Fitokimia.
KROMATOGRAFI
Pengertian
Fitokimia
adalah segala jenis zat kimia atau nutrien yang diturunkan
dr sumber tumbuhan termasuk sayuran, dan
buah2an.
Fitokimia berasal dr kata : Phyto Chemical
phyto artinya tumbuhan
chemical artinya zat kimia
PEMISAHAN
• Pemisahan hasil ekstraksi tumbuhan dapat dilakukan
dengan teknik kromatografi.
• Kromatografi adalah suatu metode fisik untuk pemisahan
yang didasarkan atas perbedaan afinitas senyawa-senyawa
yang sedang dianalisis terhadap terhadap 2 phase (fasa)
Yaitu : - Fasa diam (stasioner)
- Fasa gerak (mobil)
• Campuran senyawa dapat mengalami absorbsi dan desorpsi
oleh fasa dan secara berturut-turut sehingga berurutan ,
disini fasa gerak akan akan melarutkan senyawa-senyawa
tersebut dan terjadi proses pemisahan dikarenakan setiap
campuran senyawa memiliki kelarutan diantara dua fasa.
Fasa diam
dalam kromatografi: berupa Zat padat dan zat cair
Zat padat : Silika
Alumina
• Sebagai adsorbens, mempunyai kemampuan mengadsorbsi bahan-bahan yang
akan dipisahkan
• Dapat digunakan sebagai bahan pengisi kolom pada
- Kromatografi kolom gravitasi.
- Kromatografi tekanan tinggi
- Sebagai bahan pembuat pelapis tipis untuk KLT
Zat Cair
• Contoh : pada kromatografi kertas, fasa diamnya berupa air yang diabsorbsi oleh
molekul-molekul selulose pada kertas
• Pada kromatografi gas fasa diam berupa zat yang dilekatkan pada kapiler dan
mempunyai pori dengan ukuran yang sama.
Fasa Gerak
Dapat berupa :
• Gas pada Kromatografi Gas (GC)
• Cair pada Kromatografi kertas dan
Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
• Jika fasa gerak berupa gas disebut gas
pembawa /gas vektor
• Jika berupa zat cair disebut Eluen (pelarut)
Beberapa jenis kromatografi berdasarkan perbedaan
sifat fasa-fasanya :
1. Kromatografi cair- padat dengan fasa gerak cair dan
fasa diam padat
2. Kromatografi gas - padat dengan fasa gerak gas dan
fasa diam padat
3. Kromatografi cair- cair dengan fasa gerak cair dan fasa
diam cair
4. Kromatografi gas-cair dengan fasa gerak gas dan fasa
diam cair
Untuk no 2 dan 4 disebut juga dengan Kromatografi Gas.
• Perbedaan berdasarkan pada sifat fenomena yang terjadi
pada pemisahan al :
- Kromatografi adsorbsi
- Kromatografi partisi
- Kromatografi lapis penukar ion
- Kromatografi afinitas /filtrasi gel
• Perbedaan berdasarkan teknik pemisahan :
- Kromatografi lapis tipis (KLT)
- Kromatografi kertas
- Kromatografi kolom (KK)
- Kromatografi Gas
- Kromatografi cair bertekanan tinggi
Yang sering digunakan adalah KLT dan KK
Kromatografi Lapis Tipis
Prinsip dari KLT adalah adsorbsi
• Sampel (yang sudah dilarutkan), ditotolkan diatas fase
diam , senyawa-senyawa dalam sampel akan terelusi,
dengan kekuatan elektrostatis akan menarik senyawa
diatas fase diam karena adanya sifat fase gerak
(berkemampuan melarutkan senyawa)
• Senyawa-senyawa yang mempunyai kepolaran lebih
rendah akan terelusi lebih cepat dibanding dengan
senyawa polar karena akan terikat lebih kuat pada
Silika yang mengandung silanol (SiOH2) yang memiliki
afinitas lebih kuat terhadap senyawa polar.
• Fungsi dari KLT adalah untuk melihat kemurnian suatu
senyawa organik.
• Dalam analisis dapat dilakukan mengubah
pelarut beberapa kali (minimal 3 macam)
• Hasil elusi tetap menampakkan satu noda,
maka sampel yang ditotolkan adalah murni
• KLT juga juga dapat menampakkan jumlah
senyawa-senyawa dalam campuran sampel.
Perlengkapan KLT antara lain adalah :
• Bejana kromatografi terbuat dari kaca dilengkapi
dengan penutup yang rapat, untuk tempat eluen
• Fasa diam, berupa berupa selapis tipis (0,25 mm)
sepotong kaca, plastik atau aluminium datar yang
dilapisi Silika gel atau adsorben yang lain seperti :
- Alumina,
- Kieselguhr atau
- Selulose
dengan bantuan penghubung Calsium Sulfat anhidrat,
tepung kanji, atau suatu polimer organik.
• Pipa Kapiler dari kaca
• Sampel sebanyak 1 ul dari larutan encer (2-
5%) ditotolkan pada satu titik diatas fase diam
dengan pipa kapiler,titik tersebut letaknya
diatas batas pelarut.
• Penotolan harus tepat untuk menghasilkan
noda yang baik.
• Kemudian fase diam dimasukkan kedalam
bejana yang berisi eluen/pelarut/solvent
murni atau campuran yang telah dijenuhkan
terlebih dahulu.
• Maka eluen akan mengelusi senyawa-senyawa
dalam sampel sepanjang fasa diam
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
pemilihan eluen adalah
• Eluen yang terlalu polar akan mengelusi
semua senyawa dalam sampel
• artinya faktor menghambat elusi tidak cukup
kuat dan kepolaran senyawa-senyawa dalam
sampel berpengaruh terhadap pemilihan
eluen (berhubung dengan sifat kepolarannya)
dimana bagian dalam bejana harus
dijenuhkan terlebih dahulu dengan eluen
Penampakan Noda.
Adanya penampakan noda, terutama digunakan bila yang akan
dipisahkan bukan senyawa-senyawa yang berwarna.
Metode yang digunakan adalah :
a. Sinar UV dimana beberapa senyawa akan nampak sebagai
noda yang berpendar
b. Indikator fluoresensi yang sudah terdapat dalam plat lapis
tipis yang digunakan (ada tanda GF untuk silika gel) maka plat
tersebut akan berfluoresensi jika diletakkan dibawah lampu UV dan
senyawa-senyawa akan muncul sebagai noda gelap
c. Iod bereaksi dengan sebagian besar senyawa organik membentuk
senyawa kompleks warna kuning atau coklat.
Noda dapat terdeteksi dengan meletakkan plat kering dalam bejana
yang berisi kristal iod, tertutup rapat sehingga bejan jenuh dengan
uap iod
d. Atomisasi dilakukan dengan meletakkan suatu pereaksi diatas plat
sehingga akan terjadi reaksi senyawa tersebut.
Beberapa pereaksi semprot untuk penampak noda.
1. Anhidrid Asam Asetat – Asam Sulfat pekat (pereaksi
Lieberman –Buchardad), untuk senyawa steroid dan
terpenoid
2. Anisaldehid- Asam sulfat, untuk gula, steroid dan
terpenoid
3. Aluminium klorida, untuk flavonoid
4. Antimon klorida, untuk flavonoid
5. Cerium sulfat – asam sulfat, untuk untuk semua senyawa
organik .
6. Pereaksi Dragendorf (Munier), untuk Alkaloid
7. Magnesium Asetat, untuk Antraquinon
8. Potasium Hidroksida Metanolik, untuk kumarin dan
Antraquiinon.
2.Kromatografi Lapis Tipis Preparatif
• Penggunaan plat KLT dengan ketebalan plat 0,5 – 2 mm.
• Ukuran plat umumnya 20 x 20 cm atau 20 x 40 cm
• Untuk sampel 10 -100 mg dapat dipisahkan menggunakan adsorben silika gel atau
alumina
• Plat KLT dapat dibuat sendiri atau dibeli.
• Sebelum ditotolkan pada plat KLT sampel dilarutkan dalam pelarut
• Pelarut yang digunakan umumnya pelarut mudah menguap seperti n-heksana,
dikloro metana atau etil asetat, jika pelarut tak mudah menguap akan terjadi
pelebaran pita
• Pelarut yang digunakan sebagai fasa gerak antara lain :
- n-heksana – etil asetat
- n-heksana- aseton
- kloroform – metanol
• Setelah ditotol senyawa yang terpisah dapat diamati dibawah SUV
• Hasil penotolan disemprot dengan dengan pereaksi penampak noda, kemudian
dikerok dari plat
• Selanjutnya diekstraksi dari adsorbens dengan pelarut yang sesuai ( 5ml pelarut
untuk 1 gram adsorben)
• Kemudian disaring.
Kromatografi Sentrifugal
• Prinsipnya adalah kromatografi klasik dengan
aliran fasagerak yang dipercepat oleh gaya
sentrifugal.
• Contoh alat kromatografi ini sering dipakai adalah
kromatotron
• Perbedaan besar antara kromatotron dengan KLT
sentrifugal adalah rotornya tidak mendatar tetapi
miring.
• Bagian utama alat ini adalah plat kaca bundar
bergaris tengah 24 cm yang dilapisidengan
adsorben yang cocok sehingga terbentuk
pemisahan preparatif.
Kromatografi Kolom
• Prinsip kromatografi kolom adalah suatu teknik pemisahan yang
didasarkanpada peristiwa adsorpsi
• Sampel yang berupa larutan pekat diletakkan pada ujung kolom
• Dengan adanya gravitasi atau karena bantuan tekanan, maka
eluen/pelarut akan melewati kolom dan proses pemisahan akan
terjadi.
• Eluen/pelarut akan digunakan mulai dari yang non polar dan secara
gradien kepolarannya hingga pemisahan dapat terjadi, ini karena
adanya afinitas senyawa pada adsorbendan perbedaan kelarutan
senyawa pada eluen/pelarut.
• Sebaiknya pengisian kolom menggunakan pelarut air untuk
membasahi dinding kolom.
• Saat sampel diletakkan diujung kolom maka saat itu juga sudah
terjadi peristiwa adsorbsi oleh permukaan adsorbens
• Eluen mengalir secara kontinu kedalam kolom akan menyebabkan
peristiwa adsorpsi dan desorpsi senyawa-senyawa sampel.
• Cairan yang keluar dari kolom ditampung dan
dilakukan analisis menggunakan KLT untuk
melihat hasil pemisahannya.
• Adsorben yang digunakan adalah Silika (SiO2) ,
Selulose dan Alumina
• Besarnya butir/ granulasi adsorben kromatografi
kolom harus lebih besar dari KLT yaitu antara 50 -
200 um
• Secara umum jumlah adsorben yang digunakan
30-50 gr untuktiap gram sampel yang akan
dipisahkan.
• Eluen atau pelarut yang digunakan adalah campuran dua macam pelarut
• Awal elusi dimulai dengan eluen yang paling non polar akan membawa
senyawa-senyawa yg kurang terikat pada adsorben.
• Sepanjang proses elusi, komposisi eluen dapat divariasi dengan
penambahan pelarut yang lebih polar
• Sehingga senyawa-senyawa akan terelusi kebawah kolom secara
berurutan berdasarkan kepolarannya.
• Penggunaan beberapa eluen harus dihindari saat digunakan sebagai
adsorben seperti alumina, atau silika gel dalam bentuk asam atau
basanya.
• Pelarut sangat polar seperti , Metanol , Air dan Asam juga harus hati-hati
karena akan melarutkan adsorben dalam jumlah kecil.
• Kecepatan elusi sebaiknya d ibuat konstan /lambat sehingga senyawa
berada dalam keseimbangan antara fasa diam dan fasa gerak.
• Tetapi jika kecepata elusi terlalu kecil maka senyawa-senyawaakan
terdifusi kedalam eluen sehingga pita makin lama akan menjadi semakin
lebar, akibatnya pemisahan tidak dapat berlangsung baik.
• Kecepatan elusi yang besar dapat dilakukan jika yang akan dipisahkan
adalah campuran memiliki kepolaran yang sangat berbeda.
T E R I M A K A S I H

Kromatografi

  • 1.
  • 2.
    Pengertian Fitokimia adalah segala jeniszat kimia atau nutrien yang diturunkan dr sumber tumbuhan termasuk sayuran, dan buah2an. Fitokimia berasal dr kata : Phyto Chemical phyto artinya tumbuhan chemical artinya zat kimia
  • 3.
    PEMISAHAN • Pemisahan hasilekstraksi tumbuhan dapat dilakukan dengan teknik kromatografi. • Kromatografi adalah suatu metode fisik untuk pemisahan yang didasarkan atas perbedaan afinitas senyawa-senyawa yang sedang dianalisis terhadap terhadap 2 phase (fasa) Yaitu : - Fasa diam (stasioner) - Fasa gerak (mobil) • Campuran senyawa dapat mengalami absorbsi dan desorpsi oleh fasa dan secara berturut-turut sehingga berurutan , disini fasa gerak akan akan melarutkan senyawa-senyawa tersebut dan terjadi proses pemisahan dikarenakan setiap campuran senyawa memiliki kelarutan diantara dua fasa.
  • 4.
    Fasa diam dalam kromatografi:berupa Zat padat dan zat cair Zat padat : Silika Alumina • Sebagai adsorbens, mempunyai kemampuan mengadsorbsi bahan-bahan yang akan dipisahkan • Dapat digunakan sebagai bahan pengisi kolom pada - Kromatografi kolom gravitasi. - Kromatografi tekanan tinggi - Sebagai bahan pembuat pelapis tipis untuk KLT Zat Cair • Contoh : pada kromatografi kertas, fasa diamnya berupa air yang diabsorbsi oleh molekul-molekul selulose pada kertas • Pada kromatografi gas fasa diam berupa zat yang dilekatkan pada kapiler dan mempunyai pori dengan ukuran yang sama.
  • 5.
    Fasa Gerak Dapat berupa: • Gas pada Kromatografi Gas (GC) • Cair pada Kromatografi kertas dan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) • Jika fasa gerak berupa gas disebut gas pembawa /gas vektor • Jika berupa zat cair disebut Eluen (pelarut)
  • 6.
    Beberapa jenis kromatografiberdasarkan perbedaan sifat fasa-fasanya : 1. Kromatografi cair- padat dengan fasa gerak cair dan fasa diam padat 2. Kromatografi gas - padat dengan fasa gerak gas dan fasa diam padat 3. Kromatografi cair- cair dengan fasa gerak cair dan fasa diam cair 4. Kromatografi gas-cair dengan fasa gerak gas dan fasa diam cair Untuk no 2 dan 4 disebut juga dengan Kromatografi Gas.
  • 7.
    • Perbedaan berdasarkanpada sifat fenomena yang terjadi pada pemisahan al : - Kromatografi adsorbsi - Kromatografi partisi - Kromatografi lapis penukar ion - Kromatografi afinitas /filtrasi gel • Perbedaan berdasarkan teknik pemisahan : - Kromatografi lapis tipis (KLT) - Kromatografi kertas - Kromatografi kolom (KK) - Kromatografi Gas - Kromatografi cair bertekanan tinggi Yang sering digunakan adalah KLT dan KK
  • 8.
    Kromatografi Lapis Tipis Prinsipdari KLT adalah adsorbsi • Sampel (yang sudah dilarutkan), ditotolkan diatas fase diam , senyawa-senyawa dalam sampel akan terelusi, dengan kekuatan elektrostatis akan menarik senyawa diatas fase diam karena adanya sifat fase gerak (berkemampuan melarutkan senyawa) • Senyawa-senyawa yang mempunyai kepolaran lebih rendah akan terelusi lebih cepat dibanding dengan senyawa polar karena akan terikat lebih kuat pada Silika yang mengandung silanol (SiOH2) yang memiliki afinitas lebih kuat terhadap senyawa polar. • Fungsi dari KLT adalah untuk melihat kemurnian suatu senyawa organik.
  • 9.
    • Dalam analisisdapat dilakukan mengubah pelarut beberapa kali (minimal 3 macam) • Hasil elusi tetap menampakkan satu noda, maka sampel yang ditotolkan adalah murni • KLT juga juga dapat menampakkan jumlah senyawa-senyawa dalam campuran sampel.
  • 10.
    Perlengkapan KLT antaralain adalah : • Bejana kromatografi terbuat dari kaca dilengkapi dengan penutup yang rapat, untuk tempat eluen • Fasa diam, berupa berupa selapis tipis (0,25 mm) sepotong kaca, plastik atau aluminium datar yang dilapisi Silika gel atau adsorben yang lain seperti : - Alumina, - Kieselguhr atau - Selulose dengan bantuan penghubung Calsium Sulfat anhidrat, tepung kanji, atau suatu polimer organik. • Pipa Kapiler dari kaca
  • 11.
    • Sampel sebanyak1 ul dari larutan encer (2- 5%) ditotolkan pada satu titik diatas fase diam dengan pipa kapiler,titik tersebut letaknya diatas batas pelarut. • Penotolan harus tepat untuk menghasilkan noda yang baik. • Kemudian fase diam dimasukkan kedalam bejana yang berisi eluen/pelarut/solvent murni atau campuran yang telah dijenuhkan terlebih dahulu. • Maka eluen akan mengelusi senyawa-senyawa dalam sampel sepanjang fasa diam
  • 12.
    Hal-hal yang perludiperhatikan dalam pemilihan eluen adalah • Eluen yang terlalu polar akan mengelusi semua senyawa dalam sampel • artinya faktor menghambat elusi tidak cukup kuat dan kepolaran senyawa-senyawa dalam sampel berpengaruh terhadap pemilihan eluen (berhubung dengan sifat kepolarannya) dimana bagian dalam bejana harus dijenuhkan terlebih dahulu dengan eluen
  • 13.
    Penampakan Noda. Adanya penampakannoda, terutama digunakan bila yang akan dipisahkan bukan senyawa-senyawa yang berwarna. Metode yang digunakan adalah : a. Sinar UV dimana beberapa senyawa akan nampak sebagai noda yang berpendar b. Indikator fluoresensi yang sudah terdapat dalam plat lapis tipis yang digunakan (ada tanda GF untuk silika gel) maka plat tersebut akan berfluoresensi jika diletakkan dibawah lampu UV dan senyawa-senyawa akan muncul sebagai noda gelap c. Iod bereaksi dengan sebagian besar senyawa organik membentuk senyawa kompleks warna kuning atau coklat. Noda dapat terdeteksi dengan meletakkan plat kering dalam bejana yang berisi kristal iod, tertutup rapat sehingga bejan jenuh dengan uap iod d. Atomisasi dilakukan dengan meletakkan suatu pereaksi diatas plat sehingga akan terjadi reaksi senyawa tersebut.
  • 14.
    Beberapa pereaksi semprotuntuk penampak noda. 1. Anhidrid Asam Asetat – Asam Sulfat pekat (pereaksi Lieberman –Buchardad), untuk senyawa steroid dan terpenoid 2. Anisaldehid- Asam sulfat, untuk gula, steroid dan terpenoid 3. Aluminium klorida, untuk flavonoid 4. Antimon klorida, untuk flavonoid 5. Cerium sulfat – asam sulfat, untuk untuk semua senyawa organik . 6. Pereaksi Dragendorf (Munier), untuk Alkaloid 7. Magnesium Asetat, untuk Antraquinon 8. Potasium Hidroksida Metanolik, untuk kumarin dan Antraquiinon.
  • 15.
    2.Kromatografi Lapis TipisPreparatif • Penggunaan plat KLT dengan ketebalan plat 0,5 – 2 mm. • Ukuran plat umumnya 20 x 20 cm atau 20 x 40 cm • Untuk sampel 10 -100 mg dapat dipisahkan menggunakan adsorben silika gel atau alumina • Plat KLT dapat dibuat sendiri atau dibeli. • Sebelum ditotolkan pada plat KLT sampel dilarutkan dalam pelarut • Pelarut yang digunakan umumnya pelarut mudah menguap seperti n-heksana, dikloro metana atau etil asetat, jika pelarut tak mudah menguap akan terjadi pelebaran pita • Pelarut yang digunakan sebagai fasa gerak antara lain : - n-heksana – etil asetat - n-heksana- aseton - kloroform – metanol • Setelah ditotol senyawa yang terpisah dapat diamati dibawah SUV • Hasil penotolan disemprot dengan dengan pereaksi penampak noda, kemudian dikerok dari plat • Selanjutnya diekstraksi dari adsorbens dengan pelarut yang sesuai ( 5ml pelarut untuk 1 gram adsorben) • Kemudian disaring.
  • 16.
    Kromatografi Sentrifugal • Prinsipnyaadalah kromatografi klasik dengan aliran fasagerak yang dipercepat oleh gaya sentrifugal. • Contoh alat kromatografi ini sering dipakai adalah kromatotron • Perbedaan besar antara kromatotron dengan KLT sentrifugal adalah rotornya tidak mendatar tetapi miring. • Bagian utama alat ini adalah plat kaca bundar bergaris tengah 24 cm yang dilapisidengan adsorben yang cocok sehingga terbentuk pemisahan preparatif.
  • 17.
    Kromatografi Kolom • Prinsipkromatografi kolom adalah suatu teknik pemisahan yang didasarkanpada peristiwa adsorpsi • Sampel yang berupa larutan pekat diletakkan pada ujung kolom • Dengan adanya gravitasi atau karena bantuan tekanan, maka eluen/pelarut akan melewati kolom dan proses pemisahan akan terjadi. • Eluen/pelarut akan digunakan mulai dari yang non polar dan secara gradien kepolarannya hingga pemisahan dapat terjadi, ini karena adanya afinitas senyawa pada adsorbendan perbedaan kelarutan senyawa pada eluen/pelarut. • Sebaiknya pengisian kolom menggunakan pelarut air untuk membasahi dinding kolom. • Saat sampel diletakkan diujung kolom maka saat itu juga sudah terjadi peristiwa adsorbsi oleh permukaan adsorbens • Eluen mengalir secara kontinu kedalam kolom akan menyebabkan peristiwa adsorpsi dan desorpsi senyawa-senyawa sampel.
  • 18.
    • Cairan yangkeluar dari kolom ditampung dan dilakukan analisis menggunakan KLT untuk melihat hasil pemisahannya. • Adsorben yang digunakan adalah Silika (SiO2) , Selulose dan Alumina • Besarnya butir/ granulasi adsorben kromatografi kolom harus lebih besar dari KLT yaitu antara 50 - 200 um • Secara umum jumlah adsorben yang digunakan 30-50 gr untuktiap gram sampel yang akan dipisahkan.
  • 19.
    • Eluen ataupelarut yang digunakan adalah campuran dua macam pelarut • Awal elusi dimulai dengan eluen yang paling non polar akan membawa senyawa-senyawa yg kurang terikat pada adsorben. • Sepanjang proses elusi, komposisi eluen dapat divariasi dengan penambahan pelarut yang lebih polar • Sehingga senyawa-senyawa akan terelusi kebawah kolom secara berurutan berdasarkan kepolarannya. • Penggunaan beberapa eluen harus dihindari saat digunakan sebagai adsorben seperti alumina, atau silika gel dalam bentuk asam atau basanya. • Pelarut sangat polar seperti , Metanol , Air dan Asam juga harus hati-hati karena akan melarutkan adsorben dalam jumlah kecil. • Kecepatan elusi sebaiknya d ibuat konstan /lambat sehingga senyawa berada dalam keseimbangan antara fasa diam dan fasa gerak. • Tetapi jika kecepata elusi terlalu kecil maka senyawa-senyawaakan terdifusi kedalam eluen sehingga pita makin lama akan menjadi semakin lebar, akibatnya pemisahan tidak dapat berlangsung baik. • Kecepatan elusi yang besar dapat dilakukan jika yang akan dipisahkan adalah campuran memiliki kepolaran yang sangat berbeda.
  • 20.
    T E RI M A K A S I H