Jurnal


Islam, Doktrin dan Peradaban

      Yayasan Paramadina


            2000
Kolofon
Tulisan ini diambil dari artikel yang dimuat di situs media.isnet.org tanpa seijin dari pengelola dan menurut situs tersebut,
                                           tulisan ini pernah diterbitkan oleh:
                                                     Yayasan Paramadina
 Digitalisasi dengan menggunakan aplikasi Adobe® InDesign® CS6 for Mac® OS X yang dibuat oleh Adobe® Systems Inc.
Typeface yang dipergunakan disini adalah: Myriad Pro, Adobe® Naskh dan Adobe® Garamond Pro yang dibuat oleh Adobe®
                                                        Systems Inc.
Jurnal


Islam, Doktrin dan Peradaban

      Yayasan Paramadina


            2000
iv
Daftar Isi
       Kolofon	ii

1.	 Disiplin Keilmuan Tradisional Islam: Ilmu Kalam 	                                       1
   (Sebuah Tinjauan Singkat Kritis Kesejarahan)
       Pertumbuhan Ilmu Kalam	                                                          2
       Peranan Kaum Khawarij dan Mu'tazilah	                                            4
       Plus-Minus Ilmu Kalam	                                                           8

2.	 Falsafah Islam: Unsur-Unsur Hellenisme di Dalamnya	                                     15
       Pertumbuhan	16
       Neoplatonisme	21
       Aristotelianisme	22
       Penutup	24

3.	 Disiplin Ilmu Keislaman Tradisional: Fiqh (Tinjauan Dari Segi Makna Kesejarahan)	       29
       Pangkal Pertumbuhan Fiqh	        30
       Masa-masa Perkembangan Formatif	 33
       Ushul al-Fiqh (I)	               35
       Hadits sebagai Sunnah	           36
       Ushul al-Fiqh (II)	              40
       Penutup	41
4.	 Kekuatan dan Kelemahan Paham Asyari Sebagai Doktrin Aqidah Islamiah	                  43
            Imam al-Asy'ari	                                                             44
            Beberapa Inti Pokok Paham Asy'ari	                                           46
            Alur Argumen Kalam Asy'ari	                                                  50
            Masalah Perilaku Manusia	                                                    54

     5.	 Disiplin Keilmuan Islam Tradisional: Tasawuf	                                         59
        (Letak dan Peran Mistisisme dalam Penghayatan Keagamaan Islam)
            Tasawuf Sebagai Gerakan Oposisi	                                             61
            Tarik-menarik Antara Syari'ah dan Thariqah	                                  63
            Tasawuf Sebagai Olah Ruhani	                                                 65
            Masalah Keabsahan Tasawuf	                                                   68

     6.	 Menangkap Kembali Dinamika Islam Klasik: Masyarakat Salaf Sebagai Masyarakat Etika	   73
            Golongan Salaf	                                                              74
            Masyarakat Salaf Sebagai Masyarakat Etik	                                    79

     7.	 Pertimbangan Kemaslahatan Dalam Menangkap Makna dan Semangat Ketentuan Keagamaan:
            Kasus Ijtihad 'Umar Ibn Al-Khattab	                                        87




vi
Disiplin Keilmuan Tradisional Islam:
                                                                                                           1
                 Ilmu Kalam
                          (Sebuah Tinjauan Singkat Kritis Kesejarahan)


I  lmu Kalam adalah salah satu dari empat disiplin
   keilmuan yang telah tumbuh dan menjadi bagian
dari tradisi kajian tentang agama Islam. Tiga lainnya
                                                        sebagai Teologia, sekalipun sebenarnya tidak
                                                        seluruhnya sama dengan pengertian Teologia
                                                        dalam agama Kristen, misalnya. (Dalam pengertian
ialah disiplin-disiplin keilmuan Fiqh, Tasawuf, dan     Teologia dalam agama kristen, Ilmu Fiqh akan
Falsafah. Jika Ilmu Fiqh membidangi segi-segi           termasuk Teologia). Karena itu sebagian kalangan
formal peribadatan dan hukum, sehingga tekanan          ahli yang menghendaki pengertian yang lebih
orientasinya sangat eksoteristik, mengenai hal-hal      persis akan menerjemahkan Ilmu Kalam sebagai
lahiriah, dan Ilmu Tasawuf membidangi segi-             Teologia dialektis atau Teologia Rasional, dan
segi penghayatan dan pengamalan keagamaan               mereka melihatnya sebagai suatu disiplin yang
yang lebih bersifat pribadi, sehingga tekanan           sangat khas Islam.
orientasinya pun sangat esoteristik, mengenai hal-          Sebagai unsur dalam studi klasik pemikiran
hal batiniah, kemudian Ilmu Falsafah membidangi         keislaman. Ilmu Kalam menempati posisi yang
hal-hal yang bersifat perenungan spekulatif             cukup terhormat dalam tradisi keilmuan kaum
tentang hidup ini dan lingkupnya seluas-luasnya,        Muslim. Ini terbukti dari jenis-jenis penyebutan
maka Ilmu Kalam mengarahkan pembahasannya               lain ilmu itu, yaitu sebutan sebagai Ilmu Aqd'id
kepada segi-segi mengenai Tuhan dan berbagai            (Ilmu Akidah-akidah, yakni, Simpul-simpul
derivasinya. Karena itu ia sering diterjemahkan         [Kepercayaan]), Ilmu Tawhid (Ilmu tentang
Kemaha-Esaan [Tuhan]), dan Ilmu Ushul al-Din        kaya dan beraneka ragam. Sedangkan kajian
    (Ushuluddin, yakni, Ilmu Pokok-pokok Agama). Di     tentang Ilmu Kalam meliputi hanya khazanah yang
    negeri kita, terutama seperti yang terdapat dalam   cukup terbatas, yang mencakup jenjang-jenjang
    sistem pengajaran madrasah dan pesantren, kajian    permulaan dan menengah saja, tanpa atau sedikit
    tentang Ilmu Kalam merupakan suatu kegiatan         sekali menginjak jenjang yang lanjut (advanced).
    yang tidak mungkin ditinggalkan. Ditunjukkan        Berkenaan dengan hal ini dapat disebutkan
    oleh namanya sendiri dalam sebutan-sebutan lain     contoh-contoh kitab yang banyak digunakan di
    tersebut di atas, Ilmu Kalam menjadi tumpuan        negeri kita, khususnya di pesantren-pesantren,
    pemahaman tentang sendi-sendi paling pokok          untuk pengajaran Ilmu Kalam. Yaitu dimulai
    dalam ajaran agama Islam, yaitu simpul-simpul       dengan kitab 'Aqidat al-'Awamm (Akidat Kaum
    kepercayaan, masalah Kemaha-Esaan Tuhan, dan        Awam), diteruskan dengan Bad' al-Amal (Pangkal
    pokok-pokok ajaran agama. Karena itu, tujuan        Berbagai Cita) atau Jawharat al-Tauhid (Pertama
    pengajaran Ilmu Kalam di madrasah dan pesantren     Tauhid), mungkin juga dengan kitab Al-Sanusiyyah
    ialah untuk menanamkan paham keagamaan yang         (disebut demikian karena dikarang oleh seseorang
    benar. Maka dari itu pendekatannya pun biasanya     bernama al-Sanusi).
    doktrin, seringkali juga dogmatis.                       Disamping itu, sesungguhnya Ilmu Kalam
        Meskipun begitu, dibanding dengan kajian        tidak sama sekali bebas dari kontroversi atau
    tentang Ilmu Fiqh, kajian tentang Ilmu Kalam di     sikap-sikap pro dan kontra, baik mengenai isinya,
    kalangan kaum "Santri" masih kalah mendalam dan     metodologinya, maupun klaim-klaimnya. Karena
    meluas. Mungkin dikarenakan oleh kegunaannya        itu penting sekali mengerti secukupnya ilmu
    yang praktis, kajian Ilmu Fiqh yang membidangi      ini, agar terjadi pemahaman agama yang lebih
    masalah-masalah peribadatan dan hukum itu           seimbang.
    meliputi khazanah kitab dan bahan rujukan yang




2
Pertumbuhan Ilmu Kalam                                                        1
    Sama halnya dengan disiplin-disiplin keilmuan      kalam tidaklah dimaksudkan "pembicaraan"
Islam lainnya, Ilmu Kalam juga tumbuh beberapa         dalam pengertian sehari-hari, melainkan dalam
abad setelah wafat Nabi. Tetapi lebih dari disiplin-   pengertian pembicaraan yang bernalar dengan
disiplin keilmuan Islam lainnya, Ilmu Kalam sangat     menggunakan logika. Maka ciri utama Ilmu Kalam
erat terkait dengan skisme dalam Islam. Karena         ialah rasionalitas atau logika. Karena kata-kata
itu dalam penelusurannya ke belakang, kita akan        kalam sendiri memang dimaksudkan sebagai ter
sampai kepada peristiwa pembunuhan 'Utsman             jemahan kata dan istilah Yunani logos yang juga
Ibn 'Aff'an, Khalifah III. Peristiwa menyedihkan       secara harfiah berarti "pembicaraan", tapi yang dari
dalam sejarah Islam yang sering dinamakan al-          kata itulah terambil kata logika dan logis sebagai
Fitnat al-Kubra (Fitnah Besar), sebagaimana telah      derivasinya. Kata Yunani logos juga disalin ke
banyak dibahas, merupakan pangkal pertumbuhan          dalam kata Arab manthiq, sehingga ilmu logika,
masyarakat (dan agama) Islam di berbagai bidang,       khususnya logika formal atau silogisme ciptaan
khususnya bidang-bidang politik, sosial dan paham      Aristoteles dinamakan Ilmu Mantiq ('Ilm al-Mantiq).
keagamaan. Maka Ilmu Kalam sebagai suatu               Maka kata Arab "manthiqi" berarti "logis".
bentuk pengungkapan dan penalaran paham                    Dari penjelasan singkat itu dapat diketahui
keagamaan juga hampir secara langsung tumbuh           bahwa Ilmu Kalam amat erat kaitannya dengan
dengan bertitik tolak dari Fitnah Besar itu.           Ilmu Mantiq atau Logika. Itu, bersama dengan
    Sebelum pembahasan tentang proses                  Falsafah secara keseluruhan, mulai dikenal orang-
pertumbuhan Ilmu Kalam ini dilanjutkan,                orang Muslim Arab setelah mereka menaklukkan
dirasa perlu menyisipkan sedikit keterangan            dan kemudian bergaul dengan bangsa-bangsa
tentang Ilmu Kalam ('Ilm al-Kalam), dan akan           yang berlatar-belakang peradaban Yunani dan
lebih memperjelas sejarah pertumbuhannya itu           dunia pemikiran Yunani (Hellenisme). Hampir
sendiri. Secara harfiah, kata-kata Arab kalam,         semua daerah menjadi sasaran pembebasan
berarti "pembicaraan". Tetapi sebagai istilah,         (fat'h, liberation) orang-orang Muslim telah
terlebih dahulu mengalami Hellenisasi (disamping     atau harus dibunuh? Karena ia berbuat dosa
    Kristenisasi). Daerah-daerah itu ialah Syria,        besar (berbuat tidak adil dalam menjalankan
    Irak, Mesir dan Anatolia, dengan pusat-pusat         pemerintahan) padahal berbuat dosa besar adalah
    Hellenisme yang giat seperti Damaskus, Atiokia,      kekafiran. Dan kekafiran, apalagi kemurtadan
    Harran, dan Aleksandria. Persia (Iran) pun, meski    (menjadi kafir setelah Muslim), harus dibunuh.
    tidak mengalami Kristenisasi (tetap beragama         Mengapa perbuatan dosa besar suatu kekafiran?
    Majusi atau Zoroastrianisme), juga sedikit banyak    Karena manusia berbuat dosa besar, seperti
    mengalami Hellenisasi, dengan Jundisapur sebagai     kekafiran, adalah sikap menentang Tuhan. Maka
    pusat Hellenisme Persia.                             harus dibunuh! Dari jalan pikiran itu, para (bekas)
        Adalah untuk keperluan penalaran logis itu       pembunuh 'Utsman atau pendukung mereka
    bahan-bahan Yunani diperlukan. Mula-mula ialah       menjadi cikal-bakal kaum Qadari, yaitu mereka
    untuk membuat penalaran logis oleh orang-            yang berpaham Qadariyyah, suatu pandangan
    orang yang melakukan pembunuhan 'Utsm'an             bahwa manusia mampu menentukan amal
    atau menyetujui pembunuhan itu. Jika urutan          perbuatannya, maka manusia mutlak bertanggung
    penalaran itu disederhanakan, maka kira-kira         jawab atas segala perbuatannya itu, yang baik dan
    akan berjalan seperti ini: Mengapa 'Utsman boleh     yang buruk.

                        Peranan Kaum Khawarij dan Mu'tazilah
                                                         netral dari peperangan itu bukanlah orang-
       Para pembunuh 'Utsman itu, menurut beberapa       orang yang membunuh 'Utsman. Sebaliknya,
    petunjuk kesejarahan, menjadi pendukung              para pembunuh 'Utsman itu adalah sekelompok
    kekhalifahan 'Ali Ibn Abi Thalib, Khalifah IV. Ini   kecil dari pasukan 'Ali, sedangkan umat saat
    disebutkan, misalnya, oleh Ibn Taymiyyah, sebagai    kekhalifahan 'Utsman itu berjumlah dua ratus ribu
    berikut:                                             orang, dan yang menyetujui pembunuhannya
       Sebagian besar pasukan Ali, begitu pula mereka    seribu orang sekitar itu.(1)
    yang memerangi Ali dan mereka yang bersikap
                                                           1  Ibn Taymiyyah, Minhaj al-Sunnah, jil. 4, h. 237.

4
Tetapi mereka kemudian sangat kecewa kepada      boleh dikatakan binasa. Tetapi dalam perjalanan
'Ali, karena Khalifah ini menerima usul perdamaian    sejarah pemikiran Islam, pengaruh mereka tetap
dengan musuh mereka, Mu'awiyah ibn Abu Sufyan,        saja menjadi pokok problematika pemikiran Islam.
dalam "Peristiwa Shiffin" di situ 'Ali mengalami      Yang paling banyak mewarisi tradisi pemikiran
kekalahan di plomatis dan kehilangan kekuasaan        Khawarij ialah kaum Mu'tazilah. Mereka inilah
"de jure"-nya. Karena itu mereka memisahkan           sebenarnya kelompok Islam yang paling banyak
diri dengan membentuk kelompok baru yang              mengembangkan Ilmu Kalam seperti yang kita
kelak terkenal dengan sebutan kaum Khawarij           kenal sekarang. Berkenaan dengan Ibn Taymiyyah
(al-Kahwarij, kaum Pembelot atau Pemberontak).        mempunyai kutipan yang menarik dari keterangan
Seperti sikap mereka terhadap 'Utsman, kaum           salah seorang 'ulama' yang disebutnya Imam
Khawarij juga memandang 'Ali dan Mu'awiyah            'Abdull'ah ibn al-Mubarak. Menurut Ibn Taymiyyah,
sebagai kafir karena mengkompromikan yang             sarjana itu menyatakan demikian:
benar (haqq) dengan yang palsu (bathil). Karena           Agama adalah kepunyaan ahli (pengikut)
itu mereka merencanakan untuk membunuh 'Ali           Hadits, kebohongan kepunyaan kaum Rafidlah,
dan Mu'awiyah, juga Amr ibn al-'Ash, gubernur         (ilmu) Kalam kepunyaan kaum Mu'tazilah, tipu daya
Mesir yang sekeluarga membantu Mu'awiyah              kepunyaan (pengikut) Ra'y (temuan rasional) ... (3)
mengalahkan Ali dalam "Peristiwa Shiffin" tersebut.       Karena itu ditegaskan oleh Ibn Taymiyyah
Tapi kaum Khawarij, melalui seseorang bernama         bahwa Ilmu Kalam adalah keahlian khusus kaum
Ibn Muljam, berhasil membunuh hanya 'Ali,             Mu'tazilah.(4) Maka salah satu ciri pemikiran
sedangkan Mu'awiyah hanya mengalami luka-luka,        Mu'tazili ialah rasionalitas dan paham Qadariyyah.
dan 'Amr ibn al-'Ash selamat sepenuhnya (tapi         Namun sangat menarik bahwa yang pertama
mereka membunuh seseorang bernama Kharijah            kali benar-benar menggunakan unsur-unsur
yang disangka 'Amr, karena rupanya mirip).(2)         Yunani dalam penalaran keagamaan ialah
     Karena sikap-sikap mereka yang sangat            seseorang bernama Jahm ibn Shafwan yang justru
ekstrem dan eksklusifistik, kaum Khawarij akhirnya
                                                        3  Ibid, h. 110.
  2  Ibid, hh. 12-13.                                   4 Ibid.

                                                                                                            5
penganut paham Jabariyyah, yaitu pandangan            hendak mereka tegakkan. Golongan yang
    bahwa manusia tidak berdaya sedikit pun juga          mengingkari adanya sifat-sifat Tuhan itu dikenal
    berhadapan dengan kehendak dan ketentuan              sebagai al-Nufat ("pengingkar" [sifat-sifat Tuhan])
    Tuhan. Jahm mendapatkan bahan untuk penalaran         atau al-Mu'aththilah ("pembebas" [Tuhan dari sifat-
    Jabariyyah-nya dari Aristotelianisme, yaitu bagian    sifat]).(5)
    dari paham Aristoteles yang mengatakan bahwa              Kaum Mu'tazilah menolak paham Jabiriyyah-
    Tuhan adalah suatu kekuatan yang serupa dengan        nya kaum Jahmi. Kaum Mu'tazilah justru menjadi
    kekuatan alam, yang hanya mengenal keadaan-           pembela paham Qadariyyah seperti halnya
    keadaan umum (universal) tanpa mengenal               kaum Khawarij. Maka kaum Mu'tazilah disebut
    keadaan-keadaan khusus (partikular). Maka             sebagai "titisan" doktrinal (namun tanpa gerakan
    Tuhan tidak mungkin memberi pahala dan dosa,          politik) kaum Khawarij. Tetapi kaum Mu'tazilah
    dan segala sesuatu yang terjadi, termasuk pada        banyak mengambil alih sikap kaum Jahmi yang
    manusia, adalah seperti perjalanan hukum alam.        mengingkari sifat-sifat Tuhan itu. Lebih penting
    Hukum alam seperti itu tidak mengenal pribadi         lagi, kaum Mu'tazilah meminjam metologi
    (impersonal) dan bersifat pasti, jadi tak terlawan    kaum Jahmi, yaitu penalaran rasional, meskipun
    oleh manusia. Aristoteles mengingkari adanya          dengan berbagai premis yang berbeda, bahkan
    Tuhan yang berpribadi personal God. Baginya           berlawanan (seperti premis kebebasan dan
    Tuhan adalah kekuatan maha dasyat namun tak           kemampuan manusia). Hal ini ikut membawa kaum
    berkesadaran kecuali mengenai hal-hal universal.      Mu'tazilah kepada penggunaan bahan-bahan
    Maka mengikuti Aristoteles itu Jahm dan para          Yunani yang dipermudah oleh adanya kegiatan
    pengikutpya sampai kepada sikap mengingkari           penerjemahan buku-buku Yunani, ditambah
    adanya sifat bagi Tuhan, seperti sifat-sifat kasib,   dengan buku-buku Persi dan India, ke dalam
    pengampun, santun, maha tinggi, pemurah, dan          bahasa Arab. Kegiatan itu memuncak di bawah
    seterusnya. Bagi mereka, adanya sifat-sifat itu       pemerintahan al-Ma'mun ibn Harun al-Rasyid.
    membuat Tuhan menjadi ganda, jadi bertentangan        Penterjemahan itu telah mendorong munculnya
    dengan konsep Tauhid yang mereka akui sebagai
                                                            5  Ibid., jil. 1, hh. 344 dan 345.

6
Ahli Kalam dan Falsafah.(6)                                     Mu'tazilah berpendapat bahwa Kalam Allah itu
    Khalifah al-Ma'mun sendiri, di tengah-tengah                hadits, sementara kaum Hadits (dalam arti Sunnah,
pertikaian paham berbagai kelompok Islam,                       dan harap diperhatikan perbedaan antara kata-
memihak kaum Mu'tazilah melawan kaum                            kata hadits [a dengan topi] dan hadits [i dengan
Hadits yang dipimpin oleh Ahmad ibn Hanbal                      topi]) berpendapat al-Qur'an itu qadim seperti
(pendiri mazhab Hanbali, salah satu dari empat                  Dzat Allah sendiri.(9) Pemenjaraan Ahmad ibn
mazhab Fiqh). Lebih dari itu, Khalifah al-Ma'mun,                   "orang yang banyak bicara"), ialah karena bertengkar sesama
                                                                    mereka dengan adu argumen melalui pembicaraan kosong,
dilanjutkan oleh penggantinya, Khalifah al-                         tidak substantif. (Lihat Ibn Taymiyyah, Naqdl al-Manthiq, hh.
Mu'tashim, melakukan mihnah (pemeriksaan                            205-206).
paham pribadi, inquisition), dan menyiksa serta                  9  Berkenaan dengan kontroversi ini, seorang orientalis
                                                                    kenamaan, Wilfred Cantwell Smith dari Institute of Islamic
menjebloskan banyak orang, termasuk Ahmad ibn                       Studies, McGill University, Montreal, Canada (tempat banyak
Hanbal, ke dalam penjara.(7) Salah satu masalah                     ahli keislaman Indonesia dan Dunia belajar dan mengajar,
                                                                    termasuk, Prof. H.M. Rasydi), membandingkan paham orang
yang diperselisihkan ialah apakah Kalam atau                        Islam, khususnya aliran Sunni, dengan paham orang Kristen.
Sabda Allah, berujud al-Qur'an, itu qadim (tak                      Kata Smith, yang sebanding dengan al-Qur'an dalam Islam itu
                                                                    bukanlah Injil dalam Kristen, melainkan diri 'Isa al-masih atau
terciptakan karena menjadi satu dengan Hakikat
                                                                    Yesus Kristus. Sebab, sebagaimana orang-orang Muslim (aliran
atau Dzat Ilahi) ataukah hadits (terciptakan, karena                Sunni) memandang al-Qur'an itu qadiim seperti Dzat Ilahi,
berbentuk suara yang dinyatakan dalam huruf                         orang-orang Kristen memandang 'Isa sebagai penjelmaan
                                                                    Allah dalam sistem teologia Trinitas, yang juga qadim, sama
dan bahasa Arab)?(8) Khalifah al-Ma'mun dan kaum                    dengan al-Qur'an. Jadi jika bagi agama Islam al-Qur'an itulah
  6  Ibn Taymiyyah, Naqdl al-Manthiq, h. 185.                       wahyu Allah (Inggris: revelation, pengungkapan diri), maka
                                                                    bagi agama Kristen 'Isa al-Masih itulah wahyu, menampakkan
  7  Minhaj, jil. 1, h. 344.                                        Tuhan. Sedangkan Injil bukanlah wahyu, melainkan catatan
  8  Karena dominannya isu Kalam atau Sabda Allah apakah            tentang kehidupan 'Isa al-Masih, sehingga tidak sama
     qadim atau hadits sebagai pusat kontroversi itu maka ada       kedudukannya dengan al-Qur'an, tetapi bisa dibandingkan
     kaum ahli yang mengatakan penalaran tentang segi ajaran        dengan Hadits. Maka sejalan dengan itu Nabi Muhammad
     Islam yang relevan itu disebut Ilmu Kalam, seolah-olah         tidaklah harus dibandingkan dengan 'Isa al-Masih (karena
     merupakan ilmu atau teori tentang Kalam Allah. Disamping       dia ini "Tuhan"), tetapi dengan Paulus (karena dia ini, sama
     itu, seperti Ibn Taymiyyah, mengatakan bahwa ilmu              dengan Nabi Muhammad, adalah "rasul"). (Lihat, W. C.
     itu disebut Ilmu Kalam dan para ahlinya disebut kaum           Smith, Islam in Modern History [Princenton, N.J.: Princeton
     Mutakallim, sesuai dengan makna harfiah perkataan kalam        University Press, 19771, hh. 17-18 fn). Pandangan Islam
     dan mutakallim (pembicaraan, hampir mengarah kepada arti       tentang Isa al-Masih sudah sangat terkenal, dan tidak perlu

                                                                                                                                      7
Hanbal adalah karena masalah ini.                                  Namun jasa al-Ma'mun dalam membuka pintu
        Mihnah itu memang tidak berlangsung terlalu                    kebebasan berpikir dan ilmu pengetahuan tetap
    lama, dan orang pun bebas kembali. Tetapi ia                       diakui besar sekali dalam sejarah umat manusia.
    telah meninggalkan luka yang cukup dalam pada                      Maka kekhalifahan al-Ma'mun (198-218 H/813-833
    tubuh pemikiran Islam, yang sampai saat inipun                     M), dengan campuran unsur-unsur positif dan
    masih banyak dirasakan orang-orang Muslim.                         negatifnya, dipandang sebagai salah satu tonggak
        dikemukakan di sini. Tetapi tentang Paulus, cukup menarik      sejarah perkembangan pemikiran Islam, termasuk
        mengetahui bahwa sudah sejak awal sekali orang-orang           perkembangan Ilmu Kalam, dan juga Falsafah
        Muslim terlibat dalam kontroversi dan polemik sekitar tokoh
        ini. Menurut Ibn Taymiyyah, misalnya, Paulus (Arab: Bawlush    Islam."(10)
        ibn Yusya') adalah scorang tokoh Yahudi yang berpura-pura        10  Disini perlu kita tegaskan bahwa mihnah Khalifah
        masuk agama Nasrani dengan maksud merusak agama itu                 al-Ma'mun itu, meskipun sangat buruk, tidak dapat
        melalui pengembangan paham bahwa 'Isa al-Masih adalah               disamakan dengan inquisition yang terjadi di Spanyol
        Tuhan atau jelmaan Tuhan. Ibn Taymiyyah mengemukakan                setelah reconquest. Karena mihnah itu dilancarkan dibawah
        bahwa peranan Paulus dalam merusak agama Nasrani sama               semacam "liberalisme" Islam atau kebebasan berpikir yang
        dengan peranan 'Abdullah ibn Saba' dalam tnerusak agama             menjadi paham Mu'tazilah, melawan mereka yang dianggap
        Islam. Serupa dengan Paulus, 'Abdullah ibn Saba', kata Ibn          menghalangi "liberalisme" dan kebebasan itu, khususnya
        Taymiyyah, adalah seorang tokoh Yahudi dari Yaman yang              kaum "fundamentalis" (al-Hasywiyyun, sebuah sebutan
        menyelundup ke dalam Islam dengan tujuan merusak agama              ejekan, yang secara harfiah berarti kurang lebih "kaum
        itu dari dalam, dengan mengembangkan paham yang salah               sampah" karena malas berpikir dan menolak melakukan
        dan serba melewati batas tentang Ali ibn Abi Thalib dan             interprestasi terhadap ketentuan agama yang bagi mereka tidak
        Anggota Keluarga Nabi (Ahl al-Bayt) sebagaimana kemudian            masuk akal). Sedangkan inquisition di Spanyol kemudian
        dianut oleh kaum Rafidlah dan kaum Syi'ah pada umumnya.             Eropa pada umumnya secara total kebalikannya, yaitu atas
        (Lihat, Minhaj, jil. 1, h. 8 dan jil. 4, h. 269). Kiranya           nama paham agama yang fundamentalistik dan sempit
        kontroversi dan polemik serupa itu tidak perlu mengejutkan          melawan pikiran bebas yang menjadi paham para pengemban
        kita, karena telah merupakan bagian dari sejarah pertumbuhan        ilmu pengetahuan, termasuk para failasuf yang saat itu telah
        pemikiran keagamaan itu sendiri.                                    belajar banyak dari warisan pemikiran Islam.


                                             Plus-Minus Ilmu Kalam
        Dalam perkembangan selanjutnya, Ilmu Kalam                     Irak, bernama Abu al-Hasan al-Asy'ari (260-324
    tidak lagi menjadi monopoli kaum Mu'tazilah.                       H/873-935 M) yang terdidik dalam alam pikiran
    Adalah seorang sarjana dari kota Basrah di                         Mu'tazilah (dan kota Basrah memang pusat

8
pemikiran Mu'tazili). Tetapi kemudian pada usia 40   'Umar Samarani (yang populer dengan sebutan
tahun ia meninggalkan paham Mu'tazilinya, dan        Kiai Saleh Darat dari daerah dekat Semarang),
justru mempelopori suatu jenis Ilmu Kalam yang       dengan mengutip dan menafsirkan Sabda nabi
anti Mu'tazilah. Ilmu Kalam al-Asy'ar'i itu, yang    dalam sebuah hadits yang amat terkenal tentang
juga sering disebut sebagai paham Asy'ariyyah,       perpecahan umat Islam dan siapa dari mereka itu
kemudian tumbuh dan berkembang untuk                 yang bakal selamat:
menjadi Ilmu Kalam yang paling berpengaruh
dalam Islam sampai sekarang, karena dianggap            ...Wus dadi prenca-prenca umat ingkang dihin-
paling sah menurut pandangan sebagian besar             dihin ing atase pitung puluh loro pontho, lan
kaum Sunni. Kebanyakan mereka ini kemudian              mbesuk bakal pada prenca-prenca sira kabeh
menegaskan bahwa "jalan keselamatan" hanya              dadi pitting puluh telu pontho, setengah saking
didapatkan seseorang yang dalam masalah Kalam           pitung puluh telu namung sewiji ingkang
menganut al-Asy'ari.                                    selamet, lan ingkang pitung puluh loro kabeh ing
    Seorang pemikir lain yang Ilmu Kalam-nya            dalem neraka. Ana dene ingkang sewiji ingkang
mendapat pengakuan sama dengan al-Asy'ari ialah         selamet iku, iya iku kelakuan ingkang wus den
Abu Manshur al-Maturidi (wafat di Samarkand             lakoni Gusti Rasulullah s.a.w., lan iya iku 'aqa'ide
pada 333 H/944 M). Meskipun terdapat sedikit            Ahl al-Sunnah wa 'l-Jama'ah Asy'ariyyah lan
perbedaan dengan al-Asy 'ari, khususnya                 Maturidiyyah.(11)
berkenaan dengan teori tentang kebebasan                (...Umat yang telah lalu telah terpecah-pecah
manusia (al-Maturidi mengajarkan kebebasan              menjadi tujuh puluh dua golongan, dan kelak
manusia yang lebih besar daripada al-Asy'ari),          kamu semua akan terpecah-pecah menjadi tujuh
al-Maturidi dianggap sebagai pahlawan paham             puluh tiga golongan, dari antara tujuh puluh
Sunni, dan sistem Ilmu Kalamnya dipandang
                                                      11  Hajj Muhammad Shalih ibn 'Umar Samarani, Tarjamat
sebagai "jalan keselamatan", bersama dengan              Sabil al-Abid 'ala Jawharat al-Tawhid (sebuah terjemah dan
sistem al-Asy'ari. Sangat ilustratif tentang sikap       uraian panjang lebar atas kitab Ilmu Kalam yang terkenal,
                                                         Jawharat al-Tawhid, dalam bahasa Jawa huruf Pego, tanpa data
ini adalah pernyataan Haji Muhammad Shalih ibn
                                                         penerbitan), hh. 27-28.

                                                                                                                        9
tiga itu hanya satu yang selamat, sedangkan      kontroversi yang paling dini dalam pemikiran
        yang tujuh puluh dua semuanya dalam neraka.      Islam, yaitu masalah manusia dan perbuatannya,
        Adapun yang satu yang selamat itu ialah          apakah dia bebas menurut paham Qadariyyah
        mereka yang berkelakuan seperti yang dilakukan   atau terpaksa seperti dalam paham Jabariyyah.
        junjungan Rasulullah s.a.w., yaitu 'aqa' id      Dengan maksud menengahi antara keduanya, al-
        (pokok-pokok kepercayaan) Ahl al-Sunnah wa
                                                         Asy'ari mengajukan gagasan dan teorinya sendiri,
        ' l-Jama'ah Asy'ariyyah dan M'aturidiyyah).
                                                         yang disebutnya teori Kasb (al-kasb, acquisition,
         Kehormatan besar yang diterima al-Asy'ari       perolehan). Menurut teori itu, perbuatan manusia
     ialah karena solusi yang ditawarkannya mengenai     tidaklah dilakukan dalam kebebasan dan juga
     pertikaian klasik antara kaum "liberal" dari        tidak dalam keterpaksaan. Perbuatan manusia
     golongan Mu'tazilah dan kaum "konservatif"          tetap dijadikan dan ditentukan Tuhan, yakni
     dari golongan Hadits (Ahl al-Hadits, seperti yang   dalam keterlaksanaannya. Tetapi manusia tetap
     dipelopori oleh Ahmad ibn Hanbal dan sekalian       bertanggung-jawab atas perbuatannya itu, sebab
     imam mazhab Fiqh). Kesuksesan al-Asy'ari            ia telah melakukan kasb atau acquisition, dengan
     merupakan contoh klasik cara mengalahkan lawan      adanya keinginan, pilihan, atau keputusan untuk
     dengan meminjam dan menggunakan senjata             melakukan suatu perbuatan tertentu, dan bukan
     lawan. Dengan banyak meminjam metodologi            yang lain, meskipun ia sendiri tidak menguasai dan
     pembahasan kaum Mu'tazilah, al-Asy'ari dinilai      tidak bisa menentukan keterlaksanaan perbuatan
     berhasil mempertahankan dan memperkuat              tertentu yang diinginkan, dipilih dan diputus
     paham Sunni di bidang Ketuhanan (di bidang          sendiri untuk dilakukan itu. Ini diungkapkan
     Fiqh yang mencakup peribadatan dan hukum            secara singkat dalam nadham Jawharat al-Tawhid
     telah diselesaikan terutama oleh para imam          demikian:
     mazhab yang empat, sedangkan di bidang
     tasawuf dan filsafat terutama oleh al-Ghazali,         Wa indana li l abdi kasbun kullifa, wa lam yakun
     450-505 H/1058-1111 M). Salah satu solusi yang         mu atstsiran fa 'l-tarifa.
     diberikan oleh al-Asy'ari menyangkut salah satu

10
Fa laysa majburan wa la 'khtiyara wa laysa kullan       Tetapi tak urung konsep kasb al-Asy'ari itu
   yaf'alu 'khtiyara                                   menjadi sasaran kritik lawan-lawannya. Dan
   (Bagi kita Ahl al-Sunnah manusia terbebani          lawan-lawan al-Asy'ari tidak hanya terdiri dari
   oleh kasb dan ketahuilah bahwa ia tidak             kaum Mu'tazilah dan Syi'ah (yang dalam Ilmu
   mempengaruhi tindakannya.                           Kalam banyak mirip dengan kaum Mu'tazilah),
                                                       tetapi juga muncul, dari kalangan Ahl al-Sunnah
   Jadi manusia bukanlah terpaksa dan bukan            sendiri, khususnya kaum Hanbali. Dalam hal ini bisa
pula bebas, namun tidak seorang pun mampu              dikemukakan, sebagai contoh, yaitu pandangan
berbuat sekehendaknya).                                Ibn Taymiyyah (661-728 H/1263-1328 M), seorang
   Terhadap rumus itu Kiai Saleh Darat memberi         tokoh paling terkemuka dari kalangan kaum
komentar tipikal paham Sunni (menurut Ilmu             Hanbali. Ibn Taymiyyah menilai bahwa dengan
Kalam Asy'ari) sebagai berikut:                        teori kasb-nya itu alAsy'ari bukannya menengahi
                                                       antara kaum Jabari dan Qadari, melainkan lebih
   ... Maka Jabariyyah lan Qadariyyah iku sasar        mendekati kaum Jabari, bahkan mengarah kepada
   karone.Maka ana madshab Ahl al-Sunnah               dukungan terhadap Jahm ibn Shafwin, teoretikus
   iku tengah-tengah antarane Jabariyyah lan           Jabariyyah yang terkemuka. Dalam ungkapan
   Qadariyyah, metu antarane telethong lan getih       yang menggambarkan pertikaian pendapat
   metu rupa labanan khalishan sa'ghan li al-          beberapa golongan di bidang ini, Ibn Taymiyyah
   syaribin.(12)                                       yang nampak lebih cenderung kepada paham
   (... Maka Jabariyyah dan Qadariyyah itu kedua-      Qadariyyah (meskipun ia tentu akan mengingkari
   duanya sesat. Kemudian adalah mazhab Ahl            penilaian terhadap dirinya seperti itu) mengatakan
   al-Sunnah berada di tengah antara Jabariyyah        demikian:
   dan Qadariyyah, keluar dari antara kotoran dan          ... Sesungguhnya para pengikut paham Asy'ari
   darah susu yang murni, yang menyegarkan orang       dan sebagian orang yang menganut paham
   yang meminumnya).                                   Qadariyyah telah sependapat dengan al-Jahm
                                                       ibn Shafwan dalam prinsip pendapatnya tentang
 12  Ibid., hh. 149-151.

                                                                                                             11
Jabariyyah, meskipun mereka ini menentangnya         aneh dalam Ilmu Kalam.(15)
     secara verbal dan mengemukakan hal-hal                   Ilmu Kalam, termasuk yang dikembangkan
     yang tidak masuk akal... Begitu pula mereka itu      oleh al-Asy'ari, juga dikecam kaum Hanbali
     berlebihan dalam menentang kaum Mu'tazilah           dari segi metodologinya. Persoalan yang juga
     dalam masalah-masalah Qadariyyah —sehingga           menjadi bahan kontroversi dalam Ilmu Kalam
     kaum Mu'tazilah menuduh mereka ini pengikut          khususnya dan pemahaman Islam umumnya
     Jabariyyah— dan mereka (kaum Asy'ariyyah) itu        ialah kedudukan penalaran rasional ('aql, akal)
     mengingkari bahwa pembawaan dan kemampuan            terhadap keterangan tekstual (naql, "salinan" atau
     yang ada pada benda-benda bernyawa                   "kutipan"), baik dari Kitab Suci maupun Sunnah
     mempunyai dampak atau menjadi sebab adanya           Nabi. Kaum "liberal", seperti golongan Mut'azilah,
     kejadiankejadian (tindakan-tindakan).(13)            cenderung mendahulukan akal, dan kaum
         Namun agaknya Ibn Taymiyyah menyadari            "konservatif" khususnya kaum Hanbali, cenderung
     sepenuhnya betapa rumit dan tidak sederhananya       mendahulukan naql. Terkait dengan persoalan ini
     masalah ini. Maka sementara ia mengkritik konsep     ialah masalah interprestasi (ta'wil), sebagaimana
     kasb alAsy'ari yang ia sebutkan dirumuskan           telah kita bahas.(16) Berkenaan dengan masalah ini,
     sebagai "sesuatu perbuatan yang terwujud             metode al-Asy'ari cenderung mendahulukan naql
     pada saat adanya kemampuan yang diciptakan           dengan membolehkan interprestasi dalam hal-hal
     (oleh Tuhan untuk seseorang) dan perbuatan itu       yang memang tidak menyediakan jalan lain. Atau
     dibarengi dengan kemampuan tersebut"(14) Ibn         mengunci dengan ungkapan "bi la kayfa" (tanpa
     Taymiyyah mengangkat bahwa pendapatnya itu           bagaimana) untuk pensifatan Tuhan yang bernada
     disetujui oleh banyak tokoh Sunni, termasuk Malik,   antropomorfis (tajsim) —menggambarkan Tuhan
     Syafii dan Ibn Hanbal. Namun Ibn Taymiyyah juga      seperti manusia, misalnya, bertangan, wajah, dan
     mengatakan bahwa konsep kasb itu dikecam oleh        lain-lain. Metode al-Asy'ari ini sangat dihargai, dan
     ahli yang lain sebagai salah satu hal yang paling
                                                            15 Ibid.
       13  Minhaj, jil. 1, h. 172.                          16  Lihat kajian kita tentang "Interprestasi Metaforis" yang telah
       14  Ibid., h. 170.                                      lalu.

12
merupakan unsur kesuksesan sistemnya.                              haqiqah fi al-ayan, la fi al-adzhan).(18)
    Tetapi bagian-bagian lain dari metodologi                          Epistemologi Ibn Taymiyyah tidak
al-Asy'ari, juga epistemologinya, banyak dikecam                   mengizinkan terlalu banyak intelektualisasi,
oleh kaum Hanbali. Di mata mereka, seperti halnya                  termasuk interprestasi. Sebab baginya dasar ilmu
dengan Ilmu Kalam kaum Mu'tazilah, Ilmu Kalam                      pengetahuan manusia terutama ialah fithrah-
al-Asy'ari pun banyak menggunakan unsur-                           nya: dengan fithrah itu manusia mengetahui
unsur filsafat Yunani, khususnya logika (manthiq)                  tentang baik dan buruk, dan tentang benar dan
Aristoteles. Dalam penglihatan Ibn Taymiyyah,                      salah.(19) Fithrah yang merupakan asal kejadian
logika Aritoteles bertolak dari premis yang salah,                 manusia, yang menjadi satu dengan dirinya
yaitu premis tentang kulliyyat (universals) atau                   melalui intuisi, hati kecil, hati nurani, dan lain-lain,
al-musytarak al-muthlaq (pengertian umum                           diperkuat oleh agama, yang disebut Ibn Taymiyyah
mutlak), yang bagi Ibn Taymiyyah tidak ada dalam                   sebagai "fithrah yang diturunkan" (al-fithrah
kenyataan, hanya ada dalam pikiran manusia                         al-munazzalah). Maka metodologi kaum Kalam
saja karena tidak lebih daripada hasil ta'aqqul                    baginya adalah sesat.(20)
(intelektualisasi).(17) Demikian pula konsep-konsep                    Yang amat menarik ialah bahwa epistemologi
Aristoteles yang lain, seperti kategori-kategori                   Ibn Taymiyyah Yang Hanbali berdasarkan fithrah
yang sepuluh (esensi, kualitas, kuantitas, relasi,                 itu paralel dengan epistemologi Abu Ja'far
lokasi, waktu, situasi, posesi, aksi, dan pasi), juga              Muhammad ibn Ali ibn al-Husayn Babwayh
konsep-konsep tentang genus, spesi, aksiden,                       al-Qummi (wafat 381 H), seorang "ahli Ilmu
properti, dan lain-lain, ditolak oleh Ibn Taymiyyah                Kalam" terkemuka kalangan Syi'ah. Al-Qummi,
sebagai basil intelektualisasi yang tidak ada                      dengan mengutip berbagai hadits, memperoleh
kenyataannya di dunia luas. Maka terkenal sekali                   penegasan bahwa pengetahuan tentang Tuhan
ucapan Ibn Taymiyyah bahwa "hakikat ada di alam                    diperoleh manusia melalui fitrah-nya, dan hanya
kenyataan (di luar), tidak dalam alam pikiran" (Al-
                                                                     18  Minhaj, jil. 1, hh. 243 dan 245.
  17  Lihat Minhaj, jil. 1, hh. 235, 243, 254, 261, dan hh. 266.     19  Ibid., hh. 281 dan 291.
     Juga Naqdl al-Manthiq, h. 25,164 dan 202.                       20  Naqdl al-Manthiq, hh. 38, 39, 171, 160-162, dan 172.

                                                                                                                                13
dengan adanya fitrah itulah manusia mendapat
     manfaat dari bukti-bukti dan dalil-dalil.(21)
        Maka sejalan dengan itu, Ibn Taymiyyah
     menegaskan, bahwa pangkal iman dan ilmu ialah
     ingat (dzikr) kepada Allah. "Ingat kepada Allah
     memberi iman, dan ia adalah pangkal iman .....
     pangkal ilmu.(22)




      21  Abu Ja'far Muhammad ibn 'Ali ibn al-Husayn Babwayh
         al-Qummi, al-Tawhid (Qumm: Mu'assasat al-Nasyr al-Islami,
         1398 H), hh. 22, 35, 82 dan 230.
      22  Naqdl al-Manthiq, h. 34.

14
Falsafah Islam: Unsur-Unsur Hellenisme
                                                                                                                      2
              di Dalamnya
D    i antara empat disiplin keilmuan Islam
     tradisional: fiqh, kalam, tasawuf dan falsafah,
yang disebutkan terakhir ini barangkali adalah
                                                       orang-orang yang berjiwa keagamaan (religious),
                                                       sekalipun berbagai titik pandangan keagamaan
                                                       mereka cukup banyak berbeda, jika tidak justru
yang paling sedikit dipahami, bisa juga berarti        berlawanan, dengan yang dipunyai oleh kalangan
paling banyak disalahpahami, sekaligus juga yang       ortodoks.(1) Dan tidak mungkin menilai bahwa
paling kontroversial. Sejarah pemikiran Islam          falsafah Islam adalah carbon copy pemikiran
ditandai secara tajam antara lain oleh adanya          Yunani atau Hellenisme.(2)
polemik-polemik sekitar isi, subyek bahasan dan            Meskipun begitu, kenyataannya ialah bahwa
sikap keagamaan falsafah dan para failasuf. Karena     kata Arab "falsafah" sendiri dipinjam dari kata
itu pembahasan tentang falsafah dapat diharapkan       Yunani yang sangat terkenal, "philosophia", yang
menjadi pengungkapan secara padat dan mampat           berarti kecintaan kepada kebenaran (wisdom).
tentang peta dan perjalanan pemikiran Islam di         Dengan sedikit perubahan, kata "falsafah" itu
antara sekalian mereka yang terlibat.                  di-Indonesia-kan menjadi "filsafat" atau, akhir-
    Sebelum yang lain-lain, di sini harus ditegaskan   akhir ini, juga "filosofi" (karena adanya pengaruh
bahwa sumber dan pangkal tolak falsafah dalam          ucapan Inggris, "philosophy"). Dalam ungkapan
Islam adalah ajaran Islam sendiri sebagaimana          Arabnya yang lebih "asli", cabang ilmu tradisional
terdapat dalam al-Qur'an dan Sunnah. Para failasuf       1  R.T. Wallis, Neo Platonism (London: Gerlad Duckworth &
dalam lingkungan agama-agama yang lain,                     Company Limited, 1972), h. 164.
                                                         2  C A. Qadir, Philosophy and Science in the Islamic World
sebagaimana ditegaskan oleh R.T. Wallis, adalah
                                                            (London: Croom Helm, 1988). h. 28.
Islam ini disebut 'ulum al-hikmah atau secara                       Disinilah pangkal kontroversi yang ada sekitar
     singkat "alhikmah" (padanan kata Yunani "sophia"),                  falsafah: sampai di mana agama Islam mengizinkan
     yang artinya ialah "kebijaksanaan" atau, lebih                      adanya masukan dari luar, khususnya jika datang
     tepat lagi, "kawicaksanaan" (Jawa) atau "wisdom"                    dari kalangan yang tidak saja bukan "ahl al-kitab"
     (Inggris). Maka "failasuf' (ambilan dari kata Yunani                seperti Yahudi dan Kristen, tetapi malahan dari
     "philosophos", pelaku filsafat), disebut juga "al-                  orang-orang Yunani kuna yang "pagan" atau
     hakim" (ahli hikmah atau orang bijaksana), dengan                   musyrik (penyembah binatang). Sesungguhnya
     bentuk jamak "al-hukama".                                           beberapa ulama ortodoks, seperti Ibn Taymiyyah
         Dari sepintas riwayat kata "filsafah" itu kiranya               dan Jalal al-Din al-Suyuthi (salah seorang
     menjadi jelas bahwa disiplin ilmu keislaman ini,                    pengarang tafsir Jalalayn), menunjuk kemusyrikan
     meskipun memiliki dasar yang kokoh dalam                            orang-orang Yunani itu sebagai salah satu alasan
     sumber-sumber ajaran Islam sendiri, banyak                          keberatan mereka terhadap falsafah. Tetapi
     mengandung unsur-unsur dari luar, yaitu terutama                    sebelum membahas lebih jauh segi-segi polemis
     Hellenisme atau dunia pemikiran Yunani.(3)                          ini, lebih dahulu dibahas pertumbuhan falsafah
       3  Istilah "Hellenisme" pertama kali diperkenalkan oleh ahli      dalam sejarah pemikiran Islam.
          sejarah dari Jerman, J. G. Droysen. Ia menggunakan perkataan
          "Hellenismus" sebagai sebutan untuk masa yang dianggapnya          kekaisaran Romawi. Sebab dalam periode itu muncul banyak
          sebagai periode peralihan antara Yunani kuna dan dunia             kerajaan di sekitar Laut Tengah, khususnya pesisir timur dan
          Kristen. Droysen lupa akan peranan Roma dalam agama                selatan seperti Syria dan Mesir, yang diperintah oleh bangsa
          Kristen (dan membatasi seolah-olah hanya Yunani saja yang          Makedonia dari Yunani. Akibatnya, mereka ini membawa
          berperan). Namun ia diakui telah berhasil mengidentifikasi         berbagai perubahan besar dalam banyak bidang di kawasan
          suatu kenyataan sejarah yang amat penting. Biasanya yang           itu, antara lain bahasa (daerah-daerah itu didominasi Bahasa
          disebut zaman Hellenik yang merupakan peralihan itu ialah          Yunani) dan pemikiran (ilmu pengetahuan Yunani, terutama
          masa sejak tahun 323 sampai 30 S.M. atau dari saat kematian        filsafatnya, diserap oleh daerah-daerah itu melalui berbagai
          Iskandar Agung sampai penggabungan Mesir kedalam                   cara). (Lihat Britannica. s.v. "Hellenic Age").


                                                         Pertumbuhan
         Falsafah tumbuh sebagai hasil interaksi                         bangsa-bangsa sekitarnya. Khususnya interaksi
     intelektual antara bangsa Arab Muslim dengan                        mereka dengan bangsa-bangsa yang ada di

16
sebelah utara Jazirah Arabia, yaitu bangsa-bangsa      (keturunan suku Bani Ghassan Yang Kristen, satelit
Syria, Mesir, dan Persia.                              Romawi). Namun berkat politik keagamaan para
    Interaksi itu berlangsung setelah adanya           penguasa Muslim berdasarkan konsep toleransi
pembebasan-pembebasan (al-futuhat) atas                Islam, sampai sekarang masih banyak kantong-
daerah-daerah tersebut segera setelah wafat Nabi       kantong minoritas Kristen dan Yahudi yang tetap
s.a.w., dibawah para khalifah. Daerah-daerah yang      bertahan dengan aman. Karena adanya konsep
segera dibebaskan oleh orang-orang Muslim itu          Islam tentang kontinuitas agama-agama (yaitu,
adalah daerah-daerah yang telah lama mengalami         bahwa agama Nabi Muhammad adalah kelanjutan
Hellenisasi. Lebih dari itu, kecuali Persia, daerah-   agama para nabi sebelumnya, khususnya Nabi-
daerah yang kemudian menjadi pusat-pusat               nabi Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub atau Isra'il,
peradaban Islam itu adalah daerah-daerah yang          Musa dan Isa-Yahudi dan Kristen),(4) orang-orang
telah terlebih dahulu mengalami Kristenisasi.          Muslim menyimpan rasa dekat atau afinitas
Bahkan sebenarnya daerah-daerah Islam sampai           tertentu kepada mereka itu. Dan rasa dekat itu ikut
sekarang ini, sejak dari Irak di timur sampai ke       melahirkan adanya sikap-sikap toleran, simpatik
Spanyol di barat, adalah praktis bekas daerah          dan akomodatif terhadap mereka dan pikiran-
agama Kristen, termasuk heartlandnya, yaitu            pikiran mereka. (Toleransi dan sikap akomodatif
Palestina. Daerah-daerah itu, dibawah kekuasaan        Islam ini ternyata kelak menimbulkan situasi ironis
pemerintahan orang-orang Muslim, selanjutnya           di zaman moderen, akibat adanya kolonialisme
memang mengalami proses Islamisasi. Tetapi
                                                         4  "Sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada engkau
proses itu berjalan dalam jangka waktu yang                 (Muhammad) seperti yang telah Kami wahyukan kepada
panjang, selama berabad-abad, dan secara damai.             Nuh dan para nabi sesudahnya, dan seperti yang telah
                                                            Kami wahyukan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan
Bahkan daerah-daerah Kristen itu tidak hanya                kelompok-kelompok (para nabi), serta kepada 'Isa Ayyub,
mengalami proses Islamisasi, tetapi juga Arabisasi,         Yunus, Harun dan Sulayman. Telah pula Kami berikan
                                                            kepada Dawud (kitab) Zabur. Juga kepada para rasul yang
disamping adanya daerah-daerah yang memang                  telah Kami kisahkan mereka itu kepadamu (Muhammad)
sejak jauh sebelum Islam secara asli merupakan              sebelumnya, dan para rasul yang tidak Kami kisahkan mereka
                                                            itu kepadamu. Dan sungguh Allah telah berbicara (langsung)
daerah suku Arab tertentu seperti Libanon
                                                            kepada Musa." (Q., s. al-Nisa /4:163-165).

                                                                                                                         17
Barat, seperti adanya hubungan tidak mudah         Mesopotamia. Sebab sekalipun ilmu pengetahuan
     antara kaum Muslim dengan kaum Yahudi di           Yunani merupakan bagian paling penting ilmu
     Palestina, dengan kaum Maronite di Libanon, dan    pengetahuan yang diserap orang-orang Muslim
     dengan kaum Koptik di .Mesir).                     Arab, namun mereka ini juga dengan penuh
         Toleransi dan keterbukaan orang-orang Islam    kebebasan dan kepercayaan diri menyerap dari
     dalam melihat kaum agama lain, khususnya           orang-orang Majusi dan Sabean tersebut tadi,
     Ahli Kitab tersebut mendasari adanya interaksi     bahkan juga dari orang-orang Hindu dan Cina.
     intelektual yang positif di kalangan mereka,       Karena futuhat, bangsa-bangsa non-Muslim itu
     dengan sedikit sekali kemasukan unsur prasangka    berada dibawah kekuasaan politik orang-orang
     yang berlebihan. Disamping itu, dan sebagaimana    Arab Muslim. Tetapi biarpun orang-orang Arab
     telah dikemukakan dalam pembahasan kita            itu memiliki keunggulan militer dan politik,
     tentang Islam dan pengembangan ilmu                mereka tetap menunjukkan sikap-sikap penuh
     pengetahuan yang lalu, kelebihan orang-orang       penghargaan dan pengertian kepada bangsa-
     Muslim Arab itu ialah kepercayaan kepada diri      bangsa dan budaya-budaya (termasuk agama-
     sendiri yang sedemikian mantap. Kemantapan itu     agama) yang mereka kuasai. Hasilnya ialah, seperti
     kemudian memancar pada sikap-sikap mereka          dikatakan Halkin sebagai berikut (kutipan yang
     yang positif kepada bangsa-bangsa dan budaya-      penting untuk memahami pembahasan):
     budaya lain, dengan kesediaan yang besar untuk
     menyerap dan mengadopsinya sebagai milik              ...It is to the credit of the Arabs that although they
     sendiri. Posisi psikologis yang menguntungkan         were the victors militarily and politically, they did
     itu berada tidak hanya dalam hubungannya              not regard the civilization of the vanquished lands
     dengan kaum Ahli Kitab yang memang dekat              with contempt. The riches of Syrian, Persian, and
     dengan orang-orang Muslim, tetapi juga dengan         Hindu cultures were no sooner discovered than
     kelompok-kelompok keagamaan lain seperti              they were adapted into Arabic. Caliphs, governors,
     kaum Majusi (orang-orang Persi pengikut ajaran        and others patronized scholars who did the work
     Zoroaster) dan kaum Sabean dari Harran, di utara      of translation, so that a vast body of non-Islamic

18
learning became accessible in Arabic. During                        Interaksi intelektual orang-orang Muslim
 the ninth and tenth centuries, a steady flow of                 dengan dunia pemikiran Hellenik terutama terjadi
 works on Greek medicine, physics, astronomy,                    antara lain di Iskandaria (Mesir), Damaskus, Antioch
 mathematics, and philosophy, Persian belles-                    dan Ephesus (Syria), Harran (Mesopotamia) dan
 lettres, and Hindu mathematics and astronomy                    Jundisapur (Persia). Di tempat-tempat itulah lahir
 poured into Arabic.(5)                                          dorongan pertama untuk kegiatan penelitian dan
 (...Adalah jasa orang-orang Arab bahwa                          penterjemahan karya-karya kefilsafatan dan ilmu
 sekalipun mereka itu para pemenang secara                       pengetahuan Yunani kuna, yang kelak kemudian
 militer dan politik, mereka tidak memandang                     didukung dan disponsori oleh para penguasa
 peradaban negeri-negeri yang mereka taklukkan                   Muslim.
 dengan sikap menghina. Kekayaan budaya-                             Suatu hal yang patut sekali mendapat perhatian
 budaya Syria, Persia, dan Hindu mereka salin                    lebih besar di sini ialah suasana kebebasan
 ke bahasa Arab segera setelah diketemukan.                      intelektual di zaman klasik Islam itu. Interaksi
 Para khalifah, gubernur, dan tokoh-tokoh yang
                                                                 positif antara orang-orang Arab Muslim dengan
 lain menyantuni para sarjana yang melakukan
                                                                 kalangan bukan-Muslim itu dapat terjadi hanya
 tugas penterjemahan, sehingga kumpulan ilmu
                                                                 dalam suasana penuh kebebasan, toleransi dan
 bukan-Islam yang luas dapat diperoleh dalam
 bahasa Arab. Selama abad-abad kesembilan                        keterbukaan. Sebab meskipun orang-orang Arab
 dan kesepuluh, karya-karya yang terus mengalir                  itu mempunyai ajaran agamanya yang sangat
 dalam ilmu-ilmu kedokteran, fisika, astronomi,                  tegas dan gamblang, dengan penuh lapang dada
 matematika, dan filsafat dari Yunani, sastra dari               membiarkan semua kegiatan intelektual di pusat-
 Persia, serta matematika dan astronomi dari                     pusat yang ada sejak sebelum kedatangan dan
 Hindu tercurah ke dalam bahasa Arab).                           pembebasan oleh mereka. Seperti dikatakan oleh
                                                                 C.A. Qadir:
5  Abraham S, Halkin, "The Judeo-Islamic Age, The Great
   Fusion" dalarn Leo W. Schwarz, ed., Great Ages & Ideas of        "...the centers of learning led by the Christians
   the Jewish People (New York: The Modern Library, 1956), hh.
                                                                    continued to function unmolested even after they
   218-219.

                                                                                                                        19
were subjugated by the Muslims. This indicates not         yang menjadi cikal-bakal ilmu kimia moderen.(7)
        only the intellectual freedom that prevailed under         Bahkan seorang khalifah Bani Umayyah, Marwan
        Muslim rule in those days, but also testifies to the       ibn al-Hakam (683-685 M), memerintahkan agar
        Muslims' love of knowledge and the respect they            buku kedokteran oleh Harun, seorang dokter
        paid to the scholars irrespective of their religion."(6)   dari Iskandaria Mesir, diterjemahkan dari bahasa
        (...pusat-pusat pengajaran yang dipimpin oleh              Suryani (Syriac) ke bahasa Arab.(8)
        orang-orang Kristen terus berfungsi tanpa                      Harus diketahui bahwa dalam pembagian ilmu
        terusik bahkan setelah mereka itu ditaklukkan              pengetahuan zaman itu, baik ilmu kedokteran
        oleh orang-orang Muslim. Ini menunjukkan                   maupun alkemi, sebagaimana juga metafisika,
        tidak saja kebebasan intelektual yang terdapat             matematika, astronomi, bahkan musik dan puisi,
        di mana-mana di bawah pemerintahan Islam                   dan seterusnya, termasuk falsafah. Sebab istilah
        zaman itu, tetapi juga membuktikan kecintaan               falsafah itu, dalam pengertiannya yang luas,
        orang-orang Muslim kepada ilmu dan sikap
                                                                   mencakup bidang-bidang yang sekarang bisa
        hormat yang mereka berikan kepada para
                                                                   disebut sebagai "ilmu-pengetahuan umum", yakni,
        sarjana tanpa mempedulikan agama mereka).
                                                                   bukan "ilmu pengetahuan agama", yaitu dunia
         Interaksi intelektual itu memperoleh                      kognitif yang dasar perolehannya bukan wahyu
     wujudnya yang nyata semenjak masa dini sekali                 tetapi akal, baik yang dari penalaran deduktif
     sejarah Islam. Disebut-sebut bahwa al-Harits                  maupun yang dari penyimpangan empiris. Ini
     ibn Qaladah, seorang Sahabat Nabi, sempat                     penting disadari, antara lain untuk dapat dengan
     mempelajari ilmu kedokteran di Jundisapur,                    tepat melihat segi-segi mana dari sistem falsafah
     Persia, tempat berkumpulnya beberapa failasuf                 itu yang kontroversial karena dipersoalkan oleh
     yang dikutuk gereja Kristen karena dituduh telah              kalangan ortodoks. Umumnya mereka ini, seperi
     melakukan bid'ah. Disebut-sebut juga bahwa
                                                                    7  Drs. Hasyim Asy'ari MA, Bahasa Arab dan Perkembangan
     Khalid ibn Yazid (ibn Mu'awiyah) dan Ja'far al-                   Ilmu Pengetahuan (makalah dalam seminar tentang Bahasa
     Shadiq sempat mendalami alkemi (al-kimya)                         Arab, Fakultas Sastra, UGM, Yogyakarta, 15-16 Oktober
                                                                       1988).
       6  Qadir, op. cit., h. 34.                                   8  Qadir, op. cit., h. 34.

20
Ibn Taymiyyah dan lain-lain, menolak yang bersifat      dalam banyak hal menyangkut bidang yang bagi
penalaran murni dan deduktif, dalam hal ini             mereka merupakan wewenang agama. Tetapi
khususnya metafisika (al-falsafah al-ula), karena       mereka membenarkan yang induktif dan empiris.

                                          Neoplatonisme
    Dari berbagai unsur pikiran Hellenik,               atau "Kenyataan Mutlak."(9) Untuk memahami
Platonisme Baru (Neoplatonisme) adalah                  sedikit lebih lanjut ajaran Plotinus kita perlu
salah satu yang paling berpengaruh dalam                memperhatikan beberapa unsur dalam ajaran-
sistem falsafah Islam. Neoplatonisme sendiri            ajaran Plato, Aristoteles, Pythagoras (baru) dan
merupakan falsafah kaum musyrik (pagans),               kaum Stoic.
dan rekonsiliasinya dengan suatu agama wahyu                Plato membagi kenyataan kepada yang bersifat
menimbulkan masalah besar. Tapi sebagai ajaran          "akali" (ideas, intelligibles) dan yang bersifat
yang berpangkal pada pemikiran Plotinus (205-           "inderawi" (sensibles), dengan pengertian bahwa
270 M), sebetulnya Neoplatonisme mengandung             yang akali itulah yang sebenarnya ada (ousia),
unsur yang memberi kesan tentang ajaran Tauhid.         jadi juga yang abadi dan tak berubah. Termasuk
Sebab Plotinus yang diperkirakan sebagai orang          diantara yang akali itu ialah konsep tentang
Mesir hulu yang mengalami Hellenisasi di kota           "Yang Baik", yang berada di atas semuanya dan
Iskandaria itu mengajarkan konsep tentang "yang         disebut sebagai berada di luar yang ada (beyond
Esa" (the One) sebagai prinsip tertinggi atau           being, epekeina ousias). "Yang Baik" ini kemudian
sumber penyebab (sabab, cause). Lebih dari itu,         diidentifikasi sebagai "Yang Esa", yang tak
Plotinus dapat disebut sebagai seorang mistikus,        terjangkau dan tak mungkin diketahui.
tidak. dalam arti "irrasionalis", "occultist" ataupun       Selanjutnya, mengenai wujud inderawi,
"guru ajaran esoterik", tetapi dalam artinya yang       Plato menyebutkannya sebagai hasil kerja suatu
terbatas kepada seseorang yang mempercayai              "seniman ilahi" (divine artisan, demiurge) yang
dirinya telah mengalami penyatuan dengan Tuhan          menggunakan wujud kosmos yang akali sebagai
                                                         9  Wallis, op. cit., h. 3.

                                                                                                            21
model karyanya. Disamping membentuk dunia              dengan tindakan Akal untuk menjangkau wujud
     fisik, demiurge juga membentuk jiwa kosmis dan         itu.
     jiwa atau ruh individu yang tidak akan mati. Jiwa           Dualisme Plato di atas kemudian diusahakan
     kosmis dan jiwa individu yang immaterial dan           penyatuannya oleh para penganut Pythagoras
     substansial itu merupakan letak hakikatnya yang        (baru), dan dirubahnya menjadi monisme dan
     bersifat ada sejak semula (pre-existence) dan akan     berpuncak pada konsep tentang adanya Yang
     ada untuk selamanya (post-existence immortality),      Esa dan serba maha (transenden). Ini melengkapi
     yang semuanya tunduk kepada hukum reinkarnasi.         ajaran kaum Stoic yang di samping materialistik
          Dari Aristoteles, unsur terpenting yang diambil   tapi juga immanenistik, yang mengajarkan tentang
     Plotinus ialah doktrin tentang Akal (nous) yang        kemahaberadaan (omnipresence) Tuhan dalam
     lebih tinggi daripada semua jiwa. Aristoteles          alam raya.(10)
     mengisyaratkan bahwa hanya Akal-lah yang tidak              Kesemua unsur tersebut digabung dan
     bakal mati (immortal), sedangkan wujud lainnya         diserasikan oleh Plotinus, dan menuntunnya
     hanyalah "bentuk" luar, sehingga tidak mungkin         kepada ajaran tentang tiga hypostase atau prinsip
     mempunyai eksistensi terpisah. Aristoteles juga        di atas materi, yaitu Yang Esa atau Yang Baik, Akal
     menerangkan bahwa "dewa tertinggi" (supreme            atau Intelek, dan Jiwa.(11)
     deity) ialah Akal yang selalu merenung dan
     berpikir tentang dirinya. Kegiatan kognitif Akal itu     10  Paul Edwards, ed., The Encyclopedia of Philosophy, s.v.
                                                                 "Plotinus".
     berbeda dari kegiatan inderawi, karena obyeknya,         11  I.R. Netton, Muslim Neoplatonists (London: George Allen
     yaitu wujud akali yang immaterial, adalah identik           & Unwin, 1982), h. 34.


                                             Aristotelianisme
        Telah dinyatakan bahwa Neoplatonisme cukup          ke Eropa sebelumnya, yang telah tercampur
     banyak mempengaruhi falsafah Islam. Tetapi             dengan unsur-unsur kuat Aristotelianisme. Bahkan
     sebenarnya Neoplatonisme yang sampai ke tangan         sebetulnya para failasuf Muslim justru memandang
     orang-orang Muslim, berbeda dengan yang sampai         Aristoteles sebagai "guru pertama" (al-mu'allim

22
al-awwal), yang menunjukkan rasa hormat                berbeda-beda dari kalangan agama. Orang-orang
mereka yang amat besar, dan dengan begitu juga         Kristen zaman itu, dengan doktrin Trinitasnya,
pengaruh Aristoteles kepada jalan pikiran para         tidak mungkin luput dari memperhatikan betapa
failasuf Muslim yang menonjol dalam falsafah           tiga hypostase Plotinus tidak sejalan, atau
Islam.                                                 bertentangan dengan Trinitas Kristen. Polemik-
    Neoplatonisme sendiri, sebagai gerakan,            polemik yang terjadi tentu telah mendapatkan
telah berhenti semenjak jatuhnya Iskandaria di         jalannya ke penulisan. Maka orang-orang
tangan orang-orang Arab Muslim pada tahun 642.(12)     Muslim, melalui tulisan-tulisan dalam bahasa
Sebab sejak itu yang ada secara dominan ialah          Suryani yang disalin ke Bahasa Arab, mewarisi
falsafah Islam, yang daerah pengaruhnya meliputi       versi neoplatonisme yang berbeda, yaitu Neo-
hampir seluruh bekas daerah Hellenisme.                platonisme dengan unsur kuat Aristotelianisme.(14)
    Tetapi sebelum gerakan Neoplatonis itu             Menurut pelukisan F.E. Peters, mengutip kitab al-
mandeg, ia harus terlebih dahulu bergulat              Fihrist oleh Ibn al-Nadim,
dan berhadapan dengan agama Kristen.
Dan interaksinya dengan agama Kristen itu                 The Arab version of the arrival of the Aristotelian
tidak mudah, dengan ciri pertentangan yang                corpus in the Islamic world has to do with the
cukup nyata. Salah seorang tokohnya yang                  discovery of manuseripts in a deserted house. Even
harus disebut di sini ialah pendeta Nestorius,            if true, the story omits two very important details
patriark Konstantinopel, yang karena menganut             which may be supplied from the sequel: first, the
Neoplatonisme dan melawan ajaran gereja                   manuseripts were certainly not written in Arabic;
terpaksa lari ke Syria dan akhirnya ke Jundisapur di      second, the Arabs discovered not only Aristotle but
Persia.(13)                                               a whole series of commentators as well.(15)
    Sebenarnya Neoplatonisme sebagai filsafat             (Versi Arab tentang datangnya karya-karya
musyrik memang mendapat perlakuan yang
                                                         14  Netton, op. cit., h. 33.
  12  Edwards, loc. cit.                                 15  F.E. Peters. Aristotle and the Arabs (New York: New York
  13  Qadir, op. cit., h. 32.                               University Press, 1986), h. 7.

                                                                                                                        23
Aristoteles di dunia Islam ada kaitannya           Islam, tetapi Aristotelianisme. Apalagi jika
        dengan diketemukannya naskah-naskah di             diingat bahwa orang-orang Muslim menerima
        suatu rumah kosong. Seandainya benarpun,           pikiran Yunani itu lima ratus tahun setelah fase
        kisah itu menghilangkan dua rinci penting yang     terakhir perkembangannya di Yunani sendiri, dan
        bisa melengkapi jalan cerita: pertama, naskah-     setelah dua ratus tahun pikiran itu digarap dan
        naskah itu pastilah tidak tertulis dalam Bahasa
                                                           diolah oleh para pemikir Kristen Syria. Menurut
        Arab; kedua, orang-orang Arab itu tidak hanya
                                                           Peters lebih lanjut, paham Kristen telah mencuci
        menemukan Aristoteles tetapi seluruh rangkaian
                                                           bersih tendensi "eksistensial" filsafat Yunani,
        para penafsir juga).
                                                           sehingga ketika diwariskan kepada orang-
         Ini berarti bahwa pikiran-pikiran Aristoteles     orang Arab Muslim, filsafat itu menjadi lebih
     yang sampai ke tangan orang-orang Muslim sudah        berorientasi pedagogik, bermetode skolastik, dan
     tidak "asli" lagi, melainkan telah tercampur dengan   berkecenderungan logik dan metafisik. Khususnya
     tafsiran-tafsirannya. Karena itu, meskipun orang-     logika Aristoteles (al-manthiq al-aristhi) sangat
     orang Muslim sedemikian tinggi menghormati            berpengaruh kepada pemikiran Islam melalui ilmu
     Aristoteles dan menamakannya "guru pertama",          kalam. Karena banyak menggunakan penalaran
     namun yang mereka ambil dari dia bukan hanya          logis menurut metodologi Aristoteles itu, maka
     pikiran-pikiran dia sendiri saja, melainkan justru    ilmu kalam yang mulai tampak sekitar abad VIII
     kebanyakan adalah pikiran, pemahaman, dan             dan menjadi menonjol pada abad IX itu disebut
     tafsiran orang lain terhadap ajaran Aristoteles.      juga sebagai suatu versi teologi alamiah (natural
     Singkatnya, memang bukan Aristoteles sendiri          theology, al-kalam al-thabi'i, sebagai bandingan al-
     yang berpengaruh besar kepada falsafah dalam          kalam al-Qur'ani) di kalangan orang-orang Muslim.(16)
                                                             16  Ibid., h. xx-xxxi (Introduction).


                                                      Penutup
       Sebagaimana telah diisyaratkan, orang-orang         dalam bentuknya yang telah ditafsirkan dan diolah
     Muslim berkenalan dengan ajaran Aristoteles           oleh orang-orang Syria, dan itu berarti masuknya

24
unsur-unsur Neoplatonisme. Maka cukup menarik                        Demikian pula, kita sepenuhnya
bahwa sementara orang-orang Muslim begitu                        dapat berbicara tentang pengaruh besar
sadar tentang Aristoteles dan apa yang mereka                    Aristotelianisme, yaitu dari sudut kenyataan bahwa
anggap sebagai ajaran-ajarannya, namun mereka                    kaum Muslim banyak memanfaatkan metode
tidak sadar, atau sedikit sekali mengetahui                      berpikir logis menurut logika formal (silogisme)
adanya unsur-unsur Neoplatonis didalamnya. Ini                   Aristoteles. Cukup sebagai bukti betapa jauhnya
menyebabkan sulitnya membedakan antara kedua                     pengaruh ajaran Aristoteles ini ialah populernya
unsur Hellenisme yang paling berpengaruh kepada                  ilmu mantiq di kalangan orang-orang Islam.
falsafah Islam itu, karena memang terkait satu                   Sampai sekarang masih ada dari kalangan 'ulama'
sama lainnya.                                                    kita yang menulis tentang mantiq, seperti K.H.
    Sekalipun begitu masih dapat dibenarkan                      Bishri Musthafa dari Rembang, dan ilmu mantiq
melihat adanya pengaruh khas Neoplatonisme                       masih diajarkan di beberapa pesantren. Memang
dalam dunia pemikiran Islam, seperti yang kelak                  telah tampil beberapa 'ulama' di masa lalu yang
muncul dengan jelas dalam berbagai paham                         mencoba meruntuhkan ilmu mantiq (seperti Ibn
Tasauf. Ibn Sina, misalnya, dapat dikatakan seorang              Taymiyyah dengan kitabnya, Naqdl al-Manthiq dan
Neoplatonis, disebabkan ajarannya tentang mistik                 al-Suyuthi dengan kitabnya, Shawn al-Mantiq wa
perjalanan ruhani menuju Tuhan seperti yang                      al-Kalam 'an Fann al-Manthiq wa al-Kalam). Tetapi
dimuat dalam kitabnya, Isharat. Dan memang                       bahkan al-Ghazali pun, meski telah berusaha
Neoplatonisme yang spiritualistik itu banyak                     menghancurkan falsafah dari segi metafisikanya,
mendapatkan jalan masuk ke dalam ajaran-ajaran                   adalah seorang pembela ilmu mantiq yang gigih,
Sufi. Yang paling menonjol ialah yang ada dalam                  dengan kitab-kitabnya seperti Mi'yar al-Ilm dan
ajaran sekelompok orang-orang Muslim yang                        Mihakk al-Nadhar. Bahkan kitabnya, al-Qisthas
menamakan diri mereka Ikhwan al-Shafa (secara                    al-Mustaqim, dinilai dan dituduh Ibn Taymiyyah
longgar: Persaudaraan Suci).(17)                                 sebagai usaha pencampur-adukan tak sah ajaran
                                                                 Nabi dengan falsafah Aristoteles, karena uraian-
  17  Pembahasan tentang kelompok ini yang cukup lengkap ialah
                                                                 uraian keagamaannya, dalam hal ini ilmu fiqh, yang
     yang dilakukan Netton. op. cit.

                                                                                                                      25
menggunakan sistem ilmu mantiq.                         kaum Muslim tampak nyata. Seperti dikatakan
        Tetapi, seperti telah dikemukakan di atas,           William Lane Craig,
     adalah mustahil melihat falsafah Islam sebagai
     carbon copy Hellenisme. Misalnya, meskipun                 ... the kalam argument as a proof for God's
     terdapat variasi, tetapi semua pemikir Muslim              existence originated in the minds of medieval
     berpandangan bahwa wahyu adalah sumber                     Arabic theologians, who bequeathed to the West,
     ilmu pengetahuan, dan, karena itu, mereka juga             where it became the center of hotly disputed
     membangun berbagai teori tentang kenabian                  controversy. Great minds on both sides were raged
     seperti yang dilakukan Ibn Sina dengan risalahnya          against each other: al-Ghazali versus Ibn Rushd,
     yang terkenal, Itsbat al-Nubuwwat. Mereka juga             Saadia versus Maimonides, Bonaventure versus
     mencurahkan banyak tenaga untuk membahas                   Aquinas. The central issue in this entire debate was
     kehidupan sesudah mati, suatu hal yang tidak               whether the temporal series of past events could
     terdapat padanannya dalam Hellenisme, kecuali              be actually infinite.(19)
     dengan sendirinya pada kaum Hellenis Kristen.              (...argumen kalam sebagai bukti adanya Tuhan
     Para failasuf Muslim juga membahas masalah                 berasal dari dalam pikiran para teolog Arab
     baik dan buruk, pahala dan dosa, tanggungjawab             zaman pertengahan, yang menyusup ke Barat,
     pribadi di hadapan Allah, kebebasan dan                    di mana ia menjadi pusat kontroversi yang
     keterpaksaan (determinisme), asal usul penciptaan,         diperdebatkan secara hangat. Pemikir-pemikir
     dan seterusnya, yang kesemuanya itu merupakan              dari dua pihak berhadapan satu sama lain: al-
     bagian integral dari ajaran Islam, dan sedikit sekali      Ghazali lawan Ibn Rusyd, Saadia lawan Musa
                                                                ibn Maymun, Bonaventura lawan Aquinas.
     terdapat hal serupa dalam Hellenisme.(18)
                                                                Persoalan pokok dalam seluruh debat itu ialah
        Lebih lanjut, falsafah kemudian mempengaruhi
                                                                apakah rentetan zaman dari kejadian masa
     ilmu kalam. Meski begitu, lagi-lagi, tidaklah benar
                                                                lampau itu dapat secara aktual tak terbatas).
     memandang ilmu kalam sebagai jiplakan belaka
     dari falsafah. Justru dalam ilmu kalam orisinalitas
                                                              19  William Craig, Kalam Cosmological Argument (London:
       18  Qadir, op. cit., h. 28.                               The Macmillan Press Ltd, 1979), "preface".

26
Ilmu kalam adalah unik dalam pemikiran umat           they inherited these arguments from the Arabic
manusia. Ia merupakan sumbangan Islam dalam              theologians and philosophers, whom we tend
dunia kefilsafatan yang paling orisinil. Argumen-        unfortunately to neglect.(20)
argumen yang dikembangkan dalam ilmu kalam               (Para pemikir Yahudi berpartisipasi sepenuhnya
menerobos dunia pemikiran Barat, sebagaimana             dalam kehidupan intelektual masyarakat
banyak pikiran-pikiran Islam yang lain, meskipun         Muslim, banyak di antara mereka yang menulis
hanya sedikit dari orang-orang Barat yang                dalam Bahasa Arab dan menterjemahkan
mengakuinya. Berkenaan dengan ini, Craig                 karya-karya Arab ke dalam Bahasa Ibrani.
mengatakan lebih lanjut:                                 Dan orang-orang Kristen kemudian membaca
                                                         dan menterjemahkan karya-karya para pemikir
                                                         Yahudi itu. Argumen kalam bagi permulaan
   The Jewish thinkers fully participated in the
                                                         adanya alam raya menjadi perdebatan yang
   intellectual life of the Muslim society, many of
                                                         panas, karena ditentang oleh Aquinas namun
   them writing in Arabic and translating Arabic
                                                         digunakan dan didukung oleh Bonaventure.
   works into Hebrew. And the Christians in turn read    Argumen falsafah dari wujud pasti (wajib) dan
   and translated works of these Jewish thinkers.        wujud mungkin (mumkin) banyak digunakan
   The kalam argument for the beginning of the           dalam berbagai bentuk dan akhirnya menjadi
   universe became a subject heated debate, being        kunci argumen Thomis untuk adanya Tuhan.
   opposed by Aquinas, but adopted and supported         Begitulah, bahwa argumen kosmologis itu
   by Bonaventure. The falsafa argument from             sampai ke para teolog berbahasa Latin, yang
   necessary and possible being was widely used          dalam budaya Barat kita mereka itu menerima
   in various forms and eventually became the            pengakuan untuk orisinalitas, yang mereka
   key Thomist argument for God's existence. Thus        sendiri tidak sepenuhnya berhak, karena mereka
   it was that the cosmological argument came            mewarisi argumen-argumen itu dari para teolog
                                                         dan failasuf Arab, yang sayangnya cenderung
   to the Latinspeaking theologians of the West,
                                                         kita lupakan).
   who receive in our Western culture a credit for
   originality that they do not fully deserve, since
                                                        20  Ibid., h. 18.

                                                                                                          27
Sebagaimana telah menjadi pokok                     Argumen kosmologi kalam membimbing kita ke
     pembicaraan buku William Craig yang dikutip itu,        arah adanya Khaliq yang bersifat pribadi alam
     argumen-argumen kosmologis kalam ternyata kini          raya...)
     banyak mendapatkan dukungan temuan-temuan                Adakah membuktikan adanya Tuhan yang
     ilmiah moderen. Teori big bang dari Chandrasekhar    personal itu yang menjadi titik perhatian sentral
     (pemenang hadiah Nobel), dan dikatakan dengan        falsafah dan kalam? Setelah membuktikan dengan
     temuan-temuan astronomi moderen, begitu pula         dalil-dalil dan argumen-argumen yang mantap,
     konsep waktu dari Newton dan Einstein, semuanya      para failasuf dan mutakallim beralih ke usaha
     itu, menurut Craig, mendukung argumen                memahami makna wujudnya Tuhan itu bagi
     kosmologi ilmu kalam tentang adanya Tuhan dan        manusia, kemudian dikembangkan menjadi dalil-
     "personal", yang telah menciptakan alam raya ini:    dalil dan argumen-argumen untuk mendukung
                                                          kebenaran agama. Seperti ditegaskan oleh Ibn
        We have thus concluded to a personal Creator      Rusyd dalam Fashl al-Maqal, kegiatan berfalsafah
        of the universe who exists changelessly and       adalah benar-benar pelaksanaan perintah Allah
        independently prior to creation and in time       dalam Kitab Suci. Maka, kata Ibn Rusyd, falsafah
        subsequent to creation. This ia a central core    dan agama atau syari'ah adalah dua saudara
        of what theists mean by "God"...The kalam         kandung, sehingga merupakan suatu kezaliman
        cosmological argument leads us to a personal      besar jika antara keduanya dipisahkan. Hanya
        Creator of the universe..."(21)                   memang, kata Ibn Rusyd lagi, terdapat halangan
        (Dengan begitu kita telah menyimpulkan adanya     agama yang karena ketidak-tahuannya memusuhi
        Khaliq yang personal bagi alam raya, yang ada     falsafah, dan terhadap kalangan falsafah yang juga
        tanpa berubah dan berdiri sendiri sebelum         karena ketidak-tahuannya memusuhi syari'ah. Ibn
        penciptaan alam dan dalam waktu sesudah           Rusyd sendiri adalah seorang failasuf yang amat
        penciptaan itu. Inilah inti pusat apa yang oleh   mendalami syari'ah.
        kaum teist dimaksudkan dengan "Tuhan"...

      21  Ibid., h. 152.

28
Disiplin Ilmu Keislaman Tradisional:
                                                                                                                                       3
       Fiqh (Tinjauan Dari Segi Makna
                  Kesejarahan)
D    ari empat disiplin Ilmu Keislaman Tradisional
     yang mapan yaitu ilmu fiqh ('ilm al-fiqh),
ilmu kalam ('ilm al-kalam), ilmu tasawuf ('ilm
                                                                      mendominasi pemahaman orang-orang Muslim
                                                                      akan agama mereka sehingga, karenanya, paling
                                                                      banyak membentuk bagian terpenting cara
al-tashawwuf) dan falsafah (al-falsafah atau                          berpikir mereka. Kenyataan ini dapat dikembalikan
al-hikmah),(1) fiqh adalah yang paling kuat                           kepada berbagai proses sejarah pertumbuhan
  1  Dari empat disiplin ilmu keislaman tradisional itu masing-       masyarakat Muslim masa lalu, juga kepada
     masing dapat diidentifikasikan sebagai berikut: ilmu fiqh        sebagian dari inti semangat ajaran agama Islam
     merupakan disiplin dengan bidang garapan segi-segi eksoteris
     (lahiriah) agama, yaitu terutama aspek hukum dari amalan         sendiri.
     keagamaan. Para ahli fiqh juga disebut ahl al-dhawahir               Salah satu karakteristik historis agama Islam
     (kelompok eksoteris). Ilmu tasawuf memperhatikan segi-segi
     esoteris (kedalaman, kebatinan), dan para ahli tasawuf disebut   ialah kesuksesan yang cepat luar biasa dalam
     ahl al-bawathin (kelompok esoteris). Ilmu kalam menggarap        ekspansi militer dan politik.(2) Ada indikasi bahwa
     segi-segi rasional, namun tetap lebih mengutamakan wahyu,
     sedangkan falsafah menggarap segi-segi spekulatif dengan              yang dalam peradaban Islam dikenal dengan ilmu mantiq
     kecenderungan kuat kepada metode interprestasi metaforis              (lengkapnya, 'ilm al-manthiq al-aristhi). Al-Ghazali pun,
     kepada teks-teks suci. Dari keempatnya itu falsafah adalah            yang terkenal telah berusaha merubuhkan falsafah, menaruh
     yang paling kontroversial, disebabkan persandarannya kepada           kepercayaan besar kepada ilmu mantiq ini.
     filsafat Yunani yang amat jauh. Namun ada bagian dari              2  Seperti halnya dengan Nabi Musa a.s. dan beberapa Nabi
     filsafat yang diterima hampir universal di kalangan orang-            yang lain, Nabi Muhammad dikenal dalam sosiologi agama
     orang Muslim, yaitu logika formal (silogisme) Aristoteles,            sebagai "nabi bersenjata" (armed prophet). Tapi jauh
ekspansi militer ke luar Jazirah Arabia itu mula-                       "daerah beradab" (Oikoumene, menurut sebutan
     mula dilakukan dalam keadaan terpaksa dan                               orang-orang Yunani kuna), yang membentang
     untuk tujuan pertahanan diri.(3) Tetapi dinamika                        dari Lautan Atlantik di barat sampai Gurun Gobi di
     gerakan perluasan itu kemudian seperti tidak                            timur. Sebuah kemaharajaan (empire) dunia telah
     dapat dikekang, dan dalam tempo amat singkat                            lahir dengan keluasan wilayah yang tidak pernah
     orang-orang Muslim menguasai sepenuhnya                                 terjadi sebelumnya dalam sejarah umat manusia.
          melampaui "prestasi" Nabi Musa a.s., Nabi Muhammad s.a.w.              Disebabkan oleh ciri kekuasaan itu maka
          berhasil merampungkan hal-hal yang berlipatganda lebih
          besar dari yang dirampungkan oleh Nabi Musa dan generasi           sejak dari semula, khususnya dikalangan kaum
          berikutnya sampai Nabi Daud a.s. Ketika Rasulullah wafat,          Sunni, agama Islam dengan erat terkait dengan
          praktis seluruh Jazirah Arabia telah tunduk kepada Madinah,
          dan hanya selang beberapa tahun saja sesudah itu wilayah
                                                                             kemapanan politik. Di antara sekian banyak
          kekuasaan politik Islam meluas sampai meliputi daerah inti         implikasinya ialah bahwa para pemimpin Islam,
          peradaban manusia saat itu.
                                                                             baik yang berada pada lingkungan kekuasaan
       3  Salah satu yang mendorong orang-orang Muslim itu keluar
          Jazirah Arabia dan mengadakan bcrbagai ekspedisi militer           maupun yang menekuni bidang pemikiran, banyak
          ialah karena berita-berita yang telah beredar saat-saat terakhir   sekali disibukkan oleh usaha-usaha mengatur
          hidup Nabi bahwa orang-orang Byzantium yang telah merasa
          terancam oleh munculnya gerakan Islam itu telah menyiapkan
                                                                             masyarakat dan negara sebaik-baiknya. Ini
          pasukan yang sangat besar di perbatasan utara untuk                mendorong kepada curahan perhatian yang luar
          menghancurkan masyarakat Islam. Bahkan sebelum wafatnya,
                                                                             biasa besar untuk menggali dan mengembangkan
          Rasulullah s.a.w. telah sempat mengirim ekspedisi militer ke
          sana. Ekspedisi yang dikirim Nabi itu kemudian ditafsirkan         unsur-unsur dalam ajaran agama Islam yang
          sebagai semacam wasiat yang harus dilaksanakan, dan itulah         berhubungan dengan masalah pengaturan
          permulaan sekalian ekspedisi dan ekspansi militer yang terjadi
          selanjutnya.                                                       masyarakat dan negara.

                                              Pangkal Pertumbuhan Fiqh
         Dari suatu segi, ilmu fiqh, seperti halnya dengan                   sebagai "hukum" seperti yang sekarang umum
     ilmu-ilmu keislaman lainnya, dapat dikatakan                            dipahami orang, maka akar "hukum" yang amat
     telah tumbuh semenjak masa Nabi sendiri. Jika                           erat kaitannya dengan kekuasaan itu berada
     "fiqh" dibatasi hanya kepada pengertiannya                              dalam salah satu peranan Nabi sendiri selama

30
beliau mengemban tugas suci kerasulan (risalah),                    hirarki sosial) dan yang bersifat universal (berlaku
khususnya selama periode sesudah hijrah ke                          untuk semua orang, di semua tempat dan waktu).
Madinah, yaitu peranan sebagai pemimpin                                 Tetapi peranan Nabi dengan tugas kerasulan
masyarakat politik (Madinah) dan sebagai hakim                      (risalah) yang diembannya tidaklah hanya
pemutus perkara.(4)                                                 bersangkutan dengan hal-hal kemasyarakatan
    Peranan Nabi sebagai pemutus perkara itu                        semata. Dalam kesanggupan menangkap dan
sendiri harus dipandang sebagai tak terpisahkan                     memahami serta mengamalkan keseluruhan
dari fungsi beliau sebagai utusan Tuhan. Seperti                    makna agama yang serba segi itu ialah
halnya dengan semua penganjur agama dan                             sesungguhnya letak perbaikan dan peningkatan
moralitas, Nabi Muhammad s.a.w. membawa                             nilai kemanusiaan seseorang. Inilah kurang lebih
ajaran dengan tujuan amat penting reformasi atau                    yang dimaksudkan Nabi ketika beliau bersabda
pembabaruan dan perbaikan (ishlah)(5) kehidupan                     dalam sebuah hadits yang amat terkenal bahwa
masyarakat. Berada dalam inti reformasi itu ialah                   jika Tuhan menghendaki kebaikan untuk seseorang
aspirasi keruhanian (sebagai pengimbang aspirasi                    maka dibuatlah ia menjadi faqih (orang yang
keduniawian semata) yang populis (cita-cita                         paham) akan agamanya.(6) Demikian pula sebuah
keadilan dengan semangat kuat anti elitisme dan                     firman Ilahi yang tidak jauh maknanya dari hadits
 4  Kedudukan Nabi sebagai hakim pemutus perkara ini antara         itu, yang menegaskan hendaknya dalam setiap
    lain dikukuhkan dalam sebuah firman, Q., s. al-Nisa'/4:65,      masyarakat selalu ada kelompok orang yang
    "Maka demi Tuhanmu, mereka tidaklah beriman sehingga
    mereka berhakim kepadamu berkenaan dengan hal-hal
                                                                    melakukan tafaqquh (usaha memahami secara
    yang diperselisihkan antara mereka, kemudian mereka tidak       mendalam) tentang agamanya. Diharapkan agar
    menemui kekerabatan dalam diri mereka atas keputusan yang
                                                                    para "Spesialis" ini dapat menjalankan peran
    telah kau ambil, dan mereka pasrah sepenuh-penuhnya."
    Firman ini dan lain-lainnya juga sering menjadi acuan sebagai   sebagai sumber kekuatan moral (moral force)
    penegasan kewajiban mengikuti Nabi melalui Sunnah yang          masyarakat.(7) Maka suatu masyarakat tumbuh
    ditinggalkan beliau.
 5  Ini bisa dipahami dari firman Allah, Q. s. Hud/11:88, yang        6  Hadits yang terkenal mengatakan, "Barangsiapa Allah
    menuturkan Nabi Syu'aib dalam pernyataannya kepada                   menghendaki kebaikan baginya, maka ia dibuat paham (fiqh)
    kaumnya; "Aku hanyalah menghendaki perbaikan (ishlah,                dalam agama."
    reformasi) sedapatdapatku."                                       7  Q. s. al-Tawbah/9:122," Maka hendaknyalah pada setiap

                                                                                                                                     31
menjadi masyarakat hukum (legal society),                       simpul kepercayaan (al-'aqa'id) dan peribadatan (al-
     namun dasar strukturnya itu ialah hakikat suatu                 'ibadat), maka diberikan secara terinci (mufashshal)
     masyarakat akhlaq (ethical society).(8)                         dengan rincian yang sempurna, serta dijelaskan
         Berkenaan dengan prinsip ini al-Sayyid Sabiq,               dengan nas-nas yang serba meliputi. Karena itu
     misalnya, mengatakan bahwa Allah mengutus                       tidak seorang pun dibenarkan menambah atau
     Muhammad s.a.w. dengan kecenderungan suci                       mengurangi. Sedangkan hal-hal yang berubah
     yang lapang (al-hanifiyyat al-samhah). Rasulullah               dengan perubahan zaman dan tempat, seperti
     s.a.w. bersabda bahwa "Agama yang paling disukai                berbagai kemaslahatan sipil (al-mashalih al-
     Allah ialah al-hanifiyyat al-samhah." Kemudian                  madaniyyah) serta berbagai perkara politik dan
     kecenderungan suci yang lapang itu dilengkapi                   perang, maka diberikan secara garis besar (mujmal)
     dengan tata cara hidup praktis yang serba meliputi              agar bersesuaian dengan kemaslahatan manusia
     (al-syari'at al-jami'ah). Namun dalam sifatnya yang             di setiap masa, dan dengan ketentuan itu para
     menyeluruh itu masih dapat dikenali adanya dua                  pemegang wewenang (ulu al-amr, jamak dari wali
     hal yang berbeda: hal-hal parametris keagamaan                  al-amr, pemegang kekuasaan, yakni, pemerintah)
     yang tidak berubah-ubah, dan hal-hal dinamis,                   dapat mencari petunjuk dalam usaha menegakkan
     yang berubah menurut perubahan zaman dan                        kebenaran dan keadilan.(9)
     tempat:                                                             Maka ilmu fiqh dalam makna asalnya adalah
         ... Adapun hal-hal yang tidak berubah karena                ilmu yang berusaha memahami secara tepat
     perubahan zaman dan tempat, seperti simpul-                     ketentuan-ketentuan terinci (al-mufashshalat) dan
          golongan dari mereka (orang-orang yang beriman) itu        ketentuan-ketentuan garis besar (al-mujmalat)
          ada sekelompok orang yang tidak ikut (berperang) untuk
                                                                     dalam ajaran agama itu. Tentang hal-hal yang telah
          mendalami agama (tafaqquh), dan untuk dapat memberi
          peringatan kepada kaumnya bila mereka itu telah kembali    terinci, dengan sendirinya tidak banyak kesulitan.
          (dari perang) agar mereka semuanya waspada." Dan waspada   Tetapi tentang hal-hal yang bersifat garis besar,
          dalam hal ini, seperti taqwa, mengandung arti menjunjung
          tinggi moralitas.                                          perbedaan penafsiran dan penjabarannya sering
       8  Sebuah Hadits yang terkenal bahwa Nabi Muhammad
          bersabda, "Aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan budi     9  Al-Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah (Kuwait: Dar al-Bayan, 1388
          pekerti luhur."                                                 H/ 1968 M), j. 1, h. 13.

32
menjadi sumber kesulitan yang menimbulkan              Muslim dalam fase perkembangan historis mereka
berbagai perbedaan pendapat antara para pemikir        yang paling formatif.

                        Masa-masa Perkembangan Formatif
    Melalui masa-masa perkembangan formatifnya,        ini diperlukan penyusunan hukum-hukum
ilmu fiqh memperoleh batasnya yang jelas. Sejalan      pembalasan, dan inilah bagian 'uqubat dari ilmu
dengan yang telah dikemukakan di atas, batasan         fiqh.(10)
itu kurang lebih adalah:                                   Dari definisi dan penjelasan tentang hakikat
    ... Fiqh ialah ilmu tentang masalah-masalah        ilmu fiqh itu nampak dengan jelas titik berat
syara'iyah secara teoritis. Masalah-masalah fiqh itu   orientasi fiqh kepada masalah pengaturan hidup
berkenaan dengan perkara akhirat seperti hal-          bersama manusia dalam tatanan sosialnya, yang
hal peribadatan (ibadat) atau berkenaan dengan         inti kerangka pengaturan itu ialah masalah-
perkara dunia yang terbagi menjadi munakahat           masalah hukum. Bahkan meskipun masalah-
(tentang pernikahan), mu'amalat (tentang berbagai      masalah ibadat juga termasuk ke dalam ilmu fiqh
transaksi dalam masyarakat) dan 'uqubat (tentang       —justru merupakan yang pertama-tama dibahas—
hukuman)                                               namun cara pandang ilmu fiqh terhadap ibadat
    ...Demi terpeliharanya keadilan dan ketertiban     pun tetap bertitikberatkan orientasi hukum. Dalam
antara sesama manusia serta menjaga mereka             hal ini terkenal pembagian hukum yang lima: wajib
dari kehancuran maka diperlukanlah ketentuan-          mandub, mubah, makruh dan haram. Disamping
ketentuan yang diperkuat oleh syari'at berkenaan       itu terdapat cara penilaian kepada sesuatu sebagai
dengan perkara perkawinan, dan itulah bagian           sah atau batal, yaitu dilihat dari kenyataan apakah
munakahat dari ilmu fiqh; kemudian berkenaan           semua syarat dan rukunnya terpenuhi atau tidak.(11)
dengan perkara peradaban dalam bentuk                      Telah dikemukakan bahwa situasi yang
gotong-royong dan kerjasama, dan itulah bagian
mu'amalat dari ilmu fiqh; dan untuk memelihara           10  Majallat al-Ahkam al-'Adliyyah (Beirut: Mathba'at Syiarku,
                                                            1388 H/1968 M, cetakan kelima), h. 15
perkara peradaban itu agar tetap pada garisnya
                                                         11  Lihat catatan 1 di atas.

                                                                                                                          33
mendesak orang-orang Muslim untuk                                   415 H [750-974 M]) usaha penyusunan sistematik
     menjabarkan melalui penalaran unsur-unsur dalam                     ilmu fiqh itu dan kodifikasinya berkembang
     ajaran Islam yang berkaitan dengan masalah                          menjadi seperti yang sebagian besar bertahan
     pengaturan masyarakat ialah adanya kekuasaan                        sampai sekarang.(13)
     politik yang sangat riil. Kekuasaan itu tidak saja                     Pada masa peralihan dari dinasti Umawiyah ke
     secara geografis meliputi daerah oikoumene yang                     dinasti Abbasiyah itu hidup seorang sarjana fiqh
     amat luas, tetapi juga secara demografis mencakup                   yang terkenal, Abu Hanifah (79-148 H [699-767
     berbagai bangsa dan agama yang beraneka ragam.                      M]). Aliran pikiran (madzhab, school of thought)
     Desakan kepada penalaran itu kemudian juga                          Abu Hanifah terbentuk dalam lingkungan Irak
     kodifikasinya sesungguhnya sudah ada semenjak                       dan suasana pemerintahan Abbasiyah. Tetapi dari
     masa Dinasti Umawiyah (40-131 H [661-750 M].(12)                    masa dinasti Abbasiyah itu yang paling formatif
     Tetapi para penguasa Umawiyah di Damaskus itu                       bagi pertumbuhan ilmu fiqh, seperti juga bagi
     agaknya kurang tanggap terhadap desakan itu.                        pertumbuhan ilmu-ilmu yang lain, ialah masa
     Namun masa Umawiyah telah sempat melahirkan                         pemerintahan Harun al-Rasyid (168-191 H [786-
     usaha cukup penting ke arah penyusunan                              809 M]). Pada masa pemerintahannya itu hidup
     sistematik ilmu fiqh dan kodifikasinya, dalam                       seorang teman dan murid Abu Hanifah yang hebat,
     konteks Syria dan sistem pemerintahan Umawi,                        Abu Yusuf Ya'qub ibn Ibrahim (113-182 H [732-798
     khususnya oleh tokoh al-Awzd'i (wafat 155 H [774                    M]). Harun al-Rasyid meminta kepada Abu Yusuf
     M]). Dan baru pada masa dinasti Abbasiyah (131-                     untuk menulis baginya buku tentang al-kharaj

      12  Di antara para khalifah Umawiyah yang terkenal sangat saleh     13  Ketidakpuasan umum kepada ketidakacuhan orang-orang
         ialah 'Umar ibn 'Abd al-'Aziz yang salah satu usahanya ialah        Umawi dalam soal-soal keagamaan telah ikut mendorong
         mendamaikan pertikaian keagamaan antara kaum Sunni dan              meletus dan berhasilnya Revolusi Abbasiyah yang didukung
         kaum Syi'i. Disebut-sebut bahwa yang sesungguhnya untuk             oleh para agamawan itu. Meskipun dalam banyak hal, seperti
         pertama kali mendorong pembukuan Hadits, misalnya, adalah           sikap memihak kepada golongan Sunni, kaum Abbasiyah tak
         Khalifah ini, yang telah memerintahkan usaha itu kepada             berbeda dari kaum Umawiyah, tapi yang tersebut terdahulu
         antara lain al-Zuhrf. Lihat M.M. Azami, Studies in Early            itu menunjukkan minat yang lebih besar kepada hal-hal
         Hadith Literature (Indianapolis: American Trust Publications,       khusus keagamaan. Ini menciptakan suasana yang baik untuk
         1978), h. 18.                                                       pengembangan ilmu-ilmu keagamaan, khususnya ilmu fiqh.

34
(semacam sistem perpajakan) menurut hukum                      karyanya itu, Abu Yusuf dengan tegas dan tandas
Islam (fiqh). Abu Yusuf memenuhinya, tetapi buku               menasehati dan memperingatkan Harun al-Rasyid
yang ditulisnya dengan nama Kitab al-Kharaj                    untuk menjalankan amanat pemerintahannya
itu menjadi lebih dari sekedar membahas soal                   dengan adil, seperti yang telah dilakukan oleh
perpajakan, melainkan telah menjelma menjadi                   'Umar).(15)
usaha penyusunan sistematik dan kodifikasi                      15  Kutipan dari Kitab al-Kharaj akan memberi gambaran yang
                                                                   jelas tentang nuktah ini:
ilmu fiqh yang banyak ditiru atau dicontoh oleh
ahli-ahli yang datang kemudian. Lebih jauh lagi,                "... Sesungguhnya Amir al-Mu'minin —semoga Allah Ta'ala
                                                                     meneguhkannya— telah meminta kepadaku untuk menulis
menyerupai jejak pemikiran al-Awza'i dari Syria di                   sebuah buku yang komprehensif dan meminta agar aku
masa Umawiyah tersebut di atas, Abu Yusuf dalam                      menjelaskan untuknya hal-hal yang ia tanyakan kepadaku dari
                                                                     perkara yang hendak ia amalkan, serta agar aku menafsirkan
Kitdb al-Kharaj menyajikan kembali sistem hukum
                                                                     dan menjabarkannya. Maka benar-benar telah aku jelaskan hal
yang dipraktekkan di zaman Umawiyah, khususnya                       itu semua dan kujabarkan.
sejak kekhalifahan Abd al-Malik ibn Marwan                           Wahai Amir al-Mu'minin, sesungguhnya Allah —segala
                                                                     puji bagi-Nya— telah meletakkan di atas suatu perkara yang
(64-85 H [685-705 M]), yang dalam memerintah                         besar pahalanya adalah sebesar-besar pahala, dan siksanya
berusaha meneladani praktek Khalifah 'Umar ibn                       adalah sebesar-besar siksa. Allah telah meletakkan padamu
                                                                     urusan umat ini, maka engkau diwaktu pagi maupun petang
al-Khaththab.(14) Oleh karena itu Kitab al-Kharaj                    membangun untuk orang banyak yang Allah telah menitipkan
banyak mengisahkan kembali kebijaksanaan                             mereka itu kepadamu, mempercayakan mereka kepadamu,
                                                                     menguji kamu dengan mereka itu, dan menyerahkan
Khalifah 'Umar, yang agaknya juga dikagumi oleh                      kepadamu urusan mereka itu. Dan suatu bangunan tetap
Harun al-Rasyid sendiri. (Dalam pengantar untuk                      saja —jika didasarkan kepada selain taqwa— akan dirusakkan
                                                                     Allah dari sendi-sendinya kemudian merobohkannya
 14  Mungkin karena rasa pertentangan yang laten kepada para         menimpa orang yang membangunnya sendiri dan orang lain
    pengikut 'Ali (kaum Syi'ah), kaum Umawiyah di Damaskus           yang membantunya. Maka janganlah sekali-sekali menyia-
    banyak menaruh simpati kepada 'Umar ibn al-Khaththab,            nyiakan urusan umat dan rakyat yang telah dibebankan Allah
    dan mengaku bahwa dalam menjalankan beberapa                     kepadamu ini, sebab kekuatan berbuat itu terjadi hanya seizin
    segi pemerintahannya mereka meneruskan tradisi yang              Allah ..." Abu Yusuf Ya'qub ibn Ibrahim, Kitab al-Kharaj
    ditinggalkan oleh Khalifah Rasul yang kedua itu.                 (Kairo: al-Mathba'at al-Salafiyyah, 1382 H, h. 3).


                                               Ushul al-Fiqh (I)
                                                                                                                                     35
Hampir semasa dengan Abu Hanifah di Irak          tema aliran pikiran Hanafi yang dipelajari dari al-
     (Kufah), tampil pula Anas ibn Malik (715-795)         Syaibani (wafat 186 H [805 M]), yaitu penggunaan
     di Hijaz (Madinah). Aliran pikiran Abu Hanifah        analogi, dan mengembangkannya menjadi sebuah
     (madzhab Hanafi) banyak menggunakan                   teori yang sistematika dan universal tentang
     analogi (qiyas) dan pertimbangan kebaikan             metode memahami hukum.
     umum (istishlah) dan tumbuh dalam lingkungan               Dengan demikian maka al-Syafi'i berjasa
     pemerintah pusat, sama halnya dengan aliran           meletakkan dasar-dasar teoritis tentang dua hal,
     pikiran al-Awza'i di Syria (Damaskus) sebelumnya.     yaitu, pertama, Sunnah, khususnya yang dalam
     Berbeda dengan keduanya itu, aliran pikiran Anas      bentuk Hadits, sebagai sumber memahami hukum
     ibn Malik (madzhab Maliki) terbentuk oleh suasana     Islam setelah al-Qur'an, dan, kedua, analogi atau
     lingkungan Hijaz, khususnya Madinah, yang sangat      qiyas sebagai metode rasional memahami dan
     memperhatikan tradisi (sunnah) Nabi dan para          mengembangkan hukum itu. Sementara itu,
     sahabatnya.                                           konsensus atau ijma' yang ada dalam masyarakat,
         Anas ibn Malik mempunyai seorang murid,           yang kebanyakan bersumber atau menjelma
     yaitu Muhammad ibn Idris al-Syafi'i (wafat 204 H      menjadi sejenis kebiasaan yang berlaku umum
     [820 M]. Al-Syafi'i meneruskan tema aliran pikiran    (al-'urf), juga diterima oleh al-Syafi'i, meskipun ia
     gurunya dan mengembangkannya dengan                   tidak pernah membangun teorinya yang tuntas.
     membangun teori yang ketat untuk menguji              Dengan begitu pangkal tolak ilmu fiqh (ushul al-
     kebenaran sebuah laporan tentang sunnah,              fiqh), berkat al-Syafi'i, ada empat, yaitu Kitab Suci,
     terutama tentang hadits yang diriwayatkan             Sunnah Nabi, ijma' dan qiyas.
     langsung dari Nabi. Tetapi al-Syafi'i juga menerima

                                       Hadits sebagai Sunnah
        Kitab Suci al-Qur'an telah dibukukan dalam         oleh 'Utsman untuk seluruh Dunia Islam
     sebuah buku terjilid (mushhaf) sejak masa khalifah    berdasarkan mushhaf peninggalan pendahulunya
     Abu Bakr (atas saran 'Umar) dan diseragamkan          itu. Dalam hal ini Hadits berbeda dari al-Qur'an,

36
karena kodifikasinya yang metodologis (dengan          'Abdullah ibn Mas'ud, yang dihubungkan dengan
otentifikasi menurut teori al-Syafi'i) baru dimulai    Abu Bakr dituturkan demikian:
sekitar setengah abad setelah al-Syafi'i sendiri.
Pelopor kodifikasi metodologi itu ialah al-Bukhari        "Bahwa (abu Bakr) al-Shiddiq mengumpulkan
(wafat 256 H [870 M]), kemudian disusul oleh              orang banyak setelah wafat Nabi mereka,
Muslim (wafat 261 H [875 M]), Ibn Majah (wafat            kemudian berkata, "Kamu semuanya
273 H [886 M]), Abu Dawud (wafat 275 H [888 M]),          menceritakan banyak hadits dari Rasulullah
al-Turmudzi (wafat 279 H [892 M]) dan, akhirnya, al-      s.a.w. yang kamu perselisihkan. Padahal manusia
Nasa'i (wafat 308 H [916 M]). Mereka ini kemudian         sesudahmu lebih banyak lagi perselisihan mereka.
menghasilkan kodifikasi metodologis Hadits yang           Maka janganlah kamu sekalian menceritakan
selanjutnya dianggap bahan referensi utama di             (hadits) sesuatu apa pun dari Rasulullah. Dan
bidang hadits, dan secara keseluruhannya dikenal          jika ada orang bertanya kepada kamu, maka
sebagai al-Kutub al-Sittah (Buku yang Enam).              katakanlah, 'Antara kami dan kamu ada Kitab
    Masa yang cukup panjang, yang ditempuh                Allah, karena itu halalkanlah yang dihalalkannya
oleh proses pembukuan hadits sehingga                     dan haramkanlah yang diharamkannya.'"(16)
menghasilkan dokumentasi yang dianggap final
itu —berbeda halnya dengan masalah al-Qur'an—              Selain itu, al-Hudlari Bek juga menuturkan
adalah disebabkan adanya semacam kontroversi           adanya lima kasus yang mendorong periwayatan
mengenai pembukuan hadits ini hampir sejak             hadits, tiga diantaranya dikaitkan dengan 'Umar
dari masa Nabi sendiri. Al-Syaikh Muhammad al-         dan dua lainnya masing-masing dengan Abu Bakr
Hudlari Bek dalam bukunya yang terkenal, Tarikh        dan 'Utsman. Yang dikaitkan dengan Abu Bakr
al-Tasyri al-Islami (Sejarah Penetapan Hukum           dituturkan demikian:
Syari'at Islam) menyebutkan adanya delapan kasus
tindakan menghambat pencatatan hadits, lima di            " ... Seorang wanita tua datang kepada Abu Bakr
antaranya dihubungkan dengan 'Umar, dan tiga
                                                        16  Al-Syaikh Muhammad al-Hudlarf Bek, Tarikh al-Tasyri' al-
lainnya dengan masing-masing Abu Bakr, 'Ali, dan
                                                           Islami (Beirut: Dar al-Fikr, 1387 H/1967 mO, h. 90-91.

                                                                                                                       37
meminta keputusan mengenai waris. Maka               hendak menuduhmu, tetapi aku ingin menjadi
        dijawabnya, "Tidak kudapati sesuatu apa pun          mantap."(18)
        untukmu dalam Kitab Allah, dan tidak kuketahui
        bahwa Rasulullah s.a.w. menyebutkan sesuatu           Oleh karena itu sesungguhnya sejak masa amat
        apa pun untukmu." Kemudian dia (Abu Bakr)         dini pertumbuhan umat Islam telah ada catatan-
        bertanya kepada orang banyak, maka berdirilah     catatan pribadi tentang hadits meskipun belum
        al-Mughirah dan berkata, "Aku dengar Rasulullah   sistematis. Disebutkan bahwa Khalifah Abu Bakr
        s.a.w. memberinya seperenam." Lalu Abu Bakr       sendiri mempunyai koleksi sekitar 400 hadits, dan
        bertanya, "Adakah seseorang bersamamu?" Maka      'Umar sendiri pernah terpikir untuk membuat
        Muhammad ibn Maslamah memberi kesaksian           rencana besar untuk mengumpulkan semua
        tentang hal yang serupa, kemudian Abu Bakr r.a.   hadits, sekurang-kurangnya dalam hafalan, yang
        pun melaksanakannya.(17)                          sering dia bacakan di Masjid Agung Kufah di masa
                                                          kekhalifahannya. 'Abdullah ibn 'Amr ibn al-'Ash
         Sedangkan yang terkait dengan 'Umar              juga dilaporkan mengumpulkan banyak hadits
     dituturkan demikian:                                 atas persetujuan Rasulullah sendiri, dan dituliskan
                                                          dalam sebuah buku yang diberi nama al-Shahifat
        " ... Diriwayatkan bahwa 'Umar berkata kepada     al-Shadiqah. Buku ini sempat beredar selama dua
        Ubay, dan dia ini telah meriwayatkan sebuah       abad, kemudian sebagiannya dihimpun dalam
        hadits untuknya, "Engkau harus memberikan         Musnad Ibn Hanbal.(19)
        bukti atas yang kau katakan itu!" Kemudian            Sebelum adanya al-Kutub al-Sittah sebenarnya
        Umar keluar, ternyata ada sekelompok orang dari   juga telah ada berbagai koleksi Hadits yang cukup
        golongan Anshar, maka disampaikanlah kepada       sistematik, meskipun tanpa metode otentifikasi
        mereka ini. Mereka menyahut,"Kami benar telah     al-Syafi'i. Selain Musnad Ibn Hanbal yang telah
        mendengar hal itu dari Rasulullah s.a.w." Maka
        kata 'Umar, "Adapun sesungguhnya aku tidaklah       18  Ibid., h. 93-94.
                                                            19  Majallat Kulliyyat al-Dirasat al-Islamiyyah (Baghdad:
      17  Ibid., h. 93.                                        Mathb'at al Irsyad) NO. 2, 1388 H/1968 M, h. 119-120.

38
disebutkan itu, yang paling terkenal dari banyak                Nabi) tidak menemukan rekaman tertulis (shahifah)
koleksi itu ialah al-Muwaththa' oleh Malik ibn Anas             dari para sahabat, dan mereka itu mencatat
dari Madinah.                                                   Hadits hanya jika ada permintaan dari penguasa
    Tetapi memang harus diakui bahwa                            seperti khalifah.(22) Karena itu menurut Rasyid Ridla
mengenai persoalan Hadits ini, disebabkan oleh                  berbagai Hadits yang mengisyaratkan persetujuan
masalah proses pembukuannya yang sedikit-                       atau apalagi anjuran menuliskan Hadits adalah
banyak problematik itu, terdapat beberapa hal                   lemah dan dikemukakan hanya untuk tujuan
kontroversial sejak dari semula. Seorang tokoh                  tertentu saja.(23) Teori Rasyid Ridla ini dibantah oleh
pembaharu Islam di abad moderen dari Mesir,                     Muhammad Musthafa al-A'dhami (M. M. Azmi)
Rasyid Ridla, misalnya, menganut pandangan                      dengan data-data dan analisa yang lebih lengkap.(24)
bahwa penulisan Hadits memang pada mulanya                      Tetapi Rasyid Ridla hanya salah satu dari banyak
dibenarkan (oleh Nabi atau para khalifah                        sarjana yang mempersoalkan kedudukan Hadits.(25)
pertama), tetapi kemudian dilarang.(20) Sebabnya                    Telah disebutkan bahwa al-Syafi'i adalah sarjana
ialah, menurut teori Rasyid Ridla, Nabi tidak                   yang paling besar jasanya dalam meletakkan teori
memaksudkan Hadits-hadits itu sebagai sumber                    tentang kritik dan otentifikasi catatan Hadits. Jalan
hukum yang abadi atau pun sebagai bagian dari                   pikiran al-Syafi'i kemudian diikuti oleh para pemikir
agama.(21) Karena itu kemudian Nabi melarang                    di bidang fiqh yang datang kemudian, khususnya
menuliskan Hadits, yang larangan itu, menurut                   Ahmad ibn Hanbal (wafat 234 H [855 M]). Sebagai
Rasyid Ridla ditaati oleh para sahabatnya,                      pengembangan lebih lanjut teori al-Syafi'i, aliran
khususnya para khalifah empat yang pertama.                     pikiran Hanbali mempunyai ciri kuat sangat
Bahkan mereka ini katanya, dengan keras                           22  Azami, h. 24, mengutip Rasyid Ridla, 768.
menentang penulisan itu. Para Tabi'un (orang-                     23  Azami, h. 24, mengutip Rasyid Ridla, 765-6.

orang Muslim dari generasi sesudah para sahabat                   24  Lihat Azami, h. 25, dan bab III untuk pembahasan ini.
                                                                  25  Kritik terhadap pembukuan Hadits juga dilakukan oleh
                                                                     antara lain Chirargh 'Ali dari anak benua India, juga oleh para
  20  Azami, Early Hadith, h. 24, mengutip dari Rasyid Ridla,        orientalis seperti Joseph Schacht yang banyak mengundang
     Review on Early Compilation, al-Manar, x, 767.                  reaksi dari para sarjana Muslim disebabkan baik metodologi
  21  Azami, h. 24, mengutip Rasyid Ridla, 768.                      maupun kesimpulannya yang terlalu jauh.

                                                                                                                                       39
menekankan pentingnya Hadits yang dipilih                      Metode ijma' pun mengandung persoalan.
     secara seksama. Tetapi, tanpa menolak metode               Sekurang-kurangnya Ibn Taimiyyah berpendapat
     analogi atau qiyas, aliran Hanbali cenderung               bahwa ijma' hanyalah yang terjadi di zaman salaf,
     mengutamakan Hadits, biarpun lemah, atas                   yaitu zaman Nabi sendiri, para sahabat dan para
     analogi, biarpun kuat, Mazhab Hanbali mempunyai            tabi'un.(27)
     teori tersendiri tentang analogi. Sebagaimana                   Jawziyyah, al-Qiyas fi al-Syar' al-Islami (Kairo: Mathba'at
                                                                     al-Salafiyyah, 1346 H).
     dijabarkan oleh salah seorang tokohnya yang
                                                                  27  Lihat Ibn Taimiyyah, al-Muntaqa min Mintaj al-I'tidal
     terbesar, Ibn Taimiyyah (wafat 728 H [1318 M7).(26)             (ringkasan. Ibn Taimiyyah, Minhaj al-Sunnah yang dibuat
                                                                     oleh al-Dzahabi) (Kairo: Mathb'at al-Salafiyyah, 1374 H), h.
       26  Lihat antara lain Ibn Taimiyyah dan Ibn Qayyim al-        66-7.



                                                     Ushul al-Fiqh (II)
         Istilah ushul al-fiqh, selain digunakan untuk          perkara tergantung kepada maksudnya.
     menunjuk Kitab Suci, Sunnah Nabi, Ijma' dan                   1.	 Segala perkara tergantung kepada
     Qiyas sebagai sumber-sumber pokok pemahaman                       maksudnya.
     hukum dalam Islam, juga digunakan untuk                       2.	 Yang diketahui dengan pasti tidak dapat
     menunjuk kepada metode pemahaman hukum                            hilang dengan keraguan.
     itu seperti dikembangkan oleh al-Syafi'i. Ushul               3.	 Pada dasarnya sesuatu yang telah ada
     al-fiqh dalam pengertian ini dapat dipandang                      harus dianggap tetap ada.
     sebagai sejenis filsafat hukum Islam karena sifatnya          4.	 Pada dasarnya faktor aksidental adalah
     yang teoretis. Ia membentuk bagian dinamis                        tidak ada.
     dari keseluruhan ilmu fiqh, dan dibangun di atas              5.	 Sesuatu yang mapan dalam suatu zaman
     dasar prinsip rasionalitas dan logika tertentu.                   harus dinilai sebagai tetap ada kecuali jika
     Karena pentingnya ushul al-fiqh ini, maka di                      ada petunjuk yang menyalahi prinsip itu.
     sini dikemukakan beberapa rumus terpenting                    6.	 Kesulitan membolehkan keringanan.
     berkenaan dengan hukum dalam Islam:Segala                     7.	 Segala sesuatu bisa menyempit, meluas,

40
dan sebaliknya.                                        bahayanya.
   8.	 Keadaan darurat membolehkan hal-hal                12.	 Menghindari keburukan lebih utama
        terlarang.                                             daripada mencari kebaikan.
   9.	 Keadaan darurat harus diukur menurut               13.	 Pembuktian berdasar adat sama dengan
        sekadarnya.                                            pembuktian berdasar nas.
   10.	 Sesuatu yang dibolehkan karena suatu              14.	 Adat dapat dijadikan sumber hukum.
        alasan menjadi batal jika alasan itu hilang.      15.	 Sesuatu yang tidak didapat semuanya,
   11.	 Jika dua keburukan dihadapi, maka harus                tidak boleh ditinggalkan semuanya.
        dihindari yang lebih besar bahayanya              16.	 Ada-tidaknya hukum tergantung kepada
        dengan menempuh yang lebih kecil                       illat (alasan)-nya.(28)
                                                         28  Lihat Majallat al-Ahkam al-'Adliyyah, h. 16-18.


                                                Penutup
     Telah disebutkan pada bagian permulaan            hukum dan aturan di kalangan orang-orang
bahwa ilmu fiqh adalah cabang disiplin                 Muslim. Disebutkan bahwa salah satu yang
keilmuan tradisional Islam yang paling banyak          menarik pada agama Islam sehingga orang-orang
mempengaruhi cara pandang orang-orang Muslim           Muslim dalam pergaulan sehari-hari (mu'amalat)
dan pemahaman mereka kepada agama mereka.              sangat mementingkan kepastian hukum,
Karena itu literatur dalam ilmu fiqh adalah yang       sehingga terdapat keteraturan dan predictability.
paling kaya dan paling canggih.                        Ini khususnya penting di kalangan masyarakat
     Disebabkan oleh kuatnya orientasi fiqh itu        perdagangan.(29)
maka masyarakat Islam dimana saja mempunyai              29  Banyak buku tentang ushul al-fiqh ditulis para ahli, antara
ciri orientasi hukum yang amat kuat. Kesadaran              lain yang amat praktis oleh Abd al-Hamid Hakim, Mabadi'
                                                            Awwaliyyah (Padang-Panjang). Juga bisa disebut karya yang
akan hak dan kewajiban menjadi tulang punggung              lebih teoritis oleh 'Abd al-Wahhab al-Khallaf, 'Ilm Ushu
pendidikan Islam tradisional, dan itu pada                  al-Fiqh (Kuwait: al-Dar al-Kuwaitiyyah, 1388 H/1968 M).
                                                            Tentu saja dari masa klasik ialah karya al-Syafi'i, al-Risalah
urutannya tercermin dalam kuatnya kepastian
                                                            (lih. terjemah Indonesianya).

                                                                                                                             41
Selanjutnya, beberapa unsur cita-cita pokok        merisaukan, karena tidak jarang terjerembab ke
     Islam berkenaan dengan kemasyarakatan juga             dalam intuisisme pribadi yang sangat subyektif.
     lebih nampak pada ilmu fiqh. Prinsip persamaan         Maka agaknya benarlah al-Ghazali yang hendak
     manusia (egalitarianisme) tampil kuat sekali           menyatukan itu semua dalam suatu disiplin ilmu
     dalam ilmu fiqh, dalam bentuk penegasan atas           keagamaan yang menyeluruh dan padu.
     persamaan setiap orang di hadapan hukum.
     Maka terkait dengan itu juga prinsip keadilan.
     Hal ini berbeda, misalnya, dengan ilmu tasawuf,
     khususnya yang berbentuk gerakan tarekat atau
     sufisme populer, yang sering memperkenalkan
     susunan sosial yang hirarkis, dengan otoritas
     keruhanian pimpinan yang menegaskan. Ilmu
     fiqh juga mempunyai kelebihan atas ilmu kalam,
     apalagi falsafah, dalam hal bahwa orientasi
     alamiahnya (praxis) sangat ditekankan. Sementara
     kalam dan falsafah sangat teoretis, malah
     spekulatif. Karena itu banyak gerakan reformasi
     sosial dalam Islam yang bertitik tolak dari doktrin-
     doktrin fiqh.
         Tetapi, disebabkan oleh wataknya sendiri,
     ilmu fiqh menunjukkan kekurangan, yaitu titik
     beratnya yang terlalu banyak kepada segi-segi
     lahiriah. Di bidang keagamaan, eksoterisisme ini
     lebih-lebih merisaukan, sehingga muncul kritik-
     kritik, khususnya dari kaum Sufi. Tapi orientasi
     kedalaman (esoterisisme) kaum Sufi juga sering

42
Kekuatan dan Kelemahan Paham Asyari
                                                                                                          4
   Sebagai Doktrin Aqidah Islamiah
P    okok pembicaraan kita ialah paham
     Asy'ari dalam tinjauan segi kekuatan dan
kelemahannya. Tetapi meskipun pembicaraan
                                                  karena Islam di Indonesia bermazhab Syafi'i dan
                                                  seperti di mana-mana, kaum Syafi'i kebanyakan
                                                  menganut 'aqidah Asy'ari. Ini berbeda dengan
ini menyangkut penilaian kritis terhadap paham    kaum Sunni bermazhab Hanafi (di Asia Daratan)
itu, namun kritik itu an sich tidaklah menjadi    yang kebanyakan menganut 'aqidah Maturidi, dan
tujuannya. Pembicaraan kita bertolak pada usaha   dari kaum Sunni bermazhab Hanbali (di Arabia)
untuk mengenali segi-segi positif paham itu dan   yang tidak menganut Asy'ari maupun Maturidi,
mencari jalan bagaimana mengembangkannya          melainkan mempunyai aliran sendiri khas Hanbali.
agar dapat menjadi suatu sumbangan kepada         Pembela paling tegas paham Sunnah (lengkapnya,
tantangan hidup masa kini. Juga dengan            Ahl Sunnah wa al-Jama'ah — baca: "Ahlusunnah
sendirinya pada usaha mengenali segi-segi         waljama'ah") di negeri kita, yaitu Nahdlatul 'Ulama',
negatifnya serta sedapat mungkin menemukan        dalam muktamarnya di Situbondo akhir 1984
jalan untuk menghindari atau menghilangkannya.    yang lalu merumuskan dan menegaskan bahwa
    Relevansi pembicaraan ini ialah bahwa         paham Sunnah ialah paham yang dalam 'aqidah
sebagian besar kaum Muslimin Indonesia, jika      menganut al-Asy'ari atau al-Maturidi. Sedangkan
tidak seluruhnya, menganut paham Asy'ari          kelompok-kelompok lain, seperti Muhammadiyah
di bidang 'aqidah. Pertama, karena Islam di       sebagai yang pertama-tama dan terbesar, yang
Indonesia beraliran Sunni, sehingga tidak         biasanya oleh Nahdlatul 'Ulama' dipandang
menganut aqidah Syi'ah atau Mu'tazilah. Kedua,    sebagai tidak tegas berpaham Ahl al-Sunnah wa
al jama'ah (namun sebenarnya dalam banyak hal          ibn 'Abd-al-Wahhab, terhadap beberapa segi
     malah sangat Sunni), juga masih tetap menganut         paham Asy'ari itu. Maka membicarakan paham
     al-Asy'ari dalam 'aqidah, tanpa banyak mengambil       Asy'ari berarti membicarakan pandangan
     alih kritik para pemikir modernis Islam seperti        kepercayaan agama yang paling kuat dan luas di
     Muhammad 'Abduh, ataupun pemikir reformis              negeri kita.
     seperti Ibn Taymiyyah dan, apalagi, Muhammad

                                              Imam al-Asy'ari
         Jika disebut paham Asy'ari, kita maksudkan         sudah konsolidasi paham Sunnah itu, yaitu dengan
     keseluruhan penjabaran simpul ('aqidah) atau           penalaran ortodoksnya di bidang keimanan atau
     simpul-simpul ('aqa'id) kepercayaan Islam dalam        'aqidah.
     Ilmu Kalam yang bertitik tolak dari rintisan seorang       Penalaran al-Asy'ari disebut ortodoks karena
     tokoh besar pemikir Islam, Abu al-Hasan 'Ali           lebih setia kepada sumber-sumber Islam sendiri
     al-Asy'ari dari Basrah, Iraq, yang lahir pada 260      seperti Kitab Allah dan Sunnah Nabi daripada
     H./873 M. dan wafat pada 324 H./935 M. Jadi dia        penalaran kaum Mu'tazilah dan para Failasuf.
     tampil sekitar satu abad setelah Imam al-Syafi'i       Meskipun mereka ini semuanya, dalam analisa
     (wafat pada 204 H./819 M.), atau setengah abad         terakhir, harus dipandang secara sebenarnya
     setelah al-Bukhari (wafat pada 256 H./870 M.) dan      tetap dalam lingkaran Islam, namun, dalam
     hidup beberapa belas tahun sezaman dengan              pengembangan argumen-argumen bagi paham
     pembukuan hadits yang terakhir dari tokoh yang         yang mereka bangun, mereka sangat banyak
     enam, yaitu al-Tirmidzi (wafat pada 279 H./892 M.).    menggunakan bahan-bahan falsafah Yunani.
     Dengan kata lain, al-Asy'ari tampil pada saat-saat     Banyaknya penggunaan bahan falsafah Yunani itu
     konsolidasi paham Sunnah di bidang hukum atau          memberi ciri pokok pemikiran kaum Mu'tazilah
     fiqh, dengan pembukuan hadits yang menjadi             dan para Failasuf sehingga mereka melakukan
     bagian mutlaknya, telah mendekati penyelesaian.        pendekatan ta'wil atau interpretasi metaforis
     Dan penampilan al-Asy'ari membuat lengkap              terhadap teks-teks dalam Kitab dan Sunnah yang

44
mereka anggap mutashabihat karena, misalnya,               al-Asy'ari menggunakan argumen-argumen
mengandung deskripsi tentang Tuhan yang                    logis dan dialektis ia peroleh dari latihan dan
antropomorfis (Tuhan menyerupai manusia seperti            pendidikannya sendiri sebagai seorang Mu'tazili.
punya tangan, mata, bertahta di atas Singgasana            Ia memang kemudian, pada usia empat puluh
atau Arasy, bersifat senang atau ridla, murka atau         tahun, menyatakan diri lepas dari paham lamanya,
ghadlab, dendam atau intiqam, terikat waktu                dan bergabung dengan paham kaum Hadits (Ahl
seperti menunggu atau intidhar, dan seterusnya).           al-Hadits) yang dipelopori kaum Hanbali, yang
Disebabkan kuatnya peranan dan unsur logika dan            bertindak sebagai pemegang bendera ortodoksi,
dialektika dalam penalaran kaum Mu'tazilah dan             sehingga sering diisyaratkan sebagai kaum Sunni
para Failasuf ini, maka sistem mereka disebut Ilmu         par excellence. Namun al-Asy'ari nampak tidak
Kalam, yakni, Ilmu Logika atau Dialektika. Maka jika       mungkin melepaskan diri sepenuhnya dari metode
penalaran mereka itu merupakan sebuah teologi,             logis dan dialektis, yang kali ini ia gunakan justru
lebih tepat disebut Teologi Rasional, Teologi              untuk mendukung dan membela paham Ahl
Dialektis atau Teologi Spekulatif, kadang-kadang           al-Hadits. Disebabkan oleh metodologinya itu
disebut Teologi Skolastik, juga disebut Teologi            mula-mula al-Asy'ari tetap mencurigakan bagi
Alami (Natural Teology), bahkan Teisme Falsafati           kaum Hadits pada umumnya, sehingga ia merasa
(Philosophical Theism).(1)                                 perlu membela diri melalui sebuah risalahnya
    Tetapi penggunaan argumen-argumen logis                yang sangat penting, Istihsan al-Khawdl fi 'Ilm
dan dialektis tidak terbatas hanya kepada kaum             al-Kalam ("Anjuran untuk Mendalami Ilmu Kalam",
Mu'tazilah dan para Failasuf saja. Kaum Asy'ari            yakni, Ilmu Logika). Karena ilmu logika formal,
juga banyak menggunakannya, meskipun metode                atau silogisme, dipelajari orang-orang Muslim
ta'wil yang menjadi salah satu akibat penggunaan           dari Aristoteles (maka dalam bahasa Arab disebut
itu hanya menduduki tempat sekunder dalam                  secara lengkap sebagai al-manthiq al-aristhi, logika
sistem Asy'ari. Kemampuan Abu al-Hasan 'Ali                Aristoteles), pemikiran Ilmu Kalam adalah juga
                                                           dengan sendirinya bersifat Aristhi atau Aristotelian,
  1  William Lane Craig, The Kalam Cosmological Argument
                                                           dengan ciri utama pendekatan rasional-deduktif.
     (New York: Barnes & Noble, 1979), h. 4.

                                                                                                                   45
(Segi ini pada umumnya, dan segi-segi tertentu       Muslim seluruh dunia, paham Asy'ari adalah
     konsep dalam Kalam pada khususnya, merupakan         identik dengan paham Sunni, dan, lebih dari
     alasan kritik dan penolakan oleh kaum Hanbali atas   itu, bahkan Ilmu Kalam pun sekarang menjadi
     Kalam, termasuk yang dikembangkan oleh kaum          hampir terbatas hanya kepada metode penalaran
     Asy'ari, dengan kontroversi dan polemik yang         Asy'ari. Maka dilihat dari kadar penerimaannya
     masih berlangsung sampai hari ini).                  oleh sedemikian besar kaum Muslim, dan dari
          Walaupun demikian, sungguh sangat menarik       bagaimana penerimaan itu melintasi batas-batas
     bahwa dalam pergumulan pemikiran yang sengit         kemazhaban dalam fiqh, paham Asy'ari adalah
     di bidang teologi itu akhirnya Imam Abu al-Hasan     paham yang paling luas menyebar dalam Dunia
     'Ali al-Asy'ari dari Basrah tersebut memperoleh      Islam, sehingga al-Asy'ari bisa disebut sebagai
     kemenangan besar, jika bukan terakhir atau final.    pemikir Islam klasik yang paling sukses. Tidak ada
     Ini terutama sejak tampilnya Imam al-Ghazali         tokoh pemikir dalam Islam yang dapat mengklaim
     sekitar dua abad setelah al-Asy'ari, yang dengan     sedemikian banyak penganut dan sedemikian luas
     kekuatan argumennya yang luar biasa, disertai        pengaruh buah pikirannya seperti Abu al-Hasan 'Ali
     contoh kehidupannya yang penuh zuhud,                al-Asy'ari. Maka sebutan yang paling umum untuk
     mengembangkan paham Asy'ari menjadi standar          tokoh ini ialah Syaykh Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah,
     paham Ortodoks atau Sunni dalam 'aqidah.             sebagaimana senantiasa digunakan pada lembaran
     Karena itu, seperti telah disinggung di atas, pada   judul karya-karyanya yang cukup banyak dan kini
     saat sekarang ini, untuk sebagian besar kaum         telah diterbitkan.

                             Beberapa Inti Pokok Paham Asy'ari
        Sesungguhnya letak keunggulan sistem Asy'ari      tidaklah menggunakannya sebagai kerangka
     atas lainnya ialah segi metodologinya, yang          kebenaran itu an sich (seperti terkesan hal itu ada
     dapat diringkaskan sebagai jalan tengah antara       pada para Failasuf), melainkan sekedar alat untuk
     berbagai ekstremitas. Maka ketika menggunakan        membuat kejelasan-kejelasan, dan itu pun hanya
     metodologi manthiq atau logika Aristoteles, ia       dalam urutan sekunder. Sebab bagi al-Asy'ari,

46
sebagai seorang pendukung Ahl al-Hadits, yang         dahulu al-Asy'ari menuturkan paham Ahl al-Hadits
primer ialah teks-teks suci sendiri, baik yang dari   seperti yang ada pada kaum Hanbali, kemudian
Kitab maupun yang dari Sunnah, menurut makna          mengakhirinya dengan penegasan bahwa ia
harfiah atau literernya. Oleh karena itu kalaupun     mendukung paham itu dan menganutnya. Untuk
ia melakukan ta'wil, ia lakukan hanya secara          memperoleh gambaran yang cukup lengkap
sekunder pula, yaitu dalam keadaan tidak bisa lagi    tentang hal yang amat penting ini, di sini dikutip
dilakukan penafsiran harfiah. Hasilnya ialah suatu    beberapa persoalan mendasar dari keterangan al-
jalan tengah antara metode harfi kaum Hanbali         Asy'ari yang dimaksud:
dan metode ta'wili kaum Mu'tazili. Di tengah-             Keseluruhan yang dianut para pendukung
tengah berkecamuknya dengan hebat polemik dan         Hadits dan Sunnah ialah: mengakui adanya Allah,
kontroversi dalam dunia intelektual Islam saat itu,   para malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, dan semua
metode yang ditempuh al-Asy'ari ini merupakan         yang datang dari sisi Allah dan yang dituturkan
jalan keluar yang memuaskan banyak pihak. Itulah      oleh para tokoh terpercaya berasal dari Rasulullah
alasan utama penerimaan paham Asy'ari hampir          s.a.w., tanpa mereka menolak sedikit pun juga dari
secara universal, dan itu pula yang membuatnya        itu semua. Dan Allah —Subhanahu— adalah Tuhan
begitu kukuh dan awet sampai sekarang.                Yang Maha Esa, Unik (tanpa bandingan), tempat
    Meskipun begitu, inti pokok paham Asy'ari         bergantung semua makhluk, tiada Tuhan selain
ialah Sunnisme. Hal ini ia kemukakan sendiri dalam    Dia, tidak mengambil isteri, tidak juga anak; dan
bukunya yang sangat bagus dan sistematis, yaitu       bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya;
Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin        dan bahwa surga itu nyata, neraka itu nyata, dan
("Pendapat-pendapat Kaum Islam dan Perselisihan       hari kiamat pasti datang tanpa diragukan lagi,
Kaum Bersembahyang"), sebuah buku heresiografi        dan bahwa Allah membangkitkan orang yang ada
(catatan tentang berbagai penyimpangan atau           dalam kubur.
bid'ah) dalam Islam yang sangat dihargai karena           Dan bahwa Allah —subhanahu— ada di atas
kejujuran dan obyektifitas dan kelengkapannya.        'Arasy (Singgasana), sebagaimana difirmankan
Dalam meneguhkan pahamnya sendiri, terlebih           (Q., 20:5), "Dia Yang Maha Kasih, bertahta di atas

                                                                                                           47
Singgasana"; dan bahwa Dia mempunyai dua                 difirmankan oleh Dia Yang Maha Tinggi dan Maha
     tangan tanpa bagaimana (bi la kayfa) sebagaimana         Agung (Q., 81:29), "Dan kamu (manusia) tidaklah
     difirmankan (Q., 37:75), "Aku menciptakan dengan         (mampu) menghendaki sesuatu jika tidak Allah
     kedua tangan-Ku", dan juga firmanNya (Q., 5:64),         menghendakinya", dan sebagaimana diucapkan
     "Bahkan kedua tangan-Nya itu terbuka lebar"; dan         oleh orang-orang Muslim, "Apa pun yang
     Dia itu mempunyai dua mata tanpa bagaimana,              dikehendaki Allah akan terjadi, dan apa pun yang
     sebagaimana difirmankan (Q., 54:14), "Ia (kapal)         tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi."
     itu berjalan dengan mata Kami"; dan Dia itu                   Mereka juga berpendapat bahwa tidak seorang
     mempunyai wajah, sebagaimana difirmankan (Q.,            pun mampu melakukan sesuatu sebelum Dia
     55:27), "Dan tetap kekallah Wajah Tuhanmu Yang           (Allah) melakukannya, juga tidak seorang pun
     Maha Agung dan Maha Mulia."                              mampu keluar dari pengetahuan Allah, atau
         Dan nama-nama Allah itu tidak dapat dikatakan        melakukan sesuatu yang Allah mengetahui bahwa
     sebagai lain dari Allah sendiri seperti dikatakan        ia tidak melakukannya.
     oleh kaum Mu'tazilah dan Khawarij. Mereka                     Mereka mengakui bahwa tidak ada Pencipta
     (Ahl al-Sunnah) juga mengakui bahwa pada                 selain Allah, dan bahwa keburukan para hamba
     Allah —subhanahu— ada pengetahuan ('ilm),                (manusia) diciptakan oleh Allah, dan bahwa
     sebagaimana difirmankan (Q., 4:166), "Diturunkan-        semua perilaku manusia diciptakan Allah 'azza
     Nya ia (al-Qur'an) dengan pengetahuanNya", dan           wa jalla, dan bahwa manusia itu tidak berdaya
     juga firman-Nya (Q., 35:11), "Dan tidaklah ia (wanita)   menceritakan sedikit pun dari padanya.
     mengandung (bayi) perempuan, juga tidak                       Dan bahwa Allah memberi petunjuk kepada
     melahirkannya, kecuali dengan pengetahuan-               kaum beriman untuk taat kepada-Nya, serta
     Nya."...                                                 menghinakan kaum kafir. Allah mengasihi kaum
         Mereka (Ahl al-Sunnah) juga berpendapat              beriman, memperhatikan mereka, membuat
     bahwa tidak ada kebaikan atau keburukan di bumi          mereka orang-orang saleh, membimbing mereka,
     kecuali yang dikehendaki Allah, dan segala sesuatu       dan Dia tidak mengasihi kaum kafir, tidak membuat
     terjadi dengan kehendak Allah, sebagaimana               mereka saleh, serta tidak membimbing mereka.

48
Seandainya Allah membuat mereka saleh, tentulah                 Selanjutnya al-Asy'ari menuturkan pokok-pokok
mereka menjadi saleh, dan seandainya Allah                  pandangan Sunni lainnya seperti bahwa al-Qur'an
membimbing mereka tentulah mereka menjadi                   adalah kalam Ilahi yang bukan makhluk, bahwa
berpetunjuk.                                                kaum beriman akan melihat Allah di surga "seperti
    Dan Allah —subhanahu— berkuasa membuat                  melihat bulan purnama di waktu malam", bahwa
orang-orang kafir itu saleh, mengasihi mereka               Ahl al-Qiblah (orang yang melakukan sembahyang
sehingga menjadi beriman; tetapi Dia berkehendak            dengan menghadap kiblat di Makkah) tidak boleh
untuk tidak membuat mereka saleh dan (tidak)                dikafirkan meskipun melakukan dosa besar seperti
mengasihi mereka sehingga menjadi beriman,                  mencuri dan zina, bahwa Nabi akan memberi
melainkan Dia berkehendak bahwa mereka itu kafir            syafa'at kepada umatnya, termasuk kepada
adanya seperti Dia ketahui, menghinakan mereka,             mereka yang melakukan dosa-dosa besar, bahwa
menyesatkan mereka dan memateri hati mereka.                iman menyangkut ucapan dan perbuatan yang
    Dan bahwa baik dan buruk dengan keputusan               kadarnya bisa naik dan turun, bahwa nama-nama
(qadla') dan ketentuan (qadar) Allah, dan mereka            Allah adalah Allah itu sendiri (bukan sesuatu
(Ahl al-Sunnah) beriman kepada qadla' dan qadar             yang wujudnya terpisah), bahwa seseorang
Allah itu, yang baik dan yang buruk, serta yang             yang berdosa besar tidak mesti dihukumi masuk
manis dan yang pahit. Mereka juga beriman bahwa             neraka, sebagaimana seseorang yang bertauhid
mereka tidak memiliki pada diri mereka sendiri              tidak mesti dihukumi masuk surga sampai Allah
(memberi) manfaat atau madarat, kecuali dengan              sendiri yang menentukan, dan bahwa Allah
yang dikehendaki Allah, sebagaimana difirmankan-            memberi pahala kepada siapa yang dikehendaki
Nya, dan mereka (Ahl al-Sunnah) itu menyerahkan             dan memberi siksaan kepada siapa saja yang
segala perkaranya kepada Allah —subhanahu—                  dikehendaki, bahwa apa saja yang sampai ke
dan mengakui adanya kebutuhan kepada Allah                  tangan kita dari Rasulullah s.a.w. melalui riwayat
dalam setiap waktu serta keperluan kepada-Nya               yang handal harus diterima, tanpa boleh bertanya:
dalam setiap keadaan.(2)                                        Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin, edisi Muhammad Muhy-
                                                                al-Din 'Abd-al Hamid 2 jilid (kairo: Maktabat al-Nahdlat
 2  Abd al-Hasan 'Ali ibn Isma'il al-Asy'ari, Maqalat al-       al-Mishriyyah, 1969), jil, 1, hh. 345-50.

                                                                                                                            49
"Bagaimana?" ataupun "Mengapa?", karena               jahat (fajir).
     semuanya itu bid'ah.                                      Disebutkan pula bahwa kaum Sunni
          Juga bahwa Allah tidak memerintahkan             mempercayai akan munculnya Dajjal di
     kejahatan, melainkan melarangnya; dan Dia             akhir zaman, dan bahwa 'Isa al-Masih akan
     memerintahkan kebaikan dengan tidak meridlai          membunuhnya. Lalu ditegaskannya pula bahwa
     kejahatan, meskipun Dia menghendaki kejahatan         Ahl al-Sunnah itu berpendapat harus menjauhi
     itu.                                                  setiap penyeru bid'ah; harus rajin membaca
          Dan bahwa keunggulan para sahabat Nabi           al-Qur'an, mengkaji Sunnah dan mempelajari
     seperti manusia pilihan Allah harus diakui, dengan    fiqh dengan rendah hati, tenang, dan budi yang
     menghindarkan diri dari pertengkaran tentang          baik; harus berbuat banyak kebaikan dan tidak
     mereka, besar maupun kecil, dan bahwa urutan          menyakiti orang; harus meninggalkan gunjingan,
     keunggulan Khalifah yang empat ialah pertama-         adu domba dan umpatan, dan terlalu mencari-cari
     tama Abu Bakr, kemudian 'Umar, disusul 'Utsman,       makan dan minum!
     dan diakhiri dengan 'Ali.                                 Demikian kutipan sebagian dari keterangan
          Selanjutnya, menurut al-Asy'ari, paham Sunni     al-Asy'ari yang panjang-lebar. Pada akhir
     juga mengharuskan taat mengikuti imam atau            keterangannya itu, al-Asy'ari menyatakan: "Dan
     pemimpin, dengan bersedia bersembahyang               kita pun berpendapat seperti semua pendapat
     sebagai ma'mum di belakang mereka, tidak peduli       yang telah kita sebutkan itu, dan kepadanyalah kita
     apakah mereka itu orang baik (barr) ataupun orang     bermazhab."(3)
                                                             3  Ibid., h. 350.


                                   Alur Argumen Kalam Asy'ari
         Disamping menuturkan 'aqidah Ahl Al-Sunnah        dialektisnya sebagaimana ia pelajari dari para guru
     yang kemudian ia nyatakan sebagai ia ikuti sendiri    Mu'tazilah. Dan pengembangannya oleh al-Asy'ari,
     itu, al-Asy'ari, seperti telah disinggung di depan,   yang kemudian lebih dikembangkan lagi oleh
     juga mengembangkan alur argumen logis dan             para pengikutnya, terutama al-Ghazali, menjadi

50
tumpuan kekuatan paham Asy'ari itu sebagai              lain) semuanya saling berlawanan, namun kita
doktrin dalam 'aqidah Islamiah kaum Sunni. Praktis      dapati dalam kenyataan tergabung (murakkab);
semua nuktah kepercayaan dalam Islam ia dukung          penggabungan itu memerlukan sebab, yaitu
dengan argumen-argumen logis dan dialektis,             Pencipta.
sebagian bahkan tidak lagi merupakan kelanjutan             (2) Argumen dari pengalaman: Penciptaan dari
argumen yang telah ada sebelum dia sendiri,             ketiadaan (al-ijad min al-'adam, creatio ex nihilo)
melainkan menjadi kontribusinya yang orisinal           tidaklah berbeda dari pengalaman kita, sebab,
dalam pemikiran Keislaman.                              melalui perubahan, bentuk lama hilang dan bentuk
    Sebagaimana halnya dengan setiap                    baru muncul dari ketiadaan.
pembahasan teologis, pusat argumentasi Kalam                (3) Argumen dari adanya akhir untuk gerak,
Asy'ari berada pada upayanya untuk membuktikan          waktu, dan obyek-obyek temporal: gerak tidak
adanya Tuhan yang menciptakan seluruh jagad             mungkin berasal dari masa tak berpermulaan,
raya, dan bahwa jagad raya itu ada karena               sebab mustahil bagi gerak itu mundur dalam
diciptakan Tuhan "dari ketiadaan" (min al-'adam,        waktu secara tak terhingga (tasalsul, infinite,
ex nihilo). Karena tidak mungkin memaparkan             temporal regress), sebab bagian yang terhingga
keseluruhan argumen Kalam itu, maka di sini             tidak mungkin ditambahkan satu sama lain untuk
dikutipkan penjelasan sarjana Muslim moderen, al-       menghasilkan keseluruhan yang tak terhingga;
Alousi, tentang argumen Kalam berkenaan dengan          karena itu jagad dan gerak tentu mempunyai
penciptaan alam raya ini. Menurut al-Alousi, ada        permulaan. Atau lagi, gerak tidak mungkin ada
enam argumen yang digunakan para tokoh Ilmu             dari awal tanpa permulaan (azal, eternity), sebab
Kalam untuk membuktikan tidak abadinya alam             mustahil bagi gerak itu mundur dalam waktu
raya:                                                   secara tak terhingga, karena sesuatu yang tak
    (1) Argumen dari sifat berlawanan benda-            terhingga tidak dapat dilintasi. Atau lagi, jika pada
benda sederhana (basith): unsur-unsur dasar             suatu titik waktu mana pun, deretan tak terhingga,
alam raya (tanah, air, dan lain-lain) dan sifat-sifat   telah berlangsung, maka pada titik tertentu
dasarnya (panas, dingin, berat, ringan dan lain-        sebelumnya hanya suatu deretan terhingga saja

                                                                                                                51
yang telah berlangsung; tetapi titik tertentu itu                dari argumen itu diwarisi para pemikir Muslim
     terpisah dari lainnya oleh suatu sisipan yang                    dari falsafah Yunani. Beberapa failasuf Islam
     terhingga; oleh karena itu seluruh deretan waktu                 seperti Ibn Rusyd dan al-Suhrawardi memang
     itu terhingga dan diciptakan.                                    menyebutkan nama Yahya al-Nahwi (Yahya si Ahli
         (4) Argumen dari keterhinggaan jagad:                        Tatabahasa, yaitu John Philoponus, meninggal
     karena jagad ini tersusun dari bagian-bagian                     sekitar tahun 580 M.), seorang pemikir Nasrani dari
     yang terhingga, maka ia pun terhingga pula;                      Iskandar, Mesir, telah merintis argumen "kalami"
     segala sesuatu yang terhingga adalah sementara;                  untuk adanya Tuhan dan terciptanya alam raya.
     oleh karena itu jagad adalah sementara, yakni,                   Namun di tangan kaum Muslim, khususnya para
     mempunyai suatu permulaan dan diciptakan.                        penganut paham Asy'ari, dan lebih khusus lagi al-
         (5) Argumen dari kemungkinan (imkan,                         Ghazali pribadi, argumen itu berkembang seperti
     contingency): jagad ini tidaklah (secara rasional)               ringkasan al-Alousi di atas, dan menjadi salah satu
     pasti terwujud; oleh karena itu harus terdapat                   segi kontribusi alam pikiran Islam yang paling
     faktor penentu (mukhashshish, murajjih) yang                     orisinal kepada alam pikiran umat manusia.
     membuat jagad itu terwujud, yaitu Pencipta.                          Karena itu semua, maka Ilmu Kalam menjadi
         (6) Argumen dari kesementaraan (huduts,                      karakteristik pemikiran mendasar yang amat
     temporality): benda tidak mungkin lepas dari                     khas Islam, yang membuat pembahasan teologis
     kejadian ('aradl, accident) yang bersifat sementara;             dalam agama itu berbeda dari yang ada dalam
     apa pun yang tidak dapat terwujud kecuali                        agama lain mana pun, baik dari segi isi maupun
     dengan hal yang bersifat sementara tentu                         metodologi. Sungguh sangat menarik bahwa
     bersifat sementara pula; karena itu seluruh jagad                dalam perkembangan teologis umat manusia,
     raya adalah sementara (hadits) dan tentu telah                   Ilmu Kalam seperti yang dipelopori oleh al-Asy'ari
     terciptakan (muhdats).(4)                                        dan dikembangkan oleh al-Ghazali itu telah
         Sudah diisyaratkan di atas bahwa sebagian                    mempengaruhi banyak agama di dunia, khususnya
                                                                      yang bersentuhan langsung dengan Islam, yaitu
       4  Al-Alousi, sebagaimana dikutip dalam Craig, op. cit., hh.
                                                                      Yahudi dan Kristen, sebegitu rupa. Sehingga
          7-8.

52
banyak para pemikir Yahudi sendiri memandang                     Sekarang ini, di zaman Moderen, para pengikut
bahwa agama Yahudi seperti yang ada sekarang ini             paham Asy'ari boleh merasa lebih mantap dan
adalah agama Yahudi yang dalam bidang teologi                berbesar hati, sebab, sepanjang pembahasan
telah mengalami "pengislaman", seperti tercermin             William Craig, seorang ahli filsafat moderen dari
dalam pembahasan buku Austryn Wolfson,                       Berkeley, California, ilmu pengetahuan mutakhir,
Repercussion of Kalam in Jewish Philosophy                   khususnya teori-teori tentang asal kejadian alam
("Pengaruh Kalam dalam Falsafah Yabudi").(5)                 raya seperti teori ledakan besar dalam Astronomi
    Dan William Craig mengisyaratkan bahwa                   moderen, sangat menunjang argumen-argumen
berbagai polemik teologis dan filosofis dalam                Ilmu Kalam, khususnya dalam pandangan bahwa
Yahudi dan Kristen adalah karena pengaruh, dan               alam raya berpermulaan dalam suatu titik waktu di
merupakan kelanjutan, dari polemik teologis                  masa lampau, dan bahwa ia diciptakan dari tiada.
dan filosofis dalam Islam. Seperti kita ketahui,             Sebagai seorang failasuf non-religi, Craig tetap
dalam Islam terjadi polemik antara Kalam                     skeptis tentang apakah Tuhan itu mempunyai sifat-
(ortodoks) dengan falsafah, diwakili oleh polemik            sifat seperti yang dibicarakan dalam Ilmu Kalam.
posthumous antara al-Ghazali (Tahafut al-Falasifah,          Namun ia menyimpulkan pembahasannya dengan
"Kerancuan para Failasuf') dan Ibn Rusyd (Tahafut            mengakui validitas argumen Kalam tentang
al-Tahafut, "Kerancuannya Kerancuan"). Dalam                 adanya Tuhan:
Yahudi, polemik yang paralel juga telah terjadi,                 Jadi telah disimpulkan tentang adanya suatu
yaitu antara Saadia (pengaruh Kalam al-Ghazali)              Khaliq yang personal bagi alam raya yang ada
dengan Maimonides (pengaruh falsafah Ibn Rusyd),             tanpa berubah dan lepas sebelum penciptaan dan
dan dalam Kristen polemik serupa ialah antara                dalam waktu sesudah penciptaan. Inilah inti pusat
Bonaventure (pengaruh Kalam al-Ghazali) dan                  apa yang oleh kaum Ketuhanan dimaksudkan
Thomas Aquinas (pengaruh falsafah Ibn Rusyd).(6)             dengan "Tuhan". Kita tidak melangkah lebih jauh
                                                             dari itu. Argumen kosmologis kalam membimbing
  5  Diterbitkan oleh Harvard University Press, Cambridge,   kita kepada adanya Khaliq yang personal bagi alam
     Mass., 1979.
                                                             raya, namun perkara apakah Khaliq ini Mahakuasa,
  6  Craig, op. cit., "Pengantar".

                                                                                                                 53
baik, sempurna, dan seterusnya, kita tidak akan                         penggerak yang tak tergerakkan, dan bahwa Dia
     membahas.(7)                                                            tetap jauh dan lepas dari jagad raya yang telah
         Meskipun skeptis tentang sifat-sifat Tuhan,                         diciptakanNya.(8)
     namun, juga sebagai seorang failasuf non-religi,                            Tentu saja para ahli Ilmu Kalam menolak konsep
     William Craig mengisyaratkan bahwa setelah                              Aristoteles itu. Namun tetap bahwa kesimpulan
     terjadi kesimpulan mantap tentang adanya Tuhan,                         failasuf moderen tersebut membuktikan segi
     sepatutnya kita melihat apakah Tuhan itu "pernah"                       paling tangguh dari paham Asy'ari sebagai doktrin
     menyatakan Diri melalui wahyu-Nya seperti                               'aqidah Islamiah. Paham Asy'ari dengan deretan
     dikatakan dalam agama-agama, ataukah tidak. Jika                        argumennya itu, seperti telah disebutkan, telah
     jawabnya afirmatif, itu berarti landasan keabsahan                      berjasa ikut memperkokoh konsep Ketuhanan
     bagi agama. Dan kalau negatif, maka barangkali                          dalam agama-agama besar, khususnya Islam
     Aristoteles benar bahwa Tuhan itu adalah                                sendiri, serta Yahudi dan Kristen. Dan jika Craig
       7  "We have thus concluded to a personal Creator of the               benar, paham Asy'ari juga akan berjasa ikut
          universe who exists changelessly and independently prior to
          creation and in time subsequent to creation. This is a central     memperkokoh konsep Ketuhanan bagi manusia
          core of what theists mean by "God". Further than this we           zaman mutakhir dengan ilmu-pengetahuan dan
          shall not go. The Kalam cosmological argument leads us to
          a personal Creator of the universe, but as to whether this
                                                                             astronomi moderennya.
          Creator ia omniscient, good, perfect, and so forth, we shall not
          inquire". (Ibid., h. 152).                                           8  Ibid., hh. 152-3.



                                               Masalah Perilaku Manusia
         Tanpa kehilangan pandangan tentang                                  Dalam batasan ruang dan waktu, kita akan hanya
     segi-segi kuat di atas itu, pembicaraan tentang                         menyinggung satu segi saja yang paling relevan
     paham Asy'ari tidak mungkin lepas dari segi-segi                        dan juga paling banyak dijadikan sasaran kritik,
     lemahnya, baik dalam pandangan para pemikir                             yaitu pandangan dalam sistem paham Asy'ari
     Islam sendiri di luar kubu Kalam Asy'ari, maupun                        tentang perilaku manusia berkenaan dengan
     dari dalam pandangan para pemikir lainnya.                              masalah sampai di mana manusia mampu

54
menentukan sendiri kegiatannya dan sampai di        salah satu buku teks dalam paham Asy'ari:
mana ia tidak berdaya dalam masalah penentuan
kegiatan itu berhadapan dengan qudrat dan iradat       Wa 'indana li al-'abd-i kasb-un kullifa
Tuhan.                                                 Wa lam yakun mu'atstsir-an fa 'l-ta'rifa
    Dari kutipan tentang paham Ahl Al-Sunnah           Fa laysa majbur-an wa la ikhtiyar-an
yang dijabarkan al-Asy'ari di muka —dan yang ia        Wa laysa kull-an yaf' al-u ikhtiyar-an
dukung dan anut sepenuhnya— dapat kita baca            Fa in yutsibna fa bi mahdl-i al-fadl'l-i
pandangan tentang perilaku manusia, termasuk           Wa in yu'adzdzib fa bi mahdl-i al-'adl-i(9)
tentang kebahagiaan dan kesengsaraannya, yang
bernada sikap pasrah kepada nasib (fatalisme).         Artinya:
    Sesungguhnya al-Asy'ari bukanlah seorang
Jabari 'sehingga dapat disebut fatalis. Tetapi         Bagi kita, hamba (manusia) dibebani kasb,
ia juga bukan seorang Qadari yang berpaham             Namun kasb itu, ketahuilah, tidak akan
tentang kemampuan penuh manusia menentukan             berpengaruh
perbuatannya, seperti kaum Mu'tazilah dan Syi'ah.      Maka manusia tidaklah terpaksa, dan tidak pula
Al-Asy'ari ingin menengahi antara kedua paham          bebas,
yang bertentangan itu, sebagaimana dalam bidang        Dan tidak pula masing-masing itu berbuat
metodologi ia telah menengahi antara kaum              dengan kebebasan
Hanbali yang sangat naqli (hanya berdasar teks-        Jika Dia (Allah) memberi pahala kita maka
teks suci dengan pemahaman harfiah) dan kaum           semata karena murah-Nya,
Mu'tazili yang sangat 'aqli (rasional).                Dan jika Dia menyiksa kita maka semata karena
    Dalam usahanya menengahi antara jabariah           adil-Nya
dan qadariah itu, Abu Hasan al-Asy'ari tampil
dengan konsep kasb (perolehan, acquisition) yang     9  Tarjamah Sabil al-'Abid 'ala Jawharat al-Tawhid (karangan
cukup rumit. Berikut ini tiga bait syair tentang        Ibrahim al-Laqqani) oleh H. Muhammad Shalih ibn 'Umar
                                                        Samarani, (tanpa data penerbitan), hh. 146, 149, 150 don
pengertian kasb, dari kitab Jawharat al-Tawhid,
                                                        156.

                                                                                                                    55
Jadi, jelasnya, manusia tetap dibebani              Walakinnahu mukhtar-u husn-in wa saw'at-i
     kewajiban melakukan kasb melalui ikhtiarnya,            |Fa laysa bi majbur-in 'adim-i 'l-iradat-i
     namun hendaknya ia ketahui bahwa usaha itu tak          Wa lakinnahu sya'a bi khalq-i 'l-iradat-i(10)
     akan berpengaruh apa-apa kepada kegiatannya.
     Karena kewajiban usaha atau kasb itu maka               Artinya:
     manusia bukanlah dalam keadaan tak berdaya              Tidak ada jalan keluar bagi manusia dari
     seperti kata kaum Jabari, tapi karena usahanya toh      ketentuan-Nya,
     tidak berpengaruh apa-apa kepada kegiatannya            Namun manusia tetap mampu memilih yang
     maka ia pun bukanlah makhluk bebas yang                 baik dan yang buruk
     menentukan sendiri kegiatannya seperti kata kaum        Jadi bukannya ia itu terpaksa tanpa kemauan,
     Qadari. Dan jika Allah memberi kita pahala (masuk       melainkan ia berkehendak dengan terciptanya
     surga), maka itu hanyalah karena kemurahan-Nya          kemauan (dalam dirinya)
     (bukan karena amal perbuatan kita), dan jika dia
     menyiksa kita (masuk neraka) maka itu hanyalah          Begitulah, Ibn Taymiyyah melihat bahwa
     karena keadilan-Nya (juga bukan karena semata        dalam proses perkembangan paham Asy'ari,
     perbuatan kita).                                     konsep kasb yang sulit itu telah menjerumuskan
         Kutipan itu menggambarkan betapa sulitnya        para pengikutnya kepada sikap yang lebih
     memahami konsep kasb dalam paham Asy'ari.            mengarah ke Jabariah, tidak ke jalan tengah yang
     Maka tidak heran konsep itu menjadi sasaran          dikehendakinya. Ibn Taymiyyah sendiri, karena
     kritik tajam para pemikir lain, termasuk Ibn         menolak baik Qadariah maupun Jabariah, juga
     Taymiyyah yang menganggapnya sebagai salah           tampil dengan konsepnya jalan tengah, yaitu,
     satu keanehan atau absurditas Ilmu Kalam. Ibn        sebagaimana ternyata dari syair tersebut, konsep
     Taymiyyah malah menggubah syair yang dapat           bahwa Allah telah menciptakan dalam diri manusia
     dipandang sebagai tandingan konsep kasb:              10  Tarjamah Sabil al-'Abid 'ala Jawharat al-Tawhid (karangan
                                                              Ibrahim al-Laqqani) oleh H. Muhammad Shalih ibn 'Umar
                                                              Samarani, (tanpa data penerbitan), hh. 146, 149, 150 don
        Wa la makhraj-a li 'l-'abd-i 'amma qadla,
                                                              156.

56
kehendak (iradah), yang dengan iradah itu manusia
mampu memilih jalan hidupnya, baik maupun
buruk.




                                                    57
58
Disiplin Keilmuan Islam Tradisional:
                                                                                                                             5
                   Tasawuf
                (Letak dan Peran Mistisisme dalam Penghayatan Keagamaan Islam)


D    alam sebuah hadits, Rasulullah s.a.w.
     disebutkan sebagai bersabda bahwa masa
kenabian (nubuwwah) dan rahmat akan disusul
                                                                        adalah para pengganti (khalifah) Nabi yang kelak
                                                                        dikenal sebagai para khalifah yang berpetunjuk
                                                                        (al-khulafa al-rasyidun). Sedangkan masa para
oleh masa kekhalifahan kenabian (Khilafat                               khalifah yang empat itu adalah masa "kerajaan
nubuwwah) dan rahmat, sesudah itu masa kerajaan                         dan rahmat." Dari masa "kerajaan dan rahmat" itu,
(mulk) dan rahmat, kemudian masa kerajaan                               menurut Ibn Taymiyyah, yang terbaik ialah masa
(saja).(1) Ibn Taymiyyah menjelaskan bahwa masa                         "Raja" Mu'awiyah ibn Abi Sufyan di Damaskus. Ibn
"kenabian dan rahmat" itu ialah, tentu saja, masa                       Taymiyyah mengatakan bahwa di antara raja-raja
Nabi sendiri. Sedangkan masa "kekhalifahan                              tidak ada yang menjalankan kekuasaan sebaik
kenabian dan rahmat" berlangsung selama tiga                            Mu'awiyah. Dialah sebaik-baik raja Islam, dan
puluh tahun sesudah wafat Nabi s.a.w., yaitu                            tindakannya lebih baik daripada tindakan para raja
sejak permulaan kekhalifahan Abu Bakr, disusul                          mana pun sesudahnya.(2)
Umar ibn al-Khathtab, kemudian Utsman ibn                                   Pandangan Ibn Taymiyyah itu khas paham
'Affan, dan akhirnya 'Ali ibn Abi Thalib. Mereka                        Sunni, terutama dari kalangan mazhab Hanbali.
 1  Hadits ini dikutip oleh Ibn Taymiyyah dalam kitabnya,
                                                                        Malah, sesungguhnya, apa pun yang terjadi
    Minhaj al Sunnah fi Naqdl kalam al-Syi'ah wa al-Qadariyyah,         pada Mu'awiyah akan dianggap Ibn Taymiyyah
    4 jilid, (Riyadl: Maktab al-Riyadl al-Hadits, tanpa tahun), jilid
    IV, h. 121.                                                           2 Ibid
sebagai tidak bisa dipersalahkan begitu saja,                   atau wasiat berdasarkan pertalian darah). Ini
     karena dia adalah seorang Sahabat Nabi. Lebih                   memang bisa disebut sistem kerajaan seperti
     jauh, Ibn Taymiyyah masih mempunyai alasan                      dimaksudkan dalam hadits, tetapi Mu'awiyah dan
     untuk memuji anak Mu'awiyah, yaitu "Raja" Yazid                 para penggantinya, begitu pula para penguasa
     (yang oleh kaum Syi'ah dituding sebagai paling                  'Abbasiyah, menyebut diri mereka masing-masing
     bertanggungjawab atas pembunuhan amat keji                      Khalifah (dari Nabi), bukan raja. Namun tetap ada
     terhadap al-Husayn, cucunda Nabi), karena, kata                 suatu sistem yang adil telah diganti dengan sistem
     Ibn Taymiyyah, Yazid adalah komandan tentara                    yang kurang adil, jika bukannya yang zalim. Segi
     Islam yang pertama memerangi dan mencoba                        keadilan sistem kekhalifahan yang pertama tidak
     merebut Konstantinopel, sementara sebuah                        hanya ada dalam mekanisme penggantiannya
     hadits menyebutkan adanya sabda Nabi: "Tentara                  melalui pemilihan, tetapi lebih-lebih lagi
     pertama yang menyerbu Konstantinopel diampuni                   mereka itu dalam menjalankan kekuasaan dan
     (oleh Allah akan segala dosanya)."(3)                           pemerintahan. Penyebutan para pengganti Nabi
         Tetapi pandangan Ibn Taymiyyah itu berbeda                  yang pertama itu sebagai "berpetunjuk" (al-
     dengan yang ada pada banyak kelompok                            rasyidun) adalah terutama berkenaan dengan
     Islam yang lain, termasuk dari kalangan kaum                    kualitas pemerintahan mereka itu.(4)
     Sunni sendiri. Mereka ini berpendapat bahwa
                                                                       4  Pandangan yang cukup umum di kalangan orang-orang
     Mu'awiyah tanpa mengabaikan jasa-jasa                                Muslim ini menjadi dasar sarjana sosiologi terkenal,
     yang telah diperbuatnya- adalah orang yang                           Robert N. Bellah, untuk membuat penilaian -sebagaimana
                                                                          dalam kesempatan lain telah dikemukakan- bahwa Islam
     pertama bertanggung-jawab merubah sistem                             mengajarkan sistem politik yang terbuka dan "moderen."
     kekhalifahan yang terbuka (pengangkatan                              Tetapi karena prasarana sosialnya pada bangsa Arab dan dunia
                                                                          saat itu belum siap, maka sistem kekhalifahan Islam itu tidak
     pemimpin tertinggi Islam me]alui pemilihan)                          bertahan lama, dan diganti dengan sistem "kerajaan Bani
     menjadi sistem kekhalifahan yang tertutup                            Umayyah yang menurut Bellah tidak lain ialah penghidupan
                                                                          kembali sistem tribalisme Arab yang telah ada sebelum
     (pengangkatan pemimpin melalui penunjukan                            kedatangan Islam. Maka Bellah dapat memahami mengapa
      3  Sebuah hadits diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kita            orang-orang Muslim moderen, dalam mencari acuan untuk
         shahihnya, dari Abdullah ibn Umar, dikutip dan dijabarkan        cita-cita politik mereka, senantiasa merujuk kepada masa
         oleh Ibn Taymiyyah. (Ibid., jilid II, h. 329).                   kekhalifahan pertama sebagai model. (Lihat Robert N. Bellah,

60
Dalam pandangan banyak orang Muslim,                     rezim Damaskus, tidak saja oleh musuh tradisional
pemerintahan masa kekhalifahan yang pertama                  kaum Umayyah yang terdiri dari golongan
adalah suatu bentuk kesalehan dan rasa                       Syi'ah dan Khawarij, tetapi juga oleh golongan
keagamaan yang mendalam, sedangkan para                      Sunnah, yang kaum Umayyah ikut mendukung
penguasa Bani Umayyah hanya tertarik kepada                  dan melindungi pertumbuhan awalnya. Wujud
kekuasaan itu sendiri saja. Kalaupun tidak begitu            oposisi keagamaan terhadap rezim Bani Umayyah
tepat untuk masa Mu'awiyah (dan 'Umar ibn 'Abd               itu yang paling terkenal ialah yang dilakukan oleh
al'Aziz) -sebagaimana argumen untuk Mu'awiyah                seorang tokoh yang amat saleh, yaitu Hasan dari
itu telah dikutip dari Ibn Taymiyyah di atas-                Basrah (Hasan al-Bashri, wafat 728 M). Pada masa
penilaian serupa itu jelas dianggap berlaku untuk            kekuasaan Abd al-Malik ibn Marwan (memerintah
keseluruhan rezim Bani Umayyah, khususnya sejak              685-705 M), Hasan pernah menulis surat kepada
kekuasaan Marwan ibn al-Hakam (60-62 H/644-655               Khalifah, menuntut agar rakyat diberi kebebasan
M). Apalagi Marwan ini pernah menjabat sebagai               untuk melakukan apa yang mereka anggap
pembantu utama Khalifah Utsman ibn 'Affan (22-35             baik, sehingga dengan begitu ada tempat bagi
H/644-656 M), dan diduga keras berada dibalik                tanggung-jawab moral. Suratnya itu bernada
beberapa kebijakan 'Utsman yang mengundang                   menggugat praktek-praktek zalim penguasa
fitnah besar dalam sejarah Islam itu. Karenanya,             Umawi. Namun Hasan dibiarkan bebas oleh
sejak saat itu tumbuh oposisi keagamaan kepada               pemerintah, disebabkan wibawa kepribadiannya
    Beyond Belief [New York: Harper & Row, 1976], hh. 150-
                                                             yang saleh dan pengaruhnya yang amat besar
    51).                                                     kepada masyarakat luas.

                             Tasawuf Sebagai Gerakan Oposisi
   Tidak dapat dibantah bahwa dari sekian banyak             Jazirah Arabia telah menyatakan tunduk kepada
para nabi dan rasul, Nabi Muhammad s.a.w. adalah             Madinah. Dan tidak lama setelah itu, di bawah
yang paling sukses dalam melaksanakan tugas.                 pimpinan para khalifah, daerah kekuasaan politik
Ketika beliau wafat, boleh dikatakan seluruh                 Islam dengan amat cepat meluas sehingga

                                                                                                                  61
meliputi hampir seluruh bagian dunia yang saat itu      "maslak" ("suluk") dan "thariqah" yang juga
     merupakan pusat peradaban manusia, khususnya            digunakan dalam al-Quran. Sudah tentu hal
     kawasan inti yang terbentang dari Sungai Nil di         tersebut tidak seluruhnya salah. Dalam suatu
     barat sampai Sungai Amudarya (Oxus) di timur.           masyarakat yang sering terancam oleh kekacauan
     Sukses luar biasa di bidang militer dan politik         (Arab: fawdla, yakni, chaos) karena fitnah-fitnah
     itu membawa berbagai akibat yang sangat luas.           (dimulai dengan pembunuhan 'Utsman), dan jika
     Salah satunya ialah bahwa sejak dari semula             masyarakat itu meliputi daerah kekuasaan yang
     terdapat perhatian yang amat besar pada kaum            sedemikian luas dan heterogennya, kepastian
     Muslim, khususnya para penguasa, pada bidang-           hukum dan peraturan, serta ketertiban dan
     bidang yang menyangkut masalah pengaturan               kemanan, adalah nilai-nilai yang jelas amat
     masyarakat. Maka tidaklah mengherankan bahwa            berharga. Maka kesalehan pun banyak dinyatakan
     dari berbagai segi agama Islam, bagian yang             dalam ketaatan kepada ketentuan hukum,
     paling awal memperoleh banyak penggarapan               dan perlawanan kepada penguasa, khususnya
     yang serius, termasuk penyusunannya menjadi             perlawanan yang bersifat keagamaan (pious
     sistem yang integral, ialah yang berkenaan              opposition), juga selalu menyertakan tuntutan
     dengan hukum. Sedemikian rupa kuatnya posisi            agar hukum ditegakkan. Tetapi kesalehan yang
     segi hukum dari ajaran agama itu, sehingga              bertumpu kepada kesadaran hukum (betapapun
     pemahaman hukum agama menjadi identik                   ia tidak bisa diabaikan sama sekali karena
     dengan pemahaman keseluruhan agama itu                  mempunyai prioritas yang amat tinggi) akan
     sendiri, yaitu "fiqh" (yang makna asalnya ialah         banyak berurusan dengan tingkah laku lahiriah
     "pemahaman"), dan jalan hidup berhukum                  manusia dan hanya secara parsial saja berurusan
     menjadi identik dengan ke seluruhan jalan hidup         dengan hal-hai batiniah. Dengan kata-kata lain,
     yang benar, yaitu "syari'ah" (yang makna asalnya        orientasi fiqh dan syari'ah lebih berat mengarah
     ialah "jalan"). Kata-kata ''syari'ah'' itu sebenarnya   kepada eksoterisisme, dengan kemungkinan
     kurang lebih sama maknanya dengan katakata              mengabaikan esoterisme yang lebih mendalam.
     "sabil," "shirath," "minhaj," "mansak" ("manasik"),     Maka demikian pula gerakan oposisi terhadap

62
praktek-praktek regimenter pemerintahan kaum          Sufi (Shufi), konon karena pakaian mereka yang
Umawi di Damaskus. Sebagian bentuk oposisi itu        terdiri dari bahan wol (Arab: shuf) yang kasar
terjadi karena dorongan politik semata, seperti       sebagai lambang kezuhudan mereka. Dari kata-
gerakan oposisi orang-orang Arab Irak, karena para    kata shuf itu pula terbentuk kata-kata tashawwuf
penguasa Damaskus lebih mendahulukan orang-           (tasawuf), yaitu, kurang lebih, ajaran kaum Sufi.
orang Arab Syria. Tetapi sebagian lagi, justru yang   Dalam perkembangannya lebih lanjut, Tasawuf
lebih umum, oposisi itu timbul karena pandangan       tidak lagi bersifat terutama sebagai gerakan
bahwa kaum Umawi kurang "relijius." Tokoh Hasan       oposisi politik. Meskipun semangat melawan atau
dari Basrah yang telah disebutkan di atas mewakili    mengimbangi susunan mapan da]am masyarakat
kelompok gerakan oposisi jenis ini. Ketokohan         selalu merupakan ciri yang segera dapat dikenali
Hasan cukup hebat, sehingga kelompok-                 dari tingkah laku kaum Sufi, tetapi itu terjadi
kelompok penentang rezim Umayyah banyak               pada dasarnya karena dinamika perkembangan
yang mengambil ilham dan semangatnya dari             gagasan kesufian sendiri, yaitu setelah secara sadar
Hasan, yang dianggap pendiri Mu'tazilah (Washil       sepenuhnya berkembang menjadi mistisisme.
ibn 'Atha, yang dianggap pendiri Mu'tazilah,          Tingkat perkembangan ini dicapai sebagai hasil
asalnya adalah murid Hasan), begitu pula para         pematangan dan pemuncakan rasa kesalehan
'ulama dengan orientasi Sunni, dan orang-orang        pribadi, yaitu perkembangan ketika perhatian
Muslim dengan kecenderungan hidup zuhud               paling utama diberikan kepada kesadaran yang
(asketik). Mereka yang tersebut terakhir inilah,      bersifat masalah historis dan politis umat hanya
sejak munculnya di Basrah, yang disebut kaum          secara minimal saja.

                 Tarik-menarik Antara Syari'ah dan Thariqah
    Perpisahan antara kedua orientasi keagamaan       dalam kedua-duanya kemudian tumbuh
yang lahiri dan batini itu kemudian mewujudkan        cabang ilmu Keislaman yang berbeda satu dari
diri dalam divergensi sistem-sistem penalaran         yang lain, bahkan dalam beberapa hal tidak
masing-masing pihak pendukungnya. Maka                jarang bertentangan. Seolah-olah hendak

                                                                                                             63
berebut sumber legitimasi dari al-Qur'an, maka        beribadat (melulu), akan memandang mereka
     sebagaimana orientasi keagamaan eksoteris yang        ini tidak ada apa-apanya, dan tidak mereka
     bertumpu kepada masalah-masalah kehukuman             perhitungkan kecuali sebagai orang-orang
     itu mengklaim sebagai paham keagamaan (fiqh)          bodoh dan sesat, sedangkan dalam tarekat
     dan jalan kebenaran (syari'ah) par excellence,        mereka itu tidak berpegang kepada ilmu serta
     orientasi keagamaan esoteris yang bertumpu            kebenaran sedikit pun. Dan Anda juga dapatkan
     kepada masalah pengalaman dan kesadaran               banyak dari kaum Sufi serta orang-orang
     ruhani pribadi itu juga mengklaim diri sebagai        yang menempuh hidup sebagai faqir tidak
     pengetahuan keagamaan (ma'rifah) dan jalan            menganggap apa-apa kepada Syari'ah dan ilmu
     menuju kebahagiaan (thariqah) par excellence.         (hukum); bahkan mereka menganggap bahwa
     Akibatnya, polemik dan kontroversi antara             orang yang berpegang kepada Syari'ah dan
     keduanya pun tidak selamanya bisa dihindari. Ibn      ilmu (hukum) itu terputus dari Allah, dan bahwa
     Taymiyyah, misalnya, melukiskan pertentangan          para penganutnya tidak memiliki apa-apa yang
     antara orientasi eksoteris dari kaum fiqh dengan      bermanfaat di sisi Allah."(6)
     orientasi esoteris dari kaum sufi sebagai serupa
     dengan pertentangan antara kaum Yahudi dan             Ibn Taymiyyah tidak bermaksud menyalahkan
     kaum Kristen. Dengan terlebih dahulu mengutip      salah satu dari keduanya, juga tidak hendak
     firman Allah yang artinya, "Kaum Yahudi berkata,   merendahkan sufi, sekalipun ia, sebagai seorang
     'Orang-orang Kristen itu tidak ada apa-apanya,'    penganut mazhab Hanbali, sangat berat
     dan kaum Kristen berkata, 'Orang-orang Yahudi      berpegang kepada segi-segi eksoteris Islam seperti
     itu tidak ada apa-apanya'"(5) Ibn Taymiyyah        diwakili dalam Syari'ah. Karena itu, Ibn Taymiyyah
     mengatakan:                                        mengatakan,

         "Anda dapatkan bahwa banyak dari kaum Fiqh,       "Yang benar ialah bahwa apa pun yang
        jika melihat kaum Sufi dan orang-orang yang
                                                         6  Ibn Taymiyyah, Iqtidla al-Shirath al-Mustaqim (Beirut: Dar
      5  Q., s. al-Baqarah/2:13.                            al-Fikr, tanpa tahun), h. 10.

64
berdasarkan Kitab dan Sunnah pada kedua          umat dan para imam kebenaran pada umat itu.
   belah pihak itu adalah benar. Dan apa pun yang   Sesungguhnya Allah, dengan Kitab-Nya dan
   bertentangan dengan Kitab Sunnah pada kedua      petunjuk Nabi-Nya s.a.w. telah membuat kaum
   belah pihak adalah batil."(7)                    beriman tidak memerlukan apa yang ada dalam
                                                    ajaran kesufian, yang dianggap orang mampu
     Tetapi terhadap pernyataan Ibn Taymiyyah       melembutkan hati dan membersihkannya."(8)
ini, penyunting kitab Iqtidla memberi catatan           Dari kutipan-kutipan itu dapat didasarkan
demikian: "Ini dengan asumsi bahwa ajaran           betapa persimpangan jalan antara "kaum
kesufian itu ada kebenaran. Jika tidak, maka        kebatinann (ahl al-bawathin) dan "kaum kezahiran"
sebenarnya ajaran kesufian itu pada dasarnya        (ahl al-dhawahir) dapat meningkat kepada batas-
adalah ciptaan sesudah generasi utama, yang         batas yang cukup gawat. Tetapi benarkah memang
dalam masa generasi itu hidup sebaik-baik           antara keduanya tidak terdapat titik pertemuan?
 7 Ibid.                                             8 Ibid.


                           Tasawuf Sebagai Olah Ruhani
    Ketika Nabi muhammad s.a.w. disebut             ahli yang hendak mereduksikan misi Nabi
sebagai seorang Rasul yang paling berhasil dalam    Muhammad s.a.w. sebagai tidak lebih daripada
mewujudkan misi sucinya, bukti untuk mendukung      suatu gerakan reformasi sosial, dengan program-
penilaian itu ialah hal-hal yang bersifat sosial-   program seperti pengangkatan martabat kaum
politis, khususnya yang dalam bentuk keberhasilan   lemah (khususnya kaum wanita dan budak),
ekspansi-ekspansi militer. Dan Nabi Muhammad        penegakan kekuasaan hukum, usaha mewujudkan
s.a.w. sama dengan beberapa Nabi yang lain          keadilan sosial, tekanan kepada persamaan umat
seperti Musa dan Dawud a.s. adalah seorang          manusia (egalitarisme), dan lain-lain. Dalam
"Nabi Bersenjata" (Armed Prophet), sebagaimana      pandangan serupa itu, Nabi Muhammad s.a.w.
dikatakan oleh sarjana sosiologi terkenal, Max      tidak bisa disamakan dengan Nabi 'Isa al-Masih,
Weber. Karena kenyataan itu, ada sementara          karena ajaran Nabi Muhammad tidak banyak

                                                                                                        65
mengandung kedalaman keruhanian pribadi.               "Jatuhnya pilihan saya kepada Nabi Muhammad
     Tetapi Nabi Muhammad s.a.w. lebih mirip dengan         dalam urutan pertama daftar Seratus Tokoh yang
     Nabi Musa a.s. dan para rasul dari kalangan anak       berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan
     turun Nabi Ya'qub (Isra'il), yang mengajarkan          sementara pembaca dan mungkin jadi tanda
     tentang betapa pentingnya berpegang kepada             tanya sebagian yang lain. Tapi saya berpegang
     hukum-hukum Taurat (Talmudic Law). Bahwa               kepada keyakinan saya, dialah Nabi Muhammad
     Nabi Muhammad s.a.w membawa reformasi sosial           satu-satunya manusia dalam sejarah yang
     yang monumental kiranya sudah jelas. Al-Qur an         berhasil meraih sukses-sukses luar biasa ditilik
     sendiri mengaitkan keimanan serta penerimaan           dari ukuran agama maupun ruang lingkup
     seruan Nabi dengan usaha reformasi dunia (ishlah       duniawi."(10)
     al-ardl). Tetapi di berbagai tempat dalam al-Qur
     an juga disebutkan bahwa tugas reformasi dunia         Namun disamping itu al-Qur'an juga banyak
     itu tidak hanya dipunyai oleh Nabi Muhammad,        menegaskan tentang pentingnya orientasi
     melainkan juga oleh para nabi yang lain.(9) Dan     keruhanian yang bersifat ke dalam dan mengarah
     Nabi Muhammad memang telah melaksanakannya          kepada pribadi. Justru sudah menjadi kesadaran
     dengan sukses luar biasa. Salah satu pengakuan      para sarjana Islam sejak dari masa-masa awal
     yang jujur dari pihak luar Islam atas sukses Nabi   bahwa Islam adalah agama pertengahan (wasath)
     dalam membawa reformasi dunia ini ialah yang        antara, di satu pihak, agama Yahudi yang legalistik
     diberikan oleh Michael H. Hart. Dalam bukunya       dan banyak menekankan orientasi kemasyarakatan
     yang memuat urutan peringkat seratus orang yang     dan, di pihak lain, agama Kristen yang spiritualistik
     paling berpengaruh dalam sejarah umat manusia,      dan sangat memperhatikan kedalaman olah serta
     Hart menempatkan Nabi Muhammad sebagai              pengalaman rohani serta membuat agama itu
     manusia nomor satu yang paling berpengaruh. Ia      lembut. Seperti dikatakan Ibn Taymiyyah, "Syari'ah
     menegaskan:                                           10  Michael H. Hart, The 100, a Ranking of the Most
                                                              Influential Persons in History, terjemah Indonesia oleh H.
                                                              Mahbub Djunaidi, "Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh
      9  Lihat, a.l., Q., s. al-A'raf/7:56 dan 85.            dalam Sejarah",

66
Taurat didominasi oleh ketegaran, dan Syari'ah Injil                   Rasulullah s.a.w. sendiri, terdapat kelompok para
didominasi oleh kelembutan; sedangkan Syari'ah                         sahabat Nabi yang lebih tertarik kepada hal-hal
al-Qur an menengahi dan meliputi keduanya itu."(11)                    yang bersifat lebih batiniah itu. Disebut-sebut,
    Maka sebagai bentuk pertengahan dan                                misalnya, kelompok ahl al-shuffah, yaitu sejumlah
sekaligus antara kedua agama pendahuluannya                            sahabat yang memilih hidup sebagai faqir, dan
itu, Islam mengandung ajaran-ajaran hukum                              sangat setia kepada masjid. Tidak heran bahwa
dengan orientasi kepada masalah-masalah tingkah                        kelompok ini, dalam literatur kesufian, sering diacu
laku manusia secara lahiriah seperti pada agama                        sebagai teladan kehidupan saleh dikalangan para
Yahudi, tapi juga mengandung ajaran-ajaran                             sahabat. Al-Qur'an sendiri memuat berbagai
keruhanian yang mendalam seperti pada agama                            firman yang merujuk kepada pengalaman
Kristen. Bahkan sesungguhnya antara keduanya itu                       spritual Nabi. Misalnya, lukisan tentang dua kali
tidak bisa dipisahkan, meskipun bisa dibedakan.                        pengalaman Nabi bertemu dan berhadapan
Sebab ketika orang Muslim dituntut untuk tunduk                        dengan Malaikat Jibril dan Allah. Yang pertama
kepada suatu hukum tingkah laku lahiriah, ia                           ialah pengalaman beliau ketika menerima wahyu
diharapkan, malah diharuskan, menerimanya                              pertama di gua Hira, di atas Bukit Cahaya (Jabal
dengan ketulusan yang terbit dari lubuk hatinya.                       Nur). Dan yang kedua ialah pengalaman beliau
Ia harus merasakan ketentuan hukum itu sebagai                         dengan perjalanan malam (isra ) dan naik ke langit
sesuatu yang berakar dalam komitmen spiritualnya.                      (mi'raj) yang terkenal itu. Kedua pengalaman Nabi
Kenyataan ini tercermin dalam susunan kitab-kitab                      itu dilukiskan dalam Kitab Suci demikian: Demi
fiqh, yang selalu dimulai dengan bab pensucian                         bintang ketika sedang tenggelam. Sahabatmu
(thaharah) lahir, sebagai awal pensucian batin.                        sekalian itu tidaklah sesat ataupun menyimpang.
Walaupun begitu, tetap ada kemungkinan orang                           Dan ia tidaklah berucap karena menurut keinginan.
mengenali mana yang lebih lahiriah, dan mana                           Itu tidak lain adalah ajaran yang diwahyukan.
pula yang batiniah. Sebenarnya, sudah sejak zaman                      Diajarkan kepadanya oleh Jibril yang kuat perkasa.
  11  Ibn Taymiyyah, Al-Jawab al-Shahih li Man Baddala Din             Yang bijaksana, dan yang telah menampakkan diri
     al-Masih, 4 jilid, (Beirut [?]: Mathabi' al-Majd al-Tijariyyah,
                                                                       secara sempurna. Yaitu ketika ia berada di puncak
     tanpa tahun), jilid 3, h. 240.

                                                                                                                              67
cakrawala. Kemudian ia pun mendekati, dan               sepadan dengan kemampuan mereka. Sebab inti
     menghampiri. Hingga sejarak kedua ujung busur           pengalaman itu ialah penghayatan yang pekat
     panah, atau lebih dekat lagi. Lalu Tuhan wahyukan       akan situasi diri yang sedang berada di hadapan
     kepada hamba-Nya wahyu yang dikehendaki.                Tuhan, dan bagaimana ia "bertemu" dengan Dzat
     Tidaklah jiwa (Nabi) mendustakan yang dilihatnya        Yang Maha Tinggi itu. "Pertemuan" dengan Tuhan
     sendiri. Apakah kamu semua akan membantahnya            adalah dengan sendirinya juga merupakan puncak
     tentang yang ia saksikan? Padahal sungguh ia telah      kebahagiaan, yang dilukiskan dalam sebuah hadits
     menyaksikan pada lain kesempatan. Yaitu didekat         sebagai "sesuatu yang tak pernah terlihat oleh
     Pohon Lotus, di alam penghabisan Di sebelahnya          mata, tak terdengar oleh telinga, dan tak terbetik
     ada Surga tempat kediaman. Ketika Pohon Lotus           dalam hati manusia." Sebab dalam "pertemuan"
     itu diliputi cahaya tak terlukiskan. Penglihatan Nabi   itu, segala rahasia kebenaran "tersingkap" (kasyf)
     tidak bergoyah, dan tidak pula salah arah. Sungguh      untuk sang hamba, dan sang hamba pun lebur
     ia telah menyaksikan tanda-tanda Tuhannya yang          dan sirna (fana ) dalam Kebenaran. Maka Ibn 'Arabi,
     Agung tak terkira.(12)                                  misalnya, melukiskan "metode" atau thariqah-nya
         Bagi kaum Sufi, pengalaman Nabi dalam               sebagai perjalanan ke arah penyingkapan Cahaya
     Isra-Mi'raj itu adalah sebuah contoh puncak             Ilahi, melalui pengunduran diri (khalwah) dari
     pengalaman ruhani. Justru ia adalah pengalaman          kehidupan ramai.(13)
     ruhani yang tertinggi, yang bisa dipunyai oleh            13  Salah satu buku Muhy al-Din ibn Arabi berjudul, dalam
                                                                  bahasa Arab, Risalat al-Anwar fi ma Yumnah Shahib al-
     seorang Nabi. Namun kaum Sufi berusaha untuk                 Khalwah min al-Asrar (Risalah Cahaya tentang Berbagai
     meniru dan mengulanginya bagi diri mereka                    Rahasia yang dikaruniakan kepada orang yang melakukan
                                                                  pengunduran diri (khalwah), diterjemahkan ke dalam bahasa
     sendiri, dalam dimensi, skala dan format yang                Inggris oleh Rabia Terri Harris, Journey to the Lord of Power
       12  Q., s. al-Najm/53:1-18.                                (New York: Inner Traditions International, 1981).


                                     Masalah Keabsahan Tasawuf
       Membicarakan keabsahan Tasawuf dapat                  (judgment) dengan implikasi yang serius, karena
     mengisyaratkan pengambilan sikap penghakiman            menyangkut masalah sampai dimana kita bisa

68
dan berhak menilai pengalaman keruhanian             sudah dikenal umum, seperti al-Hallaj dan Syekh
seseorang. Telah disinggung bahwa mistisisme         Siti Jenar, penganut dan pengembang pandangan
atau pengalaman mistis, tidak terkecuali yang        itu yang paling kaya namun "liar" ialah Ibn 'Arabi.
ada pada kaum Sufi, selalu mengarah kedalam,         Dalam bukunya, Fushush al-Hikam, Ibn 'Arabi
dan dengan sendirinya bersifat pribadi. Oleh         berdendang dalam sebuah syair yang bernada
karena itu pengalaman mistis hampir mustahil         "gurauan" dengan Tuhan:
dikomunikasikan kepada orang lain, dan selamanya
akan lebih merupakan milik pribadi si empunya           Maka Ia (Tuhan)-pun memujiku, dan aku
sendiri. Oleh karena itu sering terjadi adanya          memuji-Nya, dan Ia menyembahku, dan aku
tingkah laku eksentrik dan "di luar garis," dan         pun menyembah-Nya. Dalam keadaan lahir
orang lain, lebih-lebih sesama Sufi sendiri, akan       aku menyetujui-Nya dan dalam keadaan hakiki
memandangnya, dengan penuh pengertian, jika             aku menentang-Nya. Maka Ia pun mengenaliku
tidak malah kekaguman. Berbagai cerita tentang          namun aku tak mengenali-Nya lalu aku pun
"wali" yang berkelakuan aneh, seperti banyak            mengenali-Nya, maka aku pun menyaksikan-Nya
terdapat di berbagai negeri dan daerah Islam,           Maka mana mungkin Ia tiada perlu, padahal
adalah kelanjutan dari persepsi mistis ini. Karena      aku menolong-Nya dan membahagiakan-
itu, bagi mereka yang lebih melihat diri mereka         Nya? Untuk inilah Kebenaran mewujudkan aku,
sebagai pemegang ajaran standar akan cepat              sebab aku mengisi ilmu-Nya dan mewujudkan-
mengutuk tingkah laku aneh itu sebagai tidak            Nya Begitulah, sabda telah datang kepada
lebih daripada keeksentrikan yang absurd tanpa          kita, dan telah dinyatakan dalam diriku segala
makna, jika bukannya kesintingan atau bahkan            maksudnya.(14)
tarikan syetan yang sesat. Kesesatan yang paling
gawat, di mata ahl al-dhawahir, ialah yang ada          Ibn Arabi memang mengaku sebagai
dalam kawasan teori dan pandangan dasar, yang        "kutub para wali" (quthb al-awliya), bahkan
mengarah kepada paham "kesatuan eksistensial"          14  Muhy al-Din ibn Arabi, Fushush al-Hikam, h. 83. Cf
                                                          terjemahan Inggris oleh R.W.J. Austin, The Bezels of Wisdom
(wahdat al-wujud). Selain berbagai tokoh yang
                                                          (New York: Paulist Press, 1980), h. 95.

                                                                                                                        69
pemungkasnya. Ia dituding oleh para ulama             sebagai bentuk pengalaman keagamaan yang
     Syari'ah sebagai yang paling bertanggungjawab         sejati. Seperti pengalaman Nabi dalam Mi'raj
     atas penyelewengan-penyelewengan dalam                yang tak terlukiskan, sehingga karenanya juga tak
     Islam, khususnya yang terjadi di kalangan kaum        terkomunikasikan, pengalaman mistis kaum Sufi
     Sufi. Namun bagi para pengikutnya dia adalah          pun sesungguhnya berada di luar kemampuan
     al-syaikh al-akbar (guru yang agung). Kesulitan       rasio untuk menggambarkannya. Kaum Sufi gemar
     memahami literatur kesufian, seperti karya-karya      mengatakan bahwa untuk bisa mengetahui apa
     Ibn Arabi ialah bahwa pengungkapan ide dan            hakikat pengalaman itu, seseorang hanya harus
     ajaran didalamnya sering menggunakan kata             mengalaminya sendiri. Mereka mempunyai
     kiasan (matsal) dan pelambang (ramz). Karena itu      perbendaharaan yang kaya untuk melukiskan
     ungkapan-ungkapan yang ada harus dipahami             kenyataan itu. Misalnya, tidak mungkinlah
     dalam kerangka interpretasi metaforis atau tafsir     menjelaskan rasa manisnya madu jika orang tidak
     batini (ta'wil). Dan adalah ta'wil itu memang yang    pernah mencicipinya sendiri. Pengalaman mistis
     menjadi metode pokok mereka dalam memahami            tertinggi menghasilkan situasi kejiwaan yang
     teks-teks suci, baik Kitab Suci maupun Hadits Nabi.   disebut ekstase. Dalam perbendaharaan kaum
     Maka meskipun mereka menggunakan metode               Sufi, ekstase itu sering dilukiskan sebagai keadaan
     ta'wil mereka sebenarnya tetap berpegang kepada       mabuk kepayang oleh minuman kebenaran.
     sumber-sumber suci itu. Hanya saja, sejalan dengan    Kebenaran (al-haqq) digambarkan sebagai
     metode mereka, mereka tidak memahami sumber-          minuman keras atau khamar. Bahkan untuk
     sumber itu menurut bunyi lahiriah tekstualnya.        sebagian mereka minuman yang memabukkan itu
     Inilah pangkal kontroversi mereka dengan              tidak lain ialah apa yang mereka namakan "dlamir
     kaum Syari'ah. Maka tidak jarang kaum Syari'ah        al-sya'n," yaitu kata-kata "an" yang berarti "bahwa"
     mengutuk mereka sebagai sesat, seperti yang           dalam kalimat syahadat pertama, Asyhadu an la
     dilakukan oleh Ibn Taymiyyah terhadap Ibn Arabi.      ilaha illa Llah" (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan
     Tapi, dalam semangat empatik, mungkin justru          selain Allah). Pelukisan ini untuk menunjukkan
     pengalaman mistis kaum Sufi harus dipandang           betapa intensenya mereka menghayati Tauhid,

70
sehingga mereka tidak menyadari apa pun yang                     yang harus tunduk-patuh dan pasrah bulat
lain selain Dia Yang Maha Ada. Karena itu, suatu                 (islam) kepada Sang Maha Pencipta (al-Khaliq).
pengalaman mistis mungkin akan hanya sekali                      Maka seorang Sufi, karena kepuasannya akan
terjadi dalam hidup seorang, tanpa bisa diulangi.                pengetahuan tentang Kebenaran, tidak banyak
Inilah diumpamakan dengan turunnya "malam                        menuntut dalam hidup ini. Ia puas (qana'ah) dan
kepastian" (laylat al-qadar), yang dalam al-Qur'an               lepas dari harapan kepada sesama makhluk. Ia
disebutkan sebagai lebih baik dari seribu bulan.                 bebas, karena ia merasa perlu (faqir) hanya kepada
Artinya, seorang yang mengalami satu momen                       Allah yang dapat ia temui di mana saja melalui
menentukan itu, ia akan terpengaruh oleh pesan                   ibadat dan dzikir. Ia menghayati kehadiran Tuhan
yang dibawa seumur hidupnya, yaitu sekitar                       dalam hidupnya melalui apresiasi akan nama-
seribu bulan atau delapan puluh tahun. Karena itu                nama (kualitas-kualitas) Tuhan yang indah (al-asma
meskipun suatu pengalaman mistis sebagai suatu                   al-husna), dan dengan apresiasi itu ia menemukan
kejadian hanya bersifat sesaat (transitory), namun               keutuhan dan keseimbangan dirinya Hidup penuh
relevansinya bagi pembentukan budi pekerti                       sikap pasrah itu memang bisa mengesankan
akan bersifat abadi. Sebab dalam pengamalan                      kepasifan dan eskapisme. Tapi sebagai dorongan
intense sesaat itu orang berhasil menangkap suatu                hidup bermoral, pengalaman mistis kaum Sufi
kebenaran yang utuh. Kesadaran akan kebenaran                    sebetulnya merupakan suatu kedahsyatan. Karena
yang utuh itulah yang menimbulkan rasa bahagia                   itulah ajaran Tasawuf juga disebut sebagai ajaran
dan tenteram yang mendalam, suatu euphoria                       akhlak. Dan akhlak yang hendak mereka wujudkan
yang tak terlukiskan. Dan itulah kemabukan mistis.               ialah yang merupakan "tiruan" akhlak Tuhan, sesuai
Kemudian, suatu hal yang amat penting ialah                      dengan sabda Nabi yang mereka pegang teguh,
bahwa euphoria itu sekaligus disertai dengan                     "Berakhlaqlah kamu semua dengan akhlaq Allah."
kesadaran akan posisi, arti, dan peran diri sendiri
yang proporsional, yaitu "tahu diri" (ma'rifat al-                   bahasa Arab, "Man arafa nafsahu fa qad 'arafa Rabbahu"
nafs)(15) yang tidak lebih daripada seorang makhluk                  (Barangsiapa tahu dirinya maka ia akan tahu Tuhannya).
                                                                     Karena pengetahuan tentang diri secara proporsional adalah
  15  Karena itu di kalangan kaum Sufi terkenal ungkapan dalam       indikasi pengetahuan akan Kebenaran Yang Bulat.

                                                                                                                                  71
72
Menangkap Kembali Dinamika Islam
                                                                                                            6
    Klasik: Masyarakat Salaf Sebagai
            Masyarakat Etika
D    alam peralihan abad Hijri yang sering
     dikumandangkan sebagai Abad Kebangkitan
Islam sekarang ini, dan sudah pula dimulai sejak
                                                          Namun sejak dari semula usaha-usaha serupa
                                                      itu mengandung dan menghadapi banyak
                                                      problema. Disebabkan oleh kaitannya dengan
menjelang akhir abad yang lalu, kaum Muslim di        usaha mendefinisikan kembali apa yang disebut
seluruh dunia didorong oleh proses sejarahnya         Islam atau bersifat keislaman (Islami) —dengan
sendiri untuk mencoba mempertegas peranannya          konotasi bahwa yang ada secara riil sekarang ini
dalam sejarah umat manusia. Gejala-gejala terakhir    tidak memadai atau malah telah mengandung
seperti keputusan Ziya ul-Haqq untuk menetapkan       berbagai penyimpangan— maka usaha-usaha
Syari'ah Islam sebagai hukum Pakistan, juga           tersebut menghadapkan orang-orang Muslim yang
perkembangan di Bangladesh yang menghendaki           serius kepada persoalan "menemukan" kembali
hal yang kurang lebih serupa (juga di Mesir, Sudan,   Islam dan yang bersifat keislaman. Persoalan ini
dan lain-lain) —jika bukan jelas-jelas merupakan      tampak di permukaan seperti mudah dipecahkan,
sekedar usaha mencari legitimasi politik rezim-       yaitu dengan "kembali kepada al-Qur'an dan al-
rezim bersangkutan— dapat dibaca sebagai              Sunnah", suatu dalil yang sangat disenangi kaum
bagian dari, dan dalam rangka, penegasan peranan      reformis Islam, khususnya di kalangan Sunni. Tetapi
kesejarahan tersebut.                                 lepas dari kebenaran normatif dalil itu, namun
dalam pelaksanaan praktisnya ternyata sangat                       rasa keagamaan mereka— namun sebetulnya
     tidak mudah. Bahkan yang sudah terjadi ialah                       sahamnya dalam usaha umat Islam menemukan
     bahwa dalil itu, sebegitu jauh, baru menghasilkan                  peran kesejarahannya kembali tersebut di atas
     reformasi atau mungkin "pemurnian" hal-hal                         paling untung marginal saja, jika bukannya
     yang sesungguhnya sangat bersifat pinggiran                        tidak ada sama sekali. Kalau masalah ini harus
     (peripheral), seperti, misalnya, dicerminkan secara                diungkapkan dalam sebuah jargon, barangkali
     mencolok oleh kontroversi takbir tambahan                          yang paling tepat ialah pesan almarhum Bung
     dalam salat 'Idul Fitri di Surabaya baru-baru ini.(1)              Karno, salah seorang Bapak Bangsa Indonesia, agar
     Meskipun hal serupa itu sangat penting bagi                        kita berusaha menangkap "api" Islam, dan bukan
     banyak kalangan —sebagian kaum Muslim melihat                      "abu"-nya. Pembahasan ini adalah dalam rangka
     dan mendapati di situ terletak inti agama dan                      mencoba menangkap "api" itu, betapapun kecilnya
       1  Lihat majalah Tempo, (Jakarta) No., 13, Tahun XVIII, 25 Mei   kemungkinan hasil yang didapatkan.
          1988 (rubrik "Agama", h. 75).



                                                       Golongan Salaf
         Salah satu yang dapat kita lakukan untuk                       berarti "yang lampau." Biasanya ia dihadapkan
     menangkap "api" itu ialah mencoba memahami                         dengan perkataan "khalaf', yang makna harfiahnya
     hakikat golongan Salaf. Sesungguhnya ini                           ialah "yang belakangan". Kemudian, dalam
     sejalan saja dengan apa yang sudah terjadi, yaitu                  perkembangan semantiknya, perkataan "salaf'
     kecenderungan kaum reformis dari kalangan                          memperoleh makna sedemikian rupa sehingga
     orang-orang Muslim untuk mencari model pada                        mengandung konotasi masa lampau yang
     pengalaman sejarah umat Islam klasik. Tetapi                       berkewenangan atau berotoritas, sesuai dengan
     sebelum hal itu kita lakukan, ada baiknya kita                     kecenderungan banyak masyarakat untuk melihat
     memeriksa secukupnya pengertian "salaf" dalam                      masa lampau sebagai masa yang berotoritas.
     pembahasan Islam.                                                  Ini melibatkan masalah teologis, yaitu masalah
         Perkataan Arab "salaf" sendiri secara harfiah                  mengapa masa lampau itu mempunyai otoritas,

74
dan sampai dimana kemungkinan mengidentifikasi       'Ali, untuk tidak mengatakan masa-masa sesudah
secara historis masa salaf itu.                      mereka. Dalam hal ini dapat kita kenali adanya
    Dalam hal ini, para pemikir Islam tidak banyak   empat pendapat:
menemui kesulitan. Masa lampau itu otoritatif             (1) Kaum Sunni berpendapat bahwa masa
karena dekat dengan masa hidup Nabi. Sedangkan       keempat khalifah itu adalah benar-benar otoritatif,
semuanya mengakui dan meyakini bahwa Nabi            berwenang, dan benar-benar salaf. Kaum Sunni
tidak saja menjadi sumber pemahaman ajaran           boleh dikata kelanjutan langsung atau tidak
agama Islam, tetapi sekaligus menjadi teladan        langsung dari masyarakat Islam masa Dinasti
realisasi ajaran itu dalam kehidupan nyata. Maka     Umayyah, dengan berbagai unsur kompromi
sangat logis pandangan bahwa yang paling             akibat usaha rekonsiliasi keseluruhan umat
mengetahui dan memahami ajaran agama itu             Islam, mengatasi sisa-sisa pengalaman traumatis
ialah mereka yang berkesempatan mendengarnya         fitnah-fitnah sebelumnya. (Usaha ini mengambil
langsung dari Nabi, dan yang paling baik dalam       bentuknya yang paling penting dalam tindakan
melaksanakannya ialah mereka yang melihat            yang telah dimulai oleh Abd al-Malik ibn Marwan
praktek-praktek Nabi dan meneladaninya. Selain       untuk merehabilitasi nama 'Ali, musuh Mu'awiyah,
logis, hadits-hadits pun banyak yang dapat dikutip   pendiri Dinasti Bani Umayyah, dan sejak itu mulai
untuk menopang pandangan itu:                        dikenal, secara historis, istilah al-Khulafa' al-
    Demikian pula dalam mengidentifikasi secara      Rasyidun yang empat).(2)
historis masa salaf itu, para sarjana Islam juga
                                                       2  Penyebutan tentang "Empat Khalifah" (istilah teknisnya
tidak mengalami kesulitan, meskipun terdapat              dalam bahasa Arab ialah tarbi') sebetulnya melewati proses
beberapa pendapat tertentu di dalamnya. Yang              bertahap yang panjang. Mula-mula dalam khutbah-khutbah
                                                          kaum Umawi menyebut tiga khalifah saja, yaitu selain 'Ali,
disepakati oleh semuanya ialah bahwa masa salaf           dan kaum Syi'i hanya menyebut 'Ali, tanpa yang lain-lain.
itu, dengan sendirinya, dimulai oleh masa Nabi            Tetapi kaum Umawi di Maghrib dan Andalusia terlebih
                                                          dahulu dari yang lain-lain telah melakukan tarbi', hanya
sendiri. Kemudian mereka mulai berbeda tentang            saja khalifah yang keempat bukannya 'Ali, melainkan
"kesalafan" (dalam arti otoritas dan kewenangan)          Mu'awiyah. Kemudian Khalifah 'Umar ibn 'Abd 'al-'Aziz
                                                          dari Bani Umayyah meneruskan usaha Khalifah Marwan
masa kekhalifahan Abu Bakar, 'Umar, 'Utsman dan
                                                          ibn 'Abd al-Malik sebelumnya untuk menyatukan umat

                                                                                                                       75
(2) Bani Umayyah atau kaum Umawi sendiri,                       otoritas di bidang keagamaan itu membawa serta
     dalam masa-masa awalnya, mengakui hanya                              problema teologis. Karena itu pengkajian masalah
     masa-masa Abu Bakar, 'Umar dan 'Utsman, tanpa                        salaf ini akan dengan sendirinya melibatkan
     'Ali, sebagai masa salaf yang berkewenangan dan                      kita kepada berbagai kontroversi teologis yang
     otoritatif.                                                          berkepanjangan, dan yang sampai sekarang praktis
          (3) Sedangkan kaum Khawarij, yaitu kelanjutan                   belum selesai secara tuntas. Dengan meletakkan
     dari sebagian kelompok pendukung 'Ali —yang                          kontroversi teologis itu kesamping, maka kita
     mereka itu menunjukkan gelagat persetujuan                           terpaksa melakukan pilihan. Pilihan itu pada
     atas pembunuhan 'Utsman tapi kemudian kecewa                         permasalahan intinya bisa dinilai sebagai arbitrer,
     dengan 'Ali dan membunuhnya— hanya mengakui                          namun masih bisa dibenarkan dengan melihat
     masa-masa Abu Bakar dan 'Umar saja yang                              segi kepraktisan pembahasan, misalnya berkenaan
     berwenang dan otoritatif, sehingga boleh disebut                     dengan konteks ruang dan waktu kita, di sini dan
     sebagai masa salaf.                                                  sekarang. Dalam hal ini pilihan kita lakukan untuk
          (4) Kemudian terdapat kaum Rafidlah dari                        membahas masalah salaf ini menurut pandangan
     kalangan Syi'ah yang menolak keabsahan masa-                         Sunni, yaitu pandangan (1) di atas, mengingat
     masa kekhalifahan pertama itu kecuali masa 'Ali.                     bahwa pandangan itu adalah yang paling meluas
          Sebagaimana telah disinggung, masalah                           diikuti kaum Muslim, baik di dunia maupun di
     definisi kesejarahan tentang siapa yang disebut                      tanah air.
     golongan Salaf dengan konotasi kewenangan dan                            Dalam perkembangan lebih lanjut paham
                                                                          Sunni, golongan Salaf tidak saja terdiri dari
         dengan mengakomodasi kaum Syi'ah dan merehabilitasi 'Ali,        kaum Muslim masa Nabi dan empat khalifah
         dan menyebut 'Ali dalam tarbi' di khutbah-khutbah, serta
         mengakhiri kebiasaan saling melaknat dalam khutbah-khutbah       yang pertama, tetapi juga meliputi mereka yang
         tersebut. Maka sejak itu tumbuh kebiasaan pada umat Islam        biasa dinamakan sebagai kaum Tabi'un (kaum
         untuk menyebut al-Khulafa al-Rasyidin yang empat, dan kelak
         kemudian hari masjid-masjid pun dihiasi dengan nama para
                                                                          Pengikut, yakni, pengikut para sahabat Nabi, yang
         khalifah yang empat itu. (Lihat Ibn Taymiyyah, Minhaj al-        merupakan generasi kedua umat Islam). Bahkan
         Sunnah, 4 jilid [Riyadl: Maktabat al-Riyadl al-Haditsah, tanpa
                                                                          bagi banyak sarjana Sunni golongan salaf itu juga
         tahun], jil. 2, hh. 187-8).

76
mencakup generasi ketiga, yaitu generasi Tabi'it                Muhajirun dan Anshar, yaitu para sahabat Nabi
al-Tabi'in (para Pengikut dari para Pengikut).                  yang berasal dari Makkah dan Madinah, serta
Pandangan ini digambarkan secara ringkas dalam                  orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik
sebuah bait dari kitab kecil ilmu kalam Jawharat al-            (kaum Tabi'un), telah mendapat ridla dari Tuhan
Tawhid, yang merupakan salah satu kitab standar                 dan, sebaliknya, mereka pun telah pula bersikap
di pesantren-pesantren:                                         ridla kepada-Nya. Untuk mereka itu disediakan
    (Para sahabat Nabi adalah generasi terbaik,                 oleh Tuhan balasan surga yang akan menjadi
maka dengarlah!                                                 kediaman abadi mereka. Dengan kata-kata lain,
    Lalu menyusul para Tabi'un, diiringi para Tabi'u            kaum Salaf itu seluruh tingkah lakunya benar dan
al-Tabi'in)(3)                                                  mendapat perkenan di sisi Tuhan, jadi mereka
    Sebagai sandaran ada kewenangan dan otoritas                adalah golongan yang berotoritas dan berwenang.
pada ketiga generasi pertama umat Islam itu, kaum                   Konsep demikian itu, seperti telah disinggung,
Sunni menunjuk kepada firman Allah:                             lebih sesuai dengan paham Sunni ketimbang
    Dan para perintis pertama yang terdiri dari                 dengan paham Syi'i. Paham Sunni menyandarkan
kaum Muhajirun dan Anshar, serta orang-orang                    otoritas kepada umat atau "kolektiva", sementara
yang mengikuti mereka itu dengan baik, Allah                    kaum Syi'i menyandarkannya kepada keteladanan
telah ridla kepada mereka, dan mereka pun telah                 pribadi (examplary individual), dalam hal ini
ridla kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka                 keteladanan pribadi 'Ali yang memang heroik,
surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-                   saleh dan alim (pious).
sungai. Mereka kekal di dalamnya untuk selama-                      Namun kedua konsep sandaran otoritas itu
lamanya. Itulah kebahagiaan yang agung.(4)                      mengandung masalahnya sendiri. Masalah pada
    Jadi firman Ilahi itu menegaskan bahwa kaum                 konsep Sunni timbul ketika dihadapkan kepada
                                                                tingkat pribadi-pribadi para sahabat Nabi: tidak
  3  Al-Syaykh Ibrahim al-Laqqani, Jawharat al-Tawhid, dengan
     terjemah dan uraian dalam bahasa Jawa huruf Pego oleh K.   setiap pribadi masa Salaf itu, pada lahirnya,
     H. Muhammad Shalih ibn 'Umar Samarani (Semarang), Sabil    sama sekali bebas dari segi-segi kekurangan.
     al-'Abid (tanpa data penerbitan), h. 222.
                                                                Jika seandainya memang bebas dari segi-segi
  4  Q., s. al-Tawbah/9:100.

                                                                                                                     77
kekurangan, maka bagaimana kita menerangkan           beliau?
     berbagai peristiwa pembunuhan dan peperangan              Pertanyaan tersebut secara keimanan sungguh
     sesama para sahabat Nabi sendiri, selang hanya        amat berat, namun tidak terhindari karena dari
     beberapa belas tahun saja dari wafat beliau?          fakta-fakta sejarah yang mendorongnya untuk
     Padahal pembunuhan dan peperangan itu                 timbul. Upaya menjawab pertanyaan itu dan
     melibatkan banyak sahabat besar seperti 'Utsman,      mengatasi implikasi keimanan yang diakibatkannya
     'Ali (menantu dan kemenakan Nabi), 'A'isyah (isteri   telah menggiring para pemikir Muslim di masa
     Nabi), Mu'awiyah (ipar Nabi dan salah seorang         lalu kepada kontroversi dalam ilmu kalam (teologi
     penulis wahyu), 'Amr ibn al-Ash, Abu Musa al-         dialektis) yang tidak ada habis-habisnya. Masing-
     Asy'ari, dan lain-lain?!                              masing kaum Sunni dan Syi'i, yaitu dua golongan
          Sedangkan pada kaum Syi'i, masalah yang          besar Islam yang sampai sekarang bertahan,
     timbul dari konsep otoritas yang disandarkan          mencoba memberi penyelesaian kepada problema
     hanya kepada keteladanan pribadi 'Ali dan para        tersebut. Contoh "penyelesaian" yang diberikan
     pengikutnya yang jumlahnya kecil itu ialah            oleh para pemikir Muslim Sunni klasik untuk
     implikasinya yang memandang bahwa para                problema itu ialah seperti diungkapkan dalam
     sahabat Nabi yang lain itu tidak otoritatif, alias    sebuah bait dari kitab Jawharat al-Tawhid yang
     salah, tidak mungkin mendapat ridla Allah, dan        telah dikutip di atas:
     mereka pun —terbukti oleh adanya perbuatan                (Dan lakukan interpretasi atas pertengkaran
     salah mereka sendiri— tidak bersikap ridla kepada     (para sahabat) yang telah terjadi jika engkau harus
     Allah. Jadi pandangan Syi'i itu nampak langsung       mendengarkan penuturan tentang hal itu dan
     bertentangan dengan gambaran dan jaminan yang         jauhilah penyakit orang yang dengki).(5)
     disebutkan dalam firman di atas. Lebih lanjut, jika       Interpretasi atas berbagai peristiwa
     hanya sedikit saja jumlah orang yang selamat dari     pertengkaran para sahabat itu, seperti dilakukan
     kalangan mereka yang pernah dididik langsung          oleh Ibn Taymiyyah, ialah dengan melihat bahwa
     oleh Nabi, apakah akhirnya tidak Nabi sendiri yang    semua mereka yang terlibat dalam pertengkaran
     harus dinilai sebagai telah gagal dalam missi suci
                                                             5  Al-Laqqani, h. 231.

78
itu sebenarnya bertindak berdasarkan ijtihad                             Ini adalah solusi yang banyak mengandung
mereka masing-masing dalam menghadapi                                kelemahan, sehingga sama sekali tidak
masalah yang timbul. Maka sebagai ijtihad,                           memuaskan. Namun jika dikehendaki jalan
sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadits                           keluar dari kerumitan teologis berkenaan dengan
yang terkenal,(6) tindakan para sahabat yang                         berbagai peristiwa fitnah di antara para sahabat
bertengkar —bahkan saling membunuh itu—                              Nabi itu, maka modus solusi seperti itu agaknya
tetap mendapatkan pahala, biarpun jika ternyata                      merupakan pilihan yang cukup baik. Dan itulah
ijtihad mereka itu salah.(7)                                         salah satu inti paham ke-Sunni-an.
  6  Yaitu sabda Nabi yang sering dikutip orang, "Jika seorang           tokoh Mu'tazilah dari kota Basrah yang terdiri dari Abu
     hakim berijtihad dan tepat, maka baginya dua pahala; dan jika       al-Hudzayl, Abu 'Ali, dan Abu Hasyim, serta tokoh-tokoh
     ia berijtihad dan keliru, maka baginya satu pahala."                lain yang sepakat dengan mereka dari kalangan para pengikut
  7  Berkenaan dengan hal ini cukup menarik keterangan yang              Asy'ari seperti al-Qadli Abu Bakr (al-Baqillani) dan Abu
     dibuat oleh Ibn Taymiyyah, demikian: "...'Ali adalah imam,          Hamid (al-Ghazali), dan itu pula pendapat yang terkenal
     dan ia benar dalam perangnya melawan orang-orang yang               dari Abu al-Hasan al-Asy'ari. Mereka (para 'ulama) itu juga
     memeranginya; begitu pula mereka yang memerangi 'Ali,               memandang Mu'awiyah sebagai seorang yang berijtihad dan
     yang terdiri dari para sahabat seperti Thalhah dan al-Zubayr,       benar dalam perangnya (melawan 'Ali), sebagaimana 'Ali pun
     semuanya adalah orang-orang yang melakukan ijtihad dan              benar. Ini juga menjadi pendapat para fuqaha' dari kalangan
     benar. Inilah pendapat mereka yang berpandangan bahwa               para pengikut Ahmad (ibn Hanbal) dan lain-lain ..." (Minhaj,
     setiap orang yang berijtihad itu benar, yaitu pendapat para         jil. 1, hh. 192-3).


                        Masyarakat Salaf Sebagai Masyarakat Etik
    Hal yang dicoba kemukakan di atas itu                            suatu pandangan bahwa sejarah dikuasai oleh
merupakan gambaran singkat pergumulan sulit                          hukum yang tak terelakkan) demikian: Apa pun
orang-orang Muslim dalam usaha memberi                               yang terjadi dalam sejarah dunia Islam itu, ia
keterangan teologis atas peristiwa-peristiwa                         menyangkut masyarakat yang semestinya bersifat
dalam sejarah dini agamanya yang penuh anomali.                      teladan, sehingga tetap harus dilihat dalam
(Untuk gambaran lebih lanjut, lihat catatan no.[7]                   kerangka "kebenaran umum" yang serba meliputi
di bawah). Pergumulan sulit itu membawa kepada                       semua, betapapun berbagai kejadian itu saling
logika "historisistik" (bersemangat historisisme,                    bertentangan, bahkan menimbulkan pertumpahan

                                                                                                                                        79
darah. Dan "kebenaran umum" yang serba meliputi         mereka, jika bukannya Nabi sendiri, telah gagal?!).
     itu ialah yang bersangkutan dengan masalah                  Jika mereka paham benar agama mereka dan
     akhlaq atau etika, yang dari sudut penglihatan          telah sungguh-sungguh melaksanakan al-islam
     itu setiap tindakan rinci dalam kejadian sejarah        —dan memang begitulah yang semestinya telah
     tersebut harus dinilai sebagai timbul dari dorongan     terjadi— maka tindakan penuh pasrah kepada
     berbuat kebaikan. Maka masuklah ke situ konsep          Tuhan itu tentu telah menjiwai keseluruhan
     ijtihad yang tanpa risiko itu, sebab jika keliru        tingkah laku mereka. Maka karena al-islam itu,
     masih mendapat satu pahala, sedangkan jika tepat        tentunya yang ada di hadapan mereka dan yang
     mendapat dua pahala.                                    menjadi tujuan tingkah laku mereka ialah perkenan
          Maka hal berikutnya ialah pertanyaan, sampai       Tuhan, sebagaimana digambarkan dalam firman
     dimana etika itu benar-benar ada secara nyata           yang telah dikutip tentang mereka itu di atas.
     pada semua pihak yang terlibat dan saling               Dan pandangan ini mencocoki gambaran yang
     bertentangan tersebut, yang terdiri dari para           diberikan Kitab Suci di tempat lain tentang mereka:
     sahabat Nabi dan generasi yang mengikuti jejak              Dan hendaklah ada dari kamu sekalian ini
     mereka sesudah itu?                                     suatu umat yang mengajak kepada keluhuran,
          Jawab atas pertanyaan itu, kalaupun                menganjurkan kebaikan, dan mencegah kejahatan.
     menyangkut problema dalam berbagai fakta                Mereka itulah orang-orang yang beruntung.(8)
     kesejarahannya di atas, dapat dibuat dengan                 Kamu adalah sebaik-baik umat yang
     bertitik tolak dari asumsi tertentu. Asumsi itu ialah   diketengahkan kepada sekalian manusia: (karena)
     bahwa kaum Salaf itu tentunya terdiri dari pribadi-     kamu menganjurkan kebaikan dan mencegah
     pribadi yang sangat paham akan ajaran agama             kejahatan, lagi pula kamu beriman kepada Allah.(9)
     mereka, yaitu Islam (lebih tepatnya, al-islam, ajaran       Terhadap ayat di atas, dan dalam kaitannya
     tentang sikap penuh pasrah kepada Tuhan), dan           dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, A.
     sangat bersungguh-sungguh melaksanakannya.              Yusuf Ali memberi komentar menarik berikut:
     (Dan jika tidak begitu, lalu siapa lagi selain
                                                               8  Q., s. Alu 'Imran/3:104.
     mereka?! Atau bersediakah kita melihat bahwa
                                                               9  Q., s. Alu 'Imran/3:110.

80
The logical conclusion to the evolution of                  Karena itu Islam tampil, bukannya untuk dirinya
religious history ia a non-sectarian, non-racial,               sendiri, melainkan untuk seluruh umat manusia).
non-doctrinal, universal religion, which Islam                      Karena hakikat dasarnya yang non-sektarian,
claims to be. For Islam ia just submission to the Will          non-rasial, non-doktrinal dan bersifat universal,
of God. This implies (1) Faith, (2) doing right, being          maka pada dasarnya pula agama Islam adalah
an example to others to do right, and having the                agama etika atau akhlaq, dan para penganutnya
power to see that the right prevails, (3) eschewing             yang sejati adalah orang-orang etis atau akhlaqi,
wrong, being an example to others to eschew                     yaitu orang-orang yang berbudi pekerti luhur.
wrong, and having the power to see that wrong                   Ini sejalan dengan penegasan Nabi sendiri,
and injustices are defeated. Islam therefore lives,             bahwa beliau diutus Allah hanyalah untuk
not for itself, but for mankind.(10)                            menyempurnakan berbagai keluhuran budi.(11)
    (Kesimpulan logis bagi evolusi sejarah                          Keinsafan orang-orang Muslim klasik akan
keagamaan ialah suatu agama yang non-sektarian,                 gambaran diri mereka yang diberikan oleh Kitab
non-doktrinal, dan universal, yang diakui oleh                  Suci, yang dalam gambaran diri itu sesungguhnya
Islam. Sebab Islam tidak lain ialah sikap pasrah                terkandung makna kualitas normatif, yang harus
kepada Kehendak Tuhan. Hal ini mengandung                       diwujudkan, dan perintah, telah mendorong
makna (1) keimanan, (2) berbuat kebenaran, untuk                mereka untuk berjuang membentuk sejarah
menjadi teladan bagi yang lain dalam berbuat                    dunia yang sejalan dengan ukuran-ukuran moral
kebenaran, dan mempunyai kemampuan untuk                        yang tertinggi dan yang terbaik, yang terbuka
memperhatikan bahwa yang benar itu unggul, (3)                  untuk umat manusia. Usaha itu dijanjikan akan
menghindari kesalahan, untuk menjadi teladan                    mendapat pahala yang besar, berupa kebahagiaan
bagi yang lain dalam menghindari kesalahan, dan                 di dunia ini dan di akhirat nanti, namun juga
mempunyai kemampuan untuk memperhatikan                         dengan risiko besar untuk salah dan keliru. Tetapi
bahwa kesalahan dan kezaliman terkalahkan.                      kesalahan dan kekeliruan menjadi tidak relevan
  10  A. Yusuf Ali, The Holy Qur'an, Text, Translation and        11  Sebuah hadits Nabi yang sangat terkenal, "Sesungguhnya
     Commentary (Jeddah: Dar al-Qiblah, tanpa tahun), h. 151,        aku diutus hanyalah agar aku menyempurnakan berbagai
     catatan 434.                                                    keluhuran budi."

                                                                                                                               81
dalam kaitannya dengan tekad dan semangat                         keruhanian seorang individu, jauh di lubuk hatinya,
     Ketuhanan (rabbaniyyah, ribbiyyah)(12), dan harus                 ke arah kemauan dan niat yang baik, tulus dan
     dilihat sebagai segi kemanusiaan perjuangan itu.                  sejati, sebagaimana hal itu telah menjadi ajaran
     Maka sejarah Islam pun memperoleh keutuhannya                     para nabi, yang dekat sebelum Nabi Muhammad
     dan maknanya yang khas dari adanya pandangan                      ialah Nabi-nabi 'Isa al-Masih, Musa, dan Ibrahim.
     hidup dan perjuangan tersebut, yaitu pandangan                    Tetapi ketika al-islam yang pada intinya bersifat
     hidup dan perjuangan untuk pasrah kepada                          pribadi itu memancar keluar dalam bentuk
     Kehendak Tuhan. Sebab pasrah kepada Kehendak                      tindakan-tindakan, dan ketika tindakan-tindakan
     Tuhan (al-islam) itu antara lain berarti menerima                 dari banyak pribadi Muslim itu terkait, saling
     tanggungjawab pribadi untuk ukuran-ukuran                         menopang, dan kemudian menyatu, maka al-
     tingkah laku yang dipandang sebagai memiliki                      islam pun melandasi terbentuknya suatu kolektiva
     keabsahan Ilahi, yakni, diridlai-Nya. Rasa tanggung               spiritual (ummah, umat), dengan ciri-ciri yang khas
     jawab pribadi karena semangat Ketuhanan dan                       sebagai pancaran cita-citanya yang khas. Maka
     taqwa itulah yang antara lain dicontohkan dengan                  sampai batas ini al-islam mendorong lahirnya
     baik oleh 'Umar, ketika ia sebagai Khalifah harus                 pola-pola ikatan kemasyarakatan, dan itu intinya
     memikul sekarung gandum untuk dibawa kepada                       ialah hukum. Inilah Islam historis —yaitu al-islam
     seorang janda dan anaknya yang kelaparan di luar                  yang telah mewujud-nyata sebagai pengalaman
     Madinah, karena ia melihat apa yang menimpa                       bersama banyak individu dalam dimensi waktu
     mereka itu sebagai berada di atas pundaknya                       dan ruang tertentu yang bisa diidentifikasi— suatu
     selaku pemimpin dan penguasa.                                     bentuk kesatuan kemasyarakatan manusia beriman
         Maka agama yang mengajarkan al-islam                          yang disebut umat, dengan kesadaran berhukum
     ini adalah agama yang mengacu kepada sikap                        dan berperaturan bersama sebagai intinya.
                                                                            Karena itu salah satu karakteristik kuat umat
       12  Ini adalah dua istilah dalam Kitab Suci untuk semangat
          Ketuhanan, yaitu semangat mencapai ridla Tuhan dalam
                                                                       ini ialah kesadaran hukumnya yang tinggi.
          wujud pola hidup penuh kesalehan dan penuh dedikasi kepada   Kesadaran hukum itu merupakan kelanjutan
          cita-cita mewujudkan kehidupan bermoral, sebagaimana
                                                                       ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta kepada
          terdapat dalam Q., s. Alu 'Imran/3:79 dan 146.

82
para pemegang kewenangan atau otoritas (ulu                            dijadikan metafor atau kiasan untuk jalan menuju
al-amr, wali al-amr).(13) Dengan perkataan lain,                       harapan, kehidupan, dan kebenaran, yang berakhir
kesadaran hukum itu tumbuh akibat adanya rasa                          dengan ridla Allah s.w.t.
iman yang melandasi orientasi etis dalam hidup                             Maka dalam Islam orang tetap diharapkan agar
sehari-hari. Maka konsep tentang hukum dalam                           tidak luput dalam melihat kaitan antara hukum dan
Islam tidaklah seluruhnya sama dengan konsep                           akhlaq atau etika. Bahkan diharapkan agar mereka
di Barat, misalnya, yang merupakan kelanjutan                          tidak luput untuk melihat keunggulan segi-segi
konsep hukum zaman Romawi kuna. Hukum                                  akhlaqi atas segi-segi bukum, sebab pada dasarnya
dalam Islam tidak bisa dipisahkan dari segi-segi                       akhlaq mendasari hukum,. dan hukum ditegakkan
akhlaq atau etika. Sehingga pengertian syari'ah                        di atas landasan akhlaq. Sangat ilustratif untuk
yang kemudian digunakan sebagai istilah teknis                         pandangan ini ialah sebuah penuturan dalam
untuk sistem hukum Islam itu mengandung hal-hal                        hadits tentang dua orang yang bersengketa dan
seperti ajaran kebersihan (thaharah) dan masalah-                      datang menghadap kepada Nabi untuk memohon
masalah peribadatan, yang dalam sistem Barat                           keputusan hukum:
(Romawi) tidak termasuk hukum. Pada prinsipnya,                            Ummu Salamah r.a menuturkan: "Dan
syari'at mencakup setiap kebutuhan manusia,                            orang lelaki yang sedang bersengketa datang
baik pribadi maupun sosial, sejak dari lahir sampai                    menghadap Rasulullah s.a.w. berkenaan dengan
mati, yang panggilannya tertuju kepada setiap                          masalah pembagian waris yang telah lewat
nurani yang lembut karena rasa kebenaran dan                           waktunya dan pada mereka tidak terdapat
keadilan. Karena perkataan syari'ah itu sendiri pada                   lagi bukti. Maka Rasulullah s.a.w. bersabda
asalnya adalah berarti "jalan setapak menuju oase"                     kepada keduanya itu, 'Kamu bertengkar dan
di tengah padang pasir, yang dalam Kitab Suci                          menghadapku, sedangkan aku tidak lain adalah
  13  Dalam Kitab Suci ada perintah agar kita taat kepada para         seorang manusia, dan boleh jadi salah seorang dari
     pemegang kewenangan atau kekuasaan: "Wahai sekalian orang
     yang beriman, taatlah kamu sekalian kepada Allah, dan taat
                                                                       kamu lebih lancar mengemukakan argumennya
     pulalah kepada Rasul dan kepada para pemegang kekuasaan           dari yang lain. Dan aku tidak bisa tidak akan
     (ula al-amr, jamak dari wali al-amr) dari antara kamu ..." (Q.,
                                                                       memberi keputusan hukum antara kamu sesuai
     s. al-Nisa /4:59).

                                                                                                                            83
dengan apa yang kudengar (dari kamu), maka                          di antara para sahabat Nabi, tidak termasuk yang
     jika telah kuputuskan untuk seorang dari kamu                       terkenal. Tetapi kejadian itu justru melukiskan,
     agar ia berhak atas sebagian dari hak saudaranya,                   betapa pada masyarakat zaman Nabi itu, di bawah
     hendaknya ia jangan mengambilnya. Aku hanyalah                      bimbingan beliau, sangat diwarnai oleh semangat
     hendak menyingkirkan seberkas api neraka yang                       etis yang kuat, yang membuat mereka lebih
     akan dibawanya sebagai beban di tengkuknya                          mendahulukan perbuatan baik dan kemurahan
     pada hari kiamat.' Maka kedua orang lelaki itu                      hati daripada mempertahankan hak hukumnya
     pun menangis, dan masing-masing dari keduanya                       yang sah. Kejadian serupa itu cukup banyak di
     berkata kepada yang lain, 'Hakku (atas harta waris                  kalangan para sahabat Nabi, sampai ke masa-masa
     itu) kuberikan kepada saudaraku.' Maka Rasulullah                   sesudah Nabi sendiri telah tidak lagi bersama
     pun bersabda kepada mereka, 'Jika kamu berdua                       mereka. Al-Qur'an sendiri banyak mengajarkan
     telah mengatakan begitu, maka pergilah, dan                         semangat serupa, yaitu semangat mendahulukan
     berbagilah antara kamu berdua (atas harta waris                     kemurahan hati dan kebajikan daripada menuntut
     itu), kemudian hendaknya kamu berdua sama-                          dan mempertahankan hak sendiri yang sah:
     sama melepaskan hak (atas harta itu), lalu undilah                      Jika kamu memperlihatkan suatu
     antara kamu berdua, lalu hendaknya masing-                          kebajikan (melakukan secara terbuka) ataupun
     masing dari kamu menghalalkan (merelakan)                           merahasiakannya (melakukannya secara tertutup),
     saudaranya (menguasai harta itu)."(14)                              atau menutupi suatu kesalahan (memaafkannya),
         Menurut Muhibb al-Din al-Khathib kedua orang                    maka sesungguhnya Allah itu Maha Pemaaf dan
     itu sampai sekarang tidak diketahui nama mereka,                    Maha Kuasa (untuk membuat penilaian ).(15)
     karena mereka dari kalangan orang kebanyakan                            Dan mereka (orang-orang yang beriman) itu
       14  Hadits diriwayatkan oleh Ahmad (ibn Hanbal) dalam kitab       ialah yang apabila menjadi sasaran kejahatan
          Musnad-nya oleh Abu Dawud dalam kitab Sunan-nya, dikutip       (orang lain), mereka membela diri.
          oleh Muhibb al-Din al-Khathib dalam kata penutup untuk
          kitab.al-Muntaqa min Minhaj al-I'tidal (ringkasan Minhaj al-
                                                                             Balasan bagi suatu kejahatan ialah kejahatan
          Sunnah oleh Ibn Taymiyyah) oleh Abu 'Abdullah Muhammad         yang setimpal. Tetapi barangsiapa memberi
          ibn 'Utsman al-Dzahabi (Damaskus: Maktabat Dar al-Bayan,
          1374 H), h. 574.                                                15  Q., s. al-Nisa'/4:149.

84
maaf dan berdamai, maka pahalanya adalah atas          keluarga sendiri, atau (3) suatu masyarakat juga
tanggungan Allah.                                      boleh jadi berdiri tegak demi hak-hak kolektif
    Sesungguhnya Dia tidak suka kepada mereka          mereka, atau (4) demi hak orang-orang lain. No.
yang zalim.                                            2, 3, dan 4 dianggap sangat berkebajikan untuk
    Tetapi orang yang membela diri setelah             semua, meskipun sedikit orang yang berani dan
dijahati, maka atas mereka itu tidak ada jalan         bersemangat untuk bangkit menuju ke nilai yang
(untuk disalahkan).                                    begitu tingginya. No. 1 terutama rawan terhadap
    Melainkan jalan (untuk disalahkan) adalah          penyalahgunaan, mengingat sifat manusia yang
tertuju kepada mereka yang berbuat jahat kepada        mementingkan diri sendiri. No. 2, 3, dan 4 juga
sesama manusia, dan tanpa alasan kebenaran             dapat disalahgunakan oleh mereka yang berpura-
membuat pelanggaran di muka bumi. Mereka               pura bermotifkan kebaikan umum padahal
itulah yang mendapatkan siksa yang pedih.              mereka hanya melayani kepentingan pribadi atau
    Namun sungguh, barangsiapa bersikap                pandangan sempit mereka sendiri; karena itu
sabar dan bersedia memberi maaf, maka itulah           disebutlah nilai-nilai dalam empat ayat berikutnya .
keteguhan hati dalam segala perkara (kebenaran).(16)       ... Jika Anda mempertahankan hak, baik
    Berkenaan dengan ayat-ayat suci yang               atas dasar kepentingan pribadi ataupun umum,
difirmankan dalam kaitannya dengan ajaran              mungkin hal itu terjadi lewat proses hukum,
musyawarah, yang termaktub dalam surah al-Syura        atau melalui tindakan mempertahankan diri
(musyarawah) itu, baik sekali kami kemukakan           sepanjang hal itu diizinkan oleh hukum. Tetapi
di sini komentar panjang dari A. Yusuf Ali dalam       dalam keadaan apa pun Anda tidak boleh mencari
tafsirnya yang amat terkenal:                          balasan yang lebih besar daripada kejahatan yang
    ... Ada empat situasi yang mungkin timbul:         Anda derita. Paling jauh yang Anda bisa lakukan
seseorang boleh jadi berdiri tegak melawan             ialah meminta balasan setimpal, yaitu, kerugian
penindas (1) demi haknya sendiri yang diinjak-injak,   setimpal dengan kerugian yang ditimpakan
atau (2) demi hak orang-orang lain dalam kalangan      orang kepada Anda. Ini pun dapat memuaskan
                                                       untuk menekan jiwa Anda yang cenderung untuk
  16  Q., s. al-Syura/42:39-43.

                                                                                                              85
melakukan balas dendam. Tetapi cara yang ideal
     bukanlah dengan memuaskan kehausan Anda
     untuk membalasdendam, melainkan dengan
     mengikuti jalan yang lebih baik menuju kepada
     pendidikan kembali si penjahat kepada Anda itu
     atau rekonsiliasi kepadanya .
         ...Anda dapat mengambil langkah-langkah
     untuk mencegah terulangnya kejahatan, dengan
     cara fisik atau moral; dan cara moral yang paling
     baik ialah dengan mengubah kebencian menjadi
     persahabatan lewat sikap memaafkan dan cinta.
     Dalam hal ini, balasan atau ganjarannya (jika kita
     harus menggunakan istilah-istilah serupa itu),
     adalah agung secara tak terbatas, karena hal itu
     berarti memperoleh ridla Tuhan.(17)
         Begitulah kutipan firman-firman Ilahi dan
     komentarnya oleh seorang penafsir yang ahli
     dan kompeten. Semoga hal itu cukup memberi
     gambaran tentang ide mengenai masyarakat
     Salaf sebagai masyarakat etika, lebih daripada
     masyarakat hukum saja, yaitu masyarakat yang
     harus dipandang dan diasumsikan sebagai
     yang telah benar-benar paham akan ajaran
     Kitab Suci dan telah dengan sungguh-sungguh
     melaksanakannya.
       17  A. Yusuf Ali, hh. 1317-8, catatan 4580-4581.

86
Pertimbangan Kemaslahatan Dalam
                                                                                                           7
     Menangkap Makna dan Semangat
    Ketentuan Keagamaan: Kasus Ijtihad
           'Umar Ibn Al-Khattab
B    erkaitan erat dengan pokok pembahasan
     tentang reaktualisasi ajaran-ajaran agama
yang dibawakan oleh Bapak Munawir Syadzali
                                                       kebaikan), istislah (mencari kemaslahatan), dalam
                                                       hal ini kebaikan atau kemaslahatan umum (al-
                                                       maslahat al-'ammah, al-maslahat al-mursalah)
ialah persoalan pertimbangan kemaslahatan atau         disebut juga sebagai keperluan atas kepentingan
kepentingan umum dalam usaha menangkap                 umum (umum al-balwa).
makna dan semangat berbagai ketentuan                       Contoh klasik untuk tindakan
keagamaan. Pertimbangan itu terlebih lagi              mempertimbangkan kepentingan umum dalam
berlaku berkenaan dengan ketentuan agama yang          menangkap makna semangat agama itu ialah yang
tercakup dalam pengertian istilah "syari'at" sebagai   dilakukan oleh Khalifah II, 'Umar ibn al-Khattab
hal yang mengarah kepada sistem hukum dalam            r.a., berkenaan dengan masalah tanah-tanah
masyarakat.                                            pertanian berserta garapan-garapannya yang baru
    Dalam teori-teori dan metode baku                  dibebaskan oleh tentara Muslim di negeri Syam
pemahaman agama, hal tersebut dituangkan               (Syria Raya, meliputi keseluruhan kawasan pantai
dalam konsep-konsep tentang istihsan (mencari          timur Laut Tengah), Irak, Persia dan Mesir.
Pendirian 'Umar untuk mendahulukan               Qur' an.
     pertimbangan tentang kepentingan umum                    Dalam banyak hal 'Umar memang dikenal
     yang menyeluruh, baik secara ruang (meliputi         sebagai tokoh yang sangat bijaksana dan kreatif,
     semua orang di semua tempat) maupun                  bahkan jenius, tetapi juga penuh kontroversi. Tidak
     waktu (mencakup generasi sekarang dan masa           semua orang setuju dengan 'Umar, dari dahulu
     datang) mula-mula mendapat tantangan hebat           sampai sekarang. Kaum Syi'ah, misalnya, menolak
     dari para sahabat Nabi, dipelopori antara lain       keras ketokohan 'Umar, khususnya kalangan
     oleh 'Abd al-Rahman ibn Awf dan Bilal (bekas         ekstrim (al-ghulat) dari mereka. Yang moderat
     muazin yang sangat disayangi Nabi). Mereka ini       pun masih melihat pada 'Umar hal-hal yang
     berpegang teguh kepada beberapa ketentuan            "menyimpang" dari agama. Atau, seperti dikatakan
     (lahir) di beberapa tempat dalam al-Qur'an dan       oleh seorang tokoh 'ulama Syi'ah, Muhammad al-
     dalam Sunnah atau praktek Nabi pada peristiwa        Husayn Al Kashif al-Ghita', banyak tindakan 'Umar,
     pembebasan Khaybar (sebuah kota oase beberapa        seperti dalam kasus ia melarang nikah mut'ah,
     ratus kilometer utara Madinah), dari sekelompok      adalah semata-mata tindakan sosial-politik,
     orang Yahudi yang berkhianat. Tetapi, sebaliknya,    yang tidak ada sangkut pautnya dengan bukan
     sejak dari semula para sahabat Nabi yang lain,       keagamaan (madaniyyan la diniyyan).(1)
     termasuk tokoh-tokoh seperti 'Utsman ibn 'Affan          Untuk memperoleh gambaran yang hidup dan
     dan 'Ali ibn Abi Talib (kedua-duanya kelak menjadi   langsung tentang ijtihad 'Umar dan kemelut yang
     Khalifah, berturut-turut yang ketiga dan keempat),   ditimbulkannya di Madinah selama berhari-hari
     sepenuhnya menyetujui pendapat 'Umar dan             itu, di bawah ini disajikan terjemahan dari dua
     sepenuhnya mendukung pelaksanaannya.                 penuturan oleh dua orang ahli. Tanpa membuat
         Pertikaian pendapat itu berlangsung panas        teori yang abstrak, dari kedua penuturan itu dapat
     selama berhari-hari di Madinah, sampai akhirnya      kita tarik inspirasi untuk melihat dan memecahkan
     dimenangkan oleh 'Umar dan kawan-kawan               berbagai masalah kita sendiri sekarang, sesuai
     dengan argumen-argumen yang tepat, juga
                                                            1  Muhammad al-Husayn Al Kashif al-Ghitha, Ashl al-Shi'ah
     berdasarkan ketentuan-ketentuan Kitab Suci al-
                                                               wa Ushuluha (Beirut: Mu'assasat al-A'lami, 1982), h. 101.

88
dengan tuntutan ruang dan waktu, sama dengan                       olehmu sekalian bahwa apa pun yang kamu
tantangan yang dihadapi dan diselesaikan oleh                      peroleh sebagai rampasan perang dari sesuatu
'Umar.                                                             (harta kekayaan) itu maka seperlimanya adalah
   Yang pertama dari kedua penuturan itu                           untuk Allah dan untuk Rasul, kaum kerabat (dari
berjudul Dari Celah Fiqh 'Umar di Bidang Ekonomi                   Nabi), anak-anak yatim, orang-orang miskin dan
dan Keuangan, oleh: al-Ustadh al-Bahi al-Khuli,(2)                 ibn al-sabil (orang terlantar di perjalanan), jika
sebagai berikut:                                                   kamu sekalian benar-benar beriman kepada
   Berita-berita telah sampai kepada 'Umar r.a.                    Allah dan kepada apa yang telah Kami turunkan
dengan membawa kabar gembira tentang telah                         (al-Qur'an) atas hamba Kami (Muhammad) pada
terbebaskannya Syam, Irak dan negeri Khusru                        hari penentuan, yaitu hari ketika kedua golongan
(Persia), dan ia mendapati dirinya berhadapan                      manusia (Muslim dan Musyrik) bertemu (dalam
dengan persoalan ekonomi yang rumit ... Harta                      peperangan, yakni, Perang Badar). Allah Maha
benda musuh, yang terdiri dari emas, perak, kuda                   Kuasa atas segala sesuatu."(3)
dan ternak telah jatuh sebagai harta rampasan                           Tetapi berkenaan dengan tanah-tanah
perang (ghanimah) di tangan bala tentara yang                      pertanian itu, 'Umar berpendapat lain...
menang dengan pertolongan Allah ... Dan tanah-                     Pendiriannya ialah bahwa tanah-tanah itu harus
tanah pertanian mereka pun termasuk dalam                          disita, dan tidak dibagi-bagikan, lalu dibiarkan
penguasaan tentara itu.                                            seolah-olah tanah-tanah itu kepunyaan negara di
   Berkenaan dengan harta (yang bergerak)                          tangan para pemilik (aslinya setempat) yang lama,
maka 'Umar telah melaksanakan hukum Allah                          kemudian mereka ini dikenakan pajak (kharaj), dan
mengenainya. Dia ambil seperlimanya, dan                           hasil pajak itu dibagi-bagikan kepada keseluruhan
membagi-bagikan empat perlima lainnya                              orang-orang Muslim setelah disisihkan daripada
kepada masing-masing anggota tentara sebagai                       gaji tentara yang ditempatkan di pos-pos
pelaksanaan firman Allah Ta'ala, "Dan ketahuilah                   pertahanan (al-thughur, seperti Basrah dan Kufah
  2  Al-Bahi al-Khuli, "Min fiqh 'Umar fi al-Iqtisad wa al-Mal",   di Irak) dan negeri-negeri yang terbebaskan.
     dalam majalah al-Muslimun (Damaskus), No. 4, Jumada al-
     Akhirah, 1373 H/Februari, 1954, hh. 55-59.                      3  Q., s. al-Anfal/8:41.

                                                                                                                        89
Tetapi kebanyakan para sahabat menolak          pihak mereka yang menentang pendapat 'Umar,
     kecuali jika tanah-tanah itu dibagikan di antara    yang terdiri dari mereka yang menghendaki
     mereka karena tanah-tanah itu adalah harta-         kekayaan yang memang halal dan telah
     kekayaan yang dikaruniakan Allah sebagai            dikaruniakan Tuhan kepada mereka itu.
     rampasan (fay') kepada mereka.                          Mereka ini mengajukan argumen kepadanya
         Adapun titik pandangan 'Umar ialah bahwa        bahwa harta kekayaan itu adalah fay' (jenis harta
     negeri-negeri yang dibebaskan itu memerlukan        yang diperoleh dari peperangan), dan tanah
     tentara pendudukan yang tinggal di sana, dan        rampasan serupa itu telah pernah dibagi-bagikan
     tentara itu tentulah memerlukan ongkos. Maka jika   Rasul 'alayhi al-salam sebelumnya, dan beliau
     tanah-tanah pertanian itu habis dibagi-bagi, lalu   (Rasul) tidak pernah melakukan sesuatu seperti
     bagaimana tentara pendudukan itu mendapatkan        yang ingin dilakukan 'Umar. Terutama Bilal r.a.
     logistik mereka?' ... Demikian itu, ditambah lagi   sangat keras terhadap 'Umar, dan mempelopori
     bahwa Allah tidak menghendaki harta kekayaan        gerakan oposisi sehingga menyesakkan dada
     hanya berkisar atau menjadi sumber rejeki           'Umar dan menyusahkannya, sehingga karena
     kaum kaya saja. Jika habis dibagi-bagi tanah-       susah dan sedihnya itu 'Umar mengangkat kedua
     tanah pertanian yang luas di Syam, Mesir, Irak      tangannya kepada Tuhan dan berseru, "Oh Tuhan,
     dan Persia kepada beberapa ribu sahabat, maka       lindungilah aku dari Bilal dan kawan-kawan."
     menumpuklah kekayaan di tangan mereka,              Akhirnya memang Tuhan melindunginya dari Bilal
     dan tidak lagi tersisa sesuatu apa pun untuk        dan kawan-kawan dengan paham keagamaannya
     mereka yang masuk Islam kelak kemudian hari         yang mendalam, yang meneranginya dengan
     sesudah itu. Sehingga terjadilah adanya kekayaan    suatu cahaya dari celah baris-baris dalam Kitab
     yang melimpah di satu pihak, dan kebutuhan          Suci, dan dengan argumen yang unggul, yang
     (kemiskinan) yang mendesak di pihak lain ...        semua golongan tunduk kepada kekuatannya.
     Itulah keadaan yang hati nurani 'Umar tidak bisa        Begitulah 'Umar yang suatu saat berkata
     menerimanya.                                        kepada sahabat-sahabatnya yang hadir bahwa
         Tetapi dalil dari Kitab dan Sunnah berada di    Sa'd ibn Abi Waqqas menulis surat kepadanya dari

90
Irak bahwa masyarakat (tentara Muslim) yang ada      turun dan para janda di negeri ini dan di tempat
bersama dia telah memintanya untuk membagi-          lain dari kalangan penduduk Syam dan Irak?"
bagi harta rampasan di antara mereka dan tanah-          Orang banyak: "Bagaimana mungkin sesuatu
tanah pertanian yang dikaruniakan Allah kepada       yang dikaruniakan Tuhan kepada kami sebagai
mereka sebagai rampasan juga. (Kemudian terjadi      harta rampasan dengan perantaraan pedang-
dialog berikut):                                     pedang kami akan engkau serahkan kepada kaum
      Sekelompok dari mereka berkata: "Tulis surat   yang belum ada dan belum bersaksi, serta kepada
kepadanya dan hendaknya ia membagi-bagikan           anak-cucu mereka turun-temurun yang belum
tanah itu antara mereka."                            ada?"
      'Umar: "Lalu bagaimana dengan orang-orang          'Umar (dalam keadaan bingung dan termangu):
Muslim yang datang kemudian sesudah itu, yang        "Ini adalah suatu pendapat."
akan mendapati tanah-tanah telah habis terbagi-          Orang banyak: "Bermusyawarahlah"
bagikan, terwariskan dari orang-orang tua serta          Maka 'Umar pun bermusyawarah dengan
telah terkuasai?... Ini bukanlah pendapat yang       kaum Muhajirin yang terkemuka, yang memiliki
benar."                                              kepeloporan dan keperintisan yang mendalam
      'Abd al-Rahman ibn 'Awf: "Lalu apa pendapat    dalam Islam:
yang benar?... Tanah-tanah itu tidak lain daripada       'Abd al-Rahman ibn 'Awf: "Aku berpendapat
sesuatu yang dikaruniakan Tuhan kepada mereka        hendaknya kau bagi-bagikan kepada mereka itu
sebagai rampasan!" 'Umar: "Memang seperti            hak-hak mereka."
yang kau katakan ... Tapi aku tidak melihatnya           'Ali ibn Abi Talib: "Tapi pendapat yang benar
begitu ... Demi Tuhan, tiada lagi suatu negeri       ialah pendapatmu, wahai Amir al-Mu'minin!"
akan dibebaskan sesudahku melainkan mungkin              Al-Zubayr ibn al-'Awwam: "Tidak! Sebaliknya,
akan menjadi beban atas orang-orang Muslim           apa yang dikaruniakan Tuhan kepada kita sebagai
... Jika tanah-tanah pertanian di Irak dan Syam      rampasan dengan pedang kita itu harus dibagi-
dibagi-bagikan, maka dengan apa biaya pos-pos        bagi."
pertahanan ditutup, dan apa yang tersisa bagi anak       'Utsman ibn 'Affan: "Pendapat yang benar ialah

                                                                                                          91
yang dikemukakan 'Umar."                               orang dari suku al-Khazraj, kemudian ia berpidato
         Bilal: "Tidak! Demi Tuhan, sebaliknya kita harus   di depan mereka dengan pernyataan yang indah
     melaksanakan hukum Tuhan terhadap harta yang           dan bijaksana ini: ('Umar membaca hamdalah dan
     dikaruniakan sebagai rampasan kepada hamba-            memuji Tuhan sesuai dengan yang patut bagi-Nya,
     hambaNya yang beriman."                                kemudian berkata),
         Talhah: "Aku berpendapat bahwa yang benar              "Aku tidak bermaksud mengejutkan kalian
     ialah yang dianut 'Umar."                              kecuali hendaknya kalian menyertaiku dalam
         Al-Zubayr: "Ke mana kalian, wahai kaum,            amanat mengenai urusan kalian yang dibebankan
     hendak pergi dari Kitab Allah?"                        kepadaku. Sebab aku hanyalah salah seorang saja
         'Abd Allah ibn 'Umar: "Teruskan, wahai Amir        dari antara kalian ... Dan kalian hari ini hendaknya
     al-Mu'minin, dengan pendapatmu itu. Sebab aku          membuat keputusan dengan benar-siapa saja yang
     harap bahwa di situ ada kebaikan bagi umat ini."       hendak berbeda pendapat denganku, silakan ia
         Bilal (berteriak dan marah): "Demi Tuhan,          berbeda, dan siapa saja yang hendak bersepakat
     tidak berlaku di umat ini kecuali apa yang telah       denganku, silakan ia bersepakat ... Aku tidaklah
     ditentukan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya            ingin kalian mengikuti begitu saja hal yang
     s.a.w."                                                menjadi kecenderunganku ini ... Di tangan kalian
         'Umar (dalam keadaan sesak dada dan sedih):        ada Kitab Allah yang menyatakan kebenaran ...
     "Oh Tuhan, lindungilah aku dari Bilal dan kawan-       Dan demi Tuhan, kalau aku pernah menyatakan
     kawan."                                                suatu perkara yang kuinginkan, aku tidak
         Pertengkaran itu memuncak selama tiga hari,        menginginkannya kecuali kebenaran."
     dan kegaduhan orang banyak sekitar masalah                 Kaum Ansar: "Bicaralah, dan kami semua akan
     itu pun menjadi-jadi. 'Umar berpikir untuk             mendengarkan, wahai Amir al-Mu'minin."
     memperluas musyawarahnya keluar kalangan                   'Umar: "Kalian telah mendengar pembicaraan
     Muhajirin sehingga mencakup para pemuka Ansar          mereka, kelompok yang menuduhku berbuat zalim
     (Ansar), dan dipanggillah oleh Umar sepuluh orang      berkenaan dengan hak-hak mereka. Aku benar-
     dari mereka, lima orang dari suku al-Aws dan lima      benar berlindung kepada Allah dari melakukan

92
kezaliman ... Jika aku telah berbuat zalim kepada    itu jika semua tanah pertanian telah habis dibagi-
mereka berkenaan dengan sesuatu yang menjadi         bagi?"
milik mereka dan aku memberikannya kepada                Semua yang hadir: "Pendapat yang benar ialah
orang lain, maka benar-benar telah celakalah         pendapatmu. Alangkah baiknya apa yang kau
diriku ... Tetapi aku melihat bahwa tidak ada lagi   katakan dan lihat itu. Jika pos-pos pertahanan dan
sesuatu (negeri) yang dibebaskan sesudah negeri      kota-kota itu tidak diisi dengan personil-personil,
Khusru (Persia), dan Allah pun telah merampas        serta disediakan bagi mereka perbekalan mereka,
untuk kita harta kekayaan mereka dan tanah-tanah     maka tentulah kaum kafir akan kembali ke kota-
pertanian mereka. Maka aku bagi-bagikanlah           kota mereka."
semua kekayaan (yang bergerak) kepada mereka             Kemudian terlintas dalam benak 'Umar suatu
yang berhak, kemudian aku ambil seperlimanya,        cahaya seperti biasanya jika kebenaran datang ke
dan aku atur menurut aturan tertentu, dan aku        lisan dan hatinya, lalu berkata:
sepenuhnya bertanggungjawab atas pengaturan              "Sungguh telah kudapatkan argumen dalam
itu ... Tetapi aku berpendapat untuk menguasai       Kitab Allah,
tanah-tanah pertanian dan aku kenakan pajak atas         'Sesuatu apa pun yang dikaruniakan Allah
para penggarapnya, dan mereka berkewajiban           sebagai harta rampasan untuk Rasul-Nya dari
membayar jizyah sebagai fay' untuk orang-orang       penduduk negeri-negeri (yang dibebaskan)
Muslim, untuk tentara yang berperang serta anak      adalah milik Allah, Rasul, kaum kerabat, anak-anak
turun mereka, dan untuk generasi yang datang         yatim, orang-orang miskin dan orang terlantar
kemudian ... Tahukah kalian pos-pos pertahanan       dalam perjalanan, agar supaya tidak berkisar
itu? Di sana harus ada orang-orang yang tinggal      diantara orang-orang kaya saja dari kamu.
menetap. Tahukah kalian, negeri-negeri besar         Maka apa pun yang diberikan Rasul kepadamu
seperti Syam, al-Jazirah (Lembah Mesopotamia),       sekalian hendaklah kamu ambil, dan apa pun
Kufah, Basrah dan Mesir? Semuanya itu harus diisi    yang Rasul melarangnya untuk kamu hendaklah
dengan tentara dan disediakan perbekalan untuk       kamu hentikan. Dan bertaqwalah kamu sekalian
mereka. Dari mana mereka mendapat perbekalan         kepada Allah, sesungguhnya Allah itu keras dalam

                                                                                                           93
siksaan.'"                                             (dari generasi mendatang), dan berfirman,
         "Selanjutnya," kata 'Umar, "Allah berfirman,           'Dan orang-orang yang muncul sesudah
         'Dan bagi orang-orang miskin dari kalangan         mereka (Muhajirin dan Ansar) itu semuanya
     Muhajirin yang diusir dari rumah-rumah dan harta       berdo'a: 'Oh Tuhan kami, ampunilah kami dan
     kekayaan mereka, guna mencari kemurahan Allah          saudara-saudara kami yang telah mendahului kami
     dan Ridla-Nya, serta membantu Allah dan Rasul-         dalam beriman, dan janganlah ditumbuhkan dalam
     Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.'"           hati kami perasaan dengki kepada sekalian mereka
         "Kemudian," kata 'Umar lagi, "Allah tidak rela     yang beriman itu. Oh Tuhan, sesungguhnya
     sebelum Dia mengikutsertakan orang-orang lain          Engkau Maha Penyantun dan Maha Penyayang.'"(4)
     dan berfirman,                                             "Ayat ini," kata 'Umar, "secara umum berlaku
         'Dan mereka (kaum Ansar) yang telah                untuk semua orang yang muncul sesudah mereka
     bertempattinggal di negeri (Madinah) serta             (kaum Muhajirin dan Ansar) itu, sehingga harta
     beriman sebelum (datang) mereka (kaum                  rampasan (fay') adalah untuk mereka semua. Maka
     Muhajirin); mereka itu mencintai orang-orang yang      bagaimana mungkin kita akan membagi-baginya
     berhijrah kepada mereka, dan tidak mendapati           untuk mereka (tentara yang berperang saja), dan
     dalam dada mereka keinginan terhadap apa yang          kita tinggalkan mereka yang datang belakangan
     diberikan kepada orang-orang yang berhijrah            tanpa bagian? Kini menjadi jelas bagiku perkara
     itu, bahkan mereka lebih mementingkan orang-           yang sebenarnya." (Demikian 'Umar).
     orang yang berhijrah itu daripada diri mereka              Para pembahas dapat menarik kesimpulan
     sendiri meskipun kesusahan ada pada mereka.            dari pendirian 'Umar itu tentang banyak hukum
     Barangsiapa yang terhindar dari kekikiran dirinya      sosial dan ekonomi. Di situ kita dapat melihat
     sendiri, maka mereka itulah orang-orang yang           'Umar sangat cermat memperhatikan agar harta
     bahagia.'"                                             kekayaan tidak menumpuk hanya di tangan
         "Firman ini," jelas 'Umar, adalah khusus tentang   sekelompok orang-orang kaya saja. Sebab
     kaum Ansar. Kemudian Allah tidak rela sebelum          penyerahan pemilikan atas berpuluh-puluh juta
     menyertakan bersama mereka itu orang-orang lain
                                                             4  Q., s. al-Hashr/59:7-10.

94
hektar tanah pertanian di Irak, Syam, Persia dan       lain, berupa pandangan-pandangan finansial dan
Mesir kepada sekelompok tentara dan bawahannya         ekonomi yang menunjukkan luasnya ufuk dan
akan membentuk sejumlah orang kaya yang                keluwesan pemikiran serta daya cakup Islam yang
pada mereka terdapat harta benda melimpah              hanif (secara alami selalu mencari yang benar
ruah, dengan peredarannya pun terpusat kepada          dan baik) terhadap masalah-masalah yang pelik
mereka saja. Hal itu akan membawa dampak sosial        ... Semoga Allah memberi kita petunjuk untuk
dan moral yang akibatnya tidak terpuji.                menggali dari agama kita berbagai kekayaan, hal-
   Di dalamnya kita melihat 'Umar memandang            hal mendasar dan hakiki.
harta sebagai hak semua orang dan menempuh                  Penuturan kedua berjudul "Bagaimana Para
kebijaksanaan yang memperhitungkan                     Sahabat Nabi Menggunakan Akal Mereka untuk
kemaslahatan generasi mendatang. Itu adalah            Memahami al-Qur'an", oleh: Dr Ma'ruf al-Dawalibi:(5)
pandangan yang cermat dan mendalam, yang                    Barangkali dari antara banyak masalah ijtihad
dalam al-Qur'an diketemukan sandaran yang              dan kejadian yang mucul di zaman para sahabat
sangat kuat.                                           setelah wafat Nabi, yang paling menonjol ialah
   Di dalamnya juga terdapat tindakan sejenis          masalah pembagian tanah-tanah (pertanian)
nasionalisasi tanah-tanah pertanian atau               yang telah dibebaskan oleh tentara (Islam) melalui
yang mendekati itu, yaitu ketika ia mencegah           peperangan di Irak, Syam (Syria) dan Mesir.
sekelompok orang-orang Muslim sezamannya dari               Telah terdapat nas al-Qur'an yang menyebutk.
menguasai tanah-tanah yang dikaruniakan Tuhan          an dengan jelas tanpa kesamaran sedikit pun
sebagai harta rampasan (fay'), dan ia tidak bergeser   di dalamnya bahwa seperlima harta rampasan
dari pendapatnya untuk menjadikan tanah-               (perang) harus dimasukkan ke bayt al-mal, dan
tanah itu milik negara, yang dari hasil pajaknya ia    harus diperlakukan sesuai dengan pengarahan
membuat anggaran untuk tentara, dan dengan             yang ditentukan oleh ayat suci. Allah telah
hasil itu pula ia menanggulangi kesulitan-kesulitan      5  Ma'ruf al-Dawalibi, "Kayfa ista'mala al-sahaabah 'uqulahum
di masa depan.                                              fi fahm al-Qur'an", dalam majalah al-Muslimun (Damaskus),
                                                            No. 7, Rabi' al-Thani 1375 H./Tashrin al-Thani (November)
   Di dalamnya juga terdapat banyak hal yang
                                                            1955, hh. 4347.

                                                                                                                         95
berfirman dalam Surah al-Anfal, "Dan ketahuilah    garapannya telah habis terbagi-bagi, dan telah
     olehmu sekalian bahwa apa pun yang kamu            pula terwariskan turun-temurun dan terkuasai? Itu
     rampas (dalam perang) dari sesuatu (harta) maka    bukanlah pendapat (yang baik).
     seperlimanya adalah untuk Allah, Rasul, kaum            'Abd al-Rahman ibn 'Awf, menyanggah 'Umar:
     kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin,      "Lalu apa pendapat (yang baik)? Tanah pertanian
     dan orang yang terlantar dalam perjalanan (ibn     dan garapannya itu tidak lain adalah harta
     al-sabil)."(6)                                     rampasan yang diberikan Allah kepada mereka!"
         Sedangkan yang empat perlima selebihnya             'Umar menjawab: "Itu tidak lain adalah katamu
     maka dibagi sama antara mereka yang merampas       sendiri, dan aku tidak berpendapat begitu. Demi
     (dalam perang) itu, sebagai pengamalan ketentuan   Tuhan, tidak akan ada lagi negeri yang dibebaskan
     yang bisa dipahami dari ayat suci tersebut dan     sesudahku yang di situ terdapat kekayaan besar,
     praktek Nabi s.a.w. ketika beliau membagi (tanah   bahkan mungkin akan menjadi beban atas orang-
     pertanian) Khaybar kepada para tentara.            orang Muslim. Jika aku bagi-bagikan tanah-tanah
         Maka, sebagai pengamalan al-Qur'an dan al-     di Irak beserta garapannya, tanah-tanah di Syam
     Sunnah, datanglah para perampas (harta rampasan    beserta garapannya, maka dengan apa pos-pos
     perang) itu kepada 'Umar ibn al-Khaththab,         pertahanan akan dibiayai? Dan apa yang tersisa
     dan meminta agar ia mengambil seperlima            untuk anak cucu dan janda-janda di negeri itu dan
     daripadanya untuk Allah dan orang-orang yang       ditempat lain dari kalangan penduduk Syam dan
     disebutkan dalam ayat (dimasukkan dalam bayt       Irak?"
     al-mal), kemudian membagi sisanya kepada                Orang pun banyak berkumpul sekitar 'Umar,
     mereka yang telah merampasnya dalam perang.        dan mereka semua berseru; "Apakah engkau akan
     (Kemudian terjadi dialog berikut):                 memberikan sesuatu yang oleh Allah diberikan
         Kata 'Umar: "Lalu bagaimana dengan orang-      untuk kami dengan perantaraan pedang-pedang
     orang Muslim yang datang kemudian? Mereka          kami kepada kaum yang belum ada dan belum
     mendapati tanah-tanah pertanian beserta            bersaksi? Dan kepada anak-anak mereka itu serta
                                                        cucu-cucu mereka yang belum ada?"
      6  Lihat catatan 3.

96
Namun 'Umar tak bergeming kecuali berkata:       dengan aku, silakan ia berbeda, dan siapa saja
"Itulah pendapatku."                                 yang hendak bersepakat dengan aku, silakan ia
    Mereka menyahut: "Bermusyawarahlah!"             bersepakat. Aku tidaklah ingin kalian mengikuti
    Maka 'Umar pun bermusyawarah dengan              begitu saja hal yang menjadi kecenderunganku ini.
kaum Muhajirin yang terkemuka, dan mereka            Di tangan kalian ada Kitab Allah yang menyatakan
ini berselisih pendapat. Adapun Abd al-Rahman        kebenaran. Dan demi Tuhan, kalau aku pernah
ibn 'Awf, maka pendapatnya ialah agar diberikan      menyatakan suatu perkara yang kuinginkan, aku
kepada para tentara itu apa yang telah menjadi       tidak menginginkannya kecuali kebenaran."
hak mereka. Sedangkan pendapat 'Utsman, 'Ali,            Semuanya serentak berkata: "Bicaralah, dan
Thalhah dan Ibn 'Umar sama dengan pendapat           kami semua akan mendengarkan, wahai Amir al-
Umar.                                                Mu'minin."
    Kemudian 'Umar memanggil sepuluh orang               Dan mulailah 'Umar berbicara:
dari golongan Ansar, lima orang dari suku al-Aws         "Kalian telah mendengar pembicaraan mereka,
dan lima orang dari suku al-Khazraj, terdiri dari    kelompok yang menuduh aku berbuat zalim
para pembesar dan petinggi mereka. Setelah           berkenaan dengan hak-hak mereka. Aku benar-
mereka berkumpul, 'Umar membaca hamdalah             benar berlindung kepada Allah dari melakukan
dan memuji Tuhan, kemudian berkata (penuturan        kezaliman. Jika aku telah berbuat zalim kepada
al-Dawalibi ini tidak jauh berbeda dengan al-Khuli   mereka berkenaan dengan sesuatu yang menjadi
di atas):                                            milik mereka dan aku berikan kepada orang lain,
    "Aku tidak bermaksud mengejutkan kalian          maka benar-benar telah celakalah diriku. Tetapi
kecuali hendaknya kalian menyertaiku dalam           aku melihat bahwa tidak ada lagi sesuatu (negeri)
amanatku dan dalam urusan kalian yang                yang dibebaskan sesudah negeri Khusru (Raja
dibebankan kepadaku. Sebab aku hanyalah              Persia), dan Allah pun telah merampas untuk
salah seorang saja dari kalian, dan kalian hari      kita harta kekayaan mereka dan tanah-tanah
ini hendaknya membuat keputusan dengan               pertanian mereka, garapan-garapan mereka,
benar: siapa saja yang hendak berbeda pendapat       maka aku bagi-bagikanlah semua kekayaan (yang

                                                                                                         97
bergerak) kepada mereka yang berhak, kemudian          sampai membagi-baginya, maka akan terjadilah
     aku ambil seperlimanya, dan aku atur menurut           kekayaan yang amat besar berada di tangan
     aturan tertentu, dan aku sepenuhnya bertanggung        kelompok orang tertentu, kemudian mereka
     jawab atas pengaturan itu. Tetapi aku berpendapat      akan mati, lalu harta itu akan bergeser ke tangan
     untuk menguasai tanah-tanah pertanian beserta          satu orang, baik laki-laki atau pun perempuan,
     garapan-garapannya, dan aku terapkan pajak             dan sesudah mereka itu muncul generasi yang
     atas para penggarap tanah-tanah itu, dan mereka        benar-benar melihat adanya kebaikan pada Islam
     berkewajiban membayar jizyah sebagai fay' untuk        —yaitu mereka mendapati dalam Islam suatu
     orangorang Muslim, baik yang berperang maupun          keuntungan— namun mereka tidak mendapatkan
     anak turun mereka, dan untuk generasi yang             apa-apa. Karena itu carilah sesuatu yang
     kemudian. Tahukah kalian pos-pos pertahanan            menguntungkan baik generasi pertama maupun
     itu? Di sana harus ada orang-orang yang tinggal        generasi akhir."
     menetap. Tahukah kalian, kota-kota besar seperti           Sungguh menakjubkan pernyataan Mu'adz itu:
     (di) Syam, al-Jazirah (Mesopotamia), Kufah, Basrah     Jika tanah-tanah pertanian itu dibagi habis, maka
     dan Mesir? Semuanya itu memerlukan tentara             terjadilah kekayaan amat besar pada kelompok
     untuk mempertahankan dan biaya besar untuk             tertentu, dan kalau mereka ini semuanya telah
     mereka. Dari mana mereka diberi biaya itu jika         tiada, kekayaan itu akan pindah ke tangan satu-
     semua tanah pertanian dan garapannya telah             dua orang, sehingga orang-orang (dari kalangan
     habis dibagi-bagi?" Serentak semuanya menjawab:        penduduk setempat) yang muncul sesudah itu dan
     "Pendapat yang benar ialah pendapatmu.                 memeluk Islam tidak lagi mendapatkan sesuatu
     Alangkah baiknya apa yang kau katakan dan lihat        apa pun! Alangkah cemerlang pernyataannya itu!
     itu. Jika pos-pos pertahanan dan kota-kota itu tidak       Dengan pernyataannya itu, Mu'adz seolah-olah
     diisi dengan personil-personil, serta disediakan       hendak menentang banyak orang sebagaimana
     bagi mereka kebutuhan-kebutuhan mereka, maka           kaum sosialis sekarang menentang para tuan tanah
     tentulah kaum kafir akan kembali ke kota-kota          agar jangan sampai tanah yang luas milik Tuhan
     mereka." Kata Mu'adz kepada 'Umar: "Jika engkau        itu jatuh ke tangan hanya satu-dua orang, baik pria

98
maupun wanita, yang dengan pemilikan tanah itu         tidak lain ialah harta yang dirampaskan oleh Tuhan
orang tersebut memetik buah kerja keras sejumlah       untuk mereka, yakni harta yang diberikan Tuhan
besar para pekerja petani untuk dinikmati sendiri      kepada mereka dari musuh."
tanpa disertai kalangan manusia lainnya.                   Sedangkan 'Umar, dalam menjawab 'Abd
    Para sahabat Nabi itu terus melakukan              al-Rahman atas argumennya itu, menyatakan:
pembicaraan sesama mereka selama beberapa              "Itu tidak lain hanyalah pendapatmu, dan aku
hari. Mereka yang berpendapat harus dibagi-bagi,       tidak berpendapat begitu. Demi Tuhan, tidak ada
berargumentasi dengan praktek Nabi s.a.w. dalam        lagi sesudahku negeri yang dibebaskan yang
membagi-bagikan tanah Khaybar di antara para           di situ terdapat kekayaan yang besar, bahkan
tentara yang membebaskannya, dan dengan                mungkin akan menjadi beban atas orang-orang
firman Allah, "Ketahuilah bahwa apa pun dari           Muslim. Maka jika aku bagi habis tanah Irak dan
sesuatu (kekayaan) yang kamu rampas dalam              garapannya, juga tanah Syam dan garapannya,
peperangan maka seperlimanya adalah untuk              maka bagaimana membiayai pos-pos pertahanan?
Allah, Rasul, para kerabat, anak-anak yatim, orang-    Dan apa yang tersisa untuk anak turun dan janda-
orang miskin, dan orang terlantar di perjalanan."(7)   janda di negeri itu dan di tempat lain dari kalangan
Karena ayat itu hanya mengemukakan ketentuan           penduduk Syam dan Irak?"
untuk menyisihkan seperlima saja dari kekuasaan
para tentara pelaksana rampasan dalam perang
dan menyerahkannya kepada bayt al-mal
untuk digunakan bagi keperluan pihak-pihak
yang berhak yang tersebutkan dalam ayat itu,
sedangkan ayat itu tidak memberi ketentuan
apa-apa tentang bagian yang empat perlima lagi,
maka 'Abd al-Rahman ibn 'Awf berkata kepada
'Umar: "Tanah-tanah pertanian dan garapannya itu
  7 Ibid.

                                                                                                              99
digitized by:
PlantATree — Publishing

Islam, doktrin dan peradaban

  • 1.
    Jurnal Islam, Doktrin danPeradaban Yayasan Paramadina 2000
  • 2.
    Kolofon Tulisan ini diambildari artikel yang dimuat di situs media.isnet.org tanpa seijin dari pengelola dan menurut situs tersebut, tulisan ini pernah diterbitkan oleh: Yayasan Paramadina Digitalisasi dengan menggunakan aplikasi Adobe® InDesign® CS6 for Mac® OS X yang dibuat oleh Adobe® Systems Inc. Typeface yang dipergunakan disini adalah: Myriad Pro, Adobe® Naskh dan Adobe® Garamond Pro yang dibuat oleh Adobe® Systems Inc.
  • 3.
    Jurnal Islam, Doktrin danPeradaban Yayasan Paramadina 2000
  • 4.
  • 5.
    Daftar Isi Kolofon ii 1. Disiplin Keilmuan Tradisional Islam: Ilmu Kalam 1 (Sebuah Tinjauan Singkat Kritis Kesejarahan) Pertumbuhan Ilmu Kalam 2 Peranan Kaum Khawarij dan Mu'tazilah 4 Plus-Minus Ilmu Kalam 8 2. Falsafah Islam: Unsur-Unsur Hellenisme di Dalamnya 15 Pertumbuhan 16 Neoplatonisme 21 Aristotelianisme 22 Penutup 24 3. Disiplin Ilmu Keislaman Tradisional: Fiqh (Tinjauan Dari Segi Makna Kesejarahan) 29 Pangkal Pertumbuhan Fiqh 30 Masa-masa Perkembangan Formatif 33 Ushul al-Fiqh (I) 35 Hadits sebagai Sunnah 36 Ushul al-Fiqh (II) 40 Penutup 41
  • 6.
    4. Kekuatan danKelemahan Paham Asyari Sebagai Doktrin Aqidah Islamiah 43 Imam al-Asy'ari 44 Beberapa Inti Pokok Paham Asy'ari 46 Alur Argumen Kalam Asy'ari 50 Masalah Perilaku Manusia 54 5. Disiplin Keilmuan Islam Tradisional: Tasawuf 59 (Letak dan Peran Mistisisme dalam Penghayatan Keagamaan Islam) Tasawuf Sebagai Gerakan Oposisi 61 Tarik-menarik Antara Syari'ah dan Thariqah 63 Tasawuf Sebagai Olah Ruhani 65 Masalah Keabsahan Tasawuf 68 6. Menangkap Kembali Dinamika Islam Klasik: Masyarakat Salaf Sebagai Masyarakat Etika 73 Golongan Salaf 74 Masyarakat Salaf Sebagai Masyarakat Etik 79 7. Pertimbangan Kemaslahatan Dalam Menangkap Makna dan Semangat Ketentuan Keagamaan: Kasus Ijtihad 'Umar Ibn Al-Khattab 87 vi
  • 7.
    Disiplin Keilmuan TradisionalIslam: 1 Ilmu Kalam (Sebuah Tinjauan Singkat Kritis Kesejarahan) I lmu Kalam adalah salah satu dari empat disiplin keilmuan yang telah tumbuh dan menjadi bagian dari tradisi kajian tentang agama Islam. Tiga lainnya sebagai Teologia, sekalipun sebenarnya tidak seluruhnya sama dengan pengertian Teologia dalam agama Kristen, misalnya. (Dalam pengertian ialah disiplin-disiplin keilmuan Fiqh, Tasawuf, dan Teologia dalam agama kristen, Ilmu Fiqh akan Falsafah. Jika Ilmu Fiqh membidangi segi-segi termasuk Teologia). Karena itu sebagian kalangan formal peribadatan dan hukum, sehingga tekanan ahli yang menghendaki pengertian yang lebih orientasinya sangat eksoteristik, mengenai hal-hal persis akan menerjemahkan Ilmu Kalam sebagai lahiriah, dan Ilmu Tasawuf membidangi segi- Teologia dialektis atau Teologia Rasional, dan segi penghayatan dan pengamalan keagamaan mereka melihatnya sebagai suatu disiplin yang yang lebih bersifat pribadi, sehingga tekanan sangat khas Islam. orientasinya pun sangat esoteristik, mengenai hal- Sebagai unsur dalam studi klasik pemikiran hal batiniah, kemudian Ilmu Falsafah membidangi keislaman. Ilmu Kalam menempati posisi yang hal-hal yang bersifat perenungan spekulatif cukup terhormat dalam tradisi keilmuan kaum tentang hidup ini dan lingkupnya seluas-luasnya, Muslim. Ini terbukti dari jenis-jenis penyebutan maka Ilmu Kalam mengarahkan pembahasannya lain ilmu itu, yaitu sebutan sebagai Ilmu Aqd'id kepada segi-segi mengenai Tuhan dan berbagai (Ilmu Akidah-akidah, yakni, Simpul-simpul derivasinya. Karena itu ia sering diterjemahkan [Kepercayaan]), Ilmu Tawhid (Ilmu tentang
  • 8.
    Kemaha-Esaan [Tuhan]), danIlmu Ushul al-Din kaya dan beraneka ragam. Sedangkan kajian (Ushuluddin, yakni, Ilmu Pokok-pokok Agama). Di tentang Ilmu Kalam meliputi hanya khazanah yang negeri kita, terutama seperti yang terdapat dalam cukup terbatas, yang mencakup jenjang-jenjang sistem pengajaran madrasah dan pesantren, kajian permulaan dan menengah saja, tanpa atau sedikit tentang Ilmu Kalam merupakan suatu kegiatan sekali menginjak jenjang yang lanjut (advanced). yang tidak mungkin ditinggalkan. Ditunjukkan Berkenaan dengan hal ini dapat disebutkan oleh namanya sendiri dalam sebutan-sebutan lain contoh-contoh kitab yang banyak digunakan di tersebut di atas, Ilmu Kalam menjadi tumpuan negeri kita, khususnya di pesantren-pesantren, pemahaman tentang sendi-sendi paling pokok untuk pengajaran Ilmu Kalam. Yaitu dimulai dalam ajaran agama Islam, yaitu simpul-simpul dengan kitab 'Aqidat al-'Awamm (Akidat Kaum kepercayaan, masalah Kemaha-Esaan Tuhan, dan Awam), diteruskan dengan Bad' al-Amal (Pangkal pokok-pokok ajaran agama. Karena itu, tujuan Berbagai Cita) atau Jawharat al-Tauhid (Pertama pengajaran Ilmu Kalam di madrasah dan pesantren Tauhid), mungkin juga dengan kitab Al-Sanusiyyah ialah untuk menanamkan paham keagamaan yang (disebut demikian karena dikarang oleh seseorang benar. Maka dari itu pendekatannya pun biasanya bernama al-Sanusi). doktrin, seringkali juga dogmatis. Disamping itu, sesungguhnya Ilmu Kalam Meskipun begitu, dibanding dengan kajian tidak sama sekali bebas dari kontroversi atau tentang Ilmu Fiqh, kajian tentang Ilmu Kalam di sikap-sikap pro dan kontra, baik mengenai isinya, kalangan kaum "Santri" masih kalah mendalam dan metodologinya, maupun klaim-klaimnya. Karena meluas. Mungkin dikarenakan oleh kegunaannya itu penting sekali mengerti secukupnya ilmu yang praktis, kajian Ilmu Fiqh yang membidangi ini, agar terjadi pemahaman agama yang lebih masalah-masalah peribadatan dan hukum itu seimbang. meliputi khazanah kitab dan bahan rujukan yang 2
  • 9.
    Pertumbuhan Ilmu Kalam 1 Sama halnya dengan disiplin-disiplin keilmuan kalam tidaklah dimaksudkan "pembicaraan" Islam lainnya, Ilmu Kalam juga tumbuh beberapa dalam pengertian sehari-hari, melainkan dalam abad setelah wafat Nabi. Tetapi lebih dari disiplin- pengertian pembicaraan yang bernalar dengan disiplin keilmuan Islam lainnya, Ilmu Kalam sangat menggunakan logika. Maka ciri utama Ilmu Kalam erat terkait dengan skisme dalam Islam. Karena ialah rasionalitas atau logika. Karena kata-kata itu dalam penelusurannya ke belakang, kita akan kalam sendiri memang dimaksudkan sebagai ter sampai kepada peristiwa pembunuhan 'Utsman jemahan kata dan istilah Yunani logos yang juga Ibn 'Aff'an, Khalifah III. Peristiwa menyedihkan secara harfiah berarti "pembicaraan", tapi yang dari dalam sejarah Islam yang sering dinamakan al- kata itulah terambil kata logika dan logis sebagai Fitnat al-Kubra (Fitnah Besar), sebagaimana telah derivasinya. Kata Yunani logos juga disalin ke banyak dibahas, merupakan pangkal pertumbuhan dalam kata Arab manthiq, sehingga ilmu logika, masyarakat (dan agama) Islam di berbagai bidang, khususnya logika formal atau silogisme ciptaan khususnya bidang-bidang politik, sosial dan paham Aristoteles dinamakan Ilmu Mantiq ('Ilm al-Mantiq). keagamaan. Maka Ilmu Kalam sebagai suatu Maka kata Arab "manthiqi" berarti "logis". bentuk pengungkapan dan penalaran paham Dari penjelasan singkat itu dapat diketahui keagamaan juga hampir secara langsung tumbuh bahwa Ilmu Kalam amat erat kaitannya dengan dengan bertitik tolak dari Fitnah Besar itu. Ilmu Mantiq atau Logika. Itu, bersama dengan Sebelum pembahasan tentang proses Falsafah secara keseluruhan, mulai dikenal orang- pertumbuhan Ilmu Kalam ini dilanjutkan, orang Muslim Arab setelah mereka menaklukkan dirasa perlu menyisipkan sedikit keterangan dan kemudian bergaul dengan bangsa-bangsa tentang Ilmu Kalam ('Ilm al-Kalam), dan akan yang berlatar-belakang peradaban Yunani dan lebih memperjelas sejarah pertumbuhannya itu dunia pemikiran Yunani (Hellenisme). Hampir sendiri. Secara harfiah, kata-kata Arab kalam, semua daerah menjadi sasaran pembebasan berarti "pembicaraan". Tetapi sebagai istilah, (fat'h, liberation) orang-orang Muslim telah
  • 10.
    terlebih dahulu mengalamiHellenisasi (disamping atau harus dibunuh? Karena ia berbuat dosa Kristenisasi). Daerah-daerah itu ialah Syria, besar (berbuat tidak adil dalam menjalankan Irak, Mesir dan Anatolia, dengan pusat-pusat pemerintahan) padahal berbuat dosa besar adalah Hellenisme yang giat seperti Damaskus, Atiokia, kekafiran. Dan kekafiran, apalagi kemurtadan Harran, dan Aleksandria. Persia (Iran) pun, meski (menjadi kafir setelah Muslim), harus dibunuh. tidak mengalami Kristenisasi (tetap beragama Mengapa perbuatan dosa besar suatu kekafiran? Majusi atau Zoroastrianisme), juga sedikit banyak Karena manusia berbuat dosa besar, seperti mengalami Hellenisasi, dengan Jundisapur sebagai kekafiran, adalah sikap menentang Tuhan. Maka pusat Hellenisme Persia. harus dibunuh! Dari jalan pikiran itu, para (bekas) Adalah untuk keperluan penalaran logis itu pembunuh 'Utsman atau pendukung mereka bahan-bahan Yunani diperlukan. Mula-mula ialah menjadi cikal-bakal kaum Qadari, yaitu mereka untuk membuat penalaran logis oleh orang- yang berpaham Qadariyyah, suatu pandangan orang yang melakukan pembunuhan 'Utsm'an bahwa manusia mampu menentukan amal atau menyetujui pembunuhan itu. Jika urutan perbuatannya, maka manusia mutlak bertanggung penalaran itu disederhanakan, maka kira-kira jawab atas segala perbuatannya itu, yang baik dan akan berjalan seperti ini: Mengapa 'Utsman boleh yang buruk. Peranan Kaum Khawarij dan Mu'tazilah netral dari peperangan itu bukanlah orang- Para pembunuh 'Utsman itu, menurut beberapa orang yang membunuh 'Utsman. Sebaliknya, petunjuk kesejarahan, menjadi pendukung para pembunuh 'Utsman itu adalah sekelompok kekhalifahan 'Ali Ibn Abi Thalib, Khalifah IV. Ini kecil dari pasukan 'Ali, sedangkan umat saat disebutkan, misalnya, oleh Ibn Taymiyyah, sebagai kekhalifahan 'Utsman itu berjumlah dua ratus ribu berikut: orang, dan yang menyetujui pembunuhannya Sebagian besar pasukan Ali, begitu pula mereka seribu orang sekitar itu.(1) yang memerangi Ali dan mereka yang bersikap 1  Ibn Taymiyyah, Minhaj al-Sunnah, jil. 4, h. 237. 4
  • 11.
    Tetapi mereka kemudiansangat kecewa kepada boleh dikatakan binasa. Tetapi dalam perjalanan 'Ali, karena Khalifah ini menerima usul perdamaian sejarah pemikiran Islam, pengaruh mereka tetap dengan musuh mereka, Mu'awiyah ibn Abu Sufyan, saja menjadi pokok problematika pemikiran Islam. dalam "Peristiwa Shiffin" di situ 'Ali mengalami Yang paling banyak mewarisi tradisi pemikiran kekalahan di plomatis dan kehilangan kekuasaan Khawarij ialah kaum Mu'tazilah. Mereka inilah "de jure"-nya. Karena itu mereka memisahkan sebenarnya kelompok Islam yang paling banyak diri dengan membentuk kelompok baru yang mengembangkan Ilmu Kalam seperti yang kita kelak terkenal dengan sebutan kaum Khawarij kenal sekarang. Berkenaan dengan Ibn Taymiyyah (al-Kahwarij, kaum Pembelot atau Pemberontak). mempunyai kutipan yang menarik dari keterangan Seperti sikap mereka terhadap 'Utsman, kaum salah seorang 'ulama' yang disebutnya Imam Khawarij juga memandang 'Ali dan Mu'awiyah 'Abdull'ah ibn al-Mubarak. Menurut Ibn Taymiyyah, sebagai kafir karena mengkompromikan yang sarjana itu menyatakan demikian: benar (haqq) dengan yang palsu (bathil). Karena Agama adalah kepunyaan ahli (pengikut) itu mereka merencanakan untuk membunuh 'Ali Hadits, kebohongan kepunyaan kaum Rafidlah, dan Mu'awiyah, juga Amr ibn al-'Ash, gubernur (ilmu) Kalam kepunyaan kaum Mu'tazilah, tipu daya Mesir yang sekeluarga membantu Mu'awiyah kepunyaan (pengikut) Ra'y (temuan rasional) ... (3) mengalahkan Ali dalam "Peristiwa Shiffin" tersebut. Karena itu ditegaskan oleh Ibn Taymiyyah Tapi kaum Khawarij, melalui seseorang bernama bahwa Ilmu Kalam adalah keahlian khusus kaum Ibn Muljam, berhasil membunuh hanya 'Ali, Mu'tazilah.(4) Maka salah satu ciri pemikiran sedangkan Mu'awiyah hanya mengalami luka-luka, Mu'tazili ialah rasionalitas dan paham Qadariyyah. dan 'Amr ibn al-'Ash selamat sepenuhnya (tapi Namun sangat menarik bahwa yang pertama mereka membunuh seseorang bernama Kharijah kali benar-benar menggunakan unsur-unsur yang disangka 'Amr, karena rupanya mirip).(2) Yunani dalam penalaran keagamaan ialah Karena sikap-sikap mereka yang sangat seseorang bernama Jahm ibn Shafwan yang justru ekstrem dan eksklusifistik, kaum Khawarij akhirnya 3  Ibid, h. 110. 2  Ibid, hh. 12-13. 4 Ibid. 5
  • 12.
    penganut paham Jabariyyah,yaitu pandangan hendak mereka tegakkan. Golongan yang bahwa manusia tidak berdaya sedikit pun juga mengingkari adanya sifat-sifat Tuhan itu dikenal berhadapan dengan kehendak dan ketentuan sebagai al-Nufat ("pengingkar" [sifat-sifat Tuhan]) Tuhan. Jahm mendapatkan bahan untuk penalaran atau al-Mu'aththilah ("pembebas" [Tuhan dari sifat- Jabariyyah-nya dari Aristotelianisme, yaitu bagian sifat]).(5) dari paham Aristoteles yang mengatakan bahwa Kaum Mu'tazilah menolak paham Jabiriyyah- Tuhan adalah suatu kekuatan yang serupa dengan nya kaum Jahmi. Kaum Mu'tazilah justru menjadi kekuatan alam, yang hanya mengenal keadaan- pembela paham Qadariyyah seperti halnya keadaan umum (universal) tanpa mengenal kaum Khawarij. Maka kaum Mu'tazilah disebut keadaan-keadaan khusus (partikular). Maka sebagai "titisan" doktrinal (namun tanpa gerakan Tuhan tidak mungkin memberi pahala dan dosa, politik) kaum Khawarij. Tetapi kaum Mu'tazilah dan segala sesuatu yang terjadi, termasuk pada banyak mengambil alih sikap kaum Jahmi yang manusia, adalah seperti perjalanan hukum alam. mengingkari sifat-sifat Tuhan itu. Lebih penting Hukum alam seperti itu tidak mengenal pribadi lagi, kaum Mu'tazilah meminjam metologi (impersonal) dan bersifat pasti, jadi tak terlawan kaum Jahmi, yaitu penalaran rasional, meskipun oleh manusia. Aristoteles mengingkari adanya dengan berbagai premis yang berbeda, bahkan Tuhan yang berpribadi personal God. Baginya berlawanan (seperti premis kebebasan dan Tuhan adalah kekuatan maha dasyat namun tak kemampuan manusia). Hal ini ikut membawa kaum berkesadaran kecuali mengenai hal-hal universal. Mu'tazilah kepada penggunaan bahan-bahan Maka mengikuti Aristoteles itu Jahm dan para Yunani yang dipermudah oleh adanya kegiatan pengikutpya sampai kepada sikap mengingkari penerjemahan buku-buku Yunani, ditambah adanya sifat bagi Tuhan, seperti sifat-sifat kasib, dengan buku-buku Persi dan India, ke dalam pengampun, santun, maha tinggi, pemurah, dan bahasa Arab. Kegiatan itu memuncak di bawah seterusnya. Bagi mereka, adanya sifat-sifat itu pemerintahan al-Ma'mun ibn Harun al-Rasyid. membuat Tuhan menjadi ganda, jadi bertentangan Penterjemahan itu telah mendorong munculnya dengan konsep Tauhid yang mereka akui sebagai 5  Ibid., jil. 1, hh. 344 dan 345. 6
  • 13.
    Ahli Kalam danFalsafah.(6) Mu'tazilah berpendapat bahwa Kalam Allah itu Khalifah al-Ma'mun sendiri, di tengah-tengah hadits, sementara kaum Hadits (dalam arti Sunnah, pertikaian paham berbagai kelompok Islam, dan harap diperhatikan perbedaan antara kata- memihak kaum Mu'tazilah melawan kaum kata hadits [a dengan topi] dan hadits [i dengan Hadits yang dipimpin oleh Ahmad ibn Hanbal topi]) berpendapat al-Qur'an itu qadim seperti (pendiri mazhab Hanbali, salah satu dari empat Dzat Allah sendiri.(9) Pemenjaraan Ahmad ibn mazhab Fiqh). Lebih dari itu, Khalifah al-Ma'mun, "orang yang banyak bicara"), ialah karena bertengkar sesama mereka dengan adu argumen melalui pembicaraan kosong, dilanjutkan oleh penggantinya, Khalifah al- tidak substantif. (Lihat Ibn Taymiyyah, Naqdl al-Manthiq, hh. Mu'tashim, melakukan mihnah (pemeriksaan 205-206). paham pribadi, inquisition), dan menyiksa serta 9  Berkenaan dengan kontroversi ini, seorang orientalis kenamaan, Wilfred Cantwell Smith dari Institute of Islamic menjebloskan banyak orang, termasuk Ahmad ibn Studies, McGill University, Montreal, Canada (tempat banyak Hanbal, ke dalam penjara.(7) Salah satu masalah ahli keislaman Indonesia dan Dunia belajar dan mengajar, termasuk, Prof. H.M. Rasydi), membandingkan paham orang yang diperselisihkan ialah apakah Kalam atau Islam, khususnya aliran Sunni, dengan paham orang Kristen. Sabda Allah, berujud al-Qur'an, itu qadim (tak Kata Smith, yang sebanding dengan al-Qur'an dalam Islam itu bukanlah Injil dalam Kristen, melainkan diri 'Isa al-masih atau terciptakan karena menjadi satu dengan Hakikat Yesus Kristus. Sebab, sebagaimana orang-orang Muslim (aliran atau Dzat Ilahi) ataukah hadits (terciptakan, karena Sunni) memandang al-Qur'an itu qadiim seperti Dzat Ilahi, berbentuk suara yang dinyatakan dalam huruf orang-orang Kristen memandang 'Isa sebagai penjelmaan Allah dalam sistem teologia Trinitas, yang juga qadim, sama dan bahasa Arab)?(8) Khalifah al-Ma'mun dan kaum dengan al-Qur'an. Jadi jika bagi agama Islam al-Qur'an itulah 6  Ibn Taymiyyah, Naqdl al-Manthiq, h. 185. wahyu Allah (Inggris: revelation, pengungkapan diri), maka bagi agama Kristen 'Isa al-Masih itulah wahyu, menampakkan 7  Minhaj, jil. 1, h. 344. Tuhan. Sedangkan Injil bukanlah wahyu, melainkan catatan 8  Karena dominannya isu Kalam atau Sabda Allah apakah tentang kehidupan 'Isa al-Masih, sehingga tidak sama qadim atau hadits sebagai pusat kontroversi itu maka ada kedudukannya dengan al-Qur'an, tetapi bisa dibandingkan kaum ahli yang mengatakan penalaran tentang segi ajaran dengan Hadits. Maka sejalan dengan itu Nabi Muhammad Islam yang relevan itu disebut Ilmu Kalam, seolah-olah tidaklah harus dibandingkan dengan 'Isa al-Masih (karena merupakan ilmu atau teori tentang Kalam Allah. Disamping dia ini "Tuhan"), tetapi dengan Paulus (karena dia ini, sama itu, seperti Ibn Taymiyyah, mengatakan bahwa ilmu dengan Nabi Muhammad, adalah "rasul"). (Lihat, W. C. itu disebut Ilmu Kalam dan para ahlinya disebut kaum Smith, Islam in Modern History [Princenton, N.J.: Princeton Mutakallim, sesuai dengan makna harfiah perkataan kalam University Press, 19771, hh. 17-18 fn). Pandangan Islam dan mutakallim (pembicaraan, hampir mengarah kepada arti tentang Isa al-Masih sudah sangat terkenal, dan tidak perlu 7
  • 14.
    Hanbal adalah karenamasalah ini. Namun jasa al-Ma'mun dalam membuka pintu Mihnah itu memang tidak berlangsung terlalu kebebasan berpikir dan ilmu pengetahuan tetap lama, dan orang pun bebas kembali. Tetapi ia diakui besar sekali dalam sejarah umat manusia. telah meninggalkan luka yang cukup dalam pada Maka kekhalifahan al-Ma'mun (198-218 H/813-833 tubuh pemikiran Islam, yang sampai saat inipun M), dengan campuran unsur-unsur positif dan masih banyak dirasakan orang-orang Muslim. negatifnya, dipandang sebagai salah satu tonggak dikemukakan di sini. Tetapi tentang Paulus, cukup menarik sejarah perkembangan pemikiran Islam, termasuk mengetahui bahwa sudah sejak awal sekali orang-orang perkembangan Ilmu Kalam, dan juga Falsafah Muslim terlibat dalam kontroversi dan polemik sekitar tokoh ini. Menurut Ibn Taymiyyah, misalnya, Paulus (Arab: Bawlush Islam."(10) ibn Yusya') adalah scorang tokoh Yahudi yang berpura-pura 10  Disini perlu kita tegaskan bahwa mihnah Khalifah masuk agama Nasrani dengan maksud merusak agama itu al-Ma'mun itu, meskipun sangat buruk, tidak dapat melalui pengembangan paham bahwa 'Isa al-Masih adalah disamakan dengan inquisition yang terjadi di Spanyol Tuhan atau jelmaan Tuhan. Ibn Taymiyyah mengemukakan setelah reconquest. Karena mihnah itu dilancarkan dibawah bahwa peranan Paulus dalam merusak agama Nasrani sama semacam "liberalisme" Islam atau kebebasan berpikir yang dengan peranan 'Abdullah ibn Saba' dalam tnerusak agama menjadi paham Mu'tazilah, melawan mereka yang dianggap Islam. Serupa dengan Paulus, 'Abdullah ibn Saba', kata Ibn menghalangi "liberalisme" dan kebebasan itu, khususnya Taymiyyah, adalah seorang tokoh Yahudi dari Yaman yang kaum "fundamentalis" (al-Hasywiyyun, sebuah sebutan menyelundup ke dalam Islam dengan tujuan merusak agama ejekan, yang secara harfiah berarti kurang lebih "kaum itu dari dalam, dengan mengembangkan paham yang salah sampah" karena malas berpikir dan menolak melakukan dan serba melewati batas tentang Ali ibn Abi Thalib dan interprestasi terhadap ketentuan agama yang bagi mereka tidak Anggota Keluarga Nabi (Ahl al-Bayt) sebagaimana kemudian masuk akal). Sedangkan inquisition di Spanyol kemudian dianut oleh kaum Rafidlah dan kaum Syi'ah pada umumnya. Eropa pada umumnya secara total kebalikannya, yaitu atas (Lihat, Minhaj, jil. 1, h. 8 dan jil. 4, h. 269). Kiranya nama paham agama yang fundamentalistik dan sempit kontroversi dan polemik serupa itu tidak perlu mengejutkan melawan pikiran bebas yang menjadi paham para pengemban kita, karena telah merupakan bagian dari sejarah pertumbuhan ilmu pengetahuan, termasuk para failasuf yang saat itu telah pemikiran keagamaan itu sendiri. belajar banyak dari warisan pemikiran Islam. Plus-Minus Ilmu Kalam Dalam perkembangan selanjutnya, Ilmu Kalam Irak, bernama Abu al-Hasan al-Asy'ari (260-324 tidak lagi menjadi monopoli kaum Mu'tazilah. H/873-935 M) yang terdidik dalam alam pikiran Adalah seorang sarjana dari kota Basrah di Mu'tazilah (dan kota Basrah memang pusat 8
  • 15.
    pemikiran Mu'tazili). Tetapikemudian pada usia 40 'Umar Samarani (yang populer dengan sebutan tahun ia meninggalkan paham Mu'tazilinya, dan Kiai Saleh Darat dari daerah dekat Semarang), justru mempelopori suatu jenis Ilmu Kalam yang dengan mengutip dan menafsirkan Sabda nabi anti Mu'tazilah. Ilmu Kalam al-Asy'ar'i itu, yang dalam sebuah hadits yang amat terkenal tentang juga sering disebut sebagai paham Asy'ariyyah, perpecahan umat Islam dan siapa dari mereka itu kemudian tumbuh dan berkembang untuk yang bakal selamat: menjadi Ilmu Kalam yang paling berpengaruh dalam Islam sampai sekarang, karena dianggap ...Wus dadi prenca-prenca umat ingkang dihin- paling sah menurut pandangan sebagian besar dihin ing atase pitung puluh loro pontho, lan kaum Sunni. Kebanyakan mereka ini kemudian mbesuk bakal pada prenca-prenca sira kabeh menegaskan bahwa "jalan keselamatan" hanya dadi pitting puluh telu pontho, setengah saking didapatkan seseorang yang dalam masalah Kalam pitung puluh telu namung sewiji ingkang menganut al-Asy'ari. selamet, lan ingkang pitung puluh loro kabeh ing Seorang pemikir lain yang Ilmu Kalam-nya dalem neraka. Ana dene ingkang sewiji ingkang mendapat pengakuan sama dengan al-Asy'ari ialah selamet iku, iya iku kelakuan ingkang wus den Abu Manshur al-Maturidi (wafat di Samarkand lakoni Gusti Rasulullah s.a.w., lan iya iku 'aqa'ide pada 333 H/944 M). Meskipun terdapat sedikit Ahl al-Sunnah wa 'l-Jama'ah Asy'ariyyah lan perbedaan dengan al-Asy 'ari, khususnya Maturidiyyah.(11) berkenaan dengan teori tentang kebebasan (...Umat yang telah lalu telah terpecah-pecah manusia (al-Maturidi mengajarkan kebebasan menjadi tujuh puluh dua golongan, dan kelak manusia yang lebih besar daripada al-Asy'ari), kamu semua akan terpecah-pecah menjadi tujuh al-Maturidi dianggap sebagai pahlawan paham puluh tiga golongan, dari antara tujuh puluh Sunni, dan sistem Ilmu Kalamnya dipandang 11  Hajj Muhammad Shalih ibn 'Umar Samarani, Tarjamat sebagai "jalan keselamatan", bersama dengan Sabil al-Abid 'ala Jawharat al-Tawhid (sebuah terjemah dan sistem al-Asy'ari. Sangat ilustratif tentang sikap uraian panjang lebar atas kitab Ilmu Kalam yang terkenal, Jawharat al-Tawhid, dalam bahasa Jawa huruf Pego, tanpa data ini adalah pernyataan Haji Muhammad Shalih ibn penerbitan), hh. 27-28. 9
  • 16.
    tiga itu hanyasatu yang selamat, sedangkan kontroversi yang paling dini dalam pemikiran yang tujuh puluh dua semuanya dalam neraka. Islam, yaitu masalah manusia dan perbuatannya, Adapun yang satu yang selamat itu ialah apakah dia bebas menurut paham Qadariyyah mereka yang berkelakuan seperti yang dilakukan atau terpaksa seperti dalam paham Jabariyyah. junjungan Rasulullah s.a.w., yaitu 'aqa' id Dengan maksud menengahi antara keduanya, al- (pokok-pokok kepercayaan) Ahl al-Sunnah wa Asy'ari mengajukan gagasan dan teorinya sendiri, ' l-Jama'ah Asy'ariyyah dan M'aturidiyyah). yang disebutnya teori Kasb (al-kasb, acquisition, Kehormatan besar yang diterima al-Asy'ari perolehan). Menurut teori itu, perbuatan manusia ialah karena solusi yang ditawarkannya mengenai tidaklah dilakukan dalam kebebasan dan juga pertikaian klasik antara kaum "liberal" dari tidak dalam keterpaksaan. Perbuatan manusia golongan Mu'tazilah dan kaum "konservatif" tetap dijadikan dan ditentukan Tuhan, yakni dari golongan Hadits (Ahl al-Hadits, seperti yang dalam keterlaksanaannya. Tetapi manusia tetap dipelopori oleh Ahmad ibn Hanbal dan sekalian bertanggung-jawab atas perbuatannya itu, sebab imam mazhab Fiqh). Kesuksesan al-Asy'ari ia telah melakukan kasb atau acquisition, dengan merupakan contoh klasik cara mengalahkan lawan adanya keinginan, pilihan, atau keputusan untuk dengan meminjam dan menggunakan senjata melakukan suatu perbuatan tertentu, dan bukan lawan. Dengan banyak meminjam metodologi yang lain, meskipun ia sendiri tidak menguasai dan pembahasan kaum Mu'tazilah, al-Asy'ari dinilai tidak bisa menentukan keterlaksanaan perbuatan berhasil mempertahankan dan memperkuat tertentu yang diinginkan, dipilih dan diputus paham Sunni di bidang Ketuhanan (di bidang sendiri untuk dilakukan itu. Ini diungkapkan Fiqh yang mencakup peribadatan dan hukum secara singkat dalam nadham Jawharat al-Tawhid telah diselesaikan terutama oleh para imam demikian: mazhab yang empat, sedangkan di bidang tasawuf dan filsafat terutama oleh al-Ghazali, Wa indana li l abdi kasbun kullifa, wa lam yakun 450-505 H/1058-1111 M). Salah satu solusi yang mu atstsiran fa 'l-tarifa. diberikan oleh al-Asy'ari menyangkut salah satu 10
  • 17.
    Fa laysa majburanwa la 'khtiyara wa laysa kullan Tetapi tak urung konsep kasb al-Asy'ari itu yaf'alu 'khtiyara menjadi sasaran kritik lawan-lawannya. Dan (Bagi kita Ahl al-Sunnah manusia terbebani lawan-lawan al-Asy'ari tidak hanya terdiri dari oleh kasb dan ketahuilah bahwa ia tidak kaum Mu'tazilah dan Syi'ah (yang dalam Ilmu mempengaruhi tindakannya. Kalam banyak mirip dengan kaum Mu'tazilah), tetapi juga muncul, dari kalangan Ahl al-Sunnah Jadi manusia bukanlah terpaksa dan bukan sendiri, khususnya kaum Hanbali. Dalam hal ini bisa pula bebas, namun tidak seorang pun mampu dikemukakan, sebagai contoh, yaitu pandangan berbuat sekehendaknya). Ibn Taymiyyah (661-728 H/1263-1328 M), seorang Terhadap rumus itu Kiai Saleh Darat memberi tokoh paling terkemuka dari kalangan kaum komentar tipikal paham Sunni (menurut Ilmu Hanbali. Ibn Taymiyyah menilai bahwa dengan Kalam Asy'ari) sebagai berikut: teori kasb-nya itu alAsy'ari bukannya menengahi antara kaum Jabari dan Qadari, melainkan lebih ... Maka Jabariyyah lan Qadariyyah iku sasar mendekati kaum Jabari, bahkan mengarah kepada karone.Maka ana madshab Ahl al-Sunnah dukungan terhadap Jahm ibn Shafwin, teoretikus iku tengah-tengah antarane Jabariyyah lan Jabariyyah yang terkemuka. Dalam ungkapan Qadariyyah, metu antarane telethong lan getih yang menggambarkan pertikaian pendapat metu rupa labanan khalishan sa'ghan li al- beberapa golongan di bidang ini, Ibn Taymiyyah syaribin.(12) yang nampak lebih cenderung kepada paham (... Maka Jabariyyah dan Qadariyyah itu kedua- Qadariyyah (meskipun ia tentu akan mengingkari duanya sesat. Kemudian adalah mazhab Ahl penilaian terhadap dirinya seperti itu) mengatakan al-Sunnah berada di tengah antara Jabariyyah demikian: dan Qadariyyah, keluar dari antara kotoran dan ... Sesungguhnya para pengikut paham Asy'ari darah susu yang murni, yang menyegarkan orang dan sebagian orang yang menganut paham yang meminumnya). Qadariyyah telah sependapat dengan al-Jahm ibn Shafwan dalam prinsip pendapatnya tentang 12  Ibid., hh. 149-151. 11
  • 18.
    Jabariyyah, meskipun merekaini menentangnya aneh dalam Ilmu Kalam.(15) secara verbal dan mengemukakan hal-hal Ilmu Kalam, termasuk yang dikembangkan yang tidak masuk akal... Begitu pula mereka itu oleh al-Asy'ari, juga dikecam kaum Hanbali berlebihan dalam menentang kaum Mu'tazilah dari segi metodologinya. Persoalan yang juga dalam masalah-masalah Qadariyyah —sehingga menjadi bahan kontroversi dalam Ilmu Kalam kaum Mu'tazilah menuduh mereka ini pengikut khususnya dan pemahaman Islam umumnya Jabariyyah— dan mereka (kaum Asy'ariyyah) itu ialah kedudukan penalaran rasional ('aql, akal) mengingkari bahwa pembawaan dan kemampuan terhadap keterangan tekstual (naql, "salinan" atau yang ada pada benda-benda bernyawa "kutipan"), baik dari Kitab Suci maupun Sunnah mempunyai dampak atau menjadi sebab adanya Nabi. Kaum "liberal", seperti golongan Mut'azilah, kejadiankejadian (tindakan-tindakan).(13) cenderung mendahulukan akal, dan kaum Namun agaknya Ibn Taymiyyah menyadari "konservatif" khususnya kaum Hanbali, cenderung sepenuhnya betapa rumit dan tidak sederhananya mendahulukan naql. Terkait dengan persoalan ini masalah ini. Maka sementara ia mengkritik konsep ialah masalah interprestasi (ta'wil), sebagaimana kasb alAsy'ari yang ia sebutkan dirumuskan telah kita bahas.(16) Berkenaan dengan masalah ini, sebagai "sesuatu perbuatan yang terwujud metode al-Asy'ari cenderung mendahulukan naql pada saat adanya kemampuan yang diciptakan dengan membolehkan interprestasi dalam hal-hal (oleh Tuhan untuk seseorang) dan perbuatan itu yang memang tidak menyediakan jalan lain. Atau dibarengi dengan kemampuan tersebut"(14) Ibn mengunci dengan ungkapan "bi la kayfa" (tanpa Taymiyyah mengangkat bahwa pendapatnya itu bagaimana) untuk pensifatan Tuhan yang bernada disetujui oleh banyak tokoh Sunni, termasuk Malik, antropomorfis (tajsim) —menggambarkan Tuhan Syafii dan Ibn Hanbal. Namun Ibn Taymiyyah juga seperti manusia, misalnya, bertangan, wajah, dan mengatakan bahwa konsep kasb itu dikecam oleh lain-lain. Metode al-Asy'ari ini sangat dihargai, dan ahli yang lain sebagai salah satu hal yang paling 15 Ibid. 13  Minhaj, jil. 1, h. 172. 16  Lihat kajian kita tentang "Interprestasi Metaforis" yang telah 14  Ibid., h. 170. lalu. 12
  • 19.
    merupakan unsur kesuksesansistemnya. haqiqah fi al-ayan, la fi al-adzhan).(18) Tetapi bagian-bagian lain dari metodologi Epistemologi Ibn Taymiyyah tidak al-Asy'ari, juga epistemologinya, banyak dikecam mengizinkan terlalu banyak intelektualisasi, oleh kaum Hanbali. Di mata mereka, seperti halnya termasuk interprestasi. Sebab baginya dasar ilmu dengan Ilmu Kalam kaum Mu'tazilah, Ilmu Kalam pengetahuan manusia terutama ialah fithrah- al-Asy'ari pun banyak menggunakan unsur- nya: dengan fithrah itu manusia mengetahui unsur filsafat Yunani, khususnya logika (manthiq) tentang baik dan buruk, dan tentang benar dan Aristoteles. Dalam penglihatan Ibn Taymiyyah, salah.(19) Fithrah yang merupakan asal kejadian logika Aritoteles bertolak dari premis yang salah, manusia, yang menjadi satu dengan dirinya yaitu premis tentang kulliyyat (universals) atau melalui intuisi, hati kecil, hati nurani, dan lain-lain, al-musytarak al-muthlaq (pengertian umum diperkuat oleh agama, yang disebut Ibn Taymiyyah mutlak), yang bagi Ibn Taymiyyah tidak ada dalam sebagai "fithrah yang diturunkan" (al-fithrah kenyataan, hanya ada dalam pikiran manusia al-munazzalah). Maka metodologi kaum Kalam saja karena tidak lebih daripada hasil ta'aqqul baginya adalah sesat.(20) (intelektualisasi).(17) Demikian pula konsep-konsep Yang amat menarik ialah bahwa epistemologi Aristoteles yang lain, seperti kategori-kategori Ibn Taymiyyah Yang Hanbali berdasarkan fithrah yang sepuluh (esensi, kualitas, kuantitas, relasi, itu paralel dengan epistemologi Abu Ja'far lokasi, waktu, situasi, posesi, aksi, dan pasi), juga Muhammad ibn Ali ibn al-Husayn Babwayh konsep-konsep tentang genus, spesi, aksiden, al-Qummi (wafat 381 H), seorang "ahli Ilmu properti, dan lain-lain, ditolak oleh Ibn Taymiyyah Kalam" terkemuka kalangan Syi'ah. Al-Qummi, sebagai basil intelektualisasi yang tidak ada dengan mengutip berbagai hadits, memperoleh kenyataannya di dunia luas. Maka terkenal sekali penegasan bahwa pengetahuan tentang Tuhan ucapan Ibn Taymiyyah bahwa "hakikat ada di alam diperoleh manusia melalui fitrah-nya, dan hanya kenyataan (di luar), tidak dalam alam pikiran" (Al- 18  Minhaj, jil. 1, hh. 243 dan 245. 17  Lihat Minhaj, jil. 1, hh. 235, 243, 254, 261, dan hh. 266. 19  Ibid., hh. 281 dan 291. Juga Naqdl al-Manthiq, h. 25,164 dan 202. 20  Naqdl al-Manthiq, hh. 38, 39, 171, 160-162, dan 172. 13
  • 20.
    dengan adanya fitrahitulah manusia mendapat manfaat dari bukti-bukti dan dalil-dalil.(21) Maka sejalan dengan itu, Ibn Taymiyyah menegaskan, bahwa pangkal iman dan ilmu ialah ingat (dzikr) kepada Allah. "Ingat kepada Allah memberi iman, dan ia adalah pangkal iman ..... pangkal ilmu.(22) 21  Abu Ja'far Muhammad ibn 'Ali ibn al-Husayn Babwayh al-Qummi, al-Tawhid (Qumm: Mu'assasat al-Nasyr al-Islami, 1398 H), hh. 22, 35, 82 dan 230. 22  Naqdl al-Manthiq, h. 34. 14
  • 21.
    Falsafah Islam: Unsur-UnsurHellenisme 2 di Dalamnya D i antara empat disiplin keilmuan Islam tradisional: fiqh, kalam, tasawuf dan falsafah, yang disebutkan terakhir ini barangkali adalah orang-orang yang berjiwa keagamaan (religious), sekalipun berbagai titik pandangan keagamaan mereka cukup banyak berbeda, jika tidak justru yang paling sedikit dipahami, bisa juga berarti berlawanan, dengan yang dipunyai oleh kalangan paling banyak disalahpahami, sekaligus juga yang ortodoks.(1) Dan tidak mungkin menilai bahwa paling kontroversial. Sejarah pemikiran Islam falsafah Islam adalah carbon copy pemikiran ditandai secara tajam antara lain oleh adanya Yunani atau Hellenisme.(2) polemik-polemik sekitar isi, subyek bahasan dan Meskipun begitu, kenyataannya ialah bahwa sikap keagamaan falsafah dan para failasuf. Karena kata Arab "falsafah" sendiri dipinjam dari kata itu pembahasan tentang falsafah dapat diharapkan Yunani yang sangat terkenal, "philosophia", yang menjadi pengungkapan secara padat dan mampat berarti kecintaan kepada kebenaran (wisdom). tentang peta dan perjalanan pemikiran Islam di Dengan sedikit perubahan, kata "falsafah" itu antara sekalian mereka yang terlibat. di-Indonesia-kan menjadi "filsafat" atau, akhir- Sebelum yang lain-lain, di sini harus ditegaskan akhir ini, juga "filosofi" (karena adanya pengaruh bahwa sumber dan pangkal tolak falsafah dalam ucapan Inggris, "philosophy"). Dalam ungkapan Islam adalah ajaran Islam sendiri sebagaimana Arabnya yang lebih "asli", cabang ilmu tradisional terdapat dalam al-Qur'an dan Sunnah. Para failasuf 1  R.T. Wallis, Neo Platonism (London: Gerlad Duckworth & dalam lingkungan agama-agama yang lain, Company Limited, 1972), h. 164. 2  C A. Qadir, Philosophy and Science in the Islamic World sebagaimana ditegaskan oleh R.T. Wallis, adalah (London: Croom Helm, 1988). h. 28.
  • 22.
    Islam ini disebut'ulum al-hikmah atau secara Disinilah pangkal kontroversi yang ada sekitar singkat "alhikmah" (padanan kata Yunani "sophia"), falsafah: sampai di mana agama Islam mengizinkan yang artinya ialah "kebijaksanaan" atau, lebih adanya masukan dari luar, khususnya jika datang tepat lagi, "kawicaksanaan" (Jawa) atau "wisdom" dari kalangan yang tidak saja bukan "ahl al-kitab" (Inggris). Maka "failasuf' (ambilan dari kata Yunani seperti Yahudi dan Kristen, tetapi malahan dari "philosophos", pelaku filsafat), disebut juga "al- orang-orang Yunani kuna yang "pagan" atau hakim" (ahli hikmah atau orang bijaksana), dengan musyrik (penyembah binatang). Sesungguhnya bentuk jamak "al-hukama". beberapa ulama ortodoks, seperti Ibn Taymiyyah Dari sepintas riwayat kata "filsafah" itu kiranya dan Jalal al-Din al-Suyuthi (salah seorang menjadi jelas bahwa disiplin ilmu keislaman ini, pengarang tafsir Jalalayn), menunjuk kemusyrikan meskipun memiliki dasar yang kokoh dalam orang-orang Yunani itu sebagai salah satu alasan sumber-sumber ajaran Islam sendiri, banyak keberatan mereka terhadap falsafah. Tetapi mengandung unsur-unsur dari luar, yaitu terutama sebelum membahas lebih jauh segi-segi polemis Hellenisme atau dunia pemikiran Yunani.(3) ini, lebih dahulu dibahas pertumbuhan falsafah 3  Istilah "Hellenisme" pertama kali diperkenalkan oleh ahli dalam sejarah pemikiran Islam. sejarah dari Jerman, J. G. Droysen. Ia menggunakan perkataan "Hellenismus" sebagai sebutan untuk masa yang dianggapnya kekaisaran Romawi. Sebab dalam periode itu muncul banyak sebagai periode peralihan antara Yunani kuna dan dunia kerajaan di sekitar Laut Tengah, khususnya pesisir timur dan Kristen. Droysen lupa akan peranan Roma dalam agama selatan seperti Syria dan Mesir, yang diperintah oleh bangsa Kristen (dan membatasi seolah-olah hanya Yunani saja yang Makedonia dari Yunani. Akibatnya, mereka ini membawa berperan). Namun ia diakui telah berhasil mengidentifikasi berbagai perubahan besar dalam banyak bidang di kawasan suatu kenyataan sejarah yang amat penting. Biasanya yang itu, antara lain bahasa (daerah-daerah itu didominasi Bahasa disebut zaman Hellenik yang merupakan peralihan itu ialah Yunani) dan pemikiran (ilmu pengetahuan Yunani, terutama masa sejak tahun 323 sampai 30 S.M. atau dari saat kematian filsafatnya, diserap oleh daerah-daerah itu melalui berbagai Iskandar Agung sampai penggabungan Mesir kedalam cara). (Lihat Britannica. s.v. "Hellenic Age"). Pertumbuhan Falsafah tumbuh sebagai hasil interaksi bangsa-bangsa sekitarnya. Khususnya interaksi intelektual antara bangsa Arab Muslim dengan mereka dengan bangsa-bangsa yang ada di 16
  • 23.
    sebelah utara JazirahArabia, yaitu bangsa-bangsa (keturunan suku Bani Ghassan Yang Kristen, satelit Syria, Mesir, dan Persia. Romawi). Namun berkat politik keagamaan para Interaksi itu berlangsung setelah adanya penguasa Muslim berdasarkan konsep toleransi pembebasan-pembebasan (al-futuhat) atas Islam, sampai sekarang masih banyak kantong- daerah-daerah tersebut segera setelah wafat Nabi kantong minoritas Kristen dan Yahudi yang tetap s.a.w., dibawah para khalifah. Daerah-daerah yang bertahan dengan aman. Karena adanya konsep segera dibebaskan oleh orang-orang Muslim itu Islam tentang kontinuitas agama-agama (yaitu, adalah daerah-daerah yang telah lama mengalami bahwa agama Nabi Muhammad adalah kelanjutan Hellenisasi. Lebih dari itu, kecuali Persia, daerah- agama para nabi sebelumnya, khususnya Nabi- daerah yang kemudian menjadi pusat-pusat nabi Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub atau Isra'il, peradaban Islam itu adalah daerah-daerah yang Musa dan Isa-Yahudi dan Kristen),(4) orang-orang telah terlebih dahulu mengalami Kristenisasi. Muslim menyimpan rasa dekat atau afinitas Bahkan sebenarnya daerah-daerah Islam sampai tertentu kepada mereka itu. Dan rasa dekat itu ikut sekarang ini, sejak dari Irak di timur sampai ke melahirkan adanya sikap-sikap toleran, simpatik Spanyol di barat, adalah praktis bekas daerah dan akomodatif terhadap mereka dan pikiran- agama Kristen, termasuk heartlandnya, yaitu pikiran mereka. (Toleransi dan sikap akomodatif Palestina. Daerah-daerah itu, dibawah kekuasaan Islam ini ternyata kelak menimbulkan situasi ironis pemerintahan orang-orang Muslim, selanjutnya di zaman moderen, akibat adanya kolonialisme memang mengalami proses Islamisasi. Tetapi 4  "Sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada engkau proses itu berjalan dalam jangka waktu yang (Muhammad) seperti yang telah Kami wahyukan kepada panjang, selama berabad-abad, dan secara damai. Nuh dan para nabi sesudahnya, dan seperti yang telah Kami wahyukan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan Bahkan daerah-daerah Kristen itu tidak hanya kelompok-kelompok (para nabi), serta kepada 'Isa Ayyub, mengalami proses Islamisasi, tetapi juga Arabisasi, Yunus, Harun dan Sulayman. Telah pula Kami berikan kepada Dawud (kitab) Zabur. Juga kepada para rasul yang disamping adanya daerah-daerah yang memang telah Kami kisahkan mereka itu kepadamu (Muhammad) sejak jauh sebelum Islam secara asli merupakan sebelumnya, dan para rasul yang tidak Kami kisahkan mereka itu kepadamu. Dan sungguh Allah telah berbicara (langsung) daerah suku Arab tertentu seperti Libanon kepada Musa." (Q., s. al-Nisa /4:163-165). 17
  • 24.
    Barat, seperti adanyahubungan tidak mudah Mesopotamia. Sebab sekalipun ilmu pengetahuan antara kaum Muslim dengan kaum Yahudi di Yunani merupakan bagian paling penting ilmu Palestina, dengan kaum Maronite di Libanon, dan pengetahuan yang diserap orang-orang Muslim dengan kaum Koptik di .Mesir). Arab, namun mereka ini juga dengan penuh Toleransi dan keterbukaan orang-orang Islam kebebasan dan kepercayaan diri menyerap dari dalam melihat kaum agama lain, khususnya orang-orang Majusi dan Sabean tersebut tadi, Ahli Kitab tersebut mendasari adanya interaksi bahkan juga dari orang-orang Hindu dan Cina. intelektual yang positif di kalangan mereka, Karena futuhat, bangsa-bangsa non-Muslim itu dengan sedikit sekali kemasukan unsur prasangka berada dibawah kekuasaan politik orang-orang yang berlebihan. Disamping itu, dan sebagaimana Arab Muslim. Tetapi biarpun orang-orang Arab telah dikemukakan dalam pembahasan kita itu memiliki keunggulan militer dan politik, tentang Islam dan pengembangan ilmu mereka tetap menunjukkan sikap-sikap penuh pengetahuan yang lalu, kelebihan orang-orang penghargaan dan pengertian kepada bangsa- Muslim Arab itu ialah kepercayaan kepada diri bangsa dan budaya-budaya (termasuk agama- sendiri yang sedemikian mantap. Kemantapan itu agama) yang mereka kuasai. Hasilnya ialah, seperti kemudian memancar pada sikap-sikap mereka dikatakan Halkin sebagai berikut (kutipan yang yang positif kepada bangsa-bangsa dan budaya- penting untuk memahami pembahasan): budaya lain, dengan kesediaan yang besar untuk menyerap dan mengadopsinya sebagai milik ...It is to the credit of the Arabs that although they sendiri. Posisi psikologis yang menguntungkan were the victors militarily and politically, they did itu berada tidak hanya dalam hubungannya not regard the civilization of the vanquished lands dengan kaum Ahli Kitab yang memang dekat with contempt. The riches of Syrian, Persian, and dengan orang-orang Muslim, tetapi juga dengan Hindu cultures were no sooner discovered than kelompok-kelompok keagamaan lain seperti they were adapted into Arabic. Caliphs, governors, kaum Majusi (orang-orang Persi pengikut ajaran and others patronized scholars who did the work Zoroaster) dan kaum Sabean dari Harran, di utara of translation, so that a vast body of non-Islamic 18
  • 25.
    learning became accessiblein Arabic. During Interaksi intelektual orang-orang Muslim the ninth and tenth centuries, a steady flow of dengan dunia pemikiran Hellenik terutama terjadi works on Greek medicine, physics, astronomy, antara lain di Iskandaria (Mesir), Damaskus, Antioch mathematics, and philosophy, Persian belles- dan Ephesus (Syria), Harran (Mesopotamia) dan lettres, and Hindu mathematics and astronomy Jundisapur (Persia). Di tempat-tempat itulah lahir poured into Arabic.(5) dorongan pertama untuk kegiatan penelitian dan (...Adalah jasa orang-orang Arab bahwa penterjemahan karya-karya kefilsafatan dan ilmu sekalipun mereka itu para pemenang secara pengetahuan Yunani kuna, yang kelak kemudian militer dan politik, mereka tidak memandang didukung dan disponsori oleh para penguasa peradaban negeri-negeri yang mereka taklukkan Muslim. dengan sikap menghina. Kekayaan budaya- Suatu hal yang patut sekali mendapat perhatian budaya Syria, Persia, dan Hindu mereka salin lebih besar di sini ialah suasana kebebasan ke bahasa Arab segera setelah diketemukan. intelektual di zaman klasik Islam itu. Interaksi Para khalifah, gubernur, dan tokoh-tokoh yang positif antara orang-orang Arab Muslim dengan lain menyantuni para sarjana yang melakukan kalangan bukan-Muslim itu dapat terjadi hanya tugas penterjemahan, sehingga kumpulan ilmu dalam suasana penuh kebebasan, toleransi dan bukan-Islam yang luas dapat diperoleh dalam bahasa Arab. Selama abad-abad kesembilan keterbukaan. Sebab meskipun orang-orang Arab dan kesepuluh, karya-karya yang terus mengalir itu mempunyai ajaran agamanya yang sangat dalam ilmu-ilmu kedokteran, fisika, astronomi, tegas dan gamblang, dengan penuh lapang dada matematika, dan filsafat dari Yunani, sastra dari membiarkan semua kegiatan intelektual di pusat- Persia, serta matematika dan astronomi dari pusat yang ada sejak sebelum kedatangan dan Hindu tercurah ke dalam bahasa Arab). pembebasan oleh mereka. Seperti dikatakan oleh C.A. Qadir: 5  Abraham S, Halkin, "The Judeo-Islamic Age, The Great Fusion" dalarn Leo W. Schwarz, ed., Great Ages & Ideas of "...the centers of learning led by the Christians the Jewish People (New York: The Modern Library, 1956), hh. continued to function unmolested even after they 218-219. 19
  • 26.
    were subjugated bythe Muslims. This indicates not yang menjadi cikal-bakal ilmu kimia moderen.(7) only the intellectual freedom that prevailed under Bahkan seorang khalifah Bani Umayyah, Marwan Muslim rule in those days, but also testifies to the ibn al-Hakam (683-685 M), memerintahkan agar Muslims' love of knowledge and the respect they buku kedokteran oleh Harun, seorang dokter paid to the scholars irrespective of their religion."(6) dari Iskandaria Mesir, diterjemahkan dari bahasa (...pusat-pusat pengajaran yang dipimpin oleh Suryani (Syriac) ke bahasa Arab.(8) orang-orang Kristen terus berfungsi tanpa Harus diketahui bahwa dalam pembagian ilmu terusik bahkan setelah mereka itu ditaklukkan pengetahuan zaman itu, baik ilmu kedokteran oleh orang-orang Muslim. Ini menunjukkan maupun alkemi, sebagaimana juga metafisika, tidak saja kebebasan intelektual yang terdapat matematika, astronomi, bahkan musik dan puisi, di mana-mana di bawah pemerintahan Islam dan seterusnya, termasuk falsafah. Sebab istilah zaman itu, tetapi juga membuktikan kecintaan falsafah itu, dalam pengertiannya yang luas, orang-orang Muslim kepada ilmu dan sikap mencakup bidang-bidang yang sekarang bisa hormat yang mereka berikan kepada para disebut sebagai "ilmu-pengetahuan umum", yakni, sarjana tanpa mempedulikan agama mereka). bukan "ilmu pengetahuan agama", yaitu dunia Interaksi intelektual itu memperoleh kognitif yang dasar perolehannya bukan wahyu wujudnya yang nyata semenjak masa dini sekali tetapi akal, baik yang dari penalaran deduktif sejarah Islam. Disebut-sebut bahwa al-Harits maupun yang dari penyimpangan empiris. Ini ibn Qaladah, seorang Sahabat Nabi, sempat penting disadari, antara lain untuk dapat dengan mempelajari ilmu kedokteran di Jundisapur, tepat melihat segi-segi mana dari sistem falsafah Persia, tempat berkumpulnya beberapa failasuf itu yang kontroversial karena dipersoalkan oleh yang dikutuk gereja Kristen karena dituduh telah kalangan ortodoks. Umumnya mereka ini, seperi melakukan bid'ah. Disebut-sebut juga bahwa 7  Drs. Hasyim Asy'ari MA, Bahasa Arab dan Perkembangan Khalid ibn Yazid (ibn Mu'awiyah) dan Ja'far al- Ilmu Pengetahuan (makalah dalam seminar tentang Bahasa Shadiq sempat mendalami alkemi (al-kimya) Arab, Fakultas Sastra, UGM, Yogyakarta, 15-16 Oktober 1988). 6  Qadir, op. cit., h. 34. 8  Qadir, op. cit., h. 34. 20
  • 27.
    Ibn Taymiyyah danlain-lain, menolak yang bersifat dalam banyak hal menyangkut bidang yang bagi penalaran murni dan deduktif, dalam hal ini mereka merupakan wewenang agama. Tetapi khususnya metafisika (al-falsafah al-ula), karena mereka membenarkan yang induktif dan empiris. Neoplatonisme Dari berbagai unsur pikiran Hellenik, atau "Kenyataan Mutlak."(9) Untuk memahami Platonisme Baru (Neoplatonisme) adalah sedikit lebih lanjut ajaran Plotinus kita perlu salah satu yang paling berpengaruh dalam memperhatikan beberapa unsur dalam ajaran- sistem falsafah Islam. Neoplatonisme sendiri ajaran Plato, Aristoteles, Pythagoras (baru) dan merupakan falsafah kaum musyrik (pagans), kaum Stoic. dan rekonsiliasinya dengan suatu agama wahyu Plato membagi kenyataan kepada yang bersifat menimbulkan masalah besar. Tapi sebagai ajaran "akali" (ideas, intelligibles) dan yang bersifat yang berpangkal pada pemikiran Plotinus (205- "inderawi" (sensibles), dengan pengertian bahwa 270 M), sebetulnya Neoplatonisme mengandung yang akali itulah yang sebenarnya ada (ousia), unsur yang memberi kesan tentang ajaran Tauhid. jadi juga yang abadi dan tak berubah. Termasuk Sebab Plotinus yang diperkirakan sebagai orang diantara yang akali itu ialah konsep tentang Mesir hulu yang mengalami Hellenisasi di kota "Yang Baik", yang berada di atas semuanya dan Iskandaria itu mengajarkan konsep tentang "yang disebut sebagai berada di luar yang ada (beyond Esa" (the One) sebagai prinsip tertinggi atau being, epekeina ousias). "Yang Baik" ini kemudian sumber penyebab (sabab, cause). Lebih dari itu, diidentifikasi sebagai "Yang Esa", yang tak Plotinus dapat disebut sebagai seorang mistikus, terjangkau dan tak mungkin diketahui. tidak. dalam arti "irrasionalis", "occultist" ataupun Selanjutnya, mengenai wujud inderawi, "guru ajaran esoterik", tetapi dalam artinya yang Plato menyebutkannya sebagai hasil kerja suatu terbatas kepada seseorang yang mempercayai "seniman ilahi" (divine artisan, demiurge) yang dirinya telah mengalami penyatuan dengan Tuhan menggunakan wujud kosmos yang akali sebagai 9  Wallis, op. cit., h. 3. 21
  • 28.
    model karyanya. Disampingmembentuk dunia dengan tindakan Akal untuk menjangkau wujud fisik, demiurge juga membentuk jiwa kosmis dan itu. jiwa atau ruh individu yang tidak akan mati. Jiwa Dualisme Plato di atas kemudian diusahakan kosmis dan jiwa individu yang immaterial dan penyatuannya oleh para penganut Pythagoras substansial itu merupakan letak hakikatnya yang (baru), dan dirubahnya menjadi monisme dan bersifat ada sejak semula (pre-existence) dan akan berpuncak pada konsep tentang adanya Yang ada untuk selamanya (post-existence immortality), Esa dan serba maha (transenden). Ini melengkapi yang semuanya tunduk kepada hukum reinkarnasi. ajaran kaum Stoic yang di samping materialistik Dari Aristoteles, unsur terpenting yang diambil tapi juga immanenistik, yang mengajarkan tentang Plotinus ialah doktrin tentang Akal (nous) yang kemahaberadaan (omnipresence) Tuhan dalam lebih tinggi daripada semua jiwa. Aristoteles alam raya.(10) mengisyaratkan bahwa hanya Akal-lah yang tidak Kesemua unsur tersebut digabung dan bakal mati (immortal), sedangkan wujud lainnya diserasikan oleh Plotinus, dan menuntunnya hanyalah "bentuk" luar, sehingga tidak mungkin kepada ajaran tentang tiga hypostase atau prinsip mempunyai eksistensi terpisah. Aristoteles juga di atas materi, yaitu Yang Esa atau Yang Baik, Akal menerangkan bahwa "dewa tertinggi" (supreme atau Intelek, dan Jiwa.(11) deity) ialah Akal yang selalu merenung dan berpikir tentang dirinya. Kegiatan kognitif Akal itu 10  Paul Edwards, ed., The Encyclopedia of Philosophy, s.v. "Plotinus". berbeda dari kegiatan inderawi, karena obyeknya, 11  I.R. Netton, Muslim Neoplatonists (London: George Allen yaitu wujud akali yang immaterial, adalah identik & Unwin, 1982), h. 34. Aristotelianisme Telah dinyatakan bahwa Neoplatonisme cukup ke Eropa sebelumnya, yang telah tercampur banyak mempengaruhi falsafah Islam. Tetapi dengan unsur-unsur kuat Aristotelianisme. Bahkan sebenarnya Neoplatonisme yang sampai ke tangan sebetulnya para failasuf Muslim justru memandang orang-orang Muslim, berbeda dengan yang sampai Aristoteles sebagai "guru pertama" (al-mu'allim 22
  • 29.
    al-awwal), yang menunjukkanrasa hormat berbeda-beda dari kalangan agama. Orang-orang mereka yang amat besar, dan dengan begitu juga Kristen zaman itu, dengan doktrin Trinitasnya, pengaruh Aristoteles kepada jalan pikiran para tidak mungkin luput dari memperhatikan betapa failasuf Muslim yang menonjol dalam falsafah tiga hypostase Plotinus tidak sejalan, atau Islam. bertentangan dengan Trinitas Kristen. Polemik- Neoplatonisme sendiri, sebagai gerakan, polemik yang terjadi tentu telah mendapatkan telah berhenti semenjak jatuhnya Iskandaria di jalannya ke penulisan. Maka orang-orang tangan orang-orang Arab Muslim pada tahun 642.(12) Muslim, melalui tulisan-tulisan dalam bahasa Sebab sejak itu yang ada secara dominan ialah Suryani yang disalin ke Bahasa Arab, mewarisi falsafah Islam, yang daerah pengaruhnya meliputi versi neoplatonisme yang berbeda, yaitu Neo- hampir seluruh bekas daerah Hellenisme. platonisme dengan unsur kuat Aristotelianisme.(14) Tetapi sebelum gerakan Neoplatonis itu Menurut pelukisan F.E. Peters, mengutip kitab al- mandeg, ia harus terlebih dahulu bergulat Fihrist oleh Ibn al-Nadim, dan berhadapan dengan agama Kristen. Dan interaksinya dengan agama Kristen itu The Arab version of the arrival of the Aristotelian tidak mudah, dengan ciri pertentangan yang corpus in the Islamic world has to do with the cukup nyata. Salah seorang tokohnya yang discovery of manuseripts in a deserted house. Even harus disebut di sini ialah pendeta Nestorius, if true, the story omits two very important details patriark Konstantinopel, yang karena menganut which may be supplied from the sequel: first, the Neoplatonisme dan melawan ajaran gereja manuseripts were certainly not written in Arabic; terpaksa lari ke Syria dan akhirnya ke Jundisapur di second, the Arabs discovered not only Aristotle but Persia.(13) a whole series of commentators as well.(15) Sebenarnya Neoplatonisme sebagai filsafat (Versi Arab tentang datangnya karya-karya musyrik memang mendapat perlakuan yang 14  Netton, op. cit., h. 33. 12  Edwards, loc. cit. 15  F.E. Peters. Aristotle and the Arabs (New York: New York 13  Qadir, op. cit., h. 32. University Press, 1986), h. 7. 23
  • 30.
    Aristoteles di duniaIslam ada kaitannya Islam, tetapi Aristotelianisme. Apalagi jika dengan diketemukannya naskah-naskah di diingat bahwa orang-orang Muslim menerima suatu rumah kosong. Seandainya benarpun, pikiran Yunani itu lima ratus tahun setelah fase kisah itu menghilangkan dua rinci penting yang terakhir perkembangannya di Yunani sendiri, dan bisa melengkapi jalan cerita: pertama, naskah- setelah dua ratus tahun pikiran itu digarap dan naskah itu pastilah tidak tertulis dalam Bahasa diolah oleh para pemikir Kristen Syria. Menurut Arab; kedua, orang-orang Arab itu tidak hanya Peters lebih lanjut, paham Kristen telah mencuci menemukan Aristoteles tetapi seluruh rangkaian bersih tendensi "eksistensial" filsafat Yunani, para penafsir juga). sehingga ketika diwariskan kepada orang- Ini berarti bahwa pikiran-pikiran Aristoteles orang Arab Muslim, filsafat itu menjadi lebih yang sampai ke tangan orang-orang Muslim sudah berorientasi pedagogik, bermetode skolastik, dan tidak "asli" lagi, melainkan telah tercampur dengan berkecenderungan logik dan metafisik. Khususnya tafsiran-tafsirannya. Karena itu, meskipun orang- logika Aristoteles (al-manthiq al-aristhi) sangat orang Muslim sedemikian tinggi menghormati berpengaruh kepada pemikiran Islam melalui ilmu Aristoteles dan menamakannya "guru pertama", kalam. Karena banyak menggunakan penalaran namun yang mereka ambil dari dia bukan hanya logis menurut metodologi Aristoteles itu, maka pikiran-pikiran dia sendiri saja, melainkan justru ilmu kalam yang mulai tampak sekitar abad VIII kebanyakan adalah pikiran, pemahaman, dan dan menjadi menonjol pada abad IX itu disebut tafsiran orang lain terhadap ajaran Aristoteles. juga sebagai suatu versi teologi alamiah (natural Singkatnya, memang bukan Aristoteles sendiri theology, al-kalam al-thabi'i, sebagai bandingan al- yang berpengaruh besar kepada falsafah dalam kalam al-Qur'ani) di kalangan orang-orang Muslim.(16) 16  Ibid., h. xx-xxxi (Introduction). Penutup Sebagaimana telah diisyaratkan, orang-orang dalam bentuknya yang telah ditafsirkan dan diolah Muslim berkenalan dengan ajaran Aristoteles oleh orang-orang Syria, dan itu berarti masuknya 24
  • 31.
    unsur-unsur Neoplatonisme. Makacukup menarik Demikian pula, kita sepenuhnya bahwa sementara orang-orang Muslim begitu dapat berbicara tentang pengaruh besar sadar tentang Aristoteles dan apa yang mereka Aristotelianisme, yaitu dari sudut kenyataan bahwa anggap sebagai ajaran-ajarannya, namun mereka kaum Muslim banyak memanfaatkan metode tidak sadar, atau sedikit sekali mengetahui berpikir logis menurut logika formal (silogisme) adanya unsur-unsur Neoplatonis didalamnya. Ini Aristoteles. Cukup sebagai bukti betapa jauhnya menyebabkan sulitnya membedakan antara kedua pengaruh ajaran Aristoteles ini ialah populernya unsur Hellenisme yang paling berpengaruh kepada ilmu mantiq di kalangan orang-orang Islam. falsafah Islam itu, karena memang terkait satu Sampai sekarang masih ada dari kalangan 'ulama' sama lainnya. kita yang menulis tentang mantiq, seperti K.H. Sekalipun begitu masih dapat dibenarkan Bishri Musthafa dari Rembang, dan ilmu mantiq melihat adanya pengaruh khas Neoplatonisme masih diajarkan di beberapa pesantren. Memang dalam dunia pemikiran Islam, seperti yang kelak telah tampil beberapa 'ulama' di masa lalu yang muncul dengan jelas dalam berbagai paham mencoba meruntuhkan ilmu mantiq (seperti Ibn Tasauf. Ibn Sina, misalnya, dapat dikatakan seorang Taymiyyah dengan kitabnya, Naqdl al-Manthiq dan Neoplatonis, disebabkan ajarannya tentang mistik al-Suyuthi dengan kitabnya, Shawn al-Mantiq wa perjalanan ruhani menuju Tuhan seperti yang al-Kalam 'an Fann al-Manthiq wa al-Kalam). Tetapi dimuat dalam kitabnya, Isharat. Dan memang bahkan al-Ghazali pun, meski telah berusaha Neoplatonisme yang spiritualistik itu banyak menghancurkan falsafah dari segi metafisikanya, mendapatkan jalan masuk ke dalam ajaran-ajaran adalah seorang pembela ilmu mantiq yang gigih, Sufi. Yang paling menonjol ialah yang ada dalam dengan kitab-kitabnya seperti Mi'yar al-Ilm dan ajaran sekelompok orang-orang Muslim yang Mihakk al-Nadhar. Bahkan kitabnya, al-Qisthas menamakan diri mereka Ikhwan al-Shafa (secara al-Mustaqim, dinilai dan dituduh Ibn Taymiyyah longgar: Persaudaraan Suci).(17) sebagai usaha pencampur-adukan tak sah ajaran Nabi dengan falsafah Aristoteles, karena uraian- 17  Pembahasan tentang kelompok ini yang cukup lengkap ialah uraian keagamaannya, dalam hal ini ilmu fiqh, yang yang dilakukan Netton. op. cit. 25
  • 32.
    menggunakan sistem ilmumantiq. kaum Muslim tampak nyata. Seperti dikatakan Tetapi, seperti telah dikemukakan di atas, William Lane Craig, adalah mustahil melihat falsafah Islam sebagai carbon copy Hellenisme. Misalnya, meskipun ... the kalam argument as a proof for God's terdapat variasi, tetapi semua pemikir Muslim existence originated in the minds of medieval berpandangan bahwa wahyu adalah sumber Arabic theologians, who bequeathed to the West, ilmu pengetahuan, dan, karena itu, mereka juga where it became the center of hotly disputed membangun berbagai teori tentang kenabian controversy. Great minds on both sides were raged seperti yang dilakukan Ibn Sina dengan risalahnya against each other: al-Ghazali versus Ibn Rushd, yang terkenal, Itsbat al-Nubuwwat. Mereka juga Saadia versus Maimonides, Bonaventure versus mencurahkan banyak tenaga untuk membahas Aquinas. The central issue in this entire debate was kehidupan sesudah mati, suatu hal yang tidak whether the temporal series of past events could terdapat padanannya dalam Hellenisme, kecuali be actually infinite.(19) dengan sendirinya pada kaum Hellenis Kristen. (...argumen kalam sebagai bukti adanya Tuhan Para failasuf Muslim juga membahas masalah berasal dari dalam pikiran para teolog Arab baik dan buruk, pahala dan dosa, tanggungjawab zaman pertengahan, yang menyusup ke Barat, pribadi di hadapan Allah, kebebasan dan di mana ia menjadi pusat kontroversi yang keterpaksaan (determinisme), asal usul penciptaan, diperdebatkan secara hangat. Pemikir-pemikir dan seterusnya, yang kesemuanya itu merupakan dari dua pihak berhadapan satu sama lain: al- bagian integral dari ajaran Islam, dan sedikit sekali Ghazali lawan Ibn Rusyd, Saadia lawan Musa ibn Maymun, Bonaventura lawan Aquinas. terdapat hal serupa dalam Hellenisme.(18) Persoalan pokok dalam seluruh debat itu ialah Lebih lanjut, falsafah kemudian mempengaruhi apakah rentetan zaman dari kejadian masa ilmu kalam. Meski begitu, lagi-lagi, tidaklah benar lampau itu dapat secara aktual tak terbatas). memandang ilmu kalam sebagai jiplakan belaka dari falsafah. Justru dalam ilmu kalam orisinalitas 19  William Craig, Kalam Cosmological Argument (London: 18  Qadir, op. cit., h. 28. The Macmillan Press Ltd, 1979), "preface". 26
  • 33.
    Ilmu kalam adalahunik dalam pemikiran umat they inherited these arguments from the Arabic manusia. Ia merupakan sumbangan Islam dalam theologians and philosophers, whom we tend dunia kefilsafatan yang paling orisinil. Argumen- unfortunately to neglect.(20) argumen yang dikembangkan dalam ilmu kalam (Para pemikir Yahudi berpartisipasi sepenuhnya menerobos dunia pemikiran Barat, sebagaimana dalam kehidupan intelektual masyarakat banyak pikiran-pikiran Islam yang lain, meskipun Muslim, banyak di antara mereka yang menulis hanya sedikit dari orang-orang Barat yang dalam Bahasa Arab dan menterjemahkan mengakuinya. Berkenaan dengan ini, Craig karya-karya Arab ke dalam Bahasa Ibrani. mengatakan lebih lanjut: Dan orang-orang Kristen kemudian membaca dan menterjemahkan karya-karya para pemikir Yahudi itu. Argumen kalam bagi permulaan The Jewish thinkers fully participated in the adanya alam raya menjadi perdebatan yang intellectual life of the Muslim society, many of panas, karena ditentang oleh Aquinas namun them writing in Arabic and translating Arabic digunakan dan didukung oleh Bonaventure. works into Hebrew. And the Christians in turn read Argumen falsafah dari wujud pasti (wajib) dan and translated works of these Jewish thinkers. wujud mungkin (mumkin) banyak digunakan The kalam argument for the beginning of the dalam berbagai bentuk dan akhirnya menjadi universe became a subject heated debate, being kunci argumen Thomis untuk adanya Tuhan. opposed by Aquinas, but adopted and supported Begitulah, bahwa argumen kosmologis itu by Bonaventure. The falsafa argument from sampai ke para teolog berbahasa Latin, yang necessary and possible being was widely used dalam budaya Barat kita mereka itu menerima in various forms and eventually became the pengakuan untuk orisinalitas, yang mereka key Thomist argument for God's existence. Thus sendiri tidak sepenuhnya berhak, karena mereka it was that the cosmological argument came mewarisi argumen-argumen itu dari para teolog dan failasuf Arab, yang sayangnya cenderung to the Latinspeaking theologians of the West, kita lupakan). who receive in our Western culture a credit for originality that they do not fully deserve, since 20  Ibid., h. 18. 27
  • 34.
    Sebagaimana telah menjadipokok Argumen kosmologi kalam membimbing kita ke pembicaraan buku William Craig yang dikutip itu, arah adanya Khaliq yang bersifat pribadi alam argumen-argumen kosmologis kalam ternyata kini raya...) banyak mendapatkan dukungan temuan-temuan Adakah membuktikan adanya Tuhan yang ilmiah moderen. Teori big bang dari Chandrasekhar personal itu yang menjadi titik perhatian sentral (pemenang hadiah Nobel), dan dikatakan dengan falsafah dan kalam? Setelah membuktikan dengan temuan-temuan astronomi moderen, begitu pula dalil-dalil dan argumen-argumen yang mantap, konsep waktu dari Newton dan Einstein, semuanya para failasuf dan mutakallim beralih ke usaha itu, menurut Craig, mendukung argumen memahami makna wujudnya Tuhan itu bagi kosmologi ilmu kalam tentang adanya Tuhan dan manusia, kemudian dikembangkan menjadi dalil- "personal", yang telah menciptakan alam raya ini: dalil dan argumen-argumen untuk mendukung kebenaran agama. Seperti ditegaskan oleh Ibn We have thus concluded to a personal Creator Rusyd dalam Fashl al-Maqal, kegiatan berfalsafah of the universe who exists changelessly and adalah benar-benar pelaksanaan perintah Allah independently prior to creation and in time dalam Kitab Suci. Maka, kata Ibn Rusyd, falsafah subsequent to creation. This ia a central core dan agama atau syari'ah adalah dua saudara of what theists mean by "God"...The kalam kandung, sehingga merupakan suatu kezaliman cosmological argument leads us to a personal besar jika antara keduanya dipisahkan. Hanya Creator of the universe..."(21) memang, kata Ibn Rusyd lagi, terdapat halangan (Dengan begitu kita telah menyimpulkan adanya agama yang karena ketidak-tahuannya memusuhi Khaliq yang personal bagi alam raya, yang ada falsafah, dan terhadap kalangan falsafah yang juga tanpa berubah dan berdiri sendiri sebelum karena ketidak-tahuannya memusuhi syari'ah. Ibn penciptaan alam dan dalam waktu sesudah Rusyd sendiri adalah seorang failasuf yang amat penciptaan itu. Inilah inti pusat apa yang oleh mendalami syari'ah. kaum teist dimaksudkan dengan "Tuhan"... 21  Ibid., h. 152. 28
  • 35.
    Disiplin Ilmu KeislamanTradisional: 3 Fiqh (Tinjauan Dari Segi Makna Kesejarahan) D ari empat disiplin Ilmu Keislaman Tradisional yang mapan yaitu ilmu fiqh ('ilm al-fiqh), ilmu kalam ('ilm al-kalam), ilmu tasawuf ('ilm mendominasi pemahaman orang-orang Muslim akan agama mereka sehingga, karenanya, paling banyak membentuk bagian terpenting cara al-tashawwuf) dan falsafah (al-falsafah atau berpikir mereka. Kenyataan ini dapat dikembalikan al-hikmah),(1) fiqh adalah yang paling kuat kepada berbagai proses sejarah pertumbuhan 1  Dari empat disiplin ilmu keislaman tradisional itu masing- masyarakat Muslim masa lalu, juga kepada masing dapat diidentifikasikan sebagai berikut: ilmu fiqh sebagian dari inti semangat ajaran agama Islam merupakan disiplin dengan bidang garapan segi-segi eksoteris (lahiriah) agama, yaitu terutama aspek hukum dari amalan sendiri. keagamaan. Para ahli fiqh juga disebut ahl al-dhawahir Salah satu karakteristik historis agama Islam (kelompok eksoteris). Ilmu tasawuf memperhatikan segi-segi esoteris (kedalaman, kebatinan), dan para ahli tasawuf disebut ialah kesuksesan yang cepat luar biasa dalam ahl al-bawathin (kelompok esoteris). Ilmu kalam menggarap ekspansi militer dan politik.(2) Ada indikasi bahwa segi-segi rasional, namun tetap lebih mengutamakan wahyu, sedangkan falsafah menggarap segi-segi spekulatif dengan yang dalam peradaban Islam dikenal dengan ilmu mantiq kecenderungan kuat kepada metode interprestasi metaforis (lengkapnya, 'ilm al-manthiq al-aristhi). Al-Ghazali pun, kepada teks-teks suci. Dari keempatnya itu falsafah adalah yang terkenal telah berusaha merubuhkan falsafah, menaruh yang paling kontroversial, disebabkan persandarannya kepada kepercayaan besar kepada ilmu mantiq ini. filsafat Yunani yang amat jauh. Namun ada bagian dari 2  Seperti halnya dengan Nabi Musa a.s. dan beberapa Nabi filsafat yang diterima hampir universal di kalangan orang- yang lain, Nabi Muhammad dikenal dalam sosiologi agama orang Muslim, yaitu logika formal (silogisme) Aristoteles, sebagai "nabi bersenjata" (armed prophet). Tapi jauh
  • 36.
    ekspansi militer keluar Jazirah Arabia itu mula- "daerah beradab" (Oikoumene, menurut sebutan mula dilakukan dalam keadaan terpaksa dan orang-orang Yunani kuna), yang membentang untuk tujuan pertahanan diri.(3) Tetapi dinamika dari Lautan Atlantik di barat sampai Gurun Gobi di gerakan perluasan itu kemudian seperti tidak timur. Sebuah kemaharajaan (empire) dunia telah dapat dikekang, dan dalam tempo amat singkat lahir dengan keluasan wilayah yang tidak pernah orang-orang Muslim menguasai sepenuhnya terjadi sebelumnya dalam sejarah umat manusia. melampaui "prestasi" Nabi Musa a.s., Nabi Muhammad s.a.w. Disebabkan oleh ciri kekuasaan itu maka berhasil merampungkan hal-hal yang berlipatganda lebih besar dari yang dirampungkan oleh Nabi Musa dan generasi sejak dari semula, khususnya dikalangan kaum berikutnya sampai Nabi Daud a.s. Ketika Rasulullah wafat, Sunni, agama Islam dengan erat terkait dengan praktis seluruh Jazirah Arabia telah tunduk kepada Madinah, dan hanya selang beberapa tahun saja sesudah itu wilayah kemapanan politik. Di antara sekian banyak kekuasaan politik Islam meluas sampai meliputi daerah inti implikasinya ialah bahwa para pemimpin Islam, peradaban manusia saat itu. baik yang berada pada lingkungan kekuasaan 3  Salah satu yang mendorong orang-orang Muslim itu keluar Jazirah Arabia dan mengadakan bcrbagai ekspedisi militer maupun yang menekuni bidang pemikiran, banyak ialah karena berita-berita yang telah beredar saat-saat terakhir sekali disibukkan oleh usaha-usaha mengatur hidup Nabi bahwa orang-orang Byzantium yang telah merasa terancam oleh munculnya gerakan Islam itu telah menyiapkan masyarakat dan negara sebaik-baiknya. Ini pasukan yang sangat besar di perbatasan utara untuk mendorong kepada curahan perhatian yang luar menghancurkan masyarakat Islam. Bahkan sebelum wafatnya, biasa besar untuk menggali dan mengembangkan Rasulullah s.a.w. telah sempat mengirim ekspedisi militer ke sana. Ekspedisi yang dikirim Nabi itu kemudian ditafsirkan unsur-unsur dalam ajaran agama Islam yang sebagai semacam wasiat yang harus dilaksanakan, dan itulah berhubungan dengan masalah pengaturan permulaan sekalian ekspedisi dan ekspansi militer yang terjadi selanjutnya. masyarakat dan negara. Pangkal Pertumbuhan Fiqh Dari suatu segi, ilmu fiqh, seperti halnya dengan sebagai "hukum" seperti yang sekarang umum ilmu-ilmu keislaman lainnya, dapat dikatakan dipahami orang, maka akar "hukum" yang amat telah tumbuh semenjak masa Nabi sendiri. Jika erat kaitannya dengan kekuasaan itu berada "fiqh" dibatasi hanya kepada pengertiannya dalam salah satu peranan Nabi sendiri selama 30
  • 37.
    beliau mengemban tugassuci kerasulan (risalah), hirarki sosial) dan yang bersifat universal (berlaku khususnya selama periode sesudah hijrah ke untuk semua orang, di semua tempat dan waktu). Madinah, yaitu peranan sebagai pemimpin Tetapi peranan Nabi dengan tugas kerasulan masyarakat politik (Madinah) dan sebagai hakim (risalah) yang diembannya tidaklah hanya pemutus perkara.(4) bersangkutan dengan hal-hal kemasyarakatan Peranan Nabi sebagai pemutus perkara itu semata. Dalam kesanggupan menangkap dan sendiri harus dipandang sebagai tak terpisahkan memahami serta mengamalkan keseluruhan dari fungsi beliau sebagai utusan Tuhan. Seperti makna agama yang serba segi itu ialah halnya dengan semua penganjur agama dan sesungguhnya letak perbaikan dan peningkatan moralitas, Nabi Muhammad s.a.w. membawa nilai kemanusiaan seseorang. Inilah kurang lebih ajaran dengan tujuan amat penting reformasi atau yang dimaksudkan Nabi ketika beliau bersabda pembabaruan dan perbaikan (ishlah)(5) kehidupan dalam sebuah hadits yang amat terkenal bahwa masyarakat. Berada dalam inti reformasi itu ialah jika Tuhan menghendaki kebaikan untuk seseorang aspirasi keruhanian (sebagai pengimbang aspirasi maka dibuatlah ia menjadi faqih (orang yang keduniawian semata) yang populis (cita-cita paham) akan agamanya.(6) Demikian pula sebuah keadilan dengan semangat kuat anti elitisme dan firman Ilahi yang tidak jauh maknanya dari hadits 4  Kedudukan Nabi sebagai hakim pemutus perkara ini antara itu, yang menegaskan hendaknya dalam setiap lain dikukuhkan dalam sebuah firman, Q., s. al-Nisa'/4:65, masyarakat selalu ada kelompok orang yang "Maka demi Tuhanmu, mereka tidaklah beriman sehingga mereka berhakim kepadamu berkenaan dengan hal-hal melakukan tafaqquh (usaha memahami secara yang diperselisihkan antara mereka, kemudian mereka tidak mendalam) tentang agamanya. Diharapkan agar menemui kekerabatan dalam diri mereka atas keputusan yang para "Spesialis" ini dapat menjalankan peran telah kau ambil, dan mereka pasrah sepenuh-penuhnya." Firman ini dan lain-lainnya juga sering menjadi acuan sebagai sebagai sumber kekuatan moral (moral force) penegasan kewajiban mengikuti Nabi melalui Sunnah yang masyarakat.(7) Maka suatu masyarakat tumbuh ditinggalkan beliau. 5  Ini bisa dipahami dari firman Allah, Q. s. Hud/11:88, yang 6  Hadits yang terkenal mengatakan, "Barangsiapa Allah menuturkan Nabi Syu'aib dalam pernyataannya kepada menghendaki kebaikan baginya, maka ia dibuat paham (fiqh) kaumnya; "Aku hanyalah menghendaki perbaikan (ishlah, dalam agama." reformasi) sedapatdapatku." 7  Q. s. al-Tawbah/9:122," Maka hendaknyalah pada setiap 31
  • 38.
    menjadi masyarakat hukum(legal society), simpul kepercayaan (al-'aqa'id) dan peribadatan (al- namun dasar strukturnya itu ialah hakikat suatu 'ibadat), maka diberikan secara terinci (mufashshal) masyarakat akhlaq (ethical society).(8) dengan rincian yang sempurna, serta dijelaskan Berkenaan dengan prinsip ini al-Sayyid Sabiq, dengan nas-nas yang serba meliputi. Karena itu misalnya, mengatakan bahwa Allah mengutus tidak seorang pun dibenarkan menambah atau Muhammad s.a.w. dengan kecenderungan suci mengurangi. Sedangkan hal-hal yang berubah yang lapang (al-hanifiyyat al-samhah). Rasulullah dengan perubahan zaman dan tempat, seperti s.a.w. bersabda bahwa "Agama yang paling disukai berbagai kemaslahatan sipil (al-mashalih al- Allah ialah al-hanifiyyat al-samhah." Kemudian madaniyyah) serta berbagai perkara politik dan kecenderungan suci yang lapang itu dilengkapi perang, maka diberikan secara garis besar (mujmal) dengan tata cara hidup praktis yang serba meliputi agar bersesuaian dengan kemaslahatan manusia (al-syari'at al-jami'ah). Namun dalam sifatnya yang di setiap masa, dan dengan ketentuan itu para menyeluruh itu masih dapat dikenali adanya dua pemegang wewenang (ulu al-amr, jamak dari wali hal yang berbeda: hal-hal parametris keagamaan al-amr, pemegang kekuasaan, yakni, pemerintah) yang tidak berubah-ubah, dan hal-hal dinamis, dapat mencari petunjuk dalam usaha menegakkan yang berubah menurut perubahan zaman dan kebenaran dan keadilan.(9) tempat: Maka ilmu fiqh dalam makna asalnya adalah ... Adapun hal-hal yang tidak berubah karena ilmu yang berusaha memahami secara tepat perubahan zaman dan tempat, seperti simpul- ketentuan-ketentuan terinci (al-mufashshalat) dan golongan dari mereka (orang-orang yang beriman) itu ketentuan-ketentuan garis besar (al-mujmalat) ada sekelompok orang yang tidak ikut (berperang) untuk dalam ajaran agama itu. Tentang hal-hal yang telah mendalami agama (tafaqquh), dan untuk dapat memberi peringatan kepada kaumnya bila mereka itu telah kembali terinci, dengan sendirinya tidak banyak kesulitan. (dari perang) agar mereka semuanya waspada." Dan waspada Tetapi tentang hal-hal yang bersifat garis besar, dalam hal ini, seperti taqwa, mengandung arti menjunjung tinggi moralitas. perbedaan penafsiran dan penjabarannya sering 8  Sebuah Hadits yang terkenal bahwa Nabi Muhammad bersabda, "Aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan budi 9  Al-Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah (Kuwait: Dar al-Bayan, 1388 pekerti luhur." H/ 1968 M), j. 1, h. 13. 32
  • 39.
    menjadi sumber kesulitanyang menimbulkan Muslim dalam fase perkembangan historis mereka berbagai perbedaan pendapat antara para pemikir yang paling formatif. Masa-masa Perkembangan Formatif Melalui masa-masa perkembangan formatifnya, ini diperlukan penyusunan hukum-hukum ilmu fiqh memperoleh batasnya yang jelas. Sejalan pembalasan, dan inilah bagian 'uqubat dari ilmu dengan yang telah dikemukakan di atas, batasan fiqh.(10) itu kurang lebih adalah: Dari definisi dan penjelasan tentang hakikat ... Fiqh ialah ilmu tentang masalah-masalah ilmu fiqh itu nampak dengan jelas titik berat syara'iyah secara teoritis. Masalah-masalah fiqh itu orientasi fiqh kepada masalah pengaturan hidup berkenaan dengan perkara akhirat seperti hal- bersama manusia dalam tatanan sosialnya, yang hal peribadatan (ibadat) atau berkenaan dengan inti kerangka pengaturan itu ialah masalah- perkara dunia yang terbagi menjadi munakahat masalah hukum. Bahkan meskipun masalah- (tentang pernikahan), mu'amalat (tentang berbagai masalah ibadat juga termasuk ke dalam ilmu fiqh transaksi dalam masyarakat) dan 'uqubat (tentang —justru merupakan yang pertama-tama dibahas— hukuman) namun cara pandang ilmu fiqh terhadap ibadat ...Demi terpeliharanya keadilan dan ketertiban pun tetap bertitikberatkan orientasi hukum. Dalam antara sesama manusia serta menjaga mereka hal ini terkenal pembagian hukum yang lima: wajib dari kehancuran maka diperlukanlah ketentuan- mandub, mubah, makruh dan haram. Disamping ketentuan yang diperkuat oleh syari'at berkenaan itu terdapat cara penilaian kepada sesuatu sebagai dengan perkara perkawinan, dan itulah bagian sah atau batal, yaitu dilihat dari kenyataan apakah munakahat dari ilmu fiqh; kemudian berkenaan semua syarat dan rukunnya terpenuhi atau tidak.(11) dengan perkara peradaban dalam bentuk Telah dikemukakan bahwa situasi yang gotong-royong dan kerjasama, dan itulah bagian mu'amalat dari ilmu fiqh; dan untuk memelihara 10  Majallat al-Ahkam al-'Adliyyah (Beirut: Mathba'at Syiarku, 1388 H/1968 M, cetakan kelima), h. 15 perkara peradaban itu agar tetap pada garisnya 11  Lihat catatan 1 di atas. 33
  • 40.
    mendesak orang-orang Muslimuntuk 415 H [750-974 M]) usaha penyusunan sistematik menjabarkan melalui penalaran unsur-unsur dalam ilmu fiqh itu dan kodifikasinya berkembang ajaran Islam yang berkaitan dengan masalah menjadi seperti yang sebagian besar bertahan pengaturan masyarakat ialah adanya kekuasaan sampai sekarang.(13) politik yang sangat riil. Kekuasaan itu tidak saja Pada masa peralihan dari dinasti Umawiyah ke secara geografis meliputi daerah oikoumene yang dinasti Abbasiyah itu hidup seorang sarjana fiqh amat luas, tetapi juga secara demografis mencakup yang terkenal, Abu Hanifah (79-148 H [699-767 berbagai bangsa dan agama yang beraneka ragam. M]). Aliran pikiran (madzhab, school of thought) Desakan kepada penalaran itu kemudian juga Abu Hanifah terbentuk dalam lingkungan Irak kodifikasinya sesungguhnya sudah ada semenjak dan suasana pemerintahan Abbasiyah. Tetapi dari masa Dinasti Umawiyah (40-131 H [661-750 M].(12) masa dinasti Abbasiyah itu yang paling formatif Tetapi para penguasa Umawiyah di Damaskus itu bagi pertumbuhan ilmu fiqh, seperti juga bagi agaknya kurang tanggap terhadap desakan itu. pertumbuhan ilmu-ilmu yang lain, ialah masa Namun masa Umawiyah telah sempat melahirkan pemerintahan Harun al-Rasyid (168-191 H [786- usaha cukup penting ke arah penyusunan 809 M]). Pada masa pemerintahannya itu hidup sistematik ilmu fiqh dan kodifikasinya, dalam seorang teman dan murid Abu Hanifah yang hebat, konteks Syria dan sistem pemerintahan Umawi, Abu Yusuf Ya'qub ibn Ibrahim (113-182 H [732-798 khususnya oleh tokoh al-Awzd'i (wafat 155 H [774 M]). Harun al-Rasyid meminta kepada Abu Yusuf M]). Dan baru pada masa dinasti Abbasiyah (131- untuk menulis baginya buku tentang al-kharaj 12  Di antara para khalifah Umawiyah yang terkenal sangat saleh 13  Ketidakpuasan umum kepada ketidakacuhan orang-orang ialah 'Umar ibn 'Abd al-'Aziz yang salah satu usahanya ialah Umawi dalam soal-soal keagamaan telah ikut mendorong mendamaikan pertikaian keagamaan antara kaum Sunni dan meletus dan berhasilnya Revolusi Abbasiyah yang didukung kaum Syi'i. Disebut-sebut bahwa yang sesungguhnya untuk oleh para agamawan itu. Meskipun dalam banyak hal, seperti pertama kali mendorong pembukuan Hadits, misalnya, adalah sikap memihak kepada golongan Sunni, kaum Abbasiyah tak Khalifah ini, yang telah memerintahkan usaha itu kepada berbeda dari kaum Umawiyah, tapi yang tersebut terdahulu antara lain al-Zuhrf. Lihat M.M. Azami, Studies in Early itu menunjukkan minat yang lebih besar kepada hal-hal Hadith Literature (Indianapolis: American Trust Publications, khusus keagamaan. Ini menciptakan suasana yang baik untuk 1978), h. 18. pengembangan ilmu-ilmu keagamaan, khususnya ilmu fiqh. 34
  • 41.
    (semacam sistem perpajakan)menurut hukum karyanya itu, Abu Yusuf dengan tegas dan tandas Islam (fiqh). Abu Yusuf memenuhinya, tetapi buku menasehati dan memperingatkan Harun al-Rasyid yang ditulisnya dengan nama Kitab al-Kharaj untuk menjalankan amanat pemerintahannya itu menjadi lebih dari sekedar membahas soal dengan adil, seperti yang telah dilakukan oleh perpajakan, melainkan telah menjelma menjadi 'Umar).(15) usaha penyusunan sistematik dan kodifikasi 15  Kutipan dari Kitab al-Kharaj akan memberi gambaran yang jelas tentang nuktah ini: ilmu fiqh yang banyak ditiru atau dicontoh oleh ahli-ahli yang datang kemudian. Lebih jauh lagi, "... Sesungguhnya Amir al-Mu'minin —semoga Allah Ta'ala meneguhkannya— telah meminta kepadaku untuk menulis menyerupai jejak pemikiran al-Awza'i dari Syria di sebuah buku yang komprehensif dan meminta agar aku masa Umawiyah tersebut di atas, Abu Yusuf dalam menjelaskan untuknya hal-hal yang ia tanyakan kepadaku dari perkara yang hendak ia amalkan, serta agar aku menafsirkan Kitdb al-Kharaj menyajikan kembali sistem hukum dan menjabarkannya. Maka benar-benar telah aku jelaskan hal yang dipraktekkan di zaman Umawiyah, khususnya itu semua dan kujabarkan. sejak kekhalifahan Abd al-Malik ibn Marwan Wahai Amir al-Mu'minin, sesungguhnya Allah —segala puji bagi-Nya— telah meletakkan di atas suatu perkara yang (64-85 H [685-705 M]), yang dalam memerintah besar pahalanya adalah sebesar-besar pahala, dan siksanya berusaha meneladani praktek Khalifah 'Umar ibn adalah sebesar-besar siksa. Allah telah meletakkan padamu urusan umat ini, maka engkau diwaktu pagi maupun petang al-Khaththab.(14) Oleh karena itu Kitab al-Kharaj membangun untuk orang banyak yang Allah telah menitipkan banyak mengisahkan kembali kebijaksanaan mereka itu kepadamu, mempercayakan mereka kepadamu, menguji kamu dengan mereka itu, dan menyerahkan Khalifah 'Umar, yang agaknya juga dikagumi oleh kepadamu urusan mereka itu. Dan suatu bangunan tetap Harun al-Rasyid sendiri. (Dalam pengantar untuk saja —jika didasarkan kepada selain taqwa— akan dirusakkan Allah dari sendi-sendinya kemudian merobohkannya 14  Mungkin karena rasa pertentangan yang laten kepada para menimpa orang yang membangunnya sendiri dan orang lain pengikut 'Ali (kaum Syi'ah), kaum Umawiyah di Damaskus yang membantunya. Maka janganlah sekali-sekali menyia- banyak menaruh simpati kepada 'Umar ibn al-Khaththab, nyiakan urusan umat dan rakyat yang telah dibebankan Allah dan mengaku bahwa dalam menjalankan beberapa kepadamu ini, sebab kekuatan berbuat itu terjadi hanya seizin segi pemerintahannya mereka meneruskan tradisi yang Allah ..." Abu Yusuf Ya'qub ibn Ibrahim, Kitab al-Kharaj ditinggalkan oleh Khalifah Rasul yang kedua itu. (Kairo: al-Mathba'at al-Salafiyyah, 1382 H, h. 3). Ushul al-Fiqh (I) 35
  • 42.
    Hampir semasa denganAbu Hanifah di Irak tema aliran pikiran Hanafi yang dipelajari dari al- (Kufah), tampil pula Anas ibn Malik (715-795) Syaibani (wafat 186 H [805 M]), yaitu penggunaan di Hijaz (Madinah). Aliran pikiran Abu Hanifah analogi, dan mengembangkannya menjadi sebuah (madzhab Hanafi) banyak menggunakan teori yang sistematika dan universal tentang analogi (qiyas) dan pertimbangan kebaikan metode memahami hukum. umum (istishlah) dan tumbuh dalam lingkungan Dengan demikian maka al-Syafi'i berjasa pemerintah pusat, sama halnya dengan aliran meletakkan dasar-dasar teoritis tentang dua hal, pikiran al-Awza'i di Syria (Damaskus) sebelumnya. yaitu, pertama, Sunnah, khususnya yang dalam Berbeda dengan keduanya itu, aliran pikiran Anas bentuk Hadits, sebagai sumber memahami hukum ibn Malik (madzhab Maliki) terbentuk oleh suasana Islam setelah al-Qur'an, dan, kedua, analogi atau lingkungan Hijaz, khususnya Madinah, yang sangat qiyas sebagai metode rasional memahami dan memperhatikan tradisi (sunnah) Nabi dan para mengembangkan hukum itu. Sementara itu, sahabatnya. konsensus atau ijma' yang ada dalam masyarakat, Anas ibn Malik mempunyai seorang murid, yang kebanyakan bersumber atau menjelma yaitu Muhammad ibn Idris al-Syafi'i (wafat 204 H menjadi sejenis kebiasaan yang berlaku umum [820 M]. Al-Syafi'i meneruskan tema aliran pikiran (al-'urf), juga diterima oleh al-Syafi'i, meskipun ia gurunya dan mengembangkannya dengan tidak pernah membangun teorinya yang tuntas. membangun teori yang ketat untuk menguji Dengan begitu pangkal tolak ilmu fiqh (ushul al- kebenaran sebuah laporan tentang sunnah, fiqh), berkat al-Syafi'i, ada empat, yaitu Kitab Suci, terutama tentang hadits yang diriwayatkan Sunnah Nabi, ijma' dan qiyas. langsung dari Nabi. Tetapi al-Syafi'i juga menerima Hadits sebagai Sunnah Kitab Suci al-Qur'an telah dibukukan dalam oleh 'Utsman untuk seluruh Dunia Islam sebuah buku terjilid (mushhaf) sejak masa khalifah berdasarkan mushhaf peninggalan pendahulunya Abu Bakr (atas saran 'Umar) dan diseragamkan itu. Dalam hal ini Hadits berbeda dari al-Qur'an, 36
  • 43.
    karena kodifikasinya yangmetodologis (dengan 'Abdullah ibn Mas'ud, yang dihubungkan dengan otentifikasi menurut teori al-Syafi'i) baru dimulai Abu Bakr dituturkan demikian: sekitar setengah abad setelah al-Syafi'i sendiri. Pelopor kodifikasi metodologi itu ialah al-Bukhari "Bahwa (abu Bakr) al-Shiddiq mengumpulkan (wafat 256 H [870 M]), kemudian disusul oleh orang banyak setelah wafat Nabi mereka, Muslim (wafat 261 H [875 M]), Ibn Majah (wafat kemudian berkata, "Kamu semuanya 273 H [886 M]), Abu Dawud (wafat 275 H [888 M]), menceritakan banyak hadits dari Rasulullah al-Turmudzi (wafat 279 H [892 M]) dan, akhirnya, al- s.a.w. yang kamu perselisihkan. Padahal manusia Nasa'i (wafat 308 H [916 M]). Mereka ini kemudian sesudahmu lebih banyak lagi perselisihan mereka. menghasilkan kodifikasi metodologis Hadits yang Maka janganlah kamu sekalian menceritakan selanjutnya dianggap bahan referensi utama di (hadits) sesuatu apa pun dari Rasulullah. Dan bidang hadits, dan secara keseluruhannya dikenal jika ada orang bertanya kepada kamu, maka sebagai al-Kutub al-Sittah (Buku yang Enam). katakanlah, 'Antara kami dan kamu ada Kitab Masa yang cukup panjang, yang ditempuh Allah, karena itu halalkanlah yang dihalalkannya oleh proses pembukuan hadits sehingga dan haramkanlah yang diharamkannya.'"(16) menghasilkan dokumentasi yang dianggap final itu —berbeda halnya dengan masalah al-Qur'an— Selain itu, al-Hudlari Bek juga menuturkan adalah disebabkan adanya semacam kontroversi adanya lima kasus yang mendorong periwayatan mengenai pembukuan hadits ini hampir sejak hadits, tiga diantaranya dikaitkan dengan 'Umar dari masa Nabi sendiri. Al-Syaikh Muhammad al- dan dua lainnya masing-masing dengan Abu Bakr Hudlari Bek dalam bukunya yang terkenal, Tarikh dan 'Utsman. Yang dikaitkan dengan Abu Bakr al-Tasyri al-Islami (Sejarah Penetapan Hukum dituturkan demikian: Syari'at Islam) menyebutkan adanya delapan kasus tindakan menghambat pencatatan hadits, lima di " ... Seorang wanita tua datang kepada Abu Bakr antaranya dihubungkan dengan 'Umar, dan tiga 16  Al-Syaikh Muhammad al-Hudlarf Bek, Tarikh al-Tasyri' al- lainnya dengan masing-masing Abu Bakr, 'Ali, dan Islami (Beirut: Dar al-Fikr, 1387 H/1967 mO, h. 90-91. 37
  • 44.
    meminta keputusan mengenaiwaris. Maka hendak menuduhmu, tetapi aku ingin menjadi dijawabnya, "Tidak kudapati sesuatu apa pun mantap."(18) untukmu dalam Kitab Allah, dan tidak kuketahui bahwa Rasulullah s.a.w. menyebutkan sesuatu Oleh karena itu sesungguhnya sejak masa amat apa pun untukmu." Kemudian dia (Abu Bakr) dini pertumbuhan umat Islam telah ada catatan- bertanya kepada orang banyak, maka berdirilah catatan pribadi tentang hadits meskipun belum al-Mughirah dan berkata, "Aku dengar Rasulullah sistematis. Disebutkan bahwa Khalifah Abu Bakr s.a.w. memberinya seperenam." Lalu Abu Bakr sendiri mempunyai koleksi sekitar 400 hadits, dan bertanya, "Adakah seseorang bersamamu?" Maka 'Umar sendiri pernah terpikir untuk membuat Muhammad ibn Maslamah memberi kesaksian rencana besar untuk mengumpulkan semua tentang hal yang serupa, kemudian Abu Bakr r.a. hadits, sekurang-kurangnya dalam hafalan, yang pun melaksanakannya.(17) sering dia bacakan di Masjid Agung Kufah di masa kekhalifahannya. 'Abdullah ibn 'Amr ibn al-'Ash Sedangkan yang terkait dengan 'Umar juga dilaporkan mengumpulkan banyak hadits dituturkan demikian: atas persetujuan Rasulullah sendiri, dan dituliskan dalam sebuah buku yang diberi nama al-Shahifat " ... Diriwayatkan bahwa 'Umar berkata kepada al-Shadiqah. Buku ini sempat beredar selama dua Ubay, dan dia ini telah meriwayatkan sebuah abad, kemudian sebagiannya dihimpun dalam hadits untuknya, "Engkau harus memberikan Musnad Ibn Hanbal.(19) bukti atas yang kau katakan itu!" Kemudian Sebelum adanya al-Kutub al-Sittah sebenarnya Umar keluar, ternyata ada sekelompok orang dari juga telah ada berbagai koleksi Hadits yang cukup golongan Anshar, maka disampaikanlah kepada sistematik, meskipun tanpa metode otentifikasi mereka ini. Mereka menyahut,"Kami benar telah al-Syafi'i. Selain Musnad Ibn Hanbal yang telah mendengar hal itu dari Rasulullah s.a.w." Maka kata 'Umar, "Adapun sesungguhnya aku tidaklah 18  Ibid., h. 93-94. 19  Majallat Kulliyyat al-Dirasat al-Islamiyyah (Baghdad: 17  Ibid., h. 93. Mathb'at al Irsyad) NO. 2, 1388 H/1968 M, h. 119-120. 38
  • 45.
    disebutkan itu, yangpaling terkenal dari banyak Nabi) tidak menemukan rekaman tertulis (shahifah) koleksi itu ialah al-Muwaththa' oleh Malik ibn Anas dari para sahabat, dan mereka itu mencatat dari Madinah. Hadits hanya jika ada permintaan dari penguasa Tetapi memang harus diakui bahwa seperti khalifah.(22) Karena itu menurut Rasyid Ridla mengenai persoalan Hadits ini, disebabkan oleh berbagai Hadits yang mengisyaratkan persetujuan masalah proses pembukuannya yang sedikit- atau apalagi anjuran menuliskan Hadits adalah banyak problematik itu, terdapat beberapa hal lemah dan dikemukakan hanya untuk tujuan kontroversial sejak dari semula. Seorang tokoh tertentu saja.(23) Teori Rasyid Ridla ini dibantah oleh pembaharu Islam di abad moderen dari Mesir, Muhammad Musthafa al-A'dhami (M. M. Azmi) Rasyid Ridla, misalnya, menganut pandangan dengan data-data dan analisa yang lebih lengkap.(24) bahwa penulisan Hadits memang pada mulanya Tetapi Rasyid Ridla hanya salah satu dari banyak dibenarkan (oleh Nabi atau para khalifah sarjana yang mempersoalkan kedudukan Hadits.(25) pertama), tetapi kemudian dilarang.(20) Sebabnya Telah disebutkan bahwa al-Syafi'i adalah sarjana ialah, menurut teori Rasyid Ridla, Nabi tidak yang paling besar jasanya dalam meletakkan teori memaksudkan Hadits-hadits itu sebagai sumber tentang kritik dan otentifikasi catatan Hadits. Jalan hukum yang abadi atau pun sebagai bagian dari pikiran al-Syafi'i kemudian diikuti oleh para pemikir agama.(21) Karena itu kemudian Nabi melarang di bidang fiqh yang datang kemudian, khususnya menuliskan Hadits, yang larangan itu, menurut Ahmad ibn Hanbal (wafat 234 H [855 M]). Sebagai Rasyid Ridla ditaati oleh para sahabatnya, pengembangan lebih lanjut teori al-Syafi'i, aliran khususnya para khalifah empat yang pertama. pikiran Hanbali mempunyai ciri kuat sangat Bahkan mereka ini katanya, dengan keras 22  Azami, h. 24, mengutip Rasyid Ridla, 768. menentang penulisan itu. Para Tabi'un (orang- 23  Azami, h. 24, mengutip Rasyid Ridla, 765-6. orang Muslim dari generasi sesudah para sahabat 24  Lihat Azami, h. 25, dan bab III untuk pembahasan ini. 25  Kritik terhadap pembukuan Hadits juga dilakukan oleh antara lain Chirargh 'Ali dari anak benua India, juga oleh para 20  Azami, Early Hadith, h. 24, mengutip dari Rasyid Ridla, orientalis seperti Joseph Schacht yang banyak mengundang Review on Early Compilation, al-Manar, x, 767. reaksi dari para sarjana Muslim disebabkan baik metodologi 21  Azami, h. 24, mengutip Rasyid Ridla, 768. maupun kesimpulannya yang terlalu jauh. 39
  • 46.
    menekankan pentingnya Haditsyang dipilih Metode ijma' pun mengandung persoalan. secara seksama. Tetapi, tanpa menolak metode Sekurang-kurangnya Ibn Taimiyyah berpendapat analogi atau qiyas, aliran Hanbali cenderung bahwa ijma' hanyalah yang terjadi di zaman salaf, mengutamakan Hadits, biarpun lemah, atas yaitu zaman Nabi sendiri, para sahabat dan para analogi, biarpun kuat, Mazhab Hanbali mempunyai tabi'un.(27) teori tersendiri tentang analogi. Sebagaimana Jawziyyah, al-Qiyas fi al-Syar' al-Islami (Kairo: Mathba'at al-Salafiyyah, 1346 H). dijabarkan oleh salah seorang tokohnya yang 27  Lihat Ibn Taimiyyah, al-Muntaqa min Mintaj al-I'tidal terbesar, Ibn Taimiyyah (wafat 728 H [1318 M7).(26) (ringkasan. Ibn Taimiyyah, Minhaj al-Sunnah yang dibuat oleh al-Dzahabi) (Kairo: Mathb'at al-Salafiyyah, 1374 H), h. 26  Lihat antara lain Ibn Taimiyyah dan Ibn Qayyim al- 66-7. Ushul al-Fiqh (II) Istilah ushul al-fiqh, selain digunakan untuk perkara tergantung kepada maksudnya. menunjuk Kitab Suci, Sunnah Nabi, Ijma' dan 1. Segala perkara tergantung kepada Qiyas sebagai sumber-sumber pokok pemahaman maksudnya. hukum dalam Islam, juga digunakan untuk 2. Yang diketahui dengan pasti tidak dapat menunjuk kepada metode pemahaman hukum hilang dengan keraguan. itu seperti dikembangkan oleh al-Syafi'i. Ushul 3. Pada dasarnya sesuatu yang telah ada al-fiqh dalam pengertian ini dapat dipandang harus dianggap tetap ada. sebagai sejenis filsafat hukum Islam karena sifatnya 4. Pada dasarnya faktor aksidental adalah yang teoretis. Ia membentuk bagian dinamis tidak ada. dari keseluruhan ilmu fiqh, dan dibangun di atas 5. Sesuatu yang mapan dalam suatu zaman dasar prinsip rasionalitas dan logika tertentu. harus dinilai sebagai tetap ada kecuali jika Karena pentingnya ushul al-fiqh ini, maka di ada petunjuk yang menyalahi prinsip itu. sini dikemukakan beberapa rumus terpenting 6. Kesulitan membolehkan keringanan. berkenaan dengan hukum dalam Islam:Segala 7. Segala sesuatu bisa menyempit, meluas, 40
  • 47.
    dan sebaliknya. bahayanya. 8. Keadaan darurat membolehkan hal-hal 12. Menghindari keburukan lebih utama terlarang. daripada mencari kebaikan. 9. Keadaan darurat harus diukur menurut 13. Pembuktian berdasar adat sama dengan sekadarnya. pembuktian berdasar nas. 10. Sesuatu yang dibolehkan karena suatu 14. Adat dapat dijadikan sumber hukum. alasan menjadi batal jika alasan itu hilang. 15. Sesuatu yang tidak didapat semuanya, 11. Jika dua keburukan dihadapi, maka harus tidak boleh ditinggalkan semuanya. dihindari yang lebih besar bahayanya 16. Ada-tidaknya hukum tergantung kepada dengan menempuh yang lebih kecil illat (alasan)-nya.(28) 28  Lihat Majallat al-Ahkam al-'Adliyyah, h. 16-18. Penutup Telah disebutkan pada bagian permulaan hukum dan aturan di kalangan orang-orang bahwa ilmu fiqh adalah cabang disiplin Muslim. Disebutkan bahwa salah satu yang keilmuan tradisional Islam yang paling banyak menarik pada agama Islam sehingga orang-orang mempengaruhi cara pandang orang-orang Muslim Muslim dalam pergaulan sehari-hari (mu'amalat) dan pemahaman mereka kepada agama mereka. sangat mementingkan kepastian hukum, Karena itu literatur dalam ilmu fiqh adalah yang sehingga terdapat keteraturan dan predictability. paling kaya dan paling canggih. Ini khususnya penting di kalangan masyarakat Disebabkan oleh kuatnya orientasi fiqh itu perdagangan.(29) maka masyarakat Islam dimana saja mempunyai 29  Banyak buku tentang ushul al-fiqh ditulis para ahli, antara ciri orientasi hukum yang amat kuat. Kesadaran lain yang amat praktis oleh Abd al-Hamid Hakim, Mabadi' Awwaliyyah (Padang-Panjang). Juga bisa disebut karya yang akan hak dan kewajiban menjadi tulang punggung lebih teoritis oleh 'Abd al-Wahhab al-Khallaf, 'Ilm Ushu pendidikan Islam tradisional, dan itu pada al-Fiqh (Kuwait: al-Dar al-Kuwaitiyyah, 1388 H/1968 M). Tentu saja dari masa klasik ialah karya al-Syafi'i, al-Risalah urutannya tercermin dalam kuatnya kepastian (lih. terjemah Indonesianya). 41
  • 48.
    Selanjutnya, beberapa unsurcita-cita pokok merisaukan, karena tidak jarang terjerembab ke Islam berkenaan dengan kemasyarakatan juga dalam intuisisme pribadi yang sangat subyektif. lebih nampak pada ilmu fiqh. Prinsip persamaan Maka agaknya benarlah al-Ghazali yang hendak manusia (egalitarianisme) tampil kuat sekali menyatukan itu semua dalam suatu disiplin ilmu dalam ilmu fiqh, dalam bentuk penegasan atas keagamaan yang menyeluruh dan padu. persamaan setiap orang di hadapan hukum. Maka terkait dengan itu juga prinsip keadilan. Hal ini berbeda, misalnya, dengan ilmu tasawuf, khususnya yang berbentuk gerakan tarekat atau sufisme populer, yang sering memperkenalkan susunan sosial yang hirarkis, dengan otoritas keruhanian pimpinan yang menegaskan. Ilmu fiqh juga mempunyai kelebihan atas ilmu kalam, apalagi falsafah, dalam hal bahwa orientasi alamiahnya (praxis) sangat ditekankan. Sementara kalam dan falsafah sangat teoretis, malah spekulatif. Karena itu banyak gerakan reformasi sosial dalam Islam yang bertitik tolak dari doktrin- doktrin fiqh. Tetapi, disebabkan oleh wataknya sendiri, ilmu fiqh menunjukkan kekurangan, yaitu titik beratnya yang terlalu banyak kepada segi-segi lahiriah. Di bidang keagamaan, eksoterisisme ini lebih-lebih merisaukan, sehingga muncul kritik- kritik, khususnya dari kaum Sufi. Tapi orientasi kedalaman (esoterisisme) kaum Sufi juga sering 42
  • 49.
    Kekuatan dan KelemahanPaham Asyari 4 Sebagai Doktrin Aqidah Islamiah P okok pembicaraan kita ialah paham Asy'ari dalam tinjauan segi kekuatan dan kelemahannya. Tetapi meskipun pembicaraan karena Islam di Indonesia bermazhab Syafi'i dan seperti di mana-mana, kaum Syafi'i kebanyakan menganut 'aqidah Asy'ari. Ini berbeda dengan ini menyangkut penilaian kritis terhadap paham kaum Sunni bermazhab Hanafi (di Asia Daratan) itu, namun kritik itu an sich tidaklah menjadi yang kebanyakan menganut 'aqidah Maturidi, dan tujuannya. Pembicaraan kita bertolak pada usaha dari kaum Sunni bermazhab Hanbali (di Arabia) untuk mengenali segi-segi positif paham itu dan yang tidak menganut Asy'ari maupun Maturidi, mencari jalan bagaimana mengembangkannya melainkan mempunyai aliran sendiri khas Hanbali. agar dapat menjadi suatu sumbangan kepada Pembela paling tegas paham Sunnah (lengkapnya, tantangan hidup masa kini. Juga dengan Ahl Sunnah wa al-Jama'ah — baca: "Ahlusunnah sendirinya pada usaha mengenali segi-segi waljama'ah") di negeri kita, yaitu Nahdlatul 'Ulama', negatifnya serta sedapat mungkin menemukan dalam muktamarnya di Situbondo akhir 1984 jalan untuk menghindari atau menghilangkannya. yang lalu merumuskan dan menegaskan bahwa Relevansi pembicaraan ini ialah bahwa paham Sunnah ialah paham yang dalam 'aqidah sebagian besar kaum Muslimin Indonesia, jika menganut al-Asy'ari atau al-Maturidi. Sedangkan tidak seluruhnya, menganut paham Asy'ari kelompok-kelompok lain, seperti Muhammadiyah di bidang 'aqidah. Pertama, karena Islam di sebagai yang pertama-tama dan terbesar, yang Indonesia beraliran Sunni, sehingga tidak biasanya oleh Nahdlatul 'Ulama' dipandang menganut aqidah Syi'ah atau Mu'tazilah. Kedua, sebagai tidak tegas berpaham Ahl al-Sunnah wa
  • 50.
    al jama'ah (namunsebenarnya dalam banyak hal ibn 'Abd-al-Wahhab, terhadap beberapa segi malah sangat Sunni), juga masih tetap menganut paham Asy'ari itu. Maka membicarakan paham al-Asy'ari dalam 'aqidah, tanpa banyak mengambil Asy'ari berarti membicarakan pandangan alih kritik para pemikir modernis Islam seperti kepercayaan agama yang paling kuat dan luas di Muhammad 'Abduh, ataupun pemikir reformis negeri kita. seperti Ibn Taymiyyah dan, apalagi, Muhammad Imam al-Asy'ari Jika disebut paham Asy'ari, kita maksudkan sudah konsolidasi paham Sunnah itu, yaitu dengan keseluruhan penjabaran simpul ('aqidah) atau penalaran ortodoksnya di bidang keimanan atau simpul-simpul ('aqa'id) kepercayaan Islam dalam 'aqidah. Ilmu Kalam yang bertitik tolak dari rintisan seorang Penalaran al-Asy'ari disebut ortodoks karena tokoh besar pemikir Islam, Abu al-Hasan 'Ali lebih setia kepada sumber-sumber Islam sendiri al-Asy'ari dari Basrah, Iraq, yang lahir pada 260 seperti Kitab Allah dan Sunnah Nabi daripada H./873 M. dan wafat pada 324 H./935 M. Jadi dia penalaran kaum Mu'tazilah dan para Failasuf. tampil sekitar satu abad setelah Imam al-Syafi'i Meskipun mereka ini semuanya, dalam analisa (wafat pada 204 H./819 M.), atau setengah abad terakhir, harus dipandang secara sebenarnya setelah al-Bukhari (wafat pada 256 H./870 M.) dan tetap dalam lingkaran Islam, namun, dalam hidup beberapa belas tahun sezaman dengan pengembangan argumen-argumen bagi paham pembukuan hadits yang terakhir dari tokoh yang yang mereka bangun, mereka sangat banyak enam, yaitu al-Tirmidzi (wafat pada 279 H./892 M.). menggunakan bahan-bahan falsafah Yunani. Dengan kata lain, al-Asy'ari tampil pada saat-saat Banyaknya penggunaan bahan falsafah Yunani itu konsolidasi paham Sunnah di bidang hukum atau memberi ciri pokok pemikiran kaum Mu'tazilah fiqh, dengan pembukuan hadits yang menjadi dan para Failasuf sehingga mereka melakukan bagian mutlaknya, telah mendekati penyelesaian. pendekatan ta'wil atau interpretasi metaforis Dan penampilan al-Asy'ari membuat lengkap terhadap teks-teks dalam Kitab dan Sunnah yang 44
  • 51.
    mereka anggap mutashabihatkarena, misalnya, al-Asy'ari menggunakan argumen-argumen mengandung deskripsi tentang Tuhan yang logis dan dialektis ia peroleh dari latihan dan antropomorfis (Tuhan menyerupai manusia seperti pendidikannya sendiri sebagai seorang Mu'tazili. punya tangan, mata, bertahta di atas Singgasana Ia memang kemudian, pada usia empat puluh atau Arasy, bersifat senang atau ridla, murka atau tahun, menyatakan diri lepas dari paham lamanya, ghadlab, dendam atau intiqam, terikat waktu dan bergabung dengan paham kaum Hadits (Ahl seperti menunggu atau intidhar, dan seterusnya). al-Hadits) yang dipelopori kaum Hanbali, yang Disebabkan kuatnya peranan dan unsur logika dan bertindak sebagai pemegang bendera ortodoksi, dialektika dalam penalaran kaum Mu'tazilah dan sehingga sering diisyaratkan sebagai kaum Sunni para Failasuf ini, maka sistem mereka disebut Ilmu par excellence. Namun al-Asy'ari nampak tidak Kalam, yakni, Ilmu Logika atau Dialektika. Maka jika mungkin melepaskan diri sepenuhnya dari metode penalaran mereka itu merupakan sebuah teologi, logis dan dialektis, yang kali ini ia gunakan justru lebih tepat disebut Teologi Rasional, Teologi untuk mendukung dan membela paham Ahl Dialektis atau Teologi Spekulatif, kadang-kadang al-Hadits. Disebabkan oleh metodologinya itu disebut Teologi Skolastik, juga disebut Teologi mula-mula al-Asy'ari tetap mencurigakan bagi Alami (Natural Teology), bahkan Teisme Falsafati kaum Hadits pada umumnya, sehingga ia merasa (Philosophical Theism).(1) perlu membela diri melalui sebuah risalahnya Tetapi penggunaan argumen-argumen logis yang sangat penting, Istihsan al-Khawdl fi 'Ilm dan dialektis tidak terbatas hanya kepada kaum al-Kalam ("Anjuran untuk Mendalami Ilmu Kalam", Mu'tazilah dan para Failasuf saja. Kaum Asy'ari yakni, Ilmu Logika). Karena ilmu logika formal, juga banyak menggunakannya, meskipun metode atau silogisme, dipelajari orang-orang Muslim ta'wil yang menjadi salah satu akibat penggunaan dari Aristoteles (maka dalam bahasa Arab disebut itu hanya menduduki tempat sekunder dalam secara lengkap sebagai al-manthiq al-aristhi, logika sistem Asy'ari. Kemampuan Abu al-Hasan 'Ali Aristoteles), pemikiran Ilmu Kalam adalah juga dengan sendirinya bersifat Aristhi atau Aristotelian, 1  William Lane Craig, The Kalam Cosmological Argument dengan ciri utama pendekatan rasional-deduktif. (New York: Barnes & Noble, 1979), h. 4. 45
  • 52.
    (Segi ini padaumumnya, dan segi-segi tertentu Muslim seluruh dunia, paham Asy'ari adalah konsep dalam Kalam pada khususnya, merupakan identik dengan paham Sunni, dan, lebih dari alasan kritik dan penolakan oleh kaum Hanbali atas itu, bahkan Ilmu Kalam pun sekarang menjadi Kalam, termasuk yang dikembangkan oleh kaum hampir terbatas hanya kepada metode penalaran Asy'ari, dengan kontroversi dan polemik yang Asy'ari. Maka dilihat dari kadar penerimaannya masih berlangsung sampai hari ini). oleh sedemikian besar kaum Muslim, dan dari Walaupun demikian, sungguh sangat menarik bagaimana penerimaan itu melintasi batas-batas bahwa dalam pergumulan pemikiran yang sengit kemazhaban dalam fiqh, paham Asy'ari adalah di bidang teologi itu akhirnya Imam Abu al-Hasan paham yang paling luas menyebar dalam Dunia 'Ali al-Asy'ari dari Basrah tersebut memperoleh Islam, sehingga al-Asy'ari bisa disebut sebagai kemenangan besar, jika bukan terakhir atau final. pemikir Islam klasik yang paling sukses. Tidak ada Ini terutama sejak tampilnya Imam al-Ghazali tokoh pemikir dalam Islam yang dapat mengklaim sekitar dua abad setelah al-Asy'ari, yang dengan sedemikian banyak penganut dan sedemikian luas kekuatan argumennya yang luar biasa, disertai pengaruh buah pikirannya seperti Abu al-Hasan 'Ali contoh kehidupannya yang penuh zuhud, al-Asy'ari. Maka sebutan yang paling umum untuk mengembangkan paham Asy'ari menjadi standar tokoh ini ialah Syaykh Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah, paham Ortodoks atau Sunni dalam 'aqidah. sebagaimana senantiasa digunakan pada lembaran Karena itu, seperti telah disinggung di atas, pada judul karya-karyanya yang cukup banyak dan kini saat sekarang ini, untuk sebagian besar kaum telah diterbitkan. Beberapa Inti Pokok Paham Asy'ari Sesungguhnya letak keunggulan sistem Asy'ari tidaklah menggunakannya sebagai kerangka atas lainnya ialah segi metodologinya, yang kebenaran itu an sich (seperti terkesan hal itu ada dapat diringkaskan sebagai jalan tengah antara pada para Failasuf), melainkan sekedar alat untuk berbagai ekstremitas. Maka ketika menggunakan membuat kejelasan-kejelasan, dan itu pun hanya metodologi manthiq atau logika Aristoteles, ia dalam urutan sekunder. Sebab bagi al-Asy'ari, 46
  • 53.
    sebagai seorang pendukungAhl al-Hadits, yang dahulu al-Asy'ari menuturkan paham Ahl al-Hadits primer ialah teks-teks suci sendiri, baik yang dari seperti yang ada pada kaum Hanbali, kemudian Kitab maupun yang dari Sunnah, menurut makna mengakhirinya dengan penegasan bahwa ia harfiah atau literernya. Oleh karena itu kalaupun mendukung paham itu dan menganutnya. Untuk ia melakukan ta'wil, ia lakukan hanya secara memperoleh gambaran yang cukup lengkap sekunder pula, yaitu dalam keadaan tidak bisa lagi tentang hal yang amat penting ini, di sini dikutip dilakukan penafsiran harfiah. Hasilnya ialah suatu beberapa persoalan mendasar dari keterangan al- jalan tengah antara metode harfi kaum Hanbali Asy'ari yang dimaksud: dan metode ta'wili kaum Mu'tazili. Di tengah- Keseluruhan yang dianut para pendukung tengah berkecamuknya dengan hebat polemik dan Hadits dan Sunnah ialah: mengakui adanya Allah, kontroversi dalam dunia intelektual Islam saat itu, para malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, dan semua metode yang ditempuh al-Asy'ari ini merupakan yang datang dari sisi Allah dan yang dituturkan jalan keluar yang memuaskan banyak pihak. Itulah oleh para tokoh terpercaya berasal dari Rasulullah alasan utama penerimaan paham Asy'ari hampir s.a.w., tanpa mereka menolak sedikit pun juga dari secara universal, dan itu pula yang membuatnya itu semua. Dan Allah —Subhanahu— adalah Tuhan begitu kukuh dan awet sampai sekarang. Yang Maha Esa, Unik (tanpa bandingan), tempat Meskipun begitu, inti pokok paham Asy'ari bergantung semua makhluk, tiada Tuhan selain ialah Sunnisme. Hal ini ia kemukakan sendiri dalam Dia, tidak mengambil isteri, tidak juga anak; dan bukunya yang sangat bagus dan sistematis, yaitu bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya; Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin dan bahwa surga itu nyata, neraka itu nyata, dan ("Pendapat-pendapat Kaum Islam dan Perselisihan hari kiamat pasti datang tanpa diragukan lagi, Kaum Bersembahyang"), sebuah buku heresiografi dan bahwa Allah membangkitkan orang yang ada (catatan tentang berbagai penyimpangan atau dalam kubur. bid'ah) dalam Islam yang sangat dihargai karena Dan bahwa Allah —subhanahu— ada di atas kejujuran dan obyektifitas dan kelengkapannya. 'Arasy (Singgasana), sebagaimana difirmankan Dalam meneguhkan pahamnya sendiri, terlebih (Q., 20:5), "Dia Yang Maha Kasih, bertahta di atas 47
  • 54.
    Singgasana"; dan bahwaDia mempunyai dua difirmankan oleh Dia Yang Maha Tinggi dan Maha tangan tanpa bagaimana (bi la kayfa) sebagaimana Agung (Q., 81:29), "Dan kamu (manusia) tidaklah difirmankan (Q., 37:75), "Aku menciptakan dengan (mampu) menghendaki sesuatu jika tidak Allah kedua tangan-Ku", dan juga firmanNya (Q., 5:64), menghendakinya", dan sebagaimana diucapkan "Bahkan kedua tangan-Nya itu terbuka lebar"; dan oleh orang-orang Muslim, "Apa pun yang Dia itu mempunyai dua mata tanpa bagaimana, dikehendaki Allah akan terjadi, dan apa pun yang sebagaimana difirmankan (Q., 54:14), "Ia (kapal) tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi." itu berjalan dengan mata Kami"; dan Dia itu Mereka juga berpendapat bahwa tidak seorang mempunyai wajah, sebagaimana difirmankan (Q., pun mampu melakukan sesuatu sebelum Dia 55:27), "Dan tetap kekallah Wajah Tuhanmu Yang (Allah) melakukannya, juga tidak seorang pun Maha Agung dan Maha Mulia." mampu keluar dari pengetahuan Allah, atau Dan nama-nama Allah itu tidak dapat dikatakan melakukan sesuatu yang Allah mengetahui bahwa sebagai lain dari Allah sendiri seperti dikatakan ia tidak melakukannya. oleh kaum Mu'tazilah dan Khawarij. Mereka Mereka mengakui bahwa tidak ada Pencipta (Ahl al-Sunnah) juga mengakui bahwa pada selain Allah, dan bahwa keburukan para hamba Allah —subhanahu— ada pengetahuan ('ilm), (manusia) diciptakan oleh Allah, dan bahwa sebagaimana difirmankan (Q., 4:166), "Diturunkan- semua perilaku manusia diciptakan Allah 'azza Nya ia (al-Qur'an) dengan pengetahuanNya", dan wa jalla, dan bahwa manusia itu tidak berdaya juga firman-Nya (Q., 35:11), "Dan tidaklah ia (wanita) menceritakan sedikit pun dari padanya. mengandung (bayi) perempuan, juga tidak Dan bahwa Allah memberi petunjuk kepada melahirkannya, kecuali dengan pengetahuan- kaum beriman untuk taat kepada-Nya, serta Nya."... menghinakan kaum kafir. Allah mengasihi kaum Mereka (Ahl al-Sunnah) juga berpendapat beriman, memperhatikan mereka, membuat bahwa tidak ada kebaikan atau keburukan di bumi mereka orang-orang saleh, membimbing mereka, kecuali yang dikehendaki Allah, dan segala sesuatu dan Dia tidak mengasihi kaum kafir, tidak membuat terjadi dengan kehendak Allah, sebagaimana mereka saleh, serta tidak membimbing mereka. 48
  • 55.
    Seandainya Allah membuatmereka saleh, tentulah Selanjutnya al-Asy'ari menuturkan pokok-pokok mereka menjadi saleh, dan seandainya Allah pandangan Sunni lainnya seperti bahwa al-Qur'an membimbing mereka tentulah mereka menjadi adalah kalam Ilahi yang bukan makhluk, bahwa berpetunjuk. kaum beriman akan melihat Allah di surga "seperti Dan Allah —subhanahu— berkuasa membuat melihat bulan purnama di waktu malam", bahwa orang-orang kafir itu saleh, mengasihi mereka Ahl al-Qiblah (orang yang melakukan sembahyang sehingga menjadi beriman; tetapi Dia berkehendak dengan menghadap kiblat di Makkah) tidak boleh untuk tidak membuat mereka saleh dan (tidak) dikafirkan meskipun melakukan dosa besar seperti mengasihi mereka sehingga menjadi beriman, mencuri dan zina, bahwa Nabi akan memberi melainkan Dia berkehendak bahwa mereka itu kafir syafa'at kepada umatnya, termasuk kepada adanya seperti Dia ketahui, menghinakan mereka, mereka yang melakukan dosa-dosa besar, bahwa menyesatkan mereka dan memateri hati mereka. iman menyangkut ucapan dan perbuatan yang Dan bahwa baik dan buruk dengan keputusan kadarnya bisa naik dan turun, bahwa nama-nama (qadla') dan ketentuan (qadar) Allah, dan mereka Allah adalah Allah itu sendiri (bukan sesuatu (Ahl al-Sunnah) beriman kepada qadla' dan qadar yang wujudnya terpisah), bahwa seseorang Allah itu, yang baik dan yang buruk, serta yang yang berdosa besar tidak mesti dihukumi masuk manis dan yang pahit. Mereka juga beriman bahwa neraka, sebagaimana seseorang yang bertauhid mereka tidak memiliki pada diri mereka sendiri tidak mesti dihukumi masuk surga sampai Allah (memberi) manfaat atau madarat, kecuali dengan sendiri yang menentukan, dan bahwa Allah yang dikehendaki Allah, sebagaimana difirmankan- memberi pahala kepada siapa yang dikehendaki Nya, dan mereka (Ahl al-Sunnah) itu menyerahkan dan memberi siksaan kepada siapa saja yang segala perkaranya kepada Allah —subhanahu— dikehendaki, bahwa apa saja yang sampai ke dan mengakui adanya kebutuhan kepada Allah tangan kita dari Rasulullah s.a.w. melalui riwayat dalam setiap waktu serta keperluan kepada-Nya yang handal harus diterima, tanpa boleh bertanya: dalam setiap keadaan.(2) Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin, edisi Muhammad Muhy- al-Din 'Abd-al Hamid 2 jilid (kairo: Maktabat al-Nahdlat 2  Abd al-Hasan 'Ali ibn Isma'il al-Asy'ari, Maqalat al- al-Mishriyyah, 1969), jil, 1, hh. 345-50. 49
  • 56.
    "Bagaimana?" ataupun "Mengapa?",karena jahat (fajir). semuanya itu bid'ah. Disebutkan pula bahwa kaum Sunni Juga bahwa Allah tidak memerintahkan mempercayai akan munculnya Dajjal di kejahatan, melainkan melarangnya; dan Dia akhir zaman, dan bahwa 'Isa al-Masih akan memerintahkan kebaikan dengan tidak meridlai membunuhnya. Lalu ditegaskannya pula bahwa kejahatan, meskipun Dia menghendaki kejahatan Ahl al-Sunnah itu berpendapat harus menjauhi itu. setiap penyeru bid'ah; harus rajin membaca Dan bahwa keunggulan para sahabat Nabi al-Qur'an, mengkaji Sunnah dan mempelajari seperti manusia pilihan Allah harus diakui, dengan fiqh dengan rendah hati, tenang, dan budi yang menghindarkan diri dari pertengkaran tentang baik; harus berbuat banyak kebaikan dan tidak mereka, besar maupun kecil, dan bahwa urutan menyakiti orang; harus meninggalkan gunjingan, keunggulan Khalifah yang empat ialah pertama- adu domba dan umpatan, dan terlalu mencari-cari tama Abu Bakr, kemudian 'Umar, disusul 'Utsman, makan dan minum! dan diakhiri dengan 'Ali. Demikian kutipan sebagian dari keterangan Selanjutnya, menurut al-Asy'ari, paham Sunni al-Asy'ari yang panjang-lebar. Pada akhir juga mengharuskan taat mengikuti imam atau keterangannya itu, al-Asy'ari menyatakan: "Dan pemimpin, dengan bersedia bersembahyang kita pun berpendapat seperti semua pendapat sebagai ma'mum di belakang mereka, tidak peduli yang telah kita sebutkan itu, dan kepadanyalah kita apakah mereka itu orang baik (barr) ataupun orang bermazhab."(3) 3  Ibid., h. 350. Alur Argumen Kalam Asy'ari Disamping menuturkan 'aqidah Ahl Al-Sunnah dialektisnya sebagaimana ia pelajari dari para guru yang kemudian ia nyatakan sebagai ia ikuti sendiri Mu'tazilah. Dan pengembangannya oleh al-Asy'ari, itu, al-Asy'ari, seperti telah disinggung di depan, yang kemudian lebih dikembangkan lagi oleh juga mengembangkan alur argumen logis dan para pengikutnya, terutama al-Ghazali, menjadi 50
  • 57.
    tumpuan kekuatan pahamAsy'ari itu sebagai lain) semuanya saling berlawanan, namun kita doktrin dalam 'aqidah Islamiah kaum Sunni. Praktis dapati dalam kenyataan tergabung (murakkab); semua nuktah kepercayaan dalam Islam ia dukung penggabungan itu memerlukan sebab, yaitu dengan argumen-argumen logis dan dialektis, Pencipta. sebagian bahkan tidak lagi merupakan kelanjutan (2) Argumen dari pengalaman: Penciptaan dari argumen yang telah ada sebelum dia sendiri, ketiadaan (al-ijad min al-'adam, creatio ex nihilo) melainkan menjadi kontribusinya yang orisinal tidaklah berbeda dari pengalaman kita, sebab, dalam pemikiran Keislaman. melalui perubahan, bentuk lama hilang dan bentuk Sebagaimana halnya dengan setiap baru muncul dari ketiadaan. pembahasan teologis, pusat argumentasi Kalam (3) Argumen dari adanya akhir untuk gerak, Asy'ari berada pada upayanya untuk membuktikan waktu, dan obyek-obyek temporal: gerak tidak adanya Tuhan yang menciptakan seluruh jagad mungkin berasal dari masa tak berpermulaan, raya, dan bahwa jagad raya itu ada karena sebab mustahil bagi gerak itu mundur dalam diciptakan Tuhan "dari ketiadaan" (min al-'adam, waktu secara tak terhingga (tasalsul, infinite, ex nihilo). Karena tidak mungkin memaparkan temporal regress), sebab bagian yang terhingga keseluruhan argumen Kalam itu, maka di sini tidak mungkin ditambahkan satu sama lain untuk dikutipkan penjelasan sarjana Muslim moderen, al- menghasilkan keseluruhan yang tak terhingga; Alousi, tentang argumen Kalam berkenaan dengan karena itu jagad dan gerak tentu mempunyai penciptaan alam raya ini. Menurut al-Alousi, ada permulaan. Atau lagi, gerak tidak mungkin ada enam argumen yang digunakan para tokoh Ilmu dari awal tanpa permulaan (azal, eternity), sebab Kalam untuk membuktikan tidak abadinya alam mustahil bagi gerak itu mundur dalam waktu raya: secara tak terhingga, karena sesuatu yang tak (1) Argumen dari sifat berlawanan benda- terhingga tidak dapat dilintasi. Atau lagi, jika pada benda sederhana (basith): unsur-unsur dasar suatu titik waktu mana pun, deretan tak terhingga, alam raya (tanah, air, dan lain-lain) dan sifat-sifat telah berlangsung, maka pada titik tertentu dasarnya (panas, dingin, berat, ringan dan lain- sebelumnya hanya suatu deretan terhingga saja 51
  • 58.
    yang telah berlangsung;tetapi titik tertentu itu dari argumen itu diwarisi para pemikir Muslim terpisah dari lainnya oleh suatu sisipan yang dari falsafah Yunani. Beberapa failasuf Islam terhingga; oleh karena itu seluruh deretan waktu seperti Ibn Rusyd dan al-Suhrawardi memang itu terhingga dan diciptakan. menyebutkan nama Yahya al-Nahwi (Yahya si Ahli (4) Argumen dari keterhinggaan jagad: Tatabahasa, yaitu John Philoponus, meninggal karena jagad ini tersusun dari bagian-bagian sekitar tahun 580 M.), seorang pemikir Nasrani dari yang terhingga, maka ia pun terhingga pula; Iskandar, Mesir, telah merintis argumen "kalami" segala sesuatu yang terhingga adalah sementara; untuk adanya Tuhan dan terciptanya alam raya. oleh karena itu jagad adalah sementara, yakni, Namun di tangan kaum Muslim, khususnya para mempunyai suatu permulaan dan diciptakan. penganut paham Asy'ari, dan lebih khusus lagi al- (5) Argumen dari kemungkinan (imkan, Ghazali pribadi, argumen itu berkembang seperti contingency): jagad ini tidaklah (secara rasional) ringkasan al-Alousi di atas, dan menjadi salah satu pasti terwujud; oleh karena itu harus terdapat segi kontribusi alam pikiran Islam yang paling faktor penentu (mukhashshish, murajjih) yang orisinal kepada alam pikiran umat manusia. membuat jagad itu terwujud, yaitu Pencipta. Karena itu semua, maka Ilmu Kalam menjadi (6) Argumen dari kesementaraan (huduts, karakteristik pemikiran mendasar yang amat temporality): benda tidak mungkin lepas dari khas Islam, yang membuat pembahasan teologis kejadian ('aradl, accident) yang bersifat sementara; dalam agama itu berbeda dari yang ada dalam apa pun yang tidak dapat terwujud kecuali agama lain mana pun, baik dari segi isi maupun dengan hal yang bersifat sementara tentu metodologi. Sungguh sangat menarik bahwa bersifat sementara pula; karena itu seluruh jagad dalam perkembangan teologis umat manusia, raya adalah sementara (hadits) dan tentu telah Ilmu Kalam seperti yang dipelopori oleh al-Asy'ari terciptakan (muhdats).(4) dan dikembangkan oleh al-Ghazali itu telah Sudah diisyaratkan di atas bahwa sebagian mempengaruhi banyak agama di dunia, khususnya yang bersentuhan langsung dengan Islam, yaitu 4  Al-Alousi, sebagaimana dikutip dalam Craig, op. cit., hh. Yahudi dan Kristen, sebegitu rupa. Sehingga 7-8. 52
  • 59.
    banyak para pemikirYahudi sendiri memandang Sekarang ini, di zaman Moderen, para pengikut bahwa agama Yahudi seperti yang ada sekarang ini paham Asy'ari boleh merasa lebih mantap dan adalah agama Yahudi yang dalam bidang teologi berbesar hati, sebab, sepanjang pembahasan telah mengalami "pengislaman", seperti tercermin William Craig, seorang ahli filsafat moderen dari dalam pembahasan buku Austryn Wolfson, Berkeley, California, ilmu pengetahuan mutakhir, Repercussion of Kalam in Jewish Philosophy khususnya teori-teori tentang asal kejadian alam ("Pengaruh Kalam dalam Falsafah Yabudi").(5) raya seperti teori ledakan besar dalam Astronomi Dan William Craig mengisyaratkan bahwa moderen, sangat menunjang argumen-argumen berbagai polemik teologis dan filosofis dalam Ilmu Kalam, khususnya dalam pandangan bahwa Yahudi dan Kristen adalah karena pengaruh, dan alam raya berpermulaan dalam suatu titik waktu di merupakan kelanjutan, dari polemik teologis masa lampau, dan bahwa ia diciptakan dari tiada. dan filosofis dalam Islam. Seperti kita ketahui, Sebagai seorang failasuf non-religi, Craig tetap dalam Islam terjadi polemik antara Kalam skeptis tentang apakah Tuhan itu mempunyai sifat- (ortodoks) dengan falsafah, diwakili oleh polemik sifat seperti yang dibicarakan dalam Ilmu Kalam. posthumous antara al-Ghazali (Tahafut al-Falasifah, Namun ia menyimpulkan pembahasannya dengan "Kerancuan para Failasuf') dan Ibn Rusyd (Tahafut mengakui validitas argumen Kalam tentang al-Tahafut, "Kerancuannya Kerancuan"). Dalam adanya Tuhan: Yahudi, polemik yang paralel juga telah terjadi, Jadi telah disimpulkan tentang adanya suatu yaitu antara Saadia (pengaruh Kalam al-Ghazali) Khaliq yang personal bagi alam raya yang ada dengan Maimonides (pengaruh falsafah Ibn Rusyd), tanpa berubah dan lepas sebelum penciptaan dan dan dalam Kristen polemik serupa ialah antara dalam waktu sesudah penciptaan. Inilah inti pusat Bonaventure (pengaruh Kalam al-Ghazali) dan apa yang oleh kaum Ketuhanan dimaksudkan Thomas Aquinas (pengaruh falsafah Ibn Rusyd).(6) dengan "Tuhan". Kita tidak melangkah lebih jauh dari itu. Argumen kosmologis kalam membimbing 5  Diterbitkan oleh Harvard University Press, Cambridge, kita kepada adanya Khaliq yang personal bagi alam Mass., 1979. raya, namun perkara apakah Khaliq ini Mahakuasa, 6  Craig, op. cit., "Pengantar". 53
  • 60.
    baik, sempurna, danseterusnya, kita tidak akan penggerak yang tak tergerakkan, dan bahwa Dia membahas.(7) tetap jauh dan lepas dari jagad raya yang telah Meskipun skeptis tentang sifat-sifat Tuhan, diciptakanNya.(8) namun, juga sebagai seorang failasuf non-religi, Tentu saja para ahli Ilmu Kalam menolak konsep William Craig mengisyaratkan bahwa setelah Aristoteles itu. Namun tetap bahwa kesimpulan terjadi kesimpulan mantap tentang adanya Tuhan, failasuf moderen tersebut membuktikan segi sepatutnya kita melihat apakah Tuhan itu "pernah" paling tangguh dari paham Asy'ari sebagai doktrin menyatakan Diri melalui wahyu-Nya seperti 'aqidah Islamiah. Paham Asy'ari dengan deretan dikatakan dalam agama-agama, ataukah tidak. Jika argumennya itu, seperti telah disebutkan, telah jawabnya afirmatif, itu berarti landasan keabsahan berjasa ikut memperkokoh konsep Ketuhanan bagi agama. Dan kalau negatif, maka barangkali dalam agama-agama besar, khususnya Islam Aristoteles benar bahwa Tuhan itu adalah sendiri, serta Yahudi dan Kristen. Dan jika Craig 7  "We have thus concluded to a personal Creator of the benar, paham Asy'ari juga akan berjasa ikut universe who exists changelessly and independently prior to creation and in time subsequent to creation. This is a central memperkokoh konsep Ketuhanan bagi manusia core of what theists mean by "God". Further than this we zaman mutakhir dengan ilmu-pengetahuan dan shall not go. The Kalam cosmological argument leads us to a personal Creator of the universe, but as to whether this astronomi moderennya. Creator ia omniscient, good, perfect, and so forth, we shall not inquire". (Ibid., h. 152). 8  Ibid., hh. 152-3. Masalah Perilaku Manusia Tanpa kehilangan pandangan tentang Dalam batasan ruang dan waktu, kita akan hanya segi-segi kuat di atas itu, pembicaraan tentang menyinggung satu segi saja yang paling relevan paham Asy'ari tidak mungkin lepas dari segi-segi dan juga paling banyak dijadikan sasaran kritik, lemahnya, baik dalam pandangan para pemikir yaitu pandangan dalam sistem paham Asy'ari Islam sendiri di luar kubu Kalam Asy'ari, maupun tentang perilaku manusia berkenaan dengan dari dalam pandangan para pemikir lainnya. masalah sampai di mana manusia mampu 54
  • 61.
    menentukan sendiri kegiatannyadan sampai di salah satu buku teks dalam paham Asy'ari: mana ia tidak berdaya dalam masalah penentuan kegiatan itu berhadapan dengan qudrat dan iradat Wa 'indana li al-'abd-i kasb-un kullifa Tuhan. Wa lam yakun mu'atstsir-an fa 'l-ta'rifa Dari kutipan tentang paham Ahl Al-Sunnah Fa laysa majbur-an wa la ikhtiyar-an yang dijabarkan al-Asy'ari di muka —dan yang ia Wa laysa kull-an yaf' al-u ikhtiyar-an dukung dan anut sepenuhnya— dapat kita baca Fa in yutsibna fa bi mahdl-i al-fadl'l-i pandangan tentang perilaku manusia, termasuk Wa in yu'adzdzib fa bi mahdl-i al-'adl-i(9) tentang kebahagiaan dan kesengsaraannya, yang bernada sikap pasrah kepada nasib (fatalisme). Artinya: Sesungguhnya al-Asy'ari bukanlah seorang Jabari 'sehingga dapat disebut fatalis. Tetapi Bagi kita, hamba (manusia) dibebani kasb, ia juga bukan seorang Qadari yang berpaham Namun kasb itu, ketahuilah, tidak akan tentang kemampuan penuh manusia menentukan berpengaruh perbuatannya, seperti kaum Mu'tazilah dan Syi'ah. Maka manusia tidaklah terpaksa, dan tidak pula Al-Asy'ari ingin menengahi antara kedua paham bebas, yang bertentangan itu, sebagaimana dalam bidang Dan tidak pula masing-masing itu berbuat metodologi ia telah menengahi antara kaum dengan kebebasan Hanbali yang sangat naqli (hanya berdasar teks- Jika Dia (Allah) memberi pahala kita maka teks suci dengan pemahaman harfiah) dan kaum semata karena murah-Nya, Mu'tazili yang sangat 'aqli (rasional). Dan jika Dia menyiksa kita maka semata karena Dalam usahanya menengahi antara jabariah adil-Nya dan qadariah itu, Abu Hasan al-Asy'ari tampil dengan konsep kasb (perolehan, acquisition) yang 9  Tarjamah Sabil al-'Abid 'ala Jawharat al-Tawhid (karangan cukup rumit. Berikut ini tiga bait syair tentang Ibrahim al-Laqqani) oleh H. Muhammad Shalih ibn 'Umar Samarani, (tanpa data penerbitan), hh. 146, 149, 150 don pengertian kasb, dari kitab Jawharat al-Tawhid, 156. 55
  • 62.
    Jadi, jelasnya, manusiatetap dibebani Walakinnahu mukhtar-u husn-in wa saw'at-i kewajiban melakukan kasb melalui ikhtiarnya, |Fa laysa bi majbur-in 'adim-i 'l-iradat-i namun hendaknya ia ketahui bahwa usaha itu tak Wa lakinnahu sya'a bi khalq-i 'l-iradat-i(10) akan berpengaruh apa-apa kepada kegiatannya. Karena kewajiban usaha atau kasb itu maka Artinya: manusia bukanlah dalam keadaan tak berdaya Tidak ada jalan keluar bagi manusia dari seperti kata kaum Jabari, tapi karena usahanya toh ketentuan-Nya, tidak berpengaruh apa-apa kepada kegiatannya Namun manusia tetap mampu memilih yang maka ia pun bukanlah makhluk bebas yang baik dan yang buruk menentukan sendiri kegiatannya seperti kata kaum Jadi bukannya ia itu terpaksa tanpa kemauan, Qadari. Dan jika Allah memberi kita pahala (masuk melainkan ia berkehendak dengan terciptanya surga), maka itu hanyalah karena kemurahan-Nya kemauan (dalam dirinya) (bukan karena amal perbuatan kita), dan jika dia menyiksa kita (masuk neraka) maka itu hanyalah Begitulah, Ibn Taymiyyah melihat bahwa karena keadilan-Nya (juga bukan karena semata dalam proses perkembangan paham Asy'ari, perbuatan kita). konsep kasb yang sulit itu telah menjerumuskan Kutipan itu menggambarkan betapa sulitnya para pengikutnya kepada sikap yang lebih memahami konsep kasb dalam paham Asy'ari. mengarah ke Jabariah, tidak ke jalan tengah yang Maka tidak heran konsep itu menjadi sasaran dikehendakinya. Ibn Taymiyyah sendiri, karena kritik tajam para pemikir lain, termasuk Ibn menolak baik Qadariah maupun Jabariah, juga Taymiyyah yang menganggapnya sebagai salah tampil dengan konsepnya jalan tengah, yaitu, satu keanehan atau absurditas Ilmu Kalam. Ibn sebagaimana ternyata dari syair tersebut, konsep Taymiyyah malah menggubah syair yang dapat bahwa Allah telah menciptakan dalam diri manusia dipandang sebagai tandingan konsep kasb: 10  Tarjamah Sabil al-'Abid 'ala Jawharat al-Tawhid (karangan Ibrahim al-Laqqani) oleh H. Muhammad Shalih ibn 'Umar Samarani, (tanpa data penerbitan), hh. 146, 149, 150 don Wa la makhraj-a li 'l-'abd-i 'amma qadla, 156. 56
  • 63.
    kehendak (iradah), yangdengan iradah itu manusia mampu memilih jalan hidupnya, baik maupun buruk. 57
  • 64.
  • 65.
    Disiplin Keilmuan IslamTradisional: 5 Tasawuf (Letak dan Peran Mistisisme dalam Penghayatan Keagamaan Islam) D alam sebuah hadits, Rasulullah s.a.w. disebutkan sebagai bersabda bahwa masa kenabian (nubuwwah) dan rahmat akan disusul adalah para pengganti (khalifah) Nabi yang kelak dikenal sebagai para khalifah yang berpetunjuk (al-khulafa al-rasyidun). Sedangkan masa para oleh masa kekhalifahan kenabian (Khilafat khalifah yang empat itu adalah masa "kerajaan nubuwwah) dan rahmat, sesudah itu masa kerajaan dan rahmat." Dari masa "kerajaan dan rahmat" itu, (mulk) dan rahmat, kemudian masa kerajaan menurut Ibn Taymiyyah, yang terbaik ialah masa (saja).(1) Ibn Taymiyyah menjelaskan bahwa masa "Raja" Mu'awiyah ibn Abi Sufyan di Damaskus. Ibn "kenabian dan rahmat" itu ialah, tentu saja, masa Taymiyyah mengatakan bahwa di antara raja-raja Nabi sendiri. Sedangkan masa "kekhalifahan tidak ada yang menjalankan kekuasaan sebaik kenabian dan rahmat" berlangsung selama tiga Mu'awiyah. Dialah sebaik-baik raja Islam, dan puluh tahun sesudah wafat Nabi s.a.w., yaitu tindakannya lebih baik daripada tindakan para raja sejak permulaan kekhalifahan Abu Bakr, disusul mana pun sesudahnya.(2) Umar ibn al-Khathtab, kemudian Utsman ibn Pandangan Ibn Taymiyyah itu khas paham 'Affan, dan akhirnya 'Ali ibn Abi Thalib. Mereka Sunni, terutama dari kalangan mazhab Hanbali. 1  Hadits ini dikutip oleh Ibn Taymiyyah dalam kitabnya, Malah, sesungguhnya, apa pun yang terjadi Minhaj al Sunnah fi Naqdl kalam al-Syi'ah wa al-Qadariyyah, pada Mu'awiyah akan dianggap Ibn Taymiyyah 4 jilid, (Riyadl: Maktab al-Riyadl al-Hadits, tanpa tahun), jilid IV, h. 121. 2 Ibid
  • 66.
    sebagai tidak bisadipersalahkan begitu saja, atau wasiat berdasarkan pertalian darah). Ini karena dia adalah seorang Sahabat Nabi. Lebih memang bisa disebut sistem kerajaan seperti jauh, Ibn Taymiyyah masih mempunyai alasan dimaksudkan dalam hadits, tetapi Mu'awiyah dan untuk memuji anak Mu'awiyah, yaitu "Raja" Yazid para penggantinya, begitu pula para penguasa (yang oleh kaum Syi'ah dituding sebagai paling 'Abbasiyah, menyebut diri mereka masing-masing bertanggungjawab atas pembunuhan amat keji Khalifah (dari Nabi), bukan raja. Namun tetap ada terhadap al-Husayn, cucunda Nabi), karena, kata suatu sistem yang adil telah diganti dengan sistem Ibn Taymiyyah, Yazid adalah komandan tentara yang kurang adil, jika bukannya yang zalim. Segi Islam yang pertama memerangi dan mencoba keadilan sistem kekhalifahan yang pertama tidak merebut Konstantinopel, sementara sebuah hanya ada dalam mekanisme penggantiannya hadits menyebutkan adanya sabda Nabi: "Tentara melalui pemilihan, tetapi lebih-lebih lagi pertama yang menyerbu Konstantinopel diampuni mereka itu dalam menjalankan kekuasaan dan (oleh Allah akan segala dosanya)."(3) pemerintahan. Penyebutan para pengganti Nabi Tetapi pandangan Ibn Taymiyyah itu berbeda yang pertama itu sebagai "berpetunjuk" (al- dengan yang ada pada banyak kelompok rasyidun) adalah terutama berkenaan dengan Islam yang lain, termasuk dari kalangan kaum kualitas pemerintahan mereka itu.(4) Sunni sendiri. Mereka ini berpendapat bahwa 4  Pandangan yang cukup umum di kalangan orang-orang Mu'awiyah tanpa mengabaikan jasa-jasa Muslim ini menjadi dasar sarjana sosiologi terkenal, yang telah diperbuatnya- adalah orang yang Robert N. Bellah, untuk membuat penilaian -sebagaimana dalam kesempatan lain telah dikemukakan- bahwa Islam pertama bertanggung-jawab merubah sistem mengajarkan sistem politik yang terbuka dan "moderen." kekhalifahan yang terbuka (pengangkatan Tetapi karena prasarana sosialnya pada bangsa Arab dan dunia saat itu belum siap, maka sistem kekhalifahan Islam itu tidak pemimpin tertinggi Islam me]alui pemilihan) bertahan lama, dan diganti dengan sistem "kerajaan Bani menjadi sistem kekhalifahan yang tertutup Umayyah yang menurut Bellah tidak lain ialah penghidupan kembali sistem tribalisme Arab yang telah ada sebelum (pengangkatan pemimpin melalui penunjukan kedatangan Islam. Maka Bellah dapat memahami mengapa 3  Sebuah hadits diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kita orang-orang Muslim moderen, dalam mencari acuan untuk shahihnya, dari Abdullah ibn Umar, dikutip dan dijabarkan cita-cita politik mereka, senantiasa merujuk kepada masa oleh Ibn Taymiyyah. (Ibid., jilid II, h. 329). kekhalifahan pertama sebagai model. (Lihat Robert N. Bellah, 60
  • 67.
    Dalam pandangan banyakorang Muslim, rezim Damaskus, tidak saja oleh musuh tradisional pemerintahan masa kekhalifahan yang pertama kaum Umayyah yang terdiri dari golongan adalah suatu bentuk kesalehan dan rasa Syi'ah dan Khawarij, tetapi juga oleh golongan keagamaan yang mendalam, sedangkan para Sunnah, yang kaum Umayyah ikut mendukung penguasa Bani Umayyah hanya tertarik kepada dan melindungi pertumbuhan awalnya. Wujud kekuasaan itu sendiri saja. Kalaupun tidak begitu oposisi keagamaan terhadap rezim Bani Umayyah tepat untuk masa Mu'awiyah (dan 'Umar ibn 'Abd itu yang paling terkenal ialah yang dilakukan oleh al'Aziz) -sebagaimana argumen untuk Mu'awiyah seorang tokoh yang amat saleh, yaitu Hasan dari itu telah dikutip dari Ibn Taymiyyah di atas- Basrah (Hasan al-Bashri, wafat 728 M). Pada masa penilaian serupa itu jelas dianggap berlaku untuk kekuasaan Abd al-Malik ibn Marwan (memerintah keseluruhan rezim Bani Umayyah, khususnya sejak 685-705 M), Hasan pernah menulis surat kepada kekuasaan Marwan ibn al-Hakam (60-62 H/644-655 Khalifah, menuntut agar rakyat diberi kebebasan M). Apalagi Marwan ini pernah menjabat sebagai untuk melakukan apa yang mereka anggap pembantu utama Khalifah Utsman ibn 'Affan (22-35 baik, sehingga dengan begitu ada tempat bagi H/644-656 M), dan diduga keras berada dibalik tanggung-jawab moral. Suratnya itu bernada beberapa kebijakan 'Utsman yang mengundang menggugat praktek-praktek zalim penguasa fitnah besar dalam sejarah Islam itu. Karenanya, Umawi. Namun Hasan dibiarkan bebas oleh sejak saat itu tumbuh oposisi keagamaan kepada pemerintah, disebabkan wibawa kepribadiannya Beyond Belief [New York: Harper & Row, 1976], hh. 150- yang saleh dan pengaruhnya yang amat besar 51). kepada masyarakat luas. Tasawuf Sebagai Gerakan Oposisi Tidak dapat dibantah bahwa dari sekian banyak Jazirah Arabia telah menyatakan tunduk kepada para nabi dan rasul, Nabi Muhammad s.a.w. adalah Madinah. Dan tidak lama setelah itu, di bawah yang paling sukses dalam melaksanakan tugas. pimpinan para khalifah, daerah kekuasaan politik Ketika beliau wafat, boleh dikatakan seluruh Islam dengan amat cepat meluas sehingga 61
  • 68.
    meliputi hampir seluruhbagian dunia yang saat itu "maslak" ("suluk") dan "thariqah" yang juga merupakan pusat peradaban manusia, khususnya digunakan dalam al-Quran. Sudah tentu hal kawasan inti yang terbentang dari Sungai Nil di tersebut tidak seluruhnya salah. Dalam suatu barat sampai Sungai Amudarya (Oxus) di timur. masyarakat yang sering terancam oleh kekacauan Sukses luar biasa di bidang militer dan politik (Arab: fawdla, yakni, chaos) karena fitnah-fitnah itu membawa berbagai akibat yang sangat luas. (dimulai dengan pembunuhan 'Utsman), dan jika Salah satunya ialah bahwa sejak dari semula masyarakat itu meliputi daerah kekuasaan yang terdapat perhatian yang amat besar pada kaum sedemikian luas dan heterogennya, kepastian Muslim, khususnya para penguasa, pada bidang- hukum dan peraturan, serta ketertiban dan bidang yang menyangkut masalah pengaturan kemanan, adalah nilai-nilai yang jelas amat masyarakat. Maka tidaklah mengherankan bahwa berharga. Maka kesalehan pun banyak dinyatakan dari berbagai segi agama Islam, bagian yang dalam ketaatan kepada ketentuan hukum, paling awal memperoleh banyak penggarapan dan perlawanan kepada penguasa, khususnya yang serius, termasuk penyusunannya menjadi perlawanan yang bersifat keagamaan (pious sistem yang integral, ialah yang berkenaan opposition), juga selalu menyertakan tuntutan dengan hukum. Sedemikian rupa kuatnya posisi agar hukum ditegakkan. Tetapi kesalehan yang segi hukum dari ajaran agama itu, sehingga bertumpu kepada kesadaran hukum (betapapun pemahaman hukum agama menjadi identik ia tidak bisa diabaikan sama sekali karena dengan pemahaman keseluruhan agama itu mempunyai prioritas yang amat tinggi) akan sendiri, yaitu "fiqh" (yang makna asalnya ialah banyak berurusan dengan tingkah laku lahiriah "pemahaman"), dan jalan hidup berhukum manusia dan hanya secara parsial saja berurusan menjadi identik dengan ke seluruhan jalan hidup dengan hal-hai batiniah. Dengan kata-kata lain, yang benar, yaitu "syari'ah" (yang makna asalnya orientasi fiqh dan syari'ah lebih berat mengarah ialah "jalan"). Kata-kata ''syari'ah'' itu sebenarnya kepada eksoterisisme, dengan kemungkinan kurang lebih sama maknanya dengan katakata mengabaikan esoterisme yang lebih mendalam. "sabil," "shirath," "minhaj," "mansak" ("manasik"), Maka demikian pula gerakan oposisi terhadap 62
  • 69.
    praktek-praktek regimenter pemerintahankaum Sufi (Shufi), konon karena pakaian mereka yang Umawi di Damaskus. Sebagian bentuk oposisi itu terdiri dari bahan wol (Arab: shuf) yang kasar terjadi karena dorongan politik semata, seperti sebagai lambang kezuhudan mereka. Dari kata- gerakan oposisi orang-orang Arab Irak, karena para kata shuf itu pula terbentuk kata-kata tashawwuf penguasa Damaskus lebih mendahulukan orang- (tasawuf), yaitu, kurang lebih, ajaran kaum Sufi. orang Arab Syria. Tetapi sebagian lagi, justru yang Dalam perkembangannya lebih lanjut, Tasawuf lebih umum, oposisi itu timbul karena pandangan tidak lagi bersifat terutama sebagai gerakan bahwa kaum Umawi kurang "relijius." Tokoh Hasan oposisi politik. Meskipun semangat melawan atau dari Basrah yang telah disebutkan di atas mewakili mengimbangi susunan mapan da]am masyarakat kelompok gerakan oposisi jenis ini. Ketokohan selalu merupakan ciri yang segera dapat dikenali Hasan cukup hebat, sehingga kelompok- dari tingkah laku kaum Sufi, tetapi itu terjadi kelompok penentang rezim Umayyah banyak pada dasarnya karena dinamika perkembangan yang mengambil ilham dan semangatnya dari gagasan kesufian sendiri, yaitu setelah secara sadar Hasan, yang dianggap pendiri Mu'tazilah (Washil sepenuhnya berkembang menjadi mistisisme. ibn 'Atha, yang dianggap pendiri Mu'tazilah, Tingkat perkembangan ini dicapai sebagai hasil asalnya adalah murid Hasan), begitu pula para pematangan dan pemuncakan rasa kesalehan 'ulama dengan orientasi Sunni, dan orang-orang pribadi, yaitu perkembangan ketika perhatian Muslim dengan kecenderungan hidup zuhud paling utama diberikan kepada kesadaran yang (asketik). Mereka yang tersebut terakhir inilah, bersifat masalah historis dan politis umat hanya sejak munculnya di Basrah, yang disebut kaum secara minimal saja. Tarik-menarik Antara Syari'ah dan Thariqah Perpisahan antara kedua orientasi keagamaan dalam kedua-duanya kemudian tumbuh yang lahiri dan batini itu kemudian mewujudkan cabang ilmu Keislaman yang berbeda satu dari diri dalam divergensi sistem-sistem penalaran yang lain, bahkan dalam beberapa hal tidak masing-masing pihak pendukungnya. Maka jarang bertentangan. Seolah-olah hendak 63
  • 70.
    berebut sumber legitimasidari al-Qur'an, maka beribadat (melulu), akan memandang mereka sebagaimana orientasi keagamaan eksoteris yang ini tidak ada apa-apanya, dan tidak mereka bertumpu kepada masalah-masalah kehukuman perhitungkan kecuali sebagai orang-orang itu mengklaim sebagai paham keagamaan (fiqh) bodoh dan sesat, sedangkan dalam tarekat dan jalan kebenaran (syari'ah) par excellence, mereka itu tidak berpegang kepada ilmu serta orientasi keagamaan esoteris yang bertumpu kebenaran sedikit pun. Dan Anda juga dapatkan kepada masalah pengalaman dan kesadaran banyak dari kaum Sufi serta orang-orang ruhani pribadi itu juga mengklaim diri sebagai yang menempuh hidup sebagai faqir tidak pengetahuan keagamaan (ma'rifah) dan jalan menganggap apa-apa kepada Syari'ah dan ilmu menuju kebahagiaan (thariqah) par excellence. (hukum); bahkan mereka menganggap bahwa Akibatnya, polemik dan kontroversi antara orang yang berpegang kepada Syari'ah dan keduanya pun tidak selamanya bisa dihindari. Ibn ilmu (hukum) itu terputus dari Allah, dan bahwa Taymiyyah, misalnya, melukiskan pertentangan para penganutnya tidak memiliki apa-apa yang antara orientasi eksoteris dari kaum fiqh dengan bermanfaat di sisi Allah."(6) orientasi esoteris dari kaum sufi sebagai serupa dengan pertentangan antara kaum Yahudi dan Ibn Taymiyyah tidak bermaksud menyalahkan kaum Kristen. Dengan terlebih dahulu mengutip salah satu dari keduanya, juga tidak hendak firman Allah yang artinya, "Kaum Yahudi berkata, merendahkan sufi, sekalipun ia, sebagai seorang 'Orang-orang Kristen itu tidak ada apa-apanya,' penganut mazhab Hanbali, sangat berat dan kaum Kristen berkata, 'Orang-orang Yahudi berpegang kepada segi-segi eksoteris Islam seperti itu tidak ada apa-apanya'"(5) Ibn Taymiyyah diwakili dalam Syari'ah. Karena itu, Ibn Taymiyyah mengatakan: mengatakan, "Anda dapatkan bahwa banyak dari kaum Fiqh, "Yang benar ialah bahwa apa pun yang jika melihat kaum Sufi dan orang-orang yang 6  Ibn Taymiyyah, Iqtidla al-Shirath al-Mustaqim (Beirut: Dar 5  Q., s. al-Baqarah/2:13. al-Fikr, tanpa tahun), h. 10. 64
  • 71.
    berdasarkan Kitab danSunnah pada kedua umat dan para imam kebenaran pada umat itu. belah pihak itu adalah benar. Dan apa pun yang Sesungguhnya Allah, dengan Kitab-Nya dan bertentangan dengan Kitab Sunnah pada kedua petunjuk Nabi-Nya s.a.w. telah membuat kaum belah pihak adalah batil."(7) beriman tidak memerlukan apa yang ada dalam ajaran kesufian, yang dianggap orang mampu Tetapi terhadap pernyataan Ibn Taymiyyah melembutkan hati dan membersihkannya."(8) ini, penyunting kitab Iqtidla memberi catatan Dari kutipan-kutipan itu dapat didasarkan demikian: "Ini dengan asumsi bahwa ajaran betapa persimpangan jalan antara "kaum kesufian itu ada kebenaran. Jika tidak, maka kebatinann (ahl al-bawathin) dan "kaum kezahiran" sebenarnya ajaran kesufian itu pada dasarnya (ahl al-dhawahir) dapat meningkat kepada batas- adalah ciptaan sesudah generasi utama, yang batas yang cukup gawat. Tetapi benarkah memang dalam masa generasi itu hidup sebaik-baik antara keduanya tidak terdapat titik pertemuan? 7 Ibid. 8 Ibid. Tasawuf Sebagai Olah Ruhani Ketika Nabi muhammad s.a.w. disebut ahli yang hendak mereduksikan misi Nabi sebagai seorang Rasul yang paling berhasil dalam Muhammad s.a.w. sebagai tidak lebih daripada mewujudkan misi sucinya, bukti untuk mendukung suatu gerakan reformasi sosial, dengan program- penilaian itu ialah hal-hal yang bersifat sosial- program seperti pengangkatan martabat kaum politis, khususnya yang dalam bentuk keberhasilan lemah (khususnya kaum wanita dan budak), ekspansi-ekspansi militer. Dan Nabi Muhammad penegakan kekuasaan hukum, usaha mewujudkan s.a.w. sama dengan beberapa Nabi yang lain keadilan sosial, tekanan kepada persamaan umat seperti Musa dan Dawud a.s. adalah seorang manusia (egalitarisme), dan lain-lain. Dalam "Nabi Bersenjata" (Armed Prophet), sebagaimana pandangan serupa itu, Nabi Muhammad s.a.w. dikatakan oleh sarjana sosiologi terkenal, Max tidak bisa disamakan dengan Nabi 'Isa al-Masih, Weber. Karena kenyataan itu, ada sementara karena ajaran Nabi Muhammad tidak banyak 65
  • 72.
    mengandung kedalaman keruhanianpribadi. "Jatuhnya pilihan saya kepada Nabi Muhammad Tetapi Nabi Muhammad s.a.w. lebih mirip dengan dalam urutan pertama daftar Seratus Tokoh yang Nabi Musa a.s. dan para rasul dari kalangan anak berpengaruh di dunia mungkin mengejutkan turun Nabi Ya'qub (Isra'il), yang mengajarkan sementara pembaca dan mungkin jadi tanda tentang betapa pentingnya berpegang kepada tanya sebagian yang lain. Tapi saya berpegang hukum-hukum Taurat (Talmudic Law). Bahwa kepada keyakinan saya, dialah Nabi Muhammad Nabi Muhammad s.a.w membawa reformasi sosial satu-satunya manusia dalam sejarah yang yang monumental kiranya sudah jelas. Al-Qur an berhasil meraih sukses-sukses luar biasa ditilik sendiri mengaitkan keimanan serta penerimaan dari ukuran agama maupun ruang lingkup seruan Nabi dengan usaha reformasi dunia (ishlah duniawi."(10) al-ardl). Tetapi di berbagai tempat dalam al-Qur an juga disebutkan bahwa tugas reformasi dunia Namun disamping itu al-Qur'an juga banyak itu tidak hanya dipunyai oleh Nabi Muhammad, menegaskan tentang pentingnya orientasi melainkan juga oleh para nabi yang lain.(9) Dan keruhanian yang bersifat ke dalam dan mengarah Nabi Muhammad memang telah melaksanakannya kepada pribadi. Justru sudah menjadi kesadaran dengan sukses luar biasa. Salah satu pengakuan para sarjana Islam sejak dari masa-masa awal yang jujur dari pihak luar Islam atas sukses Nabi bahwa Islam adalah agama pertengahan (wasath) dalam membawa reformasi dunia ini ialah yang antara, di satu pihak, agama Yahudi yang legalistik diberikan oleh Michael H. Hart. Dalam bukunya dan banyak menekankan orientasi kemasyarakatan yang memuat urutan peringkat seratus orang yang dan, di pihak lain, agama Kristen yang spiritualistik paling berpengaruh dalam sejarah umat manusia, dan sangat memperhatikan kedalaman olah serta Hart menempatkan Nabi Muhammad sebagai pengalaman rohani serta membuat agama itu manusia nomor satu yang paling berpengaruh. Ia lembut. Seperti dikatakan Ibn Taymiyyah, "Syari'ah menegaskan: 10  Michael H. Hart, The 100, a Ranking of the Most Influential Persons in History, terjemah Indonesia oleh H. Mahbub Djunaidi, "Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh 9  Lihat, a.l., Q., s. al-A'raf/7:56 dan 85. dalam Sejarah", 66
  • 73.
    Taurat didominasi olehketegaran, dan Syari'ah Injil Rasulullah s.a.w. sendiri, terdapat kelompok para didominasi oleh kelembutan; sedangkan Syari'ah sahabat Nabi yang lebih tertarik kepada hal-hal al-Qur an menengahi dan meliputi keduanya itu."(11) yang bersifat lebih batiniah itu. Disebut-sebut, Maka sebagai bentuk pertengahan dan misalnya, kelompok ahl al-shuffah, yaitu sejumlah sekaligus antara kedua agama pendahuluannya sahabat yang memilih hidup sebagai faqir, dan itu, Islam mengandung ajaran-ajaran hukum sangat setia kepada masjid. Tidak heran bahwa dengan orientasi kepada masalah-masalah tingkah kelompok ini, dalam literatur kesufian, sering diacu laku manusia secara lahiriah seperti pada agama sebagai teladan kehidupan saleh dikalangan para Yahudi, tapi juga mengandung ajaran-ajaran sahabat. Al-Qur'an sendiri memuat berbagai keruhanian yang mendalam seperti pada agama firman yang merujuk kepada pengalaman Kristen. Bahkan sesungguhnya antara keduanya itu spritual Nabi. Misalnya, lukisan tentang dua kali tidak bisa dipisahkan, meskipun bisa dibedakan. pengalaman Nabi bertemu dan berhadapan Sebab ketika orang Muslim dituntut untuk tunduk dengan Malaikat Jibril dan Allah. Yang pertama kepada suatu hukum tingkah laku lahiriah, ia ialah pengalaman beliau ketika menerima wahyu diharapkan, malah diharuskan, menerimanya pertama di gua Hira, di atas Bukit Cahaya (Jabal dengan ketulusan yang terbit dari lubuk hatinya. Nur). Dan yang kedua ialah pengalaman beliau Ia harus merasakan ketentuan hukum itu sebagai dengan perjalanan malam (isra ) dan naik ke langit sesuatu yang berakar dalam komitmen spiritualnya. (mi'raj) yang terkenal itu. Kedua pengalaman Nabi Kenyataan ini tercermin dalam susunan kitab-kitab itu dilukiskan dalam Kitab Suci demikian: Demi fiqh, yang selalu dimulai dengan bab pensucian bintang ketika sedang tenggelam. Sahabatmu (thaharah) lahir, sebagai awal pensucian batin. sekalian itu tidaklah sesat ataupun menyimpang. Walaupun begitu, tetap ada kemungkinan orang Dan ia tidaklah berucap karena menurut keinginan. mengenali mana yang lebih lahiriah, dan mana Itu tidak lain adalah ajaran yang diwahyukan. pula yang batiniah. Sebenarnya, sudah sejak zaman Diajarkan kepadanya oleh Jibril yang kuat perkasa. 11  Ibn Taymiyyah, Al-Jawab al-Shahih li Man Baddala Din Yang bijaksana, dan yang telah menampakkan diri al-Masih, 4 jilid, (Beirut [?]: Mathabi' al-Majd al-Tijariyyah, secara sempurna. Yaitu ketika ia berada di puncak tanpa tahun), jilid 3, h. 240. 67
  • 74.
    cakrawala. Kemudian iapun mendekati, dan sepadan dengan kemampuan mereka. Sebab inti menghampiri. Hingga sejarak kedua ujung busur pengalaman itu ialah penghayatan yang pekat panah, atau lebih dekat lagi. Lalu Tuhan wahyukan akan situasi diri yang sedang berada di hadapan kepada hamba-Nya wahyu yang dikehendaki. Tuhan, dan bagaimana ia "bertemu" dengan Dzat Tidaklah jiwa (Nabi) mendustakan yang dilihatnya Yang Maha Tinggi itu. "Pertemuan" dengan Tuhan sendiri. Apakah kamu semua akan membantahnya adalah dengan sendirinya juga merupakan puncak tentang yang ia saksikan? Padahal sungguh ia telah kebahagiaan, yang dilukiskan dalam sebuah hadits menyaksikan pada lain kesempatan. Yaitu didekat sebagai "sesuatu yang tak pernah terlihat oleh Pohon Lotus, di alam penghabisan Di sebelahnya mata, tak terdengar oleh telinga, dan tak terbetik ada Surga tempat kediaman. Ketika Pohon Lotus dalam hati manusia." Sebab dalam "pertemuan" itu diliputi cahaya tak terlukiskan. Penglihatan Nabi itu, segala rahasia kebenaran "tersingkap" (kasyf) tidak bergoyah, dan tidak pula salah arah. Sungguh untuk sang hamba, dan sang hamba pun lebur ia telah menyaksikan tanda-tanda Tuhannya yang dan sirna (fana ) dalam Kebenaran. Maka Ibn 'Arabi, Agung tak terkira.(12) misalnya, melukiskan "metode" atau thariqah-nya Bagi kaum Sufi, pengalaman Nabi dalam sebagai perjalanan ke arah penyingkapan Cahaya Isra-Mi'raj itu adalah sebuah contoh puncak Ilahi, melalui pengunduran diri (khalwah) dari pengalaman ruhani. Justru ia adalah pengalaman kehidupan ramai.(13) ruhani yang tertinggi, yang bisa dipunyai oleh 13  Salah satu buku Muhy al-Din ibn Arabi berjudul, dalam bahasa Arab, Risalat al-Anwar fi ma Yumnah Shahib al- seorang Nabi. Namun kaum Sufi berusaha untuk Khalwah min al-Asrar (Risalah Cahaya tentang Berbagai meniru dan mengulanginya bagi diri mereka Rahasia yang dikaruniakan kepada orang yang melakukan pengunduran diri (khalwah), diterjemahkan ke dalam bahasa sendiri, dalam dimensi, skala dan format yang Inggris oleh Rabia Terri Harris, Journey to the Lord of Power 12  Q., s. al-Najm/53:1-18. (New York: Inner Traditions International, 1981). Masalah Keabsahan Tasawuf Membicarakan keabsahan Tasawuf dapat (judgment) dengan implikasi yang serius, karena mengisyaratkan pengambilan sikap penghakiman menyangkut masalah sampai dimana kita bisa 68
  • 75.
    dan berhak menilaipengalaman keruhanian sudah dikenal umum, seperti al-Hallaj dan Syekh seseorang. Telah disinggung bahwa mistisisme Siti Jenar, penganut dan pengembang pandangan atau pengalaman mistis, tidak terkecuali yang itu yang paling kaya namun "liar" ialah Ibn 'Arabi. ada pada kaum Sufi, selalu mengarah kedalam, Dalam bukunya, Fushush al-Hikam, Ibn 'Arabi dan dengan sendirinya bersifat pribadi. Oleh berdendang dalam sebuah syair yang bernada karena itu pengalaman mistis hampir mustahil "gurauan" dengan Tuhan: dikomunikasikan kepada orang lain, dan selamanya akan lebih merupakan milik pribadi si empunya Maka Ia (Tuhan)-pun memujiku, dan aku sendiri. Oleh karena itu sering terjadi adanya memuji-Nya, dan Ia menyembahku, dan aku tingkah laku eksentrik dan "di luar garis," dan pun menyembah-Nya. Dalam keadaan lahir orang lain, lebih-lebih sesama Sufi sendiri, akan aku menyetujui-Nya dan dalam keadaan hakiki memandangnya, dengan penuh pengertian, jika aku menentang-Nya. Maka Ia pun mengenaliku tidak malah kekaguman. Berbagai cerita tentang namun aku tak mengenali-Nya lalu aku pun "wali" yang berkelakuan aneh, seperti banyak mengenali-Nya, maka aku pun menyaksikan-Nya terdapat di berbagai negeri dan daerah Islam, Maka mana mungkin Ia tiada perlu, padahal adalah kelanjutan dari persepsi mistis ini. Karena aku menolong-Nya dan membahagiakan- itu, bagi mereka yang lebih melihat diri mereka Nya? Untuk inilah Kebenaran mewujudkan aku, sebagai pemegang ajaran standar akan cepat sebab aku mengisi ilmu-Nya dan mewujudkan- mengutuk tingkah laku aneh itu sebagai tidak Nya Begitulah, sabda telah datang kepada lebih daripada keeksentrikan yang absurd tanpa kita, dan telah dinyatakan dalam diriku segala makna, jika bukannya kesintingan atau bahkan maksudnya.(14) tarikan syetan yang sesat. Kesesatan yang paling gawat, di mata ahl al-dhawahir, ialah yang ada Ibn Arabi memang mengaku sebagai dalam kawasan teori dan pandangan dasar, yang "kutub para wali" (quthb al-awliya), bahkan mengarah kepada paham "kesatuan eksistensial" 14  Muhy al-Din ibn Arabi, Fushush al-Hikam, h. 83. Cf terjemahan Inggris oleh R.W.J. Austin, The Bezels of Wisdom (wahdat al-wujud). Selain berbagai tokoh yang (New York: Paulist Press, 1980), h. 95. 69
  • 76.
    pemungkasnya. Ia ditudingoleh para ulama sebagai bentuk pengalaman keagamaan yang Syari'ah sebagai yang paling bertanggungjawab sejati. Seperti pengalaman Nabi dalam Mi'raj atas penyelewengan-penyelewengan dalam yang tak terlukiskan, sehingga karenanya juga tak Islam, khususnya yang terjadi di kalangan kaum terkomunikasikan, pengalaman mistis kaum Sufi Sufi. Namun bagi para pengikutnya dia adalah pun sesungguhnya berada di luar kemampuan al-syaikh al-akbar (guru yang agung). Kesulitan rasio untuk menggambarkannya. Kaum Sufi gemar memahami literatur kesufian, seperti karya-karya mengatakan bahwa untuk bisa mengetahui apa Ibn Arabi ialah bahwa pengungkapan ide dan hakikat pengalaman itu, seseorang hanya harus ajaran didalamnya sering menggunakan kata mengalaminya sendiri. Mereka mempunyai kiasan (matsal) dan pelambang (ramz). Karena itu perbendaharaan yang kaya untuk melukiskan ungkapan-ungkapan yang ada harus dipahami kenyataan itu. Misalnya, tidak mungkinlah dalam kerangka interpretasi metaforis atau tafsir menjelaskan rasa manisnya madu jika orang tidak batini (ta'wil). Dan adalah ta'wil itu memang yang pernah mencicipinya sendiri. Pengalaman mistis menjadi metode pokok mereka dalam memahami tertinggi menghasilkan situasi kejiwaan yang teks-teks suci, baik Kitab Suci maupun Hadits Nabi. disebut ekstase. Dalam perbendaharaan kaum Maka meskipun mereka menggunakan metode Sufi, ekstase itu sering dilukiskan sebagai keadaan ta'wil mereka sebenarnya tetap berpegang kepada mabuk kepayang oleh minuman kebenaran. sumber-sumber suci itu. Hanya saja, sejalan dengan Kebenaran (al-haqq) digambarkan sebagai metode mereka, mereka tidak memahami sumber- minuman keras atau khamar. Bahkan untuk sumber itu menurut bunyi lahiriah tekstualnya. sebagian mereka minuman yang memabukkan itu Inilah pangkal kontroversi mereka dengan tidak lain ialah apa yang mereka namakan "dlamir kaum Syari'ah. Maka tidak jarang kaum Syari'ah al-sya'n," yaitu kata-kata "an" yang berarti "bahwa" mengutuk mereka sebagai sesat, seperti yang dalam kalimat syahadat pertama, Asyhadu an la dilakukan oleh Ibn Taymiyyah terhadap Ibn Arabi. ilaha illa Llah" (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan Tapi, dalam semangat empatik, mungkin justru selain Allah). Pelukisan ini untuk menunjukkan pengalaman mistis kaum Sufi harus dipandang betapa intensenya mereka menghayati Tauhid, 70
  • 77.
    sehingga mereka tidakmenyadari apa pun yang yang harus tunduk-patuh dan pasrah bulat lain selain Dia Yang Maha Ada. Karena itu, suatu (islam) kepada Sang Maha Pencipta (al-Khaliq). pengalaman mistis mungkin akan hanya sekali Maka seorang Sufi, karena kepuasannya akan terjadi dalam hidup seorang, tanpa bisa diulangi. pengetahuan tentang Kebenaran, tidak banyak Inilah diumpamakan dengan turunnya "malam menuntut dalam hidup ini. Ia puas (qana'ah) dan kepastian" (laylat al-qadar), yang dalam al-Qur'an lepas dari harapan kepada sesama makhluk. Ia disebutkan sebagai lebih baik dari seribu bulan. bebas, karena ia merasa perlu (faqir) hanya kepada Artinya, seorang yang mengalami satu momen Allah yang dapat ia temui di mana saja melalui menentukan itu, ia akan terpengaruh oleh pesan ibadat dan dzikir. Ia menghayati kehadiran Tuhan yang dibawa seumur hidupnya, yaitu sekitar dalam hidupnya melalui apresiasi akan nama- seribu bulan atau delapan puluh tahun. Karena itu nama (kualitas-kualitas) Tuhan yang indah (al-asma meskipun suatu pengalaman mistis sebagai suatu al-husna), dan dengan apresiasi itu ia menemukan kejadian hanya bersifat sesaat (transitory), namun keutuhan dan keseimbangan dirinya Hidup penuh relevansinya bagi pembentukan budi pekerti sikap pasrah itu memang bisa mengesankan akan bersifat abadi. Sebab dalam pengamalan kepasifan dan eskapisme. Tapi sebagai dorongan intense sesaat itu orang berhasil menangkap suatu hidup bermoral, pengalaman mistis kaum Sufi kebenaran yang utuh. Kesadaran akan kebenaran sebetulnya merupakan suatu kedahsyatan. Karena yang utuh itulah yang menimbulkan rasa bahagia itulah ajaran Tasawuf juga disebut sebagai ajaran dan tenteram yang mendalam, suatu euphoria akhlak. Dan akhlak yang hendak mereka wujudkan yang tak terlukiskan. Dan itulah kemabukan mistis. ialah yang merupakan "tiruan" akhlak Tuhan, sesuai Kemudian, suatu hal yang amat penting ialah dengan sabda Nabi yang mereka pegang teguh, bahwa euphoria itu sekaligus disertai dengan "Berakhlaqlah kamu semua dengan akhlaq Allah." kesadaran akan posisi, arti, dan peran diri sendiri yang proporsional, yaitu "tahu diri" (ma'rifat al- bahasa Arab, "Man arafa nafsahu fa qad 'arafa Rabbahu" nafs)(15) yang tidak lebih daripada seorang makhluk (Barangsiapa tahu dirinya maka ia akan tahu Tuhannya). Karena pengetahuan tentang diri secara proporsional adalah 15  Karena itu di kalangan kaum Sufi terkenal ungkapan dalam indikasi pengetahuan akan Kebenaran Yang Bulat. 71
  • 78.
  • 79.
    Menangkap Kembali DinamikaIslam 6 Klasik: Masyarakat Salaf Sebagai Masyarakat Etika D alam peralihan abad Hijri yang sering dikumandangkan sebagai Abad Kebangkitan Islam sekarang ini, dan sudah pula dimulai sejak Namun sejak dari semula usaha-usaha serupa itu mengandung dan menghadapi banyak problema. Disebabkan oleh kaitannya dengan menjelang akhir abad yang lalu, kaum Muslim di usaha mendefinisikan kembali apa yang disebut seluruh dunia didorong oleh proses sejarahnya Islam atau bersifat keislaman (Islami) —dengan sendiri untuk mencoba mempertegas peranannya konotasi bahwa yang ada secara riil sekarang ini dalam sejarah umat manusia. Gejala-gejala terakhir tidak memadai atau malah telah mengandung seperti keputusan Ziya ul-Haqq untuk menetapkan berbagai penyimpangan— maka usaha-usaha Syari'ah Islam sebagai hukum Pakistan, juga tersebut menghadapkan orang-orang Muslim yang perkembangan di Bangladesh yang menghendaki serius kepada persoalan "menemukan" kembali hal yang kurang lebih serupa (juga di Mesir, Sudan, Islam dan yang bersifat keislaman. Persoalan ini dan lain-lain) —jika bukan jelas-jelas merupakan tampak di permukaan seperti mudah dipecahkan, sekedar usaha mencari legitimasi politik rezim- yaitu dengan "kembali kepada al-Qur'an dan al- rezim bersangkutan— dapat dibaca sebagai Sunnah", suatu dalil yang sangat disenangi kaum bagian dari, dan dalam rangka, penegasan peranan reformis Islam, khususnya di kalangan Sunni. Tetapi kesejarahan tersebut. lepas dari kebenaran normatif dalil itu, namun
  • 80.
    dalam pelaksanaan praktisnyaternyata sangat rasa keagamaan mereka— namun sebetulnya tidak mudah. Bahkan yang sudah terjadi ialah sahamnya dalam usaha umat Islam menemukan bahwa dalil itu, sebegitu jauh, baru menghasilkan peran kesejarahannya kembali tersebut di atas reformasi atau mungkin "pemurnian" hal-hal paling untung marginal saja, jika bukannya yang sesungguhnya sangat bersifat pinggiran tidak ada sama sekali. Kalau masalah ini harus (peripheral), seperti, misalnya, dicerminkan secara diungkapkan dalam sebuah jargon, barangkali mencolok oleh kontroversi takbir tambahan yang paling tepat ialah pesan almarhum Bung dalam salat 'Idul Fitri di Surabaya baru-baru ini.(1) Karno, salah seorang Bapak Bangsa Indonesia, agar Meskipun hal serupa itu sangat penting bagi kita berusaha menangkap "api" Islam, dan bukan banyak kalangan —sebagian kaum Muslim melihat "abu"-nya. Pembahasan ini adalah dalam rangka dan mendapati di situ terletak inti agama dan mencoba menangkap "api" itu, betapapun kecilnya 1  Lihat majalah Tempo, (Jakarta) No., 13, Tahun XVIII, 25 Mei kemungkinan hasil yang didapatkan. 1988 (rubrik "Agama", h. 75). Golongan Salaf Salah satu yang dapat kita lakukan untuk berarti "yang lampau." Biasanya ia dihadapkan menangkap "api" itu ialah mencoba memahami dengan perkataan "khalaf', yang makna harfiahnya hakikat golongan Salaf. Sesungguhnya ini ialah "yang belakangan". Kemudian, dalam sejalan saja dengan apa yang sudah terjadi, yaitu perkembangan semantiknya, perkataan "salaf' kecenderungan kaum reformis dari kalangan memperoleh makna sedemikian rupa sehingga orang-orang Muslim untuk mencari model pada mengandung konotasi masa lampau yang pengalaman sejarah umat Islam klasik. Tetapi berkewenangan atau berotoritas, sesuai dengan sebelum hal itu kita lakukan, ada baiknya kita kecenderungan banyak masyarakat untuk melihat memeriksa secukupnya pengertian "salaf" dalam masa lampau sebagai masa yang berotoritas. pembahasan Islam. Ini melibatkan masalah teologis, yaitu masalah Perkataan Arab "salaf" sendiri secara harfiah mengapa masa lampau itu mempunyai otoritas, 74
  • 81.
    dan sampai dimanakemungkinan mengidentifikasi 'Ali, untuk tidak mengatakan masa-masa sesudah secara historis masa salaf itu. mereka. Dalam hal ini dapat kita kenali adanya Dalam hal ini, para pemikir Islam tidak banyak empat pendapat: menemui kesulitan. Masa lampau itu otoritatif (1) Kaum Sunni berpendapat bahwa masa karena dekat dengan masa hidup Nabi. Sedangkan keempat khalifah itu adalah benar-benar otoritatif, semuanya mengakui dan meyakini bahwa Nabi berwenang, dan benar-benar salaf. Kaum Sunni tidak saja menjadi sumber pemahaman ajaran boleh dikata kelanjutan langsung atau tidak agama Islam, tetapi sekaligus menjadi teladan langsung dari masyarakat Islam masa Dinasti realisasi ajaran itu dalam kehidupan nyata. Maka Umayyah, dengan berbagai unsur kompromi sangat logis pandangan bahwa yang paling akibat usaha rekonsiliasi keseluruhan umat mengetahui dan memahami ajaran agama itu Islam, mengatasi sisa-sisa pengalaman traumatis ialah mereka yang berkesempatan mendengarnya fitnah-fitnah sebelumnya. (Usaha ini mengambil langsung dari Nabi, dan yang paling baik dalam bentuknya yang paling penting dalam tindakan melaksanakannya ialah mereka yang melihat yang telah dimulai oleh Abd al-Malik ibn Marwan praktek-praktek Nabi dan meneladaninya. Selain untuk merehabilitasi nama 'Ali, musuh Mu'awiyah, logis, hadits-hadits pun banyak yang dapat dikutip pendiri Dinasti Bani Umayyah, dan sejak itu mulai untuk menopang pandangan itu: dikenal, secara historis, istilah al-Khulafa' al- Demikian pula dalam mengidentifikasi secara Rasyidun yang empat).(2) historis masa salaf itu, para sarjana Islam juga 2  Penyebutan tentang "Empat Khalifah" (istilah teknisnya tidak mengalami kesulitan, meskipun terdapat dalam bahasa Arab ialah tarbi') sebetulnya melewati proses beberapa pendapat tertentu di dalamnya. Yang bertahap yang panjang. Mula-mula dalam khutbah-khutbah kaum Umawi menyebut tiga khalifah saja, yaitu selain 'Ali, disepakati oleh semuanya ialah bahwa masa salaf dan kaum Syi'i hanya menyebut 'Ali, tanpa yang lain-lain. itu, dengan sendirinya, dimulai oleh masa Nabi Tetapi kaum Umawi di Maghrib dan Andalusia terlebih dahulu dari yang lain-lain telah melakukan tarbi', hanya sendiri. Kemudian mereka mulai berbeda tentang saja khalifah yang keempat bukannya 'Ali, melainkan "kesalafan" (dalam arti otoritas dan kewenangan) Mu'awiyah. Kemudian Khalifah 'Umar ibn 'Abd 'al-'Aziz dari Bani Umayyah meneruskan usaha Khalifah Marwan masa kekhalifahan Abu Bakar, 'Umar, 'Utsman dan ibn 'Abd al-Malik sebelumnya untuk menyatukan umat 75
  • 82.
    (2) Bani Umayyahatau kaum Umawi sendiri, otoritas di bidang keagamaan itu membawa serta dalam masa-masa awalnya, mengakui hanya problema teologis. Karena itu pengkajian masalah masa-masa Abu Bakar, 'Umar dan 'Utsman, tanpa salaf ini akan dengan sendirinya melibatkan 'Ali, sebagai masa salaf yang berkewenangan dan kita kepada berbagai kontroversi teologis yang otoritatif. berkepanjangan, dan yang sampai sekarang praktis (3) Sedangkan kaum Khawarij, yaitu kelanjutan belum selesai secara tuntas. Dengan meletakkan dari sebagian kelompok pendukung 'Ali —yang kontroversi teologis itu kesamping, maka kita mereka itu menunjukkan gelagat persetujuan terpaksa melakukan pilihan. Pilihan itu pada atas pembunuhan 'Utsman tapi kemudian kecewa permasalahan intinya bisa dinilai sebagai arbitrer, dengan 'Ali dan membunuhnya— hanya mengakui namun masih bisa dibenarkan dengan melihat masa-masa Abu Bakar dan 'Umar saja yang segi kepraktisan pembahasan, misalnya berkenaan berwenang dan otoritatif, sehingga boleh disebut dengan konteks ruang dan waktu kita, di sini dan sebagai masa salaf. sekarang. Dalam hal ini pilihan kita lakukan untuk (4) Kemudian terdapat kaum Rafidlah dari membahas masalah salaf ini menurut pandangan kalangan Syi'ah yang menolak keabsahan masa- Sunni, yaitu pandangan (1) di atas, mengingat masa kekhalifahan pertama itu kecuali masa 'Ali. bahwa pandangan itu adalah yang paling meluas Sebagaimana telah disinggung, masalah diikuti kaum Muslim, baik di dunia maupun di definisi kesejarahan tentang siapa yang disebut tanah air. golongan Salaf dengan konotasi kewenangan dan Dalam perkembangan lebih lanjut paham Sunni, golongan Salaf tidak saja terdiri dari dengan mengakomodasi kaum Syi'ah dan merehabilitasi 'Ali, kaum Muslim masa Nabi dan empat khalifah dan menyebut 'Ali dalam tarbi' di khutbah-khutbah, serta mengakhiri kebiasaan saling melaknat dalam khutbah-khutbah yang pertama, tetapi juga meliputi mereka yang tersebut. Maka sejak itu tumbuh kebiasaan pada umat Islam biasa dinamakan sebagai kaum Tabi'un (kaum untuk menyebut al-Khulafa al-Rasyidin yang empat, dan kelak kemudian hari masjid-masjid pun dihiasi dengan nama para Pengikut, yakni, pengikut para sahabat Nabi, yang khalifah yang empat itu. (Lihat Ibn Taymiyyah, Minhaj al- merupakan generasi kedua umat Islam). Bahkan Sunnah, 4 jilid [Riyadl: Maktabat al-Riyadl al-Haditsah, tanpa bagi banyak sarjana Sunni golongan salaf itu juga tahun], jil. 2, hh. 187-8). 76
  • 83.
    mencakup generasi ketiga,yaitu generasi Tabi'it Muhajirun dan Anshar, yaitu para sahabat Nabi al-Tabi'in (para Pengikut dari para Pengikut). yang berasal dari Makkah dan Madinah, serta Pandangan ini digambarkan secara ringkas dalam orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sebuah bait dari kitab kecil ilmu kalam Jawharat al- (kaum Tabi'un), telah mendapat ridla dari Tuhan Tawhid, yang merupakan salah satu kitab standar dan, sebaliknya, mereka pun telah pula bersikap di pesantren-pesantren: ridla kepada-Nya. Untuk mereka itu disediakan (Para sahabat Nabi adalah generasi terbaik, oleh Tuhan balasan surga yang akan menjadi maka dengarlah! kediaman abadi mereka. Dengan kata-kata lain, Lalu menyusul para Tabi'un, diiringi para Tabi'u kaum Salaf itu seluruh tingkah lakunya benar dan al-Tabi'in)(3) mendapat perkenan di sisi Tuhan, jadi mereka Sebagai sandaran ada kewenangan dan otoritas adalah golongan yang berotoritas dan berwenang. pada ketiga generasi pertama umat Islam itu, kaum Konsep demikian itu, seperti telah disinggung, Sunni menunjuk kepada firman Allah: lebih sesuai dengan paham Sunni ketimbang Dan para perintis pertama yang terdiri dari dengan paham Syi'i. Paham Sunni menyandarkan kaum Muhajirun dan Anshar, serta orang-orang otoritas kepada umat atau "kolektiva", sementara yang mengikuti mereka itu dengan baik, Allah kaum Syi'i menyandarkannya kepada keteladanan telah ridla kepada mereka, dan mereka pun telah pribadi (examplary individual), dalam hal ini ridla kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka keteladanan pribadi 'Ali yang memang heroik, surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai- saleh dan alim (pious). sungai. Mereka kekal di dalamnya untuk selama- Namun kedua konsep sandaran otoritas itu lamanya. Itulah kebahagiaan yang agung.(4) mengandung masalahnya sendiri. Masalah pada Jadi firman Ilahi itu menegaskan bahwa kaum konsep Sunni timbul ketika dihadapkan kepada tingkat pribadi-pribadi para sahabat Nabi: tidak 3  Al-Syaykh Ibrahim al-Laqqani, Jawharat al-Tawhid, dengan terjemah dan uraian dalam bahasa Jawa huruf Pego oleh K. setiap pribadi masa Salaf itu, pada lahirnya, H. Muhammad Shalih ibn 'Umar Samarani (Semarang), Sabil sama sekali bebas dari segi-segi kekurangan. al-'Abid (tanpa data penerbitan), h. 222. Jika seandainya memang bebas dari segi-segi 4  Q., s. al-Tawbah/9:100. 77
  • 84.
    kekurangan, maka bagaimanakita menerangkan beliau? berbagai peristiwa pembunuhan dan peperangan Pertanyaan tersebut secara keimanan sungguh sesama para sahabat Nabi sendiri, selang hanya amat berat, namun tidak terhindari karena dari beberapa belas tahun saja dari wafat beliau? fakta-fakta sejarah yang mendorongnya untuk Padahal pembunuhan dan peperangan itu timbul. Upaya menjawab pertanyaan itu dan melibatkan banyak sahabat besar seperti 'Utsman, mengatasi implikasi keimanan yang diakibatkannya 'Ali (menantu dan kemenakan Nabi), 'A'isyah (isteri telah menggiring para pemikir Muslim di masa Nabi), Mu'awiyah (ipar Nabi dan salah seorang lalu kepada kontroversi dalam ilmu kalam (teologi penulis wahyu), 'Amr ibn al-Ash, Abu Musa al- dialektis) yang tidak ada habis-habisnya. Masing- Asy'ari, dan lain-lain?! masing kaum Sunni dan Syi'i, yaitu dua golongan Sedangkan pada kaum Syi'i, masalah yang besar Islam yang sampai sekarang bertahan, timbul dari konsep otoritas yang disandarkan mencoba memberi penyelesaian kepada problema hanya kepada keteladanan pribadi 'Ali dan para tersebut. Contoh "penyelesaian" yang diberikan pengikutnya yang jumlahnya kecil itu ialah oleh para pemikir Muslim Sunni klasik untuk implikasinya yang memandang bahwa para problema itu ialah seperti diungkapkan dalam sahabat Nabi yang lain itu tidak otoritatif, alias sebuah bait dari kitab Jawharat al-Tawhid yang salah, tidak mungkin mendapat ridla Allah, dan telah dikutip di atas: mereka pun —terbukti oleh adanya perbuatan (Dan lakukan interpretasi atas pertengkaran salah mereka sendiri— tidak bersikap ridla kepada (para sahabat) yang telah terjadi jika engkau harus Allah. Jadi pandangan Syi'i itu nampak langsung mendengarkan penuturan tentang hal itu dan bertentangan dengan gambaran dan jaminan yang jauhilah penyakit orang yang dengki).(5) disebutkan dalam firman di atas. Lebih lanjut, jika Interpretasi atas berbagai peristiwa hanya sedikit saja jumlah orang yang selamat dari pertengkaran para sahabat itu, seperti dilakukan kalangan mereka yang pernah dididik langsung oleh Ibn Taymiyyah, ialah dengan melihat bahwa oleh Nabi, apakah akhirnya tidak Nabi sendiri yang semua mereka yang terlibat dalam pertengkaran harus dinilai sebagai telah gagal dalam missi suci 5  Al-Laqqani, h. 231. 78
  • 85.
    itu sebenarnya bertindakberdasarkan ijtihad Ini adalah solusi yang banyak mengandung mereka masing-masing dalam menghadapi kelemahan, sehingga sama sekali tidak masalah yang timbul. Maka sebagai ijtihad, memuaskan. Namun jika dikehendaki jalan sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadits keluar dari kerumitan teologis berkenaan dengan yang terkenal,(6) tindakan para sahabat yang berbagai peristiwa fitnah di antara para sahabat bertengkar —bahkan saling membunuh itu— Nabi itu, maka modus solusi seperti itu agaknya tetap mendapatkan pahala, biarpun jika ternyata merupakan pilihan yang cukup baik. Dan itulah ijtihad mereka itu salah.(7) salah satu inti paham ke-Sunni-an. 6  Yaitu sabda Nabi yang sering dikutip orang, "Jika seorang tokoh Mu'tazilah dari kota Basrah yang terdiri dari Abu hakim berijtihad dan tepat, maka baginya dua pahala; dan jika al-Hudzayl, Abu 'Ali, dan Abu Hasyim, serta tokoh-tokoh ia berijtihad dan keliru, maka baginya satu pahala." lain yang sepakat dengan mereka dari kalangan para pengikut 7  Berkenaan dengan hal ini cukup menarik keterangan yang Asy'ari seperti al-Qadli Abu Bakr (al-Baqillani) dan Abu dibuat oleh Ibn Taymiyyah, demikian: "...'Ali adalah imam, Hamid (al-Ghazali), dan itu pula pendapat yang terkenal dan ia benar dalam perangnya melawan orang-orang yang dari Abu al-Hasan al-Asy'ari. Mereka (para 'ulama) itu juga memeranginya; begitu pula mereka yang memerangi 'Ali, memandang Mu'awiyah sebagai seorang yang berijtihad dan yang terdiri dari para sahabat seperti Thalhah dan al-Zubayr, benar dalam perangnya (melawan 'Ali), sebagaimana 'Ali pun semuanya adalah orang-orang yang melakukan ijtihad dan benar. Ini juga menjadi pendapat para fuqaha' dari kalangan benar. Inilah pendapat mereka yang berpandangan bahwa para pengikut Ahmad (ibn Hanbal) dan lain-lain ..." (Minhaj, setiap orang yang berijtihad itu benar, yaitu pendapat para jil. 1, hh. 192-3). Masyarakat Salaf Sebagai Masyarakat Etik Hal yang dicoba kemukakan di atas itu suatu pandangan bahwa sejarah dikuasai oleh merupakan gambaran singkat pergumulan sulit hukum yang tak terelakkan) demikian: Apa pun orang-orang Muslim dalam usaha memberi yang terjadi dalam sejarah dunia Islam itu, ia keterangan teologis atas peristiwa-peristiwa menyangkut masyarakat yang semestinya bersifat dalam sejarah dini agamanya yang penuh anomali. teladan, sehingga tetap harus dilihat dalam (Untuk gambaran lebih lanjut, lihat catatan no.[7] kerangka "kebenaran umum" yang serba meliputi di bawah). Pergumulan sulit itu membawa kepada semua, betapapun berbagai kejadian itu saling logika "historisistik" (bersemangat historisisme, bertentangan, bahkan menimbulkan pertumpahan 79
  • 86.
    darah. Dan "kebenaranumum" yang serba meliputi mereka, jika bukannya Nabi sendiri, telah gagal?!). itu ialah yang bersangkutan dengan masalah Jika mereka paham benar agama mereka dan akhlaq atau etika, yang dari sudut penglihatan telah sungguh-sungguh melaksanakan al-islam itu setiap tindakan rinci dalam kejadian sejarah —dan memang begitulah yang semestinya telah tersebut harus dinilai sebagai timbul dari dorongan terjadi— maka tindakan penuh pasrah kepada berbuat kebaikan. Maka masuklah ke situ konsep Tuhan itu tentu telah menjiwai keseluruhan ijtihad yang tanpa risiko itu, sebab jika keliru tingkah laku mereka. Maka karena al-islam itu, masih mendapat satu pahala, sedangkan jika tepat tentunya yang ada di hadapan mereka dan yang mendapat dua pahala. menjadi tujuan tingkah laku mereka ialah perkenan Maka hal berikutnya ialah pertanyaan, sampai Tuhan, sebagaimana digambarkan dalam firman dimana etika itu benar-benar ada secara nyata yang telah dikutip tentang mereka itu di atas. pada semua pihak yang terlibat dan saling Dan pandangan ini mencocoki gambaran yang bertentangan tersebut, yang terdiri dari para diberikan Kitab Suci di tempat lain tentang mereka: sahabat Nabi dan generasi yang mengikuti jejak Dan hendaklah ada dari kamu sekalian ini mereka sesudah itu? suatu umat yang mengajak kepada keluhuran, Jawab atas pertanyaan itu, kalaupun menganjurkan kebaikan, dan mencegah kejahatan. menyangkut problema dalam berbagai fakta Mereka itulah orang-orang yang beruntung.(8) kesejarahannya di atas, dapat dibuat dengan Kamu adalah sebaik-baik umat yang bertitik tolak dari asumsi tertentu. Asumsi itu ialah diketengahkan kepada sekalian manusia: (karena) bahwa kaum Salaf itu tentunya terdiri dari pribadi- kamu menganjurkan kebaikan dan mencegah pribadi yang sangat paham akan ajaran agama kejahatan, lagi pula kamu beriman kepada Allah.(9) mereka, yaitu Islam (lebih tepatnya, al-islam, ajaran Terhadap ayat di atas, dan dalam kaitannya tentang sikap penuh pasrah kepada Tuhan), dan dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya, A. sangat bersungguh-sungguh melaksanakannya. Yusuf Ali memberi komentar menarik berikut: (Dan jika tidak begitu, lalu siapa lagi selain 8  Q., s. Alu 'Imran/3:104. mereka?! Atau bersediakah kita melihat bahwa 9  Q., s. Alu 'Imran/3:110. 80
  • 87.
    The logical conclusionto the evolution of Karena itu Islam tampil, bukannya untuk dirinya religious history ia a non-sectarian, non-racial, sendiri, melainkan untuk seluruh umat manusia). non-doctrinal, universal religion, which Islam Karena hakikat dasarnya yang non-sektarian, claims to be. For Islam ia just submission to the Will non-rasial, non-doktrinal dan bersifat universal, of God. This implies (1) Faith, (2) doing right, being maka pada dasarnya pula agama Islam adalah an example to others to do right, and having the agama etika atau akhlaq, dan para penganutnya power to see that the right prevails, (3) eschewing yang sejati adalah orang-orang etis atau akhlaqi, wrong, being an example to others to eschew yaitu orang-orang yang berbudi pekerti luhur. wrong, and having the power to see that wrong Ini sejalan dengan penegasan Nabi sendiri, and injustices are defeated. Islam therefore lives, bahwa beliau diutus Allah hanyalah untuk not for itself, but for mankind.(10) menyempurnakan berbagai keluhuran budi.(11) (Kesimpulan logis bagi evolusi sejarah Keinsafan orang-orang Muslim klasik akan keagamaan ialah suatu agama yang non-sektarian, gambaran diri mereka yang diberikan oleh Kitab non-doktrinal, dan universal, yang diakui oleh Suci, yang dalam gambaran diri itu sesungguhnya Islam. Sebab Islam tidak lain ialah sikap pasrah terkandung makna kualitas normatif, yang harus kepada Kehendak Tuhan. Hal ini mengandung diwujudkan, dan perintah, telah mendorong makna (1) keimanan, (2) berbuat kebenaran, untuk mereka untuk berjuang membentuk sejarah menjadi teladan bagi yang lain dalam berbuat dunia yang sejalan dengan ukuran-ukuran moral kebenaran, dan mempunyai kemampuan untuk yang tertinggi dan yang terbaik, yang terbuka memperhatikan bahwa yang benar itu unggul, (3) untuk umat manusia. Usaha itu dijanjikan akan menghindari kesalahan, untuk menjadi teladan mendapat pahala yang besar, berupa kebahagiaan bagi yang lain dalam menghindari kesalahan, dan di dunia ini dan di akhirat nanti, namun juga mempunyai kemampuan untuk memperhatikan dengan risiko besar untuk salah dan keliru. Tetapi bahwa kesalahan dan kezaliman terkalahkan. kesalahan dan kekeliruan menjadi tidak relevan 10  A. Yusuf Ali, The Holy Qur'an, Text, Translation and 11  Sebuah hadits Nabi yang sangat terkenal, "Sesungguhnya Commentary (Jeddah: Dar al-Qiblah, tanpa tahun), h. 151, aku diutus hanyalah agar aku menyempurnakan berbagai catatan 434. keluhuran budi." 81
  • 88.
    dalam kaitannya dengantekad dan semangat keruhanian seorang individu, jauh di lubuk hatinya, Ketuhanan (rabbaniyyah, ribbiyyah)(12), dan harus ke arah kemauan dan niat yang baik, tulus dan dilihat sebagai segi kemanusiaan perjuangan itu. sejati, sebagaimana hal itu telah menjadi ajaran Maka sejarah Islam pun memperoleh keutuhannya para nabi, yang dekat sebelum Nabi Muhammad dan maknanya yang khas dari adanya pandangan ialah Nabi-nabi 'Isa al-Masih, Musa, dan Ibrahim. hidup dan perjuangan tersebut, yaitu pandangan Tetapi ketika al-islam yang pada intinya bersifat hidup dan perjuangan untuk pasrah kepada pribadi itu memancar keluar dalam bentuk Kehendak Tuhan. Sebab pasrah kepada Kehendak tindakan-tindakan, dan ketika tindakan-tindakan Tuhan (al-islam) itu antara lain berarti menerima dari banyak pribadi Muslim itu terkait, saling tanggungjawab pribadi untuk ukuran-ukuran menopang, dan kemudian menyatu, maka al- tingkah laku yang dipandang sebagai memiliki islam pun melandasi terbentuknya suatu kolektiva keabsahan Ilahi, yakni, diridlai-Nya. Rasa tanggung spiritual (ummah, umat), dengan ciri-ciri yang khas jawab pribadi karena semangat Ketuhanan dan sebagai pancaran cita-citanya yang khas. Maka taqwa itulah yang antara lain dicontohkan dengan sampai batas ini al-islam mendorong lahirnya baik oleh 'Umar, ketika ia sebagai Khalifah harus pola-pola ikatan kemasyarakatan, dan itu intinya memikul sekarung gandum untuk dibawa kepada ialah hukum. Inilah Islam historis —yaitu al-islam seorang janda dan anaknya yang kelaparan di luar yang telah mewujud-nyata sebagai pengalaman Madinah, karena ia melihat apa yang menimpa bersama banyak individu dalam dimensi waktu mereka itu sebagai berada di atas pundaknya dan ruang tertentu yang bisa diidentifikasi— suatu selaku pemimpin dan penguasa. bentuk kesatuan kemasyarakatan manusia beriman Maka agama yang mengajarkan al-islam yang disebut umat, dengan kesadaran berhukum ini adalah agama yang mengacu kepada sikap dan berperaturan bersama sebagai intinya. Karena itu salah satu karakteristik kuat umat 12  Ini adalah dua istilah dalam Kitab Suci untuk semangat Ketuhanan, yaitu semangat mencapai ridla Tuhan dalam ini ialah kesadaran hukumnya yang tinggi. wujud pola hidup penuh kesalehan dan penuh dedikasi kepada Kesadaran hukum itu merupakan kelanjutan cita-cita mewujudkan kehidupan bermoral, sebagaimana ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta kepada terdapat dalam Q., s. Alu 'Imran/3:79 dan 146. 82
  • 89.
    para pemegang kewenanganatau otoritas (ulu dijadikan metafor atau kiasan untuk jalan menuju al-amr, wali al-amr).(13) Dengan perkataan lain, harapan, kehidupan, dan kebenaran, yang berakhir kesadaran hukum itu tumbuh akibat adanya rasa dengan ridla Allah s.w.t. iman yang melandasi orientasi etis dalam hidup Maka dalam Islam orang tetap diharapkan agar sehari-hari. Maka konsep tentang hukum dalam tidak luput dalam melihat kaitan antara hukum dan Islam tidaklah seluruhnya sama dengan konsep akhlaq atau etika. Bahkan diharapkan agar mereka di Barat, misalnya, yang merupakan kelanjutan tidak luput untuk melihat keunggulan segi-segi konsep hukum zaman Romawi kuna. Hukum akhlaqi atas segi-segi bukum, sebab pada dasarnya dalam Islam tidak bisa dipisahkan dari segi-segi akhlaq mendasari hukum,. dan hukum ditegakkan akhlaq atau etika. Sehingga pengertian syari'ah di atas landasan akhlaq. Sangat ilustratif untuk yang kemudian digunakan sebagai istilah teknis pandangan ini ialah sebuah penuturan dalam untuk sistem hukum Islam itu mengandung hal-hal hadits tentang dua orang yang bersengketa dan seperti ajaran kebersihan (thaharah) dan masalah- datang menghadap kepada Nabi untuk memohon masalah peribadatan, yang dalam sistem Barat keputusan hukum: (Romawi) tidak termasuk hukum. Pada prinsipnya, Ummu Salamah r.a menuturkan: "Dan syari'at mencakup setiap kebutuhan manusia, orang lelaki yang sedang bersengketa datang baik pribadi maupun sosial, sejak dari lahir sampai menghadap Rasulullah s.a.w. berkenaan dengan mati, yang panggilannya tertuju kepada setiap masalah pembagian waris yang telah lewat nurani yang lembut karena rasa kebenaran dan waktunya dan pada mereka tidak terdapat keadilan. Karena perkataan syari'ah itu sendiri pada lagi bukti. Maka Rasulullah s.a.w. bersabda asalnya adalah berarti "jalan setapak menuju oase" kepada keduanya itu, 'Kamu bertengkar dan di tengah padang pasir, yang dalam Kitab Suci menghadapku, sedangkan aku tidak lain adalah 13  Dalam Kitab Suci ada perintah agar kita taat kepada para seorang manusia, dan boleh jadi salah seorang dari pemegang kewenangan atau kekuasaan: "Wahai sekalian orang yang beriman, taatlah kamu sekalian kepada Allah, dan taat kamu lebih lancar mengemukakan argumennya pulalah kepada Rasul dan kepada para pemegang kekuasaan dari yang lain. Dan aku tidak bisa tidak akan (ula al-amr, jamak dari wali al-amr) dari antara kamu ..." (Q., memberi keputusan hukum antara kamu sesuai s. al-Nisa /4:59). 83
  • 90.
    dengan apa yangkudengar (dari kamu), maka di antara para sahabat Nabi, tidak termasuk yang jika telah kuputuskan untuk seorang dari kamu terkenal. Tetapi kejadian itu justru melukiskan, agar ia berhak atas sebagian dari hak saudaranya, betapa pada masyarakat zaman Nabi itu, di bawah hendaknya ia jangan mengambilnya. Aku hanyalah bimbingan beliau, sangat diwarnai oleh semangat hendak menyingkirkan seberkas api neraka yang etis yang kuat, yang membuat mereka lebih akan dibawanya sebagai beban di tengkuknya mendahulukan perbuatan baik dan kemurahan pada hari kiamat.' Maka kedua orang lelaki itu hati daripada mempertahankan hak hukumnya pun menangis, dan masing-masing dari keduanya yang sah. Kejadian serupa itu cukup banyak di berkata kepada yang lain, 'Hakku (atas harta waris kalangan para sahabat Nabi, sampai ke masa-masa itu) kuberikan kepada saudaraku.' Maka Rasulullah sesudah Nabi sendiri telah tidak lagi bersama pun bersabda kepada mereka, 'Jika kamu berdua mereka. Al-Qur'an sendiri banyak mengajarkan telah mengatakan begitu, maka pergilah, dan semangat serupa, yaitu semangat mendahulukan berbagilah antara kamu berdua (atas harta waris kemurahan hati dan kebajikan daripada menuntut itu), kemudian hendaknya kamu berdua sama- dan mempertahankan hak sendiri yang sah: sama melepaskan hak (atas harta itu), lalu undilah Jika kamu memperlihatkan suatu antara kamu berdua, lalu hendaknya masing- kebajikan (melakukan secara terbuka) ataupun masing dari kamu menghalalkan (merelakan) merahasiakannya (melakukannya secara tertutup), saudaranya (menguasai harta itu)."(14) atau menutupi suatu kesalahan (memaafkannya), Menurut Muhibb al-Din al-Khathib kedua orang maka sesungguhnya Allah itu Maha Pemaaf dan itu sampai sekarang tidak diketahui nama mereka, Maha Kuasa (untuk membuat penilaian ).(15) karena mereka dari kalangan orang kebanyakan Dan mereka (orang-orang yang beriman) itu 14  Hadits diriwayatkan oleh Ahmad (ibn Hanbal) dalam kitab ialah yang apabila menjadi sasaran kejahatan Musnad-nya oleh Abu Dawud dalam kitab Sunan-nya, dikutip (orang lain), mereka membela diri. oleh Muhibb al-Din al-Khathib dalam kata penutup untuk kitab.al-Muntaqa min Minhaj al-I'tidal (ringkasan Minhaj al- Balasan bagi suatu kejahatan ialah kejahatan Sunnah oleh Ibn Taymiyyah) oleh Abu 'Abdullah Muhammad yang setimpal. Tetapi barangsiapa memberi ibn 'Utsman al-Dzahabi (Damaskus: Maktabat Dar al-Bayan, 1374 H), h. 574. 15  Q., s. al-Nisa'/4:149. 84
  • 91.
    maaf dan berdamai,maka pahalanya adalah atas keluarga sendiri, atau (3) suatu masyarakat juga tanggungan Allah. boleh jadi berdiri tegak demi hak-hak kolektif Sesungguhnya Dia tidak suka kepada mereka mereka, atau (4) demi hak orang-orang lain. No. yang zalim. 2, 3, dan 4 dianggap sangat berkebajikan untuk Tetapi orang yang membela diri setelah semua, meskipun sedikit orang yang berani dan dijahati, maka atas mereka itu tidak ada jalan bersemangat untuk bangkit menuju ke nilai yang (untuk disalahkan). begitu tingginya. No. 1 terutama rawan terhadap Melainkan jalan (untuk disalahkan) adalah penyalahgunaan, mengingat sifat manusia yang tertuju kepada mereka yang berbuat jahat kepada mementingkan diri sendiri. No. 2, 3, dan 4 juga sesama manusia, dan tanpa alasan kebenaran dapat disalahgunakan oleh mereka yang berpura- membuat pelanggaran di muka bumi. Mereka pura bermotifkan kebaikan umum padahal itulah yang mendapatkan siksa yang pedih. mereka hanya melayani kepentingan pribadi atau Namun sungguh, barangsiapa bersikap pandangan sempit mereka sendiri; karena itu sabar dan bersedia memberi maaf, maka itulah disebutlah nilai-nilai dalam empat ayat berikutnya . keteguhan hati dalam segala perkara (kebenaran).(16) ... Jika Anda mempertahankan hak, baik Berkenaan dengan ayat-ayat suci yang atas dasar kepentingan pribadi ataupun umum, difirmankan dalam kaitannya dengan ajaran mungkin hal itu terjadi lewat proses hukum, musyawarah, yang termaktub dalam surah al-Syura atau melalui tindakan mempertahankan diri (musyarawah) itu, baik sekali kami kemukakan sepanjang hal itu diizinkan oleh hukum. Tetapi di sini komentar panjang dari A. Yusuf Ali dalam dalam keadaan apa pun Anda tidak boleh mencari tafsirnya yang amat terkenal: balasan yang lebih besar daripada kejahatan yang ... Ada empat situasi yang mungkin timbul: Anda derita. Paling jauh yang Anda bisa lakukan seseorang boleh jadi berdiri tegak melawan ialah meminta balasan setimpal, yaitu, kerugian penindas (1) demi haknya sendiri yang diinjak-injak, setimpal dengan kerugian yang ditimpakan atau (2) demi hak orang-orang lain dalam kalangan orang kepada Anda. Ini pun dapat memuaskan untuk menekan jiwa Anda yang cenderung untuk 16  Q., s. al-Syura/42:39-43. 85
  • 92.
    melakukan balas dendam.Tetapi cara yang ideal bukanlah dengan memuaskan kehausan Anda untuk membalasdendam, melainkan dengan mengikuti jalan yang lebih baik menuju kepada pendidikan kembali si penjahat kepada Anda itu atau rekonsiliasi kepadanya . ...Anda dapat mengambil langkah-langkah untuk mencegah terulangnya kejahatan, dengan cara fisik atau moral; dan cara moral yang paling baik ialah dengan mengubah kebencian menjadi persahabatan lewat sikap memaafkan dan cinta. Dalam hal ini, balasan atau ganjarannya (jika kita harus menggunakan istilah-istilah serupa itu), adalah agung secara tak terbatas, karena hal itu berarti memperoleh ridla Tuhan.(17) Begitulah kutipan firman-firman Ilahi dan komentarnya oleh seorang penafsir yang ahli dan kompeten. Semoga hal itu cukup memberi gambaran tentang ide mengenai masyarakat Salaf sebagai masyarakat etika, lebih daripada masyarakat hukum saja, yaitu masyarakat yang harus dipandang dan diasumsikan sebagai yang telah benar-benar paham akan ajaran Kitab Suci dan telah dengan sungguh-sungguh melaksanakannya. 17  A. Yusuf Ali, hh. 1317-8, catatan 4580-4581. 86
  • 93.
    Pertimbangan Kemaslahatan Dalam 7 Menangkap Makna dan Semangat Ketentuan Keagamaan: Kasus Ijtihad 'Umar Ibn Al-Khattab B erkaitan erat dengan pokok pembahasan tentang reaktualisasi ajaran-ajaran agama yang dibawakan oleh Bapak Munawir Syadzali kebaikan), istislah (mencari kemaslahatan), dalam hal ini kebaikan atau kemaslahatan umum (al- maslahat al-'ammah, al-maslahat al-mursalah) ialah persoalan pertimbangan kemaslahatan atau disebut juga sebagai keperluan atas kepentingan kepentingan umum dalam usaha menangkap umum (umum al-balwa). makna dan semangat berbagai ketentuan Contoh klasik untuk tindakan keagamaan. Pertimbangan itu terlebih lagi mempertimbangkan kepentingan umum dalam berlaku berkenaan dengan ketentuan agama yang menangkap makna semangat agama itu ialah yang tercakup dalam pengertian istilah "syari'at" sebagai dilakukan oleh Khalifah II, 'Umar ibn al-Khattab hal yang mengarah kepada sistem hukum dalam r.a., berkenaan dengan masalah tanah-tanah masyarakat. pertanian berserta garapan-garapannya yang baru Dalam teori-teori dan metode baku dibebaskan oleh tentara Muslim di negeri Syam pemahaman agama, hal tersebut dituangkan (Syria Raya, meliputi keseluruhan kawasan pantai dalam konsep-konsep tentang istihsan (mencari timur Laut Tengah), Irak, Persia dan Mesir.
  • 94.
    Pendirian 'Umar untukmendahulukan Qur' an. pertimbangan tentang kepentingan umum Dalam banyak hal 'Umar memang dikenal yang menyeluruh, baik secara ruang (meliputi sebagai tokoh yang sangat bijaksana dan kreatif, semua orang di semua tempat) maupun bahkan jenius, tetapi juga penuh kontroversi. Tidak waktu (mencakup generasi sekarang dan masa semua orang setuju dengan 'Umar, dari dahulu datang) mula-mula mendapat tantangan hebat sampai sekarang. Kaum Syi'ah, misalnya, menolak dari para sahabat Nabi, dipelopori antara lain keras ketokohan 'Umar, khususnya kalangan oleh 'Abd al-Rahman ibn Awf dan Bilal (bekas ekstrim (al-ghulat) dari mereka. Yang moderat muazin yang sangat disayangi Nabi). Mereka ini pun masih melihat pada 'Umar hal-hal yang berpegang teguh kepada beberapa ketentuan "menyimpang" dari agama. Atau, seperti dikatakan (lahir) di beberapa tempat dalam al-Qur'an dan oleh seorang tokoh 'ulama Syi'ah, Muhammad al- dalam Sunnah atau praktek Nabi pada peristiwa Husayn Al Kashif al-Ghita', banyak tindakan 'Umar, pembebasan Khaybar (sebuah kota oase beberapa seperti dalam kasus ia melarang nikah mut'ah, ratus kilometer utara Madinah), dari sekelompok adalah semata-mata tindakan sosial-politik, orang Yahudi yang berkhianat. Tetapi, sebaliknya, yang tidak ada sangkut pautnya dengan bukan sejak dari semula para sahabat Nabi yang lain, keagamaan (madaniyyan la diniyyan).(1) termasuk tokoh-tokoh seperti 'Utsman ibn 'Affan Untuk memperoleh gambaran yang hidup dan dan 'Ali ibn Abi Talib (kedua-duanya kelak menjadi langsung tentang ijtihad 'Umar dan kemelut yang Khalifah, berturut-turut yang ketiga dan keempat), ditimbulkannya di Madinah selama berhari-hari sepenuhnya menyetujui pendapat 'Umar dan itu, di bawah ini disajikan terjemahan dari dua sepenuhnya mendukung pelaksanaannya. penuturan oleh dua orang ahli. Tanpa membuat Pertikaian pendapat itu berlangsung panas teori yang abstrak, dari kedua penuturan itu dapat selama berhari-hari di Madinah, sampai akhirnya kita tarik inspirasi untuk melihat dan memecahkan dimenangkan oleh 'Umar dan kawan-kawan berbagai masalah kita sendiri sekarang, sesuai dengan argumen-argumen yang tepat, juga 1  Muhammad al-Husayn Al Kashif al-Ghitha, Ashl al-Shi'ah berdasarkan ketentuan-ketentuan Kitab Suci al- wa Ushuluha (Beirut: Mu'assasat al-A'lami, 1982), h. 101. 88
  • 95.
    dengan tuntutan ruangdan waktu, sama dengan olehmu sekalian bahwa apa pun yang kamu tantangan yang dihadapi dan diselesaikan oleh peroleh sebagai rampasan perang dari sesuatu 'Umar. (harta kekayaan) itu maka seperlimanya adalah Yang pertama dari kedua penuturan itu untuk Allah dan untuk Rasul, kaum kerabat (dari berjudul Dari Celah Fiqh 'Umar di Bidang Ekonomi Nabi), anak-anak yatim, orang-orang miskin dan dan Keuangan, oleh: al-Ustadh al-Bahi al-Khuli,(2) ibn al-sabil (orang terlantar di perjalanan), jika sebagai berikut: kamu sekalian benar-benar beriman kepada Berita-berita telah sampai kepada 'Umar r.a. Allah dan kepada apa yang telah Kami turunkan dengan membawa kabar gembira tentang telah (al-Qur'an) atas hamba Kami (Muhammad) pada terbebaskannya Syam, Irak dan negeri Khusru hari penentuan, yaitu hari ketika kedua golongan (Persia), dan ia mendapati dirinya berhadapan manusia (Muslim dan Musyrik) bertemu (dalam dengan persoalan ekonomi yang rumit ... Harta peperangan, yakni, Perang Badar). Allah Maha benda musuh, yang terdiri dari emas, perak, kuda Kuasa atas segala sesuatu."(3) dan ternak telah jatuh sebagai harta rampasan Tetapi berkenaan dengan tanah-tanah perang (ghanimah) di tangan bala tentara yang pertanian itu, 'Umar berpendapat lain... menang dengan pertolongan Allah ... Dan tanah- Pendiriannya ialah bahwa tanah-tanah itu harus tanah pertanian mereka pun termasuk dalam disita, dan tidak dibagi-bagikan, lalu dibiarkan penguasaan tentara itu. seolah-olah tanah-tanah itu kepunyaan negara di Berkenaan dengan harta (yang bergerak) tangan para pemilik (aslinya setempat) yang lama, maka 'Umar telah melaksanakan hukum Allah kemudian mereka ini dikenakan pajak (kharaj), dan mengenainya. Dia ambil seperlimanya, dan hasil pajak itu dibagi-bagikan kepada keseluruhan membagi-bagikan empat perlima lainnya orang-orang Muslim setelah disisihkan daripada kepada masing-masing anggota tentara sebagai gaji tentara yang ditempatkan di pos-pos pelaksanaan firman Allah Ta'ala, "Dan ketahuilah pertahanan (al-thughur, seperti Basrah dan Kufah 2  Al-Bahi al-Khuli, "Min fiqh 'Umar fi al-Iqtisad wa al-Mal", di Irak) dan negeri-negeri yang terbebaskan. dalam majalah al-Muslimun (Damaskus), No. 4, Jumada al- Akhirah, 1373 H/Februari, 1954, hh. 55-59. 3  Q., s. al-Anfal/8:41. 89
  • 96.
    Tetapi kebanyakan parasahabat menolak pihak mereka yang menentang pendapat 'Umar, kecuali jika tanah-tanah itu dibagikan di antara yang terdiri dari mereka yang menghendaki mereka karena tanah-tanah itu adalah harta- kekayaan yang memang halal dan telah kekayaan yang dikaruniakan Allah sebagai dikaruniakan Tuhan kepada mereka itu. rampasan (fay') kepada mereka. Mereka ini mengajukan argumen kepadanya Adapun titik pandangan 'Umar ialah bahwa bahwa harta kekayaan itu adalah fay' (jenis harta negeri-negeri yang dibebaskan itu memerlukan yang diperoleh dari peperangan), dan tanah tentara pendudukan yang tinggal di sana, dan rampasan serupa itu telah pernah dibagi-bagikan tentara itu tentulah memerlukan ongkos. Maka jika Rasul 'alayhi al-salam sebelumnya, dan beliau tanah-tanah pertanian itu habis dibagi-bagi, lalu (Rasul) tidak pernah melakukan sesuatu seperti bagaimana tentara pendudukan itu mendapatkan yang ingin dilakukan 'Umar. Terutama Bilal r.a. logistik mereka?' ... Demikian itu, ditambah lagi sangat keras terhadap 'Umar, dan mempelopori bahwa Allah tidak menghendaki harta kekayaan gerakan oposisi sehingga menyesakkan dada hanya berkisar atau menjadi sumber rejeki 'Umar dan menyusahkannya, sehingga karena kaum kaya saja. Jika habis dibagi-bagi tanah- susah dan sedihnya itu 'Umar mengangkat kedua tanah pertanian yang luas di Syam, Mesir, Irak tangannya kepada Tuhan dan berseru, "Oh Tuhan, dan Persia kepada beberapa ribu sahabat, maka lindungilah aku dari Bilal dan kawan-kawan." menumpuklah kekayaan di tangan mereka, Akhirnya memang Tuhan melindunginya dari Bilal dan tidak lagi tersisa sesuatu apa pun untuk dan kawan-kawan dengan paham keagamaannya mereka yang masuk Islam kelak kemudian hari yang mendalam, yang meneranginya dengan sesudah itu. Sehingga terjadilah adanya kekayaan suatu cahaya dari celah baris-baris dalam Kitab yang melimpah di satu pihak, dan kebutuhan Suci, dan dengan argumen yang unggul, yang (kemiskinan) yang mendesak di pihak lain ... semua golongan tunduk kepada kekuatannya. Itulah keadaan yang hati nurani 'Umar tidak bisa Begitulah 'Umar yang suatu saat berkata menerimanya. kepada sahabat-sahabatnya yang hadir bahwa Tetapi dalil dari Kitab dan Sunnah berada di Sa'd ibn Abi Waqqas menulis surat kepadanya dari 90
  • 97.
    Irak bahwa masyarakat(tentara Muslim) yang ada turun dan para janda di negeri ini dan di tempat bersama dia telah memintanya untuk membagi- lain dari kalangan penduduk Syam dan Irak?" bagi harta rampasan di antara mereka dan tanah- Orang banyak: "Bagaimana mungkin sesuatu tanah pertanian yang dikaruniakan Allah kepada yang dikaruniakan Tuhan kepada kami sebagai mereka sebagai rampasan juga. (Kemudian terjadi harta rampasan dengan perantaraan pedang- dialog berikut): pedang kami akan engkau serahkan kepada kaum Sekelompok dari mereka berkata: "Tulis surat yang belum ada dan belum bersaksi, serta kepada kepadanya dan hendaknya ia membagi-bagikan anak-cucu mereka turun-temurun yang belum tanah itu antara mereka." ada?" 'Umar: "Lalu bagaimana dengan orang-orang 'Umar (dalam keadaan bingung dan termangu): Muslim yang datang kemudian sesudah itu, yang "Ini adalah suatu pendapat." akan mendapati tanah-tanah telah habis terbagi- Orang banyak: "Bermusyawarahlah" bagikan, terwariskan dari orang-orang tua serta Maka 'Umar pun bermusyawarah dengan telah terkuasai?... Ini bukanlah pendapat yang kaum Muhajirin yang terkemuka, yang memiliki benar." kepeloporan dan keperintisan yang mendalam 'Abd al-Rahman ibn 'Awf: "Lalu apa pendapat dalam Islam: yang benar?... Tanah-tanah itu tidak lain daripada 'Abd al-Rahman ibn 'Awf: "Aku berpendapat sesuatu yang dikaruniakan Tuhan kepada mereka hendaknya kau bagi-bagikan kepada mereka itu sebagai rampasan!" 'Umar: "Memang seperti hak-hak mereka." yang kau katakan ... Tapi aku tidak melihatnya 'Ali ibn Abi Talib: "Tapi pendapat yang benar begitu ... Demi Tuhan, tiada lagi suatu negeri ialah pendapatmu, wahai Amir al-Mu'minin!" akan dibebaskan sesudahku melainkan mungkin Al-Zubayr ibn al-'Awwam: "Tidak! Sebaliknya, akan menjadi beban atas orang-orang Muslim apa yang dikaruniakan Tuhan kepada kita sebagai ... Jika tanah-tanah pertanian di Irak dan Syam rampasan dengan pedang kita itu harus dibagi- dibagi-bagikan, maka dengan apa biaya pos-pos bagi." pertahanan ditutup, dan apa yang tersisa bagi anak 'Utsman ibn 'Affan: "Pendapat yang benar ialah 91
  • 98.
    yang dikemukakan 'Umar." orang dari suku al-Khazraj, kemudian ia berpidato Bilal: "Tidak! Demi Tuhan, sebaliknya kita harus di depan mereka dengan pernyataan yang indah melaksanakan hukum Tuhan terhadap harta yang dan bijaksana ini: ('Umar membaca hamdalah dan dikaruniakan sebagai rampasan kepada hamba- memuji Tuhan sesuai dengan yang patut bagi-Nya, hambaNya yang beriman." kemudian berkata), Talhah: "Aku berpendapat bahwa yang benar "Aku tidak bermaksud mengejutkan kalian ialah yang dianut 'Umar." kecuali hendaknya kalian menyertaiku dalam Al-Zubayr: "Ke mana kalian, wahai kaum, amanat mengenai urusan kalian yang dibebankan hendak pergi dari Kitab Allah?" kepadaku. Sebab aku hanyalah salah seorang saja 'Abd Allah ibn 'Umar: "Teruskan, wahai Amir dari antara kalian ... Dan kalian hari ini hendaknya al-Mu'minin, dengan pendapatmu itu. Sebab aku membuat keputusan dengan benar-siapa saja yang harap bahwa di situ ada kebaikan bagi umat ini." hendak berbeda pendapat denganku, silakan ia Bilal (berteriak dan marah): "Demi Tuhan, berbeda, dan siapa saja yang hendak bersepakat tidak berlaku di umat ini kecuali apa yang telah denganku, silakan ia bersepakat ... Aku tidaklah ditentukan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya ingin kalian mengikuti begitu saja hal yang s.a.w." menjadi kecenderunganku ini ... Di tangan kalian 'Umar (dalam keadaan sesak dada dan sedih): ada Kitab Allah yang menyatakan kebenaran ... "Oh Tuhan, lindungilah aku dari Bilal dan kawan- Dan demi Tuhan, kalau aku pernah menyatakan kawan." suatu perkara yang kuinginkan, aku tidak Pertengkaran itu memuncak selama tiga hari, menginginkannya kecuali kebenaran." dan kegaduhan orang banyak sekitar masalah Kaum Ansar: "Bicaralah, dan kami semua akan itu pun menjadi-jadi. 'Umar berpikir untuk mendengarkan, wahai Amir al-Mu'minin." memperluas musyawarahnya keluar kalangan 'Umar: "Kalian telah mendengar pembicaraan Muhajirin sehingga mencakup para pemuka Ansar mereka, kelompok yang menuduhku berbuat zalim (Ansar), dan dipanggillah oleh Umar sepuluh orang berkenaan dengan hak-hak mereka. Aku benar- dari mereka, lima orang dari suku al-Aws dan lima benar berlindung kepada Allah dari melakukan 92
  • 99.
    kezaliman ... Jikaaku telah berbuat zalim kepada itu jika semua tanah pertanian telah habis dibagi- mereka berkenaan dengan sesuatu yang menjadi bagi?" milik mereka dan aku memberikannya kepada Semua yang hadir: "Pendapat yang benar ialah orang lain, maka benar-benar telah celakalah pendapatmu. Alangkah baiknya apa yang kau diriku ... Tetapi aku melihat bahwa tidak ada lagi katakan dan lihat itu. Jika pos-pos pertahanan dan sesuatu (negeri) yang dibebaskan sesudah negeri kota-kota itu tidak diisi dengan personil-personil, Khusru (Persia), dan Allah pun telah merampas serta disediakan bagi mereka perbekalan mereka, untuk kita harta kekayaan mereka dan tanah-tanah maka tentulah kaum kafir akan kembali ke kota- pertanian mereka. Maka aku bagi-bagikanlah kota mereka." semua kekayaan (yang bergerak) kepada mereka Kemudian terlintas dalam benak 'Umar suatu yang berhak, kemudian aku ambil seperlimanya, cahaya seperti biasanya jika kebenaran datang ke dan aku atur menurut aturan tertentu, dan aku lisan dan hatinya, lalu berkata: sepenuhnya bertanggungjawab atas pengaturan "Sungguh telah kudapatkan argumen dalam itu ... Tetapi aku berpendapat untuk menguasai Kitab Allah, tanah-tanah pertanian dan aku kenakan pajak atas 'Sesuatu apa pun yang dikaruniakan Allah para penggarapnya, dan mereka berkewajiban sebagai harta rampasan untuk Rasul-Nya dari membayar jizyah sebagai fay' untuk orang-orang penduduk negeri-negeri (yang dibebaskan) Muslim, untuk tentara yang berperang serta anak adalah milik Allah, Rasul, kaum kerabat, anak-anak turun mereka, dan untuk generasi yang datang yatim, orang-orang miskin dan orang terlantar kemudian ... Tahukah kalian pos-pos pertahanan dalam perjalanan, agar supaya tidak berkisar itu? Di sana harus ada orang-orang yang tinggal diantara orang-orang kaya saja dari kamu. menetap. Tahukah kalian, negeri-negeri besar Maka apa pun yang diberikan Rasul kepadamu seperti Syam, al-Jazirah (Lembah Mesopotamia), sekalian hendaklah kamu ambil, dan apa pun Kufah, Basrah dan Mesir? Semuanya itu harus diisi yang Rasul melarangnya untuk kamu hendaklah dengan tentara dan disediakan perbekalan untuk kamu hentikan. Dan bertaqwalah kamu sekalian mereka. Dari mana mereka mendapat perbekalan kepada Allah, sesungguhnya Allah itu keras dalam 93
  • 100.
    siksaan.'" (dari generasi mendatang), dan berfirman, "Selanjutnya," kata 'Umar, "Allah berfirman, 'Dan orang-orang yang muncul sesudah 'Dan bagi orang-orang miskin dari kalangan mereka (Muhajirin dan Ansar) itu semuanya Muhajirin yang diusir dari rumah-rumah dan harta berdo'a: 'Oh Tuhan kami, ampunilah kami dan kekayaan mereka, guna mencari kemurahan Allah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dan Ridla-Nya, serta membantu Allah dan Rasul- dalam beriman, dan janganlah ditumbuhkan dalam Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.'" hati kami perasaan dengki kepada sekalian mereka "Kemudian," kata 'Umar lagi, "Allah tidak rela yang beriman itu. Oh Tuhan, sesungguhnya sebelum Dia mengikutsertakan orang-orang lain Engkau Maha Penyantun dan Maha Penyayang.'"(4) dan berfirman, "Ayat ini," kata 'Umar, "secara umum berlaku 'Dan mereka (kaum Ansar) yang telah untuk semua orang yang muncul sesudah mereka bertempattinggal di negeri (Madinah) serta (kaum Muhajirin dan Ansar) itu, sehingga harta beriman sebelum (datang) mereka (kaum rampasan (fay') adalah untuk mereka semua. Maka Muhajirin); mereka itu mencintai orang-orang yang bagaimana mungkin kita akan membagi-baginya berhijrah kepada mereka, dan tidak mendapati untuk mereka (tentara yang berperang saja), dan dalam dada mereka keinginan terhadap apa yang kita tinggalkan mereka yang datang belakangan diberikan kepada orang-orang yang berhijrah tanpa bagian? Kini menjadi jelas bagiku perkara itu, bahkan mereka lebih mementingkan orang- yang sebenarnya." (Demikian 'Umar). orang yang berhijrah itu daripada diri mereka Para pembahas dapat menarik kesimpulan sendiri meskipun kesusahan ada pada mereka. dari pendirian 'Umar itu tentang banyak hukum Barangsiapa yang terhindar dari kekikiran dirinya sosial dan ekonomi. Di situ kita dapat melihat sendiri, maka mereka itulah orang-orang yang 'Umar sangat cermat memperhatikan agar harta bahagia.'" kekayaan tidak menumpuk hanya di tangan "Firman ini," jelas 'Umar, adalah khusus tentang sekelompok orang-orang kaya saja. Sebab kaum Ansar. Kemudian Allah tidak rela sebelum penyerahan pemilikan atas berpuluh-puluh juta menyertakan bersama mereka itu orang-orang lain 4  Q., s. al-Hashr/59:7-10. 94
  • 101.
    hektar tanah pertaniandi Irak, Syam, Persia dan lain, berupa pandangan-pandangan finansial dan Mesir kepada sekelompok tentara dan bawahannya ekonomi yang menunjukkan luasnya ufuk dan akan membentuk sejumlah orang kaya yang keluwesan pemikiran serta daya cakup Islam yang pada mereka terdapat harta benda melimpah hanif (secara alami selalu mencari yang benar ruah, dengan peredarannya pun terpusat kepada dan baik) terhadap masalah-masalah yang pelik mereka saja. Hal itu akan membawa dampak sosial ... Semoga Allah memberi kita petunjuk untuk dan moral yang akibatnya tidak terpuji. menggali dari agama kita berbagai kekayaan, hal- Di dalamnya kita melihat 'Umar memandang hal mendasar dan hakiki. harta sebagai hak semua orang dan menempuh Penuturan kedua berjudul "Bagaimana Para kebijaksanaan yang memperhitungkan Sahabat Nabi Menggunakan Akal Mereka untuk kemaslahatan generasi mendatang. Itu adalah Memahami al-Qur'an", oleh: Dr Ma'ruf al-Dawalibi:(5) pandangan yang cermat dan mendalam, yang Barangkali dari antara banyak masalah ijtihad dalam al-Qur'an diketemukan sandaran yang dan kejadian yang mucul di zaman para sahabat sangat kuat. setelah wafat Nabi, yang paling menonjol ialah Di dalamnya juga terdapat tindakan sejenis masalah pembagian tanah-tanah (pertanian) nasionalisasi tanah-tanah pertanian atau yang telah dibebaskan oleh tentara (Islam) melalui yang mendekati itu, yaitu ketika ia mencegah peperangan di Irak, Syam (Syria) dan Mesir. sekelompok orang-orang Muslim sezamannya dari Telah terdapat nas al-Qur'an yang menyebutk. menguasai tanah-tanah yang dikaruniakan Tuhan an dengan jelas tanpa kesamaran sedikit pun sebagai harta rampasan (fay'), dan ia tidak bergeser di dalamnya bahwa seperlima harta rampasan dari pendapatnya untuk menjadikan tanah- (perang) harus dimasukkan ke bayt al-mal, dan tanah itu milik negara, yang dari hasil pajaknya ia harus diperlakukan sesuai dengan pengarahan membuat anggaran untuk tentara, dan dengan yang ditentukan oleh ayat suci. Allah telah hasil itu pula ia menanggulangi kesulitan-kesulitan 5  Ma'ruf al-Dawalibi, "Kayfa ista'mala al-sahaabah 'uqulahum di masa depan. fi fahm al-Qur'an", dalam majalah al-Muslimun (Damaskus), No. 7, Rabi' al-Thani 1375 H./Tashrin al-Thani (November) Di dalamnya juga terdapat banyak hal yang 1955, hh. 4347. 95
  • 102.
    berfirman dalam Surahal-Anfal, "Dan ketahuilah garapannya telah habis terbagi-bagi, dan telah olehmu sekalian bahwa apa pun yang kamu pula terwariskan turun-temurun dan terkuasai? Itu rampas (dalam perang) dari sesuatu (harta) maka bukanlah pendapat (yang baik). seperlimanya adalah untuk Allah, Rasul, kaum 'Abd al-Rahman ibn 'Awf, menyanggah 'Umar: kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, "Lalu apa pendapat (yang baik)? Tanah pertanian dan orang yang terlantar dalam perjalanan (ibn dan garapannya itu tidak lain adalah harta al-sabil)."(6) rampasan yang diberikan Allah kepada mereka!" Sedangkan yang empat perlima selebihnya 'Umar menjawab: "Itu tidak lain adalah katamu maka dibagi sama antara mereka yang merampas sendiri, dan aku tidak berpendapat begitu. Demi (dalam perang) itu, sebagai pengamalan ketentuan Tuhan, tidak akan ada lagi negeri yang dibebaskan yang bisa dipahami dari ayat suci tersebut dan sesudahku yang di situ terdapat kekayaan besar, praktek Nabi s.a.w. ketika beliau membagi (tanah bahkan mungkin akan menjadi beban atas orang- pertanian) Khaybar kepada para tentara. orang Muslim. Jika aku bagi-bagikan tanah-tanah Maka, sebagai pengamalan al-Qur'an dan al- di Irak beserta garapannya, tanah-tanah di Syam Sunnah, datanglah para perampas (harta rampasan beserta garapannya, maka dengan apa pos-pos perang) itu kepada 'Umar ibn al-Khaththab, pertahanan akan dibiayai? Dan apa yang tersisa dan meminta agar ia mengambil seperlima untuk anak cucu dan janda-janda di negeri itu dan daripadanya untuk Allah dan orang-orang yang ditempat lain dari kalangan penduduk Syam dan disebutkan dalam ayat (dimasukkan dalam bayt Irak?" al-mal), kemudian membagi sisanya kepada Orang pun banyak berkumpul sekitar 'Umar, mereka yang telah merampasnya dalam perang. dan mereka semua berseru; "Apakah engkau akan (Kemudian terjadi dialog berikut): memberikan sesuatu yang oleh Allah diberikan Kata 'Umar: "Lalu bagaimana dengan orang- untuk kami dengan perantaraan pedang-pedang orang Muslim yang datang kemudian? Mereka kami kepada kaum yang belum ada dan belum mendapati tanah-tanah pertanian beserta bersaksi? Dan kepada anak-anak mereka itu serta cucu-cucu mereka yang belum ada?" 6  Lihat catatan 3. 96
  • 103.
    Namun 'Umar takbergeming kecuali berkata: dengan aku, silakan ia berbeda, dan siapa saja "Itulah pendapatku." yang hendak bersepakat dengan aku, silakan ia Mereka menyahut: "Bermusyawarahlah!" bersepakat. Aku tidaklah ingin kalian mengikuti Maka 'Umar pun bermusyawarah dengan begitu saja hal yang menjadi kecenderunganku ini. kaum Muhajirin yang terkemuka, dan mereka Di tangan kalian ada Kitab Allah yang menyatakan ini berselisih pendapat. Adapun Abd al-Rahman kebenaran. Dan demi Tuhan, kalau aku pernah ibn 'Awf, maka pendapatnya ialah agar diberikan menyatakan suatu perkara yang kuinginkan, aku kepada para tentara itu apa yang telah menjadi tidak menginginkannya kecuali kebenaran." hak mereka. Sedangkan pendapat 'Utsman, 'Ali, Semuanya serentak berkata: "Bicaralah, dan Thalhah dan Ibn 'Umar sama dengan pendapat kami semua akan mendengarkan, wahai Amir al- Umar. Mu'minin." Kemudian 'Umar memanggil sepuluh orang Dan mulailah 'Umar berbicara: dari golongan Ansar, lima orang dari suku al-Aws "Kalian telah mendengar pembicaraan mereka, dan lima orang dari suku al-Khazraj, terdiri dari kelompok yang menuduh aku berbuat zalim para pembesar dan petinggi mereka. Setelah berkenaan dengan hak-hak mereka. Aku benar- mereka berkumpul, 'Umar membaca hamdalah benar berlindung kepada Allah dari melakukan dan memuji Tuhan, kemudian berkata (penuturan kezaliman. Jika aku telah berbuat zalim kepada al-Dawalibi ini tidak jauh berbeda dengan al-Khuli mereka berkenaan dengan sesuatu yang menjadi di atas): milik mereka dan aku berikan kepada orang lain, "Aku tidak bermaksud mengejutkan kalian maka benar-benar telah celakalah diriku. Tetapi kecuali hendaknya kalian menyertaiku dalam aku melihat bahwa tidak ada lagi sesuatu (negeri) amanatku dan dalam urusan kalian yang yang dibebaskan sesudah negeri Khusru (Raja dibebankan kepadaku. Sebab aku hanyalah Persia), dan Allah pun telah merampas untuk salah seorang saja dari kalian, dan kalian hari kita harta kekayaan mereka dan tanah-tanah ini hendaknya membuat keputusan dengan pertanian mereka, garapan-garapan mereka, benar: siapa saja yang hendak berbeda pendapat maka aku bagi-bagikanlah semua kekayaan (yang 97
  • 104.
    bergerak) kepada merekayang berhak, kemudian sampai membagi-baginya, maka akan terjadilah aku ambil seperlimanya, dan aku atur menurut kekayaan yang amat besar berada di tangan aturan tertentu, dan aku sepenuhnya bertanggung kelompok orang tertentu, kemudian mereka jawab atas pengaturan itu. Tetapi aku berpendapat akan mati, lalu harta itu akan bergeser ke tangan untuk menguasai tanah-tanah pertanian beserta satu orang, baik laki-laki atau pun perempuan, garapan-garapannya, dan aku terapkan pajak dan sesudah mereka itu muncul generasi yang atas para penggarap tanah-tanah itu, dan mereka benar-benar melihat adanya kebaikan pada Islam berkewajiban membayar jizyah sebagai fay' untuk —yaitu mereka mendapati dalam Islam suatu orangorang Muslim, baik yang berperang maupun keuntungan— namun mereka tidak mendapatkan anak turun mereka, dan untuk generasi yang apa-apa. Karena itu carilah sesuatu yang kemudian. Tahukah kalian pos-pos pertahanan menguntungkan baik generasi pertama maupun itu? Di sana harus ada orang-orang yang tinggal generasi akhir." menetap. Tahukah kalian, kota-kota besar seperti Sungguh menakjubkan pernyataan Mu'adz itu: (di) Syam, al-Jazirah (Mesopotamia), Kufah, Basrah Jika tanah-tanah pertanian itu dibagi habis, maka dan Mesir? Semuanya itu memerlukan tentara terjadilah kekayaan amat besar pada kelompok untuk mempertahankan dan biaya besar untuk tertentu, dan kalau mereka ini semuanya telah mereka. Dari mana mereka diberi biaya itu jika tiada, kekayaan itu akan pindah ke tangan satu- semua tanah pertanian dan garapannya telah dua orang, sehingga orang-orang (dari kalangan habis dibagi-bagi?" Serentak semuanya menjawab: penduduk setempat) yang muncul sesudah itu dan "Pendapat yang benar ialah pendapatmu. memeluk Islam tidak lagi mendapatkan sesuatu Alangkah baiknya apa yang kau katakan dan lihat apa pun! Alangkah cemerlang pernyataannya itu! itu. Jika pos-pos pertahanan dan kota-kota itu tidak Dengan pernyataannya itu, Mu'adz seolah-olah diisi dengan personil-personil, serta disediakan hendak menentang banyak orang sebagaimana bagi mereka kebutuhan-kebutuhan mereka, maka kaum sosialis sekarang menentang para tuan tanah tentulah kaum kafir akan kembali ke kota-kota agar jangan sampai tanah yang luas milik Tuhan mereka." Kata Mu'adz kepada 'Umar: "Jika engkau itu jatuh ke tangan hanya satu-dua orang, baik pria 98
  • 105.
    maupun wanita, yangdengan pemilikan tanah itu tidak lain ialah harta yang dirampaskan oleh Tuhan orang tersebut memetik buah kerja keras sejumlah untuk mereka, yakni harta yang diberikan Tuhan besar para pekerja petani untuk dinikmati sendiri kepada mereka dari musuh." tanpa disertai kalangan manusia lainnya. Sedangkan 'Umar, dalam menjawab 'Abd Para sahabat Nabi itu terus melakukan al-Rahman atas argumennya itu, menyatakan: pembicaraan sesama mereka selama beberapa "Itu tidak lain hanyalah pendapatmu, dan aku hari. Mereka yang berpendapat harus dibagi-bagi, tidak berpendapat begitu. Demi Tuhan, tidak ada berargumentasi dengan praktek Nabi s.a.w. dalam lagi sesudahku negeri yang dibebaskan yang membagi-bagikan tanah Khaybar di antara para di situ terdapat kekayaan yang besar, bahkan tentara yang membebaskannya, dan dengan mungkin akan menjadi beban atas orang-orang firman Allah, "Ketahuilah bahwa apa pun dari Muslim. Maka jika aku bagi habis tanah Irak dan sesuatu (kekayaan) yang kamu rampas dalam garapannya, juga tanah Syam dan garapannya, peperangan maka seperlimanya adalah untuk maka bagaimana membiayai pos-pos pertahanan? Allah, Rasul, para kerabat, anak-anak yatim, orang- Dan apa yang tersisa untuk anak turun dan janda- orang miskin, dan orang terlantar di perjalanan."(7) janda di negeri itu dan di tempat lain dari kalangan Karena ayat itu hanya mengemukakan ketentuan penduduk Syam dan Irak?" untuk menyisihkan seperlima saja dari kekuasaan para tentara pelaksana rampasan dalam perang dan menyerahkannya kepada bayt al-mal untuk digunakan bagi keperluan pihak-pihak yang berhak yang tersebutkan dalam ayat itu, sedangkan ayat itu tidak memberi ketentuan apa-apa tentang bagian yang empat perlima lagi, maka 'Abd al-Rahman ibn 'Awf berkata kepada 'Umar: "Tanah-tanah pertanian dan garapannya itu 7 Ibid. 99
  • 106.