ASUHAN PADA PASIEN DENGAN
GANGGUAN KEBUTUHAN
OKSIGENASI
OLEH :
NURUL SYUHFAL NINGSIH, S.ST, M.KES
1. DEFINISI
Oksigenasi adalah pemenuhan akan kebutuhan oksigen (O²).
Apabila lebih dari 4 menit orang tidak mendapatkan oksigen maka
akan berakibat pada kerusakan otak yang tidak dapat diperbaiki dan
biasanya pasien akan meninggal.
2. FISIOLOGI OKSIGEN
Peristiwa bernapas terdiri dari 2 bagian:
a. Menghirup udara (inpirasi)
Inspirasi adalah terjadinya aliran udara dari sekeliling masuk melalui
saluran pernapasan sampai keparu-paru. Proses inspirasi : volume rongga
dada naik/lebih besar, tekanan rongga dada turun/lebih kecil.
b. Menghembuskan udara (ekspirasi)
Tidak banyak menggunakan tenaga, karena ekspirasi adalah suatu gerakan
pasif yaitu terjadi relaxasi otot-otot pernapasan. Proses ekspirasi : volume
rongga dada turun/lebih kecil, tekanan rongga dada naik/lebih besar
Proses Pemenuhan Oksigen Di Dalam Tubuh Terdiri
Dari Atas Tiga Tahapan, Yaitu Ventilasi, Difusi Dan
Transportasi.
a. Ventilasi
Merupakan proses keluar masuknya oksigen dari atmosfer ke dalam alveoli
atau dari alveoli ke atmosfer. Proses ini di pengaruhi oleh beberapa factor:
1) Adanya kosentrasi oksigen di atmosfer. Semakin tingginya suatu tempat,
maka tekanan udaranya semakin rendah.
2) Adanya kondisi jalan nafas yang baik.
3) Adanya kemampuan toraks dan alveoli pada paru-paru untuk mengembang
di sebut dengan compliance. Sedangkan recoil adalah kemampuan untuk
mengeluarkan CO² atau kontraksinya paru-paru.
b. Difusi
Difusi gas merupakan pertukaran antara O² dari alveoli ke kapiler paru-paru
dan CO² dari kapiler ke alveoli. Proses pertukaran ini dipengaruhi oleh
beberapa faktor, yaitu:
1) Luasnya permukaan paru-paru.
2) Tebal membrane respirasi/permeabilitas yang terdiri atas epitel alveoli dan
interstisial. Keduanya dapat mempengaruhi proses difusi apabila terjadi
proses penebalan.
3) Pebedaan tekanan dan konsentrasi O². Hal ini dapat terjadi sebagaimana
O² dari alveoli masuk kedalam darah secara berdifusi karena tekanan O²
dalam rongga alveoli lebih tinggi dari pada tekanan O² dalam darah vena
vulmonalis.
4) Afinitas gas yaitu kemampuan untuk menembus dan mengikat HB
c. Transportasi gas
Transfortasi gas merupakan proses pendistribusian O² kapiler ke jaringan
tubuh dan CO² jaringan tubuh ke kapiler. Transfortasi gas dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
1) curah jantung (kardiak output), frekuensi denyut nadi.
2) kondisi pembuluh darah, latihan perbandingan sel darah dengan darah
secara keseluruhan (hematokrit), serta elitrosit dan kadar Hb.
3. ETIOLOGI
Adapun faktor-faktor yang menyebabkan klien mengalami gangguan
oksigenasimenurut NANDA (2013),yaitu hiperventilasi, hipoventilasi,
deformitas tulang dan dinding dada, nyeri,cemas, penurunan
energy,/kelelahan, kerusakan neuromuscular, kerusakan muskoloskeletal,
kerusakan kognitif / persepsi, obesitas, posisi tubuh, imaturitas neurologis
kelelahan otot pernafasan dan adanya perubahan membrane kapiler-
alveoli.
4. FAKTOR PREDISPOSISI
a. Faktor Fisiologi
1) Menurunnya kapasitas pengingatan O2 seperti pada anemia.
2) Menurunnya konsentrasi O2 yang diinspirasi seperti pada obstruksi saluran
napas bagian atas.
3) Hipovolemia sehingga tekanan darah menurun mengakibatkan transport
O2 terganggu.
4) Meningkatnya metabolisme seperti adanya infeksi, demam, ibu hamil, luka,
dan lain-lain.
5) Kondisi yang memengaruhi pergerakan dinding dada seperti pada
kehamilan, obesitas, muskulus skeleton yang abnormal, penyalit kronik
seperti TBC paru
b. Faktor Perkembangan
1) Bayi prematur yang disebabkan kurangnya pembentukan surfaktan.
2) Bayi dan toddler adanya risiko infeksi saluran pernapasan akut.
3) Anak usia sekolah dan remaja, risiko infeksi saluran pernapasan dan
merokok.
4) Dewasa muda dan pertengahan : diet yang tidak sehat, kurang aktivitas,
stress yang mengakibatkan penyakit jantung dan paru-paru.
5) Dewasa tua : adanya proses penuaan yang mengakibatkan kemungkinan
arteriosklerosis, elastisitas menurun, ekspansi paru menurun.
c. Faktor Perilaku
1) Nutrisi : misalnya pada obesitas mengakibatkan penurunan ekspansi paru,
gizi yang buruk menjadi anemia sehingga daya ikat oksigen berkurang, diet
yang tinggi lemak menimbulkan arterioklerosis.
2) Exercise akan meningkatkan kebutuhan oksigen.
3) Merokok : nikotin menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah perifer dan
koroner.
4) Substansi abuse (alcohol dan obat-obatan) : menyebabkan intake nutrisi/Fe
menurun mengakibatkan penurunan hemoglobin, alcohol, menyebabkan
depresi pusat pernapasan.
5) Kecemasan : menyebabkan metabolism meningkat
d. Faktor Lingkungan
1) Tempat kerja
2) Suhu lingkungan
3) Ketinggian tempat dan permukaan laut.
5. PATOFISIOLOGI
Proses pertukaran gas dipengaruhi oleh ventilasi, difusi dan trasportasi.
Proses ventilasi (proses penghantaran jumlah oksigen yang masuk dan
keluar dari dan ke paru-paru), apabila pada proses ini terdapat obstruksi
maka oksigen tidak dapat tersalur dengan baik dan sumbatan tersebut akan
direspon jalan nafas sebagai benda asing yang menimbulkan pengeluaran
mukus. Proses difusi (penyaluran oksigen dari alveoli ke jaringan) yang
terganggu akan menyebabkan ketidakefektifan pertukaran gas. Selain
kerusakan pada proses ventilasi, difusi, maka kerusakan pada transportasi
seperti perubahan volume sekuncup, afterload, preload, dan kontraktilitas
miokard juga dapat mempengaruhi pertukaran gas.
6. MANIFESTASI KLINIS
a. Suara napas tidak normal.
b. Perubahan jumlah pernapasan.
c. Batuk disertai dahak.
d. Penggunaan otot tambahan pernapasan.
e. Dispnea.
f. Penurunan haluaran urin.
g. Penurunan ekspansi paru.
h. Takhipnea
7. TANDA DAN GEJALA
 Adanya penurunan tekanan inspirasi/ ekspirasi menjadi tanda gangguan
oksigenasi. Penurunan ventilasi permenit, penggunaaan otot nafas
tambahan untuk bernafas, pernafasan nafas faring (nafas cuping hidung),
dispnea, ortopnea, penyimpangan dada, nafas pendek, nafas
dengan mulut, ekspirasi memanjang, peningkatan diameter anterior-
posterior, frekuensi nafas kurang, penurunan kapasitas vital menjadi tanda
dan gejala adanya pola nafas yang tidak efektif sehingga menjadi gangguan
oksigenasi.
 Beberapa tanda dan gejala kerusakan pertukaran gas yaitu takikardi,
hiperkapnea, kelelahan, somnolen, iritabilitas, hipoksia, kebingungan,
sianosis, warna kulit abnormal (pucat, kehitam-hitaman), hipoksemia,
hiperkarbia, sakit kepala ketika bangun, abnormal frekuensi, irama dan
kedalaman nafas.
8. PEMERIKSAAN FISIK
a. Mata
1) Konjungtiva pucat (karena anemia)
2) Konjungtiva sianosis (karena hipoksemia)
3) konjungtiva terdapat pethechia (karena emboli lemak atau endokarditis)
b. Kulit
1) Sianosis perifer (vasokontriksi dan menurunnya aliran darah perifer)
2) Penurunan turgor (dehidrasi)
3) Edema.
4) Edema periorbital.
c. Jari dan kuku
1) Sianosis
2) Clubbing finger.
d. Mulut dan bibir
1) membrane mukosa sianosis
2) bernapas dengan mengerutkan mulut.
e. Hidung
Pernapasan dengan cuping hidung.
f. Vena leher
Adanya distensi / bendungan.
g. Dada
1) retraksi otot Bantu pernapasan (karena peningkatan aktivitas pernapasan,
dispnea, obstruksi jalan pernapasan)
2) Pergerakan tidak simetris antara dada kiri dan dada kanan.
3) Tactil fremitus, thrills (getaran pada dada karena udara/suara melewati
saluran/rongga pernapasan
4) Suara napas normal (vesikuler, bronchovesikuler, bronchial)
5) Suara napas tidak normal (creklerlr/rales, ronkhi, wheezing, friction
rub/pleural friction)
6) Bunyi perkusi (resonan, hiperesonan, dullness)
h. Pola pernapasan
1) pernapasan normal (eupnea)
2) pernapasan cepat (tacypnea)
3) pernapasan lambat (bradypnea)
9. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan Diagnostik Yang Dapat Dilakukan Untuk Mengetahui
Adanya Gangguan Oksigenasi Yaitu:
a. Pemeriksaan fungsi paru
Untuk mengetahui kemampuan paru dalam melakukan pertukaran gas
secara efisien.
b. Pemeriksaan gas darah arteri
Untuk memberikan informasi tentang difusi gas melalui membrane kapiler
alveolar dan keadekuatan oksigenasi.
c. Oksimetri
Untuk mengukur saturasi oksigen kapiler
d. Pemeriksaan sinar X dada
Untuk pemeriksaan adanya cairan, massa, fraktur, dan proses-proses
abnormal.
e. Bronkoskopi
Untuk memperoleh sampel biopsy dan cairan atau sampel sputum/benda
asing yang menghambat jalan nafas.
f. Endoskopi
Untuk melihat lokasi kerusakan dan adanya lesi.
g. Fluoroskopi
Untuk mengetahui mekanisme radiopulmonal, misal: kerja jantung dan
kontraksi paru.
h. CT-SCAN
Untuk mengintifikasi adanya massa abnormal.
10. MASALAH KEBUTUHAN OKSIGEN
a. Hipoksia
Merupakan kondisi tidak tercukupinya pemenuhan kebutuhan oksigen dalam tubuh
akibat defisiensi oksigen.
b. Perubahan Pola Nafas
1) Takipnea, merupakan pernafasan dengan frekuensi lebih dari 24x/ menit karena
paru-paru terjadi emboli.
2) Bradipnea, merupakan pola nafas yang lambat abnormal, ± 10x/ menit.
3) Hiperventilasi, merupakan cara tubuh mengompensasi metabolisme yang terlalu
tinggi dengan pernafasan lebih cepat dan dalam sehingga terjadi jumlah peningkatan
O2 dalam paru-paru.
4) Kussmaul, merupakan pola pernafasan cepat dan dangkal.
5) Hipoventilasi merupakan upaya tubuh untuk mengeluarkan CO2 dengan cukup, serta
tidak cukupnya jumlah udara yang memasuki alveoli dalam penggunaan O2.
6) Dispnea, merupakan sesak dan berat saat pernafasan.
7) Ortopnea, merupakan kesulitan bernafas kecuali dalam posisi duduk atau berdiri.
8) Stridor merupakan pernafasan bising yang terjadi karena penyempitan pada saluran
nafas
c,. Obstruksi Jalan Nafas
Merupakan suatu kondisi pada individu dengan pernafasan yang
mengalami ancaman, terkait dengan ketidakmampuan batuk secara efektif.
Hal ini dapat disebabkan oleh sekret yang kental atau berlebihan akibat
infeksi, imobilisasi, serta batuk tidak efektif karena penyakit persarafan.
d. Pertukaran Gas
Merupakan kondisi pada individu yang mengalami penurunan gas baik O2
maupun CO2 antara alveoli paru-paru dan sistem vaskular.
10. PENATALAKSANAAN
a. Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif
1) Pembersihan jalan nafas
2) Latihan batuk efektif
3) Suctioning
4) Jalan nafas buatan
b. Pola Nafas Tidak Efektif
1) Atur posisi pasien ( semi fowler )
2) Pemberian oksigen
3) Teknik bernafas dan relaksasi
c. Gangguan Pertukaran Gas
1) Atur posisi pasien ( posisi fowler )
2) Pemberian oksigen
3) Suctioning
•
A. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
a. Bersihan jalan nafas tidak efektif
1) Data Subjektif
a) Pasien mengatakan sesak saat bernafas
b) Pasien mengatakan batuk tertahan
c) Pasien mengatakan tidak mampu mengeluarkan sekresi jalan nafas
d) Pasien mengatakan merasa ada suara nafas tambahan
2) Data Objektif
a) Pasien tampak tersengal-sengal dan pernafasan dangkal
b) Terdapat bunyi nafas tambahan
c) Pasien tampak bernafas dengan mulut
d) Penggunaan otot bantu pernafasan dan nafas cuping hidung
e) Pasien tampak susah untuk batuk
b. Pola nafas tidak efektif
1) Data Subjektif
a) Pasien mengatakan nafasnya tersengal-sengal dan dangkal
b) Pasien mengatakan berat saat bernafas
2) Data Objektif
a) Irama nafas pasien tidak teratur
b) Orthopnea
c) Pernafasan disritmik
d) Letargi
c. Gangguan pernafasan gas
1) Data Subjektif
a) Pasien mengatakan pusing dan nyeri kepala
b) Pasien mengatakan susah tidur
c) Pasien mengatakan lelah
d) Pasien mengatakan gelisah
2) Data Objektif
a) Pasien tampak pucat
b) Pasien tampak gelisah
c) Perubahan pada nadi
d) Pasien tampak lelah
2. DIAGNOSA
a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan:
1) Sekresi kental/belebihan sekunder akibat infeksi, fibrosis kistik atau
influenza.
2) Imobilitas statis sekresi dan batuk tidak efektif
3) Sumbatan jalan nafas karena benda asing
b. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan:
1) Lemahnya otot pernafasan
2) Penurunan ekspansi paru
c. Gangguan Pertukaran Gas berhubungan dengan:
1) Perubahan suplai oksigen
2) Adanya penumpukan cairan dalam paru
3) Edema paru
3. PERENCANAAN KEPERAWATAN
Diagnosa yang diangkat:
a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas s/d peningkatan sputum ditandai
dengan batuk produktif
b. Ketidakefektifan pola nafas s/d posisi tubuh ditandai dengan
bradipnea
c. Gangguan pertukaran gas s/d berkurangnya keefektifan permukaan
paru
NO
DX
TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI RASIONAL
1. Setelah dilakukan tindakan selama … x
24 jam diharapkan bersihan jalan napas
efektif sesuai dengan kriteria:
1. Menunjukkan jalan nafas bersih
2. Suara nafas normal tanpa suara
tambahan
3. Tidak ada penggunaan otot bantu
nafas
4. Mampu melakukan perbaikan
bersihan jalan nafas
1. Auskultasi dada
untuk karakter bunyi
nafas dan adanya
secret.
2. Berikan air minum
hangat
3. Beri posisi yang
nyaman seperti
posisi semi fowler
4. Sarankan keluarga
agar tidak
memakaikan
pakaian ketat
kepada pasien
5. Kolaborasi
penggunaan
nebulizer
1. Pernafasan rochi,
wheezing
menunjukkan
tertahannya secret
obstruksi jalan nafas
2. Membantu
mengencerkan
secret
3. Memudahkan pasien
untuk bernafas
4. Pakaian yang ketat
menyulitkan pasien
untuk bernafas
5. Kelembapan
mempermudah
pengeluaran dan
mencegah
pembentukan mucus
tebal pada bronkus
dan membantu
pernafasan
NO
DX
TUJUAN DAN KRITERIA
HASIL
INTERVENSI RASIONAL
2. Setelah dilakukan tindakan
selama….X24 jam diharapkan
pola napas efektif dengan
kriteria :
1. Menunjukkkan pola nafas
efektif dengan frekuensi
nafas 16-20 kali/menit dan
irama teratur
2. Mampu menunjukkan
perilaku peningkatan fungsi
paru
1. Kaji frekuensi
pernafasan pasien.
2. Tinggikan kepala
dan bantu
mengubah posisi.
3. Ajarkan teknik
bernafas dan
relaksasi yang
benar
4. Kolaborasikan
dalam pemberian
obat
1. Mengetahui frekuensi
pernafasan pasien
2. Duduk tinggi
memungkinkan
ekpansi paru dan
memudahkan
pernafasan
3. dapat memberikan
pengetahuan pada
pasien tentang teknik
bernafas
4. Pengobatan
mempercepat
penyembuhan dan
memperbaiki pola
nafas
NO
DX
TUJUAN DAN
KRITERIA HASIL
INTERVENSI RASIONAL
3. Setelah dilakukan
tindakan keperawatan
selama ….X 24 jam
diharapkan pertukaran
gas dapat
dipertahankan dengan
kriteria :
1. Menunjukkan
perbaikan ventilasi
dan oksigenasi
jaringan
2. Tidak ada sianosis
1. Auskultasi dada untuk
karakter bunyi nafas
dan adanya secret.
2. Beri posisi yang
nyaman seperti posisi
semi fowler
3. Anjurkan untuk
bedrest, batasi dan
bantu aktivitas sesuai
kebutuhan
4. Ajarkan teknik
bernafas
dan relaksasi yang
benar.
5. Kolaborasikan terapi
oksigen
1. Weezing atau
mengiindikasi
akumulasisekret/ketidakma
mpuan membersihkan jalan
napas sehingga otot
aksesori digunakan dan
kerja pernapasan
meningkat.
2. Memudahkan pasien untuk
bernafas
3. Mengurangi konsumsi
oksigen pada periode
respirasi.
4. HE dapat memberikan
pengetahuan pada pasien
tentang teknik bernafas
5. Memaksimalkan sediaan
oksigen khususnya ventilasi
menurun
4. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Impementasi merupakan tindakan yang sudah direncanakan dalam rencana
tindakan keperawatan
a. Mandiri: aktivitas perawat yang didasarkan pada kemampuan sendiri dan
bukan merupakan petunjuk/perintah dari petugas kesehatan
b. Delegatif: tindakan keperawatan atas intruksi yang diberikan oleh petugas
kesehatan yang berwenang
c. Kolaboratif: tindakan perawat dan petugas kesehatan yang lain dimana
didasarkan atas keputusan bersama.
5. EVALUASI KEPERAWATAN
a. Dx 1: menunjukkkan adanya kemampuan dalam
1) Menunjukkan jalan nafas paten
2) Tidak ada suara nafas tambahan
3) Mampu melakukan perbaikan bersihan jalan nafas
b. Dx 2:
1) Menunjukkan pola nafas efektif dengan frekuensi dan kedalaman nafas
yang normal
2) Tidak ada sianosis
c. Dx 3:
1) Perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan
2) Tidak ada gejala distres pernafasan
TERIMAKASIH

Gangguan oksigenasi

  • 1.
    ASUHAN PADA PASIENDENGAN GANGGUAN KEBUTUHAN OKSIGENASI OLEH : NURUL SYUHFAL NINGSIH, S.ST, M.KES
  • 2.
    1. DEFINISI Oksigenasi adalahpemenuhan akan kebutuhan oksigen (O²). Apabila lebih dari 4 menit orang tidak mendapatkan oksigen maka akan berakibat pada kerusakan otak yang tidak dapat diperbaiki dan biasanya pasien akan meninggal.
  • 3.
    2. FISIOLOGI OKSIGEN Peristiwabernapas terdiri dari 2 bagian: a. Menghirup udara (inpirasi) Inspirasi adalah terjadinya aliran udara dari sekeliling masuk melalui saluran pernapasan sampai keparu-paru. Proses inspirasi : volume rongga dada naik/lebih besar, tekanan rongga dada turun/lebih kecil. b. Menghembuskan udara (ekspirasi) Tidak banyak menggunakan tenaga, karena ekspirasi adalah suatu gerakan pasif yaitu terjadi relaxasi otot-otot pernapasan. Proses ekspirasi : volume rongga dada turun/lebih kecil, tekanan rongga dada naik/lebih besar
  • 4.
    Proses Pemenuhan OksigenDi Dalam Tubuh Terdiri Dari Atas Tiga Tahapan, Yaitu Ventilasi, Difusi Dan Transportasi. a. Ventilasi Merupakan proses keluar masuknya oksigen dari atmosfer ke dalam alveoli atau dari alveoli ke atmosfer. Proses ini di pengaruhi oleh beberapa factor: 1) Adanya kosentrasi oksigen di atmosfer. Semakin tingginya suatu tempat, maka tekanan udaranya semakin rendah. 2) Adanya kondisi jalan nafas yang baik. 3) Adanya kemampuan toraks dan alveoli pada paru-paru untuk mengembang di sebut dengan compliance. Sedangkan recoil adalah kemampuan untuk mengeluarkan CO² atau kontraksinya paru-paru.
  • 5.
    b. Difusi Difusi gasmerupakan pertukaran antara O² dari alveoli ke kapiler paru-paru dan CO² dari kapiler ke alveoli. Proses pertukaran ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: 1) Luasnya permukaan paru-paru. 2) Tebal membrane respirasi/permeabilitas yang terdiri atas epitel alveoli dan interstisial. Keduanya dapat mempengaruhi proses difusi apabila terjadi proses penebalan. 3) Pebedaan tekanan dan konsentrasi O². Hal ini dapat terjadi sebagaimana O² dari alveoli masuk kedalam darah secara berdifusi karena tekanan O² dalam rongga alveoli lebih tinggi dari pada tekanan O² dalam darah vena vulmonalis. 4) Afinitas gas yaitu kemampuan untuk menembus dan mengikat HB
  • 6.
    c. Transportasi gas Transfortasigas merupakan proses pendistribusian O² kapiler ke jaringan tubuh dan CO² jaringan tubuh ke kapiler. Transfortasi gas dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: 1) curah jantung (kardiak output), frekuensi denyut nadi. 2) kondisi pembuluh darah, latihan perbandingan sel darah dengan darah secara keseluruhan (hematokrit), serta elitrosit dan kadar Hb.
  • 7.
    3. ETIOLOGI Adapun faktor-faktoryang menyebabkan klien mengalami gangguan oksigenasimenurut NANDA (2013),yaitu hiperventilasi, hipoventilasi, deformitas tulang dan dinding dada, nyeri,cemas, penurunan energy,/kelelahan, kerusakan neuromuscular, kerusakan muskoloskeletal, kerusakan kognitif / persepsi, obesitas, posisi tubuh, imaturitas neurologis kelelahan otot pernafasan dan adanya perubahan membrane kapiler- alveoli.
  • 8.
    4. FAKTOR PREDISPOSISI a.Faktor Fisiologi 1) Menurunnya kapasitas pengingatan O2 seperti pada anemia. 2) Menurunnya konsentrasi O2 yang diinspirasi seperti pada obstruksi saluran napas bagian atas. 3) Hipovolemia sehingga tekanan darah menurun mengakibatkan transport O2 terganggu. 4) Meningkatnya metabolisme seperti adanya infeksi, demam, ibu hamil, luka, dan lain-lain. 5) Kondisi yang memengaruhi pergerakan dinding dada seperti pada kehamilan, obesitas, muskulus skeleton yang abnormal, penyalit kronik seperti TBC paru
  • 9.
    b. Faktor Perkembangan 1)Bayi prematur yang disebabkan kurangnya pembentukan surfaktan. 2) Bayi dan toddler adanya risiko infeksi saluran pernapasan akut. 3) Anak usia sekolah dan remaja, risiko infeksi saluran pernapasan dan merokok. 4) Dewasa muda dan pertengahan : diet yang tidak sehat, kurang aktivitas, stress yang mengakibatkan penyakit jantung dan paru-paru. 5) Dewasa tua : adanya proses penuaan yang mengakibatkan kemungkinan arteriosklerosis, elastisitas menurun, ekspansi paru menurun.
  • 10.
    c. Faktor Perilaku 1)Nutrisi : misalnya pada obesitas mengakibatkan penurunan ekspansi paru, gizi yang buruk menjadi anemia sehingga daya ikat oksigen berkurang, diet yang tinggi lemak menimbulkan arterioklerosis. 2) Exercise akan meningkatkan kebutuhan oksigen. 3) Merokok : nikotin menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah perifer dan koroner. 4) Substansi abuse (alcohol dan obat-obatan) : menyebabkan intake nutrisi/Fe menurun mengakibatkan penurunan hemoglobin, alcohol, menyebabkan depresi pusat pernapasan. 5) Kecemasan : menyebabkan metabolism meningkat d. Faktor Lingkungan 1) Tempat kerja 2) Suhu lingkungan 3) Ketinggian tempat dan permukaan laut.
  • 11.
    5. PATOFISIOLOGI Proses pertukarangas dipengaruhi oleh ventilasi, difusi dan trasportasi. Proses ventilasi (proses penghantaran jumlah oksigen yang masuk dan keluar dari dan ke paru-paru), apabila pada proses ini terdapat obstruksi maka oksigen tidak dapat tersalur dengan baik dan sumbatan tersebut akan direspon jalan nafas sebagai benda asing yang menimbulkan pengeluaran mukus. Proses difusi (penyaluran oksigen dari alveoli ke jaringan) yang terganggu akan menyebabkan ketidakefektifan pertukaran gas. Selain kerusakan pada proses ventilasi, difusi, maka kerusakan pada transportasi seperti perubahan volume sekuncup, afterload, preload, dan kontraktilitas miokard juga dapat mempengaruhi pertukaran gas.
  • 12.
    6. MANIFESTASI KLINIS a.Suara napas tidak normal. b. Perubahan jumlah pernapasan. c. Batuk disertai dahak. d. Penggunaan otot tambahan pernapasan. e. Dispnea. f. Penurunan haluaran urin. g. Penurunan ekspansi paru. h. Takhipnea
  • 13.
    7. TANDA DANGEJALA  Adanya penurunan tekanan inspirasi/ ekspirasi menjadi tanda gangguan oksigenasi. Penurunan ventilasi permenit, penggunaaan otot nafas tambahan untuk bernafas, pernafasan nafas faring (nafas cuping hidung), dispnea, ortopnea, penyimpangan dada, nafas pendek, nafas dengan mulut, ekspirasi memanjang, peningkatan diameter anterior- posterior, frekuensi nafas kurang, penurunan kapasitas vital menjadi tanda dan gejala adanya pola nafas yang tidak efektif sehingga menjadi gangguan oksigenasi.  Beberapa tanda dan gejala kerusakan pertukaran gas yaitu takikardi, hiperkapnea, kelelahan, somnolen, iritabilitas, hipoksia, kebingungan, sianosis, warna kulit abnormal (pucat, kehitam-hitaman), hipoksemia, hiperkarbia, sakit kepala ketika bangun, abnormal frekuensi, irama dan kedalaman nafas.
  • 14.
    8. PEMERIKSAAN FISIK a.Mata 1) Konjungtiva pucat (karena anemia) 2) Konjungtiva sianosis (karena hipoksemia) 3) konjungtiva terdapat pethechia (karena emboli lemak atau endokarditis) b. Kulit 1) Sianosis perifer (vasokontriksi dan menurunnya aliran darah perifer) 2) Penurunan turgor (dehidrasi) 3) Edema. 4) Edema periorbital. c. Jari dan kuku 1) Sianosis 2) Clubbing finger. d. Mulut dan bibir 1) membrane mukosa sianosis 2) bernapas dengan mengerutkan mulut.
  • 15.
    e. Hidung Pernapasan dengancuping hidung. f. Vena leher Adanya distensi / bendungan. g. Dada 1) retraksi otot Bantu pernapasan (karena peningkatan aktivitas pernapasan, dispnea, obstruksi jalan pernapasan) 2) Pergerakan tidak simetris antara dada kiri dan dada kanan. 3) Tactil fremitus, thrills (getaran pada dada karena udara/suara melewati saluran/rongga pernapasan 4) Suara napas normal (vesikuler, bronchovesikuler, bronchial) 5) Suara napas tidak normal (creklerlr/rales, ronkhi, wheezing, friction rub/pleural friction) 6) Bunyi perkusi (resonan, hiperesonan, dullness)
  • 16.
    h. Pola pernapasan 1)pernapasan normal (eupnea) 2) pernapasan cepat (tacypnea) 3) pernapasan lambat (bradypnea)
  • 17.
    9. PEMERIKSAAN PENUNJANG PemeriksaanDiagnostik Yang Dapat Dilakukan Untuk Mengetahui Adanya Gangguan Oksigenasi Yaitu: a. Pemeriksaan fungsi paru Untuk mengetahui kemampuan paru dalam melakukan pertukaran gas secara efisien. b. Pemeriksaan gas darah arteri Untuk memberikan informasi tentang difusi gas melalui membrane kapiler alveolar dan keadekuatan oksigenasi. c. Oksimetri Untuk mengukur saturasi oksigen kapiler d. Pemeriksaan sinar X dada Untuk pemeriksaan adanya cairan, massa, fraktur, dan proses-proses abnormal.
  • 18.
    e. Bronkoskopi Untuk memperolehsampel biopsy dan cairan atau sampel sputum/benda asing yang menghambat jalan nafas. f. Endoskopi Untuk melihat lokasi kerusakan dan adanya lesi. g. Fluoroskopi Untuk mengetahui mekanisme radiopulmonal, misal: kerja jantung dan kontraksi paru. h. CT-SCAN Untuk mengintifikasi adanya massa abnormal.
  • 19.
    10. MASALAH KEBUTUHANOKSIGEN a. Hipoksia Merupakan kondisi tidak tercukupinya pemenuhan kebutuhan oksigen dalam tubuh akibat defisiensi oksigen. b. Perubahan Pola Nafas 1) Takipnea, merupakan pernafasan dengan frekuensi lebih dari 24x/ menit karena paru-paru terjadi emboli. 2) Bradipnea, merupakan pola nafas yang lambat abnormal, ± 10x/ menit. 3) Hiperventilasi, merupakan cara tubuh mengompensasi metabolisme yang terlalu tinggi dengan pernafasan lebih cepat dan dalam sehingga terjadi jumlah peningkatan O2 dalam paru-paru. 4) Kussmaul, merupakan pola pernafasan cepat dan dangkal. 5) Hipoventilasi merupakan upaya tubuh untuk mengeluarkan CO2 dengan cukup, serta tidak cukupnya jumlah udara yang memasuki alveoli dalam penggunaan O2. 6) Dispnea, merupakan sesak dan berat saat pernafasan. 7) Ortopnea, merupakan kesulitan bernafas kecuali dalam posisi duduk atau berdiri. 8) Stridor merupakan pernafasan bising yang terjadi karena penyempitan pada saluran nafas
  • 20.
    c,. Obstruksi JalanNafas Merupakan suatu kondisi pada individu dengan pernafasan yang mengalami ancaman, terkait dengan ketidakmampuan batuk secara efektif. Hal ini dapat disebabkan oleh sekret yang kental atau berlebihan akibat infeksi, imobilisasi, serta batuk tidak efektif karena penyakit persarafan. d. Pertukaran Gas Merupakan kondisi pada individu yang mengalami penurunan gas baik O2 maupun CO2 antara alveoli paru-paru dan sistem vaskular.
  • 21.
    10. PENATALAKSANAAN a. BersihanJalan Nafas Tidak Efektif 1) Pembersihan jalan nafas 2) Latihan batuk efektif 3) Suctioning 4) Jalan nafas buatan b. Pola Nafas Tidak Efektif 1) Atur posisi pasien ( semi fowler ) 2) Pemberian oksigen 3) Teknik bernafas dan relaksasi c. Gangguan Pertukaran Gas 1) Atur posisi pasien ( posisi fowler ) 2) Pemberian oksigen 3) Suctioning •
  • 22.
    A. KONSEP DASARASUHAN KEPERAWATAN 1. PENGKAJIAN a. Bersihan jalan nafas tidak efektif 1) Data Subjektif a) Pasien mengatakan sesak saat bernafas b) Pasien mengatakan batuk tertahan c) Pasien mengatakan tidak mampu mengeluarkan sekresi jalan nafas d) Pasien mengatakan merasa ada suara nafas tambahan 2) Data Objektif a) Pasien tampak tersengal-sengal dan pernafasan dangkal b) Terdapat bunyi nafas tambahan c) Pasien tampak bernafas dengan mulut d) Penggunaan otot bantu pernafasan dan nafas cuping hidung e) Pasien tampak susah untuk batuk
  • 23.
    b. Pola nafastidak efektif 1) Data Subjektif a) Pasien mengatakan nafasnya tersengal-sengal dan dangkal b) Pasien mengatakan berat saat bernafas 2) Data Objektif a) Irama nafas pasien tidak teratur b) Orthopnea c) Pernafasan disritmik d) Letargi
  • 24.
    c. Gangguan pernafasangas 1) Data Subjektif a) Pasien mengatakan pusing dan nyeri kepala b) Pasien mengatakan susah tidur c) Pasien mengatakan lelah d) Pasien mengatakan gelisah 2) Data Objektif a) Pasien tampak pucat b) Pasien tampak gelisah c) Perubahan pada nadi d) Pasien tampak lelah
  • 25.
    2. DIAGNOSA a. Ketidakefektifanbersihan jalan nafas berhubungan dengan: 1) Sekresi kental/belebihan sekunder akibat infeksi, fibrosis kistik atau influenza. 2) Imobilitas statis sekresi dan batuk tidak efektif 3) Sumbatan jalan nafas karena benda asing b. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan: 1) Lemahnya otot pernafasan 2) Penurunan ekspansi paru c. Gangguan Pertukaran Gas berhubungan dengan: 1) Perubahan suplai oksigen 2) Adanya penumpukan cairan dalam paru 3) Edema paru
  • 26.
    3. PERENCANAAN KEPERAWATAN Diagnosayang diangkat: a. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas s/d peningkatan sputum ditandai dengan batuk produktif b. Ketidakefektifan pola nafas s/d posisi tubuh ditandai dengan bradipnea c. Gangguan pertukaran gas s/d berkurangnya keefektifan permukaan paru
  • 27.
    NO DX TUJUAN DAN KRITERIAHASIL INTERVENSI RASIONAL 1. Setelah dilakukan tindakan selama … x 24 jam diharapkan bersihan jalan napas efektif sesuai dengan kriteria: 1. Menunjukkan jalan nafas bersih 2. Suara nafas normal tanpa suara tambahan 3. Tidak ada penggunaan otot bantu nafas 4. Mampu melakukan perbaikan bersihan jalan nafas 1. Auskultasi dada untuk karakter bunyi nafas dan adanya secret. 2. Berikan air minum hangat 3. Beri posisi yang nyaman seperti posisi semi fowler 4. Sarankan keluarga agar tidak memakaikan pakaian ketat kepada pasien 5. Kolaborasi penggunaan nebulizer 1. Pernafasan rochi, wheezing menunjukkan tertahannya secret obstruksi jalan nafas 2. Membantu mengencerkan secret 3. Memudahkan pasien untuk bernafas 4. Pakaian yang ketat menyulitkan pasien untuk bernafas 5. Kelembapan mempermudah pengeluaran dan mencegah pembentukan mucus tebal pada bronkus dan membantu pernafasan
  • 28.
    NO DX TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSIRASIONAL 2. Setelah dilakukan tindakan selama….X24 jam diharapkan pola napas efektif dengan kriteria : 1. Menunjukkkan pola nafas efektif dengan frekuensi nafas 16-20 kali/menit dan irama teratur 2. Mampu menunjukkan perilaku peningkatan fungsi paru 1. Kaji frekuensi pernafasan pasien. 2. Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi. 3. Ajarkan teknik bernafas dan relaksasi yang benar 4. Kolaborasikan dalam pemberian obat 1. Mengetahui frekuensi pernafasan pasien 2. Duduk tinggi memungkinkan ekpansi paru dan memudahkan pernafasan 3. dapat memberikan pengetahuan pada pasien tentang teknik bernafas 4. Pengobatan mempercepat penyembuhan dan memperbaiki pola nafas
  • 29.
    NO DX TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSIRASIONAL 3. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ….X 24 jam diharapkan pertukaran gas dapat dipertahankan dengan kriteria : 1. Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan 2. Tidak ada sianosis 1. Auskultasi dada untuk karakter bunyi nafas dan adanya secret. 2. Beri posisi yang nyaman seperti posisi semi fowler 3. Anjurkan untuk bedrest, batasi dan bantu aktivitas sesuai kebutuhan 4. Ajarkan teknik bernafas dan relaksasi yang benar. 5. Kolaborasikan terapi oksigen 1. Weezing atau mengiindikasi akumulasisekret/ketidakma mpuan membersihkan jalan napas sehingga otot aksesori digunakan dan kerja pernapasan meningkat. 2. Memudahkan pasien untuk bernafas 3. Mengurangi konsumsi oksigen pada periode respirasi. 4. HE dapat memberikan pengetahuan pada pasien tentang teknik bernafas 5. Memaksimalkan sediaan oksigen khususnya ventilasi menurun
  • 30.
    4. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN Impementasimerupakan tindakan yang sudah direncanakan dalam rencana tindakan keperawatan a. Mandiri: aktivitas perawat yang didasarkan pada kemampuan sendiri dan bukan merupakan petunjuk/perintah dari petugas kesehatan b. Delegatif: tindakan keperawatan atas intruksi yang diberikan oleh petugas kesehatan yang berwenang c. Kolaboratif: tindakan perawat dan petugas kesehatan yang lain dimana didasarkan atas keputusan bersama.
  • 31.
    5. EVALUASI KEPERAWATAN a.Dx 1: menunjukkkan adanya kemampuan dalam 1) Menunjukkan jalan nafas paten 2) Tidak ada suara nafas tambahan 3) Mampu melakukan perbaikan bersihan jalan nafas b. Dx 2: 1) Menunjukkan pola nafas efektif dengan frekuensi dan kedalaman nafas yang normal 2) Tidak ada sianosis c. Dx 3: 1) Perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan 2) Tidak ada gejala distres pernafasan
  • 32.