IMUNISASI Kenggi Rinaningtyas
Imunisasi Adalah pemberian zat anti/ imunitas kedalam tubuh untuk mencegah penyakit tertentu sehingga tubuh terhindar dari penyakit tertentu. IMUNITAS Kata imun berasal dari Bhs Latin “imunitas” = pembebasan (kekebalan)
Sistem imun = suatu sistem dalam tubuh yang terdiri dari sel-sel serta produk zat-zat yang dihasilkannya, yg bekerjasama scr kolektif dan terkoordinir untuk melawan benda asing spt kuman-kuman penyakit atau racun, yg msk kedalam tubuh. Vaksin = antigen baik bakteri/ kuman yg diberikan kpd org untuk membentuk/ merangsang pembentukan anti bodi yg spesifik/ khas
Kuman = antigen Pd saat pertama kali antigen masuk kedalam tubuh, maka sbg reaksinya tubuh akan membuat zat anti yg disebut dg antibodi.
Sejarah imunisasi Di Indonesia dimulai th 1956    imunisasi cacar dijawa. Indonesia bebas cacar oleh WHO th 1974, terbukti keampuhan imunisasi thd cacar. Th 1973    BCG Th 1974    Vaksin TT ibu hamil Th 1976    Vaksin DPT Th 1977    perkembangan program imunisasi di 55 Puskesmas
Vaksin dibuat dari Kuman yg telah dilemahkan/ dimatikan contoh :  - Vaksin dari kuman yg dimatikan     pertusis, batuk rejan, polio (salk). - Vaksin dari kuman hidup  dilemahkan    BCG, polio (sabin),  campak.
Zat racun kuman (toxin) yg dilemahkan contoh : TT dan DT Bagian kuman tertentu/ protein khusus kuman contoh : vaksin hep B
Tujuan Imunisasi Mencegah terjadinya penyakit infeksi tertentu Bila terjadi penyakit tidak terlalu parah/ berat Dapat mencegah gejala yang dapat menimbulkan cacat/ kematian.
Syarat pemberian imunisasi Pada bayi/ anak yang sehat Vaksin harus baik Pemberian imunisasi dg teknik yg tepat Mempertahankan dosis Mengetahui jadwal umur dan jenis  imunisasi yang diterima
Sistem kekebalan a da 2 macam : Kekebalan  Aktif Adl  kekebalan/ perlindungan yg dibuat oleh tubuh sendiri, akibat terpajan pd antigen spt imunisasi/ terpajan scr ilmiah. Imunisasi aktif biasanya berlangsung lbh lama & menetap lbh lama.
Kekebalan aktif alamiah didptkn bila seseorg menderita suatu penyakit. Mis. Pnykt campak b. Kekebalan aktif buatan didapat bila seseorg mendapat vaksin/ imunisasi.
Kekebalan  pasif Adl  kekebalan/ perlindungan yg diperoleh dr luar tubuh, bukan dibuat oleh indivisu itu sendiri. Kekebalan pasif tdk berlangsung lama, krn akan dimetabolisme oleh tubuh.
Kekebalan pasif alamiah kekebalan yg didpat oleh bayi yg menerima kekebalan dari ibunya. Antibodi disalurkan mll plasenta pd 1-2 bln, antibodi ini akan melindungi bayi dr pnykt t3 smp usia 1th b. Kekebalan pasif buatan  kekebalan yg diberikan dg cara menyuntikkan zat antibodi. Mis. Suntik ATS pd pasien yg terluka.
Imunisasi yg diwajibkan BCG Hepatitis B DPT Polio Campak
Imunisasi yang dianjurkan : MMR Hib Hepatitis A Cacar air
Jadwal  Vaksinasi  Rekomendasi IDAI 2004 Jenis Vaksin Umur Vaksinasi Bulan Tahun lhr 1 2 3 4 5 6 9 12 15 18 2 3 5 6 10 12 BCG HepB 1 2 3 Polio 0 1 2 3 4 5 DTP 1 2 3 4 5 Campak 1 2 Hib 1 2 3 4 MMR 1 2 Tifoid Ulangan tiap 3 th HepA 2x interval 6-12 bln Varisela
Vaksinasi M emberikan vaksin  (bakteri / virus hidup dilemahkan / mati, komponen) atau toksoid D isuntikkan atau diteteskan ke dalam mulut    untuk  merangsang kekebalan tubuh     penerima    hati-hati :  dapat menimbulkan KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) Prosedur vaksinasi yang benar  :   Merangsang  kekebalan lebih baik M e m perkecil dampak KIPI  : medik, non  medik
Prosedur  Vaksinasi Penyimpanan dan transportasi  vaksin Persiapan alat dan bahan  : untuk vaksinasi dan mengatasi gawat - darurat Persiapan pemberian  :  anamnesis,  umur, jarak dgn vaksinasi sebelumnya, riwayat KIPI, Indikasi kontra dan perhatian khusus Informed consent :  manfaat, risiko KIPI pemeriksaan fisik Cara pemberian dosis, interval  Lokasi, sudut, kedalaman Pemantauan KIPI   Sisa vaksin, pemusnahan alat suntik Pencatatan (dan pelaporan)
Jenis-jenis Vaksin BCG Difteria Tetanus Pertusis Kolera Meningo Pneumo Hib Typ hoid Vi Campak Parotitis Rubela Varisela OPV Yellow Fever Influenza Hepatitis  B Hepatitis A IPV Rabies Vaksin Bakteri Vaksin  Virus Vaksin Hidup Vaksin Inaktif
VAKSIN BCG ( BACILUS CALMETE GUERIN ) Pengebalan terhadap penyakit TBC Susunan kuman BCG masih hidup yg dilemahkan Penyimpanan 2-8  º C, lebih baik dlm freze e r , diberikan pd  usia 0-2bln Dosis pemberian Bayi =  0,05 ml   IC pd deltoid kanan Kemasan vaksin dilarutkan dlm 4 ml pelarut, efektif untk 25 org, hrs hbs dlm 4 jam
Efek samping  Reaksi scr normal akan timbul 2 minggu spt pembengkakan kecil, merah pd tempat penyuntikan yg kmd abses kecil dg diameter 10 mm, luka akan sembuh sendiri meninggalkan jar. Parut, biasanya bayi tdk menderita demam.
Vaksin BCG
VAKSIN DPT (DIFTERIA, PERTUSIS, TETANUS) Guna untuk memberikan kekebalan thd penyakit difteri, pertusis, tetanus. Susunan vaksin pertusis terbuat dari kuman bordetella pertusis yg telah dimatikan , dikemas dg vaksin difteri dan tetanus. Penyimpanan 2-8  º C Dosis 0,5 cc    IM/ SC
Kuman difteri sangat ganas dan mudah menular, gejala demam tinggi dan tampak adanya selaput putih kotor pada tonsil/ amandel. Di Indonesia vaksin difteri, pertusis, tetanus tdp 3 jenis kemasan yaitu : Kemasan tunggal khusus untk tetanus, bentuk kombinasi DT & kombinasi DPT diberikan 3 X, yaitu sejak bayi umur 2 bln,selang wkt penyuntikan min 4 mgg
suntikan pertama tdk memberikan perlindungan apa2, shg suntikan ini hrs diberikan 3. Imunisasi ulang pertama dilakukan pd usia 1-2 th, 6 th, kls 6 SD dg vaksin DT tanpa  P Efek samping panas
Vaksin D ifteri Tetanus Pertusis  whole cells  (DTPw)   dan  Tetanus  T oksoid (TT) Heat Marker / Vaccine Vial Monitor (VVM)
Vaksin D ifteri  T etanus  P ertusis  aselul a r  (DTPa)
VAKSIN POLIO Guna untuk kekebalan thd polio melitis Dosis 2 tetes Terdapat 2 jenis vaksin yg beredar : - Vaksin yg mengandung virus polio  yg dimatikan (vaksin salk), suntikan - vaksin yg mengandung virus polio  yg masih hidup, yg telah dilemahkan  (virus sabin), oral/ mulut dlm bentuk  cairan
Di Indonesia yg umum diberikan adl virus sabin (kuman yg dilemahkan). Cara pemberiannya melalui cairan yang diteteskan ke mulut.
Vaksin Polio Oral  (OPV) Heat Marker Vaccine Vial Monitor (VVM)
Perubahan warna vaksin polio  karena perubahan pH Boleh diberikan
VAKSIN CAMPAK Guna untuk kekebalan thd campak Susunan kuman yg dilemahkan  Penyimpanan suhu 6  º C Setelah dilarutkan vaksin minimal 8 jam Dosis pemberian 0,5 ml    SC, dideltoid lengan atas Gejala khas timbulnya bercak-bercak merah dikulit stlh 3-5 hari anak menderita demam, batuk/ pilek
Proteksi : mulai 2  mgg  setelah vaksinasi BIAS : ulangan campak saat masuk SD
Vaksin Campak Heat Marker Vaccine Vial Monitor (VVM)
VAKSIN HEPATITIS B Cara penularan hepatitis B dpt tjd melalui mulut, tranfusi darah dan jarum suntik. Pd bayi, hep B dpt tertular dari ibu melalui placenta semasa bayi dlm kandungan/ pd saat kelahiran. Penyimpanan 2-8  º C Imunisasi dasar hep B diberikan 3X  dg tenggang wkt 1 bln antara suntikan 1 & 2
dan tenggang wkt 5 bulan antara suntikan kedua dan ketiga, imunisasi ulang diberikan 5 th stlh pemberian imunisasi dasar.
VAKSIN MMR (Mumps, Morbili, Rubella) Penyimpanan 2-8  º C Penyuntikan SC/ IM Vaksin ini masih di impor dan harganya cukup mahal Imunisasi MMR diberikan 1X stlh anak berumur 15 bulan
VAKSIN TIFUS/ TIFOID Penyimpanan 2-8  º  C, penyuntikan IM/ SC Ada 2 jenis vaksin tifoid: - Vaksin oral (vivotif)    diberikan umur  6 th/ lbh, kemasan 3 kapsul - Vaksin suntikan  (TyphimVi)  diberikan sekali pd anak umur 6 th  dan diulang 3 th
VAKSIN RADANG SELAPUT OTAK HAEMOPHILUS INFLUENZA tipe B (Hib) Penyimpanan 2-8  º C, jgn beku Penyakit ini berbahaya dan paling sering menyerang anak usia 6-12 bulan.
Radang selaput otak Hib sering mengakibatkan cacat saraf/ kematian Di Indonesia telah beredar 2 jenis vaksin Hib yaitu ActHIB buatan perancis dan PedvexHIB buatan USA PedvexHIB    imunisasi dasar diberikan 2 kali pd usia 2-14 bln dg selang wkt 2 bln.  ActHIB    imunisasi dasar diberikan pd usia 2-6 bln sebanyk 3X dg jarak wkt 1-2 bln
Vaksin  Haemophilus influenza b  (Hib)
VAKSIN HEPATITIS A Penyuntikan IM Kontraindikasi demam, infeksi akut Imunisasi dasar dengan vaksin Havrix diberikan 2 X dg selang waktu 2-4 mgg, dosis ke 3 diberikan 6 bln stlh suntikan pertama
VAKSIN CACAR AIR (VARICELLA) Penyuntikan SC Kontraindikasi demam, infeksi akut Cacar air mrp penyakit yg sangat menular, ttp ringan.
Gejala yg khas : mula-mula timbul bintik kemerahan yg makin membesar membentuk gelembung berisi air dan akhirnya mengering dlm wkt 1 mgg
Penyimpanan vaksin   Di Tingkat Propinsi : kmr dingin & kmr beku Suhu kamar dingin: +2   s/d +8  Cº Suhu kamar beku: -15 s/d -25  Cº Di Kabupaten dan Pelayanan Primer Jarak lemari es dengan dinding belakang 15 cm Lemari es tidak terkena sinar matahari langsung Sirkulasi ruangan cukup Penyusunan vaksin Jarak menyusun  dos vaksin  1-2 cm atau  satu jari antar dos vaksin
Cool Box   Untuk Menyimpan Vaksin
 
Plastik penetes  (dropper)  Polio JANGAN disimpan di lemari es krn jadi rapuh, mudah robek
 
Masa simpan vaksin  belum dipakai Vademicum Bio Farma Jan.2002 Jenis Vaksin Suhu Penyimpanan Umur Vaksin BCG +2 s/d +8°C -15°s/d -25°C  1 tahun 1 tahun DPT +2° s/d +8°C 2 tahun Hepatitis B +2° s/d +8°C 26 bulan TT +2° s/d +8°C 2 tahun DT +2° s/d +8°C 2 tahun OPV +2° s/d +8°C -15° s/d -25°C 6 bulan 2 tahun Campak +2° s/d +8°C -15° s/d -25°C 2 tahun 2 tahun
Penyediaan vaksin dan alat-alat Vaksin + pelarut khusus termos,  ice-packed , es batu peralatan vaksinasi (alat cuci tangan, pemotong ampul, alat suntik sekali pakai, kapas alkohol, plester, kotak limbah) Alat penanganan kedaruratan (adrenalin, kortikosteroid, selang dan cairan infus, oksigen),  Pencatatan : Buku KIA,   KMS,   blangko vaksinasi
Anamnesis / KIE   Cek  identitas ,  vaksinasi  yang telah didapat Umur,  jarak dgn vaksinasi sebelumnya Informed consent :  manfaat dan KIPI Indikasi kontra, perhatian khusus, penyakit, obat KIPI vaksinasi sebelumnya Penanggulangan KIPI seandainya terjadi Rutin pediatrik  Asupan nutrisi, miksi, defekasi, tidur Pertumbuhan dan perkembangan Jadwal vaksinasi berikutny a
VVM =  Vaccine Vial Monitor
Penempatan alat  untuk memudahkan vaksinasi Kursi pasien Kursi vaksinator Tempat  sampah Kotak pembawa vaksin Kotak pembuangan jarum bekas Form R&R Air & sabun untuk cuci tangan
Informed consent (1) Di Amerika, Australia : belum ada ketentuan pasien atau keluarganya harus menanda tangani  pernyataan mengerti dan menyetujui Di Indonesia (Permenkes no. 585 /1989 ttg Persetujuan Tindakan Medik)  pernyataan tertulis  hanya untuk  tindakan diagnostik  atau terapeutik, vaksinasi belum perlu pernyataan tertulis
Boleh meminta tanda tangan dari orangtua atau pengasuh bahwa  telah diberikan informasi, dimengerti dan menyetujui vaksinasi Penjelasan tentang manfaat dan risiko vaksinasi disampaikan dengan  empathy Bukan dengan cara menghakimi  (non - judgmental approach) Gunakan istilah awam dan sederhana
Persiapan pemberian vaksin  Cuci tangan  dengan antiseptik B aca  nama vaksin, tanggal kadaluwarsa,  Teliti  kondisi vaksin  apakah masih layak : warna indikator  VVM ,  Kocok  : penggumpalan, perubahan warna Alat suntik  : sekali pakai Encerkan dan ambil vaksin sebanyak dosis Ukuran jarum  : ketebalan otot bayi / anak Pasang  dropper  polio dengan benar
Ukuran  jarum Intramuskular di paha mid-anterolateral Neonatus  kurang bulan / BBLR   : 5/8 inch  (15,8 mm) cukup bulan   : 7/8 inch  (22,2 mm) 1 – 24 bulan    : 7/8 – 1 inch (22,2-25,4 mm) Intramuskular di deltoid > 2 thn (tergantung ketebalan otot)    7/8 – 1,25 inch  (22,2 -31,75 mm)  Usia sekolah dan remaja :  1,5 inch   (38,1mm)
Mengatasi ketakutan dan nyeri Jangan menakut-nakuti anak  Empati, jangan dipaksa dengan dipegang kuat Diajak bicara, dielus-elus, ditenangkan Bayi baru lahir : diberi sukrosa dilidahnya Tekan 10 detik sebelum disuntik Tempe l  es batu 1 – 2 detik tidak direkom e ndasikan Krim EMLA ( Eutetic Mixture of Local Anesthesia ) 1 jam sebelum penyuntikan, efek sampai 24 jam
Lidocaine  topikal : 10 menit sebelum disuntik Anak : bernafas dalam, tiup baling-baling, ajak bicara, bacakan cerita, musik Dipijat atau digoyang-goyang sesudah vaksinasi
Penyuntikan dan penetesan vaksin   Bicara  pada bayi dan anak Tentukan lokasi penyuntikan : paha, lengan Posisi  bayi / anak : nyaman dan aman Desinfeksi Pegang;  peregangan kulit, cubitan Penyuntikan: dosis, sudut, cara Tetesan: dosis, hati-hati dimuntahkan Penekanan  bekas suntikan
Membuang  alat suntik bekas Penulisan  tanggal vaksinasi di kolom yang sudah disediakan
Teknik dan posisi penyuntikan Bayi  digendong   pengasuh,   Anak  dipeluk menghadap pengasuh   (chest to chest) Otot yang akan disuntik  :  lemas (relaks) Tungkai : sedikit  rotasi ke dalam Lengan : sedikit  fleksi pada sendi siku Anak dipersilahkan memilih lokasi suntikan
Metode Z tract  : sebelum jarum disuntikkan geser kulit dan subkutis ke samping, setelah disuntik kemudian lepaskan Jarum disuntikan dengan  cepat Bila suntikan lebih dari 1  kali,  disuntikan  bersamaan
Posisi anak  ketika di vaksinasi Tungkai anak dijepit paha ibu Lengan yg satu dijepit ketiak ibu Tangan yg lain dipegang ibu,  Kemudian anak dipeluk
Posisi Anak  kurang aman Kaki bebas Bisa berontak suntik Tangan bebas Bisa meraih jarum suntik
Posisi  b ayi dalam  pelukan   i bu  pada penyuntikan BCG
Penetesan   vaksin   polio
Teknik  Penyuntikan dan Penetesan Oral e.g.   polio Subcutaneous e.g. measles, mumps, rubella, varicella Intramuscular   e.g. hepatitis A and B, DTP Intradermal BCG
Sisa vaksin BCG  setelah dilarutkan harus segera diberikan  dalam  4 jam  (simpan dalam  suhu 2 – 8 ◦ C) Polio  Setelah dibuka harus segera diberikan  dalam 7 hari  (simpan dlm  suhu 2 – 8 ◦ C)   DPT  Bila ada  penggumpalan atau partikel  yang tidak hilang setelah dikocok    jangan dipakai Campak  Setelah dilarutkan harus diberikan  dlm  8 jam  (simpan  dlm suhu 2 – 8 ◦ C)
Pemantauan setelah  vaksinasi Perhatikan keadaan umum Tunggu 30 menit di ruang   tunggu
Safe injection   Aman bagi  yang disuntik penyuntik lingkungan
Tidak aman bagi yang disuntik   Vaksin  Suhu > 8° C, atau VVM telah terpapar panas Botol vaksin bocor,  retak, atau terpasang jarum Ada partikel dalam larutan Telah dilarutkan lebih dari 6 jam  Beku : DPT, DT, TT, HepB, Hib (tidak boleh beku) Uji kocok tetap menggumpal (kecuali HepB atau Hib)
Tidak aman bagi yang disuntik   Alat suntik Spuit disposable dipakai ulang Hanya mengganti jarum Tidak dibersihkan dulu langsung disterilkan Hanya dengan desinfektan Membakar jarum di api Merebus dalam panci terbuka Menyentuh ujung jarum
Tidak aman bagi yang disuntik Cara m elarutkan /  p engambilan vaksin   Cairan pelarut untuk vaksin lain   atau > 8°C 1 spuit diisi beberapa dosis sekaligus jarum ditinggalkan menancap di vial Mencampur isi 2 vial Lokasi, posisi , kedalaman penyuntikan Tidak ada alat / obat gawat - kedaruratan
Tidak aman bagi penyuntik Menekan luka berdarah dengan jari (semua cairan tubuh dapat menularkan kuman) Membawa atau meletakkan alat suntik bekas sembarangan (tidak langsung membuang ke kotak limbah) Menyentuh atau mencabut jarum suntik Menutup kembali (recapping) jarum suntik Mengasah jarum bekas Memilah-milah  tumpukan jarum bekas Tidak ada alat / obat gawat darurat Tidak aman bagi lingkungan  :  Meninggalkan alat suntik bekas sembarangan
Tempat Pembuangan Limbah
Pemusnahan Kotak + Isi limbah Dibakar  dalam insinerator khusus (suhu 600 - 1100° C) risiko pencemaran kecil Rp. 10 – 30 juta, BBM / kayu bakar Dibakar  dalam lubang atau drum Di giling Milling atau shreeding Serbuk masih infeksius 375-750 alat suntik / jam listrik 750 w
Pemberian Vitamin A Di Indonesia pemberia vit A dimulai setelah anak umur 6 bulan Dosis Umur 6-12 bulan = vit A 100.000 IU sekali Dosis umur 1-5 th = Vit A 200.000 IU, dua kali dlm setahun Pemberian serentak pd bln Februari & Agustus
MATUR NUWUN......

Imunisasi

  • 1.
  • 2.
    Imunisasi Adalah pemberianzat anti/ imunitas kedalam tubuh untuk mencegah penyakit tertentu sehingga tubuh terhindar dari penyakit tertentu. IMUNITAS Kata imun berasal dari Bhs Latin “imunitas” = pembebasan (kekebalan)
  • 3.
    Sistem imun =suatu sistem dalam tubuh yang terdiri dari sel-sel serta produk zat-zat yang dihasilkannya, yg bekerjasama scr kolektif dan terkoordinir untuk melawan benda asing spt kuman-kuman penyakit atau racun, yg msk kedalam tubuh. Vaksin = antigen baik bakteri/ kuman yg diberikan kpd org untuk membentuk/ merangsang pembentukan anti bodi yg spesifik/ khas
  • 4.
    Kuman = antigenPd saat pertama kali antigen masuk kedalam tubuh, maka sbg reaksinya tubuh akan membuat zat anti yg disebut dg antibodi.
  • 5.
    Sejarah imunisasi DiIndonesia dimulai th 1956  imunisasi cacar dijawa. Indonesia bebas cacar oleh WHO th 1974, terbukti keampuhan imunisasi thd cacar. Th 1973  BCG Th 1974  Vaksin TT ibu hamil Th 1976  Vaksin DPT Th 1977  perkembangan program imunisasi di 55 Puskesmas
  • 6.
    Vaksin dibuat dariKuman yg telah dilemahkan/ dimatikan contoh : - Vaksin dari kuman yg dimatikan  pertusis, batuk rejan, polio (salk). - Vaksin dari kuman hidup dilemahkan  BCG, polio (sabin), campak.
  • 7.
    Zat racun kuman(toxin) yg dilemahkan contoh : TT dan DT Bagian kuman tertentu/ protein khusus kuman contoh : vaksin hep B
  • 8.
    Tujuan Imunisasi Mencegahterjadinya penyakit infeksi tertentu Bila terjadi penyakit tidak terlalu parah/ berat Dapat mencegah gejala yang dapat menimbulkan cacat/ kematian.
  • 9.
    Syarat pemberian imunisasiPada bayi/ anak yang sehat Vaksin harus baik Pemberian imunisasi dg teknik yg tepat Mempertahankan dosis Mengetahui jadwal umur dan jenis imunisasi yang diterima
  • 10.
    Sistem kekebalan ada 2 macam : Kekebalan Aktif Adl kekebalan/ perlindungan yg dibuat oleh tubuh sendiri, akibat terpajan pd antigen spt imunisasi/ terpajan scr ilmiah. Imunisasi aktif biasanya berlangsung lbh lama & menetap lbh lama.
  • 11.
    Kekebalan aktif alamiahdidptkn bila seseorg menderita suatu penyakit. Mis. Pnykt campak b. Kekebalan aktif buatan didapat bila seseorg mendapat vaksin/ imunisasi.
  • 12.
    Kekebalan pasifAdl kekebalan/ perlindungan yg diperoleh dr luar tubuh, bukan dibuat oleh indivisu itu sendiri. Kekebalan pasif tdk berlangsung lama, krn akan dimetabolisme oleh tubuh.
  • 13.
    Kekebalan pasif alamiahkekebalan yg didpat oleh bayi yg menerima kekebalan dari ibunya. Antibodi disalurkan mll plasenta pd 1-2 bln, antibodi ini akan melindungi bayi dr pnykt t3 smp usia 1th b. Kekebalan pasif buatan kekebalan yg diberikan dg cara menyuntikkan zat antibodi. Mis. Suntik ATS pd pasien yg terluka.
  • 14.
    Imunisasi yg diwajibkanBCG Hepatitis B DPT Polio Campak
  • 15.
    Imunisasi yang dianjurkan: MMR Hib Hepatitis A Cacar air
  • 16.
    Jadwal Vaksinasi Rekomendasi IDAI 2004 Jenis Vaksin Umur Vaksinasi Bulan Tahun lhr 1 2 3 4 5 6 9 12 15 18 2 3 5 6 10 12 BCG HepB 1 2 3 Polio 0 1 2 3 4 5 DTP 1 2 3 4 5 Campak 1 2 Hib 1 2 3 4 MMR 1 2 Tifoid Ulangan tiap 3 th HepA 2x interval 6-12 bln Varisela
  • 17.
    Vaksinasi M emberikanvaksin (bakteri / virus hidup dilemahkan / mati, komponen) atau toksoid D isuntikkan atau diteteskan ke dalam mulut  untuk merangsang kekebalan tubuh penerima  hati-hati : dapat menimbulkan KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) Prosedur vaksinasi yang benar : Merangsang kekebalan lebih baik M e m perkecil dampak KIPI : medik, non medik
  • 18.
    Prosedur VaksinasiPenyimpanan dan transportasi vaksin Persiapan alat dan bahan : untuk vaksinasi dan mengatasi gawat - darurat Persiapan pemberian : anamnesis, umur, jarak dgn vaksinasi sebelumnya, riwayat KIPI, Indikasi kontra dan perhatian khusus Informed consent : manfaat, risiko KIPI pemeriksaan fisik Cara pemberian dosis, interval Lokasi, sudut, kedalaman Pemantauan KIPI Sisa vaksin, pemusnahan alat suntik Pencatatan (dan pelaporan)
  • 19.
    Jenis-jenis Vaksin BCGDifteria Tetanus Pertusis Kolera Meningo Pneumo Hib Typ hoid Vi Campak Parotitis Rubela Varisela OPV Yellow Fever Influenza Hepatitis B Hepatitis A IPV Rabies Vaksin Bakteri Vaksin Virus Vaksin Hidup Vaksin Inaktif
  • 20.
    VAKSIN BCG (BACILUS CALMETE GUERIN ) Pengebalan terhadap penyakit TBC Susunan kuman BCG masih hidup yg dilemahkan Penyimpanan 2-8 º C, lebih baik dlm freze e r , diberikan pd usia 0-2bln Dosis pemberian Bayi = 0,05 ml  IC pd deltoid kanan Kemasan vaksin dilarutkan dlm 4 ml pelarut, efektif untk 25 org, hrs hbs dlm 4 jam
  • 21.
    Efek samping Reaksi scr normal akan timbul 2 minggu spt pembengkakan kecil, merah pd tempat penyuntikan yg kmd abses kecil dg diameter 10 mm, luka akan sembuh sendiri meninggalkan jar. Parut, biasanya bayi tdk menderita demam.
  • 22.
  • 23.
    VAKSIN DPT (DIFTERIA,PERTUSIS, TETANUS) Guna untuk memberikan kekebalan thd penyakit difteri, pertusis, tetanus. Susunan vaksin pertusis terbuat dari kuman bordetella pertusis yg telah dimatikan , dikemas dg vaksin difteri dan tetanus. Penyimpanan 2-8 º C Dosis 0,5 cc  IM/ SC
  • 24.
    Kuman difteri sangatganas dan mudah menular, gejala demam tinggi dan tampak adanya selaput putih kotor pada tonsil/ amandel. Di Indonesia vaksin difteri, pertusis, tetanus tdp 3 jenis kemasan yaitu : Kemasan tunggal khusus untk tetanus, bentuk kombinasi DT & kombinasi DPT diberikan 3 X, yaitu sejak bayi umur 2 bln,selang wkt penyuntikan min 4 mgg
  • 25.
    suntikan pertama tdkmemberikan perlindungan apa2, shg suntikan ini hrs diberikan 3. Imunisasi ulang pertama dilakukan pd usia 1-2 th, 6 th, kls 6 SD dg vaksin DT tanpa P Efek samping panas
  • 26.
    Vaksin D ifteriTetanus Pertusis whole cells (DTPw) dan Tetanus T oksoid (TT) Heat Marker / Vaccine Vial Monitor (VVM)
  • 27.
    Vaksin D ifteri T etanus P ertusis aselul a r (DTPa)
  • 28.
    VAKSIN POLIO Gunauntuk kekebalan thd polio melitis Dosis 2 tetes Terdapat 2 jenis vaksin yg beredar : - Vaksin yg mengandung virus polio yg dimatikan (vaksin salk), suntikan - vaksin yg mengandung virus polio yg masih hidup, yg telah dilemahkan (virus sabin), oral/ mulut dlm bentuk cairan
  • 29.
    Di Indonesia ygumum diberikan adl virus sabin (kuman yg dilemahkan). Cara pemberiannya melalui cairan yang diteteskan ke mulut.
  • 30.
    Vaksin Polio Oral (OPV) Heat Marker Vaccine Vial Monitor (VVM)
  • 31.
    Perubahan warna vaksinpolio karena perubahan pH Boleh diberikan
  • 32.
    VAKSIN CAMPAK Gunauntuk kekebalan thd campak Susunan kuman yg dilemahkan Penyimpanan suhu 6 º C Setelah dilarutkan vaksin minimal 8 jam Dosis pemberian 0,5 ml  SC, dideltoid lengan atas Gejala khas timbulnya bercak-bercak merah dikulit stlh 3-5 hari anak menderita demam, batuk/ pilek
  • 33.
    Proteksi : mulai2 mgg setelah vaksinasi BIAS : ulangan campak saat masuk SD
  • 34.
    Vaksin Campak HeatMarker Vaccine Vial Monitor (VVM)
  • 35.
    VAKSIN HEPATITIS BCara penularan hepatitis B dpt tjd melalui mulut, tranfusi darah dan jarum suntik. Pd bayi, hep B dpt tertular dari ibu melalui placenta semasa bayi dlm kandungan/ pd saat kelahiran. Penyimpanan 2-8 º C Imunisasi dasar hep B diberikan 3X dg tenggang wkt 1 bln antara suntikan 1 & 2
  • 36.
    dan tenggang wkt5 bulan antara suntikan kedua dan ketiga, imunisasi ulang diberikan 5 th stlh pemberian imunisasi dasar.
  • 37.
    VAKSIN MMR (Mumps,Morbili, Rubella) Penyimpanan 2-8 º C Penyuntikan SC/ IM Vaksin ini masih di impor dan harganya cukup mahal Imunisasi MMR diberikan 1X stlh anak berumur 15 bulan
  • 38.
    VAKSIN TIFUS/ TIFOIDPenyimpanan 2-8 º C, penyuntikan IM/ SC Ada 2 jenis vaksin tifoid: - Vaksin oral (vivotif)  diberikan umur 6 th/ lbh, kemasan 3 kapsul - Vaksin suntikan (TyphimVi)  diberikan sekali pd anak umur 6 th dan diulang 3 th
  • 39.
    VAKSIN RADANG SELAPUTOTAK HAEMOPHILUS INFLUENZA tipe B (Hib) Penyimpanan 2-8 º C, jgn beku Penyakit ini berbahaya dan paling sering menyerang anak usia 6-12 bulan.
  • 40.
    Radang selaput otakHib sering mengakibatkan cacat saraf/ kematian Di Indonesia telah beredar 2 jenis vaksin Hib yaitu ActHIB buatan perancis dan PedvexHIB buatan USA PedvexHIB  imunisasi dasar diberikan 2 kali pd usia 2-14 bln dg selang wkt 2 bln. ActHIB  imunisasi dasar diberikan pd usia 2-6 bln sebanyk 3X dg jarak wkt 1-2 bln
  • 41.
    Vaksin Haemophilusinfluenza b (Hib)
  • 42.
    VAKSIN HEPATITIS APenyuntikan IM Kontraindikasi demam, infeksi akut Imunisasi dasar dengan vaksin Havrix diberikan 2 X dg selang waktu 2-4 mgg, dosis ke 3 diberikan 6 bln stlh suntikan pertama
  • 43.
    VAKSIN CACAR AIR(VARICELLA) Penyuntikan SC Kontraindikasi demam, infeksi akut Cacar air mrp penyakit yg sangat menular, ttp ringan.
  • 44.
    Gejala yg khas: mula-mula timbul bintik kemerahan yg makin membesar membentuk gelembung berisi air dan akhirnya mengering dlm wkt 1 mgg
  • 45.
    Penyimpanan vaksin Di Tingkat Propinsi : kmr dingin & kmr beku Suhu kamar dingin: +2 s/d +8 Cº Suhu kamar beku: -15 s/d -25 Cº Di Kabupaten dan Pelayanan Primer Jarak lemari es dengan dinding belakang 15 cm Lemari es tidak terkena sinar matahari langsung Sirkulasi ruangan cukup Penyusunan vaksin Jarak menyusun dos vaksin 1-2 cm atau satu jari antar dos vaksin
  • 46.
    Cool Box Untuk Menyimpan Vaksin
  • 47.
  • 48.
    Plastik penetes (dropper) Polio JANGAN disimpan di lemari es krn jadi rapuh, mudah robek
  • 49.
  • 50.
    Masa simpan vaksin belum dipakai Vademicum Bio Farma Jan.2002 Jenis Vaksin Suhu Penyimpanan Umur Vaksin BCG +2 s/d +8°C -15°s/d -25°C 1 tahun 1 tahun DPT +2° s/d +8°C 2 tahun Hepatitis B +2° s/d +8°C 26 bulan TT +2° s/d +8°C 2 tahun DT +2° s/d +8°C 2 tahun OPV +2° s/d +8°C -15° s/d -25°C 6 bulan 2 tahun Campak +2° s/d +8°C -15° s/d -25°C 2 tahun 2 tahun
  • 51.
    Penyediaan vaksin danalat-alat Vaksin + pelarut khusus termos, ice-packed , es batu peralatan vaksinasi (alat cuci tangan, pemotong ampul, alat suntik sekali pakai, kapas alkohol, plester, kotak limbah) Alat penanganan kedaruratan (adrenalin, kortikosteroid, selang dan cairan infus, oksigen), Pencatatan : Buku KIA, KMS, blangko vaksinasi
  • 52.
    Anamnesis / KIE Cek identitas , vaksinasi yang telah didapat Umur, jarak dgn vaksinasi sebelumnya Informed consent : manfaat dan KIPI Indikasi kontra, perhatian khusus, penyakit, obat KIPI vaksinasi sebelumnya Penanggulangan KIPI seandainya terjadi Rutin pediatrik Asupan nutrisi, miksi, defekasi, tidur Pertumbuhan dan perkembangan Jadwal vaksinasi berikutny a
  • 53.
    VVM = Vaccine Vial Monitor
  • 54.
    Penempatan alat untuk memudahkan vaksinasi Kursi pasien Kursi vaksinator Tempat sampah Kotak pembawa vaksin Kotak pembuangan jarum bekas Form R&R Air & sabun untuk cuci tangan
  • 55.
    Informed consent (1)Di Amerika, Australia : belum ada ketentuan pasien atau keluarganya harus menanda tangani pernyataan mengerti dan menyetujui Di Indonesia (Permenkes no. 585 /1989 ttg Persetujuan Tindakan Medik) pernyataan tertulis hanya untuk tindakan diagnostik atau terapeutik, vaksinasi belum perlu pernyataan tertulis
  • 56.
    Boleh meminta tandatangan dari orangtua atau pengasuh bahwa telah diberikan informasi, dimengerti dan menyetujui vaksinasi Penjelasan tentang manfaat dan risiko vaksinasi disampaikan dengan empathy Bukan dengan cara menghakimi (non - judgmental approach) Gunakan istilah awam dan sederhana
  • 57.
    Persiapan pemberian vaksin Cuci tangan dengan antiseptik B aca nama vaksin, tanggal kadaluwarsa, Teliti kondisi vaksin apakah masih layak : warna indikator VVM , Kocok : penggumpalan, perubahan warna Alat suntik : sekali pakai Encerkan dan ambil vaksin sebanyak dosis Ukuran jarum : ketebalan otot bayi / anak Pasang dropper polio dengan benar
  • 58.
    Ukuran jarumIntramuskular di paha mid-anterolateral Neonatus kurang bulan / BBLR : 5/8 inch (15,8 mm) cukup bulan : 7/8 inch (22,2 mm) 1 – 24 bulan : 7/8 – 1 inch (22,2-25,4 mm) Intramuskular di deltoid > 2 thn (tergantung ketebalan otot) 7/8 – 1,25 inch (22,2 -31,75 mm) Usia sekolah dan remaja : 1,5 inch (38,1mm)
  • 59.
    Mengatasi ketakutan dannyeri Jangan menakut-nakuti anak Empati, jangan dipaksa dengan dipegang kuat Diajak bicara, dielus-elus, ditenangkan Bayi baru lahir : diberi sukrosa dilidahnya Tekan 10 detik sebelum disuntik Tempe l es batu 1 – 2 detik tidak direkom e ndasikan Krim EMLA ( Eutetic Mixture of Local Anesthesia ) 1 jam sebelum penyuntikan, efek sampai 24 jam
  • 60.
    Lidocaine topikal: 10 menit sebelum disuntik Anak : bernafas dalam, tiup baling-baling, ajak bicara, bacakan cerita, musik Dipijat atau digoyang-goyang sesudah vaksinasi
  • 61.
    Penyuntikan dan penetesanvaksin Bicara pada bayi dan anak Tentukan lokasi penyuntikan : paha, lengan Posisi bayi / anak : nyaman dan aman Desinfeksi Pegang; peregangan kulit, cubitan Penyuntikan: dosis, sudut, cara Tetesan: dosis, hati-hati dimuntahkan Penekanan bekas suntikan
  • 62.
    Membuang alatsuntik bekas Penulisan tanggal vaksinasi di kolom yang sudah disediakan
  • 63.
    Teknik dan posisipenyuntikan Bayi digendong pengasuh, Anak dipeluk menghadap pengasuh (chest to chest) Otot yang akan disuntik : lemas (relaks) Tungkai : sedikit rotasi ke dalam Lengan : sedikit fleksi pada sendi siku Anak dipersilahkan memilih lokasi suntikan
  • 64.
    Metode Z tract : sebelum jarum disuntikkan geser kulit dan subkutis ke samping, setelah disuntik kemudian lepaskan Jarum disuntikan dengan cepat Bila suntikan lebih dari 1 kali, disuntikan bersamaan
  • 65.
    Posisi anak ketika di vaksinasi Tungkai anak dijepit paha ibu Lengan yg satu dijepit ketiak ibu Tangan yg lain dipegang ibu, Kemudian anak dipeluk
  • 66.
    Posisi Anak kurang aman Kaki bebas Bisa berontak suntik Tangan bebas Bisa meraih jarum suntik
  • 67.
    Posisi bayi dalam pelukan i bu pada penyuntikan BCG
  • 68.
    Penetesan vaksin polio
  • 69.
    Teknik Penyuntikandan Penetesan Oral e.g. polio Subcutaneous e.g. measles, mumps, rubella, varicella Intramuscular e.g. hepatitis A and B, DTP Intradermal BCG
  • 70.
    Sisa vaksin BCG setelah dilarutkan harus segera diberikan dalam 4 jam (simpan dalam suhu 2 – 8 ◦ C) Polio Setelah dibuka harus segera diberikan dalam 7 hari (simpan dlm suhu 2 – 8 ◦ C) DPT Bila ada penggumpalan atau partikel yang tidak hilang setelah dikocok  jangan dipakai Campak Setelah dilarutkan harus diberikan dlm 8 jam (simpan dlm suhu 2 – 8 ◦ C)
  • 71.
    Pemantauan setelah vaksinasi Perhatikan keadaan umum Tunggu 30 menit di ruang tunggu
  • 72.
    Safe injection Aman bagi yang disuntik penyuntik lingkungan
  • 73.
    Tidak aman bagiyang disuntik Vaksin Suhu > 8° C, atau VVM telah terpapar panas Botol vaksin bocor, retak, atau terpasang jarum Ada partikel dalam larutan Telah dilarutkan lebih dari 6 jam Beku : DPT, DT, TT, HepB, Hib (tidak boleh beku) Uji kocok tetap menggumpal (kecuali HepB atau Hib)
  • 74.
    Tidak aman bagiyang disuntik Alat suntik Spuit disposable dipakai ulang Hanya mengganti jarum Tidak dibersihkan dulu langsung disterilkan Hanya dengan desinfektan Membakar jarum di api Merebus dalam panci terbuka Menyentuh ujung jarum
  • 75.
    Tidak aman bagiyang disuntik Cara m elarutkan / p engambilan vaksin Cairan pelarut untuk vaksin lain atau > 8°C 1 spuit diisi beberapa dosis sekaligus jarum ditinggalkan menancap di vial Mencampur isi 2 vial Lokasi, posisi , kedalaman penyuntikan Tidak ada alat / obat gawat - kedaruratan
  • 76.
    Tidak aman bagipenyuntik Menekan luka berdarah dengan jari (semua cairan tubuh dapat menularkan kuman) Membawa atau meletakkan alat suntik bekas sembarangan (tidak langsung membuang ke kotak limbah) Menyentuh atau mencabut jarum suntik Menutup kembali (recapping) jarum suntik Mengasah jarum bekas Memilah-milah tumpukan jarum bekas Tidak ada alat / obat gawat darurat Tidak aman bagi lingkungan : Meninggalkan alat suntik bekas sembarangan
  • 77.
  • 78.
    Pemusnahan Kotak +Isi limbah Dibakar dalam insinerator khusus (suhu 600 - 1100° C) risiko pencemaran kecil Rp. 10 – 30 juta, BBM / kayu bakar Dibakar dalam lubang atau drum Di giling Milling atau shreeding Serbuk masih infeksius 375-750 alat suntik / jam listrik 750 w
  • 79.
    Pemberian Vitamin ADi Indonesia pemberia vit A dimulai setelah anak umur 6 bulan Dosis Umur 6-12 bulan = vit A 100.000 IU sekali Dosis umur 1-5 th = Vit A 200.000 IU, dua kali dlm setahun Pemberian serentak pd bln Februari & Agustus
  • 80.

Editor's Notes

  • #20 Here is the vaccine classification. We are going to see each of it, emphasizing the stake of the disease and its vaccine, today.
  • #56 AAP. Informing Patients and Parents. In : Pickering LK. Ed. Red Book : 2003 Report of the Committee on Infectious Disease. 26 th ed. Elk Grove Village, IL: AAP; 2003; 4-7 Depkes RI. Permenkes no tentang Persetujuan Medik (Informed Concent)
  • #70 Vaccines are usually given by injection. (  ) Most live-attenuated viral vaccines are given by the subcutaneous route but some can be given intramuscularly, if this is in line with local practice. (  ) The intramuscular route is favoured for killed, inactivated vaccines and sub-unit vaccines. Injections are usually made into the anterolateral muscle of the thigh in babies and into the deltoid muscle of the upper arm in older subjects. Vaccines should not be injected into the buttocks because then they may be deposited in fat layers which reduces their immunogenicity. (  ) The BCG tuberculosis vaccine is injected intradermally. This route shouldn’t be used for any other vaccines as it is unlikely to provoke an adequate immune response. Other ways of administering vaccines are continually being investigated. (  ) People who don’t like injections would find orally administered vaccines much more acceptable than injectable vaccines but, to date, the only oral vaccines are the Sabin polio vaccine and a live-attenuated typhoid fever vaccine. Intranasal vaccination may be feasible for some respiratory diseases. An intranasally administered flu vaccine has recently been launched in the US. Vaccines are never given intravenously. There is a serious risk of a severe reaction if antigens were to be administered directly into the blood stream. (  )