1            ASEAN OPEN SKY, SIAPKAH INDONESIA?Minggu Kliwon, 06 Juni, 2010ASEAN Open Sky Policy merupakan kebijakan untuk...
2Transport Working Group: “The Roadmap for the Integration of ASEAN:Competitive Air Services Policy”.Menuju LiberalisasiTi...
3Hampir semua negara-negara ASEAN memiliki flag carrier. Dengandukungan keuangan dari pemerintah, persaingan menjadi tidak...
4fasilitas mekanisme ASEAN -X (baca : ASEAN minus X) dengan X yangberarti negara yang belum siap. Indonesia dapat masuk me...
5harus meningkatkan level of service setara dengan maskapai di kawasangrowth yang tinggi tadi,” tambahnya.Pendapat yang ha...
6berjalan lancar, cepat dan murah dengan mengandalkan angkutan udara,ujung-ujungnya adalah kemajuan ekonomi dan kesejahter...
6berjalan lancar, cepat dan murah dengan mengandalkan angkutan udara,ujung-ujungnya adalah kemajuan ekonomi dan kesejahter...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Asean open sky

1,335 views

Published on

ASEAN OPEN SKY.doc

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
1,335
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
6
Actions
Shares
0
Downloads
37
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Asean open sky

  1. 1. 1 ASEAN OPEN SKY, SIAPKAH INDONESIA?Minggu Kliwon, 06 Juni, 2010ASEAN Open Sky Policy merupakan kebijakan untuk membuka wilayahudara antar sesama anggota negara ASEAN. Singkat kata, ini tidak lainmerupakan bentuk liberalisasi angkutan udara yang telah menjadi komitmenkepala negara masing-masing negara anggota dalam Bali Concord II yangdideklarasikan pada KTT (Konferensi Tingkat Tinggi) ASEAN tahun 2003.ASEAN atau Association of South East Asia Nation, merupakan organisasinegara-negara di Asia Tenggara yang terbentuk tahun 1967 beranggotakanlima negara awal yaitu Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, danFilipina. Diikuti penambahan anggota kemudian, Brunei Darussalam (1984),Vietnam (1995), Laos dan Myanmar (1997) dengan yang terakhir Kamboja(1999). Pendirian ASEAN memang bertujuan pokok untuk kesejahteraandan kerjasama dalam bidang ekonomi.Dalam Bali Concord II disebutkan cita-cita terbentuknya ASEAN EconomicComunity 2020 dengan angkutan udara menjadi salah satu dari 12 sektoryang akan diintegrasikan pada tahun 2010. Kekuatan dari negara-negaraASEAN ini harus segera dipersatukan layaknya Eropa dengan Uni Eropa-nya untuk menghadapi tantangan dan persaingan dari negara besar Asia,seperti Cina dan India.Untuk penerbangan sendiri, tahap-tahap menuju ke arah sana mulaidilakukan. Tahun 2008 pembatasan untuk penerbangan antar ibukota negaraASEAN dihapus. Menyusul kemudian hak angkut kargo pada tahun 2009dan diikuti hak angkut penumpang tahun 2010 dengan puncaknya ASEANSingle Aviation Market tahun 2015 yang tertuang dalam The ASEAN Air
  2. 2. 2Transport Working Group: “The Roadmap for the Integration of ASEAN:Competitive Air Services Policy”.Menuju LiberalisasiTidak sedikit yang skeptis mengenai terwujudnya liberalisasi penerbanganASEAN ini. Mengapa? Karena situasi dan kondisi tiap-tiap negara berbeda.Ada yang sangat maju dan sebaliknya beberapa negara masih dalam tahapmembangun bahkan ada yang belum siap sama sekali. Kerjasama bisamenjadi timpang dan akan berakibat kelak satu pihak yang kuat akanmemangsa pihak yang lemah.Singapura misalnya, telah jauh-jauh hari diwaspadai akan segera menguasaipasar jika ASEAN Open Sky terwujud. Perdana Menteri Lee Hsien Loongdalam pembukaannya pada 13th ASEAN Transport Ministers Meeting 2007,menganjurkan untuk mempercepat proses tersebut guna semakinmeningkatkan perkembangan angkutan udara di regional Asia Tenggara.“Hal ini (percepatan liberalisasi penerbangan) akan menunjukan pada duniabahwa ASEAN dapat beraksi cepat dalam mewujudkan rencana menjaditindakan yang konkrit.” begitu tambahnya.Tidak mengherankan Singapura sangat mengebu-gebu. Dari sisi pengalamansaja, Singapura telah lama melakukan open sky sejak tahun 1960-an, dimanamaskapai asal Eropa, Asia, dan bahkan Amerika Serikat bebas terbang daridan ke Singapura. Maklum negeri kecil yang memiliki luas kurang dariprovinsi Jawa Barat ini tak mungkin mengandalkan pasar domestik saja.Karena itulah Singapura membangun Changi menjadi bandara berstandarinternasional dan bercita-cita menjadikannya hub (bandara poros/pusat) dannegara-negara anggota ASEAN sebagai spoke-nya. Layanan Air TrafficController (ATC) juga demikian. Changi International Airport sanggupmelayani lalu lintas udara di wilayah Asia Tenggara termasuk di wilayahudara Indonesia.Dari sisi maskapai, siapa yang tidak tahu tentang Singapore Airlines (SIA).Dengan keunggulan kualitas dan kuantitas armadanya SIA dapatmewujudkan konsep reciprocal dengan baik. Lebih dari itu SIA dan jugaanak perusahaannya Silk Air merupakan flag carrier dan didukung langsungoleh pemerintah Singapura sendiri yang telah menjelma menjadi macanAsia.
  3. 3. 3Hampir semua negara-negara ASEAN memiliki flag carrier. Dengandukungan keuangan dari pemerintah, persaingan menjadi tidak adil bagimaskapai swasta. Negara seperti Indonesia dengan Garuda Indonesia,Malaysia dengan Malaysia Airlines (MAS) atau Thailand dengan Thai Airdiharapkan berlaku transparan dalam hal kebijakan subsidi kepada maskapainasionalnya. Ini untuk menciptakan persaingan yang sempurna danmenguntungkan.Meskipun demikian, ada pula maskapai swasta yang siap menghadapitantangan ini. Air Asia misalnya. Maskapai swasta asal Malaysia ini yangmemiliki bisnis jasa penerbangan murah (Low Cost Carrier/LCC) telahmelakukan ekspansi ke negara-negara tetangga bahkan sebelum rencanatahap-tahapan ASEAN Open Sky dimulai.Dengan kuantitas armada yang signifikan, Air Asia melakukan ekspansilebih jauh ke wilayah regional Asia Tenggara. Konsep penerbangan bertiketmurah dengan cepat mengambil hati konsumen bahkan untuk yang terbiasamenggunakan full service flight sekalipun. Asas cabotage yang diberlakukandi negara-negara ASEAN ternyata bisa dilangkahi dengan menerapkansemacam kecabangan perusahaan di tiap-tiap negara. Dalam sebuahwawancara kepada media tahun 2002, CEO Air Asia, Tony Fernandezbahkan menantang, “Buang saja nasionalisme anda!”Maksudnya jelas. Buat apa memproteksi diri sendiri lewat cabotage padahalkebutuhan akan transportasi udara sangat mendesak dan tidak dapat dipenuhinegara.Ekspansi fenomenal LCC Air Asia bahkan membuat ketar-ketir maskapaiAsia Tenggara yang lebih dahulu beroperasi terutama Silk Air yangdianggap sulit dikalahkan karena didukung oleh SIA. Inilah efek positif dariliberalisasi, konsumen punya kekuasaan memilih dari berbagai banyakpilihan yang tersedia khususnya terhadap harga tiket pesawat yangsebelumnya pada awal 90-an dianggap mahal dan masih berbau monopolikarena persaingan yang masih sedikit.Kesiapan IndonesiaBanyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk pemerintahIndonesia. Dalam target liberalisasi penerbangan ASEAN yang akandirealisasikan paling cepat tahun 2010 dan paling lambat 2015, disediakan
  4. 4. 4fasilitas mekanisme ASEAN -X (baca : ASEAN minus X) dengan X yangberarti negara yang belum siap. Indonesia dapat masuk menjadi negara Xkarena ini adalah hak tiap-tiap negara anggota dan semua harusmenghormati keputusan tersebut.Menteri Perhubungan Freddy Numberi dalam keterangan kepada persnasional pada Desember 2009 menyatakan bahwa Indonesia adalah pihakyang dirugikan. “Singapura hanya punya 1 bandara, Malaysia punya 6bandara, kita punya 26 bandara internasional,” tambah Menhub. Ini berartiIndonesia memiliki pintu yang banyak untuk dimasuki dengan mudahpemain-pemain asing. Jumlah bandara direncanakan akan dibatasi apalagimaskapai nasional dinilai pemerintah belum sekuat para pesaingnya.Menurut Dirjen Departemen Perhubungan Udara, Herry Bakti, pemerintahsegera menerbitkan keputusan menteri tentang jumlah bandara yang siapuntuk open sky policy. “Mungkin 3 atau 5 bandara yang siap,” ujarnya.Yang mana bandara itu belum diketahui, tapi dua diantaranya yang pastiadalah Soekarno-Hatta dan Ngurah Rai. Ditambahkan lagi oleh juru bicaraDephub Bambang Ervan bahwa sebelum mengikuti liberalisasi penerbangan,pemerintah akan meningkatkan daya saing perusahaan penerbangan dankapasitas tampung bandara udara.Pernyataan-pernyataan ini sesuai dengan Open Sky ASEAN 2015 dalamkonsep Indonesia yaitu kebijakan langit terbuka yang harus dilakukandengan memperhatikan kepentingan nasional, melakukannya secara bertahapdengan menjadi negara X untuk beberapa waktu sambil mempersiapkan diri,termasuk mempersiapkan maskapai nasional agar dapat berdaya saing tinggi.KeniscayaanAdalah sebuah keniscayaan Open Sky ASEAN ini. Era keterbukaan danliberalisasi mau tidak mau harus dilakukan jika ingin meningkatkan prestasi.Kalau tidak justru akan mengancam industri penerbangan nasional itusendiri yang akan semakin jauh tertinggal dengan negara-negara lain.Ini sesuai dengan wawancara AVIASI dengan Direktur Niaga Sriwijaya AirToto Nursatyo yang mengatakan bahwa Open Sky ASEAN 2015 tidak bisadihindari karena merupakan kebutuhan globalisasi untuk memperkuat pasarregional ASEAN, sehingga kapitalisasi pasar ASEAN dari 10 negaraanggota menjadi besar yang menjadikan growth market dikawasan inimenjadi tinggi. “Untuk Sriwijaya hal ini chalenging mengingat Sriwijaya
  5. 5. 5harus meningkatkan level of service setara dengan maskapai di kawasangrowth yang tinggi tadi,” tambahnya.Pendapat yang hampir senada juga diberikan oleh Humas Mandala Airlines,Trisia Megawati. “Open sky atau pasar terbuka ASEAN di tahun 2010merupakan peluang yang harus disikapi dengan positif. Open sky bukanlahmerupakan ancaman bagi Mandala. Meskipun kalau kita bicara bisnis riilpenerbangan nasional saat ini, saya berpandangan bahwa tahun 2010 akanmenjadi lebih kompetitif”, ujarnya. Agar terus kompetitif ia mencontohkanMandala hanya memiliki satu jenis pesawat saja agar cost efficient danmelakukan banyak inovasi pelayanan tiket seperti pemesanan lewat internetdan telepon gengam untuk menarik konsumen.Open Sky bukanlah sebuah ancaman, bahkan menjadi keuntungan asalpihak-pihak yang terlibat di dalamnya mempersiapkan dengan baik.Pemerintah Indonesia berhak menjadi “wasit” dalam mengatur agar OpenSky tidak menjadi bumerang. Karena dalam kenyataannya, tidak adasatupun negara yang melakukan liberalisasi penerbangan tanpa campurtangan pemerintah, bahkan pemerintah dari negara liberal seperti AS saatperundingan Open Sky antara Uni Eropa sekalipun. Pemerintah dalam halini departemen yang terkait harus mengeluarkan kebijakan dan regulasi yangbetul-betul mendorong pelayanan dan kompetisi industri penerbangandomestik dengan tetap berpegang pada keamanan dan keselamatanpenerbangan.Belum lagi pembangunan bandara udara. Untuk menyaingi Changi jelastidak mungkin dalam waktu singkat. Dalam rangking The World AirportAward yang dikeluarkan Skytrax, Changi menempati urutan ke-3 pada tahun2009. Apalagi sangat besar kemungkinan Changi menjadi hub ASEANkarena sudah sangat unggul baik dari sisi teknologi, profesionalisme, danposisinya yang strategis. Walaupun demikian dengan lapang dada, bandara-bandara di Indonesia dapat menjadi spoke, tapi spoke dalam kualitas yangmampu bersaing dengan Kuala Lumpur dan Bangkok Internasional Airport.Negara-negara Asia Tenggara yang terkenal kaya akan seni dan budayaditambah anugrah kekayaan alam nan indah memang menarik turis dari luar.Dengan liberalisasi ini maka semakin naik persentase jumlah turismancanegara yang datang mengunjungi sekaligus meningkatkan devisanegara. Selain dari pariwisata, liberalisasi angkutan udara akanmenyumbang perbaikan dalam bidang perdagangan. Ekspor-impor akan
  6. 6. 6berjalan lancar, cepat dan murah dengan mengandalkan angkutan udara,ujung-ujungnya adalah kemajuan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.Semoga. (sudiro/edi/yuvie)Tags: Asean open sky About the Author: Tabloid Aviasi merupakan tabloid penerbanganpertama di Indonesia, yang terbit setiap bulan minggu pertama denganmengedepankan informasi yang berimbang jujur, berkualitas dan dibutuhkanmasyarakat. Untuk menampung setiap perubahan, pembaca memerlukanmedia yang mampu menganalisis peristiwa dengan mengedepankanprediksi, menghitung probabilitas dan memetakan persoalan secara cermat.
  7. 7. 6berjalan lancar, cepat dan murah dengan mengandalkan angkutan udara,ujung-ujungnya adalah kemajuan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.Semoga. (sudiro/edi/yuvie)Tags: Asean open sky About the Author: Tabloid Aviasi merupakan tabloid penerbanganpertama di Indonesia, yang terbit setiap bulan minggu pertama denganmengedepankan informasi yang berimbang jujur, berkualitas dan dibutuhkanmasyarakat. Untuk menampung setiap perubahan, pembaca memerlukanmedia yang mampu menganalisis peristiwa dengan mengedepankanprediksi, menghitung probabilitas dan memetakan persoalan secara cermat.

×