KATA PENGANTAR
Sebagai insan yang ber-Tuhan patutlah penulis Panjatkan Puji dan Syukur
atas kenikmatan hidup dan bimbingan-Nya yang telah Dia karuniakan sehingga
penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini.
Makalah ini merupakan sebuah tugas yang diberikan oleh dosen
pembimbing untuk memenuhi tuntutan akademik yang sedang kami geluti
sekarang. Bahwa tulisan yang tertera dalam makalah ini merupakan rangkuman
dari berbagai referensi yang telah kami sadar dari seputar masalah kesehatan
tentang Perdarahan Hamil Muda (KET/MOLA).
Tak lupa pula penulis haturkan limpah terima kasih kepada semua pihak
baik Ibu Dosen Pembimbing yang telah membimbing dan memberikan batasan
materi maupun teman-teman yang telah berkontribusi positif terhadap penyusunan
makalah ini sehingga makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Mungkin dengan makalah singkat ini dapat menjadi acuan dalam pembelajar kita
kedepan dalam lingkup kesehatan dan pengimplementasiannya dalam hidup
bermasyarakat. Agar dapat membuka cakrawala berpikir kita dalam menuntaskan
masalah kesehatan di Tanah Air ini.
Akhirnya, kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaannya. Olehnya, kritik dan saran yang membangun dari sahabat
pembaca agar dapat menyempurnakan makalah singkat ini. Bahwa segala
kontribusimu adalah menjadi motivasi untuk memperbaiki tulisan kami yang
selanjutnya.
Yogyakarta, 21 Februari 2015
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
1. Kehamilan Ektopik
Kehamilan secara normal akan berada di cavum uteri. Kehamilan
ektopik ialah kehamilan di tempat yang luar biasa. Kehamilan ektopik
terjadi setiap saat ketika penananaman blastosit berlangsung dimanapun,
kecuali di endometrium yang melapisi rongga uterus. Tempat yang
mungkin untuk kehamilan ektopik adalah serviks, tuba fallopi, ovarium
dan abdomen (Varney, 2006).
Lebih dari 90% kehamilan ektopik terjadi di tuba. Kejadian
kehamilan tuba ialah 1 diantara 150 persalinan. Angka kejadian kehamilan
ektopik cenderung meningkat. Kejadian tersebut dipengaruhi oleh
berbagai macam faktor antara lain, meningkatnya prevalensi penyakit tuba
karena Penyakit Menular Seksual (PMS) sehingga terjadi oklusi parsial
tuba, adhesi peritubal yang terjadi setelah infeksi seperti apendisitis atau
endometriosis, pernah menderita kehamilan ektopik sebelumnya,
meningkatnya penggunaan kontrasepsi untuk mencegah kehamilan,
abortus provokatus, tumor yang mengubah bentuk tuba dan fertilitas yang
terjadi oleh obat-obatan pemacu ovalasi (Saifuddin, 2006).
Bagi setiap wanita hamil yang diduga bidan mengalami kehamilan
ektopik atau ketika tidak dapat dipastikan apakah kehamilan berlangsung
di dalam rahim dan wanita tersebut menunjukkan tanda dan gejala
kehamilan ektopik, maka penatalaksanaan medis lebih lanjut diperlukan.
Bidan dapat melakukakan pemeriksaan fisik dan pengkajian riwayat
kehamilan serta evaluasi laboratorium, termasuk pemeriksaan
ultrasonografi. Jika kemungkinan kehamilan ektopik tidak dapat
disingkirkan, maka bidan harus berkonsultasi dengan dokter (Varney,
2006).
2. Kehamilan Ektopik Terganggu
Sebagian besar kehamilan ektopik terganggu berlokasi di tuba
(90%) terutama di ampula dan isthmus. Sangat jarang terjadi di ovarium,
rongga abdomen, maupun uterus. Keadaan-keadaan yang memungkinkan
terjadinya kehamilan ektopik adalah penyakit radang panggul, pemakaian
antibiotika pada penyakit radang panggul, pemakaian alat kontrasepsi
dalam rahim IUD (Intra Uterine Device), riwayat kehamilan ektopik
sebelumnya, infertilitas, kontrasepsi yang memakai progestin dan tindakan
aborsi.
Gejala yang muncul pada kehamilan ektopik terganggu tergantung
lokasi dari implantasi. Dengan adanya implantasi dapat meningkatkan
vaskularisasi di tempat tersebut dan berpotensial menimbulkan ruptur
organ, terjadi perdarahan masif, infertilitas, dan kematian. Hal ini dapat
mengakibatkan meningkatnya angka mortalitas dan morbiditas Ibu jika
tidak mendapatkan penanganan secara tepat dan cepat.
Insiden kehamilan ektopik terganggu semakin meningkat pada
semua wanita terutama pada mereka yang berumur lebih dari 30 tahun.
Selain itu, adanya kecenderungan pada kalangan wanita untuk menunda
kehamilan sampai usia yang cukup lanjut menyebabkan angka kejadiannya
semakin berlipat ganda.
Menurut hasil penelitian yang dilakukan Cuningham pada tahun
1992 dilaporkan kehamilan ektopik terganggu ditemukan 19,7 dalam 100
persalinan. Dari penelitian yang dilakukan Budiono Wibowo di RSUP
Cipto Mangunkusumo (RSUPCM) Jakarta pada tahun 1987 dilaporkan
153 kehamilan ektopik terganggu dalam 4007 persalinan, atau 1 dalam 26
persalinan. Ibu yang mengalami kehamilan ektopik terganggu tertinggi
pada kelompok umur 20-40 tahun dengan umur rata-rata 30 tahun.
Frekuensi kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan berkisar antara 0%
sampai 14.6% (1). Kasus kehamilan ektopik terganggu di RSUP dr. M.
Djamil padang selama 3 tahun (tahun 1992-1994) ditemukan 62 kasus dari
10.612 kehamilan.
B. Rumusan masalah
1. Apa yang dimaksud dengan kehamilan ektopik dan kehamilan ektopik
terganggu?
2. Apa penyebab dari kehamilan ektopik dan kehamilan ektopik terganggu?
3. Apa tanda dan gejala dari kehamilan ektopik dan kehamilan ektopik
terganggu?
4. Apa patofisiologi dari kehamilan ektopik dan kehamilan ektopik
terganggu?
5. Apa komplikasi dari kehamilan ektopik dan kehamilan ektopik terganggu?
6. Apa saja pemeriksaan penunjang dari kehamilan ektopik dan kehamilan
ektopik terganggu?
7. Apa saja penanganan dari kehamilan ektopik dan kehamilan ektopik
terganggu?
8. Apa saja diagnosa keperawatan yang mungkin muncul dari kehamilan
ektopik dan kehamilan ektopik terganggu?
9. Apa intervensi dari kehamilan ektopik dan kehamilan ektopik terganggu?
C. Tujuan penulisan
1. Untuk mengetahui definisi dari kehamilan ektopik dan kehamilan ektopik
terganggu
2. Untuk mengetahui penyebab dari kehamilan ektopik dan kehamilan
ektopik terganggu
3. Untuk mengetahui tanda dan gejala dari kehamilan ektopik dan kehamilan
ektopik terganggu
4. Untuk mengetahui patofisiologi dari kehamilan ektopik dan kehamilan
ektopik terganggu
5. Untuk mengetahui komplikasi dari kehamilan ektopik dan kehamilan
ektopik terganggu
6. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang dari kehamilan ektopik dan
kehamilan ektopik terganggu
7. Untuk mengetahui penanganan dari kehamilan ektopik dan kehamilan
ektopik terganggu
8. Untuk mengetahui diagnosa keperawatan yang mungkin muncul dari
kehamilan ektopik dan kehamilan ektopik terganggu
9. Untuk mengetahui intervensi dari kehamilan ektopik dan kehamilan
ektopik terganggu
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
1. Kehamilan Ektopik
Kehamilan ektopik adalah kehamilan dimana setelah fertilisasi
implantasi terjadi diluar endometrium kavum uteri.Kehamilan ektopik
adalah implantasi hasil konsepsi pada tempat di luar rongga uterus
Misalnya di tubafallopi, ovarium, serviks, atau rongga peritoneum
(Barbara R Stright,cetakan I:2005:244).
Kehamilan ektopik atau kehamilan extrauterine ialah kehamilan
yang dapat terjadi di luar rahim, misalnya dalam tuba, ovarium atau
rongga perut,tetapi dapat terjadi di dalam cervix, pars interslitialis tubae
atau dalam tanduk rudimenter rahim (obstetric patologi,hal :21).
Kehamilan ektopik kombinasi (combined ectopic pregnancy)
adalah kehamilan intrauterine yang terjadi pada waktu bersamaan dengan
kehamilan ekstrauterine. Kehamilan ektopik rangkap (compound ectopic
pregnancy) adalah kehamilan intrauterine dengan kehamilan ekstrauterine
yang lebih dulu terjadi tapi janin sudah mati dan terjadi litopedion.
(obstetric patologi,hal :21).
Berdasarkan tempat implantasinnya, kehamilan ektopik dapat
dibagi dalam beberapa golongan :
a. Tuba Fallopii
b. Uterus (diluar endometrium kavum uterus)
c. Ovarium
d. Intraligamenter
e. Abdominal
f. Kombinasi kehamilan didalam dan diluar uterus
2. Kehamilan Ektopik Terganggu
Kehamilan Ektopik Terganggu ialah kehamilan ektopik yang
mengalami abortus atau ruptur apabila masa kehamilan berkembang
melebihi kapasitas ruang implantasi misalnya tuba. (Saifuddin, 2008)
a. Faktor dalam lumen tuba
1) Endosalpingitis dapat menyebabkan perlengketan endosalping,
sehingga lumen tuba menyempit atau membentuk kantong buntu
2) Lumen tuba sempit dan berlekuk-lekuk yang dapat terjadi pada
hipoplasia uteri. Hal ini dapat disertai kelainan fungsi silia
endosalping
3) Lumen tuba sempit yang diakibatkan oleh operasi plastik tuba dan
sterilisasi yang tidak sempurna.
b. Faktor pada dinding tuba :
1) Endometriosis tuba, dapat memudahkan implantasi telur yang
dibuahi dalam tuba
2) Divertikel tuba kongenital atau ostium assesorius tubae dapat
menahan telur yang dibuahi ditempat itu.
c. Faktor diluar dinding tuba :
1) Perlekatan peritubal dengan distorsiatau lekukan tuba dapat
menghambat perjalanan telur
2) Tumor yang menekan dinding tuba dapat menyempitkan lumen
tuba.
d. Faktor lain :
1) Migrasi luar ovum, yaitu perjalanan dari ovum kanan ke tuba kiri-
atau sebaliknya- dapat memperpanjang perjalanan telur yang
dibuahi ke uterus. Pertumbuhan telur yang terlalu cepat dapat
menyebabkan implantasi premature
2) Fertilisasi in vitro
3. Manifestasi klinis
a. Nyeri perut
Gejala ini yang paling sering dijumpai dan terdapat pada hampir
semua penderita. Nyeri perut ini datang setelah mengangkat
berat,buang air besar tapi kadang kadang juga waktu pasien sedang
beristirahat. Gejala ini berhubungan dengan apakah kehamilan ektopik
sudah ruptur.
b. Shock karena hypovolaemia
(obstetri William international edition, hal: 890)
c. Amenorhoe
d. Perdarahan pervaginam
Dengan matinya telur desidua mengalami degenerasi dan nekrose
dan dikeluarkan dengan perdarahan. Perdarahan ini pada umumnya
sedikit, perdarahan yang banyak dari vagina harus mengarahkan
pikiran kita ke abortus yang biasa
e. Nyeri bahu dan leher Karen perangsangan digfragma
f. Nyeri pada palpasi
Perut pendeita biasanya tegang dan agak gembung, ada tanda –
tanda perdarahan intra abdominal(shifting dullness).
1) Tanda – tanda akut abdomen : nyeri tekan yang hebat (defance
musculair), muntah, gelisah, pucat, anemis, nadi kecil dan halus,
tensi rendah atau tidak terukur (syok).
2) Tanda Cullen : sekitar pusat atau linea alba kelihatan biru hitam
dan lebam.
3) Pada pemeriksaan dalam :
Adanya nyeri ayun : dengan menggerakkan porsio dan serviks ibu
akan merasa sakit yang sangat
4) Douglas crise : rasa nyeri hebat pada penekanan kavum douglasi
5) Kavum douglasi teraba menonjol karena terkumpulnya darah,
begitu pula teraba masa retrouterin (masa pelvis)
4. Patofisologi
Kebanyakan dari kehamilan ektopik berlokasi di tuba fallopii.
Tempat yang paling umum terjadi adalah pada pars ampullaris, sekitar
80 %. Kemudian berturut-turut adalah isthmus (12%), fimbriae (5%),
dan bagian kornu dan daerah intersisial tuba (2%), dan seperti yang
disebut pada bagian diatas, kehamilan ektopik non tuba sangat jarang.
Kehamilan pada daerah intersisial sering berhubungan dengan
kesakitan yang berat, karena baru mengeluarkan gejala yang muncul
lebih lama dari tipe yang lain, dan sulit di diagnosis, dan biasanya
menghasilkan perdarahan yang sangat banyak bila terjadi rupture.
Proses implantasi ovum yang dibuahi, yang terjadi di tuba pada
dasarnya sama dengan halnya di kavum uteri. Telur di tuba bernidasi
secara kolumner atau interkolumner. Pada yang pertama telur
berimplantasi pada ujung atau sisi jonjot endosalping. Perkembangan
telur selanjutnya dibatasi oleh kurangnya vaskularisasi dan biasanya
telur mati secara dini dan diresorbsi. Pada nidasi secara interkolumner
telur bernidasi antara 2 jonjot endosalping. Setelah tempat nidasi
tertutup, maka telur dipisahkan dari lumen tuba oleh lapisan jaringan
yang menyerupai desidua dan dinamakan pseudokapsularis. Karena
pembentukan desidua di tuba tidak sempurna malahan kadang-kadang
tidak tampak, dengan mudah villi korialis menembus endosalping dan
masuk dalam lapisan otot-otot tuba dengan merusak jaringan dan
pembuluh darah. Perkembangan janin selanjutnya bergantung pada
beberapa faktor, seperti tempat implantasi, tebalnya dinding tuba, dan
banyaknya perdarahan yang terjadi oleh invasi trofoblas.
Dibawah pengaruh hormon estrogen dan progesteron dari korpus
luteum gravidatis dan trofoblas, uterus menjadi besar dan lembek, dan
endometrium dapat pula berubah menjadi desidua. Dapat ditemukan
pula perubahan-perubahan pada endometrium yang disebut fenomena
Arias-Stella. Sel epitel membesar dengan intinya hipertrofik,
hiperkromatik, lobuler, dan berbentuk tidak teratur. Sitoplasma sel
dapat berlubang-lubang atau berbusa, dan kadang-kadang ditemukan
mitosis. Perubahan ini hanya terjadi pada sebagian kehamilan ektopik.
Terdapat beberapa kemungkinan yang dapat terjadi pada
kehamilan ektopik dalam tuba. Karena tuba bukan merupakan tempat
yang baik untuk pertumbuhan hasil konsepsi, tidak mungkin janin
dapat tumbuh secara utuh seperti di uterus. Sebagian besar kehamilan
tuba terganggu pada umur kehamilan antara 6 minggu sampai 10
minggu.
5. Komplikasi
Pada pengobatan konsevatif yaitu bila ruptur tuba telah lama
berlangsung 9 4-6 minggu ) terjadi perdarahan ulang ( recurrent
bleeding ) ini merupakan indikasi operasi.
a. Infeksi
b. Sub ileus karena masaa pelvis
c. Sterilitas
6. Pemeriksaan penunjang
Berikut ini merupakan jenis pemeriksaan untuk membantu
diagnsosi kehamilan ektopik :
a. HCG-β
Pengukuran subunit beta dari HCG (Human Chorionic
Gonadotropin-Beta) merupakan tes laboratorium terpenting dalam
diagnosis. Pemeriksaan ini dapat membedakan antara kehamilan
intrauterine dengan kehamilan ektopik
b. Kuldosintesis
Tindakan kuldosintesis atau punksi Douglas. Adanya yang diisap
berwarna hitam (darah tua) biarpun sedikit, membuktikan adanya
darah di kavum Douglasi
c. Dilatasi dan Kuretase
Biasanya kuretase dilakukan setelah amenore terjadi perdarahan
yang cukup lama tanpa menemukan kelainan yang nyata disamping
uterus.
d. Laparaskopi
Laparaskopi hanya digunakan sebagi alat bantu diagnosis terakhir
apabila hasil – hasil penilaian prosedur diagnotik lain untuk
kehamilan ektopik terganngu meragukan. Namun beberpa dekade
terakhir alat ini juga dipakai untuk terapi.
e. Ultrasonografi
Keunggulan cara pemeriksaan ini terhadap ultrasonografi ialah
tidak invasive, artinya tidak perlu memasukkan rongga kedalam
rongga perut. Dapat dinilai kavum uteri, kosong atau berisi, tebal
endometrium, adanya massa dikanan kiri uterus dan apakah kavum
Douglas berisi cairan.
f. Tes Oksitosin
Pemberian oksitosin dalam dosis kecil intravena dapat
membuktikan adanya kehamilan ektopik lanjut. Dengan
pemerikasaan bimanual, diluar kantong janin dapat diraba suatu
tumor.
g. Foto Rontgen
Tampak kerangka janin lebih tinggi letaknya dan berada dalam
letak paksa. Pada foto lateral tampak bagian- bagian janin menutupi
vertebra ibu.
h. Histerosalpingografi
Memberikan gambaran kavum uteri kosong dan lebih besar dari
biasa, dengan janin diluar uterus. Pemeriksaan ini dilakukan jika
diagnosis kehamilan ektopik terganggu sudah dipastikan dengan
USG (Ultra Sono Graphy) dan MRI (Magnetic Resonance
Imagine). Trias klasik yang sering ditemukan adalah nyeri
abdomen, perdarahan vagina abnormal, dan amenore.
7. Penanganan
a. Penderita yang disangka KET harus segera dirawat inap dirumah
sakit untuk penanggulanggannya
b. Bila wanita dalam keadaan syok perbaiki keadaan umumnya
dengan pemberian cairan yang cukup ( dekstrose 5%, glukosa 5%,
garam fisiologis) dan transfusi darah.
c. Setelah didiagnosis jeals atau sangat disangka KET dan keadaan
umum baik atau lumayan, segera lakukan laparatomi untuk
menghilangkan sumber perdarahan ; dicari,diklem dan dieksisi
sebersih mungkin ( salpingektomi ) kemudian diikat sebaik-
baiknya.
d. Sisa-sisa darah dikeluarkan dan dibersihkan sedapat mungkin
supaya penyembuhan lebih cepat
e. Berikan antibiotika sesuai indikasi dan obat anti inflamasi
8. Pengkajian
a. Pengkajian
1) Identitas Pasien
2) Alasan Dirawat
3) Keluhan utama : mual, muntah, nyeri abdomen
4) Riwayat penyakit
1. menanyakan penyakit yang pernah diderita pasien
sebelumnya
2. menanyakan penyakit yang sedang dialami sekarang
3. menanyakan apakah pasien pernah menjalani operasi
5) Riwayat keluarga
a) menanyakan apakah di keluarga pasien ada anggota
keluarga yang menderita penyakit menular kronis
b) menanyakan apakah dari pihak keluarga ibu atau suaminya
ada yang memiliki penyakit keturunan
c) menanyakan apakah dari pihak keluarga ibu atau suaminya
pernah melahirkan atau hamil anak kembar dengan
komplikasi.
6) Riwayat obstetrik
a) menanyakan siklus menstruasi apakah teratur atau tidak
b) menanyakan berapa kali ibu itu hamil
c) menanyakan berapa lama setelah anak dilahirkan dapat
menstruasi dan berapa banyak pengeluaran lochea
d) menanyakan jika datang menstruasi terasa sakit
e) menanyakan apakah pasien pernah mengalami abortus
f) menanyakan apakah di kehamilan sebelumnya pernah
mengalami kelainan
g) menanyakan apakah anak sakit panas setelah dilahirkan
h) menanyakan apakah pasien menggunakan alat kontrasepsi
dalam rahim
7) Data Bio-Psiko-Sosial-Spiritual (Data Fokus)
a) Makan minum
tanda : nafsu makan menurun (anoreksia), mual muntah,
mukosa bibir kering, pucat.
b) Eliminasi
Tanda : konstipasi, nyeri saat BAB, Sering kencing (BAK)
c) Aktivitas
tanda : nyeri perut saat mengangkat benda berat, terlihat
oedema pada ekstremitas bawah (tungkai kaki)
8) Pemeriksaan Umum
a) Inspeksi
terlihat tanda cullen yaitu sekitar pusat atau linia alba
kelihatan biru, hitam dan lebam.
terlihat gelisah, pucat, anemi, nadi kecil, tensi rendah.
b) Pada palpasi perut dan perkusi
terdapat tanda-tanda perdarahan intra abdominal (shifting
dullness).
nyeri tekan hebat pada abdomen.
Douglas crisp: rasa nyeri hebat pada penekanan kavum
Douglasi.
Kavum douglasi teraba menonjol karena terkumpulnya
darah.
Teraba massa retrouterin (massa pelvis)
c) Nyeri bahu karena perangsangan diafragma
d) Nyeri ayun saat menggerakkan porsio dan servik ibu akan
sangat sakit
9) Pemeriksaan Diagnostic
a. Pemeriksaan laboratorium
pemeriksaan Hb setiap satu jam menunjukkan penurunan
kadar Hb.
timbul anemia bila telah lewat beberapa waktu.
leukositosis ringan (<15000).
b. Pemeriksaan tes kehamilan
tes baru yang lebih sensitive berguna karena lebih mungkin
positif pada kadar HCG yang lebih rendah
c. Pemeriksaan kuldosintesis
untuk mengetahui adakah darah dalam kavum douglasi.
untuk memastikan perdarahan intraperitonial dan dapat
memberikan hasil negative palsu atau positif palsu.
d. Diagnostic laparoskopi
untuk mendiagnosis penyakit pada organ pelvis termasuk
kehamilan ektopik
e. Ultra sonografi (USG)
untuk mendiagnosis kehamilan tuba dimana jika kantong
ketuban bisa terlihat dengan jelas dalam kavum uteri maka
kemungkinan kehamilan ektopik terjadi
f. Diagnostic kolpotomi
infeksi langsung tuba fallopi dan ovarium. Prosedur ini
tidak dilakukan lagi karena hasil kurang memuaskan
g. Diagnostic kuretase
pembedahan antara abortus iminens atau inkomplitus pada
kehamilan intrauteri dengan kehamilan tuba. Ditemukannya
desidua saja dalam hasil kuret uterus yang menunjukan
kehamilan ekstrauteri.
9. Diagnosa keprawatan yang mungkin muncul
a. Nyeri akut b.d ruptur tuba fallopi
b. Kekurangan volume cairan b.d ruptur kehamilan ektopik
c. Proses berduka berhubungan dengan kehilangan kehamilan
d. Resiko infeksi b.d perdarahan dan luka insisi.
10. Intervensi
a. Dx 1
Intervensi
1) Kaji rasa nyeri klien, meliputi sifat, lokasi, dan durasi
2) Kaji respon emosional klien
3) Beri lingkungan yang nyaman dan tenang, serta ajarkan aktivitas
untuk mengalihkan rasa nyeri dengan menggunakan metode
relaksasi (napas dalam, visualisasi,dan distrkasi)
4) Kolaborasi pemberian analgetik seperti sedativ atau opioid
b. Dx 2
Intervensi
1) Evaluasi, catat dan laporkan jumlah serta sifat kehilangan darah
2) Lakukan tirah baring. Instruksikan klien untuk menghindari
calsava maneuver dan coitus
3) Posisikan klien telentang dengan panggul ditinggikan
4) Catat TTV, capillary refill, warna kulit dan suhu tubuh
c. Dx 3
Intervensi
1) Diskusi situasi dan pemahaman tentang kondisi kesehatan
dengan klien dan pasangan
2) Pantau respon verbal dan nonverbal klien dan pasangan
d. Dx 4
Intervensi
1) Kaji dan pantau TTV terutama suhu
2) Kaji tanda – tanda infeksi
3) Kaji derajat luka, daerah luka, cairan yang diluka
4) Lakukan perawatan luka dengan benar 2 kali sehari
BAB III
TINJAUAN KASUS
Tanggal / jam : 10 November 2014 / 12.30 WIB
Tempat : BPS. Sularsih,Amd.Keb
RM : 00.20.22.24
Identitas
Nama istri : Ny. M Nama suami : Tn. S
Umur : 28 th Umur : 31 th
Agama : Islam Agama : Islam
Suku/bangsa : Jawa/Indo Suku/bangsa : Jawa/Indo
Pendidikan : S1 Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : TNI - AL
Alamat : Jl.Tj. Harapan 61 E Pangkat
SUBYEKTIF
 Ibu dari rumah datang ke BPS mengatakan keluar darah dari kemaluan
(flek-flek), kadang keluar bersamaan dengan kencing sejak 4 hari yang
lalu (06 November 2014)
 Ibu mengatakan nyeri pada bagian bawah perut sebelah kanan.
 Ibu mengatakan ibu dan keluarga sangat mengkhawatirkan kondisi
kehamilannya.
 Ibu mengatakan hamil yang pertama mengalami keguguran dan dikuretasi
(tahun 2012) di RSAL oleh dokter obsgyn dengan diagnosa abortus
Imenens.
 Ibu mengatakan ini kehamilan ke 2 usia kehamilan 2 bulan. Hari pertama
haid terakhir pada tanggal 03 september 2014, Hari perkiraan lahir 10
Juni 2015.
 Ibu mengatakan rutin memeriksakan kehamilan sekarang di poli hamil
RSAL (trimester 1 sebanyak 3 kali). Keluhan selama hamil trimester 1
mual, muntah dan mengeluarkan darah dari kemaluan (flek - flek).
 Ibu mengatakan pernah mendapatkan penyuluhan nutrisi tentang ibu
hamil.
 Ibu mengatakan ibu mendapatkan terapi zat besi, kalsium dan vitamin.
 Ibu mengatakan ibu menikah hanya sekali pada usia 25 tahun, lama
perkawinannya ± 3 tahun
 Ibu mengatakan tidak ada keluhan selama haid, siklus haid teratur 28 hari,
lamanya ± 6-7 hari, banyaknya ± 2-3 kotex / hari, bau anyir dan berwarna
merah .
 Ibu mengatakan ibu dan keluarga tidak pernah sakit DM, Jantung,
Ashma, Hipertensi, TBC, Hepatitis dan tidak ada keturunan kembar.
 Ibu mengatakan selama hamil makan 3 kali / hari (nasi, lauk pauk, sayur,
buah),minum 7 – 8 gelas / hari (air putih, susu)
 Ibu mengatakan BAK sebanyak ± 5 kali / hari (warna kuning jernih, tidak
nyeri), BAB : 1 kali / hari ( lunak, warna kuning, bau khas)
 Selama hamil ibu hanya berbaring, miring ke kanan dan kiri, serta
mengerjakan tugas rumah tangga yang ringan saja.
 Ibu mengatakan Istirahat cukup siang ± ½ - 1 jam / hari, Malam : ± 6 -
7 jam / hari
 Ibu mengatakan ibu mandi Mandi 2 kali / hari, gosok gigi 2 - 3 kali/ hari,
ganti baju dan celana dalam 2 - 3 kali/ hari.
 Ibu mengatakan jarang melakukan hubungan seksual karena takut
keguguran seperti hamil anak pertama
 Ibu mengatakan Hubungan ibu dengan suami, keluarga dan tetangga baik.
 Ibu mengatakan Selama hamil ibu tidak pernah minum jamu, ibu tidak
pantang makan, tidak mengadakan acara tradisi budaya.
OBJEKTIF
1. Pemeriksaan fisik umum
a. Keadaan umum
Kesadaran : Composmenitis
Postur tubuh : Lordosis
TB/BB : 159 cm
BB sbl hamil : 50 kg
BB slm hamil : 54 kg
b. Tanda-tanda vital
Tensi : 110 / 70 mmHg
Nadi : 80 kali/menit
Suhu : 37º C
RR : 24 kali/menit
2. Pemeriksaan fisik khusus
a. Inspeksi
Kepala : Rambut hitam, bersih, tidak ada benjolan, tidak ada
luka.
Muka : Tidak pucat, tidak oedema, tidak ada cloasma
gravidarum.
Mata : Simetris, sclera tidak icterus, conjungtiva tidak
anemis.
Hidung : Lubang hidung simetris, tidak ada polip dan tidak ada
pernafasan cuping hidung, tidak ada secret.
Mulut/Gigi : Simetris, tidak ada stomatitis, tidak ada caries gigi,
tidak ada gigi palsu, kebersihan cukup.
Telinga : Simetris, bersih, tidak ada serumen, tidak ada
purulent.
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid maupun
bendungan vena jugularis.
Ketiak : Tidak ada pembesaran kelenjar lymphe.
Dada : Mammae simetris, putting susu menonjol, tidak ada
retraksi intercostae, tidak ada benjolan.
Perut : Pembesaran sesuai dengan umur kehamilan, strie
tidak ada, terdapat linea nigra dan tidak tedapat bekas
operasi, terdapat nyeri tekan pada sebelah kanan perut
bagian bawah.
Genetalia : Tidak oedema, tidak ada varices, tidak ada
pembesaran kelenjar bartholini/skene, terdapat darah,
tidak ada cairan
Anus : Tidak ada haemoroid
Ektremitas : Tidak oedema, tidak ada gangguan pergerakan, tidak
ada varices.
b. Palpasi
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan bendungan
vena jugularis.
Ketiak : Tidak ada pembesaran kelenjar lymphe.
Mammae : Tidak ada benjolan, konsistensi lunak, colostrum -/-.
Perut : Lepold I : TFU belum teraba.
Lepold II : Tidak dilakukan.
Lepold III : Tidak dilakukan.
Leopold : Tidak dilakukan.
c. Auskultasi
Ibu : Tidak terdengar ronchi -/- dan wheezing -/-
3. Pemeriksaan Penunjang
Hasil USG
ANALISA
Ny. M umur 28 tahun GII P0 AI UK 7+3 minggu dengan observasi kehamilan
ektopik.
PENATALAKSANAAN
1. Memberitahu hasil pemeriksaan kepada ibu
Ibu tampak sedih dengan hasil pemeriksaan
2. Melakukan pendekatan dan memberikan dukungan psikologis pada pasien.
agar terjalin hubungan baik dengan pasien sehingga pasien lebih
kooperatif terhadap setiap tindakan yang kita lakukan.
Ibu tampak lebih tenang.
3. Observasi TTV.
R/ deteksi dini adanya kelainan.
4. Melakukan kolaborasi dengan
R/ Fungsi dependent bidan.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan dan saran
Diagnosis pada pasien ini adalah kehamilan ektopik terganggu.
Perawatan yang dilakukan sejak pasien datang adalah segeras mencari tahu
kepastian diagnosis kehamilan ektopik terganggu dengan mengambil data
lengkap dari anmnesis, pemeriksaan fisik umum dan pemeriksaan
ginekologis, pemeriksaan penujang seperti pemeriksaan darah, tes
kehamilan dan USG. Setelah didapatkan diagnosis kerja kehamilan
ektopik terganggu, segera dilakukan intervensi pembedahan laparotomi
(salpingektomi sinistra). Dengan kondisi pasien yang stabil setelah di
operasi, luka operasi terawat dengan baik, os memimta pulang paksa pada
perawatan hari ke sembilan dan diminta kontrol luka operasi 3 hari di
poliklinik.
Hal yang dapat dilakuakan sekarang adalah memberi edukasi pada
pasien ini untuk lebih jeli dalam menghadapi tanda-tanda kemungkinan
hamil lagi, seperti langsung ke dokter untuk memastikan apakah dirinya
benar-benar hamil dan mendapat perawatan yang lebih ketat. Dijelaskan
juga faktor – faktor resiko seperti infeksi pelvikm penyakit menukar
seksualm usia dan larangan merokok untuk mencegah bertambah besarnya
resiko terjadinya kehamilan ektopik terganggu, karena pada pasien yang
perna mengalami penyakit ini, jelas sebelumnya sudah ada faktor resiko
untuk memungkinkan terjadinya kehamilan ektopik terganggu lagi.
Daftar Pustaka
Abdul bari saifuddin,, 2001 , Buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal
dan neonatal, penerbit yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo, Jakarta
Arif Mansyoer,DKK,1999, Kapita selecta Kedokteran, Penerbit media
aeskulapius FKUI.
Hacher/moore, 2001, Esensial obstetric dan ginecologi, hypokrates , jakarta
Helen Varney,DKK, 2002, Buku Saku Bidan, cetakan I, EGC, Jakarta
Lynda Jual Carpenito, 2001, Buku Saku Diagnosa keperawatan edisi
8,EGC,Jakarta.
Manuaba,Ida Bagus Gede, 1998, Ilmu kebidanan,penyakit kandungan dan
keluarga berencana, EGC, Jakarta
Marlyn Doenges,dkk, 2001,Rencana perawatan Maternal/Bayi, EGC , Jakarta
Mocthar R, 1998, Sinopsis Obstetri Cetakan I,EGC, Jakarta.

Bab i1

  • 1.
    KATA PENGANTAR Sebagai insanyang ber-Tuhan patutlah penulis Panjatkan Puji dan Syukur atas kenikmatan hidup dan bimbingan-Nya yang telah Dia karuniakan sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Makalah ini merupakan sebuah tugas yang diberikan oleh dosen pembimbing untuk memenuhi tuntutan akademik yang sedang kami geluti sekarang. Bahwa tulisan yang tertera dalam makalah ini merupakan rangkuman dari berbagai referensi yang telah kami sadar dari seputar masalah kesehatan tentang Perdarahan Hamil Muda (KET/MOLA). Tak lupa pula penulis haturkan limpah terima kasih kepada semua pihak baik Ibu Dosen Pembimbing yang telah membimbing dan memberikan batasan materi maupun teman-teman yang telah berkontribusi positif terhadap penyusunan makalah ini sehingga makalah ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Mungkin dengan makalah singkat ini dapat menjadi acuan dalam pembelajar kita kedepan dalam lingkup kesehatan dan pengimplementasiannya dalam hidup bermasyarakat. Agar dapat membuka cakrawala berpikir kita dalam menuntaskan masalah kesehatan di Tanah Air ini. Akhirnya, kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaannya. Olehnya, kritik dan saran yang membangun dari sahabat pembaca agar dapat menyempurnakan makalah singkat ini. Bahwa segala kontribusimu adalah menjadi motivasi untuk memperbaiki tulisan kami yang selanjutnya. Yogyakarta, 21 Februari 2015 Penulis
  • 2.
    BAB I PENDAHULUAN A. Latarbelakang 1. Kehamilan Ektopik Kehamilan secara normal akan berada di cavum uteri. Kehamilan ektopik ialah kehamilan di tempat yang luar biasa. Kehamilan ektopik terjadi setiap saat ketika penananaman blastosit berlangsung dimanapun, kecuali di endometrium yang melapisi rongga uterus. Tempat yang mungkin untuk kehamilan ektopik adalah serviks, tuba fallopi, ovarium dan abdomen (Varney, 2006). Lebih dari 90% kehamilan ektopik terjadi di tuba. Kejadian kehamilan tuba ialah 1 diantara 150 persalinan. Angka kejadian kehamilan ektopik cenderung meningkat. Kejadian tersebut dipengaruhi oleh berbagai macam faktor antara lain, meningkatnya prevalensi penyakit tuba karena Penyakit Menular Seksual (PMS) sehingga terjadi oklusi parsial tuba, adhesi peritubal yang terjadi setelah infeksi seperti apendisitis atau endometriosis, pernah menderita kehamilan ektopik sebelumnya, meningkatnya penggunaan kontrasepsi untuk mencegah kehamilan, abortus provokatus, tumor yang mengubah bentuk tuba dan fertilitas yang terjadi oleh obat-obatan pemacu ovalasi (Saifuddin, 2006). Bagi setiap wanita hamil yang diduga bidan mengalami kehamilan ektopik atau ketika tidak dapat dipastikan apakah kehamilan berlangsung di dalam rahim dan wanita tersebut menunjukkan tanda dan gejala kehamilan ektopik, maka penatalaksanaan medis lebih lanjut diperlukan. Bidan dapat melakukakan pemeriksaan fisik dan pengkajian riwayat kehamilan serta evaluasi laboratorium, termasuk pemeriksaan ultrasonografi. Jika kemungkinan kehamilan ektopik tidak dapat disingkirkan, maka bidan harus berkonsultasi dengan dokter (Varney, 2006).
  • 3.
    2. Kehamilan EktopikTerganggu Sebagian besar kehamilan ektopik terganggu berlokasi di tuba (90%) terutama di ampula dan isthmus. Sangat jarang terjadi di ovarium, rongga abdomen, maupun uterus. Keadaan-keadaan yang memungkinkan terjadinya kehamilan ektopik adalah penyakit radang panggul, pemakaian antibiotika pada penyakit radang panggul, pemakaian alat kontrasepsi dalam rahim IUD (Intra Uterine Device), riwayat kehamilan ektopik sebelumnya, infertilitas, kontrasepsi yang memakai progestin dan tindakan aborsi. Gejala yang muncul pada kehamilan ektopik terganggu tergantung lokasi dari implantasi. Dengan adanya implantasi dapat meningkatkan vaskularisasi di tempat tersebut dan berpotensial menimbulkan ruptur organ, terjadi perdarahan masif, infertilitas, dan kematian. Hal ini dapat mengakibatkan meningkatnya angka mortalitas dan morbiditas Ibu jika tidak mendapatkan penanganan secara tepat dan cepat. Insiden kehamilan ektopik terganggu semakin meningkat pada semua wanita terutama pada mereka yang berumur lebih dari 30 tahun. Selain itu, adanya kecenderungan pada kalangan wanita untuk menunda kehamilan sampai usia yang cukup lanjut menyebabkan angka kejadiannya semakin berlipat ganda. Menurut hasil penelitian yang dilakukan Cuningham pada tahun 1992 dilaporkan kehamilan ektopik terganggu ditemukan 19,7 dalam 100 persalinan. Dari penelitian yang dilakukan Budiono Wibowo di RSUP Cipto Mangunkusumo (RSUPCM) Jakarta pada tahun 1987 dilaporkan 153 kehamilan ektopik terganggu dalam 4007 persalinan, atau 1 dalam 26 persalinan. Ibu yang mengalami kehamilan ektopik terganggu tertinggi pada kelompok umur 20-40 tahun dengan umur rata-rata 30 tahun. Frekuensi kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan berkisar antara 0% sampai 14.6% (1). Kasus kehamilan ektopik terganggu di RSUP dr. M. Djamil padang selama 3 tahun (tahun 1992-1994) ditemukan 62 kasus dari 10.612 kehamilan.
  • 4.
    B. Rumusan masalah 1.Apa yang dimaksud dengan kehamilan ektopik dan kehamilan ektopik terganggu? 2. Apa penyebab dari kehamilan ektopik dan kehamilan ektopik terganggu? 3. Apa tanda dan gejala dari kehamilan ektopik dan kehamilan ektopik terganggu? 4. Apa patofisiologi dari kehamilan ektopik dan kehamilan ektopik terganggu? 5. Apa komplikasi dari kehamilan ektopik dan kehamilan ektopik terganggu? 6. Apa saja pemeriksaan penunjang dari kehamilan ektopik dan kehamilan ektopik terganggu? 7. Apa saja penanganan dari kehamilan ektopik dan kehamilan ektopik terganggu? 8. Apa saja diagnosa keperawatan yang mungkin muncul dari kehamilan ektopik dan kehamilan ektopik terganggu? 9. Apa intervensi dari kehamilan ektopik dan kehamilan ektopik terganggu? C. Tujuan penulisan 1. Untuk mengetahui definisi dari kehamilan ektopik dan kehamilan ektopik terganggu 2. Untuk mengetahui penyebab dari kehamilan ektopik dan kehamilan ektopik terganggu 3. Untuk mengetahui tanda dan gejala dari kehamilan ektopik dan kehamilan ektopik terganggu 4. Untuk mengetahui patofisiologi dari kehamilan ektopik dan kehamilan ektopik terganggu 5. Untuk mengetahui komplikasi dari kehamilan ektopik dan kehamilan ektopik terganggu 6. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang dari kehamilan ektopik dan kehamilan ektopik terganggu
  • 5.
    7. Untuk mengetahuipenanganan dari kehamilan ektopik dan kehamilan ektopik terganggu 8. Untuk mengetahui diagnosa keperawatan yang mungkin muncul dari kehamilan ektopik dan kehamilan ektopik terganggu 9. Untuk mengetahui intervensi dari kehamilan ektopik dan kehamilan ektopik terganggu
  • 6.
    BAB II PEMBAHASAN A. PENGERTIAN 1.Kehamilan Ektopik Kehamilan ektopik adalah kehamilan dimana setelah fertilisasi implantasi terjadi diluar endometrium kavum uteri.Kehamilan ektopik adalah implantasi hasil konsepsi pada tempat di luar rongga uterus Misalnya di tubafallopi, ovarium, serviks, atau rongga peritoneum (Barbara R Stright,cetakan I:2005:244). Kehamilan ektopik atau kehamilan extrauterine ialah kehamilan yang dapat terjadi di luar rahim, misalnya dalam tuba, ovarium atau rongga perut,tetapi dapat terjadi di dalam cervix, pars interslitialis tubae atau dalam tanduk rudimenter rahim (obstetric patologi,hal :21). Kehamilan ektopik kombinasi (combined ectopic pregnancy) adalah kehamilan intrauterine yang terjadi pada waktu bersamaan dengan kehamilan ekstrauterine. Kehamilan ektopik rangkap (compound ectopic pregnancy) adalah kehamilan intrauterine dengan kehamilan ekstrauterine yang lebih dulu terjadi tapi janin sudah mati dan terjadi litopedion. (obstetric patologi,hal :21). Berdasarkan tempat implantasinnya, kehamilan ektopik dapat dibagi dalam beberapa golongan : a. Tuba Fallopii b. Uterus (diluar endometrium kavum uterus) c. Ovarium d. Intraligamenter e. Abdominal f. Kombinasi kehamilan didalam dan diluar uterus
  • 7.
    2. Kehamilan EktopikTerganggu Kehamilan Ektopik Terganggu ialah kehamilan ektopik yang mengalami abortus atau ruptur apabila masa kehamilan berkembang melebihi kapasitas ruang implantasi misalnya tuba. (Saifuddin, 2008) a. Faktor dalam lumen tuba 1) Endosalpingitis dapat menyebabkan perlengketan endosalping, sehingga lumen tuba menyempit atau membentuk kantong buntu 2) Lumen tuba sempit dan berlekuk-lekuk yang dapat terjadi pada hipoplasia uteri. Hal ini dapat disertai kelainan fungsi silia endosalping 3) Lumen tuba sempit yang diakibatkan oleh operasi plastik tuba dan sterilisasi yang tidak sempurna. b. Faktor pada dinding tuba : 1) Endometriosis tuba, dapat memudahkan implantasi telur yang dibuahi dalam tuba 2) Divertikel tuba kongenital atau ostium assesorius tubae dapat menahan telur yang dibuahi ditempat itu. c. Faktor diluar dinding tuba : 1) Perlekatan peritubal dengan distorsiatau lekukan tuba dapat menghambat perjalanan telur 2) Tumor yang menekan dinding tuba dapat menyempitkan lumen tuba. d. Faktor lain : 1) Migrasi luar ovum, yaitu perjalanan dari ovum kanan ke tuba kiri- atau sebaliknya- dapat memperpanjang perjalanan telur yang dibuahi ke uterus. Pertumbuhan telur yang terlalu cepat dapat menyebabkan implantasi premature 2) Fertilisasi in vitro
  • 8.
    3. Manifestasi klinis a.Nyeri perut Gejala ini yang paling sering dijumpai dan terdapat pada hampir semua penderita. Nyeri perut ini datang setelah mengangkat berat,buang air besar tapi kadang kadang juga waktu pasien sedang beristirahat. Gejala ini berhubungan dengan apakah kehamilan ektopik sudah ruptur. b. Shock karena hypovolaemia (obstetri William international edition, hal: 890) c. Amenorhoe d. Perdarahan pervaginam Dengan matinya telur desidua mengalami degenerasi dan nekrose dan dikeluarkan dengan perdarahan. Perdarahan ini pada umumnya sedikit, perdarahan yang banyak dari vagina harus mengarahkan pikiran kita ke abortus yang biasa e. Nyeri bahu dan leher Karen perangsangan digfragma f. Nyeri pada palpasi Perut pendeita biasanya tegang dan agak gembung, ada tanda – tanda perdarahan intra abdominal(shifting dullness). 1) Tanda – tanda akut abdomen : nyeri tekan yang hebat (defance musculair), muntah, gelisah, pucat, anemis, nadi kecil dan halus, tensi rendah atau tidak terukur (syok). 2) Tanda Cullen : sekitar pusat atau linea alba kelihatan biru hitam dan lebam. 3) Pada pemeriksaan dalam : Adanya nyeri ayun : dengan menggerakkan porsio dan serviks ibu akan merasa sakit yang sangat 4) Douglas crise : rasa nyeri hebat pada penekanan kavum douglasi 5) Kavum douglasi teraba menonjol karena terkumpulnya darah, begitu pula teraba masa retrouterin (masa pelvis)
  • 9.
    4. Patofisologi Kebanyakan darikehamilan ektopik berlokasi di tuba fallopii. Tempat yang paling umum terjadi adalah pada pars ampullaris, sekitar 80 %. Kemudian berturut-turut adalah isthmus (12%), fimbriae (5%), dan bagian kornu dan daerah intersisial tuba (2%), dan seperti yang disebut pada bagian diatas, kehamilan ektopik non tuba sangat jarang. Kehamilan pada daerah intersisial sering berhubungan dengan kesakitan yang berat, karena baru mengeluarkan gejala yang muncul lebih lama dari tipe yang lain, dan sulit di diagnosis, dan biasanya menghasilkan perdarahan yang sangat banyak bila terjadi rupture. Proses implantasi ovum yang dibuahi, yang terjadi di tuba pada dasarnya sama dengan halnya di kavum uteri. Telur di tuba bernidasi secara kolumner atau interkolumner. Pada yang pertama telur berimplantasi pada ujung atau sisi jonjot endosalping. Perkembangan telur selanjutnya dibatasi oleh kurangnya vaskularisasi dan biasanya telur mati secara dini dan diresorbsi. Pada nidasi secara interkolumner telur bernidasi antara 2 jonjot endosalping. Setelah tempat nidasi tertutup, maka telur dipisahkan dari lumen tuba oleh lapisan jaringan yang menyerupai desidua dan dinamakan pseudokapsularis. Karena pembentukan desidua di tuba tidak sempurna malahan kadang-kadang tidak tampak, dengan mudah villi korialis menembus endosalping dan masuk dalam lapisan otot-otot tuba dengan merusak jaringan dan pembuluh darah. Perkembangan janin selanjutnya bergantung pada beberapa faktor, seperti tempat implantasi, tebalnya dinding tuba, dan banyaknya perdarahan yang terjadi oleh invasi trofoblas. Dibawah pengaruh hormon estrogen dan progesteron dari korpus luteum gravidatis dan trofoblas, uterus menjadi besar dan lembek, dan endometrium dapat pula berubah menjadi desidua. Dapat ditemukan pula perubahan-perubahan pada endometrium yang disebut fenomena Arias-Stella. Sel epitel membesar dengan intinya hipertrofik, hiperkromatik, lobuler, dan berbentuk tidak teratur. Sitoplasma sel
  • 10.
    dapat berlubang-lubang atauberbusa, dan kadang-kadang ditemukan mitosis. Perubahan ini hanya terjadi pada sebagian kehamilan ektopik. Terdapat beberapa kemungkinan yang dapat terjadi pada kehamilan ektopik dalam tuba. Karena tuba bukan merupakan tempat yang baik untuk pertumbuhan hasil konsepsi, tidak mungkin janin dapat tumbuh secara utuh seperti di uterus. Sebagian besar kehamilan tuba terganggu pada umur kehamilan antara 6 minggu sampai 10 minggu. 5. Komplikasi Pada pengobatan konsevatif yaitu bila ruptur tuba telah lama berlangsung 9 4-6 minggu ) terjadi perdarahan ulang ( recurrent bleeding ) ini merupakan indikasi operasi. a. Infeksi b. Sub ileus karena masaa pelvis c. Sterilitas 6. Pemeriksaan penunjang Berikut ini merupakan jenis pemeriksaan untuk membantu diagnsosi kehamilan ektopik : a. HCG-β Pengukuran subunit beta dari HCG (Human Chorionic Gonadotropin-Beta) merupakan tes laboratorium terpenting dalam diagnosis. Pemeriksaan ini dapat membedakan antara kehamilan intrauterine dengan kehamilan ektopik b. Kuldosintesis Tindakan kuldosintesis atau punksi Douglas. Adanya yang diisap berwarna hitam (darah tua) biarpun sedikit, membuktikan adanya darah di kavum Douglasi
  • 11.
    c. Dilatasi danKuretase Biasanya kuretase dilakukan setelah amenore terjadi perdarahan yang cukup lama tanpa menemukan kelainan yang nyata disamping uterus. d. Laparaskopi Laparaskopi hanya digunakan sebagi alat bantu diagnosis terakhir apabila hasil – hasil penilaian prosedur diagnotik lain untuk kehamilan ektopik terganngu meragukan. Namun beberpa dekade terakhir alat ini juga dipakai untuk terapi. e. Ultrasonografi Keunggulan cara pemeriksaan ini terhadap ultrasonografi ialah tidak invasive, artinya tidak perlu memasukkan rongga kedalam rongga perut. Dapat dinilai kavum uteri, kosong atau berisi, tebal endometrium, adanya massa dikanan kiri uterus dan apakah kavum Douglas berisi cairan. f. Tes Oksitosin Pemberian oksitosin dalam dosis kecil intravena dapat membuktikan adanya kehamilan ektopik lanjut. Dengan pemerikasaan bimanual, diluar kantong janin dapat diraba suatu tumor. g. Foto Rontgen Tampak kerangka janin lebih tinggi letaknya dan berada dalam letak paksa. Pada foto lateral tampak bagian- bagian janin menutupi vertebra ibu. h. Histerosalpingografi Memberikan gambaran kavum uteri kosong dan lebih besar dari biasa, dengan janin diluar uterus. Pemeriksaan ini dilakukan jika diagnosis kehamilan ektopik terganggu sudah dipastikan dengan USG (Ultra Sono Graphy) dan MRI (Magnetic Resonance Imagine). Trias klasik yang sering ditemukan adalah nyeri abdomen, perdarahan vagina abnormal, dan amenore.
  • 12.
    7. Penanganan a. Penderitayang disangka KET harus segera dirawat inap dirumah sakit untuk penanggulanggannya b. Bila wanita dalam keadaan syok perbaiki keadaan umumnya dengan pemberian cairan yang cukup ( dekstrose 5%, glukosa 5%, garam fisiologis) dan transfusi darah. c. Setelah didiagnosis jeals atau sangat disangka KET dan keadaan umum baik atau lumayan, segera lakukan laparatomi untuk menghilangkan sumber perdarahan ; dicari,diklem dan dieksisi sebersih mungkin ( salpingektomi ) kemudian diikat sebaik- baiknya. d. Sisa-sisa darah dikeluarkan dan dibersihkan sedapat mungkin supaya penyembuhan lebih cepat e. Berikan antibiotika sesuai indikasi dan obat anti inflamasi 8. Pengkajian a. Pengkajian 1) Identitas Pasien 2) Alasan Dirawat 3) Keluhan utama : mual, muntah, nyeri abdomen 4) Riwayat penyakit 1. menanyakan penyakit yang pernah diderita pasien sebelumnya 2. menanyakan penyakit yang sedang dialami sekarang 3. menanyakan apakah pasien pernah menjalani operasi 5) Riwayat keluarga a) menanyakan apakah di keluarga pasien ada anggota keluarga yang menderita penyakit menular kronis b) menanyakan apakah dari pihak keluarga ibu atau suaminya ada yang memiliki penyakit keturunan
  • 13.
    c) menanyakan apakahdari pihak keluarga ibu atau suaminya pernah melahirkan atau hamil anak kembar dengan komplikasi. 6) Riwayat obstetrik a) menanyakan siklus menstruasi apakah teratur atau tidak b) menanyakan berapa kali ibu itu hamil c) menanyakan berapa lama setelah anak dilahirkan dapat menstruasi dan berapa banyak pengeluaran lochea d) menanyakan jika datang menstruasi terasa sakit e) menanyakan apakah pasien pernah mengalami abortus f) menanyakan apakah di kehamilan sebelumnya pernah mengalami kelainan g) menanyakan apakah anak sakit panas setelah dilahirkan h) menanyakan apakah pasien menggunakan alat kontrasepsi dalam rahim 7) Data Bio-Psiko-Sosial-Spiritual (Data Fokus) a) Makan minum tanda : nafsu makan menurun (anoreksia), mual muntah, mukosa bibir kering, pucat. b) Eliminasi Tanda : konstipasi, nyeri saat BAB, Sering kencing (BAK) c) Aktivitas tanda : nyeri perut saat mengangkat benda berat, terlihat oedema pada ekstremitas bawah (tungkai kaki) 8) Pemeriksaan Umum a) Inspeksi terlihat tanda cullen yaitu sekitar pusat atau linia alba kelihatan biru, hitam dan lebam. terlihat gelisah, pucat, anemi, nadi kecil, tensi rendah.
  • 14.
    b) Pada palpasiperut dan perkusi terdapat tanda-tanda perdarahan intra abdominal (shifting dullness). nyeri tekan hebat pada abdomen. Douglas crisp: rasa nyeri hebat pada penekanan kavum Douglasi. Kavum douglasi teraba menonjol karena terkumpulnya darah. Teraba massa retrouterin (massa pelvis) c) Nyeri bahu karena perangsangan diafragma d) Nyeri ayun saat menggerakkan porsio dan servik ibu akan sangat sakit 9) Pemeriksaan Diagnostic a. Pemeriksaan laboratorium pemeriksaan Hb setiap satu jam menunjukkan penurunan kadar Hb. timbul anemia bila telah lewat beberapa waktu. leukositosis ringan (<15000). b. Pemeriksaan tes kehamilan tes baru yang lebih sensitive berguna karena lebih mungkin positif pada kadar HCG yang lebih rendah c. Pemeriksaan kuldosintesis untuk mengetahui adakah darah dalam kavum douglasi. untuk memastikan perdarahan intraperitonial dan dapat memberikan hasil negative palsu atau positif palsu. d. Diagnostic laparoskopi untuk mendiagnosis penyakit pada organ pelvis termasuk kehamilan ektopik
  • 15.
    e. Ultra sonografi(USG) untuk mendiagnosis kehamilan tuba dimana jika kantong ketuban bisa terlihat dengan jelas dalam kavum uteri maka kemungkinan kehamilan ektopik terjadi f. Diagnostic kolpotomi infeksi langsung tuba fallopi dan ovarium. Prosedur ini tidak dilakukan lagi karena hasil kurang memuaskan g. Diagnostic kuretase pembedahan antara abortus iminens atau inkomplitus pada kehamilan intrauteri dengan kehamilan tuba. Ditemukannya desidua saja dalam hasil kuret uterus yang menunjukan kehamilan ekstrauteri. 9. Diagnosa keprawatan yang mungkin muncul a. Nyeri akut b.d ruptur tuba fallopi b. Kekurangan volume cairan b.d ruptur kehamilan ektopik c. Proses berduka berhubungan dengan kehilangan kehamilan d. Resiko infeksi b.d perdarahan dan luka insisi. 10. Intervensi a. Dx 1 Intervensi 1) Kaji rasa nyeri klien, meliputi sifat, lokasi, dan durasi 2) Kaji respon emosional klien 3) Beri lingkungan yang nyaman dan tenang, serta ajarkan aktivitas untuk mengalihkan rasa nyeri dengan menggunakan metode relaksasi (napas dalam, visualisasi,dan distrkasi) 4) Kolaborasi pemberian analgetik seperti sedativ atau opioid b. Dx 2 Intervensi 1) Evaluasi, catat dan laporkan jumlah serta sifat kehilangan darah
  • 16.
    2) Lakukan tirahbaring. Instruksikan klien untuk menghindari calsava maneuver dan coitus 3) Posisikan klien telentang dengan panggul ditinggikan 4) Catat TTV, capillary refill, warna kulit dan suhu tubuh c. Dx 3 Intervensi 1) Diskusi situasi dan pemahaman tentang kondisi kesehatan dengan klien dan pasangan 2) Pantau respon verbal dan nonverbal klien dan pasangan d. Dx 4 Intervensi 1) Kaji dan pantau TTV terutama suhu 2) Kaji tanda – tanda infeksi 3) Kaji derajat luka, daerah luka, cairan yang diluka 4) Lakukan perawatan luka dengan benar 2 kali sehari
  • 17.
    BAB III TINJAUAN KASUS Tanggal/ jam : 10 November 2014 / 12.30 WIB Tempat : BPS. Sularsih,Amd.Keb RM : 00.20.22.24 Identitas Nama istri : Ny. M Nama suami : Tn. S Umur : 28 th Umur : 31 th Agama : Islam Agama : Islam Suku/bangsa : Jawa/Indo Suku/bangsa : Jawa/Indo Pendidikan : S1 Pendidikan : SMA Pekerjaan : IRT Pekerjaan : TNI - AL Alamat : Jl.Tj. Harapan 61 E Pangkat SUBYEKTIF  Ibu dari rumah datang ke BPS mengatakan keluar darah dari kemaluan (flek-flek), kadang keluar bersamaan dengan kencing sejak 4 hari yang lalu (06 November 2014)  Ibu mengatakan nyeri pada bagian bawah perut sebelah kanan.  Ibu mengatakan ibu dan keluarga sangat mengkhawatirkan kondisi kehamilannya.  Ibu mengatakan hamil yang pertama mengalami keguguran dan dikuretasi (tahun 2012) di RSAL oleh dokter obsgyn dengan diagnosa abortus Imenens.  Ibu mengatakan ini kehamilan ke 2 usia kehamilan 2 bulan. Hari pertama haid terakhir pada tanggal 03 september 2014, Hari perkiraan lahir 10 Juni 2015.  Ibu mengatakan rutin memeriksakan kehamilan sekarang di poli hamil RSAL (trimester 1 sebanyak 3 kali). Keluhan selama hamil trimester 1 mual, muntah dan mengeluarkan darah dari kemaluan (flek - flek).
  • 18.
     Ibu mengatakanpernah mendapatkan penyuluhan nutrisi tentang ibu hamil.  Ibu mengatakan ibu mendapatkan terapi zat besi, kalsium dan vitamin.  Ibu mengatakan ibu menikah hanya sekali pada usia 25 tahun, lama perkawinannya ± 3 tahun  Ibu mengatakan tidak ada keluhan selama haid, siklus haid teratur 28 hari, lamanya ± 6-7 hari, banyaknya ± 2-3 kotex / hari, bau anyir dan berwarna merah .  Ibu mengatakan ibu dan keluarga tidak pernah sakit DM, Jantung, Ashma, Hipertensi, TBC, Hepatitis dan tidak ada keturunan kembar.  Ibu mengatakan selama hamil makan 3 kali / hari (nasi, lauk pauk, sayur, buah),minum 7 – 8 gelas / hari (air putih, susu)  Ibu mengatakan BAK sebanyak ± 5 kali / hari (warna kuning jernih, tidak nyeri), BAB : 1 kali / hari ( lunak, warna kuning, bau khas)  Selama hamil ibu hanya berbaring, miring ke kanan dan kiri, serta mengerjakan tugas rumah tangga yang ringan saja.  Ibu mengatakan Istirahat cukup siang ± ½ - 1 jam / hari, Malam : ± 6 - 7 jam / hari  Ibu mengatakan ibu mandi Mandi 2 kali / hari, gosok gigi 2 - 3 kali/ hari, ganti baju dan celana dalam 2 - 3 kali/ hari.  Ibu mengatakan jarang melakukan hubungan seksual karena takut keguguran seperti hamil anak pertama  Ibu mengatakan Hubungan ibu dengan suami, keluarga dan tetangga baik.  Ibu mengatakan Selama hamil ibu tidak pernah minum jamu, ibu tidak pantang makan, tidak mengadakan acara tradisi budaya. OBJEKTIF 1. Pemeriksaan fisik umum a. Keadaan umum
  • 19.
    Kesadaran : Composmenitis Posturtubuh : Lordosis TB/BB : 159 cm BB sbl hamil : 50 kg BB slm hamil : 54 kg b. Tanda-tanda vital Tensi : 110 / 70 mmHg Nadi : 80 kali/menit Suhu : 37º C RR : 24 kali/menit 2. Pemeriksaan fisik khusus a. Inspeksi Kepala : Rambut hitam, bersih, tidak ada benjolan, tidak ada luka. Muka : Tidak pucat, tidak oedema, tidak ada cloasma gravidarum. Mata : Simetris, sclera tidak icterus, conjungtiva tidak anemis. Hidung : Lubang hidung simetris, tidak ada polip dan tidak ada pernafasan cuping hidung, tidak ada secret. Mulut/Gigi : Simetris, tidak ada stomatitis, tidak ada caries gigi, tidak ada gigi palsu, kebersihan cukup. Telinga : Simetris, bersih, tidak ada serumen, tidak ada purulent. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid maupun bendungan vena jugularis. Ketiak : Tidak ada pembesaran kelenjar lymphe. Dada : Mammae simetris, putting susu menonjol, tidak ada retraksi intercostae, tidak ada benjolan. Perut : Pembesaran sesuai dengan umur kehamilan, strie tidak ada, terdapat linea nigra dan tidak tedapat bekas
  • 20.
    operasi, terdapat nyeritekan pada sebelah kanan perut bagian bawah. Genetalia : Tidak oedema, tidak ada varices, tidak ada pembesaran kelenjar bartholini/skene, terdapat darah, tidak ada cairan Anus : Tidak ada haemoroid Ektremitas : Tidak oedema, tidak ada gangguan pergerakan, tidak ada varices. b. Palpasi Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan bendungan vena jugularis. Ketiak : Tidak ada pembesaran kelenjar lymphe. Mammae : Tidak ada benjolan, konsistensi lunak, colostrum -/-. Perut : Lepold I : TFU belum teraba. Lepold II : Tidak dilakukan. Lepold III : Tidak dilakukan. Leopold : Tidak dilakukan. c. Auskultasi Ibu : Tidak terdengar ronchi -/- dan wheezing -/- 3. Pemeriksaan Penunjang Hasil USG ANALISA Ny. M umur 28 tahun GII P0 AI UK 7+3 minggu dengan observasi kehamilan ektopik. PENATALAKSANAAN 1. Memberitahu hasil pemeriksaan kepada ibu Ibu tampak sedih dengan hasil pemeriksaan
  • 21.
    2. Melakukan pendekatandan memberikan dukungan psikologis pada pasien. agar terjalin hubungan baik dengan pasien sehingga pasien lebih kooperatif terhadap setiap tindakan yang kita lakukan. Ibu tampak lebih tenang. 3. Observasi TTV. R/ deteksi dini adanya kelainan. 4. Melakukan kolaborasi dengan R/ Fungsi dependent bidan.
  • 22.
    BAB IV PENUTUP A. Kesimpulandan saran Diagnosis pada pasien ini adalah kehamilan ektopik terganggu. Perawatan yang dilakukan sejak pasien datang adalah segeras mencari tahu kepastian diagnosis kehamilan ektopik terganggu dengan mengambil data lengkap dari anmnesis, pemeriksaan fisik umum dan pemeriksaan ginekologis, pemeriksaan penujang seperti pemeriksaan darah, tes kehamilan dan USG. Setelah didapatkan diagnosis kerja kehamilan ektopik terganggu, segera dilakukan intervensi pembedahan laparotomi (salpingektomi sinistra). Dengan kondisi pasien yang stabil setelah di operasi, luka operasi terawat dengan baik, os memimta pulang paksa pada perawatan hari ke sembilan dan diminta kontrol luka operasi 3 hari di poliklinik. Hal yang dapat dilakuakan sekarang adalah memberi edukasi pada pasien ini untuk lebih jeli dalam menghadapi tanda-tanda kemungkinan hamil lagi, seperti langsung ke dokter untuk memastikan apakah dirinya benar-benar hamil dan mendapat perawatan yang lebih ketat. Dijelaskan juga faktor – faktor resiko seperti infeksi pelvikm penyakit menukar seksualm usia dan larangan merokok untuk mencegah bertambah besarnya resiko terjadinya kehamilan ektopik terganggu, karena pada pasien yang perna mengalami penyakit ini, jelas sebelumnya sudah ada faktor resiko untuk memungkinkan terjadinya kehamilan ektopik terganggu lagi.
  • 23.
    Daftar Pustaka Abdul barisaifuddin,, 2001 , Buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal dan neonatal, penerbit yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo, Jakarta Arif Mansyoer,DKK,1999, Kapita selecta Kedokteran, Penerbit media aeskulapius FKUI. Hacher/moore, 2001, Esensial obstetric dan ginecologi, hypokrates , jakarta Helen Varney,DKK, 2002, Buku Saku Bidan, cetakan I, EGC, Jakarta Lynda Jual Carpenito, 2001, Buku Saku Diagnosa keperawatan edisi 8,EGC,Jakarta. Manuaba,Ida Bagus Gede, 1998, Ilmu kebidanan,penyakit kandungan dan keluarga berencana, EGC, Jakarta Marlyn Doenges,dkk, 2001,Rencana perawatan Maternal/Bayi, EGC , Jakarta Mocthar R, 1998, Sinopsis Obstetri Cetakan I,EGC, Jakarta.