ASAL-USUL NENEK MOYANG
Berdasarkan hasil penyelidikan yang dilakukan oleh sejarawan Belanda, Von
Heine Geldern, diterangkan bahwa sejak tahun 2000 SM yang bersamaan dengan zaman
Neolithikum sampai dengan tahun 500 SM yang bersamaan dengan jaman Perunggu
mengalirlah gelombang perpindahan penduduk dari Asia ke pulau - pulau sebelah
Selatan daratan Asia.
Pulau - pulau di sebelah Selatan Asia disebut Austronesia ( Austro artinya
selatan, nesos artinya pulau). Bangsa Austronesia mendiami wilayah yang amat luas,
meliputi pulau-pu;au yang membentang dari Madagaskar ( sebelah Barat ) sampai ke
pulau Paskah ( Sebelah Timur ) dan Taiwan sebelah Utara sampai Selanadia Baru
sebelah Selatan.
Pendapat Von Heine Geldern ini diperkuat dengan penemuan peralatan manusia
purba berupa beliung batu yang berbentuk persegi di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan
Sulawesi bagian barat. Beliung seperti ini di Asia banyak ditemukan di Malaysia,
Myanmar, Vietnam, dan Kampucha terutama di wilayah Yunan.
Perpindahan penduduk gelobang ke dua terjadi pada tahun 400 – 300 SM
bersamaan dengan zaman Perunggu. Perpindahan ini membawa kebudayaan Perunggu
seperti kapak sepatu, dan nekara atau gendering yang berasal dari daerah Dong Son.
Oleh karena itu kebudayaan perunggu di Indonesia disebut juga kebudayaan Dong Son.
Pendukung budaya Dong Son adalah orang-orang Austronesia yang tinggal di
pulau-pulau antara benua Asia dan Australia . Kedatangan bangsa Austronesia yang
berasal dari Yunan ke Indonesia terjadi pada sekitar tahun 2000 SM pula. Oleh sebab itu
dapat disimpulkan bahwa mereka inilah nenek moyang bangsa Indonesia. Pendapat
demikian jug pernah dikemukakan oleh Dr. H. Kern pad tahun 1899 melalui penelitian
berbagai bahasa daerah ( ada 113 bahasa daerah )di Indonesia. Simpulannya bahwa
bahasa daerah tersebut dahulunya berasal dari satu rumpun bahasa yang disebut bahasa
Austronesia.
Nenek moyang bangsa Indonesia meninggalkan daerah Yunan disekitar hulu
sungai Salwen dan sungai Mekhong yang tanahnya sangat subur diperkirakan karena
bencana alam atau serangan dari suku bangsa lain.
Alat transfortasi yang digunakan oleh nenek moyang bangsa Indonesia adalah
Perahu Bercadik . Mereka berlayar secara berkelompok tanpa mengenal rasa takut dan
menempati berbagai pulau dan salah satu tempat yang mereka pilih adalah nusantara.
Hal ini menunjukan bahw nenek moyang bangsa Indonesia adalah pelaut-pelaut yang
ulung yang mempunyai jiwakelautan yang mendalam. Nenek moyang bangsa Indonesia
mempunyai kebudayaan kelautan yaitu sebagai penemu model asli perahu bercadik
yang merupakan cirri khas kapal bangsa Indonesia.
Orang-orang Austronesia yang memasuki wilayah Nusantara dan kemudian
menetap disebut bangsa Melayu Indonesia. Mereka inilah yang menjadi nenek langsung
bangsa Indonesia sekarang. Bangsa Melayu itu dapat dibedakan menjadi dua suku
bangsa :
1. Bangsa Melayu Tua ( Proto Melayu )
Bangsa Melayu Tua adalah orang-orang Austronesia dari Asia yang pertama kali
datang ke nusantara pada sekitar tahun 1500 SM. Bangsa Melayu Tua memasuki
wuilayah nusantara melalui dua jalur, yaitu :
a. Jalur Barat melalui malaysia – Sumatera
b. Jalur Utara atau Timur melalui Fhilipina – Sulawesi.
Bangsa Melayu Tua memiliki kebudayaan yang lebih tinggi dari pada manusia
purba.Kebudayaan bangsa Melayu Tua disebut kebudayaan batu baru atau neolithikum.
Meskipun hampir semua peralatan merek terbuat dari batu. Pembuatannya sudah
dihaluskan. Hasil budaya zaman ini yang terkenal adalah kapak persegi yang banyak
ditemukan di wilayah Indonesia bagian Barat ( Sumatera, jawa, Kalimantan,dan Bali ).
Menurut penelitian Van Heekertn di Kalumpang ( Sulawesi Utara ) telah terjadi
perpaduan antara tradisi kapak persegi dan kapak lonjong yang dibawa oleh orang-
orang Austranesia yang dating dari arah utara atau melalui Fhilipina dan Sulawesi.Suku
bangsa Indonesia yang termasuk anak keturunan bangsa Proto Melayu adalah suku
Dayak dan Suku Toraja.
2. Bangsa Melayu Muda ( Deutero Melayu )
Pada kurun waktu tahun 400 - 300 SM adalah gelombang ke dua nenek moyang
bangsa Indonesia dating ke nusantara. Bangsa melayu muda ( Deutero Melayu )
berhasil mendesak dan berasimilsasi dengan pendahulunya, bangsa proto melayu.
Bangsa deuteron Melayu memasuki wilayah nusantara melalui jalur Barat mereka
menempuh rute dari Yunan ( Teluk Tonkin ), Vietnam, semenanjung Malaysia, dan
akhirnya sampai di Nusantara. Bangsa Deutero Melayu memiliki kebudayaan yang
lebih maju dibandingkan bangsa Proto Melayu karena mereka telah dapat membuat
barang - barang dari perunggu dan besi. Hasil budayanya yang terkenal adalah kapak
corong, kapak serpatu, dan nekara.
Selain kebudayaan logam, bangsa Deutro Melayu juga mengembangkan
kebudayaan megalithikum, misalnya menhir / tugu batu,dolmen / meja batu,
sarkopagus/ keranda mayat, kubur batu, dan punden berundak. Suku bangsa Indonesia
yang termasuk ketuirunan bangsa Melayu muda adalah suku Jawa dan Melayu dan
Bugis.
3. Bangsa Primitif
Sebelum kelompok bangsa melayu memasuki Nusantara sebenarnya telah ada
kelompok manusia yang lebih dahulu tinggal di wilayah tersebut. Mereka termasuk
bangsa primitive dengan budayanya yang sangat sederhana. Mereka yang termasuk
bangsa primitive adalah :
a. Manusia Pleistosin ( Purba )
Kehidupan manusia purba ini selalu berpindah tempat dengan kemampuan yang
sangat terbatas. Demikian juga dengan kebudayaannnya sehingga corak
kehidupannnya manusia purba ini tidak dapat diikuti kembali kecuali beberapa
aspek saja. Misalnya teknologinya yang masih sangat sederhana ( Teknologi
Paleolitik )
b. Suku Wedoid
Sisa - sisa suku Widoid sampai sekarang masih ada misalnya suku Sakai di Siak
serta suku Kubu diperbatasan Jambi dan Palembang. Mreka hidup dari meramu /
mengumpulkan hasil hutan dan berkebudayaan sederhana. Mereka juga sulit
sekali menyesuaikan diri dengan masyarakat modern.
c. Suku Negroid
Di Indonesia sudah tidak terdapat lagi sisa - sisa kehidupan suku negroid. Akan
tetapi di pedalaman Malayasia dan Pilipina keturunan suku negroid masih ada.
Suku yang maasuk suku negroid misalnya suku Semang di Semenanjung
malaysia dan suku negrito di Pilipina.
CORAK KEHIDUPAN MANUSIA PURBA
Corak Kehidupan Masyarakat Praaksara atau Gaya Hidup Manusia Purba dibagi
ke dalam 3 periode, yaitu :
1. Masa berburu dan meramu
2. Masa bercocok tanam
3. Masa perundagian
1. Masa berburu dan meramu
Pada masa ini manusia purba menggantungkan hidupnya dengan alam. Mereka
mendapatkan makanan dengan berburu dan meramu. Meramu pengertiannya merupakan
kegiatan untuk mendapatkan bahan makanan dengan cara mengumpulkan tumbuh -
tumbuhan atau mengumpulkan makanan atau disebut pula dengan food gathering and
hunting.
Masa berburu dan meramu dibagi menjadi 2, yaitu :
a) Masa berburu dan meramu tingkat awal
Tahap ini berlangsung kurang lebih 2 juta – 10.000 tahun yang lalu, mereka
hidupnya di hutan, tepi sungai, gunung, goa dan lembah, hidupnya secara
berkelompok-kelompok, setiap kelompok ± 10 – 15 orang dan hubungan antar
anggota kelompok sangat erat. Mereka mengenal pembagian tugas. Kaum laki -
laki bertugas untuk berburu dan kaum wanita bertugas untuk mengumpulkan
buah-buahan serta memelihara anak. Hidupnya berpindah - pindah, terutama jika
persediaan makanan yang mereka tempati sudah habis mereka pindah ketempat
lain yang banyak persediaan makanannya. Alat - alat yang digunakan pada
zaman itu terbuat dari batu dan tulang contoh alat yang dari batu yaitu kapak
perimbas dan kapak genggam yang digunakan oleh Pithecantrophus erectus. Dan
contoh yang terbuat dari tulang yaitu flake ( alat serut ), gurdi, pisau, mata
tombak dan alat penusuk, yang digunakan oleh Homo sapiens dan Homo
Wajakensis. Jadi manusia yang hidup pada masa berburu dan meramu tingkat
awal ini adalah Phitecanthropus erectus dan Homo Wajakensis atau Homo
sapiens.
b) Masa berburu dan meramu tingkat lanjut.
Manusia mulai memiliki kepandaian dalam mengolah tanah. Hidup
berkelompok di gua - gua, atau tepi pantai, sudah mengenal bergotong royong
dalam bercocok tanam ( bertani ), pada umumnya kehidupan masih tergantung
dengan alam, tetapi manusia didaerah pedalaman sudah mulai menetap dan
bercocok tanam. Peninggalan pada masa ini berbentuk kjokkenmoddinger dan
abris sous roche. Kjokkenmoddinger adalah sampah dapur yang menggunung di
tepi pantai, biasanya berupa kulit kerang dan tulang-tulang ikan. Abris sous
roche adalah gua tempat tinggal yang bagian atasnya tertutup sehingga
terlindung dari panas dan hujan. Contoh alat-alat kjokkenmoddinger (
maksudnya kebudayaan kjokkenmoddinger ) berupa kapak genggam, kapak
pendek, batu pipisan / batu gilingan yang digunakan untuk menggiling obat -
obatan, atau zat warna untuk hematit ( lukisan ) dan kapak pebble ( kapak
Sumatra ) untuk memotong, menggali dan menguliti. Contoh alat - alat abris
sous roche atau disebut pula kebudayaan pedalaman berupa alat - alat dari tulang
seperti belati, sudip, mata kail, dan penusuk. Dan alat - alat dari serpih bilah
seperti pisau dan gurdi dari batu.
Pada masa berburu dan meramu tingkat lanjut sudah mulai dikenal system
kepercayaan tentang hidup sesudah mati. Hal ini dibuktikan dengan adanya penguburan
mayat dan adanya penggunaan cat warna merah. Adanya lukisan cap - cap tangan
dengan latar belakang warna merah mengandung arti kekuatan atau symbol kekuatan
pelindung untuk mencegah roh-roh jahat. Lukisan cap tangan merah dapat ditemukan di
gua leang-leang, Sulawesi Selatan. Adapun pada penguburan mayat, mayat ditaburi cat -
cat merah maksudnya adalah untuk memberikan kehidupan baru di alam baka.
2. Masa bercocok tanam dan berternak ( Food Producing )
Pada masa ini manusia sudah menetap pada suatu tempat dalam waktu yang
cukup lama sehingga terbentuklah kelompok-kelompok manusia dalam jumlah yang
banyak. Hal ini terjadi karena manusia sudah mampu menguasai dan mengolah alam.
Sehingga manusia sudah tidak tergantung sepenuhnya pada apa yang disediakan oleh
alam. Manusia sudah mulai menghasilkan makan sendiri dengan cara bertani dan
berternak. Mereka menanam padi, jagung, keladi, sukun, pisang dan ketela. Mereka
berternak unggas, kerbau, dan babi.
Kemampuan bercocok tanam yang pertama dikenal oleh manusia adalah
berhuma. Berhuma yaitu teknik bercocok tanam dengan membersihkan hutan dan
menanaminya. Manusia pendukung budaya ini adalah bangsa Melayu Austronesia. Pada
masa ini manusia sudah bekerja dengan bergotong royong, kehidupan mereka semakin
teratur dan terorganisir. Sudah memiliki seorang pemimpin yang mengatur kehidupan
masyarakat yang biasa disebut dengan kepala suku. Pemimpin diangkat berdasarkan
primus interpares, yaitu mereka mengangkat yang paling utama diantara mereka.
3. Masa Perundagian
Pada masa perundagian, manusia mulai mengenal peleburan bijih logam dan
pembuatan perkakas dari logam. Pada masa ini mulai munncul orang - orang ahli dan
terampil dalam jenis pekerjaan tertentu. Orang - orang ahli dan terampil ini kemudian
dikenal dengan golongan undagi.
Masa perundagian ini dikelompokkan ke dalam 3 zaman, yakni :
1. Zaman Tembaga
2. Zaman Perunggu
3. Zaman Besi
Sedangkan di Indonesia Zaman Tembaga tidak pernah dikenal oleh masyarakat
purba Indonesia. Dengan demikian zaman logam dikenal di Indonesia sejak zaman
perunggu.
Peninggalan - peniggalan yang terkenal pada zaman logam ini adalah nekara,
bejana, kapak yang terbuat dari perunggu, dan belati dari besi.

Asal usul nenek moyang

  • 1.
    ASAL-USUL NENEK MOYANG Berdasarkanhasil penyelidikan yang dilakukan oleh sejarawan Belanda, Von Heine Geldern, diterangkan bahwa sejak tahun 2000 SM yang bersamaan dengan zaman Neolithikum sampai dengan tahun 500 SM yang bersamaan dengan jaman Perunggu mengalirlah gelombang perpindahan penduduk dari Asia ke pulau - pulau sebelah Selatan daratan Asia. Pulau - pulau di sebelah Selatan Asia disebut Austronesia ( Austro artinya selatan, nesos artinya pulau). Bangsa Austronesia mendiami wilayah yang amat luas, meliputi pulau-pu;au yang membentang dari Madagaskar ( sebelah Barat ) sampai ke pulau Paskah ( Sebelah Timur ) dan Taiwan sebelah Utara sampai Selanadia Baru sebelah Selatan. Pendapat Von Heine Geldern ini diperkuat dengan penemuan peralatan manusia purba berupa beliung batu yang berbentuk persegi di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi bagian barat. Beliung seperti ini di Asia banyak ditemukan di Malaysia, Myanmar, Vietnam, dan Kampucha terutama di wilayah Yunan.
  • 2.
    Perpindahan penduduk gelobangke dua terjadi pada tahun 400 – 300 SM bersamaan dengan zaman Perunggu. Perpindahan ini membawa kebudayaan Perunggu seperti kapak sepatu, dan nekara atau gendering yang berasal dari daerah Dong Son. Oleh karena itu kebudayaan perunggu di Indonesia disebut juga kebudayaan Dong Son. Pendukung budaya Dong Son adalah orang-orang Austronesia yang tinggal di pulau-pulau antara benua Asia dan Australia . Kedatangan bangsa Austronesia yang berasal dari Yunan ke Indonesia terjadi pada sekitar tahun 2000 SM pula. Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa mereka inilah nenek moyang bangsa Indonesia. Pendapat demikian jug pernah dikemukakan oleh Dr. H. Kern pad tahun 1899 melalui penelitian berbagai bahasa daerah ( ada 113 bahasa daerah )di Indonesia. Simpulannya bahwa bahasa daerah tersebut dahulunya berasal dari satu rumpun bahasa yang disebut bahasa Austronesia. Nenek moyang bangsa Indonesia meninggalkan daerah Yunan disekitar hulu sungai Salwen dan sungai Mekhong yang tanahnya sangat subur diperkirakan karena bencana alam atau serangan dari suku bangsa lain. Alat transfortasi yang digunakan oleh nenek moyang bangsa Indonesia adalah Perahu Bercadik . Mereka berlayar secara berkelompok tanpa mengenal rasa takut dan menempati berbagai pulau dan salah satu tempat yang mereka pilih adalah nusantara. Hal ini menunjukan bahw nenek moyang bangsa Indonesia adalah pelaut-pelaut yang ulung yang mempunyai jiwakelautan yang mendalam. Nenek moyang bangsa Indonesia mempunyai kebudayaan kelautan yaitu sebagai penemu model asli perahu bercadik yang merupakan cirri khas kapal bangsa Indonesia. Orang-orang Austronesia yang memasuki wilayah Nusantara dan kemudian menetap disebut bangsa Melayu Indonesia. Mereka inilah yang menjadi nenek langsung
  • 3.
    bangsa Indonesia sekarang.Bangsa Melayu itu dapat dibedakan menjadi dua suku bangsa : 1. Bangsa Melayu Tua ( Proto Melayu ) Bangsa Melayu Tua adalah orang-orang Austronesia dari Asia yang pertama kali datang ke nusantara pada sekitar tahun 1500 SM. Bangsa Melayu Tua memasuki wuilayah nusantara melalui dua jalur, yaitu : a. Jalur Barat melalui malaysia – Sumatera b. Jalur Utara atau Timur melalui Fhilipina – Sulawesi. Bangsa Melayu Tua memiliki kebudayaan yang lebih tinggi dari pada manusia purba.Kebudayaan bangsa Melayu Tua disebut kebudayaan batu baru atau neolithikum. Meskipun hampir semua peralatan merek terbuat dari batu. Pembuatannya sudah dihaluskan. Hasil budaya zaman ini yang terkenal adalah kapak persegi yang banyak ditemukan di wilayah Indonesia bagian Barat ( Sumatera, jawa, Kalimantan,dan Bali ). Menurut penelitian Van Heekertn di Kalumpang ( Sulawesi Utara ) telah terjadi perpaduan antara tradisi kapak persegi dan kapak lonjong yang dibawa oleh orang- orang Austranesia yang dating dari arah utara atau melalui Fhilipina dan Sulawesi.Suku bangsa Indonesia yang termasuk anak keturunan bangsa Proto Melayu adalah suku Dayak dan Suku Toraja. 2. Bangsa Melayu Muda ( Deutero Melayu ) Pada kurun waktu tahun 400 - 300 SM adalah gelombang ke dua nenek moyang bangsa Indonesia dating ke nusantara. Bangsa melayu muda ( Deutero Melayu ) berhasil mendesak dan berasimilsasi dengan pendahulunya, bangsa proto melayu. Bangsa deuteron Melayu memasuki wilayah nusantara melalui jalur Barat mereka
  • 4.
    menempuh rute dariYunan ( Teluk Tonkin ), Vietnam, semenanjung Malaysia, dan akhirnya sampai di Nusantara. Bangsa Deutero Melayu memiliki kebudayaan yang lebih maju dibandingkan bangsa Proto Melayu karena mereka telah dapat membuat barang - barang dari perunggu dan besi. Hasil budayanya yang terkenal adalah kapak corong, kapak serpatu, dan nekara. Selain kebudayaan logam, bangsa Deutro Melayu juga mengembangkan kebudayaan megalithikum, misalnya menhir / tugu batu,dolmen / meja batu, sarkopagus/ keranda mayat, kubur batu, dan punden berundak. Suku bangsa Indonesia yang termasuk ketuirunan bangsa Melayu muda adalah suku Jawa dan Melayu dan Bugis. 3. Bangsa Primitif Sebelum kelompok bangsa melayu memasuki Nusantara sebenarnya telah ada kelompok manusia yang lebih dahulu tinggal di wilayah tersebut. Mereka termasuk bangsa primitive dengan budayanya yang sangat sederhana. Mereka yang termasuk bangsa primitive adalah : a. Manusia Pleistosin ( Purba ) Kehidupan manusia purba ini selalu berpindah tempat dengan kemampuan yang sangat terbatas. Demikian juga dengan kebudayaannnya sehingga corak kehidupannnya manusia purba ini tidak dapat diikuti kembali kecuali beberapa aspek saja. Misalnya teknologinya yang masih sangat sederhana ( Teknologi Paleolitik )
  • 5.
    b. Suku Wedoid Sisa- sisa suku Widoid sampai sekarang masih ada misalnya suku Sakai di Siak serta suku Kubu diperbatasan Jambi dan Palembang. Mreka hidup dari meramu / mengumpulkan hasil hutan dan berkebudayaan sederhana. Mereka juga sulit sekali menyesuaikan diri dengan masyarakat modern. c. Suku Negroid Di Indonesia sudah tidak terdapat lagi sisa - sisa kehidupan suku negroid. Akan tetapi di pedalaman Malayasia dan Pilipina keturunan suku negroid masih ada. Suku yang maasuk suku negroid misalnya suku Semang di Semenanjung malaysia dan suku negrito di Pilipina.
  • 6.
    CORAK KEHIDUPAN MANUSIAPURBA Corak Kehidupan Masyarakat Praaksara atau Gaya Hidup Manusia Purba dibagi ke dalam 3 periode, yaitu : 1. Masa berburu dan meramu 2. Masa bercocok tanam 3. Masa perundagian 1. Masa berburu dan meramu Pada masa ini manusia purba menggantungkan hidupnya dengan alam. Mereka mendapatkan makanan dengan berburu dan meramu. Meramu pengertiannya merupakan kegiatan untuk mendapatkan bahan makanan dengan cara mengumpulkan tumbuh - tumbuhan atau mengumpulkan makanan atau disebut pula dengan food gathering and hunting. Masa berburu dan meramu dibagi menjadi 2, yaitu : a) Masa berburu dan meramu tingkat awal
  • 7.
    Tahap ini berlangsungkurang lebih 2 juta – 10.000 tahun yang lalu, mereka hidupnya di hutan, tepi sungai, gunung, goa dan lembah, hidupnya secara berkelompok-kelompok, setiap kelompok ± 10 – 15 orang dan hubungan antar anggota kelompok sangat erat. Mereka mengenal pembagian tugas. Kaum laki - laki bertugas untuk berburu dan kaum wanita bertugas untuk mengumpulkan buah-buahan serta memelihara anak. Hidupnya berpindah - pindah, terutama jika persediaan makanan yang mereka tempati sudah habis mereka pindah ketempat lain yang banyak persediaan makanannya. Alat - alat yang digunakan pada zaman itu terbuat dari batu dan tulang contoh alat yang dari batu yaitu kapak perimbas dan kapak genggam yang digunakan oleh Pithecantrophus erectus. Dan contoh yang terbuat dari tulang yaitu flake ( alat serut ), gurdi, pisau, mata tombak dan alat penusuk, yang digunakan oleh Homo sapiens dan Homo Wajakensis. Jadi manusia yang hidup pada masa berburu dan meramu tingkat awal ini adalah Phitecanthropus erectus dan Homo Wajakensis atau Homo sapiens. b) Masa berburu dan meramu tingkat lanjut. Manusia mulai memiliki kepandaian dalam mengolah tanah. Hidup berkelompok di gua - gua, atau tepi pantai, sudah mengenal bergotong royong dalam bercocok tanam ( bertani ), pada umumnya kehidupan masih tergantung dengan alam, tetapi manusia didaerah pedalaman sudah mulai menetap dan bercocok tanam. Peninggalan pada masa ini berbentuk kjokkenmoddinger dan abris sous roche. Kjokkenmoddinger adalah sampah dapur yang menggunung di tepi pantai, biasanya berupa kulit kerang dan tulang-tulang ikan. Abris sous
  • 8.
    roche adalah guatempat tinggal yang bagian atasnya tertutup sehingga terlindung dari panas dan hujan. Contoh alat-alat kjokkenmoddinger ( maksudnya kebudayaan kjokkenmoddinger ) berupa kapak genggam, kapak pendek, batu pipisan / batu gilingan yang digunakan untuk menggiling obat - obatan, atau zat warna untuk hematit ( lukisan ) dan kapak pebble ( kapak Sumatra ) untuk memotong, menggali dan menguliti. Contoh alat - alat abris sous roche atau disebut pula kebudayaan pedalaman berupa alat - alat dari tulang seperti belati, sudip, mata kail, dan penusuk. Dan alat - alat dari serpih bilah seperti pisau dan gurdi dari batu. Pada masa berburu dan meramu tingkat lanjut sudah mulai dikenal system kepercayaan tentang hidup sesudah mati. Hal ini dibuktikan dengan adanya penguburan mayat dan adanya penggunaan cat warna merah. Adanya lukisan cap - cap tangan dengan latar belakang warna merah mengandung arti kekuatan atau symbol kekuatan pelindung untuk mencegah roh-roh jahat. Lukisan cap tangan merah dapat ditemukan di gua leang-leang, Sulawesi Selatan. Adapun pada penguburan mayat, mayat ditaburi cat - cat merah maksudnya adalah untuk memberikan kehidupan baru di alam baka. 2. Masa bercocok tanam dan berternak ( Food Producing ) Pada masa ini manusia sudah menetap pada suatu tempat dalam waktu yang cukup lama sehingga terbentuklah kelompok-kelompok manusia dalam jumlah yang banyak. Hal ini terjadi karena manusia sudah mampu menguasai dan mengolah alam. Sehingga manusia sudah tidak tergantung sepenuhnya pada apa yang disediakan oleh alam. Manusia sudah mulai menghasilkan makan sendiri dengan cara bertani dan
  • 9.
    berternak. Mereka menanampadi, jagung, keladi, sukun, pisang dan ketela. Mereka berternak unggas, kerbau, dan babi. Kemampuan bercocok tanam yang pertama dikenal oleh manusia adalah berhuma. Berhuma yaitu teknik bercocok tanam dengan membersihkan hutan dan menanaminya. Manusia pendukung budaya ini adalah bangsa Melayu Austronesia. Pada masa ini manusia sudah bekerja dengan bergotong royong, kehidupan mereka semakin teratur dan terorganisir. Sudah memiliki seorang pemimpin yang mengatur kehidupan masyarakat yang biasa disebut dengan kepala suku. Pemimpin diangkat berdasarkan primus interpares, yaitu mereka mengangkat yang paling utama diantara mereka. 3. Masa Perundagian Pada masa perundagian, manusia mulai mengenal peleburan bijih logam dan pembuatan perkakas dari logam. Pada masa ini mulai munncul orang - orang ahli dan terampil dalam jenis pekerjaan tertentu. Orang - orang ahli dan terampil ini kemudian dikenal dengan golongan undagi. Masa perundagian ini dikelompokkan ke dalam 3 zaman, yakni : 1. Zaman Tembaga 2. Zaman Perunggu 3. Zaman Besi Sedangkan di Indonesia Zaman Tembaga tidak pernah dikenal oleh masyarakat purba Indonesia. Dengan demikian zaman logam dikenal di Indonesia sejak zaman perunggu. Peninggalan - peniggalan yang terkenal pada zaman logam ini adalah nekara, bejana, kapak yang terbuat dari perunggu, dan belati dari besi.