Pneumothorax
Ahmad Azza Maulana
202320400111111
Al-Bidarri Tsamira Anafila
202320400111076
LAPORAN KASUS ANESTESI
IDENTITAS PASIEN
● Nama Pasien : Tn. Pujiono
● Umur : 54 Tahun
● Jenis Kelamin : Laki-laki
● Agama/suku : Islam/Jawa
● Alamat : Kalitengah, Lamongan
● Tgl MRS : 27 Mei 2024
● Tgl Operasi : 3 Juni 2024
ANAMNESIS
● KU : Ndrodog
● RPS : Pasien mengeluh ndrodog sejak 5 hari SMRS.
Ndrodog dirasakan disertai dengan sesak sejak 5 hari ini. Pasien
juga batuk sejak 1 minggu ini. Pasien tidak demam, tidak mual, dan
tidak muntah. Pasien tidak jatuh sebelumnya. | OB dari IGD
dengan pneumonia, pleural effusion, pneumothorax, dyspnea,
observasi of suspect of TB
● RPD : Pasien post pengobatan TBC di PKM selama 6 bulan
dan dinyatakan tuntas 10 tahun lalu
SUBJECTIVE
● Alergi : -
● Medication : (IGD 27 Mei 2024 - 20:00)
Inf. RL 1500/24 jam
Inj. santagesik 3x1
Ranitidin 2x50
Visite dr ganis
O2 NRM 10 lpm → SM 6 lpm inf. RL 1500cc/24 jam
Inj. Santagesik 3 x 1 gram
Inj. Ranitidin 2 x 50 mg
Inj. Ceftriaxon 2 x 1 g iv
PO= Becomz 1 x 1 cap
Latihan tiup-tiup balon
● Past Illness : Pengobatan TB di PKM selama 6 bulan, dinyatakan tuntas 10
th yll
● Last meal : puasa >6 jam pre op
● Environment : -
OBJECTIVE
● Airway : Clear, Gargling (-), Snoring (-), Speak fluently (+),
Potensial obstruksi (-)
● Breathing : Spontan, RR 22x/menit, Ves +/menurun, Rh +/-, Wh -/-,
SpO2 97%
● Circulation : Akral HKM, CRT <2 detik, N 70x/menit regular kuat
angkat, TD 133/74 mmHg
● Disability : GCS: 456, lateralisasi:-, PBI 3mm/3mm, RC +/+
● Exposure : Temp 37°C
OBJECTIVE
K/L
● GCS : 456
● Anemis, Icteric, Cyanosis, Dyspnea: -
Thorax
● I : Simetris
● P : Sonor +/+, Batas jantung kesan normal
● P : Fremitus N/N
● A : Cor → S1 S2 tunggal, murmur (-), gallop (-); Pulmo → Ves
+/menurun, Rh +/-, Wh -/-
Abdomen
● I : Flat
● A : BU + N
● P : Soepel, nyeri tekan (-), H/L ttb, NK CVA -/-
Ekstremitas : Akral HKM, CRT < 2, oedema -/-
Lokalis : -
LABORATORIUM
S. Kalium → 3.8 [ 3.6 - 5.5 ]
S. Natrium → 139 [ 135 - 155 ]
S. Clorida → 102 [ 70 - 108 ]
S. Creatinine → 0.7 [ L. 0.8 - 1.5 ]
Leukosit → 9.91 [ 4.0 - 11.0 ]
Neutrophil → 59.8 [ 49.0 - 67.0 ]
Limfosit → 27.3 [ 25.0 - 33.0 ]
Monosit → 8.1 [ 3.0 - 7.0 ]
Eosinofil → 4.50 [ 1.0 - 2.0 ]
Basofil → 0.30 [ 0.0 - 1.0]
Eritrosit → 4.88 [ 3.8 - 5.3 ]
NLR → 2.2 [ 0.0 - 3.13 ]
ALC → 2.71 [ . ]
Hb → 15.5 [ L14,0 -18,0
]
Hct → 46.5 [ L 40 -54 ]
MCV → 95.3 [ 87.00 -
100 ]
MCH → 31.8 [ 28.00 -
36.00 ]
MCHC → 33.3 [ 31.00 - 37.00 ]
RDW → 11.9 [ 10 - 16.5 ]
Trombosit → 273 [ 150 - 450 ]
LABORATORIUM
TCM → MTB Not
Detected
HIV → Non-
Reaktif
HbsAg → Negatif
RADIOLOGI
(CXR AP)
Cor → Ukuran & bentuk normal
Pulmo → Tampak fibroinfiltrat paru kanan suprahiler kiri,
kolaps paru kiri. Trakea deviasi ke kanan. Sinus phrenicocostalis
kanan tumpul, kiri tajam, tulang dan soft tissue tak nampak
kelainan
Kesimpulan: Pneumonia susp TB paru dengan schwarte kanan
Pneumothorax kiri
Efusi pleura kanan sebagian terorganisasi
27/05/2024 (IGD)
RADIOLOGI
(CXR AP-Lateral)
Cor → Besar & bentuk
normal
Pulmo → Tampak
fibroinfiltrat paru kanan
suprahiler kiri. Sinus
phrenicocostalis kanan kiri
anterior-posterior tumpul.
Retrospinal dan retrocardial
space tertutup perselubungan.
Tulang dan soft tissue tak
nampak kelainan. Tampak
terpasang chest tube tip
setinggi Vth 2 kiri.
Kesimpulan: TB Paru, efusi
pleura bilateral
03/06/2024
ASSESSMENT
1. Dyspnea
2. Pneumonia
3. Pleural Effusion
4. Pneumothorax
5. Suspect TB Paru
PLANNING
Terapi di IGD - 27/05/24:
O2 NRM 10 lpm → SM 6 lpm
Inf. RL 1500cc/24 jam
Inj. Santagesik 3 x 1 gram
Inj. Ranitidin 2 x 50 mg
Terapi dari dr. Ganis:
O2 NRM 10 lpm → SM 6 lpm
Inf. RL 1500cc/24 jam
Inj. Santagesik 3 x 1 gram
Inj. Ranitidin 2 x 50 mg
Inj. Ceftriaxone 2 x 1 g IV
PO → Becomz 1 x 1 cap
Latihan tiup-tiup balon
Monitoring
1. B1-B6
2. DL SE post op
3. Keluhan subyektif
❏Konfirmasi pasien mengenai: Identitas,
lokasi operasi, prosedur persetujuan
tindakan operasi
❏Puasa: 6-8 jam
❏Menandai lokasi operasi
❏Pengecekan alat-alat anestesi dan obat-
obatan anestesi
❏Pemasangan oksimetri dan tensi
❏Infus: Ringer Laktat
❏Jenis anestesi: GA - TIVA
❏Premedikasi: Miloz 3 mg, SA 0.25 mg,
fentanyl 50 mcg
❏Induksi: Propofol 30 mg, Ketamine (KTM)
30 mg
❏Maintenance : 02
PLANNING
PRE OPERASI
DURANTE OPERASI
POST OPERASI
RESUME
Tn. Pujiono/54 thn
Pasien mengeluh ndrodog sejak 5 hari SMRS. Ndrodog dirasakan disertai dengan sesak
sejak 5 hari ini. Pasien juga batuk sejak 1 minggu ini. Pasien tidak demam, tidak mual, dan
tidak muntah. Pasien tidak jatuh sebelumnya. | OB dari IGD dengan pneumonia, pleural
effusion, pneumothorax, dyspnea, observasi of suspect of TB
● X-Ray:
Tb Paru, Efusi pleura bilateral, pneumothorax
● Diagnosis: TB Paru, Efusi Pleura bilateral, Pneumothorax
● Terapi : O2 NRM 10 lpm → SM 6 lpm
● Inf. RL 1500cc/24 jam
● Inj. Santagesik 3 x 1 gram
● Inj. Ranitidin 2 x 50 mg
● Inj. Ceftriaxone 2 x 1 g IV
● PO → Becomz 1 x 1 cap
● Latihan tiup-tiup balon
● Monitoring : ABCDE, Keluhan subyektif pasien
TINJAUAN PUSTAKA
KLASIFIKASI ASA
Manajemen
Oksigen
-----
INDIKASI
Indikasi Terapi Oksigen:
1. Gagal nafas akut,
2. Syok oleh berbagai penyebab,
3. Infark miokard akut,
4. Keadaan di mana metabolisme rate tinggi (tirotoksikosis, sepsis, hipertermia),
5. Keracunan gas CO (karbon monoksida),
6. Tindakan preoksigenasi menjelang induksi anestesi,
7. Penderita tidak sadar,
8. Untuk mengatasi keadaan-keadaan: enfisema pasca bedah, emboli udara,
pneumothoraks,
9. Asidosis,
10. Anemia berat.
Tujua
n
1. Mempertahankan oksigen
jaringan yang kuat
2. Menurunkan kerja nafas
3. Menurunkan kerja jantung
Delivery oksigen bergantung
pada :
● Fungsi kardiovaskular yang
adekuat → cardiac output
● Hematologi → Hb & afinitas
terhadap O2
● Sistem respirasi → PaO2
Fungsi optimal respirasi bergantung pada :
● Dinding dada & otot-otot pernafasan
● Jalan nafas & paru-paru
● Sistem saraf pusat & spinal cord
● Sistem kardiovaskular
Delivery Oksigen
Fungsi Optimal Respirasi
Terapi Oksigenasi
Suatu intervensi medis berupa upaya pengobatan dengan pemberian
oksigen (O2) untuk mencegah atau memperbaiki hipoksia jaringan dan
mempertahankan oksigenasi jaringan agar tetap adekuat dengan cara
meningkatkan masukan oksigen (O2) ke dalam sistem respirasi,
meningkatkan daya angkut oksigen (O2) ke dalam sirkulasi dan
meningkatkan pelepasan atau ekstraksi oksigen (O2) ke jaringan.
TERAPI JANGKA PENDEK
terapi yang dibutuhkan pada pasien-pasien dengan keadaan hipoksemia akut,
diantaranya pneumonia, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dengan eksaserbasi akut,
asma bronkial, gangguan kardiovaskuler dan emboli paru. Pada keadaan tersebut,
oksigen (O2) harus segera diberikan dengan adekuat dimana pemberian oksigen (O2)
yang tidak adekuat akan dapat menimbulkan terjadinya kecacatan tetap ataupun
kematian. Pada kondisi ini, oksigen (O2) diberikan dengan fraksi oksigen (O2) (FiO2)
berkisar antara 60-100% dalam jangka waktu yang pendek sampai kondisi klinik
membaik dan terapi yang spesifik diberikan
TERAPI JANGKA PANJANG
Pasien dengan hipoksemia, terutama pasien dengan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK)
Direkomendasikan untuk pasien hipoksemia (PaO2 < 55 mmHg atau SaO2 < 88%), terapi oksigen (O2)
diberikan secara terus menerus selama dua puluh empat jam dalam satu hari. Pasien dengan PaO2 56
- 59 mmHg atau SaO2 89%, kor pulmonal dan polisitemia juga memerlukan terapi oksigen (O2) jangka
panjang. Pada keadaan ini, awal pemberian terapi oksigen (O2) harus dengan konsentrasi rendah
(FiO2 24-28%) dan dapat ditingkatkan bertahap berdasarkan hasil pemeriksaan analisa gas darah
dengan tujuan mengoreksi hipoksemia dan menghindari penurunan pH di bawah 7,26
Langkah baku yang harus diikuti sebelum memberikan terapi oksigen:
● Tentukan status oksigenasi pasien dengan pemeriksaan klinis dan
● pemeriksaan analisis gas darah (AGD). Pilih sistem yang akan digunakan (aliran rendah atau
tinggi)
● Tentukan konsentrasi oksigen yang dikehendaki: tinggi (> 60%), sedang (35- 60%), atau
rendah (<35%).
● Pantau keberhasilan terapi oksigen dengan pemeriksaan fisik pada sistem respirasi dan
kardiovaskular.
● Periksa AGD secara periodik dengan selang waktu minimal 30 menit.
PERSIAPAN ALAT UNTUK TERAPI OKSIGEN:
● Sumber oksigen (tabung) atau sumber oksigen sentral, siap pakai.
● Tabung pelembab (humidifier).
● Pengukur aliran oksigen (flow meter).
● Alat pemberi oksigen tergantung metode yang dipakai
CREDITS: This presentation template was created
by Slidesgo, including icon by Flaticon, and
infographics & images from Freepik
Nasal Canul
- Disebut juga sebagai terapi oksigen
rendah - aliran rendah.
- Kecepatan aliran oksigen antara 1-5
liter/menit. Pemberian aliran yang lebih
dari 5 liter/menit tidak akan memberikan
Fio, yang tinggi, malah akan
menyebabkan iritasi dan kekeringan
pada mukosa nasal.
- Keuntungan: kenyamanan pasien &
aliran O, terus menerus meskipun pasien
sedang makan maupun berbicara.
CREDITS: This presentation template was created
by Slidesgo, including icon by Flaticon, and
infographics & images from Freepik
Sungkup Muka Sederhana
- Termasuk sistem oksigen sedang,
aliran tinggi.
- Sungkup mempunyai lubang tempat
pipa saluran masuk O₂ di dasarnya &
lubang-lubang kecil di sekeliling
sungkup.
- Oksigen dapat dialirkan dengan
kecepatan 6-10 liter/menit dengan FiO
yang dicapai sekitar 35-60%
- Bila kecepatan aliran 0, kurang dari 6
liter/ menit akan terjadi penumpukan
CO², akibat dead space mekanik.
CREDITS: This presentation template was created
by Slidesgo, including icon by Flaticon, and
infographics & images from Freepik
Sungkup Muka
Rebreathing & Non
- Terdiri atas sungkup muka sederhana yang
dilengkapi dengan kantong reservoir oksigen pada
dasar sungkup muka dan satu katup satu arah
yang terletak pada lubang di samping sungkup,
dan satu lagi katup satu arah terletak di antara
kantong reservoir dan sungkup muka
- Kecepatan aliran oksigen pada sungkup ini
sebesar 9-15 liter per menit dan dapat memberikan
konsentrasi oksigen sebesar 90-100%. Agar dapat
berfungsi semestinya, harus dijaga agar kantong
reservoir mengembang-mengempis dan tidak
kolaps
Terdiri atas sungkup muka sederhana yang
dilengkapi dengan kantong reservoir oksigen pada
dasar sungkup muka. Oksigen mengalir ke
kantong reservoir terus menerus. Ketika ekspirasi,
1/3 awal gas ekspirasi masuk ke kantong reservoir
bercampur dengan oksigen yang ada. Jadi saat
inspirasi pasien menghisap kembali 1/3 gas
ekspirasinya
Rebreathing
Non-
Rebreathing
CREDITS: This presentation template was created
by Slidesgo, including icon by Flaticon, and
infographics & images from Freepik
Sungkup Muka Venturi
Terdiri atas sungkup muka dan mixing
jet. Dengan alat ini, FiO² yang diberikan
dapat dikendalikan. Oksigen yang
diberikan dapat diatur berkisar 24%,
28%, 35%, dan 40% dengan kecepatan
aliran 4-8 liter per menit, dan 45-50%
dengan kecepatan aliran 10-12 liter per
menit. Sungkup muka ini paling berguna
pada pasien dengan penyakit paru
obstruksi kronik yang sudah diketahui
dosis FiO². Alat ini termasuk sistem
oksigen terkendali - aliran tinggi.
Obat-obatan
Pelumpuh Otot
Depolarisasi & Non-Depolarisasi
SUCCINYLCHOLINE
obat pelumpuh otot depolarisasi yang
digunakan untuk intubasi dan terapi
laringospasme. Meskipun mempunyai
onset sangat cepat (<1 menit) dan lama
kerja singkat (7-8 menit), penggunaannya
terbatas karena kerjanya tidak dapat
dilawan oleh pemberian obat lain.
Efek samping : hipertensi, takikardi,
bradikardi, aritmia ventrikel, hiperkalemia,
dan yang lebih jarang, peningkatan
tekanan intrakranial dan hipertermia
maligna.
DEPOLARISASI
PANCURONIUM
turunan aminosteroid kerja panjang yang
dimetabolisme menjadi senyawa 3-
hydroxypancuronium di hati dan kemudian
dieliminasi sebanding melalui urin dan
empedu.
Efek samping :
- kardiovaskuler meliputi takikardi,
hipertensi, dan peningkatan curah
jantung akibat hambatan vagus.
- Reaksi alergi akibat hipersensitif
terhadap bromida
NON-DEPOLARISASI
VECURONIUM
merupakan turunan aminosteroid dengan
lama kerja sedang. Dimetabolisme oleh
hati menjadi 3 metabolit aktif, yang
semuanya dieliminasi oleh ginjal.
Efek samping :
- kardiovaskuler minimal pernah
dilaporkan pada penggunaan
vecuronium
NON-DEPOLARISASI
ROCURONIUM
Turunan aminosteroid dan kurang poten
dibanding vecuronium, tetapi mempunyai
onset cepat dan lama kerja singkat hingga
sedang. Metabolit rocuronium hanya
mempunyai 5% aktivitas hambatan
neuromuskuler obat asal, sehingga tidak
bermakna secara klinis. Rocuronium
menawarkan keuntungan dibanding
vecuronium pada dosis bolus untuk
intubasi trakeal di ICU, khususnya jika
succinylcholine dikontraindikasikan. Di
eliminasi terutama oleh hati dan dikaitkan
dengan sedikit efek samping
kardiovaskuler
NON-DEPOLARISASI
ATRACURONIUM
obat turunan benzylisoquinoline dengan lama
kerja sedang. Atracurium didegradasi dengan
eliminasi Hoffman (autolisis) dan dengan
hidrolisis ester, sehingga tidak memerlukan
penyesuaian dosis pada pasien dengan
gangguan ginjal atau hati. Asidosis dan
hipotermia berat dapat menurunkan
metabolisme obat, sehingga perlu penurunan
dosis.
Efek samping :
- hipotensi karena pelepasan histamin
- Takikardi
- Bronkospasme
- Toksisitas laudanosine
NON-DEPOLARISASI
CISATRACURIUM
merupakan isomer atracurium dengan potensi
3 kali lebih kuat. Cisatracurium juga
didegradasi dengan eliminasi Hoff man
menjadi laudanosine, dan asidosis serta
hipotermia memperlambat metabolismenya.
Namun, karena potensinya lebih besar,
cisatracurium diberikan dengan dosis lebih
kecil, sehingga produksi laudano sine lebih
sedikit, pelepasan histamin lebih rendah, dan
efek samping kardiovaskuler lebih kecil.
Penggunaannya di ICU terbatas karena
onsetnya relatif lambat (3-6 menit).
NON-DEPOLARISASI
ATRACURONIUM
obat turunan benzylisoquinoline dengan lama
kerja sedang. Atracurium didegradasi dengan
eliminasi Hoffman (autolisis) dan dengan
hidrolisis ester, sehingga tidak memerlukan
penyesuaian dosis pada pasien dengan
gangguan ginjal atau hati. Asidosis dan
hipotermia berat dapat menurunkan
metabolisme obat, sehingga perlu penurunan
dosis.
Efek samping :
- hipotensi karena pelepasan histamin
- Takikardi
- Bronkospasme
- Toksisitas laudanosine
NON-DEPOLARISASI
Obat-obatan
Anestesi
Pre-induksi, Induksi, Maintenance
Pre-medikasi
Premedikasi merupakan pemberian obat yang dilakukan 1-2 jam sebelum induksi
anestesi yang bertujuan untuk melancarkan induksi. Hal ini bukan sesuatu yang rutin
dilakukan pada persiapan pre operasi, tetapi pemberian premedikasi harus
dipertimbangkan setelah faktor-faktor yang berhubungan untuk diberikan premedikasi
dapat diidentifikasi.
Pre-medikasi
TUJUAN:
1. Mengurangi kecemasan
2. Mengurangi nyeri
3. Mengurangi kebutuhan obat-obat anestesi
4. Mengurangi sekresi saluran pernapasan
5. Menyebabkan amnesia
6. Mengurangi kejadian mual-muntah pasca operasi
7. Membantu pengosongan lambung, mengurangi produksi asam lambung.
8. Mencegah refleks-refleks yang tidak diinginkan.
Pre-medikasi
Pre-medikasi
OBAT ANTI-KOLINERGIK
→ Memiliki efek menekan/menghambat aktivitas kolinergik atau
parasimpatis
Tujuan pemberian
1. Mengurangi sekresi kelenjar saliva, saluran cerna, dan
saluran napas.
2. Mencegah spasme laring dan bronkus
3. Mencegah bradikardia
4. Mengurangi motilitas usus
5. Melawan efek depresi narkotik terhadap pusat napas.
Obat yang sering digunakan:
● Sulfas Atropin/Atropine Sulfate (SA): 0,01-0,02 mg/kgbb
atau 0,2-0,6 mg IV
Pre-medikasi
OBAT GOLONGAN SEDATIF/TRANQUILIZER
→ Memiliki efek anti cemas dan menimbulkan rasa kantuk
Tujuan pemberian
→ memberikan suasana nyaman bagi pasien dan membuat pasien bebas dari rasa cemas dan
takut
Obat yang sering digunakan:
● Derivat Benzodiazepine
→ Diazepam 0,2-0,5 mg/kgbb IV & Midazolam (efek sedasi & anti cemas). Midazolam
(efek anterograde amnesia) dosis mizol: 0,07-0,15 mg/kgbb IV
● Derivat barbiturat
→ Pentobarbital & secobarbital (sedasi & penenang pra-bedah)
● Preparat antihistamin
→ diphenhydramine (sedatif & antimuntah ringan) 0,5-1,5 mg/kgbb
Pre-medikasi
Pre-medikasi
OBAT GOLONGAN ANALGETIK NARKOTIK/OPIOID
→ menyebabkan sedasi, tapi sebagai ansiolitik yang kurang baik. ES menyebabkan depresi SSP
secara luas
→ sudah jarang digunakan
Tujuan pemberian
→ diberikan jika pasien mengalami nyeri pre operasi
Obat yang sering digunakan:
● Pethidine 1-2 mg/kgbb
● Morphine 0,1-0,2 mg/kgbb
● Fentanyl 50-100 mcg
Pre-medikasi
ANTAGONIS RESEPTOR 5HT
→ sebagai profilaksis anti-mual dan muntah, dianjurkan sebelum induksi dan pasca bedah
Tujuan pemberian
→ diberikan jika pasien ada riwayat mual muntah
→ operasi yang berisiko tinggi menyebabkan mual muntah, seperti laparoskopi, op. Bedah
saraf, atau operasi mata.
Obat yang sering digunakan:
● Ondansetron 4-8 mg (IV)
Pre-medikasi
ANTAGONIS RESEPTOR HISTAMIN-2 (ARH-2)
→ menghambat pengikatan histamin ke reseptor H,
mengurangi produksi asam lambung dan
meningkatkan pH lambung.
Tujuan pemberian
→ untuk mengurangi risiko pneumonia aspirasi
→ diberikan malam hari sebelum operasi dan minimal
2 jam sebelum operasi
Obat yang sering digunakan:
● Ranitidine
○ Oral 150-300 mg
○ IV 50 mg
Induksi
1. Barbiturat
○ Thiopental
○ Methohexital
2. Benzodiazepine
○ Midazolam
○ Lorazepam
○ Diazepam
3. Ketamine
4. Propofol
Merupakan tindakan untuk membuat
pasien dari sadar menjadi tidak sadar,
sehingga memungkinkan dimulainya
anestesi dan pembedahan. Induksi dapat
dilakukan dengan cara inhalasi, intravena,
intramuskular, atau rektal.
● Obat induksi anestesi intravena:
Thiopental, Propofol, Ketamine
● Obat induksi anestesi intramuskular:
Ketamine
● Obat anestesi inhalasi: Halotan,
Sevoflurane
BARBITURATES
Barbiturat menekan sistem RAS (reticular activating system) yang mengatur kesadaran di batang
otak. Mechanism of actionnya adalah berikatan dengan reseptor γ-aminobutyric acid type A
(GABAA). Barbiturat meningkatkan aksi GABA dengan memperpanjang durasi pembukaan
saluran ion spesifik klorida.
Sifat anestesi:
1. Hipnotik yang sangat kuat
2. Induksinya cepat, lancar, dan tidak diikuti oleh eksitasi
3. Pola respirasi tenang dan bisa hipoventilasi
4. Tidak mempunyai efek analgetik
5. Tidak menimbulkan relaksasi otot
6. Pemulihan cepat, tetapi masih ada rasa ngantuk
7. Efek samping mual dan muntah jarang dijumpai
Obat yang sering digunakan:
● Thiopental (konsentrasi 2,5%) 3-6 mg/kgbb IV
BENZODIAZEPINES
Benzodiazepin mengikat reseptor yang sama di sistem saraf pusat seperti barbiturat tetapi
mengikat di lokasi yang berbeda. Pengikatan benzodiazepin pada reseptor GABAa meningkatkan
frekuensi pembukaan saluran ion klorida terkait. Pengikatan reseptor benzodiazepin oleh agonis
memfasilitasi pengikatan GABA ke reseptornya. Flumazenil (sebuah imidazobenzodiazepine)
adalah antagonis spesifik reseptor benzodiazepin yang secara efektif membalikkan sebagian
besar efek sistem saraf pusat dari benzodiazepin.
→ dapat digunakan untuk premedikasi, sedasi IV, induksi IV, dan tata laksana kejang.
ES: Anterograde Amnesia, Hypotension
Obat yang sering digunakan:
● Midazolam 0,1-0,4 mg/kgbb IV (sediaan ampul)
Merk dagang:
● Anesfar, Fortanest, Hipnoz, Miloz, Sedacum
KETAMINE
Memiliki sifat analgesik, anestetik, dan kataleptik dengan kerja yang singkat. Ketamine bersifat
simpatomimetik sehingga dapat meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung. Harus hati-
hati pada pasien dengan penyakit jantung koroner, hipertensi yang tidak terkontrol, gagal
jantung kongestif, atau aneurisma arteri. Ketamine juga bisa menyebabkan dilatasi bronkus
sehingga menjadi obat pilihan pada terapi asma.
→ sifat unik ketamine: analgesik yang baik, stimulasi saraf simpatetik, bronkodilatasi, dan depresi
pernapasan yang minimal
ES: Halusinasi
Dosis:
● Induksi IV → 1-2 mg/kgbb
● Pemeliharaan → 10-20 mcg/kgbb/menit
● Analgesia/sedasi → 2,5-15 mcg/kgbb/menit
Merk dagang:
● Vial 100 mg/ml : Ivanes, KTM-100
PROPOFOL
→ berupa cairan emulsi lemak berwarna putih susu
→ memiliki efek hipnotik dan tidak mempunyai efek analgetik maupun relaksasi otot
kelebihan: bekerja lebih cepat daripada thiopental, konfusi bedah minimal, muntah muntah pasca
bedah minimal
ES → hipotensi, apnea sementara selama induksi
Tujuan:
Sering digunakan untuk induksi anestesi
Dosis:
● Induksi IV → 1-2,5 mg/kgbb
● Infus untuk Pemeliharaan → 50-200 mcg/kgbb/menit
● Infus untuk sedasi → 25-100 mcg/kgbb/menit
Merk dagang:
● Ampul 1% → Anesticap, Diprivan, Fiprol, Fresofol MCT/LCT 1%, Nupovel, Proanes 1%
MCT/LCT, Propofol Lipuro, Recofol N, Sedafol
PEMBAHASAN
Tn. Pujiono/54 thn
Pasien mengeluh ndrodog sejak 5 hari SMRS. Ndrodog dirasakan disertai dengan sesak
sejak 5 hari ini. Pasien juga batuk sejak 1 minggu ini. Pasien tidak demam, tidak mual, dan
tidak muntah. Pasien tidak jatuh sebelumnya.
● X-Ray : Fibroinfiltrat paru kanan suprahiler kiri, kolaps paru kiri. Sinus
phrenicocostalis kanan kiri anterior-posterior tumpul. Retrospinal dan retrocardial
space tertutup perselubungan.
● Diagnosis : TB Paru, Efusi Pleura bilateral, Pneumothorax sinistra
Pilihan Obat-obatan Induksi (IV):
1. Thiopental → release histamine, dapat menyebabkan
bronkospasme (X)
2. Midazolam → postoperative respiratory depression (X)
3. Ketamine → efek bronkodilatasi langsung, maintain hypoxic
pulmonary vasoconstriction (HPV) response, rapid onset, dan tanpa depresi
cardiovascular (v)
4. Propofol → tidak release histamine (v)
PEMBAHASAN
Pilihan Obat-obatan premedikasi:
1. Sulfas Atropin → untuk mencegah spasme laring & bronkus, mengurangi sekresi
kelenjar saliva, saluran napas, dan saluran cerna untuk mencegah aspirasi saat
intubasi. → atau bisa juga diberikan ranitidine untuk mengurangi sekresi as.lambung
2. Midazolam → diberikan untuk menciptakan suasana nyaman, tidak
cemas, dan sedasi
3. Fentanyl → untuk mengurangi rasa nyeri preoperasi, tetapi
terdapat efek samping depresi napas sehingga monitor dan patensi jalan napas
perlu dilakukan dengan ketat
4. Anti mual dan muntah pada pasien ini tidak diberikan kecuali ada riwayat mual
muntah dan proses operasi yang berisiko tinggi menyebabkan mual muntah. Atau
untuk profilaksi setelah anestesi karena pemberian obat induksi ketamine.
CREDITS: This presentation template was created
by Slidesgo, including icon by Flaticon, and
infographics & images from Freepik
Thanks
Please keep this slide for attribution

LAPSUS ANESTESI - Pneumothorax (OK).pptx

  • 1.
    Pneumothorax Ahmad Azza Maulana 202320400111111 Al-BidarriTsamira Anafila 202320400111076 LAPORAN KASUS ANESTESI
  • 2.
    IDENTITAS PASIEN ● NamaPasien : Tn. Pujiono ● Umur : 54 Tahun ● Jenis Kelamin : Laki-laki ● Agama/suku : Islam/Jawa ● Alamat : Kalitengah, Lamongan ● Tgl MRS : 27 Mei 2024 ● Tgl Operasi : 3 Juni 2024
  • 3.
    ANAMNESIS ● KU :Ndrodog ● RPS : Pasien mengeluh ndrodog sejak 5 hari SMRS. Ndrodog dirasakan disertai dengan sesak sejak 5 hari ini. Pasien juga batuk sejak 1 minggu ini. Pasien tidak demam, tidak mual, dan tidak muntah. Pasien tidak jatuh sebelumnya. | OB dari IGD dengan pneumonia, pleural effusion, pneumothorax, dyspnea, observasi of suspect of TB ● RPD : Pasien post pengobatan TBC di PKM selama 6 bulan dan dinyatakan tuntas 10 tahun lalu
  • 4.
    SUBJECTIVE ● Alergi :- ● Medication : (IGD 27 Mei 2024 - 20:00) Inf. RL 1500/24 jam Inj. santagesik 3x1 Ranitidin 2x50 Visite dr ganis O2 NRM 10 lpm → SM 6 lpm inf. RL 1500cc/24 jam Inj. Santagesik 3 x 1 gram Inj. Ranitidin 2 x 50 mg Inj. Ceftriaxon 2 x 1 g iv PO= Becomz 1 x 1 cap Latihan tiup-tiup balon ● Past Illness : Pengobatan TB di PKM selama 6 bulan, dinyatakan tuntas 10 th yll ● Last meal : puasa >6 jam pre op ● Environment : -
  • 5.
    OBJECTIVE ● Airway :Clear, Gargling (-), Snoring (-), Speak fluently (+), Potensial obstruksi (-) ● Breathing : Spontan, RR 22x/menit, Ves +/menurun, Rh +/-, Wh -/-, SpO2 97% ● Circulation : Akral HKM, CRT <2 detik, N 70x/menit regular kuat angkat, TD 133/74 mmHg ● Disability : GCS: 456, lateralisasi:-, PBI 3mm/3mm, RC +/+ ● Exposure : Temp 37°C
  • 6.
    OBJECTIVE K/L ● GCS :456 ● Anemis, Icteric, Cyanosis, Dyspnea: - Thorax ● I : Simetris ● P : Sonor +/+, Batas jantung kesan normal ● P : Fremitus N/N ● A : Cor → S1 S2 tunggal, murmur (-), gallop (-); Pulmo → Ves +/menurun, Rh +/-, Wh -/- Abdomen ● I : Flat ● A : BU + N ● P : Soepel, nyeri tekan (-), H/L ttb, NK CVA -/- Ekstremitas : Akral HKM, CRT < 2, oedema -/- Lokalis : -
  • 7.
    LABORATORIUM S. Kalium →3.8 [ 3.6 - 5.5 ] S. Natrium → 139 [ 135 - 155 ] S. Clorida → 102 [ 70 - 108 ] S. Creatinine → 0.7 [ L. 0.8 - 1.5 ] Leukosit → 9.91 [ 4.0 - 11.0 ] Neutrophil → 59.8 [ 49.0 - 67.0 ] Limfosit → 27.3 [ 25.0 - 33.0 ] Monosit → 8.1 [ 3.0 - 7.0 ] Eosinofil → 4.50 [ 1.0 - 2.0 ] Basofil → 0.30 [ 0.0 - 1.0] Eritrosit → 4.88 [ 3.8 - 5.3 ] NLR → 2.2 [ 0.0 - 3.13 ] ALC → 2.71 [ . ] Hb → 15.5 [ L14,0 -18,0 ] Hct → 46.5 [ L 40 -54 ] MCV → 95.3 [ 87.00 - 100 ] MCH → 31.8 [ 28.00 - 36.00 ] MCHC → 33.3 [ 31.00 - 37.00 ] RDW → 11.9 [ 10 - 16.5 ] Trombosit → 273 [ 150 - 450 ]
  • 8.
    LABORATORIUM TCM → MTBNot Detected HIV → Non- Reaktif HbsAg → Negatif
  • 9.
    RADIOLOGI (CXR AP) Cor →Ukuran & bentuk normal Pulmo → Tampak fibroinfiltrat paru kanan suprahiler kiri, kolaps paru kiri. Trakea deviasi ke kanan. Sinus phrenicocostalis kanan tumpul, kiri tajam, tulang dan soft tissue tak nampak kelainan Kesimpulan: Pneumonia susp TB paru dengan schwarte kanan Pneumothorax kiri Efusi pleura kanan sebagian terorganisasi 27/05/2024 (IGD)
  • 10.
    RADIOLOGI (CXR AP-Lateral) Cor →Besar & bentuk normal Pulmo → Tampak fibroinfiltrat paru kanan suprahiler kiri. Sinus phrenicocostalis kanan kiri anterior-posterior tumpul. Retrospinal dan retrocardial space tertutup perselubungan. Tulang dan soft tissue tak nampak kelainan. Tampak terpasang chest tube tip setinggi Vth 2 kiri. Kesimpulan: TB Paru, efusi pleura bilateral 03/06/2024
  • 11.
    ASSESSMENT 1. Dyspnea 2. Pneumonia 3.Pleural Effusion 4. Pneumothorax 5. Suspect TB Paru
  • 12.
    PLANNING Terapi di IGD- 27/05/24: O2 NRM 10 lpm → SM 6 lpm Inf. RL 1500cc/24 jam Inj. Santagesik 3 x 1 gram Inj. Ranitidin 2 x 50 mg Terapi dari dr. Ganis: O2 NRM 10 lpm → SM 6 lpm Inf. RL 1500cc/24 jam Inj. Santagesik 3 x 1 gram Inj. Ranitidin 2 x 50 mg Inj. Ceftriaxone 2 x 1 g IV PO → Becomz 1 x 1 cap Latihan tiup-tiup balon Monitoring 1. B1-B6 2. DL SE post op 3. Keluhan subyektif
  • 13.
    ❏Konfirmasi pasien mengenai:Identitas, lokasi operasi, prosedur persetujuan tindakan operasi ❏Puasa: 6-8 jam ❏Menandai lokasi operasi ❏Pengecekan alat-alat anestesi dan obat- obatan anestesi ❏Pemasangan oksimetri dan tensi ❏Infus: Ringer Laktat ❏Jenis anestesi: GA - TIVA ❏Premedikasi: Miloz 3 mg, SA 0.25 mg, fentanyl 50 mcg ❏Induksi: Propofol 30 mg, Ketamine (KTM) 30 mg ❏Maintenance : 02 PLANNING PRE OPERASI DURANTE OPERASI POST OPERASI
  • 14.
    RESUME Tn. Pujiono/54 thn Pasienmengeluh ndrodog sejak 5 hari SMRS. Ndrodog dirasakan disertai dengan sesak sejak 5 hari ini. Pasien juga batuk sejak 1 minggu ini. Pasien tidak demam, tidak mual, dan tidak muntah. Pasien tidak jatuh sebelumnya. | OB dari IGD dengan pneumonia, pleural effusion, pneumothorax, dyspnea, observasi of suspect of TB ● X-Ray: Tb Paru, Efusi pleura bilateral, pneumothorax ● Diagnosis: TB Paru, Efusi Pleura bilateral, Pneumothorax ● Terapi : O2 NRM 10 lpm → SM 6 lpm ● Inf. RL 1500cc/24 jam ● Inj. Santagesik 3 x 1 gram ● Inj. Ranitidin 2 x 50 mg ● Inj. Ceftriaxone 2 x 1 g IV ● PO → Becomz 1 x 1 cap ● Latihan tiup-tiup balon ● Monitoring : ABCDE, Keluhan subyektif pasien
  • 15.
  • 16.
  • 17.
  • 18.
    INDIKASI Indikasi Terapi Oksigen: 1.Gagal nafas akut, 2. Syok oleh berbagai penyebab, 3. Infark miokard akut, 4. Keadaan di mana metabolisme rate tinggi (tirotoksikosis, sepsis, hipertermia), 5. Keracunan gas CO (karbon monoksida), 6. Tindakan preoksigenasi menjelang induksi anestesi, 7. Penderita tidak sadar, 8. Untuk mengatasi keadaan-keadaan: enfisema pasca bedah, emboli udara, pneumothoraks, 9. Asidosis, 10. Anemia berat.
  • 19.
    Tujua n 1. Mempertahankan oksigen jaringanyang kuat 2. Menurunkan kerja nafas 3. Menurunkan kerja jantung Delivery oksigen bergantung pada : ● Fungsi kardiovaskular yang adekuat → cardiac output ● Hematologi → Hb & afinitas terhadap O2 ● Sistem respirasi → PaO2 Fungsi optimal respirasi bergantung pada : ● Dinding dada & otot-otot pernafasan ● Jalan nafas & paru-paru ● Sistem saraf pusat & spinal cord ● Sistem kardiovaskular Delivery Oksigen Fungsi Optimal Respirasi
  • 20.
    Terapi Oksigenasi Suatu intervensimedis berupa upaya pengobatan dengan pemberian oksigen (O2) untuk mencegah atau memperbaiki hipoksia jaringan dan mempertahankan oksigenasi jaringan agar tetap adekuat dengan cara meningkatkan masukan oksigen (O2) ke dalam sistem respirasi, meningkatkan daya angkut oksigen (O2) ke dalam sirkulasi dan meningkatkan pelepasan atau ekstraksi oksigen (O2) ke jaringan.
  • 21.
    TERAPI JANGKA PENDEK terapiyang dibutuhkan pada pasien-pasien dengan keadaan hipoksemia akut, diantaranya pneumonia, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) dengan eksaserbasi akut, asma bronkial, gangguan kardiovaskuler dan emboli paru. Pada keadaan tersebut, oksigen (O2) harus segera diberikan dengan adekuat dimana pemberian oksigen (O2) yang tidak adekuat akan dapat menimbulkan terjadinya kecacatan tetap ataupun kematian. Pada kondisi ini, oksigen (O2) diberikan dengan fraksi oksigen (O2) (FiO2) berkisar antara 60-100% dalam jangka waktu yang pendek sampai kondisi klinik membaik dan terapi yang spesifik diberikan
  • 22.
    TERAPI JANGKA PANJANG Pasiendengan hipoksemia, terutama pasien dengan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) Direkomendasikan untuk pasien hipoksemia (PaO2 < 55 mmHg atau SaO2 < 88%), terapi oksigen (O2) diberikan secara terus menerus selama dua puluh empat jam dalam satu hari. Pasien dengan PaO2 56 - 59 mmHg atau SaO2 89%, kor pulmonal dan polisitemia juga memerlukan terapi oksigen (O2) jangka panjang. Pada keadaan ini, awal pemberian terapi oksigen (O2) harus dengan konsentrasi rendah (FiO2 24-28%) dan dapat ditingkatkan bertahap berdasarkan hasil pemeriksaan analisa gas darah dengan tujuan mengoreksi hipoksemia dan menghindari penurunan pH di bawah 7,26
  • 23.
    Langkah baku yangharus diikuti sebelum memberikan terapi oksigen: ● Tentukan status oksigenasi pasien dengan pemeriksaan klinis dan ● pemeriksaan analisis gas darah (AGD). Pilih sistem yang akan digunakan (aliran rendah atau tinggi) ● Tentukan konsentrasi oksigen yang dikehendaki: tinggi (> 60%), sedang (35- 60%), atau rendah (<35%). ● Pantau keberhasilan terapi oksigen dengan pemeriksaan fisik pada sistem respirasi dan kardiovaskular. ● Periksa AGD secara periodik dengan selang waktu minimal 30 menit. PERSIAPAN ALAT UNTUK TERAPI OKSIGEN: ● Sumber oksigen (tabung) atau sumber oksigen sentral, siap pakai. ● Tabung pelembab (humidifier). ● Pengukur aliran oksigen (flow meter). ● Alat pemberi oksigen tergantung metode yang dipakai
  • 24.
    CREDITS: This presentationtemplate was created by Slidesgo, including icon by Flaticon, and infographics & images from Freepik Nasal Canul - Disebut juga sebagai terapi oksigen rendah - aliran rendah. - Kecepatan aliran oksigen antara 1-5 liter/menit. Pemberian aliran yang lebih dari 5 liter/menit tidak akan memberikan Fio, yang tinggi, malah akan menyebabkan iritasi dan kekeringan pada mukosa nasal. - Keuntungan: kenyamanan pasien & aliran O, terus menerus meskipun pasien sedang makan maupun berbicara.
  • 25.
    CREDITS: This presentationtemplate was created by Slidesgo, including icon by Flaticon, and infographics & images from Freepik Sungkup Muka Sederhana - Termasuk sistem oksigen sedang, aliran tinggi. - Sungkup mempunyai lubang tempat pipa saluran masuk O₂ di dasarnya & lubang-lubang kecil di sekeliling sungkup. - Oksigen dapat dialirkan dengan kecepatan 6-10 liter/menit dengan FiO yang dicapai sekitar 35-60% - Bila kecepatan aliran 0, kurang dari 6 liter/ menit akan terjadi penumpukan CO², akibat dead space mekanik.
  • 26.
    CREDITS: This presentationtemplate was created by Slidesgo, including icon by Flaticon, and infographics & images from Freepik Sungkup Muka Rebreathing & Non - Terdiri atas sungkup muka sederhana yang dilengkapi dengan kantong reservoir oksigen pada dasar sungkup muka dan satu katup satu arah yang terletak pada lubang di samping sungkup, dan satu lagi katup satu arah terletak di antara kantong reservoir dan sungkup muka - Kecepatan aliran oksigen pada sungkup ini sebesar 9-15 liter per menit dan dapat memberikan konsentrasi oksigen sebesar 90-100%. Agar dapat berfungsi semestinya, harus dijaga agar kantong reservoir mengembang-mengempis dan tidak kolaps Terdiri atas sungkup muka sederhana yang dilengkapi dengan kantong reservoir oksigen pada dasar sungkup muka. Oksigen mengalir ke kantong reservoir terus menerus. Ketika ekspirasi, 1/3 awal gas ekspirasi masuk ke kantong reservoir bercampur dengan oksigen yang ada. Jadi saat inspirasi pasien menghisap kembali 1/3 gas ekspirasinya Rebreathing Non- Rebreathing
  • 27.
    CREDITS: This presentationtemplate was created by Slidesgo, including icon by Flaticon, and infographics & images from Freepik Sungkup Muka Venturi Terdiri atas sungkup muka dan mixing jet. Dengan alat ini, FiO² yang diberikan dapat dikendalikan. Oksigen yang diberikan dapat diatur berkisar 24%, 28%, 35%, dan 40% dengan kecepatan aliran 4-8 liter per menit, dan 45-50% dengan kecepatan aliran 10-12 liter per menit. Sungkup muka ini paling berguna pada pasien dengan penyakit paru obstruksi kronik yang sudah diketahui dosis FiO². Alat ini termasuk sistem oksigen terkendali - aliran tinggi.
  • 28.
  • 29.
    SUCCINYLCHOLINE obat pelumpuh ototdepolarisasi yang digunakan untuk intubasi dan terapi laringospasme. Meskipun mempunyai onset sangat cepat (<1 menit) dan lama kerja singkat (7-8 menit), penggunaannya terbatas karena kerjanya tidak dapat dilawan oleh pemberian obat lain. Efek samping : hipertensi, takikardi, bradikardi, aritmia ventrikel, hiperkalemia, dan yang lebih jarang, peningkatan tekanan intrakranial dan hipertermia maligna. DEPOLARISASI
  • 30.
    PANCURONIUM turunan aminosteroid kerjapanjang yang dimetabolisme menjadi senyawa 3- hydroxypancuronium di hati dan kemudian dieliminasi sebanding melalui urin dan empedu. Efek samping : - kardiovaskuler meliputi takikardi, hipertensi, dan peningkatan curah jantung akibat hambatan vagus. - Reaksi alergi akibat hipersensitif terhadap bromida NON-DEPOLARISASI
  • 31.
    VECURONIUM merupakan turunan aminosteroiddengan lama kerja sedang. Dimetabolisme oleh hati menjadi 3 metabolit aktif, yang semuanya dieliminasi oleh ginjal. Efek samping : - kardiovaskuler minimal pernah dilaporkan pada penggunaan vecuronium NON-DEPOLARISASI
  • 32.
    ROCURONIUM Turunan aminosteroid dankurang poten dibanding vecuronium, tetapi mempunyai onset cepat dan lama kerja singkat hingga sedang. Metabolit rocuronium hanya mempunyai 5% aktivitas hambatan neuromuskuler obat asal, sehingga tidak bermakna secara klinis. Rocuronium menawarkan keuntungan dibanding vecuronium pada dosis bolus untuk intubasi trakeal di ICU, khususnya jika succinylcholine dikontraindikasikan. Di eliminasi terutama oleh hati dan dikaitkan dengan sedikit efek samping kardiovaskuler NON-DEPOLARISASI
  • 33.
    ATRACURONIUM obat turunan benzylisoquinolinedengan lama kerja sedang. Atracurium didegradasi dengan eliminasi Hoffman (autolisis) dan dengan hidrolisis ester, sehingga tidak memerlukan penyesuaian dosis pada pasien dengan gangguan ginjal atau hati. Asidosis dan hipotermia berat dapat menurunkan metabolisme obat, sehingga perlu penurunan dosis. Efek samping : - hipotensi karena pelepasan histamin - Takikardi - Bronkospasme - Toksisitas laudanosine NON-DEPOLARISASI
  • 34.
    CISATRACURIUM merupakan isomer atracuriumdengan potensi 3 kali lebih kuat. Cisatracurium juga didegradasi dengan eliminasi Hoff man menjadi laudanosine, dan asidosis serta hipotermia memperlambat metabolismenya. Namun, karena potensinya lebih besar, cisatracurium diberikan dengan dosis lebih kecil, sehingga produksi laudano sine lebih sedikit, pelepasan histamin lebih rendah, dan efek samping kardiovaskuler lebih kecil. Penggunaannya di ICU terbatas karena onsetnya relatif lambat (3-6 menit). NON-DEPOLARISASI
  • 35.
    ATRACURONIUM obat turunan benzylisoquinolinedengan lama kerja sedang. Atracurium didegradasi dengan eliminasi Hoffman (autolisis) dan dengan hidrolisis ester, sehingga tidak memerlukan penyesuaian dosis pada pasien dengan gangguan ginjal atau hati. Asidosis dan hipotermia berat dapat menurunkan metabolisme obat, sehingga perlu penurunan dosis. Efek samping : - hipotensi karena pelepasan histamin - Takikardi - Bronkospasme - Toksisitas laudanosine NON-DEPOLARISASI
  • 36.
  • 37.
    Pre-medikasi Premedikasi merupakan pemberianobat yang dilakukan 1-2 jam sebelum induksi anestesi yang bertujuan untuk melancarkan induksi. Hal ini bukan sesuatu yang rutin dilakukan pada persiapan pre operasi, tetapi pemberian premedikasi harus dipertimbangkan setelah faktor-faktor yang berhubungan untuk diberikan premedikasi dapat diidentifikasi.
  • 38.
    Pre-medikasi TUJUAN: 1. Mengurangi kecemasan 2.Mengurangi nyeri 3. Mengurangi kebutuhan obat-obat anestesi 4. Mengurangi sekresi saluran pernapasan 5. Menyebabkan amnesia 6. Mengurangi kejadian mual-muntah pasca operasi 7. Membantu pengosongan lambung, mengurangi produksi asam lambung. 8. Mencegah refleks-refleks yang tidak diinginkan.
  • 39.
  • 40.
    Pre-medikasi OBAT ANTI-KOLINERGIK → Memilikiefek menekan/menghambat aktivitas kolinergik atau parasimpatis Tujuan pemberian 1. Mengurangi sekresi kelenjar saliva, saluran cerna, dan saluran napas. 2. Mencegah spasme laring dan bronkus 3. Mencegah bradikardia 4. Mengurangi motilitas usus 5. Melawan efek depresi narkotik terhadap pusat napas. Obat yang sering digunakan: ● Sulfas Atropin/Atropine Sulfate (SA): 0,01-0,02 mg/kgbb atau 0,2-0,6 mg IV
  • 41.
    Pre-medikasi OBAT GOLONGAN SEDATIF/TRANQUILIZER →Memiliki efek anti cemas dan menimbulkan rasa kantuk Tujuan pemberian → memberikan suasana nyaman bagi pasien dan membuat pasien bebas dari rasa cemas dan takut Obat yang sering digunakan: ● Derivat Benzodiazepine → Diazepam 0,2-0,5 mg/kgbb IV & Midazolam (efek sedasi & anti cemas). Midazolam (efek anterograde amnesia) dosis mizol: 0,07-0,15 mg/kgbb IV ● Derivat barbiturat → Pentobarbital & secobarbital (sedasi & penenang pra-bedah) ● Preparat antihistamin → diphenhydramine (sedatif & antimuntah ringan) 0,5-1,5 mg/kgbb
  • 42.
  • 43.
    Pre-medikasi OBAT GOLONGAN ANALGETIKNARKOTIK/OPIOID → menyebabkan sedasi, tapi sebagai ansiolitik yang kurang baik. ES menyebabkan depresi SSP secara luas → sudah jarang digunakan Tujuan pemberian → diberikan jika pasien mengalami nyeri pre operasi Obat yang sering digunakan: ● Pethidine 1-2 mg/kgbb ● Morphine 0,1-0,2 mg/kgbb ● Fentanyl 50-100 mcg
  • 44.
    Pre-medikasi ANTAGONIS RESEPTOR 5HT →sebagai profilaksis anti-mual dan muntah, dianjurkan sebelum induksi dan pasca bedah Tujuan pemberian → diberikan jika pasien ada riwayat mual muntah → operasi yang berisiko tinggi menyebabkan mual muntah, seperti laparoskopi, op. Bedah saraf, atau operasi mata. Obat yang sering digunakan: ● Ondansetron 4-8 mg (IV)
  • 45.
    Pre-medikasi ANTAGONIS RESEPTOR HISTAMIN-2(ARH-2) → menghambat pengikatan histamin ke reseptor H, mengurangi produksi asam lambung dan meningkatkan pH lambung. Tujuan pemberian → untuk mengurangi risiko pneumonia aspirasi → diberikan malam hari sebelum operasi dan minimal 2 jam sebelum operasi Obat yang sering digunakan: ● Ranitidine ○ Oral 150-300 mg ○ IV 50 mg
  • 46.
    Induksi 1. Barbiturat ○ Thiopental ○Methohexital 2. Benzodiazepine ○ Midazolam ○ Lorazepam ○ Diazepam 3. Ketamine 4. Propofol Merupakan tindakan untuk membuat pasien dari sadar menjadi tidak sadar, sehingga memungkinkan dimulainya anestesi dan pembedahan. Induksi dapat dilakukan dengan cara inhalasi, intravena, intramuskular, atau rektal. ● Obat induksi anestesi intravena: Thiopental, Propofol, Ketamine ● Obat induksi anestesi intramuskular: Ketamine ● Obat anestesi inhalasi: Halotan, Sevoflurane
  • 47.
    BARBITURATES Barbiturat menekan sistemRAS (reticular activating system) yang mengatur kesadaran di batang otak. Mechanism of actionnya adalah berikatan dengan reseptor γ-aminobutyric acid type A (GABAA). Barbiturat meningkatkan aksi GABA dengan memperpanjang durasi pembukaan saluran ion spesifik klorida. Sifat anestesi: 1. Hipnotik yang sangat kuat 2. Induksinya cepat, lancar, dan tidak diikuti oleh eksitasi 3. Pola respirasi tenang dan bisa hipoventilasi 4. Tidak mempunyai efek analgetik 5. Tidak menimbulkan relaksasi otot 6. Pemulihan cepat, tetapi masih ada rasa ngantuk 7. Efek samping mual dan muntah jarang dijumpai Obat yang sering digunakan: ● Thiopental (konsentrasi 2,5%) 3-6 mg/kgbb IV
  • 48.
    BENZODIAZEPINES Benzodiazepin mengikat reseptoryang sama di sistem saraf pusat seperti barbiturat tetapi mengikat di lokasi yang berbeda. Pengikatan benzodiazepin pada reseptor GABAa meningkatkan frekuensi pembukaan saluran ion klorida terkait. Pengikatan reseptor benzodiazepin oleh agonis memfasilitasi pengikatan GABA ke reseptornya. Flumazenil (sebuah imidazobenzodiazepine) adalah antagonis spesifik reseptor benzodiazepin yang secara efektif membalikkan sebagian besar efek sistem saraf pusat dari benzodiazepin. → dapat digunakan untuk premedikasi, sedasi IV, induksi IV, dan tata laksana kejang. ES: Anterograde Amnesia, Hypotension Obat yang sering digunakan: ● Midazolam 0,1-0,4 mg/kgbb IV (sediaan ampul) Merk dagang: ● Anesfar, Fortanest, Hipnoz, Miloz, Sedacum
  • 49.
    KETAMINE Memiliki sifat analgesik,anestetik, dan kataleptik dengan kerja yang singkat. Ketamine bersifat simpatomimetik sehingga dapat meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung. Harus hati- hati pada pasien dengan penyakit jantung koroner, hipertensi yang tidak terkontrol, gagal jantung kongestif, atau aneurisma arteri. Ketamine juga bisa menyebabkan dilatasi bronkus sehingga menjadi obat pilihan pada terapi asma. → sifat unik ketamine: analgesik yang baik, stimulasi saraf simpatetik, bronkodilatasi, dan depresi pernapasan yang minimal ES: Halusinasi Dosis: ● Induksi IV → 1-2 mg/kgbb ● Pemeliharaan → 10-20 mcg/kgbb/menit ● Analgesia/sedasi → 2,5-15 mcg/kgbb/menit Merk dagang: ● Vial 100 mg/ml : Ivanes, KTM-100
  • 50.
    PROPOFOL → berupa cairanemulsi lemak berwarna putih susu → memiliki efek hipnotik dan tidak mempunyai efek analgetik maupun relaksasi otot kelebihan: bekerja lebih cepat daripada thiopental, konfusi bedah minimal, muntah muntah pasca bedah minimal ES → hipotensi, apnea sementara selama induksi Tujuan: Sering digunakan untuk induksi anestesi Dosis: ● Induksi IV → 1-2,5 mg/kgbb ● Infus untuk Pemeliharaan → 50-200 mcg/kgbb/menit ● Infus untuk sedasi → 25-100 mcg/kgbb/menit Merk dagang: ● Ampul 1% → Anesticap, Diprivan, Fiprol, Fresofol MCT/LCT 1%, Nupovel, Proanes 1% MCT/LCT, Propofol Lipuro, Recofol N, Sedafol
  • 51.
    PEMBAHASAN Tn. Pujiono/54 thn Pasienmengeluh ndrodog sejak 5 hari SMRS. Ndrodog dirasakan disertai dengan sesak sejak 5 hari ini. Pasien juga batuk sejak 1 minggu ini. Pasien tidak demam, tidak mual, dan tidak muntah. Pasien tidak jatuh sebelumnya. ● X-Ray : Fibroinfiltrat paru kanan suprahiler kiri, kolaps paru kiri. Sinus phrenicocostalis kanan kiri anterior-posterior tumpul. Retrospinal dan retrocardial space tertutup perselubungan. ● Diagnosis : TB Paru, Efusi Pleura bilateral, Pneumothorax sinistra Pilihan Obat-obatan Induksi (IV): 1. Thiopental → release histamine, dapat menyebabkan bronkospasme (X) 2. Midazolam → postoperative respiratory depression (X) 3. Ketamine → efek bronkodilatasi langsung, maintain hypoxic pulmonary vasoconstriction (HPV) response, rapid onset, dan tanpa depresi cardiovascular (v) 4. Propofol → tidak release histamine (v)
  • 52.
    PEMBAHASAN Pilihan Obat-obatan premedikasi: 1.Sulfas Atropin → untuk mencegah spasme laring & bronkus, mengurangi sekresi kelenjar saliva, saluran napas, dan saluran cerna untuk mencegah aspirasi saat intubasi. → atau bisa juga diberikan ranitidine untuk mengurangi sekresi as.lambung 2. Midazolam → diberikan untuk menciptakan suasana nyaman, tidak cemas, dan sedasi 3. Fentanyl → untuk mengurangi rasa nyeri preoperasi, tetapi terdapat efek samping depresi napas sehingga monitor dan patensi jalan napas perlu dilakukan dengan ketat 4. Anti mual dan muntah pada pasien ini tidak diberikan kecuali ada riwayat mual muntah dan proses operasi yang berisiko tinggi menyebabkan mual muntah. Atau untuk profilaksi setelah anestesi karena pemberian obat induksi ketamine.
  • 53.
    CREDITS: This presentationtemplate was created by Slidesgo, including icon by Flaticon, and infographics & images from Freepik Thanks Please keep this slide for attribution

Editor's Notes

  • #13 DL: darah lengkap SE: serum elektrolit
  • #16 Obat preinduksi, induksi, maintenance, dan manajemen oksigenasi
  • #17 Untuk menilai dan mengkomunikasikan komorbiditas media pra-anastesi pasien. Sistem klasifikasi saja tidak dapat memprediksi resiko perioperatif. Namun bila digunakan bersama dengan penilaian faktor lain (misal : jenis operasi, kelemahan, tingkat dekondisi) dapat membantu dalam memprediksi resiko perioperatif
  • #22 Dalam pemberian terapi oksigen (O2) harus dipertimbangkan apakah pasien benar-benar membutuhkan oksigen (O2), apakah dibutuhkan terapi oksigen (O2) jangka pendek (short-term oxygen therapy) atau panjang (long-term oxygen therapy). Oksigen (O2) yang diberikan harus diatur dalam jumlah yang tepat dan harus dievaluasi
  • #27 - Pada saat inspirasi, katup yang terletak di bagian samping sungkup muka akan menutup sehingga seluruh gas inspirasi berasal dari kantong reservoir sedangkan katup yang berada di antara kantong reservoir dan sungkup menutup sehingga gas ekspirasi tidak masuk ke kantong reservoir tetapi dipaksa keluar melewati lubang-lubang kecil di samping sungkup. Pada sistem ini, aliran oksigen akan terus menerus mengisi kantong reservoir.
  • #43 Jurnal Kesehatan Saintika MeditoryJurnal STIKes SYEDZA Saintikahttps://jurnal.syedzasaintika.ac.id › download
  • #52 Morgan and Mikhail, Halaman 304, Chapter 9
  • #57 https://ether.stanford.edu/library/thoracic_anesthesia/Overview/REVIEW%20Anesthesia%20for%20Thoracic%20Surgery.pdf
  • #58 https://ether.stanford.edu/library/thoracic_anesthesia/Overview/REVIEW%20Anesthesia%20for%20Thoracic%20Surgery.pdf
  • #59 https://ether.stanford.edu/library/thoracic_anesthesia/Overview/REVIEW%20Anesthesia%20for%20Thoracic%20Surgery.pdf