KERAJAAN JAMBI & SIAK
Kelompok 2:
 Ignatius Jonathan M.
 Reynaldi Rifqi
 Ulul Azmi Aziz
 Ivan Chandra
 Satria Adipradana
 Kautsar Nawansyah
Kesultanan Jambi
 Kesultanan Jambi adalah
kerajaan Islam yang berkedudukan di
provinsi Jambi sekarang. Kerajaan ini
berbatasan dengan Kerajaan
Indragiri dan kerajaan-
kerajaan Minangkabau seperti Siguntur
dan Lima Kota di utara. Di selatan
kerajaan ini berbatasan
dengan Kesultanan
Palembang (kemudian Keresidenan
Palembang). Jambi juga
mengendalikan lembah Kerinci,
meskipun pada akhir masa
kekuasaannya kekuasaan nominal ini
tidak lagi dipedulikan.
 Ibukota Kesultanan Jambi terletak di
kota Jambi, yang terletak di pinggir
sungai Batang Hari.
Kediaman Sultan Jambi,Dusun Tengah
thn. 1877-1879
 Jambi berkembang di
wilayah cekungan Batang
Hari, sungai terpanjang
di Sumatera. Sungai ini, dan
anak-anak sungainya,
seperti Tembesi, Tabir dan
Merangin, merupakan
tulang punggung wilayah
tersebut. Sungai Tungkal
yang berbatasan dengan
Indragiri memiliki
cekungan tangkapan air
sendiri. Sungai-sungai itu
merupakan andalan
transportasi utama Jambi.
Peta Ibukota Jambi thn.
1878
Lokasi
Sejarah
 Wilayah Jambi dulunya merupakan wilayah Kerajaan Malayu, dan kemudian
menjadi bagian dari Sriwijaya. Pada akhir abad ke-14 Jambi merupakan
vasal Majapahit, dan pengaruh Jawa masih terus mewarnai kesultanan Jambi
selama abad ke-17 dan ke-18.
 Berdirinya kesultanan Jambi bersamaan dengan bangkitnya Islam di wilayah itu.
Pada 1616 Jambi merupakan pelabuhan terkaya kedua di Sumatera setelah Aceh,
dan pada 1670 kerajaan ini sebanding dengan tetangga-tetangganya
seperti Johor dan Palembang.Namun kejayaan Jambi tidak berumur panjang.
Tahun 1680-an Jambi kehilangan kedudukan sebagai pelabuhan lada utama,
setelah perang dengan Johor dan konflik internal.
 Tahun 1903 Pangeran Ratu Martaningrat, keturunan Sultan Thaha, sultan yang
terakhir, menyerah Belanda. Jambi digabungkan dengan keresidenan Palembang.
 Tahun 1906 kesultanan Jambi resmi dibubarkan oleh pemerintah Hindia Belanda.
Pemerintahan
Kesultanan Jambi dipimpin oleh raja yang bergelar sultan.
Raja ini dipilih dari perwakilan empat keluarga bangsawan
(suku): suku Kraton, Kedipan, Perban dan Raja Empat
Puluh. Selain memilih raja keempat suku tersebut juga
memilih pangeran ratu, yang mengendalikan jalan
pemerintahan sehari-hari. Dalam menjalankan
pemerintahan pangeran ratu dibantu oleh para menteri dan
dewan penasihat yang anggotanya berasal dari keluarga
bangsawan. Sultan berfungsi sebagai pemersatu dan
mewakili negara bagi dunia luar.
Berikut adalah daftar Sultan Jambi.
 1790 – 1812 : Mas’ud Badruddin bin
Ahmad Sultan Ratu Seri Ingalaga
 1812 – 1833 : Mahmud Muhieddin bin
Ahmad Sultan Agung Seri Ingalaga
 1833 – 1841 : Muhammad Fakhruddin bin
Mahmud Sultan Keramat
 1841 – 1855 : Abdul Rahman Nazaruddin
bin Mahmud
 1855 – 1858 : Thaha Safiuddin bin
Muhammad (Pertama kali)
 1858 – 1881 : Ahmad Nazaruddin bin
Mahmud
 1881 – 1885 : Muhammad Muhieddin bin
Abdul Rahman
 1885 – 1899 : Ahmad Zainul Abidin bin
Muhammad
 1900 – 1904 : Thaha Safiuddin bin
Muhammad (Kedua kali)
Silsilah
Sultan Ahmad Nazaruddin
Sultan Thaha Saifuddin
Kesultanan Siak
 Kesultanan Siak Sri
Inderapura adalah sebuah Kerajaan
Melayu Islam yang pernah berdiri
di Kabupaten Siak,
Provinsi Riau, Indonesia.
 Kerajaan ini didirikan di Buantan oleh Raja
Kecil dari Pagaruyung Dalam
perkembangannya, Kesultanan Siak
muncul sebagai sebuah
kerajaan bahari yang kuat dan menjadi
kekuatan yang diperhitungkan di pesisir
timur Sumatera dan Semenanjung
Malaya di tengah tekanan imperialisme
Eropa. Jangkauan terjauh pengaruh
kerajaan ini sampai
ke Sambas di Kalimantan Barat, sekaligus
mengendalikan jalur pelayaran antara
Sumatera dan Kalimantan.
Bendera Lambang
Etimologi
 Kata Siak Sri Inderapura, secara harfiah dapat bermakna pusat kota
raja yang taat beragama, dalam bahasa Sanskerta, sri berarti
"bercahaya" dan indera atau indra dapat bermakna raja.
Sedangkan pura dapat bermaksud dengan "kota" atau
"kerajaan". Siak dalam anggapan masyarakat Melayu sangat bertali
erat dengan agama Islam, Orang Siak ialah orang-orang yang ahli
agama Islam, kalau seseorang hidupnya tekun beragama dapat
dikatakan sebagai Orang Siak.
 Nama Siak, dapat merujuk kepada sebuah klan di kawasan
antara Pakistan dan India, Sihag atau Asiagh yang bermaksud pedang.
Masyarakat ini dikaitkan dengan bangsa Asii, masyarakat nomaden
yang disebut oleh masyarakat Romawi, dan diidentifikasikan
sebagai Sakai oleh Strabo seorang penulis geografi
dari Yunani.Berkaitan dengan ini pada sehiliran Sungai Siak sampai
hari ini masih dijumpai masyarakat terasing yang dinamakan
sebagai Orang Sakai.
Perdagangan
 Kesultanan Siak Sri Inderapura mengambil keuntungan atas pengawasan perdagangan
melalui Selat Melaka, serta kemampuan mengendalikan para perompak di kawasan
tersebut. Kemajuan perekonomian Siak terlihat dari catatan Belanda yang menyebutkan
di tahun 1783 ada sekitar 171 kapal dagang dari Siak menuju Malaka. Siak menjadi
kawasan segitiga perdagangan antara Belanda di Malaka dan Inggris di Pulau
Pinang.Namun disisi lain, kejayaan Siak ini memberi kecemburuan pada keturunan Yang
Dipertuan Muda terutama setelah hilangnya kekuasaan mereka pada
kawasan Kepulauan Riau. Sikap ketidaksukaan dan permusuhan terhadap Sultan Siak,
terlihat dalam Tuhfat al-Nafis, di mana dalam deskripsi ceritanya mereka
menggambarkan Sultan Siak sebagai "orang yang rakus akan kekayaan dunia".
 Dominasi Kesultanan Siak terhadap wilayah pesisir pantai timur Sumatera dan
Semenanjung Malaya cukup signifikan. Mereka mampu menggantikan pengaruh Johor
sebelumnya atas penguasaan jalur perdagangan. Selain itu Kesultanan Siak juga muncul
sebagai pemegang kunci ke dataran tinggi Minangkabau, melalui tiga sungai utama
yaitu Siak, Kampar, dan Kuantan, yang mana sebelumnya telah menjadi kunci bagi
kejayaan Malaka. Namun demikian kemajuan perekonomian Siak memudar seiring
dengan munculnya gejolak di pedalaman Minangkabau yang dikenal dengan Perang
Padri.
Struktur Pemerintahan
Sebagai bagian dari rantau Minangkabau, sistem pemerintahan Kesultanan Siak mengikuti
model Kerajaan Pagaruyung. Setelah posisi Sultan, terdapat Dewan Menteri yang mirip dengan
kedudukan Basa Ampek Balai di Pagaruyung. Dewan Menteri ini memiliki kekuasaan untuk memilih
dan mengangkat Sultan Siak, sama dengan Undang Yang Ampat di Negeri Sembilan.Dewan Menteri
bersama dengan Sultan, menetapkan undang-undang serta peraturan bagi masyarakatnya. Dewan
menteri ini terdiri dari:
 Datuk Tanah Datar
 Datuk Limapuluh
 Datuk Pesisir
 Datuk Kampar
Seiring dengan perkembangan zaman, Siak Sri Inderapura juga melakukan pembenahan sistem birokrasi
pemerintahannya. Hal ini tidak lepas dari pengaruh model birokrasi pemerintahan yang berlaku
di Eropa maupun yang diterapkan pada kawasan kolonial Belanda dan Inggris. Modernisasi sistem
penyelenggaraan pemerintahan Siak terlihat pada naskah Ingat Jabatan yang diterbitkan tahun 1897.
Naskah ini terdiri dari 33 halaman yang panjang serta ditulis dengan Abjad Jawi atau tulisan Arab-
Melayu.
Ingat Jabatan merupakan dokumen resmi Siak Sri Inderapura yang dicetak di Singapura, berisi rincian
tanggung jawab dari berbagai posisi atau jabatan di pemerintahan mulai dari pejabat istana, wakil
kerajaan di daerah jajahan, pengadilan maupun polisi. Pada bagian akhir dari setiap uraian tugas para
birokrat tersebut, ditutup dengan peringatan serta perintah untuk tidak khianat kepada sultan
dan nagari.
Daftar Sultan Siak
 1723-1746 : Yang Dipertuan Besar Siak
Sultan Abdul Jalil Syah
 1746-1761 : Sultan Abdul Jalil Syah II
 1761-1761 : Sultan Abdul Jalil Syah III
 1770-1779 : Sultan Abdul Jalil Muazzam
Syah
 1779-1781 : Sultan Abdul Jalil Syah III
 1781-1791 : Sultan Abdul Jalil Muzaffar
Syah
 1791-1811 : Sultan Abdul Jalil Saifuddin
 1811-1827 : Sultan Abdul Jalil
Khaliluddin
 1827-1864 : Sultan Abdul Jalil
Jalaluddin
 1864-1889 : Sultan Syarif Kasim I
 1889-1908 : Yang Dipertuan Besar
Syarif Hasyim Abdul Jalil Saifuddin
 1915-1945 : Yang Dipertuan Besar
Syarif Kasyim Abdul Jalil Saifuddin
Sultan Syarif Kasim II dan
Istrinya (1910-1939)
Sultan Siak dan Dewan
Menterinya serta Kadi
Siak pada tahun 1888

Kerajaan Jambi dan Siak

  • 1.
  • 2.
    Kelompok 2:  IgnatiusJonathan M.  Reynaldi Rifqi  Ulul Azmi Aziz  Ivan Chandra  Satria Adipradana  Kautsar Nawansyah
  • 3.
    Kesultanan Jambi  KesultananJambi adalah kerajaan Islam yang berkedudukan di provinsi Jambi sekarang. Kerajaan ini berbatasan dengan Kerajaan Indragiri dan kerajaan- kerajaan Minangkabau seperti Siguntur dan Lima Kota di utara. Di selatan kerajaan ini berbatasan dengan Kesultanan Palembang (kemudian Keresidenan Palembang). Jambi juga mengendalikan lembah Kerinci, meskipun pada akhir masa kekuasaannya kekuasaan nominal ini tidak lagi dipedulikan.  Ibukota Kesultanan Jambi terletak di kota Jambi, yang terletak di pinggir sungai Batang Hari. Kediaman Sultan Jambi,Dusun Tengah thn. 1877-1879
  • 4.
     Jambi berkembangdi wilayah cekungan Batang Hari, sungai terpanjang di Sumatera. Sungai ini, dan anak-anak sungainya, seperti Tembesi, Tabir dan Merangin, merupakan tulang punggung wilayah tersebut. Sungai Tungkal yang berbatasan dengan Indragiri memiliki cekungan tangkapan air sendiri. Sungai-sungai itu merupakan andalan transportasi utama Jambi. Peta Ibukota Jambi thn. 1878 Lokasi
  • 5.
    Sejarah  Wilayah Jambidulunya merupakan wilayah Kerajaan Malayu, dan kemudian menjadi bagian dari Sriwijaya. Pada akhir abad ke-14 Jambi merupakan vasal Majapahit, dan pengaruh Jawa masih terus mewarnai kesultanan Jambi selama abad ke-17 dan ke-18.  Berdirinya kesultanan Jambi bersamaan dengan bangkitnya Islam di wilayah itu. Pada 1616 Jambi merupakan pelabuhan terkaya kedua di Sumatera setelah Aceh, dan pada 1670 kerajaan ini sebanding dengan tetangga-tetangganya seperti Johor dan Palembang.Namun kejayaan Jambi tidak berumur panjang. Tahun 1680-an Jambi kehilangan kedudukan sebagai pelabuhan lada utama, setelah perang dengan Johor dan konflik internal.  Tahun 1903 Pangeran Ratu Martaningrat, keturunan Sultan Thaha, sultan yang terakhir, menyerah Belanda. Jambi digabungkan dengan keresidenan Palembang.  Tahun 1906 kesultanan Jambi resmi dibubarkan oleh pemerintah Hindia Belanda.
  • 6.
    Pemerintahan Kesultanan Jambi dipimpinoleh raja yang bergelar sultan. Raja ini dipilih dari perwakilan empat keluarga bangsawan (suku): suku Kraton, Kedipan, Perban dan Raja Empat Puluh. Selain memilih raja keempat suku tersebut juga memilih pangeran ratu, yang mengendalikan jalan pemerintahan sehari-hari. Dalam menjalankan pemerintahan pangeran ratu dibantu oleh para menteri dan dewan penasihat yang anggotanya berasal dari keluarga bangsawan. Sultan berfungsi sebagai pemersatu dan mewakili negara bagi dunia luar.
  • 7.
    Berikut adalah daftarSultan Jambi.  1790 – 1812 : Mas’ud Badruddin bin Ahmad Sultan Ratu Seri Ingalaga  1812 – 1833 : Mahmud Muhieddin bin Ahmad Sultan Agung Seri Ingalaga  1833 – 1841 : Muhammad Fakhruddin bin Mahmud Sultan Keramat  1841 – 1855 : Abdul Rahman Nazaruddin bin Mahmud  1855 – 1858 : Thaha Safiuddin bin Muhammad (Pertama kali)  1858 – 1881 : Ahmad Nazaruddin bin Mahmud  1881 – 1885 : Muhammad Muhieddin bin Abdul Rahman  1885 – 1899 : Ahmad Zainul Abidin bin Muhammad  1900 – 1904 : Thaha Safiuddin bin Muhammad (Kedua kali) Silsilah Sultan Ahmad Nazaruddin Sultan Thaha Saifuddin
  • 8.
    Kesultanan Siak  KesultananSiak Sri Inderapura adalah sebuah Kerajaan Melayu Islam yang pernah berdiri di Kabupaten Siak, Provinsi Riau, Indonesia.  Kerajaan ini didirikan di Buantan oleh Raja Kecil dari Pagaruyung Dalam perkembangannya, Kesultanan Siak muncul sebagai sebuah kerajaan bahari yang kuat dan menjadi kekuatan yang diperhitungkan di pesisir timur Sumatera dan Semenanjung Malaya di tengah tekanan imperialisme Eropa. Jangkauan terjauh pengaruh kerajaan ini sampai ke Sambas di Kalimantan Barat, sekaligus mengendalikan jalur pelayaran antara Sumatera dan Kalimantan. Bendera Lambang
  • 9.
    Etimologi  Kata SiakSri Inderapura, secara harfiah dapat bermakna pusat kota raja yang taat beragama, dalam bahasa Sanskerta, sri berarti "bercahaya" dan indera atau indra dapat bermakna raja. Sedangkan pura dapat bermaksud dengan "kota" atau "kerajaan". Siak dalam anggapan masyarakat Melayu sangat bertali erat dengan agama Islam, Orang Siak ialah orang-orang yang ahli agama Islam, kalau seseorang hidupnya tekun beragama dapat dikatakan sebagai Orang Siak.  Nama Siak, dapat merujuk kepada sebuah klan di kawasan antara Pakistan dan India, Sihag atau Asiagh yang bermaksud pedang. Masyarakat ini dikaitkan dengan bangsa Asii, masyarakat nomaden yang disebut oleh masyarakat Romawi, dan diidentifikasikan sebagai Sakai oleh Strabo seorang penulis geografi dari Yunani.Berkaitan dengan ini pada sehiliran Sungai Siak sampai hari ini masih dijumpai masyarakat terasing yang dinamakan sebagai Orang Sakai.
  • 10.
    Perdagangan  Kesultanan SiakSri Inderapura mengambil keuntungan atas pengawasan perdagangan melalui Selat Melaka, serta kemampuan mengendalikan para perompak di kawasan tersebut. Kemajuan perekonomian Siak terlihat dari catatan Belanda yang menyebutkan di tahun 1783 ada sekitar 171 kapal dagang dari Siak menuju Malaka. Siak menjadi kawasan segitiga perdagangan antara Belanda di Malaka dan Inggris di Pulau Pinang.Namun disisi lain, kejayaan Siak ini memberi kecemburuan pada keturunan Yang Dipertuan Muda terutama setelah hilangnya kekuasaan mereka pada kawasan Kepulauan Riau. Sikap ketidaksukaan dan permusuhan terhadap Sultan Siak, terlihat dalam Tuhfat al-Nafis, di mana dalam deskripsi ceritanya mereka menggambarkan Sultan Siak sebagai "orang yang rakus akan kekayaan dunia".  Dominasi Kesultanan Siak terhadap wilayah pesisir pantai timur Sumatera dan Semenanjung Malaya cukup signifikan. Mereka mampu menggantikan pengaruh Johor sebelumnya atas penguasaan jalur perdagangan. Selain itu Kesultanan Siak juga muncul sebagai pemegang kunci ke dataran tinggi Minangkabau, melalui tiga sungai utama yaitu Siak, Kampar, dan Kuantan, yang mana sebelumnya telah menjadi kunci bagi kejayaan Malaka. Namun demikian kemajuan perekonomian Siak memudar seiring dengan munculnya gejolak di pedalaman Minangkabau yang dikenal dengan Perang Padri.
  • 11.
    Struktur Pemerintahan Sebagai bagiandari rantau Minangkabau, sistem pemerintahan Kesultanan Siak mengikuti model Kerajaan Pagaruyung. Setelah posisi Sultan, terdapat Dewan Menteri yang mirip dengan kedudukan Basa Ampek Balai di Pagaruyung. Dewan Menteri ini memiliki kekuasaan untuk memilih dan mengangkat Sultan Siak, sama dengan Undang Yang Ampat di Negeri Sembilan.Dewan Menteri bersama dengan Sultan, menetapkan undang-undang serta peraturan bagi masyarakatnya. Dewan menteri ini terdiri dari:  Datuk Tanah Datar  Datuk Limapuluh  Datuk Pesisir  Datuk Kampar Seiring dengan perkembangan zaman, Siak Sri Inderapura juga melakukan pembenahan sistem birokrasi pemerintahannya. Hal ini tidak lepas dari pengaruh model birokrasi pemerintahan yang berlaku di Eropa maupun yang diterapkan pada kawasan kolonial Belanda dan Inggris. Modernisasi sistem penyelenggaraan pemerintahan Siak terlihat pada naskah Ingat Jabatan yang diterbitkan tahun 1897. Naskah ini terdiri dari 33 halaman yang panjang serta ditulis dengan Abjad Jawi atau tulisan Arab- Melayu. Ingat Jabatan merupakan dokumen resmi Siak Sri Inderapura yang dicetak di Singapura, berisi rincian tanggung jawab dari berbagai posisi atau jabatan di pemerintahan mulai dari pejabat istana, wakil kerajaan di daerah jajahan, pengadilan maupun polisi. Pada bagian akhir dari setiap uraian tugas para birokrat tersebut, ditutup dengan peringatan serta perintah untuk tidak khianat kepada sultan dan nagari.
  • 12.
    Daftar Sultan Siak 1723-1746 : Yang Dipertuan Besar Siak Sultan Abdul Jalil Syah  1746-1761 : Sultan Abdul Jalil Syah II  1761-1761 : Sultan Abdul Jalil Syah III  1770-1779 : Sultan Abdul Jalil Muazzam Syah  1779-1781 : Sultan Abdul Jalil Syah III  1781-1791 : Sultan Abdul Jalil Muzaffar Syah  1791-1811 : Sultan Abdul Jalil Saifuddin  1811-1827 : Sultan Abdul Jalil Khaliluddin  1827-1864 : Sultan Abdul Jalil Jalaluddin  1864-1889 : Sultan Syarif Kasim I  1889-1908 : Yang Dipertuan Besar Syarif Hasyim Abdul Jalil Saifuddin  1915-1945 : Yang Dipertuan Besar Syarif Kasyim Abdul Jalil Saifuddin Sultan Syarif Kasim II dan Istrinya (1910-1939) Sultan Siak dan Dewan Menterinya serta Kadi Siak pada tahun 1888