CURRICULUM VITAE
NAMA: dr.I Putu Surya Sujana, Sp.P
RIWAYAT PENDIDIKAN
• 2006 – 2013 : S1 – Profesi Pendidikan Dokter FK UNUD
• 2019 – 2023 : SP-1 – Program Studi Spesialis
Pulmonologi & Ilmu Kedokteran
Respirasi FK UNUD
PENGALAMAN KERJA
• RSUD Buleleng (November 2023)
• RS Balimed Buleleng (Desember 2023)
• RS KDH Buleleng (2024)
3.
Respiratory Emergency /KEGAWATDARURATAN PARU
: Kondisi patologis respirasi yang berpotensi mengancam jiwa
KELUHAN
Sesak Nyeri Dada Batuk Darah
Disfungsi Jalan Napas
Gangguan Parenkim
Gangguan Vaskuler dan Pleura
Heunks L, Demoule A, Windisch W, ed. Pulmonary Emergencies. UK: European Respiratory Society, 2016.
Kegagalan sistem respirasi
Oksigenasi
Eliminasi
Karbondioksida
4.
1. Kegawatan Pernapasanakibat Disfungsi Saluran Pernapasan
GEJALA
KLINIS
Aspirasi benda asing, PPOK eksaserbasi, dan Asma eksaserbasi
Bergantung penyebab dan lokasi obstruksi
Tersedak Sesak Batuk
PEMERIKSAAN
FISIK
Aspirasi benda asing pada Trakea dan Bronkus: stridor,
wheezing terlokalisir
Asma dan PPOK: pemanjangan fase ekspirasi, wheezing, dan
ronki ketika terjadi Pneumonia paru sebagai pencetus
Gang W, Zhengxia P, HongBO I, Yonggang L, Jiangtao D, Shengde W, dkk. Diagnosis and Treatment of Tracheobronchial Foreign Bodies in 1024 Children. J Pediatr Surg, 2012;47:2004-2010.
Global Initiative for Asthma. Global Strategy for Asthma Management and Prevention Updated 2019. 2019
Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease. Global Strategy for Diagnosis, Management, and Prevention of Chronic Obstructive Pulmonary Disease 2019 Report. 2019
5.
Pemeriksaan Penunjang Bergantungpenyebab dan lokasi obstruksi
Emphysematous Lung
pada PPOK
Pada asma dapat ditemukan
gambaran normal atau hiperinflasi
Benda asing pada Bronkus
utama kanan
1. Kegawatan Pernapasan akibat Disfungsi Saluran Pernapasan
6.
2. Kegawatan Pernapasanakibat Gangguan Parenkim Paru
Pneumonia berat, PCP berat, dan ARDS
GEJALA KLINIS
Bergantung pada penyebab gangguan parenkim
Sesak
Batuk dahak
purulen pada infeksi
Pneumonia
PEMERIKSAAN
FISIK
Status lokalis: peningkatan laju napas
Inspeksi: retraksi otot bantuk napas
Palpasi: Vokal fremitus meningkat pada area yang terisi infitrat
Perkusi: dapat redup pada area infiltrat
Auskultasi: penurunan suara paru pada area infiltrat, rhonki bilateral pada ARDS dan
rhonki sesuai lokasi infiltrat pada Pneumonia
Tanda sistemik: peningkatan denyut nadi dan temperatur tubuh pada infeksi
Demam
Riwayat penyakit
imunodefisiensi
pada PCP
7.
Pemeriksaan
Penunjang
Bergantung pada penyebabgangguan parenkim
Multilobar infiltrat pada
Pneumonia berat
Infiltrat bilateral tanpa
tanda kongesti lainnya
pada ARDS
Gambaran rontgen tidak
spesifik pada PCP dan 10-
15 % kasus bisa
didapatkan gambaran
normal
Pemeriksaan penunjang lainnya:
Darah lengkap: melihat penanda infeksi
LDH: > 220 menunjukkan adanya PCP
Analisis Gas Darah (AGD): untuk diagnostik dan penentuan terapi
2. Kegawatan Pernapasan akibat Gangguan Parenkim Paru
Pneumonia berat, PCP berat, dan ARDS
8.
3. Kegawatan Pernapasanakibat Gangguan Pleura dan Vaskuler
Hemoptisis masif, Sindrom Vena Kava Superior (SVKS), Emboli paru, Tension Pneumotoraks
GEJALA KLINIS
Sesuai Etiologi
Sesak akut
pada emboli
paru
Batuk darah
PEMERIKSAAN
FISIK
Status lokalis: peningkatan laju napas
Inspeksi: retraksi otot bantuk napas, pergerakan dada asimetris pada tension pneumotoraks,
edema ekstremitas atas dan vena kolateral pada SVKS
Palpasi: Vokal fremitus menurun pada pneumotoraks
Perkusi: dapat redup pada paru dengan pneumotraks
Auskultasi: penurunan suara paru pada area pneumotoraks
Tanda sistemik: hemodinamik tidak stabil pada pneumotoraks dan emboli sentral atau
emboli luas
Nyeri dada
akut pada
emboli paru
Bengkak pada leher dan
ekstremitas atas pada SVKS
9.
Pemeriksaan
Penunjang
Sesuai dengan penyebabkegawatan
Hemoptisis masif pada
Tuberkulosis Paru Tumor paru dengan SVKS
Tension pneumotoraks
dekstra dengan
pendorongan
mediastinum ke kiri
Pemeriksaan penunjang lainnya:
Darah lengkap: melihat adanya anemia pada hemoptisis masif
Analisis Gas Darah (AGD): untuk diagnostik dan penentuan terapi
Elektrokardiografi (EKG) dan D-dimer: untuk menegakkan kemungkinan terjadinya emboli paru
3. Kegawatan Pernapasan akibat Gangguan Pleura dan Vaskuler
Hemoptisis masif, Sindrom Vena Kava Superior (SVKS), Emboli paru, Tension Pneumotoraks
10.
OKSIGENASI
1. Oksigenasi target
saturasiperifer
(>94% ASMA),
(88-93% PPOK)
2. Mulai pemberian
oksigenasi
berdasarkan
kebutuhan pasien
sesuai target
3. Tentukan derajat
eksaserbasi
4. Pemeriksaan darah
lengkap dan Analisis
Gas Darah (AGD)
5. SPIROMETRI
Nasal kanul
Aliran 1-6 liter/ menit dengan fraksi
oksigen (O2) (Fi-O2) antara 24-44%.
Sungkup Muka Tanpa
Kantong Penampung
Alat ini mampu menyediakan fraksi oksigen (FiO2)
sekitar 40-60% dengan aliran 5-10 liter/ menit.
Sungkup muka dengan
kantong penampung
Sungkup Muka Nonrebreathing dapat
mengantarkan oksigen (O2) sebanyak 10-15
liter/ menit dengan (FiO2) sebesar 80-85% pada
sungkup muka partial rebreathing bahkan
hingga 100% pada sungkup muka
nonrebreathing.
11.
Eksaserbasi ASMA
Eksaserbasi PPOK
1.Oksigenasi target
saturasi perifer
(>94% ASMA),
(88-93% PPOK)
2. Mulai pemberian
oksigenasi
berdasarkan
kebutuhan pasien
sesuai target
3. Tentukan derajat
eksaserbasi
4. Pemeriksaan darah
lengkap dan Analisis
Gas Darah (AGD)
5. SPIROMETRI
12.
Analisis Gas Darah(AGD)
KIE Efek Samping Analisa Gas Darah
•Memar kecil bekas suntikan.
•Merasa pusing, bahkan bisa saja pingsan.
•Hematoma, yaitu penumpukan darah di bawah kulit bekas
tusukan.
•Penyumbatan arteri akibat suntikan.
•Pendarahan berlebihan.
Mesipun keadaan ini sangat jarang terjadi, pasien tetap
direkomendasikan untuk menahan atau menekan bekas
suntikan selama beberapa menit setelah pengambilan
darah, juga disarankan untuk tidak mengangkat barang
berat selama 24 jam.
1. Oksigenasi target
saturasi perifer
(>94% ASMA),
(88-93% PPOK)
2. Mulai pemberian
oksigenasi
berdasarkan
kebutuhan pasien
sesuai target
3. Tentukan derajat
eksaserbasi
4. Pemeriksaan darah
lengkap dan Analisis
Gas Darah (AGD)
5. SPIROMETRI
13.
Analisis Gas Darah(AGD)
1. Oksigenasi target
saturasi perifer
(>94% ASMA),
(88-93% PPOK)
2. Mulai pemberian
oksigenasi
berdasarkan
kebutuhan pasien
sesuai target
3. Tentukan derajat
eksaserbasi
4. Pemeriksaan darah
lengkap dan Analisis
Gas Darah (AGD)
5. SPIROMETRI
14.
HEMOPTISIS
Ekspektorasi darah atau
dahakyang bercampur darah
berasal dari saluran napas
bawah dan parenkim paru
Pursel
Derajat 1: Blood Streak
Derajat 2: 1 - 30 cc
Derajat 3: 30 - 150 cc
Derajat 4: 150 - 500 cc
Massive: 500 - 1000 cc atau
lebih
Klasifikasi Hemoptisis
Hemoptisis Masif
Volume 600 ml
dalam 24 jam
Vol 250 - 600 ml dlm 24 jam;
kadar Hb < 10 g/dL dan masih
berlangsung
Vol. 250 - 600 mL dlm 24 jam;
kadar Hb > 10 g/dL dlm 48
jam masih belum berhenti
Kriteria Busroh
tahun 1978
15.
Perbedaan Hemoptisis Hematemesis
AnamnesisTanpa keluhan mual
atau muntah
Disertai keluhan
mual atau muntah
Pasien memiliki
riwayat penyakit
paru
Pasien biasanya
tidak memiliki
riwayat penyakit
paru
Mungkin mengalami
asfiksia
Jarang disertai
asfiksia
Pemeriksaan
sputum
Frothy
Kemerahan cair atau
tampak ada bekuan
darah bercampur
dahak
Merah segar atau
pink
Jarang frothy
Warna
kehitaman/Coffe
ground appearance
Kecoklatan atau
kehitaman
Laboratorium pH alkali
Bercampur dengan
makrofag dan
neutrofil
pH asam
Bercampur dengan
sisa makanan
Bidwell JL, Pachner RW. Hemoptysis: diagnosis and
management. Am Fam Physician. 2005;72:1253-60
Penanganan awal penderita yang mengalami
pendarahan aktif (hemoptisis non masif)
1. Tenangkan dan beritahu penderita agar jangan takut
untuk membatukkan darahnya
2. Penderita berbaring pada posisi lateral dekubitus ke
sisi paru yang sakit
3. Pantau kesadaran, tanda vital yaitu tekanan darah,
frekuensi nadi, laju pernapasan, dan saturasi oksigen,
serta pantau jumlah darah yang dibatukkan
4. Jaga agar jalan napas tetap terbuka
5. Pemberian oksigen dengan kanul atau masker bila
jalan napas bebas hambatan/sumbatan
6. Pemasangan infus dilakukan untuk penggantian
cairan maupun jalur pemberian obat parenteral dan
tranfusi bila diperlukan
7. Transfusi darah diberikan jika hematokrit < 25-30%
atau Hb < 10 gr/dL sedangkan perdarahan masih
berlangsung.
16.
Nebuliser
Alat medis yangmembawa cairan obat dalam bentuk
kabut (aerosol) ke dalam saluran pernapasan
SYM/031/Okt12-Oktb13/RD
● Aerosol keluar terus menerus
● Ukuran partikel 2 – 5
● Pengendapan di paru 10%
dosis
● Efek samping minimal
Teknik penggunaan obat inhalasi yang benar
akan memperbaiki hasil pengobatan pada
pasien asma & PPOK sehingga dapat
memperbaiki kualitas hidup pasien.
Sangat dianjurkan karena :
Lebih efektif
Langsung ke target sasaran dan
Efek sistemik minimal
Prinsip Bernoulli :Udara
dikompres pipa sempit
tekanan tinggi menarik
cairan obat dari reservoar
melalui tabung pecah
partikel kecil dalam aliran
gas
Jet Nebuliser
Ref : Asthma - Chapman & Hall Medical, Third Edition
Prinsip Piezoelektrik : Signal
ultrasonik frekuensi tinggi
(1 - 3 MHz) membentuk
partikel aerosol ditumbuk
pada baffle partikel yang
lebih kecil
Ultrasonik Nebuliser
PERBEDAAN JENIS NEBULISER
Jet Ultrasound
Perawatan Mudah LebihRumit
Mudah
Harga Murah Mahal
Suara Kasar Suarahalus
Partikel LebihKasar LebihHalus
B2-agonis + +
Kortikosteroid + -
Penggunaan
Keuntungan&Kekurangan-Nebulizer
19.
1. Udara dalamruangan harus
segar, ventilasi yang baik
2. Pasien duduk tegak dan relaks,
atau tidur miring setengah duduk
3. Bernapas biasa (volume tidal).
Sesekali menarik napas dalam.
4. Pergunakan mouth piece atau
masker (Anak-anak usia < 6 thn
harus memakai masker)
5. Waktu yang digunakan berkisar
5-15 menit. Jika diperlukan dapat
dilakukan beberapa kali dalam
sehari.
CARA MENGGUNAKAN NEBULISER
6. Jika ada bronkokonstriksi, berikan pertama-tama
bronkodilator terlebih dahulu (atau bisa
digabung dengan steroid, tetapi jangan steroid
tunggal)
7. Jangan memberikan mukolitik pada saat pasien
masih sesak, terutama pada serangan akut berat
8. Sekret yang dikeluarkan jangan sampai tertelan
oleh pasien, pergunakan tempat tissue atau
sputum
9. Perhatikan tanda-tanda yang tidak biasa pada
pasien seperti cyanosis, sesak memberat
10. Sebaiknya pergunakan alat-alat yang disposable
11. Jika terapi selesai, bersihkan peralatan yang
dipakai.
Take Home Massage......
RespiratoryEmergency atau kegawatan pernapasan adalah kondisi patologis respirasi yang
berpotensi mengancam jiwa.
Etiologi terjadinya kegawatan pernapasan dapat dibagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu
disfungsi jalan napas, penyakit atau gangguan pada parenkim paru, dan gangguan vaskuler
pumonal.
Penilaian awal Airway, Breathing, dan Circulation yang dilanjutkan dengan proses stabilisasi
merupakan inisisasi terapi kegawatan pernapasan yang terpenting.
Kerja sama team medis dan paramedis yang cepat dan tepat sangat membantu untuk
meningkatkan keberhasilan terapi komplikasi kegawatan pernapasan yang mengancam jiwa