Makalah ini membahas tentang upaya mencapai Indonesia bebas karies gigi pada tahun 2020, meliputi penyebab terjadinya karies gigi, proses dan gejalanya, serta cara mencegah dan menanggulanginya."
INDONESIA BEBAS KARIES2020
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas KBM
Disusun Oleh:
Vina Widya Putri
NIM: J2A017017
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2017
2.
i
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum WarahmatullahiWabarakatuh
Alhamdulillahirabbil’alamin, puji syukur kehadirat Allah SWT, karena
dengan pertolongan-Nya saya dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
Indonesia Bebas Karies 2020 ini. Makalah ini saya susun untuk memenuhi tugas
dalam menghadapi Kemah Bakti Mahasiswa yang akan di adakan pada 15
Desember hingga 17 Desember 2017 mendatang.
Dengan selesainya makalah ini, maka tidak lupa saya mengucapkan terima
kasih khususnya kepada kakak tingkat selaku pembimbing, teman-teman yang
sudah memberi masukan baik langsung maupun tidak langsung, juga pihak-pihak
yang menyediakan sumber yang telah saya satukan.
Demikian makalah ini saya selesaikan, mohon maaf apabila masih terdapat
kekurangan disana-sini.
Semoga makalah yang telah saya susun ini dapat bermanfaat bagi kita
semua. Akhir kata, saya mengucapkan terima kasih.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Semarang, 14 Desember 2017
Vina Widya Putri
3.
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………………………………………………… i
DAFTAR ISI …………………………………………………………………...... ii
BAB 1 PENDAHULUAN ………………………………………………………. 1
1.1 Latar Belakang ………………………………………………………………. 1
1.2 Rumusan Masalah …………………………………………………………… 2
1.3 Tujuan ……………………………………………………………………….. 2
1.4 Manfaat ……………………………………………………………………… 3
BAB 2 PEMBAHASAN ………………………………………………………… 4
2.1 Faktor Penyebab Terjadinya Karies Gigi ……………………………………. 4
2.2 Proses Terjadinya dan Gejala Karies Gigi …………………………………... 5
2.3 Cara Mencegah Terjadinya Karies Gigi ……………………………………... 6
2.4 Cara Mencapai Indonesia Bebas Karies 2020 ……………………………….. 8
BAB 3 PENUTUP ……………………………………………………………… 10
3.1 Kesimpulan …………………………………………………………..…….. 10
DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………….. 12
4.
1
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 LatarBelakang
Kesehatan gigi dan mulut merupakan salah satu faktor yang mendukung
paradigma sehat dan merupakan strategi Pembangunan Nasional untuk
mewujudkan Pembangunan kesehatan Indonesia Sehat 2005-2025. Kesehatan
tubuh secara keseluruhan banyak dipengaruhi oleh kesehatan dari gigi.
Gigi merupakan organ yang amat vital dalam tubuh kita, salah satu fungsi
gigi adalah sebagai alat pengunyah makanan, membantu melumatkan makanan
dalam mulut, guna membantu organ pencernaan sehingga makanan dapat diserap
tubuh dengan baik.
Penyakit gigi yang sering diderita oleh hampir semua penduduk Indonesia
adalah karies gigi (Riskesdas, 2007). Karies gigi atau gigi berlubang merupakan
kerusakan pada jaringan gigi mulai dari email gigi hingga dentin atau tulang gigi.
Gigi berlubang disebabkan oleh beberapa faktor seperti mikroorganisme, struktur
gigi, substrat, dan waktu. Penjalaran gigi berlubang dimulai dari email sampai
ruang pulpa yang berisi pembuluh saraf dan pembuluh darah yang menyebabkan
rasa nyeri (Hermawan, 2010).
Di Indonesia terjadi peningkatan prevalensi terjadinya karies gigi pada
penduduk Indonesia dibandingkan tahun 2007 lalu, yaitu dari 43,4 % (2007)
menjadi 53,2 % (2013) yaitu kurang lebih di Indonesia terdapat 93.998.727 jiwa
yang menderita karies gigi (Riskesdas, 2013).
Status kesehatan gigi dan mulut pada umumnya dinyatakan dalam
prevalensi karies gigi dan penyakit periodontal, hal ini disebabkan karena penyakit
karies gigi dan penyakit periodontal hampir dialami seluruh masyarakat di dunia.
Untuk menilai status kesehatan gigi dan mulut dalam hal ini karies gigi digunakan
nilai DMF-T (Decay Missing Filled Teeth), sedangkan untuk kebersihan mulut
5.
2
digunakan OHIS (OralHygiene Index Simplified). Klasifikasi angka kejadian
karies gigi (indeks DMF-T) menurut WHO, adalah sebagai berikut:
0,0 – 1,1 = sangat rendah
1,2 – 2,6 = rendah
2,7 – 4,4 = sedang
4,5 – 6,5 = tinggi
6,6 > = sangat tinggi
Berdasarkan hasil RISKESDAS 2013, indeks DMF-T di Indonesia
mencapaiangka 4,6 dengan nilai masing-masing D-T=1,6; M-T=2,9; F-T=0,08;
yang berarti kerusakan gigi penduduk Indonesia 460 buah gigi per 100 orang.
Berdasarkan hasil RISKESDAS 2013 tersebut, Indonesia termasuk dalam angka
kejadian karies gigi kategori tinggi menurut WHO. Oleh karena itu, diperlukannya
komitmen bersama antara pemerintah juga masyarakat Indonesia sendiri demi
menurunkan angka kejadian karies gigi tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
1) Apa saja faktor yang menyebabkan terjadinya Karies Gigi
2) Bagaimana proses terjadinya dan gejala Karies Gigi
3) Apa saja cara untuk mencegah terjadinya Karies Gigi
4) Apa saja cara untuk mencapai Indonesia bebas Karies 2020
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah disebutkan di atas, maka tujuan
dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut.
1) Untuk mengetahui faktor yang menyebabkan terjadinya Karies Gigi
2) Untuk mengetahui proses terjadinya dan gejala Karies Gigi
3) Untuk mengetahui cara mencegah terjadinya Karies Gigi
4) Untuk mengetahui cara mencapai Indonesia bebas Karies 2020
6.
3
1.4 Manfaat
Manfaat pembuatanmakalah ini adalah sebagai berikut.
1) Untuk menambah wawasan
2) Untuk mengetahui hal-hal mengenai Karies Gigi serta cara
menanggulanginya
3) Untuk memperkaya penulisan dalam bidang Kedokteran Gigi khususnya
mengenai Karies Gigi
4) Dapat dijadikan acuan untuk pembuatan makalah kedepannya yang lebih
luas dan mendalam
7.
4
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 FaktorPenyebab Terjadinya Karies Gigi
Menurut Kidd dan Bechal (2012), pembentukan karies gigi terjadi akibat
interaksi antara empat faktor, yaitu:
1) Mikroorganisme (Bakteri)
Bakteri yang sangat berperan dalam menyebabkan karies adalah
Streptococcus mutans dan Lactobacillus, keduanya terdapat pada plak gigi.
Plak merupakan suatu lapisan lunak yang terdiri dari kumpulan bakteri yang
tidak terkalsifikasi, berkembang biak di atas suatu matriks yang terbentuk
dan melekat erat pada permukaan gigi dan tambalan yang tidak dibersihkan
sehingga tahan terhadap pelepasan dengan berkumur atau gerakan fisiologis
jaringan lunak (Pintauli dan Hamada, 2008 ; Brown dan Dodds, 2008). Plak
berkembang paling baik pada daerah yang sulit untuk dibersihkan, seperti
pada tepi gingiva, permukaan proksimal, dan fisur gigi (Ramayanti dan
Purnakarya, 2013).
Bakteri kokus gram positif seperti Streptococcus mutans, Streptococcu
sanguis, Streptococcus mitis dan Streptococcus salivarius adalah yang
paling banyak ditemukanpada awal pembentukan plak. Penelitian lain juga
menunjukkan bahwa ditemukan Lactobacillus pada plak gigi penderita
karies aktif dengan jumlah berkisar 104 - 105 sel/mg plak (Pintauli dan
Hamada, 2008). Bakteri yang kariogenik seperti Streptococcus mutans dan
Lactobacillus akan memfermentasi sukrosa menjadi asam laktat sehingga
terjadi demineralisasi (Brown dan Dodds, 2008).
2) Gigi (Host)
Gigi setiap manusia mempunyai bentuk anatomi yang berbeda-beda. Lekuk
dan fisur yang terdapat pada permukaan oklusal gigi memiliki bentuk yang
bermacam-macam dengan kedalaman yang berbeda. Gigi yang mempunyai
lekukan yang dalam merupakan daerah yang sulit untuk dibersihkan dari
sisa-sisa makanan, sehingga plak dapat berkembang dengan cepat dan akan
menyebabkan terjadinya karies gigi (Brown dan Dodds, 2008). Karies pada
8.
5
gigi desidui mudahterjadi pada permukaan yang halus, sedangkan pada gigi
permanen mudah ditemukan karies di permukaan pit dan fisur (Ramayanti
dan Purnakarya, 2013).
3) Makanan
Makanan dan minuman yang mengandung gula akan menurunkan pH plak
dengan cepat sampai pada level yang dapat menyebabkan demineralisasi
email. Sintesa polisakharida ekstra sel dari sukrosa lebih cepat dari pada
glukosa, fruktosa, dan laktosa, sehingga sukrosa merupakan gula yang
paling kariogenik. Plak akan tetap bersifat asam selama beberapa waktu dan
membutuhkan waktu 30-60 menit untuk kembali ke pH normal (pH = 7).
Konsumsi gula yang terlalu sering dan berulang-ulang akan tetap
mengakibatkan pH plak di bawah normal dan menyebabkan demineralisasi
email (Kidd dan Bechal, 2012).
4) Waktu
Karies merupakan penyakit yang perkembangannya lambat dan terjadi
secara bertahap, serta ditandai oleh periode demineralisasi dan
remineralisasi (Brown dan Dodds, 2008).
Karies berkembang menjadi suatu kavitas membutuhkan waktu yang cukup
lama, diperkirakan 6 - 48 bulan (Pintauli & Hamada, 2008). Karies lebih
cepat terjadi pada anak-anak dibandingkan dengan orang dewasa
(Ramayanti dan Purnakarya, 2013).
Selain faktor-faktor yang telah disebutkan di atas, keturunan, ras, jenis kelamin,
usia, bahkan vitamin juga merupakan faktor-faktor yang meyebabkan Karies Gigi.
2.2 Proses Terjadinya dan Gejala Karies Gigi
Proses terjadinya karies gigi dimulai dengan adanya plak di permukaan gigi,
sukrosa (gula) dari sisa makanan dan bakteri berproses menempel pada waktu
tertentu yang berubah menjadi asam laktat yang akan menurunkan pH mulut
menjadi kritis (5,5) yang akan menyebabkan demineralisasi email berlanjut menjadi
karies gigi (Schuurs, 1993).
9.
6
Secara perlahan-lahan demineralisasiinterna berjalan ke arah dentin melalui
lubang fokus tetapi belum sampai kavitasi (pembentukan lubang). Kavitasi baru
timbul bila dentin terlibat dalam proses tersebut. Namun kadang-kadang begitu
banyak mineral hilang dari inti lesi sehingga permukaan mudah rusak secara
mekanis, yang menghasilkan kavitasi yang makroskopis dapat dilihat.
Pada karies dentin yang baru mulai yang terlihat hanya lapisan keempat (lapisan
transparan, terdiri atas tulang dentin sklerotik, kemungkinan membentuk rintangan
terhadap mikroorganisme dan enzimnya) dan lapisan kelima (lapisan opak/ tidak
tembus penglihatan, didalam tubuli terdapat lemak yang mungkin merupakan gejala
degenerasi cabang-cabang odontoblas). Baru setelah terjadi kavitasi, bakteri akan
menembus tulang gigi. Pada proses karies yang amat dalam, tidak terdapat
lapisanlapisan tiga (lapisan demineralisasi, suatu daerah sempit, dimana dentin
partibular diserang), lapisan empat dan lapisan lima (Schuurs, 1993).
Gejala karies gigi bukan hanya satu gejala saja, adapun gejala ±gejalanya sebagai
berikut :
1. Gigi sangat sensitif terhadap panas,dingin, manis. Gigi terasa
sangantsensitive terhadap panas, dingin, manis dan asam menandakan
karies gigi sudah sampai bagian dentin
2. Jika suatu kavitasi dekat atau telah mencapai pulpa maka nyeri akan bersifat
menetap bahkan nyeri yang dirasakan bersifat sepontan, meskitidak ada
rangsangan.
3. Jika bakteri telah mencapai pulpa. Dan pulpa mati maka nyeri untuk
sementara akan hilang lalu akan timbul lagi dalam beberapa jam atau
haridan gigi akan menjadi peka karena peradangan dan infeksi telah
menyebar keluar dan menyebabkan abses
2.3 Cara Mencegah Terjadinya Karies Gigi
Karies gigi adalah penyakit yang dapat dicegah. Pencegahan ini meliputi
seluruh aspek kedokteran gigi yang dilakukan oleh dokter gigi, individu dan
masyarakat yang mempengaruhi kesehatan rongga mulut. Sehubungan dengan hal
ini, pelayanan pencegahan difokuskan pada tahap awal, sebelum timbulnya
10.
7
penyakit (pre-patogenesis) dansesudah timbulnya penyakit (patogenesis) (Angela,
2005). Hugh Roadman Leavell dan E Guerney Clark (Leavell dan Clark) dari
Universitas Harvard dan Colombia membuat klasifikasi pelayanan pencegahan
tersebut atas 3 yaitu pencegahan primer, sekunder dan tersier (Rethman, 2000).
1. Pra Erupsi
Tingkat pelayanan kesehatan gigi, dapat dilakukan berdasarkan lima tingkat
pencegahan (five levels of prevention) dari leavell and clark yang dikutip
Herijulianti (2002) didalam bukunya adalah sebagai berikut :
a. Promosi Kesehatan (Health Promotion)
b. Perlindungan Khusus (Specific Protection)
c. Diagnosa Dini dan Pengobatan Segera (Early Diagnosis And Prompt
Treatment)
d. Pembatasan Cacat (Disability Limitation)
e. Rehabilitasi (Rehabilitation)
2. Pasca Erupsi
Tindakan yang dilakukan pada masa pasca erupsi ini terdiri dari pencegahan
primer, sekunder dan tersier.
a. Pencegahan Primer
Yaitu pencegahan sebelum gejala klinik timbul yaitu dengan cara
peningkatan dan perlindungan khusus. Peningkatan kesehatan:
pendidikan kesehatan, meningkatkan keadaan sosioekonomi seseorang,
standart nutrisi yang baik, membatasi frekuensi makanandan minuman
yang manis-manis dan pemeriksaan berkala (Tarigan,1991).
b. Pencegahan Sekunder
Diagnosa dini dengan pengobatan yang tepat dan membatasi
ketidakmampuan/cacat yaitu pengobatan yang cepat untuk
menghentikan proses penyakit dan mencegah terjadinya komplikasi.
Pada gigi yang terserang karies dan masih dapat dilakukan penambalan
maka dilakukan perawatan gigi/restorasi gigi. Dengan demikian,
lengkung geligi dapat dipertahankan dalam keadaan utuh, fungsi
pengunyahan dipertahankan, infeksi dan peradangan kronis dapat
11.
8
dihilangkan sehingga kesehatanjaringan mulut yang baik dapat
dipertahankan.
Selain itu, mempertahankan gigi anterior dapat mempertahankan fungsi
estetik, membantu fungsi bicara dan mencegah timbulnya efek
psikologis bila gigi tersebut harus dicabut (Tarigan, 1991).
c. Pencegahan Tersier
Gigi dengan karies yang sudah dilakukan pencabutan terhadap
rehabilitasi dengan pembuatan gigi palsu (Tarigan, 1991). Becker
(1979) mengajukan beberapa klasifikasi perilaku yang berhubungan
dengan kesehatan (Health Related Behaviour) salah satu diantaranya
adalah perilaku kesehatan (Health Behaviour), yaitu hal-hal yang
berkaitan dengan tindakan atau kegiatan seseorang dalam memelihara
dan meningkatkan kesehatannya. Termasuk juga tindakan-tindakan
untuk mencegah penyakit, kebersihan perorangan, memilih makanan,
sanitasi dan sebagainya (Herijulianti, 2002).
2.4 Cara Mencapai Indonesia Bebas Karies 2020
Berdasarkan Rencana Aksi Nasional Pelayanan Kesehatan Gigi Dan Mulut
2015 – 2019, dalam mewujudkan rencana aksi nasional pelayanan kesehatan gigi
dan mulut perlu dilakukan strategi dan masing-masing strategi tersebut diwujudkan
dalam beberapa program dan untuk menilai keberhasilan dari program yang
dilaksanakan tiap program memiliki beberapa indikator. Indikator ini merupakan
tolak ukur dalam pencapaian pelayanan kesehatan gigi dan mulut, adapun strategi
tersebut antara lain:
A. Meningkatkan upaya promotif dan preventif pelayanan kesehatan gigi dan
mulut
1. Peningkatan kemandirian melalui peran serta masyarakat dalam
pelihara diri terhadap kesehatan gigi dan mulut mulai dari janin sampai
lansia (continuum of care)
2. Peningkatan Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS)
12.
9
3. Peningkatan UsahaKesehatan Gigi Masyarakat melalui Usaha
Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM)
B. Meningkatkan aksesibilitas terhadap pelayanan kesehatan gigi dan mulut
1. Tersedianya pelayanan kesehatan gigi dan mulut di fasilitas pelayanan
kesehatan tingkat pertama
2. Optimalisasi fasilitas pelayanan kesehatan tingkat lanjut dalam
pelayanan kesehatan gigi dan mulut
C. Meningkatkan peran serta stakeholders terkait pelayanan kesehatan gigi dan
mulut
1. Tersedianya dukungan dan regulasi pelayanan kesehatan gigi dan mulut.
2. Sistem kolaborasi peningkatan kompetensi tenaga kesehatan gigi dan
mulut
3. Terwujudnya kemitraan yang berdaya guna tinggi
4. Tersedianya dana pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang
proporsional untuk Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya
Kesehatan Perorangan (UKP).
13.
10
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesehatangigi dan mulut masyarakat Indonesia masih merupakan hal yang
perlu mendapat perhatian serius dari tenaga kesehatan, baik dokter dan perawat
gigi, hal ini terlihat bahwa penyakit gigi dan mulut masih diderita oleh 90%
penduduk Indonesia. Penyakit gigi dan mulut yang banyak diderita di Indonesia
adalah penyakit jaringan penyangga gigi dan karies gigi (Depkes, 2014).
Karies gigi adalah Penyakit jaringan gigi yang mengalami klasifikasi yang
ditandai oleh demineralisasi dari bagian inorganic dan dekstrusi dari
subtansiorganic dari gigi atau penyakit jarigan gigi yang di tandai dengan kerusakan
jaringan ,dimulai dari permukaan gigi (pit, fissure, daerah interproksimal) meluas
kearah pulpa.
Etiologi atau penyebab kesatuan dari empat faktor yaitu:
1. Mikroorganisme (Bakteri)
2. Gigi (Host)
3. Makanan
4. Waktu
Selain itu, ada juga faktor-faktor lain yang mempengaruhi terjadinya karies,
yaitu: Keturunan, Ras, Jenis kelamin, Usia, Vitamin, Unsur kimia, Air ludah, Letak
geografis, dan Kultur sosial penduduk.
Cara mencegah terjadinya Karies Gigi sendiri terbagi atas dua:
1. Pra Erupsi
2. Pasca Erupsi (Pencegahan primer, sekunder, dan tersier)
Agar tercapainya Indonesia Bebas Karies 2020, diharapkan semua unsur
yang terlibat dalam program pelayanan kesehatan gigi dan mulut dapat secara jelas
merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan mengacu pada Rencana Aksi
Nasional Kesehatan Gigi dan Mulut 2015-2019 yang pada akhirnya dapat
14.
11
mewujudkan cita-cita kitabersama yaitu status kesehatan gigi masyarakat yang
baik dan merata di seluruh Indonesia. Selain itu juga menjadi harapan bersama agar
masyarakat Indonesia mempunyai kepedulian akan pentingnya kesehatan gigi dan
mulut sebagai bagian dari kesehatan secara utuh.
15.
12
DAFTAR PUSTAKA
a. Sakti,Gita Maya Koemara, et al. 2016. Rencana Aksi Nasional Pelayanan
Kesehatan Gigi dan Mulut. Jakarta: Persatuan Dokter Gigi Indonesia.
b. Malem H, Raja. 2016. Prevalensi Karies Interproksimal Ditinjau Dengan
Radiografi Bitewing Di Sekolah Dasar Letjend Djamin Ginting Kecamata
Berastagi Kabupaten Karo. Medan: Departemen Radiologi Fakultas
Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara
c. Trihono. 2013. Riset Kesehatan Dasar 2013. Jakarta: Badan Penelitian Dan
Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI
d. Ningrum, Faila Sufarah. 2011. Hubungan Tingkat Pengetahuan Orang Tua
dengan Kejadian Karies Gigi pada Anak SDN Mangunharjo Kecamatan
Tembalang Semarang. Semarang: Jtptunimus
e. Alfiandi, Riko. 2011. Karies Gigi. Bandar Lampung: Fakultas Kedokteran
Universitas Malahayati