P
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×
 

P

on

  • 990 views

 

Statistics

Views

Total Views
990
Slideshare-icon Views on SlideShare
990
Embed Views
0

Actions

Likes
0
Downloads
13
Comments
0

0 Embeds 0

No embeds

Accessibility

Categories

Upload Details

Uploaded via as Microsoft Word

Usage Rights

© All Rights Reserved

Report content

Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
  • Full Name Full Name Comment goes here.
    Are you sure you want to
    Your message goes here
    Processing…
Post Comment
Edit your comment

    P P Document Transcript

    • pengertian filsafat ilmu dan pembagian cabang filsafat ilmu menurut para filsuf Bab I PendahuluanA. Latar Belakang Lahir, tumbuh, dan kokohnya ilmu menimbulkan persoalan-persoalan yang berada di luar minat, kesempatan, atau jangkauan dari ilmuwan sendiri untuk menyelesaikannya. Namun, ada sebagian cedekiawan yang berusaha menemukan penyelesaian untuk masalah tersebut yang mana para cendekiawan ini disebut sebagai filsuf (philosophers). Pemikiran para filsuf mengenai filsafat ilmu merupakan filsafat ilmu atau philosophy of science. Filsafat menurut para ahli secara umum adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan. Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen dan percobaan tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, serta memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi itu. Seiring dengan bermunculannya filsuf, definisi mengenai filsafat ilmu juga semakin beragam, sehingga saat ini terdapat beberapa perbedaan dalam mendefinisikan filsafat ilmu.B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut: 1. dengan menyatukan pendapat para filsuf, apa kesimpulan yang dapat diambil tentang pengertian filsafat ilmu? 2. bagaimana pembagian cabang ilmu menurut para filsuf?C. Tujuan Tujuan dibuatnya makalah ini adalah sebagai berikut:1. untuk mengetahui pengertian filsafat ilmu dengan menyatukan pendapat para ahli.2. untuk mengetahui berbagai cabang ilmu pengetahuan menurut berbagai filsuf.D. Manfaat Manfaat dibuatnya makalah ini adalah sebagai berikut:
    • 1. menambah pengetahuan mengenai definisi filsafat ilmu.2. setelah pengetahuan bertambah, diharapkan ilmu yang telah didapat bisa diterapkan dalamkehidupan sehari-hari.
    • Bab II Pembahasan Definisi Filsafat Ilmu Menurut Para Ahli Para filsuf (philosophers) dengan pemikiran reflektif mereka berusaha memecahkan persoalan-persoalan yang berada di luar minat, kesempatan atau jangkauan. Pemikiran para filsuf itu mengenai ilmu merupakan filsafat ilmu (philosophy of science). Berbagai definisi philosophy of science dari para filsuf dapat dikutip sebagai berikut:1. Robert Ackermann Filsafat ilmu dalam suatu segi adalah sebuah tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap pendapat-pendapat lampau yang telah dibuktikan atau dalam krangka ukuran-ukuran yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu demikian jelas bukan suatu cabang ilmu yang bebas dari praktek ilmiah senyatanya2. Lewis White Beck Filsafat ilmu mempertanyakan dan menilai metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menetapkan nilai dan pentingnya usaha ilmiah sebagi suatu keseluruhan.3. Cornelius Benjamin Cabang pengetahuan filsafat yang merupakan telaah sistematis mengenai sifat dasar ilmu, khususnya metode-metodenya, konsep-konsepnya dan praanggapan-peranggapanya, serta letaknya dalam kerangka umum dari cabang-cabang penegtahuan intelektual.4. Michael V.Berry Penelaahan tentang logika interen dari teori-teori ilmiah, dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah.
    • 5. May Brodbeck Analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan, dan penjelasan mengenai landasan-landasan ilmu.6. Peter Caws Filsafat ilmu merupakan suatu bagian filsafat, yang mencoba berbuat bagi ilmu apa yang filsafat seumumnya melakukan pada seluruh pengalaman manusia. Filsafat melakukan dua macam hal: di satu pihak, ini membangun teori-teori tentang manusia dan alam semesta, yang menyajikannya sebagai landasan-landasan bagi keyakinan dan tindakan; di pihak lain, filsafat memeriksa secara kritis segala hal yang dapat disajikan sebagai suatu landasab bagi keyakinan atau tindakan, termasuk teori-teorinya sendiri, dengan harapan pada penghapusan ketakajegan dan kesalahan.7. Alfred Cyril Ewing Istilah filsafat ilmu biasanya diterapkan pada cabang logika yang membahas dalam suatu cara yang dikhususkan metode-metode dari ilmu-ilmu yang berlainan.8. Antony Flew ilmu empiris yang teratur menyajikan hasil yang paling mengesankan dari rasionalitas manusia dan merupakan salah satu dari calon yang diakui terbaik untuk pengetahuan. Filsafat ilmu berusaha menunjukkan dimana letak rasionalitas itu; apa yang khusus mengenai penjelasan- penjelasannya dan kontruksi-kontruksi teorinya; apa yang memisahkannya dari perkiraan dan ilmu-semu serta membuat ramalan-ramalannya dan berbagai teknologi berharga untuk dipercaya; yang terpenting apakah teori-teorinya dapat diterima sebagai mengungkapkan kebenaran tentang suatu realitas objektif yang tersembunyi9. A. R. Lacey Terutama studi tentang bagaimana ilmu bekerja atau seharusnya bekerja. Studi tentang bagaimana ini melakukan biasanya diterima sebagai suatu petunjuk yang layak tentang bagaimana ini seharusnya. Studi ini sering disebut metodologi, suatu istilah yang dapat juga bersifat relatif, misalnya metodologi sejarah.
    • 10. John Macmurray Dalam filsafat ilmu, kita terutama bersangkutan dengan pemeriksaan kritis terhadap pandangan-pandangan umum, prasangka-prasangka alamiah yang terkandung dalam asumsi- asumsi ilmu atau yang berasal dari keasyikan dengan ilmu; tetapi yang bukan sendirinya merupakan hasil-hasil penyelidikan dengan metode-metode yang ilmu memakainya. Ketika saya mendefinisikan filsafat ilmu sebagai penilaian filsuf tentang ilmu itu sendiri, hal inilah yang terdapat dalam pikiran saya.11. D. W. Theobald Ilmu dalam garis besarnya bersangkutan dengan apa yang dapat dianggap sebagai fakta tentang dunia yang kita diami. Filsafat ilmu di pihak lain dalam garis besarnya pula bersangkutan dengan sifat dasar fakta ilmiah – atau dinyatakannya secara lain, bersangkutan dengan fakta- fakta mengenai fakta-fakta tentang dunia.12. Stephen R. Toulmin Sebagai suatu cabang ilmu, filsafat ilmu mencoba pertama-tama menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penyelidikan ilmiah-prosedur-prosedur pengamatan, pola-pola perbincangan, metode-metode penggantian dan perhitungan, praanggapan-praanggapan metafisis, dan seterusnya. Dan selanjutnya menilai landasan-landasan bagi kesahannya dari sudut-sudut tinjauan logika formal, metodologi praktis, dan metafisikaCabang Ilmu Filsafat Cabang-cabang dari ilmu filsafat secara singkat adalah sebagai berikut: 1. Logika adalah cabang filsafat yang mempelajari aturan atau patokan yang harus ditaati agar orang dapat berpikir dengan tepat, teliti dan teratur untuk mencapai kebenaran. 2. Epistemology salah satu cabang filsafat yang menyoroti, dari sudut sebab pertama, gejalan pengetahuan dan kesadaran manusia. Apakah pengetahuan itu benar dan terpercaya; apakah tetap dan tidak berubah, atau berubah-ubah saja, ataupun bergerak dan berkembang; dan jika yang terakhir itu keadaannya, lalu ke manakah ia; apakah merupakan masalah pribadi ataukah sejauh mana memasyarakat dan menyejarah. Dalam epistemology diusahakan member jawab atas pertanyaaan kemungkinan pengetahuan, tentang batasannya, tentang asal dan jenis pengetahuan.
    • 3. Kritik ilmu yang disebut filsafat ilmu pengetahuanadalah cabang filsafat yang menyibukkan diri dengan teori pembagian ilmu, metode yang digunakan dalam ilmu, tentang dasar kepastian dan jenis keterangan yang diberikan yang tidak termasuk bidang ilmu pengetahuan melainkan merupakan tugas filsafat. Dewasa ini filsafat pengetahuan dirasakan semakin penting. 4. Ontology sering disebut metafisika umum atau filsafat pertama adalah filsafat tentang seluruh kenyataan atau segala sesuatu sejauh itu ‗ada‘. Manusia, benda, tumbuh-tumbuhan, binatang adalah suatu pengada, karena itu pengetahuan tentang pengada sejauh mereka ada, disebut ontology. Jadi, metafisika adalah refleksi filsafat kenyataan paling dalam dan paling akhir secara mutlak. 5. Teologi metafisik membicarakan filsafat ke-Tuhan-an atau logos (ilmu) tentang Theos (Tuhan) menurut ajaran agama dan kepercayaan.Landasan Ilmu Filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Landasan(foundation) dari ilmu itu mencangkup: a. konsep-konsep pangkal b. anggapan-anggapan dasar c. asas-asas permulaan d. struktur-struktur teoritis e. ukuran-ukura kebenaran ilmiah Filsafat ilmu merupakan suatu bidang pengetahuan campuran yang eksistensi dan pemekaranya bergantung pada hubungan timbal-balik dan saling-pengaruh antara filsafat ilmu. Istilah yang terdapat dalam kepustakaan asing untuk menyebut bidang pengetahuan ini ialah:a. philosophy of science (filsafat ilmu)b. theory of science (teori ilmu)c. metascience (adil-ilmu)d. methodology (metodologi)e. science of science (ilmu tentang ilmu)
    • Filsuf Rudolf Carnap memakai istilah science of science dan memberikan definisi sebagai ―analisis dan pelukisan tentang ilmu dari berbagai sudut tinjauan, termasuk logika, metodologi, sosiologi, dan sejarah ilmu‖.D. Pembagian Ilmu Konsepsi tentang pembagian ilmu secara kurang tepat disebut penggolongan ilmu atau pengelompokan ilmu, mencmpuradukkan hal-hal yang berlainan sehingga banyak menimbulkan kebingungan atau kekacauan. kejelasan akan lebih tercapai dan kesimpangsiuran bisa terhindar bilamana dibedakan secara tegas pembagian ilmu berdasarkan: a. jenis b. ragam kedua hal itu jelas berlainan sehingga hasil pembagiannya juga sama sekali berbeda. Pembagian menurut: a. jenis memakai isi substantif dari pengetahuan ilmiah sebagai dasarnya, biasanya dalam pembagian ilmu menurut jenis orang dapat sertamerta mengetahui secara garis besar sasaran apa saja yang termasuk dalam masing-masing rumpun atau cabang ilmu yang bersangkutan. Contoh: 1. pembagian ilmu yang dianut secara luas oleh universitas-universitas di Amerika Serikat: a. natural sciences b. social sciences c. humanities 2. pembagian ilmu dalam undang-undang perguruan tinggi (UU 1961/22):a. ilmu agama/kerohanianb. ilmu kebudayaanc. ilmu sosiald. ilmu eksakta dan tehnik pembagian ini tidak sepenuhnya berdasarkan jenis, melainkan telah berbaur dengan ragam. b. ragam
    • Menunjukkan suatu ciri tertentu dari segugusan pengetahuan ilmiah. Pada dasarnya pembagian ini tidak merinci berbagai cabang ilmu. Orang tidak dapat seketika memperoleh gambaran tentang apa yang ditelaah ataupun lingkupan masing-masing ragam ilmu yang ditetapkan. Contoh-contoh yang dapat diajukan mengenai pembagian termaksud ialah dikotomi yang berikut: 1. Karl Pearsona. abstract sciences b. concrete sciences 2. William Calvert Knealea. a priori sciences b. empirical sciences 3. Wilson Geea. descriptive sciences b. normative sciences 4. Rudolf Carnap a. formal sciences b. factual sciences 5. dwi-pembagian yang terkenal a. inexact sciences b. exact sciences 6. dwi-pembagian yang paling terkenal a. pure sciences b. applied sciences 7. Wilhelm Windelband a. nomothetic sciences b. idiographic sciences8. Hugo Munsterberg a. theoretical sciences b. practical sciences
    • Bab III Penutup Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:1. Filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia.2. Ilmu dapat dibagi berdasarkan jenis dan ragam. Berdasarkan jenis, yaitu:  pembagian ilmu yang dianut secara luas oleh universitas-universitas di Amerika Serikat: 1. natural sciences 2. social sciences 3. humanities  pembagian ilmu dalam undang-undang perguruan tinggi (UU 1961/22): 1. ilmu agama/kerohanian 2. ilmu kebudayaan 3. ilmu sosial 4. ilmu eksakta dan tehnik Berdasarkan ragam, yaitu: 1. Karl Pearson a. abstract sciences b. concrete sciences 2. William Calvert Kneale a. a priori sciences b. empirical sciences 3. Wilson Gee a. descriptive sciences b. normative sciences 4. Rudolf Carnap a. formal sciences
    • b. factual sciences 5. dwi-pembagian yang terkenal a. inexact sciences b. exact sciences 6. dwi-pembagian yang paling terkenal a. pure sciences b. applied sciences 7. Wilhelm Windelband a. nomothetic sciences b. idiographic sciences8. Hugo Munsterberg a. theoretical sciences b. practical sciences BAB II PENGERTIAN UMUM LOGIKA 1. A. Pengertian Logika Logika berasal dari kata Yunani kuno λόγος (logos) yang berarti hasil pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dinyatakan dalam bahasa.Logika adalah salah satu cabang filsafat.Sebagai ilmu, logika disebut dengan logike episteme (Latin: logica scientia) atau ilmu logika (ilmu pengetahuan) yang mempelajari kecakapan untuk berpikir secara lurus, tepat, dan teratur.(http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat-Logika/) 1. 1. Logika sebagai ilmu pengetahuan Logika merupakan sebuah ilmu pengetahuan dimana obyek materialnya adalah berpikir (khususnya penalaran/proses penalaran) dan obyek formal logika adalah berpikir/penalaran yang ditinjau dari segi ketepatannya.(http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat-Ibid/) 1. 2. Logika sebagai cabang filsafat Logika adalah sebuah cabang filsafat yang praktis. Praktis disini berarti logika dapat dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Logika lahir bersama-sama dengan lahirnya filsafat di Yunani. Dalam usaha untuk memasarkan pikiran-pikirannya serta pendapat-pendapatnya, filsuf-filsuf Yunani kuno tidak jarang mencoba
    • membantah pikiran yang lain dengan menunjukkan kesesatan penalarannya. (Alex Lanur. 1983:7-8)Logika digunakan untuk melakukan pembuktian. Logika mengatakan yang bentuk inferensi yangberlaku dan yang tidak. Secara tradisional, logika dipelajari sebagai cabang filosofi, tetapi jugabisa dianggap sebagai cabang matematika. logika tidak bisa dihindarkan dalam proses hidupmencari kebenaran.Ilmu disini mengacu pada kemampuan rasional untuk mengetahui dan kecakapan mengacu padakesanggupan akal budi untuk mewujudkan pengetahuan ke dalam tindakan. Kata logis yangdipergunakan tersebut bisa juga diartikan dengan masuk akal. (Alex Lanur. 1983: 8)Dalam pengertian Aristotelian, logika didefinisikan dengan sejumlah kaidah yang me-ma’shum-kan manusia dalam proses berfikir. Kata ―berfikir‖ tersebut di akhir tadi,menegaskan bahwa kaidah-kaidah logika yang dikuak Aristoteles mengatur satu dimensikehidupan manusia, yaitu kehidupan teoritis.Secara adil, Aristoteles menyusun logika kehidupan praktis manusia, secara lebih khusus, dalamMagnum Opus-nya, Nikomachucian Ethica.Rangkaian kaidah-kaidah praktis dirajut dalambingkai ―The Golden Means‖ yang menekankan keseimbangan di antara dua titikekstrimitas.Tentu, teori itu bukan yang terbaru pada masanya. Guru gurunya, Sokrates, malahsibuk dan menyibukkan masyarakat Athena dengan mencari-cari kaidah praktis, ketimbangmendiskusikan arche atau isu-isu teoritis lainnya.Dengan demikian, sudah dilakukan upaya-upaya menemukan kaidah-kaidah kehidupan praktismanusia yang tidak kalah pentingnya dengan kaidah-kaidah kehidupan teoritisnya. Kalaukehidupan teoritis berkutat di permasalahan ―Bagaimana menemukan kebenaran?‖, makakehidupan praktis bertawaf di permasalahan ―Bagaimana menemukan kebaikan?‖. Di sinilahlogika praktis mendapatkan ruang geraknya.Permasalahan awal yang muncul di sini adalah, ―Apakah kehidupan praktis manusia?‖. Lebihsederhana lagi, ―Apakah tindakan manusia?‖. 1. B. Dasar-Dasar LogikaKonsep bentuk logis adalah inti dari logika. Konsep itu menyatakan bahwa kesahihan (validitas)sebuah argumen ditentukan oleh bentuk logisnya, bukan oleh isinya. Dalam hal ini logikamenjadi alat untuk menganalisis argumen, yakni hubungan antara kesimpulan dan bukti ataubukti-bukti yang diberikan (premis). Logika silogistik tradisional Aristoteles dan logika simbolikmodern adalah contoh-contoh dari logika formal.Dasar penalaran dalam logika ada dua:Deduktif dan induktif.
    • 1. Penalaran deduktif—kadang disebut logika deduktif—adalah penalaran yang membangun atau mengevaluasi argumen deduktif. Argumen dinyatakan deduktif jika kebenaran dari kesimpulan ditarik atau merupakan konsekuensi logis dari premis- premisnya. Argumen deduktif dinyatakan valid atau tidak valid, bukan benar atau salah. Sebuah argumen deduktif dinyatakan valid jika dan hanya jika kesimpulannya merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya.Contoh argumen deduktif: Setiap mamalia punya sebuah jantung Semua kuda adalah mamalia ∴ Setiap kuda punya sebuah jantung 1. Penalaran induktif—kadang disebut logika induktif—adalah penalaran yang berangkat dari serangkaian fakta-fakta khusus untuk mencapai kesimpulan umum.Contoh argumen induktif: Kuda Sumba punya sebuah jantung Kuda Australia punya sebuah jantung Kuda Amerika punya sebuah jantung Kuda Inggris punya sebuah jantung … ∴ Setiap kuda punya sebuah jantung 1. C. Cabang-cabang LogikaAdapun cabang-cabang logika antara lain sebagai berikut: 1. Pengertian 2. Pembagian (Penggolongan) dan Definisi 3. Keputusan 4. Pembalikan dan Perlawanan 5. Penyimpulan 6. Silogisme 7. Asas-asas Pemikiran 1. D. Contoh Pemanfaatan Logika Dalam KehidupanTindakan SengajaTindakan adalah proses yang dijalani manusia, sebagai pelaku, dalam mencapai suatu tujuan.Ada tiga anasir di dalam tindakan; proses, pelaku dan tujuan. Sebagai sebuah proses, tindakanpunya titik awal dan titik akhir. Titik akhir tindakan adalah tujuan itu.Lalu, apakah titik awaltindakan?
    • Tindakan manusia akan lahir setelah melalui empat jenjang;1. Pengetahuan (hudzuri dan husuli).Bahwa manusia mengetahui tujuan tindakannya dan hal-hal yang mengarah kepada tujuantersebut. 1. Motivasi.Pengetahuan itu disusul oleh dorongan hasrat (keinginan) dirinya untuk mencapai tujuan yangdiketahuinya. Hasrat itu beragam, sebanyak sumbernya; tuntutan-tuntutan fisiologis,kecenderungan-kecenderungan instingsial, kecondongan-kecondongan intuitif, tendensi-tendensiemosional, yang semuanya adalah serpihan-serpihan dari sebauh naluri, yaitu ingin kekal daningin sempurna yang disingkat menjadi cinta diri, sebagai naluri induk yang terpatri pada dirimanusia. Maka, sesorang hanya akan menginginkan sesuatu yang sesuai dengan tuntutan naluricinta diri. Dan sebaliknya, ia tidak akan terdorong untuk melakukan tindakan yang mengancamkelanggengan hidupnya, mengurangi atau menjauhkan suatu kesempurnaan dari dirinya. (al-maidah, 105- al-hasyr 18). 1. Kehendak.Tatkala manusia tahu dan termotivasi (oleh cinta diri) untuk bertindak, ketika itu pula ia akanmenghendaki tindakan itu secara puas, suka rela dan bebas. 1. Kemampuan.Tindakannya bersifat aktif, bukan pasif.Dengan demikian, pertama: asal-usul tindakan manusia adalah pengetahuan, motivasi, kehendakdan kemampuan. Inilah yang disebut tindakan sengaja (ikhtiyari). Jadi, tindakan sengaja adalahtindakan yang disadari, diingini dan dikehendaki pelakunya serta bersifat aktif. Sementara,tindakan yang minus satu dari empat jenjang di atas adalah tindakan tak sengaja. Ngantuk,ngigau, degup jantung, minum secara terpaksa, mendengar secara pasif (terdengarnya sesuatu),adalah sebagian corak tindakan tak sengaja. Maka, ada dua macam tindakan manusia; tindakansengaja dan tindakan tak sengaja.Kedua: ada keterkaitan di antara, paling tidak, dua jenjang pertama. Mula-mula manusia tahudan menyadari suatu kekurangan pada dirinya atau suatu kesempurnaan di luar dirinya, lalunaluri cinta dirinya membangkitkan hasrat untuk mengatasi kekurangan itu atau mengejarkesempurnaan tersebut. Oleh karena itu, manusia bertindak karena cinta dirinya atau egoisme.Ketiga: berdasarkan poin kedua tadi, bahwa manusia bertindak demi memenuhi egoismenya.Maka, tujuan tindakannya adalah kepentingan diri sendiri. Tegasnya, titik akhir atau tujuantindakan manusia adalah kepentingan diri sendiri (self-interested).
    • Keempat: tindakan sengaja bermuatan nilai baik atau buruk. Semua contoh di atas tadi tidakpunya nilai (zero value). Ngigau dan kawan-kawannya itu tidak baik, juga tidak buruk.Permasalahan yang muncul di sini adalah ―Apakah tindakan sengaja yang baik dan tindakansengaja yang buruk?‖. Singkatnya, ―Apakah kebaikan dan keburukan?‖.Akhirnya, ―Sampaikanlah (wahai Muhammad)! Tahukah kalian akan orang-orang yang palingrugi tindakannya? Merekalah yang sia-sia jerih payahnya di dunia, sementara dirinya mengiratelah bertindak sebaik-baiknya.‖ (al-Kahfi, 103-104). BAB III
    • SILOGISME 1. A. PENGERTIAN SILOGISME (Qiyas) 1. Menurut BahasaSebuah silogisme (bahasa Yunani: συλλογισμός – syllogismos – ―kesimpulan,‖ ―inferensi‖) ataubanding logis adalah jenis argumen logis di mana satu proposisi (kesimpulan) yang disimpulkandari dua orang lain (tempat) dari suatu bentuk tertentu, yaitu kategori proposisi.(http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat-Silogisme/) 1. Menurut Istilah 1. Dalam Bahasan Mantiq Silogisme atau Qiyas diartikan sebagai kumpulan dari beberapa qadhiyyah yang berkaitan yang jika benar, maka dengan sendirinya (li dzatihi) akan menghasilkan qadhiyyah yang lain (baru).(From:‖SONYMAN‖<sonyman@uk2.net>Thu, 8 Jun 2000 16:56:05 +0700)Beberapa macam hujjah (argumentasi). Manusia disaat ingin mengetahui hal-hal yang majhul,maka terdapat tiga cara untuk mengetahuinya(Husein Al-Kaff. 1999):1. Pengetahuan dari juz’i ke juz’i yang lain. Argumenatsi ini sifatnya horisontal, dari sebuahtitik yang parsial ke titik parsial lainnya. Argumentasi ini disebut tamtsil (analogi).2. Pengetahuan dari juz’i ke kulli. Atau dengan kata lain, dari khusus ke umum(menggeneralisasi yang parsial) Argumentasi ini bersifat vertikal, dan disebut istiqra‘ (induksi).3. Pengetahuan dari kulli ke juz’i. Atau dengan kata lain, dari umum ke khusus. Argumentasiini disebut qiyas (silogisme).Silogisme/Qiyas dibagi menjadi dua; 1. Iqtirani (silogisme kategoris) 2. istitsna‘i (silogisme hipotesis).Sesuai dengan definisi qiyas di atas, satu qadhiyyah atau beberapa qadhiyyah yang tidakdikaitkan antara satu dengan yang lain tidak akan menghasilkan qadhiyyah baru. Jadi untukmemberikan hasil (konklusi) diperlukan beberapa qadhiyyah yang saling berkaitan. Dan itulahyang namanya qiyas. (Husein Al-Kaff. 1999) 1. Pengertian Silogisme dalam buku ―Sebelum Analytics ―, Aristoteles mendefinisikan silogisme sebagai ―sebuah wacana di mana, hal-hal tertentu yang telah seharusnya, sesuatu yang berbeda dari hal-hal seharusnya hasil dari kebutuhan karena hal-hal ini begitu.‖ (24b18–20) (24b18-20)Meskipun definisi yang sangat umum ini, ia membatasi diri pertama silogisme kategoris (dankemudian untuk modal silogisme). Silogisme berada pada inti tradisional penalaran deduktif,
    • dimana fakta ditentukan dengan menggabungkan laporan yang ada, berbeda dengan penalaraninduktif dimana fakta ditentukan oleh pengamatan berulang. Silogisme digantikan oleh ordepertama logika predikat mengikuti karya Gottlob Frege , khususnya Nya Begriffsschrif (KonsepScript) (1879)Silogisme adalah suatu pengambilan kesimpulan, dari dua macam keputusan (yang mengandungunsur yang sama, dan salah satunya harus universal) suatu keputusan yang ketiga, yangkebenarannya sama dengan dua keputusan yang mendahuluinya.(wikipedia.org/wiki/Proposition-Silogisme)Maka bisa disimpulkan, bahwa silogisme adalah suatu proses penarikan kesimpulan secaradeduktif, yang disusun dari pernyataan dan konklusi (kesimpulan).Penalarannya bertolakdari pernyataan bersifat umum menuju pada pernyataan/simpulan khusus.Absah dan BenarDalam membicarakan silogisme mengenal dua istilah yaitu absah dan benar. Absah (valid) berkaitan dengan prosedur apakah pengambilan konklusi sesuai dengan patokan atau tidak. Dikatakan valid apabila sesuai dengan patokan dan tidak valid bila sebaliknya. Benar berkaitan dengan: 1. Proposisi dalam silogisme itu. 2. Didukung atau sesuai dengan fakta atau tidak. Bila sesuai fakta, proposisi itu benar, bila tidak ia salah.Keabsahan dan kebenaran dalam silogisme merupakan satuan yang tidak bisa dipisahkan, untukmendapatkan yang sah dan benar.Hanya konklusi dari premis yang benar prosedur yang sah konklusi itu dapat diakui.Mengapa demikian? Karena bisa terjadi: Dari premis salah dan prosedur valid menghasilkan konklusi yang benar. Demikian juga dari premis salah dan prosedur invalid dihasilkan konklusi benar. 1. 1. Variasi-Variasi(Nasution Hakim, Andi. 2005: 78-82) 1. Prosedur valid, premis salah dan konklusi benar. Semua manusia itu penjahat. (salah) Semua penjahat itu sholeh. (salah) Jadi: Semua penjahat itu manusia. (benar)
    • 1. Prosedur invalid(tak sah),premis benardan konklusi salah. Drs. Roshicin adalah dosen UNISMA. (benar) Prof. Musthofa bukan Drs Rishicin. (benar) Jadi: Prof. Musthofa bukan dosenUNISMA. (salah) 1. Prosedur invalid, premis salahdan konklusi benar. Sebagian mahasiswa adalah batu. (salah) Sebagian manusia adalah batu. (salah) Jadi: Sebagian manusia adalah mahasiswa. (benar) 1. Prosedur valid,premis salah dan konklusi salah. Semua perempuan tidak shalat. (salah) Semua mahasiswa adalah perempuan. (salah) Jadi: Semua mahasiswa tidak shalat. (salah) 1. B. HUKUM-HUKUM SILOGISMESupaya silogisme dapat merupakan jalan pikiran yang baik ada beberapa hukum dalamsilogisme. Hukum tersebtu bukanlah buatan para ahli-pikir, tapi hanya dirumuskan oleh para ahliitu. Di bawah ini hukum-hukum yang menyangkut term-term antara lain: 1. Hukum pertama. Silogisme tidak boleh lebih atau kurang dari tiga term. Kurang dari tiga term berarti bukan silogisme. Jika sekiranya ada empat term, apakah yang akan menjadi pokok perbandingan, tidak mungkinlah orang membandingkan dua hal denga dua hal pula, dan lenyaplah dasar perbandingan. 2. Hukum kedua. Term antara atau tengah (medium) tidak boleh masuk (terdapat) dalam kesimpulan. Term medium hanya dimaksudkan untuk mengadakan perbandingan dengan term-term. Perbadingan ini terjadi dalam premis-premis. Karena itu term medium hanya berguna dalam premis-premis saja. 3. Hukum ketiga. Wilayah term dalam konklusi tidak boleh lebih luas dari wilayah term itu dalam premis. Hukum ini merupakan peringatan, supaya dalam konklusi orang tidak melebih-lebihkan wilayah yang telah diajukan dalam premis. Sering dalam praktek orang tahu juga, bahwa konklusi tidak benar, oleh karena tidak logis (tidak menurut aturan logika), tetapi tidak selalu mudah menunjuk, apa salahnya itu. 4. Term antara (medium) harus sekurang-kurangnya satu kali universal. Jika term antara paticular, baik dalam premis mayor maupun dalam premis minor, mungkin saja term antara itu menunjukkan bagian-bagian yang berlainan dari seluruh luasnya. Kalau demikian term antara, tidak lagi berfungsi sebagai term antara, dan tidak lagi menghubungkan atau memisahkan subyek dengan predikat.Contoh: Beberapa politikus pembohong.
    • Utsman adalah politikus. Utsman adalah pembohong. 1. C. HUKUM-HUKUM PREMIS DALAM SILOGISMESedangkan hukum-hukum yang menyangkut premis-premis (keputusan-keputusan) antara lain:(Mundiri. 1994: 30-48) 1. Jika kedua premis (mayor dan minor) positif, maka kesimpulannya harus positif juga. 2. Kedua premis tidak boleh negatif, sebab term antara (medium) tidak lagi berfungsi sebagai penghubung atau pemisah subyek dengan predikat. Dalam silogisme sekurang- kurangnya subyek atau predikat harus dipersamakan oleh term antara (medium)Contoh: Batu adalah bukan binatang Anjing adalah bukan batu Anjing adalah bukan binatang. 1. Kedua premis tidak boleh particular. Sekurang-kurangnya satu premis harus universal. Kalau tidak, berarti melanggar hukum c, d bagian hukum-hukum term.Contoh: Ada orang kaya tidak tentram hatinya Ada orang jujur bukan orang kaya Orang jujur tidak tentram hatinya. 1. Kesimpulan harus sesuai dengan premis yang paling lemah. Keputusan particular adalah keputusan yang lemah dibandingkan dengan keputusan universal. Keputusan negatif adalah keputusan yang lemah dibandingkan dengan keputusan positif karena itu jika ada satu premis particular, maka kesimpulan harus particular. Jika salah satu premis negatif, maka kesimpulannya harus negatif. Jika salah satu premis negatif dan particular, maka kesimpulannya harus negatif dan particular juga. Kalau tidak akan terjadi ketidak beresan lagi dalam kesimpulan. 1. D. PENARIKAN SIMPULANPenarik simpulan dengan silogisme dibedakan menjadi dua macam 1. Menarik simpulan berdasarkan satu premis(pernyataan)CONTOHPremis[1] : Bujur sangkar adalah segi empat sama sisi.
    • Simpulan : Bujur sangkar pasti segi empat,tetapi segi empat belum tentu bujur sangkar. Segi empat yang sisi-sisinya horisontal tidak sama panjang dengan tegak lurusnya bukan bujur sangkar. 1. Menarik Simpulan berdasarkan berdasarkan dua premis/pernyataan.Silogisme KategorikPremis umum à premis khusus à simpulanKeterangan: A : Semua anggota golongan tertentu B : Sifat atau kegiatan A C : Seseorang atau bagian dari ASilogisme HipotetisSilogisme Disyungtif PU :A=B PK :C=A S :C =B PU : Semua profesor pandai PK : Albert Enstein seorang profesor S : Albert Enstein pandai 1. Silogisme yang diperpendek disebut ENTINEMContoh : C=B karena C=A Albert Enstein pandai karena beliau seorang profesor. 1. E. PENJABARAN SILOGISME BERDASARKAN KATEGORI 1. 1. Silogisme Kategorik 1. PengertianSilogisme Katagorik adalah silogisme yang semua proposisinya merupakan katagorik. Proposisiyang mendukung silogisme disebut dengan premis yang kemudian dapat dibedakan denganpremis mayor (premis yang termnya menjadi predikat), dan premis minor (premis yang termnyamenjadi subjek). Yang menghubungkan diantara kedua premis tersebut adalah term penengah(middle term). (Mundiri. 1994: 44)
    • Contoh: Semua Tanamanmembutuhkan air (premis mayor)……………….M………………..P Akasia adalah Tanaman (premis minor)….S……………………M Akasiamembutuhkan air (konklusi)….S……………..P(S = Subjek, P = Predikat, dan M = Middle term) 1. Hukum-Hukum Silogisme Katagorik (Mundiri. 1994: 45-53). 1. Dari dua premis yang sama-sama negatif, tidak menjadi kesimpulan apa pun, karena tidak ada mata rantai yang menghubungkan kedua proposisi premisnya. Kesimpulan diambil bila sedikitnya salah satu premis positif. Kesimpulan yang ditarik dari dua premis negatif adalah tidak sah.CONTOH (1): Kerbau bukan bunga mawar. Kucing bukan bunga mawar.….. (Tidak ada kesimpulan)CONTOH (2): Tidak satu pun drama yang baik mudah dipertunjukkan. Tidak satu pun drama Shakespeare mudah dipertunjukkan. Jadi: Semua drama Shakespeare adalah baik. (Kesimpulan tidak sah) 1. Paling tidak salah satu dari term penengah harus mencakup. Dari dua premis yang term penengahnya tidak tentu menghasilkan kesimpulan yang salah.CONTOH Semua ikan berdarah dingin. Binatang ini berdarah dingin Jadi: Binatang ini adalah ikan.(Padahal bisa juga binatang melata) 1. Term-predikat dalam kesimpulan harus konsisten dengan term predikat yang ada pada premisnya. Bila tidak, kesimpulan menjadi salah.CONTOH
    • Kerbau adalah binatang. Kambing bukan kerbau. Jadi: Kambing bukan binatang.(‗Binatang‘ pada konklusi merupakan term negatif sedangkan pada premis adalah positif) 1. Term penengah harus bermakna sama, baik dalam premis layor maupun premis minor. Bila term penengah bermakna beda kesimpulan menjadi lain.CONTOH Bulan itu bersinar di langit. Januari adalah bulan. Jadi: Januari bersinar di langit.(Bulan pada premis minor adalah nama dari ukuran waktuyang panjangnya 31 hari, sedangkan pada premis mayorberarti planet yang mengelilingi bumi). 1. Dari dua premis yang sama-sama partikular tidak sah diambil kesimpulan.CONTOH Beberapa politikus tidak jujur. Banyak cendekiawan adalah politikus. Jadi :Banyak cendekiawan tidak jujur. Jadi : Beberapa pedagang adalah kikir. 1. 2. Silogisme Hipotesis 1. PengertianAdalah argumen yang premis mayornya berupa proposisi hipotetik, sedangkan premis minornyaadalah proposisi katagorik. (Arikunto, Suharsimi. 2006: 91) 1. Hukum-Hukum Silogisme HipotesisMengambil konklusi dari silogisme hipotetik jauh lebih mudah dibanding dengan silogismekategorik. Tetapi yang penting di sini dalah menentukan kebenaran konklusinya bila premis-premisnya merupakan pernyataan yang benar. (Arikunto, Suharsimi. 2006: 92)CONTOHBila antecedent kita lambangkan dengan A dan konsekuen dengan B, jadwal hukum silogismehipotetik adalah:1) Bila A terlaksana maka B juga terlaksana.2) Bila A tidak terlaksana maka B tidak terlaksana. (tidak sah = salah)
    • 3) Bila B terlaksana, maka A terlaksana. (tidak sah = salah)4) Bila B tidak terlaksana maka A tidak terlaksana.Kebenaran hukum di atas menjadi jelas dengan penyelidikanberikut: Bila terjadi peperangan harga bahan makanan membubung tinggi. Nah, peperangan terjadi.Jadi harga bahan makanan membubung tinggi.( benar = terlaksana) Benar karena mempunyai hubungan yang diakui kebenarannya, Bila terjadi peperangan harga bahan makanan membubung tinggi. Nah, peperangan terjadi. Jadi harga bahan makanan tidak membubung tinggi (tidak sah = salah) Tidak sah karena kenaikan harga bahan makanan bisa disebabkan oleh sebab atau faktor lain. 1. 3. Silogisme Disyungtif 1. a. PengertianAdalah silogisme yang premis mayornya keputusan disyungtif sedangkan premis minornyakategorik yang mengakui atau mengingkari salah satu alternatif yang disebut oleh premismayor.Seperti pada silogisme hipotetik istilah premis mayor dan premis minor adalah secaraanalog bukan yang semestinya. (Arikunto, Suharsimi. 2006: 97)Maka silogisme Janis ini terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternatif. Proposisialternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah satu alternatifnya. Simpulannya akanmenolak alternatif yang lain. (Arikunto, Suharsimi. 2006:99)CONTOH:My : Kucing berada di dalam rumah atau di luar rumahMn : Kucing berada di luar rumahK : Jadi, kucing tidak berada di dalam rumah 1. b. Macam-Macam Silogisme Disyungtif dan Hukum-Hukumnya 1. Silogisme disyungtif dalam arti sempit.Silogisme disyungtif dalam arti sempit mayornya mempunyai alternatif kontradiktif.CONTOH: la lulus atau tidak lulus. Ternyata ia lulus Jadi la bukan tidak lulus.
    • Hukum Silogisme Dalam Arti Sempit 1. Premis minornya mengingkari salah satu alternatif, konklusi-nya adalah mengakui alternatif yang lain.CONTOH: la berada di luar atau di dalam. Ternyata tidak berada di luar. Jadi ia berada di dalam. 1. Premis minor mengakui salah satu alternatif, kesimpulannya adalah mengingkari alternatif yang lain.CONTOH: Budi di masjid atau di sekolah. la berada di masjid. Jadi ia tidak berada di sekolah. Budi di masjid atau di sekolah. o la berada di sekolah. 1. 2. Silogisme disyungtif dalam arti luas.Silogisme disyungtif dalam arti luas premis mayornya mempunyai alternatif bukan kontradiktif.CONTOH: Hasan di rumah atau di pasar. Ternyata tidak di rumah. Jadi di pasar.Hukum Silogisme Dalam Arti Luas 1. Bila premis minor mengakui salah satu alterna konklusinya sah (benar).CONTOH: Budi menjadi guru atau pelaut. Ia adalah guru. Jadi bukan pelaut. 1. Bila premis minor mengingkari salah satu konklusinya tidak sah (salah)CONTOH (1):
    • Penjahat itu lari ke Solo atau ke Yogya. Ternyata tidak lari ke Yogya. Jadi ia lari ke Solo. (Bisa jadi ia lari ke kota lain).CONTOH (2): Budi menjadi guru atau pelaut. Ternyata ia bukan pelaut. Jadi ia guru. (Bisa jadi ia seorang pedagang) BAB IV CONTOH PEMANFAATAN SILOGISME DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI 1. A. Kajian Seputar Label Halal pada Makanan-Minuman di Indonesia yang Mayoritas Berpenduduk Muslim. 2. 1. Kutipan Keputusan Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia: (http://www.halalguide.info _PDF_POWERED _PDF_GENERATED 10 March, 2007, 03:51)Penetapan Produk Halal Keputusan Fatwa Majelis Ulama IndonesiaTentang Penetapan Produk HalalKEPUTUSAN FATWAKOMISI FATWAMAJELIS ULAMA INDONESIATentangPENETAPAN PRODUK HALALKomisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, dalam Rapat Komisi bersama LPPOM MUI, pada hariRabu tanggal 17 Ramadhan 1421 H/13 Desember 2000 M, setelah:MENIMBANG: Bahwa makanan, minuman, obat-obatan, kosmetika, dan lain-lain yang akan dikonsumsi atau dipergunakan oleh umat Islam wajib diperhatikan dan diyakini kehalalan dan kesuciannya; Bahwa produk makanan, minuman, obat-obatan, kosmetikan dan lain-lain yang merupakan hasil olahan sering diragukan kehalalan atau kesuciannya; Bahwa oleh karena itu, produk-produk olahan sebagaimana terlampir yang terhadapnya telah dilakukan pemeriksaan, penelitian, pembahasan, dan penilaian dalam rapat Komisi
    • Fatwa bersama LPPOM MUI, Komisi Fatwa memandang perlu untuk menetapkan kehalalan dan kesuciannya untuk dijadikan pedoman oleh umat.MENGINGAT : Firman Allah SWT tentang keharusan mengkonsumsi yang halal, antara lain : 1. ―Hai sekalian manusia! Makanlah yang halal lagi balik dari apa yang terdapat dibumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.‖ (QS. Al-Baqarah [2]:168). 2. ―Hai orang yang beriman! Makanlah di antara rezki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah ‖ (QS. Al-Baqarah [2] : 172) 3. ―Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari yang Allah telah rezkikan kepadamu, dan bertawakalah kepada Allah yang kamu beriman kepadaNya‖ (QS. Al- Mai‘dah [5]: 88) 4. ―Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu, dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya menyembah‖ (QS. An-Nahl [16]:114) Firman Allah SWT tentang kehalalan makhluk Allah 1. secara umum, antara lain : 2. ―Dia-lah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu …‖ (QS. Al- Baqarah [2]: 29) 3. ―Katakanlah : ‖ Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapakah yang mengharamkan) rezki yang baik ?‘ Katakanlah : ‗Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan, khususnya (untuk mereka saja) di hari kiamat.‘ Demikianlah kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui‖ (Qs. Al-A‘raf [7] : 32). 4. ―Dan Dia (Allah) telah menundukkan untuk kamu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar- benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir‖ (QS. Al-Jasiyah [45] : 13 ) Firman Allah SWT tentang beberapa jenis makanan (dan minuman) yang diharamkan, antara lain: 1. ―Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Akan tetapi, barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang isi tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha pengampun, Maha penyayang‖ (QS. Al-Baqarah [2] : 173). 2. ‗Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya,
    • dan (diharamkan bagimu memakan hewan) yang disembelih untuk berhala…‖(QS. Al- Ma‘idah [5]: 3) 3. ―Katakanlah Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, darah yang mengalir, atau daging babi –karena sesungguhnya semua itu kotor atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barang siapa yang dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang isi tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun, Maha Penyayang‖ (QS. Al- An‘am [6]:145) 4. ―Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Akan tetapi, barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang isi tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang‖ (QS. Al-Baqarah [2] : 173). 5. ―….dan ia (Nabi) mengharamkan bagi mereka segala yang buruk…‖ (QS. Al-A‘raf [7] : 157),Maksud buruk (khaba‘its) di sini menurut ulama adalah najis. 1. ―… Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan….‖ (QS. Al- Baqarah [2] : 195). Hadist-hadist Nabi berkenaan dengan kehalalan maupun keharaman sesuatu yang dikonsumsi, antara lain: 1. ―Wahai umat manusia ! Sesungguhnya Allah adalah thayyib (baik), tidak akan menerima kecuali yang thayyib (baik dan halal); dan Allah memerintahkan kepada orang beriman segala apa yang ia perintahkan kepada para rasul. Ia berfirman, ‗Hai rasul-rasul! Makanlah dari makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan‘ (QS. al-Mu‘minun [23]: 51), dan berfirman pula, ‗Hai orang yang berfirman ! Makanlah di antara rizki yang baik- baik yang Kami berikan kepadamu…‘(QS al-Bagarah [2]: 172).` 2. Kemudian nabi menceritakan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan panjang, rambutnya acakacakan, dan badan berlumur debu. Sambil menengadah tangan ke langit ia berdoa,‘ya tuhan, ya tuhan..‘(berdoa dalam perjalanan, apalagi dengan kondisi seperti itu, pada umumnya dikabulkan oleh Allah—pen) sedangkan, makanan orang itu haram, minumananya haram, pakaiannya haram, dan ia selalu menyantap yang haram. (Nabi memberi komentar),‘jika demikian halnya, bagaimana mingkin ia akan dikabulkan doanya?‖ (HR.Muslim dari Abu Hurairah). 3. ―yang halal itu sudah jelas dan yang haram pun sudah jelas; dan diantara keduanya ada hal-hal yang musytabihat (Syubhat, samara-samar, tidak jelas halal haramnya), kebanyakan manusia tidak mengetahui hukumnya. Barang siapa hati-hati dari perkara syubhat, sungguh ia telah menyelamatkan agama dan harga dirinya..‖(HR.Muslim) 4. ―Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh (pula) membahayakan orang lain‖(HR.Ahmad dan Ibnu Majah dari Ibnu Abbas dan Ubadah bin Shamit).
    • 5. ―Yang halal adalah sesuatu yang dihalalkan oleh Allah dalam kitab-Nya, dan yang haram adalah apa yang diharamkan oleh Allah dalam kitab-Nya; sedang yang tidak dijelaskan- Nya adalah yang dimaafkan‘(nail al-Authar;8:106) 6. ―Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban; janganlah kamu abaikan, telah menetapkan beberapa batasan, janganlah kamu langgar, telah mengharamkan beberapa hal, janganlah kamu rusak, dan tidak menjelaskan beberapa hal sebagai kasis sayang kepadamu, bukan karena lupa, maka janganlah kamu Tanya-tanya hukumnya‖ (HR. Daraquthni dan dinilai sahih oleh Imam Nawawi). Kaidah fiqih: 1. ―Hukum asal sesuatu yang bermanfaat adalah boleh dan hukum asal sesuatu yang berbahaya adalah haram‖. 2. ―Hukum asal mengenai sesuatu adalah boleh selama tidak ada dalil muktabar yang mengharamkannya.‖ Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tanga MUI periode 2000-2005. Pedoman Penetapan Fatwa MUI.MEMPERHATIKAN : Berita Acara hasil audit terhadap sejumlah produk olahan dan penjelasan Direktur LP.POM-MUI, serta saran dan pendapat peserta rapat dalam rapat bersama dimaksud.