TRAKSI SPINAL
(Lumbar & Cervical)
Aditya Johan Romadhon, SST.FT, M.Fis
Pendahulua
n
Traksi merupakan teknik
menggunakan gaya pada bagian tubuh
yang ditujukan untuk meregangkan
jaringan lunak, sendi dan tulang
Pada tahun 1950 cyriax
mempopulerkan teknik traksi untuk
pendekatan terapi pada gangguan
diskus lumbal
Pada saat itu traksi lebih banyak
digunakan untuk kondisi patah tulang
ataupun dislokasi sendi (skeletal &
skin traction)
Traksi
Cervical
Mengulur jaringan lunak seperti otot sehingga menurunkan spasme otot
Menurunkan penjepitan saraf pada foramina
Menurunkan tekanan pada diskus sendi
Distraksi pada sendi zygapophyseal terbukti meningkatnya perbaikan nutrisi pada
tulang rawan sendi
Tujuan umum dilakukan traksi adalah menurunkan kualitas nyeri
Digunakan pada kasus HNP cervical, radiculopathy, strain, nyeri otot dan
zygapophyseal joint syndromes
Penatalaksanaan Traksi
Cervical
Pada posisi duduk beban tarikan 11.3 sampai 18 Kg
Awal beban tarikan 3.6 sampai 4.5 Kg
Pada posisi terlentang diperlukan beban tarikan setengah dari berat kepala
Posisi berbaring terlentang lebih efektif dibanding posisi duduk, otot leher lebih
rileks
Arah tarikan ke vertical (standing), horizontal (lying) atau pada derajat fleksi
tertentu (20-30 derajat)
Traksi dapat dilakukan secara manual, penggunaan katrol ataupun mesin
Traksi Kontinyu dan
Intermiten
Tarikan dapat dilakukan
secara kontinyu atau
intermiten
Menurunkan spasme otot
Jika dipertahankan 7
detik maka diikuti traksi
pada sendi zygapophyseal
Traksi intermiten
dipercaya memiliki efek
perbaikan sirkulasi
darah, karena otot akan
rileks & kontraksi
bergantian selama terapi
Traksi
Lumbar
Untuk meregangkan persendian vertebra, intensitas tinggi traksi 40-50% berat badan
selama 8-12 menit
Beban tarikan terkecil adalah ÂĽ berat badan dan paling besar sesuai dengan toleransi
pasien
Beban tarikan 367 terjadi peregangan segmen l3 dan L4 sejauh 2mm
de Seze and Levernieux, dalam perhitungannya beban tarikan 331 Kg mampu
meregangkan segmen L4 dan L5 sejauh 1.5mm
Beban tarikan pada traksi lumbar jauh lebih besar dibanding beban tarikan pada traksi
cervical
de Seze S, Levernieux J. Pratique rheumatologie des tractions vertebrales. Sem Hop Paris
1951; 27:2085.
Efek Traksi Dalam Menurunkan
Nyeri
Meszaros et al, dalam
penelitiannya menemukan
beban tarikan traksi 10%,
30% dan 60% berat badan
dapat menurunkan keluhan
nyeri pada pasien gangguan
diskus saat dilakukan SLR
Beban tarikan 30% dan 60%
lebih menurunkan keluhan
nyeri dibanding beban
tarikan 10%
Meszaros TF, Olson R, Kulig K, Creighton D, Czarnecki E. Effect of 10%, 30%, and 60% body weight
traction on the straight leg raise test of symptomatic patients with low back pain. J Orthop Sports Phys
Ther 2000; 30:595–601.
Kontraindika
si
Unstable spine
Ligamentous instability
Vertebrobasilar artery insufficiency
Atlantoaxial instability
Rheumatoid arthritis
Osteomyelitis
Discitis
Neoplasm
Severe osteoporosis
Untreated hypertension
Severe anxiety
Cauda equina syndrome
Myelopathy
SEKIAN
&
TERIMAKASIH
Press, J. M., & Bergfeld, D. A. (2007). Physical Modalities. Clinical Sports Medicine, 207–226. doi:10.1016/b978-
141602443-9.50019-2

Traksi Spinal.pptx

  • 1.
    TRAKSI SPINAL (Lumbar &Cervical) Aditya Johan Romadhon, SST.FT, M.Fis
  • 2.
    Pendahulua n Traksi merupakan teknik menggunakangaya pada bagian tubuh yang ditujukan untuk meregangkan jaringan lunak, sendi dan tulang Pada tahun 1950 cyriax mempopulerkan teknik traksi untuk pendekatan terapi pada gangguan diskus lumbal Pada saat itu traksi lebih banyak digunakan untuk kondisi patah tulang ataupun dislokasi sendi (skeletal & skin traction)
  • 3.
    Traksi Cervical Mengulur jaringan lunakseperti otot sehingga menurunkan spasme otot Menurunkan penjepitan saraf pada foramina Menurunkan tekanan pada diskus sendi Distraksi pada sendi zygapophyseal terbukti meningkatnya perbaikan nutrisi pada tulang rawan sendi Tujuan umum dilakukan traksi adalah menurunkan kualitas nyeri Digunakan pada kasus HNP cervical, radiculopathy, strain, nyeri otot dan zygapophyseal joint syndromes
  • 4.
    Penatalaksanaan Traksi Cervical Pada posisiduduk beban tarikan 11.3 sampai 18 Kg Awal beban tarikan 3.6 sampai 4.5 Kg Pada posisi terlentang diperlukan beban tarikan setengah dari berat kepala Posisi berbaring terlentang lebih efektif dibanding posisi duduk, otot leher lebih rileks Arah tarikan ke vertical (standing), horizontal (lying) atau pada derajat fleksi tertentu (20-30 derajat) Traksi dapat dilakukan secara manual, penggunaan katrol ataupun mesin
  • 5.
    Traksi Kontinyu dan Intermiten Tarikandapat dilakukan secara kontinyu atau intermiten Menurunkan spasme otot Jika dipertahankan 7 detik maka diikuti traksi pada sendi zygapophyseal Traksi intermiten dipercaya memiliki efek perbaikan sirkulasi darah, karena otot akan rileks & kontraksi bergantian selama terapi
  • 6.
    Traksi Lumbar Untuk meregangkan persendianvertebra, intensitas tinggi traksi 40-50% berat badan selama 8-12 menit Beban tarikan terkecil adalah ÂĽ berat badan dan paling besar sesuai dengan toleransi pasien Beban tarikan 367 terjadi peregangan segmen l3 dan L4 sejauh 2mm de Seze and Levernieux, dalam perhitungannya beban tarikan 331 Kg mampu meregangkan segmen L4 dan L5 sejauh 1.5mm Beban tarikan pada traksi lumbar jauh lebih besar dibanding beban tarikan pada traksi cervical de Seze S, Levernieux J. Pratique rheumatologie des tractions vertebrales. Sem Hop Paris 1951; 27:2085.
  • 7.
    Efek Traksi DalamMenurunkan Nyeri Meszaros et al, dalam penelitiannya menemukan beban tarikan traksi 10%, 30% dan 60% berat badan dapat menurunkan keluhan nyeri pada pasien gangguan diskus saat dilakukan SLR Beban tarikan 30% dan 60% lebih menurunkan keluhan nyeri dibanding beban tarikan 10% Meszaros TF, Olson R, Kulig K, Creighton D, Czarnecki E. Effect of 10%, 30%, and 60% body weight traction on the straight leg raise test of symptomatic patients with low back pain. J Orthop Sports Phys Ther 2000; 30:595–601.
  • 8.
    Kontraindika si Unstable spine Ligamentous instability Vertebrobasilarartery insufficiency Atlantoaxial instability Rheumatoid arthritis Osteomyelitis Discitis Neoplasm Severe osteoporosis Untreated hypertension Severe anxiety Cauda equina syndrome Myelopathy
  • 9.
    SEKIAN & TERIMAKASIH Press, J. M.,& Bergfeld, D. A. (2007). Physical Modalities. Clinical Sports Medicine, 207–226. doi:10.1016/b978- 141602443-9.50019-2