Analisa Gas Darah dan Uji Faal
Paru
Pendahuluan
2
• AGD: alat diagnostik yang banyak digunakan untuk mengevaluasi tekanan
parsial gas dalam darah dan kandungan asam basa.
• AGD menilai PaO2 dan PaCO2 pasien.
• PaO2 memberikan informasi mengenai status oksigenasi, sedangkan PaCO2
memberikan informasi mengenai status ventilasi (gagal napas kronis atau
akut).
• PaCO2 dipengaruhi oleh hiperventilasi (pernapasan cepat atau dalam),
hipoventilasi (pernapasan lambat atau dangkal), dan status asam basa.
• Meskipun oksigenasi dan ventilasi dapat dinilai secara non-invasif melalui
oksimetri nadi dan pemantauan karbon dioksida end-tidal, AGD tetap menjadi
standar.
Fisiologi Asam-
Basa
3
Asam
• Asam adalah donor proton (donor ion hidrogen)
• Dalam fisiologi manusia, konvensi
mengklasifikasikan asam menjadi:
• "volatile acid" - asam karbonat (H2CO3) yang
diekskresikan dalam paru-paru sebagai CO2 - dan
“fixed acid” – diekskresikan di ginjal.
• Ginjal memiliki kapasitas yang lebih kecil
dibandingkan paru-paru untuk mengendalikan atau
memulihkan keseimbangan asam-basa, terutama
dalam jangka waktu singkat.
Basa
• Basa adalah penerima proton.
• Bikarbonat (HCO3), klorida (Cl-), amonium (NH3-),
fosfat (PO3-)
Asam karbonat disebut asam volatil karena mudah
dikeluarkan dalam bentuk gas oleh paru-paru sebagai
CO2.
CO2 + H2O <- -> H2CO3 <- -> HCO3- + H+
• Jika konsentrasi CO2 turun (karena peningkatan
RR) maka ion hidrogen bergeser ke sisi kiri
persamaan ini untuk mengkompensasi.
𝐻 + 𝑝𝑟𝑜𝑝𝑜𝑟𝑠𝑖𝑜𝑛𝑎𝑙 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛
𝑝𝐶𝑂2
𝐻𝐶𝑂3
Fisiologi Asam-
Basa
4
• Buffer -> meminimalkan perubahan pH ketika
asam atau basa ditambahkan ke suatu sistem.
• Terdiri dari asam lemah dan basa konjugasinya
atau basa lemah dan asam konjugasinya.
Fisiologi Asam-
Basa
5
Kompensasi respirasi
• Relatif cepat (menit hingga jam).
• Peningkatan ekskresi CO2 akibat hiperventilasi:
• Koreksi asidosis respiratorik
• Produksi alkalosis respiratorik
• Kompensasi asidosis metabolik.
• Respon pernafasan sangat berguna secara
fisiologis karena pengaruhnya terhadap pH
intraseluler dan juga pH ekstraseluler.
• Karbon dioksida melintasi membran sel dengan
mudah sehingga perubahan pCO2
mempengaruhi pH intraseluler dengan cepat.
Ekskresi ginjal
• Jauh lebih lambat (beberapa hari untuk
mencapai kapasitas maksimum)
• Melibatkan penyesuaian ekskresi bikarbonat
oleh ginjal.
• Ekskresi fixed acids dan kompensasi
perubahan plasma [HCO3] pada gangguan
asam-basa pernafasan.
• Tiga elemen utama: reabsorpsi bikarbonat;
Sekresi H+; dan pembentukan NH4+.
Alur Interpretasi AGD
6
6 step approach
• Step 1: Nilai kelayakan AGD dengan
persamaan Henderseon-Hasselbach
• Step 2: Alkalosis/asidosis?
• Step 3: Respiratorik/metabolik?
• Step 4: Sederhana/campuran?
• Step 5: Hitung anion gap (jika asidosis
metabolik)
• Step 6: Jika anion gap meningkat -> nilai
hubungan antara peningkatan anion gap
dengan penurunan HCO3
Nilai normal AGD
pH (7.35-7.45)
PaO2 (75-100 mmHg)
PaCO2 (35-45 mmHg)
HCO3 (22-26 meq/L)
Base excess/deficit (-4 to +2)
SaO2 (95-100%)
Contoh kasus:
Pasien wanita 52 tahun, datang dengan sesak nafas dan badan lemas
sejak 3 hari. TTV stabil. Dilakukan pengecekan gds : 358. riwayat DM
tidak teratur minum obat
• pH : 7.32
• pCO2: 28
• HCO3 : 14
• Na : 140
• K: 3,6
• Cl : 116
7
1. Nilai kelayakan AGD
8
pH {H+} nmol/L
7.0 100
7.05 89
7.10 79
7.15 71
7.20 63
7.25 56
7.30 50
7.35 45
7.40 40
7.45 35
7.50 32
7.55 28
7.60 25
7.65 22
Persamaan Henderson-Hasselbach
𝐻 + =
24(𝑝𝐶𝑂2)
𝐻𝐶𝑂3
H+ = (24 x 28) : 14 = 48
Kesimpulan: layak baca
Contoh kasus 1:
pH : 7.32
pCO2: 28
HCO3 : 14
Na : 140
K: 3,6
Cl : 116
2. Alkalosis/Asidosis
9
pH < 7.35 acidemia
pH > 7.45 alkalemia
• Biasanya merupakan gangguan primer
• Asidosis atau alkalosis dapat terjadi meskipun
pH berada dalam kisaran normal (7,35 – 7,45)
• Periksa PaCO2, HCO -, dan anion gap
Asidosis
Contoh kasus 1:
pH : 7.32
pCO2: 28
HCO3 : 14
Na : 140
K: 3,6
Cl : 116
3. Respiratorik/Metabolik?
10
Gangguan respiratorik primer -> pH dan PaCO2 berubah dengan arah berkebalikan
Gangguan metabolik primer -> pH dan HCO3 berubah dengan arah yang sama
pH turun, HCO3 turun, PCO2 turun
-> Metabolik
Contoh kasus 1:
pH : 7.32
pCO2: 28
HCO3 : 14
Na : 140
K: 3,6
Cl : 116
Nilai normal AGD
pH (7.35-7.45)
PaO2 (75-100 mmHg)
PaCO2 (35-45 mmHg)
HCO3 (22-26 meq/L)
Base excess/deficit (-4 to +2)
SaO2 (95-100%)
4. Sederhana/Campuran?
11
Nilai kompensasi dari setiap kenaikan/penurunan PaCO2/HCO3
4. Sederhana/Campuran?
12 AGD, Spirometri, DLCOJune 18, 2024
Contoh kasus 1:
pH : 7.32
pCO2: 28
HCO3 : 14
Na : 140
K: 3,6
Cl : 116
pCO2 = (1.5 x HCO3) +8 (±2)
= (1.5 x 14) + 8 (±2)
= 29 (±2)
Simple metabolic acidosis
4. Sederhana/Campuran?
13 AGD, Spirometri, DLCOJune 18, 2024
5. Anion Gap
14
Rumus anion gap:
AG = [Na+]-( [Cl-] + [HCO3 -] )
=
• Anion normal adalah sekitar 12 meq/L.
• Pada pasien dengan hipoalbuminemia, anion
gap normal lebih rendah dari 12 meq/L;
• Anion gap “normal” pada pasien dengan
hipoalbuminemia adalah sekitar 2,5 meq/L
lebih rendah untuk setiap penurunan 1 gm/dL
dalam konsentrasi albumin plasma (misalnya,
pasien dengan albumin plasma 2,0 gm/dL
akan menjadi sekitar 7 meq/ L.)
• Jika anion gap meningkat, hitung osmolal gap dalam
situasi klinis yang sesuai:
• Peningkatan AG pada kasus yang tidak jelas
(DKA, asidosis laktat, gagal ginjal)
• Dicurigai adanya konsumsi racun
OSM gap = OSM terukur – (2[Na+] - glukosa/18 –
BUN/2.8
OSM gap normal <10
Contoh kasus 1:
pH : 7.32
pCO2: 28
HCO3 : 14
Na : 140
K: 3,6
Cl : 116
AG
= 140 – (116+14)
= 10
6. Delta/Delta (Jika AG Meningkat)
15 AGD, Spirometri, DLCOJune 18, 2024
• Nilai perbandingan perubahan anion gap (∆AG ) terhadap perubahan
[HCO3-] (∆[HCO -]): ∆AG/∆[HCO -]
• Rasio ini berkisar antara 1,0 dan 2,0 pada asidosis metabolik anion gap
sederhana.
• Jika rasio berada di luar kisaran ini, maka terjadi gangguan metabolisme
lainnya:
Jika ∆AG/∆[HCO -] < 1,0, kemungkinan besar terjadi asidosis metabolik non-
anion gap secara bersamaan.
Jika ∆AG/∆[HCO -] > 2,0, maka kemungkinan terjadi alkalosis metabolik
secara bersamaan.
Contoh-contoh Kasus AGD
Kasus 1
Pasien Pria 70 tahun, datang dengan penurunan kesadaran
sejak 5 jam. Diketahui menderita CKD on HD tapi sudah 1
minggu tidak HD. TD: 80/50, HR: 122, RR: 28 SpO2: 90%.
Sebutkan interpretasi AGD
• pH : 7.29
• paCO2: 30
• HCO3 : 14
• Na : 128
• K: 5,7
• Cl : 94
• Wanita 50 th, penderita DM, dibawa ke IGD karena tdk
sadarkan diri (semi comatouse ), sejak 4 jam SMRS. Obat-obat
yang telah diminum adalah digoxin dan HT untuk gagal jantung
kongestif yang diderita. Sebutkan interpretasi AGD
• pH : 7.09
• paCO2: 34
• HCO3 : 10
• Na : 135
• K: 3,5
• Cl : 112
• Albumin : 2.0
Kasus 2
• Pria 38 tahun datang dengan muntah muntah hebat setelah
minum alkohol. TD: 90/60, HR: 109 RR: 22 SpO2: 95%.
Sebutkan interpretasi AGD
• pH : 7.27
• paCO2: 27
• HCO3 : 12
• Na : 140
• K: 4,2
• Cl : 98
Kasus 3
• Pria 65 tahun dengan sesak nafas sejak 2 hari, diketahui sudah
5 tahun menderita COPD. Sesak muncul bila pasien
beraktivitas sedang – berat. TD: 148/89 HR: 98 RR: 32 SpO2:
92%. Sebutkan interpretasi AGD
• pH : 7.34
• paCO2: 65
• HCO3 : 34
Kasus 4
• Laki-laki 48 tahun seorang alkoholik ditemukan tidak sadar di
rumahnya, dengan ditemukan banyak muntahan. Pasien
tampak masih menghadiri pesta 6 jam sebelumnya. Sebutkan
interpretasi AGD
• pH : 7.17
• paCO2: 65
• HCO3 : 22
• Na : 136
• K : 4,0
• Cl: 98
• Albumin : 1,6
Kasus 5
• Permpuan 67 tahun dengan tb paru datang ke poli
dengansesak nafas hilang timbul. TTV stabil. Sebutkan
interpretasi AGD
• pH : 7.47
• paCO2: 20
• HCO3 : 14
Kasus 6
• Laki-laki dengan DM dan CKD datang dengan sesak nafas
sejak 2 jam. TTV stabil. Sebutkan interpretasi AGD
• pH : 7.47
• paCO2: 20
• HCO3 : 14
• Na: 135
• K : 4.5
• Cl: 114
Kasus 7
• Laki-laki dengan riwayat asma datang dengan sesak nafas
sejak 2 jam. TTV stabil. Sebutkan interpretasi AGD
• pH : 7.50
• paCO2: 45
• HCO3 : 36
Kasus 8
• Perempuan, 37 tahun dengan riwayat DM dan HT datang untuk
kontrol, mengatakan sering sesak bila naik tangga. TTV stabil.
Sebutkan interpretasi AGD
• pH : 7.39
• paCO2: 22
• HCO3 : 13
• Na : 139
• K : 3.7
• Cl : 88
Kasus 9
Spirometri
37 June 18, 2024
Indikasi
• Diagnosa
• Pemantauan
• Lainnya
Kontraindikasi relatif
• Peningkatan kebutuhan miokard atau
perubahan tekanan darah
• Peningkatan tekanan
intrakranial/intraocular
• Peningkatan tekanan sinus dan telinga
tengah
• Peningkatan tekanan intrathoracic dan
intraabdominal
• Pengendalian infeksi
Spirometri
38 June 18, 2024
Nilai persentil ke-5 (Batas Normal Bawah) untuk berbagai
indeks fungsi paru yang dinyatakan sebagai persentase prediksi
Spirometri
39 June 18, 2024
Acceptable
• Grafik memiliki puncak 1 buah
• Terbebas dari artefak: batuk,
valsava/penutupan glottis, sumbatan
mouthpiece, meniup lebih dari 1x, dan
kebocoran
Repeatability
2 manuver dengan nilai terbesar memiliki
perbedaan volume absolut kurang dari 150 ml
untuk FVC dan FEV1
Spirometri
40 June 18, 2024
Faal Paru Normal :
- VC dan FVC >80% dari nilai prediksi
- FEV1 >80% dari nilai prediksi
- Rasio FEV1/FVC >70%
Gangguan Faal Paru Restriksi :
- VC atau FVC <80%
- FEV1/FVC >70%
Gangguan Faal Paru Obstruktif :
- FEV1/FVC <70%
- FEV1 <80%
Ringan >70
Sedang 50-69
Berat 35-49
Sangat berat <35
Pada Asma
- FEV1/FVC di bawah batas bawah normal
- FEV1 meningkat > 200 ml dan > 12% pasca
bronkodilator atau 4 minggu setelah terapi anti
inflammasi
Pada PPOK
- FEV1/FVC < 0,7 pascabronkodilator
Pendekatan Interpretasi
Spirometri
41 June 18, 2024
Contoh kasus:
Pasien saat ini dirawat dengan gangren digiti 1,2 pedis dextra.
Pasien dengan penyakit dasar SLE-systemic sclerosis overlap
syndrome sejak 2020, dengan ILD dari hasil CT toraks Oktober
2023. Pasien riwayat loss to follow up 3 bulan.
CT scan thorax 5/10/2023
Dibandingkan CT scan toraks sebelumnya, saat ini:
- Gambaran ILD pola NSIP di kedua paru, bertambah.
- Nodul subpleura di segmen 8 paru kanan, ukuran relatif stqa.
- Kardiomegali dengan efusi perikardium.
- Suspek dilatasi esofagus
Hasil spirometri:
Spirometri 15/5/24
FEV1/FVC 90%
FVC 41%
FEV1 43%
Annual Review
43
DLCO
44 June 18, 2024
• Pemeriksaan untuk menilai kemampuan paru dalam mentransfer gas
dari udara inspirasi ke aliran darah.
• Selama sepuluh detik menahan napas, DLCO mengukur uptake CO
per satuan waktu per mm tekanan CO (cc CO/detik/mmHg).
Difusi gas melintasi membran alveolar meningkat pada:
• Peningkatan luas permukaan membran (A)
• Peningkatan gradien tekanan alveolar (ΔP)
• Peningkatan kelarutan gas
• Penurunan ketebalan membran (T)
DLCO
45 June 18, 2024
DLCO
46 June 18, 2024
• Penderita tidak boleh merokok 24 jam sebelum uji DLCO dilakukan atau olah raga
berlebihan pada hari akan dilakukan uji DLCO.
• Penderita yang mendapat terapi O2 harus menghentikan suplementasi O2 selama 10
menit sebelum pemeriksaan bila memungkinkan
DLCO
47 June 18, 2024
Metode Single breath
Bernafas normal pada resting breath -> ekspirasi maksimal (RV) -> inspirasi maksimal
tes gas dengan cepat (VC) -> tahan nafas 10 detik (TLC) -> ekspirasi
Tes gas:
• 0,3% CO
• 0,3% tracer gas (helium, metana, atau neon)
• 21% oksigen
• Nitrogen seimbang
• Gas yang dihembuskan dianalisis setelah mengeksklusi jumlah gas dari dead space.
• Gas dianalisis untuk mengetahui konsentrasi CO dan tracer. Volume paru total,
konsentrasi CO awal dan akhir, serta waktu menahan napas digunakan untuk
menghitung DLCO.
DLCO
48 June 18, 2024
Klasifikasi derajat keparahan
- Tinggi (>140% prediksi)
- Normal (76-140% prediksi)
- Penurunan ringan (61- 75% prediksi)
- Penurunan sedang (40-60% prediksi)
- Penurunan berat (<40% prediksi)
DLCO
49 June 18, 2024
DLCO rendah:
• PPOK dengan emfisema akibat kerusakan alveolar (biasanya normal pada bronkitis kronis) dengan pola
obstruktif pada PFT.
• Penyakit paru interstisial
• Fibrosis paru akibat penebalan membran alveolar-kapiler dengan pola restriktif pada PFT.
DLCO normal dengan pola restriktif pada PFT -> kelainan neuromuskular atau dinding dada.
Pada kasus dispnea yang etiologinya tidak diketahui, pola spirometri normal dengan DLCO rendah
meningkatkan kemungkinan adanya penyakit pembuluh darah paru. Namun, pola ini juga dapat muncul pada
kelainan lain, misalnya ILD ringan.
DLCO yang tinggi terlihat pada kondisi seperti obesitas, asma, yang ditandai dengan volume paru-paru yang
besar.
Thank you

Interpretasi AGD.pptx Diskusi kasus intgerpretasi

  • 1.
    Analisa Gas Darahdan Uji Faal Paru
  • 2.
    Pendahuluan 2 • AGD: alatdiagnostik yang banyak digunakan untuk mengevaluasi tekanan parsial gas dalam darah dan kandungan asam basa. • AGD menilai PaO2 dan PaCO2 pasien. • PaO2 memberikan informasi mengenai status oksigenasi, sedangkan PaCO2 memberikan informasi mengenai status ventilasi (gagal napas kronis atau akut). • PaCO2 dipengaruhi oleh hiperventilasi (pernapasan cepat atau dalam), hipoventilasi (pernapasan lambat atau dangkal), dan status asam basa. • Meskipun oksigenasi dan ventilasi dapat dinilai secara non-invasif melalui oksimetri nadi dan pemantauan karbon dioksida end-tidal, AGD tetap menjadi standar.
  • 3.
    Fisiologi Asam- Basa 3 Asam • Asamadalah donor proton (donor ion hidrogen) • Dalam fisiologi manusia, konvensi mengklasifikasikan asam menjadi: • "volatile acid" - asam karbonat (H2CO3) yang diekskresikan dalam paru-paru sebagai CO2 - dan “fixed acid” – diekskresikan di ginjal. • Ginjal memiliki kapasitas yang lebih kecil dibandingkan paru-paru untuk mengendalikan atau memulihkan keseimbangan asam-basa, terutama dalam jangka waktu singkat. Basa • Basa adalah penerima proton. • Bikarbonat (HCO3), klorida (Cl-), amonium (NH3-), fosfat (PO3-) Asam karbonat disebut asam volatil karena mudah dikeluarkan dalam bentuk gas oleh paru-paru sebagai CO2. CO2 + H2O <- -> H2CO3 <- -> HCO3- + H+ • Jika konsentrasi CO2 turun (karena peningkatan RR) maka ion hidrogen bergeser ke sisi kiri persamaan ini untuk mengkompensasi. 𝐻 + 𝑝𝑟𝑜𝑝𝑜𝑟𝑠𝑖𝑜𝑛𝑎𝑙 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑝𝐶𝑂2 𝐻𝐶𝑂3
  • 4.
    Fisiologi Asam- Basa 4 • Buffer-> meminimalkan perubahan pH ketika asam atau basa ditambahkan ke suatu sistem. • Terdiri dari asam lemah dan basa konjugasinya atau basa lemah dan asam konjugasinya.
  • 5.
    Fisiologi Asam- Basa 5 Kompensasi respirasi •Relatif cepat (menit hingga jam). • Peningkatan ekskresi CO2 akibat hiperventilasi: • Koreksi asidosis respiratorik • Produksi alkalosis respiratorik • Kompensasi asidosis metabolik. • Respon pernafasan sangat berguna secara fisiologis karena pengaruhnya terhadap pH intraseluler dan juga pH ekstraseluler. • Karbon dioksida melintasi membran sel dengan mudah sehingga perubahan pCO2 mempengaruhi pH intraseluler dengan cepat. Ekskresi ginjal • Jauh lebih lambat (beberapa hari untuk mencapai kapasitas maksimum) • Melibatkan penyesuaian ekskresi bikarbonat oleh ginjal. • Ekskresi fixed acids dan kompensasi perubahan plasma [HCO3] pada gangguan asam-basa pernafasan. • Tiga elemen utama: reabsorpsi bikarbonat; Sekresi H+; dan pembentukan NH4+.
  • 6.
    Alur Interpretasi AGD 6 6step approach • Step 1: Nilai kelayakan AGD dengan persamaan Henderseon-Hasselbach • Step 2: Alkalosis/asidosis? • Step 3: Respiratorik/metabolik? • Step 4: Sederhana/campuran? • Step 5: Hitung anion gap (jika asidosis metabolik) • Step 6: Jika anion gap meningkat -> nilai hubungan antara peningkatan anion gap dengan penurunan HCO3 Nilai normal AGD pH (7.35-7.45) PaO2 (75-100 mmHg) PaCO2 (35-45 mmHg) HCO3 (22-26 meq/L) Base excess/deficit (-4 to +2) SaO2 (95-100%)
  • 7.
    Contoh kasus: Pasien wanita52 tahun, datang dengan sesak nafas dan badan lemas sejak 3 hari. TTV stabil. Dilakukan pengecekan gds : 358. riwayat DM tidak teratur minum obat • pH : 7.32 • pCO2: 28 • HCO3 : 14 • Na : 140 • K: 3,6 • Cl : 116 7
  • 8.
    1. Nilai kelayakanAGD 8 pH {H+} nmol/L 7.0 100 7.05 89 7.10 79 7.15 71 7.20 63 7.25 56 7.30 50 7.35 45 7.40 40 7.45 35 7.50 32 7.55 28 7.60 25 7.65 22 Persamaan Henderson-Hasselbach 𝐻 + = 24(𝑝𝐶𝑂2) 𝐻𝐶𝑂3 H+ = (24 x 28) : 14 = 48 Kesimpulan: layak baca Contoh kasus 1: pH : 7.32 pCO2: 28 HCO3 : 14 Na : 140 K: 3,6 Cl : 116
  • 9.
    2. Alkalosis/Asidosis 9 pH <7.35 acidemia pH > 7.45 alkalemia • Biasanya merupakan gangguan primer • Asidosis atau alkalosis dapat terjadi meskipun pH berada dalam kisaran normal (7,35 – 7,45) • Periksa PaCO2, HCO -, dan anion gap Asidosis Contoh kasus 1: pH : 7.32 pCO2: 28 HCO3 : 14 Na : 140 K: 3,6 Cl : 116
  • 10.
    3. Respiratorik/Metabolik? 10 Gangguan respiratorikprimer -> pH dan PaCO2 berubah dengan arah berkebalikan Gangguan metabolik primer -> pH dan HCO3 berubah dengan arah yang sama pH turun, HCO3 turun, PCO2 turun -> Metabolik Contoh kasus 1: pH : 7.32 pCO2: 28 HCO3 : 14 Na : 140 K: 3,6 Cl : 116 Nilai normal AGD pH (7.35-7.45) PaO2 (75-100 mmHg) PaCO2 (35-45 mmHg) HCO3 (22-26 meq/L) Base excess/deficit (-4 to +2) SaO2 (95-100%)
  • 11.
    4. Sederhana/Campuran? 11 Nilai kompensasidari setiap kenaikan/penurunan PaCO2/HCO3
  • 12.
    4. Sederhana/Campuran? 12 AGD,Spirometri, DLCOJune 18, 2024 Contoh kasus 1: pH : 7.32 pCO2: 28 HCO3 : 14 Na : 140 K: 3,6 Cl : 116 pCO2 = (1.5 x HCO3) +8 (±2) = (1.5 x 14) + 8 (±2) = 29 (±2) Simple metabolic acidosis
  • 13.
    4. Sederhana/Campuran? 13 AGD,Spirometri, DLCOJune 18, 2024
  • 14.
    5. Anion Gap 14 Rumusanion gap: AG = [Na+]-( [Cl-] + [HCO3 -] ) = • Anion normal adalah sekitar 12 meq/L. • Pada pasien dengan hipoalbuminemia, anion gap normal lebih rendah dari 12 meq/L; • Anion gap “normal” pada pasien dengan hipoalbuminemia adalah sekitar 2,5 meq/L lebih rendah untuk setiap penurunan 1 gm/dL dalam konsentrasi albumin plasma (misalnya, pasien dengan albumin plasma 2,0 gm/dL akan menjadi sekitar 7 meq/ L.) • Jika anion gap meningkat, hitung osmolal gap dalam situasi klinis yang sesuai: • Peningkatan AG pada kasus yang tidak jelas (DKA, asidosis laktat, gagal ginjal) • Dicurigai adanya konsumsi racun OSM gap = OSM terukur – (2[Na+] - glukosa/18 – BUN/2.8 OSM gap normal <10 Contoh kasus 1: pH : 7.32 pCO2: 28 HCO3 : 14 Na : 140 K: 3,6 Cl : 116 AG = 140 – (116+14) = 10
  • 15.
    6. Delta/Delta (JikaAG Meningkat) 15 AGD, Spirometri, DLCOJune 18, 2024 • Nilai perbandingan perubahan anion gap (∆AG ) terhadap perubahan [HCO3-] (∆[HCO -]): ∆AG/∆[HCO -] • Rasio ini berkisar antara 1,0 dan 2,0 pada asidosis metabolik anion gap sederhana. • Jika rasio berada di luar kisaran ini, maka terjadi gangguan metabolisme lainnya: Jika ∆AG/∆[HCO -] < 1,0, kemungkinan besar terjadi asidosis metabolik non- anion gap secara bersamaan. Jika ∆AG/∆[HCO -] > 2,0, maka kemungkinan terjadi alkalosis metabolik secara bersamaan.
  • 16.
  • 17.
    Kasus 1 Pasien Pria70 tahun, datang dengan penurunan kesadaran sejak 5 jam. Diketahui menderita CKD on HD tapi sudah 1 minggu tidak HD. TD: 80/50, HR: 122, RR: 28 SpO2: 90%. Sebutkan interpretasi AGD • pH : 7.29 • paCO2: 30 • HCO3 : 14 • Na : 128 • K: 5,7 • Cl : 94
  • 18.
    • Wanita 50th, penderita DM, dibawa ke IGD karena tdk sadarkan diri (semi comatouse ), sejak 4 jam SMRS. Obat-obat yang telah diminum adalah digoxin dan HT untuk gagal jantung kongestif yang diderita. Sebutkan interpretasi AGD • pH : 7.09 • paCO2: 34 • HCO3 : 10 • Na : 135 • K: 3,5 • Cl : 112 • Albumin : 2.0 Kasus 2
  • 19.
    • Pria 38tahun datang dengan muntah muntah hebat setelah minum alkohol. TD: 90/60, HR: 109 RR: 22 SpO2: 95%. Sebutkan interpretasi AGD • pH : 7.27 • paCO2: 27 • HCO3 : 12 • Na : 140 • K: 4,2 • Cl : 98 Kasus 3
  • 20.
    • Pria 65tahun dengan sesak nafas sejak 2 hari, diketahui sudah 5 tahun menderita COPD. Sesak muncul bila pasien beraktivitas sedang – berat. TD: 148/89 HR: 98 RR: 32 SpO2: 92%. Sebutkan interpretasi AGD • pH : 7.34 • paCO2: 65 • HCO3 : 34 Kasus 4
  • 21.
    • Laki-laki 48tahun seorang alkoholik ditemukan tidak sadar di rumahnya, dengan ditemukan banyak muntahan. Pasien tampak masih menghadiri pesta 6 jam sebelumnya. Sebutkan interpretasi AGD • pH : 7.17 • paCO2: 65 • HCO3 : 22 • Na : 136 • K : 4,0 • Cl: 98 • Albumin : 1,6 Kasus 5
  • 22.
    • Permpuan 67tahun dengan tb paru datang ke poli dengansesak nafas hilang timbul. TTV stabil. Sebutkan interpretasi AGD • pH : 7.47 • paCO2: 20 • HCO3 : 14 Kasus 6
  • 23.
    • Laki-laki denganDM dan CKD datang dengan sesak nafas sejak 2 jam. TTV stabil. Sebutkan interpretasi AGD • pH : 7.47 • paCO2: 20 • HCO3 : 14 • Na: 135 • K : 4.5 • Cl: 114 Kasus 7
  • 24.
    • Laki-laki denganriwayat asma datang dengan sesak nafas sejak 2 jam. TTV stabil. Sebutkan interpretasi AGD • pH : 7.50 • paCO2: 45 • HCO3 : 36 Kasus 8
  • 25.
    • Perempuan, 37tahun dengan riwayat DM dan HT datang untuk kontrol, mengatakan sering sesak bila naik tangga. TTV stabil. Sebutkan interpretasi AGD • pH : 7.39 • paCO2: 22 • HCO3 : 13 • Na : 139 • K : 3.7 • Cl : 88 Kasus 9
  • 26.
    Spirometri 37 June 18,2024 Indikasi • Diagnosa • Pemantauan • Lainnya Kontraindikasi relatif • Peningkatan kebutuhan miokard atau perubahan tekanan darah • Peningkatan tekanan intrakranial/intraocular • Peningkatan tekanan sinus dan telinga tengah • Peningkatan tekanan intrathoracic dan intraabdominal • Pengendalian infeksi
  • 27.
    Spirometri 38 June 18,2024 Nilai persentil ke-5 (Batas Normal Bawah) untuk berbagai indeks fungsi paru yang dinyatakan sebagai persentase prediksi
  • 28.
    Spirometri 39 June 18,2024 Acceptable • Grafik memiliki puncak 1 buah • Terbebas dari artefak: batuk, valsava/penutupan glottis, sumbatan mouthpiece, meniup lebih dari 1x, dan kebocoran Repeatability 2 manuver dengan nilai terbesar memiliki perbedaan volume absolut kurang dari 150 ml untuk FVC dan FEV1
  • 29.
    Spirometri 40 June 18,2024 Faal Paru Normal : - VC dan FVC >80% dari nilai prediksi - FEV1 >80% dari nilai prediksi - Rasio FEV1/FVC >70% Gangguan Faal Paru Restriksi : - VC atau FVC <80% - FEV1/FVC >70% Gangguan Faal Paru Obstruktif : - FEV1/FVC <70% - FEV1 <80% Ringan >70 Sedang 50-69 Berat 35-49 Sangat berat <35 Pada Asma - FEV1/FVC di bawah batas bawah normal - FEV1 meningkat > 200 ml dan > 12% pasca bronkodilator atau 4 minggu setelah terapi anti inflammasi Pada PPOK - FEV1/FVC < 0,7 pascabronkodilator
  • 30.
  • 31.
    Contoh kasus: Pasien saatini dirawat dengan gangren digiti 1,2 pedis dextra. Pasien dengan penyakit dasar SLE-systemic sclerosis overlap syndrome sejak 2020, dengan ILD dari hasil CT toraks Oktober 2023. Pasien riwayat loss to follow up 3 bulan. CT scan thorax 5/10/2023 Dibandingkan CT scan toraks sebelumnya, saat ini: - Gambaran ILD pola NSIP di kedua paru, bertambah. - Nodul subpleura di segmen 8 paru kanan, ukuran relatif stqa. - Kardiomegali dengan efusi perikardium. - Suspek dilatasi esofagus Hasil spirometri: Spirometri 15/5/24 FEV1/FVC 90% FVC 41% FEV1 43%
  • 32.
  • 33.
    DLCO 44 June 18,2024 • Pemeriksaan untuk menilai kemampuan paru dalam mentransfer gas dari udara inspirasi ke aliran darah. • Selama sepuluh detik menahan napas, DLCO mengukur uptake CO per satuan waktu per mm tekanan CO (cc CO/detik/mmHg). Difusi gas melintasi membran alveolar meningkat pada: • Peningkatan luas permukaan membran (A) • Peningkatan gradien tekanan alveolar (ΔP) • Peningkatan kelarutan gas • Penurunan ketebalan membran (T)
  • 34.
  • 35.
    DLCO 46 June 18,2024 • Penderita tidak boleh merokok 24 jam sebelum uji DLCO dilakukan atau olah raga berlebihan pada hari akan dilakukan uji DLCO. • Penderita yang mendapat terapi O2 harus menghentikan suplementasi O2 selama 10 menit sebelum pemeriksaan bila memungkinkan
  • 36.
    DLCO 47 June 18,2024 Metode Single breath Bernafas normal pada resting breath -> ekspirasi maksimal (RV) -> inspirasi maksimal tes gas dengan cepat (VC) -> tahan nafas 10 detik (TLC) -> ekspirasi Tes gas: • 0,3% CO • 0,3% tracer gas (helium, metana, atau neon) • 21% oksigen • Nitrogen seimbang • Gas yang dihembuskan dianalisis setelah mengeksklusi jumlah gas dari dead space. • Gas dianalisis untuk mengetahui konsentrasi CO dan tracer. Volume paru total, konsentrasi CO awal dan akhir, serta waktu menahan napas digunakan untuk menghitung DLCO.
  • 37.
    DLCO 48 June 18,2024 Klasifikasi derajat keparahan - Tinggi (>140% prediksi) - Normal (76-140% prediksi) - Penurunan ringan (61- 75% prediksi) - Penurunan sedang (40-60% prediksi) - Penurunan berat (<40% prediksi)
  • 38.
    DLCO 49 June 18,2024 DLCO rendah: • PPOK dengan emfisema akibat kerusakan alveolar (biasanya normal pada bronkitis kronis) dengan pola obstruktif pada PFT. • Penyakit paru interstisial • Fibrosis paru akibat penebalan membran alveolar-kapiler dengan pola restriktif pada PFT. DLCO normal dengan pola restriktif pada PFT -> kelainan neuromuskular atau dinding dada. Pada kasus dispnea yang etiologinya tidak diketahui, pola spirometri normal dengan DLCO rendah meningkatkan kemungkinan adanya penyakit pembuluh darah paru. Namun, pola ini juga dapat muncul pada kelainan lain, misalnya ILD ringan. DLCO yang tinggi terlihat pada kondisi seperti obesitas, asma, yang ditandai dengan volume paru-paru yang besar.
  • 39.

Editor's Notes

  • #42 Figure 9. Examples of typical Flow-Volume Loop Configurations for a) normal; b) mild-moderate obstruction; c) severe obstruction; d) variable extrathoracic obstruction; e) fixed large/central airway obstruction; f) unilateral main stem bronchial obstruction (179); g) restriction; and h) mixed disorder.
  • #43 Figure 9. Examples of typical Flow-Volume Loop Configurations for a) normal; b) mild-moderate obstruction; c) severe obstruction; d) variable extrathoracic obstruction; e) fixed large/central airway obstruction; f) unilateral main stem bronchial obstruction (179); g) restriction; and h) mixed disorder.
  • #45 Karbon monoksida (CO) memiliki afinitas tinggi terhadap hemoglobin, dan mengikuti jalur yang sama seperti oksigen untuk akhirnya berikatan dengan hemoglobin CO yang dihirup digunakan untuk tes ini karena afinitasnya yang tinggi terhadap hemoglobin (200 hingga 250 kali lipat dari oksigen).