Kesehatan dan Keselamatan
Kerja(K3)
Melindungi :
- Tenaga kerja dan orang lain
- Asset perusahaan &
- Lingkungan tempat kerja
Tujuan K3 Listrik
1. Menjamin kehandalan instalasi listrik sesuai tujuan
penggunaannya.
2. Mencegah timbulnya bahaya akibat listrik
N bahaya sentuhan langsung
N bahaya sentuhan tidak langsung
N bahaya kebakaran
BAHAYA LISTRIK TERHADAP MANUSIA
SEBAB-SEBAB :
1. Aliran arus listrik
2. pengaruh medan magnit
3. Kesalahan mekanik perlengkapan listrik
4. Bunga api
5. kombinasi
Faktor Yang Mempengaruhi Keparahan
Pada Cedera Akibat Listrik
 Voltage/Kekuatan listrik (beda potensial)
 Amper (Arus Listrik)
 Type Arus/jenis aliran (searah/bolak-balik)
 Lama Kontak == banyaknya energi yang terserap
 Daerah / bagian tubuh yang kontak (Tahanan)
 Jalan Arus
 Banyaknya Jaringan Resistance
 Kandungan Air Dalam Jaringan
 Kondisi phisik dan kejiwaan (perubahan tahanan)
Akibat Sengatan listrik
Arus searah dan Bolak-balik
1. Akibat arus searah :
◦ Perubahan elektrolit.
2. Akibat Arus bolak-balik
◦ Kejang otot
◦ Berkeringat
◦ Kerusakan jaringan
◦ Vertrikel fibrilasi sampai henti jantung, otak kurang O2
dan meninggal.
◦ Voltage dan freq. 100 v & 60 Hz menyebabkan
ventrical fibrilation
 0,5 ma
Dirasakan
 Lebih dari 3 ma
painful shock
 Lebih dari 10 ma
Kontraksi otot “no-let-go” danger, 0,1 dtk tdk tjd gangguan,
0,5 dtk kelumpuhan sementara, pernafasan, pingsan, 1 dtk
ventricel fibrilasi.
 Lebih dari 30 ma
lung paralysis- usually temporary
 Lebih dari 50 ma
possible ventricular fib. (heart dysfunction, usually fatal)
 100 ma sampai 4 amps
certain ventricular fibrillation, fatal
 Lebih 4 amps
heart paralysis; severe burns. Usually caused by >600 volts
Akibat Sengatan Listrik
• Instalasi listrik adalah instalasi
mulai dari pembangkit tenaga
sampai titik penggunaan akhir
• Peralatan listrik adalah setiap alat
pemakai listrik
• Perlengkapan listrik adalah
komponen-komponen yang
diperlukan pada jaringan instalasi
PENGERTIAN
Sentuhan langsung
adalah bahaya sentuhan pada bagian
konduktif yang secara normal
bertegangan
Sentuhan tidak langsung
adalah bahaya sentuhan pada bagian
konduktif yang secara normal tidak
bertegangan, menjadi bertegangan
karena terjadi kegagalan isolasi
• Proteksi dari kejut listrik
• Proteksi dari efek thermal
• Proteksi dari arus lebih
• Proteksi dari tegangan lebih akibat petir
• Proteksi dari tegangan kurang
• Pemisahan dan penyakelaran
SISTEM PROTEKSI UNTUK
KESELAMATAN
Tegangan sentuh yang berbahaya:
N > 50 V a.b. di ruang normal,
N > 25 V a.b. di ruangan lembab
PROTEKSI BAHAYA
SENTUHAN LANGSUNG
Metoda :
1. Isolasi bagian aktif
2. Penghalang atau Selungkup
3. Rintangan;
4. Jarak aman atau diluar jangkauan
5. Gawai proteksi arus sisa
6. Isolasi lantai kerja.
 Pembebanan lebih
 Sambungan tidak sempurna
 Perlengkapan tidak standar
 Pembatas arus tidak sesuai
 Kebocoran isolasi
 Listrik statik
 Sambaran petir
SISTEM HANTARAN NETRAL PENGAMAN
INSTALASI LISTRIK SEDERHANA
(Sistem pasa satu 3 kawat)
M
PENGAMAN
1. PEMBATAS ARUS
2. PEMUTUS
3. GROUNDING
4. SEKERING
5. KOTAK KONTAK
6 TUSUK KONTAK
7. POLARITAS
1
3
4
5
6
7
2
BAHAYA SAMBARAN PETIR
• SAMBARAN LANGSUNG
• SAMBARAN TIDAK
LANGSUNG
KERUSAKAN
PADA ALAT ELEKTRONIK
KONSEPSI PROTEKSI BAHAYA
SAMBARAN PETIR
 PERLINDUNGAN SAMBARAN LANGSUNG
Dengan memasang instalasi penyalur petir pada
bangunan
Jenis instalasi :
- Sistem Franklin
- Sistem Sangkar Faraday
- Sistem Elektro statik
 PERLINDUNGAN SAMBARAN TIDAK LANGSUNG
Dengan melengkapi peralatan penyama tegangan
pada jaringan instalasi listrik (Arrester)
INSTALASI PENYALUR PETIR
PERMENAKER PER-02 MEN/1989
PENERIMA
(AIR TERMINAL)

HANTARAN PENURUNAN
(DOWN CONDUCTOR)

SISTEM FRANKLIN
BAGIAN BAGIAN PENTING
PROTEKSI PETIR SYSTEM INTERNAL
GROUNDING
ARRESTER
RSTN RSTN
Semua bagian konduktif dibonding
Semua fasa jaringan RSTNG dipasang Arrester
Bila terjadi sambaran petir pada jaringan instalasi listrik
semua kawat RSTN
tegangannya sama tidak ada beda potensial
Pengawasan K3 Instalasi
Penyalur Petir
+++++++
+++++++++
+++++++
- - - - - - -
- - - - - -
- - - - -
PERMENAKER
No. PER 02/MEN/1989
Tentang
Instalasi Penyalur Petir
Ruang lingkup :
Sistem eksternal
Jenis :
konvensional &
elektrostatik
PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN
1. Setiap instalasi penyalur petir harus dipelihara agar selalu bekerja
dengan tepat, aman dan memenuhi syarat.
2. Instalasi penyalur petir petir harus diperiksa dan diuji :
1. Sebelum penyerahan dari instalatir kepada pemakai.
2. Setelah ada perubahan atau perbaikan (bangunan atau
instalasi)
3. Secara berkala setiap dua tahun sekali.
4. Setelah ada kerusakan akibat sambaran petir.
3. Dilakukan oleh pegawai pengawas, Ahli K3
4. Pengurus atau pemilik wajib membantu (penyedian alat)
CONTOH PERLENGKAPAN SAFETY LISTRIK
Pencegahan Terjadinya Kecelakaan di Tempat
Kerja
Cara pencegahan terjadinya kecelakaan listrik di tempat kerja, yaitu:
 Mengikuti standar penginstalan alat-alat listrik yang berlaku.
 Peralatan lama yang masih digunakan dan berisiko menyebabkan
kecelakaan sebaiknya ditempatkan di ruangan yang aman.
 Waspadai peralatan yang dioperasikan pada tegangan rendah,
dimana tidak menyebabkan sengatan listrik yang berbahaya namun
dapat menyebabkan konduktor yang terlalu panas sehingga memicu
kebakaran atau ledakan
 Pilihlah peralatan yang cocok untuk lingkungan kerja tempat
peralatan tersebut digunakan.
 Pekerja harus dapat memahami situasi lingkungan kerja.
 Peralatan listrik yang digunakan harus aman saat atau ditinggalkan,
misalnya:
- Mematikan peralatan dengan benar, dan meyakinkan bahwa
peralatan tersebut tidak akan menyala sendiri
- Saat menyalakan peralatan maka harus diyakinkan peralatan
 Jika bisa, hindari bekerja dengan peralatan listrik di tempat yang
sulit diakses. Harus ada area yang cukup dan pencahayaan untuk
bekerja dengan aman.
 Manajer harus mengembangkan sistem dan prosedur tentang
penggunaan peralatan listrik dengan aman. Harus ditulis sehingga
semua pekerja dapat membacanya dan peduli.
 Aturan keselamatan harus dibuat dengan jelas dan dalam format
lengkap. Pekerja harus tahu batasan dari pekerjaan mereka
dengan mengetahui aturan keselamatan yang dibuat.
 Melakukan pelatihan untuk para pekerja berkaitan dengan program
K3.
 Manajer dan pimpinan harus meyakinkan bahwa pekerja mereka
telah mengerti metode kerja yan benar.
 Manajer, pimpinan, dan pekerja sama-sama bertanggung jawab
untuk menyediakan peralatan yang aman dan meyakinkan bahwa
peralatan tersebut cocok digunakan, dirawat dengan baik, dan
dapat digunakan dengan aman.
Langkah-langkah pencegahan
(Preventif) dapat dibedakan, yaitu :
 Subsitusi (mengganti alat/sarana yang
kurang/tidak berbahaya)
 Isolasi (memberi isolasi/alat pemisah terhadap
sumber bahaya)
 Pengendalian secara teknis terhadap sumber-
sumber bahaya.
 Pemakaian alat pelindung perorangan
(eye protection, safety hat and cap, gas
respirator, dust respirator, dan lain-lain).
 Petunjuk dan peringatan ditempat kerja.
 Latihan dan pendidikan keselamatan dan
kesehatan kerja
Disiplin diri setiap pekerja terhadap
K3
 Tingginya rasa kepedulian setiap pekerja
terhadap kesehatan dan keselamatan kerja
 Tinggginya semangat dan gairah setiap
pekerja untuk menerapkan kesehatan dan
keselamatan kerja
 Besarnya rasa tanggung jawab para pekerja
untuk melaksanakan kesehatan dan
keselamatan kerja dengan sebaik – baiknya
 Berkembangnnya rasa saling memiliki dan
solidaritas yang tinggi di kalangan para
pekerja
 Meningkatkan efisiensi dan produktivitas
kerja para pekerja

1. k3

  • 1.
  • 2.
    Melindungi : - Tenagakerja dan orang lain - Asset perusahaan & - Lingkungan tempat kerja
  • 3.
    Tujuan K3 Listrik 1.Menjamin kehandalan instalasi listrik sesuai tujuan penggunaannya. 2. Mencegah timbulnya bahaya akibat listrik N bahaya sentuhan langsung N bahaya sentuhan tidak langsung N bahaya kebakaran
  • 4.
    BAHAYA LISTRIK TERHADAPMANUSIA SEBAB-SEBAB : 1. Aliran arus listrik 2. pengaruh medan magnit 3. Kesalahan mekanik perlengkapan listrik 4. Bunga api 5. kombinasi
  • 5.
    Faktor Yang MempengaruhiKeparahan Pada Cedera Akibat Listrik  Voltage/Kekuatan listrik (beda potensial)  Amper (Arus Listrik)  Type Arus/jenis aliran (searah/bolak-balik)  Lama Kontak == banyaknya energi yang terserap  Daerah / bagian tubuh yang kontak (Tahanan)  Jalan Arus  Banyaknya Jaringan Resistance  Kandungan Air Dalam Jaringan  Kondisi phisik dan kejiwaan (perubahan tahanan)
  • 6.
    Akibat Sengatan listrik Arussearah dan Bolak-balik 1. Akibat arus searah : ◦ Perubahan elektrolit. 2. Akibat Arus bolak-balik ◦ Kejang otot ◦ Berkeringat ◦ Kerusakan jaringan ◦ Vertrikel fibrilasi sampai henti jantung, otak kurang O2 dan meninggal. ◦ Voltage dan freq. 100 v & 60 Hz menyebabkan ventrical fibrilation
  • 7.
     0,5 ma Dirasakan Lebih dari 3 ma painful shock  Lebih dari 10 ma Kontraksi otot “no-let-go” danger, 0,1 dtk tdk tjd gangguan, 0,5 dtk kelumpuhan sementara, pernafasan, pingsan, 1 dtk ventricel fibrilasi.  Lebih dari 30 ma lung paralysis- usually temporary  Lebih dari 50 ma possible ventricular fib. (heart dysfunction, usually fatal)  100 ma sampai 4 amps certain ventricular fibrillation, fatal  Lebih 4 amps heart paralysis; severe burns. Usually caused by >600 volts Akibat Sengatan Listrik
  • 8.
    • Instalasi listrikadalah instalasi mulai dari pembangkit tenaga sampai titik penggunaan akhir • Peralatan listrik adalah setiap alat pemakai listrik • Perlengkapan listrik adalah komponen-komponen yang diperlukan pada jaringan instalasi PENGERTIAN
  • 9.
    Sentuhan langsung adalah bahayasentuhan pada bagian konduktif yang secara normal bertegangan Sentuhan tidak langsung adalah bahaya sentuhan pada bagian konduktif yang secara normal tidak bertegangan, menjadi bertegangan karena terjadi kegagalan isolasi
  • 10.
    • Proteksi darikejut listrik • Proteksi dari efek thermal • Proteksi dari arus lebih • Proteksi dari tegangan lebih akibat petir • Proteksi dari tegangan kurang • Pemisahan dan penyakelaran SISTEM PROTEKSI UNTUK KESELAMATAN
  • 12.
    Tegangan sentuh yangberbahaya: N > 50 V a.b. di ruang normal, N > 25 V a.b. di ruangan lembab
  • 13.
    PROTEKSI BAHAYA SENTUHAN LANGSUNG Metoda: 1. Isolasi bagian aktif 2. Penghalang atau Selungkup 3. Rintangan; 4. Jarak aman atau diluar jangkauan 5. Gawai proteksi arus sisa 6. Isolasi lantai kerja.
  • 14.
     Pembebanan lebih Sambungan tidak sempurna  Perlengkapan tidak standar  Pembatas arus tidak sesuai  Kebocoran isolasi  Listrik statik  Sambaran petir
  • 15.
  • 16.
    INSTALASI LISTRIK SEDERHANA (Sistempasa satu 3 kawat) M PENGAMAN 1. PEMBATAS ARUS 2. PEMUTUS 3. GROUNDING 4. SEKERING 5. KOTAK KONTAK 6 TUSUK KONTAK 7. POLARITAS 1 3 4 5 6 7 2
  • 17.
    BAHAYA SAMBARAN PETIR •SAMBARAN LANGSUNG • SAMBARAN TIDAK LANGSUNG KERUSAKAN PADA ALAT ELEKTRONIK
  • 18.
    KONSEPSI PROTEKSI BAHAYA SAMBARANPETIR  PERLINDUNGAN SAMBARAN LANGSUNG Dengan memasang instalasi penyalur petir pada bangunan Jenis instalasi : - Sistem Franklin - Sistem Sangkar Faraday - Sistem Elektro statik  PERLINDUNGAN SAMBARAN TIDAK LANGSUNG Dengan melengkapi peralatan penyama tegangan pada jaringan instalasi listrik (Arrester)
  • 19.
    INSTALASI PENYALUR PETIR PERMENAKERPER-02 MEN/1989 PENERIMA (AIR TERMINAL)  HANTARAN PENURUNAN (DOWN CONDUCTOR)  SISTEM FRANKLIN BAGIAN BAGIAN PENTING
  • 20.
    PROTEKSI PETIR SYSTEMINTERNAL GROUNDING ARRESTER RSTN RSTN Semua bagian konduktif dibonding Semua fasa jaringan RSTNG dipasang Arrester Bila terjadi sambaran petir pada jaringan instalasi listrik semua kawat RSTN tegangannya sama tidak ada beda potensial
  • 21.
    Pengawasan K3 Instalasi PenyalurPetir +++++++ +++++++++ +++++++ - - - - - - - - - - - - - - - - - - PERMENAKER No. PER 02/MEN/1989 Tentang Instalasi Penyalur Petir Ruang lingkup : Sistem eksternal Jenis : konvensional & elektrostatik
  • 22.
    PEMERIKSAAN DAN PENGUJIAN 1.Setiap instalasi penyalur petir harus dipelihara agar selalu bekerja dengan tepat, aman dan memenuhi syarat. 2. Instalasi penyalur petir petir harus diperiksa dan diuji : 1. Sebelum penyerahan dari instalatir kepada pemakai. 2. Setelah ada perubahan atau perbaikan (bangunan atau instalasi) 3. Secara berkala setiap dua tahun sekali. 4. Setelah ada kerusakan akibat sambaran petir. 3. Dilakukan oleh pegawai pengawas, Ahli K3 4. Pengurus atau pemilik wajib membantu (penyedian alat)
  • 23.
  • 24.
    Pencegahan Terjadinya Kecelakaandi Tempat Kerja Cara pencegahan terjadinya kecelakaan listrik di tempat kerja, yaitu:  Mengikuti standar penginstalan alat-alat listrik yang berlaku.  Peralatan lama yang masih digunakan dan berisiko menyebabkan kecelakaan sebaiknya ditempatkan di ruangan yang aman.  Waspadai peralatan yang dioperasikan pada tegangan rendah, dimana tidak menyebabkan sengatan listrik yang berbahaya namun dapat menyebabkan konduktor yang terlalu panas sehingga memicu kebakaran atau ledakan  Pilihlah peralatan yang cocok untuk lingkungan kerja tempat peralatan tersebut digunakan.  Pekerja harus dapat memahami situasi lingkungan kerja.  Peralatan listrik yang digunakan harus aman saat atau ditinggalkan, misalnya: - Mematikan peralatan dengan benar, dan meyakinkan bahwa peralatan tersebut tidak akan menyala sendiri - Saat menyalakan peralatan maka harus diyakinkan peralatan
  • 25.
     Jika bisa,hindari bekerja dengan peralatan listrik di tempat yang sulit diakses. Harus ada area yang cukup dan pencahayaan untuk bekerja dengan aman.  Manajer harus mengembangkan sistem dan prosedur tentang penggunaan peralatan listrik dengan aman. Harus ditulis sehingga semua pekerja dapat membacanya dan peduli.  Aturan keselamatan harus dibuat dengan jelas dan dalam format lengkap. Pekerja harus tahu batasan dari pekerjaan mereka dengan mengetahui aturan keselamatan yang dibuat.  Melakukan pelatihan untuk para pekerja berkaitan dengan program K3.  Manajer dan pimpinan harus meyakinkan bahwa pekerja mereka telah mengerti metode kerja yan benar.  Manajer, pimpinan, dan pekerja sama-sama bertanggung jawab untuk menyediakan peralatan yang aman dan meyakinkan bahwa peralatan tersebut cocok digunakan, dirawat dengan baik, dan dapat digunakan dengan aman.
  • 26.
    Langkah-langkah pencegahan (Preventif) dapatdibedakan, yaitu :  Subsitusi (mengganti alat/sarana yang kurang/tidak berbahaya)  Isolasi (memberi isolasi/alat pemisah terhadap sumber bahaya)  Pengendalian secara teknis terhadap sumber- sumber bahaya.  Pemakaian alat pelindung perorangan (eye protection, safety hat and cap, gas respirator, dust respirator, dan lain-lain).  Petunjuk dan peringatan ditempat kerja.  Latihan dan pendidikan keselamatan dan kesehatan kerja
  • 27.
    Disiplin diri setiappekerja terhadap K3  Tingginya rasa kepedulian setiap pekerja terhadap kesehatan dan keselamatan kerja  Tinggginya semangat dan gairah setiap pekerja untuk menerapkan kesehatan dan keselamatan kerja  Besarnya rasa tanggung jawab para pekerja untuk melaksanakan kesehatan dan keselamatan kerja dengan sebaik – baiknya  Berkembangnnya rasa saling memiliki dan solidaritas yang tinggi di kalangan para pekerja  Meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja para pekerja