True Love
Bulir-bulir hujan membasahi kaca jendela kamarku. Mungkin alam sedang bersedih
mengikuti perasaanku saat ini. Namun alam dapat mengungkapkan pada dunia perasaan apa
yang terjadi padanya, tidak sepertiku yang hanya mengurung diri di kamar. Kejadian waktu
itu masih teringat jelas dalam pikiranku bahkan pakaian apa yang sedang kita kenakan.
Waktu itu aku baru pulang les. Leu, my boyfiend nge-chat aku kalau ada yang ingin
dia omongin ke aku dan dia pun menjemputku dari tempat les. Aku mengiyakan ajakannya
sekaligus penasaran kenapa sore-sore begini dia ngajakin ketemuan.
Tak butuh waktu lama untuk menunggunya. Dia datang dengan motor kesayangannya
sambil tersenyum. Akupun melambaikan tangan untuknya.
“Hei…”, sapanya.
“Hei…”, jawabku sambil tersenyum.
“Yuk…”.
“Hmm..”, jawabku sambil nganggukin kepala.
Kita punya tempat favorit untuk nge-date dan sekarang kami kesana, berboncengan
menyisir kota. Tempat favorit kita namanya Taman Remaja. Mungkin dilihat dari namanya
bisa dipastikan disana banyak sekali remaja-remaja yang sedang berpacaran tapi itu salah,
disana banyak anak-anak dan juga lansia. Karna tempat itu ramai makanya kita sering
kesana.
Sore seperti ini Taman Remaja sangat ramai. Setelah memarkirkan motor, kami
masuk dan menyewa sepeda. Kami ingin berkeliling sambil melihat keindahan air mancur yang
diringi sinar lampu warna-warni. Paduan air mancur dan garis senja seolah membalut kota
dengan keromantisannya.
Setelah berkeliling akhirnya kita memutuskan untuk duduk di kursi kosong yang
menghadap kearah air mancur.
“Khi…kamu seneng ?”, kata Leu.
“Aku seneng masih bisa bersamamu hari ini”, jawabku.
“Maksudmu Khi ?”.
“Yah aku seneng Tuhan masih mengizinkan aku untuk bersamamu hari ini”.
“Bagaimana jika Tuhan tidak mengizinkan itu ?”.
“Umm…aku akan berdoa supaya Tuhan selalu mengizinkan kita bersama”.
Keheningan menyisip diantara kami. Mata kami tertuju pada air mancur yang ada di
depan kami. Beberapa orang mengeluarkan ponsel mereka dan mengabadikan momen ini.
Beberapa anak dengan penuh bahagia bersorak gembira.
Tiba-tiba aku merasakan sentuhan hangat di tanganku. Leu menggenggam erat
tanganku. Aku memandangnya dan tersenyum. Mata kami saling bertemu tapi aku melihat
ada sesuatu dari Leu yang tak kuketahui. Aku masih menatapnya hingga dia mengalihkan
pandangannya dariku.
“Ada yang ingin aku bicarakan”, kata Leu sambil tertunduk.
Aku masih terdiam, menunggu lanjutan kalimatnya, tapi kenapa aku merasa takut. Ini
baru pertama kalinya Leu ingin bicara serius seperti ini dan terlihat ragu untuk
mengungkapkannya padaku.
“Khi…kita sudah kelas tiga. Aku tahu kalau kita sering belajar bareng untuk meraih
mimpi-mimpi kita. Aku tahu kamu masih menyayangiku seperti dulu dan akupun juga tetap
menyayangimu Khi. Tiap detik yang kita habiskan bersama menyadarkanku bahwa kita tak
bisa selamanya bersama. Ketika lulus nanti kamu melanjutkan studimu di universitas dan aku
ingin ke kepolisian. Suatu saat nanti kita tak akan pernah bertemu Khi hingga aku benar-
benar menjadi polisi dan itu bukan waktu yang singkat. Aku nggak bisa lagi bersamamu dan
menjagamu seperti ini. Aku…aku…ingin kita putus sekarang Khi”.
Aku terhenyak, aku mencoba memahami setiap untaian kata yang dikatakannya. Dan
akupun membuka mulut ,”Kenapa kamu berpikiran seperti itu Leu. Katamu kamu masih sayang
sama aku, kenapa putus. Apakah dengan masuk polisi itu akan menghalangi cinta kita. Apakah
kamu tak akan memperjuangkanku Leu. Aku bisa pertahanin cinta kita meski kita tak lagi
bersama dan aku tahu itu pasti akan sulit untuk kita berdua. Selain itu aku bisa menjaga diri
aku Leu, kamu tak perlu khwatir”.
“Khi…aku paham maksudmu. Tapi ini untuk kebaikan kita berdua. Kta hanya perlu
waktu untuk menyelesaikan ini semua. Jika Tuhan merestui hubungan kita, kita akan
bertemu di hari bahagia nanti dan hari itu pasti akan datang. percayalah pada kekuatan
cinta Khi”.
Air mataku mengalir deras membasahi pipi. Aku jatuh dalam pelukan Leu. Dia terus
menenangkanku dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Impiannya dan impianku
harus terwujud agar kita bisa lebih bahagia suatu hari nanti. Aku mulai memahami maksud
Leu. Kami mengalah pada cinta untuk mendapat cinta yang lebih, untuk mendapat
kebahagiaan suatu hari nanti.
Meski kita sudah putus Leu tetap mengantarkanku pulang. Diperjalanan kesunyian
menyelimuti kami dan akupun hanyut dalam pikiranku. Ini adalah pelajaran cinta terbaik
untuk kami dan kami menuju ke jalan cinta yang benar, yang tak merusak impian kami.
^^^
Bulir-bulir hujan di kaca jendela mulai memudar. Aku melihat jam dinding dan
mengambil tas yang tergeletak di meja belajar. Aku menjadi semangat belajar dan tak
pernah bolos les sejak kejadian itu.
Trenggalek, 27/6/15

True love

  • 1.
    True Love Bulir-bulir hujanmembasahi kaca jendela kamarku. Mungkin alam sedang bersedih mengikuti perasaanku saat ini. Namun alam dapat mengungkapkan pada dunia perasaan apa yang terjadi padanya, tidak sepertiku yang hanya mengurung diri di kamar. Kejadian waktu itu masih teringat jelas dalam pikiranku bahkan pakaian apa yang sedang kita kenakan. Waktu itu aku baru pulang les. Leu, my boyfiend nge-chat aku kalau ada yang ingin dia omongin ke aku dan dia pun menjemputku dari tempat les. Aku mengiyakan ajakannya sekaligus penasaran kenapa sore-sore begini dia ngajakin ketemuan. Tak butuh waktu lama untuk menunggunya. Dia datang dengan motor kesayangannya sambil tersenyum. Akupun melambaikan tangan untuknya. “Hei…”, sapanya. “Hei…”, jawabku sambil tersenyum. “Yuk…”. “Hmm..”, jawabku sambil nganggukin kepala. Kita punya tempat favorit untuk nge-date dan sekarang kami kesana, berboncengan menyisir kota. Tempat favorit kita namanya Taman Remaja. Mungkin dilihat dari namanya bisa dipastikan disana banyak sekali remaja-remaja yang sedang berpacaran tapi itu salah, disana banyak anak-anak dan juga lansia. Karna tempat itu ramai makanya kita sering kesana. Sore seperti ini Taman Remaja sangat ramai. Setelah memarkirkan motor, kami masuk dan menyewa sepeda. Kami ingin berkeliling sambil melihat keindahan air mancur yang diringi sinar lampu warna-warni. Paduan air mancur dan garis senja seolah membalut kota dengan keromantisannya. Setelah berkeliling akhirnya kita memutuskan untuk duduk di kursi kosong yang menghadap kearah air mancur. “Khi…kamu seneng ?”, kata Leu. “Aku seneng masih bisa bersamamu hari ini”, jawabku. “Maksudmu Khi ?”.
  • 2.
    “Yah aku senengTuhan masih mengizinkan aku untuk bersamamu hari ini”. “Bagaimana jika Tuhan tidak mengizinkan itu ?”. “Umm…aku akan berdoa supaya Tuhan selalu mengizinkan kita bersama”. Keheningan menyisip diantara kami. Mata kami tertuju pada air mancur yang ada di depan kami. Beberapa orang mengeluarkan ponsel mereka dan mengabadikan momen ini. Beberapa anak dengan penuh bahagia bersorak gembira. Tiba-tiba aku merasakan sentuhan hangat di tanganku. Leu menggenggam erat tanganku. Aku memandangnya dan tersenyum. Mata kami saling bertemu tapi aku melihat ada sesuatu dari Leu yang tak kuketahui. Aku masih menatapnya hingga dia mengalihkan pandangannya dariku. “Ada yang ingin aku bicarakan”, kata Leu sambil tertunduk. Aku masih terdiam, menunggu lanjutan kalimatnya, tapi kenapa aku merasa takut. Ini baru pertama kalinya Leu ingin bicara serius seperti ini dan terlihat ragu untuk mengungkapkannya padaku. “Khi…kita sudah kelas tiga. Aku tahu kalau kita sering belajar bareng untuk meraih mimpi-mimpi kita. Aku tahu kamu masih menyayangiku seperti dulu dan akupun juga tetap menyayangimu Khi. Tiap detik yang kita habiskan bersama menyadarkanku bahwa kita tak bisa selamanya bersama. Ketika lulus nanti kamu melanjutkan studimu di universitas dan aku ingin ke kepolisian. Suatu saat nanti kita tak akan pernah bertemu Khi hingga aku benar- benar menjadi polisi dan itu bukan waktu yang singkat. Aku nggak bisa lagi bersamamu dan menjagamu seperti ini. Aku…aku…ingin kita putus sekarang Khi”. Aku terhenyak, aku mencoba memahami setiap untaian kata yang dikatakannya. Dan akupun membuka mulut ,”Kenapa kamu berpikiran seperti itu Leu. Katamu kamu masih sayang sama aku, kenapa putus. Apakah dengan masuk polisi itu akan menghalangi cinta kita. Apakah kamu tak akan memperjuangkanku Leu. Aku bisa pertahanin cinta kita meski kita tak lagi bersama dan aku tahu itu pasti akan sulit untuk kita berdua. Selain itu aku bisa menjaga diri aku Leu, kamu tak perlu khwatir”. “Khi…aku paham maksudmu. Tapi ini untuk kebaikan kita berdua. Kta hanya perlu waktu untuk menyelesaikan ini semua. Jika Tuhan merestui hubungan kita, kita akan bertemu di hari bahagia nanti dan hari itu pasti akan datang. percayalah pada kekuatan cinta Khi”.
  • 3.
    Air mataku mengalirderas membasahi pipi. Aku jatuh dalam pelukan Leu. Dia terus menenangkanku dan mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja. Impiannya dan impianku harus terwujud agar kita bisa lebih bahagia suatu hari nanti. Aku mulai memahami maksud Leu. Kami mengalah pada cinta untuk mendapat cinta yang lebih, untuk mendapat kebahagiaan suatu hari nanti. Meski kita sudah putus Leu tetap mengantarkanku pulang. Diperjalanan kesunyian menyelimuti kami dan akupun hanyut dalam pikiranku. Ini adalah pelajaran cinta terbaik untuk kami dan kami menuju ke jalan cinta yang benar, yang tak merusak impian kami. ^^^ Bulir-bulir hujan di kaca jendela mulai memudar. Aku melihat jam dinding dan mengambil tas yang tergeletak di meja belajar. Aku menjadi semangat belajar dan tak pernah bolos les sejak kejadian itu. Trenggalek, 27/6/15