Rencana Kerja
Pembinaan Gizi Masyarakat
TAhun 2013
Direktorat Bina Gizi
Direktorat Jenderal Bina Gizi dan KIA
Kementerian Kesehatan RI
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013ii
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 iii
KATA PENGANTAR
Undang-undangnomor36tahun2009tentangKesehatanmenyatakanbahwa
upaya perbaikan gizi bertujuan untuk meningkatkan mutu gizi perseorangan
dan masyarakat antara lain melalui perbaikan pola konsumsi makanan,
perbaikan perilaku sadar gizi dan peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi
dan kesehatan sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi.
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-
2014, perbaikan status gizi masyarakat merupakan salah satu prioritas
dengan menurunkan prevalensi balita gizi kurang menjadi 15% dan prevalensi
balita pendek menjadi 32% pada tahun 2014. Untuk mencapai sasaran
tersebut diatas, Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2010-2014 telah
menetapkan 2 (dua) indikator keluaran pembinaan gizi yang harus dicapai
yaitu; 1) Persentase balita ditimbang berat badannya, dan 2) Persentase
balita gizi buruk yang mendapat perawatan.
Untukmencapaisasarantersebutdiperlukanrancangankegiatanyangspesifik
dan terukur, tertuang dalam Rencana Aksi Pembinaan Gizi Masyarakat 2010-
2014. Penjabaran kegiatan setiap tahunnya dituangkan dalam Rencana Kerja
Pembinaan Gizi Masyarakat yang merupakan penajaman prioritas, strategi
operasional serta kegiatan. Buku ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi
penentu kebijakan, perencana, dan pelaksana program diberbagai tingkat
administrasi untuk lebih menyamakan langkah, koordinasi, dan sumber daya
dalam pelaksanaan kegiatan pembinaan gizi masyarakat tahun 2013.
Jakarta, Februari 2013
Direktur Jenderal Bina Gizi dan KIA
Dr. dr. Slamet Riyadi Yuwono, DTM&H, MARS
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 iii
KATA PENGANTAR
Undang-undangnomor36tahun2009tentangKesehatanmenyatakanbahwa
upaya perbaikan gizi bertujuan untuk meningkatkan mutu gizi perseorangan
dan masyarakat antara lain melalui perbaikan pola konsumsi makanan,
perbaikan perilaku sadar gizi dan peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi
dan kesehatan sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi.
Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-
2014, perbaikan status gizi masyarakat merupakan salah satu prioritas
dengan menurunkan prevalensi balita gizi kurang menjadi 15% dan prevalensi
balita pendek menjadi 32% pada tahun 2014. Untuk mencapai sasaran
tersebut diatas, Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2010-2014 telah
menetapkan 2 (dua) indikator keluaran pembinaan gizi yang harus dicapai
yaitu; 1) Persentase balita ditimbang berat badannya, dan 2) Persentase
balita gizi buruk yang mendapat perawatan.
Untukmencapaisasarantersebutdiperlukanrancangankegiatanyangspesifik
dan terukur, tertuang dalam Rencana Aksi Pembinaan Gizi Masyarakat 2010-
2014. Penjabaran kegiatan setiap tahunnya dituangkan dalam Rencana Kerja
Pembinaan Gizi Masyarakat yang merupakan penajaman prioritas, strategi
operasional serta kegiatan. Buku ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi
penentu kebijakan, perencana, dan pelaksana program diberbagai tingkat
administrasi untuk lebih menyamakan langkah, koordinasi, dan sumber daya
dalam pelaksanaan kegiatan pembinaan gizi masyarakat tahun 2013.
Jakarta, Februari 2013
Direktur Jenderal Bina Gizi dan KIA
Dr. dr. Slamet Riyadi Yuwono, DTM&H, MARS
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013iv
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 v
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ...................................................................................... iii
Daftar Isi ............................................................................................... v
I. Pendahuluan .................................................................................. 1
A. Latar Belakang ....................................................................... 1
B. Sasaran Pembinaan Gizi 2010-2014 ...................................... 2
II. Perkembangan Masalah dan Capaian Tahun 2012 ....................... 3
A. Kurang Energi Protein (KEP) 3
1.	 Cakupan Balita Ditimbang Berat Badannya (D/S) 4
2.	 Cakupan Pemberian ASI Eksklusif 5
3.	 Perawatan Gizi Buruk 6
B. Kurang Vitamin A (KVA) 8
C. Gangguan Akibat Kurang Iodium (GAKI) 9
D. Anemia Gizi Besi (AGB) 11
E. Masalah Gizi Lebih 13
III. Konsep dan Strategi Operasional Tahun 2013 14
A. Konsep Perbaikan Gizi 14
B. Tujuan 15
C. Sasaran Operasional 15
D. Strategi Operasional 15
IV. Kegiatan Pembinaan Gizi 2013 17
A. Pendidikan Gizi dan Pemberdayaan Masyarakat 17
B. Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) Gizi 19
C. Suplementasi Gizi dan Alat Penunjang 21
D. Tatalaksana Gizi Buruk dan Penanganan Gizi Kurang 23
E. Penyusunan NSPK 24
F. Surveilans Gizi 26
G. Dukungan Manajemen 26
V. Monitoring dan Evaluasi 29
VI. Penutup 30
Lampiran 31
Daftar Singkatan 48
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013vi
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 1
I. PENDAHULUAN
A.	 Latar Belakang
Undang-Undang nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan (Bab
VIII) mengamanatkan bahwa Upaya Perbaikan Gizi bertujuan untuk
meningkatkan mutu gizi perseorangan dan masyarakat, antara lain
melalui perbaikan pola konsumsi makanan, perbaikan perilaku sadar
gizi, dan peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi dan kesehatan
sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi. Upaya pembinaan gizi
dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan sesuai dengan
perkembangan masalah gizi, pentahapan dan prioritas pembangunan
nasional.
Salah satu prioritas pembangunan nasional sebagaimana tertuang
pada dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional dan
Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2010-2014 adalah perbaikan
status gizi masyarakat. Sasaran jangka menengah perbaikan gizi yang
telah ditetapkan adalah menurunnya prevalensi gizi kurang menjadi
setinggi-tingginya 15% dan prevalensi pendek (stunting) menjadi
setinggi-tingginya 32% pada tahun 2014.
Dalam upaya mencapai tujuan tersebut telah disusun Kegiatan
PembinaanGiziMasyarakat2010-2014,sebagaipenjabaranoperasional
Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2010-2014. Rencana Aksi
Pembinaan Gizi Masyarakat 2010-2014 berisikan tujuan, sasaran
operasional, kebijakan teknis dan strategi operasional serta kegiatan
pokok dan pentahapan indikator setiap tahun.
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat 2013 merupakan upaya
percepatanpencapaiansasaranRencanaStrategis(Renstra)Kementerian
Kesehatan melalui penajaman prioritas dan strategi penggerakan yang
dikembangkan berdasarkan kecenderungan capaian dan hambatan
pelaksanaan pembinaan gizi selama ini. Adanya inisiatif baru seperti
pencegahan stunting, penerapan pola konsumsi makanan dan aktivitas
fisik untuk mencegah penyakit tidak menular memerlukan penyesuaian
terhadap strategi yang ada. Di sisi lain, adanya terobosan baru di
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 20132
bidang pembiayaan kesehatan khususnya dengan diluncurkannya dana
Bantuan Operasional Kesehatan (BOK), Jaminan Persalinan (Jampersal),
Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) dan berbagai inisiatif
pembiayaan lain perlu dimanfaatkan secara maksimal untuk mencapai
sasaran yang telah ditetapkan.
B.	 Sasaran Pembinaan Gizi 2010-2014
Sebagaimana telah ditetapkan di dalam Renstra Kementerian
Kesehatan dan Rencana Pembinaan Gizi Masyarakat 2010-2014,
sasaran Pembinaan Gizi Masyarakat adalah menurunkan prevalensi gizi
kurang menjadi 15% dan prevalensi stunting menjadi setinggi-tingginya
32%. Di dalam Rencana Pembinaan Gizi Masyarakat, sasaran tersebut
dijabarkan menjadi indikator kinerja perbaikan gizi dan pentahapan
pencapaian indikator sampai dengan tahun 2014.
Indikator kinerja, target capaian sampai dengan tahun 2014 serta
capaian sampai dengan 2012 adalah sebagai berikut;
Tabel 1. Target Capaian Indikator Pembinaan Gizi Masyarakat
Tahun 2012-2014 dan Capaian Tahun 2012
Indikator Target
2012
Capaian
2012
Target
2013
Target
2014
1.	 % balita ditimbang berat
badannya (D/S)
2.	 % bayi 0-6 bulan mendapat
ASI Eksklusif
3.	 % anak 6-59 bulan mendapat
kapsul vitamin A
4.	 % ibu hamil mendapat Fe 90
tablet
5.	 % rumah tangga konsumsi
garam beriodium
6.	 % balita gizi buruk mendapat
perawatan
7.	 penyediaan buffer stock
MP-ASI
75
70
80
90
80
100
100
75.1
48.6*
82.8
85.0
87.9**
100
100
80
75
83
93
85
100
100
85
80
85
95
90
100
100
Catatan:
*Laporan dari 32 provinsi
**Laporan dari 29 provinsi
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 3
II.	 PERKEMBANGAN MASALAH
DAN CAPAIAN TAHUN 2012
A.	 Kurang Energi Protein (KEP)
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 menunjukkan besaran
masalah gizi di Indonesia yaitu gizi kurang sebesar 17,9%, pendek
35,6%, kurus 13,3% dan gemuk 14,2%. Secara umum besaran masalah
gizi pada balita digambarkan pada gambar 1.
Gambar 1. Grafik Distribusi Prevalensi Masalah Gizi di Indonesia
Dibandingkan dengan prevalensi gizi kurang tahun 1990 sebesar 31%,
secara nasional telah terjadi penurunan sekitar 40% selama periode 1990
sampai 2010. Dengan kecenderungan ini sasaran penurunan prevalensi
gizi kurang menjadi 15% pada tahun 2014 diharapkan dapat dicapai.
Namun, bila dibandingkan angka prevalensi gizi kurang tahun 2007
(18,4%) dengan tahun 2010, penurunan prevalensi gizi kurang
sangat kecil yaitu 0,5%. Apabila tidak dilakukan upaya percepatan,
dikhawatirkan sasaran penurunan prevalensi gizi kurang pada tahun
2014 tidak tercapai.
Sebaran prevalensi gizi kurang menurut provinsi berdasarkan data
Riskesdas tahun 2010, untuk prevalensi gizi kurang yang telah mencapai
sasaran rata-rata MDG 2015 (<15%) ada 8 (delapan) provinsi yaitu
Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Lampung, DKI, Jabar, DIY, Bali dan
Sulawesi Utara. Sementara itu masih ada 15 provinsi yang prevalensinya
diatas 20%.
17.9
Gizi Kurang Pendek Kurus Gemuk
35.6
13.3 14.2
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 20134
Gambar 2. Sebaran Prevalensi Balita Gizi Kurang Berdasarkan Berat Badan Menurut
Umur (BB/U) Menurut Provinsi Di Indonesia Tahun 2010
30.5
29.4
29.1
27.6
26.5
26.5
26.5
26.2
25.0
23.7
23.6
22.9
22.8
21.4
20.5
19.9
19.6
18.5
17.9
17.1
17.1
17.1
16.2
16.2
15.7
15.3
14.9
14.0
13.4
13.0
11.3
11.2
11.0
10.6
0.0
5.0
10.0
15.0
20.0
25.0
30.0
35.0
NTB
NTT
KalBar
Kalteng
SulTeng
PapBar
Gorontalo
Maluku
SulSel
NAD
MalUt
KalSel
SulTera
Sumut
SulBar
SumSel
Jambi
Banten
Indonesia
Jatim
SumBar
KalTim
Papua
Riau
Jateng
Bengkulu
BaBel
KepRi
Lampung
Jabar
Jakarta
DIYogya
Bali
SulUt
Sumber: Riskesdas, 2012
Strategiutamapenanggulanganmasalahgizikurangadalahpencegahan
dan peningkatan pengetahuan melalui kegiatan edukasi masyarakat
tentang asuhan gizi khususnya makanan bayi dan anak, pemantauan
pertumbuhan di posyandu suplementasi gizi, pemberian makanan
tambahan pemulihan kepada anak gizi kurang serta tatalaksana kasus
gizi buruk.
1.	 Cakupan Balita Ditimbang Berat Badannya (D/S)
	 Cakupan pemantauan pertumbuhan secara bertahap mengalami
kenaikan, terutama setelah dilakukan revitalisasi posyandu sejak
setelah terjadinya krisis beberapa tahun sebelumnya. Pada tahun
2012 secara rata-rata nasional cakupan D/S sudah mencapai
target yaitu 75,1%, namun demikian masih ada 23 provinsi yang
cakupannya masih dibawah 75% seperti tergambarkan pada
grafik berikut:
Gambar 3. Persentase D/S Berdasarkan Provinsi Tahun 2012
Sumber: Laporan Dinas Kesehatan Provinsi, 2012
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 5
	 Untuk meningkatkan cakupan balita ditimbang berat badannya
Menteri Kesehatan melalui surat edaran tanggal 21 September
2012 nomor GK/Menkes/333/IX/2012 telah menetapkan bahwa
pada bulan November setiap tahun sebagai bulan penimbangan
balita di samping bulan Februari dan Agustus yang bersamaan
dengan Bulan Kapsul Vitamin A.
2.	 Cakupan Pemberian ASI Eksklusif
	 UpayapeningkatancakupanpemberianAirSusuIbu(ASI)Eksklusif
dilakukan dengan berbagai strategi, mulai dari penyusunan
kerangka regulasi, peningkatan kapasitas petugas dan promosi
ASI Eksklusif.
	 Pada tahun 2012 telah diterbitkan Peraturan Pemerintah
tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif (PP No 33 tahun
2012). Dalam PP tersebut diatur tugas dan tanggung jawab
pemerintah dan pemerintah daerah dalam pengembangan
program ASI, diantaranya menetapkan kebijakan nasional dan
daerah, melaksanakan advokasi dan sosialisasi serta melakukan
pengawasan terkait program pemberian ASI Eksklusif. Pada tahun
2012, sebanyak 1.057 orang dilatih sebagai konselor menyusui,
sehingga secara keseluruhan sampai dengan tahun 2012 telah
dilakukan pelatihan fasilitator menyusui sebanyak 415 orang dan
konselor menyusui dengan jumlah 3.929 orang (daftar terlampir).
	 Cakupan pemberian ASI ekslusif di Indonesia sangat berfluktuatif.
Cakupan ASI Eksklusif pada bayi 0-6 bulan pada tahun 2012
berdasarkan laporan sementara hasil Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 sebesar 42%. Bila dibandingkan
dengan survei yang sama pada tahun 2007 telah terjadi kenaikan
yang bermakna sebesar 10%. Pada tahun 2013 target bayi 0-6
bulan mendapat ASI eksklusif sebesar 75%.
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 20136
Gambar 4. Tren Cakupan Pemberian ASI Eksklusif 0-6 bulan 2002-2012
Sumber data: laporan sementara SDKI 2012
	Berdasarkan laporan provinsi tahun 2012, sebaran cakupan
pemberian ASI eksklusif pada bayi 0-6 bulan sedikit lebih tinggi
jika dibandingkan dengan hasil SDKI 2012 yaitu sebesar 48,6%,
seperti terlihat pada grafik di bawah ini:
Gambar 5. Cakupan Pemberian ASI Eksklusif 0-6 bulan Menurut Provinsi
Tahun 2012
Sumber: Laporan Dinas Kesehatan Provinsi, 2012
3.	 Perawatan Gizi Buruk
	 Keadaan gizi merupakan salah satu penyebab dasar kematian bayi
dan anak. Gizi buruk seringkali disertai penyakit seperti TB, ISPA,
diare dan lain-lain. Risiko kematian anak gizi buruk 17 kali lipat
dibandingkan dengan anak normal. Oleh karena itu setiap anak
gizi buruk harus dirawat sesuai standar.
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 7
	 Pemerintah telah mengembangkan prosedur perawatan gizi
buruk, dengan dua pendekatan. Kasus gizi buruk yang disertai
dengan salah satu atau lebih tanda komplikasi medis seperti
anoreksia, anemia berat, dehidrasi, demam sangat tinggi dan
penurunan kesadaran perlu penanganan secara rawat inap,
baik di rumah sakit, puskesmas maupun Therapeutic Feeding
Centre (TFC). Sedangkan bagi anak gizi buruk tanpa komplikasi
dapat dirawat jalan. Perawatan anak di rumah dilakukan melalui
pembinaan petugas kesehatan dan kader.
	 Jumlah kasus gizi buruk yang ditemukan pada tahun 2012
sebanyak 42.702 kasus dan semuanya telah mendapat perawatan
sesuai standar.
	 Kegiatan yang telah dilakukan terkait dengan kasus gizi buruk
antara lain:
a.	 Melaksanakan Pelatihan Tatalaksana Anak Gizi Buruk bagi
petugaskesehatandariPuskesmasdanRumahSakit.Sampai
dengan Desember tahun 2012 telah dilatih 5.876 petugas
kesehatan dari 1.434 Puskesmas Perawatan, 436 Puskesmas
non Perawatan, dan 367 RSUD, serta 98 fasilitator di seluruh
Indonesia.
b.	Mendirikan Therapeutic Feeding Centre (TFC) dan
Community Feeding Centre (CFC) atau Pemulihan Gizi
Berbasis Masyarakat (PGBM). Sampai dengan Desember
2012 telah didirikan 170 TFC di 28 provinsi dan 109 CFC di
4 provinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat,
dan Sulawesi Tenggara.
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 20138
Gambar 6. Peta Sebaran TFC dan CFC di Indonesia Tahun 2012
B.	 Kurang Vitamin A (KVA)
Prevalensi Kurang Vitamin A pada balita secara signifikan terus
menurun. Prevalensi xerophthalmia pada tahun 1992 sebesar 0.35%,
di bawah batas masalah kesehatan masyarakat, dan turun secara
signifikan dibandingkan dengan tahun 1978 (1,3%).
Dari berbagai studi prevalensi kurang vitamin A subklinis (serum retinol
<20µg/dl) juga menunjukkan penurunan yang sangat signifikan, yaitu
dari 14.6% pada tahun 2007 (Survei Nasional Gizi Mikro), menjadi 0.8%
pada tahun 2011 (South East Asia Nutrition Survey/SEANUTS).
B. Kurang Vitamin A (KVA)
Prevalensi Kurang Vitamin A pada balita secara signifikan terus
menurun. Prevalensi xerophthalmia pada tahun 1992 sebesar 0.35%, di
bawah batas masalah kesehatan masyarakat, dan turun secara signifikan
dibandingkan dengan tahun 1978 (1,3%).
Dari berbagai studi prevalensi kurang vitamin A subklinis (serum retinol
<20µg/dl) juga menunjukkan penurunan yang sangat signifikan, yaitu dari
14.6% pada tahun 2007 (Survei Nasional Gizi Mikro), menjadi 0.8% pada
tahun 2011 (South East Asia Nutrition Survey/SEANUTS).
Strategi penanggulangan kurang vitamin A dilaksanakan secara
komprehensif, terdiri dari pemberian suplementasi kapsul vitamin A dosis
tinggi setiap bulan Februari dan Agustus, penyuluhan gizi seimbang untuk
meningkatkan konsumsi bahan pangan sumber vitamin A dan fortifikasi
pangan.
Pencapaian rata-rata cakupan Vitamin A pada balita 6-59 bulan sampai
dengan bulan Februari 2012 sebesar 82,3%. Meskipun sudah mencapai
target nasional tahun 2012 yaitu sebesar 80%, namun masih terdapat 17
provinsi yang belum mencapai target dan masih terdapat 5 (lima) provinsi
yang belum menyampaikan laporannya. Pencapaian cakupan masing-
masing provinsi dapat dilihat pada grafik berikut:
Strategi penanggulangan kurang vitamin A dilaksanakan secara
komprehensif, terdiri dari pemberian suplementasi kapsul vitamin
A dosis tinggi setiap bulan Februari dan Agustus, penyuluhan gizi
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 9
seimbang untuk meningkatkan konsumsi bahan pangan sumber vitamin
A dan fortifikasi pangan.
Pencapaian rata-rata cakupan Vitamin A pada balita 6-59 bulan sampai
dengan bulan Februari 2012 sebesar 82,8%. Meskipun sudah mencapai
target nasional tahun 2012 yaitu sebesar 80%, namun masih terdapat
13 provinsi yang belum mencapai target. Pencapaian cakupan masing-
masing provinsi dapat dilihat pada grafik berikut:
Gambar 7. Cakupan Pemberian Kapsul Vitamin A Balita 6-59 Bulan Berdasarkan
Provinsi Tahun 2012
	 Sumber: Laporan Dinas Kesehatan Provinsi, 2012
C.	 Gangguan Akibat Kurang Iodium (GAKI)
Indikator untuk memantau masalah GAKI saat ini adalah Ekskresi
IodiumdalamUrin(EIU)sebagairefleksiasupaniodium,cakupanrumah
tangga mengonsumsi garam beriodium dan pencapaian 10 indikator
manajemen. Bila proporsi penduduk dengan EIU<100 µg/L dibawah
20% dan cakupan garam beriodium 90% diikuti dengan tercapainya
indikator manajemen maka masalah GAKI di masyarakat tersebut
sudah terkendali.
Hasil Studi Intensifikasi Penanggulangan GAKI (IP-GAKI) tahun
2002/2003, hasil Riskesdas 2007 menunjukkan hasil yang konsisten
bahwa rata-rata EIU dalam batas normal. Bahkan hasil survei SEANUTS
tahun 2011 pun menunjukkan hasil yang sama (batas normal) yaitu 228
µg/L. Dari hasil survey yang sama diketahui proporsi EIU<100 µg/L telah
dibawah 20% yaitu 12.9 µg/L pada tahun 2007 dan turun menjadi 11,5
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 201310
µg/L pada tahun 2011, Dengan kemajuan ini dapat disimpulkan bahwa
secara nasional masalah Gangguan Akibat Kurang Iodium tidak lagi
menjadi masalah kesehatan masyarakat.
Tabel 2. Perkembangan Masalah GAKI
Sumber data: 2002 Survei GAKI, 2007 Riskesdas, 2011 SEANUTS
UpayapenanggulanganmasalahGAKImengutamakankegiatanpromosi
garam beriodium. Untuk daerah-daerah endemik masalah GAKI, upaya
yang dilakukan yaitu menjamin garam yang dikonsumsi adalah garam
beriodium melalui penyusunan peraturan daerah yang mengatur
pemasaran garam beriodium. Sampai dengan tahun 2009, terdata 9
(sembilan) provinsi dan 13 kabupaten/kota yang sudah memiliki Perda
Penanggulangan masalah GAKI
Hasil pemantauan konsumsi garam beriodium tahun 2012 di 29 provinsi
menunjukkan cakupan sebesar 87,9% rumah tangga mengonsumsi
garam beriodium. Meskipun secara nasional angka ini meningkat dari
tahun sebelumnya dan sudah mencapai target program tahun 2012
(80%), namun masih ada 4 (empat) provinsi yang belum melaksanakan
pemantauan garam beriodium di wilayahnya.
Diharapkan semakin bertambah wilayah yang melakukan pemantauan
garam beriodium dengan penerapan Permendagri No. 63 tahun 2010
tentang Pedoman Penanggulangan Gangguan Akibat Kekurangan
Yodium di Daerah.
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 11
Gambar 8. Cakupan Rumah Tangga Mengonsumsi Garam Beriodium
Berdasarkan Provinsi Tahun 2012
Sumber: Laporan Dinas Kesehatan Provinsi, 2010- 2012
D.	 Anemia Gizi Besi (AGB)
Data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 menunjukkan
prevalensi anemia pada ibu hamil masih cukup tinggi yaitu sebesar
40,1%. Keadaan ini mengindikasikan anemia gizi besi pada ibu hamil
masih menjadi masalah kesehatan masyarakat.
Program penanggulangan anemia gizi pada ibu hamil telah
dikembangkan sejak tahun 1975 melalui distribusi Tablet Tambah Darah
(TTD). TTD merupakan suplementasi gizi mikro khususnya zat besi
dan folat yang diberikan kepada ibu hamil untuk mencegah kejadian
anemia gizi besi selama kehamilan. Penelitian terakhir membuktikan
bahwa pemberian tablet Fe di Indonesia dapat menurunkan kematian
neonatal sekitar 20%.
Secara nasional cakupan ibu hamil mendapat 90 tablet Fe tahun 2012
sebesar 85%. Data tersebut belum mencapai target program tahun
2012 sebesar 90%. Koordinasi dan kegiatan yang terintegrasi dengan
lintas program masih perlu di tingkatkan agar cakupan dapat meningkat
karena pemberian tablet Fe merupakan salah satu komponen standar
pelayanan antenatal.
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 201312
Gambar 9. Cakupan Pemberian 90 Tablet Fe pada Ibu Hamil Menurut Provinsi
Tahun 2012
Sumber: Laporan Dinas Kesehatan Provinsi, 2012
Pada anak balita, studi masalah gizi mikro di 10 provinsi tahun 2006
masih dijumpai 26,3% balita yang menderita anemia gizi besi dengan
kadar haemoglobin (Hb) kurang dari 11,0 gr/dl, dan prevalensi tertinggi
didapat di Provinsi Maluku sebesar 36%. Secara nasional telah terjadi
penurunan prevalensi anemia pada anak pada tahun 2011 yaitu
menjadi 17.6% (SEANUTS).
Salah satu intervensi inovatif lainnya dalam pencegahan anemia
pada balita adalah melalui pemberian Taburia pada balita usia 6-59
bulan dengan prioritas usia 6-24 bulan yang akan dilaksanakan secara
bertahap di seluruh Indonesia. Pada tahun 2013 akan dilakukan
penambahan lokasi pemberian taburia yang semula hanya di 24
kabupaten/kota di 6(enam) provinsi NICE project (Sumatera Utara,
Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, NTB, NTT, dan Sulawesi Selatan)
menjadi 40 kabupaten/kota di 13 provinsi. Tambahan 7 (tujuh) provinsi
tersebut adalah: Lampung (4 Kabupaten), Jawa Barat (4 Kabupaten),
Sulawesi Tenggara (1 Kabupaten), Kalimantan Timur (1 Kota), Jawa
Tengah (4 Kabupaten), Sulawesi Tengah (2 Kabupaten) dan Maluku
Utara (1 Kabupaten).
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 13
E.	 Masalah Gizi Lebih
Selain masalah gizi kurang dan pendek, prevalensi gizi lebih saat
ini sudah cukup tinggi. Gizi lebih merupakan masalah gizi baru yang
selama beberapa tahun terakhir menunjukkan kenaikan. Selama kurun
waktu tahun 2007 sampai 2010, prevalensi gizi lebih baik pada anak-
anak maupun pada kelompok dewasa meningkat sebesar 2% atau
hampir satu persen setiap tahunnya. Hal ini patut diwaspadai karena
dapat memicu terjadinya masalah yang ditimbulkan akibat penyakit
tidak menular (PTM). Bardasarkan data Riskesdas 2010 status gizi balita
gemuk mengalami peningkatan dari 12,2% (2007) menjadi 14,2%.
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 201314
III.	 KONSEP & STRATEGI
OPERASIONAL TAHUN 2013
A.	 Konsep Perbaikan Gizi
Mengacu dari berbagai hasil penelitian, pemilihan intervensi gizi
didasarkan pada intervensi yang telah terbukti “cost effective”. Terdapat
3 kelompok kegiatan gizi, yaitu kegiatan peningkatan (promotif)
yang bertumpu pada kegiatan pemberdayaan dan pendidikan gizi
masyarakat,kegiatanpencegahan(preventif)agaranakgizikurangtidak
menjadi gizi buruk, dan kegiatan pemulihan (kuratif) yaitu tatalaksana
kasus gizi buruk. Diagram berikut menjelaskan konsep pelayanan gizi,
mulai dari promotif sampai kuratif.
Gambar 10. Diagram Konsep Pelayanan Gizi
Promotif
Preventif Kuratif
Gizi Buruk
(sangat kurus)
Pulih
Pulih
Perlu pemulihan
BALITA GIZI
KURANG DIBERI PMT
PEMULIHAN
BALITA
GIZI
BURUK
DIRAWAT
Tidak Naik BB/
Kurus
• Pemantauan Pertumbuhan
• Pendidikan gizi dan konseling
ASI/MP-ASI/Gizi Lebih
• Pemberian Kapsul vit A
• Pemberian tablet Fe Ibu hamil
• Promosi garam beriodium
• Skrining aktif
• Taburia
• PMT Bumil KEK
Kegiatan promotif adalah kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di
tingkat masyarakat oleh masyarakat dan petugas. Kegiatannya meliputi
pemantauan pertumbuhan, penyuluhan dan konseling tentang
pemberian makanan bayi adan anak, pemberian kapsul vitamin A dosis
tinggi setiap 6 bulan, pemberian tablet tambah darah kepada ibu hamil,
promosi garam beriodium, pelacakan dan tindak lanjut kasus gizi buruk.
Kegiatan preventif adalah pemberian makanan tambahan pemulihan
terhadap anak-anak gizi kurang atau kurus. Makanan tambahan
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 15
diberikan dalam bentuk makanan lokal, dengan resep-resep yang
dianjurkan.
Kegiatan kuratif, berupa tatalaksana kasus gizi buruk baik dengan rawat
inapmaupunrawatjalan,menggunakanprotokolyangtelahditetapkan.
B.	Tujuan
Tujuan dari kegiatan pembinaan gizi 2013 adalah meningkatkan
cakupan dan kualitas pelayanan gizi keluarga untuk meningkatkan
status gizi ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan balita.
C.	 Sasaran Operasional
Sasaran operasional kegiatan pembinaan gizi masyarakat tahun 2013
mencakup 8 (delapan) indikator kinerja gizi yang terdiri dari 2 (dua)
indikator kegiatan dan 6 (enam) indikator penunjang.
1.	 Indikator Kinerja Kegiatan (IKK)
a.	 80%	 balita yang ditimbang berat badannya
b.	 100%	balita gizi buruk yang mendapat perawatan
2.	 Indikator Penunjang
a.	 83%	 balita mendapat kapsul vitamin A
b.	 75%	 bayi 0 – 6 bulan mendapat ASI Ekslusif
c.	 93%	 ibu hamil mendapat Fe 90 tablet
d.	 85%	 Rumah Tangga yang mengonsumsi garam beriodium
e.	 Penyediaan bufferstock MP-ASI untuk gizi darurat
f.	 Kabupaten dan Kota melaksanakan surveilans gizi
D.	 Strategi Operasional
1.	 Meningkatkan pendidikan gizi masyarakat melalui kampanye
Gerakan Nasional Sadar Gizi serta penyediaan materi komunikasi,
informasi dan edukasi (KIE).
2.	 Meningkatkan koordinasi untuk pemenuhan kebutuhan obat gizi
(seperti: vitamin A, tablet Fe, mineral mix) melalui peran aktif
dalamketerpaduanpenyusunanrencanakebutuhan,pemantauan
ketersediaan obat gizi dan pencapaian cakupan.
3.	 Mengoptimalkan pemanfaatan dana BOK untuk pelayanan gizi,
meliputi penyelenggaraan penyuluhan, pembinaan Posyandu,
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 201316
penyediaan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Pemulihan
bagi balita gizi kurang dan ibu hamil Kurang Energi Kronis (KEK).
4.	 Meningkatkan integrasi pelayanan gizi dan pelayanan Kesehatan
Ibu dan Anak (KIA) pada ibu hamil berupa pemberian tablet Fe,
skrining ibu hamil KEK, dan PMT ibu hamil KEK melalui bimbingan
terpadu Gizi dan KIA secara berjenjang.
5.	 Meningkatkan kapasitas petugas melalui pembinaan dan
pelatihan pemantauan pertumbuhan, konseling menyusui,
Makanan Pendamping ASI (MP-ASI), Pemberian Makan Bayi dan
Anak (PMBA), tatalaksana gizi buruk, surveilans gizi, dan program
gizi lainnya.
6.	 Peningkatan surveilans gizi melalui pengembangan sistem
jaringan informasi, pelacakan kasus dan respon cepat, serta
penyebarluasan informasi.
Terkait dengan pemanfaatan dana BOK untuk pembinaan gizi di tingkat
puskesmas dan desa di dalam Pedoman Teknis BOK 2013 dituliskan
beberapa kegiatan perbaikan gizi yang dapat didanai dari dana BOK
sebagai berikut:
1.	 Upaya Kesehatan Prioritas (MDGs 1, 4, 5, 6 dan 7)
a.	 Pendidikan Gizi (penyuluhan gizi, konseling ASI & MP-ASI
dan PMT Penyuluhan),
b.	 Pelayanan Gizi (penimbangan balita di posyandu, sweeping,
pemantauan status gizi dan survei),
c.	 PMT Pemulihan Balita Gizi Kurang,
d.	 PMTBumilKEKdanTabletFe(terintegrasidenganpelayanan
kesehatan ibu hamil),
e.	 Pemberian vitamin A (terintegrasi dengan pelayanan
kesehatan balita).
2.	 Upaya Kesehatan Lainnya
	 Upaya perbaikan gizi lainnya yang bersifat promotif dan preventif
(seperti: pemantauan garam beriodium dan lain-lain).
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 17
IV.	 KEGIATAN PEMBINAAN GIZI 2013
Dalam rangka mewujudkan pencapaian tujuan sasaran kegiatan pembinaan
gizi dalam Renstra Kementerian Kesehatan 2010-2014 dan pencapaian 8
(delapan) indikator kinerja gizi, maka akan dilaksanakan beberapa kegiatan
pokok yaitu:
1.	 Pendidikan Gizi dan Pemberdayaan Masyarakat
2.	 Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia Gizi
3.	 Suplementasi Gizi dan Alat Penunjang
4.	 Penanganan Gizi Buruk dan Kurang
5.	 Penyusunan Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria (NSPK)
6.	 Surveilans Gizi
7.	 Dukungan Manajemen
Adapun penjelasan secara rinci dari beberapa kegiatan pokok tersebut adalah
sebagai berikut:
A.	 Pendidikan Gizi dan Pemberdayaan Masyarakat
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman
dan keterampilan petugas dalam rangka memberikan pelayanan
dan penanganan gizi yang berkualitas. Selain itu kegiatan ini untuk
meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan perilaku masyarakat
tentang gizi.
1.	 Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi
	 Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi adalah upaya
meningkatkan partisipasi dan kepedulian pemangku kepentingan
secara terencana dan terkoordinasi untuk meningkatkan
pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat menerapkan
gizi seimbang dalam kehidupan sehari-hari menuju manusia
Indonesia prima.
	 Kegiatan Pokok Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi
a)	 Kampanye tingkat Nasional dan Daerah
b)	 Peningkatan kapasitas petugas di tingkat nasional, provinsi
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 201318
dan kabupaten/kota dalam rangka perencanaan, koordinasi
dan evaluasi sehingga tercipta dialog untuk menggalang
dukungan
c)	 Peningkatan pengetahuan gizi kepada ibu hamil, ibu
menyusui, ibu balita, anak sekolah, remaja, lanjut usia dan
masyarakat umum melalui media poster, leaflet, spanduk,
flyer dan baliho.
2.	 Sosialisasi Pencegahan dan Penanggulangan Stunting
	Kegiatan sosialisasi ini bertujuan memperoleh pemahaman yang
sama tentang penerapan pencegahan dan penanggulangan
stunting. Sasaran pesertanya adalah pemangku kepentingan dari
dinas kesehatan provinsi, lintas sektor dan lintas program.
3. 	 Akselerasi Perbaikan Gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan
Dalam Rangka Pencegahan dan Penanggulangan Stunting
	Kegiatan akselerasi ini bertujuan mempercepat status gizi dan
kesehatan ibu dan anak pada periode 1000 hari yaitu 270 hari
selama kehamilannya dan 730 hari pada kehidupan pertama bayi
yang dilahirkannya dengan sasaran pemangku kepentingan dari
dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota serta lintas sektor
dan lintas program.
4.	 Sosialisasi dan Advokasi Penanggulangan Masalah GAKI
	 Bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan dukungan dari
lintas sektor terkait dalam penanggulangan masalah GAKI di
tingkat kabupaten. Salah satu output-nya adalah terbentuknya
Tim GAKI tingkat Kabupaten.
5.	 Advokasi Pengembangan Taburia Di 7 (Tujuh) Provinsi Terpilih
	 Bertujuan untuk meningkatkan kepedulian atau dukungan dari
penentu kebijakan di daerah terkait pelaksanaan pemberian
taburia. Advokasi dilakukan di 7 (Tujuh) provinsi terpilih yaitu
Provinsi Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Timur,
Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Maluku Utara.
6.	 Sosialisasi Surveilans Gizi Dan SMS Gateway.
	 Pada tahun 2012 telah dikembangkan aplikasi pelaporan kasus
balita gizi buruk dengan SMS gateway. Untuk pelaksanaan aplikasi
tersebut akan dilaksanakan sosialisasi, yang bertujuan untuk
menyebarkan informasi kegiatan surveilans gizi dan pelaporan
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 19
kasus balita gizi buruk dengan SMS gateway. Adapun sasaran
dari kegiatan ini adalah pengelola gizi tingkat Pusat, pengelola gizi
provinsi dan Perguruan Tinggi/Poltekes.
B.	 Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) Gizi
1.	 Pelatihan Fasilitator dan Petugas
	 Kegiatan ini bertujuan untuk menyiapkan tenaga kesehatan
yang terlatih dan kompeten dalam menyampaikan informasi dan
pengetahuan dalam bidang gizi, guna membantu masyarakat
dalam meningkatkan status gizi.
	Kegiatan peningkatan kapasitas pada tahun 2013 yang
diselenggarakan adalah :
a.	 Pelatihan Training of Trainer (TOT) Penggunaan Standar
Pertumbuhan Balita
	 Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan teknis
profesi kesehatan dalam Standar Antropometri penilaian
status gizi dengan sasaran petugas kesehatan menggunakan
metode pelatihan berbasis kompetensi dengan teknik
pembelajaran bagi orang dewasa.
b.	 Peningkatan Kapasitas  Fasilitator dalam  Tatalaksana Gizi
Buruk
	 Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan,
ketrampilan dan kompetensi tenaga kesehatan tentang
tatalaksana gizi buruk untuk menjadi fasilitator. Peserta
pelatihan adalah pengelola gizi provinsi/kabupaten, dokter
spesialis anak dan ahli gizi di Rumah Sakit dari masing-
masing daerah terpilih.
c.	 TOT Konselor Menyusui
	 Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan,
ketrampilan dan kompetensi tenaga konselor menyusui
untuk menjadi fasilitator. Peserta pelatihan adalah konselor
dari Pusat, Provinsi dan Kabupaten terpilih.
d.	 TOT Konselor MP-ASI
	 PelatihankonselorMP-ASIbertujuanuntukmelatihkonselor
menjadi fasilitator, sasarannya adalah petugas yang sudah
dilatih menjadi konselor MP-ASI dari Provinsi terpilih.
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 201320
e.	 Peningkatan Kapasitas Petugas Kesehatan Tentang
Tatalaksana Kretin (GAKI)
	 Adapuntujuankegiataniniuntukmeningkatkanketrampilan
tenaga kesehatan dalam tatalaksana kretin di daerah
endemik GAKI. Adapun pesertanya adalah pengelola gizi
Provinsi dan Kabupaten serta Tim Asuhan Gizi di Puskesmas
Terpilih.
2.	 Pembinaan teknis
a.	 Bimbingan Teknis dan Pendampingan
	 Kegiatan ini bertujuan untuk memonitor pengelolaan
kegiatan pembinaan gizi di daerah oleh Tim Pusat secara
terpadu. Sasarannya adalah pejabat terkait bidang gizi di
Provinsi dan Kabupaten/Kota serta lintas program serta
lintas sektor terkait.
b.	 Pembinaan dan Evaluasi Rencana Aksi Pangan dan Gizi
	 Rencana aksi ini bertujuan sebagai panduan dan arahan
dalam pelaksanaan pembangunan bidang pangan dan
gizi di tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota, baik
bagi institusi pemerintah maupun masyarakat dan pihak-
pihak lain yang terkait dalam perbaikan pangan dan gizi,
Pelaksanaannya akan dilaksanakan secara bertahap mulai
dari persiapan penyusunan tools, pembahasan penyusunan
tools, dan pelaksanaan pembinaan di daerah dengan
metode presentasi, diskusi dan tanya jawab.
c.	 Penguatan Posyandu Dalam Rangka Pencegahan dan
Penanggulangan Gizi Kurang dan Gizi Buruk
	 Penguatan posyandu bertujuan untuk memantapkan
komitmen kabupaten/kota dalam membina posyandu
sebagai sarana deteksi dini, mencegah dan menanggulangi
gizi kurang dan gizi buruk. Sasaran dari penguatan posyandu
adalah pemangku kepentingan di dinas kesehatan provinsi
dan lintas sektor dan program di kabupaten/kota.
d.	 Pembinaan Dan Pendampingan Pengelola Jasa Makanan
	 Bertujuan untuk melakukan bimbingan teknis dalam
pengelolaan jasa makanan yang sasarannya adalah
pengelola jasa makanan seperti perusahaan catering,
pengelola makanan di panti asuhan, pondok pesantren,
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 21
lapas dan institusi lain yang melakukan penyelenggaraan
makanan.
e.	 Pembinaan Dan Pendampingan Antisipasi Bencana
	 Kegiatan ini bertujuan untuk memantau dan mengevaluasi
kegiatanpenanganangizipadasituasibencanayangdilakukan
mulai tahap pra bencana, tanggap darurat dan pasca
bencana oleh tim antisipasi bencana. Dalam pelaksanaannya
berkoordinasi dengan Pusat Penanggulangan Krisis
Kesehatan (PPKK). Sasarannya adalah Tim antisipasi bencana
tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota.
C.	 Suplementasi Gizi dan Alat Penunjang
Dalam rangka pelaksanaan program gizi baik di pusat maupun daerah
Direktorat Bina Gizi menyediakan suplemen gizi dan alat penunjang
sebagai berikut:
1.	 Obat Program Gizi
	 Penyediaan obat program gizi di tingkat pusat yang meliputi
kapsul vitamin A dosis tinggi, Tablet Tambah Darah (TTD) Fe Folat
dan mineral mix disediakan oleh Direktorat Bina Obat Publik dan
PerbekalanKesehatanDitjenBinaKefarmasiandanAlatKesehatan
berdasarkan usulan dari daerah melalui verifikasi Direktorat Bina
Gizi.
2.	Taburia
	Bertujuan untuk menurunkan prevalensi anemia dan kekurangan
gizi mikro pada balita dengan sasaran balita usia 6 – 24 bulan dari
keluarga miskin (gakin). Kegiatan ini merupakan lanjutan dari
tahun sebelumnya yang dilaksanakan di wilayah provinsi NICE.
Pada tahun ini penyediaan Taburia dilaksanakan untuk 13 provinsi
yang terdiri dari 6 (enam) provinsi NICE dan 7 (tujuh) provinsi
pengembangan.
3.	 Antropometri Kit
	Tujuan dari penyediaan antropometri kit untuk menunjang
pelaksanaan kegiatan surveilans gizi di kabupaten dan kota,
melalui penyediaan peralatan antropometri kit. Alokasi distribusi
antropometri kit pada 60 kabupaten/kota terpilih.
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 201322
4.	 Pengadaan Alat Test Cepat Garam Beriodium
	Bertujuan sebagai bahan penunjang pemantauan garam
beriodium,untukmengetahuicakupankonsumsigaramberiodium
di rumah tangga dengan alokasi meliputi semua kabupaten/kota.
5.	 MP-ASI Buffer Stock
	 MP-ASI bufferstock bertujuan untuk mencegah/menanggulangi
kasus gizi kurang/buruk pada balita umur 6-24 bulan yang terkena
bencana (situasi darurat) dan situasi khusus (daerah-daerah
rawan gizi). MP-ASI diberikan dalam bentuk ‘Biskuit MP-ASI’ akan
didistribusikan ke daerah-daerah bencana dan daerah khusus
sesuai permintaan dalam rangka mencegah terjadinya gizi kurang
dan gizi buruk pada balita.
6.	 PMT Bumil KEK Buffer Stock
	Pemberian Makanan tambahan bagi Ibu hamil Kurang Energi
Kronis bertujuan untuk meningkatkan status gizi ibu hamil dengan
indikator peningkatan Lingkar Lengan Atas (LiLA) <23,5 cm.
PMT diberikan dalam bentuk biskuit lapis (sandwich). Distribusi
dilakukan berdasarkan permintaan daerah pada saat bencana/
darurat dan situasi khusus.
7.	 PMT-Anak Sekolah (PMT-AS) Untuk Provinsi Papua dan Papua
Barat
	Pemberian Makanan Tambahan bagi Anak Sekolah ditujukan
untuk meningkatkan asupan gizi anak sekolah berupa ‘Biskuit
Sekolah’, yang merupakan kelanjutan dari PMT-AS tahun
sebelumnya. Lokasi distribusi di wilayah Provinsi Papua dan Papua
Barat (masing-masing 3 (tiga) kabupaten/kota)
8.	 Kit Konseling Menyusui
	Kit Konseling menyusui diadakan dengan tujuan untuk
memfasilitasi konselor dalam melakukan konseling menyusui.
Sarana ini diberikan pada petugas yang telah dilatih sebagai
konselor.
9.	 Penyediaan CD Software NutriClin
	Bertujuan untuk menyediakan Software Nutriclin dalam bentuk
compact disk (CD) yang telah disempurnakan (update). CD
software ini akan didistribusikan kepada tenaga yang sudah
dilatih.
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 23
10.	 Food Model
	Tujuan pengadaan food model adalah sebagai alat bantu
visualisasi bahan makanan yang dianjurkan pada saat konseling
gizi. Food model didistribusikan ke seluruh provinsi.
11.	 Buku Pedoman dan Materi KIE Gizi
	Pengadaan buku pedoman meliputi bidang gizi makro, gizi
mikro, gizi klinik, konsumsi makanan dan kewaspadaan gizi yang
bertujuan untuk memberikan bahan acuan kepada pengelola
program gizi di daerah. Materi KIE gizi terdiri dari leaflet, booklet,
poster dan lain-lain yang terkait dengan kegiatan pembinaan gizi.
Buku pedoman dan materi KIE gizi akan didistribusikan ke seluruh
provinsi.
D.	 Tatalaksana Gizi Buruk dan Penanganan Gizi Kurang
Kasus gizi buruk dan gizi kurang dapat diketahui dari hasil penimbangan
anak balita di posyandu, pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan,
laporan masyarakat dan skrining aktif. Bila ditemukan anak dengan LiLA
<12.5 cm, berdasarkan hasil penimbangan berat badan dua kali tidak
naik (2T), dan berat badan pada kartu menuju sehat (KMS) berada di
bawah garis merah (BGM), perlu dilakukan pengukuran antropometri
dan pemeriksaan tanda klinis serta penyakit penyerta ataupun
komplikasi medis.
Berdasarkan hasil pemeriksaan lanjut bila balita ditemukan tampak
sangat kurus, berat badan menurut panjang badan (BB/PB) atau berat
badan menurut tinggi badan (BB/TB)-nya <-3SD, LiLA <11,5 cm disertai
dengan salah satu atau lebih tanda komplikasi medis seperti anoreksia,
dehidrasi berat, pneumonia berat, anemia berat harus dirawat inap.
Perawatananakgiziburukrawatinapdilakukandenganmemperhatikan
tahap stabilisasi, transisi, rehabilitasi dan tindak lanjut. Pelaksanaannya
memperhatikan 10 langkah diawali dengan mengatasi hipoglikemia,
hipotermia, dehidrasi dilanjutkan dengan pemberian makanan dan
mikronutrien sampai dengan memberikan makanan untuk tumbuh
kejar, simulasi dan persiapan tindak lanjut di rumah. Anak gizi buruk
tanpa komplikasi medis dapat dilakukan perawatan secara rawat jalan.
Seorang anak gizi buruk dikatakan sembuh dengan kriteria BB/TB atau
BB/PB-nya >- 2SD dan tidak ada gejala klinis.
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 201324
Untuk anak gizi buruk yang telah membaik berada dalam tahap
pemulihan pasca perawatan gizi buruk atau balita gizi kurang
mendapatkan Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan (PMT-P) yang
dapat diberikan dengan dana BOK.
E.	 Penyusunan Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria
(NSPK)
Penyusunan NSPK dimaksudkan untuk memberikan acuan dan
dukungankegiatanuntukmemperlancarpelaksanaanupayapembinaan
gizi masyarakat. NSPK yang disusun pada tahun 2013 adalah:
1.	 Petunjuk Teknis Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi
	 Juknis ini bertujuan meningkatkan kesadaran gizi masyarakat
Indonesia melalui pengembangan dan pengaktifan norma-norma
sosial yang mendukung perilaku gizi seimbang dalam kehidupan
sehari-hari menuju manusia Indonesia prima. Penyusunan buku
ini melibatkan lintas sektor dan lintas program terkait.
2.	 Penyusunan Model Intervensi Pencegahan Stunting
	Kegiatan ini bertujuan mengetahui faktor penyebab stunting
yang tepat selanjutnya dirumuskan cara pencegahan dan
penanggulangannya. Kegiatan ini dilakukan melalui survei yang
salah satu output-nya adanya rekomendasi model intervensi
pencegahan stunting.
3.	 Pedoman Gizi Haji
	Pedoman gizi haji diperlukan sebagai acuan petugas kesehatan
dan petugas gizi dalam memberikan pelayanan gizi bagi jemaah
haji baik berupa penyelenggaraan makanan maupun konseling
gizi. Penyusunan buku ini melibatkan lintas program, lintas sektor
danpetugasyangmempunyaipengalamansebagaipenyelenggara
kesehatan haji.
4.	 Penyusunan Pedoman Pelayanan Gizi Pada TBC
	Gizi merupakan faktor yang sangat penting guna membantu
mencegah dan mengobati berbagai macam penyakit infeksi,
termasuk TBC. Kegiatan ini bertujuan menyusun buku pedoman
pelayanan gizi kepada penderita TBC. Penyusunan pedoman ini
melibatkan organisasi profesi, praktisi, akademisi, lintas program
dan lintas sektor terkait.
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 25
5.	 Pedoman Gizi Olahraga
	 Buku Pedoman Gizi Olahraga memberikan informasi tentang gizi
yang cocok bagi atlet setiap cabang olahraga, daya tahan dan
pencegahan cedera saat olahraga. Buku ini diharapkan dapat
menjadi panduan bagi atlet dan petugas gizi dan pihak lain terkait
dalam meningkatkan status gizi untuk mencapai prestasi yang
optimal. Penyusunan buku ini melibatkan praktisi olahraga dan
gizi serta petugas kesehatan di daerah yang pernah melaksanakan
event olahraga nasional dan/atau internasional.
6.	 Pedoman Asuhan Gizi Terstandar
	 Asuhan gizi memegang peranan penting dalam penyembuhan
pasien yang sejajar dengan asuhan medik, asuhan keperawatan
dan asuhan farmasi. Buku pedoman ini disusun untuk menjamin
proses di atas berjalan sesuai standar sehingga menjamin
keselamatan pasien. Penyusunan buku ini melibatkan organisasi
profesi, praktisi, akademisi, lintas program dan lintas sektor
terkait.
7.	 Pengembangan Manual Monitoring dan Evaluasi Program Gizi
	 Pengembangan manual bertujuan memberikan acuan kepada
petugas di Direktorat Bina Gizi dalam berintegrasi dan
melaksanakan langkah-langkah kegiatan dan pembagian tugas
monitoring evaluasi (monev) antarsubdit dan antarprogram
di Kementerian Kesehatan. Pertemuan melibatkan pengelola
program gizi dan lintas program.
8.	 Modul Pelatihan Tatalaksana Kretin
	Bertujuan agar tersedianya modul pelatihan tata laksana kretin
bagi fasilitator dalam rangka pelaksanaan pelatihan tatalaksana
kretin. Penyusunan melibatkan lintas program, lintas sektor dan
praktisi.
9.	 Draft Permenkes Tentang Spesifikasi Kapsul Vitamin A
	Bertujuan adanya standar spesifikasi kapsul vitamin A dan bentuk
kapsul vitamin A agar penyediaan kapsul vitamin A di daerah
sesuai standar yang telah ditentukan. Penyusunan melibatkan
lintas program, lintas sektor, akademisi dan pakar.
10.	 Buku Saku Deteksi Dini Masalah Gizi Mikro
	Buku saku deteksi dini masalah gizi mikro dimaksudkan sebagai
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 201326
acuan bagi petugas gizi puskesmas. Buku saku ini memuat tentang
cara mendeteksi sedini mungkin masalah gizi mikro yaitu Kurang
Vitamin A, Anemia Gizi Besi, Gangguan Akibat Kurang Iodium,
dan masalah gizi mikro lainnya. Penyusunan melibatkan lintas
program, lintas sektor, akademisi dan pakar.
Selain menyusun beberapa NSPK terbaru, juga dilakukan review (update)
beberapa buku pedoman, antara lain Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas,
Pedoman Sistem Kewaspadaan Gizi, Pedoman Pemberian TTD Ibu Hamil,
Software Nutriclin dan menyusun beberapa jurnal, lembar berita dan media
KIE.
F.	 Surveilans Gizi
Tujuan penyelenggaraan surveilans gizi adalah membantu pengelolaan
program pangan dan gizi di tingkat kabupaten dan kota melalui
penyediaan informasi yang cepat dan akurat untuk digunakan dalam
penentuan kebijakan dan perencanaan serta pelaksanaan kegiatan.
Kegiatan surveilans meliputi pengumpulan, pengolahan dan diseminasi
informasi hasil pengolahan data secara cepat, akurat, teratur dan
berkelanjutan khususnya indikator yang terkait dengan kinerja
pembinaan gizi masyarakat.
Pada tahun 2013 akan terus dilakukan upaya peningkatan kualitas
kegiatan surveilans, tidak hanya pada kegiatan pelaporan, namun
ditindaklanjuti dengan kegiatan pengolahan, analisis dan pengkajian
data serta penyebarluasan informasi. Pelaporan secara online melalui
website http://www.gizi.depkes.go.id/sigizi adalah bentuk fasilitas
yang disediakan agar pelaporan dari kabupaten dan kota dapat
dilakukan dengan cepat, akurat, lengkap teratur dan berkelanjutan,
sehingga prioritas pembinaan teknis dalam hal penanggulangan
masalah gizi dapat dipetakan. Selain itu sosialisasi pemanfaatan SMS
Gateway untuk pelaporan cepat adanya kasus gizi buruk yang perlu
segera ditindaklanjuti penanganannya di suatu wilayah, sudah dimulai
pada tahun 2012 dan akan ditingkatkan pada tahun 2013.
G.	 Dukungan Manajemen
Dukungan manajemen diperlukan untuk memfasilitasi dan
memperlancar proses upaya kegiatan pembinaan gizi tahun 2013 yang
dimulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi
kegiatan. Kegiatan dukungan manajemen tersebut antara lain:
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 27
1.	 Administrasi Kegiatan Pembinaan Gizi Masyarakat
	 Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi serta operasional
kegiatan pembinaan gizi masyarakat, Direktorat Bina Gizi
memerlukan dukungan operasional dalam bentuk administrasi
kegiatan untuk memperlancar pelaksanaan tugas dan fungsi
tersebut. Kegiatan ini meliputi antara lain untuk honorarium
pengelola kegiatan dan belanja perkantoran serta fasilitas
pendukung perkantoran.
2.	 Perencanaan Pembinaan Gizi Masyarakat
	 Kegiatan ini bertujuan untuk menyusun perencanaan kegiatan
pembinaan gizi masyarakat tahun 2014 baik di tingkat pusat
maupun di tingkat provinsi. Rincian kegiatannya meliputi
Konsolidasi Perencanaan Tingkat Pusat Tahun Anggaran
2014, Reformulasi Perencanaan, Persiapan Pembahasan dan
Penelaahan Anggaran, Penyusunan Rencana Kerja Pembinaan
Gizi serta Pemantapan Rencana Aksi Pembinaan Gizi. Kegiatan
ini melibatkan tim perencana tingkat pusat dan daerah, praktisi,
akademisi serta lintas program dan lintas sektor.
3.	 Rapat Koordinasi Lintas Program dan Lintas Sektor
	 Dalam rangka mengetahui perkembangan dan kemajuan
pelaksanaan kegiatan pembinaan gizi serta merespon
perkembangan terkini dan isu-isu aktual yang berkembang
diperlukan kegiatan rapat-rapat koordinasi baik lintas program
dan lintas sektor sebagai wadah monitoring dan evaluasi kegiatan
gizi. Rincian kegiatannya antara lain Rapat Koordinasi Pembinaan
Gizi, Pertemuan Konsolidasi Tim Pembinaan Gizi Masyarakat,
Rapat Koordinasi Perencanaan Pembinaan Gizi Masyarakat dan
Workshop Cakupan Indikator Pembinaan Gizi.
4.	 Laporan Pencapaian Kinerja Pembinaan Gizi Masyarakat
	 Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk melakukan monitoring
dan evaluasi terhadap pencapaian kinerja pelaksanaan kegiatan
pembinaan gizi dari aspek keuangan maupun pencapaian
indikator kegiatan gizi. Kegiatannya meliputi Penyusunan Laporan
Keuangan dan Laporan PP 39, Penyusunan Laporan Akuntabilitas
dan Kinerja Pemerintah (LAKIP) serta Laporan Tahunan (LAPTAH)
TA 2013. Kegiatan ini melibatkan lintas subdit di Direktorat Bina
Gizi dan lintas program di Kementerian Kesehatan.
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 201328
5.	 Dukungan Narasumber Pembinaan Gizi Masyarakat
	 Dukungan narasumber pembinaan gizi bagi narasumber dan
fasilitatorpusatkedaerahbertujuanuntukmemberikandukungan,
mengendalikan dan memfasilitasi pelaksanaan kegiatan pelatihan
teknis pembinaan gizi masyarakat maupun kegiatan koordinasi
antara pusat dan daerah.
6.	 Pendampingan Perencanaan, Sistem Aplikasi Informasi (SAI)
dan Sistem Aplikasi Barang Milik Negara (SABMN)
	 Kegiatan pendampingan perencanaan bertujuan untuk
menyamakan persepsi dengan daerah tentang kegiatan-kegiatan
yang relevan dilakukan tahun anggaran 2014 sesuai komponen
dasar perencanaan yang tergambar dalam draft awal RKA-
KL serta mempertajam perencanaan dan mengikuti alokasi
anggaran untuk masing-masing provinsi. Kegiatan ini terintegrasi
dengan kegiatan penyusunan laporan keuangan dekonsentrasi
pembinaan gizi dan inventarisasi sarana program pembinaan
gizi dimana penyusunan laporan ini diperlukan karena daerah
harus mempertanggungjawabkan dana pembinaan gizi di daerah
bukan hanya kepada Ditjen Bina Gizi dan KIA, tetapi juga kepada
Direktorat Bina Gizi sebagai unit teknis.
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 29
V. MONITORING DAN EVALUASI
Pelaksanaan program perbaikan gizi perlu dipantau dan dievaluasi serta
dikendalikan apakah program telah dilaksanakan sesuai rencana. Informasi
pencapaian program diperoleh dari kegiatan surveilans gizi Dinas Kesehatan
kabupaten dan kota yang dikirimkan melalui Sistem Informasi Gizi (SIGIZI).
Sedangkan untuk pelaporan kasus balita gizi buruk dikirimkan oleh petugas
puskesmas dengan SMS-gateway. Untuk kelancaran pelaporan dimaksud
diharapkan pengiriman laporan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan
yaitu:
1.	 Puskesmas ke kabupaten dan kota paling lambat tanggal 5 setiap
bulannya
2.	 Kabupaten dan kota ke provinsi dan pusat paling lambat tanggal 10
setiap bulannya.
Selanjutnya data yang dikirim akan diklarifikasi akurasi dan kelengkapan
datanya, kemudian diolah dan dianalisa berdasarkan wilayah dan waktu
oleh Tim Monev pusat. Tim Monev selanjutnya melakukan kajian laporan
kegiatan pembinaan gizi dan mengidentifikasi masalah dan analisis penyebab
untuk menentukan prioritas wilayah (provinsi, kabupaten/kota) untuk
merencanakan dan melaksanakan tindakan korektif bersama dengan tim
wilayah yang akan dibina. Selanjutnya Tim pusat akan memantau secara terus
menerus apakah kegiatan perbaikan di daerah tersebut sudah dilaksanakan
sesuaidengankesepakatan.Untukmeningkatkanefektifitaskegiatanprogram
perbaikan gizi data dan informasi tersebut diharapkan dapat didesiminasikan
ke lintas program dan sektor terkait baik di pusat dan daerah.
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 201330
VI. PENUTUP
Buku Rencana Kerja 2013 ini merupakan acuan bagi pelaksana kegiatan
pembinaan gizi di tingkat Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota agar dapat
menyamakan persepsi dan pemahaman tentang pembinaan gizi masyarakat
ditahun2013.Bukuinidiharapkandapatmenjadireferensidalammendukung
percepatan tercapainya target indikator pembinaan gizi di berbagai jenjang
administrasi secara sinergis dan berkesinambungan.
Kegiatan pembinaan gizi dapat terlaksana dengan dukungan sumber daya
tenaga dan anggaran yang terencana dengan baik pada semua tingkat. Buku
Rencana Kerja 2013 ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu diharapkan
adanya masukan yang bermanfaat dari berbagai pihak demi kesempurnaan
buku ini.
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 31
LAMPIRAN
KOMPOSISI SUPLEMENTASI GIZI:
1.	 Tablet Tambah Darah:
Tiap Tablet salut selaput mengandung:
Ferro Sulfat Eksikatus	 200 mg
(Setara dengan Fe elemen 60 mg)
Asam Folat	 0.25 mg
	
2.	 Kapsul Vitamin A:
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 33
LAMPIRAN
KOMPOSISI SUPLEMENTASI GIZI:
1. Tablet Tambah Darah:
Tiap Tablet salut selaput mengandung:
Ferro Sulfat Eksikatus 200 mg
(Setara dengan Fe elemen 60 mg)
Asam Folat 0.25 mg
2. Kapsul Vitamin A:
VITAMIN A BIRU
Tiap kapsul mengandung:
Vitamin A Palmitat 1,7 juta IU
64,7059 mg
(Setara dengan Vitamin A 100.000
IU)
VITAMIN A MERAH
Tiap kapsul mengandung:
Vitamin A Palmitat 1,7 juta IU
129,529 mg
(Setara dengan Vitamin A
200.000 IU)
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 201332
3.	 Bubuk Tabur Gizi “TABURIA”:
	 Tiap 1 gram bubuk TABURIA mengandung:
	
4.	 Garam Beriodium
Garam beriodium adalah garam yang mengandung iodium (KIO3) 30
ppm sesuai dengan SNI Garam beriodium nomor SNI 3556:2010
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 33
KOMPOSISI PMT :
1.	 PMT Bumil KEK :
Zat Gizi yang dikandung makanan tambahan dihitung dalam 100 gram
produk (Per Saji).
Komposisi Gizi dalam 100 gram Produk (Per Saji)
No Zat Gizi Satuan Kadar
1 Energi kkal min 500
2 g min 15
3
Lemak (kadar asam
linoleat minimal 300
mg per 100 kkal atau
1,5 gram per 100 gram
produk)
g min 25
4
Karbohidrat:
Sukrosa g 15 – 17
Serat g min 5
5 Vitamin A mcg min 800
6 Vitamin D mcg min 5
7 Vitamin E mg min 15
8 Thiamin mg min 1,3
9 Riboflavin mg min 1,4
10
Niasin mg min 18
11 Vitamin B12 mcg min 2,6
12 Asam folat mcg min 600
13 Vitamin B6 mg min 1,7
14 Asam Pantotenat mg min 7
15 Vitamin C mg min 85
16 Besi (as ferro fumarat) mg maks 15
17 Kalsium (as Ca laktat) mg min 250
18 Natrium mg maks 500
19 Seng mg maks 7,5
20 Iodium mcg mini 100
21 Fosfor mg maks 208
22 Selenium mcg min 35
23 Fluor mg min 2,7
24 Air % maks 5
Protein (kualitas protein
tidak kurang dari 65% kasein
standar)
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 201334
2.	MP-ASI
Zat gizi yang terkandung dalam 100 gram produk harus memenuhi
persyaratan mutu sebagai berikut:
Komposisi Gizi dalam 100 gram Produk (per saji)
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 35
3.	PMT-AS
Zat Gizi yang dikandung makanan tambahan dihitung dalam 60 gram
produk (per saji).
Komposisi Gizi dalam 60 gram (per saji)
Zat Gizi Satuan Kadar
Energi kkal minimum 300
Protein (kualitas
protein tidak kurang
dari 65% kasein
standar)
g minimum 6
Lemak (kadar asam
linoleat minimal 300
mg per 100kkal atau
900 mg per 60 gram
produk)
g
maksimum 13
Karbohidrat:
4.1. Sukrosa g maksimum 15
4.2. Serat g maksimum 5
Vitamin A mcg minimum 600
Vitamin D mcg minimum 5
Vitamin E mg minimum 11
Thiamin mg minimum 1,0
Riboflavin mg minimum 1,0
Niasin mg minimum 12
Vitamin B12 mcg minimum 1,2
Asam folat mcg minimum 300
Vitamin B6 mg minimum 0,6
Asam Pantotenat mg minimum 3
Vitamin C mg minimum 15
Besi (as ferro fumarat) mg minimum 13
Kalsium (as Ca laktat) mg minimum 250
Natrium
mg maksimum
500
Seng mg maksimum 11
Iodium mcg minimum 100
Fosfor mg 125-208
Selenium mcg minimum 20
Air % maksimum 5
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 201336
DAFTAR BUKU RUJUKAN UTAMA PEMBINAAN GIZI MASYARAKAT
1.	 Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2011-2015
2.	 Bagan dan Petunjuk Teknis Tatalaksana Anak Gizi Buruk (Buku I dan II)
3.	 Pedoman Training of Trainer (TOT) Tatalaksana Anak Gizi Buruk
4.	 Pedoman Pelayanan Anak Gizi Buruk
5.	 Modul Pelatihan Pemantauan Pertumbuhan Anak
6.	 Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak
7.	 Pedoman Kader Posyandu
8.	 Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan bagi Bangsa Indonesia
9.	 Pedoman Penanggulangan Gizi Lebih bagi Anak Sekolah
10.	 Strategi Nasional Penerapan Pola Konsumsi Makanan dan Aktivitas Fisik
11.	 Pedoman Pelaksanaan Penanganan Gizi dalam Situasi Darurat
12.	 Petunjuk dan Pelaksanaan Surveilans Gizi Khusus
13.	 Panduan Penyelenggaraan Pelatihan Konseling Menyusui
14.	 Panduan Peserta Pelatihan Konseling Menyusui
15.	 Panduan Fasilitator Pelatihan Konseling Menyusui
16.	 Pedoman Peserta Pelatihan Konseling MP-ASI
17.	 Pedoman Pelatih Pelatihan Konseling MP-ASI
18.	 Penyelenggaraan Pelatihan Konseling MP-ASI
19.	 Pemberian Air Susu Ibu dan Makanan Pendamping ASI
20.	 Buku Saku Inisiasi Menyusu Dini
21.	 Panduan Penyelenggaraan Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan
bagi Balita Gizi Kurang (BOK)
22.	 Jurnal GAKI
23.	 Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) Konsumsi Garam
Beryodium untuk Semua (KGBS) di Rumah Tangga
24.	 Panduan Manajemen Suplementasi Vitamin A
25.	 Apa dan Mengapa tentang Vitamin A.
26.	 Apa dan Mengapa tentang Taburia Panduan Praktis bagi Kader
27.	 Pedoman penanggulangan Anemia Gizi untuk Remaja Putri dan Wanita
Usia Subur
28.	 Gerakan Nasional Sadar Gizi Menuju Manusia Indonesia Prima
29.	 Pedoman Pelayanan Gizi Rumah Sakit
30.	 Permenkes tentang Penggunaan KMS bagi Balita
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 37
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 201338
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 39
Jumlah
Penduduk*)
(SemuaUmur)
Bayi(0
Tahun)
Batita(0-2
Tahun)
AnakBalita
(1-4Tahun)
Balita(0-4
Tahun)
IbuHamil
(1,10xlahir
hidup)
IbuNifas
(1,05xlahir
hidup)
Puskesmas
Perawatan
Puskesmas
Non
Perawatan
Total
1Aceh4.671.87498.603307.478413.040511.643110.644105.6151441863307.03951
2SumateraUtara13.391.231292.492884.4881.200.1981.492.686335.046319.81715739855513.861174
3SumateraBarat5.035.311103.752308.133417.607521.355118.847113.445891712606.68059
4Riau6.143.674136.971425.790577.664714.637155.281148.223631442074.67953
5Jambi3.329.88767.479206.383278.231345.71076.50073.023621141762.99227
6SumateraSelatan7.857.437157.556482.310649.050806.606180.479172.2751062113175.77542
7Bengkulu1.799.66836.172108.772147.635183.80741.43539.552431351781.81818
8Lampung7.880.769155.670462.802607.416763.080178.318170.213692072767.48046
9KepulauanBangkaBelitung1.339.77427.84783.842111.804139.65131.56930.13420406094813
10KepulauanRiau1.937.57747.088142.040184.290231.37653.38350.95726436985925
11DaerahKhususIbukotaJakarta10.001.943171.333519.997690.253861.581192.255183.516522883404.241142
12JawaBarat45.472.830838.2952.554.1833.504.4734.342.772950.358907.160220826104645.632243
13JawaTengah32.684.579552.6021.641.5462.177.2022.729.781620.078591.89326860587347.763247
14DaerahIstimewaYogyakarta3.560.08053.215160.797210.644263.85759.71356.99942791215.35966
15JawaTimur38.268.825570.7621.746.0692.405.5772.976.344640.456611.34444151996045.637286
16Banten11.523.018214.189666.359921.2481.135.443245.351234.1995617222810.18473
17Bali4.139.69067.646211.851287.577355.22475.90672.45629891184.71954
18NusaTenggaraBarat4.651.64899.049288.700391.161490.206113.460108.30384731576.13321
19NusaTenggaraTimur4.971.802118.475364.861511.891630.371135.712129.5431282213495.79242
20KalimantanBarat4.508.96887.691272.279375.036462.730100.44995.883961412374.05738
21KalimantanTengah2.328.82344.602142.385199.872244.47750.04847.773701201902.26216
22KalimantanSelatan3.840.54776.158226.240300.328376.48187.23883.273491772263.69229
23KalimantanTimur3.967.79385.491262.442350.226435.71795.93091.570941232174.45550
24SulawesiUtara2.354.66840.072122.468169.008209.08245.42843.36388891772.36135
25SulawesiTengah2.787.16456.441176.305248.957305.40164.65361.714721041763.15425
26SulawesiSelatan8.305.154159.135480.367656.298815.432182.287174.0012252004259.15176
27SulawesiTenggara2.370.54955.502166.751228.746284.24863.57760.687741842582.78323
28Gorontalo1.110.29421.83166.78291.768113.59925.00723.8702364871.22811
29SulawesiBarat1.252.07127.62585.671121.107148.73331.64430.2063556911.4418
30Maluku1.662.96537.829118.277165.037202.86843.33341.363611171781.63426
31MalukuUtara1.114.91724.66578.704111.864136.53128.25326.96928911191.31817
32PapuaBarat846.71119.84161.87184.231104.07122.72721.69439891281.12213
33Papua3.310.71550.458193.076314.700365.17657.20354.603992823812.19034
Indonesia248.422.9564.596.53714.020.01919.104.13923.700.6765.212.5684.975.6363.1526.3589.510268.4392.083
Sumber:
ESTIMASIPENDUDUKSASARANPROGRAMPEMBANGUNANKESEHATANTAHUN2013
NoProvinsi
***)PusatPromosiKesehatan,KemenkesRITahun2011
*)PusatDatadanInformasi,KemenkesRITahun2013
**)PusatDatadanInformasi,KemenkesRITahun2012
JumlahSasaran*)Puskesmas**)
Posyandu
***)
Rumah
Sakit**)
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 201340
RESUME KEGIATAN DIREKTORAT BINA GIZI TAHUN 2013
A
1.
2.
3.
4.
5.
6.
B
1.
a. Pelatihan TOT Penggunaan Standar Pertumbuhan Balita
b. Peningkatan Kapasitas Fasilitator dalam Tatalaksana Gizi Buruk
c. TOT Konselor Menyusui
d. TOT Konselor MP-ASI
e. Peningkatan Kapasitas Petugas Kesehatan Tentang Tatalaksana
Kretin
2.
a. Bimbingan Teknis dan Pendampingan
b. Pembinaan Dan Evaluasi Rencana Aksi Pangan Dan Gizi
c. Penguatan Posyandu Dalam Rangka Pencegahan dan
Penanggulangan Gizi Kurang dan Gizi Buruk
d. Pembinaan dan Pendampingan Pengelola Jasa Makanan
e. Pembinaan dan Pendampingan Antisipasi Bencana
C
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
D
E
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
F
G
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Dukungan Narasumber Pembinaan Gizi Masyarakat
Pendampingan Perencanaan, SAI dan SABMN
Kegiatan
Surveilans Gizi
Dukungan Manajemen
Administrasi Kegiatan Pembinaan Gizi Masyarakat
Perencanaan Pembinaan Gizi Masyarakat
Rapat Koordinasi Lintas Program dan Lintas Sektor
Laporan Pencapaian Kinerja Pembinaan Gizi Masyarakat
Draft Permenkes tentang Spesifikasi Kapsul Vitamin A
Buku Saku Deteksi Dini Masalah Gizi Mikro
Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas
Pedoman Sistem Kewaspadaan Gizi
Pedoman Pemberian TTD Ibu Hamil
Software Nutriclin
Pedoman Gizi Haji
Penyusunan Pedoman Pelayanan Gizi Pada TBC
Pedoman Gizi Olahraga
Pedoman Asuhan Gizi Terstandar
Pengembangan Manual Monev Program Gizi
Modul Pelatihan Tatalaksana Kretin
Penyediaan CD Software Nutriclin
Food Model
Buku Pedoman dan Materi KIE Gizi
Tatalaksana Gizi Buruk dan Penanganan Gizi Kurang
Penyusunan Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria (NSPK)
Petunjuk Teknis Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi
Antropometri Kit
Pengadaan Alat Test Cepat Garam Beriodium
MP-ASI Buffer Stock
PMT Bumil KEK Buffer Stock
PMT-Anak Sekolah (PMT-AS) untuk Provinsi Papua dan Papua Barat
Kit Konseling Menyusui
Pelatihan Fasilitator dan Petugas
Pembinaan Teknis
Suplementasi Gizi dan Alat Penunjang
Obat Program Gizi
Taburia
Penyusunan Model Intervensi Pencegahan Stunting
Sosialisasi Pencegahan dan Penanggulangan Stunting
Akselerasi Perbaikan Gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan dalam
Rangka Pencegahan dan Penanggulangan Stunting
Sosialisasi dan Advokasi Penanggulangan Masalah GAKI
Advokasi Pengembangan Taburia di 7 (Tujuh) Provinsi Terpilih
Sosialisasi Surveilans Gizi dan SMS Gateway
Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) Gizi
RESUME KEGIATAN DIREKTORAT BINA GIZI TAHUN 2013
No
Pendidikan Gizi dan Pemberdayaan Masyarakat
Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 41
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 41
NoPropinsiKabupaten/Kota
Prevalensi
Kurus
JmlPuskJmlSD3)
Sasaran
(Anak)3)
Lama
Pemberian
(Minggu)
Beratper
pemberian
(gr)
Frekuensi
per
Minggu
Jumlah
pemberia
n(kg)
UnitCost
(Rp)4)
JumlahBiaya
(Rp)
12345678910111213
APapua
1Kab.BiakNumfor12,716222.0301260463.44660.0003.806.760.000
2Kab.Keerom7,97311.4381260432.94260.0001.976.520.000
3KotaJayapura11,19742.11812604121.30060.0007.278.000.000
SubTotalPapua33275.586217.68813.061.280.000
BPapuaBarat
1Kab.Manokwari8,122926.7221260476.95960.0004.617.540.000
2Kab.TelukBintuni11,97110.5411260430.35860.0001.821.480.000
3KotaSorong7,88134.75112604100.08360.0006.004.980.000
SubTotal38172.014207.40012.444.000.000
-0713147.600425.08825.505.280.000
Keterangan
2DatasekolahdiambildariDataDiknas2011(http/Dapodik.org)
RENCANADISTRIBUSIPMT-ASPAPUADANPAPUABARATTAHUN2013
Jumlah
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 201342
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 42
1 Sumatera Utara
1 Mandailing Natal 964.200
2 Tapanuli Tengah 747.360
3 Dairi 661.260
4 Kota Medan 5.007.900
2 Sumatera Selatan
1 Ogan Komirin Ilir 1.746.240
2 Lahat 920.520
3 Musi Rawas 1.288.839
4 Kota Palembang 3.499.920
1 Landak 852.720
2 Ketapang 1.026.180
3 Sintang 870.180
4 Kota Pontianak 1.360.589
4 Nusa Tenggara Barat (NTB)
1 Lombok Barat 1.440.720
2 Lombok Tengah 2.109.667
3 Lombok Timur 2.641.260
4 Kota Mataram 960.720
5 Nusa Tenggara Timur (NTT)
1 Sumba Barat 272.229
2 Kabupaten Kupang 746.915
3 Timor Tengah Utara 591.240
4 Kota Kupang 824.659
6 Sulawesi Selatan
1 Jeneponto 855.000
2 Maros 780.720
3 Pangkajene Kepulauan 749.819
4 Kota Makassar 3.214.020
7 Lampung
1 Lampung Utara 1.410.000
2 Tulang Bawang 87.756
3 Way Kanan 84.975
4 Tenggamus 86.520
8 Jawa Barat
1 Kota Tasikmalaya 1.558.472
2 Sumedang 2.565.318
3 Tasikmalaya 2.954.597
4 Cianjur 4.191.276
9 Sulawesi Tenggara
1 Kab Wakatubi 541.938
10 Kalimantan Timur
1 Kota Samarinda 1.515.521
11 Jawa Tengah
1 Rembang 933.056
2 Brebes 1.264.737
3 Karanganyar 1.347.116
4 Blora 734.060
12 Sulteng
1 Donggala 630.720
2 Sigi 375.000
13 Maluku Utara
1 Ternate 132.060
JUMLAH 54.546.000
ALOKASI DISTRIBUSI TABURIA
TAHUN 2013
No. PROVINSI/KABUPATEN-KOTA TABURIA (saset)
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 43
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 43
Stok
Provinsi
Stok
Kab
Jumlah
1 Aceh 23 6.429 33 804 837
2 Sumatera Utara 33 5.687 33 711 744
3 Sumatera Barat 19 1.014 33 127 160
4 Riau 12 1.629 33 204 237
5 Jambi 11 1.406 33 176 209
6 Sumatera Selatan 16 3.126 33 391 424
7 Bengkulu 10 1.448 33 181 214
8 Lampung 15 2.423 33 303 336
9 Kepulauan Babel 7 361 29 46 75
10 Kepulauan Riau 7 351 21 44 65
11 DKI Jakarta 6 267 26 34 60
12 Jawa Barat 27 5.863 33 733 766
13 Jawa Tengah 35 8.589 33 1.074 1.107
14 DI Yogyakarta 5 438 21 55 76
15 Jawa Timur 38 8.523 33 1.066 1.099
16 Banten 8 1.535 33 192 225
17 Bali 9 714 33 90 123
18 NTB 10 962 33 121 154
19 NTT 22 2.925 33 366 399
20 Kalimantan Barat 14 1.958 33 245 278
21 Kalimantan Tengah 14 1.469 33 184 217
22 Kalimantan Selatan 13 1.984 33 248 281
23 Kalimantan Timur 10 1.460 33 183 216
24 Sulawesi Utara 15 1.634 33 205 238
25 Sulawesi Tengah 12 1.740 33 218 251
26 Sulawesi Selatan 24 2.955 33 370 403
27 Sulawesi Tenggara 13 1.971 33 247 280
28 Gorontalo 6 700 33 88 121
29 Sulawesi Barat 6 570 33 72 105
30 Maluku 11 902 33 113 146
31 Maluku Utara 10 1.062 33 133 166
32 Papua 29 3.997 33 500 533
33 Papua Barat 13 1.373 33 172 205
34 Stok Pusat 450
Total 503 77.465 1.504 9.696 11.200
• 1 set TPG Kit berisi 8 botol alat tes cepat garam beriodium,
• Setiap desa mendapat 1 botol alat tes cepat garam beriodium
No. Provinsi
Jumlah
Kab/Kota
Jumlah Desa/
Kelurahan
Alokasi Alat Tes Cepat Garam
Beriodium (set)
RENCANA DISTRIBUSI Alat Tes Cepat Garam Beriodium (TPG KIT)
TAHUN 2013
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 201344
LAPORAN PENCAPAIAN INDIKATOR KINERJA PEMBINAAN GIZI MASYARAKAT
TAHUN 2012
Jumlah Balita Gizi
Buruk yang
Ditemuan dan
Mendapat
Perawatan
Balita 0-59 Bulan
ditimbang Berat
Badannya (D/S)
Ibu Hamil
Mendapat
90 TTD
Vitamin A
balita 6-59
Bulan
RT
Mengonsumsi
Garam
Beriodium
ASI Eksklusif
Bayi 0-6
Bulan
1 Aceh 617 66,6 82,3 87,8 75,2 38,0
2 Sumatera Utara 670 75,8 78,3 78,0 97,1 32,2
3 Sumatera Barat 539 72,9 71,6 85,2 93,2 61,2
4 Riau 65 60,7 86,4 78,7 83,0 45,6
5 Jambi 122 74,4 89,8 85,4 99,1 48,7
6 Sumatera Selatan 178 74,5 88,8 80,8 97,9 57,7
7 Bengkulu 151 69,2 85,0 85,6 96,7 66,0
8 Lampung 202 74,9 80,6 81,8 93,1 57,2
9 Kep. Bangka Belitung 133 60,9 92,3 83,2 40,6
10 Kepulauan Riau 284 59,7 71,2 70,2 97,6 37,3
11 DKI Jakarta 1.147 53,3 101,9 77,0 87,1 59,0
12 Jawa Barat 6.762 83,6 89,3 84,6 94,2 34,4
13 Jawa Tengah 2.972 82,1 91,1 98,4 86,0 42,7
14 DI Yogyakarta 451 79,0 89,6 99,1 97,3 58,2
15 Jawa Timur 10.848 87,8 83,8 80,7 93,5 64,5
16 Banten 5.063 68,8 87,2 71,6 81,3 47,9
17 Bali 79 81,7 92,7 96,2 74,6 66,9
18 Nusa Tenggara Barat 556 79,6 84,3 96,5 69,8
19 Nusa Tenggara Timur 3.594 78,6 72,0 84,8 67,2 59,5
20 Kalimantan Barat 193 57,7 86,9 78,1 95,1 45,0
21 Kalimantan Tengah 55 56,8 115,3 92,2 94,8 43,8
22 Kalimantan Selatan 124 71,5 75,8 87,9 95,2 49,3
23 Kalimantan Timur 384 61,3 69,1 68,0 97,2 60,9
24 Sulawesi Utara 73 75,5 82,9 90,5 98,3 36,1
25 Sulawesi Tengah 304 59,6 81,3 79,7 93,4 30,4
26 Sulawesi Selatan 408 73,5 88,8 86,8 91,4 62,9
27 Sulawesi Tenggara 273 62,3 75,6 84,1 95,4 50,5
28 Gorontalo 961 81,0 83,1 76,9 100,0 45,0
29 Sulawesi Barat 581 73,4 74,0 87,4 94,1 67,0
30 Maluku 316 60,2 82,0 69,1 59,6 32,4
31 Maluku Utara 87 52,5 76,4 54,4 86,8 61,7
32 Papua Barat 1.605 48,9 32,0 47,9 20,6
33 Papua 2.905 31,0 33,3 41,8
INDONESIA 42.702 75,1 85,0 82,8 87,9 48,6
LAPORAN PENCAPAIAN INDIKATOR KINERJA PEMBINAAN GIZI MASYARAKAT
TAHUN 2012
No Provinsi
% Cakupan Pencapaian Indikator
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 45
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 45
No Provinsi End User Fasilitator
1 DI Aceh 61 3
2 Sumatera Utara 62 11
3 Sumatera Barat 55 6
4 Sumatera Selatan 60 10
5 Lampung 81 4
6 Jambi 20 3
7 Riau 40 2
8 Bangka Belitung 60 2
9 Kepulauan Riau 50 13
10 Bengkulu 62 2
11 Banten 20 1
12 DKI Jakarta 27 33
13 Jawa Barat 104 9
14 Jawa Timur 80 8
15 Jawa Tengah 84 1
16 DI Yogyakarta 120 4
17 Bali 40 4
18 NTB 142 15
19 NTT 20 11
20 Kalimantan Barat 60 10
21 Kalimantan Selatan 50 4
22 Kalimantan Tengah 23
23 Kalimantan Timur 70 4
24 Sulawesi Utara 40 2
25 Sulawesi Selatan 40 12
26 Sulawesi Barat 22 2
27 Sulawesi Tengah 22 2
28 Sulawesi Tenggara 40 1
29 Gorontalo 40 2
30 Maluku 40 4
31 Maluku Utara 32 2
32 Papua 62 3
33 Papua Barat 20 3
TOTAL 1749 193
ctt: data berasal dari provinsi dan kabupaten yang melibatkan fasilitator pusat,
masih perlu disesuaikan bila ada yang melaksanakan tanpa NS pusat
DATA JUMLAH END – USER DAN FASILITATOR PEMANTAUAN PERTUMBUHAN DI SELURUH
INDONESIA S.D. DESEMBER 2012
DATA JUMLAH END - USER DAN FASILITATOR PEMANTAUAN PERTUMBUHAN DI SELURUH
INDONESIA S.D. DESEMBER 2012
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 201346
Jumlah Jumlah Pengelola
Kabupaten TFC Program
/ Kota JML Dilatih dr Pr/Bd AG JML Dilatih dr Pr/Bd AG JML Dilatih dr/SpA Pr/Bd AG
1 NAD 23 115 101 64 66 68 194 14 12 12 11 35 14 10 12 19 1 26
2 SUMUT 33 155 77 77 77 77 372 65 65 65 65 147 28 28 28 28 19 26
3 RIAU 12 67 65 65 77 57 138 12 12 13 11 28 13 11 7 12 1 2
4 KEP.RIAU 7 24 20 35 43 24 37 0 0 0 0 13 8 12 12 13 0 5
5 JAMBI 11 56 48 26 34 27 107 0 0 0 0 18 12 11 12 12 2 15
6 SUMBAR 19 87 77 74 76 92 167 50 50 51 50 20 18 18 19 21 15 8
7 BENGKULU 10 38 16 15 14 14 139 0 0 0 0 10 10 6 2 8 1 13
8 SUMSEL 15 80 49 34 43 40 204 90 90 90 90 34 12 34 4 9 11 1
9 BABEL 7 20 13 13 16 15 35 7 6 9 6 8 8 10 10 10 3 8
10 LAMPUNG 14 51 26 19 30 22 213 0 0 0 0 22 14 12 13 14 1 4
11 DKIJAKARTA 6 51 5 2 3 2 288 0 0 0 0 124 17 17 16 16 4 10
12 BANTEN 8 46 46 35 34 36 150 0 0 0 0 27 8 4 3 8 3 10
13 JAWABARAT 26 171 119 31 35 25 837 15 4 4 15 144 22 21 22 21 5 12
14 JAWATENGAH 35 264 67 72 85 64 603 0 0 0 0 182 39 39 39 39 1 7
15 DIY 5 42 30 30 30 30 79 27 27 28 26 5 7 6 8 8 3 2
16 JAWATIMUR 38 365 80 51 49 57 579 0 0 0 0 171 11 42 31 32 12 36
17 BALI 9 27 24 24 0 19 88 88 87 0 85 34 9 9 9 9 0 9
18 NTB 10 107 101 51 54 55 45 9 9 9 9 12 9 9 12 10 35 15
19 NTT 21 93 29 31 46 36 195 0 0 0 0 24 24 23 32 29 6 20
20 KALBAR 14 94 23 4 4 4 135 0 0 0 0 28 2 2 2 2 21 6
21 KALTENG 14 57 41 16 15 16 114 0 0 0 0 17 15 14 14 16 0 6
22 KALTIM 14 100 50 30 31 29 107 0 0 0 0 31 1 1 1 1 0 2
23 KALSEL 13 46 18 19 18 19 167 20 20 20 20 26 17 15 18 17 5 7
24 SULUT 15 72 12 6 6 6 87 0 0 0 0 22 2 2 2 1 1 1
25 GORONTALO 6 25 16 12 5 18 59 23 0 23 23 7 7 7 7 7 7 9
26 SULTENG 11 73 24 20 27 20 98 4 3 3 4 13 13 13 25 19 3 36
27 SULSEL 24 205 143 8 8 8 190 0 0 0 0 62 3 3 3 3 2 5
28 SULTRA 12 240 45 45 44 46 0 0 0 0 0 14 14 12 13 13 1 26
29 SULBAR 5 31 6 6 6 6 46 0 0 0 0 1 1 2 2 2 0 4
30 MALUKU 11 53 0 0 0 0 103 0 0 0 0 19 1 1 1 1 1 1
31 MALUKUUTARA 9 29 15 14 16 17 79 0 0 0 0 12 9 9 9 9 1 193
32 PAPUA 29 89 32 19 19 16 224 4 3 6 3 18 2 2 2 2 2 7
33 PAPUABARAT 10 36 24 17 31 17 69 0 0 0 0 10 3 2 2 3 1 3
TOTAL 496 3009 1442 965 1042 982 5948 428 388 293 418 1338 373 407 392 414 168 535
Keterangan:
dr :dokter
Pr/Bd :perawat/bidan
AG :ahligizi
SPA :spesialisanak
TFC :TheurapeuticFeedingCentre
Jml Puskesmas Jml. Tenaga Dilatih JML RS Jml. Tenaga Dilatih
DAFTAR JUMLAH TENAGAKESEHATAN
YANG SUDAH DILATIH TATALAKSANAANAK GIZI BURUK
TAHUN 2004 - 2012
NO PROPINSI
Rumah Sakit
Jml Puskesmas Jml. Tenaga Dilatih
Puskesmas Perawatan Puskesmas Non Perawatan
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 47
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 47
Jumlah Konselor ASI Per Provinsi di Indonesia Tahun 2012
dan Target sampai Tahun 2014
No Provinsi
Jumlah
Konselor s.d
Sept 2012
Jumlah
Fasyankes (RS
dan PP)
Target
2013
Target
2014
1 Aceh 612 344 612 612
2 Sumatera Utara 114 630 194 274
3 Sumatera Barat 350 283 350 350
4 Riau 210 204 250 290
5 Jambi 100 181 140 180
6 Sumatera Selatan 213 318 253 293
7 Bengkulu 70 178 110 150
8 Lampung 124 286 164 204
9 Bangka Beilitung 34 62 54 64
10 Kepulauan Riau 46 74 66 76
11 DKI Jakarta 87 463 167 247
12 Jawa Barat 118 1152 198 278
13 Jawa Tengah 54 1031 134 214
14 DI Yogyakarta 190 153 190 190
15 Jawa Timur 28 1115 108 108
16 Banten 38 223 78 118
17 Bali 4 148 97 137
18 Nusa Tenggara Barat 179 158 179 179
19 Nusa Tenggara Timur 839 314 839 839
20 Kalimantan Barat 20 257 60 100
21 Kalimantan Tengah 4 184 44 84
22 Kalimantan Selatan 25 239 65 105
23 Kalimantan Timur 38 238 78 118
24 Sulawesi Utara 24 181 64 104
25 Sulawesi Tengah 112 184 132 172
26 Sulawesi Selatan 19 457 59 99
27 Sulawesi Tenggara 22 238 62 102
28 Gorontalo 38 79 58 79
29 Sulawesi Barat 40 78 60 78
30 Maluku 61 154 81 121
31 Maluku Utara 4 104 44 84
32 Papua Barat 43 115 63 103
33 Papua 19 284 59 99
Indonesia 3.932 6.033 5.112 6.331
Jumlah Fasilitator Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) Tahun 2012
No Uraian
Fasilitator
untuk Kader
Fasilitator
TOT
Provinsi
1 Aceh 2 1
2 Jawa Tengah 2 -
3 Nusa Tenggara Barat 6 1
4 Nusa Tenggara Timur 1 -
Pusat
1 Direktorat Gizi 6 4
2 Poltekes 5 -
Indonesia 22 6
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 49
1 Aceh 612 65
2 Sumatera Utara 114 10
3 Sumatera Barat 350 5
4 Riau 210 13
5 Jambi 100 1
6 Sumatera Selatan 213 12
7 Bengkulu 70 2
8 Lampung 124 33
9 Bangka Beilitung 34 3
10 Kepulauan Riau 66 1
11 DKI Jakarta 87 30
12 Jawa Barat 148 30
13 Jawa Tengah 54 26
14 DI Yogyakarta 190 21
15 Jawa Timur 28 11
16 Banten 38 2
17 Bali 4 3
18 Nusa Tenggara Barat 179 31
19 Nusa Tenggara Timur 839 65 210
20 Kalimantan Barat 20 10
21 Kalimantan Tengah 4 3
22 Kalimantan Selatan 25 1
23 Kalimantan Timur 38 2
24 Sulawesi Utara 24 2
25 Sulawesi Tengah 112 4
26 Sulawesi Selatan 19 14
27 Sulawesi Tenggara 22 2
28 Gorontalo 38 2
29 Sulawesi Barat 40 1
30 Maluku 61 2
31 Maluku Utara 4 1
32 Papua Barat 43 2
33 Papua 19 5
Indonesia 3929 415 210
DISTRIBUSI KONSELOR DAN FASILITATOR
PELATIHAN KONSELING MENYUSUI MENURUT PROVINSI
Tahun 2012
Jumlah Fasilitator Jumlah MotivatorNo Provinsi Jumlah Konselor
Fasilitator
(Orang)
Konselor
(Orang)
1 Aceh 4 120
2 Sumatera Utara 5 20
3 Sumatera Barat 17
4 Riau 20
5 Jawa Barat 2
6 Jawa Tengah 3 63
7 Nusa Tenggara Barat 7 24
8 Nusa Tenggara Timur 9 105
9 Others (Central Level) 21 19
Poltekkes Jkt 2 dan Jkt 3 7 5
RSCM 1 1
PERSAGI, PERINASIA, PDGMI 2 2
Dit. BGM 11 11
Total 51 388
DISTRIBUSI KONSELOR DAN FASILITATOR
PELATIHAN KONSELING MP-ASI
MENURUT PROPINSI TAHUN 2012
No Provinsi
Konseling MP-ASI
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 201348
Daftar Singkatan
AGB	 :	 Anemia Gizi Besi
ASI	 :	 Air Susu Ibu
BB/PB	 :	 Berat Badan Menurut Panjang Badan
BB/TB	 :	 Berat Badan Menurut Tinggi Badan
BB/U	 :	 Berat Badan Menurut Umur
BGM	 :	 Bawah Garis Merah
BOK	 :	 Bantuan Operasional Kesehatan
CFC	 :	 Community Feeding Centre
D/S	 :	 Balita ditimbang berat badannya
EIU	 :	 Ekskresi Iodium dalam Urin
GAKI	 :	 Gangguan Akibat Kurang Iodium
Gernas	 :	 Gerakan Nasional
IP-GAKI	 :	 Intensifikasi Penanggulangan GAKI
Jampersal	 :	 Jaminan Persalinan
Jamkesmas	 :	 Jaminan Kesehatan Masyarakat
KEK	 :	 Kurang Energi Kronis
KEP	 :	 Kurang Energi Protein
KIA	 :	 Kesehatan Ibu Anak
KIE	 :	 Komunikasi Informasi Edukasi
KMS	 :	 Kartu Menuju Sehat
KVA	 :	 Kurang Vitamin A
LAKIP	 :	 Laporan Akuntabilitas dan Kinerja Pemerintah
LAPTAH	 :	 Laporan Tahunan
LiLA	 :	 Lingkar Lengan Atas
MDG	 :	 Millenium Development Goal
Monev	 :	 Monitoring Evaluasi
MP-ASI	 :	 Makanan Pendamping Air Susu Ibu
NICE	 :	 Nutrition Improvement through Community
Empowerment
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 49
NSPK	 :	 Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria
Perda	 :	 Peraturan Daerah
Permendagri	 :	 Peraturan Menteri Dalam Negeri
PGBM	 :	 Pemulihan Gizi Berbasis Masyarakat
Posyandu	 :	 Pos Pelayanan Terpadu
Puskesmas	 :	 Pusat Kesehatan Masyarakat
PMBA	 :	 Pemberian Makan Bayi dan Anak
PMT	 :	 Pemberian Makanan Tambahan
PMT-AS	 :	 Program Makanan Tambahan Anak Sekolah
PPKK	 :	 Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan
PTM	 :	 Penyakit Tidak Menular
Renstra	 :	 Rencana Strategis
Riskesdas	 :	 Riset Kesehatan Dasar
RKA-KL	 :	 Rencana Kegiatan Anggaran Kementerian Lembaga
RSUD	 :	 Rumah Sakit Umum Daerah
RT	 :	 Rumah Tangga
SAI	 :	 Sistem Aplikasi Informasi
SABMN	 :	 Sistem Aplikasi Barang Milik Negara
SEANUTS	 :	 South East Asia Nutrition Survey
SDKI	 :	 Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia
SIGIZI	 :	 Sistem Informasi Gizi
SKRT	 :	 Survei Kesehatan Rumah Tangga
TFC	 :	 Theurapeutic Feeding Centre
TOT	 :	 Training of Trainer
TTD	 :	 Tablet Tambah Darah
WHO	 :	 World Health Organisation
Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 201350

Bk rencana kerja_gizi_final

  • 1.
    Rencana Kerja Pembinaan GiziMasyarakat TAhun 2013 Direktorat Bina Gizi Direktorat Jenderal Bina Gizi dan KIA Kementerian Kesehatan RI
  • 2.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 2013ii
  • 3.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 2013 iii KATA PENGANTAR Undang-undangnomor36tahun2009tentangKesehatanmenyatakanbahwa upaya perbaikan gizi bertujuan untuk meningkatkan mutu gizi perseorangan dan masyarakat antara lain melalui perbaikan pola konsumsi makanan, perbaikan perilaku sadar gizi dan peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi dan kesehatan sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010- 2014, perbaikan status gizi masyarakat merupakan salah satu prioritas dengan menurunkan prevalensi balita gizi kurang menjadi 15% dan prevalensi balita pendek menjadi 32% pada tahun 2014. Untuk mencapai sasaran tersebut diatas, Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2010-2014 telah menetapkan 2 (dua) indikator keluaran pembinaan gizi yang harus dicapai yaitu; 1) Persentase balita ditimbang berat badannya, dan 2) Persentase balita gizi buruk yang mendapat perawatan. Untukmencapaisasarantersebutdiperlukanrancangankegiatanyangspesifik dan terukur, tertuang dalam Rencana Aksi Pembinaan Gizi Masyarakat 2010- 2014. Penjabaran kegiatan setiap tahunnya dituangkan dalam Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat yang merupakan penajaman prioritas, strategi operasional serta kegiatan. Buku ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi penentu kebijakan, perencana, dan pelaksana program diberbagai tingkat administrasi untuk lebih menyamakan langkah, koordinasi, dan sumber daya dalam pelaksanaan kegiatan pembinaan gizi masyarakat tahun 2013. Jakarta, Februari 2013 Direktur Jenderal Bina Gizi dan KIA Dr. dr. Slamet Riyadi Yuwono, DTM&H, MARS Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 iii KATA PENGANTAR Undang-undangnomor36tahun2009tentangKesehatanmenyatakanbahwa upaya perbaikan gizi bertujuan untuk meningkatkan mutu gizi perseorangan dan masyarakat antara lain melalui perbaikan pola konsumsi makanan, perbaikan perilaku sadar gizi dan peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi dan kesehatan sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010- 2014, perbaikan status gizi masyarakat merupakan salah satu prioritas dengan menurunkan prevalensi balita gizi kurang menjadi 15% dan prevalensi balita pendek menjadi 32% pada tahun 2014. Untuk mencapai sasaran tersebut diatas, Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2010-2014 telah menetapkan 2 (dua) indikator keluaran pembinaan gizi yang harus dicapai yaitu; 1) Persentase balita ditimbang berat badannya, dan 2) Persentase balita gizi buruk yang mendapat perawatan. Untukmencapaisasarantersebutdiperlukanrancangankegiatanyangspesifik dan terukur, tertuang dalam Rencana Aksi Pembinaan Gizi Masyarakat 2010- 2014. Penjabaran kegiatan setiap tahunnya dituangkan dalam Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat yang merupakan penajaman prioritas, strategi operasional serta kegiatan. Buku ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi penentu kebijakan, perencana, dan pelaksana program diberbagai tingkat administrasi untuk lebih menyamakan langkah, koordinasi, dan sumber daya dalam pelaksanaan kegiatan pembinaan gizi masyarakat tahun 2013. Jakarta, Februari 2013 Direktur Jenderal Bina Gizi dan KIA Dr. dr. Slamet Riyadi Yuwono, DTM&H, MARS
  • 4.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 2013iv
  • 5.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 2013 v DAFTAR ISI Kata Pengantar ...................................................................................... iii Daftar Isi ............................................................................................... v I. Pendahuluan .................................................................................. 1 A. Latar Belakang ....................................................................... 1 B. Sasaran Pembinaan Gizi 2010-2014 ...................................... 2 II. Perkembangan Masalah dan Capaian Tahun 2012 ....................... 3 A. Kurang Energi Protein (KEP) 3 1. Cakupan Balita Ditimbang Berat Badannya (D/S) 4 2. Cakupan Pemberian ASI Eksklusif 5 3. Perawatan Gizi Buruk 6 B. Kurang Vitamin A (KVA) 8 C. Gangguan Akibat Kurang Iodium (GAKI) 9 D. Anemia Gizi Besi (AGB) 11 E. Masalah Gizi Lebih 13 III. Konsep dan Strategi Operasional Tahun 2013 14 A. Konsep Perbaikan Gizi 14 B. Tujuan 15 C. Sasaran Operasional 15 D. Strategi Operasional 15 IV. Kegiatan Pembinaan Gizi 2013 17 A. Pendidikan Gizi dan Pemberdayaan Masyarakat 17 B. Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) Gizi 19 C. Suplementasi Gizi dan Alat Penunjang 21 D. Tatalaksana Gizi Buruk dan Penanganan Gizi Kurang 23 E. Penyusunan NSPK 24 F. Surveilans Gizi 26 G. Dukungan Manajemen 26 V. Monitoring dan Evaluasi 29 VI. Penutup 30 Lampiran 31 Daftar Singkatan 48
  • 6.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 2013vi
  • 7.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 2013 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-Undang nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan (Bab VIII) mengamanatkan bahwa Upaya Perbaikan Gizi bertujuan untuk meningkatkan mutu gizi perseorangan dan masyarakat, antara lain melalui perbaikan pola konsumsi makanan, perbaikan perilaku sadar gizi, dan peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi dan kesehatan sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi. Upaya pembinaan gizi dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan sesuai dengan perkembangan masalah gizi, pentahapan dan prioritas pembangunan nasional. Salah satu prioritas pembangunan nasional sebagaimana tertuang pada dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional dan Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2010-2014 adalah perbaikan status gizi masyarakat. Sasaran jangka menengah perbaikan gizi yang telah ditetapkan adalah menurunnya prevalensi gizi kurang menjadi setinggi-tingginya 15% dan prevalensi pendek (stunting) menjadi setinggi-tingginya 32% pada tahun 2014. Dalam upaya mencapai tujuan tersebut telah disusun Kegiatan PembinaanGiziMasyarakat2010-2014,sebagaipenjabaranoperasional Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2010-2014. Rencana Aksi Pembinaan Gizi Masyarakat 2010-2014 berisikan tujuan, sasaran operasional, kebijakan teknis dan strategi operasional serta kegiatan pokok dan pentahapan indikator setiap tahun. Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat 2013 merupakan upaya percepatanpencapaiansasaranRencanaStrategis(Renstra)Kementerian Kesehatan melalui penajaman prioritas dan strategi penggerakan yang dikembangkan berdasarkan kecenderungan capaian dan hambatan pelaksanaan pembinaan gizi selama ini. Adanya inisiatif baru seperti pencegahan stunting, penerapan pola konsumsi makanan dan aktivitas fisik untuk mencegah penyakit tidak menular memerlukan penyesuaian terhadap strategi yang ada. Di sisi lain, adanya terobosan baru di
  • 8.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 20132 bidang pembiayaan kesehatan khususnya dengan diluncurkannya dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK), Jaminan Persalinan (Jampersal), Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) dan berbagai inisiatif pembiayaan lain perlu dimanfaatkan secara maksimal untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan. B. Sasaran Pembinaan Gizi 2010-2014 Sebagaimana telah ditetapkan di dalam Renstra Kementerian Kesehatan dan Rencana Pembinaan Gizi Masyarakat 2010-2014, sasaran Pembinaan Gizi Masyarakat adalah menurunkan prevalensi gizi kurang menjadi 15% dan prevalensi stunting menjadi setinggi-tingginya 32%. Di dalam Rencana Pembinaan Gizi Masyarakat, sasaran tersebut dijabarkan menjadi indikator kinerja perbaikan gizi dan pentahapan pencapaian indikator sampai dengan tahun 2014. Indikator kinerja, target capaian sampai dengan tahun 2014 serta capaian sampai dengan 2012 adalah sebagai berikut; Tabel 1. Target Capaian Indikator Pembinaan Gizi Masyarakat Tahun 2012-2014 dan Capaian Tahun 2012 Indikator Target 2012 Capaian 2012 Target 2013 Target 2014 1. % balita ditimbang berat badannya (D/S) 2. % bayi 0-6 bulan mendapat ASI Eksklusif 3. % anak 6-59 bulan mendapat kapsul vitamin A 4. % ibu hamil mendapat Fe 90 tablet 5. % rumah tangga konsumsi garam beriodium 6. % balita gizi buruk mendapat perawatan 7. penyediaan buffer stock MP-ASI 75 70 80 90 80 100 100 75.1 48.6* 82.8 85.0 87.9** 100 100 80 75 83 93 85 100 100 85 80 85 95 90 100 100 Catatan: *Laporan dari 32 provinsi **Laporan dari 29 provinsi
  • 9.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 2013 3 II. PERKEMBANGAN MASALAH DAN CAPAIAN TAHUN 2012 A. Kurang Energi Protein (KEP) Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 menunjukkan besaran masalah gizi di Indonesia yaitu gizi kurang sebesar 17,9%, pendek 35,6%, kurus 13,3% dan gemuk 14,2%. Secara umum besaran masalah gizi pada balita digambarkan pada gambar 1. Gambar 1. Grafik Distribusi Prevalensi Masalah Gizi di Indonesia Dibandingkan dengan prevalensi gizi kurang tahun 1990 sebesar 31%, secara nasional telah terjadi penurunan sekitar 40% selama periode 1990 sampai 2010. Dengan kecenderungan ini sasaran penurunan prevalensi gizi kurang menjadi 15% pada tahun 2014 diharapkan dapat dicapai. Namun, bila dibandingkan angka prevalensi gizi kurang tahun 2007 (18,4%) dengan tahun 2010, penurunan prevalensi gizi kurang sangat kecil yaitu 0,5%. Apabila tidak dilakukan upaya percepatan, dikhawatirkan sasaran penurunan prevalensi gizi kurang pada tahun 2014 tidak tercapai. Sebaran prevalensi gizi kurang menurut provinsi berdasarkan data Riskesdas tahun 2010, untuk prevalensi gizi kurang yang telah mencapai sasaran rata-rata MDG 2015 (<15%) ada 8 (delapan) provinsi yaitu Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Lampung, DKI, Jabar, DIY, Bali dan Sulawesi Utara. Sementara itu masih ada 15 provinsi yang prevalensinya diatas 20%. 17.9 Gizi Kurang Pendek Kurus Gemuk 35.6 13.3 14.2
  • 10.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 20134 Gambar 2. Sebaran Prevalensi Balita Gizi Kurang Berdasarkan Berat Badan Menurut Umur (BB/U) Menurut Provinsi Di Indonesia Tahun 2010 30.5 29.4 29.1 27.6 26.5 26.5 26.5 26.2 25.0 23.7 23.6 22.9 22.8 21.4 20.5 19.9 19.6 18.5 17.9 17.1 17.1 17.1 16.2 16.2 15.7 15.3 14.9 14.0 13.4 13.0 11.3 11.2 11.0 10.6 0.0 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0 30.0 35.0 NTB NTT KalBar Kalteng SulTeng PapBar Gorontalo Maluku SulSel NAD MalUt KalSel SulTera Sumut SulBar SumSel Jambi Banten Indonesia Jatim SumBar KalTim Papua Riau Jateng Bengkulu BaBel KepRi Lampung Jabar Jakarta DIYogya Bali SulUt Sumber: Riskesdas, 2012 Strategiutamapenanggulanganmasalahgizikurangadalahpencegahan dan peningkatan pengetahuan melalui kegiatan edukasi masyarakat tentang asuhan gizi khususnya makanan bayi dan anak, pemantauan pertumbuhan di posyandu suplementasi gizi, pemberian makanan tambahan pemulihan kepada anak gizi kurang serta tatalaksana kasus gizi buruk. 1. Cakupan Balita Ditimbang Berat Badannya (D/S) Cakupan pemantauan pertumbuhan secara bertahap mengalami kenaikan, terutama setelah dilakukan revitalisasi posyandu sejak setelah terjadinya krisis beberapa tahun sebelumnya. Pada tahun 2012 secara rata-rata nasional cakupan D/S sudah mencapai target yaitu 75,1%, namun demikian masih ada 23 provinsi yang cakupannya masih dibawah 75% seperti tergambarkan pada grafik berikut: Gambar 3. Persentase D/S Berdasarkan Provinsi Tahun 2012 Sumber: Laporan Dinas Kesehatan Provinsi, 2012
  • 11.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 2013 5 Untuk meningkatkan cakupan balita ditimbang berat badannya Menteri Kesehatan melalui surat edaran tanggal 21 September 2012 nomor GK/Menkes/333/IX/2012 telah menetapkan bahwa pada bulan November setiap tahun sebagai bulan penimbangan balita di samping bulan Februari dan Agustus yang bersamaan dengan Bulan Kapsul Vitamin A. 2. Cakupan Pemberian ASI Eksklusif UpayapeningkatancakupanpemberianAirSusuIbu(ASI)Eksklusif dilakukan dengan berbagai strategi, mulai dari penyusunan kerangka regulasi, peningkatan kapasitas petugas dan promosi ASI Eksklusif. Pada tahun 2012 telah diterbitkan Peraturan Pemerintah tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif (PP No 33 tahun 2012). Dalam PP tersebut diatur tugas dan tanggung jawab pemerintah dan pemerintah daerah dalam pengembangan program ASI, diantaranya menetapkan kebijakan nasional dan daerah, melaksanakan advokasi dan sosialisasi serta melakukan pengawasan terkait program pemberian ASI Eksklusif. Pada tahun 2012, sebanyak 1.057 orang dilatih sebagai konselor menyusui, sehingga secara keseluruhan sampai dengan tahun 2012 telah dilakukan pelatihan fasilitator menyusui sebanyak 415 orang dan konselor menyusui dengan jumlah 3.929 orang (daftar terlampir). Cakupan pemberian ASI ekslusif di Indonesia sangat berfluktuatif. Cakupan ASI Eksklusif pada bayi 0-6 bulan pada tahun 2012 berdasarkan laporan sementara hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 sebesar 42%. Bila dibandingkan dengan survei yang sama pada tahun 2007 telah terjadi kenaikan yang bermakna sebesar 10%. Pada tahun 2013 target bayi 0-6 bulan mendapat ASI eksklusif sebesar 75%.
  • 12.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 20136 Gambar 4. Tren Cakupan Pemberian ASI Eksklusif 0-6 bulan 2002-2012 Sumber data: laporan sementara SDKI 2012 Berdasarkan laporan provinsi tahun 2012, sebaran cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi 0-6 bulan sedikit lebih tinggi jika dibandingkan dengan hasil SDKI 2012 yaitu sebesar 48,6%, seperti terlihat pada grafik di bawah ini: Gambar 5. Cakupan Pemberian ASI Eksklusif 0-6 bulan Menurut Provinsi Tahun 2012 Sumber: Laporan Dinas Kesehatan Provinsi, 2012 3. Perawatan Gizi Buruk Keadaan gizi merupakan salah satu penyebab dasar kematian bayi dan anak. Gizi buruk seringkali disertai penyakit seperti TB, ISPA, diare dan lain-lain. Risiko kematian anak gizi buruk 17 kali lipat dibandingkan dengan anak normal. Oleh karena itu setiap anak gizi buruk harus dirawat sesuai standar.
  • 13.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 2013 7 Pemerintah telah mengembangkan prosedur perawatan gizi buruk, dengan dua pendekatan. Kasus gizi buruk yang disertai dengan salah satu atau lebih tanda komplikasi medis seperti anoreksia, anemia berat, dehidrasi, demam sangat tinggi dan penurunan kesadaran perlu penanganan secara rawat inap, baik di rumah sakit, puskesmas maupun Therapeutic Feeding Centre (TFC). Sedangkan bagi anak gizi buruk tanpa komplikasi dapat dirawat jalan. Perawatan anak di rumah dilakukan melalui pembinaan petugas kesehatan dan kader. Jumlah kasus gizi buruk yang ditemukan pada tahun 2012 sebanyak 42.702 kasus dan semuanya telah mendapat perawatan sesuai standar. Kegiatan yang telah dilakukan terkait dengan kasus gizi buruk antara lain: a. Melaksanakan Pelatihan Tatalaksana Anak Gizi Buruk bagi petugaskesehatandariPuskesmasdanRumahSakit.Sampai dengan Desember tahun 2012 telah dilatih 5.876 petugas kesehatan dari 1.434 Puskesmas Perawatan, 436 Puskesmas non Perawatan, dan 367 RSUD, serta 98 fasilitator di seluruh Indonesia. b. Mendirikan Therapeutic Feeding Centre (TFC) dan Community Feeding Centre (CFC) atau Pemulihan Gizi Berbasis Masyarakat (PGBM). Sampai dengan Desember 2012 telah didirikan 170 TFC di 28 provinsi dan 109 CFC di 4 provinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Tenggara.
  • 14.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 20138 Gambar 6. Peta Sebaran TFC dan CFC di Indonesia Tahun 2012 B. Kurang Vitamin A (KVA) Prevalensi Kurang Vitamin A pada balita secara signifikan terus menurun. Prevalensi xerophthalmia pada tahun 1992 sebesar 0.35%, di bawah batas masalah kesehatan masyarakat, dan turun secara signifikan dibandingkan dengan tahun 1978 (1,3%). Dari berbagai studi prevalensi kurang vitamin A subklinis (serum retinol <20µg/dl) juga menunjukkan penurunan yang sangat signifikan, yaitu dari 14.6% pada tahun 2007 (Survei Nasional Gizi Mikro), menjadi 0.8% pada tahun 2011 (South East Asia Nutrition Survey/SEANUTS). B. Kurang Vitamin A (KVA) Prevalensi Kurang Vitamin A pada balita secara signifikan terus menurun. Prevalensi xerophthalmia pada tahun 1992 sebesar 0.35%, di bawah batas masalah kesehatan masyarakat, dan turun secara signifikan dibandingkan dengan tahun 1978 (1,3%). Dari berbagai studi prevalensi kurang vitamin A subklinis (serum retinol <20µg/dl) juga menunjukkan penurunan yang sangat signifikan, yaitu dari 14.6% pada tahun 2007 (Survei Nasional Gizi Mikro), menjadi 0.8% pada tahun 2011 (South East Asia Nutrition Survey/SEANUTS). Strategi penanggulangan kurang vitamin A dilaksanakan secara komprehensif, terdiri dari pemberian suplementasi kapsul vitamin A dosis tinggi setiap bulan Februari dan Agustus, penyuluhan gizi seimbang untuk meningkatkan konsumsi bahan pangan sumber vitamin A dan fortifikasi pangan. Pencapaian rata-rata cakupan Vitamin A pada balita 6-59 bulan sampai dengan bulan Februari 2012 sebesar 82,3%. Meskipun sudah mencapai target nasional tahun 2012 yaitu sebesar 80%, namun masih terdapat 17 provinsi yang belum mencapai target dan masih terdapat 5 (lima) provinsi yang belum menyampaikan laporannya. Pencapaian cakupan masing- masing provinsi dapat dilihat pada grafik berikut: Strategi penanggulangan kurang vitamin A dilaksanakan secara komprehensif, terdiri dari pemberian suplementasi kapsul vitamin A dosis tinggi setiap bulan Februari dan Agustus, penyuluhan gizi
  • 15.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 2013 9 seimbang untuk meningkatkan konsumsi bahan pangan sumber vitamin A dan fortifikasi pangan. Pencapaian rata-rata cakupan Vitamin A pada balita 6-59 bulan sampai dengan bulan Februari 2012 sebesar 82,8%. Meskipun sudah mencapai target nasional tahun 2012 yaitu sebesar 80%, namun masih terdapat 13 provinsi yang belum mencapai target. Pencapaian cakupan masing- masing provinsi dapat dilihat pada grafik berikut: Gambar 7. Cakupan Pemberian Kapsul Vitamin A Balita 6-59 Bulan Berdasarkan Provinsi Tahun 2012 Sumber: Laporan Dinas Kesehatan Provinsi, 2012 C. Gangguan Akibat Kurang Iodium (GAKI) Indikator untuk memantau masalah GAKI saat ini adalah Ekskresi IodiumdalamUrin(EIU)sebagairefleksiasupaniodium,cakupanrumah tangga mengonsumsi garam beriodium dan pencapaian 10 indikator manajemen. Bila proporsi penduduk dengan EIU<100 µg/L dibawah 20% dan cakupan garam beriodium 90% diikuti dengan tercapainya indikator manajemen maka masalah GAKI di masyarakat tersebut sudah terkendali. Hasil Studi Intensifikasi Penanggulangan GAKI (IP-GAKI) tahun 2002/2003, hasil Riskesdas 2007 menunjukkan hasil yang konsisten bahwa rata-rata EIU dalam batas normal. Bahkan hasil survei SEANUTS tahun 2011 pun menunjukkan hasil yang sama (batas normal) yaitu 228 µg/L. Dari hasil survey yang sama diketahui proporsi EIU<100 µg/L telah dibawah 20% yaitu 12.9 µg/L pada tahun 2007 dan turun menjadi 11,5
  • 16.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 201310 µg/L pada tahun 2011, Dengan kemajuan ini dapat disimpulkan bahwa secara nasional masalah Gangguan Akibat Kurang Iodium tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. Tabel 2. Perkembangan Masalah GAKI Sumber data: 2002 Survei GAKI, 2007 Riskesdas, 2011 SEANUTS UpayapenanggulanganmasalahGAKImengutamakankegiatanpromosi garam beriodium. Untuk daerah-daerah endemik masalah GAKI, upaya yang dilakukan yaitu menjamin garam yang dikonsumsi adalah garam beriodium melalui penyusunan peraturan daerah yang mengatur pemasaran garam beriodium. Sampai dengan tahun 2009, terdata 9 (sembilan) provinsi dan 13 kabupaten/kota yang sudah memiliki Perda Penanggulangan masalah GAKI Hasil pemantauan konsumsi garam beriodium tahun 2012 di 29 provinsi menunjukkan cakupan sebesar 87,9% rumah tangga mengonsumsi garam beriodium. Meskipun secara nasional angka ini meningkat dari tahun sebelumnya dan sudah mencapai target program tahun 2012 (80%), namun masih ada 4 (empat) provinsi yang belum melaksanakan pemantauan garam beriodium di wilayahnya. Diharapkan semakin bertambah wilayah yang melakukan pemantauan garam beriodium dengan penerapan Permendagri No. 63 tahun 2010 tentang Pedoman Penanggulangan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium di Daerah.
  • 17.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 2013 11 Gambar 8. Cakupan Rumah Tangga Mengonsumsi Garam Beriodium Berdasarkan Provinsi Tahun 2012 Sumber: Laporan Dinas Kesehatan Provinsi, 2010- 2012 D. Anemia Gizi Besi (AGB) Data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 menunjukkan prevalensi anemia pada ibu hamil masih cukup tinggi yaitu sebesar 40,1%. Keadaan ini mengindikasikan anemia gizi besi pada ibu hamil masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Program penanggulangan anemia gizi pada ibu hamil telah dikembangkan sejak tahun 1975 melalui distribusi Tablet Tambah Darah (TTD). TTD merupakan suplementasi gizi mikro khususnya zat besi dan folat yang diberikan kepada ibu hamil untuk mencegah kejadian anemia gizi besi selama kehamilan. Penelitian terakhir membuktikan bahwa pemberian tablet Fe di Indonesia dapat menurunkan kematian neonatal sekitar 20%. Secara nasional cakupan ibu hamil mendapat 90 tablet Fe tahun 2012 sebesar 85%. Data tersebut belum mencapai target program tahun 2012 sebesar 90%. Koordinasi dan kegiatan yang terintegrasi dengan lintas program masih perlu di tingkatkan agar cakupan dapat meningkat karena pemberian tablet Fe merupakan salah satu komponen standar pelayanan antenatal.
  • 18.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 201312 Gambar 9. Cakupan Pemberian 90 Tablet Fe pada Ibu Hamil Menurut Provinsi Tahun 2012 Sumber: Laporan Dinas Kesehatan Provinsi, 2012 Pada anak balita, studi masalah gizi mikro di 10 provinsi tahun 2006 masih dijumpai 26,3% balita yang menderita anemia gizi besi dengan kadar haemoglobin (Hb) kurang dari 11,0 gr/dl, dan prevalensi tertinggi didapat di Provinsi Maluku sebesar 36%. Secara nasional telah terjadi penurunan prevalensi anemia pada anak pada tahun 2011 yaitu menjadi 17.6% (SEANUTS). Salah satu intervensi inovatif lainnya dalam pencegahan anemia pada balita adalah melalui pemberian Taburia pada balita usia 6-59 bulan dengan prioritas usia 6-24 bulan yang akan dilaksanakan secara bertahap di seluruh Indonesia. Pada tahun 2013 akan dilakukan penambahan lokasi pemberian taburia yang semula hanya di 24 kabupaten/kota di 6(enam) provinsi NICE project (Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, NTB, NTT, dan Sulawesi Selatan) menjadi 40 kabupaten/kota di 13 provinsi. Tambahan 7 (tujuh) provinsi tersebut adalah: Lampung (4 Kabupaten), Jawa Barat (4 Kabupaten), Sulawesi Tenggara (1 Kabupaten), Kalimantan Timur (1 Kota), Jawa Tengah (4 Kabupaten), Sulawesi Tengah (2 Kabupaten) dan Maluku Utara (1 Kabupaten).
  • 19.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 2013 13 E. Masalah Gizi Lebih Selain masalah gizi kurang dan pendek, prevalensi gizi lebih saat ini sudah cukup tinggi. Gizi lebih merupakan masalah gizi baru yang selama beberapa tahun terakhir menunjukkan kenaikan. Selama kurun waktu tahun 2007 sampai 2010, prevalensi gizi lebih baik pada anak- anak maupun pada kelompok dewasa meningkat sebesar 2% atau hampir satu persen setiap tahunnya. Hal ini patut diwaspadai karena dapat memicu terjadinya masalah yang ditimbulkan akibat penyakit tidak menular (PTM). Bardasarkan data Riskesdas 2010 status gizi balita gemuk mengalami peningkatan dari 12,2% (2007) menjadi 14,2%.
  • 20.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 201314 III. KONSEP & STRATEGI OPERASIONAL TAHUN 2013 A. Konsep Perbaikan Gizi Mengacu dari berbagai hasil penelitian, pemilihan intervensi gizi didasarkan pada intervensi yang telah terbukti “cost effective”. Terdapat 3 kelompok kegiatan gizi, yaitu kegiatan peningkatan (promotif) yang bertumpu pada kegiatan pemberdayaan dan pendidikan gizi masyarakat,kegiatanpencegahan(preventif)agaranakgizikurangtidak menjadi gizi buruk, dan kegiatan pemulihan (kuratif) yaitu tatalaksana kasus gizi buruk. Diagram berikut menjelaskan konsep pelayanan gizi, mulai dari promotif sampai kuratif. Gambar 10. Diagram Konsep Pelayanan Gizi Promotif Preventif Kuratif Gizi Buruk (sangat kurus) Pulih Pulih Perlu pemulihan BALITA GIZI KURANG DIBERI PMT PEMULIHAN BALITA GIZI BURUK DIRAWAT Tidak Naik BB/ Kurus • Pemantauan Pertumbuhan • Pendidikan gizi dan konseling ASI/MP-ASI/Gizi Lebih • Pemberian Kapsul vit A • Pemberian tablet Fe Ibu hamil • Promosi garam beriodium • Skrining aktif • Taburia • PMT Bumil KEK Kegiatan promotif adalah kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di tingkat masyarakat oleh masyarakat dan petugas. Kegiatannya meliputi pemantauan pertumbuhan, penyuluhan dan konseling tentang pemberian makanan bayi adan anak, pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi setiap 6 bulan, pemberian tablet tambah darah kepada ibu hamil, promosi garam beriodium, pelacakan dan tindak lanjut kasus gizi buruk. Kegiatan preventif adalah pemberian makanan tambahan pemulihan terhadap anak-anak gizi kurang atau kurus. Makanan tambahan
  • 21.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 2013 15 diberikan dalam bentuk makanan lokal, dengan resep-resep yang dianjurkan. Kegiatan kuratif, berupa tatalaksana kasus gizi buruk baik dengan rawat inapmaupunrawatjalan,menggunakanprotokolyangtelahditetapkan. B. Tujuan Tujuan dari kegiatan pembinaan gizi 2013 adalah meningkatkan cakupan dan kualitas pelayanan gizi keluarga untuk meningkatkan status gizi ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan balita. C. Sasaran Operasional Sasaran operasional kegiatan pembinaan gizi masyarakat tahun 2013 mencakup 8 (delapan) indikator kinerja gizi yang terdiri dari 2 (dua) indikator kegiatan dan 6 (enam) indikator penunjang. 1. Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) a. 80% balita yang ditimbang berat badannya b. 100% balita gizi buruk yang mendapat perawatan 2. Indikator Penunjang a. 83% balita mendapat kapsul vitamin A b. 75% bayi 0 – 6 bulan mendapat ASI Ekslusif c. 93% ibu hamil mendapat Fe 90 tablet d. 85% Rumah Tangga yang mengonsumsi garam beriodium e. Penyediaan bufferstock MP-ASI untuk gizi darurat f. Kabupaten dan Kota melaksanakan surveilans gizi D. Strategi Operasional 1. Meningkatkan pendidikan gizi masyarakat melalui kampanye Gerakan Nasional Sadar Gizi serta penyediaan materi komunikasi, informasi dan edukasi (KIE). 2. Meningkatkan koordinasi untuk pemenuhan kebutuhan obat gizi (seperti: vitamin A, tablet Fe, mineral mix) melalui peran aktif dalamketerpaduanpenyusunanrencanakebutuhan,pemantauan ketersediaan obat gizi dan pencapaian cakupan. 3. Mengoptimalkan pemanfaatan dana BOK untuk pelayanan gizi, meliputi penyelenggaraan penyuluhan, pembinaan Posyandu,
  • 22.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 201316 penyediaan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Pemulihan bagi balita gizi kurang dan ibu hamil Kurang Energi Kronis (KEK). 4. Meningkatkan integrasi pelayanan gizi dan pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) pada ibu hamil berupa pemberian tablet Fe, skrining ibu hamil KEK, dan PMT ibu hamil KEK melalui bimbingan terpadu Gizi dan KIA secara berjenjang. 5. Meningkatkan kapasitas petugas melalui pembinaan dan pelatihan pemantauan pertumbuhan, konseling menyusui, Makanan Pendamping ASI (MP-ASI), Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA), tatalaksana gizi buruk, surveilans gizi, dan program gizi lainnya. 6. Peningkatan surveilans gizi melalui pengembangan sistem jaringan informasi, pelacakan kasus dan respon cepat, serta penyebarluasan informasi. Terkait dengan pemanfaatan dana BOK untuk pembinaan gizi di tingkat puskesmas dan desa di dalam Pedoman Teknis BOK 2013 dituliskan beberapa kegiatan perbaikan gizi yang dapat didanai dari dana BOK sebagai berikut: 1. Upaya Kesehatan Prioritas (MDGs 1, 4, 5, 6 dan 7) a. Pendidikan Gizi (penyuluhan gizi, konseling ASI & MP-ASI dan PMT Penyuluhan), b. Pelayanan Gizi (penimbangan balita di posyandu, sweeping, pemantauan status gizi dan survei), c. PMT Pemulihan Balita Gizi Kurang, d. PMTBumilKEKdanTabletFe(terintegrasidenganpelayanan kesehatan ibu hamil), e. Pemberian vitamin A (terintegrasi dengan pelayanan kesehatan balita). 2. Upaya Kesehatan Lainnya Upaya perbaikan gizi lainnya yang bersifat promotif dan preventif (seperti: pemantauan garam beriodium dan lain-lain).
  • 23.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 2013 17 IV. KEGIATAN PEMBINAAN GIZI 2013 Dalam rangka mewujudkan pencapaian tujuan sasaran kegiatan pembinaan gizi dalam Renstra Kementerian Kesehatan 2010-2014 dan pencapaian 8 (delapan) indikator kinerja gizi, maka akan dilaksanakan beberapa kegiatan pokok yaitu: 1. Pendidikan Gizi dan Pemberdayaan Masyarakat 2. Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia Gizi 3. Suplementasi Gizi dan Alat Penunjang 4. Penanganan Gizi Buruk dan Kurang 5. Penyusunan Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria (NSPK) 6. Surveilans Gizi 7. Dukungan Manajemen Adapun penjelasan secara rinci dari beberapa kegiatan pokok tersebut adalah sebagai berikut: A. Pendidikan Gizi dan Pemberdayaan Masyarakat Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan keterampilan petugas dalam rangka memberikan pelayanan dan penanganan gizi yang berkualitas. Selain itu kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan perilaku masyarakat tentang gizi. 1. Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi adalah upaya meningkatkan partisipasi dan kepedulian pemangku kepentingan secara terencana dan terkoordinasi untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat menerapkan gizi seimbang dalam kehidupan sehari-hari menuju manusia Indonesia prima. Kegiatan Pokok Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi a) Kampanye tingkat Nasional dan Daerah b) Peningkatan kapasitas petugas di tingkat nasional, provinsi
  • 24.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 201318 dan kabupaten/kota dalam rangka perencanaan, koordinasi dan evaluasi sehingga tercipta dialog untuk menggalang dukungan c) Peningkatan pengetahuan gizi kepada ibu hamil, ibu menyusui, ibu balita, anak sekolah, remaja, lanjut usia dan masyarakat umum melalui media poster, leaflet, spanduk, flyer dan baliho. 2. Sosialisasi Pencegahan dan Penanggulangan Stunting Kegiatan sosialisasi ini bertujuan memperoleh pemahaman yang sama tentang penerapan pencegahan dan penanggulangan stunting. Sasaran pesertanya adalah pemangku kepentingan dari dinas kesehatan provinsi, lintas sektor dan lintas program. 3. Akselerasi Perbaikan Gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan Dalam Rangka Pencegahan dan Penanggulangan Stunting Kegiatan akselerasi ini bertujuan mempercepat status gizi dan kesehatan ibu dan anak pada periode 1000 hari yaitu 270 hari selama kehamilannya dan 730 hari pada kehidupan pertama bayi yang dilahirkannya dengan sasaran pemangku kepentingan dari dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota serta lintas sektor dan lintas program. 4. Sosialisasi dan Advokasi Penanggulangan Masalah GAKI Bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan dukungan dari lintas sektor terkait dalam penanggulangan masalah GAKI di tingkat kabupaten. Salah satu output-nya adalah terbentuknya Tim GAKI tingkat Kabupaten. 5. Advokasi Pengembangan Taburia Di 7 (Tujuh) Provinsi Terpilih Bertujuan untuk meningkatkan kepedulian atau dukungan dari penentu kebijakan di daerah terkait pelaksanaan pemberian taburia. Advokasi dilakukan di 7 (Tujuh) provinsi terpilih yaitu Provinsi Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Maluku Utara. 6. Sosialisasi Surveilans Gizi Dan SMS Gateway. Pada tahun 2012 telah dikembangkan aplikasi pelaporan kasus balita gizi buruk dengan SMS gateway. Untuk pelaksanaan aplikasi tersebut akan dilaksanakan sosialisasi, yang bertujuan untuk menyebarkan informasi kegiatan surveilans gizi dan pelaporan
  • 25.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 2013 19 kasus balita gizi buruk dengan SMS gateway. Adapun sasaran dari kegiatan ini adalah pengelola gizi tingkat Pusat, pengelola gizi provinsi dan Perguruan Tinggi/Poltekes. B. Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) Gizi 1. Pelatihan Fasilitator dan Petugas Kegiatan ini bertujuan untuk menyiapkan tenaga kesehatan yang terlatih dan kompeten dalam menyampaikan informasi dan pengetahuan dalam bidang gizi, guna membantu masyarakat dalam meningkatkan status gizi. Kegiatan peningkatan kapasitas pada tahun 2013 yang diselenggarakan adalah : a. Pelatihan Training of Trainer (TOT) Penggunaan Standar Pertumbuhan Balita Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan teknis profesi kesehatan dalam Standar Antropometri penilaian status gizi dengan sasaran petugas kesehatan menggunakan metode pelatihan berbasis kompetensi dengan teknik pembelajaran bagi orang dewasa. b. Peningkatan Kapasitas Fasilitator dalam Tatalaksana Gizi Buruk Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan kompetensi tenaga kesehatan tentang tatalaksana gizi buruk untuk menjadi fasilitator. Peserta pelatihan adalah pengelola gizi provinsi/kabupaten, dokter spesialis anak dan ahli gizi di Rumah Sakit dari masing- masing daerah terpilih. c. TOT Konselor Menyusui Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, ketrampilan dan kompetensi tenaga konselor menyusui untuk menjadi fasilitator. Peserta pelatihan adalah konselor dari Pusat, Provinsi dan Kabupaten terpilih. d. TOT Konselor MP-ASI PelatihankonselorMP-ASIbertujuanuntukmelatihkonselor menjadi fasilitator, sasarannya adalah petugas yang sudah dilatih menjadi konselor MP-ASI dari Provinsi terpilih.
  • 26.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 201320 e. Peningkatan Kapasitas Petugas Kesehatan Tentang Tatalaksana Kretin (GAKI) Adapuntujuankegiataniniuntukmeningkatkanketrampilan tenaga kesehatan dalam tatalaksana kretin di daerah endemik GAKI. Adapun pesertanya adalah pengelola gizi Provinsi dan Kabupaten serta Tim Asuhan Gizi di Puskesmas Terpilih. 2. Pembinaan teknis a. Bimbingan Teknis dan Pendampingan Kegiatan ini bertujuan untuk memonitor pengelolaan kegiatan pembinaan gizi di daerah oleh Tim Pusat secara terpadu. Sasarannya adalah pejabat terkait bidang gizi di Provinsi dan Kabupaten/Kota serta lintas program serta lintas sektor terkait. b. Pembinaan dan Evaluasi Rencana Aksi Pangan dan Gizi Rencana aksi ini bertujuan sebagai panduan dan arahan dalam pelaksanaan pembangunan bidang pangan dan gizi di tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota, baik bagi institusi pemerintah maupun masyarakat dan pihak- pihak lain yang terkait dalam perbaikan pangan dan gizi, Pelaksanaannya akan dilaksanakan secara bertahap mulai dari persiapan penyusunan tools, pembahasan penyusunan tools, dan pelaksanaan pembinaan di daerah dengan metode presentasi, diskusi dan tanya jawab. c. Penguatan Posyandu Dalam Rangka Pencegahan dan Penanggulangan Gizi Kurang dan Gizi Buruk Penguatan posyandu bertujuan untuk memantapkan komitmen kabupaten/kota dalam membina posyandu sebagai sarana deteksi dini, mencegah dan menanggulangi gizi kurang dan gizi buruk. Sasaran dari penguatan posyandu adalah pemangku kepentingan di dinas kesehatan provinsi dan lintas sektor dan program di kabupaten/kota. d. Pembinaan Dan Pendampingan Pengelola Jasa Makanan Bertujuan untuk melakukan bimbingan teknis dalam pengelolaan jasa makanan yang sasarannya adalah pengelola jasa makanan seperti perusahaan catering, pengelola makanan di panti asuhan, pondok pesantren,
  • 27.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 2013 21 lapas dan institusi lain yang melakukan penyelenggaraan makanan. e. Pembinaan Dan Pendampingan Antisipasi Bencana Kegiatan ini bertujuan untuk memantau dan mengevaluasi kegiatanpenanganangizipadasituasibencanayangdilakukan mulai tahap pra bencana, tanggap darurat dan pasca bencana oleh tim antisipasi bencana. Dalam pelaksanaannya berkoordinasi dengan Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan (PPKK). Sasarannya adalah Tim antisipasi bencana tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota. C. Suplementasi Gizi dan Alat Penunjang Dalam rangka pelaksanaan program gizi baik di pusat maupun daerah Direktorat Bina Gizi menyediakan suplemen gizi dan alat penunjang sebagai berikut: 1. Obat Program Gizi Penyediaan obat program gizi di tingkat pusat yang meliputi kapsul vitamin A dosis tinggi, Tablet Tambah Darah (TTD) Fe Folat dan mineral mix disediakan oleh Direktorat Bina Obat Publik dan PerbekalanKesehatanDitjenBinaKefarmasiandanAlatKesehatan berdasarkan usulan dari daerah melalui verifikasi Direktorat Bina Gizi. 2. Taburia Bertujuan untuk menurunkan prevalensi anemia dan kekurangan gizi mikro pada balita dengan sasaran balita usia 6 – 24 bulan dari keluarga miskin (gakin). Kegiatan ini merupakan lanjutan dari tahun sebelumnya yang dilaksanakan di wilayah provinsi NICE. Pada tahun ini penyediaan Taburia dilaksanakan untuk 13 provinsi yang terdiri dari 6 (enam) provinsi NICE dan 7 (tujuh) provinsi pengembangan. 3. Antropometri Kit Tujuan dari penyediaan antropometri kit untuk menunjang pelaksanaan kegiatan surveilans gizi di kabupaten dan kota, melalui penyediaan peralatan antropometri kit. Alokasi distribusi antropometri kit pada 60 kabupaten/kota terpilih.
  • 28.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 201322 4. Pengadaan Alat Test Cepat Garam Beriodium Bertujuan sebagai bahan penunjang pemantauan garam beriodium,untukmengetahuicakupankonsumsigaramberiodium di rumah tangga dengan alokasi meliputi semua kabupaten/kota. 5. MP-ASI Buffer Stock MP-ASI bufferstock bertujuan untuk mencegah/menanggulangi kasus gizi kurang/buruk pada balita umur 6-24 bulan yang terkena bencana (situasi darurat) dan situasi khusus (daerah-daerah rawan gizi). MP-ASI diberikan dalam bentuk ‘Biskuit MP-ASI’ akan didistribusikan ke daerah-daerah bencana dan daerah khusus sesuai permintaan dalam rangka mencegah terjadinya gizi kurang dan gizi buruk pada balita. 6. PMT Bumil KEK Buffer Stock Pemberian Makanan tambahan bagi Ibu hamil Kurang Energi Kronis bertujuan untuk meningkatkan status gizi ibu hamil dengan indikator peningkatan Lingkar Lengan Atas (LiLA) <23,5 cm. PMT diberikan dalam bentuk biskuit lapis (sandwich). Distribusi dilakukan berdasarkan permintaan daerah pada saat bencana/ darurat dan situasi khusus. 7. PMT-Anak Sekolah (PMT-AS) Untuk Provinsi Papua dan Papua Barat Pemberian Makanan Tambahan bagi Anak Sekolah ditujukan untuk meningkatkan asupan gizi anak sekolah berupa ‘Biskuit Sekolah’, yang merupakan kelanjutan dari PMT-AS tahun sebelumnya. Lokasi distribusi di wilayah Provinsi Papua dan Papua Barat (masing-masing 3 (tiga) kabupaten/kota) 8. Kit Konseling Menyusui Kit Konseling menyusui diadakan dengan tujuan untuk memfasilitasi konselor dalam melakukan konseling menyusui. Sarana ini diberikan pada petugas yang telah dilatih sebagai konselor. 9. Penyediaan CD Software NutriClin Bertujuan untuk menyediakan Software Nutriclin dalam bentuk compact disk (CD) yang telah disempurnakan (update). CD software ini akan didistribusikan kepada tenaga yang sudah dilatih.
  • 29.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 2013 23 10. Food Model Tujuan pengadaan food model adalah sebagai alat bantu visualisasi bahan makanan yang dianjurkan pada saat konseling gizi. Food model didistribusikan ke seluruh provinsi. 11. Buku Pedoman dan Materi KIE Gizi Pengadaan buku pedoman meliputi bidang gizi makro, gizi mikro, gizi klinik, konsumsi makanan dan kewaspadaan gizi yang bertujuan untuk memberikan bahan acuan kepada pengelola program gizi di daerah. Materi KIE gizi terdiri dari leaflet, booklet, poster dan lain-lain yang terkait dengan kegiatan pembinaan gizi. Buku pedoman dan materi KIE gizi akan didistribusikan ke seluruh provinsi. D. Tatalaksana Gizi Buruk dan Penanganan Gizi Kurang Kasus gizi buruk dan gizi kurang dapat diketahui dari hasil penimbangan anak balita di posyandu, pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan, laporan masyarakat dan skrining aktif. Bila ditemukan anak dengan LiLA <12.5 cm, berdasarkan hasil penimbangan berat badan dua kali tidak naik (2T), dan berat badan pada kartu menuju sehat (KMS) berada di bawah garis merah (BGM), perlu dilakukan pengukuran antropometri dan pemeriksaan tanda klinis serta penyakit penyerta ataupun komplikasi medis. Berdasarkan hasil pemeriksaan lanjut bila balita ditemukan tampak sangat kurus, berat badan menurut panjang badan (BB/PB) atau berat badan menurut tinggi badan (BB/TB)-nya <-3SD, LiLA <11,5 cm disertai dengan salah satu atau lebih tanda komplikasi medis seperti anoreksia, dehidrasi berat, pneumonia berat, anemia berat harus dirawat inap. Perawatananakgiziburukrawatinapdilakukandenganmemperhatikan tahap stabilisasi, transisi, rehabilitasi dan tindak lanjut. Pelaksanaannya memperhatikan 10 langkah diawali dengan mengatasi hipoglikemia, hipotermia, dehidrasi dilanjutkan dengan pemberian makanan dan mikronutrien sampai dengan memberikan makanan untuk tumbuh kejar, simulasi dan persiapan tindak lanjut di rumah. Anak gizi buruk tanpa komplikasi medis dapat dilakukan perawatan secara rawat jalan. Seorang anak gizi buruk dikatakan sembuh dengan kriteria BB/TB atau BB/PB-nya >- 2SD dan tidak ada gejala klinis.
  • 30.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 201324 Untuk anak gizi buruk yang telah membaik berada dalam tahap pemulihan pasca perawatan gizi buruk atau balita gizi kurang mendapatkan Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan (PMT-P) yang dapat diberikan dengan dana BOK. E. Penyusunan Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria (NSPK) Penyusunan NSPK dimaksudkan untuk memberikan acuan dan dukungankegiatanuntukmemperlancarpelaksanaanupayapembinaan gizi masyarakat. NSPK yang disusun pada tahun 2013 adalah: 1. Petunjuk Teknis Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi Juknis ini bertujuan meningkatkan kesadaran gizi masyarakat Indonesia melalui pengembangan dan pengaktifan norma-norma sosial yang mendukung perilaku gizi seimbang dalam kehidupan sehari-hari menuju manusia Indonesia prima. Penyusunan buku ini melibatkan lintas sektor dan lintas program terkait. 2. Penyusunan Model Intervensi Pencegahan Stunting Kegiatan ini bertujuan mengetahui faktor penyebab stunting yang tepat selanjutnya dirumuskan cara pencegahan dan penanggulangannya. Kegiatan ini dilakukan melalui survei yang salah satu output-nya adanya rekomendasi model intervensi pencegahan stunting. 3. Pedoman Gizi Haji Pedoman gizi haji diperlukan sebagai acuan petugas kesehatan dan petugas gizi dalam memberikan pelayanan gizi bagi jemaah haji baik berupa penyelenggaraan makanan maupun konseling gizi. Penyusunan buku ini melibatkan lintas program, lintas sektor danpetugasyangmempunyaipengalamansebagaipenyelenggara kesehatan haji. 4. Penyusunan Pedoman Pelayanan Gizi Pada TBC Gizi merupakan faktor yang sangat penting guna membantu mencegah dan mengobati berbagai macam penyakit infeksi, termasuk TBC. Kegiatan ini bertujuan menyusun buku pedoman pelayanan gizi kepada penderita TBC. Penyusunan pedoman ini melibatkan organisasi profesi, praktisi, akademisi, lintas program dan lintas sektor terkait.
  • 31.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 2013 25 5. Pedoman Gizi Olahraga Buku Pedoman Gizi Olahraga memberikan informasi tentang gizi yang cocok bagi atlet setiap cabang olahraga, daya tahan dan pencegahan cedera saat olahraga. Buku ini diharapkan dapat menjadi panduan bagi atlet dan petugas gizi dan pihak lain terkait dalam meningkatkan status gizi untuk mencapai prestasi yang optimal. Penyusunan buku ini melibatkan praktisi olahraga dan gizi serta petugas kesehatan di daerah yang pernah melaksanakan event olahraga nasional dan/atau internasional. 6. Pedoman Asuhan Gizi Terstandar Asuhan gizi memegang peranan penting dalam penyembuhan pasien yang sejajar dengan asuhan medik, asuhan keperawatan dan asuhan farmasi. Buku pedoman ini disusun untuk menjamin proses di atas berjalan sesuai standar sehingga menjamin keselamatan pasien. Penyusunan buku ini melibatkan organisasi profesi, praktisi, akademisi, lintas program dan lintas sektor terkait. 7. Pengembangan Manual Monitoring dan Evaluasi Program Gizi Pengembangan manual bertujuan memberikan acuan kepada petugas di Direktorat Bina Gizi dalam berintegrasi dan melaksanakan langkah-langkah kegiatan dan pembagian tugas monitoring evaluasi (monev) antarsubdit dan antarprogram di Kementerian Kesehatan. Pertemuan melibatkan pengelola program gizi dan lintas program. 8. Modul Pelatihan Tatalaksana Kretin Bertujuan agar tersedianya modul pelatihan tata laksana kretin bagi fasilitator dalam rangka pelaksanaan pelatihan tatalaksana kretin. Penyusunan melibatkan lintas program, lintas sektor dan praktisi. 9. Draft Permenkes Tentang Spesifikasi Kapsul Vitamin A Bertujuan adanya standar spesifikasi kapsul vitamin A dan bentuk kapsul vitamin A agar penyediaan kapsul vitamin A di daerah sesuai standar yang telah ditentukan. Penyusunan melibatkan lintas program, lintas sektor, akademisi dan pakar. 10. Buku Saku Deteksi Dini Masalah Gizi Mikro Buku saku deteksi dini masalah gizi mikro dimaksudkan sebagai
  • 32.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 201326 acuan bagi petugas gizi puskesmas. Buku saku ini memuat tentang cara mendeteksi sedini mungkin masalah gizi mikro yaitu Kurang Vitamin A, Anemia Gizi Besi, Gangguan Akibat Kurang Iodium, dan masalah gizi mikro lainnya. Penyusunan melibatkan lintas program, lintas sektor, akademisi dan pakar. Selain menyusun beberapa NSPK terbaru, juga dilakukan review (update) beberapa buku pedoman, antara lain Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas, Pedoman Sistem Kewaspadaan Gizi, Pedoman Pemberian TTD Ibu Hamil, Software Nutriclin dan menyusun beberapa jurnal, lembar berita dan media KIE. F. Surveilans Gizi Tujuan penyelenggaraan surveilans gizi adalah membantu pengelolaan program pangan dan gizi di tingkat kabupaten dan kota melalui penyediaan informasi yang cepat dan akurat untuk digunakan dalam penentuan kebijakan dan perencanaan serta pelaksanaan kegiatan. Kegiatan surveilans meliputi pengumpulan, pengolahan dan diseminasi informasi hasil pengolahan data secara cepat, akurat, teratur dan berkelanjutan khususnya indikator yang terkait dengan kinerja pembinaan gizi masyarakat. Pada tahun 2013 akan terus dilakukan upaya peningkatan kualitas kegiatan surveilans, tidak hanya pada kegiatan pelaporan, namun ditindaklanjuti dengan kegiatan pengolahan, analisis dan pengkajian data serta penyebarluasan informasi. Pelaporan secara online melalui website http://www.gizi.depkes.go.id/sigizi adalah bentuk fasilitas yang disediakan agar pelaporan dari kabupaten dan kota dapat dilakukan dengan cepat, akurat, lengkap teratur dan berkelanjutan, sehingga prioritas pembinaan teknis dalam hal penanggulangan masalah gizi dapat dipetakan. Selain itu sosialisasi pemanfaatan SMS Gateway untuk pelaporan cepat adanya kasus gizi buruk yang perlu segera ditindaklanjuti penanganannya di suatu wilayah, sudah dimulai pada tahun 2012 dan akan ditingkatkan pada tahun 2013. G. Dukungan Manajemen Dukungan manajemen diperlukan untuk memfasilitasi dan memperlancar proses upaya kegiatan pembinaan gizi tahun 2013 yang dimulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi kegiatan. Kegiatan dukungan manajemen tersebut antara lain:
  • 33.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 2013 27 1. Administrasi Kegiatan Pembinaan Gizi Masyarakat Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi serta operasional kegiatan pembinaan gizi masyarakat, Direktorat Bina Gizi memerlukan dukungan operasional dalam bentuk administrasi kegiatan untuk memperlancar pelaksanaan tugas dan fungsi tersebut. Kegiatan ini meliputi antara lain untuk honorarium pengelola kegiatan dan belanja perkantoran serta fasilitas pendukung perkantoran. 2. Perencanaan Pembinaan Gizi Masyarakat Kegiatan ini bertujuan untuk menyusun perencanaan kegiatan pembinaan gizi masyarakat tahun 2014 baik di tingkat pusat maupun di tingkat provinsi. Rincian kegiatannya meliputi Konsolidasi Perencanaan Tingkat Pusat Tahun Anggaran 2014, Reformulasi Perencanaan, Persiapan Pembahasan dan Penelaahan Anggaran, Penyusunan Rencana Kerja Pembinaan Gizi serta Pemantapan Rencana Aksi Pembinaan Gizi. Kegiatan ini melibatkan tim perencana tingkat pusat dan daerah, praktisi, akademisi serta lintas program dan lintas sektor. 3. Rapat Koordinasi Lintas Program dan Lintas Sektor Dalam rangka mengetahui perkembangan dan kemajuan pelaksanaan kegiatan pembinaan gizi serta merespon perkembangan terkini dan isu-isu aktual yang berkembang diperlukan kegiatan rapat-rapat koordinasi baik lintas program dan lintas sektor sebagai wadah monitoring dan evaluasi kegiatan gizi. Rincian kegiatannya antara lain Rapat Koordinasi Pembinaan Gizi, Pertemuan Konsolidasi Tim Pembinaan Gizi Masyarakat, Rapat Koordinasi Perencanaan Pembinaan Gizi Masyarakat dan Workshop Cakupan Indikator Pembinaan Gizi. 4. Laporan Pencapaian Kinerja Pembinaan Gizi Masyarakat Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pencapaian kinerja pelaksanaan kegiatan pembinaan gizi dari aspek keuangan maupun pencapaian indikator kegiatan gizi. Kegiatannya meliputi Penyusunan Laporan Keuangan dan Laporan PP 39, Penyusunan Laporan Akuntabilitas dan Kinerja Pemerintah (LAKIP) serta Laporan Tahunan (LAPTAH) TA 2013. Kegiatan ini melibatkan lintas subdit di Direktorat Bina Gizi dan lintas program di Kementerian Kesehatan.
  • 34.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 201328 5. Dukungan Narasumber Pembinaan Gizi Masyarakat Dukungan narasumber pembinaan gizi bagi narasumber dan fasilitatorpusatkedaerahbertujuanuntukmemberikandukungan, mengendalikan dan memfasilitasi pelaksanaan kegiatan pelatihan teknis pembinaan gizi masyarakat maupun kegiatan koordinasi antara pusat dan daerah. 6. Pendampingan Perencanaan, Sistem Aplikasi Informasi (SAI) dan Sistem Aplikasi Barang Milik Negara (SABMN) Kegiatan pendampingan perencanaan bertujuan untuk menyamakan persepsi dengan daerah tentang kegiatan-kegiatan yang relevan dilakukan tahun anggaran 2014 sesuai komponen dasar perencanaan yang tergambar dalam draft awal RKA- KL serta mempertajam perencanaan dan mengikuti alokasi anggaran untuk masing-masing provinsi. Kegiatan ini terintegrasi dengan kegiatan penyusunan laporan keuangan dekonsentrasi pembinaan gizi dan inventarisasi sarana program pembinaan gizi dimana penyusunan laporan ini diperlukan karena daerah harus mempertanggungjawabkan dana pembinaan gizi di daerah bukan hanya kepada Ditjen Bina Gizi dan KIA, tetapi juga kepada Direktorat Bina Gizi sebagai unit teknis.
  • 35.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 2013 29 V. MONITORING DAN EVALUASI Pelaksanaan program perbaikan gizi perlu dipantau dan dievaluasi serta dikendalikan apakah program telah dilaksanakan sesuai rencana. Informasi pencapaian program diperoleh dari kegiatan surveilans gizi Dinas Kesehatan kabupaten dan kota yang dikirimkan melalui Sistem Informasi Gizi (SIGIZI). Sedangkan untuk pelaporan kasus balita gizi buruk dikirimkan oleh petugas puskesmas dengan SMS-gateway. Untuk kelancaran pelaporan dimaksud diharapkan pengiriman laporan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan yaitu: 1. Puskesmas ke kabupaten dan kota paling lambat tanggal 5 setiap bulannya 2. Kabupaten dan kota ke provinsi dan pusat paling lambat tanggal 10 setiap bulannya. Selanjutnya data yang dikirim akan diklarifikasi akurasi dan kelengkapan datanya, kemudian diolah dan dianalisa berdasarkan wilayah dan waktu oleh Tim Monev pusat. Tim Monev selanjutnya melakukan kajian laporan kegiatan pembinaan gizi dan mengidentifikasi masalah dan analisis penyebab untuk menentukan prioritas wilayah (provinsi, kabupaten/kota) untuk merencanakan dan melaksanakan tindakan korektif bersama dengan tim wilayah yang akan dibina. Selanjutnya Tim pusat akan memantau secara terus menerus apakah kegiatan perbaikan di daerah tersebut sudah dilaksanakan sesuaidengankesepakatan.Untukmeningkatkanefektifitaskegiatanprogram perbaikan gizi data dan informasi tersebut diharapkan dapat didesiminasikan ke lintas program dan sektor terkait baik di pusat dan daerah.
  • 36.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 201330 VI. PENUTUP Buku Rencana Kerja 2013 ini merupakan acuan bagi pelaksana kegiatan pembinaan gizi di tingkat Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota agar dapat menyamakan persepsi dan pemahaman tentang pembinaan gizi masyarakat ditahun2013.Bukuinidiharapkandapatmenjadireferensidalammendukung percepatan tercapainya target indikator pembinaan gizi di berbagai jenjang administrasi secara sinergis dan berkesinambungan. Kegiatan pembinaan gizi dapat terlaksana dengan dukungan sumber daya tenaga dan anggaran yang terencana dengan baik pada semua tingkat. Buku Rencana Kerja 2013 ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu diharapkan adanya masukan yang bermanfaat dari berbagai pihak demi kesempurnaan buku ini.
  • 37.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 2013 31 LAMPIRAN KOMPOSISI SUPLEMENTASI GIZI: 1. Tablet Tambah Darah: Tiap Tablet salut selaput mengandung: Ferro Sulfat Eksikatus 200 mg (Setara dengan Fe elemen 60 mg) Asam Folat 0.25 mg 2. Kapsul Vitamin A: Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 33 LAMPIRAN KOMPOSISI SUPLEMENTASI GIZI: 1. Tablet Tambah Darah: Tiap Tablet salut selaput mengandung: Ferro Sulfat Eksikatus 200 mg (Setara dengan Fe elemen 60 mg) Asam Folat 0.25 mg 2. Kapsul Vitamin A: VITAMIN A BIRU Tiap kapsul mengandung: Vitamin A Palmitat 1,7 juta IU 64,7059 mg (Setara dengan Vitamin A 100.000 IU) VITAMIN A MERAH Tiap kapsul mengandung: Vitamin A Palmitat 1,7 juta IU 129,529 mg (Setara dengan Vitamin A 200.000 IU)
  • 38.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 201332 3. Bubuk Tabur Gizi “TABURIA”: Tiap 1 gram bubuk TABURIA mengandung: 4. Garam Beriodium Garam beriodium adalah garam yang mengandung iodium (KIO3) 30 ppm sesuai dengan SNI Garam beriodium nomor SNI 3556:2010
  • 39.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 2013 33 KOMPOSISI PMT : 1. PMT Bumil KEK : Zat Gizi yang dikandung makanan tambahan dihitung dalam 100 gram produk (Per Saji). Komposisi Gizi dalam 100 gram Produk (Per Saji) No Zat Gizi Satuan Kadar 1 Energi kkal min 500 2 g min 15 3 Lemak (kadar asam linoleat minimal 300 mg per 100 kkal atau 1,5 gram per 100 gram produk) g min 25 4 Karbohidrat: Sukrosa g 15 – 17 Serat g min 5 5 Vitamin A mcg min 800 6 Vitamin D mcg min 5 7 Vitamin E mg min 15 8 Thiamin mg min 1,3 9 Riboflavin mg min 1,4 10 Niasin mg min 18 11 Vitamin B12 mcg min 2,6 12 Asam folat mcg min 600 13 Vitamin B6 mg min 1,7 14 Asam Pantotenat mg min 7 15 Vitamin C mg min 85 16 Besi (as ferro fumarat) mg maks 15 17 Kalsium (as Ca laktat) mg min 250 18 Natrium mg maks 500 19 Seng mg maks 7,5 20 Iodium mcg mini 100 21 Fosfor mg maks 208 22 Selenium mcg min 35 23 Fluor mg min 2,7 24 Air % maks 5 Protein (kualitas protein tidak kurang dari 65% kasein standar)
  • 40.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 201334 2. MP-ASI Zat gizi yang terkandung dalam 100 gram produk harus memenuhi persyaratan mutu sebagai berikut: Komposisi Gizi dalam 100 gram Produk (per saji)
  • 41.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 2013 35 3. PMT-AS Zat Gizi yang dikandung makanan tambahan dihitung dalam 60 gram produk (per saji). Komposisi Gizi dalam 60 gram (per saji) Zat Gizi Satuan Kadar Energi kkal minimum 300 Protein (kualitas protein tidak kurang dari 65% kasein standar) g minimum 6 Lemak (kadar asam linoleat minimal 300 mg per 100kkal atau 900 mg per 60 gram produk) g maksimum 13 Karbohidrat: 4.1. Sukrosa g maksimum 15 4.2. Serat g maksimum 5 Vitamin A mcg minimum 600 Vitamin D mcg minimum 5 Vitamin E mg minimum 11 Thiamin mg minimum 1,0 Riboflavin mg minimum 1,0 Niasin mg minimum 12 Vitamin B12 mcg minimum 1,2 Asam folat mcg minimum 300 Vitamin B6 mg minimum 0,6 Asam Pantotenat mg minimum 3 Vitamin C mg minimum 15 Besi (as ferro fumarat) mg minimum 13 Kalsium (as Ca laktat) mg minimum 250 Natrium mg maksimum 500 Seng mg maksimum 11 Iodium mcg minimum 100 Fosfor mg 125-208 Selenium mcg minimum 20 Air % maksimum 5
  • 42.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 201336 DAFTAR BUKU RUJUKAN UTAMA PEMBINAAN GIZI MASYARAKAT 1. Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2011-2015 2. Bagan dan Petunjuk Teknis Tatalaksana Anak Gizi Buruk (Buku I dan II) 3. Pedoman Training of Trainer (TOT) Tatalaksana Anak Gizi Buruk 4. Pedoman Pelayanan Anak Gizi Buruk 5. Modul Pelatihan Pemantauan Pertumbuhan Anak 6. Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak 7. Pedoman Kader Posyandu 8. Angka Kecukupan Gizi yang dianjurkan bagi Bangsa Indonesia 9. Pedoman Penanggulangan Gizi Lebih bagi Anak Sekolah 10. Strategi Nasional Penerapan Pola Konsumsi Makanan dan Aktivitas Fisik 11. Pedoman Pelaksanaan Penanganan Gizi dalam Situasi Darurat 12. Petunjuk dan Pelaksanaan Surveilans Gizi Khusus 13. Panduan Penyelenggaraan Pelatihan Konseling Menyusui 14. Panduan Peserta Pelatihan Konseling Menyusui 15. Panduan Fasilitator Pelatihan Konseling Menyusui 16. Pedoman Peserta Pelatihan Konseling MP-ASI 17. Pedoman Pelatih Pelatihan Konseling MP-ASI 18. Penyelenggaraan Pelatihan Konseling MP-ASI 19. Pemberian Air Susu Ibu dan Makanan Pendamping ASI 20. Buku Saku Inisiasi Menyusu Dini 21. Panduan Penyelenggaraan Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan bagi Balita Gizi Kurang (BOK) 22. Jurnal GAKI 23. Pedoman Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) Konsumsi Garam Beryodium untuk Semua (KGBS) di Rumah Tangga 24. Panduan Manajemen Suplementasi Vitamin A 25. Apa dan Mengapa tentang Vitamin A. 26. Apa dan Mengapa tentang Taburia Panduan Praktis bagi Kader 27. Pedoman penanggulangan Anemia Gizi untuk Remaja Putri dan Wanita Usia Subur 28. Gerakan Nasional Sadar Gizi Menuju Manusia Indonesia Prima 29. Pedoman Pelayanan Gizi Rumah Sakit 30. Permenkes tentang Penggunaan KMS bagi Balita
  • 43.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 2013 37
  • 44.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 201338
  • 45.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 2013 39 Jumlah Penduduk*) (SemuaUmur) Bayi(0 Tahun) Batita(0-2 Tahun) AnakBalita (1-4Tahun) Balita(0-4 Tahun) IbuHamil (1,10xlahir hidup) IbuNifas (1,05xlahir hidup) Puskesmas Perawatan Puskesmas Non Perawatan Total 1Aceh4.671.87498.603307.478413.040511.643110.644105.6151441863307.03951 2SumateraUtara13.391.231292.492884.4881.200.1981.492.686335.046319.81715739855513.861174 3SumateraBarat5.035.311103.752308.133417.607521.355118.847113.445891712606.68059 4Riau6.143.674136.971425.790577.664714.637155.281148.223631442074.67953 5Jambi3.329.88767.479206.383278.231345.71076.50073.023621141762.99227 6SumateraSelatan7.857.437157.556482.310649.050806.606180.479172.2751062113175.77542 7Bengkulu1.799.66836.172108.772147.635183.80741.43539.552431351781.81818 8Lampung7.880.769155.670462.802607.416763.080178.318170.213692072767.48046 9KepulauanBangkaBelitung1.339.77427.84783.842111.804139.65131.56930.13420406094813 10KepulauanRiau1.937.57747.088142.040184.290231.37653.38350.95726436985925 11DaerahKhususIbukotaJakarta10.001.943171.333519.997690.253861.581192.255183.516522883404.241142 12JawaBarat45.472.830838.2952.554.1833.504.4734.342.772950.358907.160220826104645.632243 13JawaTengah32.684.579552.6021.641.5462.177.2022.729.781620.078591.89326860587347.763247 14DaerahIstimewaYogyakarta3.560.08053.215160.797210.644263.85759.71356.99942791215.35966 15JawaTimur38.268.825570.7621.746.0692.405.5772.976.344640.456611.34444151996045.637286 16Banten11.523.018214.189666.359921.2481.135.443245.351234.1995617222810.18473 17Bali4.139.69067.646211.851287.577355.22475.90672.45629891184.71954 18NusaTenggaraBarat4.651.64899.049288.700391.161490.206113.460108.30384731576.13321 19NusaTenggaraTimur4.971.802118.475364.861511.891630.371135.712129.5431282213495.79242 20KalimantanBarat4.508.96887.691272.279375.036462.730100.44995.883961412374.05738 21KalimantanTengah2.328.82344.602142.385199.872244.47750.04847.773701201902.26216 22KalimantanSelatan3.840.54776.158226.240300.328376.48187.23883.273491772263.69229 23KalimantanTimur3.967.79385.491262.442350.226435.71795.93091.570941232174.45550 24SulawesiUtara2.354.66840.072122.468169.008209.08245.42843.36388891772.36135 25SulawesiTengah2.787.16456.441176.305248.957305.40164.65361.714721041763.15425 26SulawesiSelatan8.305.154159.135480.367656.298815.432182.287174.0012252004259.15176 27SulawesiTenggara2.370.54955.502166.751228.746284.24863.57760.687741842582.78323 28Gorontalo1.110.29421.83166.78291.768113.59925.00723.8702364871.22811 29SulawesiBarat1.252.07127.62585.671121.107148.73331.64430.2063556911.4418 30Maluku1.662.96537.829118.277165.037202.86843.33341.363611171781.63426 31MalukuUtara1.114.91724.66578.704111.864136.53128.25326.96928911191.31817 32PapuaBarat846.71119.84161.87184.231104.07122.72721.69439891281.12213 33Papua3.310.71550.458193.076314.700365.17657.20354.603992823812.19034 Indonesia248.422.9564.596.53714.020.01919.104.13923.700.6765.212.5684.975.6363.1526.3589.510268.4392.083 Sumber: ESTIMASIPENDUDUKSASARANPROGRAMPEMBANGUNANKESEHATANTAHUN2013 NoProvinsi ***)PusatPromosiKesehatan,KemenkesRITahun2011 *)PusatDatadanInformasi,KemenkesRITahun2013 **)PusatDatadanInformasi,KemenkesRITahun2012 JumlahSasaran*)Puskesmas**) Posyandu ***) Rumah Sakit**)
  • 46.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 201340 RESUME KEGIATAN DIREKTORAT BINA GIZI TAHUN 2013 A 1. 2. 3. 4. 5. 6. B 1. a. Pelatihan TOT Penggunaan Standar Pertumbuhan Balita b. Peningkatan Kapasitas Fasilitator dalam Tatalaksana Gizi Buruk c. TOT Konselor Menyusui d. TOT Konselor MP-ASI e. Peningkatan Kapasitas Petugas Kesehatan Tentang Tatalaksana Kretin 2. a. Bimbingan Teknis dan Pendampingan b. Pembinaan Dan Evaluasi Rencana Aksi Pangan Dan Gizi c. Penguatan Posyandu Dalam Rangka Pencegahan dan Penanggulangan Gizi Kurang dan Gizi Buruk d. Pembinaan dan Pendampingan Pengelola Jasa Makanan e. Pembinaan dan Pendampingan Antisipasi Bencana C 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. D E 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. F G 1. 2. 3. 4. 5. 6. Dukungan Narasumber Pembinaan Gizi Masyarakat Pendampingan Perencanaan, SAI dan SABMN Kegiatan Surveilans Gizi Dukungan Manajemen Administrasi Kegiatan Pembinaan Gizi Masyarakat Perencanaan Pembinaan Gizi Masyarakat Rapat Koordinasi Lintas Program dan Lintas Sektor Laporan Pencapaian Kinerja Pembinaan Gizi Masyarakat Draft Permenkes tentang Spesifikasi Kapsul Vitamin A Buku Saku Deteksi Dini Masalah Gizi Mikro Pedoman Pelayanan Gizi di Puskesmas Pedoman Sistem Kewaspadaan Gizi Pedoman Pemberian TTD Ibu Hamil Software Nutriclin Pedoman Gizi Haji Penyusunan Pedoman Pelayanan Gizi Pada TBC Pedoman Gizi Olahraga Pedoman Asuhan Gizi Terstandar Pengembangan Manual Monev Program Gizi Modul Pelatihan Tatalaksana Kretin Penyediaan CD Software Nutriclin Food Model Buku Pedoman dan Materi KIE Gizi Tatalaksana Gizi Buruk dan Penanganan Gizi Kurang Penyusunan Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria (NSPK) Petunjuk Teknis Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi Antropometri Kit Pengadaan Alat Test Cepat Garam Beriodium MP-ASI Buffer Stock PMT Bumil KEK Buffer Stock PMT-Anak Sekolah (PMT-AS) untuk Provinsi Papua dan Papua Barat Kit Konseling Menyusui Pelatihan Fasilitator dan Petugas Pembinaan Teknis Suplementasi Gizi dan Alat Penunjang Obat Program Gizi Taburia Penyusunan Model Intervensi Pencegahan Stunting Sosialisasi Pencegahan dan Penanggulangan Stunting Akselerasi Perbaikan Gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan dalam Rangka Pencegahan dan Penanggulangan Stunting Sosialisasi dan Advokasi Penanggulangan Masalah GAKI Advokasi Pengembangan Taburia di 7 (Tujuh) Provinsi Terpilih Sosialisasi Surveilans Gizi dan SMS Gateway Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) Gizi RESUME KEGIATAN DIREKTORAT BINA GIZI TAHUN 2013 No Pendidikan Gizi dan Pemberdayaan Masyarakat Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi
  • 47.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 2013 41 Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 41 NoPropinsiKabupaten/Kota Prevalensi Kurus JmlPuskJmlSD3) Sasaran (Anak)3) Lama Pemberian (Minggu) Beratper pemberian (gr) Frekuensi per Minggu Jumlah pemberia n(kg) UnitCost (Rp)4) JumlahBiaya (Rp) 12345678910111213 APapua 1Kab.BiakNumfor12,716222.0301260463.44660.0003.806.760.000 2Kab.Keerom7,97311.4381260432.94260.0001.976.520.000 3KotaJayapura11,19742.11812604121.30060.0007.278.000.000 SubTotalPapua33275.586217.68813.061.280.000 BPapuaBarat 1Kab.Manokwari8,122926.7221260476.95960.0004.617.540.000 2Kab.TelukBintuni11,97110.5411260430.35860.0001.821.480.000 3KotaSorong7,88134.75112604100.08360.0006.004.980.000 SubTotal38172.014207.40012.444.000.000 -0713147.600425.08825.505.280.000 Keterangan 2DatasekolahdiambildariDataDiknas2011(http/Dapodik.org) RENCANADISTRIBUSIPMT-ASPAPUADANPAPUABARATTAHUN2013 Jumlah
  • 48.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 201342 Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 42 1 Sumatera Utara 1 Mandailing Natal 964.200 2 Tapanuli Tengah 747.360 3 Dairi 661.260 4 Kota Medan 5.007.900 2 Sumatera Selatan 1 Ogan Komirin Ilir 1.746.240 2 Lahat 920.520 3 Musi Rawas 1.288.839 4 Kota Palembang 3.499.920 1 Landak 852.720 2 Ketapang 1.026.180 3 Sintang 870.180 4 Kota Pontianak 1.360.589 4 Nusa Tenggara Barat (NTB) 1 Lombok Barat 1.440.720 2 Lombok Tengah 2.109.667 3 Lombok Timur 2.641.260 4 Kota Mataram 960.720 5 Nusa Tenggara Timur (NTT) 1 Sumba Barat 272.229 2 Kabupaten Kupang 746.915 3 Timor Tengah Utara 591.240 4 Kota Kupang 824.659 6 Sulawesi Selatan 1 Jeneponto 855.000 2 Maros 780.720 3 Pangkajene Kepulauan 749.819 4 Kota Makassar 3.214.020 7 Lampung 1 Lampung Utara 1.410.000 2 Tulang Bawang 87.756 3 Way Kanan 84.975 4 Tenggamus 86.520 8 Jawa Barat 1 Kota Tasikmalaya 1.558.472 2 Sumedang 2.565.318 3 Tasikmalaya 2.954.597 4 Cianjur 4.191.276 9 Sulawesi Tenggara 1 Kab Wakatubi 541.938 10 Kalimantan Timur 1 Kota Samarinda 1.515.521 11 Jawa Tengah 1 Rembang 933.056 2 Brebes 1.264.737 3 Karanganyar 1.347.116 4 Blora 734.060 12 Sulteng 1 Donggala 630.720 2 Sigi 375.000 13 Maluku Utara 1 Ternate 132.060 JUMLAH 54.546.000 ALOKASI DISTRIBUSI TABURIA TAHUN 2013 No. PROVINSI/KABUPATEN-KOTA TABURIA (saset)
  • 49.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 2013 43 Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 43 Stok Provinsi Stok Kab Jumlah 1 Aceh 23 6.429 33 804 837 2 Sumatera Utara 33 5.687 33 711 744 3 Sumatera Barat 19 1.014 33 127 160 4 Riau 12 1.629 33 204 237 5 Jambi 11 1.406 33 176 209 6 Sumatera Selatan 16 3.126 33 391 424 7 Bengkulu 10 1.448 33 181 214 8 Lampung 15 2.423 33 303 336 9 Kepulauan Babel 7 361 29 46 75 10 Kepulauan Riau 7 351 21 44 65 11 DKI Jakarta 6 267 26 34 60 12 Jawa Barat 27 5.863 33 733 766 13 Jawa Tengah 35 8.589 33 1.074 1.107 14 DI Yogyakarta 5 438 21 55 76 15 Jawa Timur 38 8.523 33 1.066 1.099 16 Banten 8 1.535 33 192 225 17 Bali 9 714 33 90 123 18 NTB 10 962 33 121 154 19 NTT 22 2.925 33 366 399 20 Kalimantan Barat 14 1.958 33 245 278 21 Kalimantan Tengah 14 1.469 33 184 217 22 Kalimantan Selatan 13 1.984 33 248 281 23 Kalimantan Timur 10 1.460 33 183 216 24 Sulawesi Utara 15 1.634 33 205 238 25 Sulawesi Tengah 12 1.740 33 218 251 26 Sulawesi Selatan 24 2.955 33 370 403 27 Sulawesi Tenggara 13 1.971 33 247 280 28 Gorontalo 6 700 33 88 121 29 Sulawesi Barat 6 570 33 72 105 30 Maluku 11 902 33 113 146 31 Maluku Utara 10 1.062 33 133 166 32 Papua 29 3.997 33 500 533 33 Papua Barat 13 1.373 33 172 205 34 Stok Pusat 450 Total 503 77.465 1.504 9.696 11.200 • 1 set TPG Kit berisi 8 botol alat tes cepat garam beriodium, • Setiap desa mendapat 1 botol alat tes cepat garam beriodium No. Provinsi Jumlah Kab/Kota Jumlah Desa/ Kelurahan Alokasi Alat Tes Cepat Garam Beriodium (set) RENCANA DISTRIBUSI Alat Tes Cepat Garam Beriodium (TPG KIT) TAHUN 2013
  • 50.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 201344 LAPORAN PENCAPAIAN INDIKATOR KINERJA PEMBINAAN GIZI MASYARAKAT TAHUN 2012 Jumlah Balita Gizi Buruk yang Ditemuan dan Mendapat Perawatan Balita 0-59 Bulan ditimbang Berat Badannya (D/S) Ibu Hamil Mendapat 90 TTD Vitamin A balita 6-59 Bulan RT Mengonsumsi Garam Beriodium ASI Eksklusif Bayi 0-6 Bulan 1 Aceh 617 66,6 82,3 87,8 75,2 38,0 2 Sumatera Utara 670 75,8 78,3 78,0 97,1 32,2 3 Sumatera Barat 539 72,9 71,6 85,2 93,2 61,2 4 Riau 65 60,7 86,4 78,7 83,0 45,6 5 Jambi 122 74,4 89,8 85,4 99,1 48,7 6 Sumatera Selatan 178 74,5 88,8 80,8 97,9 57,7 7 Bengkulu 151 69,2 85,0 85,6 96,7 66,0 8 Lampung 202 74,9 80,6 81,8 93,1 57,2 9 Kep. Bangka Belitung 133 60,9 92,3 83,2 40,6 10 Kepulauan Riau 284 59,7 71,2 70,2 97,6 37,3 11 DKI Jakarta 1.147 53,3 101,9 77,0 87,1 59,0 12 Jawa Barat 6.762 83,6 89,3 84,6 94,2 34,4 13 Jawa Tengah 2.972 82,1 91,1 98,4 86,0 42,7 14 DI Yogyakarta 451 79,0 89,6 99,1 97,3 58,2 15 Jawa Timur 10.848 87,8 83,8 80,7 93,5 64,5 16 Banten 5.063 68,8 87,2 71,6 81,3 47,9 17 Bali 79 81,7 92,7 96,2 74,6 66,9 18 Nusa Tenggara Barat 556 79,6 84,3 96,5 69,8 19 Nusa Tenggara Timur 3.594 78,6 72,0 84,8 67,2 59,5 20 Kalimantan Barat 193 57,7 86,9 78,1 95,1 45,0 21 Kalimantan Tengah 55 56,8 115,3 92,2 94,8 43,8 22 Kalimantan Selatan 124 71,5 75,8 87,9 95,2 49,3 23 Kalimantan Timur 384 61,3 69,1 68,0 97,2 60,9 24 Sulawesi Utara 73 75,5 82,9 90,5 98,3 36,1 25 Sulawesi Tengah 304 59,6 81,3 79,7 93,4 30,4 26 Sulawesi Selatan 408 73,5 88,8 86,8 91,4 62,9 27 Sulawesi Tenggara 273 62,3 75,6 84,1 95,4 50,5 28 Gorontalo 961 81,0 83,1 76,9 100,0 45,0 29 Sulawesi Barat 581 73,4 74,0 87,4 94,1 67,0 30 Maluku 316 60,2 82,0 69,1 59,6 32,4 31 Maluku Utara 87 52,5 76,4 54,4 86,8 61,7 32 Papua Barat 1.605 48,9 32,0 47,9 20,6 33 Papua 2.905 31,0 33,3 41,8 INDONESIA 42.702 75,1 85,0 82,8 87,9 48,6 LAPORAN PENCAPAIAN INDIKATOR KINERJA PEMBINAAN GIZI MASYARAKAT TAHUN 2012 No Provinsi % Cakupan Pencapaian Indikator
  • 51.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 2013 45 Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 45 No Provinsi End User Fasilitator 1 DI Aceh 61 3 2 Sumatera Utara 62 11 3 Sumatera Barat 55 6 4 Sumatera Selatan 60 10 5 Lampung 81 4 6 Jambi 20 3 7 Riau 40 2 8 Bangka Belitung 60 2 9 Kepulauan Riau 50 13 10 Bengkulu 62 2 11 Banten 20 1 12 DKI Jakarta 27 33 13 Jawa Barat 104 9 14 Jawa Timur 80 8 15 Jawa Tengah 84 1 16 DI Yogyakarta 120 4 17 Bali 40 4 18 NTB 142 15 19 NTT 20 11 20 Kalimantan Barat 60 10 21 Kalimantan Selatan 50 4 22 Kalimantan Tengah 23 23 Kalimantan Timur 70 4 24 Sulawesi Utara 40 2 25 Sulawesi Selatan 40 12 26 Sulawesi Barat 22 2 27 Sulawesi Tengah 22 2 28 Sulawesi Tenggara 40 1 29 Gorontalo 40 2 30 Maluku 40 4 31 Maluku Utara 32 2 32 Papua 62 3 33 Papua Barat 20 3 TOTAL 1749 193 ctt: data berasal dari provinsi dan kabupaten yang melibatkan fasilitator pusat, masih perlu disesuaikan bila ada yang melaksanakan tanpa NS pusat DATA JUMLAH END – USER DAN FASILITATOR PEMANTAUAN PERTUMBUHAN DI SELURUH INDONESIA S.D. DESEMBER 2012 DATA JUMLAH END - USER DAN FASILITATOR PEMANTAUAN PERTUMBUHAN DI SELURUH INDONESIA S.D. DESEMBER 2012
  • 52.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 201346 Jumlah Jumlah Pengelola Kabupaten TFC Program / Kota JML Dilatih dr Pr/Bd AG JML Dilatih dr Pr/Bd AG JML Dilatih dr/SpA Pr/Bd AG 1 NAD 23 115 101 64 66 68 194 14 12 12 11 35 14 10 12 19 1 26 2 SUMUT 33 155 77 77 77 77 372 65 65 65 65 147 28 28 28 28 19 26 3 RIAU 12 67 65 65 77 57 138 12 12 13 11 28 13 11 7 12 1 2 4 KEP.RIAU 7 24 20 35 43 24 37 0 0 0 0 13 8 12 12 13 0 5 5 JAMBI 11 56 48 26 34 27 107 0 0 0 0 18 12 11 12 12 2 15 6 SUMBAR 19 87 77 74 76 92 167 50 50 51 50 20 18 18 19 21 15 8 7 BENGKULU 10 38 16 15 14 14 139 0 0 0 0 10 10 6 2 8 1 13 8 SUMSEL 15 80 49 34 43 40 204 90 90 90 90 34 12 34 4 9 11 1 9 BABEL 7 20 13 13 16 15 35 7 6 9 6 8 8 10 10 10 3 8 10 LAMPUNG 14 51 26 19 30 22 213 0 0 0 0 22 14 12 13 14 1 4 11 DKIJAKARTA 6 51 5 2 3 2 288 0 0 0 0 124 17 17 16 16 4 10 12 BANTEN 8 46 46 35 34 36 150 0 0 0 0 27 8 4 3 8 3 10 13 JAWABARAT 26 171 119 31 35 25 837 15 4 4 15 144 22 21 22 21 5 12 14 JAWATENGAH 35 264 67 72 85 64 603 0 0 0 0 182 39 39 39 39 1 7 15 DIY 5 42 30 30 30 30 79 27 27 28 26 5 7 6 8 8 3 2 16 JAWATIMUR 38 365 80 51 49 57 579 0 0 0 0 171 11 42 31 32 12 36 17 BALI 9 27 24 24 0 19 88 88 87 0 85 34 9 9 9 9 0 9 18 NTB 10 107 101 51 54 55 45 9 9 9 9 12 9 9 12 10 35 15 19 NTT 21 93 29 31 46 36 195 0 0 0 0 24 24 23 32 29 6 20 20 KALBAR 14 94 23 4 4 4 135 0 0 0 0 28 2 2 2 2 21 6 21 KALTENG 14 57 41 16 15 16 114 0 0 0 0 17 15 14 14 16 0 6 22 KALTIM 14 100 50 30 31 29 107 0 0 0 0 31 1 1 1 1 0 2 23 KALSEL 13 46 18 19 18 19 167 20 20 20 20 26 17 15 18 17 5 7 24 SULUT 15 72 12 6 6 6 87 0 0 0 0 22 2 2 2 1 1 1 25 GORONTALO 6 25 16 12 5 18 59 23 0 23 23 7 7 7 7 7 7 9 26 SULTENG 11 73 24 20 27 20 98 4 3 3 4 13 13 13 25 19 3 36 27 SULSEL 24 205 143 8 8 8 190 0 0 0 0 62 3 3 3 3 2 5 28 SULTRA 12 240 45 45 44 46 0 0 0 0 0 14 14 12 13 13 1 26 29 SULBAR 5 31 6 6 6 6 46 0 0 0 0 1 1 2 2 2 0 4 30 MALUKU 11 53 0 0 0 0 103 0 0 0 0 19 1 1 1 1 1 1 31 MALUKUUTARA 9 29 15 14 16 17 79 0 0 0 0 12 9 9 9 9 1 193 32 PAPUA 29 89 32 19 19 16 224 4 3 6 3 18 2 2 2 2 2 7 33 PAPUABARAT 10 36 24 17 31 17 69 0 0 0 0 10 3 2 2 3 1 3 TOTAL 496 3009 1442 965 1042 982 5948 428 388 293 418 1338 373 407 392 414 168 535 Keterangan: dr :dokter Pr/Bd :perawat/bidan AG :ahligizi SPA :spesialisanak TFC :TheurapeuticFeedingCentre Jml Puskesmas Jml. Tenaga Dilatih JML RS Jml. Tenaga Dilatih DAFTAR JUMLAH TENAGAKESEHATAN YANG SUDAH DILATIH TATALAKSANAANAK GIZI BURUK TAHUN 2004 - 2012 NO PROPINSI Rumah Sakit Jml Puskesmas Jml. Tenaga Dilatih Puskesmas Perawatan Puskesmas Non Perawatan
  • 53.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 2013 47 Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 47 Jumlah Konselor ASI Per Provinsi di Indonesia Tahun 2012 dan Target sampai Tahun 2014 No Provinsi Jumlah Konselor s.d Sept 2012 Jumlah Fasyankes (RS dan PP) Target 2013 Target 2014 1 Aceh 612 344 612 612 2 Sumatera Utara 114 630 194 274 3 Sumatera Barat 350 283 350 350 4 Riau 210 204 250 290 5 Jambi 100 181 140 180 6 Sumatera Selatan 213 318 253 293 7 Bengkulu 70 178 110 150 8 Lampung 124 286 164 204 9 Bangka Beilitung 34 62 54 64 10 Kepulauan Riau 46 74 66 76 11 DKI Jakarta 87 463 167 247 12 Jawa Barat 118 1152 198 278 13 Jawa Tengah 54 1031 134 214 14 DI Yogyakarta 190 153 190 190 15 Jawa Timur 28 1115 108 108 16 Banten 38 223 78 118 17 Bali 4 148 97 137 18 Nusa Tenggara Barat 179 158 179 179 19 Nusa Tenggara Timur 839 314 839 839 20 Kalimantan Barat 20 257 60 100 21 Kalimantan Tengah 4 184 44 84 22 Kalimantan Selatan 25 239 65 105 23 Kalimantan Timur 38 238 78 118 24 Sulawesi Utara 24 181 64 104 25 Sulawesi Tengah 112 184 132 172 26 Sulawesi Selatan 19 457 59 99 27 Sulawesi Tenggara 22 238 62 102 28 Gorontalo 38 79 58 79 29 Sulawesi Barat 40 78 60 78 30 Maluku 61 154 81 121 31 Maluku Utara 4 104 44 84 32 Papua Barat 43 115 63 103 33 Papua 19 284 59 99 Indonesia 3.932 6.033 5.112 6.331 Jumlah Fasilitator Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) Tahun 2012 No Uraian Fasilitator untuk Kader Fasilitator TOT Provinsi 1 Aceh 2 1 2 Jawa Tengah 2 - 3 Nusa Tenggara Barat 6 1 4 Nusa Tenggara Timur 1 - Pusat 1 Direktorat Gizi 6 4 2 Poltekes 5 - Indonesia 22 6 Rencana Kerja Pembinaan Gizi Masyarakat TA 2013 49 1 Aceh 612 65 2 Sumatera Utara 114 10 3 Sumatera Barat 350 5 4 Riau 210 13 5 Jambi 100 1 6 Sumatera Selatan 213 12 7 Bengkulu 70 2 8 Lampung 124 33 9 Bangka Beilitung 34 3 10 Kepulauan Riau 66 1 11 DKI Jakarta 87 30 12 Jawa Barat 148 30 13 Jawa Tengah 54 26 14 DI Yogyakarta 190 21 15 Jawa Timur 28 11 16 Banten 38 2 17 Bali 4 3 18 Nusa Tenggara Barat 179 31 19 Nusa Tenggara Timur 839 65 210 20 Kalimantan Barat 20 10 21 Kalimantan Tengah 4 3 22 Kalimantan Selatan 25 1 23 Kalimantan Timur 38 2 24 Sulawesi Utara 24 2 25 Sulawesi Tengah 112 4 26 Sulawesi Selatan 19 14 27 Sulawesi Tenggara 22 2 28 Gorontalo 38 2 29 Sulawesi Barat 40 1 30 Maluku 61 2 31 Maluku Utara 4 1 32 Papua Barat 43 2 33 Papua 19 5 Indonesia 3929 415 210 DISTRIBUSI KONSELOR DAN FASILITATOR PELATIHAN KONSELING MENYUSUI MENURUT PROVINSI Tahun 2012 Jumlah Fasilitator Jumlah MotivatorNo Provinsi Jumlah Konselor Fasilitator (Orang) Konselor (Orang) 1 Aceh 4 120 2 Sumatera Utara 5 20 3 Sumatera Barat 17 4 Riau 20 5 Jawa Barat 2 6 Jawa Tengah 3 63 7 Nusa Tenggara Barat 7 24 8 Nusa Tenggara Timur 9 105 9 Others (Central Level) 21 19 Poltekkes Jkt 2 dan Jkt 3 7 5 RSCM 1 1 PERSAGI, PERINASIA, PDGMI 2 2 Dit. BGM 11 11 Total 51 388 DISTRIBUSI KONSELOR DAN FASILITATOR PELATIHAN KONSELING MP-ASI MENURUT PROPINSI TAHUN 2012 No Provinsi Konseling MP-ASI
  • 54.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 201348 Daftar Singkatan AGB : Anemia Gizi Besi ASI : Air Susu Ibu BB/PB : Berat Badan Menurut Panjang Badan BB/TB : Berat Badan Menurut Tinggi Badan BB/U : Berat Badan Menurut Umur BGM : Bawah Garis Merah BOK : Bantuan Operasional Kesehatan CFC : Community Feeding Centre D/S : Balita ditimbang berat badannya EIU : Ekskresi Iodium dalam Urin GAKI : Gangguan Akibat Kurang Iodium Gernas : Gerakan Nasional IP-GAKI : Intensifikasi Penanggulangan GAKI Jampersal : Jaminan Persalinan Jamkesmas : Jaminan Kesehatan Masyarakat KEK : Kurang Energi Kronis KEP : Kurang Energi Protein KIA : Kesehatan Ibu Anak KIE : Komunikasi Informasi Edukasi KMS : Kartu Menuju Sehat KVA : Kurang Vitamin A LAKIP : Laporan Akuntabilitas dan Kinerja Pemerintah LAPTAH : Laporan Tahunan LiLA : Lingkar Lengan Atas MDG : Millenium Development Goal Monev : Monitoring Evaluasi MP-ASI : Makanan Pendamping Air Susu Ibu NICE : Nutrition Improvement through Community Empowerment
  • 55.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 2013 49 NSPK : Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria Perda : Peraturan Daerah Permendagri : Peraturan Menteri Dalam Negeri PGBM : Pemulihan Gizi Berbasis Masyarakat Posyandu : Pos Pelayanan Terpadu Puskesmas : Pusat Kesehatan Masyarakat PMBA : Pemberian Makan Bayi dan Anak PMT : Pemberian Makanan Tambahan PMT-AS : Program Makanan Tambahan Anak Sekolah PPKK : Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan PTM : Penyakit Tidak Menular Renstra : Rencana Strategis Riskesdas : Riset Kesehatan Dasar RKA-KL : Rencana Kegiatan Anggaran Kementerian Lembaga RSUD : Rumah Sakit Umum Daerah RT : Rumah Tangga SAI : Sistem Aplikasi Informasi SABMN : Sistem Aplikasi Barang Milik Negara SEANUTS : South East Asia Nutrition Survey SDKI : Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia SIGIZI : Sistem Informasi Gizi SKRT : Survei Kesehatan Rumah Tangga TFC : Theurapeutic Feeding Centre TOT : Training of Trainer TTD : Tablet Tambah Darah WHO : World Health Organisation
  • 56.
    Rencana Kerja PembinaanGizi Masyarakat TA 201350