PERKEMBANGAN PERTANIAN
1. Pertanian Tradisional / Lokal
Pertanian asli lokal , berbasis ekologi lokal ,
KEANEKARAGAMAN HAYATI, belum memanfaatkan
tehnologi modern, subsisten, mencukupi kebutuhan
sendiri
2. PERTANIAN KONVENSIONAL. Pertanian Revolusi
Hijau, Pertanian industri
Pertanian padat tehnologi,padat modal, efisien,
tanaman seragam, skala luas, orientasi peningkatan
produksi dan keuntungan
3. Pertanian BERKELANJUTAN
Pertanian layak ekonomi, sosial, budaya, lingkungan,
kesehatan, HAM, terpadu/holistik
PERTANIAN TRADISIONAL
 Pertanian tradisional merupakan bentuk asli pertanian,
hasil koevolusi sistem sosial budaya lokal dan
lingkungan , yang memperlihatkan ekspresi rasional
ekologi melalui pemanfaatan intensif kearifan lokal dan
sumber daya alam setempat , termasuk pengelolaan
keaneka-ragaman hayati pertanian dlm bentuk sistem
pertanian yang beragam tanpa akses pada input
eksternal, modal dan pengetahuan ilmiah-modern.
REVOLUSI HIJAU
 Istilah digunakan sejak 1968 oleh William Gaud Direktur
USAID . Aplikasi ilmu dan tehnologi pertanian modern
dlm bentuk kombinasi varietas unggul, pengairan,
pemupukan dan pestisida kimia .Paket tehnologi tsb.
dianggap sebagai revolusi terhadap pertanian tradisional
karena produksi pangan meningkat 2 x (1960-1985)
 Sampai saat ini tehnologi tsb. umum diandalkan dan
dikembangkan oleh pemerintah,ilmuwan dan petani
shingga disebut Tehnologi konvensional
MASALAH KETAHANAN PANGAN
Sumber masalah produksi dan persediaan pangan
nasional tidak mencukupi kebutuhan seluruh penduduk.
Sebabnya produksi pangan/beras kurang daripada
kebutuhan nasional. Sebabnya produktivitas padi per ha
sawah rendah, sebab petani masih menggunakan
teknologi tradisonal dan infrastruktur pertanian
khususnya jaringan irigasi dan jalan kurang mendukung
peningkatan produksi pangan. Sementara itu
pertumbuhan penduduk terus meningkat yang di
pedesaan mempengaruhi kepemilikan lahan persawahan
yang semakin sempit dan peningkatan jumlah petani
tuna lahan. Kunci utama program swa sembada pangan
adalah bagaimana meningkatkan produksi pangan
sehingga dapat melebihi kebutuhan pangan penduduk
baik di pedesaan maupun perkotaan.
KEBIJAKAN PEMERINTAH MENYELESAIKAN MASALAH
KETAHANAN PANGAN
1. Intensifikasi – meningkatkan produktivitas
pangan/padi per unit lahan sawah. Teknologi Revolusi
Hijau
2. Ekstensifikasi – meluaskan areal perswahan dengan
membuka lahan sawah baru.
3. Rehabilitasi – memperbaiki lahan sawah yang rusak
4. Perbaikan sarana pengairan ( waduk, sistem irigasi )
dan jalan
5. Penyediaan kredit pembelian sarana produksi bagi
petani
6. Penetapan harga dasar beras, peningkatan peran
BULOG
7. Transfer tehnologi dan rekayasa sosial melalui sistem
penyuluhan nasional yang instruktif dan birokratif.
Tehnologi PANCA USAHA
Pangan
1. Penggunaan Varietas tanaman unggul, produksi tinggi
2.Pengolahan Tanah Intensif
3.Pemupukan dengan Pupuk buatan ( N,P,K ) dosis tinggi
4.Pengairan Teratur dan mencukupi.
5.Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Padi dengan
pestisida kimia secara intensif, berjadwal, dosis /
konsentrasi tinggi, berlebihan
Penerapan Panca Usaha harus dilakukan oleh semua petani
yang ikut dalam Program Intensifikasi Pangan ( BIMAS,
INMAS, INSUS, SUPRA INSUS, GEMA PALAGUNG,
REVITALISASI PERTANIAN,dll ).Tanaman padi ditanam
seragam dalam areal luas
HASIL
PERTANIAN KONVENSIONAL
1. Produksi pangan meningkat , sebagian masalah kurang
pangan terselesaikan, target jangka pendek tercapai
sementara. SSB Indonesia terjadi pada tahun 1984 dan
2004. kita tetp impor beras setiap tahun terbesar pada 1999
hampir 5 juta ton beras .
2. Efisiensi produksi bisa ditingkatkan
3. Pertumbuhan ekonomi di pedesaan meningkat
4. Teknologi dan inovasi baru dapat dikembangkan peneliti dan
diterapkan secara luas melalui program BIMAS.
5. Pada tahap permulaan keuntungan usaha dapat diperoleh
tetapi kemudian menurun, tidak berkelanjutan. Masalah
kesenjangan sosial di pedesaan meningkat.
6. Masalah2 lingkungan seperti penurunan kesuburan dan
kualitas tanah, pencemaran lingkungan, keamanan pangan,
keanekaragaman hayati
KELEMAHAN UTAMA
PERTANIAN KONVENSIONAL
 Dampak ekologi, ekonomi, sosial, budaya dan
kesehatan masyarakat
 Peningkatan pengurasan dan eksploitasi sumberdaya
alam secara besar-besaran
 Penurunan daya dukung lingkungan pertanian dalam
menyangga kegiatan-kegiatan pertanian selanjutnya.
DAMPAK NEGATIF
PERTANIAN KONVENSIONAL (1)
TANAH
 Peningkatan erosi permukaan , banjir, tanah longsor
 Penurunan kesuburan tanah
 Kehilangan biota dan bahan organik tanah,
 Salinasi air tanah dan irigasi, sedimentasi tanah ,
 Peningkatan pencemaran air dan tanah akibat pupuk
kimia , pestisida, limbah domestik,
SUNGAI &PERAIRAN
 Eutrifikasi badan air, peningkatan populasi gulma air
KUALITAS LINGUNGAN
 Peningkatan residu pestisida dan bahan bahan
berbahaya lain di lingkungan dan makanan
 Menyumbang pemansan global dan perubahan iklim
DAMPAK negatif
PERTANIAN KONVENSIONAL (2)
LINGKUNGAN DAN BUDAYA LOKAL
 Keanekaragaman hayati merosot ,
 kearifan tradisional dan budidaya tanaman lokal
merosot,
PRODUKTIVITAS DAN KUALITAS
 Produksi dan kualitas produksi menurun
 Produk pertanian ditolak pasar nasional dan global
SOSIAL EKONOMI PEDESAAN
 Penurunan lapangan kerja, peningkatan pengangguran
kesenjangan sosial
 jumlah petani gurem MENINGKAT
 kemiskinan dan malnutrisi di pedesaan
 Ketergantungan petani pada pemerintah dan perusahaan
/ industri agrokimia, tengkulak .
 Petani tidak mandiri dlm mengambil keputusan
AKAR MASALAH PERTANIAN KONVENSIONAL
 PERTANIAN TIDAK BERKELANJUTAN
 PERTANIAN BOROS ENERGI TAK TERBARUKAN
 PERTANIAN MERUSAK LINGKUNGAN
 PERTANIAN TIDAK MEMANUSIAKAN MANUSIA , Tidak
memandirikan petani,
 PERTANIAN TIDAK MENGHARGAI KEARIFAN DAN
BUDAYA LOKAL
DEFINISI
PERTANIAN BERKELANJUTAN
 Pertanian Berkelanjutan adalah
setiap prinsip, metode, praktek, dan falsafah yang
bertujuan agar pertanian layak ekonomi, secara ekologi
dapat dipertanggungjawabkan, secara sosial diterima,
berkeadilan, dan secara budaya sesuai dengan keadaan
setempat, serta dilaksanakan berdasarkan pendekatan
holistik ( FAO, 1990 )
Ekonomi
Ketahanan
Pangan
Menguntungk
an
Teknis dpt
diterapkan
Ekologi
Integiitas
lingkungan
Dasar Prinsip
Agroekologi
Sosial
Pberdayaan
pddk miskin
Pemerataan
sosial
Masyarkt
sehat&aman
PERTANIAN
BERKELANJUTAN
Prinsip Pertanian
Berkelanjutan
• Mengkonservasi dan memperbaiki kualitas kimia, fisika dan
biologi tanah
• Melestarikan keanekaragaman hayati, mempertahankan
kesuburan tanah dan kemurnian air,
• Mendaur ulang sumber daya alam serta mengkonservasikan
energi.
• Mengkonservasi dan memanfaatkan keanekaragaman hayati
• Menghasilkan beranekaragam jenis makanan, serat dan obat-
obatan dengan kualitas tinggi.
• Memandirikan masyarakat tani lokal,nasional, regional dan
global
TUJUAN
PERTANIAN BERKELANJUTAN (1)
 Meningkatkan produksi pertanian dan menjamin
keamanan pangan dalam negeri.
 Menghasilkan pangan yang terbeli,kualitas nutrisi tinggi
dan meminimalkan kandungan bahan-bahan kimia dan
bakteri yang membahayakan dalam makanan..
 Tidak mengurangi dan merusak kesuburan tanah, tidak
meningkatkan erosi, dan meminimalkan
ketergantungan pada sumberdaya alam yang tidak
terbarukan
 Mendukung kehidupan masyarakat pedesaan yang
berkeadilan, meningkatkan kesempatan kerja di
berbagai sektor, serta menyediakan kehidupan
masyarakat yang lebih bermutu dan sejahtera.
TUJUAN
PERTANIAN BERKELANJUTAN (2)
 Tidak membahayakan kesehatan masyarakat pedesaan
dan konsumen produk-produk pertanian
 Melestarikan dan meningkatkan kualitas lingkungan
hidup di lahan pertanian dan pedesaan
 Melestarikan sumberdaya alam dan keanekaragaman
hayati.
 Memberdayakan dan memandirikan petani dalam
mengelola lahan dan usaha taninya.. Petani berdaulat
tidak tergantung pada pihak lain termasuk pemerintah,
pengusaha dan peneliti / akademisi.
 Memanfaatkan dan melestarikan sumber daya lokal dan
kearifan tradisional .
PENGELOMPOKAN PERTANIAN BERKELANJUTAN DI
TINGKAT GLOBAL
1. Pertanian Alternatif
2. Pertanian Regeneratif
3. Pertanian Ekologi
4. Pertanian Organik
5. Pertanian Biodinamik
6. Pertanian Biointensif
7. Pertanian Konservasi
8. Integrated Farming
System
9. Low Input /Low External
Input Agriculture
10. Natural Farming
11. Nature Farming
12. Integrated Pest
Management
13. Integrated Crop
Management
14. Permaculture
15. Precision Agriculture
16. Pertanian Holistik
17. Kyusei Nature Farming
18. Local Community Food
System
19. Agricultural Biodiversity
20. Policulture
21. Biotehnologi Pertanian
KENDALA / HAMBATAN
PERTANIAN BERKELANJUTAN
1. Kendala KEBIJAKAN PEMERINTAH ( Nasional dan
Daerah ). Pemerintah mementingkan capaian sasaran
produksi jangka pendek dan PAD..
2. Kendala Kebijakan PENELITIAN yang masih berorientasi
teknologi jangka pendek. Egosektor, egodisiplin ilmu,
belum holistik
3. Kendala PENERAPAN TEKNOLOGI karena kualitas SDM
rendah.
4. Kendala INSENTIF EKONOMI yang kurang tepat
5. Kendala KEMITRAAN antar stakeholders
6. Kendala KERJASAMA GLOBAL
7. Tragedy of the commons , perilaku materialistis,
individualis dan serakah SDA
PERTANIAN BERKELANJUTAN DI INDONESIA
untuk Petani Kecil-padi
1. Pengelolaan / Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dengan
Sekolah Lapangan PHT ( SLPHT ) Di tingkat dunia SLPHT
dikenal sebagai FFS-IPM Farmers Field School-Integrated
Pest Management.
2. Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) atau Integrated Crop
Management
3. Sistem Pertanian Terpadu ( Integrated Farming System )
4. Pertanian Organik – Organic Farming
5. Low External Input Sustainable Agriculture ( LEISA ) –
Jaringan LSM Lingkungan
6. Sistem of Rice Intensification ( SRI ) – Ikatan Petani PHT
Indonesia.
7. Petani membuat sendiri pupuk dan pestisida organik seperti
EM4- Bokashi dan pestisida hayati.
FASILITASI PEMERINTAH UNTUK PERTANIAN
BERKELANJUTAN YANG DILAKSANAKAN PETANI DAN
KELOMPOK TANI
1. Mendorong petani melanjutkan praktek pertanian
berkelanjutan dengan menyediakan fasilitas pelatihan,
akses pada teknologi baru untuk peningkatan kualitas
petani dan tehnologi khas lokasi on farm dan off farm.
2. Fasilitas perlindungan terhadap hak cipta petani,
pemasaran produk, sistem sertifikasi dan labelisasi,
sistem subsidi dan kredit yang tepat.
3. Penguatan kelembagaan kelompok tani ( Gapoktan )
dan jejaring kelompok tani.
Hasil Penerapan Pertanian
Berkelanjutan di Amerika Serikat
1. Petani yang menerapkan sistem pertanian
berkelanjutan umumnya memperoleh manfaat
ekonomi dan lingkungan yang nyata.
2. Secara keseluruhan kebijakan pemerintah federal
masih belum mendukung praktek dan sistem pertanian
3. Penelitian tentang interaksi dan hubungan fungsional
antar berbagai komponen ( biotik dan abiotik )
ekosistem sebagai pengetahuan dasar penerapan
pertanian berkelanjutan sangat kurang.
4. Petani yang sudah mengembangkan pertanian
berkelanjutan mamapu berinovasi dalam menemukan
teknologi khas lokal.
KEBIJAKAN PERTANIAN BERKELANJUTAN
DI USA ( US FARM BILL )
 Memenuhi kebutuhan pangan dan serat
 Meningkatkan kualitas lingkungan dan sumber daya
alam yang merupakan modal utama keberlangsungan
ekonomi pertanian
 Pemakaian paling efisien sumber daya alam yang tak
terbarukan dan sumber daya on farm , dan bila
mungkin memadukan secara tepat dengan siklus biologi
dan pengendalian secara alami
 Menjaga keberlanjutan viabilitas ekonomi dari kegiatan
pertanian
 Peningkatan kualitas hidup petani dan masyarakat
secara menyeluruh
PENYESUAIAN KEBIJAKAN NENUJU
PERTANIAN BERKELANJUTAN
 Memulai proses penyesuaian kebijakan makroekonomi
dan peninjauan kembali kebijakan pertanian menuju
pada perencanaan dan program SARD pada tingkat lokal
dan nasional, pembentukan mekanisme yang tepat yang
dapat mengaitkan kepentingan pemerintah dan
organisasi non pemerintah, pemilihan piranti dan
instrumen untuk analisis dan implementasi kebijakan,
termasuk pengembangan pangkalan data ( data base )
dan sistem monitoring.
 Menjamin perencanaan terpadu, pengelolaan
sumberdaya berbasis komunitas dan invesmen-
invesmen terkait dengan bidang-bidang kunci, yaitu
pengelolaan tanah, air dan keanekaragaman hayati.
PENYESUAIAN MENUJU PERTANIAN
BERKELANJUTAN ( lanjutan )
 Menyediakan pelayanan yang mendukung dan pelatihan guna
menjamin penggunaan yang paling baik sumberdaya alam,
khususnya untuk pengembangan dan pengelolaan
sumberdaya energi yang terbarukan
 Mengembangkan kriteria, indikator dan metode yang akan
digunakan untuk penilaian dan memonitor keberlanjutan
pertanian dan perbaikan tehnologi . Perlu segera dimulai
suatu sistem neraca lingkungan dan sumberdaya alam yang
menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. .
PROGRAM PERTANIAN BERKELANJUTAN DAN
PEMBANGUNAN PEDESAAN MENURUT AGENDA 21 (1)
1. Peninjauan kembali kebijakan pertanian, perencanaan
dan program terpadu dilandasi oleh aspek multifungsi
pertanian, kususnya berkaitan dengan ketahanan
pangan dan pembangunan berkelanjutan
2. Menjamin partisipasi penduduk dan meningkatkan
pengembangan sumberdaya manusia untuk pertanian
berkelanjutan
3. Memperbaiki produksi lahan dan sistem usaha tani
melalui diversifikasi peluang kerja diluar lahan atau non
pertanian dan pembangunan infrastruktur
4. Perencanaan informasi sumberdaya lahan dan
pendidikan pertanian
PROGRAM PERTANIAN BERKELANJUTAN DAN
PEMBANGUNAN PEDESAAN MENURUT AGENDA 21
( lanjutan )
5. Perencanaan informasi sumberdaya lahan dan pendidikan
pertanian
6. Konservasi dan rehabilitasi lahan
7. Air untuk produksi pangan berkelanjutan dan pembangunan
pedesaan yang berkelanjutan
8. Konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan sumberdaya
genetik tanaman untuk pangan dan pertanian berkelanjutan
9. Konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan sumberdaya
genetik binatang untuk pertanian berkelanjutan
10. Pengelolaan hama secara terpadu dan pengendalian hama di
pertanian
11. Nutrisi Tanaman secara berkelanjutan guna peningkatan
produksi
12. Transisi energi pedesaan untuk peningkatan produktivitas
13. Evaluasi pengaruh radiasi ultraviolet pada tanaman dan
binatang akibat penipisan lapisan ozon di stratosfir
FAKTOR2 PENDORONG KONVERSI
1. Harga energi semakin mahal
2. Margin keuntungan usaha tani konvensional semakin
menurun
3. Prospek pengembangan pertanian alternatif semakin
menguntungkan
4. Peningkatan kesadaran lingkungan dan kesehatan
masyarakat. Dorongan Konsumen
5. Pasar produk pertanian semakin terbuka dan
kompetetif
LANGKAH PROSES TRANSISI DAN KONVERSI
1. Penyamaan persepsi
2. Gambaran/skenario masa depan tanpa konversi
3. Penelitian dan Pengembangan Mendukung kegiatan
konversi
4. Inovasi pertanian alternatif yang menjamin
keberlanjutan
5. Perubahan sistem pengelolaan agroekosistem
6. Implementasi kelembagaan
PENERAPAN PERTANAN BERKELANJUTAN
1. Pemilihan tempat, spesies atau varietas yang sesuai
2. Pemanfaatan diversitas ekosistem
3. Pengendalian Hama Terpadu
4. Pengolahan Tanah Konservasi
5. Penggunaan Input Produksi efisien
6. Perubahan perilaku, gaya hidup dan pola konsumsi
PERTANIAN BERKELANJUTAN
DI PERUSAHAAN PERKEBUNAN (1)
1. Perusahaan perkebunan dengan areal luas cenderung
masih mempertahankan teknologi pertanian
konvensional yang boros energi , berdampak negatif
bagi lingkungan sejak tahap persiapan lahan sampai
pemasaran hasil. Sasaran ekonomi lebih diutamakan
daripada sasaran pertanian berkelanjutan lainnya.
2. Selama pemerintah dan konsumen belum menuntut
persyaratan produk yang lain, praktek tersebut masih
“aman” dilanjutkan.
3. Untuk produk perkebunan yang berorientasi ekspor
mulai dirasakan perubahan sikap konsumen terhadap
mutu, keamanan bagi kesehatan dan lingkungan.
PERTANIAN BERKELANJUTAN
DI PERUSAHAAN PERKEBUNAN (2)
1. Perusuhaan harus dapat membuktikan bahwa produk yang
dihasilkan berwawasan lingkungan, aman bagi kesehatan dan
secara sosial budaya lokal dapat diterima.
2. Perusahaan secara individual atau asosiasi dengan fasilitasi
oleh pemerintah perlu mengembangkan secara partisipatif
suatu sistem sertifikasi produkperkebunan lengkap dengan
GAP,s ( Good Agriculture Practices ), GMP ( Good
Manufacturing Practices ) serta SOP’s ( Standard Operating
Procedures ).
3. Dengan label produk HIJAU peluang ekspor semakin
meningkat karena dapat lebih memenuhi perysratan
konsumen global.
4. Untuk penyusunan GAP,GMP dan SOP memerlukan kerjasama
semua pihak termasuk ilmuwan dan masyarakat serta
kebijakan pengelola perkebunan yang kuat dan konsisten.
Tahapan Proses Konversi
1. Aras 1- Peningkatan efisiensi penggunaan masukan
produksi
2. Aras 2- Substisusi praktek konvensional dng praktek
alternatif yang lebih baik
3. Aras 3 – Perancangan kembali ekosistem pertanian
4. Aras 4 – Hubungan langsung antara pihak produsen
dan konsumen
MONITORING PROSES KONVERSI
 Proses konversi perlu diikuti, dimonitor dan dievaluasi
apakah sudah terjadi perubahan yang mantap dan
berkelanjutan
 Diperlukan banyak indikator menyangkut aspek
teknologi, ekonomi, sosial, budaya dan kelembagaan
 Indikator Proses dan Indikator Struktur

Pertanian berkelanjutan

  • 1.
    PERKEMBANGAN PERTANIAN 1. PertanianTradisional / Lokal Pertanian asli lokal , berbasis ekologi lokal , KEANEKARAGAMAN HAYATI, belum memanfaatkan tehnologi modern, subsisten, mencukupi kebutuhan sendiri 2. PERTANIAN KONVENSIONAL. Pertanian Revolusi Hijau, Pertanian industri Pertanian padat tehnologi,padat modal, efisien, tanaman seragam, skala luas, orientasi peningkatan produksi dan keuntungan 3. Pertanian BERKELANJUTAN Pertanian layak ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, kesehatan, HAM, terpadu/holistik
  • 2.
    PERTANIAN TRADISIONAL  Pertaniantradisional merupakan bentuk asli pertanian, hasil koevolusi sistem sosial budaya lokal dan lingkungan , yang memperlihatkan ekspresi rasional ekologi melalui pemanfaatan intensif kearifan lokal dan sumber daya alam setempat , termasuk pengelolaan keaneka-ragaman hayati pertanian dlm bentuk sistem pertanian yang beragam tanpa akses pada input eksternal, modal dan pengetahuan ilmiah-modern.
  • 3.
    REVOLUSI HIJAU  Istilahdigunakan sejak 1968 oleh William Gaud Direktur USAID . Aplikasi ilmu dan tehnologi pertanian modern dlm bentuk kombinasi varietas unggul, pengairan, pemupukan dan pestisida kimia .Paket tehnologi tsb. dianggap sebagai revolusi terhadap pertanian tradisional karena produksi pangan meningkat 2 x (1960-1985)  Sampai saat ini tehnologi tsb. umum diandalkan dan dikembangkan oleh pemerintah,ilmuwan dan petani shingga disebut Tehnologi konvensional
  • 4.
    MASALAH KETAHANAN PANGAN Sumbermasalah produksi dan persediaan pangan nasional tidak mencukupi kebutuhan seluruh penduduk. Sebabnya produksi pangan/beras kurang daripada kebutuhan nasional. Sebabnya produktivitas padi per ha sawah rendah, sebab petani masih menggunakan teknologi tradisonal dan infrastruktur pertanian khususnya jaringan irigasi dan jalan kurang mendukung peningkatan produksi pangan. Sementara itu pertumbuhan penduduk terus meningkat yang di pedesaan mempengaruhi kepemilikan lahan persawahan yang semakin sempit dan peningkatan jumlah petani tuna lahan. Kunci utama program swa sembada pangan adalah bagaimana meningkatkan produksi pangan sehingga dapat melebihi kebutuhan pangan penduduk baik di pedesaan maupun perkotaan.
  • 5.
    KEBIJAKAN PEMERINTAH MENYELESAIKANMASALAH KETAHANAN PANGAN 1. Intensifikasi – meningkatkan produktivitas pangan/padi per unit lahan sawah. Teknologi Revolusi Hijau 2. Ekstensifikasi – meluaskan areal perswahan dengan membuka lahan sawah baru. 3. Rehabilitasi – memperbaiki lahan sawah yang rusak 4. Perbaikan sarana pengairan ( waduk, sistem irigasi ) dan jalan 5. Penyediaan kredit pembelian sarana produksi bagi petani 6. Penetapan harga dasar beras, peningkatan peran BULOG 7. Transfer tehnologi dan rekayasa sosial melalui sistem penyuluhan nasional yang instruktif dan birokratif.
  • 6.
    Tehnologi PANCA USAHA Pangan 1.Penggunaan Varietas tanaman unggul, produksi tinggi 2.Pengolahan Tanah Intensif 3.Pemupukan dengan Pupuk buatan ( N,P,K ) dosis tinggi 4.Pengairan Teratur dan mencukupi. 5.Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman Padi dengan pestisida kimia secara intensif, berjadwal, dosis / konsentrasi tinggi, berlebihan Penerapan Panca Usaha harus dilakukan oleh semua petani yang ikut dalam Program Intensifikasi Pangan ( BIMAS, INMAS, INSUS, SUPRA INSUS, GEMA PALAGUNG, REVITALISASI PERTANIAN,dll ).Tanaman padi ditanam seragam dalam areal luas
  • 7.
    HASIL PERTANIAN KONVENSIONAL 1. Produksipangan meningkat , sebagian masalah kurang pangan terselesaikan, target jangka pendek tercapai sementara. SSB Indonesia terjadi pada tahun 1984 dan 2004. kita tetp impor beras setiap tahun terbesar pada 1999 hampir 5 juta ton beras . 2. Efisiensi produksi bisa ditingkatkan 3. Pertumbuhan ekonomi di pedesaan meningkat 4. Teknologi dan inovasi baru dapat dikembangkan peneliti dan diterapkan secara luas melalui program BIMAS. 5. Pada tahap permulaan keuntungan usaha dapat diperoleh tetapi kemudian menurun, tidak berkelanjutan. Masalah kesenjangan sosial di pedesaan meningkat. 6. Masalah2 lingkungan seperti penurunan kesuburan dan kualitas tanah, pencemaran lingkungan, keamanan pangan, keanekaragaman hayati
  • 8.
    KELEMAHAN UTAMA PERTANIAN KONVENSIONAL Dampak ekologi, ekonomi, sosial, budaya dan kesehatan masyarakat  Peningkatan pengurasan dan eksploitasi sumberdaya alam secara besar-besaran  Penurunan daya dukung lingkungan pertanian dalam menyangga kegiatan-kegiatan pertanian selanjutnya.
  • 9.
    DAMPAK NEGATIF PERTANIAN KONVENSIONAL(1) TANAH  Peningkatan erosi permukaan , banjir, tanah longsor  Penurunan kesuburan tanah  Kehilangan biota dan bahan organik tanah,  Salinasi air tanah dan irigasi, sedimentasi tanah ,  Peningkatan pencemaran air dan tanah akibat pupuk kimia , pestisida, limbah domestik, SUNGAI &PERAIRAN  Eutrifikasi badan air, peningkatan populasi gulma air KUALITAS LINGUNGAN  Peningkatan residu pestisida dan bahan bahan berbahaya lain di lingkungan dan makanan  Menyumbang pemansan global dan perubahan iklim
  • 10.
    DAMPAK negatif PERTANIAN KONVENSIONAL(2) LINGKUNGAN DAN BUDAYA LOKAL  Keanekaragaman hayati merosot ,  kearifan tradisional dan budidaya tanaman lokal merosot, PRODUKTIVITAS DAN KUALITAS  Produksi dan kualitas produksi menurun  Produk pertanian ditolak pasar nasional dan global SOSIAL EKONOMI PEDESAAN  Penurunan lapangan kerja, peningkatan pengangguran kesenjangan sosial  jumlah petani gurem MENINGKAT  kemiskinan dan malnutrisi di pedesaan  Ketergantungan petani pada pemerintah dan perusahaan / industri agrokimia, tengkulak .  Petani tidak mandiri dlm mengambil keputusan
  • 11.
    AKAR MASALAH PERTANIANKONVENSIONAL  PERTANIAN TIDAK BERKELANJUTAN  PERTANIAN BOROS ENERGI TAK TERBARUKAN  PERTANIAN MERUSAK LINGKUNGAN  PERTANIAN TIDAK MEMANUSIAKAN MANUSIA , Tidak memandirikan petani,  PERTANIAN TIDAK MENGHARGAI KEARIFAN DAN BUDAYA LOKAL
  • 12.
    DEFINISI PERTANIAN BERKELANJUTAN  PertanianBerkelanjutan adalah setiap prinsip, metode, praktek, dan falsafah yang bertujuan agar pertanian layak ekonomi, secara ekologi dapat dipertanggungjawabkan, secara sosial diterima, berkeadilan, dan secara budaya sesuai dengan keadaan setempat, serta dilaksanakan berdasarkan pendekatan holistik ( FAO, 1990 )
  • 13.
  • 14.
    Prinsip Pertanian Berkelanjutan • Mengkonservasidan memperbaiki kualitas kimia, fisika dan biologi tanah • Melestarikan keanekaragaman hayati, mempertahankan kesuburan tanah dan kemurnian air, • Mendaur ulang sumber daya alam serta mengkonservasikan energi. • Mengkonservasi dan memanfaatkan keanekaragaman hayati • Menghasilkan beranekaragam jenis makanan, serat dan obat- obatan dengan kualitas tinggi. • Memandirikan masyarakat tani lokal,nasional, regional dan global
  • 15.
    TUJUAN PERTANIAN BERKELANJUTAN (1) Meningkatkan produksi pertanian dan menjamin keamanan pangan dalam negeri.  Menghasilkan pangan yang terbeli,kualitas nutrisi tinggi dan meminimalkan kandungan bahan-bahan kimia dan bakteri yang membahayakan dalam makanan..  Tidak mengurangi dan merusak kesuburan tanah, tidak meningkatkan erosi, dan meminimalkan ketergantungan pada sumberdaya alam yang tidak terbarukan  Mendukung kehidupan masyarakat pedesaan yang berkeadilan, meningkatkan kesempatan kerja di berbagai sektor, serta menyediakan kehidupan masyarakat yang lebih bermutu dan sejahtera.
  • 16.
    TUJUAN PERTANIAN BERKELANJUTAN (2) Tidak membahayakan kesehatan masyarakat pedesaan dan konsumen produk-produk pertanian  Melestarikan dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup di lahan pertanian dan pedesaan  Melestarikan sumberdaya alam dan keanekaragaman hayati.  Memberdayakan dan memandirikan petani dalam mengelola lahan dan usaha taninya.. Petani berdaulat tidak tergantung pada pihak lain termasuk pemerintah, pengusaha dan peneliti / akademisi.  Memanfaatkan dan melestarikan sumber daya lokal dan kearifan tradisional .
  • 17.
    PENGELOMPOKAN PERTANIAN BERKELANJUTANDI TINGKAT GLOBAL 1. Pertanian Alternatif 2. Pertanian Regeneratif 3. Pertanian Ekologi 4. Pertanian Organik 5. Pertanian Biodinamik 6. Pertanian Biointensif 7. Pertanian Konservasi 8. Integrated Farming System 9. Low Input /Low External Input Agriculture 10. Natural Farming 11. Nature Farming 12. Integrated Pest Management 13. Integrated Crop Management 14. Permaculture 15. Precision Agriculture 16. Pertanian Holistik 17. Kyusei Nature Farming 18. Local Community Food System 19. Agricultural Biodiversity 20. Policulture 21. Biotehnologi Pertanian
  • 18.
    KENDALA / HAMBATAN PERTANIANBERKELANJUTAN 1. Kendala KEBIJAKAN PEMERINTAH ( Nasional dan Daerah ). Pemerintah mementingkan capaian sasaran produksi jangka pendek dan PAD.. 2. Kendala Kebijakan PENELITIAN yang masih berorientasi teknologi jangka pendek. Egosektor, egodisiplin ilmu, belum holistik 3. Kendala PENERAPAN TEKNOLOGI karena kualitas SDM rendah. 4. Kendala INSENTIF EKONOMI yang kurang tepat 5. Kendala KEMITRAAN antar stakeholders 6. Kendala KERJASAMA GLOBAL 7. Tragedy of the commons , perilaku materialistis, individualis dan serakah SDA
  • 19.
    PERTANIAN BERKELANJUTAN DIINDONESIA untuk Petani Kecil-padi 1. Pengelolaan / Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dengan Sekolah Lapangan PHT ( SLPHT ) Di tingkat dunia SLPHT dikenal sebagai FFS-IPM Farmers Field School-Integrated Pest Management. 2. Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) atau Integrated Crop Management 3. Sistem Pertanian Terpadu ( Integrated Farming System ) 4. Pertanian Organik – Organic Farming 5. Low External Input Sustainable Agriculture ( LEISA ) – Jaringan LSM Lingkungan 6. Sistem of Rice Intensification ( SRI ) – Ikatan Petani PHT Indonesia. 7. Petani membuat sendiri pupuk dan pestisida organik seperti EM4- Bokashi dan pestisida hayati.
  • 20.
    FASILITASI PEMERINTAH UNTUKPERTANIAN BERKELANJUTAN YANG DILAKSANAKAN PETANI DAN KELOMPOK TANI 1. Mendorong petani melanjutkan praktek pertanian berkelanjutan dengan menyediakan fasilitas pelatihan, akses pada teknologi baru untuk peningkatan kualitas petani dan tehnologi khas lokasi on farm dan off farm. 2. Fasilitas perlindungan terhadap hak cipta petani, pemasaran produk, sistem sertifikasi dan labelisasi, sistem subsidi dan kredit yang tepat. 3. Penguatan kelembagaan kelompok tani ( Gapoktan ) dan jejaring kelompok tani.
  • 21.
    Hasil Penerapan Pertanian Berkelanjutandi Amerika Serikat 1. Petani yang menerapkan sistem pertanian berkelanjutan umumnya memperoleh manfaat ekonomi dan lingkungan yang nyata. 2. Secara keseluruhan kebijakan pemerintah federal masih belum mendukung praktek dan sistem pertanian 3. Penelitian tentang interaksi dan hubungan fungsional antar berbagai komponen ( biotik dan abiotik ) ekosistem sebagai pengetahuan dasar penerapan pertanian berkelanjutan sangat kurang. 4. Petani yang sudah mengembangkan pertanian berkelanjutan mamapu berinovasi dalam menemukan teknologi khas lokal.
  • 22.
    KEBIJAKAN PERTANIAN BERKELANJUTAN DIUSA ( US FARM BILL )  Memenuhi kebutuhan pangan dan serat  Meningkatkan kualitas lingkungan dan sumber daya alam yang merupakan modal utama keberlangsungan ekonomi pertanian  Pemakaian paling efisien sumber daya alam yang tak terbarukan dan sumber daya on farm , dan bila mungkin memadukan secara tepat dengan siklus biologi dan pengendalian secara alami  Menjaga keberlanjutan viabilitas ekonomi dari kegiatan pertanian  Peningkatan kualitas hidup petani dan masyarakat secara menyeluruh
  • 23.
    PENYESUAIAN KEBIJAKAN NENUJU PERTANIANBERKELANJUTAN  Memulai proses penyesuaian kebijakan makroekonomi dan peninjauan kembali kebijakan pertanian menuju pada perencanaan dan program SARD pada tingkat lokal dan nasional, pembentukan mekanisme yang tepat yang dapat mengaitkan kepentingan pemerintah dan organisasi non pemerintah, pemilihan piranti dan instrumen untuk analisis dan implementasi kebijakan, termasuk pengembangan pangkalan data ( data base ) dan sistem monitoring.  Menjamin perencanaan terpadu, pengelolaan sumberdaya berbasis komunitas dan invesmen- invesmen terkait dengan bidang-bidang kunci, yaitu pengelolaan tanah, air dan keanekaragaman hayati.
  • 24.
    PENYESUAIAN MENUJU PERTANIAN BERKELANJUTAN( lanjutan )  Menyediakan pelayanan yang mendukung dan pelatihan guna menjamin penggunaan yang paling baik sumberdaya alam, khususnya untuk pengembangan dan pengelolaan sumberdaya energi yang terbarukan  Mengembangkan kriteria, indikator dan metode yang akan digunakan untuk penilaian dan memonitor keberlanjutan pertanian dan perbaikan tehnologi . Perlu segera dimulai suatu sistem neraca lingkungan dan sumberdaya alam yang menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. .
  • 25.
    PROGRAM PERTANIAN BERKELANJUTANDAN PEMBANGUNAN PEDESAAN MENURUT AGENDA 21 (1) 1. Peninjauan kembali kebijakan pertanian, perencanaan dan program terpadu dilandasi oleh aspek multifungsi pertanian, kususnya berkaitan dengan ketahanan pangan dan pembangunan berkelanjutan 2. Menjamin partisipasi penduduk dan meningkatkan pengembangan sumberdaya manusia untuk pertanian berkelanjutan 3. Memperbaiki produksi lahan dan sistem usaha tani melalui diversifikasi peluang kerja diluar lahan atau non pertanian dan pembangunan infrastruktur 4. Perencanaan informasi sumberdaya lahan dan pendidikan pertanian
  • 26.
    PROGRAM PERTANIAN BERKELANJUTANDAN PEMBANGUNAN PEDESAAN MENURUT AGENDA 21 ( lanjutan ) 5. Perencanaan informasi sumberdaya lahan dan pendidikan pertanian 6. Konservasi dan rehabilitasi lahan 7. Air untuk produksi pangan berkelanjutan dan pembangunan pedesaan yang berkelanjutan 8. Konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan sumberdaya genetik tanaman untuk pangan dan pertanian berkelanjutan 9. Konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan sumberdaya genetik binatang untuk pertanian berkelanjutan 10. Pengelolaan hama secara terpadu dan pengendalian hama di pertanian 11. Nutrisi Tanaman secara berkelanjutan guna peningkatan produksi 12. Transisi energi pedesaan untuk peningkatan produktivitas 13. Evaluasi pengaruh radiasi ultraviolet pada tanaman dan binatang akibat penipisan lapisan ozon di stratosfir
  • 27.
    FAKTOR2 PENDORONG KONVERSI 1.Harga energi semakin mahal 2. Margin keuntungan usaha tani konvensional semakin menurun 3. Prospek pengembangan pertanian alternatif semakin menguntungkan 4. Peningkatan kesadaran lingkungan dan kesehatan masyarakat. Dorongan Konsumen 5. Pasar produk pertanian semakin terbuka dan kompetetif
  • 28.
    LANGKAH PROSES TRANSISIDAN KONVERSI 1. Penyamaan persepsi 2. Gambaran/skenario masa depan tanpa konversi 3. Penelitian dan Pengembangan Mendukung kegiatan konversi 4. Inovasi pertanian alternatif yang menjamin keberlanjutan 5. Perubahan sistem pengelolaan agroekosistem 6. Implementasi kelembagaan
  • 29.
    PENERAPAN PERTANAN BERKELANJUTAN 1.Pemilihan tempat, spesies atau varietas yang sesuai 2. Pemanfaatan diversitas ekosistem 3. Pengendalian Hama Terpadu 4. Pengolahan Tanah Konservasi 5. Penggunaan Input Produksi efisien 6. Perubahan perilaku, gaya hidup dan pola konsumsi
  • 30.
    PERTANIAN BERKELANJUTAN DI PERUSAHAANPERKEBUNAN (1) 1. Perusahaan perkebunan dengan areal luas cenderung masih mempertahankan teknologi pertanian konvensional yang boros energi , berdampak negatif bagi lingkungan sejak tahap persiapan lahan sampai pemasaran hasil. Sasaran ekonomi lebih diutamakan daripada sasaran pertanian berkelanjutan lainnya. 2. Selama pemerintah dan konsumen belum menuntut persyaratan produk yang lain, praktek tersebut masih “aman” dilanjutkan. 3. Untuk produk perkebunan yang berorientasi ekspor mulai dirasakan perubahan sikap konsumen terhadap mutu, keamanan bagi kesehatan dan lingkungan.
  • 31.
    PERTANIAN BERKELANJUTAN DI PERUSAHAANPERKEBUNAN (2) 1. Perusuhaan harus dapat membuktikan bahwa produk yang dihasilkan berwawasan lingkungan, aman bagi kesehatan dan secara sosial budaya lokal dapat diterima. 2. Perusahaan secara individual atau asosiasi dengan fasilitasi oleh pemerintah perlu mengembangkan secara partisipatif suatu sistem sertifikasi produkperkebunan lengkap dengan GAP,s ( Good Agriculture Practices ), GMP ( Good Manufacturing Practices ) serta SOP’s ( Standard Operating Procedures ). 3. Dengan label produk HIJAU peluang ekspor semakin meningkat karena dapat lebih memenuhi perysratan konsumen global. 4. Untuk penyusunan GAP,GMP dan SOP memerlukan kerjasama semua pihak termasuk ilmuwan dan masyarakat serta kebijakan pengelola perkebunan yang kuat dan konsisten.
  • 32.
    Tahapan Proses Konversi 1.Aras 1- Peningkatan efisiensi penggunaan masukan produksi 2. Aras 2- Substisusi praktek konvensional dng praktek alternatif yang lebih baik 3. Aras 3 – Perancangan kembali ekosistem pertanian 4. Aras 4 – Hubungan langsung antara pihak produsen dan konsumen
  • 33.
    MONITORING PROSES KONVERSI Proses konversi perlu diikuti, dimonitor dan dievaluasi apakah sudah terjadi perubahan yang mantap dan berkelanjutan  Diperlukan banyak indikator menyangkut aspek teknologi, ekonomi, sosial, budaya dan kelembagaan  Indikator Proses dan Indikator Struktur