KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Konflik Israel-Palestina boleh jadi merupakan konflik yan...
KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 2
yang menjadi korban keganasan agresi meliter Israel diungkapkan dalam berbagai bentuk
solidar...
KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 3
rivals. Pengertian ini menunjukkan bahwa konflik sosial meliputi spektrum yang lebar
dengan m...
KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 4
Jalur Gaza (bahasa Arab: ‫طاع‬ ‫ق‬ ‫غزة‬ Qiṭ āʿ Ġazzah, IPA: [qɪ ˈtˤ ɑ ː ʕ ˈɣ azza])
adalah s...
KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 5
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah
Konflik antara Israel – Palestina di latarbelakagi oleh klaim ke...
KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 6
Ottoman yang paling lama menguasai Palestina yakni selama hampir 750 tahun dari tahun
1187 hi...
KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 7
3. Perang 1947 – 1949
Sementara secara luas dilaporkan, bahwa peperangan yang dihasilkan akhi...
KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 8
5. Konflik Masa Kini
Ada dua isu utama pada batang tubuh (core) konflik berkepanjangan ini:
P...
KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 9
C. Mengurai Konflik Israel-Palestina
Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, konflik Israel-...
KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 10
atas perjanjian itu ditandai dengan masuk Islamnya Abdullah bin Salam, seorang rabi
terpanda...
KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 11
Yahudi menganggap Palestina sebagai “tanah yang dijanjikan” dan mayoritas
mereka meyakini ba...
KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 12
D. Kronologi dan Anatomi Konflik Israel-Palestina
Tahun Pristiwa Deskripsi
1917 Deklarasi Ba...
KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 13
Israel menghadapi gabungan tiga negara
Arab: Mesir, Yordania dan Suriah, yang
mendapatkan ba...
KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 14
Libanon Selatan.
1990-
1991
Perang Teluk
1993
Kesepakatan
damai antara
Palestina dan
Israel
...
KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 15
dan Ariel Sharon di Yerusalem.
Mahmud Abbas mengulur Jadwal
Pemili karena mengkhawatirkan
ke...
KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 16
Korban sipil yang tewas akibat konflik Israel Palestina,
data berasal dari B'tselem dan Keme...
KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 17
E. Harapan Masa Depan Palestina ... Era Obama?
Apakah masa depan Palestin era pemerintahan B...
KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 18
ramai dikalangan Yahudi di sana yang memegang jawatan-jawatan strategik negara termasuk
dala...
KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 19
G. Langkah Langkah Untuk Membebaskan
Palestin
Beberapa langkah boleh dikenal pasti ke arah p...
KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 20
Dari segi sejarah pula, sudah terbukti bahawa apabila Palestin di bawah
pemerintahan Islam, ...
KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 21
Walaupun digambarkan di atas bahawa Obama sudah mula berlembut denganIslam, ia
bukanlah suat...
KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 22
Akibat daripada itu segelintir para pemimpin mereka telah memilih bumi
Palestin sebagai temp...
KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 23
PENUTUP
A. Penutup
Menyantuni konflik Palestin ini bukanlah suatu perkara yang mudah,
menang...
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

makalah KONFLIK ISRAEL - PALESTINA

8,607

Published on

0 Comments
3 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
8,607
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
279
Comments
0
Likes
3
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Transcript of "makalah KONFLIK ISRAEL - PALESTINA"

  1. 1. KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Konflik Israel-Palestina boleh jadi merupakan konflik yang memakan waktu panjang setelah Perang Salib yang pernah terjadi antara dunia Timur dan Barat di sekitar abad keduabelas. Konflik yang telah berlangsung enam puluhan tahun ini menjadi konflik cukup akut yang menyita perhatian masyarakat dunia. Apa yang pernah diprediksi Amerika melalui Menteri Luar Negerinya, Condoleezza Rice, pada Konfrensi Perdamaian Timur Tengah November 2008 lalu, sebagai “pekerjaan sulit namun bukan berarti tidak dapat ditempuh dengan kerja keras dan pengorbanan” bagi penyelesaian konflik Israel-Palestina, semakin menunjukkan bahwa perdamaian Israel-Palestina memang sulit diwujudkan. Pasalnya, akhir 2008 yang diprediksi dunia Internasional (dalam hal ini Amerika) sebagai puncak penyelesaian konfik Israel-Palestina justru menampakkan kondisi sebaliknya. Agresi meliter Israel ke Jalur Gaza yang dilancarkan sebulan terakhir ini semakin memperkuat keraguan banyak pihak atas keberhasilan konfrensi tersebut. Tercatat tidak kurang dari seribu lebih warga Palestina mengalami korban jiwa dan lebih dari dua ribu korban luka lainnya dalam waktu sepekan serangan udara yang dilancarkan pasukan Israel ke Jalur Gaza. Tidak hanya sampai di situ, Israel bahkan mulai melakukan serangan darat dengan dalih ingin melucuti sisa-sisa roket yang dimiliki pejuang Hamas, sebuah gerakan perlawanan Islam di Palestina yang menjadi alasan penyerangan Israel ke wilayah tersebut. Sulit dibayangkan, jika serangan udara Israel dalam waktu satu minggu telah menelan demikian banyak korban, keadaannya tentu akan semakin parah setelah Israel melancarkan serangan daratnya, dan kondisi ini terbukti dengan jatuhnya korban jiwa melibihi angka seribu dan ribuan korban luka lainnya. Agresi meliter Israel ke Jalur Gaza beberapa waktu terakhir benar-benar menarik perhatian banyak pihak, tidak saja dari kalangan masyarakat muslim melainkan hampir seluruh masyarakat dunia. Keprihatinan dan simpati masyarakat dunia akan kondisi Palestina
  2. 2. KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 2 yang menjadi korban keganasan agresi meliter Israel diungkapkan dalam berbagai bentuk solidaritas, mulai dari aksi kecamanan, kutukan dan penolakan terhadap tindakan Israel hingga pengiriman bantuan kemanusiaan dalam berbagai bentuk, seperti tenaga medis, makanan serta obat-obatan. Atas nama kemanusiaan, solidaritas semacam ini wajar dilakukan. Namun yang cukup menarik dari sekian banyak solidaritas yang ditujukan pada korban Palestina adalah simpati dan dukungan yang datang dari masyarakat Islam. Lebih dari sekedar memberikan bantuan kemanusiaan pada masyarakat Palestina, beberapa institusi dan ormas Islam bahkan siap mengirimkan tenaga relawannya sebagai “pasukan jihad”. Fakta yang cukup sulit untuk dibantah, bahwa konflik Israel-Palestina berhasil membangun stigma di tengah masyarakat Islam sebagai konflik bernuansa agama. Pandangan ini setidaknya dibangun berdasarkan asumsi bahwa Palestina diyakini sebagai salah satu simbol spiritualitas Islam, dan korban yang berjatuhan di tanah Palestina secara umum adalah masyarakat Islam. Istilah “jihad” sendiri merupakan terminologi dalam ajaran Islam yang mengandung pengertian perang yang dilakukan di jalan Allah, sehingga jika jihad dapat ditolerir dalam kasus ini, maka semakin sulit membangun fondasi keyakinan di tengah masyarakat Islam tentang adanya “fakta lain“ di balik situasi konflik yang sejak lama terjadi antara Israel dan Palestina. Fakta lain yang penulis maksud adalah dimensi politik yang juga demikian kental dalam konflik Israel-Palestina. Fakta ini setidaknya ditunjukkan dengan keberpihakan Amerika Serikat sebagai negara adidaya pada Israel. Keberpihakan tersebut semakin terlihat jelas ketika tidak kurang dari puluhan resolusi yang dikeluarkan PBB untuk konflik Israel- Palestina kerap “dimentahkan“ Amerika dengan vetonya. Ada hal lain yang lebih menarik, sunyinya sauara negara-negara Arab (khususnya Saudi Arabia yang dalam banyak hal dianggap sebagai “kampung halaman Islam”, dan berteman dekat dengan Amerika) semakin memperlihatkan nuansa politik yang cukup kontras dalam kasus ini. Konflik Israel-Palestina dengan sendirinya dapat diposisikan sebagai konflik sosial mengingat kasus ini dapat disoroti dari beberapa aspek: politik dan teologi. Konflik sosial sendiri – sebagaimana dikatakan Oberschall mengutip Coser– diartikan sebagai ―…a strugle over values or claims to status, power, and scare resource, in wich the aims of the conflict groups are not only to gain the desired values, but also to neutralise injure or eliminate
  3. 3. KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 3 rivals. Pengertian ini menunjukkan bahwa konflik sosial meliputi spektrum yang lebar dengan melibatkan berbagi konflik yang membingkainya, seperti: konflik antar kelas (social class conflict), konflik ras (ethnics and racial conflicts), konflik antar pemeluk agama (religions conflict), konflik antar komunitas (communal conflict), dan lain sebagainya. Dalam kasus Israel-Palsestina, aspek politik bukanlah satu-satunya dimensi yang dapat digunakan untuk menyoroti konflik kedua negara tersebut, demikian halnya dengan dimensi teologis yang oleh banyak pihak dianggap tidak ada hubungannya dengan konflik ini. Sebagian pihak memandang konflik Israel-Palsetina murni sebagai konflik politik, sementara sebagian yang lain memandang konflik ini sarat dengan nuansa teologis. Nuansa teologis dalam konflik Israel-Palestina bukan saja ditunjukkan dengan terbangunnya stigma perang Yahudi-Islam, akan tetapi kekayikan terhadap “tanah yang dijanjikan” sebagai tradisi teologis Yahudi juga tidak dapat dipisahkan dalam kasus ini. Oleh karenanya, tidak ada dari kedua aspek di atas (politik dan teologi) yang dapat dianggap lebih tepat sebagai pemicu konflik Israel-Palestina, karena sepanjang sejarahnya kedua aspek tersebut turut mewarnai konflik B. Jalur Gaza
  4. 4. KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 4 Jalur Gaza (bahasa Arab: ‫طاع‬ ‫ق‬ ‫غزة‬ Qiṭ āʿ Ġazzah, IPA: [qɪ ˈtˤ ɑ ː ʕ ˈɣ azza]) adalah sebuah kawasan yang terletak di pantai timur Laut Tengah, berbatasan dengan Mesir di sebelah barat daya (11 km), dan Israel di sebelah timur dan utara (51 km (32 mil)). Jalur Gaza memiliki panjang sekitar 41 kilometer (25 mil) dan lebar antara 6 to 12 kilometers (3,7 hingga 7,5 mil), dengan luas total 365 km² (141 mil²).[1] Populasi di Jalur Gaza berjumlah sekitar 1,7 juta jiwa.[2] Mayoritas penduduknya besar dan lahir di Jalur Gaza, selebihnya merupakan pengungsi Palestina[3] yang melarikan diri ke Gaza setelah meletusnya Perang Arab-Israel 1948. Populasi di Jalur Gaza didominasi olehMuslim Sunni. Tingkat pertumbuhan penduduknya pertahun mencapai angka 3,2%, menjadikannya sebagai wilayah dengan laju pertumbuhan penduduk tertinggi ke-7 di dunia. Jalur Gaza memperoleh batas-batasnya saat ini pada akhir perang tahun 1948, yang ditetapkan melalui Perjanjian Gencatan Senjata Israel-Mesir pada tanggal 24 Februari 1949. Pasal V dari perjanjian ini menyatakan bahwa garis demarkasi di Jalur Gaza bukanlah merupakan perbatasan internasional. Jalur Gaza selanjutnya diduduki oleh Mesir. Pada awalnya, Jalur Gaza secara resmi dikelola olehPemerintahan Seluruh Palestina, yang didirikan oleh Liga Arab pada bulan September 1948. Sejak pembubaran Pemerintahan Seluruh Palestina pada tahun 1959 hingga 1967, Jalur Gaza secara langsung dikelola oleh seorang gubernur militer Mesir. Israel merebut dan menduduki Jalur Gaza dalam Perang Enam Hari pada tahun 1967. Berdasarkan Persetujuan Damai Oslo yang disahkan pada tahun 1993, Otoritas Palestina ditetapkan sebagai badan administratif yang mengelola pusat kependudukan Palestina. Israel mempertahankan kontrolnya terhadap Jalur Gaza di wilayah udara, wilayah perairan, dan lintas perbatasan darat dengan Mesir. Israel secara sepihak menarik diri dari Jalur Gaza pada tahun 2005. Jalur Gaza merupakan bagian dari teritori Palestina.Sejak bulan Juli 2007, setelah pemilihan umum legislatif Palestina 2006 dan setelah Pertempuran Gaza, Hamas menjadi penguasa de facto di Jalur Gaza, yang kemudian membentuk Pemerintahan Hamas di Gaza.
  5. 5. KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 5 BAB II PEMBAHASAN A. Sejarah Konflik antara Israel – Palestina di latarbelakagi oleh klaim kedua bangsa tersebut atas wilayah yang sama, yakni Palestina. Seperti yang dikemukakan oleh Kriesberg (1998) bahwa suatu konflik akan muncul ketika dua atau lebih orang atau kelompok memiliki keinginan aytau tujuan yang saling bertentangan, “A conflict exists when two or more persons or groups manifest they belief that they have incompatible goals maka kedua belah pihak tersebut pun telah sejak lama berperang untuk memperebtkan wilayah ini. Sejarah membuktikan bahwa klaim kepemilikan atas wilayah Palestina memang cukup sulit untuk diputuskan. 3000thn yang lalu penamaan “Israel “ dan “palestina” berasal dari dua bangsa yang masuk ke wilayah tersebut pada waktu yang bersamaan, yakni abad ke-12. Kata Israel berasal dari bangsa Yahhudi yang menyebut diri mereka Bnei Israel (the people or tribe of Israel), yang mana mempercayai bahwa tanah tersebut telah diberikan kepada mereka oleh Tuhan (Eretz Israel/Land of Israel). Sedangkan kata Palestina berasal dari bangsa Philistines, yaitu masyarakat asli Yunani, yang menetap dddi sekitar pantai Palestina bersamaan ketika Yahuddi menguadsai bukit-bukit di bagian dalam wilayah tersebut. Hampir dua ratus tahun kemudian Yahudi bersatu untuk mengalahan Philistines dan masyarakat lain yang berada di Palestina. Tak lama setelah itu Kerajaan Israel pun kemudian berdiri sekitar tahun 1000SM. Hingga tahun 800-an SM Kerajaan Israel masih berkuasa atas tanah palestina. Namun ketika bangsa asing datang dan melakukan penjajahan terhadap Palestina, Yahudi di usir dan terpaksa mengungsi ke wilayah-wilayah lain seperti Eropa ddan Mesopotamia (kini Irak). Pada tahun 700-an SM, kerajaan tersebut mulai ditaklukan oleh kerajaan-kerajaan lain secara berturut-turut yakni Assyria , Babylon , ddan Romawi sebagai bagian dari rencana perluasan pengaruh kerajaan. Setelah dikuasai oleh Romawi, penakhlik terhadap Palestina mulai dilakukan atas dasar penyebaran agama. Agama yg pertama kali menguasai Palestina adalah agama Islam yg dibawa oleh pasukan gurun dan kemudian Agama Kristen yg dibawa oleh Crusadder. Tak lama setelah Crusader berkuasa, Palestina diambil alih oleh Ottoman.
  6. 6. KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 6 Ottoman yang paling lama menguasai Palestina yakni selama hampir 750 tahun dari tahun 1187 hingga 1918. Dan selama dalam penguasaan Ottoman bangasa yang paling ddominan saat itu adalah bangsa Arab yang mayoritas beragama Islam. B. Ringkasan Singkat Konflik Israel – Palestina Setelah terusirnya bangsa Yahudi dara tanah Israel, berabad-abad dapat dikatakan tidak ada konflik di Palestina. Pada abad 19 hamparan tanah (wilayah) di sana dihuni oleh penduduk yang terdiri dari berbagai budaya/umat. Kira-kira 86% Muslim, 10% Kristen, dan 4% kaum Yahudi yang hidup rukun dan damai. 1. Zionisme Pada akhir tahun 1800, sebuah kelompok di Eropa berkeinginan untuk menguasai tanah ini. Dikenal sebagai Zionist, yaitu mereka yang mewakili kaum minoritas ekstrim bangsa Yahudi. Tujuan mereka adalah menciptakan Tanah Air bagi orang Yahudi. Mereka pernah mempertimbangkan beberapa lokasi di Afrika dan di Amerika, sebelum akhirnya menetapkan tanah Palestina yang akan dijadikan tempat tujuan. Mula-mula, imigrasi ini tidak menimbulkan masalah.Namun demikian, ketika makin banyak lagi kaum Zionist berimigrasi ke Palestina – banyak yang menyatakan keinginannya terang-terangan akan mengambil alih tanah Palestina untuk Negara Yahudi – penduduk asli menjadi makin lama tersadarkan. Akhirnya pekelahian pecah, dengan gelombang kerusuhan yang meningkat. Ketika Hittler mulai berkuasa, dibarengi dengan kegiatan Zionist untuk melakukan sabotase atas usaha penempatan pengungsi Yahudi di Negara-negara barat, menjadikan meningkatnya imigrasi kaum Yahudi ke Palestina, dan konflik tumbuh membesar. 2. Rancangan Partisipasi Perserikatan Bangsa-Bangsa Akhirnya PBB memutuskan untuk turun tangan. Namun demikian, tidak dengan mengajukan prinsip “rakyat menentukan nasibnya sendiri”, dimana rakyat menciptakan negara mereka dan sistim pemerintahannya, PBB memilih untuk mengaitkan ke belakang pada strategi abad pertengahan, yang mana memberi kesempatan bagi kekuatan luar membagi tanah orang lain. Dibawah tekanan yang cukup besar dari Zionist, PBB mengusulkan melepas 55% tanah Palestina untuk digunakan sebagai Negara Yahudi – menepis kenyataan bahwa kelompok ini meliputi hanya 30% dari total penduduk, dan memiliki hanya 7% tanah.
  7. 7. KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 7 3. Perang 1947 – 1949 Sementara secara luas dilaporkan, bahwa peperangan yang dihasilkan akhirnya melibatkan tentara dari 5 Negara Arab, tak banyak diketahui bahwa faktanya, selama peperangan terjadi, kekuatan Angkatan Bersenjata Zionist jauh melampaui seluruh kekuatan pasukan Arab dan Palestina, sering melebihi hingga 2 atau 3 kalinya. Apalagi tentara Arab tidak sampai menginvasi Israel, terlihat jelas bahwa kancah peperangan hanya berada di tanah/wilayah/negara Palestina. Akhirnya, dan ini sangat berarti untuk dicatat, bahwa tentara Arab masuk dalam konflik hanya setelah pasukan Zionist telah menyatakan berhasil melakukan 16 pembantaian, termasuk pembantaian miris terhadap 100 laki-laki, wanita dan anak-anak di Deir Yassin. Dan secara keseluruhan tentara Zionis telah berhasil melakukan pembantaian di 33 lokasi. Pada akhir peperangan, Israel telah menaklukkan 78% kekuasaan Palestina; ¾ rakyat Palestina menjadi pengungsi; lebih dari 500 kota dan desa dienyahkan; dan peta baru ditetapkan, yang mana setiap kota besar, sungai, dan wilayahnya diberi nama baru dengan bahasa Hebrew, dan segala peninggalan budaya Palestina kemudian dihapus. Dalam beberapa dekade Isreal menyangkal keberadaan dari penduduk Palestina tersebut, sebagaimana Perdana Menteri Golda Meir mengatakan: “Tak ada sesuatu yang bisa disebut sebagai Bangsa Palestina” 4. Perang 1967 & USS Liberty Di tahun 1967, Israel menaklukkan lagi tanah-tanah Palestina. Menyertai “Perang 6 Hari”, dimana pasukan Israel melancarkan penyerangan mendadak ke Mesir yang meraih sukses besar, Israel berhasil menguasai sisa 22% tanah Palestina, meliputi West Bank dan Jalur Gaza. Karena, sesuai ketentuan hukum internasional yang tak mengijinkan untuk menguasai wilayah melalui perang, tanah yang dikuasai ini tidak termasuk wilayah Israel. Demikian juga meliputi wilayah Mesir yang kemudian dikembalikan dan wilayah Suria yang sekarang masih diduduki. Juga selama Perang 6 Hari, Israel menyerang Kapal Perang Amerika, The USS Liberty, menewaskan dan melukai lebih dari 200 awak kapalnya. Presiden Lyndon Johnson menyebutnya kecelakaan penyerangan bala bantuan, untuk tidak mempermalukan sekutunya. ( Dalam catatan Moorer, mantan Kepala Staf Gabungan, didapati bahwa penyerangan ini sebetulnya “aksi perang melawan Amerika”, fakta yang hanya ditayangkan oleh sedikit Media.
  8. 8. KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 8 5. Konflik Masa Kini Ada dua isu utama pada batang tubuh (core) konflik berkepanjangan ini: Pertama, ada akibat yang tak terhindarkan, mundulnya konsep untuk mewujudkan lahirnya sebuah Negara yang mendasarkan pada kesamaan ethnik, terutama ketika sebagian besar lahir di luar negeri. Padahal penduduk asli dari yang sekarang disebut Israel, dulu 96% adalah Muslim dan orang-orang Kristen, namun, para pengungsi ini dilarang kembali untuk menempati rumah mereka lagi, yang telah secara sepihak dinyatakan sebagai Negara Yahudi. ( dan di seluruh Israel terjadi diskriminasi) Kedua, pendudukan yang terus menerus dilakukan tentara Israel dan perampasan tanah milik perorangan di West Bank dan juga pengendalian Jalur Gaza sangatlah opresif, dengan rakyat Palestina hanya sedikit memiliki kewenangan atas tanah mereka sendiri. Lebih dari 10.000 orang Palestina, laki-laki, perempuan dan anak-anak dijebloskan ke penjara. Hanya sedikit dari mereka yang diadili dengan selayaknya. Penyiksaan adalah hal yang biasa ditemui. Secara periodik laki-laki, perempuan, dan anak-anak dilucuti dalam pemeriksaan; rakyat dipukuli, perempuan melahirkan dilarang dibawa ke rumah sakit; makanan dan obat- obatan dilarang memasuki wilayah Gaza, membuahkan meningkatnya krisis kemanusiaan. Tentara Israel menginvasi tiap hari, menimbulkan luka-luka, melakukan penculikan dan kadang membunuh penduduk. Sesuai kesepakatan perjanjian damai Oslo tahun 1993, sebenarnya wilayah ini harus menjadi Negara Palestina akhirnya. Namun demikan, setelah bertahun-tahun penguasaan Israel, dengan disertai perampasan dan penyitaan yang dilakukan, keadaan terus menerus menjadi lebih buruk, hingga membuat penduduk Palestina berontak, sebelum negaranya terbentuk. Pecahnya pemberontakan ini dinamai “Intifada” yang dimulai pada bulan September tahun 2000. 6. Keterlibatan Amerika Hasil terbesar akibat dari lobby dengan kepentingan khusus bagi kaum Yahudi, Pembayar Pajak Amerika merelakan harta miliknya kepada Israel US$ 8 juta tiap harinya, dan sejak terciptanya Negara Israel, mereka menyumbangkan dana kepada Israel melebihi sumbangan kepada negara manapun. Sekarang banyak rakyat Amerika yang makin menyadari bagaimana Israel menggunakan/menghabiskan pemberian mereka, dan berniat mengakhiri.
  9. 9. KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 9 C. Mengurai Konflik Israel-Palestina Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, konflik Israel-Palestina seringkali dipahami sebagai konflik Yahudi-Islam dan hal ini berhasil mensugesti hampir seluruh dunia Islam untuk membeci Yahudi dengan segala macam “derivasinya”. Sikap anti-pati terhadap Yahudi di kalangan mayoritas Islam bahkan telah ditanamkan demikian mengakar mulai dari lingkungan keluarga hingga institusi pendidikann Islam. Yahudi kerap digambarkan sebagai makhluk berwatak jelek, berwajah bengis dan berhati keji, sehingga tidak heran jika kemudian istilah “Yahudi” dijadikan sebagai bahasa cemooh untuk menyebutkan orang yang “bersifat jelek”. Segala kemungkinan bisa saja terjadi ketika kebencian telah dijadikan sebagai landasan untuk berpikir dan bertindak. Dalam konflik Israel-Palestina misalnya, seruan agar umat Islam bersatu untuk melawan Zionis-Yahudi bukan sesuatu yang aneh disuarakan meski dengan alasan yang masih sulit ditebak: apakah merasa senasib dengan warga Islam Palestina, atau justru dipicu oleh kebencian terhadap Yahudi yang telah jauh ditanamkan. Sebaliknya, umat Islam dunia bahkan sulit untuk memberikan dukungan kepada pihak mana ketika terjadi perang Saudara Sunni-Syiah di wilayah Timur tengah, tetap saja sebagai perang melibatkan korban jiwa yang tidak dapat ditolerir secara kemanusiaan. Hampir mustahil melacak kronologis sejak kapan umat Islam dididik untuk membenci Yahudi, namun fakta yang ada justru menunjukkan hubungan keduanya cukup baik sepanjang sejarah umat Islam awal hingga periode pertengahan. Dalam literatur Islam orang Yahudi diabadikan sejarah sebagai orang yang pernah menjadi sekretaris nabi khususnya untuk keperluan korespondensi luar negeri, bahkan nabi juga menunjukkan toleransinya kepada Yahudi dengan berpuasa pada saat mereka berpuasa. Pada periode Islam di Spanyol, umat Islam, Yahudi, dan Kristen bersama-sama membangun dan menghasilkan sebuah peradaban yang berpengaruh pada Renaisance Eropa. Memang kerukunan yang terjalin antara umat Islam dan Yahudi bukan berarti tanpa konflik. Ketika pengaruh Muhammad semakin kuat dan daya imbau agama yang diajarkannya semakin terasa di kalangan Yahudi, para pemuka agama Yahudi mulai mengabaikan perjanjian damai yang pernah dibuat dengan umat Islam. Pengabaian terbuka
  10. 10. KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 10 atas perjanjian itu ditandai dengan masuk Islamnya Abdullah bin Salam, seorang rabi terpandang Yahudi yang sempat membujuk keluarganya untuk masuk ke agama Islam. Kondisi ini membuat Yahudi merasa terancam dan mulai melancarkan serangan teologis terhadap Muhammad dengan sejumlah pertanyaan dan perdebatan mengenai pokok-pokok dasar agama Islam. Kebijakan resmi untuk memerangi Yahudi digariskan Muhammad sejak pristiwa pelecehan seorang wanita muslim oleh sekelompok Yahudi bani Qainuqa. Sejak saat itu, satu persatu kelompok Yahudi diusir dari Madinah karena terbukti mendukung pihak Makkah. Kondisi ini – sebagaimana ditulis Hamid Basyaib – jelas menunjukkan pertikaian yang disebabkan oleh masalah politik. Hingga terjadi konflik Israel-Palestina yang dalam banyak hal dipandang sebagai konflik Yahudi-Islam, analisis tentang masalah politik sebagai pemicu konflik juga banyak digulirkan berbagai pihak. Konflik ini misalnya, merupakan konflik yang dipicu oleh klaim hak atas tanah Palestina dari kedua pihak yang bertikai. Seperti ditulis Trias Kuncahyono, Israel selalu mengatakan posisi legal internasional mereka atas Jerusalem berasal dari mandat Palestina (Palestine Mandate, 24 Juli 1922). Di pihak lain, Palestina juga menyatakan Jerusalem (al Quds) akan menjadi ibu kota negara Palestina Merdeka di masa mendatang atas dasar klaim pada agama, sejarah dan jumlah penduduk di kota itu.Pertikaian kedua belah pihak pada akhirnya sulit dihindari, sebab klaim hak atas tanah Palestina bukan sekedar menyangkut latar belakang sejarah dan wilyah politik, melainkan masalah simbol spiritualitas besar bagi kedua pihak. Trias Kuncahyono mengutip Dershowitz menuliskan, pembagian Jerusalem – menjadi bagian Israel dan bagian Palestina – sulit untuk dilaksanakan karena peta demografi tidak mudah diubah menjadi peta politik. Meskipun peta tersebut telah terbagi sebagai wilayah yang dihuni orang-orang Israel dan wilyah lain yang dihuni orang-orang Palestina, Jerusalem akan semakin sulit dibagi karena ia merupakan simbol tiga agama besar yang letaknya saling berdekatan. Jerusalem adalah pusat Yudaisme, tempat disalibnya Yesus dan kebangkitan serta kenaikannya ke surga, dan tempat yang diyakini umat Islam sebagai bagian dari perjalanan spiritualitas Muhammad ketika mengalami perjalanan malam dari Masjid al Haram ke Masjid al Aqsha dan naik ke Sidratul Munthaha.
  11. 11. KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 11 Yahudi menganggap Palestina sebagai “tanah yang dijanjikan” dan mayoritas mereka meyakini bahwa Yerusalem harus kembali menjadi ibu kota Israel sebagai intervensi Tuhan untuk mengembalikan hak bangsa Yahudi yang selama ini tertindas. Pandangan ini mengakibatkan pergeseran paradigma politik yang mewarnai konflik Israel-Palestina ke paradigma teologis. Apalagi, mitos yang kerap dikembangkan untuk memberikan identitas pada Yahudi, adalah: “bangsa tanpa tanah untuk tanah tanpa bangsa”. Streotipe tentang Yahudi sebagai “bangsa yang terusir dari tanahnya” ini juga telah berhasil membentuk konsep teologis orang-orang Yahudi, bahwa – seperti ditulis Karen Armstong – Tuhan memulai penciptaan dengan tindakan yang kejam karena keinginan untuk membuat dirinya dikenal oleh para makhluknya. Keterkucilan dan pengasingan Yahudi bahkan pernah di alami Adam sebelumnya, karena dosa yang dilakukan Adam membuat ia terusir dari surga. Demikian Yahudi, mengembara ke seluruh penjuru dunia, menjadi terkucil selamanya, dan merindukan penyatuan kembali dengan Tuhan. Ada mitos lain yang menarik menyangkut konsep teologi Yahudi, yaitu penantian terhadap datangnya sorang Messiah selama berabad-abad yang diharapkan akan membawa keadilan dan perdamaian. Dalam keyakinan Yeshiva, sebuah sekte yang didirikan R. Shalom Dov Ber yang sangat khawatir terhadap masa depan agama Yahudi, mereka akan menjadi prajurit dalam pasukan rabi yang akan berperang tanpa kenal ampun dan kompromi untuk memastikan agama Yahudi sejati tetap bertahan, dan perjuangan mereka akan meratakan jalan bagi kedatangan Messiah.Cukup beralasan jika kemudian keyakinan Yeshiva ini dipahami dengan pandangan: Messiah hanya akan turun ketika terjadi keberutalan dan peperangan (ingat mitos penciptaan Luria). Jika ditinjau dari latar belakang sejarah, konflik Israel-Palestina merupakan bagian dari konflik Arab-Israel yang lebih luas sejak 1940-an. Agresi Meliter Israel terakhir yang dilancarkan sejak 26 Desember 2008 pada prinsipnya merupakan bagian yang tidak terpisah dari konflik Israel-Palestina sebelumnya. Untuk lebih jelasnya, kronologi konflik Israel- Palestina dapat dipahami sebagaimana penjelasan berikut:
  12. 12. KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 12 D. Kronologi dan Anatomi Konflik Israel-Palestina Tahun Pristiwa Deskripsi 1917 Deklarasi Balfour 2 November 1917 Inggris memenangkan Deklarasi Balfour yang dipandang pihak Yahudi dan Arab sebagai janji untuk mendirikan tanah air bagi kaum Yahudi di Palestina. 1922 Mandat Palestina 1936- 1939 Revolusi Arab Pimpinan Amin al Husein yang menyebabkan tidak kurang 5000 warga Arab terbunuh 1947 Rencana pembagian wilayah oleh PBB 29 November 1947, Perserikatan Bangsa-Bangsa menyetujui untuk mengakhiri Mandat Britania untuk Palestina dari tanggal 1 Agustus 1948 dengan pemecahan wilayah mandat 1948 Deklarasi Negara Israel Israel diproklamirkan pada tanggal 14 Mei 1948, sehari kemudian langsung diserang oleh tentara dari Libanon, Yordania, Mesir, Irak, dan negara Arab lainnya. Israel berhasil memenangkan peperangan dan merebut +70% dari luas total wilayah mandat PBB Britania Raya. 1949 Perseteujuan gencatan senjata 3 April 1949, Israel dan Arab sepakat untuk melakukan gencatan senjata. Israel mendapat kelebihan 50 persen lebih banyak dari yang diputuskan rencana pemisahan PBB 1956 Perang Suez 29 Oktober 1965, Krisis Suez, sebuah serangan meliter terhadap Mesir dilakukan oleh Britania Raya, Perancis dan Israel. 1964 Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) berdiri Mei 1964, Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) resmi berdiri, tujuannya untuk menghancurkan Israel. 1967 Perang enam hari Dikenal dengan perang Arab-Israel 1967, merupakan peperangan antara
  13. 13. KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 13 Israel menghadapi gabungan tiga negara Arab: Mesir, Yordania dan Suriah, yang mendapatkan bantuan aktif dari Irak, Kuwait, Arab Saudi, Sudan dan Aljazair. Perang tersebut berlangsung selama 132 jam 30 menit. Resolusi Khartoum Sebuah pertemuan 8 pemimpin negara Arab pada tanggal 1 September 1967 karena terjadinya perang enam hari. Resolusi ini berlanjut ke perang Yom Kippur tahun 1973. 1968 Palestina menuntut pembekuan Israel Perjanjian Nasional Palestina dibuat, dan secara resmi Palestina menuntut pembekuan Israel. 1970 War of Attrition Setelah perang enam hari (5-10 Juni 1967), terjadi insiden serius di Terusan Suez. Tembakan pertama dilepaskan 1 Juli 1967, ketika pasukan Mesir menyerang patroli Israel, dan ini merupakan awal dari perang War of Attrition. 1973 Perang Yom Kippur Dikenal juga dengan Perang Ramadhan pada tanggal 6-26 Oktober 1973 karena bertepatan dengan bulan ramadhan. Perang ini merupakan perang antara pasukan Israel melawan koalisi negara- negara Arab yang dipimpin oleh Mesir dan Suriah, terjadi pada hari raya Yom Kipur, hari raya yang paling besar dalam tradisi orang-orang Yahudi. 1978 Kesepakatan Camp David Ditandatangani pada tanggal 17 September 1978 di Gedung Putih yang diselenggarakan untuk perdamaian di Tmur Tengah. Jimmy Carter (Presiden Amerika Serikat) memimpin perundingan rahasia yang berlangsung selama 12 hari antara Presiden Mesir, Anwar Sadat, dan Perdana Menteri Israel, Menachem Begin. 1982 Perang Libanon Perang antara Israel dan Libanon yang terjadi pada tanggal 6 Juni 1982 ketika angkatan bersenjata Israel menyerang
  14. 14. KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 14 Libanon Selatan. 1990- 1991 Perang Teluk 1993 Kesepakatan damai antara Palestina dan Israel 13 September 1993, Israel dan PLO sepakat untuk saling mengakui kedaulatan masing-masing. Pertemuan Yaser Arafat dan Israel Yitzhak Rabin berhasil melahirkan kesepakatan OSLO. Rabin bersedia menarik pasukannya dari Tepi Barat dan Jalur Gaza serta memberi Arafat kesempatan menjalankan sebuah lembaga semiotonom yang bisa memerintah di kedua wilayah. Arafat mengakui hak negara Israel untuk eksis secara aman dan damai. 1996 Kerusuhan teromongan al Aqsha Israel sengaja membuka terowongan Masjid al Aqsha untuk memikiat para turis dan membahayakan fondasi mesjid bersejarah, pertempuran berlangsung beberapa hari. 1997 Israel menarik pasukannya dari Hebron, Tepi Barat 1998 Perjanjian Wye River Oktober 1998, Perjanjian Wye River yang berisi penarikan Israel dan dilepaskannya tahanan politik dan kesediaan Palestina untuk menerapkan butir-butir perjanjian Oslo, termasuk soal penjualan senjata ilegal. 2000 KTT Camp David 2002 Israel membangun tembok pertahanan di tepi Barat diiringi rangkaian serangan bunuh diri Palestina 2004 Mahkamah Internasional menetapkan pembangunan batas pertahanan menyalahi hukum internasional dan Israel harus merobohkannya 2005 Mahmud Abbas terpilih menjadi Presiden 9 Januari 2005, Mahmud Abbas dari al Fatah terpilih sebagai Presiden Otoritas Palestina menggantikan Yaser Arafat yang wafat pada 11 November 2004 Juni 2005, pertemuan Mahmud Abbas
  15. 15. KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 15 dan Ariel Sharon di Yerusalem. Mahmud Abbas mengulur Jadwal Pemili karena mengkhawatirkan kemenangan diraih pihak Hammas Agustus 2005, Israel hengkang dari pemukiman Gaza dan empat wilayah pemukiman di Tepi Barat 2006 Hamas memenangkan Pemilu Januari 2006, Hammas memenangkan kursi Dewan Legislatif, menyudahi dominasi fatah selama 40 tahun 2008 Januari-Juli, ketegangan meningkat di Gaza. Israel memutus suplai listrik dan gas, Hamas dituding tidak mampu mengendalikan kekerasan November 2008, Hamas batal ikut serta dalam pertemuan univikasi Palestina yang dilaksanakan di Kairo, Mesir. Serangan roket kecil berjatuhan di wilayah Israel. 26 Desember 2008, Agresi Israel ke Jalur Gaza. Israel melancarkan Operasi Oferet Yetsuka, yang dilanjutkan dengan serangan udara ke pusat-pusat operasi Hamas. (Disadur dari beberapa sumber)
  16. 16. KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 16 Korban sipil yang tewas akibat konflik Israel Palestina, data berasal dari B'tselem dan Kementerian Luar Negeri Israel antara tahun 1987 hingga 2010 (angka dalam tanda kurung merupakan korban yang berusia di bawah 18 tahun) Tahun Kematian Palestina Israel 2011 118 (13) 11 (5) 2010 81 (9) 8 (0) 2009 1034 (314) 9 (1) 2008 887 (128) 35 (4) 2007 385 (52) 13 (0) 2006 665 (140) 23 (1) 2005 190 (49) 51 (6) 2004 832 (181) 108 (8) 2003 588 (119) 185 (21) 2002 1032 (160) 419 (47) 2001 469 (80) 192 (36) 2000 282 (86) 41 (0) 1999 9 (0) 4 (0) 1998 28 (3) 12 (0) 1997 21 (5) 29 (3) 1996 74 (11) 75 (8) 1995 45 (5) 46 (0) 1994 152 (24) 74 (2) 1993 180 (41) 61 (0) 1992 138 (23) 34 (1) 1991 104 (27) 19 (0) 1990 145 (25) 22 (0) 1989 305 (83) 31 (1) 1988 310 (50) 12 (3) 1987 22 (5) 0 (0) Total 7978 (1620) 15032)
  17. 17. KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 17 E. Harapan Masa Depan Palestina ... Era Obama? Apakah masa depan Palestin era pemerintahan Barrack Hosein Obama sebagaiPresiden Amerika Syarikat ke 44 ini? Jika ditinjau kembali, ramai yang memuji beliau melantik George Mitchell untuk menjadi utusan khas (special envoy) dalam usaha mewujudkan keamanan di Timur Tengah terutama dalam hal mendamaikan antara Arab- Israel. Chomsky di dalam tulisannya kelihatan berhati-hati dalam menerima Mitchell sebagai utusan khas. Chomsky turut melihat bahawa beberapa tindakan Obama seolah mahu meneruskan legasi yang ditinggalkan GW Bush. Obama dilihat bersetuju dengan usaha yang telah dilakukan Condolezza Ricesebelumnya yang telah bersetuju dengan Menteri Luar Israel Tzipi Livni untuk menutup pintu sempadan Mesir-Gaza untuk membendung penyeludupan senjata.Dalam masa yang sama, tidak pula kelihatan suatu polisi yang keras dikenakan ke atas Israel. Oleh yang demikian, ramai menyimpulkan bahawa pergerakan Obama ini masih dibayangi oleh sikap lama US terhadap umat dan negara Islam. Tidak dinafikan di sana ada beberapa aspek kemajuan yang dicapai dalam hubungan dengan Timur Tengah ketika pemerintahannya baru kira-kira 15 bulan. Pada 4 Jun 2009, ketika berucap di Universiti Kaherah, Cairo, Obama memberikan satu ucapan yang dilihat memberi sedikit kredit kepada masyarakat Islam. Beliau sendiri mengiktiraf bagaimana sumbangan yang diberikan Islam dalam membangun tamadun Eropah sehingga menjadi satu kuasa dunia. Kemajuan-kemajuan yang dicapai di Eropah banyak berpunca dari kemajuan yang telah dicapai ketika tamadun Islam berada di zaman kemuncak. Ada 3 perkara yang berkait secara lansung dengan Timur Tengah disebut oleh beliau: I. the United States does not accept the legitimacy of continued Israelisettlements (US tidak menerima legitimasi kependudukan Israel yangberterusan. II. that the Palestinians should have a state of their own (rakyat Palestinperlu mempunyai sebuah negara mereka tersendiri) III. Road Map – menjalankan usaha damai seperti yang telah dirintis olehbekas Presiden US, Bush. Perkara ini disebut bagi membantu rakyat Palestin untuk diiktiraf dan mendapatkan sebuah negara. Dari aspek lain, Obama juga dilihat bijak mengambil hati umat Islam ketika mengatur ucapannya dengan menyebut bahawa “it is undeniable that the Palestinian people—Muslims and Christians—have suffered in pursuit of a homeland.” Walaubagaimanapun, Obama masih tidak boleh untukbertindak bebas begitu sahaja kerana beliau harus mengambil hati golongan Yahudi terutama Yahudi di negara beliau. Ini kerana
  18. 18. KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 18 ramai dikalangan Yahudi di sana yang memegang jawatan-jawatan strategik negara termasuk dalam hal ehwal polisi. Ini bermaksud, beliau juga dalam keadaan tersepit. Masih belum ada apaapa kepastian samada negara Palestin itu akan betul-betul wujud atau ianya hanya pengulangan retorik jaminan mulut pemimpin-pemimpin besar dunia. Golongan Palestin, walaupun ada yang ingin menerima jalan penyelesaiandengan mewujudkan 2 negara, tetapi penulis menjangkakan ramai juga yang menentang. Ini kerana untuk menerima solusi 2 negara ini, pihak Palestin perlu untuk mengiktiraf kewujudan Israel tersebut. Bagaimana untuk mereka mengiktiraf sebuah negara yang didirikan di atas tanah milik mereka sebelumnya? Ini satu persoalan menarik yang jika dirungkai, akan menemukan pelbagai jawapan dan analisis. Apakah kita mahu negara Palestin itu diwujudkan dahulu atau mereka mahukan sebuah negara yang solid tanpa Israel? Iran nampaknya sedikit mengendur pendirian mereka apabila menyatakan bahawa mereka akan menyokong sekiranya Palestin menerima solusi 2 negara, walaupun terpaksa menerima kewujudan negara Israel. Walau apapun, kita dapati bahawa perbincangan untuk mewujudkan keamanandi Palestin sering menemui jalan buntu. Setiap selepas satu-satu perjanjian damai ditandatangani, ada sahaja peristiwa yang berlaku sehingga menjejaskan proses mencari damai. Dalam hal ini, saya suka melihat kepada kenyataan Gelvin, di mana beliau menyatakan: “There was a third reason why the land-for-peace was difficult to implement: Israeli attitudes toward the conquered territories. Some of the territories were relatively easy for Israel to part with. Some, more difficult. And the Israelis refused to put one piece of real estate – the portion of Jerusalem the annexed – on the table at all.” Jelas bahawa usaha mencari damai di Palestin ini masih jauh dan berliku. Iatidak terjamin walaupun Obama telah mengeluarkan satu kenyataan jelas menyokong proses damai serta ingin mewujudkan negara untuk rakyat Palestin. Harus diingat, pihak pelobi Zionis tidak akan berdiam diri dan tidak akan semudah itu memberikan laluan kepada mengiktiraf negara Palestin.
  19. 19. KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 19 G. Langkah Langkah Untuk Membebaskan Palestin Beberapa langkah boleh dikenal pasti ke arah pembebasan Palestin secara total.Penulis berhasrat mengemukakan beberapa langkah awal yang dirasakan sesuai untuk difikir dan dicerna, juga sebagai bahan untuk perbincangan lanjut. 1. Rakyat mesti disedarkan tentang kepentingan Palestin dan BaitulMaqdis dalam Islam Umat Islam mesti sedar bahawa Baitul Maqdis dan bumi Palestin ini sungguhbermakna dan mempunyai kaitan yang panjang dalam Islam. Baitul Maqdis merupakan tempat berlakunya Israk dan Mikraj, di mana Nabi Muhammad s.a.w telah menjadi tetamu Allah s.w.t dan Baitul Maqdis menjadi tanah perantara di dalam peristiwa ini. Firman-Nya: Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya di malam hari dari al-Masjid al-Haram ke al-Masjid al-Aqsa yang diberkati persekitarannya, untuk ditujukkan tanda-tanda kebesaran-Nya, Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat (al-Isra’ 15: 1). Sebenarnya bagi Allah, Dia boleh menjemput Nabi s.a.w terus dari Mekah tanpaperlu ke Baitul Maqdis. Tetapi hakikat perjalanan itu dan persinggahan Nabi s.a.w di Baitul Maqdis telah memberikan impak yang besar justeru membuktikan bahawa ia merupakan suatu rantau yang sangat penting dalam Islam. Al-Qaradawi menyebutkan bahawa Allah s.w.t menjadikan Baitul Maqdis sebagai persinggahan terakhir Nabi s.a.w di bumi sebelum baginda menjalani fasa Kedua, Mikraj. Malah, perjalanan pulang turut melalui Baitul Maqdis. Di Baitul Maqdis juga menjadi tempat pengiktirafan Nabi s.a.w sebagai ’rahmatan li al- ’alamin’ di mana baginda telah menjadi imam solat kepada seluruh para anbiya‟ yang membuktikan bahawa naginda merupakan Nabi yang terakhir dan ajarannya merangkum apa yang telah dibawa oleh nabi-nabi terdahulu. Baitul Maqdis juga merupakan Qiblat pertama umat Islam, di mana Nabi Muhammad s.a.w dan para sahabat baginda mengadap wajah ketika solat. Mereka mengadap Baitul Maqdis di dalam solat ini selama kira-kira 16 hingga 17 bulan selepas dari peristiwa Israk dan Mikraj.30 Ini turut membuktikan bahawa orang Islam tidak boleh memandang remeh soal Baitul Maqdis dan Palestin ini, kerana ia bukan isu masyarakat Arab semata-mata, tetapi ia merupakan isu seluruh umat Islam sedunia. Lihatlah betapa Baitul Maqdis itu begitu mulia sehingga menjadi Qiblat yang pertama di dalam Islam; apakah wajar kita membiarkannya sebagai masalah orang Arab sahaja? Qiblat umat Islam itu dipunyai oleh seluruh umat Islam, kita turut sama memilikinya, berkongsinya dan merasainya sebagai kepunyaan bersama. Lalu menurut al-Kaylani, Allah s.w.t ketika membenarkan Nabi Muhammad s.a.w bertukar Qiblat ke Mekah, sebenarnya menunjukkan adanya hubungan erat antara Mekah dan Baitul Maqdis.31 Hubungan saling kait-mengait antara kedua tempat ini secara spritual, yang mana hubungan itu telah diperteguh secara fizikal oleh Nabi s.a.w sebelumnya ketika peristiwa Israk dan Mikraj itu.
  20. 20. KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 20 Dari segi sejarah pula, sudah terbukti bahawa apabila Palestin di bawah pemerintahan Islam, maka rantau tersebut kembali aman. Ini berlaku ketika zaman Saidina Umar al-Khattab, dan juga ketika Salahuddin al-Ayyubi berjaya menawan kota Baitul Maqdis. Oleh yang demikian, tidak hairanlah apabila sarjana barat Karen Armstrong menyatakan bahawa: “Umar was faithful to the Islamic inclusive vision. Unlike the Jews and Christians, Muslims did not attempt to exclude others from Jerusalem’s holiness” Malah yang lebih menarik ialah Baitul Maqdis ketika itu terus didiami oleh masyarakat pelbagai agama dan Kristian merupakan penduduk majoriti.33 Ini jelas membuktikan bahawa sikapIslam terhadap agama lain, dan sikap toleransi pemimpin yang berpegang kepada Islam, lantas diberikan jaminan keselamatan kepada mereka dalam satu dokumen yang dikenali sebagai “al-’Uhda al-’Umariyyah”, iaitu jaminan Umar terhadap keselamatan penduduk Aelia (Baitul Maqdis) pada waktu itu. Oleh itu, kesedaran terhadap Palestin harus dipupuk dikalangan masyarakat agar mereka dapat merasai pemilikan tanah bersejarah itu merupakan hak milik umat Islam sejagat. 2. Israel Mesti di Desak Patuhi Resolusi PBB Telah sekian banyak resolusi yang dikeluarkan oleh PBB (United Nations) danMajlis Keselamatan (Security Council) terhadap Israel, tetapi betapa angkuhnya Israel, mereka tidak mahu tunduk dan tidak mahu mengikut apa yang diputuskan diperingkat antarabangsa. Walaupun ada beberapa resolusi PBB itu merujuk kepada penubuhan dua negara Israel – Palestin, tetapi pematuhan Israel ke atas resolusi PBB itu mesti dijadikan syarat supaya mereka benar-benar boleh menjalankan apa yang diputuskan diperingkat antarabangsa. Sebagai contoh, Israel tidak mematuhi kehendak Resolusi PBB 487 (1981) yangberbunyi: Calls upon Israel to place its nuclear facilities under the safeguard ofthe UN’s International Atomic Energy Agency. Begitu juga dengan Resolusi PBB 1402 (2002) yang menyatakan: Calls for Israel to withdraw from Palestiniancities. Mereka terus menunjukkan keangkuhan tidak mahu tunduk kepada apa yang telah diputuskan diperingkat antarabangsa. Selagi mereka tidak mahu patuh, selagi itulah umat Islam akan terus berjuang menentang kezaliman mereka dan seterusnya berjuang mengembalikan keamanan seperti yang telah dikecapi sebelum in idi bawah pemerintahan Islam. Inilah yang dilakukan oleh Hamas, Hizbullah dan lain-lain kumpulan sekarang ini bagi memperjuangkan nasib umat Islam di Palestin tersebut. 3. Tidak perlu bergantung kepada Amerika dan Sekutu Kuasa besar yang menguasai dunia pada hari ini, Amerika dan sekutunya berbuat apa sahaja dalam memerangi umat Islam. Mereka mencanangkan perang ke atas pengganas (war on terrorism) yang akhirnya matlamat utama mereka adalah untuk melumpuhkan Islam. Mengapa mereka tidak melancarkan ’war onterrorism‟ terhadap golongan pengganas di Northern Ireland? Mengapa hanya negara dan umat Islam yang dicari? Apakah dosa umat Islam menentang Yahudi itu menyebabkan puak Kristian turut marah?
  21. 21. KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 21 Walaupun digambarkan di atas bahawa Obama sudah mula berlembut denganIslam, ia bukanlah suatu kepastian yang nyata untuk disimpulkan bahawa polisi luar negara tersebut telah berubah. Penulis lebih selesa jika umat Islam mencari jalan sendiri, bersatu di bawah panji-panji Islam demi untuk membela umat Islam di mana jua mereka berada. Sempadan geografi moden tidak dapat memutuskan silaturrahim, hubungan keagamaan di antara sesama Muslim. Sebahagian di antara masyarakat Islam turut tidak mahu terlalu obsess dengan corak baru Presiden Amerika ini. Mereka turut mempunyai kebimbangan serta ingin berhati-hati dalam mengatur langkah dengan pihak non-Muslim. Barangkalijawapan terbaik mengapa mereka bersikap begitu boleh didapati dengan merujukkepada nas al-Quran. Jelas, Allah s.w.t berfirman: Tidak akan sekali-kali orang Yahudi dan Nasrani akan reda ke atas kamu sehinggalah kamu mengikut ajaran mereka (al-Baqarah 2: 120). Seperti yang diketahui, Islam merangkumi segenap aspek kehidupan manusia,termasuklah siyasah. Mengapa bukan Islam perlu takut sekiranya umat Islam berpegang teguh pada ajaran agama? Sebenarnya mereka tidak perlu takut, tetapi itulah hakikatnya. Dalam hal ini, Lord Cromer, bekas Gabenor Mesir dan Sudan pernah mengatakan bahawa England is prepared to give independence to all hercolonioes, when there exist a generation of intelectuals who have been inbuedwith Western values, ready to take over the administration, but we will not allowthe setting up of an Islamic state even for a second.Ini jelas menunjukkan bahawa kuasa besar barat tidak mahu sesebuah Negara itu kembali kepada corak pemerintahan Islam, kerana mereka bimbang ia akan menghancurkan barat itu sendiri. Lantas, pergolakan antara Israel – Palestin turut terkesan kerana kuasa barat ini mahu mengungguli kawasan Timur Tengah yang kaya dengan hasil petroleum itu. Sepanjang penglibatan Amerika ke atas isu ini, pergolakan tidak pernah terhenti, malah bertambah teruk. Minda mereka sama dengan apa yang diungkapkan oleh Lord Cromer tersebut. Tambah memedihkan, Amerika turut menggunakan veto untuk membenarkan Israel terus membina nuklear, yang jelas bercanggah dengan resolusi PBB 242, yang mahukan kawasan Timur Tengah bebas dari nuklear. Sikap double-standard yang ditunjukkan ini tidak akan membawa kepada kedamaian yang dicari. Oleh yang demikian, adalah wajar untuk menyelesaikan konflik yang berlaku tanpa penglibatan pihak yang mempunyai banyak kepentingan peribadi, melainkan sekiranya mereka betul-betul ikhlas mahu mewujudkan keadilan dan keamanan sejagat. 4. Bebaskan Penganut Agama Yahudi Daripada fahaman Zionis Sebahagian sarjana melihat bahawa matlamat utama daripada penubuhan kumpulan Zionis adalah untuk mendirikan kerajaan Israel Raya. Sebenarnya umum mengetahui bahawa pendokong utama Zionis terdiri daripada mereka yang berfahaman Nasionalis Sekular. Oleh sebab itu, sebahagian Yahudi menyatakan fahaman zionis terutama untuk menubuhkan negara itu tiada kena mengena dengan agama mereka. Oleh sebab itu, ada dikalangan Rabbi Yahudi membantah kewujudan negara Israel itu sendiri. Namun, pihak sekularis Yahudi pula berbeza pandangan. Bagi golongan sekularis Yahudi, disebabkan mereka tidak mempunyai sebuah negara yang merdeka, perasaan rendah diri dan rasa diri mereka dihina menyebabkan mereka mengimpikan sebuah negara mereka sendiri. Mereka jugaditindas di negara-negara barat. Sehinggalah mereka ini dibunuh oleh pemimpin German pada ketika itu, iaitu Ardolf Hitler.
  22. 22. KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 22 Akibat daripada itu segelintir para pemimpin mereka telah memilih bumi Palestin sebagai tempat untuk menubuhkan sebuah negara sekular Yahudi. Fahaman ini telah mendominasikan seluruh bangsa Yahudi sehinggakan Zionisme telah mewarnai kehidupan beragama mereka. Fahaman ini telah membawa kepada perubahan yang besar di dalam pemikiran bangsa Yahudi sehinggakan mereka menggunakan kaedah „matlamat menghalalkan cara‟ atau ‘the ends justify themeans’. Mereka membunuh rakyat Palestin, menghalau serta merampas harta dan menjadikannya milik Yahudi dengan menggunakan kekerasan melampau tersebut. Fahaman sekular ini mesti dikikis dari pemahaman kaum Yahudi. Masyarakat perlu diwar-warkan mengenai idea sonsang dan agenda zionis ini yang telah menyebabkan banyak huru-hara berlaku di zaman dunia moden kini. Seorang Rabbi bernama Israel David Wyce memberi amaran dengan jelas bahawa kewujudan negara Israel bercanggah dengan inspirasi Yahudi dan ianya jelas ―against God, against Torah, and against the Jewish religion. 5. Pemerkasaan Badan-badan Setempat dan Internasional Di rantau Nusantara ini ada terdapat sejumlah pertubuhan yang bekerja meningkatkan kesedaran masyarakat terhadap isu Palestin. Ada pertubuhan yang bersifat politik juga turut membincangkan soal Palestin, dan ada pertubuhan yang bersifat badan bukan kerajaan. Oleh kerana isu Palestin ini merupakan isu umat sejagat, maka wajarlah bagi kita untuk memperkasa jaringan yang ada bagi menggarap isu-isu pembebasan Masjid al- Aqsa dan keseluruhan bumi Palestin itu. Tidak boleh tidak, kekuatan gagasan hubungan serantau perlu dioptimakan atas memperkasa sesama ummat. Namun, kita harus berhati-hati serta perlu membersihkan diri daripada dijadikan alat untuk sesuatu agenda politik pihakpihak tertentu yang bakal merugikan idealisme perjuangan Islam. Umpamanya menjadi agen kepada zionis ataupun proses damai tajaan Amerika yang tidak ke mana-mana itu. Oleh yang demikian, sikap berhati-hati terhadap pihak-pihak berkepentingan politik pasti memungkinkan mereka tidak dapat bertindak lebih kritikal. Lantaran,kita akan lebih telus dan bebas dalam membuat penilaian terhadap sesuatu gagasan dan dalam bertindak. Begitu juga, dalam melihat soal pemerkasaan ini, kita seharusnya membebaskan diri daripada kemelut fanatik kepuakan yang melanda umat Islam. Dalam soal ini badan-badan yang ada perlu melihat setiap perkara menggunakan pendekatan bird eyes – melihat kepada matlamat yang lebih besar serta menilai elemen negatif dan positif setiap pehak yang terbabit.Cukuplah rasanya dengan pengalaman sejarah yang menyaksikan umat Islam bergaduh sesama sendiri sehingga melupakan isu utama agenda pembangunan ummah dan lupa terhadap musuh umat Islam yang sebenar. Sudah tentu jika pemerkasaan badan-badan tempatan dan internasional ini berterusan dan digembleng dengan baik, ia akan menambah kekuatan umat Islam dalam menangani isu-isu global yang menyentuh hati dan perasaan umat Islam seluruh dunia. BAB III
  23. 23. KONFLIK ISRAEL – PALESTINA 23 PENUTUP A. Penutup Menyantuni konflik Palestin ini bukanlah suatu perkara yang mudah, menanganinya bukan perkara yang boleh berlaku tanpa berusaha. Ia menuntut seluruh tenaga untuk memugar kesedaran ummah dalam memastikan penindasan yang berlaku ke atas umat Islam ini tidak berterusan selamanya. Usaha-usaha kesedaran, walau sekecil manapun usaha itu, sungguh akan membuahkan sesuatu yang pasti akan menggegar bumi yang dijajah Israel itu. Umat Islam dengan kekuatan akidahnya, tidak akan membiarkan rakan-rakan mereka terus dirundung nasib malang. Ayuh bergerak ke arah melahirkan masyarakat prihatin dan kumpulan pressure group bagi membangkitkan hal penindasan umat Islam Palestin ini di peringkat antarabangsa dan seterusnya menekan Israel agar mereka mematuhi keputusan-keputasan rasmi badan-badan berpengaruh seperti PBB dan juga Majlis Keselamatan PBB. Karen Armstrong (1997b: 246) menyatakan bahawa di bawah pemerintahan Islam bermulanya era masyarakat boleh hidup dalam keadaan berbilang agama. Beliau menegaskan: ―The Muslims had established a system that enabled Jews, Christians and Muslims to live in Jerusalem together for the first time.”

×