EXECUTIVE SUMMARYPEMBANGUNAN EKONOMI NAWA CITA: AKSELERASI PEMBANGUNAN BERBASIS INOVASI(1) dengan pendekatan: PerhitunganTotal Factor Productivity dalamPertumbuhanEkonomiRegional danKoridorEkonomiNasional 
DIUSULKAN OLEH : 
RUMAH KEBANGSAAN 
PENGARAH : DR. SUGENG SANTOSO; DR. ANGGARA HAYUN A 
KOORDINATOR : ARIEF ADI W, S.Si,MT
PEMBANGUNAN EKONOMI NAWA CITA 
MembawapembangunanIndonesia (nasional& daerah) yang tumbuhtinggi(di tengahsempitnyaruangfiscal) danberkualitas, danberkelanjutanuntuk kemandirian bangsa dengan melakukan perubahan paradigma yaitu 
•Dari bertumpupada“melimpahnya” SDA sematamenjadi semakinberbasispengetahuan-teknologi, lreativitas-keinovasian, kewirausahaan, produktivitas 
•Dari polakonvensionalmenjadi gagasanterobosanyaitu Ekonomi Berbasis Inovasi/Pengetahuan yang memasukkan pengetahuan-teknologi, kreativitas-keinovasian, kewirausahaanjejaring sebagai faktor ‘endogen’ dan penting dalam pembangunan ekonomiPerekonomian KonvensionalEkonomi Berbasis Inovasi 
Pendapatan per kapita (US$) 
Sumber :Kemenko Perekonomian, diolahPendekatan Total Faktor ProduktivitasRPJP: Pertumbuhan Ekonomi 2015-2025: 8-9%
“PerhitunganTFP Regional 
danKoridorEkonomiNasional” 
Pendahuluan 
•Perlu Percepatan Pembangunan untuk KoridorEkonomiNasionalsebagaisalahsatustrategiuntukmendukungpencapaianNawa Cita 
•Belumdilakukannya pembangunan ekonomimengenaipengaruhTFP dalampertumbuhanekonomiregional dankoridorekonominasional 
•Faktordominanpertumbuhanekonominegara-negaramajubukandatangdaripertumbuhaninput, tetapibersumberdaripertumbuhanproduktivitas 
•Faktoriptek& inovasiyang semakinmenentukantatahubunganinternasionaldanposisistrategisnegaradan tekanan persaingan global 
•Potensikeragamanekonomitetapidengannilaitambahyang masihrendah 
•Sumbanganteknologi(pengetahuan) terhadappertumbuhanekonomimasihrelatifrendah. Initerutamadi daerah-daerahluarJawayang menjadipenyumbangproduk-produkprimer –TFP rendah 
•Potensibonus demografik, tetapijugamenghadapiancamanpeningkatanpengangguranterdidikdanusiamuda/produktif, sertakecenderungansemakinmeningkatnyatingkatpendidikanSDM terdidikmenjadipencarikerja 
LatarBelakang 
PEMBANGUNAN EKONOMI NAWA CITA 
TFP sebagaiIndikatorProduktivitas 
Pertumbuhanekonomiyang didasarkanpadapertumbuhanproduktivitasmodal dantenagakerjaakanmenghindarkanpertumbuhanekonomisemu
“PerhitunganTFP Regional 
danKoridorEkonomiNasional” 
HasildanAnalisis 
•NilaiTFPG K E Jawaterbesar 
•NilaiTFPG K E Kalimantan danMaluku-Papua Negatif 
•HanyaK E Jawayang nilaiTFPG-nyadiatasnilainasional 
KoridorEkonomi 
0.72 
2.80 
-1.20 
1.84 
1.73 
-2.29 
1.99 
4.57 
5.42 
3.65 
6.41 
5.01 
3.42 
5.48 
-3.00 
-2.00 
-1.00 
0.00 
1.00 
2.00 
3.00 
4.00 
5.00 
6.00 
7.00 
Sumatera 
Jawa 
Kalimantan 
Sulawesi 
Bali Nusa Tenggara 
Maluku Papua 
NASIONAL 
Persentase Pertumbuhan 
TFP Growth dan PDB Growth Koridor Ekonomi Tahun 2002 -2010 
TFP Growth 
PDB Growth 
SaatnilaiTFPG negatifdalamstrukturpertumbuhanekonomiartinyawilayahtersebutharuswaspada. ContohkejatuhanekonomiakibatketiadaanperanteknologipernahdialamiolehUniSovyetdi masasebelumpembubarannya. IniSovyetdi tahun70-80an fokuskepadaakumulasikapitaldanpeningkatantabungantetapitanpadiimbangiolehkemajuanteknologi. Dampaknya, potensinegaratidakmengalamipenambahannilaiyang menaikkanoutput PDB
“PerhitunganTFP Regional 
danKoridorEkonomiNasional” 
HasildanAnalisis 
-8.00 
-6.00 
-4.00 
-2.00 
0.00 
2.00 
4.00 
6.00 
8.00 
0.17 
5.56 
5.48 
3.34 
5.97 
4.55 
5.52 
5.14 
6.62 
6.91 
4.57 
-6.09 
1.01 
2.98 
0.55 
2.68 
1.25 
2.37 
1.60 
0.66 
-0.33 
0.81 
TFP Growth Koridor Ekonomi Sumatera 
tahun 2002 -2010 
GDP Growth 
TFP Growth 
Sumatera 
Komposisimodal :2,88%, tenagakerja: 0,88% 
danTFPG: 0,81%; LebihrendahdariTFP G nasional(o,81 < 1,99%). ProvinsiKepulauanRiau danNAD memilikinilaipertumbuhanTFP negatif(-0,33% dan-6,09%)pertumbuhanekonomitidakefisien
“PerhitunganTFP Regional 
danKoridorEkonomiNasional” 
HasildanAnalisis 
0.00 
1.00 
2.00 
3.00 
4.00 
5.00 
6.00 
7.00 
DKI 
Jawa Barat 
Jawa Tengah 
DIY 
Jawa Timur 
Banten 
KOMULATIF 
5.62 
5.10 
5.04 
4.48 
5.40 
6.90 
5.42 
2.09 
2.29 
2.76 
1.27 
3.02 
2.16 
2.60 
TFP Growth Koridor Ekonomi Jawa tahun 2002 -2010 
GDP Growth 
TFP Growth 
Jawa 
Komposisimodal: 2,30%, tenagakerja:0,52% danTFP G: 2,60%. 
LebihbesardaripertumbuhanTFP nasional(2,60% > 1,99% )
“PerhitunganTFP Regional 
danKoridorEkonomiNasional” 
HasildanAnalisis 
-3.00 
-2.00 
-1.00 
0.00 
1.00 
2.00 
3.00 
4.00 
5.00 
6.00 
Kalimantan Barat 
Kalimantan Selatan 
Kalimantan Tengah 
Kalimantan Timur 
KOMULATIF 
4.70 
5.03 
5.64 
2.81 
3.65 
1.97 
1.22 
2.08 
-2.94 
-0.90 
TFP Growth Koridor Ekonomi Kalimantan tahun 2002 -2010 
GDP Growth 
TFP Growth 
Kalimantan 
Komposisimodal: 3,92%, tenagakerja: 0,64% danTFP G: -0,90%. 
NilaiTFP G negatifpertumbuhanekonomitidakefisien 
PadahalHanyaProvinsiKalimantan Timuryang memilikinilaiTFP G negatif(-2,94%)
“PerhitunganTFP Regional 
danKoridorEkonomiNasional” 
HasildanAnalisis 
0.00 
1.00 
2.00 
3.00 
4.00 
5.00 
6.00 
Bali 
NTB 
NTT 
KOMULATIF 
5.33 
3.61 
4.68 
5.01 
1.38 
1.02 
2.42 
1.52 
TFP Growth Koridor Ekonomi Bali Nusa Tenggara tahun 2002 -2010 
GDP Growth 
TFP Growth 
Bali Nusa Tenggara 
Komposisimodal :2,51%, tenagakerja: 0,97% danTFP G: 1,52%. 
LebihrendahdariTFP G nasional(1,52% < 1,99%)
“PerhitunganTFP Regional 
danKoridorEkonomiNasional” 
HasildanAnalisis 
-2.00 
-1.00 
0.00 
1.00 
2.00 
3.00 
4.00 
5.00 
6.00 
7.00 
8.00 
Sulawesi Selatan 
Sulawesi Tengah 
Sulawesi Utara 
Sulawesi Tenggara 
Gorontalo 
Sulawesi Barat 
SULAWESI 
6.04 
7.24 
5.70 
7.79 
7.00 
6.69 
6.41 
1.79 
3.13 
0.11 
2.74 
-1.56 
-0.66 
1.61 
TFP Growth Koridor Ekonomi Sulawesi 
tahun 2002 -2010 
GDP Growth 
TFP Growth 
Sulawesi 
Komposisimodal :3,69%, tenagakerja: 1,11% danTFP G: 1,61% 
LebihrendahdariTFP G nasional(1,61% < 1,99%) 
ProvinsiSulBardanGorontalomemilikinilaiTFP G negatif( -0,66% dan-1,56%)
“PerhitunganTFP Regional 
danKoridorEkonomiNasional” 
HasildanAnalisis 
-8.00 
-6.00 
-4.00 
-2.00 
0.00 
2.00 
4.00 
6.00 
8.00 
10.00 
12.00 
Maluku 
Papua 
Maluku Utara 
Papua Barat 
KOMULATIF 
4.77 
1.27 
5.14 
10.05 
3.42 
2.65 
-6.64 
3.63 
3.65 
-3.26 
TFP Growth Koridor Ekonomi Maluku-Papua tahun 2002 -2010 
GDP Growth 
TFP Growth 
Maluku Papua 
Komposisi: modal 4,65%, tenagakerja: 2,03% danTFP G: -3,26% 
NilaiTFP G negatifpertumbuhanekonomitidakefisien 
PadahalhanyaProvinsiPapua yang memilikinilaiTFP G negatif(-6,64%)
“PerhitunganTFP Regional 
danKoridorEkonomiNasional” 
KesimpulandanRekomendasi 
•Kontribusirata-rata TFPG terhadappertumbuhanekonominasionalmencapai35,24% per tahun, 
lebihtinggidaritenagakerja12,86% 
lebihkecildarikapital51,90% 
•Pertumbuhankapitalberperansebagaipemicuutamapertumbuhanekonomidi Indonesia (kecualiJawa) 
•Berdasarkanindikatoryang ada, kontribusiteknologiterhadappertumbuhanekonomidiIndonesia masihrendah 
–BaukinskontribusiTFP G 49% -75% 
–DekomposisiTFP G > 3% 
Kesimpulan
“PerhitunganTFP Regional 
danKoridorEkonomiNasional” 
KesimpulandanRekomendasi 
•K E Sumatera, Jawa, Sulawesi, danBali Nusa Tenggara memilikinilairata-rata TFPG positif 
•K E Kalimantan danMaluku-Papua bernilainegatif 
•HanyakoridorekonomiJawayang memilikipertumbuhanteknologilebihbesardaripadapertumbuhanteknologinasional. 
•Perananteknologidalampertumbuhanekonomimasihminus diprovinsi 
–NAD 
–KepulauanRiau 
–Kalimantan Timur 
–Sulawesi Barat 
–Gorontalo 
–Papua 
Kesimpulan
“PerhitunganTFP Regional 
danKoridorEkonomiNasional” 
KesimpulandanRekomendasi 
1.FokuskepadapenanganankoridorekonomidengannilaiTFPG negatif(Kalimantan danMaluku-Papua) 
2.MembuatanalisisTFP setiapregional Kota/Kabupatendanmenjadikannyasebagaidasar pertimbangan strategipembangunandaerah 
3.Melakukan upaya-upaya terkait peningkatan TFP dalam rangka implementasi Ekonomi Berbasis Inovasi (berdasarkan hasil survai dan pengolahan data yang dirilis oleh WEF (KAM), IMD dll) antara lain: 
–Meningkatkan budaya inovasi, peningkatanmutusumberdayamanusia: SDM yang memilikidayaserapinformasidankemampuananalisadlmmentrasformasikanmenjadipengetahuandanmemahamiperubahanlingkunganbisnis 
–Penciptaanusahabaruberbasisinovasi/pengetahuan 
–Kebijakan untukmendorongpemanfaatan iptek untuk Usaha/Industri: 
–PolaKemitraan: Kerjasamapemanfaatan inovasi; peningkatanhubungansegitigaantarapemerintah–universitas–industri 
–Modal Ventura untukStart-Up Company 
–SinkronisasiProgram Iptek, LPNKdanLembagateknis(depdandinas)dengan pengguna serta intervensi kebijakan yang diperlukan 
Rekomendasi
“PerhitunganTFP Regional 
danKoridorEkonomiNasional” 
KesimpulandanRekomendasi 
4. PengembanganSistemInovasiNasional: 
–SinergiKebijakandanProgram Pembangunan 
•Tematis, integratiftidaksektoral 
•Mengembangkan‘joint program’ untuk: 
–menstimulasipertukaranpengetahuan, mendorongdifusiteknologi 
–Pelembagaanpolainteraksidankomunikasi 
–PengembanganMekanismeIntermediasiIptek: Infrastruktur, pranata, regulasi 
5. Pembentukaniklimbisnisyang kondusif(birokrasidanadministrasi)terutama Membanguninfrastrukturkelembagaanyang dapatmemperlancarproses danmengurangibiayaperijinandanbiayatransaksiusaha, denganmengembangkanlembagaone-stop service (OSS) di daerah-daerah, danmembentukataumenugaskanlembagapemerintahuntukbertindakselakubadanpenasehatdan pengawaspelaksanaanOSS 
Rekomendasi
Kota Batam: Contoh Rekomendasi untuk Pembangunan Ekonomi Berbasis Inovasi 
ProvinsiKepulauanRiau: 
•Komposisimodal: 5,74%, tenagakerja: 1,51% danTFP G: -0,33%. 
•NilaiTFP G negatifpertumbuhanekonomitidakefisien 
Provinsi 
PDB Growth 
DekomposisiPertumbuhanEkonomi 
Kontribusi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi 
Capital Growth 
Labor Growth 
TFP Growth 
Capital Growth 
Labor Growth 
TFP Growth 
Kep. Riau 
6.91 
5.74 
1.51 
-0.33 
83.0% 
21.8% 
-4.8% 
KotaBatam: 
•Pengaruh pertumbuhan ekonomi Propinsi Kepulauan Riau memberikan efek positif terhadap terhadap pertumbuhan PDRB Batam yang ditunjukkan dalam tabel berikut: 
KotaBatam: 
•Kinerjasektorindustripengolahan, pertambangan,danpertanianmengalamipenurunandibandingkansektoryangsamadiPropinsiKepulauanRiauKomponenBauran 
•Tigasektor:perdagangan,bangunan,danpengangkutandiKotaBatamlebihkompetitifdibandingkansektoryangsamadiPropinsiKepulauanRiauKomponenUnggulan 
Sumber:A.Aritenang,2013,PostDoctoral
Rekomendasi Pembangunan Ekonomi Berbasis Inovasi untuk Kota Batam 
1.Pertumbuhan Ekonomi Kota Batam diprioritaskan pada pengembangan rantai nilai dan peningkatan nilai tambah pada sektor perdagangan yang ditunjang oleh infrastruktur (sektor bangunan), sektor transportasi (pengangkutan), sektor kelistrikan karena mempunyai keunggulan kompetitif dibanding dengan sektor yang sama di Provinsi Kepulauan Riau. 
2.Rekomendasi spesifik untuk point 1 antara lain: 
•Penciptaanusahabaruberbasisinovasi/pengetahuan 
•Kebijakan untukmendorongpemanfaatan iptek untuk Usaha(perdagangan, bangunan, transportasi, kelistrikan) 
•Peningkatan pekerja pengetahuan yaituSDM yang memilikidayaserapinformasidankemampuananalisadlmmentrasformasikanmenjadipengetahuandanmemahamiperubahanlingkunganbisnis 
•PolaKemitraan: Kerjasamapemanfaatan inovasi untuk perdagangan bangunan, transportasi, kelistrikan) 
•PengembanganMekanismeIntermediasiIptekuntuk perdagangan bangunan, transportasi, kelistrikan 
3.Pembentukaniklimbisnisyang kondusif(birokrasidanadministrasi)terutama Membanguninfrastrukturkelembagaanyang dapatmemperlancarproses danmengurangibiayaperijinandanbiayatransaksiusaha, denganmengembangkanlembagaone-stop service (OSS) di daerah-daerah, danmembentukataumenugaskanlembagapemerintahuntukbertindakselakubadanpenasehatdan pengawaspelaksanaanOSS 
4.Hendaknya Kota Batam selektif dalam pengembangan sektor-sektor yang kinerjanya mengalami penurunan dibandingkan sektor yang sama di Propinsi Kepulauan Riau terutama sektor industri pengolahan, pertambangan, dan pertanian. Hal ini terkait dengan capital growth dan labor growth ketiga sektor tersebut.
CONTOH TURUNAN DALAM NAWA CITA : TOL LAUT
RUMAH KEBANGSAAN KEDOYA 
•Charles MeikyansyahMM; Kiki TaherMA; Arief Adi Wibowo M.Eng; Dr. SugengSantoso; YoseRizal MM; DrHayun; Dr. Yogi Suprayogi; Ida PhD; Iqbal NurM.Eng; FikiSatariMM; danTim.

Usulan rancangan pembangunan berbasis inovasi (new growth theory tfp-nawa cita)

  • 1.
    EXECUTIVE SUMMARYPEMBANGUNAN EKONOMINAWA CITA: AKSELERASI PEMBANGUNAN BERBASIS INOVASI(1) dengan pendekatan: PerhitunganTotal Factor Productivity dalamPertumbuhanEkonomiRegional danKoridorEkonomiNasional DIUSULKAN OLEH : RUMAH KEBANGSAAN PENGARAH : DR. SUGENG SANTOSO; DR. ANGGARA HAYUN A KOORDINATOR : ARIEF ADI W, S.Si,MT
  • 2.
    PEMBANGUNAN EKONOMI NAWACITA MembawapembangunanIndonesia (nasional& daerah) yang tumbuhtinggi(di tengahsempitnyaruangfiscal) danberkualitas, danberkelanjutanuntuk kemandirian bangsa dengan melakukan perubahan paradigma yaitu •Dari bertumpupada“melimpahnya” SDA sematamenjadi semakinberbasispengetahuan-teknologi, lreativitas-keinovasian, kewirausahaan, produktivitas •Dari polakonvensionalmenjadi gagasanterobosanyaitu Ekonomi Berbasis Inovasi/Pengetahuan yang memasukkan pengetahuan-teknologi, kreativitas-keinovasian, kewirausahaanjejaring sebagai faktor ‘endogen’ dan penting dalam pembangunan ekonomiPerekonomian KonvensionalEkonomi Berbasis Inovasi Pendapatan per kapita (US$) Sumber :Kemenko Perekonomian, diolahPendekatan Total Faktor ProduktivitasRPJP: Pertumbuhan Ekonomi 2015-2025: 8-9%
  • 3.
    “PerhitunganTFP Regional danKoridorEkonomiNasional” Pendahuluan •Perlu Percepatan Pembangunan untuk KoridorEkonomiNasionalsebagaisalahsatustrategiuntukmendukungpencapaianNawa Cita •Belumdilakukannya pembangunan ekonomimengenaipengaruhTFP dalampertumbuhanekonomiregional dankoridorekonominasional •Faktordominanpertumbuhanekonominegara-negaramajubukandatangdaripertumbuhaninput, tetapibersumberdaripertumbuhanproduktivitas •Faktoriptek& inovasiyang semakinmenentukantatahubunganinternasionaldanposisistrategisnegaradan tekanan persaingan global •Potensikeragamanekonomitetapidengannilaitambahyang masihrendah •Sumbanganteknologi(pengetahuan) terhadappertumbuhanekonomimasihrelatifrendah. Initerutamadi daerah-daerahluarJawayang menjadipenyumbangproduk-produkprimer –TFP rendah •Potensibonus demografik, tetapijugamenghadapiancamanpeningkatanpengangguranterdidikdanusiamuda/produktif, sertakecenderungansemakinmeningkatnyatingkatpendidikanSDM terdidikmenjadipencarikerja LatarBelakang PEMBANGUNAN EKONOMI NAWA CITA TFP sebagaiIndikatorProduktivitas Pertumbuhanekonomiyang didasarkanpadapertumbuhanproduktivitasmodal dantenagakerjaakanmenghindarkanpertumbuhanekonomisemu
  • 4.
    “PerhitunganTFP Regional danKoridorEkonomiNasional” HasildanAnalisis •NilaiTFPG K E Jawaterbesar •NilaiTFPG K E Kalimantan danMaluku-Papua Negatif •HanyaK E Jawayang nilaiTFPG-nyadiatasnilainasional KoridorEkonomi 0.72 2.80 -1.20 1.84 1.73 -2.29 1.99 4.57 5.42 3.65 6.41 5.01 3.42 5.48 -3.00 -2.00 -1.00 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 Sumatera Jawa Kalimantan Sulawesi Bali Nusa Tenggara Maluku Papua NASIONAL Persentase Pertumbuhan TFP Growth dan PDB Growth Koridor Ekonomi Tahun 2002 -2010 TFP Growth PDB Growth SaatnilaiTFPG negatifdalamstrukturpertumbuhanekonomiartinyawilayahtersebutharuswaspada. ContohkejatuhanekonomiakibatketiadaanperanteknologipernahdialamiolehUniSovyetdi masasebelumpembubarannya. IniSovyetdi tahun70-80an fokuskepadaakumulasikapitaldanpeningkatantabungantetapitanpadiimbangiolehkemajuanteknologi. Dampaknya, potensinegaratidakmengalamipenambahannilaiyang menaikkanoutput PDB
  • 5.
    “PerhitunganTFP Regional danKoridorEkonomiNasional” HasildanAnalisis -8.00 -6.00 -4.00 -2.00 0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 0.17 5.56 5.48 3.34 5.97 4.55 5.52 5.14 6.62 6.91 4.57 -6.09 1.01 2.98 0.55 2.68 1.25 2.37 1.60 0.66 -0.33 0.81 TFP Growth Koridor Ekonomi Sumatera tahun 2002 -2010 GDP Growth TFP Growth Sumatera Komposisimodal :2,88%, tenagakerja: 0,88% danTFPG: 0,81%; LebihrendahdariTFP G nasional(o,81 < 1,99%). ProvinsiKepulauanRiau danNAD memilikinilaipertumbuhanTFP negatif(-0,33% dan-6,09%)pertumbuhanekonomitidakefisien
  • 6.
    “PerhitunganTFP Regional danKoridorEkonomiNasional” HasildanAnalisis 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 DKI Jawa Barat Jawa Tengah DIY Jawa Timur Banten KOMULATIF 5.62 5.10 5.04 4.48 5.40 6.90 5.42 2.09 2.29 2.76 1.27 3.02 2.16 2.60 TFP Growth Koridor Ekonomi Jawa tahun 2002 -2010 GDP Growth TFP Growth Jawa Komposisimodal: 2,30%, tenagakerja:0,52% danTFP G: 2,60%. LebihbesardaripertumbuhanTFP nasional(2,60% > 1,99% )
  • 7.
    “PerhitunganTFP Regional danKoridorEkonomiNasional” HasildanAnalisis -3.00 -2.00 -1.00 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 Kalimantan Barat Kalimantan Selatan Kalimantan Tengah Kalimantan Timur KOMULATIF 4.70 5.03 5.64 2.81 3.65 1.97 1.22 2.08 -2.94 -0.90 TFP Growth Koridor Ekonomi Kalimantan tahun 2002 -2010 GDP Growth TFP Growth Kalimantan Komposisimodal: 3,92%, tenagakerja: 0,64% danTFP G: -0,90%. NilaiTFP G negatifpertumbuhanekonomitidakefisien PadahalHanyaProvinsiKalimantan Timuryang memilikinilaiTFP G negatif(-2,94%)
  • 8.
    “PerhitunganTFP Regional danKoridorEkonomiNasional” HasildanAnalisis 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 Bali NTB NTT KOMULATIF 5.33 3.61 4.68 5.01 1.38 1.02 2.42 1.52 TFP Growth Koridor Ekonomi Bali Nusa Tenggara tahun 2002 -2010 GDP Growth TFP Growth Bali Nusa Tenggara Komposisimodal :2,51%, tenagakerja: 0,97% danTFP G: 1,52%. LebihrendahdariTFP G nasional(1,52% < 1,99%)
  • 9.
    “PerhitunganTFP Regional danKoridorEkonomiNasional” HasildanAnalisis -2.00 -1.00 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 8.00 Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah Sulawesi Utara Sulawesi Tenggara Gorontalo Sulawesi Barat SULAWESI 6.04 7.24 5.70 7.79 7.00 6.69 6.41 1.79 3.13 0.11 2.74 -1.56 -0.66 1.61 TFP Growth Koridor Ekonomi Sulawesi tahun 2002 -2010 GDP Growth TFP Growth Sulawesi Komposisimodal :3,69%, tenagakerja: 1,11% danTFP G: 1,61% LebihrendahdariTFP G nasional(1,61% < 1,99%) ProvinsiSulBardanGorontalomemilikinilaiTFP G negatif( -0,66% dan-1,56%)
  • 10.
    “PerhitunganTFP Regional danKoridorEkonomiNasional” HasildanAnalisis -8.00 -6.00 -4.00 -2.00 0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 Maluku Papua Maluku Utara Papua Barat KOMULATIF 4.77 1.27 5.14 10.05 3.42 2.65 -6.64 3.63 3.65 -3.26 TFP Growth Koridor Ekonomi Maluku-Papua tahun 2002 -2010 GDP Growth TFP Growth Maluku Papua Komposisi: modal 4,65%, tenagakerja: 2,03% danTFP G: -3,26% NilaiTFP G negatifpertumbuhanekonomitidakefisien PadahalhanyaProvinsiPapua yang memilikinilaiTFP G negatif(-6,64%)
  • 11.
    “PerhitunganTFP Regional danKoridorEkonomiNasional” KesimpulandanRekomendasi •Kontribusirata-rata TFPG terhadappertumbuhanekonominasionalmencapai35,24% per tahun, lebihtinggidaritenagakerja12,86% lebihkecildarikapital51,90% •Pertumbuhankapitalberperansebagaipemicuutamapertumbuhanekonomidi Indonesia (kecualiJawa) •Berdasarkanindikatoryang ada, kontribusiteknologiterhadappertumbuhanekonomidiIndonesia masihrendah –BaukinskontribusiTFP G 49% -75% –DekomposisiTFP G > 3% Kesimpulan
  • 12.
    “PerhitunganTFP Regional danKoridorEkonomiNasional” KesimpulandanRekomendasi •K E Sumatera, Jawa, Sulawesi, danBali Nusa Tenggara memilikinilairata-rata TFPG positif •K E Kalimantan danMaluku-Papua bernilainegatif •HanyakoridorekonomiJawayang memilikipertumbuhanteknologilebihbesardaripadapertumbuhanteknologinasional. •Perananteknologidalampertumbuhanekonomimasihminus diprovinsi –NAD –KepulauanRiau –Kalimantan Timur –Sulawesi Barat –Gorontalo –Papua Kesimpulan
  • 13.
    “PerhitunganTFP Regional danKoridorEkonomiNasional” KesimpulandanRekomendasi 1.FokuskepadapenanganankoridorekonomidengannilaiTFPG negatif(Kalimantan danMaluku-Papua) 2.MembuatanalisisTFP setiapregional Kota/Kabupatendanmenjadikannyasebagaidasar pertimbangan strategipembangunandaerah 3.Melakukan upaya-upaya terkait peningkatan TFP dalam rangka implementasi Ekonomi Berbasis Inovasi (berdasarkan hasil survai dan pengolahan data yang dirilis oleh WEF (KAM), IMD dll) antara lain: –Meningkatkan budaya inovasi, peningkatanmutusumberdayamanusia: SDM yang memilikidayaserapinformasidankemampuananalisadlmmentrasformasikanmenjadipengetahuandanmemahamiperubahanlingkunganbisnis –Penciptaanusahabaruberbasisinovasi/pengetahuan –Kebijakan untukmendorongpemanfaatan iptek untuk Usaha/Industri: –PolaKemitraan: Kerjasamapemanfaatan inovasi; peningkatanhubungansegitigaantarapemerintah–universitas–industri –Modal Ventura untukStart-Up Company –SinkronisasiProgram Iptek, LPNKdanLembagateknis(depdandinas)dengan pengguna serta intervensi kebijakan yang diperlukan Rekomendasi
  • 14.
    “PerhitunganTFP Regional danKoridorEkonomiNasional” KesimpulandanRekomendasi 4. PengembanganSistemInovasiNasional: –SinergiKebijakandanProgram Pembangunan •Tematis, integratiftidaksektoral •Mengembangkan‘joint program’ untuk: –menstimulasipertukaranpengetahuan, mendorongdifusiteknologi –Pelembagaanpolainteraksidankomunikasi –PengembanganMekanismeIntermediasiIptek: Infrastruktur, pranata, regulasi 5. Pembentukaniklimbisnisyang kondusif(birokrasidanadministrasi)terutama Membanguninfrastrukturkelembagaanyang dapatmemperlancarproses danmengurangibiayaperijinandanbiayatransaksiusaha, denganmengembangkanlembagaone-stop service (OSS) di daerah-daerah, danmembentukataumenugaskanlembagapemerintahuntukbertindakselakubadanpenasehatdan pengawaspelaksanaanOSS Rekomendasi
  • 15.
    Kota Batam: ContohRekomendasi untuk Pembangunan Ekonomi Berbasis Inovasi ProvinsiKepulauanRiau: •Komposisimodal: 5,74%, tenagakerja: 1,51% danTFP G: -0,33%. •NilaiTFP G negatifpertumbuhanekonomitidakefisien Provinsi PDB Growth DekomposisiPertumbuhanEkonomi Kontribusi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Capital Growth Labor Growth TFP Growth Capital Growth Labor Growth TFP Growth Kep. Riau 6.91 5.74 1.51 -0.33 83.0% 21.8% -4.8% KotaBatam: •Pengaruh pertumbuhan ekonomi Propinsi Kepulauan Riau memberikan efek positif terhadap terhadap pertumbuhan PDRB Batam yang ditunjukkan dalam tabel berikut: KotaBatam: •Kinerjasektorindustripengolahan, pertambangan,danpertanianmengalamipenurunandibandingkansektoryangsamadiPropinsiKepulauanRiauKomponenBauran •Tigasektor:perdagangan,bangunan,danpengangkutandiKotaBatamlebihkompetitifdibandingkansektoryangsamadiPropinsiKepulauanRiauKomponenUnggulan Sumber:A.Aritenang,2013,PostDoctoral
  • 16.
    Rekomendasi Pembangunan EkonomiBerbasis Inovasi untuk Kota Batam 1.Pertumbuhan Ekonomi Kota Batam diprioritaskan pada pengembangan rantai nilai dan peningkatan nilai tambah pada sektor perdagangan yang ditunjang oleh infrastruktur (sektor bangunan), sektor transportasi (pengangkutan), sektor kelistrikan karena mempunyai keunggulan kompetitif dibanding dengan sektor yang sama di Provinsi Kepulauan Riau. 2.Rekomendasi spesifik untuk point 1 antara lain: •Penciptaanusahabaruberbasisinovasi/pengetahuan •Kebijakan untukmendorongpemanfaatan iptek untuk Usaha(perdagangan, bangunan, transportasi, kelistrikan) •Peningkatan pekerja pengetahuan yaituSDM yang memilikidayaserapinformasidankemampuananalisadlmmentrasformasikanmenjadipengetahuandanmemahamiperubahanlingkunganbisnis •PolaKemitraan: Kerjasamapemanfaatan inovasi untuk perdagangan bangunan, transportasi, kelistrikan) •PengembanganMekanismeIntermediasiIptekuntuk perdagangan bangunan, transportasi, kelistrikan 3.Pembentukaniklimbisnisyang kondusif(birokrasidanadministrasi)terutama Membanguninfrastrukturkelembagaanyang dapatmemperlancarproses danmengurangibiayaperijinandanbiayatransaksiusaha, denganmengembangkanlembagaone-stop service (OSS) di daerah-daerah, danmembentukataumenugaskanlembagapemerintahuntukbertindakselakubadanpenasehatdan pengawaspelaksanaanOSS 4.Hendaknya Kota Batam selektif dalam pengembangan sektor-sektor yang kinerjanya mengalami penurunan dibandingkan sektor yang sama di Propinsi Kepulauan Riau terutama sektor industri pengolahan, pertambangan, dan pertanian. Hal ini terkait dengan capital growth dan labor growth ketiga sektor tersebut.
  • 17.
    CONTOH TURUNAN DALAMNAWA CITA : TOL LAUT
  • 27.
    RUMAH KEBANGSAAN KEDOYA •Charles MeikyansyahMM; Kiki TaherMA; Arief Adi Wibowo M.Eng; Dr. SugengSantoso; YoseRizal MM; DrHayun; Dr. Yogi Suprayogi; Ida PhD; Iqbal NurM.Eng; FikiSatariMM; danTim.