KEGAWATDARURATAN PARU
DAN
TERAPI NEBULIZER
dr. I Putu Surya Sujana, Sp.P
CURRICULUM VITAE
NAMA: dr. I Putu Surya Sujana, Sp.P
RIWAYAT PENDIDIKAN
• 2006 – 2013 : S1 – Profesi Pendidikan Dokter FK UNUD
• 2019 – 2023 : SP-1 – Program Studi Spesialis
Pulmonologi & Ilmu Kedokteran
Respirasi FK UNUD
PENGALAMAN KERJA
• RSUD Buleleng (November 2023)
• RS Balimed Buleleng (Desember 2023)
• RS KDH Buleleng (2024)
Respiratory Emergency / KEGAWATDARURATAN PARU
: Kondisi patologis respirasi yang berpotensi mengancam jiwa
KELUHAN
Sesak Nyeri Dada Batuk Darah
Disfungsi Jalan Napas
Gangguan Parenkim
Gangguan Vaskuler dan Pleura
Heunks L, Demoule A, Windisch W, ed. Pulmonary Emergencies. UK: European Respiratory Society, 2016.
Kegagalan sistem respirasi
 Oksigenasi
 Eliminasi
Karbondioksida
1. Kegawatan Pernapasan akibat Disfungsi Saluran Pernapasan
GEJALA
KLINIS
Aspirasi benda asing, PPOK eksaserbasi, dan Asma eksaserbasi
Bergantung penyebab dan lokasi obstruksi
Tersedak Sesak Batuk
PEMERIKSAAN
FISIK
Aspirasi benda asing pada Trakea dan Bronkus: stridor,
wheezing terlokalisir
Asma dan PPOK: pemanjangan fase ekspirasi, wheezing, dan
ronki ketika terjadi Pneumonia paru sebagai pencetus
Gang W, Zhengxia P, HongBO I, Yonggang L, Jiangtao D, Shengde W, dkk. Diagnosis and Treatment of Tracheobronchial Foreign Bodies in 1024 Children. J Pediatr Surg, 2012;47:2004-2010.
Global Initiative for Asthma. Global Strategy for Asthma Management and Prevention Updated 2019. 2019
Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease. Global Strategy for Diagnosis, Management, and Prevention of Chronic Obstructive Pulmonary Disease 2019 Report. 2019
Pemeriksaan Penunjang Bergantung penyebab dan lokasi obstruksi
Emphysematous Lung
pada PPOK
Pada asma dapat ditemukan
gambaran normal atau hiperinflasi
Benda asing pada Bronkus
utama kanan
1. Kegawatan Pernapasan akibat Disfungsi Saluran Pernapasan
2. Kegawatan Pernapasan akibat Gangguan Parenkim Paru
Pneumonia berat, PCP berat, dan ARDS
GEJALA KLINIS
Bergantung pada penyebab gangguan parenkim
Sesak
Batuk dahak
purulen pada infeksi
Pneumonia
PEMERIKSAAN
FISIK
Status lokalis: peningkatan laju napas
 Inspeksi: retraksi otot bantuk napas
 Palpasi: Vokal fremitus meningkat pada area yang terisi infitrat
 Perkusi: dapat redup pada area infiltrat
 Auskultasi: penurunan suara paru pada area infiltrat, rhonki bilateral pada ARDS dan
rhonki sesuai lokasi infiltrat pada Pneumonia
Tanda sistemik: peningkatan denyut nadi dan temperatur tubuh pada infeksi
Demam
Riwayat penyakit
imunodefisiensi
pada PCP
Pemeriksaan
Penunjang
Bergantung pada penyebab gangguan parenkim
Multilobar infiltrat pada
Pneumonia berat
Infiltrat bilateral tanpa
tanda kongesti lainnya
pada ARDS
Gambaran rontgen tidak
spesifik pada PCP dan 10-
15 % kasus bisa
didapatkan gambaran
normal
Pemeriksaan penunjang lainnya:
 Darah lengkap: melihat penanda infeksi
 LDH: > 220 menunjukkan adanya PCP
 Analisis Gas Darah (AGD): untuk diagnostik dan penentuan terapi
2. Kegawatan Pernapasan akibat Gangguan Parenkim Paru
Pneumonia berat, PCP berat, dan ARDS
3. Kegawatan Pernapasan akibat Gangguan Pleura dan Vaskuler
Hemoptisis masif, Sindrom Vena Kava Superior (SVKS), Emboli paru, Tension Pneumotoraks
GEJALA KLINIS
Sesuai Etiologi
Sesak akut
pada emboli
paru
Batuk darah
PEMERIKSAAN
FISIK
Status lokalis: peningkatan laju napas
 Inspeksi: retraksi otot bantuk napas, pergerakan dada asimetris pada tension pneumotoraks,
edema ekstremitas atas dan vena kolateral pada SVKS
 Palpasi: Vokal fremitus menurun pada pneumotoraks
 Perkusi: dapat redup pada paru dengan pneumotraks
 Auskultasi: penurunan suara paru pada area pneumotoraks
Tanda sistemik: hemodinamik tidak stabil pada pneumotoraks dan emboli sentral atau
emboli luas
Nyeri dada
akut pada
emboli paru
Bengkak pada leher dan
ekstremitas atas pada SVKS
Pemeriksaan
Penunjang
Sesuai dengan penyebab kegawatan
Hemoptisis masif pada
Tuberkulosis Paru Tumor paru dengan SVKS
Tension pneumotoraks
dekstra dengan
pendorongan
mediastinum ke kiri
Pemeriksaan penunjang lainnya:
 Darah lengkap: melihat adanya anemia pada hemoptisis masif
 Analisis Gas Darah (AGD): untuk diagnostik dan penentuan terapi
 Elektrokardiografi (EKG) dan D-dimer: untuk menegakkan kemungkinan terjadinya emboli paru
3. Kegawatan Pernapasan akibat Gangguan Pleura dan Vaskuler
Hemoptisis masif, Sindrom Vena Kava Superior (SVKS), Emboli paru, Tension Pneumotoraks
OKSIGENASI
1. Oksigenasi target
saturasi perifer
(>94% ASMA),
(88-93% PPOK)
2. Mulai pemberian
oksigenasi
berdasarkan
kebutuhan pasien
sesuai target
3. Tentukan derajat
eksaserbasi
4. Pemeriksaan darah
lengkap dan Analisis
Gas Darah (AGD)
5. SPIROMETRI
Nasal kanul
Aliran 1-6 liter/ menit dengan fraksi
oksigen (O2) (Fi-O2) antara 24-44%.
Sungkup Muka Tanpa
Kantong Penampung
Alat ini mampu menyediakan fraksi oksigen (FiO2)
sekitar 40-60% dengan aliran 5-10 liter/ menit.
Sungkup muka dengan
kantong penampung
Sungkup Muka Nonrebreathing dapat
mengantarkan oksigen (O2) sebanyak 10-15
liter/ menit dengan (FiO2) sebesar 80-85% pada
sungkup muka partial rebreathing bahkan
hingga 100% pada sungkup muka
nonrebreathing.
Eksaserbasi ASMA
Eksaserbasi PPOK
1. Oksigenasi target
saturasi perifer
(>94% ASMA),
(88-93% PPOK)
2. Mulai pemberian
oksigenasi
berdasarkan
kebutuhan pasien
sesuai target
3. Tentukan derajat
eksaserbasi
4. Pemeriksaan darah
lengkap dan Analisis
Gas Darah (AGD)
5. SPIROMETRI
Analisis Gas Darah (AGD)
KIE Efek Samping Analisa Gas Darah
•Memar kecil bekas suntikan.
•Merasa pusing, bahkan bisa saja pingsan.
•Hematoma, yaitu penumpukan darah di bawah kulit bekas
tusukan.
•Penyumbatan arteri akibat suntikan.
•Pendarahan berlebihan.
 Mesipun keadaan ini sangat jarang terjadi, pasien tetap
direkomendasikan untuk menahan atau menekan bekas
suntikan selama beberapa menit setelah pengambilan
darah, juga disarankan untuk tidak mengangkat barang
berat selama 24 jam.
1. Oksigenasi target
saturasi perifer
(>94% ASMA),
(88-93% PPOK)
2. Mulai pemberian
oksigenasi
berdasarkan
kebutuhan pasien
sesuai target
3. Tentukan derajat
eksaserbasi
4. Pemeriksaan darah
lengkap dan Analisis
Gas Darah (AGD)
5. SPIROMETRI
Analisis Gas Darah (AGD)
1. Oksigenasi target
saturasi perifer
(>94% ASMA),
(88-93% PPOK)
2. Mulai pemberian
oksigenasi
berdasarkan
kebutuhan pasien
sesuai target
3. Tentukan derajat
eksaserbasi
4. Pemeriksaan darah
lengkap dan Analisis
Gas Darah (AGD)
5. SPIROMETRI
HEMOPTISIS
Ekspektorasi darah atau
dahak yang bercampur darah
berasal dari saluran napas
bawah dan parenkim paru
Pursel
Derajat 1: Blood Streak
Derajat 2: 1 - 30 cc
Derajat 3: 30 - 150 cc
Derajat 4: 150 - 500 cc
Massive: 500 - 1000 cc atau
lebih
Klasifikasi Hemoptisis
Hemoptisis Masif
Volume 600 ml
dalam 24 jam
Vol 250 - 600 ml dlm 24 jam;
kadar Hb < 10 g/dL dan masih
berlangsung
Vol. 250 - 600 mL dlm 24 jam;
kadar Hb > 10 g/dL dlm 48
jam masih belum berhenti
Kriteria Busroh
tahun 1978
Perbedaan Hemoptisis Hematemesis
Anamnesis Tanpa keluhan mual
atau muntah
Disertai keluhan
mual atau muntah
Pasien memiliki
riwayat penyakit
paru
Pasien biasanya
tidak memiliki
riwayat penyakit
paru
Mungkin mengalami
asfiksia
Jarang disertai
asfiksia
Pemeriksaan
sputum
Frothy
Kemerahan cair atau
tampak ada bekuan
darah bercampur
dahak
Merah segar atau
pink
Jarang frothy
Warna
kehitaman/Coffe
ground appearance
Kecoklatan atau
kehitaman
Laboratorium pH alkali
Bercampur dengan
makrofag dan
neutrofil
pH asam
Bercampur dengan
sisa makanan
Bidwell JL, Pachner RW. Hemoptysis: diagnosis and
management. Am Fam Physician. 2005;72:1253-60
Penanganan awal penderita yang mengalami
pendarahan aktif (hemoptisis non masif)
1. Tenangkan dan beritahu penderita agar jangan takut
untuk membatukkan darahnya
2. Penderita berbaring pada posisi lateral dekubitus ke
sisi paru yang sakit
3. Pantau kesadaran, tanda vital yaitu tekanan darah,
frekuensi nadi, laju pernapasan, dan saturasi oksigen,
serta pantau jumlah darah yang dibatukkan
4. Jaga agar jalan napas tetap terbuka
5. Pemberian oksigen dengan kanul atau masker bila
jalan napas bebas hambatan/sumbatan
6. Pemasangan infus dilakukan untuk penggantian
cairan maupun jalur pemberian obat parenteral dan
tranfusi bila diperlukan
7. Transfusi darah diberikan jika hematokrit < 25-30%
atau Hb < 10 gr/dL sedangkan perdarahan masih
berlangsung.
Nebuliser
Alat medis yang membawa cairan obat dalam bentuk
kabut (aerosol) ke dalam saluran pernapasan
SYM/031/Okt12-Oktb13/RD
● Aerosol keluar terus menerus
● Ukuran partikel 2 – 5 
● Pengendapan di paru 10%
dosis
● Efek samping minimal
 Teknik penggunaan obat inhalasi yang benar
akan memperbaiki hasil pengobatan pada
pasien asma & PPOK sehingga dapat
memperbaiki kualitas hidup pasien.
 Sangat dianjurkan karena :
 Lebih efektif
 Langsung ke target sasaran dan
 Efek sistemik minimal
Tipe Nebuliser
Jet
Nebuliser
Ultrasound
Nebuliser
Prinsip Bernoulli : Udara
dikompres pipa sempit
tekanan tinggi menarik
cairan obat dari reservoar
melalui tabung pecah
partikel kecil dalam aliran
gas
Jet Nebuliser
Ref : Asthma - Chapman & Hall Medical, Third Edition
Prinsip Piezoelektrik : Signal
ultrasonik frekuensi tinggi
(1 - 3 MHz) membentuk
partikel aerosol ditumbuk
pada baffle partikel yang
lebih kecil
Ultrasonik Nebuliser
PERBEDAAN JENIS NEBULISER
Jet Ultrasound
Perawatan Mudah LebihRumit
Mudah
Harga Murah Mahal
Suara Kasar Suarahalus
Partikel LebihKasar LebihHalus
B2-agonis + +
Kortikosteroid + -
Penggunaan
Keuntungan&Kekurangan-Nebulizer
1. Udara dalam ruangan harus
segar, ventilasi yang baik
2. Pasien duduk tegak dan relaks,
atau tidur miring setengah duduk
3. Bernapas biasa (volume tidal).
Sesekali menarik napas dalam.
4. Pergunakan mouth piece atau
masker (Anak-anak usia < 6 thn
harus memakai masker)
5. Waktu yang digunakan berkisar
5-15 menit. Jika diperlukan dapat
dilakukan beberapa kali dalam
sehari.
CARA MENGGUNAKAN NEBULISER
6. Jika ada bronkokonstriksi, berikan pertama-tama
bronkodilator terlebih dahulu (atau bisa
digabung dengan steroid, tetapi jangan steroid
tunggal)
7. Jangan memberikan mukolitik pada saat pasien
masih sesak, terutama pada serangan akut berat
8. Sekret yang dikeluarkan jangan sampai tertelan
oleh pasien, pergunakan tempat tissue atau
sputum
9. Perhatikan tanda-tanda yang tidak biasa pada
pasien seperti cyanosis, sesak memberat
10. Sebaiknya pergunakan alat-alat yang disposable
11. Jika terapi selesai, bersihkan peralatan yang
dipakai.
Obat2 yang Diberikan secara inhalasi :
1. Kortikosteroid
 Fluticasone Propionate
 Budesonide
3. Antiholinergik
 Ipratropium bromide
2. Adrenergik bronkhodilator
 Salbutamol
 Fenoterol
 Terbutaline
 Orciprenaline
4. Mukolitik
- Acetyl cysteine
- Bromhexine Hcl
Take Home Massage......
Respiratory Emergency atau kegawatan pernapasan adalah kondisi patologis respirasi yang
berpotensi mengancam jiwa.
Etiologi terjadinya kegawatan pernapasan dapat dibagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu
disfungsi jalan napas, penyakit atau gangguan pada parenkim paru, dan gangguan vaskuler
pumonal.
Penilaian awal Airway, Breathing, dan Circulation yang dilanjutkan dengan proses stabilisasi
merupakan inisisasi terapi kegawatan pernapasan yang terpenting.
Kerja sama team medis dan paramedis yang cepat dan tepat sangat membantu untuk
meningkatkan keberhasilan terapi komplikasi kegawatan pernapasan yang mengancam jiwa
KEGAWATDARURATAN PARU DAN NEBULIZER dr Surya Sujana, Sp.P.pptx

KEGAWATDARURATAN PARU DAN NEBULIZER dr Surya Sujana, Sp.P.pptx

  • 1.
  • 2.
    CURRICULUM VITAE NAMA: dr.I Putu Surya Sujana, Sp.P RIWAYAT PENDIDIKAN • 2006 – 2013 : S1 – Profesi Pendidikan Dokter FK UNUD • 2019 – 2023 : SP-1 – Program Studi Spesialis Pulmonologi & Ilmu Kedokteran Respirasi FK UNUD PENGALAMAN KERJA • RSUD Buleleng (November 2023) • RS Balimed Buleleng (Desember 2023) • RS KDH Buleleng (2024)
  • 3.
    Respiratory Emergency /KEGAWATDARURATAN PARU : Kondisi patologis respirasi yang berpotensi mengancam jiwa KELUHAN Sesak Nyeri Dada Batuk Darah Disfungsi Jalan Napas Gangguan Parenkim Gangguan Vaskuler dan Pleura Heunks L, Demoule A, Windisch W, ed. Pulmonary Emergencies. UK: European Respiratory Society, 2016. Kegagalan sistem respirasi  Oksigenasi  Eliminasi Karbondioksida
  • 4.
    1. Kegawatan Pernapasanakibat Disfungsi Saluran Pernapasan GEJALA KLINIS Aspirasi benda asing, PPOK eksaserbasi, dan Asma eksaserbasi Bergantung penyebab dan lokasi obstruksi Tersedak Sesak Batuk PEMERIKSAAN FISIK Aspirasi benda asing pada Trakea dan Bronkus: stridor, wheezing terlokalisir Asma dan PPOK: pemanjangan fase ekspirasi, wheezing, dan ronki ketika terjadi Pneumonia paru sebagai pencetus Gang W, Zhengxia P, HongBO I, Yonggang L, Jiangtao D, Shengde W, dkk. Diagnosis and Treatment of Tracheobronchial Foreign Bodies in 1024 Children. J Pediatr Surg, 2012;47:2004-2010. Global Initiative for Asthma. Global Strategy for Asthma Management and Prevention Updated 2019. 2019 Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease. Global Strategy for Diagnosis, Management, and Prevention of Chronic Obstructive Pulmonary Disease 2019 Report. 2019
  • 5.
    Pemeriksaan Penunjang Bergantungpenyebab dan lokasi obstruksi Emphysematous Lung pada PPOK Pada asma dapat ditemukan gambaran normal atau hiperinflasi Benda asing pada Bronkus utama kanan 1. Kegawatan Pernapasan akibat Disfungsi Saluran Pernapasan
  • 6.
    2. Kegawatan Pernapasanakibat Gangguan Parenkim Paru Pneumonia berat, PCP berat, dan ARDS GEJALA KLINIS Bergantung pada penyebab gangguan parenkim Sesak Batuk dahak purulen pada infeksi Pneumonia PEMERIKSAAN FISIK Status lokalis: peningkatan laju napas  Inspeksi: retraksi otot bantuk napas  Palpasi: Vokal fremitus meningkat pada area yang terisi infitrat  Perkusi: dapat redup pada area infiltrat  Auskultasi: penurunan suara paru pada area infiltrat, rhonki bilateral pada ARDS dan rhonki sesuai lokasi infiltrat pada Pneumonia Tanda sistemik: peningkatan denyut nadi dan temperatur tubuh pada infeksi Demam Riwayat penyakit imunodefisiensi pada PCP
  • 7.
    Pemeriksaan Penunjang Bergantung pada penyebabgangguan parenkim Multilobar infiltrat pada Pneumonia berat Infiltrat bilateral tanpa tanda kongesti lainnya pada ARDS Gambaran rontgen tidak spesifik pada PCP dan 10- 15 % kasus bisa didapatkan gambaran normal Pemeriksaan penunjang lainnya:  Darah lengkap: melihat penanda infeksi  LDH: > 220 menunjukkan adanya PCP  Analisis Gas Darah (AGD): untuk diagnostik dan penentuan terapi 2. Kegawatan Pernapasan akibat Gangguan Parenkim Paru Pneumonia berat, PCP berat, dan ARDS
  • 8.
    3. Kegawatan Pernapasanakibat Gangguan Pleura dan Vaskuler Hemoptisis masif, Sindrom Vena Kava Superior (SVKS), Emboli paru, Tension Pneumotoraks GEJALA KLINIS Sesuai Etiologi Sesak akut pada emboli paru Batuk darah PEMERIKSAAN FISIK Status lokalis: peningkatan laju napas  Inspeksi: retraksi otot bantuk napas, pergerakan dada asimetris pada tension pneumotoraks, edema ekstremitas atas dan vena kolateral pada SVKS  Palpasi: Vokal fremitus menurun pada pneumotoraks  Perkusi: dapat redup pada paru dengan pneumotraks  Auskultasi: penurunan suara paru pada area pneumotoraks Tanda sistemik: hemodinamik tidak stabil pada pneumotoraks dan emboli sentral atau emboli luas Nyeri dada akut pada emboli paru Bengkak pada leher dan ekstremitas atas pada SVKS
  • 9.
    Pemeriksaan Penunjang Sesuai dengan penyebabkegawatan Hemoptisis masif pada Tuberkulosis Paru Tumor paru dengan SVKS Tension pneumotoraks dekstra dengan pendorongan mediastinum ke kiri Pemeriksaan penunjang lainnya:  Darah lengkap: melihat adanya anemia pada hemoptisis masif  Analisis Gas Darah (AGD): untuk diagnostik dan penentuan terapi  Elektrokardiografi (EKG) dan D-dimer: untuk menegakkan kemungkinan terjadinya emboli paru 3. Kegawatan Pernapasan akibat Gangguan Pleura dan Vaskuler Hemoptisis masif, Sindrom Vena Kava Superior (SVKS), Emboli paru, Tension Pneumotoraks
  • 10.
    OKSIGENASI 1. Oksigenasi target saturasiperifer (>94% ASMA), (88-93% PPOK) 2. Mulai pemberian oksigenasi berdasarkan kebutuhan pasien sesuai target 3. Tentukan derajat eksaserbasi 4. Pemeriksaan darah lengkap dan Analisis Gas Darah (AGD) 5. SPIROMETRI Nasal kanul Aliran 1-6 liter/ menit dengan fraksi oksigen (O2) (Fi-O2) antara 24-44%. Sungkup Muka Tanpa Kantong Penampung Alat ini mampu menyediakan fraksi oksigen (FiO2) sekitar 40-60% dengan aliran 5-10 liter/ menit. Sungkup muka dengan kantong penampung Sungkup Muka Nonrebreathing dapat mengantarkan oksigen (O2) sebanyak 10-15 liter/ menit dengan (FiO2) sebesar 80-85% pada sungkup muka partial rebreathing bahkan hingga 100% pada sungkup muka nonrebreathing.
  • 11.
    Eksaserbasi ASMA Eksaserbasi PPOK 1.Oksigenasi target saturasi perifer (>94% ASMA), (88-93% PPOK) 2. Mulai pemberian oksigenasi berdasarkan kebutuhan pasien sesuai target 3. Tentukan derajat eksaserbasi 4. Pemeriksaan darah lengkap dan Analisis Gas Darah (AGD) 5. SPIROMETRI
  • 12.
    Analisis Gas Darah(AGD) KIE Efek Samping Analisa Gas Darah •Memar kecil bekas suntikan. •Merasa pusing, bahkan bisa saja pingsan. •Hematoma, yaitu penumpukan darah di bawah kulit bekas tusukan. •Penyumbatan arteri akibat suntikan. •Pendarahan berlebihan.  Mesipun keadaan ini sangat jarang terjadi, pasien tetap direkomendasikan untuk menahan atau menekan bekas suntikan selama beberapa menit setelah pengambilan darah, juga disarankan untuk tidak mengangkat barang berat selama 24 jam. 1. Oksigenasi target saturasi perifer (>94% ASMA), (88-93% PPOK) 2. Mulai pemberian oksigenasi berdasarkan kebutuhan pasien sesuai target 3. Tentukan derajat eksaserbasi 4. Pemeriksaan darah lengkap dan Analisis Gas Darah (AGD) 5. SPIROMETRI
  • 13.
    Analisis Gas Darah(AGD) 1. Oksigenasi target saturasi perifer (>94% ASMA), (88-93% PPOK) 2. Mulai pemberian oksigenasi berdasarkan kebutuhan pasien sesuai target 3. Tentukan derajat eksaserbasi 4. Pemeriksaan darah lengkap dan Analisis Gas Darah (AGD) 5. SPIROMETRI
  • 14.
    HEMOPTISIS Ekspektorasi darah atau dahakyang bercampur darah berasal dari saluran napas bawah dan parenkim paru Pursel Derajat 1: Blood Streak Derajat 2: 1 - 30 cc Derajat 3: 30 - 150 cc Derajat 4: 150 - 500 cc Massive: 500 - 1000 cc atau lebih Klasifikasi Hemoptisis Hemoptisis Masif Volume 600 ml dalam 24 jam Vol 250 - 600 ml dlm 24 jam; kadar Hb < 10 g/dL dan masih berlangsung Vol. 250 - 600 mL dlm 24 jam; kadar Hb > 10 g/dL dlm 48 jam masih belum berhenti Kriteria Busroh tahun 1978
  • 15.
    Perbedaan Hemoptisis Hematemesis AnamnesisTanpa keluhan mual atau muntah Disertai keluhan mual atau muntah Pasien memiliki riwayat penyakit paru Pasien biasanya tidak memiliki riwayat penyakit paru Mungkin mengalami asfiksia Jarang disertai asfiksia Pemeriksaan sputum Frothy Kemerahan cair atau tampak ada bekuan darah bercampur dahak Merah segar atau pink Jarang frothy Warna kehitaman/Coffe ground appearance Kecoklatan atau kehitaman Laboratorium pH alkali Bercampur dengan makrofag dan neutrofil pH asam Bercampur dengan sisa makanan Bidwell JL, Pachner RW. Hemoptysis: diagnosis and management. Am Fam Physician. 2005;72:1253-60 Penanganan awal penderita yang mengalami pendarahan aktif (hemoptisis non masif) 1. Tenangkan dan beritahu penderita agar jangan takut untuk membatukkan darahnya 2. Penderita berbaring pada posisi lateral dekubitus ke sisi paru yang sakit 3. Pantau kesadaran, tanda vital yaitu tekanan darah, frekuensi nadi, laju pernapasan, dan saturasi oksigen, serta pantau jumlah darah yang dibatukkan 4. Jaga agar jalan napas tetap terbuka 5. Pemberian oksigen dengan kanul atau masker bila jalan napas bebas hambatan/sumbatan 6. Pemasangan infus dilakukan untuk penggantian cairan maupun jalur pemberian obat parenteral dan tranfusi bila diperlukan 7. Transfusi darah diberikan jika hematokrit < 25-30% atau Hb < 10 gr/dL sedangkan perdarahan masih berlangsung.
  • 16.
    Nebuliser Alat medis yangmembawa cairan obat dalam bentuk kabut (aerosol) ke dalam saluran pernapasan SYM/031/Okt12-Oktb13/RD ● Aerosol keluar terus menerus ● Ukuran partikel 2 – 5  ● Pengendapan di paru 10% dosis ● Efek samping minimal  Teknik penggunaan obat inhalasi yang benar akan memperbaiki hasil pengobatan pada pasien asma & PPOK sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien.  Sangat dianjurkan karena :  Lebih efektif  Langsung ke target sasaran dan  Efek sistemik minimal
  • 17.
  • 18.
    Prinsip Bernoulli :Udara dikompres pipa sempit tekanan tinggi menarik cairan obat dari reservoar melalui tabung pecah partikel kecil dalam aliran gas Jet Nebuliser Ref : Asthma - Chapman & Hall Medical, Third Edition Prinsip Piezoelektrik : Signal ultrasonik frekuensi tinggi (1 - 3 MHz) membentuk partikel aerosol ditumbuk pada baffle partikel yang lebih kecil Ultrasonik Nebuliser PERBEDAAN JENIS NEBULISER Jet Ultrasound Perawatan Mudah LebihRumit Mudah Harga Murah Mahal Suara Kasar Suarahalus Partikel LebihKasar LebihHalus B2-agonis + + Kortikosteroid + - Penggunaan Keuntungan&Kekurangan-Nebulizer
  • 19.
    1. Udara dalamruangan harus segar, ventilasi yang baik 2. Pasien duduk tegak dan relaks, atau tidur miring setengah duduk 3. Bernapas biasa (volume tidal). Sesekali menarik napas dalam. 4. Pergunakan mouth piece atau masker (Anak-anak usia < 6 thn harus memakai masker) 5. Waktu yang digunakan berkisar 5-15 menit. Jika diperlukan dapat dilakukan beberapa kali dalam sehari. CARA MENGGUNAKAN NEBULISER 6. Jika ada bronkokonstriksi, berikan pertama-tama bronkodilator terlebih dahulu (atau bisa digabung dengan steroid, tetapi jangan steroid tunggal) 7. Jangan memberikan mukolitik pada saat pasien masih sesak, terutama pada serangan akut berat 8. Sekret yang dikeluarkan jangan sampai tertelan oleh pasien, pergunakan tempat tissue atau sputum 9. Perhatikan tanda-tanda yang tidak biasa pada pasien seperti cyanosis, sesak memberat 10. Sebaiknya pergunakan alat-alat yang disposable 11. Jika terapi selesai, bersihkan peralatan yang dipakai.
  • 20.
    Obat2 yang Diberikansecara inhalasi : 1. Kortikosteroid  Fluticasone Propionate  Budesonide 3. Antiholinergik  Ipratropium bromide 2. Adrenergik bronkhodilator  Salbutamol  Fenoterol  Terbutaline  Orciprenaline 4. Mukolitik - Acetyl cysteine - Bromhexine Hcl
  • 21.
    Take Home Massage...... RespiratoryEmergency atau kegawatan pernapasan adalah kondisi patologis respirasi yang berpotensi mengancam jiwa. Etiologi terjadinya kegawatan pernapasan dapat dibagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu disfungsi jalan napas, penyakit atau gangguan pada parenkim paru, dan gangguan vaskuler pumonal. Penilaian awal Airway, Breathing, dan Circulation yang dilanjutkan dengan proses stabilisasi merupakan inisisasi terapi kegawatan pernapasan yang terpenting. Kerja sama team medis dan paramedis yang cepat dan tepat sangat membantu untuk meningkatkan keberhasilan terapi komplikasi kegawatan pernapasan yang mengancam jiwa