MAKALAH KEPERAWATAN IMUN HEMATO AJ-2 KELOMPOK 4
STUDI KASUS CAMPAK PADA ORANG DEWASA
DISUSUN OLEH :
RIA KUSUMA DEWI (KETUA)
131511123052
KUMALA SARI MAKATITA (SEKRETARIS)
131511123054
NOVIA SHINTHIA DEWIE (ANGGOTA)
131511123050
EKO OKTALFIANTO (ANGGOTA)
131511123046
LATIFATUL MUNA (ANGGOTA)
131511123048
MAULIA IKA WIDYANA (ANGGOTA)
131511123056
ALIMUDIN FAHMY (ANGGOTA)
131511123058
ANDRI SEPTYAN (ANGGOTA)
131511123044
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA
2015
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Campak (Measles) merupakan penyakit infeksi yang sangat menular
disebabkan oleh virus campak dengan gejala awal berupa demam, konjungtivitis,
pilek, batuk dan bintik-bintik kecil dengan bagian tengah berwarna putih atau
putih kebiru-biruan dengan dasar kemerahan di daerah mukosa pipi (bercak
koplik), gejala khas bercak kemerahan di kulit timbul pada hari ketiga sampai
ketujuh, dimulai di daerah muka, kemudian menyeluruh, berlangsung selama 4–7
hari, kadang-kadang berakhir dengan pengelupasan kulit berwarna kecoklatan. Di
dunia, kematian akibat campak yang dilaporkan pada tahun 2002 sebanyak
777.000 dan 202.000 diantaranya di negara ASEAN serta 15% kematian campak
tersebut di Indonesia (Depkes, 2006). Di Indonesia frekuensi Kejadian Luar Biasa
(KLB) campak cenderung meningkat yaitu 32 kali pada tahun 1998 menjadi 56
kali pada tahun 1999 dan angka insiden campak pada tahun 1998 paling tinggi
pada kelompok balita yaitu 0,7–0,8 per 10000 penduduk. Case Fatality Rate
(CFR) campak pada KLB di Indonesia juga cenderung meningkat yaitu 1,8%
pada tahun 1998 menjadi 2,4% pada tahun 1999.
Dan menurut WHO, apabila ditemukan satu kasus campak pada satu
wilayah, maka kemungkinan ada 17 hingga 20 kasus di lapangan pada jumlah
penduduk rentan yang tinggi (Depkes, 2003). Berdasarkan data statistik WHO
(2011), menyebutkan bahwa sebanyak 1% kematian pada anak yang berusia
dibawah lima tahun disebabkan oleh campak pada tahun 2010. Indonesia yang
termasuk alam negara berkembang, memiliki insiden kasus campak yang cukup
tinggi. Pada tahun 2007, insiden kasus campak untuk golongan umur < 1 tahun
sebesar 48,9 per 100.000 orang tahun, umur 1–4 tahun sebesar 36,6 per 100.000
orang tahun, dan umur 5–14 tahun sebesar 18,2 per 100.000 orang tahun
(Susilaningsih, 2009). Berdasarkan Profil Kesehatan Republik Indonesia
(Kemenkes, 2010), dilaporkan insiden kasus campak di Indonesia sebesar 0,73
per 10.000 penduduk pada tahun 2010. Sedangkan CFR pada KLB campak tahun
2010 adalah 0,233. Bahkan berdasarkan data dari Direktorat Jenderal
Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (2013), sampai dengan tahun
2011 masih dijumpai sebanyak 356 kejadian luar biasa campak yang terjadi di
Indonesia dan sebagian besar terjadi di Pulau Jawa.
Menurut Harsono Tahun 2007, telah banyak usaha-usaha yang dilakukan
untuk mengurangi angka ketidak berhasilan imunisasi campak ini. Salah satu
usaha untuk memberantas penyakit campak ini adalah dengan melakukan
penelitian di bidang surveilens laboratorium, dimana salah satu komponennya
adalah melakukan kegiatan epidemiologi molekuler. Epidemiologi molekuler
menyokong epidemiologi klasik dalam hal mencari sumber impor virus
dengan mendapatkan genotip virus campak penderita dibandingkan dengan
genotip yang telah beredar dalam suatu Negara/wilayah.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana cara membuat asuhan keperawatan dengan diagnosa medis
campak pada pasien dewasa?
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
a. Mahasiswa dapat memberikan asuhan keperawatan dengan diagnosa
medis campak pada pasien dewasa.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mengetahui pengkajian pada pasien campak.
b. Mahasiwa mengetahui diagnosa yang muncul pada pasien campak.
c. Mahasiswa mengetahui intervensi yang dapat diberikan pada pasien
campak.
d. Mahasiswa dapat melakukan implementasi sesuai intervensi yang
telah dibuat pada pasien campak.
e. Mahasiswa dapat mengevaluasi pasien campak
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Medis
A. Pengertian
Campak adalah penyakit akut yang disebabkan oleh virus campak
yang sangat menular dan pada umumnya menyerang anak-anak. Di
masyarakat luas ditemukan kasus kejadian sakit campak yang berulang
walaupun pernah diimunisasi campak. penelitian harsono salimo, 2006
menemukan bahwa kasus campak yang terjadi di indonesia dapat berasal dari
3 genotipe berarti seseorang dapat terinfeksi campak 3 kali. (Soegejanto,
2007)
Campak adalah pemyakit yang disebabkan oleh adanya infeksi virus
yang hidup pada cairan lendir disaluran hidung, tenggorokan, dan didalam
darah. penyakit ini juga tergolong sebagai penyakit menular. (Rimbi, 2014)
B. Etiologi
Penyakit campak disebabkan oleh virus yaitu virus campak sendiri (
paramiksovirus, genius morbili). virus campak ini dapat hidup dan
berkembang biak pada selaput lendir tenggorokan, hidung, dan saluran
pernafasan. (Rimbi, 2014)
virus campak sangat sensitif terhadap panas. virus akan sangat mudah
rusak pada suhu 37o c. virus ini juga mempunyai jangka waktu hidup yang
pendek yaitu < 2 jam. apabila di simpan pada laboratorium, suhu
penyimpnan yang baik adalah pada suhu -70o c. (Soegejanto, 2007)
Virus campak telah lama dikenal sebagai virus yang monotipik dan
bersifat stabil antigenisitasnya. namun demikian, virus campak mempunyai
suatu RNA - dependent RNA polymerase dengan tingkat kesalahan yang
melekat dan mempunyai kapasitas koreksi. virus campak mempunyai 6 gen
utama yaitu M, F, N, H, P, dan L. selubung luarnya mengandung dua
glikoprotein permukaan yang dikenal sebagai protein hemaglutinine (H) dan
membrane fusion protein (F). (Soegejanto, 2007)
C. Epidemiologi
Penyakit campak bersifat endemik diseluruh dunia. Biasanya Epidemi
terjadi pada permulaan musim hujan, mungkin disebabkan karena
meningkatnya kelangsungan hidup virus pada keadaan kelembapan yang
relatip rendah. Epidemi terjadi dengan interval tiap 2-4 tahun sekali yaitu
setelah adanya kelompok baru yang rentan terpajan dengan virus campak.
pengetahuan mengenai epidemiologi sangat penting karena penularan
penyakit ini sangat cepat meskipun cakupan imunisasi sudah cukup tinggi.
(Soegejanto, 2007)
Strategi untuk eliminasi penyakit campak adalah : (1) melakukan
imunisasi masal pada anak umur 9 bulan sampai dengan 15 tahun, (2)
meningkatkan cakupan imunisasi rutin pada bayi umur 9 bulan, (3)
melakukan surveilens secara intensif dan (4) follow up imunisasi massal.
(Soegejanto, 2007)
D. Patogenesis
Penularan penyakit campak adalah dengan melalui droplet jalan
pernafasan. Penyakit ini ditandai dengan periode laten selama 10-14 hari dan
2-3 hari periode prodromal dengan nafas, batuk, pilek dan konjungtivitis dan
dikikuti dengan timbulnya ruam makulopapuler yang khas. Timbulnya ruam
bersamaan dengan timbulnya respons imun dan permulaan hilangnya virus.
Selanjutnya virus campak masuk kelenjar getah bening yang berada di bawah
mukosa. Di sini virus memperbanyak diri kemudian masuk ke sel-sel
jaringan limfe local. Hal ini di tandai dengan ditemukannya
retichuloendhotial giant cell yang pertama kali ditemukan oleh Warthin dan
Finkeldey. Amplifikasi dari virus pada kelenjar limfe regional berakibat
timbulnya viremia dan penyebaran virus melalui pembuluh darah ke berbagai
organ tubuh. Oragn limfoid (Thymus, limpa dan kelenjar getah bening) dan
jaringan limfoid (misalnya appendiks dan tonsil) merupakan tempat replikasi
virus. Hal ini dapat di lihat dengan makin meningktnya sel warthin pada
jaringan limfe sebelum timbulnya ruam. Sel limfosit T-supressor dan T-
helper yang rentan terhadap infeksi, aktif membela diri. Pada saat 5 – 6 hari
sesudah infeksi awal, focus infeksi terwujud yaitu ketika virus masuk
kedalam pembuluh darah dan ketika menyebar ke permukaan epitel
erofaring, konjungtiva, saluran pernafasan, kulit, kandug seni, dan saluran
usus. Selanjutnya pada hari 9-10 fokus infeksi berada di saluran nafas. Pada
saat itu muncul gejala coryza (pilek) disertai dengan peradangan selaput
konjungtiva yang tampak merah (conjungtivitis). penderita tampak lemah
disertai suhu tubuh yang meningkat, tampak sakit berat sampai munculnya ruam
kulit (rash). Pada hari ke 11 tampak pada mukosa pipi di depan molar 3 suatu ulcera
kecil koplik’s spot merupakan tempat virus tumbuh dan selanjutnya mati, dan
kelainan merupakan tanda pasti pathognomosis untuk menegakan diagnosis.
Akhirnya muncul ruam makulopapulat di hari ke 14 sesudah awal infeksi dan pada
saat itu antibody humoral dapat di deteksi dan selanjutnya suhu tubuh menurun.
(Soegejanto, 2007).
E. Gejala Klinis
Menurut (Heryanti, 2015) Penyakit ini mempunyai tanda-tanda yang
terdiri dari 3 stadium :
1. Stadium Inkubasi
Masa inkubasi campak berlangsung kira-kira 10 hari (8 hingga 12
hari). Walaupun pada masa ini terjadi viremia dan reaksi imunologi
yang ekstensif, penderita tidak menampakkan gejala sakit.
2. Stadium prodromal
Manifestasi klinis campak biasanya baru mulai tampak pada
stadium prodromal yang berlangsung selama 2 hingga 4 hari. Biasanya
terdiri dari gejala klinik khas berupa batuk, pilek dan konjungtivitis,
juga demam. Inflamasi konjungtiva dan fotofobia dapat menjadi
petunjuk sebelum munculnya bercak Koplik. Garis melintang
kemerahan yang terdapat pada konjungtiva dapat menjadi penunjang
diagnosis pada stadium prodromal. Garis tersebut akan menghilang bila
seluruh bagian konjungtiva telah terkena radang Koplik spot yang
merupakan tanda patognomonik untuk campak muncul pada hari ke-
10±1 infeksi. Koplik spot adalah suatu bintik putih keabuan sebesar
butiran pasir dengan areola tipis berwarna kemerahan dan biasanya
bersifat hemoragik. Tersering ditemukan pada mukosa bukal di depan
gigi geraham bawah tetapi dapat juga ditemukan pada bagian lain dari
rongga mulut seperti palatum, juga di bagian tengah bibir bawah dan
karunkula lakrimalis. Muncul 1 – 2 hari sebelum timbulnya ruam dan
menghilang dengan cepat yaitu sekitar 12-18 jam kemudian. Pada akhir
masa prodromal, dinding posterior faring biasanya menjadi hiperemis
dan penderita akan mengeluhkan nyeri tenggorokkan.
3. Stadium erupsi
Pada campak yang tipikal, ruam akan muncul sekitar hari ke-14
infeksi yaitu pada saat stadium erupsi. Ruam muncul pada saat puncak
gejala gangguan pernafasan dan saat suhu berkisar 39,5ËšC. Ruam
pertama kali muncul sebagai makula yang tidak terlalu tampak jelas di
lateral atas leher, belakang telinga, dan garis batas rambut. Kemudian
ruam menjadi makulopapular dan menyebar ke seluruh wajah, leher,
lengan atas dan dada bagian atas pada 24 jam pertama. Kemudian ruam
akan menjalar ke punggung, abdomen, seluruh tangan, paha dan terakhir
kaki, yaitu sekitar hari ke-2 atau 3 munculnya ruam. Saat ruam muncul
di kaki, ruam pada wajah akan menghilang diikuti oleh bagian tubuh
lainnya sesuai dengan urutan munculnya (Phillips, 1983). Saat awal
ruam muncul akan tampak berwarna kemerahan yang akan tampak
memutih dengan penekanan. Saat ruam mulai menghilang akan tampak
berwarna kecokelatan yang tidak memudar bila ditekan.
Menurut (Soegejanto, 2007), penyakit campak mempunyai 4 stadium
yakni :
1. Stadium masa tunas
Stadium masa tunas yang berlangsung antara 10-12 hari ditandai
dengan beberapa tanda klinis,
2. Stadium prodromal
Di tandai dengan adanya gejala pilek dan batuk yang meningkat ,
ditemukanya spesifik enanthema koplik’s spot pada mukosa pipi didepan
molar 3 kemudian suhu tubuh meningkat , mukosa konjungtiva sedikit
meradang.
3. Stadium erupsi
Stadium erupsi yang ditandai dengan keluarya ruam yang dimulai
dari belakang telinga menyebar ke wajah, dada, punggung, lengan dan
kaki di sertai dengan suhu tubuh yang lebih meningkat.
4. Stadium penyembuhan.
Stadium penyembuhan ditandai dengan menurunya suhu tubuh.
Pada masa penyembuhan ruam kecokelatan akan mengalami
hiperpigmetasi / kehitaman dan deskuamasi (pengelupasan).
Menurut NANDA 2015, stadium penyakit campak meliputi :
1. Stadium Prodormal
a. Staidum berlangsung 4-5 hari
b. Panas
c. Malaise
d. Batuk
e. Fotofobia
f. Konjungtivitis
g. Koriza
h. Akhir Stadium (24 jam) timbul bercak koplik berwarna putih
kelabu, dikelilingi oleh eritema
i. Lokasi di mukosa bukalis berhadapan dengan molar bawah
j. Gambaran darah tepi ialah limfositosi dan leukopenia
2. Stadium Erupsi
a. Koriza an batuk batuk bertambah
b. Timbul eritema atau titik merah di palatum durum dan palatum mole
c. Muncul eritema berbentuk makula – papula disertai naiknya suhu
badan
d. Eritema timbul di belakang telinga, dibagian atas lateral tengkuk,
sepanjang rambut dan bagian belakang bawah
e. Rasa gatal
f. Muka bengkak
g. Pembesaran klenjar getah bening disudut mandibula dan didaerah
leher belakang
h. Diare
i. Muntah
3. Stadium konvalensi
a. Erupsi berkurang meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua
(hiperpigmentasi) yang lama kelamaan akan hilang sendiri
b. Kulit bersisi
c. Suhu turun sampai menjadi normal kecuali jika ada komplikasi
F. Penularan
Menurut (Rimbi, 2014) Meskipun penyakit campak termasuk
golongan penyakit yang ringan karena bisa sembuh sendiri, namun penyakit
ini harus tetap diwaspadai karena sangat mudah menular. selain itu, bila tidak
ada penannganan dan pengobatan yang lebih serius, penyakit ini bisa
berakibat fatal dan berujung kematian. penyakit ini menular dengan cara-cara
berikut :
1. Bersentuhan langsung atau melalui air liur dengan penderita campak.
2. Penyebaran melelaui udara dari batuk dan bersin penderita
3. Berada dalam satu ruangan dengan penderita juga memungkinkan
terjadinya penularan.
G. Kegagalan Imunisasi Campak
Zakuidin dkk. pada tahun 1998 telah mengadakan penelitian
pemeriksaan titer Antibodi campak pada anak usia sekolah yang telah
mendapat vaksinasi campak di SD kenari Jakarta Pusat. Murid sekolah
tersebut dibagi 2 kelompok usia, yaitu usia 5-7 tahun dan 10-12 tahun. dari
kelompok 5-7 tahun didapatkan 69 sampel dengan titer Antibodi campak
positif pada 59 anak (93%). dari kelompok yang telah mendapatkan
imnuisasi campak didapatkan 28,3%
H. Pengobatan
Menurut (Widoyono, 2011) pengobatan campak berupa perawatan
umum seperti pemberian cairan dan kalori yang cukup. Obat simptomatik
yang perlu di berikan antara lain ;
1. Anti demam
2. Anti batuk
3. Vitamin A
4. Antibiotic diberikan bila ada indikasi, misalnya cammpak disertai
dengan komplikasi.
Pasien tanpa komplikasi dapat berobat jalan di puskesmas atau unit
pelayanan kesehatan lain, sedangkan pasien campak dengan komplikasi
memerlukan rawat inap di RS.
Menurut (NANDA,2015) indikasi rawat inap bila hiperpireksia (suhu
> 39,5o c ), dehidrasi, kejang, asupan oral sulit atau adanya penyulit.
Pengobatan dan penyulit disesuaikan dengan penyulit yang timbul.
I. Pemeriksaan Penunjang
Menurut NANDA 2015 pemeriksaan lanjutan :
1. Pemeriksaan darah tepi hanya ditemukan adanya leukopeni
2. Dalam sputum, sekresi nasa, sedimen urin, dapat ditemukan adanya
multinucleated giant cell yang khas
3. Pada pemeriksaan serologi dengan cara hemaglubination inhibition dan
complement fiksatior test akan ditemukan adanya antibody yang spesifik
dalam 1-3 hari setelah timbulnya rash dan mencapai puuncaknya pada 2-
3 minggu kemudian.
Diagnose kasus campak ditegakan dengan pemeriksaan IgM campak
dan kenaikan Titer yang signifikan dari IgG campak pada fase akut (di ambil
dalam waktu 4 hari timbulnya ruam) dan masa konvalensi (diambil antara 2-
4 minggu kemudian). (Soegejanto, 2007),
Saat ini pemeriksaan ELLISA dapat membedakan deteksi IgM dan
IgG, yang telah dipakai secara luas oleh karena memberi kemudahan dalam
peneyediaan sampel dalam jumlah besar. Sebelum ditemukan pemeriksaan
secara ELLISA pemeriksaan hemaglubination inhibition (HI) dilakukan
untuk deteksi antibody terutama terhadap protein H dan mempunyai korelasi
langsung dengan test netralisasi. Tetapi kelemahan utama dari test HI adalah
kebutuhan untuk tersedianya eritrosit kera segar yang sensitive, kesukaran
dalam memproduksi test antigen dalam jumlah besar dan kemungkinan
didapatnya inhibitor hemagubination non spesifik26,33. (Soegejanto, 2007)
J. Pencegahan
Menurut (Rimbi, 2014) Di Indonesia ada dua jenis vaksin yang
tersedia untuk mencegah penyakit campak yaitu vaksin campak dan vaksin
MMR (Mimps, Measles dan Rubella). vaksin ini berisi virus campak yang
sudah dilemahkan. vaksin ini diberikan dengan cara suntik. upaya ini dapat
memberikan perlindungan dan pencegahan dari penyakit campak hingga
mencapai lebih dari 95%. Hal lain yang bisa dilakukan untuk mencegah
penularan penyakit campak adalah sebagai berikut :
1. Menghindari kontak langsung dengan penderita campak, khususnya bayi
atau anak yang belum dapat imunisasi.
2. Meningkatkan daya tahan tubuh dengan pemberian asupan gizi yang
seimbang dan pemberian vitamin.
3. Menjaga kebersihan tubuh anak
4. Istrahat yang cukup.
K. Komplikasi
Menurut (Rimbi, 2014) Sering kali komplikasi penyakit campak
terjadi pada anak-anak dibawah usia 5 tahun yang kekuragan gzi atau kurang
asupan nutrisi. kematian pada penyakit campak ini bukanlah karena penyakit
campaknya itu sendiri melainkan karena komplikasinya tersebut.
Beberapa komplikasi yang mungkin terjadi adalah sebagai berikut :
1. Radang pari-paru
2. Radang saluran pernafasan.
3. Peradangan selaput ikat mata (konjungtivitis)
4. Infeksi telinga bagian tengah.
WOC CAMPAK
↓fungsi silia
↑sekret
Reflek batuk
Set point meningkat
↑Suhu tubuh
Histamine
Gatal (nyeri
ringan)
Poliferasi endotel kapiler dalam korium
Eksudasi serum/eritrosit dalam
epidermis
Ruam
Paramiksovirus
Saluran nafas
Ditangkap Makrofag
Menyebar ke kelenjar limfa
regional
Replikasi virus
Sel -sel jaringan limfa local
Virus di lepas ke aliran darah
(veriema primer)
Virus sampai RES
Replikasi kembali
Verimea sekunder
Reaksi radang
Pengeluaran mediator kimia
Menyebar ke
berbagai organ
Kulit
Gangguan citra
tubuh
Kerusakan integritas
kuliit
Epitel saluran nafas
Hiperemis dinding
posterior faring
Nyeri tenggorokan
Nyeri
Gangguan rasa
nyaman
Hipertermi
Ketidakefektifan jalan
nafas
2.2 Konsep Keperawatan.
A. Pengkajian
Kegiatan dalam pengkajian ini adalah pengumpulan data, untuk
menghimpun informasi tentang status kesehatan klien. Data yang
dikumpulkan selama pengkajian digunakan sebagai dasar untuk membuat
rencana asuhan keperawatan klien. Pengkajian pada pasien campak terdiri dari
anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
1. Anamnesa
a. Identitas klien/status kesehatan umun
Beisi nama, umur, jenis kelamin, agama, bahasa, pendidiksn,
pekerjaan, status, dan alamat. Campak dapat menyerang anak usia
remaja dan orang dewasa muda yang tidak mendapat vaksinasi
sewaktu kecil.
b. Keluhan utama
Adanya demam, batuk, pilek, malaise, ruam, dan rasa gatal.
c. Riwayat Penyakit sekarang
Biasanya pasien mengeluh demam yang meningkat secara bertahap
sampai dengan hari kelima atau keenam pada puncak timbulnya ruam.
d. Riwayat kesehatan dahulu
Biasanya klien belum pernah mendapatkan imunisasi. Kaji adanya
riwayat penggunaan obat-obatan seperti kortikosteroid dan antibiotik,
gangguan autoimune, dan penyakit kronis seperti diabetes melitus.
e. Riwayat kesehatan keluarga
Kaji adanya riwayat penyakit keturunan, kecendrungan alergi dalam
satu kelarga, dan kemungkinan penularan penyakit akibat kontak
langsung droplet antar anggota keluarga.
f. Keadaan lingkungan yang mempengaruhi timbulnya penyakit
Dapat diisi dengan faktor-faktor lingkungan yang meliputi beberapa
aspek, yaitu : 1) sebagai sumber penularan, 2) adanya polusi udara, 3)
pencemaran lingkungan yang lain, 4) perubahan iklim, 5) situasi dan
kondisi klien yang menigkatkan trauma.
Biasanya epidemi terjadi pada permulaan musim hujan, karena
meningkatnya kelangsungan hidup virus pada keadaan kelembaban
yang relatif rendah.
g. Pola fungsi kesehatan
a. Pola persepsi dan tatalaksana kesehatan
Dapat diisi dengan persepsi kilen/keluarga terhadap konsep sehat
sahitdan upaya klien/keluarga dalam bnetuk pengetahuan, sikap
gaya hdup klien/keluarga untuk mempertahankan kondisi sehat.
b. Pola nutrisi
Pada klien dengan campak biasanya dinding posterior faring
menjadi hiperemis dan penderita akan mengeluhkan nyeri
tenggorokkan. Kaji adanya penurunan nafsu makan akibat adanya
mual dan muntah.
c. Pola eliminasi
Kemungkinan terjadi komplikasi diare
d. Pola aktivitas
Klien biasanya mengalami malaise.
e. Pola istirahat tidur
f. Pola persepsi sensori
g. Pola konsep diri
Adanya ruam diseluruh tubuh, dapat mengakibatkan klien malu
pada kondisi tubuhnya saat ini.
h. Pola peran berhubungan
i. Pola mekanisme koping
j. Pola seksual seksualitas
k. Pola nilai dan kepercayaan
2. Pemeriksaan fisik
a. Status kesehatan umum
Berisi keadaan umum, tanda-tanda vital dengan monitor suhu tubuh
yang bisa mencapai 40 derajat celcius
b. Kepala
ď‚· Rambut : warna, disrtibusi, kebersihan, kutu
ď‚· Muka bengkak. Eritema timbul dibelakang telinga. Ruam
menyebar keseluruh muka. Lesi pada muka yang cenderung
bergabung
ď‚· Mata : terdapat konjungtivitis. Selanjtnya gejala tersebut tertutup
oleh peradangan konjungtiva yang berat bersamaan dengan
edema palpebra dan krunkla. Lakrimais meningkat dan fotofobia
ď‚· Hidung : terdapat coryza (pilek). Tanda pertama berupa bersin-
bersin yang diikuti dengan gejala hidung buntu, dan sekret
mukopurulen yang lebih berat pada puncak stadium erupsi
ď‚· Mulut : timbul enantema atau titik merah dipalatum durum dan
paltum mole. Ditemukanya spesifik enanthema koplik’s spot
pada mukosa pipi didepan molar 3
ď‚· Telinga : Eritema timbul dibelakang telinga, sepanjang rambut,
dan bagian belakang bawah
c. Leher :
ď‚· Eritema di bagian atas lateral tengkuk
ď‚· Ruam mulai timbul pada bagian samping atas leher, perbatasan
rambut dikepala dan meluas ke dahi
ď‚· Lesi pada leher yang cenderung bergabung
ď‚· Pembesaran kelenjar getah bening di sudut mandibula dan di
daerah leher belakang
d. Thorax (dada)
ď‚· Inspeksi : Ruam pada daerah dada dan punggung
ď‚· Palpasi
ď‚· Perkusi
ď‚· Auskultasi
e. Abdomen
ď‚· Inspeksi : Curiga black measles yaitu morbili yang disetari
perdarahn pada kulit, mulut, hidung, dan traktus digestivus. Ruam
pada daerah perut
ď‚· Palpasi
ď‚· Perkusi
ď‚· Auskultasi
f. Tulang belakang
g. Ekstremitas :
ď‚· Kekuatan otot
ď‚· Range of motion
ď‚· Perabaan akral
ď‚· Perubahan bnetuk tulang
ď‚· CRT (< 3 detik)
 Terdapat koplik’s spot kurang lebih 2 hari sebelum ruam muncul.
Kopli’s spot berupa suatu bintik berbentuk tidak teratur dan kecil
berwarna merah terang, pada pertengahannya didaoatkan noda
berwarna putih keabua-abuan
ď‚· Ruam menyebar ke ekstremitas atas, kemudian terus ke bawah dan
mencapai kaki pada hari ketiga.
ď‚· Lesi lebih sedikit dari pada daerah dada, perut, dan punggung.
ď‚· Pada hari keempat lesi berubah menjadi berwarna kecoklatan,
kemudian timbul perubahan warna dari ruam, yaitu menjadi
berwarna kehitaman atau lebih gelap. Dan kemudian disusul
dengan timbulnya deskuamasi berupa sisik berwarna keputihan
h. Genitalia dan anus
Kaji kebersihan genitalia dan anus
i. Pemeriksaan neurologis
ď‚· Pemeriksaan GCS
ď‚· Pemeriksaan kesadaran kualitatif
ď‚· Rangsangan meningeal
3. Pemeriksaa Penunjang
a. Laboratorium
ď‚· Adanya leukopeni dan limfositosis pada hapusan darah tepi
ď‚· Dalam sputum, sekresi nasa, sedimen urin, dapat ditemukan
adanya multinucleated giant cell yang khas
ď‚· Pada pemeriksaan serologi dengan cara hemaglubination inhibition
dan complement fiksatior test akan ditemukan adanya antibody
yang spesifik dalam 1-3 hari setelah timbulnya rash dan mencapai
puuncaknya pada 2-3 minggu kemudian. Diagnose kasus campak
ditegakan dengan pemeriksaan IgM campak dan kenaikan Titer
yang signifikan dari IgG campak pada fase akut (di ambil dalam
waktu 4 hari timbulnya ruam) dan masa konvalensi (diambil antara
2-4 minggu kemudian)
4. Terapi
Pengobatan bersifat suportif dan simptomatis, terdiri dari istirahat,
pemberian cairan yang cukup, suplemen nutrisi. Obat simptomatik yang
perlu di berikan antara lain ;
1. Anti demam
2. Anti batuk
3. Vitamin A
4. Antibiotic diberikan bila ada indikasi, misalnya cammpak disertai
dengan komplikasi.
Pasien tanpa komplikasi dapat berobat jalan di puskesmas atau unit
pelayanan kesehatan lain, sedangkan pasien campak dengan komplikasi
memerlukan rawat inap di RS.
B. Diagnosa Keperawatan, NIC, dan NOC
No Diagnosa keperawatan Tujuan dan kriteria hasil Intervensi
1 Gangguan citra tubuh
Definisi : Konfusi dalam
gambaran mental tentang
diri-fisik individu
Batasan Karakteristik :
ď‚· Perilaku memantau
individu
ď‚· Respon nonverbal
terhadap perubahan
aktual pada tubuh (mis :
penampilan, struktur,
fungsi)
ď‚· Respon nonverbal
terhadap persepsi
perubahan pada tubuh
(mis : penampilan,
struktur, fungsi)
ď‚· Mengungkapkan
perasaan yang
mencerminkan
perubahan pandangan
tentang tubuh individu
(mis : penampilan,
struktur, fungsi)
ď‚· Mengungkapkan
NOC
ď‚· Body Image
ď‚· Self esteem
Kriteria Hasil
ď‚· Body image positif
ď‚· Mampu mengidentifikasi
kekuatan personal
ď‚· Mendiskripsikan secara
faktual perubahan fungsi
tubuh
ď‚· Mempertahankan interaksi
sosial
NIC
Body image enhancement
ď‚· Kaji secara verbal dan
non verbal respon klien
terhdap tubuhnya
ď‚· Monitor frekuensi
mengkritik dirinya
ď‚· Jelaskan tentang
pengobatan,perawatan,
kemajuan dan prognosis
penyakit
ď‚· Dorong klien
mengungkapkan
perasaanya
ď‚· Identifikasi arti
pengurangan melalui
pemakaian alat bantu
ď‚· Fasilitasi kontak dengan
individu lain dalam
kelompok kecil
persepsi yang
mencerminkan
perubahan individu
dalam penampilan
Objektif
ď‚· Perilaku mengenali
tubuh individu
ď‚· Perilaku memantau
tubuh individu
ď‚· Perubahan dalam
keterlibatan sosial
ď‚· Secara sengaja
menyembunyikan
bagian tubuh
ď‚· Tidak menyentuh
bagian tubuh
ď‚· Kehilangan bagian
tubuh
Subjektif
- Depersonalisasi bagian
yang melalui kata ganti
yang netral
- Penekanan pada
kekuatan yang tersisa
- Ketakutan terhadap
reaksi orang lain
- Fokus pada penampilan
masa lalu
- Perasaan negatif
tentang sesuatu
- Fokus pada perubahan
- Fokus pada kehilangan
- Menolak
memverifikasi
perubahan aktual
- Mengungkapkan
perubahan gaya hidup
Faktor yang berhubungan :
- Biofisik, kognitif
- Budaya, tahap
perkembangan
- Penyakit, cedera
- Perceptual, psikososial,
spiritual
- Pembedahan, trauma
- Terapi penyakit
2 Kerusakan integritas
kulit definisi : Perubahan/
gangguan epidermis dan/
dermis
Batasan Karakteristik :
- Kerusakan lapisan kulit
(dermis)
- Gangguan permukaan
kulit (epidermis)
- Invasi struktur tubuh
Faktor yang berhubungan
Eksternal
- Zat kimia, radiasi
- Usia yang ekstrim
- Kelembaban
- Hipotermia,hipertermia
- Faktor mekanik (mis,
gaya gunting)
- Medikasi
- Lembab
- Imobilitas fisik
Internal
- Perubahan status cairan
- Perubahan pigmentasi
- Perubahan turgor
- Faktor perkembangan
- Kondisi ketidak
seimbangan nutrisi
- Penurunan imunologis
- Penurunan sirkulasi
- Kondisi gangguan
metabolik
- Gangguan sensasi
- Tonjolan tulang
NOC
- Tissue Integrity : Skin
and Mocous
- Membranes
- Hemodyalis akses
Kriteria Hasil :
- Integritas kulit yang baik
bisa dipertahankan (sensasi,
elastisitas, temperatur,
hidrasi, pigmentasi)
- Tidak ada luka/lesi pada
kulit
- Perfusi jaringan baik
- Menunjukan pemahaman
dalam proses perbaikan
kulit dan mencegah
terjadinya secara berulang
- Mampu melindungi kulit
dan mempertahankan
kelembaban kulit dan
perawatan alami
NIC
Pressure Management
- Anjurkan pasien untuk
menggunakan pakaian
yang longgar
- Hindari kerutan pada
tempat tidur
- Jaga kebersihan kulit
agar tetap bersih dan
kering
- Mobilisasi pasien (ubah
posisi pasien) setiap 2
jam sekali
- Monitor kulit akan
adanya kemerahan
- Oleskan lotion atau
minyak/baby oil ada
daerah yang tertekan
- Monitor aktifitas dan
mobilisasi pasien
- Monitor status nutrisi
pada pasien
- Memandikan pasien
dengan sabun dan air
hangat
Insition site care
- Membersihkan,
memantau dan
meningkatkan proses
penyembuhan pada luka
yang ditutup dengan
jahitan klip atau
starples
- Monitor proses
kesembuhan area insisi
- Monitor tanda dan
gejala infeksi
- Bersihkan area sekitar
jahitan pada area insisi
- Gunakan preparat
antiseptik sesua
program
- Ganti balutan pada
interval waktu yang
sesuai atau biarkan luka
tetap terbuka (tidak
dibalut) sesuai program
3 Ketidak Efektifan
Bersihan Jalan Napas
deifinis : ketidak mampuan
untuk membersihkan
sekresi atau obstruksi dari
saluran pernafasan untuk
mempertahankan
kebersihan jalan nafas.
Faktor faktor yang
berhubungan dengan:
- Lingkungan
- Perokok pasif
- Mengisap asap
- Merokok
- Obstruksi jalan nafas :
- spasme jalan nafas
- sekresi tertahan
- banyaknya mukus
- adanya jalan nafas
buatan
- sekresi bronkus,
adanya eksudat di
alveolus
- adanya benda asing
di jalan nafas.
NOC
- Respiratory status
:Ventilation
- Respiratory status
:Airway patency
Kriteria hasil :
- Mendemonstrasikan batuk
efektif dan suara nafas yang
bersih, tidak ada sianosis
dan dyspneu (mampu
mengeluarkan sputum,
bernafas dengan mudah,
tidak ada pursed lips)
- Menunjukkan jalan nafas
yang paten (klien tidak
merasa tercekik, irama
nafas, frekuensi pernafasan
dalam rentang normal, tidak
ada suara nafas abnormal)
- Mampu
mengidentifikasikan dan
mencegah faktor yang
penyebab.
- Saturasi O2 dalam batas
normal
- Foto thorak dalam batas
NIC
Airway Suction
- Berikan O2
- Identifikasi pada pasien
perlunya memberikan
alat bantu napas
- Anjurkan pasien untuk
istirahat dan napas
dalam
- Posisikan pasien untuk
memaksimalkan
ventilasi
- Lakukan fisioterapi
dada jika perlu
- Keluarkan sekret
dengan batuk atau
suction
- Auskultasi suara nafas,
catat adanya suara
tambahan
- Berikan bronkodilator
- Monitor status
hemodinamik
- Berikan pelembab
udara Kassa basah
NaCl Lembab
- Berikan antibiotik
- Atur intake untuk
cairan mengoptimalkan
Batasan Karakteristik :
- tidak ada batuk
- tidak ada suara
tambahan
- dispneu
- Penurunan suara
nafas
- Orthopneu
- Cyanosis
- Kelainan suara
nafas (rales,
wheezing)
- Kesulitan berbicara
- Batuk, tidak efektif
atau tidak ada
produksi sputum
- Gelisah
- Perubahan frekuensi
dan irama nafas
normal keseimbangan.
- Monitor respirasi dan
status O2
- Pertahankan hidrasi
yang adekuat untuk
bmengencerkan secret
- Jelaskan pada pasien
dan keluarga tentang
penggunaan peralatan :
O2, Suction, Inhalasi
- Pastikan kebutuhan oral
/ tracheal suctioning
- Monitor status oksigen
pasien
- Buka jalan nafas
dengan teknik head thin
chin lift atau jaw
thrustbila perlu
- Auskultasi suara nafas
sebleum dilakukan
suctioning
- Informasikan pada
pasien dan keluarga
tentang sucktioning
4 Hipertermia definisi :
peningkatan suhu tubuh
diatas kisaran Normal
Faktor faktor yang
berhubungan dengan :
- Anestesia
- Medikasi
- Pemakaian pakaian
yang tidak sesuai
dengan lingkungan
- penyakit/ trauma
- peningkatan
metabolisme
- aktivitas yang berlebih
- dehidrasi
NOC
- Thermoregulasi
Kriteria hasil:
- Suhu dalam rentang
Normal
- Nadi dan RR dalam rentang
normal
- Tidak ada perubahan warna
kulit dan tidak ada pusing
NIC
Fever Treatment
- Monitor suhu sesering
mungkin
- Monitor warna dan
suhu kulit
- Monitor tekanan darah,
nadi dan RR
- Monitor penurunan
tingkat kesadaran
- Monitor WBC, Hb,
dan Hct
- Monitor intake dan
output
- Berikan anti piretik &
Antibiotik
- peningkatan suhu
tubuh
Batasan Karakteristik
- Konvulsi
- Takipnea
- kenaikan suhu tubuh
diatas rentang normal
- serangan atau konvulsi
(kejang)
- kulit kemerahan
- pertambahan RR
- takikardi
- Kulit teraba panas/
hangat
- Selimuti pasien
- Berikan cairan
intravena
- Kompres pasien pada
lipat paha dan aksila
- Tingkatkan sirkulasi
udara
- Tingkatkan intake
cairan dan nutrisi
- Monitor TD, nadi,
suhu, dan RR
- Catat adanya fluktuasi
tekanan darah
- Monitor hidrasi seperti
turgor kulit,
kelembaban membran
mukosa)
- Monitor tanda tanda
hipertermi
- Lakukan tapid sponge
- Monitor IWL
- Monitor Wbc, Hb, Hct
- Berikan obat mencegah
terjadinya menggigil
- Auskultasi TD pada
kedua lengan
- Monitor sianosis perifer
- Monitor adanya
cushing triad
- Identifikasi perubahan
VS
5 Nyeri akut definisi :
pengalaman sensori dan
emosional yang tidak
menyenangkan yang
muncul akibat kerusakan
jaringan yang aktual atau
potensial atau digambarkan
dalam hal kerusakan
sedemikian rupa
(international assotiation
NOC
- Pain Level
- Pain control
- Comfort level
Kriteria hasil:
- Mampu mengontrol nyeri
(tahu penyebab nyeri,
mampu menggunakan
NIC
- Pain Management
- Lakukan pengkajian
nyeri secara
komprehensif termasuk
lokasi, karakteristik,
durasi, frekuensi,
kualitas dan faktor
presipitasi
for the study of pain ) :
awitan yang tiba tiba atau
atau lambat dari intensitas
ringan hingga berat dengan
akhir yangb dapat
diantisipasi atau diprediksi
dan berlangsung <6 bulan.
Faktor yang berhubungan :
- Agen injuri (biologi,
kimia,fisik, psikologis),
kerusakan jaringan
Batasan Karakteristik :
- Sikap tubuh untuk
melindungi
- Tingkah laku berhati-
hati
- Perubahan tekanan
darah
- Perubahan frekuensi
pernapasan
- Diaforesis
- Laporan isyarat
- Gangguan tidur (mata
sayu,tampak capek,
sulit atau gerakan
kacau, menyeringai)
- Terfokus pada diri
sendiri
- Fokus menyempit
(penurunan persepsi
waktu, kerusakan
proses berpikir,
penurunan interaksi
dengan orang dan
lingkungan)
- Tingkah laku distraksi,
contoh : jalan-jalan,
menemui orang lain
tehnik nonfarmakologi
untuk mengurangi nyeri,
mencari bantuan)
- Melaporkan bahwa nyeri
berkurang dengan
menggunakan manajemen
nyeri
- Mampu mengenali nyeri
(skala, intensitas, frekuensi
dan tanda nyeri)
- Menyatakan rasa nyaman
setelah nyeri berkurang
- Tanda vital dalam rentang
normal
- Tidak mengalami gangguan
tidur
- Observasi reaksi
nonverbal dari
ketidaknyamanan
- Bantu pasien dan
keluarga untuk mencari
dan menemukan
dukungan
- Kontrol lingkungan
yang dapat
mempengaruhi nyeri
seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan
kebisingan
- Kurangi faktor
presipitasi nyeri
- Kaji tipe dan sumber
nyeri untuk
menentukan intervensi
- Ajarkan tentang teknik
non farmakologi: napas
dala, relaksasi,
distraksi, kompres
hangat/ dingin
- Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri
- Tingkatkan istirahat
- Berikan informasi
tentang nyeri seperti
penyebab nyeri, berapa
lama nyeri akan
berkurang dan
antisipasi
ketidaknyamanan dari
prosedur
- Monitor vital sign
sebelum dan sesudah
pemberian analgesik
pertama kali
- Analgesik
Administration
- Tentukan lokasi,
karakteristik, kualitas
dan/atau aktivitas,
aktivitas berulang-
ulang)
- Respon autonom
(seperti diaphoresis,
perubahan tekanan
darah, perubahan nafas,
nadi dan dilatasi pupil)
- Perubahan autonomic
dalam tonus otot
(mungkin dalam
rentang dari lemah ke
kaku)
- Tingkah laku ekspresif
(contoh : gelisah,
merintih, menangis,
waspada, iritabel, nafas
panjang/berkeluh
kesah)
- Perubahan dalam nafsu
makan dan minum
dan derajat nyeri
sebelum pemberian
obat
- Cek instruksi dokter
tentang jenis obat,
dosis, dan frekwensi
- Cek riwayat alergi
- Pilih analgesik yang
diperlukan atau
kombinasi nanalgesik
lebih dari satu
- Tentukan analgesik
tergantung beratnya
nyeri
- Pilih rute pemberian
- Evaluasi efektivitas
analgesik tanda dan
gejala
- Berikan analgesik tepat
waktu
C. DISCHARGE PLANNING
Menurut NANDA 2015
1. Jalani pola hidup yang bersih dan higienis
2. Hindari penularan melalui ciuman, penggunaan handuk atau pisau cukur
bersama.
3. Hindari memencet atau memecahkan lepuhan karena dapat menyebabkan
infeksi sekunder
4. Jangan menggosok atau menyentuh mata sehabis menyentuh lepuhan
karena dapat menyebabkan penyebaran virus kekornea yang
mengakibatkan kebutaan
5. Cucilah tangan setiap kali sesudah menyentuh herpes
6. Banyak minum air putih
7. Makan makanan yang banyak mengandung nutrisi supaya dapat mebuat
daya tahan tubuh meningkat
8. Berikan imunisasi campak aktif pada bayi berumur 9 bulan atau lebih
9. Jika terjadi campak diupayakan untuk mengisolasi penderita untuk
mencegah penularsan
2.3 Tinjauan Kasus
Studi kasus campak dengan kompilkasi infeksi saluran nafas pada klien dewasa :
Seorang ibu dengan nama Ny,” I “ umur 35 tahun mengeluh batuk berat
dan berdahak sejak 3 hari yang lalu, hari ini mulai bertambah sesak, badan panas
menggigil dan muncul bercak kemerahan menyebar keseluruh badan wajah dan
leher, terasa gatal ,nyeri dan panas terlebih saat di garuk, klien sudah berobat ke
puskesmas “ BL” tgl 15 – 9 – 2015 jam 05.30, dan disarankan untuk dirujuk ke
rumah sakit agar mendapat penanganan lebih lanjut , jam 09.00 masuk IGD
RSUD “THB “ dibawa ambulance bersama perawat dan klg dengan kondisi
umum lemah, kesadaran CM, nafas spontan adekuat dengan oksigen 2 liter
permenit, RR 34 x/menit,dangkal, sat 98 %,nafas cuping hidung ( + ),retraksi
dada ( - ), suara nafas tambahan rhonchi ( + ), batuk produktif ( + ), TTV TD :
120 / 80 mmhg, N: 128 x/m, T : 40 C. ruam makulopopular daerah wajah, leher
dan menyebar ke seluruh bagian tubuh dan kedua tangan,berwarna
kemerahan,dan terdapat luka lecet bekas garukan tangan di daerah lengan,
punggung, dan dada. Klien mengatakan belum pernah menderita penyakit campak
dan batuk berat sebelumnya dan Klien juga belum pernah mendapatkan imunisasi
campak. Klien memiliki anak perempuan usia 4,5 th seminggu yang lalu pernah
menderita penyakit campak dan sudah sembuh dengan dibawa berobat oleh klg
ke puskesmas..sekarang tinggal bekas saja dan kulitnya yang berwarna hitam
sudah mulai terkelupas.
Berikut adalah analisa tinjauan kasus dengan menggunakan asuhan keperawatan :
A. Pengkajian
Asuhan Keperawatan Pada Klien Ny “ I”
Dengan Dx. Medis Campak Dengan Komplikasi Infeksi Saluran Nafas (
Trakeobronkitis Akut Di Unit Igd Rsud “ Thd” Kaltim
Tgl pengkajian : 15 – 9 – 2015 Ruang / unit : IGD
Jam pengkajian : jam 09.00 No. reg : 002356
Tgl mrs : 15 – 9 – 2015 Jam MRS : 09.00
1. Identitas
1) Identitas klien :
Nama : Ny.”I”
Umur : 35 th
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : IRT
Gol. Darah : --
Alamat : Jl. Flores Bontang Kaltim
2) Identitas penanggung jawab :
Nama : Tn “ H “
Umur : 40 th
Jenis kelamin : laki – laki
Agama : Islam
Pekerjaan : swasta
Alamat : Jl. Flores Bontang Kaltim
Hubungan dengan klien : suami
2. Keluhan Utama
Keluhan utama saat MRS dan pengkajian :
Klien mengeluh batuk berat dan berdahak sejak 3 hari yang lalu, hari ini
mulai bertambah sesak, badan panas menggigil dan muncul bercak
kemerahan menyebar keseluruh badan wajah dan leher, terasa gatal ,nyeri
dan panas terlebih saat di garuk.
3. Diagnosa Medis
Diagnose medis : campak dengan komplikasi infeksi saluran nafas
(trankeobronkitis akut )
4. Riwayat Kesehatan
1) Riwayat penyakit sekarang
Klien mengeluh batuk berat dan berdahak sejak 3 hari yang lalu, hari ini
mulai bertambah sesak, badan panas menggigil dan muncul bercak
kemerahan menyebar keseluruh badan wajah dan leher, terasa gatal ,nyeri
dan panas terlebih saat di garuk, klien sudah berobat ke puskesmas “ BL”
tgl 15 – 9 – 2015 jam 05.30, dan disarankan untuk dirujuk ke rumah sakit
agar mendapat penanganan lebih lanjut , jam 09.00 masuk IGD RSUD
“THB “ dibawa ambulance bersama perawat dan klg dengan kondisi
umuum lemah, kesadaran CM, nafas spontan adekuat dengan oksigen 2
liter permenit, RR 34 x/menit,dangkal, sat 98 %,nafas cuping hidung ( +
),retraksi dada ( - ), suara nafas tambahan rhonchi ( + ), batuk produktif (
+ ), TTV TD : 120 / 80 mmhg, N: 128 x/m, T : 40O C. ruam
makulopopular daerah wajah, leher dan menyebar ke seluruh bagian
tubuh dan kedua tangan,berwarna kemerahan,dan terdapat luka lecet
bekas garukan tangan di daerah lengan, punggung, dan dada.
2) Riwayat kesehatan yang lalu
Klien mengatakan belum pernah menderita penyakit campak dan batuk
berat sebelumnya dan Klien juga belum pernah mendapatkan imunisasi
campak.
3) Riwayat kesehatan keluarga
Klien memiliki anak perempuan usia 4,5 tahun seminggu yang lalu
pernah menderita penyakit campak dan sudah sembuh dengan dibawa
berobat oleh keluarga ke puskesmas. Sekarang tinggal bekas saja dan
kulitnya yang berwarna hitam sudah mulai terkelupas.
Genogram 3 generasi :
Keterangan :
: Laki-laki ----------- : Keluarga
: Perempuan : Meninggal
: Pasien
62 60
8
40
61
15
4245
60
30
35
4,5
4) Pola Fungsi Kesehatan
a. Pola persepsi dan tatalaksana kesehatan
Klien mengatakan belum pernah mendapatkan imunisasi campak
sebelumnya.
b. Pola nutrisi
Nafsu makan klien baik, klien makan 3x sehari dan selalu
menghabiskan porsi makannya
c. Pola eliminasi
Sebelum dan sesudah sakit tidak ada perubahan: BAK 5-6 x/hari
spontan, BAB 1x/hari.
d. Pola aktivitas
-
e. Pola istirahat tidur
-
f. Pola persepsi sensori
-
g. Pola konsep diri
Adanya ruam diseluruh tubuh, dapat mengakibatkan klien malu pada
kondisi tubuhnya saat ini.
h. Pola peran berhubungan
i. Pola mekanisme koping
j. Pola seksual seksualitas
k. Pola nilai dan kepercayaan
5. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum : tampak lemah
Status neurologis : CM , GCS ( E4,V5,M,6)
TTV : TD : 120 mmhg,
N: 128 x/m,
RR: 34 x/m,
T : 40 C
2. Pemeriksaan kepala , dan leher :
a) Kepala
Terdapat ruam makulopapular di daerah wajah dan leher.
- Rambut : warna, disrtibusi, kebersihan, kutu
- Muka bengkak. Eritema timbul dibelakang telinga. Ruam
menyebar keseluruh muka. Lesi pada muka yang cenderung
bergabung
- Mata : normal, tidak ada konjungtivitis.
- Hidung : terdapat coryza (pilek) dan hidung buntu.
- Mulut : -
- Telinga : Eritema dibelakang telinga.
b) Leher :
bercak kemerahan menyebar keseluruh leher, terasa gatal ,nyeri
dan panas terlebih saat di garuk
3. B1 ( breath ) :
Nafas spontan adekuat dengan oksigenasi 2l/meit, RR : 30
x/m,dangkal, sat 98 %, nafas cuping hidung ( + ), hidung buntu dan
pilek, retraksi dada ( - ), suara nafas tambahan ronchi ( + ), batuk
produktif / berdahak dengan produksi sputum ( + ), warna putih kental.
4. B2 ( Blood ) :
Akral teraba hangat, perabaan nadi kuat, CRT ≤ 2 detik, TD : 120
mmhg, N: 128 x/m, sinus regular dengan S1, dan S2 tunggal.
5. B3 ( Brain ) :
Tingkat kesadaran kualitatif : CM
Tingkat kesadaran kuantitatif : GCS ( E4, V5, M6 )
Reaksi pupil isokor 3/2 ( kanan ),3/ 2 ( kiri ), reflek cahaya + / +
6. B4 ( Blader ) :
BAK spontan dengan produksi urine 300 cc saat di IGD warna kuning
jernih. Di rumah BAK 5-6 x/hari spontan.
7. B5 ( Bowel ) :
Membrane mukosa lembab , abdomen supel ,Bising usus 10 x/m,
BAB terakhir 1 hari yang lalu warna kuning kecoklatan.
8. B6 ( Bone ) :
Kekuatan tonus otot normal
9. System integument :
terdapat ruam makulopopular daerah wajah, leher ,seluruh badan dan
kedua tangan dengan warna kemerahan, dan luka lecet bekas garukan
di daerah lengan, dada dan punggung .
6. Pengobatan Medis
1) Infus RL 1500 cc/menit
2) Inj. Antipiretik 3x 1 amp IV
3) Neurosanbe drip 1 amp/hari
4) Inj. Ceftriaxone 2x 1 gr IV
5) Diet TKTP
6) Nebulizer dengan combivent dan Bisolvon 3 kali per hari
7. Pemeriksaan Penunjang
Hasil LAB:
HB= 11,0 g/dL
Trombosit = 200.000 x 10³ µ/L
HCT = 40%
Leukosit = 15.000 x 10³ µ/L
Sputum : dalam sputum terdapat multinucleated giant cell yang khas
8. Analisa Data
No Data subyektif dan data obyektif Etiologi Problem
1.
2.
3.
Ds: pasien mengeluh batuk, sesak,
hidung buntu, pilek.
Do: nafas spontan adekuat dengan
oksigen 2 liter permenit, pernapasan
dangkal, sat 98 %, nafas cuping
hidung (+), retraksi dada (-), suara
nafas tambahan rhonchi (+), batuk
produktif (+)
TD : 120 / 80 mmhg,
N: 128 x/m,
T : 39O C.
RR: 30 x/menit
Ds: pasien mengatakan panas
menggigil
Do:
k/u: cukup
TD : 120 / 80 mmhg,
N: 128 x/m,
T : 39O C
Ds:
- pasien mengatakan muncul bercak
kemerahan menyebar keseluruh
badan wajah dan leher
- terasa gatal ,nyeri dan panas
terlebih saat di garuk.
Do:
- ruam makulopopular daerah
wajah, leher dan menyebar ke
seluruh bagian tubuh dan kedua
tangan
- terdapat luka lecet bekas garukan
tangan di daerah lengan,
punggung, dan dada
Mukus dalam
jumlah
berlebihan
Penyakit
Perubahan/
gangguan
epidermis dan/
dermis
Ketidakefektifan
bersihan jalan
nafas
Hipertermi
Kerusakan
integritas kulit
9. Diagnose dan NIC NOC
NO DIAGNOSA
KEPERAWATAN
TUJUAN DAN KRITERIA
HASIL (NOC)
INTERVENSI
(NIC)
1 Ketidak Efektifan
Bersihan Jalan Napas
b/d Mukus dalam jumlah
berlebihan ditandai dengan:
DS : klien mengatakan :
1. Batuk berat berdahak
sejak 3 hari ang lalu
2. Sesak
DO :
1. TD : 120 / 80 mmhg,
2. N: 128 x/m,
3. T : 39O C.
4. RR: 30 x/menit
5. nafas spontan adekuat
dengan oksigen 2 liter
permenit
6. pernapasan dangkal,
7. sat 98 %
8. nafas cuping hidung
(+)
1. Respiratory status
:Ventilation
2. Respiratory status
:Airway patency
Setelah dilakukan tindakan
Keperawatan selama 2 jam
pasien menunjukkan
keefektifan bersihan jalan
nafas,dibuktikan dengan
kriteria hasil:
1. Mendemonstrasikan batuk
efektif dan suara nafas
yang bersih, tidak ada
sianosis dan dyspneu
(mampu mengeluarkan
sputum, bernafas dengan
mudah, tidak ada pursed
lips)
2. Menunjukkan jalan nafas
yang paten (klien tidak
merasa tercekik, irama
nafas, frekuensi pernafasan
Airway Suction
1. Posisikan pasien untuk
memaksimalkan
ventilasi
2. Lakukan fisioterapi
dada jika perlu
3. Keluarkan sekret
dengan batuk
Auskultasi suara nafas,
catat adanya suara
tambahan
4. Monitor status
hemodinamik
5. Atur intake cairan
mengoptimalkan
keseimbangan.
6. Monitor respirasi dan
status O2Anjurkan
pasien untuk istirahat
dan napas dalam
7. Jelaskan pada pasien
dan keluarga tentang
9. retraksi dada (-),
10. suara nafas tambahan
rhonchi (+)
11. batuk produktif (+)
12. batuk tidak efektif
dalam rentang normal,
tidak ada suara nafas
abnormal)
3. Mampu
mengidentifikasikan dan
mencegah faktor yang
penyebab.
4. Saturasi O2 dalam batas
normal
5. Foto thorak dalam batas
normal
penggunaan peralatan :
O2, Inhalasi
8. Berikan O2
9. Berikan bronkodilator
10. Berikan antibiotik
11. Pertahankan hidrasi
yang adekuat untuk
mengencerkan secret
2 Hipertermia b/d penyakit
ditandai dengan :
DS :
1. pasien mengatakan
badan panas menggigil
DO :
1. TD : 120 / 80 mmhg
2. N: 128 x/m,
3. T : 39O C
Thermoregulasi
Kriteria hasil:
Setelah dilakukan perawatan
1x24 jam maka,
1. Suhu dalam rentang Normal
2. Nadi dan RR dalam rentang
normal
3. Tidak ada perubahan warna
kulit dan tidak ada pusing
Fever Treatment
1. Monitor suhu sesering
mungkin
2. Monitor warna dan suhu
kulit
3. Monitor tekanan darah,
nadi dan RR
4. Monitor WBC, Hb, dan
Hct
5. Monitor intake dan
output
6. Kompres pasien pada
lipat paha dan aksila
7. Tingkatkan intake
cairan dan nutrisi
8. Monitor hidrasi seperti
turgor kulit, kelembaban
membran mukosa)
9. Monitor tanda tanda
hipertermi
10. Monitor IWL
11. Berikan anti piretik &
Antibiotik
12. Berikan cairan
intravena
3 Kerusakan integritas
kulit b/d Perubahan/
gangguan epidermis dan/
dermis ditandai dengan :
Ds:
- pasien mengatakan
muncul bercak
kemerahan menyebar
keseluruh badan wajah
dan leher
- terasa gatal ,nyeri dan
panas terlebih saat di
garuk.
Do:
- ruam makulopopular
daerah wajah, leher dan
menyebar ke seluruh
Tissue Integrity :
Skin and Mocous
Membranes
Kriteria Hasil :
Setelah dilakukan perawatan
1x24 jam maka :
- Integritas kulit yang baik
bisa dipertahankan (sensasi,
elastisitas, temperatur,
hidrasi, pigmentasi)
- Tidak ada luka/lesi pada
kulit
- Perfusi jaringan baik
- Menunjukan pemahaman
dalam proses perbaikan
kulit dan mencegah
terjadinya secara berulang
- Mampu melindungi kulit
Pressure Management
1. Anjurkan pasien untuk
menggunakan pakaian
yang longgar
2. Hindari kerutan pada
tempat tidur
3. Jaga kebersihan kulit
agar tetap bersih dan
kering
4. Monitor kulit akan
adanya kemerahan
5. Oleskan lotion atau
minyak/baby oil ada
daerah yang tertekan
6. Monitor aktifitas dan
mobilisasi pasien
7. Monitor status nutrisi
pada pasien
bagian tubuh dan kedua
tangan.
- terdapat luka lecet
bekas garukan tangan di
daerah lengan,
punggung, dan dada
dan mempertahankan
kelembaban kulit dan
perawatan alami
8. Memandikan pasien
dengan sabun dan air
hangat
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
D. Kesimpulan
Penularan penyakit campak adalah dengan melalui droplet jalan pernafasan.
Penyakit ini ditandai dengan periode laten selama 10-14 hari dan 2-3 hari periode
prodromal dengan nafas, batuk, pilek dan konjungtivitis dan dikikuti dengan
timbulnya ruam makulopapuler yang khas. Timbulnya ruam bersamaan dengan
timbulnya respons imun dan permulaan hilangnya virus. Selanjutnya virus
campak masuk kelenjar getah bening yang berada di bawah mukosa. Di sini virus
memperbanyak diri kemudian masuk ke sel-sel jaringan limfe local. Pada pasien
Ny I didapatkan bahwa penyakitnya tertular dari anak ke ibu dengan melalui
droplet. Pada pemeriksaan terdapat data kesenjangan yaitu respirasi rate
meningkat, nadi meningkat, suhu meningkat, terdapat pernafasan cuping hidung,
ruam makulopopular daerah wajah, leher dan menyebar ke seluruh bagian tubuh
dan kedua tangan,berwarna kemerahan,dan terdapat luka lecet bekas garukan
tangan di daerah lengan, punggung, dan dada. Pada pasien Ny I pada stadium
erupsi yang ditandai dengan keluarya ruam yang dimulai dari belakang telinga
menyebar ke wajah, dada, punggung, lengan dan kaki di sertai dengan suhu tubuh
yang lebih meningkat. Berdasarakan studi kasus di atas dapat disimpulkan bahwa
pasien Ny. I yang terdiagnosa campak muncul diagnosa keperawatan, yaitu: 1)
Ketidakefektifan jalan nafas, 2) Hipertermi, 3) Kerusakan integritas kulit.
E. Saran
1. Diharapkan mahasiswa dapat memahami asuhan keperawatan dengan
diagnosa medis campak pada pasien dewasa.
2. Diharapkan mahasiswa dapat merumuskan diagnosa medis keperawatan
dengan campak pada pasien dewasa.
3. Diharapkan mahasiswa dapat mengintervensikan dan mengimplementasikan
dengan campak pada pasien dewasa.
DAFTAR PUSTAKA
Hargono, Arief. 2012. Penilaian Atribut Surveilans Campak Berdasarkan Persepsi
Petugas Surveilans Puskesmas di Surabaya. http://adln.lib.unair.ac.id. Diakses
pada tanggal 14 September 2015 pukul 14.53 WIB
Kementrian Kesehatan. 2010. PERMENKES NO.1501/MENKES/PER/X/2010.
http://djpp.depkumham.go.id. Diakses pada tanggal 14 September 2015 pukul
12.03 WIB.
LeMone, Priscilla. 2008. Medical-Surgical-Nursing.USA: Prentice Hall
NSW Government Health. 2012. Lembar Fakta Penyakit Menular : Campak.
http://health.nsw.gov.au. Diakses pada tanggal 14 September 2015 pukul 11.52
WIB
Nurarif, amin huda, Hardi Kusuma.2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis dan Nanda NIC-NOC. Yogyakarta : Mediaaction Publishing
Puspa, Kartika Dewi, dkk. 2013. Stabilitas Imunoglobulin M (IgM) Campak pada
Dried Serum Spots. http://ejournal.litbang.depkes.go.id. Diakses pada tanggal
14 September 2015 pukul 12.08 WIB
Ranuh , IGN. Dkk. 2008. Pedoman Imunisasi di Indonesia Edisi Ketiga . Jakarta :
IDAI
Rohmah, Nikmatur. 2009. Proses Keperawatan Teori dan Aplikasi. Yogyakarta : Ar
ruzz Media
Soegijanto, Soegeng. 2007. Kumpulan Makalah Penyakit Tropis dan Infeksi di
Indonesia Jilid 6. Surabaya : Airlangga University Press
Widoyono . 2011. Penyakit Tropis Epidemologi , Penularan , Pencegahan, dan
Pemberantasannya Edisi Kedua. Jakarta : Erlangga
Yayasan Spiritia. 2007. Lembar Informasi 120: Hasil Tes Lab Normal.
http://spiritia.or.id Diakses pada tanggal 15 September 2015 pukul 15.42 WIB.

Askep campak

  • 1.
    MAKALAH KEPERAWATAN IMUNHEMATO AJ-2 KELOMPOK 4 STUDI KASUS CAMPAK PADA ORANG DEWASA DISUSUN OLEH : RIA KUSUMA DEWI (KETUA) 131511123052 KUMALA SARI MAKATITA (SEKRETARIS) 131511123054 NOVIA SHINTHIA DEWIE (ANGGOTA) 131511123050 EKO OKTALFIANTO (ANGGOTA) 131511123046 LATIFATUL MUNA (ANGGOTA) 131511123048 MAULIA IKA WIDYANA (ANGGOTA) 131511123056 ALIMUDIN FAHMY (ANGGOTA) 131511123058 ANDRI SEPTYAN (ANGGOTA) 131511123044 PROGRAM STUDI KEPERAWATAN FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA 2015
  • 2.
    BAB I PENDAHULUAN A. LATARBELAKANG Campak (Measles) merupakan penyakit infeksi yang sangat menular disebabkan oleh virus campak dengan gejala awal berupa demam, konjungtivitis, pilek, batuk dan bintik-bintik kecil dengan bagian tengah berwarna putih atau putih kebiru-biruan dengan dasar kemerahan di daerah mukosa pipi (bercak koplik), gejala khas bercak kemerahan di kulit timbul pada hari ketiga sampai ketujuh, dimulai di daerah muka, kemudian menyeluruh, berlangsung selama 4–7 hari, kadang-kadang berakhir dengan pengelupasan kulit berwarna kecoklatan. Di dunia, kematian akibat campak yang dilaporkan pada tahun 2002 sebanyak 777.000 dan 202.000 diantaranya di negara ASEAN serta 15% kematian campak tersebut di Indonesia (Depkes, 2006). Di Indonesia frekuensi Kejadian Luar Biasa (KLB) campak cenderung meningkat yaitu 32 kali pada tahun 1998 menjadi 56 kali pada tahun 1999 dan angka insiden campak pada tahun 1998 paling tinggi pada kelompok balita yaitu 0,7–0,8 per 10000 penduduk. Case Fatality Rate (CFR) campak pada KLB di Indonesia juga cenderung meningkat yaitu 1,8% pada tahun 1998 menjadi 2,4% pada tahun 1999. Dan menurut WHO, apabila ditemukan satu kasus campak pada satu wilayah, maka kemungkinan ada 17 hingga 20 kasus di lapangan pada jumlah penduduk rentan yang tinggi (Depkes, 2003). Berdasarkan data statistik WHO (2011), menyebutkan bahwa sebanyak 1% kematian pada anak yang berusia dibawah lima tahun disebabkan oleh campak pada tahun 2010. Indonesia yang termasuk alam negara berkembang, memiliki insiden kasus campak yang cukup tinggi. Pada tahun 2007, insiden kasus campak untuk golongan umur < 1 tahun sebesar 48,9 per 100.000 orang tahun, umur 1–4 tahun sebesar 36,6 per 100.000 orang tahun, dan umur 5–14 tahun sebesar 18,2 per 100.000 orang tahun
  • 3.
    (Susilaningsih, 2009). BerdasarkanProfil Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes, 2010), dilaporkan insiden kasus campak di Indonesia sebesar 0,73 per 10.000 penduduk pada tahun 2010. Sedangkan CFR pada KLB campak tahun 2010 adalah 0,233. Bahkan berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (2013), sampai dengan tahun 2011 masih dijumpai sebanyak 356 kejadian luar biasa campak yang terjadi di Indonesia dan sebagian besar terjadi di Pulau Jawa. Menurut Harsono Tahun 2007, telah banyak usaha-usaha yang dilakukan untuk mengurangi angka ketidak berhasilan imunisasi campak ini. Salah satu usaha untuk memberantas penyakit campak ini adalah dengan melakukan penelitian di bidang surveilens laboratorium, dimana salah satu komponennya adalah melakukan kegiatan epidemiologi molekuler. Epidemiologi molekuler menyokong epidemiologi klasik dalam hal mencari sumber impor virus dengan mendapatkan genotip virus campak penderita dibandingkan dengan genotip yang telah beredar dalam suatu Negara/wilayah. B. Rumusan Masalah Bagaimana cara membuat asuhan keperawatan dengan diagnosa medis campak pada pasien dewasa? C. Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum a. Mahasiswa dapat memberikan asuhan keperawatan dengan diagnosa medis campak pada pasien dewasa. 2. Tujuan Khusus a. Mahasiswa mengetahui pengkajian pada pasien campak. b. Mahasiwa mengetahui diagnosa yang muncul pada pasien campak. c. Mahasiswa mengetahui intervensi yang dapat diberikan pada pasien campak.
  • 4.
    d. Mahasiswa dapatmelakukan implementasi sesuai intervensi yang telah dibuat pada pasien campak. e. Mahasiswa dapat mengevaluasi pasien campak
  • 5.
    BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1Konsep Medis A. Pengertian Campak adalah penyakit akut yang disebabkan oleh virus campak yang sangat menular dan pada umumnya menyerang anak-anak. Di masyarakat luas ditemukan kasus kejadian sakit campak yang berulang walaupun pernah diimunisasi campak. penelitian harsono salimo, 2006 menemukan bahwa kasus campak yang terjadi di indonesia dapat berasal dari 3 genotipe berarti seseorang dapat terinfeksi campak 3 kali. (Soegejanto, 2007) Campak adalah pemyakit yang disebabkan oleh adanya infeksi virus yang hidup pada cairan lendir disaluran hidung, tenggorokan, dan didalam darah. penyakit ini juga tergolong sebagai penyakit menular. (Rimbi, 2014) B. Etiologi Penyakit campak disebabkan oleh virus yaitu virus campak sendiri ( paramiksovirus, genius morbili). virus campak ini dapat hidup dan berkembang biak pada selaput lendir tenggorokan, hidung, dan saluran pernafasan. (Rimbi, 2014) virus campak sangat sensitif terhadap panas. virus akan sangat mudah rusak pada suhu 37o c. virus ini juga mempunyai jangka waktu hidup yang pendek yaitu < 2 jam. apabila di simpan pada laboratorium, suhu penyimpnan yang baik adalah pada suhu -70o c. (Soegejanto, 2007) Virus campak telah lama dikenal sebagai virus yang monotipik dan bersifat stabil antigenisitasnya. namun demikian, virus campak mempunyai
  • 6.
    suatu RNA -dependent RNA polymerase dengan tingkat kesalahan yang melekat dan mempunyai kapasitas koreksi. virus campak mempunyai 6 gen utama yaitu M, F, N, H, P, dan L. selubung luarnya mengandung dua glikoprotein permukaan yang dikenal sebagai protein hemaglutinine (H) dan membrane fusion protein (F). (Soegejanto, 2007) C. Epidemiologi Penyakit campak bersifat endemik diseluruh dunia. Biasanya Epidemi terjadi pada permulaan musim hujan, mungkin disebabkan karena meningkatnya kelangsungan hidup virus pada keadaan kelembapan yang relatip rendah. Epidemi terjadi dengan interval tiap 2-4 tahun sekali yaitu setelah adanya kelompok baru yang rentan terpajan dengan virus campak. pengetahuan mengenai epidemiologi sangat penting karena penularan penyakit ini sangat cepat meskipun cakupan imunisasi sudah cukup tinggi. (Soegejanto, 2007) Strategi untuk eliminasi penyakit campak adalah : (1) melakukan imunisasi masal pada anak umur 9 bulan sampai dengan 15 tahun, (2) meningkatkan cakupan imunisasi rutin pada bayi umur 9 bulan, (3) melakukan surveilens secara intensif dan (4) follow up imunisasi massal. (Soegejanto, 2007) D. Patogenesis Penularan penyakit campak adalah dengan melalui droplet jalan pernafasan. Penyakit ini ditandai dengan periode laten selama 10-14 hari dan 2-3 hari periode prodromal dengan nafas, batuk, pilek dan konjungtivitis dan dikikuti dengan timbulnya ruam makulopapuler yang khas. Timbulnya ruam bersamaan dengan timbulnya respons imun dan permulaan hilangnya virus. Selanjutnya virus campak masuk kelenjar getah bening yang berada di bawah
  • 7.
    mukosa. Di sinivirus memperbanyak diri kemudian masuk ke sel-sel jaringan limfe local. Hal ini di tandai dengan ditemukannya retichuloendhotial giant cell yang pertama kali ditemukan oleh Warthin dan Finkeldey. Amplifikasi dari virus pada kelenjar limfe regional berakibat timbulnya viremia dan penyebaran virus melalui pembuluh darah ke berbagai organ tubuh. Oragn limfoid (Thymus, limpa dan kelenjar getah bening) dan jaringan limfoid (misalnya appendiks dan tonsil) merupakan tempat replikasi virus. Hal ini dapat di lihat dengan makin meningktnya sel warthin pada jaringan limfe sebelum timbulnya ruam. Sel limfosit T-supressor dan T- helper yang rentan terhadap infeksi, aktif membela diri. Pada saat 5 – 6 hari sesudah infeksi awal, focus infeksi terwujud yaitu ketika virus masuk kedalam pembuluh darah dan ketika menyebar ke permukaan epitel erofaring, konjungtiva, saluran pernafasan, kulit, kandug seni, dan saluran usus. Selanjutnya pada hari 9-10 fokus infeksi berada di saluran nafas. Pada saat itu muncul gejala coryza (pilek) disertai dengan peradangan selaput konjungtiva yang tampak merah (conjungtivitis). penderita tampak lemah disertai suhu tubuh yang meningkat, tampak sakit berat sampai munculnya ruam kulit (rash). Pada hari ke 11 tampak pada mukosa pipi di depan molar 3 suatu ulcera kecil koplik’s spot merupakan tempat virus tumbuh dan selanjutnya mati, dan kelainan merupakan tanda pasti pathognomosis untuk menegakan diagnosis. Akhirnya muncul ruam makulopapulat di hari ke 14 sesudah awal infeksi dan pada saat itu antibody humoral dapat di deteksi dan selanjutnya suhu tubuh menurun. (Soegejanto, 2007). E. Gejala Klinis Menurut (Heryanti, 2015) Penyakit ini mempunyai tanda-tanda yang terdiri dari 3 stadium :
  • 8.
    1. Stadium Inkubasi Masainkubasi campak berlangsung kira-kira 10 hari (8 hingga 12 hari). Walaupun pada masa ini terjadi viremia dan reaksi imunologi yang ekstensif, penderita tidak menampakkan gejala sakit. 2. Stadium prodromal Manifestasi klinis campak biasanya baru mulai tampak pada stadium prodromal yang berlangsung selama 2 hingga 4 hari. Biasanya terdiri dari gejala klinik khas berupa batuk, pilek dan konjungtivitis, juga demam. Inflamasi konjungtiva dan fotofobia dapat menjadi petunjuk sebelum munculnya bercak Koplik. Garis melintang kemerahan yang terdapat pada konjungtiva dapat menjadi penunjang diagnosis pada stadium prodromal. Garis tersebut akan menghilang bila seluruh bagian konjungtiva telah terkena radang Koplik spot yang merupakan tanda patognomonik untuk campak muncul pada hari ke- 10±1 infeksi. Koplik spot adalah suatu bintik putih keabuan sebesar butiran pasir dengan areola tipis berwarna kemerahan dan biasanya bersifat hemoragik. Tersering ditemukan pada mukosa bukal di depan gigi geraham bawah tetapi dapat juga ditemukan pada bagian lain dari rongga mulut seperti palatum, juga di bagian tengah bibir bawah dan karunkula lakrimalis. Muncul 1 – 2 hari sebelum timbulnya ruam dan menghilang dengan cepat yaitu sekitar 12-18 jam kemudian. Pada akhir masa prodromal, dinding posterior faring biasanya menjadi hiperemis dan penderita akan mengeluhkan nyeri tenggorokkan. 3. Stadium erupsi Pada campak yang tipikal, ruam akan muncul sekitar hari ke-14 infeksi yaitu pada saat stadium erupsi. Ruam muncul pada saat puncak gejala gangguan pernafasan dan saat suhu berkisar 39,5˚C. Ruam
  • 9.
    pertama kali munculsebagai makula yang tidak terlalu tampak jelas di lateral atas leher, belakang telinga, dan garis batas rambut. Kemudian ruam menjadi makulopapular dan menyebar ke seluruh wajah, leher, lengan atas dan dada bagian atas pada 24 jam pertama. Kemudian ruam akan menjalar ke punggung, abdomen, seluruh tangan, paha dan terakhir kaki, yaitu sekitar hari ke-2 atau 3 munculnya ruam. Saat ruam muncul di kaki, ruam pada wajah akan menghilang diikuti oleh bagian tubuh lainnya sesuai dengan urutan munculnya (Phillips, 1983). Saat awal ruam muncul akan tampak berwarna kemerahan yang akan tampak memutih dengan penekanan. Saat ruam mulai menghilang akan tampak berwarna kecokelatan yang tidak memudar bila ditekan. Menurut (Soegejanto, 2007), penyakit campak mempunyai 4 stadium yakni : 1. Stadium masa tunas Stadium masa tunas yang berlangsung antara 10-12 hari ditandai dengan beberapa tanda klinis, 2. Stadium prodromal Di tandai dengan adanya gejala pilek dan batuk yang meningkat , ditemukanya spesifik enanthema koplik’s spot pada mukosa pipi didepan molar 3 kemudian suhu tubuh meningkat , mukosa konjungtiva sedikit meradang. 3. Stadium erupsi Stadium erupsi yang ditandai dengan keluarya ruam yang dimulai dari belakang telinga menyebar ke wajah, dada, punggung, lengan dan kaki di sertai dengan suhu tubuh yang lebih meningkat. 4. Stadium penyembuhan. Stadium penyembuhan ditandai dengan menurunya suhu tubuh. Pada masa penyembuhan ruam kecokelatan akan mengalami hiperpigmetasi / kehitaman dan deskuamasi (pengelupasan).
  • 10.
    Menurut NANDA 2015,stadium penyakit campak meliputi : 1. Stadium Prodormal a. Staidum berlangsung 4-5 hari b. Panas c. Malaise d. Batuk e. Fotofobia f. Konjungtivitis g. Koriza h. Akhir Stadium (24 jam) timbul bercak koplik berwarna putih kelabu, dikelilingi oleh eritema i. Lokasi di mukosa bukalis berhadapan dengan molar bawah j. Gambaran darah tepi ialah limfositosi dan leukopenia 2. Stadium Erupsi a. Koriza an batuk batuk bertambah b. Timbul eritema atau titik merah di palatum durum dan palatum mole c. Muncul eritema berbentuk makula – papula disertai naiknya suhu badan d. Eritema timbul di belakang telinga, dibagian atas lateral tengkuk, sepanjang rambut dan bagian belakang bawah e. Rasa gatal f. Muka bengkak g. Pembesaran klenjar getah bening disudut mandibula dan didaerah leher belakang h. Diare i. Muntah 3. Stadium konvalensi a. Erupsi berkurang meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua (hiperpigmentasi) yang lama kelamaan akan hilang sendiri
  • 11.
    b. Kulit bersisi c.Suhu turun sampai menjadi normal kecuali jika ada komplikasi F. Penularan Menurut (Rimbi, 2014) Meskipun penyakit campak termasuk golongan penyakit yang ringan karena bisa sembuh sendiri, namun penyakit ini harus tetap diwaspadai karena sangat mudah menular. selain itu, bila tidak ada penannganan dan pengobatan yang lebih serius, penyakit ini bisa berakibat fatal dan berujung kematian. penyakit ini menular dengan cara-cara berikut : 1. Bersentuhan langsung atau melalui air liur dengan penderita campak. 2. Penyebaran melelaui udara dari batuk dan bersin penderita 3. Berada dalam satu ruangan dengan penderita juga memungkinkan terjadinya penularan. G. Kegagalan Imunisasi Campak Zakuidin dkk. pada tahun 1998 telah mengadakan penelitian pemeriksaan titer Antibodi campak pada anak usia sekolah yang telah mendapat vaksinasi campak di SD kenari Jakarta Pusat. Murid sekolah tersebut dibagi 2 kelompok usia, yaitu usia 5-7 tahun dan 10-12 tahun. dari kelompok 5-7 tahun didapatkan 69 sampel dengan titer Antibodi campak positif pada 59 anak (93%). dari kelompok yang telah mendapatkan imnuisasi campak didapatkan 28,3% H. Pengobatan Menurut (Widoyono, 2011) pengobatan campak berupa perawatan umum seperti pemberian cairan dan kalori yang cukup. Obat simptomatik yang perlu di berikan antara lain ; 1. Anti demam
  • 12.
    2. Anti batuk 3.Vitamin A 4. Antibiotic diberikan bila ada indikasi, misalnya cammpak disertai dengan komplikasi. Pasien tanpa komplikasi dapat berobat jalan di puskesmas atau unit pelayanan kesehatan lain, sedangkan pasien campak dengan komplikasi memerlukan rawat inap di RS. Menurut (NANDA,2015) indikasi rawat inap bila hiperpireksia (suhu > 39,5o c ), dehidrasi, kejang, asupan oral sulit atau adanya penyulit. Pengobatan dan penyulit disesuaikan dengan penyulit yang timbul. I. Pemeriksaan Penunjang Menurut NANDA 2015 pemeriksaan lanjutan : 1. Pemeriksaan darah tepi hanya ditemukan adanya leukopeni 2. Dalam sputum, sekresi nasa, sedimen urin, dapat ditemukan adanya multinucleated giant cell yang khas 3. Pada pemeriksaan serologi dengan cara hemaglubination inhibition dan complement fiksatior test akan ditemukan adanya antibody yang spesifik dalam 1-3 hari setelah timbulnya rash dan mencapai puuncaknya pada 2- 3 minggu kemudian. Diagnose kasus campak ditegakan dengan pemeriksaan IgM campak dan kenaikan Titer yang signifikan dari IgG campak pada fase akut (di ambil dalam waktu 4 hari timbulnya ruam) dan masa konvalensi (diambil antara 2- 4 minggu kemudian). (Soegejanto, 2007), Saat ini pemeriksaan ELLISA dapat membedakan deteksi IgM dan IgG, yang telah dipakai secara luas oleh karena memberi kemudahan dalam peneyediaan sampel dalam jumlah besar. Sebelum ditemukan pemeriksaan
  • 13.
    secara ELLISA pemeriksaanhemaglubination inhibition (HI) dilakukan untuk deteksi antibody terutama terhadap protein H dan mempunyai korelasi langsung dengan test netralisasi. Tetapi kelemahan utama dari test HI adalah kebutuhan untuk tersedianya eritrosit kera segar yang sensitive, kesukaran dalam memproduksi test antigen dalam jumlah besar dan kemungkinan didapatnya inhibitor hemagubination non spesifik26,33. (Soegejanto, 2007) J. Pencegahan Menurut (Rimbi, 2014) Di Indonesia ada dua jenis vaksin yang tersedia untuk mencegah penyakit campak yaitu vaksin campak dan vaksin MMR (Mimps, Measles dan Rubella). vaksin ini berisi virus campak yang sudah dilemahkan. vaksin ini diberikan dengan cara suntik. upaya ini dapat memberikan perlindungan dan pencegahan dari penyakit campak hingga mencapai lebih dari 95%. Hal lain yang bisa dilakukan untuk mencegah penularan penyakit campak adalah sebagai berikut : 1. Menghindari kontak langsung dengan penderita campak, khususnya bayi atau anak yang belum dapat imunisasi. 2. Meningkatkan daya tahan tubuh dengan pemberian asupan gizi yang seimbang dan pemberian vitamin. 3. Menjaga kebersihan tubuh anak 4. Istrahat yang cukup. K. Komplikasi Menurut (Rimbi, 2014) Sering kali komplikasi penyakit campak terjadi pada anak-anak dibawah usia 5 tahun yang kekuragan gzi atau kurang asupan nutrisi. kematian pada penyakit campak ini bukanlah karena penyakit campaknya itu sendiri melainkan karena komplikasinya tersebut.
  • 14.
    Beberapa komplikasi yangmungkin terjadi adalah sebagai berikut : 1. Radang pari-paru 2. Radang saluran pernafasan. 3. Peradangan selaput ikat mata (konjungtivitis) 4. Infeksi telinga bagian tengah.
  • 15.
    WOC CAMPAK ↓fungsi silia ↑sekret Reflekbatuk Set point meningkat ↑Suhu tubuh Histamine Gatal (nyeri ringan) Poliferasi endotel kapiler dalam korium Eksudasi serum/eritrosit dalam epidermis Ruam Paramiksovirus Saluran nafas Ditangkap Makrofag Menyebar ke kelenjar limfa regional Replikasi virus Sel -sel jaringan limfa local Virus di lepas ke aliran darah (veriema primer) Virus sampai RES Replikasi kembali Verimea sekunder Reaksi radang Pengeluaran mediator kimia Menyebar ke berbagai organ Kulit Gangguan citra tubuh Kerusakan integritas kuliit Epitel saluran nafas Hiperemis dinding posterior faring Nyeri tenggorokan Nyeri Gangguan rasa nyaman Hipertermi Ketidakefektifan jalan nafas
  • 16.
    2.2 Konsep Keperawatan. A.Pengkajian Kegiatan dalam pengkajian ini adalah pengumpulan data, untuk menghimpun informasi tentang status kesehatan klien. Data yang dikumpulkan selama pengkajian digunakan sebagai dasar untuk membuat rencana asuhan keperawatan klien. Pengkajian pada pasien campak terdiri dari anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. 1. Anamnesa a. Identitas klien/status kesehatan umun Beisi nama, umur, jenis kelamin, agama, bahasa, pendidiksn, pekerjaan, status, dan alamat. Campak dapat menyerang anak usia remaja dan orang dewasa muda yang tidak mendapat vaksinasi sewaktu kecil. b. Keluhan utama Adanya demam, batuk, pilek, malaise, ruam, dan rasa gatal. c. Riwayat Penyakit sekarang Biasanya pasien mengeluh demam yang meningkat secara bertahap sampai dengan hari kelima atau keenam pada puncak timbulnya ruam. d. Riwayat kesehatan dahulu Biasanya klien belum pernah mendapatkan imunisasi. Kaji adanya riwayat penggunaan obat-obatan seperti kortikosteroid dan antibiotik, gangguan autoimune, dan penyakit kronis seperti diabetes melitus. e. Riwayat kesehatan keluarga Kaji adanya riwayat penyakit keturunan, kecendrungan alergi dalam satu kelarga, dan kemungkinan penularan penyakit akibat kontak langsung droplet antar anggota keluarga. f. Keadaan lingkungan yang mempengaruhi timbulnya penyakit
  • 17.
    Dapat diisi denganfaktor-faktor lingkungan yang meliputi beberapa aspek, yaitu : 1) sebagai sumber penularan, 2) adanya polusi udara, 3) pencemaran lingkungan yang lain, 4) perubahan iklim, 5) situasi dan kondisi klien yang menigkatkan trauma. Biasanya epidemi terjadi pada permulaan musim hujan, karena meningkatnya kelangsungan hidup virus pada keadaan kelembaban yang relatif rendah. g. Pola fungsi kesehatan a. Pola persepsi dan tatalaksana kesehatan Dapat diisi dengan persepsi kilen/keluarga terhadap konsep sehat sahitdan upaya klien/keluarga dalam bnetuk pengetahuan, sikap gaya hdup klien/keluarga untuk mempertahankan kondisi sehat. b. Pola nutrisi Pada klien dengan campak biasanya dinding posterior faring menjadi hiperemis dan penderita akan mengeluhkan nyeri tenggorokkan. Kaji adanya penurunan nafsu makan akibat adanya mual dan muntah. c. Pola eliminasi Kemungkinan terjadi komplikasi diare d. Pola aktivitas Klien biasanya mengalami malaise. e. Pola istirahat tidur f. Pola persepsi sensori g. Pola konsep diri Adanya ruam diseluruh tubuh, dapat mengakibatkan klien malu pada kondisi tubuhnya saat ini.
  • 18.
    h. Pola peranberhubungan i. Pola mekanisme koping j. Pola seksual seksualitas k. Pola nilai dan kepercayaan 2. Pemeriksaan fisik a. Status kesehatan umum Berisi keadaan umum, tanda-tanda vital dengan monitor suhu tubuh yang bisa mencapai 40 derajat celcius b. Kepala  Rambut : warna, disrtibusi, kebersihan, kutu  Muka bengkak. Eritema timbul dibelakang telinga. Ruam menyebar keseluruh muka. Lesi pada muka yang cenderung bergabung  Mata : terdapat konjungtivitis. Selanjtnya gejala tersebut tertutup oleh peradangan konjungtiva yang berat bersamaan dengan edema palpebra dan krunkla. Lakrimais meningkat dan fotofobia  Hidung : terdapat coryza (pilek). Tanda pertama berupa bersin- bersin yang diikuti dengan gejala hidung buntu, dan sekret mukopurulen yang lebih berat pada puncak stadium erupsi  Mulut : timbul enantema atau titik merah dipalatum durum dan paltum mole. Ditemukanya spesifik enanthema koplik’s spot pada mukosa pipi didepan molar 3  Telinga : Eritema timbul dibelakang telinga, sepanjang rambut, dan bagian belakang bawah c. Leher :  Eritema di bagian atas lateral tengkuk  Ruam mulai timbul pada bagian samping atas leher, perbatasan rambut dikepala dan meluas ke dahi
  • 19.
     Lesi padaleher yang cenderung bergabung  Pembesaran kelenjar getah bening di sudut mandibula dan di daerah leher belakang d. Thorax (dada)  Inspeksi : Ruam pada daerah dada dan punggung  Palpasi  Perkusi  Auskultasi e. Abdomen  Inspeksi : Curiga black measles yaitu morbili yang disetari perdarahn pada kulit, mulut, hidung, dan traktus digestivus. Ruam pada daerah perut  Palpasi  Perkusi  Auskultasi f. Tulang belakang g. Ekstremitas :  Kekuatan otot  Range of motion  Perabaan akral  Perubahan bnetuk tulang  CRT (< 3 detik)  Terdapat koplik’s spot kurang lebih 2 hari sebelum ruam muncul. Kopli’s spot berupa suatu bintik berbentuk tidak teratur dan kecil berwarna merah terang, pada pertengahannya didaoatkan noda berwarna putih keabua-abuan  Ruam menyebar ke ekstremitas atas, kemudian terus ke bawah dan mencapai kaki pada hari ketiga.
  • 20.
    ď‚· Lesi lebihsedikit dari pada daerah dada, perut, dan punggung. ď‚· Pada hari keempat lesi berubah menjadi berwarna kecoklatan, kemudian timbul perubahan warna dari ruam, yaitu menjadi berwarna kehitaman atau lebih gelap. Dan kemudian disusul dengan timbulnya deskuamasi berupa sisik berwarna keputihan h. Genitalia dan anus Kaji kebersihan genitalia dan anus i. Pemeriksaan neurologis ď‚· Pemeriksaan GCS ď‚· Pemeriksaan kesadaran kualitatif ď‚· Rangsangan meningeal 3. Pemeriksaa Penunjang a. Laboratorium ď‚· Adanya leukopeni dan limfositosis pada hapusan darah tepi ď‚· Dalam sputum, sekresi nasa, sedimen urin, dapat ditemukan adanya multinucleated giant cell yang khas ď‚· Pada pemeriksaan serologi dengan cara hemaglubination inhibition dan complement fiksatior test akan ditemukan adanya antibody yang spesifik dalam 1-3 hari setelah timbulnya rash dan mencapai puuncaknya pada 2-3 minggu kemudian. Diagnose kasus campak ditegakan dengan pemeriksaan IgM campak dan kenaikan Titer yang signifikan dari IgG campak pada fase akut (di ambil dalam waktu 4 hari timbulnya ruam) dan masa konvalensi (diambil antara 2-4 minggu kemudian) 4. Terapi Pengobatan bersifat suportif dan simptomatis, terdiri dari istirahat, pemberian cairan yang cukup, suplemen nutrisi. Obat simptomatik yang perlu di berikan antara lain ;
  • 21.
    1. Anti demam 2.Anti batuk 3. Vitamin A 4. Antibiotic diberikan bila ada indikasi, misalnya cammpak disertai dengan komplikasi. Pasien tanpa komplikasi dapat berobat jalan di puskesmas atau unit pelayanan kesehatan lain, sedangkan pasien campak dengan komplikasi memerlukan rawat inap di RS. B. Diagnosa Keperawatan, NIC, dan NOC No Diagnosa keperawatan Tujuan dan kriteria hasil Intervensi 1 Gangguan citra tubuh Definisi : Konfusi dalam gambaran mental tentang diri-fisik individu Batasan Karakteristik : ď‚· Perilaku memantau individu ď‚· Respon nonverbal terhadap perubahan aktual pada tubuh (mis : penampilan, struktur, fungsi) ď‚· Respon nonverbal terhadap persepsi perubahan pada tubuh (mis : penampilan, struktur, fungsi) ď‚· Mengungkapkan perasaan yang mencerminkan perubahan pandangan tentang tubuh individu (mis : penampilan, struktur, fungsi) ď‚· Mengungkapkan NOC ď‚· Body Image ď‚· Self esteem Kriteria Hasil ď‚· Body image positif ď‚· Mampu mengidentifikasi kekuatan personal ď‚· Mendiskripsikan secara faktual perubahan fungsi tubuh ď‚· Mempertahankan interaksi sosial NIC Body image enhancement ď‚· Kaji secara verbal dan non verbal respon klien terhdap tubuhnya ď‚· Monitor frekuensi mengkritik dirinya ď‚· Jelaskan tentang pengobatan,perawatan, kemajuan dan prognosis penyakit ď‚· Dorong klien mengungkapkan perasaanya ď‚· Identifikasi arti pengurangan melalui pemakaian alat bantu ď‚· Fasilitasi kontak dengan individu lain dalam kelompok kecil
  • 22.
    persepsi yang mencerminkan perubahan individu dalampenampilan Objektif ď‚· Perilaku mengenali tubuh individu ď‚· Perilaku memantau tubuh individu ď‚· Perubahan dalam keterlibatan sosial ď‚· Secara sengaja menyembunyikan bagian tubuh ď‚· Tidak menyentuh bagian tubuh ď‚· Kehilangan bagian tubuh Subjektif - Depersonalisasi bagian yang melalui kata ganti yang netral - Penekanan pada kekuatan yang tersisa - Ketakutan terhadap reaksi orang lain - Fokus pada penampilan masa lalu - Perasaan negatif tentang sesuatu - Fokus pada perubahan - Fokus pada kehilangan - Menolak memverifikasi perubahan aktual - Mengungkapkan perubahan gaya hidup Faktor yang berhubungan : - Biofisik, kognitif - Budaya, tahap perkembangan - Penyakit, cedera
  • 23.
    - Perceptual, psikososial, spiritual -Pembedahan, trauma - Terapi penyakit 2 Kerusakan integritas kulit definisi : Perubahan/ gangguan epidermis dan/ dermis Batasan Karakteristik : - Kerusakan lapisan kulit (dermis) - Gangguan permukaan kulit (epidermis) - Invasi struktur tubuh Faktor yang berhubungan Eksternal - Zat kimia, radiasi - Usia yang ekstrim - Kelembaban - Hipotermia,hipertermia - Faktor mekanik (mis, gaya gunting) - Medikasi - Lembab - Imobilitas fisik Internal - Perubahan status cairan - Perubahan pigmentasi - Perubahan turgor - Faktor perkembangan - Kondisi ketidak seimbangan nutrisi - Penurunan imunologis - Penurunan sirkulasi - Kondisi gangguan metabolik - Gangguan sensasi - Tonjolan tulang NOC - Tissue Integrity : Skin and Mocous - Membranes - Hemodyalis akses Kriteria Hasil : - Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (sensasi, elastisitas, temperatur, hidrasi, pigmentasi) - Tidak ada luka/lesi pada kulit - Perfusi jaringan baik - Menunjukan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya secara berulang - Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan alami NIC Pressure Management - Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar - Hindari kerutan pada tempat tidur - Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering - Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap 2 jam sekali - Monitor kulit akan adanya kemerahan - Oleskan lotion atau minyak/baby oil ada daerah yang tertekan - Monitor aktifitas dan mobilisasi pasien - Monitor status nutrisi pada pasien - Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat Insition site care - Membersihkan, memantau dan meningkatkan proses penyembuhan pada luka yang ditutup dengan jahitan klip atau starples - Monitor proses kesembuhan area insisi
  • 24.
    - Monitor tandadan gejala infeksi - Bersihkan area sekitar jahitan pada area insisi - Gunakan preparat antiseptik sesua program - Ganti balutan pada interval waktu yang sesuai atau biarkan luka tetap terbuka (tidak dibalut) sesuai program 3 Ketidak Efektifan Bersihan Jalan Napas deifinis : ketidak mampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernafasan untuk mempertahankan kebersihan jalan nafas. Faktor faktor yang berhubungan dengan: - Lingkungan - Perokok pasif - Mengisap asap - Merokok - Obstruksi jalan nafas : - spasme jalan nafas - sekresi tertahan - banyaknya mukus - adanya jalan nafas buatan - sekresi bronkus, adanya eksudat di alveolus - adanya benda asing di jalan nafas. NOC - Respiratory status :Ventilation - Respiratory status :Airway patency Kriteria hasil : - Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips) - Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal) - Mampu mengidentifikasikan dan mencegah faktor yang penyebab. - Saturasi O2 dalam batas normal - Foto thorak dalam batas NIC Airway Suction - Berikan O2 - Identifikasi pada pasien perlunya memberikan alat bantu napas - Anjurkan pasien untuk istirahat dan napas dalam - Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi - Lakukan fisioterapi dada jika perlu - Keluarkan sekret dengan batuk atau suction - Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan - Berikan bronkodilator - Monitor status hemodinamik - Berikan pelembab udara Kassa basah NaCl Lembab - Berikan antibiotik - Atur intake untuk cairan mengoptimalkan
  • 25.
    Batasan Karakteristik : -tidak ada batuk - tidak ada suara tambahan - dispneu - Penurunan suara nafas - Orthopneu - Cyanosis - Kelainan suara nafas (rales, wheezing) - Kesulitan berbicara - Batuk, tidak efektif atau tidak ada produksi sputum - Gelisah - Perubahan frekuensi dan irama nafas normal keseimbangan. - Monitor respirasi dan status O2 - Pertahankan hidrasi yang adekuat untuk bmengencerkan secret - Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang penggunaan peralatan : O2, Suction, Inhalasi - Pastikan kebutuhan oral / tracheal suctioning - Monitor status oksigen pasien - Buka jalan nafas dengan teknik head thin chin lift atau jaw thrustbila perlu - Auskultasi suara nafas sebleum dilakukan suctioning - Informasikan pada pasien dan keluarga tentang sucktioning 4 Hipertermia definisi : peningkatan suhu tubuh diatas kisaran Normal Faktor faktor yang berhubungan dengan : - Anestesia - Medikasi - Pemakaian pakaian yang tidak sesuai dengan lingkungan - penyakit/ trauma - peningkatan metabolisme - aktivitas yang berlebih - dehidrasi NOC - Thermoregulasi Kriteria hasil: - Suhu dalam rentang Normal - Nadi dan RR dalam rentang normal - Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing NIC Fever Treatment - Monitor suhu sesering mungkin - Monitor warna dan suhu kulit - Monitor tekanan darah, nadi dan RR - Monitor penurunan tingkat kesadaran - Monitor WBC, Hb, dan Hct - Monitor intake dan output - Berikan anti piretik & Antibiotik
  • 26.
    - peningkatan suhu tubuh BatasanKarakteristik - Konvulsi - Takipnea - kenaikan suhu tubuh diatas rentang normal - serangan atau konvulsi (kejang) - kulit kemerahan - pertambahan RR - takikardi - Kulit teraba panas/ hangat - Selimuti pasien - Berikan cairan intravena - Kompres pasien pada lipat paha dan aksila - Tingkatkan sirkulasi udara - Tingkatkan intake cairan dan nutrisi - Monitor TD, nadi, suhu, dan RR - Catat adanya fluktuasi tekanan darah - Monitor hidrasi seperti turgor kulit, kelembaban membran mukosa) - Monitor tanda tanda hipertermi - Lakukan tapid sponge - Monitor IWL - Monitor Wbc, Hb, Hct - Berikan obat mencegah terjadinya menggigil - Auskultasi TD pada kedua lengan - Monitor sianosis perifer - Monitor adanya cushing triad - Identifikasi perubahan VS 5 Nyeri akut definisi : pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam hal kerusakan sedemikian rupa (international assotiation NOC - Pain Level - Pain control - Comfort level Kriteria hasil: - Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan NIC - Pain Management - Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
  • 27.
    for the studyof pain ) : awitan yang tiba tiba atau atau lambat dari intensitas ringan hingga berat dengan akhir yangb dapat diantisipasi atau diprediksi dan berlangsung <6 bulan. Faktor yang berhubungan : - Agen injuri (biologi, kimia,fisik, psikologis), kerusakan jaringan Batasan Karakteristik : - Sikap tubuh untuk melindungi - Tingkah laku berhati- hati - Perubahan tekanan darah - Perubahan frekuensi pernapasan - Diaforesis - Laporan isyarat - Gangguan tidur (mata sayu,tampak capek, sulit atau gerakan kacau, menyeringai) - Terfokus pada diri sendiri - Fokus menyempit (penurunan persepsi waktu, kerusakan proses berpikir, penurunan interaksi dengan orang dan lingkungan) - Tingkah laku distraksi, contoh : jalan-jalan, menemui orang lain tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan) - Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri - Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi dan tanda nyeri) - Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang - Tanda vital dalam rentang normal - Tidak mengalami gangguan tidur - Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan - Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan - Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan - Kurangi faktor presipitasi nyeri - Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi - Ajarkan tentang teknik non farmakologi: napas dala, relaksasi, distraksi, kompres hangat/ dingin - Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri - Tingkatkan istirahat - Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan berkurang dan antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur - Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali - Analgesik Administration - Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas
  • 28.
    dan/atau aktivitas, aktivitas berulang- ulang) -Respon autonom (seperti diaphoresis, perubahan tekanan darah, perubahan nafas, nadi dan dilatasi pupil) - Perubahan autonomic dalam tonus otot (mungkin dalam rentang dari lemah ke kaku) - Tingkah laku ekspresif (contoh : gelisah, merintih, menangis, waspada, iritabel, nafas panjang/berkeluh kesah) - Perubahan dalam nafsu makan dan minum dan derajat nyeri sebelum pemberian obat - Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekwensi - Cek riwayat alergi - Pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi nanalgesik lebih dari satu - Tentukan analgesik tergantung beratnya nyeri - Pilih rute pemberian - Evaluasi efektivitas analgesik tanda dan gejala - Berikan analgesik tepat waktu C. DISCHARGE PLANNING Menurut NANDA 2015 1. Jalani pola hidup yang bersih dan higienis 2. Hindari penularan melalui ciuman, penggunaan handuk atau pisau cukur bersama. 3. Hindari memencet atau memecahkan lepuhan karena dapat menyebabkan infeksi sekunder 4. Jangan menggosok atau menyentuh mata sehabis menyentuh lepuhan karena dapat menyebabkan penyebaran virus kekornea yang mengakibatkan kebutaan
  • 29.
    5. Cucilah tangansetiap kali sesudah menyentuh herpes 6. Banyak minum air putih 7. Makan makanan yang banyak mengandung nutrisi supaya dapat mebuat daya tahan tubuh meningkat 8. Berikan imunisasi campak aktif pada bayi berumur 9 bulan atau lebih 9. Jika terjadi campak diupayakan untuk mengisolasi penderita untuk mencegah penularsan 2.3 Tinjauan Kasus Studi kasus campak dengan kompilkasi infeksi saluran nafas pada klien dewasa : Seorang ibu dengan nama Ny,” I “ umur 35 tahun mengeluh batuk berat dan berdahak sejak 3 hari yang lalu, hari ini mulai bertambah sesak, badan panas menggigil dan muncul bercak kemerahan menyebar keseluruh badan wajah dan leher, terasa gatal ,nyeri dan panas terlebih saat di garuk, klien sudah berobat ke puskesmas “ BL” tgl 15 – 9 – 2015 jam 05.30, dan disarankan untuk dirujuk ke rumah sakit agar mendapat penanganan lebih lanjut , jam 09.00 masuk IGD RSUD “THB “ dibawa ambulance bersama perawat dan klg dengan kondisi umum lemah, kesadaran CM, nafas spontan adekuat dengan oksigen 2 liter permenit, RR 34 x/menit,dangkal, sat 98 %,nafas cuping hidung ( + ),retraksi dada ( - ), suara nafas tambahan rhonchi ( + ), batuk produktif ( + ), TTV TD : 120 / 80 mmhg, N: 128 x/m, T : 40 C. ruam makulopopular daerah wajah, leher dan menyebar ke seluruh bagian tubuh dan kedua tangan,berwarna kemerahan,dan terdapat luka lecet bekas garukan tangan di daerah lengan, punggung, dan dada. Klien mengatakan belum pernah menderita penyakit campak dan batuk berat sebelumnya dan Klien juga belum pernah mendapatkan imunisasi campak. Klien memiliki anak perempuan usia 4,5 th seminggu yang lalu pernah menderita penyakit campak dan sudah sembuh dengan dibawa berobat oleh klg
  • 30.
    ke puskesmas..sekarang tinggalbekas saja dan kulitnya yang berwarna hitam sudah mulai terkelupas. Berikut adalah analisa tinjauan kasus dengan menggunakan asuhan keperawatan : A. Pengkajian Asuhan Keperawatan Pada Klien Ny “ I” Dengan Dx. Medis Campak Dengan Komplikasi Infeksi Saluran Nafas ( Trakeobronkitis Akut Di Unit Igd Rsud “ Thd” Kaltim Tgl pengkajian : 15 – 9 – 2015 Ruang / unit : IGD Jam pengkajian : jam 09.00 No. reg : 002356 Tgl mrs : 15 – 9 – 2015 Jam MRS : 09.00 1. Identitas 1) Identitas klien : Nama : Ny.”I” Umur : 35 th Jenis kelamin : Perempuan Agama : Islam Pendidikan : SMP Pekerjaan : IRT Gol. Darah : -- Alamat : Jl. Flores Bontang Kaltim 2) Identitas penanggung jawab : Nama : Tn “ H “ Umur : 40 th Jenis kelamin : laki – laki Agama : Islam Pekerjaan : swasta Alamat : Jl. Flores Bontang Kaltim
  • 31.
    Hubungan dengan klien: suami 2. Keluhan Utama Keluhan utama saat MRS dan pengkajian : Klien mengeluh batuk berat dan berdahak sejak 3 hari yang lalu, hari ini mulai bertambah sesak, badan panas menggigil dan muncul bercak kemerahan menyebar keseluruh badan wajah dan leher, terasa gatal ,nyeri dan panas terlebih saat di garuk. 3. Diagnosa Medis Diagnose medis : campak dengan komplikasi infeksi saluran nafas (trankeobronkitis akut ) 4. Riwayat Kesehatan 1) Riwayat penyakit sekarang Klien mengeluh batuk berat dan berdahak sejak 3 hari yang lalu, hari ini mulai bertambah sesak, badan panas menggigil dan muncul bercak kemerahan menyebar keseluruh badan wajah dan leher, terasa gatal ,nyeri dan panas terlebih saat di garuk, klien sudah berobat ke puskesmas “ BL” tgl 15 – 9 – 2015 jam 05.30, dan disarankan untuk dirujuk ke rumah sakit agar mendapat penanganan lebih lanjut , jam 09.00 masuk IGD RSUD “THB “ dibawa ambulance bersama perawat dan klg dengan kondisi umuum lemah, kesadaran CM, nafas spontan adekuat dengan oksigen 2 liter permenit, RR 34 x/menit,dangkal, sat 98 %,nafas cuping hidung ( + ),retraksi dada ( - ), suara nafas tambahan rhonchi ( + ), batuk produktif ( + ), TTV TD : 120 / 80 mmhg, N: 128 x/m, T : 40O C. ruam makulopopular daerah wajah, leher dan menyebar ke seluruh bagian tubuh dan kedua tangan,berwarna kemerahan,dan terdapat luka lecet bekas garukan tangan di daerah lengan, punggung, dan dada.
  • 32.
    2) Riwayat kesehatanyang lalu Klien mengatakan belum pernah menderita penyakit campak dan batuk berat sebelumnya dan Klien juga belum pernah mendapatkan imunisasi campak. 3) Riwayat kesehatan keluarga Klien memiliki anak perempuan usia 4,5 tahun seminggu yang lalu pernah menderita penyakit campak dan sudah sembuh dengan dibawa berobat oleh keluarga ke puskesmas. Sekarang tinggal bekas saja dan kulitnya yang berwarna hitam sudah mulai terkelupas. Genogram 3 generasi : Keterangan : : Laki-laki ----------- : Keluarga : Perempuan : Meninggal : Pasien 62 60 8 40 61 15 4245 60 30 35 4,5
  • 33.
    4) Pola FungsiKesehatan a. Pola persepsi dan tatalaksana kesehatan Klien mengatakan belum pernah mendapatkan imunisasi campak sebelumnya. b. Pola nutrisi Nafsu makan klien baik, klien makan 3x sehari dan selalu menghabiskan porsi makannya c. Pola eliminasi Sebelum dan sesudah sakit tidak ada perubahan: BAK 5-6 x/hari spontan, BAB 1x/hari. d. Pola aktivitas - e. Pola istirahat tidur - f. Pola persepsi sensori - g. Pola konsep diri Adanya ruam diseluruh tubuh, dapat mengakibatkan klien malu pada kondisi tubuhnya saat ini. h. Pola peran berhubungan i. Pola mekanisme koping j. Pola seksual seksualitas k. Pola nilai dan kepercayaan
  • 34.
    5. Pemeriksaan Fisik 1.Keadaan umum : tampak lemah Status neurologis : CM , GCS ( E4,V5,M,6) TTV : TD : 120 mmhg, N: 128 x/m, RR: 34 x/m, T : 40 C 2. Pemeriksaan kepala , dan leher : a) Kepala Terdapat ruam makulopapular di daerah wajah dan leher. - Rambut : warna, disrtibusi, kebersihan, kutu - Muka bengkak. Eritema timbul dibelakang telinga. Ruam menyebar keseluruh muka. Lesi pada muka yang cenderung bergabung - Mata : normal, tidak ada konjungtivitis. - Hidung : terdapat coryza (pilek) dan hidung buntu. - Mulut : - - Telinga : Eritema dibelakang telinga. b) Leher : bercak kemerahan menyebar keseluruh leher, terasa gatal ,nyeri dan panas terlebih saat di garuk 3. B1 ( breath ) : Nafas spontan adekuat dengan oksigenasi 2l/meit, RR : 30 x/m,dangkal, sat 98 %, nafas cuping hidung ( + ), hidung buntu dan pilek, retraksi dada ( - ), suara nafas tambahan ronchi ( + ), batuk produktif / berdahak dengan produksi sputum ( + ), warna putih kental. 4. B2 ( Blood ) : Akral teraba hangat, perabaan nadi kuat, CRT ≤ 2 detik, TD : 120 mmhg, N: 128 x/m, sinus regular dengan S1, dan S2 tunggal.
  • 35.
    5. B3 (Brain ) : Tingkat kesadaran kualitatif : CM Tingkat kesadaran kuantitatif : GCS ( E4, V5, M6 ) Reaksi pupil isokor 3/2 ( kanan ),3/ 2 ( kiri ), reflek cahaya + / + 6. B4 ( Blader ) : BAK spontan dengan produksi urine 300 cc saat di IGD warna kuning jernih. Di rumah BAK 5-6 x/hari spontan. 7. B5 ( Bowel ) : Membrane mukosa lembab , abdomen supel ,Bising usus 10 x/m, BAB terakhir 1 hari yang lalu warna kuning kecoklatan. 8. B6 ( Bone ) : Kekuatan tonus otot normal 9. System integument : terdapat ruam makulopopular daerah wajah, leher ,seluruh badan dan kedua tangan dengan warna kemerahan, dan luka lecet bekas garukan di daerah lengan, dada dan punggung . 6. Pengobatan Medis 1) Infus RL 1500 cc/menit 2) Inj. Antipiretik 3x 1 amp IV 3) Neurosanbe drip 1 amp/hari 4) Inj. Ceftriaxone 2x 1 gr IV 5) Diet TKTP 6) Nebulizer dengan combivent dan Bisolvon 3 kali per hari 7. Pemeriksaan Penunjang Hasil LAB: HB= 11,0 g/dL Trombosit = 200.000 x 10³ µ/L HCT = 40% Leukosit = 15.000 x 10³ µ/L Sputum : dalam sputum terdapat multinucleated giant cell yang khas
  • 36.
    8. Analisa Data NoData subyektif dan data obyektif Etiologi Problem 1. 2. 3. Ds: pasien mengeluh batuk, sesak, hidung buntu, pilek. Do: nafas spontan adekuat dengan oksigen 2 liter permenit, pernapasan dangkal, sat 98 %, nafas cuping hidung (+), retraksi dada (-), suara nafas tambahan rhonchi (+), batuk produktif (+) TD : 120 / 80 mmhg, N: 128 x/m, T : 39O C. RR: 30 x/menit Ds: pasien mengatakan panas menggigil Do: k/u: cukup TD : 120 / 80 mmhg, N: 128 x/m, T : 39O C Ds: - pasien mengatakan muncul bercak kemerahan menyebar keseluruh badan wajah dan leher - terasa gatal ,nyeri dan panas terlebih saat di garuk. Do: - ruam makulopopular daerah wajah, leher dan menyebar ke seluruh bagian tubuh dan kedua tangan - terdapat luka lecet bekas garukan tangan di daerah lengan, punggung, dan dada Mukus dalam jumlah berlebihan Penyakit Perubahan/ gangguan epidermis dan/ dermis Ketidakefektifan bersihan jalan nafas Hipertermi Kerusakan integritas kulit
  • 37.
    9. Diagnose danNIC NOC NO DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN DAN KRITERIA HASIL (NOC) INTERVENSI (NIC) 1 Ketidak Efektifan Bersihan Jalan Napas b/d Mukus dalam jumlah berlebihan ditandai dengan: DS : klien mengatakan : 1. Batuk berat berdahak sejak 3 hari ang lalu 2. Sesak DO : 1. TD : 120 / 80 mmhg, 2. N: 128 x/m, 3. T : 39O C. 4. RR: 30 x/menit 5. nafas spontan adekuat dengan oksigen 2 liter permenit 6. pernapasan dangkal, 7. sat 98 % 8. nafas cuping hidung (+) 1. Respiratory status :Ventilation 2. Respiratory status :Airway patency Setelah dilakukan tindakan Keperawatan selama 2 jam pasien menunjukkan keefektifan bersihan jalan nafas,dibuktikan dengan kriteria hasil: 1. Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih, tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, bernafas dengan mudah, tidak ada pursed lips) 2. Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik, irama nafas, frekuensi pernafasan Airway Suction 1. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi 2. Lakukan fisioterapi dada jika perlu 3. Keluarkan sekret dengan batuk Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan 4. Monitor status hemodinamik 5. Atur intake cairan mengoptimalkan keseimbangan. 6. Monitor respirasi dan status O2Anjurkan pasien untuk istirahat dan napas dalam 7. Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang
  • 38.
    9. retraksi dada(-), 10. suara nafas tambahan rhonchi (+) 11. batuk produktif (+) 12. batuk tidak efektif dalam rentang normal, tidak ada suara nafas abnormal) 3. Mampu mengidentifikasikan dan mencegah faktor yang penyebab. 4. Saturasi O2 dalam batas normal 5. Foto thorak dalam batas normal penggunaan peralatan : O2, Inhalasi 8. Berikan O2 9. Berikan bronkodilator 10. Berikan antibiotik 11. Pertahankan hidrasi yang adekuat untuk mengencerkan secret 2 Hipertermia b/d penyakit ditandai dengan : DS : 1. pasien mengatakan badan panas menggigil DO : 1. TD : 120 / 80 mmhg 2. N: 128 x/m, 3. T : 39O C Thermoregulasi Kriteria hasil: Setelah dilakukan perawatan 1x24 jam maka, 1. Suhu dalam rentang Normal 2. Nadi dan RR dalam rentang normal 3. Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing Fever Treatment 1. Monitor suhu sesering mungkin 2. Monitor warna dan suhu kulit 3. Monitor tekanan darah, nadi dan RR 4. Monitor WBC, Hb, dan Hct 5. Monitor intake dan output 6. Kompres pasien pada lipat paha dan aksila 7. Tingkatkan intake cairan dan nutrisi 8. Monitor hidrasi seperti
  • 39.
    turgor kulit, kelembaban membranmukosa) 9. Monitor tanda tanda hipertermi 10. Monitor IWL 11. Berikan anti piretik & Antibiotik 12. Berikan cairan intravena 3 Kerusakan integritas kulit b/d Perubahan/ gangguan epidermis dan/ dermis ditandai dengan : Ds: - pasien mengatakan muncul bercak kemerahan menyebar keseluruh badan wajah dan leher - terasa gatal ,nyeri dan panas terlebih saat di garuk. Do: - ruam makulopopular daerah wajah, leher dan menyebar ke seluruh Tissue Integrity : Skin and Mocous Membranes Kriteria Hasil : Setelah dilakukan perawatan 1x24 jam maka : - Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (sensasi, elastisitas, temperatur, hidrasi, pigmentasi) - Tidak ada luka/lesi pada kulit - Perfusi jaringan baik - Menunjukan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah terjadinya secara berulang - Mampu melindungi kulit Pressure Management 1. Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar 2. Hindari kerutan pada tempat tidur 3. Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering 4. Monitor kulit akan adanya kemerahan 5. Oleskan lotion atau minyak/baby oil ada daerah yang tertekan 6. Monitor aktifitas dan mobilisasi pasien 7. Monitor status nutrisi pada pasien
  • 40.
    bagian tubuh dankedua tangan. - terdapat luka lecet bekas garukan tangan di daerah lengan, punggung, dan dada dan mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan alami 8. Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat
  • 41.
    BAB III KESIMPULAN DANSARAN D. Kesimpulan Penularan penyakit campak adalah dengan melalui droplet jalan pernafasan. Penyakit ini ditandai dengan periode laten selama 10-14 hari dan 2-3 hari periode prodromal dengan nafas, batuk, pilek dan konjungtivitis dan dikikuti dengan timbulnya ruam makulopapuler yang khas. Timbulnya ruam bersamaan dengan timbulnya respons imun dan permulaan hilangnya virus. Selanjutnya virus campak masuk kelenjar getah bening yang berada di bawah mukosa. Di sini virus memperbanyak diri kemudian masuk ke sel-sel jaringan limfe local. Pada pasien Ny I didapatkan bahwa penyakitnya tertular dari anak ke ibu dengan melalui droplet. Pada pemeriksaan terdapat data kesenjangan yaitu respirasi rate meningkat, nadi meningkat, suhu meningkat, terdapat pernafasan cuping hidung, ruam makulopopular daerah wajah, leher dan menyebar ke seluruh bagian tubuh dan kedua tangan,berwarna kemerahan,dan terdapat luka lecet bekas garukan tangan di daerah lengan, punggung, dan dada. Pada pasien Ny I pada stadium erupsi yang ditandai dengan keluarya ruam yang dimulai dari belakang telinga menyebar ke wajah, dada, punggung, lengan dan kaki di sertai dengan suhu tubuh yang lebih meningkat. Berdasarakan studi kasus di atas dapat disimpulkan bahwa pasien Ny. I yang terdiagnosa campak muncul diagnosa keperawatan, yaitu: 1) Ketidakefektifan jalan nafas, 2) Hipertermi, 3) Kerusakan integritas kulit. E. Saran 1. Diharapkan mahasiswa dapat memahami asuhan keperawatan dengan diagnosa medis campak pada pasien dewasa.
  • 42.
    2. Diharapkan mahasiswadapat merumuskan diagnosa medis keperawatan dengan campak pada pasien dewasa. 3. Diharapkan mahasiswa dapat mengintervensikan dan mengimplementasikan dengan campak pada pasien dewasa.
  • 43.
    DAFTAR PUSTAKA Hargono, Arief.2012. Penilaian Atribut Surveilans Campak Berdasarkan Persepsi Petugas Surveilans Puskesmas di Surabaya. http://adln.lib.unair.ac.id. Diakses pada tanggal 14 September 2015 pukul 14.53 WIB Kementrian Kesehatan. 2010. PERMENKES NO.1501/MENKES/PER/X/2010. http://djpp.depkumham.go.id. Diakses pada tanggal 14 September 2015 pukul 12.03 WIB. LeMone, Priscilla. 2008. Medical-Surgical-Nursing.USA: Prentice Hall NSW Government Health. 2012. Lembar Fakta Penyakit Menular : Campak. http://health.nsw.gov.au. Diakses pada tanggal 14 September 2015 pukul 11.52 WIB Nurarif, amin huda, Hardi Kusuma.2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan Nanda NIC-NOC. Yogyakarta : Mediaaction Publishing Puspa, Kartika Dewi, dkk. 2013. Stabilitas Imunoglobulin M (IgM) Campak pada Dried Serum Spots. http://ejournal.litbang.depkes.go.id. Diakses pada tanggal 14 September 2015 pukul 12.08 WIB Ranuh , IGN. Dkk. 2008. Pedoman Imunisasi di Indonesia Edisi Ketiga . Jakarta : IDAI Rohmah, Nikmatur. 2009. Proses Keperawatan Teori dan Aplikasi. Yogyakarta : Ar ruzz Media Soegijanto, Soegeng. 2007. Kumpulan Makalah Penyakit Tropis dan Infeksi di Indonesia Jilid 6. Surabaya : Airlangga University Press Widoyono . 2011. Penyakit Tropis Epidemologi , Penularan , Pencegahan, dan Pemberantasannya Edisi Kedua. Jakarta : Erlangga Yayasan Spiritia. 2007. Lembar Informasi 120: Hasil Tes Lab Normal. http://spiritia.or.id Diakses pada tanggal 15 September 2015 pukul 15.42 WIB.