Alinyemen
Horisontal
(Horizontal
Alignment)
Horizontal Alignment
 Minimum Radii
 Horizontal Curve
• Full Circle (FC)
• Spiral Circle Spiral (SCS)
• Spiral Spiral (SS)
 Superelevation Diagram
 Stationing
 Sight Distance on Curve
• Stopping Sight Distance (SSD)
• Passing Sight Distance (PSD)
 Widening on Curve
R = V2/127(e+f)
Dij  Ti + Tj
Fungsi dan kelas jalan
- Design Speed
- Design Vehicles
- Cross Section
B
FC / SCS / SS R’ << R
B
Jarak Pandang
Pelebaran Perkerasan
di Tikungan
Diagram Superelevasi
Stasioning
Potongan Melintang Rencana
Tipe Jalan : Kolektor Sekunder
Kecepatan Rencana : 40 Kph
Kendaraan Rencana : Single Unit (SU)
1,50 1,00 2 x 3,00
2,00
0,25 0,25
2 x 3,00 1,00 1,50
MEDIAN & JALUR
TEPIAN
JALUR LALULINTAS
BAHU JALAN
TROTOAR
2%
2%
Alinyemen Horisontal
• Alinyemen horisontal atau trase jalan adalah
proyeksi sumbu jalan pada bidang horisontal.
• Alinyemen horizontal terdiri atas bagian garis
lurus (tangen) dan bagian garis lengkung
(tikungan).
• Perencanaan alinyemen horisontal sebagian
besar menyangkut perencanaan tikungan yang
diusahakan agar dapat memberikan keamanan
dan kenyamanan.
Kemiringan Melintang pada Bagian
Jalan lurus
normal
e
en

2% 2%
CL
- Untuk mengalirkan air yang
jatuh dipermukaan
- Nilai e normal tergantung
jenis lapis permukaan
• Kendaraan yang melewati busur lingkaran akan
mendapatkan gaya sentrifugal
• Gaya sentrifugal dapat diimbangi oleh:
1. Gaya gesek melintang antara ban kendaraan
dengan permukaan jalan
2. Berat kendaraan akibat kemiringan melintang
Rmin = V2 / 127 ( e + f )
R  minimum radii (m)
V  design speed (kph)
e  superelevation (%)
f  side friction
• Koefisien gesekan melintang (f) = Fs/N
• Koefisien gesekan melintang dipengaruhi:
- jenis dan kondisi ban
- tekanan ban
- kekasaran permukaan perkerasan
- kecepatan kendaraan dan keadaan
cuaca
Superelevasi
• Kemiringan melintang pada suatu tikungan
yang berguna untuk mengimbangi gaya
sentrifugal dari kendaraan yang berjalan
pada tikungan.
• Superelevasi (e), faktor gesekan sisi (f),
kecepatan rencana (Vr), dan jari-jari
lengkung (R), mempunyai hubungan
sebagai berikut:
127.R
Vr
f
e
2


Superelevation
Superelavasi Maksimum dan Koefisien
Gesekan Melintang Maksimum (1)
• Nilai superelevasi maksimum sesuai Bina
Marga:
jalan luar kota 10%,
daerah yang sering hujan & kabut 8%,
daerah perkotaan antara 4% - 6%.
• Superelevasi max Geometri Jalan Perkotaan
2004 = 6% (RSNI T-14-2004)
• Superelevasi yang diperlukan untuk setiap
tikungan diberikan berdasarkan kecepatan
rencana, dan jari-jari lengkung.
Superelavasi Maksimum dan Koefisien
Gesekan Melintang Maksimum (2)
• Besarnya jari-jari minimum untuk setiap kecepatan
rencana ditentukan oleh nilai koefisien gesek melintang
maksimum (f maks), yang direkomendasikan berkisar
antara 0.12 sampai 0.17 (demi kenyamanan
mengemudi).
Tiga Macam Lengkung Horisontal
1. Full Circle (FC)
2. Spiral-Circle-Spiral (SCS)
3. Spiral-Spiral (SS)
TC
CT
TS
SC
CS
ST
TS ST
SS
PI
PI
PI
Perubahan Kemiringan Melintang
Tangent Runout
2% 2% 2%
0%
2% 2%
2%
0%
Superelevation Runoff.
2%
0%
e%
e%
e%
e%
2%
0%
Lengkung Peralihan
• Lengkung yang disisipkan diantara bagian lurus
jalan dan bagian lengkung jalan berjari-jari tetap R,
• Berfungsi mengantisipasi perubahan alinyemen
jalan dari bentuk lurus (R tak terhingga) sampai
bagian lengkung jalan berjari-jari tetap R,
• Gaya sentrifugal yang bekerja pada kendaraan saat
berjalan di tikungan berubah secara berangsur-
angsur, baik ketika kendaraan mendekati tikungan
maupun meninggalkan tikungan.
Persamaan untuk menentukan panjang
lengkung peralihan
t
V
0,278
L
'
S 


max
n
L ).B.m
e
(e
S 

C
V.e
2,727
R.C
V
0,022
L
3
S 

90
θs.π.Rc
Ls 
Lama perjalanan 3 detik
Landai relatif maksimum
Modifikasi Shortt
Bentuk lengkung spiral
(khusus untuk S-S)
Bentuk Lengkung Horizontal
Garis lengkung dapat terdiri dari:
• Busur lingkaran saja (Circle).
• Busur lingkaran ditambah busur peralihan
(Spiral-Circle-Spiral),
• Busur peralihan saja (Spiral-Spiral),
Lengkung Busur Lingkaran Sederhana (Full Circle)
• Lengkung Full Circle ini digunakan pada lengkung yang berjari-jari
besar dan sudut tangen yang relatif kecil dengan dengan p< 0,20
Diagram superelevasi untuk lengkung berbentuk Full Circle.
(belok kanan)
1/3Ls
’
2/3Ls
’
1/3Ls
’
2/3Ls
’
Persamaan yang digunakan dalam lengkung
busur lingkaran sederhana :
2
tg
R
Tc



R
Δ
0,01745
Lc 


4
tg
T
E c
c



1/m = (e).B/Ls
Lengkung Spiral-Circle-Spiral (S-C-S)
syarat (Lc ≥ 20 m???), p ≥ 0,20
? /2 ? /2
c
s s
s
Δ
Diagram Superelevasi S-C-S
Ls Lc Ls
π.Rc
90.Ls

S

π.Rc
180
θc
Lc 
Persamaan :
Es = (Rc+P)sec1/2 Δ-Rc Ts = (Rc+P) tg 1/2 Δ+k
1/m = (e).B/Ls
c = Δ - 2s
SYARAT (Lc ≥ 20 m???) p ≥ 0,20 m
)
cos
1
(
6
2
s
s
R
R
L
p 



s
s
s RSin
R
L
L
k 


 2
3
40
Lengkung Spiral-Spiral (S-S)
Ls berdasar bentuk lengk spiral harus ≥Ls Tabel (atau ke 3 pers)
Persamaan :
)
cos
-
Rc(1
-
6Rc
Ls2


p
s = ½ Δ
90
θs.π.Rc
Ls 
L = 2 Ls
Ts = (Rc+p) tg1/2Δ +k
Es = (Rc+p)sec1/2Δ-Rc
1/m = (e).B/Ls

sin
Rc
-
40.Rc
Ls
-
Ls
k 2
3

(Ls Berdasar bentuk lengkung
spiral HARUS > Ls Tabel)
DIAGRAM SUPERLEVASI
stasioning
PI1
PI2
PI3
TS1
ST1
TS2
SC CS
ST2
SC=CS
TC
CT
A
B
STA A = STA 0 + 000
STA TS1 = STA A + dAPI1-Ts1
STA PI1 = STA A + dAPI1
STA SC=CS = STATs1 + Ls1
STA ST1 = STA SC=CS + Ls1
STA TS2 = STA ST1 + dPI1PI2 – Ts1 – Ts2
STA PI2 = STA TS2 + Ts2
STA SC = STA TS2 + Ls
STA CS = STA SC + Lc
STA ST2 = STA CS + Ls
STA TC = STA ST2 + dPI2PI3 -Ts2-Tc
STA PI3 = STA TC + Tc
STA CT = STA TC + Lc STA B = STA CT + dPI3B - Tc
Check dij  Ti + Tj

2. Alinyemen Horizontal.ppt

  • 1.
  • 3.
    Horizontal Alignment  MinimumRadii  Horizontal Curve • Full Circle (FC) • Spiral Circle Spiral (SCS) • Spiral Spiral (SS)  Superelevation Diagram  Stationing  Sight Distance on Curve • Stopping Sight Distance (SSD) • Passing Sight Distance (PSD)  Widening on Curve
  • 4.
    R = V2/127(e+f) Dij Ti + Tj Fungsi dan kelas jalan - Design Speed - Design Vehicles - Cross Section B FC / SCS / SS R’ << R
  • 5.
    B Jarak Pandang Pelebaran Perkerasan diTikungan Diagram Superelevasi Stasioning
  • 10.
    Potongan Melintang Rencana TipeJalan : Kolektor Sekunder Kecepatan Rencana : 40 Kph Kendaraan Rencana : Single Unit (SU) 1,50 1,00 2 x 3,00 2,00 0,25 0,25 2 x 3,00 1,00 1,50 MEDIAN & JALUR TEPIAN JALUR LALULINTAS BAHU JALAN TROTOAR 2% 2%
  • 11.
    Alinyemen Horisontal • Alinyemenhorisontal atau trase jalan adalah proyeksi sumbu jalan pada bidang horisontal. • Alinyemen horizontal terdiri atas bagian garis lurus (tangen) dan bagian garis lengkung (tikungan). • Perencanaan alinyemen horisontal sebagian besar menyangkut perencanaan tikungan yang diusahakan agar dapat memberikan keamanan dan kenyamanan.
  • 13.
    Kemiringan Melintang padaBagian Jalan lurus normal e en  2% 2% CL - Untuk mengalirkan air yang jatuh dipermukaan - Nilai e normal tergantung jenis lapis permukaan
  • 14.
    • Kendaraan yangmelewati busur lingkaran akan mendapatkan gaya sentrifugal • Gaya sentrifugal dapat diimbangi oleh: 1. Gaya gesek melintang antara ban kendaraan dengan permukaan jalan 2. Berat kendaraan akibat kemiringan melintang
  • 15.
    Rmin = V2/ 127 ( e + f ) R  minimum radii (m) V  design speed (kph) e  superelevation (%) f  side friction
  • 16.
    • Koefisien gesekanmelintang (f) = Fs/N • Koefisien gesekan melintang dipengaruhi: - jenis dan kondisi ban - tekanan ban - kekasaran permukaan perkerasan - kecepatan kendaraan dan keadaan cuaca
  • 17.
    Superelevasi • Kemiringan melintangpada suatu tikungan yang berguna untuk mengimbangi gaya sentrifugal dari kendaraan yang berjalan pada tikungan. • Superelevasi (e), faktor gesekan sisi (f), kecepatan rencana (Vr), dan jari-jari lengkung (R), mempunyai hubungan sebagai berikut: 127.R Vr f e 2  
  • 18.
  • 19.
    Superelavasi Maksimum danKoefisien Gesekan Melintang Maksimum (1) • Nilai superelevasi maksimum sesuai Bina Marga: jalan luar kota 10%, daerah yang sering hujan & kabut 8%, daerah perkotaan antara 4% - 6%. • Superelevasi max Geometri Jalan Perkotaan 2004 = 6% (RSNI T-14-2004) • Superelevasi yang diperlukan untuk setiap tikungan diberikan berdasarkan kecepatan rencana, dan jari-jari lengkung.
  • 20.
    Superelavasi Maksimum danKoefisien Gesekan Melintang Maksimum (2) • Besarnya jari-jari minimum untuk setiap kecepatan rencana ditentukan oleh nilai koefisien gesek melintang maksimum (f maks), yang direkomendasikan berkisar antara 0.12 sampai 0.17 (demi kenyamanan mengemudi).
  • 21.
    Tiga Macam LengkungHorisontal 1. Full Circle (FC) 2. Spiral-Circle-Spiral (SCS) 3. Spiral-Spiral (SS) TC CT TS SC CS ST TS ST SS PI PI PI
  • 29.
  • 30.
    Tangent Runout 2% 2%2% 0% 2% 2% 2% 0%
  • 31.
  • 34.
    Lengkung Peralihan • Lengkungyang disisipkan diantara bagian lurus jalan dan bagian lengkung jalan berjari-jari tetap R, • Berfungsi mengantisipasi perubahan alinyemen jalan dari bentuk lurus (R tak terhingga) sampai bagian lengkung jalan berjari-jari tetap R, • Gaya sentrifugal yang bekerja pada kendaraan saat berjalan di tikungan berubah secara berangsur- angsur, baik ketika kendaraan mendekati tikungan maupun meninggalkan tikungan.
  • 35.
    Persamaan untuk menentukanpanjang lengkung peralihan t V 0,278 L ' S    max n L ).B.m e (e S   C V.e 2,727 R.C V 0,022 L 3 S   90 θs.π.Rc Ls  Lama perjalanan 3 detik Landai relatif maksimum Modifikasi Shortt Bentuk lengkung spiral (khusus untuk S-S)
  • 36.
    Bentuk Lengkung Horizontal Garislengkung dapat terdiri dari: • Busur lingkaran saja (Circle). • Busur lingkaran ditambah busur peralihan (Spiral-Circle-Spiral), • Busur peralihan saja (Spiral-Spiral),
  • 37.
    Lengkung Busur LingkaranSederhana (Full Circle) • Lengkung Full Circle ini digunakan pada lengkung yang berjari-jari besar dan sudut tangen yang relatif kecil dengan dengan p< 0,20
  • 38.
    Diagram superelevasi untuklengkung berbentuk Full Circle. (belok kanan) 1/3Ls ’ 2/3Ls ’ 1/3Ls ’ 2/3Ls ’
  • 39.
    Persamaan yang digunakandalam lengkung busur lingkaran sederhana : 2 tg R Tc    R Δ 0,01745 Lc    4 tg T E c c    1/m = (e).B/Ls
  • 40.
    Lengkung Spiral-Circle-Spiral (S-C-S) syarat(Lc ≥ 20 m???), p ≥ 0,20 ? /2 ? /2 c s s s Δ
  • 41.
  • 43.
    π.Rc 90.Ls  S  π.Rc 180 θc Lc  Persamaan : Es= (Rc+P)sec1/2 Δ-Rc Ts = (Rc+P) tg 1/2 Δ+k 1/m = (e).B/Ls c = Δ - 2s SYARAT (Lc ≥ 20 m???) p ≥ 0,20 m ) cos 1 ( 6 2 s s R R L p     s s s RSin R L L k     2 3 40
  • 44.
    Lengkung Spiral-Spiral (S-S) Lsberdasar bentuk lengk spiral harus ≥Ls Tabel (atau ke 3 pers)
  • 45.
    Persamaan : ) cos - Rc(1 - 6Rc Ls2   p s =½ Δ 90 θs.π.Rc Ls  L = 2 Ls Ts = (Rc+p) tg1/2Δ +k Es = (Rc+p)sec1/2Δ-Rc 1/m = (e).B/Ls  sin Rc - 40.Rc Ls - Ls k 2 3  (Ls Berdasar bentuk lengkung spiral HARUS > Ls Tabel)
  • 46.
  • 47.
    stasioning PI1 PI2 PI3 TS1 ST1 TS2 SC CS ST2 SC=CS TC CT A B STA A= STA 0 + 000 STA TS1 = STA A + dAPI1-Ts1 STA PI1 = STA A + dAPI1 STA SC=CS = STATs1 + Ls1 STA ST1 = STA SC=CS + Ls1 STA TS2 = STA ST1 + dPI1PI2 – Ts1 – Ts2 STA PI2 = STA TS2 + Ts2 STA SC = STA TS2 + Ls STA CS = STA SC + Lc STA ST2 = STA CS + Ls STA TC = STA ST2 + dPI2PI3 -Ts2-Tc STA PI3 = STA TC + Tc STA CT = STA TC + Lc STA B = STA CT + dPI3B - Tc
  • 48.