ASPEK PERPAJAKAN UNTUK
DOSEN/PENGAJAR
PERGURUAN TINGGI
DASAR HUKUM
 UU Nomor 36 Tahun 2008 (berlaku sejak 1 Januari 2009) tentang Perubahan
Keempat atas UU Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan
 PMK-252/PMK.03/2008 (berlaku sejak 1 Januari 2009) tentang Petunjuk
Pelaksanaan Pemotongan Pajak atas Penghasilan sehubungan dengan
Pekerjaan, Jasa dan Kegiatan Orang Pribadi
 PER-16/PJ/2016 (berlaku sejak 29 September 2016) tentang Pedoman Teknis
Tata Cara Pemotongan, Penyetoran, dan Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 21
dan/atau Pajak Penghasilan Pasal 26 sehubungan dengan Pekerjaan, Jasa, dan
Kegiatan Orang Pribadi
 PMK-101/PMK.010/2016 (berlaku sejak 27 Juni 2016) tentang Penyesuaian
Besarnya PTKP
 PER-17/PJ/2015 (berlaku sejak 1 Januari 2016) tentang Norma Penghitungan
Penghasilan Neto
OBJEK PAJAK
Penghasilan
tambahan
kemampuan
ekonomis
untuk konsumsi
atau
menambah
kekayaan
dari dalam
negeri maupun
luar negeri
dengan nama
dan dalam
bentuk apapun
(Pasal 4 ayat (1) UU PPh )
PENGHASILAN DOSEN
Pegawai Tetap/Tidak Tetap
Bukan Pegawai
Punya Usaha
Penghasilan Lain
Pegawai Tetap adalah pegawai yang menerima atau memperoleh
penghasilan dalam jumlah tertentu secara teratur, termasuk anggota
dewan komisaris dan anggota dewan pengawas, serta pegawai yang bekerja
berdasarkan kontrak untuk suatu jangka waktu tertentu yang menerima
atau memperoleh penghasilan dalam jumlah tertentu secara teratur
Pegawai Tidak Tetap/Tenaga Kerja Lepas adalah pegawai yang hanya
menerima penghasilan apabila pegawai yang bersangkutan bekerja,
berdasarkan jumlah hari bekerja, jumlah unit hasil pekerjaan yang dihasilkan
atau penyelesaian suatu jenis pekerjaan yang diminta oleh pemberi
kerja
Pegawai Tetap/Tidak Tetap
Orang pribadi selain Pegawai Tetap dan Pegawai Tidak
Tetap/Tenaga Kerja Lepas yang memperoleh penghasilan dengan
nama dan dalam bentuk apapun dari Pemotong PPh Pasal 21
dan/atau PPh Pasal 26 sebagai imbalan jasa yang dilakukan
berdasarkan perintah atau permintaan dari pemberi penghasilan
Bukan pegawai
Pasal 3 huruf c angka 4 PER-16/PJ/2016
Peredaran Bruto Tertentu
Tidak melebihi 4,8 M setahun
PPh terutang = 0,5% X Peredaran bruto setiap bulan,
untuk setiap tempat kegiatan usaha atas Penghasilan
dari usaha yang diterima
Punya Usaha
* USAHA antara lain usaha dagang, industri, dan jasa, seperti misalnya
toko/kios/los kelontong, pakaian, elektronik, bengkel, penjahit, warung/rumah
makan, salon, dan usaha lainnya
PP 23 Tahun 2018
Penghasilan Lainnya
bunga, royalti,
sewa keuntungan
dari penjualan
dan/atau
pengalihan harta
lainnya
(capital gain)
sewa harta
selain tanah
dan/atau
bangunan
hadiah /
imbalan lain yang
diterima
bunga tabungan, deposito,
penjualan saham
di bursa efek, dividen, sewa
tanah dan/atau bangunan,
penghasilan yang diterima
atas Pengalihan hak atas tanah
dan/atau bangunan, Hadiah
Undian
KEWAJIBAN PAJAK
 HITUNG
 DAFTAR
 SETOR/BAYAR
 LAPOR
via ereg.pajak.go.id
 DAFTAR
 HITUNG
Dibayar Sendiri (PPh Pasal 25/29)
Dipotong oleh Pihak Lain (PPh Pasal 21)
Melakukan penghitungan atas
penghasilan yang diterima/diperoleh
dalam 1 tahun pajak dan melaporkannya
dalam SPT Tahunan PPh Orang Pribadi
(paling lambat 31 Maret)
Dibayar Sendiri (PPh Pasal 25/29)
Tarif Pajak Penghasilan
Berdasarkan Pasal 17 ayat (1) huruf a UU
Nomor 36 Tahun 2008 (UU PPh)
Sampai dengan Rp 50 juta
Di atas Rp 50 juta s.d. Rp 250 juta
Di atas Rp 250 juta s.d. Rp 500 juta
Di atas Rp 500 juta
5%
15%
25%
30%
15%
5%
PENGHASILAN TIDAK KENA PAJAK
Berdasarkan PMK NO. 101/PMK.010/2016 dan PER‐ 16/PJ/2016
Penerapan PTKP ditentukan oleh keadaan
pada awal tahun kalender atau awal bulan
dari bagian tahun kalender
Dipotong oleh Pihak Lain (PPh Pasal 21)
 pemberi kerja
 bendahara atau pemegang kas pemerintah
 dana pensiun, badan penyelenggara jaminan sosial tenaga
kerja, dan badan lain yg membayar uang pensiun secara
berkala
 orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan
bebas serta badan yang membayar honor, fee, dan imbalan
lainnya
 penyelenggara kegiatan
Pasal 2 ayat (1) Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-16/PJ/2016
PH.BRUTO-PTKP
PH.BRUTO(4,5jt s.d.
10,2jt)-PTKP
HARIAN
TETAP
TIDAK TETAP
BULANAN
HARIAN
PH.NETO-PTKP
PH.BRUTO-450ribu
PH.BRUTO(>10jt)-
PTKP
50% X PH.BRUTO (KUMULATIF) -
PTKP BULANAN
BERKESINAMBUNGAN
TIDAK
BERKESINAMBUNGAN
KOMISARIS, MANTAN
PEGAWAI, PENARIKAN
DAPEN O/ PEGAWAI
50% X PH.BRUTO
PH.BRUTO (KUMULATIF)
PENSIUNAN
SEKALIGUS
BERKALA
PP 68 TAHUN 2009
PH.NETO-PTKP
PESERTA KEGIATAN PH. BRUTO
Contoh Bukti Potong
1721-A1
CONTOH
PENGHITUNGAN
Soni adalah seorang
dosen tetap di
Universitas Indonesia
Jaya. Setiap bulan
menerima penghasilan
berupa gaji sebulan
sebesar
Rp5.750.000,00 dan
membayar iuran
pensiun sebesar Rp
200.000,00.
Soni telah menikah dan
belum memiliki anak.
Berapakah PPh
terutang atas Soni?
PEGAWAI TETAP
CONTOH PENGHITUNGAN
Nina (TK/0) merupakan
dosen tamu di Universitas
Abadi. Nina telah memiliki
NPWP, serta hanya
memperoleh penghasilan
dari hubungan kerja
dengan satu pemotong
PPh 21 dan tidak memiliki
penghasilan lainnya.
Honor yg diterima sebesar
Rp3.000.000,00/pertemuan.
Oktober 2020, Nina
mengajar sebanyak 4 kali di
Universitas Abadi. Berapa
PPh Pasal 21-nya?
Jika Nina ternyata juga menerima honor mengajar dari
Universitas Jayaraya:
BUKAN PEGAWAI
Pada tahun 2020, Pak Andi
memiliki penghasilan dari dua
pemberi kerja dengan asumsi
Pak Andi bekerja di PTN
BERADA sebagai dosen dan
merangkap pegawai tetap dan
di PTS AMANDA, maka
masing-masing tempat
kerjanya memotong PPh Pasal
21 dan Pak Andi memiliki dua
bukti potong 1721 A1.
Contoh ringkasan dua bukti
potong 1721 A1 adalah
sebagai berikut:
CONTOH PENGHITUNGAN PAJAK TAHUNAN
Penjelasan Pasal 4 UU PPh:
Karena Undang-Undang ini menganut pengertian penghasilan yang luas maka semua
jenis penghasilan yang diterima atau diperoleh dalam suatu tahun pajak digabungkan
untuk mendapatkan dasar pengenaan pajak.
PPh Kurang Bayar
Rp21.700.000,00
Angsuran PPh Pasal 25
Rp1.808.333,00
Contoh 2
Pada tahun 2020, Pak Indra memiliki penghasilan dari pemberi kerja dengan:
 PTN BERANDA DENGAN BUKTI POTONG 1721-A1
 Penghasilan sekali mengajar pada perusahaan PT MEGALOMAN dengan Bukti Potong Pasal 21
Tidak Final dengan perincian sebagai berikut
Penyelesaian:
Pengh 1721-A1 185,000,000
Pengh BP 25,000,000
Pengh Netto 210,000,000
PTKP 54,000,000
PKP 156,000,000
PPh Terutang 18,400,000
Kredit Pajak
1721-A1 14,650,000
BP tdk Final 1,250,000
15,900,000
PPh yang masih
kurang bayar 2,500,000
Contoh 3
Pada tahun 2020, Pak Andi memiliki penghasilan dari pemberi kerja dengan
 PTN BERANDA DENGAN BUKTI POTONG 1721-A1
 Penghasilan final mengajar di PEMDA XX dengan sumber dana dari APBD dengan Bukti Potong Pasal
21 Final dengan perincian sebagai berikut:
20
ANDI
2 0
• Isi baris 16
• Kolom DASAR PENGENAAN
PAJAK/PENGHASILAN BRUTO diisi
omzet
• Kolom PPh Terutang diisi PPh 0,5%
Untuk yang
punya usaha
 SETOR/BAYAR
Buat Kode Billing
1
2 Bayar Pajaknya
Pelaporan paling lambat akhir bulan ketiga (Maret)
tahun berikutnya
 LAPOR
via DJP Online
Aspek perpajakan dosen
Aspek perpajakan dosen

Aspek perpajakan dosen

  • 1.
  • 2.
    DASAR HUKUM  UUNomor 36 Tahun 2008 (berlaku sejak 1 Januari 2009) tentang Perubahan Keempat atas UU Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan  PMK-252/PMK.03/2008 (berlaku sejak 1 Januari 2009) tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemotongan Pajak atas Penghasilan sehubungan dengan Pekerjaan, Jasa dan Kegiatan Orang Pribadi  PER-16/PJ/2016 (berlaku sejak 29 September 2016) tentang Pedoman Teknis Tata Cara Pemotongan, Penyetoran, dan Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/atau Pajak Penghasilan Pasal 26 sehubungan dengan Pekerjaan, Jasa, dan Kegiatan Orang Pribadi  PMK-101/PMK.010/2016 (berlaku sejak 27 Juni 2016) tentang Penyesuaian Besarnya PTKP  PER-17/PJ/2015 (berlaku sejak 1 Januari 2016) tentang Norma Penghitungan Penghasilan Neto
  • 3.
    OBJEK PAJAK Penghasilan tambahan kemampuan ekonomis untuk konsumsi atau menambah kekayaan daridalam negeri maupun luar negeri dengan nama dan dalam bentuk apapun (Pasal 4 ayat (1) UU PPh )
  • 4.
    PENGHASILAN DOSEN Pegawai Tetap/TidakTetap Bukan Pegawai Punya Usaha Penghasilan Lain
  • 5.
    Pegawai Tetap adalahpegawai yang menerima atau memperoleh penghasilan dalam jumlah tertentu secara teratur, termasuk anggota dewan komisaris dan anggota dewan pengawas, serta pegawai yang bekerja berdasarkan kontrak untuk suatu jangka waktu tertentu yang menerima atau memperoleh penghasilan dalam jumlah tertentu secara teratur Pegawai Tidak Tetap/Tenaga Kerja Lepas adalah pegawai yang hanya menerima penghasilan apabila pegawai yang bersangkutan bekerja, berdasarkan jumlah hari bekerja, jumlah unit hasil pekerjaan yang dihasilkan atau penyelesaian suatu jenis pekerjaan yang diminta oleh pemberi kerja Pegawai Tetap/Tidak Tetap
  • 6.
    Orang pribadi selainPegawai Tetap dan Pegawai Tidak Tetap/Tenaga Kerja Lepas yang memperoleh penghasilan dengan nama dan dalam bentuk apapun dari Pemotong PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 sebagai imbalan jasa yang dilakukan berdasarkan perintah atau permintaan dari pemberi penghasilan Bukan pegawai Pasal 3 huruf c angka 4 PER-16/PJ/2016
  • 7.
    Peredaran Bruto Tertentu Tidakmelebihi 4,8 M setahun PPh terutang = 0,5% X Peredaran bruto setiap bulan, untuk setiap tempat kegiatan usaha atas Penghasilan dari usaha yang diterima Punya Usaha * USAHA antara lain usaha dagang, industri, dan jasa, seperti misalnya toko/kios/los kelontong, pakaian, elektronik, bengkel, penjahit, warung/rumah makan, salon, dan usaha lainnya PP 23 Tahun 2018
  • 8.
    Penghasilan Lainnya bunga, royalti, sewakeuntungan dari penjualan dan/atau pengalihan harta lainnya (capital gain) sewa harta selain tanah dan/atau bangunan hadiah / imbalan lain yang diterima bunga tabungan, deposito, penjualan saham di bursa efek, dividen, sewa tanah dan/atau bangunan, penghasilan yang diterima atas Pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan, Hadiah Undian
  • 9.
    KEWAJIBAN PAJAK  HITUNG DAFTAR  SETOR/BAYAR  LAPOR
  • 10.
  • 11.
     HITUNG Dibayar Sendiri(PPh Pasal 25/29) Dipotong oleh Pihak Lain (PPh Pasal 21)
  • 12.
    Melakukan penghitungan atas penghasilanyang diterima/diperoleh dalam 1 tahun pajak dan melaporkannya dalam SPT Tahunan PPh Orang Pribadi (paling lambat 31 Maret) Dibayar Sendiri (PPh Pasal 25/29)
  • 13.
    Tarif Pajak Penghasilan BerdasarkanPasal 17 ayat (1) huruf a UU Nomor 36 Tahun 2008 (UU PPh) Sampai dengan Rp 50 juta Di atas Rp 50 juta s.d. Rp 250 juta Di atas Rp 250 juta s.d. Rp 500 juta Di atas Rp 500 juta 5% 15% 25% 30% 15% 5%
  • 14.
    PENGHASILAN TIDAK KENAPAJAK Berdasarkan PMK NO. 101/PMK.010/2016 dan PER‐ 16/PJ/2016 Penerapan PTKP ditentukan oleh keadaan pada awal tahun kalender atau awal bulan dari bagian tahun kalender
  • 16.
    Dipotong oleh PihakLain (PPh Pasal 21)  pemberi kerja  bendahara atau pemegang kas pemerintah  dana pensiun, badan penyelenggara jaminan sosial tenaga kerja, dan badan lain yg membayar uang pensiun secara berkala  orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas serta badan yang membayar honor, fee, dan imbalan lainnya  penyelenggara kegiatan Pasal 2 ayat (1) Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-16/PJ/2016
  • 17.
  • 18.
    50% X PH.BRUTO(KUMULATIF) - PTKP BULANAN BERKESINAMBUNGAN TIDAK BERKESINAMBUNGAN KOMISARIS, MANTAN PEGAWAI, PENARIKAN DAPEN O/ PEGAWAI 50% X PH.BRUTO PH.BRUTO (KUMULATIF)
  • 19.
    PENSIUNAN SEKALIGUS BERKALA PP 68 TAHUN2009 PH.NETO-PTKP PESERTA KEGIATAN PH. BRUTO
  • 20.
  • 21.
    CONTOH PENGHITUNGAN Soni adalah seorang dosentetap di Universitas Indonesia Jaya. Setiap bulan menerima penghasilan berupa gaji sebulan sebesar Rp5.750.000,00 dan membayar iuran pensiun sebesar Rp 200.000,00. Soni telah menikah dan belum memiliki anak. Berapakah PPh terutang atas Soni? PEGAWAI TETAP
  • 22.
    CONTOH PENGHITUNGAN Nina (TK/0)merupakan dosen tamu di Universitas Abadi. Nina telah memiliki NPWP, serta hanya memperoleh penghasilan dari hubungan kerja dengan satu pemotong PPh 21 dan tidak memiliki penghasilan lainnya. Honor yg diterima sebesar Rp3.000.000,00/pertemuan. Oktober 2020, Nina mengajar sebanyak 4 kali di Universitas Abadi. Berapa PPh Pasal 21-nya? Jika Nina ternyata juga menerima honor mengajar dari Universitas Jayaraya: BUKAN PEGAWAI
  • 23.
    Pada tahun 2020,Pak Andi memiliki penghasilan dari dua pemberi kerja dengan asumsi Pak Andi bekerja di PTN BERADA sebagai dosen dan merangkap pegawai tetap dan di PTS AMANDA, maka masing-masing tempat kerjanya memotong PPh Pasal 21 dan Pak Andi memiliki dua bukti potong 1721 A1. Contoh ringkasan dua bukti potong 1721 A1 adalah sebagai berikut: CONTOH PENGHITUNGAN PAJAK TAHUNAN
  • 24.
    Penjelasan Pasal 4UU PPh: Karena Undang-Undang ini menganut pengertian penghasilan yang luas maka semua jenis penghasilan yang diterima atau diperoleh dalam suatu tahun pajak digabungkan untuk mendapatkan dasar pengenaan pajak.
  • 26.
    PPh Kurang Bayar Rp21.700.000,00 AngsuranPPh Pasal 25 Rp1.808.333,00
  • 27.
    Contoh 2 Pada tahun2020, Pak Indra memiliki penghasilan dari pemberi kerja dengan:  PTN BERANDA DENGAN BUKTI POTONG 1721-A1  Penghasilan sekali mengajar pada perusahaan PT MEGALOMAN dengan Bukti Potong Pasal 21 Tidak Final dengan perincian sebagai berikut
  • 28.
    Penyelesaian: Pengh 1721-A1 185,000,000 PenghBP 25,000,000 Pengh Netto 210,000,000 PTKP 54,000,000 PKP 156,000,000 PPh Terutang 18,400,000 Kredit Pajak 1721-A1 14,650,000 BP tdk Final 1,250,000 15,900,000 PPh yang masih kurang bayar 2,500,000
  • 30.
    Contoh 3 Pada tahun2020, Pak Andi memiliki penghasilan dari pemberi kerja dengan  PTN BERANDA DENGAN BUKTI POTONG 1721-A1  Penghasilan final mengajar di PEMDA XX dengan sumber dana dari APBD dengan Bukti Potong Pasal 21 Final dengan perincian sebagai berikut: 20 ANDI
  • 32.
  • 33.
    • Isi baris16 • Kolom DASAR PENGENAAN PAJAK/PENGHASILAN BRUTO diisi omzet • Kolom PPh Terutang diisi PPh 0,5% Untuk yang punya usaha
  • 34.
     SETOR/BAYAR Buat KodeBilling 1 2 Bayar Pajaknya
  • 35.
    Pelaporan paling lambatakhir bulan ketiga (Maret) tahun berikutnya  LAPOR via DJP Online

Editor's Notes

  • #7 penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh, dan moderator