VITAMIN D BINDING PROTEIN
Vitamin D Binding Protein (DBP) yang disebut juga GC-globulin (group-specific
component of serum), adalah protein plasma utama yang mengikat vitamin D dan
metabolitnya. DBP termasuk dalam grup α-fetoprotein dan α-albumin / afamin. DBP adalah
protein serum yang sangat polimorfik dan sebagian besar disintesis di hepar dengan berat
molekul 52-59 kDa. Produksi DBP rata-rata 10 mg/kg per hari. DBP atau kompeks DBP-
25(OH)-vitamin D dikeluarkan ke plasma oleh berbagai jaringan seperti ginjal, hepar, otot
rangka, jantung, paru-paru, usus, dan tulang. Waktu paruh DBP plasma sekitar 2,5 hari,
sedangkan waktu paruh 25(OH)-vitamin D sekitar 12 hari. Gen DBP manusia terletak pada
lengan panjang kromosom 4 (4q12-q13) (Gambar 1). Gen tersebut terdiri lebih dari 35 kb
DNA dan memiliki 13 ekson dan 12 intron, serta 458 asam amino yang tersusun dalam tiga
domain (Nielson et al, 2016; Speeckaert et al., 2014).
DBP memiliki tiga peran penting dalam fisiologi vitamin D, yaitu melindungi vitamin
D dari biodegradasi, membatasi aksesnya ke jaringan target, dan menyerap kembali vitamin
D dalam ginjal. Setiap kompleks DBP-vitamin D memiliki afinitas konstan. 25(OH)-vitamin
D mengikat DBP (terikat 88%) dengan afinitas tinggi (Ka : 4x10-8 M), sedangkan 1,25(OH)-
vitamin D mengikat DBP (terikat 85%) dengan afinitas yang lebih rendah (Ka : 4x10-7 M).
Konsentrasi DBP dalam plasma cukup tinggi (0,32 - 0,46 g/L atau 5,52 - 7,93x10-6 M)
dibandingkan ligan utamanya yaitu 25(OH)-vitamin D (5x10-8 M), dengan tingkat pergantian
yang cepat. Dalam kondisi normal, seluruh komponen vitamin D beredar dalam sirkulasi
dalam keadaan terikat protein, sehingga berpengaruh terhadap farmakokinetik vitamin D.
Kompleks DBP-metabolit memiliki akses yang terbatas menuju sel target dan tidak rentan
terhadap metabolisme hepar dan ekskresi bilier sehingga memperpanjang waktu paruh dalam
sirkulasi (Nielson et al, 2016; Ottavio et al., 2015; Speeckaert et al., 2014).
DBP digunakan untuk mengukur 25(OH)-vitamin D serum. Penelitian yang dilakukan
oleh Ottavio et al. (2015) pada pasien Multiple Sclerosis (MS) dengan defisiensi vitamin D
menunjukkan bahwa konsentrasi DBP plasma lebih tinggi pada kelompok sakit dibanding
konsentrasi DBP plasma pada kontrol sehat tanpa defisiensi vitamin D. Defisiensi vitamin D
juga terjadi pada kondisi iron overload pada pasien talasemia dengan transfusi berulang
sehingga menimbulkan resistensi insulin (Ottavio et al., 2015).
Ottavio, A.R., Isabella, S., Cristina, P., Antonio, C., Rosella, M. 2015. Increased Circulating
Levels of Vitamin D Binding Protein in MS Patiens. Toxins Journal. (7) : 129-137.
Speeckaert, M., Guangming, H., Joris, R.D., Youri, E.C. 2014. Biological and Clinical
Aspect of the Vitamin D Binding Protein (Gc-globulin) and its polymorphism. Clinica
Chimica Acta. 372 : 33-42.
Nielson, C.M., Kerry, S.J., Rene, F.C., Chun, J.M., Ying, W. 2016. Free 25-Hydroxyvitamin
D: Impact of Vitamin D Binding Protein Assays on Racial-Genotypic Associations. Journal
of Clinical Endocrinology Metabolism. 101(5) : 2226-2234.

Vitamin d binding protein

  • 1.
    VITAMIN D BINDINGPROTEIN Vitamin D Binding Protein (DBP) yang disebut juga GC-globulin (group-specific component of serum), adalah protein plasma utama yang mengikat vitamin D dan metabolitnya. DBP termasuk dalam grup α-fetoprotein dan α-albumin / afamin. DBP adalah protein serum yang sangat polimorfik dan sebagian besar disintesis di hepar dengan berat molekul 52-59 kDa. Produksi DBP rata-rata 10 mg/kg per hari. DBP atau kompeks DBP- 25(OH)-vitamin D dikeluarkan ke plasma oleh berbagai jaringan seperti ginjal, hepar, otot rangka, jantung, paru-paru, usus, dan tulang. Waktu paruh DBP plasma sekitar 2,5 hari, sedangkan waktu paruh 25(OH)-vitamin D sekitar 12 hari. Gen DBP manusia terletak pada lengan panjang kromosom 4 (4q12-q13) (Gambar 1). Gen tersebut terdiri lebih dari 35 kb DNA dan memiliki 13 ekson dan 12 intron, serta 458 asam amino yang tersusun dalam tiga domain (Nielson et al, 2016; Speeckaert et al., 2014). DBP memiliki tiga peran penting dalam fisiologi vitamin D, yaitu melindungi vitamin D dari biodegradasi, membatasi aksesnya ke jaringan target, dan menyerap kembali vitamin D dalam ginjal. Setiap kompleks DBP-vitamin D memiliki afinitas konstan. 25(OH)-vitamin D mengikat DBP (terikat 88%) dengan afinitas tinggi (Ka : 4x10-8 M), sedangkan 1,25(OH)- vitamin D mengikat DBP (terikat 85%) dengan afinitas yang lebih rendah (Ka : 4x10-7 M). Konsentrasi DBP dalam plasma cukup tinggi (0,32 - 0,46 g/L atau 5,52 - 7,93x10-6 M) dibandingkan ligan utamanya yaitu 25(OH)-vitamin D (5x10-8 M), dengan tingkat pergantian yang cepat. Dalam kondisi normal, seluruh komponen vitamin D beredar dalam sirkulasi dalam keadaan terikat protein, sehingga berpengaruh terhadap farmakokinetik vitamin D. Kompleks DBP-metabolit memiliki akses yang terbatas menuju sel target dan tidak rentan terhadap metabolisme hepar dan ekskresi bilier sehingga memperpanjang waktu paruh dalam sirkulasi (Nielson et al, 2016; Ottavio et al., 2015; Speeckaert et al., 2014).
  • 2.
    DBP digunakan untukmengukur 25(OH)-vitamin D serum. Penelitian yang dilakukan oleh Ottavio et al. (2015) pada pasien Multiple Sclerosis (MS) dengan defisiensi vitamin D menunjukkan bahwa konsentrasi DBP plasma lebih tinggi pada kelompok sakit dibanding konsentrasi DBP plasma pada kontrol sehat tanpa defisiensi vitamin D. Defisiensi vitamin D juga terjadi pada kondisi iron overload pada pasien talasemia dengan transfusi berulang sehingga menimbulkan resistensi insulin (Ottavio et al., 2015). Ottavio, A.R., Isabella, S., Cristina, P., Antonio, C., Rosella, M. 2015. Increased Circulating Levels of Vitamin D Binding Protein in MS Patiens. Toxins Journal. (7) : 129-137. Speeckaert, M., Guangming, H., Joris, R.D., Youri, E.C. 2014. Biological and Clinical Aspect of the Vitamin D Binding Protein (Gc-globulin) and its polymorphism. Clinica Chimica Acta. 372 : 33-42. Nielson, C.M., Kerry, S.J., Rene, F.C., Chun, J.M., Ying, W. 2016. Free 25-Hydroxyvitamin D: Impact of Vitamin D Binding Protein Assays on Racial-Genotypic Associations. Journal of Clinical Endocrinology Metabolism. 101(5) : 2226-2234.