Tugas Agama 
SUMBER HUKUM ISLAM 
Disusun oleh : Belly Gama Putra 
Kelas : X2 
SMA N 2 Pangkalpinang
SUMBER HUKUM ISLAM, HUKUM TAKLIFI, dan HUKUM WAD’I 
A. Sumber Hukum I slam 
1. Pengert ian Hukum Dan Sumber Hukum I slam 
Hukum menurut pengertian bahasa berarti menetapkan sesuatu atau tidak 
menetapkannya. Misalnya, menetapkan sifat panas pada api dan menetapkan sifat dingin pada es 
atau tidak menetapkannya. Menurut istilah ahli usul fikih, hukum adalah khitab atau perintah Allah 
SWT, yang menuntut mukalaf (orang yang sesudah balig dan berakal sehat) untuk memilih antara 
mengerjakan dan tidak mengerjakan atau menjadikan sesuatu sebagai sebab, syarat atau 
penghalang bagi adanya yang lain, sah, batal, rukhsah (kemudahan), dan azimah. 
Menurut istilah ahli fikih, hukum adalah akibat yang ditimbulkan oleh tuntutan syariat, 
berupa al-wujub, al-mandub, al-hurmah, al-karahah dan al-ibadah. Sedangkan perbuatan yang 
dituntut itu disebut wajib, sunnah (mandub), haram, makruh, dan mubah 
Maksud sumber hukum adalah segala sesuatu yang melahirkan atau menimbulkan aturan 
yang mempunyai kekuatan yang bersifat mengikat, yang apabila dilanggar akan menimbulkan 
sanksi yang tegas dan nyata. Dengan demikian sumber hukum Islam adalah segala sesuatu yang 
dijadikan dasar, acuan, atau pedoman syariat Islam. 
Pada umumnya ulama fikih sependapat bahwa sumber utama hukum Islam adalah Al- 
Qur’an dan Hadis. Rasulullah SAW bersabda: “Aku tinggalkan bagi kalian dua hal yang 
karenanya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, selama kalian berpegangan pada keduanya, 
yaitu Kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunahku (Hadis). ” (H.R. Baihaqi) 
Di samping itu, para ulama fikih menjadikan ijtihad sebagai salah satu dasar hukum Islam, 
setelah Al-Qur’an dan Hadis. Dasar hukum ijtihad adalah Hadis Nabi Muuhammad SAW 
yang diriwayatkan oleh Turmuzi dan Abu Daud yang mengungkapkan dialog Nabi SAW 
dengan Mu’az bin Jabal, ketika Mu’az akan ditugaskan sebagai Gubernur Yaman. 
2. Pengert ian, Kedudukan, Dan Fungsi Al -Qur’an 
a. Pengertian 
Secara harfiah, Al-Qur’an berasal dari bahasa Arab yang artinya bacaan atau 
himpunan. Al-Qur’an berarti bacaan, karena merupakan kitab yang wajib dibaca dan dipelajari, 
dan berarti himpunan karena merupakan himpunan firman-firman Allah SWT (wahyu). 
Menurut istilah, Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang berisi firman-firman Allah 
SWT yang diwahyukan dalam bahasa Arab kepada rasul/nabi terakhir Nabi Muhammad 
SAW, yang membacanya adalah ibadah.
Al-Qur’an memiliki beberapa nama, seperti Al-Kit āb atau Kitab Allah SWT (Q.S. 
Al-Baqarah, 2: 2), Al-Furq ān yang artinya pembeda antara benar dan salah (Q.S. Al-Furqān 
25: 1), Aż- Żikr yang berarti peringatan (Q.S. Al-Ḥijr, 15: 9), dan At-Tanz īl yang artinya 
diturunkan (Q.S. Asy-Syu’arā’, 26: 192) 
b. Kedudukan 
Al-Qur’an sebagai kitab Allah SWT menempati posisi sebagai sumber pertama dan 
utama dari seluruh ajaran Islam, baik yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri, 
hubungan manusia dengan Allah SWT, hubungan manusia dengan sesamanya, dan hubungan 
manusia dengan alam. Dalil naqli bahwa Al-Qur’an merupakan sumber hukum Islam yang pertama 
dan utama antara lain Q.S. An-Nisā’, 4: 59, Q.S. An-Nisā’, 4: 105 dan Hadis. 
Hadis yang menjelaskan bahwa Al-Qur’an merupakan sumber hukum Islam yang pertama 
dan utama adalah hadis riwayat Turmuzi dan Abu Daud yang berisi dialog, antara Rasulullah 
SAW dengan sahabatnya Mu’az bin Jabal, gubernur Yaman, sebagaimana sudah dikemukakan 
terdahulu. 
c. Fungsi 
Al-Qur’an berfungsi sebagai petunjuk atau pedoman bagi umat manusia dalam mencapai 
kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat (Q.S. Al-Isrā’, 17: 9). Al-Qur’an merupakan mukjizat 
terbesar yang Allah SWT karuniakan kepada Nabi Muhammad SAW terdiri dari 30 juz dan 
114 surah, 89 Surah Makkiyyah dan 25 Surah Madaniyyah. Sedangkan jumlah ayat-ayatnya, 
4.726 ayat dari Surah-surah Makkiyyah dan 1510 ayat dari Surah-surah Madaniyyah. 
Sebagai pedoman hidup bagi umat manusia, isi atau kandungan Al-Qur’an dapat dibagi 
menjadi tiga pembahasan pokok, yaitu: (1) Akidah (keimanan), (2) Ibadah, (3) prinsip-prinsip 
syariat, yaitu meliputi pembahasan tentang manusia, sosial, ekonomi, musyawarah, hukum 
perkawinan, hukum waris, hukum perdana, dan hukum antarbangsa. 
3. Pengert ian, Kedudukan, dan Fungsi Hadis 
a. Pengertian 
Perkataan hadis berasal dari bahasa Arab yang artinya baru, tidak lama, ucapan, 
pembicaraan, dan cerita. Menurut istilah ahli hadis yang dimaksud dengan hadis adalah segala 
berita yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW berupa ucapan, perbuatan, dan takrir 
(persetujuan Nabi SAW) serta penjelasan sifat-sifat Nabi SAW. 
b. Kedudukan 
Para ulama Islam berpendapat bahwa hadis menempati kedudukan pada tingkat kedua 
sebagai sumber hukum Islam setelah Al-Qur’an. Mereka beralasan kepada dalil-dalil Al-Qur’an
surah Ali-’Imran 3:132, surah Al-Ahzab 33:36 dan Al-Hasyr 59:7, serta hadis riwayat Turmuzi 
dan Abu Daud yang berisi dialog antara Rasulullah SAW dengan sahabatnya Mu’az bin Jabal 
tentang sumber hukum Islam. 
c. Fungsi 
Fungsi atau peranan hadis (sunah) di samping Al-Qur’anul Karim adalah: 
1) Mempertegas atau memperkuat hukum-hukum yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an 
(bayan at-taqriri atau at-ta’kid). 
2) Menjelaskan, menafsirkan, dan merinci ayat-ayat Al-Qur’an yang masih umum dan samar 
(bayan at-tafsir). 
3) Mewujudkan suatu hukum atau ajaran yang tidak tercantum dalam Al-Qur’an (bayan at-tasyri) 
namun pada prinsipnya tidak bertentangan dengan Al-Qur’an. 
4. Pengert ian, Kedudukan, dan Fungsi I jt ihad 
a. Pengertian 
Menurut pengertian kebahasaan kata ijtihad berasal dari bahasa Arab, yang kata 
kerjanya “ jahada” yang artinya berusaha dengan sungguh-sungguh. 
b. Kedudukan 
Ijtihad menempati kedudukan sebagai sumber hukum Islam setelah Al-Qur’an dan Hadis. 
Dalilnya adalah Al-Qur’an dan Hadis. Allah SWT berfirman yang artinya: ”Dan dari mana saja 
kamu keluar maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram dan di mana saja kamu (sekalian) 
berada maka palingkanlah wajahmu ke arahnya.” (Q.S.Al-Baqarah,2:150) 
c. Fungsi 
Fungsi ijtihad ialah untuk menetapkan hukum sesuatu yang tidak ditemukan dalil hukumnya 
secara pasti di dalam Al-Qur’an dan Hadis. 
Bentuk-bentuk ijtihad 
∞ Ijma' 
Ijma' artinya kesepakatan, yakni kesepakatan para ulama dalam menetapkan suatu hukum 
hukum dalam agama berdasarkan Al-Qur'an dan Hadis dalam suatu perkara yang terjadi.
∞ Qiyâs 
Qiyas artinya menggabungkan atau menyamakan, artinya menetapkan suatu hukum 
perkara yang baru yang belum ada pada masa sebelumnya namun memiliki kesamaan dalam sebab, 
manfaat, bahaya dan berbagai aspek dengan perkara terdahulu sehingga dihukumi sama. 
∞ Maslahah murshalah 
Adalah tindakan memutuskan masalah yang tidak ada naskahnya dengan pertimbangan 
kepentingan hidup manusia berdasarkan prinsip menarik manfaat dan menghindari kemudharatan. 
∞ Istishab 
Adalah tindakan menetapkan berlakunya suatu ketetapan sampai ada alasan yang bisa 
mengubahnya. 
∞ Urf 
Adalah tindakan menentukan masih bolehnya suatu adat -istiadat dan kebiasaan 
masyarakat setempat selama kegiatan tersebut tidak bertentangan dengan aturan-aturan prinsipal 
dalam Alquran dan Hadis. 
B. Hukum t aklifi dan hukum wad’i 
1. Pengertian Hukum Taklifi dan Hukum wad’i Kedudukan dan Fungsinya 
a. Pengertian 
Hukum taklifi menurut pengertian kebahasaan adalah hukum pemberian beban. 
Sedangkan menurut istilah ialah ketentuan Allah SWT yang menuntut mukalaf (balig dan 
berakal sehat) untuk melakukan atau meninggalkan suatu perbuatan, atau berbentuk pilihan untuk 
melakukan suatu perbuatan. 
Tuntunan Allah SWT untuk melakukan suatu perbuatan misalnya mendirikan salat dan 
menunaikan zakat. Tuntunan Allah tersebut melahirkan kewajiban untuk melaksanakan salat dan 
menunaikan zakat bagi setiap orang yang telah memenuhi syarat wajibnya. 
Tuntunan Allah SWT meninggalkan suatu perbuatan misalnya janganlah membunuh jiwa 
yang diharamkan Allah melainkan dengan suatu alasan yang benar . Tuntunan tersebut bersifat 
pasti yakni dilarang membunuh jiwa yang diharamkan Allah maka pelakunya mendapat dosa. 
Tuntunan Allah SWT yang mengandung pilihan misalnya dalam firman Allah berikut ini 
“Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi “ .
Tuntunan untuk mencari rezeki setelah selesai salat jum‘at itu, semula merupakan suatu 
kewajiban. Karna masalah mencari rezeki itu tidak wajib bagi semua orang, dan tidak wajib juga 
mencari rezeki setelah salat jum’at. 
b. Kedudukan dan fungsi 
Kedudukan dan fungsi hukum taklifi adalah membahas sumber hukum islam yang utama 
yaitu Qur’an dan hadis dari segi perintah Allah dan Rosulnya wajib dikerjakan, dan larangan-larangan 
Allah dan Rosulnya harus ditinggalkan. 
Macam – macam hukum taklifi: 
1. Al-Ijab, yaitu tuntunan secara pasti dan syariat untuk dilaksanakan, tidak boleh 
ditinggalkan, karna orang yang meninggalkannya dikenai hukuman. Bentuk hukuman 
dari al-ijab ialah wajib (fardu). Perbuatan fardu ditinjau dari segi orang yang 
melakukannya dapat dibagi menjadi dua : 
Fardu’ain yaitu perbuatan yang harus dikerjakan setiap mukalaf contoh: melaksanakan 
puasa ramadhan, salat lima waktu, haji, berbakti pada orang tua. 
Fardu kifayah yaitu perbuatan yang harus dilakukan oleh salah seorang anggota 
masyarakat, jika perbuatan tersebut dikerjakan minimal seorang masyarakat maka 
anggota masyarakat lain tidak dikenai kewajiban dan bila tidak dikerjakan oleh seorang 
pun maka seluruh anggota masyarakat dianggap berdosa. Contoh: memandikan, 
mengkafani, mensalatkan dan menguburkan jenazah seorang muslim. 
2. An-Nadb, yaitu tuntunan dari syariat untuk melaksanakan suatu perbuatan, bila 
dikerjakan dapat pahala dan ditinggalkan tidak dapat siksa. Perbuatan sunnah dibagi 
menjadi dua yaitu: 
Sunnah’ain yaitu perbuatan yang dianjurkan contoh: salat sunnah rawatib dll. 
Sunnah kifayah yaitu perbuatan yang dianjurkan untuk dikerjakan oleh seseorang 
atau beberapa orang dari golongan masyarakat. Contoh: mendoakan orang bersin 
dengan lafal yarhamukallah (semoga Allah merahmati anda) 
3. Al-karahah ialah sesuatu yang dituntut kepada mukalaf hukumnya makruh yaitu orang 
mengerjakannya tidak berdosa dan yang meninggalkannya mendapat pahala. Contoh: 
berjulan ketika azan jumat dll. 
4. Al_tahrim ialah tuntunan untuk tidak mengerjakan suatu perbuatan atas sebab yang 
pasti. Hukumnya ialah haram bila dikerjakan berdosa dan bila ditingalkan mendapat 
pahala. Contoh: minum minuman keras dan durhaka pada orang tua dll. 
5. Al-ibahah yaitu firman Allah yang mengandung pilihan untuk melakukan atau 
meninggalkan suatu perbuatan. Hukumnya ialah mubah yaitu perbuatan yang boleh
dikerjakan dan ditinggalkan tidak dapat pahala ataupun berdosa. Contoh: memakan 
jenis makanan halal dll. 
Bentuk hukum wad’I ialah merupakan ketentuan Allah yang mengatur tentang sebab, syarat 
mani (penghalang), batalazimah dan rukhsah dalam islam. 
1. Sebab adalah suatu keadaan atau pristiwa yang dijadikan sebagai sebab adanya hukum 
dan sebaliknya. Contoh: transaksi jual beli menjadi sebab perpindahan hak milik dari 
penjual kepada pembeli. 
2. Syarat adalah suatu yang dijadikan sebagai pelengkap terhadap perintah syar’i tidak sah 
pelaksanaan suatu syar’i kecuali dengan adanya syarat tersebut. Contoh: menutup aurat 
merupakan syarat sah salat dengan ini orang yang salat terbuka aurat nya maka salatnya 
dianggap tidak sah. 
3. Mani (penghalang) adalah suatu keadaan atau peristiwa yang ditetapkan menjadi 
penghalang bagi adanya hukum. Contoh : najis yang ada di badan atau pakaian orang 
yang sedang mengerjakan menjadi penghalang bagi sahnya salat. 
4. Azimah dan Rukhsah adalah peraturan Allah SWT yang asli dan tersurat pada Qur‘an 
misalnya kewajiban salat lima waktu dan puasa Ramadan. Rukhsah adalah ketentuan yang 
di syariatkan oleh Allah sebagai keringanan yang diberikan kepada mukalaf dalam 
keadaan khusus. Misal bagi orang dalam perjalanan jauh diberi keringanan untuk 
mengerjakan salat zuhur di waktu asar dan salat maghrib di waktu isya. 
2. Penerapan hukum t aklifi dan hukum wad’I dalam kehidupan sehari -hari 
Setiap muslim atau muslimah hendaknya menerapkan hukum taklifi dan hukum wad’I dalam 
kehidupan sehari-hari seorang muslim/muslimah yang menerapkan hukum taklifi dalam kehidupan 
sehari-hari tentu selama hidup di alam dunia ini akan senantiasa melaksanakan perintah allah dan 
meninggalkan segala larangan allah. Seorang muslim/muslimah yang menerapkan hukum wad’I 
tentu akan senantiasa beribadah kepada allah dengan dilandasi rasa ikhlas karena allah dan sesuai 
dengan ketentuan syara’ yakni terpenuhi syarat -syarat sahnya rukun-rukunnya dan dipelihara dari 
hal-hal yang membatalkannya. 
Beruntunglah muslim/muslimah yang selama hidup di dunia senantiasa menerapkan huum 
taklifi dan hukum wad’I dalam kehidupan, serta-serta kebaikan-kebaikan yang banyak baik di alam 
dunia maupun di akhirat.

SUMBER HUKUM ISLAM

  • 1.
    Tugas Agama SUMBERHUKUM ISLAM Disusun oleh : Belly Gama Putra Kelas : X2 SMA N 2 Pangkalpinang
  • 2.
    SUMBER HUKUM ISLAM,HUKUM TAKLIFI, dan HUKUM WAD’I A. Sumber Hukum I slam 1. Pengert ian Hukum Dan Sumber Hukum I slam Hukum menurut pengertian bahasa berarti menetapkan sesuatu atau tidak menetapkannya. Misalnya, menetapkan sifat panas pada api dan menetapkan sifat dingin pada es atau tidak menetapkannya. Menurut istilah ahli usul fikih, hukum adalah khitab atau perintah Allah SWT, yang menuntut mukalaf (orang yang sesudah balig dan berakal sehat) untuk memilih antara mengerjakan dan tidak mengerjakan atau menjadikan sesuatu sebagai sebab, syarat atau penghalang bagi adanya yang lain, sah, batal, rukhsah (kemudahan), dan azimah. Menurut istilah ahli fikih, hukum adalah akibat yang ditimbulkan oleh tuntutan syariat, berupa al-wujub, al-mandub, al-hurmah, al-karahah dan al-ibadah. Sedangkan perbuatan yang dituntut itu disebut wajib, sunnah (mandub), haram, makruh, dan mubah Maksud sumber hukum adalah segala sesuatu yang melahirkan atau menimbulkan aturan yang mempunyai kekuatan yang bersifat mengikat, yang apabila dilanggar akan menimbulkan sanksi yang tegas dan nyata. Dengan demikian sumber hukum Islam adalah segala sesuatu yang dijadikan dasar, acuan, atau pedoman syariat Islam. Pada umumnya ulama fikih sependapat bahwa sumber utama hukum Islam adalah Al- Qur’an dan Hadis. Rasulullah SAW bersabda: “Aku tinggalkan bagi kalian dua hal yang karenanya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, selama kalian berpegangan pada keduanya, yaitu Kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunahku (Hadis). ” (H.R. Baihaqi) Di samping itu, para ulama fikih menjadikan ijtihad sebagai salah satu dasar hukum Islam, setelah Al-Qur’an dan Hadis. Dasar hukum ijtihad adalah Hadis Nabi Muuhammad SAW yang diriwayatkan oleh Turmuzi dan Abu Daud yang mengungkapkan dialog Nabi SAW dengan Mu’az bin Jabal, ketika Mu’az akan ditugaskan sebagai Gubernur Yaman. 2. Pengert ian, Kedudukan, Dan Fungsi Al -Qur’an a. Pengertian Secara harfiah, Al-Qur’an berasal dari bahasa Arab yang artinya bacaan atau himpunan. Al-Qur’an berarti bacaan, karena merupakan kitab yang wajib dibaca dan dipelajari, dan berarti himpunan karena merupakan himpunan firman-firman Allah SWT (wahyu). Menurut istilah, Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang berisi firman-firman Allah SWT yang diwahyukan dalam bahasa Arab kepada rasul/nabi terakhir Nabi Muhammad SAW, yang membacanya adalah ibadah.
  • 3.
    Al-Qur’an memiliki beberapanama, seperti Al-Kit āb atau Kitab Allah SWT (Q.S. Al-Baqarah, 2: 2), Al-Furq ān yang artinya pembeda antara benar dan salah (Q.S. Al-Furqān 25: 1), Aż- Żikr yang berarti peringatan (Q.S. Al-Ḥijr, 15: 9), dan At-Tanz īl yang artinya diturunkan (Q.S. Asy-Syu’arā’, 26: 192) b. Kedudukan Al-Qur’an sebagai kitab Allah SWT menempati posisi sebagai sumber pertama dan utama dari seluruh ajaran Islam, baik yang mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri, hubungan manusia dengan Allah SWT, hubungan manusia dengan sesamanya, dan hubungan manusia dengan alam. Dalil naqli bahwa Al-Qur’an merupakan sumber hukum Islam yang pertama dan utama antara lain Q.S. An-Nisā’, 4: 59, Q.S. An-Nisā’, 4: 105 dan Hadis. Hadis yang menjelaskan bahwa Al-Qur’an merupakan sumber hukum Islam yang pertama dan utama adalah hadis riwayat Turmuzi dan Abu Daud yang berisi dialog, antara Rasulullah SAW dengan sahabatnya Mu’az bin Jabal, gubernur Yaman, sebagaimana sudah dikemukakan terdahulu. c. Fungsi Al-Qur’an berfungsi sebagai petunjuk atau pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat (Q.S. Al-Isrā’, 17: 9). Al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar yang Allah SWT karuniakan kepada Nabi Muhammad SAW terdiri dari 30 juz dan 114 surah, 89 Surah Makkiyyah dan 25 Surah Madaniyyah. Sedangkan jumlah ayat-ayatnya, 4.726 ayat dari Surah-surah Makkiyyah dan 1510 ayat dari Surah-surah Madaniyyah. Sebagai pedoman hidup bagi umat manusia, isi atau kandungan Al-Qur’an dapat dibagi menjadi tiga pembahasan pokok, yaitu: (1) Akidah (keimanan), (2) Ibadah, (3) prinsip-prinsip syariat, yaitu meliputi pembahasan tentang manusia, sosial, ekonomi, musyawarah, hukum perkawinan, hukum waris, hukum perdana, dan hukum antarbangsa. 3. Pengert ian, Kedudukan, dan Fungsi Hadis a. Pengertian Perkataan hadis berasal dari bahasa Arab yang artinya baru, tidak lama, ucapan, pembicaraan, dan cerita. Menurut istilah ahli hadis yang dimaksud dengan hadis adalah segala berita yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW berupa ucapan, perbuatan, dan takrir (persetujuan Nabi SAW) serta penjelasan sifat-sifat Nabi SAW. b. Kedudukan Para ulama Islam berpendapat bahwa hadis menempati kedudukan pada tingkat kedua sebagai sumber hukum Islam setelah Al-Qur’an. Mereka beralasan kepada dalil-dalil Al-Qur’an
  • 4.
    surah Ali-’Imran 3:132,surah Al-Ahzab 33:36 dan Al-Hasyr 59:7, serta hadis riwayat Turmuzi dan Abu Daud yang berisi dialog antara Rasulullah SAW dengan sahabatnya Mu’az bin Jabal tentang sumber hukum Islam. c. Fungsi Fungsi atau peranan hadis (sunah) di samping Al-Qur’anul Karim adalah: 1) Mempertegas atau memperkuat hukum-hukum yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an (bayan at-taqriri atau at-ta’kid). 2) Menjelaskan, menafsirkan, dan merinci ayat-ayat Al-Qur’an yang masih umum dan samar (bayan at-tafsir). 3) Mewujudkan suatu hukum atau ajaran yang tidak tercantum dalam Al-Qur’an (bayan at-tasyri) namun pada prinsipnya tidak bertentangan dengan Al-Qur’an. 4. Pengert ian, Kedudukan, dan Fungsi I jt ihad a. Pengertian Menurut pengertian kebahasaan kata ijtihad berasal dari bahasa Arab, yang kata kerjanya “ jahada” yang artinya berusaha dengan sungguh-sungguh. b. Kedudukan Ijtihad menempati kedudukan sebagai sumber hukum Islam setelah Al-Qur’an dan Hadis. Dalilnya adalah Al-Qur’an dan Hadis. Allah SWT berfirman yang artinya: ”Dan dari mana saja kamu keluar maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram dan di mana saja kamu (sekalian) berada maka palingkanlah wajahmu ke arahnya.” (Q.S.Al-Baqarah,2:150) c. Fungsi Fungsi ijtihad ialah untuk menetapkan hukum sesuatu yang tidak ditemukan dalil hukumnya secara pasti di dalam Al-Qur’an dan Hadis. Bentuk-bentuk ijtihad ∞ Ijma' Ijma' artinya kesepakatan, yakni kesepakatan para ulama dalam menetapkan suatu hukum hukum dalam agama berdasarkan Al-Qur'an dan Hadis dalam suatu perkara yang terjadi.
  • 5.
    ∞ Qiyâs Qiyasartinya menggabungkan atau menyamakan, artinya menetapkan suatu hukum perkara yang baru yang belum ada pada masa sebelumnya namun memiliki kesamaan dalam sebab, manfaat, bahaya dan berbagai aspek dengan perkara terdahulu sehingga dihukumi sama. ∞ Maslahah murshalah Adalah tindakan memutuskan masalah yang tidak ada naskahnya dengan pertimbangan kepentingan hidup manusia berdasarkan prinsip menarik manfaat dan menghindari kemudharatan. ∞ Istishab Adalah tindakan menetapkan berlakunya suatu ketetapan sampai ada alasan yang bisa mengubahnya. ∞ Urf Adalah tindakan menentukan masih bolehnya suatu adat -istiadat dan kebiasaan masyarakat setempat selama kegiatan tersebut tidak bertentangan dengan aturan-aturan prinsipal dalam Alquran dan Hadis. B. Hukum t aklifi dan hukum wad’i 1. Pengertian Hukum Taklifi dan Hukum wad’i Kedudukan dan Fungsinya a. Pengertian Hukum taklifi menurut pengertian kebahasaan adalah hukum pemberian beban. Sedangkan menurut istilah ialah ketentuan Allah SWT yang menuntut mukalaf (balig dan berakal sehat) untuk melakukan atau meninggalkan suatu perbuatan, atau berbentuk pilihan untuk melakukan suatu perbuatan. Tuntunan Allah SWT untuk melakukan suatu perbuatan misalnya mendirikan salat dan menunaikan zakat. Tuntunan Allah tersebut melahirkan kewajiban untuk melaksanakan salat dan menunaikan zakat bagi setiap orang yang telah memenuhi syarat wajibnya. Tuntunan Allah SWT meninggalkan suatu perbuatan misalnya janganlah membunuh jiwa yang diharamkan Allah melainkan dengan suatu alasan yang benar . Tuntunan tersebut bersifat pasti yakni dilarang membunuh jiwa yang diharamkan Allah maka pelakunya mendapat dosa. Tuntunan Allah SWT yang mengandung pilihan misalnya dalam firman Allah berikut ini “Apabila telah ditunaikan salat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi “ .
  • 6.
    Tuntunan untuk mencarirezeki setelah selesai salat jum‘at itu, semula merupakan suatu kewajiban. Karna masalah mencari rezeki itu tidak wajib bagi semua orang, dan tidak wajib juga mencari rezeki setelah salat jum’at. b. Kedudukan dan fungsi Kedudukan dan fungsi hukum taklifi adalah membahas sumber hukum islam yang utama yaitu Qur’an dan hadis dari segi perintah Allah dan Rosulnya wajib dikerjakan, dan larangan-larangan Allah dan Rosulnya harus ditinggalkan. Macam – macam hukum taklifi: 1. Al-Ijab, yaitu tuntunan secara pasti dan syariat untuk dilaksanakan, tidak boleh ditinggalkan, karna orang yang meninggalkannya dikenai hukuman. Bentuk hukuman dari al-ijab ialah wajib (fardu). Perbuatan fardu ditinjau dari segi orang yang melakukannya dapat dibagi menjadi dua : Fardu’ain yaitu perbuatan yang harus dikerjakan setiap mukalaf contoh: melaksanakan puasa ramadhan, salat lima waktu, haji, berbakti pada orang tua. Fardu kifayah yaitu perbuatan yang harus dilakukan oleh salah seorang anggota masyarakat, jika perbuatan tersebut dikerjakan minimal seorang masyarakat maka anggota masyarakat lain tidak dikenai kewajiban dan bila tidak dikerjakan oleh seorang pun maka seluruh anggota masyarakat dianggap berdosa. Contoh: memandikan, mengkafani, mensalatkan dan menguburkan jenazah seorang muslim. 2. An-Nadb, yaitu tuntunan dari syariat untuk melaksanakan suatu perbuatan, bila dikerjakan dapat pahala dan ditinggalkan tidak dapat siksa. Perbuatan sunnah dibagi menjadi dua yaitu: Sunnah’ain yaitu perbuatan yang dianjurkan contoh: salat sunnah rawatib dll. Sunnah kifayah yaitu perbuatan yang dianjurkan untuk dikerjakan oleh seseorang atau beberapa orang dari golongan masyarakat. Contoh: mendoakan orang bersin dengan lafal yarhamukallah (semoga Allah merahmati anda) 3. Al-karahah ialah sesuatu yang dituntut kepada mukalaf hukumnya makruh yaitu orang mengerjakannya tidak berdosa dan yang meninggalkannya mendapat pahala. Contoh: berjulan ketika azan jumat dll. 4. Al_tahrim ialah tuntunan untuk tidak mengerjakan suatu perbuatan atas sebab yang pasti. Hukumnya ialah haram bila dikerjakan berdosa dan bila ditingalkan mendapat pahala. Contoh: minum minuman keras dan durhaka pada orang tua dll. 5. Al-ibahah yaitu firman Allah yang mengandung pilihan untuk melakukan atau meninggalkan suatu perbuatan. Hukumnya ialah mubah yaitu perbuatan yang boleh
  • 7.
    dikerjakan dan ditinggalkantidak dapat pahala ataupun berdosa. Contoh: memakan jenis makanan halal dll. Bentuk hukum wad’I ialah merupakan ketentuan Allah yang mengatur tentang sebab, syarat mani (penghalang), batalazimah dan rukhsah dalam islam. 1. Sebab adalah suatu keadaan atau pristiwa yang dijadikan sebagai sebab adanya hukum dan sebaliknya. Contoh: transaksi jual beli menjadi sebab perpindahan hak milik dari penjual kepada pembeli. 2. Syarat adalah suatu yang dijadikan sebagai pelengkap terhadap perintah syar’i tidak sah pelaksanaan suatu syar’i kecuali dengan adanya syarat tersebut. Contoh: menutup aurat merupakan syarat sah salat dengan ini orang yang salat terbuka aurat nya maka salatnya dianggap tidak sah. 3. Mani (penghalang) adalah suatu keadaan atau peristiwa yang ditetapkan menjadi penghalang bagi adanya hukum. Contoh : najis yang ada di badan atau pakaian orang yang sedang mengerjakan menjadi penghalang bagi sahnya salat. 4. Azimah dan Rukhsah adalah peraturan Allah SWT yang asli dan tersurat pada Qur‘an misalnya kewajiban salat lima waktu dan puasa Ramadan. Rukhsah adalah ketentuan yang di syariatkan oleh Allah sebagai keringanan yang diberikan kepada mukalaf dalam keadaan khusus. Misal bagi orang dalam perjalanan jauh diberi keringanan untuk mengerjakan salat zuhur di waktu asar dan salat maghrib di waktu isya. 2. Penerapan hukum t aklifi dan hukum wad’I dalam kehidupan sehari -hari Setiap muslim atau muslimah hendaknya menerapkan hukum taklifi dan hukum wad’I dalam kehidupan sehari-hari seorang muslim/muslimah yang menerapkan hukum taklifi dalam kehidupan sehari-hari tentu selama hidup di alam dunia ini akan senantiasa melaksanakan perintah allah dan meninggalkan segala larangan allah. Seorang muslim/muslimah yang menerapkan hukum wad’I tentu akan senantiasa beribadah kepada allah dengan dilandasi rasa ikhlas karena allah dan sesuai dengan ketentuan syara’ yakni terpenuhi syarat -syarat sahnya rukun-rukunnya dan dipelihara dari hal-hal yang membatalkannya. Beruntunglah muslim/muslimah yang selama hidup di dunia senantiasa menerapkan huum taklifi dan hukum wad’I dalam kehidupan, serta-serta kebaikan-kebaikan yang banyak baik di alam dunia maupun di akhirat.