PlantATree
                        Publishing
oqsit
    Perjalanan
       Menuju
       Mimbar
        Abdul Moqsith Ghazali




                        2011
oqsit
    Perjalanan
       Menuju
       Mimbar
        Abdul Moqsith Ghazali

                             2011




                  PlantATree Publishing
12/07/2011


   Merawat Agama dengan Penafsiran
                                             Oleh Ulil Abshar-Abdalla

            “Kegiatan membaca atau membaca ulang pada dasarnya adalah tindakan teoritis (al-‘amal
            al-nadzari). Tradisi intelektual Islam sangat kaya dengan tindakan teoritis semacam ini.
            Setiap pembaharuan (tajdid) dalam sejarah Islam juga selalu dimulai dari tindakan teoritis
            dalam bentuk membaca dan menafsir kembali tradisi tekstual yang ada. Sejarah agama
            menjadi menarik karena adanya tradisi membaca dan menafsir ulang seperti itu. Suatu
            agama di mana di dalamnya kita jumpai kehidupan menafsir yang terus-menerus tanpa
            henti, pertanda bahwa ia adalah agama yang hidup, bukan dead religion, agama yang mati,
                                         agama yang telah menjadi mumi.”


Assalamu’alaikum, selamat malam,                          disertai niat yang menyokongnya. Itulah iman. Innama
                                                          ‘l-a’mal bi ‘l-niyyat, sebagaimana disebutkan dalam
Malam ini kita akan mendengarkan pidato kebudayaan        sebuah hadis yang terkenal: tindakan haruslah dilandasi
yang akan disampaikan oleh teman saya Dr. Abdul           oleh niat. Jika tindakan sosial dikerjakan tanpa suatu
Moqsith Ghazali, berjudul “Menegaskan Kembali             landasan motivasional yang kuat di baliknya, tanpa
Pembaruan Pemikiran Islam”. Ini adalah acara tahunan      dasar-dasar teoritis yang kokoh, ia hanyalah menjadi
yang digagas oleh Forum Pluralisme Indonesia. Ini         pekerjaan arbitrer: sembarang dan semena-mena, yang
adalah pidato seri kedua. Saya berharap setiap tahun      tak bernilai apa-apa.
pidato seperti ini terus bisa diselenggarakan dan
menjadi tradisi yang terawat hingga di masa depan         Perkembangan sosial-politik yang cepat saat ini
yang jauh.                                                memaksa umat Islam, juga umat-umat agama lain,
                                                          untuk melakukan pembacaan kembali atas tradisi
Apa tujuan sebuah pidato seperti ini? Bukankah yang       panjang yang mereka warisi dari generasi yang lalu.
dibutuhkan oleh umat Islam saat ini bukan pidato,         Pembacaan ulang adalah kata kunci di sini.
tetapi sebuah tindakan nyata untuk menyelesaikan
masalah?                                                  Kenapa kita memakai kata “membaca” di sini?
                                                          Sebab, setiap agama, termasuk Islam, pada akhirnya
Menurut saya, baik orasi dan aksi, teori dan aksi,        terlembagakan dalam sebuah tradisi, yakni tradisi
keduanya sama penting. Saya kurang begitu suka            penafsiran. Sementara setiap tradisi selalu berwatak
untuk memperlawankan teori dan aksi. Mengikuti            tekstual. Ia pada akhirnya adalah sebuah teks, tekstur
pandangan para filsuf Muslim klasik seperti Ibn Sina      yang terdiri dari jalinan gagasan yang terkait dengan
dan Al-Farabi, kebahagiaan manusia diperoleh karena       situasi tertentu. Setiap teks selalu membuka diri pada
kombinasi yang seimbang antara teori dan aksi, antara     kegiatan mental yang disebut dengan membaca.
ilmu-ilmu teoritis (al-‘ulum al-nazariyyah) dan ilmu-     Sementara itu, kegiatan membaca bukanlah tindakan
ilmu praktis (al-‘ulum al-‘amaliyyah). Baik kehidupan     yang sekali terjadi sesudah itu mati dan berhenti.
kontemplatif (vita contemplativa) dan kehidupan           Membaca adalah tindakan mental dan intelektual yang
aktif (vita activa), keduanya sama-sama penting untuk     tak pernah berhenti –kegiatan yang sifatnya perenial,
mencapai –meminjam istilah dalam filsafat Yunani—         abadi, non-stop. Oleh karena itu, setiap teks, termasuk
eudemonia, kehidupan yang bahagia.                        teks-teks yang terbentuk melalui tradisi Islam, akan
                                                          selalu terbuka terhadap pembacaan dan pembacaan
Gagasan tentang perkawinan antara teori dan aksi          ulang secara terus-menerus.
sebetulnya tak asing bagi umat Islam. Dalam al-
Qur’an, kata iman kerap disebut secara berbarengan        Kegiatan membaca atau membaca ulang pada dasarnya
dengan amal –alladzina amanu wa ‘amilu al-shalihat.       adalah tindakan teoritis (al-‘amal al-nadzari). Tradisi
Suatu tindakan sosial akan memiliki bobot moral yang      intelektual Islam sangat kaya dengan tindakan teoritis
tinggi jika didorongkan oleh motivasi mendalam; jika      semacam ini. Setiap pembaharuan (tajdid) dalam
                                                      —i—
sejarah Islam juga selalu dimulai dari tindakan teoritis   teoritis semacam ini. Sialnya, memang, dalam setiap
dalam bentuk membaca dan menafsir kembali tradisi          masyarakat, kelas yang menjalani vita contemplativa
tekstual yang ada. Sejarah agama menjadi menarik           semacam ini akan selalu berhadapn dengan status quo.
karena adanya tradisi membaca dan menafsir ulang           Dan ini tampaknya memang kutukan tak terhindarkan
seperti itu. Suatu agama di mana di dalamnya kita          bagi setiap kelas terpelajar di manapun. Dan ini pula
jumpai kehidupan menafsir yang terus-menerus tanpa         tampaknya kutukan yang dihadapi para nabi di masa
henti, pertanda bahwa ia adalah agama yang hidup,          lampau.
bukan dead religion, agama yang mati, agama yang
telah menjadi mumi.                                        Malam ini, kita sejenak akan menikmati kehidupan
                                                           kontemplatif itu. Besok, anda bisa kembali menjalani
Di sinilah letak pentingnya sebuah “pidato” seperti        vita activa, kehidupan aktif yang normal, kehidupan
yang akan kita dengarkan dari Sdr. Abdul Moqsith           yang penuh dengan gebalau dan kebisingan.
Ghazali malam ini. Pidato semacam ini adalah sarana
untuk menyatakan suatu kegiatan membaca ulang              Sekian.
kepada publik luas.

Kegiatan membaca ulang memang mengandung
resiko, dan biasanya kurang disukai oleh kalangan
yang menjaga tradisi atau kaum ortodoks. Sebab,
setiap pembacaan ulang memang biasanya berujung
pada evaluasi atas status quo. Sementara itu, evaluasi
akan berujung pada perubahan. Dan setiap perubahan
biasanya kurang disukai oleh power that be, kekuasaan
yang ada. Ini bukan hal yang aneh. Ini adalah hukum
besi perubahan (iron law of change) yang lazim kita
jumpai di mana-mana. Dalam setiap tradisi akan selalu
ada dua impetus atau dorongan –dorongan ke arah
perubahan dan penolakan atas perubahan itu.

Saya ingin menutup pengantar saya ini dengan
menegaskan kembali pentingnya usaha memperluas
secara terus-menerus “ruang mental/intelektual” dalam
umat. Apa yang saya sebut sebagai ruang mental di sini
adalah ruang di mana tersedia kesempatan yang cukup
bagi umat untuk melakukan penafsiran dan penafsiran
ulang. Perubahan-perubahan ke arah yang positif
dalam level kehidupan riil biasanya dimungkinkan
karena adanya ruang mental yang cukup dalam sebuah
masyarakat/umat untuk memperdebatkan sejumlah
alternatif penafsiran dan pembacaan.

Ruang mental semacam ini hanya bisa hidup jika ada
orang-orang yang mau mendedikasikan dirinya pada
kehidupan teoritis –kelompok yang oleh al-Qur’an
disebut sebagai kelas sosial yang melakukan tindakan
“yatafaqqahu fi al-din”, mendalami dan merefleksikan
soal-soal keagamaan. Inilah kelas kaum terpelajar yang
hidupnya didedikasikan untuk menelaah dan membaca
ulang tradisi; kaum yang menjalani vita contemplativa.
Kawan saya Abdul Moqsith Ghazali adalah contoh
orang yang menjalani hidup kontemplatif dan


                                                       — ii —
10/07/2011


          Mengantar Moqsith ke Mimbar
                                               Jaringan Islam Liberal
                         Pidato pengantar untuk Pidato Pembaruan Islam, TIM, 8 Agustus 2011

            Moqsith adalah pribadi yang lahir dari pesantren namun sangat kritis dengan dunia feodal
            pesantren. Jadi, jangan biarkan Moqsith berada dalam feodalisme pemikirian yang menindas.
            Sebab feodalisme pemikiran akan menghalangi dia dari kejujuran pemikiran. Mari kita
            cintai Moqsith dengan membiarkannya menjadi Moqsith dari pesantren yang menemukan
            dan menggali rumusan pembaharuan Islam Indonesia yang bertumpu pada modernitas,
                       keislaman dan keindonesiaan dalam konteks kekinian dan masa depan.


Terimakasih kepada Forum Pluralisme Indonesia yang         kerakyatan. Islam Indonesia memiliki dua sokoguru
telah mempercayai saya untuk mengantarkan teman,           Islam moderat (NU dan Muhammadiyah) yang
sahabat kita Abdul Moqsith Gazali ke mimbar ini.           mengakar jauh ke dalam tradisi Indonesia yang ragam
Sebentar lagi kita akan mendengarkan pikiran dan           dalam budaya. Islam Indonesia tak memiliki hirarki
pandangan Moqsith tentang pembaharuan pemikiran            pengambilan hukum agama yang monolitik meskipun
Islam yang berangkat dari, dan mengakar pada - tradisi     ada MUI. Kutub optimis ini menganggap perdebatan
pemikiran Islam Indonesia, terutama dari dunia             tentang bentuk negara telah selesai dan Pancasila
pesantren.                                                 merupakan sumbangan umat Islam yang diperas dari
                                                           nilai-nilai Islam. Dan satu lagi, Islam Indonesia paling
Beberapa waktu lalu saya berbincang dengan Fred            ramah terhadap perempuan.
Bunnell. Seperti kita tahu, Pak Fred bersama Pak
Ben Anderson pernah penulis satu dokumen yang              Sementara kutub pesimistis menganggap bahwa
kemudian dikenal sebagai Cornell paper “a preliminary      Islam Indonesia memang pernah menjadi Islam yang
Analysis of the October 1, 1965; coup in Indonesia.        toleran tapi kini jadi Islam yang gampang ngamukan.
Kali ini ia datang untuk menyiapkan tulisan tentang        Buku-buku keagamaan yang dijual jauh dari dunia
perkembangan Islam di Indonesia; sebuah tema yang          intelektual, isinya dangkal dan murahan, seperti
umum dan luas, dan sekaligus sulit untuk dipetakan.        buku “malam pertama di alam kubur, keajaiban
                                                           sedekah, cara pintar masuk sorga dan sejenisnya.
Kepada Pak Fred saya menjelaskan, bahwa menurut            Bagi kutub pesimis, Islam Indonesia tak lagi toleran,
saya (dengan pengecualian beberapa orang ahli seperi       mereka gemar menggunakan kekerasan dalam
Martin van Bruinessen), penggambaran tentang Islam         menyelesaikan perbedaan. Corak kebudayaannya
di Indonesia dewasa ini cenderung terpolarisasi ke         sangat anti budaya lokal Indonesia. Islam model ini
dalam dua kutub yang berseberangan. Di satu pihak,         kembali mempertanyakan keabsahan NKRI sembari
Islam Indonesia digambarkan begitu opitimisnya:            memaksakan ideologi Islamisme. Mereka dianggap
paling progresif, moderen, maju dan karenanya              menggunting dalam lipatan dalam berdemokrasi
dianggap paling cocok dengan perkembangan zaman.           dengan memasukkan ideologinya melalui perda-perda
Sebaliknya di kutub yang lain, Islam Indonesia             syariah. Mereka rajin kampanye menolak budaya asing
digambarkan begitu pesimistisnya. Islam Indonesia          sambil menyerap budaya Arab yang sebetulnya budaya
sedang menuju ke masa kegelapan. Kira-kira besok lusa      asing juga! Mereka gemar menghakimi kelompok
akan tamat, kiamat.                                        lawan dengan propaganda kampungan seperti Sepilis
                                                           (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme). Dan dalam
Tentu saja, kedua kutub itu memiliki argumen               isu perempuan, saya hanya bisa mengatakan betapa
yang sahih dan bisa dipertanggungjawabkan secara           mereka “astaghfirullah”.
metodologis. Kutub optimis misalnya menyajikan
data tentang betapa tak populernya partai-partai Islam     Namun menurut saya penggambaran serupa itu, baik
dibandingkan dengan partai nasionalis, atau nasionalis     yang optimis maupun yang pesismis, kurang memberi


                                                     — iii —
ruang pada eksplorasi pembaharuan Islam di Indonesia     yang bertumpu pada konsep mashlahah (mantaaf/
yang menawarkan produk pemikiran. Dalam konteks          kebaikan) untuk mengatasi persoalan-persoalan
pemikiran Islam moderen di Indonesia tentu saja kita     sosial. Dan karena Gus Dur tak selalu menjelaskan
harus menyebut tiga tokoh penting yang terkait dengan    bangunan metodologinya, bagi sebagian kalangan,
upaya pembaharuan yang kini menjadi jalan lurus yang     pandangan Gus Dur itu dianggap cenderung pragmatis
dipilih Moqsith. Tiga orang dimaksud adalah Ahmad        kompromistis.
Wahib, Cak Nur dan Gus Dur.
                                                         Bangunan pemikiran yang dikembangkan Moqsith,
Bagi saya, Moqsith adalah contoh sempurna yang           pada pendapat saya, merupakan perpaduan sempurna
memadukan model pencaharian pemikiran Islam              dari tradisi filsafat yang dirintis Wahib, tradisi kalam-
Wahib, Gus Dur dan Cak Nur. Meski khazanah               teologi yang dikembangkan Cak Nur, dan tradisi
pemikiran Wahib tak berbasis ilmu-ilmu Islam klasik      berfikir metodologis berbasis ushul fiqh yang bersifat
yang dikembangkan di Pesantren, namun Wahib              advokatif sebagaimana dikembangkan Gus Dur. Hal
mengajak kita untuk berpikir dan merenung tentang        ini sangat jelas tercermin dalam disertasi Moqsith yang
keislaman dan keindonessaan. Sementara Cak Nur           kemudian menjadi buku “Argumen Pluralisme Agama”.
dan Gus Dur menawarkan pemikiran genuine                 Distertasi itu diajukan bukan saja untuk kepentingan
Islam Indonesia yang mempertemukan tiga elemen           akademis melainkan sekaligus menawarkan jalan
penting bagi perkembangan Islam di Indonesia, yaitu;     keluar dari kekisruhan hubungan antar umat beragama
modernitas, keislaman dan keindonesaan.                  dewasa ini.

Jika Wahib bersikutat pada pemikiran filsafat yang       Pasca reformasi dan dengan memanfaatkan peluang
mempertanyakan secara sangat subtantif tentang           dari ruang demokrasi, beragam corak pemikiran Islam
eksistensi Tuhan yang diperhadapkan dengan               bermunculan. Kita pun terheran-heran atas lahirnya
kebebasan manusia untuk berikhtiar menghadapi            beragam fatwa aneh yang tak pernah terbayangkan
nestapa yang dialami manusia, Cak Nur bersikukuh         akan hadir dalam khasanah Islam Indonesia. Dimulai
dengan pemikiran kalam-teologi yang bertumpu pada        dengan fatwa larangan mengucapkan selamat natal,
konsep tauhid.                                           sampai munculnya “rukun Islam” baru yang khusus
                                                         diberlakukan bagi perempuan dengan penambahan
Bagi Cak Nur, apapun persoalannya tauhid harus           satu rukun lagi “kewajiban memakai jilbab”. Islam
menjadi jalan keluarnya. Setiap ketimpangan yang         corak ideologis ini begitu semarak sehingga bisa
terjadi, menurut Cak Nur, pastilah disebabkan oleh       dimengerti betapa pesimisnya para pengamat Islam
pengkhianatan dan pengingkaran manusia atas              Indonesia dan menganggap Islam Indonesia hampir
ajaranan tauhid. Persoalan sosial, menurutnya, terjadi   tamat.
ketika manusia menyembah selain Allah: menyembah
harta, jabatan, kekuasaan, kelompok, jenis kelamin       Atas berbagai persoalan itu, saya melihat Moqsith tak
dan menuhankan dirinya sendiri. Bagi Cak Nur, jalan      pernah panik. Kekuatan yang ditawarkan Moqsith
keluar untuk mengatasi persoalan ini adalah dengan       adalah pada metodologi dalam memaknai teks.
menegasi ilah (tuhan/berhala) serupa itu dan kembali     Moqsith juga sangat percaya, umat pada dasarnya
ke jalan tauhid.                                         punya kewarasan berpikir yang bisa mengedit berbagai
                                                         fatwa yang aneh-aneh. Keistimewaan Moqsith bagi
Sementara dari Gus Dur kita menemukan bangunan           saya adalah karena metodologi yang ia gunakan
pemikiran yang dikonstruksikan dari logika kerja         mengakar pada tradisi fiqh-ushul fiqh yang merupakan
hukum fiqh dan ushul fiqh. Bagi Gus Dur, agama           akar tradisi Islam Indonesia yang berbasis pesantren.
hadir bukan untuk Tuhan tetapi untuk manusia dan         Metodologi ini merupakan kata kunci dalam
kemanusiaan. Oleh karenanya agama harus mampu            membangun pemikiran keislaman, suatu wilayah
menjadi jalan keluar bagi setiap penistaan terhadap      yang tak terlalu diacuhkan Gus Dur karena Gus Dur
manusia.                                                 cenderung langsung menerapkannya, tapi juga tak
                                                         dikembangkan oleh Cak Nur karena kecenderungan
Kita akan menemukan bahwa pandangan-pandangan            Cak Nur yang lebih ke ranah kalam-teologi daripada
Cak Nur lebih berkutat di level pemikiran yang           fiqh.
mengandaikan “urusan perut” telah selesai. Sementara
pada Gus Dur, kita menemukan tawaran pemikiran           Dalam sebuah debat di UGM beberapa tahun lalu,
                                                      — iv —
saya menyaksikan bagaimana bangun metodologis             Moqsith untuk melanjutkan ide-ide rintisan
yang dikembangkan Moqsith dan berakar pada                pembaharuan Islam Gus Dur dan Cak Nur yang
tradisi pemikiran Islam klasik ini digunakan untuk        mengakar pada keragaman Indonesia. Dan untuk itu,
meng“kanfas”kan lawan debatnya. Ketika itu dia            Moqsith memiliki modal besar yang boleh jadi tak
disandingkan dengan seorang ustadz berhaluan              dimiliki para pemikir Islam lainnya.
keras (saya lupa namanya). Sang ustadz mengatakan,
“ mana tawaran anda dan kelompok anda untuk               Pertama, tentu penguasaan khazanah kitab klasik,
mengatasi persoalan negeri ini, jalan kami kan jelas,     sesuatu yang dikuasai oleh Cak Nur juga Gus Dur.
orang membunuh gunakan qishah, pancung, orang             Pada Moqisth, referensi itu digunakan untuk membaca
mencuri dipotong tangan, berzina kita rajam. Jelas        persoalan-persoalan kekinian Indonesia.
kan? Kalau anda tawarannya apa?” Ketika sang ustadz
menyampaikan pandangannya, para cheers leadersnya         Kedua, sebagaimana Cak Nur, Moqsith memiliki
terus berteriak “Allah Akbar”.                            kesantunan dalam berdebat dengan artikulasi yang
                                                          prima. Dia tak menunjukan otot tapi pikiran, dia
Lalu apa jawaban Moqsith? Pertama-tama dia jatuhkan       tak mengajak bertengkar tapi dialog. Di Takengon
lawannya dengan mengoreksi ayat yang tadi hanya           Aceh Tengah, lima jam perjalanan dari Banda Aceh,
dibaca terjemahannya saja. Moqsith berkata, “Ustadz,      misalnya, Moqsith datang pakai sarung dan peci
kalau soal itu ayatnya bukan itu tapi yang ini ...”.      dan bicara dalam khazanah klasik dengan argumen-
Moqsith lalu membacakan ayatnya (saya tidak hafal         argumen kukuh dalam khazanah ushul fiqh yang tetap
ayatnya). Dengan mengutip sejumlah teori ushul fiqh,      terjaga.
Moqsith menjawab tentang relativitas hukum “Kalau
sampeyan mau kawin tapi punya niat akan menyakiti         Ketiga, dari Gus Dur, Moqsith sepertinya memiliki
istri, maka kawin Anda haram hukumnya. Kalau              modal keberanian. Percaya Diri (pede) luar biasa.
sampeyan mau kawin karena anda sudah ngebet dan
tahu tidak bisa menahan diri dari perbuatan zina maka     Pada akhirnya, mari kita tunjukkan kecintaan kita pada
wajib hukumnya. Jadi semuanya tergantung para sebab       Moqsith dengan membiarkannya tumbuh berkembang
hukum dan tujuan hukum, bukan asal menerapkan             sebagai intelektual independen dan tak tinggal di
hukum”. Kira-kira demikian jawaban Moqsith.               menara gading. Mari kita tantang dia untuk menjawab
Jawaban Moqisth begitu bernas, cerdas, tenang dan         persoalan kebangsaan dengan pemikiran keagamaan,
tegas. Dan para cheers leader di pojok aula pun           pembaharuan konsep dan metodologis bukan hanya
bungkam. Saya bilang dalam hati “yes- Allah Akbar”!       dengan istighasah atau dzikir akbar.

Sering saya menyaksikan peristiwa semacam itu selama      Moqsith adalah pribadi yang lahir dari pesantren
saya bekerja bersama Moqsith. Di Aceh misalnya,           namun sangat kritis dengan dunia feodal pesantren.
kami bekerja selama 2 tahun Mahkamah Syari’yah            Jadi, jangan biarkan Moqsith berada dalam feodalisme
(Peradilan agama). Pasca tsunami, banyak perkara di       pemikirian yang menindas. Sebab feodalisme
Aceh yang tak bisa diselesaikan oleh hukum keluarga       pemikiran akan menghalangi dia dari kejujuran
yang ada karena tak ada preseden sebelumnya. Moqsith      pemikiran. Mari kita cintai Moqsith dengan
membantu mereka untuk menggunakan metode                  membiarkannya menjadi Moqsith dari pesantren yang
ushul fiqh. Dan karena referensi atas kitab klasik yang   menemukan dan menggali rumusan pembaharuan
dimiliki Moqsith luar biasa, maka para abu-tengku         Islam Indonesia yang bertumpu pada modernitas,
atau kyai lokal bisa dia “tundukkan”. Biasanya dia        keislaman dan keindonesiaan dalam konteks kekinian
akan mengutip ayat di luar kepala, lalu dia menyitir      dan masa depan.
teks-teks kitab kuning lengkap dengan nomor halaman
dan hitungan baris atas-bawahnya. Dan jangan              Hadirin sekalian, mari kita sambut pembaru pemikiran
dikira mereka tidak mengeceknya. Pada pertemuan           Islam Indonesia penerus para pembaru Islam terdahulu,
berikutnya mereka mengkonfirmasi bahwa mereka             Abdul Moqsith Ghazali!
telah melihat referensi yang Moqsith sebutkan itu.

Saya memberi judul pengantar ini “ Mengantarkan
Moqsith ke Mimbar”. Bagi saya, ini sebuah ungkapan
metafora. Kita harus bersama-sama mengantarkan
                                                     —v—
Daftar Isi
Merawat Agama dengan Penafsiran	                                           i
Mengantar Moqsith ke Mimbar	                                             iii
Menegaskan Kembali Pembaruan Pemikiran Islam	                            1
Kritik atas Wahabisme	                                                   9
Menahan Laju Negara Islam Indonesia	                                    11
Wahabisme: Alhamdulillah atawa Innalillah?	                             14
Kontekstualisasi Doktrin Ahmadiyah	                                     16
Siapa Pemimpin Islam Indonesia?	                                        19
SBY, Ciketing dan Perlindungan Non-Muslim	                              21
Merayakan Idul Fitri 1431 H “Momen Penghapusan Kezaliman”	              23
Mistifikasi Mudik Lebaran	                                              25
Khadijah Tak Berpuasa Ramadan	                                          27
Waktu Isra-Mikraj Nabi Muhammad	                                        28
Pengertian Umat Islam Indonesia	                                        30
Sejumlah Paradoks dalam Pidato Hasyim Muzadi	                           31
Pluralisme Agama di Indonesia: Masihkah Kita Bisa Berharap?	            33
Menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1431 H. Kelumit Sejarah Pembentukan
Kalender Islam	                                                    35
Islam dan Pluralitas(isme) Agama	                                       37
Menyambut Ultah NU ke 83 NU dan Passing Over Pemikiran	                 43
Teologi Ramadan dan Kerukunan Antar-Umat	                               45
Dari Kartini Sampai Feminis Islam: Menyambut Hari Kartini 21 April 2007	 47
Kultur Takfir	                                                          49
Wahabisasi “Islam-Indonesia”	                                           51
Ismail atau Ishak?	                                                     53
Stop Demo Anti-JIL	                                                     55
Sesat dan Menyesatkan	                                                  57
Syahrur	58

                                    — vi —
Agama, Seni, dan Regulasi Pornografi	     60
Kekenyalan Syariat	                       62
Ketika Negara Mengintervensi Agama	       63
Menilik Metode Qiyas Syafi’i	             66




                                — vii —
«
                                                                                                           09/07/2011


       Menegaskan Kembali Pembaruan
              Pemikiran Islam
                                              Oleh Abdul Moqsith Ghazali
                       Naskah Pidato Pembaruan Islam di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 8 Juli 2011

             Darimana penegasan pembaruan pemikiran Islam ini mesti dimulai. Tentu pertama-tama
             dengan cara membenahi cara pandang kita terhadap al-Qur’an, mengerti pokok-pokok risalah
             kenabian, lalu mengambil sikap yang tepat dalam menghadapi khazanah pemikiran dan
             karya para ulama terdahulu, serta benar dalam mendudukkan akal dan memfungsikannya
                                         dalam proses penafsiran wahyu.




P ditegaskan, karena beberapa hal. Pertama, di
Pengantar                                                    waqi’iyyah al-Qur’an) itu, kita menjadi tahu bahwa al-
                                                             Qur’an tak boleh dilucuti dari aspek kultural-sosialnya.
     okok-pokok pembaruan pemikiran Islam penting            Di sinilah kita membutuhkan bukan hanya tafsir baru
                                                             al-Qur’an, melainkan juga metodologi baru dalam
tengah situasi zaman yang kian kompleks, kita tak            memahami al-Qur’an.
cukup hanya bersandar pada pikiran-pikiran keislaman
lama yang sudah tak relevan dengan konteks zaman.            Ketiga, sejumlah orang hendak menjadikan Islam
Sebab, apa yang dirumuskan ulama terdahulu mungkin           sebagai ladang persemaian diskriminasi dan
telah berhasil memecahkan sejumlah masalah di masa           dehumanisasi. Kita menyaksikan kian tingginya
lalu, tapi belum tentu terampil menyelesaikan masalah        diskriminsi terhadap perempuan, misalnya. Padahal,
di masa kini. Al-Qur’an membuat metafor menarik              terang benderang bahwa diskriminasi berbasis
mengenai tak abadinya keberlakuan sesuatu yang lama.         kelamin adalah tidak adil, karena seseorang tak
Dikisahkan al-Qur’an mengenai perilaku Ashhabul              pernah bisa memilih lahir dengan kelamin apa—laki-
Kahfi (para pemuda yang tertidur lama dalam gua)             laki atau perempuan. Namun, sebagian orang tetap
yang harus menukar koin, karena koin lama sudah tak          berpendirian bahwa perempuan adalah manusia tak
laku lagi. Belajar dari semangat ijtihad para ulama salaf    sempurna; separuh diri perempuan adalah manusia,
seperti Imam Syafii, Imam Hanafi, dan lain-lain, kita        dan separuhnya yang lain merupakan setan yang
memerlukan sejumlah pembaruan di berbagai bidang             mengganggu keimanan laki-laki. Pandangan misoginis
keislaman.                                                   ini menghuni sebagian pikiran umat Islam, dulu dan
                                                             sekarang.
Kedua, di tengah berbagai usaha yang mengerdilkan
al-Qur’an, kita membutuhkan cara pandang baru                Diskriminasi dan intimidasi juga mengarah pada
terhadap al-Qur’an. Jika sebagian orang memberikan           kelompok minoritas; sekte minoritas dan agama
tekanan yang terlampau kuat pada aspek hukum dalam           minoritas. Sekelompok orang yang mengatasnamakan
al-Qur’an, maka kita harus mendalaminya dengan               sekte mayoritas dan agama mayoritas di negeri ini
pemahaman utuh tentang wawasan moral-etik al-                suka menempuh jalan kekerasan. Dan kekerasan
Qur’an. Tak cukup membaca al-Qur’an sekedar untuk            itu terus meluas dengan kecepatan api membakar
memperoleh kenikmatan kata dan bahasa, kita harus            hutan. Sejauh yang bisa dipantau, kekerasan atas
melangkah untuk membuka cakrawala makna. Jika                nama agama yang kerap terjadi di Indonesia bukan
sebagian orang hanya memposisikan al-Qur’an berupa           penghukuman terhadap orang yang bersalah, tapi
deretan huruf dan aksara, maka kita perlu meletakkan         lebih merupakan pembantaian terhadap mereka yang
makna al-Qur’an dalam konteks sejarah. Al-Qur’an             tak berdaya. Bahkan, kecenderungan untuk saling
bukan unit matematis yang statis, melainkan gerak            mengkafirkan di internal Islam makin kuat. Di mana-
sejarah yang dinamis. Melalui pemahaman terhadap             mana bermunculan “teologi pemusyrikan”, “teologi
konteks kesejarahan al-Qur’an (asbab nuzul wa                pengkafiran”, “teologi penyesatan” terhadap umat
                                                        —1—
«
Islam lain. Dari teologi seperti ini, maka meletuslah     kebesaran Islam adalah dimungkinkannya keberagaman
misalnya peristiwa Cikeusik Banten. Di Cikeusik,          pemaknaan terhadap ayat-ayat al-Qur’an. Satu ayat
kematian datang sebagai manifestasi keberingasan tafsir   ketika sampai pada orang berbeda selalu terbuka
agama. Dalam kaitan itu, kita perlu menyusun teologi      peluang bagi lahirnya produk tafsir yang berbeda.
yang inklusif-pluralis, bukan yang diskriminatif dan      Itu sebabnya dalam literatur tafsir dikenal beragam
intimidatif.                                              jenis tafsir, yaitu tafsir ‘ilmi (tafsir yang berbasis pada
                                                          temuan sains), tafsir fiqhi (tafsir berbasis hukum),
Keempat, “perang” telah mendominasi diskursus umat        tafsir adabi (tafsir bercorak sastra), tafsir ijtima’i (tafsir
Islam belakangan. Bahwa pedang harus dihunus dan          berwatak sosial), dan tafsir sufi (tafsir dengan sentuhan
pistol segera ditembakkan pada orang-orang yang           pengalaman spiritual). Dengan perkataan lain, ada
sudah didefinisikan menyimpang dan memusuhi Allah.        tafsir yang berfokus pada tata bahasa, latar belakang
Frase “murka dan kemarahan Allah” (ghadlab Allah)         sejarah, implikasi juridis, ajaran teologis, pendidikan
yang ada dalam Islam digunakan untuk membenarkan          moral, makna alegoris, dan seterusnya. Menariknya,
metode perang seperti pembunuhan massal dan               tafsir generasi yang satu bersifat independen, tak
terorisme. Pandangan seperti ini sekalipun digali         bergantung pada tafsir generasi lainnya.
dari khazanah keislaman klasik, saatnya diperbaharui
kembali. Sebab, Islam sejatinya tak menghalalkan          Kekayaan bahasa dan keindahan diksi al-Qur’an
pembantaian. Kita tak menyalahkan kucing karena           memungkinkan kita untuk menginvestigasi makna-
memakan tikus, atau anjing karena menyerang kucing.       makna al-Qur’an. Jika jurisprudensi hukum Islam
Kita mempertanyakan manusia yang memancung                fokus pada elaborasi sistematis ajaran-ajaran al-
manusia lain. Manusia adalah maha karya Allah. Dan        Qur’an mengenai perbuatan badani manusia (af ’al
Allah menghargai manusia begitu rupa (wa laqad            al-mukallafin), maka tasawwuf bergerak pada wicara
karramna bani Adam).                                      batin nurani manusia. Sementara teologi berkutat pada
                                                          bagaimana merumuskan dan mengkonseptualisasikan
Pertanyaannya darimana penegasan pembaruan                Tuhan seperti yang dipahami melalui teks-teks al-
pemikiran Islam ini mesti dimulai. Tentu pertama-         Qur’an. Para ulama, dari dulu hingga sekarang, terus
tama dengan cara membenahi cara pandang kita              mencurahkan seluruh kehidupannya untuk memahami
terhadap al-Qur’an, mengerti pokok-pokok risalah          al-Qur’an. Di ruangan kecil al-Qur’an itu, 30 Juz,
kenabian, lalu mengambil sikap yang tepat dalam           para penafsir berhimpitan untuk menembus “batas”
menghadapi khazanah pemikiran dan karya para ulama        pengertian al-Qur’an.
terdahulu, serta benar dalam mendudukkan akal dan
memfungsikannya dalam proses penafsiran wahyu.            Penelusuran makna dan kerja menafsirkan al-
                                                          Qur’an seperti itu merupakan cara manusia untuk
Pokok Al-Qur’an                                           berpartisipasi dalam Firman Tuhan. Bentuk partsipasi
                                                          paling bertanggung jawab dalam memaknai al-Qur’an
Al-Qur’an adalah wahyu Allah. Ia memang berbahasa         adalah dengan mengkerangkakannya ke dalam sebuah
Arab, tapi yakinlah bahwa ia tak memiliki hubungan        bangunan metodologi. Para ulama terdahulu telah
kepemilikan dengan orang Arab. Al-Qur’an tak identik      menyusun sejumlah metodologi untuk menafsirkan
dengan etnik Arab. Bahasa Arab dipinjam Allah untuk       al-Qur’an. Namun, berbagai pihak menilai bahwa
memudahkan percakapan antara Nabi Muhammad dan            metodologi yang disuguhkan para ulama terdahulu
Malaikat Jibril. Allah sudah berjanji dalam al-Qur’an     terlampau rumit, sehingga tak mudah diakses banyak
bahwa Ia tak akan pernah mengirimkan pesan wahyu          orang. Persyaratan-persyaratan kebahasaan dan
kecuali dengan bahasa manusia (seorang nabi) yang         kemestian-kemestian gramatikal yang ditetapkan
kepadanya ia diwahyukan. Melalui bahasa lokal Arab        para ulama ushul fikih dalam menafsirkan al-Qur’an
yang partikular itu, Nabi Muhammad bisa mengerti          misalnya menimbulkan perasaan minder umat Islam
pesan universal al-Qur’an. Dan kita yang hidup            ketika berhadapan dengan al-Qur’an.
sekarang pun bisa ambil bagian dari proses pemaknaan
al-Qur’an.                                                Kita memerlukan metodologi sederhana dan ringkas
                                                          dalam menafsirkan al-Qur’an, sehingga penafsiran
Bentuk teks al-Qur’an telah sempurna, tapi ketahuilah     al-Qur’an bisa dilakukan banyak orang. Misalnya,
bahwa maknanya tetap cair. Tak ada interpretasi           penting diketahui bahwa Qur’an yang terdiri dari
final terhadap al-Qur’an. Bahkan, salah satu sumber       ribuan ayat, ratusan surat, puluhan fokus perhatian,
                                                     —2—
«
sekiranya dikategorisasikan hanya terdiri dari dua jenis.   pengkaji Islam, upaya itu dikenal dengan istilah “tatsbit
Pertama, ayat fondasional (ushul al-qur’an). Masuk          al-tsawabit wa taghyir al-mutaghayyirat”. Dengan
dalam jenis kategori pertama ini adalah ayat-ayat           perkataan lain, kita tak boleh mendogmakan yang
yang berbicara tentang tauhid, cinta-kasih, penegakan       kontekstual, dan mengkontekstualkan yang tak tetap
keadilan, dukungan terhadap pluralisme, perlindungan        (tatsbit al-mutaghayyirat wa taghyir al-tsawabit).
terhadap kelompok minoritas serta yang tertindas. Saya
berpendirian bahwa ayat fondasional seperti itu tak         Risalah Kenabian
boleh disuspendir dan dihapuskan. Meminjam sebuah
peribahasa, ayat ushul tak akan lekang oleh panas           Umat Islam diperintahkan membaca dua kalimah
dan tak lapuk oleh hujan. Ia bersifat abadi dan lintas      Syahadat. Syahadat pertama (asyhadu an la ilaha illa
batas—batas etnis juga agama. Tak ada agama yang            Allah) adalah syahadat primordial. Yaitu janji awal kita
datang kecuali untuk mengusung pokok-pokok ajaran           untuk bertuhan hanya kepada Allah Yang Esa, bukan
fondasional itu.                                            kepada yang lain, sebagaimana dipaparkan ayat “alastu
                                                            bi rabbikum qalu bala syahidna”. Sementara syahadat
Kedua, ayat partikular (fushul al-Qur’an). Ayat al-         kedua (wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah)
Qur’an yang tergabung dalam jaringan ayat partikular        adalah syahadat komunal. Pada syahadat pertama,
adalah ayat yang hidup dalam sebuah konteks spesifik.       umat Islam dengan umat agama lain bisa berjumpa.
Sejumlah pemikir Islam memasukkan ayat jilbab, aurat        Sementara, pada syahadat kedua, umat Islam dengan
perempuan, waris, potong tangan, qisas, ke dalam            umat agama lain bisa berpisah. Itu berarti kita tak
kategori ayat fushul. Tahu bahwa ayat itu bersifat          bisa memaksa umat agama lain agar meyakini dan
partikular-kontekstual, maka umat Islam seharusnya          mengakui kenabian Muhammad SAW dan meyakini
tak perlu bersikeras untuk memformalisasikannya             detail syariat yang dibawanya. Bagi saya, soal mengakui
dalam sebuah perangkat undang-undang. Sebab, yang           atau tak mengakui kenabian dan detail syariat
dituju dari sanksi-sanksi hukum dalam al-Qur’an             Muhammad SAW lebih merupakan soal mereka, dan
misalnya adalah untuk menjerakan (zawajir), bukan           bukan soal kita (umat Islam).
yang lain. Yang menjadi perhatian kita adalah tujuan
hukum dan bukan hurufnya [al-‘ibrah bi al-maqashid          Namun, ingatlah bahwa Islam adalah agama yang
al-syar’iyah la bi al-huruf al-hija’iyyah]. Jika dengan     sangat terbuka. Dalam hadits Nabi yang kemudian
hukum penjara, tujuan hukum sudah tercapai, maka            menjadi dasar penetapan rukun iman, umat Islam
kita tak perlu untuk kembali ke bentuk hukum lama.          diperintahkan untuk mengimani seluruh nabi-nabi dan
                                                            utusan Allah. Sejumlah riwayat menuturkan bahwa tak
Ketika belajar kitab fikih di pesantren, saya tahu bahwa    kurang dari 124 ribu nabi yang dikirim Allah dan 313
bab yang paling jarang dikunjungi para ustadz dan           rasul yang diutus ke bumi. Jika tak bisa mengetahui
santri yang mengaji adalah bab tentang hukum pidana         seluruh rasul Allah, umat Islam diperintahkan untuk
Islam (bab al-jinayat). Mungkin para ustadz itu telah       mengimani 25 rasul yang nama-namanya sudah
menyadari bahwa sebagian besar hukum pidana Islam           tercantum dalam al-Qur’an. Rasulullah diperintahkan
sudah tak cocok dengan kondisi sekarang. Ormas              untuk berkata, “aku bukanlah yang pertama dari
besar Islam Indonesia seperti NU dan Muhammadiyah           deretan rasul-rasul Allah” (ma kuntu bid’an min al-
pun tak pernah mengusulkan pemberlakuan hukum               rusul). Nabi Muhammad hanya salah satu dari ribuan
pidana Islam. Mereka tahu bahwa kita sudah hidup di         nabi-nabi itu.
abad 21. Semangat zaman telah memaksa kita untuk
meninggalkan sanksi-sanksi hukum primitif yang              Sebagian ajaran yang dibawa Nabi Muhammad ada
brutal seperti hukum pancung, dan lain-lain.                yang baru, dan sebagiannya yang lain lebih merupakan
                                                            pengembangan dan modifikasi dari ajaran para nabi
Kategorisasi ayat seperti itu kiranya bisa membantu         sebelumnya. Allah berfirman, “inna hadza lafi al-
umat Islam dalam memahami pesan dasar al-Qur’an.            shuhuf al-ula shuhuf Ibrahim wa Musa” [sesungguhnya
Bahwa dalam al-Qur’an, ada ayat yang tetap-tak              pokok-pokok ajaran moral al-Qur’an sudah ada dalam
berubah (al-tsawabit) dan ada ayat yang maknanya            mushaf-mushaf yang pertama, yaitu Mushaf Nabi
sangat kontekstual; tidak tetap dan lentur (al-             Ibrahim dan Mushaf Nabi Musa]. Jika kita ringkaskan,
mutaghayyirat). Yang tetap, kita dogma-statiskan.           risalah kenabian yang dibawa Nabi Muhammad
Sementara, terhadap yang al-mutaghayyirat, kita             (mungkin juga para nabi lain) adalah sebagai berikut:
dinamisasi dan kontekstualisasikan. Di lingkungan para
                                                       —3—
«
Pertama, risalah kenabian adalah risalah tauhid,           al-Banna, pemikr Islam dari Mesir, dalam bukunya al-
bukan risalah syirik. Semua nabi, termasuk Nabi            Jihad mengatakan, anna al-jihad al-yawm laysa huwa an
Muhammad, membawa ajaran tauhid. Bahwa Tuhan               namuta fi sabilillah wa lakin an nahya fi sabilillah (jihad
yang kita sembah adalah Allah Yang Esa. Tetapi, yang       hari ini bukan untuk mati di jalan Allah, melainkan
problematik selalu pada tingkat konseptualisasinya.        untuk hidup di jalan Allah). Dengan perkataan lain,
Yahudi, Kristen, dan Islam berbeda dalam merumuskan        jihad adalah tindakan menghidupkan dan bukan
soal ke-Esa-an Allah. Di internal Islam sendiri terdapat   mematikan. Al-Qur’an menegaskan bahwa barang
perbedaan amat tajam antara Mu’tazilah, Asy’ariyah,        siapa membunuh satu jiwa sama dengan membunuh
juga Maturidiyah dalam menjelaskan Esanya Allah.           semua jiwa. Dan barang siapa menghidupkan satu jiwa,
Bahkan, Imam Asy’ari (peletak dasar teologi Sunni) dan     sama dengan menghidupkan semua jiwa. Itulah sendi
Asya’irah (pengikut Imam Asy’ari) berbeda pandangan        ajaran Islam yang menjunjung kemanusiaan. Tuhan
dalam menjelaskan sifat dan dzat Allah.                    menciptakan manusia secara berbeda-beda agar mereka
                                                           saling mengakui dan memahami (li ta’arafu), bukan
Saya meyakini bahwa Allah Yang Esa dan Yang                untuk saling membasmi.
Mutlak tak mungkin dijelaskan oleh manusia yang
relatif. Karena itu, diperlukan kerendah-hatian dari       Perbedaan keyakinan dan agama pun bukan alasan
setiap manusia untuk tak mengabsolutkan konsep             untuk merendahkan kemanusiaan seseorang. Apalagi
ketuhanannya. Kita mesti belajar untuk tak jadi            untuk membunuh. Sebab, soal keyakinan adalah soal
manusia yang menganggap diri selalu benar. Amat            individual antara manusia dengan Tuhannya. Dan
berbahaya sekiranya setiap orang mengklaim bahwa           Allah memberi kebebasan penuh bagi manusia untuk
rumus ketuhanan versi dirinya adalah yang paling           memilih suatu agama atau keyakinan. La ikraha fi
benar. Itu bukan hanya menunjukkan kepongahan si           al-din (tak ada paksaan dalam soal agama). Dengan
perumus, melainkan juga telah mengecilkan kebesaran        demikian, orang yang membunuh umat agama lain
Allah yang tak berhingga itu. Definisi manusia tentang     hanya karena soal perbedaan agama sesungguhnya
Allah Yang Esa sesungguhnya lebih merupakan fantasi        telah melanggar risalah kemanusiaan yang dibawa
dan imajinasi manusia tentang Yang Esa, dan bukan          Nabi Muhammad. Sejarah menunjukkan hubungan
Yang Esa itu sendiri. Bagi saya, Tuhan Yang Esa            harmonis antara Nabi Muhammad dengan para tokoh
tetaplah Allah yang tak terungkap dan tak terjelaskan      agama lain. Mulai dari kebiasaan tukar menukar
(kanzan makhfiyan). Gabungan konsep ketuhanan tak          hadiah antara Nabi Muhammad dan Muqauqis
mungkin bisa menembus tirai kegaiban ketuhanan.            (raja Iskandariah Mesir) yang Kristen sampai kepada
                                                           keikutsertaan Mukhairiq (tokoh Yahudi Madinah)
Kedua, risalah kenabian adalah risalah kemanusiaan,        dalam Perang Uhud bersama Nabi. Bahkan, dalam
bukan risalah pembantaian. Setiap nabi lahir untuk         al-Qur’an ada pengkuan bahwa orang yang paling
menegaskan pentingnya penghargaan terhadap                 enak dijadikan sebagai sahabat atau teman adalah
nilai-nilai kemanusiaan. Salah satu poin dalam             orang-orang Nashrani. [wa latajidanna aqrabahum
Khutbah Wada’ Nabi Muhammad yang terkenal itu              mawaddatan li alladzina amanu alladzina qalu inna
adalah penegasannya untuk menghargai manusia.              nashara].
Ia berkata, inna dima’akum wa amwalakum wa
a’radlakum haramun ‘alaikum kahurmati yawmikum             Ketiga, traktat kenabian adalah traktat etik dan
hadza wa baladikum hadza wa syahrikum hadza.               bukan traktat politik. Said al-Asmawi berkata bahwa
Tak boleh ada darah yang tumpah serta martabat             Allah menghendaki Islam sebagai agama, tapi para
yang ternoda. Karena itu, saya tak mengerti jika ada       pemeluknyalah yang membelokkannya menjadi
sekelompok orang yang mengaku sebagai pengikut             politik-siyasah [inna Allah arada al-Islam diynan wa
Nabi Muhammad tiba-tiba membantai pengikut                 arada bihi al-nas an yakuna siyasatan]. Itu sebabnya
Nabi Muhammad yang lain. Tak ada alasan jihad              tak ada perintah eksplisit dalam al-Qur’an agar Nabi
fisabilillah dibalik rentetan kekerasan atas nama agama    Muhammad mendirikan sebuah negara. Tak ada cetak
di Indonesia.                                              biru pemerintahan dalam Islam. Nabi Muhammad
                                                           melalui hadits-haditsnya tak juga mengintroduksi jenis
Jihad disyariatkan untuk merawat kehidupan bukan           pemerintahan tertentu. Pengelolaan pemerintahan
untuk menyongsong kematian. Zainuddin al-Malibari          Madinah adalah improvisasi politik sementara Nabi
menegaskan bahwa membantu sandang, pangan, dan             Muhammad ketika pengaturan jenis pemerintahan
papan orang miskin adalah bagian dari jihad. Jamal         yang ideal dan efektif belum ditemukan. Sebab, untuk
                                                     —4—
«
urusan duniawi, dengan terus terang Nabi Muhammad             relevan untuk memecahkan problem masa kini. Kita
mengaku ketak-cakapan dirinya. Nabi bersabda,                 tak mungkin mengcopy pemikiran-pemikiran lampau
“antum a’lamu minni bi umuri duniyakum” [engkau               yang berlangsung di kawasan Timur Tengah untuk
lebih tahu tentang urusan duniawi kalian].                    diterapkan di Indonesia, tanpa proses kontekstualisasi
                                                              bahkan modifikasi. Yang bisa kita lakukan adalah
Dengan demikian, berdirinya negara Indonesia                  menangkap spiritnya dan tak melulu memperhatikan
yang berjangkar pada Pancasila dan UUD 1945 tak               teksnya.
bertentangan dengan risalah kenabian. Indonesia
memang tak dirancang sebagai negara Islam. Tapi,              Karya para ulama klasik bukan wahyu, melainkan tafsir
bukankah di negara ini, umat Islam bebas menjalankan          atas wahyu. Ia merupakan produk ijtihad. Persoalan
ajaran agama Islam. Tak pernah ada halangan bagi              siapa yang merumuskannya, untuk kepentingan apa,
umat Islam untuk melaksanakan syariat Islam.                  dalam kondisi sosial yang bagaimana dirumuskan,
Umat Islam boleh melaksanakan shalat; dimana saja,            serta lokus geografis seperti apa, dengan epistemologi
kapan saja, dan berapa saja. Mau puasa sepanjang              apa akan cukup besar pengaruhnya dalam proses
masa, tak dilarang. Umrah berkali-kali juga boleh.            pembentukan sebuah karya. Karena itu seharusnya
Memakai jilbab, berjenggot lebat, bercelana di atas           kita meletakkan sebuah pemikiran dalam susunan
tumit, pun tak ada hambatan. Kebebasan umat Islam             konfigurasinya saat pemikiran itu diproduksi di
dalam menjalankan ajaran agama bahkan tafsir-tafsir           satu sisi, dan dalam konteks epistemologisnya di sisi
keagamaan ini menyebabkan tak dibutuhkannya upaya             lain. Mengetahui konteks-konteks tersebut bukan
formalisasi syariat Islam. Memformalisasikan ajaran           hanya penting bagi pengayaan pengetahuan sejarah
yang sudah hidup dan lama terpraktekkan dalam                 sosial suatu pemikiran, melainkan juga berguna
masyarakat adalah buang-buang energi dan tindakan             untuk kebutuhan kontekstualisasi pemikiran lama
sia-sia.                                                      atau bahkan penyusunan pemikiran keislaman baru,
                                                              yaitu jenis pemikiran yang bertumpu pada problem-
Sikap terhadap Karya Lampau                                   problem kemanusiaan dan kondisi obyektif masyarakat
                                                              Indonesia.
Umat Islam selalu menunjukkan keterkaitannya
pada masa lalu. Tumpukan kitab kuning peninggalan             Kedua, kita mesti memilah-milih antara teks
intelektual ulama terdahulu tak susut bahkan makin            yang relevan dan yang tak relevan. Kita tak bisa
meninggi di lembaga-lembaga pendidikan Islam                  mengawetkan tafsir-tafsir lama yang cenderung
Indonesia. Pesantren sebagai lembaga tafaqquh fi al-din       menistakan perempuan dan umat agama lain. Kita
di Indonesia intensif mengajarkan, juga mendiskusikan,        tak mungkin mempertahankan pandangan ulama
hasil karya para ulama salaf. Kreasi intelektual para         yang melarang perempuan menjadi pejabat publik
ulama klasik itu telah menjadi sokoguru intelektual           atau menghalalkan penumpahan darah umat agama
ulama Indonesia, dari dulu hingga sekarang. Bahkan,           lain. Tafsir yang demikian tak boleh mendominasi
keulamaan seseorang belakangan amat ditentukan                percakapan intelektual kita hari ini. Betapun
apakah yang bersangkutan memiliki kemampuan                   canggihnya sebuah pemikiran jika berujung pada
mengakses kitab kuning atau tidak. Secara berseloroh,         tindak kekerasan, maka ia batal dengan sendirinya.
sebagian teman berkata; sekiranya di rak buku                 Karena itu, sekiranya mungkin, kita perlu mencari
seseorang kita temukan jejeran kitab kuning, maka             tafsir lama lain yang lebih mengapresiasi perempuan
pastilah ia seorang ulama. Sebaliknya, jika lemari buku       dan menghargai umat lain. Jika tak mungkin,
seseorang penuh dengan “kitab putih”, maka yang               kita seharusnya memproduksi tafsir baru yang
bersangkutan tak mungkin disebut ulama.                       memanusiakan kaum perempuan dan menghargai
                                                              umat non-Muslim.
Pertanyaannya, bagaimana seharusnya kita
memperlakukan khazanah keislaman klasik itu?                  Sementara pandangan lama yang masih relevan dan
Pertama-tama, mestilah disadari bahwa sebuah karya            masih bisa kita resepsi untuk memuluskan jalan bagi
intelektual tak lahir dari ruang kosong. Ia muncul            dialog dan kerja sama agama-agama di Indonesia di
dari sebuah konteks. Konteks keindonesiaan kita hari          antaranya adalah pandangan Muhyiddin Ibn Arabi.
ini tak sama dengan konteks ketika karya ulama salaf          Ketika para ahli fikih bersilang-sengketa mengenai
itu disusun. Karena itu, tak bijaksana kalau kita terus       kedudukan non-Muslim di negeri mayoritas Muslim,
memobilisasi pandangan keislaman lama yang tak                Ibn Arabi melangkah jauh dengan mengintroduksi
                                                          —5—
«
agama cinta. Perbedaan-perbedaan di ranah eksoterik       tafsir kebencian dan menghalalkan kekerasan akan
fikih ini luluh dalam agama cinta Ibn Arabi. Salah satu   turut memerosokkan reputasi agama itu.
deretan bait puisinya adalah:
                                                          Islam telah berumur 1500-an tahun. Ia akan tetap
                                                          abadi dan diminati sekiranya ditopang dengan tafsir-
    Aku pernah menyangkal sahabatku                       tafsir keislaman yang pro-perdamaian, bukan pro-
    karena agamaku tak sama dengan agamanya               kekerasan. Tafsir-tafsir lama yang pro-kekerasan dan tak
    (Kini) hatiku telah terbuka                           menghargai nilai-nilai kemanusiaan tak mungkin kita
    Menerima semua bentuk (agama)                         lestarikan. Namun, tafsir-tafsir terdahulu yang pro-
    Padang rumput bagi rusa,                              perdamaian pastilah akan tetap berguna buat tegaknya
    Rumah untuk berhala-berhala                           Islam yang ramahtan lil alamin. Terhadap karya ulama
    Gereja bagi para pendeta,                             terdahulu yang pro-pluralisme dan perdamaian, berlaku
    Ka`bah untuk orang tawaf                              kaidah, ”al-Muhafadlah ’ala al-qadim al-shalih wa al-
    Papan-papan Taurat                                    alkhdzu bi al-jadid al-ashlah” [memelihara yang lama
    Lembar-lembar Qur’an                                  yang masih maslahat dan mengambil yang baru yang
    Aku mereguk agama cinta                               lebih maslahat].
    Kemana pun dia menuju
    Cinta kepada-Nya                                      Posisi Akal
    adalah agama dan keyakinanku
                                                          Ajaran Islam tak ditujukan kepada anak-anak,
Lewat tasawwuf-falsafinya, Ibn Arab membuka tirai         melainkan kepada manusia dewasa yang memiliki
dan menghapus sekat di antara para pemeluk agama          kemampuan rasional utuh. Dengan akalnya manusia
yang berbeda. Sebagaimana Ibn Arabi, Jalaluddin Rumi      bisa menentukan yang baik dan yang tidak. Jalaluddin
menyuarakan pendapat serupa. Bahwa visi pokok             Rumi dalam Matsnawi pernah berkata, “Wahai
ajaran agama adalah cinta dan kasih. Kerap diceritakan    saudara, engkau adalah pikiran itu sendiri, dirimu
bahwa di antara murid-murid Rumi terdapat orang-          selebihnya bukanlah apa-apa kecuali otot dan tulang”.
orang Nashrani dan Yahudi. Apa yang dirintis Ibn          Menurut Ibnu Bajjah, berfikir adalah fungsi tertinggi
Arabi dan dilakukan Rumi adalah jalan untuk               manusia. Berfikir akan mengantarkan manusia
menampilkan keramahan agama. Itu senafas dengan           berjumpa dengan Tuhan sebagai Sang Akal Aktif. Ibnu
teks agama yang menggambarkan ketak-terbatasan            Thufail dalam novel filsafatnya, Hayy ibn Yaqzhan,
rahmat dan kasing sayang Allah. Teks itu berbunyi,        mengisahkan seorang anak yang dibuang ke pulang
”wa rahmati wasi’at kulla sya’in” [sesungguhnya kasih     kosong. Ia diasuh hewan dan dididik alam. Di tengah
sayang-Ku melampaui semua hal].                           rimba itu, dengan akalnya yang masih berfungsi, ia bisa
                                                          berfilsafat dan berteologi, dan akhirnya bisa menyatu
Introduksi agama cinta di saat kekerasan datang           dengan Tuhan. Apa yang dikatakan para filosof itu
bertubi-tubi adalah oasis. Kita ingin mengembalikan       paralel dengan apa yang ditegaskan al-Qur’an. Bahwa
Islam kepada semangat dan khittah awalnya sebagai         Allah telah mengilhamkan kepada manusia suatu
agama cinta bukan agama prasangka. Agama yang             kemampuan untuk membedakan antara yang baik dan
terus-menerus dikampanyekan dengan jalan teror dan        yang buruk [faalhamaha fujuraha wa taqwaha].
kekerasan akan kehilangan simpati dari pemeluk agama
itu, apalagi dari orang lain. Sementara agama yang        Akal yang dimiliki manusia merupakan anugerah
direklamekan dengan cinta, maka ia akan mengundang        Allah paling berharga. Ia tak hanya berguna untuk
selera.                                                   mencapai pemahaman yang mendalam tentang yang
                                                          baik dan yang buruk, tapi juga untuk menafsirkan
Sejarah agama-agama menunjukkan perihal naik dan          kitab suci. Tanpa akal, kitab suci tak mungkin bisa
turunnya pamor satu agama. Bahkan, ada agama yang         dipahami. Menurut Ibn Rushd, dalam agama, akal
telah ribuan tahun hidup kemudian sirna ilang kerta       berfungsi untuk menakwilkan kitab suci ketika teks
ning bumi. Pasti ada banyak faktor kenapa agama-          kitab suci tak bisa dikunyah akal sehat. Sebuah hadits
agama itu tak lagi diminati dan tak dipilih masyarakat.   menyebutkan, “al-din aql la dina li man la aqla lahu”
Di samping karena ketidak-mampuan agama untuk             [agama itu adalah akal, tak ada agama bagi orang
beradaptasi dan bernegosiasi dengan lingkungan sosial     yang tak berakal]. Maka benar ketika para ulama
baru, faktor para juru kampanye yang suka menebar         menyepakati bahwa kebebasan berfikir (hifdzl al-‘aql)
                                                     —6—
«
termasuk salah satu pokok ajaran Islam (maqashid            dan menyeleksi hukum dalam Islam, yang dikenal
al-syariah). Dengan demikian seharusnya Islam lekat         dengan takhsish bi al-a’ql, taqyid bi al-aql, tabyin bi al-
dengan kebebasan berfikir. Imam Syafii konon pernah         ‘aql. Akal diberi otoritas untuk menjelaskan ajaran yang
ditanya salah seorang muridnya tentang tafsir agama         samar, membatasi keberlakuan hukum yang terlampau
yang bertentangaan dengan akal, maka Imam Syafii            umum, mengeksplisitkan sesuatu yang tersembunyi
memerintahkan untuk mengikuti petunjuk akal, karena         (implisit) dalam wahyu.
akal punya kemampuan untuk menangkap kebenaran.
                                                            Dengan demikian, wahyu dan akal mestinya saling
Problemnya, kita menghadapi fenomena dan                    mempersyaratkan. Yang satu tak menegasi yang
kecenderungan untuk mendisfungsikan peran dan               lain bahkan saling mengafirmasi. Akal akan turut
kemampuan akal. Fenomena ini bisa dilihat dari              memperkaya wawasan etik wahyu. Sementara
dua hal. Pertama, bermunculannya berbagai fatwa             wahyu potensial mengafirmasi temuan kebenaran
keagamaan yang membingungkan umat menunjukkan               dari akal. Akal merupakan subyek yang aktif dalam
betapa tak berfungsinya akal. Mulai dari haramnya           mendinamisasikan gugusan ide-ide ketuhanan dalam
perempuan menyetir mobil, legalisasi perbudakan             wahyu. Sementara wahyu adalah tambang yang bisa
perempuan, hingga tak dibolehkannya rebonding.              digali terus-menerus oleh akal manusia. Dengan
Dalam kasus-kasus seperti ini, akal tak dilibatkan          perangkat akal yang dimilikinya, manusia kemudian
dalam pengambilan keputusan hukum. Menurut                  tak hanya berfungsi sebagai hamba Allah (‘abdullah)
mereka, manusia yang hanya mengandalkan akal                melainkan juga sebagai khalifah Allah di bumi.
sembari mengabaikan petunjuk tekstual-skriptural
wahyu tak akan menjadi manusia yang baik. Sonder            Kalau kita percaya pada kisah purba agama, begitu
petunjuk abjad dan titik koma wahyu, tindakan               pentingnya kedudukan manusia sebagai makhluk
manusia menjadi tak terkontrol, hidup permisif,             yang berakal budi di sisi Allah, sampai-sampai Allah
sehingga yang akan muncul adalah sejumlah kekacauan         tak mempedulikan sejumlah kritik para malaikat yang
dan kesemrautan di tengah masyarakat.                       menolak penciptaan manusia. Allah mengacuhkan
                                                            keberatan malaikat atas diciptakannya Adam. Allah
Kedua, pada saat yang bersamaan, diciptakanlah              tetap menciptakan manusia bahkan memikulkan
sejumlah lembaga keagamaan yang berfungsi untuk             amanat kepadanya. Kepercayaan Allah dan pemberian
menghukum orang-orang yang dianggap menggunakan             amanat kepada manusia ini bukan tanpa alasan.
akal secara overdosis. Institusi ini diberi kewenangan      Sekiranya wahyu Allah tak sampai kepada sekelompok
memvonis bahwa seseorang telah menyimpang atau              manusia, maka Allah telah menyiapkan piranti lunak
keluar dari Islam. Sejumlah intelelektual Muslim            berupa nurani dan akal budi yang berfungsi sebagai
mendapatkan vonis sesat-menyesatkan dan kafir               suluh penerang dan penunjuk jalan. Allah tak akan
dari lembaga-lembaga tersebut. Ujungnya adalah              membebankan kewajiban syariat dan memberikan hak
penghalalan darah yang bersangkutan. Naif, jika             kepada manusia jika manusia hanya berupa daging,
di negeri-negeri lain orang berlomba-lomba untuk            tulang, dan darah. Dengan nurani dan akal budi yang
menggunakan akal pikiran, maka di negeri-negeri             melekat pada dirinya, maka manusia pantas memilikul
Muslim, orang-orang masih berlomba untuk                    amanat dari Tuhannya.[]
mengkafirkan mereka yang menggunakan pikiran.
Ramainya pengafiran disaat orang lain menggunakan           Jakarta, 8 Juli 2011
pikirannya tampaknya mendorong Nashr Hamid Abu
Zaid untuk menulis buku al-Tafkir fi Zaman al-Takfir.

Banyak orang yang kini tak berani menggunakan               Sumber Bacaan
akal pikiran ketika berhadapan dengan pemikiran             Abd Moqsith Ghazali, Argumen Pluralisme Agama, Jakarta: KataKita, 2009.
keagamaan. Padahal, wahyu al-Qur’an terus menantang         —————(ed.), Ijtihad Islam Liberal, Jakarta: Jaringan Islam Liberal (JIL):
manusia untuk mendayagukanakan akalnya dengan               2006
berbagai jenis ungkapan seperti afala ta’qilun (apakah      Abi Ishaq al-Syathibi, al-Muwafaqat fi Ushul al-Syari’at, Beirut: Dar al-Kutub
kalian tidak berfikir), afala tatadabbarun (apakah kalian   al-Ilmiyah, 2005.
tidak merenung), afala yandhurun (apakah mereka             Fazlur Rahman, Islam, Bandung: Pustaka, 2000.
tidak melihat dengan seksama), dan lain-lain. Dalam         Goenawan Mohamad, Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai, Jakarta: KataKita,
ushul fikih, akal diberi kesempatan untuk mensortir         2007.

                                                      —7—
«
Ibn Arabi, Dzaha’ir al-A’laq: Syarh Tarjuman al-Asywaq, Kairo: Tanpa penerbit,
Tanpa Tahun.
Ibn Hisyam, al-Sirah al-nabawiyah, Beirut-Libanon: Dar al-Ihya’ al-Turats al-
‘Arabi, 1997.
Ibn Rushd, Fashl al-Maqal Fima Bayna al-Hikmah wa al-Syari’ah min al-
Ittishal, Mesir: Dar al-Ma’arif, Tanpa Tahun.
Ibn Thufail, Hayy ibn Yaqzhan, Beirut: Dar al-Fikr, Tanpa Tahun.
Jamal al-Banna, al-Jihad, Kairo: Dar al-Fikr al-Islami, Tanpa Tahun.
—————, al-Ta’addudiyah fi Mujtama’ Islami, Kairo: Dar al-Fikr al-Islami,
Tanpa Tahun.
Jawdat Said, La Ikraha fi al-Din, Damaskus: al-‘Ilm wa al-Salam li al-Diarasat
wa al-Nashr, 1997.
Najmuddin al-Thufi, Syarh Mukhtashar al-Rawdhah, Kairo:Mathabi’ al-Syarq
al-Awshath, 1989.
Nashr Hamid Abu Zaid, al-Tafkir fi Zaman al-Takfir, Kairo: Dar al-Kutub, Tanpa
Tahun.
Sachiko Murata & William C. Chittik, The Vision of Islam, Yogyakarta: Suluh
Press, 2005.
Said al-Asymawi, al-Islam al-Siyasi, Kairo: Siyna li al-Nasyr, 1992.
Syatha al-Dimyathi, I’anah al-Thalibbin, Semarang: Thaha Putera, Tanpa
Tahun.




                                                                              —8—
«
                                                                                                       19/06/2011


                       Kritik atas Wahabisme
                                           Oleh Abdul Moqsith Ghazali

            .... di lingkungan keluarga Wahabi, perempuan sejak dulu diposisikan sebagai obyek
            (munfa’il atau maf ’ul) dan tak pernah dianggap sebagai subyek (fa’il). Ketika laki-laki
            tak bisa mengendalikan hawa nafsu, maka tubuh perempuanlah yang mesti ditutup rapat.
            Batas-batas aurat perempuan dibuat sangat kaku dan seakan sengaja diciptakan untuk
            menyengsarakan perempuan. Ruang gerak perempuan terus dibatasi. Perempuan tak boleh
            memegang jabatan publik, sebagai hakim apalagi kepala negara. Sampai sekarang taraf
            pendidikan kaum perempuan masih jauh di bawah laki-laki. Tak ada ulama perempuan yang
            lahir dari lingkungan Wahabi. Padahal, jelas istri-istri Nabi adalah perempuan-perempuan
            yang tangguh dan mandiri. Jika Khadijah tangguh secara ekonomi, maka Aisyah mumpuni
                    secara intelektual bahkan cakap memimpin pasukan di medan pertempuran.



W
         ahabisme makin gencar mengkampanyekan           Wahabi justru menjadikan ayat ini sebagai argumen
         doktrin dan ajarannya ke masyarakat Islam.      untuk memusyrikkan umat Islam yang bertawassul
Tak hanya di kawasan Timur Tengah, Wahabisme coba        dan ziarah kubur. Dan karena orang Islam non-
merambah negeri-negeri lain. Dengan topangan dana        Wahabi telah musyrik, maka orang Wahabi merasa
kampanye yang cukup, Wahabisme mulai tumbuh              berkewajiban untuk mengembalikan mereka ke dalam
di negara-negara kawasan Asia Tenggara termasuk          doktrin ajaran Islam seperti yang mereka pahami.
di Indonesia. Ada yang setuju, tapi tak sedikit umat
Islam yang mengajukan keberatan terhadap doktrin         Jika umat Islam non-Wahabi tak segera bertobat atau
dan fatwa para ulama Wahabi. Bahkan, penolakan tak       enggan diajak kembali kepada “ajaran Islam yang
hanya pada doktrin Wahabisme, melainkan juga pada        benar” (al-ruju’ ila al-haq), maka orang-orang Wahabi
cara orang Wahabi menyebarkan ideologinnya.              tak ragu untuk melenyapkan nyawa mereka. Itu
                                                         sebabnya orang Wahabi kerap terlibat dalam tindak
Sejumlah orang mengkritik Wahabisme, karena              kekerasan dengan menyerang orang Islam lain. Sejarah
beberapa hal. Pertama, dalam mendakwahkan                telah menunjukkan sejumlah keonaran orang-orang
doktrinnya, orang-orang Wahabi terlalu banyak            Wahabi, dari awal kelahirannya hingga sekarang.
menyerang ke dalam, ke sesama umat Islam. Terhadap       Mereka tak hanya mengobrak-abrik orang-orang
orang-orang Islam non Wahabi, mereka bersikap            Syiah, melainkan juga para pengikut Sunni yang telah
asyidda’u ‘ala al-muslimin. Tak puas dengan jenis        dianggap menyimpang dari ajaran Islam atau yang
keislaman yang berkembang di lingkungan umat Islam       dipandang telah terperangkap dalam kemusyrikan.
non-Wahabi, mereka hendak mengislamkan kembali
orang-orang Islam. Bagi mereka, orang Islam non-         Teologi pemusyrikan orang Islam lain tampaknya telah
Wahabi telah terjatuh ke dalam kemusyrikan sehingga      lama menggelayuti pikiran orang Wahabi. Pemusyrikan
perlu segera diselamatkan.                               seperti ini terus terang akan mengguncang hubungan
                                                         sesama umat Islam. Yang satu mencaci maki yang lain.
Dengan merujuk pada al-Qur’an, sebagaimana               Akhirnya konflik dan ketegangan di internal umat
umat Islam pada umumnya, orang-orang Wahabi              Islam menjadi tak terhindarkan. Ini jelas tak produktif
memandang dosa syirik sebagai dosa tak terampuni.        buat kepentingan (umat) Islam secara keseluruhan.
Allah berfirman, inna Allah la yaghfiru an yusyraka      Energi umat Islam akan terkuras habis karena problem-
bihi wa yaghfiru ma duna dzalika liman yasya’u           problem domestik umat Islam.
[sesungguhnya Allah tak akan mengampuni dosa orang
yang menyekutukan-Nya dan hanya mengampuni dosa          Kedua, ijtihad orang-orang Wahabi hanya berputar
selain syirik]. Jika kebanyakan umat Islam menjadikan    di perkara-perkara receh yang partikular. Mereka
ayat ini sebagai dasar untuk memusyrikkan orang-         berijtihad dalam soal-soal kecil seperti tentang hukum
orang yang menyembah patung-berhala, maka orang          perempuan menyetir mobil, hukum memelihara
                                                    —9—
«
jenggot, hukum ziarah kubur, hukum bertawassul,           separuhnya adalah manusia dan separuhnya yang
hukum menggunakan tasbih dalam berdzikir. Ulama           lain adalah setan yang mengganggu keimanan
Wahabi mungkin menyangka bahwa ziarah kubur,              laki-laki. Cara pandang demikian menyebabkan
bercelana di atas tumit, dan bertawassul adalah masalah   orang-orang Wahabi punya kecenderungan untuk
pokok. Padahal jelas soal-soal seperti ini masuk ke       memarginalisasikan perempuan. Dehumanisasi
dalam kategori masa’il khilafiyah yang tak akan pernah    terhadap perempuan berlangsung di berbagai sisi
berhasil disepakati oleh seluruh umat Islam.              kehidupan.

Sekarang adalah saat yang tepat bagi orang-orang          Betapa perempuan tak boleh dilibatkan dalam
Wahabi untuk berfikir atau berijtihad tentang soal-       pengambilan keputusan, tak hanya di ruang publik
soal kemasyarakatan yang lebih penting. Untuk             melainkan juga di ruang domestik seperti keluarga.
kepentingan berijtihad ini, orang-orang Wahabi mesti      Perempuan atau istri tak boleh mencari nafkah walau
memiliki cadangan ulama yang kridibel dan memenuhi        untuk menanggulangi beban perekonomian keluarga
standar-kualifikasi sebagai mujtahid. Orang-orang         yang tak mungkin lagi bisa diatasi oleh para suami.
Wahabi tak boleh terus-menerus bertaqlid pada para        Dalam konteks Indonesia misalnya, beratnya beban
pendahulunya, seperti Muhammad ibn Abdil Wahab.           ekonomi keluarga menyebabkan seluruh anggota
Atau hanya sekedar mengutip pendapat-pendapat fikih       keluarga tak terkecuali istri tumpah ruah bergerak ke
Ahmad ibn Hanbal, Ibnu Taymiyah, dan Ibnu al-             luar rumah untuk mengais rezeki. Saya kira karena itu,
Qayyim al-Jauziyah.                                       di antaranya, tafsir-tafsir Wahabi mengenai domestikasi
                                                          perempuan tak cukup diminati umat Islam Indonesia.
Bahkan, sekiranya orang Wahabi ingin konsisten
mengikuti metodologi Imam Ahmad ibn Hanbal                Sementara di lingkungan keluarga Wahabi, perempuan
pun, buku-buku ushul fikih Hanabilah yang lebih           sejak dulu diposisikan sebagai obyek (munfa’il atau
belakangan boleh dipertimbangkan sebagai rujukan          maf ’ul) dan tak pernah dianggap sebagai subyek (fa’il).
untuk mendinamisasi hukum Islam di lingkungan             Ketika laki-laki tak bisa mengendalikan hawa nafsu,
kelompok Wahabi. Najmuddin Sulaiman ibn Abdul             maka tubuh perempuanlah yang mesti ditutup rapat.
Qawi al-Thufi al-Hanbali misalnya menulis buku Syarh      Batas-batas aurat perempuan dibuat sangat kaku dan
Mukhtashar al-Rawdlah. Ibn Qudamah menulis buku           seakan sengaja diciptakan untuk menyengsarakan
Rawdhah al-Nazhir wa Jannah al-Munazhir. Ibnu             perempuan. Ruang gerak perempuan terus dibatasi.
al-Qayyim al-Jawziyah pun tak boleh hanya dibaca          Perempuan tak boleh memegang jabatan publik,
melalui kitab-kitab fikih yang berhasil ditulisnya,       sebagai hakim apalagi kepala negara. Sampai sekarang
melainkan juga melalui kitab-kitab ushul fikihnya         taraf pendidikan kaum perempuan masih jauh di
seperti I’lam al-Muwaqqi’in.                              bawah laki-laki. Tak ada ulama perempuan yang lahir
                                                          dari lingkungan Wahabi. Padahal, jelas istri-istri Nabi
Inilah saya kira salah satu cara untuk mendinamisasi      adalah perempuan-perempuan yang tangguh dan
aktivitas ijtihad di lingkungan kelompok Wahabi           mandiri. Jika Khadijah tangguh secara ekonomi, maka
setelah sekian lama terkurung dalam ijtihad tentang       Aisyah mumpuni secara intelektual bahkan cakap
perkara-perkara remeh temeh dalam Islam. Dengan           memimpin pasukan di medan pertempuran.
perkataan lain, itu merupakan jalan yang mesti
ditempuh kelompok Wahabi agar terhindar dari              Dalam kaitan itu, di lingkungan Wahabi kiranya
kecenderungan taqlid buta terhadap argumen-argumen        perlu digerakkan semangat untuk memartabatkan
lama. Sebab, sungguh aneh, kelompok Wahabi                dan memanusiakan perempuan. Tak zamannya lagi,
menolak tradisi bermadzhab atau bertaqlid, sementara      perempuan hanya disembunyikan di ruang-ruang
pada saat yang bersamaan mereka melakukan hal             tertutup. Sebagaimana telah diteladankan puteri-
yang sama; dengan bertaqlid kepada Muhammad ibn           puteri dan isteri-isteri Nabi Muhammad, perempuan
Abdil Wahab. Kita memerlukan ulama Wahabi yang            mesti tampil sebagai penggerak ekonomi-sosial dan
pemikiran-pemikirannya bisa melampaui pemikiran           moral-intelektual di tengah masyarakat. Dengan cara
Muhammad ibn Abdil Wahab.                                 itu, kehadiran Wahabi niscaya tak dirasakan sebagai
                                                          ancaman bagi perempuan dan umat Islam lain,
Ketiga, kelompok Wahabi cenderung tak                     melainkan justru sebagai rahmat lil alamin. Wallahu
memanusiakan kaum perempuan. Perempuan                    A’lam bis Shawab.
selalu saja dianggap sebagai manusia tak sempurna;
                                                     — 10 —
«
                                                                                                          03/05/2011


Menahan Laju Negara Islam Indonesia
                                            Oleh Abdul Moqsith Ghazali
                                       Dimuat di Media Indonesia, 2 Mei 2011

            ..... terang perbedaan kapasitas intelektual antara Kartosuwirjo di satu pihak dan Maududi-
            Sayyid Quthb di pihak lain. Kartosoewirjo tak mengkriya karya-karya intelektual yang
            menjelaskan landasan pokok dan kerangka konsepstual NII. Sejauh pengetahuan saya,
            Kartosoewirjo tak mensistematisasikan pemikiran politiknya dalam buku utuh. Ketiadan
            rujukan ideologis dari sang proklamator NII ini menyebabkan para pelanjut gerakan NII
            seperti ayam kehilangan induk. Tak ada tokoh kedua apalagi ketiga yang berperan penting
                          setelah Kartosoewirjo laksana Sayyid Quthb setelah Hasan al-Banna.



K
      artosoewirjo memiliki kesamaan dengan Hasan         yang keliru, NII. Apa hendak dikata, anak-anak itu tak
      al-Banna, Sayyid Quthb, dan Maududi hanya           fokus pada kuliah, tapi pada NII. Prestasi akademik
dalam proses kematiannya. Mereka mati karena              mereka menurun drastis, sementara NII yang mereka
dibunuh. Pada tanggal 12 Pebruari 1949, Hasan al-         perjuangkan tak realistis.
Banna dibunuh oleh oleh polisi rahasia Mesir. Pada
tahun 1966, Sayyid Quthb dibunuh dengan tuduhan           Dikisahkan, ketika menjadi anggota NII, mereka tak
makar terhadap pemerintah Mesir. Hal yang sama            hanya diminta melepaskan diri secara ideologis dari
dialami Kartosoewrijo. Pengadilan Mahadper, 16            jenis keislaman mainstream di Indonesia, melainkan
Agustur l962, memutuskan bahwa Kartosoewirjo telah        juga memisahkan diri secara politis dari Negara
makar terhadap NKRI. Atas dasar itu, Kartosoewirjo        Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jika orang
dihukum mati.                                             Islam non-NII dianggap murtad dan kafir, maka NKRI
                                                          dengan Pancasila dan UUD 1945nya dianggap negara
NII (Negara Islam Indonesia) membuat ulah. Ia makin       sekuler yang harus dijauhi. “Indonesia adalah negara
agresif merekrut anggota baru. Beberapa mahasiswa di      kafir yang bertentangan dengan konsep negara dalam
Malang, Yogyakarta, Lampung, dan Jakarta dinyatakan       Islam”, tandas mereka. Bagi mereka, tak ada cara lain
hilang, diculik aparatur NII. Para mahasiswa dan          untuk memperbaiki sejumlah “penyimpangan” itu
pelajar Islam yang minim pemahaman keislamannya           kecuali dengan menjadikan al-Qur’an dan Hadits Sahih
ditarik masuk ke dalam NII. Melalui media massa,          sebagai hukum tertinggi negara, dan NII (Negara Islam
kita disuguhi informasi perihal proses indoktrinasi dan   Indonesia) sebagai bingkai kenegaraannya.
ideologisasi kepada anggota baru NII. Setelah dibai’at
sebagai anggota, mereka pun disebar ke masyarakat         Kartosoewirjo dan NII
untuk mencari dana. Para mantan anggota NII yang
diwawancara televisi mengisahkan tentang seringnya        NII tak bisa dipisahkan dari Sekarmadji Maridjan
menipu orang tua untuk memperoleh dana. Mereka            (SM) Kartosoewirjo. Ia yang memproklmasikan
diwajibkan membayar iuran bulanan untuk mengisi           berdirinya Negara Islam Indonesia (NII), pada 7
lumbung keuangan NII.                                     Agustus 1949/ 12 Syawal 1368 H, di Tasikmalaya Jawa
                                                          Barat. Kartosoewirjo menghendaki berdirinya NII
Kondisi ini menimbulkan keprihatinan dan kerisauan        berdasarkan al-Qur’an, bukan NKRI yang berasaskan
di kalangan masyarakat. Banyak orang tua histeris         Pancasila. NII dalam proklamasinya menegaskan
karena anak-anak mereka masuk NII. Orang tua tak          bahwa hukum yang berlaku adalah hukum Islam.
hanya merugi secara material karena tertipu, melainkan    Dalam Qanun Asasy NII disebut, “NII adalah negara
juga defisit secara immaterial karena anak-anak yang      karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada bangsa
menjadi tumpuan harapan mereka terancam putus             Indonesia. Sifat negara itu jumhuriyah (republik)
sekolah atau kuliah. Anak-anak mereka yang bersekolah     dengan sistem pemerintahan federal”.
di sejumlah perguruan tinggi seperti UI, UGM, UIN,
dan lain-lain ternyata jatuh pada pola pengasuhan         Namun, tak terlampau jelas apa argumen ‘aqli
                                                     — 11 —
«
(rasional) dan naqli (normatif-doktrinal) dari negara       Qur’an). Sedangkan Maududi dikenal sebagai orator
republik dengan sistem federal tersebut. Kita tak           ulung dan penulis yang produktif terutama di bidang
menemukan elaborasi spesifik dari Kartosoewirjo             pemikiran politik Islam. Ia menulis buku, di antaranya,
berdasarkan perspektif al-Qur’an dan Hadits mengenai        “Teori Politik Islam”, “Hukum Islam dan Cara
negara republik itu. Ini penting dijelaskan. Sebab,         pelaksanaannya”, “Prinsip-Prinsip Dasar bagi Negara
semua pelajar Islam tahu, negara Madinah yang               Islam”, Hak-Hak Golongan Dzimmi dalam Negara
didirikan Nabi Muhammad bukan negara republik.              Islam”, “Kodifikasi Konstitusi Islam”.
Bahkan, menurut Muhammad Husain Haikal (1888-
1956), Nabi Muhammad tak pernah menentukan dasar            Dari sini terang perbedaan kapasitas intelektual antara
sistem pemerintahan yang detail. Apalagi, menurut           Kartosuwirjo di satu pihak dan Maududi-Sayyid Quthb
Ali Abdur Raziq (1888-1966 M.), Nabi Muhammad               di pihak lain. Kartosoewirjo tak mengkriya karya-
adalah seorang nabi, dan bukan kepala negara.               karya intelektual yang menjelaskan landasan pokok
                                                            dan kerangka konsepstual NII. Sejauh pengetahuan
Begitu juga, sama problematisnya ketika disebut             saya, Kartosoewirjo tak mensistematisasikan pemikiran
hukum Islam dalam NII. Pertanyaannya adalah; jenis          politiknya dalam buku utuh. Ketiadan rujukan
hukum Islam seperti apa yang hendak diterapkan              ideologis dari sang proklamator NII ini menyebabkan
NII. Ini tak pernah kita temukan jawabnya dari              para pelanjut gerakan NII seperti ayam kehilangan
NII. Misalnya, apa yang disebut hukum Islam dan             induk. Tak ada tokoh kedua apalagi ketiga yang
bagaimana batas-batasnya. Bagaimana cara memahami           berperan penting setelah Kartosoewirjo laksana Sayyid
ayat-ayat hukum dalam al-Qur’an. Kita tak pernah            Quthb setelah Hasan al-Banna.
mendapatkan keterangan dari NII mengenai detail-
detail hukum dalam al-Qur’an dan Hadits.                    Kartosoewirjo memiliki kesamaan dengan Hasan
                                                            al-Banna, Sayyid Quthb, dan Maududi hanya dalam
Ketidakjelasan konsep dan argumen NII ini bisa              proses kematiannya. Mereka mati karena dibunuh.
dipahami karena, salah satunya, Kartosoewirjo sendiri       Pada tanggal 12 Pebruari 1949, Hasan al-Banna
tak dikenal sebagai pemikir politik Islam. Ia tak           dibunuh oleh oleh polisi rahasia Mesir. Pada tahun
memiliki landasan ideologi yang kuat. Kartosoewirjo         1966, Sayyid Quthb dibunuh dengan tuduhan makar
tak kesohor sebagai ulama sebagaimana KH Hasyim             terhadap pemerintah Mesir. Hal yang sama dialami
Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, H. Agus Salim, dan lain-          Kartosoewrijo. Pengadilan Mahadper, 16 Agustur
lain. Ada yang berpendapat, Kartosoewirjo memiliki          l962, memutuskan bahwa Kartosoewirjo telah makar
pengetahuan keislaman yang minim. Ia hanya belajar          terhadap NKRI. Atas dasar itu, Kartosoewirjo dihukum
Islam secara otodidak. Menurut sebagian pengamat,           mati.
ilmu keislaman Soekarno relatif lebih baik ketimbang
Kartosoewirjo. Dengan kondisi ilmu keislaman seperti        Tawaran Solusi
ini, ia tak akan memiliki argumen teologis yang cukup
untuk melawan gempuran tokoh-tokoh Islam lain yang          Semenjak dideklarasikannya hingga sekarang, NII kian
menolak NII. Tak pelak lagi, NII dapat dengan mudah         kehilangan relevansi. Alih-alih mendapatkan dukungan
bisa dipatahkan, secara politis dan intelektual.            dari umat Islam, NII justru menuai sejumlah kritik
                                                            dan kecaman. NII gagal mendapatkan dukungan dan
Inilah sebabnya kenapa NII tak pernah besar, seperti        simpati umat Islam Indonesia. Bahkan, karena ulah
pernah besarnya Ikhwan al-Muslimin di Mesir. Ikhwan         dan tindakannya akhir-akhir ini, keberadaan NII
al-Muslimin memiliki tokoh intelektual seperti Hasan        dianggap telah meresahkan masyarakat dan umat Islam.
al-Banna (1906-1949) dan Sayyid Quthb (1906-                Perilaku para anggota NII dalam menjalankan agenda
1966 M.). Abul A’la al-Maududi (1903-1970) yang             politik ekonominya tak mencerminkan akhlak Islam
mengkampanyekan berdirinya negara Islam adalah              yang kuat. Kesukaan anggota NII yang menghalalkan
tokoh dan pemikir politik Islam yang disegani. Tokoh-       segala cara untuk memperoleh uang jelas bertentangan
tokoh ini memiliki sejumlah buku monumental yang            dengan nilai-nilai Islam. Dengan demikian, menurut
menjadi referensi utama para pendukung negara               sebagai tokoh Islam, mereka sebenarnya tak pantas
Islam. Quthb misalnya menulis buku, mulai dari soal         mengatasnamakan Islam.
sistem politik Islam seperti al-‘Adalah al-Ijtima’iyah fi
al-Islam (Keadilan Sosial dalam Islam) hingga tafsir        Dalam konteks itu, saya mengusulkan beberapa
al-Qur’an Fi Zhilal al-Qur’an (Dalam Bayangan al-           cara untuk mengatasi soal NII. Pertama, jika terkait
                                                      — 12 —
«
dengan soal penipuan, maka tindaklah para pelakunya
melalui hukum pidana yang berlaku. Hukum harus
tegak terhadap mereka, sekalipun mereka menipu
dengan alasan al-Qur’an dan al-Hadits. Namun, aparat
penegak hukum mesti bisa membedakan; mana yang
menjadi korban NII dan mana yang menjadi aparatur
NII yang menyuruh bawahannya untuk menipu.
DSaya kira, para mahasiswa yang ditarik NII untuk
mengumpulkan uang adalah korban belaka dari NII.
Mereka bukan aktor utama.

Kedua, jika berhubungan dengan ideologi keislaman
NII, maka organisasi-organisasi Islam besar seperti
NU, Muhammadiyah, dan MUI perlu bahu-membahu
untuk mendakwahkan jenis keislaman yang cocok
dan sesuai dengan konteks keindonesiaan. Umat Islam
Indonesia tak perlu merasa sebagai anak tiri di hadapan
ibu kandungnya sendiri, negara Republik Indonesia.
Sebab, sekalipun Indonesia tak menjadi negara Islam,
terlampau banyak keistimewaan yang dimiliki umat
Islam Indonesia. Sejumlah produk perundangan
yang menunjukkan keistimewaan itu sudah banyak
dikeluarkan negara Indonesia, misalnya UU Peradilan
Agama, UU Zakat, UU Haji, dan lain-lain.

Ketiga, pemerintah RI juga harus bisa menahan laju
NII. NII potensial menggerogoti persendiaan negara
republik Indonesia. Pemerintah tak boleh memandang
sepele dan remeh terhadap gerakan NII. Pemerintah
harus bergerak ke level bawah, misalnya melalui
perubahan kurikulum pendidikan agama di lembaga-
lembaga pendidikan di Indonesia mulai dari tingkat
bawah hingga perguruan tinggi. Semenjak dini anak-
anak di sekolah perlu diajarkan perihal bagaimana
kedudukan agama (Islam) dalam konteks negara
Indonesia, kenapa Indonesia menjadi negara Pancasila
dan bukan negara Islam.

Itulah beberapa tawaran solusi yang bisa diajukan agar
gerakan NII tak makin melebar dan meluas ke seantero
Indonesia.[]




                                                    — 13 —
«
                                                                                                        05/04/2011


      Wahabisme: Alhamdulillah atawa
               Innalillah?
                                           Oleh Abdul Moqsith Ghazali


            Wahabisme kini tumbuh di Indonesia. Sejumlah ma’had atau pesantren yang mengusung
            ideologi wahabisme bermunculan. Seorang teman yang sedang meriset Wahabisme di
            Indonesia mencatat tak kurang dari empat belas pesantren di Indonesia yang menyebarkan
            doktrin Wahabisme. Dibanding data statistik pesantren di Indonesia yang ribuan jumlahnya,
            angka empat belas memang kecil. Tapi fenomena penyebaran doktrin Wahabisme ini sudah
                                              sangat merisaukan.



D dianggap mengidap penyakit TBC (takhayyul,
      i tengah kecenderungan masyarakat Islam yang       “asli”—tentu dalam pengertian mereka. Dengan
                                                         semangat purifikasi ajaran Islam, mereka menampik
bid’ah, dan Khurafat), Wahabisme muncul untuk            sejarah. Wahabisme menyeleksi kemodernan. Islam
menghancurkannya. Dengan semboyan al-ruju’ ila al-       dalam pengertian Wahabisme tak boleh dijamah tangan
Qur’an wa al-Sunnah (kembali kepada al-Qur’an dan        ilmu pengetahuan. Itu sebabnya, tak aneh jika tahun
al-Hadits) mereka berdakwah untuk mengajak umat          1920-an, Wahabisme mengharamkan telepon dan
Islam mengikuti ajaran Islam yang benar: Wahabisme.      radio masuk Mekah. Akibatnya, pemurnian berujung
                                                         di jurang kegagalan. Wahabisme tak dikehendaki
Berpusat di Arab Saudi, Wahabisme yang didirikan         umat Islam. Sebagian ulama Sunni tak menghendaki
oleh Muhammad ibn Abdul Wahab ibn Sulaiman               jika Wahabisme dianggap menjadi bagian dari Ahlus
al-Najdi pada abad ke-18, adalah salah satu sekte        Sunnah wal Jama’ah. Kakak kandung Muhammad ibn
berpaham keras dalam Islam. Muhammad ibn Abdul           Abdul Wahab sendiri, Sulaiman ibn Abdul Wahab,
Wahab lahir di Uyaynah, termasuk daerah Najd,            menolak keras ideologi Wahabisme.
bagian timur Kerajaan Saudi Arabia sekarang, tahun
1111 H/1699 M dan meninggal dunia tahun 1206             Wahabisme sebenarnya tak punya teologi yang
H/1791 M. Ia belajar ke sejumlah guru terutama yang      unik. Ia hanya mendramatisasi doktrin-doktrin
bermazhab Hanbali. Ayahandanya, Abdul Wahab,             lama yang cenderung kaku dan rigid. Sebagaimana
adalah seorang hakim (qadhi) pengikut Imam Ahmad         umumnya umat Islam lain, Wahabisme mendasarkan
ibn Hanbal.                                              ajaran dan doktrinnya pada tauhid. Jika Mu’tazilah
                                                         mengkampanyekan tauhid, itu juga yang dilakukan
Kelompok Wahabi mengklaim dapat mengembalikan            Wahabisme. Lalu ada apa dengan konsep tauhid
umat Islam kepada ajaran Islam dan akidah yang           Wahabisme? Sejumlah pihak menilai bahwa tauhid
murni. Mereka ingin kembali kepada al-Qur’an dalam       Wahabisme adalah tauhid ekstrem. Dengan konsep
makna yang harafiah. Al-Qur’an dianggap hanya            tauhidnya, Wahabisme mudah mengirimkan vonis
deretan huruf yang tak berkaitan dengan konteks          kafir kepada kelompok-kelompok Islam yang
di sekitar. Dengan pendekatan ini, mereka menolak        berbeda tafsir dengan dirinya. Mereka tak menyetujui
sejumlah tradisi (al-‘urf ) yang tumbuh subur dalam      tawassul, ziarah kubur, tradisi tahlil, dan lain-lain.
masyarakat. Semua keadaan ingin dikembalikan pada        Ujungnya adalah penghalalan darah orang lain untuk
keadaan zaman Nabi Muhammad. Mereka tak setuju           ditumpahkan. Walau tak mendaku sebagai pelanjut
rasionalisme yang berkembang dalam filsafat Islam.       Kelompok Khawarij, Wahabisme memiliki kesamaan
Demi literalisme al-Qur’an, Ushul Fikih mereka           gerakan: menyukai kekerasan. Alkisah, makam Zaid
acuhkan.                                                 al-Khaththab—saudara kandung Sahabat Umar ibn
                                                         Khaththab—pernah dihancurkan Kelompok Wahabi.
Literalisme kaum Wahabi terus mengungkung mereka.        Tahun 1802, mereka menyerang Karbala.
Wahabisme menghendaki Islam yang “murni” dan
                                                    — 14 —
«
Wahabisme kini tumbuh di Indonesia. Sejumlah
ma’had atau pesantren yang mengusung ideologi
Wahabisme bermunculan. Seorang teman yang
sedang meriset Wahabisme di Indonesia mencatat tak
kurang dari empat belas pesantren di Indonesia yang
menyebarkan doktrin Wahabisme. Dibanding data
statistik pesantren di Indonesia yang ribuan jumlahnya,
angka empat belas memang kecil. Tapi fenomena
penyebaran doktrin Wahabisme ini sudah sangat
merisaukan. Atas keadaan ini, sebagian mengucapkan
Alhamdulillah, dan sebagian yang lain berkata
Innalillah. Wallahu A’lam bis Shawab. []




                                                    — 15 —
«
                                                                                                       27/02/2011


  Kontekstualisasi Doktrin Ahmadiyah
                                           Oleh Abdul Moqsith Ghazali

            Saya kira ada banyak pandangan-pandangan fikih-tafsir Islam Ahmadiyah yang berbeda
            dengan pandangan umat Islam lain. Namun, sekali lagi, hanya satu yang menjadi keberatan
            utama umat Islam lain, yaitu tentang adanya seorang nabi setelah Nabi Muhammad. Tak
            hanya keberatan verbal. Lebih dari itu, sebagian umat Islam berusaha untuk membubarkan
            organisasi Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI). Sebagian yang lain ingin memposisikan
            Ahmadiyah sebagai agama lain, non-Islam. Yang lain terus menuntut pembasmian orang-
            orang Ahmadi sampai ke akar-akarnya. Semua tawaran penyelesaian itu hanya akan
                                          menimbulkan masalah baru.




A
Apa Ahmadiyah?                                           Tak cukup sebagai seorang pembaharu, satu tahun
                                                         kemudian, persisnya tahun 1890, Mirza mengaku
        hmadiyah adalah salah satu sekte baru dalam      sebagai al-Masih yang dijanjikan akan turun di akhir
        Islam. Ia datang tak bersamaan dengan            zaman. Menurutnya, Imam Mahdi atau al-Masih yang
kemunculan sekte-sekte Islam lama seperti Khawarij,      diujarkan sejumlah hadits akan turun itu bukan al-
Muji’ah, Syiah, Mu’tazilah, dan Ahlus Sunnah.            Masih al-Isra’ili (Yesus Kristus), melainkan al-Masih al-
Kehadirannya lebih awal beberapa tahun dari Sarekat      Muhammadi yang ditugaskan untuk melanjutkan dan
Dagang Islam, Muhammadiyah, dan Nahdhatul                menegakkan syari’at Nabi Muhammad. Al-Masih al-
Ulama, di nusantara. Ahmadiyah didirikan oleh            Muhammadi yang dimaksud adalah diri Mirza Ghulam
Mirza Ghulam Ahmad, di anak benua India pada             Ahmad sendiri. Pada tahun 1901, Mirza mengukuhkan
akhir abad ke-19. Mirza diperkirakan lahir pada          kembali perihal posisinya sebagai Nabi Zhilli (nabi
tanggal 13 Pebruari 1835 M. /14 Syawal 1250 H, di        bayangan) yang bertugas menjalankan risalah Nabi
Qadian India. Sebagian orang menduga bahwa nama          Muhammad. Agar tak hanya menjadi kesadaran
“Ahmadiyah” merupakan nisbat dari kata “Ahmad”           spiritual yang individual, Mirza merancang sebuah
yang berada di ujung nama Mirza Ghulam Ahmad.            gerakan untuk mengkampanyekan misinya. Untuk
Sementara yang lain berpendapat bahwa “Ahmadiyah”        tujuan itu, ia menggelorakan semangat pengorbanan
merupakan bentuk modifikasi dari nama lain               harta terutama untuk membeayai penyebaran (tafsir)
Muhammad SAW, yaitu Ahmad.                               Islamnya.

Lepas dari itu, jauh sebelum mendirikan Ahmadiyah,       Ahmadiyah belum bergerak jauh dengan merambah
Mirza kecil tumbuh seperti umumnya anak-anak             negeri-negeri lain. Sementara Mirza sudah merasa
dari keluarga Islam lain. Pada usia 7 tahun, Mirza       bahwa dirinya tak akan lama lagi akan meninggal
sudah belajar agama kepada seorang guru bernama          dunia. Tahun 1908, Mirza menulis risalah berjudul
Fazhl Ilahi yang bermazhab Hanafi. Ia pun belajar        “al-Washiyyat” yang menyatakan bahwa masa kepergian
tata bahasa Arab, ilmu hadits, dan al-Qur’an.            beliau ke alam baqa sudah dekat. Dan dia menegaskan
Seiring bertambahnya usia dan untuk meningkatkan         agar para pengikutnya tunduk dan patuh kepada
derajat spiritualnya, tahun 1886 Mirza menempuh          pimpinan atau khalifah yang akan menggantikan
jalan ruhani dengan berkhalwat selama 40 hari.           dirinya. Mirza meninggal dunia pada tanggal 26 Mei
Selang beberapa waktu, persisnya tanggal 23 Maret        1908 di Lahore, tapi dikuburkan di Qadian. Ia wafat
1889 bertepatan dengan 20 Rajab 1306 H, Mirza            dengan meninggalkan 80 buah karya intelektual, kelak
mengaku mendapatkan wahyu dan segera setelah itu         menjadi rujukan pengikut Ahmadiyah.
mendeklarasikan diri sebagai mujaddid (pembaharu
Islam). Tanggal 23 Meret 1889 ini disepakati oleh        Sepeninggal Mirza, kepemimpinan Ahmadiyah jatuh
jemaat Ahmadiyah sebagai tanggal berdirinya              pada Hakim Nuruddin. Ia berhenti menjadi khalifah,
“Ahmadiyah”.                                             karena ajal datang menjemput, tanggal 13 Maret 1914.
                                                         Sepeninggal Hakim, terjadi pertentangan tentang siapa
                                                   — 16 —
«
yang berhak menjadi khalifah-pengganti. Saat itu ada     ayat dalam al-Qur’an ditafsirkan secara “tak lazim”.
dua calon yang diajukan, yaitu Mirza Basharuddin         Ada dua yang paling kontroversial. Pertama,
Mahmud Ahmad dan Maulvi Muhammad Ali. Yang               adalah pandangannya tentang adanya nabi setelah
terpilih adalah Basharuddin. Dengan kemenangan           Nabi Muhammad. Mereka mengakui bahwa Nabi
Basharuddin, pengikut Muhammad Ali menyatakan            Muhammad adalah khatam al-anbiya’ yang membawa
menarik diri dari Ahmadiyah pimpinan Basharuddin.        syariat. Dengan demikian, terbuka kemungkinan bagi
Mereka mendirikan organisasi lain dengan nama            hadirnya seorang nabi yang berfungsi melanjutkan
Anjuman Ishaat Islam yang berpusat di Lahore.            dan menegakkan syariat Islam yang dibawa Nabi
Kelompok ini kemudian dikenal dengan Ahmadiyah           Muhammad. Bagi Ahmadiyah, kata “khatam”
Lahore. Sementara pengikut Ahmadiyah pimpinan            dalam ayat “khatam al-nabiyyin” berarti bahwa
Basharuddin disebut Ahmadiyah Qadian.                    Nabi Muhammad adalah stempel nabi-nabi. Nabi
                                                         Muhammad adalah nabi yang mencapai puncak
Berbeda dengan Ahmadiyah Lahore yang tak                 ruhaniyah yang tak akan pernah dimiliki atau dicapai
berkembang pesat, maka Ahmadiyah Qadian                  oleh nabi lain. Dengan demikian, Nabi Muhammad
telah tersebar ke berbagai negara. Dalam masa            bukanlah penutup fisik-jasmani kenabian sehingga
kepemimpinan Mirza Masroor Ahmad (khalifah ke 5),        kehadiran seorang nabi tak boleh terjadi, melainkan
Jemaat Ahmadiyah telah merambah ke 185 negara di         penutup seluruh pencapaian puncak spiritual yang
dunia. Jemaat Ahmadiyah telah menyebarkan dakwah         tak mungkin digapai oleh yang lain. Artinya, masih
Islam di daratan Eropa, Australia, dan Amerika dengan    dimungkinkan adanya nabi setelah Nabi Muhammad,
mendirikan mesjid dan pusat-pusat dakwah di tiga         dengan kualitas ruhani yang lebih rendah dari Nabi
benua tersebut. Bahkan, ia terus merangsek masuk ke      Muhammad dan yang berfungsi untuk melanjutkan
sejumlah Negara di Asia seperti Jepang, China, Korea.    syariat Nabi Muhammad.
Bahkan, Ahmadiyah masuk ke nusantara jauh sebelum
negara bangsa Indonesia berdiri.                         Tafsir yang dikemukakan Ahmadiyah ini jelas berbeda
                                                         dengan pandangan para ulama Ahlus Sunnah yang
Alkisah, Muballig Ahmadiyah bernama Maulana              berpendirian bahwa Nabi Muhammad adalah nabi
Rahmat Ali yang membawa Ahmadiyah ke wilayah             terakhir yang menutup segala jenis kenabian. Bahwa
nusantara melalui kota Tapaktuan Aceh pada tanggal       tak ada nabi setelah Nabi Muhammad yang juga
2 Oktober 1925. Dari Tapaktuan, Jemaat Ahmadiyah         menerima wahyu. Bagi Ahlus Sunnah, aliran wahyu
berkembang ke wilayah Sumatera Barat dan pada tahun      sudah terhenti bersamaan dengan berhentinya
1931 masuk ke Batavia (sekarang Jakarta). Pada tahun     kenabian. Atas dasar itu, sejumlah ulama sunni
1932, Jemaat Ahmadiyah berkembang di Batavia dan         menyesatkan Ahmadiyah. Bahkan tak sedikit orang
Bogor. Lalu masuk ke daerah-daerah sekitar seperti       berpendapat bahwa darah jemaat Ahmadiyah boleh
Tangerang, Cianjur, Sukabumi, Bandung, Garut,            ditumpahkan. Maka tindak kekerasan dan pembasmian
Tasikmalaya, Ciamis, Karawang, dan lain-lain.            terhadap jemaat Ahmadiyah menjadi tak terhindarkan.

Dengan makin membesarnya Ahmadiyah, maka pada            Kedua, Ahmadiyah mempunyai perbedaan tafsir
tahun 1935 Jemaat Ahmadiyah Indonesia membentuk          dengan umat kristiani tentang sosok Yesus Kristus.
Pengurus Besar. Dan pada tanggal 12-13 Juni 1937,        Misalnya, menurut Ahmadiyah, Yesus meninggal dalam
diselenggarakan kongres pertama di Masjid Hidajath       usia 120 tahun, di Kashmir India. Pandangannya
Jln. Balikpapan I/10 Jakarta dengan dihadiri pengurus    ini konon didasarkan kepada Hadits riwayat
wilayah. Saat itu disepakati berdirinya AADI (Anjuman    Thabrani, “Rasulullah berkata kepada Fathimah:
Ahmadiyah Departemen Indonesia) hingga kemudian          Jibril mengabarkan kepadaku bahwa Nabi Isa hidup
diubah menjadi Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI)          120 tahun lamanya” [qala Rasulullah li Fathimah:
sebagai hasil dari kongres tanggal 9-11 Desember 1949.   akhbarani Jibrilu an Isa ibn Maryam ‘asya ‘isyrina wa
Dari situlah, JAI terus berkembang sebagai organisasi    mi’atan sanatan]. Dan Yesus pun tak naik ke langit,
sosial keagamaan yang diakui Negara.                     sebagaimana pandangan umum umat Islam dan umat
                                                         kristiani. Bagi Ahmadiyah, sekiranya Yesus naik ke
Bagaimana Ahmadiyah Bertafsir?                           langit, itu berarti Allah mempunyai tempat, yaitu
                                                         langit. Jelas, mustahil bagi Allah untuk mempunyai
Ahmadiyah memiliki cara pandang dan tafsir yang          tempat, karena Allah tak berupa jasad. Ahmadiyah
berbeda dengan kebanyakan umat Islam. Sejumlah           tak menafsirkan kalimat “rafa’ahu Allah” dalam al-
                                                   — 17 —
«
Qur’an sebagai diangkatnya Yesus secara jasmaniah          NU mengalami dinamisasi pemikiran keislaman
ke atas langit, melainkan diangkatnya derajat Yesus        yang signifikan. Jika Ahmadiyah meyakini hadits
secara ruhaniah. Fisik-jasmani Yesus terbaring di          bahwa dalam setiap 100 tahun akan muncul seorang
Kashmir, sementara ruh-spiritualnya berada dekat di        pembaharu, maka saatnya ulama-ulama Ahmadiyah
sisi Allah. Tentang tafsirnya ini, kebanyakan para ulama   berhimpun untuk segera menyepakati; mana doktrin
cenderung tak mempersoalkannya. Namun, pandangan           yang diperlukan dan mana doktrin yang sudah tak
Ahmadiyah ini potensial mengguncangkan bangunan            seharusnya dipertahankan.
teologi dan doktrin kalangan kristiani.
                                                           Ketiga, jemaat Ahmadiyah perlu melakukan
Jalan Kontekstualisasi                                     diversifikasi rujukan kitab. Tak melulu merujuk pada
                                                           kitab-kitab karya Mirza Ghulam Ahmad, Ahmadiyah
Saya kira ada banyak pandangan-pandangan fikih-tafsir      kiranya perlu melebarkannya pada kitab-kitab lain.
Islam Ahmadiyah yang berbeda dengan pandangan              Membaca buku-buku seperti ushul fikih al-Syafii,
umat Islam lain. Namun, sekali lagi, hanya satu yang       al-Syathibi dll, juga buku-buku filsafat Ibn Sina dll
menjadi keberatan utama umat Islam lain, yaitu             menyebabkan Ahmadiyah tak berada dalam benteng
tentang adanya seorang nabi setelah Nabi Muhammad.         yang tertutup. Pada waktu yang bersamaan, buku-buku
Tak hanya keberatan verbal. Lebih dari itu, sebagian       Ahmadiyah pun harus siap dimasuki oleh kelompok
umat Islam berusaha untuk membubarkan organisasi           umat Islam lain. Tak boleh ada buku tertutup yang
Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI). Sebagian yang lain       hanya boleh diakes jemaat Ahmadiyah. []
ingin memposisikan Ahmadiyah sebagai agama lain,
non-Islam. Yang lain terus menuntut pembasmian             Surabaya, 24 Maret 2011
orang-orang Ahmadi sampai ke akar-akarnya. Semua
tawaran penyelesaian itu hanya akan menimbulkan
masalah baru.

Lalu, dalam konteks internal umat Islam Indonesia
yang terus menegang, bagaimana solusi terbaiknya.
Pertama, sebagian orang mengusulkan agar Ahmadiyah
mengalah dengan menggunakan kata lain selain kata
nabi untuk menyebut sang junjungan Mirza Ghulam
Ahmad. Bukankah yang ditolak oleh umat Islam
lain adalah penggunaan kata “nabi” kepada siapapun
setelah Nabi Muhammad. Karena kata “nabi” itu
adalah bahasa Arab, apakah jemaat Ahmadiyah di
Indonesia misalnya berkenan untuk menggunakan
nama Indonesia atau nama-nama daerah sesuai dengan
tempat tinggal jemaat Ahmadiyah tersebut. Misalnya,
“kanjeng khalifah”, “Pangeran”, “tuan guru, “kiai”, dan
lain-lain.

Kedua, setelah yang pertama, segera lakukan
pembaharuan terhadap tafsir-tafsir keislaman
Ahmadiyah yang konon telah lama mengalami stagnasi.
Dalam kaitan itu, dibutuhkan seorang pemikir-
pembaharu dalam tubuh Ahmadiyah yang bertugas
mengkontekstualisasikan pandangan-pandangan lama
atau meremajakan tafsir-tafsir tua yang mungkin
sudah aus. Dalam konteks Indonesia, NU bisa menjadi
pelajaran. Setelah berpuluh tahun NU berada dalam
kubangan konservatisme, maka muncullah kelompok
pembaharu seperti KH Abdurrahman Wahid (Gus
Dur). Dengan peran Gus Dur dan tokoh-tokoh lain,
                                                     — 18 —
«
                                                                                                       20/09/2010


       Siapa Pemimpin Islam Indonesia?
                                           Oleh Abdul Moqsith Ghazali

            Setiap orang Islam sebenarnya adalah pemimpin atas dirinya sendiri. Kata Nabi, “kullukum
            ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an rai’iyyatihi” (setiap kalian adalah pemimpin dan kalian
                          akan dimintai pertanggungan-jawab atas kepemimpinan kalian)



P menumpuk. Soal yang satu belum terpecahkan
    roblem keumatan Islam Indonesia terus                tak mudah untuk meng-iya-kan. Sebab, apa yang
                                                         dikatakan Pak Said di Jakarta tak serta-merta diamini
sudah ditindih perkara baru yang ghalibnya juga tak      oleh warga nahdhiyyin di daerah. Banyak kiai-kiai
terselesaikan. Mulai dari soal masih berlangsungnya      NU yang menyanggah argumen pluralisme yang
gerakan terorisme berbasis Alquran-Hadits                dikampanyekan Pak Said. Pidato Pak Said yang bagus
hingga tak rampungnya masalah relasi Islam dan           tentang pentingnya menjaga harmoni dan kerukunan
negara di Indonesia. Tak sedikit umat Islam yang         umat Islam dengan umat agama lain dengan mudah
mengembangkan teologi sempit, menyesatkan orang          ditebang sejumlah ustad di pesantren.
lain bahkan ketagihan menghancurkan orang yang
berbeda keyakinan dengan dirinya. Sebagian umat          Lalu, apakah Rizieq Shihab misalnya adalah pemimpin
Islam lain gencar memperjuangkan tegaknya negara         Islam karena ia adalah Ketua Umum Front Pembela
Islam dan Khilafah Islamiyah di tengah negara            Islam (FPI)? Jawabnya pasti “tidak”. Boro-boro
Pancasila yang telah menjadi konsensus para pendiri      didengar dan ditaati seluruh umat Islam, apa yang
negara. Belum lagi soal Ahmadiyah. Menteri Agama         diserukan Rizieq Shihab dalam banyak peristiwa
RI, Suryadharma Ali, merasa punya hak dan otoritas       diabaikan begitu saja oleh anggota FPI sendiri.
untuk membasmi Ahmadiyah dari seluruh pemukiman          Jika Pak Rizieq menyerukan agar anggota FPI tak
Indonesia. Begitu banyak soal yang melilit tubuh umat    melakukan kekerasan dan main hakim sendiri dalam
Islam.                                                   menyelesaikan suatu masalah, maka tak sedikit anggota
                                                         FPI yang mengingkarinya. Selanjutnya FPI pusat segera
Semua soal itu praktis tak mudah diatasi. Ini mungkin    mengatakan bahwa apa yang dilakukan anggota FPI
terkait dengan rumitnya masalah kepemimpinan             terkait dengan tindak penyerangan atau penyegelan
di internal umat Islam Indonesia sendiri. Siapakah       adalah tanggung jawab pribadi dan bukan tanggung
sesungguhnya pemimpin Islam Indonesia ? Pertama,         jawab organisasi. Bah!
ada yang berkata bahwa pemimpin umat Islam
Indonesia adalah Susilo Bambang Yudhoyono, karena        Ketiga, ada yang berkata bahwa pemimpin Islam
dia adalah seorang presiden dari negeri yang konon 85    adalah mereka yang memiliki penguasaan mendalam
% penduduknya beragama Islam. Dahulu, Presiden           terhadap ilmu-ilmu keislaman. Mereka mendalami
Soekarno mendapatkan julukan Waliyul Amri al-            secara sekaligus fikih (produk pemikiran ulama klasik)
Dharuri bis Syaukah dari Nahdhatul Ulama (NU).           dan ushul fikih (metodologi untuk memproduksi fikih
Ulama NU menerima Soekarno sebagai waliyul amri          Islam baru). Mereka menguasai tafsir dan qawa’id
karena darurat. Sebagaimana Bung Karno tak pernah        al-tafsir (metodologi tafsir). Dari segi kompetensi
dianggap sebagai representasi umat Islam, maka           keilmuan, mungkin orang seperti Muhammad Quraish
begitu juga dengan Pak Beye. Walau artikulasi dan        Shihab bisa dimasukkan. Pertanyaannya, lalu umat
pengungkapan nomenklatur Arab-Islam Pak Beye terus       Islam manakah yang mendengarkan dan mengikuti
dibenahi, ia tak pernah dihitung sebagai pemimpin        fatwa-fatwa Pak Quraish? Banyak ulama yang ilmunya
Islam.                                                   menggantung tinggi di atas awan (far’uha fis sama’),
                                                         tapi kerap tak bersambung dengan massa Islam di akar
Kedua, yang lain berpendapat bahwa pemimpin Islam        rumput. Analisa semantik-kebahasaan Arab yang selalu
adalah para ketua umum ormas keislaman. Apakah           menyertai analisa Pak Quraish dalam menafsirkan
Said Aqiel Siradj adalah pemimpin Islam karena yang      Alquran tampaknya tak mudah dipahami umat Islam
bersangkutan menjabat Ketua Umum PBNU? Rasanya           level bawah. Seorang ibu setengah baya pernah berkata
                                                   — 19 —
«
pada saya bahwa ceramah Pak Quraish adalah obat
yang mengantarnya ke alam tidur. Tentu tak mengapa.
Karena Pak Quraish, seperti juga setiap kita, tak akan
bisa memuaskan semua. Itu sebabnya Quraish Shihab
tak mengklaim sebagai pemimpin umat Islam.

Keempat, ada yang berkata bahwa pemimpin umat
Islam adalah para muballigh atau da’i. Dari sudut
keilmuan, para muballigh biasanya tak terlalu alim
tapi sangat populer. Mereka bukan tipe orang yang
suka bergumul dengan timbunan teks dalam ortodoksi
Islam, tapi nama mereka masyhur. Wajahnya banyak
memenuhi layar kaca. Siapa yang tak tahu Jefrey
al-Bukhari yang bersuara merdu, Muhammad Arifin
Ilham yang meronta ketika berdoa, Mama Dedeh
yang tegas dalam berdakwah, dan Yusuf Manshur
yang hendak menyelesaikan semua masalah dengan
sedekah. Dengan capaian popularitas itu, sebagian
orang menyangka bahwa mereka adalah pemimpin
umat. Padahal, seperti kita sadari, ketokohan yang
dibangun hanya dengan topangan media laksana
membangun istana pasir yang guyah. Dengan tiba-tiba
seseorang dikenal sebagai tokoh, dan tiba-tiba juga ia
akan merosot menjadi orang biasa. Ketika televisi “tak
lagi menyukai” Aa’ Gym, maka sang Aa’ pun hilang,
segera diganti muballigh lain. Begitu seterusnya, patah-
tumbuh, hilang berganti.

Jika demikian, maka tak ada pemimpin Islam Indonesia
yang diakui dan diikuti umat Islam pada tingkat
nasional. Suara Menteri Agama RI jelas tak mewakili
seluruh umat Islam Indonesia. Ia hanya mewakili
sebagian kecil kelompok umat Islam. Apalagi kalau
kita mengukur ketokohan SDA (Suryadharma Ali)
dengan perolehan suara PPP, partai Islam pimpinan
sang Menteri Agama RI, yang terus melorot bahkan
diprediksikan akan binasa pada pemilu 2014. Begitu
juga dengan para tokoh agama Islam lain. Abu Bakar
Baasyir, Jakfar Umar Thalib, Hidayat Nur Wahid
adalah deretan tokoh dengan jumlah pengikut tak
terlampau banyak.

Akhirnya, setiap orang Islam sebenarnya adalah
pemimpin atas dirinya sendiri. Kata Nabi, “kullukum
ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an rai’iyyatihi” (setiap
kalian adalah pemimpin dan kalian akan dimintai
pertanggungan-jawab atas kepemimpinan kalian).
Wallahu A’lam bis Shawab.




                                                     — 20 —
«
                                                                                                         16/09/2010


  SBY, Ciketing dan Perlindungan Non-
                 Muslim
                                             Oleh Abdul Moqsith Ghazali


            Umat Islam yang mayoritas di negeri ini perlu memberikan perlindungan kepada kelompok
            minoritas. Tak boleh yang mayoritas memangsa yang minoritas, sehingga yang minoritas
            boleh diintimidasi dan hak-haknya dalam menjalankan ibadat juga boleh dihalang-halangi.
            Sebagaimana Nabi Muhammad dan Umar ibn Khattab menjadikan dirinya sebagai
            pelindung bagi kelompok lain, maka seharusnya demikian juga perilaku umat Islam di sini,
                                                   Indonesia.




C
                  Artikel ini sebelumnya dimuat di Media Indonesia, “OPINI”, Kamis 16 September 2010

      iketing, Bekasi, tiba-tiba terkenal ke seantero       melakukan pembiaran demi pembiaran.
      negeri. Bukan karena di tempat ini ditemukan
pabrik pembuat pil ekstasi, melainkan karena di             Bagaimanapun kita tetap menyerahkan pengusutan
pinggiran Jakarta ini ada peristiwa penusukan-              peristiwa Ciketing ini pada polisi. Dan kewajiban polisi
pemukulan terhadap pendeta dan jemaat gereja                adalah segera melakukan penyelidikan, sehingga publik
HKBP (Huria Kristen Batak Protestan). Alkisah, pada         bisa memperoleh informasi benar tentang apa yang
Minggu pagi (12/9/2010), Luspida Simanjuntak,               sesungguhnya terjadi. Sebab, peristiwa Ciketing ini
Sintua Hasian Sihombing dan beberapa anggota jemaat         rentan dimanfaatkan sebagian pihak untuk menyobek
berjalan beriringan menyusuri ruas-ruas jalan menuju        kain kerukunan antar-umat beragama di negeri ini.
sebidang tanah untuk menjalankan ibadat Minggu.             Ketidak-seriusan dan kelalaian aparat kepolisian dalam
Mereka menempuh jarak sekitar 2 kilometer. Tiba-            menangani kasus Ciketing kiranya akan menyalakan
tiba dari arah berlawanan, sekelompok orang dengan          api dalam beberapa sekam konflik di Indonesia.
mengendarai sepeda motor datang menyerang. Para
preman itu menusuk, memukul, dan menendang                  Sebagai respons terhadap peristiwa Ciketing,
anggota jemaat. Akibatnya, Hasian Sihombing                 kalangan civil society menyelenggarakan sejumlah
mengalami luka tusuk parah, Luspida Simanjuntak dan         konferensi pers yang berisi ungkapan keprihatinan dan
beberapa anggota lain mengalami luka memar.                 kecaman. Para elit dan pimpinan ormas keagamaan
                                                            mengutuk para pelaku kekerasan itu. PGI, KWI,
Menanggapi kasus itu, Kapolres Bekasi dengan cepat          NU, Muhammadiyah dan lain-lain berharap agar
menyatakan bahwa peristiwa Ciketing adalah kriminal         pemerintah mengambil sikap tegas dengan menyeret
biasa. Pernyataan pihak kepolisian itu tak pelak            para pelaku dan aktor Ciketing ke meja pengadilan
memantik kritik keras, terutama dari para aktivis HAM       untuk diganjar dengan hukuman setimpal. Saya bangga
dan Pluralisme. Tidak hanya karena pernyataan itu           dengan respons cepat para tokoh agama itu, sehingga
tak berbasis pada penyelidikan, melainkan juga karena       konflik horisontal antar-umat tak terjadi. Para tokoh
pihak kepolisian dianggap mengabaikan fakta-fakta           agama tersebut memiliki keyakinan kuat bahwa tak ada
sebelumnya tentang adanya intimidasi dan pelarangan         agama yang menghendaki jalan kekerasan. Agama hadir
ibadat jemaat HKBP Pondok Timur Indah di Ciketing           membawa semangat cinta, rukun, dan damai.
Bekasi. Telah lama diketahui, sebagian warga melarang
dan menghalang-halangi penyelenggaraan ibadat               Rahmatan lil alamin
di tanah Ciketing. Tarik-menarik itu kemudian
menimbulkan ketegangan di tengah masyarakat.                Sikap Islam yang pro-kerukunan dan perdamaian
Namun, alih-alih pihak kepolisian sigap bertindak           misalnya dapat diketahui dari konsep Islam sebagai
untuk menjamin hak kebebasan setiap warga negara            rahmatan lil alamin. Betapa untuk tujuan kerukunan,
dalam beribadat. Yang terjadi justeru aparat kepolisian     dalam satu paragrap bagian pertama Piagam Madinah
                                                      — 21 —
«
tercantum komitmen Nabi Muhammad untuk menjadi            beragama itu, apa yang dilakukan Nabi Muhammad
pelindung kelompok non-Muslim. Disebutkan,                dan Khalifah Umar ibn Khattab tersebut bisa
“jika seorang pendeta atau pejalan kaki berlindung        bermanfaat untuk dua hal. Pertama, bisa menjadi salah
di gunung atau lembah atau gua atau bangunan atau         satu inspirasi (bukan aspirasi) untuk merumuskan
dataran raml atau Radnah (nama sebuah desa di             kebijakan publik terkait dengan hak dan kebebasan
Madinah) atau gereja, maka Aku (Nabi Muhammad)            beribadat seluruh warga negara Indonesia. Dalam
adalah pelindung di belakang mereka dari setiap           kaitan itu, sejumlah aktivis HAM dan Pluralisme telah
permusuhan terhadap mereka demi jiwaku, para              mengajukan gagasan tentang perlunya menyusun UU
pendukungku, para pemeluk agamaku dan para                Kebebasan Beragama. Dengan UU ini diharapkan
pengikutku, sebagaimana mereka (kaum Nashrani) itu        tak ada lagi intimidasi dan ancaman dalam beribadat.
adalah rakyatku dan anggota perlindunganku”. Itulah       Kedua, bisa menjadi teladan bagi Presiden Susilo
penjelmaan Islam rahmatan lil alamin dalam sebuah         Bambang Yudhoyono. Bukankah sebagai kepala negara
kebijakan publik di Madinah.                              di Madinah, Nabi Muhammad telah menggaransikan
                                                          dirinya demi hak beribadat warganya, baik yang
Apa yang dilakukan Nabi Muhammad itu                      Muslim maupun non-Muslim.
menginspirasi Khalifah Umar ibn Khattab untuk
membuat traktat serupa di Yerusalem ketika Islam          Dengan demikian, sebagai umat Islam dan sebagai
menguasai wilayah tersebut. Traktat tersebut dikenal      kepala negara, Pak Beye (panggilan baru Presiden SBY)
dengan “Piagam Aelia”, berisi jaminan keselamatan dari    seharusnya kian mantap melindungi non-Muslim dan
penguasa Islam terhadap penduduk Yerusalem yang           kelompok minoritas lain. Bagi presiden Indonesia
beragama non-Islam sekalipun. Salah satu penggalan        yang beragama Islam, memberikan perlindungan
paragraf piagam tersebut berbunyi, “Inilah jaminan        terhadap warga negara yang hendak beribadat, di
keamanan yang diberikan Umar Amirul Mukminin              samping sebagai bagian dari menjalankan ajaran
kepada penduduk Aelia: Ia menjamin keamanan               agama Islam, juga sebagai bagian dari melaksanakan
mereka untuk jiwa dan harta mereka, dan untuk             amanat konstitusi. Dalam UUD 1945 pasal 29 ayat
gereja-gereja dan salib-salib mereka, dan dalam keadaan   (2) disebutkan,”negara menjamin kemerdekaan tiap-
sakit maupun sehat, dan untuk agama mereka secara         tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-
keseluruhan. Gereja-gereja mereka tidak akan diduduki     masing dan untuk beribadat menurut agamanya
dan tidak pula dirusak, dan tidak akan dikurangi          dan kepercayaannya itu”. Pasal 28E ayat (1), “setiap
sesuatu apa pun dari gereja-gereja itu dan tidak pula     orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut
dari lingkungannya, serta tidak dari salib mereka,        agamanya…..”.
dan tidak sedikit pun dari harta kekayaan mereka
(dalam gereja-gereja itu). Mereka tidak akan dipaksa      Sebaliknya, kepala negara Indonesia yang membiarkan
meninggalkan agama mereka, dan tidak seorang pun          satu kelompok warga negara menyerang kelompok
dari mereka boleh diganggu”.                              lain yang menjalankan ibadat agama bukan hanya
                                                          melanggar konstitusi, melainkan juga melanggar
Kisah historis itu sengaja disuguhkan agar umat           pokok ajaran Islam. Artinya, presiden Indonesia yang
Islam Indonesia tak ragu untuk memberikan jaminan         beragama Islam yang tak melindungi warga negara
keselamatan kepada umat agama lain. Umat Islam yang       dalam beribadat menanggung dosa ganda; dosa kepada
mayoritas di negeri ini perlu memberikan perlindungan     negara karena tak menjalankan amanat UUD 1945,
kepada kelompok minoritas. Tak boleh yang mayoritas       dan dosa kepada Allah karena tak melaksanakan ajaran
memangsa yang minoritas, sehingga yang minoritas          agama Islam. Wallahu A’lam Bis shawab.
boleh diintimidasi dan hak-haknya dalam menjalankan
ibadat juga boleh dihalang-halangi. Sebagaimana
Nabi Muhammad dan Umar ibn Khattab menjadikan
dirinya sebagai pelindung bagi kelompok lain, maka
seharusnya demikian juga perilaku umat Islam di sini,
Indonesia.

Inspirasi
Sementara bagi aparat pemerintah yang (insyaallah)
                                                     — 22 —
«
                                                                                                            15/09/2010


  Merayakan Idul Fitri 1431 H “Momen
      Penghapusan Kezaliman”
                                             Oleh Abdul Moqsith Ghazali


            Fenomena syirk dapat kita saksikan juga dari perilaku beberapa orang atau sekelompok orang
            yang suka menuhankan diri sendiri. Laksana Tuhan, mereka tampil sebagai penentu; siapa
            ke sorga dan siapa ke neraka. Memandang orang lain sesat dan diri sendiri sebagai sentra
            kebenaran. Tak berhenti sampai di situ. Yang dianggap sesat pun (hendak) dihancurkan,
            hanya karena berbeda tafsir keagamaan dengan dirinya. Padahal, dalam ayat al-Qur’an
            jelas ditorehkan, “sesungguhnya Tuhanmu yang paling tahu; siapa yang sesat jalannya dan
                                    siapa pula yang mendapat petunjuk Tuhan”.




S kembali menjumpai kita. Itu sebabnya, Hari
            Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di “KOLOM PAKAR” Media Indonesia, Senin 13 September 2010

    eperti siklus tahunan, Lebaran akan datang dan         pesta pora di tengah kesengsaraan hidup masyarakat.
                                                           Maka, proyek pembangunan gedung parlemen dengan
Lebaran disebut sebagai ‘Id yang dalam bahasa Arab         fasilitas spa, kolam renang, ruang fitnes, dan lain-lain
berarti “kembali” dan “berputar”. Tentu bukan hanya        segera diusulkan. “Nurani” yang berarti “jiwa yang
itu. Ia disebut “’id”, juga karena manusia diharapkan      bercahaya” itu telah berganti dengan “zhulmani” yang
kembali kepada “fithrah” (‘idul fithri). Dalam satu        berarti “jiwa yang gelap”.
tahun, selalu ada momen yang memungkinkan
manusia untuk kembali ke fithrahnya. Bagi umat Islam,      Tiga Kezaliman
momen kembali ke fithrah itu adalah Bulan Ramadan.
Lalu, apa fithrah (watak dasar) manusia itu?               Imam Ali ibn Abi Thalib dalam kitab Nahjul Balaghah
                                                           menyebut tiga jenis kezaliman. Pertama, kezaliman
Sejumlah literatur Islam menyebutkan bahwa setiap          yang tak terampuni. Itulah syirk atau menyekutukan
manusia lahir dalam keadaan suci. Ia tak membawa           Tuhan. Fenomena syirk dalam bentuk penyembahan
dosa. Namun, seiring waktu, manusia kerap                  berhala dan patung makin langka kita jumpai atau
terperangkap pada dosa (itsm). Kata Nabi, dosa adalah      bahkan sudah tak ada lagi. Dengan akalnya, manusia
apa yang terlintas dalam hatimu dan kamu tidak suka        modern tak bisa lagi menyembah batu berhala. Kini
sekiranya orang lain mengetahuinya. Kita tak suka jika     syirk hadir dalam bentuk lain. Dengan satu-dua
orang lain mengetahui motif negatif yang ada dalam         modifikasi, seperti dulu, manusia masih menyembah
hati kita. Setiap kejahatan tak meloncat dari ruang        manusia yang lain. Seorang bawahan menyembah
kosong. Bukankah setiap tindak kriminal bermula dari       atasan. Sang Bawahan mengikuti apa yang dititahkan
niat jahat dari para pelakunya. Korupsi bermula dari       Sang Atasan, tanpa peduli apakah yang diperintahkan
betik hati dan mewujud menjadi tindakan nyata.             itu bertentangan dengan hukum nurani atau tidak.
                                                           Maka korupsi pun di negeri ini berjalan dari hulu ke
Dalam Islam, dosa kerap disebut sebagai sebuah             hilir.
kezaliman. Zalim atau zhulm dalam bahasa Arab
berarti gelap atau kegelapan. Dosa disebut “zhulm”         Fenomena syirk dapat kita saksikan juga dari perilaku
karena ia dapat membutakan hati kita sehingga tak          beberapa orang atau sekelompok orang yang suka
sanggup untuk membedakan antara kebaikan dan               menuhankan diri sendiri. Laksana Tuhan, mereka
keburukan, antara kebenaran dan kesalahan. Jika hati       tampil sebagai penentu; siapa ke sorga dan siapa ke
seseorang sudah gelap, maka ia akan menghalalkan           neraka. Memandang orang lain sesat dan diri sendiri
segala cara untuk mencapai tujuan. Hati para wakil         sebagai sentra kebenaran. Tak berhenti sampai di situ.
rakyat yang gulita tak akan peduli terhadap penderitaan    Yang dianggap sesat pun (hendak) dihancurkan, hanya
rakyat yang diwakilinya. Sebagian mereka menyukai          karena berbeda tafsir keagamaan dengan dirinya.
                                                      — 23 —
«
Padahal, dalam ayat al-Qur’an jelas ditorehkan, “inna     kesalahan. Namun, seperti Adam kita perlu dengan
rabbaka huwa a’lamu biman zlalla ‘an sabilih wa huwa      gegas bertobat atas dosa-dosa kita kepada Allah. Lalu,
a’lamu bi al-muhtadin” (sesungguhnya Tuhanmu yang         bagaimana dosa kita terhadap sesama, terhadap rakyat,
paling tahu; siapa yang sesat jalannya dan siapa pula     terhadap negara?
yang mendapat petunjuk Tuhan).
                                                          Jenis Dosa
Kedua, kezaliman yang tak boleh diabaikan. Yaitu,
kezaliman seseorang atas orang lain, atau satu            Saya suka mengklasifikasikan dosa ke dalam dua jenis
kelompok pada kelompok lain. Ini berarti, kita tak        kategori. Pertama, dosa privat, yaitu dosa seseorang
boleh membuang muka terhadap kekerasan yang               pada Tuhan dan dosa satu orang dengan orang lain.
dilakukan satu kelompok atas kelompok lain di             Dosa kita kepada Allah bisa diselesaikan dengan
negeri ini. Boleh jadi kita tak setuju terhadap teologi   permintaan maaf kita kepada Allah. Dan Allah sebagai
Jemaat Ahmadiyah, misalnya. Tapi, kita tak punya hak      Yang Maha Pengampun dan Maha Penerima Tobat
apapun untuk membasmi mereka. Tak ada Licence to          akan mengampuni semua dosa manusia. Sementara
Kill yang kita kantongi. Islam adalah agama damai,        dosa seseorang dengan orang lain dalam kehidupan
bukan agama kekerasan. Sebuah hadits menyebutkan,         sehari-hari biasanya ditempuh dengan permintaan maaf
“al-muslim man salima al-muslimun min lisanih wa          kepada orang lain itu. Sebagaimana Allah mengampuni
yadihi”. Artinya, seseorang baru bisa disebut sebagai     dosa-dosa manusia, maka kita sebagai makhluk dan
muslim apabila orang lain bisa terselematkan dari lisan   hamba-Nya perlu meneladani akhlak Allah, yaitu
dan tangannya. Dengan perkataan lain, seseorang tak       mengampuni segala kesalahan orang lain kepada kita.
boleh disebut sebagai muslim kalau melalui lisan dan
tindakannya banyak orang lain yang tersakiti.           Kedua, dosa publik adalah dosa kita kepada banyak
                                                        orang. Ia tak selesai hanya dengan meminta ampun
Karena itu, kita diperintahkan mencontoh akhlak Nabi kepada Allah di bulan Ramadan. Ia juga tak rampung
Muhammad. Sebagai pribadi, Nabi tak menyakiti           dengan meminta maaf kepada satu-dua orang. Dosa
orang lain. Lisannya berisi ungkapan kasih dan          publik harus diselesaikan melalui forum publik.
tangannya adalah pelaksanaan dari ajaran kasih itu.     Masuk ke dalam kategori dosa publik ini adalah
Nabi pun tak membiarkan kezaliman terjadi dan terus     dosa korupsi. Para koruptor di negeri ini tak cukup
berulang. Setiap ada ketidak-adilan, Nabi selalu datang hanya meminta maaf kepada Allah atas korupsi yang
sebagai pembelanya. Pemerintah Indonesia kiranya bisa telah dilakukannya. Ia seharusnya perlu meminta
belajar dari kehidupan Nabi Muhammad ini. Bahwa         maaf kepada publik atas kejahatannya itu. Dan
segala kebijakan yang dikeluarkan harus bertumpu        penerimaan maaf publik dapat diwujudkan dalam
pada terhapuskannya kezaliman. Politik pembiaran        bentuk ditegakkannya hukum seadil-adilnya bagi
bukanlah politik Nabi Muhammad. Politik Nabi adalah sang koruptor. Tanpa ada penegakan hukum bagi
politik untuk menghapuskan kezaliman, satu kelompok para koruptor, maka tak ada pengampunan bagi yang
pada kelompok lain.                                     bersangkutan.

Ketiga, kezaliman yang terampuni. Itulah kezaliman        Penutup
manusia atas dirinya dengan melakukan serangkaian
dosa-dosa kecil. Sebuah hadits menyebutkan, al-           Ramadan telah berlalu. Kini Idul Fitri di depan kita.
nas kulluhum khaththa’un wa khairul khattain al-          Melalui momen inilah banyak orang berharap akan
tawwabun (semua manusia punya potensi melakukan           adanya perubahan yang lebih kualitatif dan substansial
kesalahan. Tapi sebaik-baik manusia yang bersalah         dari wajah masyarakat Indonesia. Yaitu terciptanya
adalah mereka yang bertobat). Manusia rentan untuk        orang-orang yang tak menuhankan diri-sendiri, tak
melakukan keburukan, tapi dengan tobat ia bisa            melakukan kezaliman, dan tak terjebak pada dosa-
cepat dipulihkan. Kisah Adam yang terusir dari sorga      dosa. Selama angka korupsi masih tinggi, kekerasan
adalah salah satu kisah yang menunjukkan kerentanan       atas nama agama terus meningkat, kezaliman masih
manusia yang berada dalam tegangan, antara “yang          merajalela, maka puasa yang dilakukan kemarin tak
baik” dan “yang buruk”. Pada mulanya, Adam tergoda        lebih dari sekadar menahan lapar dan haus belaka. Tak
untuk melakukan dosa, namun pada akhirnya ia punya        ada pahala yang didapat darinya. Selamat merayakan
jalan untuk kembali pada-Nya. Tobat Adam diterima         Idul Fitri 1431 H, dan mohon maaf lahir dan batin.[]
Allah. Sebagaimana Adam, kita juga bisa terjatuh pada
                                                     — 24 —
«
                                                                                                         08/09/2010


                   Mistifikasi Mudik Lebaran
                                            Oleh Abdul Moqsith Ghazali

             Masa kanak-kanak tak pernah bisa didaur ulang. Pulang ke masa kecil itu absurd. Tanah,
             tempat kita dulu diasuh dan dibesarkan secara kultural, sudah banyak berubah. Bukan hanya
             fisik desa yang berubah, melainkan juga para penghuninya. Romantisme tentang gotong
             royong dan ketulusan orang desa sudah mulai pupus. Akhirnya, jika hanya ingin pulang dan
                          mendapat akar kebudayaan, kiranya tak harus pada saat Lebaran.



L menggantikan Idul Fitri atau Idul Adha yang
      ebaran adalah kosa kata Indonesia untuk              kebudayaan. Setelah memohon ampun kepada Allah
                                                           sepanjang bulan Ramadan, seseorang bermaksud
kental beraroma Arab. Kata “lebaran” lebih mudah           meminta maaf terhadap orang tua, sanak saudara, dan
diucapkan oleh umat Islam Indonesia yang sehari-           tetangga di kampung. Dalam tradisi Jawa juga Madura,
hari tak menggunakan bahasa Arab. Bukan hanya              lebaran adalah salah satu ritus tahunan untuk sungkem
karena Idul Fitri atau juga Idul Adha tak mudah            pada orang tua. Sekiranya orang tua sudah meninggal
diindonesiakan, melainkan juga karena bahasa Arab          dunia, maka mudik lebaran adalah momen untuk
memang dikenal sebagai bahasa paling rumit di dunia.       menziarahi pusara mereka. Kuburan adalah tempat
Daripada keseleo lidah, umat Islam Indonesia apalagi       anak-anak merajut komunikasi dengan almarhum
yang abangan lebih suka menggunakan kata “lebaran”         orang tua, karena itu mereka tak rela sekiranya ziarah
daripada Idul Fitri. Sebagian besar media pun lebih        kubur diharamkan.
kerap menggunakan kata “lebaran”.
                                                           Kedua, menghadapi kompleksitas masalah di kota,
Namun, tak terlampau jelas asal-usul kata “lebaran” ini.   seseorang kadang dihinggapi perasaan untuk kembali
Ada yang berkata bahwa ia berasal dari bahasa Jawa,        ke masa lalu saja. Ia seperti hendak melipat waktu,
yaitu kata “lebar” yang berarti “selesai”. Kemudian        menuju ke masa kanak-kanak dan masa remaja yang
kata “lebar” diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan      serba indah dan mempesona. Terekam kuat dalam
diberi akhiran “an”, sehingga menjadi kosa kata umum       ingatan ketika ia bersama teman-temannya dulu
untuk sebuah perayaan setelah selesai menjalankan          berkejaran di pematang sawah dengan bulir-bulir padi
puasa. Yang lain berkata, lebaran berasal dari bahasa      yang menguning, bermain pasir di pantai, mandi di
Betawi, “lebar” yang berarti “luas”, yaitu keluasan        air sungai yang bening, dan sebagainya. Itu sebabnya,
hati seseorang setelah melakukan puasa. Orang-orang        orang-orang menyerbu dusun, tempat dahulu mereka
Madura punya kata yang mirip, yaitu “lober” untuk          tumbuh dan berkembang. Sekali dalam setahun,
menggambarkan selesainya sebuah acara, yaitu puasa         mereka akan berupaya sekuat tenaga untuk pulang
Ramadan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia,               kampung. Padahal, seiring waktu, tempat bermain
lebaran akhirnya dimaknai sebagai hari raya umat           mereka dulu sudah banyak yang berubah menjadi
Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal setelah selesai     pabrik, waduk, tambak, dan lain-lain. Bukit yang indah
menjalankan ibadah puasa selama sebulan; Idul Fitri.       sudah rata dengan tanah, dilumat longsor bertubi-tubi.
                                                           Sumber mata air, area pemandian orang-orang desa,
Terlepas dari itu, dalam konteks masyarakat Indonesia,     telah lama kering akibat ganasnya penebangan hutan
lebaran selalu diikuti dengan mudik atau pulang            penahan air. Kini keindahan desa itu hanya ada dalam
kampung. Ribuan manusia bergerak dari kota ke desa         ingatan, bukan dalam realita.
untuk berjumpa dengan orang-orang tercinta. Mereka
tak peduli dengan harga tiket yang membubung tinggi,       Sebagian orang kini tak ingin terjebak pada tindak
kesengsaraan di jalan karena berjubelnya manusia,          mistifikasi lebaran a la kaum agraris itu. Toh, masa
hingga resiko kecelakaan yang kerap terjadi. Mudik         kanak-kanak tak pernah bisa didaur ulang. Pulang ke
lebaran menghipnotis banyak orang. Pertanyaannya,          masa kecil itu absurd. Tanah, tempat kita dulu diasuh
mengapa orang begitu bersemangat untuk mudik.              dan dibesarkan secara kultural, sudah banyak berubah.
Pertama, mudik dianggap punya makna spiritual juga         Bukan hanya fisik desa yang berubah, melainkan
                                                     — 25 —
«
juga para penghuninya. Romantisme tentang gotong
royong dan ketulusan orang desa sudah mulai pupus.
Akhirnya, jika hanya ingin pulang dan mendapat akar
kebudayaan, kiranya tak harus pada saat Lebaran.
Sungkem pada orang tua dan minta maaf pada tetangga
kampung tak harus menunggu sampai lebaran tiba.
Selamat berlebaran 1431 H., mohon maaf lahir dan
batin.




                                                — 26 —
«
                                                                                                     05/08/2010


        Khadijah Tak Berpuasa Ramadan
                                           Oleh Abdul Moqsith Ghazali

            Dari kupasan itu kita tahu bahwa sejumlah Sahabat Nabi banyak yang meninggal dunia
            tanpa menjalankan puasa Ramadan. Khadijah binti Khuwailid, isteri Nabi Muhammad, pun
            tak pernah menjalankan puasa Ramadan. Bahkan, Khadijah juga tak sempat menjalankan
            shalat lima waktu, juga zakat, karena semuanya disyariatkan ketika yang bersangkutan
                                           sudah meninggal dunia.



S atau pantang. Ada banyak ragam puasa yang
    ebagian besar agama mengenal tradisi puasa            pada syari’at sebelum Islam (syar’u man qablana).
                                                          Al-Qur’an (al-Baqarah [2]: 183) menyebutkan, “Hai
diperkenalkan agama-agama. Dalam al-Qur’an                orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian
(Mariam [19]: 26) disebut bahwa Bunda Maria               berpuasa sebagaimana diwajibkan atas umat sebelum
(Siti Mariam) bernazar puasa untuk tak bicara             kalian, supaya kalian bertakwa”.
dengan manusia manapun. “Inni nadzartu li al-
rahman shawma fa lan ukallima al-yawma insiya”            Sejumlah referensi menjelaskan bahwa Islam dalam
(Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk           fase Mekah tak mengenal puasa Ramadan. Puasa
Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan              baru disyariatkan dalam periode Madinah. Menurut
berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini).       al-Juzairi, puasa Ramadan diundangkan tanggal 10
                                                          Sya’ban tahun kedua Hijriyah, atau 1,5 tahun setelah
Puasa juga bisa dalam bentuk tak melakukan hubungan       hijrah (Abdurrahman al-Juzairi, al-Fiqh ‘ala al-
seksual. Jika umat Islam pantang melakukan kontak         Madzahib al-Arba’ah, Juz I, hlm. 416). Menurut Syatha
seksual pada siang bulan Ramadan, maka para Romo          al-Dimyathi dalam I’anah al-Thalibin (Juz II, hlm.
dan Pastur Katolik berpuasa dari hubungan seksual         215), selama 10 tahun tinggal di Madinah, Rasulullah
sepanjang hayat atau selama yang bersangkutan masih       SAW menjalankan puasa Ramadan hanya sembilan
menjadi pastur. Bentuk-bentuk puasa kian banyak           kali. Satu tahun pertama di Madinah, puasa Ramadan
dijumpai jika kita memperhatikan adat dan tradisi. Ada    belum disyariatkan. Pada tahun itu, Nabi Muhammad
puasa dengan tidak makan dan minum selama tiga hari       dan umat Islam masih menjalankan puasa Asyura,
tiga malam. Sebagian masyarakat juga mengenal tradisi     melanjutkan kebiasaan puasa Asyura selama 13 tahun
pantang memakan “yang bernyawa”, seperti hewan,           di Mekah. Dengan demikian, selama 14 tahun, Islam
ikan, dan lainnya.                                        berjalan tanpa puasa Ramadan.

Sebagaimana agama lain, Islam pun mensyariatkan           Dari kupasan itu kita tahu bahwa sejumlah Sahabat
puasa. Bentuknya adalah dengan tak makan-minum            Nabi banyak yang meninggal dunia tanpa menjalankan
dan menahan hubungan seksual di siang hari. Dalam         puasa Ramadan. Khadijah binti Khuwailid, isteri
periode Mekah, umat Islam menjalankan puasa tiga          Nabi Muhammad, pun tak pernah menjalankan
hari dalam setiap bulan plus puasa Asyura. Dalam          puasa Ramadan. Bahkan, Khadijah juga tak sempat
Shahih Bukhari (hadits ke-1893) disebutkan bahwa          menjalankan shalat lima waktu, juga zakat, karena
masyarakat Arab pra-Islam sudah biasa melakukan           semuanya disyariatkan ketika yang bersangkutan sudah
puasa Asyura. Orang-orang Yahudi saat itu juga            meninggal dunia. Namun, kita tak perlu panik dan
berpuasa pada hari Asyura, karena hari itu diyakini       masygul. Khadijah tetap akan masuk surga walau tanpa
sebagai hari diselamatkannya Nabi Musa dari kejaran       shalat, tanpa zakat, dan tanpa puasa Ramadan. Tuhan
dan ancaman bunuh Fir’aun. Begitu Islam datang,           Khadijah (tentu Tuhan kita semua) adalah Tuhan
Nabi Muhammad memerintahkan umat Islam untuk              inklusif yang akan memasukkan hamba-hamba-Nya
puasa Asyura. (Al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-         yang beriman dan beramal saleh seperti Khadijah ke
Qur’an, Jilid I, hlm. 660).                               dalam surga. Wallahu A’lam bi al-Shawab.

Dengan demikian, ibadah puasa sebetulnya didasarkan
                                                   — 27 —
«
                                                                                                       22/07/2010


    Waktu Isra-Mikraj Nabi Muhammad
                                           Oleh Abdul Moqsith Ghazali

            Demikian jauhnya jarak perjalanan ini, maka Aisyah (isteri Nabi) dan Muawiyah
            berpendapat bahwa Isra-Mikraj merupakan perjalanan ruhani dan bukan perjalanan
            fisik-jasmani. Menurut Aisyah, ruh Nabi Muhammad bergerak membelah semesta untuk
            berjumpa dengan Tuhan, sementara tubuhnya bersemayam di bumi. Pendapat ini ditolak
            jumhur ulama yang mengatakan bahwa Isra-Mikraj melibatkan jasmani-ruhani Nabi
                                          Muhammad secara sekaligus.



I
    sra-Mikraj adalah peritiwa spiritual yang dialami     menjadi energi. Lalu jumhur ulama berkata, bahwa
    Nabi Muhammad. Ia dipahami sebagai perjalanan         Isra-Mikraj bukan untuk difalsifikasi, melainkan untuk
Nabi dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil             diimani.
Aqsha di Jerusalem, dan terus membubung menembus
dinginnya langit menuju sebuah pucuk yang disebut         Pertanyannya, kapan peristiwa Isra-Mikraj ini
Sidratul Muntaha. Alkisah, ketika Rasulullah sedang       terjadi? Beberapa buku tarikh menjelaskan sejumlah
tidur malam bersama para sahabatnya di Masjidil           riwayat berbeda perihal peristiwa itu. Pertama, ulama
Haram tiba-tiba Jibril datang membangunkan dan            yang berpendapat bahwa peristiwa itu terjadi pada
membawanya untuk Isra-Mikraj. Thabathaba’i (Tafsir        (diperkirakan hari Jum’at) 27 Rajab. Inilah pandangan
al-Mizan, Jilid XIII, hlm. 22) menyebut bahwa di          paling populer di kalangan umat Islam. Namun,
antara Sahabat yang sedang bersama Nabi saat itu          sebagian yang lain berkata bahwa Isra’-Mikraj terjadi di
adalah Hamzah ibn Abdul Muththalib, Ja’far ibn Abi        awal (bukan di akhir) bulan Rajab. Kedua, menurut al-
Thalib, dan Ali ibn Abi Thalib. Namun, sebuah riwayat     Harbi, sebagaimana dikutip al-Qurthubi dalam al-Jami’
seperti dikutip Fakhr al-Din al-Razi dalam Mafatih al-    li Ahkam al-Qur’an (Jilid V, hlm. 551), Isra-Mikraj
Ghaib (Jilid X, Juz XX, hlm. 148) menyatakan bahwa        terjadi pada 27 Rabi’ul Awwal. Itu juga yang dikatakan
Isra-Mikraj tak dimulai dari dalam Masjidil Haram,        al-Zuhri dan Urwah. Ibnu Abbas berpendapat bahwa
melainkan dari rumah Ummu Hani binti Abi Thalib.          Isra-Mikraj terjadi pada hari Senin, 12 Rabiul Awwal.
Yang lain lagi mengatakan bahwa start Isra-Mikraj         Sebab, pada hari, tanggal dan bulan itulah Rasullah
adalah sebuah ruangan dalam rumah Abu Thalib.             dilahirkan, diangkat menjadi nabi, di-Isra-Mikraj-kan,
                                                          hijrah ke Madinah, dan meninggal dunia. Ketiga, al-
Sejumlah literatur Islam menyebutkan bahwa Isra-          Sudi berpendapat bahwa Isra-Mikraj terjadi pada bulan
Mikraj ditempuh hanya dalam satu malam. Perjalanan        Dzul Qa’dah. (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah,
panjang ini dimulai habis isya’ dan rampung begitu        Juz III, hlm. 155).
fajar menyingsing. Demikian jauhnya jarak perjalanan
ini, maka Aisyah (isteri Nabi) dan Muawiyah               Bukan hanya bulan yang diperselisihkan, melainkan
berpendapat bahwa Isra-Mikraj merupakan perjalanan        juga tahun dari peristiwa itu. Ada yang berpendapat
ruhani dan bukan perjalanan fisik-jasmani. Menurut        bahwa Isra-Mikraj terjadi satu tahun sebelum
Aisyah, ruh Nabi Muhammad bergerak membelah               Rasulullah hijrah ke Madinah. Yang lain berkata
semesta untuk berjumpa dengan Tuhan, sementara            bahwa Isra-Mikraj diperkirakan terjadi 18 bulan
tubuhnya bersemayam di bumi. Pendapat ini ditolak         sebelum peristiwa hijrah. Sementara yang lain
jumhur ulama yang mengatakan bahwa Isra-Mikraj            lagi berkesimpulan bahwa Isra-Mikraj terjadi
melibatkan jasmani-ruhani Nabi Muhammad secara            ketika Khadijah masih hidup. Menurut Yunus ibn
sekaligus. Tentu pendapat jumhur ulama ini tak mudah      Bukair, pasca Isra-Mikraj, Khadijah masih sempat
dikunyah akal sehat dan tak bisa dijelaskan secara        melaksanakan shalat. Ini karena Isra-Mikraj terjadi
saintifik. Bagaimana mungkin benda material seperti       pada tahun kelima dari kenabian, beberapa bulan
tubuh manusia bisa berjalan lebih cepat dari gerak        sebelum Khadijah meninggal dunia. Bahkan, seperti
cahaya. Menurut teori Einstein, jika ada benda berjalan   dikutip Thabathabai (hlm. 30), Ibnu Abbas berkata
secepat cahaya, maka benda itu akan terurai dan hancur    bahwa Isra-Mikraj terjadi pada tahun kedua dari
                                                    — 28 —
«
kenabian. Intinya, ada beragam pendapat. Yang satu
berkata tahun ketiga kenabian. Yang lain mengatakan
tahun kelima kenabian; tahun keenam kenabian; 10
tahun 3 bulan dari kenabian; 12 tahun dari kenabian; 1
tahun 5 bulan sebelum hijrah; 1 tahun 3 bulan sebelum
hijrah; 6 bulan sebelum hijrah.

Kenapa perselisihan seperti ini terjadi? Satu, ketika
Isra-Mikraj terjadi tak ada orang yang mencatat dan
mendokumentasikannya secara persis. Rasulullah pun
dikisahkan tak bisa membaca dan menulis. Soal hari,
tanggal, bulan, dan tahun peristiwa Isra-Mikraj di atas
sepenuhnya didasarkan pada ingatan para Sahabat, dan
bukan pada data rekaman-tertulis yang otentik. Dua,
penyusunan kalender Islam pada saat Isra-Mikraj itu
belum terumuskan. Dengan demikian, semua soal di
sekitar Isra-Mikraj serba tak pasti, misterius, dan tak
mudah diverifikasi. Bagi sebagian besar umat Islam,
hanya satu yang pasti; bahwa Isra-Mikraj nyata terjadi
dan dari situ shalat disyariatkan. Tentang bagaimana
terjadinya dan kapan berlangsungnya, para ulama dan
sejarawan tak melahirkan sebuah konsensus. Wallahu
A’lam Bis Shawab.




                                                    — 29 —
«
                                                                                                            08/04/2010


       Pengertian Umat Islam Indonesia
                                               Oleh Abdul Moqsith Ghazali

             Penjelasan-penjelasan ini menunjukkan betapa tak mudahnya seseorang mengatas-namakan
             umat Islam Indonesia, seperti tak mudahnya mendefiniskan umat Islam Indonesia. Dengan
             demikian, kini jelas bahwa sekiranya ada tokoh Islam yang suka mengatas-namakan umat
             Islam, maka dia hakekatnya tak pernah bisa mewakili umat Islam Indonesia yang beraneka
                                                    ragam itu.



S mendefinisikan umat Islam Indonesia? Hemat saya
    atu pertanyaan sederhana, bagaimana kita                  STAIN. Secara keorganisasian, mereka tergabung
                                                              dalam organisasi keagamaan Islam seperti Nahdlatul
ada empat takrif atau pengertian tentang umat Islam           Ulama, Muhammadiyah, Nahdlatul Wathan, dan
Indonesia itu. Pertama, umat Islam adalah mereka              Al-Washliyah. Dengan takrif ini, maka jumlah umat
yang di KTP-nya tercantum sebagai penganut Islam.             Islam di Indonesia terus menyusut hingga yang tersisa
Jika ini menjadi acuan pokok, maka umat Islam di              sekitar puluhan juta orang.
Indonesia adalah mayoritas. Data statistik yang kerap
disampaikan, 87 % penduduk negeri ini memeluk                 Keempat, umat Islam adalah mereka yang bukan
Islam. Termasuk dalam 87 % itu saya kira adalah               hanya menjalankan ritual Islam, mengerti dasar-dasar
orang-orang Ahmadiyah. Tapi, kalau kita sepakat               Islam, melainkan juga memperjuangkaan tegaknya
mengeluarkan puluhan ribu orang Ahmadiyah dalam               negara Islam, khilafah islamiyah, dan formalisasi syariat
barisan Islam, maka jumlah umat Islam itu akan                Islam. Berbeda dengan NU dan Muhammadiyah yang
berkurang.                                                    menerima Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar
                                                              dalam berbangsa dan bernegara, kelompok terakhir ini
Kedua, umat Islam adalah mereka yang menjalankan              hendak menjadikan al-Qur’an sebagai haluan negara.
ritual peribadatan seperti shalat lima waktu, puasa           Konsisten dengan pengertian ini, maka yang disebut
sebulan penuh di bulan Ramadan, mengeluarkan                  sebagai umat Islam di Indonesia tak kurang dari lima
zakat (fithrah dan mal), dan berhaji bagi yang mampu.         juta orang. Secara keorganisasian, mereka itu bernaung
Sekiranya ini menjadi standar, maka populasi umat             di bawah organisasi Islam seperti Hizbut Tahrir
Islam akan turun sangat drastis. Terlampau banyak             Indonesia (HTI), Front Pembela Islam (FPI), Majelis
orang yang di KTP-nya disebut Islam, tapi dalam               Mujahidin Indonesia (MMI), dan beberapa ormas
aktifitas sehari-harinya tak menjalankan sejumlah             Islam kecil lainnya.
ibadah yang diwajibkan dalam Islam. Mereka itu
disebut Clifford Geertz sebagai Islam abangan atau            Penjelasan-penjelasan ini menunjukkan betapa tak
yang oleh Gus Dur dan Cak Nur disebut Islam                   mudahnya seseorang mengatas-namakan umat Islam
nominal. Secara politik, muslim abangan ini tak selalu        Indonesia, seperti tak mudahnya mendefiniskan
punya ikatan psikologis-ideologis dengan partai-partai        umat Islam Indonesia. Dengan demikian, kini jelas
Islam seperti PKS, PPP bahkan juga PKB dan PAN.               bahwa sekiranya ada tokoh Islam yang suka mengatas-
Sebagian dari mereka kadang merasa lebih nyaman               namakan umat Islam, maka dia hakekatnya tak
berafiliasi dengan partai-partai sekuler-nasionalis seperti   pernah bisa mewakili umat Islam Indonesia yang
PDI Perjuangan.                                               beraneka ragam itu. Mandat untuk mewakili seluruh
                                                              kepentingan umat Islam Indonesia pun tak pernah
Ketiga, umat Islam adalah mereka yang bukan hanya             dikantongi oleh yang bersangkutan. Sang tokoh akan
menjalankan ritual Islam, melainkan juga mengerti             lebih pas menyebut mewakili dirinya sendiri atau
dasar-dasar ajaran Islam. Mereka tahu dogma,                  kelompok kecilnya yang terbatas. []
pemikiran, dan sejarah peradaban Islam. Kelompok
ketiga ini lazim disebut sebagai Islam santri. Mereka
biasanya alumni sebuah pesantren dan juga Perguruan
Tinggi Agama Islam (PTAI) seperti IAIN dan
                                                       — 30 —
«
                                                                                                     01/04/2010


       Sejumlah Paradoks dalam Pidato
              Hasyim Muzadi
                                           Oleh Abdul Moqsith Ghazali


            Hasyim juga menolak sekularisme. Padahal, dalam waktu yang sama, dia juga menjelaskan
            penerimaan NU terhadap Pancasila, UUD 1945, dan negara bangsa Indonesia. Artinya,
            Indonesia ini bukan negara agama (Islam) melainkan negara Pancasila. Semua produk
            perundang-undangan di negeri ini tak diacukan pada argumen agama (Islam), melainkan
            pada UUD 1945. Tampaknya Hasyim tidak cukup mengerti apa yang disangkalnya,
                                           sekularisme-sekularisasi.



T Makassar yang terkesima dengan pidato
    ak sedikit peserta muktamar NU ke-32 di              seorang pengusaha di lingkungan keluarga Kerajaan
                                                         Arab Saudi, bukan dari Amerika Serikat apalagi Yahudi.
pertanggung-jawaban Hasyim Muzadi, Ketua                 Informasi ini mengagetkan peserta Muktamar NU.
Umum PBNU 2004-2009, Kamis 24 Maret 2010.                Alih-alih menjauhi Ulil seperti kerap dipidatokan
Namun, banyak juga yang mempertanyakan dan               Hasyim di pelbagai forum dan kesempatan, terlampau
mempersoalkannya. Menurut kelompok kedua ini,            banyak pengurus cabang NU yang simpati dengan
dalam pidato tersebut ada sejumlah pernyataan Hasyim     Ulil. Anak-anak muda NU itu mengibaratkan Hasyim
yang paradoks, bertentangan satu dengan yang lain.       Muzadi sedang menepuk air di dulang, kepercik muka
Bahkan juga terkesan simplistis. Beberapa hal berikut    sendiri.
yang digugat kelompok kedua tersebut, persis beberapa
menit setelah Hasyim Muzadi berpidato.                   Kedua, Hasyim juga menolak sekularisme. Padahal,
                                                         dalam waktu yang sama, dia juga menjelaskan
Pertama, Hasyim mengeluhkan anak-anak muda NU            penerimaan NU terhadap Pancasila, UUD 1945, dan
yang sangat tergantung sama lembaga funding Barat.       negara bangsa Indonesia. Artinya, Indonesia ini bukan
Ini, menurut Hasyim, menyebabkan anak-anak muda          negara agama (Islam) melainkan negara Pancasila.
itu tidak independen dalam berfikir dan bertindak.       Semua produk perundang-undangan di negeri ini tak
Padahal, dalam waktu yang sama, dalam pidatonya          diacukan pada argumen agama (Islam), melainkan pada
dia berkata bahwa PBNU melalui kepemimpinannya           UUD 1945. Tampaknya Hasyim tidak cukup mengerti
mendapatkan suntikan dana dari lembaga-lembaga           apa yang disangkalnya, sekularisme-sekularisasi. Dia
donor, bukan hanya dari Timur Tengah melainkan juga      tak tahu jenis-jenis sekularisasi. Ada model Perancis,
dari Barat, seperti USAID, Patnership, dan lain-lain.    Kanada, Amerika Serikat, Indonesia, dan lain-lain.
Kelompok kontra-Hasyim itu mempertanyakan, kalau         Himbauan mereka, tunggal; Hasyim perlu belajar
Hasyim bisa dan boleh menerima dana dari lembaga         banyak teori-teori sekularisasi dan sekularisme.
donor, mengapa anak mudanya tidak boleh. Kalau
PBNU halal mendapat dana dari Barat, kenapa PP           Ketiga, Hasyim pun mengkritik sangat lantang
Fatayat NU menjadi haram menerimanya, misalnya.          pemikiran liberal Islam yang tumbuh subur di kalangan
Ini unfair.                                              anak muda NU. Liberalisme dianggap menyimpang
                                                         dari ajaran Ahlus Sunnah Waljamaah a la Nahdlatul
Bahkan, teman-teman muda NU di Jaringan Islam            Ulama. Sementara, dalam waktu yang bersamaan, dia
Liberal (JIL) menjelaskan bahwa lima tahun terakhir      melaksanakan pikiran-pikiran liberal Islam itu misalnya
tak ada dana dari lembaga donor dari Amerika Serikat     ketika dirinya menjadi cawapres dari Capres Megawati,
dan Australia yang mengalir ke rekening JIL. Ulil        dalam pemilu 2004. Terang benderang dalam buku-
Abshar-Abdalla (pendiri JIL dan kandidat Ketum           buku Sunni dijelaskan larangan bagi perempuan untuk
PBNU dalam muktamar itu) menjelaskan beasiswa            menjadi hakim (qadli) apalagi menjadi kepala negara
dirinya studi di Harvard University AS diperoleh dari    (al-mam al-a’zham). Apakah kita bisa mempertanyakan
                                                   — 31 —
«
ke-aswaja-an Hasyim Muzadi, kata mereka tandas.

Keempat, dia berkata bahwa politik NU adalah politik
keumatan dan bukan politik kekuasaan. Padahal, dalam
waktu yang sama, cukup kerap Hasyim Muzadi terlibat
dalam permainan politik untuk sebuah kekuasaan.
Tak bisa ditutupi, Hasyim bermain dalam sejumlah
Pilkada; pemilihan Gubernur juga pemilihan Bupati.
Hasyim pun menjadikan NU sebagai salah satu
mesin politik ketika dirinya maju sebagai cawapres.
Antara kata dan perbuatan, demikian kelompok
kontra Hasyim itu, jauh panggang dari api. Akhirnya
mereka menyimpulkan bahwa Hasyim Muzadi
gagal menjalankan pelaksanaan Khittah 1926 yang
diamanatkan pada dirinya.

Inilah beberapa poin keberatan yang saya dengar dari
kelompok kontra-Hasyim. Kalau ada waktu, saya
juga akan melaporkan alasan peserta muktamar yang
mengelu-elukan Hasyim Muzadi. Insyaallah.




                                                   — 32 —
«
                                                                                                            11/03/2010


         Pluralisme Agama di Indonesia:
          Masihkah Kita Bisa Berharap?
                                             Oleh Abdul Moqsith Ghazali


            Seseorang tak bisa dikriminalisasi karena yang bersangkutan memilih sekte dan tafsir tertentu
            dalam beragama. Kementerian Agama tak boleh mengintervensi dan menjadi hakim yang
            bisa memutus tentang sesat dan tidaknya suatu tafsir dan ritual peribadatan. Seseorang bisa
            dikriminalisasi bukan karena yang bersangkutan menjalankan ritus peribadatan tertentu,
            melainkan misalnya karena di dalam ritual itu terdapat tindak kriminal seperti kekerasan
                                       yang merendahkan martabat manusia.



B perihal masa depan pluralisme agama di
     anyak orang pesimis dan putus pengharapan             dan perundang-undangan yang tak toleran terhadap
                                                           kelompok minoritas dan agama-agama lokal. UU
Indonesia. Pesimisme ini biasanya didasarkan               PNPS/I/1965 yang mengandung pasal diskriminatif itu
pada beberapa indikator utama. Pertama, telah              hendak dipertahankan oleh beberapa tokoh agama yang
berpulangnya para tokoh agama yang gigih tanpa lelah       bertahta dalam organisasi keislaman besar seperti NU
memperjuangkan pluralisme, sementara tokoh baru            dan Muhammadiyah dan tak sedikit juga dari kalangan
dengan militansi yang sama dengan para pendahulunya        akademisi (perguruan tinggi). Alih-alih dihapuskan,
tak segera matang dan dewasa. Meninggalnya                 bahkan peraturan-peraturan daerah yang bias dan
Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid, Eka                  diskriminatif terus bermunculan di beberapa wilayah di
Darmaputra, TH Sumartana, Mangunwijaya, Gedong             Indonesia.
Bagus Oka, dan lain-lain tak jarang dianggap sebagai
pertanda matinya pluralisme agama di Indonesia. Di         Sebagai generasi muda Islam, saya berpendirian bahwa
lingkungan umat Islam, kepergian Almarhum Gus              ketiga faktor tersebut tak cukup dijadikan alasan untuk
Dur dipandang sebagai pukulan telak bagi gerakan           pesimis menatap masa depan pluralisme agama di
pluralisme. Mereka berpendirian, dengan wafatnya           Indonesia. Ketiga pokok soal tersebut sebenarnya lebih
Gus Dur, maka langit pluralisme akan kian kelam dan        merupakan tantangan bagi pejuang pluralisme agama
buram.                                                     untuk mensolidkan dan mensinergikan gerakan. Ada
                                                           banyak hal yang menyebabkan kita boleh optimis dan
Kedua, terjadi surplus kekerasan berbasis agama            berpengharapan tentang cerahnya pluralisme agama di
dan teologi. Seperti dilansir the WAHID Institute,         Indonesia di masa-masa yang akan datang.
Setara Institute, CRCS UGM, dalam laporan akhir
tahun 2009 tentang indeks kebebasan beragama dan           Memang benar bahwa Gus Dur dan Pak Eka sudah
kekerasan berbasis agama, ditemukan fakta tentang          tidak ada, tapi pikiran-pikiran pluralis keduanya
kian meratanya kekerasan dan diskriminasi terhadap         sudah terlembagakan ke dalam berbagai institusi dan
(umat) agama dan (pengikut) sekte tertentu. Pelakunya      diterjemahkan ke dalam program-program yang lebih
pun sangat beragam, mulai dari individu sampai             terstruktur dan sistematis. Misalnya ada Jaringan
kelompok organisasi keagamaan tertentu. Mulai dari         Islam Liberal (JIL) Jakarta, MADIA Jakarta, the
dipersulitnya ijin pendirian rumah ibadah sampai pada      WAHID Institute Jakarta, ICRP Jakarta, ICIP Jakarta,
pembakaran dan penghancuran rumah ibadah. Ada              ICIP Jakarta, Dian-Interfidei Yogyakarta, YPKM
gereja yang dibakar. Juga ada kelompok Ahmadiyah           Mataram, LK3 Banjarmasin, Pusaka Padang, LAPAR
yang hak-hak sipilnya sampai sekarang masih dirampas.      Makasar, Jakatarup Bandung dan lain-lain. Beberapa
Tak sedikit dari mereka yang tinggal di tempat-tempat      hari lalu baru saja terbentuk Forum Pluralisme
pengungsian.                                               Indonesia, sebuah forum yang dibentuk oleh sejumlah
                                                           intelektual muda lintas agama untuk memperbanyak
Ketiga, masih dipertahankanya sejumlah kebijakan           pangkalan pendaratan pluralisme agama di Indonesia.
                                                      — 33 —
«
Kini sebenarnya tokoh-tokoh muda yang gigih                kelemahan dan keterbatasan dari Perda-Perda Syariat
memperjuangkan pluralisme agama kian tersebar di           itu. Bahkan di sejumlah daerah banyak masyarakat
sejumlah daerah di Indonesia. Mereka bekerja biasanya      sipil yang menentang Perda-Perda tersebut. Ibu-Ibu
tanpa sorotan kamera dan publisitas media, sehingga        muslimah di Bandah Aceh marah ketika dirinya
tampak kurang populer. Tapi, memperhatikan kerja-          ditangkap karena menggunakan celana ketat, misalnya.
kerja advokasi mereka sangat mencengangkan. Melihat
mereka, saya cukup optimis prihal gerakan pluralisme       Yakinlah bahwa sejauh yang bisa dipantau, Perda-Perda
di Indonesia.                                              itu hanya proyek partai politik demi sebuah kekuasaan.
                                                           Persis di situ partai-partai politik salah melakukan
Selanjutnya, dalam proses transisi menuju demokrasi,       diagnosa. Bahwa dengan membuat perda-perda syariat
sebagian negara kerap tidak stabil dan mudah goyah.        itu, partai politik akan mendulang banyak suara.
Dalam konteks itu, negara biasanya tak bisa berperan       Padahal, berkali-kali pemilu yang diselenggarakan
secara efektif untuk melinduangi setiap warganya dari      di Indonesia membutikan bahwa partai politik yang
tindak ketidakadilan oleh warga yang lain. Itulah yang     menjual agama ke khalayak tak pernah menang.
kini terjadi di Indonesia. Sejumlah kekerasan berbasis     Bukan hanya dalam periode dulu, namun juga dalam
agama tak bisa segera dihentikan oleh pemerintah           periode sekarang. Sejumlah partai berasas agama keok
(aparat kepolisian). Pemerintah gamang untuk               dalam pemilihan umum. Saya yakin bahwa ketika
bertindak dan menghukum pelaku kekerasan berbasis          kesadaran tentang tidak lakunya berdagang agama
agama karena khawatir dianggap anti-agama, persisnya       dalam ranah politik itu nanti muncul, semua partai
anti-Islam. Citra sebagai pendukung agama (Islam)          akan berbalik haluan. Inilah yang kini terjadi misalnya
dan sekte mayoritas inilah yang tampaknya hendak           di PKS juga PPP. Sungguh warga negara Indonesia
ditampilkan pemerintahan Yudhoyono, dalam dua              makin cerdas. Mereka tak mendasarkan preferensi
periode pemerintahannya. Dia misalnya selalu memilih       politiknya pada sentimen primordial agama. Berbagai
menteri agama yang cenderung tidak pluralis. Aparat        survey menunjukkan tentang matinya politik aliran
kepolisian pun tak sigap menangkap para “preman            di Indonesia, dan pembunuhnya adalah warga negara
berjubah” karena takut divonis sebagai pelanggar HAM       Indonesia sendiri.
atau pendukung kemaksiatan. Polisi tak dilengkapi
dengan jaminan undang-undang untuk menghukum               Dengan alasan-alasan itu, kita masih berhak untuk
para pelaku kekerasan agama.                               optimis bahwa langit-langit pluralisme agama di
                                                           Indonesia akan makin cerah. Bahwa ada mendung
Kelak, ketika transisi demokrasi ini sudah berakhir,       yang sedikit menggantung, iya. Tapi, yakinlah bahwa
negara akan kembali normal. Di situ kiranya tak            mendung itu akan hilang ditiup angin perubahan dan
ada satu warga negara pun yang hak-haknya boleh            pluralisme. []
dirampas oleh warga lain, termasuk hak untuk
memilih dan menjalankan ajaran agama dan
keyakinan. Bahwa seseorang tak bisa dikriminalisasi
karena yang bersangkutan memilih sekte dan tafsir
tertentu dalam beragama. Kementerian Agama tak
boleh mengintervensi dan menjadi hakim yang bisa
memutus tentang sesat dan tidaknya suatu tafsir dan
ritual peribadatan. Seseorang bisa dikriminalisasi
bukan karena yang bersangkutan menjalankan ritus
peribadatan tertentu, melainkan misalnya karena
di dalam ritual itu terdapat tindak kriminal seperti
kekerasan yang merendahkan martabat manusia.

Diakui bahwa sekarang banyak bermunculan Perda-
Perda (bernuansa) syariat Islam. Namun, kita tak boleh
ciut nyali dan berkesimpulan bahwa diskriminasi
agama yang ditopang dengan struktur negara atau
pemerintah akan dengan sendirinya bisa berjalan
efektif. Sejumlah riset dan penelitian menemukan
                                                       — 34 —
«
                                                                                                        18/12/2009


      Menyambut Tahun Baru Islam 1
     Muharram 1431 H. Kelumit Sejarah
       Pembentukan Kalender Islam
                                             Oleh Abd Moqsith Ghazali

            Hijrah adalah kelir tebal yang menandai babak baru perjuangan Islam. Di Madinah,
            kebajikan tak lagi menjadi dongeng pengantar tidur atau hanya ada dalam mitologi.
            Madinah kemudian menjadi kota dengan peradaban maju; hukum bisa dijalankan dengan
            adil, kesejahteraan masyarakat bisa ditingkatkan, nilai-nilai kemanusiaan sebagai sumbu
                                   ajaran Islam secara gradual bisa ditegakkan.



S
     etiap 1 Muharram umat Islam selalu memperingati       umat agama lain.
     tahun baru hijriyah. Yakni tahun baru dalam
kalender Islam yang start penghitungannya didasarkan       Sementara yang lain mengusulkan, umat Islam perlu
pada kepindahan (hijrah) Nabi dari Mekah ke                memiliki kalender sendiri, tanpa bertaklid pada
Madinah. Sudah menjadi cerita lama bahwa penetapan         almanak bangsa dan umat agama lain. Pendapat ini
tahun Islam ini baru terjadi pada zaman kekhalifahan       kemudian disepakati. Hanya, umat Islam berselisih
Umar ibn Khattab. Dan Umar memang dikenal sebagai          tentang titik tolak penetapan dimulainya tahun Islam
khalifah yang banyak melakukan langkah-langkah             itu. Ada yang berpendapat, tahun kelahiran Nabi
inovatif untuk kemajuan Islam terutama di bidang           Muhammad (milad atau maulid) bisa diambil sebagai
sosial-politik. Di antaranya, adalah penetapan Baitul      batu pijak penghitungan tahun Islam, sebagaimana
Mal (Pusat Keuangan Negara), pembentukan beberapa          umat Kristiani menjadikan tahun kelahiran Yesus
badan usaha milik negara (BUMN), pembuatan                 Kristus sebagai basis penghitungan. Ada juga yang
data kependudukan, penetapan remunerasi-gaji bagi          interupsi supaya perhitungan itu mengacu pada tahun
para tentara perang, pemberian subsisi kepada kaum         wafatnya Nabi Muhammad atau tahun pengangkatan
miskin hingga penyelesaian sengketa tanah-agraria di       Muhammad sebagai nabi atau rasul. Yang lain
Yerussalem dengan ditandatanganinya Perjanjian Aelia       berpendapat agar penghitungan itu mengacu pada
(Mitsaq Ailiya).                                           peristiwa hijrah. Nabi sendiri pernah bersabda bahwa
                                                           dirinya diberi tiga pilihan tempat hijrah oleh Allah
Sebelum ditetapkan, telah bermunculan gagasan              SWT, yaitu: Madinah, Bahrain, dan Qinnasrin (sebuah
tentang perlu dan tidaknya umat Islam memiliki             kota di Syam). Dan Nabi lebih memilih Madinah
penghitungan tahun sendiri. Sebagian Sahabat Nabi          (Yatsrib) ketimbang yang lain. (Ibn Katsir, al-Bidayah,
berpendirian tentang tak dibutuhkannya almanak             Juz III, hlm. 212 & 246).
tersendiri bagi umat Islam. Baik Alquran maupun
Hadits tak pernah memerintahkan untuk membuat              Bersama itu, masih juga terjadi silang sengkarut tentang
kalender khusus Islam. Dengan demikian, menurut            bulan pertama dalam tahun Islam tersebut. Beberapa
mereka, umat Islam cukup mengikuti penghitungan            Sahabat Nabi berpendapat, bulan pertamanya adalah
tahun yang sudah ada dalam tradisi dan kebiasaan           bulan Muharram. Sahabat lain mengusulkan agar
bangsa-bangsa dan komunitas lain. Ada yang                 bulan Ramadan dijadikan bulan pertama, karena bulan
berpendapat agar umat Islam mengikuti hitungan             itu merupakan bulan utama (sayyid al-syuhur). Yang
tahun orang-orang Persia atau bangsa Romawi.               lain lagi mengusulkan, bulan Rabiul Awwal. Sebab,
(Ibn Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, Juz III, hlm.       sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad dari Ibn
246). Dari sini kita tahu bahwa pada saat itu tak          Abbas, hijrah Nabi Muhammad sendiri terjadi pada
tabu sekiranya umat Islam hendak mengambil atau            hari Senin, 13 Rabiul Awwal tahun ke-13 dari kenabian
meminjam tradisi dan kebudayaan dari bangsa dan            Muhammad SAW. Pendapat ini juga dikemukakan
                                                       — 35 —
«
Imam Malik sebagaimana riwayat al-Suhaili (Ibn            tak mendasarkan penghitungan kalender Islam pada
Katsir, al-Bidayah, Juz III, hlm. 220, 247). Argumen      tahun kelahiran, kematian, dan kenabian Muhammad
kelompok terakhir kalau disederhanakan kira-kira          melainkan pada momen hijrah yang menyertakan
adalah: kalau kita sepakat bahwa acuan penghitungan       seluruh umat Islam dari Mekah ke Madinah.
tahun Islam adalah peristiwa hijrah, maka mestinya kita   Momen hijrah diambil, tapi bulan hijrah Nabi yang
juga sepakat menetapkan Rabiul Awal sebagai bulan         diperkirakan Rabiul Awal tak otomatis dijadikan
pertama dalam kalender itu. Sebab, pada bulan itulah      sebagai bulan pertama dalam kalender Islam. Ini terang
hijrah Nabi berlangsung.                                  berguna, agar umat Islam tak terjebak pada kultus yang
                                                          berujung pada penuhanan dan penyembahan tubuh
Namun, beberapa sumber menyebutkan bahwa                  Muhammad SAW. Tubuh-jasad Muhammad SAW yang
hijrah umat Islam sendiri berlangsung tak sekaligus;      fana boleh dikuburkan, tapi roh ajaran kemanusiaannya
bergelombang dan bertahap. Beberapa Sahabat Nabi          saya kira harus tetap “baqa” sepanjang masa. Wallahu
bahkan ada yang sudah berangkat beberapa minggu           A’lam bi al-Shawab. []
bahkan satu hingga dua bulan sebelumnya. Sahabat
Nabi yang pertama kali sampai ke Madinah adalah Abu
Salmah ibn Abdul Asad ibn Hilal ibn Abdullah ibn
Umar dari Bani Makhzum. Riwayat lain menyebut,
yang pertama adalah Mush`ab ibn Umair, Ibnu Umi
Maktum, baru Ammar dan Bilal. Beberapa hari dan
minggu berikutnya disusul oleh Umar ibn Khattab
beserta sanak saudara dan keluarganya seperti Zaid ibn
Khattab. Selanjutnya, yang berhijrah adalah Thalhah
ibn Ubaidillah, Shuhaib ibn Sinan. (Ibn Hisyam,
al-Sirah al-Nabawiyah, Juz II, hlm. 341-349). Nabi
Muhammad dan Sahabat Abu Bakar termasuk yang
terakhir berhijrah. Setelah melakukan perjalanan
berliku selama 15 hari termasuk tinggal di Gua Tsaur
selama 3 hari, mereka berdua akhirnya sampai di
Madinah.

Perbedaan pendapat boleh terjadi, tapi Umar ibn
Khattab sebagai kepala negara segera memveto bahwa
tahun Islam dimulai dari momen hijrah dengan
bulan Muharram sebagai bulan pertama. Kenapa
bulan Muharram? Salah satunya, mungkin karena
bulan itu adalah termasuk bulan diharamkannya
peperangan (anna Allah harrama al-qatla wa al-qital
fiha). Itu adalah bulan perdamaian nan suci. (Al-Razi,
Mafatih al-Ghaib, Juz XV, hlm. 233). Kemungkinan
lain, karena bulan Muharram adalah bulan pertama
kalinya umat Islam hijrah. Tak ada alasan memadai
dibalik penetapan bulan Muharram ini. Lalu, kenapa
momen hijrah? Hijrah adalah kelir tebal yang
menandai babak baru perjuangan Islam. Di Madinah,
kebajikan tak lagi menjadi dongeng pengantar tidur
atau hanya ada dalam mitologi. Madinah kemudian
menjadi kota dengan peradaban maju; hukum bisa
dijalankan dengan adil, kesejahteraan masyarakat bisa
ditingkatkan, nilai-nilai kemanusiaan sebagai sumbu
ajaran Islam secara gradual bisa ditegakkan.

Tampaknya dengan sengaja Khalifah Umar ibn Khattab
                                                    — 36 —
«
                                                                                                          15/06/2009


       Islam dan Pluralitas(isme) Agama
                                              Oleh Abd Moqsith Ghazali

             Ini tidak berarti bahwa semua agama adalah sama. Sebab, di samping memang mengandung
             kesamaan tujuan untuk menyembah Allah dan berbuat baik, tak bisa dipungkiri bahwa setiap
             agama memiliki keunikan, kekhasan, dan syari`atnya sendiri. Sebagian mufasir berkata, al-
             dîn wâhid wa al-syarî`at mukhtalifat [agama itu satu, sementara syari`atnya berbeda-beda].
                     Detail-detail syari`at ini yang membedakan satu agama dengan agama lain.




K pluralism. Kata ini diduga berasal dari bahasa
Pengertian Dasar                                           kelompok lain itu atas dasar perdamaian dan saling
                                                           menghormati. Allah berfirman, “Allah tidak melarang
      ata “pluralisme” berasal dari bahasa Inggris,        kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap
                                                           orang-orang yang tidak memerangi dalam urusan
Latin, plures, yang berarti beberapa dengan implikasi      agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu.
perbedaan. Dari asal-usul kata ini diketahui bahwa         Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
pluralisme agama tidak menghendaki keseragaman             berlaku adil”. QS, al-Mumtahanah [60]: ayat 8
bentuk agama. Sebab, ketika keseragaman sudah
terjadi, maka tidak ada lagi pluralitas agama (religious   Paparan di atas menyampaikan pada suatu pengertian
plurality). Keseragaman itu sesuatu yang mustahil.         sederhana bahwa pluralisme agama adalah suatu
Allah menjelaskan bahwa sekiranya Tuhanmu                  sistem nilai yang memandang keberagaman atau
berkehendak niscaya kalian akan dijadikan dalam satu       kemajemukan agama secara positif sekaligus optimis
umat. Pluralisme agama tidak identik dengan model          dengan menerimanya sebagai kenyataan (sunnatullâh)
beragama secara eklektik, yaitu mengambil bagian-          dan berupaya untuk berbuat sebaik mungkin
bagian tertentu dalam suatu agama dan membuang             berdasarkan kenyataan itu. Dikatakan secara positif,
sebagiannya untuk kemudian mengambil bagian yang           agar umat beragama tidak memandang pluralitas agama
lain dalam agama lain dan membuang bagian yang tak         sebagai kemungkaran yang harus dibasmi. Dinyatakan
relevan dari agama yang lain itu.                          secara optimis, karena kemajemukan agama itu
                                                           sesungguhnya sebuah potensi agar setiap umat terus
Pluralisme agama tidak hendak menyatakan bahwa             berlomba menciptakan kebaikan di bumi.
semua agama adalah sama. Frans Magnis-Suseno
berpendapat bahwa menghormati agama orang lain             Sikap terhadap non-Muslim
tidak ada hubungannya dengan ucapan bahwa semua
agama adalah sama. Agama-agama jelas berbeda-              Pluralitas agama dan umat beragama adalah kenyataan.
beda satu sama lain. Perbedaan-perbedaan syari`at          Sebelum Islam datang, di tanah Arab sudah muncul
yang menyertai agama-agama menunjukkan bahwa               berbagai jenis agama, seperti Yahudi, Nashrani, Majusi,
agama tidaklah sama. Setiap agama memiliki konteks         Zoroaster dan Shabi’ah. Suku-suku Yahudi sudah lama
partikularitasnya sendiri sehingga tak mungkin semua       terbentuk di wilayah pertanian Yatsrib (kelak disebut
agama menjadi sebangun dan sama persis. Yang               sebagai Madinah), Khaibar, dan Fadak. Di wilayah
dikehendaki dari gagasan pluralisme agama adalah           Arab ada beberapa komunitas Yahudi yang terpencar-
adanya pengakuan secara aktif terhadap agama lain.         pencar dan beberapa orang sekurang-kurangnya disebut
Agama lain ada sebagaimana keberadaan agama yang           Kristen. Pada abad ke empat sudah berdiri Gereja
dipeluk diri yang bersangkutan. Setiap agama punya         Suriah. Karena itu tak salah jika dinyatakan, Islam lahir
hak hidup.                                                 dalam konteks agama-agama terutama agama Yahudi
                                                           dan Nashrani.
Nurcholish Madjid menegaskan, pluralisme tidak
saja mengisyaratkan adanya sikap bersedia mengakui         Al-Qur’an memiliki pandangan sendiri dalam
hak kelompok agama lain untuk ada, melainkan juga          menyikapi pluralitas umat beragama tersebut.Terhadap
mengandung makna kesediaan berlaku adil kepada             Ahli Kitab (meliputi Yahudi, Nashrani, Majusi, dan
                                                      — 37 —
«
Shabi’ah), umat Islam diperintahkan untuk mencari        yang mendapati dan kemudian mengikutinya, dan
titik temu (kalimat sawa`). Kalau terjadi perselisihan   celaka bagi yang mengingkarinya”.
antara umat Islam dan umat agama lain, umat Islam
dianjurkan untuk berdialog (wa jâdilhum billatî hiya     Muhammad Husain Haikal melanjutkan kisah tentang
ahsan). Terhadap siapa saja yang beriman kepada Allah,   Qus ibn Sâ`idah. Alkisah, utusan Bani Iyad—suku
meyakini Hari Akhir, dan melakukan amal kebajikan,       Qus ibn Sa`îdah—menemui Nabi. Nabi bertanya
al-Qur`an menegaskan bahwa mereka, baik beragama         keberadaan Qus. Mereka menjawab, Qus ibn Sâ`idah
Islam maupun bukan, kelak di akhirat akan diberi         sudah meninggal dunia. Mendengar informasi tersebut,
pahala. Tak ada keraguan bahwa orang-orang seperti       Nabi teringat akan khotbahnya di Pasar Ukazh; ia
ini akan mendapatlan kebahagiaan ukhrawi. Ini karena,    menunggang unta yang berwarna keabuan sambil
sebagaimana dikemukakan Muhammad Rasyid Ridla,           berbicara. Tapi, aku tidak hafal detail ungkapannya.
keberuntungan di akhirat tak terkait dengan jenis        Seseorang (ada yang bilang Abu Bakar) berkata, “saya
agama yang dianut seseorang.                             hafal wahai Nabi”. Ia kemudian merapalkan isi khotbah
                                                         Qus tersebut. Rasulullah berkata, “semoga Tuhan
Al-Qur’an mengijinkan sekiranya umat Islam               memberi rahmat kepada Qus dan aku berharap agar
hendak bergaul bahkan menikah dengan Ahli Kitab.         ia kelak di hari kiamat dibangkitkan dalam umat yang
Tidak sedikit para sahabat Nabi yang memperisteri        mengesakan-Nya”. `Imad al-Shabbâgh menceritakan,
perempuan-perempuan dari kalangan Ahli Kitab.            Nabi pada akhirnya hafal isi khutbah Qus tersebut.
Utsman ibn `Affan, Thalhah ibn Abdullah, Khudzaifah      Nabi bersabda, berbeda dengan kecenderungan orang-
ibn Yaman, Sa`ad ibn Abi Waqash adalah di antara         orang Arab yang menyembah patung, Qus salah
sahabat Nabi yang menikah dengan perempuan Ahli          seorang yang menyembah Allah Yang Esa.
Kitab. Alkisah, Khudzaifah adalah salah seorang
sahabat Nabi yang menikah dengan perempuan             Pengakuan tentang kenabian Muhammad datang
beragama Majusi. Nabi Muhammad juga pernah             pertama kali dari pendeta Yahudi bernama Buhaira
memiliki budak perempuan beragama Kristen, Maria       dan tokoh Kristen bernama Waraqah ibn Nawfal.
binti Syama`un al-Qibtiyah al-Mishriyah. Dari          Melalui pendeta Buhaira terdengar informasi,
perempuan ini, Nabi memiliki seorang anak laki-laki    Muhammad akan menjadi nabi pamungkas (khâtam
bernama Ibrahim. Ia meninggal dalam usia balita.       al-nabiyyîn). Buhairâ (kerap disebut Jirjis atau
Sejarah juga menuturkan, ayah kandung dari Shafiyah    Sirjin) pernah mendengar hâtif (informasi spritual)
binti Hayy yang menjadi isteri Nabi adalah salah       bahwa ada tiga manusia paling baik di permukaan
seorang pimpinan kelompok Yahudi.                      bumi ini, yaitu Buhaira, Rubab al-Syana, dan satu
                                                       orang lagi sedang ditunggu. Menurutnya, yang
Nabi Muhammad dan para pengikutnya sangat intens       ketiga itu adalah Muhammad ibn Abdillah. Dan
berkomunikasi dengan orang-orang Ahli Kitab.           ketika Muhammad baru pertama kali mendapatkan
Muhammad muda pernah mendengarkan khotbah              wahyu, Waraqah menjelaskan bahwa sosok yang
Qus ibn Sâ`idah, seorang pendeta Kristen dari Thaif.   datang kepada Muhammad adalah Namus yang dulu
Muhammad Husain Haikal, sebagaimana dikutip            juga datang kepada Nabi Musa. Waraqah mencium
Khalîl Abdul Karim, menjelaskan isi khotbah Qus ibn    kening Muhammad sebagai simbol pengakuan
Sâ`idah itu sebagai berikut;                           terhadap kenabiannya, seraya berkata, “Berbahagialah,
                                                       berbahagialah. Sesungguhnya kamu adalah orang yang
“Wahai manusia, dengarkan dan sadarlah. Siapa yang     dikatakan `Isa ibn Maryam sebagai kabar gembira.
hidup pasti mati, dan siapa yang mati pasti musnah.    Engkau seperti Musa ketika menerima wahyu. Engkau
Semuanya pasti akan datang. Malam gelap gulita, langit seorang utusan”. Nabi pernah bersabda bahwa Waraqah
yang beribntang, laut yang pasang, bintang-bintang     akan dimasukkan ke dalam surga oleh Allah.
yang bercahaya, cahaya dan kegelapan, kebaikan dan
kemaksiatan, makanan dan minuman, pakaian dan          Nabi Muhammad tak menganggap ajaran agama
kendaraan. Aku tidak melihat manusia pergi dan tidak sebelum Islam sebagai ancaman. Islam adalah terusan
kembali, menetap dan tinggal di sebuah tempat, atau    dan kontinyuasi dari agama-agama sebelumnya. Allah
meninggalkannya kemudian tidur. Tuhannya Qus ibn       berfirman kepada Nabi Muhammad agar ia mengikuti
Sa’adah tidak ada di muka bumi. Agama yang paling      agama Nabi Ibrahim (millat Ibrahim). Sebagaimana
mulia semakin dekat waktunya denganmu, semakin         Isa al-Masih datang untuk menggenapi hukum Taurat,
dekat saatnya. Maka sungguh beruntung bagi orang       begitu juga Nabi Muhammad. Ia hadir bukan untuk
                                                   — 38 —
«
menghapuskan Taurat dan Injil, melainkan untuk            membangun sebuah rumah. Lalu ia buat rumah itu
menyempurnakan dan mengukuhkannya. Disebutkan             bagus dan indah, kecuali ada tempat bagi sebuah
dalam al-Qur’an, “Dia menurunkan al-Kitab (al-            ubin di sebuah sudut. Orang banyak pun berkeliling
Qur’an) kepadamu dengan sebenarnya, membenarkan           rumah itu dan mereka takjub, lalu berkata, “mengapa
kitab (mushaddiq) yang telah diturunkan sebelumnya        ubin itu tidak dipasang. Nabi bersabda, “Akulah ubin
dan menurunkan Taurat dan Injil sebelum al-Qur’an         itu, Aku adalah penutup para nabi”. Umat Islam pun
menjadi petunjuk bagi manusia dan Dia menurunkan          diperintahkan meyakini dan menghargai seluruh para
al-Furqan”.                                               nabi plus kitab suci yang dibawanya. Jika para nabi
                                                          yang membawa ajaran-ajaran ketuhanan itu dikatakan
Al-Qurthubi mengutip pendapat jumhur ulama yang           Muhammad sebagai bersaudara, maka para pengikut
menyatakan bahwa arti kata mushaddiq dalam ayat           atau pemeluk agama-agama itu disebut sebagai Ahli
itu adalah muwâfiq (cocok atau sesuai). Menurut Ibnu      Kitab.
`Abbâs dan al-Dlahhak, makna atau esensi dasar ajaran
al-Qur’an sesungguhnya telah tercantum dalam kitab-       Ketika Nabi Muhammad memasuki Mekah dengan
kitab sebelum al-Qur’an semisal Taurat Musa, Shuhuf       kemenangan dan menyuruh menghancurkan berhala
Ibrahim. Yang berbeda hanya redaksionalnya bukan          dan patung, dia menemukan gambar Bunda Maria
makna atau esensinya. Ketika ragu tentang sebuah          (Sang Perawan) dan Isa al-Masih (Sang Anak) di
wahyu, al-Qur’an memerintahkan Nabi Muhammad              dalam Ka`bah. Dengan menutupi gambar tersebut
untuk bertanya pada orang-orang yang sudah membaca        dengan jubahnya, dia memerintahkan semua gambar
kitab-kitab sebelum al-Qur’an. Sebab, di dalam            dihancurkan kecuali gambar dua tokoh itu. Dalam
kitab-kitab suci itu, ada prinsip-prinsip dasar yang      riwayat lain disebutkan, yang diselamatkan itu bukan
merekatkan seluruh ajaran para nabi.                      hanya gambar Isa al-Masîh dan ibunya (Maryam),
                                                          melainkan juga gambar Nabi Ibrahim. Patung Maryam
Ini tidak berarti bahwa semua agama adalah sama.          yang terletak di salah satu tiang Ka`bah dan patung
Sebab, di samping memang mengandung kesamaan              Nabi Isa di Hijirnya yang dipenuhi berbagai hiasan
tujuan untuk menyembah Allah dan berbuat baik, tak        dibiarkan berdiri tegak. Tindakan ini diceritakan
bisa dipungkiri bahwa setiap agama memiliki keunikan,     berbagai sumber sebagai penghargaan Muhammad
kekhasan, dan syari`atnya sendiri. Sebagian mufasir       terhadap Isa, Maryam (Bunda Maria), dan Ibrahim.
berkata, al-dîn wâhid wa al-syarî`at mukhtalifat [agama   Ini menunjukkan, sikap saling menghargai telah
itu satu, sementara syari`atnya berbeda-beda]. Detail-    dikukuhkan Nabi semenjak awal kehadiran Islam.
detail syari`at ini yang membedakan satu agama dengan
agama lain. Sebab, tidaklah mustahil bahwa sesuatu        Itulah sikap teologis al-Qur’an dalam merespons
yang bernilai maslahat dalam suatu tempat dan waktu       pluralitas agama dan umat beragama. Sementara
tertentu, kemudian berubah menjadi mafsadat dalam         sikap sosial-politisnya berjalan dinamis dan fluktuatif
suatu ruang dan waktu yang lain. Bila kemaslahatan        Adakalanya tampak mesra. Di kala yang lain, sangat
dapat berubah karena perubahan konteks, maka dapat        tegang. Ketika Romawi yang Kristen kalah perang
saja Allah menyuruh berbuat sesuatu karena diketahui      melawan Persia, umat Islam ikut bersedih. Satu
mengandung maslahat, kemudian Allah melarangnya           ayat al-Qur’an turun menghibur kesedihan umat
pada waktu lain karena diketahui ternyata aturan          Islam tersebut. Disebutkan pula, ketika Muhammad
tersebut tidak lagi menyuarakan kemaslahatan.             SAW mengadakan perjalanan ke Thaif, ia bertemu
                                                          seorang budak pemeluk agama Kristen bernama
Namun, perbedaan syari`at itu tak menyebabkan Islam       `Uddâs di Ninawi Irak (kota asal Nabi Yunus). Ketika
kehilangan apresiasinya terhadap para nabi. Dalam         Muhammad dikejar-kejar, `Uddâs yang memberikan
pandangan Islam, semua nabi adalah bersaudara.            setangkai anggur untuk dimakan.
Nabi Muhammad bersabda, “tak ada orang yang
paling dekat hubungan kekerabatannya dengan Isa           Diceritakan, ketika Muhammad dan pengikutnya
al-Masih ketimbang aku”. Ia bersabda, umat Islam          mendapatkan intimidasi dan ancaman dari kaum
yang mengimani Nabi Isa dan Muhammad SAW                  Musyrik Mekah, perlindungan diberikan raja Abisinia
akan mendapatkan dua pahala. Nabi Muhammad                yang Kristen. Puluhan sahabat Nabi hijrah ke Abisinia
juga bersabda, sebagaimana dalam Shahih Bukhari,          untuk menyelamatkan diri, seperti `Utsman ibn `Affân
”sesungguhnya perumpamaan antara aku dengan               dan istrinya (Ruqayah, puteri Nabi), Abû Hudzaifah
para nabi sebelumnya adalah ibarat seseorang yang         ibn `Utbah, Zubair ibn `Awwâm, Abdurrahman
                                                    — 39 —
«
ibn `Auf, Ja`far ibn Abî Thâlib, hijrah ke Abesinia     seluruh penduduk Madinah, apapun latar belakang
untuk menghindari ancaman pembunuhan kafir              etnis dan agamanya, harus saling melindungi tatkala
Quraisy. Disaat kafir Quraisy memaksa sang raja         salah satu di antara mereka mendapatkan serangan dari
mengembalikan umat Islam ke Mekah, ia tetap             luar. Sekiranya kaum Yahudi mendapatkan serangan
pada pendiriannya; pengikut Muhammad harus              dari luar, maka umat Islam membantu menyelamatkan
dilindungi dan diberikan haknya memeluk agama.          nyawa dan harta benda mereka. Begitu juga, tatkala
Sebuah ayat al-Qur`an menyebutkan, “kalian (umat        umat Islam diserang pihak luar, maka kaum Yahudi
Islam) pasti mendapati orang-orang yang paling dekat    ikut melindungi dan menyelamatkan. Pada paragraf
persahabatannya dengan orang-orang Islam adalah         awal Piagam itu tercantum “Jika seorang pendeta
orang-orang yang berkata, “sesungguhnya kami            atau pejalan berlindung di gunung atau lembah atau
orang Kristen”. Disebutkan pula, waktu raja Najasyi     gua atau bangunan atau dataran raml atau Radnah
meninggal dunia, Muhammad SAW pun melaksanakan          (nama sebuah desa di Madinah) atau gereja, maka
shalat jenazah dan memohonkan ampun atasnya.            aku (Nabi) adalah pelindung di belakang mereka dari
                                                        setiap permusuhan terhadap mereka demi jiwaku,
Alkisah, Nabi pernah menerima kunjungan para tokoh      para pendukungku, para pemeluk agamaku dan para
Kristen Najran yang berjumlah 60 orang. Rombongan       pengikutku, sebagaimana mereka (kaum Nashrani) itu
dipimpin Abdul Masih, al-Ayham dan Abu Haritsah         adalah rakyatku dan anggota perlindunganku”.
ibn Alqama. Abu Haritsah adalah seorang tokoh
yang disegani karena kedalaman ilmunya dan konon        Apa yang dilakukan Nabi Muhammad di Madinah
karena beberapa karomah yang dimilikinya. Menurut       ini menginspirasi Umar ibn Khattab untuk membuat
Muhammad ibn Ja’far ibn al-Zubair, ketika rombongan     traktat serupa di Yerusalem, dikenal dengan “Piagam
itu sampai di Madinah, mereka langsung menuju           Aelia”, ketika Islam menguasai wilayah ini. Piagam
mesjid tatkala Nabi melaksanakan shalat ashar bersama   ini berisi jaminan keselamatan dari penguasa Islam
para sahabatnya. Mereka datang dengan memakai           terhadap penduduk Yerusalem, yang beragama non-
jubah dan surban, pakaian yang juga lazim dikenakan     Islam sekalipun. Salah satu penggalan paragrafnya
Muhammad SAW. Ketika waktu kebaktian telah tiba,        berbunyi:
mereka pun tak mencari gereja. Nabi Muhammad
memperkenankan rombongan melakukan kebaktian            “Inilah jaminan keamanan yang diberikan Abdullah,
atau sembahyang di dalam mesjid.                        Umar, Amirul Mukminin kepada penduduk Aelia:
                                                        Ia menjamin keamanan mereka untuk jiwa dan harta
Hal yang sama juga dilakukan Nabi pada kalangan         mereka, dan untuk gereja-gereja dan salib-salib mereka,
Yahudi. Ketika pertama sampai di Madinah, Nabi          dalam keadaan sakit maupun sehat, dan untuk agama
membuat konsensus untuk mengatur tata hubungan          mereka secara keseluruhan. Gereja-gereja mereka tidak
antara kaum Yahudi, Musyrik Madinah, dan Islam.         akan diduduki dan tidak pula dirusak, dan tidak akan
Traktat politik itu dikenal dengan “Piagam Madinah”     dikurangi sesuatu apapun dari gereja-gereja itu dan
atau “Miytsâq al-Madînah”, dibuat pada tahun pertama    tidak pula dari lingkungannya, serta tidak dari salib
hijriyah. Sebagian ahli berpendapat bahwa Piagam        mereka, dan tidak sedikitpun dari harta kekayaan
Madinah itu dibuat sebelum terjadinya perang Badar.     mereka (dalam gereja-gereja itu). Mereka tidak akan
Sedang yang lain berpendapat bahwa Piagam itu dibuat    dipaksa meninggalkan agama mereka, dan tidak
setelah meletusnya perang Badar. Piagam ini memuat      seorang pun dari mereka boleh diganggu”.
47 pasal. Pasal-pasal ini tak diputuskan sekaligus.
Menurut Ali Bulac, 23 pasal yang pertama diputuskan     Muhammad Rasyîd Ridlâ menuturkan bahwa Umar
ketika Nabi baru beberapa bulan sampai di Madinah.      ibn Khattab pernah mengangkat salah seorang stafnya
Pada saat itu, Islam belum menjadi agama mayoritas.     dari Romawi. Ini juga dilakukan Utsman ibn Affan,
Berdasarkan sensus yang dilakukan ketika pertama        Ali ibn Abi Thalid, raja-raja Bani Umayyah hingga
kali Nabi berada di Madinah itu, diketahui bahwa        suatu waktu Abdul Malik ibn Marwan menggantikan
jumlah umat Islam hanya 1.500 dari 10.000 penduduk      staf orang Romawi ke orang Arab. Daulah Abbasiyah
Madinah. Sementara orang Yahudi berjumlah 4000          juga banyak mengangkat staf dari kalangan Yahudi,
orang dan orang-orang Musyrik berjumlah 4.500           Nashrani, dan Shabiun. Daulah Utsmaniyah juga
orang.                                                  mengangkat duta besar di negara-negara asing dari
                                                        kalangan Nashrani
Dikatakan dalam piagam tersebut misalnya bahwa
                                                  — 40 —
«
Di kala yang lain, hubungan umat Islam dengan             kediamannya, maka umat Islam diijinkan membela diri
umat agama lain itu tegang bahkan keras. Islam            dan melawan. Setelah kurang lebih 13 tahun lamanya
pernah berkonflik dengan Yahudi, juga dengan              Nabi dan umatnya bersabar menghadapi ketidakadilan
Kristen. Sejauh yang bisa dipantau, sikap tegas dan       dan penyiksaan di Mekah, maka baru pada tahun ke 15
keras yang ditunjukkan al-Qur`an lebih merupakan          ketika Nabi sudah berada di Madinah perlawanan dan
reaksi terhadap pelbagai penyerangan orang-orang          pembelaan diri dilakukan. Dalam konteks itulah, ayat-
non-Muslim dan orang-orang Musyrik Mekah.                 ayat perang dan jihad militer diperintahkan.
Islam bukanlah agama yang memerintahkan umat
Islam untuk menyerahkan pipi kiri ketika pipi kanan       Oleh karena itu, jelas bahwa pandangan al-Qur’an
ditampar. Membela diri dan melawan ketidakadilan          terhadap umat agama lain dalam soal ekonomi-politik
dibenarkan. Dalam konteks itulah, ayat jihad dan          bersifat kondisional dan situasional sehingga tak bisa
perang dalam al-Qur`an diturunkan. Jihad melawan          diuniversalisasikan dan diberlakukan dalam semua
keganasan orang-orang Musyrik dan Kafir Mekah tak         keadaan. Ayat demikian bisa disebut sebagai ayat-ayat
dilarang, bahkan diperintahkan. Sebab, orang-orang        fushul (fushûl al-Qur’ân), ayat juz’iyyât, atau fiqh
Musyrik Mekah bukan hanya telah mengintimidasi            al-Qur’an. Ayat-ayat kontekstual seperti itu, dalam
umat Islam, tetapi juga mengusir umat Islam dari          pandangan para mufasir, tak bisa membatalkan ayat-
kediamannya.                                              ayat yang memuat prinsip-prinsip umum ajaran Islam,
                                                          seperti ayat yang menjamin kebebasan beragama dan
Fakta ini membenarkan sebuah pandangan bahwa              berkeyakinan. Tambahan pula, ayat lâ ikrâha fî al-dîn
peperangan pada zaman Nabi dipicu karena persoalan        adalah termasuk lafzh `âm (pernyataan umum) yang
ekonomi-politik daripada soal agama atau keyakinan.       menurut ushul fikih Hanafi adalah tegas dan pasti
Ini bisa dimaklumi karena al-Qur’an sejak awal            (qath`i), sehingga tak bisa dihapuskan (takhshish,
mendorong terwujudnya kebebasan beragama dan              naskh) oleh ayat-ayat kontekstual apalagi hadits ahâd
berkeyakinan. Al-Qur’an tak memaksa seseorang             (seperti hadits yang memerintahkan membunuh orang
memeluk Islam. Allah berfirman (QS, al-Baqarah            pindah agama) yang dalâlahnya adalah zhanni (relatif ).
[2]: 256), lâ ikrâha fî al-dîn (tak ada paksaan dalam     Ayat lâ ikrâha fî al-dîn bersifat universal, melintasi
soal agama). Di ayat lain (QS, al-Kafirun [106]: 6)       ruang dan waktu. Ayat yang berisi nilai-nilai umum
disebutkan, lakum dinukum wa liya dini [untukmulah        ajaran disebut sebagai ayat ushûl (ushûl al-Qur’ân) atau
agamamu, dan untukkulah agamaku]. Al-Qur’an               ayat kulliyât.
memberikan kebebasan kepada manusia untuk beriman
dan kafir [Faman syâ’a falyu’min waman syâ’a falyakfur]   Dalam masyarakat plural seperti Indonesia, saatnya
(QS, al-Kahfi [18]: 29). Al-Qur’an melarang umat          umat Islam lebih memperhatikan ayat-ayat universal,
Islam untuk mencerca patung-patung sesembahan             setelah sekian lama memfokuskan diri pada ayat-ayat
orang-orang Musyrik. Al-Qur’an tak memberikan             partikular. Ayat-ayat partikular pun kerap dibaca
sanksi hukum apapun terhadap orang Islam yang             dengan dilepaskan dari konteks umum yang melatar-
murtad. Seakan al-Qur’an hendak menegaskan bahwa          belakangi kehadirannya. Berbeda dengan ayat-ayat
soal pindah agama merupakan soal yang bersangkutan        partikular, ayat-ayat universal mengandung pesan-
dengan Allah. Tuhan yang akan memberikan keputusan        pesan dan prinsip-prinsip umum yang berguna untuk
hukum terhadap orang yang pindah agama, kelak             membangun tata kehidupan Indonesia yang damai.
di akhirat. Sejarah mencatat, Rasulullah tak pernah
menghukum bunuh orang yang pindah agama.                  Untuk membangun Indonesia yang damai tersebut,
                                                          maka beberapa langkah berikut perlu dilakukan.
Penutup                                                   Pertama, harus dibangun pengertian bersama dan
                                                          mencari titik temu (kalimat sawa`) antar umat
Bisa dikatakan, relasi sosial-politik umat Islam          beragama. Ini untuk membantu meringankan
dengan umat agama lain sangat dinamis. Sikap Islam        ketegangan yang kerap mewarnai kehidupan umat
terhadap umat lain sangat tergantung pada penyikapan      beragama di Indonesia. Dalam konteks Islam,
mereka terhadap umat Islam. Jika umat non-Islam           membangun kerukunan antar-umat beragama jelas
memperlakukan umat Islam dengan baik, maka tak            membutuhkan tafsir al-Qur’an yang lebih menghargai
ada larangan bagi umat Islam berteman dan bersahabat      umat agama lain. Tafsir keagamaan eksklusif yang
dengan mereka. Sebaliknya, sekiranya mereka bersikap      cenderung mendiskriminasi umat agama lain tak cocok
keras bahkan hingga mengusir umat Islam dari tempat       buat cita-cita kehidupan damai, terlebih di Indonesia.
                                                    — 41 —
«
Sebab, sudah maklum, Indonesia adalah negara
bangsa yang didirikan bukan hanya oleh umat Islam,
tetapi juga oleh umat lain seperti Hindu, Budha, dan
Kristen. Dengan demikian, di Indonesia tak dikenal
warga negara kelas dua (kafir dzimmi) sebagaimana
dikemukakan sebagian ulama. Menerapkan tafsir-
tafsir keagamaan eksklusif tak cukup menolong bagi
terciptanya kerukunan dan kedamaian

Kedua, setiap orang perlu menghindari stigmatisasi
dan generalisasi menyesatkan tentang umat agama lain.
Generalisasi merupakan simplifikasi (penyederhanaan)
dan stigmatisasi adalah merugikan orang lain. Al-
Qur’an berusaha untuk menjauhi generalisasi. Al-
Qur’an menyatakan, tak seluruh Ahli Kitab memiliki
perilaku dan tindakan sama. Di samping ada yang
berperilaku jahat, tak sedikit di antara mereka yang
konsisten melakukan amal saleh dan beriman kepada
Allah.

Ketiga, sebagaimana diperintahkan al-Qur’an dan
diteladankan Nabi Muhammad, umat Islam seharusnya
memberikan perlindungan dan jaminan terhadap
implementasi kebebasan beragama dan berkeyakinan.
Sebagaimana orang Islam bebas menjalankan
ajaran agamanya, begitu juga dengan umat dan
sekte lain. Seseorang tak boleh didiskriminasi dan
diekskomunikasi berdasarkan agama yang dipilih
dan diyakininya. Dalam kaitan ini, umat Islam perlu
mengembangkan sikap toleran, simpati dan empati
terhadap kelompok atau umat agama lain.[]




                                                   — 42 —
«
                                                                                                           26/01/2009


    Menyambut Ultah NU ke 83 NU dan
        Passing Over Pemikiran
                                              Oleh Abd Moqsith Ghazali


             Gerakan purifikasi itu dikeluhkan dan ditentang para kiai pesantren karena potensial
             merubuhkan jenis-jenis keislaman lokal nusantara. Bagi para kiai, tak ada Islam murni
             dan tak murni. Islam selalu berwatak lokal dan pribumi. Dengan memodifikasi pernyataan
             Junaid al-Baghdadi (w. 297 H.), para kiai berpendirian bahwa Islam itu warna-warni.Yang
             menjadi perekat dari berbagai ekspresi keislaman itu, menurut para kiai, adalah nilai-nilai
                                    dasar dari agama itu (maqashid al-syari`at).



8 sebagai organisasi sosial keagamaan (jam`iyah
    3 tahun lalu (31/1/1926), Nahdlatul Ulama berdiri      Di Indonesia juga sama. Ada Islam Aceh, Islam
                                                           Minangkabau, di samping Islam Sasak dan Islam Jawa.
diniyah ijtima`iyah). Kehadirannya saat itu memiliki       Di Jawa pun, ekspresi keislaman bisa dibedakan antara
beberapa tujuan pokok, di antaranya: Pertama,              pesisir utara Jawa yang cenderung ortodoks dan pesisir
menahan laju purifikasi Islam yang digelorakan             selatan Jawa yang lebih heterodoks. Kita bisa melihat
beberapa tokoh Wahabi Indonesia. Gerakan purifikasi        tampilan keislaman di utara Jawa mulai dari Banten,
itu dikeluhkan dan ditentang para kiai pesantren           Cirebon, Pekalongan, Rembang, Tuban, Surabaya,
karena potensial merubuhkan jenis-jenis keislaman          Pasuruan, hingga Situbondo yang berbeda dengan
lokal nusantara. Bagi para kiai, tak ada Islam murni dan   karakter keislaman selatan Jawa mulai dari Yogyakarta,
tak murni. Islam selalu berwatak lokal dan pribumi.        Kebumen, Magelang, Ngawi, Blitar, Pacitan, Lumajang
Dengan memodifikasi pernyataan Junaid al-Baghdadi          hingga Banyuwangi. Sadar akan pluralitas itu, NU tak
(w. 297 H.), para kiai berpendirian bahwa Islam itu        punya ambisi untuk merangkum kaum nahdliyyin
warna-warni. La lawna lahu. Walawnuhu lawna ina’ihi.       ke dalam satu cluster pemikiran yang ekslusif.
Yang menjadi perekat dari berbagai ekspresi keislaman      Warga NU hingga hari ini dibiarkan dengan segala
itu, menurut para kiai, adalah nilai-nilai dasar dari      keanekaragamannya. Sekali lagi, yang menjadi semen
agama itu (maqashid al-syari`at).                          perekatnya adalah maqashid al-syari`at.

Fakta antropologis, sosiologis, dan intelektual            Kedua, NU berdiri untuk mengedukasi masyarakat
menunjukkan bahwa pernah ada Islam Hijaz dan               agar tak fanatik pada salah satu mazhab pemikiran.
Islam Persia. Jika Islam Hijaz bersandar pada kekuatan     Dalam Statuten Perkoempoelan Nahdlatul Ulama pasal
dalil normatif al-Qur’an dan Hadits (dalil naqli),         2 disebutkan tentang tujuan berdirinya NU, “Adapoen
maka Islam Persia secara umum bertunjang pada              maksoed perkoempoelan ini jaitoe memegang dengan
kekuatan akal (dalil aqli). Sejumlah pengamat masih        tegoeh satoe dari mazhabnja imam empat jaitoe Imam
mengkategorikan Islam Persia ke dalam dua corak;           Moehammad bin Idris asj-Sjafi’i, Imam Malik bin
Islam Kufah dan Islam Bashrah Sekiranya Islam              Anas, Imam Aboe Hanifah An-Ne’man, atoe Imam
Kufah berparadigma formalistik-rasionalistik dengan        Ahmad bin Hanbal, dan mengedjakan apa saja yang
tokohnya misalnya Ibrahim al-Nakha`i (w. 95 H.),           mendjadikan kemaslahatan agama Islam”. Artinya, di
Masruq al-Hamdani (w. 63 H.), maka Islam Bashrah           tengah masyarakat yang hanya bersandar pada mazhab
beraroma sufitik-spiritual dengan tokohnya Hasan           Syafi’i saat itu, NU membuka ruang bagi diikutinya
al-Bashri (w. 110 H.) dan Rabi`ah al-Adawiyah (w.          mazhab lain bahkan yang dikenal rasional sekalipun
185 H.). Jika rasionalisme para ulama di Kufah             seperti Imam Abu Hanifah.
dipandang sebagai respons positif atas filsafat Yunani
yang berkembang di sana, maka asketisme Hasan al-          Kini sejumlah kiai NU melakukan passing over
Bashri dan eskapisme Rabi`ah ditempuh sebagai kritik       pemikiran. Dalam berbagai kegiatan ilmiah dan
terhadap hedonisme yang menghunjam di Bashrah.             bahtsul masa’il, mereka tak hanya mengutip para imam
                                                      — 43 —
«
mazhab dari rumpun keislaman Sunni, melainkan
juga dari kelompok lain seperti Mu`tazilah dan Syi`ah.
Sejumlah kiai merujuk pada tafsir al-Zamakhsyari yang
berhaluan Mu`tazilah dan fikih Ja`fari yang Syi`ah.
Di beberapa pesantren, tafsir al-Kasysyaf yang ditulis
al-Zamakhsyari dipelajari secara khusus oleh para
santri. Saya juga berjumpa dan kenal dengan beberapa
kiai NU yang secara diam-diam melahap buku-buku
keislaman progresif yang ditulis misalnya oleh Hassan
Hanafi, Mohamed Arkoen, Nashr Hamid Abu Zaid,
Muhammad Syahrur, dan Khalil Abdul Karim. Dalam
soal pemikiran keislaman, sikap para kiai NU clear-
cut; “lihat apa yang dikatakan bukan siapa yang
mengatakan” (unzhur ma qala wa la tanzhur man qala).
Kesahihan sebuah pemikiran tak diukur dari siapa yang
mengatakannya, tapi apa yang dikatakannya—seperti
apa argumennya dan bagaimana kemanfaatannya.

Seperti disebutkan di ujung terakhir pasal 2 Statuten
Perkoempoelan NU itu, kemasalahatan adalah
jangkar dari seluruh diskursus keislaman dalam NU.
Pandangan ini tak asing. Sebab, mayoritas ulama
Islam memang berpendirian demikian. Izz al-Din Ibn
Abdi al-Salam (w. 660 H.) misalnya berkata, “seluruh
ketentuan dan ajaran di dalam Islam dikembalikan
sepenuhnya kepada kemaslahatan” (innama al-takalif
kulluha raji`atun ila mashalih al-`ibad fi dunyahum wa
ukhrahum). Akhirnya, basis kemaslahtan inilah yang
menjadi parameter keabsahan sebuah pemikiran dalam
Islam dan ini juga yang terus mendinamisasi pemikiran
dalam tubuh Nahdlatul Ulama, dari dulu hingga
sekarang. Selamat Ulang Tahun NU yang ke 83. []




                                                   — 44 —
«
                                                                                                        02/09/2008


       Teologi Ramadan dan Kerukunan
                 Antar-Umat
                                             Oleh Abdul Moqsith Ghazali


            Orang yang gagal dalam puasa adalah mereka yang telah menjalankan ibadah puasa tapi
            tetap melakukan kekerasan sekalipun dengan basis dan argumen agama. Saya percaya,
            semakin banyak umat Islam yang khusuk dalam berpuasa, maka semakin berkurang jumlah
            kekerasan dan konflik yang menyertakan umat beragama. Ramadan adalah titik terpenting
                 bagi upaya peningkatan toleransi dan kerukunan intra dan antar-umat beragama.




H pertama puasa Ramadan. Sebagaimana tahun-
                   Artikel ini sebelumnya telah dimuat di Media Indonesia, tanggal 1 September 2008

      ari ini umat Islam Indonesia memasuki hari            menetapkannya sebagai salah satu sunnahku. Maka,
                                                            barangsiapa yang menjalankan ibadah puasa dengan
tahun sebelumnya, mereka menyambut bulan suci itu           keimanan penuh, maka Allah akan menghapus dosa-
dengan beragam cara; mulai dari sekedar mengirim sms        dosanya seperti seorang anak yang baru keluar dari
(layanan pesan cepat) permintaan maaf ke sejumlah           rahim ibundanya”.
kolega hingga membentang spanduk dan poster yang
berisi ucapan selamat atas datangnya bulan yang sarat       Hadits lain menyebutkan bahwa minggu pertama
berkah itu (syahr mubarak). Bahkan, perempuan               bulan Ramadhan adalah minggu ampunan atas dosa-
yang tak lazim menggunakan jilbab pun mengisi               dosa. Tentu saja, dosa yang akan diampuni itu hanyalah
Ramadan dengan busana yang membalut seluruh                 dosa yang terkait antaranya dirinya dengan Allah
tubuh. Di mana-mana kita menyaksikan orang-orang            (hablun min Allah). Sementara dosa privat terhadap
memakai baju koko sehingga tampak lebih islami dan          sesama manusia tak bisa diampuni kecuali terlebih
religius. Tabung televisi yang semula mengandung            dahulu meminta maaf kepada yang bersangkutan. Itu
pertunjukan dangkal makna tiba-tiba berubah dengan          sebabnya, ketika mau memasuki Ramadan, maka SMS
spiritualisme. Layar kaca penuh dengan siraman              dan surat permintaan maaf itu banyak dilakukan umat
ruhani. Mesjid-mesjid serta mushalla semarak dengan         Islam. Namun, penting ditekankan, dosa publik seperti
kultum (kuliah tujuh menit) dari para ustadz. Suasana       korupsi bisa terampunkan sekiranya sebuah sanksi
itu kian menebalkan kesan bahwa umat Islam sedang           hukum telah dijatuhkan untuk si koruptur tersebut.
berada dalam “peristiwa spiritual” yang dahsyat.            Menurut para ahli fikih Islam, tindakan korupsi tak
Tampaknya mereka sedang meresapi sebuah hadits              diampuni hanya dengan menjalankan ibadah puasa
yang menyebutkan, “barang siapa yang bersuka cita           Ramadhan.
dengan kehadiran bulan Ramadan, maka Allah akan
mengharamkan tubuh yang bersangkutan tersentuh              Kedua, bahwa Ramadhan juga membakar perut yang
api neraka” (man fariha bi dukhuli Ramadlan harrama         sedang berpuasa. Selama berpuasa umat Islam tak
Allah jasadahu `ala al-niyran).                             diperbolehkan makan dan minum serta hal-hal lain
                                                            yang membatalkan puasa semenjak terbit fajar hingga
Bagi umat Islam, puasa yang wajib adalah puasa              terbenam matahari. Dengan berpuasa, orang kaya
sepanjang bulan Ramadan. Secara etimologis,                 yang tak pernah lapar ikut merasakan kelaparan yang
Ramadhan sendiri berarti terik, panas, terbakar. Ini        senantiasa mendera hari demi hari orang miskin di
mengandung beberapa pengertian. Pertama, bahwa              luar Ramadhan. Karena itu, di bulan Ramadhan umat
Ramadhan akan membakar dosa seseorang pada Tuhan.           Islam diperintahkan untuk mengeluarkan zakat fitrah
Itu sebabnya, bulan Ramadhan disebut sebagai bulan          yang diperuntukkan terutama buat kaum fakir dan
ampunan (syahrul maghfirah). Nabi Muhammad                  miskin. Menurut Abu Hanifah, zakat fitrah tak harus
bersabda, “sesungguhnya Allah telah mewajibkan              diberikan kepada sesama muslim, melainkan juga
umat Islam berpuasa di bulan Ramadan, dan saya              bisa diberikan kepada orang-orang non-muslim yang
                                                      — 45 —
«
fakir dan miskin. Bahkan, al-Mahdawi berpendapat        berpuasa pada hari Asyura hingga turun perintah
bahwa dibolehkan bagi umat Islam untuk memberikan       yang mewajibkan umat Islam berpuasa di bulan
zakat kepada orang Musyrik yang miskin. Inilah saya     Ramadan. Dikisahkan, puasa pada hari Asyura ini
kira salah satu makna dari Islam sebagai rahmatan lil   dilakukan Nabi sebagai bukti penghargaan terhadap
alamin.                                                 kaum Yahudi dan terhadap Nabi Musa. Itu berarti
                                                        bahwa puasa merupakan ibadah lintas agama. Puasa
Ketiga, bahwa Ramadhan potensial membakar               juga mengandung makna penghargaan terhadap umat
hawa nafsu duniawi orang yang berpuasa. Dengan          agama lain.
demikian, orang yang menjalankan ibadah puasa
bukan orang yang rakus dan tamak. Ia bisa menahan       Dengan demikian, umat Islam yang sukses dalam
diri dari kecenderungan hedonistik. Sebab, kita semua   menjalankan ibadah puasa adalah mereka yang kian
mengerti bahwa makin tingginya angka korupsi            toleran dan respek terhadap umat agama lain. Orang
dan penyelewengan di negeri ini bukan karena para       yang berpuasa tak akan membakar rumah ibadah umat
pelakunya lapar dan miskin, melainkan karena rakus      agama lain dan tak menghancurkan mesjid orang-orang
dan tamak. Para pejabat tinggi masih korupsi walau      Islam yang dianggap menyimpang. Jika dieksplisitkan,
gajinya berpuluh juta rupiah. Ramadan mendidik kita     orang yang gagal dalam puasa adalah mereka yang
untuk tak terus memperturunkan keserakahan dan          telah menjalankan ibadah puasa tapi tetap melakukan
ketamakan. Orang bijak nan arif berkata, kekayaan       kekerasan sekalipun dengan basis dan argumen agama.
bumi Indonesia cukup untuk memenuhi kebutuhan           Saya percaya, semakin banyak umat Islam yang
seluruh warganya, tapi tak memadai untuk menuruti       khusuk dalam berpuasa, maka semakin berkurang
keinginan dan nafsu satu orang penghuninya.             jumlah kekerasan dan konflik yang menyertakan umat
                                                        beragama. Ramadan adalah titik terpenting bagi upaya
Puasa dan Kerukunan                                     peningkatan toleransi dan kerukunan intra dan antar-
                                                        umat beragama.
Apa sebenarnya makna puasa bagi umat Islam
Indonesia dan negeri Indonesia yang plural ini? Semua   Akhirnya, walau yang melakukan ibadah puasa
pelajar Islam tahu, al-Qur’an menegaskan bahwa          Ramadhan itu hanya umat Islam, sudah semestinya
ibadah puasa tak murni dari Islam. Para ulama ushul     yang ikut merasakan efek positif dari puasa Ramadan
fikih memasukkan puasa ke dalam salah satu ajaran       adalah seluruh warga bangsa di Indonesia ini. Selamat
yang didasarkan pada syariat pra-Islam (syar`u man      menunaikan ibadah puasa Ramadan 1429 H. []
qablana). Sebab, umat-umat sebelumnya memang
sudah biasa menjalankan puasa untuk mencapai derajat
ketakwaan. Allah berfirman dalam al-Qur’an, “Hai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian
berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang
sebelum kalian, agar kalian bertakwa”. Imam Al-
Quthubi dalam bukunya al-Jami` li Ahkam al-Qur’an
(Juz I, hlm. 672) menyatakan bahwa umat Nabi
Nuh, Nabi Musa, dan Nabi Isa telah mempraktekkan
ibadah puasa, walau dengan waktu dan tata cara yang
mungkin berbeda dengan yang dilaksanakan umat
Islam. Satu bukti, dalam Perjanjian Baru misalnya
disebutkan, “Dan apabila kamu berpuasa, janganlah
muram mukamu seperti orang munafik..” (Matius:
6:16).

Sebuah hadits sahih menyebutkan, ketika pertama
kali datang ke Madinah, Nabi mendapati orang-orang
Yahudi berpuasa pada hari Asyura. (Shahih Bukhari,
hadits ke 3942 dan 3943). Hadits lain menyebutkan,
orang-orang Quraisy sebelum Islam terbiasa melakukan
puasa Asyura. Dan Nabi memerintahkan umat Islam
                                                   — 46 —
«
                                                                                                      16/04/2007


 Dari Kartini Sampai Feminis Islam:
Menyambut Hari Kartini 21 April 2007
                                               Oleh Abd Moqsith Ghazali


             Yang tak kalah spektakuler adalah gerakan sekelompok feminis Muslim yang merumuskan
             Counter Legal Draft (CLD) terhadap Kompilasi Hukum Islam (KHI) hasil produk Inpres
             No.1 tahun 1991. Bagi mereka, KHI masih mengidap cara pandang dan filosofi patriakrhi.
             Karena itu, perlu revisi agar selaras dengan semangat Islam yang menuntut keadilan dan
                                                      kesetaraan.



P
     erjuangan keadilan dan kesetaraan gender di            Aisyi’ah Muhammadiyah, dan Muslimat NU. Ini
     negeri ini telah berlangsung lama, sejak sebelum       berlangsung antara akhir 1920-an hingga akhir
Indonesia merdeka hingga era reformasi. Tokoh-tokoh         1950-an. Isu yang berkembang masih sama dengan
dan isunya pun beragam. Jika dikategorisasi secara          sebelumnya, yaitu emansipasi perempuan di pelbagai
periodik, gerakan feminisme Indonesia punya empat           bidang, termasuk penolakan poligami, pembenahan
gelombang.                                                  pendidikan, dan sebagainya.

Pertama, dirintis oleh individu-individu yang tak           Organisasi perempuan Muhammadiyah, Aisyi’ah,
terlembaga dan terorganisasi secara sistemik. Mereka        cukup gencar menyuarakan pentingnya perempuan
bergerak sendiri-sendiri. Mungkin karena hambatan           mengambil bagian di ruang publik, karena mereka
dan keterbatasan, perempuan sekuler seperti RA              punya hak yang setara dengan laki-laki untuk
Kartini, tak bersinergi dengan perempuan Muslim             meningkatkan kualitas diri. Cukup mengagetkan,
dalam memperjuangkan hak-hak perempuan.                     Muslimat NU—yang dikenal tradisional—dalam
                                                            sebuah konferensi di Surabaya (1930-an) mulai
Periode ini berlangsung senjak akhir abad ke-19 dan         mendesak agar perempuan dibolehkan memasuki
awal abad ke-20. Tokoh-tokoh perempuan Muslim               lembaga-lembaga politik.
yang muncul pada periode ini, antara lain Rohana
Kuddus (Minangkabau), Rahmah el-Yunusiyah, dan              Desakan Muslimat NU ini dikukuhkan konferensi
lain-lain. Mereka telah mendirikan pesantren khusus         besar Syuriah NU (1957) di Solo yang membolehkan
perempuan (ma’had li al-banat). Di pesantren, remaja-       perempuan menjadi anggora parlemen. Pada periode
remaja puteri diajari baca-tulis. Telah disadari, belajar   ini, undang-undang keluarga pertama lahir: UU No.
membaca dan menulis bukan hanya hak khusus kaum             22 tahun 1946. Salah satu pasalnya menyebut bahwa
laki-laki.                                                  perkawinan, perceraian, dan rujuk harus dicatatkan.
                                                            Penubuhan gagasan ke dalam sebuah undang-
Tokoh-tokoh perempuan saat itu bukan hanya                  undang, sungguh terobosan baru. Ketiga, emansipasi
menuntut perbaikan pendidikan perempuan, tapi               perempuan dalam pembangunan nasional yang
juga telah menggugat praktek poligami, pernikahan           berlangsung sejak 1960-an hingga 1980-an. Dengan
dini, dan perceraian yang sewenang-wenang. Gerakan          makin baiknya pendidikan perempuan, sejumlah
individual yang baru dalam tahap rintisan ini tak bisa      perempuan mulai terlibat dalam proses pembangunan
diharapkan punya pengaruh signifikan. Perjuangan            yang digalakkan Orde Baru. Perempuan bukan hanya
mereka seperti berteriak di tengah belantara dunia          diakui kemampuannya, tapi juga diajak aktif dalam
patriakhi.                                                  mengisi pembangunan.

Kedua, institusionalisasi gerakan dengan munculannya        Ada banyak tokoh perempuan Islam yang lahir pada
organisasi-organisasi perempuan seperti Persaudaraan        periode ini, misalnya Zakiah Drajat. Ormas keagamaan
Isteri, Wanita Sejati, Persatuan Ibu, Puteri Indonesia,     tradisonal seperti NU memasukkan perempuan dalam
                                                       — 47 —
«
komposisi Syuriah NU, seperti Nyai Fatimah, Nyai             Yang menarik, tak seperti periode sebelumnya,
Mahmudah Mawardi, Nyai Khoriyah Hasyim. Ini tak              gelombang terakhir ini tak lagi diurus kaum
lazim dan tak ada presedennya dalam sejarah NU.              perempuan per se, tapi juga disokong secara moral-
                                                             intelektual oleh feminis laki-laki, seperti (alm.)
Hanya saja, gerakan perempuan pada periode ini belum         Mansoer Fakih, Nasaruddin Umar, Budhy Munawar-
maksimal. Perempuan cenderung tidak proaktif dalam           Rachman, dan KH Husein Muhammad. Kehadiran
proses-proses tersebut. Ini mungkin karena jumlah            mereka ikut menambah amunisi bagi kokohnya
yang terlibat masih terbatas. Namun yang perlu dicatat,      gerakan perempuan di Indonesia.
pada periode ini telah lahir Undang-Undang No. 1
tahun 1974 tentang Hukum Perkawinan.                         Kiai Husein yang datang dari lingkungan pesantren,
                                                             sebuah institusi yang selama ini dianggap sebagai
Di dalam Undang-Undang ini, poligami makin                   lumbung konservasi teologi patriakhi, menulis
dibatasi. Laki-laki tak bisa mempraktekkan poligami          sejumlah buku penguatan dan advokasi perempuan
tanpa mendapat ijin isteri. Pengetatan poligami ini          dari perspektif fikih.
sempat mengundang polemik tajam dalam tubuh umat
Islam. Keempat, diversifikasi gerakan hingga ke level        Kini generasi di bawah mereka sudah siap menyangga
terbawah seperti pesantren. Ini berlangsung antara           dengan perlengkapan intelektual yang mumpuni dan
1990-an hingga sekarang. Pada era ini terjadi sinergi        integritas diakui, seperti Faqihuddin Abdul Kodir,
antara feminis sekular dan feminis Islam. Feminis            Marzuki Wahid, Syafiq Hasyim, Badriyah Fayumi,
sekular seperti Saparinah Sadli, Wardah Hafidz,              Masruchah, dan lain-lain. Tokoh-tokoh muda yang
Nursyahbani Katjasungkana, Yanti Mukhtar dan Gadis           rata-rata lahir tahun 1970-an ini punya dedikasi tinggi
Arivia, yang punya hambatan teologis dalam gerakan,          bagi tegaknya keadilan dan punahnya diskriminasi di
mendapat injeksi moral- keagamaan dari para feminis          negeri ini.[]
Muslim.

Begitu juga sebaliknya; para feminis Muslim
mendapat pengayaan wacana dari tokoh-tokoh feminis
sekuler. Mereka berjejaring dan bersinergi dalam
memperjuangkan hak-hak perempuan. Muara yang
hendak dituju sama, yaitu penguatan civil society,
demokratisasi, dan penegakan HAM, termasuk
keadilan dan kesetaraan gender.

Prestasi yang perlu dicatat pada periode ini adalah
lahirnya UU No.23 tahun 2004 tentang Penghapusan
Kekerasan dalam Rumah Tangga. UU ini menegaskan
bahwa kekerasan bukan hanya fisik, tapi juga psikis,
seksual, atau penelantaran (Bab III pasal 5).

Yang tak kalah spektakuler adalah gerakan sekelompok
feminis Muslim yang merumuskan Counter Legal
Draft (CLD) terhadap Kompilasi Hukum Islam
(KHI) hasil produk Inpres No.1 tahun 1991. Bagi
mereka, KHI masih mengidap cara pandang dan
filosofi patriakrhi. Karena itu, perlu revisi agar selaras
dengan semangat Islam yang menuntut keadilan dan
kesetaraan.

Para feminis Muslim yang fenomenal dalam gelombang
ini, antara lain Sinta Nuriyah Wahid, Lies Marcoes-
Natsir, Farha Cicik, Siti Musdah Mulia, Maria Ulfa
Anshar, dan Ruhainy Dzuhayatin.
                                                        — 48 —
«
                                                                                                            01/10/2006


                                           Kultur Takfir
                                                  Oleh Abd Moqsith Ghazali

              Rupanya mentalitas arkaik dengan mengkafirkan dan menghujat orang lain itu tak surut
              dalam fenomena keberislaman kita kontemporer. Bahkan ia tampak cenderung menaik.
                        Keberislaman Indonesia juga kian terkotori kabut kelam pengkafiran.



I perbedaan di dalam memahami agama dan
   khtilaf lazim diartikan sebagai perbedaan, termasuk         bermadzhab Hanafi menulis kitab al-Mabsuth-nya
                                                               di ruang penjara. Orang sealim al-Nu’man bin Tsabit
menafsirkan kitab suci. Dan Islam adalah salah satu            Abu Hanifah (w. 150 H./767 M.) yang kini pendapat-
agama yang menghargai perbedaan. Sebuah pernyataan             pendapatnya diikuti banyak orang, dulu oleh sebagian
populer menyebutkan bahwa perbedaan adalah rahmat              ulama dipandang menyesatkan.
(ikhtilâf al-a`immah rahmah). Khalifah Umar bin
Abdul Aziz pernah berkata, “ma yasurruni lau anna              Ibnu Hibban al-Busti dalam al-Majruhin min
ummata muhammadin lam yakhtalifû (saya senang                  al-Muhaddisin wa al-Dhu’afa` wa al-Matrukin
kalau umat Muhammad berbeda pendapat).”                        menyatakan bahwa Abu Hanifah tak lebih dari
                                                               seorang penyeru bid’ah dan kafir. Abu Hanifah pernah
Indahnya perbedaan pendapat itu menginspirasi Abi              didesak untuk mencabut sejumlah pendapatnya dan
Abdillah Muhammad bin Abdirrahman al-Dimasyqi                  segera bertobat dari kekufuran. Bukan hanya Abu
untuk memberi judul bukunya dengan Rahmatul                    Hanifah, Al-Busti pun mengkafirkan ulama-ulama lain;
Ummah fiy Ikhtilâf al-A`immah (Keuntungan Umat                 Muhammad bin Hasan al-Syaibani (189 H./802 M.)
dari Perbedaan Para Imam).                                     dianggap sebagai penyebar kebohongan dan bukan
                                                               seorang ahli fikih. Muqatil bin Sulaiman al-Balkhi
Namun, lain yang diidealkan lain pula yang                     (w. 150H./767M.) dianggap sebagai orang fasiq dan
dilaksanakan. Perbedaan kerap berakhir dengan                  fajir. Padahal, kata Imam Syafi’ie (w. 204 H./820 M.),
kekerasan. Sebagian ulama yang menyampaikan                    sejauh menyangkut soal tafsir, kita ini adalah anak-anak
tafsir keagamaan berbeda dipersonanongratakan,                 yang bergantung pada Muqatil.
dipenjarakan, dipukul, disiksa, dicaci-maki, dan buku-
bukunya dibakar. Ibnu Jarir Al-Thabari (w. 310 H./923          Rupanya mentalitas arkaik dengan mengkafirkan dan
M.) menjalani sebagian hidupnya dalam penderitaan              menghujat orang lain itu tak surut dalam fenomena
karena disiksa oleh pengikut fanatik Ahmad bin                 keberislaman kita kontemporer. Bahkan ia tampak
Hanbal.                                                        cenderung menaik. Keberislaman Indonesia juga kian
                                                               terkotori kabut kelam pengkafiran. Cak Nur terus
Orang yang mau mengunjungi kediaman Thabari                    dihujat dan dikafirkan sekalipun ia sudah meninggal
diancam. Buku-bukunya dihanguskan. Kitab tafsir                satu tahun yang lalu.
buah karyanya, Jâmi’ al-Bayân fiy Ta`wil al-Qur`an,
dianggap sebagai sampah karena dinilai mengandung              Gus Dur jelas; di sejumlah tempat ia dihujat dan
cerita-cerita israiliyat. Kitab tafsir tersebut lalu dibakar   darahnya dihalalkan. Tapi, biasanya ia melawan
bersamaan dengan buku-bukunya yang lain. Tak puas              kemudian tak peduli. Gus Dur adalah tipe kyai yang la
sampai di situ, kuburan Thabari pun kerap dilempari            yakhafu lawmata la`im (tak gentar dengan cemoohan
kotoran. Namun, kini semua umat Islam tahu bahwa               orang lain ketika menyatakan pendapat).
tafsir al-Thabari adalah tafsir yang sahih. Apa yang
dahulu dipandang sebagai sampah telah dipandang                Saya mulai mendengar, sekelompok orang gencar
sebagai sesuatu yang penting.                                  menghujat para kiai yang menolak perda syari’at dan
                                                               bentuk-bentuk formalisasi syari’at Islam lainnya.
Abu Hayyan al-Tawhidi (w. 414 H./1023 M.)                      Memang, bagi para kiai itu, fikih cukup dijadikan
juga pernah disiksa sepanjang hayat. Abu Bakar al-             sebagai etika sosial dan bukan sebagai hukum
Sarakhshi (w. 483 H./1090 M.) salah seorang ahli fikih         positif negara. Atas pandangannya itu sejumlah kiay
                                                          — 49 —
«
menuai caci maki. Di mata para pemaki itu, menolak
formalisasi syari’at Islam sama saja dengan mengapkir
syari’at Islam.

Betapa merisaukannya kultur takfir ini. Ia telah
menjadi benalu yang mengganggu tumbuh-suburnya
semangat Islam yang rahmatan lil alamin. Benalu itu
tentu tak menyehatkan. Karenanya, pada hemat saya,
tradisi pengkafiran tersebut sudah waktunya segera
dihentikan dan dicabut dari tubuh umat Islam. []




                                                    — 50 —
«
                                                                                                         05/02/2006


              Wahabisasi “Islam-Indonesia”
                                             Oleh Abd Moqsith Ghazali

             Gerakan untuk mewahabikan umat Islam Indonesia tidak bisa ditutup-tutupi lagi. Para
             aktivis wahabisme cukup agresif dalam mengkampanyekan pikiran-pikiran dan ideologi
             para imamnya. Mereka bukan hanya memekikkan khotbah wahabisme dari dalam mesjid-
             mesjid mewah di kota-kota besar seperti Jakarta, melainkan juga blusukan ke pedalaman dan
                                             dusun-dusun di Indonesia.



G Indonesia tidak bisa ditutup-tutupi lagi.
       erakan untuk mewahabikan umat Islam                wahabisasi itu. Pertama, mereka mempersoalkan
                                                          dasar negara Indonesia dan UUD 1945. Mereka
 Para aktivis wahabisme cukup agresif dalam               tidak setuju, Indonesia yang mayoritas penduduknya
 mengkampanyekan pikiran-pikiran dan ideologi para        beragama Islam ini dipandu oleh sebuah pakem
 imamnya. Mereka bukan hanya memekikkan khotbah           sekular, hasil reka cipta manusia yang relatif, bernama
 wahabisme dari dalam mesjid-mesjid mewah di kota-        Pancasila. Menurut mereka, Pancasila adalah ijtihad
 kota besar seperti Jakarta, melainkan juga blusukan ke   manusia dan bukan ijtihad Tuhan. Semboyan mereka
 pedalaman dan dusun-dusun di Indonesia. Ada tengara      cukup gamblang bahwa hanya dengan mengubah dasar
 bahwa orang-orang yang berhimpun dalam ormas             negara, dari Pancasila ke Islam, Indonesia akan terbebas
 keagamaan Islam moderat pelan tapi pasti kini mulai      dari murka Allah. Mereka lupa bahwa Pancasila
 terpengaruh dan terpesona dengan gagasan-gagasan         mengandung nilai-nilai yang sangat islami. Tak tampak
 wahabisme yang sebagian besar berjangkar pada            di dalamnya hal-hal yang bertentangan dengan Islam.
 pemikiran tokoh-tokohnya seperti Muhammad ibn
 Abdul Wahhab al-Tamimi al-Najdi (1115-1206 H),           Kedua, mereka menolak demokrasi, karena demokrasi
 Ibnu Taymiyah (661-728 H), Ibnul Qayim al-Jauziyah       dianggap sebagai sistem kafir. Ini misalnya dapat
 (691-751H), terus sampai pada Ahmad ibn Hanbal           kita ketahui dari buah karya Abdul Qadir Zallum,
 (164-241 H).                                             tokoh yang sangat berpengaruh di lingkungan
                                                          gerakan fundamentalis Islam, yang berjudul al-
 Memang, pada awalnya wahabisme berdiri untuk             Dimuqrathiyah Nizham Kufr. Bukan hanya itu, mereka
 merampingkan Islam yang sarat beban kesejarahan.         pun menolak dasar-dasar hak asasi manusia (HAM)
 Ia ingin membersihkan Islam dari beban historisnya       yang sesungguhnya berpondasikan ajaran Islam yang
 yang kelam, yaitu dengan cara mengembalikan              kukuh. Mereka mengajukan keberatan terhadap konsep
 umat Islam kepada induk ajarannya, Alquran dan           kebebasan beragama (hifdz al-din), kebebasan berpikir
 Alsunnah. Seruan ini mestinya sangat positif bagi        (hifdz al-‘aql), dan sebagainya. Menurut mereka tidak
 kerja perampingan dan pembersihan (purifikasi)           ada hak asasi manusia (HAM), karena yang ada adalah
 itu. Tapi, ternyata wahabisme tidaklah seindah yang      hak asasi Allah (HAA).
 dibayangkan. Di tangan para pengikut Muhammad ibn
 Abdul Wahab yang fanatik dan militan, implementasi       Ketiga, mereka berusaha bagi tegaknnya partikular-
 ideologi wahabisme kemudian terjatuh pada tindakan       partikular syari’at dan biasanya agak abai terhadap
 kontra produktif. Di mana-mana mereka menyebarkan        syari’at universal, seperti pemberantakan korupsi-
 tuduhan bid’ah kepada umat Islam yang tidak              kolusi-nepotisme, dan sebagainya. Ini misalnya
 seideologi dengan mereka. Bahkan, tidak jarang mereka    tampak dari sikap tidak kritis kelompok wahabi
 mengkafirkan dan memusyrikkan umat Islam lain.           terhadap ketidakberesan yang telah lama berlangsung
                                                          di lingkungan kerajaan Saudi sendiri—sistem
 Kini mereka mulai merambah kawasan Indonesia,            pemerintahan yang disokong demikian kuat oleh
 melakukan wahabisasi di pelbagai daerah. Mereka          kelompok Wahabi. Kelompok Wahabi cukup puas
 mencicil ajaran-ajarannya untuk disampaikan kepada       ketika salat berjemaah diformalisasikan. Sementara,
 umat Islam Indonesia. Ada beberapa ciri cukup            bersamaan dengan itu, kejahatan terhadap
 menonjol yang penting diketahui dari gerakan             kemanusiaan terus berlangsung, tanpa interupsi dari
                                                     — 51 —
«
mereka. Keempat, mereka juga intensif menggelorakan
semangat penyangkalan atas segala sesuatu yang berbau
tradisi. Kreasi-kreasi kebudayaan lokal dipandang
bid’ah, takhayul, dan khurafat yang mesti diberantas.
Dahulu orang-orang NU mendapat serangan bertubi-
tubi dari para pengikut wahabisme itu.

Empat hal itu adalah refrain yang kini rajin diulang-
ulang oleh kelompok Wahabi Indonesia. Pokok-pokok
tersebut adalah sebagian dari juklak wahabisme yang
telah lama disusun di Saudi, dan kemudian dipaketkan
secara berangsur dan satu arah ke Indonesia. Ke depan
jika semuanya sudah berhasil diwahabikan, maka
sangat boleh jadi Indonesia akan menjadi repetisi Saudi
Arabia; di mana kreasi-kreasi lokal dibid’ahkan. Betapa
keringnya cara berislam yang demikian itu; berislam
tanpa inovasi dan improvisasi. []




                                                    — 52 —
«
                                                                                                       15/01/2006


                              Ismail atau Ishak?
                                            Oleh Abd Moqsith Ghazali

            Seluruh kitab suci yang berada dalam rumpun tradisi abrahamik mengisahkan peristiwa
            penyembelihan Ibrahim terhadap puteranya. Karena itu, umat Islam, kristiani, dan kaum
            Yahudi mengimani bahwa penyembelihan itu bukan mitos yang perlu dijebol, tapi fakta yang
                                           harus diimani. Begitulah.



S
     eluruh kitab suci yang berada dalam rumpun           Sementara yang lain berpendapat bahwa anak yang
     tradisi abrahamik mengisahkan peristiwa              diminta untuk disembelih, tidak lain, adalah Ishak bin
penyembelihan Ibrahim terhadap puteranya. Karena          Ibrahim. Pendapat ini diikuti oleh sejumlah sahabat
itu, umat Islam, kristiani, dan kaum Yahudi mengimani     dan tabiin. Dari kalangan sahabat tercatat nama-nama
bahwa penyembelihan itu bukan mitos yang perlu            seperti Abdullah ibn Abbas, Abdullah bin Mas’ud,
dijebol, tapi fakta yang harus diimani. Begitulah.        Umar bin Khaththab, Jabir, Abdullah bin Umar,
Hanya para ulama Islam berbeda pandangan tentang          dan Ali bin Abi Thalib. Dari kalangan tabi’in yang
siapa yang hendak disembelih di antara putera-putera      berpendapat demikian di antaranya, Alqamah, Sya’biy,
Ibrahim. Ada yang menyebut Ismail, anak Ibrahim           Mujahid, Sa’id bin Jubair, Ka’ab al-Ahbar, Qatadah,
dari hasil perkawinannya dengan Hajar (Perjanjian         Masruq, Ikrimah, Qasim bin Abi Bazzah, Atha`,
Lama [PL] menyebutnya Hagar), isteri kedua. Dan           Abdurrahman bin Sabith, al-Zuhry, al-Sadiy, Abdullah
ada pula yang menyatakan Ishak, anak Ibrahim dari         bin Abi al-Hudzail, dan Malik bin Anas. Pendapat ini
hasil perkawinannya dengan Sarah (PL menyebutnya          bukan hanya didasarkan pada hadits, tapi juga asumsi
Sarai atau Sara), isteri pertama. Perlu diketahui bahwa   kesejarahan. Kelompok kedua ini mengakui bahwa
Ismail lebih tua dari Ishak. Ibnu Katsir dalam kitab      tanduk domba yang disembelih itu digantung di
tafsirnya, Tafsir al-Qur`an al-Karim (Juz IV hlm. 16)     Ka’bah, tapi—menurut mereka—itu dibawa Ibrahim
menjelaskan bahwa Ismail lahir saat Ibrahim berumur       dari negeri Kan’an, tempat tingal Ishak.
86 tahun. Sementara Ishak lahir ketika Ibrahim
berumur 99 tahun—menurut PL 100 tahun.                    Sayangngnya, sekalipun pendapat kedua ini memiliki
                                                          argumentasi yang kuat, tetap saja ia kalah populer
Al-Qurthubiy dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur`an            dengan pendapat pertama. Jangan-jangan, pendapat
(Jilid VIII, hlm. 87) mengemukakan perihal perbedaan      yang kedua ini tertolak hanya karena ia didukung atau
pandangan itu. Ada yang menyatakan bahwa yang             (malah) merujuk pada Perjanjian Lama. Di dalam
diperintahkan untuk dikurbankan adalah Ismail.            Perjanjian Lama disebut bahwa Ishak lah yang akan
Pendapat ini dikemukakan oleh sejumlah sahabat            dikurbankan, dan bukan Ismail. Tuhan berfirman
Nabi dan tabi’in, seperti Abu Hurairah, Abu Thufail,      kepada Ibrahim, “Ambillah anakmu yang tunggal itu,
Amir bin Watsilah, Sa’id ibn al-Musayyab, Yusuf bin       yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah
Mihran, Rabi’ bin Anas, dan Muhammad ibn Ka’b al-         Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban
Quradhiy. Pendapat ini konon didasarkan pada sebuah       bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan
data historis yang menjelaskan bahwa penyembelihan        kepadamu” (Kejadian, 22: 2]. Pada sumber inilah,
tersebut berlangsung di Mekah (dahulu bernama             seluruh umat Yahudi dan Nashrani mengacu, sehingga
Bakkah), sehingga yang hendak disembelih tersebut         tak terlalu tampak perselisihan pendapat di antara
pasti Ismail, karena Ishak sepanjang hidupnya tidak       mereka.
pernah sampai ke sana. Mereka mengajukan bukti
tambahan. Tanduk hewan kurban, pengganti Ismail,          Berbeda dengan Perjanjian Lama, Alquran tidak
di gantung di Ka’bah. Sekiranya Ishak yang mau            menuturkan dengan tegas tentang siapa yang hendak
disembelih, maka tanduk itu kiranya tak digantung di      disembelih Ibrahim tersebut. Dari sinilah kiranya
Ka’bah, mungkin di tempat lain seperti Baytul Maqdis.     perbedaan pendapat itu bermula. Mungkin ada
Lepas dari argumen yang disodorkannya, terang bahwa       yang meng-copy PL bahwa Ishak lah yang hendak
pendapat pertama ini yang paling banyak dipercaya.        disembelih. Ada yang menyangkal bahwa yang mau
                                                    — 53 —
«
disembelih itu Ismail, bukan Ishak. Anehnya, hadits
yang menjelaskan hal ini pun cukup beragam. Suatu
waktu Nabi menyebut Ismail. Kala yang lain berkata
Ishaq. Pada hemat saya, ini merupakan bukti betapa
tidak mudahnya melakukan verifikasi terhadap
sejumlah peristiwa yang terjadi pada zaman lampau.
Sejumlah kisah yang disajikan Alquran tak sepenuhnya
bisa dan boleh di cek secara ilmiah, menyangkut
akurasi dan validitas datanya. Sebab, terlalu banyak
orang yang berkeberatan jika Alquran diperlakukan
secara demikian. []




                                                  — 54 —
«
                                                                                                        14/09/2005


                            Stop Demo Anti-JIL
                                             Oleh Abd Moqsith Ghazali

            Sekelompok orang yang mengatasnamakan diri Forum Umat Islam Utan Kayu mendemonstrasi
            kantor Jaringan Islam Liberal (JIL) di Jalan Utan Kayu, Jakarta Timur, pada 4 September.
            Mereka menuntut agar kantor JIL ditutup sembari membawa poster-poster yang berisi caci-
            maki terhadap tokoh-tokoh JIL. Seorang ustad yang terlibat dalam unjuk rasa mengatakan
            bahwa kehadiran massa tersebut aksi spontan belaka, tanpa ada rekayasa dari pihak mana
                                                       pun.



S
     ekelompok orang yang mengatasnamakan diri            atas nama membela dan mendukung fatwa MUI?
     Forum Umat Islam Utan Kayu mendemonstrasi            Pilihan bagi MUI amat terbatas, yaitu mencabut fatwa
kantor Jaringan Islam Liberal (JIL) di Jalan Utan         yang mengharamkan liberalisme, pluralisme, dan
Kayu, Jakarta Timur, pada 4 September. Mereka             sekularisme sehingga keragaman tafsir atas Islam tetap
menuntut agar kantor JIL ditutup sembari membawa          hidup, atau membiarkan fatwa MUI itu ada sehingga
poster-poster yang berisi caci-maki terhadap tokoh-       kekerasan atas nama mendukung fatwa itu terus
tokoh JIL. Seorang ustad yang terlibat dalam unjuk        berlanjut.
rasa mengatakan bahwa kehadiran massa tersebut aksi
spontan belaka, tanpa ada rekayasa dari pihak mana        Kedua, benarkah demonstrasi itu terjadi secara
pun.                                                      spontan? Tentu saya tidak terlampau percaya dengan
                                                          suatu peristiwa yang disebut spontanitas. Tak ada
Kemudian si ustad menegaskan bahwa dia dan                demonstrasi yang spontan. Selalu saja ada aktor
massa tersebut mendukung fatwa Majelis Ulama              intelektual yang merumuskan tujuan, arah, dan sasaran
Indonesia (MUI) bahwa pluralisme, liberalisme, dan        demonstrasi. Ada panitia yang bertugas memobilisasi
sekularisme bertentangan dengan Islam dan umat            massa, membuat poster, dan sebagainya. Dan jangan
Islam diharamkan mengikuti ketiga paham tersebut.         lupa, demonstrasi yang terjadi malam itu—karena
Mereka menyokong fatwa itu dan dengan demikian            dilangsungkan malam hari, jelas melanggar aturan—
merasa tidak nyaman dengan keberadaan JIL di Utan         adalah demonstrasi yang bersifat ideologis terhadap
Kayu, yang dinilai telah menyebarkan liberalisme ke       Jaringan Islam Liberal.
masyarakat.
                                                          JIL memang sering menafsir ulang Al-Quran -harap
Dari peristiwa itu, ada beberapa hal yang bisa            diingat, bukan mengubah Al-Quran. Wajar bila
dibaca. Pertama, fatwa MUI yang mengharamkan              serangan terhadap JIL itu tanda bahwa orang-orang
liberalisme, pluralisme, dan sekularisme telah menjadi    tersebut tak mengerti benar paham liberalisme. Seperti
bola liar yang tak mudah dikontrol hatta oleh MUI         yang dikemukakan oleh Prof. Dr. Syafi’i Ma’arif (Koran
sendiri sebagai lembaga yang memproduksi fatwa.           Tempo, 6/9), mereka mengkritik Islam liberal, tapi apa
Dalam kaitan itu, MUI memang pantas dimintai              benar mereka paham Islam liberal sebenarnya? Buya
pertanggungjawaban.                                       Syafi’i pun mempertanyakan kapasitas pengetahuan
                                                          mereka tentang Islam liberal.
Alih-alih fatwa itu akan melahirkan solusi bagi sebuah
problem, yang terjadi malah memunculkan problem           Lebih jauh, Syafi’i menilai aksi itu tak wajar. “Tak
baru atau justru menjadi problem itu sendiri. Karena      mungkin kegiatan itu dilakukan rakyat biasa,” kata
itu, selayaknya ada upaya yang lebih elegan dari para     Syafi’i. Sebagaimana Buya Syafi’i, saya ragu kegiatan itu
ulama MUI untuk mengevaluasi fatwa-fatwanya yang          dirancang oleh rakyat biasa. Dan keraguan itu ternyata
ternyata berjalan secara kontraproduktif di tengah        menemukan pembenaran dari penjelasan beberapa
umat. Apakah MUI akan membiarkan umat Islam               anggota masyarakat Utan Kayu sendiri. Mereka
bertengkar dan berseteru hanya karena fatwa mereka?       menyatakan bahwa beberapa minggu ini penduduk
Apakah MUI akan menoleransi tindakan kekerasan            Utan Kayu telah dibombardir oleh kehadiran
                                                    — 55 —
«
para mubalig yang radikal—maaf, terpaksa saya
menggunakan istilah ini—yang terus memprovokasi
masyarakat Utan Kayu. Dengan provokasi dari para
mubalig itu, Utan Kayu yang selama ini tampak tenang
dan damai berubah menjadi panas.

Dan saya kira Utan Kayu tidak khas. Coba perhatikan,
daerah-daerah yang pada awalnya tampak pluralis dan
toleran terhadap berbagai kelompok, agama, etnis, dan
organisasi yang ada di lingkungannya bisa berubah
menjadi keras dan beringas karena ulah para mubalig
radikal. Tanpa memahami konteks lokal sebuah
daerah, para mubalig itu lazimnya berceramah secara
agitatif yang menyulut emosi massa. Ceramah para dai
kondang yang teduh dan toleran di televisi seperti yang
ditampakkan KH Abdullah Gymnastiar, Prof Quraish
Shihab, Ustad Arifin Ilham, Ustad Tuty Alawiyah,
Ustad Luthfiyah Sungkar, dan lain-lain dengan cepat
terhapuskan oleh khotbah-khotbah panas para dai
radikal itu. Hanya dengan mengantongi satu-dua ayat
dan hadis, mereka menyampaikan seruan-seruan panas
untuk “menghancurkan” kelompok-kelompok lain.

Saya kira sudah saatnya kelompok-kelompok moderat
Islam, seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah,
mulai melebarkan wilayah dakwahnya hingga ke
tingkat paling bawah dalam masyarakat. Para kiai
pesantren yang memiliki kedalaman ilmu dan kearifan
harus keluar dari tempurung pesantren untuk segera
menguasai mimbar-mimbar dakwah yang beberapa
tahun terakhir telah jatuh ke tangan kelompok radikal
muslim—yang menurut KH Hasyim Muzadi, Ketua
Umum PB Nahdlatul Ulama, telah merusak citra
Islam Indonesia di luar negeri. Dan para dai kita mesti
dikader dan dididik dengan visi kebangsaan yang
kukuh serta sikap toleran yang militan.

(Koran Tempo 8 September 2005)




                                                     — 56 —
«
                                                                                                           01/08/2005


                      Sesat dan Menyesatkan
                                              Oleh Abd Moqsith Ghazali

             Pertanyaannya, siapa sih yang sebenarnya punya otoritas atau kewenangan untuk menyatakan
             bahwa sebuah pandangan disebut sesat dan menyesatkan. Apakah MUI, NU, Muhammadiyah,
             atau justru Allah SWT. Di sinilah saya hendak menegaskan sebuah pendirian bahwa yang
             memiliki otoritas untuk itu tidak lain adalah Allah sendiri. Allah lah yang akan memutuskan
                   di akhirat kelak tentang ajaran-ajaran yang dianggap menyimpang atau tidak.



K disuarakan oleh sejumlah aparatur agama
      osa kata “sesat” dan “menyesatkan” kian ramai        yang paling tahu perihal seseorang yang tersesat dari
                                                           jalanya dan yang mendapatkan petunjuk).
di negeri ini, terutama untuk mencap kelompok
dalam umat yang berbeda pandangan dengan                   Dengan ayat-ayat tadi, cukup jelas bahwa tidak ada
mainstream. Tidak kurang dari beberapa ulama di            seseorang atau lembaga manapun yang bisa mengambil
MUI Pusat menyatakan bahwa kelompok A, B,                  kedudukan Tuhan sebagai hakim atas pelbagai jenis
C, dan lain-lain bukan sekedar sesat, tapi bahkan          pandangan atau tafsir yang muncul di tengah umat
menyesatkan. Tersebutlah ormas-ormas keagamaan             Islam. Itu adalah hak prerogatif Allah yang tidak bisa
seperti Ahmadiyah dan beberapa lagi yang diputuskan        dirampas oleh para fungsionaris agama yang tersebar
berdasarkan fatwa MUI sebagai lembaga yang                 di pelbagai lembaga atau ormas keagamaan manapun.
menyebarkan aliran sesat dan menyesatkan. Dien             Mungkin, Tuhan sengaja tidak menyerahkan peran
Syamsuddin, ketua umum PP Muhammadiyah dan                 kehakiman tersebut kepada manusia atau ulamanya
wakil ketua MUI Pusat, menganjurkan agar kelompok          karena terlampau rentan untuk disalahgunakan untuk
Ahmadiyah membuat agama baru saja jika masih               tujuan-tujuan politis, ekonomis, dan lainnya. Sehingga,
ngotot dengan keyakinannya bahwa Mirza Ghulam              tugas untuk menjatuhkan hukum atas para penafsir
Ahmad adalah seorang nabi. Beberapa kiai terus             agama yang menyimpang itu tetap berada dalam
mendorong agar MUI dan PBNU segera mengambil               genggaman Allah, dan tidak pernah didelegasikan
sikap tegas terhadap Jaringan Islam Liberal (JIL) hanya    kepada para ulama.
karena institusi itu mengembangkan tafsir keagamaan
yang kritis-liberal-progresif, menentang oligarki dan      Tambahan pula, Islam adalah salah satu agama yang
otoritarianisme penafsiran dalam agama.                    tidak mengenal hirarki, termasuk menyangkut perkara
                                                           pemaknaan ajaran Islam. Nabi Muhammad SAW
Pertanyaannya, siapa sih yang sebenarnya punya             pernah bersabda la rahbaniyyata fi al-Islam (tidak
otoritas atau kewenangan untuk menyatakan bahwa            ada [hirarki] kependetaan di dalam Islam). Salah
sebuah pandangan disebut sesat dan menyesatkan.            satu pengertian dari hadits ini adalah bahwa tafsir
Apakah MUI, NU, Muhammadiyah, atau justru                  yang dikeluarkan oleh kelompok minoritas tak bisa
Allah SWT. Di sinilah saya hendak menegaskan               dibatalkan oleh tafsir mayoritas. Tafsir mayoritas
sebuah pendirian bahwa yang memiliki otoritas untuk        tidak berada dalam posisi yang lebih tinggi ketimbang
itu tidak lain adalah Allah sendiri. Allah lah yang        minoritas. Dalam dunia penafsiran, keduanya adalah
akan memutuskan di akhirat kelak tentang ajaran-           setara. Kaidah fikih yang amat populer mengatakan
ajaran yang dianggap menyimpang atau tidak. Allah          al-ijtihad la yunqadhu bi al-ijtihad (ijtihad tidak bisa
SWT berfirman di dalam Alquran, inna rabbaka               dibatalkan dengan ijtihad yang lain). Sebuah tafsir
huwa yafshilu baynahum yawmal qiyamah fi ma                adalah sah selama tidak memerintahkan seseorang
kanu fihi yakhtalifun (sesungguhnya Tuhanmu yang           untuk melakukan tindak kekerasan. Akhirnya,
akan mengambil kata putus atas perselisihan yang           janganlah gampang menjatuhkan vonis sesat-
berlangsung di antara mereka, kelak pada hari kiamat).     menyesatkan kepada orang lain, karena itu adalah
Di tempat yang lain, Allah SWT berfirman, inna             hak Allah dan bukan hak manusia. (Abdul Moqsith
rabbaka huwa a’lamu biman dlalla ‘an sabilihi wa huwa      Ghazali)
a’lamu biman ihtadza (sesungguhnya Tuhanmu adalah
                                                      — 57 —
«
                                                                                                          24/04/2005


                                             Syahrur
                                             Oleh Abd Moqsith Ghazali

            Sekiranya Anda sedang membuka peta pemikiran keislaman kontemporer, Anda pasti
            menemukan nama Muhammad Syahrur. Ia adalah doktor bidang mekanika pertanahan dan
            fondasi, yang belakangan lebih kesohor sebagai pemikir muslim progresif. Ia cukup disegani.
            Walau tidak memiliki daya ledak dan hentakan tinggi sebagaimana Nashr Hamid Abu Zaid,
                     pikiran-pikiran Syahrur turut meramaikan diskursus pemikiran keislaman.



S keislaman kontemporer, Anda pasti menemukan
    ekiranya Anda sedang membuka peta pemikiran           tertentu sehingga tidak bisa disinonimkan dengan
                                                          kata lain. Kata hanya dimungkinkan untuk memiliki
nama Muhammad Syahrur. Ia adalah doktor bidang            satu makna atau beragam makna. Apa yang disebut
mekanika pertanahan dan fondasi, yang belakangan          sebagai mutaradif, menurut Syahrur, tak ubahnya
lebih kesohor sebagai pemikir muslim progresif. Ia        sebuah kepalsuan belaka. Betapa konsep sinonimitas
cukup disegani. Walau tidak memiliki daya ledak dan       akan meringkus sejumlah kata ke dalam singularitas
hentakan tinggi sebagaimana Nashr Hamid Abu Zaid,         makna dan menutup semua keboleh-jadian semantis
pikiran-pikiran Syahrur turut meramaikan diskursus        masing-masing. Dengan alasan itu, Syahrur kemudian
pemikiran keislaman. Pernyataannya kerap dikutip oleh     mengartikan ulang sejumlah kata yang oleh mayoritas
para sarjana dan pemikir muslim. Sebagian kalangan        dipandang sebagai sinonim, seperti imra’ah-untsa-nisa`,
bahkan telah menyejajarkan Syahrur dengan intelektual     walad-ibn, al insan-al basyar, fu`ad-qalb, al Qur`an-
muslim liberal lain seperti Mohamed Arkoun, Hassan        alKitab-al Dzikr, dan lain-lain.
Hanafi, dan lain-lain. Dari tangan Syahrur kini telah
lahir beberapa karya intelektual yang monumental          Kedua, penolakan Syahrur terhadap konsep nasikh-
seperti al-Kitab wa al-Qur`an: Qira`ah Mu’ashirah dan     mansukh (abrogasi) dalam Islam, teori mana telah
Nahw Ushul Jadidah li al-Fiqh al-Islamy. Dua bukunya      umum diterima oleh jumhur ulama ushul fikih,
itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia         baik yang klasik seperti Imam Syafi’i dan Imam
dengan mutu terjemahan yang bagus.                        Malik, maupun yang kontemporer seperti Mahmud
                                                          Muhammad Thaha dan Abdullahi Ahmed al-Na’im.
Pada hemat saya, bagaimanapun, Syahrur tetap              Sebab, demikian Syahrur menyusun argumen,
berbeda dengan Nashr Hamid Abu Zaid, Mohamed              setiap ayat atau kalimat memiliki ruang ekspresi dan
Arkoun, Hassan Hanafi, apalagi Farid Essack. Di           penampakannya sendiri-sendiri. Dengan demikian,
dalam bertafsir, pendekatan tokoh asal Syria itu agak     sebuah ayat yang turun dalam konteks spasial dan
lain. Dengan bersandar pada metode semantik Abu           dalam pengungkapan kata tertentu tidak bisa dianulir
Ali al-Farisi, mungkin juga Ibn Jinni dan Abdul Qadir     dan diamandemen begitu saja oleh ayat lain yang
al-Jurjani, Muhammad Syahrur cukup bersemangat            muncul dalam konteks yang tertentu pula. Artinya,
untuk mengeja kata, struktur dan substruktur bahasa       suatu ayat selalu menyatakan kehendak dan maknanya
al-Qur`an. Ia lebih banyak menelaah seluk beluk           sendiri-sendiri dan bukan untuk menyampaikan
semantik-kebahasaan al-Qur`an ketimbang konteks           kehendak ayat lain.
sosio-politik yang mengitari kitab suci itu. Syahrur
lebih asyik berbincang tentang proses pengorganisasian    Dengan pendekatannya yang cenderung semantis ini
kata dan kalimat daripada penelitian tajam terhadap       Syahrur kiranya hendak menunjukkan kepada publik
struktur masyarakat Arab yang menyungkupi kehadiran       intelektual bahwa penghampiran melalui gramatika
al-Qur`an.                                                bahasa cukup potensial untuk mendinamisasikan
                                                          kata dan kalimat dalam al-Qur`an. Pendekatan
Penilaian seperti itu menjadi benar jika diacukan         kebahasaan tetap bisa dipakai untuk melahirkan
pada dua hal berikut. Pertama, penampikan Syahrur         tafsir-tafsir keislaman yang progresif, liberatif, dan
terhadap konsep sinonimitas (al-taraduf ) dalam bahasa.   humanis. Menelusuri kata tidaklah tabu bagi hadirnya
Sebuah kata, demikian Syahrur, selalu memiliki makna      sejenis tafsir Islam yang liberal. Dan Syahrur telah
                                                     — 58 —
«
membuktikan untuk itu. Bukankah dari model
pendekatan yang semantis-linguistis tersebut, Syahrur
berani menata ulang dan mereposisi beberapa hukum
kanonik yang baku seperti potong tangan, rajam, waris,
kepemimpinan perempuan, dan sebagainya? Nah! [Abd
Moqsith Ghazali]




                                                   — 59 —
«
                                                                                                             26/08/2004


 Agama, Seni, dan Regulasi Pornografi
                                              Oleh Abd Moqsith Ghazali

            Pro-kontra seperti ini memang tidak kunjung selesai. Tarik-menarik antara argumen agama-
            moralitas vis a vis kebebasan berekspresi-berkesenian terus berlangsung, tanpa ada titik temu.
            Di satu pihak ada kaum agamawan yang hendak mengontrol ruang publik secara ketat
            dan kadang-kadang juga kaku. Sementara di lain pihak, terdapat sekelompok masyarakat
            yang hendak melabuhkan kebebasan berekspresi dan berkesenian dalam ranah publik secara
                                              totalistis, tanpa hambatan.



S
      AAT ini, publik Indonesia terutama Jakarta            Pro-kontra seperti ini memang tidak kunjung selesai.
      dihebohkan oleh kehadiran sebuah film komedi          Tarik-menarik antara argumen agama-moralitas
remaja Buruan Cium Gue! Dari judulnya saja, film ini        vis a vis kebebasan berekspresi-berkesenian terus
telah mengundang kontroversi, antara yang pro dan           berlangsung, tanpa ada titik temu. Di satu pihak
kontra. MUI misalnya, telah melancarkan kritik cukup        ada kaum agamawan yang hendak mengontrol
keras atas kemunculan film tersebut. KH Amidhan,            ruang publik secara ketat dan kadang-kadang juga
Ketua MUI Pusat, menyatakan bahwa film ini                  kaku. Sementara di lain pihak, terdapat sekelompok
berpotensi merusak moral dan budaya bangsa. Adegan          masyarakat yang hendak melabuhkan kebebasan
ciuman panas, menurutnya, hanya dimungkinkan di             berekspresi dan berkesenian dalam ranah publik secara
dalam ruang kesendirian oleh pasangan legal suami-          totalistis, tanpa hambatan.
istri, bukan di ruang publik oleh lelaki-perempuan
yang tidak memiliki hubungan legal. Kegelisahan             Menghadirkan agama
dan keprihatinan yang sama juga dialami oleh KH
Abdullah Gimnastiar, seorang dai yang kini sedang           Menghadirkan agama—apalagi hanya satu tafsir
kondang. Menurut Aa Gym, panggilan akrab KH                 tertentu dalam agama—ke dalam dunia film, sungguh
Abdullah Gimnastiar, film tersebut tak ubahnya sebuah       sangat musykil. Di antara dua entitas ini, agama
pengantar yang mengarah pada tindak perzinaan. MUI,         dan film, terdapat jurang pemisah yang amat dalam.
Aa Gym, dan beberapa elemen lain, akhirnya berujung         Agama sebagaimana dikemukakan di dalam fikih
pada tuntutan yang paralel agar peredaran film tersebut     Islam memiliki perhatian yang rendah terdapat dunia
segera dihentikan.                                          perfilman ini, karena di dalamnya selalu dimungkinkan
                                                            terjadinya sejumlah kemaksiatan. Agama mengatur
Sementara di pihak lain terdapat kalangan yang pro          secara amat ketat menyangkut hubungan laki dan
sembari menolak pelbagai keberatan yang diajukan para       perempuan yang bukan mahram. Tidak boleh ada
ulama di atas. Mereka menilai karya itu bukanlah film       persentuhan fisik. Sementara film meniscayakan
porno. Tidak ada pornografi di sana. Tidak ada norma        adanya perjumpaan dan persentuhan fisikal. Jika film
susila dan batas kesopanan yang dilanggar. Terlebih,        menuntut keseriusan dan totalitas dalam berakting,
tandas para pendukung ini, batas-batas moralitas            maka agama melalui fikih Islam justru hadir untuk
itu tidak statis, melainkah bergerak secara dinamis         membatasi totalitas itu.
mengikuti capaian peradaban umat manusia. Dan
bukankah film itu tak lebih dari sebuah rekaman dari        Sebagai misal, adegan ciuman yang dilakukan orang
realitas pergaulan anak muda Jakarta masa kini. Secara      yang bukan mahram dan berbeda jenis kelamin, baik
lebih jauh, mereka juga berpendirian bahwa pelarangan       karena tuntutan naskah film maupun karena telah
terhadap film itu merupakan sebentuk pelanggaran            menjadi kelaziman sosial, jika ditanyakan pada agama,
dan penodaan terhadap kebebasan berekspresi dan             maka tidak banyak yang dikatakan oleh agama, kecuali
berkesenian. Dan kebebasan berekspresi itu adalah hak       bahwa itu merupakan kawasan terlarang. Agama hanya
asasi manusia yang dilindungi dan dijamin undang-           datang dengan khotbah yang standar, tindakan itu
undang.                                                     merupakan perkara haram yang harus dihindari. Islam
                                                            termasuk dalam deretan agama yang amat restriktif
                                                      — 60 —
«
dalam perkara yang satu itu. Ciuman yang dilakukan          ditutupnya Kramat Tunggak Jakarta, para pekerja seks
oleh orang yang bukan mahram dan berbeda jenis              komersial (PSK) terus berhamburan ke jalanan. Sebuah
kelamin, baik dilakukan dengan nafsu maupun tidak,          pemandangan yang kian mengkhawatirkan.
dalam pandangan agama adalah memiliki derajat
keharaman yang sama.                                        Menghadapi fenomena tersebut, maka saya bisa
                                                            bersetuju terhadap gagasan untuk melokalisasi
Ini, jika melulu berpatokan kepada Islam. Namun,            gelombang pornografi tersebut. Artinya, pornografi,
bukankah masyarakat Indonesia hidup dengan                  pornoaksi, dan aktivitas erotisme yang lain mesti
keragaman patokan dan parameter. Keanekaragaman             ditampung dalam ruang khusus yang tersembunyi.
agama, budaya, dan etnis, kiranya akan membentuk            Dengan ini, ada kegunaan ganda yang bisa dicapai.
penilaian yang berbeda menyangkut satu pokok                Bahwa di samping agar pornografi dan erotisme tidak
soal seperti adegan-adegan di dalam film itu. Oleh          diakses oleh orang-orang yang belum cukup umur,
karenanya, pada hemat saya, Islam harus diletakkan          ia juga berguna supaya erotisme bisa benar-benar
sebagai salah satu anasir saja dari keseluruhan norma       dinikmati sebagai tindakan privat yang menyenangkan.
yang hidup di tengah masyarakat. Islam tidak bisa           Sebab, erotisme adalah perkara yang tak dapat
dijadikan sebagai parameter tunggal untuk menilai           diekspose dan ditayangkan kepada semua orang
sebuah karya film. Islam harus didudukkan secara            dari pelbagai level umur dan pelbagai ruang. Maka,
setara dengan norma-norma lain. Islam mesti                 kehadiran sebuah regulasi yang mengatur menjadi
bertanding dan berkontestasi dengan norma-norma             sangat penting, karena dengan itulah pornografi,
lain.                                                       pornoaksi, dan erotisme menjadi lebih teratur dan
                                                            nyaman untuk dirayakan.
Sebab, dalam masyarakat yang pluralistik seperti
Indonesia, larangan terhadap ketidaksopanan hanya           Bahwa kebutuhan seseorang terhadap erotisme, itu
bisa dilakukan sejauh melalui mekanisme yang                perkara yang diakui. Sebagaimana orang butuh makan
demokratis, bukan semata-mata hasil pemaksaan dari          dan minum, mempunyai rasa aman dan kebebasan
satu kelompok agama atau segmen masyarakat tertentu         bergerak, orang juga butuh terhadap erotisme. Tidak
saja. Tidak ada hegemoni dari satu komunitas atas           ada seseorang yang seluruh detik kesehariannya diisi
komunitas yang lain. Setiap orang memiliki status yang      dengan doa. Selalu saja ada saat tertentu seseorang
setara di dalam berdiskusi menyangkut batas kesopanan       membutuhkan erotisme. Erotisme mesti digerakkan.
itu. Diskusi adalah ruang untuk melakukan negosiasi         Tapi menggerakkan erotisme secara liar di ruang-ruang
dan tawar menawar mengenai perkara bermoral-tidak           publik, tanpa ada regulasi yang mengaturnya, kiranya
bermoral tersebut. Dari diskusi inilah diharapkan dapat     akan menimbulkan petaka tersendiri. Oleh karena
dilahirkan sebuah kesepakatan dalam wujud regulasi          itu, kehadiran sebuah regulasi yang dalam proses
mengenai pornografi dan bukan pornografi, pornoaksi         penyusunannya mesti melibatkan partisipasi dan debat
dan bukan pornoaksi.                                        publik yang demokratis, bukan hanya perlu melainkan
                                                            sungguh amat mendesak. ***
Regulasi pornografi
Sungguh, adegan ciuman di dalam film Buruan Cium
Gue! tidaklah seberapa sekiranya diukur dari arus
pornografi, pornoaksi, yang berlangsung secara gegantis
di luar gedung bioskop. Betapa ruas-ruas jalan di kota-
kota besar seperti Jakarta kini terus dihiasi dengan
gambar-gambar perempuan dalam pose telanjang,
baik di majalah maupun tabloid. Gambar-gambar
itu bukan hanya menjadi konsumsi kalangan laki-
laki dewasa, melainkan juga telah menjadi tontonan
ABG, bahkan anak bawah usia. Buku-buku yang
mendeskripsikan secara terang adegan-adegan ranjang
demikian menjamur di kalangan para pelajar. Film-film
biru dengan mudah dapat dijumpai dan diperoleh di
pinggir-pinggir jalan dan trotoar Ibu Kota. Semenjak
                                                    — 61 —
«
                                                                                                              16/08/2004


                             Kekenyalan Syariat
                                               Oleh Abd Moqsith Ghazali

             Berbarengan dengan surutnya konstalasi politik mutakhir Indonesia, surut pula perbincangan
             dan kontroversi seputar syariat Islam. Namun, bukan berarti ia hilang, melainkan bergeser ke
              tingkat yang lebih lokal, provinsi, kabupaten, dan instansi-instansi negara yang lebih kecil.



B mutakhir Indonesia, surut pula perbincangan
      erbarengan dengan surutnya konstalasi politik          bekerja di ranah publik akan di-PHK karena dalam
                                                             syariat klasik konvensional-Timur Tengah, tidak
dan kontroversi seputar syariat Islam. Namun, bukan          dibolehkan keluar rumah tanpa mahram, dan tidak
berarti ia hilang, melainkan bergeser ke tingkat             diperkenankan keluar malam. Non-Muslim, apalagi
yang lebih lokal, provinsi, kabupaten, dan instansi-         ketika divonis secara sepihak sebagai kafir harbiy
instansi negara yang lebih kecil. Meski kontroversi          (non-Muslim yang memusihi Islam), akan mendapat
seputar isu ini pada akhirnya terbukti hanya sebagai         ancaman penafian bahkan pembumihangusan.
komoditas politik, sebagian kalangan masih yakin
peran formalisasi syariat Islam sebagai nostrum bagi         Pada hemat saya, syariat harus segera dikembalikan
penyelesaian semua persoalan di negeri ini. Oleh             pada posisinya awalnya sebagai jalan (wasilah-sarana)
kalangan ini, syariat Islam dipahami sebagai hukum           yang dhanniy (relatif ), bukan sebagai tujuan (ghayat)
yang tak akan pernah aus karena hujan dan tak lekang         yang qath’iy (pasti). Sebagai jalan, syariat tidak bisa
karena panas. Sakralisasi dan idealisasi terhadap model      tunggal. Ibnu ‘Aqil yang dikutip Thabari pernah
syariat klasik menjadi langgam dominan dalam benak           mengatakan al-din wâhid was syari’ah mukhtalifah
para tokoh fundamentalis ortodoks Islam.                     (agama itu tunggal, sementara syariat sangat
                                                             beragam). Maka, sebagai sarana untuk mengantarkan
Tentu tidak akan ada masalah jika implementasi syariat       umat manusia kepada tujuan keadilan, kesetaraan,
Islam bersendikan prinsip-prinsip utama Islam, seperti       kemaslahatan, penegakan hak asasi manusia (termasuk
keadilan, persamaan, kemaslahatan, kesejahteraan,            hak asasi perempuan), maka syariat Islam akan
dan hikmah-kebijaksanaan. Penerapan syariat Islam            mengambil pola dan coraknya yang beragam.
cukup problematis jika hanya memuat daftar hukum-
hukum syariat zaman lampau yang belum tentu cocok            Dengan keberagamannya, syariat tidak bisa
untuk diterapkan di Indonesia, seperti ketentuan aurat       ditunggalkan untuk kemudian diformalisasi dalam
yang strict, perempuan tidak boleh bekerja di dunia          bentuk perundang-undangan. Jalan penunggalan dan
publik, dan sebagainya. Dalam ranah itu, penerapan           formalisasi syariat bukan hanya akan bertentangan
syariat Islam lebih bersifat simbolis ketimbang              dengan watak dasar syariat yang kenyal dan relatif,
substantif. Imbasnya, syariat Islam bertiup pada upaya       melainkan juga akan membunuh kehadiran
memperkecil universalitas Islam. Eksperimentasi              syariat-syariat lain yang divergen pada format dan
formalisasi syariat Islam yang sedang berlangsung di         mekanismenya. Konon, Imam Malik pernah menolak
Aceh, dan beberapa daerah lain, merupakan etalase            permintaan seorang Khalifah untuk menjadikan
telanjang dari simplifikasi dan pembanalan tersebut.         karya monumentalnya, al-Muwaththa`, sebagai
Dari penerapan syariat yang demikian, yang akan              kitab undang-undang yang mengikat seluruh warga.
menjadi korban pokoknya, di samping perempuan,               Kiranya, Imam Malik menyadari sepenuh hati bahwa,
adalah warga negara non-Muslim. Non-Muslim cukup             formalisasi al-Muwaththa` hanya akan memberangus
rentan terhadap ketidakadilan dan diskrimnasi, mulai         karya-karya lain yang tidak sejalan dengannya. [Abdul
dari diskriminasi teologis hingga eks-komunikasi sosial.     Moqsith Ghazali]

Model syariat yang demikian, alih-alih hendak
menyelesaikan masalah, justru merupakan problem
yang juga harus dipecahkan. Dalam konteks Indonesia,
betapa banyak perempuan-perempuan yang selama ini
                                                       — 62 —
«
                                                                                                          19/02/2004


Ketika Negara Mengintervensi Agama
                                             Oleh Abd Moqsith Ghazali

            Sekiranya RUU KUB jadi diundangkan, maka sejumlah orang yang memiliki pemikiran
            yang berada di luar pemikiran dominan mainstream akan bernasib sial, karena mereka bisa-
            bisa mendapatkan sanksi pidana. Perselisihan tafsir atas agama selalu berakhir dengan eks-
            komunikasi, penghancuran, dan pembunuhan. Luar biasa mengerikan. Padahal, bertafsir
            dan berijtihad bukanlah tindak kriminal yang harus dipidanakan. Jika ini terjadi, maka
            kita telah kembali ke abad pertengahan. Adalah Khalifah al-Qadir yang pernah melakukan
            inkuisisi terhadap orang-orang yang berada di luar cetak biru ideologi Mu’tazilah, ideologi
            yang telah menjadi pilihan negara Abbasiyah saat lampau. Sejarah mencatat, Abdullah bin
            Khabab, Abu Manshur al-Hallaj, Ahmad ibn Hanbal, Ibnu Rusyd, merupakan deretan
                     orang yang menjadi korban dari kesewenang- wenangan negara hegemonik.



E
      ra reformasi tampaknya belum benar-benar            saja amat bertentangan dengan prinsip ajaran Islam
      berhasil menghapus karakter dan kebiasaan           yang memberikan kebebasan kepada umat manusia
buruk Orde Baru yang hegemonik dan intervensionis.        untuk memilih suatu agama bahkan untuk tidak
Sebagaimana rezim Soeharto, rezim Megawati kini           beragama. Nabi Muhammad sekalipun pernah ditegur
juga suka mengatur dan mengintervensi aktivitas           oleh Allah atas upaanya untuk memaksa seseorang
keberagamaan umat di Indonesia. Segala gerak langkah      agar masuk Islam. “Apakah kamu akan membenci
umat beragama selalui diawasi, dikontrol, dan dipantau    manusia hingga mereka beriman (Afa anta tukrihu
sehingga tidak mengganggu stabilitas dan keamanan         al-nas hatta yakunu mu`minin)”. Allah SW melalui
kawasan. Indikator yang paling telanjang menyangkut       firman-Nya, faman sya`a falyukmin wa man sya`a
pokok soal ini adalah dikeluarkannya RUU Kerukunan        falyakfur, telah memberikan kebebasan mutlak bagi
Umat Beragama oleh Pemerintah Indonesia melalui           manusia untuk bertuhan atau tidak bertuhan. Dengan
Badan Litbang Departemen Agama.                           meminjam terminologi ushul fikih, RUU KUB ini
                                                          jelas berpunggungan dengan prinsip dasar Islam paling
RUU KUB ini tergolong sangat tipis, karena hanya          puncak, hifdz al-din (kebebasan dalam beragama).
terdiri dari 15 bab dan 21 pasal. Hakikatnya, RUU ini
memiliki tujuan adilihung, yaitu untuk memelihara         Kedua, RUU KUB ini telah bertindak amat angkuh
kerukunan dan keharmonisan di kalangan umat               ketika memposisikan diri sebagai penentu bagi sah dan
beragama. Tidak tanggung-tanggung, RUU KUB ini            tidaknya sebuah agama. Telah diputuskan, misalnya,
memikul asas toleransi, pluralisme, dan kebebasan         bahwa agama yang sah di Indonesia hanya ada lima,
beragama (Pasal 2). Namun, tujuan adiluhung RUU           yaitu Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dan Budha
KUB itu menjadi tawar kembali ketika kita membaca         [Pasal 1 Ayat (1)]. Selain yang lima itu adalah batal dan
detail pasal-pasalnya. Batang tubuh RUU KUB niscaya       tidak memenuhi persyaratan sebagai sebuah agama.
mengandung bahaya dan problem yang cukup serius.          Padahal, secara faktual, agama dan keyakinan yang
                                                          bersemai di bumi Indonesia ini bukan hanya lima,
Memaksa?                                                  melainkan banyak-tak terkira. Dulu, melalui UU No 1/
                                                          PNPS/1965, Konghucu pernah diakui sebagai agama
Pertama, melalui rancangan perundang-undangan,            resmi yang dapat secara sah tumbuh di Indonesia.
pemerintah Indonesia hendak memaksa warganya              Namun, sejak diterbitkannya keputusan Mendagri
untuk mengikuti dan menganut agama-agama                  No 221a 1975 yang mengacu pada Tap MPR No. IV/
yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Warga              MPR/1978, maka agama Konghucu kembali dianggap
negara yang menganut agama di luar agama-agama            sebagai agama liar, seperti keliaran agama Bahai, Sikh,
yang ditetapkan itu (Islam, Katolik, Protestan,           Adat Karuhun Kuningan dan lain-lain. Karena tidak
Hindu dan Buddha) tentu akan kehilangan hak-              diakui sebagai sebuah agama, sebagai konsekuensinya
hak keberagamaannya. Tindakan seperti ini tentu           maka Bahai, Konghucu, Sikh, dan sebagainya tidak
                                                     — 63 —
«
berhak memperoleh perlindungan dalam melaksanakan        Islam yang senantiasa mengobarkan semangat
ajaran-ajaran-nya. Perlindungan hanya diberikan          kebebasan berpikir (hifdz al-‘aql).
kepada agama-agama yang diresmikan oleh ne- gara.
(Lihat Pasal 4 RUU KUB).                                 Tegasnya, sekiranya RUU KUB jadi diundangkan,
                                                         maka sejumlah orang yang memiliki pemikiran yang
Ketiga, RUU itu memiliki ambisi untuk mengatur dan       berada di luar pemikiran dominan mainstream akan
mengawasi segala aktivitas keberagamaan di Indonesia.    bernasib sial, karena mereka bisa-bisa mendapatkan
Aktivitas keberagamaan yang selama ini telah             sanksi pidana. Perselisihan tafsir atas agama selalu
berlangsung di tengah masyarakat, tiba-tiba hendak       berakhir dengan eks-komunikasi, penghancuran,
diatur dan ditertibkan oleh negara melalui perundang-    dan pembunuhan. Luar biasa mengerikan. Padahal,
undangan. Padahal agama dan negara adalah dua            bertafsir dan berijtihad bukanlah tindak kriminal
entitas yang berbeda. Masing-masing tidak boleh saling   yang harus dipidanakan. Jika ini terjadi, maka kita
mengintervensi. Sejarah Indonesia telah menunjukkan      telah kembali ke abad pertengahan. Adalah Khalifah
betapa kehadiran negara dalam panggung agama             al-Qadir yang pernah melakukan inkuisisi terhadap
seringkali justru menjadi petaka daripada menjadi        orang-orang yang berada di luar cetak biru ideologi
rahmat. Umat beragama yang plural yang sudah             Mu’tazilah, ideologi yang telah menjadi pilihan negara
terbiasa saling bekerja sama, saling memahami, hidup     Abbasiyah saat lampau. Sejarah mencatat, Abdullah bin
rukun, maka dengan intervensi negara melalui RUU         Khabab, Abu Manshur al-Hallaj, Ahmad ibn Hanbal,
KUB ini bisa menjadi cerai berai.                        Ibnu Rusyd, merupakan deretan orang yang menjadi
                                                         korban dari kesewenang- wenangan negara hegemo-
Terus terang, pokok soal ini bermula dari kekeliruan     nik.
negara di dalam mempersepsikan agama. Agama telah
diletakkan sebagai sumber konflik, setangkup dengan      Bahkan, dalam jangka panjang, sekali lagi kalau RUU
etnis, suku, dan sebagainya. Sebagaimana tertera         KUB ini positif menjadi undang-undang, maka tidak
dalam naskah akademik RUU KUB ini, agama dinilai         tertutup kemungkinan sejumlah tradisi dan kearifan-
mengandung magma konflik yang luar biasa, dengan         kearifan lokal sekiranya oleh penguasa yang menganut
demikian ekspresi keberagamaan perlu diatur.             ideologi tertentu dipandang sebagai aliran sesat yang
                                                         menyimpang dari Islam maka akan dilarang hadir di
Pluralitas agama akan menjadi malapetaka dan             bumi Indonesia. Tradisi ziarah kubur orang NU, waktu
ketidakrukunan sekiranya tidak ada peraturan semacam     telu Orang Sasak, amalan tarekat para mistikus, dan
UU KUB. Dengan argumen ini, tampak dengan jelas          sebagainya akan dibumihanguskan. Di sinilah bahaya
arogansi negara untuk menghakimi agama-agama.            dari negara jika terlibat sebagai hakim yang memegang
Padahal, mestinya negara cukuplah menjadi fasilitator    palu godam untuk menentukan sah-tidaknya sebuah
dari agama dan bukan menjadi hakim dari agama.           jenis penafsiran dalam agama.
Kekeliruan rezim Soeharto di dalam memperlakukan
agama dan para pemeluknya tidak selayaknya terulang      Kelima, RUU KUB itu tampak sangat diskriminatif
kembali pada era reformasi ini.                          terhadap agama minoritas dan meng-anak emas-kan
                                                         agama mayoritas. Mayoritas yang dimaksudkan adalah
Hegemoni dan Monopoli                                    kelompok terbesar dari umat agama tertentu yang
                                                         terletak pada suatu daerah atau wilayah. Tentu saja,
Keempat, RUU KUB ini berupaya untuk melakukan            mayoritas yang diuntungkan oleh RUU KUB ini bukan
hegemoni dan monopoli tafsir atas agama (Pasal 17        hanya Islam, seperti halnya di Jawa. Melainkan juga
Ayat 1 RUU KUB). Segala jenis tafsir atas agama          umat non-Islam, sebagaimana Hindu yang mayoritas
(Islam) yang tidak sejalan dengan tafsir resmi, karuan   di Bali, atau Kristen yang mayoritas di Ambon, dan
saja akan diberangus. Implikasinya, kegiatan ijtihad     sebagainya. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana
dan bertafsir oleh setiap umat beragama akan terhenti,   nasib umat Islam yang minoritas di Kawasan Timur
karena tafsir atas agama telah dikuasai dan dimonopoli   Indonesia, dan bagaimana nasib umat agama non-Islam
oleh sekelompok orang. Segala pemikiran akan             yang minoritas di Jawa.
diseragamkan. Tindakan pemberangusan terhadap
pemahaman yang tidak bersejalan dengan tafsir resmi      Sindrom mayoritas-minoritas sungguh amat berbahaya
akan terus dilakukan. Pola pemberangusan seperti itu     di tengah kondisi negara Indonesia yang tidak
tentu saja sangat problematis di tengah antusiasme       sepenuhnya normal. Dalam konteks demikian, maka
                                                    — 64 —
«
mayoritas merupakan monster bagi yang minoritas.
Begitu juga sebaliknya, yang minoritas adalah mangsa
mayoritas. Keresahan akan timbul di mana-mana,
terutama di kalangan minoritas.

Jika RUU KUB tidak segera dicegah-tangkal, maka
tak ayal lagi akan terjadi gelombang konflik dan
perkelahian massal antar umat beragama di pelbagai
ruas wilayah Indonesia. Alih-alih untuk menciptakan
kerukunan, yang terjadi justru RUU KUB akan
menjadi bumbu dan penyulut konflik di tengah
masyarakat..

Akhirnya, sebagai wujud partisipasi publik di dalam
proses penentuan fondasi perundang-undangan,
maka umat beragama kiranya tidak bisa berdiam
diri menghadapi RUU KUB yang nyata-nyata akan
mengganggu komunikasi internal umat suatu agama
dan antar umat beragama di Indonesia. Melaui
medium ini pula, perlu kita serukan bagi seluruh umat
beragama di Indonesia untuk bangkit agar negara
tidak bertindak intervensionis terhadap aktivitas
keberagamaan di Indonesia.

Penulis adalah aktivis Jaringan Islam Liberal Jakarta.




                                                         — 65 —
«
                                                                                                        15/12/2003


               Menilik Metode Qiyas Syafi’i
                                              Oleh Abd Moqsith Ghazali

             Sekian banyak metodologi telah disusun untuk menafsirkan al-Qur`an dimaksud.
             Dalam lanskap itu, Imam Syafi’i dipandang sebagai orang pertama yang memancangkan
             fondasi metodologi pembacan teks melalui masterpiecenya, al-Risalah. Akan tetapi, dalam
             perkembangan kontemporer, kitab-kitab ushul fikih lama itu diduga keras sedang mengidap
             sejumlah persoalan yang kronis. Kelemahan epistemologis ini, saya kira, merupakan utang
                       intelektual yang mesti ditebus oleh ushul fikih (qiyas) model Syafi’i ini.



A
         l-Qur`an terus dikunjungi oleh umat manusia       kitab ushul fikih Syafi’iyah “al-‘ibrah bi ‘umum
         untuk dibaca dan ditafsirkan. Menafsirkan         al-lafdz la bi khushush al-sabab” terkesan terlalu
al-Qur`an berarti upaya untuk menjelaskan dan              memberhalakan teks dan mengabaikan konteks.
mengungkapkan maksud dan kandungan al-                     Pembahasan tentang lafdz (kata) dengan porsi yang
Qur`an. Proses pembacaan dan penafsiran yang lama          demikian luas merupakan indikasi kuat betapa
berlangsung telah menghasilkan beratus-ratus kitab         ushul fikih lama sangat menekankan teks dan
tafsir sejak masa lampau hingga sekarang. Banyak kitab     nyaris menafikan konteks. Pendeknya, ushul fikih
tafsir dengan corak dan ragamnya yang berbeda itu,         konvensional lebih menitikberatkan pada lafdz (kata)
di samping sebagai bukti prihal ketidakberhinggaan         dan bukan pada maqashid (ideal moral).
kerja penafsiran, juga di dalam kerangka untuk
membunyikan aksara al-Qur`an dalam tataran                 Ketiga, menyangkut konsep qiyas (analogi) yang
masyarakat yang terus berubah.                             terutama diusung oleh Syafi’ i.. Per definisi, qiyas
                                                           dikatakan sebagai menganalogikan sesuatu yang
Sekian banyak metodologi telah disusun untuk               belum jelas ketentuan hukumnya (furu’) dengan
menafsirkan al-Qur`an dimaksud. Dalam lanskap itu,         yang sudah jelas hukumnya dalam al-Qur`an dan
Imam Syafi’i dipandang sebagai orang pertama yang          al-Sunnah (ashal) karena ada kesamaan illat. Model
memancangkan fondasi metodologi pembacan teks              qiyas seperti ini bermasalah setidaknya karena dua hal
melalui masterpiecenya, al-Risalah. Bangunan ushul         berikut. [a] bahwa tidak ada dua peristiwa yang persis
fikih Syafi’i kemudian mencapai fase kematangannya         sama, sehingga hukum keduanya bisa diparalelkan.
dari para pengikut Syafi’i, di antaranya adalah al-        Persamaan illat yang menjadi alasan pengoperasian
Subki dengan bukunya Jam’u al-Jawami’. Di situ             qiyas sesungguhnya merupakan tindakan simplifikasi.
al-Subki berbicara sangat detail tentang teori lafzd.      menyangkut hal-hal yang bersifat sosial, qiyas Syafi’i
Dari kalangan madzhab Maliki, al-Syathibi menyusun         tampak mengabaikan konteks yang melandasi
sebuah buku monumental yang bertitel al-Muwafaqat          kehadiran hukum ashal. Betapa, pengetahuan terhadap
fiy ushul al-Syari’ah. Dalam buku tersebut, al-Syathibi    konteks hukum ashal tidak pernah menjadi rukun dari
banyak mengelaborasi konsep maqashid al-syari’ah.          qiyas.
Kitab-kitab ushul fikih itu berdiri demikian kokoh
dan mapan sehingga mayoritas para ahli ushul               Kelemahan epistemologis ini, saya kira, merupakan
belakangan tidak bisa keluar dari jeratan metodologi       utang intelektual yang mesti ditebus oleh ushul
al-salaf al-shalih. Ushul fikih purba begitu dimanja dan   fikih (qiyas) model Syafi’i ini. Apa yang dilakukan
disakralkan oleh para pembacanya.                          oleh pemikir-pemikir muslim kontemporer dengan
                                                           kerangka dan metodologi barunya, seperti Nashr
Akan tetapi, dalam perkembangan kontemporer,               Hamid Abu Zaid, Arkoun, Adonis, Hasan Turabi,
kitab-kitab ushul fikih lama itu diduga keras sedang       Masdar F. Mas’udi, dan lain-lain kiranya untuk
mengidap sejumlah persoalan yang kronis. Pertama,          melengkapi
ushul fikih Syafi’i beraroma Arab-sentris. Arabisme
merupakan ideologi yang lekat dalam tembok ushul           kekurangan-kekurangan tadi. Mengubah ushul fikih
fikih lama. Kedua, kaidah yang banyak dilansir oleh        lama tentu saja teramat absah dari sudut akademis-
                                                       — 66 —
«
intelektual, karena ia seutuhnya merupakan kreasi para
ulama. Ushul fikih memiliki status epistemologis yang
relatif, tidak mutlak. (Abdul Moqsith Ghazali)




                                                    — 67 —
PlantATree Publishing

Perjalanan menuju mimbar

  • 1.
    PlantATree Publishing oqsit Perjalanan Menuju Mimbar Abdul Moqsith Ghazali 2011
  • 2.
    oqsit Perjalanan Menuju Mimbar Abdul Moqsith Ghazali 2011 PlantATree Publishing
  • 3.
    12/07/2011 Merawat Agama dengan Penafsiran Oleh Ulil Abshar-Abdalla “Kegiatan membaca atau membaca ulang pada dasarnya adalah tindakan teoritis (al-‘amal al-nadzari). Tradisi intelektual Islam sangat kaya dengan tindakan teoritis semacam ini. Setiap pembaharuan (tajdid) dalam sejarah Islam juga selalu dimulai dari tindakan teoritis dalam bentuk membaca dan menafsir kembali tradisi tekstual yang ada. Sejarah agama menjadi menarik karena adanya tradisi membaca dan menafsir ulang seperti itu. Suatu agama di mana di dalamnya kita jumpai kehidupan menafsir yang terus-menerus tanpa henti, pertanda bahwa ia adalah agama yang hidup, bukan dead religion, agama yang mati, agama yang telah menjadi mumi.” Assalamu’alaikum, selamat malam, disertai niat yang menyokongnya. Itulah iman. Innama ‘l-a’mal bi ‘l-niyyat, sebagaimana disebutkan dalam Malam ini kita akan mendengarkan pidato kebudayaan sebuah hadis yang terkenal: tindakan haruslah dilandasi yang akan disampaikan oleh teman saya Dr. Abdul oleh niat. Jika tindakan sosial dikerjakan tanpa suatu Moqsith Ghazali, berjudul “Menegaskan Kembali landasan motivasional yang kuat di baliknya, tanpa Pembaruan Pemikiran Islam”. Ini adalah acara tahunan dasar-dasar teoritis yang kokoh, ia hanyalah menjadi yang digagas oleh Forum Pluralisme Indonesia. Ini pekerjaan arbitrer: sembarang dan semena-mena, yang adalah pidato seri kedua. Saya berharap setiap tahun tak bernilai apa-apa. pidato seperti ini terus bisa diselenggarakan dan menjadi tradisi yang terawat hingga di masa depan Perkembangan sosial-politik yang cepat saat ini yang jauh. memaksa umat Islam, juga umat-umat agama lain, untuk melakukan pembacaan kembali atas tradisi Apa tujuan sebuah pidato seperti ini? Bukankah yang panjang yang mereka warisi dari generasi yang lalu. dibutuhkan oleh umat Islam saat ini bukan pidato, Pembacaan ulang adalah kata kunci di sini. tetapi sebuah tindakan nyata untuk menyelesaikan masalah? Kenapa kita memakai kata “membaca” di sini? Sebab, setiap agama, termasuk Islam, pada akhirnya Menurut saya, baik orasi dan aksi, teori dan aksi, terlembagakan dalam sebuah tradisi, yakni tradisi keduanya sama penting. Saya kurang begitu suka penafsiran. Sementara setiap tradisi selalu berwatak untuk memperlawankan teori dan aksi. Mengikuti tekstual. Ia pada akhirnya adalah sebuah teks, tekstur pandangan para filsuf Muslim klasik seperti Ibn Sina yang terdiri dari jalinan gagasan yang terkait dengan dan Al-Farabi, kebahagiaan manusia diperoleh karena situasi tertentu. Setiap teks selalu membuka diri pada kombinasi yang seimbang antara teori dan aksi, antara kegiatan mental yang disebut dengan membaca. ilmu-ilmu teoritis (al-‘ulum al-nazariyyah) dan ilmu- Sementara itu, kegiatan membaca bukanlah tindakan ilmu praktis (al-‘ulum al-‘amaliyyah). Baik kehidupan yang sekali terjadi sesudah itu mati dan berhenti. kontemplatif (vita contemplativa) dan kehidupan Membaca adalah tindakan mental dan intelektual yang aktif (vita activa), keduanya sama-sama penting untuk tak pernah berhenti –kegiatan yang sifatnya perenial, mencapai –meminjam istilah dalam filsafat Yunani— abadi, non-stop. Oleh karena itu, setiap teks, termasuk eudemonia, kehidupan yang bahagia. teks-teks yang terbentuk melalui tradisi Islam, akan selalu terbuka terhadap pembacaan dan pembacaan Gagasan tentang perkawinan antara teori dan aksi ulang secara terus-menerus. sebetulnya tak asing bagi umat Islam. Dalam al- Qur’an, kata iman kerap disebut secara berbarengan Kegiatan membaca atau membaca ulang pada dasarnya dengan amal –alladzina amanu wa ‘amilu al-shalihat. adalah tindakan teoritis (al-‘amal al-nadzari). Tradisi Suatu tindakan sosial akan memiliki bobot moral yang intelektual Islam sangat kaya dengan tindakan teoritis tinggi jika didorongkan oleh motivasi mendalam; jika semacam ini. Setiap pembaharuan (tajdid) dalam —i—
  • 4.
    sejarah Islam jugaselalu dimulai dari tindakan teoritis teoritis semacam ini. Sialnya, memang, dalam setiap dalam bentuk membaca dan menafsir kembali tradisi masyarakat, kelas yang menjalani vita contemplativa tekstual yang ada. Sejarah agama menjadi menarik semacam ini akan selalu berhadapn dengan status quo. karena adanya tradisi membaca dan menafsir ulang Dan ini tampaknya memang kutukan tak terhindarkan seperti itu. Suatu agama di mana di dalamnya kita bagi setiap kelas terpelajar di manapun. Dan ini pula jumpai kehidupan menafsir yang terus-menerus tanpa tampaknya kutukan yang dihadapi para nabi di masa henti, pertanda bahwa ia adalah agama yang hidup, lampau. bukan dead religion, agama yang mati, agama yang telah menjadi mumi. Malam ini, kita sejenak akan menikmati kehidupan kontemplatif itu. Besok, anda bisa kembali menjalani Di sinilah letak pentingnya sebuah “pidato” seperti vita activa, kehidupan aktif yang normal, kehidupan yang akan kita dengarkan dari Sdr. Abdul Moqsith yang penuh dengan gebalau dan kebisingan. Ghazali malam ini. Pidato semacam ini adalah sarana untuk menyatakan suatu kegiatan membaca ulang Sekian. kepada publik luas. Kegiatan membaca ulang memang mengandung resiko, dan biasanya kurang disukai oleh kalangan yang menjaga tradisi atau kaum ortodoks. Sebab, setiap pembacaan ulang memang biasanya berujung pada evaluasi atas status quo. Sementara itu, evaluasi akan berujung pada perubahan. Dan setiap perubahan biasanya kurang disukai oleh power that be, kekuasaan yang ada. Ini bukan hal yang aneh. Ini adalah hukum besi perubahan (iron law of change) yang lazim kita jumpai di mana-mana. Dalam setiap tradisi akan selalu ada dua impetus atau dorongan –dorongan ke arah perubahan dan penolakan atas perubahan itu. Saya ingin menutup pengantar saya ini dengan menegaskan kembali pentingnya usaha memperluas secara terus-menerus “ruang mental/intelektual” dalam umat. Apa yang saya sebut sebagai ruang mental di sini adalah ruang di mana tersedia kesempatan yang cukup bagi umat untuk melakukan penafsiran dan penafsiran ulang. Perubahan-perubahan ke arah yang positif dalam level kehidupan riil biasanya dimungkinkan karena adanya ruang mental yang cukup dalam sebuah masyarakat/umat untuk memperdebatkan sejumlah alternatif penafsiran dan pembacaan. Ruang mental semacam ini hanya bisa hidup jika ada orang-orang yang mau mendedikasikan dirinya pada kehidupan teoritis –kelompok yang oleh al-Qur’an disebut sebagai kelas sosial yang melakukan tindakan “yatafaqqahu fi al-din”, mendalami dan merefleksikan soal-soal keagamaan. Inilah kelas kaum terpelajar yang hidupnya didedikasikan untuk menelaah dan membaca ulang tradisi; kaum yang menjalani vita contemplativa. Kawan saya Abdul Moqsith Ghazali adalah contoh orang yang menjalani hidup kontemplatif dan — ii —
  • 5.
    10/07/2011 Mengantar Moqsith ke Mimbar Jaringan Islam Liberal Pidato pengantar untuk Pidato Pembaruan Islam, TIM, 8 Agustus 2011 Moqsith adalah pribadi yang lahir dari pesantren namun sangat kritis dengan dunia feodal pesantren. Jadi, jangan biarkan Moqsith berada dalam feodalisme pemikirian yang menindas. Sebab feodalisme pemikiran akan menghalangi dia dari kejujuran pemikiran. Mari kita cintai Moqsith dengan membiarkannya menjadi Moqsith dari pesantren yang menemukan dan menggali rumusan pembaharuan Islam Indonesia yang bertumpu pada modernitas, keislaman dan keindonesiaan dalam konteks kekinian dan masa depan. Terimakasih kepada Forum Pluralisme Indonesia yang kerakyatan. Islam Indonesia memiliki dua sokoguru telah mempercayai saya untuk mengantarkan teman, Islam moderat (NU dan Muhammadiyah) yang sahabat kita Abdul Moqsith Gazali ke mimbar ini. mengakar jauh ke dalam tradisi Indonesia yang ragam Sebentar lagi kita akan mendengarkan pikiran dan dalam budaya. Islam Indonesia tak memiliki hirarki pandangan Moqsith tentang pembaharuan pemikiran pengambilan hukum agama yang monolitik meskipun Islam yang berangkat dari, dan mengakar pada - tradisi ada MUI. Kutub optimis ini menganggap perdebatan pemikiran Islam Indonesia, terutama dari dunia tentang bentuk negara telah selesai dan Pancasila pesantren. merupakan sumbangan umat Islam yang diperas dari nilai-nilai Islam. Dan satu lagi, Islam Indonesia paling Beberapa waktu lalu saya berbincang dengan Fred ramah terhadap perempuan. Bunnell. Seperti kita tahu, Pak Fred bersama Pak Ben Anderson pernah penulis satu dokumen yang Sementara kutub pesimistis menganggap bahwa kemudian dikenal sebagai Cornell paper “a preliminary Islam Indonesia memang pernah menjadi Islam yang Analysis of the October 1, 1965; coup in Indonesia. toleran tapi kini jadi Islam yang gampang ngamukan. Kali ini ia datang untuk menyiapkan tulisan tentang Buku-buku keagamaan yang dijual jauh dari dunia perkembangan Islam di Indonesia; sebuah tema yang intelektual, isinya dangkal dan murahan, seperti umum dan luas, dan sekaligus sulit untuk dipetakan. buku “malam pertama di alam kubur, keajaiban sedekah, cara pintar masuk sorga dan sejenisnya. Kepada Pak Fred saya menjelaskan, bahwa menurut Bagi kutub pesimis, Islam Indonesia tak lagi toleran, saya (dengan pengecualian beberapa orang ahli seperi mereka gemar menggunakan kekerasan dalam Martin van Bruinessen), penggambaran tentang Islam menyelesaikan perbedaan. Corak kebudayaannya di Indonesia dewasa ini cenderung terpolarisasi ke sangat anti budaya lokal Indonesia. Islam model ini dalam dua kutub yang berseberangan. Di satu pihak, kembali mempertanyakan keabsahan NKRI sembari Islam Indonesia digambarkan begitu opitimisnya: memaksakan ideologi Islamisme. Mereka dianggap paling progresif, moderen, maju dan karenanya menggunting dalam lipatan dalam berdemokrasi dianggap paling cocok dengan perkembangan zaman. dengan memasukkan ideologinya melalui perda-perda Sebaliknya di kutub yang lain, Islam Indonesia syariah. Mereka rajin kampanye menolak budaya asing digambarkan begitu pesimistisnya. Islam Indonesia sambil menyerap budaya Arab yang sebetulnya budaya sedang menuju ke masa kegelapan. Kira-kira besok lusa asing juga! Mereka gemar menghakimi kelompok akan tamat, kiamat. lawan dengan propaganda kampungan seperti Sepilis (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme). Dan dalam Tentu saja, kedua kutub itu memiliki argumen isu perempuan, saya hanya bisa mengatakan betapa yang sahih dan bisa dipertanggungjawabkan secara mereka “astaghfirullah”. metodologis. Kutub optimis misalnya menyajikan data tentang betapa tak populernya partai-partai Islam Namun menurut saya penggambaran serupa itu, baik dibandingkan dengan partai nasionalis, atau nasionalis yang optimis maupun yang pesismis, kurang memberi — iii —
  • 6.
    ruang pada eksplorasipembaharuan Islam di Indonesia yang bertumpu pada konsep mashlahah (mantaaf/ yang menawarkan produk pemikiran. Dalam konteks kebaikan) untuk mengatasi persoalan-persoalan pemikiran Islam moderen di Indonesia tentu saja kita sosial. Dan karena Gus Dur tak selalu menjelaskan harus menyebut tiga tokoh penting yang terkait dengan bangunan metodologinya, bagi sebagian kalangan, upaya pembaharuan yang kini menjadi jalan lurus yang pandangan Gus Dur itu dianggap cenderung pragmatis dipilih Moqsith. Tiga orang dimaksud adalah Ahmad kompromistis. Wahib, Cak Nur dan Gus Dur. Bangunan pemikiran yang dikembangkan Moqsith, Bagi saya, Moqsith adalah contoh sempurna yang pada pendapat saya, merupakan perpaduan sempurna memadukan model pencaharian pemikiran Islam dari tradisi filsafat yang dirintis Wahib, tradisi kalam- Wahib, Gus Dur dan Cak Nur. Meski khazanah teologi yang dikembangkan Cak Nur, dan tradisi pemikiran Wahib tak berbasis ilmu-ilmu Islam klasik berfikir metodologis berbasis ushul fiqh yang bersifat yang dikembangkan di Pesantren, namun Wahib advokatif sebagaimana dikembangkan Gus Dur. Hal mengajak kita untuk berpikir dan merenung tentang ini sangat jelas tercermin dalam disertasi Moqsith yang keislaman dan keindonessaan. Sementara Cak Nur kemudian menjadi buku “Argumen Pluralisme Agama”. dan Gus Dur menawarkan pemikiran genuine Distertasi itu diajukan bukan saja untuk kepentingan Islam Indonesia yang mempertemukan tiga elemen akademis melainkan sekaligus menawarkan jalan penting bagi perkembangan Islam di Indonesia, yaitu; keluar dari kekisruhan hubungan antar umat beragama modernitas, keislaman dan keindonesaan. dewasa ini. Jika Wahib bersikutat pada pemikiran filsafat yang Pasca reformasi dan dengan memanfaatkan peluang mempertanyakan secara sangat subtantif tentang dari ruang demokrasi, beragam corak pemikiran Islam eksistensi Tuhan yang diperhadapkan dengan bermunculan. Kita pun terheran-heran atas lahirnya kebebasan manusia untuk berikhtiar menghadapi beragam fatwa aneh yang tak pernah terbayangkan nestapa yang dialami manusia, Cak Nur bersikukuh akan hadir dalam khasanah Islam Indonesia. Dimulai dengan pemikiran kalam-teologi yang bertumpu pada dengan fatwa larangan mengucapkan selamat natal, konsep tauhid. sampai munculnya “rukun Islam” baru yang khusus diberlakukan bagi perempuan dengan penambahan Bagi Cak Nur, apapun persoalannya tauhid harus satu rukun lagi “kewajiban memakai jilbab”. Islam menjadi jalan keluarnya. Setiap ketimpangan yang corak ideologis ini begitu semarak sehingga bisa terjadi, menurut Cak Nur, pastilah disebabkan oleh dimengerti betapa pesimisnya para pengamat Islam pengkhianatan dan pengingkaran manusia atas Indonesia dan menganggap Islam Indonesia hampir ajaranan tauhid. Persoalan sosial, menurutnya, terjadi tamat. ketika manusia menyembah selain Allah: menyembah harta, jabatan, kekuasaan, kelompok, jenis kelamin Atas berbagai persoalan itu, saya melihat Moqsith tak dan menuhankan dirinya sendiri. Bagi Cak Nur, jalan pernah panik. Kekuatan yang ditawarkan Moqsith keluar untuk mengatasi persoalan ini adalah dengan adalah pada metodologi dalam memaknai teks. menegasi ilah (tuhan/berhala) serupa itu dan kembali Moqsith juga sangat percaya, umat pada dasarnya ke jalan tauhid. punya kewarasan berpikir yang bisa mengedit berbagai fatwa yang aneh-aneh. Keistimewaan Moqsith bagi Sementara dari Gus Dur kita menemukan bangunan saya adalah karena metodologi yang ia gunakan pemikiran yang dikonstruksikan dari logika kerja mengakar pada tradisi fiqh-ushul fiqh yang merupakan hukum fiqh dan ushul fiqh. Bagi Gus Dur, agama akar tradisi Islam Indonesia yang berbasis pesantren. hadir bukan untuk Tuhan tetapi untuk manusia dan Metodologi ini merupakan kata kunci dalam kemanusiaan. Oleh karenanya agama harus mampu membangun pemikiran keislaman, suatu wilayah menjadi jalan keluar bagi setiap penistaan terhadap yang tak terlalu diacuhkan Gus Dur karena Gus Dur manusia. cenderung langsung menerapkannya, tapi juga tak dikembangkan oleh Cak Nur karena kecenderungan Kita akan menemukan bahwa pandangan-pandangan Cak Nur yang lebih ke ranah kalam-teologi daripada Cak Nur lebih berkutat di level pemikiran yang fiqh. mengandaikan “urusan perut” telah selesai. Sementara pada Gus Dur, kita menemukan tawaran pemikiran Dalam sebuah debat di UGM beberapa tahun lalu, — iv —
  • 7.
    saya menyaksikan bagaimanabangun metodologis Moqsith untuk melanjutkan ide-ide rintisan yang dikembangkan Moqsith dan berakar pada pembaharuan Islam Gus Dur dan Cak Nur yang tradisi pemikiran Islam klasik ini digunakan untuk mengakar pada keragaman Indonesia. Dan untuk itu, meng“kanfas”kan lawan debatnya. Ketika itu dia Moqsith memiliki modal besar yang boleh jadi tak disandingkan dengan seorang ustadz berhaluan dimiliki para pemikir Islam lainnya. keras (saya lupa namanya). Sang ustadz mengatakan, “ mana tawaran anda dan kelompok anda untuk Pertama, tentu penguasaan khazanah kitab klasik, mengatasi persoalan negeri ini, jalan kami kan jelas, sesuatu yang dikuasai oleh Cak Nur juga Gus Dur. orang membunuh gunakan qishah, pancung, orang Pada Moqisth, referensi itu digunakan untuk membaca mencuri dipotong tangan, berzina kita rajam. Jelas persoalan-persoalan kekinian Indonesia. kan? Kalau anda tawarannya apa?” Ketika sang ustadz menyampaikan pandangannya, para cheers leadersnya Kedua, sebagaimana Cak Nur, Moqsith memiliki terus berteriak “Allah Akbar”. kesantunan dalam berdebat dengan artikulasi yang prima. Dia tak menunjukan otot tapi pikiran, dia Lalu apa jawaban Moqsith? Pertama-tama dia jatuhkan tak mengajak bertengkar tapi dialog. Di Takengon lawannya dengan mengoreksi ayat yang tadi hanya Aceh Tengah, lima jam perjalanan dari Banda Aceh, dibaca terjemahannya saja. Moqsith berkata, “Ustadz, misalnya, Moqsith datang pakai sarung dan peci kalau soal itu ayatnya bukan itu tapi yang ini ...”. dan bicara dalam khazanah klasik dengan argumen- Moqsith lalu membacakan ayatnya (saya tidak hafal argumen kukuh dalam khazanah ushul fiqh yang tetap ayatnya). Dengan mengutip sejumlah teori ushul fiqh, terjaga. Moqsith menjawab tentang relativitas hukum “Kalau sampeyan mau kawin tapi punya niat akan menyakiti Ketiga, dari Gus Dur, Moqsith sepertinya memiliki istri, maka kawin Anda haram hukumnya. Kalau modal keberanian. Percaya Diri (pede) luar biasa. sampeyan mau kawin karena anda sudah ngebet dan tahu tidak bisa menahan diri dari perbuatan zina maka Pada akhirnya, mari kita tunjukkan kecintaan kita pada wajib hukumnya. Jadi semuanya tergantung para sebab Moqsith dengan membiarkannya tumbuh berkembang hukum dan tujuan hukum, bukan asal menerapkan sebagai intelektual independen dan tak tinggal di hukum”. Kira-kira demikian jawaban Moqsith. menara gading. Mari kita tantang dia untuk menjawab Jawaban Moqisth begitu bernas, cerdas, tenang dan persoalan kebangsaan dengan pemikiran keagamaan, tegas. Dan para cheers leader di pojok aula pun pembaharuan konsep dan metodologis bukan hanya bungkam. Saya bilang dalam hati “yes- Allah Akbar”! dengan istighasah atau dzikir akbar. Sering saya menyaksikan peristiwa semacam itu selama Moqsith adalah pribadi yang lahir dari pesantren saya bekerja bersama Moqsith. Di Aceh misalnya, namun sangat kritis dengan dunia feodal pesantren. kami bekerja selama 2 tahun Mahkamah Syari’yah Jadi, jangan biarkan Moqsith berada dalam feodalisme (Peradilan agama). Pasca tsunami, banyak perkara di pemikirian yang menindas. Sebab feodalisme Aceh yang tak bisa diselesaikan oleh hukum keluarga pemikiran akan menghalangi dia dari kejujuran yang ada karena tak ada preseden sebelumnya. Moqsith pemikiran. Mari kita cintai Moqsith dengan membantu mereka untuk menggunakan metode membiarkannya menjadi Moqsith dari pesantren yang ushul fiqh. Dan karena referensi atas kitab klasik yang menemukan dan menggali rumusan pembaharuan dimiliki Moqsith luar biasa, maka para abu-tengku Islam Indonesia yang bertumpu pada modernitas, atau kyai lokal bisa dia “tundukkan”. Biasanya dia keislaman dan keindonesiaan dalam konteks kekinian akan mengutip ayat di luar kepala, lalu dia menyitir dan masa depan. teks-teks kitab kuning lengkap dengan nomor halaman dan hitungan baris atas-bawahnya. Dan jangan Hadirin sekalian, mari kita sambut pembaru pemikiran dikira mereka tidak mengeceknya. Pada pertemuan Islam Indonesia penerus para pembaru Islam terdahulu, berikutnya mereka mengkonfirmasi bahwa mereka Abdul Moqsith Ghazali! telah melihat referensi yang Moqsith sebutkan itu. Saya memberi judul pengantar ini “ Mengantarkan Moqsith ke Mimbar”. Bagi saya, ini sebuah ungkapan metafora. Kita harus bersama-sama mengantarkan —v—
  • 8.
    Daftar Isi Merawat Agamadengan Penafsiran i Mengantar Moqsith ke Mimbar iii Menegaskan Kembali Pembaruan Pemikiran Islam 1 Kritik atas Wahabisme 9 Menahan Laju Negara Islam Indonesia 11 Wahabisme: Alhamdulillah atawa Innalillah? 14 Kontekstualisasi Doktrin Ahmadiyah 16 Siapa Pemimpin Islam Indonesia? 19 SBY, Ciketing dan Perlindungan Non-Muslim 21 Merayakan Idul Fitri 1431 H “Momen Penghapusan Kezaliman” 23 Mistifikasi Mudik Lebaran 25 Khadijah Tak Berpuasa Ramadan 27 Waktu Isra-Mikraj Nabi Muhammad 28 Pengertian Umat Islam Indonesia 30 Sejumlah Paradoks dalam Pidato Hasyim Muzadi 31 Pluralisme Agama di Indonesia: Masihkah Kita Bisa Berharap? 33 Menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1431 H. Kelumit Sejarah Pembentukan Kalender Islam 35 Islam dan Pluralitas(isme) Agama 37 Menyambut Ultah NU ke 83 NU dan Passing Over Pemikiran 43 Teologi Ramadan dan Kerukunan Antar-Umat 45 Dari Kartini Sampai Feminis Islam: Menyambut Hari Kartini 21 April 2007 47 Kultur Takfir 49 Wahabisasi “Islam-Indonesia” 51 Ismail atau Ishak? 53 Stop Demo Anti-JIL 55 Sesat dan Menyesatkan 57 Syahrur 58 — vi —
  • 9.
    Agama, Seni, danRegulasi Pornografi 60 Kekenyalan Syariat 62 Ketika Negara Mengintervensi Agama 63 Menilik Metode Qiyas Syafi’i 66 — vii —
  • 10.
    « 09/07/2011 Menegaskan Kembali Pembaruan Pemikiran Islam Oleh Abdul Moqsith Ghazali Naskah Pidato Pembaruan Islam di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 8 Juli 2011 Darimana penegasan pembaruan pemikiran Islam ini mesti dimulai. Tentu pertama-tama dengan cara membenahi cara pandang kita terhadap al-Qur’an, mengerti pokok-pokok risalah kenabian, lalu mengambil sikap yang tepat dalam menghadapi khazanah pemikiran dan karya para ulama terdahulu, serta benar dalam mendudukkan akal dan memfungsikannya dalam proses penafsiran wahyu. P ditegaskan, karena beberapa hal. Pertama, di Pengantar waqi’iyyah al-Qur’an) itu, kita menjadi tahu bahwa al- Qur’an tak boleh dilucuti dari aspek kultural-sosialnya. okok-pokok pembaruan pemikiran Islam penting Di sinilah kita membutuhkan bukan hanya tafsir baru al-Qur’an, melainkan juga metodologi baru dalam tengah situasi zaman yang kian kompleks, kita tak memahami al-Qur’an. cukup hanya bersandar pada pikiran-pikiran keislaman lama yang sudah tak relevan dengan konteks zaman. Ketiga, sejumlah orang hendak menjadikan Islam Sebab, apa yang dirumuskan ulama terdahulu mungkin sebagai ladang persemaian diskriminasi dan telah berhasil memecahkan sejumlah masalah di masa dehumanisasi. Kita menyaksikan kian tingginya lalu, tapi belum tentu terampil menyelesaikan masalah diskriminsi terhadap perempuan, misalnya. Padahal, di masa kini. Al-Qur’an membuat metafor menarik terang benderang bahwa diskriminasi berbasis mengenai tak abadinya keberlakuan sesuatu yang lama. kelamin adalah tidak adil, karena seseorang tak Dikisahkan al-Qur’an mengenai perilaku Ashhabul pernah bisa memilih lahir dengan kelamin apa—laki- Kahfi (para pemuda yang tertidur lama dalam gua) laki atau perempuan. Namun, sebagian orang tetap yang harus menukar koin, karena koin lama sudah tak berpendirian bahwa perempuan adalah manusia tak laku lagi. Belajar dari semangat ijtihad para ulama salaf sempurna; separuh diri perempuan adalah manusia, seperti Imam Syafii, Imam Hanafi, dan lain-lain, kita dan separuhnya yang lain merupakan setan yang memerlukan sejumlah pembaruan di berbagai bidang mengganggu keimanan laki-laki. Pandangan misoginis keislaman. ini menghuni sebagian pikiran umat Islam, dulu dan sekarang. Kedua, di tengah berbagai usaha yang mengerdilkan al-Qur’an, kita membutuhkan cara pandang baru Diskriminasi dan intimidasi juga mengarah pada terhadap al-Qur’an. Jika sebagian orang memberikan kelompok minoritas; sekte minoritas dan agama tekanan yang terlampau kuat pada aspek hukum dalam minoritas. Sekelompok orang yang mengatasnamakan al-Qur’an, maka kita harus mendalaminya dengan sekte mayoritas dan agama mayoritas di negeri ini pemahaman utuh tentang wawasan moral-etik al- suka menempuh jalan kekerasan. Dan kekerasan Qur’an. Tak cukup membaca al-Qur’an sekedar untuk itu terus meluas dengan kecepatan api membakar memperoleh kenikmatan kata dan bahasa, kita harus hutan. Sejauh yang bisa dipantau, kekerasan atas melangkah untuk membuka cakrawala makna. Jika nama agama yang kerap terjadi di Indonesia bukan sebagian orang hanya memposisikan al-Qur’an berupa penghukuman terhadap orang yang bersalah, tapi deretan huruf dan aksara, maka kita perlu meletakkan lebih merupakan pembantaian terhadap mereka yang makna al-Qur’an dalam konteks sejarah. Al-Qur’an tak berdaya. Bahkan, kecenderungan untuk saling bukan unit matematis yang statis, melainkan gerak mengkafirkan di internal Islam makin kuat. Di mana- sejarah yang dinamis. Melalui pemahaman terhadap mana bermunculan “teologi pemusyrikan”, “teologi konteks kesejarahan al-Qur’an (asbab nuzul wa pengkafiran”, “teologi penyesatan” terhadap umat —1—
  • 11.
    « Islam lain. Dariteologi seperti ini, maka meletuslah kebesaran Islam adalah dimungkinkannya keberagaman misalnya peristiwa Cikeusik Banten. Di Cikeusik, pemaknaan terhadap ayat-ayat al-Qur’an. Satu ayat kematian datang sebagai manifestasi keberingasan tafsir ketika sampai pada orang berbeda selalu terbuka agama. Dalam kaitan itu, kita perlu menyusun teologi peluang bagi lahirnya produk tafsir yang berbeda. yang inklusif-pluralis, bukan yang diskriminatif dan Itu sebabnya dalam literatur tafsir dikenal beragam intimidatif. jenis tafsir, yaitu tafsir ‘ilmi (tafsir yang berbasis pada temuan sains), tafsir fiqhi (tafsir berbasis hukum), Keempat, “perang” telah mendominasi diskursus umat tafsir adabi (tafsir bercorak sastra), tafsir ijtima’i (tafsir Islam belakangan. Bahwa pedang harus dihunus dan berwatak sosial), dan tafsir sufi (tafsir dengan sentuhan pistol segera ditembakkan pada orang-orang yang pengalaman spiritual). Dengan perkataan lain, ada sudah didefinisikan menyimpang dan memusuhi Allah. tafsir yang berfokus pada tata bahasa, latar belakang Frase “murka dan kemarahan Allah” (ghadlab Allah) sejarah, implikasi juridis, ajaran teologis, pendidikan yang ada dalam Islam digunakan untuk membenarkan moral, makna alegoris, dan seterusnya. Menariknya, metode perang seperti pembunuhan massal dan tafsir generasi yang satu bersifat independen, tak terorisme. Pandangan seperti ini sekalipun digali bergantung pada tafsir generasi lainnya. dari khazanah keislaman klasik, saatnya diperbaharui kembali. Sebab, Islam sejatinya tak menghalalkan Kekayaan bahasa dan keindahan diksi al-Qur’an pembantaian. Kita tak menyalahkan kucing karena memungkinkan kita untuk menginvestigasi makna- memakan tikus, atau anjing karena menyerang kucing. makna al-Qur’an. Jika jurisprudensi hukum Islam Kita mempertanyakan manusia yang memancung fokus pada elaborasi sistematis ajaran-ajaran al- manusia lain. Manusia adalah maha karya Allah. Dan Qur’an mengenai perbuatan badani manusia (af ’al Allah menghargai manusia begitu rupa (wa laqad al-mukallafin), maka tasawwuf bergerak pada wicara karramna bani Adam). batin nurani manusia. Sementara teologi berkutat pada bagaimana merumuskan dan mengkonseptualisasikan Pertanyaannya darimana penegasan pembaruan Tuhan seperti yang dipahami melalui teks-teks al- pemikiran Islam ini mesti dimulai. Tentu pertama- Qur’an. Para ulama, dari dulu hingga sekarang, terus tama dengan cara membenahi cara pandang kita mencurahkan seluruh kehidupannya untuk memahami terhadap al-Qur’an, mengerti pokok-pokok risalah al-Qur’an. Di ruangan kecil al-Qur’an itu, 30 Juz, kenabian, lalu mengambil sikap yang tepat dalam para penafsir berhimpitan untuk menembus “batas” menghadapi khazanah pemikiran dan karya para ulama pengertian al-Qur’an. terdahulu, serta benar dalam mendudukkan akal dan memfungsikannya dalam proses penafsiran wahyu. Penelusuran makna dan kerja menafsirkan al- Qur’an seperti itu merupakan cara manusia untuk Pokok Al-Qur’an berpartisipasi dalam Firman Tuhan. Bentuk partsipasi paling bertanggung jawab dalam memaknai al-Qur’an Al-Qur’an adalah wahyu Allah. Ia memang berbahasa adalah dengan mengkerangkakannya ke dalam sebuah Arab, tapi yakinlah bahwa ia tak memiliki hubungan bangunan metodologi. Para ulama terdahulu telah kepemilikan dengan orang Arab. Al-Qur’an tak identik menyusun sejumlah metodologi untuk menafsirkan dengan etnik Arab. Bahasa Arab dipinjam Allah untuk al-Qur’an. Namun, berbagai pihak menilai bahwa memudahkan percakapan antara Nabi Muhammad dan metodologi yang disuguhkan para ulama terdahulu Malaikat Jibril. Allah sudah berjanji dalam al-Qur’an terlampau rumit, sehingga tak mudah diakses banyak bahwa Ia tak akan pernah mengirimkan pesan wahyu orang. Persyaratan-persyaratan kebahasaan dan kecuali dengan bahasa manusia (seorang nabi) yang kemestian-kemestian gramatikal yang ditetapkan kepadanya ia diwahyukan. Melalui bahasa lokal Arab para ulama ushul fikih dalam menafsirkan al-Qur’an yang partikular itu, Nabi Muhammad bisa mengerti misalnya menimbulkan perasaan minder umat Islam pesan universal al-Qur’an. Dan kita yang hidup ketika berhadapan dengan al-Qur’an. sekarang pun bisa ambil bagian dari proses pemaknaan al-Qur’an. Kita memerlukan metodologi sederhana dan ringkas dalam menafsirkan al-Qur’an, sehingga penafsiran Bentuk teks al-Qur’an telah sempurna, tapi ketahuilah al-Qur’an bisa dilakukan banyak orang. Misalnya, bahwa maknanya tetap cair. Tak ada interpretasi penting diketahui bahwa Qur’an yang terdiri dari final terhadap al-Qur’an. Bahkan, salah satu sumber ribuan ayat, ratusan surat, puluhan fokus perhatian, —2—
  • 12.
    « sekiranya dikategorisasikan hanyaterdiri dari dua jenis. pengkaji Islam, upaya itu dikenal dengan istilah “tatsbit Pertama, ayat fondasional (ushul al-qur’an). Masuk al-tsawabit wa taghyir al-mutaghayyirat”. Dengan dalam jenis kategori pertama ini adalah ayat-ayat perkataan lain, kita tak boleh mendogmakan yang yang berbicara tentang tauhid, cinta-kasih, penegakan kontekstual, dan mengkontekstualkan yang tak tetap keadilan, dukungan terhadap pluralisme, perlindungan (tatsbit al-mutaghayyirat wa taghyir al-tsawabit). terhadap kelompok minoritas serta yang tertindas. Saya berpendirian bahwa ayat fondasional seperti itu tak Risalah Kenabian boleh disuspendir dan dihapuskan. Meminjam sebuah peribahasa, ayat ushul tak akan lekang oleh panas Umat Islam diperintahkan membaca dua kalimah dan tak lapuk oleh hujan. Ia bersifat abadi dan lintas Syahadat. Syahadat pertama (asyhadu an la ilaha illa batas—batas etnis juga agama. Tak ada agama yang Allah) adalah syahadat primordial. Yaitu janji awal kita datang kecuali untuk mengusung pokok-pokok ajaran untuk bertuhan hanya kepada Allah Yang Esa, bukan fondasional itu. kepada yang lain, sebagaimana dipaparkan ayat “alastu bi rabbikum qalu bala syahidna”. Sementara syahadat Kedua, ayat partikular (fushul al-Qur’an). Ayat al- kedua (wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah) Qur’an yang tergabung dalam jaringan ayat partikular adalah syahadat komunal. Pada syahadat pertama, adalah ayat yang hidup dalam sebuah konteks spesifik. umat Islam dengan umat agama lain bisa berjumpa. Sejumlah pemikir Islam memasukkan ayat jilbab, aurat Sementara, pada syahadat kedua, umat Islam dengan perempuan, waris, potong tangan, qisas, ke dalam umat agama lain bisa berpisah. Itu berarti kita tak kategori ayat fushul. Tahu bahwa ayat itu bersifat bisa memaksa umat agama lain agar meyakini dan partikular-kontekstual, maka umat Islam seharusnya mengakui kenabian Muhammad SAW dan meyakini tak perlu bersikeras untuk memformalisasikannya detail syariat yang dibawanya. Bagi saya, soal mengakui dalam sebuah perangkat undang-undang. Sebab, yang atau tak mengakui kenabian dan detail syariat dituju dari sanksi-sanksi hukum dalam al-Qur’an Muhammad SAW lebih merupakan soal mereka, dan misalnya adalah untuk menjerakan (zawajir), bukan bukan soal kita (umat Islam). yang lain. Yang menjadi perhatian kita adalah tujuan hukum dan bukan hurufnya [al-‘ibrah bi al-maqashid Namun, ingatlah bahwa Islam adalah agama yang al-syar’iyah la bi al-huruf al-hija’iyyah]. Jika dengan sangat terbuka. Dalam hadits Nabi yang kemudian hukum penjara, tujuan hukum sudah tercapai, maka menjadi dasar penetapan rukun iman, umat Islam kita tak perlu untuk kembali ke bentuk hukum lama. diperintahkan untuk mengimani seluruh nabi-nabi dan utusan Allah. Sejumlah riwayat menuturkan bahwa tak Ketika belajar kitab fikih di pesantren, saya tahu bahwa kurang dari 124 ribu nabi yang dikirim Allah dan 313 bab yang paling jarang dikunjungi para ustadz dan rasul yang diutus ke bumi. Jika tak bisa mengetahui santri yang mengaji adalah bab tentang hukum pidana seluruh rasul Allah, umat Islam diperintahkan untuk Islam (bab al-jinayat). Mungkin para ustadz itu telah mengimani 25 rasul yang nama-namanya sudah menyadari bahwa sebagian besar hukum pidana Islam tercantum dalam al-Qur’an. Rasulullah diperintahkan sudah tak cocok dengan kondisi sekarang. Ormas untuk berkata, “aku bukanlah yang pertama dari besar Islam Indonesia seperti NU dan Muhammadiyah deretan rasul-rasul Allah” (ma kuntu bid’an min al- pun tak pernah mengusulkan pemberlakuan hukum rusul). Nabi Muhammad hanya salah satu dari ribuan pidana Islam. Mereka tahu bahwa kita sudah hidup di nabi-nabi itu. abad 21. Semangat zaman telah memaksa kita untuk meninggalkan sanksi-sanksi hukum primitif yang Sebagian ajaran yang dibawa Nabi Muhammad ada brutal seperti hukum pancung, dan lain-lain. yang baru, dan sebagiannya yang lain lebih merupakan pengembangan dan modifikasi dari ajaran para nabi Kategorisasi ayat seperti itu kiranya bisa membantu sebelumnya. Allah berfirman, “inna hadza lafi al- umat Islam dalam memahami pesan dasar al-Qur’an. shuhuf al-ula shuhuf Ibrahim wa Musa” [sesungguhnya Bahwa dalam al-Qur’an, ada ayat yang tetap-tak pokok-pokok ajaran moral al-Qur’an sudah ada dalam berubah (al-tsawabit) dan ada ayat yang maknanya mushaf-mushaf yang pertama, yaitu Mushaf Nabi sangat kontekstual; tidak tetap dan lentur (al- Ibrahim dan Mushaf Nabi Musa]. Jika kita ringkaskan, mutaghayyirat). Yang tetap, kita dogma-statiskan. risalah kenabian yang dibawa Nabi Muhammad Sementara, terhadap yang al-mutaghayyirat, kita (mungkin juga para nabi lain) adalah sebagai berikut: dinamisasi dan kontekstualisasikan. Di lingkungan para —3—
  • 13.
    « Pertama, risalah kenabianadalah risalah tauhid, al-Banna, pemikr Islam dari Mesir, dalam bukunya al- bukan risalah syirik. Semua nabi, termasuk Nabi Jihad mengatakan, anna al-jihad al-yawm laysa huwa an Muhammad, membawa ajaran tauhid. Bahwa Tuhan namuta fi sabilillah wa lakin an nahya fi sabilillah (jihad yang kita sembah adalah Allah Yang Esa. Tetapi, yang hari ini bukan untuk mati di jalan Allah, melainkan problematik selalu pada tingkat konseptualisasinya. untuk hidup di jalan Allah). Dengan perkataan lain, Yahudi, Kristen, dan Islam berbeda dalam merumuskan jihad adalah tindakan menghidupkan dan bukan soal ke-Esa-an Allah. Di internal Islam sendiri terdapat mematikan. Al-Qur’an menegaskan bahwa barang perbedaan amat tajam antara Mu’tazilah, Asy’ariyah, siapa membunuh satu jiwa sama dengan membunuh juga Maturidiyah dalam menjelaskan Esanya Allah. semua jiwa. Dan barang siapa menghidupkan satu jiwa, Bahkan, Imam Asy’ari (peletak dasar teologi Sunni) dan sama dengan menghidupkan semua jiwa. Itulah sendi Asya’irah (pengikut Imam Asy’ari) berbeda pandangan ajaran Islam yang menjunjung kemanusiaan. Tuhan dalam menjelaskan sifat dan dzat Allah. menciptakan manusia secara berbeda-beda agar mereka saling mengakui dan memahami (li ta’arafu), bukan Saya meyakini bahwa Allah Yang Esa dan Yang untuk saling membasmi. Mutlak tak mungkin dijelaskan oleh manusia yang relatif. Karena itu, diperlukan kerendah-hatian dari Perbedaan keyakinan dan agama pun bukan alasan setiap manusia untuk tak mengabsolutkan konsep untuk merendahkan kemanusiaan seseorang. Apalagi ketuhanannya. Kita mesti belajar untuk tak jadi untuk membunuh. Sebab, soal keyakinan adalah soal manusia yang menganggap diri selalu benar. Amat individual antara manusia dengan Tuhannya. Dan berbahaya sekiranya setiap orang mengklaim bahwa Allah memberi kebebasan penuh bagi manusia untuk rumus ketuhanan versi dirinya adalah yang paling memilih suatu agama atau keyakinan. La ikraha fi benar. Itu bukan hanya menunjukkan kepongahan si al-din (tak ada paksaan dalam soal agama). Dengan perumus, melainkan juga telah mengecilkan kebesaran demikian, orang yang membunuh umat agama lain Allah yang tak berhingga itu. Definisi manusia tentang hanya karena soal perbedaan agama sesungguhnya Allah Yang Esa sesungguhnya lebih merupakan fantasi telah melanggar risalah kemanusiaan yang dibawa dan imajinasi manusia tentang Yang Esa, dan bukan Nabi Muhammad. Sejarah menunjukkan hubungan Yang Esa itu sendiri. Bagi saya, Tuhan Yang Esa harmonis antara Nabi Muhammad dengan para tokoh tetaplah Allah yang tak terungkap dan tak terjelaskan agama lain. Mulai dari kebiasaan tukar menukar (kanzan makhfiyan). Gabungan konsep ketuhanan tak hadiah antara Nabi Muhammad dan Muqauqis mungkin bisa menembus tirai kegaiban ketuhanan. (raja Iskandariah Mesir) yang Kristen sampai kepada keikutsertaan Mukhairiq (tokoh Yahudi Madinah) Kedua, risalah kenabian adalah risalah kemanusiaan, dalam Perang Uhud bersama Nabi. Bahkan, dalam bukan risalah pembantaian. Setiap nabi lahir untuk al-Qur’an ada pengkuan bahwa orang yang paling menegaskan pentingnya penghargaan terhadap enak dijadikan sebagai sahabat atau teman adalah nilai-nilai kemanusiaan. Salah satu poin dalam orang-orang Nashrani. [wa latajidanna aqrabahum Khutbah Wada’ Nabi Muhammad yang terkenal itu mawaddatan li alladzina amanu alladzina qalu inna adalah penegasannya untuk menghargai manusia. nashara]. Ia berkata, inna dima’akum wa amwalakum wa a’radlakum haramun ‘alaikum kahurmati yawmikum Ketiga, traktat kenabian adalah traktat etik dan hadza wa baladikum hadza wa syahrikum hadza. bukan traktat politik. Said al-Asmawi berkata bahwa Tak boleh ada darah yang tumpah serta martabat Allah menghendaki Islam sebagai agama, tapi para yang ternoda. Karena itu, saya tak mengerti jika ada pemeluknyalah yang membelokkannya menjadi sekelompok orang yang mengaku sebagai pengikut politik-siyasah [inna Allah arada al-Islam diynan wa Nabi Muhammad tiba-tiba membantai pengikut arada bihi al-nas an yakuna siyasatan]. Itu sebabnya Nabi Muhammad yang lain. Tak ada alasan jihad tak ada perintah eksplisit dalam al-Qur’an agar Nabi fisabilillah dibalik rentetan kekerasan atas nama agama Muhammad mendirikan sebuah negara. Tak ada cetak di Indonesia. biru pemerintahan dalam Islam. Nabi Muhammad melalui hadits-haditsnya tak juga mengintroduksi jenis Jihad disyariatkan untuk merawat kehidupan bukan pemerintahan tertentu. Pengelolaan pemerintahan untuk menyongsong kematian. Zainuddin al-Malibari Madinah adalah improvisasi politik sementara Nabi menegaskan bahwa membantu sandang, pangan, dan Muhammad ketika pengaturan jenis pemerintahan papan orang miskin adalah bagian dari jihad. Jamal yang ideal dan efektif belum ditemukan. Sebab, untuk —4—
  • 14.
    « urusan duniawi, denganterus terang Nabi Muhammad relevan untuk memecahkan problem masa kini. Kita mengaku ketak-cakapan dirinya. Nabi bersabda, tak mungkin mengcopy pemikiran-pemikiran lampau “antum a’lamu minni bi umuri duniyakum” [engkau yang berlangsung di kawasan Timur Tengah untuk lebih tahu tentang urusan duniawi kalian]. diterapkan di Indonesia, tanpa proses kontekstualisasi bahkan modifikasi. Yang bisa kita lakukan adalah Dengan demikian, berdirinya negara Indonesia menangkap spiritnya dan tak melulu memperhatikan yang berjangkar pada Pancasila dan UUD 1945 tak teksnya. bertentangan dengan risalah kenabian. Indonesia memang tak dirancang sebagai negara Islam. Tapi, Karya para ulama klasik bukan wahyu, melainkan tafsir bukankah di negara ini, umat Islam bebas menjalankan atas wahyu. Ia merupakan produk ijtihad. Persoalan ajaran agama Islam. Tak pernah ada halangan bagi siapa yang merumuskannya, untuk kepentingan apa, umat Islam untuk melaksanakan syariat Islam. dalam kondisi sosial yang bagaimana dirumuskan, Umat Islam boleh melaksanakan shalat; dimana saja, serta lokus geografis seperti apa, dengan epistemologi kapan saja, dan berapa saja. Mau puasa sepanjang apa akan cukup besar pengaruhnya dalam proses masa, tak dilarang. Umrah berkali-kali juga boleh. pembentukan sebuah karya. Karena itu seharusnya Memakai jilbab, berjenggot lebat, bercelana di atas kita meletakkan sebuah pemikiran dalam susunan tumit, pun tak ada hambatan. Kebebasan umat Islam konfigurasinya saat pemikiran itu diproduksi di dalam menjalankan ajaran agama bahkan tafsir-tafsir satu sisi, dan dalam konteks epistemologisnya di sisi keagamaan ini menyebabkan tak dibutuhkannya upaya lain. Mengetahui konteks-konteks tersebut bukan formalisasi syariat Islam. Memformalisasikan ajaran hanya penting bagi pengayaan pengetahuan sejarah yang sudah hidup dan lama terpraktekkan dalam sosial suatu pemikiran, melainkan juga berguna masyarakat adalah buang-buang energi dan tindakan untuk kebutuhan kontekstualisasi pemikiran lama sia-sia. atau bahkan penyusunan pemikiran keislaman baru, yaitu jenis pemikiran yang bertumpu pada problem- Sikap terhadap Karya Lampau problem kemanusiaan dan kondisi obyektif masyarakat Indonesia. Umat Islam selalu menunjukkan keterkaitannya pada masa lalu. Tumpukan kitab kuning peninggalan Kedua, kita mesti memilah-milih antara teks intelektual ulama terdahulu tak susut bahkan makin yang relevan dan yang tak relevan. Kita tak bisa meninggi di lembaga-lembaga pendidikan Islam mengawetkan tafsir-tafsir lama yang cenderung Indonesia. Pesantren sebagai lembaga tafaqquh fi al-din menistakan perempuan dan umat agama lain. Kita di Indonesia intensif mengajarkan, juga mendiskusikan, tak mungkin mempertahankan pandangan ulama hasil karya para ulama salaf. Kreasi intelektual para yang melarang perempuan menjadi pejabat publik ulama klasik itu telah menjadi sokoguru intelektual atau menghalalkan penumpahan darah umat agama ulama Indonesia, dari dulu hingga sekarang. Bahkan, lain. Tafsir yang demikian tak boleh mendominasi keulamaan seseorang belakangan amat ditentukan percakapan intelektual kita hari ini. Betapun apakah yang bersangkutan memiliki kemampuan canggihnya sebuah pemikiran jika berujung pada mengakses kitab kuning atau tidak. Secara berseloroh, tindak kekerasan, maka ia batal dengan sendirinya. sebagian teman berkata; sekiranya di rak buku Karena itu, sekiranya mungkin, kita perlu mencari seseorang kita temukan jejeran kitab kuning, maka tafsir lama lain yang lebih mengapresiasi perempuan pastilah ia seorang ulama. Sebaliknya, jika lemari buku dan menghargai umat lain. Jika tak mungkin, seseorang penuh dengan “kitab putih”, maka yang kita seharusnya memproduksi tafsir baru yang bersangkutan tak mungkin disebut ulama. memanusiakan kaum perempuan dan menghargai umat non-Muslim. Pertanyaannya, bagaimana seharusnya kita memperlakukan khazanah keislaman klasik itu? Sementara pandangan lama yang masih relevan dan Pertama-tama, mestilah disadari bahwa sebuah karya masih bisa kita resepsi untuk memuluskan jalan bagi intelektual tak lahir dari ruang kosong. Ia muncul dialog dan kerja sama agama-agama di Indonesia di dari sebuah konteks. Konteks keindonesiaan kita hari antaranya adalah pandangan Muhyiddin Ibn Arabi. ini tak sama dengan konteks ketika karya ulama salaf Ketika para ahli fikih bersilang-sengketa mengenai itu disusun. Karena itu, tak bijaksana kalau kita terus kedudukan non-Muslim di negeri mayoritas Muslim, memobilisasi pandangan keislaman lama yang tak Ibn Arabi melangkah jauh dengan mengintroduksi —5—
  • 15.
    « agama cinta. Perbedaan-perbedaandi ranah eksoterik tafsir kebencian dan menghalalkan kekerasan akan fikih ini luluh dalam agama cinta Ibn Arabi. Salah satu turut memerosokkan reputasi agama itu. deretan bait puisinya adalah: Islam telah berumur 1500-an tahun. Ia akan tetap abadi dan diminati sekiranya ditopang dengan tafsir- Aku pernah menyangkal sahabatku tafsir keislaman yang pro-perdamaian, bukan pro- karena agamaku tak sama dengan agamanya kekerasan. Tafsir-tafsir lama yang pro-kekerasan dan tak (Kini) hatiku telah terbuka menghargai nilai-nilai kemanusiaan tak mungkin kita Menerima semua bentuk (agama) lestarikan. Namun, tafsir-tafsir terdahulu yang pro- Padang rumput bagi rusa, perdamaian pastilah akan tetap berguna buat tegaknya Rumah untuk berhala-berhala Islam yang ramahtan lil alamin. Terhadap karya ulama Gereja bagi para pendeta, terdahulu yang pro-pluralisme dan perdamaian, berlaku Ka`bah untuk orang tawaf kaidah, ”al-Muhafadlah ’ala al-qadim al-shalih wa al- Papan-papan Taurat alkhdzu bi al-jadid al-ashlah” [memelihara yang lama Lembar-lembar Qur’an yang masih maslahat dan mengambil yang baru yang Aku mereguk agama cinta lebih maslahat]. Kemana pun dia menuju Cinta kepada-Nya Posisi Akal adalah agama dan keyakinanku Ajaran Islam tak ditujukan kepada anak-anak, Lewat tasawwuf-falsafinya, Ibn Arab membuka tirai melainkan kepada manusia dewasa yang memiliki dan menghapus sekat di antara para pemeluk agama kemampuan rasional utuh. Dengan akalnya manusia yang berbeda. Sebagaimana Ibn Arabi, Jalaluddin Rumi bisa menentukan yang baik dan yang tidak. Jalaluddin menyuarakan pendapat serupa. Bahwa visi pokok Rumi dalam Matsnawi pernah berkata, “Wahai ajaran agama adalah cinta dan kasih. Kerap diceritakan saudara, engkau adalah pikiran itu sendiri, dirimu bahwa di antara murid-murid Rumi terdapat orang- selebihnya bukanlah apa-apa kecuali otot dan tulang”. orang Nashrani dan Yahudi. Apa yang dirintis Ibn Menurut Ibnu Bajjah, berfikir adalah fungsi tertinggi Arabi dan dilakukan Rumi adalah jalan untuk manusia. Berfikir akan mengantarkan manusia menampilkan keramahan agama. Itu senafas dengan berjumpa dengan Tuhan sebagai Sang Akal Aktif. Ibnu teks agama yang menggambarkan ketak-terbatasan Thufail dalam novel filsafatnya, Hayy ibn Yaqzhan, rahmat dan kasing sayang Allah. Teks itu berbunyi, mengisahkan seorang anak yang dibuang ke pulang ”wa rahmati wasi’at kulla sya’in” [sesungguhnya kasih kosong. Ia diasuh hewan dan dididik alam. Di tengah sayang-Ku melampaui semua hal]. rimba itu, dengan akalnya yang masih berfungsi, ia bisa berfilsafat dan berteologi, dan akhirnya bisa menyatu Introduksi agama cinta di saat kekerasan datang dengan Tuhan. Apa yang dikatakan para filosof itu bertubi-tubi adalah oasis. Kita ingin mengembalikan paralel dengan apa yang ditegaskan al-Qur’an. Bahwa Islam kepada semangat dan khittah awalnya sebagai Allah telah mengilhamkan kepada manusia suatu agama cinta bukan agama prasangka. Agama yang kemampuan untuk membedakan antara yang baik dan terus-menerus dikampanyekan dengan jalan teror dan yang buruk [faalhamaha fujuraha wa taqwaha]. kekerasan akan kehilangan simpati dari pemeluk agama itu, apalagi dari orang lain. Sementara agama yang Akal yang dimiliki manusia merupakan anugerah direklamekan dengan cinta, maka ia akan mengundang Allah paling berharga. Ia tak hanya berguna untuk selera. mencapai pemahaman yang mendalam tentang yang baik dan yang buruk, tapi juga untuk menafsirkan Sejarah agama-agama menunjukkan perihal naik dan kitab suci. Tanpa akal, kitab suci tak mungkin bisa turunnya pamor satu agama. Bahkan, ada agama yang dipahami. Menurut Ibn Rushd, dalam agama, akal telah ribuan tahun hidup kemudian sirna ilang kerta berfungsi untuk menakwilkan kitab suci ketika teks ning bumi. Pasti ada banyak faktor kenapa agama- kitab suci tak bisa dikunyah akal sehat. Sebuah hadits agama itu tak lagi diminati dan tak dipilih masyarakat. menyebutkan, “al-din aql la dina li man la aqla lahu” Di samping karena ketidak-mampuan agama untuk [agama itu adalah akal, tak ada agama bagi orang beradaptasi dan bernegosiasi dengan lingkungan sosial yang tak berakal]. Maka benar ketika para ulama baru, faktor para juru kampanye yang suka menebar menyepakati bahwa kebebasan berfikir (hifdzl al-‘aql) —6—
  • 16.
    « termasuk salah satupokok ajaran Islam (maqashid dan menyeleksi hukum dalam Islam, yang dikenal al-syariah). Dengan demikian seharusnya Islam lekat dengan takhsish bi al-a’ql, taqyid bi al-aql, tabyin bi al- dengan kebebasan berfikir. Imam Syafii konon pernah ‘aql. Akal diberi otoritas untuk menjelaskan ajaran yang ditanya salah seorang muridnya tentang tafsir agama samar, membatasi keberlakuan hukum yang terlampau yang bertentangaan dengan akal, maka Imam Syafii umum, mengeksplisitkan sesuatu yang tersembunyi memerintahkan untuk mengikuti petunjuk akal, karena (implisit) dalam wahyu. akal punya kemampuan untuk menangkap kebenaran. Dengan demikian, wahyu dan akal mestinya saling Problemnya, kita menghadapi fenomena dan mempersyaratkan. Yang satu tak menegasi yang kecenderungan untuk mendisfungsikan peran dan lain bahkan saling mengafirmasi. Akal akan turut kemampuan akal. Fenomena ini bisa dilihat dari memperkaya wawasan etik wahyu. Sementara dua hal. Pertama, bermunculannya berbagai fatwa wahyu potensial mengafirmasi temuan kebenaran keagamaan yang membingungkan umat menunjukkan dari akal. Akal merupakan subyek yang aktif dalam betapa tak berfungsinya akal. Mulai dari haramnya mendinamisasikan gugusan ide-ide ketuhanan dalam perempuan menyetir mobil, legalisasi perbudakan wahyu. Sementara wahyu adalah tambang yang bisa perempuan, hingga tak dibolehkannya rebonding. digali terus-menerus oleh akal manusia. Dengan Dalam kasus-kasus seperti ini, akal tak dilibatkan perangkat akal yang dimilikinya, manusia kemudian dalam pengambilan keputusan hukum. Menurut tak hanya berfungsi sebagai hamba Allah (‘abdullah) mereka, manusia yang hanya mengandalkan akal melainkan juga sebagai khalifah Allah di bumi. sembari mengabaikan petunjuk tekstual-skriptural wahyu tak akan menjadi manusia yang baik. Sonder Kalau kita percaya pada kisah purba agama, begitu petunjuk abjad dan titik koma wahyu, tindakan pentingnya kedudukan manusia sebagai makhluk manusia menjadi tak terkontrol, hidup permisif, yang berakal budi di sisi Allah, sampai-sampai Allah sehingga yang akan muncul adalah sejumlah kekacauan tak mempedulikan sejumlah kritik para malaikat yang dan kesemrautan di tengah masyarakat. menolak penciptaan manusia. Allah mengacuhkan keberatan malaikat atas diciptakannya Adam. Allah Kedua, pada saat yang bersamaan, diciptakanlah tetap menciptakan manusia bahkan memikulkan sejumlah lembaga keagamaan yang berfungsi untuk amanat kepadanya. Kepercayaan Allah dan pemberian menghukum orang-orang yang dianggap menggunakan amanat kepada manusia ini bukan tanpa alasan. akal secara overdosis. Institusi ini diberi kewenangan Sekiranya wahyu Allah tak sampai kepada sekelompok memvonis bahwa seseorang telah menyimpang atau manusia, maka Allah telah menyiapkan piranti lunak keluar dari Islam. Sejumlah intelelektual Muslim berupa nurani dan akal budi yang berfungsi sebagai mendapatkan vonis sesat-menyesatkan dan kafir suluh penerang dan penunjuk jalan. Allah tak akan dari lembaga-lembaga tersebut. Ujungnya adalah membebankan kewajiban syariat dan memberikan hak penghalalan darah yang bersangkutan. Naif, jika kepada manusia jika manusia hanya berupa daging, di negeri-negeri lain orang berlomba-lomba untuk tulang, dan darah. Dengan nurani dan akal budi yang menggunakan akal pikiran, maka di negeri-negeri melekat pada dirinya, maka manusia pantas memilikul Muslim, orang-orang masih berlomba untuk amanat dari Tuhannya.[] mengkafirkan mereka yang menggunakan pikiran. Ramainya pengafiran disaat orang lain menggunakan Jakarta, 8 Juli 2011 pikirannya tampaknya mendorong Nashr Hamid Abu Zaid untuk menulis buku al-Tafkir fi Zaman al-Takfir. Banyak orang yang kini tak berani menggunakan Sumber Bacaan akal pikiran ketika berhadapan dengan pemikiran Abd Moqsith Ghazali, Argumen Pluralisme Agama, Jakarta: KataKita, 2009. keagamaan. Padahal, wahyu al-Qur’an terus menantang —————(ed.), Ijtihad Islam Liberal, Jakarta: Jaringan Islam Liberal (JIL): manusia untuk mendayagukanakan akalnya dengan 2006 berbagai jenis ungkapan seperti afala ta’qilun (apakah Abi Ishaq al-Syathibi, al-Muwafaqat fi Ushul al-Syari’at, Beirut: Dar al-Kutub kalian tidak berfikir), afala tatadabbarun (apakah kalian al-Ilmiyah, 2005. tidak merenung), afala yandhurun (apakah mereka Fazlur Rahman, Islam, Bandung: Pustaka, 2000. tidak melihat dengan seksama), dan lain-lain. Dalam Goenawan Mohamad, Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai, Jakarta: KataKita, ushul fikih, akal diberi kesempatan untuk mensortir 2007. —7—
  • 17.
    « Ibn Arabi, Dzaha’iral-A’laq: Syarh Tarjuman al-Asywaq, Kairo: Tanpa penerbit, Tanpa Tahun. Ibn Hisyam, al-Sirah al-nabawiyah, Beirut-Libanon: Dar al-Ihya’ al-Turats al- ‘Arabi, 1997. Ibn Rushd, Fashl al-Maqal Fima Bayna al-Hikmah wa al-Syari’ah min al- Ittishal, Mesir: Dar al-Ma’arif, Tanpa Tahun. Ibn Thufail, Hayy ibn Yaqzhan, Beirut: Dar al-Fikr, Tanpa Tahun. Jamal al-Banna, al-Jihad, Kairo: Dar al-Fikr al-Islami, Tanpa Tahun. —————, al-Ta’addudiyah fi Mujtama’ Islami, Kairo: Dar al-Fikr al-Islami, Tanpa Tahun. Jawdat Said, La Ikraha fi al-Din, Damaskus: al-‘Ilm wa al-Salam li al-Diarasat wa al-Nashr, 1997. Najmuddin al-Thufi, Syarh Mukhtashar al-Rawdhah, Kairo:Mathabi’ al-Syarq al-Awshath, 1989. Nashr Hamid Abu Zaid, al-Tafkir fi Zaman al-Takfir, Kairo: Dar al-Kutub, Tanpa Tahun. Sachiko Murata & William C. Chittik, The Vision of Islam, Yogyakarta: Suluh Press, 2005. Said al-Asymawi, al-Islam al-Siyasi, Kairo: Siyna li al-Nasyr, 1992. Syatha al-Dimyathi, I’anah al-Thalibbin, Semarang: Thaha Putera, Tanpa Tahun. —8—
  • 18.
    « 19/06/2011 Kritik atas Wahabisme Oleh Abdul Moqsith Ghazali .... di lingkungan keluarga Wahabi, perempuan sejak dulu diposisikan sebagai obyek (munfa’il atau maf ’ul) dan tak pernah dianggap sebagai subyek (fa’il). Ketika laki-laki tak bisa mengendalikan hawa nafsu, maka tubuh perempuanlah yang mesti ditutup rapat. Batas-batas aurat perempuan dibuat sangat kaku dan seakan sengaja diciptakan untuk menyengsarakan perempuan. Ruang gerak perempuan terus dibatasi. Perempuan tak boleh memegang jabatan publik, sebagai hakim apalagi kepala negara. Sampai sekarang taraf pendidikan kaum perempuan masih jauh di bawah laki-laki. Tak ada ulama perempuan yang lahir dari lingkungan Wahabi. Padahal, jelas istri-istri Nabi adalah perempuan-perempuan yang tangguh dan mandiri. Jika Khadijah tangguh secara ekonomi, maka Aisyah mumpuni secara intelektual bahkan cakap memimpin pasukan di medan pertempuran. W ahabisme makin gencar mengkampanyekan Wahabi justru menjadikan ayat ini sebagai argumen doktrin dan ajarannya ke masyarakat Islam. untuk memusyrikkan umat Islam yang bertawassul Tak hanya di kawasan Timur Tengah, Wahabisme coba dan ziarah kubur. Dan karena orang Islam non- merambah negeri-negeri lain. Dengan topangan dana Wahabi telah musyrik, maka orang Wahabi merasa kampanye yang cukup, Wahabisme mulai tumbuh berkewajiban untuk mengembalikan mereka ke dalam di negara-negara kawasan Asia Tenggara termasuk doktrin ajaran Islam seperti yang mereka pahami. di Indonesia. Ada yang setuju, tapi tak sedikit umat Islam yang mengajukan keberatan terhadap doktrin Jika umat Islam non-Wahabi tak segera bertobat atau dan fatwa para ulama Wahabi. Bahkan, penolakan tak enggan diajak kembali kepada “ajaran Islam yang hanya pada doktrin Wahabisme, melainkan juga pada benar” (al-ruju’ ila al-haq), maka orang-orang Wahabi cara orang Wahabi menyebarkan ideologinnya. tak ragu untuk melenyapkan nyawa mereka. Itu sebabnya orang Wahabi kerap terlibat dalam tindak Sejumlah orang mengkritik Wahabisme, karena kekerasan dengan menyerang orang Islam lain. Sejarah beberapa hal. Pertama, dalam mendakwahkan telah menunjukkan sejumlah keonaran orang-orang doktrinnya, orang-orang Wahabi terlalu banyak Wahabi, dari awal kelahirannya hingga sekarang. menyerang ke dalam, ke sesama umat Islam. Terhadap Mereka tak hanya mengobrak-abrik orang-orang orang-orang Islam non Wahabi, mereka bersikap Syiah, melainkan juga para pengikut Sunni yang telah asyidda’u ‘ala al-muslimin. Tak puas dengan jenis dianggap menyimpang dari ajaran Islam atau yang keislaman yang berkembang di lingkungan umat Islam dipandang telah terperangkap dalam kemusyrikan. non-Wahabi, mereka hendak mengislamkan kembali orang-orang Islam. Bagi mereka, orang Islam non- Teologi pemusyrikan orang Islam lain tampaknya telah Wahabi telah terjatuh ke dalam kemusyrikan sehingga lama menggelayuti pikiran orang Wahabi. Pemusyrikan perlu segera diselamatkan. seperti ini terus terang akan mengguncang hubungan sesama umat Islam. Yang satu mencaci maki yang lain. Dengan merujuk pada al-Qur’an, sebagaimana Akhirnya konflik dan ketegangan di internal umat umat Islam pada umumnya, orang-orang Wahabi Islam menjadi tak terhindarkan. Ini jelas tak produktif memandang dosa syirik sebagai dosa tak terampuni. buat kepentingan (umat) Islam secara keseluruhan. Allah berfirman, inna Allah la yaghfiru an yusyraka Energi umat Islam akan terkuras habis karena problem- bihi wa yaghfiru ma duna dzalika liman yasya’u problem domestik umat Islam. [sesungguhnya Allah tak akan mengampuni dosa orang yang menyekutukan-Nya dan hanya mengampuni dosa Kedua, ijtihad orang-orang Wahabi hanya berputar selain syirik]. Jika kebanyakan umat Islam menjadikan di perkara-perkara receh yang partikular. Mereka ayat ini sebagai dasar untuk memusyrikkan orang- berijtihad dalam soal-soal kecil seperti tentang hukum orang yang menyembah patung-berhala, maka orang perempuan menyetir mobil, hukum memelihara —9—
  • 19.
    « jenggot, hukum ziarahkubur, hukum bertawassul, separuhnya adalah manusia dan separuhnya yang hukum menggunakan tasbih dalam berdzikir. Ulama lain adalah setan yang mengganggu keimanan Wahabi mungkin menyangka bahwa ziarah kubur, laki-laki. Cara pandang demikian menyebabkan bercelana di atas tumit, dan bertawassul adalah masalah orang-orang Wahabi punya kecenderungan untuk pokok. Padahal jelas soal-soal seperti ini masuk ke memarginalisasikan perempuan. Dehumanisasi dalam kategori masa’il khilafiyah yang tak akan pernah terhadap perempuan berlangsung di berbagai sisi berhasil disepakati oleh seluruh umat Islam. kehidupan. Sekarang adalah saat yang tepat bagi orang-orang Betapa perempuan tak boleh dilibatkan dalam Wahabi untuk berfikir atau berijtihad tentang soal- pengambilan keputusan, tak hanya di ruang publik soal kemasyarakatan yang lebih penting. Untuk melainkan juga di ruang domestik seperti keluarga. kepentingan berijtihad ini, orang-orang Wahabi mesti Perempuan atau istri tak boleh mencari nafkah walau memiliki cadangan ulama yang kridibel dan memenuhi untuk menanggulangi beban perekonomian keluarga standar-kualifikasi sebagai mujtahid. Orang-orang yang tak mungkin lagi bisa diatasi oleh para suami. Wahabi tak boleh terus-menerus bertaqlid pada para Dalam konteks Indonesia misalnya, beratnya beban pendahulunya, seperti Muhammad ibn Abdil Wahab. ekonomi keluarga menyebabkan seluruh anggota Atau hanya sekedar mengutip pendapat-pendapat fikih keluarga tak terkecuali istri tumpah ruah bergerak ke Ahmad ibn Hanbal, Ibnu Taymiyah, dan Ibnu al- luar rumah untuk mengais rezeki. Saya kira karena itu, Qayyim al-Jauziyah. di antaranya, tafsir-tafsir Wahabi mengenai domestikasi perempuan tak cukup diminati umat Islam Indonesia. Bahkan, sekiranya orang Wahabi ingin konsisten mengikuti metodologi Imam Ahmad ibn Hanbal Sementara di lingkungan keluarga Wahabi, perempuan pun, buku-buku ushul fikih Hanabilah yang lebih sejak dulu diposisikan sebagai obyek (munfa’il atau belakangan boleh dipertimbangkan sebagai rujukan maf ’ul) dan tak pernah dianggap sebagai subyek (fa’il). untuk mendinamisasi hukum Islam di lingkungan Ketika laki-laki tak bisa mengendalikan hawa nafsu, kelompok Wahabi. Najmuddin Sulaiman ibn Abdul maka tubuh perempuanlah yang mesti ditutup rapat. Qawi al-Thufi al-Hanbali misalnya menulis buku Syarh Batas-batas aurat perempuan dibuat sangat kaku dan Mukhtashar al-Rawdlah. Ibn Qudamah menulis buku seakan sengaja diciptakan untuk menyengsarakan Rawdhah al-Nazhir wa Jannah al-Munazhir. Ibnu perempuan. Ruang gerak perempuan terus dibatasi. al-Qayyim al-Jawziyah pun tak boleh hanya dibaca Perempuan tak boleh memegang jabatan publik, melalui kitab-kitab fikih yang berhasil ditulisnya, sebagai hakim apalagi kepala negara. Sampai sekarang melainkan juga melalui kitab-kitab ushul fikihnya taraf pendidikan kaum perempuan masih jauh di seperti I’lam al-Muwaqqi’in. bawah laki-laki. Tak ada ulama perempuan yang lahir dari lingkungan Wahabi. Padahal, jelas istri-istri Nabi Inilah saya kira salah satu cara untuk mendinamisasi adalah perempuan-perempuan yang tangguh dan aktivitas ijtihad di lingkungan kelompok Wahabi mandiri. Jika Khadijah tangguh secara ekonomi, maka setelah sekian lama terkurung dalam ijtihad tentang Aisyah mumpuni secara intelektual bahkan cakap perkara-perkara remeh temeh dalam Islam. Dengan memimpin pasukan di medan pertempuran. perkataan lain, itu merupakan jalan yang mesti ditempuh kelompok Wahabi agar terhindar dari Dalam kaitan itu, di lingkungan Wahabi kiranya kecenderungan taqlid buta terhadap argumen-argumen perlu digerakkan semangat untuk memartabatkan lama. Sebab, sungguh aneh, kelompok Wahabi dan memanusiakan perempuan. Tak zamannya lagi, menolak tradisi bermadzhab atau bertaqlid, sementara perempuan hanya disembunyikan di ruang-ruang pada saat yang bersamaan mereka melakukan hal tertutup. Sebagaimana telah diteladankan puteri- yang sama; dengan bertaqlid kepada Muhammad ibn puteri dan isteri-isteri Nabi Muhammad, perempuan Abdil Wahab. Kita memerlukan ulama Wahabi yang mesti tampil sebagai penggerak ekonomi-sosial dan pemikiran-pemikirannya bisa melampaui pemikiran moral-intelektual di tengah masyarakat. Dengan cara Muhammad ibn Abdil Wahab. itu, kehadiran Wahabi niscaya tak dirasakan sebagai ancaman bagi perempuan dan umat Islam lain, Ketiga, kelompok Wahabi cenderung tak melainkan justru sebagai rahmat lil alamin. Wallahu memanusiakan kaum perempuan. Perempuan A’lam bis Shawab. selalu saja dianggap sebagai manusia tak sempurna; — 10 —
  • 20.
    « 03/05/2011 Menahan Laju Negara Islam Indonesia Oleh Abdul Moqsith Ghazali Dimuat di Media Indonesia, 2 Mei 2011 ..... terang perbedaan kapasitas intelektual antara Kartosuwirjo di satu pihak dan Maududi- Sayyid Quthb di pihak lain. Kartosoewirjo tak mengkriya karya-karya intelektual yang menjelaskan landasan pokok dan kerangka konsepstual NII. Sejauh pengetahuan saya, Kartosoewirjo tak mensistematisasikan pemikiran politiknya dalam buku utuh. Ketiadan rujukan ideologis dari sang proklamator NII ini menyebabkan para pelanjut gerakan NII seperti ayam kehilangan induk. Tak ada tokoh kedua apalagi ketiga yang berperan penting setelah Kartosoewirjo laksana Sayyid Quthb setelah Hasan al-Banna. K artosoewirjo memiliki kesamaan dengan Hasan yang keliru, NII. Apa hendak dikata, anak-anak itu tak al-Banna, Sayyid Quthb, dan Maududi hanya fokus pada kuliah, tapi pada NII. Prestasi akademik dalam proses kematiannya. Mereka mati karena mereka menurun drastis, sementara NII yang mereka dibunuh. Pada tanggal 12 Pebruari 1949, Hasan al- perjuangkan tak realistis. Banna dibunuh oleh oleh polisi rahasia Mesir. Pada tahun 1966, Sayyid Quthb dibunuh dengan tuduhan Dikisahkan, ketika menjadi anggota NII, mereka tak makar terhadap pemerintah Mesir. Hal yang sama hanya diminta melepaskan diri secara ideologis dari dialami Kartosoewrijo. Pengadilan Mahadper, 16 jenis keislaman mainstream di Indonesia, melainkan Agustur l962, memutuskan bahwa Kartosoewirjo telah juga memisahkan diri secara politis dari Negara makar terhadap NKRI. Atas dasar itu, Kartosoewirjo Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Jika orang dihukum mati. Islam non-NII dianggap murtad dan kafir, maka NKRI dengan Pancasila dan UUD 1945nya dianggap negara NII (Negara Islam Indonesia) membuat ulah. Ia makin sekuler yang harus dijauhi. “Indonesia adalah negara agresif merekrut anggota baru. Beberapa mahasiswa di kafir yang bertentangan dengan konsep negara dalam Malang, Yogyakarta, Lampung, dan Jakarta dinyatakan Islam”, tandas mereka. Bagi mereka, tak ada cara lain hilang, diculik aparatur NII. Para mahasiswa dan untuk memperbaiki sejumlah “penyimpangan” itu pelajar Islam yang minim pemahaman keislamannya kecuali dengan menjadikan al-Qur’an dan Hadits Sahih ditarik masuk ke dalam NII. Melalui media massa, sebagai hukum tertinggi negara, dan NII (Negara Islam kita disuguhi informasi perihal proses indoktrinasi dan Indonesia) sebagai bingkai kenegaraannya. ideologisasi kepada anggota baru NII. Setelah dibai’at sebagai anggota, mereka pun disebar ke masyarakat Kartosoewirjo dan NII untuk mencari dana. Para mantan anggota NII yang diwawancara televisi mengisahkan tentang seringnya NII tak bisa dipisahkan dari Sekarmadji Maridjan menipu orang tua untuk memperoleh dana. Mereka (SM) Kartosoewirjo. Ia yang memproklmasikan diwajibkan membayar iuran bulanan untuk mengisi berdirinya Negara Islam Indonesia (NII), pada 7 lumbung keuangan NII. Agustus 1949/ 12 Syawal 1368 H, di Tasikmalaya Jawa Barat. Kartosoewirjo menghendaki berdirinya NII Kondisi ini menimbulkan keprihatinan dan kerisauan berdasarkan al-Qur’an, bukan NKRI yang berasaskan di kalangan masyarakat. Banyak orang tua histeris Pancasila. NII dalam proklamasinya menegaskan karena anak-anak mereka masuk NII. Orang tua tak bahwa hukum yang berlaku adalah hukum Islam. hanya merugi secara material karena tertipu, melainkan Dalam Qanun Asasy NII disebut, “NII adalah negara juga defisit secara immaterial karena anak-anak yang karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada bangsa menjadi tumpuan harapan mereka terancam putus Indonesia. Sifat negara itu jumhuriyah (republik) sekolah atau kuliah. Anak-anak mereka yang bersekolah dengan sistem pemerintahan federal”. di sejumlah perguruan tinggi seperti UI, UGM, UIN, dan lain-lain ternyata jatuh pada pola pengasuhan Namun, tak terlampau jelas apa argumen ‘aqli — 11 —
  • 21.
    « (rasional) dan naqli(normatif-doktrinal) dari negara Qur’an). Sedangkan Maududi dikenal sebagai orator republik dengan sistem federal tersebut. Kita tak ulung dan penulis yang produktif terutama di bidang menemukan elaborasi spesifik dari Kartosoewirjo pemikiran politik Islam. Ia menulis buku, di antaranya, berdasarkan perspektif al-Qur’an dan Hadits mengenai “Teori Politik Islam”, “Hukum Islam dan Cara negara republik itu. Ini penting dijelaskan. Sebab, pelaksanaannya”, “Prinsip-Prinsip Dasar bagi Negara semua pelajar Islam tahu, negara Madinah yang Islam”, Hak-Hak Golongan Dzimmi dalam Negara didirikan Nabi Muhammad bukan negara republik. Islam”, “Kodifikasi Konstitusi Islam”. Bahkan, menurut Muhammad Husain Haikal (1888- 1956), Nabi Muhammad tak pernah menentukan dasar Dari sini terang perbedaan kapasitas intelektual antara sistem pemerintahan yang detail. Apalagi, menurut Kartosuwirjo di satu pihak dan Maududi-Sayyid Quthb Ali Abdur Raziq (1888-1966 M.), Nabi Muhammad di pihak lain. Kartosoewirjo tak mengkriya karya- adalah seorang nabi, dan bukan kepala negara. karya intelektual yang menjelaskan landasan pokok dan kerangka konsepstual NII. Sejauh pengetahuan Begitu juga, sama problematisnya ketika disebut saya, Kartosoewirjo tak mensistematisasikan pemikiran hukum Islam dalam NII. Pertanyaannya adalah; jenis politiknya dalam buku utuh. Ketiadan rujukan hukum Islam seperti apa yang hendak diterapkan ideologis dari sang proklamator NII ini menyebabkan NII. Ini tak pernah kita temukan jawabnya dari para pelanjut gerakan NII seperti ayam kehilangan NII. Misalnya, apa yang disebut hukum Islam dan induk. Tak ada tokoh kedua apalagi ketiga yang bagaimana batas-batasnya. Bagaimana cara memahami berperan penting setelah Kartosoewirjo laksana Sayyid ayat-ayat hukum dalam al-Qur’an. Kita tak pernah Quthb setelah Hasan al-Banna. mendapatkan keterangan dari NII mengenai detail- detail hukum dalam al-Qur’an dan Hadits. Kartosoewirjo memiliki kesamaan dengan Hasan al-Banna, Sayyid Quthb, dan Maududi hanya dalam Ketidakjelasan konsep dan argumen NII ini bisa proses kematiannya. Mereka mati karena dibunuh. dipahami karena, salah satunya, Kartosoewirjo sendiri Pada tanggal 12 Pebruari 1949, Hasan al-Banna tak dikenal sebagai pemikir politik Islam. Ia tak dibunuh oleh oleh polisi rahasia Mesir. Pada tahun memiliki landasan ideologi yang kuat. Kartosoewirjo 1966, Sayyid Quthb dibunuh dengan tuduhan makar tak kesohor sebagai ulama sebagaimana KH Hasyim terhadap pemerintah Mesir. Hal yang sama dialami Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, H. Agus Salim, dan lain- Kartosoewrijo. Pengadilan Mahadper, 16 Agustur lain. Ada yang berpendapat, Kartosoewirjo memiliki l962, memutuskan bahwa Kartosoewirjo telah makar pengetahuan keislaman yang minim. Ia hanya belajar terhadap NKRI. Atas dasar itu, Kartosoewirjo dihukum Islam secara otodidak. Menurut sebagian pengamat, mati. ilmu keislaman Soekarno relatif lebih baik ketimbang Kartosoewirjo. Dengan kondisi ilmu keislaman seperti Tawaran Solusi ini, ia tak akan memiliki argumen teologis yang cukup untuk melawan gempuran tokoh-tokoh Islam lain yang Semenjak dideklarasikannya hingga sekarang, NII kian menolak NII. Tak pelak lagi, NII dapat dengan mudah kehilangan relevansi. Alih-alih mendapatkan dukungan bisa dipatahkan, secara politis dan intelektual. dari umat Islam, NII justru menuai sejumlah kritik dan kecaman. NII gagal mendapatkan dukungan dan Inilah sebabnya kenapa NII tak pernah besar, seperti simpati umat Islam Indonesia. Bahkan, karena ulah pernah besarnya Ikhwan al-Muslimin di Mesir. Ikhwan dan tindakannya akhir-akhir ini, keberadaan NII al-Muslimin memiliki tokoh intelektual seperti Hasan dianggap telah meresahkan masyarakat dan umat Islam. al-Banna (1906-1949) dan Sayyid Quthb (1906- Perilaku para anggota NII dalam menjalankan agenda 1966 M.). Abul A’la al-Maududi (1903-1970) yang politik ekonominya tak mencerminkan akhlak Islam mengkampanyekan berdirinya negara Islam adalah yang kuat. Kesukaan anggota NII yang menghalalkan tokoh dan pemikir politik Islam yang disegani. Tokoh- segala cara untuk memperoleh uang jelas bertentangan tokoh ini memiliki sejumlah buku monumental yang dengan nilai-nilai Islam. Dengan demikian, menurut menjadi referensi utama para pendukung negara sebagai tokoh Islam, mereka sebenarnya tak pantas Islam. Quthb misalnya menulis buku, mulai dari soal mengatasnamakan Islam. sistem politik Islam seperti al-‘Adalah al-Ijtima’iyah fi al-Islam (Keadilan Sosial dalam Islam) hingga tafsir Dalam konteks itu, saya mengusulkan beberapa al-Qur’an Fi Zhilal al-Qur’an (Dalam Bayangan al- cara untuk mengatasi soal NII. Pertama, jika terkait — 12 —
  • 22.
    « dengan soal penipuan,maka tindaklah para pelakunya melalui hukum pidana yang berlaku. Hukum harus tegak terhadap mereka, sekalipun mereka menipu dengan alasan al-Qur’an dan al-Hadits. Namun, aparat penegak hukum mesti bisa membedakan; mana yang menjadi korban NII dan mana yang menjadi aparatur NII yang menyuruh bawahannya untuk menipu. DSaya kira, para mahasiswa yang ditarik NII untuk mengumpulkan uang adalah korban belaka dari NII. Mereka bukan aktor utama. Kedua, jika berhubungan dengan ideologi keislaman NII, maka organisasi-organisasi Islam besar seperti NU, Muhammadiyah, dan MUI perlu bahu-membahu untuk mendakwahkan jenis keislaman yang cocok dan sesuai dengan konteks keindonesiaan. Umat Islam Indonesia tak perlu merasa sebagai anak tiri di hadapan ibu kandungnya sendiri, negara Republik Indonesia. Sebab, sekalipun Indonesia tak menjadi negara Islam, terlampau banyak keistimewaan yang dimiliki umat Islam Indonesia. Sejumlah produk perundangan yang menunjukkan keistimewaan itu sudah banyak dikeluarkan negara Indonesia, misalnya UU Peradilan Agama, UU Zakat, UU Haji, dan lain-lain. Ketiga, pemerintah RI juga harus bisa menahan laju NII. NII potensial menggerogoti persendiaan negara republik Indonesia. Pemerintah tak boleh memandang sepele dan remeh terhadap gerakan NII. Pemerintah harus bergerak ke level bawah, misalnya melalui perubahan kurikulum pendidikan agama di lembaga- lembaga pendidikan di Indonesia mulai dari tingkat bawah hingga perguruan tinggi. Semenjak dini anak- anak di sekolah perlu diajarkan perihal bagaimana kedudukan agama (Islam) dalam konteks negara Indonesia, kenapa Indonesia menjadi negara Pancasila dan bukan negara Islam. Itulah beberapa tawaran solusi yang bisa diajukan agar gerakan NII tak makin melebar dan meluas ke seantero Indonesia.[] — 13 —
  • 23.
    « 05/04/2011 Wahabisme: Alhamdulillah atawa Innalillah? Oleh Abdul Moqsith Ghazali Wahabisme kini tumbuh di Indonesia. Sejumlah ma’had atau pesantren yang mengusung ideologi wahabisme bermunculan. Seorang teman yang sedang meriset Wahabisme di Indonesia mencatat tak kurang dari empat belas pesantren di Indonesia yang menyebarkan doktrin Wahabisme. Dibanding data statistik pesantren di Indonesia yang ribuan jumlahnya, angka empat belas memang kecil. Tapi fenomena penyebaran doktrin Wahabisme ini sudah sangat merisaukan. D dianggap mengidap penyakit TBC (takhayyul, i tengah kecenderungan masyarakat Islam yang “asli”—tentu dalam pengertian mereka. Dengan semangat purifikasi ajaran Islam, mereka menampik bid’ah, dan Khurafat), Wahabisme muncul untuk sejarah. Wahabisme menyeleksi kemodernan. Islam menghancurkannya. Dengan semboyan al-ruju’ ila al- dalam pengertian Wahabisme tak boleh dijamah tangan Qur’an wa al-Sunnah (kembali kepada al-Qur’an dan ilmu pengetahuan. Itu sebabnya, tak aneh jika tahun al-Hadits) mereka berdakwah untuk mengajak umat 1920-an, Wahabisme mengharamkan telepon dan Islam mengikuti ajaran Islam yang benar: Wahabisme. radio masuk Mekah. Akibatnya, pemurnian berujung di jurang kegagalan. Wahabisme tak dikehendaki Berpusat di Arab Saudi, Wahabisme yang didirikan umat Islam. Sebagian ulama Sunni tak menghendaki oleh Muhammad ibn Abdul Wahab ibn Sulaiman jika Wahabisme dianggap menjadi bagian dari Ahlus al-Najdi pada abad ke-18, adalah salah satu sekte Sunnah wal Jama’ah. Kakak kandung Muhammad ibn berpaham keras dalam Islam. Muhammad ibn Abdul Abdul Wahab sendiri, Sulaiman ibn Abdul Wahab, Wahab lahir di Uyaynah, termasuk daerah Najd, menolak keras ideologi Wahabisme. bagian timur Kerajaan Saudi Arabia sekarang, tahun 1111 H/1699 M dan meninggal dunia tahun 1206 Wahabisme sebenarnya tak punya teologi yang H/1791 M. Ia belajar ke sejumlah guru terutama yang unik. Ia hanya mendramatisasi doktrin-doktrin bermazhab Hanbali. Ayahandanya, Abdul Wahab, lama yang cenderung kaku dan rigid. Sebagaimana adalah seorang hakim (qadhi) pengikut Imam Ahmad umumnya umat Islam lain, Wahabisme mendasarkan ibn Hanbal. ajaran dan doktrinnya pada tauhid. Jika Mu’tazilah mengkampanyekan tauhid, itu juga yang dilakukan Kelompok Wahabi mengklaim dapat mengembalikan Wahabisme. Lalu ada apa dengan konsep tauhid umat Islam kepada ajaran Islam dan akidah yang Wahabisme? Sejumlah pihak menilai bahwa tauhid murni. Mereka ingin kembali kepada al-Qur’an dalam Wahabisme adalah tauhid ekstrem. Dengan konsep makna yang harafiah. Al-Qur’an dianggap hanya tauhidnya, Wahabisme mudah mengirimkan vonis deretan huruf yang tak berkaitan dengan konteks kafir kepada kelompok-kelompok Islam yang di sekitar. Dengan pendekatan ini, mereka menolak berbeda tafsir dengan dirinya. Mereka tak menyetujui sejumlah tradisi (al-‘urf ) yang tumbuh subur dalam tawassul, ziarah kubur, tradisi tahlil, dan lain-lain. masyarakat. Semua keadaan ingin dikembalikan pada Ujungnya adalah penghalalan darah orang lain untuk keadaan zaman Nabi Muhammad. Mereka tak setuju ditumpahkan. Walau tak mendaku sebagai pelanjut rasionalisme yang berkembang dalam filsafat Islam. Kelompok Khawarij, Wahabisme memiliki kesamaan Demi literalisme al-Qur’an, Ushul Fikih mereka gerakan: menyukai kekerasan. Alkisah, makam Zaid acuhkan. al-Khaththab—saudara kandung Sahabat Umar ibn Khaththab—pernah dihancurkan Kelompok Wahabi. Literalisme kaum Wahabi terus mengungkung mereka. Tahun 1802, mereka menyerang Karbala. Wahabisme menghendaki Islam yang “murni” dan — 14 —
  • 24.
    « Wahabisme kini tumbuhdi Indonesia. Sejumlah ma’had atau pesantren yang mengusung ideologi Wahabisme bermunculan. Seorang teman yang sedang meriset Wahabisme di Indonesia mencatat tak kurang dari empat belas pesantren di Indonesia yang menyebarkan doktrin Wahabisme. Dibanding data statistik pesantren di Indonesia yang ribuan jumlahnya, angka empat belas memang kecil. Tapi fenomena penyebaran doktrin Wahabisme ini sudah sangat merisaukan. Atas keadaan ini, sebagian mengucapkan Alhamdulillah, dan sebagian yang lain berkata Innalillah. Wallahu A’lam bis Shawab. [] — 15 —
  • 25.
    « 27/02/2011 Kontekstualisasi Doktrin Ahmadiyah Oleh Abdul Moqsith Ghazali Saya kira ada banyak pandangan-pandangan fikih-tafsir Islam Ahmadiyah yang berbeda dengan pandangan umat Islam lain. Namun, sekali lagi, hanya satu yang menjadi keberatan utama umat Islam lain, yaitu tentang adanya seorang nabi setelah Nabi Muhammad. Tak hanya keberatan verbal. Lebih dari itu, sebagian umat Islam berusaha untuk membubarkan organisasi Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI). Sebagian yang lain ingin memposisikan Ahmadiyah sebagai agama lain, non-Islam. Yang lain terus menuntut pembasmian orang- orang Ahmadi sampai ke akar-akarnya. Semua tawaran penyelesaian itu hanya akan menimbulkan masalah baru. A Apa Ahmadiyah? Tak cukup sebagai seorang pembaharu, satu tahun kemudian, persisnya tahun 1890, Mirza mengaku hmadiyah adalah salah satu sekte baru dalam sebagai al-Masih yang dijanjikan akan turun di akhir Islam. Ia datang tak bersamaan dengan zaman. Menurutnya, Imam Mahdi atau al-Masih yang kemunculan sekte-sekte Islam lama seperti Khawarij, diujarkan sejumlah hadits akan turun itu bukan al- Muji’ah, Syiah, Mu’tazilah, dan Ahlus Sunnah. Masih al-Isra’ili (Yesus Kristus), melainkan al-Masih al- Kehadirannya lebih awal beberapa tahun dari Sarekat Muhammadi yang ditugaskan untuk melanjutkan dan Dagang Islam, Muhammadiyah, dan Nahdhatul menegakkan syari’at Nabi Muhammad. Al-Masih al- Ulama, di nusantara. Ahmadiyah didirikan oleh Muhammadi yang dimaksud adalah diri Mirza Ghulam Mirza Ghulam Ahmad, di anak benua India pada Ahmad sendiri. Pada tahun 1901, Mirza mengukuhkan akhir abad ke-19. Mirza diperkirakan lahir pada kembali perihal posisinya sebagai Nabi Zhilli (nabi tanggal 13 Pebruari 1835 M. /14 Syawal 1250 H, di bayangan) yang bertugas menjalankan risalah Nabi Qadian India. Sebagian orang menduga bahwa nama Muhammad. Agar tak hanya menjadi kesadaran “Ahmadiyah” merupakan nisbat dari kata “Ahmad” spiritual yang individual, Mirza merancang sebuah yang berada di ujung nama Mirza Ghulam Ahmad. gerakan untuk mengkampanyekan misinya. Untuk Sementara yang lain berpendapat bahwa “Ahmadiyah” tujuan itu, ia menggelorakan semangat pengorbanan merupakan bentuk modifikasi dari nama lain harta terutama untuk membeayai penyebaran (tafsir) Muhammad SAW, yaitu Ahmad. Islamnya. Lepas dari itu, jauh sebelum mendirikan Ahmadiyah, Ahmadiyah belum bergerak jauh dengan merambah Mirza kecil tumbuh seperti umumnya anak-anak negeri-negeri lain. Sementara Mirza sudah merasa dari keluarga Islam lain. Pada usia 7 tahun, Mirza bahwa dirinya tak akan lama lagi akan meninggal sudah belajar agama kepada seorang guru bernama dunia. Tahun 1908, Mirza menulis risalah berjudul Fazhl Ilahi yang bermazhab Hanafi. Ia pun belajar “al-Washiyyat” yang menyatakan bahwa masa kepergian tata bahasa Arab, ilmu hadits, dan al-Qur’an. beliau ke alam baqa sudah dekat. Dan dia menegaskan Seiring bertambahnya usia dan untuk meningkatkan agar para pengikutnya tunduk dan patuh kepada derajat spiritualnya, tahun 1886 Mirza menempuh pimpinan atau khalifah yang akan menggantikan jalan ruhani dengan berkhalwat selama 40 hari. dirinya. Mirza meninggal dunia pada tanggal 26 Mei Selang beberapa waktu, persisnya tanggal 23 Maret 1908 di Lahore, tapi dikuburkan di Qadian. Ia wafat 1889 bertepatan dengan 20 Rajab 1306 H, Mirza dengan meninggalkan 80 buah karya intelektual, kelak mengaku mendapatkan wahyu dan segera setelah itu menjadi rujukan pengikut Ahmadiyah. mendeklarasikan diri sebagai mujaddid (pembaharu Islam). Tanggal 23 Meret 1889 ini disepakati oleh Sepeninggal Mirza, kepemimpinan Ahmadiyah jatuh jemaat Ahmadiyah sebagai tanggal berdirinya pada Hakim Nuruddin. Ia berhenti menjadi khalifah, “Ahmadiyah”. karena ajal datang menjemput, tanggal 13 Maret 1914. Sepeninggal Hakim, terjadi pertentangan tentang siapa — 16 —
  • 26.
    « yang berhak menjadikhalifah-pengganti. Saat itu ada ayat dalam al-Qur’an ditafsirkan secara “tak lazim”. dua calon yang diajukan, yaitu Mirza Basharuddin Ada dua yang paling kontroversial. Pertama, Mahmud Ahmad dan Maulvi Muhammad Ali. Yang adalah pandangannya tentang adanya nabi setelah terpilih adalah Basharuddin. Dengan kemenangan Nabi Muhammad. Mereka mengakui bahwa Nabi Basharuddin, pengikut Muhammad Ali menyatakan Muhammad adalah khatam al-anbiya’ yang membawa menarik diri dari Ahmadiyah pimpinan Basharuddin. syariat. Dengan demikian, terbuka kemungkinan bagi Mereka mendirikan organisasi lain dengan nama hadirnya seorang nabi yang berfungsi melanjutkan Anjuman Ishaat Islam yang berpusat di Lahore. dan menegakkan syariat Islam yang dibawa Nabi Kelompok ini kemudian dikenal dengan Ahmadiyah Muhammad. Bagi Ahmadiyah, kata “khatam” Lahore. Sementara pengikut Ahmadiyah pimpinan dalam ayat “khatam al-nabiyyin” berarti bahwa Basharuddin disebut Ahmadiyah Qadian. Nabi Muhammad adalah stempel nabi-nabi. Nabi Muhammad adalah nabi yang mencapai puncak Berbeda dengan Ahmadiyah Lahore yang tak ruhaniyah yang tak akan pernah dimiliki atau dicapai berkembang pesat, maka Ahmadiyah Qadian oleh nabi lain. Dengan demikian, Nabi Muhammad telah tersebar ke berbagai negara. Dalam masa bukanlah penutup fisik-jasmani kenabian sehingga kepemimpinan Mirza Masroor Ahmad (khalifah ke 5), kehadiran seorang nabi tak boleh terjadi, melainkan Jemaat Ahmadiyah telah merambah ke 185 negara di penutup seluruh pencapaian puncak spiritual yang dunia. Jemaat Ahmadiyah telah menyebarkan dakwah tak mungkin digapai oleh yang lain. Artinya, masih Islam di daratan Eropa, Australia, dan Amerika dengan dimungkinkan adanya nabi setelah Nabi Muhammad, mendirikan mesjid dan pusat-pusat dakwah di tiga dengan kualitas ruhani yang lebih rendah dari Nabi benua tersebut. Bahkan, ia terus merangsek masuk ke Muhammad dan yang berfungsi untuk melanjutkan sejumlah Negara di Asia seperti Jepang, China, Korea. syariat Nabi Muhammad. Bahkan, Ahmadiyah masuk ke nusantara jauh sebelum negara bangsa Indonesia berdiri. Tafsir yang dikemukakan Ahmadiyah ini jelas berbeda dengan pandangan para ulama Ahlus Sunnah yang Alkisah, Muballig Ahmadiyah bernama Maulana berpendirian bahwa Nabi Muhammad adalah nabi Rahmat Ali yang membawa Ahmadiyah ke wilayah terakhir yang menutup segala jenis kenabian. Bahwa nusantara melalui kota Tapaktuan Aceh pada tanggal tak ada nabi setelah Nabi Muhammad yang juga 2 Oktober 1925. Dari Tapaktuan, Jemaat Ahmadiyah menerima wahyu. Bagi Ahlus Sunnah, aliran wahyu berkembang ke wilayah Sumatera Barat dan pada tahun sudah terhenti bersamaan dengan berhentinya 1931 masuk ke Batavia (sekarang Jakarta). Pada tahun kenabian. Atas dasar itu, sejumlah ulama sunni 1932, Jemaat Ahmadiyah berkembang di Batavia dan menyesatkan Ahmadiyah. Bahkan tak sedikit orang Bogor. Lalu masuk ke daerah-daerah sekitar seperti berpendapat bahwa darah jemaat Ahmadiyah boleh Tangerang, Cianjur, Sukabumi, Bandung, Garut, ditumpahkan. Maka tindak kekerasan dan pembasmian Tasikmalaya, Ciamis, Karawang, dan lain-lain. terhadap jemaat Ahmadiyah menjadi tak terhindarkan. Dengan makin membesarnya Ahmadiyah, maka pada Kedua, Ahmadiyah mempunyai perbedaan tafsir tahun 1935 Jemaat Ahmadiyah Indonesia membentuk dengan umat kristiani tentang sosok Yesus Kristus. Pengurus Besar. Dan pada tanggal 12-13 Juni 1937, Misalnya, menurut Ahmadiyah, Yesus meninggal dalam diselenggarakan kongres pertama di Masjid Hidajath usia 120 tahun, di Kashmir India. Pandangannya Jln. Balikpapan I/10 Jakarta dengan dihadiri pengurus ini konon didasarkan kepada Hadits riwayat wilayah. Saat itu disepakati berdirinya AADI (Anjuman Thabrani, “Rasulullah berkata kepada Fathimah: Ahmadiyah Departemen Indonesia) hingga kemudian Jibril mengabarkan kepadaku bahwa Nabi Isa hidup diubah menjadi Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) 120 tahun lamanya” [qala Rasulullah li Fathimah: sebagai hasil dari kongres tanggal 9-11 Desember 1949. akhbarani Jibrilu an Isa ibn Maryam ‘asya ‘isyrina wa Dari situlah, JAI terus berkembang sebagai organisasi mi’atan sanatan]. Dan Yesus pun tak naik ke langit, sosial keagamaan yang diakui Negara. sebagaimana pandangan umum umat Islam dan umat kristiani. Bagi Ahmadiyah, sekiranya Yesus naik ke Bagaimana Ahmadiyah Bertafsir? langit, itu berarti Allah mempunyai tempat, yaitu langit. Jelas, mustahil bagi Allah untuk mempunyai Ahmadiyah memiliki cara pandang dan tafsir yang tempat, karena Allah tak berupa jasad. Ahmadiyah berbeda dengan kebanyakan umat Islam. Sejumlah tak menafsirkan kalimat “rafa’ahu Allah” dalam al- — 17 —
  • 27.
    « Qur’an sebagai diangkatnyaYesus secara jasmaniah NU mengalami dinamisasi pemikiran keislaman ke atas langit, melainkan diangkatnya derajat Yesus yang signifikan. Jika Ahmadiyah meyakini hadits secara ruhaniah. Fisik-jasmani Yesus terbaring di bahwa dalam setiap 100 tahun akan muncul seorang Kashmir, sementara ruh-spiritualnya berada dekat di pembaharu, maka saatnya ulama-ulama Ahmadiyah sisi Allah. Tentang tafsirnya ini, kebanyakan para ulama berhimpun untuk segera menyepakati; mana doktrin cenderung tak mempersoalkannya. Namun, pandangan yang diperlukan dan mana doktrin yang sudah tak Ahmadiyah ini potensial mengguncangkan bangunan seharusnya dipertahankan. teologi dan doktrin kalangan kristiani. Ketiga, jemaat Ahmadiyah perlu melakukan Jalan Kontekstualisasi diversifikasi rujukan kitab. Tak melulu merujuk pada kitab-kitab karya Mirza Ghulam Ahmad, Ahmadiyah Saya kira ada banyak pandangan-pandangan fikih-tafsir kiranya perlu melebarkannya pada kitab-kitab lain. Islam Ahmadiyah yang berbeda dengan pandangan Membaca buku-buku seperti ushul fikih al-Syafii, umat Islam lain. Namun, sekali lagi, hanya satu yang al-Syathibi dll, juga buku-buku filsafat Ibn Sina dll menjadi keberatan utama umat Islam lain, yaitu menyebabkan Ahmadiyah tak berada dalam benteng tentang adanya seorang nabi setelah Nabi Muhammad. yang tertutup. Pada waktu yang bersamaan, buku-buku Tak hanya keberatan verbal. Lebih dari itu, sebagian Ahmadiyah pun harus siap dimasuki oleh kelompok umat Islam berusaha untuk membubarkan organisasi umat Islam lain. Tak boleh ada buku tertutup yang Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI). Sebagian yang lain hanya boleh diakes jemaat Ahmadiyah. [] ingin memposisikan Ahmadiyah sebagai agama lain, non-Islam. Yang lain terus menuntut pembasmian Surabaya, 24 Maret 2011 orang-orang Ahmadi sampai ke akar-akarnya. Semua tawaran penyelesaian itu hanya akan menimbulkan masalah baru. Lalu, dalam konteks internal umat Islam Indonesia yang terus menegang, bagaimana solusi terbaiknya. Pertama, sebagian orang mengusulkan agar Ahmadiyah mengalah dengan menggunakan kata lain selain kata nabi untuk menyebut sang junjungan Mirza Ghulam Ahmad. Bukankah yang ditolak oleh umat Islam lain adalah penggunaan kata “nabi” kepada siapapun setelah Nabi Muhammad. Karena kata “nabi” itu adalah bahasa Arab, apakah jemaat Ahmadiyah di Indonesia misalnya berkenan untuk menggunakan nama Indonesia atau nama-nama daerah sesuai dengan tempat tinggal jemaat Ahmadiyah tersebut. Misalnya, “kanjeng khalifah”, “Pangeran”, “tuan guru, “kiai”, dan lain-lain. Kedua, setelah yang pertama, segera lakukan pembaharuan terhadap tafsir-tafsir keislaman Ahmadiyah yang konon telah lama mengalami stagnasi. Dalam kaitan itu, dibutuhkan seorang pemikir- pembaharu dalam tubuh Ahmadiyah yang bertugas mengkontekstualisasikan pandangan-pandangan lama atau meremajakan tafsir-tafsir tua yang mungkin sudah aus. Dalam konteks Indonesia, NU bisa menjadi pelajaran. Setelah berpuluh tahun NU berada dalam kubangan konservatisme, maka muncullah kelompok pembaharu seperti KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Dengan peran Gus Dur dan tokoh-tokoh lain, — 18 —
  • 28.
    « 20/09/2010 Siapa Pemimpin Islam Indonesia? Oleh Abdul Moqsith Ghazali Setiap orang Islam sebenarnya adalah pemimpin atas dirinya sendiri. Kata Nabi, “kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an rai’iyyatihi” (setiap kalian adalah pemimpin dan kalian akan dimintai pertanggungan-jawab atas kepemimpinan kalian) P menumpuk. Soal yang satu belum terpecahkan roblem keumatan Islam Indonesia terus tak mudah untuk meng-iya-kan. Sebab, apa yang dikatakan Pak Said di Jakarta tak serta-merta diamini sudah ditindih perkara baru yang ghalibnya juga tak oleh warga nahdhiyyin di daerah. Banyak kiai-kiai terselesaikan. Mulai dari soal masih berlangsungnya NU yang menyanggah argumen pluralisme yang gerakan terorisme berbasis Alquran-Hadits dikampanyekan Pak Said. Pidato Pak Said yang bagus hingga tak rampungnya masalah relasi Islam dan tentang pentingnya menjaga harmoni dan kerukunan negara di Indonesia. Tak sedikit umat Islam yang umat Islam dengan umat agama lain dengan mudah mengembangkan teologi sempit, menyesatkan orang ditebang sejumlah ustad di pesantren. lain bahkan ketagihan menghancurkan orang yang berbeda keyakinan dengan dirinya. Sebagian umat Lalu, apakah Rizieq Shihab misalnya adalah pemimpin Islam lain gencar memperjuangkan tegaknya negara Islam karena ia adalah Ketua Umum Front Pembela Islam dan Khilafah Islamiyah di tengah negara Islam (FPI)? Jawabnya pasti “tidak”. Boro-boro Pancasila yang telah menjadi konsensus para pendiri didengar dan ditaati seluruh umat Islam, apa yang negara. Belum lagi soal Ahmadiyah. Menteri Agama diserukan Rizieq Shihab dalam banyak peristiwa RI, Suryadharma Ali, merasa punya hak dan otoritas diabaikan begitu saja oleh anggota FPI sendiri. untuk membasmi Ahmadiyah dari seluruh pemukiman Jika Pak Rizieq menyerukan agar anggota FPI tak Indonesia. Begitu banyak soal yang melilit tubuh umat melakukan kekerasan dan main hakim sendiri dalam Islam. menyelesaikan suatu masalah, maka tak sedikit anggota FPI yang mengingkarinya. Selanjutnya FPI pusat segera Semua soal itu praktis tak mudah diatasi. Ini mungkin mengatakan bahwa apa yang dilakukan anggota FPI terkait dengan rumitnya masalah kepemimpinan terkait dengan tindak penyerangan atau penyegelan di internal umat Islam Indonesia sendiri. Siapakah adalah tanggung jawab pribadi dan bukan tanggung sesungguhnya pemimpin Islam Indonesia ? Pertama, jawab organisasi. Bah! ada yang berkata bahwa pemimpin umat Islam Indonesia adalah Susilo Bambang Yudhoyono, karena Ketiga, ada yang berkata bahwa pemimpin Islam dia adalah seorang presiden dari negeri yang konon 85 adalah mereka yang memiliki penguasaan mendalam % penduduknya beragama Islam. Dahulu, Presiden terhadap ilmu-ilmu keislaman. Mereka mendalami Soekarno mendapatkan julukan Waliyul Amri al- secara sekaligus fikih (produk pemikiran ulama klasik) Dharuri bis Syaukah dari Nahdhatul Ulama (NU). dan ushul fikih (metodologi untuk memproduksi fikih Ulama NU menerima Soekarno sebagai waliyul amri Islam baru). Mereka menguasai tafsir dan qawa’id karena darurat. Sebagaimana Bung Karno tak pernah al-tafsir (metodologi tafsir). Dari segi kompetensi dianggap sebagai representasi umat Islam, maka keilmuan, mungkin orang seperti Muhammad Quraish begitu juga dengan Pak Beye. Walau artikulasi dan Shihab bisa dimasukkan. Pertanyaannya, lalu umat pengungkapan nomenklatur Arab-Islam Pak Beye terus Islam manakah yang mendengarkan dan mengikuti dibenahi, ia tak pernah dihitung sebagai pemimpin fatwa-fatwa Pak Quraish? Banyak ulama yang ilmunya Islam. menggantung tinggi di atas awan (far’uha fis sama’), tapi kerap tak bersambung dengan massa Islam di akar Kedua, yang lain berpendapat bahwa pemimpin Islam rumput. Analisa semantik-kebahasaan Arab yang selalu adalah para ketua umum ormas keislaman. Apakah menyertai analisa Pak Quraish dalam menafsirkan Said Aqiel Siradj adalah pemimpin Islam karena yang Alquran tampaknya tak mudah dipahami umat Islam bersangkutan menjabat Ketua Umum PBNU? Rasanya level bawah. Seorang ibu setengah baya pernah berkata — 19 —
  • 29.
    « pada saya bahwaceramah Pak Quraish adalah obat yang mengantarnya ke alam tidur. Tentu tak mengapa. Karena Pak Quraish, seperti juga setiap kita, tak akan bisa memuaskan semua. Itu sebabnya Quraish Shihab tak mengklaim sebagai pemimpin umat Islam. Keempat, ada yang berkata bahwa pemimpin umat Islam adalah para muballigh atau da’i. Dari sudut keilmuan, para muballigh biasanya tak terlalu alim tapi sangat populer. Mereka bukan tipe orang yang suka bergumul dengan timbunan teks dalam ortodoksi Islam, tapi nama mereka masyhur. Wajahnya banyak memenuhi layar kaca. Siapa yang tak tahu Jefrey al-Bukhari yang bersuara merdu, Muhammad Arifin Ilham yang meronta ketika berdoa, Mama Dedeh yang tegas dalam berdakwah, dan Yusuf Manshur yang hendak menyelesaikan semua masalah dengan sedekah. Dengan capaian popularitas itu, sebagian orang menyangka bahwa mereka adalah pemimpin umat. Padahal, seperti kita sadari, ketokohan yang dibangun hanya dengan topangan media laksana membangun istana pasir yang guyah. Dengan tiba-tiba seseorang dikenal sebagai tokoh, dan tiba-tiba juga ia akan merosot menjadi orang biasa. Ketika televisi “tak lagi menyukai” Aa’ Gym, maka sang Aa’ pun hilang, segera diganti muballigh lain. Begitu seterusnya, patah- tumbuh, hilang berganti. Jika demikian, maka tak ada pemimpin Islam Indonesia yang diakui dan diikuti umat Islam pada tingkat nasional. Suara Menteri Agama RI jelas tak mewakili seluruh umat Islam Indonesia. Ia hanya mewakili sebagian kecil kelompok umat Islam. Apalagi kalau kita mengukur ketokohan SDA (Suryadharma Ali) dengan perolehan suara PPP, partai Islam pimpinan sang Menteri Agama RI, yang terus melorot bahkan diprediksikan akan binasa pada pemilu 2014. Begitu juga dengan para tokoh agama Islam lain. Abu Bakar Baasyir, Jakfar Umar Thalib, Hidayat Nur Wahid adalah deretan tokoh dengan jumlah pengikut tak terlampau banyak. Akhirnya, setiap orang Islam sebenarnya adalah pemimpin atas dirinya sendiri. Kata Nabi, “kullukum ra’in wa kullukum mas’ulun ‘an rai’iyyatihi” (setiap kalian adalah pemimpin dan kalian akan dimintai pertanggungan-jawab atas kepemimpinan kalian). Wallahu A’lam bis Shawab. — 20 —
  • 30.
    « 16/09/2010 SBY, Ciketing dan Perlindungan Non- Muslim Oleh Abdul Moqsith Ghazali Umat Islam yang mayoritas di negeri ini perlu memberikan perlindungan kepada kelompok minoritas. Tak boleh yang mayoritas memangsa yang minoritas, sehingga yang minoritas boleh diintimidasi dan hak-haknya dalam menjalankan ibadat juga boleh dihalang-halangi. Sebagaimana Nabi Muhammad dan Umar ibn Khattab menjadikan dirinya sebagai pelindung bagi kelompok lain, maka seharusnya demikian juga perilaku umat Islam di sini, Indonesia. C Artikel ini sebelumnya dimuat di Media Indonesia, “OPINI”, Kamis 16 September 2010 iketing, Bekasi, tiba-tiba terkenal ke seantero melakukan pembiaran demi pembiaran. negeri. Bukan karena di tempat ini ditemukan pabrik pembuat pil ekstasi, melainkan karena di Bagaimanapun kita tetap menyerahkan pengusutan pinggiran Jakarta ini ada peristiwa penusukan- peristiwa Ciketing ini pada polisi. Dan kewajiban polisi pemukulan terhadap pendeta dan jemaat gereja adalah segera melakukan penyelidikan, sehingga publik HKBP (Huria Kristen Batak Protestan). Alkisah, pada bisa memperoleh informasi benar tentang apa yang Minggu pagi (12/9/2010), Luspida Simanjuntak, sesungguhnya terjadi. Sebab, peristiwa Ciketing ini Sintua Hasian Sihombing dan beberapa anggota jemaat rentan dimanfaatkan sebagian pihak untuk menyobek berjalan beriringan menyusuri ruas-ruas jalan menuju kain kerukunan antar-umat beragama di negeri ini. sebidang tanah untuk menjalankan ibadat Minggu. Ketidak-seriusan dan kelalaian aparat kepolisian dalam Mereka menempuh jarak sekitar 2 kilometer. Tiba- menangani kasus Ciketing kiranya akan menyalakan tiba dari arah berlawanan, sekelompok orang dengan api dalam beberapa sekam konflik di Indonesia. mengendarai sepeda motor datang menyerang. Para preman itu menusuk, memukul, dan menendang Sebagai respons terhadap peristiwa Ciketing, anggota jemaat. Akibatnya, Hasian Sihombing kalangan civil society menyelenggarakan sejumlah mengalami luka tusuk parah, Luspida Simanjuntak dan konferensi pers yang berisi ungkapan keprihatinan dan beberapa anggota lain mengalami luka memar. kecaman. Para elit dan pimpinan ormas keagamaan mengutuk para pelaku kekerasan itu. PGI, KWI, Menanggapi kasus itu, Kapolres Bekasi dengan cepat NU, Muhammadiyah dan lain-lain berharap agar menyatakan bahwa peristiwa Ciketing adalah kriminal pemerintah mengambil sikap tegas dengan menyeret biasa. Pernyataan pihak kepolisian itu tak pelak para pelaku dan aktor Ciketing ke meja pengadilan memantik kritik keras, terutama dari para aktivis HAM untuk diganjar dengan hukuman setimpal. Saya bangga dan Pluralisme. Tidak hanya karena pernyataan itu dengan respons cepat para tokoh agama itu, sehingga tak berbasis pada penyelidikan, melainkan juga karena konflik horisontal antar-umat tak terjadi. Para tokoh pihak kepolisian dianggap mengabaikan fakta-fakta agama tersebut memiliki keyakinan kuat bahwa tak ada sebelumnya tentang adanya intimidasi dan pelarangan agama yang menghendaki jalan kekerasan. Agama hadir ibadat jemaat HKBP Pondok Timur Indah di Ciketing membawa semangat cinta, rukun, dan damai. Bekasi. Telah lama diketahui, sebagian warga melarang dan menghalang-halangi penyelenggaraan ibadat Rahmatan lil alamin di tanah Ciketing. Tarik-menarik itu kemudian menimbulkan ketegangan di tengah masyarakat. Sikap Islam yang pro-kerukunan dan perdamaian Namun, alih-alih pihak kepolisian sigap bertindak misalnya dapat diketahui dari konsep Islam sebagai untuk menjamin hak kebebasan setiap warga negara rahmatan lil alamin. Betapa untuk tujuan kerukunan, dalam beribadat. Yang terjadi justeru aparat kepolisian dalam satu paragrap bagian pertama Piagam Madinah — 21 —
  • 31.
    « tercantum komitmen NabiMuhammad untuk menjadi beragama itu, apa yang dilakukan Nabi Muhammad pelindung kelompok non-Muslim. Disebutkan, dan Khalifah Umar ibn Khattab tersebut bisa “jika seorang pendeta atau pejalan kaki berlindung bermanfaat untuk dua hal. Pertama, bisa menjadi salah di gunung atau lembah atau gua atau bangunan atau satu inspirasi (bukan aspirasi) untuk merumuskan dataran raml atau Radnah (nama sebuah desa di kebijakan publik terkait dengan hak dan kebebasan Madinah) atau gereja, maka Aku (Nabi Muhammad) beribadat seluruh warga negara Indonesia. Dalam adalah pelindung di belakang mereka dari setiap kaitan itu, sejumlah aktivis HAM dan Pluralisme telah permusuhan terhadap mereka demi jiwaku, para mengajukan gagasan tentang perlunya menyusun UU pendukungku, para pemeluk agamaku dan para Kebebasan Beragama. Dengan UU ini diharapkan pengikutku, sebagaimana mereka (kaum Nashrani) itu tak ada lagi intimidasi dan ancaman dalam beribadat. adalah rakyatku dan anggota perlindunganku”. Itulah Kedua, bisa menjadi teladan bagi Presiden Susilo penjelmaan Islam rahmatan lil alamin dalam sebuah Bambang Yudhoyono. Bukankah sebagai kepala negara kebijakan publik di Madinah. di Madinah, Nabi Muhammad telah menggaransikan dirinya demi hak beribadat warganya, baik yang Apa yang dilakukan Nabi Muhammad itu Muslim maupun non-Muslim. menginspirasi Khalifah Umar ibn Khattab untuk membuat traktat serupa di Yerusalem ketika Islam Dengan demikian, sebagai umat Islam dan sebagai menguasai wilayah tersebut. Traktat tersebut dikenal kepala negara, Pak Beye (panggilan baru Presiden SBY) dengan “Piagam Aelia”, berisi jaminan keselamatan dari seharusnya kian mantap melindungi non-Muslim dan penguasa Islam terhadap penduduk Yerusalem yang kelompok minoritas lain. Bagi presiden Indonesia beragama non-Islam sekalipun. Salah satu penggalan yang beragama Islam, memberikan perlindungan paragraf piagam tersebut berbunyi, “Inilah jaminan terhadap warga negara yang hendak beribadat, di keamanan yang diberikan Umar Amirul Mukminin samping sebagai bagian dari menjalankan ajaran kepada penduduk Aelia: Ia menjamin keamanan agama Islam, juga sebagai bagian dari melaksanakan mereka untuk jiwa dan harta mereka, dan untuk amanat konstitusi. Dalam UUD 1945 pasal 29 ayat gereja-gereja dan salib-salib mereka, dan dalam keadaan (2) disebutkan,”negara menjamin kemerdekaan tiap- sakit maupun sehat, dan untuk agama mereka secara tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing- keseluruhan. Gereja-gereja mereka tidak akan diduduki masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan tidak pula dirusak, dan tidak akan dikurangi dan kepercayaannya itu”. Pasal 28E ayat (1), “setiap sesuatu apa pun dari gereja-gereja itu dan tidak pula orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut dari lingkungannya, serta tidak dari salib mereka, agamanya…..”. dan tidak sedikit pun dari harta kekayaan mereka (dalam gereja-gereja itu). Mereka tidak akan dipaksa Sebaliknya, kepala negara Indonesia yang membiarkan meninggalkan agama mereka, dan tidak seorang pun satu kelompok warga negara menyerang kelompok dari mereka boleh diganggu”. lain yang menjalankan ibadat agama bukan hanya melanggar konstitusi, melainkan juga melanggar Kisah historis itu sengaja disuguhkan agar umat pokok ajaran Islam. Artinya, presiden Indonesia yang Islam Indonesia tak ragu untuk memberikan jaminan beragama Islam yang tak melindungi warga negara keselamatan kepada umat agama lain. Umat Islam yang dalam beribadat menanggung dosa ganda; dosa kepada mayoritas di negeri ini perlu memberikan perlindungan negara karena tak menjalankan amanat UUD 1945, kepada kelompok minoritas. Tak boleh yang mayoritas dan dosa kepada Allah karena tak melaksanakan ajaran memangsa yang minoritas, sehingga yang minoritas agama Islam. Wallahu A’lam Bis shawab. boleh diintimidasi dan hak-haknya dalam menjalankan ibadat juga boleh dihalang-halangi. Sebagaimana Nabi Muhammad dan Umar ibn Khattab menjadikan dirinya sebagai pelindung bagi kelompok lain, maka seharusnya demikian juga perilaku umat Islam di sini, Indonesia. Inspirasi Sementara bagi aparat pemerintah yang (insyaallah) — 22 —
  • 32.
    « 15/09/2010 Merayakan Idul Fitri 1431 H “Momen Penghapusan Kezaliman” Oleh Abdul Moqsith Ghazali Fenomena syirk dapat kita saksikan juga dari perilaku beberapa orang atau sekelompok orang yang suka menuhankan diri sendiri. Laksana Tuhan, mereka tampil sebagai penentu; siapa ke sorga dan siapa ke neraka. Memandang orang lain sesat dan diri sendiri sebagai sentra kebenaran. Tak berhenti sampai di situ. Yang dianggap sesat pun (hendak) dihancurkan, hanya karena berbeda tafsir keagamaan dengan dirinya. Padahal, dalam ayat al-Qur’an jelas ditorehkan, “sesungguhnya Tuhanmu yang paling tahu; siapa yang sesat jalannya dan siapa pula yang mendapat petunjuk Tuhan”. S kembali menjumpai kita. Itu sebabnya, Hari Tulisan ini sebelumnya telah dimuat di “KOLOM PAKAR” Media Indonesia, Senin 13 September 2010 eperti siklus tahunan, Lebaran akan datang dan pesta pora di tengah kesengsaraan hidup masyarakat. Maka, proyek pembangunan gedung parlemen dengan Lebaran disebut sebagai ‘Id yang dalam bahasa Arab fasilitas spa, kolam renang, ruang fitnes, dan lain-lain berarti “kembali” dan “berputar”. Tentu bukan hanya segera diusulkan. “Nurani” yang berarti “jiwa yang itu. Ia disebut “’id”, juga karena manusia diharapkan bercahaya” itu telah berganti dengan “zhulmani” yang kembali kepada “fithrah” (‘idul fithri). Dalam satu berarti “jiwa yang gelap”. tahun, selalu ada momen yang memungkinkan manusia untuk kembali ke fithrahnya. Bagi umat Islam, Tiga Kezaliman momen kembali ke fithrah itu adalah Bulan Ramadan. Lalu, apa fithrah (watak dasar) manusia itu? Imam Ali ibn Abi Thalib dalam kitab Nahjul Balaghah menyebut tiga jenis kezaliman. Pertama, kezaliman Sejumlah literatur Islam menyebutkan bahwa setiap yang tak terampuni. Itulah syirk atau menyekutukan manusia lahir dalam keadaan suci. Ia tak membawa Tuhan. Fenomena syirk dalam bentuk penyembahan dosa. Namun, seiring waktu, manusia kerap berhala dan patung makin langka kita jumpai atau terperangkap pada dosa (itsm). Kata Nabi, dosa adalah bahkan sudah tak ada lagi. Dengan akalnya, manusia apa yang terlintas dalam hatimu dan kamu tidak suka modern tak bisa lagi menyembah batu berhala. Kini sekiranya orang lain mengetahuinya. Kita tak suka jika syirk hadir dalam bentuk lain. Dengan satu-dua orang lain mengetahui motif negatif yang ada dalam modifikasi, seperti dulu, manusia masih menyembah hati kita. Setiap kejahatan tak meloncat dari ruang manusia yang lain. Seorang bawahan menyembah kosong. Bukankah setiap tindak kriminal bermula dari atasan. Sang Bawahan mengikuti apa yang dititahkan niat jahat dari para pelakunya. Korupsi bermula dari Sang Atasan, tanpa peduli apakah yang diperintahkan betik hati dan mewujud menjadi tindakan nyata. itu bertentangan dengan hukum nurani atau tidak. Maka korupsi pun di negeri ini berjalan dari hulu ke Dalam Islam, dosa kerap disebut sebagai sebuah hilir. kezaliman. Zalim atau zhulm dalam bahasa Arab berarti gelap atau kegelapan. Dosa disebut “zhulm” Fenomena syirk dapat kita saksikan juga dari perilaku karena ia dapat membutakan hati kita sehingga tak beberapa orang atau sekelompok orang yang suka sanggup untuk membedakan antara kebaikan dan menuhankan diri sendiri. Laksana Tuhan, mereka keburukan, antara kebenaran dan kesalahan. Jika hati tampil sebagai penentu; siapa ke sorga dan siapa ke seseorang sudah gelap, maka ia akan menghalalkan neraka. Memandang orang lain sesat dan diri sendiri segala cara untuk mencapai tujuan. Hati para wakil sebagai sentra kebenaran. Tak berhenti sampai di situ. rakyat yang gulita tak akan peduli terhadap penderitaan Yang dianggap sesat pun (hendak) dihancurkan, hanya rakyat yang diwakilinya. Sebagian mereka menyukai karena berbeda tafsir keagamaan dengan dirinya. — 23 —
  • 33.
    « Padahal, dalam ayatal-Qur’an jelas ditorehkan, “inna kesalahan. Namun, seperti Adam kita perlu dengan rabbaka huwa a’lamu biman zlalla ‘an sabilih wa huwa gegas bertobat atas dosa-dosa kita kepada Allah. Lalu, a’lamu bi al-muhtadin” (sesungguhnya Tuhanmu yang bagaimana dosa kita terhadap sesama, terhadap rakyat, paling tahu; siapa yang sesat jalannya dan siapa pula terhadap negara? yang mendapat petunjuk Tuhan). Jenis Dosa Kedua, kezaliman yang tak boleh diabaikan. Yaitu, kezaliman seseorang atas orang lain, atau satu Saya suka mengklasifikasikan dosa ke dalam dua jenis kelompok pada kelompok lain. Ini berarti, kita tak kategori. Pertama, dosa privat, yaitu dosa seseorang boleh membuang muka terhadap kekerasan yang pada Tuhan dan dosa satu orang dengan orang lain. dilakukan satu kelompok atas kelompok lain di Dosa kita kepada Allah bisa diselesaikan dengan negeri ini. Boleh jadi kita tak setuju terhadap teologi permintaan maaf kita kepada Allah. Dan Allah sebagai Jemaat Ahmadiyah, misalnya. Tapi, kita tak punya hak Yang Maha Pengampun dan Maha Penerima Tobat apapun untuk membasmi mereka. Tak ada Licence to akan mengampuni semua dosa manusia. Sementara Kill yang kita kantongi. Islam adalah agama damai, dosa seseorang dengan orang lain dalam kehidupan bukan agama kekerasan. Sebuah hadits menyebutkan, sehari-hari biasanya ditempuh dengan permintaan maaf “al-muslim man salima al-muslimun min lisanih wa kepada orang lain itu. Sebagaimana Allah mengampuni yadihi”. Artinya, seseorang baru bisa disebut sebagai dosa-dosa manusia, maka kita sebagai makhluk dan muslim apabila orang lain bisa terselematkan dari lisan hamba-Nya perlu meneladani akhlak Allah, yaitu dan tangannya. Dengan perkataan lain, seseorang tak mengampuni segala kesalahan orang lain kepada kita. boleh disebut sebagai muslim kalau melalui lisan dan tindakannya banyak orang lain yang tersakiti. Kedua, dosa publik adalah dosa kita kepada banyak orang. Ia tak selesai hanya dengan meminta ampun Karena itu, kita diperintahkan mencontoh akhlak Nabi kepada Allah di bulan Ramadan. Ia juga tak rampung Muhammad. Sebagai pribadi, Nabi tak menyakiti dengan meminta maaf kepada satu-dua orang. Dosa orang lain. Lisannya berisi ungkapan kasih dan publik harus diselesaikan melalui forum publik. tangannya adalah pelaksanaan dari ajaran kasih itu. Masuk ke dalam kategori dosa publik ini adalah Nabi pun tak membiarkan kezaliman terjadi dan terus dosa korupsi. Para koruptor di negeri ini tak cukup berulang. Setiap ada ketidak-adilan, Nabi selalu datang hanya meminta maaf kepada Allah atas korupsi yang sebagai pembelanya. Pemerintah Indonesia kiranya bisa telah dilakukannya. Ia seharusnya perlu meminta belajar dari kehidupan Nabi Muhammad ini. Bahwa maaf kepada publik atas kejahatannya itu. Dan segala kebijakan yang dikeluarkan harus bertumpu penerimaan maaf publik dapat diwujudkan dalam pada terhapuskannya kezaliman. Politik pembiaran bentuk ditegakkannya hukum seadil-adilnya bagi bukanlah politik Nabi Muhammad. Politik Nabi adalah sang koruptor. Tanpa ada penegakan hukum bagi politik untuk menghapuskan kezaliman, satu kelompok para koruptor, maka tak ada pengampunan bagi yang pada kelompok lain. bersangkutan. Ketiga, kezaliman yang terampuni. Itulah kezaliman Penutup manusia atas dirinya dengan melakukan serangkaian dosa-dosa kecil. Sebuah hadits menyebutkan, al- Ramadan telah berlalu. Kini Idul Fitri di depan kita. nas kulluhum khaththa’un wa khairul khattain al- Melalui momen inilah banyak orang berharap akan tawwabun (semua manusia punya potensi melakukan adanya perubahan yang lebih kualitatif dan substansial kesalahan. Tapi sebaik-baik manusia yang bersalah dari wajah masyarakat Indonesia. Yaitu terciptanya adalah mereka yang bertobat). Manusia rentan untuk orang-orang yang tak menuhankan diri-sendiri, tak melakukan keburukan, tapi dengan tobat ia bisa melakukan kezaliman, dan tak terjebak pada dosa- cepat dipulihkan. Kisah Adam yang terusir dari sorga dosa. Selama angka korupsi masih tinggi, kekerasan adalah salah satu kisah yang menunjukkan kerentanan atas nama agama terus meningkat, kezaliman masih manusia yang berada dalam tegangan, antara “yang merajalela, maka puasa yang dilakukan kemarin tak baik” dan “yang buruk”. Pada mulanya, Adam tergoda lebih dari sekadar menahan lapar dan haus belaka. Tak untuk melakukan dosa, namun pada akhirnya ia punya ada pahala yang didapat darinya. Selamat merayakan jalan untuk kembali pada-Nya. Tobat Adam diterima Idul Fitri 1431 H, dan mohon maaf lahir dan batin.[] Allah. Sebagaimana Adam, kita juga bisa terjatuh pada — 24 —
  • 34.
    « 08/09/2010 Mistifikasi Mudik Lebaran Oleh Abdul Moqsith Ghazali Masa kanak-kanak tak pernah bisa didaur ulang. Pulang ke masa kecil itu absurd. Tanah, tempat kita dulu diasuh dan dibesarkan secara kultural, sudah banyak berubah. Bukan hanya fisik desa yang berubah, melainkan juga para penghuninya. Romantisme tentang gotong royong dan ketulusan orang desa sudah mulai pupus. Akhirnya, jika hanya ingin pulang dan mendapat akar kebudayaan, kiranya tak harus pada saat Lebaran. L menggantikan Idul Fitri atau Idul Adha yang ebaran adalah kosa kata Indonesia untuk kebudayaan. Setelah memohon ampun kepada Allah sepanjang bulan Ramadan, seseorang bermaksud kental beraroma Arab. Kata “lebaran” lebih mudah meminta maaf terhadap orang tua, sanak saudara, dan diucapkan oleh umat Islam Indonesia yang sehari- tetangga di kampung. Dalam tradisi Jawa juga Madura, hari tak menggunakan bahasa Arab. Bukan hanya lebaran adalah salah satu ritus tahunan untuk sungkem karena Idul Fitri atau juga Idul Adha tak mudah pada orang tua. Sekiranya orang tua sudah meninggal diindonesiakan, melainkan juga karena bahasa Arab dunia, maka mudik lebaran adalah momen untuk memang dikenal sebagai bahasa paling rumit di dunia. menziarahi pusara mereka. Kuburan adalah tempat Daripada keseleo lidah, umat Islam Indonesia apalagi anak-anak merajut komunikasi dengan almarhum yang abangan lebih suka menggunakan kata “lebaran” orang tua, karena itu mereka tak rela sekiranya ziarah daripada Idul Fitri. Sebagian besar media pun lebih kubur diharamkan. kerap menggunakan kata “lebaran”. Kedua, menghadapi kompleksitas masalah di kota, Namun, tak terlampau jelas asal-usul kata “lebaran” ini. seseorang kadang dihinggapi perasaan untuk kembali Ada yang berkata bahwa ia berasal dari bahasa Jawa, ke masa lalu saja. Ia seperti hendak melipat waktu, yaitu kata “lebar” yang berarti “selesai”. Kemudian menuju ke masa kanak-kanak dan masa remaja yang kata “lebar” diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan serba indah dan mempesona. Terekam kuat dalam diberi akhiran “an”, sehingga menjadi kosa kata umum ingatan ketika ia bersama teman-temannya dulu untuk sebuah perayaan setelah selesai menjalankan berkejaran di pematang sawah dengan bulir-bulir padi puasa. Yang lain berkata, lebaran berasal dari bahasa yang menguning, bermain pasir di pantai, mandi di Betawi, “lebar” yang berarti “luas”, yaitu keluasan air sungai yang bening, dan sebagainya. Itu sebabnya, hati seseorang setelah melakukan puasa. Orang-orang orang-orang menyerbu dusun, tempat dahulu mereka Madura punya kata yang mirip, yaitu “lober” untuk tumbuh dan berkembang. Sekali dalam setahun, menggambarkan selesainya sebuah acara, yaitu puasa mereka akan berupaya sekuat tenaga untuk pulang Ramadan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kampung. Padahal, seiring waktu, tempat bermain lebaran akhirnya dimaknai sebagai hari raya umat mereka dulu sudah banyak yang berubah menjadi Islam yang jatuh pada tanggal 1 Syawal setelah selesai pabrik, waduk, tambak, dan lain-lain. Bukit yang indah menjalankan ibadah puasa selama sebulan; Idul Fitri. sudah rata dengan tanah, dilumat longsor bertubi-tubi. Sumber mata air, area pemandian orang-orang desa, Terlepas dari itu, dalam konteks masyarakat Indonesia, telah lama kering akibat ganasnya penebangan hutan lebaran selalu diikuti dengan mudik atau pulang penahan air. Kini keindahan desa itu hanya ada dalam kampung. Ribuan manusia bergerak dari kota ke desa ingatan, bukan dalam realita. untuk berjumpa dengan orang-orang tercinta. Mereka tak peduli dengan harga tiket yang membubung tinggi, Sebagian orang kini tak ingin terjebak pada tindak kesengsaraan di jalan karena berjubelnya manusia, mistifikasi lebaran a la kaum agraris itu. Toh, masa hingga resiko kecelakaan yang kerap terjadi. Mudik kanak-kanak tak pernah bisa didaur ulang. Pulang ke lebaran menghipnotis banyak orang. Pertanyaannya, masa kecil itu absurd. Tanah, tempat kita dulu diasuh mengapa orang begitu bersemangat untuk mudik. dan dibesarkan secara kultural, sudah banyak berubah. Pertama, mudik dianggap punya makna spiritual juga Bukan hanya fisik desa yang berubah, melainkan — 25 —
  • 35.
    « juga para penghuninya.Romantisme tentang gotong royong dan ketulusan orang desa sudah mulai pupus. Akhirnya, jika hanya ingin pulang dan mendapat akar kebudayaan, kiranya tak harus pada saat Lebaran. Sungkem pada orang tua dan minta maaf pada tetangga kampung tak harus menunggu sampai lebaran tiba. Selamat berlebaran 1431 H., mohon maaf lahir dan batin. — 26 —
  • 36.
    « 05/08/2010 Khadijah Tak Berpuasa Ramadan Oleh Abdul Moqsith Ghazali Dari kupasan itu kita tahu bahwa sejumlah Sahabat Nabi banyak yang meninggal dunia tanpa menjalankan puasa Ramadan. Khadijah binti Khuwailid, isteri Nabi Muhammad, pun tak pernah menjalankan puasa Ramadan. Bahkan, Khadijah juga tak sempat menjalankan shalat lima waktu, juga zakat, karena semuanya disyariatkan ketika yang bersangkutan sudah meninggal dunia. S atau pantang. Ada banyak ragam puasa yang ebagian besar agama mengenal tradisi puasa pada syari’at sebelum Islam (syar’u man qablana). Al-Qur’an (al-Baqarah [2]: 183) menyebutkan, “Hai diperkenalkan agama-agama. Dalam al-Qur’an orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian (Mariam [19]: 26) disebut bahwa Bunda Maria berpuasa sebagaimana diwajibkan atas umat sebelum (Siti Mariam) bernazar puasa untuk tak bicara kalian, supaya kalian bertakwa”. dengan manusia manapun. “Inni nadzartu li al- rahman shawma fa lan ukallima al-yawma insiya” Sejumlah referensi menjelaskan bahwa Islam dalam (Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk fase Mekah tak mengenal puasa Ramadan. Puasa Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan baru disyariatkan dalam periode Madinah. Menurut berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini). al-Juzairi, puasa Ramadan diundangkan tanggal 10 Sya’ban tahun kedua Hijriyah, atau 1,5 tahun setelah Puasa juga bisa dalam bentuk tak melakukan hubungan hijrah (Abdurrahman al-Juzairi, al-Fiqh ‘ala al- seksual. Jika umat Islam pantang melakukan kontak Madzahib al-Arba’ah, Juz I, hlm. 416). Menurut Syatha seksual pada siang bulan Ramadan, maka para Romo al-Dimyathi dalam I’anah al-Thalibin (Juz II, hlm. dan Pastur Katolik berpuasa dari hubungan seksual 215), selama 10 tahun tinggal di Madinah, Rasulullah sepanjang hayat atau selama yang bersangkutan masih SAW menjalankan puasa Ramadan hanya sembilan menjadi pastur. Bentuk-bentuk puasa kian banyak kali. Satu tahun pertama di Madinah, puasa Ramadan dijumpai jika kita memperhatikan adat dan tradisi. Ada belum disyariatkan. Pada tahun itu, Nabi Muhammad puasa dengan tidak makan dan minum selama tiga hari dan umat Islam masih menjalankan puasa Asyura, tiga malam. Sebagian masyarakat juga mengenal tradisi melanjutkan kebiasaan puasa Asyura selama 13 tahun pantang memakan “yang bernyawa”, seperti hewan, di Mekah. Dengan demikian, selama 14 tahun, Islam ikan, dan lainnya. berjalan tanpa puasa Ramadan. Sebagaimana agama lain, Islam pun mensyariatkan Dari kupasan itu kita tahu bahwa sejumlah Sahabat puasa. Bentuknya adalah dengan tak makan-minum Nabi banyak yang meninggal dunia tanpa menjalankan dan menahan hubungan seksual di siang hari. Dalam puasa Ramadan. Khadijah binti Khuwailid, isteri periode Mekah, umat Islam menjalankan puasa tiga Nabi Muhammad, pun tak pernah menjalankan hari dalam setiap bulan plus puasa Asyura. Dalam puasa Ramadan. Bahkan, Khadijah juga tak sempat Shahih Bukhari (hadits ke-1893) disebutkan bahwa menjalankan shalat lima waktu, juga zakat, karena masyarakat Arab pra-Islam sudah biasa melakukan semuanya disyariatkan ketika yang bersangkutan sudah puasa Asyura. Orang-orang Yahudi saat itu juga meninggal dunia. Namun, kita tak perlu panik dan berpuasa pada hari Asyura, karena hari itu diyakini masygul. Khadijah tetap akan masuk surga walau tanpa sebagai hari diselamatkannya Nabi Musa dari kejaran shalat, tanpa zakat, dan tanpa puasa Ramadan. Tuhan dan ancaman bunuh Fir’aun. Begitu Islam datang, Khadijah (tentu Tuhan kita semua) adalah Tuhan Nabi Muhammad memerintahkan umat Islam untuk inklusif yang akan memasukkan hamba-hamba-Nya puasa Asyura. (Al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al- yang beriman dan beramal saleh seperti Khadijah ke Qur’an, Jilid I, hlm. 660). dalam surga. Wallahu A’lam bi al-Shawab. Dengan demikian, ibadah puasa sebetulnya didasarkan — 27 —
  • 37.
    « 22/07/2010 Waktu Isra-Mikraj Nabi Muhammad Oleh Abdul Moqsith Ghazali Demikian jauhnya jarak perjalanan ini, maka Aisyah (isteri Nabi) dan Muawiyah berpendapat bahwa Isra-Mikraj merupakan perjalanan ruhani dan bukan perjalanan fisik-jasmani. Menurut Aisyah, ruh Nabi Muhammad bergerak membelah semesta untuk berjumpa dengan Tuhan, sementara tubuhnya bersemayam di bumi. Pendapat ini ditolak jumhur ulama yang mengatakan bahwa Isra-Mikraj melibatkan jasmani-ruhani Nabi Muhammad secara sekaligus. I sra-Mikraj adalah peritiwa spiritual yang dialami menjadi energi. Lalu jumhur ulama berkata, bahwa Nabi Muhammad. Ia dipahami sebagai perjalanan Isra-Mikraj bukan untuk difalsifikasi, melainkan untuk Nabi dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil diimani. Aqsha di Jerusalem, dan terus membubung menembus dinginnya langit menuju sebuah pucuk yang disebut Pertanyannya, kapan peristiwa Isra-Mikraj ini Sidratul Muntaha. Alkisah, ketika Rasulullah sedang terjadi? Beberapa buku tarikh menjelaskan sejumlah tidur malam bersama para sahabatnya di Masjidil riwayat berbeda perihal peristiwa itu. Pertama, ulama Haram tiba-tiba Jibril datang membangunkan dan yang berpendapat bahwa peristiwa itu terjadi pada membawanya untuk Isra-Mikraj. Thabathaba’i (Tafsir (diperkirakan hari Jum’at) 27 Rajab. Inilah pandangan al-Mizan, Jilid XIII, hlm. 22) menyebut bahwa di paling populer di kalangan umat Islam. Namun, antara Sahabat yang sedang bersama Nabi saat itu sebagian yang lain berkata bahwa Isra’-Mikraj terjadi di adalah Hamzah ibn Abdul Muththalib, Ja’far ibn Abi awal (bukan di akhir) bulan Rajab. Kedua, menurut al- Thalib, dan Ali ibn Abi Thalib. Namun, sebuah riwayat Harbi, sebagaimana dikutip al-Qurthubi dalam al-Jami’ seperti dikutip Fakhr al-Din al-Razi dalam Mafatih al- li Ahkam al-Qur’an (Jilid V, hlm. 551), Isra-Mikraj Ghaib (Jilid X, Juz XX, hlm. 148) menyatakan bahwa terjadi pada 27 Rabi’ul Awwal. Itu juga yang dikatakan Isra-Mikraj tak dimulai dari dalam Masjidil Haram, al-Zuhri dan Urwah. Ibnu Abbas berpendapat bahwa melainkan dari rumah Ummu Hani binti Abi Thalib. Isra-Mikraj terjadi pada hari Senin, 12 Rabiul Awwal. Yang lain lagi mengatakan bahwa start Isra-Mikraj Sebab, pada hari, tanggal dan bulan itulah Rasullah adalah sebuah ruangan dalam rumah Abu Thalib. dilahirkan, diangkat menjadi nabi, di-Isra-Mikraj-kan, hijrah ke Madinah, dan meninggal dunia. Ketiga, al- Sejumlah literatur Islam menyebutkan bahwa Isra- Sudi berpendapat bahwa Isra-Mikraj terjadi pada bulan Mikraj ditempuh hanya dalam satu malam. Perjalanan Dzul Qa’dah. (Ibnu Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, panjang ini dimulai habis isya’ dan rampung begitu Juz III, hlm. 155). fajar menyingsing. Demikian jauhnya jarak perjalanan ini, maka Aisyah (isteri Nabi) dan Muawiyah Bukan hanya bulan yang diperselisihkan, melainkan berpendapat bahwa Isra-Mikraj merupakan perjalanan juga tahun dari peristiwa itu. Ada yang berpendapat ruhani dan bukan perjalanan fisik-jasmani. Menurut bahwa Isra-Mikraj terjadi satu tahun sebelum Aisyah, ruh Nabi Muhammad bergerak membelah Rasulullah hijrah ke Madinah. Yang lain berkata semesta untuk berjumpa dengan Tuhan, sementara bahwa Isra-Mikraj diperkirakan terjadi 18 bulan tubuhnya bersemayam di bumi. Pendapat ini ditolak sebelum peristiwa hijrah. Sementara yang lain jumhur ulama yang mengatakan bahwa Isra-Mikraj lagi berkesimpulan bahwa Isra-Mikraj terjadi melibatkan jasmani-ruhani Nabi Muhammad secara ketika Khadijah masih hidup. Menurut Yunus ibn sekaligus. Tentu pendapat jumhur ulama ini tak mudah Bukair, pasca Isra-Mikraj, Khadijah masih sempat dikunyah akal sehat dan tak bisa dijelaskan secara melaksanakan shalat. Ini karena Isra-Mikraj terjadi saintifik. Bagaimana mungkin benda material seperti pada tahun kelima dari kenabian, beberapa bulan tubuh manusia bisa berjalan lebih cepat dari gerak sebelum Khadijah meninggal dunia. Bahkan, seperti cahaya. Menurut teori Einstein, jika ada benda berjalan dikutip Thabathabai (hlm. 30), Ibnu Abbas berkata secepat cahaya, maka benda itu akan terurai dan hancur bahwa Isra-Mikraj terjadi pada tahun kedua dari — 28 —
  • 38.
    « kenabian. Intinya, adaberagam pendapat. Yang satu berkata tahun ketiga kenabian. Yang lain mengatakan tahun kelima kenabian; tahun keenam kenabian; 10 tahun 3 bulan dari kenabian; 12 tahun dari kenabian; 1 tahun 5 bulan sebelum hijrah; 1 tahun 3 bulan sebelum hijrah; 6 bulan sebelum hijrah. Kenapa perselisihan seperti ini terjadi? Satu, ketika Isra-Mikraj terjadi tak ada orang yang mencatat dan mendokumentasikannya secara persis. Rasulullah pun dikisahkan tak bisa membaca dan menulis. Soal hari, tanggal, bulan, dan tahun peristiwa Isra-Mikraj di atas sepenuhnya didasarkan pada ingatan para Sahabat, dan bukan pada data rekaman-tertulis yang otentik. Dua, penyusunan kalender Islam pada saat Isra-Mikraj itu belum terumuskan. Dengan demikian, semua soal di sekitar Isra-Mikraj serba tak pasti, misterius, dan tak mudah diverifikasi. Bagi sebagian besar umat Islam, hanya satu yang pasti; bahwa Isra-Mikraj nyata terjadi dan dari situ shalat disyariatkan. Tentang bagaimana terjadinya dan kapan berlangsungnya, para ulama dan sejarawan tak melahirkan sebuah konsensus. Wallahu A’lam Bis Shawab. — 29 —
  • 39.
    « 08/04/2010 Pengertian Umat Islam Indonesia Oleh Abdul Moqsith Ghazali Penjelasan-penjelasan ini menunjukkan betapa tak mudahnya seseorang mengatas-namakan umat Islam Indonesia, seperti tak mudahnya mendefiniskan umat Islam Indonesia. Dengan demikian, kini jelas bahwa sekiranya ada tokoh Islam yang suka mengatas-namakan umat Islam, maka dia hakekatnya tak pernah bisa mewakili umat Islam Indonesia yang beraneka ragam itu. S mendefinisikan umat Islam Indonesia? Hemat saya atu pertanyaan sederhana, bagaimana kita STAIN. Secara keorganisasian, mereka tergabung dalam organisasi keagamaan Islam seperti Nahdlatul ada empat takrif atau pengertian tentang umat Islam Ulama, Muhammadiyah, Nahdlatul Wathan, dan Indonesia itu. Pertama, umat Islam adalah mereka Al-Washliyah. Dengan takrif ini, maka jumlah umat yang di KTP-nya tercantum sebagai penganut Islam. Islam di Indonesia terus menyusut hingga yang tersisa Jika ini menjadi acuan pokok, maka umat Islam di sekitar puluhan juta orang. Indonesia adalah mayoritas. Data statistik yang kerap disampaikan, 87 % penduduk negeri ini memeluk Keempat, umat Islam adalah mereka yang bukan Islam. Termasuk dalam 87 % itu saya kira adalah hanya menjalankan ritual Islam, mengerti dasar-dasar orang-orang Ahmadiyah. Tapi, kalau kita sepakat Islam, melainkan juga memperjuangkaan tegaknya mengeluarkan puluhan ribu orang Ahmadiyah dalam negara Islam, khilafah islamiyah, dan formalisasi syariat barisan Islam, maka jumlah umat Islam itu akan Islam. Berbeda dengan NU dan Muhammadiyah yang berkurang. menerima Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar dalam berbangsa dan bernegara, kelompok terakhir ini Kedua, umat Islam adalah mereka yang menjalankan hendak menjadikan al-Qur’an sebagai haluan negara. ritual peribadatan seperti shalat lima waktu, puasa Konsisten dengan pengertian ini, maka yang disebut sebulan penuh di bulan Ramadan, mengeluarkan sebagai umat Islam di Indonesia tak kurang dari lima zakat (fithrah dan mal), dan berhaji bagi yang mampu. juta orang. Secara keorganisasian, mereka itu bernaung Sekiranya ini menjadi standar, maka populasi umat di bawah organisasi Islam seperti Hizbut Tahrir Islam akan turun sangat drastis. Terlampau banyak Indonesia (HTI), Front Pembela Islam (FPI), Majelis orang yang di KTP-nya disebut Islam, tapi dalam Mujahidin Indonesia (MMI), dan beberapa ormas aktifitas sehari-harinya tak menjalankan sejumlah Islam kecil lainnya. ibadah yang diwajibkan dalam Islam. Mereka itu disebut Clifford Geertz sebagai Islam abangan atau Penjelasan-penjelasan ini menunjukkan betapa tak yang oleh Gus Dur dan Cak Nur disebut Islam mudahnya seseorang mengatas-namakan umat Islam nominal. Secara politik, muslim abangan ini tak selalu Indonesia, seperti tak mudahnya mendefiniskan punya ikatan psikologis-ideologis dengan partai-partai umat Islam Indonesia. Dengan demikian, kini jelas Islam seperti PKS, PPP bahkan juga PKB dan PAN. bahwa sekiranya ada tokoh Islam yang suka mengatas- Sebagian dari mereka kadang merasa lebih nyaman namakan umat Islam, maka dia hakekatnya tak berafiliasi dengan partai-partai sekuler-nasionalis seperti pernah bisa mewakili umat Islam Indonesia yang PDI Perjuangan. beraneka ragam itu. Mandat untuk mewakili seluruh kepentingan umat Islam Indonesia pun tak pernah Ketiga, umat Islam adalah mereka yang bukan hanya dikantongi oleh yang bersangkutan. Sang tokoh akan menjalankan ritual Islam, melainkan juga mengerti lebih pas menyebut mewakili dirinya sendiri atau dasar-dasar ajaran Islam. Mereka tahu dogma, kelompok kecilnya yang terbatas. [] pemikiran, dan sejarah peradaban Islam. Kelompok ketiga ini lazim disebut sebagai Islam santri. Mereka biasanya alumni sebuah pesantren dan juga Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) seperti IAIN dan — 30 —
  • 40.
    « 01/04/2010 Sejumlah Paradoks dalam Pidato Hasyim Muzadi Oleh Abdul Moqsith Ghazali Hasyim juga menolak sekularisme. Padahal, dalam waktu yang sama, dia juga menjelaskan penerimaan NU terhadap Pancasila, UUD 1945, dan negara bangsa Indonesia. Artinya, Indonesia ini bukan negara agama (Islam) melainkan negara Pancasila. Semua produk perundang-undangan di negeri ini tak diacukan pada argumen agama (Islam), melainkan pada UUD 1945. Tampaknya Hasyim tidak cukup mengerti apa yang disangkalnya, sekularisme-sekularisasi. T Makassar yang terkesima dengan pidato ak sedikit peserta muktamar NU ke-32 di seorang pengusaha di lingkungan keluarga Kerajaan Arab Saudi, bukan dari Amerika Serikat apalagi Yahudi. pertanggung-jawaban Hasyim Muzadi, Ketua Informasi ini mengagetkan peserta Muktamar NU. Umum PBNU 2004-2009, Kamis 24 Maret 2010. Alih-alih menjauhi Ulil seperti kerap dipidatokan Namun, banyak juga yang mempertanyakan dan Hasyim di pelbagai forum dan kesempatan, terlampau mempersoalkannya. Menurut kelompok kedua ini, banyak pengurus cabang NU yang simpati dengan dalam pidato tersebut ada sejumlah pernyataan Hasyim Ulil. Anak-anak muda NU itu mengibaratkan Hasyim yang paradoks, bertentangan satu dengan yang lain. Muzadi sedang menepuk air di dulang, kepercik muka Bahkan juga terkesan simplistis. Beberapa hal berikut sendiri. yang digugat kelompok kedua tersebut, persis beberapa menit setelah Hasyim Muzadi berpidato. Kedua, Hasyim juga menolak sekularisme. Padahal, dalam waktu yang sama, dia juga menjelaskan Pertama, Hasyim mengeluhkan anak-anak muda NU penerimaan NU terhadap Pancasila, UUD 1945, dan yang sangat tergantung sama lembaga funding Barat. negara bangsa Indonesia. Artinya, Indonesia ini bukan Ini, menurut Hasyim, menyebabkan anak-anak muda negara agama (Islam) melainkan negara Pancasila. itu tidak independen dalam berfikir dan bertindak. Semua produk perundang-undangan di negeri ini tak Padahal, dalam waktu yang sama, dalam pidatonya diacukan pada argumen agama (Islam), melainkan pada dia berkata bahwa PBNU melalui kepemimpinannya UUD 1945. Tampaknya Hasyim tidak cukup mengerti mendapatkan suntikan dana dari lembaga-lembaga apa yang disangkalnya, sekularisme-sekularisasi. Dia donor, bukan hanya dari Timur Tengah melainkan juga tak tahu jenis-jenis sekularisasi. Ada model Perancis, dari Barat, seperti USAID, Patnership, dan lain-lain. Kanada, Amerika Serikat, Indonesia, dan lain-lain. Kelompok kontra-Hasyim itu mempertanyakan, kalau Himbauan mereka, tunggal; Hasyim perlu belajar Hasyim bisa dan boleh menerima dana dari lembaga banyak teori-teori sekularisasi dan sekularisme. donor, mengapa anak mudanya tidak boleh. Kalau PBNU halal mendapat dana dari Barat, kenapa PP Ketiga, Hasyim pun mengkritik sangat lantang Fatayat NU menjadi haram menerimanya, misalnya. pemikiran liberal Islam yang tumbuh subur di kalangan Ini unfair. anak muda NU. Liberalisme dianggap menyimpang dari ajaran Ahlus Sunnah Waljamaah a la Nahdlatul Bahkan, teman-teman muda NU di Jaringan Islam Ulama. Sementara, dalam waktu yang bersamaan, dia Liberal (JIL) menjelaskan bahwa lima tahun terakhir melaksanakan pikiran-pikiran liberal Islam itu misalnya tak ada dana dari lembaga donor dari Amerika Serikat ketika dirinya menjadi cawapres dari Capres Megawati, dan Australia yang mengalir ke rekening JIL. Ulil dalam pemilu 2004. Terang benderang dalam buku- Abshar-Abdalla (pendiri JIL dan kandidat Ketum buku Sunni dijelaskan larangan bagi perempuan untuk PBNU dalam muktamar itu) menjelaskan beasiswa menjadi hakim (qadli) apalagi menjadi kepala negara dirinya studi di Harvard University AS diperoleh dari (al-mam al-a’zham). Apakah kita bisa mempertanyakan — 31 —
  • 41.
    « ke-aswaja-an Hasyim Muzadi,kata mereka tandas. Keempat, dia berkata bahwa politik NU adalah politik keumatan dan bukan politik kekuasaan. Padahal, dalam waktu yang sama, cukup kerap Hasyim Muzadi terlibat dalam permainan politik untuk sebuah kekuasaan. Tak bisa ditutupi, Hasyim bermain dalam sejumlah Pilkada; pemilihan Gubernur juga pemilihan Bupati. Hasyim pun menjadikan NU sebagai salah satu mesin politik ketika dirinya maju sebagai cawapres. Antara kata dan perbuatan, demikian kelompok kontra Hasyim itu, jauh panggang dari api. Akhirnya mereka menyimpulkan bahwa Hasyim Muzadi gagal menjalankan pelaksanaan Khittah 1926 yang diamanatkan pada dirinya. Inilah beberapa poin keberatan yang saya dengar dari kelompok kontra-Hasyim. Kalau ada waktu, saya juga akan melaporkan alasan peserta muktamar yang mengelu-elukan Hasyim Muzadi. Insyaallah. — 32 —
  • 42.
    « 11/03/2010 Pluralisme Agama di Indonesia: Masihkah Kita Bisa Berharap? Oleh Abdul Moqsith Ghazali Seseorang tak bisa dikriminalisasi karena yang bersangkutan memilih sekte dan tafsir tertentu dalam beragama. Kementerian Agama tak boleh mengintervensi dan menjadi hakim yang bisa memutus tentang sesat dan tidaknya suatu tafsir dan ritual peribadatan. Seseorang bisa dikriminalisasi bukan karena yang bersangkutan menjalankan ritus peribadatan tertentu, melainkan misalnya karena di dalam ritual itu terdapat tindak kriminal seperti kekerasan yang merendahkan martabat manusia. B perihal masa depan pluralisme agama di anyak orang pesimis dan putus pengharapan dan perundang-undangan yang tak toleran terhadap kelompok minoritas dan agama-agama lokal. UU Indonesia. Pesimisme ini biasanya didasarkan PNPS/I/1965 yang mengandung pasal diskriminatif itu pada beberapa indikator utama. Pertama, telah hendak dipertahankan oleh beberapa tokoh agama yang berpulangnya para tokoh agama yang gigih tanpa lelah bertahta dalam organisasi keislaman besar seperti NU memperjuangkan pluralisme, sementara tokoh baru dan Muhammadiyah dan tak sedikit juga dari kalangan dengan militansi yang sama dengan para pendahulunya akademisi (perguruan tinggi). Alih-alih dihapuskan, tak segera matang dan dewasa. Meninggalnya bahkan peraturan-peraturan daerah yang bias dan Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid, Eka diskriminatif terus bermunculan di beberapa wilayah di Darmaputra, TH Sumartana, Mangunwijaya, Gedong Indonesia. Bagus Oka, dan lain-lain tak jarang dianggap sebagai pertanda matinya pluralisme agama di Indonesia. Di Sebagai generasi muda Islam, saya berpendirian bahwa lingkungan umat Islam, kepergian Almarhum Gus ketiga faktor tersebut tak cukup dijadikan alasan untuk Dur dipandang sebagai pukulan telak bagi gerakan pesimis menatap masa depan pluralisme agama di pluralisme. Mereka berpendirian, dengan wafatnya Indonesia. Ketiga pokok soal tersebut sebenarnya lebih Gus Dur, maka langit pluralisme akan kian kelam dan merupakan tantangan bagi pejuang pluralisme agama buram. untuk mensolidkan dan mensinergikan gerakan. Ada banyak hal yang menyebabkan kita boleh optimis dan Kedua, terjadi surplus kekerasan berbasis agama berpengharapan tentang cerahnya pluralisme agama di dan teologi. Seperti dilansir the WAHID Institute, Indonesia di masa-masa yang akan datang. Setara Institute, CRCS UGM, dalam laporan akhir tahun 2009 tentang indeks kebebasan beragama dan Memang benar bahwa Gus Dur dan Pak Eka sudah kekerasan berbasis agama, ditemukan fakta tentang tidak ada, tapi pikiran-pikiran pluralis keduanya kian meratanya kekerasan dan diskriminasi terhadap sudah terlembagakan ke dalam berbagai institusi dan (umat) agama dan (pengikut) sekte tertentu. Pelakunya diterjemahkan ke dalam program-program yang lebih pun sangat beragam, mulai dari individu sampai terstruktur dan sistematis. Misalnya ada Jaringan kelompok organisasi keagamaan tertentu. Mulai dari Islam Liberal (JIL) Jakarta, MADIA Jakarta, the dipersulitnya ijin pendirian rumah ibadah sampai pada WAHID Institute Jakarta, ICRP Jakarta, ICIP Jakarta, pembakaran dan penghancuran rumah ibadah. Ada ICIP Jakarta, Dian-Interfidei Yogyakarta, YPKM gereja yang dibakar. Juga ada kelompok Ahmadiyah Mataram, LK3 Banjarmasin, Pusaka Padang, LAPAR yang hak-hak sipilnya sampai sekarang masih dirampas. Makasar, Jakatarup Bandung dan lain-lain. Beberapa Tak sedikit dari mereka yang tinggal di tempat-tempat hari lalu baru saja terbentuk Forum Pluralisme pengungsian. Indonesia, sebuah forum yang dibentuk oleh sejumlah intelektual muda lintas agama untuk memperbanyak Ketiga, masih dipertahankanya sejumlah kebijakan pangkalan pendaratan pluralisme agama di Indonesia. — 33 —
  • 43.
    « Kini sebenarnya tokoh-tokohmuda yang gigih kelemahan dan keterbatasan dari Perda-Perda Syariat memperjuangkan pluralisme agama kian tersebar di itu. Bahkan di sejumlah daerah banyak masyarakat sejumlah daerah di Indonesia. Mereka bekerja biasanya sipil yang menentang Perda-Perda tersebut. Ibu-Ibu tanpa sorotan kamera dan publisitas media, sehingga muslimah di Bandah Aceh marah ketika dirinya tampak kurang populer. Tapi, memperhatikan kerja- ditangkap karena menggunakan celana ketat, misalnya. kerja advokasi mereka sangat mencengangkan. Melihat mereka, saya cukup optimis prihal gerakan pluralisme Yakinlah bahwa sejauh yang bisa dipantau, Perda-Perda di Indonesia. itu hanya proyek partai politik demi sebuah kekuasaan. Persis di situ partai-partai politik salah melakukan Selanjutnya, dalam proses transisi menuju demokrasi, diagnosa. Bahwa dengan membuat perda-perda syariat sebagian negara kerap tidak stabil dan mudah goyah. itu, partai politik akan mendulang banyak suara. Dalam konteks itu, negara biasanya tak bisa berperan Padahal, berkali-kali pemilu yang diselenggarakan secara efektif untuk melinduangi setiap warganya dari di Indonesia membutikan bahwa partai politik yang tindak ketidakadilan oleh warga yang lain. Itulah yang menjual agama ke khalayak tak pernah menang. kini terjadi di Indonesia. Sejumlah kekerasan berbasis Bukan hanya dalam periode dulu, namun juga dalam agama tak bisa segera dihentikan oleh pemerintah periode sekarang. Sejumlah partai berasas agama keok (aparat kepolisian). Pemerintah gamang untuk dalam pemilihan umum. Saya yakin bahwa ketika bertindak dan menghukum pelaku kekerasan berbasis kesadaran tentang tidak lakunya berdagang agama agama karena khawatir dianggap anti-agama, persisnya dalam ranah politik itu nanti muncul, semua partai anti-Islam. Citra sebagai pendukung agama (Islam) akan berbalik haluan. Inilah yang kini terjadi misalnya dan sekte mayoritas inilah yang tampaknya hendak di PKS juga PPP. Sungguh warga negara Indonesia ditampilkan pemerintahan Yudhoyono, dalam dua makin cerdas. Mereka tak mendasarkan preferensi periode pemerintahannya. Dia misalnya selalu memilih politiknya pada sentimen primordial agama. Berbagai menteri agama yang cenderung tidak pluralis. Aparat survey menunjukkan tentang matinya politik aliran kepolisian pun tak sigap menangkap para “preman di Indonesia, dan pembunuhnya adalah warga negara berjubah” karena takut divonis sebagai pelanggar HAM Indonesia sendiri. atau pendukung kemaksiatan. Polisi tak dilengkapi dengan jaminan undang-undang untuk menghukum Dengan alasan-alasan itu, kita masih berhak untuk para pelaku kekerasan agama. optimis bahwa langit-langit pluralisme agama di Indonesia akan makin cerah. Bahwa ada mendung Kelak, ketika transisi demokrasi ini sudah berakhir, yang sedikit menggantung, iya. Tapi, yakinlah bahwa negara akan kembali normal. Di situ kiranya tak mendung itu akan hilang ditiup angin perubahan dan ada satu warga negara pun yang hak-haknya boleh pluralisme. [] dirampas oleh warga lain, termasuk hak untuk memilih dan menjalankan ajaran agama dan keyakinan. Bahwa seseorang tak bisa dikriminalisasi karena yang bersangkutan memilih sekte dan tafsir tertentu dalam beragama. Kementerian Agama tak boleh mengintervensi dan menjadi hakim yang bisa memutus tentang sesat dan tidaknya suatu tafsir dan ritual peribadatan. Seseorang bisa dikriminalisasi bukan karena yang bersangkutan menjalankan ritus peribadatan tertentu, melainkan misalnya karena di dalam ritual itu terdapat tindak kriminal seperti kekerasan yang merendahkan martabat manusia. Diakui bahwa sekarang banyak bermunculan Perda- Perda (bernuansa) syariat Islam. Namun, kita tak boleh ciut nyali dan berkesimpulan bahwa diskriminasi agama yang ditopang dengan struktur negara atau pemerintah akan dengan sendirinya bisa berjalan efektif. Sejumlah riset dan penelitian menemukan — 34 —
  • 44.
    « 18/12/2009 Menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1431 H. Kelumit Sejarah Pembentukan Kalender Islam Oleh Abd Moqsith Ghazali Hijrah adalah kelir tebal yang menandai babak baru perjuangan Islam. Di Madinah, kebajikan tak lagi menjadi dongeng pengantar tidur atau hanya ada dalam mitologi. Madinah kemudian menjadi kota dengan peradaban maju; hukum bisa dijalankan dengan adil, kesejahteraan masyarakat bisa ditingkatkan, nilai-nilai kemanusiaan sebagai sumbu ajaran Islam secara gradual bisa ditegakkan. S etiap 1 Muharram umat Islam selalu memperingati umat agama lain. tahun baru hijriyah. Yakni tahun baru dalam kalender Islam yang start penghitungannya didasarkan Sementara yang lain mengusulkan, umat Islam perlu pada kepindahan (hijrah) Nabi dari Mekah ke memiliki kalender sendiri, tanpa bertaklid pada Madinah. Sudah menjadi cerita lama bahwa penetapan almanak bangsa dan umat agama lain. Pendapat ini tahun Islam ini baru terjadi pada zaman kekhalifahan kemudian disepakati. Hanya, umat Islam berselisih Umar ibn Khattab. Dan Umar memang dikenal sebagai tentang titik tolak penetapan dimulainya tahun Islam khalifah yang banyak melakukan langkah-langkah itu. Ada yang berpendapat, tahun kelahiran Nabi inovatif untuk kemajuan Islam terutama di bidang Muhammad (milad atau maulid) bisa diambil sebagai sosial-politik. Di antaranya, adalah penetapan Baitul batu pijak penghitungan tahun Islam, sebagaimana Mal (Pusat Keuangan Negara), pembentukan beberapa umat Kristiani menjadikan tahun kelahiran Yesus badan usaha milik negara (BUMN), pembuatan Kristus sebagai basis penghitungan. Ada juga yang data kependudukan, penetapan remunerasi-gaji bagi interupsi supaya perhitungan itu mengacu pada tahun para tentara perang, pemberian subsisi kepada kaum wafatnya Nabi Muhammad atau tahun pengangkatan miskin hingga penyelesaian sengketa tanah-agraria di Muhammad sebagai nabi atau rasul. Yang lain Yerussalem dengan ditandatanganinya Perjanjian Aelia berpendapat agar penghitungan itu mengacu pada (Mitsaq Ailiya). peristiwa hijrah. Nabi sendiri pernah bersabda bahwa dirinya diberi tiga pilihan tempat hijrah oleh Allah Sebelum ditetapkan, telah bermunculan gagasan SWT, yaitu: Madinah, Bahrain, dan Qinnasrin (sebuah tentang perlu dan tidaknya umat Islam memiliki kota di Syam). Dan Nabi lebih memilih Madinah penghitungan tahun sendiri. Sebagian Sahabat Nabi (Yatsrib) ketimbang yang lain. (Ibn Katsir, al-Bidayah, berpendirian tentang tak dibutuhkannya almanak Juz III, hlm. 212 & 246). tersendiri bagi umat Islam. Baik Alquran maupun Hadits tak pernah memerintahkan untuk membuat Bersama itu, masih juga terjadi silang sengkarut tentang kalender khusus Islam. Dengan demikian, menurut bulan pertama dalam tahun Islam tersebut. Beberapa mereka, umat Islam cukup mengikuti penghitungan Sahabat Nabi berpendapat, bulan pertamanya adalah tahun yang sudah ada dalam tradisi dan kebiasaan bulan Muharram. Sahabat lain mengusulkan agar bangsa-bangsa dan komunitas lain. Ada yang bulan Ramadan dijadikan bulan pertama, karena bulan berpendapat agar umat Islam mengikuti hitungan itu merupakan bulan utama (sayyid al-syuhur). Yang tahun orang-orang Persia atau bangsa Romawi. lain lagi mengusulkan, bulan Rabiul Awwal. Sebab, (Ibn Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, Juz III, hlm. sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad dari Ibn 246). Dari sini kita tahu bahwa pada saat itu tak Abbas, hijrah Nabi Muhammad sendiri terjadi pada tabu sekiranya umat Islam hendak mengambil atau hari Senin, 13 Rabiul Awwal tahun ke-13 dari kenabian meminjam tradisi dan kebudayaan dari bangsa dan Muhammad SAW. Pendapat ini juga dikemukakan — 35 —
  • 45.
    « Imam Malik sebagaimanariwayat al-Suhaili (Ibn tak mendasarkan penghitungan kalender Islam pada Katsir, al-Bidayah, Juz III, hlm. 220, 247). Argumen tahun kelahiran, kematian, dan kenabian Muhammad kelompok terakhir kalau disederhanakan kira-kira melainkan pada momen hijrah yang menyertakan adalah: kalau kita sepakat bahwa acuan penghitungan seluruh umat Islam dari Mekah ke Madinah. tahun Islam adalah peristiwa hijrah, maka mestinya kita Momen hijrah diambil, tapi bulan hijrah Nabi yang juga sepakat menetapkan Rabiul Awal sebagai bulan diperkirakan Rabiul Awal tak otomatis dijadikan pertama dalam kalender itu. Sebab, pada bulan itulah sebagai bulan pertama dalam kalender Islam. Ini terang hijrah Nabi berlangsung. berguna, agar umat Islam tak terjebak pada kultus yang berujung pada penuhanan dan penyembahan tubuh Namun, beberapa sumber menyebutkan bahwa Muhammad SAW. Tubuh-jasad Muhammad SAW yang hijrah umat Islam sendiri berlangsung tak sekaligus; fana boleh dikuburkan, tapi roh ajaran kemanusiaannya bergelombang dan bertahap. Beberapa Sahabat Nabi saya kira harus tetap “baqa” sepanjang masa. Wallahu bahkan ada yang sudah berangkat beberapa minggu A’lam bi al-Shawab. [] bahkan satu hingga dua bulan sebelumnya. Sahabat Nabi yang pertama kali sampai ke Madinah adalah Abu Salmah ibn Abdul Asad ibn Hilal ibn Abdullah ibn Umar dari Bani Makhzum. Riwayat lain menyebut, yang pertama adalah Mush`ab ibn Umair, Ibnu Umi Maktum, baru Ammar dan Bilal. Beberapa hari dan minggu berikutnya disusul oleh Umar ibn Khattab beserta sanak saudara dan keluarganya seperti Zaid ibn Khattab. Selanjutnya, yang berhijrah adalah Thalhah ibn Ubaidillah, Shuhaib ibn Sinan. (Ibn Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyah, Juz II, hlm. 341-349). Nabi Muhammad dan Sahabat Abu Bakar termasuk yang terakhir berhijrah. Setelah melakukan perjalanan berliku selama 15 hari termasuk tinggal di Gua Tsaur selama 3 hari, mereka berdua akhirnya sampai di Madinah. Perbedaan pendapat boleh terjadi, tapi Umar ibn Khattab sebagai kepala negara segera memveto bahwa tahun Islam dimulai dari momen hijrah dengan bulan Muharram sebagai bulan pertama. Kenapa bulan Muharram? Salah satunya, mungkin karena bulan itu adalah termasuk bulan diharamkannya peperangan (anna Allah harrama al-qatla wa al-qital fiha). Itu adalah bulan perdamaian nan suci. (Al-Razi, Mafatih al-Ghaib, Juz XV, hlm. 233). Kemungkinan lain, karena bulan Muharram adalah bulan pertama kalinya umat Islam hijrah. Tak ada alasan memadai dibalik penetapan bulan Muharram ini. Lalu, kenapa momen hijrah? Hijrah adalah kelir tebal yang menandai babak baru perjuangan Islam. Di Madinah, kebajikan tak lagi menjadi dongeng pengantar tidur atau hanya ada dalam mitologi. Madinah kemudian menjadi kota dengan peradaban maju; hukum bisa dijalankan dengan adil, kesejahteraan masyarakat bisa ditingkatkan, nilai-nilai kemanusiaan sebagai sumbu ajaran Islam secara gradual bisa ditegakkan. Tampaknya dengan sengaja Khalifah Umar ibn Khattab — 36 —
  • 46.
    « 15/06/2009 Islam dan Pluralitas(isme) Agama Oleh Abd Moqsith Ghazali Ini tidak berarti bahwa semua agama adalah sama. Sebab, di samping memang mengandung kesamaan tujuan untuk menyembah Allah dan berbuat baik, tak bisa dipungkiri bahwa setiap agama memiliki keunikan, kekhasan, dan syari`atnya sendiri. Sebagian mufasir berkata, al- dîn wâhid wa al-syarî`at mukhtalifat [agama itu satu, sementara syari`atnya berbeda-beda]. Detail-detail syari`at ini yang membedakan satu agama dengan agama lain. K pluralism. Kata ini diduga berasal dari bahasa Pengertian Dasar kelompok lain itu atas dasar perdamaian dan saling menghormati. Allah berfirman, “Allah tidak melarang ata “pluralisme” berasal dari bahasa Inggris, kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangi dalam urusan Latin, plures, yang berarti beberapa dengan implikasi agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. perbedaan. Dari asal-usul kata ini diketahui bahwa Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang pluralisme agama tidak menghendaki keseragaman berlaku adil”. QS, al-Mumtahanah [60]: ayat 8 bentuk agama. Sebab, ketika keseragaman sudah terjadi, maka tidak ada lagi pluralitas agama (religious Paparan di atas menyampaikan pada suatu pengertian plurality). Keseragaman itu sesuatu yang mustahil. sederhana bahwa pluralisme agama adalah suatu Allah menjelaskan bahwa sekiranya Tuhanmu sistem nilai yang memandang keberagaman atau berkehendak niscaya kalian akan dijadikan dalam satu kemajemukan agama secara positif sekaligus optimis umat. Pluralisme agama tidak identik dengan model dengan menerimanya sebagai kenyataan (sunnatullâh) beragama secara eklektik, yaitu mengambil bagian- dan berupaya untuk berbuat sebaik mungkin bagian tertentu dalam suatu agama dan membuang berdasarkan kenyataan itu. Dikatakan secara positif, sebagiannya untuk kemudian mengambil bagian yang agar umat beragama tidak memandang pluralitas agama lain dalam agama lain dan membuang bagian yang tak sebagai kemungkaran yang harus dibasmi. Dinyatakan relevan dari agama yang lain itu. secara optimis, karena kemajemukan agama itu sesungguhnya sebuah potensi agar setiap umat terus Pluralisme agama tidak hendak menyatakan bahwa berlomba menciptakan kebaikan di bumi. semua agama adalah sama. Frans Magnis-Suseno berpendapat bahwa menghormati agama orang lain Sikap terhadap non-Muslim tidak ada hubungannya dengan ucapan bahwa semua agama adalah sama. Agama-agama jelas berbeda- Pluralitas agama dan umat beragama adalah kenyataan. beda satu sama lain. Perbedaan-perbedaan syari`at Sebelum Islam datang, di tanah Arab sudah muncul yang menyertai agama-agama menunjukkan bahwa berbagai jenis agama, seperti Yahudi, Nashrani, Majusi, agama tidaklah sama. Setiap agama memiliki konteks Zoroaster dan Shabi’ah. Suku-suku Yahudi sudah lama partikularitasnya sendiri sehingga tak mungkin semua terbentuk di wilayah pertanian Yatsrib (kelak disebut agama menjadi sebangun dan sama persis. Yang sebagai Madinah), Khaibar, dan Fadak. Di wilayah dikehendaki dari gagasan pluralisme agama adalah Arab ada beberapa komunitas Yahudi yang terpencar- adanya pengakuan secara aktif terhadap agama lain. pencar dan beberapa orang sekurang-kurangnya disebut Agama lain ada sebagaimana keberadaan agama yang Kristen. Pada abad ke empat sudah berdiri Gereja dipeluk diri yang bersangkutan. Setiap agama punya Suriah. Karena itu tak salah jika dinyatakan, Islam lahir hak hidup. dalam konteks agama-agama terutama agama Yahudi dan Nashrani. Nurcholish Madjid menegaskan, pluralisme tidak saja mengisyaratkan adanya sikap bersedia mengakui Al-Qur’an memiliki pandangan sendiri dalam hak kelompok agama lain untuk ada, melainkan juga menyikapi pluralitas umat beragama tersebut.Terhadap mengandung makna kesediaan berlaku adil kepada Ahli Kitab (meliputi Yahudi, Nashrani, Majusi, dan — 37 —
  • 47.
    « Shabi’ah), umat Islamdiperintahkan untuk mencari yang mendapati dan kemudian mengikutinya, dan titik temu (kalimat sawa`). Kalau terjadi perselisihan celaka bagi yang mengingkarinya”. antara umat Islam dan umat agama lain, umat Islam dianjurkan untuk berdialog (wa jâdilhum billatî hiya Muhammad Husain Haikal melanjutkan kisah tentang ahsan). Terhadap siapa saja yang beriman kepada Allah, Qus ibn Sâ`idah. Alkisah, utusan Bani Iyad—suku meyakini Hari Akhir, dan melakukan amal kebajikan, Qus ibn Sa`îdah—menemui Nabi. Nabi bertanya al-Qur`an menegaskan bahwa mereka, baik beragama keberadaan Qus. Mereka menjawab, Qus ibn Sâ`idah Islam maupun bukan, kelak di akhirat akan diberi sudah meninggal dunia. Mendengar informasi tersebut, pahala. Tak ada keraguan bahwa orang-orang seperti Nabi teringat akan khotbahnya di Pasar Ukazh; ia ini akan mendapatlan kebahagiaan ukhrawi. Ini karena, menunggang unta yang berwarna keabuan sambil sebagaimana dikemukakan Muhammad Rasyid Ridla, berbicara. Tapi, aku tidak hafal detail ungkapannya. keberuntungan di akhirat tak terkait dengan jenis Seseorang (ada yang bilang Abu Bakar) berkata, “saya agama yang dianut seseorang. hafal wahai Nabi”. Ia kemudian merapalkan isi khotbah Qus tersebut. Rasulullah berkata, “semoga Tuhan Al-Qur’an mengijinkan sekiranya umat Islam memberi rahmat kepada Qus dan aku berharap agar hendak bergaul bahkan menikah dengan Ahli Kitab. ia kelak di hari kiamat dibangkitkan dalam umat yang Tidak sedikit para sahabat Nabi yang memperisteri mengesakan-Nya”. `Imad al-Shabbâgh menceritakan, perempuan-perempuan dari kalangan Ahli Kitab. Nabi pada akhirnya hafal isi khutbah Qus tersebut. Utsman ibn `Affan, Thalhah ibn Abdullah, Khudzaifah Nabi bersabda, berbeda dengan kecenderungan orang- ibn Yaman, Sa`ad ibn Abi Waqash adalah di antara orang Arab yang menyembah patung, Qus salah sahabat Nabi yang menikah dengan perempuan Ahli seorang yang menyembah Allah Yang Esa. Kitab. Alkisah, Khudzaifah adalah salah seorang sahabat Nabi yang menikah dengan perempuan Pengakuan tentang kenabian Muhammad datang beragama Majusi. Nabi Muhammad juga pernah pertama kali dari pendeta Yahudi bernama Buhaira memiliki budak perempuan beragama Kristen, Maria dan tokoh Kristen bernama Waraqah ibn Nawfal. binti Syama`un al-Qibtiyah al-Mishriyah. Dari Melalui pendeta Buhaira terdengar informasi, perempuan ini, Nabi memiliki seorang anak laki-laki Muhammad akan menjadi nabi pamungkas (khâtam bernama Ibrahim. Ia meninggal dalam usia balita. al-nabiyyîn). Buhairâ (kerap disebut Jirjis atau Sejarah juga menuturkan, ayah kandung dari Shafiyah Sirjin) pernah mendengar hâtif (informasi spritual) binti Hayy yang menjadi isteri Nabi adalah salah bahwa ada tiga manusia paling baik di permukaan seorang pimpinan kelompok Yahudi. bumi ini, yaitu Buhaira, Rubab al-Syana, dan satu orang lagi sedang ditunggu. Menurutnya, yang Nabi Muhammad dan para pengikutnya sangat intens ketiga itu adalah Muhammad ibn Abdillah. Dan berkomunikasi dengan orang-orang Ahli Kitab. ketika Muhammad baru pertama kali mendapatkan Muhammad muda pernah mendengarkan khotbah wahyu, Waraqah menjelaskan bahwa sosok yang Qus ibn Sâ`idah, seorang pendeta Kristen dari Thaif. datang kepada Muhammad adalah Namus yang dulu Muhammad Husain Haikal, sebagaimana dikutip juga datang kepada Nabi Musa. Waraqah mencium Khalîl Abdul Karim, menjelaskan isi khotbah Qus ibn kening Muhammad sebagai simbol pengakuan Sâ`idah itu sebagai berikut; terhadap kenabiannya, seraya berkata, “Berbahagialah, berbahagialah. Sesungguhnya kamu adalah orang yang “Wahai manusia, dengarkan dan sadarlah. Siapa yang dikatakan `Isa ibn Maryam sebagai kabar gembira. hidup pasti mati, dan siapa yang mati pasti musnah. Engkau seperti Musa ketika menerima wahyu. Engkau Semuanya pasti akan datang. Malam gelap gulita, langit seorang utusan”. Nabi pernah bersabda bahwa Waraqah yang beribntang, laut yang pasang, bintang-bintang akan dimasukkan ke dalam surga oleh Allah. yang bercahaya, cahaya dan kegelapan, kebaikan dan kemaksiatan, makanan dan minuman, pakaian dan Nabi Muhammad tak menganggap ajaran agama kendaraan. Aku tidak melihat manusia pergi dan tidak sebelum Islam sebagai ancaman. Islam adalah terusan kembali, menetap dan tinggal di sebuah tempat, atau dan kontinyuasi dari agama-agama sebelumnya. Allah meninggalkannya kemudian tidur. Tuhannya Qus ibn berfirman kepada Nabi Muhammad agar ia mengikuti Sa’adah tidak ada di muka bumi. Agama yang paling agama Nabi Ibrahim (millat Ibrahim). Sebagaimana mulia semakin dekat waktunya denganmu, semakin Isa al-Masih datang untuk menggenapi hukum Taurat, dekat saatnya. Maka sungguh beruntung bagi orang begitu juga Nabi Muhammad. Ia hadir bukan untuk — 38 —
  • 48.
    « menghapuskan Taurat danInjil, melainkan untuk membangun sebuah rumah. Lalu ia buat rumah itu menyempurnakan dan mengukuhkannya. Disebutkan bagus dan indah, kecuali ada tempat bagi sebuah dalam al-Qur’an, “Dia menurunkan al-Kitab (al- ubin di sebuah sudut. Orang banyak pun berkeliling Qur’an) kepadamu dengan sebenarnya, membenarkan rumah itu dan mereka takjub, lalu berkata, “mengapa kitab (mushaddiq) yang telah diturunkan sebelumnya ubin itu tidak dipasang. Nabi bersabda, “Akulah ubin dan menurunkan Taurat dan Injil sebelum al-Qur’an itu, Aku adalah penutup para nabi”. Umat Islam pun menjadi petunjuk bagi manusia dan Dia menurunkan diperintahkan meyakini dan menghargai seluruh para al-Furqan”. nabi plus kitab suci yang dibawanya. Jika para nabi yang membawa ajaran-ajaran ketuhanan itu dikatakan Al-Qurthubi mengutip pendapat jumhur ulama yang Muhammad sebagai bersaudara, maka para pengikut menyatakan bahwa arti kata mushaddiq dalam ayat atau pemeluk agama-agama itu disebut sebagai Ahli itu adalah muwâfiq (cocok atau sesuai). Menurut Ibnu Kitab. `Abbâs dan al-Dlahhak, makna atau esensi dasar ajaran al-Qur’an sesungguhnya telah tercantum dalam kitab- Ketika Nabi Muhammad memasuki Mekah dengan kitab sebelum al-Qur’an semisal Taurat Musa, Shuhuf kemenangan dan menyuruh menghancurkan berhala Ibrahim. Yang berbeda hanya redaksionalnya bukan dan patung, dia menemukan gambar Bunda Maria makna atau esensinya. Ketika ragu tentang sebuah (Sang Perawan) dan Isa al-Masih (Sang Anak) di wahyu, al-Qur’an memerintahkan Nabi Muhammad dalam Ka`bah. Dengan menutupi gambar tersebut untuk bertanya pada orang-orang yang sudah membaca dengan jubahnya, dia memerintahkan semua gambar kitab-kitab sebelum al-Qur’an. Sebab, di dalam dihancurkan kecuali gambar dua tokoh itu. Dalam kitab-kitab suci itu, ada prinsip-prinsip dasar yang riwayat lain disebutkan, yang diselamatkan itu bukan merekatkan seluruh ajaran para nabi. hanya gambar Isa al-Masîh dan ibunya (Maryam), melainkan juga gambar Nabi Ibrahim. Patung Maryam Ini tidak berarti bahwa semua agama adalah sama. yang terletak di salah satu tiang Ka`bah dan patung Sebab, di samping memang mengandung kesamaan Nabi Isa di Hijirnya yang dipenuhi berbagai hiasan tujuan untuk menyembah Allah dan berbuat baik, tak dibiarkan berdiri tegak. Tindakan ini diceritakan bisa dipungkiri bahwa setiap agama memiliki keunikan, berbagai sumber sebagai penghargaan Muhammad kekhasan, dan syari`atnya sendiri. Sebagian mufasir terhadap Isa, Maryam (Bunda Maria), dan Ibrahim. berkata, al-dîn wâhid wa al-syarî`at mukhtalifat [agama Ini menunjukkan, sikap saling menghargai telah itu satu, sementara syari`atnya berbeda-beda]. Detail- dikukuhkan Nabi semenjak awal kehadiran Islam. detail syari`at ini yang membedakan satu agama dengan agama lain. Sebab, tidaklah mustahil bahwa sesuatu Itulah sikap teologis al-Qur’an dalam merespons yang bernilai maslahat dalam suatu tempat dan waktu pluralitas agama dan umat beragama. Sementara tertentu, kemudian berubah menjadi mafsadat dalam sikap sosial-politisnya berjalan dinamis dan fluktuatif suatu ruang dan waktu yang lain. Bila kemaslahatan Adakalanya tampak mesra. Di kala yang lain, sangat dapat berubah karena perubahan konteks, maka dapat tegang. Ketika Romawi yang Kristen kalah perang saja Allah menyuruh berbuat sesuatu karena diketahui melawan Persia, umat Islam ikut bersedih. Satu mengandung maslahat, kemudian Allah melarangnya ayat al-Qur’an turun menghibur kesedihan umat pada waktu lain karena diketahui ternyata aturan Islam tersebut. Disebutkan pula, ketika Muhammad tersebut tidak lagi menyuarakan kemaslahatan. SAW mengadakan perjalanan ke Thaif, ia bertemu seorang budak pemeluk agama Kristen bernama Namun, perbedaan syari`at itu tak menyebabkan Islam `Uddâs di Ninawi Irak (kota asal Nabi Yunus). Ketika kehilangan apresiasinya terhadap para nabi. Dalam Muhammad dikejar-kejar, `Uddâs yang memberikan pandangan Islam, semua nabi adalah bersaudara. setangkai anggur untuk dimakan. Nabi Muhammad bersabda, “tak ada orang yang paling dekat hubungan kekerabatannya dengan Isa Diceritakan, ketika Muhammad dan pengikutnya al-Masih ketimbang aku”. Ia bersabda, umat Islam mendapatkan intimidasi dan ancaman dari kaum yang mengimani Nabi Isa dan Muhammad SAW Musyrik Mekah, perlindungan diberikan raja Abisinia akan mendapatkan dua pahala. Nabi Muhammad yang Kristen. Puluhan sahabat Nabi hijrah ke Abisinia juga bersabda, sebagaimana dalam Shahih Bukhari, untuk menyelamatkan diri, seperti `Utsman ibn `Affân ”sesungguhnya perumpamaan antara aku dengan dan istrinya (Ruqayah, puteri Nabi), Abû Hudzaifah para nabi sebelumnya adalah ibarat seseorang yang ibn `Utbah, Zubair ibn `Awwâm, Abdurrahman — 39 —
  • 49.
    « ibn `Auf, Ja`faribn Abî Thâlib, hijrah ke Abesinia seluruh penduduk Madinah, apapun latar belakang untuk menghindari ancaman pembunuhan kafir etnis dan agamanya, harus saling melindungi tatkala Quraisy. Disaat kafir Quraisy memaksa sang raja salah satu di antara mereka mendapatkan serangan dari mengembalikan umat Islam ke Mekah, ia tetap luar. Sekiranya kaum Yahudi mendapatkan serangan pada pendiriannya; pengikut Muhammad harus dari luar, maka umat Islam membantu menyelamatkan dilindungi dan diberikan haknya memeluk agama. nyawa dan harta benda mereka. Begitu juga, tatkala Sebuah ayat al-Qur`an menyebutkan, “kalian (umat umat Islam diserang pihak luar, maka kaum Yahudi Islam) pasti mendapati orang-orang yang paling dekat ikut melindungi dan menyelamatkan. Pada paragraf persahabatannya dengan orang-orang Islam adalah awal Piagam itu tercantum “Jika seorang pendeta orang-orang yang berkata, “sesungguhnya kami atau pejalan berlindung di gunung atau lembah atau orang Kristen”. Disebutkan pula, waktu raja Najasyi gua atau bangunan atau dataran raml atau Radnah meninggal dunia, Muhammad SAW pun melaksanakan (nama sebuah desa di Madinah) atau gereja, maka shalat jenazah dan memohonkan ampun atasnya. aku (Nabi) adalah pelindung di belakang mereka dari setiap permusuhan terhadap mereka demi jiwaku, Alkisah, Nabi pernah menerima kunjungan para tokoh para pendukungku, para pemeluk agamaku dan para Kristen Najran yang berjumlah 60 orang. Rombongan pengikutku, sebagaimana mereka (kaum Nashrani) itu dipimpin Abdul Masih, al-Ayham dan Abu Haritsah adalah rakyatku dan anggota perlindunganku”. ibn Alqama. Abu Haritsah adalah seorang tokoh yang disegani karena kedalaman ilmunya dan konon Apa yang dilakukan Nabi Muhammad di Madinah karena beberapa karomah yang dimilikinya. Menurut ini menginspirasi Umar ibn Khattab untuk membuat Muhammad ibn Ja’far ibn al-Zubair, ketika rombongan traktat serupa di Yerusalem, dikenal dengan “Piagam itu sampai di Madinah, mereka langsung menuju Aelia”, ketika Islam menguasai wilayah ini. Piagam mesjid tatkala Nabi melaksanakan shalat ashar bersama ini berisi jaminan keselamatan dari penguasa Islam para sahabatnya. Mereka datang dengan memakai terhadap penduduk Yerusalem, yang beragama non- jubah dan surban, pakaian yang juga lazim dikenakan Islam sekalipun. Salah satu penggalan paragrafnya Muhammad SAW. Ketika waktu kebaktian telah tiba, berbunyi: mereka pun tak mencari gereja. Nabi Muhammad memperkenankan rombongan melakukan kebaktian “Inilah jaminan keamanan yang diberikan Abdullah, atau sembahyang di dalam mesjid. Umar, Amirul Mukminin kepada penduduk Aelia: Ia menjamin keamanan mereka untuk jiwa dan harta Hal yang sama juga dilakukan Nabi pada kalangan mereka, dan untuk gereja-gereja dan salib-salib mereka, Yahudi. Ketika pertama sampai di Madinah, Nabi dalam keadaan sakit maupun sehat, dan untuk agama membuat konsensus untuk mengatur tata hubungan mereka secara keseluruhan. Gereja-gereja mereka tidak antara kaum Yahudi, Musyrik Madinah, dan Islam. akan diduduki dan tidak pula dirusak, dan tidak akan Traktat politik itu dikenal dengan “Piagam Madinah” dikurangi sesuatu apapun dari gereja-gereja itu dan atau “Miytsâq al-Madînah”, dibuat pada tahun pertama tidak pula dari lingkungannya, serta tidak dari salib hijriyah. Sebagian ahli berpendapat bahwa Piagam mereka, dan tidak sedikitpun dari harta kekayaan Madinah itu dibuat sebelum terjadinya perang Badar. mereka (dalam gereja-gereja itu). Mereka tidak akan Sedang yang lain berpendapat bahwa Piagam itu dibuat dipaksa meninggalkan agama mereka, dan tidak setelah meletusnya perang Badar. Piagam ini memuat seorang pun dari mereka boleh diganggu”. 47 pasal. Pasal-pasal ini tak diputuskan sekaligus. Menurut Ali Bulac, 23 pasal yang pertama diputuskan Muhammad Rasyîd Ridlâ menuturkan bahwa Umar ketika Nabi baru beberapa bulan sampai di Madinah. ibn Khattab pernah mengangkat salah seorang stafnya Pada saat itu, Islam belum menjadi agama mayoritas. dari Romawi. Ini juga dilakukan Utsman ibn Affan, Berdasarkan sensus yang dilakukan ketika pertama Ali ibn Abi Thalid, raja-raja Bani Umayyah hingga kali Nabi berada di Madinah itu, diketahui bahwa suatu waktu Abdul Malik ibn Marwan menggantikan jumlah umat Islam hanya 1.500 dari 10.000 penduduk staf orang Romawi ke orang Arab. Daulah Abbasiyah Madinah. Sementara orang Yahudi berjumlah 4000 juga banyak mengangkat staf dari kalangan Yahudi, orang dan orang-orang Musyrik berjumlah 4.500 Nashrani, dan Shabiun. Daulah Utsmaniyah juga orang. mengangkat duta besar di negara-negara asing dari kalangan Nashrani Dikatakan dalam piagam tersebut misalnya bahwa — 40 —
  • 50.
    « Di kala yanglain, hubungan umat Islam dengan kediamannya, maka umat Islam diijinkan membela diri umat agama lain itu tegang bahkan keras. Islam dan melawan. Setelah kurang lebih 13 tahun lamanya pernah berkonflik dengan Yahudi, juga dengan Nabi dan umatnya bersabar menghadapi ketidakadilan Kristen. Sejauh yang bisa dipantau, sikap tegas dan dan penyiksaan di Mekah, maka baru pada tahun ke 15 keras yang ditunjukkan al-Qur`an lebih merupakan ketika Nabi sudah berada di Madinah perlawanan dan reaksi terhadap pelbagai penyerangan orang-orang pembelaan diri dilakukan. Dalam konteks itulah, ayat- non-Muslim dan orang-orang Musyrik Mekah. ayat perang dan jihad militer diperintahkan. Islam bukanlah agama yang memerintahkan umat Islam untuk menyerahkan pipi kiri ketika pipi kanan Oleh karena itu, jelas bahwa pandangan al-Qur’an ditampar. Membela diri dan melawan ketidakadilan terhadap umat agama lain dalam soal ekonomi-politik dibenarkan. Dalam konteks itulah, ayat jihad dan bersifat kondisional dan situasional sehingga tak bisa perang dalam al-Qur`an diturunkan. Jihad melawan diuniversalisasikan dan diberlakukan dalam semua keganasan orang-orang Musyrik dan Kafir Mekah tak keadaan. Ayat demikian bisa disebut sebagai ayat-ayat dilarang, bahkan diperintahkan. Sebab, orang-orang fushul (fushûl al-Qur’ân), ayat juz’iyyât, atau fiqh Musyrik Mekah bukan hanya telah mengintimidasi al-Qur’an. Ayat-ayat kontekstual seperti itu, dalam umat Islam, tetapi juga mengusir umat Islam dari pandangan para mufasir, tak bisa membatalkan ayat- kediamannya. ayat yang memuat prinsip-prinsip umum ajaran Islam, seperti ayat yang menjamin kebebasan beragama dan Fakta ini membenarkan sebuah pandangan bahwa berkeyakinan. Tambahan pula, ayat lâ ikrâha fî al-dîn peperangan pada zaman Nabi dipicu karena persoalan adalah termasuk lafzh `âm (pernyataan umum) yang ekonomi-politik daripada soal agama atau keyakinan. menurut ushul fikih Hanafi adalah tegas dan pasti Ini bisa dimaklumi karena al-Qur’an sejak awal (qath`i), sehingga tak bisa dihapuskan (takhshish, mendorong terwujudnya kebebasan beragama dan naskh) oleh ayat-ayat kontekstual apalagi hadits ahâd berkeyakinan. Al-Qur’an tak memaksa seseorang (seperti hadits yang memerintahkan membunuh orang memeluk Islam. Allah berfirman (QS, al-Baqarah pindah agama) yang dalâlahnya adalah zhanni (relatif ). [2]: 256), lâ ikrâha fî al-dîn (tak ada paksaan dalam Ayat lâ ikrâha fî al-dîn bersifat universal, melintasi soal agama). Di ayat lain (QS, al-Kafirun [106]: 6) ruang dan waktu. Ayat yang berisi nilai-nilai umum disebutkan, lakum dinukum wa liya dini [untukmulah ajaran disebut sebagai ayat ushûl (ushûl al-Qur’ân) atau agamamu, dan untukkulah agamaku]. Al-Qur’an ayat kulliyât. memberikan kebebasan kepada manusia untuk beriman dan kafir [Faman syâ’a falyu’min waman syâ’a falyakfur] Dalam masyarakat plural seperti Indonesia, saatnya (QS, al-Kahfi [18]: 29). Al-Qur’an melarang umat umat Islam lebih memperhatikan ayat-ayat universal, Islam untuk mencerca patung-patung sesembahan setelah sekian lama memfokuskan diri pada ayat-ayat orang-orang Musyrik. Al-Qur’an tak memberikan partikular. Ayat-ayat partikular pun kerap dibaca sanksi hukum apapun terhadap orang Islam yang dengan dilepaskan dari konteks umum yang melatar- murtad. Seakan al-Qur’an hendak menegaskan bahwa belakangi kehadirannya. Berbeda dengan ayat-ayat soal pindah agama merupakan soal yang bersangkutan partikular, ayat-ayat universal mengandung pesan- dengan Allah. Tuhan yang akan memberikan keputusan pesan dan prinsip-prinsip umum yang berguna untuk hukum terhadap orang yang pindah agama, kelak membangun tata kehidupan Indonesia yang damai. di akhirat. Sejarah mencatat, Rasulullah tak pernah menghukum bunuh orang yang pindah agama. Untuk membangun Indonesia yang damai tersebut, maka beberapa langkah berikut perlu dilakukan. Penutup Pertama, harus dibangun pengertian bersama dan mencari titik temu (kalimat sawa`) antar umat Bisa dikatakan, relasi sosial-politik umat Islam beragama. Ini untuk membantu meringankan dengan umat agama lain sangat dinamis. Sikap Islam ketegangan yang kerap mewarnai kehidupan umat terhadap umat lain sangat tergantung pada penyikapan beragama di Indonesia. Dalam konteks Islam, mereka terhadap umat Islam. Jika umat non-Islam membangun kerukunan antar-umat beragama jelas memperlakukan umat Islam dengan baik, maka tak membutuhkan tafsir al-Qur’an yang lebih menghargai ada larangan bagi umat Islam berteman dan bersahabat umat agama lain. Tafsir keagamaan eksklusif yang dengan mereka. Sebaliknya, sekiranya mereka bersikap cenderung mendiskriminasi umat agama lain tak cocok keras bahkan hingga mengusir umat Islam dari tempat buat cita-cita kehidupan damai, terlebih di Indonesia. — 41 —
  • 51.
    « Sebab, sudah maklum,Indonesia adalah negara bangsa yang didirikan bukan hanya oleh umat Islam, tetapi juga oleh umat lain seperti Hindu, Budha, dan Kristen. Dengan demikian, di Indonesia tak dikenal warga negara kelas dua (kafir dzimmi) sebagaimana dikemukakan sebagian ulama. Menerapkan tafsir- tafsir keagamaan eksklusif tak cukup menolong bagi terciptanya kerukunan dan kedamaian Kedua, setiap orang perlu menghindari stigmatisasi dan generalisasi menyesatkan tentang umat agama lain. Generalisasi merupakan simplifikasi (penyederhanaan) dan stigmatisasi adalah merugikan orang lain. Al- Qur’an berusaha untuk menjauhi generalisasi. Al- Qur’an menyatakan, tak seluruh Ahli Kitab memiliki perilaku dan tindakan sama. Di samping ada yang berperilaku jahat, tak sedikit di antara mereka yang konsisten melakukan amal saleh dan beriman kepada Allah. Ketiga, sebagaimana diperintahkan al-Qur’an dan diteladankan Nabi Muhammad, umat Islam seharusnya memberikan perlindungan dan jaminan terhadap implementasi kebebasan beragama dan berkeyakinan. Sebagaimana orang Islam bebas menjalankan ajaran agamanya, begitu juga dengan umat dan sekte lain. Seseorang tak boleh didiskriminasi dan diekskomunikasi berdasarkan agama yang dipilih dan diyakininya. Dalam kaitan ini, umat Islam perlu mengembangkan sikap toleran, simpati dan empati terhadap kelompok atau umat agama lain.[] — 42 —
  • 52.
    « 26/01/2009 Menyambut Ultah NU ke 83 NU dan Passing Over Pemikiran Oleh Abd Moqsith Ghazali Gerakan purifikasi itu dikeluhkan dan ditentang para kiai pesantren karena potensial merubuhkan jenis-jenis keislaman lokal nusantara. Bagi para kiai, tak ada Islam murni dan tak murni. Islam selalu berwatak lokal dan pribumi. Dengan memodifikasi pernyataan Junaid al-Baghdadi (w. 297 H.), para kiai berpendirian bahwa Islam itu warna-warni.Yang menjadi perekat dari berbagai ekspresi keislaman itu, menurut para kiai, adalah nilai-nilai dasar dari agama itu (maqashid al-syari`at). 8 sebagai organisasi sosial keagamaan (jam`iyah 3 tahun lalu (31/1/1926), Nahdlatul Ulama berdiri Di Indonesia juga sama. Ada Islam Aceh, Islam Minangkabau, di samping Islam Sasak dan Islam Jawa. diniyah ijtima`iyah). Kehadirannya saat itu memiliki Di Jawa pun, ekspresi keislaman bisa dibedakan antara beberapa tujuan pokok, di antaranya: Pertama, pesisir utara Jawa yang cenderung ortodoks dan pesisir menahan laju purifikasi Islam yang digelorakan selatan Jawa yang lebih heterodoks. Kita bisa melihat beberapa tokoh Wahabi Indonesia. Gerakan purifikasi tampilan keislaman di utara Jawa mulai dari Banten, itu dikeluhkan dan ditentang para kiai pesantren Cirebon, Pekalongan, Rembang, Tuban, Surabaya, karena potensial merubuhkan jenis-jenis keislaman Pasuruan, hingga Situbondo yang berbeda dengan lokal nusantara. Bagi para kiai, tak ada Islam murni dan karakter keislaman selatan Jawa mulai dari Yogyakarta, tak murni. Islam selalu berwatak lokal dan pribumi. Kebumen, Magelang, Ngawi, Blitar, Pacitan, Lumajang Dengan memodifikasi pernyataan Junaid al-Baghdadi hingga Banyuwangi. Sadar akan pluralitas itu, NU tak (w. 297 H.), para kiai berpendirian bahwa Islam itu punya ambisi untuk merangkum kaum nahdliyyin warna-warni. La lawna lahu. Walawnuhu lawna ina’ihi. ke dalam satu cluster pemikiran yang ekslusif. Yang menjadi perekat dari berbagai ekspresi keislaman Warga NU hingga hari ini dibiarkan dengan segala itu, menurut para kiai, adalah nilai-nilai dasar dari keanekaragamannya. Sekali lagi, yang menjadi semen agama itu (maqashid al-syari`at). perekatnya adalah maqashid al-syari`at. Fakta antropologis, sosiologis, dan intelektual Kedua, NU berdiri untuk mengedukasi masyarakat menunjukkan bahwa pernah ada Islam Hijaz dan agar tak fanatik pada salah satu mazhab pemikiran. Islam Persia. Jika Islam Hijaz bersandar pada kekuatan Dalam Statuten Perkoempoelan Nahdlatul Ulama pasal dalil normatif al-Qur’an dan Hadits (dalil naqli), 2 disebutkan tentang tujuan berdirinya NU, “Adapoen maka Islam Persia secara umum bertunjang pada maksoed perkoempoelan ini jaitoe memegang dengan kekuatan akal (dalil aqli). Sejumlah pengamat masih tegoeh satoe dari mazhabnja imam empat jaitoe Imam mengkategorikan Islam Persia ke dalam dua corak; Moehammad bin Idris asj-Sjafi’i, Imam Malik bin Islam Kufah dan Islam Bashrah Sekiranya Islam Anas, Imam Aboe Hanifah An-Ne’man, atoe Imam Kufah berparadigma formalistik-rasionalistik dengan Ahmad bin Hanbal, dan mengedjakan apa saja yang tokohnya misalnya Ibrahim al-Nakha`i (w. 95 H.), mendjadikan kemaslahatan agama Islam”. Artinya, di Masruq al-Hamdani (w. 63 H.), maka Islam Bashrah tengah masyarakat yang hanya bersandar pada mazhab beraroma sufitik-spiritual dengan tokohnya Hasan Syafi’i saat itu, NU membuka ruang bagi diikutinya al-Bashri (w. 110 H.) dan Rabi`ah al-Adawiyah (w. mazhab lain bahkan yang dikenal rasional sekalipun 185 H.). Jika rasionalisme para ulama di Kufah seperti Imam Abu Hanifah. dipandang sebagai respons positif atas filsafat Yunani yang berkembang di sana, maka asketisme Hasan al- Kini sejumlah kiai NU melakukan passing over Bashri dan eskapisme Rabi`ah ditempuh sebagai kritik pemikiran. Dalam berbagai kegiatan ilmiah dan terhadap hedonisme yang menghunjam di Bashrah. bahtsul masa’il, mereka tak hanya mengutip para imam — 43 —
  • 53.
    « mazhab dari rumpunkeislaman Sunni, melainkan juga dari kelompok lain seperti Mu`tazilah dan Syi`ah. Sejumlah kiai merujuk pada tafsir al-Zamakhsyari yang berhaluan Mu`tazilah dan fikih Ja`fari yang Syi`ah. Di beberapa pesantren, tafsir al-Kasysyaf yang ditulis al-Zamakhsyari dipelajari secara khusus oleh para santri. Saya juga berjumpa dan kenal dengan beberapa kiai NU yang secara diam-diam melahap buku-buku keislaman progresif yang ditulis misalnya oleh Hassan Hanafi, Mohamed Arkoen, Nashr Hamid Abu Zaid, Muhammad Syahrur, dan Khalil Abdul Karim. Dalam soal pemikiran keislaman, sikap para kiai NU clear- cut; “lihat apa yang dikatakan bukan siapa yang mengatakan” (unzhur ma qala wa la tanzhur man qala). Kesahihan sebuah pemikiran tak diukur dari siapa yang mengatakannya, tapi apa yang dikatakannya—seperti apa argumennya dan bagaimana kemanfaatannya. Seperti disebutkan di ujung terakhir pasal 2 Statuten Perkoempoelan NU itu, kemasalahatan adalah jangkar dari seluruh diskursus keislaman dalam NU. Pandangan ini tak asing. Sebab, mayoritas ulama Islam memang berpendirian demikian. Izz al-Din Ibn Abdi al-Salam (w. 660 H.) misalnya berkata, “seluruh ketentuan dan ajaran di dalam Islam dikembalikan sepenuhnya kepada kemaslahatan” (innama al-takalif kulluha raji`atun ila mashalih al-`ibad fi dunyahum wa ukhrahum). Akhirnya, basis kemaslahtan inilah yang menjadi parameter keabsahan sebuah pemikiran dalam Islam dan ini juga yang terus mendinamisasi pemikiran dalam tubuh Nahdlatul Ulama, dari dulu hingga sekarang. Selamat Ulang Tahun NU yang ke 83. [] — 44 —
  • 54.
    « 02/09/2008 Teologi Ramadan dan Kerukunan Antar-Umat Oleh Abdul Moqsith Ghazali Orang yang gagal dalam puasa adalah mereka yang telah menjalankan ibadah puasa tapi tetap melakukan kekerasan sekalipun dengan basis dan argumen agama. Saya percaya, semakin banyak umat Islam yang khusuk dalam berpuasa, maka semakin berkurang jumlah kekerasan dan konflik yang menyertakan umat beragama. Ramadan adalah titik terpenting bagi upaya peningkatan toleransi dan kerukunan intra dan antar-umat beragama. H pertama puasa Ramadan. Sebagaimana tahun- Artikel ini sebelumnya telah dimuat di Media Indonesia, tanggal 1 September 2008 ari ini umat Islam Indonesia memasuki hari menetapkannya sebagai salah satu sunnahku. Maka, barangsiapa yang menjalankan ibadah puasa dengan tahun sebelumnya, mereka menyambut bulan suci itu keimanan penuh, maka Allah akan menghapus dosa- dengan beragam cara; mulai dari sekedar mengirim sms dosanya seperti seorang anak yang baru keluar dari (layanan pesan cepat) permintaan maaf ke sejumlah rahim ibundanya”. kolega hingga membentang spanduk dan poster yang berisi ucapan selamat atas datangnya bulan yang sarat Hadits lain menyebutkan bahwa minggu pertama berkah itu (syahr mubarak). Bahkan, perempuan bulan Ramadhan adalah minggu ampunan atas dosa- yang tak lazim menggunakan jilbab pun mengisi dosa. Tentu saja, dosa yang akan diampuni itu hanyalah Ramadan dengan busana yang membalut seluruh dosa yang terkait antaranya dirinya dengan Allah tubuh. Di mana-mana kita menyaksikan orang-orang (hablun min Allah). Sementara dosa privat terhadap memakai baju koko sehingga tampak lebih islami dan sesama manusia tak bisa diampuni kecuali terlebih religius. Tabung televisi yang semula mengandung dahulu meminta maaf kepada yang bersangkutan. Itu pertunjukan dangkal makna tiba-tiba berubah dengan sebabnya, ketika mau memasuki Ramadan, maka SMS spiritualisme. Layar kaca penuh dengan siraman dan surat permintaan maaf itu banyak dilakukan umat ruhani. Mesjid-mesjid serta mushalla semarak dengan Islam. Namun, penting ditekankan, dosa publik seperti kultum (kuliah tujuh menit) dari para ustadz. Suasana korupsi bisa terampunkan sekiranya sebuah sanksi itu kian menebalkan kesan bahwa umat Islam sedang hukum telah dijatuhkan untuk si koruptur tersebut. berada dalam “peristiwa spiritual” yang dahsyat. Menurut para ahli fikih Islam, tindakan korupsi tak Tampaknya mereka sedang meresapi sebuah hadits diampuni hanya dengan menjalankan ibadah puasa yang menyebutkan, “barang siapa yang bersuka cita Ramadhan. dengan kehadiran bulan Ramadan, maka Allah akan mengharamkan tubuh yang bersangkutan tersentuh Kedua, bahwa Ramadhan juga membakar perut yang api neraka” (man fariha bi dukhuli Ramadlan harrama sedang berpuasa. Selama berpuasa umat Islam tak Allah jasadahu `ala al-niyran). diperbolehkan makan dan minum serta hal-hal lain yang membatalkan puasa semenjak terbit fajar hingga Bagi umat Islam, puasa yang wajib adalah puasa terbenam matahari. Dengan berpuasa, orang kaya sepanjang bulan Ramadan. Secara etimologis, yang tak pernah lapar ikut merasakan kelaparan yang Ramadhan sendiri berarti terik, panas, terbakar. Ini senantiasa mendera hari demi hari orang miskin di mengandung beberapa pengertian. Pertama, bahwa luar Ramadhan. Karena itu, di bulan Ramadhan umat Ramadhan akan membakar dosa seseorang pada Tuhan. Islam diperintahkan untuk mengeluarkan zakat fitrah Itu sebabnya, bulan Ramadhan disebut sebagai bulan yang diperuntukkan terutama buat kaum fakir dan ampunan (syahrul maghfirah). Nabi Muhammad miskin. Menurut Abu Hanifah, zakat fitrah tak harus bersabda, “sesungguhnya Allah telah mewajibkan diberikan kepada sesama muslim, melainkan juga umat Islam berpuasa di bulan Ramadan, dan saya bisa diberikan kepada orang-orang non-muslim yang — 45 —
  • 55.
    « fakir dan miskin.Bahkan, al-Mahdawi berpendapat berpuasa pada hari Asyura hingga turun perintah bahwa dibolehkan bagi umat Islam untuk memberikan yang mewajibkan umat Islam berpuasa di bulan zakat kepada orang Musyrik yang miskin. Inilah saya Ramadan. Dikisahkan, puasa pada hari Asyura ini kira salah satu makna dari Islam sebagai rahmatan lil dilakukan Nabi sebagai bukti penghargaan terhadap alamin. kaum Yahudi dan terhadap Nabi Musa. Itu berarti bahwa puasa merupakan ibadah lintas agama. Puasa Ketiga, bahwa Ramadhan potensial membakar juga mengandung makna penghargaan terhadap umat hawa nafsu duniawi orang yang berpuasa. Dengan agama lain. demikian, orang yang menjalankan ibadah puasa bukan orang yang rakus dan tamak. Ia bisa menahan Dengan demikian, umat Islam yang sukses dalam diri dari kecenderungan hedonistik. Sebab, kita semua menjalankan ibadah puasa adalah mereka yang kian mengerti bahwa makin tingginya angka korupsi toleran dan respek terhadap umat agama lain. Orang dan penyelewengan di negeri ini bukan karena para yang berpuasa tak akan membakar rumah ibadah umat pelakunya lapar dan miskin, melainkan karena rakus agama lain dan tak menghancurkan mesjid orang-orang dan tamak. Para pejabat tinggi masih korupsi walau Islam yang dianggap menyimpang. Jika dieksplisitkan, gajinya berpuluh juta rupiah. Ramadan mendidik kita orang yang gagal dalam puasa adalah mereka yang untuk tak terus memperturunkan keserakahan dan telah menjalankan ibadah puasa tapi tetap melakukan ketamakan. Orang bijak nan arif berkata, kekayaan kekerasan sekalipun dengan basis dan argumen agama. bumi Indonesia cukup untuk memenuhi kebutuhan Saya percaya, semakin banyak umat Islam yang seluruh warganya, tapi tak memadai untuk menuruti khusuk dalam berpuasa, maka semakin berkurang keinginan dan nafsu satu orang penghuninya. jumlah kekerasan dan konflik yang menyertakan umat beragama. Ramadan adalah titik terpenting bagi upaya Puasa dan Kerukunan peningkatan toleransi dan kerukunan intra dan antar- umat beragama. Apa sebenarnya makna puasa bagi umat Islam Indonesia dan negeri Indonesia yang plural ini? Semua Akhirnya, walau yang melakukan ibadah puasa pelajar Islam tahu, al-Qur’an menegaskan bahwa Ramadhan itu hanya umat Islam, sudah semestinya ibadah puasa tak murni dari Islam. Para ulama ushul yang ikut merasakan efek positif dari puasa Ramadan fikih memasukkan puasa ke dalam salah satu ajaran adalah seluruh warga bangsa di Indonesia ini. Selamat yang didasarkan pada syariat pra-Islam (syar`u man menunaikan ibadah puasa Ramadan 1429 H. [] qablana). Sebab, umat-umat sebelumnya memang sudah biasa menjalankan puasa untuk mencapai derajat ketakwaan. Allah berfirman dalam al-Qur’an, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa”. Imam Al- Quthubi dalam bukunya al-Jami` li Ahkam al-Qur’an (Juz I, hlm. 672) menyatakan bahwa umat Nabi Nuh, Nabi Musa, dan Nabi Isa telah mempraktekkan ibadah puasa, walau dengan waktu dan tata cara yang mungkin berbeda dengan yang dilaksanakan umat Islam. Satu bukti, dalam Perjanjian Baru misalnya disebutkan, “Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik..” (Matius: 6:16). Sebuah hadits sahih menyebutkan, ketika pertama kali datang ke Madinah, Nabi mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. (Shahih Bukhari, hadits ke 3942 dan 3943). Hadits lain menyebutkan, orang-orang Quraisy sebelum Islam terbiasa melakukan puasa Asyura. Dan Nabi memerintahkan umat Islam — 46 —
  • 56.
    « 16/04/2007 Dari Kartini Sampai Feminis Islam: Menyambut Hari Kartini 21 April 2007 Oleh Abd Moqsith Ghazali Yang tak kalah spektakuler adalah gerakan sekelompok feminis Muslim yang merumuskan Counter Legal Draft (CLD) terhadap Kompilasi Hukum Islam (KHI) hasil produk Inpres No.1 tahun 1991. Bagi mereka, KHI masih mengidap cara pandang dan filosofi patriakrhi. Karena itu, perlu revisi agar selaras dengan semangat Islam yang menuntut keadilan dan kesetaraan. P erjuangan keadilan dan kesetaraan gender di Aisyi’ah Muhammadiyah, dan Muslimat NU. Ini negeri ini telah berlangsung lama, sejak sebelum berlangsung antara akhir 1920-an hingga akhir Indonesia merdeka hingga era reformasi. Tokoh-tokoh 1950-an. Isu yang berkembang masih sama dengan dan isunya pun beragam. Jika dikategorisasi secara sebelumnya, yaitu emansipasi perempuan di pelbagai periodik, gerakan feminisme Indonesia punya empat bidang, termasuk penolakan poligami, pembenahan gelombang. pendidikan, dan sebagainya. Pertama, dirintis oleh individu-individu yang tak Organisasi perempuan Muhammadiyah, Aisyi’ah, terlembaga dan terorganisasi secara sistemik. Mereka cukup gencar menyuarakan pentingnya perempuan bergerak sendiri-sendiri. Mungkin karena hambatan mengambil bagian di ruang publik, karena mereka dan keterbatasan, perempuan sekuler seperti RA punya hak yang setara dengan laki-laki untuk Kartini, tak bersinergi dengan perempuan Muslim meningkatkan kualitas diri. Cukup mengagetkan, dalam memperjuangkan hak-hak perempuan. Muslimat NU—yang dikenal tradisional—dalam sebuah konferensi di Surabaya (1930-an) mulai Periode ini berlangsung senjak akhir abad ke-19 dan mendesak agar perempuan dibolehkan memasuki awal abad ke-20. Tokoh-tokoh perempuan Muslim lembaga-lembaga politik. yang muncul pada periode ini, antara lain Rohana Kuddus (Minangkabau), Rahmah el-Yunusiyah, dan Desakan Muslimat NU ini dikukuhkan konferensi lain-lain. Mereka telah mendirikan pesantren khusus besar Syuriah NU (1957) di Solo yang membolehkan perempuan (ma’had li al-banat). Di pesantren, remaja- perempuan menjadi anggora parlemen. Pada periode remaja puteri diajari baca-tulis. Telah disadari, belajar ini, undang-undang keluarga pertama lahir: UU No. membaca dan menulis bukan hanya hak khusus kaum 22 tahun 1946. Salah satu pasalnya menyebut bahwa laki-laki. perkawinan, perceraian, dan rujuk harus dicatatkan. Penubuhan gagasan ke dalam sebuah undang- Tokoh-tokoh perempuan saat itu bukan hanya undang, sungguh terobosan baru. Ketiga, emansipasi menuntut perbaikan pendidikan perempuan, tapi perempuan dalam pembangunan nasional yang juga telah menggugat praktek poligami, pernikahan berlangsung sejak 1960-an hingga 1980-an. Dengan dini, dan perceraian yang sewenang-wenang. Gerakan makin baiknya pendidikan perempuan, sejumlah individual yang baru dalam tahap rintisan ini tak bisa perempuan mulai terlibat dalam proses pembangunan diharapkan punya pengaruh signifikan. Perjuangan yang digalakkan Orde Baru. Perempuan bukan hanya mereka seperti berteriak di tengah belantara dunia diakui kemampuannya, tapi juga diajak aktif dalam patriakhi. mengisi pembangunan. Kedua, institusionalisasi gerakan dengan munculannya Ada banyak tokoh perempuan Islam yang lahir pada organisasi-organisasi perempuan seperti Persaudaraan periode ini, misalnya Zakiah Drajat. Ormas keagamaan Isteri, Wanita Sejati, Persatuan Ibu, Puteri Indonesia, tradisonal seperti NU memasukkan perempuan dalam — 47 —
  • 57.
    « komposisi Syuriah NU,seperti Nyai Fatimah, Nyai Yang menarik, tak seperti periode sebelumnya, Mahmudah Mawardi, Nyai Khoriyah Hasyim. Ini tak gelombang terakhir ini tak lagi diurus kaum lazim dan tak ada presedennya dalam sejarah NU. perempuan per se, tapi juga disokong secara moral- intelektual oleh feminis laki-laki, seperti (alm.) Hanya saja, gerakan perempuan pada periode ini belum Mansoer Fakih, Nasaruddin Umar, Budhy Munawar- maksimal. Perempuan cenderung tidak proaktif dalam Rachman, dan KH Husein Muhammad. Kehadiran proses-proses tersebut. Ini mungkin karena jumlah mereka ikut menambah amunisi bagi kokohnya yang terlibat masih terbatas. Namun yang perlu dicatat, gerakan perempuan di Indonesia. pada periode ini telah lahir Undang-Undang No. 1 tahun 1974 tentang Hukum Perkawinan. Kiai Husein yang datang dari lingkungan pesantren, sebuah institusi yang selama ini dianggap sebagai Di dalam Undang-Undang ini, poligami makin lumbung konservasi teologi patriakhi, menulis dibatasi. Laki-laki tak bisa mempraktekkan poligami sejumlah buku penguatan dan advokasi perempuan tanpa mendapat ijin isteri. Pengetatan poligami ini dari perspektif fikih. sempat mengundang polemik tajam dalam tubuh umat Islam. Keempat, diversifikasi gerakan hingga ke level Kini generasi di bawah mereka sudah siap menyangga terbawah seperti pesantren. Ini berlangsung antara dengan perlengkapan intelektual yang mumpuni dan 1990-an hingga sekarang. Pada era ini terjadi sinergi integritas diakui, seperti Faqihuddin Abdul Kodir, antara feminis sekular dan feminis Islam. Feminis Marzuki Wahid, Syafiq Hasyim, Badriyah Fayumi, sekular seperti Saparinah Sadli, Wardah Hafidz, Masruchah, dan lain-lain. Tokoh-tokoh muda yang Nursyahbani Katjasungkana, Yanti Mukhtar dan Gadis rata-rata lahir tahun 1970-an ini punya dedikasi tinggi Arivia, yang punya hambatan teologis dalam gerakan, bagi tegaknya keadilan dan punahnya diskriminasi di mendapat injeksi moral- keagamaan dari para feminis negeri ini.[] Muslim. Begitu juga sebaliknya; para feminis Muslim mendapat pengayaan wacana dari tokoh-tokoh feminis sekuler. Mereka berjejaring dan bersinergi dalam memperjuangkan hak-hak perempuan. Muara yang hendak dituju sama, yaitu penguatan civil society, demokratisasi, dan penegakan HAM, termasuk keadilan dan kesetaraan gender. Prestasi yang perlu dicatat pada periode ini adalah lahirnya UU No.23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. UU ini menegaskan bahwa kekerasan bukan hanya fisik, tapi juga psikis, seksual, atau penelantaran (Bab III pasal 5). Yang tak kalah spektakuler adalah gerakan sekelompok feminis Muslim yang merumuskan Counter Legal Draft (CLD) terhadap Kompilasi Hukum Islam (KHI) hasil produk Inpres No.1 tahun 1991. Bagi mereka, KHI masih mengidap cara pandang dan filosofi patriakrhi. Karena itu, perlu revisi agar selaras dengan semangat Islam yang menuntut keadilan dan kesetaraan. Para feminis Muslim yang fenomenal dalam gelombang ini, antara lain Sinta Nuriyah Wahid, Lies Marcoes- Natsir, Farha Cicik, Siti Musdah Mulia, Maria Ulfa Anshar, dan Ruhainy Dzuhayatin. — 48 —
  • 58.
    « 01/10/2006 Kultur Takfir Oleh Abd Moqsith Ghazali Rupanya mentalitas arkaik dengan mengkafirkan dan menghujat orang lain itu tak surut dalam fenomena keberislaman kita kontemporer. Bahkan ia tampak cenderung menaik. Keberislaman Indonesia juga kian terkotori kabut kelam pengkafiran. I perbedaan di dalam memahami agama dan khtilaf lazim diartikan sebagai perbedaan, termasuk bermadzhab Hanafi menulis kitab al-Mabsuth-nya di ruang penjara. Orang sealim al-Nu’man bin Tsabit menafsirkan kitab suci. Dan Islam adalah salah satu Abu Hanifah (w. 150 H./767 M.) yang kini pendapat- agama yang menghargai perbedaan. Sebuah pernyataan pendapatnya diikuti banyak orang, dulu oleh sebagian populer menyebutkan bahwa perbedaan adalah rahmat ulama dipandang menyesatkan. (ikhtilâf al-a`immah rahmah). Khalifah Umar bin Abdul Aziz pernah berkata, “ma yasurruni lau anna Ibnu Hibban al-Busti dalam al-Majruhin min ummata muhammadin lam yakhtalifû (saya senang al-Muhaddisin wa al-Dhu’afa` wa al-Matrukin kalau umat Muhammad berbeda pendapat).” menyatakan bahwa Abu Hanifah tak lebih dari seorang penyeru bid’ah dan kafir. Abu Hanifah pernah Indahnya perbedaan pendapat itu menginspirasi Abi didesak untuk mencabut sejumlah pendapatnya dan Abdillah Muhammad bin Abdirrahman al-Dimasyqi segera bertobat dari kekufuran. Bukan hanya Abu untuk memberi judul bukunya dengan Rahmatul Hanifah, Al-Busti pun mengkafirkan ulama-ulama lain; Ummah fiy Ikhtilâf al-A`immah (Keuntungan Umat Muhammad bin Hasan al-Syaibani (189 H./802 M.) dari Perbedaan Para Imam). dianggap sebagai penyebar kebohongan dan bukan seorang ahli fikih. Muqatil bin Sulaiman al-Balkhi Namun, lain yang diidealkan lain pula yang (w. 150H./767M.) dianggap sebagai orang fasiq dan dilaksanakan. Perbedaan kerap berakhir dengan fajir. Padahal, kata Imam Syafi’ie (w. 204 H./820 M.), kekerasan. Sebagian ulama yang menyampaikan sejauh menyangkut soal tafsir, kita ini adalah anak-anak tafsir keagamaan berbeda dipersonanongratakan, yang bergantung pada Muqatil. dipenjarakan, dipukul, disiksa, dicaci-maki, dan buku- bukunya dibakar. Ibnu Jarir Al-Thabari (w. 310 H./923 Rupanya mentalitas arkaik dengan mengkafirkan dan M.) menjalani sebagian hidupnya dalam penderitaan menghujat orang lain itu tak surut dalam fenomena karena disiksa oleh pengikut fanatik Ahmad bin keberislaman kita kontemporer. Bahkan ia tampak Hanbal. cenderung menaik. Keberislaman Indonesia juga kian terkotori kabut kelam pengkafiran. Cak Nur terus Orang yang mau mengunjungi kediaman Thabari dihujat dan dikafirkan sekalipun ia sudah meninggal diancam. Buku-bukunya dihanguskan. Kitab tafsir satu tahun yang lalu. buah karyanya, Jâmi’ al-Bayân fiy Ta`wil al-Qur`an, dianggap sebagai sampah karena dinilai mengandung Gus Dur jelas; di sejumlah tempat ia dihujat dan cerita-cerita israiliyat. Kitab tafsir tersebut lalu dibakar darahnya dihalalkan. Tapi, biasanya ia melawan bersamaan dengan buku-bukunya yang lain. Tak puas kemudian tak peduli. Gus Dur adalah tipe kyai yang la sampai di situ, kuburan Thabari pun kerap dilempari yakhafu lawmata la`im (tak gentar dengan cemoohan kotoran. Namun, kini semua umat Islam tahu bahwa orang lain ketika menyatakan pendapat). tafsir al-Thabari adalah tafsir yang sahih. Apa yang dahulu dipandang sebagai sampah telah dipandang Saya mulai mendengar, sekelompok orang gencar sebagai sesuatu yang penting. menghujat para kiai yang menolak perda syari’at dan bentuk-bentuk formalisasi syari’at Islam lainnya. Abu Hayyan al-Tawhidi (w. 414 H./1023 M.) Memang, bagi para kiai itu, fikih cukup dijadikan juga pernah disiksa sepanjang hayat. Abu Bakar al- sebagai etika sosial dan bukan sebagai hukum Sarakhshi (w. 483 H./1090 M.) salah seorang ahli fikih positif negara. Atas pandangannya itu sejumlah kiay — 49 —
  • 59.
    « menuai caci maki.Di mata para pemaki itu, menolak formalisasi syari’at Islam sama saja dengan mengapkir syari’at Islam. Betapa merisaukannya kultur takfir ini. Ia telah menjadi benalu yang mengganggu tumbuh-suburnya semangat Islam yang rahmatan lil alamin. Benalu itu tentu tak menyehatkan. Karenanya, pada hemat saya, tradisi pengkafiran tersebut sudah waktunya segera dihentikan dan dicabut dari tubuh umat Islam. [] — 50 —
  • 60.
    « 05/02/2006 Wahabisasi “Islam-Indonesia” Oleh Abd Moqsith Ghazali Gerakan untuk mewahabikan umat Islam Indonesia tidak bisa ditutup-tutupi lagi. Para aktivis wahabisme cukup agresif dalam mengkampanyekan pikiran-pikiran dan ideologi para imamnya. Mereka bukan hanya memekikkan khotbah wahabisme dari dalam mesjid- mesjid mewah di kota-kota besar seperti Jakarta, melainkan juga blusukan ke pedalaman dan dusun-dusun di Indonesia. G Indonesia tidak bisa ditutup-tutupi lagi. erakan untuk mewahabikan umat Islam wahabisasi itu. Pertama, mereka mempersoalkan dasar negara Indonesia dan UUD 1945. Mereka Para aktivis wahabisme cukup agresif dalam tidak setuju, Indonesia yang mayoritas penduduknya mengkampanyekan pikiran-pikiran dan ideologi para beragama Islam ini dipandu oleh sebuah pakem imamnya. Mereka bukan hanya memekikkan khotbah sekular, hasil reka cipta manusia yang relatif, bernama wahabisme dari dalam mesjid-mesjid mewah di kota- Pancasila. Menurut mereka, Pancasila adalah ijtihad kota besar seperti Jakarta, melainkan juga blusukan ke manusia dan bukan ijtihad Tuhan. Semboyan mereka pedalaman dan dusun-dusun di Indonesia. Ada tengara cukup gamblang bahwa hanya dengan mengubah dasar bahwa orang-orang yang berhimpun dalam ormas negara, dari Pancasila ke Islam, Indonesia akan terbebas keagamaan Islam moderat pelan tapi pasti kini mulai dari murka Allah. Mereka lupa bahwa Pancasila terpengaruh dan terpesona dengan gagasan-gagasan mengandung nilai-nilai yang sangat islami. Tak tampak wahabisme yang sebagian besar berjangkar pada di dalamnya hal-hal yang bertentangan dengan Islam. pemikiran tokoh-tokohnya seperti Muhammad ibn Abdul Wahhab al-Tamimi al-Najdi (1115-1206 H), Kedua, mereka menolak demokrasi, karena demokrasi Ibnu Taymiyah (661-728 H), Ibnul Qayim al-Jauziyah dianggap sebagai sistem kafir. Ini misalnya dapat (691-751H), terus sampai pada Ahmad ibn Hanbal kita ketahui dari buah karya Abdul Qadir Zallum, (164-241 H). tokoh yang sangat berpengaruh di lingkungan gerakan fundamentalis Islam, yang berjudul al- Memang, pada awalnya wahabisme berdiri untuk Dimuqrathiyah Nizham Kufr. Bukan hanya itu, mereka merampingkan Islam yang sarat beban kesejarahan. pun menolak dasar-dasar hak asasi manusia (HAM) Ia ingin membersihkan Islam dari beban historisnya yang sesungguhnya berpondasikan ajaran Islam yang yang kelam, yaitu dengan cara mengembalikan kukuh. Mereka mengajukan keberatan terhadap konsep umat Islam kepada induk ajarannya, Alquran dan kebebasan beragama (hifdz al-din), kebebasan berpikir Alsunnah. Seruan ini mestinya sangat positif bagi (hifdz al-‘aql), dan sebagainya. Menurut mereka tidak kerja perampingan dan pembersihan (purifikasi) ada hak asasi manusia (HAM), karena yang ada adalah itu. Tapi, ternyata wahabisme tidaklah seindah yang hak asasi Allah (HAA). dibayangkan. Di tangan para pengikut Muhammad ibn Abdul Wahab yang fanatik dan militan, implementasi Ketiga, mereka berusaha bagi tegaknnya partikular- ideologi wahabisme kemudian terjatuh pada tindakan partikular syari’at dan biasanya agak abai terhadap kontra produktif. Di mana-mana mereka menyebarkan syari’at universal, seperti pemberantakan korupsi- tuduhan bid’ah kepada umat Islam yang tidak kolusi-nepotisme, dan sebagainya. Ini misalnya seideologi dengan mereka. Bahkan, tidak jarang mereka tampak dari sikap tidak kritis kelompok wahabi mengkafirkan dan memusyrikkan umat Islam lain. terhadap ketidakberesan yang telah lama berlangsung di lingkungan kerajaan Saudi sendiri—sistem Kini mereka mulai merambah kawasan Indonesia, pemerintahan yang disokong demikian kuat oleh melakukan wahabisasi di pelbagai daerah. Mereka kelompok Wahabi. Kelompok Wahabi cukup puas mencicil ajaran-ajarannya untuk disampaikan kepada ketika salat berjemaah diformalisasikan. Sementara, umat Islam Indonesia. Ada beberapa ciri cukup bersamaan dengan itu, kejahatan terhadap menonjol yang penting diketahui dari gerakan kemanusiaan terus berlangsung, tanpa interupsi dari — 51 —
  • 61.
    « mereka. Keempat, merekajuga intensif menggelorakan semangat penyangkalan atas segala sesuatu yang berbau tradisi. Kreasi-kreasi kebudayaan lokal dipandang bid’ah, takhayul, dan khurafat yang mesti diberantas. Dahulu orang-orang NU mendapat serangan bertubi- tubi dari para pengikut wahabisme itu. Empat hal itu adalah refrain yang kini rajin diulang- ulang oleh kelompok Wahabi Indonesia. Pokok-pokok tersebut adalah sebagian dari juklak wahabisme yang telah lama disusun di Saudi, dan kemudian dipaketkan secara berangsur dan satu arah ke Indonesia. Ke depan jika semuanya sudah berhasil diwahabikan, maka sangat boleh jadi Indonesia akan menjadi repetisi Saudi Arabia; di mana kreasi-kreasi lokal dibid’ahkan. Betapa keringnya cara berislam yang demikian itu; berislam tanpa inovasi dan improvisasi. [] — 52 —
  • 62.
    « 15/01/2006 Ismail atau Ishak? Oleh Abd Moqsith Ghazali Seluruh kitab suci yang berada dalam rumpun tradisi abrahamik mengisahkan peristiwa penyembelihan Ibrahim terhadap puteranya. Karena itu, umat Islam, kristiani, dan kaum Yahudi mengimani bahwa penyembelihan itu bukan mitos yang perlu dijebol, tapi fakta yang harus diimani. Begitulah. S eluruh kitab suci yang berada dalam rumpun Sementara yang lain berpendapat bahwa anak yang tradisi abrahamik mengisahkan peristiwa diminta untuk disembelih, tidak lain, adalah Ishak bin penyembelihan Ibrahim terhadap puteranya. Karena Ibrahim. Pendapat ini diikuti oleh sejumlah sahabat itu, umat Islam, kristiani, dan kaum Yahudi mengimani dan tabiin. Dari kalangan sahabat tercatat nama-nama bahwa penyembelihan itu bukan mitos yang perlu seperti Abdullah ibn Abbas, Abdullah bin Mas’ud, dijebol, tapi fakta yang harus diimani. Begitulah. Umar bin Khaththab, Jabir, Abdullah bin Umar, Hanya para ulama Islam berbeda pandangan tentang dan Ali bin Abi Thalib. Dari kalangan tabi’in yang siapa yang hendak disembelih di antara putera-putera berpendapat demikian di antaranya, Alqamah, Sya’biy, Ibrahim. Ada yang menyebut Ismail, anak Ibrahim Mujahid, Sa’id bin Jubair, Ka’ab al-Ahbar, Qatadah, dari hasil perkawinannya dengan Hajar (Perjanjian Masruq, Ikrimah, Qasim bin Abi Bazzah, Atha`, Lama [PL] menyebutnya Hagar), isteri kedua. Dan Abdurrahman bin Sabith, al-Zuhry, al-Sadiy, Abdullah ada pula yang menyatakan Ishak, anak Ibrahim dari bin Abi al-Hudzail, dan Malik bin Anas. Pendapat ini hasil perkawinannya dengan Sarah (PL menyebutnya bukan hanya didasarkan pada hadits, tapi juga asumsi Sarai atau Sara), isteri pertama. Perlu diketahui bahwa kesejarahan. Kelompok kedua ini mengakui bahwa Ismail lebih tua dari Ishak. Ibnu Katsir dalam kitab tanduk domba yang disembelih itu digantung di tafsirnya, Tafsir al-Qur`an al-Karim (Juz IV hlm. 16) Ka’bah, tapi—menurut mereka—itu dibawa Ibrahim menjelaskan bahwa Ismail lahir saat Ibrahim berumur dari negeri Kan’an, tempat tingal Ishak. 86 tahun. Sementara Ishak lahir ketika Ibrahim berumur 99 tahun—menurut PL 100 tahun. Sayangngnya, sekalipun pendapat kedua ini memiliki argumentasi yang kuat, tetap saja ia kalah populer Al-Qurthubiy dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur`an dengan pendapat pertama. Jangan-jangan, pendapat (Jilid VIII, hlm. 87) mengemukakan perihal perbedaan yang kedua ini tertolak hanya karena ia didukung atau pandangan itu. Ada yang menyatakan bahwa yang (malah) merujuk pada Perjanjian Lama. Di dalam diperintahkan untuk dikurbankan adalah Ismail. Perjanjian Lama disebut bahwa Ishak lah yang akan Pendapat ini dikemukakan oleh sejumlah sahabat dikurbankan, dan bukan Ismail. Tuhan berfirman Nabi dan tabi’in, seperti Abu Hurairah, Abu Thufail, kepada Ibrahim, “Ambillah anakmu yang tunggal itu, Amir bin Watsilah, Sa’id ibn al-Musayyab, Yusuf bin yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Mihran, Rabi’ bin Anas, dan Muhammad ibn Ka’b al- Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban Quradhiy. Pendapat ini konon didasarkan pada sebuah bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan data historis yang menjelaskan bahwa penyembelihan kepadamu” (Kejadian, 22: 2]. Pada sumber inilah, tersebut berlangsung di Mekah (dahulu bernama seluruh umat Yahudi dan Nashrani mengacu, sehingga Bakkah), sehingga yang hendak disembelih tersebut tak terlalu tampak perselisihan pendapat di antara pasti Ismail, karena Ishak sepanjang hidupnya tidak mereka. pernah sampai ke sana. Mereka mengajukan bukti tambahan. Tanduk hewan kurban, pengganti Ismail, Berbeda dengan Perjanjian Lama, Alquran tidak di gantung di Ka’bah. Sekiranya Ishak yang mau menuturkan dengan tegas tentang siapa yang hendak disembelih, maka tanduk itu kiranya tak digantung di disembelih Ibrahim tersebut. Dari sinilah kiranya Ka’bah, mungkin di tempat lain seperti Baytul Maqdis. perbedaan pendapat itu bermula. Mungkin ada Lepas dari argumen yang disodorkannya, terang bahwa yang meng-copy PL bahwa Ishak lah yang hendak pendapat pertama ini yang paling banyak dipercaya. disembelih. Ada yang menyangkal bahwa yang mau — 53 —
  • 63.
    « disembelih itu Ismail,bukan Ishak. Anehnya, hadits yang menjelaskan hal ini pun cukup beragam. Suatu waktu Nabi menyebut Ismail. Kala yang lain berkata Ishaq. Pada hemat saya, ini merupakan bukti betapa tidak mudahnya melakukan verifikasi terhadap sejumlah peristiwa yang terjadi pada zaman lampau. Sejumlah kisah yang disajikan Alquran tak sepenuhnya bisa dan boleh di cek secara ilmiah, menyangkut akurasi dan validitas datanya. Sebab, terlalu banyak orang yang berkeberatan jika Alquran diperlakukan secara demikian. [] — 54 —
  • 64.
    « 14/09/2005 Stop Demo Anti-JIL Oleh Abd Moqsith Ghazali Sekelompok orang yang mengatasnamakan diri Forum Umat Islam Utan Kayu mendemonstrasi kantor Jaringan Islam Liberal (JIL) di Jalan Utan Kayu, Jakarta Timur, pada 4 September. Mereka menuntut agar kantor JIL ditutup sembari membawa poster-poster yang berisi caci- maki terhadap tokoh-tokoh JIL. Seorang ustad yang terlibat dalam unjuk rasa mengatakan bahwa kehadiran massa tersebut aksi spontan belaka, tanpa ada rekayasa dari pihak mana pun. S ekelompok orang yang mengatasnamakan diri atas nama membela dan mendukung fatwa MUI? Forum Umat Islam Utan Kayu mendemonstrasi Pilihan bagi MUI amat terbatas, yaitu mencabut fatwa kantor Jaringan Islam Liberal (JIL) di Jalan Utan yang mengharamkan liberalisme, pluralisme, dan Kayu, Jakarta Timur, pada 4 September. Mereka sekularisme sehingga keragaman tafsir atas Islam tetap menuntut agar kantor JIL ditutup sembari membawa hidup, atau membiarkan fatwa MUI itu ada sehingga poster-poster yang berisi caci-maki terhadap tokoh- kekerasan atas nama mendukung fatwa itu terus tokoh JIL. Seorang ustad yang terlibat dalam unjuk berlanjut. rasa mengatakan bahwa kehadiran massa tersebut aksi spontan belaka, tanpa ada rekayasa dari pihak mana Kedua, benarkah demonstrasi itu terjadi secara pun. spontan? Tentu saya tidak terlampau percaya dengan suatu peristiwa yang disebut spontanitas. Tak ada Kemudian si ustad menegaskan bahwa dia dan demonstrasi yang spontan. Selalu saja ada aktor massa tersebut mendukung fatwa Majelis Ulama intelektual yang merumuskan tujuan, arah, dan sasaran Indonesia (MUI) bahwa pluralisme, liberalisme, dan demonstrasi. Ada panitia yang bertugas memobilisasi sekularisme bertentangan dengan Islam dan umat massa, membuat poster, dan sebagainya. Dan jangan Islam diharamkan mengikuti ketiga paham tersebut. lupa, demonstrasi yang terjadi malam itu—karena Mereka menyokong fatwa itu dan dengan demikian dilangsungkan malam hari, jelas melanggar aturan— merasa tidak nyaman dengan keberadaan JIL di Utan adalah demonstrasi yang bersifat ideologis terhadap Kayu, yang dinilai telah menyebarkan liberalisme ke Jaringan Islam Liberal. masyarakat. JIL memang sering menafsir ulang Al-Quran -harap Dari peristiwa itu, ada beberapa hal yang bisa diingat, bukan mengubah Al-Quran. Wajar bila dibaca. Pertama, fatwa MUI yang mengharamkan serangan terhadap JIL itu tanda bahwa orang-orang liberalisme, pluralisme, dan sekularisme telah menjadi tersebut tak mengerti benar paham liberalisme. Seperti bola liar yang tak mudah dikontrol hatta oleh MUI yang dikemukakan oleh Prof. Dr. Syafi’i Ma’arif (Koran sendiri sebagai lembaga yang memproduksi fatwa. Tempo, 6/9), mereka mengkritik Islam liberal, tapi apa Dalam kaitan itu, MUI memang pantas dimintai benar mereka paham Islam liberal sebenarnya? Buya pertanggungjawaban. Syafi’i pun mempertanyakan kapasitas pengetahuan mereka tentang Islam liberal. Alih-alih fatwa itu akan melahirkan solusi bagi sebuah problem, yang terjadi malah memunculkan problem Lebih jauh, Syafi’i menilai aksi itu tak wajar. “Tak baru atau justru menjadi problem itu sendiri. Karena mungkin kegiatan itu dilakukan rakyat biasa,” kata itu, selayaknya ada upaya yang lebih elegan dari para Syafi’i. Sebagaimana Buya Syafi’i, saya ragu kegiatan itu ulama MUI untuk mengevaluasi fatwa-fatwanya yang dirancang oleh rakyat biasa. Dan keraguan itu ternyata ternyata berjalan secara kontraproduktif di tengah menemukan pembenaran dari penjelasan beberapa umat. Apakah MUI akan membiarkan umat Islam anggota masyarakat Utan Kayu sendiri. Mereka bertengkar dan berseteru hanya karena fatwa mereka? menyatakan bahwa beberapa minggu ini penduduk Apakah MUI akan menoleransi tindakan kekerasan Utan Kayu telah dibombardir oleh kehadiran — 55 —
  • 65.
    « para mubalig yangradikal—maaf, terpaksa saya menggunakan istilah ini—yang terus memprovokasi masyarakat Utan Kayu. Dengan provokasi dari para mubalig itu, Utan Kayu yang selama ini tampak tenang dan damai berubah menjadi panas. Dan saya kira Utan Kayu tidak khas. Coba perhatikan, daerah-daerah yang pada awalnya tampak pluralis dan toleran terhadap berbagai kelompok, agama, etnis, dan organisasi yang ada di lingkungannya bisa berubah menjadi keras dan beringas karena ulah para mubalig radikal. Tanpa memahami konteks lokal sebuah daerah, para mubalig itu lazimnya berceramah secara agitatif yang menyulut emosi massa. Ceramah para dai kondang yang teduh dan toleran di televisi seperti yang ditampakkan KH Abdullah Gymnastiar, Prof Quraish Shihab, Ustad Arifin Ilham, Ustad Tuty Alawiyah, Ustad Luthfiyah Sungkar, dan lain-lain dengan cepat terhapuskan oleh khotbah-khotbah panas para dai radikal itu. Hanya dengan mengantongi satu-dua ayat dan hadis, mereka menyampaikan seruan-seruan panas untuk “menghancurkan” kelompok-kelompok lain. Saya kira sudah saatnya kelompok-kelompok moderat Islam, seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, mulai melebarkan wilayah dakwahnya hingga ke tingkat paling bawah dalam masyarakat. Para kiai pesantren yang memiliki kedalaman ilmu dan kearifan harus keluar dari tempurung pesantren untuk segera menguasai mimbar-mimbar dakwah yang beberapa tahun terakhir telah jatuh ke tangan kelompok radikal muslim—yang menurut KH Hasyim Muzadi, Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama, telah merusak citra Islam Indonesia di luar negeri. Dan para dai kita mesti dikader dan dididik dengan visi kebangsaan yang kukuh serta sikap toleran yang militan. (Koran Tempo 8 September 2005) — 56 —
  • 66.
    « 01/08/2005 Sesat dan Menyesatkan Oleh Abd Moqsith Ghazali Pertanyaannya, siapa sih yang sebenarnya punya otoritas atau kewenangan untuk menyatakan bahwa sebuah pandangan disebut sesat dan menyesatkan. Apakah MUI, NU, Muhammadiyah, atau justru Allah SWT. Di sinilah saya hendak menegaskan sebuah pendirian bahwa yang memiliki otoritas untuk itu tidak lain adalah Allah sendiri. Allah lah yang akan memutuskan di akhirat kelak tentang ajaran-ajaran yang dianggap menyimpang atau tidak. K disuarakan oleh sejumlah aparatur agama osa kata “sesat” dan “menyesatkan” kian ramai yang paling tahu perihal seseorang yang tersesat dari jalanya dan yang mendapatkan petunjuk). di negeri ini, terutama untuk mencap kelompok dalam umat yang berbeda pandangan dengan Dengan ayat-ayat tadi, cukup jelas bahwa tidak ada mainstream. Tidak kurang dari beberapa ulama di seseorang atau lembaga manapun yang bisa mengambil MUI Pusat menyatakan bahwa kelompok A, B, kedudukan Tuhan sebagai hakim atas pelbagai jenis C, dan lain-lain bukan sekedar sesat, tapi bahkan pandangan atau tafsir yang muncul di tengah umat menyesatkan. Tersebutlah ormas-ormas keagamaan Islam. Itu adalah hak prerogatif Allah yang tidak bisa seperti Ahmadiyah dan beberapa lagi yang diputuskan dirampas oleh para fungsionaris agama yang tersebar berdasarkan fatwa MUI sebagai lembaga yang di pelbagai lembaga atau ormas keagamaan manapun. menyebarkan aliran sesat dan menyesatkan. Dien Mungkin, Tuhan sengaja tidak menyerahkan peran Syamsuddin, ketua umum PP Muhammadiyah dan kehakiman tersebut kepada manusia atau ulamanya wakil ketua MUI Pusat, menganjurkan agar kelompok karena terlampau rentan untuk disalahgunakan untuk Ahmadiyah membuat agama baru saja jika masih tujuan-tujuan politis, ekonomis, dan lainnya. Sehingga, ngotot dengan keyakinannya bahwa Mirza Ghulam tugas untuk menjatuhkan hukum atas para penafsir Ahmad adalah seorang nabi. Beberapa kiai terus agama yang menyimpang itu tetap berada dalam mendorong agar MUI dan PBNU segera mengambil genggaman Allah, dan tidak pernah didelegasikan sikap tegas terhadap Jaringan Islam Liberal (JIL) hanya kepada para ulama. karena institusi itu mengembangkan tafsir keagamaan yang kritis-liberal-progresif, menentang oligarki dan Tambahan pula, Islam adalah salah satu agama yang otoritarianisme penafsiran dalam agama. tidak mengenal hirarki, termasuk menyangkut perkara pemaknaan ajaran Islam. Nabi Muhammad SAW Pertanyaannya, siapa sih yang sebenarnya punya pernah bersabda la rahbaniyyata fi al-Islam (tidak otoritas atau kewenangan untuk menyatakan bahwa ada [hirarki] kependetaan di dalam Islam). Salah sebuah pandangan disebut sesat dan menyesatkan. satu pengertian dari hadits ini adalah bahwa tafsir Apakah MUI, NU, Muhammadiyah, atau justru yang dikeluarkan oleh kelompok minoritas tak bisa Allah SWT. Di sinilah saya hendak menegaskan dibatalkan oleh tafsir mayoritas. Tafsir mayoritas sebuah pendirian bahwa yang memiliki otoritas untuk tidak berada dalam posisi yang lebih tinggi ketimbang itu tidak lain adalah Allah sendiri. Allah lah yang minoritas. Dalam dunia penafsiran, keduanya adalah akan memutuskan di akhirat kelak tentang ajaran- setara. Kaidah fikih yang amat populer mengatakan ajaran yang dianggap menyimpang atau tidak. Allah al-ijtihad la yunqadhu bi al-ijtihad (ijtihad tidak bisa SWT berfirman di dalam Alquran, inna rabbaka dibatalkan dengan ijtihad yang lain). Sebuah tafsir huwa yafshilu baynahum yawmal qiyamah fi ma adalah sah selama tidak memerintahkan seseorang kanu fihi yakhtalifun (sesungguhnya Tuhanmu yang untuk melakukan tindak kekerasan. Akhirnya, akan mengambil kata putus atas perselisihan yang janganlah gampang menjatuhkan vonis sesat- berlangsung di antara mereka, kelak pada hari kiamat). menyesatkan kepada orang lain, karena itu adalah Di tempat yang lain, Allah SWT berfirman, inna hak Allah dan bukan hak manusia. (Abdul Moqsith rabbaka huwa a’lamu biman dlalla ‘an sabilihi wa huwa Ghazali) a’lamu biman ihtadza (sesungguhnya Tuhanmu adalah — 57 —
  • 67.
    « 24/04/2005 Syahrur Oleh Abd Moqsith Ghazali Sekiranya Anda sedang membuka peta pemikiran keislaman kontemporer, Anda pasti menemukan nama Muhammad Syahrur. Ia adalah doktor bidang mekanika pertanahan dan fondasi, yang belakangan lebih kesohor sebagai pemikir muslim progresif. Ia cukup disegani. Walau tidak memiliki daya ledak dan hentakan tinggi sebagaimana Nashr Hamid Abu Zaid, pikiran-pikiran Syahrur turut meramaikan diskursus pemikiran keislaman. S keislaman kontemporer, Anda pasti menemukan ekiranya Anda sedang membuka peta pemikiran tertentu sehingga tidak bisa disinonimkan dengan kata lain. Kata hanya dimungkinkan untuk memiliki nama Muhammad Syahrur. Ia adalah doktor bidang satu makna atau beragam makna. Apa yang disebut mekanika pertanahan dan fondasi, yang belakangan sebagai mutaradif, menurut Syahrur, tak ubahnya lebih kesohor sebagai pemikir muslim progresif. Ia sebuah kepalsuan belaka. Betapa konsep sinonimitas cukup disegani. Walau tidak memiliki daya ledak dan akan meringkus sejumlah kata ke dalam singularitas hentakan tinggi sebagaimana Nashr Hamid Abu Zaid, makna dan menutup semua keboleh-jadian semantis pikiran-pikiran Syahrur turut meramaikan diskursus masing-masing. Dengan alasan itu, Syahrur kemudian pemikiran keislaman. Pernyataannya kerap dikutip oleh mengartikan ulang sejumlah kata yang oleh mayoritas para sarjana dan pemikir muslim. Sebagian kalangan dipandang sebagai sinonim, seperti imra’ah-untsa-nisa`, bahkan telah menyejajarkan Syahrur dengan intelektual walad-ibn, al insan-al basyar, fu`ad-qalb, al Qur`an- muslim liberal lain seperti Mohamed Arkoun, Hassan alKitab-al Dzikr, dan lain-lain. Hanafi, dan lain-lain. Dari tangan Syahrur kini telah lahir beberapa karya intelektual yang monumental Kedua, penolakan Syahrur terhadap konsep nasikh- seperti al-Kitab wa al-Qur`an: Qira`ah Mu’ashirah dan mansukh (abrogasi) dalam Islam, teori mana telah Nahw Ushul Jadidah li al-Fiqh al-Islamy. Dua bukunya umum diterima oleh jumhur ulama ushul fikih, itu telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia baik yang klasik seperti Imam Syafi’i dan Imam dengan mutu terjemahan yang bagus. Malik, maupun yang kontemporer seperti Mahmud Muhammad Thaha dan Abdullahi Ahmed al-Na’im. Pada hemat saya, bagaimanapun, Syahrur tetap Sebab, demikian Syahrur menyusun argumen, berbeda dengan Nashr Hamid Abu Zaid, Mohamed setiap ayat atau kalimat memiliki ruang ekspresi dan Arkoun, Hassan Hanafi, apalagi Farid Essack. Di penampakannya sendiri-sendiri. Dengan demikian, dalam bertafsir, pendekatan tokoh asal Syria itu agak sebuah ayat yang turun dalam konteks spasial dan lain. Dengan bersandar pada metode semantik Abu dalam pengungkapan kata tertentu tidak bisa dianulir Ali al-Farisi, mungkin juga Ibn Jinni dan Abdul Qadir dan diamandemen begitu saja oleh ayat lain yang al-Jurjani, Muhammad Syahrur cukup bersemangat muncul dalam konteks yang tertentu pula. Artinya, untuk mengeja kata, struktur dan substruktur bahasa suatu ayat selalu menyatakan kehendak dan maknanya al-Qur`an. Ia lebih banyak menelaah seluk beluk sendiri-sendiri dan bukan untuk menyampaikan semantik-kebahasaan al-Qur`an ketimbang konteks kehendak ayat lain. sosio-politik yang mengitari kitab suci itu. Syahrur lebih asyik berbincang tentang proses pengorganisasian Dengan pendekatannya yang cenderung semantis ini kata dan kalimat daripada penelitian tajam terhadap Syahrur kiranya hendak menunjukkan kepada publik struktur masyarakat Arab yang menyungkupi kehadiran intelektual bahwa penghampiran melalui gramatika al-Qur`an. bahasa cukup potensial untuk mendinamisasikan kata dan kalimat dalam al-Qur`an. Pendekatan Penilaian seperti itu menjadi benar jika diacukan kebahasaan tetap bisa dipakai untuk melahirkan pada dua hal berikut. Pertama, penampikan Syahrur tafsir-tafsir keislaman yang progresif, liberatif, dan terhadap konsep sinonimitas (al-taraduf ) dalam bahasa. humanis. Menelusuri kata tidaklah tabu bagi hadirnya Sebuah kata, demikian Syahrur, selalu memiliki makna sejenis tafsir Islam yang liberal. Dan Syahrur telah — 58 —
  • 68.
    « membuktikan untuk itu.Bukankah dari model pendekatan yang semantis-linguistis tersebut, Syahrur berani menata ulang dan mereposisi beberapa hukum kanonik yang baku seperti potong tangan, rajam, waris, kepemimpinan perempuan, dan sebagainya? Nah! [Abd Moqsith Ghazali] — 59 —
  • 69.
    « 26/08/2004 Agama, Seni, dan Regulasi Pornografi Oleh Abd Moqsith Ghazali Pro-kontra seperti ini memang tidak kunjung selesai. Tarik-menarik antara argumen agama- moralitas vis a vis kebebasan berekspresi-berkesenian terus berlangsung, tanpa ada titik temu. Di satu pihak ada kaum agamawan yang hendak mengontrol ruang publik secara ketat dan kadang-kadang juga kaku. Sementara di lain pihak, terdapat sekelompok masyarakat yang hendak melabuhkan kebebasan berekspresi dan berkesenian dalam ranah publik secara totalistis, tanpa hambatan. S AAT ini, publik Indonesia terutama Jakarta Pro-kontra seperti ini memang tidak kunjung selesai. dihebohkan oleh kehadiran sebuah film komedi Tarik-menarik antara argumen agama-moralitas remaja Buruan Cium Gue! Dari judulnya saja, film ini vis a vis kebebasan berekspresi-berkesenian terus telah mengundang kontroversi, antara yang pro dan berlangsung, tanpa ada titik temu. Di satu pihak kontra. MUI misalnya, telah melancarkan kritik cukup ada kaum agamawan yang hendak mengontrol keras atas kemunculan film tersebut. KH Amidhan, ruang publik secara ketat dan kadang-kadang juga Ketua MUI Pusat, menyatakan bahwa film ini kaku. Sementara di lain pihak, terdapat sekelompok berpotensi merusak moral dan budaya bangsa. Adegan masyarakat yang hendak melabuhkan kebebasan ciuman panas, menurutnya, hanya dimungkinkan di berekspresi dan berkesenian dalam ranah publik secara dalam ruang kesendirian oleh pasangan legal suami- totalistis, tanpa hambatan. istri, bukan di ruang publik oleh lelaki-perempuan yang tidak memiliki hubungan legal. Kegelisahan Menghadirkan agama dan keprihatinan yang sama juga dialami oleh KH Abdullah Gimnastiar, seorang dai yang kini sedang Menghadirkan agama—apalagi hanya satu tafsir kondang. Menurut Aa Gym, panggilan akrab KH tertentu dalam agama—ke dalam dunia film, sungguh Abdullah Gimnastiar, film tersebut tak ubahnya sebuah sangat musykil. Di antara dua entitas ini, agama pengantar yang mengarah pada tindak perzinaan. MUI, dan film, terdapat jurang pemisah yang amat dalam. Aa Gym, dan beberapa elemen lain, akhirnya berujung Agama sebagaimana dikemukakan di dalam fikih pada tuntutan yang paralel agar peredaran film tersebut Islam memiliki perhatian yang rendah terdapat dunia segera dihentikan. perfilman ini, karena di dalamnya selalu dimungkinkan terjadinya sejumlah kemaksiatan. Agama mengatur Sementara di pihak lain terdapat kalangan yang pro secara amat ketat menyangkut hubungan laki dan sembari menolak pelbagai keberatan yang diajukan para perempuan yang bukan mahram. Tidak boleh ada ulama di atas. Mereka menilai karya itu bukanlah film persentuhan fisik. Sementara film meniscayakan porno. Tidak ada pornografi di sana. Tidak ada norma adanya perjumpaan dan persentuhan fisikal. Jika film susila dan batas kesopanan yang dilanggar. Terlebih, menuntut keseriusan dan totalitas dalam berakting, tandas para pendukung ini, batas-batas moralitas maka agama melalui fikih Islam justru hadir untuk itu tidak statis, melainkah bergerak secara dinamis membatasi totalitas itu. mengikuti capaian peradaban umat manusia. Dan bukankah film itu tak lebih dari sebuah rekaman dari Sebagai misal, adegan ciuman yang dilakukan orang realitas pergaulan anak muda Jakarta masa kini. Secara yang bukan mahram dan berbeda jenis kelamin, baik lebih jauh, mereka juga berpendirian bahwa pelarangan karena tuntutan naskah film maupun karena telah terhadap film itu merupakan sebentuk pelanggaran menjadi kelaziman sosial, jika ditanyakan pada agama, dan penodaan terhadap kebebasan berekspresi dan maka tidak banyak yang dikatakan oleh agama, kecuali berkesenian. Dan kebebasan berekspresi itu adalah hak bahwa itu merupakan kawasan terlarang. Agama hanya asasi manusia yang dilindungi dan dijamin undang- datang dengan khotbah yang standar, tindakan itu undang. merupakan perkara haram yang harus dihindari. Islam termasuk dalam deretan agama yang amat restriktif — 60 —
  • 70.
    « dalam perkara yangsatu itu. Ciuman yang dilakukan ditutupnya Kramat Tunggak Jakarta, para pekerja seks oleh orang yang bukan mahram dan berbeda jenis komersial (PSK) terus berhamburan ke jalanan. Sebuah kelamin, baik dilakukan dengan nafsu maupun tidak, pemandangan yang kian mengkhawatirkan. dalam pandangan agama adalah memiliki derajat keharaman yang sama. Menghadapi fenomena tersebut, maka saya bisa bersetuju terhadap gagasan untuk melokalisasi Ini, jika melulu berpatokan kepada Islam. Namun, gelombang pornografi tersebut. Artinya, pornografi, bukankah masyarakat Indonesia hidup dengan pornoaksi, dan aktivitas erotisme yang lain mesti keragaman patokan dan parameter. Keanekaragaman ditampung dalam ruang khusus yang tersembunyi. agama, budaya, dan etnis, kiranya akan membentuk Dengan ini, ada kegunaan ganda yang bisa dicapai. penilaian yang berbeda menyangkut satu pokok Bahwa di samping agar pornografi dan erotisme tidak soal seperti adegan-adegan di dalam film itu. Oleh diakses oleh orang-orang yang belum cukup umur, karenanya, pada hemat saya, Islam harus diletakkan ia juga berguna supaya erotisme bisa benar-benar sebagai salah satu anasir saja dari keseluruhan norma dinikmati sebagai tindakan privat yang menyenangkan. yang hidup di tengah masyarakat. Islam tidak bisa Sebab, erotisme adalah perkara yang tak dapat dijadikan sebagai parameter tunggal untuk menilai diekspose dan ditayangkan kepada semua orang sebuah karya film. Islam harus didudukkan secara dari pelbagai level umur dan pelbagai ruang. Maka, setara dengan norma-norma lain. Islam mesti kehadiran sebuah regulasi yang mengatur menjadi bertanding dan berkontestasi dengan norma-norma sangat penting, karena dengan itulah pornografi, lain. pornoaksi, dan erotisme menjadi lebih teratur dan nyaman untuk dirayakan. Sebab, dalam masyarakat yang pluralistik seperti Indonesia, larangan terhadap ketidaksopanan hanya Bahwa kebutuhan seseorang terhadap erotisme, itu bisa dilakukan sejauh melalui mekanisme yang perkara yang diakui. Sebagaimana orang butuh makan demokratis, bukan semata-mata hasil pemaksaan dari dan minum, mempunyai rasa aman dan kebebasan satu kelompok agama atau segmen masyarakat tertentu bergerak, orang juga butuh terhadap erotisme. Tidak saja. Tidak ada hegemoni dari satu komunitas atas ada seseorang yang seluruh detik kesehariannya diisi komunitas yang lain. Setiap orang memiliki status yang dengan doa. Selalu saja ada saat tertentu seseorang setara di dalam berdiskusi menyangkut batas kesopanan membutuhkan erotisme. Erotisme mesti digerakkan. itu. Diskusi adalah ruang untuk melakukan negosiasi Tapi menggerakkan erotisme secara liar di ruang-ruang dan tawar menawar mengenai perkara bermoral-tidak publik, tanpa ada regulasi yang mengaturnya, kiranya bermoral tersebut. Dari diskusi inilah diharapkan dapat akan menimbulkan petaka tersendiri. Oleh karena dilahirkan sebuah kesepakatan dalam wujud regulasi itu, kehadiran sebuah regulasi yang dalam proses mengenai pornografi dan bukan pornografi, pornoaksi penyusunannya mesti melibatkan partisipasi dan debat dan bukan pornoaksi. publik yang demokratis, bukan hanya perlu melainkan sungguh amat mendesak. *** Regulasi pornografi Sungguh, adegan ciuman di dalam film Buruan Cium Gue! tidaklah seberapa sekiranya diukur dari arus pornografi, pornoaksi, yang berlangsung secara gegantis di luar gedung bioskop. Betapa ruas-ruas jalan di kota- kota besar seperti Jakarta kini terus dihiasi dengan gambar-gambar perempuan dalam pose telanjang, baik di majalah maupun tabloid. Gambar-gambar itu bukan hanya menjadi konsumsi kalangan laki- laki dewasa, melainkan juga telah menjadi tontonan ABG, bahkan anak bawah usia. Buku-buku yang mendeskripsikan secara terang adegan-adegan ranjang demikian menjamur di kalangan para pelajar. Film-film biru dengan mudah dapat dijumpai dan diperoleh di pinggir-pinggir jalan dan trotoar Ibu Kota. Semenjak — 61 —
  • 71.
    « 16/08/2004 Kekenyalan Syariat Oleh Abd Moqsith Ghazali Berbarengan dengan surutnya konstalasi politik mutakhir Indonesia, surut pula perbincangan dan kontroversi seputar syariat Islam. Namun, bukan berarti ia hilang, melainkan bergeser ke tingkat yang lebih lokal, provinsi, kabupaten, dan instansi-instansi negara yang lebih kecil. B mutakhir Indonesia, surut pula perbincangan erbarengan dengan surutnya konstalasi politik bekerja di ranah publik akan di-PHK karena dalam syariat klasik konvensional-Timur Tengah, tidak dan kontroversi seputar syariat Islam. Namun, bukan dibolehkan keluar rumah tanpa mahram, dan tidak berarti ia hilang, melainkan bergeser ke tingkat diperkenankan keluar malam. Non-Muslim, apalagi yang lebih lokal, provinsi, kabupaten, dan instansi- ketika divonis secara sepihak sebagai kafir harbiy instansi negara yang lebih kecil. Meski kontroversi (non-Muslim yang memusihi Islam), akan mendapat seputar isu ini pada akhirnya terbukti hanya sebagai ancaman penafian bahkan pembumihangusan. komoditas politik, sebagian kalangan masih yakin peran formalisasi syariat Islam sebagai nostrum bagi Pada hemat saya, syariat harus segera dikembalikan penyelesaian semua persoalan di negeri ini. Oleh pada posisinya awalnya sebagai jalan (wasilah-sarana) kalangan ini, syariat Islam dipahami sebagai hukum yang dhanniy (relatif ), bukan sebagai tujuan (ghayat) yang tak akan pernah aus karena hujan dan tak lekang yang qath’iy (pasti). Sebagai jalan, syariat tidak bisa karena panas. Sakralisasi dan idealisasi terhadap model tunggal. Ibnu ‘Aqil yang dikutip Thabari pernah syariat klasik menjadi langgam dominan dalam benak mengatakan al-din wâhid was syari’ah mukhtalifah para tokoh fundamentalis ortodoks Islam. (agama itu tunggal, sementara syariat sangat beragam). Maka, sebagai sarana untuk mengantarkan Tentu tidak akan ada masalah jika implementasi syariat umat manusia kepada tujuan keadilan, kesetaraan, Islam bersendikan prinsip-prinsip utama Islam, seperti kemaslahatan, penegakan hak asasi manusia (termasuk keadilan, persamaan, kemaslahatan, kesejahteraan, hak asasi perempuan), maka syariat Islam akan dan hikmah-kebijaksanaan. Penerapan syariat Islam mengambil pola dan coraknya yang beragam. cukup problematis jika hanya memuat daftar hukum- hukum syariat zaman lampau yang belum tentu cocok Dengan keberagamannya, syariat tidak bisa untuk diterapkan di Indonesia, seperti ketentuan aurat ditunggalkan untuk kemudian diformalisasi dalam yang strict, perempuan tidak boleh bekerja di dunia bentuk perundang-undangan. Jalan penunggalan dan publik, dan sebagainya. Dalam ranah itu, penerapan formalisasi syariat bukan hanya akan bertentangan syariat Islam lebih bersifat simbolis ketimbang dengan watak dasar syariat yang kenyal dan relatif, substantif. Imbasnya, syariat Islam bertiup pada upaya melainkan juga akan membunuh kehadiran memperkecil universalitas Islam. Eksperimentasi syariat-syariat lain yang divergen pada format dan formalisasi syariat Islam yang sedang berlangsung di mekanismenya. Konon, Imam Malik pernah menolak Aceh, dan beberapa daerah lain, merupakan etalase permintaan seorang Khalifah untuk menjadikan telanjang dari simplifikasi dan pembanalan tersebut. karya monumentalnya, al-Muwaththa`, sebagai Dari penerapan syariat yang demikian, yang akan kitab undang-undang yang mengikat seluruh warga. menjadi korban pokoknya, di samping perempuan, Kiranya, Imam Malik menyadari sepenuh hati bahwa, adalah warga negara non-Muslim. Non-Muslim cukup formalisasi al-Muwaththa` hanya akan memberangus rentan terhadap ketidakadilan dan diskrimnasi, mulai karya-karya lain yang tidak sejalan dengannya. [Abdul dari diskriminasi teologis hingga eks-komunikasi sosial. Moqsith Ghazali] Model syariat yang demikian, alih-alih hendak menyelesaikan masalah, justru merupakan problem yang juga harus dipecahkan. Dalam konteks Indonesia, betapa banyak perempuan-perempuan yang selama ini — 62 —
  • 72.
    « 19/02/2004 Ketika Negara Mengintervensi Agama Oleh Abd Moqsith Ghazali Sekiranya RUU KUB jadi diundangkan, maka sejumlah orang yang memiliki pemikiran yang berada di luar pemikiran dominan mainstream akan bernasib sial, karena mereka bisa- bisa mendapatkan sanksi pidana. Perselisihan tafsir atas agama selalu berakhir dengan eks- komunikasi, penghancuran, dan pembunuhan. Luar biasa mengerikan. Padahal, bertafsir dan berijtihad bukanlah tindak kriminal yang harus dipidanakan. Jika ini terjadi, maka kita telah kembali ke abad pertengahan. Adalah Khalifah al-Qadir yang pernah melakukan inkuisisi terhadap orang-orang yang berada di luar cetak biru ideologi Mu’tazilah, ideologi yang telah menjadi pilihan negara Abbasiyah saat lampau. Sejarah mencatat, Abdullah bin Khabab, Abu Manshur al-Hallaj, Ahmad ibn Hanbal, Ibnu Rusyd, merupakan deretan orang yang menjadi korban dari kesewenang- wenangan negara hegemonik. E ra reformasi tampaknya belum benar-benar saja amat bertentangan dengan prinsip ajaran Islam berhasil menghapus karakter dan kebiasaan yang memberikan kebebasan kepada umat manusia buruk Orde Baru yang hegemonik dan intervensionis. untuk memilih suatu agama bahkan untuk tidak Sebagaimana rezim Soeharto, rezim Megawati kini beragama. Nabi Muhammad sekalipun pernah ditegur juga suka mengatur dan mengintervensi aktivitas oleh Allah atas upaanya untuk memaksa seseorang keberagamaan umat di Indonesia. Segala gerak langkah agar masuk Islam. “Apakah kamu akan membenci umat beragama selalui diawasi, dikontrol, dan dipantau manusia hingga mereka beriman (Afa anta tukrihu sehingga tidak mengganggu stabilitas dan keamanan al-nas hatta yakunu mu`minin)”. Allah SW melalui kawasan. Indikator yang paling telanjang menyangkut firman-Nya, faman sya`a falyukmin wa man sya`a pokok soal ini adalah dikeluarkannya RUU Kerukunan falyakfur, telah memberikan kebebasan mutlak bagi Umat Beragama oleh Pemerintah Indonesia melalui manusia untuk bertuhan atau tidak bertuhan. Dengan Badan Litbang Departemen Agama. meminjam terminologi ushul fikih, RUU KUB ini jelas berpunggungan dengan prinsip dasar Islam paling RUU KUB ini tergolong sangat tipis, karena hanya puncak, hifdz al-din (kebebasan dalam beragama). terdiri dari 15 bab dan 21 pasal. Hakikatnya, RUU ini memiliki tujuan adilihung, yaitu untuk memelihara Kedua, RUU KUB ini telah bertindak amat angkuh kerukunan dan keharmonisan di kalangan umat ketika memposisikan diri sebagai penentu bagi sah dan beragama. Tidak tanggung-tanggung, RUU KUB ini tidaknya sebuah agama. Telah diputuskan, misalnya, memikul asas toleransi, pluralisme, dan kebebasan bahwa agama yang sah di Indonesia hanya ada lima, beragama (Pasal 2). Namun, tujuan adiluhung RUU yaitu Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dan Budha KUB itu menjadi tawar kembali ketika kita membaca [Pasal 1 Ayat (1)]. Selain yang lima itu adalah batal dan detail pasal-pasalnya. Batang tubuh RUU KUB niscaya tidak memenuhi persyaratan sebagai sebuah agama. mengandung bahaya dan problem yang cukup serius. Padahal, secara faktual, agama dan keyakinan yang bersemai di bumi Indonesia ini bukan hanya lima, Memaksa? melainkan banyak-tak terkira. Dulu, melalui UU No 1/ PNPS/1965, Konghucu pernah diakui sebagai agama Pertama, melalui rancangan perundang-undangan, resmi yang dapat secara sah tumbuh di Indonesia. pemerintah Indonesia hendak memaksa warganya Namun, sejak diterbitkannya keputusan Mendagri untuk mengikuti dan menganut agama-agama No 221a 1975 yang mengacu pada Tap MPR No. IV/ yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Warga MPR/1978, maka agama Konghucu kembali dianggap negara yang menganut agama di luar agama-agama sebagai agama liar, seperti keliaran agama Bahai, Sikh, yang ditetapkan itu (Islam, Katolik, Protestan, Adat Karuhun Kuningan dan lain-lain. Karena tidak Hindu dan Buddha) tentu akan kehilangan hak- diakui sebagai sebuah agama, sebagai konsekuensinya hak keberagamaannya. Tindakan seperti ini tentu maka Bahai, Konghucu, Sikh, dan sebagainya tidak — 63 —
  • 73.
    « berhak memperoleh perlindungandalam melaksanakan Islam yang senantiasa mengobarkan semangat ajaran-ajaran-nya. Perlindungan hanya diberikan kebebasan berpikir (hifdz al-‘aql). kepada agama-agama yang diresmikan oleh ne- gara. (Lihat Pasal 4 RUU KUB). Tegasnya, sekiranya RUU KUB jadi diundangkan, maka sejumlah orang yang memiliki pemikiran yang Ketiga, RUU itu memiliki ambisi untuk mengatur dan berada di luar pemikiran dominan mainstream akan mengawasi segala aktivitas keberagamaan di Indonesia. bernasib sial, karena mereka bisa-bisa mendapatkan Aktivitas keberagamaan yang selama ini telah sanksi pidana. Perselisihan tafsir atas agama selalu berlangsung di tengah masyarakat, tiba-tiba hendak berakhir dengan eks-komunikasi, penghancuran, diatur dan ditertibkan oleh negara melalui perundang- dan pembunuhan. Luar biasa mengerikan. Padahal, undangan. Padahal agama dan negara adalah dua bertafsir dan berijtihad bukanlah tindak kriminal entitas yang berbeda. Masing-masing tidak boleh saling yang harus dipidanakan. Jika ini terjadi, maka kita mengintervensi. Sejarah Indonesia telah menunjukkan telah kembali ke abad pertengahan. Adalah Khalifah betapa kehadiran negara dalam panggung agama al-Qadir yang pernah melakukan inkuisisi terhadap seringkali justru menjadi petaka daripada menjadi orang-orang yang berada di luar cetak biru ideologi rahmat. Umat beragama yang plural yang sudah Mu’tazilah, ideologi yang telah menjadi pilihan negara terbiasa saling bekerja sama, saling memahami, hidup Abbasiyah saat lampau. Sejarah mencatat, Abdullah bin rukun, maka dengan intervensi negara melalui RUU Khabab, Abu Manshur al-Hallaj, Ahmad ibn Hanbal, KUB ini bisa menjadi cerai berai. Ibnu Rusyd, merupakan deretan orang yang menjadi korban dari kesewenang- wenangan negara hegemo- Terus terang, pokok soal ini bermula dari kekeliruan nik. negara di dalam mempersepsikan agama. Agama telah diletakkan sebagai sumber konflik, setangkup dengan Bahkan, dalam jangka panjang, sekali lagi kalau RUU etnis, suku, dan sebagainya. Sebagaimana tertera KUB ini positif menjadi undang-undang, maka tidak dalam naskah akademik RUU KUB ini, agama dinilai tertutup kemungkinan sejumlah tradisi dan kearifan- mengandung magma konflik yang luar biasa, dengan kearifan lokal sekiranya oleh penguasa yang menganut demikian ekspresi keberagamaan perlu diatur. ideologi tertentu dipandang sebagai aliran sesat yang menyimpang dari Islam maka akan dilarang hadir di Pluralitas agama akan menjadi malapetaka dan bumi Indonesia. Tradisi ziarah kubur orang NU, waktu ketidakrukunan sekiranya tidak ada peraturan semacam telu Orang Sasak, amalan tarekat para mistikus, dan UU KUB. Dengan argumen ini, tampak dengan jelas sebagainya akan dibumihanguskan. Di sinilah bahaya arogansi negara untuk menghakimi agama-agama. dari negara jika terlibat sebagai hakim yang memegang Padahal, mestinya negara cukuplah menjadi fasilitator palu godam untuk menentukan sah-tidaknya sebuah dari agama dan bukan menjadi hakim dari agama. jenis penafsiran dalam agama. Kekeliruan rezim Soeharto di dalam memperlakukan agama dan para pemeluknya tidak selayaknya terulang Kelima, RUU KUB itu tampak sangat diskriminatif kembali pada era reformasi ini. terhadap agama minoritas dan meng-anak emas-kan agama mayoritas. Mayoritas yang dimaksudkan adalah Hegemoni dan Monopoli kelompok terbesar dari umat agama tertentu yang terletak pada suatu daerah atau wilayah. Tentu saja, Keempat, RUU KUB ini berupaya untuk melakukan mayoritas yang diuntungkan oleh RUU KUB ini bukan hegemoni dan monopoli tafsir atas agama (Pasal 17 hanya Islam, seperti halnya di Jawa. Melainkan juga Ayat 1 RUU KUB). Segala jenis tafsir atas agama umat non-Islam, sebagaimana Hindu yang mayoritas (Islam) yang tidak sejalan dengan tafsir resmi, karuan di Bali, atau Kristen yang mayoritas di Ambon, dan saja akan diberangus. Implikasinya, kegiatan ijtihad sebagainya. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana dan bertafsir oleh setiap umat beragama akan terhenti, nasib umat Islam yang minoritas di Kawasan Timur karena tafsir atas agama telah dikuasai dan dimonopoli Indonesia, dan bagaimana nasib umat agama non-Islam oleh sekelompok orang. Segala pemikiran akan yang minoritas di Jawa. diseragamkan. Tindakan pemberangusan terhadap pemahaman yang tidak bersejalan dengan tafsir resmi Sindrom mayoritas-minoritas sungguh amat berbahaya akan terus dilakukan. Pola pemberangusan seperti itu di tengah kondisi negara Indonesia yang tidak tentu saja sangat problematis di tengah antusiasme sepenuhnya normal. Dalam konteks demikian, maka — 64 —
  • 74.
    « mayoritas merupakan monsterbagi yang minoritas. Begitu juga sebaliknya, yang minoritas adalah mangsa mayoritas. Keresahan akan timbul di mana-mana, terutama di kalangan minoritas. Jika RUU KUB tidak segera dicegah-tangkal, maka tak ayal lagi akan terjadi gelombang konflik dan perkelahian massal antar umat beragama di pelbagai ruas wilayah Indonesia. Alih-alih untuk menciptakan kerukunan, yang terjadi justru RUU KUB akan menjadi bumbu dan penyulut konflik di tengah masyarakat.. Akhirnya, sebagai wujud partisipasi publik di dalam proses penentuan fondasi perundang-undangan, maka umat beragama kiranya tidak bisa berdiam diri menghadapi RUU KUB yang nyata-nyata akan mengganggu komunikasi internal umat suatu agama dan antar umat beragama di Indonesia. Melaui medium ini pula, perlu kita serukan bagi seluruh umat beragama di Indonesia untuk bangkit agar negara tidak bertindak intervensionis terhadap aktivitas keberagamaan di Indonesia. Penulis adalah aktivis Jaringan Islam Liberal Jakarta. — 65 —
  • 75.
    « 15/12/2003 Menilik Metode Qiyas Syafi’i Oleh Abd Moqsith Ghazali Sekian banyak metodologi telah disusun untuk menafsirkan al-Qur`an dimaksud. Dalam lanskap itu, Imam Syafi’i dipandang sebagai orang pertama yang memancangkan fondasi metodologi pembacan teks melalui masterpiecenya, al-Risalah. Akan tetapi, dalam perkembangan kontemporer, kitab-kitab ushul fikih lama itu diduga keras sedang mengidap sejumlah persoalan yang kronis. Kelemahan epistemologis ini, saya kira, merupakan utang intelektual yang mesti ditebus oleh ushul fikih (qiyas) model Syafi’i ini. A l-Qur`an terus dikunjungi oleh umat manusia kitab ushul fikih Syafi’iyah “al-‘ibrah bi ‘umum untuk dibaca dan ditafsirkan. Menafsirkan al-lafdz la bi khushush al-sabab” terkesan terlalu al-Qur`an berarti upaya untuk menjelaskan dan memberhalakan teks dan mengabaikan konteks. mengungkapkan maksud dan kandungan al- Pembahasan tentang lafdz (kata) dengan porsi yang Qur`an. Proses pembacaan dan penafsiran yang lama demikian luas merupakan indikasi kuat betapa berlangsung telah menghasilkan beratus-ratus kitab ushul fikih lama sangat menekankan teks dan tafsir sejak masa lampau hingga sekarang. Banyak kitab nyaris menafikan konteks. Pendeknya, ushul fikih tafsir dengan corak dan ragamnya yang berbeda itu, konvensional lebih menitikberatkan pada lafdz (kata) di samping sebagai bukti prihal ketidakberhinggaan dan bukan pada maqashid (ideal moral). kerja penafsiran, juga di dalam kerangka untuk membunyikan aksara al-Qur`an dalam tataran Ketiga, menyangkut konsep qiyas (analogi) yang masyarakat yang terus berubah. terutama diusung oleh Syafi’ i.. Per definisi, qiyas dikatakan sebagai menganalogikan sesuatu yang Sekian banyak metodologi telah disusun untuk belum jelas ketentuan hukumnya (furu’) dengan menafsirkan al-Qur`an dimaksud. Dalam lanskap itu, yang sudah jelas hukumnya dalam al-Qur`an dan Imam Syafi’i dipandang sebagai orang pertama yang al-Sunnah (ashal) karena ada kesamaan illat. Model memancangkan fondasi metodologi pembacan teks qiyas seperti ini bermasalah setidaknya karena dua hal melalui masterpiecenya, al-Risalah. Bangunan ushul berikut. [a] bahwa tidak ada dua peristiwa yang persis fikih Syafi’i kemudian mencapai fase kematangannya sama, sehingga hukum keduanya bisa diparalelkan. dari para pengikut Syafi’i, di antaranya adalah al- Persamaan illat yang menjadi alasan pengoperasian Subki dengan bukunya Jam’u al-Jawami’. Di situ qiyas sesungguhnya merupakan tindakan simplifikasi. al-Subki berbicara sangat detail tentang teori lafzd. menyangkut hal-hal yang bersifat sosial, qiyas Syafi’i Dari kalangan madzhab Maliki, al-Syathibi menyusun tampak mengabaikan konteks yang melandasi sebuah buku monumental yang bertitel al-Muwafaqat kehadiran hukum ashal. Betapa, pengetahuan terhadap fiy ushul al-Syari’ah. Dalam buku tersebut, al-Syathibi konteks hukum ashal tidak pernah menjadi rukun dari banyak mengelaborasi konsep maqashid al-syari’ah. qiyas. Kitab-kitab ushul fikih itu berdiri demikian kokoh dan mapan sehingga mayoritas para ahli ushul Kelemahan epistemologis ini, saya kira, merupakan belakangan tidak bisa keluar dari jeratan metodologi utang intelektual yang mesti ditebus oleh ushul al-salaf al-shalih. Ushul fikih purba begitu dimanja dan fikih (qiyas) model Syafi’i ini. Apa yang dilakukan disakralkan oleh para pembacanya. oleh pemikir-pemikir muslim kontemporer dengan kerangka dan metodologi barunya, seperti Nashr Akan tetapi, dalam perkembangan kontemporer, Hamid Abu Zaid, Arkoun, Adonis, Hasan Turabi, kitab-kitab ushul fikih lama itu diduga keras sedang Masdar F. Mas’udi, dan lain-lain kiranya untuk mengidap sejumlah persoalan yang kronis. Pertama, melengkapi ushul fikih Syafi’i beraroma Arab-sentris. Arabisme merupakan ideologi yang lekat dalam tembok ushul kekurangan-kekurangan tadi. Mengubah ushul fikih fikih lama. Kedua, kaidah yang banyak dilansir oleh lama tentu saja teramat absah dari sudut akademis- — 66 —
  • 76.
    « intelektual, karena iaseutuhnya merupakan kreasi para ulama. Ushul fikih memiliki status epistemologis yang relatif, tidak mutlak. (Abdul Moqsith Ghazali) — 67 —
  • 77.