungan suami istri begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu- satu dua jarinya kedalam vagina tanpa rasa nyeri, maka ibu aman untuk memulai melakukan hubungan suami istri kapan saja ibu siap. b) Banyak budaya yang mempunyai tradisi menunda hubungan suamiistri sampai masa waktu tertentu, misalnya setelah 40 hari atau 6 minggu setelah persalinan, keputusan ini tergantung pada pasangan yang bersangkutan. j. Deteksi Dini Komplikasi Pada Ibu Masa Nifas 1) Perdarahan pervaginam post partum Definisi perdarahan pervaginam 500 ml atau lebih, sesudah anak lahir atau setelah kala III. Perdarahan ini bisa terjadi segera begitu ibu melahirkan. Terutama di dua jam pertama. Kalau terjadi perdarahan, maka tinggi rahim akan bertambah naik, tekanan darah menurun, dan denyut nadi ia menjadi cepat. a) Klasifikasi klinis Perdarahan pasca persalinan Primer yakni perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertam, penyebab: atonia uteri, retensio plasenta, sisa plasenta, dan robekan jalan lahir
  • 45.
    36 Perdarahan pasca persalinansekunder, yakni perdarahan yang terjadi setelah 24 jam pertama, penyebab: robekan jalan lahir dan sisa plasenta atau membrane. b) Etiologi dan Faktor Prediposisi Penyebab perdarahan pasca salin ada beberapa sebab antar lain: (1) Atonia uteri (> 75 %), atau uteri tidak berkontraksi dalam 15 detik setelah dilakukan pemijatan fundus uteri (plasenta telah lahir) (2) Robekan (laserasi, luka) jalan lahir atau robekan yang terjadi pada jalan lahir bisa disebabkan oleh robekan spontan atau memang sengaja dilakukan episiotomi, robekan jalan lahir dapat terjadi di tempat : robekan serviks, perlukaan Vagina, robekan perineum. (3) Retensio plasenta dan sisa plasenta (plasenta tertahan didalam rahim baik sebagian atau seluruhnya). (4) Inversion Uterus (uterus keluar dari rahim) (5) Gangguan pembekuan darah. c) Penanganan umum (1) Hentikan perdarahan (2) Cegah/atasi syok (3) Ganti darah yang hilang : diberi infus cairan (larutan garam fisiologi, plasma ekspander, Dextran-L, dan sebagainya),tranfusi darah, kalau perlu oksigen.
  • 46.
    37 (Rukiyah et.all, 2011;h. 116-117) d) Pencegahan Pencegahan perdarahan postpartum dapat dilakukan dengan mengenali resiko perdarahan postpartum (uterus distensi, partus lama, partus dengan pacuan), memberikan oksitosin injeksi setelah bayi lahir, memastikan kontraksi uterus setelah bayi lahir, memastikan plasenta lahir lengkap, menangani robekan jalan lahir. (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 127) 2) Infeksi masa nifas Beberapa bakteri dapat menyebabkan infeksi setelah persalinan. Infeksi masa nifas masih merupakan penyebab tertinggi angka kematian ibu (AKI). Infeksi luka jalan lahir pasca-persalinan, biasanya dari endometrium bekas insersi plasenta. Demam dalam nifas sebagian besar disebabkan oleh infeksi nifas, maka demam dalam nifas merupakan gejala penting dari penyakit ini. Demam dalam masa nifas sering juga disebut morbiditas nifas dan merupakan indeks kejadian infeksi nifas. Demam dalam nifas selain oleh infeksi dapat juga disebabkan oleh pielitis, infeksi jalan pernapasan, malaria, dan tifus. Mikroorganisme penyebab infeksi puerpuralis dapat berasal dari luar (eksogen) atau dari jalan lahir penderita sendiri (endogen). Mikroorganisme endogen lebih sering menyebabkan infeksi.
  • 47.
    38 Mikroorganisme yang terseringmenjadi penyebab ialah golongan streptococcus, basil coli dan stafilacoccus. Akan tetapi, kadang- kadang mikroorganisme lain memegang peranan, seperti: clostridium welchii, gonococcus, salmonella typhii atau clostridium tetani. a) Cara terjadinya infeksi (1) Tangan pemeriksa atau penolong yang tertutup sarung tangan pada pemeriksaan dalam atau operasi membawa bakteri yang sudah ada dalam vagina ke dalam uterus. Kemungkinan lain ialah bahwa sarung tangan atau alat-alat yang dimasukkan ke dalam jalan lahir tidak sepenuhya bebas dari kuman. (2) Droplet infection. Sarung tangan atau alat-alat terkena kontaminasi bakteri yang berasal dari hidung atau tenggorokan dokter atau pembantu-pembantunya. Oleh karena itu, hidung dan mulut petugas yang bekerja di kamar bersalin harus ditutup dengan masker dan penderita infeksi saluran pernapasan dilarang memasuki kamar bersalin. (3) Dalam rumah sakit selalu banyak kuman-kuman pathogen yang berasal dari penderita-penderita dengan berbagai jenis infeksi. Kuman-kuman ini bisa dibawa oleh udara kemana- mana, antara lain ke handuk, kain-kain alat-alat yang suci
  • 48.
    39 hama, dan yangdigunakan untuk merawat wanita dalam persalinan atau pada waktu nifas. (4) Koitus pada akhit kehamilan tidak merupakan sebab infeksi penting, kecuali apabila mengakibatkan pecahnyaketuban. (5) Infeksi intra partum sudah dapat menimbulkan gejala-gejala pada wanita berlangsung persalinan. b) Faktor predisposisi (penyebab) Situasi berikut merupakan predisposisi infeksi masa nifas pada wanita. (1)Persalinan lama, khususnya dengan pecah ketuban. (2)Pecah ketuban yang lama sebelum persalinan. (3)Bermacam-macam pemeriksaan vagina selama persalinan, khusunya pecah ketuban. (4)Teknik aseptic tidak sempurna. (5)Tidak memperhatikan teknik mencuci tangan. (6)Manipulasi intrauteri (misalnya: eksplorasi uteri, pengeluaran plasenta manual) (7)Trauma jaringan yang luas atau luka terbuka, seperti laserasi yang tidak diperbaiki. (8)Hematoma (9)Hemoragi, khusunya jika kehilangan darah lebih dari 1000 ml. (10) Pelahiran operatif, terutama pelahiran melalui SC.
  • 49.
    40 (11) Retensi sisaplasenta atau membrane janin. (12) Perawatan perineum tidak memadai. (13) Infeksi vagina/serviks atau PMS yang ditangani (misalnya: vaginosis bakteri, klamidia, gonorhoea) c) Tanda dan gejala Tanda dan gejala infeksi pada umumnya adalah peningkatan suhu tubuh, malaise umum, nyeri, dan lokhea berbau tidak sedap. Peningkatan kecepatan nadi dapat terjadi, terutama pada infeksi berat. Interpretasi kultur laboratorium dan sensitifitas, pemeriksaan lebih lanjut, dan penanganan memerlukan diskusi serta kolaborasi dengan dokter konsultasi anda. (1)Jenis-jenis infeksi (a)Endometritis Jenis infeksi yang paling sering ialah endometritis. Kuman-kuman yang memasuki endometrium, biasanya melalui luka bekasinsersio plasenta, dan dalam waktu singkat mengikutsertakan seluruh endometrium. Pada infeksi dengan kuman yang tidak terlalu pathogen, radang terbatas pada endometrium. Gambaran klinis tergantung jenis dan virulensi kuman, daya tahan penderita, serta derajat trauma pada jalan lahir. Biasanya demam mulai 48 jam postpartum dan bersifat naik turun (remittens). His lebih nyeri dari biasa dan lebih
  • 50.
    41 lama dirasakan. Lokiabertambah banyak, berwarna merah dan cokelat, serta berbau. Lokia yang berbau tidak selalu menyertai endometritis sebagai gejala. Sering terdapat subinvolusi. Leukosit naik antara 15.000-30.000/mm3 . Sakit kepala, kurang tidur, dan kekurangan nafsu makan dapat mengganggu penderita. Tanda dan gejala endometritis adalah sebagai berikut. (1) Peningkatan demam secara persisten hingga 400 C, bergantung pada keparahan infeksi. (2) Takikardi (3) Menggigil dengan infeksi berat. (4) Nyeri tekan uteri menyabar secara lateral. (5) Nyeri panggul dengan pemeriksaan bimanual. (6) Subinvolusio. (7) Lokia sedikit tidak berbau, atau berbau tidak sedap, lokia seropurelenta. (8) Variable awitan bergantung pada organisme, dengan streptococcus grup b muncul lebih awal. (9) Hitung sel darah putih mungkin meningkat diluar leukositosis puerperium fisiologis. Penyebab endometritis, jika tidak ditangani, dapat menyebabkan salpingitis, tromboflebitis septic, peritonitis, dan fasilitas nekrotikans. Setiap dugaan adanya infeksi
  • 51.
    42 memburuk, gejala yangtidak dapat dijelaskan, atau nyeri akut memerlukan konsultasi dokter dan rujukan. Jika infeksi tidak meluas, maka suhu turun secara berangsur-angsur dan turun pada hari ke-7-10. Pasien sedapatnya diisolasi, tetapi bayi boleh terus menyusu pada ibunya. Untuk kelancaran pengaliran lokia, pasien boleh diletakkan dengan letak fowler dan diberi juga uterustonika. Selain itu, pasien juga disuruh minum banyak. (b)Parametritis Parametritis adalah infeksi jaringan pelvis yang dapat terjadi melalui beberapa cara: penyebaran melalui limfe dari luka serviks yang terinfeksi atau dari endometritis, penyebaran langsung dari luka pada serviks yang meluas sampai ke dasar ligamentum, serta penyebaran sekunder dari tromboflebitis. Proses ini dapat tinggal terbatas pada dasar ligamentum latum atau menyebar ekstraperitoneal ke semua jurusan. Pada pemeriksaan dalam dapat diraba tahanan padat dan nyeri disebelah uterus dan tahanan ini yang berhubungan erat dengan tulang panggul dapat meluas ke berbagai jurusan. Pada bagian tengah jaringan yang meradang tersebut dapat tumbuh abses. Dalam hal ini, suhu yang
  • 52.
    43 mula-mula tinggi secaramenetap menjadi naik turun disertai dengan menggigil. Penderita tampak sakit, nadi cepat, dan perut nyeri. Pada 2 /3 kasus tidak terjadi pembentukan abses dan suhu menurun dalam beberapa minggu. Tumor disebelah uterus menecil sedikit demi sedikit dan akhirnya terdapat parametrium yang kaku. Jika terjadi abses, cairan abses selalu mencari jalan ke rongga perut sehingga menyebabkan peritonitis, ke rectum, atau ke kandung kemih. (c)Peritonitis Peritonitis dapat berasal dari penyebaran melalui pembuluh limfe uterus, parametritis yang meluas ke peritoneum, salpingo-ooforisit meluas ke peritoneum atau langsung sewaktu tindakan per abdominal. Peritonitis yang terlokalisasi hanya dalam rongga pelvis disebut pelvioperitonitis, bila meluas ke seluruh rongga peritoneum disebutperitonitis umum, dan keadaan ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kematian 33% dari seluruh kematian akibat infeksi. Gambaran klinis dari peritonitis adalah sebagai berikut. (1) Pelvioperitonitis: demam, nyeri perut bagian bawah, nyeri pada pemeriksaan dalam, kavum douglasi menonjol karena adanya abses (kadang-kadang). Bila
  • 53.
    44 hal ini dijumpai,maka nanah harus dikeluarkan dengan kalpotomi posterior, agar nanah tidak keluar menembus rectum. (2) Peritonitis umum adalah berbahaya bila disebabkan oleh kuman yang pathogen. Perut kembung, meteorismus, dan dapat terjadi paralitik ileus. Suhu badan tinggi, nadi cepat dan kecil, perut nyeri tekan, pucat, muka cekung, kulit dingin, mata cekung yang disebut muka hipokrates. Penegakan diagnosis dibantu dengan pemeriksaan labiratorium. (d)Infeksi Trauma Vulva, Perineum, Vagina, dan Serviks Tanda dan gejala infeksi episiotomy, laserasi, atau trauma lain meliputi sebagai berikut. (1)Nyeri local. (2)Disuria. (3)Suhu derajat rendah-jarang di atas 38,30 C . (4)Edema (5)Sisi jahitan merah dan inflamasi. (6)Mengeluarkan pus atau eksudat berwarna abu-abu kehijauan. (7)Pemisahan atau terlepasnya lapisan operasi.
  • 54.
    45 (e)Infeksi Saluran Kemih Kejadianinfeksi saluran kemih pada masa nifas relative tinggi dan hal ini dihubungkan dengan hipotoni kandung kemih akibat trauma kandung kemih saat persalinan, pemeriksaan dalam yang sering, kontaminasi kuman dari perineum, atau kateterisasi yang sering. Sistitis biasanya memberikan gejal berupa nyeri berkemih (disuria), sering berkemih, dan tidak dapat ditahan. Demam biasanya jarang terjadi. Adanya retensi urine pascapersalinan umumnya merupakan tanda adanya infeksi. Pielonefritis memberikan gejala yang lebih berat, demam, menggigil, serta perasaan mual dan muntah. Selain disuria, dapat juga terjadi piuria dan hematuria. (Dewi dan Sunarsih, 2011; h. 109-114) . k. Proses Laktasi dan Menyusui 1) Fisiologi payudara Dalam pembentukan air susu ada dua refleks yang membantu dalam pembentukan dan pengeluaran air susu yaitu reflek prolaktin dan reflek let down. a) Reflek Prolaktin : Setelah persalinan kadar estrogen dan progesteron menurun, ditambah lagi dengan adanya isapan bayi
  • 55.
    46 yang merangsang puttingsusu dan kalang payudara, akan merangsang ujung-ujung saraf sensoris yang berfungsi sebagai reseptor mekanik. Rangsangan ini akan dilanjutkan ke hipotalamus yang akan menekan pengeluaran faktor-faktor penghambat sekresi prolaktin dan sebaliknya. Faktor-faktor yang memacu sekresi prolaktin akan merangsang adenohipofise sehingga keluar prolaktin. Hormon ini merangsang sel-sel alveoli yang berfungsi untuk membuat air susu. b) Refleks Let Down : Dengan dibentuknya hormon prolaktin rangsangan yang berasal dari isapan bayi akan dilanjutkan ke neurohipofise yang kemudian dikeluarkan oksitosin. Melalui aliran darah, hormon ini akan menuju uterus yang dapat menimbulkan kontraksi pada uterus sehingga terjadi involusi dari organ tersebut. Oksitosin yang sampai pada alveoli akan mempengaruhi sel miopitelium. Kontraksi sel akan memeras air susu yang telah terbuat keluar dari alveoli dan masuk ke sistem duktulus yang untuk selanjutnya akan mengalir melalui duktus laktiferus masuk ke mulut bayi c) Bila ada stress dari ibu yang menyusui maka akan terjadi suatu blockade dari refleks let down. Ini disebabkan karena adanya pelepasan dari adrenalin yang menyebabkan vasokontriksi dari pembuluh darah alveoli, sehingga oksitosin sedikit harapannya untuk dapat mencapai target organ mioepitelium. Sehingga
  • 56.
    47 payudara akan membesardan timbul abses yang berakibat pada proses menyusui karena akan timbul rasa sakit. Karena refleks let down yang tidak sempurna maka bayi yang haus akan tidak puas. Ketidak puasan ini akan merupakan tambahan stress bagi ibunya. (Rukiyah et.all, 2011;h. 13-14). 2) Mekanisme menyusui a) Reflek mencari (rooting reflex) payudara ibu yang menempel pada pipi atau daerah sekeliling mulut merupakan rangsangan yang menimbulkan reflek mencari pada bayi. Keadaan ini menyebabkan kepala bayi berputar menuju putting susu yang menempel tadi diikuti dengan membuka mulut dan kemudian putting susu ditarik masuk ke dalam mulut. b) Reflek mengisap (sucking reflex) Putting susu yang sudah masuk ke dalam mulut dengan bantuan lidah ditarik lebih jauh dan rahang menekan kalang payudara di belakang putting susu yang pada saat itu dudah terletak pada langit-langit keras. Tekanan bibir dan gerakan rahang yang terjadi secara berirama membuat gusi akan menjepit kalang payudara dan ismus laktiferus sehingga air susu akan mengalir ke putting susu, selanjutnya bagian belakang lidah menekan putting susu pada langit-langit yang mengakibatkan air susu keluar dari putting susu
  • 57.
    48 c) Reflek menelan(swallowing Reflek) Pada saat air susu keluar dari putting susu, akan disusul dengan gerakan menghisap yang ditimbulkan oleh otot-otot pipi sehingga pengeluaran air susu akan bertambah dan diteruskan dengan mekanisme menelan masuk ke lambung. l. Dukungan Bidan Dalam Pemberian ASI Bidan mempunyai peranan yang sangat istimewa dalam menunjang pemberian ASI. Peran bidan dalam menunjang pemberian ASI. Peran bidan dapat membantu ibu untuk memberikan ASI dengan baik dan mencegah masalah-masalah umum terjadi. Bidan dapat memberikan dukungan dalam pemberian ASI, dengan cara sebagai berikut. a) Membiarkan bayi bersama ibunya segera sesudah lahir selama beberapa jam pertama. Bayi mulai menyusu sendiri segera setelah lahir. Hal ini disebut dengan inisiasi menyusu dini (early inititation) atau permulaan menyusu dini. Hal ini merupakan peristiwa penting, dimana bayi dapat melakukan kontak dini langsung dengan ibunya dengan tujuan dapat memberikan kehangatan. Selain itu, dapat membengkitkan hubungan/ikatan antara ibu dan bayi. Pemberian ASI sedini mungkin adalah lebih baik, jika memungkinkan paling sedikit 30 menit setelah lahir.
  • 58.
    49 b) Mengajarkan caramerawat payudara yang sehat pada ibu untuk mencegah masalah umum yang timbul. Tujuan dari perawatan payudara adalah untuk melancarkan sirkulasi darah dan mencegah tersumbatnya saluran susu sehingga pengeluaran ASI lancar. Perawatan payudara dilakukan sedini mungkin, bahkan tidak menutup kemungkinan perawatan payudara sebelum hamil sudah mulai dilakukan c) Membantu ibu pada waktu pertama kali memberi ASI. Membantu ibu segera mungkin untuk menyusui bayinya setelah lahir sangatlah penting. Semakin sering bayi menghisap putting susu ibu, maka pengeluaran ASI juga semakin lancar. Hal ini karena isapan bayi akan memberikan ranngsangan pada hipofisis untuk mengeluarkan hormon oksitosin yang bekerja merangsang otot polos untuk memeras ASI. d) Menempatkan bayi didekat ibu pada kamar yang sama (rawat gabung). Rawat gabung adalah merupakan salah satu cara perawatan dimana ibu dan bayi yang baru dilahirkan tidak dipisahkan, melainkan ditempatkan bersama dalam ruangan selama 24 jam penuh. Manfaat rawat gabung dalam proses laktasi dapat dilihat dari aspek fisik, fisiologis, psikologis, edukatif, ekonomi, maupun medis.
  • 59.
    50 (1) Aspek fisik Kedekatanibu dengan bayinya dapat mempermudah bayi menyusu setiap saat tanpa terjadwal. Dengan demikian, semakin sering bayi menyusu, maka ASI segera keluar. (2) Aspek Fisiologis Bila ibu selalu dekat dengan bayinya makan bayi lebih sering disusui. Hal ini mengakibatkan bayi mendapat nutrisi alami dan kecukupan ASI. Refleks oksitosin yang ditimbulkan dari proses menyusui akan membantu proses involusi uteri dan produksi ASI akan dipacu oleh refleks prolaktin. (3) Aspek psikologis Rawat gabung dapat menjalin hubungan batin antara ibu dan bayi atau proses lekat (early infant mother bounding). Hal ini disebabkan oleh adanya sentuhan badan ibu dan bayi. Kehangatan tubuh ibu memberikan stimulasi mental yang diperlukan sehingga mempengaruhi kelanjutan perkembangan psikologis bayi. (4) Aspek edukatif Rawat gabung memberikan pengalaman bagi ibu dalam hal cara merawat bayi dan merawat dirinya sendiri pasca-melahirkan. (5) Aspek ekonomi Rawat gabung tidak hanya memberikan manfaat pada ibu maupun keluarga, tetapi juga untuk rumah sakit maupun
  • 60.
    51 pemerintah. Hal inimerupakan suatu penghematan dalam pembelian susu buatan dan peralatan lain yang dibutuhkan. (6) Aspek medis Pelaksanaan rawat gabung dapat mencegah terjadinya infeksi nosokomial.Selain itu ibu dapat melihat perubahan fisik atau perilaku bayinya yang menyimpang dengan cepat sehingga dapat segera menanyakan kepada petugas kesehatan sekiranya ada hal-hal yang dianggap tidak wajar. e) Memberikan ASI pada bayi sesering mungkin Pemberian ASI sebaiknya sesering mungkin tidak perlu dijadwal. Bayi disusui sesuai dengan keinginannya (on demand). Bayi dapat menentukan sendiri kebutuhannya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung akan kosong dalam 2 jam. Menyusui yang dijadwalkan berakibat kurang baik karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi berikutnya. f) Memberikan kolostrum dan ASI saja ASI dan kolostrum merupakan makanan yang terbaik untuk bayi kandungan dan komposisi ASI sangat sesui dengan kebutuhan bayi pada keadaan masing-masing. ASI dari ibu yang melahirkan premature sesuai dengan kebutuhan dan juga sebaliknya. ASI dari ibu yang melahirkan cukup bulan maka sesuai dengan kebutuhan bayi yang cukup bulan juga.
  • 61.
    52 g) Menghindari susubotol “dot empeng” Pemberian susu dengan botol dan kempengan dapat membuat bayi bingung putting dan menolak menyusu atau isapan bayi yang kurang baik. Hal ini disebabkan mekanisme menghisap dari putting susu ibu dengan botol jauh berbeda. (Dewi dan Sunarsih, 2011;h. 13-17). m. Manfaat pemberian ASI Pemberian Air Susu Ibu (ASI) pada bayi baru lahir segera sampai berumur sedikitnya dua tahun akan memberikan banyak manfaat, baik untuk bayi, ibu, maupun masyarakat pada umumnya, dibawah ini akan dijelaskan beberapa manfaat pemberian ASI. 1) Manfaat bagi bayi Kandungan gizi paling sempurna untuk pertumbuhan bayi dan perkembangan kecerdasanya, pertumbuhan sel otak secara optimal mudah dicerna, penyerapan lebih sempurna, mengandung zat anti diare, protein ASI adalah spesifik spesies sehingga jarang menyebabkan alergi untuk manusia, membantu pertumbuhan gigi, mengandung zat antibodi, mencegah infeksi, merangsang pertumbuhan sistem kekebalan tubuh, dan mempererat ikatan batin ibu dan bayi 2) Bagi Ibu Manfaat untuk ibu yakni mudah, murah, praktis tidak merepotkan dan selalu tersedia kapan saja, mempercepat involusi
  • 62.
    53 uterus/memulihkan dari prosespersalinan dan dapat mengurangi perdarahan karena otot-otot dirahim mengerut, mencegah kehamilan, meningkatkan rasa kasih sayang, mengurangi penyakit kanker. (Rukiyah et.all, 2011;h. 17-18). 3) Bagi semua orang a) ASI selalu bersih dan bebas hama yang dapat menyebabkan infeksi 2) Pemberian ASI tidak memerlukan persiapan khusus 3) ASI selalu tersedia dan gratis 4) Bila ibu memberikan ASI pada bayinya sewaktu-waktu ketika bayinya meminta (on demand) maka kecil kemungkinannya bagi ibu untuk hamil dalam 6 bulan pertama sesudah melahirkan. 5) Ibu menyusui yang siklus menstruasinya belum pulih kembali akan memperoleh perlindungan sepenuhnya dari kemungkinan hamil. (Sulistyawati, 2009;h. 18) 3) Asuhan 6 jam post partum a. Memberitahu ibu atau keluarga cara mencegah perdarahan masa nifas dengan cara melakukan observasi melekat pada kontraksi uterus selama 4 jam pertama post partum dengan melakukan palpasi uterus. (Sulistyawati, 2009;h. 134). b. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan berlanjut rujuk bila ada perdarahan berlanjut/perdarahan sekunder
  • 63.
    54 1) Pengertian perdarahansekunder Perdarahan masa nifas (PPH kasep atau Perdarahan Persalinan Sekunder atau perdarahan pasca persalinan lambat, atau Late PPH). Perdarahan pasca persalinan sekunder terjadi setelah 24 jam pertama. Perdarahan pasca persalinan sekunder sering diakibatkan oleh infeksi, penyusutan rahim yang tidak baik, atau sisa plasenta yang tertinggal (Sari dan Rimandini, 2014 ; h 226). c. Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga mengenai bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri dengan cara masase uterus secara perlahan, tangan diletakkan di atas fundus uteri dan massase dengan gerakan berputar sambil menekan fundus selama 15 detik, raba kembali uterus setiap 1-2 menit, jika lembek, ulangi massase. (Astuti et.all, 2015;h. 42) d. Menganjurkan ibu untuk memberikan ASI awal pada bayinya sebaiknya sesering mungkin tidak perlu dijadwal, bayi disusui sesuai dengan keinginannya (on demand). Bayi dapat menentukan sendiri kebutuhannya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung akan kosong dalam 2 jam. Menyusui yang dijadwalkan akan berakibat kurang baik karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi berikutnya. (Dewi dan Sunarsih, 2011;h. 16)
  • 64.
    55 e. Melakukan hubunganantara ibu dan bayi baru lahir atau bonding attachment didalam satu ruangan dengan melakukan sentuhan awal/kontak kulit antara ibu dan bayi pada menit-menit pertama sampai beberapa jam setelah kelahiran bayi. Pada proses ini, terjadi penggabungan berdasarkan cinta dan penerimaan yang tulus dari orang tua terhadap anaknya dan memberikan dukungan asuhan dalam perawatannya. (Sulistyawati, 2009;h. 59) f. Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi yaitu : 1) Keringkan bayi segera setelah bayi lahir untuk mencegah terjadinya evaporasi dengan menggunakan handuk atau kain. 2) Selimuti tubuh bayi dengan kain bersih dan hangat segera setelah mengeringkan tubuh bayi dan memotong tali pusat. Sebelumnya ganti handuk atau kain yang telah digunakan untuk mengeringkan tubuh bayi. 3) Selimuti bagian kepala karena kepala merupakan permukaan tubuh yang relatif luas dan bayi akan dengan cepat kehilangan panas jika tidak ditutupi. Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya. Sebaiknya pemberian ASI harus dalam waktu 1 jam pertama kelahiran. 4) Anjurkan ibu untuk memeluk dan menyusui bayinya. Sebaiknya pemberian ASI harus dalam waktu 1 jam pertama kelahiran. 5) Tempatkan bayi dilingkungan yang hangat, yang paling ideal adalah bersama dengan ibunya agar menjaga kehangatan tubuh bayi,
  • 65.
    56 mendorong ibu agarsegera menyusui bayinya, dan mencegah paparan infeksi pada bayi. 6) Jangan segera menimbang atau memandikan bayi baru lahir. Sebelum melakukan penimbangan, terlebih dahulu selimuti tubuh bayi dengan kain yang kering dan bersih. Berat badan bayi dapat dinilai dari selisih berat bayi dikurangi dengan kain selimut bayi yang digunakan. Bayi sebaiknya dimandikan sedikitnya 6 jam setelah lahir. (Rukiyah dan Yulianti , 2012; h. 11). 7) Memberitahu ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi dan cukup cairan karena makanan yang dibutuhkan oleh ibu nifas sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan dalam tubuh supaya tubuh dalam keadaan sehat. Tujuan pemberian makanan pada ibu nifas adalah untuk memulihkan tenaga ibu, memproduksi ASI yang bernilai gizi tinggi, mempercepat penyembuhan luka, dan mempertahankan kesehatan. Hidangan bergizi yang dibutuhkan ibu menyusui terdiri atas zat tenaga (Hidrat arang, lemak, protein nabati seperti kacang-kacangan, tahu, tempe, kedelai dan hewani seperti telur, daging, ikan dan sebagainya), zat pembangun (protein, vitamin, mineral, air), dan zat pengatur atau pelindung (vitamin, air, dan mineral). (Roito et.all, 2013;h. 83). Catatan: Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus tinggal dengan ibu dan bayi yang baru lahir selama 2 jam pertama
  • 66.
    57 setelah kelahiran atausampai ibu dan bayinya dalam keadaan stabil. (Dewi dan Sunarsih, 2011;h. 4-5). B. TINJAUAN TEORI ASUHAN KEBIDANAN 1. Manajemen Asuhan Kebidanan Manajemen asuhan kebidanan atau sering disebut manajemen kebidanan adalah suatu metode berfikir dan bertindak secara sistematis dan logis dalam memberi asuhan kebidanan, agar menguntungkan kedua belah pihak baik klien maupun pemberi asuhan. Manajemen kebidanan merupakan proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, temuan-temuan, ketrampilan, dalam rangkaian rangkaian/tahapan yang logis untuk pengambilan suatu keputusan yang berfokus pada klien. Manajemen kebidanan diadaptasi dari sebuah konsep yang dikembangkan oleh Halen Varney dalam buku verney’s midwiferi, edisi ketiga tahun 1997; menggambarkan proses manajemen asuhan kebidanan yang terdiri dari tujuh langkah yang berurutan secara sistematis dan siklik. (Soepardan, 2007; h. 96)
  • 67.
    58 2. Langkah DalamManajemen Kebidanan Menurut Halen Varney a. Pengkajian Padalangkah pertama ini, semua informasi yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien telah dikumpulkan. Untuk memperoleh data, dilakukan melalui anamnesa. Anamnesa adalah pengkajian dalam rangka mendapat data tentang pasien melalui pengajuan pertanyaan-pertanyaan. Anamnesadapat dilakukan melalui dua cara, yaitu sebagai berikut: 1) Auto anamnesa Merupakan anamnesa yang dilakukan kepada pasien secara langsung. Jadi, data yang diperoleh adalah data primer karena langsung dari sumbernya. 2) Allo anamnesa Merupakan anamnesa yang dilakukan pada keluarga pasien untuk memperoleh data tentang pasien. Ini dilakukan pada keadaan darurat ketika pasien tidak memungkinkan lagi untuk memberikan data yang akurat. (Sulistyawati, 2009; h. 111) a) Data subjektif (1) Biodata Informasi yang dicatat mencakup identitas, keluhan yang diperoleh dari hasil wawancara langsung kepada pasien/klien (anamnesa) atau dari keluarga dan tenaga kesehatan (allo anamnesa). (Wildan dan Hidayat, 2013; h. 34).
  • 68.
    59 Biodata yang mencakupidentitas pasien (a) Nama Nama jelas dan lengkap, bila perlu nama panggilan sehari-hari agar tidak keliru dalam memberikan penanganan. (b) Umur Dicatat dalam tahun untuk mengetahui adanya resiko seperti kurang dari 20 tahun, alat-alat reproduksi belum matang, mental dan psikisnya belum siap. Sedangkan umur lebih dari 35 tahun rentan sekali untuk terjadi perdarahan dan komplikasi dalam masa nifas. (c) Agama Untuk mengetahui keyakinan pasien tersebut untuk membimbing atau menyarankan pasien dalam berdoa. (d) Suku/bangsa Berpengaruh pada adat istiadat atau kebiasaan sehari- hari. (e) Pendidikan Berpengaruh dalam tindakan kebidanan dan untuk mengetahui sejauh mana tingkat intelektualnya, sehingga bidan dapat memberikan konseling sesuai dengan pendidikannya.
  • 69.
    60 (f) Pekerjaan Gunanya untukmengetahui dan mengukur tingkat social ekonominya, karena ini juga mempengaruhi dalam gizi pasien tersebut. (g) Alamat Ditanyakan untuk mempermudah kunjungan rumah bila diperlukan. (2) Keluhan utama Untuk mengetahui masalah yang dihadapi yang berkaitan dengan masa nifas, misalnya pasien merasa mulas, sakit pada jalan lahir karena adanya jahitan pada perineum. (3) Riwayat kesehatan (a) Riwayat kesehatan yang lalu Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya riwayat atau penyakit akut, kronis seperti Jantung, DM, Hipertensi, Asma yang dapat mempengaruhi pada masa nifas ini. (b) Riwayat kesehatan sekarang Data-data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya penyakit yang ada hubungannya pada masa nifas dan bayinya.
  • 70.
    61 (c) Riwayat kesehatankeluarga Data ini dipengaruhi untuk mengetahui kemungkinan adanya pengaruh penyakit keluarga terhadap gangguan kesehatan pasien dan bayinya, yaitu apabila ada penyakit keluarga yang menyertai. (4) Status perkawinan Yang perlu dikaji adalah berapa kali menikah, status menikah syah atau tidak, karena bila melahirkan tanpa status yang jelas akan berkaitan dengan psikologisnya sehingga akan mempengaruhi proses nifas. (5) Riwayat obstetrik (a)Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu Berapakali ibu hamil, apakah pernah abortus, jumlah anak, cara persalinan yang lalu, penolong persalinan, keadaan nifas yang lalu. Mendorong kesehatan reproduksi yang optimal Kehamilan sebaiknya dengan interval lebih dari 2 tahun Jangan hamil sebelum usia 20 tahun atau setelah 35 tahun Jumlah kehamilan, kelahiran 2 sampai 3 orang mempunyai optimalisasi kesehatan. Hindari melakukan abortus illegal. (Manuaba et. all,2010; h. 19)
  • 71.
    62 (b)Riwayat persalinan sekarang Tanggalpersalinan, jenis persalinan, jenis kelamin anak, keadaan bayi meliputi PB, BB, penolong persalinan. Hal ini perlu dikaji untuk mengetahui apakah proses persalinan mengalami kelainan atau tidak yang bisa berpengaruh pada masa nifas saat ini. (6) Riwayat KB Untuk mengetahui apakah pasien pernah ikut KB dengan kontrasepsi jenis apa, berapa lama, adakah keluhan selama menggunakan kontrasepsi serta rencana KB setelah masa nifas ini dan beralih ke kontrasepsi apa. (7) Kehidupan Sosial Budaya Untuk mengetahui pasien dan keluarga yang menganut adat istiadat yang menguntungkan atau merugikan pasien khususnya pada masa nifas misalnya pada kebiasaan pantang makan. (8) Data psikososial Untuk mengetahui respon ibu dan keluarga terhadap bayinya. Wanita banyak mengalami perubahan emosi/psikologis selama masa nifas sementara ia menyesuaikan diri menjadi seorang ibu.
  • 72.
    63 (9) Data pengetahuan Untukmengetahui seberapa jauh pengetahuan ibu tentang perawatan setelah melahirkan sehingga akan menguntungkan selama masa nifas. (10)Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari (a)Nutrisi dan cairan Menggambarkan tentang pola makan dan minum, frekuensi, banyaknya, jenis makanan, makanan pantangan. (b)Eliminasi Menggambarkan pola fungsi sekresi yaitu kebiasaan buang air besar meliputi frekuensi, jumlah, konsistensi dan bau serta kebiasaan buang air kecil meliputi frekuensi bau serta kebiasaan buang air kecil meliputi frekuensi, warna, jumlah. (c)Istirahat Menggambarkan pola istirahat dan tidur pasien, berapa jam pasien tidur kebiasaan sebelum tidur misalnya membaca, mendengar musik, kebiasaan mengkonsumsi obat tidur, kebiasaan tidur siang, penggunaan waktu luang, istirahat sangat penting bagi ibu masa nifas karena dengan istirahat yang cukup dapat mempercepat penyembuhan.
  • 73.
    64 (d)Personal hygiene Dikaji untukmengetahui apakah ibu selalu menjaga kebersihan tubuh terutama pada daerah genetalia, karena pada masa nifas mengeluarkan lokhea. (e)Aktivitas Menggambarkan pola aktivitas pasien sehari-hari. Pada pola ini perlu dikaji pengaruh aktivitas terhadap kesehatannya. Mobilisasi sedini mungkin dapat mempercepat proses pengambilan alat-alat reproduksi. Apakah ibu melakukan ambulasi, seberapa sering, apakah kesulitan, dengan bantuan atau sendiri, apakah ibu pusing ketika melakukan ambulasi. (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 131-137) b) Data objektif Pencatatan dilakukan dari hasil pemeriksaan fisik, pemeriksaan khusus kebidanan, data penunjang: hasil laboratorium seperti VDRL,HIV, pemeriksaan radiodiagnostik, ataupun USG yang dilakukan sesuai dengan beratnya masalah. Data yang telah terkumpul diolah, disesuaikan dengan kebutuhan pasien kemudian dilakukan pengolahan data, yaitu menggabungkan dan menghubungkan data satu dengan yang lainnya sehingga menunjukkan fakta. Tujuan dari pengolahan data adalah untuk
  • 74.
    65 menunjukkan fakta berdasarkankumpulan data. Data yang telah diolah dianalisis dan hasilnya didokumentasikan. (Wildan dan Hidayat, 2013; h. 34) Untuk melengkapi data dalam menegakkan diagnosa, bidan harus melakukan pengkajian data objektif melalui pemeriksaan inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi yang bidan lakukan secara berurutan. Lankah-langkah pemeriksaan sebagai berikut: a) Keadaan umum Untuk mengetahui data ini, bidan perlu dengan mengamati keadaan pasien secara keseluruhan. Hasil pengamatan akan bidan laporkan dengan criteria sebagai berikut: (1) Baik Pasien dimasukkan dalam criteria ini jika pasien memperlihatkan respon yang baik terhadap lingkungan dan orang lain, serta secara fisik pasien tidak mengalami ketergantungan dalam berjalan. (2) Lemah Pasien dimasukkan dalam criteria ini jika ia kurang atau tidak memberikan respon yang baik terhadap lingkungan dan orang lain, serta pasien sudah tidak mampu lagi untuk berjalan sendiri.
  • 75.
    66 b) Kesadaran Untuk mendapatkangambaran tentang kesadaran pasien, bidan dapat melakukan pengkajian derajat kesadaran pasien dari composmentis (kesadaran maksimal) sampai dengan coma (pasien tidak dalam keadaan sadar). (Sulistyawati, 2009; h. 121-122) c) Vital sign Ditujukan untuk mengetahui keadaan ibu berkaitan dengan kondisi yang dialaminya. (1)Tekanan darah Tekanan darah adalah tekanan yang dialami darah pada pembuluh arteri ketika darah dipompa oleh jantung ke seluruh anggota tubuh manusia. Tekanan darah normal manusia adalah sistolik 90-120 mmHg dan diastolic 60-80 mmHg. Pasca melahirkan pada kasus normal, tekanan darah bisaannya tidak berubah. Perubahan tekanan darah menjadi lebih rendah pasca melahirkan dapat diakibatkan oleh perdarahan. Sedangkan tekanan darah tinggi pada post partum merupakan tanda terjadinya pre eklamsia post partum. Namun demikian, hal tersebut sangat jarang terjadi. (Rukiyah et.all, 2011; h. 69)
  • 76.
    67 (2)Pernapasan Pernapasan normal yaitu20-30 x/menit.Pada umumnya respirasi lambat atau bahkan normal. Mengapa demikian, tidak lain karena ibu dalam keadaan pemulihan atau dalam kondisi istirahat. Bila ada respirasi cepat postpartum (>30 x/mnt) mungkin karena adanya ikatan dari tanda-tanda syok. (Walyani dan Purwoastuti , 2015; h. 87) (3)Nadi Denyut nadi normal pada orang dewasa adalah 60-80 kali permenit. Denyut nadi sehabis melahirkan biasanya akan lebih cepat. Setiap denyut nadi yang melebihi 100 kali per menit adalah abnormal dan hal ini menunjukkan adanya kemungkinan infeksi. (4)Suhu Dalam 1 hari (24 jam) post partum, suhu badan akan naik sedikit (37,50 -380 C) sebagai akibat kerja keras sewaktu melahirkan, kehilangan cairan, dan kelelahan. Apabila keadaan normal, suhu badan menjadi biasa.Biasanya, pada hari ke-3 suhu badan naik karena adanya pembentukan ASI. Payudara menjadi bengkak dan berwarna merah karena banyaknya ASI. Bila suhu tidak turun, kemungkinan adanya infeksi pada
  • 77.
    68 endometrium (mastitis, tractusgenetalis, atau sistem lain). (Sulistyawati, 2009; h. 80-81) d) Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mendapat data objektif. Data objektif adalah data yang diperoleh dengan melakukan serangkaian pemeriksaan pada klien. (Martalia, 2014; h. 116) (1)Muka Pada daerah muka/wajah dilihat kesimetrisan muka, apakah kulitnya normal, pucat, sianosis, atau ikhterus. Bagian muka keadaan normalnya adalah simetris antara kanan dan kiri. Ketidaksimetrisan muka menunjukkan adanya gangguan pada saraf ketujuh (nervus fasialis). (2)Mata Tujuan pengkajian mata adalah untuk mengetahui bentuk dan fungsi mata. (3)Hidung Hidung dikaji untuk mengetahui keadaan bentuk dan fungsi hidung. Dimulai dari bagian luar hidung. Bagian dalam, lalu sinus-sinus bila memungkinkan, selama pemeriksaan klien dalam posisi duduk (Tambunan dan Kasim, 2012; h. 66-67,79)
  • 78.
    69 (4)Mulut dan faring Pemeriksaanmulut dan faring harus dilakukan dengan pencahayaan yang baik sehingga dapat melihat semua bagian dalam mulut. Pengkajian mulut dan faring sebaiknya dilakukan dengan posisi klien duduk, pengkajian diawali dengan mengkaji keadaan bibir, gigi, gusi, lidah, selaput lender, pipi bagian dalam, palatum/langit-langit mulut, tonsil, kemudian faring. Namun bila secara inspeksi belum didapatkan data yang akurat, maka dilakukan pengkajian secara palpasi. Tujuan dilakukan palpasi adalah untuk mengetahui bentuk dan kelainan pada mulut yang dapat diketahui dengan palpasi. Palpasi mulut meliputi pipi, palatum dan lidah. (Tambunan dan Kasim, 2012; h. 81) (5)Telinga Telinga mempunyai fungsi sebagai alat pendengaran dan menjaga keseimbangan. Pengkajian telinga secara umum bertujuan untuk mengetahui keadaan telinga luar, saluran telinga, gendang telinga/membran timpani, dan pendengaran. Teknik pengkajian yang digunakan umumnya adalah inspeksi dan palpasi. Pemeriksaan pendengaran dilakukan untuk mengetahui fungsi telinga.
  • 79.
    70 (6)Leher Tujuan pengkajian leheradalah untuk mengetahui bentuk leher, serta organ-organ penting yang berkaitan. Pengkajian dimulai dengan inspeksi kemudian palpasi. Inspeksi dilakukan untuk melihat apakah ada kelainan kulit termasuk keadaan pucat, ikhterus, sianosis, dan ada pembengkakan. Pemeriksaan palpasi ditujukkan untuk melihat apakah ada massa yang teraba pada kelenjar limfe, kelenjar tiroid, dan trakea. (Tambunan dan Kasim, 2012; h. 73,83) (7)Payudara Pada payudara, terjadi proses loktasi. Dalam hal melakukan pengkajian fisik dengan perabaan apakah terdapat benjolan, pembesaran kelenjar, atau abses, serta bagaimana keadaan putting. (Bahiyatun, 2013; h. 103) (8)Abdomen (a)Uterus Pada pemeriksaan uterus sama halnya dengan pemeriksaan payudara dilakukan terlebih dahulu periksa pandang warna perut, pembesaran pada perut, kemudian lakukan pemeriksaan raba (palpasi) yakni: periksa ada tidaknya rasa nyeri saat diraba, periksa kontraksi uterus, kemudian raba tinggi fundus.
  • 80.
    71 (Rukiyah et.all, 2011;h. 99) (b)Nyeri Setelah Kelahiran/Uterus Setelah anda melahirkan, uterus anda akan memerlukan agar ia terus berkontraksi untuk mencegah perdarahan. Kontraksi adalah sama dengan kontraksi sewaktu persalinan hanya saja sekarang tujuannya berbeda. Sebagaimana anda ketahui, ketika uterus berkontraksi, anda akan merasa sakit mules. Inilah yang disebut nyeri setelah melahirkan. Hal ini akan berlangsung 2 hingga 3 hari setelah melahirkan. Selain daripada merasa nyeri akibat adanya kontraksi, anda juga akan melihat bahwa puncak uterus anda akan menjadi lebih keras seperti sebuah bola didalam perut anda. Pada saat uterus anda menjadi keras, hal tersebut berarti bahwa ia berkontraksi dengan baik untuk menghentikan perdarahan dan bahwa ia sedang dalam proses pengecilan dan menjadi sembuh. (Rukiyah et.all, 2011; h. 141-142) (c)Kandung kemih Kondisi kandung kemih sangat berpengaruh terhadap keadaan kontraksi uterus, sehingga pemeriksaan kandung kemih jangan diabaikan karena jika kontraksi terhambat oleh kandung keih yang penuh bisa berakibat
  • 81.
    72 keluar darah yangcukup banyak (perdarahan), pemeriksaan kandung kemih dilakukan bersamaan saat memeriksa pembasaran uterus, jika kandung kemih penuh anjurkan ibu untuk buang air kecil, jika ibu tidak bisa buang air kecil secara spontan dapat dikeluarkan dengan kateter sekali pakai. (Rukiyah et.all, 2011; h. 100) (9) Genetalia (a) Lokhea Warnanya masih merah, jumlahnya semakin berkurang dan tidak berbau. Warnanya akan berubah dan kembali normal seiring berjalannya waktu. Bila tidak terjadi perubahan dan lokhea tambah banyak, maka ibu dianjurkan untuk beristirahat atau segera menghubungi bidan. (b) Keadaan perineum Daerah perineum diperiksa kebersihannya, adanya pembengkakan, serta rasa nyeri. (c) Anus Tujuan pengkajian anus adalah untuk mendapatkan data mengenai kondisi anus dan rectum.
  • 82.
    73 (10)Ekstremitas Dilakukan pemeriksaan terhadapadanya vena varises, kemerahan pada betis, serta edema. (Astuti et.all, 2015; h. 46) b. Interpretasi data dasar Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosis atau masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Data dasar tersebut kemudian diinterpretasikan sehingga dapat dirumuskan masalah dan diagnosa yang spesifik. Baik rumusan diagnosis maupun rumusan masalah keduanyaa harus ditangani, meskipun masalah tidak bisa dikatakan sebagai diagnosis tetapi harus mendapatkan penanganan. Masalah sering berkaitan dengan hal-hal yang sedang dialami wanita yang diidentifikasi ileh bidan sesuai dengan hasil pengkajian. Masalah juga sering menyertai diagnosis. (Soepardan, 2007; h. 99) 1) Diagnosa kebidanan Diagnosa dapat ditegakkan yang berkaitan dengan para, abortus, anak hidup, umur ibu, dan keadaan nifas. Data dasar meliputi: a) Data subjektif Pernyataan ibu tentang jumlah persalinan, apakah pernah abortus atau tidak, keterangan ibu tentang umur, keterangan ibu tentang kelihannya.
  • 83.
    74 b) Data objektif Palpasitentang tinggi fundus uteri dan kontraksi, hasil pemeriksaan tentang pengeluaran pervaginam, hasil pemeriksaan tanda-tanda vital. (Ambarwati dan Wulandari. 2010; h. 141-142). 2) Masalah Masalah dirumuskan bila bidan menemukan kesenjangan yang terjadi pada respon ibu terhadap masa nifas. Masalah ini terjadi belum termasuk dalam rumusan diagnosis yang ada, tetapi masalah tersebut membutuhkan penanganan bidan, maka masalah dirumuskan setelah diagnosa. Permasalahan yang muncul merupakan pernyataan dari pasien, ditunjang dengan data dasar baik subjektif maupun objektif. (Walyani dan Purwoastuti , 2015; h. 187) 3) Kebutuhan Dalam bagian ini bidan menentukan kebutuhan pasien berdasarkan keadaan dan masalahnya. Masalah sering berhubungan dengan bagaimana wanita itu mengalami kenyataan terhadap diagnosisnya. (Sulistyawati dan Nugraheni, 2010; h. 229). c. Identifikasi diagnosis dan masalah potensial Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial yang mungkin akan terjadi. Pada langkah ini diidentifikasikan masalah atau diagnosa potensial berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa , hal ini membutuhkan antisipasi, pencegahan, bila memungkinkan menunggu
  • 84.
    75 mengamati dan bersiap-siapapabila hal tersebut benar-benar terjadi. Melakukan asuhan yang aman penting sekali dalam hal ini. d. Tindakan segera atau kolaborasi Pada pelaksanaannya, bidan kadang dihadapkan pada beberapa situasi yang darurat, yang menuntut bidan harus segera melakukan tindakan penyelamatan terhadap pasien. Kadang pula bidan dihadapkan pada situasi pasien yang memerlukan tindakan segera padahal sedang menunggu intruksi dokter, bahkan mungkin juga situasi pasien yang memerlukan konsultasi dengan tim kesehatan lain. (Sulistyawati, 2009; h. 132) e. Perencanaan Langkah-langkah ini ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya yang merupakan lanjutan dari masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi atau diantisipasi. Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa yang sudah dilihat dari kondisi pasien atau dari setiap masalah yang berkaitan dengan kerangka pedoman antisipasi bagi wanita tersebut yaitu apa yang akan terjadi berikutnya, penyuluhan, konseling dari rujukan untuk masalah-masalah sosial, ekonomi atau masalah psikososial. (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 142-143) Perencanaan asuhan yang diberikan pada Ny. M adalah: 6-8 jam post partum
  • 85.
    76 1) Cegah pedarahanmasa nifas karena atonia uteri 2) Deteksi dan rawat penyebab lain pedarahan, rujuk jika perdarahan berlanjut. 3) Berikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga mengenai bagaimana cara mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri 4) Pemberian ASI awal 5) Lakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir. 6) Jaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi 7) Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus tinggal dengan ibu dan bayi yang baru lahir selama 2 jam pertama setelah kelahiran atau sampai ibu dan bayinya dalam keadaan stabil. (Sulistyawati, 2009; h.6). f. Pelaksanaan Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan dari semua rencana sebelumnya, baik terhadap masalah pasien ataupun diagnosis yang ditegakkan. Pelaksanaan ini dapat dilakukan oleh bidan secara mandiri maupun berkolaborasi dengan tim kesehatan lainnya. (Wildan dan Hidayat, 2013; h.39). Pelaksanaan asuhan yang dilakukan pada Ny. D adalah: 6-8 jam post partum 1) Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
  • 86.
    77 2) Mendeteksi danmerawat penyebab lait perdarahan, rujuk jika perdarahan berlanjut. 3) Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga mengenai bagaimana cara mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri. 4) Pemberian ASI awal 5) Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir 6) Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi. 7) Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus tinggal dengan ibu dan bayi yang baru lahir selama 2 jam pertama setelah kelahiran atau sampai ibu dan bayinya dalam keadan stabil. g. Evaluasi Langkah ini merupakan langkah terakhir guna mengetahui apa yang telah dilakukan bidan. Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang diberikan, ulangi kembali proses manajemen dengan benar terhadap setiap aspek asuhan yang sudah dilaksanakan tapi belum efektif atau merencanakan kembali yang belum terlaksana. (Ambarwati dan Wulandari, 2010; h. 147) Evaluasi asuhan yang diberikan pada Ny. M adalah : 6-8 jam post partum 1) Perdarahan masa nifas sudah dicegah. 2) Deteksi penyebab lain perdarahan sudah dilakukan
  • 87.
    78 3) Konseling tentangcara mencegah perdarahan sudah dilakukan 4) Ibu bersedia memberikan ASI awal 5) Hubungan antara ibu dan bayi sudah dilakukan 6) Pencegahan hipotermi sudah dilakukan 7) Petugas sudah tinggal dengan ibu dan bayi selama 2 jam pertama. C. LANDASAN HUKUM KEWENANGAN BIDAN 1. Kompetensi bidan Berdasarkan Permenkes No. 1464/Menkes/PER/2010 tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan serta memperhatikan kompetisi inti bidan Indonesia yang mengacu kepada kompetisi inti yang telah disusun oleh ICM, Juni 2011, maka kompetensi bidan di Indonesia dapat diuraikan sebagai berikut. 1) Bidan mempunyai persaratan pengetahuan dan keterampilan dari ilmu- ilmu social, kesehatan masyarakat, dan etik yang membentuk desa dari asuhan yang bermutu tinggi sesuai dengan budaya, untuk wanita, bayi baru lahir, dan keluarganya. 2) Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, pendidikan kesehatan yang tanggap terhadap budaya, dan pelayanan menyeluruh di masyarakat dalam rangka untuk meningkatkan kehidupan keluarga yang sehat, perencanaan kehamilan, dan kesiapan menjadi orang tua.
  • 88.
    79 3) Bidan memberikanasuhan antenatal bermutu tinggi untuk mengoptimalkan kesehatan selama kehamilan yang meliputi deteksi dini, pengobatan, atau rujukan dari komplikasi tertentu. 4) Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, tanggap terhadap kebudayaan setempat selama persalinan, memimpin suatu persalinan yang bersih dan aman, serta menangani situasi kegawatdaruratan tertentu untuk mengoptimalkan kesehatan wanita dan bayi yang baru lahir. 5) Bidan memberikan asuhan pada ibu nifas dan menyusui yang bermutu tinggi terhadap budaya setempat. 6) Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, komprehensif pada bayi baru lahir sampai dengan satu bulan. 7) Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi, komprehensif pada bayi dan balita sehat (satu bulan sampai lima tahun). 8) Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi dan komprehensif pada keluarga, kelompok, dan masyarakat sesuai dengan budaya setempat. 9) Melaksanakan asuhan kebidanan pada wanita/ibu dengan gangguan sistem reproduksi. 2. Undang-undang wewenang bidan Dalam menjalankan praktiknya bidan berwenang dalam memberikan pelayanan yang meliputi pelayanan kebidanan, pelayanan keluarga
  • 89.
    80 berencana, dan pelayanankesehatan masyarakat sesuai dengan peraturan menteri kesehatan RI Nomor 1464/MENKES/PER/X/2010. a. Pelayanan kebidanan Berapa pelayanan kebidanan yang diberikan adalah sebagai berikut. 1) Pelayanan kebidanan pada ibu Pelayanan kebidanan yang diberikan kepada ibu umumnya pada masa pranikah, prahamil, persalinan, nifas, menyusui, serta masa interval. Jenis pelayanan yang diberikan antara lain sebagai berikut. a) Penyuluhan dan konseling b) Pemeriksaan fisik c) Pelayanan antenatal pada kehamilan normal. d) Pertolongan kehamilan abnormal yang mencakup ibu hamil dengan abortus iminens, hiperemesis gravidarum tingkat 1, preeklamsi ringan, dan anemia ringan. e) Pertolongan persalinan normal. f) Pertolongan persalinan abnormal yang mencakupletak sungsang, partus macet, kepala didasar panggul, ketuban pecah dini (KPD) tanpa infeksi, perdarahan postpartum, laserasi jalan lahir, distosia karena inersia uteri primer, serta posterm dan preterm. g) Pelayanan ibu nifas normal h) Pelayanan ibu nifas abnormal yang mencakup retensio plasenta, renjatan, dan infeksi ringan.
  • 90.
    81 i) Pelayanan danpengobatan pada kelainan ginekologi yang meliputi keputihan, perdarahan tidak teratur, dan penundaan haid. Pada saat memberikan pelayanan diatas, bidan berwenang dalam hal berikut. (a) Memberikan imunisasi (b) Memberikan suntik pada penyulit kehamilan, persalinan, dan nifas. (c) Mengeluarkan plasenta secara manual (d) Bimbingan senam hamil (e) Pengeluaran sisa jaringan konsepsi. (f) Episiotomi (g) Penjahitan luka episiotomi dan luka jalan lahir sampai tingkat dua. (h) Anatomi pada pembukaan serviks lebih dari 4 cm (i) Pemberian infus. (j) Pemberian suntik IM uterotonika, antibiotika, dan sadatif. b. Pelayanan kepada anak Pelayanan yang diberikan kepada anak terutama pada masa bayi baru lahir, bayi, anak balita, dan prasekolah. Pelayanan yang diberikan antara lain sebagai berikut. 1) Pemeriksaan bayi baru lahir. 2) Perawatan tali pusat 3) Perawatan bayi
  • 91.
    82 4) Resusitasi padabayi baru lahir. 5) Pemantauan tumbuh kembang anak. 6) Pemberian imunisasi 7) Pemberian penyuluhan. Dalam keadaan tidak terdapat dokter yang berwenang pada wilayah tersebut, bidan dapat memberikan pelayanan pengobatan pada penyakit ringan bagi ibu dan anak sesuai dengan kemampuannya. c. Pelayanan keluarga berencana Pada saat memberikan pelayanan keluarga berencana, bidan memiliki wewenang sebagi berikut. 1) Memberikan penyuluhan/konseling pemakaian kontrasepsi 2) Memberikan pelayanan alat kontrasepsi oral dan kondom Bidan yang melaksanakan program pemerintah berwenang untuk memberikan alat kontrasepsi suntikan, alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) dan alat kontrasepsi bawah kulit (AKBH). d. Pelayanan kesehatan masyarakat Bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan masyarakat berwenang untuk hal berikut. 1) Pembinaan peran serta masyarakat di bidang kesehatan ibu dan anak. 2) Memantau tumbuh kembang anak. 3) Melaksanakan pelayanan kebidanan komunitas. 4) Melaksanakan deteksi dini, melaksanakan pertolongan pertama, merujuk dan memberikan penyuluhan infeksi menular seksual
  • 92.
    83 (IMS), penyalahgunaan narkotikapsikotropika dan zat adiktif lainnya (napza), serta penyakit lainnya. (Aticeh et. all, 2014; h.70-73) 3. Standar pelayanan kebidanan yang berkaitan dengan kasus yang diambil 1) Standar 13 : Perawatan Bayi Baru Lahir Bidan memeriksa dan menilai bayi baru lahir untuk memastikan pernapasan spontan mencegah hipoksia sekunder, menemukan kelainan, dan melakukan tindakan atau merujuk sesuai dengan kebutuhan. Bidan juga harus mencegah atau menangani hipotermia. 2) Standar 14: Penanganan pada Dua Jam Pertama Setelah Persalinan Bidan melakukan pemantauan ibu dan bayi terhadap terjadinya komplikasi dalam dua jam setelah persalinan, serta melakukan tindakan yang diperlukan yang diperlukan. Disamping itu, bidan memberikan penjelasan tentang hal-hal yang mempercepat pulihnya kesehatan ibu, dan membantu ibu untuk memulai pemberian ASI. 3) Standar 15 : Pelayanan bagi Ibu dan Bayi pada Masa Nifas Bidan memberikan pelayanan selama masa nifas melalui kunjungn rumah pada hari ketiga, minggu kedua dan minggu keenam setelah persalinan, untuk membantu proses pemulihan ibu dan bayi melalui penanganan tali pusat yang benar, penemuan dini penanganan atau rujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada masa nifas, serta
  • 93.
    84 memberikan penjelasan tentangkesehatan secara umum, kebersihan perorangan, makanan bergizi, perawatan bayi barulahir, pemberian ASI, imunisasi dan KB. (Karwati et. all, 2011; h. 80)
  • 94.
    85 BAB III TINJAUAN KASUS ASUHANKEBIDAN IBU NIFAS PADA NY. M UMUR 30 TAHUN P4A0 6 JAM POST PARTUM DI BPS DESY ANDRIANI, S.Tr.Keb BANDAR LAMPUNG TAHUN 2016 Anamnesa Oleh : Komariah Tanggal : 07 Mei 2016 Pukul : 07.15 WIB A. Pengkajian Data Subjektif 1. Identitas a. Biodata Istri Suami Nama : Ny. M : Tn. S Umur : 30 tahun : 41 tahun Agama : Islam : Islam Suku/Bangsa : Lampung : Lampung Pendidikan : SD : SD Pekerjaan : Ibu rumah tangga : Buruh Alamat : Jl. Jend. Gatot Subroto, Gg. Irsad, No.56, Pecoh Raya, Teluk Betung Selatan 85
  • 95.
    86 b. Keluhan utama: Ibu mengatakan perutnya masih mulas c. Riwayat kesehatan Riwayat kesehatan sekarang Hipertensi : Tidak ada DM : Tidak ada Jantung : Tidak ada Asma : Tidak ada Ginjal : Tidak ada Hepatitis : Tidak ada TBC : Tidak ada Riwayat kesehatan dahulu Hipertensi : Tidak ada DM : Tidak ada Jantung : Tidak ada Asma : Tidak ada TBC : Tidak ada Riwayat kesehatan keluarga Hipertensi : Tidak ada DM : Tidak ada Jantung : Tidak ada Asma : Tidak ada TBC : Tidak ada
  • 96.
    87 d. Riwayat perkawinan Statuspernikahan : Syah Usia nikah pertama : 19 tahun Lamanya pernikahan: 11 tahun e. Riwayat Obstetri 1) Riwayat Haid Menarche : 14 tahun Siklus : 28 hari Lama : 7 hari Banyaknya : 3 x/hari ganti pembalut Sifat : Encer dengan sedikit menggumpal Disminorhea : Tidak ada HPHT : 14 Agustus 2015 2) Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu. N o Tanggal persalina n Tempat persalin an Umur kehamil an Jenis persalin an Penolo ng penyulit Keadaan Ket Nifas Anak 1 16-08- 2006 Tidak ada 39mg 2 hr Spontan Dukun Tidak ada Baik Baik 2 24-01- 2009 Tidak ada 39mg Spontan Bidan Tidak ada Baik Baik 3 31-01- 2012 Tidak ada 39 mg 1 hr Spontan Bidan Tidak ada Baik Baik 3) Riwayat persalinan sekarang Jenis persalinan : Spontan dengan retensio plasenta Jumlah perarahan : 300 cc
  • 97.
    88 Tanggal : 07mei 2016 Jam : 01.15 WIB Jenis kelamin : Perempun Panjang Badan : 48 cm Berat Badan : 3000 gram Keadaan Bayi : Baik 4) Riwayat KB : Suntik 3 bulan f. Pola Pemenuhan Kebutuhan Sehari-hari Pola nutrisi : Ibu mengatakan sudah minum segelas teh hangat dan makan dengan satu porsi dengan menu satu centong nasi, semangkuk sayur bayam, sepotong tempe, tahu dan ayam goreng. Pola eliminasi : Ibu sudah BAK pada 4 jam post partum yaitu pukul 05.00, dengan lancar dengan warna agak jernih dan ibu belum BAB Pola aktivitas : Ibu sudah berjalan kekamar mandi pada pukul 05.00 WIB untuk BAK tanpa bantuan. Pola istirahat : Ibu beristirahat dengan berbaring ditempat tidurnya Pola personal hygiene : Ibu mengatakan sudah mandi dan sudah
  • 98.
    89 mengganti pembalut duakali selama 6 jam post partum Pola seksual : Ibu belum melakukan hubungan seksual g. Psikososial Tanggapan ibu terhadap dirinya : Baik Tingkat pengetahuan ibu terhadap kondisinya : Cukup tahu Tanggapan keluarga terhadap kelahiran bayi : Senang Pengambilan keputusan : Suami Lingkungan yang berpengaruh : Tidak ada DATA OBJEKTIF 1. Pemeriksaan umum Keadaan Umum : Baik Kesadaran : Composmentis Keadaan Emosional : Stabil Tanda Vital TD : 110/80 mmHg Pernapasan : 20x/menit Nadi : 80x/menit Suhu : 37, 50 C 2. Pemeriksaan fisik Kepala a. Wajah
  • 99.
    90 Pucat : Tidakada Edema : Tidak ada b. Mata Simetris : Simetris Kelopak mata : Ada Konjungtiva : Merah muda Sklera : Putih c. Hidung Simetris : Simetris Polip : Tidak ada Kebersihan : Bersih d. Mulut Bibir : Lembab Lidah : Bersih Gusi : Tidak ada perdarahan Gigi : Tidak ada caries e. Telinga Simetris : Simetris Gangguan pendengaran : Tidak ada f. Leher Tumor : Tidak ada Pembesaran kelenjar tiroid : Tidak ada Pembesaran vena jugularis : Tidak ada
  • 100.
    91 g. Ketiak, pembesarankelenjaran limfe : Tidak ada h. Dada Retraksi : Tidak ada: Bunyi mengi dan ronchi : Tidak ada i. Payudara Simetris : Simetris Pembesaran : Ada Putting susu : Menonjol Areola mamae : Hiperpigmentasi Benjolan : Tidak ada Pengeluaran : Colostrum j. Punggung dan pinggang Simetris : Simetris Nyeri ketuk : Tidak ada k. Abdomen Benjolan : Tidak ada Konsistensi : Keras Kandung kemih : Kosong Uterus TFU : 2 jari dibawah pusat Kontraksi : Baik l. Anogenital Labia mayora/minora : Tidak ada pembengkakan
  • 101.
    92 Kelenjar bartholini :Tidak ada pembesaran Pengeluaran vagina Jenis lokhea : Lokhea rubra Warna : Merah Bau : Anyir Perineum :Tidak ada laserasi Anus : Tidak ada haemoroid m.Ekstremitas bawah Oedema : Tidak ada Kemerahan : Tidak ada Varices : Tidak ada 3. Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan Laboratorium a. Darah HB : Tidak dilakukan Golongan Darah : Tidak dilakukan b. Urine Protein : Tidak dilakukan Glukosa : Tidak dilakukan 4. Data Penunjang Riwayat persalinan sekarang Ibu
  • 102.
    93 Tempat melahirkan :BPS Desy Andriani, S.Tr.Keb Penolong : Bidan Jenis persalinan : Spontan Lama persalinan Catatan waktu Kala I : 7 jam 5 menit Kala II : 20 menit Kala III : 40 menit Kala III : 2 jam 10 jam 5 menit Ketuban pecah pukul : 23.50 WIB Plasenta Lahir secara : Manual Ukuran : 19 cm Berat : ± 500 gram Panjang tali pusat : ± 50 cm Perineum : Tidak ada laserasi Bayi Lahir tanggal/pukul : 07 Mei 2016/00.35 WIB Nilai apgar : 9/10/10 Jenis kelamin : Perempuan Cacat bawaan : Tidak ada Masa gestasi : 38 minggu 1 hari
  • 103.
    94 TABEL 3.2 MATRIK Tangga l Jam Pengkajian InterpretasaiData Dx potensial Tindakan segera Intervensi Implementasi Evaluasi 07 Mei 2016/ Pukul: 07.15 WIB Ds: 1. Ibu mengatakan masih lemas. 2. Ibu mengatakan perutnya mulas. 3. Ibu mengatakan melahirkan anak keempatnya pada tanggal 07 Mei 2016 pulul:00.35 WIB Do: Hasil pemeriksaan: a. Keadaan Dx. Ny. M umur 30 tahun P4A0 6 jam pertama postpartum. Ds: 1. Ibu mengatakan ini adalah kelahiran yang keempat dan belum pernah keguguran. 2. Ibu melahirkan tanggal 07-05- 2016 Pukul: 00.35 WIB, 3. Ibu mengatakan perutnya terasa Tidak ada Tidak ada 1. Beritahu kondisi ibu saat ini. 2. Jelaskan tentang keluhan yang dialami 1. Memberitahu kondisi ibu saat ini yaitu: a. Hasil Pemeriksaan TD: 110/80 mmHg N: 80 x/menit, RR : 20 x/menit S: 37,50 C b. Puting susu menonjol, dan sudah ada pengeluaran yaitu Kolostrum, c. TFU 2 jari dibawah pusat, konsistensi keras, dan kontraksi uterus baik. d. Pengeluaran lokhea rubra, dan tidak terdapat luka jahitan. 2. Memberikan penjelasan kepada ibu bahwa rasa mulas yang dialami ibu saat ini adalah normal, karena adanya 1. Ibu sudah mengerti tentang kondisinya saat ini. 2. Ibu sudah mengerti tentang keluhan yang dialami saat ini. 94
  • 104.
    95 umum: baik, b. Kesadaran: Composmenti s,TD:110/80 mmHg, N:80 x/menit, P: 20 x/menit, T : 37,5 0 C. c. Puting susu menonjol sudah ada pengeluaran yaitu kolostrum d. TFU 2 jari dibawah pusat, konsistensi keras, kontraksi uterus baik e. Pengeluaran lokhea rubra mulas. Do: 1. Keadaan Umum: baik, kesadaran Composmentis,T D:110/80 mmHg, N: 80x/menit, RR: 20 x/menit, T: 37,50 C. 2. Puting susu menonjol, pengeluaran sudah ada yaitu kolostrum 3. TFU 2 jari dibawah pusat, konsistensi keras, Kontraksi uterus baik. 4. Pengeluaran lokhea rubra, tidak terdapat ibu. 3. deteksi dan merawat penyebab lain perdarahan 4. Ajarkan pada ibu dan salah satu keluarga untuk kontraksi dan retraksi dari otot-otot uteri yang merupakan proses dari involusi uteri atau pengembalian uterus kebentuk semula. Dan ibu masih merasa lemas karena proses persalinan ibu berlangsung agak lama karena persalinan dengan manual plasenta. 3. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan dengan melakukan pemeriksaan untuk melihat adanya perdarahan dengan cara melakukan pemeriksaan kontraksi dan tinggi fundus uteri serta melihat perdarahan keluar dari vagina berwarna merah segar. Lakukan rujukan jika petugas/bidan menemukan adanya perdarahan berlanjut atau pengeluaran yang abnormal. 4. Mengajarkan ibu dan salah satu keluarga untuk mencegah perdarahan karena atonia uteri dengan cara memasase perut ibu, secara perlahan, 3. Pemeriksaan kontraksi sudah dilakukan kontraksi uterus baik, TFU 2 jari dibawah pusat serta tidak ada perdarahan abnormal. 4. Ibu dan keluarga bersedia melakukan masase uterus dan kontraksi uterus baik.
  • 105.
    96 dan tidak terdapat laserasi laserasi. Masalah: tidak ada Kebutuhan: AsuhanMasa Nifas 6 Jam Postpartum mencegah perdarahan karena atonia uteri. 5. Anjurkan ibu untuk memberikan ASI awal. 6. Lakukan hubungan ibu dan bayi. tangan diletakkan diatas fundus uteri dengan gerakan berputar sambil menekan fundus selama 15 detik, raba kembali uterus setiap 1-2 menit, jika lembek ulangi masase. 5. Menganjurkan ibu untuk memberikan ASI awal pada bayinya sebaiknya sesering mungkin tidak perlu dijadwal, bayi disusui sesuai dengan keinginannya (on demand). Bayi dapat menentukan sendiri kebutuhannya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung akan kosong dalam 2 jam. Menyusui yang dijadwalkan akan berakibat kurang baik karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi ASI berikutnya. 6. Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir atau bounding attachment didalam ruangan dengan 5. Ibu bersedia menyusui bayinya sesering mungkin 6. Bonding attachment sudah dilakukan antara ibu dan bayi dalam
  • 106.
    97 7. Jaga bayitetap hangat dengan cara melakukan pencegahan hipotermi pada bayi. melakukan sentuhan awal/kontak kulit antara ibu dan bayi pada menit-menit pertama sampai beberapa jam setelah kelahiran bayi. Pada proses ini terjadi, penggabungan berdasarkan cinta dan penerimaan yang tulus dari orang tua terhadap anaknya dan memberikan dukungan asuhan dalam perawatanya. 7. menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi yaitu dengan mempertahankan lingkungan bayi tetap hangat untuk menjaga supaya tidak terjadi penurunan suhu bayi, jaga kebersihan kulit bayi, hindari kulit lembab dengan mengganti baju bayi minimal 2 kali sehari atau sewaktu- waktu ketika basah oleh keringat atau terkena muntahan, memilih baju yang tidak kaku dan menyerap keringat untuk bayi. Menjaga kehangatan bayi. empat kemungkinan yang dapat menyebabkan bayi baru lahir kehilangan panas tubuhnya seperti satu ruangan yang sama. 7. Bayi sudah dilakukan pencegahan hipotermi dan bayi dalam keadaan baik dan hangat.
  • 107.
    98 8. Anjurkan ibu untuktetap memenuhi kebutuhan nutrisi. menimbang bayi tanpa alas timbangan, membiarkan bayi baru lahir diruangan yang terpasang kipas angin, AC, membiarkan bayi baru lahir dekat dengan tembok. 8. Menganjurkan ibu untuk tetap memenuhi kebutuhan nutrisinya seperti mengkonsumsi makanan yang bergizi dan cukup cairan karena makanan yang dibutuhkan oleh ibu nifas sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan dalam tubuh supaya tubuh dalam keadaan sehat. Tujuan pemberian makanan pada ibu nifas adalah untuk memulihkan tenaga ibu, memproduksi ASI yang bernilai gizi tinggi, mempercepat penyembuhan luka, dan mempertahankan kesehatan. Hidangan bergizi yang dibutuhkan ibu menyusui terdiri atas zat tenaga (Hidrat arang, lemak, protein nabati seperti kacang-kacangan, tahu, tempe, kedelai dan hewani seperti telur, 8. Ibu mengerti untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya.
  • 108.
    99 9. Beritahu ibu untuk memenuhi kebutuhan istirahatnya. 10.Ajarkan pada ibu tentang personal hygiene yang baik. daging, ikan dan sebagainya), zat pembangun (protein, vitamin, mineral, air), dan zat pengatur atau pelindung (vitamin, air, dan mineral). 9. Memberitahu ibu untuk memenuhi kebutuhan istirahat yaitu bagi ibu menyusui minimal 8 jam sehari, yang dapat dipenuhi melalui istirahat malam dan siang. 10. Mengajarkan pada ibu tentang personal hygiene yang baik yaitu: anjurkan ibu untuk menjaga kebersihan seluruh tubuh, ajarkan pada ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air anjurkan ibu untuk membersihkan daerah sekitar vulva terlebih dahulu, dari depan kebelakang anus, sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut setidaknya dua kali sehari, sarankan ibu mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelamin. 9. Ibu mengerti dan bersedia untuk memenuhi kebutuhan istirahatnya. 10. Ibu mengerti tentang personal hygiene yang baik
  • 109.
    100 Tanggal Pengkajian Interpretasidata Diagnosa masalah potensial Antisipasi tindakan segera Intervensi Implementasi Evaluasi 07 Mei 2016/ Pkl: 09.15 WIB Ds: 1. Ibu mengatakan melahirkan anak keempatnya pada tanggal 07 Mei 2016 pukul:00.35 WIB. 2. Ibu mengatakan perutnya masih terasa mulas. Do: Hasil pemeriksaan: Dx: Ny. M Umur 30 Tahun P4A0 8 Jam Post Partum. Ds: 1. Ibu mengatakan ini adalah kelahiran yang keempat dan belum pernah keguguran. 2. Ibu mengatakan melahirkan Tanggal 07 Mei 2016 Pukul: 00.35 WIB. 3. Ibu mengatakan perutnya masih terasa mulas. Tidak ada Tidak ada 1. Beritahu kondisi ibu saat ini. 2. Evaluasi tentang keluhan 1.Memberitahu kondisi ibu saat ini yaitu: a. Keadaan umum: baik, TD: 110/80 mmHg, Nadi: 80 x/menit, RR: 20 x/menit, Suhu: 37,50 C, b. Puting susu menonjol, pengeluaran sudah ada yaitu kolostrum, c. TFU 2 jari dibawah pusat konsistensi keras, kontraksi uterus baik. d. Pengeluaran lokhea rubra, dan tidak terdapat laserasi 2. Mengevaluasi apakah rasa mulas masih dirasakan oleh ibu. 1. Ibu mengerti kondisinya saat ini. 2. Ibu mengerti rasa mulas yang dialaminya adalah hal yang normal, hal ini dikarenakan
  • 110.
    101 a. Keadaan umum: baik, Kesadaran: Composmen tis, TD:110/80 x/menit RR:20 x/menit, Suhu: 37,50 C. b. Puting susu menonjol, sudah ada pengeluaran yaitu kolostrum. c. TFU 2 jari dibawah pusat, konsistensi keras kontraksi baik. Ds: 1. Keadaan umum: baik, Kesadaran: Composmentis, TD: 110/80 mmHg, N: 80 x/menit, RR:20x/menit T: 37,50 C 2. Puting susu menonjol, dan pengeluaran sudah ada yaitu kolostrum. 3. TFU 2 jari dibawah pusat, konsistensi keras, Kontraksi uterus baik 4. Pengeluaran lokhea rubra, dan tidak yang dialami ibu 3. Evaluasi dan deteksi serta merawat penyebab perdarahan dan rujuk bila perdarahan berlanjut. 4. Evaluasi tentang pencegahan perdarahan yang diajarkan pada ibu dan keluarga. 3. Mengevaluasi dan mendeteksi serta merawat penyebab lain perdarahan, dan merujuk bila perdarahan berlanjut 4. Mengevaluasi pencegahan perdarahan yang telah diajarkan dengan melakukan masase pada uterus ibu. adanya kontraksi dan retraksi dari otot-otot uteri yang merupakan proses dari involusi uteri. Dan rasa lemas ibu dikarenakan proses persalinan yang cukup lama. 3. Perdarahan sudah diperiksa dan hasilnya tidak ada perdarahan yang abnormal 4. Ibu dan keluarga telah memasase perut ibu dan kontraksi baik, tidak terjadi perdarahan.
  • 111.
    102 d. Pengeluaran lokhea rubra, dan tidak terdapat laserasi. terdapat laserasi. Masalah:tidak ada Kebutuhan: Asuhan Nifas 6 Jam Postpartum. 5. Evaluasi pada ibu tentang pemberian ASI awal. 6. Pastikan dan evaluasi mengenai hubungan antara ibu dan bayi. 5. Mengevaluasi ibu tentang pemberian ASI awal. 6. Memastikan dan mengevaluasi mengenai hubungan antara ibu dan bayi atau bounding attachment didalam satu ruangan dengan melakukan sentuhan awal/ kontak kulit antara ibu dan bayi pada menit-menit pertama sampai beberapa jam setelah kelahiran bayi. Pada proses ini, terjadi penggabungan berdasarkan cinta dan penerimaan yang tulus dari orang tua 5. Ibu telah menyusui bayinya 2 kali selama 6 jam dan bayi telah mendapatkan cairan yang pertama kali keluar yaitu kolostrum yang mengandung antibodi sehingga mampu melindungi bayi dari infeksi sampai 6 bulan. 6. Ibu dan bayi sudah berada dalam satu ruangan.
  • 112.
    103 7. Evaluasi pencegahan hipotermi pada bayi. 8.Evaluasi ibu untuk tetap memenuhi kebutuhan nutrisinya. 9. Evaluasi apakah ibu mengerti tentang terhadap anaknya dan memberikan dukungan asuhan dalam perawatannya. 7. Mengevaluasi pencegahan hipotermi pada bayi. 8. Mengevaluasi ibu untuk tetap memenuhi kebutuhan nutrisi. 9. Mengevaluasi apakah ibu mengerti kebutuhan istirahat. 7. Bayi dalam keadaan baik dan telah dibedong dengan menggunakan pakaian yang kering. 8. Ibu sudah mengerti tentang kebutuhan nutrisi dan ibu sudah makan-makanan yang telah dianjurkan seperti Makan 1 kali, 1 porsi dengan menu bervariasi seperti 1 centong nasi, 1 potong daging, 1 mangkuk kecil sayur bayam, dan 1 buah apel. Minum air putih 5-6 gelas/hari 9. Ibu mengerti kebutuhan istirahatnya dan sudah tidur saat bayinya tidur. Pada 8 jam post partum.
  • 113.
    104 kebutuhan istirahat ibu menyusui 10. Evaluasi apakahibu mengerti tentang personal hygiene yang baik. 10. Mengevaluasi apakah ibu mengerti tentang personal hygiene yang baik. 10.Ibu telah mengerti mampu menerapkan cara personal hygiene yang baik yaitu ibu membersihkan daerah kelamin dengan sabun, dan air dan ibu juga membersihkan vulva terlebih dahulu, dari depan kebelakang lalu keanus dan ibu telah mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelamin.
  • 114.
    105 BAB IV PEMBAHASAN Setelah penulismelakukan ‘‘Asuhan Kebidanan Ibu Nifas Pada Ny. M Umur 30 Tahun P4A06 Jam Post Partum di BPM Desy Andriani,S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016’’ di dapatkan hasil sebagai berikut: A. Pengkajian Pada pengkajian yang dilakukan, untuk mengumpulkan data dasar tentang keadaan pasien. Pada kasus ini penulis melakukan pengkajian pada Ny. M usia 30 tahun P4A0 dengan nifas normal dan didalamnya terdapat hasil sebagai berikut: 1. Data subjektif a. Nama 1) Tinjauan teori Nama jelas dan lengkap, bila perlu nama panggilan sehari-hari agar tidak keliru dalam memberikan penanganan. 2) Tinjauan kasus Setelah dilakukan pengkajian, ibu bernama Ny. M 3) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus diatas tidak ditemukan kesenjangan, karena identitas pasien sudah jelas. 105
  • 115.
    106 b. Umur 1) Tinjauanteori Dicatat dalam tahun untuk mengetahui adanya resiko seperti kurang dari 20 tahun, alat-alat reproduksi belum matang, mental dan psikisnya belum siap. Sedangkan umur lebih dari 35 tahun rentan sekali untuk terjadi perdarahan dan komplikasi dalam masa nifas. 2) Tinjauan kasus Setelah dilakukan pengkajian, Ny. M saat ini berusia 30 tahun. 3) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjaun kasus diatas tidak ditemukan kesenjangan, karena umur Ny. M saat ini 30 tahun sudah dianggap siap atau matang baik organ reproduksi maupun psikis ibu. c. Agama 1) Tinjaun teori Untuk mengetahui keyakinan pasien tersebut untuk membimbing atau menyarankan pasien dalam berdoa 2) Tinjauan kasus Setelah dikaji agama Ny. M yaitu islam 3) Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus diatas tidak ditemukan kesenjangan, karena penulis melihat Ny. M menyebut asma Alllah dan berdoa pada proses melahirkan.
  • 116.
    107 d. Suku/bangsa 1) Tinjauanteori Berpengaruh pada adat istirahat atau kebiasaan sehari-hari. 2) Tinjauan kasus Suku ibu Lampung dan ibu berkebangsaan Indonesia. 3) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus diatas tidak menganut kepercayaan yang berhubungan dengan adat istiadat dalam suatu suku di dalam keluarga tersebut. e. Pendidikan 1) Tinjauan teori Berpengaruh dalam tindakan kebidanan dan untuk mengetahui sejauh mana tingkat intelektualnya, sehingga bidan dapat memberikan konseling sesuai dengan pendidikannya. Untuk variabel pendidikan, hasil pengukuran:SD,SMP,SMA, dst, atau: rendah (tidak sekolah dan SD), menengah (SMP dan SMA), dan tinggi (di atas SMA). (Notoatmodjo, 2010; h. 112) 2) Tinjauan kasus Dalam kasus ini pendidikan terakhir Ny. M adalah SD yang dikatagorikan dalam pendidikan rendah. 3) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan karena Ny. M memiliki pendidikan terakhir SD yaitu
  • 117.
    108 pendidikan rendah. Dimanaketika petugas kesehatan memberi penyuhan atau konseling, Ny. M cukup sulit untuk mengerti dan memahami apa yang diberikan oleh petugas kesehatan. f. Pekerjaan 1) Tinjauan teori Gunakan untuk mengetahui dan mengukur tingkat sosial ekonominya, karena ini juga mempengaruhi dalam gizi pasien tersebut. 2) Tinjauan kasus Ny. M bekerja sebagai ibu rumah tangga 3) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus diatas tidak ditemukan kesenjangan, karena meskipun Ny. M hanya sebagai ibu rumah tangga dan suami sebagai buruh tetapi nutrisi dan kebutuhan sehari- hari terpenuhi. g. Alamat 1) Tinjauan teori Ditanyakan untuk mempermudah kunjungan rumah bila diperlukan. 2) Tinjauan kasus Ny. M beralamatkan di Jl. Jend. Gatot Subroto, Gg Irsad, No.56, Pecoh Raya, Teluk Betung Selatan.
  • 118.
    109 3) Pembahasan Berdasarkan tinjauanteori dan tinjauan kasus tidak ditemukan kesenjangan karena Setelah dilakukan pengkajian Ny. M beralamatkan Jl. Gatot Subroto, Gg. Irsad, No. 56, Pecoh Raya, Teluk Betung Selatan. Menurut Ambarwati alamat dikaji untuk mempermudah kunjungan rumah bila diperlukan. h. Keluhan utama 1) Tinjauan teori Untuk mengetahui masalah yang dihadapi yang berkaitan dengan masa nifas, misalnya pasien merasa mulas, sakit pada jalan lahir karena adanya jahitan pada perineum. 2) Tinjauan kasus Ny. M mengeluh terasa mulas pada perutnya. 3) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus diatas tidak ditemukan kesenjangan, KarenaNy. M mengalami suatu hal yang fisiologi yaitu mulas pada perutnya disebabkan adanya kontraksi pada uterus untuk mencegah perdarahan.
  • 119.
    110 i. Riwayat kesehatan 1)Riwayat kesehatan yang lalu a) Tinjauan teori Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya riwayat atau penyakit akut, kronis seperti : jantung, DM, Hipertensi, Asma yang dapat mempenaruhi pada masa nifas ini. b) Tinjauan kasus Ibu mengatakan sebelumnya tidak pernah menderita penyakit seperti menular maupun penyakit keturunan. c) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus diatas tidak ditemukan kesenjangan karena Ny. M sebelumnya tidak memiliki riwayat penyakit apapun yang dapat mempengaruhi pada masa nifas ini. 2) Riwayat kesehatan sekarang a) Tinjaua teori Data-data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya penyakit yang ada hubungannya pada masa nifas dan bayinya. b) Tinjauan kasus Ibu mengatakan saat ini tidak sedang menderita penyakit apapun baik penyakit keturunan atau penyakit menular.
  • 120.
    111 c) Pembahasan Dalam halini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus karena Ny. M saat ini tidak sedang menderita penyakit. 3) Riwayat kesehatan keluarga a) Tinjauan teori Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya pengaruh penyakit keluarga terhadap gangguan kesehatan pasien dan bayinya, yaitu apabila ada penyakit keluarga yang menyertai b) Tinjauan kasus Ibu mengatakan keluarganya tidak ada yang sedang/pernah menderita penyakit seperti penyakit menular maupun penyakit keturunan. c) Pembahasan Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara tinjauan teori dan kasus karena didalam keluarga Ny. M tidak ada yang sedang/pernah menderita penyakit sehingga tidak ada pengaruh terhadap kesehatan Ny. M dan bayinya. j. Riwayat perkawinan 1) Tinjaun teori Yang perlu dikaji adalah berapa kali menikah, status menikah syah atau tidak, karena bila melahirkan tanpa status yang jelas akan berkaitan dengan psikologisnya sehingga akan mempengaruhi proses nifas
  • 121.
    112 2) Tinjaun kasus Setelahdilakukan pengkajian Ny. M baru pertama kali menikah dan status pernikahannya syah. 3) Pembahasan Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus karena status pernikahan Ny. M syah. k. Riwayat obstetrik 1) Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu a) Tinjauan teori Berapa kali ibu hamil, apakah pernah abortus, jumlah anak, cara persalinan yang lalu, penolong persalinan, keadaan nifas yang lalu. b) Tinjauan kasus Setelah dilakukan pengkajian Ny. M sudah pernah melahirkan 3kali tidak pernah abortus, penolong persalinan bidan, dan keadaan nifas yang lalu baik. c) Pembahasan Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus karena riwayat kehamilan, kelahiran dan nifas yang lalu tidak mengalami kelainan atau komplikasi. 2) Riwayat persalinan sekarang a) Tinjauan teori Mendorong kesehatan reproduksi yang optimal
  • 122.
    113 (1) Kehamilan sebaiknyadengan interval lebih dari 2 tahun (2) Jangan hamil sebelum usia 20 tahun atau setelah 35 tahun (3) Jumlah kehamilan, kelahiran 2 sampai 3 orang mempunyai optimalisasi kesehatan. (4) Hindari melakukan abortus illegal. (Manuaba et.all,2010; h. 19) Tanggal persalinan, jenis persalinan, jenis kelamin anak, keadaan bayi meliputi panjang badan, berat badan, penolong persalinan. Hal ini perlu dikaji untuk mengetahui apakah proses persalinan mengalami kelainan atau tidak yang bisa berpengaruh pada masa nifas saat ini. b) Tinjauan kasus Riwayat persalinan sekarang,Ny. M melahirkan anak yang ke 4 pada tanggal 07 Mei 2016. Jenis persalinan spontan dengan penyulit kala III yaitu retensio plasenta, jenis kelamin anak perempuan dengan berat badan 3000 gram, panjang badan 48 cm, dan ditolong oleh bidan. c) Pembahasan Dalam hal ini ditemukan kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus karena jumlah kehamilan dan kelahiran pada Ny. M sudah 4 kali dimana menurut buku manuaba menjelaskan bahwa optimalisasi kehamilan dan kelahiran yaitu 2 sampai 3
  • 123.
    114 orang selain ituibu mengalami penyulit persalinan yaitu retensio plasenta. l. Riwayat KB 1) Tinjauan teori Untuk mengetahui apakah pasien pernah ikut KB dengan kontrasepsi jenis apa, berapa lama, adakah keluhan selama menggunakan kontrasepsi serta rencana KB setelah masa nifas ini dan beralih ke kontrasepsi apa. 2) Tinjauan kasus Ny. M mengatakan sebelum kehamilan ini menggunakan KB suntik 3 bulan dan tidak pernah memiliki keluhan apapun. 3) Pembahasan Dalam hal ini antara tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak ditemukan kesenjangan karena sebelum hamil Ny. M menggunakan KB suntik 3 bulan dan tidak pernah memiliki keluhan apapun. m. Kehidupan sosial budaya 1) Tinjauan teori Untuk mengetahui pasien dan keluarga yang menganut adat istiadat yang akan menguntungkan atau merugikan pasien khususnya pada masa nifas misalnya pada kebiasaan pantangan makan. 2) Tinjauan kasus Setelah dilakukan pengkajian keluarga Ny. M tidak menganut adat istiadat yang akan menguntungkan atau merugikan Ny. M.
  • 124.
    115 3) Pembahasan Tidak terjadikesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus karena keluarga Ny. M tidak menganut adat istiadat yang akan berpengaruh pada masa nifas. n. Data psikososial 1) Tinjauan teori Untuk mengetahui respon ibu dan keluarga terhadap bayinya. Wanita mengalami banyak perubahan emosi/psikologis selama masa nifas sementara ia menyesuaikan diri menjadi seorang ibu. Cukup sering ibu menunjukkan depresi ringan beberapa hari setelah kelahiran. Depresi tersebut sering disebut sebagai post partum blues. Post partum blues sebagian besar merupakan perwujudan fenomena psikologis yang dialami oleh wanita yang terpisah dari keluarga dan bayinya. Hal ini sering terjadi sering diakibatkan oleh sejumlah faktor. 2) Tinjauan kasus Setelah dilakukan pengkajian ibu mengatakan sangat senang dengan kelahiran bayinya, dan ibu mulai merawat bayinya dengan senang hati. Status emosional ibu stabil, dan respon keluarga terhadap bayinya baik. 3) Pembahasan Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara tinjaun teori dan tinjauan kasus karena status emosional ibu stabil, dapat menerima
  • 125.
    116 bayinya serta merawatnyadengan penuh kasih sayang, dan respon keluarga juga baik terhadap bayinya. o. Data pengetahuan 1) Tinjauan teori Untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan ibu tentang perawatan setelah melahirkan sehingga akan menguntungkan selama masa nifas. 2) Tinjauan kasus Setelah dilakukan pengkajian dan diberikan penjelasan ibu mengerti tentang perawatan setelah melahirkan. 3) Pembahasan Dalam hal ini tidak terjadi kesenjangan antara teori dan kasus karena Ny. M telah melakukan perawatan masa nifas sesuai dengan teori yang telah diajarkan. p. Pola kebutuhan sehari-hari 1) Nutrisi a) Tinjauan teori Mengambarkan tentang pola makan dan minum. Frekuensi banyaknya, jenis makanan, makanan pantangan. b) Tinjauan kasus Ibu mengatakan sudah minum segelas teh hangat dan makan dengan satu porsi dengan menu: satu centong nasi, semangkuk
  • 126.
    117 sayur bayam, sepotongtempe dan tahu, sepotong ayam, 1 kapsul Vit.A dan 1 tablet Fe yang diberikan. c) Pembahasan Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus karena Ny. M telah makan dengan porsi yang cukup dan teratur serta mengkonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral, vit. A, dan pil zat besi yang berguna untuk proses produksi ASI. 2) Pola eliminasi a) Tinjauan teori Menggambarkan pola fungsi sekresi yaitu kebiasaan buang air besar meliputi frekuensi, jumlah, konsistensi dan bau serta kebiasaan buang air kecil meliputi frekuensi, warna, jumlah. Miksi disebut normal bila dapat BAK spontan tiap 3-4 jam.Ibu diusahakan mampu buang air kecil sendiri, bila tidak, maka dilakukan tindakan berikut ini. (1) Dirangsang dengan mengalirkan air keran di dekat klien. (2) Mengompres air hangat di atas simpisis. (3) Saat site bath (berendam air hangat) klien disuruh BAK. Bila tidak berhasil dengan cara diatas, maka dilakukan kateterisasi. Hal ini dapat membuat klien merasa tidak nyaman dan risiko infeks isaluran kemih tinggi. Oleh sebab itu, kateterisasi tidak dilakukan sebelum lewat enam jam postpartum.
  • 127.
    118 BAB (buang airbesar) defekasi (buang air besar) harus dalam 3 hari postpartum. Bila ada obstipasi dan timbul komprostase hingga skibala (feses yang mengeras) tertimbun di rectum, mungkin akan terjadi fibris. Bila terjadi hal demikian dapat dilakukan klisma atau diberi laksan per os (melalui mulut). Pengeluaran cairan lebih banyak pada waktu persalinan sehingga dapat mempengaruhi terjadinya konstipasi. b) Tinjauan kasus Ibu mengatakan selama pengkajian ibu sudah BAK satu kali yaitu 4 jam setelah persalinan yaitu pukul 05.00 WIB, lancar dengan warna agak jernih dan ibu belum BAB. c) Pembahasan Dari pembahasan diatas tidak ditemukan kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjan kasus, karena ibu mengatakan sudah BAK pada 4 jam post partum dan ibu dalam keadaan fisiologi dimana ibu dalam keadaan 3-4 jam post partum berdasarkan teori normal ibu nifas mengalami defekasi pada hari ke 3 setelah persalinan. 3) Pola istirahat a) Tinjauan teori Menggambarkan pola istirahat dan tidur pasien, berapa jam pasien tidur, kebiasaan sebelum tidur misalnya membaca mendengarkan musik, kebiasaan mengkonsumsi obat tidur, kebiasaan tidur siang,
  • 128.
    119 penggunaan waktu luang.Istirahat sangat penting bagi ibu masa nifas karena dengan istirahat yang cukup dapat mempercepat penyembuhan. b) Tinjauan kasus Saat dilakukan pengkajian Ny. M ibu beristirahat dengan berbaring ditempat tidurnya, dan Ny. M mengatakan belum tidur sehabis melahirkan. c) Pembahasan Dari pembahasan tersebut tidak ada kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus karena berdasarkan pengkajian ibu beristirahat dengan berbaring ditempat tidurnya. 4) Personal hygiene a) Tinjaun teori Dikaji untuk mengetahui apakah ibu selalu menjaga kebersihan tubuh terutama pada daerah genetalia, karena pada masa nifas masih mengeluarkan lochea. b) Tinjauan kasus Ibu mengatakan selama pengkajian belum mandi, namun sudah mengganti pembalut satu kali. Tidak terdapat tanda-tanda perdarahan dan infeksi. c) Pembahasan Dari pembahasan diatas tidak ditemukan kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus, tidak terdapat tanda-tanda
  • 129.
    120 perdarahan dan infeksipada ibu karena ibu telah menjaga kebersihan pada daerah genetalia dengan mengganti pembalut. 5) Aktifitas a) Tinjauan teori Menggambarkan pola aktivitas pasien sehari-hari. Pada pola ini perlu dikaji pengaruh aktifitas terhadap kesehatannya. Mobilisasi sedini mungkin dapat mempercepat proses pengembalian alat-alat reproduksi. Apakah ibu melakukan ambulasi, seberapa sering, apakah kesulitan, dengan bantuan atau sendiri, apakah ibu pusing ketika melakukan ambulasi. (Wulandari dan Ambarwati, 2010; h. 131- 137) b) Tinjauan kasus Setelah dilakukan pengkajian Ny. M sudah mampu berjalan kekamar mandi pada 4 jam post partum untuk BAK tanpa bantuan. c) Pembahasan Dalam hal ini tidak terjadi kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjaun kasus, karena ibu sudah melakukan ambulasi dengan baik. 2. Data objektif Untuk melengkapi data dalam menegakkan diagnosa, bidan harus melakukan pengkajian data objektif melalui pemeriksaan inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi yang bidan lakukan secara berurutan.
  • 130.
    121 Langkah-langkah pemeriksaan sebagaiberikut: a. Keadaan umum 1) Tinjauan teori Untuk mengetahui data ini kita cukup dengan mengamati keadaan pasien secara keseluruhan. Hasil pengamatan kita laporkan dengan criteria sebagai berikut: a) Baik Jika pasien memperlihatkan respon yang baik terhadap lingkungan dan orang lain, serta secara fisik pasien tidak mengalami ketergantungan dalam berjalan. b) Lemah Pasien dimasukkan dalam kritera ini jika ia kurang atau tidak member respon yang baik terhadap lingkungan dan orang lain, dan pasien sudah tidak mampu lagi untuk berjalan sendiri. 2) Tunjauan kasus Keadaan umum: baik 3) Pembahasan Dari kasus diatas tidak ada kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus karena keadaan umum Ny. M baik, respon Ny. M terhadap lingkungan dan orang lain secara fisik dalam keadaan baik.
  • 131.
    122 b. Kesadaran 1) Tinjauanteori Untuk mendapatkan gambaran tentang kesadaran pasien, kita dapat melakukan pengkajian tingkat kesadaran mulai dari keadaan composmentis (kesadaran maksiml) sampai dengan coma (pasien tidak dalam keadaan sadar). (Sulistyawati, 2009; h. 121-122) 2) Tinjauan kasus Kesadaran : composmentis 3) Pembahasan Dari pembahasan diatas tidak ada kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus, karena saat dilakukan pengkajian Ny. M dalam keadaan sadar maksimal. c. Tanda-tanda vital 1) Tekanan darah a) Tinjauan teori Tekanan darah adalah tekanan yang dialami darah pada pembuluh arteri ketika darah dipompa oleh jantung ke seluruh anggota tubuh manusia. Tekanan darah normal manusia adalah sistolik 90- 120 mmHg dan sitolik 60-80 mmHg. Pasca melahirkan pada kasus normal, tekanan darah bisaanya tidak berubah. Perubahan tekanan darah menjadi lebih rendah pasca melahirkan dapat diakibatkan oleh perdarahan. Sedangkan tekanan darah tinggi
  • 132.
    123 pada post partummerupakan tanda terjadinya pre eklamsia post partum. Namun demikian, hal tersebut sangat jarang terjadi. (Rukiyah et. all, 2011; h. 69) b) Tinjauan kasus Tekanan darah: 110/80 mmHg c) Pembahasan Berdasarkan data diatas, tidak ditemukan kesenjangan antara teori dan kasus karena tekanan darah pada Ny. M dalam batas normal. 2) Pernapasan a) Tinjauan teori Pernapasan normal yaitu 20-30 x/menit. Pada umumnya respirasi lambat atau normal. Mengapa demikian tidak lain karena ibu dalam keadaan pemulihan atau dalam kondisi istirahat. Bila ada respirasi cepat postpartum (>30 x/menit) mungkin karena adanya ikatan dari tanda-tanda syok. (Walyani dan Purwoastuti,2015; h. 87) b) Tinjauan kasus Pernapasan : 20 x/menit c) Pembahasan Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus karena pernapasan ibu dalam batas normal.
  • 133.
    124 3) Nadi a) Tinjauanteori Denyut nadi normal pada orang dewasa adalan 60-80 kali permenit. Denyut nadi sehabis melahirkan biasanya akan lebih cepat. Setiap denyut nadi yang melebihi 100 kali permenit adalah abnormal dan hal ini menunjukkan adanya kemungkinan infeksi. (Sulistyawati, 2009; h. 81) b) Tinjauan kasus Nadi :80 x/menit c) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak ditemukan kesenjangan karena nadi Ny. M dalam batas normal. 4) Suhu badan a) Tinjauan teori Dalam 1 hari (24 jam) post partum, suhu badan akan naik sedikit (37,50 C-380 C) sebagai akibat kerja keras sewaktu melahirkan, kehilangan cairan, dan kelelahan. Apabila keadaan normal, suhu badan menjadi biasa. Biasanya, pada hari ke-3 suhu badan naik lagi karena adanya pembentukan ASI. Payudara menjadi bengkak dan berwarna merah karena banyaknya ASI. Bila suhu tidak turun, kemungkinan adanya infeksi pada endometrium (mastitis, tractus genetalis, atau sistem lain).
  • 134.
    125 b) Tinjauan kasus SuhuNy.M : 37,50 C c) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan karna perubahan yang terjadi merupakan hal yang fisiologi yang terjadi pada masa nifas. d. Pemeriksaan fisik 1) Muka a) Tinjauan teori Pada daerah muka/wajah dilihat kesimetrisan muka, apakah kulitnya normal, pucat, sianosis, atau ikhterus. Bagian muka keadaan normalnya adalah simetris antara kanan dan kiri. Ketidaksimetrisan muka menunjukkan adanya gangguan pada saraf ketujuh (nervus fasialis). b) Tinjauan kasus Hasil pemeriksaan muka Ny. M simetris, tidak pucat, dan tidak ada oedema atau kelainan apapun. c) Pembahasan Dalam hal ini tidak ditemukan kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus karena dari hasil pemeriksan tidak ditemukan kelainan yang dapat membahayakan keadaan ibu.
  • 135.
    126 2) Mata a) Tinjauanteori Tujuan pengkajian mata adalah untuk mengetahui bentuk dan fungsi mata. b) Tinjauan kasus Hasil pemeriksaan mata pada Ny. M yaitu simetris antara kanan dan kiri, kelopak matanya ada, konjungtivanya merah muda dan sclera putih. c) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan karena tidak ada kelainan pada mata Ny. M. 3) Hidung a) Tinjauan teori Hidung dikaji untuk mengetahui keadaan bentuk dan fungsi hidung. Dimulai dari bagian luar hidung. Bagian dalam, lalu sinis- sinus bila memungkinkan, selama pemeriksaan klien dalam posisi duduk. b) Tinjauan kasus Hasil pemeriksaan hidung pada Ny. M keadaan dan bentuknya normal. c) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan dimana hidung Ny. M dalam keadaan normal.
  • 136.
    127 4) Mulut a) Tinjauanteori Pemeriksaan mulut dan faring harus dilakukan dengan pencahayaan yang baik sehingga dapat melihat semua bagian dalam mulut. Pengkajian mulut dan faring sebaiknya dilakukan dengan posisi klien duduk. Pengkajian diawali dengan mengkaji keadaan bibir, gigi, gusi, lidah, selaput lender, pipi bagian dalam, palatum/ langit-langit mulut, tonsil, kemudian faring. Namun bila secara inspeksi belum didapatkan data yang akurat, maka dilakukan pengkajian secara palpasi. Tujuan dilakukan palpasi adalah untuk mengetahui bentuk dan kelainan pada mulut yang dapat diketahui dengan palpasi. Palpasi mulut meliputi pipi, palatum,dan lidah. b) Tinjauan kasus Dari hasil pemeriksaan mulut Ny. M yaitu keadaan bibir lembab, lidahnya bersih, tidak ada perdarahan pada gusi dan tidak ada caries pada gigi. c) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terjadi kesenjangan dimana keadaan mulut pada Ny. M dalam batas normal.
  • 137.
    128 5) Telinga a) Tinjauanteori Telinga mempunyai fungsi sebagai alat pendengaran dan menjaga keseimbangan. Pengkajian telinga secara umum bertujuan untuk mengetahui keadaan telinga luar, saluran telinga, gendang telinga/membran timpani, dan pendengaran. Teknik pengkajian yang digunakan umumnya adalah inspeksi dan palpasi.Pemeriksaan pendengaran dilakukan untuk mengetahui fungsi telinga. b) Tinjauan kasus Dari hasil pemeriksaan telinga pada Ny. M dalam keadaan normal dan tidak ada gangguan pendengaran. c) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan dimana keadaan telinga Ny. M dalam keadaan normal. 6) Leher a) Tinjauan teori Tujuan pengkajian leher adalah untuk mengetahui bentuk leher, serta organ-organ penting yang berkaitan. Pengkajian dimulai dengan inspeksi kemudian palpasi. Inspeksi dilakukan untuk melihat apakah ada kelainan kulit termasuk keadaan pucat. Ikhterus, sianosis, dan ada pembengkakan. Pemeriksaan palpasi
  • 138.
    129 ditunjukkan untuk melihatapakah ada massa yang teraba pada kelenjar limfe, kelenjar tiroid, dan trakea. (Tambunan dan Kasim, 2012; h. 66, 67, 79, 81, 83) b) Tinjaun kasus Dari hasil pemeriksaan leher Ny. M tidak terdapat pembesaran kelenjar limfe dan tiroid c) Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan dimana leher Ny. M tidak terdapat pembesaran kelenjar limfe dan tiroid. d) Payudara a. Tinjauan teori Pada payudara, terjadi proses laktasi. Dalam hal melakukan pengkajian fisik dengan perabaan apakah terdapat benjolan, pembesaran kelenjar, atau abses, serta bagaimana keadaan putting. (Bahiyatun, 2013; h. 103) b. Tinjauan kasus Dari hasil pemeriksaan payudara Ny. M tidak terdapat benjolan dan keadaan putting Ny. M menonjol, pengeluaran asi yaitu colostrum. c. Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan dimana keadaan payudara Ny. M tidak terdapat
  • 139.
    130 benjolan dan keadaanputting Ny. M menonjol dan ASI yang keluar berupa kolostrum. e) Abdomen a. Tinjauan teori 1) Uterus Pada pemeriksaan uterus sama halnya dengan pemeriksaan payudara dilakukan terlebih dahulu periksa pandang warna perut, pembesaran pada perut, kemudian lakukan pemeriksaan raba (palpasi) yakni: periksa ada tidaknya rasa nyeri saat diraba, periksa kontraksi uterus kemudian raba tinggi fundus. (Rukiyah et. all, 2011; h. 99) 2) Nyeri setelah kelahiran/Uterus Setelah anda melahirkan, uterus anda akan memerlukan agar terus berkontraksi untuk mencegah perdarahan. Kontraksi adalah sama dengan kontraksi sewaktu persalinan hanya saja sekarang tujuannya berbeda. Sebagaimana anda ketahui, ketika uterus berkontraksi, anda akan merasa sakit mules. Inilah yang disebut nyeri setelah melahirkan. Hal ini akan berlangsung 2 hingga 3 hari setelah melahirkan. Selain daripada merasa nyeri akibat adanya kontraksi, anda juga akan melihat bahwa puncak uterus anda akan menjadi lebih keras seperti sebuah bola didalam perut anda. Pada saat uterus anda menjadi keras, hal tersebut berarti bahwa ia
  • 140.
    131 berkontraksi dengan baikuntuk menghentikan perdarahan dan bahwa ia sedang dalam proses pengecilan dan menjadi sembuh. (Rukiyah et. all, 2011; h. 141,142,) 3) Kandung kemih Kondisi kandung kemih sangat berpengaruh terhadap keadaan kontraksi uterus, sehingga pemeriksaan kandung kemih jangan diabaikan karena jika kontraksi terhambat oleh kandung kemih yang penuh bisa berakibat keluar darah yang cukup banyak (perdarahan), pemeriksaan kandung kemih dilakukan bersamaan saat memeriksa pembesaran uterus, jika kandung kemih penuh anjurkan ibu untuk buang air kecil, jika ibu tidak bisa buang air kecil secaraspontan dapat dikeluarkan dengan kateter sekali pakai (Rukiyah et. all, 2011; h. 100) b. Tinjauan kasus Setelah dilakukan pemeriksaan didapatkan kontraksi uterus baik, tinggi fundus uteri 2 jari dibawah pusat dan kandung kemih kosong. c. Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan karena TFU Ny. M teraba 2 jari dibawah pusat kontraksi uterus baik dan kandung kemih kosong pada 6 jam setelah persalinan.
  • 141.
    132 f) Anogenital a. Tinjauanteori 1) Lokhea Warnanya masih merah, jumlahnya semakin berkurang dan tidak berbau. Warnanya akan berubah dan kembali normal seiring berjalannya waktu. Bila tidak terjadi perubahan dan lokhea tambah banyak, maka ibu dianjurkan untuk beristirahat atau segera menghubungi bidan. 2) Keadaan perineum Daerah perineum diperiksa kebersihannya, adanya pembengkakan, serta rasa nyeri. 3) Anus Tujuan pengkajian anus adalah untuk mendapat data mengenai kondisi anus dan rectum. b. Tinjauan kasus Dari hasil pemeriksaan Ny. M lokhea yang keluar yaitu lokhea rubra yang berwarna merah, pada daerah perineum tidak ada luka bekas jahitan, dan anus tidak terdapat haemoroid. c. Pembahasan Berdasarkan tinjaun teori dan tinjauan kasus tidak terjadi kesenjangan karena lokhea yang keluar sesuai dengan teori dan keadaan perineum dan anus tidak terdapat kelainan.
  • 142.
    133 g) Ekstremitas bawah a.Tinjauan teori Dilakukan pemeriksaan terhadap adanya vena varises, kemerahan pada betis, serta oedema. (Astuti et. all, 2015; h. 46) b. Tinjauan kasus Dari hasil pemeriksaan ekstremitas bawah pada Ny. M tidak terdapat kelainan. c. Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan dimana keadaan ekstremitas bawah Ny. M tidak terdapat kelainan. B. INTERPRETASI DATA Pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosis atau masalah berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Data dasar tersebut kemudian diinterpretasikan sehingga data dirumuskan masalah dan diagnosa yang spesifik. Baik rumusan diagnosis masalah maupun rumusan masalah keduanya harus ditangani, meskipun masalah tidak bisa dikatakan sebagai diagnosis tetapi harus mendapatkan penanganan. (Soepardan, 2007; Diagnosa dapat ditegakkan yang berkaitan dengan para, abortus, anak hidup, umur ibu, dan keadaan nifas.(Wulandari dan Ambarwati, 2010; h. 141).
  • 143.
    134 1. Diagnosa kebidanan a.Tinjauan teori Diagnosa dapat ditegakkan yng berkaitan dengan para, bortus, anak hidup, umur ibu, dan keadaan nifas. Data dasar meliputi: 1) Data subjektif Pernyataan ibu tentang jumlah persalinan, apakah pernah abortus atau tidak, keterangan ibu tentang umur, keterangan ibu tentang keluhannya. 2) Data objektif Palpasi tentang tinggi fundus uteri dan kontraksi, hasil pemeriksaan tentang pengeluaran pervaginam, hasil pemeriksaan tanda-tanda vital. b. Tinjauan kasus 2 jam post partum Diagnosa : Ny. M umur 30 tahun P4A0 6 jam post partum DS :Ibu mengatakan ini adalah kelahiran yang keempat dan belum pernah keguguran. Ibu mengatakan melahirkan tanggal 07-05-2016 pukul: 00.35 WIB Ibu mengatakan perutnya terasa mulas. DO :Keadaan Umum: baik, kesadaran: Composmentis,TD: 110/80 mmHg, N: 80 x/menit, RR: 20 x/menit, T: 37,5 0 C, puting susu menonjol, pengeluaran sudah ada yaitu kolostrum, TFU 2 jari
  • 144.
    135 dibawah pusat, konsistensikeras, kontraksi uterus baik, pengeluaran lokhea rubra, tidak terdapat laserasi. 6 jam postpartum Diagnosa: Ny. M umur 30 tahun P4A0 8 jam post partum. DS : Ibu mengatakan melahirkan anak yang keempat dan belum pernah keguguran. Ibu mengatakan melahirkan tanggal 07-05-2016, pukul: 00.35 wib, Ibu mengatakan perutnya masih terasa mulas. DO : Keadaan Umum: baik, Kesadaran: Composmentis, TD:110/80 MmHg, N: 80 x/menit, T: 37,50 C, pernapasan: 20 x/menit, puting susu menonjol, pengeluaran sudah ada yaitu kolostrum, TFU 2 jari dibawah pusat, konsistensi keras dan kontraksi baik, pengeluaran lokhea rubra, dan tidak terdapat laserasi. 3) Pembahasan Tidak ada kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus karena diagnosa sesuai dengan hasil yang didapatkan dan dalam batas normal. 2. Masalah a. Tinjauan teori Masalah dirumuskan bila bidan menemukan kesenjangan yang terjadi pada respon ibu terhadap masa nifas. Masalah ini terjadi belum
  • 145.
    136 termasuk dalam rumusandiagnosis yang ada, tetapi masalah tersebut membutuhkan penanganan bidan, maka masalah dirumuskan setelah diagnosa.Permasalahan yang muncul merupakan pernyataan dari pasien, ditunjang dengan data dasar baik subjektif maupun objektif. (Walyani dan Purwoastuti, 2015; h. 187). b. Tinjauan kasus Selama 6 jam post partum Ny. M mengeluh perutnya masih sedikit mulas. c. Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus karena terjadi kontraksi uterus yang meningkat setelah bayi lahir sehingga ibu merasa mulas pada perutnya. 3. Kebutuhan a. Tinjauan teori Dalam bagian ini menentukan kebutuhan pasien berdasarkan keadaan dan masalah. Masalah sering berhubungan dengan bagaimana wanita itu mengalami kenyataan terhadap diagnosisnya (Sulistyawati dan Nugraheny, 2010; h. 229) b. Tinjauan kasus Dalam kasus ini kebutuhan Ny. M adalah asuhan masa nifas 6 jam post partum.
  • 146.
    137 c. Pembahasan Berdasarkan tinjauanteori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan karena sesuai dengan kebutuhan pasien. C. IDENTIFIKASI DIAGNOSA DAN MASALAH POTENSIAL 1. Tinjauan teori Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial yang mungkin akan terjadi. pada langkah ini diidentifikasi masalah atau diagnosa potensial berdasarkan rangkaian masalah dan diognosa, hal ini membutuhkan antisipasi, pencegahan, bila memungkinkan menunggu mengamati dan bersiap-siap apabila hal tersebut benar- benar terjadi, melakukan asuhan yang aman penting sekali dalam hal ini. 2. Tinjauan kasus Berdasarkan masalah atau diagnosa, tidak ada data yang menunjang perlunya antisipasi masalah potensial. 3. Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak ditemukan kesenjangan karena keluhan pasien merupakan hal yang normal dan tidak memerlukan diagnosa potensial.
  • 147.
    138 D. TINDAKAN SEGERA 1.Tinjauan teori Padapelaksanaannya, bidan kadang dihadapkan pada beberapa situasi yang darurat, yang menuntut bidan harus segera melakukan tindakan penyelamatan terhadap pasien. Kadang pula bidan dihadapkan pada situasi pasien yang memerlukan tindakan segera padahal sedang menunggu instruksi dokter, bahkan mungkin juga situasi pasien yang memerlukan konsultasi dengan tim kesehatan lain. (Sulistyawati, 2009; h. 132) 2. Tinjauan kasus Dalam kasus ini tidak ada data yang menunjang perlunya tindakan segera dan kolaborasi. 3. Pembahasan Berdasarkan tinjauan teori dan tinjauan kasus tidak terdapat kesenjangan karena keluhan yang dialami Ny. M merupakan hal yang normal dan tidak memerlukan tindakan segera. E. PERENCANAAN 1. Tinjauan teori Langkah-langkah ini ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya yang merupakan lanjutan dari masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi atau di antisipasi. Rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa yang sudah dilihat dari kondisi pasien atau dari setiap masalah yang berkaitan dengan kerangka pedoman antisipasi bagi wanita tersebut yaitu
  • 148.
    139 apa yang akanterjadi berikutnya. Penyuluhan, konseling dari rujukan untuk masalah-masalah sosial, ekonomi atau masalah psikososial. (Wulandari dan Ambarwati, 2010; h. 141-143) Asuhan yang diberikan pada 6-8 jam postpartum adalah: a. Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri. b. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, rujuk jika perdarahan berlanjut. c. Berikan konseling pada ibu atau salah satu aggota keluarga mengenai bagaimana cara mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri. d. Pemberian ASI awal. e. Lakukan hubungaan antara ibu dan bayi baru lahir. f. Jaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi. g. Jika petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus tinggal denga ibu dan bayiyang baru lahir selama 2 jam pertama setelah kelahiran atau sampai ibu dan bayinya dalam keadaan stabil. (Sulistyawati, 2009; h. 6) 2. Tinjauan kasus 6 jam postpartum a. Beritahu kondisi ibu saat ini. b. Jelaskan tentang keluhan yang dialami ibu. c. Deteksi dan merawat penyebab lain perdarahan. d. Ajarkan pada ibu atau salah satu keluarga untuk mencegah perdarahan karena atonia uteri. e. Anjurkan ibu untuk memberikan ASI awal.
  • 149.
    140 f. Lakukan hubunganibu dan bayi g. Jaga bayi tetap hangat dengan cara melakukan pencegahan hipotermi pada bayi h. Anjurkan ibu untuk tetap memenuhi kebutuhan nutrisi i. Beritahu ibu untuk memenuhi kebutuhan istirahatnya. j. Ajarkan pada ibu tentang personal hygiene yang baik. 8 jam postpartum a. Beritahu kondisi ibu saat ini b. Evaluasi tentang keluhan yang dialami ibu. c. Evaluasi dan deteksi serta merawat penyebab perdarahan dan rujuk bila perdarahan berlanjut. d. Evaluasi tentang pencegahan perdarahan yang diajarkan pada ibu dan keluarga. e. Evaluasi pada ibu tentang pemberian ASI awal. f. Pastikan dan evaluasi mengenai hubungan antara ibu dan bayi. g. Evaluasi pencegahan hipotermi pada bayi. h. Evaluasi ibu untuk tetap memenuhi kebutuhan nutrisinya. i. Evaluasi apakah ibu mengerti tentang kebutuhan istirahat ibu. j. Evaluasi apakah ibu mengerti tentang personal hygiene yang baik. 3. Pembahasan Dalam hal ini tidak ada kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus karena asuhan yang telah di berikan sesuai dengan tinjauan teori pada 6 jam postpartum.
  • 150.
    141 F. PELAKSANAAN 1. Tinjauanteori Tahap ini merupakan tahap pelaksanaan dari semua rencana sebelumnya, baik terhadap masalah pasien ataupun diagnosis yang ditegakkan. Pelaksanaan ini dapat dilakukan oleh bidan secara mandiri maupun berkolaborasi dengan tim kesehatan lainnya. (Wildan dan Hidayat, 2013; h. 39) 2. Tinjaun kasus 6 jam postpartum a. Memberitahu kondisi ibu saat ini yaitu: TD:110/80 mmHg, N: 80 x/menit, T: 37,50 C, Pernapasan : 20 x/menit, puting susu menonjol, dan sudah ada pengeluaran yaitu kolostrum,TFU: 2 jari dibawah pusat, konsistensi keras, dan kontraksi uterus baik, pengeluaran lokhea rubra, dan tidak terdapat laserasi. b. Memberikan penjelasan kepada ibu bahwa rasa mulas yang dialami ibu saat ini adalah normal, karena adanya kontraksi dan retraksi dari otot- otot uteri yang merupakan proses dari involusi uteri atau pengembalian uterus kebentuk semula. Dan ibu masih merasa lemas karena proses persalinan ibu berlangsung agak lama karena persalinan dengan manual plasenta. c. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan dengan melakukan pemeriksaan untuk melihat adanya perdarahan dengan cara melakukan pemeriksaan kontraksi dan tinggi fundus uteri serta melihat perdarahan
  • 151.
    142 keluar dari vaginaberwarna merah segar. Lakukan rujukan jika petugas/bidan menemukan adanya perdarahan berlanjut atau pengeluaran yang abnormal d. Mengajarkan ibu dan salah satu keluarga untuk mencegah perdarahan karena atonia uteri dengan cara memasase perut ibu, secara perlahan, tangan diletakkan diatas fundus uteri dengan gerakan berputar sambil menekan fundus selama 15 detik, raba kembali uterus setiap 1-2 menit, jika lembek ulangi masase. e. Menganjurkan ibu untuk memberikan ASI awal pada bayinya sebaiknya sesering mungkin tidak perlu dijadwal, bayi disusui sesuai dengan keinginannya (on demand). Bayi dapat menentukan sendiri kebutuhannya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung akan kosong dalam 2 jam. Menyusui yang dijadwalkan akan berakibat kurang baik karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi ASI berikutnya. f. Melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru lahir atau bounding attachment didalam ruangan dengan melakukan sentuhan awal/kontak kulit antara ibu dan bayi pada menit-menit pertama sampai beberapa jam setelah kelahiran bayi. Pada proses ini terjadi, penggabungan berdasarkan cinta dan penerimaan yang tulus dari orang tua terhadap anaknya dan memberikan dukungan asuhan dalam perawatanya. g. menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi yaitu dengan mempertahankan lingkungan bayi tetap hangat untuk menjaga supaya
  • 152.
    143 tidak terjadi penurunansuhu bayi, jaga kebersihan kulit bayi, hindari kulit lembab dengan mengganti baju bayi minimal 2 kali sehari atau sewaktu-waktu ketika basah oleh keringat atau terkena muntahan, memilih baju yang tidak kaku dan menyerap keringat untuk bayi. Menjaga kehangatan bayi. empat kemungkinan yang dapat menyebabkan bayi baru lahir kehilangan panas tubuhnya seperti menimbang bayi tanpa alas timbangan, membiarkan bayi baru lahir diruangan yang terpasang kipas angin, AC, membiarkan bayi baru lahir dekat dengan tembok. h. Menganjurkan ibu untuk tetap memenuhi kebutuhan nutrisinya seperti mengkonsumsi makanan yang bergizi dan cukup cairan karena makanan yang dibutuhkan oleh ibu nifas sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan dalam tubuh supaya tubuh dalam keadaan sehat. Tujuan pemberian makanan pada ibu nifas adalah untuk memulihkan tenaga ibu, memproduksi ASI yang bernilai gizi tinggi, mempercepat penyembuhan luka, dan mempertahankan kesehatan. Hidangan bergizi yang dibutuhkan ibu menyusui terdiri atas zat tenaga (Hidrat arang, lemak, protein nabati seperti kacang-kacangan, tahu, tempe, kedelai dan hewani seperti telur, daging, ikan dan sebagainya), zat pembangun (protein, vitamin, mineral, air), dan zat pengatur atau pelindung (vitamin, air, dan mineral).
  • 153.
    144 i. Memberitahu ibuuntuk memenuhi kebutuhan istirahat yaitu bagi ibu menyusui minimal 8 jam sehari, yang dapat dipenuhi melalui istirahat malam dan siang. j. Mengajarkan pada ibu tentang personal hygiene yang baik yaitu: anjurkan ibu untuk menjaga kebersihan seluruh tubuh, ajarkan pada ibu bagaimana membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air anjurkan ibu untuk membersihkan daerah sekitar vulva terlebih dahulu, dari depan kebelakang anus, sarankan ibu untuk mengganti pembalut atau kain pembalut setidaknya dua kali sehari, sarankan ibu mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelamin. 8 jam postpartum a. Memberitahu kondisi ibu saat ini yaitu: TD:110/80 mmHg, N: 80 x/menit, T: 37,60 C, Pernapasan: 20 x/menit, puting susu menonjol, pengeluaran sudah ada yaitu kolostrum, TFU: 2 jari dibawah pusat, konsistensi keras, kontraksi uterus baik, pengeluaran lokhea rubra dan tidak terdapat laserasi. b. Mengevaluasi apakah rasa mulas masih dirasakan oleh ibu. c. Mengevaluasi dan mendeteksi serta merawat penyebab lain perdarahan, dan merujuk bila perdarahan berlanjut d. Mengevaluasi pencegahan perdarahan yang telah diajarkan dengan melakukan masase pada uterus ibu e. Mengevaluasi ibu tentang pemberian ASI awal.
  • 154.
    145 f. Memastikan danmengevaluasi mengenai hubungan antara ibu dan bayi atau bounding attachment didalam satu ruangan dengan melakukan sentuhan awal/ kontak kulit antara ibu dan bayi pada menit-menit pertama sampai beberapa jam setelah kelahiran bayi. Pada proses ini, terjadi penggabungan berdasarkan cinta dan penerimaan yang tulus dari orang tua terhadap anaknya dan memberikan dukungan asuhan dalam perawatannya. g. Mengevaluasi pencegahan hipotermi pada bayi. h. Mengevaluasi ibu untuk tetap memenuhi kebutuhan nutrisi. i. Mengevaluasi apakah ibu mengerti kebutuhan istirahatnya. j. Mengevaluasi apakah ibu mengerti tentang personal hygiene yang baik. 3. Pembahasan Menurut penulis tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus karena penulis telah memberikan asuhan 6 jam postpartum yang sesuai dengan kebutuhan ibu. G. EVALUASI 1. Tinjauan teori langkah ini merupakan langkah terakhir guna mengetahui apa yang telah dilakukan bidan. Mengevaluasi keefektifan dari asuhan yang diberikan, ulangi kembali proses manajemen dengan benar terhadap setiap aspek
  • 155.
    146 asuhan yang sudahdilaksanakan tapi belum efektif atau merencanakan kembali yang belum terlaksana. (Wulandari dan Ambarwati, 2010; h. 147) 2. Tnjauan kasus Setelah dilakukan asuhan pada Ny. M 6 jam postpartum dapat di evaluasi dengan hasil sebagai berikut: a. Ibu sudah mengerti tentang kondisinya saat ini. b. Ibu sudah mengerti tentang keluhan yang dialami saat ini. c. Pemeriksaan kontraksi sudah dilakukan kontraksi uterus baik, TFU 2 jari dibawah pusat serta tidak ada perdarahan abnormal. d. Ibu dan keluarga bersedia melakukan masase uterus dan kontraksi uterus baik. e. Ibu bersedia menyusui bayinya sesering mungkin f. Bonding attachment sudah dilakukan antara ibu dan bayi dalam satu ruangan yang sama. g. Bayi sudah dilakukan pencegahan hipotermi dan bayi dalam keadaan baik dan hangat. h. Ibu mengerti untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya. i. Ibu mengerti dan bersedia untuk memenuhi kebutuhan istirahatnya. j. Ibu mengerti tentang personal hygiene yang baik Hasil evaluasi 8 jam postpartum a. Ibu sudah mengerti tentang kondisinya saat ini. b. Ibu mengerti rasa mulas yang dialaminya adalah hal yang normal, hal ini dikarenakan adanya kontraksi dan retraksi dari otot-otot uteri yang
  • 156.
    147 merupakan proses dariinvolusi uteri. Dan rasa lemas ibu dikarenakan proses persalinan yang cukup lama. c. Perdarahan sudah diperiksa dan hasilnya tidak ada perdarahan yang abnormal d. Ibu dan keluarga telah memasase perut ibu dan kontraksi baik, tidak terjadi perdarahan. e. Ibu telah menyusui bayinya 2 kali selama 6 jam dan bayi telah mendapatkan cairan yang pertama kali keluar yaitu kolostrum yang mengandung antibodi sehingga mampu melindungi bayi dari infeksi sampai 6 bulan. f. Ibu dan bayi sudah berada dalam satu ruangan. g. Bayi dalam keadaan baik dan telah dibedong dengan menggunakan pakaian yang kering. h. Ibu sudah mengerti tentang kebutuhan nutrisi dan ibu sudah makan- makanan yang telah dianjurkan seperti Makan 1 kali, 1 porsi dengan menu bervariasi seperti 1 centong nasi, 1 potong daging, 1 mangkuk kecil sayur bayam, dan 1 buah apel. Minum air putih 5-6 gelas/hari i. Ibu mengerti kebutuhan istirahatnya dan sudah tidur saat bayinya tidur. Pada 8 jam post partum. j. Ibu telah mengerti mampu menerapkan cara personal hygiene yang baik yaitu ibu membersihkan daerah kelamin dengan sabun, dan air dan ibu juga membersihkan vulva terlebih dahulu, dari depan kebelakang lalu
  • 157.
    148 keanus dan ibutelah mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah membersihkan daerah kelamin. 3. Pembahasan Dalam pembahasan ini tidak ada kesenjangan antara tinjauan teori dan tinjauan kasus karena hasil evaluasi berjalan dengan baik sesuai dengan asuhan pada ibu nifas 6 jam postpartum.
  • 158.
    149 BAB V PENUTUP A. Simpulan Setelahmelakukan Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas Yaitu Ny. M Umur 30 Tahun P4A0 Pada Tanggal 07 Mei 2016 Di BPS Desy Andriani,S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016, asuhan yang dilakukan secara menyeluruh dengan melakukan kunjungan, memberikan konseling dan memantau kondisi ibu sesuai dengan kebutuhan ibu dengan melaksanakan asuhan. Maka penulis mengambil beberapa kesimpulan sebagai berikut. 1. Penulis telah mampu melakukan pengkajian pada Ny. M umur 30 tahun P4A0 6 jam post partum di BPS Desy Andriani,S.Tr.Keb Bandar Lampung Tahun 2016. Pengkajian data dilakukan menggunakan manajemen varney dengan data subjektif yaitu ibu mengatakan melahirkan anak yang keempat, tidak pernah mengalami keguguran, ibu mengatakan perutnya mulas dan data objektif yaitu keadaan umum : baik, Kesadaran: compos mentis, Tekanan darah 110/80 mmHg, Nadi: 80x/menit, Pernapasan: 20 x/menit, Suhu: 37,50 C TFU 2 jari dibawah pusat dan pengeluaran lokhea rubra. 2. Penulis telah mampu melakukan interpretasi data dengan menentukan diagnosa kebidanan ibu nifas yaitu Ny. M umur 30 tahun P4A0 6 jam post partum, masalah: tidak ada, kebutuhan: asuhan nifas 6 jam post partum. 149
  • 159.
    150 3. Pada kasusini penulis tidak menemukan diagnosa potensial pada Ny. M karena tidak ditemukan kegawatdaruratan pada ibu. 4. Pada kasus ini penulis tidak melakukan tindakan segera terhadap asuhan kebidanan ibu nifas pada Ny. M umur 30 tahun P4A0 6 jam post partum karena tidak ditemukan kegawatdaruratan pada ibu. 5. Dalam kasus ini penulis telah memberikan rencana asuhan kebidanan dengan diagnosa pada Ny. M umur 30 tahun P4A0 6 jam post partum, masalah yaitu tidak ada dan kebutuhan yaitu asuhan nifas 6 jam post partum. 6. Dalam kasus ini penulis telah melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan yang telah direncanakan yaitu dengan melakukan asuhan pada Ny. M umur 30 tahun P4A0 6 jam post partum. 7. Dalam kasus ini penulis sudah melakukan evaluasi asuhan pada Ny. M dengan hasil kondisi ibu baik, ibu tidak mengalami perdarahan atau kegawatdaruratan lainnya. B. Saran 1. Bagi akademik Dengan telah disusunnya Studi Kasus ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi akademik untuk lebih meningkatkan keefektifan dalam proses belajar mengajar sehingga dapat meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan ketrampilan mahasiswa dalam menerapkan atau mengaplikasikan studi yang telah didapatkan di akademk, serta untuk melengkapi sumber-sumber
  • 160.
    151 buku kepustakaan sebagaibahan informasi dan referensi yang penting dalam mendukung dalam pembuatan karya tulis ilmiah bagi mahasiswa semester akhir. 2. Bagi lahan praktik Hasil pemelitian dapat dijadikan sebagai bahan masukan bagi lahan praktek terutama bagi bidan serta tenaga kesehatan yang berada di masyarakat untuk untuk lebih meningkatkan pelayanan kesehatan dikemudian hari dengan cara melakukan tindakan promotif seperti penyuluhan dan memberikan pendidikan kesehatan kepada klien guna mencegah terjadinya komplikasi pada masa nifas. 3. Bagi Masyarakat (pasien) Dapat di jadikan masukan dan pengetahuan bagi masyarakat khususnya Ny. M agar lebih mengerti tentang perawatan ibu selama masa nifas yang fungsinya untuk mencegah dan mendeteksi secara dini agar tidak terjadi hal- hal yang tidak diinginkan yang berhubungan dengan masa nifas.
  • 161.
    152 DAFTAR PUSTAKA Ambarwati EnyRetna dan Wulandari Diah. 2010. Asuhan Kebidanan. Yogyakarta; Nuha Medika. Astuti Sri, et all. 2015. Asuhan Kebidanan Nifas dan Menyusui. Bandung. Erlangga. Aticeh, et all. 2014. Konsep Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika. Bahiyatun, 2013. Buku Ajar Asuhan Kebidanan Nifas Normal. Jakarta. EGC Chandra Budiman. 2008. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: EGC. Dewi Vivian Nanny Lia dan Sunarsih Tri. 2011. Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas. Jakarta: Salemba Medika. Herdiansyah Haris. 2012. Metodologi Penelitian Kualitataif. Jakarta; Salemba Humanika. Hidayat A aziz Alimul. 2014. Metode Penelitian Kebidanan dan Teknik Analisis Data. Jakarta; Salemba Sedika. Karwati, et all. 2011. Asuhan Kebidanan V (Kebidanan Komunitas). Jakarta: CV Trans Info Media Kementrian Kesehatan RI. 2014. Profil Kesehatan Indonesia. Jakarta: Kementrian Kesehatan Indonesia. Manuaba et all. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan KB. Jakarta. EGC. Maritalia Dewi. 2014. Asuhan Kebidanan Nifas dan Menyusui. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Notoatmodjo Soekidjo.2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Prawirohardjo Sarwono. 2012. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT Bina Pustaka. Profik Kesehatan Provinsi Lampung. 2012. Roito, Juraida et all. 2013. Asuhan Kebidanan Ibu Nifas dan Deteksi Dini Komplikasi. Jakarta: EGC
  • 162.
    153 Rukiyah Aiyeyeh, etall. 2011. Asuhan Kebidanan III (Nifas). Jakarta; Trans Info Media. Rukiyah, Ai Yeyeh dan Yulianti, Lia. 2012. Asuhan Neonatus pada Bayi dan Balita. Jakarta : Trans Info Media Saleha Sitti. 2009. Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta. Salemba Medika. Sari, Eka Puspita dan Rimandini. 2014. Asuhan Kebidanan Masa Nifas (Postnatal Care).Jakarta: Trans Info Media. Soepardan Suryani. 2007. Konsep Kebidanan. Jakarta; EGC. Sulistyawati Ari. 2009. Buku Ajar Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas. Jakarta: Andi. Sulistyawati Ari dan Nugraheny. 2012. Asuhan Kebidanan pada Ibu Bersalin. Jakarta: Salemba Medika. Tambunan Eviana S dan Kasim Deswani. 2012. Panduan Pemeriksaan Fisik Bagi Mahasiswa Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika. Walyani Elisabeth Siwi dan Purwoastuti Th. Endang . 2015. Asuhan Kebidanan Masa Nifas & Menyusui. Yogyakarta: Pustaka Baru Pres. Wildan Moh dan Hidayat A.Aziz Alimul. 2013. Dokumentasi Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika
  • 163.
  • 164.